Dawn Dan Tiga Pengacau 1

Baby Sitter Club 5 Dawn Dan Tiga Pengacau Bagian 1


BAB 1
THE BABY-SITTERS CLUB. Aku bukan pendiri maupun
pengelolanya. Aku anggota terbaru di situ. Namaku Dawn Schafer.
Aku adalah baby-sitter terakhir dari kelima anggota klub. Para
anggota yang lain sudah mempunyai jabatan, misalnya, Mary Anne
sebagai sekretaris, atau Claudia Kishi sebagai wakil ketua. Tapi aku
belum.
Rasanya klub ini sudah menjadi bagian terpenting dari hidupku.
Kalau bukan karena Baby-sitters Club, tidak bakal aku bersepeda ke
rumah seorang klien seperti yang kulakukan sekarang. Dan kalau aku
tidak mengerjakan tugas-tugas sebagai babysitter, aku tidak akan bisa
mengenal banyak orang di sini, di Stoneybrook.
Baru beberapa bulan ini aku menetap di Connecticut. Sampai
bulan Januari yang lalu, aku masih tinggal di California bersama
kedua orangtua dan adik laki-lakiku, yang bernama Jeff. Tapi musim
gugur yang lalu, kedua orangtuaku bercerai, sehingga Mama
memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, yaitu
Stoneybrook, Connecticut. Orangtua Mama masih tinggal di sini.
Maka beberapa hari setelah Natal, Jeff dan aku meninggalkan
California yang hangat, tempat matahari bersinar cerah sepanjangtahun, dan pindah ke Stoneybrook yang dingin dan basah. Rasanya,
kota kecil ini terlalu dingin untukku.
Aku membenci cuaca dingin. Kalau pada suatu hari suhu udara
turun beberapa derajat, aku akan ngomel-ngomel pada penyiar radio
yang membacakan ramalan cuaca. Tapi begitu temperatur naik lagi,
aku langsung berterima kasih pada si penyiar sambil minta maaf
karena sudah ngomel-ngomel. Sampai sekarang pun aku masih belum
mengerti apa istimewanya musim dingin di New England. Di
California cuma ada satu musim, yaitu musim panas. Menurutku
musim itu adalah musim yang terindah. Aku sangat menyukai pantai,
matahari, dan perayaan hari Natal dengan temperatur dua puluh tujuh
derajat Celcius. Kenapa, aku sering bertanya-tanya dalam hati, orang
mau menyelingi kehangatan musim panas dengan ketiga musim
lainnya (musim gugur, musim dingin, dan musim semi)?
Klien yang kutuju sore itu adalah keluarga Pike. Keluarga ini
mempunyai delapan anak?di antaranya ada yang kembar tiga! Tapi
aku tidak bertugas menjaga semua anak itu. Si kembar tiga, yang
semuanya anak laki-laki berumur sembilan tahun, sedang berlatih hoki
es (adikku juga ikut berlatih bersama mereka). Vanessa, yang berumur
delapan tahun, sedang les biola. Jadi tinggal Nicky, yang berumur
tujuh tahun; Margo (enam); Claire (empat); dan Mallory, yang
berumur sepuluh tahun. Mallory selalu banyak membantu para baby-
sitter yang sedang bertugas.
Waktu aku sampai di rumah keluarga Pike, aku memarkir
sepedaku di samping garasi, kemudian memencet bel.
"Aku yang buka! Aku yang buka!" seru sebuah suara dari
dalam.Pintu dibuka oleh Claire, anak bungsu keluarga Pike. Dia paling
suka membukakan pintu untuk tamu atau menerima telepon.
"Hai, Claire!" aku berkata dengan ceria.
Claire tiba-tiba berubah menjadi malu. Dia memasukkan jari-
jari tangannya ke dalam mulut dan menatap lantai. "Hai," sahutnya
dengan pelan.
"Aku Dawn. Kamu masih ingat, kan?"
Claire mengangguk.
"Boleh aku masuk?"
Dia mengangguk lagi.
Pada saat aku membuka pintu dan melangkah masuk, Bu Pike
bergegas menuruni tangga. "Oh, kamu sudah datang. Bagus! Kamu
tepat waktu, lho. Bagaimana kabarmu?"
"Baik-baik saja," jawabku.
Aku sangat menyukai Bu Pike. Dia adalah wanita yang energik
dan sangat menyayangi anak-anak. (Bagaimana tidak, anaknya begitu
banyak.) Dia penyabar, punya rasa humor, dan hampir tidak pernah
ngomel-ngomel. Dia dan Pak Pike selalu bersikap manis pada
keluarga kami sejak kepindahan kami kemari.
"Aku akan pergi ke pertemuan para donatur perpustakaan
umum. Nomor telepon perpustakaan ada di papan tulis dekat telepon.
Kalau kamu perlu meneleponku, hubungi saja Ruang Prescott dan
katakan bahwa aku ada di ruang rapat, oke?"
"Oke."
(Bu Pike selalu bertindak dengan teratur. Dia adalah klien ideal
bagi para baby-sitter.)"Nomor-nomor telepon darurat ada di tempat biasa, dan anak-
anak boleh diberi makanan kecil? sedikit saja?kalau mereka lapar.
Aku akan pulang sekitar jam lima. Tidak apa-apa, kan?"
"Tidak, kok. Pertemuan rutin Baby-sitters Club baru dimulai
pada jam setengah enam."
Klub kami dikelola dengan sangat profesional. Kami
mengadakan pertemuan tiga kali dalam seminggu. Pada saat itulah
kami menerima telepon dari para klien. (Biasanya kami mendapatkan
segudang tugas.) Ketua klub kami adalah Kristy Thomas. Dialah yang
mempunyai gagasan untuk mendirikan klub.
Claudia Kishi menjabat sebagai wakil ketua. Anaknya sangat
rapi dan menawan. Rumahnya berseberangan dengan rumah Kristy.
Kami selalu mengadakan pertemuan di kamar Claudia, karena dia
mempunyai pesawat dan nomor telepon pribadi. Claudia orang
Jepang, dan wajahnya sangat cantik. Dia sangat membenci sekolah,
tapi sangat tergila-gila pada seni lukis dan cerita-cerita misteri. Dia
adalah tipe cewek yang agak sulit dimengerti.
Bendahara klub adalah Stacey McGill. Stacey juga baru pindah
ke Stoneybrook, beberapa bulan sebelum kepindahanku. Jadi, dalam
hal itu kami mempunyai kesamaan. Dia pindah dari New York City.
Aku bisa mengerti kalau dia menemui kesulitan untuk menyesuaikan
diri dengan kota kecil seperti Stoneybrook ini. Kadang-kadang kami
membicarakan masalah itu.
Lalu masih ada Mary Anne Spier. Dialah yang
memperkenalkan aku pada Kristy, Claudia, dan Stacey. Dia menjabat
sebagai sekretaris klub, dan bertanggung jawab untuk mencatat semua
kegiatan klub. Baby-sitters Club mempunyai sebuah buku agendayang berisi catatan tentang semua janji dengan para klien, nomor
telepon dan alamat mereka, dan sebagainya. (Di buku agenda juga
dicatat banyaknya uang yang dihasilkan oleh masing-masing anggota.
Tapi itu adalah bagian dari tugas Stacey.)
Kami juga mempunyai sebuah buku catatan, yang fungsinya
seperti buku harian. Kristy telah meminta supaya kami menuliskan
setiap tugas yang pernah dikerjakan. Dia juga menyuruh kami masing-
masing membaca buku itu setiap beberapa hari sekali. Dengan begitu,
kami mengetahui semua kejadian yang dialami oleh setiap anggota
klub dalam tugasnya, dan masalah-masalah yang dihadapi dengan
para klien.
Hal terpenting mengenai Mary Anne (setidak-tidaknya bagiku)
adalah bahwa dia telah menjadi sahabat karibku yang baru. (Sahabat
karibku yang lama bernama Sunny Winslow; dia tinggal di
California.) Rumah Mary Anne bersebelahan dengan rumah Kristy
Thomas. Dan selama ini, hanya Kristy satu-satunya sahabat karibnya.
Tapi sekarang sudah tidak lagi, karena Mary Anne sudah mempunyai
sahabat lain. Aku.
Ketika kami baru berkenalan, Mary Anne dan aku telah
mengalami kejadian yang mengejutkan. Secara tidak sengaja kami
mengetahui bahwa ayahnya dan ibuku ternyata pernah satu sekolah
dulu. Dan bukan cuma itu, mereka bahkan sempat berpacaran?untuk
waktu yang cukup lama. Hubungan mereka waktu itu sudah sangat
serius. Mary Anne dan aku sempat membaca pesan-pesan romantis
yang mereka tuliskan dalam buku tahunan mereka sewaktu di high
school.Dan yang lebih menggemparkan lagi adalah bahwa mereka
sekarang mulai berkencan lagil (Ibu Mary Anne telah meninggal
ketika Mary Anne masih sangat kecil.) Mary Anne dan aku rasanya
sulit percaya bahwa kedua orangtua kami akan pergi bersama-sama.
Sangat mendebarkan! Pak Spier adalah seorang ayah yang bersikap
sangat keras. Dia pria kesepian, yang memerlukan semangat baru
dalam hidupnya (dan juga sesuatu yang bisa dipikirkannya, selain
Mary Anne, anak tunggalnya). Sebaliknya, ibuku merasa sangat sedih
sejak perceraiannya dengan Papa. Dia pun memerlukan sesuatu yang
menyenangkan.
Bu Pike mengenakan mantel dan topinya, lalu memasukkan
beberapa barang ke dalam tasnya. "Mallory sedang di atas,
mengerjakan PR-nya," dia berkata padaku, "tapi sebentar lagi dia akan
turun. Dia ingin ketemu kamu. Margo ada di ruang bermain, dan
Nicky ada di rumah keluarga Barrett, bermain dengan Buddy. Kamu
sudah kenal keluarga Barrett?"
Aku menggelengkan kepala.
"Mereka tinggal beberapa rumah dari sini?menuju arah
rumahmu. Anak-anakku dan anak-anak mereka sering bermain
bersama-sama. Kadang-kadang mereka bermain di rumah kami,
kadang-kadang di rumah mereka. Ada kemungkinan Nicky akan
membawa Buddy kemari hari ini. Tapi kamu tidak perlu menelepon
Bu Barrett. Dia orangnya santai, kok, dan dia juga pasti sudah tahu
anaknya akan bermain kemari."
"Oke," ujarku.
"Nah, kurasa sudah cukup." Bu Pike membungkuk untuk
mencium Claire. "Sampai nanti, Sayang," dia berkata. "Pakaimantelmu kalau mau bermain di luar. Udara di luar dingin, lho."
(Memang selalu dingin, kan!) Lalu dia berseru kepada Mallory di atas
dan Margo di ruang bermain untuk memberitahukan bahwa dia akan
berangkat? setelah itu dia pergi.
Aku memandang Claire. "Ayo, kita lihat apa yang sedang
dikerjakan Margo, oke?"
Claire mengangguk dan aku menggandengnya menuju ruang
bermain.
Ternyata Margo sedang menirukan gaya peragawati di
panggung. Dia mengenakan sebuah topi lebar yang terbuat dari
jerami, sebuah gaun panjang mengkilap yang dihiasi dengan manik-
manik, dan beberapa buah selendang. Dia sedang menari-nari diiringi
lagu Puff, the Magic Dragon, yang diputar dengan suara keras. Pada
bagian-bagian tertentu yang kebetulan dihafalnya, dia ikut bernyanyi.
Claire dan aku duduk di sofa. Kami berpura-pura menjadi
penonton peragaan busana. Waktu lagunya berakhir, Margo memberi
hormat kepada para penonton. Claire dan aku bertepuk tangan dengan
keras.
"Bravo!" aku berseru.
"Bravo!" Claire ikut berseru.
Margo memberi hormat lagi.
Aku mendengar suara langkah kaki di dapur. Lalu terdengar
suara Mallory memanggil, "Hai, Dawn. Delapan kali tujuh berapa,
sih?"
"Hai, Mal," aku menyapanya kembali. "Ah, kamu pasti tahu
hasilnya."
"Lima puluh enam?" dia menebak."Betul!" ujarku.
"Makasih, ya!"
Dia berbalik dan berlari kembali ke kamarnya untuk
melanjutkan PR-nya.
Margo menyetel lagu Old MacDonald Had a Farm, dan mulai
lagi dengan penampilannya di panggung. Claire ikut menirukan suara-
suara binatang seperti di dalam lagu. Lagu itu hampir habis ketika aku
mendengar lagi suara Mallory di dapur.
"PR-ku sudah selesai," dia mengumumkan. "Bolehkah aku
minta makanan kecil, Dawn?"
"Tentu saja," aku menyahut. "Claire, Margo, dan aku juga akan
ikut makan."
"Dawn," ujar Mallory, "bagaimana dengan rumah tua-barumu?"
Claire dan Margo tertawa cekikikan. Mallory sudah
menobatkan rumah kami sebagai "rumah tua-baru". Dan adik-adiknya
menganggap sebutan itu lucu. Tapi menurutku, Mallory benar. Aku
memang tinggal di sebuah rumah tua yang baru. Baru untuk Mama,
Jeff, dan aku, karena kami baru membelinya. Tapi tua, karena rumah
itu dibangun tahun 1795. Aku menyukainya, walaupun keadaan di
dalamnya agak gelap, tangganya sempit, dan ambang atas pintu-
pintunya sangat rendah. Mungkin karena orang-orang di abad
kedelapan belas jauh lebih pendek dibandingkan dengan orang-orang
di zaman sekarang. Aku sering membayangkan bahwa rumah kami
sudah pernah menjadi tempat tinggal bagi berbagai macam orang. Dan
di antara mereka ada yang sempat mengalami Perang Tahun 1812,
Perang Saudara, Proklamasi Emansipasi, Awal Abad Ke-20, PesawatTerbang Pertama, Zaman Depresi, dan Peluncuran Roket Pertama. Oh,
semua itu sangat menegangkan.
Aku berani bertaruh bahwa rumah kami mempunyai sebuah
pintu rahasia di suatu tempat, dan mungkin bahkan pernah menjadi
bagian dari Jaringan Kereta Api Bawah Tanah (jalur yang digunakan
budak-budak negro dalam usaha melarikan diri). Kapan-kapan, Mary
Anne dan aku akan menjelajahi seluruh rumah dan menyelidiki setiap
sudutnya. Kami akan mengetuk-ngetuk dinding dan menekan-nekan
panel kayu. Siapa tahu ada tombol tersembunyi yang dapat
mengeluarkan atau membuka sesuatu. Kami juga punya rencana untuk
menjelajahi ruang bawah atap. Mungkin saja kami akan menemukan
buku agenda kuno atau semacamnya.
Aku tersenyum-senyum membayangkan bahwa Mama akan
tertarik untuk ikut menjelajahi rumah. Ibuku adalah seorang wanita
yang sangat romantis, dan hal-hal seperti itu dinilainya cukup
romantis untuk dikerjakan. Itu salah satu sebab kenapa Pak Spier
sangat menyukainya waktu mereka sama-sama duduk di high school
dulu. Coba tebak, apa yang dilakukan Mama waktu itu? Dia
menyimpan bunga mawar, yang tangkainya diikat dengan pita
berwarna putih, yang diberikan oleh Pak Spier pada malam pesta
perpisahan sekolah. Mama menyelipkan bunga itu di antara halaman-
halaman buku tahunannya. Dan sampai sekarang pun bunga itu masih
ada di situ. Mary Anne dan aku telah menemukannya.
"Rumah tua-baruku baik-baik saja," aku menjawab pertanyaan
Mallory.
Mallory tersenyum lebar ke arahku sambil mengangkat alisnya
tinggi-tinggi. "Dan bagaimana kabarnya ibumu!" dia bertanya penuharti. Mallory mengetahui hubungan ibuku dengan Pak Spier, dan dia
sangat suka mendengar cerita tentang mereka. Yang paling disukai
adalah kisah percintaan mereka sewaktu di high school, dan kenapa
mereka sampai harus berpisah. Aku menceritakan semua yang kutahu
padanya, yang sebenarnya tidak begitu banyak. Beberapa kali aku
bertanya pada Mama, kenapa dia dan ayah Mary Anne terpaksa
mengakhiri hubungan mereka. Ternyata hal itu disebabkan oleh
orangtua Mama yang tidak menyetujui hubungan mereka karena
keluarga Spier tidak kaya. Sedangkan Mama berasal dari keluarga
kaya raya yang mempunyai uang segudang. Tapi sampai sekarang aku
masih belum mendapatkan gambaran cerita secara keseluruhan.
"Sayang," Mama selalu mengelak, "ceritanya tidak menarik,
kok."
"Tapi menurutku cukup menarik, Ma. Mama dan Pak Spier
pernah saling jatuh cinta, tapi setelah kuliah, tidak pernah bertemu
lagi. Menurutku, ceritanya cukup romantis... dan menyedihkan."
"Jalan hidup kami tidak pernah bertemu. Hari-hari libur kami
tidak pernah bersamaan. Sepanjang musim panas, Mama tinggal di
California dan bekerja di sana. Dan kalau liburan Natal tiba, nenek
dan kakekmu selalu mengajak Mama ke Bahama."
"Tidakkah Mama pernah memikirkan Pak Spier?"
"Kadang-kadang Mama memikirkan dia. Tapi waktu itu kami
masih terlalu muda. Kami menjalani hidup baru, dan mengalami hal-
hal yang menarik bagi kami masing-masing. Selain itu kami sama-
sama sibuk dengan urusan sekolah. Dan kemudian Mama bertemu


Baby Sitter Club 5 Dawn Dan Tiga Pengacau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan ayahmu, sementara Pak Spier bertemu dengan ibu Mary
Anne?dan kamu sudah tahu lanjutan ceritanya, kan?"Memang, aku tahu. Lanjutan ceritanya adalah bahwa Mama dan
Papa menikah, tidak bahagia, lalu bercerai. Mereka sama-sama tidak
cocok satu dengan lainnya. Papa tipe orang yang sangat teratur. Dan
Mama tipe orang yang agak sembrono? dia sering linglung seperti
seorang profesor.
Jeff dan aku sudah tidak heran kalau kami menemukan
mangkuk-mangkuk yang biasanya dipakai untuk memasak, diletakkan
Mama di dalam lemari seprai. Kadang-kadang kami mendapati Mama
sedang membetulkan baju-baju yang sudah lama kekecilan untuk
kami. Dan walaupun kami sekarang sudah tinggal di rumah tua-baru
untuk beberapa bulan, tumpukan kotak karton masih menggunung di
ruang makan. Setiap kali aku mencoba membereskannya, Mama
selalu berkata, "Dawn, kamu tidak perlu repot-repot membereskan itu,
Sayang. Biar Mama yang mengerjakannya." Tapi Mama tidak pernah
mengerjakannya.
Aku tidak menceritakan semua itu pada Mallory. Yang aku
katakan cuma, "Ibuku baik-baik saja. Dia masih sering pergi bersama-
sama dengan Pak Spier."
"Yea!" teriak Mallory.
"Dan ibuku masih sibuk mencari pekerjaan. Dia sering pergi
untuk wawancara..."
Tiba-tiba perhatian kami beralih pada suara ketukan dan ratapan
yang kedengarannya berasal dari halaman depan rumah. Mallory dan
aku saling berpandangan. "Ada apa, sih?" tanyaku.
Kami bergegas ke pintu depan. Ternyata Nicky Pike sedang
berdiri di situ bersama seorang anak laki-laki yang kira-kira seumurdengannya. Dan seorang anak perempuan berwajah bundar, dengan
rambut dikucir satu, sedang menangis.
"Suzi!" Mallory berseru. "Itu Suzi Barrett," dia memberitahuku.
"Dan ini Buddy, kakaknya."
"Suzi jatuh waktu menaiki tangga," Buddy berkata. "Aku rasa,
lututnya agak lecet."
Aku memberanikan diri untuk keluar menantang udara dingin,
lalu menggulung celana panjang Suzi. Memang betul, salah satu
lututnya berdarah, tapi tidak terlalu parah. "Namaku Dawn, Suzi," aku
berkata padanya. "Ayo, kita masuk dan aku akan membersihkan
lukamu. Habis itu kita akan menempelkan plester Band-Aid di
lututmu ini."
"Terima kasih," ujar Suzi dengan berlinangan air mata.
"Kami punya plester Band-Aid bergambar dinosaurus, lho,"
Nicky berkata mendukungku.
Kami menemukan sebuah plester, lalu menempelkannya dengan
hati-hati di atas luka Suzi. Dia sangat menyukainya. Celana
panjangnya tetap digulung sampai di atas lutut, agar setiap orang bisa
melihat plesternya yang lucu.
Suzi dan Buddy bermain di rumah keluarga Pike sepanjang
sore. Suzi nonton Sesame Street dengan Claire dan Margo, dan
Mallory membantu Nicky dan Buddy membuat sebuah kota yang
dihuni oleh dinosaurus. (Aku tidak bisa membayangkan seperti apa
jadinya kota tersebut.)
Bu Pike pulang pada jam 17.15. Sudah waktunya bagiku untuk
menuju ke pertemuan rutin Baby-sitters Club. Aku mengucapkan
selamat tinggal pada anak-anak, mengambil sepeda, lalumengayuhnya dengan terburu-buru, karena aku memutuskan untuk
menjemput Mary Anne dulu.
Waktu aku sampai di depan rumah keluarga Spier, aku langsung
melaju ke garasi dan berhenti di depannya. Sementara aku memasang
standar sepeda, Mary Anne menghambur keluar dari pintu depan dan
menyeberangi lapangan rumput di depan rumahnya.
"Hei, coba tebak!" serunya. "Ada berita bagus!"Bab 2
MARY ANNE berlari-lari ke arahku. Rambutnya yang coklat
melambai-lambai tertiup angin.
"Apa? Ada apa, sih?" aku bertanya penuh rasa ingin tahu.
"Ayahku baru saja menelepon. Dia bilang aku tidak perlu
menunggunya untuk makan malam hari ini."
"Terus?" aku bertanya dengan tak sabar.
"Dia bilang aku tidak perlu menunggunya karena dia akan
mengajak ibumu makan di luar malam ini!"
"Mereka kencan lagi!" aku memekik. "Hebat, dong! Oh,
senangnya."
Mary Anne memejamkan matanya sambil mendesah. "Yeah.
Kencan ini sangat mendadak, lho. Dan itu pertanda bagus. Ayahku
belum pernah membatalkan sesuatu, ataupun melakukan sesuatu
dengan mendadak. Biasanya dia selalu merencanakan semuanya
dengan cermat selama berminggu-minggu. Tapi kali ini dia
mengatakan bahwa rencana itu baru terlintas dalam benaknya lima
menit sebelum dia menelepon ibumu untuk mengajaknya makan
malam bersama-sama. Dan setelah itu dia langsung meneleponku.
Rasanya sulit untuk dipercaya."Aku melihat arlojiku. "Eh, kita harus buru-buru. Sudah hampir
jam setengah enam," ujarku. "Ayo, kita berangkat ke rumah Claudia."
Mary Anne dan aku mulai menyeberangi jalan di depan
rumahnya. Sepertinya dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia
cuma mendesah. Dan itu artinya dia sangat gembira.
Aku tahu apa sebabnya Mary Anne begitu bersemangat
mendukung hubungan antara ayahnya dan ibuku. Sebabnya adalah
karena ibuku telah membuat perhatian Pak Spier beralih dari Mary
Anne. Sebelum ini, Pak Spier selalu bertindak sebagai seorang ayah
yang keras, dan selalu menetapkan berbagai macam peraturan untuk
anaknya. Mary Anne harus mengepang rambutnya setiap hari, dan
harus memakai pakaian-pakaian yang dipilihkan oleh ayahnya. Dia
tidak boleh menggunakan telepon setelah makan malam. Dia harus
sudah berada di rumah pada jam sembilan malam, harus menyimpan
setengah dari penghasilannya sebagai baby-sitter di bank, dan
sebagainya, dan sebagainya. Sangat menyedihkan.
Pak Spier sebenarnya sudah mulai berubah sejak pertama kali
bertemu kembali dengan ibuku. Tapi sekarang, dia sudah menjadi
figur ayah yang berbeda sekali. Dia membiarkan Mary Anne
mengenakan lensa kontak sebagai pengganti kacamata bacanya. Dia
mengizinkan Mary Anne membelanjakan uang yang dihasilkannya
sebagai baby-sitter, asalkan uang sakunya ditabung. Dan karena Pak
Spier tidak lagi memilihkan dan membelikan pakaian untuk Mary
Anne, maka penampilan Mary Anne pun berubah. Memang, Mary
Anne tidak berpenampilan seperti Claudia ataupun Stacey, yang selalu
memakai perlengkapan seperti celana panjang ketat berwarna hitam
dan T-shirt dengan warna-warna menyala. Tapi, seperti sekarang ini,waktu kami sedang menyeberangi halaman rumput di depan rumah
keluarga Kishi, Mary Anne memakai sweter dan celana jeans, yang
selama ini belum pernah dimilikinya. Dan dia kelihatan manis sekali!
"Kamu tahu apa yang akan kulakukan?" Mary Anne bertanya
padaku sambil tersenyum lebar.
"Apa?"
"Mendekorasi kembali kamar tidurku."
"Masa? Kamu jangan bercanda!"
"Betul, kok. Dulu aku selalu membayangkan bahwa aku baru
bisa mengatur sendiri kamarku, kalau ayahku sudah kehilangan akal
sehatnya. Dan aku rasa sekarang ini dia sudah tidak waras?karena
naksir ibumu."
"Terima kasih banyak!" sahutku.
"Oh, kamu tahu, kan, maksudku. Menurutku kejadian ini sangat
hebat."
"Hebat karena ayahmu dan ibuku akan berkencan, atau hebat
karena ayahmu kehilangan akal sehatnya?"
Mary Anne ketawa cekikikan. "Dua-duanya, dong," ujarnya.
"Apa yang akan kamu lakukan untuk mendekorasi kembali
kamarmu?"
"Aku akan mencopot gambar-gambar kekanak-kanakan dari
dinding kamarku, lalu menggantinya dengan poster-poster dan foto-
foto yang kusuka. Untuk sementara, baru itu yang bisa kulakukan.
Setelah itu aku masih harus membujuk ayahku lagi, agar dia mau
mengeluarkan uangnya untuk membantuku membeli beberapa barang
yang agak mahal. Aku kepingin punya seprai baru, karpet baru, tiraijendela baru, dan kertas dinding baru. Semua barang di kamarku
berwarna merah jambu, padahal aku tidak tahan dengan warna itu!"
Kami sampai di teras depan rumah keluarga Kishi. Aku
memencet bel.
Kakak Claudia, yang bernama Janine, membukakan pintu.
Mary Anne dan aku saling memandang. Janine berumur lima
belas tahun. Dia anak yang jenius. Mary Anne dan Kristy tidak suka
padanya karena dia terlalu cerdas, dan selalu mengoreksi semua kata-
kata mereka. Tapi aku tidak mempedulikan itu. Menurutku, apa yang
dilakukan Janine benar. Tinggal bagaimana kita menanggapinya.
"Hai, Janine!" ujarku.
Mary Anne diam saja. Kadang-kadang dia mendadak jadi
pemalu kalau berada di dekat orang-orang tertentu.
"Hai," jawab Janine. "Aku rasa kalian kemari untuk mengikuti
pertemuan rutin klub."
"Yap," sahutku.
"Tahukah kalian," Janine mulai, "bahwa kata-kata seperti
'yap'..."
"Janine," aku memotong pembicaraannya, "apakah kamu tidak
memperhatikan pakaian Mary Anne hari ini? Dia memakai jeans dan
sweter baru. Dan dia membeli semuanya ini dengan uangnya sendiri?
uang hasil pekerjaannya sebagai baby-sitter."
"Kalau begitu, klub kalian pasti sudah berjalan dengan lancar,"
komentar Janine.
"Oh, memang. Sangat lancar." Aku memutuskan untuk
mengucapkan kata-kata yang muluk-muluk. "Berkat ketua kami yang
selalu berpikiran jauh ke depan, maka selain dari keuntungan, paraanggota juga mendapatkan keterampilan dan keahlian baru," aku
menambahkan. "Nah, sekarang kami harus melanjutkan perjalanan
kami."
Kami berlari melewati Janine dan melompat menaiki tangga,
tapi aku masih bisa mendengar teriakan Janine di belakang kami,
"Menurutku, ungkapan 'melanjutkan perjalanan' terlalu berlebihan
untuk kesempatan seperti ini."
Aku tidak mempedulikan seruannya.
Kami memasuki kamar Claudia. Claudia sedang duduk bersila
di atas tempat tidurnya. Mimi, neneknya, sedang menyikat rambutnya.
Claudia mempunyai rambut yang sangat indah. Panjang, hitam legam,
dan selalu berkilau-kilau. Dia menggunakan perawatan khusus untuk
rambutnya itu.
Claudia dan Stacey tiba-tiba sangat memperhatikan penampilan
rambut mereka. Sekali dalam seminggu mereka mencuci rambut
mereka dengan telur ayam. Setiap hari Rabu dan. Minggu, mereka
membilas rambut mereka dengan sari lemon?dari buah lemon
sungguhan. Mereka selalu menganjurkan agar aku juga menggunakan
telur ayam dan buah lemon untuk rambutku. Aku mempunyai rambut
yang sangat panjang, sepanjang pinggang. Agak tipis dan halus, dan
sangat pirang sampai hampir berwarna putih. Claudia selalu
mengatakan bahwa telur ayam akan membuat rambutku lebih tebal.
Dan Stacey selalu berkata bahwa buah lemon akan membuat
rambutku lebih berkilau. Dan aku selalu menjawab bahwa apa yang
akan kulakukan dengan rambutku adalah urusanku sendiri. (Aku
punya rencana untuk merawatnya dengan pasta yang terbuat dari buahalpukat. Kalau rambut kami?Claudia, Stacey, dan aku?dicampur
aduk, kami akan mendapatkan salad.)
"Halo, anak-anak," sapa Mimi dengan logat Asianya yang
lembut. "Sudah waktunya untuk memulai pertemuan?"
"Ya," Mary Anne menjawab, sambil beranjak mendekati Mimi
dan mengecupnya di pipi. Mary Anne dan Mimi merupakan sahabat
istimewa.
"Nah, kalau begitu, aku akan meninggalkan kalian, agar kalian
bisa bekerja dengan tenang." Mimi bangkit lalu meninggalkan
ruangan. Beberapa saat kemudian, Stacey menaiki tangga dengan
terburu-buru. Tidak lama setelah itu Kristy menyusulnya.
"Hai, semuanya!" seru Kristy. "Semuanya hadir! Bagus. Hari
ini kita mengumpulkan iuran klub, lho. Apakah semua anggota
membawa uang iuran masing-masing? Apakah kamu membawa uang
kas klub, Stacey?"
Kristy tidak pernah membuang-buang waktu. Dia selalu
bertindak sebagai pemimpin, berusaha menyibukkan semua orang.
Kadang-kadang dia bertindak sok ngebos, tapi tidak selalu. Mary
Anne mengatakan bahwa dulu sikap Kristy jauh lebih buruk, tapi
sekarang kelihatannya dia sudah mulai mencoba untuk mengontrol
dirinya.
"Ini uang kas klub," ujar Stacey. Dia melempar uang kas klub
(yang disimpannya di dalam amplop kertas manila) ke atas tempat
tidur. Beberapa lembar uang satu dolar, dan sejumlah keping uang
logam seperempat dolar berjatuhan. "Seluruhnya ada tujuh dolar lima
puluh sen," ujarnya, setelah menghitung jumlahnya dengan cepat.Masing-masing dari kami menyerahkan lima puluh sen?iuran
mingguan kami?yang membuat jumlah uang kas klub menjadi
sepuluh dolar.
"Lumayan juga," komentar Kristy. "Mungkin kita perlu
membeli beberapa barang untuk kotak Kid-Kit"
Kid-Kit adalah kotak yang kadang-kadang kami bawa kalau
bertugas sebagai baby-sitter. Sebagian besar isinya adalah barang-
barang milik para anggota klub, seperti mainan waktu kecil dan buku-
buku bergambar (yang merupakan hal baru bagi anak-anak yang kami
jaga). Selain itu kami juga menyediakan barang-barang seperti buku
dengan pensil warna, buku stiker, buku puzzle, dan mainan-mainan
lain yang secara bergantian kami bawa. Kami membeli barang-barang
itu dengan uang iuran klub. Tapi pengeluaran itu tidak percuma.
Anak-anak sangat menyukai Kid-Kit kami, sehingga mereka selalu
meminta orangtua mereka untuk menggunakan jasa Baby-sitters Club
lagi. Dengan demikian kami mendapatkan lebih banyak tugas. Ayahku
selalu bilang, "Kamu harus mengeluarkan uang dulu, sebelum bisa
menghasilkan keuntungan." Papa adalah pengusaha yang baik. Dan
menurutku, begitu juga Kristy.
Kring, kring.
Telepon pertama berdering. Claudia yang menjawab.
"Halo. Baby-sitters Club... Oh, hai... Hari Sabtu, dari jam tiga
sampai jam lima? Tunggu sebentar, ya, saya akan melihat jadwal kami
dulu. Habis itu saya akan segera telepon kembali. Sampai nanti." Dia
meletakkan gagang telepon.
Mary Anne sudah membuka halaman buku agenda klub pada
bagian kalender. "Hari Sabtu ini?" tanyanya."Bukan, Sabtu yang akan datang," sahut Claudia. "Telepon tadi
dari Bu Prezzioso. Dia memerlukan seseorang untuk menjaga Jenny
selama dua jam pada sore hari. Siapa yang tidak punya acara?"
Peraturan Baby-sitters Club adalah sebagai berikut: Setiap
anggota klub mempunyai hak yang sama terhadap tawaran-tawaran
yang masuk selama pertemuan rutin. Kalau di luar jam-jam pertemuan
ada klien yang langsung menelepon ke rumah kami masing-masing,
maka itu lain perkara. Kami boleh langsung mengambil tugas itu,
tanpa perlu memberitahu yang lainnya. Tapi tugas yang datang pada
saat pertemuan rutin klub harus ditawarkan dulu pada seluruh anggota
klub.
Mary Anne memeriksa kalender. "Kita semua tidak punya acara
pada Sabtu sore," ujarnya.
"Jangan kuatirkan aku," sahut Claudia cepat-cepat. "Aku?aku
rasa, aku akan pergi berbelanja pada hari itu."
"Yeah, aku juga," kata Stacey. "Aku akan pergi dengan
Claudia." Aku berani bertaruh bahwa ide itu baru saja muncul dalam
pikiran mereka.
"Dan aku rasa aku sudah... sudah berjanji pada David Michael,
bahwa aku akan mengajaknya ke bioskop untuk nonton film Disney


Baby Sitter Club 5 Dawn Dan Tiga Pengacau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang baru pada sore itu," Kristy berkata terburu-buru. David Michael
adalah adik laki-laki Kristy. (Dia juga punya dua orang kakak laki-laki
yang sudah duduk di bangku high school.) Sepanjang pengetahuanku,
Kristy tidak pernah mengajak David Michael nonton di bioskop.
Mary Anne melihat padaku.
"Kamu saja yang ambil tugas itu," kataku.Sebenarnya, tidak seorang pun dari kami menyukai Jenny
Prezzioso, kecuali Mary Anne. Yang lainnya berpendapat bahwa
Jenny anak yang nakal dan terlalu manja. Di samping itu, orangtuanya
bertingkah laku aneh. Tapi Mary Anne bisa menghadapi keluarga
Prezzioso dengan baik. Dan untuk beberapa alasan, dia menyukai
Jenny.ebukulawas.blogspot.com
Claudia menelepon Bu Prezzioso kembali untuk
memberitahunya siapa yang akan bertugas menjaga Jenny. Mary Anne
mencatatnya di dalam buku agenda klub. Masih ada dua tugas lagi
yang masuk. Yang pertama dari Bu Newton, yang membutuhkan
seorang baby-sitter untuk anaknya Jamie, yang berumur empat tahun
(dia salah satu anak yang paling kami sukai). Dan yang satu lagi dari
Watson Brewer.
Pak Brewer membutuhkan seorang baby-sitter pada saat kami
semua tidak punya acara. Tapi dengan senang hati kami memberikan
tugas itu pada Kristy. Soalnya, Pak Brewer (Kristy dan para anggota
klub yang lain biasa memanggilnya Watson) akan menjadi ayah tiri
Kristy pada musim gugur yang akan datang!
Orangtua Kristy telah bercerai beberapa tahun yang lalu. Dan
sejak tahun lalu, Bu Thomas sering berkencan dengan pria yang kaya
ini?Watson Brewer?yang tinggal di sebuah istana (betul-betul
sebuah istana) di daerah elite di pinggir kota. Pak Brewer juga sudah
bercerai dengan istrinya. Dia mempunyai dua orang anak, Karen dan
Andrew. Anak-anaknya itu lebih sering tinggal bersama ibu mereka.
Tapi setiap akhir minggu, dan secara selang-seling pada hari-hari
libur, mereka tinggal bersama ayah mereka. Kristy sangat menyayangi
anak-anak itu. Dan karena Kristy sebentar lagi akan menjadi kakak tirimereka, kami selalu menyerahkan tugas menjaga Karen dan Andrew
padanya?kalau dia tidak punya acara.
Kring, kring.
Kali ini aku yang menjawab. "Selamat sore. Baby-sitters Club."
"Halo?" ujar sebuah suara di ujung yang lain dengan nada ragu-
ragu.
"Halo?" kataku lagi.
"Halo, saya... Bu Pike yang memberikan nomor telepon kalian.
Saya memerlukan seorang baby-sitter. Sebenarnya, saya akan sering
membutuhkan baby-sitter untuk menjaga anak-anak saya. Dan klub
kalian sudah banyak mendapat pujian. Saya tinggal di Jalan Slate,
beberapa rumah dari rumah keluarga Pike."
"Ehm," ujarku dengan cepat. "Terima kasih banyak atas
pujiannya. Bisakah saya menanyakan beberapa hal pada Ibu?" Kristy
dan para anggota klub lainnya sudah melatihku bagaimana cara
menangani klien baru.
"Jangan sekali-kali menerima tugas tanpa mengetahui dahulu
beberapa informasi penting," Kristy bilang padaku.
"Berapa anak Ibu?" aku bertanya.
"Tiga," jawabnya. "Buddy, anak saya yang tertua, berumur
tujuh tahun. Tapi nama sebenarnya adalah Hamilton, Junior. Suzi
adiknya, berumur empat tahun, dan Marnie, si bungsu, masih bayi.
Umurnya baru satu setengah tahun."
"Buddy dan Suzi?" ujarku. "Apakah ini Bu Barrett?"
"Ehm, ya, betul."
"Saya telah bertemu dengan Buddy dan Suzi di rumah keluarga
Pike hari ini." Aku bercerita tentang lutut Suzi yang luka. Kemudianaku mengajukan beberapa pertanyaan lagi, dan setelah itu Bu Barrett
berkata dengan gugup, "Saya rasa kamu perlu mengetahui bahwa saya
dan suami saya baru saja bercerai. Suasana seperti ini terasa kurang
menyenangkan untuk anak-anak saya. Saya harus mencari pekerjaan,
sementara mereka telah terbiasa dengan kehadiran ayah mereka. Dan
saya bukanlah tipe orang yang teratur."
Wow. Kalau soal itu aku bisa mengerti.
Waktu kami memeriksa jadwal acara pada kalender, ternyata
akulah satu-satunya baby-sitter yang belum punya acara pada hari Bu
Barrett memerlukan seorang baby-sitter. Diam-diam aku merasa
senang. Biarpun belum begitu mengenal anak-anak keluarga Barrett,
aku sudah merasa dekat dengan mereka.Bab3
"HAI, aku sudah pulang!"
"Sayang, Mama pergi dulu, ya!"
Sore itu aku tiba di rumah tepat pada saat Mama akan
berangkat. Dia akan menemui Pak Spier, untuk selanjutnya makan
malam bersama.
Mama mengecup dahiku, lalu melewati ambang pintu depan
rumah kami yang rendah sambil membungkuk. "Mama akan pergi
beberapa jam," dia berkata padaku dari tangga di teras depan rumah.
"Oke," sahutku. "Selamat bersenang-senang." Aku mulai
menutup pintu depan, soalnya udara dingin sudah terlalu banyak
masuk ke dalam rumah.
"Makan malam kalian sudah Mama siapkan."
"Oke." Aku mulai lagi menutup pintu depan. Rasanya badanku
mulai menggigil.
"Ada di atas kompor, di dapur."
"Oke..."
"Dan ada salad di dalam kulkas."
"Oke." Pada saat pintu hampir tertutup, aku baru menyadari
sesuatu, sehingga aku malahan membukanya lebar-lebar. "Mama,
coba ke sini sebentar, deh," ujarku.Mama kembali membungkuk melewati pintu. "Ada apa, sih?"
"Ini," kataku sambil menunjuk. "Anting-anting Mama cuma
sebelah. Mama masih membawa karet gelang di pergelangan tangan,
dan stiker harga masih menempel di baju yang Mama pakai. Demi
Tuhan, Mama, apa-apaan ini?"
Mama tertawa tertahan. "Aduh, apa jadinya kalau tidak ada
kamu, Dawn?" Dia menarik karet gelang, membuka stiker harga yang
menempel di bajunya, kemudian berbalik dan mulai berjalan.
"Anting-antingnya!" teriakku.
"Oh, ya ampun!" seru Mama. "Mama lupa di mana Mama
meletakkan yang sebelah lagi. Apakah dengan anting-anting sebelah
Mama kelihatan lucu?"
"Tidak juga, sih, tapi penampilan Mama jadi seperti anak punk-
rock."
"Punk-rock?" Mama mengucapkan kata-kata itu seakan-akan
terasa pahit di lidah. Dia menarik anting-antingnya, lalu
memberikannya padaku. "Lebih baik tidak usah memakai anting-
anting saja, deh," dia berkata. "Kamu dan Jeff baik-baik di rumah, ya.
Mama akan cepat pulang."
"Sampaikan salamku pada Pak Spier," seruku.
"Tentu!" Mama menyerbu keluar, sambil melambaikan tangan,
kemudian melompat ke dalam mobilnya.
Aku menutup pintu dan berdiri di ruang depan sambil tetap
memakai mantel, mencoba untuk menghangatkan badan. Kemudian
aku berjalan menyeberangi ruang duduk dan mulai mengumpulkan
barang-barang yang tidak seharusnya terletak di situ: pengering
rambut, pompa ban sepeda, teko berisi kopi instant, dan sebuahsendok sop. Kadang-kadang aku berpikir bahwa seluruh ruangan di
rumah kami (kecuali kamarku) merupakan contoh nyata dari
permainan "Apa yang Salah dengan Gambar Ini?"
Aku meletakkan pengering rambut, pompa ban sepeda, teko
kopi, sendok sop, dan anting-anting Mama pada tempatnya masing-
masing. Di dalam dapur kami yang gelap, aku menghidupkan api
kompor dan memeriksa isi panci sambil mengendus-endus. Kemudian
aku mengaduk-aduk isinya dengan sebuah garpu.
"Hei, Jeff...," aku mulai memanggil adikku.
"Daging rebus sisa kemarin," dia berseru dari ruang baca,
sebelum aku sempat menanyakan apa-apa.
Oh, idih. Ow, ow, ow. Daging rebus sisa kemarin.
Aku memeriksa isi kulkas. "Hei, Jeff!" aku berteriak lagi.
"Ada pizza beku tanpa daging di dalam kulkas," sahutnya.
"Bolehkah kita makan yang itu saja?"
"Tentu saja." Aku memasukkan pizza beku itu ke dalam oven.
Lalu aku berjalan ke ruang baca.
Adikku sedang melingkar di sofa, sambil nonton film kartun.
"Daging rebusnya mau diapakan?" dia bertanya.
"Dimasukkan kembali ke dalam kulkas. Mungkin nanti Mama
yang akan memakannya."
"Aku sebenarnya kepingin punya anjing," ujar Jeff. "Kan anjing
sangat menyukai makanan sisa." Jeff berbicara padaku, tapi matanya
tetap tertuju pada layar TV.
Aku kembali masuk ke dapur untuk memeriksa pizza.
Kemudian aku duduk di meja dapur dan mencoba mengerjakan PR.Tapi rasanya sulit sekali untuk berkonsentrasi. Aku berdiri lalu
berjalan lambat-lambat mondar-mandir di dalam rumah.
Aku tidak peduli bahwa rumah kami gelap, atau bahwa
ruangan-ruangan di dalamnya terlalu kecil, atau bahwa segala
sesuatunya serba rendah. Menurutku, suasananya sangat
menyenangkan. Tapi aku bersyukur bahwa dapur dan kamar
mandinya sudah direnovasi. Kamar mandi yang lama letaknya
terpisah dari bangunan utama dan berada di belakang rumah, tepatnya
di perbatasan halaman belakang rumah. Pernah aku melihat ke sana.
Idih. Gelap, berdebu, dan penuh dengan sarang labah-labah.
Sedangkan dapur yang lama merupakan dapur zaman kolonial.
Sebenarnya dapur itu cukup menyenangkan?tapi sayangnya tidak
cukup praktis. Aku tidak bisa membayangkan, berapa lama orang
harus memanggang pizza di tungku api kuno.
Ding! Penunjuk waktu pada oven berbunyi, tanda pizza-nya
sudah siap dimakan.
"Hei, Jeff, pizza-nya sudah siap!" aku berseru.
Jeff langsung meninggalkan TV, sementara aku kembali ke
dapur untuk memasukkan kembali daging rebus sisa kemarin ke
dalam kulkas. Jeff mengeluarkan piring, serbet, garpu, dan salad.
Kami duduk berhadapan di meja makan. Perutku sudah
keroncongan.
Pada saat potongan pizza yang empuk dan hangat sedang
kusuap ke dalam mulutku, tiba-tiba telepon berdering.
Aku melihat pada Jeff. Ternyata dia makan lebih cepat dariku.
Dia sudah memasukkan pizza-nya ke dalam mulutnya. Dan dia
melihat padaku."Tolong angkat teleponnya, dong," aku memohon. Bau sedap
pizza membuatku malas berdiri.
"Mmmmh?" Jeff bertanya. Dia tidak bisa bicara, karena
mulutnya dipenuhi sepotong besar pizza.
"Ah, sudahlah. Biar aku yang angkat." Dengan menarik napas
panjang, aku meletakkan kembali pizza-ku ke dalam piring, lalu
mengangkat gagang telepon pada deringan keempat.
"Hai, ini aku," suara Mary Anne terdengar. "Kamu sedang
mengerjakan apa?"
"Makan malam," aku menjawab. Aku menelan ludah.
"Oh. Aku baru saja selesai makan. Aku makan sandwich. Kamu
makan apa?"
"Pizza. Hei, daripada makan sendiri-sendiri, seharusnya aku
mengajakmu makan bersama-sama di rumahku."
"Oh, tidak apa-apa, kok. Lain kali aja, deh. Eh, Dawn, aku
punya ide bagus. Maukah kamu membantuku mendekorasi kembali
kamar tidurku?"
"Tentu saja! Pasti asyik, deh. Hei! Aku juga punya ide, nih!"
"Apa?" tanya Mary Anne tidak sabar.
"Kami punya beberapa barang yang mungkin bisa kamu
gunakan di kamarmu. Rumah kami di California lebih besar
dibandingkan dengan rumah kami sekarang. Jadi masih ada banyak
barang yang tidak bisa dipakai karena kami kekurangan tempat. Dan
sekarang, barang-barang itu terbengkalai di gudang bawah atap. Aku
ingat ada beberapa poster di situ. Dan ada lampu baca yang dulu
pernah kupakai di kamarku. Dan mungkin juga ada beberapa bantal.""Apakah ibumu tidak ingin menyimpan barang-barang itu?"
Mary Anne bertanya dengan nada kuatir. Memang dia tipe anak yang
gampang kuatir.
"Tidak juga. Malahan, tadinya kami punya rencana untuk
menjual semuanya. Tapi setelah dipikir-pikir, ternyata tidak ada
barang yang cukup berharga untuk dijual. Dan sekarang ibuku tidak
tahu lagi akan diapakan barang-barang itu. Sebagian akhirnya
ditimbun di dalam kamar mandi di lantai bawah, dan dibiarkan begitu
saja. Sampai minggu lalu, waktu aku memindahkan barang-barang itu
ke gudang bawah atap. Tapi sepertinya Mama belum menyadari
bahwa barang-barang itu sudah berpindah tempat. Pasti dia sudah
melupakannya."
Pizza-ku sudah mulai dingin, tapi aku tidak peduli. Penuh
semangat aku membayangkan diriku sebagai penata ruang.
"Kalau begitu boleh juga, sih," sahut Mary Anne.
"Bagaimana kalau aku datang ke rumahmu pada hari Sabtu
nanti?" aku mengusulkan. "Aku akan membawa beberapa barang. Dan
kalau kamu suka, kamu bisa memakainya. Tapi kalau tidak, kita akan
memikirkan cara lain untuk mendekorasi kamarmu."
"Oke!" suara Mary Anne mulai kedengaran lebih bersemangat.
Dan aku bisa mengerti bagaimana perasaannya. Aku sendiri juga
senang dan bersemangat kalau memulai sebuah proyek baru.
Akhirnya, sambil memakan pizza, aku membuat sebuah daftar
dalam benakku, tentang barang-barang yang akan kubawa ke rumah
keluarga Spier pada hari Sabtu mendatang: poster-poster, bingkai
gambar, lampu baca, bantal-bantal kecil. Mungkin malah masih ada
seprai di salah satu kardus? Harus diperiksa dulu, nih!***********
Sampai hari Sabtu, aku telah berhasil mengumpulkan begitu
banyak barang, sehingga ibuku terpaksa mengantarku naik mobil ke
rumah keluarga Spier. Kalau dipikir-pikir, cukup cerdik juga aku,
karena bisa menarik tiga keuntungan dari kejadian ini: 1) Aku tidak
perlu repot-repot membawa begitu banyak barang dengan berjalan
kaki; 2) Waktu Mary Anne melihat ibuku, dia akan merasa lebih lega,
karena sudah yakin bahwa ibuku tidak keberatan barang-barangnya
dipakai olehnya; dan 3) Ibuku punya kesempatan untuk bertemu lagi
dengan ayah Mary Anne.
Sayangnya, ayah Mary Anne sedang keluar pada waktu kami
sampai di rumahnya. Tapi setidak-tidaknya aku sudah dapat
tumpangan gratis, kan. Dan pada saat ibuku membantu membawakan
kotak berisi barang-barang ke dalam rumah, dia berkata pada Mary
Anne, "Mudah-mudahan kamu bisa menggunakan barang-barang ini.
Kami tidak punya tempat lagi untuk menampungnya di rumah. Aku
lebih senang kalau barang-barang ini dipakai oleh seseorang yang
kami kenal, bukan sembarang orang."
Mary Anne kelihatan lega mendengar kata-kata ibuku. "Terima
kasih banyak, lho, Bu Schafer. Saya sangat menghargai kebaikan Ibu,"
katanya. "Semakin sedikit biaya yang dikeluarkan untuk mendekorasi
kembali kamar saya, akan semakin senang hati ayah saya."
Ibuku tersenyum. "Kalau sifat ayahmu itu, aku juga sudah
tahu," ujar Mama sambil termenung. "Dia selalu berpikir dua kali
sebelum mau mengeluarkan satu sen pun."
"Apalagi satu dolar," tambah Mary Anne. "Pokoknya, semakin
banyak uang yang harus dikeluarkannya, semakin lama dia berpikir."Kami tertawa cekikikan. Kemudian Mama meninggalkan kami
berdua, dan kami mulai menggotong kotak-kotak karton itu ke kamar
Mary Anne. Kami meletakkannya di atas tempat tidurnya, lalu
mencari tempat duduk di samping kotak-kotak tersebut.
Mary Anne menarik tiga buah gulungan poster dari dalam salah
satu kotak.
"Coba kita lihat apa gambarnya," kataku. "Aku sendiri sudah
tidak ingat lagi."


Baby Sitter Club 5 Dawn Dan Tiga Pengacau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mary Anne membuka karet gelang yang mengikat sebuah
poster. Lalu dengan berhati-hati dia membuka gulungan poster itu.
"Oh!" dia berseru. "Kota London di waktu malam!" (Dia membaca
kata-kata yang tertulis di bawah gambar itu.) "Indah sekali. Begitu
banyak lampu gemerlapan. Dari dulu aku sudah kepingin memasang
poster kota New York atau Paris, tapi kota London juga bagus, kok.
Apakah poster ini milikmu? Maksudku, apakah poster ini pernah
terpasang di kamarmu waktu di California?"
"Tidak," sahutku. "Kamu boleh percaya boleh tidak, tapi poster
itu dulunya dipasang di dapur. Soalnya dapur kami di California
berukuran raksasa."
Mary Anne menyisihkan poster kota London, lalu meraih
gulungan poster yang lain. Dia membukanya dan menatapnya
beberapa lama. Dia memutar-mutar poster itu, kemudian menatapnya
lagi untuk beberapa lama.
"Coba kulihat," ujarku.
Mary Anne membalik poster itu supaya aku bisa melihatnya.
"Sepertinya semacam peta...""Hei! Itu peta astronomi milik ayahku. Aku rasa dia sudah tidak
menyukainya lagi. Poster itu menggambarkan tata surya, bintang-
bintang, dan planet-planet. Kamu menyukainya?"
"Yeah," ujar Mary Anne perlahan. "Memang menarik, tapi
rasanya kurang cocok dengan kepribadianku."
"Yah, kamu tidak perlu memutuskannya sekarang, kan. Dipikir-
pikir saja dulu."
Kami melanjutkan acara membongkar kotak-kotak karton.
Setelah lima belas menit kami mendengar sebuah suara memanggil,
"Hei, teman-teman! Kalian lagi ngapain, sih?"
Kami memandang ke luar jendela kamar Mary Anne yang
terbuka?dan tepat ke arah jendela kamar Kristy yang juga terbuka.
"Hai, Kristy!" panggil Mary Anne. "Kami sedang mendekorasi
kembali kamarku." Mary Anne memandangku. "Tidak apa-apa, kan,
kalau aku mengundang Kristy kemari?" dia berbisik.
"Tentu saja tidak," jawabku.
"Kamu mau ikut membantu kami, Kristy?" dia berseru.
"Oke."
"Kamu masuk saja, pintu depan tidak terkunci," Mary Anne
berkata padanya. "Ayahku tidak ada di rumah."
Kristy menghilang dari jendela kamarnya. Beberapa menit
setelah itu, kami mendengar pintu depan rumah keluarga Spier
membuka dan menutup lagi. Kemudian ada suara sepasang kaki
berlari menaiki tangga. "Hai," sapa Kristy. "Waduh, barang-barang
dari mana ini?"
"Dawn yang membawanya kemari," Mary Anne menjawab.
"Dari rumahnya waktu di California. Sekarang mereka sudah tidakmembutuhkan lagi, karena rumah mereka sekarang lebih kecil. Dawn
pikir aku mungkin bisa menggunakannya di kamarku. Ayahku telah
mengizinkan aku mencopot gambar-gambar yang lama?Elisa di
Negeri Ajaib dan Humpty Dumpty?dari dinding dan menggantinya
dengan gambar-gambar yang kusuka? poster-poster dan mungkin
juga foto para anggota Baby-sitters Club, kalau aku bisa
mendapatkannya."
"Ayahmu tidak melarangmu memaku dinding kamarmu?" tanya
Kristy dengan heran.
"Aku rasa tidak."
Dengan jari-jari tangannya, Kristy menyisir rambut coklatnya
yang berantakan supaya tidak menutupi matanya. "Kenapa kamu tidak
memberitahuku bahwa kamu akan mendekorasi kembali kamarmu?"
"Entahlah," Mary Anne berkata dengan ragu-ragu.
Kristy berpaling ke arahku, tapi dia tetap berbicara pada Mary
Anne. "Tahukah kamu, aku juga punya barang-barang yang mungkin
bisa kamu pakai, lho. Kamu ingat setahun yang lalu, waktu kita
membuat poster untuk pelajaran melukis di sekolah dan kita
memenangkan juara pertama? Kamu kan bisa memasang poster itu di
kamarmu. Aku masih menyimpannya sampai sekarang."
"Masa?" seru Mary Anne. "Wah, kamarku pasti bertambah
bagus kalau poster itu sudah terpasang."
"Dan ingatkah kamu pada perangkat stensil yang diberikan
Watson padaku?" Kristy melanjutkan.
"Yeah?" sahut Mary Anne dengan tegang."Kita bisa mengecat kembali semua bingkai merah jambu yang
kekanak-kanakan, kemudian membuat rancangan dengan perangkat
stensil di atasnya."
"Oh, ide hebat!"
Kristy menyeringai ke arahku.
Aku merasa tidak dipedulikan oleh mereka.
Selama beberapa jam berikutnya kami bertiga mendekorasi
kembali kamar Mary Anne. Kami berunding dan membuat rencana
dan ketawa cekikikan. Tapi aku merasakan dua hal: 1) Kristy cuma
mau berbicara langsung pada Mary Anne; 2) Kristy tidak pernah ikut
tertawa kalau aku membuat lelucon. (Walaupun Mary Anne tertawa.)
Aku mulai merasa kuatir. Aku baru menyadari bahwa ternyata
Kristy tidak begitu menyukaiku.
Dan menurutku hal itu menandakan situasi yang buruk, karena
aku telah menjadi anggota Baby-sitters Club?dan dia adalah
ketuanya.Bab 4
KETIKA aku pertama kali bertemu dengan Mary Anne Spier,
dia sedang duduk sendirian di sebuah meja di kafetaria sekolah kami.
Waktu itu, aku baru dua hari bersekolah di Stoneybrook Middle
School, dan baru empat hari berada di Connecticut. Para anggota
Baby-sitters Club baru saja bertengkar dengan sengit, sehingga
mereka saling marahan satu dengan lainnya. Bahkan mereka tidak
saling berbicara. Masing-masing duduk di kafetaria dengan teman-
teman mereka yang lain?kecuali Mary Anne. Dia duduk sendirian,
karena tidak mempunyai teman lain.
Biasanya, Mary Anne duduk bersama Kristy dan si kembar
Shillaber. Dan karena Mary Anne dan Kristy sekarang sudah
berbaikan kembali, mereka duduk bersama-sama lagi di kafetaria.
Biasanya aku ikut duduk bersama mereka, tapi kadang-kadang aku
juga duduk bersama Claudia dan Stacey. Mereka bergabung dengan
grup lain, yang terdiri dari cewek-cewek dan cowok-cowok. Kristy
dan Mary Anne berpendapat bahwa cowok-cowok adalah makhluk
yang menyebalkan. Sedangkan Stacey dan Claudia sangat menyukai
mereka. Aku sendiri masih mempertimbangkan, yang mana yang
betul.Hari Senin setelah aku membantu Mary Anne membuat rencana
untuk mendekorasi kembali kamarnya, aku duduk bersama dia, Kristy,
serta Mariah dan Miranda (si kembar Shillaber) di kafetaria sekolah.
Kristy masih tetap melemparkan pandangan dingin ke arahku.
Kami berlima menggelar kotak makan siang kami masing-
masing. Oh, oh, oh, apa yang dibawa si kembar kali ini? Salad ikan
tuna, kentang goreng, kacang polong, es krim loli, dan susu. Makan
siang yang lengkap dan mengundang selera.
Kristy, Mary Anne, dan aku juga membawa makan siang
sendiri. Kristy dan Mary Anne membawa makanan yang sama, yaitu
roti berisi selai kacang dan madu, sebuah apel, sekantong Doritos, dan
sekotak jus buah. Hampir setiap hari mereka membawa makan siang
seperti itu. Mungkin memang seperti itulah makan siang ala
Connecticut.
Lain sekali dengan makan siangku.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Kristy, sambil menunjuk ke arah
kotak makananku.
Aku mengangkat tutup kotak. "Salad tahu." Aku membuka
bungkus kertas aluminium. "Dengan irisan buah apel kering, granola
bar, dan segenggam anggur."
Aku sempat melihat Kristy dan Miranda saling memandang
sambil mengerutkan dahi.
Mary Anne juga melihat apa yang dilakukan teman-temannya
itu. Dia menatapku, kemudian mengangkat bahunya.
"Makanan ini sangat menyehatkan, lho," aku menjelaskan.
"Aku tahu," sahut Kristy. "Makanan yang kamu bawa memang
selalu begitu. Dan juga sangat berbau California.""Dan makanan yang kamu bawa juga sangat berbau
Connecticut," aku membalas.
Aku memutuskan untuk mengganti obyek pembicaraan. Kalau
Kristy ingin membuatku merasa tersisih, aku pun bisa melakukan hal
yang sama. Aku menarik napas panjang.
"Ada apa?" tanya Mariah.
"Oh... ayah Mary Anne dan ibuku berkencan lagi, lho, pada
akhir pekan kemarin. Malahan dua kali."
Kata-kataku itu segera menarik perhatian si kembar Shillaber.
"Masa, sih?" mereka memekik bersamaan.
Mary Anne dan aku menganggukkan kepala. Kemudian kami
saling berpandangan dan tersenyum satu dengan lainnya.
Kristy merengut.
"Ke mana mereka pergi?" tanya Miranda.
"Pada malam Minggu mereka keluar makan malam, dan nonton
film di bioskop. Besoknya mereka pergi lagi untuk makan siang di
restoran."
"Eh, kalian sadar, tidak?" ujar Miranda tiba-tiba.
"Kalau orangtua kalian sampai menikah nanti, kalian berdua"?
Miranda mengangguk ke arah Mary Anne dan aku?"akan menjadi
saudara tiri."
Tiba-tiba suasana jadi sepi. Tidak ada yang mengeluarkan
suara.
Mary Anne dan aku saling berpandangan lagi. Kami sama-sama
terbengong-bengong mendengar kata-kata Miranda. Aku bisa
merasakan bahwa mataku membelalak sama lebarnya dengan mataMary Anne. Seakan-akan bola mata kami mendapat gaya tarik dari
bulan.
Saudara tiri! Kenapa hal itu belum pernah terlintas dalam
pikiran kami selama ini?
"Aku belum pernah berpikir sampai ke sana," aku berkata
dengan lembut.
"Aku juga belum," ujar Mary Anne.
"Aku sudah," Kristy menggerutu.
"Wah, ini hampir sama asyiknya dengan punya saudara
kembar," sahut Mariah.
"Aku akan memiliki seorang saudara laki-laki dan seorang
saudara perempuan!" seruku.
"Dan aku dari dulu sudah kepingin punya seorang saudara
perempuan," kata Mary Anne.
"Aku pikir, aku sudah seperti saudara perempuanmu," ujar
Kristy.
Tak ada seorang pun di meja kami yang mempedulikan kata-
katanya. Kecuali aku. Diam-diam aku mengawasi Kristy untuk
beberapa lama. Dia tampak terkucil dan terluka. Dan tiba-tiba aku
menyadarinya.
Kristy bukannya marah padaku. Dia tidak menyukaiku karena
dia cemburu padaku. Dulu cuma dia satu-satunya sahabat Mary Anne,
tapi sekarang aku juga sudah menjadi sahabat Mary Anne. Dan itu
artinya Mary Anne sudah tidak terlalu membutuhkan Kristy lagi,
seperti pada waktu-waktu yang lalu. Rupanya Kristy terus-terusan
berusaha mengucilkan diriku karena dia sendiri sudah merasa terkucil.Aku teringat bagaimana aku sampai bisa lebih berperan dari dia,
ketika Mary Anne ingin mendekorasi kembali kamarnya. Dengan
serta-merta, aku langsung membantu dan mengatur segala sesuatunya.
Bahkan kami lupa untuk melibatkan Kristy. Dan tentu saja sebelum
aku pindah ke Connecticut, Kristy-lah yang selalu mengatur segala
sesuatunya untuk Mary Anne. Aku yakin itu.
Aku merasa bersalah. Apa yang harus kulakukan agar Kristy
bisa merasa gembira kembali? Dan kalau dia sudah merasa gembira,
apakah dia akan bersikap manis padaku?
Tanpa sadar, Mariah memberikan bantuan padaku.
"Mungkin mereka akan menikah, dan membuat pesta besar-
besaran yang indah. Segala sesuatunya serba putih dan indah. Dan
karangan bunga di mana-mana," dia berkata.
"Ibumu juga akan menikah sebentar lagi, kan, Kristy?" tanyaku.
Kristy menatapku dengan pandangan heran dan berterima kasih.
"Pada musim gugur, mungkin," dia menjawab.
"Dan setelah itu, kamu akan mempunyai dua saudara tiri cilik,
seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki."
"Betul. Ditambah lagi dengan tiga saudara kandungku, yang
semuanya laki-laki."
"Waduh, keluargamu akan bertambah besar," aku berkomentar.
"Yeah," tambah Mary Anne, ikut bicara. "Empat saudara laki-
laki dan satu saudara perempuan."
Kristy mengangguk dengan gembira. "Karen dan Andrew anak-
anak yang menyenangkan."
"Tapi bagaimana caranya membagi ruang dalam rumahmu
untuk sekian banyak orang?" tanya Miranda.Pertanyaan yang bagus. Rumah keluarga Thomas memang tidak
besar. Ada empat kamar tidur, tapi kamar tidur milik David Michael
sangat kecil? hampir-hampir cuma sebesar lemari saja. Dan seluruh
lorong di lantai atas sudah dipenuhi dengan lemari-lemari tambahan.
"Oh," sahut Kristy, "Karen dan Andrew tidak akan tinggal
bersama kami. Mereka akan tinggal bersama ibu mereka. Mereka
hanya akan mengunjungi Watson dua minggu sekali, pada akhir
pekan, dan selama beberapa minggu pada setiap liburan musim panas.
Hari-hari raya mereka rayakan secara bergantian; hari raya pertama
bersama ibu mereka, dan hari raya berikutnya bersama Watson."
"Tapi di mana mereka akan tinggal, kalau mereka sedang
mengunjungi kalian?" tanya Miranda lagi.
"Sebetulnya," Kristy menjawab, "kami tidak perlu menyiapkan
ruangan untuk mereka, karena kami yang akan pindah rumah."
"Ke istana," celetukku.
"Istana betulan?" tanya Miranda.
"Yeah, istana betulan," ujar Kristy.
"Aku pernah ke sana," tambah Mary Anne. "Rumah itu
berukuran raksasa. Apakah kalian masing-masing akan mendapatkan
kamar tidur sendiri?"
"Tentu saja," jawab Kristy. "Ada sembilan kamar tidur di rumah
Watson."
"Apakah kamu akan mendekorasinya kembali? Maksudku,
bolehkah kamu memilih sendiri tirai, kertas dinding, dan lain-lainnya
sesukamu?"
Kristy mengangkat bahu. "Aku rasa boleh. Yang aku inginkan
adalah semua isi kamarku sekarang."Kristy mulai kelihatan agak kesal. Oleh sebab itu aku berusaha
untuk mencairkan suasana. "Kristy dan aku sedang membantu Mary
Anne mendekorasi kembali kamarnya," ujarku.
Si kembar kelihatannya tidak mempedulikan kata-kataku itu.
"Kenapa sih kamu masih menginginkan isi kamarmu yang sekarang?"
tanya Mariah pada Kristy. "Apa kamu tidak bosan? Kan sudah
bertahun-tahun kamu melihat barang-barang yang itu-itu juga."
Aku menusuk salad tahuku. "Coba bayangkan," aku berkata,
"kamu bisa melakukan apa saja yang kamu suka di kamar barumu.
Mungkin dengan teknologi tinggi atau..."
Kristy sedang memakan rotinya. (Dia memandang rotinya itu
seakan-akan ingin membunuhnya.) Dia mengunyah dengan perlahan-
lahan, supaya remah-remah roti jatuh tepat di atas serbet kertas yang
diletakkannya di atas meja.
Kemudian dia membersihkan remah-remah yang masih
menempel di tangannya.
Setelah itu dia berpaling ke arahku. "Yang aku inginkan," dia
berkata dengan dingin, "adalah semua yang sudah kumiliki?di
tempat barang-barang itu berada sekarang. Jadi kamu jangan ikut
campur, oke?"
"Oke," aku menyahut, sambil mengerutkan dahi.


Baby Sitter Club 5 Dawn Dan Tiga Pengacau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Bagus." Lalu Kristy berdiri, membereskan sampahnya,
memasukkannya ke dalam kantong makanannya yang telah kosong,
menutup kotak makanannya, dan berdiri. "Sampai nanti, ya," katanya
sambil melangkah pergi.
"Sampai nanti," ujar Mariah dan Miranda.Aku menoleh pada Mary Anne. Sebenarnya aku ingin bertanya,
"Apakah aku telah mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya?" Tapi
sebelum aku sempat mengucapkan apa-apa, Mary Anne berkata
dengan singkat, "Sebenarnya dia tidak ingin pindah rumah."
"Oh," aku menjawab. Rupanya aku telah membuat kesalahan
lagi. Kemudian aku menyadari bahwa Kristy ingin menekankan
bahwa aku adalah orang baru yang belum mengerti apa-apa. Setidak-
tidaknya di meja mereka.
Usai sekolah hari itu, aku ingin bermain ke rumah Mary Anne.
Sinar matahari terasa menghangati bahuku, pada waktu kami berjalan
pulang bersama-sama.
"Suasana seperti ini mengingatkanku pada California," aku
berkata pada Mary Anne. "Seperti California di bulan Desember. Tapi
lebih baik begini, daripada tidak ada matahari sama sekali."
"Kamu pasti merindukannya, kan?" Mary Anne berkata.
"Maksudku, California."
"Yeah, memang. Aku rasa, kalau aku dibesarkan di sini, di
Stoneybrook, aku akan lebih senang tinggal di sini dan menyukai
cuacanya. Tapi nyatanya aku tidak dibesarkan di sini, jadi aku tidak
menyukai cuacanya."
"Dan, kamu tidak senang di sini?" Mary Anne bertanya. Dia
tampak agak kecewa.
"Oh," ujarku, "bukannya tidak senang. Aku hanya merindukan
beberapa hal. Itu saja, kok. Coba saja kamu pikir, bagaimana rasanya
kalau ayahmu tiba-tiba dipindahkan ke California. Kamu mungkin
tidak akan menyukainya. Setidak-tidaknya pada awalnya.""Betul juga. Tapi aku kepingin melihat kamu senang tinggal di
sini."
"Hei!" ujarku. Aku tersenyum. "Aku kan tidak memprotes apa
pun?kecuali cuacanya. Aku menyukaimu, dan teman-temanmu juga
menyenangkan, begitu pula Baby-sitters Club. Bahkan ada
kemungkinan bahwa kita berdua akan menjadi saudara tiri. Apa lagi
yang kuinginkan?"
"Uang. Sejuta dolar?" Mary Anne mengusulkan.
"Boleh juga, tuh. Dan mungkin kolam renang pribadi."
"Dan tidak perlu sekolah lagi."
"Dan suhu dua puluh tujuh derajat Celcius sepanjang tahun."
"Dan persediaan es krim untuk seumur hidup."
"Dan boneka monyet."
Mary Anne ketawa cekikikan. "Dan... dan... Hei, itu Kristy!
Tuh, di depan sana. Kristy! Kristy!" Mary Anne memanggil.
Walaupun kami berlari-lari menyusulnya aku bisa merasakan
bahwa Kristy tidak senang melihat kami. Sebetulnya, dia tidak senang
karena melihatku. Aku berani bertaruh dia pasti menyangka bahwa
aku mempengaruhi Mary Anne lagi.
"Hai," seru Mary Anne, sesaat setelah kami berhasil menyusul
Kristy. "Apakah kamu ada tugas menjaga anak siang ini?"
"Yeah, menjaga Jamie. Kalian sendiri bagaimana?"
"Kami akan...," Mary Anne mulai berkata. "Kami akan..." Dia
tidak tahu bagaimana harus mengakhiri kalimatnya.
Masalahnya adalah karena kami akan melanjutkan membuat
rencana untuk mendekorasi kembali kamarnya, dan sepertinya dia
menyadari bahwa hal itu akan menyinggung perasaan Kristy lagi."Akan melanjutkan mengerjakan kamarmu?" tanya Kristy.
Mary Anne mengangguk.
"Begitulah."
Aku berdiri bertumpu pada satu kaki lalu pada kaki yang lain.
"Sayang sekali kamu sudah punya acara siang ini," ujarku.
"Sebenarnya kami perlu bantuanmu, lho."
"Yeah, sayang sekali, ya," Kristy berkata dengan tajam.
Aku memandang Mary Anne.
Dia melihat ke arahku, kemudian mengangkat bahunya.
"Bisakah kamu membantu kami besok?" tanyaku.
"Tidak bisa. Aku harus menjaga David Michael."
Mary Anne menunduk, menatap ke bawah.
"Nah," kataku, setelah hening beberapa saat, "kalau begitu
sampai bertemu pada pertemuan rutin sore ini. Selamat bersenang-
senang bersama Jamie Newton."
"Oke. Sampai nanti." Kristy berbalik kemudian berjalan
memasuki halaman rumah keluarga Newton, meninggalkan kami
berdua.
Aku melihat pada Mary Anne, dan dia juga memandang
padaku.
"Apakah dia marah?" Mary Anne bertanya, sambil mengangguk
ke arah Kristy.
"Tidak," sahutku. "Dia cuma cemburu."Bab 5
HARI Selasa siang, tanggal 28 April, aku merasa sangat
gembira. Dengan ceria aku mengucapkan terima kasih pada pembaca
ramalan cuaca di radio WSTO (1313 AM), sebab dialah yang kemarin
mengumumkan bahwa cuaca hari ini akan cerah, dan temperatur akan
naik sampai dua puluh lima setengah derajat Celcius.
Dan ternyata ramalannya benar.
Kalau begini terus, tahun ini Connecticut mungkin akan
mengalami musim panas yang sesungguhnya.
Aku menganggap cuaca yang bagus ini sebagai pertanda bahwa
tugasku di rumah keluarga Barrett, klien baru Baby-sitters Club, akan
berjalan dengan lancar. Aku bertugas menjaga Buddy, Suzi, dan
Marnie Barrett, dan aku sudah tak sabar untuk berkenalan dengan
mereka.
Ketika aku memencet bel rumah keluarga Barrett sore itu, pintu
dibuka oleh Suzi. Kelihatannya dia pemalu.
"Hai, Suzi," aku menyapanya. "Aku Dawn. Aku pernah
mengobati lukamu tempo hari. Kamu ingat, kan?"
Dia menganggukkan kepalanya.
"Nah, hari ini, aku akan menjadi baby-sitter-mu. Apakah ibumu
ada di rumah?"Suzi mengangguk lagi.
Pada saat itu, sebuah kepala kecil berambut pirang menyembul
di belakang Suzi.
"Marnie?" aku menebak.
Suzi mengangguk.
"Boleh aku masuk?" akhirnya aku bertanya.
Suzi mengangguk.
Aku melangkah memasuki ruang depan. "Halo?" aku berseru.
"HAYO! HAYO! DOR-DOR-DOR!"
Rasanya aku terlompat beberapa ratus meter ke belakang, ketika
Buddy, yang memakai topi koboi dan sepatu katak, tiba-tiba
melompat memasuki ruang duduk. Dia menodongkan sebuah pistol
laser mainan ke arahku.
"Dor! Mati kamu! Mati kamu!" dia berteriak-teriak.
Aku mengangkat alis melihat adegan itu. Kemudian dengan
gaya santai aku beranjak mendekati Buddy, lalu mengambil pistol-
pistolan yang dipegangnya. "Halo," aku menyapa. "Aku Dawn
Schafer. Kita pernah bertemu di rumah keluarga Pike. Hari ini aku
menjadi baby-sitter-mu. Aku tidak suka pistol. Karena itu, selama aku
ada di sini kalian dilarang bermain tembak-tembakan. Ini juga berlaku
untuk anak-anak perempuan, lho," aku berkata pada Suzi dan Marnie.
Suzi mengangguk.
Marnie menatapku sambil membelalakkan matanya yang biru.
Aku baru sadar bahwa overall yang dipakai Suzi ternyata belum
dikancingkan, dan bahwa blus di bawah overall-nya tidak dimasukkan
dengan rapi. Selain itu aku juga memperhatikan bahwa popok Marnie
kedodoran. Perban yang sudah kumal masih melilit di salah satu jaritangan Buddy. Dan yang lebih parah lagi, rambut ketiga anak itu kusut
dan berantakan, sepertinya tidak pernah disisir.
Aku melongok ke dalam ruang duduk. Pemandangan yang
mengerikan. Kertas-kertas koran dan mainan bertebaran di mana-
mana. Sebuah piring berisi remah-remah roti tergeletak di bawah
lampu meja. Meja itu pernah ketumpahan cairan berwarna merah,
yang tidak pernah dibersihkan. Memang, rumah kami juga tidak
pernah teratur, tapi rumah keluarga Barrett sudah keterlaluan. Seperti
kandang babi saja.
Aku memberanikan diri untuk melongok ke dapur. Wah,
ternyata lebih mengerikan lagi. Tumpukan perlengkapan makan yang
belum dicuci menggunung di tempat cuci piring. Mangkuk-mangkuk,
piring-piring, serbet, bungkus-bungkus popcorn, dan sejuta nampan
bekas makan malam. Bekas sarapan tadi pagi masih tergeletak di atas
meja makan. Aku langsung tahu apa yang dibuat Bu Barrett untuk
sarapan tadi pagi, karena bekas-bekasnya masih kelihatan jelas. Telur
setengah matang (kuning telurnya, yang sekarang sudah mengeras,
menempel pada permukaan piring), jus jeruk (ampasnya sudah
mengering di dasar gelas), pisang (kulitnya masih tergeletak di atas
meja), dan kue tar (salah seorang menyisakan bagian tepinya yang
keras).
Ya ampun. Betul-betul berantakan.
Aku masih terus mengamati dapur yang porak-poranda itu,
ketika terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Aku
membalikkan badan dan melihat seorang wanita muda yang sangat
cantik bergegas ke arah kami. Penampilannya seperti peragawati.
Sungguh. Dia memakai blus sutera, setelan jas yang manis, sepatutinggi berwarna coklat, dan perhiasan emas?tidak berlebihan, sih,
tapi cukup untuk menarik perhatian. Rambutnya yang berombak
disisir ke belakang dan bau wangi parfum yang dipakainya langsung
menyebar ke seluruh ruangan.
"Dawn?" dia bertanya dengan napas tersengal-sengal.
"Ya. Hai, Bu Barrett."
"Terima kasih karena kamu mau datang kemari." Dia tersenyum
hangat kepadaku, kemudian dengan terburu-buru dia mencium
Marnie, Suzi, dan Buddy.
"Sampai nanti, sayangku. Jangan nakal di rumah." Dia bergegas
menuju pintu depan.
"Tunggu dulu!" aku memanggil. "Ke mana Ibu akan pergi?"
"Aku dipanggil untuk wawancara pekerjaan. Dan aku sudah
terlambat. Buddy, jangan bandel, ya. Dan tolong buka pintu belakang
untuk Pow. Sepertinya dia mau masuk," Bu Barrett berkata sambil
berjalan keluar.
"Sebentar, Bu, apa yang harus saya lakukan sore ini?" Apa Bu
Barrett tidak punya petunjuk-petunjuk khusus, seperti yang biasanya
diberikan oleh para orangtua yang menitipkan anak mereka? Makan
kue pada jam empat, atau membantu mengerjakan PR, atau apa saja.
Bu Barrett berhenti. Untuk beberapa saat wajahnya yang ayu itu
kelihatan bingung. "Cuma... menjaga mereka saja," ujarnya.
"Bagaimana kalau... kalau ada keadaan darurat?" aku bertanya
lagi. "Bagaimana caranya saya bisa menghubungi Ibu?"
"Aku akan berada di kantor Mason and Company. Kantor
mereka di Spring Street. Atau kamu juga bisa menghubungi keluarga
Pike, oke?""Yah..." (Mobil Bu Barrett mundur dari garasinya dan menuju
ke jalan raya.) "...baiklah," aku menyelesaikan kalimatku, pada saat
dia melambai ke arah kami dari jendela mobilnya. Dan kemudian
mobilnya melesat meninggalkan kami.
Aku menatap anak-anak Barrett. Mereka juga memandang ke
arahku.
"Kalian sudah pernah melihat film Mary Poppins?" aku
bertanya pada mereka.
Ketiganya menggelengkan kepala.
Sial. Tadinya aku berpikir bahwa aku bisa mengajak mereka
membersihkan ruang duduk dengan berpura-pura menjadi Mary
Poppins, Jane, dan Michael Banks yang sedang membersihkan ruang
bermain mereka.
"Nah, sekarang aku ingin tanya, apakah kalian mau membuat
kejutan untuk ibu kalian?"
"Mau!" ujar Buddy segera. Sepertinya dia akan melakukan apa
saja untuk membahagiakan ibunya.
"Baiklah. Kita akan membuat kejutan untuknya dengan cara
mempersembahkan rumah yang bersih."
"Apa bisa?" tanya Buddy dengan curiga.
"Jelas bisa, dong. Pertama-tama kamu harus memasukkan si
Pow dulu. Setelah itu aku akan membagi tugas yang harus dilakukan
oleh kita masing-masing."
"Oke."
Buddy langsung menghilang. Sementara itu aku
mengancingkan baju Suzi dan memasang tali overall Marnie.
Kemudian aku mengeluarkan sisir dari dalam tasku untuk menyisirrambut Marnie yang keriting. "Rambut kamu nanti, ya," aku berkata
pada Suzi. "Soalnya kepang-kepangmu harus dilepas dulu."
Suzi mengangguk.
Buddy sudah kembali, diikuti oleh seekor anjing basset
bertelinga panjang yang kelihatan lesu karena mengantuk. "Ini Pow,"
Buddy mengumumkan. "Anjing tergalak yang pernah hidup."
Kelopak mata Pow terpejam. Dia merebahkan diri ke samping.
"Kamu yakin?" tanyaku.
"Yap," jawab Buddy.
"Mungkin hari ini dia kurang bersemangat, ya," ujarku pada
saat Pow mulai tertidur. "Oke, anak-anak, apakah kalian sudah siap
untuk bermain? Aku akan mengukur berapa waktu yang kita perlukan
untuk membersihkan ruang duduk. Ambil barang-barang yang tidak
seharusnya berada di sini, dan letakkan semuanya di tempat yang
seharusnya. Habis itu kita bersihkan ruangan ini. Tapi hati-hati, ya.
Jangan bekerja terlalu cepat, supaya kalian tidak menyenggol atau
memecahkan sesuatu. Kalau ada barang yang pecah, kita terpaksa
menambahkan angka hukuman." Aku melirik arlojiku. Jarum detiknya
sedang mendekati angka dua belas.
"Bersiap-siap!" Suzi, Buddy, dan aku berdesak-desakan di
ambang pintu ruang duduk. Buddy mencopot sepatu kataknya.
(Marnie tidak mengerti apa yang sedang terjadi.)
"Siap?" Kami membungkuk seperti posisi start pada
perlombaan lari seratus meter.
"MULAI!"Kami menghambur ke ruang duduk dan suasana sibuk dimulai.
Buddy menemukan tiga buah piring lalu membawa semuanya ke
dapur sambil berlari.
"Bawakan lap kalau kamu kembali kemari!" aku berseru.
Buddy kembali dan melemparkan sebuah lap padaku. Aku
menyeka meja sementara Suzi mengumpulkan koran-koran yang
bertebaran.
"Apakah ibumu biasa mengumpulkan koran-koran bekas?"
tanyaku.
Suzi menggelengkan kepala.
"Nah, koran-koran itu harus ditumpuk dan diikat, supaya lebih
mudah dibawa oleh tukang sampah," aku berkata padanya.
Suzi mulai menumpuk koran-koran. Sementara itu aku
membetulkan letak bantalan kursi, dan Buddy mengumpulkan
mainan-mainan. Marnie juga ikut membantunya.
Dalam beberapa menit saja kami berhasil menyulap ruang
duduk menjadi betul-betul berbeda. Sepertinya ruangan itu bukan lagi
bagian dari rumah duduk Barrett. Ruangannya begitu bersih, sehingga
bisa digunakan untuk acara iklan di TV. Aku melihat jarum jam.
"Enam menit tujuh belas detik!" aku mengumumkan.
"Apakah itu rekor baru?" teriak Buddy.
"Mungkin saja," aku berkata. "Tapi kita bisa memecahkannya
dengan membersihkan dapur. Apakah kalian mau memecahkan rekor
itu?"
"Mau, mau, mau!" seru Buddy.


Baby Sitter Club 5 Dawn Dan Tiga Pengacau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Suzi tersenyum malu-malu padaku. Matanya bersinar-sinar.
Marnie mengangkat wajahnya dan mengerutkan hidungnya."Itu namanya muka-jelek," Buddy memberitahuku. "Dia biasa
begitu kalau sedang senang."
Aku tersenyum lebar mendengarnya. "Oke, semuanya, ada
beberapa petunjuk khusus untuk memecahkan rekor kali ini. Aku
bertugas memasukkan piring-piring ke dalam mesin cuci piring.
Kalian berdua membantu membawakan piring-piring kotor. Semua
sampah harus dimasukkan ke dalam tempat sampah, dan semua
barang yang tidak seharusnya terletak di dapur harap dikembalikan ke
tempat seharusnya. Mengerti?"
"Mengerti," ujar Buddy.
"Mengerti," sahut Suzi.
Marnie pasang muka-jelek lagi.
Ternyata membersihkan dapur lebih sulit daripada
membereskan ruang duduk. Waktu yang dibutuhkan lebih lama dari
yang aku bayangkan. Kami harus membilas piring-piring dan gelas-
gelas sebelum dimasukkan ke dalam mesin cuci piring. Tapi
bagaimanapun juga, kami bekerja dengan giat. Suzi membersihkan
sampah yang tergeletak di tempat cuci piring, lalu memasukkannya ke
dalam tempat sampah. Buddy mengepel lantai. Marnie menemukan
sekantong permen coklat M&M, dan mulai memakannya. Aku segera
menghentikannya, kemudian memberinya sebuah serbet kertas, dan
menunjukkan padanya bagaimana membersihkan lantai di sekitar
tempat minum Pow.
Waktu semuanya sudah beres, aku melirik arlojiku lagi. "Wah,
sayang! Ternyata kita belum bisa memecahkan rekor. Waktunya
sebelas menit empat puluh delapan detik."
"Sial," keluh Buddy."Yeah, sial," sahut Suzi.
"Ayo, sekarang kita bersihkan ruang bermain," Buddy
mengusulkan. "Di situ berantakan sekali. Kalau kita bisa memecahkan
rekor di situ, itu baru hebat."
Maka kami membereskan ruang bermain juga. (Rekor masih
belum dapat dipecahkan.) Bu Barrett pasti tidak akan mengenali
rumahnya lagi kalau dia pulang nanti.
Anak-anak Barrett dan aku beristirahat di sofa. Pow mondar-
mandir di dalam rumah. Buddy mengarahkan jari telunjuknya kepada
Pow'. "Dor, dor!" dia memekik.
Aku meletakkan tanganku di atas tangannya. "Hei, ingat kata-
kataku soal pistol tadi?" aku mengingatkannya. "Selama aku di sini,
tidak ada tembak-tembakan." ebukulawas.blogspot.com
"Oh, ya? Siapa yang mengangkat kamu jadi pengatur di sini?"
Buddy bertanya dengan nada menantang. Dia bangkit dari duduknya
dan berdiri di depanku. Lagaknya seperti koboi yang akan berduel,
lengkap dengan topi koboi yang dimiringkan.
Perlahan-lahan dia mengangkat pistol-jarinya, lalu
mengarahkannya padaku.
"Buddy," ujarku dengan tenang, "selama aku bertugas sebagai
baby-sitter di sini, akulah yang mengatur kalian. Aku yang
bertanggung jawab. Dan aku bilang, tidak ada permainan tembak-
tembakan lagi."
"Memangnya kenapa, sih?"
"Karena pistol sungguhan adalah benda yang berbahaya, dan
tidak boleh dipakai untuk bermain-main. Kita tidak bolehmenganggap pistol sebagai mainan. Kan masih banyak permainan lain
yang menarik."
"Contohnya?"
"Misalnya, aku berperan sebagai penata rambut, dan kamu
sebagai ayah, sedangkan Suzi dan Marnie anak-anakmu. Ceritanya,
kamu bermaksud membawa anak-anakmu ke salon kecantikan untuk
menata rambut mereka."
Buddy mempertimbangkan usulku. "Aku sebagai ayah?" dia
bertanya.
"Yap."
"Jadi aku boleh mengatur mereka?" Dia menunjuk kedua
adiknya.
"Yap."
"Oke, deh."
Dengan demikian aku dapat menyelesaikan dua masalah
sekaligus. Pertama, aku bisa mengepang kembali rambut Suzi (dan
bahkan menyisir rambut Buddy). Dan kedua, aku mengalihkan
perhatian Buddy dari permainan tembak-tembakan. Buddy tidak akan
kuizinkan bermain dengan pistol selama aku menjadi baby-sitter-nya.
Kira-kira jam lima, anak-anak mulai merasa capek dan tingkah
mereka mulai aneh-aneh. Buddy ngomel pada Pow. Marnie tidak lagi
pasang muka-jelek. Suzi berhenti bicara dan mulai mengangguk-
anggukkan kepalanya lagi.
"Apakah kamu punya ayah?" Buddy tiba-tiba bertanya padaku.
Kami sedang duduk di lantai di mang bermain. Aku
menatapnya dengan heran. "Jelas, dong," aku menyahut. "Tapi dia
tidak ada di sini. Maksudku, dia sudah tidak tinggal bersama kami.""Masa?" ujar Buddy.
Aku menarik napas. "Yeah. Ayahku ada di California. Lima
ribu kilometer dari sini."
Buddy mengangguk penuh pengertian. Kalau begitu, dia
kelihatan seperti orang tua berbadan kecil. "Kami juga tidak punya
ayah lagi."
"Ibuku dan ayahku sudah bercerai," aku menerangkan.
"Ibu dan ayah kami juga," kata Buddy.
"Aku tahu."
Suzi sedang membantu Marnie membangun sebuah menara dari
mangkuk-mangkuk kertas. Karena tertarik, dia berpaling ke arah
kami. "Berapa lama sih sebuah perceraian?" dia bertanya.
"Perceraian adalah untuk selama-lamanya."
"Memang, Mama juga pernah bilang begitu, tapi..."
"Tapi kamu tetap mengharapkan ayahmu kembali ke rumah,
kan?"
"Yeah," ujar Buddy dan Suzi bersamaan.
"Aku juga begitu," ujarku, "tapi aku tahu ayahku tidak mau
melakukannya."
"Kamu kangen pada ayahmu?" tanya Buddy.
"Kangen sekali."
"Aku juga."
Buddy beranjak mendekat sampai akhirnya dia duduk di
sebelahku. Aku melingkarkan lenganku di pundaknya. Kemudian
dengan tangan yang satu lagi, aku meraih tangan Suzi. Tapi Suzi tidak
mau menerima tanganku. Dia malah melompat berdiri."Kamu. Adalah. Pembohong!" dia berteriak, sambil menunjuk
ke arahku. "Pembohong." Lalu dia berlari keluar dari ruang bermain
dan menaiki tangga.
"Apa aku salah ngomong?" tanyaku pada Buddy.
Buddy mengerutkan keningnya. "Mungkin karena kamu bilang
ayahmu tidak akan pulang lagi. Dia yakin sekali bahwa ayah kami
akan pulang suatu hari nanti."
"Hmm," aku menyahut. "Baiklah, untuk sementara kita biarkan
saja dia sendirian."
Buddy menghidupkan TV. Dan setelah mengatur posisinya di
sofa, dia asyik nonton sebuah film kartun. Beberapa saat kemudian
aku memutuskan untuk membawa Marnie ke atas, untuk mengganti
popoknya. Ternyata Marnie dan Suzi tidur di ruang yang sama. Tapi
Suzi tidak ada di kamarnya. Karena pintu ke kamar mandi tertutup,
aku langsung tahu bahwa dia ada di dalamnya.
Sesaat setelah aku selesai dengan Marnie, pintu kamar mandi
terbuka sedikit. Suzi mengintip dari balik pintu. "Dawn?" dia
bertanya.
"Yeah?"
"Ada kecelakaan kecil..." Wajah Suzi mulai berkerut-kerut dan
kemudian tangisnya meledak.
"Hei, tidak apa-apa, kok," ujarku. "Setiap orang bisa saja
mengalami kecelakaan." Aku mengangkat Marnie, lalu
memasukkannya ke dalam boksnya. Setelah itu aku masuk ke kamar
mandi, dan menutup pintu.
"Aku ngompol," Suzi meraung."Tidak apa-apa, jangan menangis," aku berkata padanya. Aku
meraih beberapa lembar tisu. Kemudian aku menyeka genangan di
lantai.
"Apakah kita harus bilang pada Mama?" tanya Suzi.
"Tidak perlu, kalau kamu tidak mau. Ayo, sekarang kita bilas
celana panjang dan pakaian dalammu. Lalu kita ambil yang baru dari
lemari pakaian. Nah, kan semua jadi beres."
Ketika kami?Suzi, Marnie, dan aku?sampai di bawah, Suzi
sudah bisa tersenyum lagi. Beberapa menit kemudian, Bu Barrett
pulang. Kalau saja aku membawa kamera, akan kupotret ekspresi
wajahnya yang terbengong-bengong waktu melihat rumahnya telah
disulap menjadi bersih.
"Kamu memang ajaib, Dawn!" dia berseru.
"Dia baby-sitter terbaik yang pernah menjaga kami," Buddy
menambahkan.
"Dia favorit kami," kata Suzi tidak mau ketinggalan.
"Kuharap, kamu mau datang lagi kemari," ujar Bu Barrett
sambil membayarku.
"Boleh saja," aku berkata padanya dengan ceria.
Kalau saja aku tahu seberapa seringnya aku akan datang ke
rumah itu, tidak akan secepat itu aku memberikan jawaban padanya.Bab 6KRISTY beruntung sekali. Aku juga berharap mempunyai adik-
adik tiri seperti Andrew dan Karen. Baru sekali aku bertugas menjaga
mereka, dan mereka sangat menyenangkan dan lucu, biarpun Andrew
agak pemalu dan Karen agak cerewet.
Aku sengaja mengajukan segudang pertanyaan pada Kristy
tentang pengalamannya di rumah Watson, karena aku berusaha keras
untuk bersikap ramah padanya. Kristy selalu bersemangat kalau ada
urusan yang berhubungan dengan Andrew dan Karen. Dan inilah yang
diceritakannya padaku.
Sesaat setelah Pak Brewer meninggalkan rumah, Karen
langsung menarik-narik Kristy ke ruang keluarga sambil berkata,
"Ayo dong, kita main 'Selamat Datang, Tuan dan Nyonya'."
"Boleh saja," sahut Kristy, "tapi kurasa jumlah pemainnya
kurang, nih. Kan permainan ini lebih ramai kalau dimainkan oleh
empat orang."
"Selamat Datang, Tuan dan Nyonya" adalah suatu permainan
yang diciptakan oleh Karen. Karen baru saja menginjak umur enam
tahun, tapi dia sangat cerdas. Dia keluar dari Taman Kanak-kanak
akhir musim gugur yang lalu, dan dimasukkan ke kelas satu setelah
Natal. Tampaknya dia tidak menemui kesulitan sama sekali untuk
menyesuaikan diri. Dan kini dia sedang gila-gilanya membaca, dan
mampu menambahkan atau mengurangi angka-angka hampir sama
cepatnya dengan aku.
Permainan ini adalah tentang para tamu yang mengunjungi
sebuah hotel kuno yang besar dan mewah. Karen selalu memberikan
peran petugas penyambut tamu pada Kristy (atau siapa pun yang
tertua di situ). Dia sendiri dan Andrew serta teman-temannya secarabergantian memasuki lobi hotel. Ada yang berperan sebagai pelayan
hotel, atau sebagai tamu dengan penampilan aneh?misalnya, wanita
tua yang kaya dengan pakaian dari bulu binatang, kapten kapal laut,
atau orang-orang terkenal. Karen dan Andrew memiliki koleksi
pakaian dan kostum yang cukup lengkap, sehingga hampir semua
tokoh yang mereka perankan bisa ditampilkan dengan baik. Di
samping itu, ruang duduk di rumah Pak Brewer memang cocok untuk
digunakan sebagai lobi hotel.
Telah kusebutkan tadi bahwa Pak Brewer seorang pria yang
kaya raya, dan bahwa rumahnya mirip istana. Di dalamnya penuh
dengan perabot dan barang-barang yang mahal-mahal. Tapi dia tidak
membuat rumahnya itu menjadi sebuah museum. Maksudku, dia
mengizinkan Karen dan Andrew bermain di ruang mana saja di dalam
rumah, seperti di ruang duduk, ruang makan, ruang kerja, dan ruang-
ruang lainnya. Padahal di mana-mana ada barang-barang antik yang
mudah rusak. Sepanjang pengetahuanku, anak-anak itu selalu berhati-
hati. Mungkin karena Karen dan Andrew sadar bahwa Pak Brewer
percaya penuh pada mereka. Dan mereka tidak mau merusak
kepercayaannya itu.
Pokoknya, ruang duduk di rumah itu berukuran raksasa?cukup
besar untuk menampung sebuah grand piano, dan bahkan sebuah
pohon kecil, yang diletakkan di dalam pot kuningan di dekat perapian.
Ada tiga sofa, lima kursi dengan sandaran tangan, sebuah meja rendah
memanjang yang terbuat dari kaca, beberapa meja pojok, dan sebuah
lampu gantung kristal. Sebagai pengganti karpet, di sana-sini Pak
Brewer meletakkan permadani-permadani kecil dengan tenunan
bermotif tradisional. Dengan demikian, lantai kayunya yang dipelitursampai mengkilap tetap terlihat. Sepintas ruangan itu mirip lobi hotel,
terutama jika dilihat dengan mata setengah terpejam dan dengan
menggunakan sedikit imajinasi?dan dalam hal terakhir ini Kristy,
Karen, dan bahkan Andrew (walaupun dia belum lagi berumur empat
tahun) memang punya bakat.
"Aku tahu siapa yang bisa menjadi orang keempat dalam
permainan ini," Karen berkata pada Kristy Sabtu sore itu.
"Siapa?"
"Hannie Papadakis."
Hannie adalah salah seorang teman baru Karen di kelas satu.
Rumahnya di seberang jalan, berjarak dua rumah dari rumah Karen.
Kristy sudah berkali-kali bertemu dengan Hannie dan dia menyukai
anak itu.
"Oke, deh," ujar Kristy. "Ayo, kita telepon dia. Kamu undang
dia kemari, tapi aku harus bicara dengan ibunya ataupun ayahnya."
(Seorang baby-sitter yang baik selalu melibatkan orangtua
dalam setiap rencana yang menyangkut anak-anak kecil. Kristy tahu
bahwa Pak dan Bu Papadakis mungkin tidak menginginkan Hannie
bermain ke sebuah rumah yang tidak ada orangtuanya, dan hanya
dijaga oleh seorang baby-sitter.)
Tapi Pak Papadakis bilang Hannie boleh bermain ke rumah
Karen. Dan beberapa menit kemudian, Hannie sudah berdiri di muka
pintu depan sambil memencet bel.
Karen dan Andrew berlari-lari untuk membuka pintu.
"Lihat dulu siapa yang datang, sebelum kalian membuka
pintunya," Kristy memperingatkan mereka. (Tak ada salahnya berhati-
hati.)Karen mengintip dari jendela sebelah kiri, sementara Andrew
mengintip dari jendela sebelah kanan. "Hannie yang datang!" mereka
berteriak hampir bersamaan.
"Oke, biarkan dia masuk."
Karen menahan pintu agar tetap terbuka sambil mempersilakan
Hannie masuk ke ruang keluarga. "Kamu sudah siap untuk bermain
'Selamat Datang, Tuan dan Nyonya'?" Karen bertanya dengan
gembira. "Itulah yang akan kita mainkan hari ini." Kadang-kadang
Karen sok ngatur. Aku heran dia dan Kristy bisa cocok satu dengan
lainnya.
"Aku sudah siap," jawab Hannie, yang sudah sering ambil
bagian dalam permainan itu. "Pertama-tama, aku akan berperan
sebagai Nyonya Nos wimple."
"Oke," ujar Karen. "Kristy, kamu berdiri di belakang meja
penerima tamu. Andrew, kamu menjadi petugas pengangkat koper,
ya!"
Karena masih kecil, Andrew sering diberi peran-peran yang
kurang menarik, seperti penjaga lift atau petugas pengangkat koper
atau peran lain yang tidak begitu penting, misalnya anak salah seorang
tamu. Malahan pernah Karen menyuruhnya berperan sebagai anjing
spaniel milik seorang tamu.
Kristy duduk di lantai, di belakang meja kaca yang rendah.
Karen sudah menyiapkan pensil, buku, dan bel di atas meja itu.
"Ayo, Hannie, aku bantu memakaikan baju Nyonya Nos


Baby Sitter Club 5 Dawn Dan Tiga Pengacau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

wimple. Andrew, ambil topi dan jaketmu."
Ketiga anak itu berlari menaiki tangga menuju ruang bermain di
lantai dua. Beberapa menit kemudian, mereka kembali ke bawah.Andrew sudah memakai topi merah dan jaket biru yang dihiasi dengan
renda-renda berwarna emas. Hannie memakai rok panjang, sepatu
pantofel mengkilap dengan tumit tinggi, selendang dari bulu binatang,
dan topi lengkap dengan kerudungnya. Tangannya yang satu
memegang kacamata bergaya kuno yang dipasang pada tongkat
berhiaskan permata. Di belakang Hannie, Karen berperan sebagai
Nyonya Misterius, dengan pakaian serba hitam?termasuk tutup mata
bajak laut berwarna hitam, dan rambut palsu yang mengerikan.
"Semua bersiap-siap pada tempat masing-masing!" Karen
memberi perintah.
Andrew berlari dan berdiri di sebelah meja Kristy. Karen
menunggu di ruang depan, karena tamu-tamu hotel selalu datang satu
per satu. Sedangkan Hannie sudah melewati ambang pintu.
Dia berjalan memasuki lobi hotel sambil berusaha mengatur
gayanya agar dapat tampil seanggun mungkin. Suara gedebak-
gedebuk terdengar dari sepatu yang dipakainya (enam nomor lebih
besar daripada ukuran kakinya). "Haloo," dia berkata dengan suara
tinggi melengking.
"Selamat datang," sahut Kristy. "Silakan masuk, Nyonya
Noswimple. Senang sekali bisa berjumpa lagi dengan Anda."
"Oh, terima kasih," jawab Hannie. "Kali ini saya hanya ingin
menginap selama satu malam saja. Besok saya akan bertemu dengan
suami saya di Canada. Kami akan menghadiri pesta bersama sang
Ratu. Dan sang Maharaja."
"Menyenangkan sekali," ujar Kristy. "Apakah Maharaja akan
memakai pakaiannya yang baru?""Oh, itu pasti. Beliau mempunyai satu setel pakaian yang
terbuat dari perak," sahut Hannie, tanpa menangkap maksud Kristy
sebenarnya, yaitu dongeng Pakaian Baru sang Maharaja.
"Oh," kata Kristy. "Nah, tolong bubuhkan tanda tangan Anda di
buku registrasi dan setelah itu bapak ini (Kristy menunjuk kepada
Andrew) akan menunjukkan kamar Nyonya."
"Oke." Hannie membungkuk di atas buku gambar, sambil
meraih pensil. "Kristy," dia berbisik, "bagaimana mengeja
'Noswimple'?"
Kristy mengeja kata itu sementara Hannie menuliskannya
dengan hati-hati. Setelah selesai dia menegakkan kembali badannya.
"Sudah siap, Pak? Saya membawa dua koper dan sebuah kotak berisi
topi. Tolong dibawakan, ya."
"Siap, Nyonya Noswimple," sahut Andrew.
Andrew dan Hannie berjalan meninggalkan ruang duduk dan
Karen mulai masuk.
"Aduh, ini baru kejutan!" teriak Kristy. "Nyonya Misterius!
Betul-betul suatu kejutan! Senang sekali bisa bertemu lagi dengan
Anda. Sudah lama Anda tidak pernah datang ke hotel kami."
"Heh, heh," Karen terkekeh-kekeh. "Saya baru saja pulang dari
Pertemuan Misterius di Transylvania. Semua tukang sihir, dukun,
hantu, makhluk mengerikan, dan semua orang misterius berkumpul di
sana."
"Pantas Anda kelihatan begitu misterius hari ini," ujar Kristy.
"Terima kasih," Karen menjawab dengan sopan. "Saya memang
selalu berpenampilan misterius, kan." Kalimat itu diucapkannya
sebagai pernyataan, bukan pertanyaan. Karen berjalan ke depansebuah jendela tinggi?tingginya dari lantai sampai ke langit-langit?
yang menghadap ke halaman depan rumah keluarga Brewer. "Ini
adalah cermin," dia berkata pada Kristy. "Saya akan..."
Kata-kata Karen terhenti secara tiba-tiba. Dia memekik.
Begitu juga Kristy.
Andrew dan Hannie berlari memasuki ruang duduk untuk
melihat apa yang terjadi. Andrew terkesiap lalu bersembunyi di balik
sebuah kursi berlengan. Hannie membuka mata dan mulutnya lebar-
lebar, tapi tidak dapat bersuara sedikit pun.
Belakangan Kristy bilang padaku bahwa saking kagetnya, dia
sempat merasa mau pingsan.
Pemandangan menakutkan yang mereka lihat pada saat Karen
berdiri di depan "cermin" adalah makhluk mengerikan berpakaian
serba hitam. Hanya saja makhluk itu bukanlah bayangan diri Karen
dalam kaca, melainkan seseorang yang berdiri di luar jendela?Bu
Porter, tetangga sebelah.
Masalahnya, Karen yakin sekali bahwa Bu Porter seorang
tukang sihir. Dan bahwa nama sebenarnya Morbidda Destiny. Karen
selalu berusaha meyakinkan semua orang?Andrew, Hannie, Kristy,
dan para anggota Baby-sitters Club (terutama Mary Anne)?bahwa
Bu Porter betul-betul seorang tukang sihir. Jadi tidak heran kalau
semua orang jadi panik.
Bu Porter menunjuk pintu depan. Mantel hitamnya melambai-
lambai.
"Aduh," ujar Kristy dengan berdebar-debar. "Mau apa dia di
sini?""Mungkin mau minta hidung kodok atau rambut tikus atau
semacamnya untuk membuat ramuan. Pasti dia sedang memasak," ujar
Karen.
"Jangan mengada-ada," sahut Kristy.
Dengan kaki yang rasanya seperti diberi pemberat dari besi,
Kristy melangkah ke ruang depan untuk membuka pintu?sedikit saja.
Bu Porter berdiri di tangga teratas teras depan. Dia beranjak
maju sehingga hidungnya hampir mengenai wajah Kristy.
Kristy melompat ke belakang.
"Aku sudah memencet bel dari tadi," Bu Porter berkata dengan
suara yang membuat bulu kuduk berdiri, "tapi kalian tidak
membukakan pintu."
"Kadang-kadang bel di rumah ini macet," ujar Karen malu-malu
dari tempat bersembunyinya di belakang Kristy.
"Ada... adakah yang bisa saya bantu?" Kristy bertanya. Terakhir
kali Bu Porter datang adalah untuk memarahi si Boo-Boo, kucing tua
milik keluarga Brewer. Waktu itu Boo-Boo meninggalkan sisa-sisa
tikus yang dimakannya di serambi depan rumah Bu Porter.
"Aku sedang memasak. Aku perlu meminjam sesuatu."
Kristy baru menyadari bahwa di sudut mulut Bu Porter ada
bekas luka, yang nampak bergerak-gerak kalau dia sedang bicara.
Karen menyenggol punggung Kristy. "Apa kataku?" dia
berbisik. "Morbidda Destiny sedang memasak."
Kristy memberi isyarat agar Karen diam. "Anda perlu apa Bu
Porter?" dia lalu bertanya.
"Minyak jintan dan ketumbar."
"Ohhh!" pekik Karen."Ohhh!" pekik Andrew dan Hannie, yang ikut mengawasi
semuanya dari tempat yang lebih aman di ruang keluarga.
"Sst," kata Kristy. "Itu cuma bumbu-bumbu dapur saja, kok."
Dia berpaling lagi pada Bu Porter. "Beribu-ribu maaf, tapi saya rasa
Pak Brewer tidak memilikinya. Beliau jarang sekali memasak."
"Yah, tidak ada salahnya kalau aku bertanya." Bu Porter
mendadak membalikkan badannya, lalu bergegas menuruni tangga
dan berjalan menuju rumahnya. Mantel dan baju panjangnya yang
berwarna hitam melambai-lambai tertiup angin.
Keberanian Karen, Andrew, dan Hannie timbul kembali.
Mereka berlari ke ruang depan dan mengawasi wanita itu pergi. Kristy
ikut mengintai bersama mereka. Mereka melihatnya berhenti sebentar
di kebun sayur miliknya, untuk memeriksa daun-daun muda yang baru
tumbuh. Kemudian dia melangkah menaiki tangga serambi depan
rumahnya. Dan akhirnya dia mengambil sebuah sapu dan
membawanya ke dalam rumah sambil diajak bicara.
Kristy menutup pintu sebelum anak-anak menjadi panik lagi.
Sesaat setelah dia melakukannya, ada sesuatu yang terlintas dalam
pikirannya. "Karen," ujarnya, "di mana Boo-Boo?"
"Ehm," sahut Karen, "aku tidak tahu. Tapi barangkali dia ada di
atas. Ayo, aku tunjukkan tempatnya." Karen berlari menaiki tangga,
dan yang lain bergegas menyusulnya.
Dia berlari sepanjang lorong di lantai atas, melewati ruang
bermain, melewati kamarnya sendiri, melewati kamar Andrew, dan
masih melewati dua kamar tamu lagi. Akhirnya dia berhenti di depan
kamar di ujung lorong.Kristy melihat ke dalamnya. Boo-Boo, kucing tergendut di
dunia, sedang tidur melingkar di atas ranjang.
"Oh, untung saja," Kristy berkata sambil menarik napas lega.
"Tadinya aku takut kalau-kalau dia bermain di taman Bu Porter lagi."
"Tidak mungkin," ujar Karen. "Dia sekarang takut pada
Morbidda Destiny. Sepanjang hari dia di dalam rumah terus. Paling
sering dia berada di kamar ini. Dan dia tidak pernah naik ke lantai tiga
lagi. Kamu tahu sebabnya?"
"Kenapa? Rasanya aku takut untuk menanyakannya."
"Karena ruang bawah atap ada hantunya."
"Karen...," Kristy memperingatkan.
"Masa?" sahut Hannie sambil membelalakkan mata.
Karen mengangguk bersungguh-sungguh. "Binatang biasanya
tahu akan hal-hal seperti itu. Ruang bawah atap di rumah ini berhantu.
Penghuninya adalah hantu Ben Brewer, kakek dari kakeknya papa,
yang..."
Kristy memotong pembicaraan Karen. Daya khayal Karen
memang hebat. Dia selalu memutar otaknya untuk menciptakan cerita-
cerita seperti itu. Dan kalau dia sudah mulai begitu, Andrew dan
Hannie akan terpengaruh olehnya. "Ayo, semua. Kita ke bawah lagi.
Lebih baik kita teruskan permainan 'Selamat Datang, Tuan dan
Nyonya'."
Maka anak-anak kembali ke ruang duduk dan melanjutkan
permainan itu. Mereka masih asyik bermain waktu Pak Brewer
pulang.Kristy menarik napas lega begitu meninggalkan rumah Pak
Brewer. Sebenarnya sore itu cukup menyenangkan. Tapi dia yakin
sekali bahwa cerita mengenai Ben Brewer belum berakhir.Bab 7
AKU harus melakukan sesuatu agar hubunganku dengan Kristy
kembali mulus. Aku sudah berusaha untuk selalu bersikap manis
padanya, tapi ternyata usahaku tidak berhasil memperbaiki hubungan
di antara kami. Pada suatu hari di sekolah, di hari yang cerah, aku
berkata padanya, "Kamu mau main ke rumahku sore ini?" Sebenarnya
aku tidak punya rencana untuk berkata demikian. Kata-kata itu
meluncur dengan sendirinya dari mulutku. Kristy dan aku sama-sama
terkejut.
Dan kami berdua tambah terkejut lagi waktu Kristy menjawab,
"Oke. Kenapa tidak."
Aduh, bagaimana ini? Apa yang akan kami kerjakan di
rumahku sore nanti? Setiap pembicaraan di antara kami selalu
berakhir dengan saling berbantahan. Yah, kupikir, kami bisa saja
nonton video. Sudah lama aku tidak nonton film The Sound of Music.
Seusai sekolah hari itu, aku menemui Kristy dan kami berjalan
bersama-sama menuju rumahku. Mary Anne tidak berjalan bersama
kami karena dia ada tugas menjaga Charlotte Johanssen, yang
rumahnya berlawanan arah dengan rumahku. Memang lebih baik
begitu, karena Mary Anne bisa dianggap sebagai penyebab masalahantara Kristy dan aku. Kristy dan aku perlu waktu untuk bisa berduaan
saja.
Pada mulanya kami berjalan sambil membisu. Kristy menatap
trotoar. Dia tidak marah, sih, tapi hatiku jadi tidak enak berjalan
bersamanya sambil membisu seperti itu.
"Kami tinggal di sebuah rumah petani yang sudah tua," aku
berkata padanya, sekadar untuk mencoba menjalin percakapan.
"Rumah itu dibangun tahun seribu tujuh ratus sembilan puluh lima."
"Oh, ya?" ujar Kristy.
Aku tidak tahu pasti apakah dia tertarik pada ceritaku, atau dia
berpikir bahwa aku mau menyombongkan diri?
"Yeah," aku menyahut dengan ragu-ragu.
"Kamu menyukai rumahmu?"
"Begitulah. Sangat menyenangkan, lho, tinggal di rumah yang
umurnya sudah tua sekali. Tapi kamarnya kecil-kecil dan pintunya
rendah-rendah. Pertama kali Mary Anne ke sana, dia bilang orang-
orang zaman kuno pasti kerdil-kerdil."
Tawa Kristy meledak. Tapi dengan cepat dia menguasai dirinya,
lalu kembali merengut. Dia mengatupkan bibirnya sedemikian rupa,
sehingga tampak seperti dua garis lurus. Sikap seperti itu bukan
pertanda baik.
Aku jadi ngeri. Kenapa aku sampai menyebut nama Mary
Anne? Aku betul-betul tidak bermaksud untuk memulai suasana yang
tidak menyenangkan seperti ini.
Aku meneruskan ceritaku tentang rumah kami. "Ketika rumah
itu dibangun," ujarku, "dalam jarak berkilo-kilometer di sekelilingnya
tidak ada apa-apa, kecuali tanah pertanian. Tapi Stoneybrook cepatberkembang, dan si pemilik rumah terus menjual tanah miliknya
sepotong demi sepotong. Akhirnya tinggal satu setengah ekar (1 ekar
= 4.047 meter persegi), dengan sebuah rumah, paviliun, gudang jerami
yang sekaligus berfungsi sebagai kandang kuda, dan rumah asap yang
sudah kuno. Begitu kira-kira ceritanya. Pada saat ibuku membelinya,
rumah itu sudah tidak dihuni selama dua tahun. Jadi kami dapat
membelinya dengan harga murah."
"Kamu punya gudang di halaman rumahmu?" Kristy bertanya
karena tertarik.
"Ehm-hem."
"Kamu sering bermain di situ?"
"Yah," ujarku, "kami tidak diizinkan sering-sering masuk ke
gudang itu, tapi kadang-kadang adikku dan aku bermain di sana."
"Kenapa kamu dilarang ke sana?"
"Karena bangunan itu sudah sangat tua. Ibuku takut kalau
sewaktu-waktu atapnya akan runtuh dan menimpa kami. Mungkin
juga dia betul, sih."
"Kamu tidak punya binatang piaraan, kan?" tanya Kristy.
"Maksudmu, di dalam gudang jerami itu?" Aku menggelengkan
kepala. "Tapi orang-orang yang pernah tinggal di rumah itu sebelum
kami, pasti punya. Di dalam gudang jerami masih banyak jerami yang
sudah diikat-ikat, dan di loteng malah lebih banyak lagi. Kadang-
kadang, Jeff?Jeff adalah adikku?dan aku naik ke loteng. Di sana
banyak tempat untuk bersembunyi. Kami memasang tali pada salah
satu balok kayu di bawah atap, sehingga kami bisa berayun-ayun
sambil berpegangan pada ujung tali, lalu menjatuhkan diri ke
tumpukan jerami di bawah.""Masa, sih?" ujar Kristy.
"Yap."
Dia berdiam diri untuk beberapa saat. Kemudian dia berkata,
"Aku rasa, kamu dan Mary Anne sudah sering bermain-main di
gudang jerami itu."
"Mary Anne?" seruku. "Mana mungkin? Dia tidak akan mau
melompat dari loteng lalu terjun ke tumpukan jerami di bawah.
Bahkan dia tidak mau masuk ke dalam gudang itu, karena terpengaruh
oleh kata-kata ibuku tentang atap yang akan runtuh. Mary Anne
memang telah berubah selama musim semi ini, tapi perubahannya
belum sehebat itu."
Kristy memandang padaku dan tersenyum lebar.
Ketika kami sampai di rumah, ternyata pintu depan terkunci.
Aku terpaksa mengeluarkan kunci. Padahal waktu di California, aku
tidak pernah membawa kunci, karena Mama selalu ada di rumah. Tapi
sekarang keadaannya telah berubah.
Hampir saja aku mengeluh bahwa ibuku jarang ada di rumah
kalau aku pulang sekolah, tapi tiba-tiba aku teringat bahwa Kristy
sudah bertahun- tahun menghadapi keadaan seperti itu. Karena itu aku
cuma berkata, "Ke mana lagi Mama pergi kali ini?"
Kami mendapatkan jawabannya sesaat setelah memasuki dapur.
Di pintu kulkas ternyata ada pesan yang ditulis pada selembar kertas
berbentuk bibir. Kertas itu ditempel dengan menggunakan magnet.
Pesannya berbunyi:


Baby Sitter Club 5 Dawn Dan Tiga Pengacau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hai, Anak-anak! Mama dipanggil untuk wawancara di sebuah
perusahaan. Akan kembali jam lima. Salam sayang, Mama.N.B.: Jangan?dengan alasan apa pun?kalian berani-berani
menyentuh salad tahu-jahe di kulkas.
Kristy menatapku dengan mata lebar. "Maksudnya, tanpa
peringatan itu mungkin ada yang mengambilnya?"
Aku mencoba untuk menahan rasa geli. "Ya," sahutku sambil
tersenyum. "Kami semua menyukai salad tahu-jahe. Rasanya enak,
lho... betul-betul enak," aku menambahkan, sesaat setelah Kristy
mengeluarkan suara seperti tercekik.
Aku melihat berkeliling dapur dengan pandangan tak berdaya.
"Kamu pasti lapar, kan?"
"Lapar sekali," jawab Kristy, "tapi belum begitu lapar sampai
aku mau makan tahu atau bibit bunga matahari atau semacamnya.
Kalian pasti tidak punya selai kacang, ya?"
"Ada, kok. Selai kacangnya tanpa zat pemanis dan tanpa garam,
dan tidak mengandung bahan pengawet maupun bahan kimia yang
merugikan."
"Boleh, deh. Ada selai strawberry atau madu?"
"Madu mentah. Tapi kami sudah menyaringnya."
"Roti?"
"Rotinya terbuat dari gandum dan kulit padi, dengan kandungan
serat tinggi."
Kristy memilih roti dengan selai kacang dan madu. Aku minum
segelas yoghurt.
Jeff pulang tidak berapa lama kemudian. Dia makan sebuah
pisang, lalu langsung pergi ke rumah keluarga Pike untuk bermain
dengan si kembar tiga.Setelah dia pergi, aku memandang Kristy. "Nah," ujarku, "apa
yang akan kita kerjakan sekarang? Kita bisa nonton video. Atau aku
bisa menunjukkan kamarku. Atau kita bisa menyelidiki rumah untuk
menemukan pintu-pintu rahasia yang tersembunyi."
"Bagaimana kalau kita pergi ke gudang jerami?" tanya Kristy.
"Boleh juga," ujarku. "Asal berhati-hati, lho."
Kami berlari keluar melalui pintu belakang, lalu menyeberangi
pekarangan menuju gudang. Kami bahkan tidak memerlukan jaket,
karena gudang jerami selalu cukup hangat pada hari yang cerah.
Pintu masuk utama ke gudang (perlu kujelaskan bahwa gudang
kami tidak terlalu besar) adalah sepasang pintu geser. Kami selalu
membiarkan salah satu pintu dalam keadaan setengah terbuka. Kami
menyimpan beberapa barang di dalam kandang kuda, tapi tak ada
yang cukup berharga untuk dicuri.
Kristy dan aku melangkah melewati pintu yang terbuka itu.
"Ooh," ujar Kristy. "Baunya... seperti bau gudang jerami. Maksudku,
walaupun di dalamnya tidak ada binatang."
"Memang, sih," sahutku. "Hebat, kan? Bahkan kamu bisa
membayangkan dirimu berada di peternakan kuno yang besar, di
tengah-tengah padang rumput yang luas."
(Aku rasa bau seperti itu datangnya dari tumpukan jerami yang
menggunung.)
Kami berjalan menuju lorong yang di kanan-kirinya terdapat
kandang-kandang kuda. Kandang-kandang kuda itu sudah dalam
keadaan bersih, dan pelana-pelana kuda dan peralatan lain?yang
biasanya tergantung di dinding?sudah disingkirkan. Tapi di sana-sini
masih tertulis nama-nama kuda yang pernah berada di situ.Kristy membaca beberapa nama dengan suara keras. "Dobbs,
Grey Boy, Cornflower."
Selain kandang-kandang kuda dan tempat makanan mereka,
tidak banyak yang bisa dilihat.
"Bagaimana caranya naik ke loteng?" tanya Kristy.
"Lewat sini," ujarku. Aku mengajaknya ke ujung gudang.
Sebuah tangga menyandar pada lantai loteng, yang tingginya hanya
kira-kira semeter di atas kepalaku.
Kami memanjat tangga itu, lalu Kristy berjalan mondar-mandir
di atas tumpukan jerami. "Mmm," katanya. "Rasanya empuk sekali,
ya. Dan baunya enak." Dia menengadah. Atap gudang menjulang
tinggi di atas kami. Sinar matahari menembus sela-sela atap kayu,
sehingga kami bisa melihat debu-debu beterbangan di dalam berkas-
berkas sinar.
"Asyik," ujar Kristy. "Sunyi sekali di sini."
"Kamu mau berayun-ayun dengan tali?" tanyaku.
"Mau, dong. Maksudku, boleh juga. Sampai seberapa tinggi kita
akan berayun-ayun?"
"Sebentar. Biar kutunjukkan dulu." Pada dinding di atas loteng
ada sejumlah tonjolan kayu yang menuju ke atas?makin lama makin
tinggi. Aku memanjat naik sampai mencapai sebuah balok kayu yang
jaraknya kira-kira tiga setengah meter di atas loteng. (Jeff dan aku
sudah pernah mengukur jaraknya.)
"Sekarang lemparkan tali itu padaku," aku berseru pada Kristy.
Dengan ragu-ragu Kristy menatap tali itu. Kemudian
pandangannya beralih padaku. "Ke atas sana?" tanyanya.
"Ya, gampang, kok. Coba saja."Kristy meraih ujung tali, lalu mengayunkannya ke atas.
Lemparannya meleset beberapa sentimeter.
Kami mencobanya sekali lagi, dan kali ini aku berhasil
menangkapnya. "Coba kamu lihat, ya!" aku berseru. Sambil
menggenggam simpul yang dibuat Jeff pada ujung tali, aku
mendorong tubuhku dari dinding dan mulai meluncur. Pada saat aku
hampir mencapai dinding gudang di seberang, aku melepaskan tali
dan menjatuhkan diriku ke tumpukan jerami. "Uuh. Oh, asyik! Kamu
mau coba?" Aku berdiri sambil menyingkirkan jerami yang menempel
pada celana jeans-ku.
"Boleh juga." Kristy mulai beraksi. Dia memanjat dinding
dengan sangat perlahan-lahan.
"Kamu tidak perlu naik sampai ke balok itu, kalau tidak mau,"
aku berkata padanya.
"Tidak, kok... aku bisa naik ke sana."
Kristy duduk dengan tubuh gemetar di atas balok kayu itu. Aku
mengayunkan tali ke arahnya. Ekspresi wajah Kristy ketika berayun-
ayun di udara nampak berubah-ubah, mulai dari ngeri ("Lepaskan!
Lepaskan!" aku berseru padanya ketika dia hampir mencapai dinding
di seberang), takjub, sampai riang gembira (waktu dia mendarat).
Dia duduk di atas tumpukan jerami untuk beberapa lama,
kemudian berdiri sambil berseru, "Oh, wow! Ini betul-betul seru!"
Masing-masing dari kami mendapat giliran lima kali lagi.
Semakin lama, Kristy makin berani. Setelah itu kami merebahkan diri
di atas tumpukan jerami, sambil menatap atap gudang dan mengamati
sinar matahari yang bertambah redup.Kami mulai mengobrol. Kami bicara tentang perceraian.
("Perceraian seharusnya dinyatakan sebagai pelanggaran hukum," ujar
Kristy. Aku setuju.) Kami bicara tentang pindah rumah. ("Pindah dari
ujung kota ke ujung kota yang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan
pindah melintasi seluruh negeri," aku berkata. Kristy setuju.) Kami
bicara tentang Baby-sitters Club. ("Bagiku, klub kita lebih penting
daripada sekolah," ujarku. Kristy mengangguk penuh pengertian.)
Kemudian kami bicara tentang Mary Anne. Setelah
membicarakan hal-hal yang membosankan, seperti penampilannya
yang lebih manis dengan pakaian baru, Kristy berkata, "Aku senang,
lho, karena dia sekarang punya teman baru."
"Betul?" tanyaku.
"Ya. Dia memerlukan sahabat baru."
"Ehm, aku juga senang karena dia masih tetap berteman dengan
sahabat lamanya."
"Begini. Aku punya gagasan, nih," ujar Kristy. "Kita
memerlukan tenaga tambahan untuk Babysitters Club. Seseorang yang
bisa menggantikan setiap pekerjaan, kalau sewaktu-waktu salah
seorang anggota lain berhalangan datang pada waktu pertemuan rutin.
Seseorang yang mengerti betul bagaimana pekerjaan bendahara atau
sekretaris atau wakil ketua atau bahkan ketua klub. Maukah kamu
menjabat sebagai petugas pengganti resmi?"
"Tentu saja!" sahutku. Demikianlah aku berhasil memperbaiki
hubunganku dengan Kristy, dan sekaligus aku telah diangkat menjadi
petugas pengganti resmi dalam Baby-sitters Club?hanya dalam satu
hari.Bab 8
MUSIM semi membuat suhu udara semakin bertambah hangat.
Selama beberapa hari berturut-turut, temperatur mencapai dua puluh
tujuh derajat Celcius. Mary Anne bilang keadaan itu tidak seperti
biasanya. Kata-katanya itu merupakan kabar baik, tapi sekaligus juga
kabar buruk untukku.
Kabar baik, karena ada kemungkinan bahwa suhu yang lebih
hangat daripada biasanya ini akan berlanjut terus. Dan itu merupakan
cara terbaik untuk membuatku betah melewati musim semiku yang
pertama di Connecticut. Kabar buruk, karena ada kemungkinan bahwa
tahun depan kami akan mengalami musim semi dengan suhu lebih
dingin daripada biasanya (untuk mengimbangi keadaan di tahun ini)
dan itu pasti akan berakibat kurang baik terhadap diriku.
Mungkin aku termasuk manusia berdarah dingin.
Salah satu hari yang suhunya naik sampai dua puluh tujuh
derajat Celcius adalah hari Sabtu. Pada hari itu, untuk kesekian
kalinya aku mendapat tugas di rumah keluarga Barrett. Dengan
perasaan tidak sabar, aku menunggu-nunggu datangnya hari itu.
Bukan hanya karena udara yang hangat (bahkan panas!), atau karena
aku menyukai anak-anak Barrett, tapi terutama karena Stacey dan
Claudia pada hari yang sama juga akan bertugas di rumah keluargaPike, yang hanya berjarak beberapa rumah dari tempat tinggal
keluarga Barrett. Dan kami?Stacey, Claudia, dan aku?mempunyai
rencana untuk membuat acara khusus untuk anak-anak yang kami
jaga.
Keluarga Pike memerlukan dua orang baby-sitter?Stacey dan
Claudia?karena yang perlu dijaga adalah semua anak keluarga Pike
yang berjumlah delapan orang.
Bu Barrett memintaku datang pada jam 8.15 hari Sabtu pagi itu.
Waduh. Biasanya aku bangun siang pada hari Sabtu dan Minggu. Tapi
Bu Barrett ingin sekali menghadiri sebuah seminar, yang mungkin
bisa membantunya mendapatkan pekerjaan. Seminar itu akan
berlangsung sehari penuh, dimulai sejak jam setengah sembilan pagi.
Baru dua hari yang lalu?hari Kamis?aku bertugas di rumah
keluarga Barrett. Tapi waktu aku sampai di sana, keadaan rumah telah
kembali porak-poranda?seperti biasanya. Kecuali itu, walaupun Bu
Barrett menuruni tangga dengan penampilan yang aduhai, Buddy,
Suzi, dan Marnie masih mengenakan pakaian tidur mereka. Tempat
tidur mereka belum dibereskan, dan mereka belum sarapan. Rambut
anak-anak itu nampak kusut dan berantakan, dan popok Marnie perlu
diganti.
Semuanya itu sama sekali tidak disinggung oleh Bu Barrett.
Dan tanpa memberikan petunjuk-petunjuk padaku, dia langsung
bergegas ke luar rumah. Dia hanya sempat mengatakan bahwa nomor
telepon tempat dia akan mengikuti seminar, telah ditempelkannya di
dekat pesawat telepon. Yah! Setidak-tidaknya dia masih ingat untuk
memberitahuku.Anak-anak Barrett berkerumun mengelilingiku di dapur.
Mereka menatapku dengan pandangan penuh harap.
"Berapa lama kamu akan menemani kami?" tanya Buddy.
"Sepanjang hari," jawabku. Tiba-tiba semangatku terasa
mengendur.
"Yea!" teriak Buddy dan Suzi. Mereka melompat-lompat
kesenangan.
Marnie mulai pasang muka-jelek.
Semangatku timbul kembali.
Aku mengganti popok Marnie, kemudian aku bertanya apakah
mereka lapar.
"Ya!" Buddy dan Suzi berkata serempak.
Memang itulah yang paling penting untuk didahulukan. Aku
memutuskan untuk membuatkan sarapan pagi mereka. Selesai
sarapan, aku akan mengganti pakaian mereka, lalu membantu mereka
membereskan tempat tidur dan kamar masing-masing. Perlahan-lahan,
rencana kerja untuk hari itu mulai terbentuk di kepalaku. Anak-anak
boleh boleh bermain di luar sampai jam setengah satu siang, setelah
itu mereka akan makan siang. Sekitar jam setengah dua, anak-anak
perempuan akan tidur siang, dan mungkin aku akan membacakan
buku untuk Buddy. Kemudian mereka boleh bermain lagi, dan setelah
itu aku akan mengadakan perlombaan untuk memecahkan rekor
membersihkan ruang duduk dan ruang bermain.
Jadwal kegiatan itu kususun di dalam kepala, sesaat setelah
kami duduk di meja makan, siap untuk menyantap sarapan pagi. Satu-
satunya hal yang terlupakan adalah acara bermain bersama Claudia,
Stacey, dan anak-anak keluarga Pike.Berdasarkan jadwal, acara sarapan pagi seharusnya selesai pada
jam 9.15.
Jam 9.20, Buddy minta tambah bubur gandum.
Jam 9.22, Pow merintih-rintih di depan pintu karena mau
masuk.
Jam 9.25, Marnie menumpahkan jus jeruk milik Suzi.
Jam 9.28, Suzi masih ngomel-ngomel pada Marnie.
Jam 9.31, Pow merintih-rintih minta keluar.
Jam 9.34, Aku masih membersihkan meja makan.
(Menurut jadwal, Buddy, Suzi, dan Marnie sudah harus rapi
berpakaian pada jam 9.45. Aku terpaksa mengubah jadwal, dan
memutuskan bahwa anak-anak baru bisa siap berpakaian pada jam
10.15. Dengan demikian waktu bermain mereka harus dikurangi
setengah jam.)
Jam 9.50, Claudia menelepon dan mengusulkan agar piknik
makan siang diadakan di pekarangan belakang rumah keluarga Pike
dan dihadiri oleh semua anak. Dia minta agar kami membawa
sandwich sendiri untuk makan siang, dan membuat brownies?kue
coklat berisi kacang:?untuk dimakan bersama-sama. Dia juga bilang
bahwa piknik akan dimulai jam satu siang.
Jam satu! Kalau begitu, aku tidak mungkin mengajak Marnie
dan Suzi tidur siang pada jam setengah dua. Aku menyesuaikan
jadwal kegiatan untuk sore hari, dan sekali lagi mengubah jadwal
untuk pagi hari, dengan kembali memperpendek waktu bermain, dan
menambahkan waktu untuk membuat brownies. Kalau anak-anak
sudah selesai berpakaian dan kamar mereka telah beres pada jam
setengah sebelas, kami bisa siap untuk ikut piknik menjelang jam satu."Kalian kepingin ikut piknik makan siang di rumah keluarga
Pike?" tanyaku.
Aku mendapat sambutan "yeah" dari Buddy, dan "yeah" dari
Suzi, dan Marnie memasang muka-jelek.
"Oke," aku berkata pada mereka. "Kalau begitu, banyak yang
harus kita kerjakan pagi ini. Pertama-tama, kalian harus berpakaian
rapi dan membereskan kamar kalian masing-masing. Dan habis itu,
kita akan membuat brownies untuk dibawa pada acara piknik nanti!"
"Asyik!" seru Buddy. "Bisakah kita langsung mulai
membuatnya?"
"Tidak," kataku padanya. "Kita baru akan mulai membuat kue
kalau kamu dan adik-adikmu sudah siap."
"Kami sudah siap, kok," sahutnya.
"Tidak dengan pakaian tidur, kan. Ayo, semuanya, kita
menyiapkan diri masing-masing."
Berpakaian, membereskan tempat tidur, dan membersihkan
kamar ternyata berjalan jauh lebih lambat dari yang kuduga. Aku
sempat mempertimbangkan untuk mengadakan perlombaan
memecahkan rekor lagi. Tapi setelah kupikir-pikir, aku memutuskan
bahwa cara itu tidak boleh dipakai terlalu sering. Anak-anak akan
menjadi bosan, dan permainan itu akan kehilangan daya tarik.
Satu setengah jam setelah kami naik ke lantai dua, anak-anak
Barrett sudah "siap untuk kegiatan hari itu". Sudah jam setengah dua
belas. Dan acara piknik akan dimulai pada jam satu. Kami masih
punya waktu satu setengah jam untuk membuat brownies. Dalam hati


Baby Sitter Club 5 Dawn Dan Tiga Pengacau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aku berharap Bu Barrett punya persediaan bahan-bahan untuk
membuat adonan brownies. Soalnya aku dan anak-anak akan lebihmudah bekerja dengan Duncan Hines (merek campuran adonan
brownies instant), daripada kalau harus membuat sendiri adonannya.
Aku mengumpulkan Buddy, Suzi, dan Marnie di dapur. (Aku
mendudukkan Marnie di atas kursinya, dan memberinya sebuah
sendok kayu untuk bermain.)
"Ayo, semua pakai celemek," aku mengumumkan, sambil
menarik tiga buah dari dalam lemari.
"Aku tidak mau, ah," seru Buddy. "Celemek kan cuma untuk
anak perempuan."
"Celemek adalah untuk tukang masak," aku mengoreksi kata-
katanya. "Coba kamu lihat. Ini ada yang warnanya putih polos, persis
seperti celemek yang sering dipakai para koki terkenal." Aku
mengikatkannya di leher dan pinggang Buddy. Celemeknya ternyata
kepanjangan, sehingga hampir menyentuh lantai.
"Nah," aku melanjutkan, "apakah ibu kalian punya simpanan
campuran adonan kue?"
"Yap," sahut Buddy dengan cepat.
"Di mana biasanya disimpan?"
Buddy menunjuk sebuah lemari. Aku membukanya dan melihat
ke dalam. Ada tepung, gula, soda kue, dan beberapa kotak cake and
frosting mix (adonan pelapis kue yang terbuat dari gula dan putih
telur). Di bagian belakang lemari kutemukan dua kotak E-Z- Bake
Brownee Mix (aduh , untung saja!).
Aku tidak mengerti kenapa perusahaan-perusahaan pembuat
makanan selalu salah mengeja kata-kata! Seharusnya ditulis Brownie
bukan Brownee."Nah, sekarang kita bisa mulai!" ujarku. Aku memutuskan
bahwa kami sebaiknya memakai kedua kotak tersebut, mengingat
begitu banyaknya anak yang akan ikut dalam piknik nanti. Selain itu,
kurasa Bu Barrett pun akan senang menerima sisanya untuk tambahan
makanan di rumah.
Buddy dan aku membaca petunjuk yang tertulis di balik kotak
adonan.
"Apa yang perlu kita tambahkan ke dalam adonan ini?" aku
bertanya padanya.
Dia mengerutkan kening. "Sebutir telur... dan sedikit mi...
minyak goreng," dia akhirnya berkata dengan bangga.
"Bagus. Nah, sekarang kamu ambil telur dan sebotol minyak
goreng, sementara aku mengambil panci dan mangkuk untuk
mencampurnya."
"Aku mengerjakan apa, dong?" tanya Suzi.
"Kamu, ehm, tolong ambilkan serbet piring," aku menjawab.
Aku menyebut serbet karena itulah barang bukan pecah belah yang
pertama terlintas dalam benakku. Untung saja Suzi tidak menanyakan
Panji Sakti ( Jit Goat Seng Sim Ki) 10 Siluman Ular Putih 04 Pedang Kelelawar Putih Dewa Iblis 1

Dawn Dan Tiga Pengacau 1