Bara Naga 9
Bara Naga Karya Yin Yong Bagian 9
kalian ngelantur seperti di rumah sendiri pula, karena emosi lantas tanya
sedikit keterangan, harap sesama orang sendiri jangan sampai salah paham . . . . "
"Salah paham?" teriak Sebun Tio-bu, "Salah paham kentut. Tuan besarmu ini
dengan Pek-sam-thauling kalian umpama bukan teman karib juga boleh dikatakan
tamu undangan, setelah dia menerimn panjar delapan ratus tahil perak sebagai
ongkos antaran, sejauh ini belum juga berangkat menyampaikan barang milikku itu,
memangnya siapa yang tidak dongkol. Sekarang kalian kawanan anjing buduk ini
berani mengusikku lagi, biar Tuan besarmu pergi ke Pau-hou-ceng menuntut
keadilan pada majikanmu, coba saja apa yang akan dikatakan Pek-losam."
Dari samping Kin Jin pura2 membujuk, katanya: "Sudahlah, anggaplah kita sendiri
yang sial, lebih baik kembali saja ke Ji-ih-hu dan laporkan hal ini kepada Jan-kong
Loyacu, biar beliau memberi keputusan yang adil, beberapa hari di Toa-ho-tin,
sungguh kenyang aku dibuat jengkel . . . "
Pandai juga kedua orang ini bermain sandiwara, padahal tak pernah latihan, sudah
tentu Siang Cin sudah menyingkir ke samping dan hampir saja tertawa ter-pingkal2,
tapi kedua orang Jik-san-tui ini menjadi gemetar. dan pucat ketakutan, yang
bertubuh pendek kurus lekas munduk2, katanya tergagap2: "Para . . . . . . O,
tuan2 . . .. . harap maaf akan keteledoran kami tadi . . . . sesama orang sendiri,
tidak . . . . tidak perlu bertengkar, ada persoalan apa belehlah dibicarakan baik2 .. . .
" Mendelik mata Sebun Tio-bu, damperatnya: "Orang sendiri apa" Kalian kaum keroco
211 juga berani bicara tentang "orang sendiri?" "
Berkeringat dingin orang itu dicaci sedemikian rupa, dia tidak berani bersuara lagi
setelah menelan ludah dengan cengar-cengir dia meratap: "Cian . . . . Cianpwe . . . .
anggaplah memang mataku ini buta dan tak tahu siapa sebetulnya engkau orang tua,
mohon ampun seribu ampun, mohon engkau jangan memaki lagi . . . . "
Tapi Sebun Tio-bu bertambah murka, teriaknya: "Apa" Memangnya kau tidak terima
kumaki" Kurangajar, Lo Kin, biar kutunggu di sini, lekas kau pulang ke Ji ih hu,
panggilkan Hoan-wi-jit-so Nyo Kam, Nyo-lote kemari, katakan bahwa anak celurut
Jik-san-tui ini berani main gila, kalau Nyo-lote tidak ada, boleh kau seret Pa-te-ki Toh
Cong kemari kalau tidak ketemu, pergilah ke Pau hou-ceng. carilah Pek Wi bing, bila
perlu temui To Yau
atau Kiau Hiong juga boleh . . . . "
Semakin ciut nyali kedua orang Jik-san-tui itu, nama2 yang disebut terakhir ini bukan
saja tokoh-tokoh pihak sendiri, malah satu dan lain lebih tinggi kedudukannya,
tarnpaknya orang memang tidak main gertak, kalau tidak masa kenal begitu banyak
pentolan2 dari pihak sendiri" Jika sampai hal ini dilaporkankan bisa celaka"
Maka cepat2 mereka memohon: "Lo . . . . Locianpwe, kalian adalah orang2 besar
yang bijaksana, maafkan kesalahan kami yang tidak sengaja, betapapun selanjutnya
kami tidak berani kurangajar lagi."
Sebun Tio-bu mendengus keras2, sambil menengadah ia tidak menggubris mereka.
Sementara orang yang berlalu lalang ada yang berhenti dan mengerumuni mereka,
di antaranya sudah tentu ada orang Hek jiu-tong, ada Pula dari Jik-san-tui, tahu
karena ada yang tahu duduk persoalannya, mereka segan turut campur, maka
sekian lamanya tiada orang yang berani melerai.
Kembali kedua orang itu memohon: "Baiklah tuan2, memang kami bersalah, mohon
sudilah engkau . . . . ."
Sebun Tio-bu mendelik, jengeknya: "Hm, baru sekarang kau bicara seperti manusia.
ketahuilah Toa-ho-tin terhitung tempat tinggalku juga, setiap kedatanganku selalu
mendapat pelayanan istimewa dari Jik-san-tui" Toh-loko dan Nyo-lote pasti menjamu
padaku. Baru setengah tahun tidak kemari sudah ketemu keroco yang berani
mengusik kesenanganku?"
Kin Jin pura2 membujuknya: "Saudaraku, begini saja, biar aku yang traktir minum
beberapa cangkir arak, suruhlah kedua saudara ini melayani beberapa cangkir
padamu . . . . ?"
"Memangnya urusan segampang ini?" Scbun Tio bu menggeleng, "aku toh tidak
marah padamu, kenapa kau yang harus keluar duit" Tidak bisa. tidak boleh ... . . "
Kedua laki2 baju merah menjadi gelisah pula, katanya: "Apa yang diucapkan
Cianpwe ini memang betul, sudilah Cianpwe suka memberi muka, biarlah anggap
kami yang menjamu kau orang tua, bilamana Cianpwe sudi menerima, legalah hati
kami . . . . "
Mendengus dua kali, dengan lagak ogah2an Sebun Tio-bu berkata: "Tidak bisa
mana boleh begitu" Itu artinya aku meucari keuntungan dari kalian . . . . "
"Mana boleh dikatakan begitu, anggaplah sebagai penghormatan kami, untuk ini
mohon Cianpwe betul2 sudi memberi muka, mumpung ada kesempatan ini, kalau
tidak kapan kami dapat menyuguh secangkir arak kepada engkau orang
tua . . . . . . ."
Sengaja berpikir sejenak dan berlagak ragu2, akhirnya Kin Jin pura2 membujuk pula:
"Hayolah, terima saja ajakan baik ini, jangan nanti orang bilang kau ini berjiwa
sempit . . . . . . . . "
Seperti apa boleh buat, akhirnya Sebun Tio-bu berkata: "Baiklah, kuterima
perrnohonan kalian. Kin-lote, memang kau yang berhati lemah, masa kau malah ikut
membujukku segala."
Kedua laki2 baju merah berjingkrak girang, sambil munduk2 mereka mempersilakan
Sebun Tio-bu dan Kin Jin jalan di muka, mereka berempat terus menuju ke arah
timur, di sana pasar malam sedang ramai.
212 Sekilas Kin Jin melirik ke sana, dilihatnya Siang Cin tetap mengintil dari kejauhan.
Setelah ajak bicara sekadarnya kepada kedua orang baju merah, akhirnya Kin Jin
coba memancing: "Katanya saudara2 dari Hek-jiu-tong juga hijrah keperkampungan
sini, bukankah kalian harus hidup berhimpitan."
Dengan munduk2 laki2 baju merah yang tinggi menjawab: "Berhimpitan sih tidak,
perurnahan di sebelah timur dan selatan seluruhnya diperuntukkan mereka,
sementara Jiong gi tong juga diserahkan ke pada orang2 Hiat-hun-tong, sedang
anak buah Ji-thauling dan Sam-thauling dipindah keluar perkampungan, di sana baru
beberapa bulan terakhir ini didirikan tiga deretan perumahan yang luas, jauhnya
hanya dua li, pemandangan amat indah di sana . . . "
Semua ini diingat baik2 oleh Kin Jin, lalu dia bertanya lebih jauh: "Kabarnya kali ini
Hek jiu tong berhasil mengalahkan Bu-siang-pay, sungguh hebat mereka, tentunya
sepanjang hari mereka terus merayakan kemenangan gilang gemilang ini?"
Orang itu celingukan sebentar, lalu berkata dengan merendahkan suara, seperti soal
yang hendak dibicarakannya amat rahasia: "Kebetulan Cianpwe yang tanya, kalau
orang lain terus terang kami tidak berani memberi keterangan. Memang kawan2
Hek-jiu-tong berhasil melebur penyatron dari Bu-siang-pay, tapi musuh yang
menyerbu datang hanya sekelompok kecil saja, masih besar bala bantuan mereka
dari padang rumput yang belum tiba, jika musuh betul2 menyerbu secara besar2an,
entah bagaimana pula situasi mendatang nanti. Padahal pihak Hek-jiu-tong sendiri
kali ini juga serba runyam, anak buah mereka yang mati dan terluka ada tujuh
ratusan orang, malah enam dari sepuluh gembong pimpinan merekapun gugur di
medan laga, demikian pula saudara kita yang diperbantukan ke sana juga rontok
ratusan banyaknya . .. . . . ."
"O, jadi keadaan mereka sekarang cukup runyam juga?" tanya Kin Jin.
"Betul, orang2 Hek jiu-tong yang hijrah kemari ada seribu lebih, empat ratusan di
antaranya terluka parah atau ringan, keadaan mereka memang cukup mengenaskan,
padahal mereka harus ber siap2 menghadapi serbuan pasukan besar Bu siang-pay,
sehingga para pimpinannya harus mempersiapkan ini dan itu, maka kota inipun
menjadi sibuk pula, yang celaka adalah penduduk yang tidak tahu apa2 harus ikut
tegang dan hidup tertekan, kemarin ada berita bahwa bala bantuan besar dari
padang rumput telah melewati Liok-sun ho, naga2nya pertempuran besar bakal
berlangsung tak lama lagi . ...."
Kin Jin pura2 bergumam: "Liok-sun-ho, Liok-sun ho . . . . . . "
Dengan keheranan orang itu berkata, kepada Kin Jin: "Liok sun ho terletak di arah
timur sana, kira2 tiga ratusan li jaraknya, apakah Kin-cianpwe tidak pernah lewat
sana" Sungai itu cukup besar dan luas."
"Aku tahu, kalau demikian, Hek-jiu tong dan Pek losam kalian kan harus mencari
kawan untuk membantu, memangnya kenapa masih berdiam di sini saja?"
"Sejak beberapa waktu lamanya orang2 sudah disebar untuk mengundang bantuan,
cuma belum diketahui siapa dan berapa banyak jumlah bantuan yang diundang."
Dengan tak acuh Kin Jin memberi komentar: "Soal penting dan rahasia begini kalian
kaum keroco mana bisa tahu" Bila sampai membocorkan rahasia kan bisa
berabe . . . . . . "
Mungkin karena diremehkan, maka laki2 ini menjadi uring2an, katanya dengan nada
misterius: "Ah, belum tentu, meski kami orang2 rendah, tapi punya jalannya sendiri
untuk mencari berita, tak seluruhnya kami tahu, tapi sedikit banyak tentu tahu juga."
"Tidak mungkin, aku tidak percaya," ucap Kin Jin menggeleng.
Orang itu merasa penasaran, katanya: "Bukan aku sengaja mau menyombongkan
diri, aku berani bertaruh, apa yang Cianpwe ketahui belum tentu lebih banyak
daripada apa yang kuketahui. Mungkin Cianpwe hanya tahu Ji ih-hu yang akan
memberi bantuan, padahal orang2 Ceng -siong-san ceng juga akan datang, mungkin
pula Cianpwe belum tahu bahwa Jit-ho-hwe dan Toa-to-kau juga setuju untuk
berserikat, malahan Sio lian-su-coat yang bersemayam dl" Pek hoa-kok juga
diundang keluar. Hal yang lebih penting adalah Tiang-hong pay juga akan mengutus
213 orangnya kemari, sungguh suatu usaha besar yang tak kepalang tanggung, tiba
waktunya pasti amat ramai . . . . . . "
Rahasia yang tak sengaja terkorek ini sungguh membuat jantung Kin "Jin berdetak
keras, maklumlah aliran dari goIongan yang disebut ini semua diketahui jelas
olehnya. Terutama Tiang hong pay, perkumpulan yang menempati Ki hong nia di
Ong-ju-san ini merupakan Pay yang paling aneh dan misterius, pimpinan mereka
seluruhnya ada tujuh orang, julukan mereka semuanya menggunakan, huruf "Ang"
(merah). Ketujuh makhluk aneh yang biasanya jarang berhubungan dengan dunia ramai ini
melarang siapapun berkeluyuran di sekitar Ki-hong-nia, apalagi ketujuh orang ini
masing2 memiliki watak aneh yang berbeda pula, konon Kungfu mereka sangat
tinggi, sungguh tak nyana bahwa Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui bisa mengundang
mereka keluar dari sarangnya, sungguh sukar dibayangkan dengan cara bagaimana
mereka bisa dipancing keluar"
Satu hal lagi yang membuat Kin Jin ngeri adalah ketujuh makhluk aneh dari Tiang
hong-pay ini punya hubungan intim dengan Kun lun-pay, karena Ciangbunjin Tiang
hong-pay adalah adik kandung Ciangbunjin Kun-lun pay, jika bermusuhan dengan
mereka, tentu pihak Kun-lun- pay takkan berpeluk tangan.
Melihat Kin Jin hanya mengerut alis tanpa bicara, laki2 baju merah menjadi bingung,
tanyanya: "Cianpwe, apakah Cianpwe kurang enak badan?"
Setelah menghela napas, Kin Jin berkata: "Ya, rasanya jadi kurang enak badanku,
apalagi setelah mendengar ceritamu ini, hatiku ikut kebat-kebit. Tapi tak apalah. Ah,
bukankah Sebun-toako sudah masuk ke sana" Itulah Jay-sing-tiu-lau (rumah makan
Petik Bintang)?"
Dengan hormat yang berlebihan orang itu menyilakan Kin Jin masuk dan naik ke
loteng, Sebun Tio-bu dan laki2 baju merah yang lain sudah menempati sebuah meja.
Cepat sekali masakan telah di hidangkan, merekapun makan minum sekenyangnya,
terutama Kin Jin dan Sebun Tio bu, mereka tahu malam ini tugas mereka cukup
berat, perut harus di isi sekenyangnya supaya tidak meruntuhkan semangat tempur
mereka. Setelah turun dari Jay-cing-siu-lau, sepanjang jalan mereka masih ngobrol dan tidak
sedikit keterangan yang berhasil dikorek pula oleh Sebun Tio-bu dan Kin Jin, setelah
meninggalkan kedua laki2 baju merah yang mabuk itu, Sebun Tio-bu dan Kin Jin
tertawa geli sambil saling pandang, kata Kin Jin: "Sudah sekian lamanya, mungkin
Siang-lote sudah tidak sabar menunggu lagi."
Sebun Tio-bu segera menariknya ke arah barat, kini orang yang berlalu di jalan raya
sudah jauh lebih sepi, maklumlah waktu menjelang tengah malam, toko2pun telah
tutup, demikian pula pedagang kaki lima sudah mulai mengukuti barang2
dagangannya. Tidak jauh mereka meninggalkan rumah makan itu, tahu2 Siang Cin muncul dari
gang sebelah depan sana, dengan menengadah santai ia berjalan berlenggang, tak
ubahnya seperti pelancongan yang sedang menikmati panorama nan indah permai.
Kin Jin segera mendekati, sapanya: "Bikin Siang-heng menunggu terlalu lama."
"Tidak perlu ter-gesa2, pasti tidak sedikit berita yang berhasil kalian peroleh?" ucap
Siang Cin dengan tertawa.
"Memang." sahut Kin Jin, "supaya tidak mengejutkan musuh, maka kami tidak pakai
kekerasan, terpaksa main sandiwara untuk menipu keterangan mereka."
Sebun Tio bu celingukan ke kanan kiri lalu katanya: "Situasi kurang meguntungkan
Bu-siangpay, dari padang rumput mereka sudah mengerahkan seluruh kekuatannya,
kini sudah melintasi Liok-sun- ho, diperhitungkan dari kecepatan jalan mereka paling
lama dua hari lagi pasti sampai di sini . . . . ."
"Mumpung ada kesempatan, daripada menunggu terlalu iseng, barusan aku pergi ke
Pa-hou-seng, jaraknya kira2 tiga li, pagar temboknya dibangun dari batu2 hijau besar,
perumahan di dalamnya cukup banyak dan tersebar luas, pada setiap bagian
dibangun taman dan hutan buatan yang terawat baik, agaknya keadaan di sana
214 memang amat berbahaya, sekian lamanya aku memeriksa dari atas tembok.
Bayangan orang tampak mondar mandir di dalam kampung, senjata tajam kelihatan
kemilauan, cahaya lampu tampak masih menyala dibanyak rumah2 di sana,
penjagaan cukup ketat, suasana terasa tegang, naga2nya mereka sudah sejak
beberapa hari ini mempersiapkan diri untuk menyongsong serbuan musuh . . . . . . "
Sementara itu, mereka sudah membelok ke gang samping yang gelap, sambil
berjalan secara singkat Kin Jin ceritakan kejadian tadi serta berita apa yang berhasil
mereka korek itu kepada Siang Cin.
Mengawasi bintang2 di langit yang berkelip, Siang Cin berpikir sejenak, katanya
kemudian: "Arah pasukan Bu-siang-pay jelas tertuju ke Toa-ho-tin, pertempuran
besar segera akan berlangsung, agaknya malapetaka dan penderitaan sukar lagi
terhindar."
Ketiga orang sama2 prihatin, Siang Cin seperti hendak bicara, tapi tiba2 didengarnya
derap kaki orang banyak lari lewat di jalan raya sana, terdengar suara aba2,
bentakan dan caci-maki, tapi segera suara dan derap langkah barisan ini semakin
jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.
Sebun Tio-bu berkata: "Agaknya Jik-san-tui menemukan apa2, atau mungkin
menyadari tindak tanduk kita yang mencurigakan tadi, maklumlah, beberapa hari
terakhir ini mereka hidup dalam suasana tegang. Lalu bagaimana tindakan kita
selanjutnya" Menghajar musuh atau menyingkir saja secara diam2"
Kin Jin memberi tanda, cepat mereka melesat ke tempat yang lebih gelap, dengan
suara lirih Siang Cin berkata: "Jika mau pakai kekerasan, tadi tak perlu kalian main
sandiwara segala."
Baru saja mereka mendekam di tempat gelap, puluhan orang tampak berlari
mendatangi, senjata mereka tampak kemilau serta mengeluarkan suara
gemerantang, secara membabi buta mereka mengadakan pemeriksaan di gang
sempit gelap ini sambil menggerutu, sudah tentu mereka tidak memperoleh apapun
yang diharapkan. Sambil berludah dan mencaci maki akhirnya mereka
mengundurkan diri.
Setelah orang2 itu pergi, Sebun Tio-bu mengomel, katanya: "Siang-heng, sekarang
kita terjang ke Ji-ih-hu atau menyelundup ke Pau-hou-ceng?"
Siang Cin menjawab: "Ke Pau-hou-ceng saja."
Dengan tertawa Sebun Tio-bu bertanya: "Apa tidak perlu berkedok?"
"Ya, harus berkedok," ucap Siang Cin.
Mengawasi jubah kuning Siang Cin, Kin Jin berkata: "Berkedok atau tidak sama saja,
jubah kuning yang Siang-heng pakai ini sangat menyolok, memangnya siapa yang
tidak kenal bahwa Siang-heng berjubah kuning?"
"Kukira tidak jadi soal, malam terlampau gelap, bila gerak-gerikku cukup cepat,
tanggung mereka tak bisa mengenalku lagi," demikian ucap Siang Cin.
Sebun Tio-bu mengeluarkan sapu tangan sutera putih, dia tutupi hidung dan mulut
sendiri, sementara Kin Jin keluarkan kain hijau untuk membalut kepala, demikian
pula Siang Cin keluarkan sapu tangan kuning untuk menutupi mukanya, mereka
saling pandang dengan tertawa geli, di bawah aba2 Siang Cin mereka segera berlalu
dari tempat itu.
Dengan gaya yang indah dan ringan Siang Cin melayang ke atas rumah. Sudah
tentu Kin Jin dan Sebun Tio bu tidak mau ketingalan, merekapun ingin pamer
kepandaian masing2, seperti berlomba saja ketiganya segera melesat ke depan.
Pada wuwungan terakhir di dalam kota Toa-ho-tin, pada saat mereka mengapung
tinggi di udara itu, Sebun Tio-bu dan Kin Jin sama melihat Pau-hou-ceng yang
terletak di balik hutan sebelah timur sana.
Pau-hou ceng memang amat luas, bangunan gedungnya tinggi dan megah, pagar
tembok yang mengelilingi perkampungam juga amat tinggi. Sinar lampu ber kelip2 di
sana-sini tersebar jauh, se-akan2 mata setan yang selalu mengintip gerak gerik
orang luar yang menyelundup ke dalam kampung.
Menuding ke depan Siang Cin berkata lirih: "Itulah Pau hou-ceng,"
215 Sebun Tio bu berludah sambil mencaci. Sebaliknya Kin Jin berkata dengan tertawa:
"Semoga perjalanan kita malam ini membawa hasil yang memuaskan."
*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng
Halaman 27 - 28 hilang
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng
sudah siap, Siang Cin meraih dua ranting pohon dan di sambitkan.
Malam gelap, tapi terdengar jelas kedua ranting kayu itu menerbitkan deru angin
mencicit, dikala ranting kayu itu hampir tiba di depan pintu gerbang, mendadak
membelok ke kiri-kanan.
Dua puluh empat laki2 yang bertugas jaga itu sama melengak, sigap sekali mereka
memburu ke kiri-kanan, pada waktu yang sama Siang Cin bertiga lantas melijit tinggi
ke atas, tanpa bersuara dan tiada rintangan apapun mereka meluncur masuk ke
Pau-hoa-ceng. Begitu melampaui pintu gerbang, kembali Siang Cin memberikan tanda, mereka
tidak hinggap ke bawah, tapi langsung melayang ke pohon besar yang berada di
kanan pintu gerbang.
Tertampak sebuah jalan lapang mengkilap beralas batu hijau menjurus lurus ke
sebelah dalam dan berakhir pada undakan batu hijau pnla di depan sebuah gedung
besar dan angker, begitu megah bangunan gedung ini, bentuknya serba antik,
semuanya serba ukiran dan berwarna warni lagi, dua ekor singa batu di kanan-kiri
pintu menambah angkernya gedung ini.
Dari ketinggian pucuk pohon mereka memeriksa keadaan sekitarnya tanpa
menghiraukan keributan para penjaga yang menggerundel tadi, Sebun Tio-bu
bersuara tertahan: "Siang-heng, gedung besar itu seperti markas mereka untuk
bersidang atau pusat kekuasaan mereka . . . . "
"Betul, itu berarti dari sana pula mereka mengambil keputusan dan mengeluarkan
perintah," demikian Siang Cin menambahlcan.
Kin Jin ikut menimbrung dengan nada meyakinkan. Kukira di dalam gedung itu
dibangun juga alat perangkap dan lorong bawah tanah . . . . ."
"Sebun Tio-bu sependapat, katanya: "Tentu pula dengan akal licik dan keji . . . ."
Berpikir sebentar, Siang Cin berkata: "Bagaimana" Mulai beraksi?"
Sebun Tio-bu dan Kin Jin mengangguk bersama, mereka terus meluncur ke depan
dengan kecepatan luar biasa. Dikala mencapai pucuk .pohon yang terdekat dengan
gedung besar itu, mendadak Siang Cin bertiga melambung lebih tinggi ke atas, baru
saja kelihatan bayangan berkelebat, tahu2 sudah lenyap pula.
Teringat pengalaman di Pi-ciok-san dulu, Siang Cin kali ini tidak sia2kan payon yang
lebar panjang itu untuk menyembunyikan diri, perawakannya yang tinggi semampai
berjumpalitan di udara, seenteng burung walet, dengan enteng ia hinggap di puncak
tiang besar di depan gedung megah itu, maka Sebun Tio bu dan Kin Jin juga meniru
caranya, merekapun hinggap dan menempel di tiang yang lain seperti tiga ekor cicak
raksasa. Kungfu yang mereka lakukan ini sebetulnya sangat makan tenaga, umumnya di
dunia persilatan ilmu ini dinamakan Pia-hou-kang (ilmu cicak), ilmu ini memerlukan
ketahanan napas yang dikendalikan oleh tenaga dalam sehingga badan seperti
lengket pada benda apapun yang ditempelinya, bagi yang Lwekangnya tinggi
sekaligus orang akan kuat ber-tahan ber-jam2, yang ilmunya rendah terpaksa harus
dibantu dengan kaki tangan untuk bertahan.
Pintu gedung megah yang bertatah paku tembaga putih sebesar telur angsa itu
setengah terpentang, secercah cahaya guram tampak menyorot keluar dari dalam,
tapi keadaan di dadam juga sunyi senyap, Dengan cermat Siang Cin pasang kuping
mendengarkan, sejenak kemudian dia berkata lirih: "Awas, kalian harus hati2, di
dalam ada orang."
Sebun Tio-bu mengangguk, sahutnya: "Betul, ada empat orang."
Kin-Jin juga berkata: "Agaknya mereka tengah berunding di ruangan sana, suaranya
juga bisik2 tapi jelas yang dibicarakan cukup penting, jarak pembicaraan mereka dari
216 pintu kira2 dua puluhan tombak."
Dengan tersenyum Siang Cin berkata: "Biar kumasuk lebih dulu, kalian menyusul
bergantian."
"Silakan!" ucap SebunTio bu.
Tubuh Siang Cin yang menempel di pilar itu tiba2 melorot ke bawah, tatkala
mencapai setengah ketinggian pilar itu mendadak ia melenting ke depan dan
melayang masuk melalui pintu yang setengah tertutup itu. Begitu berada di dalam
ruangan, sekilas matanya menjelajah, diam2 ia terkesiap, kiranya ruang ini adalah
pendopo besar yang panjang, ada dua belas pilar besar yang berjajar di kanan-kiri
pendopo, lantainya adalah marmar putih yang besar dan mengkilap, pada ujung
pendopo sana di sebelah kanan kiri ada dua undakan batu yang menuju ke atas
sebuah panggung, di atas panggung terdapat belasan kursi besar berukir yang
berlapis kulit harimau, tepat di tengah dinding di belakang panggung, terdapat ukiran
seekor harimau yang terbuat dari tembaga.
Lampu di pendopo seluruhnya dipadamkan, hanya enam pelita yang menyala di atas
panggung, ada empat orang sedang duduk berkeliling sambil bicara bisik-bisik,
sementara di bawah panggung, menghadap ke arah pintu besar ada dua puluhan
laki2 kekar berpakaian merah sama duduk bersimpuh.
Begitu menerobos masuk dan belum lagi kaki menyentuh lantai, dalam hati Siang
Cin sudah mengeluh, tapi sebat sekali dia bergerak, "Wut", langsung ia melejit ke
atap ruangan dan hinggap di belandar.
Belasan orang di antaranya merasa pandangan kabur, sementara bayangan Siang
Cin berkelebat di tengah keremangan, dua di antaranya lantas melonjak berdiri
seraya berteriak: "Ada mata2!"
Empat orang yang tengah berunding di atas panggung serentak berpaling, pada
detik itulah kebetulan menjadi giliran Kin Jin menerobos masuk ke dalam peodopo,
sudah tentu jejaknya menjadi konangan serta menarik perhatian semua orang yang
berada dalam pendopo. Delapan laki2 lain yang masih duduk di lantai serentak
meraung gusar terus menubruk maju, senjata kampak mereka tampak kemilau,
sebat dan tangkas sekali gerak-gerik mereka, baru saja Kin Jin berdiri tegak, mereka
telah mengerubutnya.
Sungguh runyam keadaan Kin Jin waktu itu, maju-mundur serba susah. pada detik
itulah, sepuluh laki2 baju merah yang lainpun memburu tiba sambil mengayun
senjata mereka.
Kin Jin jadi nekat, ia berdiri tegak sambil bertolak pinggang di tengah pintu,
tangannya terangkat serta berseru lantang: "Tunggu sebentar!"
Puluhan laki2 baju merah itu segera mengepungnya, seorang yang bertubuh tinggi
kekar segera tampil sambil meraung: "Sahabat, tanggalkan kedokmu, tekuk lututmu
pula menyerah dan terima dibelenggu saja, supaya tuan2 besarmu di sini tidak perlu
bercapai lelah membekukmu dengac kekerasan."
Sekilas Kin Jin melirik, dilihatnya Sebun Tio-bu tidak ikut masuk, dia tahu kawan ini
telah melihat gelagat jelek, dengan dingin dia pandang orang2 yang mengepungnya,
katanya kasar. "Kentut makmu, kalian kaum keroco ini juga berani membual
dihadapanku" Memangnya darimana kau tahu kalau aku mata2 dan bukan kawan
sendiri?" Laki2 kekar itu mengejek, cemoohnya: "Kalau kawan sendiri memangnya berdandan
seperti tampangmu ini" Begini pula caramu keluar-masuk di rumah orang" Jangan
kira kami ini dapat kau tipu.
Dalam pada itu orang2 yang berunding di atas panggung itupun sudah berdiri, di
bawah penerangan api, tampak seorang berwajah merah, perawakannya tinggi
besar berjenggot hitam panjang, laki2 tua ini melangkah maju setapak, suaranya
rendah tapi sekeras guntur: "Pasang lampu, biar kami berkenalan dengan sahabat
yang tak diundang ini."
Laki2 kekar baju merah itu mengiakan sambil mengundurkan diri. "Wut" secepat kilat
tiba2 Kin Jin melayang ke sana, dikala kedua tangannya bergerak dengan kecepatan
217 yang sukar diikuti pandangan mata, dua laki2 baju merah di kanan-kirinya sudah
melolong roboh sambil memeluk perut, darah menyembur dari mulut mereka.
Gerakan Kin Jin tidak berhenti, secara beruntun dia mendesak kedepan, di mana
kedua telapak tangannya menabas, tampak bayangan tangan menyambar dan
mengeluarkan deru kencang, kontan dua laki2 baju merah kembali terlempar roboh
dengan menyemburkan darah dari mulutnya.
Perubahan yang mendadak ini membuat enam Iaki2 baju merah yang lain
melenggong, tapi dering senjata yang jatuh berkerontang diatas lantai, seketika
menyentak sadar pikiran mereka. Tapi begitu bayangan telapak tangan menyambar,
seorang kawan mereka terjungkal binasa pula dengan dada remuk.
Sejak Kin Jin beraksi hingga jiwa lima korban melayang hanya berlangsung dalam
sekejap mata belaka.
Maka terdengarlah geram murka dari atas panggung, empat bayangan orang
laksana empat ekor kelelawar pengisap darah, cepat dan seram sekali melayang tiba
dengan kecepatan,yang amat mengejutkan.
Tak terlukiskan bagaimana hebat dan tangkas gerakan Kin Jin, ia menyelinap di
antara sambaran senjata musuh yang gencar dan rapat itu, ujung pakaiannya tak
tersentuh sedikitpun oleh serangan lawan, seorang musuh menjadi kalap,
kampaknya berputar dan tiba2 menubruk maju, sekaligus ia menyerampang dan
membabat kedua kaki Kin Jin.
Tertawa dingin Kin Jin, tiba2 ia meluncur mundur seperti orang bermain ski, tapi
empat kampak musuh sekaligus menghujani tubuhnya pula, terpaksa dia memutar
lengan kiri, sementara telapak tangan kanan menekan ke bawah dengan gentakan
kuat, sungguh tak dapat dilukiskan betapa indah dan sebat gerakannya, tahu2
bayangan berkelebat, "pletak", suara tulang patah berkumandang diselingi lolong
panjang kesakitan.
Bacokan empat kampak itupun mengenai tempat kosong, menghancurkan lantai
marmer malah, sehingga muncratlah lelatu api, sementara dengan gerakan yang
gemulai Kin Jin telah melayang ke pinggir sana. Tapi gerakan ke pinggir ini justeru
memapak kedatangan laki2 tua bermuka merah yang melayang turun dari panggung
tadi, dengan mata mendelik, jenggot hitam tampak berkembang, nyata gusarnya tak
terkatakan. Kin Jin yang masih terapung itu mendadak balas menyerang balik ke belakang.
dalam sekejap itu terdengarlah serentetan suara adu telapak tangan yang nyaring.
Hawa udara dalam pendopo seketika bergolak. Bayangan kedua orang seketika
terpental dan anjlok ke bawah. wajah laki2 merah itu seketika berubah pucat kelabu,
jenggot yang panjang itu bertaburan kaku, tubuh yang besar itu terus terbanting ke
bawah. Untung di belakangnya seorang laki2 setengah umur berkepala gundul sempat
memburu maju dan memapahnya.
Menyusul dua orang laki2 berperawakan sedang juga menerjang tiba, salah satu
yang sebelah kupingnya tinggal separo menerjang maju, serunya: "Cianglo, apakah
masih kuat bertahan?"
Orang tua yang bermuka merah tampak gemetar, kedua tangannya melepuh besar
mirip paha babi, kulit daging hitam membiru.
Laki2 pertengahan umur yang memapah laki2 tua ini, melirik benci ke arah Kin Jin,
sejenak baru dia bersuara dingin: "Sahabat, tak perlu kau tutupi mukamu, kami
sudah tahu siapa kau adanya, memangnya kurang senang kau tinggal di Tan cin,
jauh2 datang ke Toa ho tin mencari setori."
Mendadak laki2 tua itu menarik napas panjang, dengan melotot dia berteriak serak:
"Kim lui jiu, aku telah memperoleh pelajaranmu."
Kin Jin membuka kedoknya, katanya: "Cianglo, maaf akan kekurang ajaranku
barusan, tapi Cianglo sendiri kenapa tidak ongkang2 saja di markas Jit-ho hwe
sebagai pentolan ketiga di sana, untuk apa pula kalian bisik2 sepanjang malam di
sini, sungguh membuatku tidak habis mengerti."
218 Jenggot hitam laki2 tua tampak bergoyang, katanya dengan napas tersengal: "Orang
she Kin, di Tanciu kau boleh bersimaharaja, urusan Jit ho-hwe kami tak perlu kau
mencampurinya . . . .. untuk apa kehadiranku di Pau-hou-ceng ini, memangnya kau
ingin mengetahui?"
Sambil tersenyum Kin Jin menjura, katanya: "Hanya karena ingin tahu saja. Tapi
kalau Cianglo tidak mau menerangkan, ya apa boleh buat, biarlab Cayhe mohon diri
saja." Dada si orang tua naik turun, napasnya terengah2, bibirnya bergerak ingin bicara,
tapi agaknya dia menguatirkan sesuatu, maka batal bersuara, dengan gemas
akhirnya dia melengos ke arah lain.
Adalah laki2 gundul itu ternyata berperangai kasar dan berangasan, dia meraung
beringas: "Kin Jin, biarpun Kim-lui-jiu sudah menggetar dunia, memangnya kau
boleh bertingkah dan datang pergi seenakmu sendiri" Kin Jin, jangan kaukira kami
boleh dihina."
Kin Jin sudah memutar badan, lekat dia membalik lagi, katanya dengan tertawa
ramah: "Kalau tidak keliru, tuan ini pastilah Kui kok khek Pa Cong-si, salah satu So
lian su -coat yang bersemayam di Pek-hoa-kok itu?"
Tidak menampakkan perubahan air mukanya, Iaki2 gundul ini malah menjengek:
"Orang gunung macam diriku ini mana dapat dijajarkan dengan Kim lui jiu yang
tergolong tokoh besar?"
Tidak marah, Kin Jin malah bersikap tenang, katanya: "Ah, Pa-heng terlalu memuji."
Sorot matanya berubah beringas, salah satu dari Sio lian-su-coat ini berkata kasar:
"Kau orang she Kin pasti paham akan aturan Kangouw, enam jiwa manusia
ditambah luka2 Ciang-lo, lalu orang she Kin mau tinggal pergi hanya menjura begitu
saja, apakah kau tidak terlalu meremehkan kami di sini?"
Pelahan Kin Jin berkata: "Lalu, apa kehendak Pa heng?"
"Gampang.saja," jengek Pa Cong-si, "tinggalkan batok kepalamu"
Seketika Kin Jin menarik muka, desisnya: "Pa Cong-si, terhadap siapa kau sedang
bicara?" Pa Cong-si ter-bahak2 dan berkata: "Terhadap kau keparat yang bernama kosong
dan tak tahu diri ini."
Sikap Kin Jin tetap tenang dan sabar, katanya: "Jika demikian, Pa Cong-si, boleh
kau turun tangan saja. Batok kepalaku akan kutinggalkan di sinni asal kau mampu
mengambilnya."
Mencorong sinar mata Pa Cong-si, segera ia pasang kuda2.
Dengan gaya santai Kin Jin mengebas lengan baju, katanya: "Silakan!"
Tapi laki2 yang disebut Ciang-lo, yang terluka tangannya itu, mendadak mengadang
di tengah mereka, teriaknya serak: "Tunggu sebentar Pa lote ....."
Pa Co ng-si melengak dan menyurut mundur, serunya heran: "Ciang-lo, kau . . . . "
Menggeleng dengan napas tersengal, si orang tua membalik menghadapi Kin Jin,
katanya dengan suara serak: "Kin-heng . . . .
"Ciang-lo terlalu sopan," kata Kin Jin tenang2, "entah ada petunjuk apa?"
Si orang tua berkata: "Dalam waktu dekat ini seluruh kekuatan Jik-san-tui tengah
dipersiapkan untuk menghadapi cerbuan Bu-siang-pay, situasi dalam Pau- hou-ceng
cukup tegang . . . . hal ini tentunya Kin- heng cukup maklum . . . . "
"Ya, kutahu," ucap Kin Jin.
Kata si orang tua menghela napas: "Kami mempunyai hubungan erat dengan Jiksan-
tui, betapapun kami tidak boleh berpeluk tangan melihat manusia padang
rumput itu menginjak kedaulatan kita di sini . . . . dalam keadaan yang serba sulit ini,
malam2 mendadak Kin-heng berkunjung kemari, malah sekali turun tangan
membunuh enam nyawa anak buah Jik-san-tui, sungguh aku tidak mengerti apa
maksud sepak terjangmu ini,"
Kin Jin menjelaskan dengan kalem: "Barusan sudah kujelaskan, ini hanya salah
paham belaka, hakikatnya kami tidak bermaksud mencari setori, bila kalian mau
menyudahi persoalan sampai di sini, segera kami akan pergi."
219 Pa Cong si dari Kui kok khek berseru gusar: "Kin Jin, jangan kau meremehkan
persoalan, bagaimana perhitungan jiwa enam orang dan luka2 Ciang-lo.
Kin Jin menarik muka, katanya: "Baiklah. akan kutunggu kalian menagihnya padaku."
Kedua orang berperawakan sedang tadi seketika naik pitam, orang yang sebelah
kupingnya hilang separo itu membentak bengis: "Kin Jin, keangkuhanrnu kelewat
batas, umpama Han mo-siang kiu (sepasang alap2 dari padang pasir) harus
mempertaruhkan jiwa, hari ini ingin kami menumpas kesombongan kau keparat ini."
"Han-mo-siang-kiu?" dengan nada sinis Kin Jin mengulang nama julukan orang,
mendadak dia tergelak2, katanya: "O, kiranya kalian adalah guru Kungfu dari Toa-tokau.
Syukurlah jika kalian ada selera, Kin Jin dengan senang hati akan mengiringi
keinginan kalian."
Bola mata Han-mo-siang-kiu terbelalak merah, kembali yang telinganya cacat
mendengus gusar serunya sambil menoleh: "Ciang-lo, akan kami ringkus dia."
Lekas orang tuts itu berseru dengan napas memburu: "Nanti dulu, tunggu sebentar,
asal usulnym belum jelas, betapapun tak boleh bertindak serampangan."
"Tapi jiwa enam orang yang menggeletak ini memangnya dianggap sia2?" seru Pa
Cong-si gusar. Muka si orang tua semakin pucat, iapun berteriak: "Pa-lote, musuh besar sudah di
depan mata, mana boleh sembarang mencari musuh baru" Cepat atau lambat
peristiwa ini pasti ada penyelesaiannya secara adil, buat apa harus terburu nafsu?"
Tapi Kui kok khek Pa Cong-si tetap ngotot, serunya: "Ciang lo, tengah malam buta
orang ini menyelundup kemari, tujuannya sudah jelas, tentu bermaksud jahat yang
tidak menguntungkan pihak kita, kau sendiri sudah terluka, demikian pula korban
enam jiwa, bila dia bukan mata2 musuh apa pula kerjanya di sini?"
Sudah tentu si orang tuta juga maklum akan hal ini. Tapi iapun maklum akan asalusul
dan kelihayan Kim-lui-jiu Kin Jin bukan saja Kungfunya tinggi, luas pengalaman,
di daerah Tan-ciu dia tak ubahnya seperti raja kecil di sana, anak buahnya ribuan
dan tersebar luas di mana2, hubungan luas dan banyak kawan, Kin Jin benar2
seorang tokoh yang sukar dilayani dan tak boleh diusik. Kini Bu-siang-pay sudah
berada di ambang pintu, pihak sendiri harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
menghadapinya, mana boleh mencari musuh lain pula di dalam kandang sendiri"
Oleh karena itu dia pikir biarlah telan dulu kerugian dan penasaran ini, setelah
pertikaian dengan Bu-siang-pay usai, pelahan cari kesempatan lain untuk membuat
perhitungan dengan Kin Jin
Tapi Kui-kok-khek Pa Cong-si dan Han mo-siang-kui ternyata keras kepala dan
kukuh pendapat, dengan ngotot hendak membuat penyelesaian sekarang juga, soal
menang dan kalah sukar diramalkan, yang pasti permusuhan ini jelas takkan
menguntungkan. Kin Jin menarik muka, katanya: "Ciang Heng, walau dalam Jit ho hwe kau terhitung
pentolan nomor ketiga, mengingat usiamu lebih tua maka kumenghormatimu, oleh
karena itu silakan kau minggir saja, bila Kui-kok-khek dan Han-mo siang-kiu ingin
mencoba kelihayanku, biarkan mereka maju."
Kui-kok-khek dan Han mo-siang-kiu segera menubruk maju. Se konyong2 pendopo
besar yang semula remang2 menjadi terang benderang, dua obor raksasa tahu2
menyala dalam ruangan, berbareng terdengar suara lantang berkumandang: "Kin Jin,
hidupmu akan berakhir di Pau-hou-ceng ini. Ketahuilah, Tan ciu yang kau kuasai
memangnya mampu melebarkan sayanpnya ke Toa-ho-tin sini?"
Cepat Kin Jin menoleh ke sana, dalam waktu sekejap ini puluhan obor telah menyala
benderang dan terus bertambah banyak, entah sejak kapan, ke dua sisi pendopo
panjang ini sudah berbaris orang berbaju merah yang mengangkat obor. Di bawah
penerangan obor kelihatan betapa beringas muka mereka dengan senjata terhunus,
seketika suasana bertambah tegang.
Dengan tenang Kin Jin berkata: "Wah, cepat juga kalian kemari, hanya dalam
sekejap, ruangan besar ini sudah menampilkan pameran yang boleh juga" Sembari
bicara, benak Kin Jin bekerja cepat, jelas sejauh ini pihak musuh belum dapat
220 meraba keadaan pihaknya, ada berapa temannya yang ikut menyelundup kemari.
Mungkin mereka pernah pergoki jejak Siang Cin tapi Kin Jin yakin seketika itu pula
orang yang memergokinya itu pasti dibuat bungkam dan menggeletak, kalau tidak,
tak mungkin musuh mengerahkan seluruh kekuatan dan perhatiannya kepada dirinya
seorang saja. Dia merasa senang kini ada kesempatan untuk pamer kepandaian dan
menggasak musuh, biar situasi di sini menjadi gaduh dan ribut, supaya Siang Cin
dan Sebun Tio-bu punya peluang menggerebek seluruh pelosok sarang musuh.
Suara dingin tadi berkumandang pula: "Kin Jin, mengakulah terus terang, kau mata2
darl pihak mana" Bu siang-pay atau Siang Cin?"
Kini pandangan Kin Jin tertuju ke arah orang yang berbicara, di bawah penerangan
obor terlihat jelas wajah orang itu lebar bundar menyerupai baskom, perawakannya
kekar gagah, air mukanya menampilkan rona sinis dan banyak muslihatnya,
beberapa kali mulut Kin Jin berkecek, tanyanya kemudian: "Siapa kau?"
Wajah yang lebar itu tertawa, katanya sambil melangkah maju: "Ah, aku hanya kaum
keroco saja.. Pernahkah kaudengar di dalam Jik-san-tui ada seorang yang bernama
Pek Wi bing?"
"O, kiranya Toh gwa-coh-to Pek-sam-thauling, sudah lama kudengar namamu," seru
Kin Jin. Sam-thauling (pentolan ketiga) dari Jik-san-tui itu seperti tertawa tapi tidak tertawa,
setelah mendengus dia menoleh, serunya: "Ciang-lo!"
Muka Ciang Heng dari Jit-ho-hwe tampak bersemu kuning, lekas dia mendekat dan
bertanya: "Bagaimana Pek-lote?"
Pek Wi-bing berkata dengan suara tertahan "Aku tahu maksud Ciang-lo, tapi urusan
sudah telanjur sejauh ini, menurut pendapatku, orang she Kin jelas mata2 yang
dikirim kemari oleh Bu-siang-pay, bila malam ini kita tidak menahan dia, bila dia
bekerja sama dengan orang2 Bu-siang-pay dan menyerbu datang, maka urusan
tentu sukar dibayangkan."
Ciang Heng menjadi ragu, katanya: "Tapi ..... Kin Jin tak boleh dipandang
enteng . . . . "
"Jangan kuatir," Pek Wi bing menyeringai, "keadaannya sekayang ibarat harimau
yang kesasar masuk kampung."
Kata2nya yang terakhir sengaja diucapkan dengan nada tinggi, maka Kin Jin dapat
mendengar jelas, mendadak dia tertawa serta menyambung: "Oleh karena itu, dia
digonggong anjing!"
"Orang she Kin tak usah menyindir," jengek Pek Wi-bing dongkol, "sebentar lagi ingin
berteriakpun kau tak bisa lagi "
Tiba2 mencorong terang bola mata Kin Jin, dingin tajam dan sadis. katanya tenang:
"Pek Wibing, sebelum kau turun tangan, lebih baik kau berpikir dulu dua belas kali,
jangan sampai mayat bergelimpangan, tetap kau tidak memperoleh keuntungan
apa2." Wajah yang lebar itu tampak merah gusar, Pek Wi-bing berjingkrak, semprotnya:
"Lebih baik pikirkan nasibmu sendiri, memangnya kaukira Jik san-tui dapat kau
gertak?" "Sedikit angkat kedua tangannya Kin Jin berkutat tawar: "Kalau demikian, malam ini
kalian harus belajar kenal dengan kelihayan Kim-lui-jiu."
Han-mo-siang-kiu segera tampil ke muka, si telinga cacat segera meraung: "Keparat,
kami kakak beradik akan jajal dulu betapa bobot kepandaianmu."
Kain hijau yang membungkus kepala tampak melambai, baru saja perhatian orang
banyak tertarik akan lambaian kain kedok ini, tiba2 Kin Jin melejit bagai anak panah
cepatnya, tiada seorang pun yang jelas melihat bagaimana dia beraksi, di tengah
suara gemerentang, yang memekak telinga, belasan orang berbaju merah sama
jungkir balik dengan kepala hancur atau dada remuk. Sementara gema suara para
korban masih mengalun dalam ruangan besar itu, secepat kilat Kin Jin sudah putar
balik, kedua tangannya berubah laksana dua gada emas yang kemilau terang, sekali
221 telapak tangan terbuka, mendadak dia dorong kedua tangannya ke arah Pek Wi-bing.
Toh gwat coh to Pek Wi-bing adalah jago kosen juga dalam Bu lim, dia tahu
serangan ini tidak boleh dilawan dengan keras, sembari berteriak dia terus melompat
ke samping. Kedua telapak tangan yang melancarkan kemilau kuning itu mendadak terpencar
terus membelah lurus ke arah Han-mo-siang-kiu.
Melihat gelagat jelek, kedua kakak beradik ini lekas2 menegok ke kiri dan kanan,
namun demikian pukulan yang mengumandangkan suara gemuruh ini tetap
menyerempet lewat tubuh mereka, lantai marmar di kaki merekapun sampai pecah
sehingga debu krikil beterbangan.
Sekonyong2 suara hardikan nyaring bergema, laksana segumpal awan menggulung
dari udara, seorang menerjang ke arah Kin Jin.
Cepat Kin Jin menarik kembali tangan kiri terus mencengkeram ke perut Pek Wi-bing,
sementara telapak tangan kanan menggaris setengah lingkar terus menabas
kesamping, Kin Jin mendengus dan menjengek: "Pa Cong-si, kau belum setimpal
melawanku."
Pembokong licik ini memang Kui-kok-khek Pa Cong-si, salah satu dari Sio-lin-su-coat
di Pek-hoakok (lembah seratus bunga). Ubun2 kepalanya yang dekuk itu tampak
berdenyut turun naik, kedua badik Pa Cong-si yang tajam mengkilap dengan
sendirinya menyerang tempat kosong, sebat sekali Kin Jin menendang, "tring, tring"
kedua badik mencelat dari tangan Pa Cong-si dan patah menjadi empat potong.
Pada waktu yang sama, seorang mendadak menubruk tiba, sebuah gelang tembaga
sebesar roda kereta mendadak berputar ke atas kepala Kin Jin, berbareng sebilah
pisau melengkung tajam mendadak menusuk perutnya.
Berkerut alis Kin Jin menghadapi serangan serentak dari musuh yang licik ini. dasar
kepandaian tinggi sedikitpun dia tidak menjadi gugup, mendadak dia berjumpalitan
ke belakang, lalu menjengek: "Pek Wi bing, ternyata kaupun hanya kaum keroco
saja." Cepat sekah Pek Wi bing menubruk maju pula, ia memegang sebuah gelang
tembaga yang bercahaya kebiruan, sementara pinggiran gelangnya setajam pisau,
gelang yang kelihatan sederhana ini hakikatnya adalah senjata yang ganas,
biasanya senjata ini diutamakan untuk menggantol leher orang.
Dikala berlompatan Kin Jin sudah memperhitungkan waktunya, baru saja Pek Wi
bing memburu maju tiba2 ia melambung tinggi pula sambil berputar, menyusul ia
balas menyerang dengan tidak kurang lihaynya.
Sambil berteriak Pek Wi-bing berkelit, sementara Han-mo siang kiu yang sudah
menubruk maju juga dipaksa melompat minggir, cahaya obor dalam pendopo
seketika ber-goyang2.
Dalam pada itu, Siang Cin yang mendekam di atas langit2 diam2 tertawa geli, timbal
rasa kagumnya, selama ini dia sendiri terkenal kelihayan ilmu pukulannya, tapi Kim
lui-jiu Kin Jin sekarang ternyata juga gagah perkasa, meski keduanya mempunyai
kelebihan masing2, tapi bahwa Kin Jin memiliki tingkat kepandaian setarap ini, mau
tidak mau Siang Cin menjadi kagum.
Siang Cin dapat menilai, dengan Kim-lui jiu yang hebat itu, ia yakin seorang diri Kin
Jin masih mampu menghadapi keroyokan orang banyak di pendopo ini, meski belum
tentu dapat mengalahkan musuhnya, tapi dia sendrri jelas tidak bakal terkalahkan,
bahwa seluruh perhatian musuh ditujukan kepada Kim Jin seorang, kenapa
kesempatan ini tidak digunakan dengan baik.
Selagi Siang Cin masih bimbang, sementara di bawah Pek Wi-bing, Han-mo-siangkiu
dan Pa Cong ci berempat sudah mengeroyok Kin Jin dengan sengit, sedangkan
Ciang Hong yang terluka bersiaga di pinggir gelanggang, sementara lingkaran
orang2 berbaju merah dari Jik-san-tui semakin diperkecil, setiap waktu mereka siap
menubruk maju bersama.
Setelah menarik napas panjang, dengan diam2 selincah kucing Siang Cin
menggeremet ke pojok sana terus melorot turun ke arah jendela, dengan hati2 dia,
222 menyongkel tanpa bersuara, dengan gesit ia menyelinap keluar.
Malam dingin dan gelap, hanya diterangi kerlip bintang di langit, melompat ke atas
wuwungan Siang Cin celingukan mencari jejak Sebun Tio-bu, pada saat itulah
sesosok bayangan orang tahu2 menubruk dari belakangnya..
Cepat Siang Cin membalik, terlihat jelas orang ini mengenakan pakaian warna
merah menyolok meski di tengah malam gelap ini, malah tangannya menenteng dua
bilah kampak. Dengan sikap angkuh Siang Cin menunggu, begitu bayangan itu mendekat, tanpa
bersuara Siang Cin menabas dengan telapak tangan sembari meluncur maju.
Pendatang ini agaknya tidak menduga akan menghadapi serangan kilat begini,
dengan kaget dia mendak ke bawah.
Baru Siang Cin hendak menambahkan serangan lain yang lebih ganas, dengan
gugup orang itu berteriak tertahan: "Berhenti Siang heng, aku Sebun."
Siang Cin melenggong, orang berbaju merah itu lantas melejit ke sampingnya.
Memang betul Sebun Tio bu adanya. Dengan menyengir Siang Cin bertanya dengan
suara pelahan: Cayhe sedang mencarimu, bagaimana Tangkeh bisa salin pakaian
dalam waktu secepat ini?"
Sebun Tio bu menghela napas lega, katanya: "Masa cuma kau saja yang senang,
sejak tadi aku ikut bergabung dengan para kura2 di dalam pendopo. Begitu Lo Kin
masuk dan jejaknya konangan, aku lantas urung bertindak, kebetulan aku
menangkap seorang anggota Jik-san-tui yang lagi buang air, kututuk dia, lalu
kubelejeti pakaiannya, dengan leluasa dapatlah aku keluar masuk pendopo, semula
aku kuatir akan keadaan Lo Kin, tapi setelah kuikuti beberapa gebrak, keparat itu
ternyata memang lihay, diam2 aku mencarimu di sana, waktu kau menyelundup
keluar dari jendela tadi kebetulan kulihat bayanganmu, kupukir kau pasti sudah ambil
sesuatu keputusan, maka buru2 aku menyusul kemari, hampir saja aku menjadi
korban pukulannu yang mematikan . . . . . . "
Lekas Siang Cin mohon maaf, katanya: "Siapa suruh kau ganti pakaian tanpa
menyapa pula" Kukira jejakku sudah konangan . ... . . . Eh, Tangkeh. Kin-heng jelas
tak menjadi soal meski dikeroyok, mumpung ada kesempatan mari kita beraksi
selagi mereka tumplek seluruh perhatian atas diri Kin heng,"
"Baiklah, hayo mulai!" jawab Sebun Tio bu.
Setelah menerawang keadaan sekelilingnya, akhirnya Siang Cin berkata lirih:
"Umpama nanti dipergoki musuh, Tangkeh bendaknya melawan sekadarnya, jangan
se-kali2 melayani mereka sampai lama, lebih cepat berlalu lebih baik, sementara
kesempatan sementara kugunakan untuk mencari tahu keadaan Pau-hou-ceng dan
apakah di sini juga dikurung orang2 Bu siang pay."
Sebun Tio bu mengangguk, katanya: "Baiklah!"
Mereka terus melayang ke wuwungan pendopo, tanpa berhenti mereka langsung
berlompatan di atas wuwungan gedung yang ber-lapis2 itu menuju ke gedung
berloteng yang ada di lapisan terakhir.
Bangunan gedung2 di Pau-hou-ceng ini ternyata cukup banyak, kalau tidak mau
dikatakan terlalu rapat dan berhimpitan. namun gedung2 di sini dibangun secara
teratur, pepohonan yang ditanam di sinipun terletak pada sudut2 yang telah
diperhitungkan secara rapi, taman bunga dan jalanan kecil beralas balok2 batu
gunung. Siang Cin dan Sebun Tio-bu sembunyi di belakang pohon besar yang ada di pojok
sana, dengan jelas mereka melihat barisan berseragam merah sama ber-lari2
menuju ke ruang pendopo dari berbagai arah, semuanya bergerak lincah dan terlatih
baik. Sebun Tio bu berkata lirih: "Pasukan Jik-san-tui seluruhnya dikerahkan untuk
menghadapi Lo Kin, namun suasana perkampungan ini tetap tenang, jelas mereka
mengira yang datang hanya Lo Kin seorang saja. Siang-heng, inilah kesempatan
baik." "Betul, tapi Pau hou-ceng cukup luas seperti sebuah kota kecil, belum diketahui lagi
223 di mana pusat kekuasamn mereka . . . . lagi, Tangkeh, Cayhe tetap berpendapat
bahwa orang2 Bu-siang-pay ada yang menjadi tawanan mereka ketika terjadi
pertempuran di Pi-ciok san tempo hari itu . . . . "
Berpikir sejenak akhirnya Sebun Tio bu memberi usul: "Mari kita tipu mereka saja,
bila perlu gunakan pula kekerasan, waktu amat mendesak, lekas sikat dan cepat
akhiri." Siang Cin mengangguk, katanya: ?"Baiklah Tangkeh, akan kulindungi aksimu dari
samping." Maka dengan langkah lebar Sebun Tio-bu langsung menuju gang kecil di sebelah kiri,
baru puluhan langkah dia berjalan, dari balik pepohonan di sebelah sana
berkumandang suara teguran: "Berhenti!.
Sedikitpun Sebun Tio bu tidak memperlihatkan rasa gugup dan takut, ia menarik
suara dan memaki: "Apakah Nyo Cin di sana" Kau keparat ini mungkin terlalu
banyak tenggak air seni kuda ya, masa suara tuan besarmu juga tidak kau kenal
lagi." Sejenak keadaan di balik pepohonan menjadi hening, tapi segera terdengar lagi
suara lebih kereng: "Jangan kelakar, kau anak buah siapa?"
Sebun Tin bu berludah, semprotnya gusar: "Kunyuk, masa suaraku tidak kaukenal"
Memangnya kau yang berkuasa di sini . . . . "
Dari balik pohon berkelebat keluar bayangan seorang tinggi besar, dengan mendelik
ia menatap tajam Sebun Tio-bu, katanya pula dengan ketus "Memeluk harimau di
Pan hou ceng."
Dalam hati Sebun Tio-bu mengumpat, sungguh tak kira bahwa orang akan main
teka-teki, bila hanya gertakannya tidak mempan, Tapi dia tetap melangkah maju,
sengaja dia berseru dengan nada gusar: "Keparat, kau kira tuan besarmu tak bisa
menjawab bahasa rahasiamu, Aku justeru tidak mau menjawab, coba apa yang
dapat kaulakukan atas diriku?"
Bayangan tinggi itu menyeringi, tiba2 serunya tegas: "Tangkap dia!"
Mendengar aba2nya, empat bayangan orang segera menerobos keluar dari tempat
gelap, bagai serigala kelaparan saja mereka menubruk ke arah Sebun Tio-bu.
Sebun Tio-bu sudah nekat, ia tidak melawan, mendadak dia malah lempar kedua
kampaknya ke jalan yang beralas batu gunung sehingga menimbulkan suara
berkerontangan, sambil bertolak pinggang Sebun Tio bu meraung gusar: "Siapa
berani bergerak" Kalian berani bertingkah, keparat piaraan anjing, tidak bisa
membedakan lawan atau kawan sendiri, mau main kekerasan terhadap tuanbesarmu
ini?" Karena gertakan Sebun Tio-bu ini, keempat laki2 itu melenggong sejenak dan
merandek, mereka saling pandang dengan bingung.
Sementara itu Sebun Tio bu masib terus berkaok2: "Baru saja tuan besarmu ini
pulang dari arah Liok-sun-ho sana, badan capai mulut kering, ingin selekasnya
memberi laporan dan minta arak pada Toa-thauling, tapi kalian anak kura2 ini
mencegatku di sini, memangnya kalian mau apa?"
Keempat laki2 itu sama berdiri bingung dan serba susah, sementara laki2 tinggi
besar di belakang tadi lantas maju..
Sebun Tio-bu tetap bertolak pinggang, serunya dengan marah2: "Kebetulan kau
kemari, keparat, aku orang she Sebun hari ini ingin melihat kau keparat yang sinting
ini hendak berbuat apa atas tuan besarmu ini."
Laki2 gede berpakaian merah itu berusia empat puluhan, wajahnya lebar gemuk
merah, tapi air mukanya tampak kaku dingin, matanya yang tajam mengamati Sebun
Tio bu dengan seksama, katanya dengan suara kaku: "Apakah kau anak buah Toathauling?"
"Kalau bukan, memangnya aku ini anak buahmu?" damprat Sebun Tio bu.
Laki2 baju merah itu menarik muka, hardiknya bengis: "Kawan, mulutmu harus kenal
sopan santun, meski kau anak buah Toa-thauling yang tersayang juga tak dapat
menggertakku, jika kau tak mampu menjawab kode rahasia malam ini, maaf, Aku
224 orang she Pui terpaksa harus menahanmu"
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
Sebun Tio-bu menyeringai, jengeknya: "Bagus. aku orang Sebun hendak
pertaruhkan gentong nasiku untuk memenangkan penahanan ini, tapi bilamana
urusan sampai terbengkalai, dihadapan Toa_thauling nanti kau yang harus
bertanggung jawab akibatnya."
Laki2 baju merah itu menjadi ragu, jelas dia tetap gusar, akhirnya berkata dengan
uring2an: "Tinggalkan namamu."
Sambil mendengus, Sebun Tio-bu lantas berseru: "Sebun Tio bu!"
Laki2 baju merah tampak tertegun, jelas dia seperti ingat nama ini, tapi kesannya
tidak mendalam dan tidak ingat siapa gerangan tokoh yang bernama Sebun Tio bu
ini, setelah berpikir sebentar, akhirnya dia mengulap tangan, serunya: "Pergilah kita
catat namamu."
Dengan menyeringai Sebun Tio-bu melangkah ke sana, katanya: "Boleh, coba saja
siapa yang salah dalam persoalan ini."
Tapi baru beberapa langkah, laki2 gede itu tiba2 membentak gusar: "Berhenti!"
berdebur jantung Sebun Tio-bu, tanyanya sambil menoleh: "Ada apa?"
Laki2 gede itu mencak2, serunya: "Didepan sana adalah tempat menyekap tawanan
Hek-jiu-tong dan musuh kita, ada apa kau menuju ke sana?"
Hampir saja tergelak2 saking senang hati Sebun Tio-bu, sambil berpikir sementara
mulutnya balas menjengek: "Memangnya perlu kau mengoceh, aku juga tahu di
mana tawanan Hek-jiu-tong dikurung, kalau dilarang pergi ke sana, memangnya aku
orang Sebun berani terobosan ke sana."
Saking gusar laki2 gede baju merah itu mendelik, dengan gemas dia membanting
kaki, serunya beringas: "Baik, anggaplah mulutmu memang hebat, lihat saja nanti."
Sebun Tio bu menyeringai dan melangkah ke depan, tidak jauh, di balik pohon sana
tampak bayangan tembok tinggi, jalanan kecil inipun tampak melebar.
Tanpa sangsi Sebun Tio-bu mengikuti arah jalan itu, baru saja dia hendak
menerobos ke sebelah sana dari tempat gelap mendadak berkumandang hardikan;
"Siapa?"
Sebun Tio-bu berteriak gusar: "Pau- hou-ceng memeluk harimau, lekas jawab."
Lima bayangan orang tampak melompat keluar dari tempat gelap, seorang yang
terdepan sebagai pimpinan segera menyahut gugup: "Hasrat terkabul di Ji-Ih hu. Eh,
kiranya orang sendiri . . . . . . . "
Sambil mendengus Sebun Tio-bu bertanya: "Ada kejadian apa di sini!"- Lagaknya
seperti orang gede. Kelima orang itu cepat menghampiri, seorang yang berpakaian
merah menyahut: "Tiada apa2, engkau tentu lelah, sudah malam, begini masih
ronda?" Sebun Tio-bu menghela napas ujarnya: Makan gaji tentu harus menjalankan tugas,
apa boleh buat" Keparat, apakah tawanan di dalam menimbulkan keributan" Kalian
harus lebih hati2."
Laki2 itu tertawa, katanya: "Tanggung beres! Lapisan pintu pertama adalah batu
raksasa ribuan kati, dirangkap lagi papan besi tebal, lalu tiga pintu terali besi lagi,
umpama rombongan gajah yang di kurung di dalam juga takkan mampu menerjang
ke luar, apa lagi mereka manusia biasa?"
"Kupikir demikian juga, apalagi keparat itu sudah cukup payah setelah disiksa
sedemikian rupa. Tapi situasi beberapa hari ini semakin tegang, kuatirnya bila bala
bantuan Bu-siang-pay akan menyerbu kemari."
Orang itu berkedip, tanyanya lirih: "Saudara, kabarnya ada mata2 musuh
menyelundup masuk di depan?"
Sebun Tio bu celingukan sebentar, lalu merendahkan suara seperti penuh rahasia,
katanya: "Memang, kepandaian bocah itu ternyata amat lihay, beberapa jago kita
ternyata tidak mampu membekuknya meski sudah dikeroyok, malah Ciang-samya
dari Jit ho-hwe terluka, kudengar enam orang kitapun sekali gebrak telah terbunuh,
wah. kalau bicara soal ini aku jadi ngeri . . . . "
Kelima laki2 itu ikut terkesiap, yang memimpin itu berkata dengan suara serak:
225 "Kalau demikian, lawan agaknya sukar dilayani, padahal hanya seorang musuh dan
kita sudah dibikin kelabakan, kalau datang beberapa orang lagi, entah apapula yang
akan terjadi di sini . . . "
"Memang . . . ." ucap Sebun Tio-bu, "Mendingan di sini, ada tembok tebal dan
dinding tinggi, dipasangi peralatan rahasia lagi, kemanapun kalian masih bisa
sembunyi, kita yang di depan harus membendung serbuan musuh mana kuat
menghadapi golok tajam mereka . . . . "
Orang itu menghela napas, katanya dengan muka masam: "Soal alat rahasia segala
kan hanya mendengar saja, kapan kita pernah melihatnya" Entah bagaimana
bentuknya, apakah betul kuat membendung serbuan musuh, juga masih merupakan
tanda tanya . . "
Sebun Tio bu agak kecewa karena tak dapat memancing keterangan yang penting,
katanya tawar: "Siapa saja yang terkurung di dalam, apa kalian tahu?"
Orang itu menggeleng, katanya: "Ini soal penting, kecuali beberapa pemimpin besar,
kurasa tiada yang mengetahui, bagi kita siapa mereka tidak soal, yang penting bila
tiba waktunya cara bagaimana harus mencari jalan hidup . . . . . "
Sebun Tio-bu tertawa, katanya: "Betul, hanya terima beberapa keping duit masakah
harus mempertaruhkan jiwa . . . Sudahlah, kalian tentu lelah, aku akan periksa
sebelah depan."
Lima orang itu segera menyingkir memberi jalan, si baju merah berpesan: "Harap
periksa dengan seksama, saudara."
Dengan langkah enteng Sebun Tio-bu beranjak ke depan sambil mengiakan, tiba di
pinggir hutan sebelah sana, keadaan gelap dan sunyi, dari pucuk pohon di
dengarnya suara Siang Cin: "Tangkeh . . . . "
Waktu Sebun Tio-bu mendongak, seenteng burung Siang Cin telah meluncur turun di
sebelahnya, katanya: "Percakapanmu sudah kudengar. Kini tugas pertama kita
harus berdaya cara bagaimana menerjang masuk ke sana, kupikir aku perlu meniru
caramu merebut seperangkat pakain mereka, bila perlu gunakan kekerasan dan
terjang ke dalam dengan kerja kilat, jangan sampai menimbulkan suara berisik,
supaya mereka tidak sempat lapor dan mengirim tanda bahaya . . . . "
Sebun Tio-bu menepuk paha, tatanya: "Bagus, sekali kerja beres seluruhnya,
memang itulah cara kerja Naga Kuning. Hayolah kita mulai."
Siang Cin tepuk pundak orang serta menyeretnya masuk ke dalam hutan cemara,
katanya memperingatkan: "Hati2, di sana ada pos penjagaan, ada dua penjaga di
sana." Tapi sengaja mereka berjalan terang2an supaya kedatangan mereka diketahui orang,
tak jauh mereka maju, tampak cahaya bergerak di sebelah depan, dua bayangan
orang segera muncul dengan suara bentakan: "Siapa itu" Berhenti!"
Jilid 13 Siang Cin mendengus, mendadak dia melejit ke depan, hanya kelihatan berkelebat,
belum lagi kedua orang itu sempat melihat jelas siapa yang datang, tahu2 keduanya
sudah tersungkur binasa.
Dengan gerak cepat Sang Cin belejeti pakaian salah seorang terus dipakainya,
kerudung muka dibuang, dengan tertawa ia berkata: "Hayolah, segalanya beres dan lancar."
Cap-pi-kun-cu Sebun Tio bu mengacung-kan jempol, katanya memuji: "Cepat
benar!" 226 Segera mereka maju lebih jauh, tujuannya adalah gedung besar yang ada di
belakang hutan, setelah menghindarkan tujuh pos penjagaan, akhirnya mereka tiba di depan
gedung batu, yang berbentuk segi empat.
Gedung segi empat yang besar ini hanya terdapat delapan jendela, setiap jendela
luasnya kira2 satu kaki dipasangi terali besi sebesar lengan pula, celah2 terali besi
itu hanya selebar kepalan tangan. Pintu gerbangnya berwarna kuning dengan hiasan paku
besar yang mengkilap, daun pintu tertutup rapat, tembok batu berwarna coklat tua terasa betapa
kukuh bangunan gedung ini, suasana terasa seram dan menyesakkan napas.
Dua batang obor besar tertancap miring di atas tembok, bunga api sering terpercik
berjatuhan bercampur tetesan minyak bakar. Sepuluh laki2 berdiri di kanan-kiri tanpa
bergerak, sekeliling sunyi senyap.
Siang Cin menoleh sambil tertawa pada Sebun Tio-bu, dengan langkah tegap
mereka keluar dari balik pohon, langsung mereka menuju pintu depan gedung persegi itu.
Sorot mata kesepuluh laki2 baju merah yang berjaga di depan, pintu segera tertuju
ke arah mereka, sorot mata mereka tampak curiga dua orang yang di depan serentak
mengangkat tangan dan menegur: "Berhenti sebentar."
Siang Cin menjura, katanya dengan tertawa; "Malam dingin, angin kencang,
tentunya kalian capai dan menderita."
Tanpa memperlihatkan perasaan apa2, kedua orang itu mengangkat kepala, lalu
yang di sebelah kiri bersuara: "Malam selarut ini kalian datang kemari, entah ada
kepentingan apa?" "Ya, memang ada keperluan," sahut Siang Cin tenang dan wajar, "Toa-thauling
suruh kami mengadakan pemeriksaan khusus, adakah sesuatu yang tidak beres di sini"
Soalnya ada mata2 musuh yang telah menyelundup ke bagian depan . . . . "
Kedua orang itu saling pandang, orang yang bersuara itu berkata pula: "Kalau Toathauling
ada perintah, kami semua tentu memberikan kelonggaran, tapi apakah
kalian membawa medali perunggu Pau-hou-ceng dari Toa-thauling, siapapun yang akan
masuk ke penjara harus memperlihatkan medali perunggu itu."
Dalam hati diam2 Siang Cin mengumpat, tapi sikapnya tetap biasa, katanya: "ToaBARA
NAGA- Koleksi KANG ZUSI
227 thauling hanya berpesan secara lisan, buru2 lagi sehingga tak sempat kami
membawa medali perunggu yang diperlukan, tapi apakah pesan Toa-thauling secara langsung
juga tidak berlaku di sini?"
Dengan menarik muka kedua orang itu menggeleng kepala, katanya sinis:
"Ketahuilah
kawan, menurut perintah, kami hanya boleh memberi jalan berdasarkan medali
perunggu, tanpa medali perunggu Pau-hou-ceng, umpama kakek-moyangku, sendiri juga tidak
boleh masuk, ini bukan urusan main2, bila terjadi sesuatu, memangnya siapa yang bisa
bertanggung jawab?"
"Apa betul demikian?" Siang Cin menegas dengan tertawa aneh.
"Sudah tentu," jengek laki2 itu, "tiada yang harus diberi kelonggaran secara khusus
di sini." Sambil mengulap tangan Sebun Tio-bu maju selangkah, katanya dengan tertawa:
"Tanpa medali perunggu Pau-hou-ceng, apa benar bapakmu sendiri juga tidak kau
beri kelonggaran?"
Merasa nada pembicaraan orang yang kaku mengancam tanpa terasa laki2 itu
menyurut mundur, katanya waspada: "Ya, begitulah, kau . . . . "
Belum habis dia bicara, mendadak Sebun Tio-bu ter gelak2, serunya:. "Baik sekali,
kini boleh kau anggap kami berdua adalah kakekmu."
Kedua orang itu seketika naik hitam, tapi belum lagi sempat mereka bertindak, Siang
Cin tiba2 sudah mendahului, "blang", tubuh orang itu jungkir balik setombak jauhnya.
Dikala telapak tangan kirinya melayang itulah, tangan kanan Siang Cin juga
menggenjot laki2 yang lain sehingga menyemburkan darah dari mulutnya. Dalam
waktu yang sama Sebun Tio-bu, melejit tinggi ke atas. sekaligus kaki tangan bekerja,
empat musuh telah dirobohkan, empat orang yang masih hidup menjerit ngeri, dua di
antaranya menubruk ke arah Sebun Tio-bu, seorang menerjang Siang Cin, dan seorang lagi lari
sipat kuping menuju ke pintu gerbang terus hendak menarik sebuah gelang hitam yang
tergantung di atas pintu.
Mendadak kampak besar yang kemilau membacok kepala Siang Cin, tapi Siang Cin
berkelebat maju memapak, kedua kakinya terayun, sekali pancal, menyusul
tubuhnya melejit ke sana, berbagai gerakan ini dilakukan secara serentak, dikala orang roboh
228 terbanting sebat sekali Siang Cin sudah melayang jauh ke sana dan tiba di samping
laki2 yang hendak menarik gelang hitam di pinto gerbang.
Seperti cakar iblis telapak tangan Siang Cin tahu2 membabat, kepala laki2 itu kontan
menggelinding jauh ke sana, darah menyembur dari lehernya yang putus, sekali
depak mayat tanpa kepala itu ditendang roboh oleh Siang Cin.
Dalam pada itu, kedua laki2 yang menubruk ke arah Sebun Tio-bu juga telah
dibinasakan, cara kematian kedua orang ini sama, leher mereka bolong sebesar
kepalan tangan. Dari mulai sampai kesepuluh orang itu menggeletak binasa hatinya
berlangsung dalam waktu yang amat singkat.
Dengan menyeringai Sebun Tio-bu menggosok kedua telapak tangannya. katanya:
"Cepat juga, ya?" Siang Cin mengangguk serunya: "Hayo kita terjang ke dalam."
Sebun Tio-bu lantas menggedor pintu sekerasnya, teriaknya: "Buka pintu, lekas ada
perintah khusus dari Toa-thauling."
Malam sunyi, maka suara gedoran terdengar keras sekali, dengan cepat daun pintu
besi yang tebal dan berat itu lantas terbuka pelan2. Dari celah2 pintu yang terbuka sedikit
menongol keluar seraut wajah kurus, teriaknya tak sabar: "Ada urusan apa" Malam
buta begini ber-kaok2 bikin geger saja."
Kedua jari Siang Cin sekeras ujung tombak secepat kilat menjojoh leher laki2 muka
kurus itu, dengan leluasa Siang Cin lantas seret keluar tubuh orang serta
melemparkannya ke belakang. Sebun Tio-bu terus menyelinap masuk, sorot matanya yang tajam mendapatkan di
belakang pintu besar adalah sebuah kamar jaga persegi seluas satu tombak lebih, di
dalam kamar terpasang enam buah lampu kaca, ada empat laki2 di dalam kamar, dua di
antaranya rebah bermalas-malasan di atas dipan, dua orang lagi duduk berhadapan sedang
bermain kartu, dari cara mereka yang asyik memperhatikan pada permainannya, se-olah2
jiwa sendiripun berani dipertaruhkan.
Begitu menyelinap masuk Sebun Tio-bu lantas angkat tangan seraya menyapa:
"Haha, senang betul kalian, sebaliknya kami yang harus bekerja berat dari fajar sampai
malam gelap, sungguh menyebalkan,"
Kedua laki2 yang tengah berjudi itu tanpa menoleh, satu di antaranya yang menang
bersuara kemalas2an: "Mau periksa penjara lagi" Sialan, memangnya bui gelap
gulita 229 seperti neraka ini jauh lebih penting daripada penjara di kota raja, sehari semalam
berapa kali diadakan pemeriksaan, bukankah hanya beberapa keparat saja yang disekap di
sini?" Sambil tertawa Sebun Tio-bu berkata: "Tapi jika terjadi sesuatu yang tidak beres,
memangnya kalian dapat berbuat apa di sini?"
Merasakan jawaban yang kurang sedap orang yang bicara itu menoleh, ia jadi
melenggong tanyanya kemudian: "Eh, ,siapa kau" Kita belum pernah melihatmu . . . .
" Dalam pada itu Sebun Tio-bu sempat menjelajah keadaan kamar batu ini, Ruangan
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
yang sumpek ini di bagian dinding sebelah kanan terlihat ada guratan pintu yang
biasa dikerek turun-naik, maka dia menyeringai dingin, katanya: "Siapa bilang kau pernah
melihatku" Tuan besarmu memang baru pertama kali ini kemari."
Seorang lagi segera berjingkrak bangun, serunya gusar: "Hai, kau ini anak buah
Thauling yang mana" Bicaramu kenapa begini angkuh" Maknya, mau periksa bui
saja harus bertingkah segarang ini?"
"Sudah tentu," ujar Sebun Tio-bu sambil tertawa, "kini tugasku yang utama adalah
mengantar kematianmu."
Keruan kaget orang itu, teriaknya; "Apa, apa kata mu?" . . .
Kedua tangan Sebun Tio bu bergerak melingkar terus ditarik pelan2 dan didorong,
serangkum tenaga lunak yang tidak kelihatan mendadak menyambar, kontan laki2
itu mencelat, kepalanya menumbuk dinding dan roboh binasa dengan kepala remuk.
Keruan teman judinya itu terkesima saking ngeri, ia ingin berteriak tapi suara tidak
dapat keluar saking panik: "Kau . . . .mat . . . . mata2. . " "Peletak", tangan kanan
Sebun Tio-bu menggenjot dada orang, suara tulang patah dan remuk menusuk
pendengaran dalam
suasana yang sepi ini sehingga dua orang yang rebah di dipan melompat kaget
sambil kucek mata, mereka celingukan dengan bingung, tapi sebat sekali Sebun Tio-bu
sudah melompat tiba, tanpa ampun kedua laki2 yang tersentak dari tidurnya kontan menjerit
dengan tubuh terkulai dan tak bernyawa lagi.
Dalam pada itu Siang Cin telah menyelinap masuk serta merapatkan pintu, langsung
dia menghampiri alat rahasia di tembok sana, katanya dengan mengedip mata:
"Tangkeh, kenapa tidak kau taya dulu cara membuka pintu rahasia ini."
Sebun Tio bu diam saja, sesaat baru bersuara setelah berpikir: "Kita gempur dengan
kekerasan saja."
Siang Cin tertawa, katanya: "Mungkin akan terlalu banyak membuang tenaga."
230 Sebun Tio-bu berkata tak acuh: "Apa boleh buat, Siang-heng, marilah kita bergiliran,
aku mulai lebih dulu, setelah lelah nanti ganti kau yang menggempur."
"Bolehlah," ucap Siang Cin tertawa, "mumpung ada kesempatan, aku ingin
menyaksikan kekuatan Tay-lik-kim-kong-ciang Tangkeh yang menggemparkan dunia
persilatan itu."
Codet di muka Sebun Tio-bu mendadak bersemu merah, katanya dengan sikap
kereng: Orang she Sebun selamanya tidak ber-muka2, Siang heng boleh kau saksikan."
Mendadak dia melompat maju, kedua tangannya menghantam sekaligus, pintu batu
tebal itu seperti ditimpa godam raksasa, maka menggelegarlah suara keras.
Di tengah getaran keras pintu batu tampak bergoyang, kerikil debu beterbangan,
Sebun Tio-bu kembali susuli pula dengan pukulan kedua, kembali terjadi goncangan keras,
beruntun melancarkan belasan pukulan berat baru Sebun Tio-bu menyurut mundur,
keringat tampak membasahi ujung hidung dan pelipisnya, setelah menarik napas
dalam2 akhirnya dia berkata sambil menggosok tangan: "Siang-heng, kini giliranmu."
Pintu batu yang tebal di jepit diantara batu2 gunung yang kukuh itu kini sudah tak
keruan bentuknya seperti habis digempur oleh kampak, batu tebal yang semula rata
kini tampak melesak ke dalam, rontokan batu tampak memenuhi lantai. Tay-lik-kimkiongciang
yang dilontarkan Sebun Tio-bu memang dahsyat dan tak bernama kosong.
Siang Cin tersenyum, katanya: "Tangkeh, Tay-lik-kim-kong-ciangmu ini
mengutamakan kekerasan, mungkin Cayhe tidak memiliki kekuatan se hebat mu"
"Siang-heng," Iekas Sebun Tio-bu berkata, "bukan saatnya bicara sungkan, silahkan
kau turun tangan saja, setelah istirahat nanti kuganti menggempurnya pula . . . . "
Sambal berteriak, air muka Sang Cin tampak beringas, di tengah teriakan keras itu
secepat kilat seperti beradu cepat sekaligus dia telah melancarkan berpuluh kali
pukulan, begitu cepatnya pukulan ini sehingga orang sukar menghitungnya.
Di tengah suara gemuruh disertai debu pasir beterbangan, pintu batu yang tebal itu
ternyata tergempur hancur dan runtuh, tanpa bicara segera Siang Cin menyelinap
masuk ke sana. "Jik sia-ciang yang hebat!" sera Sebun Tio-bu kagum.
Di kala melayang masuk itulah kuping Siang Cin mendengar suara gemuruhnya alat
rahasia yang bekerja, Sekilas matanya menjelajah, seketika hatinya mengeluh,
ribuan ujung panah ternyata tengah berhambur memapak tubuhnya dalam lorong yang sempit
seluas beberapa kaki, anak panah ini memberondong keluar dari lubang bumbung besi
yang terbenam merata di dinding, ujung panah memancarkan cahaya biru tanda
231 mengandung racun jahat. Segera terdengar teriakan Sebun Tio-bu di belakangnya memperingatkan: "Awas
panah beracun, lekas menyingkir."
Gemeretak gigi Siang Cin, air mukanya kembali berubah kelam, se-konyong2 ia
melambung tinggi keatas, kedua kaki memancal, begitu keras dan kencang pukulan
telapak tangannya sehingga hawa udara dalam lorong berderai seperti luber. Maka ramailah
suara denging anak panah yang berhamburan patah dan hancur, kiranya ratusan anak
panah yang sama ditujukan ke satu sasaran dalam waktu sesingkat itu telah hancur luluh banyak
pula yang berkisar arah oleh damparan angin pukulan yang dahsyat itu.
Di tengah gelak tertawanya Sang Cin terus melesat maju dan hinggap di depan
sebuah pintu besi warna hitam, di tengah bentakannya yang menggelegar kembali ia
menggempur lagi. Entah bagaimana kejadiannya, mungkin pukulannya menyentuh tombol alat
rahasia sehingga menimbulkan dering keliningan yang gencar di mana2, begitu dering
kelintingan berbunyi, dari balik pintu besi itu se-konyong2 melesat keluar bacokan sebuah golok
melengkung yang panjang dan besar.
Untung Siang Cin cukup waspada dan keburu mengegos, tapi dalam detik itu pula
golok melengkung yang panjang tebal itu membal balik, dan lenyap di balik pintu
Keruan Siang Cin meraung dongkol. Di tengah bentaknya kembali dia menerjang maju,
dalam sekejap saja, Jik-sin-ciangnya kembali ratusan kali menggempur pintu besi tadi.
Lambat laun daun pintu besi itu tampak bergeming dan akhirnya bergoncang keras
dengan mengeluarkan suara gemuruh, golok tebal melengkung yang terselip di sela2
pintu tahu2 membacok keluar pula, kali ini Siang Cin sudah siap, pada waktu golok itu
membacok keluar, sebat sekali dia mendahului melompat mundur, ketika golok
melenting balik itulah beruntun Jik-sik-ciang juga menggempur pintu besi.
Pada gempuran berikutnya daun pintu besi itu akhirnya semplak dan ambruk, dikala
golok yang dipasangi pegas itu membacok pula, Siang Cin kerahkan sisa tenaga
pukulannya, dia bikin golok itu patah dan tidak bekerja lagi.
Sebun Tio-bu berkeplok tangan, teriaknya memuji dengan tertawa: "Hebat sekali
saudaraku, kau memang patut dipuji."
Tanpa berhenti Siang Cin memberi tanda terus menerjang masuk lebih dahulu, tapi
belum lagi dia angkat kepala, "Wuut, wuut", delapan kampak raksasa tiba2
232 membacok turun mengincar batok kepalanya, cepat Siang Cin mendak ke samping terus
berputar setengah lingkar, menyusul kaki kanannya terus menyapu, segera bayangan merah
tampak berkelebatan disertai jerit kaget dan pekik kesakitan, tujuh-delapan laki2 seperti bola
saja sama ter-guling2.
Kembali Siang Cin berada di lorong panjang sempit yang sama seperti depan tadi, di
ujung lorong mengadang pintu berterali besi. Enam dari delapan laki2 yang tersapu
roboh itu sudah patah tulang kakinya, yang terluka sama menjerit dan merintih sambil
memeluk kaki, dua orang lagi yang selamat seperti serigala lapar yang tidak takut mati segera
menerjang maju pula dengan nekat.
Siang Cin mendengus, belum lagi bertindak, mendadak Sebun Tio-bu melesat lewat
ke depan, begitu dia berkelit ke kiri serta mengegos ke kanan, kedua tangannya
bergerak, kontan beberapa orang Jik san-tui yang masih ketinggalan itu sama jatuh tersungkur.
Waktu berpaling, sementara suara kelintingan tanda bahaya tadi masih bergema,
tapi bayangan orang belum kelihatan, maka Siang Qu berseru gugup: "Lekas, Tangkeh."
Ditengah teriakannya itu, Sebun Tio bu sudah berada di depan pintu terali besi,
segera dan pasang kuda2 dan mengerahkan tenaga, pelan2 kedua tangan mendorong ke
depan, lalu ditarik cepat serta didorong pula secara beruntun, hanya empat kali gerakan, empat
jeruji besi sebesar lengan bayi di pintu itu telah dibikin bengkok.
Cepat keduanya menyelinap masuk lebih jauh, beruntun dan pintu berterali besi
telah mereka jebol pula, kini mereka telah tiba di ujung lorong, di mana terdapat enam
kamar kurungan. Keruan Siang Cin berseru girang: "Nah itulah Tangkeh, akhirnya ketemu
juga." Mengawasi pintu kamar kurungan yang seluruhnya tertutup rapat, dirasakan pula
suasana di lorong ini sedemikian sunyi, Sebun Tio-bu menjadi ragu2, katanya:
"Musuh suara tanda bahaya, tapi sejauh ini belum kelihatan muncul mencegah atau
merintangi kita,
apalagi kamar tahanan di sini tertutup ber lapis2 pintu besi, tapi setiba di sini
keadaan justeru kosong melompong tanpa seorang penjagapun, Siang heng, apakah kau
tidak merasa adanya gejala yang ganjil?"
233 Siang Cin mengangguk, katanya: "Beralasan ucapan Tangkeh, tapi ibarat anak
panah sudah dipasang dibusur serta dipentang, tinggal membidikkan nya, kita sudah
terlanjur bertindak sejauh ini, sudah kepalang tanggung, terpaksa tetap bekerja, hayolah jebol
pintu2 penjara itu."
Sebun Tio-bu tampak prihatin, mendadak dia berteriak lantang: "Kepada sahabat Busiang-
pay yang berada di sini, jawab seruanku ini, Kami sengaja menerjang kemari
untuk menolong kalian. Waktu sudah teramat mendesak, sukalah para sahabat lekas
berusaha dan memperkenalkan diri."
suaranya bergema hingga sekian lama di dalam lorong, tapi ditunggu sesaat
lamanya tetap tiada jawaban apapun, beruntun dua kali Sebun Tio-bu berteriak, tapi kamar2
tahanan itu tetap sunyi tidak ada suara apapun.
Dengan gemas Sebun Tro-bu meraung: "Siangheng, perduli gunung golok atau
wajan minyak mendidih, hayolah kita terjang saja."
Perhatian Siang Cin tertuju ke kamar ke enam di ujung sana, katanya tenang
"Baiklah, terpaksa kita mencobanya."
Sebun Tio-bu menarik napas panjang, seluruh kekuatan dia himpun pada kedua
lengan, ia mengawasi Siang Cin, tanyanya: "Terjang kamar yang mana?" "
"Kamar yang itu saja", ucap Siang Cin sambil menuding kamar terakhir di ujung
lorong sebelah kiri Melangkah ke kamar tahanan yang di tunjuk itu, mendadak Sebun Tio-bu
menggeram seperti harimau mengamuk, kedua tangan terayun ke depan, serangkum angin
dahsyat langsung menerjang pintu kamar tahanan. Kekuatan pukulan Tay-lik-kim-kong ciang
memang luar biasa, hanya sekali gempur pintu besi yang tebal itu telah dipukulnya
jebol dan roboh. Tapi setelah pintu besi ambruk tidak tampak adanya bayangan orang yang dikurung
di dalam, yang membanjir keluar adalah ribuan ular ber bisa yang sama menenggak
kepala 234 dan meleletkan lidah, ular2 itu terdiri dari berbagai jenis, kepalanya segi tiga dengan
warna-warni yang berbeda, baunya yang amis dengan suaranya yang mendesis
menimbulkan rasa muak.
Keruan Sebun Ti-bu berjingkrak kaget, teriaknya: "Celaka, ular melulu."
Sekali ayun tangan Siang Cin menyapu mampus ular2 yang menerjang maju paling
depan. Lekas Se-bun Tio-bu mundur ke belakang, teriaknya: "Sungguh mengerikan,
pantas tiada reaksinya, kiranya ular berbisa seluruhnya."
Beruntun Siang Cin lancarkan empat kali pukulan, ular2 yang membanjir keluar
memenuhi lantai itu dipukulnya beterbangan, tapi yang di depan tersapu mampus,
yang di belakang tanpa kenal takut segera membanjir maju pula. Ular saling tindih,
berdesakan dan saling gigit, dengan suara mendesis yang seram.
Sebun Tio bu segera bantu menghantam dengan pukulan dari jarak jauh, dengan
gabungan kekuatan pukulan bersama, ratusan ular berbisa telah mereka bunuh di
lorong sempit itu. Sekali injak. Siang Cin bikin remuk kepala seekor ular yang merayap ke depannya,
katanya kuatir: "Peralatan rahasia yang d pajang di sini, tak ubahnya dengan yang
ada di Ceng siong "Ban-cent, semuanya serba keji di luar perikemanusiaan ."
Sebun Tio-bu berseru gemas: "Siang-heng, sekuatnya kau tumpas ular2 ini, biar aku
menggempur kamar tahanan yang lain di balik daun pintu ini."
Kedua tangan Siang Cin memang tak pernah berhenti, kawanan ular mencelat dan
beterbangan dilanda angin pukulannya, beruntun dia melontarkan puluhan kali
pukulan, masih sempat pula dia berseru: "Hati2 loh Tangkeh."
Dalam pada itu Sebun Tio-bu telah melompat mundur ke sana. "Blang", terdengar
gempuran keras disertai suara pecah berderai, begitu daun pintu remuk dan roboh,
dari balik kamar segera menerjang barang cairan yang berwarna hitam biru, entah air
apa yang mengalir keluar dan berbau busuk ini, yang terang hidung segera terasa pedas,
kepala
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
pening dan mata ber-kunang2.
Untung Sebun Tio bu keburu melejit ke atas seraya berseru memperingatkan: "
Lekas menyingkir Siang heng, air busuk ini berbisa."
Dengan lincah Siang Cin melompat ke atas, cepat air kental warna biru hitam
mengalir dan menggenangi seluruh lorong, kawanan ular2 yang masih hidup kini semuanya
terapung dan bergulat di dalam air kental ini, tapi lambat laun gerakan mereka bukan lagi
235 meronta semakin keras, sebaliknya semakin meregang jiwa, desis suaranyapun seperti
menderita kesakitan yang luar biasa, ular2 yang berlepotan air kental hitam itu sama terapung
di permukaan air tanpa bergerak lagi, badan ular yang semula berwarna-warni itu cepat
sekali berubah hitam. Dengan-punggung melengket di langit2 lorong Siang Cin dan Sebun Tio bu gunakan
ilmu cicak menyaksikan ular2 itu mampus keracunan, setelah memandang keluar
lorong Sebun Tio-bu berkata lirih: "Siang-heng, air ini terang beracun, genangan airnya
tidak dalam tapi kita tak bisa lama2 di sini, menurut hematku, marilah sekali lagi coba
tempuh bahaya saja."
"Baik" ucap Siang Cin.
Sebun Tio-bu periksa keadaan di bawah, hampir saja ia berteriak kaget waktu Siang
Cin mendadak ke bawah, diam2 diapun terkesiap, kiranya bangkai ular yang
terapung di permukaan air kental tadi kini sudah lenyap, daging kulit sampai tulang belulangnya
telah luluh seluruh tercampur bersama air hitam itu.
Berludah sekerasnya, Sebun Tio-bu mencaci dengan gemas: "Orang2 Pau-hou-ceng
benar2 kelewat keji Neneknya, untung kita menyingkir dengan cepat, bila sampai
kecipratan setetes saja, tentu daging kita bisa membusuk sebagian"
Siang Cin berkata dengan mengerut kening: "Sejauh ini musuh belum kelihatan
beraksi, jelas masih ada jebakan lain ayolah Tangkeh, kita dahului menggempur lagi."
Segera Sebun Tio bu mendahului melayang ke bawah dikala tubuhnya masih
terapung di udara itulah, dari dinding di kanan-kiri depan sana mendadak menjeplak terbuka
empat lubang kecil segi empat tiada kesempatan untuk berpikir apa sebenarnya yang
terjadi dengan ke empat lubang kecil ini, tahu2 dari lubang itu menyembur minyak bakar
yang berwarna kuning kotor.
Semburan minyak bakar ini cukup keras, jelas jumlah minyak yang tersedia cukup
banyak, dengan suaranya yang gemeretak minyak bakar itu terpancur ke bawah
tercampur dengan air beracun di dalam lorong.
Sebun Tio bu tetap meluncur ke sana dan hinggap di dinding sebelah kiri, kali ini dia
berlaku lebih hati2 serta memperhatikan keadaan sekeliling dinding, tepat dia
berhenti di depan sebuah pintu berterali dari sebuah kamar kurungan. Tanpa ayal ia himpun
236 tenaga terus menggempur pintu berterali yang kukuh itu, Tay lik-kim-kong-ciang kembali
memperlihatkan kedahsyatan, daun pintu itu kembali ambrol berantakan, kali ini
ternyata tiada peralatan jebakan malah kamar tahanan ini betul2 menyekap tiga orang
tawanan. Ketika tawanan sedang duduk bersimpuh di atas rumput kering, rambut semrawut
mukanya kotor dekil, bajunyapun compang camping, kaki tangan dan lehernya diborgol.
Sebun Tio bu melompat turun di depan pintu, teriaknya cepat: "Apakah kalian
kawan2 dari Bu siang-pay" Jangan membuang waktu percuma kami datang menolong kalian.
lekas bersiap untuk meloloskan diri . . . . "
Di kala berteriak2 itulah Sebun Tio bu mendengar langkah lirih dibelakangnya, maka
tanpa menoleh mendadak dia miringkan badan seraya membalik sebelah tangan
menampar ke belakang, "Huaah," seorang laki2 baju merah mendadak menjerit keras,
badannya meliuk memeluk perut serta terlempar jauh ke atas, kampak terlempar dan darah
segar tersembur dari mulutnya, seorang berbaju merah yang lain sambil meraung kalap
mengayun kampaknya segera membabat ke perut Sebun Tio bu.
Sembari mencaci mendadak Sebun Tio-bu menggeser ke samping, kampak lawan
kena disampuknya pergi, sekali Sebun Tio bu menabas, "peletak", suara tulang patah
terdengar, ternyata tulang lengan lawan telah patah, kampaknya jatuh berkerontangan.
Dengan gemas Sebun Tio-bu melompat maju sembari angkat tangannya hendak
mengepruk batok kepala orang, sedih dan putus asa orang itu berkata dengan
menahan sakit: "Sahabat, tidak perlu kau turun tangan keji pula."
Sebun Tio bu batalkan pukulannya, dampratnya gusar: "Kau keparat, memangnya
dengan kekuatan kalian berdua berani main sergap, Apa kau minta mampus?"
Orang yang telah tak berdaya itu terbatuk2 sekian lamanya, dengan napas memburu
dia berkata: "Kawan. umpama aku kau bunuh, antara kematianku dan kematianmu
hanya berbeda soal waktu saja. Takkan lama, kau sendiri juga akan menyusul arwahmu ke
alam baka." Keruan Sebun Tio bu melenggong, katanya: "Apa maksud ucapanmu?"
Jawab orang itu: "Coba kau periksa kamar tahanan ini . . . . "
Sekilas Sebun Tio-bu pandang keadaan sekelilingnya, kiranya itulah sebuah kamar
237 yang dibangun dengan balok2 batu besar dan kukuh, kecuali dua lubang angin
sebesar kepalan tangan, tiada jendela atau pintu, di mana tempatnya berdiri sekarang adalah
sebuah lorong di luar terali besi, di ujung lorong sana terdapat sebuah pintu angin yang
terbuat dari bambu, kiranya kedua orang penyergap ini sejak tadi bersembunyi di balik pintu
angin itu. "Jadi di sini hanya sebuah kamar batu saja?"
Sebun Tio-bu menegas ?"
Orang itu manggut, katanya:` "Betul, tiada jalan keluar lainnya."
Sebun Tio-bu mendengus, katanya: "Memangnya Locu tidak dapat menerjang balik
ke sana tadi" Jangan kira air beracun dan minyak bakar itu bisa merintangi aku."
Dengan gemetar orang itu berkata sambil terbatuk2: "Kawan . . . . . . . dikala kalian
membobol pintu terali kedua tadi tanda bahaya di sini segera bekerja sehingga
seluruh peralatan rahasia di sini bergerak serentak, pintu yang tebal dan ribuan kati beratnya
itu berhasil kalian gempur sampai runtuh, tapi segera pintu cadangan yang serupa yang
semula terpendam di bawah dengan sendirinya terkerek naik dan tetap menyumbat jalan
itu. . . . . . .
ini berarti bahwa jalan mundur kalianpun sudah buntu . . . ."
Dengan menyeringai Sebun Tio bu berkata: "Kalau kami bisa masuk kemari tentu
juga bisa keluar. Apa susahnya untuk meruntuhkan pintu itu."
Menggeleng dengan perasaan pilu, orang itu berkata: "Tak mungkin bisa keluar,
obor yang dinyalakan dengan belirang akan di lempar masuk kemari . . . . . . minyak bakar
yang memenuhi lorong di luar itu akan berkobar ke mana2, daya bakarnya begitu panas
dan cepat, umpama kau hendak menyingkir juga takkan keburu lagi . . . . . . "
Sebun Tio-bu menelan ludah, katanya: "Kalau demikian, lalu bagaimana kalian?"
Dengan tartawa sedih orang itu berkata: "Kami memang sudah ditugaskan untuk
jaga dan membunuh musuh, bila gagal harus gugur bersama musuh . . . ."
Kesiur angin terasa menyampuk punggungnya, terdengar suara Siang Cin yang
bernada kuatir berkata: "Tangkeh, apa yang dikatakannya memang betul."
Waktu Sebun Tio-bu menoleh, dilihatnya Siang Cin sedang tertawa getir kepadanya,
238 akhirnya Sebun Tio bu berkata pula kepada orang itu: "Memangnya kau keparat ini
hanya terima nasib begini saja!"
Menghela napas panjang, orang itu berkata: "Kalau tidak demikian, di luarpun kami
tak bisa hidup . . . . . . ."
Hawa di dalam kamar tahanan semakin terasa sumpek dan genah, bau minyak,
belerang serta darah dan bangkai ular sangat menusuk hidung sehingga orang2 di dalam
kamar merasa pernapasan semakin sesak.
Mendadak Siang Cin melangkah mendekat, tanyanya dengan gelisah: "Kawan,
apakah ada orang Bu siang pay yang dikurung di sini?"
Pertanyaan ini menyentak pikiran Sebun Tio-bu, lekas Siang Cin menoleh ke dalam
terali besi di mana ketiga orang tawanan bersimpuh tadi, katanya. "Ketiga orang itu
bukan?" "Bukan, mereka bukan," kata Siang Cin.
Lekas Sebun Tio bu mendekati terali besi, dia mengawasi ketiga orang itu sekian
lamanya, sebetulnya usia orang2 ini baru empat puluhan, tapi karena lama dikurung
di tempat gelap yang tak pernah melihat cahaya matahari sehingga usia mereka
tampak lebih enam puluhan. Kalau Sebun Tio bu mengawasi mereka dengan seksama, ketiga
orang itupun balas memandang Sebun Tio bu dengan sorot mata pudar, sikapnya kaku
seperti orang linglung.
Sekuatnya menggoncang terali besi Sebun Tiobu meraung keras "Kalian ini kenapa"
Ditanya diam saja, memangnya bisu semuanya . . . . . . . . "
Si baju merah yang rebah di tanah itu tiba2 tertawa sambil terbatuk keras, katanya
dengan serak: "Tidak salah, mereka memang bisu . . . . . . . "
Tertegun seketika Sebun Tio-bu, serunya kaget: "Apa, mereka bisu semuanya,?"
Senyum getir terbayang di ujung mulut si baju merah, katanya: "Ketiga orang ini
sebetulnya adalah kawan kami sendiri, karena melanggar peraturan maka dikurung
di sini, kuatir mereka lolos dan membocorkan rahasia, maka lidah mereka telah dipotong,
beberapa orang Bu-siang pay memang pernah disekap di sini, tapi lima hari yang lalu, sudah di
pindah entah ke mana, kedatangan kalian sia2 belaka. lebih celaka lagi adalah kalian
harus terkubur di sini . . . . . "
Sebun Thio bu berkata dengan gemas: "Kau keparat ini jangan menyindir, urusan
belum tentu seperti yang kau bayangkan."
239 Seru Siang Cin tiba2: "Tangkeh, minyak sudah mengalir masuk ke sini."
Waktu Sebun Tio-bu melirik, memang betul minyak bakar sudah mulai mengalir
masuk ke kamar batu ini. Laki2 baju merah yang masih rebah itu berkata dengan menahan
sakit: "Bila minyak sudah mengenangi kamar batu ini, api akan segera di sulut, waktu itu
segalanya . . . . "
Sikap Siang Cin tetap tenang, tanpa mengunjuk sesuatu perasaan ia mengawasi
minyak ke-kuning2 an yang terus merembes masuk membasahi lantai kamar, sementara
dengan mencaci maki Sebun Tio-bu memukul dan menendang tembok di sekelilingnya,
diharapnya akan menemukan sesuatu tempat yang dapat dijebol untuk lolos keluar.
Mendadak Siang Cin menyeringai, katanya: "Tangkeh .... "
"Kenapa?" tanya Sebun Tio-bu sambil menoleh. Siang Cin memonyongkan mulut ke
arah si baju merah yang rebah di tanah itu, lalu katanya: "Sahabat, kuharap kau
bicara sejujurnya, tentunya kau juga ingin umur panjang!"
Sebun Tio bu bertepuk tangan, katanya: "Bila kau mau bekerja sama, kutanggung
tulangmu yang patah akan ku sambung dan kuobati."
Lelaki itu memicingkan mata, katanya dengan licin: "Tak usah kalian membujukku,
bila bisa lolos dan hidup, biarpun kedua lenganku buntung juga tidak menjadi soal.
Cuma sayang mungkin aku tak bisa membantu sesuatu pada kalian."
Tiba2 Siang Cin bertanya: "Kalian berjaga disini, lalu rangsum untuk setiap hari
bagaimana di antar kemari?"
Laki2 itu menggeleng, katanya: "Jangan berpikir ke arah itu, rangsum memang
selalu diantar melalui lubang kecil di atas pintu angin bambu itu, tapi lubang kecil itu ditutup
dengan papan besi, lebarnya hanya setengah kaki, paling2 kepala bayi saja yang
bisa keluar ... . .. ."
"Keterangan bagus," seru Siang Cin tertawa. "Sahabat, justeru lubang sebesar
kepala bayi itulah yang kami perlukan."
Dengan tak acuh si baju merak berkata "Di belakang dinding bilik bambu tergantung
sebuah gelang tembaga, dengan menggerakkan gelang tembaga ini maka orang di
luar segera akan membuka tutup lubang dan tanya keperluan kami . . . . . . . "
"Kini jelas takkan ada orang membuka tutup lubang, tanya keperluan kami, hehe,
kami 240 sendirilah yang akan membuka tutup lubang itu dan minta sesuatu kepada mereka,"
kata Sebun Tio bu dengan tertawa.
Dalam pada itu Siang Cin sudah lari menuju ke belakang bilik bambu, betul
didapatinya sebuah gelang tembaga yang diikat pada langit2 dinding. Mendadak
Siang Cin, menghardik sekali; ditengah gema suaranya, kedua tangannya mendadak di dorong
ke atas dengan membawa tenaga yang dahsyat, gempuran ini mengenai dinding batu di atas
dan menggelegar, langit2 batu itu seketika ambrol berhamburan. Maka batu buatan
orang itupun turut hancur ber keping2, kini tinggal papan besi yang berada di atasnya.
Dengan tertawa Sebun Tio bu mengejek si baju merah yang rebah di tanah: "Dalam
pandanganmu batu itu sekokoh baja, tapi di mata kami tak lebih hanya selapis kertas
belaka, sesuatu yang tidak mungkin kau laksanakan, bagi kami segampang
membalik
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
telapak tangan, itulah sebabnya kenapa selama ini kami bisa malang melintang dan
menggemparkan Kangouw dan kau tetap kaum keroco."
Dikala Sebun Tio-bu bicara, sementara dengan Jik siang-ciang Siang Cin telah
menggempur papan di atas itu dengan gencar, "Tang, tang, tang", suaranya keras
bergema seperti palu menghajar genta raksasa.
Sambil menggosok telapak tangan, Sebun Tio-bu berkata dengan tertawa: "Segera
kami akan keluar, coba bayangkan saudara, cahaya mentari yang hangat, angin musim
semi yang sepoi2 sejuk, ratusan jenis bunga mekar bersama, burung2 berkicau gembira,
betapa indahnya, sayang kau tidak akan bisa menikmatinya."
Di tengah sikap melenggong si baju merah tampak secercah sinar harapan pada
sorot matanya, mulutnya melongo lebar, kulit mukanya ber-kerut2. Baru saja Sebun Tio bu
mau bicara lagi, dari atas ujung lorong sana mendadak didengarnya suara gemuruh
sebuah ledakan. Berjingkrak kaget, laki2 baju merah seketika berubah hebat air mukanya, teriaknya
panik dan ketakutan: "Celaka, mereka menyulut api."
Gema suaranya belum lenyap, suhu papas yang membakar mendadak mendampar
tiba dengan membawa bau busuk yang menyesakkan napas.
Sekilas tertegun, sigap sekali Sebun Tio-bu tarik dada si baju merah terus
dijinjingnya, 241 laki2 itu meraung kesakitan, waktu Sebun Tio-bu memburu ke terali besi hendak
menolong ketiga tawanan linglung itu, suara Siang Cm yang melengking telah memanggilnya;
"Tangkeh, lekas kemari."
Nyala api yang berkobar besar sudah mulai menjalar ke lorong di luar kamar, begitu
minyak dijilat api, cepat sekali menyala dan mengeluarkan suara gemuruh. Apa
boleh buat Sebun Tio-bu batalkan niatnya, padahal wajah ketiga tawanan linglung tadi tengah
memandangnya dengan harap2 cemas, mulut yang terbuka lebar tak kuasa meminta
tolong. Tiada tempo lagi bagi Sebun Tio-bu untuk menolong mereka, api sudah menjalar tiba,
untuk menolong ketiga orang itu sudah tidak mungkin lagi, malahan ujung bajunya
sendiri sudah terjilat api.
Di tengah kobaran api dan asap tebal itu terdengar seruan: "Tangkeh, papan besi
sudah jebol, masih tunggu apalagi kau?"
Sebun Tio-bu ter batuk2 serunya: "Tenang saja, Siang-heng."
Bilik bambu itupun sudah terbakar, di atas langit2 memang sudah terbuka sebuah
lubang besar dan cukup untuk keluar masuk seorang normal. Sambil menahan
napas Sebun Tio bu berteriak: "Siang-heng, kau naik . . "
Sekuatnya Siang Cin pegang pinggang Sebun Tio-bu serta mengangkatnya, serunya:
"Lekas naik, bukan saatnya main sungkan."
Dengan tenaga dorongan Siang Cin, Sebun Tio-bu meloncat ke atas, di tengah asap
yanq bergulung, baru saja tubuhnya mendekati lubang di atas, terasa hawa dingin
menyambar tiba, empat tombak bergantol tahu2 menusuk bersama di mulut lubang.
Tapi Sebun Tio-bu mendadak memutar badan, dengan kaki di atas dan kepala di
bawah, kedua kakinya mendadak memancal, empat batang tombak itu seketika patah berkeping2,
semuanya kena dikerjai oleh kedua kaki Sebun Tio-bu dengan gaya yang aneh itu,
lalu dengan cepat ia menerobos keluar, padahal tangan kirinya tetap menjinjing si baju
merah yang sudah pingsan.
Di atas kiranya adalah sebuah kamar batu yang luas, di kedua sisi berjajar dipan
kayu yang rapi. kiranya di sinilah tempat istirahat para petugas penjara. Waktu itu ada tiga
puluhan laki2 baju merah tersebar di dalam ruangan, yang berhadapan langsung
dengan Sebun Tio-bu adalah seorang nyonya muda baju hitam yang bersolek berlebihan.
Kain ikat kepala Sebun Tio bu dan bajunya sudah terbakar di beberapa tempat,
muka 242 dan kulit badannya juga terbakar hangus, keadaannya agak mengenaskan:
Di tengah2 alis nyonya setengah umur yang bersolek berlebihan itu terdapat sebuah
tahi lalat merah sebesar kacang, begitu melihat Sebun Tio-bu keluar, dengan tertawa
sinis dia mengejek: "Setan gentayangan, sampai kapan kau masih bisa bertingkah di sini."
Segera lima bilah kampak menyerang tiba, sembari berteriak Sebun Tio-bu geser
selangkah ke samping sementara itu dua kampak lagi telah membacok kepalanya.
Dengan muka masam nyonya baju hitam itu ber-kaok2 memberi aba2 kepada anak
buahnya: "Cari sesuatu untuk menutup lubang itu, asap terlalu tebal.."
Bergerak bagai angin Sebun Tio-bu hindarkan bacokan kampak yang membelah
kepala, sementara sebelah kakinya menyepak dua orang yang berusaha menarik
kampaknya, di sebelah sana empat laki2 tengah menarik sebuah babut besar yang dibasahi air
hendak menutup lubang yang keluar asap itu.
Dengan melirik menghina nyonya baju hitam mengawasi Sebun Tio bu, jengeknya:
"Hm, tak nyana, kiranya kau berisi juga . . . . "
Belum habis ucapannya, ke empat orang yang tengah membentang babut itu tahu2
sudah terguling sembari menjerit, di tengah semburan darah yang bercipratan itu
sesosok bayangan dibungkus asap tebal secepat kilat menerjang keluar dari dalam lubang.
Seorang laki2 berbaju merah berteriak kaget ketakutan: "Celaka, di bawah masih
ada satu!" Belum lenyap suara orang ini, sekali bayangan orang itu berputar, lima laki2 baju
merah sama terguling binasa dengan batok kepala pecah.
"Blang, blang" empat laki2 terlempar jatuh pula, semuanya patah tulang, dadanya,
mereka menjadi korban pukulan maut Sebun Tio-bu. .
Baru kini nyonya baju hitam menampilkan rasa kaget, dikala dia tertegun itulah,
ketiga laki2 anak buahnya telah roboh binasa pula.
Bayangan yang baru menerjang keluar dari dalam lubang itu sudah tentu adalah
Siang Cin, dia menepuk tangan, katanya dengan tertawa: "Kau baik2 saja Tangkeh"
Kaki Sebun Tio-bu tengah melayang, seorang musuh kena didepaknya mencelat
bersama kampaknya, kaitan menumbuk dinding sehingga kepalapun pecah.
Tanpa mengedip kembali tangan kanan Sebun Tio-bu bekerja membendung tiga
musuh yang menyerbu tiba, mulutnya sempat ter-gelak2, katanya: "Tidak apa2, hayolah
layani 243 mereka." Saking gusar wajah si nyonya baju hitam yang berpupur tebal itu tampak semakin
ketat, sembari menghardik nyaring dia menubruk ke arah Siang Cin, selarik sinar hitam dari
sebuah benda mirip jala tiba menabur tiba.
S
kalian ngelantur seperti di rumah sendiri pula, karena emosi lantas tanya
sedikit keterangan, harap sesama orang sendiri jangan sampai salah paham . . . . "
"Salah paham?" teriak Sebun Tio-bu, "Salah paham kentut. Tuan besarmu ini
dengan Pek-sam-thauling kalian umpama bukan teman karib juga boleh dikatakan
tamu undangan, setelah dia menerimn panjar delapan ratus tahil perak sebagai
ongkos antaran, sejauh ini belum juga berangkat menyampaikan barang milikku itu,
memangnya siapa yang tidak dongkol. Sekarang kalian kawanan anjing buduk ini
berani mengusikku lagi, biar Tuan besarmu pergi ke Pau-hou-ceng menuntut
keadilan pada majikanmu, coba saja apa yang akan dikatakan Pek-losam."
Dari samping Kin Jin pura2 membujuk, katanya: "Sudahlah, anggaplah kita sendiri
yang sial, lebih baik kembali saja ke Ji-ih-hu dan laporkan hal ini kepada Jan-kong
Loyacu, biar beliau memberi keputusan yang adil, beberapa hari di Toa-ho-tin,
sungguh kenyang aku dibuat jengkel . . . "
Pandai juga kedua orang ini bermain sandiwara, padahal tak pernah latihan, sudah
tentu Siang Cin sudah menyingkir ke samping dan hampir saja tertawa ter-pingkal2,
tapi kedua orang Jik-san-tui ini menjadi gemetar. dan pucat ketakutan, yang
bertubuh pendek kurus lekas munduk2, katanya tergagap2: "Para . . . . . . O,
tuan2 . . .. . harap maaf akan keteledoran kami tadi . . . . sesama orang sendiri,
tidak . . . . tidak perlu bertengkar, ada persoalan apa belehlah dibicarakan baik2 .. . .
" Mendelik mata Sebun Tio-bu, damperatnya: "Orang sendiri apa" Kalian kaum keroco
211 juga berani bicara tentang "orang sendiri?" "
Berkeringat dingin orang itu dicaci sedemikian rupa, dia tidak berani bersuara lagi
setelah menelan ludah dengan cengar-cengir dia meratap: "Cian . . . . Cianpwe . . . .
anggaplah memang mataku ini buta dan tak tahu siapa sebetulnya engkau orang tua,
mohon ampun seribu ampun, mohon engkau jangan memaki lagi . . . . "
Tapi Sebun Tio-bu bertambah murka, teriaknya: "Apa" Memangnya kau tidak terima
kumaki" Kurangajar, Lo Kin, biar kutunggu di sini, lekas kau pulang ke Ji ih hu,
panggilkan Hoan-wi-jit-so Nyo Kam, Nyo-lote kemari, katakan bahwa anak celurut
Jik-san-tui ini berani main gila, kalau Nyo-lote tidak ada, boleh kau seret Pa-te-ki Toh
Cong kemari kalau tidak ketemu, pergilah ke Pau hou-ceng. carilah Pek Wi bing, bila
perlu temui To Yau
atau Kiau Hiong juga boleh . . . . "
Semakin ciut nyali kedua orang Jik-san-tui itu, nama2 yang disebut terakhir ini bukan
saja tokoh-tokoh pihak sendiri, malah satu dan lain lebih tinggi kedudukannya,
tarnpaknya orang memang tidak main gertak, kalau tidak masa kenal begitu banyak
pentolan2 dari pihak sendiri" Jika sampai hal ini dilaporkankan bisa celaka"
Maka cepat2 mereka memohon: "Lo . . . . Locianpwe, kalian adalah orang2 besar
yang bijaksana, maafkan kesalahan kami yang tidak sengaja, betapapun selanjutnya
kami tidak berani kurangajar lagi."
Sebun Tio-bu mendengus keras2, sambil menengadah ia tidak menggubris mereka.
Sementara orang yang berlalu lalang ada yang berhenti dan mengerumuni mereka,
di antaranya sudah tentu ada orang Hek jiu-tong, ada Pula dari Jik-san-tui, tahu
karena ada yang tahu duduk persoalannya, mereka segan turut campur, maka
sekian lamanya tiada orang yang berani melerai.
Kembali kedua orang itu memohon: "Baiklah tuan2, memang kami bersalah, mohon
sudilah engkau . . . . ."
Sebun Tio-bu mendelik, jengeknya: "Hm, baru sekarang kau bicara seperti manusia.
ketahuilah Toa-ho-tin terhitung tempat tinggalku juga, setiap kedatanganku selalu
mendapat pelayanan istimewa dari Jik-san-tui" Toh-loko dan Nyo-lote pasti menjamu
padaku. Baru setengah tahun tidak kemari sudah ketemu keroco yang berani
mengusik kesenanganku?"
Kin Jin pura2 membujuknya: "Saudaraku, begini saja, biar aku yang traktir minum
beberapa cangkir arak, suruhlah kedua saudara ini melayani beberapa cangkir
padamu . . . . ?"
"Memangnya urusan segampang ini?" Scbun Tio bu menggeleng, "aku toh tidak
marah padamu, kenapa kau yang harus keluar duit" Tidak bisa. tidak boleh ... . . "
Kedua laki2 baju merah menjadi gelisah pula, katanya: "Apa yang diucapkan
Cianpwe ini memang betul, sudilah Cianpwe suka memberi muka, biarlah anggap
kami yang menjamu kau orang tua, bilamana Cianpwe sudi menerima, legalah hati
kami . . . . "
Mendengus dua kali, dengan lagak ogah2an Sebun Tio-bu berkata: "Tidak bisa
mana boleh begitu" Itu artinya aku meucari keuntungan dari kalian . . . . "
"Mana boleh dikatakan begitu, anggaplah sebagai penghormatan kami, untuk ini
mohon Cianpwe betul2 sudi memberi muka, mumpung ada kesempatan ini, kalau
tidak kapan kami dapat menyuguh secangkir arak kepada engkau orang
tua . . . . . . ."
Sengaja berpikir sejenak dan berlagak ragu2, akhirnya Kin Jin pura2 membujuk pula:
"Hayolah, terima saja ajakan baik ini, jangan nanti orang bilang kau ini berjiwa
sempit . . . . . . . . "
Seperti apa boleh buat, akhirnya Sebun Tio-bu berkata: "Baiklah, kuterima
perrnohonan kalian. Kin-lote, memang kau yang berhati lemah, masa kau malah ikut
membujukku segala."
Kedua laki2 baju merah berjingkrak girang, sambil munduk2 mereka mempersilakan
Sebun Tio-bu dan Kin Jin jalan di muka, mereka berempat terus menuju ke arah
timur, di sana pasar malam sedang ramai.
212 Sekilas Kin Jin melirik ke sana, dilihatnya Siang Cin tetap mengintil dari kejauhan.
Setelah ajak bicara sekadarnya kepada kedua orang baju merah, akhirnya Kin Jin
coba memancing: "Katanya saudara2 dari Hek-jiu-tong juga hijrah keperkampungan
sini, bukankah kalian harus hidup berhimpitan."
Dengan munduk2 laki2 baju merah yang tinggi menjawab: "Berhimpitan sih tidak,
perurnahan di sebelah timur dan selatan seluruhnya diperuntukkan mereka,
sementara Jiong gi tong juga diserahkan ke pada orang2 Hiat-hun-tong, sedang
anak buah Ji-thauling dan Sam-thauling dipindah keluar perkampungan, di sana baru
beberapa bulan terakhir ini didirikan tiga deretan perumahan yang luas, jauhnya
hanya dua li, pemandangan amat indah di sana . . . "
Semua ini diingat baik2 oleh Kin Jin, lalu dia bertanya lebih jauh: "Kabarnya kali ini
Hek jiu tong berhasil mengalahkan Bu-siang-pay, sungguh hebat mereka, tentunya
sepanjang hari mereka terus merayakan kemenangan gilang gemilang ini?"
Orang itu celingukan sebentar, lalu berkata dengan merendahkan suara, seperti soal
yang hendak dibicarakannya amat rahasia: "Kebetulan Cianpwe yang tanya, kalau
orang lain terus terang kami tidak berani memberi keterangan. Memang kawan2
Hek-jiu-tong berhasil melebur penyatron dari Bu-siang-pay, tapi musuh yang
menyerbu datang hanya sekelompok kecil saja, masih besar bala bantuan mereka
dari padang rumput yang belum tiba, jika musuh betul2 menyerbu secara besar2an,
entah bagaimana pula situasi mendatang nanti. Padahal pihak Hek-jiu-tong sendiri
kali ini juga serba runyam, anak buah mereka yang mati dan terluka ada tujuh
ratusan orang, malah enam dari sepuluh gembong pimpinan merekapun gugur di
medan laga, demikian pula saudara kita yang diperbantukan ke sana juga rontok
ratusan banyaknya . .. . . . ."
"O, jadi keadaan mereka sekarang cukup runyam juga?" tanya Kin Jin.
"Betul, orang2 Hek jiu-tong yang hijrah kemari ada seribu lebih, empat ratusan di
antaranya terluka parah atau ringan, keadaan mereka memang cukup mengenaskan,
padahal mereka harus ber siap2 menghadapi serbuan pasukan besar Bu siang-pay,
sehingga para pimpinannya harus mempersiapkan ini dan itu, maka kota inipun
menjadi sibuk pula, yang celaka adalah penduduk yang tidak tahu apa2 harus ikut
tegang dan hidup tertekan, kemarin ada berita bahwa bala bantuan besar dari
padang rumput telah melewati Liok-sun ho, naga2nya pertempuran besar bakal
berlangsung tak lama lagi . ...."
Kin Jin pura2 bergumam: "Liok-sun-ho, Liok-sun ho . . . . . . "
Dengan keheranan orang itu berkata, kepada Kin Jin: "Liok sun ho terletak di arah
timur sana, kira2 tiga ratusan li jaraknya, apakah Kin-cianpwe tidak pernah lewat
sana" Sungai itu cukup besar dan luas."
"Aku tahu, kalau demikian, Hek-jiu tong dan Pek losam kalian kan harus mencari
kawan untuk membantu, memangnya kenapa masih berdiam di sini saja?"
"Sejak beberapa waktu lamanya orang2 sudah disebar untuk mengundang bantuan,
cuma belum diketahui siapa dan berapa banyak jumlah bantuan yang diundang."
Dengan tak acuh Kin Jin memberi komentar: "Soal penting dan rahasia begini kalian
kaum keroco mana bisa tahu" Bila sampai membocorkan rahasia kan bisa
berabe . . . . . . "
Mungkin karena diremehkan, maka laki2 ini menjadi uring2an, katanya dengan nada
misterius: "Ah, belum tentu, meski kami orang2 rendah, tapi punya jalannya sendiri
untuk mencari berita, tak seluruhnya kami tahu, tapi sedikit banyak tentu tahu juga."
"Tidak mungkin, aku tidak percaya," ucap Kin Jin menggeleng.
Orang itu merasa penasaran, katanya: "Bukan aku sengaja mau menyombongkan
diri, aku berani bertaruh, apa yang Cianpwe ketahui belum tentu lebih banyak
daripada apa yang kuketahui. Mungkin Cianpwe hanya tahu Ji ih-hu yang akan
memberi bantuan, padahal orang2 Ceng -siong-san ceng juga akan datang, mungkin
pula Cianpwe belum tahu bahwa Jit-ho-hwe dan Toa-to-kau juga setuju untuk
berserikat, malahan Sio lian-su-coat yang bersemayam dl" Pek hoa-kok juga
diundang keluar. Hal yang lebih penting adalah Tiang-hong pay juga akan mengutus
213 orangnya kemari, sungguh suatu usaha besar yang tak kepalang tanggung, tiba
waktunya pasti amat ramai . . . . . . "
Rahasia yang tak sengaja terkorek ini sungguh membuat jantung Kin "Jin berdetak
keras, maklumlah aliran dari goIongan yang disebut ini semua diketahui jelas
olehnya. Terutama Tiang hong pay, perkumpulan yang menempati Ki hong nia di
Ong-ju-san ini merupakan Pay yang paling aneh dan misterius, pimpinan mereka
seluruhnya ada tujuh orang, julukan mereka semuanya menggunakan, huruf "Ang"
(merah). Ketujuh makhluk aneh yang biasanya jarang berhubungan dengan dunia ramai ini
melarang siapapun berkeluyuran di sekitar Ki-hong-nia, apalagi ketujuh orang ini
masing2 memiliki watak aneh yang berbeda pula, konon Kungfu mereka sangat
tinggi, sungguh tak nyana bahwa Hek-jiu-tong dan Jik-san-tui bisa mengundang
mereka keluar dari sarangnya, sungguh sukar dibayangkan dengan cara bagaimana
mereka bisa dipancing keluar"
Satu hal lagi yang membuat Kin Jin ngeri adalah ketujuh makhluk aneh dari Tiang
hong-pay ini punya hubungan intim dengan Kun lun-pay, karena Ciangbunjin Tiang
hong-pay adalah adik kandung Ciangbunjin Kun-lun pay, jika bermusuhan dengan
mereka, tentu pihak Kun-lun- pay takkan berpeluk tangan.
Melihat Kin Jin hanya mengerut alis tanpa bicara, laki2 baju merah menjadi bingung,
tanyanya: "Cianpwe, apakah Cianpwe kurang enak badan?"
Setelah menghela napas, Kin Jin berkata: "Ya, rasanya jadi kurang enak badanku,
apalagi setelah mendengar ceritamu ini, hatiku ikut kebat-kebit. Tapi tak apalah. Ah,
bukankah Sebun-toako sudah masuk ke sana" Itulah Jay-sing-tiu-lau (rumah makan
Petik Bintang)?"
Dengan hormat yang berlebihan orang itu menyilakan Kin Jin masuk dan naik ke
loteng, Sebun Tio-bu dan laki2 baju merah yang lain sudah menempati sebuah meja.
Cepat sekali masakan telah di hidangkan, merekapun makan minum sekenyangnya,
terutama Kin Jin dan Sebun Tio bu, mereka tahu malam ini tugas mereka cukup
berat, perut harus di isi sekenyangnya supaya tidak meruntuhkan semangat tempur
mereka. Setelah turun dari Jay-cing-siu-lau, sepanjang jalan mereka masih ngobrol dan tidak
sedikit keterangan yang berhasil dikorek pula oleh Sebun Tio-bu dan Kin Jin, setelah
meninggalkan kedua laki2 baju merah yang mabuk itu, Sebun Tio-bu dan Kin Jin
tertawa geli sambil saling pandang, kata Kin Jin: "Sudah sekian lamanya, mungkin
Siang-lote sudah tidak sabar menunggu lagi."
Sebun Tio-bu segera menariknya ke arah barat, kini orang yang berlalu di jalan raya
sudah jauh lebih sepi, maklumlah waktu menjelang tengah malam, toko2pun telah
tutup, demikian pula pedagang kaki lima sudah mulai mengukuti barang2
dagangannya. Tidak jauh mereka meninggalkan rumah makan itu, tahu2 Siang Cin muncul dari
gang sebelah depan sana, dengan menengadah santai ia berjalan berlenggang, tak
ubahnya seperti pelancongan yang sedang menikmati panorama nan indah permai.
Kin Jin segera mendekati, sapanya: "Bikin Siang-heng menunggu terlalu lama."
"Tidak perlu ter-gesa2, pasti tidak sedikit berita yang berhasil kalian peroleh?" ucap
Siang Cin dengan tertawa.
"Memang." sahut Kin Jin, "supaya tidak mengejutkan musuh, maka kami tidak pakai
kekerasan, terpaksa main sandiwara untuk menipu keterangan mereka."
Sebun Tio bu celingukan ke kanan kiri lalu katanya: "Situasi kurang meguntungkan
Bu-siangpay, dari padang rumput mereka sudah mengerahkan seluruh kekuatannya,
kini sudah melintasi Liok-sun- ho, diperhitungkan dari kecepatan jalan mereka paling
lama dua hari lagi pasti sampai di sini . . . . ."
"Mumpung ada kesempatan, daripada menunggu terlalu iseng, barusan aku pergi ke
Pa-hou-seng, jaraknya kira2 tiga li, pagar temboknya dibangun dari batu2 hijau besar,
perumahan di dalamnya cukup banyak dan tersebar luas, pada setiap bagian
dibangun taman dan hutan buatan yang terawat baik, agaknya keadaan di sana
214 memang amat berbahaya, sekian lamanya aku memeriksa dari atas tembok.
Bayangan orang tampak mondar mandir di dalam kampung, senjata tajam kelihatan
kemilauan, cahaya lampu tampak masih menyala dibanyak rumah2 di sana,
penjagaan cukup ketat, suasana terasa tegang, naga2nya mereka sudah sejak
beberapa hari ini mempersiapkan diri untuk menyongsong serbuan musuh . . . . . . "
Sementara itu, mereka sudah membelok ke gang samping yang gelap, sambil
berjalan secara singkat Kin Jin ceritakan kejadian tadi serta berita apa yang berhasil
mereka korek itu kepada Siang Cin.
Mengawasi bintang2 di langit yang berkelip, Siang Cin berpikir sejenak, katanya
kemudian: "Arah pasukan Bu-siang-pay jelas tertuju ke Toa-ho-tin, pertempuran
besar segera akan berlangsung, agaknya malapetaka dan penderitaan sukar lagi
terhindar."
Ketiga orang sama2 prihatin, Siang Cin seperti hendak bicara, tapi tiba2 didengarnya
derap kaki orang banyak lari lewat di jalan raya sana, terdengar suara aba2,
bentakan dan caci-maki, tapi segera suara dan derap langkah barisan ini semakin
jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.
Sebun Tio-bu berkata: "Agaknya Jik-san-tui menemukan apa2, atau mungkin
menyadari tindak tanduk kita yang mencurigakan tadi, maklumlah, beberapa hari
terakhir ini mereka hidup dalam suasana tegang. Lalu bagaimana tindakan kita
selanjutnya" Menghajar musuh atau menyingkir saja secara diam2"
Kin Jin memberi tanda, cepat mereka melesat ke tempat yang lebih gelap, dengan
suara lirih Siang Cin berkata: "Jika mau pakai kekerasan, tadi tak perlu kalian main
sandiwara segala."
Baru saja mereka mendekam di tempat gelap, puluhan orang tampak berlari
mendatangi, senjata mereka tampak kemilau serta mengeluarkan suara
gemerantang, secara membabi buta mereka mengadakan pemeriksaan di gang
sempit gelap ini sambil menggerutu, sudah tentu mereka tidak memperoleh apapun
yang diharapkan. Sambil berludah dan mencaci maki akhirnya mereka
mengundurkan diri.
Setelah orang2 itu pergi, Sebun Tio-bu mengomel, katanya: "Siang-heng, sekarang
kita terjang ke Ji-ih-hu atau menyelundup ke Pau-hou-ceng?"
Siang Cin menjawab: "Ke Pau-hou-ceng saja."
Dengan tertawa Sebun Tio-bu bertanya: "Apa tidak perlu berkedok?"
"Ya, harus berkedok," ucap Siang Cin.
Mengawasi jubah kuning Siang Cin, Kin Jin berkata: "Berkedok atau tidak sama saja,
jubah kuning yang Siang-heng pakai ini sangat menyolok, memangnya siapa yang
tidak kenal bahwa Siang-heng berjubah kuning?"
"Kukira tidak jadi soal, malam terlampau gelap, bila gerak-gerikku cukup cepat,
tanggung mereka tak bisa mengenalku lagi," demikian ucap Siang Cin.
Sebun Tio-bu mengeluarkan sapu tangan sutera putih, dia tutupi hidung dan mulut
sendiri, sementara Kin Jin keluarkan kain hijau untuk membalut kepala, demikian
pula Siang Cin keluarkan sapu tangan kuning untuk menutupi mukanya, mereka
saling pandang dengan tertawa geli, di bawah aba2 Siang Cin mereka segera berlalu
dari tempat itu.
Dengan gaya yang indah dan ringan Siang Cin melayang ke atas rumah. Sudah
tentu Kin Jin dan Sebun Tio bu tidak mau ketingalan, merekapun ingin pamer
kepandaian masing2, seperti berlomba saja ketiganya segera melesat ke depan.
Pada wuwungan terakhir di dalam kota Toa-ho-tin, pada saat mereka mengapung
tinggi di udara itu, Sebun Tio-bu dan Kin Jin sama melihat Pau-hou-ceng yang
terletak di balik hutan sebelah timur sana.
Pau-hou ceng memang amat luas, bangunan gedungnya tinggi dan megah, pagar
tembok yang mengelilingi perkampungam juga amat tinggi. Sinar lampu ber kelip2 di
sana-sini tersebar jauh, se-akan2 mata setan yang selalu mengintip gerak gerik
orang luar yang menyelundup ke dalam kampung.
Menuding ke depan Siang Cin berkata lirih: "Itulah Pau hou-ceng,"
215 Sebun Tio bu berludah sambil mencaci. Sebaliknya Kin Jin berkata dengan tertawa:
"Semoga perjalanan kita malam ini membawa hasil yang memuaskan."
*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng
Halaman 27 - 28 hilang
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng*** file google dokumen ini koleksi dari Saiful Bahri ....situbondo seletreng
sudah siap, Siang Cin meraih dua ranting pohon dan di sambitkan.
Malam gelap, tapi terdengar jelas kedua ranting kayu itu menerbitkan deru angin
mencicit, dikala ranting kayu itu hampir tiba di depan pintu gerbang, mendadak
membelok ke kiri-kanan.
Dua puluh empat laki2 yang bertugas jaga itu sama melengak, sigap sekali mereka
memburu ke kiri-kanan, pada waktu yang sama Siang Cin bertiga lantas melijit tinggi
ke atas, tanpa bersuara dan tiada rintangan apapun mereka meluncur masuk ke
Pau-hoa-ceng. Begitu melampaui pintu gerbang, kembali Siang Cin memberikan tanda, mereka
tidak hinggap ke bawah, tapi langsung melayang ke pohon besar yang berada di
kanan pintu gerbang.
Tertampak sebuah jalan lapang mengkilap beralas batu hijau menjurus lurus ke
sebelah dalam dan berakhir pada undakan batu hijau pnla di depan sebuah gedung
besar dan angker, begitu megah bangunan gedung ini, bentuknya serba antik,
semuanya serba ukiran dan berwarna warni lagi, dua ekor singa batu di kanan-kiri
pintu menambah angkernya gedung ini.
Dari ketinggian pucuk pohon mereka memeriksa keadaan sekitarnya tanpa
menghiraukan keributan para penjaga yang menggerundel tadi, Sebun Tio-bu
bersuara tertahan: "Siang-heng, gedung besar itu seperti markas mereka untuk
bersidang atau pusat kekuasaan mereka . . . . "
"Betul, itu berarti dari sana pula mereka mengambil keputusan dan mengeluarkan
perintah," demikian Siang Cin menambahlcan.
Kin Jin ikut menimbrung dengan nada meyakinkan. Kukira di dalam gedung itu
dibangun juga alat perangkap dan lorong bawah tanah . . . . ."
"Sebun Tio-bu sependapat, katanya: "Tentu pula dengan akal licik dan keji . . . ."
Berpikir sebentar, Siang Cin berkata: "Bagaimana" Mulai beraksi?"
Sebun Tio-bu dan Kin Jin mengangguk bersama, mereka terus meluncur ke depan
dengan kecepatan luar biasa. Dikala mencapai pucuk .pohon yang terdekat dengan
gedung besar itu, mendadak Siang Cin bertiga melambung lebih tinggi ke atas, baru
saja kelihatan bayangan berkelebat, tahu2 sudah lenyap pula.
Teringat pengalaman di Pi-ciok-san dulu, Siang Cin kali ini tidak sia2kan payon yang
lebar panjang itu untuk menyembunyikan diri, perawakannya yang tinggi semampai
berjumpalitan di udara, seenteng burung walet, dengan enteng ia hinggap di puncak
tiang besar di depan gedung megah itu, maka Sebun Tio bu dan Kin Jin juga meniru
caranya, merekapun hinggap dan menempel di tiang yang lain seperti tiga ekor cicak
raksasa. Kungfu yang mereka lakukan ini sebetulnya sangat makan tenaga, umumnya di
dunia persilatan ilmu ini dinamakan Pia-hou-kang (ilmu cicak), ilmu ini memerlukan
ketahanan napas yang dikendalikan oleh tenaga dalam sehingga badan seperti
lengket pada benda apapun yang ditempelinya, bagi yang Lwekangnya tinggi
sekaligus orang akan kuat ber-tahan ber-jam2, yang ilmunya rendah terpaksa harus
dibantu dengan kaki tangan untuk bertahan.
Pintu gedung megah yang bertatah paku tembaga putih sebesar telur angsa itu
setengah terpentang, secercah cahaya guram tampak menyorot keluar dari dalam,
tapi keadaan di dadam juga sunyi senyap, Dengan cermat Siang Cin pasang kuping
mendengarkan, sejenak kemudian dia berkata lirih: "Awas, kalian harus hati2, di
dalam ada orang."
Sebun Tio-bu mengangguk, sahutnya: "Betul, ada empat orang."
Kin-Jin juga berkata: "Agaknya mereka tengah berunding di ruangan sana, suaranya
juga bisik2 tapi jelas yang dibicarakan cukup penting, jarak pembicaraan mereka dari
216 pintu kira2 dua puluhan tombak."
Dengan tersenyum Siang Cin berkata: "Biar kumasuk lebih dulu, kalian menyusul
bergantian."
"Silakan!" ucap SebunTio bu.
Tubuh Siang Cin yang menempel di pilar itu tiba2 melorot ke bawah, tatkala
mencapai setengah ketinggian pilar itu mendadak ia melenting ke depan dan
melayang masuk melalui pintu yang setengah tertutup itu. Begitu berada di dalam
ruangan, sekilas matanya menjelajah, diam2 ia terkesiap, kiranya ruang ini adalah
pendopo besar yang panjang, ada dua belas pilar besar yang berjajar di kanan-kiri
pendopo, lantainya adalah marmar putih yang besar dan mengkilap, pada ujung
pendopo sana di sebelah kanan kiri ada dua undakan batu yang menuju ke atas
sebuah panggung, di atas panggung terdapat belasan kursi besar berukir yang
berlapis kulit harimau, tepat di tengah dinding di belakang panggung, terdapat ukiran
seekor harimau yang terbuat dari tembaga.
Lampu di pendopo seluruhnya dipadamkan, hanya enam pelita yang menyala di atas
panggung, ada empat orang sedang duduk berkeliling sambil bicara bisik-bisik,
sementara di bawah panggung, menghadap ke arah pintu besar ada dua puluhan
laki2 kekar berpakaian merah sama duduk bersimpuh.
Begitu menerobos masuk dan belum lagi kaki menyentuh lantai, dalam hati Siang
Cin sudah mengeluh, tapi sebat sekali dia bergerak, "Wut", langsung ia melejit ke
atap ruangan dan hinggap di belandar.
Belasan orang di antaranya merasa pandangan kabur, sementara bayangan Siang
Cin berkelebat di tengah keremangan, dua di antaranya lantas melonjak berdiri
seraya berteriak: "Ada mata2!"
Empat orang yang tengah berunding di atas panggung serentak berpaling, pada
detik itulah kebetulan menjadi giliran Kin Jin menerobos masuk ke dalam peodopo,
sudah tentu jejaknya menjadi konangan serta menarik perhatian semua orang yang
berada dalam pendopo. Delapan laki2 lain yang masih duduk di lantai serentak
meraung gusar terus menubruk maju, senjata kampak mereka tampak kemilau,
sebat dan tangkas sekali gerak-gerik mereka, baru saja Kin Jin berdiri tegak, mereka
telah mengerubutnya.
Sungguh runyam keadaan Kin Jin waktu itu, maju-mundur serba susah. pada detik
itulah, sepuluh laki2 baju merah yang lainpun memburu tiba sambil mengayun
senjata mereka.
Kin Jin jadi nekat, ia berdiri tegak sambil bertolak pinggang di tengah pintu,
tangannya terangkat serta berseru lantang: "Tunggu sebentar!"
Puluhan laki2 baju merah itu segera mengepungnya, seorang yang bertubuh tinggi
kekar segera tampil sambil meraung: "Sahabat, tanggalkan kedokmu, tekuk lututmu
pula menyerah dan terima dibelenggu saja, supaya tuan2 besarmu di sini tidak perlu
bercapai lelah membekukmu dengac kekerasan."
Sekilas Kin Jin melirik, dilihatnya Sebun Tio-bu tidak ikut masuk, dia tahu kawan ini
telah melihat gelagat jelek, dengan dingin dia pandang orang2 yang mengepungnya,
katanya kasar. "Kentut makmu, kalian kaum keroco ini juga berani membual
dihadapanku" Memangnya darimana kau tahu kalau aku mata2 dan bukan kawan
sendiri?" Laki2 kekar itu mengejek, cemoohnya: "Kalau kawan sendiri memangnya berdandan
seperti tampangmu ini" Begini pula caramu keluar-masuk di rumah orang" Jangan
kira kami ini dapat kau tipu.
Dalam pada itu orang2 yang berunding di atas panggung itupun sudah berdiri, di
bawah penerangan api, tampak seorang berwajah merah, perawakannya tinggi
besar berjenggot hitam panjang, laki2 tua ini melangkah maju setapak, suaranya
rendah tapi sekeras guntur: "Pasang lampu, biar kami berkenalan dengan sahabat
yang tak diundang ini."
Laki2 kekar baju merah itu mengiakan sambil mengundurkan diri. "Wut" secepat kilat
tiba2 Kin Jin melayang ke sana, dikala kedua tangannya bergerak dengan kecepatan
217 yang sukar diikuti pandangan mata, dua laki2 baju merah di kanan-kirinya sudah
melolong roboh sambil memeluk perut, darah menyembur dari mulut mereka.
Gerakan Kin Jin tidak berhenti, secara beruntun dia mendesak kedepan, di mana
kedua telapak tangannya menabas, tampak bayangan tangan menyambar dan
mengeluarkan deru kencang, kontan dua laki2 baju merah kembali terlempar roboh
dengan menyemburkan darah dari mulutnya.
Perubahan yang mendadak ini membuat enam Iaki2 baju merah yang lain
melenggong, tapi dering senjata yang jatuh berkerontang diatas lantai, seketika
menyentak sadar pikiran mereka. Tapi begitu bayangan telapak tangan menyambar,
seorang kawan mereka terjungkal binasa pula dengan dada remuk.
Sejak Kin Jin beraksi hingga jiwa lima korban melayang hanya berlangsung dalam
sekejap mata belaka.
Maka terdengarlah geram murka dari atas panggung, empat bayangan orang
laksana empat ekor kelelawar pengisap darah, cepat dan seram sekali melayang tiba
dengan kecepatan,yang amat mengejutkan.
Tak terlukiskan bagaimana hebat dan tangkas gerakan Kin Jin, ia menyelinap di
antara sambaran senjata musuh yang gencar dan rapat itu, ujung pakaiannya tak
tersentuh sedikitpun oleh serangan lawan, seorang musuh menjadi kalap,
kampaknya berputar dan tiba2 menubruk maju, sekaligus ia menyerampang dan
membabat kedua kaki Kin Jin.
Tertawa dingin Kin Jin, tiba2 ia meluncur mundur seperti orang bermain ski, tapi
empat kampak musuh sekaligus menghujani tubuhnya pula, terpaksa dia memutar
lengan kiri, sementara telapak tangan kanan menekan ke bawah dengan gentakan
kuat, sungguh tak dapat dilukiskan betapa indah dan sebat gerakannya, tahu2
bayangan berkelebat, "pletak", suara tulang patah berkumandang diselingi lolong
panjang kesakitan.
Bacokan empat kampak itupun mengenai tempat kosong, menghancurkan lantai
marmer malah, sehingga muncratlah lelatu api, sementara dengan gerakan yang
gemulai Kin Jin telah melayang ke pinggir sana. Tapi gerakan ke pinggir ini justeru
memapak kedatangan laki2 tua bermuka merah yang melayang turun dari panggung
tadi, dengan mata mendelik, jenggot hitam tampak berkembang, nyata gusarnya tak
terkatakan. Kin Jin yang masih terapung itu mendadak balas menyerang balik ke belakang.
dalam sekejap itu terdengarlah serentetan suara adu telapak tangan yang nyaring.
Hawa udara dalam pendopo seketika bergolak. Bayangan kedua orang seketika
terpental dan anjlok ke bawah. wajah laki2 merah itu seketika berubah pucat kelabu,
jenggot yang panjang itu bertaburan kaku, tubuh yang besar itu terus terbanting ke
bawah. Untung di belakangnya seorang laki2 setengah umur berkepala gundul sempat
memburu maju dan memapahnya.
Menyusul dua orang laki2 berperawakan sedang juga menerjang tiba, salah satu
yang sebelah kupingnya tinggal separo menerjang maju, serunya: "Cianglo, apakah
masih kuat bertahan?"
Orang tua yang bermuka merah tampak gemetar, kedua tangannya melepuh besar
mirip paha babi, kulit daging hitam membiru.
Laki2 pertengahan umur yang memapah laki2 tua ini, melirik benci ke arah Kin Jin,
sejenak baru dia bersuara dingin: "Sahabat, tak perlu kau tutupi mukamu, kami
sudah tahu siapa kau adanya, memangnya kurang senang kau tinggal di Tan cin,
jauh2 datang ke Toa ho tin mencari setori."
Mendadak laki2 tua itu menarik napas panjang, dengan melotot dia berteriak serak:
"Kim lui jiu, aku telah memperoleh pelajaranmu."
Kin Jin membuka kedoknya, katanya: "Cianglo, maaf akan kekurang ajaranku
barusan, tapi Cianglo sendiri kenapa tidak ongkang2 saja di markas Jit-ho hwe
sebagai pentolan ketiga di sana, untuk apa pula kalian bisik2 sepanjang malam di
sini, sungguh membuatku tidak habis mengerti."
218 Jenggot hitam laki2 tua tampak bergoyang, katanya dengan napas tersengal: "Orang
she Kin, di Tanciu kau boleh bersimaharaja, urusan Jit ho-hwe kami tak perlu kau
mencampurinya . . . .. untuk apa kehadiranku di Pau-hou-ceng ini, memangnya kau
ingin mengetahui?"
Sambil tersenyum Kin Jin menjura, katanya: "Hanya karena ingin tahu saja. Tapi
kalau Cianglo tidak mau menerangkan, ya apa boleh buat, biarlab Cayhe mohon diri
saja." Dada si orang tua naik turun, napasnya terengah2, bibirnya bergerak ingin bicara,
tapi agaknya dia menguatirkan sesuatu, maka batal bersuara, dengan gemas
akhirnya dia melengos ke arah lain.
Adalah laki2 gundul itu ternyata berperangai kasar dan berangasan, dia meraung
beringas: "Kin Jin, biarpun Kim-lui-jiu sudah menggetar dunia, memangnya kau
boleh bertingkah dan datang pergi seenakmu sendiri" Kin Jin, jangan kaukira kami
boleh dihina."
Kin Jin sudah memutar badan, lekat dia membalik lagi, katanya dengan tertawa
ramah: "Kalau tidak keliru, tuan ini pastilah Kui kok khek Pa Cong-si, salah satu So
lian su -coat yang bersemayam di Pek-hoa-kok itu?"
Tidak menampakkan perubahan air mukanya, Iaki2 gundul ini malah menjengek:
"Orang gunung macam diriku ini mana dapat dijajarkan dengan Kim lui jiu yang
tergolong tokoh besar?"
Tidak marah, Kin Jin malah bersikap tenang, katanya: "Ah, Pa-heng terlalu memuji."
Sorot matanya berubah beringas, salah satu dari Sio lian-su-coat ini berkata kasar:
"Kau orang she Kin pasti paham akan aturan Kangouw, enam jiwa manusia
ditambah luka2 Ciang-lo, lalu orang she Kin mau tinggal pergi hanya menjura begitu
saja, apakah kau tidak terlalu meremehkan kami di sini?"
Pelahan Kin Jin berkata: "Lalu, apa kehendak Pa heng?"
"Gampang.saja," jengek Pa Cong-si, "tinggalkan batok kepalamu"
Seketika Kin Jin menarik muka, desisnya: "Pa Cong-si, terhadap siapa kau sedang
bicara?" Pa Cong-si ter-bahak2 dan berkata: "Terhadap kau keparat yang bernama kosong
dan tak tahu diri ini."
Sikap Kin Jin tetap tenang dan sabar, katanya: "Jika demikian, Pa Cong-si, boleh
kau turun tangan saja. Batok kepalaku akan kutinggalkan di sinni asal kau mampu
mengambilnya."
Mencorong sinar mata Pa Cong-si, segera ia pasang kuda2.
Dengan gaya santai Kin Jin mengebas lengan baju, katanya: "Silakan!"
Tapi laki2 yang disebut Ciang-lo, yang terluka tangannya itu, mendadak mengadang
di tengah mereka, teriaknya serak: "Tunggu sebentar Pa lote ....."
Pa Co ng-si melengak dan menyurut mundur, serunya heran: "Ciang-lo, kau . . . . "
Menggeleng dengan napas tersengal, si orang tua membalik menghadapi Kin Jin,
katanya dengan suara serak: "Kin-heng . . . .
"Ciang-lo terlalu sopan," kata Kin Jin tenang2, "entah ada petunjuk apa?"
Si orang tua berkata: "Dalam waktu dekat ini seluruh kekuatan Jik-san-tui tengah
dipersiapkan untuk menghadapi cerbuan Bu-siang-pay, situasi dalam Pau- hou-ceng
cukup tegang . . . . hal ini tentunya Kin- heng cukup maklum . . . . "
"Ya, kutahu," ucap Kin Jin.
Kata si orang tua menghela napas: "Kami mempunyai hubungan erat dengan Jiksan-
tui, betapapun kami tidak boleh berpeluk tangan melihat manusia padang
rumput itu menginjak kedaulatan kita di sini . . . . dalam keadaan yang serba sulit ini,
malam2 mendadak Kin-heng berkunjung kemari, malah sekali turun tangan
membunuh enam nyawa anak buah Jik-san-tui, sungguh aku tidak mengerti apa
maksud sepak terjangmu ini,"
Kin Jin menjelaskan dengan kalem: "Barusan sudah kujelaskan, ini hanya salah
paham belaka, hakikatnya kami tidak bermaksud mencari setori, bila kalian mau
menyudahi persoalan sampai di sini, segera kami akan pergi."
219 Pa Cong si dari Kui kok khek berseru gusar: "Kin Jin, jangan kau meremehkan
persoalan, bagaimana perhitungan jiwa enam orang dan luka2 Ciang-lo.
Kin Jin menarik muka, katanya: "Baiklah. akan kutunggu kalian menagihnya padaku."
Kedua orang berperawakan sedang tadi seketika naik pitam, orang yang sebelah
kupingnya hilang separo itu membentak bengis: "Kin Jin, keangkuhanrnu kelewat
batas, umpama Han mo-siang kiu (sepasang alap2 dari padang pasir) harus
mempertaruhkan jiwa, hari ini ingin kami menumpas kesombongan kau keparat ini."
"Han-mo-siang-kiu?" dengan nada sinis Kin Jin mengulang nama julukan orang,
mendadak dia tergelak2, katanya: "O, kiranya kalian adalah guru Kungfu dari Toa-tokau.
Syukurlah jika kalian ada selera, Kin Jin dengan senang hati akan mengiringi
keinginan kalian."
Bola mata Han-mo-siang-kiu terbelalak merah, kembali yang telinganya cacat
mendengus gusar serunya sambil menoleh: "Ciang-lo, akan kami ringkus dia."
Lekas orang tuts itu berseru dengan napas memburu: "Nanti dulu, tunggu sebentar,
asal usulnym belum jelas, betapapun tak boleh bertindak serampangan."
"Tapi jiwa enam orang yang menggeletak ini memangnya dianggap sia2?" seru Pa
Cong-si gusar. Muka si orang tua semakin pucat, iapun berteriak: "Pa-lote, musuh besar sudah di
depan mata, mana boleh sembarang mencari musuh baru" Cepat atau lambat
peristiwa ini pasti ada penyelesaiannya secara adil, buat apa harus terburu nafsu?"
Tapi Kui kok khek Pa Cong-si tetap ngotot, serunya: "Ciang lo, tengah malam buta
orang ini menyelundup kemari, tujuannya sudah jelas, tentu bermaksud jahat yang
tidak menguntungkan pihak kita, kau sendiri sudah terluka, demikian pula korban
enam jiwa, bila dia bukan mata2 musuh apa pula kerjanya di sini?"
Sudah tentu si orang tuta juga maklum akan hal ini. Tapi iapun maklum akan asalusul
dan kelihayan Kim-lui-jiu Kin Jin bukan saja Kungfunya tinggi, luas pengalaman,
di daerah Tan-ciu dia tak ubahnya seperti raja kecil di sana, anak buahnya ribuan
dan tersebar luas di mana2, hubungan luas dan banyak kawan, Kin Jin benar2
seorang tokoh yang sukar dilayani dan tak boleh diusik. Kini Bu-siang-pay sudah
berada di ambang pintu, pihak sendiri harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
menghadapinya, mana boleh mencari musuh lain pula di dalam kandang sendiri"
Oleh karena itu dia pikir biarlah telan dulu kerugian dan penasaran ini, setelah
pertikaian dengan Bu-siang-pay usai, pelahan cari kesempatan lain untuk membuat
perhitungan dengan Kin Jin
Tapi Kui-kok-khek Pa Cong-si dan Han mo-siang-kui ternyata keras kepala dan
kukuh pendapat, dengan ngotot hendak membuat penyelesaian sekarang juga, soal
menang dan kalah sukar diramalkan, yang pasti permusuhan ini jelas takkan
menguntungkan. Kin Jin menarik muka, katanya: "Ciang Heng, walau dalam Jit ho hwe kau terhitung
pentolan nomor ketiga, mengingat usiamu lebih tua maka kumenghormatimu, oleh
karena itu silakan kau minggir saja, bila Kui-kok-khek dan Han-mo siang-kiu ingin
mencoba kelihayanku, biarkan mereka maju."
Kui-kok-khek dan Han mo-siang-kiu segera menubruk maju. Se konyong2 pendopo
besar yang semula remang2 menjadi terang benderang, dua obor raksasa tahu2
menyala dalam ruangan, berbareng terdengar suara lantang berkumandang: "Kin Jin,
hidupmu akan berakhir di Pau-hou-ceng ini. Ketahuilah, Tan ciu yang kau kuasai
memangnya mampu melebarkan sayanpnya ke Toa-ho-tin sini?"
Cepat Kin Jin menoleh ke sana, dalam waktu sekejap ini puluhan obor telah menyala
benderang dan terus bertambah banyak, entah sejak kapan, ke dua sisi pendopo
panjang ini sudah berbaris orang berbaju merah yang mengangkat obor. Di bawah
penerangan obor kelihatan betapa beringas muka mereka dengan senjata terhunus,
seketika suasana bertambah tegang.
Dengan tenang Kin Jin berkata: "Wah, cepat juga kalian kemari, hanya dalam
sekejap, ruangan besar ini sudah menampilkan pameran yang boleh juga" Sembari
bicara, benak Kin Jin bekerja cepat, jelas sejauh ini pihak musuh belum dapat
220 meraba keadaan pihaknya, ada berapa temannya yang ikut menyelundup kemari.
Mungkin mereka pernah pergoki jejak Siang Cin tapi Kin Jin yakin seketika itu pula
orang yang memergokinya itu pasti dibuat bungkam dan menggeletak, kalau tidak,
tak mungkin musuh mengerahkan seluruh kekuatan dan perhatiannya kepada dirinya
seorang saja. Dia merasa senang kini ada kesempatan untuk pamer kepandaian dan
menggasak musuh, biar situasi di sini menjadi gaduh dan ribut, supaya Siang Cin
dan Sebun Tio-bu punya peluang menggerebek seluruh pelosok sarang musuh.
Suara dingin tadi berkumandang pula: "Kin Jin, mengakulah terus terang, kau mata2
darl pihak mana" Bu siang-pay atau Siang Cin?"
Kini pandangan Kin Jin tertuju ke arah orang yang berbicara, di bawah penerangan
obor terlihat jelas wajah orang itu lebar bundar menyerupai baskom, perawakannya
kekar gagah, air mukanya menampilkan rona sinis dan banyak muslihatnya,
beberapa kali mulut Kin Jin berkecek, tanyanya kemudian: "Siapa kau?"
Wajah yang lebar itu tertawa, katanya sambil melangkah maju: "Ah, aku hanya kaum
keroco saja.. Pernahkah kaudengar di dalam Jik-san-tui ada seorang yang bernama
Pek Wi bing?"
"O, kiranya Toh gwa-coh-to Pek-sam-thauling, sudah lama kudengar namamu," seru
Kin Jin. Sam-thauling (pentolan ketiga) dari Jik-san-tui itu seperti tertawa tapi tidak tertawa,
setelah mendengus dia menoleh, serunya: "Ciang-lo!"
Muka Ciang Heng dari Jit-ho-hwe tampak bersemu kuning, lekas dia mendekat dan
bertanya: "Bagaimana Pek-lote?"
Pek Wi-bing berkata dengan suara tertahan "Aku tahu maksud Ciang-lo, tapi urusan
sudah telanjur sejauh ini, menurut pendapatku, orang she Kin jelas mata2 yang
dikirim kemari oleh Bu-siang-pay, bila malam ini kita tidak menahan dia, bila dia
bekerja sama dengan orang2 Bu-siang-pay dan menyerbu datang, maka urusan
tentu sukar dibayangkan."
Ciang Heng menjadi ragu, katanya: "Tapi ..... Kin Jin tak boleh dipandang
enteng . . . . "
"Jangan kuatir," Pek Wi bing menyeringai, "keadaannya sekayang ibarat harimau
yang kesasar masuk kampung."
Kata2nya yang terakhir sengaja diucapkan dengan nada tinggi, maka Kin Jin dapat
mendengar jelas, mendadak dia tertawa serta menyambung: "Oleh karena itu, dia
digonggong anjing!"
"Orang she Kin tak usah menyindir," jengek Pek Wi-bing dongkol, "sebentar lagi ingin
berteriakpun kau tak bisa lagi "
Tiba2 mencorong terang bola mata Kin Jin, dingin tajam dan sadis. katanya tenang:
"Pek Wibing, sebelum kau turun tangan, lebih baik kau berpikir dulu dua belas kali,
jangan sampai mayat bergelimpangan, tetap kau tidak memperoleh keuntungan
apa2." Wajah yang lebar itu tampak merah gusar, Pek Wi-bing berjingkrak, semprotnya:
"Lebih baik pikirkan nasibmu sendiri, memangnya kaukira Jik san-tui dapat kau
gertak?" "Sedikit angkat kedua tangannya Kin Jin berkutat tawar: "Kalau demikian, malam ini
kalian harus belajar kenal dengan kelihayan Kim-lui-jiu."
Han-mo-siang-kiu segera tampil ke muka, si telinga cacat segera meraung: "Keparat,
kami kakak beradik akan jajal dulu betapa bobot kepandaianmu."
Kain hijau yang membungkus kepala tampak melambai, baru saja perhatian orang
banyak tertarik akan lambaian kain kedok ini, tiba2 Kin Jin melejit bagai anak panah
cepatnya, tiada seorang pun yang jelas melihat bagaimana dia beraksi, di tengah
suara gemerentang, yang memekak telinga, belasan orang berbaju merah sama
jungkir balik dengan kepala hancur atau dada remuk. Sementara gema suara para
korban masih mengalun dalam ruangan besar itu, secepat kilat Kin Jin sudah putar
balik, kedua tangannya berubah laksana dua gada emas yang kemilau terang, sekali
221 telapak tangan terbuka, mendadak dia dorong kedua tangannya ke arah Pek Wi-bing.
Toh gwat coh to Pek Wi-bing adalah jago kosen juga dalam Bu lim, dia tahu
serangan ini tidak boleh dilawan dengan keras, sembari berteriak dia terus melompat
ke samping. Kedua telapak tangan yang melancarkan kemilau kuning itu mendadak terpencar
terus membelah lurus ke arah Han-mo-siang-kiu.
Melihat gelagat jelek, kedua kakak beradik ini lekas2 menegok ke kiri dan kanan,
namun demikian pukulan yang mengumandangkan suara gemuruh ini tetap
menyerempet lewat tubuh mereka, lantai marmar di kaki merekapun sampai pecah
sehingga debu krikil beterbangan.
Sekonyong2 suara hardikan nyaring bergema, laksana segumpal awan menggulung
dari udara, seorang menerjang ke arah Kin Jin.
Cepat Kin Jin menarik kembali tangan kiri terus mencengkeram ke perut Pek Wi-bing,
sementara telapak tangan kanan menggaris setengah lingkar terus menabas
kesamping, Kin Jin mendengus dan menjengek: "Pa Cong-si, kau belum setimpal
melawanku."
Pembokong licik ini memang Kui-kok-khek Pa Cong-si, salah satu dari Sio-lin-su-coat
di Pek-hoakok (lembah seratus bunga). Ubun2 kepalanya yang dekuk itu tampak
berdenyut turun naik, kedua badik Pa Cong-si yang tajam mengkilap dengan
sendirinya menyerang tempat kosong, sebat sekali Kin Jin menendang, "tring, tring"
kedua badik mencelat dari tangan Pa Cong-si dan patah menjadi empat potong.
Pada waktu yang sama, seorang mendadak menubruk tiba, sebuah gelang tembaga
sebesar roda kereta mendadak berputar ke atas kepala Kin Jin, berbareng sebilah
pisau melengkung tajam mendadak menusuk perutnya.
Berkerut alis Kin Jin menghadapi serangan serentak dari musuh yang licik ini. dasar
kepandaian tinggi sedikitpun dia tidak menjadi gugup, mendadak dia berjumpalitan
ke belakang, lalu menjengek: "Pek Wi bing, ternyata kaupun hanya kaum keroco
saja." Cepat sekah Pek Wi bing menubruk maju pula, ia memegang sebuah gelang
tembaga yang bercahaya kebiruan, sementara pinggiran gelangnya setajam pisau,
gelang yang kelihatan sederhana ini hakikatnya adalah senjata yang ganas,
biasanya senjata ini diutamakan untuk menggantol leher orang.
Dikala berlompatan Kin Jin sudah memperhitungkan waktunya, baru saja Pek Wi
bing memburu maju tiba2 ia melambung tinggi pula sambil berputar, menyusul ia
balas menyerang dengan tidak kurang lihaynya.
Sambil berteriak Pek Wi-bing berkelit, sementara Han-mo siang kiu yang sudah
menubruk maju juga dipaksa melompat minggir, cahaya obor dalam pendopo
seketika ber-goyang2.
Dalam pada itu, Siang Cin yang mendekam di atas langit2 diam2 tertawa geli, timbal
rasa kagumnya, selama ini dia sendiri terkenal kelihayan ilmu pukulannya, tapi Kim
lui-jiu Kin Jin sekarang ternyata juga gagah perkasa, meski keduanya mempunyai
kelebihan masing2, tapi bahwa Kin Jin memiliki tingkat kepandaian setarap ini, mau
tidak mau Siang Cin menjadi kagum.
Siang Cin dapat menilai, dengan Kim-lui jiu yang hebat itu, ia yakin seorang diri Kin
Jin masih mampu menghadapi keroyokan orang banyak di pendopo ini, meski belum
tentu dapat mengalahkan musuhnya, tapi dia sendrri jelas tidak bakal terkalahkan,
bahwa seluruh perhatian musuh ditujukan kepada Kim Jin seorang, kenapa
kesempatan ini tidak digunakan dengan baik.
Selagi Siang Cin masih bimbang, sementara di bawah Pek Wi-bing, Han-mo-siangkiu
dan Pa Cong ci berempat sudah mengeroyok Kin Jin dengan sengit, sedangkan
Ciang Hong yang terluka bersiaga di pinggir gelanggang, sementara lingkaran
orang2 berbaju merah dari Jik-san-tui semakin diperkecil, setiap waktu mereka siap
menubruk maju bersama.
Setelah menarik napas panjang, dengan diam2 selincah kucing Siang Cin
menggeremet ke pojok sana terus melorot turun ke arah jendela, dengan hati2 dia,
222 menyongkel tanpa bersuara, dengan gesit ia menyelinap keluar.
Malam dingin dan gelap, hanya diterangi kerlip bintang di langit, melompat ke atas
wuwungan Siang Cin celingukan mencari jejak Sebun Tio-bu, pada saat itulah
sesosok bayangan orang tahu2 menubruk dari belakangnya..
Cepat Siang Cin membalik, terlihat jelas orang ini mengenakan pakaian warna
merah menyolok meski di tengah malam gelap ini, malah tangannya menenteng dua
bilah kampak. Dengan sikap angkuh Siang Cin menunggu, begitu bayangan itu mendekat, tanpa
bersuara Siang Cin menabas dengan telapak tangan sembari meluncur maju.
Pendatang ini agaknya tidak menduga akan menghadapi serangan kilat begini,
dengan kaget dia mendak ke bawah.
Baru Siang Cin hendak menambahkan serangan lain yang lebih ganas, dengan
gugup orang itu berteriak tertahan: "Berhenti Siang heng, aku Sebun."
Siang Cin melenggong, orang berbaju merah itu lantas melejit ke sampingnya.
Memang betul Sebun Tio bu adanya. Dengan menyengir Siang Cin bertanya dengan
suara pelahan: Cayhe sedang mencarimu, bagaimana Tangkeh bisa salin pakaian
dalam waktu secepat ini?"
Sebun Tio bu menghela napas lega, katanya: "Masa cuma kau saja yang senang,
sejak tadi aku ikut bergabung dengan para kura2 di dalam pendopo. Begitu Lo Kin
masuk dan jejaknya konangan, aku lantas urung bertindak, kebetulan aku
menangkap seorang anggota Jik-san-tui yang lagi buang air, kututuk dia, lalu
kubelejeti pakaiannya, dengan leluasa dapatlah aku keluar masuk pendopo, semula
aku kuatir akan keadaan Lo Kin, tapi setelah kuikuti beberapa gebrak, keparat itu
ternyata memang lihay, diam2 aku mencarimu di sana, waktu kau menyelundup
keluar dari jendela tadi kebetulan kulihat bayanganmu, kupukir kau pasti sudah ambil
sesuatu keputusan, maka buru2 aku menyusul kemari, hampir saja aku menjadi
korban pukulannu yang mematikan . . . . . . "
Lekas Siang Cin mohon maaf, katanya: "Siapa suruh kau ganti pakaian tanpa
menyapa pula" Kukira jejakku sudah konangan . ... . . . Eh, Tangkeh. Kin-heng jelas
tak menjadi soal meski dikeroyok, mumpung ada kesempatan mari kita beraksi
selagi mereka tumplek seluruh perhatian atas diri Kin heng,"
"Baiklah, hayo mulai!" jawab Sebun Tio bu.
Setelah menerawang keadaan sekelilingnya, akhirnya Siang Cin berkata lirih:
"Umpama nanti dipergoki musuh, Tangkeh bendaknya melawan sekadarnya, jangan
se-kali2 melayani mereka sampai lama, lebih cepat berlalu lebih baik, sementara
kesempatan sementara kugunakan untuk mencari tahu keadaan Pau-hou-ceng dan
apakah di sini juga dikurung orang2 Bu siang pay."
Sebun Tio bu mengangguk, katanya: "Baiklah!"
Mereka terus melayang ke wuwungan pendopo, tanpa berhenti mereka langsung
berlompatan di atas wuwungan gedung yang ber-lapis2 itu menuju ke gedung
berloteng yang ada di lapisan terakhir.
Bangunan gedung2 di Pau-hou-ceng ini ternyata cukup banyak, kalau tidak mau
dikatakan terlalu rapat dan berhimpitan. namun gedung2 di sini dibangun secara
teratur, pepohonan yang ditanam di sinipun terletak pada sudut2 yang telah
diperhitungkan secara rapi, taman bunga dan jalanan kecil beralas balok2 batu
gunung. Siang Cin dan Sebun Tio-bu sembunyi di belakang pohon besar yang ada di pojok
sana, dengan jelas mereka melihat barisan berseragam merah sama ber-lari2
menuju ke ruang pendopo dari berbagai arah, semuanya bergerak lincah dan terlatih
baik. Sebun Tio bu berkata lirih: "Pasukan Jik-san-tui seluruhnya dikerahkan untuk
menghadapi Lo Kin, namun suasana perkampungan ini tetap tenang, jelas mereka
mengira yang datang hanya Lo Kin seorang saja. Siang-heng, inilah kesempatan
baik." "Betul, tapi Pau hou-ceng cukup luas seperti sebuah kota kecil, belum diketahui lagi
223 di mana pusat kekuasamn mereka . . . . lagi, Tangkeh, Cayhe tetap berpendapat
bahwa orang2 Bu-siang-pay ada yang menjadi tawanan mereka ketika terjadi
pertempuran di Pi-ciok san tempo hari itu . . . . "
Berpikir sejenak akhirnya Sebun Tio bu memberi usul: "Mari kita tipu mereka saja,
bila perlu gunakan pula kekerasan, waktu amat mendesak, lekas sikat dan cepat
akhiri." Siang Cin mengangguk, katanya: ?"Baiklah Tangkeh, akan kulindungi aksimu dari
samping." Maka dengan langkah lebar Sebun Tio-bu langsung menuju gang kecil di sebelah kiri,
baru puluhan langkah dia berjalan, dari balik pepohonan di sebelah sana
berkumandang suara teguran: "Berhenti!.
Sedikitpun Sebun Tio bu tidak memperlihatkan rasa gugup dan takut, ia menarik
suara dan memaki: "Apakah Nyo Cin di sana" Kau keparat ini mungkin terlalu
banyak tenggak air seni kuda ya, masa suara tuan besarmu juga tidak kau kenal
lagi." Sejenak keadaan di balik pepohonan menjadi hening, tapi segera terdengar lagi
suara lebih kereng: "Jangan kelakar, kau anak buah siapa?"
Sebun Tin bu berludah, semprotnya gusar: "Kunyuk, masa suaraku tidak kaukenal"
Memangnya kau yang berkuasa di sini . . . . "
Dari balik pohon berkelebat keluar bayangan seorang tinggi besar, dengan mendelik
ia menatap tajam Sebun Tio-bu, katanya pula dengan ketus "Memeluk harimau di
Pan hou ceng."
Dalam hati Sebun Tio-bu mengumpat, sungguh tak kira bahwa orang akan main
teka-teki, bila hanya gertakannya tidak mempan, Tapi dia tetap melangkah maju,
sengaja dia berseru dengan nada gusar: "Keparat, kau kira tuan besarmu tak bisa
menjawab bahasa rahasiamu, Aku justeru tidak mau menjawab, coba apa yang
dapat kaulakukan atas diriku?"
Bayangan tinggi itu menyeringi, tiba2 serunya tegas: "Tangkap dia!"
Mendengar aba2nya, empat bayangan orang segera menerobos keluar dari tempat
gelap, bagai serigala kelaparan saja mereka menubruk ke arah Sebun Tio-bu.
Sebun Tio-bu sudah nekat, ia tidak melawan, mendadak dia malah lempar kedua
kampaknya ke jalan yang beralas batu gunung sehingga menimbulkan suara
berkerontangan, sambil bertolak pinggang Sebun Tio bu meraung gusar: "Siapa
berani bergerak" Kalian berani bertingkah, keparat piaraan anjing, tidak bisa
membedakan lawan atau kawan sendiri, mau main kekerasan terhadap tuanbesarmu
ini?" Karena gertakan Sebun Tio-bu ini, keempat laki2 itu melenggong sejenak dan
merandek, mereka saling pandang dengan bingung.
Sementara itu Sebun Tio bu masib terus berkaok2: "Baru saja tuan besarmu ini
pulang dari arah Liok-sun-ho sana, badan capai mulut kering, ingin selekasnya
memberi laporan dan minta arak pada Toa-thauling, tapi kalian anak kura2 ini
mencegatku di sini, memangnya kalian mau apa?"
Keempat laki2 itu sama berdiri bingung dan serba susah, sementara laki2 tinggi
besar di belakang tadi lantas maju..
Sebun Tio-bu tetap bertolak pinggang, serunya dengan marah2: "Kebetulan kau
kemari, keparat, aku orang she Sebun hari ini ingin melihat kau keparat yang sinting
ini hendak berbuat apa atas tuan besarmu ini."
Laki2 gede berpakaian merah itu berusia empat puluhan, wajahnya lebar gemuk
merah, tapi air mukanya tampak kaku dingin, matanya yang tajam mengamati Sebun
Tio bu dengan seksama, katanya dengan suara kaku: "Apakah kau anak buah Toathauling?"
"Kalau bukan, memangnya aku ini anak buahmu?" damprat Sebun Tio bu.
Laki2 baju merah itu menarik muka, hardiknya bengis: "Kawan, mulutmu harus kenal
sopan santun, meski kau anak buah Toa-thauling yang tersayang juga tak dapat
menggertakku, jika kau tak mampu menjawab kode rahasia malam ini, maaf, Aku
224 orang she Pui terpaksa harus menahanmu"
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
Sebun Tio-bu menyeringai, jengeknya: "Bagus. aku orang Sebun hendak
pertaruhkan gentong nasiku untuk memenangkan penahanan ini, tapi bilamana
urusan sampai terbengkalai, dihadapan Toa_thauling nanti kau yang harus
bertanggung jawab akibatnya."
Laki2 baju merah itu menjadi ragu, jelas dia tetap gusar, akhirnya berkata dengan
uring2an: "Tinggalkan namamu."
Sambil mendengus, Sebun Tio-bu lantas berseru: "Sebun Tio bu!"
Laki2 baju merah tampak tertegun, jelas dia seperti ingat nama ini, tapi kesannya
tidak mendalam dan tidak ingat siapa gerangan tokoh yang bernama Sebun Tio bu
ini, setelah berpikir sebentar, akhirnya dia mengulap tangan, serunya: "Pergilah kita
catat namamu."
Dengan menyeringai Sebun Tio-bu melangkah ke sana, katanya: "Boleh, coba saja
siapa yang salah dalam persoalan ini."
Tapi baru beberapa langkah, laki2 gede itu tiba2 membentak gusar: "Berhenti!"
berdebur jantung Sebun Tio-bu, tanyanya sambil menoleh: "Ada apa?"
Laki2 gede itu mencak2, serunya: "Didepan sana adalah tempat menyekap tawanan
Hek-jiu-tong dan musuh kita, ada apa kau menuju ke sana?"
Hampir saja tergelak2 saking senang hati Sebun Tio-bu, sambil berpikir sementara
mulutnya balas menjengek: "Memangnya perlu kau mengoceh, aku juga tahu di
mana tawanan Hek-jiu-tong dikurung, kalau dilarang pergi ke sana, memangnya aku
orang Sebun berani terobosan ke sana."
Saking gusar laki2 gede baju merah itu mendelik, dengan gemas dia membanting
kaki, serunya beringas: "Baik, anggaplah mulutmu memang hebat, lihat saja nanti."
Sebun Tio bu menyeringai dan melangkah ke depan, tidak jauh, di balik pohon sana
tampak bayangan tembok tinggi, jalanan kecil inipun tampak melebar.
Tanpa sangsi Sebun Tio-bu mengikuti arah jalan itu, baru saja dia hendak
menerobos ke sebelah sana dari tempat gelap mendadak berkumandang hardikan;
"Siapa?"
Sebun Tio-bu berteriak gusar: "Pau- hou-ceng memeluk harimau, lekas jawab."
Lima bayangan orang tampak melompat keluar dari tempat gelap, seorang yang
terdepan sebagai pimpinan segera menyahut gugup: "Hasrat terkabul di Ji-Ih hu. Eh,
kiranya orang sendiri . . . . . . . "
Sambil mendengus Sebun Tio-bu bertanya: "Ada kejadian apa di sini!"- Lagaknya
seperti orang gede. Kelima orang itu cepat menghampiri, seorang yang berpakaian
merah menyahut: "Tiada apa2, engkau tentu lelah, sudah malam, begini masih
ronda?" Sebun Tio-bu menghela napas ujarnya: Makan gaji tentu harus menjalankan tugas,
apa boleh buat" Keparat, apakah tawanan di dalam menimbulkan keributan" Kalian
harus lebih hati2."
Laki2 itu tertawa, katanya: "Tanggung beres! Lapisan pintu pertama adalah batu
raksasa ribuan kati, dirangkap lagi papan besi tebal, lalu tiga pintu terali besi lagi,
umpama rombongan gajah yang di kurung di dalam juga takkan mampu menerjang
ke luar, apa lagi mereka manusia biasa?"
"Kupikir demikian juga, apalagi keparat itu sudah cukup payah setelah disiksa
sedemikian rupa. Tapi situasi beberapa hari ini semakin tegang, kuatirnya bila bala
bantuan Bu-siang-pay akan menyerbu kemari."
Orang itu berkedip, tanyanya lirih: "Saudara, kabarnya ada mata2 musuh
menyelundup masuk di depan?"
Sebun Tio bu celingukan sebentar, lalu merendahkan suara seperti penuh rahasia,
katanya: "Memang, kepandaian bocah itu ternyata amat lihay, beberapa jago kita
ternyata tidak mampu membekuknya meski sudah dikeroyok, malah Ciang-samya
dari Jit ho-hwe terluka, kudengar enam orang kitapun sekali gebrak telah terbunuh,
wah. kalau bicara soal ini aku jadi ngeri . . . . "
Kelima laki2 itu ikut terkesiap, yang memimpin itu berkata dengan suara serak:
225 "Kalau demikian, lawan agaknya sukar dilayani, padahal hanya seorang musuh dan
kita sudah dibikin kelabakan, kalau datang beberapa orang lagi, entah apapula yang
akan terjadi di sini . . . "
"Memang . . . ." ucap Sebun Tio-bu, "Mendingan di sini, ada tembok tebal dan
dinding tinggi, dipasangi peralatan rahasia lagi, kemanapun kalian masih bisa
sembunyi, kita yang di depan harus membendung serbuan musuh mana kuat
menghadapi golok tajam mereka . . . . "
Orang itu menghela napas, katanya dengan muka masam: "Soal alat rahasia segala
kan hanya mendengar saja, kapan kita pernah melihatnya" Entah bagaimana
bentuknya, apakah betul kuat membendung serbuan musuh, juga masih merupakan
tanda tanya . . "
Sebun Tio bu agak kecewa karena tak dapat memancing keterangan yang penting,
katanya tawar: "Siapa saja yang terkurung di dalam, apa kalian tahu?"
Orang itu menggeleng, katanya: "Ini soal penting, kecuali beberapa pemimpin besar,
kurasa tiada yang mengetahui, bagi kita siapa mereka tidak soal, yang penting bila
tiba waktunya cara bagaimana harus mencari jalan hidup . . . . . "
Sebun Tio-bu tertawa, katanya: "Betul, hanya terima beberapa keping duit masakah
harus mempertaruhkan jiwa . . . Sudahlah, kalian tentu lelah, aku akan periksa
sebelah depan."
Lima orang itu segera menyingkir memberi jalan, si baju merah berpesan: "Harap
periksa dengan seksama, saudara."
Dengan langkah enteng Sebun Tio-bu beranjak ke depan sambil mengiakan, tiba di
pinggir hutan sebelah sana, keadaan gelap dan sunyi, dari pucuk pohon di
dengarnya suara Siang Cin: "Tangkeh . . . . "
Waktu Sebun Tio-bu mendongak, seenteng burung Siang Cin telah meluncur turun di
sebelahnya, katanya: "Percakapanmu sudah kudengar. Kini tugas pertama kita
harus berdaya cara bagaimana menerjang masuk ke sana, kupikir aku perlu meniru
caramu merebut seperangkat pakain mereka, bila perlu gunakan kekerasan dan
terjang ke dalam dengan kerja kilat, jangan sampai menimbulkan suara berisik,
supaya mereka tidak sempat lapor dan mengirim tanda bahaya . . . . "
Sebun Tio-bu menepuk paha, tatanya: "Bagus, sekali kerja beres seluruhnya,
memang itulah cara kerja Naga Kuning. Hayolah kita mulai."
Siang Cin tepuk pundak orang serta menyeretnya masuk ke dalam hutan cemara,
katanya memperingatkan: "Hati2, di sana ada pos penjagaan, ada dua penjaga di
sana." Tapi sengaja mereka berjalan terang2an supaya kedatangan mereka diketahui orang,
tak jauh mereka maju, tampak cahaya bergerak di sebelah depan, dua bayangan
orang segera muncul dengan suara bentakan: "Siapa itu" Berhenti!"
Jilid 13 Siang Cin mendengus, mendadak dia melejit ke depan, hanya kelihatan berkelebat,
belum lagi kedua orang itu sempat melihat jelas siapa yang datang, tahu2 keduanya
sudah tersungkur binasa.
Dengan gerak cepat Sang Cin belejeti pakaian salah seorang terus dipakainya,
kerudung muka dibuang, dengan tertawa ia berkata: "Hayolah, segalanya beres dan lancar."
Cap-pi-kun-cu Sebun Tio bu mengacung-kan jempol, katanya memuji: "Cepat
benar!" 226 Segera mereka maju lebih jauh, tujuannya adalah gedung besar yang ada di
belakang hutan, setelah menghindarkan tujuh pos penjagaan, akhirnya mereka tiba di depan
gedung batu, yang berbentuk segi empat.
Gedung segi empat yang besar ini hanya terdapat delapan jendela, setiap jendela
luasnya kira2 satu kaki dipasangi terali besi sebesar lengan pula, celah2 terali besi
itu hanya selebar kepalan tangan. Pintu gerbangnya berwarna kuning dengan hiasan paku
besar yang mengkilap, daun pintu tertutup rapat, tembok batu berwarna coklat tua terasa betapa
kukuh bangunan gedung ini, suasana terasa seram dan menyesakkan napas.
Dua batang obor besar tertancap miring di atas tembok, bunga api sering terpercik
berjatuhan bercampur tetesan minyak bakar. Sepuluh laki2 berdiri di kanan-kiri tanpa
bergerak, sekeliling sunyi senyap.
Siang Cin menoleh sambil tertawa pada Sebun Tio-bu, dengan langkah tegap
mereka keluar dari balik pohon, langsung mereka menuju pintu depan gedung persegi itu.
Sorot mata kesepuluh laki2 baju merah yang berjaga di depan, pintu segera tertuju
ke arah mereka, sorot mata mereka tampak curiga dua orang yang di depan serentak
mengangkat tangan dan menegur: "Berhenti sebentar."
Siang Cin menjura, katanya dengan tertawa; "Malam dingin, angin kencang,
tentunya kalian capai dan menderita."
Tanpa memperlihatkan perasaan apa2, kedua orang itu mengangkat kepala, lalu
yang di sebelah kiri bersuara: "Malam selarut ini kalian datang kemari, entah ada
kepentingan apa?" "Ya, memang ada keperluan," sahut Siang Cin tenang dan wajar, "Toa-thauling
suruh kami mengadakan pemeriksaan khusus, adakah sesuatu yang tidak beres di sini"
Soalnya ada mata2 musuh yang telah menyelundup ke bagian depan . . . . "
Kedua orang itu saling pandang, orang yang bersuara itu berkata pula: "Kalau Toathauling
ada perintah, kami semua tentu memberikan kelonggaran, tapi apakah
kalian membawa medali perunggu Pau-hou-ceng dari Toa-thauling, siapapun yang akan
masuk ke penjara harus memperlihatkan medali perunggu itu."
Dalam hati diam2 Siang Cin mengumpat, tapi sikapnya tetap biasa, katanya: "ToaBARA
NAGA- Koleksi KANG ZUSI
227 thauling hanya berpesan secara lisan, buru2 lagi sehingga tak sempat kami
membawa medali perunggu yang diperlukan, tapi apakah pesan Toa-thauling secara langsung
juga tidak berlaku di sini?"
Dengan menarik muka kedua orang itu menggeleng kepala, katanya sinis:
"Ketahuilah
kawan, menurut perintah, kami hanya boleh memberi jalan berdasarkan medali
perunggu, tanpa medali perunggu Pau-hou-ceng, umpama kakek-moyangku, sendiri juga tidak
boleh masuk, ini bukan urusan main2, bila terjadi sesuatu, memangnya siapa yang bisa
bertanggung jawab?"
"Apa betul demikian?" Siang Cin menegas dengan tertawa aneh.
"Sudah tentu," jengek laki2 itu, "tiada yang harus diberi kelonggaran secara khusus
di sini." Sambil mengulap tangan Sebun Tio-bu maju selangkah, katanya dengan tertawa:
"Tanpa medali perunggu Pau-hou-ceng, apa benar bapakmu sendiri juga tidak kau
beri kelonggaran?"
Merasa nada pembicaraan orang yang kaku mengancam tanpa terasa laki2 itu
menyurut mundur, katanya waspada: "Ya, begitulah, kau . . . . "
Belum habis dia bicara, mendadak Sebun Tio-bu ter gelak2, serunya:. "Baik sekali,
kini boleh kau anggap kami berdua adalah kakekmu."
Kedua orang itu seketika naik hitam, tapi belum lagi sempat mereka bertindak, Siang
Cin tiba2 sudah mendahului, "blang", tubuh orang itu jungkir balik setombak jauhnya.
Dikala telapak tangan kirinya melayang itulah, tangan kanan Siang Cin juga
menggenjot laki2 yang lain sehingga menyemburkan darah dari mulutnya. Dalam
waktu yang sama Sebun Tio-bu, melejit tinggi ke atas. sekaligus kaki tangan bekerja,
empat musuh telah dirobohkan, empat orang yang masih hidup menjerit ngeri, dua di
antaranya menubruk ke arah Sebun Tio-bu, seorang menerjang Siang Cin, dan seorang lagi lari
sipat kuping menuju ke pintu gerbang terus hendak menarik sebuah gelang hitam yang
tergantung di atas pintu.
Mendadak kampak besar yang kemilau membacok kepala Siang Cin, tapi Siang Cin
berkelebat maju memapak, kedua kakinya terayun, sekali pancal, menyusul
tubuhnya melejit ke sana, berbagai gerakan ini dilakukan secara serentak, dikala orang roboh
228 terbanting sebat sekali Siang Cin sudah melayang jauh ke sana dan tiba di samping
laki2 yang hendak menarik gelang hitam di pinto gerbang.
Seperti cakar iblis telapak tangan Siang Cin tahu2 membabat, kepala laki2 itu kontan
menggelinding jauh ke sana, darah menyembur dari lehernya yang putus, sekali
depak mayat tanpa kepala itu ditendang roboh oleh Siang Cin.
Dalam pada itu, kedua laki2 yang menubruk ke arah Sebun Tio-bu juga telah
dibinasakan, cara kematian kedua orang ini sama, leher mereka bolong sebesar
kepalan tangan. Dari mulai sampai kesepuluh orang itu menggeletak binasa hatinya
berlangsung dalam waktu yang amat singkat.
Dengan menyeringai Sebun Tio-bu menggosok kedua telapak tangannya. katanya:
"Cepat juga, ya?" Siang Cin mengangguk serunya: "Hayo kita terjang ke dalam."
Sebun Tio-bu lantas menggedor pintu sekerasnya, teriaknya: "Buka pintu, lekas ada
perintah khusus dari Toa-thauling."
Malam sunyi, maka suara gedoran terdengar keras sekali, dengan cepat daun pintu
besi yang tebal dan berat itu lantas terbuka pelan2. Dari celah2 pintu yang terbuka sedikit
menongol keluar seraut wajah kurus, teriaknya tak sabar: "Ada urusan apa" Malam
buta begini ber-kaok2 bikin geger saja."
Kedua jari Siang Cin sekeras ujung tombak secepat kilat menjojoh leher laki2 muka
kurus itu, dengan leluasa Siang Cin lantas seret keluar tubuh orang serta
melemparkannya ke belakang. Sebun Tio-bu terus menyelinap masuk, sorot matanya yang tajam mendapatkan di
belakang pintu besar adalah sebuah kamar jaga persegi seluas satu tombak lebih, di
dalam kamar terpasang enam buah lampu kaca, ada empat laki2 di dalam kamar, dua di
antaranya rebah bermalas-malasan di atas dipan, dua orang lagi duduk berhadapan sedang
bermain kartu, dari cara mereka yang asyik memperhatikan pada permainannya, se-olah2
jiwa sendiripun berani dipertaruhkan.
Begitu menyelinap masuk Sebun Tio-bu lantas angkat tangan seraya menyapa:
"Haha, senang betul kalian, sebaliknya kami yang harus bekerja berat dari fajar sampai
malam gelap, sungguh menyebalkan,"
Kedua laki2 yang tengah berjudi itu tanpa menoleh, satu di antaranya yang menang
bersuara kemalas2an: "Mau periksa penjara lagi" Sialan, memangnya bui gelap
gulita 229 seperti neraka ini jauh lebih penting daripada penjara di kota raja, sehari semalam
berapa kali diadakan pemeriksaan, bukankah hanya beberapa keparat saja yang disekap di
sini?" Sambil tertawa Sebun Tio-bu berkata: "Tapi jika terjadi sesuatu yang tidak beres,
memangnya kalian dapat berbuat apa di sini?"
Merasakan jawaban yang kurang sedap orang yang bicara itu menoleh, ia jadi
melenggong tanyanya kemudian: "Eh, ,siapa kau" Kita belum pernah melihatmu . . . .
" Dalam pada itu Sebun Tio-bu sempat menjelajah keadaan kamar batu ini, Ruangan
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
yang sumpek ini di bagian dinding sebelah kanan terlihat ada guratan pintu yang
biasa dikerek turun-naik, maka dia menyeringai dingin, katanya: "Siapa bilang kau pernah
melihatku" Tuan besarmu memang baru pertama kali ini kemari."
Seorang lagi segera berjingkrak bangun, serunya gusar: "Hai, kau ini anak buah
Thauling yang mana" Bicaramu kenapa begini angkuh" Maknya, mau periksa bui
saja harus bertingkah segarang ini?"
"Sudah tentu," ujar Sebun Tio-bu sambil tertawa, "kini tugasku yang utama adalah
mengantar kematianmu."
Keruan kaget orang itu, teriaknya; "Apa, apa kata mu?" . . .
Kedua tangan Sebun Tio bu bergerak melingkar terus ditarik pelan2 dan didorong,
serangkum tenaga lunak yang tidak kelihatan mendadak menyambar, kontan laki2
itu mencelat, kepalanya menumbuk dinding dan roboh binasa dengan kepala remuk.
Keruan teman judinya itu terkesima saking ngeri, ia ingin berteriak tapi suara tidak
dapat keluar saking panik: "Kau . . . .mat . . . . mata2. . " "Peletak", tangan kanan
Sebun Tio-bu menggenjot dada orang, suara tulang patah dan remuk menusuk
pendengaran dalam
suasana yang sepi ini sehingga dua orang yang rebah di dipan melompat kaget
sambil kucek mata, mereka celingukan dengan bingung, tapi sebat sekali Sebun Tio-bu
sudah melompat tiba, tanpa ampun kedua laki2 yang tersentak dari tidurnya kontan menjerit
dengan tubuh terkulai dan tak bernyawa lagi.
Dalam pada itu Siang Cin telah menyelinap masuk serta merapatkan pintu, langsung
dia menghampiri alat rahasia di tembok sana, katanya dengan mengedip mata:
"Tangkeh, kenapa tidak kau taya dulu cara membuka pintu rahasia ini."
Sebun Tio bu diam saja, sesaat baru bersuara setelah berpikir: "Kita gempur dengan
kekerasan saja."
Siang Cin tertawa, katanya: "Mungkin akan terlalu banyak membuang tenaga."
230 Sebun Tio-bu berkata tak acuh: "Apa boleh buat, Siang-heng, marilah kita bergiliran,
aku mulai lebih dulu, setelah lelah nanti ganti kau yang menggempur."
"Bolehlah," ucap Siang Cin tertawa, "mumpung ada kesempatan, aku ingin
menyaksikan kekuatan Tay-lik-kim-kong-ciang Tangkeh yang menggemparkan dunia
persilatan itu."
Codet di muka Sebun Tio-bu mendadak bersemu merah, katanya dengan sikap
kereng: Orang she Sebun selamanya tidak ber-muka2, Siang heng boleh kau saksikan."
Mendadak dia melompat maju, kedua tangannya menghantam sekaligus, pintu batu
tebal itu seperti ditimpa godam raksasa, maka menggelegarlah suara keras.
Di tengah getaran keras pintu batu tampak bergoyang, kerikil debu beterbangan,
Sebun Tio-bu kembali susuli pula dengan pukulan kedua, kembali terjadi goncangan keras,
beruntun melancarkan belasan pukulan berat baru Sebun Tio-bu menyurut mundur,
keringat tampak membasahi ujung hidung dan pelipisnya, setelah menarik napas
dalam2 akhirnya dia berkata sambil menggosok tangan: "Siang-heng, kini giliranmu."
Pintu batu yang tebal di jepit diantara batu2 gunung yang kukuh itu kini sudah tak
keruan bentuknya seperti habis digempur oleh kampak, batu tebal yang semula rata
kini tampak melesak ke dalam, rontokan batu tampak memenuhi lantai. Tay-lik-kimkiongciang
yang dilontarkan Sebun Tio-bu memang dahsyat dan tak bernama kosong.
Siang Cin tersenyum, katanya: "Tangkeh, Tay-lik-kim-kong-ciangmu ini
mengutamakan kekerasan, mungkin Cayhe tidak memiliki kekuatan se hebat mu"
"Siang-heng," Iekas Sebun Tio-bu berkata, "bukan saatnya bicara sungkan, silahkan
kau turun tangan saja, setelah istirahat nanti kuganti menggempurnya pula . . . . "
Sambal berteriak, air muka Sang Cin tampak beringas, di tengah teriakan keras itu
secepat kilat seperti beradu cepat sekaligus dia telah melancarkan berpuluh kali
pukulan, begitu cepatnya pukulan ini sehingga orang sukar menghitungnya.
Di tengah suara gemuruh disertai debu pasir beterbangan, pintu batu yang tebal itu
ternyata tergempur hancur dan runtuh, tanpa bicara segera Siang Cin menyelinap
masuk ke sana. "Jik sia-ciang yang hebat!" sera Sebun Tio-bu kagum.
Di kala melayang masuk itulah kuping Siang Cin mendengar suara gemuruhnya alat
rahasia yang bekerja, Sekilas matanya menjelajah, seketika hatinya mengeluh,
ribuan ujung panah ternyata tengah berhambur memapak tubuhnya dalam lorong yang sempit
seluas beberapa kaki, anak panah ini memberondong keluar dari lubang bumbung besi
yang terbenam merata di dinding, ujung panah memancarkan cahaya biru tanda
231 mengandung racun jahat. Segera terdengar teriakan Sebun Tio-bu di belakangnya memperingatkan: "Awas
panah beracun, lekas menyingkir."
Gemeretak gigi Siang Cin, air mukanya kembali berubah kelam, se-konyong2 ia
melambung tinggi keatas, kedua kaki memancal, begitu keras dan kencang pukulan
telapak tangannya sehingga hawa udara dalam lorong berderai seperti luber. Maka ramailah
suara denging anak panah yang berhamburan patah dan hancur, kiranya ratusan anak
panah yang sama ditujukan ke satu sasaran dalam waktu sesingkat itu telah hancur luluh banyak
pula yang berkisar arah oleh damparan angin pukulan yang dahsyat itu.
Di tengah gelak tertawanya Sang Cin terus melesat maju dan hinggap di depan
sebuah pintu besi warna hitam, di tengah bentakannya yang menggelegar kembali ia
menggempur lagi. Entah bagaimana kejadiannya, mungkin pukulannya menyentuh tombol alat
rahasia sehingga menimbulkan dering keliningan yang gencar di mana2, begitu dering
kelintingan berbunyi, dari balik pintu besi itu se-konyong2 melesat keluar bacokan sebuah golok
melengkung yang panjang dan besar.
Untung Siang Cin cukup waspada dan keburu mengegos, tapi dalam detik itu pula
golok melengkung yang panjang tebal itu membal balik, dan lenyap di balik pintu
Keruan Siang Cin meraung dongkol. Di tengah bentaknya kembali dia menerjang maju,
dalam sekejap saja, Jik-sin-ciangnya kembali ratusan kali menggempur pintu besi tadi.
Lambat laun daun pintu besi itu tampak bergeming dan akhirnya bergoncang keras
dengan mengeluarkan suara gemuruh, golok tebal melengkung yang terselip di sela2
pintu tahu2 membacok keluar pula, kali ini Siang Cin sudah siap, pada waktu golok itu
membacok keluar, sebat sekali dia mendahului melompat mundur, ketika golok
melenting balik itulah beruntun Jik-sik-ciang juga menggempur pintu besi.
Pada gempuran berikutnya daun pintu besi itu akhirnya semplak dan ambruk, dikala
golok yang dipasangi pegas itu membacok pula, Siang Cin kerahkan sisa tenaga
pukulannya, dia bikin golok itu patah dan tidak bekerja lagi.
Sebun Tio-bu berkeplok tangan, teriaknya memuji dengan tertawa: "Hebat sekali
saudaraku, kau memang patut dipuji."
Tanpa berhenti Siang Cin memberi tanda terus menerjang masuk lebih dahulu, tapi
belum lagi dia angkat kepala, "Wuut, wuut", delapan kampak raksasa tiba2
232 membacok turun mengincar batok kepalanya, cepat Siang Cin mendak ke samping terus
berputar setengah lingkar, menyusul kaki kanannya terus menyapu, segera bayangan merah
tampak berkelebatan disertai jerit kaget dan pekik kesakitan, tujuh-delapan laki2 seperti bola
saja sama ter-guling2.
Kembali Siang Cin berada di lorong panjang sempit yang sama seperti depan tadi, di
ujung lorong mengadang pintu berterali besi. Enam dari delapan laki2 yang tersapu
roboh itu sudah patah tulang kakinya, yang terluka sama menjerit dan merintih sambil
memeluk kaki, dua orang lagi yang selamat seperti serigala lapar yang tidak takut mati segera
menerjang maju pula dengan nekat.
Siang Cin mendengus, belum lagi bertindak, mendadak Sebun Tio-bu melesat lewat
ke depan, begitu dia berkelit ke kiri serta mengegos ke kanan, kedua tangannya
bergerak, kontan beberapa orang Jik san-tui yang masih ketinggalan itu sama jatuh tersungkur.
Waktu berpaling, sementara suara kelintingan tanda bahaya tadi masih bergema,
tapi bayangan orang belum kelihatan, maka Siang Qu berseru gugup: "Lekas, Tangkeh."
Ditengah teriakannya itu, Sebun Tio bu sudah berada di depan pintu terali besi,
segera dan pasang kuda2 dan mengerahkan tenaga, pelan2 kedua tangan mendorong ke
depan, lalu ditarik cepat serta didorong pula secara beruntun, hanya empat kali gerakan, empat
jeruji besi sebesar lengan bayi di pintu itu telah dibikin bengkok.
Cepat keduanya menyelinap masuk lebih jauh, beruntun dan pintu berterali besi
telah mereka jebol pula, kini mereka telah tiba di ujung lorong, di mana terdapat enam
kamar kurungan. Keruan Siang Cin berseru girang: "Nah itulah Tangkeh, akhirnya ketemu
juga." Mengawasi pintu kamar kurungan yang seluruhnya tertutup rapat, dirasakan pula
suasana di lorong ini sedemikian sunyi, Sebun Tio-bu menjadi ragu2, katanya:
"Musuh suara tanda bahaya, tapi sejauh ini belum kelihatan muncul mencegah atau
merintangi kita,
apalagi kamar tahanan di sini tertutup ber lapis2 pintu besi, tapi setiba di sini
keadaan justeru kosong melompong tanpa seorang penjagapun, Siang heng, apakah kau
tidak merasa adanya gejala yang ganjil?"
233 Siang Cin mengangguk, katanya: "Beralasan ucapan Tangkeh, tapi ibarat anak
panah sudah dipasang dibusur serta dipentang, tinggal membidikkan nya, kita sudah
terlanjur bertindak sejauh ini, sudah kepalang tanggung, terpaksa tetap bekerja, hayolah jebol
pintu2 penjara itu."
Sebun Tio-bu tampak prihatin, mendadak dia berteriak lantang: "Kepada sahabat Busiang-
pay yang berada di sini, jawab seruanku ini, Kami sengaja menerjang kemari
untuk menolong kalian. Waktu sudah teramat mendesak, sukalah para sahabat lekas
berusaha dan memperkenalkan diri."
suaranya bergema hingga sekian lama di dalam lorong, tapi ditunggu sesaat
lamanya tetap tiada jawaban apapun, beruntun dua kali Sebun Tio-bu berteriak, tapi kamar2
tahanan itu tetap sunyi tidak ada suara apapun.
Dengan gemas Sebun Tro-bu meraung: "Siangheng, perduli gunung golok atau
wajan minyak mendidih, hayolah kita terjang saja."
Perhatian Siang Cin tertuju ke kamar ke enam di ujung sana, katanya tenang
"Baiklah, terpaksa kita mencobanya."
Sebun Tio-bu menarik napas panjang, seluruh kekuatan dia himpun pada kedua
lengan, ia mengawasi Siang Cin, tanyanya: "Terjang kamar yang mana?" "
"Kamar yang itu saja", ucap Siang Cin sambil menuding kamar terakhir di ujung
lorong sebelah kiri Melangkah ke kamar tahanan yang di tunjuk itu, mendadak Sebun Tio-bu
menggeram seperti harimau mengamuk, kedua tangan terayun ke depan, serangkum angin
dahsyat langsung menerjang pintu kamar tahanan. Kekuatan pukulan Tay-lik-kim-kong ciang
memang luar biasa, hanya sekali gempur pintu besi yang tebal itu telah dipukulnya
jebol dan roboh. Tapi setelah pintu besi ambruk tidak tampak adanya bayangan orang yang dikurung
di dalam, yang membanjir keluar adalah ribuan ular ber bisa yang sama menenggak
kepala 234 dan meleletkan lidah, ular2 itu terdiri dari berbagai jenis, kepalanya segi tiga dengan
warna-warni yang berbeda, baunya yang amis dengan suaranya yang mendesis
menimbulkan rasa muak.
Keruan Sebun Ti-bu berjingkrak kaget, teriaknya: "Celaka, ular melulu."
Sekali ayun tangan Siang Cin menyapu mampus ular2 yang menerjang maju paling
depan. Lekas Se-bun Tio-bu mundur ke belakang, teriaknya: "Sungguh mengerikan,
pantas tiada reaksinya, kiranya ular berbisa seluruhnya."
Beruntun Siang Cin lancarkan empat kali pukulan, ular2 yang membanjir keluar
memenuhi lantai itu dipukulnya beterbangan, tapi yang di depan tersapu mampus,
yang di belakang tanpa kenal takut segera membanjir maju pula. Ular saling tindih,
berdesakan dan saling gigit, dengan suara mendesis yang seram.
Sebun Tio bu segera bantu menghantam dengan pukulan dari jarak jauh, dengan
gabungan kekuatan pukulan bersama, ratusan ular berbisa telah mereka bunuh di
lorong sempit itu. Sekali injak. Siang Cin bikin remuk kepala seekor ular yang merayap ke depannya,
katanya kuatir: "Peralatan rahasia yang d pajang di sini, tak ubahnya dengan yang
ada di Ceng siong "Ban-cent, semuanya serba keji di luar perikemanusiaan ."
Sebun Tio-bu berseru gemas: "Siang-heng, sekuatnya kau tumpas ular2 ini, biar aku
menggempur kamar tahanan yang lain di balik daun pintu ini."
Kedua tangan Siang Cin memang tak pernah berhenti, kawanan ular mencelat dan
beterbangan dilanda angin pukulannya, beruntun dia melontarkan puluhan kali
pukulan, masih sempat pula dia berseru: "Hati2 loh Tangkeh."
Dalam pada itu Sebun Tio-bu telah melompat mundur ke sana. "Blang", terdengar
gempuran keras disertai suara pecah berderai, begitu daun pintu remuk dan roboh,
dari balik kamar segera menerjang barang cairan yang berwarna hitam biru, entah air
apa yang mengalir keluar dan berbau busuk ini, yang terang hidung segera terasa pedas,
kepala
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
pening dan mata ber-kunang2.
Untung Sebun Tio bu keburu melejit ke atas seraya berseru memperingatkan: "
Lekas menyingkir Siang heng, air busuk ini berbisa."
Dengan lincah Siang Cin melompat ke atas, cepat air kental warna biru hitam
mengalir dan menggenangi seluruh lorong, kawanan ular2 yang masih hidup kini semuanya
terapung dan bergulat di dalam air kental ini, tapi lambat laun gerakan mereka bukan lagi
235 meronta semakin keras, sebaliknya semakin meregang jiwa, desis suaranyapun seperti
menderita kesakitan yang luar biasa, ular2 yang berlepotan air kental hitam itu sama terapung
di permukaan air tanpa bergerak lagi, badan ular yang semula berwarna-warni itu cepat
sekali berubah hitam. Dengan-punggung melengket di langit2 lorong Siang Cin dan Sebun Tio bu gunakan
ilmu cicak menyaksikan ular2 itu mampus keracunan, setelah memandang keluar
lorong Sebun Tio-bu berkata lirih: "Siang-heng, air ini terang beracun, genangan airnya
tidak dalam tapi kita tak bisa lama2 di sini, menurut hematku, marilah sekali lagi coba
tempuh bahaya saja."
"Baik" ucap Siang Cin.
Sebun Tio-bu periksa keadaan di bawah, hampir saja ia berteriak kaget waktu Siang
Cin mendadak ke bawah, diam2 diapun terkesiap, kiranya bangkai ular yang
terapung di permukaan air kental tadi kini sudah lenyap, daging kulit sampai tulang belulangnya
telah luluh seluruh tercampur bersama air hitam itu.
Berludah sekerasnya, Sebun Tio-bu mencaci dengan gemas: "Orang2 Pau-hou-ceng
benar2 kelewat keji Neneknya, untung kita menyingkir dengan cepat, bila sampai
kecipratan setetes saja, tentu daging kita bisa membusuk sebagian"
Siang Cin berkata dengan mengerut kening: "Sejauh ini musuh belum kelihatan
beraksi, jelas masih ada jebakan lain ayolah Tangkeh, kita dahului menggempur lagi."
Segera Sebun Tio bu mendahului melayang ke bawah dikala tubuhnya masih
terapung di udara itulah, dari dinding di kanan-kiri depan sana mendadak menjeplak terbuka
empat lubang kecil segi empat tiada kesempatan untuk berpikir apa sebenarnya yang
terjadi dengan ke empat lubang kecil ini, tahu2 dari lubang itu menyembur minyak bakar
yang berwarna kuning kotor.
Semburan minyak bakar ini cukup keras, jelas jumlah minyak yang tersedia cukup
banyak, dengan suaranya yang gemeretak minyak bakar itu terpancur ke bawah
tercampur dengan air beracun di dalam lorong.
Sebun Tio bu tetap meluncur ke sana dan hinggap di dinding sebelah kiri, kali ini dia
berlaku lebih hati2 serta memperhatikan keadaan sekeliling dinding, tepat dia
berhenti di depan sebuah pintu berterali dari sebuah kamar kurungan. Tanpa ayal ia himpun
236 tenaga terus menggempur pintu berterali yang kukuh itu, Tay lik-kim-kong-ciang kembali
memperlihatkan kedahsyatan, daun pintu itu kembali ambrol berantakan, kali ini
ternyata tiada peralatan jebakan malah kamar tahanan ini betul2 menyekap tiga orang
tawanan. Ketika tawanan sedang duduk bersimpuh di atas rumput kering, rambut semrawut
mukanya kotor dekil, bajunyapun compang camping, kaki tangan dan lehernya diborgol.
Sebun Tio bu melompat turun di depan pintu, teriaknya cepat: "Apakah kalian
kawan2 dari Bu siang-pay" Jangan membuang waktu percuma kami datang menolong kalian.
lekas bersiap untuk meloloskan diri . . . . "
Di kala berteriak2 itulah Sebun Tio bu mendengar langkah lirih dibelakangnya, maka
tanpa menoleh mendadak dia miringkan badan seraya membalik sebelah tangan
menampar ke belakang, "Huaah," seorang laki2 baju merah mendadak menjerit keras,
badannya meliuk memeluk perut serta terlempar jauh ke atas, kampak terlempar dan darah
segar tersembur dari mulutnya, seorang berbaju merah yang lain sambil meraung kalap
mengayun kampaknya segera membabat ke perut Sebun Tio bu.
Sembari mencaci mendadak Sebun Tio-bu menggeser ke samping, kampak lawan
kena disampuknya pergi, sekali Sebun Tio bu menabas, "peletak", suara tulang patah
terdengar, ternyata tulang lengan lawan telah patah, kampaknya jatuh berkerontangan.
Dengan gemas Sebun Tio-bu melompat maju sembari angkat tangannya hendak
mengepruk batok kepala orang, sedih dan putus asa orang itu berkata dengan
menahan sakit: "Sahabat, tidak perlu kau turun tangan keji pula."
Sebun Tio bu batalkan pukulannya, dampratnya gusar: "Kau keparat, memangnya
dengan kekuatan kalian berdua berani main sergap, Apa kau minta mampus?"
Orang yang telah tak berdaya itu terbatuk2 sekian lamanya, dengan napas memburu
dia berkata: "Kawan. umpama aku kau bunuh, antara kematianku dan kematianmu
hanya berbeda soal waktu saja. Takkan lama, kau sendiri juga akan menyusul arwahmu ke
alam baka." Keruan Sebun Tio bu melenggong, katanya: "Apa maksud ucapanmu?"
Jawab orang itu: "Coba kau periksa kamar tahanan ini . . . . "
Sekilas Sebun Tio-bu pandang keadaan sekelilingnya, kiranya itulah sebuah kamar
237 yang dibangun dengan balok2 batu besar dan kukuh, kecuali dua lubang angin
sebesar kepalan tangan, tiada jendela atau pintu, di mana tempatnya berdiri sekarang adalah
sebuah lorong di luar terali besi, di ujung lorong sana terdapat sebuah pintu angin yang
terbuat dari bambu, kiranya kedua orang penyergap ini sejak tadi bersembunyi di balik pintu
angin itu. "Jadi di sini hanya sebuah kamar batu saja?"
Sebun Tio-bu menegas ?"
Orang itu manggut, katanya:` "Betul, tiada jalan keluar lainnya."
Sebun Tio-bu mendengus, katanya: "Memangnya Locu tidak dapat menerjang balik
ke sana tadi" Jangan kira air beracun dan minyak bakar itu bisa merintangi aku."
Dengan gemetar orang itu berkata sambil terbatuk2: "Kawan . . . . . . . dikala kalian
membobol pintu terali kedua tadi tanda bahaya di sini segera bekerja sehingga
seluruh peralatan rahasia di sini bergerak serentak, pintu yang tebal dan ribuan kati beratnya
itu berhasil kalian gempur sampai runtuh, tapi segera pintu cadangan yang serupa yang
semula terpendam di bawah dengan sendirinya terkerek naik dan tetap menyumbat jalan
itu. . . . . . .
ini berarti bahwa jalan mundur kalianpun sudah buntu . . . ."
Dengan menyeringai Sebun Tio bu berkata: "Kalau kami bisa masuk kemari tentu
juga bisa keluar. Apa susahnya untuk meruntuhkan pintu itu."
Menggeleng dengan perasaan pilu, orang itu berkata: "Tak mungkin bisa keluar,
obor yang dinyalakan dengan belirang akan di lempar masuk kemari . . . . . . minyak bakar
yang memenuhi lorong di luar itu akan berkobar ke mana2, daya bakarnya begitu panas
dan cepat, umpama kau hendak menyingkir juga takkan keburu lagi . . . . . . "
Sebun Tio-bu menelan ludah, katanya: "Kalau demikian, lalu bagaimana kalian?"
Dengan tartawa sedih orang itu berkata: "Kami memang sudah ditugaskan untuk
jaga dan membunuh musuh, bila gagal harus gugur bersama musuh . . . ."
Kesiur angin terasa menyampuk punggungnya, terdengar suara Siang Cin yang
bernada kuatir berkata: "Tangkeh, apa yang dikatakannya memang betul."
Waktu Sebun Tio-bu menoleh, dilihatnya Siang Cin sedang tertawa getir kepadanya,
238 akhirnya Sebun Tio bu berkata pula kepada orang itu: "Memangnya kau keparat ini
hanya terima nasib begini saja!"
Menghela napas panjang, orang itu berkata: "Kalau tidak demikian, di luarpun kami
tak bisa hidup . . . . . . ."
Hawa di dalam kamar tahanan semakin terasa sumpek dan genah, bau minyak,
belerang serta darah dan bangkai ular sangat menusuk hidung sehingga orang2 di dalam
kamar merasa pernapasan semakin sesak.
Mendadak Siang Cin melangkah mendekat, tanyanya dengan gelisah: "Kawan,
apakah ada orang Bu siang pay yang dikurung di sini?"
Pertanyaan ini menyentak pikiran Sebun Tio-bu, lekas Siang Cin menoleh ke dalam
terali besi di mana ketiga orang tawanan bersimpuh tadi, katanya. "Ketiga orang itu
bukan?" "Bukan, mereka bukan," kata Siang Cin.
Lekas Sebun Tio bu mendekati terali besi, dia mengawasi ketiga orang itu sekian
lamanya, sebetulnya usia orang2 ini baru empat puluhan, tapi karena lama dikurung
di tempat gelap yang tak pernah melihat cahaya matahari sehingga usia mereka
tampak lebih enam puluhan. Kalau Sebun Tio bu mengawasi mereka dengan seksama, ketiga
orang itupun balas memandang Sebun Tio bu dengan sorot mata pudar, sikapnya kaku
seperti orang linglung.
Sekuatnya menggoncang terali besi Sebun Tiobu meraung keras "Kalian ini kenapa"
Ditanya diam saja, memangnya bisu semuanya . . . . . . . . "
Si baju merah yang rebah di tanah itu tiba2 tertawa sambil terbatuk keras, katanya
dengan serak: "Tidak salah, mereka memang bisu . . . . . . . "
Tertegun seketika Sebun Tio-bu, serunya kaget: "Apa, mereka bisu semuanya,?"
Senyum getir terbayang di ujung mulut si baju merah, katanya: "Ketiga orang ini
sebetulnya adalah kawan kami sendiri, karena melanggar peraturan maka dikurung
di sini, kuatir mereka lolos dan membocorkan rahasia, maka lidah mereka telah dipotong,
beberapa orang Bu-siang pay memang pernah disekap di sini, tapi lima hari yang lalu, sudah di
pindah entah ke mana, kedatangan kalian sia2 belaka. lebih celaka lagi adalah kalian
harus terkubur di sini . . . . . "
Sebun Thio bu berkata dengan gemas: "Kau keparat ini jangan menyindir, urusan
belum tentu seperti yang kau bayangkan."
239 Seru Siang Cin tiba2: "Tangkeh, minyak sudah mengalir masuk ke sini."
Waktu Sebun Tio-bu melirik, memang betul minyak bakar sudah mulai mengalir
masuk ke kamar batu ini. Laki2 baju merah yang masih rebah itu berkata dengan menahan
sakit: "Bila minyak sudah mengenangi kamar batu ini, api akan segera di sulut, waktu itu
segalanya . . . . "
Sikap Siang Cin tetap tenang, tanpa mengunjuk sesuatu perasaan ia mengawasi
minyak ke-kuning2 an yang terus merembes masuk membasahi lantai kamar, sementara
dengan mencaci maki Sebun Tio-bu memukul dan menendang tembok di sekelilingnya,
diharapnya akan menemukan sesuatu tempat yang dapat dijebol untuk lolos keluar.
Mendadak Siang Cin menyeringai, katanya: "Tangkeh .... "
"Kenapa?" tanya Sebun Tio-bu sambil menoleh. Siang Cin memonyongkan mulut ke
arah si baju merah yang rebah di tanah itu, lalu katanya: "Sahabat, kuharap kau
bicara sejujurnya, tentunya kau juga ingin umur panjang!"
Sebun Tio bu bertepuk tangan, katanya: "Bila kau mau bekerja sama, kutanggung
tulangmu yang patah akan ku sambung dan kuobati."
Lelaki itu memicingkan mata, katanya dengan licin: "Tak usah kalian membujukku,
bila bisa lolos dan hidup, biarpun kedua lenganku buntung juga tidak menjadi soal.
Cuma sayang mungkin aku tak bisa membantu sesuatu pada kalian."
Tiba2 Siang Cin bertanya: "Kalian berjaga disini, lalu rangsum untuk setiap hari
bagaimana di antar kemari?"
Laki2 itu menggeleng, katanya: "Jangan berpikir ke arah itu, rangsum memang
selalu diantar melalui lubang kecil di atas pintu angin bambu itu, tapi lubang kecil itu ditutup
dengan papan besi, lebarnya hanya setengah kaki, paling2 kepala bayi saja yang
bisa keluar ... . .. ."
"Keterangan bagus," seru Siang Cin tertawa. "Sahabat, justeru lubang sebesar
kepala bayi itulah yang kami perlukan."
Dengan tak acuh si baju merak berkata "Di belakang dinding bilik bambu tergantung
sebuah gelang tembaga, dengan menggerakkan gelang tembaga ini maka orang di
luar segera akan membuka tutup lubang dan tanya keperluan kami . . . . . . . "
"Kini jelas takkan ada orang membuka tutup lubang, tanya keperluan kami, hehe,
kami 240 sendirilah yang akan membuka tutup lubang itu dan minta sesuatu kepada mereka,"
kata Sebun Tio bu dengan tertawa.
Dalam pada itu Siang Cin sudah lari menuju ke belakang bilik bambu, betul
didapatinya sebuah gelang tembaga yang diikat pada langit2 dinding. Mendadak
Siang Cin, menghardik sekali; ditengah gema suaranya, kedua tangannya mendadak di dorong
ke atas dengan membawa tenaga yang dahsyat, gempuran ini mengenai dinding batu di atas
dan menggelegar, langit2 batu itu seketika ambrol berhamburan. Maka batu buatan
orang itupun turut hancur ber keping2, kini tinggal papan besi yang berada di atasnya.
Dengan tertawa Sebun Tio bu mengejek si baju merah yang rebah di tanah: "Dalam
pandanganmu batu itu sekokoh baja, tapi di mata kami tak lebih hanya selapis kertas
belaka, sesuatu yang tidak mungkin kau laksanakan, bagi kami segampang
membalik
Bara Naga Karya Yin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo
telapak tangan, itulah sebabnya kenapa selama ini kami bisa malang melintang dan
menggemparkan Kangouw dan kau tetap kaum keroco."
Dikala Sebun Tio-bu bicara, sementara dengan Jik siang-ciang Siang Cin telah
menggempur papan di atas itu dengan gencar, "Tang, tang, tang", suaranya keras
bergema seperti palu menghajar genta raksasa.
Sambil menggosok telapak tangan, Sebun Tio-bu berkata dengan tertawa: "Segera
kami akan keluar, coba bayangkan saudara, cahaya mentari yang hangat, angin musim
semi yang sepoi2 sejuk, ratusan jenis bunga mekar bersama, burung2 berkicau gembira,
betapa indahnya, sayang kau tidak akan bisa menikmatinya."
Di tengah sikap melenggong si baju merah tampak secercah sinar harapan pada
sorot matanya, mulutnya melongo lebar, kulit mukanya ber-kerut2. Baru saja Sebun Tio bu
mau bicara lagi, dari atas ujung lorong sana mendadak didengarnya suara gemuruh
sebuah ledakan. Berjingkrak kaget, laki2 baju merah seketika berubah hebat air mukanya, teriaknya
panik dan ketakutan: "Celaka, mereka menyulut api."
Gema suaranya belum lenyap, suhu papas yang membakar mendadak mendampar
tiba dengan membawa bau busuk yang menyesakkan napas.
Sekilas tertegun, sigap sekali Sebun Tio-bu tarik dada si baju merah terus
dijinjingnya, 241 laki2 itu meraung kesakitan, waktu Sebun Tio-bu memburu ke terali besi hendak
menolong ketiga tawanan linglung itu, suara Siang Cm yang melengking telah memanggilnya;
"Tangkeh, lekas kemari."
Nyala api yang berkobar besar sudah mulai menjalar ke lorong di luar kamar, begitu
minyak dijilat api, cepat sekali menyala dan mengeluarkan suara gemuruh. Apa
boleh buat Sebun Tio-bu batalkan niatnya, padahal wajah ketiga tawanan linglung tadi tengah
memandangnya dengan harap2 cemas, mulut yang terbuka lebar tak kuasa meminta
tolong. Tiada tempo lagi bagi Sebun Tio-bu untuk menolong mereka, api sudah menjalar tiba,
untuk menolong ketiga orang itu sudah tidak mungkin lagi, malahan ujung bajunya
sendiri sudah terjilat api.
Di tengah kobaran api dan asap tebal itu terdengar seruan: "Tangkeh, papan besi
sudah jebol, masih tunggu apalagi kau?"
Sebun Tio-bu ter batuk2 serunya: "Tenang saja, Siang-heng."
Bilik bambu itupun sudah terbakar, di atas langit2 memang sudah terbuka sebuah
lubang besar dan cukup untuk keluar masuk seorang normal. Sambil menahan
napas Sebun Tio bu berteriak: "Siang-heng, kau naik . . "
Sekuatnya Siang Cin pegang pinggang Sebun Tio-bu serta mengangkatnya, serunya:
"Lekas naik, bukan saatnya main sungkan."
Dengan tenaga dorongan Siang Cin, Sebun Tio-bu meloncat ke atas, di tengah asap
yanq bergulung, baru saja tubuhnya mendekati lubang di atas, terasa hawa dingin
menyambar tiba, empat tombak bergantol tahu2 menusuk bersama di mulut lubang.
Tapi Sebun Tio-bu mendadak memutar badan, dengan kaki di atas dan kepala di
bawah, kedua kakinya mendadak memancal, empat batang tombak itu seketika patah berkeping2,
semuanya kena dikerjai oleh kedua kaki Sebun Tio-bu dengan gaya yang aneh itu,
lalu dengan cepat ia menerobos keluar, padahal tangan kirinya tetap menjinjing si baju
merah yang sudah pingsan.
Di atas kiranya adalah sebuah kamar batu yang luas, di kedua sisi berjajar dipan
kayu yang rapi. kiranya di sinilah tempat istirahat para petugas penjara. Waktu itu ada tiga
puluhan laki2 baju merah tersebar di dalam ruangan, yang berhadapan langsung
dengan Sebun Tio-bu adalah seorang nyonya muda baju hitam yang bersolek berlebihan.
Kain ikat kepala Sebun Tio bu dan bajunya sudah terbakar di beberapa tempat,
muka 242 dan kulit badannya juga terbakar hangus, keadaannya agak mengenaskan:
Di tengah2 alis nyonya setengah umur yang bersolek berlebihan itu terdapat sebuah
tahi lalat merah sebesar kacang, begitu melihat Sebun Tio-bu keluar, dengan tertawa
sinis dia mengejek: "Setan gentayangan, sampai kapan kau masih bisa bertingkah di sini."
Segera lima bilah kampak menyerang tiba, sembari berteriak Sebun Tio-bu geser
selangkah ke samping sementara itu dua kampak lagi telah membacok kepalanya.
Dengan muka masam nyonya baju hitam itu ber-kaok2 memberi aba2 kepada anak
buahnya: "Cari sesuatu untuk menutup lubang itu, asap terlalu tebal.."
Bergerak bagai angin Sebun Tio-bu hindarkan bacokan kampak yang membelah
kepala, sementara sebelah kakinya menyepak dua orang yang berusaha menarik
kampaknya, di sebelah sana empat laki2 tengah menarik sebuah babut besar yang dibasahi air
hendak menutup lubang yang keluar asap itu.
Dengan melirik menghina nyonya baju hitam mengawasi Sebun Tio bu, jengeknya:
"Hm, tak nyana, kiranya kau berisi juga . . . . "
Belum habis ucapannya, ke empat orang yang tengah membentang babut itu tahu2
sudah terguling sembari menjerit, di tengah semburan darah yang bercipratan itu
sesosok bayangan dibungkus asap tebal secepat kilat menerjang keluar dari dalam lubang.
Seorang laki2 berbaju merah berteriak kaget ketakutan: "Celaka, di bawah masih
ada satu!" Belum lenyap suara orang ini, sekali bayangan orang itu berputar, lima laki2 baju
merah sama terguling binasa dengan batok kepala pecah.
"Blang, blang" empat laki2 terlempar jatuh pula, semuanya patah tulang, dadanya,
mereka menjadi korban pukulan maut Sebun Tio-bu. .
Baru kini nyonya baju hitam menampilkan rasa kaget, dikala dia tertegun itulah,
ketiga laki2 anak buahnya telah roboh binasa pula.
Bayangan yang baru menerjang keluar dari dalam lubang itu sudah tentu adalah
Siang Cin, dia menepuk tangan, katanya dengan tertawa: "Kau baik2 saja Tangkeh"
Kaki Sebun Tio-bu tengah melayang, seorang musuh kena didepaknya mencelat
bersama kampaknya, kaitan menumbuk dinding sehingga kepalapun pecah.
Tanpa mengedip kembali tangan kanan Sebun Tio-bu bekerja membendung tiga
musuh yang menyerbu tiba, mulutnya sempat ter-gelak2, katanya: "Tidak apa2, hayolah
layani 243 mereka." Saking gusar wajah si nyonya baju hitam yang berpupur tebal itu tampak semakin
ketat, sembari menghardik nyaring dia menubruk ke arah Siang Cin, selarik sinar hitam dari
sebuah benda mirip jala tiba menabur tiba.
S