Pencarian

Bukit Pemakan Manusia 10

Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung Bagian 10


t Pemakan Manusia ini ?" katanya. Sun Tiong-lo segera tersenyum, "Ooooh,
rupanya begitu !" katanya. "Pada dasarnya memang begitu !" sambung nona Kim cepat
dengan suara dingin. Dan setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia
bertanya lagi. "Apakah keinginanmu berhasil tercapai ?" "Keinginan "
Keinginan apa yang nona maksudkan...." Sun Tionglo
tidak memahami apa yang dimaksudkan nona Kim itu. "Menyingkap
kain kerudung si pangcu tersebut ?" kata nona Kim
lagi. Sun Tionglo segera mengangguk. "Yaa, aku berhasil memenuhi
keinginanku itu !" jawabnya kemudian. Bergerak juga hati nona Kim setelah mendengar perkataan
itu, cepat ia tanyanya. "Apakah dia adalah Yan Tan hong ?" Sun Tiong-lo
menarik napas panjang-panjang, kemudian
mengangguk. "Betul memang dia !" Nona Kim segera mengerling
sekejap ke arahnya sambil menyambung. "Tidak bisa disangkal lagi, kau pasti telah membunuhnya." "Tidak,
aku tak dapat membunuhnya?" tukas Sun Tiong lo sambil
mengelengkan kepalanya. Tampaknya jawaban ini sama sekali diluar
dugaan nona Kim. "Mengapa demikian?" "Dia adalah ibu kandung Bauji
toako, dan lagi diapun..." "Yaa, betul! kau tak boleh membunuhnya,
tapi kaupun tak boleh berpeluk tangan?" "Tapi akhirnya dia berhasil melarikan diri" bisik Sun
Tiong lo dengan kepala tertunduk. Nona Kim menjerit kaget, serunya tertahan.
"Haah, mengapa bisa begitu?" Sun Tiong lo segera tertawa getir
"Waktu itu pengalamanku masih cetek, jalan darahnya saja yang
kutotok, siapa tahu ia telah berhasil melatih ilmu Hwee khi sin kang-
(ilmu sakti hawa membalik), rupanya jalan darah yang tertotok berhasil
diterjang bebas sebelum melarikan diri!"
Mendengar hal itu. Nona Kim segera merasakan hatinya bergetar keras,
rupanya lagi tanpa sadar: "Bagaimana dengan Tan Tiang hoa serta Ang Beng liang ?" "Aku telah
memunahkan kepandaian silat mereka dan
melepaskannya pergi...!" "Tidak kau tanyakan latar belakang sehingga
terjadinya ikatan dendam tersebut?" tanya si nona berkerut kening. "Sudah, namun tak
banyak yang ia ketahui" "Sekalipun hanya setitik terang yang berhasil
ditemukan, pelanpelan toh bisa diselidiki sampai tuntas..."
"Sekarang tak usah diselidiki lagi" tukas Sun Tiong lo, "aku sudah tahu
dengan jelas kisah terjadinya perselisihan hingga mengakibatkan
terikatnya dendam kesumat itu"
"Oooh, lantas karena apa?" - ooo0dw0ooo- ***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Karena mabuk oleh arak
sehingga ayahku melakukan sesuatu perbuatan salah yang tidak disadari oleh dia sendiri !" "Oooh,
maksudmu terhadap Yan Tan-hong?" "Benar !" Kemudian setelah
berhenti sejenak, katanya lebih lanjut dengan
wajah serius: "Cuma itu menurut anggapanku dimasa lalu, sedang
kini..." "Kini berbeda?" sela sinona. "Yaa, kini berbeda" Sun Tiong lo
mengangguk dengan wajah keren dan serius, "sekarang aku baru tahu kalau apa yang kubayangkan
dahulu sesungguhnya keliru, ayahku bukan mati dibunuh Ji-nio, bahkan
Ji-nio dan ibunya jauh hari sebelumnya telah tewas lebih dulu !"
Nona Kim berpikir, kemudian katanya: "Tampaknya kata-kata
tersebut pernah ku dengar dari kakakmu." "Ehmm, betul ! Dan
itupun sudah berhasil nona sadap pada
malam itu." Nona Kim segera mengerling sekejap kearahnya, kemudian
berkata lagi: "Tapi, apakah perkataan dari kakakmu itu dapat dipercaya
?" "Tentu saja dapat dipercaya !"
Nona Kim segera menggelengkan kepalanya berulang kali, "Seandainya
aku yang menghadapi kejadian seperti itu, aku tak akan percaya dengan
begitu saja akan perkataannya !"
"Dengan kedudukan nona sekarang, tidak seharusnya kau berkata
demikian !" tegur Sun Tiong lo dengan kening berkerut.
Merah padam selembar wajah nona Kim karena jengah, buru- buru
serunya sambil cemberut. "Aku toh berkata demi kebaikanmu ?" "Aku amat berterima kasih
kepadamu !" Melihat pembicaraan menjurus dalam suasana yang
serba kaku, buru buru nona Kim mengalihkan pembicaraannya ke soal lain, tanyanya
kemudian: "Mana kakakmu ?" "Sudah pergi !" Nona Kim menjadi terperanjat
setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat. "Tengah hari besok baru merupakan saatnya
untuk melarikan diri, mengapa dia . ." - ooo0dw0ooo- ***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 20 HAL itukan menurut peraturan kalian sedang kakakku tidak ada
keharusan untuk taat dengan peraturan kalian itu!"
"Tampaknya sifat berangasanmu pada malam ini cukup besar!" tegur
nona Kim nada marah. Mendadak Sun Tiong lo tertawa, katanya: "Harap nona maklum,
sebab saat ini lagi membicarakan musibah
yang menimpa ayahku..." Nona Kim segera tertawa kembali, selanya kemudian: "Sudahlah,
persoalan juga telah dibicarakan, kau tak usah
merasa kesal lagi . . ." "Apakah nona sudah tiada persoalan yang ingin
diketahui lagi?" sela Sun Tiong lo selanjutnya. "Tidak ada, kau tak usah kuatir, aku
dapat memegang janji dengan sebaik-baiknya!" Sun Tiong lo tertawa. "Padahal aku bukannya
kuatir nona akan menceritakan kisah ini
pada orang lain!" katanya. "Oooooh, sungguh ?" "Benar" Nona Kim
segera tertawa dingin, lalu sambil bangkit berdiri
katanya: "Ucapan ini kau ssndiri yang mengutarakan kalau sampai
terjadi apa apa jangan kau salahkan aku lagi . . ." "Sampai sekarang, apakah
nona masih ada waktu untuk mengurusi urusan orang lain ?" Terkesiap nona Kim setelah mendengar
perkataan itu, katanya: "Apa maksudmu mengucapkan kata kata
seperti itu?" "Nona tak mengerti?" Sun Tiong lo tertawa. "Tentu saja
aku tidak mengerti!" Kembali Sun Tiong lo tertawa,
katanya, "Kalau begitu aku perlu mengingatkan dirimu kemudian sambil
bangkit berdiri katanya. "Aku harap nona jangan lupa dengan apa yang telah nona bicarakan
dengan Su nio dalam loteng Hian ki lo, tentu saja sebelum kentongan
pertama tadi, kaupun menyaksikan Su nio dan orang she Khong itu
melarikan diri tanpa mengejarnya...."
Nona Kim berdiri bodoh, sambil menatap wajah anak muda itu serunya
agak tergagap. "Kau...kau... kau mengetahui semuanya.." "Bila tak ingin diketahui
orang lain, kecuali kalau diri sendiri tidak
berbuat" sela Sun Tiong Io. Nona Kim segera duduk kembali keatas
kursi, kali ini dia tidak berbicara lagi. Pada saat itulah Sun Tiong lo berkata lagi: "Nona ada
satu hal entah pantas tidak kalau kubicarakan dengan dirimu?" Nona Kini masih
saja menundukkan kepala nya rendah-rendah
tanpa menjawab. "Nona, harap kau suka menjawab pertanyaanku im?"
seru Sun Tiong lo lagi sambil menatapnya tajam-tajam. Mendadak Nona Kim
mendongakkan kepalanya, sambil memancarkan sinar mata setajam sembilu, dia berseru. "Jangan mimpi
bila kau sanggup menggertak aku !" "Sejak kecil keluargaku tertimpah
musibah hingga hidup berkelana untuk membalas dendam, sebaliknya sejak kecil nona diculik
sampai tak kenal siapakah orang tua sendiri, kalau dibicarakan
sesungguhnya cukup mengenaskan, mengenaskan mengapa aku mesti
mengancam nona?" "Kalau toh kau sudah mengetahui segala sesuatunya, maka akupun tak
akan mengelabuhi dirimu lagi" kata nona Kim dengan kening berkerut,
"berbicara terus terang, terhadap semua perkataan yang diucapkan
Su-nio itu, aku masih belum dapat mempercayainya dengan begitu saja"
Sun Tiong lo berkerut kening, lalu katanya:
"Mengapa begitu?" Noaa Kim gelengkan
kepalanya berulang kali. "Sulit untuk dikatakan alasannya, mungkin kejadian ini datangnya
terlalu tiba tiba!" Sun Tiong lo segera berpikir sebentar, lalu ujarnya: "Nona, dapatkah
kau menjawab beberapa buah pertanyaanku?" "Boleh saja, asal
persoalan itu kuketahui..." "Pada setahun berselang, pernahkah
Su-nio meninggalkan bukit ini?" tukas sang pemuda. Nona Kim segera menjawab: "Dia baru
setengah tahun tinggal dibukit ini!" Tergerak hati Sun Tiong lo setelah
mendengar perkataan itu, tanyanya kemudian. "Dahulu dia tinggal di mana?" "Su nio sering
mengatakan perkampungan keluarga Mo begini
begitu, aku rasa..." Mendengar jawaban itu, hati Sun Tiong lo kembali
tergerak, katanya cepat. "Apakah perkampungan keluarga Mo yang berada
dibawah kaki bukit Wusan...?" Nona Kim berpikir sejenak, lalu mengangguk. Mungkin
saja benar, berapa kali dia pernah membicarakan
tentang pemandangan alam di bukit Wu-san denganku ! Tiba tiba Sun
Tiong-lo mendengus dingin, "Hmm, rupanya benarbenar
dia !" "Dia" Dia kenapa?" Nona Kim tertegun, "Masih ingatkah
kau, sewaktu kakakku berjumpa denganku diloteng ini, dia pernah bilang
pada malam ayahku tertimpa musibah, di tengah jalan Yan sian po dan
putrinya telah berjumpa dengan manusia berbaju emas...."
"Ya, betuI, memang dia pernah bercerita demikian." sekali lagi Sun
Tiong lo mendengus dingin. Ketika itu nona bersembunyi dibalik kegelapan dan bisa mendengar
semua cerita dengan jelas, bukankah kakakku pernah berkata bahwa
manusia kerudung berbaju emas itu telah mempersiapkan Yansian po
dan Yan Tan hong gadungan?" "Waktu itu si anak Manusia berbaju emas itu telah menyebut Yan sian
po dan Yan Tan-hong gadungan sebagai Ji nio dan Su nio, padahal Ji
nio telah tewas ditangan Yan sian po asli, sebaliknya Su nio..."
Nona Kim segera memahami apa yang dimaksudkan segera tukasnya.
"Mungkin saja hal itu hanya merupakan suatu kebetulan saja!"
"Bukan, bukan suatu kebetulan" Sun Tiong lo menggeleng, "nona
siu adalah su-nio, dan dia pula si Yan Tan hong gadungan yang pernah
kubekuk, aku berani berkata sekarang kalau hal ini tak bakal salah lagi!"
"Bukti, mana buktinya?" "Nona, tentunya kau masih ingat bukan ada
orang telah memasuki istana Pat tek sin kiong..." "Aku sudah tahu kalau orang itu
adalah kau!" tukas nona Kim. Sun Tiong lo manggut-manggut. "Benar,
orang itu adalah aku, cuma aku telah mempergunakan
sejenis obat untuk merubah bentuk wajahku saja, namun Su nio yang
ada perhatian ternyata dapat mengenaliku dalam sekilas pandangan
saja." "ltulah sebabnya secara diam diam ia mencampuri arak dengan racun,
maksudnya hendak meracuni aku sampai mati, setelah usahanya gagal
dia baru sadar kalau akibatnya luar biasa, itulah sebabnya dia lantas
menghianati Khong It hong dengan membocorkan seluruh rahasianya..."
"Kalau toh kau sudah tahu bahwa dia adalah Yan Tan hong gadungan,
mengapa kau biarkan dia melarikan diri?" tukas si nona.
Sun Tiong lo segera menghela napas panjang, "Aaai, tadinya aku
hanya curiga, tapi sekarang aku baru
mendapatkan buktinya !" "Mengapa secara tiba tiba kau bisa
menemukan bukti?" Nona Kim tidak habis mengerti. "Nona yang memberitahukan kepadaku!" "Aku?"
nona Kim tertegun, "kapankah kuberikan bukti tersebut
kepadamu" Dan apa buktinya?" Perkampungan keluarga Mo di bawah
kaki bukit Wu-san.. "Mengapa dengan perkampungan keluarga Mo?"
nona Kim masih saja tidak habis mengerti. "Tempat itu merupakan tempat yang harus
kukunjungi." Nona Kim segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Setelah melarikan diri dari sini, aku rasa dia tak akan balik lagi
ke perkampungan keluarga Mo !" Sun Tiong lo segera mengerling
sekejap nona itu, kemudian sambil merendahkan suaranya tiba tiba ia berkata. "Tentang asal usul
nona..." "Aku tetap menaruh curiga dan akan kuselidiki dengan
seksama sebelum mengambil keputusan !" "Nona terus terang kukatakan
kepadamu, aku sudah mulai curiga terhadap sancu!" kata pemuda itu dengan serius. Nona Kim tidak
berkata apa-apa, dia sedang berpikir keras. Suara pembicaraan Sun
Tiong lo semakin lirih, lanjutnya: "KaIau toh Su nio adalah selir
kesayangan Sancu, aku percaya, Sancu pasti mengetahui tentang persoalan keluargaku, kan aku rasa
sudah sewajarnya bila kutuntut suatu keadilan darinya, oleh karena itu
kuputuskan..." "Kuanjurkan kepadamu agar suka mempertimbangkan dulu persoalan ini
masak-masak sebelum melakukannya!" tiba-tiba nona Kim menukas.
"Jangan-jangan nona mempunyai pendapat lain?" "Sebelum aku
berhasil mengetahui dengan jelas asal usulku yang
sebenarnya, siapapun jangan harap bisa melakukan sesuatu tindakan
yang tidak menguntungkan Sancu!"
"Nona, apakah kau hendak memaksa aku," seru Sun Tiong lo dengan
kening berkerut, "Kau harus mempertimbangkan yang baik."
Diam-diam Sun Tiong lo termenung sambil berpikir keras, lalu dengan
serius katanya. "Dalam hal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhi harapanmu." "Tapi
kaupun tak dapat berbuat seenaknya !" "Aaah, omong kosong, masa
urusanku sendiri tak bisa kuputuskan menurut kehendak hatiku sendiri..." Belum habis dia
berkata, mendadak Sun Tiong lo seperti
merasakan sesuatu, dengan cepat dia menghentikan perkataanku."
"Nona Kim tidak merasakan apa apa, ternyata dia ngerocos
terus: "Pokoknya aku bilang begitu tetap begitu, kalau tidak percaya
coba sajalah sendiri!" Baru saja dia selesai berkata, tahu-tahu Sancu
telah berdiri didepan pintu. Karena peristiwa ini munculnya secara tiba-tiba, serentak
nona Kim melompat bangun dengan wajah terkejut. Sambil tersenyum
terdengar Sancu bertanya: "Anak Kim, persoalan apakah yang membuat
kau ribut dengan Sun kongcu...?" Nona Kim tak dapat menjawab, dalam paniknya dia segera berkata terus
terang: "Dia kenal dengan Su nio !" Tapi begitu ucapan tersebut diutarakan
nona Kim segera merasa amat menyesal, tapi nasi sudah menjadi bubur, kata yang sudah di
utarakan mustahil bisa ditarik kembali.


Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ketika mendengar perkataan itu, Sancu nampak agak terkejut, dia
segera berpaling kearah, Sun Tiong lo sambil berseru:
"Ooh, benarkah kongcu kenal dengan selir ku itu ?" Ternyata dia
mengakui Su nio sebagai selir nya, entah apa tujuan
dibalik pengakuan itu" Tampaknya pada saat itu Sun Tiong lo sudah
mengambil keputusan, tanpa bermaksud untuk merahasiakan lagi sahutnya sambil
tertawa: "Betul, aku kenal dengan Su nio !" Sepasang alis mata Sancu
berkenyit, tapi sebentar kemudian telah pulih kembali seperti sedia kala, pelan-pelan dia melangkah masuk
kedalam ruangan. Dia duduk dihadapan Sun Tiong lo, lalu tanyanya lagi: "Di manakah
kongcu telah berkenalan dengan selirku itu" Lohu
siap mendengarkannya." Sun Tiong lo memandang sekejap kewajah
nona Kim, tampak gadis itu sedang duduk disitu dengan wajah yang dengan wajah gugup
bercampur bimbang, untuk sesaat seperti tak tahu apa yang mesti
dilakukan. Hal ini segera menggerakkan hatinya, ia lantas berpikir. "Kalau toh
aku sudah mengambil keputusan untuk menyelidiki
persoalan ini sampai jelas melalui mulut Sancu she Mo ini, mengapa tak
sekalian menyertakan soal nona ini sehingga masalahnya menjadi jelas
dan tuntas...?" Berpikir sampai disitu, dia lantas menjawab: "Aku sudah berapa kali
berjumpa dengan Su nio, cuma sayang
setiap kali dia muncul dengan mengenakan kain kerudung, cuma suatu
kali tanpa discngaja dia telah memperlihatkan wajah aslinya..."
"Oooh, sungguh aneh, masa ada kejadian seperti ini?" tukas Mo Sancu
sambil berseru tertahan. Sun Tiong lo segera tertawa dingin. "Tidak, sedikitpun tidak aneh,
karena peristiwa ini ada sebab sebabnya..." "Oya" Tolong kau jelaskan?" "Pada setahun lebih
berselang ini, dia telah membawa Tan Tiang
hoa dan Ang Beng liang mendatangi Kebun sayur keluarga Lau diutara
ibu kota untuk membekuk aku." "Kemudian pada setengah tahun berselang, diapun membawa anak
buahnya lagi untuk mengejar dan berusaha menangkap aku di kota
Tong ciu, tetapi kemudian kain kerudungnya kena dicopot orang ketika
berada dikebun Cui Iiu wan di kota Yang liu cu.."
Ketika berbicara sampai disitu, Sun Tiong lo sengaja menghentikan kata
katanya sambil menantikan reaksi dari Mo San cu.
Siapa tahu Mo Sancu cukup tenang, dan lagi perubahan perasaan
senang, marah, kaget atau takutnya sukar dijumpai diatas wajahnya.
Diam-diam Sun Tiong mendengus dingin, kembali katanya lebih lanjut:
"Cuma selir kesayangan dari Sancu itu bukan muncul dengan wajah
serta nama aslinya, melainkan menyamar sebagai Yan Tan hong, Yan
lihiap yang telah mati banyak tahun."
"Kongcu kenal dengan Yan lihiap ?" sela Mo Sancu.
"Yan lihiap adalah ibu kandung kakakku, Ji-nio ku !" jawab Sun Tiong lo
dingin. "Oooh, lantas siapakah kakakmu itu ?" "Dia adalah orang yang telah
menyerbu masuk keatas Bukit Pemakan manusia itu !" Oooh, lantas siapakah ayahmu ?" Sun Tiong lo
mendengus dingin, ketika dia menyebutkan nama
Sun Pak gi, belum habis ucapan tersebut diutarakan, Mo Sancu telah
melompat bangun dengan wajah kaget bercampur tercengang.
Sewaktu melompat bangun, wajah Mo sancu segera menampilkan
perasaan kaget, tercengang terkesiap dan sedih.
Sambil menuding kearah Sun Tiong Io, sampai lama kemudian dia baru
berseru: "Apa hubunganmu dengan Sun Pak gi ?" "Dia adalah mendiang
ayahku !" Mo sancu segera membelalakan matanya lebar-lebar.
"Apakah ibumu bernama Wan Pek In ?" serunya. Mendengar nama ibunya
disinggung kembali, Sun Tiong lo merasa amat sedih. "Benar !" jawabnya. Mo sancu segera maju
kedepan, lalu dengan emosi menjulurkan
tangannya untuk memegang sepasang lengan Sun Tiong lo
kencang-kencang. Sun Tiong lo sama sekali tidak berkelit tapi secara diam diam hawa
murninya telah dihimpun untuk melindungi badan, dia telah bersiap
sedia menghadapi segala kemungkinan bilamana Mo Sancu sampai
melakukan tindak yang tak senonoh maka...
Ternyata Mo sancu tidak berniat untuk mencelakai Sun Tionglo,
malahan dengan sepasang mata memerah dia mengguncangguncangkan
sepasang lengan Sun Tiong-lo dengan emosi, tanyanya
dengan gelisah. "Katakan, cepat katakan, bagaimana jalannya peristiwa sehingga adik
Pak-gi suami-isteri menemui ajalnya "!"
Dan sun Tiong-lo berkerut kening, diliriknya sekejap sepasang tangan
Mo sancu, lalu katanya. "Sancu, dapatkah kau kendorkan dahulu sepasang tanganmu sebelum
melanjutkan perbincangan ini !" katanya.
Merah padam selembar wajah Mo sancu setelah mendengar teguran itu,
cepat-cepat dia mengendorkan sepasang tangannya.
"Aaaah, maaf, maaf hiantit, aku sungguh kelewat emosi...." Sikap
Sun Tiong lo sangat mantap, tukasnya. "Harap Sancu suka menarik
kembali luapan emosimu itu dan aku minta untuk sementara waktu Mo sancu tak usah merubah sebutan
maupun hubungan, terhadap segala sesuatu peristiwa yang berkembang
secara mendadak, aku tak akan pernah mempercayainya dengan begitu
saja !" Mo sancu menjadi tertegun, lewat berapa saat kemudian ia baru
berkata. "Apakah Hiantit masih tidak percaya dengan kedudukan pamanmu ini . .
?" Sun Tiong-lo sendiri sebetulnya diliputi pula oleh kobaran emosi, akan
tetapi dia masih berusaha keras untuk mengendalikannya.
"Sancu, terus terang saja kukatakan, aku teIah menganggap nona Siu
itu sebagai sunio, dialah orang yang telah menyaru sebagai Yan lihiap di
masa lalu, dialah manusia laknat yang menjadi utusan lencana Lok hun
pay !" "Tapi kini sancu mengakui dia sebagai selir kesayanganmu oleh
karenanya aku merasa amat curiga sekali terhadap diri Sancu, maka
terhadap semua perkataan yang sancu ucapkan aku tak akan
mempercayai dengan begitu saja."
Mo sancu segera berkerut kening, lalu manggut-manggut. "Yaa benar,
hal ini memang tak bisa salahkan bila Hiantit menaruh curiga kepadaku,
seperti juga persekongkolan antara Khong It hong dan perempuan
laknat yang berlangsung secara tiba-tiba, membuat empekpun menjadi
gugup dan tak habis mengerti."
Sun Tiong lo segera tertawa dingin. "Mo sancu!" katanya, "kau tak
perlu memberi penjelasan kepadaku tentang persekongkolan antara Khong It hong dengan Su- nio
yang telah menghianati dirimu, akupun tidak mempunyai kepentingan
untuk mengetahui sebab musababnya."
Tapi terhadap tingkah laku selir Sancu telah memimpin begitu banyak
jago untuk mengejar-ngejar aku dalam dunia persilatan, seakan-akan
belum merasa puas bila aku tidak disingkirkan dari muka bumi ini, mau
tak mau Sancu harus memberi suatu penjelasan yang memuaskan
hatiku!." Pelan-pelan Mo Sancu memejamkan matanya rapat-rapat, kemudian
duduk kembali. Beberapa saat kemudian, dengan suara yang lembut dan halus Mo
Sancu berkata: "Empek tidak salahkan jika Hiantit (keponakan) mempunyai jalan pikiran
begitu, suatu peristiwa yang terjadinya secara mendadak, kadangkala
membuat orang merasa curiga." Setelah berhenti sebentar dan termenung, dia menyambung kembali
kata katanya lebih jauh: "Begitu saja, entah bagaimanapun curiganya hiantit kepada empek,
empek akan berusaha keras untuk membersihkan diri dari sega ia
kecurigaanmu itu, suatu ketika duduknya persoalan pasti akan menjadi
jelas dengan sendiri nya." "Sekarang, yang pertama-tama empek kabulkan permintaan hiantit
adalah secepatnya menangkap kembali perempuan rendah itu, bila ia
sudah berhasil dibekuk, maka segala sesuatunya akan menjadi jelas
dengan sendirinya, tapi kini ada beberapa hal penting harus diselesaikan
dulu." - ooo0dw0ooo- ***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
BAB KEDUA PULUH LIMA "OOOH, APAKAH MASIH ada persoalan yang jauh lebih penting dari
pada membekuk kembali su-nio ?" sela sun Tiong-lo.
Mo sancu segera manggut-manggut. "Yaa, ada. Apakah Hiantit
bersedia untuk mendengarkan ?" Sun Tiong-lo segera mendengus
dingin. "Hmmm, sudah banyak tahun aku selalu menanti, mengapa
tak bisa menunggu berapa saat lagi ?" Mo sancu melirik sekejap kearah Sun
Tiong lo, lalu sambil menghela napas dia menggelengkan kepalanya berulang kali. Menyusul
kemudian, katanya kepada Nona Kim: "Anak Kim,
pergilah sebentar keloteng Hian ki lo, dalam gudang harta terdapat
sebuah kotak kemala, ambillah benda itu kemari dan sekalian suruh
orang menyiapkan air teh dan hidangan kecil."
Nona Kim memandang sekejap kearah Sun-Tiong lo, lalu memandang
sekejap pula kearah Mo Sancu, kemudian dia baru mengiakan dan
berlalu dari situ. Sepeninggalan nona Kim, Mo Sancu baru bertanya lagi kepada Sun
Tiong lo: "Mana Bau ji?" Waktu itu Sun Tiong lo sudah mengambil suatu
keputusan maka sahutnya berterus terang "Kakakku masih berada dibukit ini, bilamana perlu dia akan munculkan
diri untuk bertemu Sancu!" Mo Sancu segera menghela napas panjang. "Aaai, tampaknya hiantit
telah menganggap empek sebagai pemilik lencana Lok hun pay?" "Sancu memang cerdas, aku memang
mempunyai pandangan demikian." Mendadak Mo Sancu mendongakkan kepala nya lalu
menghela napas panjang, katanya: "Sekarang, apapun yang di katakan hiantit,
empek benar-benar tak dapat menjelaskan, aku pun tak bisa membantah apa-apa."
"Terserah apapun yang di ucapkan Sancu, yang pasti aku tak
akan merubah jalan permikiranku!" Mendengar perkataan itu, Mo Sancu
segera tertawa. "Betul-betul keras kepala" serunya, "tidak malu menjadi
putra kesayangan dari adik Pak gi." setelah berhenti sejenak, sorot matanya
di alihkan ke wajah Sun Tiong lo dan mengamati nya beberapa saat, kemudian tanyanya lebih
jauh: "Kalau begitu perkataan hiantit yang mengatakan tidak mengeiti ilmu
silat merupakan suatu tipuan belaka ?"
"Untuk menyelidiki jejak musuh, aku harus menggunakan otak untuk
menghadapinya, hal mana bukan terhitung suatu tipuan !"
"Oooh, sekarang hiantit berani bertanya langsung tentang peristiwa
lama dengan empek, tentunya kau sudah merasa memiliki suatu
kemampuan yang tak perlu takut kepada orang lain bukan ?"
"Demi menemukan jejak musuh, aku mesti memasuki sarang harimau,
mengapa aku mesti memikirkan lagi soal takut ?" jawab Sun Tiong lo
dengan wajah serius. "Bagus, bagus sekali ! Betul-betul suatu ucapan yang tepat sekali . . . "
kata Mo sancu sambil bertepuk tangan.
Kemudian setelah berhenti sebentar, tanyanya lagi: "Kalau memang
begitu, mengapa kau tidak undang Bau-ji agar kita berbincang-bincang
bersama ?" "Aku rasa pada saat ini masih belum perlu." sahut Sun Tiong-Io sambil
tertawa dingin. "Sebentar, bila budak Kim telah datang dengan membawa kotak kumala
itu, hiantit akan memahami asal usul empekmu yang sebenarnya serta
bagaimanakah hubunganku dengan ayah dan ibumu, tentu saja pada
waktu itu kau tak akan mencurigai empek lagi !"
"Oleh karena itu empek usulkan lebih baik undang serta Bau-ji agar kita
bisa berbincang bersama sama, apa lagi kalau toh hiantit tidak ada
yang ditakuti, apa pulu yang mesti kau takutkan sakarang ?"
Sun Tiong lo berkerut kening, dia termenung belaka tanpa menjawab.
Mo sancu segera bertanya lagi: "Ketika ayah dan ibumu menemui
musibah waktu itu hiantit berusia berapa tahun ?" "Lima tahun !" jawabnya. "Bagaimana caramu
sehingga bisa lolos dari kejaran para
penjahat itu?" "Lu Cu peng yang menyelamatkan jiwaku!" Paras muka
Mo Sancu segera berseri setelah mendengar
perkataan itu, ujarnya kemudian: "Aaah, benar, hampir saja empek
melupakan hal itu, sekarang Lu Cu peng berada dimana" Dulu, sewaktu empek dan ayahmu masih
sering berkelana didalam dunia persilatan suatu kami berhasil
menolong Cupeng sehingga kami bertiga mengikat diri sebagai
saudara..." Sun Tiong lo segera teringat akan sesuatu, tanpa terasa serunya
dengan cepat. "Apakah Sancu adalah Ang liu cengcu yang angkat nama bersama
ayahku dimasa lalu dan disebut orang persilatan Hui thian sin hong, Sin
si poan (Naga sakti terbang diangkasa, pena penentu mati hidup) Mo
Tin hong, empek Mo?" "Aaah, akhirnya hiantit teringat juga dengan diri empekmu !" sorak Mo
sancu sambil bangkit berdiri. Kali ini giliran Sun Tiong lo yang menjadi tertegun, sampai setengah
harian lamanya dia masih tak sanggup mengucapkan perkataan apa
pun. Walaupun ketika ayah ibunya mati dibunuh dia baru berusia lima tahun,
bukan berarti pada waktu itu dia tidak tahu apa-apa.
Sejak kecil dia sudah sering mendengar ayah, ibu serta pamannya Lu Cu
peng kalau nyatanya masih mempunyai seorang kakak angkat yang
bernama Mo Tin hong. Kemudian, entah apa sebabnya, ayahnya dengan Mo Tin hong telah
putus hubungan. Dia masih ingat dengnn jelas sekali, ayahnya pernah bilang dua tahun
sebelum dia dilahirkan, untuk terakhir kalinya ayahnya masih berjumpa
dengan Mo Tin hong sewaktu dalam perkampungan Ang liu ceng
diselenggarakan suatu perjamuan. Tapi sejak itu, konon tak lama kemudian datang kabar yang mengatakan
kalau perkampungan Angliuceng secara tiba-tiba berubah menjadi
sebuah perkampungan kosong, waktu itu ayah, ibu dan Lu Cu peng telah
berkunjung sendiri kesana untuk membuktikan kebenaran berita itu.
Kemudian kenyataan membuktikan walau apa yang tersiar dalam dunia
persilatan memang benar, dalam perkampungan itu tidak dijumpai
seorang manusia pun. Sejak detik itulah, didalam dunia persilatan tak pernah terdengar kabar
berita tentang Mo Tin-hong lagi.

Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Siapa tahu hari ini, setelah dia menjadi dewasa, tanpa disangka telah
berjumpa dengan Mo Tin hong diatas Bukit Pemakan Manusia, yang
lebih istimewa lagi, hampir saja mereka telah berubah menjadi musuh
buyutan. Berpikir sampai disisu, tanpa terasa lagi Sun Tiong lo segera bergumam:
"Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin ter jadi, hal ini tak mungkin bisa
terjadi !" Agaknya Mo Tin hong dapat memahami apa yang dimaksudkan Sun
Tiong lo dengan perkataan itu, dia segera menghela napas panjang.
"Apakah Hiantit masih juga tak mempercayai asal usul dari empekmu ini
?" Pelan-pelan Sun Tiong lo berhasil juga mengendalikan gejolak perasaan
hatinya, dan lambat laun diapun menjadi tenang kembali, ujarnya
kemudian: "Aku dilahirkan agak lambat sehingga tak sempat berkenalan dengan
empek Mo, tapi setiap kali kudengar ayah ibuku membicarakan tentang
empek Mo, mereka selalu memuji setinggi langit, sedang Sancu ?"
Mo Tin hong tertawa getir, tukasnya dengan cepat: "Apakah
dikarenakan sebutan dari Bukit Pemakan Manusia ini, maka Hiantit
mempunyai sudut pandangan yang berbeda tentang empekmu ?"
"Apakah hal ini tidak benar ?" katanya. "Apakah hiantit tahu duduk
persoalan yang sebenarnya?" tanya
Mo Tin hong. Kembali Sun Tiong-lo tertawa dingin. "Bagaimana pandangan umat
persilatan terhadap Bukit Pemakan Manusia, aku rasa Sancu pasti pernah mendengarnya apalagi terhadap
watak dari Sancunya sendiri, tak usah ditanya kan pun hal ini sudah
jelas sekali !" Untuk kesekian kalinya Mo Tin hong tertawa getir, "Apakah hiantit
pernah mendengar dari ayahmu tentang perkampungan Ang liu ceng
milik empek ?" "Pernah sih pernah cuma tak begitu jelas.." Setelah berhenti sejenak,
tiba-tiba katanya lagi, "Tunggu
sebentar sancu terhadap keaslian Sancu sebagai empek Mo atau bukan,
hingga kini ini beIum bisa dipastikannya, oleh karena itu dalam sebutan,
aku harap Sancu tetap menuruti peraturan yang berlaku..."
Sementara itu nona Kim telah muncul kembali sambil membawa kotak
kemala. Mo Tin hong segera berkata cepat: "Beberapa macam benda yang
tersimpan di dalam kotak kemala itu cukup untuk membuktikan kedudukan dari empek yang sebenarnya."
Sambil menerima kotak kemala itu penutupnya segera dibuka, Didalam
kotak kumala itu, kecuali sebilah pedang kecil sepanjang tiga inci,
terdapat pula beberapa lembar dokumen.
Mo Tin-hong segera mengambil keluar pedang kecil sepanjang tiga cun,
yang bercahaya tajam itu, kemudian bersama sepucuk surat diserahkan
kepada Sun Tiong lo dan katanya. "Ayahmu disebut orang Giok bin sian kiam ci liong jiu (Dewa pedang
berwajah kemala tangan sakti penangkap naga), pedang kecil itu tanda
kepercayaannya, sedang surat itu ditulis sendiri olehnya, silahkan hintit
ambil dan memeriksanya sendiri."
Sun Tiong lo melirik sekejap kearah Mo Tin hong, kemudian diterimanya
surat serta pedang pendek itu. Pedang pendek itu tanpa sarung, ketajamannya dapat terlihat dari
kilatan cahaya yang memantul tertimpa Iampu.
Andaikata Mo Tin hong berniat jahat, dalam jarak sejauh satu langkah
yang begitu pendek, bila pedang pendek itu secara tiba-tiba
disambitkan ke depan, percaya Sun Tiong lo pasti akan menjumpai
kesulitan untuk menghindarkan diri.
Tentu saja, Sun Tiong lo pun sudah melakukan persiapan yang cukup
sebelum menjulurkan tangannya untuk menyambut pedang pendek
serta surat tersebut, kendatipun demikian, andai kata menerima
sergapan secara tiba-tiba, toh tak urung dia akan terluka juga.
Untuk menghindari segala kecurigaan orang, ternyata Mo Tin- hong
meletakkan surat dan pedang pendek itu keatas meja.
Diam-diam Sun-tiong-lo tertawa geli, diambilnya kedua benda itu dan
diperiksa dengan teliti. Mula-mula dia memeriksa dulu pedang pendek tersebut, pada badan
pedang terukir empat buah huruf yang berbunyi:
"GIOK-BIN-SIAN-KIAM" Dibawah keempat huruf itu terukir sebuah
tangan, Sun-tiong-lo mengerti tangan itu melambangkan julukan ayahnya sebagai Ka- liong
jiu (tangan sakti penangkap naga). Ketika surat itu dilihat, terlihatlah tulisan ayahnya yang tertuju untuk Mo
Tin-hong, dalam surat mana tercermin jelas hubungan persaudaraan
yang sangat akrab diantara mereka berdua, bahkan dapat dirasakan
kalau hubungan persaudaraan itu melebihi saudara kandung sendiri.
Sekarang Sun tiong-lo sudah percaya, dia percaya kalau orang yang
berada dihadapannya sekarang adalah kakak angkat ayahnya
yang disebut orang sebagai Hui thian-sin-liong (naga sakti terbang
diangkasa) Mo Tin-hong. Dalam pada itu, Mo Tin hong telah berkata lagi dengan suara rendah
dan berat: "Walaupun waktu berjalan amat cepat, namun persahabatan yang sejati
diantara kami tetap kekal dan abadi."
Berbicara sampai disitu, sepasang mata Mo Tin hong berkaca- kaca,
lanjutnya kembali dengan suara gagah.
"Aku telah bersumpah, aku akan berusaha keras untuk membalaskan
dendam bagi kematian adik Pak-gi suami isteri !"
Diam-diam Sun Tiong lo memperhatikan terus semua gerak gerik dari
Mo Tin hong, ketika dianggapnya kesediaan Mo Tin hong bersungguh
hati dan bukan pura-pura, tanpa terasa rasa curiganya berkurang
beberapa bagian, tapi rasa keheranannya semakin bertambah.
Mendadak Sun Tiong lo teringat akan satu persoalan segera tanyanya
kepada Mo Tin hong. "Mo tayhiap, mengapa kau bisa menjadi penguasa dari Bukit pemakan
manusia ini?" Mo Tin hong segera menghela napas panjang serunya. "Aaai, ceritanya
panjang sekali." Setelah berhenti sebentar, kembali ujarnya. "Sekarang tolong hiantit
menjawab sebuah pertanyaan empek, apakah kau masih menaruh curiga pada diri empek?" Sun Tiong lo
menggelengkan kepalanya. "Sekarang aku sudah percaya kalau sancu
adalah Mo tayhiap!" sahutnya cepat. Mo Tin hong segera mengerling sekejap ke arah Sun
Tiong lo, kemudian katanya lagi: "Tapi kau masih merasa curiga terhadap segala yang lain dari
empekmu?" Dengan berterus terang Sun Tion lo mengangguk. "Benar, untuk ini
aku harap Mo tayhiap suka memaafkan."
katanya. Mo Tin hong segera tertawa getir. "Aaah, tidak apa-apa, aku
bisa memberi penjelasan yang sejelasjelasnya
kepadamu." Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan. "Ada
sepatah kata, empek mesti menanyakan kepadamu sampai
jelas, kemarin ada manusia berbaju kuning berseliweran diatas bukit
ini, apakah hal itu merupakan hasil karya hiantit?"
"Yaa, betul, ituiah aku dan kakakku" Sun Tiong to mengakui sambil
mengangguk. Mo Tin hong lantas manggut-manggut, dia segera berpaling keluar
loteng sambil berseru. "Pengawal!" Segera terdengar seseorang mengiakan dengan hormat
dan muncul didepan pintu. Kepada orang itu, Mo Tin horig lantas ber kata
dengan suara dalam. "Turunkan perintah uniuk menarik kembali seluruh jago yang
berjaga dipos mereka !" "Apakah Sancu masih ada pesan lain ?" tanya
orang itu agak tertegun setelah mendengar perintah tersebut. "Suruh mereka kembali
ke tempatnya masing masing !" Orang itu mengiakan dan buru buru
mengun durkan diri, Menanti orang itu sudah pergi, Mo Tin hong baru
berkata kepada Sun Tiong lo : "Bau ji berada dimana " Undang saja dia kemari, empek hendak
mengajak kalian berdua untuk membicarakan lagi persoalan lama."
Sun Tiong lo segera tertawa terbahak bahak "Tiada keperluan untuk
berbuat demikian, akupun dapat mewakili
kakakku!" Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Mo Tin hong
manggut-manggut, ujarnya kemudian. "Baiklah, empek akan
mengisahkan kembali kejadian yang memedihkan hatiku dimasa lampau, mau percaya atau tidak terserah
pada keputusan hiantit sendiri."
Kembali Sun Tiong lo tertawa. "Mana yang bisa dipercaya tentu saja
akan kupercayai!" Sebelum berbicara, Mo Tin hong menghela napas
panjang lebih dulu, kemudian katanya: "Sewaktu empek merayakan hari ulang tahun
ku yang keempat puIuh, ayahmu telah berkunjung pula ke perkampungan Ang liu ceng!"
"Tentang peristiwa itu akupun tahu, persoalan antara ayahku dengan
Yan lihiap pun terjadi pada waktu itu...."
"Betul" Mo Tin-hong manggut-manggut, "empek sama sekali tidak
menyangka kalau peristiwa itu bisa diakhiri secara begini tragis... aaaai!"
"Sancu, lebih baik kau membicarakan tentang persoalanmu sendiri saja."
"Begitupun boleh juga, persoalan apakah yang ingin kau ketahui "
tanyakan saja." "Baik, pertama tama aku ingin bertanya lebih dulu, mengapa Sancu
meninggalkan perkampungan Ang lui ceng ?"
Hawa amarah serta rasa benci segera terhias diatas wajah Mo Thin
hong, katanya: "Kalau dibicarakan kembali, sungguh menggemaskan, empek dipaksa
orang untuk meninggalkan rumah !"
"Ooooh dipaksa siapa ?" Dari dalam sakunya Mo Tin hong
mengambil sesuatu benda dan dilemparkan keatas meja, katanya. "Silahkan hiantit untuk memeriksa
sendiri!" Ketika sorot mata Sun
Tiong lo dialihkan ke atas meja, dengan cepat ia menjerit kaget:
"Haaah, lencana Lok-hun pay ?"
"Betul, lencana Lok hun pay !" "Bagaimana jalan ceritanya ?" tanya
Sun Ti ong lo kemudian dengan kening berkerut. Mo Tin hong tertawa getir. "Setelah
kuceritakan nanti, harap hiantit jangan banyak menaruh
curiga, setelah empek mengadakan perkawinan sehingga timbul
peristiwa antara ayahmu dengan Yan lihap dari bukit Han san, demi
persoalan ini empek segera berangkat menuju ke Han san."
"Oleh karena kurasakan hal ini penting, lagipula untuk meredakan
perselisihan yang mungkin terjadi, tanpa memberitahukan kepada
siapapun empek berangkat seorang diri menuju ke bukit Han san.
"Siapa tahu waktu itu Yan sian po sedang menutup diri melakukan
samadhi, sedang Yan lihiap belum kembali, hingga kedatangan empek
ke sana pun gagal total. Sekembalinya dari bukit Han san dan kembali ke perkampungan
Ang-liu-ceng, aaai, keponakanku..."
Berbicara sampai disini, air mata Mo Tin hong segera jatuh bercucuran
dengan derasnya, ia nampak merasa amat sedih.
Sun Tiong lo tidak bersuara, nona Kim juga tidak bermaksud untuk
menghibur. Sesaat kemudian, Mo Tin hong baru menghentikan isak tangisnya dan
bercerita lebih lanjut: "Rupanya sewaktu empek berangkat ke bukit Han san ituIah, dalam
perkampungan Ang liu ceng telah terjadi peristiwa, lelaki perem puan
seluruh isi kampung yang terdiri dari seratus tiga puluh lima orang telah
ditemukan dalam keadaan tewas!"
Sun Tiong lo menjerit kaget. "Aaah, jadi sudah berlangsung peristiwa
seperti itu?" serunya. Tapi setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi:
"Mengapa kejadian ini tak sampai tersiar didalam dunia
persilatan?" Kembali Mo Tin hong tertawa getir. "Dengarkanlah kisahku
selanjutnya hiantit akan menjadi mengerti
dengan sendirinya." Dalam pada itu seorang pelayan datang
menghidangkan air teh dan makanan kecil, ini membuat Mo Tin hong harus berhenti sebentar.
Menanti pelayannya sudah pergi dan Mo Tin hong sudah meneguk
setegukan air teh, ia baru bercerita lebih jauh.
"Diruang tengah ku jumpai lencana Lok hun pay ini tertancap diatas
dinding, dengan cepat empek sadar kalau keselamatan jiwaku
terancam, dengan cepat akupun mengambil keputusan.
"Mula-mula kukuburkan dulu semua mayat ke dalam ruangan bawah
tanah, kemudian ku-bersihkan seluruh perkampungan hingga tidak
meninggalkan kesan bahwa dalam perkampungan ini sudah tertimpa
suatu musibah yang mengerikan. Kemudian empek pun membawa semua benda yang penting dan
diam-diam meninggalkan rumah, akhirnya sampailah empek diatas
bukit gerbang diantara sepuluh laksa bukit tinggi yang ada dijagad ini
dan menyembunyikan diri." Tiba-tiba Sun Tiong lo tertawa dingin. "Bukit "pemakan manusia" ini
sudah berdiri sejak puluhan tahun berselang, perkataan Sancu itu..." "Yaa, kedengarannya memang seperti
saling bertentangan." tukas Mo Tin hong, "padahal kalau sudah tahu duduknya persoalan, hal
itu hanya sepele, ketika aku datang kemari, diatas bukit sudah bercokol
beberapa orang penyamun yang ganas, mereka selalu membunuhi
setiap orang yang memasuki bukit ini.
"Suatu ketika empek secara tak disengaja tersesat diatas bukit itu dan
hampir saja terkena jebakan mereka, tapi akhirnya mereka berhasil ku
taklukkan, karena aku memang tak punya rumah lagi, maka
kumanfaatkan bukit ini sebagai tempat tinggalku."
"Semenjak empek menjadi Sancu, terhadap setiap umat persilatan yang
kebetulan tersesat disini belum pernah kulakukan pembunuhan, tapi
akupun tidak membiarkan mereka turun dari bukit ini lagi, kuatir jika
mereka sampai membocorkan rahasiaku!"
Mendengar sampai disitu, Sun Tiong lo ter-menung dan berpikir
sebentar, kemudian tanya nya lagi: "Kemana perginya sahabat-sahabat persilatan yang masih hidup itu...
?" "Kini mereka sudah menjadi anak buah empek yang setia !" "Oooh...
lantas apa sebabnya Sancu menentukan peraturan
peraturan yang luar biasa?" "Tentu saja untuk berjaga-jaga terhadap
lencana Lok hun-pay itu, Hiantit, kau adalah seorang yang pintar, tentunya kau juga dapat
berpikir sendiri, andaikata empek benar-benar seorang manusia buas
yang berhati keji, tak nanti akan kudirikan batu peringatan didepan
mulut bukit untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang
memasuki bukit ini tanpa sengaja !"
Perkataan ini memang sangat masuk diakal, kontan saja membuat Sun
Tiong lo untuk sesaat tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Tapi dalam waktu singkat itulah Sun Tiong lo telah menemukan kembali
persoalan yang lain: "Tapi sancu kan seringkali turun gunung?" "Betul, empek tak pernah
melupakan rasa dendamku, terutama sekali bagi kematian anak buahku yang tak berdosa !" "Oooh, apakah
selama banyak tahun ini Sancu berhasil


Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menemukan sesuatu?" Mo Tin-hong segera menghela napas panjang.
"Aaaai tidak, ternyata lencana Lok hun pay itu seperti tiada kabar
beritanya lagi!" "Dengan kekuatan serta kemampuan yang Sancu miliki
sekarang, rasanya kau sudah tak usah takut terhadap lencana Lok hun pay lagi
bukan..?" tanya Sun Tiong lo dengan membawa maksud Iain.
Mo Tin hong segera tertawa. "Aku sengaja mengatur segala macam
jebakan dan perangkap diatas bukit ini, tujuannya memang untuk menghadapi dia" Tiba-tiba
Sun Tiong lo mengalihkan pembicaraan itu ke soal lain,
katanya. "Sancu, tahukah kau yang menjelang kematian yang menimpa
ayah ibuku, merekapun pernah menerima lencana Lok hun pay?" Mo Tin
hong menggelengkan kepalanya. "Empek hanya tahu kalau adik Pak gi
sekeluarga tertimpah musibah" katanya, "meskipun aku telah mengunjungi banyak orang,
namun kebanyakan tidak mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya,
Ngo kian hengte turut tertimpa musibah pula pada saat Ita, sementara
nasib Cu~peng tidak diketahui..."
"Kini, sudah seharusnya kalau Sancu membicarakan tentang Su nio
tersebut," tukas Sun Tiong-lo.
Mo Tin hong segera menggebrak meja lalu berseru. "Kalau dipikirkan
sekarang, asal-usul dari perempuan rendah ini
memang patut dicurigai" "Apakah Sancu tak pernah menemukan sesuatu
yang mencurigakan sebelum ini ?" Mo Tin hong segera menggeleng. "Dulu,
dia adalah seorang penyanyi dari su ngai Chin-huay
hoo..." "Masa seorang penyanyi juga memiliki kepandaian silat yang
demikian lihay ?" "Tentang soal ini, empek pernah melakukan
penyelidikan, dia adalah anak perempuan dari seorang gembong iblis dari wilayah Liau
tang yang disebut orang Tok sim siusu (sastrawan berhati keji) Wong
Khong lang... tak heran jika diapun memiliki ilmu silat"
"Bagaimana dengan nasib Wong Khong leng" "Mati ditangan
musuhnya membuat anaknya tercerai berai, Su
nio berada pada urutan ke-empat dan bernama Ling ling, dia dibawa
oleh inang pengasuhnya sebelum akhirnya terlantar di Chin huay
sebagai seorang penyanyi" "Bagaimanakah pandangan Sancu terhadap hubungan antara penyanyi
ini dengan masalah sakit hatiku?"
"Jikalau dilihat dari keadaannya sekarang, sudah dapat dipastikan dia
adalah orang kepercayaan dari Lok hun pay, cuma duduk
persoalan-yang sebenarnya baru dapat terungkap bila dia sudah
berhasil dibekuk kembali..." "Setiap kali dia turun gunung, apakah Sancu tak tahu?" sela Sun Tiong
Io. Dengan wajah serius Mo Tin hong menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sejak datang kebukit ini, belum pernah dia pergi kemana-mana lagi."
"Sebelum datang kemari bagaimana?" "Empek baru berkenalan
dengannya setahun berselang di sungai
Chin huay, dan setengah tahun berselang baru membawanya kembali ke
bukit ini, jadi terhadap tingkah lakunya sebelum itu tidak begitu tahu!"
Sun Tiong lo hanya manggut manggut dan tidak berbicara lagi.
Penjelasan yang diberikannya Mo Tin hong cukup jelas,
sepantasnya kalau dewasa ini sudah tiada sesuatu yang bisa dicurigai
lagi. Dalam pada itu, nona Kim selama ini cuma mendengarkan saja dari
samping, mendadak ikut menimbrung: "Sebetulnya Khong It hong itu berasal darimana?" "Sekarang tidak
ada kesempatan untuk membicarakan manusia
laknat tersebut..." Kemudian setelah berhenti sejenak, sambil berpaling
ke arah Sun Tiong-lo katanya: "Hiatitit, apakah kau dapat mengundang keluar Bau-ji
hiantit agar berjumpa denganku?" "Aaaah, jangan terburu napsu." Sun Tiong-Jo
tertawa, "aku masih ada persoalan yang hendak kutanyakan kepadamu." sambungnya.
"Masih ada persoalan apa lagi ?" Mo Tin hong mengerutkan keningnya
kencang-kencang. "Menurut apa yang kuketahui, Khong It-hong dan Su nio telah
bersekongkol dengan orang luar dan sudah menetapkan waktu untuk
menyerang dan merebut bukit pemakan manusia itu...."
Mo Tin-hong tertawa terbahak-bahak, tukasnya. "Haaaahh...
haaaahhh... haaah, pihak lawan sudah tahu
sekarang bahwa Khong It hong menemui kegugalan, tapi mereka
menganggap sudah cukup memahami keadaan dari bukit milik empek
ini, maka tidak menunggu lama lagi mereka memutuskan hendak
melakukan penyerangan pada kentongan ketiga malam nanti !"
"Apakah orang-orang itu ada sangkut pautnya dengan lencana
Lok-hun-pay ?" "Sulit untuk dijawab, tapi empek telah menurunkan perintah agar
meninggalkan beberapa orang diantaranya dalam keadaan hidup,sampai
waktunya Hiantit boleh menanyai mereka sendiri, pasti akan kau raih
sesuatu hasil yang lumayan !" Sun Tiong lo tertawa hambar, dia lantas mengalihkan pokok
pembicaraan kesoal lain, sambil menuding nona Kim katanya:
"Mo sancu, bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang
masalah nona Kim. Mo Tin hohg merasa terperanjat sekali setelah mendengar peikataan itu,
segera jawabnya: "Apakah hiantit ingin menanyakan asal usul dari anak
Kim?" Diam-diam Sun Tiong lo harus mengagumi kehebatan Mo Tin norig
dalam menghadapi sesuatu perubahan situasi, jawabnya cepat:
"Benar, aku dengar nona Kim sebenarnya she Kwik?" "Siapa yang
bilang?" tanya Mo Tin hong. Tentu saja Sun Tiong lo tak bisa
mengatakan kalau Su nio yang bilang, terpaksa sambil tertawa ujarnya: "Benar atau tidak, tentunya
Sancu mengerti bukankah begitu?" Padahal sewaktu Mo Tin hong
mendengar Sun Tiong lo mengatakan kalau nona Kim she Kwik, ia sudah tahu siapa
yang berkatakan demikian, tapi ia tetap berlagak pilon dengan bertanya lagi:
"Hiantit, kau mesti mengatakannya padaku persoalan ini mesti dibuat
jelas!" Nona Kim masih bersifat jujur dan polos, tanpa sadar dia lantas
berseru: "Su-nio yang bilang..." "Lagi lagi perempuan keparat ini" tukas Mo
Tin-hong dengan wajah penuh kegusaran, "apa yang dia bilang?" Setelah menjawab,
nona Kim baru menyesal maka mendengar
pertanyaan itu buru buru katanya. "Dia mohon pengampunan dariku
agar membebaskan Khong Ithong, lantas katanya kalau aku bukan..." "Betul-betul seorang
perempuan cabul yang keji, rupanya dia
ingin meminjam golok membunuh orang!" sumpah Mo Tio hong sambil
mendepak-depakkan kakinya berulang kali.
Sun Tiong-io segera melirik sekejap kearah nya, lalu ujarnya:
"Bisakah ada kemungkinan semacam itu?" Mo Tin hohg menghela
napas panjang. "Aaai, Hiantit, mengapa kau pintar sewaktu, pikun
sesaat ?" "Tolong tanya dimanakah letak kepikunan ku itu?" Sun
Tionglo pura-pura berlagak tidak mengeiti. "Sebenarnya dia bisa saja
menyembunyikan rahasia dirinya secara tenang dan tenteram di sini, kemudian bila saatnya sudah
sampai, dia dapat bekerja sama dengan Khong It hong serta musuh
yang datang dari luar untuk bersama-sama menyerang bukit dan
mendudukinya. "Tapi lantaran Hiantit muncul disini, dan dia kuatir rahasianya ketahuan,
kemudian lantaran Khong It hong gagal hingga rahasianya terbongkar.
tahu kalau tak bisa tinggal lebih lama lagi
disini sebelum pergi dia baru melaksanakan siasat meminjam golok
membunuh orang ini." "Dia cukup mengerti, sekembalinya empek ke atas bukit, sudah pasti
empek akan menanyai Hiantit dan anak Kim, maka dia membohongi
anak Kim dengan mengatakan anak Kim dulu adalah anak dari keluarga
Kwik yang di curi. "Hiantit, coba kau pikirkan lagi, sudah belasan tahun anak Kim mengikuti
empek, bila siasatnya itu berhasil sehingga Hiantit mengira hal ini
sungguhan, tentu saja kaupun akan menganggap empek sebagai orang
jahat. "Otomatis jika empek mengatakan kalau aku kenal dengannya baru
setahun menjadi kata yang bohong " Ditinjau dari sini, kenapa Hian tit
tidak mau mempercayai empekmu ?"
"Yaa, betul" seru nona Kim dengan cepat, "hampir saja aku tertipu oleh
siasatnya." Sedangkan Sun Tiong lo segera tertawa hambar, katanya: "Sancu
mengatakan perkenalan kalian baru berlangsung setahun,
tapi didalam suatu persoalan dia telah mengatakan kalau ia sudah lama
berkumpul dengan Sancu, perbedaan wak tu yang terjadi amat besar
sekali, apakah ini..." "Justru disitulah terletak kelicikan serta kebusukan hatinya!" tukas Mo
Tin hong sebelum anak muda itu menyelesaikan kata- katanya.
Sun Tiong lo tertawa dan melanjutkan lagi kata-katanya yang belum
selesai tadi: "Perbedaan soal waktu, duduk persoalan yang sesungguhnya
rasa-rasanya bagi aku sudah terbentang cukup jelas, bila apa yang
dikatakan Sancu barusan jujur, hal ini menandakan kalau Sunio adalah
seorang manusia yang amat berbahaya, tapi kalau sebaliknya maka hal
ini menandakan jika Sancu tidak jujur!"
"Yaa, perkataanmu itu memang betul, demi jelasnya persoalan dan
terhapusnya semua kecurigaan, empek mesti menyelesaikan semua
persoalan yang ada di bukit ini secepatnya, kemudian segera terjun
kedunia persilatan dan mencari perempuan sialan itu sampai ketemu"
Sun Tiong-lo tertawa, sambil menuding ke arah nona Kim ujarnya.
"Kalau begitu Sancu, tolong nona Kim sebenarnya adalah..." "Hiantit,
apakah kau masih percaya dengan perkataan dari
perempuan cabul itu ?" tukas Mo Tin hong. Untuk kesekian kalinya sun
Tiong lo tertawa. "Sancu, terus terang kukatakan, hingga sekarang aku
masih belum dapat mempercayai semua perkataanmu itu!" "Aaaah, tak
mengapa" "Tapi aku tidak menyangkal kalau Sancu adalah kakak angkat
mendiang ayahku dulu !" Mo Tin-hong segera berkerut kening, katanya.
"Kalau begitu hiantit benar-benar sulit untuk diajak berbicara,
sudah percaya tapi tak percaya ?" "Tentang persoalan ini, rasanya masih
terlalu awal untuk dibicarakannya." Agaknya Mo tin hong tak ingin memperbincangkan
persoalan itu lebih lanjut, sambil manggut-manggut dia lantas berkata: "Benar,
persoalan ini memang seharusnya dibicarakan lagi bila
perempuan cabul itu sudah tertangkap kembali !" "Tapi, masalah yang
menyangkut soal nona Kim rasanya perlu
kau terangkan sekarang juga!" sambung Sun tiong lo dengan cepat
tanpa perubahan emosi diwajahnya. -ooo0dw0oooJilid 21 MO TIN HONG bagaikan telah menduga perkataan itu, dengan cepat dia
menjawab. "Budak Kim adalah putri kandung empekmu." Sun Tiong lo melirik
sekejap ke arah nona Kim lalu dengan dingin
katanya kepada Mo-Tin hong. "Mo Sancu, sungguhkah perkataanmu
itu?" Dia didesak berulang kali, Mo Tin-hong jadi mendongkol serunya
kemudian dengan suara dalam. "Hiantit, pantaskah kau ajukan
pertanyaan seperti itu?" "Sancu jangan gusar dulu." kata Sun Tiong lo sambil berkerut kening,
"aku bisa berkata demikian karena aku mendapat bukti yang
menunjukkan kalau Sancu belum pernah beristri!"
Ketika mendengarkan perkataan itu, Mo Tin hong tidak menunjukkan
rasa kaget atau terkesiap, dia hanya menghela napas panjang.
Kemudian setelah melirik sekejap ke arah Nona Kim, katanya.
"Pergilah dulu dari sini sebentar!" "Adakah sesuatu yang tak boleh
kudengar?" kata nona Kim sambil mengerdipkan matanya. "Ada sementara persoalan dan
perkataan memang tidak leluasa untuk didengar oleh kaum wanita!" Dengan perasaan apa boleh buat
terpaksa nona Kim berlalu dari ruangan loteng dengan wajah sedih. Menanti gadis itu sudah berlalu, Mo
Tin liong baru berkata dengan suara lirih: "Hiantit, ibu kandung budak Kim sebetulnya
mempunyai keadaan yang sama dengan kakakmu!" Mendengar perkataan itu Sun Tiong lo jadi tertegun. "Tapi mendiang
ayahku sudah ada istri" katanya. "Aaaai ... kisah sedih dari empek ini
apakah mesti kuceritakan kepada hiantit?" Sun Tiong lo merasa agak menyesal, dengan kepala
tertunduk dia menjawab: "Aku hanya menguatirkan tentang nona Kim, lain tidak"
Sorot mata Mo Tin hong segera dialihkan ke wajah Sun Tiong lo,
kemudian secara tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Sancu, mengapa
kau tertawa?" tegur Sun Tiong lo cepat. Mo Tin hong menggelengkan
kepalanya berulang kali, dia hanya tertawa belaka tanpa menjawab. Sun Tiong lo seperti menyadari akan
sesuatu, sekali lagi dia menundukkan kepalanya. Lewat sesaat kemudian, Mo Tin hong baru
berkata lagi: "Hiantit, apa rencanamu selanjutnya?" Sudah barang tentu
Sun Tiang lo sudah mempunyai rencana
tertentu, namun dia tak dapat mengutarakan rencananya ini, maka
jawabnya setelah termenung sebentar.
"Bila Sancu dapat melanggar peraturan yang berlaku dengan
mengijinkan aku berdua meninggalkan bukit ini, tentu saja akan
kujelajahi seantero jagad untuk melacaki jejak dari lencana Lok hun pay
tersebut..." "Perkataan empek sudah cukup jelas" kata MoTin-hong sambil tertawa
lebar, "peraturan yang berlaku dibukit ini hanya dimaksudkan untuk
melindungi keselamatanku. Hiantit bersaudara bukan orang luar, tentu
saja kalian boleh pergi datang dengan sehendak hati kalian sendiri..."
Buru-buru Suu Tiong lo menjura untuk menyatakan rasa terima
kasihnya. "Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih dulu kepada Sancu atas
kemurahan hatimu." Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba katanya lagi: "Aku masih ada
suatu permintaan lain, harap Sancu bersedia
untuk meluluskannya pula." "Katakanlah hiantit, empek tentu akan
meluluskan!" Sun Tiong lo tersenyum katanya: "Ada dua orang teman
juga ingin meninggalkan bukit ini, apakah
Sancu bersedia untuk melepaskannya pula?" "Siapakah dia?" tanya Mo
Tin-hong sambil tersenyum meski hatinya tergerak. "Cengcu perkampungan ini beserta pelayannya!" Mo
Tin-hong segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh.... haaahh...
haaahhh... boleh saja, kapan hiantit
hendak berangkat?" "Bila tiada halangan, paling baik kalau hari ini bisa
berangkat." "Ooooh..." Lama sekali Mo Tin-hong termenung tanpa


Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengucapkan sepatah kata pun juga. Beberapa waktu kemudian, dengan wajah
serius ia baru berkata, "Dapatkah hiantit berdiam diri sehari lagi disini ?" "Pentingkah itu ?"
Sun tionglo mengerdipkan matanya berulang
kali. Mo Tin-hong segera merendahkan suaranya sambil setengah
berbisik, "Malam nanti kemungkinan besar musuh tangguh akan
menyerang kesini, empek sangat mengharapkan bantuan dari hiantit
bersaudara untuk menanggulangi keadaan itu !"
"Entah musuh baik atau musuh jahat jang akan datang malam nanti,
harap Sancu jangan menyuruh kami bersaudara untuk turun tangan!"
Kontan saja Mo Tin-hong berkerut kening, "Seandainya pihak musuh
benar-benar merupakan kawanan manusia bengis yang berhati busuk ?"
tanyanya. "Aku percaya masih mampu untuk membedakan mana yang baik dan
mana pula yang jahat !" Sementara Sun Tiong-lo masih termenung, Mo Tin-hong telah
menyambung lebih jauh. "Tak usah kuatir hiantit, pihak lawan tiada seorangpun yang merupakan
manusia baik-baik" Waktu itu Sun Tiong-lo mempunyai gagasan dalam hati kecilnya, maka
sahutnya kemudian. "Aku bersedia mengabulkan permintaan San cu untuk tinggal sehari
lebih lama disini, cuma ada sepatah kata perlu kuterangkan lebih dulu."
- ooo0dw0ooo- ***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
BAB KE DUA PULUH ENAM "Oooh . ... tampaknya saat perjumpaan antara empek dengan hiantit
bersaudara bukanlah saat yang benar" Mo Tin-hong segera mengeluh.
"Tidak, adalah tempat perjumpaannya yang tidak benar!" sambung Sun
Tiong lo cepat. Tergerak hati Mo Tin hong sesudah mendengar perkataan itu, mendadak
dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya:
"Hiantit, masih ingatkah kau dengan ucapan empek sewaktu aku
hendak pergi pada malam kau baru tiba disini?"
"Yaa, masih ingat" Sun Tiong lo manggut-manggut, "aku memang ingin
bertanya kepada Sancu ada petunjuk apa?"
Mo Tin hong tersenyum. "Sampai sekarang, hiantit masih me-naruh
rasa curiga kepada empek sesungguhnya persoalan ini kurang sesuai untuk diperbincangkan
tapi selewatnya malam nanti, bila kita berjumpa lagi, hiantit boleh..."
"Yaa, akupun mempunyai firasat demikian, saat untuk bertemu kembali
dengan Sancu me mang tak akan jauh!" tukas anak muda itu cepat.
Mo Tin hong tertawa. "Tentu saja lebih bagus lagi kalau bisa begitu,
cuma kejadian dimasa mendatang sukar diduga, oleh karena itu empek ingin
menggunakan kesempatan ini untuk menerangkan suatu masalah yang
amat besar kepada diri hiantit...."
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Putriku Mo Khim sudah
cukup hiantit kenal, anak Kim memang
berwatak keras tapi berhati baik dan mulia, ilmu silat yang dimiliki pun
terhitung lumayan juga. "Apa maksud Sancu membicarakan soal nona Kim dengan diriku?" sela
Sun Tiong lo cepat. Mo Tin hong menghela napas panjang. "Aiai... terus terang
kukatakan kepadamu hiantit, sewaktu hiantit
baru tiba di bukit ini, empek sudah tahu kalau hiantit mempunyai kesan
bukan manusia biasa, kau adalah naga diantara manusia, semenjak saat
itu aku sudah berniat untuk menjodohkan..."
Ucapan itu sudah cukup jelas, tapi sama sekali diluar dugaan Sun
Tiong-lo. Sejak permulaan hingga sekarangpun Tiong lo tidak begitu percaya
terhadap ucapan Su-nio, tapi mengenai masalah asal usul
nona Kim dia mempunyai firasat yang lain, maka terhadap perkataan
dari Su-nio pun dia menaruh rasa percaya, Namun sekarang, secara
tiba-tiba saja Mo Tin hong mengutarakan maksud hatinya, hal ini
membuat Sun Tiong-lo mau tak mau harus merubah sudut
pandangannya, sebab itu dalam sikap maupun pembicaraan lambat laun
sikapnyapun berubah menjadi lebih lembut.
Setelah berhenti sejenak, sambil tertawa Mo Tin hong melanjutkan
kembali kata2nya: "Sekarang, setelah kuketahui asal usul Hiantit. hati empek merasa
semakin lega lagi, maka akupun ada niat untuk menjodohkan anak Kim
kepadamu, entah bagaimanakah menurut pendapat hiantit ?"
Dihadapkan langsung oleh masalah tersebut. Sun Tiong lo benar
benar merasa tersudut, dengan wajah
memerah karena jengah dia tundukkan kepalanya rendah-rendah tanpa
menjawab. Mo Tin hong segera menepuk-nepuk bahu Sun Tiong lo, lalu katanya
dengan nada bersungguh-sungguh: "Hiantit, empek pun sama seperti kau, dendam kesumat atas
musnahnya perkampungan Ang liu ceng tak akan terlupakan untuk
selamanya, demi persoalan ini, sekalipun harus pergi ke ujung langit
pun empek tetap akan melacaki terus."
"Empek pun hendak membekuk perempuan cabul itu sebagai saksi, aku
ingin tahu siapakah sebenarnya pemilik lencana Lok hun- pay tersebut,
sebab itu secepatnya empek akan menye lidiki masalah ini."
"Bila anak Kim harus turut empek melakukan perjalanan jauh, bukan
saja kurang leluasa bahkan membahayakan pula keselamatan jiwanya,
sedangkan kalau ditinggalkan diatas bukit, seandainya sampai ada
musuh yang menyerbu kemari, kuatirnya dia bakal dibekuk musuh
sebagai sandera. "Maka dari itu, setelah empek pertimbangkan berulang kali, ditambah
pula dengan bahan pengamatanku selama ini, empek tahu akan
perasaan anak Kim terhadap hiantit, karenanya kumohon kepada hiantit
untuk membawanya serta dalam perjalanan, entah bagaimana menurut
pendapat hiantit sendiri?" Jelas tawaran ini merupakan suatu tawaran baik, berbicara terus terang,
Sun Tiong lo sen diripun telah mengambil keputusan, bilamana Mo Tin
hong benar-benar bukan ayah si nona, dia akan berusaha dengan segala
kemampuan untuk membawa nona itu pergi dari situ.
Diluar dugaan sekarang, Mo Tin hong telah menawarkan hal ini
kepadanya, menghadapi kejadian yang sama sekali diluar dugaan ini,
untuk sesaat lamanya Sun Tiong lo malah menjadi ragu sendiri.
Sementara itu Mo Tin hong telah bertanya: "Apakah hiantit
menganggap sekali kurang cocok .." "Sancu" tukas Sun Tiong lo
cepat, "aku bersedia menemani putrimu untuk melakukan perjalanan bersama, tapi persoalan selepas itu
bagaimana kalau jangan dibiarkan dulu?"
Mo Tin hong segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh...haahh...haahh...baik, empek percaya hal ini merupakan
suatu permulaan yang baik." Setelah berhenti sejenak, dia lantas
berseru kearah luar mangan loteng. "Undang nona kemari, cepat!" Suara menyahut berkumandang
dari bawah sana. Mo Tin hong segera merubah kembali nada suaranya
dengan berkata. "Hiantit, dapatkah kau undang kehadiran kakakmu untuk
berjumpa dengan empek?" "Bagaimana kalau malam nanti kita penuhi keinginan sancu saja?"
"Hal ini tentu saja baik sekali" Mo Tin hong manggut-manggut Setelah
berhenti sejenak, sambil beranjak katanya lagi.
"Untuk membebaskan diri dari segala kecurigaan, empek bersedia
mengadakan perjanjian dengan hiantit dengan batas waktu satu tahun,
setahun kemudian bagaimana kalau hiantit dan kakakmu dipersilahkan
datang kembali kemari." "Aku tak akan mengingkari janji !" Sementara pembicaraan
berlangsung, bayangan tubuh nona Kim
telah muncul didepan pintu loteng. Pelan-pelan Mo Tin hong bangkit
berdiri, sambil menggape ke arah Nona Kim katanya: "Anak Kim, kemarilah kau, ayah ada kabar baik
hendak disampaikan kepadamu !" Dengan langkah yang lemah lembut nona Kim
berjalan mendekat. Sambil menuding ke arah Sun Tiong lo, Mo Tin hong berkata.
"Saudara Sun mu ini hendak meninggalkan bukit esok pagi,
barusan ayahpun telah berrunding dengan Sun si-heng agar membawa
serta dirimu dalam perjalanan ini, atas kesediaan Sun si heng..."
"Tapi ayah....dia kan..." dengan wajah tersipu-sipu karena malu nona
segera membungkam. Mo Tin hong segera lertawa terbahak-bahak.
"Haah....haahh....haahh... jangan dia... dia melulu, kau adalah
kau, dia adalah dia !" Sesudah berhenti sebentar, katanya lagi kepada
Sun Tiong lo. "Empek masih ada berapa persoalan yang harus segera diselesaikan,
nah, kalian boleh berbincang sepuasnya"
Begitu selesai berkata, tidak menunggu bagaimanakah tanggapan dari
Sun Tiong lo dan nona Kim, dengan langkah lebar dia segera berjalan
keluar dari ruangan loteng itu. - ooo0dw0ooo- ***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Malam sudah kelam. Waktu itu kentongan pertama
sudah lewat. Cahaya lentera yang menerangi bukit Pemakan manusia
telah dipadamkan, suasanapun sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
Kentongan kedua telah tiba. Serentetan bayangan manusia
berwarna hitam mendadak muncul di luar perkampungan dan mendekati dinding pekarangan. Penghuni
dalam perkampungan seakan-akan sudah pulas semua,
ternyata kehadiran orang-orang itu sama sekali tidak dirasakan oleh
mereka. Maka bayangan hitam itupun satu persatu melompati dinding
pekarangan dan menyusup masuk kebagian tengah perkampungan.
Ketika dihitung satu persatu jumlahnya, aah ternyata mencapai dua
puluh empat orang lebih. Kedua puluh empat sosok bayangan hitam itu dengan cepat
menyebarkan diri dan mengurung seluruh gedung ditengah
perkampungan itu. Penghuni perkampungan itu masih saja pulas dengan nyenyak, tak
seorang manusiapun yang merasakan musuh-musuh tangguh tersebut.
Tampak dua sosok bayangan manusia diantaranya muncul keluar dari
arah timur dan langsung melayang turun didepan pintu gerbang
perkampungan itu. Sungguh besar nyali mereka, begitu tiba di depan pintu gerbang,
ternyata mereka segera turun tangan untuk mendorong pintu gerbang.
Aneh... betul-betul suatu peristiwa yang sangat aneh. Pintu gerbang
tersebut ternyata tidak dikunci, sewaktu didorong
tadi, diiringi suara gemericit segera terpentang lebar. Dibalik pintu
merupakan suatu ruangan yang gelap gulita seperti
gua, tak sesosok bayangan manusiapun yang nampak hadir didalam
sana. Sreeet..! Sreeet....! Sreeet...! Kembali ada tiga sosok bayangan
manusia meluncur turun didepan pintu gerbong, kini jumlahnya mereka jadi berlima. "Aah, tidak
benar, tampaknya keadaan tidak benar..." salah
seorang diantaranya segera berbisik lirih. Yang lainnya berbisik pula.
"Ya, mungkin si bajingan tua itu sudah melakukan suatu
persiapan untuk menantikan kedatangan kita, untung saja kita datang
dengan susunan rencana yang matang, menyerbu secara terang
terangan ataupun menyerang secara gelap kedua-duanya sama saja,
mari kita segera turun tangan!"
"Menurut pendapatku, lebih baik kita menunggu sejenak lagi!" orang
yang berbicara pertama kali tadi kembali berkata.
"Apa lagi yang mesti kita tunggu?" "Menunggu pemberitahuan dari Tin
lam-hengte (Tin-lam bersaudara)!" Orang ketiga segera berkata. "Apa yang diucapkan
saudara Tan tadi memang betul, bagaimanapun juga mau menyerbu terang-terangan, ataukah
melancarkan sergapan secara diam-diam toh sama saja keadaannya, apa
lagi yang mesti kita kuatirkan" Lebih baik lepaskan
dulu tiga butir peluru api, setelah suasana terang benderang baru kita
turun tangan!" Orang yang pertama tadi tidak kukuh dengan pendiriannya lagi, lantas
mengangguk. "Baiklah, saudara Gak, silahkan lepaskan peluru peluru api itu!" Baru
selesai dia berkata, mendadak dari balik gedung besar itu
berkumandang keluar suara tawa menggetarkan sukma. Menyusul gelak
tawa itu terdengar seorang berkata. "Buat apa kalian melepaskan peluru
api sebagai penerangan" Biar lohu saja yang menitah orang untuk memasang lentera, bukankah
cara ini lebih praktis dan baik?"
Baru selesai ucapan tersebut berkumandang cahaya lentera telah
muncul, dalam waktu yang singkat Bukit Pemakan Manusia telah
menjadi terang benderang, entah berapa banyak lentera dan obor yang
memancarkan cahaya, dalam waktu singkat seluruh bukit sudah
berubah menjadi terang benderang seperti disiang hari saja.
Dibawah sorotan cahaya lentera, tentu saja kedua puluh empat tamu
tak diundang itu menjadi kelihatan jelas sekali.
Sementara itu, dari dalam gedung kembali terdengar seseorang berkata
dengan lantang: "Lohu kira manusia darimanakah yang telah makan hati beruang
empedu macan kumbang sehingga malam-malam begini berani
mendatangi bukit pemakan manusia ini, tak tahunya cuma kawanan
manusia kurcaci macam kalian."
Sementara pembicaraan berlangsung, Mo Tin hong dengan mengenakan
pakaian berwarna putih salju telah menampakkan diri dari balik ruangan
dengan langkah santai. Dibelakang tubuhnya mengikuti pula empat orang yang aneh sekali
dandanannya. Meski mereka berempat, tapi boleh dibilang sama artinya dengan dua
orang saja. Sebab dua orang yang ada disebelah kiri, entah soal wajah, dandanan
maupun gerak gerik, semuanya mirip satu sama lainnya seperti pinang
dibelah dua, muka itu pucat pias persis seperti setan gantung.
Demikian pula keadaan dua orang manusia disebelah kanannya, cuma
wajah mereka hitam pekat seperti pantat kuali.
Sebaliknya ke dua puluh empat orang penyerbu itu rata-rata merupakan
jago lihay dari kalangan Hek To yang sudah termashur selama banyak
tahun dalam dunia persilatan namun tak seorangpun diantara mereka
yang mengenali siapakah keempat orang dibelakang tubuh lawan itu.
Mo Tin hong berhenti pada jarak kurang lebih tiga kaki dihadapan kedua
puluh empat orang jago lihay dari golongan hitam itu, dengan sinar
mata yang amat tajam dia memandang sekejap orang-orang itu,
kemudian sekulum senyuman dingin yang penuh penghinaan
tersungging diujung bibirnya. Sesungguh kedua puluh empat orang jago lihay dari golongan hitam ini
masing-masing merupakan pentolan dari suatu wilayah tertentu, tapi
demi cita-cita mereka untuk menyerbu masuk kedalam bukit pemakan
manusia, secara insidentil mereka memilih seorang pemimpin baru
untuk mengepalai kelompok tersebut.
Yang menjadi pentolan mereka sekarang adalah Tin lam sam tok (tiga
manusia beracun dari Tin lam) yang sudah termashur namanya dalam
dunia persilatan, berbicara dalam persoalan tenaga dalam, soal
kepandaian silat, soal akal bulus maupun kekejaman, mereka
merupakan manusia yang paling menonjol diantara ke dua puluh empat


Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang jago lihay ini. Hanya saja ketiga orang manusia beracun ini cukup tahu diri, meski
mereka tak tahu siapakah pemilik Bukit Pemakan Manusia tersebut,
namun mereka sadar bahwa kepandaian silat yang dimiliki Sancu
tersebut sudah pasti lihay bukan kepalang.
Merekapun sadar bahwa didalam Bukit Pemakan manusia terdapat pula
jago lihay yang tak terhitung jumlahnya, ibarat sarang naga gua
harimau, salah-salah bisa jadi mereka kena dipunahkan tak berbekas.
Oleh karena itu mereka bertigapun secara diam-diam telah bersekongkol
pula dengan dua orang iblis tua lainnya untuk memberikan bantuan
secara diam-diam bilamana diperlukan.
Kini, yang sedang melangsungkan tanya jawab dengan Mo Tin hong tak
lain adalah lotoa dari Tin lam sam tok yang disebut orang Siau bin tok
sin (dewa racun berwajah senyum), Yau Tang bei.
Sebelum berbicara dia tertawa dulu, lalu baru berkata. "Sancu,
baik-baikkah kau, malam ini lohu dan semua sahabat
serta mereka yang seharusnya datang, telah datang semua kemari !"
Mo Tin hong mendengus dingin. "Yau Tang bei!" tegurnya, "kaukah
yang memegang pucuk komando pada malam ini ?" "Haaahh... haaahhh... haaahhh... apa daya,
semua orang memandang tinggi dari lohu, terpaksa kedudukan itu harus lohu jabat!"
sahut Yau Tang bei sambil tertawa terkekeh.
Mo Tin hong mendesis sinis, pelan-pelan sorot matanya menyapu
sekejap wajah ke dua puluh empat jago yang hadir dihadapannya itu,
kemudian sambil berkerut kening dia termenung beberapa waktu
lamanya. Sesaat kemudian, dengan suara dalam ia baru membentak keras: "Ke
mana sembunyinya si manusia tertawa dan manusia
menangis" Suruh mereka berdua tampilkan diri guna berbincang
bincang dengan diriku!" Begitu ucapan tersebut diutarakan, Tin Iam sam tok baru merasa amat
terkejut. Sebagaimana diketahui, mereka telah bersekongkol secara diam- diam
dengan dua orang iblis tua untuk bersama-sama menyerbu Bukit
pemakan manusia, dua orang iblis tua yang di maksudkan memang tak
lalu adalah si manusia tertawa dan Manusia menagis, orang lain tak ada
yang tahu akan rahasia ini, tapi kenyataannya sekarang Mo Tin hong
mengetahui hal tersebut dengan jelas, hal mana benar-benar sama
sekali diluar dugaannya. Nama busuk manusia tertawa dan manusia menangis sudah dikenal
setiap umat persilatan, tapi semejak puluhan tahun berselang, kedua
orang gembong iblis ini sudah lenyap dari keramaian dunia persilatan,
siapapun tak menyangka kalau saat ini mereka dapat muncul kembali
diatas Bukit pemakan manusia. Memang tak salah kalau orang bilang: Manusia punya nama, pohon
punya bayangan. Ketika Mo Tin-hong menyinggung soal kedua orang manusia aneh
tersebut, meski hal mana jauh diluar dugaan kawanan jago golongan
hitam yang melakukan penyerbuan itu, namun mereka menunjukkan
perasaan amat gembira. Sebab mereka adalah komplotan yang sebenarnya bekerja karena telah
bersekongkol dengan Khong It-hong, biasa tahu usaha Khong It-hong
mengalami kegagalan total, hal mana membuat keadaan orang orang itu
seperti menunggang diatas punggung harimau saja. Akhirnya setelah
berunding heberapa kali, mereka memutuskan untuk menyerbu Bukit
pemakan manusia pada malam ini... Walaupun begitu, sebenarnya kawanan iblis itupun merasa agak keder
juga menghadapi kelihayan Mo Tin hong serta jago-jago lihay yang ada
diatas bukit, bayangkan saja betapa girangnya mereka setelah
mengetahui bahwa kelompok mereka sesungguhnya ditunjang oleh
manusia menangis dan manusia tertawa yang sudah diketahui
kelihayannya itu, hal mana sama artinya dengan harapan mereka untuk
berhasil menjadi makin besar. "Menangis dan tertawa dua orang cianpwee pasti akan kemari, tapi
sekarang masih belum saatnya bagi mereka untuk menampakkan diri,
bila kau tahu diri, lebih baik cepat cepatlah berikan tiga mestika dari bukit
ini kepada kami..." kata Yau Tang bei.
Belum selesai dia berkata, dari arah sebelah barat sana telah
berkumandang beberapa ledakan keras, menyusul kemudian serentetan
cahaya terang membumbung tinggi ke angkasa.
Mo Tin hong segera tertawa terbahak-bahak sambil menuding ke arah
Yau Tang bei katanya: "Ucapanmu kelewat tekebur, coba kau lihatlah sendiri !" Yau Tang
bei sama sekali tak menyangka kalau undakan tersebut
hanya suatu tipu muslihat belaka, serentak dia bersama kawan
jagoannya berpaling kearah mana datangnya suara ledakan tersebut.
Tapi apa yang dilihat langit nan hitam, tiada sesuatu apapun yang
dijumpainya, dengan cepat mereka sadar kalau dirinya tertipu, baru saja
akan bersiap sedia menghadapi segala perubahan, jerit ngeri memilukan
hati telah berkumandang saling menyusul.
Apa yang terjadi " Diantara dua puluh tua orang jago lihay yang
dipimpinnya, sudah ada enam orang diantaranya yang roboh terkapar di
tanah dengan tulang kepala hancur serta darah kental menodai seluruh
badannya, kematian yang mengerikan sekali.
Ternyata orang yang melepaskan serangan itu tak lain adalah empat
orang manusia aneh yang berdiri dibelakang tubuh Mo Tin- hong.
Keempat orang itu tidak membawa senjata, mereka hanya menyerang
dengan menggunakan tangan kosong belaka.
Tapi caranya melancarkan serangan serta jurus serangan yang ganas
betul-betul menggidikkan hati orang, hanya dalam waktu singkat ada
dua orang jago lagi yang menemui ajalnya dalam keadaan mengerikan.
Sambil menggigit bibirnya menahan diri, Yau Teng-bei segera
membentak dengan suara dalam. "Seperti yang direncanakan semuIa, semua orang turun tangan
bersama, maju ke depan serentak, gunakan peluru api untuk
menyerang, kepung Mo loji rapat-rapat dan serahkan ke empat makhluk
itu kepeda lohu bersaudara..."
Maka serentak kawanan jago lihay dari golongan hitam itu menyerbu ke
depan mengancam Mo Tin-hong. Ada belasan orang diantaranya yang merogoh kedalam saku masing
masing untuk mempersiapkan peluru api.
Paras muka Mo Tin hong dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh
telah menyelimuti pula wajahnya, jelas dia telah melakukan persiapan
semenjak permulaan tadi. Ketika memberi komando kepada kawan jagonya untuk mengurung Mo
Tin hong tadi, Yau Tang bei bersaudarapun merogoh ke saku
masing-masing untuk mempersiapkan senjata tajam andalan mereka.
Sementara itu, ke empat orang manusia aneh tadi bukannya maju
menyerang malahan sebaliknya mundur ke belakang, delapan buah
sinar mata mereka bukan ditujukan kepada wajah Yaukeh hengte (tiga
bersaudara keluarga Yau) sebaliknya tertuju ke wajah Mo Tin-hong.
Mendadak terdengar Mo Tin-hong membentak keras kearah kawanan
iblis dari golongan hitam yang menyerbu kedepan itu.
"Harap kalian tunggu sebentar, dengarkan dulu perkataan lohu !"
"Orang she Mo." ucap Yau Tang bei sambil mengambil senjata
kaitan emas cakar harimau nya "bila kau tahu keadaan dan segera
menyerah, hal ini jauh lebih baik daripada harus melangsungkan
pertarungan, bila ada perkataan cepat kau utarakan !"
Mo Tin hong mendengus dingin, "Terhadap kawanan tikus macam
kalian, sebenarnya lohu hendak melakukan pembantaian
sampai seakar-akarnya, tapi mengingat kita adalah sesama umat
manusia ciptaan Thian, maka sekali lagi kuperingatkan kepada kalian,
segera mengundurkan diri dari sini, daripada memperoleh bencana yang
diinginkan !" Yau Tang-bei segera tertawa seram. "Heeeh.... heeeh.... heeeh...
orang she Mo, hanya beberapa patah kata itukah yang hendak kau sampaikan ?" Kini kemenangan
sudah ada di tangan Mo Tin hong, bila
menuruti adatnya, ingin sekali dia turunkan perintah untuk membasmi
seluruh jagoan tersebut hingga mampus semua.
Tapi berhubung Sun Tiong lo dan nona Kim bersembunyi disekitar sana
melakukan pengawasan, maka untuk memperlihatkan keluhuran budinya
serta bersikap seolah-olah dia tak gemar membunuh, terpaksa hawa
amarahnya harus ditekan dan berlagak hendak memberi peringatan.
Tentu saja diapun mengetahui dengan jelas bahwa kawanan jago dari
golongan hitam itu tak akan menyudahi pertarungan sampai disitu saja,
sudah barang tentu dia lantas manfaatkan kesempatan yang sangat baik
ini untuk mengobral keluhuran budi serta kebajikannya, agar Sun
Tiong-lo dapat merubah pendapat terhadap dia.
Benar juga, kawanan jago lihay dari golongan hitam itu, mulai dari Yau
Tang bei sampai lain lainnya merupakan jagoan yang tak gentar
menghadapi kematian, bahkan mereka menganggap Mo Tin hong kuatir
diserang dengan api, maka ada minat untuk berunding secara baik-baik.
Menyaksikan siasatnya termakan, Mo Tin hong sengaja menunjukkan
sikap yang lebih mengalah lagi, katanya:
"Yau Tang bei, terus terang lohu katakan kepadamu, lohu menetap
diatas bukit ini sama sekali tidak disertai niat untuk mengangkangi tiga
mestika hasil bukit ini, dan lagi tiga macam benda itupun bukan benda
yang dibutuhkan oleh seorang Kuncu..."
Belum habis dia berkata, Yau Tang bei telah menyela: "Bagus sekali,
lohu dan rekan-rekan lainnya bukan manusia
sejati, yang kami harapkan justru adalah ketiga mestika yang ada
dibukit ini bila kau berniat tidak untuk mengangkanginya kenapa tidak
dibagi saja kepada kami?" "Tutup mulutmu!" bentak Mo Tin hong gusar "dengarkan dulu perkataan
lohu hingga selesai, lohu tinggal disini hanya bermaksud untuk
menyembunyikan diri dari kejaran seorang musuh tapi sekarang urusan
telah berkembang jadi begini rupa, maka beberapa hari kemudian akan
aku tinggalkan bukit ini untuk pindah ketempat lain..."
"Bagus sekali" sekali lagi Yau Tang bei menukas, "bila kau akan pergi,
biarlah kami yang pindah kemari, bukankah itu adil namanya?"
"Hm!" Mo Tin hong mendengus dingin, "seandainya ke tiga macam
mestika hasil bukit ini diberikan kepada seorang lelaki sejati,maka benda
benda itu akan bermanfaat sekali bagi umat manusia didunia ini,
sebaliknya jika diperboleh manusia macam kalian, yang ada cuma
mencelakai sesama umat manusia saja kau anggap lohu akan
menyerahkannya dengan begitu saja pada kalian?"
"Sekali lagi kuperingatkan pada kalian, usaha persekongkolan kalian
dengan murid murtadku Khong It hong sudah bocor, dan malam ini lohu
sudah melakukan persiapan yang matang, bila kalian masih saja tak
tahu diri, jangan salahkan bila lohu tak akan berlaku sungkan-sungkan
lagi terhadap kalian!" "Huu, kalau hanya menggertak melulu apa gunanya" Mengapa tidak
kau perlihatkan kelihayan yang sesungguhnya?"
"Katak dalam sumur juga berani membicarakan luasnya angkasa?"
kembali Mo Tin hong mendengus dingm. "berulang kali lohu sudah
berusaha untuk menyadarkan kalian dan membuka jalan kehidupan buat
kamu semua, jika kalian bersedia mundur, maka
mengingat ketidak tahuan kalian, kamu semua dapat tinggalkan bukit
ini dalam keadaan selamat, kalau tidak..."
"Kalau tidak kenapa ?" sela Yau Tang-bei. "Sekali lagi lohu hendak
peringatkan kepada kalian semua, ketahuilah keempat orang anak buahku ini tak lain adalah Lam-ciaupak-
nio atau malaikat bengis dari selatan, iblis keji dari utara yang nama
besar mereka sudah pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan. Kini
sepasang bersaudara ini sudah takluk dan menjadi anak buahku,
sekarang tabiat mereka sudah berubah dan tak suka membunuh orang
lain, tapi bila lohu turunkan perintah, kekejaman serta kebrutalan
mereka akan dipraktekkan kembali dihadapan kalian !"
Begitu mendengar nama Lam ciau pak mo, serentak kawanan iblis dari
golongan hitam itu dibuat terperanjat.
Sayang sekali mereka agak lambat terjun ke dalam dunia persilatan,
sehingga tak seorang pun yang mengenali wajah asli dari Lam ciau pak
mo tersebut ditambah lagi ambisi mereka untuk merebut Bukit pemakan
manusia amat besar, meski jeri tak seorangpun yang mengundurkan diri
dari tempat itu. Tujuan yang sebenarnya dari Mo Tin hong adalah membunuh semua
jago yang menyerbu bukitnya pada malam ini, maka sambil tertawa
terbahak-bahak sorot matanya memandang sekejap kearah Lam ciau
pak mo, kemudian sambil menuding kearah Yau Tang bei katanya.
"Yau Tang bei, sebenarnya kalian mau mundur atau tidak" Harap
jawab pertanyaan lohu ini!" Yau Tang bei memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu sahutnya
dengan lantang. "Setelah memasuki bukit mestika kau anggap kami akan pulang dengan
tangan hampa ?" Sekali lagi Mo Tin hong tertawa terbahak-bahak. "Haaaah... haaah...
haaaah... kalau nafsu serakah sudah merajai pikiran,
sekalipun pintar akan menjadi bodoh, sekalipun pengecut juga akan
berubah menjadi pemberani. Baiklah, sekali lagi lohu memberi
kesempatan kepada kalian, segera undanglah kehadiran manusia
menangis dan manusia tertawa untuk hadir disini mungkin kedua orang
itu masih cukup kenal dengan Lam ciu pak mo..."
Belum habis perkataan itu diucapkan, Yau Tang bei telah membentak
kekiri kanannya: "Perbincangan yang tak cocok akan menghamburkan waktu saja, kita
segera turun tangan !" Baru selesai perintah itu diturunkan, tiga butir peluru api telah disambit
ke dalam pintu gerbang gedung tersebut.
Ternyata Mo Tin hong tidak memberikan pertolongan apa apa, sambil
berpekik panjang serunya kepada Lam sat pak mo.
"Kerahkan segenap tenaga kalian, bunuh mereka semua !" Diiringi
pekikan aneh yang memecahkan telinga, Lam-sat pak-mo serentak
menerjang kemuka dan menubruk ke arah kawanan jago tersebut.
Sementara itu, dari dalam ruangan gedung sudah kedengaran suatu
gerakan, ditengah desingan angin tajam, tiga butir peluru api yang
disambit kedalam ruangan gedung im mendadak padam dengan
sendirinya, menyusut kemudian tampak sepasukan jago lihay berbaju
hitam berjalan keluar dari balik gedung itu.
Semuanya berjumlah enam belas orang, masing-masing bersenjata
pedang dan memiliki ketajaman mata yang menggidikkan hati.
Dengan wajah sedingin es, Mo Tin hong memberi tanda kepada
Busu-busu berbaju hitam itu seraya berseru:
"Kepung! Ingat, jangan biarkan mereka lolos, tangkap hidup- hidup
mereka semua !" Enam belas orang Busu berbaju hitam itu menyahut bersama, serentak
merekapun melakukan pengepungan. Mereka hanya mendapat perintah untuk mengurung dan membekuk
musuh yang melarikan diri, tentu saja bukan berarti mereka turut
melancarkan serangan, maka orang-orang itu hanya melakukan
pengepungan ditempat itu. Dalam kepungan Lam-sat pak mo bekerja dengan santai, betul lawan
yang mereka hadapi adalah jago jago lihay dan golongan hitam, namun
ibaratnya harimau bertemu dengan kawanan domba, siapa terhajar oleh
serangan mereka pasti mampus atau terluka parah.
Anehnya beberapa bacokan golok dan pedang bersarang ditubuh Lam
sat pak mo, akan tetapi mereka seperti tidak merasakan apa- apa,
tubuhnya kebal senjata seakan-akan terbuat dari baja asIi, hal mana
makin mengejutkan kawanan jago dari golongan hitam itu.


Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dalam waktu singkat, dari dua puluh empat orang penyerbu tangguh
yang hadir diarena, kecuali Yau Tang bei kakak beradik, tinggal sepuluh
orang jago yang masih mempertahankan diri, sebaliknya Lam sat pak
mo makin bertarung makin berani, keadaan mereka tak ubahnya seperti
orang yang kerasukan setan. Pada saat itulah dari kejauhan sana tiba-tiba berkumandang suara
tertawa dan suara tangisan yang menyeramkan.
Begitu cepat gerakan tubuh kedua orang iblis itu, hanya dalam waktu
singkat suara mereka sudah semakin mendekat
Begitu mendengar suaranya, Mo Tin hong lantas mengetahui siapa yang
telah datang, de ngan suara lantang segera bentaknya.
"Para kiamsu berbaju hitam dengar perintah segera mengundurkan diri
dan berjaga-jaga di samping pintu gerbang gedung!"
Serentak para kiamsu berbaju hitam itu mengundurkan diri, dengan
memecahkan diri jadi dua baris, mereka berjaga didepan pintu.
Agaknya Lam sat pak mo menyadari pula datangnya musuh tangguh,
serentak mereka hentikan serangannya dan sambil
berjajar, sementara hawa murninya telah dinimpun menjadi satu
bersiap sedia menghadapi segala ke mungkinan yang tak diinginkan.
Tahu-tahu ditengah arena telah bertambah dengan dua orang manusia
aneh. Yang seorang bertubuh jangkung seperti setan gantung, mukanya putih
memucat menimbuIkan rasa pedih dari siapapun.
Sebaliknya yang lain berwajah gemuk putih dan senyuman selalu
dikuIum, sepintas lalu membuat siapa yang memandang ingin tertawa.
Begitu manusia tertawa dan manusia menangis munculkan diri, sorot
mata mereka segera melirik sekejap kearah Lam sat pak mo, kemudian
mendengus dingin, agaknya keempat orang itu sama sekali tak
dipandang sebelah mata pun olehnya.
Akan tetapi ketika sinar mata manusia aneh itu bertemu dengan wajah
Mo Tin hong, mereka seperti amat terperanjat sehingga paras mukanya
berubah hebat. Sun Tiong lo yang bersembunyi dibalik kege!apan, segera merasakan
hatinya tergerak setelah menyaksikan kejadian itu.
Manusia menangis segera memandang sekejap kearah manusia
tertawa, kemudian kedua belah pihak sama-sama menganggukkan
kepalanya. Manusia menangis tidak bergerak, sebaliknya manusia tertawa maju
kemuka dan berhenti lebih kurang lima kaki dihadapan Mo Tin hong.
Setelah tertawa terkekeh-kekeh dengan suara aneh, manusia tertawa
lantas berkata. "Tin lam sam tok ketiga orang bocah keparat itu benar-benar
menggemaskan, mereka hanya memberitahukan kepadaku dan sikakek
menangis bahwa harta mestika dibukit ini bermanfaat sekali buat kami,
mereka tidak mengatakan kalau Sancu bukit ini adalah kau...."
Tak dapat disangkal lagi, simanusia menangis maupun manusia tertawa
saling mengenal dengan Mo Tin hong.
"Sekarang kalian tentunya sudah tahu bukan?" seru Mo Tin hong cepat
dengan suara dingin. "Heehh... heehh.... heehh.... tentu saja, tentu saja, sekarang kami
sudah tahu." manusia tertawa terkekeh-kekeh.
"Lantas apa rencana selanjutnya?" "Harta mestika tetap harta
mestika, apalagi mestika itu amat berguna untuk diriku dan kakek menangis, toh kami tak bisa berpeluk
tangan belaka setelah mengetahui kau sebagai Sancu dari bukit ini."
Mo Tin hong segera mendengus dingin. "Bagus sekali, manusia mati
lantaran harta, burung mati lantaran
makanan, kini ketiga macam benda mestika itu sudah berada didepan
mata, lohu ingin saksikan dengan cara apakah kalian hendak
mengambilnya." Manusia tertawa memicingkan matanya lalu tertawa terkekek- kekeh.
"Bagaimana jika dirundingkan?" ia bertanya. "Kalau jalan pikirannya
berbeda, apanya yang perlu diperbincangkan lagi...?" Mendadak terdengar suara tangisan setan
melengking diudara, Manusia menangis maju mendekat sambil berseru: "Lo mo, kita kan
sobat lama bukan?" "Lohu tak akan bersanabat dengan manusia macam
kalian." dengan cepat Mo Tin hong menggeleng. Manusia menangis segera
menangis tersedu-sedu, katanya lagi. "Perkataanmu itu sungguh
membuat hatiku amat sedih, sedih sekali, teringat dimasa lalu."
"Apa itu masa lalu, masa kini, lohu sama sekali tak tahu" bentak Mo Tin
hong, "dengarlah baik-baik, kalian dua makluk tua, mnngingat kalian tak
tahu keadaan yang sebenarnya, lohu bersedia memberikan sebuah jalan
untuk kalian...." Gelak tertawa dan isak tangis segera berkumandang lagi diudara,
kemudian terdengar Manusia tertawa berkata:
"Mo tua, satu lawan satu aku dan si kakek menangis tak pernah omong
kosong, kami tahu bukan tandinganmu, tapi kalau dua lawan satu... Mo
tua, kau bakal keok ditangan kami."
"Mengingat dimasa lalu kita masih terhitung punya hubungan yang
lumayan, marilah kita sekali lagi bekerja sama, aku dan sikakek
menangis jamin kau tak akan mengalami kesulitan lagi dikemudian hari,
bagaimana?" "Hmm, kalian anggap dengan dua lawan satu, kalian lantas punya
keyakinan untuk menang?" Mo Tin hong mengejek sambil tertawa
dingin. "Mo tua, apakah kau lupa dengan pertunjukan bagus dimasa lalu ?"
"Belum, aku belum lupa dengan peristiwa itu, apalagi sewaktu kalian
melarikan diri terbirit-birit macam anjing kena digebuk !"
"Hanya mengandalkan kau seorang Lo Mo?" sambung manusia sambil
tertawa. "Kalian harus mengerti, waktu itu Pak gi lote datang kesana hanya
secara kebetulan saja." Manusia menangis segera berkaok-kaok keras, "Mo tua, kini Giok Bin
(muka kumala) sudah jadi onggokan tulang, Sian-kiam (dewa pedang)
sudah terkubur di tanah, kau jangan harap bisa mengharapkan
datangnya bantuan dari adik-adik angkatmu itu secara kebetulan !"
Begitu mendengar si kakek menangis membongkar rahasia tersebut Mo
Tin-hong segera merasakan hatinya tergerak, dengan cepat dia
memperoleh suatu siasat bagus. Dengan wajah berubah bebat, bentaknya keras-keras: "Ku loji (kakek
menangis), darimana kau bisa tahu kalau adik Pak gi sudah tewas?"
Kakek menangis agak tertegun, setelah menangis terseduh, katanya:
"Tentu saja aku tahu .... " Sesungguhnya Mo Tin-hong mempunyai
hubungan yang luar biasa pada manusia menangis maupun manusia tertawa, boleh dibilang
ia sangat memahami watak dari mereka berdua, maka tidak menanti
manusia menangis melanjut kata-katanya, ia telah membentak:
"Kau tentu saja tahu" Siau loji?" "Aku tahu dia tentu saja juga tahu!"
manusia menangis menyambung dengan cepat, "Ku loji, mari kita kesampingkan dulu
masalah yang kita hadapi malam ini, mari perbincangkan dulu soal kematian yang menimpa Pek
gi hiante ku beserta istrinya."
"Aku tahu kalian berdua tidak pernah bisa membedakan mana yang
salah mana yang benar, dan mana yang jahat, sebagai seorang laki-laki
yang berani berbuat berani bertanggung jawab, aku ingin bertanya
sekarang, apakah kalian turut mengambil bagian didalam peristiwa
berdarah yang menimpa adik angkat ku itu?"
Kedua orang manusia aneh itu tak menjawab melainkan yang satu
berpekik sedih sedangkan yang lain tertawa seram.
Dengan cepat Mo Tin Hong berkata lagi. "Suara pekikan sedih dan
suara tertawa seram hanya aku orang
she Mo seorang yang mengerti, bukankah kalian berdua sedang saling
memberi tanda bahwa malam ini..."
"Kalau saling memberi tanda lantas kenapa" tukas manusia tertawa tiba
tiba dengan suara dalam. "Kalau dalam hati tidak ada rencana busuk, buat apa mesti
dirundingkan?" "Heeh heeh heeh... sekalipun ada rencana busuk yang hendak
dirundingkan apa pula yang bisa engkau lakukan?"
"Lohu bisa apa?" Mo Tin hong segera membentak keras, "terus terang
aku katakan pada kalian berdua, lohu boleh saja tidak mau bukit ini,
nyawaku boleh saja tertinggal disini, tapi hari aku hendak membunuh
kaliau berdua untuk membalaskan dendam bagi kematian adik Pek gi
ku..." "Hanya mengandalkan kau seorang?" manusia menangis berpekik keras.
Mo Tin hong mendengus dingin, sambil menuding kearah dua orang itu
kembali bentaknya: "Katakan cepat, siapakah sebenarnya pemilik lencana Lok-hun- pay ?"
Manusia tertawa segera tertawa ter-kekeh2: "Orang she Mo,
bukankah kau sudah tahu pura-pura bertanya
lagi..." serunya. Sambil menjerit sedih, manusia menangis
menyambung pula: "Bukankah pemilik lencana Lok hun pay adalah kau
sendiri ?" Paras muka Mo Tin hong berubah menjadi amat serius
sepatah demi sepatah dengan tegas ia berkata "Bagus sekali, sudah lama lohu
mencurigai kalian berdua, aku tahu didunia persilatan dewasa ini belum
ada orang lain yang begitu bernyali berani memusnahkan
perkampungan Ang liu ceng dan membunuh adik Pak gi suami isteri,
Hmmm... selama ini berhubung lohu tak punya bukti, aku tak berani
berbuat banyak terhadap kalian berdua, tapi hari ini kalian telah
mengakui sendiri dosa-dosamu itu, hutang darah bayar darah,
serahkanlah nyawa kalian berdua !"
Selesai berkata ia segera memberi tanda-tanda kepada enam belas
orang jago pedang berbaju hitamnya sambil berseru:
"Soal gedung dan bukit ini tak usah kalian pikirkan lagi, segera undang
datang Pat-lo dan sekalian jago lihay yang ada, Basmi semua musuh
tangguh yang datang ke bukit malam ini, tak seorangpun dibiarkan
kabur dari sini !" Mendapat perintah tersebut, enam belas jago pedang itu serentak maju
ke arena dan menyerang kawanan golongan hitam yang masih tersisa
itu. Sedang Mo Tin-hong menuding kearah Lam sat pak mo sambil berseru:
"Kawanan tikus ini masih ada sekelompok orang lagi yang bersembunyi
dibelakang loteng Hian ki-lo, kalian segera ke sana dan bantai mereka
semua, jangan biarkan seorangpun di antara mereka lolos dengan
selamat, bantai semua sampai ludes !"
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Lam sat patmo segera
membalikkan badan dan ber lalu dari situ.
Mo Tin-hong segera mendengus dingin, dari sakunya dia mencabut
keluar tongkat lemas naga sakti yang menjadi senjata andalannya itu,
kemudian maju kedepan dan melancarkan serangan.
Manusia menangis dan manusia tertawa tak sempat memberi
penjelasan lagi, ditambah watak mereka yang keras kepala dan angkuh,
mereka tak sudi membantah tuduhan orang.
Begitulah sambil tertawa dan menangis ke dua orang itu segera maju
pula menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Manusia tertawa itu mempergunakan sebuah penggaris Liang thian ci
sebagai senjata andalannya, sedangkan si manusia menangis
menggunakan sebuah gada berduri Siang bun pang sebagai senjata.
Dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah terlibat dalam suatu
pertarungan yang amat seru, untuk sesaat sukar dibedakan mana
lawan dan mana kawan. Dalam pada itu, Sun Tiong lo dan nona Kim yang bersembunyi ditempat
kegelapan, sedang terlibat pula dalam suatu perdebatan.sengit.
Terdengar nona Kim berkata. "Nah sudah kau dengar jelas bukan."
"Apa yang nona maksudkan?" Sun Tiong lo bertanya dengan kening
berkerut kencang. "Dua orang mahluk tua itu telah mengakui." "Aku tetap curiga!"
tukas Sun Tiong lo. Mendengar jawaban tersebut, nona Kim jadi
gelisah, kembali dia berseru: "Mereka berdua sudah mengakui sebagai pemilik lencana Lok
hun pay, masa bisa salah?" "Mereka betdua sama sekali tidak mengaku
apa-apa. "Apa yang kau kehendaki hingga menganggap mereka sudah
mengaku" Barusan, ayahku toh sudah bilang dengan jelas, merekalah
yang memusnahkan perkampungan Ang liu ceng dan membunuh
ayahmu, mereka berdua tidak membantah."
"Benar, tapi mereka berdua toh tidak mengaku juga " Apalagi Mo Sancu
pun tidak membe ri kesempatan kepada mereka berdua untuk
membantah, tahu-tahu dia sudah memberi tanda untuk melakukan
serangan !" Nona Kim jadi naik darah, sambil mendepak-depakkan kakinya berulang
kali katanya: "Kau benar-benar seorang manusia yang tak tahu diri, kau toh sudah
akui ayanku sebagai empek angkatmu, sedang dua makluk tua itu
manusia apa, kenapa kau percaya..."
"Nona, aku tidak maksudkan begitu..." sekali lagi Sun Tiong-lo
menukas. Sementara mereka sedang berdebat tiada hentinya, mendadak dari
tengah arena berkumandang suara jeritan dari manusia menangis serta
dengusan tertahan dari Mo Tin-hong, menyusul kemudian tiga sosok
bayangan manusia itu mendadak saling berpisah.
Mereka yang berdebat pun segera hentikan perdebatannya dan
mengalihkan sorot mata nya ketengah arena.
Ditengah arena tampak lengan kiri manusia tertawa telah basah oleh
cucuran darah, jari manis dan jari kelingking tangan kirinya mulai ruas
kedua telah tersayat kuntung oleh sambaran toya lemas Mo Tin hong.
Luka tersebut hanya luka dikulit saja, jelas tak akan mempengaruhi
kemampuannya untuk melanjutkan pertarungan, sebaliknya Mo Tin hong
tidak menderita cidera apa-apa, sekalipun pakaian dibagian dadanya
sudah tersambar hingga robek. Nona Kim segera menghembuskan napas lega, baru saja akan bersura
lagi, manusia tertawa dan manusia menangis telah melejit kembali
keudara lalu menerjang Mo Tin hong secara ganas.
Mo Tin hong segera membentak gusar: "Bagus sekali, inilah yang
kuinginkan !" Maka ketiga orang itupun terlibat kembali dalam suatu pertarungan yang
amat sengit. Nona Kim seperti bersiap-siap akan turun tangan, tapi Sun Tiong lo
segera mencengkeram lengan kanannya sambil menegur.
"Nona, mau apa kau?" Nona Kim berusaha untuk meronta dan
melepaskan diri dari cengkeraman, namun tidak berhasil akhirnya dia berseru:
"Lepaskan aku!" "Nona" kata Sun Tiong lo dengan wajah bersungguh-sungguh, "tadi
mereka hanya saling mencoba dalam jurus pukulan, tapi sekarang
tenaga dalam masing masing telah disalurkan ke dalam senjata tajam,
kedahsyatannya luar biasa sekali."
"Bila nona tidak yakin memiliki kemampuan untuk menangkan tenaga
gabungan dari mereka bertiga, lebih baik janganlah bertindak gegabah,
sebab bila turun tangan sekarang, jangankan membantu Sancu, mungkin
ketika badanmu mencapai berapa kaki dari arena pertarungan pun
badanmu akan terluka oleh sambaran tenaga dalam yang sangat kuat
ini." Nona Kim bukan tidak mengerti akan teori tersebut, hanya saja
perasaan gelisah yang kelewat batas telah membuat dia kehilangan
kesadarannya.

Bukit Pemakan Manusia Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Setelah diperingatkan oleh Sun Tiong lo sekarang, sudah barang tentu
dia tak akan bertindak secara gegabah lagi.
- ooo0dw0ooo- ***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
BAB KEDUA PULUH TUJUH. DASAR watak perempuan, sekalipun tahu kalau salah, namun dia
enggan untuk mengakui kesalahannya itu, dengan suara manja dia
lantas berseru keras: "Lepaskan cekalanmu, tak usah mencampuri urusanku !" Sun Tionglo
tertawa, dia segera lepas tangan sambil katanya
"Aku telah berusaha sedapat mungkin, bila nona tidak mau percaya
juga kepadaku, yaa apa boleh buat lagi ?"
Belum lama dia menyelesaikan perkataannya, mendadak dari tengah
arena telah berkumandang suara jeritan yang memilukan hati.
Tampaknya pertarungan ditengah arena telah berubah menjadi suatu
pertarungan adu tenaga dalam. Sebenarnya nona Kim hendak membantu ayah nya, tapi niat tersebut
dicegat oleh Sun Tiong lo. Tak terkira rasa kaget yang menekan perasaannya, secara tiba- tiba dia
mendengar bergemanya suara jeritan keras yang memilukan hatinya itu.
Dengan cepat dia berpaling kearena, tampaklah sesosok bayangan
manusia telah mencelat keluar dari arena dan tergeletak ditanah.
Nona Kim kuatir sekali kalau orang itu adalah ayahnya, maka setelah
mengetahui kalau bayangan manusia itu adalah manusia menangis
legalah hatinya. Tampak manusia menangis telah kehilangan senjata gada berduri
Siang-bun pangnya, sedang kaki kirinya seperti sudah putus pula kena
terpenggal. Tapi setelah berpekik keras, tiba-tiba makhluk aneh itu meronta bangun
dan menerjang kembali kedalam arena.
Setelah dua kali menderita luka parah, keadaan dari manusia menangis
bertambah parah dan mengenaskan, tapi ia tak ambil perduli, maka
seperti orang kalap saja ia menerjang terus kedepan.
Bicara yang sebenarnya, ilmu silat penggaris Liang thian ci maupun
tenaga dalam dari manusia tertawa selalu setengah tingkat di-bawah
manusia menangis, tapi dalam kenyataannya sesarang dia justru
selamat tanpa cedera apapun sebenarnya apa yang telah terjadi"
Waktu itu, meski manusia menangis kehilangan pada berduri Ku siang
pangnya, meski kaki sebelah buntung, namun tak menjadi penghalang
baginya untuk beradu jiwa, bukan cuma tidak menghalangi bahkan hawa
napsu membunuh serta sifat buasnya makin membara, serangan demi
serangan yang dilancarkan juga makin menggila, ilmu pukulan Han pok
to kui ciang (pukulan hawa dingin penembus tulang) yang diandalkan
manusia menangis untuk merajai dunia persilatan, kini telah dikerahkan
sehebat-hebatnya, tampaklah deruan angin pukulan yang menusuk tulang mendesak
sekeliling tubuh Mo Tin hong tiada hentinya.
Pertarungan sengit kembali berkobar, ketiga orang itu dengan
mengandalkan gerakan yang cepat saling menyerang saling mendesak.
Untuk sesaat sukar ditentukan mana yang kuat mana yang lemah.
Nona Kim mengerutkan dahinya rapat-rapat menghadapi situasi
semacam ini, dia nampak merasa tegang sekali.
Sun Tiong lo melirik sekejap kearahnya, lalu ujarnya: "Kau merasa
kuatir?" Rasa mendongkol masih membara dalam dada nona Kim,
sudah barang tentu ia tak akan bersikap ramah terhadap sang pemuda,
tiba-tiba suaranya ketus: "Kau sangat lega bukan?" "Yaa, aku memang sangat lega, apa yang
mesti kukuatirkan?" Sun Tiong lo tertawa. Nona Kim segera mendengus marah, tanpa
berbicara lagi dia segera bangkit berdiri dan berlalu dari situ. Buru-buru Sun Tiong lo
menghalangi jalan perginya sambil menegur. "Kau mau kemana?" "Minggir!" Nona Kim melirik sekejap ke
arahnya, "kemana aku suka pergi, kesana aku akan pergi, kenapa kau mesti mencampuri
urusanku!" Sun Tiong lo segera tersenyum. "Apa yang kau katakan memang benar,
tapi pertarungan yang sedang berlangsung sekarang belum berakhir,
Lam sat pak mo yang berada disamping loteng Hian ki lo pun sedang
bertarung menghadapi sekelompok musuh yang tangguh, bila nona
menampakkan diri sekarang..." "Kenapa?" sela nona Kim, "tidak bolehkah aku menampilkan diri pada
sa Bentrok Para Pendekar 30 Bahagia Pendekar Binal Karya Khu Lung Bentrok Para Pendekar 7
^