Pencarian

Seruling Samber Nyawa 14

Seruling Samber Nyawa Karya Chin Yung Bagian 14


h mengeluarkan perintah lencana besi, siauhiap
dibatasi dalam tempo tiga hari harus menghadap, tak
nyana..." Merinding tengkuk Giok liong, sempitnya:
"Mengandal apa dia berani membatasi aku tiga hari?"
"Batas yang dikeluarkan dari hutan kematian adalah atas
perintah dari Cukong, perintahnya ini seumpama perintah raja
yang tidak boleh dilanggar atau dibangkang. Hanya terhadap
kaulah siau-hiap boleh dikata merupakan suatu keajaiban
yang pernah terjadi hanya satu kali."
"Hm, kalau aku tidak sudi pergi kesana, apa pula yang
dapat diperbuatnya?" " Kalau ganti orang lain, aku berani pastikan tentu sudah
hancur lebur tanpa ketinggalan utuh jenazahnya. Ketahuilah
Cukong malah merubah sikapnya yang marah itu dan
tersenyum simpul, katanya: "Anak ini, kukuh dan keras kepala benar wataknya Coba
kau pikir..." "Kentut " Giok liong berjingkrak gusar,
"jangan kau mengudal mulut dihadapanku, mengandal apa
dia berani menilai diriku sedemikian rupa"
sahut orang aneh tinggi kurus: "Menurut pengalamanku selama menghamba di-bawah
Cukong puluhan tahun, ini sudah merupakan suatu peristiwa
yang menyenangkan selama belum pernah terjadi memberi
muka kepada orang lain" "Hah, sombong dan takabur"
sambung siorang aneh tinggi kurus: "Tak duga belakangan
ini, cukong mengutus hamba sekalian untuk mencari jejak siau
hiap tanpa dapat menemukan kabar beritanya."
" Untuk apa mencari aku?"
"Belakangan ini mendadak Cukong suka marah-marah,
maka beliau lantas mengutus hamba membawa anak buah
meluruk ke Hwi-hun-san cheng sini, membunuh meratakan
seluruh perkampungan ini tujuan utama tak lain supaya siau
hiap mendengar berita ini lantas datang kemari"
Membesi hijau muka Giok-liong saking marah, bentaknya.
"Kiranya begitu kejam dan telengas betul perbuatan kalian"
seiring dengan bentakannya ini Giok- liong lantas
menerjang maju sambil mengirim sebuah jotosan, mega putih
berguling-guling sekaligus menerpa ke depan memberondong
ke arah si orang aneh tinggi kurus, dalam satu gebrak ini
Giok-liong sudah lancarkan pukulan dan mengarah sembilan
jalan besar ditubuh lawan. Agaknya seorang aneh tinggi kurus itu sejak tadi sudah
bersiaga dan menduga Giok-liong bakal melancarkan serangan
dahsyat, sebat sekali tiba-tiba bayangan tubuhnya melonjak
jauh setombak lebih, gerak kecepatan tubuhnya laksana kilat
seperti bayangan setan saja layaknya, terdengar suaranya
berkumandang: "Menurut hemat hamba seharusnya siau-hiap segera
berangkat ke Hutan kematian, kalau tidak.....Huh Huh "
"Kalau tidak bagaimana?" "Kalau tidak dimana dan siapa saja ada hubungan erat
dengan siau-hiap, tentu takkan terhindar dari bencana
kematian atau di babat habis ke akar-akarnya."
Amarah Giok-liong sudah mencapai puncaknya, kedua
lengannya digentakan sembari berseru:
"Selama aku Ma Giok- liong masih hidup sehari di Kangouw,
tipu muslihat hutan kematian harus ku bongkar- Baiklah aku
mulai turun tangan terhadap kau, akan ku bunuh dan
berantas seluruh kurcaci dari hutan kematian Lihat serangan"
Angin kencang dan dorongan kepalan tangan seketika
menderu keras laksana angin puyuh langsung menyerang ke
seluruh jalan darah penting diseluruh tubuh orang aneh tinggi
kurus. saking marah maka cara turun tangan Giok liong ini laksana
gelombang samudera mengamuk- Mendadak biji mata orang aneh tinggi kurus, sehat sekali ia
berloncatan menghindar, lagi-lagi mulutnya berteriak-
"Aku bermaksud baik, kenapa siau-hiap tidak membedakan
baik buruk " Saat itu mana Giok-liong mau dengar segala obrolannya,
beruntung ia lancarkan serangan dahsyat lagi sembari
menghardik murka: "Kubunuh kau dulu, terhitung sebagai peringatan keras
kepada hutan kematian, serahkan jiwamu"
Bersinar kedua mata orang aneh tinggi kurus, begitu
menjejakkan kaki mendadak ia meloncat setinggi setombak
lebih, teriaknya lagi: "Aku mendapat perintah dan di larang oleh Cukong, maka
tidak leluasa bertarung dengan siau-hiap"
sebetulnya jurus selanjutnya sudah siap dilancarkan begitu
mendengar teriakan orang. Giok-liong merandek lantas
menghentikan serangan selanjutnya, garangnya:
"Selamanya aku tidak akan membunuh manusia kurcaci
yang tidak berani membalas-" orang aneh itu bergelak tawa, ujarnya:
"Aku yang rendah menjabat Coa-tong (sektor ular) dalam
hutan kematian. Kalau siauhiap betul-betul ada minat baiklah
lain kali saja " Melihat sikap orang yang main ulur dan berkata melulu
tanpa ada minat hendak berkelahi, Giok-liong menjadi
kewalahan dan ragu-ragu. Akhirnya ia menarik kedua
tangannya, ujarnya lantang: "Kalau begitu, setelah pulang nanti tolong sampaikan
kepada Cu-kong kalian, katakan bahwa dalam waktu singkat
ini aku tiada tempo, terpaksa harus menunda beberapa lama
lagi, kelak kalau ada kesempatan pasti aku datang
menyambangi beliau" Coa-tong Tongcu menjura katanya: "Tentu akan kulaparkan kepada Cukong, mohon pamit"
Tubuhnya masih membungkuk namun tiba-tiba badannya
sudah melayang mundur dua tombak, sambil mengulapkan
tangan memberi tanda kepada empat kawannya, sebentar
saja bayangan mereka sudah - ditelan gelapnya sang malam.
"Hai Nanti dulu" ringan sekali tubuh Giok liongpun ikut
meluncur kedepan menghadang di depan mereka, katanya:
"Perlu juga diberitahukan kepada Cukong kalian, katakan
bahwa kehidupan kaum persilatan lebih baik aman sentosa,
sekali menimbulkan gelombang bencana kedua belah pihak
tentu akan menelan akibatnya. Cukup sskian saja kalian boleh
silakan". Coa-tong Tongcu tertawa ringan, ujarnya:
"Tentu akan hamba sampaikan, tapi watak Cukong... hihihi
selamat bertemu " belum habis suaranya bayangan tubuhnya
mendadak sudah lenyap, gerak gerik tubuh Coa Tong Tongcu
ini betul cepat dan gesit diluar dugaan.
sekarang diantara puing-puing Hwi-hun-san cheng yang
begitu luas tinggal Giok liong seorang diri, seluruh alam
semesta sudah diliputi oleh kabut malam, bulan sabit remangremang
memancarkan sinarnya yang redup. Pelan-pelan Giok-fiong berjalan kearah dimana dulu ia
tiduran berkasih mesra bersama Coh Ki-sia, ditempat inilah
mereka mengadakan hubungan suami istri, kembali ditempat
yang penuh kenangan nikmat ini, sungguh pilu dan duka
benar harinya, sejak itu menjadi berat untuk meninggalkan
tempat ini. sinar bulan sabit yang pucat dan redup dengan bertaburan
sinar bintang kelap-kelip diangkasa yang memantul dari
permukaan aliran sungai yang bening halus, dahan pohon
meliuk melambai ringan dihembus angin sepoi-sepoi, keadaan
sunyi yang penuh mengandung hawa kesedihan ini lebih
mencekam perasaan Giok-liong yang sedang dirundung duka
dan seorang diri memandang bayangan tubuhnya yang
memanjang jauh tak terasa ia menghela napas panjang
dengan lesu ia duduk di-pinggir sungai. Hawa malam mulai
dingin waktu terus berlalu, tanpa terasa hari sudah menjelang
tengah malam, Giok liong sudah melimpahkan perasaan duka
hatinya, lalu dikeluarkannya seruling samber nyawa diam-diam
ia merenung not lagu yang dulu pernah di ajarkan oleh Li
Hian, lalu pelan-pelan meniup serulingnyna.
Pembukaan lagunya ringan dan lembut seumpama
mengiring sang bidadari tengah menari dengan selendang
panjangnya, laksana hembusan angin musim semi yang
berlalu halus membuat pendengarannya menjadi nyaman dan
ngantuk- Lambat laun alunan nadanya mulai berubah nyaring
merdu kumandang menyelusuri alam semesta nan sunyi ini,
kembang- kembang serentak mekar seakan seluruh penghuni
alam ini hanyut tenggelam dalam buaian yang merdu
mengasyikan ini. sekonyong-konyong- irama seruling berubah cepat dan
meninggi, gemuruh laksana derap kuda berlari kencang
seumpama angin topan bergulung menyelimuti seluruh
angkasa, geledek dan kilat menyamber, gunung dan bumi
terasa bergetar, ombak faut mengamuk, seakan dunia ini
hampir kiamat. Entah berapa lama Giok liong meniup serulingnya saking
menggunakan perasaannya. Giok liong tak tahan lagi
meneteskan air mata, badannya menjadi lemas dan tiada
tenaga untuk meniup lagi. setelah menyedot hawa dingin ia
simpan kembali seruling kedalam bajunya.
Tak duga begitu irama serulingnya berhenti dari jarak jauh
lima tombak disamping sana mendadak melesat sebuah
bayangan masih di tengah udara orang itu sudah berteriak
beringas: "Bocah keparat, Iwekang tidak lemah, tiga lima tahun lagi
tentu seluruh Bulim bakal kau kangkangi. Apa boleh buat,
Losiu si orang tua harus melenyapkan kau dulu supaya tidak
menimbulkan bencana di belakang hari"
Keruan Giok liong tersentak kaget, belum lagi ia melihat
tegas orang mendadak matanya menjadi silau oleh
menyamber datang sinar kuning yang memancar terang
laksana seekor ular emas, diantara tengah cahaya sinar
kuning menyilaukan mata inilah sebuah telapak tangan besar
tiba-tiba sudah menyelonong tiba menepuk keatas balok
kepalanya. Perbawa kekuatan pukulan telapak tangan ini
sungguh hebat bukan olah-olah . Dalam keadaan yang tidak siaga terpaksa Giok liong harus
berusaha berkelit, badannya menggelimpang kesamping terus
menubruk kedepan sebat sekali tubuhnya jumpalitan ditengah
udara, maka dilain saat ia sudah tiba di seberang sungai
sebelah sana yang lebarnya tiga tombak lebih, untung benar
ia dapat menghindar dari serangan mematikan ini.
"Biang" dentuman dahsyat menggetarkan bumi, air sungai
muncrat tinggi kemana-mana, tempat duduk Giok liong tadi
kini sudah berlobang dalam setombak bundarannya. Maka
dapatlah dibayangkan betapa hebat dan dahsyat tenaga
pukulan yang mengejutkan ini. Jubah putih Giok liong menjadi berlepotan kotoran lumpur,
hatinya menjadi berang, sambil mengebutkan lengan bajunya
lincah sekali ia loncat kembali keseberang, bentaknya sambil
menuding pendatang itu: "Membokong dengan serangan ganas, apa tujuanmu?"
"Hahahaha Hahaha Hohohoooo "tidak menjawab sebaliknya
orang itu terloroh-3 kegila-gilaan.
Baru sekarang cilok-liong melihat tegas, pendatang uni,
ternyata seorang laki-laki tua yang bermuka merah, bibir
tebal, hidung besar seperti hidung singa, kedua biji matanya
melotot besar seperti jengkol berwarna merah, selain ini tiada
keistimewaan lainnya. Begitu menghentikan gelak tawanya si orang tua muka
merah berkata dengan nada rendah sember:
"serahkan seruling samber nyawamu itu"
Giok-liong menjadi heran, dari mana dia kenal aku " Karena
pikirannya ini hatinya menjadi gusar, semprotnya:
"serahkan kepada siapa ?"
"serahkan kepada Lohu" "serahkan kepadamu Hehehe Mengandal apa kau ?"
"Tidak mengandal apa-apa Kalau To-ji Pang Giok berada
disini betapa juga ia harus memberi muka kepada Lohu"
sesaat Giok-liong menjadi ragu-ragu, ia kwatir kalau orang
tua ini punya hubungan erat dengan perguruannya, terpaksa
ia tekan perasaannya. ujarnya: "o, betulkah " Siapa nama
Cian.jwe ?" "Tak heran, kiranya kau tidak kenal pada Lohu"
bicara sampai d sini mendadak si orang tua mendelikkan
mata, seketika terpancar sinar merah dingin dari kedua biji
matanya, selebar mukanya juga semakin merah terang, begitu
tajam pandangan matanya cukup membuat orang yang
dipandang kuncup nyalinya. Tak terasa Giok-liong menjadi merinding, cepat-cepat ia
empos semangat dan mengheningkan cipta menyalurkan
hawa murni kepusar dan diam-diam mengerah kanji lo
pelindung tubuh, sedikltpun ia tidak berani berlaku takabur.
Lama dan lama sekali kedua biji matanya besar merah dari
orang itu terus menatap wajah Giok-liong.
Entah berapa lama kemudian terdengar mulutnya berseru
heran, agaknya ia sangat terkejut sini air mukanya berubah
dan lenyaplah cahaya terang dimukanya, serunya keras:
"Sudah kenal pada Losiu belum ?"
Tersentak kaget Giok-liong mendengar pertanyaan ini, baru
sekarang ia sadar, cepat ia menjura dalam serta katanya:
"Kiranya Cian-jwe adalah Bingcu dari aliran hitam, yaitu
yang berjuluk Sip niat Ling Boan Bok-ki Licianpwe "
Orang tua muka merah mengunjuk rasa bangga, serunya
lantang sambil tersenyum: "Akhirnya dapat kau ingat juga "
Giok-liong tersenyum simpul, cepat-cepat ia memberi
hormat serta katanya pula: "cian-pwe sudah lama belum turun gunung, untuk
keperluan apakah sekarang muncul di Tiong-goan, sudikah
memberi sedikit penunjuk?" Dengan muka berseri-seri Toan Bokki berkata:
"Tepat sekali pertanyaanmu perjalanan Lohu kali ini, ada
sebagian karena kau ini" Giok liong merasa heran, lekas-lekas ia bertanya lebih
lanjut: "Hanya karena aku yang rendah?"
"Tadi sudah kukatakan aku hendak meminjam seruling


Seruling Samber Nyawa Karya Chin Yung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

samber nyawamu itu" "Ah, kiranya Cian-pwe main kelakar belaka ?"
"Kelakar " selama Hidup ini Lohu belum pernah membual"
"Kalau begini Cian-pwe betul-betul pinjam serulingku ini "
Giok liong mengerahkan Ji-o lagi buat siaga dan menjaga
segala kemungkinan, nadanya sudah tidak sehormat tadi.
"sudah tentu sungguh-sungguh " sikap sip-hiat-Ling Toan
Bok ki serius, agaknya memang bukan kelakar atau omong
kosong belaka. "Ini... harus kupikir-pikir dulu, sebab seruling samber
nyawa adalah milik perguruan yang dipercayakan ditanganku,
Wanpwe tidak berani sembarangan ambil putusan "
" Kau tak perlu, bersitegang leher, Lohu bukan minta
milikmu itu " Mendengar kata-kata ini Giok-liong berlega hati, batinnya,
" Kalau begitu lekaslah pergi, orang tua kalangan hitam ini
sungguh sulit dilayani sebentar marah lain saat tertawa
berseri, walaupun aku tidak perlu gentar menghadapi dia,
kalau sampai menunda yang ditentukan sampai di Pak-hay,
segalanya bisa berabe." Karena batinnya ini segera ia menjura serta berkata:
" Kalau begitu, maaf wanpwe minta diri saja "
habis ucapannya segera ia melejitjauh hendak tinggal
pergiTIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Tunggu sebentar omongan Lohu masih belum selesai "
"cianpwe masih ada omongan apalagi ?"
"Musim perayaan kembang pada bulan dua tahun depan,
adalah tepat jatuh genap seratus tahun dari kelahiran Lohu..."
"Wah sungguh beruntung," ujar Giok liong sambil unjuk
hormat, "Pada saatnya Wanpwe datang berkunjung mengucapkan
selamat-" Kata sip-hiat Ling ToanBek ki lambil mengelus jeng gotnya:
"Sejak berusia dua puluh Lohu sudah berkecimpung di
Kangouw, sampai sekarang sudah delapan puluh tahun
lamanya, aku merancang pada hari lahirku nanti akan
kuundang para sahabat Bulim untuk berkumpul untuk
merayakan, dihadapan para sahabat Bulim itulah nanti aku
hendak mencuci tangan menyimpan golok mengasingkan diri
selamanya takkan terjun didunia persilatan lagi"
senada dengan ucapan orang segera Giok liong
menyanjung puji: "Sungguh bahagia dan tepat benar jalan yang cian-pwe
tempuh ini " sip hiat-Ling Toan Bok ki meneruskan obrolannya.
"selama delapan puluh tahun uni, Lohu hidup di ujung
golok, boleh dikata segala pait getir ku kenyam hanya tinggal
sebuah angan-anganku yang sampai sekarang belum bisa
terlaksana " "cian-pwe bisa hidup bahagia sampai sepanjang umur ini,
masih ada angan-angan apa yang terlaksana?"
"Aku hendak mengoleksi empat senjata pusaka yang
terampuh dikolong langit ini sekedar sebagai hadiah hari ulang
tahunku itu" "Empat senjata pusaka?" "Benar, Pek sia-kiam, sian-lo-sian Tio-thian-hu dan seruling
samber nyawa ditanganmu itu." Tergerak hati Giok-liong, pikirnya-
"Tua renta yang tamak dan membosankan, sungguh besar
dan muluk-muluk angan-angannya untuk secepatnya
meleloskan diri dari libatan orang, terpaksa dimulut Giok liong
berlaku manis dan menyanjung pula: "O, ini betul betul berita bahagia dan menggirangkan
sepanjang umur-" sip-hiat-ling Toan Bok ki bergelak tawa girang, ujarnya:
"Memang betul, maka terpak sa Lohu harus turun tangan
sendiri terjun pula diBulim untuk mengajar angan anganku itu,
supaya dihari tua ini tidak hidup kecewa."
"Benar juga ucapan cian-pwe ini"
"Serahkanlah seruling tamber nyawa itu kepada Lohu
setelak lewat musim perayaan kembang tentu kukembalikan
lagi kepadamu." secara terang dan gamblang sip-hiat-ling Toan Bok ki
menyatakan langsung hendak meminjam seruling itu, sesaat
Giok liong kemekmek tak enak lantas menolaknya begini saja,
sejenak ia berpikir lalu berkata: "Wanpwe ada dua cara" "Cara apa?" "Pertama dalam satu bulan ini kalau Wanpwe ketemu suhu
biar kusampaikan persoalan ini kepada beliau- kalau suhu
suka memberi ijin, tiga hari sebelum perayaan kembang
musim semi langsung kuantar sendiri ke Tiang Pek-san diatas
Hiat-hong-cay kediaman cian-pwe itu, langsung kuserahkan
kepada Cian-pwe" "Lalu cara kedua?" " Kedua sebelum hari ulang tahun tiba, Wanpwe akan
datang untuk mengucapkan panjang umur kepada Cianpwe
saat itujuga kuserahkan kepada Cianpwe"
Tak nyana tiba tiba muka merah sip-Uiiat-ling Toan Bok ki
bersungut, bentaknya keras. " Kedua cara ini tidak bisa kuterima "
Cara yang diajukan oleh Giok-liong tadi boleh dikata sudah
merupakan kelonggaran yang banyak memeras pemikirannya,
terutama merupakan kebijaksanaan pula, sebab sip hiat-Ling
Toan Bok ki walaupun gembong nomer satu yaitu Bing cu dari
aliran hitam, kata-katanya merupakan perintah sekokoh
gunung, boleh mana suka ia menyebutkan dan harus dipatuhi
oleh siapa saja. Tapi perguruan Giok-liong bukan dari aliran hitam,
peribadinyapun bukan dari keluarga golongan sesat diBulim,
maka tidak seharusnya begitu congkak dan takabur Toan Bokki
membuka mulut terhadap dirinya. Maka cara yang diajukan tadi sudah memberikan muka
kepadanya, kalau toh tadi ia tidak segera menolaknya secara
tegas. sekarang mendengar bentakan yang congkak ini hatinya
tidak menjadi tidak senang dan gemas, dalam keadaan yang
serba repot bagi Giok-liong ini, ia selalu bersemboyan dari
pada terlibat dalam suatu urusan yang mengikat dirinya lebih
baik mengurangi suatu beban. Maka dengan membawa sikap tertawa yang dibuat-buat,
Giok-liong bertanya: "Kenapa tidak bisa diterima."
Kata Toan Bok ki mengagulkan ketuaannya:
"Kalau kau tidak ketemu Pang Giok, atau sebelum hari
ulang tahunku pada perayaan kembang musim semi itu kau
tak sempat ke Tiang pekssan, bukankah akan menyapu bersih
kesenangan Lohu, ini namanya urusan besar Lohu pula.
Tatkala itu bukankah Lohu bakal menjadi buah tertawaan para
kerabat Bulim karena tidak becus bekerja."
Giok-liong menyeringai dingin: " Kalau menurut pendapat Cian-pwe lalu bagaimana
baiknya ?" "Sekarang juga kau serahkan seruling samber nyawa itu
kepadaku" "Jan-hun-ti adalah peninggalan perguruan, mana boleh-.."
"Kau tidak percaya pada Lohu atau memandang rendah
Lohu ?" "semua bukan" "Kenapa cari alasan apa segala. Apakah kira ilmu sip hiatpok
ciang Lohu kurang sembabat menghadapi kau"
"cian-pwe jangan marah dulu, dua cara yang kuajukan tadi
anggap saja batal, aku yang rendah masih ada suatu cara lain
ku-tanggung pasti dapat terlaksana "
"Lekas katakan? "Cara lain yaitu harus mengandalkan kepandaian sejati
masing-masing" "Bocah, besar benar nyalimu "
"Sikapmu juga terlalu sombong, ketahuilah Kim-pitjun-hun
sebetulnya tidak gampang mandah dipermainkan"
"Bocah keparat, kau mencari mampus"
"Sekarang belum tentu siapa bakal menang dan asor"
"Lihat serangan" "Hm, aku orang she Ma siap melayani"
Mega putih berkembang mengepul naik menyelubungi
tubuh, dua jalur pelangi merah darah juga melesat keluar
bergulung-gulung, pertempuran dahsyat yang paling seru
mulai bergerak dibalas tumpukan puing bekas perkampungan
awan terbang. sebagai pemimpin golongan Hitam, kalau tidak membekal
kepandaian silat luar biasa serta dengan latihan yang
sempurna mana bisa menundukkan orang-orang gagah dari
berbagai aliran. Terlihat ia mulai mengembangkan ilmu sip
hiat-ling yang sangat di banggakan, seketika seluruh
gelanggang laksana diliputi kabut merah berdarah, dari
sambaran angin yang kencang itu terendus bau amis yang
memualkan, diantara taburan angin membadai itu, kedua
telapak tangan sebesar mangkok ini bergerak lincah dan kuat
sekokoh gunung, selincah ular sanca. Cara permainannya ini
benar-benar sudah begitu sempurna dan lihay betul mencapai
puncak yang tertinggi. Kalau diperumpamakan secara seksama, bekal kepandaian
yang dimiliki Giok liong sekarang boleh dikata sudah terhitung
seorang tokoh kosen yang jarang diketemukan apalagi dengan
berlandaskan kepandaian sam-ji-cui-hun chiu yang merupakan
ilmu sakti dari aliran lurus dan murni, walaupun jurus
permainannya tidak banyak namun penuh mengandung
banyak perubahan. Cih-chiu. Hoat-bwe dan Tian-ceng satu
sama lain saling mengisi dan menambal kekosongan dan
kekurangan satu sama lain, apalagi kalau dilancarkan secara
berantai, tiga berubah enam, enam berubah dua belas tangan
pukulan begitulah jurus demi jurus berlipat ganda lebih
banyak tiada kenal putus laksana aliran sungai besar yang
bergulung-g ulung sepanjang ribuan li.
Dua tokoh silat puncak tinggi sesaat berkutet dengan seru,
satu sama lain dapat mengambil kemenangan, meskipun
sejurus saja masing masing berusaha sekuat tenaga untuk
memenangkan sejurus, atau setengah jurus, namun sukarnya
bagai memetik rembulan diangkasa raya, sinar merah darah
menerpa tiba, segera merah putih memapak maju maka
terdengarlah ledakan dahsyat berulang kali.
satu jam kemudian lima ratus juras telah berlalu tak terasa,
selama ini masih belum kuasa ditentukan siapa lebih unggul
atau asor, kepandaian kedua belah pihak memang sama kuat.
"Berhenti dulu" mendadak terdengar gerungan keras sit
hiat-ling Toan Bok ku, seiring dengan bentakannya tampak ia
meloncat keluar dari arena pertempuran. Mukanya bersungut
gusar, biji matanya mendelik tajam mengawasi Giok liong,
katanya: "Lohu tak sabar main berkelahi lama-lama begini, dengan
bekal nama dan ketenaran selama hidup ini biarlah aku main
taruhan saja." Giok- liong tertawa tawar, sahutnya:
"Apakah itu perlu?" "Apa kau takut?" "Tiada sesuatu urusan yang perlu ditakuti silakan sebutkan
cara permainan apa, semua- kulayani sesuka hatimu"
"Sombong benar katamu, mari Lohu akan menjajal sampai
dimana latihan Iwekangmu" sebetulnya si orang tua ini
hendak main licik dan mengandung maksud tak baik, menurut
pertimbangannya, ilmu simpanan Giok-liong benar-benar
hebat dan rumit sekali susah dijajaki, gerak langkahnya juga
lincah dan gesit sekali, apalagi tenaga muda lagi.
Tapi mengandal latihan Iwekangnya selama ratusan tahun
ini tentu ada pegangan dapat merobohkan musuh kecil ini.
Betapa Giok liong tidak tahu maksud yang terkandung dibalik
ajakan adu Iwekang ini, tapi janji sudah diucapkan tak
mungkin ditarik kembali, maka ujarnya sambil tersenyum sinis:
"Perhitunganmu ini cukup mengagumkan, aku terpaksa
harus melayani, coba sebutkan cara pertandingan babak adu
Iwekang ini ?" Tak nyana mnndadak sip-hiat ling Toan Bok-ki mementang
kedua kakinya lalu memasang kuda-kuda serentak itu pula
kedua lengan dengan telapak tangan berkembang didorong
lurus kedepan, kiranya ia lebih dulu lancarkan jurus
serangannya, menyerang dulu baru mulutnya berteriak:
"Cara mengadu kekerasan beginilah "
Dua jalur sinar merah darah yang membawa tenaga hebat
menggulung tiba laksana damparan angin puyuh, seperti pula
air tercurah dari atas langit, betapa hebat kekuatannya
sungguh jarang diketemukan di kalangan persilatan, ganas
dan telengas lagi. sontak Giok- liong menjadi beringas, geramnya rendah:
"Tua bangkotan yang licik telengas"
seiring dengan geramannya ini mendadak terasakan
segulung tenaga laksana gugur gunung dahsyatnya menerpa
tiba menindih dada, tanpa ayal sigap sekali segera ia angkat
kedua tangan sambil mengerahkan seluruh kekuatannya terus
mendorong kede-pan untuk menangkis.
Untung latihan Giok-liong sudah mencapai tenaga dapat
mengikuti kemauan, kalau tidak seketika ia akan terbanting
mampus dengan, seluruh isi perut hancur lebur, meskipun
begitu sigap ia menangkis karena dilancarkan tergesa-gesa tak
urung terasa juga tekanan besar ribuan kati menggetarkan
seluruh badannya sehingga jantungnya ikut tergetar seketika
pandangan menjadi gelap dada sesak dan mual, jalan darah
menjadi terbalik. Untung ia membekal ilmu sakti dari aliran lurus, Hawa Ji-lo
dapat mengikuti tekanan dari luar, semakin besar tekanan
daya tolaknya juga jadi bertambah besar, sehingga tekanan
yang menindih dadanya sebagian besar bisa dipunahkan
Dengan cara menyerang secara licik hampir serupa
membokong ini tujuan Toan Bok-ki adalah cukup sejurus saja
pasti dapat merobohkan lawan kecil ini, apalagi ia merasa
serangannya cukup menggetarkan jantung Giok-Liong, keruan
girang bukan main hatinya, menurut perhitungannya dalam
beberapa detik saja darah Giok liong pasti tersungsang sumbel
dan tak kuat bertahan lagi. Tak duga begitu tenaganya baru saja merembes masuk ke


Seruling Samber Nyawa Karya Chin Yung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

badan orang sebelum mencapai eiasaf pusarnya, mendadak
terasa olehnya ada segulung tenaga lunak yang timbul
menahan dampratan tenaga sendiri sehingga kekuatan
tenaganya tidak dapat dikontrol lagi, bukan saia tak kuasa
meneriang jalan darah besar musuh malah semakin lama
semakin lemah dan menyurut kembali, sehingga terasa pula
kedua lengan sendiri kesemutan. Dedongkot tua licik berpengalaman luas ini tujuan semula
sekali serang merobohkan lawan kini setelah melihat
serangannya menemui jalan buntu dan gagal total cepat-cepat
ia tarik kembali tenaganya, Tahu dia bahwa musuh muda yang
dihadapi ini betul-betul merupakan tokoh kosen yang tak
mudah di tundukkan latihan Iwekangnya betul-betul sudah
mencapai sukses yang paling di banggakan.
Maka untuk selanjutnya tak berani ia berlaku ceroboh,
diempotnya semangat tenaga dikerahkan kedua lengan,
begitulah dengan bekal latihan tenaga dalamnya ia berniat
bertahan mengadu kekuatan secara jangka panjang untuk
mengambil kemenangan. Di lain pihak Giok liong sendiri juga insyaf bahwa jago tua
yang dihadapi ini adalah musuh paling kuat yang belum
pernah diketemukan selama ini, maka sedikitpun ia tidak
berani lalai, pelan-pelan dikerahkan seluruh tenaga murninya
terus dilancarkan pelan-pelan. Menurut pertimbangannya
terlebih dulu ia memperkokoh kedudukannya baru selain itu
melancarkan serangan balasan yang mematikan.
Kedua belah pihak mempunyai maksud yang terkandung
dalam benaknya dan mulai dipraktekkan, siapapun tak berani
semberono bergerak, begitulah mereka berdua menjadi
berhadapan kaku dipinggir sungai berjarak lima tombak, biji
mata mereka mendelik tak berkesip. empat telapak tangan
saling berhadapan diam-diam mereka tengah mengerahkan
tenaga untuk bertahan. Tenang dan sunyi mencekam seluruh penghuni alam ini,
seolah-olah seluruh alam semesta ini sudah mati sehingga
suasana menjadi hening lelap. Hanya terdengar lapat-lapat
hawa udara bergelombang mengeluarkan desis rendah yang
semakin keras. Kira-kira seperminuman teh kemudian, sampai diatas
kepala sip-hiat-ling Toan Bok ki mengepul sinar merah darah
yang lembut dan tipis terus terus membumbung tinggi
setombak lebih- Demikian juga keadaan Giok-liong, tampak dua jalur kabut
putih laksana tonggak batu pualam menguap dari kepalanya.
sebentar lagi mulai terdengar pernapasan yang berat, jidat
mereka sudah basah oleh keringat dan memancarkan cahaya
terang- Cahaya merah darah semakin susut dan menipis, demikian
juga kabut putih mulai sirna menghilang.
Akhirnya kedua tangan masing-masing sudah tak kuasa lagi
diangkat dan semampai lemas walau sekuatnya bertahan
dengan gaya duduk bersila, tapi tenaga sudah dikuras habis,
seperti pelita yang kehabisan minyak, tanaman yang mulai
layu kekeringan, mati atau hidup tinggal terpaut seutas
benang saja. Keheningan alam sekelilingnya kini diramalkan dengan
dengusan napas yang berat serta suara "krak keok" dari
tenggorokan kedua orang yang kehabisan tenaga ini.
"Hooaaaa...." tiba-tiba terdengar loroh gelak tawa panjang
aneh yang menusuk telinga dari tumpukan puing sebelah
sana, belum hilang suara tawa ini, di keremangan sinar bulan
tampak berjalan keluar seorang kate cebol setinggi tiga kakiorang
kate cebol ini mengenakan jubah panjang yang
terbuat dari kain iaci, kepalanya gundul tinggal berapa utas
rambut yang sudah uban, raut mukanya Jenaka menyerupai
wajah bayi, tingkah lakunya sangat lucu.
orang tua cebol bermuka seperti orok kecil ini pelan-pelan
menghampiri Giok-liong saat mana Giok liong sudah kehabisan
tenaga, seluruh tubuh lemas lunglai seperti kapas, sedikitpun
tak kuasa mengerahkan sedikit tenagapun.
Demikianjuga keadaan Toan Bok ki duduk mematung
seperti tonggak, jangan kata hendak main menang-menangan
merebut seruling apa segala, dihembus angin keras saja
tanggung roboh terkapar. yang membuat mereka gegetun adalah meskipun
kehabisan tenaga namun pikiran dan perasaan mereka masih
peka, begitulah dengan mendelong saja mereka mandah
diejek oleh orang tua cebol bermuka bocah ini tapi apa yang
dapat mereka perbuat, walau hati gelisah dan was-was namun
tenaga untuk membuka suara saja tak mampu.
Kira-kira dua kaki didepan Giok-liong orang tua cebol
bermuka bocah berhenti lalu menjura katanya:
"Terlebih dulu aku si orang tua mengucapkan terima kasih
atas pemberian seruling ini." lalu seenaknya saja ia mulai membuka kencing baju luar
Giok liong terus mengulur tangan merogoh keluar jan-hun ti,
seketika terpancar cahaya putih cemerlang menerangi alam
sekelilingnya, begitu gemilang cahaya ini menyilaukan mata.
seperti bocah mendapat mainan yang disenangi orang tua
cebol bermuka bocah ini meugelus-elus seruling di tangannya,
lalu dengan langkah lebar mendekati sip hiat-ling Toan Bok ki
katanya pula menggoda: "saudara tua untuk mendapatkan jan-hun-ti ini mungkin
dalam mimpi kaupun tak tenang, nih silakan kau lihat biar
terang supaya tidaklah sia-sia puluhan tahun angan-angan itu.
Ha Hahaha..." seruling diangkat lalu digoyang-goyang-kan didepan mata
sip-hiat-ling Toan Bok ki katanya pula:
"Kesempatan sukar didapat, kalau aku siorang tua sudah
kembali di Ling lam, untuk melihatnya lagi sudah tidak begitu
gampang lho " sembari kata ini ia mundur lima tombak
jauhnya terus putar tubuh tinggal pergi-
Dalam hati Giok liong gugup bukan buatan, matanya saja
yang mendelik mengawasi kepergian orang.
Di lain pihak sip-hiat-ling Toan Bok ki sendiri juga gelisah,
hati sangat pilu seperti diiris-iris, ada hati hendak mengejar
dan merebutnya kembali sayang tenaga sendiri tak berdaya.
sementara itu orang tua cebol bermuka bocah itu sudah
berjalan tujuh delapan tombak mendadak ia berteriak sambil
menepuk jidatnya: "Hayooo, aku sungguh goblok, bila Iwekang mereka pulih
kembali bukankah akan meluruk mencari perkara kepadaku
Kalau sekarang kubunuh mereka siapa yang tahu kalau
seruling sakti ini terjatuh ditanganku, inilah yang dinamakan
membabat rumput tidak seakar-akarnya, dihembus angin
musim semi ia akan tumbuh lagi. ya, seorang laki-laki sejati
harus berani bekerja secara jantan, mereka harus dilenyapkan
supaya tidak meninggalkan bencana di kemudian hari "
begitulah sambil mengguman seorang diri ia sudah putar
balik, setelah dekat kelihatan muka bocahnya yang lucu itu kini
sudah berubah menyeringai iblis sangat ketakutan, sambil
angkat seruling diatas kepala ia memburu kearah sip-hiat ling
Toan Bok ki, katanya sambil mengertak gigi:
"sahabat tua jangan salahkan aku berlaku kejam padamu "
Jan-hun-ti sudah diangkat diatas kepalanya hampir
dikeprukan. Kebetulan saat mana teng gorokan Toan Bok ki
berbunyi berkerok-kerok keras terus menyemburkan segumpal
darah segar, tampak air mata meleleh diri kelopak matanya.
Karena tidak menduga, dan berjaga-jaga saking kaget
orang tua cebol itu meloncat lima kaki, teriaknya tertawa:
"sahabat tua Kenapa berduka Apakah karena tidak dapat
melewatkan hari ulang tahun yang keseratusanmu itu,
sudahlah sidak perlu manusia hidup seratus tahun akhirnya
juga mesti mati, legakan saja saatmu hari ini tahun depan
adalah... aduh" setitik sinar putih perak melesat secepat kilat menyambar
tiba, kontan si orang cebol bermuka bocah menjerit ngeri,
badannya terhuyung terus tersungkur jatuh.
Tepat saat itujuga tampak sebuah bayangan hijau pupus
berkelebat mendatangi secepat mengejar angin, begitu dekat
terdengar teriakan: " Kakek Kakek" kiranya itulah seorang gadis rupawan bertubuh langsing
sudah meluncur datang ditengah tumpukan puing itu.
Tanpa memperdulikan si orang tua cebol bermuka bocah
yang bergulingan sesambatan langsung gadis rupawan itu
menubruk kearah sip-hiat-ling Toan Bok ki, teriaknya
menangis sambil mendekap lengannya:
"Kek Kenapa kau Kenapa tidak bicara,"
berteriak lalu menangis lagi sikapnya yang gelisah dan
gugup itu sungguh sangat kasihan. sip hiat-Ling Toan Bok-ki menderita luka dalam yang
teramat parah, mana bisa ia bicara.
gadis baju hijau itu sudah payah memapahnya bangun,
mulutnya mengomel panjang pendek: "Aku mau ikut keluar kau tidak mengijinkan kalau aku tidak
mengelabui ayah dan mengintil kemari, coba siapa yang dapat
merawat mu Kek Lain kali kaiau ke luar lagi kau harus
mengajak aku, marilah kita pulang ke Hiat-hong-cay, setelah
lukamu sembuh kita bisa melancong lagi "
gerak geriknya memang lincah dan bersifat kanak-kanak,
tanpa hiraukan Giok-liong yang terduduk sila, lebih tidak
pedulikan si orang cebol bermuka bocah yang bernapas ngosngosan,
mukanya sudah menjadi kuning dan kaku.
Tatkala itu sip-hiat-ling Toan Bok ki sudah dipapahnya
bangun, namun tubuhnya lemas lunglai menggelendot
dipundaknya, mulutnya tidak kuasa bicara.
Kata gadis baju hijau lagi: "Kek berpegangan kencang, kita harus cepat cepat pulang
mengobati lukamu" Karena mulut tak dapat bersuara, sip- hiat-ling Toan Bok ki
menggerak-gerakkan biji matanya yang redup itu melihat
kebawah tanah, ujung mulutnya juga bergerak-gerak-
Giok-liong paham akan syarat ini. Tahu dia maksud Toan
Bok-ki menyuruh gadis rupawan itu menjemput seruling
samber nyawa, sudah tentu hatinya kembali gelisah kalau
seruling samber nyawa terjatuh ditangan pihak Tiang-pek san,
untuk memintanya kembali tentu tidak mudah.
sebaliknya gadis baju hitam itu tidak mengerti akan maksud
kakeknya, katanya: "Aku menyambitnya dengan sebatang sio-hiat gin ciam
(jarum perak penyedot darah), kutanggung jiwanya takkan
hidup sampai terang tanah, buat apa pedulikan bocah cebol
ini" kiranya ia menyangka kakeknya menyuruh dirinya
membunuh si cebol itu. seperti orang bisu ada mulut hendak berkata namun sia-sia
belaka, demikianlah keadaan Toan Bok-ki, namun matanya
tetap memandang kebawah terus, tapi lama kelamaan
matanya itu juga terasa berat untuk di-bukagadis
baju hijau masih tak mengerti, mulutnya
dimonyongkan sungutnya: "Kakek ada-ada saja, biarlah ia menderita lebih lama lagi
biar kapok " siapa suruh dia berani memukul kau dan orang
itu menjadi demikian rupa " sembari berkata ia angkat tangan
kanannya terus menepuk dari kejauhan kepala si orang cebol
yang masih menggerung-gerung ditanah, serunya:
"Baik kuturuti kemauan kakek, supaya hatinya lekas lega "
Terdengar kesiuran angin keras menyampok kedepan "
blang" "aduh " si orang tua cebol berteriak setengah jalan lantas
berhenti kepalanya pecah berhamburan otaknya berceceran
terang jiwanya tak dapat diselamatkan lagi.
Giok-liong berlega hati diam-diam dia berteriak girang
merasa beruntung, syukur gadis baju hijau ini tidak
mengetahui asal-usul jan hun ti, senjata sakti yang menjadi
perebutan kaum persilatan. Tapi sekarang pandangan mata siap-hiat ling Toan Bok-ki
melirik kearah Giok liong yang masih duduk bersila.
Lagi lagi baju hijau bersungut uring-uringan, ujarnya:
"Kek kau betul-betul bawel, seorang diri mana aku bisa
mengepruk-mati banyak orang-" Memandang kearah Giok liong ia berkata lincah:
"Engkoh kecil Aku tahu kau dan kakekku dipukul luka parah
oleh si orang tua cebol keparat itu, karena luka kalian berdua
sama, tapi aku tak bisa menolongmu karena tenagaku kecil,
tak mampu aku memaya dua orang, dendam ini sudan
kebalasan, terpaksa kau kutinggalkan aku bersama kakek
hendak pulang, kelak datanglah ke Tiang pek san di Hiat
hong-cay, tentu kutemani bermain"
Dalam hati Giok liong merasa geli dan ingin bergelak tawa,
segera sekuatnya ia manggut manggut.
Kata gadis itu lagi: "Kalau ke Hiat-hong-cay, carilah Toan Bok ki wsi, kalau
orang tak tahu tanyakan Ciong ci liong li banyak orang tahu
itulah aku adanya" Giok liong mengharap dia memayang kakeknya lekas
meninggalkan tempat ini, tempat ini sepi tak ada orang, ia
bisa mengerahkan hawa murni memulihkan tenaganya, asal
bisa menghimpun hawa murni dan memulihkan tenaga murni
dan memulihkan tenaga tentu dapat bergerak dan menyimpan
kembali jan-hun-ti selanjutnya gampang saja mencari tempat
tersembunyi untuk menyembuhkan luka dalamnya. Maka
sekali lagi ia manggut-aianggut sambil tersenyum simpul.
Melihat Giok liong beruntun manggut dua kali Ciang ci
liong-liToan Bok si menjadi lega dan menghela napas serta
tersenyum manis. Tanpa melihat sikap Toan Bok ki lagi, sekali
melejit ia panggul tubuh kakeknya terus berlari kencang,
terdengar ia berteriak: "Engkoh kecil janganlah lupa datang ke Tiang pekssan
untuk bermain" belum hilang uaranya beberapa kali loncatan saja
bayangannya sudah jauh berada di puluhan tombak sana.
Mana dia tahu, kakek yang dipanggul dipunggungnya saat
itu sangat gemas dan gegetun sekali, tapi apa boleh buat,
karena diri sendiri tak kuasa buka suara, rasa dongkolnya
ditelan bulat-bulat. Mengantar bayangan ciang Hiong-li yang menghilang
dikejauhan, hati Giok-liong seperti terlepas dari tindihan batu


Seruling Samber Nyawa Karya Chin Yung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

besar, diam-diam ia berseru dalam hati. "Sungguh
berbahaya." Pelan-pelan ia mengheningkan cipta, lalu menghimpun
hawa murni, mulai mengatur pernapasan.
Tak duga baru saja ia mulai, tiba-tiba terdengar lambatan
baju yang dihembus angin maka dilain kejap meluncur lurus
sesosok bayangan orang, pendatang ini adalah seorang muda
yang bermuka pucat kurus. Giok-liong tersentak bangun, luka dalam yang sudah mulai
terawat dan hampir sembuh tadi kini menjadi berantakan
karena gangguan dari luar ini, keadaan menjadi payah karena
hawa murni yang terhimpun menjadi buyar.
" Celaka " diam-diam Giok liong mengeluh dalam hati.
"Apakah Jan hun ti sudah di takdirkan bukan menjadi
milikku abadi " Atau mungkin bintangku sedang guram " Kalau
tidak kenapa aku harus menghadapi berbagai bencana
bergelombang yang selalu mengintai ini."
Betul juga ternyata pemuda muka pucat itu tahu akan
benda antik, setelah berteriak teriak sekian lama mendadak ia
meraih jan-hun-ti yang masih dipegang oleh orang cebol itu,
gumamnya: "Suhu, terang kau sudah berhasil, kenapa tidak segera
tinggal pergi " saat itulah baru ia melihat Giok-liong yang sudah empas
empis itu, maka dengusnya dengan menyeringai:
"Hm, kiranya beliau terluka parah setelah mengadu
Iwekang dengan bocah keparat kau ini "
setelah berkata giginya gemeratak menahan amarah yang
tak tertahan, setindak demi setindak dengan langkah berat ia
menghampiri ke arah Giok-liong, sepuluh jarinya dipentang
melengkung laksana cakar garuda siap menerkam mangsanya,
demikianjuga seringainya menakutkan.
Giok-liong mandah mendelong saja mengawasi orang, yang
tenaga sendiri sudah hilang daya untuk bergerak saja tidak
mampu lagi, terpaksa tinggal menunggu ajal saja, diam-diam
ia mengeluh dalam hati sambil pejamkan kedua mata pasrah
pada nasib. Derap langkah berat si pemuda pucat terdengar sangat
menusuk telinga, setiap langkah bagi Giok-liong menjadi lebih
dekat nyawanya diambang elmaut. sebetulnya hatinya berontak, pikirnya- "aku tidak boleh
mati, dendam kesumat ayah bunda belum dibikin terang, budi
perguruanpun belum terbalas tentang bencana dunia
persilatan sebagai kaum persilatan betapa juga harus ikut
prihatin akan keselamatan sesama golongan, Dan yang
terpenting lagi adalah seruling samber nyawa bila terjatuh ke
tangan orang jahat kelakpasti membawa bencana besar yang
susah dibayangkan dan sumber dari semua kekalutan ini
bukan lain adalah gara gara dirinya bukankah dosaku
bertumpuk setinggi langit. Coh Ki-sia teringat Coh Ki-sia boleh
di kata merupakan penyesalan terbesar selama hidup ini-
Lagipula.....untuk sesaat pikiran Giok-liong menjadi timbul
tenggelam. Derap langkah kakijuga semakin dekat.
Terdengar pemuda pucat itu menyeringai sinis, serunya:
"Kau membunuh suhuku, maka aku harus membunuh kau,
ini sudah jamak danjangan kau sesalkan perbuatan aku Hunbin-
ji-long terlalu kejam pulanglah menyusul nenek
moyangmu" Angin kencang menderu. "Aooooo?" jeritan panjang yang mengerikan melengking
tinggi menembus angkasa bertepatan dengan itu darah
tampak muncrat kemana-mana. "Bluk." sesosok mayat terbanting keras celentang di tanah.
Diam-diam Giok liong berteriak: "Tamat.. segalanya berakhir sudah " tapi yang terasa
olehnya adalah mukanya seperti ketetesan air hujan,
meskipun tubuhnya terdampar oleh terpaan angin kencang,
namun badannya tetap berduduk tanpa roboh.
Dia berpikir, apakah orang setelah mati beginikah rasanya "
kematian siapapun tiada yang tahu, sebab kalau kau betulbetul
sudah merasakan saat itu jiwa jaga sudah melayang.
Karena pikirannya ini Giok liong lantas merasa kelopak
matanya rada pedas bau anyir darah juga lantas merangsang
hidung menyesakkan. Coba-coba ia melirik membuka kelopak matanya, tak
tertahan lagi ia berseru kejut seperti disengat kala. Ternyata
keadaan di depan mata yang dilihat ini seolah-olah dalam
mimpi belaka. Kiranya pemuda pucat yang mengaku bernama Han-binjilong,
saat itu terkapar ditanah dengan batok kepalanya sudah
pecah berhamburan mayatnya digenangi air darah,
menggeletak hanya tiga kaki di hadapannya keadaannya
sungguh mengerikan. sekelilingnya sunyi senyap tak kelihatan bayangan
seorangpunjuga. Giok liong menjadi heran. Apalagi yang
barusan terjadi. Apakah aku belum mati" secara tak sadar
seperti diperintah oleh nurani ia menggigit lidahnya. "Aduh "
hampir saja ia berteriak saking kesakitan.
Ternyata aku belum mati, kenapa aku tidak mati " Ini
merupakan teka-teki, teka teki yang sulit ditebak dan
dipecahkan sebagai manusia yang masih segar bugar tentu
mempunyai pikiran demikianjuga keadaan Giok- liong. Hal
pertama yang ingin diketahui adalah seruling samber nyawa
yang di-kempit dibawah ketiak Hun binji long tadi-
'Haya' Jan hun ti sudah lenyap tanpa bekas, Giok-liong
betul-betul menderita dan sengsara kalau kehilangan seruling
samber nyawa, rasanya lebih baik mati daripada hidup- Tapi
apa pula yang dapat ia per buat " Terpikir olehnya selama
gunung masih menghijau tak usah kwatir tiada kayu bakar.
urusan terpenting yang dihadapi sekarang adalah
menyembuhkan luka-luka dalam dulu baru nanti mengambil
langkah-langkah lebih lanjut. Maka mulai lagi ia mengheningkan cipta dan menghimpun
semangat mengatur pernapasan, sang malam semakin larut,
kesunyian mencekam alam sekelilingnya. Air embun mulai
membasahi seluruh badannya, waktu angin malam
menghembus lalu terasa badannya menjadi dingin bergidik,
mengandal hawa dingin inilah Giok-fiong melancarkan hawa
murni yang sudah tersusun dan lancar mengitari seluruh
tubuh. sang waktu berjalan terus tanpa terasa, terdengar
kentongan ketiga dan tak lama pula terdengar kentongan
keempat. Bulan sabit lambat laun sudah doyong kearah barat,
ini pertanda bahwa pergantian cuaca sudah menjelang tiba,
tak lama kemudian diufuk timur sudah terpancar sinar kuning
cemerlang menerangi jagat raya. seiring dengan terpancang sinar matahari Iwekang Giok
liong juga sudah mulai pulih dan sembuh seperti sedia kala.
sebuah bola api bundar besar lambat-lambat terus merayap
semakin tinggi sampai dipuncak gunung, seluruh maya pada
sudah terang cemerlang, kabut pagi mulai menipis dan
akhirnya hilang. Keadaan Giok liong juga sudah pulih
seluruhnya, hawa murni tengah berputar sembilan kali setelah
berputar kesepuluh boleh dikata keadaannya sudah seperti
manusia umumnya, kesehatannya sudah sembuh seluruhnya.
Namun ia tetap duduk terpekur tanpa berniat berdiri,
matanya mendelong mengawasi tumpukan puing disekitarnya,
dipandang juga mayat Hun-binji-long dan orang tua cebol
bermuka bocah itu sebab sekarang ia tidak tahu lagi kemana
dirinya harus mencari tujuan. Meneruskan perjalanan ke Ping-goan. Perjalanan ini terlalu
banyak makan waktu, setelah kembali nanti beiarti sudah
lewat pertemuan besar di Gak yang itu. Kalau saat mana
bersua dengan guru tanpa membekal seruling samber nyawa
bagaimana dirinya harus memberikan pertanggungan jawab.
Atau ke hutan kematian saja" Tanpa seruling samber
nyawa seumpama harus berkelahi disana, bagaimana kuat
dirinya menghadap tokoh-tokoh silat begitu banyak dan lihay,
bukan berarti mencari gebuk dan malu saja.
"Tidak, betapapun aku harus menemukan kembali seruling
samber nyawa itu dulu" demikian akhirnya Giok liong berketetapan dalam batin.
Tapi dunia sedemikian luas manusia begitu banyak- kemana
dan kepada siapa pula dirinya harus minta kembali
serulingnya, tugas ini seumpama harus menggagap jarum di
tengah lautan samudera. sungguh sesal Giok liong bukan kepalang, kenapa waktu itu
dirinya harus memejamkan mata, kalau dapat melihat tegas
paling tidak ada sumber penyelidikan, sekarang pikirannya
menjadi kosong hampa- Dalam keadaan serba sulit dan kewalahan ini terpaksa
pelan-pelan ia merangkak bangun, dengan lesu ia menghela
napas panjang, lalu keluar pelan-pelan keluar dari tumpukan
puing Bwe-hun san cheng" Dengan patah semangat seorang diri ia melenggong
menuju kejalan raya, Ditengah jalan Giok liong menemukan
sebuah perigi, disini ia mencuci mukanya yang penuh
berlepotan darah yang sudah kering. Dunia selebar ini tak
tahu dia kemana kakinya harus melangkah.
Mendadak empat ekor kuda tinggi besar warna kuning
langsat berlari kencang mendatangi dari belakangnya, begitu
cepat lari kuda ini sampai debu mengepul tinggi, sehingga
tubuh Giok liong dikotori debu. Meskipun kuda pilihan itu berlari pesat, namun dengan
ketajaman mata Giok-liong dilihatnya tegas keempat
penunggangnya adalah empat laki-laki kekar berseragam ungu
berpakaian ketat, diatas punggungnya kelihatan terselip
senjata tajam, gerak-geriknya mereka kelihatan gugup gelisah
seperti memburu waktu. Tengah ia terlonggong sambil menerawang. Didengarnya
lambaian angin kencang dari belakang, ternyata itulah seorang
nenek tua berambut uban berkulit hitam yang menyolok mata
adalah pakaian yang dipakainya itu adalah baju dan blus yang
berkembang warna-warni. Dan yang lebih mengherankan langkah kakinya itu ternyata
begitu ringan laksana terbang, kelihatan lebih pesat dari laju
keempat kuda pilihan tadi, sekejap jaraknya sudah dekat
sekali. Jilid 25 "Hai bocah cilik adakah empat ekor kuda lewat kedepan ?"
Giok-liong berlagak seperti orang kampungan yang takut
kena perkara, sahutnya. "Baru saja lewat" lalu bergegas tinggal pergi dengan
langkah lebar. Dilihat gelagatnya mereka para kaum persilatan ini tengah
mengejar sesuatu, dirinya saat ini sedang dilibat oleh urusan
besar yang harus cepat-cepat dapat diselesaikan kalau sampai
ikut terlibat dalam urusan tetek bengek dengan mereka ini
tentu serba berabe. Tak duga nenek beruban itu berteriak
lagi. "Bocah cilik berapa ia tua mereka lewat"
"Baru saia belum lama " sahut Giok-LLong dari kejauhan.
Si nenek lantas tersipu-sipu berlari ke depan sambil
mulutnya mengomel panjang pendek. Tak nyana belum
berapa jauh tiba-tiba ia putar balik lagi, tanyanya keras:
"Didepan keempat ekor kuda adalah kau melihat seorang
gadis baju hitam lewat disini ?"
Giok-Liong menunduk dan menyahut mafas-malasan: "Aku
tidak melihat" "Tidak melihat ?" si nenek seperti tidak percaya, matanya
berkedip-kedip, lalu desaknya lagi:
"Gadis baju hitam itu berusia enam tujuh belasan,
tangannya membekaL sebatang seruling batu pualam "
"Hah." tak tertahan Giok-liong sampai berseru kejut,
tergetar seluruh badannya. Agaknya si nenek tidak perhatikan sikap perubahan Giok-
Liong ini, katanya pula tak sabar: "Hai, apa kau tuli " Kataku seorang gadis baju hitam yang
membawa sebatang seruling batu pualam warna putih, berapa
lama lewat dan sini?" sungguh girang Giok-liong bukan main, bangkit
semangatnya secara reflek ia kembangkan kesehatan ringan
tubuhnya, sekali melesat tiga tombak lebih mendahului didepan
si nenek, mulutnya berseru keras: "Benar ada kejadian ini" sekejap saja bayangannya sudah
berlari kencang berapa jauh. Terdengar si nenek berseru tertahan, gerungnya gusar:
"Kurang ajar, aku salah mata "
Jantung Giok-liong berdegup keras sekali, ingin benar
segera mengejar kedepan mendapatkan gadis baju hitam
yang dikatakan si nenek itu, maka Leng-hun-toh
dikembangkan sampai puncak tertinggi untung hari belum
terang tanah, manusia masih jarang berlalu lalang maka
secepat terbang ia kembangkan ilmunya tanpa kuatir sesuatu
apapun terjadisekejap saja dilihatnya dikejauhan sana debu mengepul
tinggi, terang sebentar ke-empat ekor kuda yang dicongklang
cepat itu pasti dapat disusulnya. Terlihat seratusan tombak
didepaa sana adalah hutan pohon cemara yang lebat sekali,
kelihatan keempat ekor kuda itu membelok masuk hutan terus
lenyap dari pandangan mata. Kuatir kegilangan jejak kuntitannya, Giok- liong kerahkan
tenaganya, badannya melesat ke depan bagai terbang
langsung meluncur memasuki rimba lebat itu.
"Aih, kemana mereka ?" tampak empat ekor kuda yang
basah kuyup dengan keringat tengah kempas-kempis tersebar
dalam hutan, empat orang laki-laki kekar diatas kuda tadi tak
kelihatan bayangannya entah kemana-
Tengah Giok-lioag terlongong bingung mendadak disebelah
dalam hutan sana terdengar suara bentakan dan gemboran
nyaring, angin menderu keras berseliweran didalam hutan
sebelah sana. Tanpa ayal segera ia memburu masuk ke sebelah dalam,
menurut dugaannya pasti keempat laki-laki itu sudah
menyusul orang yang hendak dicarinya itu, karena tiada
persesuaian paham lantas berkelahi mati matian, yang
bertempur dengar mereka juga bukan lain si gadis baju hitam
yang dikatakan oieh nenek beruban itu. Tanpa banyak pikir
Giok-liong lantas meloncat kearah dimana terjadi pertempuran


Seruling Samber Nyawa Karya Chin Yung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu. Tepat menurut dugaannya terlihat didalam hutan sana
seorang gadis baju hitam tengah berkelahi sengit melawan
musuhnya senjata ditangannya itu memang bukan lain adalah
seruling samber nyawa miliknya yang telah hilang itu.
Naga-naganya si gadis tidak tahu cara permainan silat
menggunakan seruling itu, karena tidak menyalurkan
Iwekangnya, bukan saja jan-hun-ti tidak dapat
memperlihatkan perbawanya, sampai cahaya terang yang
terpancar dari batu pualam itupun tidak terpancar keluar.
Lawan sigadis baju hitam ternyata bukan empat laki-laki
diatas kuda, ternyata adalah seorang pemuda berpakaian baju
biru dan pemuda ini sudah dikenal oleh Giok-liong karena dia
bukan lain adalah murid Lining mo-io Li siang-san, yaitu Lanitong-
kim Hoa sip-i. Begitu tiba cepat-cepat Giok-llong berteriak-
"saudara Hoa, lekas berhenti " seiring dengan teriakan
langsung ia melesat memasuki gelanggang terus berdiri
bertolak- Maka tampaklah tangan orang terpental mundur. Lani-longfcuo
Hoa sip-i meloncat mundur tujuh kaki, menghindari
sejurus seringan Giok ci-liang-jay dari si gadis baju hitam,
terdengar ia berseru dengan kegirangan:
"siau-hiap Tepat benar kedatanganmu"
kiranya napas sudah ngos-ngosan, tenaga juga hampir
habis, jidatnya sudah basah oleh keringat.
si gadis baju hitam melintangkan seruling di depan
dadanya, begitu melihat Giok-liong ia rada tercengang,
matanya tak berkedip memandang Giok-liong, ujarnya heran:
"Aih, bukankah kau sudah mampus?"
Giok liong mandah tertawa geli, sahutnya-
"Nona ini betul betul pandai main kelakar"
Gadis baju hitam mengangkat alis, serunya:
"siapa berkelakar dengan kau, waktu aku lewat bekas
tempat terbakar itu, kulihat kau berduduk mematung seperti
Hwesio yang sudah mati- sedang kurcaci yang membawa
seruling ini tanpa menghiraukan undang-undang dalam rimba
persilatan hendak menghancurkan jenazahmu- maka tanpa
tanggung tanggung lagi kupersen sebuah kemplangan di
belakang batok kepalanya- Apakah itu kejadian yang purapura
saja?" Giok-liong semakin tertawa lebar, katanya lembut sembari
menjura: "Terima kasih akan bantuan nona, sebetulnya aku yang
rendah belum mati, memang aku terluka parah karena
mengadu Iwekang dengan seorang musuh"
sekarang berkerut alis si gadis baju hitam, dengan sikapnya
yang besar-besaran berkata dengan nada penuh teguran,
"usia masih muda sudah berani gagah-gagahan mengadu
tenaga dalam dengan orang jangan sekali-sekali kau ulangi
lagi ya" Hoa sip-i yang berdiri disamping menjengek dingin dan
hendak membuka mulut. Cepat-cepat Giok-liong mencegah orang bicara dengan
syarat tangannya- sebab meski pun baru pertama kali ini
bertemu, namun Giok-liong tahu bahwa nona ini tentu biasa
sangat dimanjakan, seorang gadis binal seperti kuda pingitan
yang jarang bergaul dengan umum, sekarang seruling samber
nyawa masih berada ditangannya, sekali-kali jangan sampai
membuatnya marah. Giok liong lantas membungkuk serta katanya:
" ucapan nona memang benar "
sigadis baju hitam semakin mendapat angin, katanya-
" Hidup dikalangan Kangouw kok gampang-gampang
mengadu jiwa mati-matian." Giok liong mengiakan "ya, memang benar "
si gadis baju hitam semakin berbesar hati, seperti orang
dewasa saja manggut-manggut, katanya.
"Sudahlah aku hendak pergi-"
Bergegas Giok-liong lantas memburu maju menghadang
didepannya, katanya sambil memberi hormat:
"Nona, ada sesuatu urusan kuharap nona suka memberi
maaf kepadaku" "Urusan apa ?" "Tentang seruling itulah "
"seruling " Bagaimana dengan seruling ini ?"
"Seruling ini sebenarnya adalah milik-ku."
"Terang nyata adalah milik pemuda pucat itu, bagaimana
bisa- - -" Lan-i-long-kun Hoa sip-i segera menyela bicara:
"ya memang milik Ma siau hiap, aku berani menjadi saksi-"
Giok-liong khawatir membuat orang jengkel, maka lekaslekas
ia bicara lagi: "sebetulnya memang milikku, justeru karena jan.. ."
mendadak tergerak hatinya, kata-katanya sudah sampai
diujung mulut lantas ditelannya kembali, gadis baju hitam
dihadapannya ini terang tidak tahu asal usul dan nilai seruling
ini, andaikata diketahui sebagai senjata sakti dan benda
pusaka dunia persilatan, mungkin ia tidak mau menyerahkan
kembali. Benar juga tampak si gadis baju hitam bersungut, katanya
cemberut. "Hanya karena sebatang seruling saja lantas mengadu jiwa
apa segala, sungguh nakal benar kau ini" Giok-liong lantas
berkesempatan bicara lebih lanjut: "Betul, seperti lelucon saja "
"Sudahlah tak perlu banyak bicara lagi, nah kau ambil
kembali " seperti mendapat anugerah dari sang raja layaknya Giokliong
melangkah setindak sambil mengulur tangan
menyambut. sekonyong-konyong terlihat bayangan orang bergerak
gerak didalam hutan sana di susul terdengar sebuah bentakan
berkata: "Jangan kau serahkan kepadanya "
Empat laki-laki penunggang kuda itu juga serentak
merubung datang, sikapnya garang dan mengancam, senjata
terhunus dengan berdiri tegang, mata mereka tertuju ke arah
seruling samber nyawa. Mata gadis baju hitam berkedip-kedip, tanyanya heran:
"Kenapa ?" serempak ke empat laki-laki kekar itu berseru:
"Serahkan kepada kita" Muka si gadis baju hitam mengunjuk rasa tak senang,
katanya mendesis: "Apa yang hendak kalian lakukan ?"
"Kau tidak kenal kita, tapi kita kenal siapa kau ?"
"siapa kalian ?" "Apakah pernah dengar Kuisan-su kiat" (empat gagah dari
gunung kura)." "Tidak pernah dengar" "Bersama ayahmu Hwi-thian-bu-siong siangkwan Hou kita
adalah kawan sehidup semati-" Bercekat hati Giok liong, saat masa tak menguntungkan
bagi dirinya kalau terus merebut secara kekerasan, terpaksa
harus menggebah keempat Kui-san-su-kiat lebih dulu, segera
ia melangkah maju sambil bersiap siap hendak menyerang.
Tak duga si gadis baju hitam sudah bertindak lebih cepat,
serunya tertawa : "Ka-lian sahabat ayahkujuga kenal aku- Tapi, apa peduli
kalian atas diriku ?" salah seorang dari Kui-san-su-kiat berteriak: "Apakab kau
tahu asal usul seruling ini?" "Kalian tidak perlu urus tentang hal ini " sahut si gadis baju
hitam uring-uringan. "seruling ini adalah senjata kuno yang sakti mandraguna,
pusaka dunia persilatan itulah seruling samber nyawa. yang
menggetarkan seluruh Kangouw "
"Aku tidak peduli, aku harus mengembalikan secara adil
kepada pemiliknya " sembari berkata ia angsurkan seruling
samber nyawa kepada Giok-liong. Tampak bayangan berkelebat dibarengi sinar abu-abu
melesat tiba, empat bayangan abu-abu menubruk tempat
kosong, kirinya ringan sekali gadis baju hitam itu telah
melayang jauh setombak lebih, serunya tak senang sambil
mengebutkan lengan bajunya: "Apa yang kalian hendak lakukan ?"
su-Kiat berkasa berseru: "serahkan seruling samber nyawa
kepada kita " "Mimpi seumpama memang benar pusaka Bulim, kalau
tidak kukembalikan kepada dia juga harus menjadi milikku,
kenapa harus kuserahkan kepada kalian ?"
Giok-liong menjadi gugup, cepat-cepat ia menyela bicara:
"Nona .. ." "Legakanlah hatimu," ujar si nona baja hitam sambil
tersenyum manis " Kalau memang milikmu nanti kukembalikan kepadamu"
salah seorang dari su-kiat berkata lagi:
"Usiamu masih muda dengan bekal kepandaianmu
sekarang takkan mungkin dapat melindungi pusaka itu,
kupandang muka ayahmu dan demi keselamatan jiwamu,
maksud kita adalah baik" Gadis baju hitam menjadi berang, semprotnya:
"Pembual Iwekang kalian lebih lihay dari aku " Marilah kita
coba coba " apa yang dikatakan lantas dilaksanakan tampak bayangan
hitam berkelebat sekali melejit ia tiba dihadapan Giok liong
langsung menyisipkan seruling ke tangan Giok-liong, katanya
tertawa : "Jangan pergi dulu, lihatlah biar kuhajar mereka."
Kelakuan si gadis ayu ini benar benar diluar dugaan Giok
liong, setelah seruling berada ditangannya hatinya menjadi
lega, ia berdiri di tempatnya tanpa bergeming, matanya
mendelong mengawasi gelanggang. Lan ie long kun Hoa sip i lantas mendekati Giok hong,
katanya lirih: "Siau-hiap sekarang juga kau tidak maupergi masih tunggu
apa lagi?" Giok liong menggeleng kepala. matanya masih mengawasi
kenakalan sepak terjang si gadis baju hitam.
Kata Hoa sip-i lagi: "siau hiap, ayah bocah perempuan ini bukan sembarang
tokoh yang boleh dibuat permainan, ilmu kepandaian Hwithian
bu-siong-tun-hiat elang sudah mencapai tingkat yang
sempurna," Giok-liong manggut-manggut, ujarnya:
"Karena aku dia sampai berkelahi mana bisa aku tinggal
pergi tanpa pamit, tanpa pedulikan mati hidupnya ?"
saat mana si gadis baju hitam sudah melangkah ke depan
Kuisan su-kiat kira-kira tujuh kaki, sembari menepukkan
tangannya ia berseru lantang: "Berkelahi cara bagaimana, satu lawan satu, atau kalian
maju bersama ?" Bersungut muka Kui-san-su kiat, serunya bersama:
"Tujuan kita adalah Jan-hun-ti, siapa yang sudi main
tangan dengan kau " lalu saling memberi isyarat dan serentak bergerak
menghampiri kcarah Giok-Liong. Gadis baju hitam semakin naik pitam, dengan sejurus TOpa
cui-liu tiba-tiba badannya jumpalitan menghadang didepan
Kui-san-su-kiat, katanya tak senang:
"Memandang rendah aku siangkwan Hong-cu ya ?"
Kui-san su kiat menjadi mangkel, serentak mereka
membentak: "Budak binal, terlalu kurang ajar"
Makian budak binal betul-betul membuat siang-kwan Hongcu
berjingkrak gusar, makinya: "Kentut" kedua kepalannya lantas bergerak sambil
menubruk menyerang- Kui-san-su-kiat betul-betul dibuat mencak-mencak, mereka
tak menduga kalau bakal diserang, maka dengan gugup saling
berebutan meloncat menghindar selamatkan diriTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/ sekali serang berhasil membikin kocar kacir pihak musuh,
siang-kwan Hong cu semakin mendapat hati, seperti bayangan
mengikuti bentuknya serentak ia kembangkan ilmu
pukulannya, sekejap saja beruntun ia lancarkan dua belas
pukulan tangan terbagi empat Melihat cara permainan gadis
baju hitam ini diam-diam Giok-liong terkejut dalam hati,
bahwa kepandaian siangkwan Kong-cu ini memang cukup
lihay. saat itulah terdengar sebuah gerangan keras dari luar
rimba, suara sember seperti gembreng pecah berkata:
"Hong Cu Jan- hun-ti jangan sampai hilang " seiring dengan
habis perkataannya, segulung sinar terang berkelebat masuk
ke dalam gelanggang. Begitu melihat si nenek ubanan, segera siangkwan Hong cu
berteriak: "Si lolo, Kui-san-su-kiat terlalu menghina orang "
Tak tahunya perhatian si-lolo ternyata tertuju ke seruling
sambar nyawa yang di pegang Giok-liong, tanpa pedulikan
teriakan siangkwan Hong cu, langsung ia menyerbu ke arah
Giok-liong sembari menggerung gusar:
"Bocah keparat, kau menipu aku "
gesit sekali Giok-lioag meloncat mundur dua tombak, kedua
biji matanya bersinar tajam, ujarnya.
"Aku menipu kau apa ?" "Mulutmu bawel, serahkan jiwamu " seperti banteng
ketaton si-lolo menyerbu lagi dengan ancaman cakarnya yang
berbahaya. " Celaka Awas dialah Li ciau-sin si ji-ping " tiba-tiba Hoa
sip-i berteriak kaget sambil menarik lengan baju Giok-liong.
"Lolo, jangan " dari samping sana Siangkwan Hong-cu
berteriak sambil memburu tiba. Kebetulan Li-ciau-sin siJiping tengah melancarkan 'ui-yan
toh-hong-ciang' begitu melihat siangkwan Hong cu memapak
datang, kejutnya bukan main, cepat ia menarik kembali
serangannya, mulutnya ikut berteriak:
" Hong-cu Bocah gendeng "
Jikalau kurang sigap ia menarik kembali serangannya tentu


Seruling Samber Nyawa Karya Chin Yung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kedua telapak tangannya tadi sudah telak mengenai badan
siangkwan Hong cu. Siangkwan Hong-cu merengut sambil membanting kaki:
"Lolo, kenapa kau hendak memukulnya " Marilah kita hajar
dulu empat kura-kura banci itu"
Keruan kata-katanya ini semakin membuat Kui san su-kiat
murka, serunya- "Bagaimana Hwi thian bu siong siangkwan Hou mendidik
anak gadis yang kurang ajar ini"
Li ciau sin sendirijuga dibikin kewalahan ujarnya:
"Hong cu yang penting sekarang kita menebus jan hun ti
itu dulu" Justru siangkwan Hong cu tak mau dengar nasehatnya
katanya marah-marah: "Aku tidak sudi, baik aku tidak perlu bantuan Lolo, masa
aku tidak berani menempur empat kura kura ini"
Lekas-lekas Li ciau sin memburu maju merintangi, ujarnya.
"Hongcu, buat apa...." Tanpa hiraukan nasehat orang, segera siangkwan Hong cu
menerjang dengan serangan yang lebih gencar, betapa lincah
dan gesit permainannya laksana seekor burung hong yang
tengah menari dan berloncatan kedua lengannya tak berhenti,
setiap pukulannya tentu mengarah Kui san su kiat.
Diam-diam Giok liong merasa geli dalam hati, sambil
menenteng seruling samber nyawa ia acuh tak acuh menonton
dari samping, coba cara bagaimana mereka hendak
menyelesaikan urusan konyol ini, maka diam-diam ia ambil
keputusan pada saat yang tidak dibutuhkan dia takkan sudi
turun tangan mencampuri urusan ini.
Demikianjuga Lan i long-kun Hoa sip i berdiri berendeng
bersama Giok- liong bersikap menonton saja.
sementara itu dengan gaya yang lincah serta ilmu pukulan
yang lihay itu siangkwan Hong cu menyerbu ke tengah
kawanan Kui-sansu kiat, beruntun ia lancarkan pukulan
tendangan serabutan yang membikin lawannya kocar kacir,
untuk mengalah sudah tidak mungkin bagi Kui san su kiat,
atau sebaliknya mereka sendiri yang bakal menerima bogem
mentah. Namun karena Li ciau sin siji-ping juga hadir, supaya tidak
dimaki orang tua menindas anak kecil, apalagi mereka masih
gentar dan tak berani menyalahi terhadap siangkwan Hou
maka cara permainan silat mereka juga rada tendor dan tak
berani menyerang sungguh-sungguh, paling-paling cuma
membelas diri saja. sebaliknya siangkwan Hong cu seperti
mendapat hati saja, serangannya terus membadai tak tahu
apa yang dinamakan takut dan khawatir untuk menjaga diri,
begitulah seperti orang kerasukan setan ia menyerang
musuhnya habis-habisan dengan kalapnya-
Keruan Kui-san su-kiat semakin mencak-mencak keripuhan
sambil berkaok-kaok. namun dasar kepandaian mereka lebih
tinggi gesit dan tangkas sekali mereka dapat menghindarkan
diri dari rangsekan musuh kecil ini.
Melihat keberandalan si gadis pingitan ini, akhirnya Li ciausin
siji-ping menjadi dongkol, teriaknya:
"Hong cu, kenapa kau ini Hayo lekas berhenti" lalu ia
berseru lagi: "Para saudara dari Kui-san, kalian berempat masa hendak
mengeroyok bocah kecil " Baru saja lenyap suaranya mendadak terdengar siangkwan
Hong cu menggerang keras: "Roboh " "Aduh " terdengar losam atau orang ke tiga dari Kui-san-su
kiat mengeluh kesakitan, kedua kakinya lantas dijejakkan dan
mundur beberapa tindak- saking besar tenaga yang telah
dikerahkan tak waspada lagi kontan tubuhnya menumbuk
sebuah batang pohon besar, lagi-lagi ia menjerit kesakitan
terus membalik-balik dan terhuyung jatuh tersungkur, kepala
berat dan mata berkunang-kunang babak belur.
Keruan tiga saudara lainnya menjadi gusar.
"Budak kurang ajar cari mati kau" demikian mereka memaki
berbareng. sekali pukul dapat merobohkan salah seorang musuhnya,
sudah tentu siangkwan Hong-cu semakin takabur, terdengar
tawanya cekikikan seperti keliningan ujarnya:
" Empat lawan satu, kalau tidak kurobohkan kalian satu
persatu tentu aku yang rugi " sebetulnya ditimbang secara wajar dengan bekal
kepandaiannya untuk melawan Kui-san-su kiat sebenarnya
kemampuannya sangat terbatas, soalnya memang pihak lawan
sengaja mengalah dan terlalu memberi hati.
Kini Kui-san-su kiat tidak tahan lagi, salah seorang yang
tertua terdengar membentak : "sikat " "su-kiat" terdengar U-ciau sin siji-ping berteriak:
"Apakah kalian akan mengadu jiwa ?"
"Apa kau tidak lihat keadaan ini, atau kau sengaja hendak
menghina dan mentertawakan kami?" sembari berkata
serentak enam kepalan mereka bertiga bergerak mengepung
siangkwan Hong cu ditengah arena. "Lolo," omel si Lotoa dengan gemas.
sebagai kambing gembel yang masih muda, tidak takut
melihat harimau layaknya, siangkwan Hong cu semakin
bernafsu berkelebat meski dikepung ketat dan setiap saat
terancam mara bahaya masih terdengar suara tawanya yang
cekikikan, sepasang tangan kecilnya yang putih halus bergerak
lincah dan menderu membawa angin kencang terdengar suara
merdu menggoda: "Heh- Masih ada simpanan apa lagi yang belum kalian
lancarkan ?" sementara itu si Losam yang jatuh muntah darah itu sudah
merangkak bangun sambil menyeka darah yang meleleh di
ujung mulutnya terus menyerbu ke dalam gelanggang
pertempuran. Pertempuran menjadi semakin sengit, angin menderu dan
debu serta daun-daun kering beterbangan menari-nari di
tengah udara. Giok liong manggut-manggut merasa kagum, sungguh
diluar dugaannya. bahwa dengan sepasang kepalannya
kiranya siangkwan Hong-cu kuat bertahan melawan keroyokan
empat musuhnya yang kekar dan cukup tinggi kepandaiannya
seperti Kui-san-iu-kiat ini, malah sama kuat dan kadangkadang
mendesakTIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Meskipun tingkat kepandaian Ku>san-su-kiat belum
termasuk katagori kelas wahid dan tokoh-tokoh kenamaannya,
paling tidak nama mereka juga sudah disegani oleh kalangan
persilatan sekitar daerahnya, sekarang hanya melawan gadis
kecil macam siangkwan Hong-cu saja sudah begitu terdesak
keripuhan, walaupun belum kelihatan kena kejotos roboh,
menurut gelagatnya saja mereka sudah jatuh pamor dan
malu. sementara itu sambil mengikuti jalan pertempuran, tak lupa
Li-ciau-sin siji-ping selalu melirik kearah seruling samber
nyawa ditangan Giok- liong. Kira-kira setengah jam sudah lewat, pertempuran masih
kelihatan sama kuat, siang-kwan Hong cu mengandal ilmu
pukulannya yang penuh mengandung tipu-tipu aneh dan lihay
selalu menyergap musuh dan melancarkan sennpan
menentukan, sehingga lama kelamaan tenaga mesti terkuras
habis apalagi kalau diukur perorangan saja Iwekangrya masih
setingkat lebih bawah, semakin lama maka kelihatan akan
kelelahan dalam latihannya yang kurang sempurna.
Napas sudah megap-megap, tenaga juga semakin lemah,
gerak geriknya semakin-lamban, tak kuasa menjebol
kepungan Kui san-su kiat, sering kali sekarang ia menghadapi
elmaut yang mengancam jiwa. Tanpa merasa Giok-liong menggumam sendiri:
"sepuluh jurus lagi mungkin ia tak kuat bertahan"
pelan-pelan jan hun-ti dimasukan kedalam kantongnya.
Melihat Giok liong menyimpan seruling sambar nyawa,
sedang matanya tidak berkesip mengawasi gelanggang
pertempuran, pundak juga sudah terangkat dengan kaki
sudah bersiap bergerak. Li ciau-sin menjadi kwatir kalau Giokliong
melarikan diri segera ia menubruk maju sambil
membentak: "Kau hendak merat Tak begitu gampang "
Perhatian Giok-liong hanya tertuju kepada keselamatan
siangkwan Hong cu, maka terhadap sikap terjang Li ciau-sian
ini sedikitpun ia tidak ambil perhatian. Tepat pada saat itulah
perubahan dalam gelanggang pertempuran. Dengan jurus yacan-
pat hong (bertempur dari delapan penjuru) ia lancarkan
sebuah pukulan dahsyat yang lihay, sayang tenaga sudah
terkuras habis, tenaga yang terkerahkan tidak mencukupi
jatah yang seharusnya diperlukan sehingga kakipun ikut
tergoyah kedudukannya sehingga terlihatlah lobang
kelemahannya. Lotoa dari Kui san-su-kiat sudah pengalaman dalam
pertempuran sengaja ia memancing musuh-musuh dalam tipu
dayanya, sedikit tubuhnya terjengkang kebelakang untuk
menghindar. siangkwan Hong cu yang baru saja kelana di Kangouw dan
belum berpengalaman menyangka bahwa serangannya pasti
berhasil dan dirinya bisa segera menerobos keluar kepungan,
maka dengan gesit sekali ia menerjang kearah lobang jebakan
ini. Adalah melihat kesempatan bagus ini, tiga saudara Kui-sansu
kiat serempak menggembor keras enam tangan pukulan
bersama memukul kedepan. Dalam keadaan kritis bagi jiwa siang-kwan Hong-cu ini
melihatlah sesosok bayangan putih berkelebat, tahu-tahu
segesit kabut Giok liong sudah menerjunkan diri ke dalam
gelanggang pertempuran sekali ulur ia cengkeram baju di
tengkuk siangkwan Hong-cu terus menggembor keras,
seketika seperti elang menyambar kelinci kontan tubuhnya
melejit tinggi menjulang ke tengah angkasa setinggi tiga
tombak, tepat sekali menyelamatkan jiwa siangkwan Hong-cu
dari cengkraman elmaut dari pukulan gabungan musuh.
Maka terdengarlah suara "blang" yang keras, begitu
dahsyat gabungan pukulan ini sehingga tanah dimana
siangkwan Hong cu berpijak tadi kini sudah berlobang dalam..
Karena pukulan mengenai bumi dan tenaga yang
terkerahkan juga sekuatnya maka tangan ketiga
penyerangnya menjadi kaku kesemutan.
Waktu Kui san-su kiat angkat kepala, entah kapan tahutahu
dipinggir lobang bekas kena pukulan itu kini sudah berdiri
seorang tua pertengahan umur yang mengenakan pakaian
jubah hitam dan topi rumput, wajahnya tampak bersegi
empat. Kejadian ini berlangsung begitu cepat sehingga Hoa sip-i
dan si jiping juga tidak melihat jelas. Tahu-tahu Giok liong
sudah melayang jauh terhindar dari bahaya, setelah hinggap
ditanah ia letakkan tubuh siangkwan Hong-cu diatas tanah,
katanya lirih: "Nona Hong cu Kau tidak kaget bukan ?"
sepasang biji mata bening siangkwan Hong-cu, berkedipkedip
memandangi wajah Giok-liong sesaat kemudian tiba-tiba
ia berlari menubruk ke dalam pelukan si orang tua jubah
hitam itu terus menangis gerung-gerung.
Ternyata orang tua jubah hitam bertopi rumput ini bukan
lain adalah ayah siangkwan Hong cu yaitu Hwi thian bu siong
Siangkwan Hou. Air muka siangkwan Hou semakin membeku, giginya
bergemeratak menahan gusar yang tak terkendali, napasnya
juga rada memburu pancaran matanya mengandung nafsu
membunuh. Pelan-pelan dan ragu-ragu. Li ciau sin siji-ping tampil ke
depan, ujarnya: "Engkoh tua, kau?." Tak duga siangkwan Kou malah membentaknya dengan
suara keras bagai geledek: "Jangan kau hiraukan aku"
Merah jengah selebar muka siji-ping katanya tersendat-
"Kenapa kau ini ?" "Aku tidak apa-apa-" sahut siangkwan Hou ketus-
"Kenapa berlaku garang dan kasar terhadap aku Li-ciausin?"
"Aku-.. hm, terhitung kau sebagai kenalan kental, terhadap
kau orang she si selamanya kupandang sebagai famili dan
seperti saudara sedaging sendiri, bukankah hubungan kita
baik-baik saja selama ini?" "Siapa bilang salah?" sahut Li-ciau-sin manggut-manggut.
Hwi-thian-bu-siong mendengus hidung, lalu jengeknya:
"Cuh, Kalau begitu kenapa kau melihat anakku di keroyok
empat kau tinggal menggendong tangan diam saja- Kalau
bukan kawan kecil ini yang menolong tepat pada waktunya,
apakah saat ini Hong-cu masih bernyawa?"
semakin merah wajah Li-ciau-sin siji-ping, katanya tersekatsekat:
" Karena.. hanya..." Tanpa terasa melirik kearah dirinya, siangkwan Hou
mengelus kepala siangkwan Hong-cu pelan-pelan, ia
menyurung tubuh putrinya serta katanya lembut
"Hong cu, kau istirahat di-samping, biar aku mengukur
sampai dimana tingkat kepandaian simpanan para saudara
Kui-san su-kiat" Lotoa dari Kui-san-su-kiat segera memburu dua langkah,
katanya sambil menjura: "Siangkwan Toako . ." Belum habis kata-katanya Hivi-thian-bu-siong siangkwan
Hou sudah menukas dengan berjingkrak gusar,
"jangan cerewet lagi, mulailah"
"Duduk perkara ini..." "Tutup mulutmu jelek-jelek aku siangkwan Hou punya
nama dan kedudukan di kalangan Kangouw, masa bisa ku
diamkan saja orang lain menghajar putriku didepan pintu
rumahku, jangan sebutkan segala alasanmu. Mulailah "
Kui-san bersaudara menjadi kememek dan saling pandang.
Naga-naganya mereka rada gentar dan takut menghadapi
siang-kwan Hou. Tapi siangkwan Hou tidak memberi hati kedua lengannya
digerak-gerakkan sampai mengeluarkan suara kerotokan,
suaranya keras:

Seruling Samber Nyawa Karya Chin Yung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Mari kalian berempat maju bersama, setelah mengeroyok
yang muda keroyok sekalian yang tua ini, bukankah kalian
akan puas dan gembira ?" Kata Lotoa dari Kui san-su-kiat: "siang-kwan Toako, urusan ini betapa juga kau harus
mendengar dulu penjelasan dari si lolo"
siangkwan Hou mandah terloroh-loroh dingin, mendadak ia
menepuk tangannya serta serunya : " Aku tidak kenal siapa itu si-lolo, akupan tidak perlu ada
orang ketiga sebagai saksi untuk mengobral kentut busuknya "
"Kalau begitu..." "Tutup bacotmu kenyataan sudah membuktikan sendiri,
kalau berani silakan turun tangan terhadap tulang tuaku ini "
Keadaan Li ciau-sin siji-ping menjadi serba runyam, segera
selanya mendebat: "Paling tidak kau harus mendengarkan dulu duduk perkara
sebenarnya .. ." "Aku tidak sudi mendengar, kalau kau tidak terima silakan
kalian berlima maju sekalian, aku siangkwan Hou tidak
memandang sebelah mata " Terang Kui-san su kiat merasa gentar, namun di desak
sedemikian rupa akhirnya si Lotoa membanting kaki seraya
berkata mengertak gigi: "Baik siangkwan Toako, kita bersaudara segera
mengundurkan diri dari rimba itu "
"Berdiri Masa begitu gampang mau tinggal pergi begitu
saja?" "siangkwan Toako.." " Lihat serangan" tanpa banyak kata lagi siangkwan Hou
segera mendahului melancarkan serangan, jurus serangannya
dilancarkan dengan landasan kekuatan yang besar saking
gusar, sekaligus empat lawannya diserang berbareng .
Bukan begitu saja akibatnya, pada saat gaya serangannya
mulai dilancarkan tiba-tiba tubuhnya meluncur lurus kedepan,
diam-diam sikutnya menyodok ke samping berbareng sebelah
kaki kanan diangkat untuk menendang Li-ciau-sin yang berdiri
disamping sebelah sana. Li ciau-sin sedikitpun tidak menduga bahwa dirinya bakal
diserang begitu rupa, keruan dalam keadaan yang tidak siaga
ia menjadi gelagapan, untung ia cukup gesit mengelak
mundur terus menggelendot dibatang pohon, air mukanya
berubah bergantian menjadi jelek- Cara serangan siangkwan Hou ini bukan saja sangat
sempurna dan kuat, dilandasi Iwekang yang ampuh lagi maka
kekuatannya jauh lebih dahsyat dibanding anak putrinya tadi,
setiap jurus tipunya mengancam jiwa keempat lawannya.
sudah tentu ilmu Hwi thian bu-siong Kun-hiat ciang (ilmu
pukulan kelabang terbang menelan darah) jauh lebih hebat
perbawanya dibanding putrinya tadisudah
tentu Kui-san su-kiat merasa tekanan serangan
musuh tua ini jauh lebih berat dan berbahaya, mau tak mau
mereka harus kerahkan setaker kemampuannya untuk
bertahan, namun demikian mereka merasa sangat payah juga-
Dalam pada itu, pelan-pelan siangkwan Hong cu
menggeremet mendekati Giok-liong, katanya terdengar lirih:
"Terima kasih atas pertolonganmu tadi "
gadis pingitan ini berwatak keras dan kukuh, setelah
mengucapkan kata katanya ini selebar mukanya menjadi
jengah sendiri, lekas-lekas ia menundukkan kepala-
Giok-liong juga menyahut lirih: "Nona Heng-cu, kau terlalu sungkan. Kalau su-kiat tidak
mengatur tipu daya ditambah sekali lipat lagi juga mereka
bukan tandinganmu." syuuur rasa hati siangkwan Hong-cu, tanyanya lagi:
"Dimana serulingnya ?" Giok-liong menepuk dadanya,
sahutnya: "Tersimpan disini, apa kau mau ?"
siangkwan Hong cu menggeleng kepala, sahutnya:
"Bukan barang milikku, selamanya aku tidak mau terima,
kecuali-.." belum habis kata-katanya tiba-tiba terasa angin kencang
menyambar datang, disusul terlihat sesosok bayangan
berkembang terus menubruk tibaTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/ Giok-liong menjadi murka, bentaknya sambil menggerakkan
kedua tangannya: "Li-ciau-sin, cari mampus kau"
Disaat Giok-Liong belum sempat melancarkan pukulannya
siangkwan Hong-cu sudah mendahului bergerak, sambil
mendorong kedua lengannya ia berteriak:
"Lolo kau berani pukul aku ?"
sebenarnya sasaran serangan si Lolo tertuju kepada Giokliong,
maka serangannya ini menggunakan sepenuh
tenaganya, maka untuk menarik kembali menjadi rada sulit,
apalagi tadi ia kena dicemoohkan secara terbuka oleh
siangkwan Hou, rasa penasarannya lantas dilampiaskan
kepada putrinya, begitulah tanpa peduli tiga kali tujuh dua
satu langsung ia teruskan serangannya.
"Huh, kiranya memang kau bersekongkol dengan kura-kura
itu" demikian dengus siangkwan Hou.
Lekas-lekas Giok-liong lantas melesat maju pula kedalam
kancah pertempuran ini, demikianjuga Lan-Ulong-kun Hoa sip
i juga tidak mau tinggal diam ikut menerjunkan diri kedalam
perkelahian sengit ini. Sembilan orang terbagi dalam dua kelompok, sehingga
pertempuran ini terjadi begitu seru dan gegap gempita.
Siangkwan Hou yang tengah melawan keroyokan Kui-sansu-
kiat begitu mendengar teriakan putrinya menjadi semakin
murka, berulang kali ia berkaok-kaok mengumpat caci.
Tapi Kui-san-su-kiat bertempur dengan sepenuh tenaga
dan kalap sehingga dalam waktu dekat menjadikan halangan
bagi Siangkwan Hou untuk melepas diri dari libatan untuk
menolong putrinya. Kira kira setengah jam kemudisn. Giok liong mulai
lancarkan Sam-ji cui chlu, setiap gerak tipu serangannya selalu
membayangi jalan darah mematikan ditubuh Li-ciau-sin,
sehingga Siji-ping terdesak keripuhan, mulutnya tak kuasa
mencaci kalang kabut sayang Siangkwan Hong-cu dan Hoa
Sip-i ikut mengerubuti sehingga menghalangi kebebasan gerak
gerik Giok-liong, kalau tidak siang-siang Giok-liong sudah
dapat merobohkan Li-ciau sin. Lain pula keadaan pertempuran Kui-san-su kiat melawan
Siangkwan Hou, kalau di timbang dari Iwekang mereka, Kuisan
su-kiat secara perorangan memang bukan tandingan
Siangkwan Hou, tapi sekarang mereka bergabung bekerja
sama sangat rapat bertempur secara nekad lagi, apalagi orang
sering mengatakan dua kepalan sukar melawan empat musuh,
seorang gagah paling payah menghadapi keroyokan, apalagi
seorang yang kalap juga sulit ditahan oleh orang banyak,
maka keadaan sama kuat tadi kini berbalik Siangkwan Hou
yang terdesak dibawah angin malah. Begitu melihat gelagat yang tidak menguntungkan bagi
dirinya ini, timbul akal licik dalam hati Li-ciau-sin, sembari
mempertahankan diri ia terus mundur mendekat kearah
gelanggang pertempuran Kui-san s i- kiat, pikirnya hendak
bergabung dengan su-kiat untuk mengurangi tekanan yang
menimpa dirinya. Benar juga usahanya berhasil dua kelompok pertempuran
kini menjadi satu kelompok besar yang bertempur secara
serabutan. Tepat pada saat itu Giok-liang teogan melancarkan
jurus Hwat bwe, jari kanan dan telapak tangan kiri menutuk
dan menggablok terus disurung kedepan.
Diam-diam Li-ciau-sin mengeluh dalam hati, dalam keadaan
yang tengah melancarkan serangan balasan dengan penuh
serangan yang kepepet ini tiba-tiba ia menjejakkan kaki,
tubuhnya mencelat mundur langsung menumbuk ke arah
siangkwan Hou. Tujuan semula adalah hendak menumbuk minggir
siangkwan Hou, setelah itu kalau cilok-liong masih
membuntuti dengan serangan dahsyatnya ia hendak berkelit
dan menyingkir kebelakang Kui-san-sukiat, supaya Giok-liong
secara langsung berhadapan dengan Kui-san-su-kiat, tinggal
Lan-i-long-kun Hoa sip-i dan siangkwan Hong-cu baginya
merupakan musuh enteng yang tidak dipandang sebelah
matanya. Tak terduga saking gugup tenaga yang dikerahkan pada
kakinya terlalu besar, malah diluar perhitungan kita lagi,
dalam keadaan tanpa siaga sama sekali, siangkwan Hou kena
ditumbuknya sampai terhuyung ke depan, sudah tentu Kui-san
su-kiat, tidak melepaskan kesempatan baik ini serentak
mereka menghardik, "serahkan jiwamu" "Aduh" terlakan tertahan yang menyayatkan hati lantas
disusul semburan darah segar dari mulutnya yang terpentang
lebar. Keruan siangkwan Hong-cu berteriak keras dengan muka
pucat ia terus menubruk kearah ayahnya sambil menggerung
tangis: "Ayah Ayah" Giok-liong menjadi tak tega dan murka sekali, desisnya.
"Manusia rendah yang keji-Kubunuh kalian"
"Tri... lili... ."pancaran sinar putih cemerlang menembus
udara sekitarnya, seruling samber nyawa mengeluarkan irama
keras menusuk telinga. "Jan-hun ti" Li ciau-sin siji-ping berteriak sambil menerjang
datang. Namun secarik sinar putih laksana selendang perak
tiba-tiba menyapu melintang memapas kedatangannya itu,
terdengar Giok-liong menjengek "Bukankah, kau teramat tamak hendak merebut seruling
ini" Nih kuberikan kepada mu "
Bermula memang siji-ping menyangka Giok-Liong itu
seketika kuncup nyalinya, belum lagi ia sempat melarikan diri
tahu-tahu ia menjerit panjang dengan pandangan mata
terpelalak. mungkin saking kesima melihat cahaya cemerlang
yang terpencar keluar dari seruling sakti itu, untuk menyingkir
lagi sudah tak mungkin untuk membela diri secara reflek ia
gerakkan lengannya menangkis-"Krak."
"Aduh-" lengan yang hampir hancur dan patah itu terbang
berhamburan sejauh lima tombak lebihselama
hidup ini belum pernah Kui san su-kiat melihat
perbawa sejurus serangan yang begitu hebat menakutkan,
sepontan mulut mereka berteriak bersama: " Angin kencang "
masing-masing terus putar tubuh dan berniat hendak
melarikan diri Nafsu membunuh sudah menghantui lubuk hati Giok-liong,
dengan mata yang merah membara buas ia mengejar dengan
gesit, dimana kelihatan larik sinar putih berkelebat jurusjanhun-
pat-sek di kembangkan beruntun ia lancarkan empat
jurus tipu permainan ilmu seruling delapan jurus yang sakti
mandraguna itu. seumpama tumbuh sayap juga tak mungkin lagi Kui-san sukiat
mampu lari secepat menyambar datangnya sinarpgrak
yang mematikan itu. Tanpa mengeluarkan suara seketika tubuh mereka hancur
luluh beterbangan, bau darah yang anyir terhembus angin
sangat memualkan. Ditanah bertambah empat jenazah yang sudah tak lengkap
panca inderanya, sejak saat itu Kut-san su kiat meninggalkan
dunia fana yang penuh liku-liku hidup dan beban ini.
Beruntun beberapa jurus saja cukup buat Giok-liong
memberantas Li-ciau-sin dan Kui-san su-kiat, aksinya ini boleh
dikata hanya terjadi dalam berapa kejap saja. Bukan saja Lan-i
long-kun Hoa sip-i terpesona dan terlongong-longong, Hongcu
yang biasanya bertabiat keras dan kukuh itu juga
menjublek kesima menghentikan tangisnya.
Dengan pandangan yang aneh ia pandang Giok-liong, baru
sekarang lubuk hatinya tunduk dan kagum betul-betul.
setelah membunuh musuh-musuh ini rasa gusar Giok-liong
masih belum terlampias habis, terdengar ia menggeram:
"Manusia tak berguna " Lan i long-kun Hoa Sin-i lantas mendekati Giok liong,
katanya sambil berseri tawa: "sudah lama tak bertemu, ternyata Iwekang siau hiap
semakin maju dan menakjubkan" Giok liong tertawa tawar, air mukanya bersemu merah,
sahutnya rada rikuh: "saudara Hoa terlalu memuji "
Saat mana Siangkwan Hong cu sudah mendekati jenazah
ayahnya dan sesenggukan lagi. Tak urung Giok liang ikut
merasakan pula duka cita ini, bukankah orang begitu baik hati
hati mengembalikan seruling pusakanya, malah begitu berani
pula menampilkan diri untuk menghadapi para musuh, sudah
tentu kesudahan yang mengenaskan ini membuat hatinya
rikuh dan serba sulit, maka pelan-pelan ia maju mendekat
serta bujuk-nya: "Nona Hong cu, manusia mati takkan hidup kembali, lebih
baik lekas kita urus layonnya saja, mari kita rundingkan
urusan selanjutnya." siapa tahu kata-kata bujukan ini malah membuat hati si
gadis manis ini bertambah duka, tangisnya malah semakin
gerung-gerung. Terpaksa Giok liong mengajak Hoa sip i serta katanya:
"Saudara Hoa Mari bantu aku mengubur jenazah mereka
ini" secara ala kadarnya sebentar saja mereka sudah mengubur
bersama kelima jenazah Kui san-sukiat dan Li ciau sin. Tak
lupa di galinya pula sebuah liang untuk mengubur jenazah
siangkwan Hou. Tatkala mereka selesai mengubur matahari sudah naik
ketengah cakrawala, sekarang siangkwan Hong-cu sudah
menghentikan tangisnya, setelah bersembah lutut didepan
pusara ayahnya, ia terlongong berdiri ditempatnyasambil
mengebutkan kotoran ditangan dan bajunya Giokliong
berkata: "Nona Hong cu, urusan disini sudah selesai, silakan
kaupulang saja, aku sendiri juga harus segera berangkat."
"Nanti dulu siau hiap" tiba-tiba Hoa sip-i berteriak
menahan. "saudara Hoa masih ada pentunjuk apa lagi ?"
Untuk membalas budi pertolongan siauhiap terhadap jiwaku


Seruling Samber Nyawa Karya Chin Yung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tempo hari, aku mendengar sebuah berita penting perlu
kuberitahukan kepada siau-hiap, tadi belum sempat kita
bicarakan." "o, entah berita penting-"
Hoa sip-i sudah membuka mulut namun lantas urung
bicara, ia menjadi ragu karena siangkwan Hong-cu juga hadir
disitu. Giok liong maklum akan keraguan orang ujarnya tertawa
tawar: "seorang laki laki harus berani bicara terus terang, coba
silakan saudara Hoa bicara saja "
Muka Hoa sip-i menjadi merah, katanya sambil tertawa
getir: "Menurut berita yang kudengar diBulim, katanya didaerah
pegunungan Bu-san telah diketemukan sebuah catatan rahasia
sepeningggalan seorang tokoh kosen. Banyak gembonggembong
persilatan yang meluruk kesana untuk merebutnya.
Dengan bekal kepandaian siau-hiap sekarang, kukira dengan
mudah dapat merebutnya." Giok-liong menjadi geli, sahutuya: "Maksud baik saudara
Hoa kuterima dengan senang hati. Tapi saat ini aku tengah
dilibat oleh sebuah tugas penting tak mungkin bisa kesana,
apalagi usia hidup manusia paling panjang seratus tahun,
catatan rahasia benda pusaka apa segala takkan dapat
membawa berkah, aku tak berniat untuk merebutnya."
Hoa sip ie menjadi lesu dan putus harapan, katanya dengan
rawan: "Tak duga siauhiap kiranya sudah tawar menghadapi
keramaian dunia ini" Giok-liong menggeleng kepala, sambil menghela napas
panjang untuk menghilangkan kerisauan hatinya segera ia
angkat tangan sambil katanya: "selamat bertemu" Tiba-tiba siangkwan Hong-cu memburu ke hadapannya,
katanya sambil menunduk: " Kemana kau?" sambut Giok-liong tersenyum: "Aku ada urusan penting, jauh harus menuju kelaut utara."
Tak nyana siangkwan Hon-cu malah membelalak matanya.,
tanyanya: "Lalu bagaimana aku?" "Kau," Giok-liong menjadi kememek-
"sekarang ayah sudah meninggal, tinggal aku sebatang
kara didunia fana ini, kemana pula aku harus pergi?"
"Ini... bukankah nona bisa pulang?"
"Pulang?" "Bukankah nona punya rumah?"
"Orang siapa yang tak punya rumah Tapi dirumah tinggal
ayah dan aku.. ." "o, aku sendiri juga seorang yang tak punya rumah maka
tak bisa... ." "Bukankah sangat kebetulan malah, kau tak punya rumah
dan aku juga takpunya rumah, kita sama-sama orang
gelandangan, biarlah aku ikut kau berkelana di Kangouw,
begitupun terpaksa..." siangkwan Hong-cu seorang gadis pingitan yang berhati
polos dan jujur, belum tahu liku liku hidup duniawi yang serba
rumit ini sudah tentu kata-katanya itu menjadi terasa lain bagi
pendengaran Giok-liong, sambil menghela napas ia berkata,
sambil tersenyum getir: "Ini, hidupku selanjutnya penuh menghadapi gelombang
hidup yang diliputi marah bahaya, betapa juga tak bisa
menyeret nona kedalam libatan hidup, "
Tak duga tanpa menanti Giok-liong bicara habis SiangKwan
Hong-cu sudah berjingkrak membanting kaki dengan tingkah
aleman, teriaknya bersungut. "Aku tak peduli, aku harus ikut bersama kau"
Keruan Giok-liong menjadi malu dan kikuk sementara Hoa
sip-i ikut tersenyum geli- Giok-liong menjadi gugup dan gelisah, katanya keras:
"Nona Hong cu, betul aku ada urusan penting harus
menuju kelaut utara-" "Kemana kau pergi, seumpama sampai di-ujung langit aku
harus ikut kepada kau" "Wah berabe - - -" "Apa kau membenci aku ?" "Tidak, bukan begitu maksudku"
"Habis kenapa kau menolak dengan segala alasan tak sudi
membawa aku-" Giok liong betul betul kewalahan dibuatnya siangkwan
Hongcu sudah mendesak maju dan menarik lengan bajunya,
katanya, mendesak: "Kalau mau berangkat mari sekarang juga "
Dari samping Hoa sip i segera ikut bicara:
"siauhiap kalau nona Hong-cu rela?"
Kuatir orang banyak pentang mulut, lekas-lekas Giok-liong
menukas: "Aku betul-betul memikul tugas penting" gi, baiklah?"
siangkwan Hong-cu lantas berjingkrak menari-nari.
"Kau mau melulusi ?" teriaknya kegirangan.
Giok-Liong menjadi keripuhan dibuatnya, katanya kepada
Hoa sip-i: "saudara Hoa, adakah lain urusan lagi ?"
Hoa sip i membalas hormat, sahutnya:
"Aku khusus mencari siau-hiap hanya karena urusan itu tadi
" "Aku ada sebuah persoalan apakah saudara dapat
membantu aku?" "Ah, kenapa siau-hiap berlaku begitu sungkan, kalau ada
pesan apa silakan katakan, menempuh lautan api gunung
golok juga pasti kulaksanakan." "Kuharap saudara Hoa suka
pergi ke Kau-jiang san" "Entah untuk urusan apakah yang perlu dibereskan ?"
"Antarlah nona siangkwan ke Kau-jiang-san, carilah Nona
Tan soat-kiau " lalu ia menghadapi siangkwan Hoag-cu serta katanya:
"Nona Hong cu, di Kau jiang-san ada beberapa kawan
semua bersahabat baik dengan aku, kalau kau bersama
mereka ku-tanggung kau takkan kesepian."
siangkwan Hong cu membelalakkan matanya, serunya
keheranan: "Berapa nona yang bersahabat baik dengan kau ?"
Giok-liong manggut-manggut, sahutnya.
"ya, seperti saudara sekandung sendiri "
sangkwan Hong cu menghela napas lega, namun masih
tetap bersungut dan monyongkan mulutnya:
" Aku tidak mau, aku ingin .bersama kau saja "
"Nona, hal itu tidak mungkin terjadi"
"Kenapa" Apa tak suka kepadaku " siangkwan Hong-cu
terburu nafsu berkata, setelah bicara baru ia sadar telah
kesalahan omong, seketika selebar mukanya merah malu.
Muka Giok liong juga terasa seperti dihajar, cepat-cepat ia
berkata: "Bukan Bukan sebetulnya karena... a i" ia menghela napas
dalam-dalam lalu katanya lagi: "Sebetulnya tugas kelaut utara ini sangat penting dan
berat, jaraknya begitu jauh diatas alam pegunungan yang
penuh bertaburan saiju." "Aku tidak takut hidup sengsara "
"ya, memang nona tidak takut menderita, tapi itu tidak
perlu terjadi buat apa kita harus mencari penyakit sendiri?"
"Kenapa kau sendiri harus pergi kesana?"
Hampir saja Giok liong terpingkal-pingkal oleh pertanyaan
ini, namun ia menjadi ragu-ragu juga, menerangkan:
"Ini... .aku sendiri juga tidah tahu"
'ya, memang Giok liong sendiri hakikatnya tidak tahu apa
keperluannya menuju keping goan di laut utara itu"' keadaan
Ping-goan boleh dikata masih sangat asing bagi dirinya,
seumpama hanya undangan Hwi thian-khek Ma Hunsaja
belum tentu ia mau melulusi pergi ke sana, apalagi disaat
masih banyak perkara dan keramaian diBulim ini.
Tapi betapapun ucapan Kim ling-cu harus ditaati, Giok-liong
maklum bahwa angkatan cianpwe dari tertua Bulim su-bi ini
tentu tak semena-mena menyuruh dirinya pergi menderita
dalam perjalanan jauh ini tanpa membawa suatu manfaat
yang berguna. Apalagi menurut naluri hatinya memang ia terdorong juga
untuk mencoba pergi kesana, perasaan ini lebih tebal setelah
ia berjumpa dengan Ma Giok hou. Akhirnya Lan i long-kun Hoa sip ijuga merasakan bahwa
Giok liong memang mempunyai suatu ganjelan hati yang sulit
diutarakan kemauan hatinya, tanpa merenung kedua alis yang
mengerut dalam. Apalagi ia tahu sifat Giok-liong yang keras,
apa yang pernah diucapkan tentu harus dilaksanakan.
Maka akhirnya ia ikut membujuk kepada siangkwan Hong
cu : "Kalau Ma siau hiap sudah mengatur jalan hidupmu, kukira
untuk sementara bolehlah nona menetap dulu di Kau-jiang
san." Lekas-lekas Giok liong menyambung: "setelah lewat tahun ini, paling tidak kita bakal berjumpa-"
"Apa kau bisa pulang sebelum tahun baru?" tanya
siangkwan Hong-cu. "Pertemuan besar di Gak-yang pada hari Goan siau aku
harus hadir, tatkala itu kau boleh ikut nona Tan mereka
datang kesana, bukankah kita bisa jumpa lagi?"
Lan-i-long-kun Hoa sip-i lantas menambahi lagi
"Tidak kurang dua bulan lagi hari Goan siau sudah tiba."
Mata besar dan jeli siangkwan Hong cu kemekmek
memandangi Giok liong dengan rasa berat dan segan
berpisah, akhirnya apa boleh buat ia manggut-manggut,
sebelum pergi sekali lagi ia berpesan wanti-wanti:
"jangan kau ngapusi aku ya?"
Giok liong tertawa geli, serunya: "Ah, buat apa aku
menipumu" Tidak bakal" "Baik, pada hari Goan siau kau harus datang kekota Gak
yang" ujar siangkwan Hong-cu tersendat hampir saja air mata
meleleh keluar dari kelopak matanya.
Giok liong menjadi tak tega dan kasihan, tanpa merasa ia
tenggelam kedalam kenangan lama disaat perpisahan pertama
dengan coh Ki-sia dulu. Begitulah tanpa disadari pikirannya melayang entah apa
saja yang telah dipikirkan, ia berdiri menjublek bagai patung.
Melihat orang mematung sekian lama tanpa bersuara
siangkwan Hong cu menjadi heran, tanyanya :
"eh, apa yang tengah kaupikirkan?"
"Aku... aku... " Giok-liong gelagapan,
"Aku tengah memperhitungkan waktu perjalanan ke Pinggoan
ini, apakah kiranya bisa mempercepat kembali menyusul
ke ciak-yang" sudah tentu Hoa sip-i dapat memaklumi maksud kata-kata
Giok-liong yang susah di utarakan secara gamblang. Memang
apa yang tengah terkandung dalam pikiran Giok-liong ia tidak
tahu, namun dari sinar pancaran mata Giok liong yang rawan
dan redup serta hampa itu. Hal ini disalah artikan oleh Hoa sip-i, apalagi dilihatnya
siangkwan Hong-cu memandang dengan penuh kasih mesra
yang mendalam. Mungkinkah diantara mereka berdua telah terikat tali
asmara yang mendalam dan susah menyatakan terus terang.
Aku tidak seharusnya mengganggu diantara mereka. Begitulah
Hoa sipi menimbang dia menyangka bahwa dugaannya ini
pasti benar, untuk menyatakan rasa terima kasihnya terhadap
Giok liong yang sudah menyelamatkan jiwanya tempo hari,
betapa juga ia harus membantu untuk merangkap perjodohan
mereda berdua ini. Karerja pikirannya yang terkandung dalam lubuk hatinya ini
wajahnya lantas berseri-seri, dengan segera ia tampil ke
depan dan berkata dengan penuh kepercayaan:
"siau-hiap, kalau sesudah sampai di Kau-jiang-san,
seumpama nona Tan tidak mau percaya dan menerima kita
bagaimana ?" "Tidak mungkin mereka " "Aku dan nona Hong-cu sama tidak kenal mereka,"
demikian sela Hoa sip i sambil tertawa.
"Menurut hematku, lebih baik siauhiap menyerahkan suatu
barang kepercayaan kepada nona Hong cu supaya kita tidak
membuang buang tempo-" "Benar..." siangkwan Hong-cu ikut bicara lagi:
"seumpama mereka tidak mau menerima aku, membuang
waktu dan tenaga untuk pulang pergi sejauh ini tidak menjadi
soal, yang penting kemana selanjutnya aku harus taruh
mukaku ini" "Akutoh bukan pimpinan sebuah aliran atau kepala dari
suatu golongan, mana ada kepercayaan apa yang kumiliki"
"Sesuatu barang milik pribadimu yang selalu kau bawa juga
bolehlah " "Ini..." Giok-liong termenung, supaya siangkwan Hongcu
tidak mungkir lagi untuk pergi ke Kau-jiang san terpaksa Giokliong
merogoh keluar mainan kalung berbentuk jantung hati
pemberian ibundanya yang sudah pernah diserahkan kepada
Coh Kisia dan dikembalikan lagi itu, katanya: "Inilah mainan
batu pualam merah pemberian ibundaku dulu. Batu ini
termasuk barang berharga yang susah didapat, kedua juga
menjadi milik pribadiku. Nona Tan, nona Ling dan nona Li
sudah tahu akan asal-usul barangku ini, legakan kalian
berangkat" sambil berseri tawa riang Hoa sip i bertepuk tangan:
"Mainan batu pualam Bagus sungguh bagus"
sembari berkata ia menyambut batu mainan itu terus
diserahkan kepada siangkwan Hong-cu, serta pesannya:
"Nona Hong-cu, kau sudah dengar bukan, inilah benda
warisan keluarga Ma siau-hiap"
"Tidak Bukan begitu penting dan serius " cepat-cepat Giokliong
coba menjelaskan. Tak duga Hoa sip-i malah menambahi dengan katakatanya:
"Ketahuilah hati siau-hiap boleh dikata sudah diserahkan
kepada mu " Berdegup jantung Siangkwan Hong cu, selebar mukanya
merah jengah, sedikit melirik kepada Giok-liong, mulutnya


Seruling Samber Nyawa Karya Chin Yung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berseru lincah- "Biarlah aku menunggumu di Kau jiang-san."
habis ucapannya seperti segulung asap tubuhnya lantas
meluncur enteng dan gesit sekali laksana seekor kupu-kupu
yang terbang melincah diantara rumpun pohon, sekejap
kemudian lenyap pandangan mata. Begitu bayangan siang-kwan Hong-cu menghilang Giokliong
merasa ucapan terakhir Hoa sip-i rada dipaksakan, lekaslekas
ia menjelaskan dengan sungguh-: "saudara Hoa, ucapanmu tadi terlalu..."
Hoa sip-i menduga bahwa dugaannya memang tepat, kini
ia sangka Giok liong malu-malu kucing maka segera ia berseru
lantang: "siau-hiap, urusan ini serahkan saja kepadaku "
Giok liong salah sangka maksud kata-kata orang ini adalah
melindungi siangkwa Hong-cu sepanjang perjalanan menuju
ke Kaujiang-san, maka terpaksa ia mengiakan dan berpesan:
"ya, segalanya kuserahkan kepadamu selamat jumpa
kesempatan lain kuucapkan terima kasih."
"sudah tentu kelak siau-hiap harus banyak terima kasih
kepada aku " lalu gesit sekali ia berlari-lari kencang menyusul ke arah
dimana siangkwan Hong-cu tadi menghilang, dari jauh
terdengar kumandang gelak tawanya yang puas-
Mengantar keberangkatan Hoa sip i, Giok-liong menghela
napas lega, pelan-pelan ia beranjak keluar dari rimba yang
kosong dan sunyi itu- sang putri malam yang redup mulai
memancarkan cahayanya dari ufuk timur sana, dengan hati
yang risau dan tenggelam dalam berbagai alampikiran tak
terasa Giok liong sudah menyelusuri jalan raya-
Semakin ke utara hawa udara semakin dingin, hujan saiju
mulai turun, alam semesta ini sudah rata ditaburi bunga salju
yang mulai menebal. Laksana sebatang anak panah seperti
bintang meteor yang jatuh Giok-liong kembangkan ilmu ringan
tubuhnya melesat diatas saiju yang lama tak kelihatan ujung
pangkalnya. sekonyong-konyong didengarnya derap kaki kuda yang
kencang serta ringkik kuda yang keras kumandang ditengah
malam gelap ini- "siapakah itu yang menempuh jalan di tengah malam hujan
saiju ini ?" demikian Giok liong bertanya dalam hati. Belum lenyap
pikirannya, dua ekor kuda sekencang angin tahu-tahu sudah
melesat lewat dari samping tubuhnya, delapan kakinya
mencabangkan bunga saiju dan kotoran lumpur.
sekilas pandang saja lantas bercekat hati Giok-liong
siapakah dia " siapa pula pemuda yang menunggang kuda
pupus itu " Lari kedua ekor kuda tadi betul-betul cepat sekali,
bagi orang lain mungkin tak dapat melihat tegas. Namun bagi
pandangan Giok-liong yang jeli sekilas saja ia sudah mel
Bentrok Para Pendekar 28 Bakti Pendekar Binal Karya Khu Lung Bentrok Para Pendekar 24
^