Pencarian

Kisah Sepasang Rajawali 20

Kisah Sepasang Rajawali Karya Kho Ping Hoo Bagian 20


dengan penuh ajakan kepada Mauw Siauw Mo-li yang cantik. Melihat ini, Lam-thian Lo-mo yang mengkhawatirkan keselamatan pangeran itu dan belum percaya betul kepada wanita yang baru datang ini, cepat berkata, "Apakah Paduka lupa akan bunga segar dari Bhutan itu"
Berkata demikian, Lam-thian Lo-mo melirik ke arah Tek Hoat dengan pandang mata penuh arti. Kiranya kakek bermuka merah yang cerdik ini tidak saja ingin mencegah pangeran itu tidur bersama Mauw Siauw Mo-li yang belum dipercayanya, akan tetapi juga ingin membuktikan bahwa Tek Hoat memang tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Puteri Bhutan itu.
"Ha-ha-ha-ha, engkau benar sekali, Lam-thian Lo-mo. Mengapa aku sampai terlupa" Kelak dia menjadi isteriku, sekarang pun apa bedanya" Ha-ha-ha-ha, Mo-li, lain kali saja kita melanjutkan persahabatan kita, ya" Silakan kalian melanjutkan pesta ini, aku mau.... mau.... menikmati bunga segar dari Bhutan, ha-ha-ha!" Pangeran yang mabok itu bangkit dari kursinya dan terhuyung-huyung meninggalkan ruangan itu menuju ke kamar di mana Syanti Dewi dikeram dan dijaga oleh Hek-wan Kui-bo di luar kamarnya.
Dapat dibayangkan betapa mendongkol rasa hati Tek Hoat. Dia mengerti akan lirikan mata Lam-thian Lo-mo dan dia menahan kemarahan hatinya. Dalam bingungnya dia tidak tahu harus berbuat apa. Dibayangkannya betapa Syanti Dewi meronta-ronta di bawah dekapan Pangeran Liong Khi Ong yang memperkosanya, dan dia merasa jantungnya seperti berhenti berdetik.
"Ang-sicu, mari kita minum arak bahagia untuk memberi selamat kepada pangeran yang sedang berpengantin di dalam kamar bersama Puteri Bhutan!" Lam-thian Lo-mo berkata sambil mengangkat cawan araknya.
Tek Hoat terpaksa minum araknya dengan hati panas karena dia maklum bahwa kakek itu sengaja hendak mengejeknya. Namun Tek Hoat adalah seorang pemuda yang cerdik sekali. Dia maklum bahwa betapapun tinggi kepandaiannya, dia tidak mungkin akan dapat menandingi begitu banyaknya orang pandai. Sepasang kakek kembar itu mungkin dapat dia tandingi, biar dibantu oleh nenek Hek-wan Kui-bo sekalipun, akan tetapi kedatangan Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li merubah keadaan dan kalau mereka ini pun maju menentangnya, tentu dia akan celaka.
"Hi-hik, Ang-taihiap.... pangeran itu sungguh romantis.... hemmm, membuat orang menjadi tertarik dan timbul semangat! Ang-taihiap, bagaimana kalau kita berdua juga mengaso dan saling menuturkan riwayat hidup kita untuk mempererat persahabatan"
"Ha-ha-ha, engkau sungguh mata keranjang, Sumoi!" Hek-tiauw Lo-mo tertawa bergelak.
"Aih, Suheng! Hidup satu kali kalau tidak bersenang-senang mau apa lagi" Kalau sudah mati, kepingin pun tidak akan mampu bergerak lagi. Betul tidak, Ang-taihiap"
Sambil berkata demikian, Mauw Siauw Mo-li menggeser bangkunya mendekat dan tangannya meraba-raba dari bawah meja ke paha Tek Hoat. Selagi pemuda ini bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di luar ruangan itu dan dua orang pengawal masuk dan memberi hormat kepada Panglima Kim Bouw Sin, lalu berkata lantang, "Lapor! Peristiwa hebat terjadi di Koan-bun!"
Kim Bouw Sin bangkit berdiri dan matanya terbelalak. "Lekas katakan. Apa yang terjadi di Koan-bun"
Dengan sikap gugup pengawal itu lalu menjawab, "Koan-bun pada saat ini sedang diserbu oleh pasukan liar Raja Tambolon dan membutuhkan bantuan, Ciangkun."
Berita ini amat mengejutkan. "Celaka....!" Tek Hoat sudah meloncat dari kursinya. "Pangeran harus segera diberi tahu!" Bagaikan kilat cepatnya tubuhnya sudah meloncat ke dalam dan tak lama kemudian dia sudah menggedor pintu kamar Pangeran Liong Khi Ong.
"Ihh, engkau mau apa" Nenek Hek-wan Kui-bo menegur dan tongkatnya sudah siap untuk menyerang.
"Bodoh!" Tek Hoat membentak. "Ada laporan penting untuk Pangeran!" Dia mengetuk pintu lagi dan pintu terbuka dari dalam. Dengan muka merah karena setengah mabok dan juga marah Pangeran Liong Khi Ong memperlihatkan mukanya sambil memandang marah kepada pembantunya itu.
"Ang Tek Hoat, mengapa engkau menggangguku"
Dari pintu yang terbuka sedikit itu Tek Hoat dapat melihat ke dalam dan ketika dia melihat Syanti Dewi duduk di atas kursi di kamar itu dengan mata terbelalak dan muka pucat, akan tetapi hanya kelihatan marah sedangkan pakaiannya masih lengkap, hatinya menjadi lega. Dia cepat memberi hormat kepada Pangeran Liong Khi Ong lalu berkata, "Berita buruk sekali, Pangeran. Baru saja datang laporan bahwa Tambolon yang curang itu telah mengerahkan pasukannya menyerbu Koan-bun."
Seketika rasa mabok oleh arak dan oleh kecantikan Puteri Bhutan terbang meninggalkan benak pangeran ini. "Apa...." Dia sudah membuka lebar daun pintu dan berlari ke ruangan, diikuti oleh Tek Hoat sedangkan Hek-wan Kui-bo tetap menjaga di depan pintu kamar Syanti Dewi. Memang bagi dua orang kakak beradik Pangeran Liong, urusan pemberontakan mereka merupakan hal terpenting bagi hidup mereka, oleh karena itu tidak mengherankan apabila Pangeran Liong Khi Ong segera melupakan semua kesenangan pribadinya begitu mendengar berita diserbunya Koan-bun oleh Raja Tambolon. Ketika dia tiba di ruangan itu, Panglima Kim Bouw Sin, Siang Lo-mo, Hek-tiauw Lo-mo, dan Mauw Siauw Mo-li sedang mendengarkan pelaporan lengkap dari pembawa berita itu. Kemunculan pangeran ini mengharuskan Si Pengawal mengulang semua laporannya.
"Mereka datang sebagai sahabat," pengawal itu menutup laporannya. "Akan tetapi begitu pintu gerbang dibuka untuk membiarkan Raja Tambolon dan para pengikutnya masuk, tiba-tiba rombongan raja liar itu membunuhi penjaga pintu gerbang dan pasukannya yang bersembunyi dalam gelap langsung menyerbu ke dalam kota."
Pangeran Liong Ki Ong marah sekali mendengar ini. "Raja biadab itu! Panglima Kim Bouw Sin, kita harus menghajar dan menumpas mereka!"
Panglima Kim Bouw Sin segera mengumpulkan para perwira pembantunya dan menyiapkan pasukan yang besar untuk membantu Koan-bun dan menumpas pasukan liar Tambolon itu. Tek Hoat maklum bahwa karena dia yang mengusulkan untuk membiarkan Tambolon dan pasukannya menetap di Ang-kiok-teng, sudah sepatutnya kalau dia yang kini membantu dan ikut memimpin pasukan itu. Andaikata tidak ada Syanti Dewi di situ, tentu sudah tadi dia mengajukan diri. Kini dia berpendapat lain dan kecerdikannya membuat dia cepat berkata kepada Panglima Kim Bouw Sin, akan tetapi tentu saja kata-katanya ini ditujukan untuk menarik perhatian Pangeran Liong Khi Ong. "Tambolon seperti anjing, diberi sejengkal ingin sehasta! Manusia macam dia harus dibasmi, dan kesempatan yang amat baik ini hendaknya dipergunakan untuk menguji kesanggupan dua orang pembantu baru kita yaitu Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li. Hal-hal aneh terjadi, maka kita harus tetap waspada dan terutama keselamatan pangeran harus dijaga baik."
Ucapan ini diterima baik oleh Panglima Kim dan juga Pangeran Liong. Maka segera diputuskan bahwa pasukan besar yang akan membantu Koan-bun itu selain dipimpin oleh para perwira, juga dibantu pula oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li.
"Saya sendiri akan melakukan perondaan dan mengatur penjagaan ketat di Teng-bun, karena dalam keadaan segawat ini, kita harus tetap waspada dan memperkuat penjagaan," Tek Hoat berkata pula dan tanpa menanti persetujuan, dia sudah keluar pula dan lenyap di dalam kegelapan malam. Pasukan besar yang diperbantukan kepada pertahanan kota Koan-bun itu segera berangkat pada malam hari itu juga.
Sementara itu, dengan didampingi oleh Ceng Ceng dan Topeng Setan, Raja Tambolon, dua orang pengawalnya, yaitu Liauw Kui Si Petani Maut dan Yu Ci Pok Si Siucai lihai, memimpin seribu orang pasukan yang liar itu malam-malam menyerbu Koan-bun. Seperti telah diceritakan oleh para pelapor kepada Pangeran Liong Khi Ong, Tambolon menggunakan siasat, bersama empat orang pembantunya yaing lihai itu dia muncul di depan pintu gerbang selatan kota Koan-bun dan berteriak minta dibukai pintu karena dia hendak menemui komandan kota Koan-bun. Setelah kepala penjaga mengenal Raja Tambolon ini, jembatan gantung diturunkan dan pintu gerbang dibuka, Raja Tambolon, dua orang pengawal, Ceng Ceng dan Topeng Setan, segera menyeberangi jembatan gantung dan secara tiba-tiba, lima orang yang berkepandaian tinggi ini menyerang pasukan penjaga yang terdiri dari dua puluh orang lebih. Dalam waktu singkat saja mereka itu telah merobohkan semua penjaga dan pasukan liar itu segera menyerbu ke dalam kota. Gegerlah kota Koan-bun dan perang terjadi dengan hebatnya dan kacau-balau karena penyerbuan yang tak terduga-duga itu membuat pasukan-pasukan pertahanan kota Koan-bun menjadi bingung.
Kalau saja tidak datang pasukan bantuan dari Teng-bun yang tiba di Koan-bun menjelang pagi, tentu kota Koan-bun sudah terjatuh ke tangan pasukan Tambolon. Kedatangan pasukan besar dari Teng-bun ini membangkitkan kembali semangat sisa pasukan pertahanan Koan-bun dan perang dilanjutkan sampai keesokan harinya. Sebagian pasukan liar telah menduduki separuh dari kota Koan-bun akan tetapi sebagian pula kini bertempur di luar pintu gerbang untuk menahan serbuan pasukan pemberontak yang datang dari Teng-bun. Perang hebat terjadi di dalam kota Koan-bun dan juga di luar kota itu. Akan tetapi kini pasukan liar di bawah pimpinan Tambolon terjepit antara dua pasukan yang berada di dalam dan yang datang dari luar. Karena jumlah mereka jauh kalah banyak, maka mulailah mereka terhimpit dan korban-korban berjatuhan.
Tambolon sendiri seperti biasa dibantu oleh dua orang pengawalnya yang setia, ikut berperang dan mengamuk ganas. Juga Ceng Ceng dan Topeng Setan bertempur bahu-membahu, merobohkan banyak tentara pemberontak. Diam-diam kedua orang ini merasa girang sekali melihat betapa siasat mereka berhasil baik, bahkan bukan saja mereka dapat mengadu domba antara pasukan-pasukan liar Tambolon dan pasukan pemberontak, juga mereka memperoleh kesempatan ikut pula bertempur membasmi para pemberontak.
Akan tetapi kini pasukan liar Tambolon ini mulai terdesak hebat. Yang mempertahankan diri di luar terhadap serbuan pasukan pemberontak yang datang dari Teng-bun kini didesak masuk kota oleh pasukan besar pemberontak itu. Kini semua pasukan liar yang berperang seperti binatang-binatang buas itu telah digiring masuk ke dalam kota Koan-bun dan di dalam kota ini terjadilah peristiwa-peristiwa mengerikan. Bukan hanya perang antara anak buah pasukan-pasukan yang berlawanan, melainkan pasukan itu terpecah-pecah dan terjadilah perang campuh kacau-balau yang menyeret pula penduduk kota Koan-bun. Seluruh kota menjadi kacau dan di sana-sini terjadi pembakaran-pembakaran. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana.
Pasukan liar itu makin terjepit. Mereka terdiri dari orang-orang liar dan buas yang kalau sedang berperang seperti berubah menjadi binatang-binatang buas sehingga mereka itu telah menjatuhkan banyak sekali lawan dalam perang campuh itu. Setiap orang anggauta pasukan Tambolon ini baru roboh kalau sedikitnya telah menjatuhkan tiga orang lawan. Akan tetapi setelah bala bantuan dari Teng-bun tiba, jumlah mereka jauh kalah banyak dan mulailah mereka terhimpit dan mulai pula timbul rasa panik di antara mereka.
Ceng Ceng dan Topeng Setan masih mengamuk dengan pedang mereka, merobohkan banyak sekali pasukan pemberontak. Akan tetapi setelah pasukan dari Teng-bun berhasil mendesak masuk dan barisan pemberontak ini datang seperti air banjir, mereka berdua terdesak dan terdorong sampai saling berpisah.
Di antara kekacauan yang terjadi di Koan-bun itu, di antara ribuan orang penduduk yang menjadi panik dan ketakutan, terdapat seorang pemuda yang bersembunyi di atas wuwungan rumah dan menonton perang campuh itu dengan hati tertarik sekali. Ketika dia mendengar bahwa pasukan liar yang dipimpin Tambolon menyerbu kota Koan-bun, dia terkejut dan merasa heran. Akan tetapi setelah menyaksikan perang hebat antara pasukan liar ini melawan pasukan-pasukan pemberontak, hatinya menjadi girang. Pemuda ini adalah Suma Kian Lee. Dia tidak mengerti mengapa sekutu pemberontak, pasukan kuat dari suku bangsa liar yang dipimpin Tambolon itu menyerbu Koan-bun dan memerangi pasukan pemberontak, sekutu mereka sendiri. Akan tetapi hal ini tentu saja menguntungkan pemerintah, maka Kian Lee menjadi girang ketika dia menyaksikan perang campuh kacau-balau yang terjadi di bawah itu.
Pemuda ini masih belum meninggalkan Koan-bun karena dia ingin mencari suhengnya, adiknya dan Syanti Dewi yang terpisah darinya. Seperti diketahui, pemuda ini menderita luka karena racun senjata rahasia peledak yang dilepas Hek-wan Kui-bo, akan tetapi luka di pahanya itu telah diobati oleh Kim Hwee Li, puteri Hek-tiauw Lo-mo. Kini lukanya telah sembuh benar, akan tetapi hatinya gelisah karena dia masih belum berhasil bertemu kembali dengan Gak Bun Beng, Suma Kian Bu, dan Syanti Dewi.
Ketika dari atas wuwungan loteng sebuah rumah besar dia melihat perang yang kacau-balau itu menjurus ke perbuatan kejam terhadap penduduk, baik yang dilakukan oleh kaum liar maupun oleh tentara pemberontak yang mempergunakan kekacauan itu untuk melampiaskan nafsu-nafsu pribadi mereka, menggarong, memperkosa, dan membunuh, Kian Lee lalu meloncat turun dan menyelidiki dari rumah ke rumah. Sudah dua kali dia membunuh dua orang tentara liar yang sedang memaksa dan hendak memperkosa wanita, dan dia pun telah membunuh tiga orang tentara pemberontak yang menggarong dan mencoba untuk membunuh pemilik rumah yang digarongnya.
Perang dilanjutkan sampai keesokan harinya, akan tetapi kini semua pasukan liar di bawah pimpinan Tambolon itu telah digiring masuk dan perang campuh yang berat sebelah terjadi di dalam kota Koan-bun karena jumlah tentara Tambolon itu jauh kalah banyak.
Ceng Ceng yang terpisah dari Topeng Setan masih menggerakkan pedangnya, merobohkan setiap orang tentara pemberontak yang berani mendekatinya. Dia sudah lelah sekali karena sejak penyerbuan malam tadi sampai pagi ini dia harus bertempur. Kini dia hanya menjaga diri saja sambil beristirahat dan mencari-cari pembantunya yang tidak kelihatan lagi itu. Perang dilanjutkan dan kini pihak pemberontak mulai melakukan pembersihan karena sisa tentara liar itu sudah cerai-berai dan mulai main kucing-kucingan bersembunyi di antara rumah-rumah penduduk Koan-bun. Dengan cara demikian, mereka masih mampu melakukan perang gerilya yang tentu saja makin mengacaukan kota itu dan membikin geger para penduduk karena tempat tinggal mereka dipergunakan sebagai tempat persembunyian, kejar-kejaran dan saling bunuh.
Sehari itu pihak pasukan liar hanya mampu mempertahankan diri sambil bersembunyi di sana-sini dan akhirnya, ketika malam tiba, sisa mereka tinggal sedikit dan mereka kini hanya berani melawan kalau ketahuan tempat sembunyi mereka dan hanya karena terpaksa saja.
Ceng Ceng makin bingung karena tidak melihat Topeng Setan. Dia mencari-cari ke seluruh kota namun tidak berhasil karena dia pun harus selalu menghindari pertemuan dengan pasukan-pasukan pemberontak yang mengadakan operasi pembersihan. Dia tadi melihat bahwa pasukan pemberontak itu dipimpin oleh seorang kakek raksasa dan seorang wanita cantik yang amat lihai. Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya ketika dia mengenal kakek itu yang bukan lain adalah Hek-tiauw Lo-mo, raksasa lihai sekali Ketua Pulau Neraka yang pernah dijumpainya, bahkan pernah menangkapnya di Lembah Bunga Hitam, ayah dari Kim Hwee Li yang pernah menolong dan membebaskannya. Ceng Ceng gentar menghadapi raksasa itu, dan pula, selain dia amat lelah, juga dia telah merasa puas dengan siasatnya, menghancurkan pasukan Tambolon dan merugikan besar sekali kepada pasukan pemberontak.
Ceng Ceng menjadi bingung juga karena hari telah menjadi gelap dan hanya terjadi pertandingan-pertandingan kecil di sana-sini antara sisa tentara Tambolon yang ketahuan tempat persembunyian mereka melawan pasukan pemberontak yang mengadakan pembersihan. Dia masih belum berhasil menemukan kembali Topeng Setan. Dan tadi dia melihat sinar dari anak panah berapi meluncur tinggi di angkasa, berwarna kebiruan dan indah. Dia tidak tahu apa artinya anak panah berapi itu yang meluncur dari tengah kota Koan-bun.
Selagi dia menyelinap di antara rumah-rumah di dalam cuaca yang mulai gelap itu, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras dan tahu-tahu dia telah dikepung oleh belasan orang tentara pemberontak yang dipimpin oleh seorang wanita cantik yang memegang sebatang pedang.
"Ini dia wanita pemimpin pasukan liar itu!" terdengar bentakan seorang perajurit.
Wanita cantik yang bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li itu, memandang Ceng Ceng yang tak dapat melarikan diri lagi itu penuh perhatian, lalu sambil tersenyum dia bertanya, "Ah, benarkah Tambolon mempunyai pembantu secantik ini"
"Tidak salah lagi, Kouw-nio (Nona). Kami tadi melihat dia mengamuk di samping Tambolon dan para pembantunya. Dia lihai sekali!" kembali terdengar suara meyakinkan dari seorang perajurit pemberontak.
Mauw Siauw Mo-li melangkah maju. "Eh, perempuan cantik, apakah engkau selir Tambolon" Hayo katakan di mana adanya Tambolon dan para pembantunya itu!"
Dapat dibayangkan betapa mendongkol dan marah hati Ceng Ceng mendengar kata-kata dan pertanyaan yang dianggapnya menghina itu. "Perempuan pemberontak rendah!" Dia memaki sambil menyerang ke depan dengan Ban-tok-kiam di tangannya.
"Sing.... wuuuuttt-tranggg....!" Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pedang Ban-tok-kiam di tangan Ceng Ceng bertemu dengan pedang di tangan Mauw Siauw Mo-li. Ceng Ceng terhuyung ke belakang, akan tetapi siluman kucing itu pun terperanjat melihat betapa ujung pedangnya patah dan ada hawa beracun yang mengerikan keluar dari pedang di tangan lawannya itu. Jelas bahwa dalam hal tenaga sin-kang, Ceng Ceng masih kalah oleh lawannya, akan tetapi keampuhan Ban-tok-kiam juga mengejutkan hati Mauw Siauw Mo-li. Pada saat itu, dua orang perajurit menubruk dari kanan kiri menggunakan golok mereka menyerang. Ceng Ceng memutar pedangnya dan terdengar suara nyaring disusul runtuhnya dua batang golok yang menjadi buntung berikut lengan kedua orang itu!
"Mundur kalian....!" Mauw Siauw Mo-li berteriak nyaring dan ketika belasan orang pasukan itu mundur, dia sudah melemparkan bola-bola hitam berturut-turut sebanyak lima buah ke arah Ceng Ceng. Gadis ini maklum bahwa lawan menggunakan senjata rahasia yang aneh dan belum dikenalnya, maka cepat dia menjatuhkan diri bergulingan dan untung saja dia melakukan pengelakan secara ini, karena ketika bola-bola itu terbanting ke atas tanah terdengar ledakan-ledakan dan tentu Ceng Ceng akan terluka kalau saja dia tidak bergulingan di atas tanah. Ceng Ceng terkejut bukan main. Cepat dia menggerakkan pedang menangkis sambil meloncat bangun ketika wanita itu menubruknya dan mengirim tusukan, tusukan maut yang nyaris mengenai perutnya. Namun berkat keampuhan Ban-tok-kiam yang membuat lawan menjadi jerih dan tidak berani beradu pedang secara langsung, Ceng Ceng mampu meloncat tinggi dan terus mencelat ke atas genteng lalu melarikan diri! Dia maklum akan kelihaian wanita itu dan kalau sampai datang lebih banyak pasukan pemberontak lagi lebih-lebih kalau sampai Hek-tiauw Lo-mo muncul, tentu dia akan celaka.
"Kejar dia....!" Mauw Siauw Mo-li berteriak sambil meloncat naik ke atas genteng dengan gerakan yang luar biasa cepatnya. Untung bahwa Ceng Ceng telah lebih dulu menghilang di atas genteng, kalau tidak agaknya akan sukar baginya untuk menyelamatkan diri karena dalam hal gin-kang, dia pun kalah jauh kalau dibandingkan dengan Siluman Kucing itu. Mauw Siauw Mo-li terus mencari dengan penasaran, bahkan mendatangkan pasukan lebih banyak lagi. Biarpun pasukan bantuan dari Teng-bun berhasil mengalahkan dan hampir membasmi habis pasukan liar Tambolon, namun pasukan pemberontak itu sendiri kehilangan banyak sekali anggauta tentara dan kalau dia atau suhengnya tidak mampu menangkap Tambolon dan para pembantunya, mati atau hidup, hati Mauw Siauw Mo-li belum puas.
Ceng Ceng berlari-larian, kadang-kadang di atas genteng, kemudian meloncat turun dan menyelinap di antara bayangan-bayangan rumah yang gelap. Ketika dia berhenti sebentar di belakang sebuah rumah, tiba-tiba terdengar suara bisikan, "Lu-bengcu.... mari sini....!"
Ceng Ceng terkejut, apalagi ketika mengenal Raja Tambolon dan dua orang pembantunya yang lihai itu. Kiranya Tambolon, Liauw Kui Si Petani Maut dan Si Siucai Yu Ci Pok bersembunyi di dalam rumah kosong itu! Biarpun hatinya tidak suka, namun Ceng Ceng yang sedang dikejar-kejar Mauw Siauw Mo-li dan pasukannya itu segera meloncat masuk melalui pintu kecil di belakang rumah yang dibuka oleh Tambolon. Mereka berempat segera menutup pintu dan memasuki rumah kosong. Ceng Ceng memandang ruangan yang diterangi lentera itu penuh harapan, akan tetapi hatinya kecewa ketika dia tidak melihat Topeng Setan di situ.
"Untung ada kalian di sini...." kata Ceng Ceng. "Akan tetapi di mana adanya Topeng Setan"
"Hemmm.... justeru kami hendak bertanya kepadamu, Lu-bengcu. Di manakah Topeng Setan pembantumu itu"
Mendengar suara dan melihat sikap Raja Tambolon, Ceng Ceng terkejut, apalagi ketika melihat bahwa tiga orang itu membuat gerakan mengurungnya, Tambolon di depannya sedangkan dua orang pembantu raja di kanan kirinya, sikap mereka seperti orang yang marah kepadanya.
"Eh, apa maksudmu, Raja Tambolon" Ceng Ceng bertanya dengan sikap biasa.
"Ha-ha, engkau masih pandai berpura-pura lagi! Sikap dan maksudku sudah jelas! Engkau telah menjebloskan kami ke dalam perangkap. Engkau telah menyebabkan pasukan kami terbasmi habis, dan sekarang pembantumu itu tidak tampak bayangannya dan engkau masih berpura-pura lagi, Nona."
Di dalam hatinya Ceng Ceng terkejut sekali. Akan tetapi dia cerdik dan dia berkata dengan nada suara dan penasaran. "Raja Tambolon, begitu tidak tahu terima kasihkah engkau" Apakah engkau tidak melihat betapa aku tadi hampir celaka oleh pasukan yang dipimpin wanita lihai itu" Kalau usaha kita tidak berhasil karena keburu datang bala bantuan dari Teng-bun, apakah itu salahku" Mengapa engkau tidak menyalahkan pasukanmu sendiri yang tidak becus dan kurang mampu!"
Raja Tambolon yang sudah kehilangan segala-galanya itu masih bisa tertawa. Kemudian dia berkata, "Nona Lu Ceng, kalau tadi kami tidak melihat betapa engkau dikejar-kejar, tentu sekarang engkau sudah mati di tanganku! Akan tetapi jangan mengira bahwa hal itu sudah cukup bagi kami. Tidak hadirnya Topeng Setan di sampingmu memperkuat dugaan kami bahwa kalian telah mempermainkan kami dan karena engkaulah maka kini pasukanku terbasmi habis. Mana bisa aku mendiamkannya saja hal ini" Tidak! Untuk meyakinkan hatiku bahwa engkau tidak mengkhianati aku, engkau tidak boleh lagi berpisah dari sampingku."
Berdebar jantung Ceng Ceng mendengar ucapan ini. Sudah cukup jelas baginya apa yang terkandung di dalam hati raja liar ini. Akan tetapi untuk mengulur waktu sambil memutar otaknya mencari akal dia berpura-pura tidak mengerti dan bertanya, "Maksudmu"
"Ha-ha-ha! Pasukanku boleh terbasmi habis, akan tetapi aku masih mempunyai dua orang sahabat dan pembantuku yang setia ini, ditambah lagi memiliki engkau yang cantik jelita, muda lagi pintar dan cerdik sebagai sahabat dan penghiburku, sebagai permaisuriku! Dengan adanya kita berempat, mudah bagi kita untuk menghimpun pasukan lagi dan membangun sebuah negara yang kuat, ha-ha-ha!"
Makin berdebar rasa jantung Ceng Ceng. Tepat seperti telah diduganya. Akan tetapi melihat Tambolon dan dua orang pembantunya itu menghadapi dengan sikap siap untuk menghalangi dia melarikan diri, dia masih berkata,
"Hemm, rencanamu memang bagus sekali, akan tetapi bagaimana dengan Topeng Setan"
"Dia" Ha-ha-ha, kalau memang dia itu bukan pengkhianat dan saat ini tidak bergabung kepada musuh, dia pun bisa menjadi orang ke lima, bisa menjadi pembantuku. Akan tetapi kalau tidak muncul, persetan dengan dia. Kita berempat sekarang juga harus kabur keluar dari kota terkutuk ini!"
"Engkau memang manusia hina!" Tiba-tiba Ceng Ceng membarengi makiannya itu dengan gerakan kedua tangannya yang menyebar jarum-jarum hitam beracun yang tadi diam-diam sudah disiapkannya di kedua tangannya.
"Ehhhh!"
"Heiitttt!"
"Hyaattt!"
Tambolon dan dua orang pembantunya itu memang bukan orang-orang sembarangan. Mereka bertiga itu selain memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga sudah puluhan tahun menghadapi segala macam keadaan sehingga tentu saja mereka sudah waspada akan akal yang dipergunakan Ceng Ceng tadi yang mereka anggap tiada lebih sebagai akal kanak-kanak saja. Maka begitu kedua tangan dara itu bergerak dan ada sinar hitam menyambar ke arah mereka, tiga orang ini sudah bergerak cepat, membuang diri ke bawah dan bergulingan sehingga serangan jarum-jarum beracun yang mendadak itu dapat mereka elakkan.
Akan tetapi kesempatan ini cukup bagi Ceng Ceng untuk secepat kilat meloncat keluar dari rumah itu melalui jendela, terus berloncatan ke atas genteng melarikan diri karena dia maklum bahwa menghadapi tiga orang pandai itu dia tidak akan mampu menang.
"Ha-ha, betina liar, kau hendak lari ke mana" Tambolon berseru dan bersama dua orang pembantunya, dia mengejar dengan cepat. Mereka bertiga juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakan mereka cepat sekali sehingga setelah melewati empat wuwungan rumah, Ceng Ceng yang meloncat turun telah dikurung lagi di sebelah kebun kosong yang sunyi.
"Ha-ha-ha-ha, sungguh hebat! Makin liar dan hebat engkau melawan, akan makin manis dan mesra kalau engkau sudahterjatuh ke dalam pelukanku, ha-ha!" Tambolon tertawa bergelak.
"Tambolon, manusia iblis! Kau hanya dapat menguasai aku kalau aku sudah dapat menjadi mayat!" Ceng Ceng berteriak sambil mencabut pedangnya, yaitu Ban-tok-kiam yang mengeluarkan hawa mujijat dan menyeramkan. Dengan nekat Ceng Ceng yang maklum bahwa melarikan diri pun percuma saja lalu menerjang maju dan menggerakkan pedangnya yang mengandung hawa beracun itu dengan sengit dan membabi buta.
Akan tetapi jangankan dikurung bertiga, baru melawan seorang di antara mereka saja Ceng Ceng tidak akan mampu menang. Petani Maut Liauw Kui menggerakkan pikulannya dan senjatanya ini saja sudah cukup untuk menahan gulungan sinar pedang Ban-tok-kiam sehingga tidak dapat bergerak leluasa karena selalu terhalang oleh pikulan yang digerakkan secara lihai sekali. Sedangkan dari kanan kiri, Yu Ci Pok yang menggunakan sepasang senjata poan-koan-pit mengancam dengan totokan-totokan cepat dan Tambolon yang tertawa itu menggunakan kedua lengannya yang panjang berbulu untuk menerkam tubuh Ceng Ceng!
Tentu saja Ceng Ceng menjadi sibuk sekali. Semua kepandaiannya telah dikeluarkannya, bahkan dia telah menggunakan pukulan tangan kiri beracun, juga menggunakan ludah yang telah menjadi beracun karena pengerahan ilmunya, namun tiga orang lawan itu terlalu kuat baginya. Hanya karena Tambolon menghendaki dia hidup-hidup sajalah maka dia masih belum roboh. Kalau mereka itu ingin membunuhnya, tentu sudah sejak tadi dia tewas. Justeru karena tahu bahwa dia akan ditangkap hidup-hidup dan dijadikan barang permainan oleh Tambolon, Ceng Ceng merasa ngeri. Dia tidak takut mati, akan tetapi dia menggigil penuh kengerian kalau teringat betapa dia akan diperkosa dan dipermainkan oleh raja liar itu. Teringat akan pengalamannya ketika diperkosa orang, Ceng Ceng ingin menjerit. Dia tidak sudi dijadikan permainan oleh Tambolon, akan tetapi dia pun tidak ingin mati sebelum mampu membalas sakit hatinya kepada Kok Cu, pemuda murid Si Dewa Bongkok yang telah memperkosanya. Tidak, dia tidak ingin mati sebelum dapat berhadapan dengan Kok Cu! Akan tetapi dia pun tidak sudi menderita perkosaan lagi, perkosaan yang lebih mengerikan dan lebih menghina kalau dia sampai tertangkap oleh Tambolon!
"Cringgg....!" Tiba-tiba pedang Ban-tok-kiam yang bertemu dengan pukulan Petani Maut tidak dapat dia tarik kembali, seolah-olah melekat pada pikulan itu. Pada saat itu, ujung senjata pensil di tangan siucai itu menyentuh jalan darah di pergelangan tangan kanannya. Ceng Ceng menjerit dan terpaksa melepaskan pedangnya karena lengannya itu seketika menjadi lumpuh.
"Ha-ha-ha, kuda betina liar! Apakah engkau masih belum mau jinak" Tambolon yang sudah menyambar pedang Ban-tok-kiam itu kini tertawa bergelak.
Ceng Ceng mengeluarkan suara melengking nyaring dan dengan penuh kenekatan dia menerjang dengan pukulan kedua tangannya ke arah dada Tambolon.
"Plakk....! Dukkk!" Tubuh Ceng Ceng terjengkang dan dia roboh bergulingan ketika pukulannya ditangkis dan tubuhnya didorong oleh Tambolon sambil tertawa-tawa itu.
"Wah, kuda betina seperti ini harus ditudukkan dan dijinakkan sekarang juga, kalau tidak, dia akan bertingkah terus! Liauw Kui, Yu Ci Pok, pegang dia, biar dia merasakan dan mengenal siapa yang berkuasa! Ha-ha-ha!" Tambolon tertawa-tawa dan dengan gerakan tenang mulai menanggalkan jubah luarnya.
Ceng Ceng membelalakkan matanya. Dia akan diperkosa begitu saja, dengan kedua orang itu memegangnya dan Tambolon menggagahinya.
"Tidaaaakkk....! Jangan....!" jeritnya penuh kengerian ketika dua orang lihai itu mendekatinya. Dia masih duduk di atas tanah karena kepalanya agak pening ketika dia terbanting tadi.
"Hemm, engkau perawan liar memang harus dipaksa!" Si Petani berkata dan bersama Yu Ci Pok dia menubruk ke depan.
"Plak! Plakk!"
"Eihhhh...."
"Heiiii....!"
Liauw Kui dan Yu Ci Pok terhuyung ke belakang dan memandang dengan mata terbelalak kepada Kian Lee yang sudah berdiri di situ dengan sikap tenang akan tetapi mukanya merah dan alisnya berkerut, matanya seperti bercahaya di tempat gelap itu ketika dia memandang kepada mereka.
"Raja Tambolon, kiranya selain raja orang-orang liar engkau sendiri juga seorang manusia biadab!" Kian Lee berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka raja tinggi besar itu. Sementara itu, Ceng Ceng yang masih terduduk tadi memandang kepada Kian Lee tanpa mengenalnya. Dia menduga-duga siapa adanya pemuda tampan dan gagah perkasa yang muncul secara tiba-tiba dan yang sekali menangkis membuat dua orang pembantu Tambolon terhuyung mundur itu. Tadi Kian Lee sedang menyaksikan kehancuran pasukan liar Tambolon yang didesak oleh pasukan-pasukan pemberontak yang datang dari Teng-bun ketika tiba-tiba dia melihat bayangan-bayangan orang berkelebatan cepat sekali di atas genteng. Ketika melihat seorang wanita dikejar tiga orang, dia merasa heran apalagi melihat betapa gerakan mereka amat cepat. Ketika mendengar percakapan mereka dan tahu bahwa tiga orang laki-laki itu adalah Tambolon dan dua orang pembantunya, Kian Lee makin menaruh perhatian. Akan tetapi dia baru turun tangan membantu ketika melihat dengan hati kaget dan berdebar aneh bahwa gadis yang dikeroyok itu bukan lain adalah Lu Ceng, saudara angkat Syanti Dewi, penolong Jenderal Kao Liang, gadis yang telah beberapa kali dijumpainya dan yang tidak pernah meninggalkan lubuk hatinya itu! Begitu dia mengenal Ceng Ceng, cepat dia bergerak dan menangkis dua orang yang hendak menangkap gadis itu.
Tambolon memandang dengan matanya yang lebar dan ganas, kemudian tertawa lagi karena dia memandang rendah kepada pemuda yang baru muncul itu. "Liauw dan Yu, kalian bereskan bocah lancang itu, biar aku menjinakkan sendiri betina liar ini karena kita tidak mempunyai banyak waktu." Sambil berkata demikian, dia sudah menubruk Ceng Ceng yang baru saja hendak bangkit berdiri.
"Keparat!" Kian Lee membentak akan tetapi ketika dia bergerak maju, Yu Ci Pok sudah mengirim totokan bertubi-tubi dengan sepasang poan-koan-pit ke arah jalan-jalan darah berbahaya di depan tubuh Kian Lee, sedangkan Liauw Kui sudah mengayun pikulannya menghantam ke arah kepalanya. Kian Lee terpaksa mengelak dan ketika dia melirik, ternyata Ceng Ceng sudah menyambut tubrukan itu dengan tendangan kakinya. Ditendang seperti itu, Tambolon tertawa saja dan ketika tendangan mengenai perutnya, bukan dia yang roboh, bahkah Ceng Ceng sendiri yang terjengkang dan terbanting telentang di atas rumput. Sambil tertawa, Tambolon menubruk tubuh gadis yang sudah telentang itu.
"Dessss....!"
"Auggghhh....!" Tambolon berteriak keras sekali dan dia masih sempat menangkis dorongan tangan orang yang tiba-tiba muncul di samping, dan ketika kedua dengan itu bertemu, Tambolon terpelanting dan hampir roboh. Dia cepat meloncat dan menghadapi laki-laki yang baru muncul itu. Laki-laki itu setengah tua, berpakaian sederhana dan sikapnya tenang, akan tetapi pandang matanya membuat Tambolon bergidik karena pandang mata itu tajam seolah-olah menembus jantungnya.
"Huh, banyak manusia lancang yang sudah bosan hidup!" Tambolon berteriak marah sekali.
"Suheng....!" Kian Lee menjadi girang melihat bahwa yang muncul itu adalah Gak Bun Beng. Bun Beng hanya tersenyum kepadanya, akan tetapi dia tidak sempat bicara karena Tambolon yang marah karena kehendaknya selalu dirintangi orang itu sudah menerjangnya dengan dahsyat. Raja liar itu memang hebat. Dia adalah keturunan seorang Panglima Mongol yang berilmu tinggi dan serangannya itu dibarengi dengan pekik dahsyat yang mengandung khi-kang kuat sekali sedangkan tangannya yang memukul ke arah Bun Beng juga mengandung pengerahan tenaga sin-kang yang amat besar.
Bun Beng sudah mendengar akan kehebatan Raja liar ini dan kini melihat gerakan pukulan itu yang didahului oleh suara angin pukulan bersiutan diam-diam dia menjadi kagum juga. Seorang manusia biadab yang hidupnya liar dapat memiliki tingkat kepandaian seperti ini, sungguh mengagumkan dan jarang ada. Maka dia pun cepat menggerakkan tangannya, didorong ke depan untuk menyambut hantaman lawan itu. Melihat ini Tambolon menjadi girang. Selama ini, dia terkenal dengan pukulan mautnya dan belum pernah ada orang berani menerima pukulannya yang memiliki kekuatan ribuan kati. Batu karang pun pecah terkena pukulannya dan hawa pukulannya dapat membuat air di dalam sumur bergelombang! Kini lawannya yang sederhana ini berani menyambut pukulannya, dasar mencari jalan kematian yang cepat, pikirnya.
"Desss....!" Dua telapak tangan bertemu di udara didahului oleh bertemunya hawa pukulan yang amat hebat dan akibatnya membuat Tambolon terhuyung ke belakang sampai tiga langkah! Hampir dia tidak dapat percaya akan kenyataan ini dan memandang dengan mata terbelalak. Orang ini sama sekali tidak bergoyang! Mana mungkin ini" Dia menjadi penasaran sekali, dan bagaikan seekor kerbau mengamuk, dia menyerbu lagi, kini menggunakan kedua tangannya untuk memukul.
"Plak! Desss....!" Makin hebat pukulan Tambolon, makin hebat pula dia terguncang ketika ditangkis, sehingga kini dia terhuyung ke belakang sampai lima langkah!
"Darrr....! Darrr....!"
Dua buah benda meledak dan untung bahwa mereka semua yang berada di situ adalah orang-orang pandai sehingga dapat mengelak dan mengebut pecahan-pecahan yang menyambar ke arah mereka. Muncullah pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li!
"Ah, badai besar! Berlindung....!" Teriakan Tambolon ini merupakan isyarat kepada dua orang pembantunya bahwa bahaya yang tak terlawan datang dan mereka perlu melarikan diri. Liauw Kui dan Yu Ci Pok yang juga menghadapi lawan berat karena pemuda tampan itu ternyata mampu menghadapi senjata mereka dengan gerakan cepat, maklum akan teriakan pemimpin mereka dan cepat mereka meloncat ke dalam gelap, mengikuti perginya Raja Tambolon.
"Hi-hik, ini dia Si Perempuan Jalang!" Mauw Siauw Mo-li membentak ketika dia melihat Ceng Ceng.
"Ha-ha-ha, cantik.... cantik....!" Hek-tiauw Lo-mo terkekeh.
Ceng Ceng yang baru saja terlepas dari bahaya tadi berdiri dengan muka pucat memandang kepada dua orang yang datang menolongnya. Kini melihat munculnya Mauw Siauw Mo-li dengan pasukan pemberontak, juga munculnya Hek-tiauw Lo-mo yang sudah dia ketahui amat lihai, menjadi putus harapan.
"Hek-tiauw Lo-mo iblis busuk!" bentaknya sambil meloncat ke depan dan menghantam raksasa itu karena Hek-tiauw Lo-mo yang berada paling dekat dengannya.
"Ha-ha-ha, kiranya engkau ini" Hek-tiauw Lo-mo tertawa, dan karena dia maklum bahwa gadis ini memiliki ilmu tentang racun yang amat berbahaya, dia lalu mengerahkan tenaga beracun dan menangkis sambil terus menampar.
"Plakk! Bukk....!" Tubuh Ceng Ceng terbanting karena selain pukulannya kena ditangkis, juga pundaknya terkena tamparan tangan beracun Ketua Pulau Neraka yang amat lihai itu.
"Hek-tiauw Lo-mo manusia keji!" Kian Lee yang tadinya ingin mengejar Tambolon, melihat Ceng Ceng roboh terpukul, menjadi marah sekali dan dia sudah menerjang raksasa itu dengan pukulan tangannya.
"Duk-duk-desss!" Tiga kali lengan pemuda itu beradu dengan Hek-tiauw Lomo dan melihat betapa kakek itu ternyata kuat sekali, Gak Bun Beng sudah meloncat maju menggantikan Kian Lee menerjang Hek-tiauw Lo-mo yang menjadi terkejut setengah mati ketika merasa betapa angin pukulan yang keluar dari kedua tangan Gak Bun Beng menimbulkan angin besar dan amat kuatnya.
"Sute, kauselamatkan dulu gadis itu dan tinggalkan tempat ini....!" Bun Beng berseru.
Kian Lee meloncat ke dekat Ceng Ceng yang masih rebah. Ketika dia mengangkat bangun gadis itu, Ceng Ceng mengeluh.
"Ah, engkau terluka, Nona. Mari kupondong keluar dari kepungan mereka...."
Akan tetapi Ceng Ceng menggeleng kepalanya. "Tidak usah.... aku akan melawan mereka.... sampai napas terakhir...."
"Tidak, Nona. Suhengku mampu menahan mereka, marilah...."
Akan tetapi kembali Ceng Ceng menolak dan tiba-tiba terdengar suara ketawa mengejek. "Hi-hik, percuma kau membujuk, orang muda yang tampan. Dia sudah keracunan dan akan mampus. Engkau sungguh hebat, muda, ganteng, dan lihai. Menyerahlah saja, dan engkau akan menikmati kesenangan bersama aku, hi-hik!" Dari dada wanita itu lalu terdengar suara mirip suara kucing.
Kian Lee terkejut, cepat dia meloncat berdiri melindungi di depan Ceng Ceng yang masih duduk di atas tanah sambil memegangi pundaknya yang tadi terpukul oleh Hek-tiauw Lo-mo. "Hemm, kiranya engkau yang disebut Siluman Kucing itu" Dia teringat akan penuturan Kim Hwee Li puteri Ketua Pulau Neraka tentang bibi gurunya yang lihai ini, yang katanya malah lebih lihai daripara Hek-wan Kui-bo yang 1elah melukai pahanya dengan obat peledak. Mengertilah dia kini bahwa yang melepaskan senjata peledak sehingga menakutkan Tambolon tadi adalah wanita ini.
Mauw Siauw Mo-li tersenyum dan nampak deretan giginya yang putih rapi dan menarik sekali. "He-hemm.... kiranya engkau sudah mengenal aku, pemuda ganteng" Kebetulan sekali kalau begitu...."
"Sumoi, apa perlunya mengobrol" Cepat tangkap atau bunuh mereka dan lekas kau membantuku!" Tlba-tiba Hek-tiauw Lo-mo berteriak. Kiranya Ketua Pulau Neraka ini mulal terdesak oleh Gak Bun Beng! Makin lama Hek-tiauw Lo-mo menjadi makin kaget dan heran melihat betapa lawannya ini benar-benar amat hebat kepandaiannya sehingga semua ilmu pukulannya yang beracun mampu ditangkisnya tanpa melukainya, bahkan dia yang selalu tergetar dan terdorong oleh hawa pukulan yang kadang-kadang panas dan kadang-kadang dingin amat luar biasa.
Mauw Siauw Mo-li lalu memberi aba-aba dan para perajurit pemberontak serentak maju mengepung dan mengeroyok. Ceng Ceng yang masih menyeringai kesakitan, sudah melompat berdiri dan mengamuk dengan kaki tangannya, karena pedangnya Ban-tok-kiam telah dirampas oleh Tambolon. Biarpun bertangan kosong, gadis ini masih hebat sekali karena dia menggunakan pukulan-pukulan beracun, sehingga setiap orang perajurit pemberontak yang terkena pukulannya tentu terjungkal dan tak dapat bangkit kembali. Akan tetapi setiap kali merobohkan lawan dengan pengerahan tenaga, dara ini mengeluh lirih dan makin lama gerakannya menjadi makin lemah.
Kian Lee yang mengamuk sambil melindungi Ceng Ceng sedapat mungkin, Karena sebagian besar perhatiannya dicurahkan untuk melindungi gadis itu dan dia telah berkali-kali menghalau bahaya yang mengancam Ceng Ceng dengan merobohkan penyerang gelap dari belakang gadis itu, maka dia masih belum mampu mengalahkan Mauw Siauw Mo-li yang memang amat lihai Itu. Gerakan Siluman Kucing itu cepat sekali, gin-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi sehingga karena dia tidak berani menjauhi Ceng Ceng, maka sukar baginya untuk dapat merobohkan wanita itu. Sedangkan Gak Bun Beng yang mulai mendesak hebat kepada Hek-tiauw Lo-mo, juga terpaksa harus membagi tenaganya untuk menghadapi pengeroyokan perajurit-perajurit pemberontak yang makin banyak itu.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan-ledakan agak jauh, disusul sorak-sorai dan pekik banyak sekali manusia yang agaknya datang dari luar tembok kota. Tak lama kemudian, terdengar teriakan-teriakan di antara perajurit pemberontak yang berlari-larian di dekat tempat itu.
"Celaka, barisan pemerintah menyerbu benteng!"
"Kita telah dikurung!"
"Kita terjebak....!"
"Mereka telah membobolkan pintu gerbang di tiga tempat!"
Teriakan-teriakan itu terdengar dengan jelas dan membikin panik para pengeroyok, termasuk Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li.
"Sumoi, apa artinya itu" Beberapa kali ketua Pulau Neraka itu berteriak sambil terus mundur dari desakan Bun Beng, mengandalkan pengeroyokan puluhan orang perajurit itu.
"Entah, Suheng....!" Mauw Siauw Mo-li menjawab bingung dan dia pun tidak begitu mendesak lagi kepada Kian Lee sehingga pemuda ini dengan leluasa dapat membantu dan melindungi Ceng Ceng dari pengeroyokan puluhan orang perajurit pemberontak yang sudah menjadi gelisah itu.
Suara gemuruh itu makin lama makin dekat dan tak lama kemudian makin banyak perajurit pemberontak yang lari cerai-berai, agaknya ketakutan.
"Hai....! Tikus-tikus bernyali kecil, pengecut-pengecut tak tahu malu!" Hek-tiauw Lo-mo berteriak marah. "Kenapa kalian berlari-larian" Apa yang terjadi" Suaranya nyaring sekali mengatasi suara hiruk-pikuk dan dia telah meninggalkan Gak Bun Beng yang masih dikeroyok oleh puluhan orang perajurit pemberontak.
"Barisan pemerintah menyerbu ke dalam kota Koan-bun seperti banjir! Kita telah terjebak dan dikurung!" Seorang perwira pemberontak menjawab dengan muka pucat.
Hek-tiauw Lo-mo terkejut sekali. Dia dan sumoinya mencampuri urusan pemberontakan karena kebetulana saja melihat gerakan para pemberontak dan ingin "membonceng" agar dapat memperoleh kedudukan dan kemuliaan, maka mereka telah menawarkan diri membantu. Siapa tahu, belum apa-apa sudah nampak gejala kegagalan pemberontakan ini, bahkan kini mereka terhimpit di dalam kota Koan-bun.
"Sumoi, tidak lekas pergi mau tunggu apa lagi" teriaknya, karena Ketua Pulau Neraka ini pun jerih menghadapi Gak Bun Beng yang memiliki kepandaian amat tinggi itu.
Akan tetapi tiba-tiba datang pasukan pemerintah di tempat itu dan seorang pemuda tinggi besar meloncat dengan gerakan kilat dan tahu-tahu telah berada di depan Hek-tiauw Lo-mo sambil membentak, "Hek-tiauw Lo-mo pencuri rendah! Kiranya engkau berada di sini pula menjadi kaki tangan pemberontak. Hayo cepat kembalikan sebagian kitab yang kaucuri dari Istana Gurun Pasir!"
"Orang muda lancang mulut! Siapa kau...."
"Aku adalah murid majikan Istana Gurun Pasir yang diutus Suhu untuk merampas kembali kitab pusaka dan memberi hajaran kepada pencurinya."
"Bocah sombong!" Biarpun telah berkali-kali bertemu lawan tangguh, Hek-tiauw Lo-mo masih memandang rendah orang lain dan menghadapi pemuda tinggi besar itu dia pun memandang rendah, lalu menyerang dengan tiba-tiba.
"Desss....!" Pukulan majikan Pulau Neraka itu ditangkis oleh pemuda itu dan kagetlah Hek-tiauw Lo-mo ketika tangkisan itu membuat dia terdesak ke belakang. Baru dia percaya bahwa murid Si Dewa Bongkok ini lihai sekali. Akan tetapi tentu saja untuk mengembalikan kitab yang hanya sebagian berada di tangannya itu dia merasa sayang. Dia masih belum berhasil merampas sebagian dari kitab yang berada di tangan Ketua Lembah Bunga Hitam, yaitu Hek-hwa Lo-kwi Thio Sek sehingga dia belum dapat mempelajari isi kitab dengan sempurna.
"Kok Cu....! Jahanam engkau....!" Tiba-tiba terdengar jerit melengking dan Ceng Ceng sudah lari menghampiri pemuda tinggi besar itu dan menyerang dengan pukulan ganas, mengerahkan seluruh tenaga saktinya.
Kao Kok Cu, pemuda itu, terbelalak memandang Ceng Ceng yang menyerangnya, seperti orang terpesona, sama sekali tidak mengelak maupun menangkis.
"Bukkkk! Bukkk!"
"Nona Lu Ceng....!" Kian Lee yang menjadi terkejut sekali sudah meninggalkan para pengeroyoknya dan berteriak memanggil sambil meloncat ketika dia melihat Lu Ceng seperti orang gila menyerang dan memukul Kok Cu. Pada saat itu, Hek-tiauw Lo-mo sudah meloncat jauh dan melarikan diri bersama Mauw Siauw Mo-li, dan Kok Cu hanya berdiri bengong setelah dipukul dadanya dua kali oleh Ceng Ceng. Dara itu setelah memukul dua kali dengan pengerahan tenaga sekuatnya, mengeluh dan terguling roboh. Untung Kian Lee cepat menyambarnya sehingga dia tidak terbanting roboh dan pingsan di dalam pelukan Kian Lee.
Gak Bun Beng juga sudah meloncat dekat. Melihat wajah Ceng Ceng yang agak kehijauan itu, pendekar ini terkejut bukan main karena dia maklum bahwa dara itu telah menderita luka hebat akibat racun! Dia memandang Kok Cu dengan alis berkerut dan melihat pemuda tinggi besar itu pemimpin pasukan pemerintah dan agaknya kenal dengan Kian Lee, dia bertanya, "Lee-sute, siapa dia ini"
"Suheng dia adalah saudara Kao Kok Cu, putera Jenderal Kao."
Bu Beng mengangguk. "Ahh....!" Kemudian dia berkata, "Sute, cepat kaubawa pergi nona ini. Dia terluka dan keracunan hebat."
Kok Cu yang masih berdiri bengong memandang Ceng Ceng yang pingsan di dalam pelukan Kian Lee berkata, "Saudara Kian Lee, kaubawalah nona ini, ikutlah perwira ini agar mendapat perawatan sebaiknya." Dia memerintahkan seorang perewira yang segera mengajak Kian Lee yang memondong tubuh Ceng Ceng itu pergi meninggalkan tempat itu.
Kok Cu kini berhadapan dengan Gak Bun Beng, keduanya saling pandang penuh selidik karena masing-masing dapat menduga akan kelihaian mereka. Kok Cu yang mendengar Kian Lee menyebut suheng kepada laki-laki setengah tua ini, diam-diam terkejut. Dia sudah tahu sekarang bahwa Kian Lee dan Kian Bu adalah putera-putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, tentu saja ilmu kepandaian mereka hebat sekali. Dan laki-laki setengah tua yang sederhana dan tenang ini adalah suheng mereka! Sebenarnya dia ingin sekali berkenalan dengan orang yang berilmu tinggi ini, akan tetapi hatinya sudah dibuat gelisah bukan main oleh pertemuan dengan Ceng Ceng, gadis penolong ayahnya akan tetapi juga gadis yang mendendam sakit hati setinggi langit sedalam lautan kepadanya! Gadis yang diperkosanya sewaktu dia berada dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh racun jahat. Dan yang menjadi biang keladi peristiwa memalukan ini adalah Ketua Lembah Bunga Hitam dan Ketua Pulau Neraka, dua orang yang mencuri kitab suhunya. Merekalah yang membuat dia keracunan hebat itu sehingga dia melakukan perbuatan keji terhadap Lu Ceng!
"Kiranya engkau adalah putera Kao-goanswe" Sungguh menggembirakan sekali, bagaimana pasukan pemerintah bisa datang begini tepat" Di mana ayahmu" Gak Bun Beng bertanya.
"Semua ini adalah jasa Nona Lu Ceng itu yang telah mengatur siasatnya...." Kok Cu berkata akan tetapi matanya memandang ke arah larinya Hek-tiauw Lo-mo.
"Ah...., maksudmu...." Gak Bun Beng tercengang.
"Dia membujuk Tambolon menyerang Koan-bun dan selagi pemberontak dan pasukan Tambolon bertempur sendiri, barisan pemerintah bergerak, sebagian menyerbu Koan-bun, sebagian dipimpin Puteri Milana memotong jalan dan ssbagian dipimpin Ayah menyerbu Teng-bun malam ini juga."
"Ahhh.... sungguh hebat!" Bun Beng memuji.
"Maaf, saya harus mengejar Hek-tiauw Lo-mo!" Kok Cu berkata dan cepat dia meninggalkan Bun Beng dan sekali berkelebat tubuhnya sudah lenyap dari situ, membuat Bun Beng mengikutiya dengan pandang mata kagum sekali. Pendekar ini terheran-heran dan masih tercengang dengan jalannya peristiwa yang begitu cepat dan tidak tersangka-sangka. Dia tadi pun seperti juga Kian Lee, menonton dengan penuh keheranan betapa pasukan yang dipimpin oleh Tambolon menyerbu Koan-bun dan seperti juga sutenya itu, dia menolong banyak penduduk yang diganggu oleh tentara kedua pihak. Terheran-heran hati pendekar ini melihat munculnya begitu banyak orang pandai. Mula-mula Tambolon dengan dua orang pembantunya yang lihai, kemudian Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-1i yang tidak kalah lihainya. Yang terakhir muncul pemuda putera Jenderal Kao itu! Pemuda itu pun amat lihai, akan tetapi anehnya, mengapa Nona Lu Ceng itu begitu melihatnya lalu menyerangnya dengan penuh kebencian" Akan tetapi pendekar ini tidak mau memusingkan hal itu dan dia lalu membantu pasukan pemerintah yang telah melakukan perang mati-matian melawan pasukan pemberontak dan pertempuran terjadi di seluruh kota sampai keesokan harinya. Kota Koan-bun mengalami perang yang luar biasa hebatnya, dimulai dari penyerbuan pasukan liar yang dipimpin oleh Tambolon lalu dilanjutkan oleh pasukan pemerintah yang menumpas pasukan pemberontak yang datang dari Teng-bun sebagai bala bantuan. Kalau tadinya pasukan Tambolon membasmi pasukan yang bertahan di Koan-bun, kemudian tiba giliran pasukan liar itu yang dibasmi oleh pasukan besar pemberontak dari Teng-bun, kini pasukan pemerintah turun tangan melakukan pukulan terakhir kepada barisan pemberontak.
Yang patut dikasihani adalah penduduk kota Koan-bun. Sukar bagi mereka untuk mengatakan mana kawan mana lawan karena semua anak buah pasukan selalu mengganggu mereka. Kota mereka menjadi neraka yang penuh dengan mayat dan orang-orang luka, darah membanjir setiap tempat dan banyak rumah yang habis terbakar.
Pertempuran-pertempuran mengerikan itu berlangsung sampai dua hari lamanya, tentu saja menjatuhkan korban manusia di kedua pihak yang banyak sekali. Akan tetapi akhirnya Koan-bun jatuh ke tangan barisan pemerintah yang dipimpin oleh Panglima Thio Luk Cong dan Kao Kok Cu yang sudah tidak kelihatan lagi bayangannya sejak dia melakukan pengejaran terhadap Hek-tiauw Lo-mo untuk merampas kembali kitab suhunya yang dicuri oleh Ketua Pulau Neraka itu.
*** Mulai malam itu, dimulai dengan penyerbuan pasukan Tambolon ke dalam kota Koan-bun, terjadilah perang yang seru dan dahsyat, yang mengerikan karena semenjak malam itu sampai beberapa hari lamanya terjadilah pembunuhan dan pembantaian antara manusia, bahkan antara bangsa sendiri sehingga puluhan ribu manusia tewas di ujung senjata tajam!
Tidak hanya di Koan-bun terjadi perang yang hebat dan kacau-balau, akan tetapi juga di tengah jalan antara Koan-bun dan Teng-bun, di mana barisan yang dipimpin oleh Puteri Milana melakukan pencegatan dan barisan pemberontak yang menyerbu ke Koan-bun untuk menumpas pasukan Tambolon itu tidak dapat kembali ke Teng-bun karena dihadang dan disergap oleh barisan Milana ini, bahkan Sang Puteri yang melihat betapa pihak musuh amat lemah lalu memecah barisannya, sebagian lalu menuju ke Teng-bun untuk membantu barisan penyerbu Teng-bun yang merupakan barisan inti dipimpin sendiri oleh Jenderal Kao Liang dibantu oleh Suma Kian Bu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pangeran Liong Khi Ong tertunda niatnya yang keji untuk memaksa Syanti Dewi menjadi miliknya dengan jalan memperkosanya ketika tiba-tiba ada laporan bahwa Koan-bun diserang oleh pasukan Tambolon. Gangguan ini sekaligus mengusir nafsu berahinya dan malam itu dia tidak berani tidur, selalu berdekatan dengan Panglima Kim Bouw Sin agar dapat mengetahui keadaan. Mereka semua mengharapkan bahwa pasukan besar yang dikirim dari Teng-bun ke Koan-bun dan yang dibantu oleh Hektiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li itu akan berhasil menumpas pasukan liar Tambolon.
Akan tetapi tentu saja mereka menjadi gempar ketika datang laporan bahwa pasukan yang menggempur Tambolon di Koan-bun itu telah terhimpit oleh barisan pemerintah yang secara tiba-tiba saja muncul. Bahkan kini barisan pemerintah yang amat kuat sedang menuju ke Teng-bun!
Panglima Kim Bouw Sin segera mengumpulkan para pembantunya dan menyusun kekuatan untuk mempertahankan benteng Teng-bun. Menjelang pagi muncullah musuh yang ditunggu-tunggu itu, disertai suara gemuruh yang menggetarkan hati semua perajurit pemberontak yang sudah berjaga-jaga di benteng dan di luar benteng. Panglima Kim Bouw Sin sendiri dengan beberapa orang panglima pembantunya berdiri di atas benteng untuk meninjau keadaan. Barisan pemerintah itu belum melakukan gerakan, dan memang Jenderal Kao Liang menanti sampai matahari terbit! Dia ingin melakukan gertakan lebih dulu dengan harapan untuk menggetarkan dan mengecilkan hati para perajurit pemberontak yang dahulu adalah bekas anak buahnya. Setelah matahari timbul di ufuk timur, Jenderal Kao Liang yang menunggang kuda ditemani oleh Suma Kian Bu, mendekati menara di sudut tembok benteng itu, di mana terdapat panglima pemberontak Kim Bouw Sin dan para perwira pembantunya, sedangkan Pangeran Liong Khi Ong yang berada pula di situ menyembunyikan diri, tidak ingin dikenal orang sebelum usaha pemberontakan berhasil seluruhnya.
"Kim Bouw Sin pemberontak rendah!" Jenderal Kao berseru sambil mengerahkan tenaganya sehingga suaranya terdengar oleh mereka yang berada di menara dan juga oleh sebagian besar perajurit pemberontak yang sudah berjaga di atas tembok benteng. "Apakah engkau masih belum insyaf betapa pemberontakanmu telah mendekati akhir dan kehancuran" Koan-bun sudah terjatuh kembali ke tangan kami! Pasukanmu yang ke sana malam tadi telah terbasmi, demikian pula sekutumu Tambolon sudah dihancurkan! Lebih baik engkau menakluk dan mengakui dosamu daripada mengorbankan nyawa ribuan perajurit yang hanya terkena hasutanmu!"
"Keparat dia! Hujani anak panah!" Pangeran Liong Khi Ong membentak marah sekali karena dia maklum betapa berbahayanya suara jenderal itu terdengar oleh para perajurit, karena jenderal itu merupakan seorang tokoh besar dalam ketentaraan yang amat disegani. Dia sudah melihat betapa wajah para pengawal dan perajurit yang berada di menara itu berubah pucat mendengar suara ini.
"Lepaskan anak panah!" Tiba-tiba Kim Bouw Sin memberi aba-aba, karena dia sendiri pun marah dan merasa tidak mampu untuk menjawab ucapan Jenderal Kao di bawah itu.
Para perajurit pasukan panah segera melakukan perintah ini dan anak panah meluncur ke bawah seperti hujan banyaknya. Melihat ini, Kian Bu cepat memutar pedang yang diterimanya dari Jenderal Kao dan tampaklah segulungan sinar berkilauan yang membuat anak panah yang menyambarnya runtuh semua. Juga Jenderal Kao telah memutar pedangnya, kemudian berkata kepada Kian Bu. "Taihiap, kaulindungilah aku. Aku harus membalas kecurangan mereka itu!"
Kian Bu lalu meloncat turun dari atas kudanya dan bergerak-gerak memutar pedangnya yang kini berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyelimuti mereka berdua. Jenderal Kao lalu menurunkan busur dan memasang anak panah, membidik ke atas dan tak lama kemudian terdengarlah suara berdesing ketika sebatang anak panah meluncur dengan kecepatan seperti kilat ke arah panglima pemberontak Kim Bouw Sin yang melihat penyerangan anak buahnya dengan penuh harapan.
"Ciangkun, awas....!" Lam-thian Lo-mo yang selalu mendampingi panglima pemberontak ini bersama Pak-thian Lo-mo, berseru dan cepat dia menarik tangan panglima itu sehingga tubuhnya tertarik ke samping. Terdengar teriakan nyaring dan seorang perwira yang berdiri di belakang panglima pemberontak ini roboh, lehernya tertembus anak panah dan dia tewas seketika.
Jenderal Kao dan Kian Bu telah meninggalkan tempat berbahaya itu dan mulailah perang yang amat dahsyat terjadi di sekeliling tembok benteng kota Teng-bun. Mula-mula hujan anak panah dari kedua pihak, kemudian setelah Panglima Kim Bouw Sin melihat bahwa kekuatan barisan yang dipimpin oleh Jenderal Kao Liang itu tidak besar, kurang dari separoh jumlah pasukannya yang berjaga di Teng-bun, dia lalu memerintahkan pasukan untuk menyerbu ke luar, dibantu oleh barisan anak panah dan batu yang menghalau setiap usaha musuh yang hendak naik ke tembok benteng.
Maka terjadilah perang tanding di luar pintu gerbang benteng sebelah selatan. Memang perhitungan Kim Bouw Sin tepat. Jumlah pasukannya jauh lebih besar dan dia hendak menggunakan kemenangan jumlah pasukan ini untuk menggempur dan menghancurkan pasukan Jenderal Kao. Akan tetapi Jenderal Kao Liang adalah seorang pemimpin yang banyak siasatnya. Segera dia memberi komando melalui bunyi terompet dan pasukan-pasukannya berpencar, sebagian lari ke pintu gerbang di timur dan sebagian lagi menyerbu melalui sungai di barat kota Teng-bun. Melihat ini, dengan sendirinya Kim Bouw Sin harus pula membagi bagi pasukannya dan karena gerakan Jenderal Kao yang merubah-rubah jumlah pasukannya amat cepat, kadang-kadang di selatan hanya ada sedikit pasukan dan agaknya mengerahkan kekuatan untuk menggempur pintu gerbang timur, akan tetapi ketika pihak pemberontak mengerahkan tenaga menjaga di timur, kiranya yang di selatan itulah yang lebih kuat sehingga penjagaan-penjagaan dan pertahanan-pertahanan di benteng itu menjadi kacau dan panik.
Akan tetapi, karena Kim Bouw Sin adalah paglima yang tadinya menjadi pembantu Jenderal Kao, dia pun amat ahli mengatur penjagaan sehingga dengan jumlah pasukan yang jauh kalah banyak itu, agaknya tidaklah mudah bagi Jenderal Kao untuk menduduki kota benteng Teng-bun yang amat kuat itu. Dua hari dua malam perang telah berlangsung dan hanya diseling waktu untuk menyusun kekuatan di pihak masing-masing. Pada hari ke tiga, datanglah barisan bantuan dari selatan yang dipimpin oleh Puteri Milana, yang memimpin sisa pasukannya setelah berhasil membantu pasukan yang dipimpin oleh Panglima Thio Luk Cong yang telah merebut kembali kota Koan-bun. Tentu saja bantuan ini amat menggirangkan hati Jenderal Kao Liang dan disusunlah kekuatan baru dan dengan dahsyat barisan tergabung ini melakukan hantaman-hantaman yang menggetarkan dan mengguncangkan tembok benteng kota Teng-bun berikut semangat perlawanan para perajurit pemberontak yang memang sudah gentar ketika mendengar bahwa Jenderal Kao Liang yang mereka takuti itu kini dibantu oleh Puteri Milana yang telah mereka kenal pula itu.
Biarpun pihak pemberontak masih mampu mempertahankan dirinya selama tiga hari tiga malam, namun kedudukan mereka telah goyah, pasukan telah gelisah dan para penjaga yang mempertahankan pintu-pintu gerbang telah kelelahan dan turun semangat. Semua ini tentu saja diketahui baik oleh Pangeran Liong Khi Ong yang menjadi makin gelisah. Selama sepekan ini dia tidak bisa tidur dan selalu gelisah. Dia dan kakaknya memang merupakan orang-orang yang berambisi besar, akan tetapi sekali-kali bukan orang peperangan, maka menyaksikan perang di depan hidungnya dia menjadi gelisah bukan main, dan dikuasai ketakutan yang mencekam hatinya setiap saat. Demikian takutnya dia sehingga dia melarang Tek Hoat meninggalkan dirinya. Tentu saja Tek Hoat juga tidak berani membantu dan bahkan pemuda ini merasa girang karena dia dapat menjaga agar pangeran ini tidak melakukan hal yang amat dikhawatirkannya terhadap diri Syanti Dewi.
Ketika Pangeran Liong Khi Ong mendengar bahwa pihak musuh yang masih juga belum berhasil membobol benteng Teng-bun itu kabarnya dibantu oleh pasukan baru di bawah pimpinan Puteri Milana, dia menjadi pucat ketakutan. Memang sejak dahulu dia merasa jerih terhadap Puteri Milana yang dalam persaingan di istana selalu memihak lawannya, yaitu Perdana Menteri Su. Kim Bouw Sin menenangkan hati pangeran ini dengan mengatakan bahwa pasukan mereka tidak akan kalah, dan andaikata keadaan mendesak dan berbahaya, pangeran itu masih dapat menyelamatkan diri dengan sebuah kereta melalui pintu rahasia yang keluar ke dalam hutan di sebelah barat benteng.
Akan tetapi akhirnya Panglima Kim Bouw Sin harus mengakui akan kekuatan musuh setelah pasukan yang dipimpin Puteri Milana datang membantu Jenderal Kao Lian. Dan atas permintaannya, terpaksa Pangeran Liong membolehkan Tek Hoat membantu Panglima Kim Bouw Sin. Mulailah Tek Hoat terjun ke medan pertempuran bersama Siang Lo-mo. Mereka bertiga ini memang berhasil membangkitkan semangat para perajurit pemberontak, dan kini pertempuran secara berhadapan mulai terjadi di dua pintu gerbang. Pihak tentara pemerintah makin mendesak dan akhirnya, pada hari ke empat, bobollah pintu selatan diserbu oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Puteri Milana dibantu oleh Suma Kian Bu. Amukan dua orang keturunan Pendekar Super Sakti itu sedemikian hebatnya sehingga menggiriskan hati para perajurit pemberontak yang terus mundur memasuki kota.
Siang Lo-mo yang mengamuk di pintu barat dan timur, merobohkan banyak perajurit musuh, mendengar akan bobolnya pintu gerbang selatan. Selagi mereka hendak lari membantu para penjaga di pintu gerbang selatan itu, tiba-tiba ada perwira-perwira yang memanggil mereka dan ternyata bahwa mereka dipanggil oleh Pangeran Liong Khi Ong untuk mengawal pangeran itu keluar dari Teng-bun.
Panglima Kim Bouw Sin mengerahkan pasukan istimewa, dengan panah api berhasil menghalau pasukan musuh yang telah menyerbu masuk melalui pintu gerbang selatan. Melihat pasukannya banyak yang roboh dan panik oleh hujan anak panah berapi, terpaksa Milana dan Kian Bu menarik kembali pasukan itu keluar dari pintu gerbang dan kembali pintu gerbang dikuasai oleh pihak pemberontak yang menutupnya dengan pintu besi yang tadi sudah ambruk, menjaganya kuat-kuat dan memasang barisan panah di tempat itu. Untung malam tiba sehingga pihak pasukan pemerintah menghentikan serangan dan mundur, menghimpun kembali tenaga untuk dipakai menyerang lagi pada keesokan harinya.
Tek Hoat kembali ke gedung tempat tinggal Pangeran Liong Khi Ong. Tubuhnya lelah karena dia ikut bertempur sejak pagi sampai sore. Pakaiannya berlepotan darah korban yang dirobohkannya dan pahanya berdarah, luka sedikit oleh tombak para pengeroyok yang amat banyak jumlahnya dalam perang campuh tadi. Dia mulai merasa bosan berperang, kebosanan yang menyerangnya sejak dia bertemu dengan Syanti Dewi. Dia merasa bahwa semua orang, termasuk dia, menjadi alat-alat yang dipergunakan oleh beberapa orang terutama Pangeran Liong Bin Ong dan Liong Khi Ong, untuk merebut kemuliaan di kota raja! Biarpun dia membantu pemberontak dengan hasrat ingin memperoleh kedudukan yang tinggi kelak, namun harus diakuinya bahwa dia pun hanya merupakan alat dari dua orang pangeran itu, dan andaikata pemberontakan itu berhasil kelak, sudah terbayang olehnya bahwa dia tentu hanya akan menjadi orang bawahan dua pangeran itu, karena bukan hal yang mudah untuk mencapai kedudukan tertinggi. Dan dia merasa pula bahwa betapapun tinggi kedudukan yang diperolehnya kelak, kalau dia melihat Syanti Dewi menjadi barang permainan Liong Khi Ong, hatinya tidak akan pernah mengalami kebahagiaan. Sekarang pun, hatinya gelisah karena dia pagi tadi harus membantu perang, dan dia tidak dapat lagi mengawasi pangeran tua mata keranjang itu. Bagaimana kalau ketidak-hadirannya tadi membuka kesempatan bagi Pangeran Liong Khi Ong untuk memaksa Syanti Dewi menuruti keinginannya" Sungguhpun dia tahu bahwa rasa ketakutan hebat kiranya tidak memberi kesempatan kepada Pangeran Liong Khi Ong untuk ingat akan nafsunya terhadap Syanti Dewi, namun tetap saja hati Tek Hoat berdebar tegang, mukanya menjadi panas dan dia mengepal tinjunya ketika dia menghampiri gedung tempat tinggal Pangeran Liong Khi Ong yang kelihatan sunyi itu.
Tiba-tiba dia menyelinap di balik pohon ketika mendengar suara roda kereta. Dia mengenal kereta itu, kereta yang disediakan untuk Pangeran Liong Khi Ong. Dan di dalam kereta itu duduk Siang Lo-mo! Hatinya curiga. Dia pun sudah mendengar bahwa kereta itu disiapkan oleh Panglima Kim Bouw Sin untuk Sang Pangeran, dapat dipergunakan oleh Pangeran Liong Khi Ong untuk lari mengungsi apabila keadaan berbahaya, melalui sebuah pintu rahasia yang menembus hutan di sebelah barat benteng. Cepat dia menggunakan kepandaiannya untuk berlari di belakang kereta dan karena roda kereta itu menimbulkan bunyi yang cukup keras, maka betapapun lihainya Siang Lo-mo, mereka tidak tahu bahwa ada orang yang lari di belakang kereta, dekat sekali.
"Mengapa kita yang disuruh mengawal Pangeran, bukan Ang Tek Hoat" terdengar oleh Tek Hoat suara Pak-thian Lo-mo.
"Ha-ha, apakah engkau tidak dapat melihat kenyataan" Dari penuturan Hek-wan Kui-bo saja sudah jelas bahwa pemuda sombong itu jatuh cinta kepada puteri Bhutan itu! Tentu saja Pangeran juga tahu akan hal ini, maka dia akan ditinggalkan di sini untuk membantu Panglima Kim sedangkan sebaliknya kita dan Hek-wan Kui-bo yang disuruh mengawal sampai Pangeran dan puteri Bhutan itu tiba di kota raja."
"Untung kita!" Pak-thian Lo-mo berkata dengan nada suara gembira. "Benteng ini tidak akan dapat dipertahankan lebih lama lagi. Dan kita sudah akan berada di kota raja kalau benteng itu jatuh ke tangan musuh!"
"Sstttt...., kita sudah sampai, sebaiknya tidak bicara tentang itu," bisik Lam-thian Lo-mo. Kereta berhenti di belakang Istana yang gelap. Agaknya Pangeran yang hendak melarikan diri itu menghendaki demikian dan segalanya sudah diatur sebelumnya.
Sepasang kakek kembar yang lihai itu meloncat turun dari dalam kereta. "Kautunggu di sini sebentar!" kata Lam-thian Lo-mo kepada kusir kereta yang berpakaian seperti perajurit dan yang duduk di bagian depan kereta itu, memegang cambuk panjang. Kusir itu menjawab singkat, "Baik, Locianpwe." Memang semua perajurit yang bertugas dekat dengan Pangeran dan Panglima Kim, mengenal dua orang kakek kembar yang lihai ini dan semua menyebut mereka "locianpwe". Ketika dua orang kakek itu dengan cepat lari memasuki gedung, kusir itu duduk menanti dan memandang ke kanan kiri yang amat sunyi, sesuai dengan kehendak pangeran agar tempat itu dikosongkan sehingga tidak ada penjaga yang melihat keberangkatannya karena hal itu mendatangkan pengaruh kurang baik bagi semua perajurit yang harus mempertahankan benteng itu sampai saat terakhir.
Beberapa saat kemudian dengan sikap tergesa-gesa tampak Pangeran Liong Khi Ong yang memakai pakaian biasa, menyamar sebagai seorang pedagang, menggandeng tangan Syanti Dewi yang juga memakai pakaian biasa, setengah menyeret dara itu keluar dari gedung menuju ke kereta yang menanti di belakang gedung. Wajah Syanti Dewi kelihatan pucat dan jelas bahwa puteri ini kelihatan marah dan tidak suka, akan tetapi dia dipaksa oleh pangeran itu dan di belakang mereka ini berjalan Pak-thian Lo-mo, Lam-thian Lo-mo, dan Hek-wan Kui-bo. Tidak ada orang lain lagi yang mengawal mereka.
Lam-thian Lo-mo lalu membukakan pintu kereta, dan Pangeran Liong Khi Ong menarik tangan puteri itu untuk memasuki kereta. Di depan pintu kereta, Syanti Dewi merenggutkan tangannya dan berkata, suaranya tetap tenang namun penuh penyesalan dan kemarahan. "Pangeran, sungguh tidak kusangka bahwa engkau ternyata hanya seorang pengecut yang akan melarikan diri setelah melihat benteng ini terkepung musuh. Dan tak kusangka bahwa aku akan dipaksa begini, seolah-olah aku berada di tangan sekelompok penjahat. Biarlah aku ditinggalkan di sini saja, aku tidak ingin ikut dengan Pangeran ke kota raja."
"Aih, mana bisa, manis! Engkau adalah calon isteriku, ke manapun harus kubawa serta. Maafkan aku, selama berada di tempat ini aku kurang perhatian terhadap dirimu karena kita menghadapi perang. Akan tetapi di kota raja nanti, hemm.... kita akan bersenang-senang...."
"Tidak! Kita bukan tunangan lagi! Aku dahulu suka menuruti kehendak ayahku karena ayahku sebagai Raja di Bhutan menerima pinangan langsung dari Kaisar Kerajaan Ceng-tiauw. Akan tetapi ternyata bahwa engkau pangeran sekarang malah memberontak kepada Kerajaan Ceng! Tentu saja saya tidak sudi menerima pinangan seorang pemberontak yang hina!" Sikap puteri itu kini marah sekali dan dia berdiri tegak dengan pandang mata menghina kepada pangeran yang berdiri dengan canggung di depannya itu.
"Pangeran, mengapa melayaninya" Semua wanita dari tingkat apapun juga selalu cerewet!" Lam-thian Lo-mo berkata.
"Heh-heh-heh, Lam-thian Lo-mo, jangan lancang begitu mulutmu memaki orang perempuan!" Hek-wan Kui-bo mencela sambil tertawa.
"Perempuan memang harus cerewet dan galak, baru menarik, seperti mawar dengan durinya." Pak-thian Lo-mo yang biasanya pendiam itu kini memberi komentar. Lam-thian Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo menyambut komentar ini dengan tertawa, dan Pangeran Liong tertawa juga.
Syanti Dewi maklum bahwa tidak ada gunanya lagi bicara dengan pangeran ini, tidak ada gunanya memasukkan segala alasan berdasarkan kesusilaan dan kesopanan kepada pangeran tua yang sudah bebal ini karena dia melihat sudah bahwa tidak ada bedanya antara pangeran ini dengan tiga orang tua seperti iblis itu. Hanya pada lahirnya saja pangeran ini halus dan terpelajar, namun di dalam batinnya dia malah lebih parah dari orang-orang kasar ini. Maka dia membuang muka, tidak mempedulikan lagi kepada mereka dan memasuki kereta sendiri karena dia pikir lebih baik begitu daripada dipaksa. Dia masih merasa beruntung bahwa keadaan perang di Teng-bun membuat pangeran itu belum sempat mengganggunya, dia akan menghadapi apa saja yang akan menimpa dirinya dengan tabah. Masih belum terlambat baginya untuk mempergunakan pisau yang disembunyikan di dalam lipatan bajunya apabila saatnya tidak memberi harapan lagi kepadanya.
Pangeran Liong Khi Ong masih tertawa ketika dia pun masuk ke dalam kereta dan duduk di dekat Syanti Dewi. Sepasang kakek kembar dan Hek-wan Kui-bo juga masuk dan duduk di depan mereka sebagai pengawal.
"Kusir dungu! Hayo jalan!" Lam-thian Lo-mo membentak ke arah kusir yang duduk tegak di belakang kuda agak tinggi itu. Sejak tadi kusir ini tidak berani menengok dan pura-pura tidak melihat atau mendengar apa yang terjadi di depan pintu kereta tadi.
"Baik, Locianpwe!" jawabnya otomatis dengan suaranya yang tinggi dan parau.
Kereta bergerak setelah terdengar cambuk meledak dan melecut di atas kepala empat ekor kuda itu. Kuda-kuda itu meringkik dan tak lama kemudian kereta berjalan cepat sekali menuju ke barat.
"Locianpwe, saya belum tahu harus pergi ke mana...." Kusir itu berkata dengan suara lirih seolah-olah dia merasa takut terhadap para penumpangnya.
"Pangeran, harap memberitahukan jalannya," Lam-thian Lo-mo berkata.
"Terus saja," kata Pangeran Liong Khi Ong, karena hanya dia sendiri dan Panglima Kim Bouw Sin serta beberapa orang perwira kepercayaan yang laln saja yang tahu akan tempat itu, termasuk Tek Hoat. "Setelah tiba di pintu gerbang barat, membelok ke selatan kurang lebih satu li."
Kusir itu mencambuk kuda dan kereta meluncur cepat di malam gelap itu menuju ke barat. Orang-orang yang melihat bahwa kusir kereta itu seorang yang berpakaian perajurit, tidak ada yang menduga siapa yang berada di dalamnya, hanya mengira bahwa penumpangnya tentulah seorang di antara para perwira tinggi.
Setelah tiba di pintu gerbang barat yang terjaga kuat dan membelok ke selatan, kereta memasuki sebuah kebun yang tidak terawat dan akhirnya, di tempat yang amat sunyi ini, Pangeran Liong Khi Ong menyuruh Siang Lo-mo membuka sebuah pintu rahasia yang tertutup rumpun ilalang dan cara membukanya digerakkan oleh alat rahasia yang tersembunyi di dalam batang pohon yang berlubang. Setelah kereta itu menerobos pintu rahasia di tembok benteng yang sunyi itu, Siang Lo-mo menutupkan kembali dari luar dan kereta melanjutkan perjalanannya. Ternyata di sebelah luar tembok itu adalah sebuah hutan yang lebat, gelap dan sunyi.
"Terus masuk ke dalam hutan," Pangeran Liong berkata. "Kita sembunyi di dalam hutan malam ini, besok pagi baru melanjutkan perjalanan ke selatan."
Setelah kereta tiba di dalam hutan, Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo turun dari kereta, melihat-lihat keadaan. Hutan itu sunyi dan mereka merasa lega.
"Kita menanti sampai pagi dan tentu pihak musuh sudah mulai menyerang benteng lagi," kata Pangeran itu. "Perhatian mereka akan tercurah ke benteng semua sehingga kita memperoleh kesempatan untuk melanjutkan perjalanan dengan aman. Dari sini kita harus ke barat sampai keluar dari hutan dan tiba di lereng bukit dan dari sana mulailah kita menuju ke selatan."
Kusir kereta itu turun pula dan tanpa mengeluarkan suara dia melepaskan empat ekor kuda itu, membawanya ke tempat yang banyak rumputnya dan membiarkan mereka makan rumput. Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo sudah membuat api unggun dan duduk di sekeliling api sambil bercakap-cakap.
Pangeran Liong Khi Ong dan Syanti Dewi berada di dalam kereta. Hek-wan Kui-bo yang memandang ke kereta itu berkata lirih sambil terkekeh, "Heh-heh, Pangeran sampai lupa dingin, tidak turun dari kereta."
"Nenek tua, apa engkau tidak tahu senangnya orang berpengantinan" Lam-thian Lo-mo juga terkekeh.
"Hi-hik, agaknya di dalam kereta itu Pangeran merasa lebih hangat daripada di dekat api ini." Hek-wan Kui-bo tertawa lagi.
Akan tetapi tak lama kemudian tiga orang datuk kaum sesat itu sudah bicara dengan serius, suara mereka berbisik-bisik karena mereka kini terlibat dalam percakapan yang amat penting bagi mereka, yaitu tentang gerakan pemberontak yang mulai terpukul oleh barisan pemerintah. Mereka bertiga itu, seperti juga Ang Tek Hoat, membantu pemberontakan karena mereka hendak mengejar kedudukan dan kemuliaan di hari tua mereka. Kini, melihat kenyataan betapa pasukan pemberontak mulai dihajar oleh barisan pemerintah yang jauh lebih kuat, semangat mereka juga menurun. Akan tetapi mereka masih belum kehilangan harapan selama mereka masih mengawal Pangeran Liong Khi Ong yang mereka tahu mempunyai kedudukan mulia di kota raja. Selama mereka masih menjadi pembantu-pembantu kedua orang Pangeran Liong, harapan masih terbuka bagi mereka. Setidaknya sebagai pengawal-pengawal Pangeran Liong kedudukan mereka pun sudah cukup terhormat di kota raja.
Karena senasib dan segolongan, dalam waktu singkat Hek-wan Kui-bo dan sepasang kakek kembar itu sudah menjadi sahabat yang akrab dan mereka bicara secara terus terang tanpa saling mencurigai karena sudah mengenal isi hati masing-masing.
"Apa katamu" Hek-wan Kui-bo bicara lirih kepada Pat-thian Lo-mo. "Kalau sampai di kota raja kedua pangeran itu gagal" Ah, kalau sudah berada di istana, mana bisa gagal" Setidaknya sebelum aku pergi dari kota raja, banyak terbuka kesempatan untuk mengambil banyak barang berharga dari istana dan hasil itu pun sudah lumayan untuk menutup kegagalanku."
"Uhh, apa artinya harta kekayaan bagi kita yang sudah tua" Lam-thian Lo-mo mencela.
"Kalau begitu, apa yang akan kalian lakukan kalau ternyata usaha Pangeran Liong gagal pula di istana" tanya nenek itu.
"Kami tidak mau mencuri barang berharga akan tetapi kami akan membawa dia...." Lam-thian Lo-mo menggerakkan kepalanya ke arah kereta.
"Eihh...." Puteri Bhutan" nenek itu bertanya dan melihat dua orang kakek itu mengangguk, dia bertanya, "Untuk apa" Apakah kalian ini kiranya bandot-bandot tua bangka pula seperti Pangeran Liong"
"Bodoh!" Pak-thian Lo-mo mencela. "Kami antar dia pulang ke Bhutan dan di sana kami akan berusaha mencapai kedudukan tinggi."
"Aih, kiranya kalian benar-benar gila pangkat." Nenek itu berkata geli dan pada saat itu, terdengar jerit tertahan dari dalam kereta.
"Hi-hi-hik, Pangeran itu sungguh tidak sabar lagi!" Hek-wan Kui-bo terkekeh. "Apa dia hendak memaksa Puteri Bhutan di ruangan kereta yang sempit itu"
"Tidak....! Jangan menyentuhku!" Terdengar suara Syanti Dewi menjerit marah. "Pangeran Liong Khi Ong, ternyata engkau hanyalah seorang laki-laki keji dan hina. Akan tetapi jangan mengira akan dapat menyentuhku, lihat apa yang kupegang ini! Sebelum engkau menjamahku, lebih dulu aku akan menjadi mayat!"
Tiga orang tua lihai yang tadinya hanya tertawa-tawa saja sambil memandang ke arah kereta, menjadi kaget juga mendengar teriakan Syanti Dewi itu, dan mereka terbelalak makin heran dan kaget ketika mereka melihat betapa kusir kereta yang tadinya menggunakan kain menggosok dan membersihkan kereta itu tiba-tiba kini menghampiri pintu kereta dan menyingkap tirai yang menutupi pintu kereta itu.
"Heiii, kusir tolol! Mau apa kau" Hek-wan Kui-bo membentak marah.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati tiga orang tua itu ketika mereka melihat kusir itu membuka pintu kereta dengan paksa lalu meloncat ke dalam kereta. Terdengar teriakan Pangeran Liong, teriakan mengerikan dan disusul dengan berkelebatnya bayangan kusir tadi yang telah memondong tubuh Syanti Dewi yang meronta-ronta dan berteriak-teriak, "Lepaskan aku!"
"Eh, kusir keparat!" Tiga orang tua itu cepat meloncat dan mengejar ke arah kereta. Sekali bergerak, Hek-wan Kui-bo sudah membuka pintu kereta dan mereka menjenguk ke dalam, terkejut bukan main melihat Pangeran Liong Khi Ong sudah menggeletak tak bernyawa lagi dan di dahi pangeran itu tampak tiga gambar jari tangan hitam.
"Si Jari Maut....!"
"Kiranya dia si jahanam itu!"
Mereka melompat dan mengejar. Ketika melihat bayangan kusir yang memondong tubuh Syanti Dewi itu meloncat ke atas seekor kuda sedangkan tiga ekor kuda yang lain dicambuk dan lari cerai-berai, Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo cepat mengejar.
Kusir itu memang Tek Hoat adanya. Ketika tadi melihat kereta yang ditumpangi Siang Lo-mo menuju ke gedung Pangeran Liong, dia membayangi dan dapat mendengar percakapan antara kedua orang kakek itu, Tek Hoat merasa gelisah sekali. Tanpa disadarinya sendiri, urusan Syanti Dewi telah menjadi hal yang amat penting baginya, jauh lebih penting dari urusan apa pun, lebih penting daripada cita-citanya untuk memperoleh kedudukan mulia. Maka setelah Sepasang Kakek Iblis itu memasuki gedung, dia cepat turun tangan meloncat dan menyergap kusir kereta itu seperti seekor harimau menerkam domba, menyeret kusir itu menjauhi kereta, menotoknya lumpuh dan tak dapat bersuara, melucuti pakaiannya dan mengenakan pakaian dan topi kusir itu lalu dengan tenang dia menggantikan tempat kusir itu. Dia tadi pernah mendengar suara kusir itu ketika menjawab perintah Siang Lo-mo, maka dia mampu menirukan suaranya dan untung baginya bahwa baik Pangeran Liong maupun tiga orang pengawalnya itu tidak mengenal mukanya yang selalu dia sembunyikan agar tidak langsung menerima sinar lampu penerangan di sepanjang perjalanan itu. Dia tidak berani turun tangan menolong Syanti Dewi di dalam kota Teng-bun karena hal itu amatlah berbahaya. Baru setelah kereta keluar dari kota dan berada di dalam hutan, dia melepas-lepaskan kuda dan ketika mendengar teriakan marah Syanti Dewi, tahulah dia bahwa saat baginya untuk turun tangan telah tiba maka secepat kilat dia memasuki kereta, membunuh Pangeran yang mulai dibencinya sejak Syanti Dewi terjatuh ke tangan Pangeran itu, memondong dengan paksa tubuh Syanti Dewi dan melarikan diri dengan menunggang seekor kuda setelah dia mencambuk tiga ekor kuda yang lain sehingga binatang-binatang itu kabur ketakutan.
"Ang Tek Hoat pengkhianat rendah!" Lam-thian Lo-mo memaki dan bersama Pak-thian Lo-mo dia melakukan pengejaran.
"Minggirlah, biar kurobohkan dia!" Hek-wan Kui-bo berteriak dan dua orang kakek itu masih mengejar akan tetapi berpencar ke kanan kiri untuk memberi kesempatan kepada Hek-wan Kui-bo untuk melakukan penyerangan.
Nenek itu sudah mengeluarkan dua buah senjata rahasianya yang berbentuk besi bulat, lalu melontarkan dua buah benda itu ke arah Tek Hoat yang membalapkan kudanya.
Mendengar desingan angin dari belakang, Tek Hoat terkejut sekali. Dia sudah pernah menyaksikan Hek-wan Kui-bo menggunakan senjata rahasianya yang dapat meledak, maka kini tahu bahwa nenek itu menyerangnya dengan senjata dahsyat itu, dia terkejut dan cepat meloncat dari atas punggung kuda sambil memondong tubuh Syanti Dewi, dan begitu kakinya menyentuh tanah, dia terus bergulingan menjauh dan masih memondong tubuh dara itu.
"Maaf, terpaksa begini, senjatanya berbahaya sekali...." Tek Hoat berbisik.
"Dar! Darr!" Dua buah senjata rahasia itu meledak dan mengeluarkan kilat dibarengi muncratnya pecahan-pecahan besi. Kuda itu meringkik dan roboh terguling, perutnya pecah.
"Ahhh....!" Syanti Dewi mengeluh, ngeri menyaksikan nasib kuda itu. Kini dia tidak meronta lagi karena menduga bahwa pemuda ini memang sengaja membunuh Pangeran Liong dan membawanya pergi hendak menolongnya, sungguhpun dia masih merasa sangsi apakah benar pemuda yang menjadi kaki tangan pemberontak ini menolongnya dengan niat baik. Betapapun juga, kiranya jauh lebih baik dan lebih ada harapan terjatuh ke tangan pemuda yang bersikap halus ini daripada terjatuh ke tangan dua orang kakek dan nenek iblis yang mengerikan itu.
"Nona, kautunggulah di sini, biar kuhadapi mereka itu," kata Tek Hoat yang telah membuang topi perajurit dan telah menanggalkan pakaian perajurit yang tadi menutupi pakaiannya sendiri. Dengan tenang dia lalu menanti tiga orang lawan itu yang sudah berlari mendatangi.
Kini mereka berdiri berhadapan dengan pandang mata penuh kemarahan. Bulan di langit meluncurkan sinarnya yang lembut dan menerobos celah-celah daun pohon sehingga kini biarpun tidak memperoleh penerangan lentera kereta yang jauh dari mereka, empat orang itu dapat saling memandang cukup jelas.
"Heh-heh-heh, sudah kuduga sebelumnya! Sejak semula engkau dahulu menyerangku, aku sudah tahu bahwa engkau adalah seorang pengkhianat, Ang Tek Hoat! Sudah kuperingatkan Pangeran, akan tetapi dia tidak percaya. Sekarang dia percaya akan tetapi sudah terlambat!" Hek-wan Kui-bo berkata.
"Belum terlambat!" Pak-thian Lo-mo berkata. "Kita mengirim dia menyusul Pangeran."
"Sayang, seorang seperti engkau ini menjadi berubah begitu bertemu dengan wanita cantik, Si Jari Maut! Engkau telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong, satu-satunya orang yang sudah memberi harapan kepada kita. Sekarang kami tidak dapat pergi ke kota raja lagi, gara-gara engkau!"
Tek Hoat tecsenyum mengejek. "Orang yang cerdik selalu dapat melihat keadaan, akan tetapi kalian bertiga tua bangka ini agaknya tidak dapat melihat kenyataan. Jatuhnya Koan-bun dan Teng-bun yang tak akan dapat bertahan lama lagi berarti berakhirnya petualangan Pangeran Liong, apakah kita masih harus mengabdi kepada kekuasaan yang sudah mendekati keruntuhannya"
"Engkau yang tolol!" Hek-wan Kui-bo membentak. "Biarpun pemberontakan itu sendiri gagal, akan tetapi dengan adanya Pangeran, kita dapat mengunjungi istana kerajaan dengan aman dan di sana terbuka banyak kesempatan bagi kita. Akan tetapi engkau sekarang membunuhnya sehingga hancur semua harapan dan susah payah kita!"
"Hemm, aku sudah membunuhnya dan kalian mau apa" Apakah kalian hendak membela kematiannya"
"Cuhhh!" Pak-thian Lo-mo meludah. "Kami tidak akan membela siapa pun kecuali membela kepentingan kami sendiri!"
"Apa yang dikatakannya itu benar, Ang-sicu," Lam-thian Lo-mo berkata. "Soal engkau membunuh pangeran atau raja, tidak ada sangkut-pautnya dengan kami. Kami bukan orang yang mengekor kepada siapa pun, apalagi kepada Liong Khi Ong. Kalau kami membantu dia, seperti juga engkau, hanya karena kami melihat kemungkinan baik bagi kami untuk memperoleh kemuliaan. Akan tetapi sekarang dia kaubunuh, berarti kau merugikan kami yang hanya dapat kaubayar sekarang juga."
"Dengan nyawaku" Cobalah kalau kalian mampu!" Tek Hoat menantang dengan senyum mengejek.
"Sombong engkau!" Hek-wan Kui-bo sudah marah sekali dan hendak menyerang, akan tetapi Lam-thian Lo-mo mencegahnya dan nenek ini yang sekarang merasa menjadi sekutu Siang Lo-mo untuk menghadapi pemuda lihai itu tidak membantah.
"Ang Tek Hoat, jangan salah duga. Liong Khi Ong sudah mampus, maka biarlah. Hanya karena kami juga kehilangan harapan untuk pergi ke kota raja, maka sekarang kami minta bantuanmu. Kami hendak mengantarkan Puteri Bhutan itu kepada ayahnya di Bhutan. Kami tentu akan memperoleh balas jasa di Kerajaan Bhutan dan siapa tahu kami akan mendapatkan ganti kemuliaan di sana." Lam-thian Lo-mo berkata dengan suara bernada halus.
"Keparat, jangan minta yang bukan-bukan!" Entah mengapa dia sendiri tidak tahu, akan tetapi permintaan itu membuat Tek Hoat naik darah.
"Hi-hik, percuma, Lam-thian Lo-mo. Dia ingin mengangkangi sendiri gadis itu. Aku sudah tahu akan hal ini sejak dulu!" Hek-wan Kui-bo berkata.
Tek Hoat melirik ke arah Syanti Dewi. Puteri itu telah bangkit berdiri dan bersembunyi di balik pohon dan kini mengintai dan memandang ke arahnya dengan sinar mata ketakutan.
"Apa yang kurasakan tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian bertiga. Pendeknya, aku tidak percaya kepada kalian dan tidak akan menyerahkan dia kepada kalian!"
"Ang Tek Hoat, apakah engkau memilih mati daripada menyerahkan puteri itu kepada kami" Pak-thian Lo-mo berteriak.
"Hemm, kalian yang akan mampus di tanganku kalau berani menentangku."
"Bocah sombong! Engkau berani menentang kami bertiga" Lam-thian Lomo membentak marah.
"Perlu apa banyak cakap" Bunuh saja bocah ini!" Hek-wan Kui-bo membentak dan dia sudah menubruk ke depan dan menggerakkan tongkatnya, disusul oleh Siang Lo-mo yang merasa marah sekali terhadap bekas rekan ini.
Ang Tek Hoat memang bersikap sombong terhadap tiga orang tokoh hitam ini, akan tetapi dia cerdik dan dia sebenarnya tidak memandang ringan. Dia maklum bahwa mereka bertiga adalah orang-orang yang amat lihai dan kalau maju bersama merupakan lawan yang berat dan berbahaya. Maka begitu melihat mereka sudah menyerang, dia pun meloncat mundur menjauhi tempat Syanti Dewi bersembunyi, sambil mencabut pedang Cui-beng-kiam yang dipalangkan di depan dadanya. Sinar pedang yang mengandung hawa mujijat dan menyeramkan ini mendatangkan kengerian juga di hati tiga orang lawannya, akan tetapi karena mereka juga merupakan tokoh-tokoh yang sudah lama malang melintang di dunia persilatan, mereka tidak menjadi gentar dan sudah bergerak mengurung dengan senjata di tangan. Tangan Hek-wan Kui-bo memutar-mutar tongkat sehingga di depan tubuhnya tampak sinar hitam bergulung-gulung seperti ada kitiran besar berputar di depan tubuhnya dan mengeluarkan suara berdesingan.
"Tar-tar-tarrr!" Senjata di tangan kedua orang Lo-mo itu berupa sabuk atau pecut baja yang ketika digerak-gerakkan di atas kepala mengeluarkan bunyi meledak-ledak dan ujungnya yang melecut mengenai batangnya sendiri mengeluarkan bunga api!


Kisah Sepasang Rajawali Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Syanti Dewi yang bersembunyi di balik batang pohon itu menonton dengan muka pucat dan mata terbelalak. Percakapan antara empat orang itu tadi saja sudah menceritakan kepadanya orang-orang macam apa adanya mereka itu. Kalau dia terjatuh di tangan pemuda yang bernama Ang Tek Hoat dan yang telah berkhianat kepada bekas majikannya sendiri dan telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong, dia masih belum tahu apa yang akan terjadi atas dirinya. Kalau memang pemuda itu mempunyai niat keji dan buruk terhadap dirinya seperti yang dikatakan Hek-wan Kui-bo tadi, dia tentu akan menjaga diri dan akan membunuh diri sebelum pemuda itu dapat menjamah tubuhnya. Sebaliknya kalau dia terjatuh ke dalam tangan tiga orang iblis tua itu, seperti juga Tek Hoat, dia tidak percaya bahwa mereka akan menyerahkan dia begitu saja kepada ayahnya, Raja Bhutan. Orang-orang seperti mereka ini tentu tidak akan segan-segan untuk memeras ayahnya, memaksa ayahnya menuruti kehendak mereka untuk melihat puterinya selamat! Tidak, betapapun juga, kalau bisa dikatakan ada kesempatan memilih, dia memilih terjatuh ke tangan pemuda itu yang belum tentu akan berbuat jahat kepada dirinya.
Tek Hoat berdiri dengan sikap tenang dan sedikit pun tidak bergerak, pedang melintang di depan dada dan tangan kiri dengan jari terbuka di atas kepala, telunjuknya menuding langit, hanya sepasang manik matanya saja yang bergerak ke kanan kiri untuk mengikuti gerakan tiga orang yang menghadapinya. Hek-wan Kui-bo berdiri di depannya, Lam-thian Lo-mo di sebelah kanannya dan Pak-thian Lo-mo di sebelah kirinya. Dia maklum bahwa di antara tiga orang ini, kepandaian Hek-wan Kui-bo yang dapat dianggap paling rendah sungguhpun senjata rahasia peledak dari nenek ini amat berbahaya. Dia tahu pula bahwa senjata pecut besi di tangan kakek kembar itu tidak kalah ampuhnya dengan pedang di tangannya karena senjata dua orang kakek itu mengandung racun yang amat jahat. Hanya pedangnya, peninggalan dari iblis Pulau Neraka, Cui-beng Koai-ong, adalah sebatang pedang mujijat yang mengandung hawa mujijat dan inilah keunggulan senjatanya dari senjata tiga orang lawannya.
"Taarrr.... siuuuutttt....!" Pecut yang tadi berputaran di atas dan meledak-ledak itu kini menyambar dari kanan mengarah kepalanya dan ujung pecut itu meluncur untuk menotok ubun-ubun kepala Tek Hoat. Menghadapi serangan maut dari Lam-thian Lo-mo ini, cepat Tek Hoat mengelak dengan tubuh direndahkan, akan tetapi pada saat itu, dari kiri menyambar pecut Pak-thian Lo-mo sedangkan dari depan menyusul tongkat Hek-wan Kui-bo yang meluncur ke arah pusarnya.
Tek Hoat meloncat, menghindarkan kakinya yang tertotok secara bertubi oleh ujung pecut Pak-thian Lo-mo yang mengarah kedua mata kaki dan lututnya, dan pedangnya digerakkan menangkis tongkat Hek-wan Kui-bo. Nenek ini sudah mengenal keampuhan pedang Cui-beng-kiam, maka dia tidak berani mengadu tenaga, melainkan hanya menarik tongkatnya dan dibalik sehingga dalam detik lain ujung tongkat itu sudah menusuk ke arah mata Tek Hoat.
Tek Hoat menggerakkan pedang menangkis sambil melompat mundur menghindarkan sambitan ujung pecut dari kanan. Akan tetapi kembali dua batang pecut besi itu sudah menyambar dari atas dan bawah sedangkan tongkat dari nenek itu pun menyerang dengan bertubi-tubi. Tek Hoat mengeluarkan kepandaiannya, pedangnya diputar menjadi sinar bergulung-gulung melindungi tubuhnya dan sekaligus menangkis serangan tiga buah senjata lawan, kemudian tiba-tiba dari dalam gulungan itu mencuat sinar terang yang membuat gerakan melengkung dan menyambar ke arah perut tiga orang lawan itu seperti seekor naga melayang.
Tiga orang itu terkejut dan cepat mengelak ke belakang karena sambaran pedang itu amat berbahaya, kemudian dari jarak agak jauh pecut-pecut dari kanan kiri sudah menyambar lagi. Suara kedua senjata ini meledak-ledak seperti petir menyambar dan bunga api berpancaran menyilaukan mata. Namun Tek Hoat selalu dapat mengelak atau menangkis semua serangan itu, bahkan untuk setiap serangan dia tentu mengadakan balasan yang tidak kalah dahsyatnya.
Syanti Dewi yang menonton pertandingan itu menjadi bengong. Bukan main hebatnya pertandingan itu, matanya sampai menjadi silau dan berkunang. Tidak dapat lagi dia mengikuti gerakan empat orang itu, bahkan bayangan mereka pun lenyap terbungkus gulungan sinar senjata mereka. Hanya kadang-kadang saja nampak kaki atau tangan yang segera lenyap lagi ke dalam gulungan sinar senjata. Jantung Syanti Dewi berdebar tegang. Dia tidak dapat pergi dari tempat itu karena dia tidak mengenal jalan dan hutan itu amat lebat. Ke mana dia harus pergi" Tentu akan menghadapi banyak bahaya yang lebih besar lagi. Kalau terjatuh ke tangan orang-orang ini, dia tahu bahwa dia belum akan menghadapi bahaya maut sungguhpun dia tidak dapat membayangkan nasib apa yang akan dideritanya. Akan tetapi kalau dia lari dan bertemu dengan binatang buas, tentu dia akan menjadi mangsanya, dan kalau sampai dia terjatuh ke tangan orang-orang liar, nasibnya tentu akan lebih mengerikan lagi. Setidaknya, empat orang itu adalah orang-orang pandai yang agaknya ingin mencari kedudukan dan kemuliaan dengan mempergunakan dirinya.
Pertandingan itu memang hebat sekali. Tiga orang tokoh tua itu menjadi kagum bukan main. Baru sekali itu mereka bertemu dengan lawan seorang pemuda yang begitu lihai sehingga dikeroyok tiga oleh mereka tidak hanya mampu bertahan sampai seratus jurus lebih, akan tetapi juga bahkan sempat membalas dengan tidak kalah hebatnya.
Kadang-kadang bulan tertutup awan dan dalam keadaan gelap mereka berempat melanjutkan pertandingan hanya mengandalkan pendengaran yang tajam dan perasaan yang peka. Ketika pertandingan sudah hampir berlangsung dua ratus jurus tanpa ada yang mengalami luka atau terdesak, bulan bersinar kembali dengan terangnya karena awan telah menjauh.
"Kui-bo, lepas peledakmu!" Tiba-tiba Lam-thian Lo-mo yang merasa penasaran itu berteriak dan bersama Pak-thian Lo-mo dia sudah bertiarap di atas tanah. Hek-wan Kui-bo memenuhi permintaan kakek itu dan dia melemparkan senjata peledaknya ke arah Tek Hoat. Pemuda itu cepat meloncat jauh ke samping dan bergulingan sehingga ketika senjata rahasia itu meledak, dia terhindar dari sambaran pecahan besi. Akan tetapi kembali nenek itu melemparkan senjata dahsyat kepadanya dan terpaksa Tek Hoat meloncat tinggi sekali. Pecahan senjata peledak itu menyerong dan hanya akan mengenai orang-orang yang berdiri di sekitarnya, maka ketika Tek Hoat meloncat jauh ke atas, dia pun terhindar dari pecahan besi. Akan tetapi itulah saat yang dinanti-nanti oleh Lam-thian Lo-mo dan Pak-thian Lo-mo. Siang Lo-mo yang memiliki kerja sama amat baik berdasarkan naluri atau getaran perasaan yang saling berhubungan antara mereka itu, dalam waktu yang sama tanpa direncana lebih dulu telah menggerakkan cambuk besi mereka yang meluncur ke atas, yang kanan menyerang ke arah mata kaki Tek Hoat, yang kiri menyerang ke arah tengkuk! Serangan yang dilakukan berbareng pada saat Tek Hoat masih meloncat ke atas dan yang mengarah dua tempat yang berlainan itu ternyata membuat Tek Hoat terkejut juga. Dia harus memilih salah satu dan karena penyerangan di tengkuknya merupakan serangan maut, maka dia menggerakkan pedangnya menangkis cambuk yang digerakkan oleh Pak-thian Lo-mo ke arah tengkuknya itu sambil sedapat mungkin menarik kakinya yang disambar pecut Lam-thian Lo-mo. Namun gerakan ini tidak cukup dan betisnya dihunjam ujung pecut besi sehingga celana berikut daging betisnya robek.
"Haiiiittt....!" Tek Hoat mengerahkan tenaganya, berjungkir balik sehingga pecut itu tidak melibatnya dan ketika tubuhnya menukik turun, dia menyerang Lam-thian Lo-mo yang telah melukai betis kanannya itu.
"Trang-trang.... cringgg....!" Tiga senjata lawan menangkis pedangnya dan penyatuan kekuatan tiga orang itu membuat Tek Hoat terpental dan terguling-guling.
Selagi Tek Hoat bergulingan itu, tiga orang lawannya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan mereka mengejar. Hek-wan Kui-bo yang merasa penasaran sudah menggerakkan tongkatnya menghantam dan menusuk berkali-kali, akan tetapi Tek Hoat dapat mengelak dengan ilmunya bergulingan yang amat cepat. Akan tetapi karena dia pun dihujani sambaran dua ujung cambuk maka akhirnya Hek-wan Kui-bo berhasil menghantam pundaknya, nyaris saja menpenai kepalanya.
"Bukk!" Tek Hoat merasa betapa pundaknya seperti remuk ditimpa tongkat butut itu, dia menjadi marah dan nekat, otomatis tangan kirinya menyambar tongkat itu dan membetot dengan pengerahan tenaga Inti Bumi yang amat hebat kekuatannya. Hek-wan Kui-bo terkejut ketika tiba-tiba dia terbetot ke bawah dan sebelum dia mampu melihat bahaya dan melepaskan tongkat yang membuat tubuhnya ikut terbetot, tahu-tahu Cui-beng-kiam telah meluncur dari bawah dan menembus perutnya sampai ke punggung!
"Aigghhhhh...!" Hek-wan Kui-bo memekik dahsyat.
Tek Hoat mendorong tongkat dan mencabut pedangnya sehingga tubuh nenek itu terjengkang, akan tetapi pada saat itu, ujung cambuk di tangan Pak-thian Lo-mo telah menyambar pada saat pemuda itu meloncat bangun dan tahu-tahu telah membelit leher pemuda itu!
Tek Hoat terkejut sekali, apalagi ketika saat itu terdengar Lam-thian Lo-mo tertawa. "Jangan lepaskan dia, ha-ha, biar kuhancurkan kepalanya! Tar-tar-tarrr!" Cambuk Lam-thian Lo-mo meledak-ledak dan menyambar-nyambar kepalanya, mengarah ubun-ubun, tengkuk, dahi dan kedua pelipls! Sibuk juga Tek Hoat memutar pedangnya menangkisi sambaran pecut besi di tangan Lam-thian Lo-mo itu, sedangkan lehernya masih dicekik oleh cambuk Pak-thian Lo-mo yang makin lama makin erat mencekiknya. Terasa napasnya terhenti dan kulit lehernya berdarah! Maklumlah dia bahwa kalau dia tidak menemukan akal, dia akan mati sekali ini. Maka untuk menghindarkan ancaman bertubi-tubi dari ujung cambuk Lam-thian Lo-mo, dia cepat dengan tiba-tiba merebahkan diri dan bergulingan mendekati Pak-thian Lo-mo agar cekikan cambuk itu mengendur.
"Tarrr!" Ujung cambuk Lam-thian Lo-mo mengenai punggungnya, untung tidak mengenai tengkuk sehingga Tek Hoat hanya mengeluh karena rasa nyeri yang amat hebat. Dia meloncat lagi.
"Tar-tarrr!" Dua kali ujung cambuk Lam-thian Lo-mo menggigit paha dan lambungnya, membuat celana dan bajunya robek berikut kulit dan dagingnya. Badannya sudah berlumur darah yang bercucuran dari punggung, leher, lambung dan paha. Pada saat itu, dengan kemarahan memuncak, Tek Hoat mengeluarkan pekik yang amat dahsyat, pekik yang membuat Syanti Dewi jatuh terduduk dan hampir pingsan karena memang dia sudah gemetar seluruh tubuhnya menyaksikan betapa pemuda itu telah terbelit lehernya dan dicambuki serta berlumur darah amat mengerikan. Akan tetapi bersamaan dengan bunyi pekik itu, tampak sinar berkelebat dan Pak-thian Lo-mo mengeluarkan teriakan yang menggetarkan pohon-pohon di sekitar tempat itu. Tubuhnya terhuyung, cambuknya terlepas dari tangan dan kedua tangannya mencengkeram gagang pedang Cui-beng-kiam yang berada di dadanya karena pedang itu sendiri telah tertanam di dadanya sampai menembus punggungnya ketika dilontarkan secara tiba-tiba dan amat kuatnya oleh Tek Hoat tadi!
"Kau.... bunuh dia...." Lam-thian Lo-mo berteriak dengan suara terisak.
"Tar-tar-tar-tarrr....!" Cambuknya mengamuk dan tubuh Tek Hoat menjadi bulan-bulanan sambaran cambuk yang ujungnya seperti mulut ular mematuk-matuk dan membuat pakaian Tek Hoat robek-robek dan makin banyak lagi luka-luka di tubuhnya. Akan tetapi, dengan penderitaan rasa nyeri yang hebat itu karena semua luka mengandung racun, akhirnya Tek Hoat dapat menangkap ujung cambuk. Ketika Lam-thian Lo-mo yang melotot marah itu menarik-narik cambuknya, Tek Hoat melibat-libatkan ujung cambuk di tangan kanannya dan terjadilah betot-membetot di antara mereka. Akhirnya, dengan mengeluarkan teriakan yang merupakan lengking dahsyat, kedua orang itu meloncat ke depan saling terjang di udara.
"Desss....!" Syanti Dewi yang menonton dari balik batang pohon hanya melihat bayangan dua orang itu bertumbukan di udara, kemudian dia melihat kedua orang itu terbanting roboh dan tidak bergerak lagi.
"Ahhh....!" Syanti Dewi sejenak berdiri dengan hati penuh kengerian, ditelan kesunyian yang tiba-tiba menyelimuti tempat itu. Tidak ada suara apa-apa lagi terdengar, akan tetapi setelah keadaan di dalam hutan itu sunyi, semua orang kecuali dia telah rebah tidak berkutik lagi, lapat-lapat dan sayup sampai telinganya menangkap suara gemuruh dan hiruk-pikuk dari tempat yang jauh sekali. Suasananya menjadi makin menyeramkan karena suara yang dapat-lapat terdengar itu seperti mengandung suara tangis dan tawa yang agaknya datang dari angkasa atau mungkin juga dari dalam bumi, pantasnya suara yang keluar dari dalam neraka seperti yang pernah dia dengar dongengnya.
"Ahhh.... matikah dia...." Tak terasa lagi Syanti Dewi berbisik dengan hati penuh kekhawatiran. Puteri Bhutan ini adalah seorang yang berbudi mulia dan memiliki kepekaan rasa sehingga tidak mudah bagi dia melupakan budi orang lain yang dilimpahkan kepadanya. Dia tahu bahwa dia tidak boleh mempercayai seorang seperti Ang Tek Hoat yang telah menjadi kaki tangan pemberontak akan tetapi yang ternyata mengkhianati atasannya sendiri itu. Akan tetapi, dia tahu pula bahwa sekali ini Ang Tek Hoat melakukan pengkhianatan dan melawan rekan-rekannya sendiri sampai mempertaruhkan nyawa karena hendak menolongnya! Sungguhpun dia sendiri belum dapat memastikan apakah perbuatan pemuda itu terdorong oleh maksud menolongnya ataukah hendak memperebutkannya, akan tetapi harus dia akui bahwa kalau tidak ada Tek Hoat, tentu dia telah membunuh diri ketika hendak diperkosa oleh Pangeran Liong Khi Ong. Perasaan berterima kasih ini ditambah lagi perasaan seolah-olah Tek Hoat bukan merupakan orang asing baginya, membuat puteri ini keluar dari tempat persembunyiannya dan berindap-indap menghampiri pemuda itu.
Dia bergidik ketika melewati tubuh Lam-thian Lo-mo. Kakek yang hampir telanjang, yang hanya mengenakan cawat ini, rebah telentang, matanya melotot, mulutnya ter
Dewi Ular 7 Kisah Dua Saudara Seperguruan Karya Liang Ie Shen Harpa Iblis Jari Sakti 19
^