Pencarian

Angrek Tengah Malam 2

Angrek Tengah Malam Seri Pendekar Harum Karya Khu Lung Bagian 2


cabut sebilah pisau kecil yang berkilauan, mendadak
menubruk ke depan tubuh Liu Xian Sheng yang baru roboh, sekali genggam ditariknya konde
rambutnya, lalu sekali iris dipotongnya kepalanya. Kemudian, dia berjungkir balik melayang,
dengan menjinjing kepala itu, dia lari, hanya dalam sekejap mata, sudah tidak terlihat lagi.
Anak kecil ini anak kecil" Atau setan kecil"
Tidak peduli bagaimana pun, dia bukan lelaki normal yang wajar kesehatannya, karena sejak
dia datang dan pergi, juga sama sekali tidak melihat sekali pun pada Xiao Su.
Perempuan semacam ini, dengan buah dada yang begitu montok, dengan kaki yang panjang
dan singset, cuma bertelanjang bulat berdiri di sana, akan tetapi di dalam matanya, seolah-olah
tidak lebih menarik daripada sesosok mayat.
Mendadak Xiao Su merasakan kedua kelopak matanya terasa basah, kemudian dia cepat sekali
jatuh pingsan. Kala ini, Mu Rong sedang berkata dengan nada suara gembira kepada perempuan di
sampingnya: "Aku yakin gerakan Liu Xian Sheng sekarang sudah dimulai, dan pasti sangat
berhasil."
BAGIAN KEDUA MU RONG .....Nyawa kehidupan yang muda, wajah yang bersemangat, keyakinan yang tidak ada taranya,
penampilan yang sangat menonjol, harta kekayaan keluarga yang bisa menandingi kekayaan
negara, hanya sayangnya...
Bab 1 Malam Menjelang Pertempuran Terakhir
Bulan delapan, tanggal lima belas, zhong qiu, bulan purnama.
Orangnya" Orangnya sudah akan mengucurkan darah.
Bulan tidak berdarah, orang berdarah.
Dilihat dari sini, sinar bulan tidak seperti sinar lampu yang berkilauan, aneka rupa bentuk dan
rupa lampion berjejer memenuhi setiap tempat yang bisa dijadikan gantungan lampu, hingga
menjadikan tempat yang semula tenang tentram bagi pertemuan keluarga pada hari baik Zhong
Qiu ini, berubah seolah-olah menjadi tempat pesta pora Shang Yuan (tanggal 15 bulan satu: Cap
Go Me) yang tidak membedakan tingkat sosial seseorang.
Kota kecil di pinggir perbatasan yang semula sudah sepi dan mati, dan tinggal hanya beberapa
orang yang bisa dihitung dengan jari, kelihatannya sudah berubah menjadi lebih mirip pasar
malam Shang Yuan.
Yang paling disesalkan ialah, di jalanan cuma ada lampu, tidak ada orang.
Orangnya ada di atas lantai atas.
Si Hai Lou berada di bagian tengah jalan ini, sepertinya menjadi jantung kota kecil ini. Yang
menjadi kendali irama pernafasan dan kelancaran peredaran darahnya, setiap orang di sini
menjadikannya sebagai kebanggaan.
Tie Da Lao Ban duduk mantap di lantai atas, matanya seperti elang rajawali, penampilannya
malah mirip harimau dan macan tutul, sedang mendambakan bisa mereguk sepuasnya darah para
musuh bebuyutannya.
Banyak orang sedang berbaris membuat laporan di hadapannya.
"Pemeriksaaan persenjataan selesai dan sudah siap." "Penambahan isi minyak lampu lampion
lilin selesai dan sudah siap."
"Penghitungan petugas sudah selesai dan siap, tidak ada yang mangkir bolos, tidak ada
gangguan sakit, tak ada mabuk arak, tak ada desersi, tak ada yang meninggalkan pos jaga."
"Pembersihan jalan selesai dan siap, tak ada kubangan air, tak ada halang rintangan!"
Setiap hal sudah ditata dan diatur rapi, tapi tidak seorang pun yang melaporkan ada sutera di
tempat persembunyian.
Itu memang rahasia mutlak, selain kedua puluh sembilan orang sutera yang siap mati setiap
saat, hanya Da Lao Ban sendiri dan jalan sutera yang tahu rahasia ini, kalau pun masih ada orang
lain yang tahu, maka orang ini sekarang juga tidak punya cara untuk menceritakan rahasia ini.
Orang yang tidak punya mulut, ialah yang tidak bisa mengucapkan kata-kata apa pun, orang
yang tidak punya otak di kepala, bagaimana bisa punya mulut"
Tie Da Lao Ban dan Si Lu Xian Sheng sekali pun menunjukkan mimik serius, tapi juga sangat
tenang. Mengenai pertempuran ini, mereka sepertinya sangat meyakini kemenangannya.
Nama Mu Rong yang menggetarkan dunia Jiang Nan, si buta yang tidak buta Liu Ming Qiu, di
dalam mata mereka, tidak lebih daripada dua ekor kupu-kupu kecil.
Mereka sudah menyalakan lampu, menunggu kupu-kupu menyambar api.
Ada kilatan cahaya di kejauhan, seolah-olah ada meteor jatuh, seseorang yang badannya
seringan walet, sekilas melintas di udara, dari kegelapan malam melintas masuk ke dalam tempat
dengan cahaya lampu terang benderang, sekali lintas lagi, sudah menerjang memasuki gedung
tinggi itu. Dia nampaknya seperti anak kecil, tapi usianya sudah tiga puluh enam atau tiga puluh tujuh
tahun, tampaknya seperti anak gadis yang tumbuhnya kurang sempurna, tapi beberapa tahun lalu
dia juga sudah berjanggut.
Sebab dia hanya orang kerdil. Yang lahir sebagai orang kerdil. Akan tetapi sebagai orang kerdil
dia berbeda dalam beberapa hal dengan orang kerdil lain.
Nama marganya memang Zhu, dan bernama Zhu Ru. (Dalam bahasa Tionghoa kedua kata itu
sama artinya dengan orang kerdil atau cebol).
Dia sudah kawin.
Isterinya bernama Ma Jia Jia, wajahnya bagus, riwayat keluarganya bagus, sikap kelakuannya
anggun, dandanannya bagus, busananya bagus, orang yang terkenal serba bagus di dunia Jiang
Hu. Tubuhnya patut jadi pujian, kaki panjang, dada membusung, pinggang tinggi, sekalipun lelaki
yang paling suka memilih-milih, bagaimana pun juga sulit menemukan cacat kekurangannya.
Badan Ma Jia Jia tujuh chi dan satu cun, dibandingkan suaminya Zhu Xian Sheng tepat dua kali
lipat tingginya.
Cuma berdasarkan ini saja Zhu Xian Sheng sudah patut berbangga diri.
Yang lebih membanggakannya ialah, yang membuat orang-orang dunia Jiang Hu mengiri,
bukan isterinya, tapi ilmu meringankan tubuhnya.
Dia sangat yakin di dunia Jiang Hu paling tidak dia berada di urutan nomor delapan.
Badannya seringan burung walet, menginjak bumi pun tanpa suara, dia turun tepat langsung di
samping Tie Da Lao Ban.
Dia melayang lewat angkasa, masuk lewat jendela, ketika ujung kakinya menyentuh tanah,
mulutnya langsung di sisi telinga Da Lao Ban.
Tie Da Ye tetap duduk tidak bergeming, karena dia sudah tahu orang ini akan datang, bahkan
begitu sampai tentu berada di samping badannya.
Ketika Zhu Ru menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, ketepatan 'titik jatuh'nya, sejak dulu
jarang ada orang yang bisa menandingi, bahkan seandainya dia melayang dan jumpalitan di udara
delapan belas kali pun, titik turunnya di bumi, masih tetap kembali pada tempat dia mulai
melompat ke angkasa, bahkan bekas tapak kakinya bisa tepat sama. Seperti bibir sepasang
kekasih yang sedang panas mesra berpacaran, rapat menempel, tidak ada selang selisih sedikit
pun juga. Maka Da Lao Ban bertanya dengan hambar: "Bagaimana keadaannya?"
"Keadaannya bagus," jawab Zhu Ru. "Seperti yang diduga Da Lao Ban, yang harus datang
hampir semuanya sudah datang."
"Hampir semua?" tanya Da Lao Ban.
"Hampir semua itu hampir berapa?"
"Selisih cuma satu."
"Siapa?"
"Liu Ming Qiu," kata Zhu Ru. "Si buta yang tidak buta ini, biasanya pergi dan datang selalu
bekerja sendirian, tapi terakhir malahan dia menempel kepada Mu Rong dari Jiang Nan."
"Mengapa?"
"Siapa pun tidak tahu karena apa?" kata Zhu Ru. "Yang membuat orang makin tidak mengerti,
dia hari ini malahan tidak datang."
Tie Da Lao Ban terhadap masalah ini seolah-olah tidak terlalu memperhatikan, pertanyaan yang
menjadi perhatiannya ialah: "Berapa orang yang tidak layak datang tapi datang?"
"Juga cuma satu orang."
"Siapa?"
"Seorang yang menutupi wajah dengan cadar kain putih, memakai jubah terusan sebadan
warna putih, seorang perempuan yang sepertinya sangat misterius. Mu Rong datang duduk di atas
sebuah tandu kecil, perempuan ini terus mengikuti di samping tandu kecil."
Tie Da Lao Ban mengerutkan alis, Si Lu Xian Sheng juga mengerutkan alis, mendadak
menanyai Zhu Ru: "Bagaimana
kau bisa tahu orang ini perempuan?"
Pertanyaan ini sangat tajam malah sangat tepat, jawaban Zhu Ru juga sama tepatnya.
"Karena sejak melihatnya pertama kali badanku jadi panas, sekujur badan dari atas sampai ke
bawah mendadak jadi panas Sekujur badannya dari atas sampai bawah sama sekali tidak bisa
kulihat, tapi perasaanku waktu itu, justru lebih bangkit terangsang daripada seperti melihat tujuh
delapan puluh gadis kecil cantik yang telanjang bulat."
Perasaan semacam ini sangat sulit dijelaskan. Zhu Ru hanya mengatakan: "Setiap dia
melangkah satu tindak, setiap gerak, senantiasa membawa daya tarik memikat yang tidak bisa
diungkapkan. Apa lagi sorotan matanya."
Zhu Ru menghela nafas: "Di dalam matanya seperti ada tangan yang tidak kelihatan, yang
setiap saat bisa merengkuh rohmu dan disergap pergi mengikuti dia."
Penjelasannya bukan yang bisa dikatakan terbaik, akan tetapi Da Lao Ban dan Si Lu Xian Sheng
juga sudah mengerti apa maksudnya.
Seseorang yang dilahirkan sebagai makhluk molek, sama seperti sebuah pahat, tidak peduli
disembunyikan di dalam suatu kantong apa pun, dia tetap sama saja bisa merobek dan
menembusnya. "Apakah kau tahu asal mula serta riwayat dan perjalanan hidupnya?"
"Tidak tahu. Tapi kutahu dia pasti perempuannya Mu Rong, dia selalu mengikutinya, nyaris
tidak berpisah biar satu juen pun."
Bisa membiarkan seorang perempuan sejenis ini mengikuti tanpa jarak selang lebih dari satu
juen, sudah barang tentu sangat mencolok.
"Mu Rong generasi ini orang macam apa?" tanya Tie Da Lao Ban. "Dia punya keistimewaan apa
saja?" "Ini jadi sulit dikatakan," kata Zhu Ru meragu.
Daya pengamatannya selama ini selalu cukup tajam, ditambah lagi dia pandai mengungkapkan,
untuk bisa melukiskan seseorang yang istimewa, seharusnya tidak jadi masalah.
"Mu Rong yang ini, sepertinya berbeda dengan Mu Rong beberapa generasi sebelumnya. Di
luarnya, dia tidak ada beda dengan Mu Rong yang lain, juga seseorang yang merasa dirinya paling
sopan dan ramah, lebih tinggi di atas orang lain, wajahnya juga tidak ada warna darahnya, persis
sama dengan mayat."
"Bukan mayat," Tie Da Lao Ban menyela dingin. "Bangsawan."
"Bangsawan?"
"Mereka sering bilang, hanya orang yang paling mulia, baru bisa punya kulit wajah macam ini,
bukan hanya harus pucat tidak ada warna darahnya, bahkan putih sampai kebiru-biruan," Tie Da
Lao Ban tertawa dingin. "Karena jenis mereka ini, biasanya tidak perlu mengucurkan darah dan
keringat di bawah sinar matahari."
Dia orang bukan jenis ini, dia bangkit dari keringat dan darah, warna kulitnya seperti perunggu
kuno, maka itu di kala dia membicarakan orang jenis ini, dalam kata-katanya selalu terselip nada
memandang rendah dan mengejek.
Karena dia tahu, tidak peduli berapa besar potensi harta dan kekuasaannya, juga tetap tidak
bisa membeli warna kulit seperti itu. Karena dia hanya punya 'masa kini' dan 'masa mendatang',
tapi tidak punya 'masa lampau'.
Masa lampaunya tidak bisa dijadikan pembicaran, bahkan dia sendiri pun tidak suka
memikirkannya. Seseorang yang tidak punya sesuatu kenangan yang hangat dan indah, ketika dia pelan-pelan
menjadi tua, bagaimana bisa melewati dinginnya dan sepinya musim dingin.
Akhirnya Zhu Ru mengerti apa yang dimaksudkan oleh Da Lao Ban.
"Akan tetapi Mu Rong yang ini dan dari generasi ini, bukan dari jenis orang yang suka mabuk
kepayang sendiri."
"Oooohhh?"
"Mu Rong yang satu ini, di luarnya, lahiriah kelihatannya sama dengan yang lain, akan tetapi..."
Sesudah Zhu Ru berpikir sejenak, baru dia memilih ungkapan yang diperkirakan paling sesuai
:"Akan tetapi di dalam badannya itu, sepertinya masih samar-samar tersembunyi seorang yang
lain di dalamnya."
"Orang macam bagaimana?"
"Seseorang yang wajah lahiriahnya sama sekali kebalikan dari dirinya," kata Zhu Ru. "Satu
bangsat bajingan dan penipu, yang sangat hina dina, juga berselera rendah, juga licin licik, juga
jahat telengas, juga kasar tidak beradab, juga suka mencari-cari perkara mempersulit orang, juga
tidak tahu malu, yang juga kejam dan bengis."
Wajah Tie Da Lao Ban sudah berubah.
Jika ada seseorang bisa mempunyai dua watak yang berlawanan secara ekstrim, bukan saja
tidak terbayangkan, bahkan sesungguhnya sangat menyeramkan.
Siapapun tidak sudi punya jenis musuh seperti ini.
"Bagaimana dengan Wu-Gong-nya (ilmu silatnya, bahasa Tionghoa sekarang Wu-shu)?",
mendadak Tie Da Lao Ban buru-buru bertanya. "Wu Gong-nya bagaimana?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa melihatnya"
"Tapi kau tentu bisa melihatnya, di antara gerakannya, apanya yang istimewa, apakah ada
beberapa segi yang istimewa?"
Yang ini mestinya dapat dilihat.
Seseorang yang pernah menerima latihan Wu Gong yang sangat keras, seseorang yang dalam
suatu bidang Gong Fu tertentu mencapai keberhasilan yang istimewa, dalam setiap gerak
geriknya, bahkan dalam sikap mimiknya, tentu bisa dikenali.
Apa lagi Zhu Ru juga merupakan orang yang pernah mendapatkan latihan keras di bidang ini.
Tidak terduga, dia cuma menggeleng-gelengkan kepala dan berkata: "Tidak dapat kulihat."
"Bagaimana bisa tidak terlihat olehmu?" Da Lao Ban sudah mulai naik pitam. "Masakan kau
tidak melihatnya."
"Aku melihatnya. Tapi aku hanya melihat dia, orangnya, dan tidak melihat gerak-gerik dan
mimik sikapnya."
"Mengapa?"
"Karena dia sama sekali tidak bergerak, bahkan satu jaripun tidak goyang. Bahkan wajahnya
tidak menunjukkan satu pernyataan apa pun."
Zhu Ru tidak menunggu Lao Ban bertanya kembali, langsung menerangkan: "Wajahnya, seperti
diukir dari batu pualam. Dia tidak bergerak, karena dia terus duduk di atas sebuah kursi yang
sangat nyaman. Sama sekali tidak bergerak."
Biar pun kursi berkaki empat, tapi kursi tidak bisa berjalan.
Kalau begitu, dengan cara apa Mu Rong datang"
Ini pertanyaan yang bodoh, maka hakekatnya tidak perlu dijawab, pertanyaan yang
sesungguhnya ada di titik masalah lain.
Tie Da Lao Ban sudah memikirkan itu. Si Lu Xian Sheng sedang menanyai Zhu Ru: "Maksudmu,
dia datang dengan duduk di atas kursi yang digotong orang?"
"Ya."
"Apakah dia terluka?"
"Tidak," kata Zhu Ru. "Paling sedikit aku tidak melihat tanda-tanda dia seperti terluka."
"Sebetulnya kakinya pun tidak patah!"
"Sepertinya kakinya masih ada. Keluarga marga Mu Rong juga mustahil memilih seorang
pewaris Zhang Men (ciangbun = ketua aliran ajaran) yang kakinya cacat."
Mu Rong dari Jiang Nan dari dulu suka berebut jadi jago dan selalu mau menang, paling suka
cari muka, pewaris setiap generasi selalu serba bisa dalam Wen (sastera) dan Wu (kewiraan),
sikap anggun Gong Zi terpuji dalam jaman dunia kotor dan kacau.
"Namun, soal Mu Rong ini bagaimana urusannya?" Tie Da Lao Ban bertanya sambil
mengerutkan alis. "Dia tidak luka, juga bukan cacat, mengapa tidak berjalan sendiri" Mengapa
tidak mencari seekor kuda dan menungganginya?"
Zhu Ru tidak membuka mulut.
Ini pun bukan pertanyaan yang cerdas, malahan pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan,
pertanyaan ini cuma patut ditanyakan kepada Mu Rong pribadi.
Pertanyaan yang bodoh sesungguhnya tidak perlu dijawab, akan tetapi sekali ini, Si Lu Xian
Sheng malahan berkata: "Pertanyaan ini betul-betul sangat bagus. Jika seseorang melakukan
sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, jika bukan karena dia terlalu bodoh, tentunya karena dia
terlalu pintar. Dan juga di situ pasti ada masalah."
"Mu Rong yang ini kelihatannya bukan amat bodoh."
"Dia sama sekali tidak," kata Si Lu Xian Sheng. "Dia bahkan mungkin jauh lebih pintar daripada
yang bisa kita bayangkan."
"Ooohhh?"
"Paling sedikit dia tahu ada keuntungan dengan duduk di atas kursi dan diusung orang lain."
"Keuntungan apa?"
"Duduk di kursi, tidak hanya enak, bahkan bisa berhemat tenaga."
Zhu Ru melanjutkan dengan nada datar: "Kita tunggu dia di sini, sesungguhnya, kita menarik
sedikit keuntungan, tidak lelah menghadapi yang lelah, tenang menantikan musuh yang sudah
penat. Tapi kita semua sekarang sedang berdiri, dan dia duduk, malah berubah jadi sebaliknya,
dia yang santai dan kita yang lelah. Dia yang menanti musuh yang sudah penat."
Da Lao Ban tertawa besar.
"Bagus, ungkapan yang bagus." tanyanya kepada Zhu Ru: "Mengapa kau tidak segera
menyuruh orang mengambilkan sebuah kursi untuk duduk?"
Tempat duduk kursi dibuat dari sutera satin berwarna biru hijau yang lebih tua daripada biru
tua, halus, licin dan lemas seperti beludru bulu angsa langit.
Mu Rong yang mengenakan jubah terusan dengan warna yang sama, berleha-leha dengan
santai duduk di atas kursi itu, sehingga wajahnya serta kedua belah tangannya yang pucat
semakin menonjol jelas warnanya.
Kedua orang yang mengangkat kursi itu, badannya sangat pendek, bahunya sangat lebar,
sehingga kelihatannya seperti persegi betul.
Kedua belah pahanya berlari seperti terbang, badan atasnya seperti tidak bergerak sedikit pun.
Mu Rong duduk tegap, seperti sedang duduk di ruang kecil yang dipenuhi karpet Persia di
rumahnya.

Angrek Tengah Malam Seri Pendekar Harum Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ini bukan sebuah tandu kecil, tapi hanya merupakan sebuah kursi yang ditambatkan pada dua
batang galah bambu, dan mudah membuat orang salah mengira sebagai sebuah tandu kecil.
Tandu mestinya tidak bergerak, kursi mestinya diam, keduanya bukan benda yang sama, tapi
dalam semacam kondisi, malah seringkah dianggap sama jenisnya.
Bukankah manusia juga sama, dua orang yang sama sekali tidak sama, tidakkah juga sering
salah dianggap sama jenisnya, ada kalanya bahkan salah dianggap sebagai manusia yang sama.
Di dunia ini banyak masalah yang memang juga demikian.
Xiu Xiu menempel di sisi badan Mu Rong, tidak berjarak sejengkal pun.
Selain itu masih ada empat orang lagi, umurnya sudah tidak terlalu kecil, gayanya pun tidak
rendahan, sikap gayanya tetap santai, seolah-olah tidak ada apa-apa, sepertinya sedang
melangkah berjalan-jalan.
Akan tetapi mereka menguntit dekat di belakang kedua or?ang pengusung tandu, selangkah
pun tidak tertinggal.
Yang lain bisa seperti berlari tujuh delapan langkah, mereka cukup dengan santai melangkah
sekali saja, saat kaki mereka menyentuh bumi, bertepatan saat langkah kaki kedelapan orang itu
sampai di bumi.
Pada tubuh setiap orang, masih memikul beban peti besar yang siapa pun bisa mengetahui
pasti sangat berat.
Semacam peti terbuat dari jati merah, yang di atasnya dililiti dengan batangan kuningan,
seandainya peti kosong, bobotnya juga tidak akan ringan.
Sudah barang tentu petinya tidak kosong. Di saat akan dilakukan pertempuran penentuan mati
hidup, siapa pun tidak mungkin mengusung empat buah peti kosong untuk mendatangi medan
tempur, akan tetapi siapa pun juga tidak tahu peti itu berisi barang apa saja.
Kedelapan orang yang mengikuti mereka di belakang, langkah kakinya sudah tidak santai
seperti yang terdahulu. Di belakangnya lagi ada enam belas orang. Selanjutnya tiga puluh dua
orang. Ketiga puluh dua orang yang menyertai mereka, jika tidak mau tertinggal, sudah harus berlari
cepat untuk menyusul terus.
Jika melihat rombongan orang ini memasuki jalan tua di kota kecil itu, Tie Da Lao Ban
mendadak bertanya kepada Si Lu: "Kau lihat berapa banyak jumlah mereka yang ikut ke sini?"
"Aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya," kata Si Xian Sheng. " Aku cuma bisa tahu
mereka terdiri dari enam kelompok."
"Ada berapa orang dalam satu kelompok?"
"Kelompoknya berlainan, banyaknya juga tidak sama. Kelompok pertama hanya terdiri dari dua
orang." "Satu orang yang duduk di atas kursi, satu orang berada di samping kursi."
"Memang benar."
"Bagaimana dengan kelompok kedua?"
"Kelompok kedua terdiri dari empat orang, kelompok ketiga ada delapan orang, kelompok
keempat ada enam belas orang, kelompok kelima ada tiga puluh dua orang."
"Kelompok kedua yang terdiri dari empat orang, aku mengenali tiga," Tie Da Lao Ban
memincingkan matanya, "Ketiganya petarung yang handal sekali!"
"Memang begitu."
"Akan tetapi kulihat, satu di antaranya yang paling hebat, dan masih tetap satu orang yang aku
belum mampu mengenalinya itu."
Seorang yang badannya tinggi dan kurus, dengan kepala luar biasa besar, sehingga nampak,
seperti sebuah pier ditancapkan pada sebatang sumpit makan.
Seorang yang demikian penampilannya, sudah barang tentu akan membuat orang merasa
sangat geli, akan tetapi di muka bumi ini, barang siapa yang menganggap dia itu lucu
menggelikan, agaknya sudah tidak banyak lagi jumlah orang yang tersisa.
Jika saja ada seratus orang yang menganggapnya lucu menggelikan, rasanya paling sedikit ada
sembilan puluh sembilan setengah yang sudah mati di bawah pakunya.
"Yang kamu maksud tentunya Ding Xian Sheng."
"Kukira memang dia. Nama aslinya memang Ding Zi Ling." (Ding Zi dalam bahasa Tionghoa
ialah paku). "Ding Zi ling?" Wajah Da Lao Ban bahkan bisa ikut berubah! "Ding Zi Ling, Ding Zi Ling, sekali
dipaku, orang pasti mati."
"Memang betul, paku ini memang mengerikan, mujurnya aku bukan kayu, juga bukan dinding
tembok, aku tidak perlu takut apa pun juga." Katanya lagi: "Aku hanya merasa heran sekali."
"Heran apanya?"
"Kelompok pertama dua orang, kelompok kedua empat, kelompok ketiga delapan, kelompok
keempat enam belas, kelompok kelima tiga puluh dua. Kuhitung-hitung, paling banyak juga ada
lima kelompok, mengapa kau katakan ada enam kelompok?"
Dua orang yang wujudnya persegi, hampir sama dengan kotak jajaran genjang utuh, bukan
saja lebarnya sama, malah tebalnya pun hampir sama. Melihat kepada kedua orang itu, seperti
dua buah 'man tou' (sejenis panganan mirip bak pao tanpa isi daging, sebagai nasinya penduduk
Tiongkok timur laut dan utara) yang diletakkan di dalam kotak persegi.
Kelihatannya dunia ini tidak terlalu kecil, tapi kalau mau menemukan dua orang berbentuk
demikian, tetap bukanlah hal yang mudah.
Mendadak sekali, wajah Tie Da Lao Ban mengejang kembali.
Selanjutnya dia mengeluarkan perintah langsung yang sederhana, dengan gaya yang biasa
dipakainya. "Sasaran serangan pertama kita adalah kelompok kedua dan kelompok ketiga, semuanya
berjumlah dua belas orang, ditumpas musnah sekaligus. Ketika sinyal yang sudah kita sepakati
bersama dikeluarkan, aksi harus segera dimulai."
Katanya lagi: "Aksi gerakan kali ini, harus sudah diselesaikan tuntas di dalam waktu empat kali
tepukan tangan."
Si Lu tersenyum.
Bukan saja dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Da Lao Ban, bahkan sangat setuju.
Kelompok ketiga dan kelompok keempat, sekalipun jumlah orangnya banyak, tapi kekuatannya
terlalu lemah, tidak perlu dimulai dari situ.
Kelompok keenam dengan kedua orang berwujud kotak persegi itu terlalu kuat, tidak boleh
disentuh duluan.
Karenanya, kita harus mulai menyerang dan yang di tengah dulu, memotong kepala dan
ekornya. Seseorang jika bisa menjadi Da Lao Ban sesungguhnya, sudah pasti bukan sesuatu hal yang
mudah. Si Lu Xian Sheng tersenyum, mendadak dia mengacungkan tinggi-tinggi sepasang tangannya
yang seperti tangan perempuan cantik itu, dengan cepat dia melakukan beberapa gerakan isyarat
tangan yang indah.
Sudah barang tentu ini semacam bahasa isyarat yang sangat rahasia, selain beberapa petugas
sutera kematian yang berada di bawahnya, tidak akan ada orang lain yang bakal mengerti apa
yang dimaksudkannya.
Hanya di dalam waktu sekejap, tanpa ragu semua perintah Da Lao Ban sudah disampaikan
langsung kepada anak buahnya.
Kemudian dengan tersenyum dia berkata: "Jenis manusia itu sebetulnya sangat bodoh. Setiap
orang tidak ingin mati, dengan seribu satu akal juga ingin tetap hidup terus, akan tetapi juga ada
kalanya begitu bodohnya sampai seperti ngengat (sejenis kupu-kupu) malam yang terus mau
menyergap nyala api terbuka."
Ada nyala bara api terbuka, baru bisa ada sinar cahaya terang. Proses pembakaran ini, sangat
tragis dan megah, namun sekaligus sedemikian indah dan cantiknya.
Ngengat malam (sejenis kupu-kupu malam) yang menyambar nyala api terbuka, apakah betul
sebodoh seperti yang dibayangkan oleh para pelaku Si Lu (jalan sutera) itu!
Pada waktu ini, orang-orang dalam satu rombongan Mu Rong sudah berjalan sampai di depan
toko P & D Sheng Ji.
Pada suatu lokasi lembah yang sangat tersembunyi di pegunungan besar Kun Lun, terdapat
sebuah rumah besar yang dibangun dari bongkahan besar batu berwarna putih, tersembunyi di
antara setumpukan karang putih, dikelilingi tebing-tebing terjal setajam pedang pusaka yang
sangat tajam, yang bisa sangat menggiriskan.
Di sekeliling rumah besar itu, ada gundukan salju yang tidak pernah mencair selama bertahuntahun,
awan kabut tebal yang tidak pernah buyar, asap awan yang sepanjang hari selalu
menyelimuti sekelilingnya.
Siapa pun tidak ada yang tahu, sejak kapan bangunan batu putih ini mulai dibangun" Dan siapa
saja penghuni di dalamnya"
Sesungguhnya, tidak banyak orang yang betul-betul pernah menyaksikan penghuni rumah ini.
Dalam sebagian besar waktu, bangunan ini seolah-olah sudah lenyap di dalam awan asap putih
yang menyelimuti sekelilingnya sepanjang tahun.
Batu putih yang dipakai sebagai bahan bangunan rumah, setiap bongkahnya paling sedikit bisa
mencapai berat sembilan ratus lima puluh buah batu bata dan bahan yang terbaik. Yang paling
berat bahkan mungkin masih beberapa kali lipat lagi bobotnya.
Dengan kontur pegunungan yang begitu menggetarkan or?ang, bagaimana bongkahan batu
besar itu bisa diangkut ke atas" Berapa banyak tenaga kerja dan material yang perlu dikerahkan
untuk mengerjakannya" Seandainya saja diperoleh dari pertambangan yang berada di sekeliling
lokasi, hal itu tetap saja sebagai sesuatu yang menggemparkan pendengarnya, dan tetap sebagai
sesuatu yang tidak dapat dibayangkan.
Bentuk model bangunan yang megah mentereng, dengan struktur konstruksi yang teliti dan
cermat, sekali pun terjadi gempa bumi yang meruntuhkan gunung dan merekahkan bumi, dia akan
tetap tidak bakal menunjukkan gejala akan rontok.
Sekali pun wujud luarnya dari batu-batu putih yang terlihat kasar dan tidak melalui proses
penghalusan, hingga wujud luarnya terlihat megah, tapi kurang indah melainkan sederhana,
namun bagian interiornya, sangat halus, mewah dan mentereng, sangat sulit dibayangkan oleh
siapa pun juga, dan mendekati yang ada dalam kisah-kisah mitos.
Bagian dalam rumah besar itu terdiri dari tiga tingkat, dua tingkat di bawah tanah, satu tingkat
di atas tanah, keseluruhannya terdiri dari ruang besar dan kecil sebanyak tiga ratus enam puluh
buah, ruang yang paling besar, katanya bisa menampung pertemuan seribu orang.
Ketiga ratus enam puluh ruangan, sudah barang tentu telah melalui perencanaan yang amat
teliti, di dalamnya berisi berbagai macam benda mainan dan pusaka mustika, yang bahkan tidak
pernah muncul di dalam berbagai khayalan yang bisa dipikirkan, malahan di dalam suatu ruangan
pembantu yang paling rendah statusnya pun digelar permadani terbaik hasil pekerjaan yang
sangat halus dari Persia.
Hanya satu ruangan yang dikecualikan.
Ruangan ini berada tepat di pusat rumah besar, akan tetapi di ruangan ini hampir tidak ada apa
apanya. Dinding tembok yang putih mulus, atap rumah yang putih mulus, sebuah pintu yang sempit,
dua jendela kecil, sebuah meja, sebuah kursi, sebuah ranjang, sebuah bantal kapuk putih,
selembar selimut katun putih, dan seseorang yang mengenakan jubah panjang katun putih, yang
kelihatannya seperti seorang pelaku tapa fakir.
Meja kayu yang sangat besar, besar sekali. Di atasnya bertumpuk berkas yang dijepit dengan
papan tebal dari kertas putih. Pada setiap berkas terkandung satu rahasia, dan setiap rahasia
dapat menggemparkan Wu Lin (Bu Lim = dunia persilatan).
Jika ada seseorang mengungkapkan isi berkas-berkas ini di dunia Jiang Hu bakal terjadi entah
berapa banyak tokoh ksatria dan perwira kosen laki-laki maupun perempuan yang bakal musnah
dari catatan sejarah.
Di dalam berkas-berkas ini, sudah barang tentu jelas sekali tercatat mengenai tokoh Chu Liu
Xiang. Segala sesuatu mengenai perjalanan hidup Chu Liu Xiang.
Siapa leluhurnya, letak rumahnya, tanggal dan tempat kelahirannya, masa kecilnya, masa
kanak-kanaknya, teman bermainnya, pertumbuhannya, pergulatan dan perjuangan hidupnya,
masa kebangkitan nya, jadi tenar namanya, dan segala macam kisah aneh pengalaman yang
pernah dilaluinya.
Selain itu, sudah barang tentu masih ada para kekasihnya yang hangat dan romantis.
Di kulit asli setiap berkas, diberi catatan ringkasan isi di dalamnya, di antaranya ada yang di
tandai dengan hal-hal yang sangat menarik.
"Meninjau Kecenderungan Ilmu Silat dan Jurus Silatnya dari Mainan Di Masa Kanak-kanak."
"Melihat Pilihan Ibu Susu Di Masa Kecil dan Pilihan Jenis Wanita Yang Paling Memikatnya."
"Hidung Chu Liu Xiang dengan Obat Bius."
"Chu liu Xiang dan Shi Kuan Yin."
"Chu Liu Xiang dengan Shui Mu."
"Chu Liu Xiang dengan Hu Tie Hua, serta sikapnya terhadap teman."
"Hobi dan Kebiasaan Chu Liu Xiang terhadap tidur dan makanan."
Isi berkas bukan saja dikelompokkan dengan jelas, bahkan sangat teliti, dan dari tumpukan
berkas ini, tidak sulit diketahui, betapa mendalamnya pemahaman orang yang meneliti Chu Liu
Xiang itu"
Pemahamannya terhadap Chu Liu Xiang, mungkin lebih banyak daripada Chu Liu Xiang sendiri.
Orang ini memakai kerudung segi tiga dengan jubah panjang berwarna putih, kelihatannya
mirip dengan pelaku tapa fakir dari Persia, tidak peduli dalam situasi apa pun, dia senantiasa tidak
memperkenankan orang lain melihat wajahnya.
Waktu ini dia sedang mencermati dengan teliti sebuah berkas yang paling tebal dan paling
besar, di atas berkas tersebut tertulis jelas: Kematian Chu Liu Xiang.
Judul ini sesungguhnya sangat mengejutkan para pendengarnya, bagaimana Chu Liu Xiang
yang kebasan lengannya bisa mencapai awan mendung, dan langkahnya yang dalam sekejap bisa
mencapai ribuan li, bahkan prajurit dan pesuruh setan dari raja neraka sekali pun sulit menyentuh
satu sudut potongan pakaiannya, sampai bisa mati"
Akan tetapi, di dunia Jiang Hu diam-diam beredar kabar angin itu, Chu Liu Xiang yang kosen
tidak terkalahkan, sekali ini sampai bisa dikalahkan.
Dia kalah, maka dia mati, orang yang tidak terkalahkan dan sampai kalah, umumnya hanya
mati. Akan tetapi, bagaimana bisa terjadi orang yang tidak terkalahkan bisa kalah"
Tumpukan berkas ini, mencatat nama-nama tokoh dan de?tail-detail mengenai cerita ini, sejak
dari awal sampai dengan akhir.
Kabarnya dia mati di tangan seorang perempuan.
Dalam hal ini, segera bisa dirasakan kabar angin ini menyebar bukan tanpa ada sebabnya. Di
dunia ini, jika saja masih ada seseorang yang bisa mengalahkan Chu Liu Xiang, orang ini pasti
seorang perempuan, malahan perempuan yang sangat cantik.
Orang sama hatinya, dan hati sama alasannya, di dalam masalah ini, tidak diragukan lagi, kita
semua sama anggapannya.
Kabarnya perempuan ini bermarga Lin. namanya Lin Huan Yu.
Sudah barang tentu Lin Huan Yu sangat cantik, akan tetapi siapa pun juga tidak ada yang tahu
seberapa cantik dia itu, karena siapa pun tidak ada yang pemah melihatnya.
Akan tetapi yang bisa membuat Chu Liu Xiang mabuk kepayang jatuh cinta kepadanya, tidak
usah diragukan, pasti adalah ratu kecantikan sejagat yang meruntuhkan negara dan merontokkan
kota, dalam hal ini, tanpa perlu menyaksikan sendiri, siapa pun bisa membayangkannya.
Bahkan dia merupakan keluarga saudara misan dari keluarga Mu Rong di Jiang Nan, seorang
ratu kecantikan sejagat raya, wajahnya cantik dan kepandaiannya menggemparkan dunia, saudara
misan segaris keturunan dari Mu Rong Qing Cheng.
Jika ingin mencarikan pasangan jodoh yang paling sesuai untuk Chu Liu Xiang Shi, mana ada
orang lain yang lebih cocok lagi selain dia"
Cerita ini, selain Mu Rong, Huan Yu, dan Chu Liu Xiang, kabarnya masih juga menyangkut
sejumlah orang lainnya, sudah barang tentu juga orang-orang yang pernah satu saat
menggemparkan dunia, di antaranya termasuk:
Liu Shang Di, yang nomor satu paling tampan di Jiang Nan, pemain pedang nomor wahid, yang
nomor satu dalam gaya penampilan, yang punya pedang selemas sutera, yang bisa mengalahkan
kekerasan dengan lemah lembut. Yang mampu dengan sebatang pedang menembus hati orang.
Liu Ru Shi, wanita penghibur paling terkenal di Jiang Nan, cantik jelita seperti buah persik dan
prem, memikat hati bagaikan tidak bertulang, matanya sangat besar dan indah, tidak cukup
sekedar dipandang sekali saja.
Pemurka dan Guang Dung (Tiongkok timur laut), seorang terkemuka di wilayahnya, seorang
yang paling perkasa pada jamannya, seorang pemurka dan pemarah dari Guang Dung, yang dapat
merobohkan jenasah tidak terhitung banyaknya.
Dengan memiliki serombongan tokoh atraktif yang sangat menonjol, maka cerita ini
sesungguhnya bisa sangat menggemparkan khalayak, tapi yang aneh, orang dunia Jiang Hu yang
betul-betul mengetahui dengan jelas cerita ini, justru jumlahnya tidak banyak.
Terutama bagian epilognya, yang mengetahui semakin sedikit lagi.
Mungkin sekali, karena yang mengetahui tidak banyak, maka cerita dari kabar angin yang
tersebar, semakin hari semakin banyak juga.
Bahkan ada orang mengatakan, sekali pun Lin Huan Yu itu cantik, tapi peruntungannya tidak
bagus, sejak kecil sudah mengidap penyakit mematikan, bahkan seperti ular beracun, bukan saja
melilitnya mati, malahan bisa melilit mati setiap orang yang jatuh cinta kepadanya.
Chu Liu Xiang mencintai dia, karena itu juga harus mati.
Akan tetapi, apakah masih ada seseorang yang bisa memberikan bukti bahwa Chu Liu Xiang
memang telah betul-betul mati" Apakah ada seseorang yang betul-betul telah menyaksikan
dengan mata kepala sendiri jenasahnya"
Orang yang mengenakan jubah panjang katun berwarna putih itu, berulang-ulang menelusun
dan meneliti berkas ini. Jika saja ada seseorang bisa melihat wajahnya, tentu akan tahu raut
mukanya menunjukkan dia sudah sangat kelelahan, jika ada orang bisa melihat matanya, pasti
akan tahu, kedua matanya sudah dipenuhi urat-urat merah.
Jika ada orang bisa menembus melihat keadaan hatinya, pasti juga tahu di dalam hatinya ada
satu simpul mati.
Simpul ini sangat sulit dibuka, karena sampai kapan pun dia tidak bakal tahu apakah Chu Liu
Xiang sudah mati atau belum.
Untuk menguraikan simpul ini, dia pun sudah tidak tahu lagi, entah berapa banyak tenaga
manusia dan material yang telah dikerahkannya, dan entah berapa banyak darah dan hati yang
dihamburkannya, Apakah ini disebabkan oleh dendam kesumat"
Sudah barang tentu benar demikian, selain dendam kesumat, apakah masih ada suatu tenaga
yang bisa mendorong seseorang mau membayar harga begitu mahal"
Siapakah orang ini" Mengapa pula memiliki kebencian sedemikian mendalam"
Sampai dengan ketika dia berjumpa dengan satu orang, matanya yang dipenuhi urat darah
merah, menunjukkan tanda adanya sedikit harapan.
Orang ini seperti roh halus, memasuki ruangan dengan mendadak meluncur keluar dari pintu
yang sempit itu.


Angrek Tengah Malam Seri Pendekar Harum Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Begitu bayangan orang ini berkelebat, matanya melihat sekilas, lampu yang menyala dalam
ruangan mendadak padam hanya terdengar suara orang yang seperti hantu iblis itu berkata
dengan suara yang rendah dan parau, namun dengan nada sangat gembira:
"Operasi Ngengat Malam sudah dimulai"
Bab 2 Operasi Ngengat Malam
Bahkan sampai dengan beberapa tahun kemudian, masih ada orang yang mendiskusikan
masalah yang kala itu menjadi pertempuran paling dahsyat ini.
"Menurut riset yang paling baik, operasi kali itu, dimulai tepat jam 00.00 (nol.nol) tengah
malam pada tanggal 15, bulan delapan."
"Menurut penyelidikan yang kau lakukan, apakah betul operasi kali itu dinamakan Operasi
Ngengat Malam?"
"Betul sekali."
"Aku tidak percaya," kata seorang yang lebih muda. "Arti operasi ialah penyerangan, ialah
menghendaki pemusnahan musuh bebuyutannya."
"Terbang Ngengat Malam menubruk api, sebetulnya untuk bunuh diri."
"Apakah kau mau membuat aku percaya, pendesainan rencana mereka ini, adalah untuk
menghancurkan dirinya sendiri?"
"Aku tidak mengatakan demikian." Yang lebih tua umurnya sepertinya sedang tersenyum
misterius. "Akan tetapi jika saja kau mau berpikir demikian, juga tidak salah."
"Aku tidak mengerti yang kau maksudkan."
Yang berumur lebih tua mendadak menghela nafas panjang. "Maksud tujuan operasi kali itu,
memang betul-betul sulit bisa dibayangkan orang lain."
Tanggal 15 bulan delapan tahun itu, di kota kecil itu, cahaya sinar bulan purnama sangat jernih
bersih, langit ribuan li tidak ada awan mendung sama sekali.
Tandu kursi Mu Rong sudah berjalan sampai melewati toko P & D Sheng Ji, jaraknya masih
belasan toko, sudah tinggal beberapa meter lagi, sampai di lokasi yang oleh Tie Da Lao Ban
dikatakan sebagai Target Panah.
Waktu itu hanya beberapa saat dari tengah malam jam 00.00 (nol.nol)
Pada saat itu, dari arah loteng kosong di kedua sisi, mendadak terdengar satu suara ledakan
"booommm", sinar lampu lampion yang tidak terbilang banyaknya mendadak padam.
Di dalam kegelapan mendadak, hanya terdengar suara mendesing yang pesat melintasi udara,
berkesiuran melintasi angkasa, mengerikan seperti suara gerombolan setan ganas yang sedang
menangis malam hari, yang memekikkan tangis berterbangan datang dari alam kubur.
Entah mau merenggut pergi sukma siapa lagi"
Beberapa berkas angin kencang, sepertinya terpusat pada bagian muka tujuh-delapan toko
yang berada di seberang toko P & D Sheng Ji.
Anak buah Mu Rong dari kelompok kedua dan ketiga sedang tepat berada di lokasi ini.
Setiap desiran angin bersuara tajam yang memecahkan angkasa, seluruhnya terbang menuju,
dan menerkam ke arah badan mereka itu.
Jika saja ini adalah suara setan iblis pencabut nyawa sesungguhnya, maka tetap saja mereka
yang menjadi sasaran.
Itu bukan setan iblis, melainkan panah jitu yang kencang, namun yang tetap sama dapat
mencabut nyawa orang.
"Mengapa serangan pertama yang dilancarkan Tie Da Lao Ban memakai cara semacam ini?"
Dengan panah dan busur menyerang pendekar Wu Lin, kedengarannya seperti sangat
gegabah, karena itu sampai beberapa tahun kemudian, seorang pemuda yang mabuk dalam
meneliti pertempuran kali itu, tetap menjadi semakin meragukan kebenarannya:
"Memang benar," jawaban yang tua sangat tegas. "Yang dipakai memang cara ini, yang
dipergunakan juga busur dan anak panah biasa, cuma saja di kedua tepi jalan, seluruhnya
ditanam seratus delapan pemanah tersembunyi, setiap or?ang dibekali 36 batang anak panah
berukiran, sedang para pemanahnya punya kemampuan dan sangat ahli dalam melepaskan panah
jitu 'berangkai', ketika orang lain baru melepaskan satu batang anak panah, mereka sudah
meluncurkan tiga batang anak panah!"
Dia menambahkan lagi: "Ketika seratus delapan orang menarik busur dan melepaskan anak
panahnya, mereka hanya mengeluarkan satu suara 'syyiiiuuut' sekaligus, dari segi ini, kiranya kau
sudah bisa membayangkan betapa erat dan kompak kerja sama mereka itu, serta kecekatan
respon mereka!"
Begitu perintah rahasia dikeluarkan, tali busur bergetar berbarengan, keseratus delapan
pemanah, tanpa sela waktu sedikit pun, selain kesepakatan sebelumnya, respon yang langsung
spontan juga tentu perlu sangat cepat.
Sang remaja terdiam, lewat cukup lama baru bertanya: "Tie Da Lao Ban dan Si Lu Xian Sheng,
mengapa tidak memakai pasukan khusus yang sudah dipersiapkan dalam persembunyian itu?"
"Apa yang kau maksud Si Si {Pembunuh Sutera Maut)?"
"Benar "
"Dalam hal ini kau semestinya bisa menyimpulkan sendiri. Sepasukan khusus yang
disembunyikan di lokasi yang orang lain sama sekali tidak bisa menduga-duga, jika bukan dalam
waktu yang sangat diperlukan, sekali-kali tidak akan dipergunakan, dan mengapa harus
membongkar kondisi persembunyian diri sendiri?"
Dia menatap sang remaja, wajahnya sangat bersungguh-sungguh. "Pasukan khusus
tersembunyi sejenis ini, kalau bukan tiba waktu penentuan hidup mati dalam batas selembar
rambut, bagaimana pun juga tidak boleh dipakai."
"Akan tetapi," sang remaja masih juga meragukannya. "Aku masih beranggapan pemakaian
tenaga utama dalam serangan pertama kali dengan para pemanah itu, juga sesungguhnya terlalu
lemah dan kecil kekuatannya."
"Tidak lemah," kata yang tua. "Mutlak sama sekali tidak lemah dan kecil."
Dia mengatakan sangat tegas ibarat pemotong batang paku dan pemenggal lempengan besi,
akan tetapi dia bukannya jenis orang yang paling suka dan mau menang sendiri saja, karena itu
segera saja dia menerangkan lebih lanjut.
"Mempergunakan tenaga serombongan pemanah ini, pal?ing sedikit mendapatkan tiga posisi
segi keunggulan."
Tiga posisi segi apa?"
"Pertama, kelompok Mu Rong dan rekan-rekannya pasti juga seperti kita, sama sekali tidak
bakal bisa membayangkan pihak lawan bisa memakai tenaga para pemanah jitu untuk melakukan
serangan pertama, bahkan sudah melakukan serangan awal ketika kedua belah pihak belum saling
berhadapan muka," kata yang tua.
"Sekali pun sekarang aku bisa melihat agak lebih jelas, akan tetapi, itu hanyalah pemandangan
kemudian setelah segala sesuatu terjadi, waktu itu, bagi mereka pasti di luar dugaan."
Di luar jangkauan perkiraan, menyerang kala lawan belum ada persiapan, adalah dalil utama
dunia militer sejak jaman dahulu kala, yang paling kuno dan tidak pernah berubah, dari jaman
dahulu sampai dengan jaman sekarang. Setiap ahli strategi, setiap orang jenderal, semua
mematuhi pelaksanaannya dengan sepenuhnya.
Sang remaja yang mabuk tergila-gila teori dan ajaran kemiliteran, sudah barang tentu juga
semakin tidak punya sesuatu pendapat untuk menentangnya.
"Kedua, begitu tali busur berbunyi, cahaya sinar lampu segera padam, menunjukkan bahwa
waktu anak panah diluncurkan, sudah mengarah kepada target sasaran, sudah pula membidik
tepat sasaran yang diarah. "Akan tetapi, tar?get sasaran yang dibidik, sedang berada dalam
semacam keadaan yang sama sekali tidak ada persiapan menghadapi serangan, pandangan
matanya mendadak menjadi gelap gulita, seperti orang yang baru keluar dari tempat cahaya sinar
lampu terang benderang mendadak memasuki tempat gelap gulita neraka jahanam, bukan saja
matanya tidak mampu menyesuaikan diri, bahkan suasana hatinyajuga tidak mampu berubah
menyesuaikan diri."
Sekali pun kedua hal itu saja sudah cukup, akan tetapi mereka masih menambahkan satu lagi
dengan yang ketiga, sebagai pelengkap.
"Keseratus delapan pemanah jitu, sebetulnya paling sedikit untuk menghadapi seratus orang,
sekarang keseluruhan daya penyerang digabungkan dengan berpusat di badan mereka, apalagi
ditambahi dalam suasana gelap, sangat sulit menghindari serangan senjata rahasia, bahkan kalau
pun kita punya kemampuan mendengar desir angin dan dapat menangkap senjata rahasia, ilmu
itu akan kehilangan daya gunanya sama sekali."
"Karena yang mau mereka tangkap atau terima, bukan cuma tiga atau lima anak panah saja!"
"Memang benar "
"Kalau dikatakan begitu, apakah ini berarti serangan Tie Da Lao Ban kali ini tidak sepenuhnya
berhasil?"
Yang tua tidak menjawab, hanya menebar sedikit senyum tawar.
Tie Da Lao Ban, bukan jenis orang yang sekedar bernyali besar tapi tidak memiliki siasat,
serangan pertama mereka, sesungguhnya juga mencakup tiga buah proses operasi yang berdiri
sendiri, perlengkapan busur dan anak panah sebetulnya hanya salah satu tahapan di dalam proses
saja " Mata sang remaja mendadak terang bercahaya.
"Tidak salah, proses ini, paling utama bukan untuk menolong orang, melainkan untuk
mengacaukan posisi strategis pertahanan lawan."
Yang tua tersenyum.
"Teruskan."
"Untuk menghindari sergapan anak panah jitu kala suara busur bergetar, maka pakar silat
setingkat Ding Zi Ling, tidak akan merasakan suatu kesulitan, bahkan begitu suara terdengar,
mereka juga sudah menjauh dari lokasi sergapan."
Sang remaja menunjukkan sikap semakin bersemangat.
"Akan tetapi, jika posisi strategis sudah dikacaukan, di tengah kegelapan, mau melompat
menghindar, berkelit, mengejar, menyergap dan menangkap sasaran, mau tidak mau, di dalam
kekacauan akan terjerembab masuk ke dalam perangkap lawan yang sudah dipersiapkan baikbaik.
Buru-buru dia memotong dan bertanya: "Keadaan ketika itu, bukankah memang demikian?"
Yang tua tertawa gembira semakin keras.
"Benar, ketika itu keadaannya memang demikian."
Dia berkata sambil tersenyum: "Yang membuat orang tidak habis pikir ialah, orang pertama
yang jatuh ke dalam perangkap, justru malahan Yan Chong Xiao."
Tampaknya, sang remaja ini sangat mengenal baik nama-nama para tokoh terkenal dalam
dunia Wu Lin (persilatan), maka segera saja dia berkata: "Apakah yang kau maksudkan ialah Yang
Zi Xiang Gong yang mengawini lima orang pelacur laki-laki sebagai gundik."
"Betul sekali," yang tua tertawa. "Sudah barang tentu hanya dia itu."
Yan Chong Xiao, 53 tahun, pewaris tiga macam Ilmu Silat Fei Yun, Di Zong dan Yan Zi Fei Yun,
yang semuanya diakui Jiang Hu sebagai ilmu silat kelas wahid paling canggih.
Ilmu meringankan tubuh kelas wahid, ilmu senjata rahasia kelas wahid, pesilat kelas wahid.
Sudah barang tentu juga orang paling hebat keempat dalam kelompok kedua dalam anggapan
Si Lu Xian Sheng.
Hanya terdengar tali busur berbunyi sekali, lampu segera padam, Yan Chong Xiao sudah
melesat terbang ke langit. Sudah barang tentu dia tahu itu bukan tangisan setan iblis, melainkan
suara anak panah yang melesat cepat, akan tetapi, dia sama sekali tidak bakal pernah memikirkan
ada begitu banyak anak panah maut yang siap menjemputnya.
Segera setelah tembakan rangkaian pertama anak panah jitu itu, Yan Chong Xiao berjumpalitan
di angkasa! Kala tenaga barunya belum terkumpul, dan tenaga lamanya menjelang habis, dari
kegelapan kembali mendesing suara anak panah maut menembus udara.
Tidak bisa dibayangkan, bagaimana caranya Yan Chong Xiao, bisa melesat menghindar ke
samping dengan menggunakan tenaga dari sisa tenaganya, melintasi bubungan atap rumah dan
melayang pergi.
Akan tetapi, sekali ini, ketika badannya jatuh turun ke bawah, dia sama sekali sudah tidak
punya tenaga yang bisa dikerahkan sekali lagi. Bahkan dia sempat merasakan, betapa isi perutnya
membludak teraduk-aduk, dan kepalanya juga mulai terasa sangat puyeng dan mabuk tanpa ada
hentinya. Belakangan ini, dia sering mengalami perasaan serupa ini, setiap kali habis berolah raga
mempergunakan tenaga dalam sejatinya, dia akan merasakan puyeng pusing karena lepasnya
potensi tenaga sejati.
Karenanya, dia sudah mulai memperingatkan dirinya sendiri, ada kalanya dia juga sudah
berfikir, bagaimana mendekati perempuan betul yang lemah lembut, halus dan cantik, terutama
perempuan yang dadanya terbilang agak datar dan rata.
Hal yang tidak terlalu wajar, selalu saja agak mudah menghamburkan potensi dan tenaga
badan orang. Ketika dia turun sampai di bawah, ternyata adalah gang kecil sempit yang basah dan gelap,
tikus-tikus yang lewat jauh lebih banyak daripada manusia, pada salah satu sudutnya tergeletak
sebuah rongsokan yang sudah pecah dari kloset kayu lak cat yang tertimbuni berbagai macam
sampah. Kloset ini juga merupakan tempat yang paling bersih dalam gang itu.
Sekali pun Yan Chong Xiao masih tetap dalam keadaan lemah, akan tetapi matanya juga sudah
mulai biasa dengan kegelapan, dan dia sangat ingin menemukan suatu tempat untuk bisa duduk
sebentar, dia melihat kloset itu, di tempat ini, tidak ada pilihan lain.
Sekali pun dia duduk, tetapi duduknya dalam keadaan siaga dan waspada terpelihara, siap
melepaskan 'Tiga Ilmu Maut Yan Zi Fei Yun' yang disimpan dalam lengan bajunya setiap saat
diperlukan, dan tempat duduknya di gang buntu itu, juga merupakan posisi lokasi mati, sehingga
siapa pun yang datang masuk gang, akan berada di dalam jangkauan lingkup kapasitas kekuatan
mematikan dari ketiga belas tembakan maut senjata rahasia yang dimuntahkan dari satu tabung.
Dia sangat yakin, dirinya sangat aman, bagaiman pun seramnya musuh yang datang
menyatroninya, dia masih akan tetap menggenggam kesempatan berinisiatif yang paling pertama.
Karena itu, ketika dia mulai duduk, mau tidak mau, dia menghela nafas dengan lega.
Yan Chong Xiao senantiasa merasa sangat puas dengan kemampuan khususnya ini.
Sungguh tidak dinyana, baru saja dia melepaskan helaan nafasnya ini, helaan nafasnya itu
mendadak berubah menjadi suatu erangan seram yang keras.
Badannya juga mendadak jadi seperti seekor kucing yang ekornya dibakar dengan api oleh
seseorang, dia melompat lurus ke atas dari kloset yang didudukinya.
Meskipun dia tidak punya ekor, tapi di tempat yang semestinya bisa tumbuh ekor, kini malah
betul ada ekornya.
Ketika dia melompat ke atas, di tengah 'tempat itu', jelas ada kelebihan sebatang belati "
mungkin hanya setengah belati, karena paling sedikit terlihat hanya setengah belati.
Yang setengah, sudah terbenam di dalam badannya.
Belati berada di tangan seseorang, orang ini justru bersembunyi di dalam kloset, tempat yang
tidak bisa dibayangkan orang lain.
Yan Chong Xiao melompat ke atas, dia pun ikut melompat ke atas, ujung belati berada dalam
tubuh Yan Chong Xiao, sedang gagang belati berada di tangannya.
Jika tubuh seseorang ditanami setengah batang belati yang tertancap di suatu tempat, betapa
dia merasakan kesakitan itu" Kesakitan serupa itu, barangkali bukan sesuatu yang bisa
dibayangkan oleh sembarang orang.
Waktu seseorang merasakan kesakitan yang luar biasa, segala tenaga apa pun tentu bisa
dikeluarkannya, apalagi Yan Chong Xiao sebetulnya memang memiliki ilmu meringankan tubuh
dari "sekali terbang mencapai puncak awan di langit", oleh karena itu, dalam terjangannya ini,
kecepatannya sama sekali tidak berkurang.
Orang yang menggenggam belati malah merasakan belatinya sudah cukup dalam ditusukkan,
maka badannya mulai turun ke bawah.
Seorang sedang terbang naik ke atas, dan seorang yang lain sedang melayang turun ke bawah,
gagang belatinya masih digenggam di tangan, mata belatinya yang masih tertanam segera terlihat
mengikuti turunnya pemegang belati itu.
Karena itu, maka darah segar muncrat seperti pancuran, semprotan air menyiram ke luar dari
lokasi mata belati masuk dan keluar tadi.
Yan Chong Xiao mati tanpa bisa memejamkan matanya.
Dia selamanya tidak akan pernah bisa mengira, bahwa masih ada orang yang bisa sembunyi di
dalam kloset yang tingginya tidak lebih dari tiga chi dengan garis tengah tidak sampai satu
setengah chi (1 chi = 33,33 cm)
Dan semakin tidak terpikirkan, sebuah tusukan belati yang mematikannya ini, justru tertancap
pada titik paling lemah sepanjang perjalanan hidupnya.
Lu Shen dan Lu Mi merupakan kakak beradik, ilmu silatnya adalah Gua Pi Tie Zhang (Telapak
Besi Gantung Lengan), Kai Shan Tie Fu (Kapak Besi Pembelah Gunung), dan berbagai ilmu tenaga
luar aliran kekerasan, akan tetapi jalan pikirannya justru cermat teliti seperti menarik benang
sutera dari kepompongnya.
Mereka adalah orang-orang dari kelompok kedua, akan tetapi di dunia Jiang Hu, mereka
sesungguhnya sudah berada pada kelompok pesilat kelas satu.
Kemampuannya mengetahui posisi dengan mendengarkan desiran angin dari senjata, bisa
memisahkan arah gerak anak panah kelompok pertama. Sesudah bisa menghindari hujan anak
panah ini, segera saja mereka dapat menggunakan kesempatan dari celah waktu, dan dapat
melesat terbang menyergap ke sini.
Di sini adalah tempat dapur berada, dengan mengikuti perkiraan posisi dan arahnya,
semestinya adalah dapur dari "Sheng Ji'
Dagangan 'Sheng Ji' dari dulu memang ramai sekali, tenaga kerjanya juga sangat banyak, dan
karena orangnya harus makan, maka dapur mereka juga dibuat sangat besar, tungku dan kualinya
juga serba besar.
Akan tetapi, sekarang, di dalam "Sheng Ji', dari atas sampai ke bawah, dari luar sampai ke
dalam, tidak ada satu orang pun juga, akan tetapi bara api di tungku besarnya masih menyala,
bahkan nyala bara apinya berkobar sangat besar, di dalam kedua mulut tungkunya, pada yang
sebelah bertengger sebuah kuali besi yang besar, dan pada tungku sebelahnya terlihat sebuah
kukusan besar pula.
Satu orang dewasa pun masih bisa bersembunyi di dalam kuali besar itu, dan satu orang
dewasa yang lain masih bisa bersembunyi di dalam kukusan besar itu.
Kedua Lu bersaudara saling pandang sekilas, sudut matanya mengembangkan senyuman,
senyuman dingin. Dalam sesaat itu saja, kedua bersaudara itu sudah melangkah sampai di depan
tungku besar tadi. Yang satu memakai tangan kiri mengangkat tutup kuali besar, yang lain dengan
tangan kanan mengangkat tutup kukusan itu.
Kedua bersaudara itu melatih telapak tangannya, yang satu memakai tangan kanan, sedang
yang satu lagi melatih tangan kirinya.
Ketika tangan kiri membuka tutup kuali, tenaga tangannya berada di tangan kanan, dan kala
tutup kuali terbuka, tangan kanannya menyergap dengan pukulan keras sekali pukul sasaran pasti
tewas. Tidak peduli siapa orang yang bersembunyi di dalamnya akan sama nasibnya. Ketika tangan
kirinya menerkam ke bawah, nasib orang dalam kukusan pasti juga sama.
Satu-satunya yang paling disesalkan ialah, pukulan yang diharapkan ternyata tidak dilakukan,


Angrek Tengah Malam Seri Pendekar Harum Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

karena tidak ada orang di dalam kuali, pun tidak ada di dalam kukusan.
Orangnya ada di mana"
Kedua bersaudara marga Lu mendadak meraung keras sekali seperti lolongan serigala, dari
dalam nyala bara api tungku besar itu, mendadak dua batang besi panas yang sudah memerah
menerobos keluar, mendadak juga sudah tertancap di perut keduanya.
Kedua batang besi ini tanpa sedikit suara dan tanpa sedikit gejala pun menusuk ke luar, sampai
menusuk ke dalam perut mereka berdua, baru terdengar satu suara "jreeess".
Sesudah suara itu terdengar, mendadak menjadi sunyi senyap kembali.
Setelah mendengar suara tadi, kedua Lu bersaudara menundukkan kepala melihat ke bawah,
matanya segera mengungkapkan mimik terkejut dan ketakutan luar biasa yang tidak bisa
diungkapkan. Mereka menemukan perutnya sedang mengepulkan asap, malahan juga mengeluarkan bau
sangit bulu terbakar.
Mereka tidak tahan dan mulai muntah-muntah.
Muntah, sesungguhnya bukan hal terlalu buruk, hanya or?ang hidup yang bisa muntah, akan
tetapi begitu mereka mulai muntah, mendadak sudah tidak bisa muntah lagi.
Apakah kau pernah melihat muntah-muntahnya orang mati" Apakah kau pernah melihat orang
mati yang muntah-muntah"
Tungku besar mendadak runtuh berantakan, ada dua or?ang berpakaian hitam berjumpalitan
keluar dari nyala bara api, seperti baru menerjang ke luar dari dalam bara api yang menyala,
bagaikan baru menerobos ke luar dari neraka jahanam, di atas pakaian hitamnya masih terbawa
bunga api-bunga api yang berkelap-kelip.
Kertas lampion dibuat dari semacam kertas transparan dari bahan kulit kayu pohon Sang
(semacam kayu yang mirip perdu) yang direkatkan, tinggi-tinggi tergantung di bawah atap rumah,
ringan terayun-ayun ditiup angin.
Jika dikatakan ada seseorang yang bisa bersembunyi di dalam lampion seperti ini, apakah ada
orang yang bisa mempercayainya"
Siapakah orangnya yang bisa dengan ringan tergantung di bawah atap, terus menerus
bergoyang berayun bersama dengan lampionnya"
Adakah seseorang yang bisa menyusut menjadi segumpal dan kemudian dijejalkan ke dalam
sebuah lampion seukuran guci arak"
Ini perkara yang sama sekali tidak mungkin.
Apa lagi lampion itu transparan, sekali pun ada jin siluman bisa mengecilkan dirinya sekehendak
hati dan dijejalkan ke dalam lampion yang tergantung tinggi-tinggi di bawah atap, dari sebelah
luar masih mudah terlihat.
Oleh karena itu, ketika kelompok kedua rombongan Mu Rong, yakni Lima Pendekar Hu Qiu
(Bukit Macan) yang paling tinggi berprestasi dalam pertempuran tiba di lokasi ini, kewaspadaannya
segera ikut menurun juga.
Karena mereka bukan ahli yang betul-betul ahli sejati, dan masih belum tahu, di dunia Jiang Hu
setiap saat bisa saja terjadi sesuatu yang sebelumnya diperkirakan tidak mungkin ada, karena di
dunia ini, memang betul masih banyak hal yang tidak dapat diperkirakan orang, baik masalah
maupun benda. Ada semacam kertas kulit kayu Sang yang dibuat dengan teknik khusus yang aneh dan rahasia,
di antaranya bahkan masih dicampuri dengan air raksa yang sangat mahal harganya, kertas jenis
ini yang sepenuhnya tidak bisa dilihat dari sisi luar ke arah sisi dalamnya, tapi dari sisi dalam bisa
melihat ke arah luar.
Ada semacam orang yang bisa menggantungkan badan dengan sebuah jari tangan, pada satu
ruangan yang sangat sempit, membuat daging dan tulangnya menyusut sampai batas maksimal
yang bisa dicapai oleh daya tahan seorang manusia.
Daya tahan terhadap rasa sakit dan rasa lapar orang semacam ini, nyaris juga sampai pada
batas ekstrim manusia.
Lima Pendekar Hu Qiu tidak bisa mengerti daya tahan or?ang-orang jenis ini, karena itu
mereka sudah dipastikan mati.
Saat sejenak ketika perasaan batin paling mengendor, dari dalam lampion ada orang yang
melompat keluar dengan menembus kertas, tangannya memegang sebilah belati, sinar belatinya
berkilauan, belatinya tajam mengilat, gerakannya seperti terjangan kilat listrik, dan hanya dalam
sekelebat waktu, belati sudah memenggal putus kepala mereka.
Sekali pun gerakan memotong kepala orang oleh mereka ini, tidak secepat anak kecil berbaju
merah itu, akan tetapi sudah cukup sangat cepatnya.
Ketika kepala yang mereka potong jatuh ke tanah, ada yang matanya masih berkedip-kedip,
ada juga yang matanya menunjukkan rasa giris yang sangat nyata, ada yang lidahnya baru
dijulurkan keluar, dan belum sempat menarik masuk kembali, ada juga yang otot badannya masih
sedang bergetar tiada henti-hentinya.
Getaran otot itu, justru masih membawakan semacam irama yang luar biasa indah,
kelihatannya mirip dengan getaran seorang perawan yang pertama kali dipeluk oleh seorang lakilaki.
Di dalam getaran semacam ini, perawan cepat sekali sudah menjadi bukan perawan lagi, dan
orang yang hidup juga cepat sekali menjadi orang mati.
Mengapa di dalam kehidupan ini, irama gerakan yang pal?ing indah, tidak pernah berlangsung
panjang dan lebih lama"
Setiap tempat yang jadi tempat manusia bermukim, tentu ada toko penjual peti matinya, persis
sama halnya di tempat itu juga, tentu ada rumah tempat tinggal manusia.
Ada orang yang hidup, tentu ada orang yang mati, orang yang hidup perlu rumah tinggal.
Orang mati justru harus masuk ke dalam peti mati.
Mau tahu ukuran besar kecilnya rumah suatu tempat, masih harus dilihat juga dari baik
tidaknya orang yang hidup di sini. Ukuran besar kecilnya ranjang sebuah rumah, belum tentu bisa
dilihat dari kemesraan tuan tumah dan nyonya rumahnya.
Karena skala kemesraan, tidak punya kaitan langsung dan mutlak dengan ukuran besar kecil
ranjang, ada kalanya, suami isteri yang sangat mesra, justru ranjangnya semakin kecil.
Namun besar kecilnya toko peti mati suatu tempat, justru harus dilihat dari banyaknya orang
mati di tempat ini.
Orang yang mati di kota kecil ini agaknya memang tidak cukup banyak, paling tidak pada harihari
sebelum malam ini, belum cukup banyak.
Karena itu, di dalam toko peti mati kota kecil ini, selain menjual peti mati, masih juga menjual
barang sampingan lain.
Menjual sedikit lilin, kotak timah, uang kertas dan harta gudang untuk bekal kubur lainnya,
sedikit menghiasi wajah jenasah, mempersiapkan pakaian kubur, menuliskan huruf-huruf untuk
Wan Ci (kata duka cita) dan Wan Lian (kuplet duka cita) sebagai pernyataan duka cita, yang lebih
sering kurang lancar dan cocok, untuk para tuan terhormat yang memang buta huruf. Sekali
waktu bahkan mengenakan jubah upacara sembahyangan Taois, memakai alat-alat dan
menyelenggarakan sebuah upacara kubur, dan juga melukiskan huruf rajah Fu (hoe, yang
dipercayai punya kekuatan gaib), yang di minta pelanggan.
Jika peruntungan lagi mujur, dan kebetulan ada pembeli yang berkaitan dengan kebutuhan
jenis ini, dari badan jenasah seseorang masih banyak barang yang bisa dijual dan memberikan
keuntungan, ada kalanya, bahkan bulu dan rambut serta gigi palsu pun masih bisa ditukar dengan
uang receh. Akan tetapi dagangan mereka yang paling besar, tetap adalah boneka bekal kubur dari bahan
kertas. Jika ada orang kaya mati, anak cucunya khawatir dia tidak bisa hidup nikmat di alam kubur
seperti di dunia nyata, tidak lagi memiliki dan menikmati rumah mewah dan perabot rumah tangga
mahal, tidak punya kereta, tidak mempunyai budak dan pelayan, karena itu maka dibuatkan aneka
macam kebutuhan itu dari kertas yang direkat lem, dengan bentuk rumah, alat dan perabot rumah
tangga, orang, kuda dan lain-lain, untuk dipersembahkan dan dibakar bagi almarhum, sehingga
dia tetap dapat menikmati segala kenikmatan itu seperti sedia kala.
Semua ini sebetulnya hanya sekedar suatu bukti bakti dan sedikit kenangan indah pelaku
terhadap leluhur pendahulunya, baik bapak ibu, paman bibi serta lainnya. Mereka tetap
mempersembahkan, dan tidak ada yang peduli lagi, apa para penerima bisa menikmati atau tidak.
Berbakti itu perlu bagi orang berbakti, seringkah yang tidak berbakti justru mampu mengerjakan
lebih baik. Dari situlah dagangan toko peti mati berasal.
Kesan orang atas toko peti mati selalu tidak menyenangkan, dan orang yang bekerja untuk
toko itu, sepanjang hari menghadapi satu per satu peti mati, bagaimana suasana hatinya bakal
bisa gembira"
Pemilik toko peti mati, begitu melihat ada tamu masuk, biar sudah tahu ada keuntungan
datang, tapi sedikit pun dia tidak boleh menunjukkan sikap gembira. Jika ada tamu datang, pada
umumnya tentu ada orang yang baru mati di rumahnya. Pantas atau tidak jika kau menunjukkan
semangat dan bergembira, dan menyambut tamu dengan mimik wajah penuh rasa bahagia"
Sudah sangat jelas bagi pembeli peti mati, kalau saja or?ang mati sudah dikuburkan, segera
dia akan mendapatkan warisan harta besar, dan sekali pun hati kecilnya luar biasa gembira, dia
baru akan dianggap benar, dengan tetap membuat kedua belah matanya sembab merah karena
menangis. Tertawa, adalah sesuatu yang sama sekali tidak boleh dilakukan di dalam toko peti mati. Akan
tetapi, sekarang malah ada satu tamu yang datang dengan wajah penuh senyum.
Orang ini namanya Cheng Dong.
Biar pun Cheng Dong baru empat puluh tujuh tahun, namun tiga puluh tahun yang lalu dia
sudah terkenal, cepatnya dia terkenal jarang ditemukan saingannya di dunia Jiang Hu.
Akan tetapi di Jiang Hu orang juga tahu, sejak pertempuran yang membuatnya terkenal pada
tiga puluh tahun lampau itu, hatinya dan setiap bagian badannya, sekujur badannya dari atas
sampai ke bawah, seluruhnya telah dingin membeku.
Pertempuran seseorang yang membuatnya terkenal, seringkah juga suatu pertempuran yang
menyedihkan hatinya, sekali tempur dia sukses dan berhasil, dan hatinya juga langsung terluka
serta mati. Di hari-hari penghidupannya kemudian, bahkan dia bisa berharap kalau saja yang mati
waktu itu bukan musuhnya, melainkan dirinya sendiri.
Oleh karena itu, Cheng Dong sejak lama sudah tidak bisa tertawa lagi, akan tetapi wajahnya
malah terus menampakkan tertawa sepanjang tahun, bahkan dia tertawa ketika tidur, karena di
wajahnya tertinggal suatu bekas luka yang tidak bakal terhapus sepanjang hidupnya.
Bacokan golok yang meninggalkan bekas tertawa, bekas tertawa juga seperti golok.
Karena itu, sekali pun sepanjang tahun dia tertawa, tapi sepanjang tahun juga dia terus
membunuh orang. Sebagian besar orang dunia Jiang Hu, asalkan melihat wajahnya, padahal
belum melihat goloknya, nyali dan nyawanya sudah buyar ketakutan, entah pergi ke mana.
Tempat di mana Cheng Dong berada, tentu ada Guo Wen, sejak dua puluh tahun lamanya,
keduanya tidak pernah berpisah, sampai di ujung bumi sekali pun, bahkan tidak pernah meleset
dan gagal. Sekarang mereka berdua memasuki toko peti mati ini. Guo Wen tangannya memegang sebuah
pemantik api, cahaya lampu berkelap kelip, menyala dan padam, menerangi lima buah peti mati
yang sudah selesai dipelitur dan diletakkan tegak di ruang pamer halaman belakang, dua buah
peti kayu putih yang belum selesai, tiga buah rumah kubur dari kertas, dan empat lima orangorangan
kertas untuk bekal kubur.
Dalam kegelapan tidak putus-putusnya terdengar suara teriakan kaget dan jeritan seram, entah
sudah ada berapa banyak rekannya masuk ke dalam jebakan dan perangkap pihak lawan.
Toko peti mati ini memang merupakan tempat membunuh yang baik, pihak lawan
menempatkan penyergap tersembunyi di mana"
Cheng Dong dan Guo Wen cepat sekali bertukar pandangan mata, sisa sinar sudut pandangan
matanya, sudah terpaku pada ketiga peti mati yang diletakkan berdiri tegak.
Dua peti mati kayu putih belum selesai, tutup petinya masih tersandar miring di atas peti,
dalam peti kosong tak ada apa pun juga, rumah-rumahan kertas untuk penggembala ternak, di
bawahnya masih disangga dengan potongan bambu, juga mustahil ada orang bisa melayang
masuk bersembunyi di dalamnya.
Jika di sini ada penyergap tersembunyi, tidak diragukan lagi pasti berada dalam ke tiga peti
mati yang berdiri tegak itu. Kedua pendekar kelas tinggi yang sudah melewati ratusan
pertempuran itu, kedua tangannya sudah bersikap siaga, untuk melakukan satu gempuran maut
pencabut nyawa.
Akan tetapi, waktu mereka mulai bergerak, sasaran serangan malah adalah rumah-rumahan,
kuda, keledai dan orang-orangan kertas.
Mereka sangat yakin berhasil dengan sekali serangan.
Penyergapan yang dipersiapkan dengan sangat cermat, mustahil dibuat di suatu tempat yang
mudah dibayangkan sembarang orang, dan para petugas sutera maut (Si Si), yang sudah
melewati seleksi teliti, sudah pasti punya kemampuan untuk bersembunyi pada sesuatu tempat
yang orang lain tidak mampu melakukannya.
Di luar dugaan, menyerang kala lawan belum siap, jika bukan penyergapan semacam ini,
bagaimana mungkin bisa menghadapi lawan dengan kemampuan tinggi itu"
Cheng Dong pakai golok, golok lentur dari baja murni Myanmar (bian too) sepanjang empat chi
dua cun, biasanya dililitkan dua kali dipinggang, waktu mau memakai, sekali tarik saja, tegak
menghadap arah angin, satu jurus 'Heng Sao Qian Jun" (membabat seribu tentara), sepuluh orang
akan dapat ditebas di pinggangnya.
Guo Wen juga pakai golok, golok berantai, panjang goloknya dua chi delapan cun, panjang
rantai dapat diatur sekehendak hati, kadang-kadang bisa dipergunakan sebagai golok terbang,
mata golok memecah udara, mengambil kepala orang di luar jarak seratus langkah. Sekalipun ada
rantainya, tenaga yang dipergunakan malahan tenaga luar yang keras.
Dua golok terbang bersamaan, keras dan lemas dipakai bersamaan, di dunia Jiang Hu, ini
hampir menjadi semacam ilmu silat khusus yang tidak ada tandingannya. Waktu mereka bersama
mempergunakan 'Heng Sao Qian Jun', hampir tidak ada orang yang bisa mengundurkan diri
dengan tanpa terluka.
Sekali ini juga tanpa kekecualian.
Sinar golok mengibas terbang, serpihan kertas bertebaran melayang ke mana-mana.
Akan tetapi cuma serpihan kertas, tidak ada darah dan daging manusia, sasaran serangan
mereka, hanya segala macam boneka kertas bekal kubur, tidak ada penyergap tersembunyi.
Penyergapnya ada dimana"
Begitu Cheng Dong dan Guo Wen membabatkan goloknya, segera hatinya anjlok turun ke
bawah. Hati boleh anjlok, juga boleh mati, namun orangnya tidak boleh. Hati mati karena kesedihan
dan badan kebal mati rasa, masih boleh siuman dan sadar, di antara hidup dan mati, tidak ada
pilihan lain, juga mustahil ada kesempatan kedua kali.
"Kata-kata mutiara" ini mereka paham semua, asalkan or?ang pernah menghadapi maut, tentu
paham. Dan memang cuma orang macam ini yang paham.
Detik menghadapi maut sesungguhnya, apa rasa hati or?ang" Hampa kosong" Atau masih
jernih bening" Atau terkejut, giris dan ngeri" Atau mutlak dingin tenang"
Aku boleh menjamin, mutlak bukan yang bisa dibayangkan oleh orang yang belum pernah
mengalami kejadian semacam ini.
Aku pikir, kiranya hanya orang yang pernah menghadapi maut sesungguhnya, yang berani
memberikan jaminan sejenis ini.
Biar pun hati Cheng Dong dan Guo Wen terus anjlok terbenam ke bawah, namun otot-otot
seluruh badannya justru semakin kencang mengejang.
Hanya di dalam waktu yang sangat singkat, mereka mampu mengerahkan seluruh potensi
tenaga hidupnya, dan dimampatkan ke dalam otot daging mereka, dimampatkan ke dalam setiap
potong daging badannya.
Hanya daya hidup otot, yang bisa melahirkan dorongan dan kelenturan badan, hanya 'gerak"
macam ini saja, yang bisa menimbulkan kegiatan menghindar dan menyerang.
Menghindari krisis, menyerang kepada krisis tersembunyi lainnya, dengan menyerang sebagai
pertahanan. Cheng Dong yang dingin seperti telah membeku, Guo Wen yang hangat lembut seperti batu Yu
(giok), dalam waktu sekejap saja, justru melakukan satu perbuatan yang biasanya mutlak tidak
biasa dilakukan mereka.
Mereka mendadak berteriak menghardik keras dengan liarnya.
Suatu teriakan keras, mengembangkan paru-paru di dada, perut mengerut, seluruh hawa sejati
di dalam paru-paru ditekan dan diperas keluar, tenaga yang baru memasuki otot badan, juga ikut
memancar bersamaan dalam waktu sekejap saja.
Tenaga ini membuat badan mereka sepertinya bisa mengalami perubahan dari suatu keadaan
yang pasti tidak mungkin berubah lagi, dari satu arah yang pasti tidak mungkin, memakai suatu
kecepatan yang pasti tidak mungkin, menjadi bisa balik melompat kembali.
Sinar golok berkelebat, masih tetap jurus 'Heng Sao Qian Jun'. Tiga buah peti mati kualitas
terbaik juga sekaligus hancur berkeping-keping bersama sinar golok itu.
Kali ini semestinya tidak bakal gagal lagi.
Mata mereka dipenuhi urat darah merah, persis seperti dua sosok mayat beku kaku yang haus
darah, haus mendambakan bisa melihat ada darah segar muncrat dari mata golok mereka.
Sayangnya sekali ini mereka juga kecewa kembali.
'Plook' terdengar satu suara, sepasang golok mereka bersamaan menancap ke dalam gelagar
melintang di atas plafon, sehingga keduanya tergantung di udara di bawah langit-langit, seperti
bandul jam yang terayun-ayun ke kanan dan ke kiri.
Sekali kesalahan, mungkin masih bisa diperbaiki, dua kali salah, kesempatan baik hilang
selamanya. Betulkah di sini tidak ada penyergap bersembunyi" Tidak mungkin.
Berada di mana si penyergap tersembunyi" Tidak tahu.
Cheng Dong dan Guo Wen kini cuma berharap supaya dengan mengandalkan berayun ritmis
seperti bandul jam ini, di dalam waktu paling pendek bisa memulihkan tenaganya sendiri.
Hanya sayangnya mereka sudah tidak punya kesempatan lagi.
Jagoan saling berebut mati hidup hanya perlu waktu sekelebat, asalkan berbuat satu kesalahan,
sudah cukup berakibat fatal mematikan.
Orang yang berturut-turut melakukan dua kesalahan, jika masih berdoa memohon kesempatan
ketiga, itu bukan saja menjadi harapan berlebihan, bahkan sudah menjadi suatu kebodohan.
Anehnya ialah, sebagian besar orang memang selalu begitu.
Sebab jika seseorang sudah putus asa, pikiran dan tindakannya bisa berubah menjadi lamban
dan dungu, karena semacam rasa ketakutan dari putus asa sudah menjadi seperti sebilah pisau
pemotong yang memenggal respon dan reaksi mereka.
Dalam waktu sekejap, kedua peti mati yang tergeletak di lantai, dan tadi kosong tanpa isi
apapun, mendadak terbang melayang ke atas, dari bawah alas peti mati mendadak terbang keluar
tiga sosok tubuh berwarna hitam.
Mata Cheng Dong dan Guo Wen menyaksikan ketiga bayangan yang terbang ke atas membawa
serta sinar cahaya yang seperti kilat menusuk leher dan jantung mereka, dan mereka sudah tidak
punya sisa tenaga lagi untuk mengelak dan menghindar.


Angrek Tengah Malam Seri Pendekar Harum Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mereka mendadak merasakan dirinya seperti ikan mati yang tergantung di atas kait besi, cuma
bisa menyerah meski diperlakukan bagaimana pun juga oleh orang lain.
Ini merupakan kali pertama mereka merasakan demikian, tapi juga kali terakhir.
"Cheng Dong dingin tapi hati-hati, Guo Wen cerdik cekatan, kedua orang ini bergandeng
tangan, senantiasa belum pernah ada tandingannya, aku percaya sepanjang kehidupan mereka
belum pernah punya perasaan putus asa semacam itu," kata yang tua menghela nafas.
"Aku percaya mereka kemudian juga tidak bakal punya perasaan semacam itu. Orang mati
tidak punya indra perasa," kata sang remaja.
"Karena itu, ketika seseorang masih hidup, dia harus mempergunakan pikiran dan perasaannya
dengan sebaik-baiknya, selamanya jangan menjadikan diri sendiri sebagai ikan mati yang
digantung dan tak berdaya menghadapi siapa pun yang memotong dan menyembelihnya."
"Ya benar begitulah," sang remaja berkata dengan sikap serius. "Untuk masalah ini aku pasti
akan menyikapinya dengan lebih istimewa."
Sikapnya bukan hanya bersungguh-sungguh, tapi juga sangat menghormat, sebab dia tahu,
yang tua itu bukan sekedar berbual-bual pengalaman hidup sebagai orang tua tanpa manfaat,
melainkan lebih bertujuan meneruskan pelajaran pahit dan menyakitkan yang sangat serius.
Yang tua bertanya lagi padanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan sekarang?"
"Aku sedang berpikir, ketika lampu menyala kembali, maka rombongan yang dibawa Mu Rong
Gong Zi masih tertinggal berapa orang lagi?"
"Sudah barang tentu sisanya tidak banyak lagi."
"Kepergian Liu Ming Qiu ini, sama sekali sudah tidak pernah ada kabar berita tentang dirinya
lagi. Dan di samping Mu Rong tidak pernah bertanya apakah dia sudah berhasil, juga tidak
menyelidiki hidup mati dirinya, yang begitu gegabah membawa serombongan orang memenuhi
janji, bahkan dengan gagah dan mentereng memasuki sebuah kota mati yang sama sekali belum
pernah diketahui."
Sang remaja, dengan suara yang terasakan sangat marah, berkata: "Aku beranggapan
perbuatannya ini bukan saja bodoh, bahkan jahat sekali. Siapa pun tidak berhak menghendaki
orang lain menemaninya mati."
"Sudah barang tentu kau bisa menganggap perbuatan ini amat jahat, ketika aku seusiamu, juga
bisa berpikir demikian."
"Sekarang?", tanya sang remaja. "Sekarang kau berpikir bagaimana?"
Yang tua merenung, kemudian bertanya kembali: "Apakah kau masih ingat, aksi yang mereka
lakukan sekali ini diberi nama apa?"
Sudah barang tentu sang remaja masih ingat, suatu omong kosong yang konyol dengan
memberi sandi aksi dengan 'Ngengat Malam Terbang'.
Akan tetapi perkara yang tidak masuk akal, justru sering kali membuat orang sukar untuk
melupakan. "Aksi Ngengat Malam Terbang."
Wajah sang remaja segera berubah.
"Apakah maksud tujuan aksi mereka sekali ini, seperti ngengat malam terbang menyergap api,
memang untuk mengantarkan kematian saja?"
Yang tua tersenyum.
Senyuman seringkah" hanya kelakuan yang menunjukkan seseorang sedang bergembira,
seringkah juga bisa dianggap sebagai jawaban.
Untuk sesuatu yang dirinya tidak mau memberikan jawaban, atau sebagai jawaban atas suatu
pertanyaan yang tidak bisa diberikan jawaban.
Sang remaja juga sedang merenung keras, seolah-olah juga tidak terlalu berharap atas
jawaban dari yang tua.
Atas pertanyaan yang orang lain tidak mau memberikan jawaban, biasanya hanya memerlukan
suatu pengusutan dalam pemikirannya sendiri. Bertanya dengan pertanyaan sejenis ini kepada
orang lain, biasanya hanya merupakan salah satu mata rantai pemikirannya sendiri saja.
"Aku sudah mengerti," mendadak sang remaja berkata. "Maksud aksi mereka sekali ini memang
bertujuan mengantarkan kematian saja."
"Ooohhh?"
"Apakah kau beranggapan bahwa di dunia ini memang betul ada sedemikian banyak orang
yang ingin mati?"
"Aku tidak beranggapan demikian."
"Mengapa orang yang tidak ingin mati malah mengantarkan kematian?"
"Sudah barang tentu mereka juga punya tujuan lain."
"Tujuan apa?"
"Mereka..." mendadak sang remaja mengalihkan arah pembicaraan. "Maksudku bukan
mengatakan mereka itu. melainkan dia."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Mereka adalah orang-orang yang mengantarkan kematian itu, dia adalah yang menghendaki
orang-orang itu pergi mengantarkan kematian."
Sang remaja berusaha sekuat kemampuan menerangkan pemikirannya.
"Dia menghendaki mereka pergi mengantarkan kematian, hanya karena dia mempunyai tujuan
lain, sementara orang-orang yang tanpa kejelasan mengalami kematian, mungkin saja selamanya
tidak akan pernah tahu duduk soal sesungguhnya."
Yang tua menatapnya tajam sekali, sesudah berselang lama baru bertanya: "Menurutmu apa
yang sesungguhnya telah terjadi?"
"Aku beranggapan segala peristiwa ini, sejak awal sehingga akhirnya, hanya merupakan sebuah
perangkap menyesatkan saja."
"Perangkap menyesatkan?"
"Mu Rong membawa mereka pergi mengantarkan kematian, hanyalah suatu langkah
menempatkan diri sendiri dalam kematian, untuk kemudian hidup kembali setelah mati, dan agar
orang lain semua menganggapnya sudah mati."
Pemikiran serupa ini memang sangat aneh, ya tidak masuk aturan pergaulan, ya tidak masuk
akal pemikiran wajar.
Tapi, ketika sang guru menyaksikannya, dari matanya terpancar rasa sangat puas atas diri
remaja tersebut.
"Mengapa Mu Rong menghendaki orang lain menganggap dirinya sudah pasti mati"," sang
remaja bertanya kepada dirinya sendiri.
Pertanyaan serupa ini umumnya hanya bisa dijawab oleh dirinya sendiri
"Aku pernah mempertimbangkan banyak alasan," sang remaja menjawab dirinya sendiri.
"Setelah aku berpikir dan memikirkannya kembali, akhirnya tinggal hanya tiga kata saja."
"Tiga kata"," tanya yang tua. "Tiga kata apa?"
"Chu Liu Xiang."
BAGIAN KETIGA ORANG MATI Chu Liu Xiang sudah mati, seluruh dunia Jiang Hu sudah tahu dia sudah jadi orang mati. Pada
sebuah kota kecil di perbatasan yang terbengkalai, setelah melalui proses berliku-liku dan
misterius, sedang terjadi suatu pertempuran mati hidup, dan apa hubungannya dengan Chu Liu
Xiang yang telah lama mati" Kalaupun Chu Liu Xiang adalah salah satu orang yang paling ternama
di dunia Jiang Hu sepanjang beratus dan beribu tahun, akan tetapi seseorang yang sudah
meninggal belasan bulan, juga tetap orang yang telah mati.
Bab 1 Orang Yang Minta Nyawa
Dua orang sudah mati, seorang terkenal, seorang tidak dikenal, tapi di depan orang lain
kelihatannya sama saja.
Sama saja, cuma seseorang yang sudah mati, sesosok mayat.
Di dalam suatu aksi yang sangat rumit dan misterius, sesosok mayat bagaimana pun tidak bakal
bisa membuat masalah besar. Chu Liu Xiang sudah mati, juga cuma seseorang yang sudah mati,
dan tidak ada perbedaan dengan orang mati lainnya.
Penyebab dari aksi sekali ini, bagaimana bisa menjadi dirinya"
Lampu mendadak menyala kembali, cahayanya menerangi jalan yang panjang ini.
Hanya di dalam waktu yang sangat pendek itu, dijalan yang panjang ini sudah terjadi entah
berapa banyak pertarungan, pertempuran dan pembunuhan yang bakal tersiar luas di dunia Jiang
Hu. entah ada berapa banyak lagi tokoh yang pernah mengharu biru dunia Wu Lin, yang telah
mengucurkan darah sampai mati di sini.
Namun jalan yang panjang ini, masih tetap ada seperti sediakala.
Karena jalanan yang panjang ini tidak bernyawa, juga tidak berperasaan, karena itu jalanan
yang panjang ini tetap sepi, sunyi, dan senyap.
Tidak ada seorang pun yang terlihat lagi, orang hidup tidak terlihat, orang mati juga tidak
terlihat, bahkan mayat dan jejak bekas darah pun sudah tidak terlihat.
Jika saja kau waktu itu juga berada di jalan panjang itu, selain toko-toko yang sudah berubah
menjadi seolah-olah rumah hantu itu, dan sederetan panjang rangkaian lampu jalanan yang kini
juga sudah membawa bau setan, kau hanya akan melihat tiga orang saja.
Seorang yang wajahnya pucat pasi, profil wajahnya menonjol, sekujur badannya seolah-olah
membawa sikap dan gaya bangsawan dari jaman purba.
Itulah Mu Rong Dia tetap duduk di tempat itu dengan santai dan tenang, kegelapan yang sekejap, cahaya
terang yang sekejap, pembunuhan kejam yang sekejap, kematian yang sekejap, sepertinya sama
sekali tidak ada kaitannya dengan dirinya.
Bahkan kemusnahan pun seolah-olah sama sekali tidak ada kaitannya dengan dirinya.
Orang ini, bukan saja tidak peduli dengan hidup dan mati dirinya sendiri, bahkan tidak ambil
pusing dengan keharusan suatu kemusnahan dunia ini.
Satu-satunya hal yang diperhatikannya, sepertinya hanya suatu bayangan yang berada jauh
dalam khayalan yang tidak menentu.
Suatu bayangan yang mirip dengan bunga anggrek. Saat ini tepat sekitar tengah malam!
Orang yang lain mengenakan jubah panjang yang grombyong, memakai cadar kain putih
menutupi wajahnya, akan tetapi kelihatannya masih tetap memancarkan daya tarik yang sangat
memikat yang tidak bisa ditolak siapa pun, bahkan jikalau disembunyikan di tengah gunung dan
dikuburkan di dalam tanah, daya tarik yang memikat ini, bahkan sampai ribuan dan bahkan
laksaan li pun tetap membuat kau merindukannya dari seluruh isi organ badanmu.
Daya pikat ini bisa dirasakan setiap lelaki dewasa yang sudah matang, namun anehnya tidak
ada seorang pun yang mampu mengutarakannya.
Orang ketiga berdiri di hadapan mereka, yang secara sembarangan berdiri santai, tapi siapa
pun yang melihatnya, akan merasakan bahwa orang ini berbeda dengan orang kebanyakan.
Apanya yang berbeda" Siapa pun tidak mampu mengungkapkannya, karena dia pada dasarnya
juga tidak mempunyai sesuatu keistimewaan yang membedakannya dari khalayak.
Dia tidak menonjol, akan tetapi dia punya daya kharisma yang sangat berwibawa, dia juga tidak
tampan, akan tetapi kelihatan sekali punya daya tarik sangat besar. Sekali pun otot-ototnya sudah
mulai mengendur, akan tetapi kelihatannya masih tetap sehat, sigap dan lincah seperti remaja.
Sebab, setiap kali dia muncul, selalu melalui perencanaan yang sangat cermat.
Posisinya ketika muncul, sudut lampu sorot yang menyinarinya, sikap dan letak berdirinya,
potongan rambut dan busana yang dikenakannya, pada setiap hal, selalu melalui penanganan para
profesional yang bekerja teliti.
Karena dia itu Tie Da Lao Ban. Bukan saja dia itu Lao Ban (majikan), tapi juga Lao Da (si sulung
tertua). Dari kejauhan Tie Da Lao Ban memandang Mu Rong, Mu Rong juga melihat dirinya. Mimik sikap
keduanya justru sepenuhnya sangat dingin dan tenang.
Bayangan sisi gelap lampu menjadikan profil wajah Tie Da Lao Ban jadi tajam menonjol seperti
Mu Rong. Akan tetapi, di antara mereka masih tetap ada tempat-tempat yang tidak sama.
Sekali pun Mu Rong duduk, tapi kelihatannya dia jauh lebih tinggi daripada Tie Da Lao Ban.
Memang ada orang yang sejak lahir selalu berada di posisi di atas!
Tidak perlu diragukan, Tie Da Lao Ban juga punya perasaan semacam ini, karena dia sudah
terpancing marah. Juga hanya perasaan semacam ini, yang bisa membikin seseorang yang sudah
pernah mengalami ratusan pertarungan dan merangkak dari posisi yang paling rendah ke posisi
tertinggi sebagai tokoh jawara besar, menjadi terpancing marah.
Namun, ketika dia mulai marah, wajahnya malah berbalik penuh dengan senyuman.
Apakah kau pernah mendengar berita, ada orang tertentu yang selalu akan tersenyum dulu
sebelum membunuh"
Semestinya, Mu Rong sudah mengetahui bahwa yang berdiri di seberangnya adalah orang yang
sangat tidak sederhana, juga seharusnya bisa melihat di balik matanya yang tersenyum, juga
terkandung ancaman bahaya di empat penjuru arah dengan pengintaian dan pembunuhan.
Orang-orang yang dibawanya, seolah-olah seluruhnya musnah dalam kegelapan sekejap yang
baru saja berlangsung.
Katakanlah seseorang yang selamanya belum pernah kenal rasa takut mati, pada waktu seperti
ini, mau tidak mau juga merasa jadi tegang, katakan dia tidak merasa takut, paling tidak juga
merasakan ketegangan itu.
Mu Rong sepertinya menjadi kekecualian.
Dengan sikap dingin Tie Da Lao Ban memandang dia. Kemudian menghela nafas panjang,
malahan betul-betul menghela nafas panjang.
"Kau tidak seharusnya datang," dia bahkan berkata kepada Mu Rong. "Sekalipun kau memang
pemberani, tapi, kau seharusnya tidak datang."
"Mengapa?"
"Karena generasi terdahulu keluarga Mu Rong, bukanlah engkau. Apalagi kau bukan orang dari
keluarga marga Mu Rong."
Sepeninggal Mu Rong Qing Cheng, keluarga marga Mu Rong tidak punya pewaris, maka
seorang putera kedua dari keluarga misannya dipungut untuk dijadikan pewaris, melanjutkan dupa
hio dan asap sembahyang marga Mu Rong ini, sudah barang tentu juga menjadi Zhang Men aliran
Qing Cheng. Masalah ini sudah bukan rahasia lagi di dunia Jiang Hu.
"Aku pernah menyelidiki dirimu." kata Tie Da Lao Ban. "Pemahamanku atas dirimu, kira-kira
jauh lebih banyak dari pada perkiraanmu sendiri."
"Ooohhh!"
"Kau bukan saja seorang pemberani, juga seorang tokoh berbakat, ketika dalam usia remaja
kau sudah banyak melakukan pekerjaan besar untuk keluarga Mu Rong, hasilnya juga lumayan
baik, karena itulah keluarga Mu Rong bisa memilihmu sebagai penerus dan Zhang Men (ketua
pintu aliran). Karena itu aku jadi semakin tidak mengerti."
"Masalah apa yang tidak kau mengerti?"
"Yang paling tidak kumengerti ialah, mengapa sekali ini kau datang mengantarkan kematian.
Sekali ini bukan saja kau kurang teliti dalam membuat perencanaan, aksi kegiatannya juga
semakin ceroboh, bahkan seolah-olah memang sengaja mengantarkan kematian."
Mu Rong mendadak tertawa, di waktu ini dan di saat ini, siapa pun tidak akan ada yang bisa
mengerti bagaimana dia masih bisa tertawa.
Kau tahu tidak, ada orang sudah tahu pasti mati, malahan tertawa sebelum mati.
Beberapa tahun kemudian, sang remaja yang punya rasa ingin tahu tinggi itu, sekali pun
membuat kesimpulan omong kosong fantastis gila-gilaan terhadap pertempuran kali itu, akan
tetapi para gurunya tidak mencegah dan menegurnya, tapi hanya menanyakan beberapa
pertanyaan yang sederhana.
.....Di sini, sebagai penulis pemegang catatan pertempuran tahun itu, perlu memberikan
keterangan sebagai berikut, sebab sekali pun pertempuran itu bukan saja berpengaruh besar
terhadap Jiang Hu, bahkan menyangkut kaitan yang sangat luas, ketelitian perencanaan, keunikan
dan keanehan dari strategi, semakin dijunjung orang dunia Jiang Hu sebagai salah satu dari tiga
pertempuran yang terkenal, sedang pembuat rencana ini, sudah sewajarnya disanjung sebagai
jenius jaman ini.
Oleh karena itu, sampai melewati banyak masa tahun-tahun kemudian, masih saja
dirundingkan dan diperdebatkan orang tanpa henti-hentinya.
Pada hari itu, yang tua mengajukan satu pertanyaan kepada sang remaja begini: "Apakah kau
bisa melakukan penelitian sehingga tahu penyebab utama dari pertempuran ini sebetulnya adalah
Chu Liu Xiang?"
"Betul."
"Bagaimana kau bisa menetapkan itu dia?"
"Karena siapa pun tidak tahu dan melihat, apakah Chu Liu Xiang betul-betul telah mati. Waktu
dia mati, tidak ada orang di tempat kejadian, setelah dia mati, juga tidak ada orang yang melihat
jenasahnya."
"Naga sakti sebelum mati, tidak terlihat ekornya, naga sakti mati, kepalanya pun ikut hilang.
Jenis gajah kesturi, sebelum mati tentu mencari tempat rahasia, agar setelah mati dirinya tidak
diganggu, apa lagi Xiang Shi."
"Betul, prinsip kebenaran ini aku juga mengerti. Ada sejumlah orang yang betul seperti Xiang
Shi, dalam hidupnya, kelihatan kepalanya, tapi tidak kelihatan ekornya. Waktu mati, seperti
bangau terbang melayang ke luar langit kesembilan."
"Lalu, kau masih punya pertanyaan apa lagi?"
"Pertanyaannya ialah, seseorang yang seperti ini, bagaimana bisa begitu mudah mati" Waktu
dia mati, apakah benar-benar lelah mati" Kematiannya, apakah hanya suatu cara tertentu dengan
suatu tujuan lain saja?"
Dia bahkan sempat mengingatkan yang tua.
"Sejak jaman dulu, entah ada berapa banyak pendekar, jendral dan tokoh ternama yang pernah
mengalami keadaan semacam ini, karena mereka terlalu terkenal namanya."
Seseorang, jika terlalu terkenal, tanpa bisa dihindarkan pasti mengalami banyak kemasgulan
yang tidak perlu, jika dia mau terlepas sepenuhnya dari kemasgulan semacam ini, cara yang paling
tuntas hanya satu, yakni 'mati'.
"Masalahnya ialah, apakah dia benar-benar mati" Atau mati bohongan?"
Yang tua menghela nafas. Prinsip ini dia tentu mengerti, mungkin dia jauh lebih mengerti
dibanding kebanyakan or?ang di dunia ini.
Setiap kerutan di kulit wajahnya, adalah jejak kehidupan, sekali pun ada beberapa yang
digoreskan oleh mata golok tajam, akan tetapi masih belum sedalam ukiran lekuk wajah dari asam
getir, darah, dan air mata pengalaman hidup yang pernah dilewatinya.
"Jika teorimu bisa ditegakkan, maka orang semacam Chu Liu Xiang, yang mendapatkan
kesempatan demikian, bisa melewatkan sisa hidupnya dengan santai, mencoba melakukan sesuatu
yang sejak dulu ingin dikerjakan namun masih belum juga sempat dikerjakannya selama ini, dia
akan hidup santai, dan tanpa kuatir serta masgul."
Yang tua menghela nafas, dalam helaan nafas itu penuh dengan rasa kagum.
"Jika seseorang bisa 'mati' dengan cara demikian, maka masih adakah masalah lain lagi yang
bisa membuatnya hidup kembali?"
"Ada," jawab sang remaja dengan nada pasti. "Cepat atau lambat selalu terjadi."


Angrek Tengah Malam Seri Pendekar Harum Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Karena setiap orang sepanjang hidupnya pasti pernah melakukan beberapa pekerjaan yang
sesungguhnya tidak diinginkannya. Terutama jika orangnya sejenis Chu Xiang Shi."
"Ooohhh?"
"Ada yang tidak patut dikerjakan, dan ada juga yang pantas dilakukan. Setiap orang dalam
sepanjang hidupnya akan selalu mengerjakan beberapa pekerjaan yang dia sendiri tidak suka
melakukannya, dengan cara demikian saja hidupnya baru berarti."
"Siapa yang mengatakan begini?"
"Kau yang mengatakannya. Sejak kau mengatakannya pertama kali kepadaku, aku belum
pernah melupakannya, apa lagi kau sudah mengatakannya kepadaku entah sudah berapa kali."
Ini pun bukan sekedar omong kosong tidak menentu. Ini pun juga pelajaran, yang didapatkan
dari pengalaman entah berapa kali menjalani penderitaan yang menyakitkan. Setiap kali
mengucapkannya, selalu memberikan perasaan yang tidak sama.
Perasaan yang mengatakan berbeda, perasaan pendengarnya juga tidak sama.
Yang tua tersenyum pahit, cuma senyum pahit. Akan tetapi dia masih juga bertanya, karena
bertanya ada kalanya juga menjadi pendidikan.
Karena dengan kalimat yang kau jadikan jawaban, selalu semakin sulit dilupakan, jika
dibandingkan dengan yang dipaksakan orang lain untuk diingat-ingat.
"Jika saja Chu Xiang Shi betul-betul belum mati, dan sedang menjalani semacam kehidupan
yang sudah lama didambakannya, coba kau katakan, di dunia ini apakah masih ada sesuatu yang
bisa memaksa dia balik kembali ke dunia Jiang Hu?"
Kita bahkan boleh berandai-andai mengkhayalkan, "dia' sedang berlayar menumpang perahu
layarnya yang cepat, ringan, nyaman, dan cantik mewah itu sedang menelusuri danau dan lautan,
dan sedang menyelami nikmatnya madu kasih Tian Er, belaian sayang Rong Rong, dan harum
wanginya Hong Xiu.
Sekarang, bahkan mungkin sekali dia sudah tiba di Persia, menjadi tamu kehormatan dari
kerajaannya, sedang bersandar miring di atas permadani yang empuk dan tebal seperti di atas
awan di angkasa, sedang mengecap anggur wangi dalam satu gelas kristal dari batu bulan
menyandari bahu Rong Rong, dengan lembut menyentuh tangan Tian Er dan Hong Xiu, sedang
menikmati irama dan getaran unik yang aneh pada otot perut para penari perut dan Persia.
Dalam keadaan ini, masih ada apa lagi yang bisa mendorong dia kembali ke dalam rangkaian
pembunuhan beringas dalam hujan darah dan di bawah angin anyir dendam kesumat dunia Jiang
Hu" "Ada," kata sang remaja. "Pasti masih ada."
Dia mengucapkan dengan semakin pasti: "Setiap insan pasti harus membayar harga untuk
sesuatu hal tertentu, jika dia tidak mengerjakan itu, maka dia bukan lagi orang jenis itu, dan dia
tidak layak lagi jadi orang itu."
"Kau maksudkan perkara apa saja?"
"Kesetiakawanan dan persahabatan kekal yang selamanya tidak pernah berubah di antara
kawan, janji setia yang tidak pernah berubah sejak sekali diucapkan mulutnya, semacam rasa
sesal dan berhutang budi yang lahir dari kedalaman hati sanubari."
Sikap sang remaja begitu bersungguh-sungguh sehingga mendekati rintihan.
"Masih ada semacam lagi, yakni cinta kasih dua insan yang sehidup semati tidak akan pernah
susut berubah."
Sang remaja ini lupa mengutarakan semacam perkara lain, yakni lupa mengucapkan 'cinta kasih
keluarga'. Darah lebih kental dari air, cinta kasih keluarga selamanya adalah satu perasaan manusia yang
paling tebal dan dalam dasarnya, juga merupakan satu perasaan yang paling disanjung dan paling
dihormati dalam ajaran moral dan etika.
Sang remaja, tidak mengungkapkan semacam perasaan yang paling mulia ini, hanya karena dia
sama sekali belum bisa memahami dengan baik betapa dalam dan agung perasaan manusia.
Karena sejak lahir dia adalah anak yatim piatu yang sudah dibuang dalam selokan kotor.
Yang tua mengerti jelas perasaan sang remaja, karena itu dia hanya berkata: "Aku pun punya
banyak teman yang sangat mengutamakan perasaan hati, ada teman yang mengutamakan
perasaan dalam persahabatan, ada teman yang mengutamakan perasaan berbakti kepada orang
tua, ada teman yang mengutamakan cinta kepada kekasih, ada teman yang mengutamakan
perasaan kesetiakawanan." Kata yang tua: "Tempat mereka mengutamakan perasaan, juga
merupakan titik lemah mereka."
"Betul," kata sang remaja. "Yang diberatkan perasaan hati, bahkan bisa membuat batuan
logam pecah, atau disebutkan dalam kalimat lain, asal saja orang lain memiliki satu bagian rasa
cinta, juga akan sama saja, bisa membelah hatinya menjadi dua belahan yang berlainan."
"Ungkapan yang bagus sekali," yang tua memuji dengan tulusnya. "Kau mengungkapkannya
dengan bagus sekali."
"Alasan Xiang Shi bisa menjadi Xiang Shi (guru harum), karena dia mempunyai rasa cinta
kasih," kata sang remaja.
"Dia punya cinta kasih, oleh karena dia bisa mencintai or?ang lain dengan hati yang tulus, dan
karena itu pula, orang lain bisa mencintai dirinya dengan tulus, di dalam batas waktu sempit
selebar rambut dalam pertempuran mati hidup sekali pun, acap kali dia juga harus mengandalkan
kepada rasa cinta kasihnya yang tulus terhadap kehidupan makhluk, sehingga mampu
meluluhlantakkan tekad dan semangat lawan, sehingga mengubah kekalahan menjadi
kemenangan."
Prinsip ini semakin sulit dimengerti, tapi yang tua juga sudah memahaminya.
Seseorang yang tidak memiliki perasaan cinta kasih, bagaimana mungkin bisa menjadi orang
yang memiliki rasa percaya diri, seseorang yang bukan seorang yang memiliki rasa percaya diri,
bagaimana bisa menjadi pemenang"
Nada suara sang remaja juga menunjukkan penuh rasa percaya diri.
"Kalau mau membuat Chu Liu Xiang hidup kembali, sudah barang tentu juga hanya bisa dengan
memakai satu kata 'cinta' untuk memotivasi dirinya."
Dia menatap yang tua dengan tajam.
"Pengutamaan cinta kasih seseorang, justru adalah letak titik lemahnya, akan tetapi jika ada
orang bertanya kepadaku di mana letak titik berat cinta kasih Xiang Shi" Saya tidak bakal bisa
menjawabnya. Karena cinta kasihnya ada di mana-mana."
Yang tua terdiam.
Dalam sekejap ini, mimik wajahnya mendadak menjadi sangat serius, bukan saja serius,
malahan juga mengandung rasa hormat yang tebal.
Dia mendadak menyadari anak muda yang berada di hadapannya sudah menjadi dewasa.
"Yang kau maksudkan, ialah ingin mengatakan bahwa, di dunia Jiang Hu ada sebagian orang
yang sangat takut menghadapi Chu Liu Xiang, terus tidak mau percaya bahwa Chu Liu Xiang
memang betul-betul sudah mati," yang tua merangkum pendapat sang remaja. "Untuk
membuktikan segi ini, mereka bahkan tidak sayang untuk menerjunkan sejumlah besar tenaga
orang dan material, membentuk sebuah organisasi rahasia, untuk melaksanakan suatu rencana
yang dibuat dengan sangat teliti."
"Betul," kata sang remaja. "Maksudku memang seperti ini."
"Untuk mengerjakan rencana ini, pertama, sudah barang tentu harus menemukan seseorang
yang Chu Liu Xiang tidak bisa tidak harus menolongnya, menempatkan dirinya dalam posisi yang
sangat berbahaya."
"Tidak salah."
"Akan tetapi kalau pun Chu Liu Xiang belum mati, juga sudah mengundurkan diri dari dunia
Jiang Hu, lalu bagaimana membuatnya mengetahui ada seorang sahabatnya yang pal?ing akrab
sedang berada dalam tempat bahaya?"
Yang tua menjawab sendiri pertanyaan ini.
"Untuk memastikan Chu Liu Xiang mengetahui masalah ini, sudah barang tentu harus membuat
masalah ini menjadi kegemparan besar di dunia Jiang Hu."
Pertempuran antara Jiang Nan Mu Rong dan Tie Da Lao Ban, kedua belah pihak sama-sama
membawa pendekar berani matinya mendatangi daerah perbatasan yang sangat jauh, membuat
orang satu kota meninggalkan rumahnya untuk menghindari bencana celaka, pertempuran ini
sebelum dilakukan menjadi pertempuran sudah menjadi kegemparan besar!
"Karena itu, kau menganggap aksi ngengat malam terbang ini sendiri, sepenuhnya memenuhi
syarat-syarat semacam ini."
"Ya," kata sang remaja tegas.
"Aku mutlak yakin seluruhnya sangat sesuai."
"Akan tetapi aku masih memiliki satu pertanyaan lagi."
"Ooohhh?"
"Kabar angin yang menyebar di dunia Jiang Hu, semua mengatakan kematian Chu Xiang Shi,
disebab Bentrok Para Pendekar 1 Harpa Iblis Jari Sakti Karya Chin Yung Pendekar Kelana 7
^