Pencarian

Kisah Si Bangau Putih 8

Kisah Si Bangau Putih Bu Kek Sian Su 14 Karya Kho Ping Hoo Bagian 8


lagi mempergunakan ilmu silatmu, hidup sebagai petani biasa. Apakah engkau tidak melihat perbedaannya"
Ciong Siu Kwi tersenyum dan merangkul suaminya, merasa kalah. "Tentu saja aku melihat perbedaannya yang amat jauh, jauhnya seperti langit dan bumi! Kini hidupku tenteram, tak pernah mempunyai musuh, bahkan tak pernah dimusuhi orang."
"Dan engkau bahagia"
"Ya, aku berbahagia sekali."
"Nah, mengapa engkau hendak menyeret anak kita ke dalam kehidupan yang penuh dengan pertentangan, perkelahian, permusuhan itu" Coba bayangkan saja. Andaikata engkau melatih Han-ji (anak Han) memainkan ilmu silat, andaikata dia sudah pandai ilmu silat, tentu terjadi perubahan dalam pergaulannya dengan teman-temannya. Dia akan ditakuti, disegani, juga tentu ada yang iri. Kemudian, kalau ada anak lain yang juga pernah belajar silat, tentu akan terjadi bentrokan antara dia dan anak itu, karena keduanya tentu ingin melihat siapa yang lebih unggul. Mereka akan berkelahi, mempergunakan ilmu silat mereka, saling pukul. Kalau tidak anak kita yang terluka, tentu anak yang lain itu dan timbullah permusuhan dan dendam antara keluarga kita dengan keluarga anak itu! Tidak, aku tidak suka melihat anak kita menjadi jagoan dan tukang pukul, aku ingin melihat anak kita menjadi seorang laki-laki sejati, yang gagah berani menentang kelaliman, bukan mengandalkan kerasnya tulang dan kulit, melainkan mengandalkan kebenaran yang tidak dipaksakan oleh kekerasan."
Ciong Siu Kwi yang amat mencinta suaminya, mengalah dan demikianlah, sampai berusia tujuh tahun, Yo Han tidak pernah diajar ilmu silat. Namun, anak itu mewarisi watak ayahnya. Dia pemberani, jujur, dan terbuka, akan tetapi juga mewarisi kecerdikan ibunya.
Ketika sampai sore suami isteri itu tidak melihat putera mereka, keduanya menjadi khawatir sekali. Ciong Siu Kwi mencari-cari dan bertanya-tanya, akhirnya ada seorang petani yang melihat ketika dia berada di luar dusun betapa Yo Han dipondong dan dilarikan seorang laki-laki yang berpakaian serba hijau memakai caping lebar sehingga tidak nampak wajahnya, dan tubuhnya kurus.
Mendengar ini, Ciong Siu Kwi gelisah bukan main. Juga Yo Jin. Keduanya dapat menduga bahwa putera mereka diculik orang" Yo Jin menarik napas panjang. "Aih, tak kusangka bahwa setelah bertahun-tahun hidup tenteram, kembali terjadi kekerasan seperti ini. Aku yakin bahwa ini juga merupakan akibat dari keadaan hidupmu yang dahulu. Balas dendam! Ah, balas-membalas tiada habisnya, Yo Han yang tidak berdosa ikut pula terseret ke dalam permusuhan dunia persilatan."
"Sudahlah, apa pun yang terjadi, kita tidak boleh tinggal diam saja. Aku harus mencari anakku dan merampasnya kembali. Kalau perlu, aku akan mempergunakan kepandaian yang dulu. Anakku harus diselamatkan, dengan taruhan nyawaku!"
Yo Jin tak dapat membantah, hanya menarik napas panjang ketika melihat isterinya berangkat setelah membawa perbekalan. Bukan hanya lenyapnya Yo Han diculik orang itu saja yang membuat dia prihatin, akan tetapi terutama sekali terseretnya kembali isterinya ke dalam arus kehidupan dunia persilatan itulah! Dia dapat membayangkakn betapa isterinya akan bertemu dengan lawan-lawan dan akan selalu diancam bahaya dalam usahanya merampas kembali putera mereka. Dia sendiri tidak mungkin dapat melakukan pengejaran dan setelah isterinya pergi meninggalkan dusun itu, dia termenung. Diakah yang benar, atau isterinyakah ketika mereka berdebat apakah putera mereka perlu diajari ilmu silat ataukah tidak" Dunia begini penuh orang jahat! Cukupkah mengandalkan para petugas keamanan saja untuk menjaga keamanan keluarga atau diri sendiri" Tanpa ilmu silat, dia sekarang merasa sama sekali tidak berdaya kalau menghadapi perbuatan jahat orang lain yang menimpa dirinya atau keluarganya. Akan tetapi, andaikata dia pandai ilmu silat, bukankah kemungkinan puteranya diculik orang lebih besar lagi karena musuh-musuh mereka akan lebih banyak lagi" Buktinya, demikian banyaknya anak-anak dusun itu, tidak ada penjahat yang mengganggu mereka, kecuali anaknya atau lebih tepat lagi anak isterinya! Ini hanya disebabkan karena isterinya pernah menjadi seorang tokoh dunia persilatan! Andaikata isterinya seorang wanita dusun biasa, seorang wanita petani yang lemah, sama sekali tidak ada kemungkinan dan alasan bagi orang jahat mana pun juga untuk menculik Yo Han!
Demikianlah, Ciong Siu Kwi meninggalkan suaminya yang duduk termenung, dan begitu ia keluar dari dalam dusun, ia sudah menjadi Bi-kwi yang dahulu, dalam arti kata sebagai seorang wanita perkasa yang siap menghadapi bahaya danlawan. Ia mengerahkan tenaganya untuk berlari cepat, tangkas bagaikan seekor harimau betina kehilangan anaknya, siap untuk mencakar dan merobek-robek dada orang yang berani mengganggu anaknya! Bukan lagi sebagai Ciong Siu Kwi yang rajin bekerja di ladang setiap hari.
Karena ia pernah menjadi seorang tokoh besar dunia persilatan, bahkan seorang datuk sesat yang ditakuti, banyak pengalaman, maka tidak sukar baginya untuk mengikuti jejak penculik puteranya. Ia pandai mencium jejak, pandai mencari keterangan di sepanjang perjalanan sehingga akhirnya ia dapat juga tiba di dalam hutan di mana Sin-kiam Mo-li tinggal untuk sementara waktu dalam tugasnya menghimpun kekuatan.
Dan kebetulan sekali ia melihat seorang gadis yang cantik dan lihai bertanding dikeroyok oleh Sin-kiam Mo-li dan para pembantunya, kemudian melihat betapa Sin-kiam Mo-li mengancam hendak membunuh Yo Han! Melihat Yo Han berada di tangan Sin-kiam Mo-li, mengertilah Ciong Siu Kwi. Benar sekali dugaan suaminya. Kiranya yang menculik puteranya bukanlah orang asing, akan tetapi musuh lamanya, yaitu Sin-kiam Mo-li. Dan melihat betapa gadis cantik itu tadi dikeroyok dan bahkan Sin-kiam Mo-li mempergunakan siasat curang untuk memaksa gadis itu menyerah dengan mengancam Yo Han, tahulah Ciong Siu Kwi bahwa gadis itu adalah orang yang berusaha menolong puteranya. Sehagai seorang bekas tokoh sesat yang banyak pengalaman, sekali melepas pandang saja Ciong Siu Kwi sudah dapat menilai keadaan. Ia tahu bahwa gadis itu tentu lihai bukan main, kalau tidak demikian, tidak mungkin seorang seperti Sin-kiam Mo-li mempergunakan cara curang, yaitu dengan mengancam akan membunuh Yo Han kalau gadis itu tidak mau menyerah. Dengan adanya gadis selihai itu, ditambah ia sendiri, kiranya mereka berdua tidak perlu takut menghadapi Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Akan tetapi, ketika ia teringat kepada puteranya, hatinya seperti ditusuk. Tidak, tidak mungkin ia mempergunakan kekerasan karena setelah ia hadir, Sin-kiam Mo-li bukan lagi menggunakan gertak kosong belaka kalau mengancam Yo Han, seperti yang tadi dilakukannya terhadap gadis itu. Dan demi keselamatan puteranya, tidak ada jalan baginya kecuali untuk sementara mengalah. Untuk sementara!
Ketika mendengar ucapan Sin-kiam Mo-li bahwa wanita itu sedang bergerak bersama para pendekar dan patriot untuk membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu, tentu saja di dalam hatinya Ciong Siu Kwi tidak percaya seujung rambut pun. Ia dapat menduga "gerakan" macam apa yang dilakukan orang-orang seperti Sin-kiam Mo-li. Dahulu pun, wanita ini bersekutu dengan orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Memang kedua perkumpulan itu sejak dahulu menentang pemerintah Mancu, namun sama sekali bukan demi perjuangan membela rakyat, melainkan untuk kepentingan perkumpulan mereka sendiri. Akan tetapi, semua ini ia sembunyikan di lubuk hatinya saja dan wajahnya kini berubah, senyumnya menjadi ramah.
"Aih, benarkah itu, Mo-li" Kalau begitu, sungguh aku pun ikut merasa girang dan bangga sekali kepadamu! Dan tentu saja aku mendukung perjuanganmu yang mulia itu. Akan tetapi, mengapa engkau menyuruh orang membawa puteraku ke sini"
Sin-kiam Mo-li kembali tersenyum. "Hi-hi-hik, Bi-kwi, apakah kecerdikanmu juga sudah hilang setelah engkau menjadi seorang wanita petani" Tentu saja bukan percuma aku membawa puteramu yang tampan dan gagah ini ke sini. Bukan lain karena kami menginginkan tenagamu, menghendaki bantuanmu dalam gerakan kami."
"Ah, Mo-li, untuk urusan begitu saja mengapa harus membawa anakku ke sini" Kita pernah menjadi rekan segolongan, kenapa bersikap sungkan dan ragu" Kalau engkau datang kepadaku dan berterus terang, tidak perlu lagi engkau mempergunakan cara yang membikin kaget dan khawatir itu. Tentu saja untuk gerakan perjuangan menentang kaum penjajah Mancu, aku selalu siap siaga setiap saat. Nah, biarkan anakku ke sini, aku sudah rindu padanya. Aku akan membantu perjuanganmu itu," kata Ciong Siu Kwi sambil mengembangkan kedua lengannya untuk menyambut puteranya. Akan tetapi Yo Han tak dapat bergerak karena pundaknya masih dipegang dan ditekan oleh tangan Sin-kiam Mo-li, dan ketika Ciong Siu Kwi melangkah mendekati puteranya, tekanan jari tangannya semakin kuat membuat Yo Han meringis karena nyeri.
"Berhenti, Bi-kwi!" Sin-kiam Mo-li membentak. "Kalau engkau maju lagi, sekali menggerakan jari tanganku ini, anakmu akan mampus!"
Tentu saja Ciong Siu Kwi menghentikan langkahnya dan ia memperlihatkan muka terheran-heran. "Aih, kenapa, Mo-li" Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku dengan senang hati akan membantu gerakan perjuanganmu" Bebaskan puteraku, dan anggap aku ini sudah menjadi rekanmu seperjuangan!" Ia berkata sambil tersenyum ramah.
Akan tetapi Sin-kiam Mo-li tetap memandang dengan alis berkerut dan senyumnya mengejek. "Hemmm, Bi-kwi, kaukira aku begitu bodoh untuk mempercayaimu begitu saja" Aku belum lupa ketika beberapa tahun yang lalu engkau menipuku dengan sikapmu seperti ini, pura-pura bersahabat! Aku takkan pernah melupakan kecerobohanku itu, dan sekarang jangan harap engkau akan dapat menipuku lagi!"
Diam-diam Ciong Siu Kwi merasa khawatir sekali. Ia tahu akan kecerdikan dan kelihaian Sin-kiam Mo-li. Memang, kurang lebih delapan tahun yang lalu, ketika ia membebaskan Kao Hong Li yang baru berusia tiga belas tahun dari tangan Sin-kiam Mo-li yang menculik anak itu, ia pun mempergunakan siasat bersahabat sehingga akhirnya, bersama dengan pendekar Gu Hong Beng, ia berhasil menyelamatkan Kao Hong Li dari tangan iblis betina ini (baca kisah SULING NAGA). Tentu saja kini Sin-kiam Mo-li tidak percaya lagi padanya! Ia pun tidak perlu berpura-pura lagi sekarang, melainkan harus menghadapi kenyataan ini dengan tabah.
"Baiklah, Sin-kiam Mo-li. Sekarang katakan, apa yang harus kulakukan demi menebus keselamatan dan kebebasan puteraku" Engkau tahu, kalau sampai engkau mengganggu anakku, melukainya apalagi membunuhnya, hemmm, engkau menciptakan seorang musuh yang akan terus mengejarmu sampai engkau mati. Aku akan berubah menjadi setan yang haus akan darahmu, hal ini tentu engkau tahu!"
Diam-diam Sin-kiam Mo-li, iblis betina yang berhati kejam itu bergidik juga mendengar ucapan yang mengandung ancaman yang amat mengerikan itu dan ia tahu bahwa wanita ini tidaklah menggertak saja. "Bi-kwi, engkau bukan orang bodoh, demikian pula aku. Kalau kita bekerja sama, aku yakin kita berdua akan mencapai hasil yang amat hebat. Engkau tentu maklum pula, bahkan aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Kalau itu yang kuinginkan, tentu sudah kubunuh anakmu ini. Tidak, aku ingin bekerja sama denganmu, akan tetapi demi keamanan dan agar aku tidak ragu lagi akan kesetiaanmu, terpaksa anakmu kujadikan sandera."
Sejak tadi, Suma Lian hanya mendengarkan saja. Kalau ia mau, tentu saja mudah baginya untuk melarikan diri walaupun puluhan orang anak buah Ang-i Mo-pang masih mengepung tempat itu dengan senjata di tangan. Juga para anggauta Ang-i Mo-pang berdiri seperti patung, memandang dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Tentu saja mereka semua mengenal baik Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi, karena wanita ini pernah menjadi pemimpin mereka setelah menaklukkan ketua mereka, beberapa tahun yang lalu ketika Bi-kwi masih berkecimpung di dunia kang-ouw (baca kisah SULING NAGA). Kini, melihat betapa dengan amat cerdiknya Sin-kiam Mo-li menekan Ciong Siu Kwi dengan ancaman terhadap putera wanita itu, Suma Lian tiba-tiba mengeluarkan suara tertawa yang cukup lantang sehingga mengejutkan semua orang. Suma Lian lalu berkata dengan lantang pula.
"Bibi yang baik, bukankah engkau bibi Ciong Siu Kwi, isteri dari paman Yo Jin" Aku adalah Suma Lian dan ayahku adalah Suma Ceng Liong, tentu bibi sudah mengenalnya. Ibuku Kam Bi Eng."
Diam-diam Ciong Siu Kwi terkejut dan juga girang mendengar nama gadis itu dan nama ayah bundanya. Tentu saja ia mengenal baik ayah bunda gadis ini, akan tetapi ia mengerutkan alisnya. Sungguh ceroboh bagi gadis itu memperkenalkan namanya begitu saja di depan Sin-kiam Mo-li! Akan tetapi, Suma Lian agaknya dapat menduga apa yang dikhawatirkan karena ia segera melanjutkan kata-katanya, "Bibi Ciong Siu Kwi, perlu apa mendengarkan ocehan iblis betina itu" Ia hanya akan menipu dan membohongimu dengan kelicikannya. Jangan percaya padanya. Aku pun pernah mendengar dari ayah akan namanya yang tersohor jahat. Orang macam ia mana mungkin menjadi patriot dan pendekar" Jangan takut, Bibi, ancamannya terhadap puteramu hanya gertak kosong belaka. Kalau ia berani mengganggu anakmu, aku akan membasmi ia dan semua anak buahnya ini!"
"Enci itu benar, Ibu!" Tiba-tiba Yo Han berseru kepada ibunya. "Lawan saja iblis ini. Aku tidak takut mati! Mati pun aku akan tersenyum karena aku yakin, dengan bantuan enci yang gagah itu, Ibu akan mampu membalaskan kematianku dan membasmi iblis ini dan semua anak buahnya...."
Tiba-tiba anak itu berhenti bicara karena tubuhnya menjadi lemas ketika Sin-kiam Mo-li menotoknya dengan hati gemas.
"Han-ji....!" teriak Ciong Siu Kwi dan Sin-kiam Mo-li tersenyum. Bagaimanapun juga, melihat puteranya ditotok pingsan, hati ibunya menjadi gelisah sekali dan tak dapat ditahan lagi ia pun menjerit. Sin-kiam Mo-li memandang dengan hati gembira, penuh kemenangan.
"Bi-kwi, jangan dikira aku tidak akan berani menggorok leher puteramu! Dan aku pun tidak takut akan balas dendammu. Tinggal kaupilih saja, bekerja sama dengan kami dan anakmu selamat atau kubunuh dulu puteramu, baru kami akan membunuhmu, juga suamimu!"
Ciong Siu Kwi menjadi ragu-ragu. Bagaimanapun juga, melihat puteranya, ia khawatir sekali, dan orang macam Sin-kiam Mo-li memang tidak boleh dipandang ringan begitu saja. Ancamannya akan dapat dibuktikan dan hati wanita itu kejam melebihi binatang buas.
"Mo-li.... apa.... apa yang harus kulakukan" tanyanya, suaranya lemah dan ia tidak berani memandang kepada Suma Lian.
"Pertama, engkau harus memperlihatkan kesungguhan hatimu bekerja sama denganku, Bi-kwi. Maka aku minta agar engkau membantu kami menghadapi gadis ini! Mari kita tangkap gadis ini!"
Seperti orang yang sudah tidak mempunyai kemauan sendiri lagi karena putus asa melihat puteranya yang berada dalam cengkeraman Sin-kiam Mo-li, Ciong Siu Kwi mengangguk. "Baik!" Ia lalu tiba-tiba saja bergerak dan menyerang ke arah Suma Lian yang masih berdiri tegak. Gadis ini sudah menyelipkan suling emasnya di ikat pinggang, akan tetapi selalu siap siaga menghadapi serangan lawan. Kini, melihat betapa Ciong Siu Kwi menyerangnya, ia terkejut dan bingung. Ia tahu benar mengapa wanita ini menyerangnya. Karena terpaksa, untuk menyelamatkan puteranya! Dan ia tidak dapat menyalahkan wanita ini. Akan tetapi, serangannya demikian hebat! Ketika tubuh wanita ini menerjang dan tangannya menyambar ke arah dadanya, tangan itu didahului angin pukulan yang dahsyat, dan mengeluarkan suara bercuitan mengerikan. Sungguh merupakan serangan maut yang amat berbahaya.
Suma Lian cepat mempergunakan langkah ajaibnya untuk mengelak dan serangan itu pun mengenai tempat kosong. Ciong Siu Kwi memang menyerangnya dengan sungguh-sungguh. Di dalam hatinya, tentu saja ia tidak membenci atau memusuhi gadis keturunan keluarga Pulau Es ini, akan tetapi ia pun tidak mungkin dapat melakukan serangan pura-pura terhadap Suma Lian di depan Sin-kiam Mo-li yang tentu akan mengetahui apakah serangannya itu benar-benar ataukah hanya main-main saja. Oleh karena itulah, begitu bergerak, Ciong Siu Kwi sudah mengerahkan tenaga dan mempergunakan Ilmu Hun-kin Tok-ciang (Tangan Beracun Memutuskan Otot), semacam ilmu pukulan yang amat dahsyat. Tentu saja di dalam hatinya Ciong Siu Kwi berharap agar gadis keturunan keluarga Pulau Es ini telah memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi darinya agar semua serangannya takkan berhasil. Maka, gembiralah hatinya ketika ia melihat betapa dengan gerakan langkah yang luar biasa anehnya, tahu-tahu gadis itu telah lenyap dan telah berada di samping kanannya sehingga serangannya yang pertama tadi pun hanya mengenai tempat kosong! Melihat kehebatan cara gadis ini mengelak dari serangannya, Ciong Siu Kwi lalu membalik ke kanan sambil menyerang lagi, kini lebih hebat karena kedua tangannya dibuka dan kini kedua tangan itu membacok dari kanan kiri dan mengeluarkan suara berdesing seolah-olah kedua tangan itu telah berubah menjadi pedang yang tajam! Inilah Ilmu Kiam-ciang (Tangan Pedang) yang ampuh, peninggalan dari Sam Kwi. Kedua tangan itu kalau mengenai tubuh lawan, dapat membuat bagian tubuh itu terluka seolah-olah terbacok pedang! Kembali dengan gerakan yang aneh, Suma Lian mengelak dan gadis ini pun kagum bukan main. Tidak heran kedua orang tuanya pernah menceritakan bahwa wanita ini dahulu menjadi seorang tokoh yang amat ditakuti di dunia kang-ouw. Baru saja ia mengelak, Ciong Siu Kwi sudah menyerangnya lagi, kini dengan tendangan bertubi-tubi yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dua macam serangannya yang pertama dan ke dua. Biarpun ia memiliki San-po Cin-keng yang merupakan langkah ajaib, namun menghadapi tendangan Pat-hong-twi (Tendangan Delapan Penjuru Angin) itu, terpaksa Suma Lian harus mempergunakan kedua-tangannya untuk kadang-kadang menangkis, akan tetapi ia berhasil pula menghalau serangkaian tendangan yang ampuh itu. Diam-diam Ciong Siu Kwi menjadi kagum bukan main dan semakin girang karena seperti yang diharapkan, gadis ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat dan agaknya masih berada di atas tingkat kepandaiannya sendiri! Dengan kenyataan ini maka bagaimanapun ia menyerang untuk memenuhi paksaan Sin-kiam Mo-li, ia tidak akan mungkin dapat mengalahkan Suma Lian! Ia menyerang terus, akan tetapi tidak mau mempergunakan ilmunya yang, paling dahsyat, yaitu Ilmu Hek-wan Sip-pat-ciang (Delapan Belas Jurus Ilmu Silat Lutung Hitam), biarpun serangan-serangannya juga cukup dahsyat dan bersungguh-sungguh.
"Hemmm, Bi-kwi, apakah engkau sudah lupa bahwa ada Ilmu Hek-wan Sip-pat-ciang yang kau miliki" Kenapa tidak mengeluarkan ilmu itu" Tiba-tiba Sin-kiam Mo-li berseru. Terkejutlah Bi-kwi. Iblis betina itu sungguh cerdik dan ia harus berhati-hati.
Tanpa, menjawab, ia segera mengubah ilmu silatnya dan kini ia memainkan delapan belas jurus ilmu silat yang hebat ini, bersikap hati-hati dan ia pun mengimbanginya dengan Ilmu Silat Lo-thian Sin-kun (Silat Sakti Pengacau Langit) yang sudah dipelajarinya dengan baik sekali dari kakek Gak Bun Beng. Dan ia pun mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang sehingga ketika beberapa kali ia menangkis dan lengannya bertemu dengan lengan Bi-kwi, maka wanita itu menggigil kedinginan!
Melihat serangan-serangan yang dilakukan Bi-kwi, diam-diam Sin-kiam Mo-li menjadi girang. Semua serangan itu bukan palsu dan ia tentu saja tidak merasa heran kalau Bi-kwi tidak mampu mengalahkan gadis keluarga Pulau Es itu. Maka ia pun menyerahkan Yo Han yang masih tertotok itu kepada dua orang anak buahnya, memberi perintah agar jangan ragu-ragu membunuh anak itu kalau sampai ada yang mau merampasnya dengan paksa. Kemudian ia mengeluarkan aba-aba kepada Tok-ciang Hui-moko Liok Cit yang segera mengerahkan kembali anak buah Ang-i Mo-pang untuk mengepung dan mengeroyok Suma Lian. Sin-kiam Mo-li sendiri sudah mencabut kebutan dan pedangnya, dan langsung ia terjun ke lapangan pertempuran, menyerang Suma Lian dengan sepasang senjatanya yang ampuh itu. Akan tetapi, Suma Lian sudah siap siaga dan kini suling emasnya itu telah berada di tangan kanannya. Nampak gulungan sinar emas ketika ia memutar sulingnya untuk melindungi dirinya dari sambaran kedua senjata lawan, kemudian ia membalas dengan hantaman suling ke arah kepala Mo-li, disusul totokan dengan jari tangan kiri ke arah lambung. Saking hebatnya serangan balasan ini, Sin-kiam Mo-li terpaksa melompat ke belakang dan pada saat itu, Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi sudah pula mengirim serangannya dengan tendangan berantainya yang berbahaya. Juga Liok Cit sudah masuk pula mempergunakan pedangnya, akan tetapi begitu pedangnya bertemu sinar suling emas, pedang itu terpental dan terpaksa Liok Cit juga melompat ke belakang.
Tentu saja kini Bi-kwi merasa khawatir sekali. Betapapun pandainya Suma Lian, kalau ia maju mengeroyoknya bersama Sin-kiam Mo-li dan pembantunya yang kelihatannya juga lihai itu, tidak mungkin gadis itu akan mampu bertahan.
Melihat keraguan Bi-kwi, Sin-kiam Mo-li membentak. "Bi-kwi, hayo cepat bantu kami merobohkan gadis ini. Ingat, anakmu masih berada di tangan kedua orang anak buahku dan sekali aku memberi isyarat, mereka akan menggorok lehernya!"
Bi-kwi masih belum menyerang lagi kepada Suma Lian dan mereka bertiga hanya mengepung gadis itu. "Mo-li, bukankah yang kauhendaki adalah agar aku mau bekerja sama denganmu" Nah, aku sudah siap dan mau, oleh karena itu, untuk apa mengeroyok Suma Lian ini" Suma Lian, engkau pergilah dan jangan mencampuri urusanku! Aku mau bekerja sama dengan Sin-kiam Mo-li untuk menentang pemerintah penjajah!" Tentu saja bukan tidak ada artinya Bi-kwi menyuruh Suma Lian pergi. Pertama, agar gadis itu selamat, ke dua agar gadis itu mencari bala bantuan untuk menyelamatkan ia dan puteranya.
Akan tetapi, Suma Lian mempunyai pikiran lain. Gadis yang cerdik ini melihat kesempatan bagus terbuka ketika Sin-kiam Mo-li menyerahkan anak itu kepada dua orang anggauta Ang-i Mopang.
"Apa, Bibi" Engkau suruh aku pergi" Aku hendak membasmi iblis ini. Cepat ambil puteramu!" Berkata demikian, dengan tiba-tiba sekali ia sudah memutar suling emasnya dan menyerang dengan amat dahsyatnya kepada Sin-kiam Mo-li! Gadis ini mempergunakan jurus ampuh dari gabungan Ilmu Pedang Naga Siluman dan Ilmu Pedang Suling Emas, yang baru-baru ini dilatihnya dengan tekun di bawah bimbingan ibunya. Sambil menyerang, ia mengerahkan tenaga Inti Bumi, yang merupakan sin-kang yang paling cocok untuk memainkan ilmu pedang dengan suling itu, juga ia mengeluarkan suara melengking yang mengandung kekuatan sihir untuk mengejutkan lawan!
Menghadapi serangan ini, Sin-kiam Mo-li terkejut bukan main. Kekuatan sihir dalam suara melengking itu membuat ia terkejut dan kehilangan akal sehingga ia tidak dapat berbuat atau mengeluarkan suara ketika pada saat itu Bi-kwi sudah meloncat ke arah puteranya. Sin-kiam Mo-li sibuk menghadapi serangan dahsyat dari Suma Lian itu dan biarpun ia menggunakan pedang dan kebutan untuk melindungi dirinya, tetap saja ia terdesak sampai mundur beberapa langkah namun belum juga mampu membebaskan diri dari ancaman gulungan sinar suling emas itu! Melihat ini, Liok Cit menyergap dari belakang untuk membantu pemimpinnya, menusukkan pedangnya. Akan tetapi, tiba-tiba tubuh Suma Lian membalik dan sebuah tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Angin Puyuh) menyerempet lambungnya dan Liok Cit terpelanting!
Sementara itu Ciong Siu Kwi cukup cerdik untuk dapat menangkap seketika teriakan Suma Lian tadi. Ia pun cepat meloncat ke arah Yo Han yang dijaga oleh dua orang anggauta Ang-i Mo-pang. Gerakannya demikian cepat, loncatannya seperti seekor singa betina menubruk saja. Dua orang yang menjaga Yo Han tidak mendapat aba-aba dari Sin-kiam Mo-li, dan mereka tidak sempat menggerakkan senjata untuk menyerang Yo Han karena tiba-tiba saja Ciong Siu Kwi sudah datang dan kedua tangannya menyambar, menampar dan dua orang itu pun terpelanting seperti tersambar petir! Mereka memang sudah mengenal Bi-kwi dan sudah merasa jerih, maka begitu terpelanting dan terbanting, mereka tak mampu bangun lagi atau pura-pura pingsan saja agar lebih aman! Ciong Siu Kwi segera menyambar tubuh puteranya, membebaskan totokannya dan memondongnya, siap untuk melarikan diri.
Akan tetapi, Sin-kiam Mo-li yang sudah terbebas dari desakan Suma Lian berkat bantuan Liok Cit tadi, cepat berseru, "Bi-kwi, tahan dulu. Lihat siapa yang berada di tangan kami!"
Ciong Siu Kwi yang sudah siap melarikan puteranya, menengok dan seketika wajahnya berubah pucat sekali dan seluruh tubuhnya menegang, lalu lemas. Sungguh sama sekali tak pernah disangkanya bahwa Sin-kiam Mo-li akan bertindak sedemikian jauhnya sehingga ketika ia pergi meninggalkan dusunnya, agaknya telah ada orang kepercayaan iblis itu yang segera menangkap suaminya! Yo Jin kini telah menjadi tawanan, kedua tangannya diikat di belakang tubuhnya dan sehelai rantai panjang kini dipegangi oleh dua orang anggauta Ang-i Mo-pang!
Bahkan ketika Yo Han yang juga melihat ayahnya, melepaskan diri dari pondongannya, Bi-kwi tidak mampu menahannya. Anak itu melorot turun dan lari menghampiri ayahnya.
"Ayah....! Ayah....! Lepaskan ayahku!" Anak itu lalu mengamuk, menggunakan kakinya menendang dan tangannya untuk memukul ke arah dua orang yang memegang rantai yang membelenggu kedua tangan Yo Jin. Akan tetapi Sin-kiam Mo-li sudah menangkap pundaknya dan anak itu pun lemas tak mampu bergerak lagi.
"Ikat setan cilik ini dan satukan dengan ayahnya!" perintahnya. Dua orang anak buah yang lain segera mengikat kedua tangan Yo Han dan rantai pengikatnya disatukan dengan rantai pengikat tangan Yo Jin.
"Bawa mereka masuk dan kalau kalian melihat Bi-kwi berani memberontak dan melawan aku, jangan ragu-ragu lagi, bunuh suami dan anaknya itu!" Mendengar perintah ini, empat orang anak buah Ang-i Mo-pang lalu menyeret Yo Jin dan Yo Han pergi dari situ, Yo Jin tidak berkata sesuatu, hanya memandang kepada isterinya. Dan pandang mata itu! Sepecti ribuan ujung pedang yang menghujam ke dalam hati Ciong Siu Kwi!
Pandang mata suaminya tercinta itu penuh penyesalan, seolah-olah suaminya itu menegur dan mengingatkannya bahwa malapetaka yang menimpa keluarganya itu adalah akibat dari kesalahannya diwaktu dahulu! Dan memang suaminya benar. Semua ini terjadi karena ia pernah menjadi seorang Bi-kwi, seorang datuk sesat yang penuh dosa! Kini datanglah hukuman dari Tuhan!
Dengan kedua mata basah, penuh air mata, kini tanpa menunggu perintah lagi. Bi-kwi lalu maju menyerang Suma Lian! Serangannya sekali ini penuh semangat, penuh kesungguhan sehingga mengejutkan Suma Lian.
"Bibi....!" Suma Lian berseru sambil mengelak cepat.
"Engkau harus mati untuk menghidupkan suami dan anakku!" bentak Bi-kwi yang sudah menerjang lagi dengan sepenuh tenaganya. Melihat ini, Sin-kiam Mo-li tersenyum girang karena ia merasa yakin bahwa kini Bi-kwi telah berada dalam cengkeramannya.
"Bagus, Bi-kwi, begitulah baru seorang sahabat sejati!" katanya dan ia pun memberi isyarat kepada Liok Cit untuk maju lagi. Kebutan dan pedangnya sudah digerakkan untuk menyerang Suma Lian. Gadis ini sekarang menjadi marah bukan main.
"Sin-Kiam Mo-li, sungguh engkau iblis kejam dan aku harus membasmi engkau untuk membersihkan dunia dan menentramkan kehidupan rakyat!" sambil membentak marah, Suma Lian mengelak dari serangan Bi-Kwi dan meloncat ke kiri menyambut terjangan Sin Kiam Mo-Li dengan suling emasnya. Karena ia tahu bahwa Bi-Kwi sekarang benar-benar tak berdaya dan membutakan mata melihat ancaman terhadap suami dan anaknya, maka wanita itu dapat merupakan lawan berbahaya sekali. Bi-Kwi menyerangnya dengan sungguh-sungguh sedangkan ia tentu saja tak tega membalas serangan wanita itu, karena ia maklum benar bahwa Bi-Kwi memusuhinya secara terpaksa sekali. Ia menimpakan kemarahannya kepada Sin-Kiam Mo-li, bukan karena dirinya, melainkan karena melihat cara Sin-Kiam Mo-li menguasai Bi-Kwi dengan cara yang amat licik.
"Trang-tranggg....!" Saking hebatnya serangan Suma Lian dengan sulingnya, dua kali sulingnya bertemu dengan pedang dan kebutan di kedua tangan Sin-kiam Mo-li dan akibatnya iblis betina itu mengeluh dan meloncat jauh ke belakang. Ketika kedua senjatanya tadi bertemu dengan suling, tiba-tiba saja tangan kiri Suma Lian menampar. Benturan dengan suling itu membuat tubuhnya terasa dingin seperti disiram air es sehingga ia harus cepat mengerahkan sin-kangnya karena ia maklum bahwa gadis itu tentu mempergunakan Swat-im Sin-kang, yaitu Tenaga Inti Salju, sin-kang yang amat hebat dari pulau es. Ketika tamparan tangan kiri menyambar, ia pun cepat menyambut dengan kebutannya, dengan maksud melukai tangan itu atau kalau mungkin melibat pergelangan tangan lawan dengan bulu kebutannya yang beracun. Akan tetapi, gadis perkasa itu tidak menarik kembali tangannya sehingga tangan itu bertemu dengan bulu kebutan dan akibatnya, Sin-kiam Mo-li merasa tubuhnya panas seperti dibakar api. Itulah yang membuat ia meloncat mundur. Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis itu dengan tangan kanannya yang mempergunakan suling emas mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang yang dingin sekali, sedangkan detik berikutnya, tangan kirinya yang menampar itu mengandung tenaga panas. Ia sudah pula mendengar bahwa di samping Swat-im Sin-kang yang amat dingin, juga keluarga Pulau Es memiliki Hwi-yang Sin-kang atau Tenaga Sakti Inti Api yang amat panas.
Suma Lian hanya mengelak dari serangan-serangan Bi-kwi, bahkan juga serangan yang dilakukan Liok Cit hanya dielakkannya, karena seluruh daya serangnya ditujukannya kepada Sin-kiam Mo-li. Maka, melihat wanita ini meloncat mundur, ia pun mengejarnya dengan loncatan dan kembali ia telah menyerangnya dengan dahsyat dan bertubi-tubi! Sin-kiam Mo-li berusaha melindungi tubuhnya dengan pedang dan kebutan, akan tetapi hawa pukulan dahsyat yang dikeluarkan dari tangan kiri dan suling emas di tangan Suma Lian membuat ia kembali terhuyung ke belakang. Pada saat itu Bi-kwi kembali sudah menghantam dari samping untuk menolong Sin-kiam Mo-li yang terdesak. Suma Lian memutar tubuhnya, sekaligus menangkis pukulan Bi-kwi dengan tangan kiri dan menangkis pedang Liok Cit dengan sulingnya.
"Dukkk!" Tubuh Bi-kwi terpental dan hampir roboh karena tenaganya membalik sedemikian kuatnya.
"Cringgg....!" Kembali Liok Cit merasa betapa tangannya yang memegang pedang disergap hawa dingin yang membuatnya menggigil. Akan tetapi dia masih sempat mengeluarkan aba-aba dan belasan orang berpakaian merah telah menerjang Suma Lian dari segenap penjuru. Gadis itu memutar sulingnya sambil mengerahkan tenaga dan beberapa orang anggauta Ang-i Mo-pang berseru kesakitan, pedang mereka terlepas, bahkan ada pula yang roboh karena tidak kuat menahan tangkisan suling yang amat kuat itu. Akan tetapi, lebih banyak lagi orang berpakaian merah mengepung dan mengeroyok Suma Lian. Gadis itu hanya mempergunakan sulingnya melindungi diri, dan mencari-cari dengan pandang matanya. Kiranya Sin-kiam Mo-li sudah menjauhkan diri, berdiri di atas sebuah batu di bawah pohon dan di depannya terbentang petak rumpun yang hijau subur. Karena Suma Lian maklum bahwa sekali ia mampu merobohkan Sin-kiam Mo-li, tentu dengan mudah ia mengalahkan anak buah iblis betina itu dan menyelamatkan keluarga Yo, ia memutar sulingnya sedemikian rupa sehingga para pengeroyok terpaksa mundur. Dengan menerjang ke kiri, ia merobohkan empat orang anggauta Ang-i Mo-pang dan ia pun lalu menerobos keluar dari kepungan untuk mengejar Sin-kiam Mo-li.
"Iblis betina, mau lari ke mana kau...." bentaknya sambil berlari cepat melintasi petak rumput sambil memutar suling emasnya.
"Nona Suma, hati-hati...." Tiba-tiba Bi-kwi berseru, akan tetapi terlambat karena tubuh Suma Lian tiba-tiba terjeblos ke dalam sebuah lubang sumur yang berada di bawah rumput hijau subur itu. Karena sama sekali tidak menyangka dan tidak curiga, Suma Lian tidak mampu menghindarkan dirinya ketika kedua kakinya terjeblos ke bawah. Ia hanya dapat mengerahkan gin-kangnya agar luncuran tubuhnya ke bawah tidak terlampau cepat dan berat. Untunglah bahwa ketika ia terjeblos dan rumput penutup sumur itu ikut terjeblos, lubang sumur itu terbuka lebar dan ada sinar matahari yang menerobos masuk ke dalam sumur, Biarpun hanya remang-remang, namun cukup bagi mata Suma Lian yang tajam terlatih itu untuk dapat melihat apa yang berada di bawah, di dasar sumur dan ia pun terkejut. Kiranya sumur itu merupakan sumur yang tidak ada airnya, dan di dasar sumur dipasangi tombaktombak runcing menghadap ke atas, siap untuk menerima tubuh siapapun yang masuk ke dalam sumur! Untung ada sinar masuk dan ia dapat melihatnya, kalau tidak, besar sekali bahayanya ia akan terluka dan mungkin tewas! Kini ia cepat menusukkan suling emas yang masih dipegangnya ke dinding sumur dan ternyata dinding yang hanya merupakan tanah padas itu, dengan mudah tertusuk suling dan ia pun bergantung pada suling yang masuk seluruhnya ke dalam padas kecuali ujung yang dipegangnya!
Suma Lian memandang ke bawah. Tombak-tombak itu hanya tinggal satu meter di bawahnya. Ia harus dapat turun ke bawah, berpijak pada ujung mata tombak-tombak itu karena kalau tidak demikian, ia tidak mempunyai dasar untuk meloncat ke atas.
Sementara itu, dari atas terdengar suara ketawa Sin-kiam Mo-li. Suma Lian tidak tahu betapa Sin-kiam Mo-li tadi dengan marah sudah menyerang Bi-kwi dan karena Bi-kwi tidak melawan, maka ia dapat dirobohkan dengan totokan. Dan Sin-kiam Mo-li tertawa, suara ketawanya terdengar dari bawah sumur oleh Suma Lian.
"Bi-kwi, ternyata engkau kembali hendak berkhianat! Engkau mencoba untuk memperingatkan gadis itu!" bentak Sin-kiam Mo-li. "Aku akan membunuh suami dan puteramu di depan hidungmu, kemudian membunuhmu juga!"
Terdengar oleh Suma Lian, Bi-kwi menjawab dengan suara lirih dan nadanya merendah. "Mo-li, engkau pun tahu bahwa aku baru datang dan aku sama sekali tidak tahu akan lubang jebakan itu. Aku tadi berseru memperingatkan karena naluri belaka, bukan kusengaja. Hal itu membuktikan bahwa perbuatan jahat sudah tercuci bersih dari lubuk hatiku, Mo-li. Oleh karena itu, kalau engkau hendak memaksaku melakukan kejahatan, biar engkau bunuh kami sekeluarga, aku tidak akan sudi menaatimu. Kalau untuk perjuangan, tentu saja aku sanggup membantumu karena hal itu bukanlah kejahatan, bahkan merupakan kewajiban para patriot dan pendekar. Akan tetapi, nona Suma Lian ini bukanlah musuh kita, bukanlah bangsa Mancu yang menjajah bangsa kita!"
Kembali Sin-kiam Mo-li tertawa. "Bi-kwi, sudah kukatakan bahwa engkau kuajak untuk bekerja sama menentang pemerintah penjajah Mancu. Tentang gadis ini, kaulihat sendiri, bukan aku yang memusuhinya, melainkan ia yang datang memusuhi kami! Pula, engkau harus ingat bahwa ia adalah keturunan keluarga Pulau Es dan keluarga Pulau Es masih terhitung keluarga dari Kerajaan Mancu! Nah, kubebaskan totokan padamu, akan tetapi ingat, sekali lagi engkau melakukan hal yang merugikan aku dan mencurigakan, jangan harap engkau akan dapat bertemu lagi dengan suami dan puteramu!"
Setelah dibebaskan totokannya, Bikwi bertanya, "Mo-li, bagaimanapun juga nona Suma Lian itu hanya datang dengan niat menyelamatkananakku. Ia bukan orang jahat, bukan pula kaki tangan Kerajaan Mancu. Karena itu, perlu apa membunuhnya" Bukankah lebih baik kalau ia diselamatkan, dan diajak bekerja sama menentang pemerintahan penjajah"
"Heh-heh-heh, engkau tidak tahu Bi-kwi. Siapapun yang terjebak ke dalam sumur ini, tentu mampus karena di dasar sumur sudah menanti banyak tombak yang akan menembus tubuhnya. Ia tentu sudah tewas, kalau belum, batu ini yang akan membantu agar kematiannya datang dengan cepat!" Setelah berkata demikian, Sin-kiam Mo-li mengerahkan tenaganya mendorong batu besar yang tadi diinjaknya. Batu itu besar sekali, akan tetapi dengan tenaganya yang kuat, Sin-kiam Mo-li akhirnya berhasil mendorongnya setelah dibantu oleh Liok Cit dan anak buah Ang-i Mo-pang. Batu itu menggelinding ke arah sumur dan kalau terjatuh ke dalam sumur itu, betapapun tinggi ilmu kepandaian Suma Lian, pasti ia tidak akan mampu menyelamatkan diri lagi, tergencet batu dari atas dan tertusuk tombak-tombak runcing dari bawah!
Bi-kwi hanya dapat melihat dengan wajah pucat, ngeri membayangkan betapa tubuh nona pendekar, keturunan keluarga Pulau Es itu akan binasa secara menyedihkan tanpa ia mampu berbuat sesuatu. Tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pemuda yang berseru lantang, "Sin-kiam Mo-li, sungguh di mana-mana engkau menyebar kejahatan!" Dan pemuda itu lalu meloncat ke arah batu yang menggelinding dan sudah tiba dekat sumur itu. Sekali dia mendorong, batu itu terpental dan terlempar sampai beberapa meter jauhnya! Melihat ini, Bi-kwi terbelalak, penuh kagum karena ia maklum betapa sukarnya melakukan perbuatan seperti itu, membutuhkan tenaga yang bukan main besarnya! Ia memandang penuh perhatian. Seorang pemuda sederhana saja, pakaiannya serbe putih, wajahnya sederhana, tidak terlalu tampan walaupun juga tidak buruk, akan tetapi sinar matanya lembut dan mulutnya selalu membayangkan senyum ramah sehingga wajah itu mendatangkan rasa suka dalam hatinya.
Sementara itu, melihat pemuda yang baru muncul dan yang sekali dorong dapat membuat batu yang amat berat dan besar tadi terpental, Sin-kiam Mo-li mengerutkan alisnya, wajahnya agak berubah dan sinar matanya membayangkan rasa gentar. Ia mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Tan Sin Hong atau yang kini dikenal banyak orang kang-ouw sebagai Pek-ho Enghiong (Pendekar Bangau Putih)!
Akan tetapi, beberapa orang anggauta Ang-i Mo-pang tidak mengenal pemuda ini. Walaupun mereka tadi terkejut juga melihat batu itu terpental oleh dorongan seseorang, akan tetapi melihat bahwa orang itu hanyalah seorang pemuda sederhana berpakaian putih, mereka mengira bahwa pemuda itu hanya memiliki tenaga besar saja. Enam orang anggauta Ang-i Mo-pang, dengan pedang di tangan, untuk mencari muka dan jasa, cepat menerjang Sin Hong dengan ganas sekali.
Melihat enam batang pedang menyambar dari semua penjuru, mengarah hampir semua bagian tubuh berbahaya darinya, Sin Hong tidak menjadi gentar. Dia memutar tubuhnya dan dengan Ilmu Silat Pat-sian Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa), secara beruntun dia mampu mengelak dan menangkis pedang-pedang itu dengan kedua lengannya, dan kakinya juga membagi-bagi tendangan. Empat batang pedang yang bertemu dengan lengannya, terpental dan terlepas dari pegangan pemiliknya, disusul robohnya enam orang itu oleh tendangan Sin Hong. Untung bagi mereka bahwa pemuda itu bukan seorang pembunuh, maka hanya terpelanting dan terbanting keras saja, tidak menderita luka yang membahayakan keselamatan hidup mereka.
Sementara itu, Suma Lian yang berada di dalam sumur, berhasil melompat turun dan hinggap di atas dua ujung tombak dengan kedua kakinya. Akan tetapi ketika ia memandang ke atas, ternyata lubang sumur itu terlalu tinggi baginya. Tidak mungkin melompat ke atas dengan hanya menekankan kedua kaki pada ujung tombak yang runcing dan lentur! Kalau tombak itu patah, ia malah akan celaka, dan kalau sampai loncatannya tidak sampai ke atas sumur, ia akan jatuh lagi dan hal itu lebih berbahaya lagi! Gadis ini cerdik. Ia mengukur lebar sumur. Tidak begitu lebar. Ketika ia berdiri di tengah dan mengembangkan kedua lengannya, maka kedua lengannya itu lebih panjang daripada lebarnya sumur. Ia lalu mencoba untuk menusukkan tangannya dengan jari terbuka pada dinding sumur.
"Ceppp!" Tangan yang terlatih itu, bagaikan tombak saja menancap di dinding sumur padas itu sampai ke pergelangan tangannya! Ia mencoba untuk mencengkeram dan dengan mudah jari-jari tangannya dapat mencengkeram. Ah, ia menemukan akal untuk dapat mendaki naik, pikirnya. Diselipkannya suling emas di pinggangnya, kemudian mulailah dicengkeramnya dinding sumur di kanan kiri dengan kedua tangannya dan mulailah ia mendaki. Kedua kakinya terpentang dan membantu kedua tangannya, menginjak pada bekas cengkeraman tangan dan dengan cepat ia mendaki naik. Sebentar saja ia sudah melompat naik keluar dari dalam sumur, tepat pada saat Sin Hong merobohkan enam orang pengeroyoknya.
Sin-kiam Mo-li yang terkejut melihat kehebatan Sin Hong merobohkan enam orang anak buahnya, menjadi semakin kaget melihat munculnya Suma Lian dari dalam sumur. Sin Hong sendiri tadi tidak melihat gadis itu terjebak ke dalam sumur, hanya mendengar ucapan Sin-kiam Mo-li yang hendak membunuh seseorang di dalam sumur dengan menggelindingkan batu besar, maka dia cepat turun tangan mendorong pergi batu itu. Kini, melihat munculnya seorang gadis dari dalam sumur, dia juga terkejut dan kagum bukan main. Gadis itu demikian cantik. Mukanya yang sebagian terkena lumpur, coreng-moreng tidak menyembunyikan kecantikannya. Matanya demikian bening, tajam dan kocak, mulutnya demikian manisnya dan tersenyum mengejek ketika ia memandang kepada Sin-kiam Mo-li. Kemudian ia menoleh kepada Sin Hong. Ia tidak mengenal pemuda ini, akan tetapi melihat betapa pemuda itu tadi dikeroyok oleh enam orang berpakaian merah, ia dapat menduga bahwa pemuda ini tentulah bukan sahabat atau pembantu Sin-kiam Mo-li. Ketika ia memandang kepada Bi-kwi yang tadi mencoba untuk memperingatkannya ketika ia hampir terjeblos ke dalam sumur, ia melihat wanita itu nampak diam saja, tidak berdaya.
"Sin-kiam Mo-li, engkau sungguh seorang iblis betina yang tak tahu malu, mengandalkan pengeroyokan dan mengandalkan jebakan keji. Sungguh, tidak mungkin lagi engkau dibiarkan hidup di dunia ini!" bentak Suma Lian dan ia sudah mengeluarkan suling emasnya, tidak peduli bahwa kedua tangannya kotor karena lumpur.
"Ucapan Nona ini memang tepat. Engkau terlampau jahat, Sin-kiam Mo-li, dan terpaksa pula aku harus berusaha membasmimu, demi keamanan hidup orang-orang lain!" kata Sin Hong, diam-diam kagum dan kaget melihat gadis itu memegang sebatang suling emas.
Melihat sikap kedua orang muda itu dan mendengar ancaman mereka, mau tidak mau Sin-kiam Mo-li merasa takut. Ia memandang kepada Tan Sin Hong dengan mata penuh kebencian. "Huh, engkau lagi yang merusak semua rencanaku!" Ia lalu berseru kepada Ciong Siu Kwi. "Bi-kwi, hayo cepat usir mereka berdua itu, atau suami dan puteramu akan kusuruh bunuh sekarang juga!" Ia hendak mempergunakan Bi-kwi sebagai perisai karena ia maklum bahwa kalau Suma Lian dan Tan Sin Hong maju bersama, biar ia dibantu oleh Liok Cit, Bi-kwi dan puluhan orang Ang-i Mo-pang juga tidak akan ada gunanya. Suma Lian sudah demikian hebatnya, dan ia tahu bahwa Tan Sin Hong lebih lihai lagi!
Bi-kwi juga maklum bahwa di antara mereka semua, ialah yang paling terjepit. Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya agaknya takut menghadapi pemuda yang baru datang ini, akan tetapi bagaimanapun juga, iblis betina itu masih dapat membela diri mati-matian dan ia pun tahu betapa lihainya iblis betina itu. Akan tetapi ia sendiri" Ia merasa seolah-olah kaki tangannya dibelenggu. Dengan disanderanya suami dan puteranya, ia tidak mampu berbuat sesuatu kecuali mentaati perintah Sin-kiam Mo-li. Melihat Suma Lian dan pemuda yang baru muncul ini, ia pun maklum bahwa keduanya tentulah pendekar-pendekar yang gagah perkasa, bahkan Suma Lian sudah tahu siapa dirinya. Maka ia mempunyai suatu gagasan yang baik sekali. Kenyataannya bahwa Sin-kiam Mo-li takut terhadap pemuda dan gadis itu harus dimanfaatkannya sebaik mungkin.
"Mo-li, aku yakin bahwa nona Suma Lian dan juga Taihiap (Pendekar Besar) yang tidak kukenal ini akan suka memenuhi permintaanku, akan tetapi aku baru mau melakukan perintahmu kalau engkau suka membebaskan puteraku."
Sin-kiam Mo-li mengerutkan alisnya, lalu tersenyum mengejek. "Bi-kwi, engkau tidak berada dalam keadaan untuk memaksaku. Engkaulah yang harus mentaati perintahku, engkau sama sekali tidak boleh menuntut sesuatu dariku. Ingat, sekali aku memberi isyarat, suami dan puteramu akan mampus."
"Apa boleh buat, Mo-li. Kalau engkau membunuh mereka, aku akan membantu Suma-lihiap dan Taihiap ini untuk membasmi engkau dan anak buahmu ini tak seorang pun akan kuberi ampun. Orang-orang bekas anggauta Ang-i Mo-pang ini mengenal siapa aku dan aku tidak biasa menjilat kembali kata-kata yang sudah kukeluarkan! Engkau boleh pilih. Membebaskan puteraku, dan aku akan membantu perjuangan yang kausebutkan itu, dengan suamiku menjadi sandera. Atau, engkau boleh membunuh mereka, akan tetapi engkau sendiri dan semua anak buahmu ini akan mati semua di tangan kami bertiga!"
Sin Hong yang mendengarkan percakapan itu, menjadi bingung karena dia memang tidak tahu apa yang telah terjadi dan siapa pula wanita yang disebut Bi-kwi oleh Sin-kiam Mo-li itu. "Apakah artinya semua ini" Aku tidak ingin mencampuri urusan antara kalian berdua dan...."
"Diamlah engkau!" Suma Lian membentak Sin Hong dengan suara nyaring sehingga Sin Hong tersentak kaget, tidak mengira bahwa gadis itu sedemikian galaknya terhadap dia yang sama sekali tidak saling mengenal. "Jangan turut campur dan diamlah saja karena engkau tidak tahu urusannya!"
Sin Hong tersenyum dan hanya mengangguk, lalu berdiri sambil bersedakap, saling bertumpang lengan di atas dada seolah-olah dia hendak memperlihatkan bahwa dia tidak akan mencampuri urusan mereka dan hanya mendengarkan saja.
Sin-kiam Mo-li mempertimbangkan ucapan Bi-kwi tadi. Diam-diam ia pun mengerti bahwa apa yang dikatakan oleh Bi-kwi memang benar. "Engkau berjanji bahwa kalau aku membebaskan puteramu, engkau akan ikut bersama kami dan suamimu menjadi sandera, dan engkau berjanji membantu perjuangan kami" tanyanya kepada Bi-kwi.
"Aku berjanji!" jawab Bi-kwi dengan tegas dan Sin-kiam Mo-li merasa lega. Ia mengenal kekerasan hati Bi-kwi dan tahu pula bahwa wanita itu, setelah kini meninggalkan dunia kang-ouw, lebih lagi menjaga kehormatan dan pasti tidak akan mau melanggar janjinya.
"Baiklah, engkau sudah berjanji dan didengarkan, disaksikan oleh semua orang yang berada di sini!" Sin-kiam Mo-li lalu memerintahkan Liok Cit untuk mengambil anak itu dari dalam pondok. Liok Cit pergi memasuki pondok dan tak lama kemudian dia keluar menggandeng tangan Yo Han. Setelah dilepaskan, Yo Han lari kepada ibunya.
"Ibu, kata ayah, Ibu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Ibu, selamatkan ayah dari tangan mereka yang jahat ini!" kata Yo Han.
"Tenanglah, anakku. Han-ji, sekarang engkau harus dengarkan kata-kata Ibu dan mentaatinya, mengerti" Nah mulai sekarang, engkau ikutlah pergi dengan enci Suma Lian itu."
"Tapi, ibu dan ayah...."
"Jangan membantah lagi. Pergilah bersama enci Suma Lian. Ia seorang pendekar wanita perkasa yang tentu akan mau mengatur dirimu, dan engkau taatilah ia, turut saja ke mana engkau dibawa pergi dan apa yang selanjutnya ia atur tentang dirimu. Nona Suma, sudikah Nona menolong anak kami Yo Han ini, mengajaknya pergi dari sini"
Suma Lian mengerutkan alisnya. Ia maklum akan maksud Ciong Siu Kwi. Agaknya wanita itu hendak mengorbankan dirinya dan suaminya demi keselamatan anak mereka.
"Bibi, tidakkah lebih baik kalau kita hancurkan saja iblis betina ini dan kawan-kawannya."
"Tidak! Harap jangan lakukan ini. Mereka akan membunuh suamiku, dandan aku sudah mengeluarkan janji. Kalau kalian berdua melakukan itu, terpaksa aku akan membelanya dan akan melawanmu sampai mati! Tidak, aku mohon kepadamu, nona Suma Lian, bawalah anakku Yo Han dan terserah kepadamu akan kauberikan kepada siapa anak kami itu. Budimu takkan kami lupakan, Nona, dan kalau Tuhan menghendaki, kelak tentu kami akan dapat bertemu kembali dengan dia. Nah, bawalah dia pergi, Nona."
Suma Lian menarik napas panjang. Ia merasa menyesal sekali bahwa ia harus melepaskan Sin-kiam Mo-li. Akan tetapi, demi keselamatan keluarga Yo, ia tidak mempunyai pilihan. "Marilah, Yo Han, mari ikut dengan aku!" katanya sambil mengulurkan tangan. Akan tetapi Yo Han menarik diri dan memegang tangan ibunya.
"Tidak, aku tidak mau meninggalkan ibu dan ayah!" katanya.
"Yo Han, jangan engkau membantah lagi. Kalau engkau tidak mau, maka ayah, ibu, dan engkau akan mati semua, dibunuh oleh orang-orang ini!" kata Ciong Siu Kwi.
"Aku tidak peduli! Biar mereka membunuh kita, aku tidak takut Ibu, asal bersama dengan ayah dan ibu!" bantah pula Yo Han.
"Yo Han, anakku. Kalau engkau pergi ikut dengan enci Suma Lian ini maka ayah dan ibumu tidak akan dibunuh dan kelak kita akan berjumpa lagi," bujuk Ciong Siu Kwi.
"Tapi, Ibu. Tadi ayah menceritakan semua. Katanya Ibu lihai dan dia menyesal mengapa tidak membolehkan aku belajar silat dari Ibu, agar aku dapat menentang dan melawan orang-orang jahat."
"Han-ji, anakku. Kepandaian enci Suma dan Paman itu jauh lebih tinggi daripada ilmu kepandaian ibumu. Kalau engkau ikut dengan enci Suma Lian, maka ia tentu akan mampu mencarikan guru yang jauh lebih lihai daripada ibumu. Pergilah dan jangan membantah lagi, anakku."
Sejak tadi Sin Hong mendengarkan dengan penuh perhatian dan diam-diam dia merasa kagum sekali kepada anak laki-laki itu. Kini, setelah mendengarkan dengan penuh perhatian, dia mulai mengerti. Kiranya wanita yang cantik dan berpakaian seperti seorang petani wanita itu telah dibikin tidak berdaya oleh Sin-kiam Mo-li karena suaminya dan puteranya disandera oleh iblis betina itu. Memang, jalan satu-satunya untuk menyelamatkan suamiisteri itu hanyalah membiarkan anak itu dibawa pergi. Ketika dia mendengar disebutnya nama gadis itu oleh ibu anak itu, dia pun terkejut setengah mati. Dia memang belum mengenal nama itu, akan tetapi nama keluarga itu! Suma! Siapa lagi yang memakai nama keluarga itu kalau bukan keturunan keluarga Pulau Es yang nama keluarganya juga Suma" Dia sudah banyak mendengar kehebatan ilmu kehebatan keluarga Pulau Es seperti yang sering diceritakan oleh tiga orang gurunya! Kini, melihat kebandelan Yo Han yang ingin hidup atau mati bersama ayah ibunya, dia pun lalu ikut bicara.
"Seorang anak yang ingin menjadi seorang calon pendekar, lebih dulu harus menjadi seorang anak berbakti yang mentaati semua perintah orang tuanya, terutama ibunya!"
Mendengar ucapan laki-laki itu, Yo Han menoleh dan menghadapi Sin Hong, sepasang matanya yang kecil namun amat tajam itu mengamati Sin Hong dari kepala sampai ke kaki, kemudian terdengar suaranya lantang.
"Paman, kata ibu Paman memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari ibu, dan Paman tadi menasihati aku bagaimana sikap seorang calon pendekar! Kalau sudah dapat menasihati orang, tentu seorang pendekar. Apakah Paman seorang pendekar"
Ditanya demikian oleh seorang anak kecil, Sin Hong agak tersipu, akan tetapi dia mengangguk sambil tersenyum. "Hemmm, begitulah...."
"Kalau Paman seorang pendekar, tentu berani menentang iblis betina ini! Lawanlah dia, Paman agar aku percaya akan semua omonganmu!" kata Yo Han sambil menudingkan telunjuknya ke arah Sin-kiam Mo-li. Sin Hong menoleh ke arah iblis betina itu, dan wajah Sin-kiam Mo-li menjadi agak pucat. Ia sudah merasakan kelihaian pemuda itu. Ia dibantu oleh Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek saja masih belum mampu mengalahkan Tan Sin Hong, apalagi ia harus maju seorang diri.
Sin Hong berkata kepada anak itu sambil tersenyum, "Kalau ia berani, boleh saja."
Suma Lian yang sejak tadi melihat dan mendengar, merasa mendongkol juga. Dianggapnya pemuda yang berpakaian serba putih dan sikapnya lembut sederhana itu terlalu sombong dan bicara besar. Ia sendiri tahu bahwa Sin-kiam Mo-li adalah seorang wanita yang sakti dan tidak boleh dipandang ringan, akan tetapi pemuda ini berani mengejek, mengatakan apakah wanita itu berani kepadanya!
Bukan hanya Suma Lian yang merasa penasaran, akan tetapi terutama sekali Liok Cit, Si Iblis Terbang Tangan Beracun itu. Sikap dan ucapan pemuda itu dianggapnya terlalu menghina wanita yang amat dikaguminya, dan dengan adanya Sin-kiam Mo-li, juga anak buah Ang-i Mo-pang, bahkan kini dibantu Bi-kwi yang sudah dapat ditundukkan dengan disanderanya suami wanita itu, hatinya menjadi besar dan dengan gerakan ringan sekali, tubuhnya yang kurus itu sudah melayang ke depan Sin Hong. Pria berusia tiga puluh tahun yang pakaiannya serba hijau ini, dengan tubuh kurus pemadatan, wajahnya tampan akan tetapi semua giginya menghitam, mendorong capingnya yang lebar ke belakang sehingga wajahnya nampak semua. Dengan hati penasaran, dia ingin mempermainkan pemuda yang sederhana itu. Biarpun dia tadi melihat betapa pemuda ini mendorong batu besar yang nyaris menggelinding ke dalam sumur, dia tidak merasa gentar. Diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihirnya. Sebagai murid pertama dari Pek-lian-kauw, tentu saja dia sudah memiliki ilmu sihir yang lumayan. Kalau hanya untuk menyihir dan menundukkan wanita cantik untuk dikuasainya saja, dia sudah mahir!
"Hei, orang muda, lihat aku adalah ayahmu. Engkau harus tunduk dan taat kepadaku. Berlututlah engkau!" Dia membuat gerakan dengan kedua tangannya dengan gaya orang menyihir. Akan tetapi, Sin Hong adalah murid tiga orang sakti yang telah memiliki tenaga gabungan ketiga orang itu. Hawa sakti di tubuhnya sudah amat kuat. Apalagi hanya kekuatan sihir yang dimiliki seorang seperti Liok Cit, bahkan Sin-kiam Mo-li sendiri tidak mampu menguasai pemuda ini dengan sihirnya pada waktu Sin Hong belum menguasai sepenuhnya Ilmu Pek-ho Sinkun. Maka, menghadapi serangan ilmu sihir yang masih amat lemah ini, dia hanya berdiri saja sambil tersenyum, lalu berkata,
"Apakah engkau sudah menjadi gila"
Liok Cit terbelalak. Dia mencoba untuk memperkuat ilmu sihirnya sampai mulutnya mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh-uh dan kedua tangannya membuat gerakan-gerakan aneh, namun tetap saja Sin Hong hanya memandang sambil tersenyum geli.
Kini marahlah Liok Cit. Dia adalah murid kepala Pek-lian-kauw, ilmu sihirnya sudah amat kuat menurut anggapannya sendiri, dan kini dia dibikin malu di depan para anggauta Ang-i Mo-pang oleh seorang pemuda tak terkenal. Dalam kemarahannya, dia mencabut pedangnya dan sambil mengeluarkan bentakan nyaring, pedangnya menusuk ke arah dada Sin Hong! Gerakan Tok-ciang Hui-moko Liok Cit ini cepat dan kuat, karena memang tingkat kepandaiannya sudah cukup tinggi. Namun, tidak terlalu tinggi bagi Sin Hong. Melihat tusukan pedang itu sekilas saja, Sin Hong tahu apa yang harus dia lakukan. Tubuhnya miring kekanan sehingga pedang lewat depan dadanya, tangan kanan mengetuk sambungan siku, tangan kiri menampar pundak dan kaki kirinya menyapu belakang lutut lawan. Gerakan yang dilakukan Sin Hong itu demikian cepatnya, hampir berbareng dengan datangnya serangan Liok Cit, atau sedetik berikutnya, secara otomatis sehingga tidak ada kesempatan sama sekali bagi Liok Cit untuk menghindarkan diri. Pedang yang dipegangnya terlepas karena lengan kanan yang ditekuk bagian sikunya itu seperti lumpuh, kakinya tertekuk dan tamparan pada pundak membuat dia terjungkal! Masih untung baginya bahwa Sin Hong membatasi tenaganya. Kalau pemuda ini menyerang sungguh-sungguh, tentu dia tewas seketika. Dengan penasaran, Liok Cit mengambil pedangnya dan meloncat berdiri, siap untuk menyerang lagi, akan tetapi terdengar bentakan Sin-kiam Mo-li.
"Liok Cit, mundur kau!" Wanita iblis ini maklum bahwa jangankan Liok Cit, bahkan ia sendiri pun dibantu oleh semua anak buahnya yang berada di situ, takkan mampu menandingi Sin Hong yang tentu akan dibantu oleh Suma Lian pula.
Sementara itu, Yo Han bersorak gembira melihat kehebatan Sin Hong dan dia pun berkata, "Paman, aku akan ikut bersama Paman dan ingin menjadi murid Paman" Setelah berkata demikian, dia lari mendekat dan memegang tangan Sin Hong. Melihat ini, legalah hati Bi-kwi yang tadinya khawatir kalau-kalau puteranya itu tetap tidak mau pergi.
"Taihiap, tolonglah, harap Taihiap sudi membawa puteraku. Kami suami isteri akan berterima kasih sekali," kata Bi-kwi dengan suara memohon. Ia mengenal kekerasan hati puteranya, sekali pilihan puteranya dijatuhkan kepada pemuda itu, tentu dia tidak mau disuruh ikut orang lain.
Sin Hong memandang kepada Yo Han yang memegang tangannya dan tersenyum. Sejak tadi dia memang sudah merasa suka sekali kepada Yo Han. Akan tetapi mempunyai murid" Dia masih terlalu muda, hidupnya sendiri masih berkelana dan dia masih memiliki banyak tugas, menyelidiki pembunuh ayahnya dan lain-lain. Akan tetapi, dia pun tahu bahwa dalam keadaan terjepit seperti sekarang ini, ibu dari anak itu tidak berdaya dan dia harus menolongnya, maka dia pun mengangguk.
"Baiklah, harap jangan khawatir, Enci," katanya.
Bi-kwi hampir bersorak saking girang dan lega hatinya. "Terima kasih, Taihiap, dan harap suka memperkenalkan nama agar kami tidak akan melupakan Taihiap."
Jarang Sin Hong memperkenalkan namanya, apalagi nama tiga orang gurunya. Akan tetapi karena dia hendak membawa pergi anak orang, terpaksa dia berterus terang, "Namaku Tan Sin Hong, Enci. Mari Yo Han, mari kita pergi dari sini." Dia lalu menggandeng tangan anak itu dan pergi sambil melirik ke arah Suma Lian dan mengangguk sebagai tanda hormat.
"Ibu, selamat tinggal, sampaikan hormatku kepada ayah!" Yo Han berteriak kepada ibunya sambil menoleh, kemudian dia pun melanjutkan langkahnya di samping penolong yang kini menjadi gurunya. Bi-kwi memandang dengan kedua mata basah.
Suma Lian merasa serba salah, Ingin ia menerjang Sin-kiam Mo-li yang tadi hampir mencelakainya dengan jebakan, akan tetapi bukan ia takut melakukan ini, melainkan karena ia tahu bahwa Bi-kwi tentu akan membantu iblis betina itu demi keselamatan suaminya yang menjadi sandera. Tidak, ia harus mencari jalan lain, tidak ingin, mengorbankan keselamatan wanita itu dan suami wanita itu yang tidak berdosa.
Sejak tadi ia menonton dan diam diam ia pun terkejut melihat betapa lihainya Sin Hong. Akan tetapi setelah Yo Han memilih pemuda itu untuk diikutinya, ia merasa mendongkol bukan main. Bukan karena ia terlalu senang kalau dititipi seorang anak laki-laki, akan tetapi ibu anak itu tadinya minta tolong kepadanya, ibu anak itu hendak menitipkan Yo Han kepadanya. Akan tetapi pemuda bernama Tan Sin Hong itu seolah-olah menyainginya dan merebut Yo Han dari tangannya. Hal ini membuat hatinya penasaran bukan main. Seolah-olah pemuda itu membuat ia malu dan menurunkan harga dirinya di depan banyak orang! Kini, Sin-kiam Mo-li, Liok Cit, juga Bi-kwi dan semua anak buah yang berpakaian serba merah itu menunggu apa yang akan dilakukannya dan mereka agaknya sudah siap siaga. Juga Bi-kwi memandang kepadanya dengan sinar mata memohon, sinar mata yang jelas mengharapkan agar ia pergi saja dan tidak melanjutkan perkelahiannya melawan Sin-kiam Mo-li dan anak buahnya.
"Huhhh!" Suma Lian mengeluarkan dengus marah dan tanpa berkata sesuatu, ia pun membalikkan tubuhnya dan dengan beberapa loncatan saja bayangannya lenyap di antara pohon-pohon.
"Bukan main....!" Bi-kwimenarik napas panjang memuji. "Orang-orang muda sekarang hebat, demikian muda telah memiliki ilmu silat yang begitu hebat. Ahhh, kita seperti katak dalam tempurung...., ketinggalan jauh...."
Sin-kiam Mo-li merasa diejek dan diremehkan. Ia cemberut dan menjawab seperti orang bersungut, "Tentu saja, gadis itu cucu buyut Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dan pemuda itu murid Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya...."
"Ohhh....!" Wajah Bi-kwi berseri dan matanya bersinar-sinar. Ia sudah dapat menduga bahwa gadis yang bernama Suma Lian itu tentu keturunan Pendekar Pulau Es, akan tetapi yang membuat ia merasa gembira adalah ketika mendengar tentang pemuda yang kini menjadi guru puteranya itu. Murid suami isteri penghuni Istana Gurun Pasir! Bukan main! Tentu saja hatinya girang mendengar bahwa puteranya menjadi murid seorang muda yang sakti. Pantas pemuda itu sedemikian lihainya!
Melihat kegembiraan di wajah Bi-kwi, Sin-kiam Mo-li merasa semakin mendongkol. Ia sendiri amat membenci pemuda murid Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu. Teringat ia betapa kurang lebih dua tahun yang lalu, ia dan enam belas orang lainnya, sebagian dari Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, menyerbu ke Istana Gurun Pasir. Mereka berhasil menewaskan tiga orang tua penghuni istana itu, akan tetapi di pihaknya sendiri, empat belas orang tewas sedangkan sisanya, ia sendiri, Thian Kong Cinjin dan Thian Kek Sengjin, terluka cukup parah!
Dan kini muncul murid mereka yang amat lihai! Ia merasa menyesal sekali mengapa dahulu ia tidak membunuh saja pemuda itu, bahkan usahanya untuk "memperkosa" pemuda itu pun gagal!
"Sudahlah, Bi-kwi. Mari kita pergi. Yang penting, mulai sekarang engkau harus mentaati semua perintah pimpinan kami, membantu gerakan kami berjuang dan berusaha menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah Mancu."
Bi-kwi mengangguk dan sambil tersenyum ia mengikuti rombongan Sin-kiam Mo-li meninggalkan tempat itu. Ia melihat betapa suaminya terdapat pula dalam rombongan itu, bahkan tidak dibelenggu dan ia pun diperbolehkan berjalan dekat suaminya. Tanpa berkata-kata, mereka saling berpegang tangan dan berjalan. Sin-kiam Mo-li berjalan di belakang mereka siap dengan senjatanya untuk mencegah kalau-kalau Bi-kwi berusaha melarikan suaminya. Namun, Bi-kwi tidaklah sebodoh itu. Ia tahu betapa lihainya Sin-kiam Mo-li, apalagi ditambah dengan banyak anak uuahnya. Ia takkan mampu melarikan suaminya dengan jalan kekerasan. Kalau hal itu dicobanya, berarti ia hanya akan bunuh diri bersama suaminya. Biarpun hatinya sudah merasa lega dan tenang karena putera mereka telah ikut pergi bersama Tan Sin Hong yang sakti, namun ia harus dapat mempertahankan dirinya dan suaminya dari kebinasaan dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri mereka berdua hanyalah mentaati perintah Sin-kiam Mo-li untuk sementara waktu ini. Tentu saja ia tidak mau percaya begitu saja bahwa seorang jahat dan keji macam Sin-kiam Mo-li, mendadak dapat berubah menjadi seorang patriot! Tentu ada apa-apanya dalam pergerakan yang dimaksudkan Sin-kiam Mo-li itu. Maka, ia pun menjadi penurut dan wajahnya selalu cerah, apalagi karena ia diberi kebebasan untuk berkumpul dengan suaminya, walaupun siang malam mereka berdua selalu dibawah pengawasan ketat.
*** Suma Lian merasa penasaran sekali. Ketika ia meninggalkan rombongan Sin-kiam Mo-li yang menawan Yo Jin dan memaksa Bi-kwi menjadi pembantunya, ia masih merasa penasaran bukan main. Ia memang tidak begitu peduli akan keadaan Bi-kwi. Bukankah menurut cerita yang ia pernah dengar dari ayah ibunya, Bi-kwi memang dahulunya seorang tokoh sesat dan mungkin sejalan dengan Sin-kiam Mo-li" Kalau sekarang ia "kembali" kepada golongan hitam, hal itu tidak aneh walaupun hal itu masih meragukan melihat bahwa Bi-kwi memang dalam keadaan terjepit. Suaminya masih ditawan dan dijadikan sandera, maka terpaksalah wanita itu menyerah. Betapapun juga, ia percaya bahwa seorang wanita yang demikian cerdik dan banyak pengalaman seperti Bi-kwi, tentu akan menjaga diri sendiri dan suaminya dan tidaklah perlu dikhawatirkan benar. Akan tetapi, yang membuat hatinya mendongkol adalah karena Yo Han oleh Bi-kwi diserahkan kepada pemuda yang mengaku bernama Tan Sin Hong itu!
Huh, tak tahu diri, pikirnya dengan hati dan perut panas ketika ia berlari cepat meninggalkan hutan itu. Bukankah ia sendiri hampir saja tewas karena membela anak itu" Hampir saja ia mengorbankan nyawanya demi menolong Yo Han. Dan apa balasnya" Anak itu diserahkan orang lain yang datang belakangan, seolah-olah anak itu dan ibunya lebih percaya kepada Tan Sin Hong daripada kepadanya! Bahkan anak itu sendiri pun memilih Sin Hong! Memang itu hak mereka. Hanya ia mendongkol kepada pemuda itu yang dianggapnya menonjolkan diri dan menyainginya! Seolah-olah pemuda itu lebih lihai darinya, maka Yo Han memilih pemuda itu daripada ia untuk menjadi gurunya! Bukan karena ia ingin sekali menjadi guru Yo Han! Ia pun tidak mau menjadi guru, karena kalau anak itu ikut dengannya, maka hanya akan menjadi beban. Ia seorang gadis muda, untuk apa mengambil murid" Andaikata Yo Han jadi dibawanya, paling-paling akan dititipkannya kepada keluarga lain, atau juga kepada ayah ibunya.
Makin panas rasa perutnya kalau ia teringat kepada Tan Sin Hong. Pemuda itu agaknya sengaja memamerkan kepandaiannya ketika melawan Tok-ciang Hui-moko Liok Cit! Huh, ia pun mampu merobohkan Liok Cit dalam sejurus saja! Apa anehnya mengalahkan si baju hijau itu" Pemuda sombong!
Dengan pikiran yang makin menggerogoti hatinya dan membuat hati itu menjadi semakin panas, Suma Lian mempercepat larinya untuk mengejar dan mencari Sin Hong yang tadi membawa pergi Yo Han! Segala macam emosi datang dari pikiran! Pikiran mengingat-ingat dan mengunyah pengalaman lampau, menonjolkan kepentingan diri sendiri, menciptakan gambaran si aku yang demikian agung dan tingginya sehingga diganggu sedikit saja akan menimbulkan emosi dan perasaan marah, duka, takut dan sebagainya. Pikiran yang hening dan kosong dari beban ingatan masa lampau dan bebas dari bayangan khayal masa depan, akan membuat kita menjadi waspada akan diri sendiri lahir batin sekarang saat demi saat, waspada akan keadaan sekeliling kita, sehingga kita akan mampu menghayati hidup yang sesungguhnya, hidup yang seutuhnya.
Karena Sin Hong yang pergi sambil menggandeng tangan Yo Han berjalan biasa, tidak mempergunakan ilmu berlari cepat, tentu saja dia segera dapat disusul oleh Suma Lian. Pemuda itu berjalan seenaknya sambil mengobrol dengan Yo Han. Dia minta kepada anak itu untuk menceritakan keadaan keluarganya. Tidak banyak yang dapat diceritakan Yo Han. Anak itu hanya tahu bahwa ayah dan ibunya hidup sebagai petani-petani yang hidup penuh damai dan tenteram, cukup makan dan pakaian, dan dia sendiri sejak kecil hidup di dusun itu, bermain dengan anak-anak dusun lainnya. Hanya bedanya dengan anak-anak dusun, dia sejak kecil diberi pelajaran baca tulis oleh ibunya sehingga kini dia sudah pandai membaca dan menulis, bahkan membuat sajak.
"Engkau tidak pernah dilatih ilmu silat" tanya Sin Hong yang merasa heran sekali.
Yo Han menggeleng kepala. "Jangankan dilatih ilmu silat, bahkan mengetahui bahwa ibu pandai ilmu silat pun baru saja tadi ketika ayah ditawan. Sebelum ini ayah dan ibu tidak pernah bicara tentang ilmu silat dan aku pun tidak pernah mimpi bahwa ibuku pandai ilmu silat."
Diam-diam Sin Hong merasa heran akan tetapi juga kagum. Dia dapat menduga bahwa agaknya ayah ibu dari anak ini ingin menjauhkan anak mereka dari kehidupan kang-ouw yang serba keras dan penuh dengan permusuhan.
"Ibumu memang memiliki ilmu silat yang cukup hebat, akan tetapi apakah ayahmu tidak memiliki ilmu kepandaian silat pula yang tinggi"
"Tidak, tidak. Ayah seorang petani biasa. Di dalam tawanan itu, ayah menceritakan semua padaku, Paman. Katanya bahwa ibu dahulu adalah seorang tokoh besar yang memiliki ilmu silat tinggi sehingga di juluki Bi-kwi (Setan Cantik), sedangkan ayah hanyalah seorang petani biasa saja. Ketika ayah dan ibu menjadi suami isteri, ibu berjanji akan meninggalkan kehidupannya sebagai seorang ahli silat. Bahkan ayah pula yang melarang agar ibu tidak mengajarkan ilmu silat kepadaku. Akan tetapi setelah terjadi penculikan atas diriku, ayah merasa menyesal bahwa aku tidak diajar ilmu silat sehingga tidak mampu membela dan melindungi diri sendiri. Atas permintaan Sin Hong, Yo Han lalu menceritakan bagaimana dia diculik dan dilarikan oleh Liok Cit, betapa kemudian di tengah jalan dia dilarikan karena Liok Cit dikejar oleh Suma Lian.
"Enci Suma Lian yang gagah perkasa itu hampir saja celaka karena membelaku. Betapa gagahnya enci Suma Lian. Untung kemudian muncul engkau, Paman. Dan aku merasa girang sekali bahwa Paman suka membawa aku pergi. Paman tentu akan melatih ilmu silat kepadaku, bukan" Aku suka sekali menjadi muridmu, Paman. Sebaiknya sekarang juga aku mengangkat Paman menjadi guruku." Setelah berkata demikian, Yo Han menjatuhkan dirinya berlutut di depan Sin Hong sambil menyebut, "Suhu....!"
Sin Hong cepat memegang pundak Yo Han dan menariknya bangun. Wajahnya merah karena dia merasa rikuh sendiri menerima penghormatan sebagai seorang guru. Baru saja dia meninggalkan perguruan dan kini sudah hendak diangkat menjadi guru. Dia merasa canggung dan belum waktunya menerima seseorang menjadi muridnya. Hidupnya sendiri masih tidak menentu, bagaimana mungkin dia menerima beban baru berupa seorang murid"
"Nanti dulu, Yo Han. Jangan tergesa-gesa mengangkatku sebagai guru...."
"Akan tetapi, Suhu! Bukankah Suhu sudah menerima permintaan ibu" Dan teecu sudah mengambil keputusan meninggalkan ayah dan ibu, hanya karena teecu (murid) suka untuk menjadi murid Suhu!"
"Tadinya aku hanya ingin menyelamatkanmu dan orang tuamu, maka aku mau menerimamu dan mengajakmu pergi, Yo Han, akan tetapiketahuilah bahwa aku adalah seorang pemuda pengembara yang hidupnya pun belum menentu. Aku tidak memiliki tempat tinggal, tidak berkeluarga...."
"Teecu akan ikut Suhu, ke manapun Suhu pergi, dan teecu tidak takut menghadapi hidup serba kurang dan sederhana, teecu akan bekerja dan melakukan apa saja yang Suhu kehendaki...." Yo Han berkata, nada suaranya khawatir kalau-kalau pemuda yang sakti itu tidak akan suka menjadi gurunya.
Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat disusul suara Suma Lian. "Bagus! Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab, ya"
Sin Hong mengangkat mukanya dan gadis itu sudah berada di situ, berdiri tegak, kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangan di pinggang, sepasang matanya memandang tajam. "Orang she Tan! Kalau engkau tidak suka menerima Yo Han ini menjadi muridmu, mengapa engkau tadi menjual lagak dan memamerkan kepandaian, lalu menerima permintaan ibu anak ini"
Sin Hong tertegun. "Nona Suma Lian, harap jangan salah sangka. Bukan maksudku untuk melepas tanggung jawab dan menolaknya, aku hanya menjelaskan kepadanya bahwa tidak mungkin dia hidup bersama aku yang tidak mempunyai tempat tinggal, tidak berkeluarga. Hidupku sendiri tidak menentu, sebagai petualang dan pengelana, bagaimana mungkin ditambah seorang lagi" Dan juga aku mempunyai tugas yang belum kuselesaikan, dan tugas itu akan membawaku ke tempat-tempat berbahaya, berhadapan dengan lawan-lawan berbahaya. Kalau dia ikut denganku, bukankah hal itu berarti membawa dia ke dalam ancaman bahaya pula"
Suma Lian tersenyum mengejek, diam-diam ia tertawa dan hatinya senang. Rasakan kamu, pikirnya. Untung bukan ia yang tadi menerima beban itu!
"Lalu apa maksudmu tadi memamerkan kepandaian dan menerimanya dari ibunya"
"Aku tadi hanya bermaksud menolong dan menyelamatkan...."
"Huh, engkau hanya ingin berlagak dan memamerkan ilmu kepandaian silatmu, dan memandang rendah kepada orang lain ya" Hemmm, ingin aku melihat sampai di mana kepandaianmu maka engkau menjadi sombong dan besar kepala! Nah, bersiaplah dan majulah melawanku, manusia sombong!"
Sin Hong terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa dia akan disusul oleh gadis yang galak ini. Tentu saja dia merasa segan untuk bertanding tanpa sebab dengan gadis itu, apalagi gadis itu she Suma yang membuktikan bahwa gadis ini adalah keturunan pendekar Pulau Es!
"Aku tidak mempunyai urusan denganmu, Nona. Untuk apa aku harus melayanimu bertanding" bantahnya.
"Hemmm, engkau agaknya hanya berani berlagak karena mengetahui betapa lawanmu memang tolol dan rendah ilmu silatnya, macam Tok-ciang Hui-moko tadi. Dan engkau menjadi jerih ketika kutantang untuk mengadu ilmu. Apakah engkau selain sombong juga seorang pengecut" Suma Lian sengaja mengeluarkan makin ini dengan maksud untuk memaksa pemuda itu bertanding dengannya. Ia ingin sekali menguji kepandaian pemuda itu, juga kepandaiannya sendiri.
Wajah Sin Hong berubah merah. Panas juga perutnya ketika mendengar ucapan terakhir itu. Dia dianggap sombong dan pengecut! Sungguh keterlaluan sekali nona ini, pikirnya. Dari ucapannya itu saja jelas menunjukkan bahwa yang sombong adalah nona ini! Timbul pula keinginan hatinya untuk menguji sampai di mana kehebatan ilmu gadis keturunan para pendekar Pulau Es ini. Sudah banyak dia mendengar dari ketiga orang gurunya akan kehebatan ilmu-ilmu dari keluarga para pendekar Pulau Es, dan kini kebetulan sekali dia ditantang dan dipaksa untuk bertanding melawan seorang di antara mereka. Kesempatan yang amat baik! Dan pertandingan itu dipaksakan oleh gadis itu, bukan atas kehendaknya.
"Baiklah, nona Suma. Kalau memang engkau menghendaki kita mengadu ilmu, terpaksa aku melayanimu untuk membuktikan bahwa aku tidak takut dan bukanlah pengecut, juga bukan orang sombong seperti yang kausangka tadi." Berkata demikian, Sin Hong lalu melangkah maju menghadapi nona itu. Yo Han berdiri dengan mata terbelalak lebar dan jantung berdebar tegang. Enci Suma Lian ini tidak tahu bahwa tadi ia diselamatkan oleh gurunya, ketika gurunya itu mencegah batu besar menggelinding masuk ke dalam sumur. Kalau enci Suma Lian mengetahui, tentu ia tidak akan bersikap seperti ini, pikirnya. Mulutnya sudah bergerak hendak memberitahu, akan tetapi ditahannya karena dia pun ingin sekali melihat pertandingan adu ilmu antara dua orang yang menurut ibunya memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada ibunya itu. Tentu saja diam-diam dia berpihak kepada suhunya!
Sementara itu, melihat betapa Sin Hong telah menghadapinya, Suma Lian memandang dengan penuh perhatian. Ia memang sengaja mengeluarkan kata-kata sombong dan pengecut, untuk memaksa pemuda itu mau melayaninya bertanding. Kini ia mengamati pemuda itu. Seorang pemuda yang wajahnya biasa saja, seperti seorang pemuda petani biasa yang sederhana. Pakaiannya serba putih, dari kain kasar pula. Akan tetapi, pada wajah yang biasa itu terdapat sepasang mata yang sinarnya lembut sekali, dan mulut yang mengandung keramahan, dengan senyum lembut pula. Mata dan mulut itulah yang mengandung daya tarik yang amat kuat.
Di lain pihak, Sin Hong juga mengamati gadis yang dikaguminya itu. Gadis keturunan keluarga Suma dari Pulau Es! Tadi ketika tersenyum mengejek, dia melihat betapa di tepi kedua ujung mulut gadis itu tiba-tiba muncul dua lesung pipit yang membuat wajah itu menjadi semakin manis. Sepasang mata yang tajam dan jeli, juga lincah. Sikap yang gagah dan berani, agak ugal-ugalan. Seorang gadis yang jelas menunjukkan bahwa ia biasa hidup di dunia persilatan, berani menghadapi kehidupan yang keras dan penuh tantangan. Kedua orang muda itu saling pandang seperti dua ayam jago yang saling menilai sebelum bertarung.
Biarpun ia tahu bahwa pemuda ini lihai, Suma Lian tidak mengeluarkan sulingnya karena pemuda itu pun bertangan kosong. Ia ingin menguji kepandaian pemuda itu dalam ilmu silat tangan kosong. Melihat pemuda itu sudah berdiri dengan sikap tenang di depannya, ia pun mulai memasang kuda-kuda dan membentak nyaring, "Orang she Tan, lihat seranganku!" Teriakan ini disusul serangan yang amat cepat dan kuat, karena ia sudah mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang dalam jurus serangan Ilmu Silat Lothian Sin-kun. Hebat bukan main serangannya, karena memang Ilmu Silat Lothian Sin-kun (Silat Sakti Pengacau Langit) yang dipelajarinya dari mendiang Bu Beng Lokai itu merupakan ilmu silat tingkat tinggi yang ampuh. Juga tenaga Swat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju) merupakan ilmu keturunan keluarga Pulau Es yang hebat.
Sin Hong kagum melihat gerakan serangan yang amat cepat dan dahsyat itu, dan dia sudah merasakan sambaran hawa dingin ke arah dadanya sebelum tangan gadis itu sendiri tiba, dan tahulah dia bahwa pukulan itu mengandung hawa pukulan sin-kang dari keluarga Pulau Es. Karena dia memang tidak mempunyai maksud untuk bermusuhan dengan gadis itu, maka dia pun tidak mau melawan keras dengan keras. Dia menggerakkan kedua kakinya dan menggeser kaki depan ke belakang menghindarkan diri dari serangan pertama itu dengan elakan. Melihat betapa serangannya dapat dielakkan dengan mudahnya. Suma Lian mendesak lagi dengan serangan berikutnya yang lebih hebat. Kini, tangan kirinya menampar dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-kang, sedangkan pada detik berikutnya, tangan kanannya sudah menjotos ke arah dada dengan tenaga Hui-yang Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Api)! Gadis ini menerima gemblengan penggunaan kedua sin-kang yang berlawanan dari keluarga Pulau Es, digembleng oleh ayahnya sendiri setelah ia pulang dari berguru kepada mendiang Bu Beng Lokai. Karena ia sudah memperoleh dasar yang amat kuat, maka tidak sukar baginya menerima penggabungan kedua inti tenaga sakti itu yang merupakan kebanggaan dari keluarga Pulau Es.
Ketika ada dua macam tenaga yang berlawanan, dingin sekali kemudian disusul panas sekali, Sin Hong terkejut bukan main. Kedua hawa sakti yang menyambar itu seperti mengepungnya dan agaknya sukar baginya untuk hanya mengandalkan kelincahan tubuh untuk mengelak. Gadis itu ternyata mampu bergerak dengan amat cepat, dan gerakan kaki gadis itu pun aneh, mengepung dan memotong jalan keluarnya, maka, kini terpaksa dia harus membela diri dengan tangkisan. Hal ini memang disengaja oleh Suma Lian yang hendak memaksa pemuda itu mengadu tenaga sakti, karena gadis ini merasa yakin bahwa penggabungan kedua sin-kang yang berlawanan itu tentu takkan dapat ditahan oleh lawan. Sin Hong tidak berani mempergunakan tenaga sin-kang gabungan dari tiga orang gurunya dalam Ilmu Silat Pek-ho Sin-kun, melainkan menangkis dengan pengerahan tenaga Inti Bumi yang pernah dipelajarinya dari Tiong Khi Hwesio, seorang di antara tiga orang gurunya itu. Ketika kedua tangan gadis itu menyambar hampir berbareng dengan kedua sin-kang yang berlawanan, dia pun menangkisnya dengan pengerahan tenaga Inti Bumi.
Tak dapat dicegah lagi, dua pasang lengan itu saling bertemu di udara.
"Plakkk! Plakkkkk!"
Melihat betapa pemuda itu merendahkan badan seperti mendekam, kemudian meloncat dan menangkis serangannya, dan hawa pukulan yang amat kuat menahan kedua pukulannya, membuat tubuhnya terdorong ke belakang seperti dilanda angin badai, Suma Lian mengeluarkan seruan kaget dan cepat ia berjungkir balik tiga kali untuk mematahkan tenaga yang mendorongnya. Dengan gerakan indah, ia sudah dapat meluncur turun kembali setelah membuat salto tiga kali sehingga ia dapat melihat betapa pemuda itu juga terdorong mundur dan nampak sedikit menggigil. Suma Lian tersenyum. Tadinya ia terkejut dan juga takut kalau-kalau ia kalah kuat, akan tetapi kini ternyata bahwa lawannya juga terdorong ke belakang, bahkan bekas kehebatan Swat-im Sin-kang masih nampak mempengaruhinya, membuatnya agak menggigil. Akan tetapi yang membuat ia tadi kaget setengah mati adalah ketika mengenal gerakan Sin Hong. Tidak salah lagi, pemuda itu tadi mengeluarkan tenaga sakti Inti Bumi, melihat dari caranya mendekam lalu meloncat ketika menangkis.
Sin Hong juga terkejut bukan main. Dia kagum sekali. Sekarang barulah dia tahu mengapa tiga orang gurunya memuji-muji ilmu dari keluarga Pulau Es. Ketika tadi dia menangkis, memang dia tidak berani mengerahkan seluruh tenaganya, akan tetapi akibatnya, dia terdorong mundur sampai terhuyung-huyung, dan tubuhnya diserang hawa panas sekali, kemudian dingin sekali sampai membuat dia menggigil. Memang dia dapat segera mengatasi hawa dingin ini dengan tenaga sin-kangnya, akan tetapi hal itu membuatnya terkejut sekali. Juga dia kagum melihat betapa gadis itu dengan indahnya dapat menyelamatkan diri dengan cara berjungkir balik sampai tiga kali dengan gaya dan gerakan indah.
Akan tetapi, sebelum hilang kaget dan kagumnya, kini dia menjadi semakin kaget melihat betapa gadis itu merendahkan tubuhnya dan tiba-tiba saja gadis itu menyerangnya lagi. Dari jarak yang agak jauh, karena gadis itu tadi berjungkir balik ke belakang sejauh tiga meter lebih, tiba-tiba gadis itu meluncur, bagaikan seekor naga menyerangnya dengan serangan dahsyat dan aneh sekali, dengan kedua tangan dibentangkan dan jari telunjuk ditudingkan, kemudian secara bertubi-tubi kedua jari telunjuk itu melakukan totokan-totokan dengan tenaga yang amat dikenalnya, karena cara gadis itu tadi mengumpulkan tenaga, jelas bahwa gadis itu menggunakan tenaga Inti Bumi! Dan serangan totokan bertubi itu mengeluarkan suara mencicit-cicit seperti benda tajam yang menyambar-nyambar! Dia tidak tahu bahwa gadis itu kini mengguhakan Ilmu Totok Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) dari ayahnya, sebuah ilmu totokan yang amat ganas dan berbahaya, juga amat aneh dan sukar dihindarkan lawan.
Sin Hong merasa betapa dirinya diserang oleh banyak jari tangan yang lebih berbahaya daripada dua batang tombak, yang seolah-olah bermata dan menyerang bertubi-tubi ke arah bagian tubuhnya yang berbahaya. Dia sudah menangkis dengan kedua lengannya juga mengelak ke sana-sini, namun akhirnya dia menjadi sibuk karena sukar sekali mematahkan serangkaian serangan yang mengandung tenaga Inti Bumi itu. Dia tidak mengenal ilmu totokan yang aneh sekali gerakannya itu, yang biarpun dilakukan dengan sebuah saja jari tangan, namun amat berbahaya karena jari telunjuk itu menjadi keras bagaikan baja. Dia pernah mempelajari ilmu Toat-bengci (Jari Maut), sebuah ilmu totokan yang istimewa dari seorang di antara tiga gurunya. Gurunya itu, Tiong Khi Hwesio, dahulunya ketika masih bernama Wan Tek Hoat pernah mendapat julukan Si Jari Maut karena ilmu totoknya itu. Dibandingkan dengan Toat-beng-ci, kedua jari tangan gadis itu tidak kalah ampuhnya. Akan tetapi, teringat akan Toat-beng-ci, dia pun lalu cepat mengubah gerakannya dan kini dia pun menghadapi totokan-totokan itu dengan totokan pula!
"Tuk! Tuk!" Ketika kedua telunjuk tangan Suma Lian bertemu dengan ujung telunjuk kedua tangan Sin Hong, gadis itu berseru kaget. Pemuda itu menghadapi totokannya dengan tangkisan berupa totokan pula, dan dapat dengan tepat menotok ujung telunjuknya dengan tenaga Inti Bumi yang sama pula! Ia menjadi semakin penasaran dan marah, lalu kedua tangannya dibuka, dihantamkan ke arah lawan dengan mengerahkan tenaga sin-kang sekuatnya!
Sambaran hawa pukulan ini makin mengejutkan hati Sin Hong karena dia tahu akan kehebatannya. Tidak ada lain jalan baginya kecuali menerima hantaman itu dengan kedua tangan terbuka pula.
"Plakkk!" Kedua pasang tangan itu kini saling melekat dan keduanya terkejut sekali! Dua tenaga raksasa dari tubuh masing-masing telah bertemu dan mereka berdua berada dalam keadaan terjepit. Siapa yang lebih dulu menarik tenaganya akan celaka! Tidak ada lain jalan kecuali melanjutkan pengerahan tenaga sin-kang yang kini seolah-olah macet dalam pertemuan kedua pasang telapak tangan itu, saling dorong dalam kekuatan yang sama. Kalau Sin Hong menghendaki dia dapat menggunakan tenaga gabungan dalam dirinya, dengan Ilmu Pek-ho Sin-kun, akan tetapi dia khawatir kalau-kalau gadis itu tidak akan kuat menerimanya dan akan tewas atau setidaknya terluka parah. Karena hal itu tidak dikehendakinya, maka dia tidak mau mempergunakannya. Akan tetapi, dia pun tidak mungkin dapat menarik kembali tenaganya karena kalau hal itu terjadi, dia akan celaka. Di dalam kedua telapak tangan gadis itu terkandung tenaga sakti Inti Bumi, Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang. Kalau dia menarik tenaganya, satu di antara tiga tenaga sakti itu akan terus meluncur melalui telapak tangan dan menghantamnya. Dia dapat tewas atau terluka parah! Darahnya dapat menjadi beku oleh Swat-im Sin-kang, atau hangus oleh Hui-yang Sin-kang, atau semua ototnya, setidaknya jantungnya, akan remuk oleh tenaga sakti Inti Bumi!
Di lain fihak, Suma Lian juga terkejut bukan main. Ia pun mengerti bahwa keadaannya amat berbahaya. Ia tidak mungkin dapat menarik kembali tenaganya, karena kalau ia lakukan ini, ia akan dihantam tenaga dahsyat dari pemuda itu. Maka jalan satu-satunya baginya hanyalah menambah tenaganya dan mengerahkan semua tenaga yang ada. Namun, betapa ia mengerahkan tenaga, di fihak pemuda itu pun agaknya selalu menambah tenaga untuk mengimbanginya sehingga mereka berdua seperti dalam keadaan terapung, tenggelam tidak terapung pun tidak. Kalau pertandingan adu tenaga sinkang itu dilanjutkan, akhirnya mereka berdua akan kehabisan tenaga dan siapa yang lebih dahulu habis tenaganya, ialah yang akan celaka! Sebaliknya, kalau mereka menarik kembali tenaga mereka, siapa yang lebih dulu menarik kembali tenaganya, Ia akan binasa! Sungguh suatu keadaan yang amat mengerikan.
Mereka berdua saling pandang dan melihat betapa wajah gadis itu menjadi pucat, pandang matanya mulai panik, Sin Hong merasa kasihan. Dari kepala mereka sudah mengepul uap putih, tanda bahwa keduanya telah mengerahkan tenaga yang amat hebat dan di dalam tubuh mereka bergolak mendidih oleh kekuatan yang berputaran itu.
Tiba-tiba saja, Suma Lian mendengar suara berbisik dan melihat betapa bibir pemuda itu bergerak perlahan. Terdengar olehnya, sayup sampai dan lirih sekali suara pemuda itu. "Dorong dan tarik berbareng, lempar tubuh ke belakang."
Sejenak Suma Lian memandang bingung lalu ia mengerti. Memang, kalau mereka dapat melakukan hal itu dalam detik yang sama yaitu keduanya saling dorong kemudian keduanya dalam saat yang sama saling menarik tenaga kemudian melempar tubuh ke belakang, kemungkinan besar mereka akan dapat saling melepaskan diri. Memang harus tepat sekali, karena kalau tidak tepat dan dalam detik yang sama yang berbareng, seorang di antara mereka dapat celaka. Selagi gadis itu meragu walaupun ia sudah mengangguk sebagai jawaban, terdengar, lagi bisikan pemuda itu menghitung, "Satu.... dua.... tiga....!"
Seperti menurutkan naluri saja, tepat pada hitungan ketiga. Suma Lian mengerahkan tenaga sin-kangnya mendorong, lalu menarik. Hal yang sama dilakukan pula oleh Sin Hong, tepat pada waktunya sehingga tiba-tiba saja kedua pasang tangan yang tadinya saling menempel itu terlepas dan seperti didorong oleh tenaga raksasa, tubuh mereka terpental ke belakang seperti dua helai layang-layang putus talinya. Ini saja sudah berbahaya sekali karena mereka itu tadi dalam keadaan "kosong" setelah masing-masing menarik tenaga, kini terpental karena ledakan tenaga masing-masing yang tadi saling mendorong. Namun berkat ketinggian ilmu kepandaian mereka, keduanya dapat menguasai dirinya sehingga ketika tubuh mereka terpental itu, mereka dapat membuat pok-sai (salto) sampai beberapa kali dan dapat turun ke atas tanah dalam keadaan berdiri, tidak sampai terbanting keras. Wajah Suma Lian nampak pucat, akan tetapi perutnya masih panas sekali. Ia masih merasa panasaran karena merasa belum dikalahkan. Di lain saat, tubuhnya sudah meluncur ke arah Sin Hong, didahului sinar kuning emas dari sulingnya. Gadis ini telah mencabut suling emasnya dan dengan gerakan cepat sudah menyerang dengan memainkan Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut (Naga Siluman) yang dimainkan dengan suling emas. Sulingnya lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar keemasan yang bergulung-gulung dan mengeluarkan suara mengaung-ngaung tinggi rendah, dahsyat sekali!
"Aih, Nona, harap hentikan seranganmu!" Sin Hong berseru terkejut sekali. Baru saja mereka berdua terlepas dari bahaya maut, dan nona ini masih melanjutkan pertandingan itu dengan serangan yang begini hebat! Karena dia terkejut dan tidak menyangka biarpun dia sudah mengelak, tetap saja sinar suling itu masih merobek baju di pundak kirinya. Namun dia dapat menghindarkan diri dengan bergulingan dan menjauh.
"Tidak, seorang di antara kita belum kalah!" bentak Suma Lian galak dan gadis ini sudah menyerang lagi.
Terpaksa Sin Hong melawan karena dia mendapat kenyataan bahwa gadis ini yang memang amat lihai dan memiliki banyak macam ilmu silat tinggi, setelah menggunakan suling emas ternyata semakin berbahaya pula. Dan begitu tubuhnya meloncat bangun dari bergulingan tadi, dia sudah mainkan Ilmu Silat Pek-ho Sin-kun! Hanya ilmu simpanannya, inilah yang akan dapat menyelamatkan dirinya pikirnya karena kalau dia mengandalkan ilmu silatnya yang lain kiranya akan sukar menghindarkan diri dari ancaman suling emas yang amat dahsyat itu. Tubuhnya bergerak dengan lambat namun cepat, lemah namun kuat! Inilah inti dari ilmu silatnya itu, nampak kosong namun berisi. Gerakannya seperti seekor burung bangau, demikian tenang dan lambat, indah dan setiap gerak mengandung kekuatan tersembunyi yang amat hebat, kekuatan yang dapat menerbangkan tubuh seekor burung bangau itu jauh tinggi di angkasa, kelemasan yang dapat membuat seekor burung bangau mampu melawan dan mengalahkan seekor ular, kecepatan tersembunyi yang dapat membuat seekor burung bangau mampu menangkap seekor katak yang meloncat dengan cepatnya.
Tubuh Sin Hong bergerak seperti menari di antara gulungan sinar kuning emas itu, kedua lengannya kadang-kadang terpentang seperti sayap seekor burung bangau putih, lengan tangan itu demikian lemasnya, kadang-kadang lengan itu seperti leher bangau, tangannya membentuk kepala bangau yang menyampok suling dan menotok ke arah jalan darah di sekitar tubuh Suma Lian. Gadis ini kagum bukan main. Belum pernah ia menyaksikan ilmu silat seindah itu. Pernah ia mempelajari Ilmu Silat Panca Hewan, yaitu gerakan lima binatang, harimau, kijang, biruang, kera dan burung. Akan tetapi, Ilmu Silat Burung yang dipelajarinya itu berbeda dengan ilmu silat yang kini dimainkan lawannya. Dan kedua lengan lawannya itu demikian lemas dan kuat, ketika menangkis sulingnya membuat tangannya yang memegang suling tergetar. Namun, ia hanya kagum dan tidak gentar.
"Hyaaaaa....!" Ia menyerang lagi setelah memutar sulingnya yang berubah menjadi lingkaran lebar. Sinar terang mencuat ke depan ketika sulingnya menusuk ke arah ulu hati lawan. Sin Hong menyambutnya dengan tangkisan tangan kanan dari samping sambil miringkan tubuhnya. Lengan kanannya itu seperti leher burung Bangau Putih menangkis terus melibat dan tangannya yang sudah membentuk kepala bangau itu, langsung menotok ke depan, ke arah pergelangan tangan yang memegang suling, dan tangan kirinya, juga membentuk kepala burung bangau menotok ke arah pundak kiri dari arah belakang tubuh gadis itu. Kedua serangan balasan ini masih dibantu kaki kirinya yang seperti kaki bangau yang mencakar menendang ke arah bagian sisi luar dari lutut kanan Suma Lian.
Gadis itu terkejut bukan main. Gerakan lawan demikian otomatis dan cepat walaupun nampak lambat dan tenang sekali. Ia tidak tahu bahwa itulah jurus Bangau Mencuci Sayap dari Ilmu Pek-ho Sin-kun yang amat sakti dari lawannya. Ia cepat menarik kembali sulingnya, diputar menangkis totokan pada pundaknya dan untuk menghindarkan diri dari tendangan itu ia terpaksa meloncat jauh ke belakang dalam keadaan terhuyung! Tenaga yang dipergunakan Sin Hong adalah tenaga gabungan dari tiga orang gurunya, maka tentu saja pertemuan tenaga itu, walaupun bukan merupakan benturan langsung, membuat Suma Lian terhuyung.
Tiba-tiba terdengar teriakan Yo Han, "Enci Suma Lian, tadi Suhu telah menyelamatkan nyawa Enci, kenapa sekarang Enci menyerangnya mati-matian" Begitukah cara Enci membalas budi kebaikan orang"
Anak ini sejak tadi memang diam saja untuk menyaksikan pertandingan antara gurunya dan gadis yang oleh ibunya dikatakan amat lihai itu. Akan tetapi dia menjadi pening ketika menonton pertandingan itu, tidak tahu siapa kalah siapa menang atau siapa yang lebih unggul di antara mereka. Gerakan mereka berdua itu terlalu cepat bagi matanya yang tidak terlatih. Hanya ketika dia melihat Suma Lian mempergunakan senjata suling emas yang mengeluarkan sinar menyilaukan itu, sedangkan gurunya tidak mempergunakan senjata, hatinya merasa khawatir kalau-kalau gurunya sampai celaka. Maka kini dia mengeluarkan seruan itu.
Tentu saja Suma Lian yang sudah siap untuk menyerang lagi, menjadi heran mendengar ucapan dari anakitu. Ia menahan dirinya, dan menoleh kepada Yo Han. Napasnya agak memburu dan baru terasa olehnya betapa lelah tubuhnya dan pakaiannya telah basah oleh keringat.
"Yo Han, apa artinya ucapanmu itu" tanyanya dengan alis berkerut karena ia tidak pernah merasa diselamatkan nyawanya oleh Tan Sin Hong.
"Enci, ketika Enci tadi terjatuh ke dalam sumur, iblis betina itu menggelindingkan sebuah batu besar ke dalam sumur untuk membunuhmu. Ibu tidak berdaya mencegah dan ibu sudah pucat sekali, akan tetapi pada saat batu hendak menggelinding ke dalam sumur, tiba-tiba muncul suhu Tan Sin Hong yang memukul dan mendorong batu sehingga tidak sampai jatuh ke dalam sumur dan menimpa Enci yang masih berada di dalam sumur itu."
Tentu saja Suma Lian terkejut bukan main mendengar keterangan Yo Han itu dan ia cepat menoleh, memandang kepada Sin Hong dengan sepasang mata tajam menyelidik, juga mengandung rasa heran. "Benarkah itu" Kenapa engkau diam saja dan tidak menceritakan hal itu ketika aku menyerangmu"
Sin Hong tersenyum dan menggeleng kepalanya perlahan. "Nona, hal yang sekecil itu tidak perlu disebut lagi. Bukankah sudah menjadi kewajiban kita masing-masing untuk mencegah terjadinya kejahatan, menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan"
"Wah, sungguh aku harus malu sekali! Engkau telah menolongku menghindarkan aku dari kematian mengerikandalam sumur itu, dan aku masih bersikap buruk, menantangmu, dan engkau masih juga menyebut aku nona! Aih, Toako (Kakak Tua), jangan membuat aku menjadi semakin malu dan berdosa. Maafkan aku, Toako!" katanya tersenyum dan ia pun menjura dengan membungkukkan tubuhnya sampai dalam sekali.
Sin Hong memandang dengan wajah berseri dan dia pun tersenyum geli. Nona ini sungguh gagah perkasa, lincah polos dan juga ugal-ugalan. Melihat sikap Suma Lian, lenyaplah sudah semua rasa penasaran karena gadis ini tadi menyerangnya mati-matian. Memang gadis ini berwatak aneh, akan tetapi harus diakuinya bahwa ia memiliki kegagahan yang luar biasa, juga demikian ringannya mulut yang manis itu mengakui kesalahannya dan minta maaf. Sikap mau mengakui kesalahan dan maaf inilah yang amat mengagumkan hati Sin Hong karena pemuda ini maklum bahwa sikap demikian hanya dimiliki oleh orang-orang yang berjiwa pendekar gagah perkasa dan bijaksana, dan merupakan sifat yang amat sukar dilakukan oleh kebanyakan orang. Dia pun cepat membalas penghormatan itu dengan bersoja dan membungkukkan tubuhnya."
"Sudahlah, Nona. Semua kesalahpahaman itu mungkin saja terjadi karena Nona belum mengenalku."
"Ah, Toako. Engkau masih saja menyebutku nona-nona! Padahal, engkau yang memiliki tenaga sakti Inti Bumi, jelas masih mempunyai hubungan dengan aku, kenapa masih mempergunakan tata cara sungkan-sungkan! Kalau engkau tidak mau menyebut adik kepadaku itu berarti bahwa engkau tidak mau berkenalan denganku dan kuhabisi saja pertemuan kita sampai di sini saja!"
Tentu saja Sin Hong terkejut. Gadis ini sungguh aneh sekali, hatinya keras dan agaknya ia tidak mau mengalah dalam hal apa pun juga! Maka sambil tersenyum dia pun cepat berkata, "Baiklah, Non.... eh, adik Suma Lian yang baik. Maafkan aku karena sesungguhnya aku merasa kurang pantas kalau aku berkakak adik dengan seorang seperti engkau, keturunan keluarga Pulau Es yang gagah perkasa."
Wajah yang cemberut itu kini sudah tersenyum kembali, matanya bersinar-sinar dan lesung pipit yang manis muncul kembali di kanan kiri mulutnya. "Uh, Hong-ko (kakak Hong) engkau hendak mengejekku, ya" Siapa tidak tahu bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali. Baru sekarang aku bertemu tanding yang demikian lihai, dan aku sungguh mengaku kalah!"
"Ah, jangan merendahkan diri, Lian-moi (adik Lian)! Kepandaianmulah yang hebat bukan main. Aku sudah lama mendengar akan kehebatan ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es dan baru hari ini aku beruntung sekali merasakan semua kehebatan itu. Akan tetapi yang membuat aku bingung, bagaimana engkau mahir pula menggunakan tenaga sakti Inti Bumi"
"Marilah kita duduk dan bicara, Hong-ko. Hei, Yo Han, mari duduk di sini engkau. Kenapa berdiri bengong saja di situ" teriak Suma Lian sambil menggapai kepada anak itu yang sejak tadi berdiri di pinggir. Mendengar panggilan ini, Yo Han lari menghampiri.
"Enci, bagaimana pendapatmu dengan ilmu kesaktian suhuku" Siapakah yang lebih unggul antara Enci dan Suhu tadi" tanyanya sambil duduk di atas rumput, dekat Suma Lian.
"Tentu saja gurumu yang lebih lihai," kata Suma Lian tersenyum.
"Yo Han, duduk saja di situ dan tutup mulut, jangan bicara kalau tidak ditanya!" Sin Hong berkata dengan tegas.
"Baik, Suhu" jawab Yo Han, tegas pula walaupun sepasang mata anak itu bersinar-sinar penuh kegembiraan. Agaknya Yo Han sudah mengenal betul watak gurunya yang lemah lembut dan tahu bahwa kegalakan tadi dibuat-buat saja.
Mereka duduk berhadapan, dan Yo Han duduk agak mundur. Setelah beberapa lamanya saling pandang, Suma Lian berkata, "Hong-ko, agaknya engkau sudah tahu bahwa aku adalah keturunan keluarga Pulau Es tentu engkau mendengar dari percakapan ketika aku menghadapi orang-orang sesat tadi. Akan tetapi aku sendiri belum tahu siapakah engkau sebenarnya."
"Namaku Tan Sin Hong."
"Itu aku sudah tahu. Akan tetapi, siapakah gurumu, Hong-ko" Aku yakin bahwa ada hubungan antara perguruan kita karena kita berdua sama-sama menguasai tenaga Sakti Inti Bumi, walaupun ilmu-ilmu silatmu aneh dan banyak yang tidak kukenal."
Sin Hong mengerutkan alisnya. Selama ini, belum pernah dia menceritakan kepada orang lain tentang guru-gurunya tentu saja kecuali kepada keluarga suhengnya, Kao Cin Liong sebagai putera tunggal suami Isteri penghuni Istana Gurun Pasir. Akan tetapi, dia pun sering mendengar dari para gurunya bahwa keluarga Pulau Es tidak boleh dianggap sebagai "orang luar" karena ada hubungan erat sekali antara keluarga Istana Gurun Pasir dan Pulau Es. Dia tahu bahwa gadis yang wataknya aneh ini akan tersinggung dan marah kembali kalau dia tidak mau mengaku siapa guru-gurunya. Kiranya tidak ada salahnya kalau dia mengaku kepada seorang gadis she Suma, keturunan aseli dari Pulau Es.
"Terus terang saja, Lian-moi, tidak pernah aku memperkenalkan nama guru-guruku kepada orang lain. Akan tetapi karena para guruku mengenal baik keluarga Pulau Es, bahkan mempunyai hubungan dekat, dan mengingat pula bahwa antara kita sudah terjadi tali persahabatan yang akrab, maka biarlah aku mengaku kepadamu. Aku mempunyai tiga orang guru, mereka adalah mendiang suami isteri penghuni Istana Gurun Pasir...."
"Ahhh! Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir" Suma Lian berseru, hampir berteriak.
"Benar, dan yang seorang adalah suhu Tiong Khi Hwesio. Mereka bertiga berada di Gurun Pasir dan aku menjadi murid para guruku itu selama tujuh tahun di sana."
"Aihhhhh....! Pantas saja engkau demikian lihai! Tapi.... tapi.... engkau tadi berkata mendiang" Apakah.... apakah mereka itu sudah...."
"Mereka sudah meninggal dunia, Lian-moi, tewas ketika belasan orang tokoh sesat menyerbu ke Istana Gurun Pasir. Dan ketahuilah bahwa para penyerbu itu bukan lain adalah Sin-kiam Mo-li tadi bersama kawan-kawannya yang lihai."
"Iblis betina tadi" Suma Lian berseru kaget dan matanya terbelalak. "Tapi.... bagaimana mungkin iblis betina itu dan kawan-kawannya mampu menewaskan mereka yang sakti" Padahal di sana ada engkau pula, Hong-ko" Suma Lian bertanya dengan nada suara mengandungpenasaran. Ia tahu bahwa Sin-kiam Mo-li lihai, akan tetapi ia sendiri mampu menandingi iblis betina itu bahkan Sin Hong sendiri jauh lebih lihai dari Sin-kiam Mo-li. Bagaimana mungkin iblis betina itu bersama kawan-kawannya mampu menewaskan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, juga Tiong Khi Hwesio yang pernah didengarnya pula dari ayah ibunya sebagai seorang yang amat lihai"
Sin Hong menarik napas panjang, "Agaknya Tuhan telah menakdirkan bahwa tiga orang guruku itu harus gugur dan tewas sebagai orang-orang yang gagah perkasa. Kurang lebih dua tahun yang lalu terjadinya. Tiga orang guruku adalah orang-orang sakti, akan tetapi usia mereka pun sudah amat lanjut rata-rata delapan puluh tahun, bahkan suhu Kao Kok Cu, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, sudah berusia delapan puluh lima tahun. Adapun yang datang menyerbu, bukan orang-orang sembarangan, banyak yang lebih lihai dari Sin-kiam Mo-li. Mereka adalah tokoh-tokoh besar dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw semua berjumlah tujuh belas orang. Tiga orang guruku tewas akan tetapi dari tujuh belas orang penyerbu itu empat belas orang tewas pula, sedangkan yang masih hidup namun terluka parah adalah Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin wakil ketua Pat-kwa-kauw, Thian Kek Sengjin, tokoh besar Pek-lian-kauw."
"Akan tetapi engkau sendiribukankah engkau berada di sana, Hong-ko dan bagaimana gurumu tewas" Suma Lian memandang dengan alis berkerut agaknya merasa heran dan menyesal mengapa pemuda ini tidak dapat membela gurugurunya.
Sin Hong menarik napas panjang, jantungnya terasa nyeri seperti ditusuk setiap kali dia teringat akan peristiwa itu. "Sudah kukatakan tadi Lian-moi, agaknya Tuhan sudah menghendaki demikian dan menakdirkan tiga orang guruku itu sudah tiba saatnya meninggal dunia. Pada waktu itu, aku tidak berdaya. Tiga orang guruku itu mengajarkan sebuah ilmu gabungan ciptaan mereka bertiga dan mengoperkan gabungan tenaga sakti kepada diriku. Ilmu itu harus kupelajari selama satu tahun, dengan syarat bahwa selama setahun itu aku sama sekali tidak boleh melakukan gerakan silat apalagi mengerahkan sinkang karena kalau hal ini kulakukan.... aku akan tewas dengan sendirinya, terpukul sendiri oleh tenaga yang kukerahkan itu. Nah bayangkan saja, Lian-moi. Aku tidak dapat bergerak, terpaksa melihat tiga orang guruku tewas di tangan mereka, dan aku sendiri tertawan tiga orang yang masih tersisa itu. Mereka mengira aku seorang kacung yang tidak memiliki ilmu silat, mereka memaksaku untuk menunjukkan di mana adanya pusaka-pusaka istana tua itu. Karena memang tidak ada pusaka, mereka menyiksaku. Aku membakar istana tua itu berikut jenazah tiga orang guruku, dan aku disuruh menguburkan jenazah empat belas orang penyerbu yang tewas. Untung bagiku pada malam harinya, aku berhasil melarikan diri dan sembunyi di dalam hutan selama satu tahun untuk menyelesaikan latihanku."
Suma Lian mendengarkan dan kini senyumnya timbul kembali. Kiranya pemuda ini bukan seorang pengecut, melainkan karena terpaksa maka tidak mampu membela guru-gurunya.
"Tapi kenapa Sin-kiam Mo-li tadi tidak heran melihat engkau muncul sebagai seorang yang berilmu tinggi, Hongko"
"Semenjak aku keluar dari dalam hutan sudah pernah aku bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, yaitu ketika ia hendak membunuh ketua Cin-sa-pang. Aku menyelamatkan ketua itu dan sejak itu Sin-kiam Mo-li sudah tahu bahwa aku mewarisi ilmu dari para guruku."
"Akan tetapi, Hong-ko, sungguh aku tidak mengerti. Engkau telah bertemu dengan seorang di antara para pembunuh guru-gurumu, yaitu Sin-kiam Mo-li. Kenapa engkau tidak membalas dendam dan membunuh iblis betina itu"
Sin Hong tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Ketahuilah Lian-moi, guru-guruku pernah memesan dengan amat sangat kepadaku agar jangan membiarkan dendam meracuni hatiku. Kalau aku menentang Sin-kiam Mo-li, yang kutentang adalah perbuatannya yang jahat, bukan karena dendamku kepada pribadinya, karena kematian guru-guruku."
Suma Lian mengerutkan alisnya. Pernah ia mendengar ayahnya juga berpendapat demikian, namun ia sendiri tidak pernah dapat menerima dan menyetujui pendapat itu. "Sudahlah, sekarang ceritakan, siapa kel
Bara Naga 10 Pendekar Satu Jurus Karya Gan K L Jodoh Rajawali 4
^