Pencarian

Kisah Bangsa Petualang 11

Kisah Bangsa Petualang Karya Liang Ie Shen Bagian 11


mping ayahnya. Bahwa aku menolongi iyah dari adik seperguruanku
itu, melulu umtuk diaaya, sama sekali bukan karena aku setuju
sepak terjangnya Ong Pek Thong ! Bukankah hari itu kau telah
melihat caranya aku menolongi mereka" Memang ! Hari itu aku
membela mati matian mereka ayah dan anak, akan tetapi untuk
itu, tak pernah aku membunuh atau "melukai orang pihakmu !
Jikalau aku kawannya Ong Pek Thong apakah kau sangka Sio
Thian Hiong dapat hidup terus" Sekalipun Nona Han kamu
sedikitnya dia bakal terluka
Mo Lek dapat membayangi pertempuran hari itu. Memang itu
hari Goan Siu cuma bertindak menolongi orang. Ia pun melihat
liehaynya orang she Tian ini. Karena ini, ia tidak membenci
seperti semula.
"Baik, aku suka percaya kau." ia menyahut. "Aku percaya
kau bukan kawannya Ong Pek Thong. Sekarang aku tanya kau,
bukankah Ong Pek Thong si bangsat tua itu berada disini ?"
"Tidak !" Goan Siu menjawab. "Ong Pek Thong terlalu
dipengaruhi harta besar dan kedudukan tinggi, untuk itu dia
sampai meminjam tenaga bangsa asing, dia ingin menjadi jago
dan raja, tak dapat aku mem-bujuki dia, karena itu, aku
membiarkan dia pergi. Disini aku cuma menahan anak
perempuannya, yang sekarang lagi beristirahat."
Mo Lek berpikir lekas. "Taruhkata Tian Goan Siu ini
bukannya musuh, dia toh bangsa tolol! " Dikirnya. "Dia
bertindak sangat sembrono. Kalau dia tidak dapat membujuk
Ong Pek Thong. kenapa dia tidak membunuhnya saja?"
Pemuda ini berpikir sepihak" Tak ia mau ingat Yan Ie menjadi
su-moay orang karena mana sudah tentu Goan Siu sebagni
suheng, kakak seperguruan tidak dapat membinasakan ayah su
moay itu. Ia menghendaki orang polos sebagai ia sendiri yang
hanya mengutamakan kejujuran.
Goan Siu melihat orang ragu ragu ia mendesak: "Terang
padamu Kau telah melihat kematian lagi mendatangi, apakah
benar beaar kau tidak mau menolong mencegahnya"*
Mo Lek pun mendongkol ..Kenapa kau mendesak begini rupa
padaku" taaya ia. ..Bukankah aku telah bilang bahwa aku tidak
mengarti ilinu tabib?"
Goan Siu tertawa dingin.
"Bakankah aku pun telah membilang?" katanya. Penyakitnya
lain orang tak dapat kan obati tetapi penyakitnya sumoy ini
kau pasti sanggup! Cukup asal kau menyebut sepatah kata ,
Aku datang menjengukmu! lantas sakitnya akan sembuh
separuhnya Luar biasa aada suara orang she Tian ini. Disitu ada nada
jelus atau irihati.. ..
Muka Mo Lek menjadi merah. Didepan-nya berbareng
terbayang wajahnya Yan le dan Cie Hua Biar bagaimana ia
merasa berkasihan terhadap nona she Ong itu. Orang selalu
baik padanya dan suka menolong ia meskipun pertolongan itu
berarti menentang Ong Pek-Thong ayahnya. Nyatalah Yan Ie
menyintanya luar biaia. Disapa tapiaya ada Cie Hua memberi
pelana"* ,,Apakah kau tidak tabu sumoymu itu musuhku?" tiba tiba ia
kata keras. ,,Jangan kata aku tidak mengarti ilmu ketabiban.
Turut kata aku mengerti mana dapat aku mengobati dia?"
,,Memang aku tahu dia pernah membutuh ayah aagkatmu,
kata Goan Siu, akan tetapi bukaakah dia pun pernah menolongi
jiwamu?"* , Selama di Liong Bin Kok aku telah membinasakan dia,
bukaakah dengan begita aku telah balas badinya itu?"
Goan Siu tertawa dingia.
"Dapatkah jiwa orang dipaadaag sebagai hutaag?" kata dia.
Dapatkah jiwa dibayar hiaopas sebagai orang membayar
uaag?" Hati Mo Lek berdebar.
, Biar bagaimana juga tak dapat aku tidak berlalu dari sini!
katanya kemudian, serahkan kudaku!"
"Bicara terus terang! kata Goaa Siu jaga keras. ,,kudamu
memang akulah yaag bikia sakit! Jikalau kau tidak sembuhkaa
sumoay-ku, kudamu juga tidak bakal sembuh!"
Memang Mo Lek sangat menyayangi kuda itu yang tak tega
ia meninggalkannya, akan tetapi dilain pihak ia takut pada Yan
Ie, takut menemuinya Ia menjadi tidak senang.
"Kalau begitu kau lah sitelur busuk! katanya sengit, Kalau
lain kali aku bertemu pula denganmu, akan aku membuat
perhitungan! Han ini. meski aku mesti mengorbankan kudaka,
tak dapat aku melayani kau lebih lama pula!"
Goan Siu juga menjadi gusar.
"Bagus benar ya! katanya, sama keratnya. "Aku bermaksud
baik oaeagnidm" ka , keaapa kau menkaki aku" Aku bilang
teruc terang padamu jikalau bukan aku memandang sumoayku,
tidak tanti aku berlaku aungkan begini terhadapmu. "Kau tidak
mau menolong orang meskipun sekarang kau mau pergi tidak
dapat!" "Meski kau tidak mengijinkan aku mau pergi juga! "kata Mo
Lek. "Benar-benarkah kau mau pergi tanya Goan Siu tertawa
dingin. "Nah kau cobalah. Kata kata itu ditutup dengan tatu
srm-beran tangan keras luar biasa
Syukur Mo Lek telab bersiap sedi*" "Bagus!** seru pemuda
ini. Ia berkelit dengan berjingkrak, guna rerut mengapungi diri
selagi turun ia pun menyerang dengan Chan LioTsg Ciu. atau
tipu "Membunuh Naga. Kedua tangannya menghajar berbareng
ke batane leher tcan rumah yang muda itu Hebat serangan
Goan Siu hebat juga serangan pemuda ini. Goan Siu benar
liehay Ia cepat berkelit, sambil berkelit itu tangan nya diulur ke
sikut penyerang untuk menangkap. Itulah tipusilat. "Mengulur
tangan menuntun kambing.
Mo Lek menyerang hebat sekali tubuh aya sampai terjerunuk
maju meski begitu ia masih tempat berkelit cuma saking
sebatnya lawan bajunya kena juga kesamber hingga robek.
Dengan gesit ia lompat melesat lompat seraya memutar tubuh.
Kaiena itu begiitu berbalik begitu ia biia menyerang pula. Ia
menghajar kepala dengan gerakan mirip garuda lapar
menerkam kelinci.
Goaa Siu terperanjat juga. Benar-benar hebat pemuda
lawannya ini. Untuk membela diri. terpaksa in menangkis,
Segera juga terdengar suara bernada keras. Empat tangan
bentrok satu dengan lain.
Mo Lek menyerang dar/ atas telinganya dibantu becgan
bera: tabuhnya rraka itu, ia menang unggu" sedikit. Meskipun
Tian Goan Sin menggunni pukulan. "Tangan Lunak, ia tob
terhuyung mundur tiga tin" dak. Mo Lek terjerunuk juta I ulah
habis bentrokan, ia ~haeraiai membentur souatu yang lunak
hingga sulit anteknya menahan tubuhnya.
Syukur "Bian Ciang" dari Goan Siu be lum mencapai pnncak
kemahirannya, setelah terhujuag itu tak dapat ia segera
melakukan peayerangan puJa. Benar Mo Lek terjerunuk tetapi
ia pun mundur Maka itu ketika ia maju pula. Mo Lek juga sudah siap sedia
lagi. Tapi sekarang ia menyerang secara hebat Ia nyata bisa
ber-gerak dengan sangat sebat dan ringan, tubuh nya bergerak
gesit, kesegala penjuru, dan serangannya pun beraneka rupa.
Inilah sebab mereka menggunai "Bin Ciang. dicampur dengan
Kim Na Ciu" yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus! Ia seperti
juga bergerak ge rak di delapan penjuru.
Diantara kedua lawan ini ada perbedaannya Mo Lek
mengutamakan ilmu silat pedang. Didalam hal tangan kosong,
ia melain kan lumayan saja. Sekarang ia menghadap lawan
dengan tangan kosong, dengan ilmu silat yang lihay. ia menjadi
repot juga. Syukur dari Ci Hun ia pernah mendapat pelajaran
ilmu totok, maka untnk menutup kekurangannya itu, ia
menggunakan totokan Nona Han setiap datang bahaya ia
menyambut dengan totokannya, ke jalan darah. Goan Siu,
melihat itu ia tidak berani terlalu merdesak Lain perbedaan lagi,
Mo Lek seperti sudah nekad dan Goan Siu maaih ragu ragu.
Demikian kesudahannya, mereka menjadi berimbang.
Tengah dua orang itu bertempur seru, seorang terlihat
muncul dari pintu belakang, Dia mengawasi sektaa lama lantas
terdengar suaranya. "Anak muda iti sangat bandel dia mirip
dengan kudanya Siauwnya. kuda itu, sudah sembuh anteronya,
sekarang dia lagi mengadat. dia meronta-ronta mau menerobos
ke luar. karena mana aku menutup pintu kandang dengan
menghajar dengan batu besar. Siauwnya. kau mau atau tidak
aku minta minta ?"
Mo Lek bara tahu munculnya orang sete lah ia mendengar
suara itu. ia menggunakan kesempatan untuk melirik. Untukherannya.
ia mengenali situkang perahu yang kemarin. Ia
lantas mengerti duduk nya hal.
"Kiranya kamu satu komplotan !" Ia mendamprat "Kamu
memasang perangkap, kamu memancing aku datang kemari "
Tian Goan Siu tertawa terbahak.
"Tidak salah " sahutnya. "Baru sekacang kau mengerti busas.
Memang dialah yang memberi kabar padaku, maka aku
membikia kudamu sakit! kau sudah ketahui duduknya hal.
Itulah bagus ! Sekarang kau ?centers bagaimana susah payah
kami bekerja roe ngundaagmu datang kemari ! Coba pikir
karena itu. dapatkah kami membiarkan kau ngeloyor pergi ?"
Mo Lek menjadi panas hati, ia menyerang dengan hebat.
Goan Siu berlaka sabar, dengan tenang, ia pecahkan
serangan itu. Ia terus berdiri tegak. Kemudian ia tertawa daa
kata kepada kawannya si tukang oerahu," "Kau lihat bu kaa "
Meskipun bocah ini galak aku rasa aku mempunyai kepand?ian
uatuc menahanaya!" Tak usah kau campurtahu ,,Ya, y?"
menyahui si tukang perahu. "Aku cuma pikir . . . sebenarnya
tak usah Siauwnya, berkuat kuar mengeluarkan banyak tenaga,
"Bakaukah lebih baik kita . . . . "
Tapi Goan Siu menyela membentak: "Aku bilang kau jangan
campur tahu ! Lekas-mundor!"
Mo Lek dapat menangkap artinya pembicaraan dua orang
itu, Situkang perahu ternyata menjadi hambanya tuan rumah
ini. Dia. mengusulkan iriata bala bantuan tapi ditolak. Ia
terkejut, Lantas ia pikir. , Aku berada didalam bahaya Rumah
ini rumah mereka Sulit aku mengalahkan pemuda ini, kalau dia
mendapat bala bantuan benar benar aku sukar lolos dari sini . .
. Ah, buat apakah aku berlaku sungkan-sungkan lagi ?"
Karena ia mendapat pikirannya ini, ia lantas mengaabil
keputusan Begitulah ketika Tian Goan Siu ruaju, menyerang, ia
mem buang diri kebelakang, Cerika inidiguaai ia menghunus
pedangnya, Setelah itu ia berseru:
"Jikalau kau tetap tidak sudi membuka jalan maka pedangku
ini tidak akan kenal orang!"
Goan Siu tertawa.
"Apakah kau hendak mengadu senjata", katanya. , Baiklah
sebagai tuan rumah aku mengiringi kehendak tetamu, pasti
akan aku melayani kau tuan biar bagaiman hendak aku
menahanmu Disitu ada pepohonan dengan berlompat Tian Goan Siu
menyambar sebatang cabang, untuk dipatahkan maka dilain
saat, dengan cabang itu sebagai gegamannya ia sudah maju
pula untuk menikam.
Mo Lek kaget Ia heran orang menggukan cabasg kayu, Ia
pun gusar. Dengan begitu, berarti ia dipeihina, Maka. ia
membabat kearah cabang kayu iiu. Ia berkata didalam hati, ,
Kau berani memandang tak mata padaku nanti aku beri rasa !"
Cabang pohon Goan Siu, bergerak bagaikan ular gesit
melihat atau melolos dari setiap tab&s&n pedang aabaii sabaa
ujungnya mengancam kedua taa"anya Mo Lek Maks-anak muda
ini meijadi terkejut. Uutuk membela diri saban saban ia
mendapat bantuan juga dari kebutan tangan bajunya.
Sekarang Mo Lek tidak lagi memandang ringan kepada
musuh Berbareng dengan itu, hatinya menjadi tabah Ia berlaku
tenang te tapi waspada dan gesit. Selain menyerang ia jusa
berhasil menghalau serangan musuh. Maka juga Goan Siu yang
sekarang terperanjat Ia mendapat kenyataan si anak muda
benar benar Hhay. Cobalah ia menggunakan pedang tulen,
belum .tentu ia kena terdesak.
Sesudah lewat tiga puluh jurus Mo Lek menyerang dengan
pedangnya mirip gelombangnya sungai Tiaag K.aag. Dengan
begitu, ia membikin lawannya, mesti saban " saban berkelit
dengan berlompatan, hingga dia menj jadi repot sekali.
Pertempuran itu berjalan terus atan tiba-tiba keduanya
mendengar ini suara da jam dari seorang tua : "Adakah ini
bocah ysng anak Yaa sampai menyebut-nyebut da lam
mimpinya?" Menyusul itu terlihatlah orangnya, yang baru
muncul dari balik pin tu tamaa. Dialah seorang perempuan tua
de agan rambut ubanan seluruhnya. Tengah dia bertindak
masuk maka terdengarlah satu suara dari putusnya cabang
kayu yaag terpapas pedang
Itulah terkutungnya pedang cabang dan Goan Siu menyusul
mana dia lompat meninggalkan kalangan, guna lantas berdiri di
sisi nyonya tua sambil ia berkata : "Ibu, dia benarlah si bocah !"
Nyonya itu mengasi dengar suaranya yang keren : "Berhenti
!" Mo Lek hendak kabur maka juga ia di serukan bentakm iiu.
Ia lantas kata: "Maaf, aku per"u lekas-lekas melakukan
perjalananku !"
Tapi si nyonya tua bergerak laksana kilat.
"Kau rebahlah baik-baik !" bentaknya pula.
Mo Lek melihat orang bertangan kosong ia lantas trenikam.
Ia menggunai tenaga hanya tiga bagian, maksudnya cuma
mengancam tenggorokan si nyonya.
Tapi nyonya itu liehay. Dia tertawa di agin dan membentak :
"Kau berani meman dang enteng padaku ?" lantas tangan
bajunya yang panjang, menyampok.
Mo Lek kaget sekali. Ia merasa sampok an angin hebat.
Mendadak terasa pedangnya terlibat daa tertarik, terus terlepas
dari cekalannya, melesat ke batu dan nancap dengan
memuncratkan lelatu api ! Dalam kaget, serta heran, tapi ia tak
melupakan di rinya. Maka ingin ia menyingkir, begitulah segera
ia menjajak tanah, untuk berlompat jauh. -
Pemuda ini mempunyai tubuh ringan dan gerakmnya sangat
gesit akan tetapi menghadapi si nyonya tua, ia tidak berdaya
baru tubuhnya terapung naik atau kakinya sudah terlibat ujung
baju nyonya itu hingga la kena diangkat berbareng dengan itu,
ia mendengar si nyona kata : "Jikalau aku tidak mengingat
bahwa kau masih menaruh hormat kepada orang yang sudah
berusia lanjut pasti akan aku beri rasa kepahitan padamu !
Kata kata itu disusul dengan satu gen-takan keras atas mana


Kisah Bangsa Petualang Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tubuh Mo Lek kena dibikin terpental keatas, lalu jumpalitan tiga
kali. Selama itu Mo Lek merasai kepala nya pusing hingga ia
seperti tak sadarkan diri, ketika tubuhnya turun, akan jatuh ke
tanah, Goan Siu berlompat kepadanya, untuk menanggapi,
hitgga ia lantas kena di pegang, ditawan. Ia pun lantas ditotok,
di bikin tak berdaya lagi.
Nyonya tua itu tertawa dingin, ia mengawaki kepada orang
tawanannya iiu, kemudian ia kata : "Dia ganteng, ilmu silat nya
pun baik sekali tidak heran anak Yan jatuh hati kepadanya !
Anak Goan, bukankah kau rela kalah dari padanya?"
"Memang ilmu pedangnya melebihkan ilmu pedangku," sahut
Goan Siu. Orang tua itu menentang lebar ke dua matanya.
"Kau benar benar tidak mengarti atau berpura-pura ?"
tanyanya. "Aku bukan bicara dari hal ilmu silat !"
Goan Siu tunduk.
"Adik Yan menyukai dia, taruh kata aku tidak rela kalah, aku
toh tidak berdaya " " sahutnya perlahan.
Hm !" orang tua itu mengasi dengar ejeknya. "Aku sendiri
pun dahulu tidak menyintai ayahmu, diakhirnya aku toh telah
menikah dengannya ?" Ia berheati sejenak, kemudian ia tanya
pula : "Kabarnya ayah angkatnya bocah ini telah dibunuh anak
Yan, kau tahu atau tidak ?"
"Itulah justeru sebnbnya kenapa bocah ini menganggap adik
Yan sebagai musuh besarnya yang dia sangat benci, hingga dia
tak sudi mengobatinya !"
Nyonya itu tertawa dingin, "kenapakah dikolong langit ini ada
kamu dua orang bocah tolol" katanya. Yang satu tergila-gila
kepada musuhnya ! Yang lain justeru mengundang datang
musuhnya nya itu untuk mengobati orang yang dia cintai ! Aku
beri ingat kepada kau supaya kau jangan berlaku tolol begini
macam ! Paling benar kau bikin habis jiwanya bocah ini supaya
kau dapat membikin putus harapannya orang yang kau cintai
itu ! Bukankah itu paliag beres?" berkata begitu, ia mengangkat
tangannya perlahan-lahan, terus ia tambahkan : "Bocah she
Tiat, kau terimalah nasibmu !" segera ia mengasi turun
tangannya itu, guna menepuk embun-embunan orang.
Goan Siu menjadi sangat kaget, dengan cepat ia menahan
lengan ibunya. "Jangan !" katanya, suaranya mengetar.
Nyonya itu mengawasi pula tajam.
"Kecuali ini, kau ada punya jalan apakah lagi ?" tanyanya,
tawar. Aku tak tahu," sahutnya duka. ,,biar bagaimana telah dapat,
tidak dapat aku membuat hati adik Yaa terluka Nyonya itu kara
dengan lagu suaranya tak senang : "Kalau seorang laki-laki
bertindak, dia tak usah takut ini dan takut itu ! kau seperti juga
bukan puteranya Tian Liong Hui ! dimasa hidupnya, ayahmu
membunuh orang seperti dia membabat rumput, bukan seperti
kau sekarang dengan cara seperti nenek-nenek mi !"
Mo Lek ditotok dan tidak berdaya, akan tetapi ia sadar, ia
mendapat dengar pembicaraan diantara itu ibu dan aaak, maka
ta hulah ia sekarang bahwa nyonya tua yang kosen ini isterinya
Tian Liong Hui si han tu besar.
Tian Liong Hui itu sudah lama menutup mata.. Dia telah
dikepung oleh pelbagai jago kaum lurus, karena luka-lukanya
yang parah, tak dapat dia hidup lebih lama pula dimasa
peristiwa itu. Mo Lek masih di dalam asuhan, akan tetapi
mendiang ayahnya yaitu Tiat Kun Lun, dan Mo Keng Lojin,
gurunya, menjadi dua di antara para pe-ngepung itu, karena itu
ia tahu bahwa juga isteri si hantu besar ini adalah hantu waniita
yang kejam. Hanya, setelah Liong Hui mati, nyonya ini hidup di
dalam tempat persembunyian, buat banyak tahun kaum Kang
Ouw tak pernah melihat atau mendengarnya, hingga orang
menyangka dia sudah menutup mata. Siapa tahu, dia justeru
mengeram diri di tempat ini !
Mengetahui siapa nyonya ini. Mo Lek berkuatir biakan main,
kata ia di dalam hati : "Aku telah terjatuh dalam tangannya
iblis"wanita ini, pastilah aku leb h banyak terancam bahaya mint
dari pada keselamatan "
Justeru Mo Lek berpikir begitu, justeru ia dengar si nyonya
kata keras pada putera nya : "Pergi kau jauh jauh ! Hendak aku
berundak buat membereskan urusan kau ini! Ah, kau masih
hendak mencegah afcu ! kau mengarti atau tidak, aku
membunuh bocah ini untuk kebaikanmu T"
Nyonya itu menolak tubuh anaknya, kembali ia mengangkat
tangannya. Tepat disaat sangat mengancam itu, mendadak terdengar
satu suara yang tajam tetapi halus: "Suhu, kau bunuh sekalian
saja padaku?""
Itulah suaranya Ong Yan Ie, yang berlari-lari
menghampirkan, mukanya sangat pucat kaiena ketakutan dan
larinya limbung. Diwaktu sakit dia nampak kucai sekali, siapa
yang melihat, pa>ti akan merasa berkasihan terhadapnya.
"Ah, anak Yan,"." berkata nyonya tua itu: "Benarkah kau
begini mencintai bocah ini " Benarkah hendak, memintakan keampunannya
dari aku?"
"Aku tidak berani memohonkan dia ke ampunan dari suhu,"
sahut murid itu, "aku hanya mau minta sekalian saja suhu
membunuh aku.*".. *-
Teranglah sinyonya sangat menyayangi muridnya itu. Ia
sudah lantas mengasi turun pulatangannya. Sermbari berbuat
begitu,ia berpikir, lalu ia berkata: Baik, akan a-ku luluskan
permintaanmu ! Ta?i tnnsgu sebentar, hendak aku tanya dulu
bocah ini."
"Tian Toa-nio menarik Mo Lek, untuk menotok
membebaskannya, setelah mana dengan bengis ia berkata: "
Anak Yan berjodoh denganmu, buat guna kau, dia tidak
menyayangi lagi jiwanya sendiri; dia telah memintakan
keampunan jiwanya sendiri! K.au mau atau tidak menikah
dengannya " Jikalau kau suka, ini hari juga akan aku
menikahkan kamu ! Bilang, bilanglah, bagaimana kepntusanmu
! Bilang:"
Mo Lek menjadi terbenam dalam kesulitan, pikirannya
menjadi kacau. Bagaimana ia harus menjawab" Ia bukannya
takut mati, tetapi aneh, asal ia melihat sinar mata Yan Ie,
tubuhnya menggigil sendirinya goncang keras. Dapatkah ia
menganggap nona demikian cantik dan manis, yang sangat
mercintai ia, sehingga musuhnya" Dapatkah dia mear.biarkan
sinema-mn 1 ma ti meroyan karena iany?" Ia mengarti baik
sekali, asal ia menampik, nona itu bakal jadi bunga yang layu
dan rontok di-antara hujan dan badai"..
Dibalik itu, selama beberapa tahun, pe muda ini tidak pernah
melupakan sakit hati ayah angkatnya. Ia telah berkeputusan
untuk membalaskan sakithati dan ia akan membunuh musuh
dengan tangannya sendiri. Musuhnya itu yalah keluarga Ong,
ayah dan anak. Sejak pertemuannya dengan Yan le karena
cintanya -sinona, Mo Lek telah mengalihkan ?ekencu nnya
kepada Ong Pek Thong seorang, akan tetapi mesti demikian, si
nona sendiri tak dapat ia melupakan seluruhnya.
Mungkin ia dapat tak usah membunuh nona itu, tetapi, buat
mengubah permusuhan menjadi persahabatan, bahkan menjadi
ikatan suami isteri, sungguh itu tak cerpikirkannya. Toh
sekarang timbui soal itu ! Biarnya ia berhati besi, hatinya
goncang juga?"
Tengah ia menghadapi kesukaran itu, yang membuatnya
bingung, tiba-tiba dide-pan matanya Mo Lek muncul
bayangannya seorang nona lain, yalah Nona Han Ciu
Hun ! Lantas ia ingat pesannya Nona Han disaat mereka mau
berpisah ! Iapun dapat membayangi bagaimana sinar mata
Nona Han pada waktu itu ! Dapatkah ia berlaku tak berbudi
terhadap tunangannya itu" Tidak ! Inilah hebat dan ruwet
sekali?" Tapi puteranya almarhum Tiat Hun Lun ini mesti mengambil
keputusan. Siwanita hantu telah menanyai ! Maka ia
menguatkan hatti. Ia menyingkir dari tatapan sinona sembari
menggeleng kepala, ia berkata : "Noia Ong, aku bersyukur
untuk tuk segala kebaikan hatimu, tembali aku berhutang budi
kepadamu. Tapi di sana aku telah mempunyai seorang lain. Dia
sama seperti kau seorang nona yang ma-nis dan harus
dikasihani dan aicu tidak capat menyia-nyiakan. Nona baik kau
lu pakan saja padaku?"
Yan Ie mendengari dengan membungkam. Dia bagaikan
orang hilang ingatannya cuma parasnya sangat pucat" Ia
bersenyum waktu dia mendengar kata-kata si-pemuda bahwa
ialah seorang nona yang ma nis. Kata-kata itu toh keluar dari
mulutnya sipemuda yang ia cintai. Mukanya menjadi pias sekali
akan mengetahui pemuda ini tidak dapat meluoakan Cie Hun.
Ia tahu, Cie Hun yalah sinona lain yang dimaksudkan pemuda
ini. "Anak Yan. kau dengar atau tidak?"" kata Tian Toa-nio begitu
ia mendengar suaranya Mo Lek. Ia tidak menantf lagi muridnya
bicara terlebih dahulu, untuk menjawab sianak muda. "Kau
mendengar tegag sekali, bukan" Kau ingin menikah dengannya,
dia sebaliknya tak sudi nikah kau! Dia telah mempunyai
seorang jantunghati lain!
Goan ciu tidak setujui sikap keras ibunya itu.
"Mama?"mama?"kau?"kau?"."katanya terputus-putus.
Sedang sebenarnya ia ingin minta ibunya jangan mengucapkan
kata-kata tajam itu. Hanya tidak dapat ia mengajukan
permintaannya itu.
Hampir berbareng dengan kata-kata orang she Tian ini,
belum lagi ibunya memberikan jawabannya diantara mereka
telah, terdengar jeritan tajam tetapi halus, menyusul maga
tubuhnya Yan Ie roboh sendirinya.
Goan Siu kaget bukan kepalang. Ia lompat untuk mengasi
bangun nona itu.
Tian Toa-nio mengawasi dengan sikapnya yang dingin.
"Dia cuma pingsan," katanya, tenang. "Kau lelaki dia,
sebentar lagi, dia akan men-dusin sendirinya. Kau kemarilah!"
"Ibu mau apa?" tanya si anak.
Goan Siu heran tetapi ia turut perintah itu.
"Inilah bukan pedang mustika," kata ia. "Mau apa ibu
dengan senjata ini?"
"Memangnya siapa yang menghendaki pedangnya ini?" kata
ibu itu tawar. "Aku hanya ingin dia mampus diujung pedangnya
sendiri!?".Anak Goan, kau bunuhlah dia!"
Goan Siu kaget bukan kepalang. Tanpa merasa pedang lepas
dari tangannya, hingga pedang itu jatuh berkontrang ditaflah.
"Tidak punya guna!" kata siibu sengit, "Kecewa kau menjadi
putranya Tian Liong Hui" Benarkah kau tidak punya nyali untuk
membunuh orang?"
"Ibu!" kata anak itu. "Dapat kau menyuruh aku membunuh
lain orang tetapi tidak dia ini"..
"Adik Yan-mu mencintai bocah ini, sebaliknya bocah ini tak
sudi menikah dengan adikmu itu," kata sang ibu, "oleh karena
itu, kau harus bertindak guna membikin putus pikirarannya
mengenai sibocah. Buat apa kah bocah ini terus hidup didalam
dunia ini" Baiklah jikalau kau tidak suka membunuh dia, aku
yang membunuhnya!"
Begitu keluar kata "bunuh" itu, begitu Tian Tao-nio bertindak
mendekati Mo Lek. Untuk ketiga kalinya, dia mengangkat pula
tangannya, mengarah batok kepalanya si-anak muda.
"Jangan! Jangan bunnh dia! mendadak Goan Siu berteriak.
Diapun segera menghalang didepan Mo Lek, dengan kedua
tangannya, pegangi lengan ibunya.
Nyonya Tian menggeraki tangannya, maka anaknya itu
terpelanting hingga roboh terguling? Lantas ia menunda
tangannya sembari ia menanya: "Kenapa dia tak dapat
dibunuh?" "ibu tak dapatkah ibu memikir sesuatu untuk anakmu ?"
tanyanya. Tian Toa-nio menjadi heran.
"Aku mau membinasakan bocah ini Justeru untuk
kebaikanmu!" katanya. Kau ingin anak Yan menjadi istrimu,
bukan?" "Benar," sahut Goan Siu. "Itulah keinginanku."
"Nah, kalau begitu, buat apa bocah ini dikasi tinggal hidup
lebih lama lagi" Bukankah kalau dia dibunuh itu berarti seperti
membabat rumput sekalian mencabut akarnya ?"
"Tapi ibu lihatlah adik Yan. Dia sekarang telah menjadi begini
bersusah-hati, kalau bocah ini dibinasakan, tidakkah
keadaannya bakal menjadi bertambah buruk " Bagaimana
apabila itu sampai terjadi?"
"Toh ini tidak menyintai atau menga-sihaninya, ia" kata
nyonya itu. "Kalau dia kubunuh, ia mungkin bersusah-hati, akan
te tapi selewatnya itu, ia tentu akan mengatakan bahwa
tindakan kita ini tepat!"
"Ibu. itu toh bukannya tidak tahu hati nya adik Yan?" Goan
Siu berkata pula. "talau dapat, biarlah kita menyuruh dia sendiri
yang membinasakannya. Kalau kita yang membunuh orang
yang ia cintai itu,Spakah nanti segama hidupaya ini, ia akan
pedulikan lagi kepada kita?"
"Habis, bagaimana pikiranmu ?" siibu tanya. "Apakah dia
harus dimerdekakan?"
"Jikalau kita merdekakan dia ini pun sulit," kata Goan Siu, "
Bagaimana kalau adik Yan ingin melihat dia tetapi dia tidak
ada" Ada kemungkinan adik Yan nanti men curigai kita dan
telah membunuhnya."
"Jikalau begitu, baiklah, buat sementara kita kurung dulu
padanya!" kata Tian Toa-nio. "Kita tunggu sampai anak Yan
suka berjanji akan menikah denganmu, baru kita lepas
padanya!" Mukanya sianak menjadi " merah. Dia likat.
"Ibu janganlah bertindak sedemikian rupa!" katanya. "Ibu
bakal membuat sulit padaku."
Tian Toa-nio cuma tertawa dingin.
Segera ia menotok pada Mo Lek. Ia mengarah jalan darah
hun-hiat, karena mana, anak muda itu menjadi tak sadarkan
diri. "Anak tolol!" katanya kemudim: "Apakah kau sangka ibumu
benar-benar mau me lepaskannya" Sekarang ini aku cuma
memikir supaya anak Yan menikah denganmu. Asal anak Yan
bersedia menjadi istrimu, tahu aku caranya untuk menghukum
dia!" Tubuh Goan Siu bergidik sendirinya.
"Ibu hendak menghukum bagaimana kepadanya ?" Ia tanya.
"Didepannya anak Yan, akan aku merdekakan dia," sahut ibu
itu. "Diam-diam akan aku menaruhkan racun Pay Hiat San
dalam barang makanannya, yaitu racun yang dapan merusak
darahnya. Dengan kena makan racun itu, dia bakal mendapat


Kisah Bangsa Petualang Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sakit yang berat, belum lagi dia tiba di kota Tiang-an, dia bakal
mati ditengah jalan."
Kembali hati Goan Siu menggigil. Memang ia bercemburu
dan bahkan membenci Mu Lek, akan tetapi disebelah itu, ia
miliki keangkuhannya.
Tidak ada keinginan untuk nikah Yan-Ie dengan cara paksa
Apa yang ia kehendaki ialah cinta si nona, hatinya sinona itu,
bakan melainkan tubuh orang. Tak dapat ia menyetujui sikap
telengas dari ibunya itu. Tian Toa-nio sebaliknya salah menerka
hati araknya dia tak dapat menyelami kalbu, sianak . . .
Lantas Nyonya Tian mengulapkan tangannya.
"Nah. berilah keputusan kita" katanya. "Biarlah bocah ini
hidup pula lagi beberapa hari"
Goan Siu bersangsi sekian lama Akhirnya dapat juga
membuka mulutnya.
"Ibu." kataaya ..aku hendak berbicara," "Apa yang kau
hendak katakan, tanya siibu "Bukankah kau cuma memikir
untuk nikah anak Yan " Apakah kau benar benar tak tega
membinasakaa bocah ini "
"Aku justeru ingin sekali membinasakan dia dengan
tanganku sendiri!" kata si anak. ".Aku ingin melampiaskan
penasaranku Ibu kau serahkan racun Pay Hiat San itu padaku.
nanti tiba harinya bakal dimerdekakan akan aku pakai itu.
Hendak aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana dia
menelan racun itu P
Tian Toa-nio tertawa lebar. , Dengan begiiu, barulah tidak
kecewa kau menjadi anakku" katanya girang luar biasa .Baiklah
kau boleh ambil racun itu ! Sekarang bocah ini kau kurung dulu.
dalam kamar didalam tanah, aku sendiri hendak aku menolongi
anak Yan Lihat dia sangat penasaran dia menderita masih dia
belum mendusin , . . "
Goan Siu lantas memondong tubuh Mo- Lek. Baru dia jalan
beberapa tindak ia sudah menoleh,
"Mama" pesannya kalau sebentar adik Yaa mendusin, jangan
kau omong dulu tentang rencana kita ini. biar aku yang nanti
bicara sendiri padanya. "
Sang ibu tertawa.
,Anak Yan cerdas sekali kalau dia mendapat tahu aku
mengurung bocah ini mustahil dia tak mengerti apa maksudku
" " katanya "Sekalipun kau, tak usah sampai kau bicara
dengannya, jikalau kau bicara terlalu jelas itu mungkin kurang
baik untuk kita semua. , . .
Berat batinya Goan Siu mendengar kata ibuaya itu. pikirnya.
"Pantaslah kalau kaum Kang Ouw mendengar nama ayah dan
ibuku tidak ada yaag tidak mencacinya! Tak tahu aku apa yang
ayah dan ibu lakukan dahulu hari akan tetapi melihat dari
perbuatan dan sikapnya ibu hari ini, sungguh iiu tak dapat
dipikirkan " .
Disaat Goan Siu berusia dewasa, atas perintah ibunya ia
pergi merantau untuk men rantau untuk mencari pengalaman.
Ketika itu. ia menggunakan nama palsu. Ia mempunyai rasa
ingin tahu. maka juga setiap ada-ketikaaya ia suka mencari
keterangan perihal sepak terjang ayahnya. Apa yang ia peroleh
membuatnya malu sendirinya, Ia hanya mendengar celaan atau
cacian. Tentu sekali tidak berani ia menyampaikan semua
cacian itu kepada ibunya. Sebaliknya siibu yang sudah banyak
pengalamanaya, telah lantas merasa, habis merantau itu,
kelakuan puteranya itu bada dari pada biasanya cuma ia belum
tahu apa yang menyebabkan itu ia melainkan menduga duga.
Sementara ita, Mo Lek telah sadar. Ia mendapatkan dirinya
berada ditambat gelap, gulita hingga ia guna merabah rabah.
Diempat penjuru ia memegang tembok yang kuat dan dingin.
Dengan lantas ia mendapat taha bahwa ia sudah menjadi orang
kurungan. Bukan main masgul dan gusarnya, sambil mengepal
ia berkata keras: "Telah kamu tipa aku sampai disini kenapa
kamu tidak mau lantas membinasakan saja ?" Hoa! Dikolong,
langit ini ada banyak orang jahat tetapi tidak ada yang selicik
dan serendah kamu ini!"
Saking sengit Mo Lek menghajar tembok dengan
kepalannya. Tidak dapat ia menggempur tembok itu sebaliknya.
it merasai sakit sendirinya tubuhnya ?umpti mental mundur
Itulah habis ditoto* Nyonya Tita ia menjadi kehabisan teiaga.
Syukur untuknya. ia lekas disedarka? jikalau lama-lama, akibat
totokan itu dapat membikin in terluka dalam.
Seindah mencaci tanpa hasil Mo Lek du duk numprah
ditanah. Ia tahu sia sia belaka a mencaci kalang kabutan. ia
akan tetap ter kurung disitu. Disebelah hu ada kcmungkin an ia
bakal tersiksa kedahagaan dan kelapar an. Ia duduk sambil
beraeraedhi. guna me-sgeudalikaa diri. bua* mengumpnl
teaaganya Ia memerlukan icaagaaya supayalekas pulih Setahu
berapa lama pemuda ini sudah berduduk diam dengan pikiran
ditenangkan ntaa tiba tiba teiingaaya mendengar suara, yang
datangnya dari atasan kepalanya. Dt-agan laatai ia mengangkat
kepalanya buat dongak melihat.Maka ia nreodepatksn sebuih lobang yang
niernberi seditit sinar terang Dari atas itu telah dikasi turun
sebuah rantang kecil yan* dalamnya terisi nasi serta
laukpauknva Setelah rantang sampai d.tanah lobang itu lantas
tertutup pala. "Orang she Tian!" ia berseru: "Jikalau kau benar seorang laki
laki sejati kau bebaskan aku untuk kita bertempur pula sampai
salah satu mati terbinasa!"
Dari atas itu terdengar jawaban ini. "Aku dengan kau tidak
bermusuhan buat apa kita berkelahi mati-matian" Kau baik-lah
berdiam dengaa tenang buat beberapa hari lamanya!*
Itulah suaranya Tian Goan Siu.
Mo Lek masih ingin bicara atau ia mesti batalkan itu, sebab
ia terus mendengar tindakan kaki yaag berat yang berlalu
pergi. Rupanya orasg sengaja berjalan dengan bersuara guna
membikin ia ketahui kepergiannya itu.
Selagi ia sangat mendongkol itu hiduag-nya sianak muda
mendengar bau harum dari barang hidangan. Segera juga
seleranya terbangun. Maka ia lantas pikir: ,,Akn roboh kedalam
akal muslihat busuk dari kamu taruhkata kamu meracuni aku
tak usah aku ambil mumat! Sekarang -baiklah aku dahar
sepuasnya!"
Maka bersantaplah ia sampai kenyang hingga dilain saat,
pulihlah kesegarannya. Sekarang dapat ia menggunai otaknyaia
mercoba berlaku sabar.
"Orang! she Tian itu menjebak aku kemari dia pasti bukan
laki lak sejati demi kian piKiraya walaupun demikiaa
dibandingkan dengan ibunya dia maaih terlebih baik. Kenapa
dia berlaku baik padaku" bukankah ini disebabkan dia
menyintai Yan Ie" Akan tetapi Yan Ie sebaliknya tidak
menyintai dia ".
Mengingat ini kebencian Mo Lek kepada Goan Siu menjadi
berkurang sendirinya bahkan sebaliknya ada sedikit rasa
simpatinya Biar bagaimana Mo Lek tak tenang hati: Ia mempunyai
tugas. Ia mesti pergi ke Tiangan tetapi sekarang ia terkurung
disini. Kalau umpama kata ia mati pasti tidak ada orang yang
mengetahuinya. Inilah hebat! Ia juga jangan mengharap nanti
ada orang yang datang menolongi padanya.
Dalam bingung atau putusasa itu kemudian Mo Let
menghibur diri dengan berkata didalam batinnya. "Memangnya
aku tidak berniat membantu raja jikalau karena tertahannya
aku disini, tugasku gagal, aku percaya Lam Toako tidak bakal
meayesalkaa atau menegur aku. Ah, aku totol sekalipun jiwaku
bakal lenyap, aku masih belu? tahu kenapa aku mesti pikirkan
halnya Tiaa Toako bakal meayesali atau menegur aku atau
tidak"..:..
Walaupua ia dapat menghibur diri demikian rupa hati Mo Lek
belum kebas atau ringan seluruhnya. Ialah seorang yang
mempunyai rasa tanggung jawab. Sebelum ia menyelesaikan
tugasnya berat rasanya ia kalau nanti berhadapan dengan Lam
Cie In yang kakak seperguruan.
Satu hal lain dengan sendirinya menyulitkan padanya. Itulah
Ong Yan Ie yang tergila-gila terhadapnya. Luar biasa sikap
nona Ong, maka juga walaupun ia tidak mau pikiran aona iiu
saban saban ia mengingatnya. Semua ini terjadi gara gara
sinona. Ruwet pikirannya setiap kali ia ingat Yan Ie, Ia menjadi
masgul sekali. Didalam tempat yang gelap gulita itu tak tahu Mo Lek akan
jalannya sang waktu. Ia pun melainkan ketahui setiap hari tiga
kali rantang kecil dikasi turun membawakan barang makanan
untuknya Dari datangnya barang makanan itu ia menghitung
hari. Maka ia ketahui yang ia sudah tersekap selama tiga hari,
Dihari ketiga itu tengah hari selagi ia berdiam dengan masgul
tiba tiba pintu batu terbuka separuh daa separuh dan seorang
terlihat bertindak masuk.
Mendadak saja timbul marahnya pema-da isi. Ia lantas
lompat bangun seraya terus mengirim satu sampokan sambil
oaulit-nya memperdengarkan suara bengis. "Bangsat
perempuan kau masih punya ketelengasan macam apa lagi"
Baiklah aku?"aku.
Atau mendadak ia bungkam sendirinya mulutnya tinggal
celangap. Sampokaonya itu ternyata mengenakan sasarannya
sebagai akibat dari itu ia menjadi kaget dan melengak saking
heran. Ia mengenakan sasaran yang empuk bagaikan kapuk.
Syukur ia sudah dapat mengusai tangannya begitu ia merasa
membatalkan serangannya itu.
Orang yang di serang itu terlihat terbayang, lalu terdengar
suaranya perlahan sekali, "Mo Lek beginikah kau masih
membenci aku?"
Itulah Ong Yan le, dengan suaranya yang halus, yang
nadanya menyesalkan.
Sesudah terkurang beberapa hari tak dapat Mo Lek malihat
tegas ia juga sedang terpengaruhkan hawa anearahnya, tidak
he ran. begitu ia melihat orang dataag dan orang itu terlihat
samar-samar sebagai wanita ia lantas menduga kepada Nyonya
Tian yang tua maka menuruti suara hatinya ia menyambut
dengan dampratan dan serangan nya itu Tak pernah ia berpikir
kepada si-nona, Tentu secari ia menjadi terperanjat menyesal
dan bingung, hingga ia berdiam saja.
"Oh, kau?" katanya kemudian. "Aku menyangka kepada
gurumu yang kejam itu!"
"Pantas"ah kau membenci aku, Yan te menjawab.
"Sebenarnya daripada kau membenci. Keluarga Tian lebih
nepat kau membenci aku. Penderitaanmu ini dan bahaya yaag
masih terus mengancam jiwamu";
Mendengar kata kata Yan Ie yang terakhir itu mendadak
hawa amarah sianak muda. la lantas ingat kebinasaan ayah
angkatnya Segera telinganya seperti mendengar kumandang:
Mo Lek, inilah saatnya buat kau membalaskan sakit hatiku!"
Memang, kalau sekarang ia membalaskan sakit hati itu,
mudah saja ia melakukannya. Jangan kata sinona belum
sembuh seluruhnya dari sakitnya, taruh kata dia sudah sehat
seperti sediakala, dengan sikapnya sekarang ini, dia pasti tak
dapat membuat perlawanan.
Tapi mana dapat Mo Lek silaki-laki sejati membunuh seorang
wanita yang tidak mau melawannya" Nona itu juga lagi
terganggu kesehatannya.
Kedua pihak berdiam sekian lama. Selama itu mata Mo
Lekpun menjadi biasa lagi Didalam gelap itu, dapat ia melihat
wajah sinona, walaupun dengan samar-samar. Ia bisa melihat
paras orang lesu dan mestinya sinona kerduka bukan main.
Karena mereka berdiri dekat dan berhadapan, ia pula
mendengar suara napas membaru dari nona itu. Bahkan
kemudian ia melihat juga menetes jatuhnya butir-butir air
mata! Hati bagaikan batu dari sianak muda lumer diantara air mata
itu, bahkan bayangan ayah angkatnya turut menjadi buyar.
Didepannya sekarang terlihat sebuah tubuh manusia yang
berdarah dan sinona cantik. Tiba-tiba ia melengoskan mukanya
untuk lantas bertata dengan kata-kata patah demi patah:
,,Sejak hari ini, permusuhanku denganmu habis sudah! Aku
hidup atau aku mati, tak akan aku membenci pula kau! Suara
itu dalam dan tergetar. Itulah bukti dari tegangnya perasaan
hatinya. ,,Oh. Mo Lek, Mo Lek!" seru sinona ter tahan. Cuma dua kali
ia menyebut lehernya lantas bagaikan terkancing, tak dapat ia
bersuara lebih jauh. Tanpa merasa, menyamber tangan sianak
muda, untuk menyekalnya dengan keras.
Dengan perlahan Mo Lek memutar kepalanya, akan tetapi ia
tetap tidak berani menatap sinona, supaya sinar mata mereka
tidak bentrok satu dengan lain. Ia memikir buat meronta, buat
melepaskan tangannya, ia melainkan bisa berpikir, tak sanggup
ia melakukannya. Hingga akhirnya ia membiarkan lengannya itu
terus dipegangi sinona. .
Bukan main sulitnya anak muda ini. Ia malu sendirinya, ia
bersusah hati. Disatu pihak, hatinya menjadi lega, dilain pihak,
ia tetap merasa berat.- Ia dengan kapan ia ingat pesan Cie
Hun. Memang sejak lama ia telah tenggelam dalam keraguraguan:
"Membalas sakit hati ternadap Yan Ie atau jangan?"-
Niatnya membalas keras, kesangsi-annya tak kurang hebatnya.
Baru sekarang ia bisa membuka mulut menyatakan kepada
sinona bahwa ia melepaskan dendamnya. Inilah yang
membutnya lega. Yang membikin ia masih merasa berat ialah
ia jadi ak dapat membalaskan sakit hati ayah angkatnya kepada
sinona sendiri walaupun besar musuh besarnya musuh yang
langsung, ialah Ong Fek Thong.
Sekian lama mereka berdua berdiam saja selama itu hati
keduanya goncang keras.
Masih lewat sekian lama, baru terdengar Yan le
mengeluarkun napas lega.
, Mo Lek, kau baik sekali! " katanya kemudian. ,,Tak peduli
kau sangat tidak menyukai aku, aku tetap akan mengingat baik
baik kebaikan hatimu ini!"
Tak enak hati sianak muda. Dengan perlahan, ia singkirkan
tangannya. "Nona Ong, sudahlah, apa yang telah lewat, jangan disebut
sebut pula," kata ia, perlahan. Iapun menyebut nona. Mulai hari
ini, kau lupakanlah aku. Aku lihat di samping gurumu yang
telengas sekali, suheng-mu sebaliknya bukan orang yang
terhitung buruk."
,Kau benar" sahut Yan Ie. ,,Juga, terhadap aku, suheng
berlaku baik sekali. Aku telah berjanji kepada guruku bahwa
aku ber sedia untuk menjadi nona mantunya, maka itu kau, kau
tenangkanlah batinmu."
Mo Lek girang berbareng daka. Ia girang karena dengan


Kisah Bangsa Petualang Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

begitu, tentang si nona telah ada kepastiannya. Yang
membuatnya berduka yalah, dari lagu suara orang, nona ini,
mau menikah dengan Goan Siu karena terpaksa, bukan karena
cinta. Didalam tempat segelap itu. tak dapat Yaa Ia melihat
parasnya Mo Lek, akan tetapi Mo Lek sendiri merasa pipinya
panas. , Baik" katanya sambil tunduk. , Aku beri selamat padamu!"
"Sebaliknya aku belum mengasi selamat padamu berhubung
dengan perjodohanmu diagan Nona Han !" kata Yan Ie yang
tertawa bukan seperti tertawa karena hatinya sakit. Ia juga
menangis bukannya menangis".
Mo Lek mengarti itu. ia menyesal dan masgul.
,Nona Ong" katanya pula, menyimpangi urusan, ,aka
mengucap terima kasih yang kau telah datang menjenguk aku.
Sekarang kita sudah bicara jelas, karenanya silahkan kau
pulang supaya suhengmu tidak buat pikiran atas dirimu."
"Memang, aku memang harus pulang." sahut si nona. ,.Aku
belum memberitahukan suheng bahwa aku bersedia menikah
dengan nya."
Berkata begitu. Nona Ong memutar tabuh buat berjalan
pergi atau baru dua tindak ia sudah merandak.
"Mo Lek . . . Mo Lek . . " katanya, perlahan.
Hati si anak muda goncang.
"Nona Oog, silahkan pergi ! " kata anak muda ini.
"Aku pulang?" tanyanya. "Aku pulang kemaaa ?"
"Kau pulang kepada Nona Han mu boleh kepada Lam
Suheng mu boleh juga." sahut si nona. ,.Itu toh urusanmu !
Mengapa kau " tanya aku "
Mo Lek heran, ia sampai terperanjat, la , dapat menerka.
"Apakah kau headak memerdekan aku?" tanyanya.
,,Kau toh tak dapat berdiam seumur hi dupmu di dalam
kurungan ini" si nona membaliki.
Mo lek tetap heran.
"Apakah kau tak takut dipersilahkan gurumu" Mo Lek
tegaskan. .,Biar bagaimana, ia toh harus memberi muka kepada bakal
menantunya ?"
kembali Mo Lek terbenam dalam kesulitan. Apa baik ia
terima budi nona ini atau jangan, kalau ia terima baik, ia bebas,
kalau ia menampik, ia tetap terkurung dan entah bagaimana
nasibnya, kalau ia menerima baik, itu artinya budi ".
Selagi pemuda ini bersangsi, jauh di luar terdengar suaranya
Tian Toa-nio : ,,A-nak Yan ! Anak Yan ! "
Nona itu tidak menjawab gurunya, hanya ia kata pada si
anak muda : "Lekas kau pergi ! lambat sedikit, kau bisa celaka!
Nanti sudah kasip !" ia pun lantas bertindak kepintu, untuk
membukanya. Deagan sama cepatnya ia tarik tangan si anak
muda. Tiba-tiba terdengar satu suara perlahan didekat mereka
Suara itu sedikit menggetar-
Mo Lek terperanjat, apa pala tempo ia lantas melihat Tiai Go
n Siu berdiri disamping pintu. ketika itu. ia masih dipegangi Yan
le. Ia menjadi jengah sekali, mukanya menjadi merah
sendirinya. Goan Siu mengasi dengar suara heran. Ia telah melihat
semua. Mukanya lantas berkerut.
,Baik kamu semua pergilah," katanya sesaat, kemudian
sedang dengan tangannya ia memberi tanda kebebasan.
,,Aku yang pergi sendiri! " kata Mo Lek cepat, untuk
membantah "Kau . . " jangan kau salah mengarti !
Goan Siu memandang pemuda didepan-nya itu ia tidak
menghiraukan kata-kata orang terus ia berpaling kepada Yan
le, un tuk berkata dengan perlahan : . Adik Yan, kau juga lekas
pergi ! Sipengemis tua telah datang kemari ! Dia . dia mencari
kau!" Hati Mo Lek tergerak mendengar kata-kata "pengemis
tua" itu. ,,Pengemis tua yang tinggal di gunung Hoa San tidak ada
lain orang lain, dia ten tulah See Gak Sin Liong hong hu Siong !
" pikirnya.
"Telah aku menduga dari siang-siang bahwa dia pasti bakal
datang sendiri mencari aku ! " katanya tawar. ,,Apa yang aku
lakukan akan aku pikul sendiri tanggung jawabnya ! Apa yang
harus dibuat takut?"
"Aku pun percaya ibu tidak bakal mem biarkan kau diperhina
orang," kata Goan Siu, ,.akan tetapi kau tabu sendiri, tabiat j
ibu sangat luar biasa, dia dapat bergirang dan bergusar tanpa
ketentuan maka itu aku pikir lebih baik kau menyingkir dari
pengemis tua itu ! Laginya, pengemis tua itu tentunya kenal
saudara Tiat apabila dia me lihat saudara Tiat berada disini, aku
kuatir nanti terbit lain gara-gara !"
,Begini saja," kata si nona singkat : "Lebih dulu aku antar dia
turun gunung, habis itu, akan aku kembali !"
Goan Siu nampak heran sekali, hingga ia menatap si nona.
Hanya sekarang ini parasnya terlihat sedikit tenang.
Begitu pun baik," sahutnya. "Sebentar didepan itu, akan aku
kilungi kamu. Pergi kamu ambil jalan dari depan sana, asal
kamu berhati-hati sekali !"
Ketika itu, kembali terdengar suara tajam dari Tian Toa Nio :
"Anak Goan ! Anak Goan !"
Mendengar itu, Goan Siu lekas menya huti. Dia mengasi
dengar suara yang tinggi "Ya ibu ! Ya ! Aku akan lantas datang
!" Dia lantas berlari-lari pergi.
Yan Ie memegang pula tangannya Mo Lek, yang ia tarik,
buat diajak meninggalkan penjara batu itu. Dengan lekas
mereka melintast pekarangan depan.
Tepat di itu waktu, terdengar suaranya Tian Toa Nio :
"Sakitnya anak Yan sudah baik kan atau belum " kenapa dia
tidak ke luar sendiri " "
Nyonya tua itu bicara didalam rumah, diluar situ. Yan Ie dan
Mo Lek harus lewat Itulah sebabnya kenapa Goan Siu memesan
mereka itu berhati hati.
Yan Ie menarik tangan Mo Lek, buat diajak bersembunyi
dibelakang batu gunung gunungan. Dari situ mereka
mendengar suaranya Goan Siu : .,Tadi malam adik Yan banyak
baik, hanya hari ini keadaannya jadi berubah memburuk pula.
sampai dia tak dapat bangun dari pembaringannya.
Sementara itu, dari tempatnya bersembunyi, Mo Lek dapat
memandang ke dalam ruang atau kamar dimana Tian Toa Nio
berada, disana nyonya tua itu berada bersama seorang lain
yang menjadi tetamunya. Benar dialah See Gak Sin Liong Honghu
Siong, si Naga Sakti dari Gunung Barat (Hoa San) atau si
pengemis tua seperti disebut Gun Siu hanya sekarang ini dia
bukan mengenakan pakaian butut atau rubat-rabit hanya
pakaian baru dan mentereng, hingga dia tak nampak setua
seperti biasanya dalam pakaian rombeng tidak keruan.
Segera terdengar suaranya si nyonya tua:
Liong Hong-hu dengan sebenarnya muridku lagi sakit dan
mesti rebah saja di atas pembaringanya hingga tidak dapat dia
keluar dari kamarnya "
Hong hu Siong duduk menghadap ke luar, ke dua matanya
yaag berjelilatan bersinar tajam.
,.Tian Toa nio aku minta kau suka maafkan aku yang aku
berlaku sedikit kurang ajar" kata dia ..Dalam hal ini aku perlu
memeriksa dengan teliti, karena muridmu sakit seperti katamu,
perlu aku pergi kepadanya untuk melihat sendiri ! *
Bagaimana berani aku menyusahkan kau, tuan " kata Tian
Toa Nio. "Tetapi! kata si pengemis liehay: ,,Bentengnya keluarga Ong
dilembah Liong Bin Kok sudah diubrak abrik rombongannya
Toan Kui Ciang dan Lam Cee In jikalau mereka itu mendapat
tahu aku berada disini Sudah pasti sekali mereka bakal datang
menyusul guna mencari gara-gara ! Hm ! Sampai itu waktu aku
percaya keadaan pasti akan jadi buruk buatmu ! Oleh karena
itu aku lihat lebih baik kau lekas menanya jelas kepada
muirdmu itu !"
Tian Toa Nio menjadi tidak puas
,,Muridku itu." katanya "meski dia masih berusia sangat
muda, hinggga dia tidak dapat membedakan berat dari enteng,
kendati dia bisa berbuat sesukanya aku percaya tidak nanti dia
sampai berpihak kepada orang luar hingga dia rela membantu
orang memusuhkan ayahnya sendiri ! Tapi karena Tuan Honghu
tidak percaya dia hingga kau ingin mendengar sendiri
keterangannya baiklah mari aku temani kau menemuinya.
Disana kau nanti dapat. menanya jelas hingga batinmu menjadi
lega !" -oo0dw0oo- Jilid 20 Mo Lek mendengar semua pembicaraan itu, ia heran, hatinya
tegang. "Menurut suaranya ini. Hong hu-siong ini sama demgan Ong
Pek Thong si bangsat tua " demikian pikirnya. ,Mungkin mereka
telah bekerja sama. Bukan itu saja. Rupanya dia takut Lam
Suheng nanti mencari padanya. Mungkinkah ibunya Nona Hee
juga dipenjarakan disini ?"
Honghu Siong pernah menolong ia den ayah angkatnya,
Toan Kui Ciang, dari mara bahaya, karena itu ia tidak meoiperdulikan
pembilangan orang luar terhadap pengenris itu; ia
berkesan baik, hanya sekarang mendengar perkataan si
pengemis kesan baiknya itu lantas berubah menjadi kesan
buruk. Kata ia di dalam hatinya : ,,Dahuluhari aku tidak percaya
dialah seorang busuk, siapa tahu sekarang aku telak
mendapatkan buktinya bahwa dialah si manusia baik yang
palsu !" Tengah sianak muda berpikir itu, Tian Toa Nio sudah
bertindak keluar dari daiam rumah. Hal itu membuat Goan Siu
ber-kuatir sekali, hingga parasnya menjadi berubah.
Toan Toanio liehay sekali, matanya sangat tajam. Ia
mendapat lihat perubahan roman anaknya itu.
"Eh anak Goan, kau kenapakah " " tegurnya.
"Aku merasa tubuhku sedikit kurang sehat" sahut anak itu.
"Hm !"bersuara si ibu, yang lantas menghentikan
tindakannya. Dia mementang matanya lebar-lebar, untuk
memandang kesekelilingnya. Hanya sejenak mendadak dia
berseru dengan pertanyaannya yang bengis : "Hayo ! Siapakah
bersembunyi di situ " Lekas keluar !"
Yan Ie tahu ia tidak dapat menyingkir lagi, ia lantas muncul.
,,Aku tahu," sahutnya.
Mo Lek juga turut keluar, bahkan keduanya, muda-mudi itu
berjalan dengan berendeng.
Menampak demikian, airmukanya si nyonya tua berubah
menjadi bengis.
"Kau hendak meninggalkan aku bersama sibocah " tegurnya
dingin. Belum lagi sinona menjawab, Goan Siu sudah mendahului.
, Ibu, bukankah ibu handak membebaskan saudara Tiat "
tanyanya. "Tadi aku telah mengambil selamat berpisah darinya.
Akulah yang menyuruh adiknya Yan mengantarkan dia turun
gunung." Selagi berkata begitu, anak ini menge-dipi mata pada ibunya
itu, buat minta siibu menutup mulut sebab mereka berada di
hadapan orang luar.
Mo Lek heran. Tak tahu ia kenapa Goan Siu mengarang
kedustaan itu. Tian Toa Nio sebaliknya mengerti maksud anaknya. Katanya
didalam hatinya.
"Oh, kiranya anak Goan sudah ketahui anak Yan telah
bersedia untuk menjadi is terinya dan ia telah berikan bocah itu
makan obat Pay Hiat San." Oleh karena ini, sikapnya lantas
menjadi lunak. Katanya : "Anak Yan, inilah Tuan Hong-hu yang
hendak menanyakan sesuatu kepadamu jadi tak usahlah kau
mengantarkan lagi dia turun gunung."
Yan le senang dengan kesudahan itu" ia menjadi girang
sekali. "Mo Lek," katanya, , kau pergilah seorang diri ! Kudamu
berada didalam kandang, kau boleh minta kepada orang ke
marin ini telah mengantarkan kau menyeberang. Dia berada
didalam kebun."
Hong hu Siong sementara itu tertawa terbahak.
"Oh, kiranya Nona Ong sudah sembuh! " katanya. Sungguh
aku girang sekali ! Sungguh kau harus diberi selamat !"
Baru pengemis ini berkata demikian, atau sinar matanya
berhenti kepada Mo Lek.
.Siapakah tuan ini?" tanyanya.
Mendengar itu, Mo Lek menjadi heran. Ia mendongkol
kepada jago itu, ia membenci, maka juga barusan diwaktu baru
bertemu, tak sudi ia menanya, bahkan menyapa pun ia segan.
Siapa sangka sekarang orang menanya ia siapa.
Ketika itu segera terdengar suaranya Tian Toa Nio.
"Apakah tuan tidak kenal dia ?" katanya. "Dialah Tiat Mo Lek
anaknya Yan San Ong Tiat Kun Lun !"
Honghu Siong memperlihatkan roman heran. Lantas ia
menanya si nyonya : ,,Oh, kiranya kau sudah akur dengan Mo
Keng Lojin si tua-bangka" Sungguh tak kuduga!"
Matanya Nyonya Tian mendelik.
"Tuan Hong-hu, apakah artinya kata-katamu ini " tegurnya.
Hoag hu Siong menjawab tenang : ,Jikalau kau belum akur
dengan Mo Keng Lojin kenapa muridnya dia itu tidak dapat
berada didalam rumahmu ini "
Parasnya Tian Toa Nio menjadi berubah.
,.Apa " tanyanya keras. ,,Jadi bocah she Tiat ini muridnya Mo
Keng si tua-bangka itu "
Hong hu Siong tertawa. "Aku justeru menjadi heran kenapa
kau melupakan musuh yang telah membunuh suamimu !"
katanya , kiranya kau belum tshu asal-usulnya ini bocah she
Tiat ! Aku benar tidak kenal dianya akan tetapi didalam
kalangan Kangouw, siapakah yang tidak mengetahui bahwa
Tiat Kui Lun ya-lah muridnya Mo Keng Lojin bahkan dialah
murid terakhir "
Nyonya Tian sudah lantas berpaling, mengawasi Mo Lek
dengan roman yang keren. Dia lantas berkata : "Kiranya kaulah
murid yang pandai dari Mo Keng Lojin. Maaf yang aku tidak
mendapat tahu, hingga aku tidak mendapat tahu. Hingga aku
perlakukan kurang hormat kepadamu. Nah kau tunggulah lagi
sedikit waktu. sebentar hendak aku memberi selamat jalan
padamu. Anak Gun, kau temani dia!
Yan Ie menjadi kaget, hingga mukanya menjadi pucat
Goan Siu tidak karang terkejutnya, sampai ia bergemetar
seadirinya. Muda-mudi ini ketahui apa artinya kata kata "memberi


Kisah Bangsa Petualang Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

selamat jalan" dari ibu dan guru mereka itu.
Matanya Tian Toa Nio menyapu pada itu anak dan muridnya,
terus ia kata dengan keras : "Didepan aku, kamu tak usah
memikir apa apa lagi!" Eh, bocah she Tiat jikalau kau tidak
masuk kedalam rumahku akan aku sendiri yang
mengundangmu . Tiat Mo Lek berani. Ia tahu. didepan nya Tian Toa Nio dan
Hong hu Siong, tidak dapat ia meloloskan diri. Maka dengan
siiap agung dan tindakan lebar, ia masuk kedalam rumah
bahkan segera ia menjatuhkan diri, berduduk diatas kursi. Ia
mau tahu tindakan apa yang si nyonya bakal ambil. Ia bersedia
akan berlaku nekad, untuk mati bersama nyonya itu
Nyonya tua itu tidak mengambil mumat atas sikap orang
yang agung agungan itu ia hanya menoleh kepada muridnya.
,,Anak Yan, mari" katanya "Mari, Tuan Hong hu hendak
menanya kau."
Houg-hu Siong memandang si nona dengan sinarmata
dingin. "Telah aku bertemu dengan kakakmu." katanya. "Katanya
ketika hari itu di Liong Bin Kok terjadi peristiwa yang besar itu,
dia telaif membikin lenyap tanpa sayap pada sebungkus obat
pemunah Toat Hun Hio sea dangkan Nona Hee yang terkena
racun sudah sembuh secara mendadak dia sembuh seperti
sedia kala pula. Itulah aneh ! Obat pemunah itu berada didalam
kamarnya kakakmu tidak nanti ada lain orang yang
mengetahuinya ! Nona Ong kaulah adiknya tahu kah kau siapa
yang melakukan itu ?"
Sepasang alisnya Yan Ie bangun berdiri. ia tertawa dingin.
,Hong-hu sianseng jikalau kau bicara, tak usahlah kau
berbelit belit !" sahutnya. .Jikalau kau telah mencurigai aku.
mengapa kau tidak mau bicara terusterang saja?" Tidak salah !
Perbuahan itu aku yang lakukan ! Orang yang mencuri obat
pemunah itu dan memberikannya kepada Nona Hee jalah aku
juga !" Jikalau begitu " Hong hu Siong tanya pula, .kau ada
memberitahukan atau tidak kepada Nona she Hee itu bahwa
akulah yang menculik ibunya "
"Tidak "
"Benarkah ?"
,.Aku bertanggungjawab atas segala per buatanku sendiri !"
sahut Yan le pula. .,Ada sepatah kata. aku menjawab sepatah
kata ! Apatah kau sangka aku takut nanti ditelan olehmu"
Hong-hu Siong tertawa bergelak.
"Tak kecewa kau menjadi muridnya Tian Toa Nio !" pujinya.
"Sikap kepalabatu mu ini membuat aku si orang tua kagum
sekali ! Mana aku berani mempersulit padamu." Aku melainkan
hendak menanya biar jelas! Sekarang hendak aku tanya pula :
Pernahkah kau mengeluarkan kata kata yang berupa kisikan,
umpama kau mengatakan sesuatu tentang dimana adanya ibu
dari nona she Hee itu "
Baru berhenti pertanyaan itu diucapkan atau Yan Ie telah
lantas menjawab : ,,Ya, ada !" demikian si nona. Parasnya
Hong hu Siong menjadi pucat lalu menjadi merah.
"Apakah katamu kepada nona she Hee itu l" dia tanya pula.
,Aku bukan bicara kepada Nona Hee sendiri." sabut Yan Ie
terus-terang. "Aku bicara kepada tunangan nona itu. Aku
hilangi dia, jikalau dia mau mencari orang maka dia harus pergi
kejurang Toan IHun Giam dikaki puncak Lian Hoa Hong.
Siapakah tunangannya nona itu?" sangat mendesak
suaranya jago tua ini dia seperti sangat berharga akan
jawabannyaYan Ie heran hingga ia sedikit tercengang. Ia tidak
menyangka orang menyimpangi urusan yang dianggapnya
penting te tapi berbalik menanyakan hal ikwalnya tunangan dari
Leng Song. Tunangan dari Nona Hee yaitu Lam Tav-hiap yang ternama
besar dalam dunia Kang Ouw," ia menjawab. Dialah Lam Lee
In! Kau telah bertemu dengan kakakku, kenapa kau tahu hal itu
?" Hong-hu Siong berdiri menjublak. "Ah, kenapakah dia Lam
Cee In ?"* katanya seperti kepada dirinya sendiri. "Ah bukankah
Lam Cee In juga muridnya Mo Keng Loojin?"
"Kenapa kau heran?" Yan Ie menegur. ,-.Memangnya
perangkapan jodoh diantara Nona Hee dan Lam Tay-hiap itu
tidak sembabat?"
Walaupun dia heran, Hong-hu Siong lekas dapat
memenangkan diri.
"Nona Ong hendak aku bic.ra dari hal kau!" katanya
kemudian "Kenapa kau jus-teru membalik diri berpihak kesada
orang luar, hiagga kau jadi seperti membantu musuh ayah dan
kakakmu sendiri" Sikapmu ini kau tahu kurang tepat!"
Yan Ie berani. Ia menjadi tidak senang "Guruku ada disini,
tak usah sampai kaulah yang mendidik aku!" katanya ketus.
Nona ini ketahui baik sifat guratiya. Taruh kata siguru bakal
menegur atau meng hajar dia tak nanti itu dilakukan dihadapan
orang luar, Benar,benar Tian Toa Nio mendelik kepa da Hong-hu Siong.
Kata dia dingin kepada tetamunya itu "Tuan Hong-hu bnkankah
kau cuma-kuatir musuhriiu nanti datang me ngaduk sarangmu"
Kita berdua sudah membikin perjanjian saling bantu, jikalau
ada bahaya mengancam kau, pasti dapat aku duduk diam saja
mengawasi padamu! Apakah yang kau takuti" Nah. kau
pulanglah! Urusan didalam raumah tanggaku ini aku dapat
mengurusnya sendiri!
Itulah kata-kata justeru diharap-harap Hong-hu Siong.
Lantas ia memberi hormat dan berkata: "Terima kasih yang kau
*udi membantu aku. Dimana kabar angin sudah tersiar, aku
kuatir lagi beberapa hari bakal ada orang yang datang
membuat kunjungan guna mencari onar, oleh karena itu aku
harap kau pun berlaku waspada"
,,Aku sudah tahu!" sahut Tian Toa-Nio ,Apakah kau sangka
aku melewati dengan sia-sia belaka tempoku selama dua puleh
ta hun" Aku justeru ingin menemui segala mu suh dahuju hari
itu untuk mencoba kepan daianku! Aku justeru kuatir mereka
itu takut datang padaku! Buat apa kau kuatir tidak karuan?"
Habis berkata begitu, Tian Tio-Nio tidak smbil mumat pula
pada si pengemis ia hanya lantas berpaling, untuk memandang
muridnya. Ia menatap tajam.
"Anak Yan, perbuatanmu bagus sekail! katanya. ,,Mari ke
mari!" Yan Ie mendaoatkan sikap guruuya sangat dingin dan
bengis. Ia tahu guruny galak te tapi belum pernah guru itu
bers:kap begini rupa terhadapnya Mau atau tidak, ia menjadi
jeri juga. Sebenarnya ia telah pikir habis menolongi Mo Lek tak
sudi ia campur pula segala urusan lainnya". Sekarang ia
menjadi apa boleh buat. Ia mesti membesar kan hati.
"Suhu katanya, "apa yang muridmu .tidak harusnya lakukan,
telah diperbuat juga maka itu terserah kepada suhu, suhu
hendak membunuh aku atau mencincangnya-"
Matanya Tian Toa-Nio bersinar lalu di pejamkan. Ia melirik
pada anaknyar ia mendapaikan tubuh sinona menggigil. Lan tas
ia menghela napas dan kata masgul: , Oh kamu dua orang
bocah! " Ia terus memandang muridnya, untuk berkata pula,
dengan sabar: "Kau berdiri di pinggiran, hendak aku mengambil
keputusan dahulu terhadap bocah ini!?" Ia lantas memutar
tubuh, untuk berdiri menhadapi Mo Lek.
Hong-hu Siong kata ia mau pergi akan tetapi buktinya ia
tidak segera mengangkat kaki ia justeru berdiri diam saja,
mengawa si sinyonya tua. Untuk melihat apa yang nyonya itu
hendak lakukan.
Thian Toa-Nio menatap sianak muda romannya keren, Sinar
matanya bengis Ia membungkam. Entah apa ia pikir dalam
hatinya Yan Ie berdiam hingga napasnya seperti berhenti berjalan Ia
terus mengawasi guru nya itu. buat melihat apa yang si guru
akan perbuat. Diam-diam Hong-hu Siong memperhati kau gerak-gerik Yan
Ie terhadap Mo Lek Ia bermata tajam, segera ia sadar. Katanya
didalam hati: .Aku tadinya heran kenapa puterinya Ong Pek
Thong membantu musuh kiranya itu disebabkan bocah ini!
Tian Toa-Nio masih juga belum menurunkan tangan, ia
masih tetap menatap. Hong-hu Siong heran melihatnya. Ia jadi
berkuatir karena muridnya itu sinyonya nanti melepaskan bocah
itu. Ia jadi memikir buat mengatakan sesuatu, buat membikin
panas hati sinyonya, atau mendadak Tian Toa Nio, dengan
romannya yang keren dan suaranya yang keras, menegur
puteranya "Hm, anak Goan, sungguh nyalimu besar!
Bagaimana kau berani mendustai ibumu! Setelah menegur itu,
ia melihat wajah Mo Lek tanpa perubahan apa-apa. Jadi bocah
itu telah tidak dikasih makan racun.
Dengan suara menggetar, Goan Siu ber kata: "Ibu, bukankah
ibu telah mengatakan bahwa buat guna aku, ibu tidak mau
membinasakan dia?"
"Tak punya guna! ibu itu membentak. Ia mendongkol kepada
sianak, yang hati-nya kurang telenges.
Ia juga tak puas. karena ingin mendapati hatinya Yan Ie
putera itu telah melindungi kekasihnya Mo Lek ..
Sekonyong-konyong tangannya Tian Toa Nio menepuk batok
kepalanya Tiat Mo Lek hingga terdengar suara yang cukup
nyaring. Berbareng dengan bergeraknya tangan si-nyonya, Ong
Yan Ie menjerit keras menyayatkan hati, tubuhnya berlompat
maju untuk menahan tangan gurunya. Berbareng dengan itu
Goan Siu, yang tadinya ragu-ragu sudah turut menyampok
lengan ibunya, untuk ditahan turunnya.
Mo Lek sendiri sudah siap untuk membela diri maka ketika
tangan sinyonya turun ia menangkis sebisa-bisanya, toh ia tidak
dapat bertahan seluruhnya ia terpental mundur kira setombak.
Syukur untuknya ia mendapat bantuan rintangannya Yan le dan
Goan Siu, maka ia cuma roboh terguling tetapi tidak terluka.
"Lekas lari!" teriak Yan Ie.
Hong-hu Siang tapinya tertawa. Kata dia tawar: "Nona Ong,
jangan kau sibuk tidak keraan" Disini masih ada aku! Mana
dapat bocah ini lari kabur?"
Benar-benar Cee Gak Sin Liong si Naga Sakti dari Gunung
Barat, sudah mencelat kemuka pintu dimana ia melintangi
tongkatnya, ketika Mo Lek lari kearahnya ia menyambut dengan
satu kemplangan!
Tiat Mo Lek sudah menghunus pedangnya, yang Goan Siu
serahkan padanya, dengan itu ia menangkis. Ia menggunai tipu
silat , Sin Liong louw Bwee" atau ,,Naga sakit menggeraki
ekor." Tenaga dalam dari Hong-hu Siong kalah sedikit dari pada
tenaganya Tian Toa Nio, akan tetapi hajarannya itu sudah
cukup keras buat.membikin Mo Lek mundur tiga tindak.
Dua buah senjata juga bentrok keras. Hanya yang rugi ialah
tongkat kayu cendana dari sipengemis, ujungnya itu telah kena
terpapas sedikit pedangnya sianak muda, sedang kerasnya
tangkisan pedang juga membikin telapakan tangannya Hong-hu
Siong menjadi kesemutan!
Bukan main gusarnya sipengemis. Ia segera menyerang
pula, malah kemplangan yang kedua segera disusul dengan
yang ketiga kemplangan itu semua tidak memberi hasil.
Itulah hebat untuk Mo Lek. Ia bukan lawannya jago tua itu.
Habis itu, tak dapat ia menangkis pula maka ia lantas
berjumpalitan mundur dengan lompatan "Jungkir balik didalam
awan." Hong-hu Siang menjadi penasaran, sengitnya tak terkirakan.
Panas hatinya, hendak ia menyusul, atau tiba-tiba telinganya
mendengar satu suara yang tajam yang seperti berkumandang
ditengah udara. Ia menjadi terkejut. Dengan lantas ia
mengangkat kepalanya, mendongak melihat keatas, hingga
batal menyusul sianak muda.
Ditimur setalatan nampak asap hitam mengumpal naik. Dari
arah sana pula datang nya suara itu. Itulah tanda rahasia dari
kawan. Ketika Hong hu Siong mau pergi kepada Tian Toa Nio,
walaupun kunjungannya ini bakal tidak mengambil tempo lama,
ia sudah bersiap sedia. Inilah disebabkan ia knatir nanti ada
penyerbuan kepada sarangnya. Maka ia telah memesan, jikalau
ada musuh datang, begitu musuh itu terlihat, kawannya mesti
meniup terompet huk hia sapibil berbaren" menyalakan api,
untuk melayang-layangkan asap hitam itu-Kawannya kaum
Kangouw sesat seperti ia nya. Ketika ia menculik Leng Song ibu
dan anak, jago itu turut bersama, bersama sama Ceng Ceng
Jie, dia menjadi pembantu, dan tempo Ceng Ceng Jie pulang ke
Hoan yang, diminta tinggal bersama untuk mengawasinya.
Mo Lek cerdik sekali. Disaat Hong-ha Siong berhenti
menyerang, ia meneruskan kaburnya. Ia kabur kebelakang
teman. Tian Toa Nio meninggalkan anaknya, ia pun berlari keras.
"Celaka!" Hong-hu Siong berseru, "benar-benar ada musuh
datang?" "Kau takuti apa?" kata Toa Nio, menyeringai. "Toh ada aku
disini! Mana bocah itu?"
"Hong-hu Siong menenangkan diri.
"Dia telah kabur, " sahutnya, sabar.
Nyonya tua itu mengerutkan sepasang alisnya. Katanya
didalam hati: "Heran! Kenapa seorang bocah saja kau tak
mampu mencegahnya?"" Asan tetapi sempat memikirkan itu,
tak dapat pula ia menghiraukan orang she Hong-hu ini. Segera
ia memasang telinganya dan membuka matanya lebar-lebar. Ia
mendengar suara tindakan kaki dari Tiat Mo Lek.
"Bagus!" serunya, tertawa dingin ,Bocah itu belum keluar
dari pekarangan rumahku! Nanti aku binasakan dahulu
padanya, baru aku bantu kau menentang musuhmu!
Ketika itu Mo Lek sudah sampai di taman belakang, la
menemui situkang perahu yang menjadi pegawainya Keluarga
Tian itu, hanya ketika itu dia sedang menyiram pohon.
"Mana kutahu?" ia tanya cepat.
Pengawal itu telah menerima pesan Goan Siu untuk
menyerahkan kuda kepada pemiliknya, akan tetapi rnelinat
sianak muda datang dengan tersipu-sipu, ia menjadi heran, ia
menjadi bersang;i. Justeru itu. Tian Toa Nio memandangi
dengan cepat sekali, Hanya sejenak ia segera menunjuk kepada
sebuah bangunan kate.
Mo Lek dapat menerka petunjuk orang, segera ia
mengangkat sebuah batu besar dengan apa ia menghajar pintu
stal kuda hingga pintu itu roboh menggabruk menyusul mana
"dari dalamnya terdengar ringkik seekor kuda, kuda mana
sudah lantas lari keluar.
"Binatang kau hendak kabar"*" membentak Tian Toa Nio


Kisah Bangsa Petualang Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gusar bukan kepalang Dia berlari keras untuk menghampirkan.
Mo Lek tidak menggubris suara orang, ia hanya memungut
sebiah batu lain, batu yang besar juga untrk dengan itu
menimpuk si nyonya tua. la bertenaga besar, batu itu
menyamber keras. Toa Nio jeri juga terpaksa dia berkelit.
Tepat itu waktu, kuda uy piauwma sudah sampai didepan
majikannya Mo Lek girang tak kepalang. Dengan satu kali
menjejak tanah, ia sudah berlompat naik ke punggung kudanya
itu. "Kudaku, lekas lari " katanya, menganjurkan.
Kuda itu mengarti, dia lantas kabur, keluar taman
Tian Toa Nio meigejar pula. Dia dapat berlompat pesat.
Pintu ditutup, itu berarti tidat ada jalan, kecuali pintu itu
mesti dibuka dulu. Itulah berabeh Mo Lek berada diatas kuda
kalau ia turun dahulu, ia membuang-buang tempo, kudanya
pun tak dapat menembrak pintu itu.
Akan tetapi, mendadak binatang itu berlompat tinggi, Mo Lek
terkejut, ia memegang tali les sambil memiliki leher kudanya
itu. Hebat sang kuda. Tahu-tahu dia telah berlompat melintasi
tembok pekarangan, hingga ia membuat majikannya bagaikan
terbang melayang. Saking kagetnya itu, si anak muda sampai
mengeluarkan peluh hingga hatinya terkesiap mencelos, hanya
lantas ia merasa lega, terus ia mengaburkan kudanya yang
jempolan itu. Tian Toa Nio mengejar bersama-sama Hong Hu Siong tubuh
mereka ringan sekali lari mereka sangat pesat, akan tetapi tak
sanggup mereka menyusul kuda uy-piauwma itu, hanya
sebentar, mereka sudah ketinggalan jauh dibelakang sampai
Mo lek tak tampak lagi sekali pun bayangannya.
Akan tetapi Mo Lek kabur bukannya turun gunung,
sebaliknya, ia mendaki. Ia menuju ketempat dimana asap hitam
mengepul naik itu. Ia muda tetapi ialah seorang Kang Ouw
berpengalaman. Mendengar suara hukhia dan melihat asap itu,
ia lantas menghubunginya dengan roman kaget Hong-hu Siong
tadi, segera juga ia dapat menerka bahwa jago tua itu telah
kedatangan musuh maka sudah diberikan isyarat asap serta
terompet itu. Syukur kuda itu kuda jempolan, dia da pat berlari-lari dijalan
yang menanjak dan sukar itu. Tidak lama. tibaUh Mo Lek di
kaki jurang Toan Hun Giam dibawah puncak Lian Hoa Hong. Ia
lantas mendengar suara nyaring dan berisik berulang ulang,
seperti suara pintu digempur barang berat. Ia mengawasi
kearah suara berisik itu. Selagi mendekati, ia melihat lima
orang, bah kan satu diantaranya terus lari kearahnya sambil
menegur dengan seruannya : ,,Eh, kau toh Mo lek " "
Bukan kepalang girangnya si anak muda. Itulah Toan Kui
Ciang, bagaikan terbang. ia lompat turun dari kudanya, buat
menghampirkan, guna memberi hormat. Ia mendapat
kenyataan, disamping Kui Ciang suami isteri disana pun ada
kakak seperguruannya lam Cee In bersama-sama Hee Leng
Song. Orang yang kelima yalah Hong Kay Wee Wat, si
Pengemis Edan !
Merek a itu berlima juga girang dan he ran dapat bertemu
dengan Mo Lek. Inilah diluar dugaan mereka.
,,Eh, sute, bagaimana ini " Cee In menegur. "Bukannya kau
pergi ke Tiang-an, kau justeru datang kesini"
Mo lek mengeluarkan napas lega, terus dia tertawa. ?"
"Suheng, hampir tak dapat aku melindungi jiwaku, hampir
aku tak dapat bertemu pula denganmu ?" katanya. Ia ber duka
tetapi toh ia girang "Panjang untuk ku menutur, maka marilah
aku tanya kau dahulu ! Apakah suheng beramai datang ke mari
guna mengubrak-abrik sarangnya Hong hu Siong " "
,,Benar!" jawab Cee In. "Kami telah hasil mencari pintu
guhanya akan tetapi belum berhasil menggempurnya untuk
masuk kedalam. "Kau lihat disana !"
Orang she Lam itu menunjuk, maka Mo Lek menoleh kearah
itu. Itulah sebuah pin tu batu, yang sudah lecet" disana sini be
kas goresan pedang mustikanya Toan Kui Ciang. Pintu batu
tebal luar biasa, tak mudah digempurnya.
,,Hong-hu Siong tidak ada di dalam sarangnya " Kata si anak
muda kemudian. "Tentang-Hee Pebo, ia benar dikurung di
dalam sarang ini
"Kenapa kau ketahui itu " " tanya Leng Song heran. Toh ia
puas juga mendapat tahu ibunya berada ditempat itu
"Baru saja tadi aku menempur tua bangka she Hong-hu itu."
sahut Mo Lek. "Sungguh kau bernyali besar !" tegur Toan Kui Ciang.
..Bagaimana bersendirian saja kau berani menyatroninya ?"
"Bukannya aku yang menyateroni dia hanya aku yang
kesasar masuk dalam perang-kapnya. Mo Lek menerangkan .
Coh hio Ubokab kaa tenting seorang wanita jahat yang disebut
Tian Toa Nio?" Wee Wat berjingkrak ..Apa" TianToa Nio" dia
menegaskan Bakankah dia puteranya si hantu tua Tian Liong
Hui" Cara bagaimana kau dapat bersama dengannya?"
Kui Ciang mengangguk ia kata pada Mo Lek: "Pada duapuluh
tahun dahulu tempo rombongan orang-orang dari kaum lurus
mengepung suami istri Tian Liong Hui itu usiaku masih muda
sekali. aku jadi tidak dapat mengambil bagian tetapi Wee Loo
cianpwee serta gurumu turat bersama-Wee Wat menjadi
ketarik hati. "Lekas kau bercerita!" desaknya pada sianak muda.
"Bagaimana pengalamanmu itu?"
Mo Lek menurut ia memberikan keterangannya, akan tetapi
terang Ia hanya menyembunyikan urusan asmaranya dengan
Ong Yan Ie. "Heran kata Wee Wat. "Hantu wanita itu sangat jnmawa
mengapa dia hendak membekuk seorang muda" Oh, aku
mengarti sekarang! Itulah tentu disebabkan dia ketahui kaulah
muridnya Mo teng Loojin!"
Baru daiam hal itu Wee Wat dapat pemecahannya. Sekarang
tinggal urusannya Hong hu Siong. Ia berpikir keras lain ia kata
pula: "Melihat begini terang sudah Sae jak Sin Liong yang
menjadi biang kejahatan ini! Oh. sungggah aku tidak sangka
segala keburukan ini dialah yang mengerjakannya!
Kai Ciang tak mengerti akan sikap si-peegemis edaa ini.
"Wee Wat Loocianpwse, tanyanya apakah sampai disaat ini
kau masih tidak percaya Hong bu Siong itu seorang busuk?"
Wee Wat merogo kesakunya dari mana ia menarik keluar
sehelai papan kecil.
,,Aku masih tetap bersangsi, sahutnya. "Hanya sekarang
setelah mendengar keterangannya Mo Lek yang telah
melihatnya sendiri dan mendengar kata katanya dengan kepala
hantu wanita halnya ia mengakui ialah yang mengurung Leng
Liehiap sulit buat aka tak percaya lagi "..*
Selembar papan kecil itu sebenarnya ya"ah ujung tongkatnya
yalah ujung tongkatnya Hong hu Siong yang baru-baru ini
ketika dia menempur Kui Ciang diatas gunung Giok Sie San
telan kena tarpapas pedangnya orang she Toan itu. Sengaja
Kui Ciang menyimpan itu untuk dijadikan buk ti untuk Wee
Wat, yang ia hendak minta bantuannya. Ia kuatir Wee Wat
tidak percaya, ia perlu bakti itu. supaya dengan begitu Wee
Wat suka membalaskan sakit hatinya Ciu Kay Kie Tie si
Pengemis Pemabukan, Begitu ia bertemu sipengemis. begitu ia
menyerahkannya, maka selanjutnya si-pengemislah yang
menyimpannya. Memang Wee Wat bersangsi sampai sekarang
ia mendengar ketarangan Mo Lek ini, dari itu ia keluarkan
papasan tongkat itu maka nampak pada airmukanya yang
suram. Toan Kui Ciang haran. , Loociaaowie kata ia, inilah sepotong
kayu yang aku papas sendiri dari ujung tongkatnjta Hong-hu
Siong. Mungkinkah disini ada sesuatu vaug tak cocok?"
Masih Wee Wat berpikir baru kemudian ia kata. , Sukar
untuk menjelaskannya! sekarang aku menjadi bingung
dibuatnya"
Akan tetapi Hong hu Sioag berada disini, akhirnya urusan toh
bakal dapat dibikin terang.
Bera saja berhenti suaranya sipengemis edan ini atau
diantara mereka muncul dua orang lain bahkan yang satunya
terus mengasi dengar suaranya yaag tidak sedap-
Merekalah Tian Toa Nio dan Hong hu Siong yang baru saja
tiba Kata sinyonya tua bengis: "Siapakah yang berani datang
kegunungku ini gunung Hoa San buat banyak lagak?"
Wee Wat memandang tajam Sinar matanya menatap Hongbu
Siong. Ia gusar sekali Maka ia menegur keras: Hong bu
Siong bagus kau masih mempunyai muka menemuiku! Jikalau
hari ini aku tidak bunuh kau, aku malu terhadap Kie Loo jie!
Dengan Kie Loojie sipengemis edan maksudkan Kie Tie,
sipengemis pemabukan, lapun berlaku sangat cepat Tubuhaya
telah berlompat menyambar Hoag hu Siong yang ia serang
batok kepalanya.
Honghu Siong terkejut mukanya menjadi pucat. Akaa tetapi
ia tidak berdiam aaja. Atas tibanya serangan ia mengangkat
tongkatnya dengan itu ia menyambut serangan seraya
menghajar lengan si penyerang!"
Wee Wat liehay Ia batal menyerang sebaliknya is
menanggapi tongkat orang ketika ia telah menyekal ia
mendapstkait ujang tongkat bekas terpapas. Tidak ayal lagi ia
menarik dengan keras.
Hong hu Siong bertahan, ia memegang keras tongkatnya itu
akan tetapi kuda kuda nya tergempar ia tertarik. terhuyung
sampai tujuh atau delapan tindak, hingga tubuhnya nampak
bagaikan lilin diantara tiupan keras angin yang borgoyang
goyang mau roboh ?"
Dibuat seperti itu seandainya Wee wat meneruskan
menyerang. Hong hu Sion tentulah terbinasa Mau sedikitnya
terluka parah akan tetapi kejadiannya tidak demikian.
Sebaliknya daripada menyerang pula Hong Kay lustcru berdiri
diam ia tercengang!"
Apakah sudah terjadi"
Bentrok dengan Hong hu Siong ini Wee Wat merasa aneh.
Yang pertama-tama ya-lah. Ia bersama Hong hu Siong dan Kie
Tie yalaH yang kaum Kang Ouw kenal sebagai. Kang Ouw Sam
GIe Kay, atau tiga pengemis aneh dunia Sungai Telaga.
Kepandaian mereka berimbang satu pada lain, Kali ini Wee wat
menyerang dengan segera menggunai pukulan tipu silat Ngo
Kim Ciang Cengkeraman Lima Unggas, Inilah sebabnya
mengetahui Hong-hu Siong liehay dan ia ingin mendahului
turun tangan untuk sedikitnya menang diatas aagin. Maka ia
merasa beras sekali dalam jurus pertama ini ia lantas
mendapatkan Hong-hu Siong seperti kalah Benarkah See Gak
Sia Liong dapat dipukul terhuyung secara demikian mudah?"
Kesangsian Wee Wat yang kadua yang tongkatnya Hong hu
Siong ini Tongkat kayu cendana merah dari Hoag hu Siong
terbuat dari Lam Hay tongkat itu menyiarkan bau harum akan
tetapi ujung tongkat yang dipapas Toan Kui Ciang itu meski
benar kayu cendana juga itu bukanlah cendana keluaran Lib
Hay dan bau harumnya beda sedikit. Maka maulah Wee Wat
menyangka oraag yang Kui Ciang ketemukan di Giok Sie San itu
bukan Hong hu Siong hanya lain orang. .
Sekarang apakah yang ia lihat"
Orang itu benar-benar Hong-hu Siong Ia telah menempurnya
sendiri. Ia pula telah membuktikan tongkat Hong-hu Siong ini
telah lenyap ujungnya. Jadi benarlah mi orang ditempur loan.
Kui Ciang orang yang telah membinasakan Ciu Kay Kie Tio.
Cuma yang beda sekarang yaitu tongkat cendana itu. Tongkat
itu bukan tongkat yang biasa dipakai Hong-hu Siong dahulu
hari". Heran dan tercengang, pada otaknya Wee Wat timbul
pelbagai pertanyaan yang mem "bingungkannya Hong-hu Siong
telah menukar tongkatnya itu atau Hong-bu Siong ini Hong-hu
Siong yang palu. Sudah umumnya jago Bu Lim atau Rimba
persilatan, tidak pernah menukar jegamannya. apa pula tong
kat luar biasa. Tapi, kalau bicara dari hal Hong-hu Siong yang
pa"su, benarkah di ko long langit ini ada erang yang demikian
mirip satu dengan lain"
Di saat Wee Wat mengambil keputusan buat meneliti
romannya orang yang berdiri di hadapannya itu, mendadak ia
mendengar tertawa lebar dari Tian Toa-Nio yang telah sampai
didekatnya lalu dengan suara tajam dan tak sedap nyonya tua
itu segera berkata: ,,He, pengemis bangkotan kiranya kau juga
masih belum mampus! Apakah Kau masih Kenali aku siwanita
tua?" Wee Wat tidak menggubris orang bergu rau, ia kata
sungguh-sungguh: "Urusan hari ini tidaK ada sangKut pautnya
dengan kau! Karena kau berhasil melindungi jiwamu, baiklah
kau jangan membesarkan kepala henda mencampur-campur
tahu. " Tian Toa-Nio tertawa dingin.
"Dahuluhari, aku juga pernah memberi nasihat padamu buat
kau jangan memaksa mengajukan diri mencampuri urusan
orang lain!" katanya tajam. "Kau tapmya tidak menaengar
nasihat, kau berkepala batu kau mengandal kepada banyaknya
jamlih kawanmu kau telah membikin suamiku binasa Karena itu
jangan"ah kau sesalkan aku!"
Kata Kata nyonya tua ini ditutup dengan serangan kedua
tangannya. Wee Wat Kenal baik sinyonya ia menang kis. Atau segera
menjadi kaget. Ia merasakan tangan orang luar biasa sekali.
Sebelah tangan Tian ToaNio dingin bagaikun es, dan sebelah
yang lain panas seperti api! Inilah sangat diluar dugaannya. Ia
tadinya cuma mau menduga tentulah sinyonya telah
memperoleh kemajuan maka dia menjadi bernyali demikian
besar, tak tahunya o-rang sudah meyakinkan ilmu yang sangat
luar kiasa itu. Ia lantas lompat mundur.
Tian Toa-Nio tertawa terkakak.
,.Pengemis tua. apakah kau masih memikir untuk kabur?"
tanyanya mengejek. Ia lantas menyerang pula.
Wee Wat menjadi gusar.
"Siluman perempuan tu apakah kau kira aku takut padamu?"
katanya sengit. Ia pun lantas menyambut. Dengan jeiiji tengah
tangan kiri, ia menyentil, sedang dengan tangan kanannya, ia
menangkis. Dengan berbareng, ia menggunai dua macam ilmu
silat yang langka yalah ,,It Cie Sian atau Jeriji suci dan ,.Kim
Kong Cianj" a-tau tangan Arhat, yang sifatnya dua-dua haluslunak
berbareng keras-kuat, yang mengandal kepada tenaga
dalam yang terlatih sempurna.
Nyonya Tian pun terkejut. Katanya di dalam hati:
"Kepandaiannya pengemisnya tua ini tak dapat disamakan


Kisah Bangsa Petualang Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan dahulu hari!" Karenanya ia jadi tidak berani memandang
ringan seperti semula.
Maka keduanya lantas bertempur keras sama keras, lunak
sama lunak. Sementara itu Hong-hu Siong, yang telah dimundurkan Wee
Wat hingga beberapa tindak, sudah lantas diserang Hue Siong ,
Ia terkejut, mukanya menjadi pucat. Lekas lekas ia lompat
mundur beberapa tindak.
Lam Cee In kuatir isterinya itu gagal ia juga lompat maju,
guna membantui. Ia lantas membacok si Naga Sakti.
Hoag-hu Siong menangkis golok Cee in kembali ia lompat
mundur. Toan Kui Ciang mengasi dengar seruan yang nyaring dan
panjang, sambil berseru itu tubuhnya mencelat pesat sekali
mengha dang kepada Naga Sakti dari gunung Hoa San itu. Ia
memutar pedannya yang berkilau seperti bianglala. Sembari
menghadang lawan itu ia kata pada Cee In: "Lam Hian-tee,
pergi kau bersama Nona Hee masuk ke dalam guha untuk
menolongi orang! Serahkan bangsat tua ini padaku-, Hong-hu
Siong gusar, Ia balas menyerang pada orang she Toan itu.
Kui Ciang menangkis, menahan turunnya tongkat.
"Hong-hu Siong hari ini kau ada bicara apa" " ia tanya.
See Gak Sin Liong tidak menjawab dia hanya menyerang
terus. Dia menggunai tipu-silat Sin Kauw Doet Tiong atau Ular
naga sie ti keluar dari guha. Dengan begitu ujung toagkatnya
mencari jalan darah jie kbie hiat diperut lawannya antuk
ditotok. Pasti sekali tak mudah buat Kui Ciang kena tertotok itu.
Dengan satu gerakan pedang ia, meautup diri meaghadang
njung tongkat lawan. Kerena tabasannya tepat kali ini juga
dapat ia memapas kutung sedikit dari ujung tongkat silawan
Akan tetapi bicara dari hal tenaga dalam Hong hu Siong
menang setingkat maka mau ata"u tidak. Kui Ciang mesti
tertolak mundur satu tindak.
Sampai di situ Touw Sian Nio juga tidak berdiam menonton
saja. Tanpa bersangsi pula ia menggunai pelurunya. Dengan
beruntun ia melepaskan tiga buah peluruh kim wah.
Repot juga Hong hue Siong. Dua peluruh ia hindari lewat
dengan berkelit akan tetapi kim wan yang ke tiga mencari
sasaran pada muka nya, Ia putar sebelah tangannya, untuk
menyampok itu Ketika kedua senjata beradu di-situ
terdengarlah satu suara nyaring yang mengalun suara
beradanya logam dengan logam sampai kim wan itu mental
balik !" Kui Ciaag heran hingga ia memasang mata atas maaa ia
mendapat lihat pada tangan kiri See Gak Sia Liong pada jeriji
manisnya ada terpakai sebuah cincin yaag sama dengan
sebuah cincin yang dahulu hari Hong hu Sioag telah kasikan
padanya. Dahulu hari itu Kui Ciang hendak menolongi Su It Jie
sahabatnya untuk itu seorang diri ia telah pergi ke Tiangan
menyerbu kedalam istananya An Lok San akan tetapi ia telah
terluka parah sukur ia dapat di toloagi Lam Cee In. Ketika itu ia
dikejar terus orang orangnya An Lok San sampai ia mesti
singgah disebuah kuil tua di mana ia kebetulan sekali bertemu
dengan Hong hu S:ong yang telah mengusir musuh habis mana
selain ia diberikan obat ia diberi pula tanda mata cincin itu
dengan pesan, Kalau nanti dii bertemu dengan seorang yang
memakai cincin serupa ini mohon dia memandang mukaku
sukalah dia berlaku marah terhadapnya. Tatkala itu Kui Ciang
masih belum sadar benar ia mendengar pesan itu lapat baru
kemudaian ia mendengarnya jelas dari Cee In Sekarang ia
melihat cincin itu ia menjadi terkejut, Karena gusar ia
membentak: Oh bangsat tua yang pandai berpikir jauh kiranya
dulu itu diwaktu kau menolong- aku dan memberikan cincin
padaku kau telah menghitung akan peristiwa sekarang ini" Jadi
kau ingin aku memberi ampun padamu bukan ?"
Kui Ciang insaf akan budi dan sakit hati Itulah budi yang
Hong hu Siong telah menolongi itu. Tapi sekarang telah terbukti
inilah Hong hu Siong pembanuh dari Hee Seng To dan Kio Tie.
Sementara itu sekarang jandanya Seng To itu yaitu Leng Soat
Bwee ibunya nona Leng Song sedang tekurung didalam sarang
orang. Karena itu, dapatkah ia memberi ampun kepada si Naga
Sakti. Dengan satu serangan kosong Kui Ciang menggertak jago
Hoa San itu habis itu ia lompat mundur Tapi ia bukan mundur
buat pergi menyingkir hanya dengan suara nyaring ia kata
Hong hoe Sioag "Mengingat bahwa kaulah salah seorang tertua
Rimba Persilatan dan kau telah cceiepas budi kepadaku, kau
bunulah dirimu sendiri Jikalau kau ada pesan kau sampaikan itu
padaku nauti aku lakukan untuk mewujudkannya!"
Akan tetapi Hong hu Siong menjadi gusar.
"Angin busuk" katanya lalu dengan tongkatnya dia
menyerang keras bahkan berulang ulang, tak dia menghiraukan
bahwa orang repot menangkis dan mesti main mundur, supaya
tidak usah melayani dia sama keras nya.
,,Hong-hu Siong !" kata pula Kui Ciang "Bukankah kau bukan
seorang tanpa nama" Apakah sampai waktu ini, kau masih
takut mati, kau masih temaha hidup " kau tahu, dengan
membiarkan kau membunuh diri" aku bermaksud baik
terhadapmu, supaya kau mati wajar ! Dengan begini aku pun
jadi memandang muka terangmu !"
Hong-hu Siong tidak menghiraukan nasihat itu, dia terus
menyerang berulang-ulang dengan bertambah-tambah seruh.
Kui Ciang sebaliknya, ia main menangkis sambil mundur. Ia
masih ingat budi orang, lantaran repot, hampir-hampir ia kena
terhajar tongkat.
Touw Sian Nio menyaksikan itu, ia menjadi sangat
mendongkol. "Bangsat tua ini tidak punya malu sama sekali!" katanya
nyaring. ,,Buat apa kau masih berlaku sungkan terhadapnya?"
Berkata begitu, Nyonya Kui Ciang menghunus goloknya ".
golok Bian-to, untuk maju membantu suaminya mengepung
lawan itu. Hong-hu Siong tertawa dingin, kata dia ,,Sekali pun anakmu
sendiri, kamu masih tidak mampu lindungi, apakah kamu masih
mempunyai muka untuk banyak lagak disini ?" Ia lantas
menangkis mental pedangnya Kui Ciang, untuk meneruskan
menotok jalan darah hiat-hay diperutnya Sian Nio. Itulah
totokan ,,Tok-coa-sim-hiat," atan ,.Ular berbisa mencari liang."
Sian Nio berkelit. Totokan itu membuatnya malu dan
mendongkol. Dalam murka besar, ia balas menyerang.
"Traang !" demikian bentrokan pedang dengan tongkat,
sebab Hong hu Siong sempat menangkis
Menyusul itu, kedua senjata bergerak pula. Tongkat
menyamber kebawah. Tubuh Sian Nio asencflat, mengasi lewat
serangan itu sedangk.an goloknya membabat. Atas itu Hong-hu
Siong mendak, akan tetapi kesudahannya, dia kaget, dia
mendapat kenyataan, nyonya itu liehay sekali.
Juga ketika itu pedang Kui Ciang menyamber pula.
Hong-hu Siong terkejut. Sekarang dia dapat kenyataan, Sian
Nio kalah pandai dari suaminya tetapi ia terlebih telengas.
Tebasan golok si nyonya membuat kepalanya terasa dingin,
karena segumpal rambutnya kena terbabat kutung ! hal ini
membuatnya gusar, dia lantas menyerang hebat sekali,
umpama kata, tongkatnya bergerak keempat penjuru atau
kedelapan arah. Ia merabu, dia menyodok, dia menghantam
dari atas, dan beberapa kali, dia pun menotok dengan
telunjuknya. Tongkat merupakan senjata yang, berat dan
ujungnya potol, tetapi setelah kena terpapas, ujung itu menjadi
lancip dan tajam, tepat untuk dipakai menyodok atau menikam.
Dia dikepung berdua masih dapat dia balat menyerang
"Hong-hu Siong dijuluki See Gak ain Liong benar-benar dia
liehay bukan nama melulu," pikir Kui Ciang kemudian. "Cuma
biar bagaimana, dia tak segagah seperti apa yang orang
banyak buat sebutan ?"
Berbareng dengan itu Kui Ciang juga heran. Ia menyuruh
orang membunuh diri, orang bukan melakukannya, orang
justeru gusar, orang mendamprat ia dan isterinya, sama sekali
orang tidak mengungkat-ungkat atau menyebut budinya yang
dilepas dahulu hari itu terhadapnya, seharusnya ia dicaci
,,bong-in-pee-gie" yaitu "melupakan budi, merusak
kehormatan."
"Aneh !" pikirnya Yu ciu Tay-hiap.
Tapi sekarang mereka lagi berkelahi untuk hidup atau mati
tak sempat Kui Ciang memikirkan terus kesangsiannya atau
keheranannya itu, terpaksa ia meaggunai pedangnya secara
sungguh sungguh melayani orang yang bagaikan kalap itu. Ia
mendampingi isterinya supaya si isteri tidak sampai salah
bergerak. Sejak dikalahkan Khong Khong Jie, Kui Ciang dan Sian Nio
sudah berlatih pula bersama dengan keras sekali, mereka telah
memperoleh kemajuan, maka juga dengan bertempur bersama,
pedang dan tolok mereka dapat bekerja sama juga dengan
rapih. Itu sebabnya, dalam pertempuran yang kedua kali,
kekuatan mereka sudah hampir berimbang dengan "
ketangguhan Kb ong Khong Jie, selama itu beberapa tahun
sudah lewat, bisalah dimengerti apabila seka rang suami-isteri
ini dapat bekerja sama lebih erat- pula.
Begitulah, tak peduli Hong-hu Siong liehay, dia bagaikan
terkurung sinar sinar pedang dan golok, beratnya untuk dia. Dia
tidak memiliki kepandaian ringan tubuh seperti Khong Khong
Jie, sangat sulit kalau dia memikir hendak meloloskan diri.
Lewat lagi beberapa jurus maka pasang an suami-isteri jago
itu ?udah menang di atas angin dari itu tinggal tunggu saatnya
saja untuk mereka merebut kemenangan.
Dipihak lain, pertempuran diantara Kong Kay Wee Wat
dengan Tian Toa Nio berjalan dengan sangat hebat. Lambat
laun nampak bahwa pihaknya si Pengemis Edan tidak
menguntungkan. Nyonya Tian dengan kepandaiannya Im Yang
Siang Tok Ciang, Sepasang Tangan Beracun Im -yang, liehay
luar biasa, kedua tangannya yang dingin dan panas dapat
bekerja sama, kalau kedua tangan itu membentur tubuh,
penderitaanlah akibatnya. Dingin membikin tubuh bagaikan
beku, panas membuat orang seperti terbakar" syukurnya untuk
Wee Wat, ia telah memiliki tenaga dalam yang luar biasa
hingga tubuhnya menjadi seperti kedot, setiap kali ia kena
tersentuh, ia menolak hawa dingin ata-u panas hingga kedua
hawa itu tidak meresap menyantroni urat nadinya.
Hanya, katena berkelahi secara demikiah ia memerlukan
tenaga jauh terlebih besar. Inilah yang tidak menguntungi ia
sebab te saga dalam mereka berdua berimbang satu dengan
lain. Juga untuk Nyonya Tian, buat segera dia berhasil merampas
kemenangan, janganlah dia harap.
Lam Cee In tidak lantas turun tangan. Ia melihat kedua
rombongan seperti ia lagi menonton. Ia mendapat kenyataan
Kui Ciang dan Sian "Nio sudah menang unggul dan Wee Wat
melawan Toa Nio sama tang guhnya. Ia percaya mereka itu tak
membutuhkan "bantuannya, karena ini ia lantas memikir buat
menerjang masuk ke dalam guha. Ibunya Leng Song harus
ditolongi. Juga di dalam situ kuatir nanti ada cawannya musuh.
Jikalau mereka itu menggunai ibunya Long Song untuk
memeras mereka, itulah buruk. Memikir begitu, ia lantas
menghadapi kesulitan. Pintu guha kuat sekali, sedang ia hanya
bersama isterinya da? Mo Lek. Tadi pun mereka belum
memperoleh hasil.
Mo Lek juga memikirkan pintu guha itu. Ia ketarik
menyaksikan pertempuran dahsyat itu tetapi lebih penting
menolongi orang didalam guha. Ia dari keluarga kaum Liok Lim,
yaitu Rimba Hijau, kaum itu me mang banyak yang biasa
tiaggal diatas gunung atau di dalam guha maka itu, ia banyak
pengetahuannya. Ia memperhatikan cara pembuatannya guha
iai, kemudian ia kata pada Cee In : "Mestinya guha ini mem
punyai jalan keluar lainnya. Tak mungkin dia berpintu satu.
Bagaimana andaikata pin tu ini ditutup " Bukankah orang di
dalam akan mati kelaparan dan tak bernapas " Pu la tadi
koacohnya sibangsat tua dapat menyalakan api, untuk memberi
isyarat, itu pun bukti yang kuat mesti adanya jalan lain. Aku
rasa, jalan itu mesti ada di atas gunung ?"
"Kau benar, Tiat Sute," berkata Cee In. "Adik Song, mari kita
naik ke atas untuk mencari. Kau, sute baik kau menanti dipintu
guha ini, guna menjaga kalau-kalau musuh menyerbu keluar."
Leng Song mengangguk, begitu pun Mo Lek. Maka itu Cee In
lantas mengajak isteri nya lari mendaki. Mereka menggunai
ilmu ringan tubuh. Tiba diatas, mereka lantas saja berduka,
sekian lama mereka mencari, mereka tidak mendapatkan
lubang apa juga benarkah tidafr ada jalan lainnya "
Sesudah berdiam sekian lama, suami is teri ini mulai menjadi
gelisah. Atau mendadak, mereka mendapat dengar suara orang
suara itu datangnya dari bawah. Mestinya itu dari dalam guha,
bahkan yang membangunkan semangatnya Leng Song yalah ia
mengenali suara itu sebagai suara ibunya.
"Anak Song ! Anak Song !" demikian Suara iiu terulang.
"Anak Song, kau sudah datang . . . " Oh, jahanam ! Lagi satu
tin dak kau maju, akan aku mengadu jiwa denganmu !"
Teranglah, Leng Soat Bwee lagi terancam orang jahat.
Rupanya ia diancam untuk jangan bersuara.
,,Ibu ! " berseru Leng Song, yang girang bukan kepalang.
"Ya, ibu, aku datang !"
Anak ini lantas lari kearah dari mana suara ibunya itu
datang. Itulah sebuah batu besar, yang berdiri mencil sendirian.
Dikiri dan kanan batu itu tidak ada rumput sepo-hon juga.
"Inilah tentu jalan ke luar itu !" kata Nona Bwee. Ia lantas
berdongko, untuk me rabah batu itu, buat menolaknya dengan
menggunai tenaganya. Ia berhasil. Batu itu memperlihatkan
sebuah lubang. ,.Tunggu dulu !*" berkata Cee In. yang melihat isterinya tak
dapat bekerja seorang diri. Ia lantas meloloskan bajunya yang
panjang, lantas ia maju, berdiri berendeng bersama isterinya.
Mari!" katanya, seraya ia mengerahkan tenaganya.
Dengan bekerja sama. batu itu dapat digeser jauh hingga
tampak nyata lubang tadi yang tertutup atau ketutupan. Hanya
gelap didalam lubang itu.
Leng Song mau lantas lompat masuk, turun kedalamnya.
"Sabar!" Cee In mencegah. "Kenapa?" tanya isteri, heran.
"Awas untuk senjata rahasia!" kata suami itu, yang lantas
menjemput baju panjangnya. "kau ikuti aku! Ia lantas maju
dimuka, ia lohipat turun sambil memutar bajunya itu.
Leng Song menurut, ia mengikuti. Seturunnya mereka


Kisah Bangsa Petualang Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ditempat yang gelap itu nampak beberapa benda berkeredepan
Syukur Cee In menggunai bajunya itu, yang ia putar bagaikan
titiran, hingga mereka bebes dari serangan gelap itu, sarang-an
dari senjata rahasia Bwe Hoa Ciam jarum serupa bunga bwee.
"Sungguh berbahaya!" kata Leng Song didalam hati. Iapun
lantas bersilat bergitu lekas ia sudah menaruh kaki. Ia menggunai
jurus "Ya Cian Pat Hong" atau "Perang malam didelapan
penjuru," guna menjaga dirinya.
Segera juga terlihat satu bayangan hitam berlompatan maju
bagaikan burung menyamber, didahului dengan berkeredepnya
dua buah sinar bundar yang berwarna kuning.
Leng Song menangkis serangan itu, tepat kenanya, hingaa
terdengar satu suara yang nyarang bagaikan suara genta yang
menulikan telinga.
Kiranya penyerang itu yalah seorang toosu, imam dari
goloigan Too-kauw?"agama Too atau penganutnya sang Nabi
Loo Cu"..dan senjatanya itu sepasang tongkat atau cecer
tembaga. Habis menyerang itu, dia mencoba menjepit
pedangnya Leng Song tetapi dia tidak berhasil, bahkan ti-jung
bajunya kena dirobek ujung pedang. Hanya, walaupun
demikian tangan sinona menggetar, yang mana menjadi satu
bukti bahwa imam itu lihay, kepandaiannya tak dibawah sinona.
Lam Cee In tidak berdiam saja. Sambil bersuru keras, ia
menggeraki tangannya yang masih memegangi bajunya, untuk
me-nungkrup kepala si toosu, menyusul mana, dengan
goloknya ia juga membacok.
Siimam bermata celi dan gesit, dia ber kelit, setelah mana,
dia balas menyerang, hingga tongposrt beradu dengan golok.
Lagi-lagi cecer itu memperdengarkan suaranya yang sangat
berisik, yang memkakkan kuping.
Leng Song tidak membantu suaminya. Ia tahu, walaupun
tidak menang, tidak nanti Cee In kalah. Ia perlu menolong
ibunya Maka ia menyalaka api, dengan membawa penerangan,
ia maju lebih jauh, ke-sebelah dalam guna itu.
Soat Bwee tahu anaknya sudah datang, ia tidak berdiam
saja. Kembali ia memanggil.
Seng Song larikearah suara ibunya itu, hingga ia
mendapatkan sebuah kamar digu-ha belakang. Disitu terdapat
cahaya guram dari sebuah pelita, mesti demikian, sinona bisa
melihat ibunya yang kucai luar biasa mirip dengan orang yang
lagi sakit berat Ia menjadi sangat terharu, dengat airmata
berlinang, ia lompat menubruk.
"Ibu!" ia berseru. Lalu ia mencoba mengangkat tubuh ibunya
tetapi tidak berhasil.
Itulah sebab Soat Bwee telah terkena asap hio "Cian Jit Cui"
atau "Mabuk seribu hari" dari Hong-hu Siong karena mana
tenaganya menjadi habis.
Mulanya Leng Song kaget, tetapi segera ia mengarti.
"Jangan kuarir, ibu! " kata anak ini.
"Rebah dahulu. Aku membawa Obat untuk ibu!"
"Apakah sibangsat tua yang memberikan obatnya?" siibu
tanya. "Bukan, hanya anak perempuannya Ong Pek Thong," sahut
Leng Song. "Nona itu dapat dari mencuri dan dia memberikan
itu kepadaku. Hal itu menarik hati nanti saja, sesudah ibu
sembuh, akan aku menuturkan nya."
Leng Song heran juga. Sudah lama mereka berpisah,
mestinya mereka bicara banyak, siapa tahu, ibunya justru
menanya dulu tentang obat pemunah itu dan menyangka obat
diberikan oleh Hong-hu Siong. Maka ia kata didalam hatinya:
"Apa mungkin, sudah lama terpenjarakan, pikiran ibu menjadi
kacau " Mustahil sibangsat tua Hong-hu sudi memberikan
obatnya padaku" Buat apakah ibu sampai menanyakannya?"
Obat itu mustajab sekali. Begitu lekas* Soat B we minum itu,
begitu lekas tenaganya mulai pulih. Dengan memegangi tangan
anaknya, dapat ia berangkat, buat berduduk.
"Anak Song, kau tidak kurang suatu apa, hatiku lega sekali,"
katanya. "Siapa itu yang datang bersamamu?"
"Itulah menantu ibu., " sahut sianak. "Ibu maafkanlah
anakmu, tanpa menanti perkenan kau, aku sudah menikah
dengan Cee In?""
"Orang sebagai Cee In itu, sekalipun dengan tengloleng dan
obat, sukar untuk mencarinya," kata sang ibu. "Aku
mendapatkan ia sebagai menantu apalagi yang aku minta " Kau
telah mempunyai orang yang dapat dibuat andalan, anak Song,
hatiku lega sekali?""
Diantara sinar guram itu, Leng Song melihat ibunya
bersenyum sedih. Tapi suara puas itu pun sedih nadanya. Hal
itu membuat sianak muda heran, hingga ia tercengang.
Pikirnya: "Sedari kecil aku tidak mempunyai ayah, selalu aku
hidup berdua dengan ibu, tak heran kalau sekarang mendengar
pernikahanku, ibu menjadi girang berbareng berduka?""
"Masih ada siapa lagi diluar?" kemudian Soat Bwee tanya
pula, "Toan Peehu bersama istrinya serta Wee Locianpwee," sahut
sang anak. "Toan Peehu berdua tengah menempur sibangsat
tua, mungkin sekarang mereka sudah berha sil membinasakan
manusia jahat itu."
Ibu dan anak ini berbicara dengag mereka berpegangan
tangan. Tiba-tiba sianak merasai tangan ibunya bergemetar. Ia
men jadi heran.
"Ibu, kau kennpa?" Ia tanya. Soat Bwee menghela napas."
"Kui Ciang juga datang?"."katanya.
"Oh, bagaimana aku"..,aku?".dapat menemui dia?"
"Kenapa, ibu?" tanya Leng Song, tambah herannya. Toan
Peehu menjadi sahabat ayah, kenapa ibu tidak dapat
menemukan dia?"
"Oh, Sungguh jemu!" tiba-tiba Nyonya Hee berseru.
Leng Song terkejut
"Ibu, kau benci siapa?" tanya ia.
"Aku benci Hong-hu Siong!" sahut si-ibu. "Dia"."dia telah
mencelakai aku!"
Bukan main herannya Leng Song. Ibu itu pindah bicara dari
Kui Ciang kepada Hong-hu Siong. Ia jadi menjublak. Lantas
menerka sesuatu, karena mana, tubuhnya menggigil sendirinya.
Bagaimana hebat, pikirnya?".
Sekonyong-konyong Soat Bwee berlompat bangun.
"Hendak aku membunuh sendiri bangsat tua itu!" serunya,
giginya bercatruk-kan.
Leng Song pengangi ibu itu.
"ibu, nanti aku yang mewakilkan kau menyambutnya!" kata
sianak. "Ibu baik beristirahat lagi sekian lama."
Bibir Soat Bwee bergerak, ia seperti hendak mengucapkan
sesuatu akan tetapi batal. Sebaliknya ia melepaskan tangan
anaknya, terus ia bertindak keluar dari kamar tahanannya itu.
Tenaganya telah pulih lima bagian, karenanya dapat ia
bergerak dengan leluasa.
Ketika itu Lam Cee In dan sitoosu sudah bertempur sekian
lama kepandaian mereka berimbang, akan tetapi lama-lama,
hati siorang suci menjadi gentar.
-oo0dw0oo- Jilid 21 Ia telah ingat sesuatu hingga hatinya menjadi kecil
sendirinya. Hingga ia lantas ingin mengangkat kaki Justeru itu
ia men dengar tindakan kaki berat lagi mendatangi ia menjadi
takut. Tidak ayal lagi ia menangkis satu serangan, terus ia
lompat mun dur, untuk lari keluar.
Suaranya Tian Toa Nio dapat didengar tosu ini, maka ingin ia
mendapat pertolongan nyonya itu. Ia telah merasa, tak nanti ia
dapat bertahan melayani terus pada Cee In yang mempunyai
kawan. Cee In sebaliknya tidak mau mengasi hati.
"Tosu siluman, kau hendak lari kemana " " bentak Lam
Tayhiap seiaya lompat mengejar untuk menyerang.
Imam itu terkejut. Didepan memang ada pintu batu yang
berdaun dua, yang dapat dibuka, hanya untuk mementang itu.
ia memerlukan waktu. Maka ia kata didalam hatinya : Kenapa
aku tolol sekali ! Mana bisa aku lari dari depan" Ia sadar
sesudah terlambat. Ketika itu Cee In sudah me nyandaknya,
hingga ia mendengar anginnya bacokan. Dalam kaget dan
bingung, ia menangkis kebelakang. Ia bergerak dalam ge rakan
"Hpng-hong Tian Cie" atau ..Burung hong-hong mementang
sayap, la terlambat. Berhasil ia menangkis hanya fidak tepat.
Goloknya Cee In kena dijepit sesudah ujungnya meluncur tanpa
ampun lagi, pundaknya kena terbacok hingga melowek. ia
menjadi gusar berbareng takut, ia terus melawan dengan matimatian,
sembari berkelahi, ia berteriakan.
Oleh karena orang bagaikan kalap, Cee In terpaksa mundur.
Dengan begitu, ia seperti membuka jalan. Si imam nerobos, dia
lari terus. Disitu ada beberapa tikungan. Lekas juga dia lenyap
ditempat gelap.
"Adik Song, awas ! Cee In berseru memperingati kepada
Leng Song. "Siluman lolos, dia lari kebelakang !"
Ketika itu Soat Bwee dan anaknya sudah keluar kamar. Leng
Song mendengar suara suaminya, hanya belum habis suara itu,
serangan gelap sudah datang. Sejumlah jarum rahasia
berkeredepxin. Si imam, yang mau membuka jalan ditempat
gelap itu su dah menimpuk dengan jarum-jarum Bwee Hoa
Ciam. Nona Hee berkelit, menyusul itu, ia meraba pedangnya.
Tiba-tiba ia terperanjat. Sarung pedangnya kosong!
Justru itu terdengar bentakannya Soat Bwee.
"Hee, imam siluman Ku Goan ! Kaulah kawannya si bangsat
tua, kau tidak dapat ampun !
Menyusul itu, suatu sinar putih melesat bagaikan bianglala.
Menyusul itu pula, di sana terdengar suara jeritan yang
menggiris kan hati ! liulah sebab si imam telah kena tertembus
pedang yang dipakai menimpuk oleh si nyonya, ujungnya
pedang tembus dan nancap ditembok. Hingga dengan begitu
imam itu kena tersate!
Nyonya Hee tadi telah mencabut pedang anaknya dan terus
menimpuk, sedangkan dengan tangan kirinya, ia mengebut,
menyampok runtuh jarum yang diarahkan kepadanya.
Cee In mengejar terus ia tiba disaat Ku Goan sudah
menerima nasibnya. Ia terkejut dan girang dengan berbareng.
Leng Song juga girang sekali melihat hasil Itu, tahulah ia
tenaga ibunya sudah pulih tujuh bagian. Lantas ia memanggil
suaminya : "Cee In mari! Mari menemui ibuku ! Kita perlu cepat
keluar dari sini, untuk membunuh si bangsat she Hong-hu,
supaya kita bisa lekas membantu Wee Lo-cianpwe melayani si
nenek yang lihay itu!
Cee In menghampiri mertuanya, ia memberi hormat sambil
berlutut. Soat Bwee memimpin bangun pada menantunya itu.
"Cee In mulai hari ini, aku serahkan anakku kepada kau,
katanya. "Kau baik-baiklah memperlakukannya !
Cee In tak dapat berkata apa-apa ia cuma menyahut : "Ya . .
. Leng Soat berkata pula : ..Anakku biasa manja kau harus
sabar terhadapnya. Tapi ah, tak usah aku bicara banyak. Aku
tahu orang seperti kau tentu takkan menyia-nyiakannya"
"Benar, ibu ! " kata Leng Song tertawa. "Kita sekarang sudah
dapat berkumpul, di lain waktu masih banyak saatnya untuk
kita bicara banyak ! Sekarang mari lekas kita ke luar untuk
membantu Toan Peehu dan Wee Locianpwe, si bangsat, tua
tidak berarti se berapa, adalah si nenek yang lihay sekali!
Habis berkata, Leng Song mencabut pedangnya yang ia
serahkan pula pada ibunya.
,,Ibu tidak mempunyai senjata, baik ibu pakai terus
pedangku ini." katanya.
Ibu itu bersangsi sebentar.
,,Baik," sahutnya, seraya ia menyambut pedang itu, teras ia
bertindak ke pintu untuk membukanya. Ia lantas mengeluarkan
napas lega. "Tidak kusangka, aku Leng Soat Bwee dapat pula melihat
langit dan matahari !" katanya, lega hatinya, toh ia berduka.
Mendadak -ia memutar tubuhnya, meluncurkan sebelah
tangannya, atas mana, Cee In dan Leng Song roboh saling
susul. Karena di luar dugaan, mertua atau ibu itu telah menotok
mereka, hingga mereka tidak dapat membebaskan diri. Dengan
tubuh tidak bergeming mereka cima merasa smgat heran, dan
mata mereka mengawasi dengan mendelong. Setelah tertotok
tidak dapat mereka membuka mulut mereka.
Sambil mengawasi anak mantunya. Soat Bwee berkata. "Aku
hendak membunuh musuh dengan tanganku sendiri, aku tidak
membutuhkan bantuan kamu! Didalam tempo satu jam kamu
akan peroleh kemerdekaan kamu. Anak Song Ibumu pergi!"
Nyonya Hee bertindak pergi akan tetapi tiga kali ia masih
menoleh kebelakang, untuk melihat anak mantunya itu. Dengan
tindakan perlahan ia keluar dari pintu guha
Leng Song mengawasi, Ia melihat ibunya itu mengalirkan
airmata. Setelah berada berdua saja. Leng Song dan Ce In saling
mengawasi. Keduanya heran bukan main. Sikap ibu atau
mertua mereka aneh sekali. Karena itu, mereka menjadi
berkuatir. Taruh kata orang tua itu, tidak membutuhkan
bantuan, tak usah ia menotok. Tian Toa Nio sangat lihay, bukan
kah terlebih baik adanya dua orang pembantu "
Dari berkuatir, akhirnya Leng Song menjadi takut sendirinya.
Diluar Tian Toa Nio dan Wee Wat ma sih bertarung dengan
sama hebatnya Istana Pulau Es 8 Pendekar Pemetik Harpa Karya Liang Ie Shen Amarah Pedang Bunga Iblis 3
^