Pencarian

Kisah Pedang Di Sungai Es 10

Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen Bagian 10


inya daripada pemuda itu."
Merasa dirinya memang bertanggung jawab atas
keselamatan seluruh penghuni perkampungannya itu. maka In
Ciau tidak banyak bicara lagi, ia memberi hormat kepada
Thian-hong dan Hay-thian, katanya: "Atas kebaikan ini, kelak
bila Kang-siauhiap memerlukan tenagaku, biarpun kelautan api
atau masuk air mendidih, pasti aku takkan menolak."
Cepat Hay-thian membalas hormat orang sebagai kaum
yang lebih muda.
Segera In-pik menurut petunjuk sang ayah tadi, ia gunakan
sebuah peralatan dari kulit untuk menghubungkan lengan
kedua orang, ia membantu Hay-thian menyalurkan darahnya
kepada In Khing.
Ilmu bedah dengan mengadakan transfusi pada jaman ini
dengan sendirinya bukan sesuatu hal Yang luar biasa, tapi
pada jaman kuno di Tiongkok ilmu itu boleh dikata sesuatu
yang gaib. Kepandaian ini diperoleh Thian-hong pada suatu
penemuan yang sangat kebetulan didalam kitab pengobatan
tinggalan Hoa To.
Keruan ilmu ini membuat In Ciau terlongong-longong heran.
Kira-Kira setengah jam kemudian, Thian-hong menyalakan
sudah cukup dan menjadi giliran In Bik untuk diberi tambahan
darah. "Apakah tidak terlalu banyak mengeluarkan darah, perlu
mengganti seorang lagi tidak?" tanya In Ciau karena kuatir
Kang Hay-thian tidak tahan mengeluaruya banyak darah.
Namun sesudah memeriksa nadi pemuda itu, Thian-hong
berkata: "Tidak, ia masih cukup kuat, jangan kuatir."
Maka In Ciau tidak menolak lagi, terpaksa untuk sekali pula
ia bikin susah pada Kang Hay-thian. Ia suruh seorang pelayan
membawa In-pik dan Hay-thian kekamar dalam, ia sendiri
tinggal didepan untuk mengawani Thian-hong.
Dibelakang isterinya In Ciau sudah siap menyambut mereka
dengan penuh terima kasih. Apalagi demi dilihatnya Kang Haythian
gagah dan tampan, In-pik cantik molek, ia menjadi lebih
suka dan diam-diam merasa bahagia pabila muda-mudi itu
dapat menjadi anak menantunya.
Sesudah masuk kedalam kamar, terlihatlah diatas ranjang
merebah satu gadis jelita, mirip seperti In Khing. gadis itupun
berkeringat sebagai air hujan, karena bajunya tipis hingga
basah dan melengket dibadannya, maka kulit badannya yang
putih halus dan montok itu samar-samar kelihatan.
Dengan rikuh cepat Hay-thian menunduk. Tapi segera
dapat dilihatnya pula pinggang In. Bik terikat sebuah
saputangan dan diatas saputangan itu tersulam setangkai
bunga teratai yang indah. Hay-thian menjadi heran, kiranya
gadis itupun suka pada bunga teratai, saputangannya itupun
mirip dengan saputangan Kok Tiong-liau.
Pelahan-lahan In-pik menjawil pemuda itu ketika
melihatnya termangu. Dengan muka jengah cepat Hay-thian
menoleh dan mengulurkan lengannya. Karena sudah
berpengalaman sekali, maka pekerjaan In-pik menyulurkan
darah ini menjadi lebih cepat dan lancar.
Karena luka In Bik lebih enteng dari sang kaka, pula sehabis
terluka lantas dibawa lari kakanya Itu hingga tenaganya tidak
terbuang percuma. Maka setelah diberi transfusi darah,
dengan cepat wajahnya mulai memerah kembali.
Dan baru saya In pik membalut lengan Hay-thian. tiba-tiba
terdengar suara rintihan In Bik.
"Bik-ji." seru In-hujin dengan girang, "sadarlah engkau! Untunglah
engkau telah ditolong Kang-siauhiap dan nona Hoa ini.
sekarang jiwamu sudah selamat!"
Kedua mata In Bik tampak membuka pelahan entah ucapan
ibunya itu didengar jelas atau tidak, tapi sinar matanya
tampak mengarah kepada Hay-thian dengan halus.
Setelah membalut lengannya Hay-thian. In-pik kuatirkan
keadaan sang ayah, maka lantas mohon diri untuk keluar.
Sebenar-nya In-hujin hendak ajak bicara lagi dengan mereka,
tapi demi mengingat Hoa Thian-hong juga terluka. maka ia
tidak enak menahan lebih lama, sambil menghaturkan terima
kasih, ia menyaksikan In-pik memayang Hay-thian keluar.
Setelah keluar dari kamarnya In Bik, dengan pelahan Haythian
berkata: "Aku sudah dapat berjalan sendiri, tidak usah
engkau memayang aku lagi!"
Padahal bukannya In-pik tidak tahu pemuda itu masih
cukup kuat untuk berjalan sendiri, soalnya ia sengaja
memayang Hay-thian dengan mesra agar dapat dilihat oleh Inhujin.
Setiba kembali dikamamya In Khing, tertampak In Ciau
menjaga ditepi pembaringan dan In Khing masih belum
siuman, cuma air mukanya sudah mulai semu merah dan
bercahaya. "Banyak terima kasih atas bantuan Kang-siauhiap dan nona
Hoa," kata In Ciau segera demi nampak kedua muda-mudi itu
sudah kembali. "Dan bagaimanakah keadaan puteriku itu?"
"Lukanya agak ringan, maka sementara ini sudah siuman."
sahut In-pik. Sejak tadi Thian-hong memejamkan mata dan bersandar di
kursinya sepeti paderi yang sedang bersemadi. Kini mendadak
ia membuka mata dan terbahak-bahak: "Haha, selanjutnya
didalam kitab pengobatanku akan bertambah suatu catatan
bahwa Ki-heng-pat-meh (urat nadi dalam tubuh) terluka
bukanlah sesuatu penyakit mematikan!" mula-mula suara
ketawanya sangat keras, tapi lambat-laun menjadi lemah dan
akhirnya lenyap.
Keruan In-pik terkejut ia menanya: "Tia, kenapakah kau?"
Tertampak kepala sang ayah menunduk, kedua matanya
terpejam rapat pula. Cepat In-pik memeriksa nadi ayahnya, ia
merasa denyutnya sangat lemah.
Kiranya selama dua harini, sesudah terluka parah, Thianhong
mesti memeras otak pula dan berulang-ulang mengalami
kejadian-kejadian yang mengguncangkan perasaan, ditambah
lagi sekarang kegirangan yang tak tertahan, maka seketika ia
telah jatuh pingsan.
Dengan sendirinya In-pik menjadi bingung hingga terpaku
bagai patung. Cepat In Ciau berkata padanya: "Nona Hoa.
harap minumkan Siau-hoan-tan kepada ayahmu!"
"Darimana, ada Siau-hoan-tan lagi, sisanya sudah terpakai
tadi," sahut In-pik, saking gugupnya hingga ia telah menjawab
terus terang. In Ciau terkesiap. Sesaat itu terima kasihnya kepada Hoa
Thian-hong boleh dikata tiada taranya, tapi juga merasa
sangat cemas. Dengan mengembeng air mata terharu ia tidak
tahu apa yang dapat dikatakannya lagi.
Dalam pada itu Hay-thian sudah menyela: "Bukankah racun
didalam tubuh Gihu sudah banyak berkurang" Kalau cuma
pingsan sementara rasanya takkan berbahaya."
"Meski racunnya berkurang, tapi tenaganya masih lemah
menjadi tidak tahan," sahut In-pik. "Dapatkah kau?"?""
segera teringat olehnya bahwa Kang Hay-thian baru saja
memeras tenaga dan banyak mengeluarkan darah,
Lwekangnya tentu sangat terganggu, maka perkataannya
menjadi urung diucapkan.
Melihat sikap gadis itu, tanpa berkata lagi segera In Ciau
tampil kemuka. Katanya: "Nona, meski tenaga Lohu terlalu
kecil, tapi untuk membantu mengalirkan tenaga dalam Hoalosiansing
mungkin masih sanggup." Habis berkata ia terus
tempelkan tangannya kepunggung Hoa Thian-hong dan
menyalurkan tenaga murni kedalam tubuh orang tua itu untuk
membantu lancarkan darahnya.
In-pik mencoba periksa nadi sang ayah, ia tahu cara
melancarkan darahnya itu cuma sekedar dapat
menyadarkannya, tapi tetap susah melenyapkan sisa racun
didalam tubuhnya dan jiwanya masih berbahaya. Namun ia
tidak berani berkata terus terang, ia pikir biar sang ayah
siuman dahulu dan kemudian dapat dieyankan jalan lain lagi.
Dalam suasana yang menyedihkan itu, tiba-tiba terdengar
suara ribut-ribut pula diluar.
Tidak lama, Koankeh tua itu tertampak masuk bersama
seorang pemuda. Waktu melihat In Ciau sedang berusaha
menolong Thian-hong, mereka lantas berdiri tegak disamping
dengan sikap yang kuatir dan tak sabar.
In Ciau juga tidak menanyakan mereka, tapi ia percepat
kerjanya hingga tidak lama kemudian, jidat Hoa Thian-hong
tampak berkeringat, denyut nadinya juga mulai keras, melihat
itu, barulah In Ciau merasa lega, lalu ia menanya: "Ada terjadi
apa lagi" Katakanlah!" Ia bicara sambil tangannya tetap
menahan dipunggung Thian-hong.
"Lapor Suhu," demikian kata pemuda itu, "tadi kita
kedatangan seorang wanita berkedok, aku sedang berjaga
diatas rumah, segera kutegur maksud kedatanganoya, tapi ia
terus melemparkan semacam benda kepadaku."
Kiranya pemuda itu adalah murid ketiga In Ciau, namanya
Ibun Long. Murid In Ciau yang pertama dan kedua sudah
tamat belajar serta sudah pergi mengembara, hanya tinggal
Ibun Long yang tinggal bersama sang guru.
"Barang apa?" tanya In Ciau.
Segera pemuda itu mengeluarkan sebuah botol perak kecil
dan berkata pula: "Barang inilah, dia bilang supaya dihaturkan
kepada Hoa-locianpwe".
Mendengar itu, In-pik menjadi terheran-heran.
"Lalu apa lagi yang dia katakan?" tanya In Ciau pula.
"Waktu kutanya apa isi botol kecil ini, dia mengatakan tak
usah tanya, Hoa-locianpwe sendiri akan tahu bila melihatnya,"
tutur Ibun Long. "Ia berkedok, tapi tindak-tanduknya sangat
gugup tampak-nya, setelah melemparkan botol perak ini
kepadaku dan habis bicara lantas dia melarikan diri."
"Lapor Cengcu," Koankeh tua itu ikut bicara, "waktu dia melarikan
diri, kebetulan dapat kupergoki juga, meski wajahnya
tidak tampak jelas, tapi melihat perawakannya itu, terang dia
seorang gadis muda."
"Apa barangkali gadis yang menyaru sebagai nona Hoa
itu?" tanya In Ciau.
"Ya. besar kemungkinan adalah dia," sahut si Koankeh.
"Kenapa kalian tidak tahan dia?" kata In Ciau sambil
mengkerut kening.
"Gerak tubuhnya terlalu cepat, Tecu tidak dapat
mencandak-nya," ujar Ibun Long.
"Hamba tidak berani merintangi dia karena mengingat
pesan Cengcu agar jangan sembarangan bikin marah kepada
tamu. Ketika kemudian hamba merasa curiga, namun sudah
tidak keburu mengcjarnya lagi," sahut si Koankeh.
"Sudahlah, berikan saja botol itu kepada nona Hoa." kata In
Ciau akhirnya. Waktu In-pik memeriksa botol perak yang diterimanya itu.
ia lihat didalam botol ada isinya yang bersemu kekuningkuningan.
"He, diatas botol itu seperti ada merek apa-apa. ah, seperti
sebuah cap tangan, apa artinya ini?" tiba-tiba Hay-thian
berseru. Waktu In-pik memeriksa, benar juga ia melihat diluar botol
itu terdapat lekuk yang menggambarkan sebuah tapak tangan.
"Hm, terang ini adalah barangnya Tok-jiu-thian-cun Po Lohou,"
jengek In-pik. Hati Hay-thian tergerak, serunya: "Mungkinkah isi botol ini
adalah obat penawarnya" Kiranya wanita itu sengaja
menghantarkan obat penawar ini?"
"Darimana kau tahu?" ujar In-pik sambil melotot. Namun
dengan girang Hay-thian menjawab: "Tidakkah engkau masih
ingat percakapan antara kedua jahanam laki-laki dan perempuan
itu yang mengatakan Po Lo-hou sudah dibunuh" Dan
kalau wanita yang datang tadi adalah Auyang Wan. mereka
adalah sekomplotan, bukankah obat ini dengan mudah telah
mereka dapatkan dari Po Lo-hou?"
"Terhadap kau mungkin dia akan menghantarkan obat, tapi
kepada kami masakah dia begitu baik?" kata In-pik dengan
meng-ejek. "Kalau sekarang dia menghantarkan obat. buat
apa tempo hari ia merampas kantong obat ayah" Terang dia
menghantarkan obat palsu untuk membikin celaka orang, hm,
kami sudah cukup merasakan kekejiannya, hanya engkau saja
yang masih percaya padanya." Dan saking gemasnya
mendadak ia lemparkan botol obat itu ketanah hingga
tutupnya terlepas.
Tiba-Tiba Thian-hong siuman, begitu membuka mata ia
terus bertanya: "Aneh. darimanakah bau obat ini?"
In-pik bergirang melihat sang ayah telah sadar kembali,
cepat ia menyahut: "Tak usah ayah pikirkan, mengaso dulu,
sebentar nanti anak akan ceritakan."
"Tidak, sekarang juga aku ingin tahu, hayolah katakan dari
mana diperoleh obat seperti ini?" tanya Thian-hong.
Terpaksa In-pik memberitahu: "Obat palsu ini adalah
hantaran Auyang Wan dengan maksud membikin parah ayah.
sayang dia sudah lari."
Thian-hong terkejut, katanya: "Apa betul dia, kalian dapat
melihatnya dengan jelas" Ah, tidak, dibalik ini tentu ada
sesuatu yang tidak beres! Eh, lekas kau jemput kembali obat
itu, biarkan aku memeriksanya."
Sebagai seorang tabib sakti, dengan sendirinya Thian-hong
paham segala macam obat. sekali dia mengendus bau obat
itu, segera ia dapat membedakan obat apakah itu. Maka ia
tahu obat itu justeru adalah semacam rumput obat penawar
yang susah dicari, bahkan baunya sangat keras, terang sudah
mengalami proses pembuatan dan telah dijadikan obat.
Dan selagi In-pik hendak menjemput kembali botol obat itu,
sekonyong-konyong In Ciau membentak: "Siapa itu?"
Mendadak terdengarlah suara gedubrakan, daun jendela
telah didobrak orang hingga terpentang, menyusul dari luar
lantas melayang masuk satu orang.
Ibun Long berdiri didekat jendela, ketika melihat orang
yang melompat masuk itu adalah seorang wanita asing, dalam
gugup-nya terus saja ia menyerang dengan tipu "Suang-Iionghi-
lang" atau sepasang naga main ombak, segera ia hendak
menangkap kedua kaki wanita itu.
Namun wanita itu sangat lihay, biarpun tubuhnya terapung
di udara, tapi kedua kakinya masih dapat menendang secara
berantai. Tidak berhasil menangkap kaki lawan, sebaliknya
Ibun Long sendiri kena tertendang hingga terjungkal balik.
In Ciau menjadi gusar, dari jauh ia hantamkan sebelah
tangannya. Rupanya jaraknya terlalu jauh, maka wanita itu
hanya tergeliat sedikit saja oleh tenaga pukulan yang hebat
itu. Dalam pada itu In-pik sudah lolos pedangnya, dengan tipu
"Giok-li-coan-ciam" atau sigadis ayu menyusup jarum. terus


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

saja ia tusuk dada musuh. Dan baru sekarang ia dapat melihat
jelas bahwa wanita itu bukanlah Auyang Wan, tapi adalah
seorang wanita setengah umur yang berdandan berlebihlebihan
dan tak dikenalnya.
Tiba-Tiba wanita itu menggeser kesamping, yang dipakai
ternyata juga "Thian-lo-poh-hoat", maka tusukan In-pik itu
mengenai tempat kosong. Menyusul lengan baju wanita itu
terus mengebut kerauka In-pik.
Di sebelah sana dengan cepat sekali Ibun Long sudah
melompat bangun, ia lolos golok terus membacok. Sebenarnya
kepandaian Ibun Long juga tidak rendah, soalnya kurang
pengalaman hingga kena ditendang terjungkal oleh wanita itu.
Kini dalam gusarnya, ia menghujani lawan dengan goloknya
hingga wanita itu tidak berani gegabah menghadapinya lagi.
Namun kepandaian wanita itu sesungguhnya terlalu
tangguh ba-ginya, sudah tentu tidak mudah untuk melukainya.
Ketika wanita itu mengebas lengan bajunya pula hingga golok
Ibun Long tersampok kesamping, segera ia melesat maju
untuk menghindarkan tusukan In-pik pula.
"Long-ji, mundurlah!" seru In Ciau.
Dan pada saat itu juga wanita itu mendadak mundur tiga
tindak, bagaikan punggungnya mempunyai mata saja lengan
bajunya terus mengebut pula kebelakang hingga botol obat
dilantai itu tepat kena digulungnya.
"Lepaskan!" bentak In Ciau. Ia tetap tempelkan tangan
kirinya dipunggung Hoa Thian-hong, tubuhnya sedikitpun tidak
bergerak, hanya jari tengah kanan terus menjentik. maka
terdengarlah suara "cret" sekali, tangan wanita itu serasa
ditusuk jarum, tidak kuat lagi lengannya hingga bobol obat itu
jatuh kembali kelantai dan menerbitkan suara nyaring.
Kiranya In Ciau telah menggunakan Kim-kong-ci-lik dengan
Lwe kangnya yang paling kuat, sekalipun kepandaian wanita
itu sangat hebat juga tak tahan oleh tenaga jari sakti itu. Tapi
dikala botol obat itu hendak terjatuh kembali, berbareng
wanita itupun menggunakan tenaga Lwekang untuk
menyentak hingga botol itu pecah.
Hati In-pik terguncang, ia pikir jangan-jangan ini memang
benar obat penawar untuk ayahnya. Cepat ia melompat maju
hendak menjemput pecahan botol itu. Mendadak terdengar
Kang Hay-thian berseru: "Awas!"
"Blang", tiba-tiba terdengar suara letusan, wanita itu telah
melemparkan sebuah benda bundar dan mendadak meledak
diudara, seketika segumpal asap tebal dan api mengurung
keatas kepala In-pik. Bahkan ditengah gumpalan asal itu
tertampak berkelebatnya sinar emas yang gemilapan.
Syukur Kang Hay-thian tepat ambil tindakan, sekali sikut, ia
tumbuk Ibun Long kesamping, berbareng tangan yang lain
dipakai menarik In-pik kepojok kamar hingga kedua orang itu
terhindar dari serangan senjata rahasia itu. Karena habis
mengalirkan darah, badan Kang Hay-thian masih lemah, maka
napasnya menjadi tersengal-sengal setelah menarik In-pik
kepojok kamar, tanpa merasa In-pik jatuh kedalam
pelukannya. Dalam pada itu In Ciau telah menambahi sekali
hantaman dari jauh pula, namun wanita itu sudah berhasil
melarikan diri dibalik gumpalan awan, sebaliknya api semakin
berkobar terkena angin pukulan In Ciau. Dengan muka jengah
cepat In-pik meronta lepas dari pelukan Hay-thian, segera ia
bermaksud memadamkan api itu. Namun In Ciau sudah
mendahuluinya menyirapkan kobaran api itu dengan bantuan
sehelai selimut.
"Aneh, siapakah wanita tadi" Mengapa dia dapat
menggunakan Am-gi yang pernah dipakai mendiang Le Senglam?"
ujar In Ciau kemudian. "Kang-siauhiap, apakah engkau
kenal Am-gi semacam ini?"
"Yauhu (perempuan siluman) ini adalah kakak Thian-mokaucu,
anak buahnya memanggil dia sebagai Mo-hujin," sahut
Hay-thian. Belasan tahun yang lalu ia pernah bikin rusuh di
Bin-san dan pernah menggunakan Kim-ciam-liat-yam-tan
(peluru bakar berjarum) ini. Tatkala itu kebetulan aku ikut
ayah menjadi tamu didalam Hian-ll-koan diatas Bin-san sana."
Waktu In Ciau menyingkirkan selimut yang dipakainya tadi,
ia lihat obat didalam botol itu sudah hangus terbakar.
"Untung senjata rahasianya itu tidak mengandung kabut
berbisa, agak berbeda daripada apa yang pernah digunakan
Le Seng lain dahulu," ujar Thian-hong. "Pik-ji, coba kau keruk
abu obat yang terbakar itu, aku ingin melihatnya."
Dengan hati-hati In-pik menggunakan secarik kertas tipis
untuk mengeruk abu obat itu dan diberikan kepada sang ayah.
Setelah Thian-hong mencium abu obat itu, ia berkata: "Ya,
tidak salah lagi, memang inilah obat penawar buatan sendiri
Tok-jiu-thian-cun Po Lo-hou."
In-pik menjadi menyesal dan bergirang, tanpa merasa ia
berseru: "Jika begitu, wanita berkedok itu benar-benar
menghantarkan obat penawar untuk ayah" Apakah?"?"
apakah abu obat ini masih bisa dipakai?"
Pelahan-lahan terdengar Thian-hong menghela napas. Hati
In-pik tertekan, ia mengira obat itu tidak berguna lagi. Tapi
lantas terdengar sang ayah telah berkata: "Gunanya sih masih
ada, cuma sayang sudah terbakar, kasiatnya sudah jauh
berkurang. In-cengcu, terpaksa aku mungkin harus
mengganggu tempatmu ini untuk dua-tiga bulan lamanya".
Mendengar ucapan orang tua itu seperti hendak
mengatakan jiwanya sudah tidak berbahaya lagi, cuma
perawatannya diperlukan waktu yang agak lama, In Ciau
menjadi girang, segera sahutnya: "Hoa-losiansing adalah
seorang tokoh terhormat, kalau tidak kebetulan, sengaja
mengundang juga mungkin susah. Jangankan cuma dua-tiga
bulan bahkan aku berharap engkau sudi tinggal barang
beberapa tahun disini."
Karena itu, barulah In-pik merasa lega, segera ia tanya
sang ayah: "Dan cara bagaimana obat ini mesti dipakai?"
Thian-hong minta disediakan alat tulis, ia membuka resep
obat pula dan berkata: "Gilaslah beberapa macam obat ini, lalu
campur hingga rata, gunakan air tiga mangkuk dan digodok
sampai menjadi satu mangkuk, kemudian minumkan padaku."
Melihat obat-obat dalam resep Thian-hong itu hanya bahan
obat-obatan yang sangat umum, dalam warung obat
kampungnya itu juga mudah diperoleh Maka cepat In Ciau
suruhan membeli seperlunya.
Tidak lama, terdengar juga In Khing mulai siuman dan
merintih. Ketika mendadak melihat Kang Hay-thian. ia berseru
kaget sambil menahan badannya dengan siku dan bermaksud
melompat bangun.
Hay-thian tercengang dan bingung. Namun In Khing lantas
merebah lagi dengan wajah serba susah, tanyanya: "Siapakah
saudara ini?"
"Dia adalah ahliwarisnya Kim Si-ih, Kim-tayhiap, namanya
Kang Hay-thian.-Dan yang ini adalah Hoa-losiansing yang
terkenal dengan gelar Hoa-san-ih-un, mereka adalah tuan
penolong jiwamu. setelah kau sembuh, nanti kuceritakan lebih
jelas padamu," demi kian ln Ciau menerangkan secara singkat.
"Ah, hampir aku salah mengenali kau, Kang-siauhiap,
maafkan aku takdapat berbangkit untuk menghaturkan terima
kasih kepada kalian," ujar In Khing dengan suara lemah. Lalu
katanya kepada sang ayah: "Tia, bangsat cilik yang
mencelakai anak dan adik itu perawakannya serupa benar
dengan Kang-siauhiap baiknya aku masih ingat betul pada
wajahnya, kalau tidak, hampir saja aku mengira dia telah
datang lagi kesini."
"Bangsat kecil itu memang sudah datang kesini, bahkan
akupun salah sangka kepada Kang-slauhiap hingga saling
gebrak." kata In Ciau dengan tertawa.
"Perawakan mereka memang sama, tapi air muka berbeda,"
ujar In Khing dengan heran.
"Sudah tentu bangsat itu telah sengaja menyaru sebagai
Kang-siauhiap," kata In Ciau. "Peristiwa yang terjadi malam ini
tukup banyak. biarlah kau mengaso dulu, nanti akan
kuceritakan dengan jelas."
Tidak lama kemudian Koankeh itu telah membawakan obat
yang telah diseduh. Sementara itu fajar sudah menyingsing.
Sesudah TKian-hong habis minum obat itu, lalu In Ciau berkata
dengan tertawa: "Nona Hoa dan Kang-siauhiap, kalian
tentu sudah teramat lelah, kini dapatlah silakan kalian
mengaso saja."
Kemudian Thian-hong membuka tiga resep obat pula, dua
untuk putera-puteri In Crau dan resep ketiga untuk dirinya
sendiri, setelah tiga hari lagi, resep obat itu akan diganti pula.
Segera In Ciau suruh Koankeh menyiapkan seperlunya
menurut resep obat yang diterlmanya itu.
Gedung In Ciau itu bertingkat, kamar tamu yang disediakan
untuk Hoa Thian-hong bertiga itu berada dibawah, Thian-hong
bersama In-pik satu kamar dan Kang Hay-thian satu kamar
tersendiri disebelahnya.
"Sungguh beruntung, habis Siau-hoan-tan disumbangkan
kepada orang, tapi telah diperoleh obat penawar bagiku, ini
menandakan orang berhati baik tentu mendapat ganjaran
baik." demikian kata Thian-hong sesudah berada didalam
kamar "Cuma seorang laki-laki sejati seharusnya dapat
membedakan batas-batas antara budi dan dendam, dan harini
aku benar-benar mendapatkan budi orang tapi tidak tahu
siapa orangnya". Rupanya meski obat penawar itu telah
hangus menjadi abu. tapi kasiatnya masih lumayan hingga
jiwa Thian-hong tidak berbahaya lagi. Cuma ia tidak tahu
siapa penghantar obat itu, makanya ia merasa masgul.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 8 "Nah, Pik-moay. apa yang kukatakan tidak salah bukan?"
demikian kemudian Kang Hay-thian berkata dengan tertawa.
"Sudah kukatakan penghantar obat itu adalah Auyang Wan,
tapi semula engkau tidak mau percaya."
"Tapi juga cuma separoh yang benar," sahut In-pik dengan
sikap dingin. "Mengapa cuma benar separoh saja?" tanya Hay-thian
heran. "Obat penawarnya sih memang benar, tapi sipenghantar
obat, yaitu wanita berkedok itu belum tentu adalah Auyang
Wan," sahut In-pik.
"Bukankah Koankeh itu menyatakan wanita berkedok itu
adalah penyatron yang pernah datang kesini" Habis siapa lagi
kalau bukan Auyang Wan?" ujar Hay-thian.
"Dia cuma mengatakan perawakannya mirip, sedangkan
pemalsu diriku itu sebenarnya Auyang Wan atau bukan juga
masih belum pasti," sahut In pik ngotot.
"Engkau telah lupa pada perkataanmu sendiri, bukankah
engkau juga pernah mengatakan bahwa bangsat wanita
pemalsu dirimu itu tentulah Auyang Wan?" kata Hay-thian
dengan tertawa.
"Pendek kata, aku yakin Auyang Wan tidak nanti berhati
sebaik itu," sahut In-pik. "Engkau sendiri juga sudah lupa
barangkali, dia pernah memancing engkau hingga tertawan
didalam jaring, ia pernah merampas kantong obat ayahku, dan
engkau malahan sudah pernah bersumpah, bukan?"
Begitulah serentetan pertanyaan In-pik itu membuat Kang
Hay-thian menjadi bungkam tanpa bisa menjawab.
"Sudahlah, tak perlu berdebat, duduknya perkara kelak
pasti akan menjadi terang," tiba-tiba Thian-hong menyela.
"Aku ingin memberi nasihat kepada kalian. Pik-ji, hendaklah
engkau jangan sama-ratakan setiap orang dan jangan
menganggap manusia itu takkan berubah wataknya, bahwa
yang baik akan selalu baik. yang jahat tetap akan jahat.
Sebaliknya engkau Hay-ji, engkau juga jangan terlalu percaya
kepada setiap orang hingga selalu masuk perangkap orang
jahat. Nah, sudahlah, sudah waktunya engkau perlu mengaso
juga." Sejak itu In-pik selalu menghindarkan persoalan Auyang
Wan itu dalam pembicaraannya dengan Kang Hay-thian.
Selang beberapa hari, badan Hay-thian sudah pulih kembali,
Hoa Thian-hong dan kedua saudara In Khing dan In Bik juga
sudah tampak banyak lebih baik.
Suatu hari. Kang Hay-thian berjalan-jalan ketaman bunga
dibela-kang. Keluarga In meski bukan keluarga hartawan yang
kaya-raya. tapi taman bunga itu juga terawat sangat indah.
Dimana-mana bunga mekar semarak, empang buatan dan
gunung-gunungan palsu, semuanya di atur dengan secara
arsitiktis hingga mirip sebuah lukisan alam yang indah permai.
Tatkala itu adalah musim bunga teratai, setiba Kang Haythian
ditepi kolam teratai, tiba-tiba dilihatnya didepan sebelah
gunung-gunungan di tepi kolam itu ada seorang gadis sedang
menikmati bunga padma yang cantik itu.
Waktu mendengar suara bertindak orang, tiba-tiba gadis itu
menoleh, ketika dilihatnya orang itu tak dikenalnya, ia
tercengang. "In-kohnio, sudah sembuhkah engkau?" sapa Hay-thian.
Gadis itu memang In Bik adanya. Ia bersuara kaget sekali
dan menjawab: "Ah, apakah tuan Kang-siauhiap bukan?"
"Sebutan "hiap" itu tak berani kuterima, namaku Hay-thian,
janganlah nona sungkan-sungkan memanggil namaku saja,".
"Kukira bukan aku yang sungkan, tapi Kang-siauhiap yang
berlaku sungkan," sahut In Bik. "Kang-siangkong telah banyak
mengorbankan darah bagi kami bersaudara yang sebelumnya
tak dikenal, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus
menyatakan perasaanku."
"Sebagai sesama orang Bu-lim, adalah menjadi kewajiban
kita untuk saling bantu-membantu," ujar Hay-thian dengan
rendah hati. "Apalagi Gihuku juga mesti minta perlindungan
ditempat kalian sini, kalau mau bicara tentang terima kasih,
maka akulah yang lebih dulu harus berterima kasih
padamu." "Eh, ya, kudengar Gihumu, Hoa-losiansing juga terluka,
karena harini aku baru dapat bergerak, maka belum sempat
pergi memberi hormat padanya." kata In Bik, "Bagaimanakah
kesehatan beliau" Dan katanya masih ada pula seorang nona
Hoa. Kalian datang dengan bertiga, bukan?"
"Keadaan Gihuku sudah banyak lebih baik, beliau baru saja
tidur, nona Hoa juga perlu menjaga ayahnya, maka aku
seorang diri berjalan-jalan ketaman sini," sahut Hay-thian.
Karena tidak pandai bicara, maka Kang Hay-thian agak
kikuk berhadapan dengan seorang gadis, yang baru saja
dikenalnya. Sekilas ia melihat dipinggang In Bik terikat
sepotong saputangan itulah saputangan yang bersulam bunga


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

teratai yang pernah dilihatnya tempo hari. Karena tertarik, ia
telah pandang saputangan itu berulang kali.
Wajah In Bik berubah jengah, katanya kemudian: "Kangsiangkong,
apakah engkau suka kepada saputangan demikian
ini." "Saputangan yang bersulam bunga teratai Itu sangat
indah," ujar Hay-thian.
"Darimana engkau tahu?" tanya In Bik heran..
"Tempo hari waktu Cayhe mengobati penyakit nona,
saputangan itu telah kulihat," kata Hay-thian.
In Bik melepaskan saputangannya, dengan menunduk ia
berkata dengan tersenium: "Pabila engkau suka, aku dapat
menyulam sebuah untuk kau. Akan tetapi saputangan ini
bukan milikku, maka tidak dapat kuberikan padamu."
Sebagai gadis remaja dikeluarga mampu yang sering
membaca kisah roman tentang pertemuan sepasang kekasih
ditaman, lalu saling memberi tanda mata dan sebagainya
Rupanya In Bik menjadi salah paham juga ketika melihat Kang
Hay-thian memperhatikan saputangannya, gadis yang baru
mulai meningkat kealam dewasa itu salah sangka kalau Kang
Hay-thian ada maksud meminta sesuatu tanda mata padanya.
Dari itu ia berbicara dengan hati berdebar-debar dan wajah
merah. Sudah tentu Kang Hay-thian tidak tahu isi hati sigadis, demi
mendengar perkataannia tadi, tanpa pikir ia berseru: "He,
kiranya saputangan itu bukan milikmu?"
"Benar, tapi adalah pemberian seorang nona yang lain,"
sahut In Bik. "Ada apakah" Adakah sesuatu yang tidak benar?"
"Nona itu she Kok atau bukan, lengkapnya bernama Kok
Tiong-lian?" tanya Hay-thian cepat.
"Ya. benar, engkau kenal dia?" sahut In Bik.
"Waktu aku berumur tujuh, pernah aku tinggal di Bin-san."
kata Hay-thian "Sampai kini sudah hampir sepuluh tahun kami
tidak berjumpa."
"Eh, kiranya kalian adalah kawan sejak kanak-kanak." ujar
In Bik dengan tersenyum. Diam-Diam iapun bergirang karena
perkenalan mereka ternyata dimasa kanak-kanak, dengan
sendirinya tiada hubungan asmara antara pria dan wanita
seperti umumnya.
Tapi Kang Hay-thian sama sekali tidak memperhatikan sikap
In Bik yang aneh itu, demi mengetahui memang benar Kok
Tiong-lian adanya, cepat ia bertanya pula: "Bilakah engkau
bertemu dengan dia" Ia telah memberikan saputangannya
kepadamu, suatu tanda persahabatan kalian tentu sangat
baik." "Persahabatan kami memang cukup baik, tapi
persahabatannya dengan kakakku lebih-lebih baik aku
diberinya saputangan sebenarnya adalah berkat
persahabatannya dengan kakakku saja," ujar In Bik.
Hay-thian tertegun oleh jawaban itu. "O, kiranya begitu
berbelit-belit persoalan saputangan ini?" katanya dengan
senyum ewa. "Ya, ceritanya cukup menarik juga, jika engkau suka. dapat
kututurkan kejadian itu," kata In Bik "Dua bulan yang lalu,
Kok-Yihiap, itu Ciangbun dari Bin-san-pay telah lewat sini
bersama puterinya dan tinggal untuk beberapa hari ditempat
kami ini. Selama beberapa hari itu kakakku menjadi seperti
orang linglung, selalu mendampingi nona Kok, dan dalam
beberapa hari itulah persahabatan mereka sudah begitu akrab
sebagai kenalan lama saja."
Sebenarnya cerita itu sengaja dibesar-besarkan oleh In Bik,
tapi bagi pendengaran Hay-thian sudah tentu kecut rasanya.
Setelah tenangkan diri, segera ia menanya: "Kok-lihiap hendak
kemana, apakah engkau tahu" Kok-lihiap adalah sobat baik
guruku, aku justeru lagi hendak mencari kabarnya."
Melihat sikap pemuda itu agak aneh, diam-diam In Pik
merasakan semacam perasaan cemburu yang tidak
terkatakan. Tapi segera terpikir pula: "Mungkin tujuannya
memang benar-benar hendak mencari Suhunya dan bukan
Kok Tiong-lian, dari itu ia ingin lekas-lekas mendapat kabarnya
Kok-lihiap. Tetapi, ah, biarlah apakah yang dia perhatikan itu
sang ibu atau puterinya, apa sangkut-pautnya dengan aku?"
Berpikir sampai disini, tanpa merasa mukanya kemerahmerahan.
Kang Hay-thian menjadi terkejut malah ketika melihat tanpa
sebab muka gadis itu menjadi merah, sebagai satu pemuda
yang masih hijau, sudah tentu ia tidak paham lika-liku
perasaan anak gadis. Sebaliknya ia terus bertanya: "Nona In,
engkau baru saja sembuh, badanmu masih lemah, maka lebih
baik engkau banyak mengaso saja, tentu ceritamu ini bolehlah
disambung lain hari."
"Gihumu adalah seorang tabib sakti, sebaliknya engkau
belum mahir sedikitpun ilmu pertabibannya itu. Aku tidak apaapa,
kenapa perlu mengaso apa segala?" sahut In Bik tertawa.
"Aku tahu engkau justeru sangat ingin sekali mengetahui
berita tentang diri Kok-lihiap berdua, kalau cerita ini ditunda,
boleh jadi malam nanti engkau tak bisa tidur".
Diam-Diam Hay-thian merasa ucapan sigadis itu memang
tidak salah, kalau berita tentang Kok Tiong-lian itu tidak
segera diceritakan padanya, memang bukan mustahil nanti
malam dirinya takkan dapat tidur.
la heran mengapa gadis itu sebentar-sebentar merah air
mukanya. Tapi sesudah tenangkan diri, lalu In Bik melanjutkan: "Nona
Kok itu ternyata sangat tulus, ia mengeluarkan saputangannya
dan berkata: "Apakah cukup indah" Ini adalah sulamanku
sendiri." Sikap kakakku waktu itu benar-benar menggelikan,
dengan muka merah ia memuji dengan gelagapan." Lalu iapun
menirukan suara kakaknya waktu itu hingga Kang Hay-thian
ikut tertawa. Sehabis ketawa geli, lalu In Bik melanjutkan: "Tatkala itu
aku lantas berkata: "Nona Kok. Koko suka kepada
saputanganmu ini, sudilah engkau menghadiahkan
kepadanya." Karuan kakak merasa kikuk dan muka jengah.
Tapi nona Kok cuma tersenyum saja, lalu mengeluarkan dua
potong saputangan seperti ini."
"Kakakmu cuma inginkan satu, tapi dia telah memberikan
dua!" tanya Hay-thian.
In Bik terkikih tawa, sahutnya: "Pemberian sesuatu hanya
sebagai lambang belaka, masakah barang pemberian itu akan
digunakan hingga perlu jumlah yang banyak?"
"O, tahulah aku, jika begitu, yang sebuah adalah untukmu,
bukan?" kata Hay-thian.
In Bik mengangguk tanda benar Katanya pula dengan
tertawa: "Setelah nona Kok mengeluarnya kedua
saputangannya itu, lalu katanya kepadaku: "Hanya sehelai
saputangan apa artinya" Jikalau kalian suka, silakan terimalah.
Coba, bukankah pemberian sapu-tangan ini adalah berkat
kakakku?" Setelah mendengar cerita itu, perasaan Kang Hay-thain
menjadi bimbang seakan-akan kehilangan sesuatu.
Dan pada saat itulah tiba-tiba terdengar ibunya In Bik
sedang memanggil: "Bik-ji, dimanakah kau, makanlah obatmu
dulu." Sembari berseru, orang tua itupun menuju ketempat
beradanya In Bik berdua. Waktu tiba-tiba dilihatnya Kang Haythian
juga berada disitu, ia sangat senang, katanya: "O,
kiranya Kang-siauhiap berada bersama kau."
Segera Hay-thian memberi hormat, katanya: "Nona In kini
sudah sembuh, bolehlah Pekbo tidak perlu kuatir lagi."
"Untuk mana kami harus berterima kasih kepadamu," ujar
In-hujin dengan tertawa. "Kang-siauhiap, silakan duduk
kedalam rumah saja."
"Terima kasih, sudah cukup lama aku membuang tempo
nona In yang berharga, sekarang sudah waktunya kutengok
Gihu," sahut Hay-thian.
"Jika begitu, selang dua hari lagi bila Khing-ji sudah
sembuh, akan kusuruh dia membawa engkau pesiar ketempat
sekitar sini," ujar In-hujin.
Setelah ibu dan anak itu pergi, hati Kang Hay-thian masih di
liputi rasa masgul. Ia tiada minat buat menikmati
pemandangan lagi, dengan rasa kesal ia putar balik.
Ketika melalui segerombol hutan bambu, tiba-tiba ia
mendengar suara ketawa cekikikan anak gadis. Sebenarnya
tiada maksud Hay-thian buat mendengarkan, tepi suara
percakapan mereka itu sudah otomatis masuk kedalam
telinganya. Dari percakapan mereka itu segera Kang Hay-thian dapat
mengetahui terdiri dari dua dayang keluarga In yang sedang
membicarakan soal perjodohan. Siocia dan Kongcu mereka.
Walaupun tiada maksud Kang Hay-thian untuk mendengarkan
percakapan orang, tapi mau-tak-mau ia merandek juga ketika
ada bagian-bagian yang sangat menarik perhatiannya,
terutama waktu salah satu dayang itu nienyinggung dirinya,
tentang "Kang-siauhiap" telah dipenujui nyonya besar dan
akan mengambilnya sebagai menantu. Menurut dayang itu
ada dua alasan kuat akan jadinya perjodohan itu. Pertama
karena sudah adanya percampuran darah antara Kang Haythian
dan Siocia mereka, yaitu waktu Hay-thian menyalurkan
darah nya untuk menyembuhkan luka In Bik. Kedua, selalu
Loya dan Hujin mereka memuji betapa hebat ilmu silat Kangsiauhiap,
katanya Kang-siauhiap adalah tokoh nomor satu
dalam angkatan muda dikalangan Bu-lim. maka betapa
bangganya bila mereka dapat memperoleh menantu sebaik
Kang-siauhiap itu.
"Jika begitu, mengapa belum diadakan peminangan?" tanya
dayang yang lain.
"Inipun ada dua alasan," demikian jawab sidayang pertama
yang rupanya mempunyai penyakit "dua alasan."
"Hihi, selalu engkau punya alasan saja," goda dayang
kedua. "Tapi alasan ini bukan sengadia dibuat-buat", sahut dayang
pertama tadi. "Pertama, karena Hoa-losiansing itu masih
belum sembuh, maka Loya dan Hujin sudah mengambil
keputusan untuk menunggu sampai beliau sembuh nanti."
Mendengar sampai disini, Kang Hay-thian sudah menjadi
paham, maka diam-diam ia tinggalkan taman dengan
perasaan berdebar-debar, agak senang juga agak kesal.
Pada umumnya anak gadis lebih cepat masak daripada
anak laki-laki. Dalam usia yang sebaya, Hoa In-pik dan In Bik
sudah lebih masak bagai kuntum bunga yang mulai mekar.
Sebaliknya Kang Hay-thian belum pernah memikirkan tentang
perjodohan Segala, terhadap cinta asmara juga setengah
paham setengah tidak. Biar pun dia sering merindukan Kok
Tiong-lian, namun hal yang disebabkan kesannya kepada
gadis itu sangat mendalam karena merupakan kawan bermain
sejak kanak-kanak, jikalau ada rasa cintanya kepada gadis itu,
hal mana juga cuma cinta yang tak jelas pokok-pangkalnya.
Sebab itulah, demi mendengar percakapan kedua dayang
mengenai dirinya hendak dipungut menantu oleh In Ciau,
pikiran nya menjadi kesal dan bingung cara bagaimana harus
menjawab pabila benar-benar In Ciau mengutarakan
perjodohan itu kepada sang Gihu.
Begitulah dengan pikiran yang kacau tanpa merasa Kang
Hay-thian sampai dikamarnya sendiri. Ia dengar dikamar
sebelah Hoa Thian-hong sedang bercakap-cakap dengan Inpik
Segera ia mengetok pintu dan masuk kesitu.
"Sedari tadi engkau kemana, Hay-ko, baru saja ayah
membicarakan engkau," tanya In-pik dengan tertawa.
Maka dengan samar-samar Hay-thian mengatakan berjalanjalan
ketaman, dimana bunga padma sedang mekar dengan
indahnya. "Hay-ji, apakah engkau sudah sehat benar?" tanya Thianhong
kemudian. "Apakah engkau sudah coba latihan kembali?"
"Pagi tadi sudah kulakukan, pada umumnya sudah sehat
kembali," sahut Hay-thian. "Dan engkau sendiri bagaimana,
Gihu?" "Kukira perlu sebulan lagi baru dapat pulih kembali," sahut
Thian-hong. "Makanya aku ingin berunding dengan kau."
Selagi Hay-thian hendak bertanya berunding soal apa, tibatiba
In-pik telah menyela: "Hay-ko, baru saja kesehatanmu
pulih dan engkau sudah begitu besar minat untuk menikmati
keindahan bunga padma."
"Bukan maksudku hendak menikmati pemandangan bunga,"
sahut Hay-thian dengan muka merah. "Tapi yang kupikir
ialah?"" "
"Aku sudah tahu apa yang kau pikirkan, Hay-ji," ujar Thianhong
dengan tertawa. "Sang waktu memang lalu dengan
sangat cepat. hari Tiongciu sudah tinggal sebuian dan 11 hari
lagi. Bukankah engkau sedang memikirkan pertemuan di Kimeng-
kiong nanti?"
"Memang benar, Gihu," sahut Hay-thian dengan menghela
napas. "Aku sudah mewakilkan Kok-lihiap menerima kartu
undangan orang, dengan sendirinya aku harus pegang janji
untuk menghadiri pertemuan itu tepat pada waktunya. Namun
Gihu sendiri?"?"?""
"Aku sendiri tidak menjadi soal," sela Thian-hong. "Aku toh
berada dibawah perlindungan In-cengcu, engkau tak perlu
kuatirkan diriku. Adapun urusan yang hendak kurundingkan
dengan kau tak-lain-tak-bukan juga soal ini. Jikalau toh
engkau sudah sehat benar, bolehlah engkau lantas berangkat
untuk memenuhi janji itu, cuma sayang aku tak dapat
mendampingi engkau. Sebenarnya ada maksudku suruh Pik-ji
berangkat bersama kau?""
"Gihu," potong Hay-thian, "engkau sendiri perlu seorang
perawat yang selalu berada disisimu, sedangkan aku tidak
dapat menjaga Gihu, apalagi kalau Pik-moay ikut pergi
bersama aku, hal itu sekali-sekali tidak boleh jadi."
Sebenarnya maksud Hoa Thian-hong hanya untuk
memantiing bagaimana isi hati Kang Hay-thian saja. Sebab,
betapapun perjalanan kedua muda-mudi harus ada suatu
alasan yang kuat agar tidak dibuat buah tutur orang iseng.
Dari itu bila Kang Hay-thian sendiri yang suka ajak puterinya
ikut berangkat, hal mana akan dapat sekalian dia kemukakan
tentang perjodohan mereka.
Tapi kini demi mendengar jawaban Kang Hay-thian itu,
Thian-hong agak kecewa. Namun lantas terpikir pula olehnya:
"Toh mereka masih terlalu muda, biarlah boleh dibicarakan
beberapa tahun lagi. Walaupun ia tidak paham maksud hatiku,
namun apa yang dia kehendaki adalah untuk kebaikanku."
Berpikir begitu, ra menjadi terhibur, katanya pula: "Baiklah,
terpaksa engkau harus menempuh perjalanan sendirian.


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Namun pengalamanmu masih cetek dalam segala hal
hendaklah kau berlaku hati-hati. Nah, Pik-ji, pergilah kau
mengundang In-cengcu kemari, dia sangat luas hubungannya
diwilayah perbatasan sini, biarlah aku akan minta
pertolongannya untuk menjaga keselamatan Hay-yi."
Ketika In Ciau mengetahui bahwa Kang Hay-thian hendak
menghadiri pertemuan di Kim-eng-kiong pada hari Tiongciiu.
ia agak heran dan bertanya: "Darimanakah majikan Kim-engkiong
itu kenal kau?"
Dan setelah Kang Hay-thian memberitahu duduknya
perkara, dengan tertawa In Ciau berkata lagi: "Kiranya engkau
telah mewakili Kok-lihiap menerima undangan mereka, pula
pernah mengunjukan ilmu silatmu dihadapan pesuruh Kimeng-
kiong, pantas saja."
Kiranya In Ciau sendiri juga menerima undangan Kim-engkiong
itu yang diketahuinya melulu dikirim kepada tokoh-tokoh
persilatan yang ternama, dari itu ia telah mengajukan
pertanyaan tadi.
"Bulan yang lalu Kok-lihiap pernah lalu disini dan telah
tinggal beberapa hari ditempat kami ini," tutur In Ciau lebih
jauh. "Tatkala itu ia masih belum tahu tentang pertemuan di
Kim-eng-kiong, lebih-lebih tidak tahu bahwa dia sendiripun
akan menerima undangan. Tapi kebetulan tempat yang dia
tuju itu adalah Masarmin dibawah kekuasaan majikan Kimeng-
kiong itu. Sesudah engkau tiba disana, boleh jadi akan
segera dapat berjumpa dengan dia. Karena keberangkatan
Kang-siauhiap ini adalah untuk memenuh! janji, aku tidak
enak untuk menahan engkau, cuma apakah tidak dapat
tinggal beberapa hari lagi. Kenapa mesti buru-buru berangkat
besok pagi"
"Terpaksa aku harus berangkat secepat mungkin, karena
aku masih ingin mampir kegunung Tangra, akan mengunjungi
suami-isteri Teng Keng-thian diistana es untuk mencari tahu
jejak ayah dan guruku."
In Ciau memikir sejenak, lalu katanya: "Baiklah jika begitu,
besok pagi-pagi aku akan menjamu engkau sekadar tanda
selamat berpisah."
Besoknya, sesudah perjamuan perpisahan, In Ciau dan In
Bik berkeras untuk menghantarnya. Setiba ditepi danau,
setelah berulang-ulang Kang Hay-thian mohon tuan rumah
pulang saja, barulah In Ciau membuka suara: "Kang-siauhiap,
budi pertolonganmu kepada kami, Lohu tidak dapat membalas
apa-apa, hanya ada secarik kertas yang tak berarti ini, sudilah
engkau menerimanya."
Waktu Hay-thian memeriksa, kiranya pemberian In Ciau itu
adalah sebuah peta yang dietas tercatat jalanan yang menuju
kedaerah Masarmin. Didalam peta itu tercatat pula beberapa
nama orang dalam huruf kecil.
"Orang-Orang yang kutulis itu adalah sobat-baikku semua,
pabila engkau ada keperluan apa-apa, boleh engkau mencari
diantara mereka yang terdekat," ujar In Ciau. "Kecuali itu
masih ada pula sesuatu benda yang dapat engkau gunakan
sebagai tanda pengenal." Habis berkata, ia lantas
mengeluarkan sebuah medali emas sebesar lima senti pesegi,
diatas medali itu terukir seekor singa yang ber-pentang mulut
dan cakar seakan-akan hidup.
"Ini. adalah Kim-sayleng (medali singa emas) dari keluarga
In kami," kata In Ciau lebih lanjut. "Setiap kawanku tentu
mengenal medali ini. Dengan ilmu silatmu yang tinggi
sebenarnya jauh lebih dari cukup untuk malang-melintang
dikangouw, tapi segala apa lebih baik berjaga-jaga
sebelumnya. Maka sukalah engkau menerima nya pula."
Kiranya keluarga In adalah kaum persilatan terkemuka
secara turun-temurun, pengaruhnya sangat besar diwilayah
Sepak, kepala In-keh-ceng hakikatnya sama dengan Bu-lim
Beng-cu atau ketua perserikatan jago silat didaerah Sepak itu
Dan Kim-say-leng itu adalah benda warisan leluhur, bukan
saja sobat lamanya pasti kenal, bahkan setiap orang Bu-lim
yang sedikit ternama di Bu-lim boleh dikata semuanya kenal
benda itu. Setelah menerima Kim-say-leng itu, kembali Kang Hay-thian
menghaturkan terima kasih dan berjanji akan mengembalikan
medali itu bila kelak sudah pulang.
Selesai In Ciau menyelesaikan urusannya, ia melihat sang
puteri berdiri terpaku disampingnya, segera ia berkata pula
dengan tertawa: "Bik-ji, adakah sesuatu yang hendak kau
bicarakan dengan Kang-siauhiap?"
Wajah In Bik tampak merah jengah, sahutnya pelahan: "Ya.
Koko minta perantaraanku untuk menyampaikan sedikit pesan
kepada Kang-siauhiap."
"Baiklah, boleh kalian bicara", ujar In Ciau, lalu sengaja
kerjalan menyingkir pura-pura menikmati pemandangan
dikejauhan. Ia menyangka puterinya itu cuma pura-pura
menggunakan alasan pesan dari kakaknya. Padahal
dugaannya cuma tepat separoh.
Maka dengan suara pelahan In Bik telah berkata kepada
Kang Hay-thian: "Kang-siangiong, Koko tahu engkau adalah
kawan nona Kok sejak masih kanak-kanak. Maka ia ingin titip
sesuatu kepada engkau, bila kelak engkau berjumpa dengan
nona Kok, jangan lupa menyampaikan salam selamat
kepadanya. Sebenarnya Koko ingin bicara sendiri dengan
engkau, tapi dia merasa malu, makanya aku yang diminta
mewakilinya. Harap jangan engkau mentertawakan dia."
Sungguh tidak keruan rasa Kang Hay-thian menghadapi
urusan itu, pikirnya: "Kiranya rasa rindu In Khing kepada Lianmoay
sudah sedemikian mendalamnya." Tapi segera iapun
menjawab: "Baiklah, aku pasti akan menyampaikan pesan
kakakmu itu kepadanya. Cuma aku tidak pintar bicara,
kukuatir takkan dapat mengutarakan perasaan kakakmu
sebagaimana mestinya."
Untuk sejenak In Bik kikuk-kikuk dan malu-malu kucing,
tapi akhirnya ia bicara lagi: "Akupun mempunyai sesuatu
untukmu, yaitu barang yang engkau inginkan kemarin, aku
telah membuatnya untukmu secara terburu-buru."
Kang Hay-thian tercengang, ia lihat gadis itu sudah
mengangsurkan sebuah saputangan bersulam bunga teratai,
saputangan itu mirip benar dengan milik Kok Tiong-lian itu.
Sebenarnya Hay-thian toh tidak pernah menyatakan
keinginan-nya minta diberi saputangan itu, tapi ia tidak ingin
mengecewakan perasaan orang, tanpa bicara lagi ia terima
saputangan pemberian In Bik dan mengucapkan terima kasih.
Diam-Diam teringat olehnya apa yang diucapkan In Bik
kemarin, mau-tak-mau akhirnya iapun paham juga sebenarnya
ada maksud tersendiri dari gadis itu kepadanya.
"Sudahlah, Kang-siang-kong, selamat jalan, maafkan kami
tidak hantar lebih jauh", kata In Bik akhirnya. "Ayah, Kangsiangkong
akan berangkat, apakah engkau masih ingin bicara
lagi." "Kalau mau bicara, biarpun beberapa hari juga takkan
habis," ujar In Ciau. "Sudahlah, kita ucapkan selamat jalan
dan sampai berjumpa pula kelak."
Begitulah, dengan perasaan berat In Bik berdiri disamping
sang ayah menghantar keberangkatan Kang Hay-thian.
Selama dua bulan ini berturut-turut Hay-thian telah
mendapatkan dua kawan nona jelita seperti Hoa In-pik dan In
Bik yang setiap hari selalu berdampingan. Tapi kini ia telah
kembali seperti semula, seorang diri menempuh perjalanan
jauh, betapapun terasalah kesunyiannya. Meski dia belum
paham benar-benar cinta kasih antara muda-mudi, tapi
sepanjang jalan sering terkenang olehnya kedua nona itu.
Kelincahan dan kecerdikan In-pik, keluwesan dan kecantikan
yang menggiurkan dari In Bik, keduanya mempunyai
kelebihannya sendiri-sendiri, bayangan kedua nona itu
berkesan cukup mendalam didalam lubuk hatinya.
Dan bila teringat kepada kebaikan kedua nona itu, tanpa
merasa ia merasa kesal lagi. Tapi karena berjalan seorang diri
pula tiada terjadi apa-apa, maka perjalanannya menjadi lebih
cepat malah. Beberapa hari kemudian, ia tiba di Thian-cuikoan
diwilayah Kamsiok.
Pegunungan Cong-Iam-san itu menyusur Siamsay barat dan
berakhir didaerah Thian-cui-koan. Jalan yang ditempuh Kang
Hay-thian selama beberapa hari selalu adalah tempat-tempat
yang terdapat lereng-lereng pegunungan Cong-Iam-san itu.
Tapi karena dia masih ingat Auyang-jinio pernah menyatakan
rumahnya berada di Cong-Iam-san, maka selalu Hay-thian
menghindarkan diri melalui kaki gunung itu. Terkadang bila
terpaksa ia lebih suka mengitar sedikit lebih jauh. Dan setika
di Thian-cui-koan, barulah perasaan tegangnya mulai hilang. ,
Auyang-jinio adalah wanita paling keji yang pernah dikenalnya
selama hidup. Tapi sebabnya dia mengitar jalan,
daripada dikatakan menghindari Auyang-jinio, lebih tepat
kalau dikatakan dia menghindarkan bertemu pula dengan
Auyang Wan. Sebab dia sudah pernah bersumpah dihadapan
Hoa In-pik bahwa dia akan membalas sakit hati Hoa Thianhong
bila bertemu lagi dengan gadis itu. Tapi ia menjadi
sangsi juga mengenai kebenaran sigadis berkedok yang
dikatakan adalah Auyang Wan itu.
Ia bertanya-tanya didalam hati sendiri: "Sebenarnya dia
gadis baik-baik atau jahat?" Lalu ia jawab sendiri: "Ah, biarlah,
baik dia gadis baik atau jahat, betapapun tiada sesuatu yang
menguntungkan bagiku. Sudah banyak kesulitanku yang
disebabkan olehnya. Andaikan dia seorang baik-baik, Gihu dan
In-pik sudah sedemikian benci kepadanya. masakan aku masih
perlu bersahabat dengan dia" Umpama kalau jahat, tapi obat
penawar yang dia bawa untukku itu memang obat tulen,
apakah aku harus menepati janji untuk membunuhnya juga?"
Begitulah ia menjadi bingung dan kusut sendiri, ia tidak
memikirkan lagi. tapi toh selalu teringat saja. Terkadang
timbul pula perasaannya yang aneh: "Entah gadis itu sekarang
berada di mana" Jika obat penawar itu benar-benar dia yang
mencuri untukku, apakah ayah-bundanya mau mengampuni
perbuatannya itu?"
Begitulah tengah Kang Hay-thian dirundung pikiran kusut,
tiba-tiba ia mendengar seruan seseorang dibelakang : "Hai,
Kang-siauhiap, selamat bertemu disini! Harap tunggu
sebentar!"
Hay-thian teicengang dan menoleh, ia melihat penyapa itu
adalah seorang muda yang berdandan sebagai Bu-su (jago
silat), muka orang seperti sudah pernah dikenalnya.
"Aha. rupanya Kang-siauhiap sudah lupa padaku?" demikian
pemuda Bu-su itu berkata pula. "Siaute bernama Ih Siau-kun,
adalah Suhengnya Auyung Wan. Tempo hari pernah mendapat
pertolonganmu, sungguh terima kasihku tak terhingga."
"O, kiranya adalah Ih-heng. entah ada keperluan apa juga
berada didaerah sini ?" sahut Hay-thian sambil membalas
hormat. Kiranya Ih Siau-kun ini adalah pemuda yang tempo dulu
memberi kabar kepada Kang Hay-thian ketika Auyaniy Wan
hendak dihukum oleh gurunya disebabkan gadis itu telah
memberikan obat penawar kepada Hay-thian.
Diam-Diam Hay-thian menjadi heran berjumpa pula dengan
Ih Siau-kun ditengah jalan didaerah terpencil ini.
Dalam pada itu Ih Siau-kun telah bicara pula : "Harap Kangheng
maklum, justeru lantaran kejadian dahulu itu. maka
Siaute tidak berani mendampingi guru jahat lagi, maka Siaute
sudah melarikan diri dari perguruan. Sungguh memalukan
kalau dibicarakan, harap Kang-heng tidak mentertawai diriku."
"Mana aku berani mentertawai Ih-heng ?" sahut Hay-thian.
"Walaupun setiap orang harus menghormat kepada orang tua,
termasuk sang guru, tapi hendaklah dapat pula membedakan
antara yang jahat dan yang baik. Maka tindakan Ih-heng yang
tegas melepaskan diri dari perguruan jahat itu patut dipuji."
Wajah Ih Siau-kun menjadi ber-seri-seri, ia menghormat
pula kepada Kang Hay-thian dan berkata: "Betapapun Kangheng
memang seorang yang bijaksana, ucapanmu yang
berharga itu telah membuka pikiranku yang pepet selama ini.
Terus terang kukatakan, meski Siaute bukan asli keluarga
ternama, paling tidak ayahku juga seorang persilatan dari
golongan Cing-pay, soalnya adalah salahku sendiri yang terlalu
keranjingan silat, maka telah tersesat keperguruan yang jahat.
sungguh aku menyesal sekali. Kini walaupun Siaute sudah
melepaskan diri dari kalangan gelap itu, namun tetap malu
untuk bertemu dengan para kesatria Kangouw."
"Orang dapat sadar dari kesalahannya, itulah suatu
perbaikan diri yang harus dipuji, apalagi Ih-heng sendiri toh
tidak pernah berbuat sesuatu kejahatan apa-apa," ujar Haythian.
Habis memberi sedikit kata-kata hiburan itu, segera ia
bermaksud mohon diri melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba Ih Siau-kun bertanya pula : "Numpang tanya,
ayah Kang-heng bukankah bernama Kang Lam ?"
"Benar, itulah ayahku," sahut Hay-thian tercengang. Tapi
segera ia pikir hubungan ayahnya sangat luas, kalau nama
ayahnya dikenal orang juga tidak perlu diherankan.
Diluar dugaan Ih Siau-kun lantas menyambung lagi: "Jika
demikian, Cayhe dan Kang-heng boleh dikata bukan lagi orang
luar. Sebab, ayahku bernama Ih Tay-peng, asalnya adalah
murid Siau-lim-si dari keluarga biasa, beliau adalah kenalan
lama ayah-mu. entah ayah Kang-heng pernah menyebut
namanya atau tidak?"
Sudah tentu Hay-thian tidak jelas apakah ayahnya
mempunyai seorang kenalan yang bernama Ih Tay-peng.
sebab sobat-andai Kang Lam adalah terlalu banyak, termasuk
anak murid dari Siau-lim-pay. Jika orang sudah mengatakan
sobat lama, biarlah ia mau percaya saja, maka sahutnya
lantas: "Jika demikian, ayah saudara terhitung pamanku,
sudilah Ih-heng menyampaikan salamku. Kelak bila ada
kesempatan tentu-akan berkunjung ketempat saudara untuk
memberi hormat padanya".
"Rasanya Kang-heng toh tidak perlu buru-buru melanjutkan
perjalanan, bukan ?" segera Siau-kun menyambung.
"Kebetulan kediamanku dekat dari sini, sudilah Kang-heng
mampir barang sejenak saja."
Dan sedang Kang Hay-tfiian ragu-ragu cepat Siau-kun,
meneruskan pula: "Tempo hari sesudah kulari pulang
kerumah. pernah kuceritakan bantuan Kang-heng itu kepada
ayah. Beliau tertawa senang demi mendengar usul Kang-heng,
katanya: "Haha, kiranya adalah putera sobat lamaku". Beliau
mengatakan sudah hampir 20 tahun bersahabat dengan Kang
pepek. Tiga tahun yang lalu Kang-pepek juga pernah mampir
ketempat kami ketika beliau lalu disini, cuma sayang waktu itu


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aku tidak berada di rumah. Ketika ayah mengetahui ilmu silat
Kang-heng tiada bandingannya, senangnya tak terkatakan
serta menyatakan ingin melihat engkau. Tidak dinyana secara
kebetulan harini telah dapat berjumpa ditengah jalan. Pabila
Kang-heng tidak sudi mampir sebentar, tentu ayah akan
memarahi aku tidak pandai mengundang tetamu."
Tergerak hati Hay-thian. Ia sedang mencari ayahnya juga
dan selama ini belum dapat kahar beritonya. Kini mendengar
ayahnya pernah mampir kerumah keluarga Ih segera hatinya
tergerak dan ingin mencari kabar kesan.
Namun betapapun juga Kang Hay-thian masih belum
percaya penuh kepada Ih Siau-kun. Teringat olehnya
pengalaman yang sudah-sudah, mau-tak-mau ia menjadi
ragu-ragu Akhirnya ia berkata: "Banyak terima kasih atas
maksud baik Ih heng. terus terang kukatakan, sesungguhnya
aku masih ada urusan penti?ig dan perlu buru-buru
menempuh perjalanan, maka dihadapan paman sudilah Ihheng
menyampaikan permintaan maafku, biarlah kelak kalau
aku kembali, tentu aku akan mampir sedapat mungkin."
"Hahahaha!" mendadak Ih Siau-kun bergelak ketawa
dengan air muka berubah "Biarpun Kang-siauhiap tidak
mengatakan juga aku tahu perasaanmu. Tentu engkau anggap
aku dari golongan orang yaiig tersesat, mau-tak-mau engkau
toh memandang rendah padaku."
"Harap Ih-heng jangan salah paham?""
Belum habis Hay-thian memberi penjelasan, tiba-tiba Ih
Siau-kun sudah memotong dengan rasa dongkol: "Kangsiauhiap,
memang salahku karena mengharap bersahabat
dengan seorang kesatria muda sebagai kau. Tapi aku berani
bersumpah bahwa sedikitpun aku tidak mempunyai maksud
jahat padamu, kalau tidak percaya, biarlah jariku ini sebagai
bukti!" " Mendadak ia lolos golokaya dan sekali tabas, tahutahu
ia telah potong jari kecil kiri sendiri, lalu katanya dengan
tersenyum getir: "Sekarang dapatlah Kang-siauhiap percaya
padaku?" Karuan Hay-thian terkejut, tak diduganya orang bisa
berlaku senekat itu. Dasar hatinya memang bajik, mudah
dipengaruhi. Maka ia menjadi terharu dan merasa rikuh, cepat
katanya: "Ah, mengapa Ih-heng berkata demikian dan buat
apa berbuat begini" Toh bukan urusan maha besar apa-apa.
Bila Ih-heng berkeras ingin mengundang, baiklah, Siaute akan
pergi menyambangi paman Ih. Cuma aku tak dapat tinggal
lama-lama, hal ini perlu kuterangkan sebelumnya."
Mendengar itu, barulah wajah Ih Siau-kun tampak
bergirang. katanya: "Jikalau Kang-siauhiap ada urusan
penting, sudah tentu kami tak berani menahan lebih lama.
Baiknya tempat tinggal kami berada tidak jauh dari sini,
paling-paling cuma akan mengganggu waktumu barang sejam
saja." Maka berangkatlah Kang Hay-thian ikut Ih Siau-kun menuju
kesuatu pedusunan Dari jauh tertampaklah dikaki gunung
sana terdapat sebuah gedung yang terpajang indah dengan
lampion dan kertas warna-warni, suara tetabuhan juga ramai
berbunyi. agaknya seperti keluarga yang sedang mempunyai
sesuatu hajat. Didepan pintu tampak ramai orang berhilir
mudik, agaknya adalah para tetamu yang datang memberi
selamat. Pada saat itulah mendadak Ih Siau-kun berhentikan
langkahnya, ia menepuk batok kepala sendiri dan berkata: "Ai,
mengapa aku menjadi linglung, sampai melupakan Thiotoacek
yang lagi ada hajat mengawinkan puterinya itu."
"Habis, ada sangkut-paut apa dengan kita?" tanya Haythian
de-ngan tidak mengarti.
"Soalnya begini, Thio-toacek adalah sobat kental ayahku,
dengan sendirinya ayah pasti juga hadir dalam perjamuannya
itu," ujar Siau-kun.
"Jika demikian, bolehlah kutunggu dirumahmu untuk
menantikan pulangnya paman," sahut Hay-thian. "Atau?"?"
Sebenarnya ia bermaksud menyatakan membatalkan
kunjungannya serta akan terus mohon diri, tapi kuatir
menimbulkan salah paham orang, maka ia urung meneruskan
ucapannya. "Kukira lebih baik begini saja," kata Siau-kun kemudian.
"Thio-toacek itu adalah seorang yang sangat suka bersahabat,
pula Kang-heng sudah menempuh perjalanan sejauh ini, tentu
belum lagi mengaso dan mengisi perut seperlunya. Maka
dapatlah kita berkunjung kesana untuk menikmati suguhan
araknya, berbareng dapat kita menemui ayah disana. Habis
itu, segera engkau dapat berangkat melanjutkan perjalanan."
"Mana boleh jadi begitu," ujar Hay-thian. "Pertama, aku
dengan dia bukan sanak bukan kadang, kedua, aku tiada sedia
sesuatu kado apa-apa."
"Sama orang Kangouw, masakah pakai aturan sepele
demikian?" kata Siau-kun "Apalagi menurut adat umum disini,
bila tuan rumah ada hajat dan kebetulan ada tamu asing yang
sudi mampir, itu justeru akan sangat menggembirakan tuan
rumah dan dipandangnya sebagai kunjungan kehormatan.
Tentang engkau tiada punya kado apa-apa, bolehlah kuadakan
susulan nanti."
Karena masih hijau dalam pergaulan, pula uraian Ih Siaukun
itupun cukup beralasan, maka Kang Hay-thian tidak enak
untuk menolak lebih jauh. Ia pikir toh kunjungannya tiada
bermaksud jahat, asal sekadar dapat bertemu dengan Ih Taypeng,
lantas urusan beres dan segera ia akan mohon diri.
Maka katanya kemudian: "Jika begitu, baiklah kuterima. Cuma
sedapat mungkin jangan sampai bikin sibuk tuan rumahnya."
Setelah Ih Siau kun berjanji akan memperhatikan keinginan
Kang Hay-thian itu, lalu mereka menuju kerumah gedung itu.
Semula Kang Hay-thian mengira tuan rumahnya adalah suatu
penduduk biasa saja, siapa duga, sesudah dekat, gedung itu
ternyata sangat megah. Pintu gerbangnya bercat merah,
didepan pintu terdapat sepasang singa-singaan batu setinggi
manusia. Melihat kemegahan gedung itu saja segera erang
akan tahu tuan rumahnya bukan sembarangan penghuni.
Mau-tak-mau Kang Hay-thian menjadi curiga. Tanyanya
segera: "Apatah tuan rumah she Thio ini keluaran pembesar?"
"Bukan pembesar segala, cuma dia terhitung hartawan
terkemuka ditempat kami sini, maka gedungnya sangat
mentereng," sahut Siau-kun.
Tengah bicara, sementara itu mereka sudah sampai
didepan pintu gedung itu Segera ada penyambut memapak
kedatangan mereka. Rupanya penyambut itu sudah kenal baik
pada Ih Siau-kun, segera ia menyapa dengan tertawa: "Siau
Ih, kau terlambat datang, sekarang cuma dapat menyaksikan
upacara kemanten saja." Tertawanya ternyata. agak aneh,
sikapnya juga kurang wajar.
Sebaliknya Ih-Siau-kun juga menjawab dengan suara acuhtak-
acuh: "Kebetulan malah, memangnya kedatanganku cuma
untuk menyaksikan kemanten."
Diam-Diam Hay-thian heran melihat percakapan mereka itu.
Katanya datang menghadiri perjamuan orang nikah, tapi
mengapa air muka Ih Siau-kun itu sedikitpun tidak mengunjuk
rasa ikut girang, sebaliknya bermuram durja. sikapnya juga
dingin saja, ucapannyapun kaku, seakan-akan orang ada
utang padanya. Namun begitu Hay-thian tidak enak untuk bertanya
ditengah tamu-tamu yang hilir mudik dengan ramai itu. Tanpa
merasa ia telah ikut masuk kedalam gedung mengikuti orang
banyak Ia dengar suara musik ditabuh, letusan mercon juga
membisingkan telinga. Ketika ia berpaling, ia menjadi heran
karena Ih Siau-kun entah Sejak kapan telah meninggalkan dia.
Ia tertegun sejenak, lalu ia pandang sekelilingnya, tapi
lantas dilihatnya Ih Siau-kun telah berada didepan sana
berdesakan dengan orang banyak.
Biarpun usia Kang Hay-thian masih muda belia, tapi dalam
hal ilmu silat ia sudah terhitung tokoh pilihan. Pada saat ia
mencari Ih Siau-kun itulah telah dilihatnya sesuatu yang
mencurigakan, yaitu diantara tamu-tamu yang memenuhi
ruangan itu ternyata setiap orang nya seperti mahir silat
semua. Bahkan ada diantaranya kentara sekali mempunyai
dasar lwekang yang kuat.
Diam-Diam ia heran: "Orang macam apakah keluarga she
Thio ini" Ih Siau-kun mengatakan dia seorang hartawan, "tapi
mengapa sobat-andai yang diundangnya ini adalah orangorang
Bu-lim semua?"
Selagi ia bermaksud mendesak maju untuk menanya Ih
Siau-kun, tiba-tiba diantara tamu itu sudah ribut seruan orang:
"Itu dia, penganten laki-laki sudah muncul! Aha, benar-benar
gagah, cakap benar orangnya!"
"Bukan melulu pengantin laki-laki saja yang gagah, bahkan
paman nya konon adalah jago nomor satu didunia persilatan
pada jaman ini." demikian sahut tamu yang lain. "Kabarnya
Kim Si-ih juga tidak dapat menangkan pamannya itu. Dan
pengantin laki-laki katanya juga sudah mewariskan seluruh
kepandaian sang paman itu."
Hay-thian terkejut oleh percakapan itu, waktu ia lihat ia
merasa pengantin laki-laki itu seperti pernah dikenalnya.
Sementara itu terdengar disebelahnya ada orang berseru:
"Nah, itu dia itulah paman dari pengantin laki-laki, harini ia
bertindak selaku wali pengantin laki-laki".
Dan baru sekarang Kang Hay-thian ingat pada wali
pengantin laki-laki itu yang bukan lain daripada Bun-totiu, Bun
Ting-bik. yang pernah membikin susah Suhunya itu. Dan
pengantin laki-laki itu adalah keponakannya, Bun To-tieng,
yaitu pemuda yang padn delapan tahun yang lampau telah
mengawal harta karun bagi Ho Kun itu.
Sesudah kedua orang she Bun itu datang ke Tionggoan.
mereka lantas masuk menjadi anggota Thian-mo-kau. Waktu
Kang Hay-thian diculik ke Ci-lay-san oleh orang-orang Thianmo-
kau, disanalah ia pernah melihat kedua orang she Bun itu.
Cuma waktu itu ia masih kanak-kanak, kejadiannya juga sudah
lama, maka seketika ia belum lagi ingat.
"Haha, kukira siapa, tak tahunya adalah kedua iblis ini."
demikian pikirnya kemudian. "Orang she Bun ini benar-benar
tukang membual, berani dia mengabarkan Suhuku pernah
dikalahkan olehnya."
Sementara itu disampingnya ada orang sedang berbicara
pula: "Jika demikian, sebabnya pihak keluarga pengantin
wanita mengikat perjodohan ini, tujuannya mungkin adalah
karena pengaruh keluarga penganten laki-laki itulah, dengan
sandaran besan yang tangguh itu, tentu mereka akan sanggup
menghadapi setiap musuhnya."
Dari percakapan tamu-tamu itu. Kang Hay-thian yakin pihak
pengantin wanita tentu adalah keluarga tidak sembarangan.
Tengah Hay-thian bersangsi, tiba-tiba seorang tamu di
sisinya berkata pula dengan tertawa, "Biarpun pengantin lakilakinya
Bun-bu-cwan-cay (pandai silat dan sastra), tapi
kabarnya moralnya tidak begitu baik, bahkan katanya adalah
seorang Jay-hoa-cat (maling cabul)."
"Sssssst!" cepat kawannya berbisik. "Jangan kau
sembarangan omong, awas kalau didengar orang she Bun itu,
tentu kau akan celaka."
"Huh, takut apa" Aku justru ingin omong," sahut orang
pertama tadi yang rupanya ada dendam dengan pihak
pengantin wanita. "Menurut aku, ini namanya perjodohan
yang setimpal dan cocok. Orang she Bun itu sudah busuk
namanya, keluarga Auyang di Cong-lam-san ini juga sudah
lama diludahi orang Kangouw."
Hati Hay-thian terguncang demi mendengar kata-kata
"keluarga Auyang dari Cong-lam-san". Diam-diam ia insaf
telah tertipu oleh Ih Siau-kun. Tapi beras sudah menjadi nasi.
Meski mendongkol, terpaksa ia tahan sedapat mungkin.
Untung Bun Ting-bik berdua rupanya juga belum mengetahui
keberadaan Kang Hay-thian di situ.
Tengah Hay-thian gelisah, tiba-tiba telinganya mendengar
sesuatu suara yang sudah sangat dikenalnya, "Jangan kuatir,
Kang-hiantit, aku pun berada di sini, sebentar bila aku sudah
berhasil mencuri sesuatu, kita berdua lantas pergi bersama."
Sungguh girang Hay-thian tak terkatakan demi mengenal
suara Itu, hampir-hampir saja ya berteriak saking senangnya.
Kiranya itu adalah paman angkatnya, sipencuri sakti Ki Hiauhong.
Oleh karena yang digunakan Ki Hiau-hong adalah
"Thian-sun-thoan-im" (mengirimkan gelombang suara), maka
selain Kang Hay-thian sendiri, orang luar tiada yang
mendengar. Hay-thian coba mencarinya diantara rombongan tetamu,
tapi tiada menampak Ki Hiau-hong, sebaliknya Ih Siau-kun
kelihatan sudah mendesak sampai dibaris paling depan. Ia
pikir Ki-pepek tentu telah menyamar, makanya susah dikenali.
Sebaliknya ia menjadi gemas kepada Ih Siau-kun yang telah
menipunya, segera ia menggunakan Thian-Io-poh-hoat untuk
menyusup kedepan, ia pikir kalau Ih Siau-kun berani bersuara,
seketika akan dibinasakannya. Ketika menoleh dan melihat
Hay-thian. Siau-kun tersenyum, bisiknya: "Kang-heng,
sebentar lagi tentu engkau akan tahu duduknya perkara. Aku
memang telah menipu kau, tapi soalnya terpaksa. Untuk ini
hendaklah kau percaya padaku. Betapa mohon bantuanmu
sekali lagi."
Sungguh dongkol Hay-thian tak kepalang, sudah tertipu
masih disuruh memberi bantuan apa segala. Tapi ia melihat air
muka Siau-kun bermuram durja bagaikan orang kematian
orang tua, ucapannya tadi juga dikatakan dengan penuh
ikhlas. Mendadak hati Hay-thian tergerak, teringat olehnya
tempo hari waktu Siau-kun minta bantuannya untuk menolong
Auyang Wan, wajahnya juga mengunjuk sikap seperti itu.
Dan pada saat itulah, tiba-tiba suara musik berhenti, para
tamu ramai-ramai berseru, "Itu dia, pengantin wanitanya
sudah muncul!"
Dengan hati berdebar-debar Kang Hay-thian ikut
memandang ke sana, ia lihat serombongan dayang mengiringi
sang pengantin wanita didampingi seorang nenek yang
dikenalnya sebagai Auyang-jinio. Menyusul di belakangnya
adalah Auyang Tiong-ho. Dengan bertongkat, jalan Auyang
Tiong-ho tampak pincang, mukanya pucat, tampaknya sehabis
menderita luka, kesehatannya belum lagi pulih.
Menurut adat umum, pengantin wanita itu memakai
kerudung kain sutera yang baru dapat dibuka pengantin lakilaki
sehabis upa-cara. Meski Hay-thian tidak dapat melihat
muka kemanten wanitanya, tapi dalam keadaan begitu,
pengantin wanita itu terang Auyang Wan adanya. Biarpun


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

antara Hay-thian dan Auyang Wan itu terjadi banyak suka dan
duka, sampai kini sebenarnya mereka kawan atau lawan juga
masih belum jelas. Tapi melihat gadis itu segera akan
dipersunting Bun To-ceng, betapapun timbul semacam rasa
menyesal padanya. Ia merasa Bun To-ceng itu tegas-tegas
seorang jahat, kalau Auyang Wan menjadi isterinya, mirip
setangkai bunga mawar tertancap diatas gundukan tahi
kerbau. Disebelah sana Auyang Tiong-ho tampak berseri-seri juga,
sesudah saling memberi selamat dengan Bun Ting-bik, lalu ia
ber-tanya kepada seorang kakek disisinya: "Toako, apakah
Samte masih belum pulang?"
Kiranya Auyang Tiong-ho bertiga saudara, ia sendiri adalah
saudara tengah, kakek yang ditanyai itu adalah Toako,
namanya Auyang Pek-ho.
Maka kakek itu telah menjawab: "Sudahlah, tak usah
tunggu dia, tiba saatnya, boleh lantas berlangsung upacara
semestinya."
Karena itu, segera Auyang Tiong-ho memerintahkan
upacara diteruskan, musik lantas berbunyi lagi, kedua
mempelai lebih dulu menyembah leluhur pengantin
perempuan, yaitu meja sembahyang yang telah dipajang
diruangan itu. Menyusul protokol upacara menyerahkan acara
selanjutnya kedua mempelai memberi hormat kepada orang
tua dan macam-macam lagi.
"Blang", sekonyong-konyong terdengar suara letusan yang
mula-mula disangka oleh para tamu sebagai letusan mercon.
Diluar dugaan segulung sinar api mendadak menyala
dipunggung pengantin laki-laki. Sambil berteriak sekali, cepat
Bun To-ceng sudah tarik jubah pengantinnya hingga terobek
menjadi dua potong. Dan pada saat yang sama juga Bun Tingbik
dan Auyang Pek-ho berbareng juga turun tangan.
Sekali lengan baju Bun Ting-bik mengebas, gulungan api
tadi telah kena disambar oleh bajunya dan api seketika sirap.
Waktu ia kebut lengan bajunya itu, maka terhamburlah Bwehoa-
ciam (jarum berbentuk bunga Bwe) yang tak terhitung
banyaknya kelantai.
Dalam pada itu Auyang Pek-ho juga sudah bertindak,
jarinya menjentik, kontan seorang diantara tetamu menjerit
terus terjungkal.
"Ih Siau-kun, berani kau mengacau kesini!" bentak Auyangji-
nio. Ternyata orang yang membokong sipengantin !aki-aki itu
memang benar adalah Ih Siau-kun. Tertampak pemuda itu
lantas melompat bangun lagi dengan cepat sambil berteriak
tajam: "Kang-siauhiap, apa yang kuharapkan bantuanmu ialah
urusan ini. Aku lebih suka dia menikah dengan kau daripada
direbut orang lain, lekas engkau membawanya lari!"
Dalam pada itu Auyang-jinio sudah lantas menubruk maju.
Namun sebelum dia sempat menyerang, lebih dulu Siau-kun
sudah mencabut sebilah belati, "bles", ia tikam ulu hati sendiri
dengan belati itu.
Kiranya selama tiga tahun Ih Siau-kun beiajar silat bersama
Auyang Wan, diam-diam ia telah mencintai sang Sumoay.
Cuma ilmu silat Auyang Wan lebih tinggi darinya, keluarganya
juga lebih mampu, maka Siau-kun merasa rendah hati, rasa
cmtanya selama itu tidak berani diutarakannya. Dan justeru
karena cinta sepihak yang tak berani dikemukakan itulah,
maka pikirannya menjadi kacau seolah-olah orang gendeng.
Ketika diketahui orang tua Auyang Wan telah menjodohkan
gadis itu kepada Bun To-ceng, sungguh rasa dendam Siau-kun
tak kepalang. Ia bertekad akan merintangi perjodohan itu
dengan mati sekalipun. Maka diam-diam ia telah siapkan Amgi
berbisa jahat dan menghadiri perjamuan itu, iapun sudah
bertekad setelah membunuh pengantin laki-laki, lalu ia akan
membunuh diri. Kebetulan ditengah jalan ia telah bertemu dengim Kang
Hay-thian. Ia cukup kenal betapa lihaynya Bun-keh-siok-tit
atau paman dan keponakan dari keluarga Bun, yaitu Bun Tingbik
dan Bun To-ceng. Pertemuannya dengan Kang Hay-thian
yang tak terduga-duga itu segera menimbulkan sesuatu akal
padanya. Ia sengaja membohongi Hay-thian, sengaja
melibatkan diri pemuda itu kedalam perselisihan itu. Cuma
tujuannya memang benar-benar adakah karena sang Sumoay,
ia benar-benar lebih suka Auyang Wan menjadi isteri Kang
Hay-thian daripada diperisterikan Bun To-ceng.
Begitulah, maka kejadian mendadak diruang upacara itu
benar-benar diluar dugaan siapapun juga. Keadaaan menjadi
kacau-balau, para tamu menjadi panik.
Dan selagi Hay-thian terkesima ditempatnya, sementara Itu
Auyang-jinio sudah .melihatnya. Dengan murka wanita tua :tu
lantas membentak: "Bagus, kiranya bangsat kecil kau ini yang
datang mengacau!"
"Ini?"?" ini tiada sangkut-pautnya dengan aku," cepat
Hay-thian memberi penjelasan. "Sampai sekarang akupun
baru tahu engkau sedang menikahkan puterimu. Cuma apa
yang dikatakan Ih Siau-kun ada benarnya juga, orang she Bun
itu bukan manusia baik-baik, janganlah puterimu itu
dinikahkan padanya."
"Tidak dinikahkan padanya, apa mesti dinikahkan padamu?"
bentak Auyang-jinio dengan gusar. Berbareng ia sudah
menubruk maju. Disebelah sana pengantin perempuannya sudah lantas
menjerit sekali terus berlari keruang belakang. Sedangkan Bun
To-ceng baru saja dapat merangkak bangun dari jatuhnya
terkena senjata gelap tadi. Sungguh gusarnya tidak kepalang
karena hari nikahnya telah dikatfaukan orang. Segera ia
memaki kalang kabut. Tapi baru beberapa kata, mendadak ia
muntah darah, seketika ia jatuh pingsan. Ternyata Am-gi yang
disambitkan Ih Siau-kun itu berbisa sangat jahat, meski Bun
To-ceng keburu ditolong oleh pamannya hingga tidak sampai
terbinasa, tapi lukanya juga cukup parah.
"Jangan salah paham, aku tiada punya sesuatu pikiran apa"
kepada puterimu," demikian sebelah lain Kang Hay-thian
sedang berseru hendak memberi penjelasan. "Aku?"?"
Belum selesai ucapannya, tahu-tahu kesepuluh jari Auyangjinio
sudah terpentang dan mencengkeram tiba.
Hay-thian kenal serangan itu adalah "Gia-kang-cian" (kacip
kaki kelabang) yang sengat keji Kalau terkena cakaran itu,
bukan mustahil dada akan pecah dan perut terobek. Diam-
Diam ia menjadi dongkol melihat serangan jahat itu. Padahal
untuk menghindar-agak repot juga sebab diruangan itu penuh
berjubel para tamu. Ia pikir terpaksa aku mesti balas labrak
kau karena kau sudah tidak sungkan-sungkan lebih dulu
padaku. Segera ia menggeser sedikit ke samping, berbareng
iapun balas mencengkeram keatas kepala lawan.
Dalam pertarungan jarak dekat itu sebenarnya paling
mengutamakan kegesitan dan kelincahan bergerak. Dengan
latihan berpuluh tahun Auyang-jinio itu sebenarnya tidak nanti
kalah daripada Kang Hay-thian, namun pemuda itu mahir tiputipu
silat dari berbagai aliran, begitu Auyang-jino menyerang,
segera Hay-thian dapat menduga serangan selanjutnya akan
menjurus kemana. Dan karena kelemahan inilah Auyang-jinio
berbalik tak berdaya.
Dengan Thian-lo-poh-hoat yang ajaib. Kang Hay-thian
dapat melangkah dengan aneh dan susah diduga tempatnya,
sedangkan ilmu silat yang dimainkan adalah "Im-yang-jiau"
(cakar Im dan Yang), semacam ilmu tinggalan Kiau Pak-beng
yang lihay. Kedua telapak tangan bergerak dalam tipu yang
berlawanan, yang satu Im dan yang Yang dengan tenaga yang
lunak dan keras secara beigandengan. Ilmu sakti demikian
sudah tentu tak pernah dilihat Auyang-jinio.
Biarpun berulang-ulang Auyang-jinio mendahului
menyerang, tapi selalu dapat dihindarkan Kang Hay-thian
dengan licin, bahkan ujung bajunya juga tak bisa menyenggol.
Dan selagi ia terkesiap. tahu-tahu Hay-thian sudah balas
mencengkeramnya. "Bret", cepat Auyang-jinio bermaksud
melesat kesamping, tapi sudah terlambat sedikit, ujung baju
baru yang dipakainya itu sudah robek sebagian.
Baju baru itu sengaja dibuat dan baru pertama kali dipakai
dalam perayaan perkawinan puterinya ini, tapi kini sekali
diserang sudah terobek, keruan Auyang-jinio sangat gusar dan
malu pula, dibawah pandangan orang banyak terpaksa ia
berlari masuk keruangan dalam sambil memaki kalang kabut.
Dan selagi Kang Hay-thian merasa risi karena telah merusak
pakaian seorang wanita, disebelah sana Bun Ting-bik sudah
lantas berkata: "Che-em (nyonya besan) tidak perlu marah,
biarkan aku tangkapkan bangsat kecil ini!" Dan dengan cepat
sekali ia terus menerjang maju dan menghantam.
Pukulan Bun Ting-bik ini dipandang dari luar tampaknya
enteng saja tanpa tenaga, tetapi sebenarnya sudah
menggunakan ilmu Lwe kang yang tiada taranya: "Sam-siangkui-
goan", yaitu gabungan dari semangat, tenaga dan hawa.
Tenaga yang terbawa oleh hantaman itu menekan dari
berbagai jurusan bagaikan gelombang ombak yang
mendampar-dampar.
Pukulan itu masih tidak menyusahkan Kang Hay-thian,
sebaliknya para tetamu yang masih berkerumun diruangan
itulah yang ketimpa sial. Terdengar jeritan mengaduh disanasini,
banyak di antara tetamu itu yang jatuh tersungkur dan
mencelat malah untuk kemudian menabrak dibadan tamu
yang lain. Ada diantaranya yang berilmu Lwekang lebih kuat
toh juga ikut sempoyongan. Yang paling celaka adalah satu
Hwesio muda, ia telah terjungkal hingga kepala gundulnya
membentur lantai, seketika kepala benjut dan keluar
kecapnya. Kang Hay-thian yang menghadapi serangan itu tidak
menjadi soal karena ia memiliki Hou-te-sin-l.ang, tapi dikala
tangannya dipakai memapak pukulan orang, dadanya merasa
tertekan juga oleh semacam tenaga yang maha dahsiat
Bun Ting-bik telah menyombongkan diri katanya pernah
mengalahkan Kim Si-ih, sudah tentu ceritanya itu adalah
bualan belaka. Tapi orang yang kuat bergebrak melawan Kim
Si-ih pada jaman itu scsungguhnya dia memang terhitung satu
diantaranya. Waktu dia bergebrak dengan Kim Si-ih di Ci-laysan
dahulu ia kuat bertalian hingga 50 jurus lebih, maka
betapa hebat tenaganya dapat pula dibayangkan. Pada
umumnya dia sudah dapat terhitung satu di antarnya lima
tokoh terkemuka dikalangan persilatan pada jaman ini. Dan
yang pasti dapat menangkan dia mungkin cuma Kim Si-ih dan
Teng Hiau-lan berdua saja. Selebihnya, terhitung Thong-sian
Siangjin dari Siau-lim-pay dan Kim-kong Taysu dari Go-bipay,
boleh jadi sedikit lebih unggul dari dia, tapi tiada mungkin
dapat mengalahkannya.
Biarpun Kang Hay-thian adalah murid didik Kim Si-ih sendiri,
antero kepandaian Kim Si-ih juga hampir semuanya diajarkan
padanya. Tapi dasar usianya masih terlalu muda,
dibandingkan Bun Ting-bik, dengan sendirinya kalah ulet.
Begitulah hakikatnya Bun Ting-bik tidak peduli
terjungkalnya tamu-tamu itu, ia masih terus melancarkan
serangan yang lain. Karena sudah berhadapan dari jarak
dekat, meski menghindar juga tetap terkurung dibawah
tenaga pukulan lawan. Terpaksa Kang Hay-thian harus
kerahkan sepenuh tenaga untuk mengadu tangan dengan
lawan. Maka terdengarlah "blung" sekali. Kang Hay-thian tergeliat
beberapa kali, keringat merembes keluar dijidatnya sebesar
kedelai," sebaliknya Bun Ting-bik tetap biasa saja, sedikitpun
tidak goyah. "Haha. murid Kim Si-ih ternyata hanya begini macamnya!
Co-balah kau sanggup tahan berapa kali seranganku?"
demikian Bun Ting-bik tertawa mengejek sambil melangkah
maju pula. Berbareng serangan ketiga sudah dilancarkan lagi.
Bahkan sekali ini dengan sendirinya tenaganya berlipat ganda.
"Tidak apalah kalau aku dikalahkan, tapi nama Suhu tidak
boleh dihina orang," pikir Hay-thian. Seketika ia menjadi
nekat, mendadak ia gigit ujung lidah sendiri dan
menyemburkan darah, lalu bentaknya: "Kau sudah keok
dibawah tangan guruku, masih kau berani omong besar"
Masakah aku jeri padamu?" Berbareng kedua rangannya juga
memukul kedepan, sekali ini keempat tangan saling
membentur, tapi malah tidak mengeluarkan sesuatu suara.
Sebaliknya Bun Ting-bik lantas merasakan tenaga dalam
pemuda itu sekonyong-konyong luar biasa kuatnya, tangannya
seakan-akan lengket di-tangan lawan dan susah dilepas, tanpa
tertahan ia tergeliat sekali, jidatnya lantas menguapkan hawa
putih. Semula Bun Ting-bik menyangka Hay-Thian sudah tak
tahan, makanya muntah darah. Siapa duga dalam sekejap saja
tenaga dalam pemuda itu berbalik berlipat ganda kuatnya dan
mampu balas menyerangnya pula. Sekalipun dalam ilmu silat
Bun Ting-bik mempunyai pengetahuan yang sangat luas dan
mendalam, mau-tak-mau ia dibuat ternganga tidak habis
heran dan kejut oleh kelihayan Kang Hay-thian itu.
Sudah tentu Buh Ting-bik tidak tahu bahwa ilmu yang
digunakan Kang Hay-thian itu adalah semacam ilmu paling
aneh yang terdapat dalam Pit-kip tinggalan Kiau Pak-beng,
namanya disebut "Thian-mo-kay-te-tay-hoat". Dengan jalan
merusak tubuh sendiri dibagian mana saja, tenaga dalamnya
akan mendadak berlipat ganda lebih kuat. Dengan ilmu maha
hebat ini dahulu hampir-hampir Teng Hiau-lan terjungkal
ditangan Le Seng-lam ketika mereka mengadu Lwekang
dipuncak selatan Thian-san.
Cuma ilmu Thian-mo-kay-te-tay-hoat" itu sangat merugikan
tenaga murni sendiri, maka dikala mengajarkan ilmu itu,
secara wanti-wanti Kim Si-ih telah pesan pada Kang Hay-thian
agar jangan sembarangan menggunakan ilmu itu kalau tidak
kepepet benar-benar. Kini disebabkan Bun Ting-bik telah
menghina gurunya, datam gusarnya Hay-thian tidak pikirkan
akibatnya lagi, ia sudah bertekad untuk gugur bersama
dengan musuh. Sungguh tak tersangka oleh Bun Ting-bik bahwa musuh
semuda itu sudah memiliki kepandaian selihay itu. Meski
keuletan Bun Ting-bik jauh diatas Kang Hay-thian, tapi
menghadapi Thian-mo-kay-te-tay-hoat yang maha hebat itu,
berulang-ulang ia menjadi terdesak malah hingga berkeringat
dingin tanpa mampu belas menyerang lagi.
Keruan kejut Ting-bik tak terkatakan. pikirnya diam-diam:
"Jangan-Jangan tadi bocah ini sengaja unjuk kelemahan untuk
memancing aku?"


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tapi karena kedua tangannya seakan-akan melengket dan
tenaga dalamnya terasa merembes keluar terus, kalau tidak
cepat-cepat melepaskan diri, sebentar lagi kedua orang pasti
akan sama-sama terluka berat.
Apapun juga Bun Ting-bik memang seorang jago silat
kawakan, dalam hal pengetahuan dan pengalaman ia lebih
ulung. Begitu merasa keadaan tidak menguntungkan, segera
ia tenangkan diri untuk menyelami kekuatan lawan yang
sebenamya. Selang tak lama, ia merasa tenaga dalam musuh
masih terus menyerang tiada henti-hentinya bagaikan
gelombang, ombak yang mendampar-dampar susul menyusul,
cuma gelombang tenaga itu tidak rata, melainkan sebentar
kuat sebentar lemah, jadi mirip gelombang ombak pula yang
habis mendampar, lalu menyurut.
Kiranya hal ini disebabkan latihan Kang Hay-thian masih
belum masak benar-benar, karena tenaga dalam yang
mendadak berlipat ganda itu, seketika ia tak dapat menguasai
dengan teratur hingga terpaksa ia membiarkan tenaga dalam
yang bergolak itu menyerang musuh secara serabutan.
Rupanya Bun Ting-bik lantas dapat menyelami titik
kelemahan Hay-thian itu, segera ia himpun tenaga dalamnya
diujung jari tengah, dikala "pasang surut tenaga lawan"
kesempatan itu segera digunakan untuk menjentik dengan
jarinya itu. Tipu serangan ini telah dapat digunakannya
dengan tepat hingga tenaga dalam Kang Hay-thian kena
dibuyarkan sesaat dan kedua tangannya dapat dia tarik
kembali dengan enteng.
Untung juga bahwa Bun Ting-bik dapat ambil tindakan
tepat pada waktunya hingga terhindarlah dia dari terluka
parah. Sebaliknya kalau mengadu Lwekang itu diteruskan,
sesudah hawa murni banyak terbuang, Hay-thian sendiri pasti
pula akan sakit keras.
Dalam pada itu sesudah Siau-yang-keng-meh, yaitu urat
nadi di telapak tangan Kang Hay-thian kena didientik tenaga
jari lawan, badan pemuda itu tergetar mundur tiga tindak.
Oleh karena jalan darahnya terhalang hingga urat nadinya
penuh darah berhenti, seketika kedua mata Kang Hay-thian
menjadi merah berapi.
Bun Ting-bik menjadi ragu-ragu dan kuatir, ia tidak berani
menyerang lebih jauh, ia hanya bersiap siaga saja, dengan
penuh perhatian mengikuti perubahan pihak lawan. Maka
sejenak itu kedua orang menjadi saling melotot bagai ayam
sabungan, keduanya sama-sama tidak berani sembarangan
bergerak. Tiba-Tiba diantara rombongan tetamu melompat keluar
seorang Hwe sio tinggi besar dan gemuk, dengan tongkat
paderinya yang diketok-ketok kelantai. Hwesio itu lantas
membentak: "Orang she Bun. kedatanganku ini adalah untuk
memberi selamat atas undangan Auyang-jiko, tapi mengapa
engkau berani melukai muridku?" Habis itu, segera tongkatnya
mengemplang kepunggung Bun Ting-bik.
Kiranya Hwesio gendut itu adalah guru daripada Hwesio
muda yang babak-belur terguncang roboh oleh tenaga
pukulan Bun Ting-bik tadi. Ia adalah ketua dari gereja Liongjiu-
si di Gan-theng-san, namanya Liong-un Taysu.
Kemahirannya ialah dalam ilmu Gwa kang, ilmu yang
mengutamakan tenaga badani, tenaga jarinya cukup kuat
untuk menembus perut kerbau, sekali pukul dengan telapak
tangan dapat mampuskan harimau. Biarpun dia seorang
paderi, tapi wataknya sangat berangasan. Kedatangannya
untuk memenuhi undangan Auyang Tiong-ho itu ternyata
telah membikin celaka muridnya. Karena merasa nama
baiknya tersinggung, seketika ia naik darah, tanpa pikir ia
terus menerjang maju untuk melabrak Bun Ting-bik.
Dengan tenaganya yang maha kuat, kemplangnya itu cukup
untuk menghancurkan sepotong batu besar Tapi Bun Ting-bik
ternyata anggap sepi saja terhadap serangannya itu,
hakikatnya ia tidak gubris kepada perkataan dan kemplangan
tongkat itu. Maka terdengarlah suara "bluk" yang langit keras,
kemplangan itu tepat mengenai sasarannya. Tapi bukannya
Bun Ting-bik roboh, sebaliknya Li?ng-un Taysu yang mencelat
keatas. Bahkan tongkatnya berubah melengkung pula.
Cepat Auyang Pek-ho memburu maju, ia sambut? jatuhnya
Liong-un Taysu hingga paderi itu tidak sampai terjungkal ke
tanah. "Liong-un Taysu, betapapun sudilah memandang diriku
dan jangan tarik panjang urusan ini. Bun-siansing tiada punya
maksud melukai muridmu, tapi terjadi tanpa sengaja, harap
engkau suka maklum, kelak aku dan Bun-siansing tentu akan
minta maaf kepadamu."
Melihat ketangkasan Bun Ting-bik. barulah Liong-un Taysu
insaf masih jauh untuk dapat menandingi orang. Dengan
menghela napas la berkata: "Sudahlah, salah kami sendiri
yang tidak punya kepandaian apa-apa hingga terjungkal
didepan orang banyak. Terima kasih atas pelayananmu.
biarlah kami segera mohon diri saja. Seng-khong, hayolah kita
pulang!" Habis berkata, dengan masih marah ia membawa
muridnya dan tinggal pergi.
Dan selagi Auyang Pek-ho hendak mencegah, tiba-tiba
didengarnya teriakan Bun Ting-bik, pada saat hampir
berbareng, serangkum angin keras yang membawa hawa
panas terus menyambar ke arahnya.
Kiranya sesudah tenaga dalam Kang Hay-thian bertambah
lipat ganda, sebaliknya jalan keluarnya mendadak buntu,
keadaan demikian menjadi seperti air bah yang airnya terus
meluap. Dan karena hawa murni dalam tubuh yang dia
kerahkan itu sudah terlalu penuh, untuk ditahan juga tidak
mungkin lagi, terpaksa Kang Hay-thian membiarkan hawa itu
memancar keluar melalui ujung jari tengahnya.
Keruan Bun Ting-bik terkejut. cepat ia menghindar, namun
tidak urung jubahnya juga sudah terlubang. Untung tenaga
dalam "Sam-siang-kui-goan" dari Bun Ting-bik itu sudah
mencapai tingkatan yang cukup sempurna, sedangkan Kang
Hay-thian belum mahir menggunakan hawa murninya itu
untuk melukai orang, makanya Ting-bik tidak sampai terluka,
hanya jubahnya berlubang dan dimana kulit daging yang
keserempet hawa murni itu menjadi gosong seperti terbakar.
Di sebelah sana Auyang Pek-ho terpaksa juga mesti
berkelit, menyusul ia balas hantarn dengan tangannya. Karena
jaraknya lebih jauh dengan Kang Tlay-thian, maka tenaga
serangan pemuda itu tadi sudah lebih lemah. Namun begitu
Auyang Pek-ho sendiri tidak menjadi soal. sebaliknya anak
muridnya yang tidak tahan, ada seorang diantaranya tepat
kena disambar oleh bawa murni itu. seketika orangnya
menjerit bagaikan mendadak disayat-sayat dengan pisau, kulit
dagingnya di beberapa tempat telah terluka dan mengucurkan
darah. Sungguh kejut Auyang Pek-ho tidak kepalang. Semula ia
sangka Bun Ting-bik sendiri sudah jauh lebih dari cukup
untuk menghadapi satu bocah seperti Kang Hay-thian itu.
Siapa duga makin lama gelagatnya makin jelek, kini anak
muridnya terluka, bahkan terdengar jeritan Bun Ting-bik lagi,
ia mengira Bun Ting-bik juga terluka, hal ini tentu saja
membuatnya semakin cemas.
Kalau berdasarkan kedudukan Auyang Pek-ho dan Bun
Ting-bik, sudah tentu tidak mungkin mereka berdua sudi
mengeroyok seorang lawan muda. Akan tetapi kini mereka
tidak sempat memikirkan soal pamor lagi, segera mereka
membentak bersama, sekaligus lantas mengerubut Kang Haythian
dari kanan dan kiri dengan ilmu sakti Pi-lik-ciang dan Luisin-
ci (pukulan geledek dan jari malaikat guntur).
Tempo hari Kang Hiay-thian sudah kecundang di bawah
tangan Auyang Tiong-ho, maka ia cukup kenal betapa lihainya
ilmu silat lawan. Apalagi lawannya, itu adalah saudara tua
Auyang Tiong-ho, sudah tentu kepandaiannya lebih tinggi
pula. Maka ia tidak berani ayal, ia pun mengeluarkan ilmu
silatnya yang hebat It-ci-sian-kang.
Maka terdengarlah suara pletak-pletok, dua arus tenaga
hawa yang tak kelihatan saling bentur di udara hingga mirip
letusan sesuatu. Dalam sekejap itu Auyang Pek-ho merasa
dadanya tertekan, seakan-akan dijepit oleh tanggam yang
maha kuat. Keruan ia terkejut dan cepat melangkah mundur.
Diam-diam ia kerahkan Lwekangnya yang murni untuk
melenyapkan tenaga tekanan itu.
Sebaliknya diam-diam Kang Hay-thian juga sedang
mengeluh, sebab sebegitu jauh tenaga murninya sudah
terkuras separoh, mendadak ia merasa kepala pening, ia insaf
itulah tandanya hawa murni dalam tubuhnya telah banyak
terbuang. Tapi sisa tenaga dalam yang timbul dari Thian-mokay-
te-tay-hoat masih cukup kuat untuk bertahan. Maka
sambil menahan kembali tenaganya yang merembes keluar
itu, berbareng ia balas menghantam Auyang Pek-ho lagi untuk
menjaga agar tidak didahului serangan lawan. Cuma tenaga
dalamnya sudah berkurang, dengan mengadu pukulan ini
meski Auyang Pek-ho sudah kewalahan hingga tergetar
mundur beberapa tindak, namun Hay-thian sendiri pun
terhuyung-huyung juga.
Sebagai seorang ahli silat sudah tentu penglihatan Bun
Ting-bik sangat tajam, ia sudah dapat melihat tenaga dalam
pemuda itu sudah berkurang, untuk melukai orang sudah tidak
mampu lagi. Seketika semangatnya terbangkit, serunya
dengan terbahak-bahak, "Hahaha, Auyang-jinkeh, bocah ini
tampaknya kuat di luar tapi keropos di dalam. Ilmu yang
digunakan adalah sebangsa ilmu hitam yang tak berarti,
padahal tenaga dalamnya yang sesungguhnya jauh di bawah
kita!" Tapi Auyang Pek-ho masih sangsi, namun ia pun tidak mau
kehilangan pamor di depan umum, segera ia pun terbahakbahak
dan menyahut, "Masakah bocah ini kupandang berat,
tadi aku cuma sedikit menjajal kepandaiannya saja!"
"Baiklah, boleh kau jajal lagi!" bentak Hay-thian dengan
gusar. Mendadak ia keluarkan Thian-lo-poh-hoat, cepat ia
menggeser ke hadapan Auyang Pek-ho terus menghantam ke
dada lawan. Ia tahu di antara kedua lawan itu Auyang Pek-ho
lebih lemah daripada Bun Ting-bik, maka sebelum ia sendiri
kewalahan, lebih dulu ia hendak merobohkan lawan yang lebih
lemah itu. Tak terduga Bun Ting-bik sudah mengincarnya pula dari
samping, begitu Kang Hay-thian bergerak, segera ia pun
menubruk maju untuk menggantikan Auyang Pek-ho
menangkis serangan Hay-thian. Adu pukulan ini meski tidak
dapat merobohkan Kang Hay-thian, tapi kekuatan masingmasing
sudah sama kuatnya, suatu tanda bahwa Lwekang
yang timbul dari Thian-mo-kay-te-tay-hoat di tubuh Kang Haythian
sudah mulai berkurang pula.
Melihat ada kesempatan baik, sekali membentak, Auyang
Pek-ho lantas menghantam juga. Terpaksa Kang Hay-thian
menangkis dan karena kekuatannya sudah banyak berkurang
adu tangan ini membuat Hay-thian tergentak mundur
setindak. Auyang Pek-ho tertawa girang, bentaknya pula, "Biar kau
bangsat kecil ini kenal kelihaianku!" Menyusul ia keluarkan Luisin-
ci dan menutuk ke muka Kang Hay-thian.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara ramai orang
berteriak, "Maling! Maling!"
"Celaka, kebakaran! Kebakaran!"
Keruan Auyang Pek-ho terkejut dan gusar pula, pikirnya,
"Siapakah begitu berani mencuri dan membakar rumah kami
ini?" Dan karena terganggu oleh suasana panik itu, serangannya
menjadi meleset.
Pada saat lain, tiba-tiba terdengar seruan Auyang-jinio,
"Cegat dia, lekas cegat! Ki-locat, terlalu kurangajar kau berani
menggerayangi rumah kami!"
Menyusul tertampak dua orang menerjang keluar dari ruang
belakang, yang di depan berlari dengan sangat cepat hingga
wajahnya tidak jelas kelihatan, hanya lapat-lapat dapat
dipastikan adalah seorang laki-laki. Sedang di belakangnya
mengejar Auyang-jinio, nyonya rumah ini sudah salin pakaian,
mungkin dalam keadaan terburu-terburu, maka tampak
beberapa kancing bajunya masih belum sempat dipasang.
"Tiong-ho, dia mencuri ... mencuri" demikian Auyang-jinio
berteriak-teriak dan pada saat itulah mendadak laki-laki itu
sudah melayang lewat di sisi Auyang Tiong-ho.
"Kurangajar, Ki Hiau-hong, jadi kau berani main gila di
rumahku, ya?" bentak Auyang Tiong-ho dengan gusar, segera
ia angkat tongkatnya untuk menghantam, meski dia masih
terluka, namun putaran tongkatnya itu menimbulkan angin
yang cukup keras.
Laki-laki itu memang benar Ki Hiau-hong adanya. Sudah
tentu ia tidak tahu apakah Auyang Tiong-ho masih sakit atau
tidak, pula tidak sengaja hendak menyerangnya, la hanya
cepat menyusup lewat di bawah tongkat orang, mendadak ia
membalik serta mengayun tangannya ke depan sambil
membentak, "Perempuan jahanam, terimalah senjataku ini!"
Gerak tubuh Auyang-jinio tidak segesit Ki Hiau-hong, saat
itu ia sudah memburu tiba, ketika mendadak Ki Hiau-hong
membalik tubuh dan mengangsurkan tangan, maka terjadi
seperti Ki Hiau-hong sengaja menyodorkan sesuatu benda ke
mukanya. Tanpa pikir segera Auyang-jinio menggablok dengan kedua
tangannya. Tapi segera tangannya terasa licin penuh minyak,
barang yang disodorkan Ki Hiau-hong bukan senjata apa
segala, tapi adalah sepotong ayam panggang.
Dengan terbahak-bahak Ki Hiau-hong sudah berlari
menyingkir, tertampak ia menyebret sepotong paha ayam dan
dijejalkan ke mulut sendiri, katanya dengan tertawa, "Biarlah
aku pura-pura menjadi kakek-moyang keluarga Auyang kalian.
Haha, panggang ayam ini boleh juga rasanya!"
Kiranya tadi waktu dia melayang lewat di sisi Auyang Tiongho,
sekaligus ia telah menyambar sesajen ayam di antara
Sam-seng (tiga hewan barang sesajen) yang tertaruh di meja
sembahyang. "Auyang Pek-ho, kau berani ikut mencicipi makanan kakekmoyangmu
atau tidak" Ini paha yang lain untukmu!" seru Ki
Hiau-hong dengan tertawa. Berbareng ia lemparkan sepotong
ayam panggang itu ke arah orang. Sudah tentu Auyang Pekho
sangat gemas, sekali selentik, ia bikin paha ayam itu
terpental. Dan karena itulah serangannya kepada Kang Haythian
menjadi luput.

Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ki Hiau-hong," bentak Bun Ting-bik, "untunglah tempo
dulu kau sempat menyelamatkan diri di Ci-lay-san, apakah hari
ini kau sengaja mengantarkan nyawamu?" Berbareng ia putar
tubuh sedikit, "crit", serangkum angin keras menyambar ke
depan, ia telah mengeluarkan ilmu Tiam-hiat dari jarak jauh
yang luar biasa lihainya.
Ki Hiau-hong cukup tahu gelagat, sekali mengegos,
terhindarlah dia dari serangan hebat itu. Namun tutukan Bun
Ting-bik benar-benar sakti, walaupun tidak tepat kena
sasarannya, Ki Hiau-hong merasa panas pedas juga betisnya
oleh sambaran angin tutukan itu.
Biarpun Lwekang Ki Hiau-hong lebih lemah dari lawan, tapi
gerak tubuhnya yang gesit dan cepat tiada tandingannya,
hanya sekejap saja ia sudah rata menyerang kedua lawan
tangguh itu hingga Kang Hay-thian ada kesempatan bernapas.
Segera pemuda itu melolos Pokiamnya sambil membentak,
"Kurangajar, kalian berani menyerang Ki-pepek, lihat
pedangkul" Sekali sinar pelangi menyambar, kontan ia
membabat pinggang Bun Ting-bik.
Cay-in-pokiam daya serangannya sudah tentu tiada taranya.
Betapapun tinggi kepandaian Bun Ting-bik juga tak berani
menangkis pedang pusaka itu. Dengan terkejut cepat ia
berkelit ke samping, habis itu dengan sepenuh tenaga ia balas
menghantam dari jauh, dengan tenaga pukulannya itu ia
buyarkan sinar pedang yang berkilauan. Sebaliknya Auyang
Pek-ho tidak selihai Bun Ting-bik, meski berbareng ia pun
menghantam dengan Pi-lik-ciang, tapi ia cuma mampu
mengguncang miring pedang Kang Hay-thian, dimana sinar
pedang menyambar, secomot rambutnya tampak terpapas.
Begitulah Kang Hay-thian telah mainkan Si-mi-kiam-hoat
yang hebat, dalam lingkaran dua meter melulu sinar pedang
belaka yang tak tertembus air sekalipun hingga Ki Hiau-hong
juga terlindung di dalam lingkaran sinar pedang.
"Haha, Hiantit yang baik, terima kasih atas perlindunganmu,
ini kuberikan makanan enak sedikit," seru Ki Hiau-hong
dengan terbahak.
Diam-diam Hay-thian membatin, "Ki-pepek memang suka
bergurau, sampai tua masih tetap demikian tabiatnya. Dalam
keadaan demikian masakah masih merasa iseng untuk makan
segala." Tapi lantas sahutnya, "Tidak, aku tidak lapar, silakan
kau makan sendiri saja."
"Tidak boleh, kau harus terima makananku ini, masakah
pemberian orang tua kau tolak" Kau harus makan!" demikian
kata Ki Hiau-hong. Sembari bicara, terus saja ia sodorkan
semacam barang ke mulut Kang Hay-thian.
Semula Hay-thian mengira makanan itu tentu adalah paha
ayam pula. Tak terduga hidungnya lantas mengendus bau
harum semerbak. Semula karena dia mesti mengerahkan ilmu
Thian-mo-kay-te-tay-hoat untuk melawan beberapa kali
serangan Bun Ting-bik, ia merasa dadanya agak sesak dan
tenaga mulai lemah. Tapi demi mengendus bau harum itu,
seketika semangat terbangkit, rasa sesak juga hilang segera.
Rupanya bau harum itu dapat diendus juga oleh Auyangjinio,
segera wanita itupun berteriak, "Wah, celaka, dia telah
mencuri kita punya Jian-lian-leng-ci, Tiong-hol"
"Kurangajar, keparat Ki Hiau-hong, kenapa engkau berani
mencuri Jian-lian-leng-ci?" Auyang Tiong-ho menggerung
murka. Karena gerak-geriknya tidak leluasa, dalam gusarnya ia
terus menimpukkan tongkatnya.
Tongkat itu buatan dari kaju besi yang sangat keras, tapi
mana dapat menahan tajamnya Cay-in-pokiam" Hanya sekali
tebas saja tongkat itu sudah terkutung menjadi dua. Auyang
Tiong-ho sendiri masih belum sembuh, saking keras
menggunakan tenaga, ia kehilangan imbangan badan, "bluk",
ia jatuh sendiri ke lantai.
"Hahaha, Auyang-loji, rupanya kau sedang sakit payah dan
Jian-lian-leng-ci ini hendak kau gunakan sebagai obat bukan?"
seru Hiau-hong dengan tertawa. "Maafkan, aku tidak tahu
hingga aku telah mencurinya. Tetapi kulihat toh usiamu sudah
tua bangka, paling-paling juga tinggal hidup setahun dua
tahun lagi. Maka apa halangannya kalau sekarang juga engkau
melapor diri pada Giam-lo-ong?"
Sungguh Auyang Tiong-ho gemas setengah mati. Sudah
kecurian, diolok-olok pula. Kalau bisa ia ingin membeset kulit
Ki Hiau-hong. Jian-lian-leng-ci atau rumput Leng-ci yang
berumur ribuan tahun itu dengan susah payah diperolehnya
dan maksudnya akan diminum untuk memulihkan tenaga
dalamnya, siapa duga sebelum terpakai sudah dicuri Ki Hiauhong.
Sementara itu anak murid Auyang Tiong-ho sudah lantas
memayang bangun tuan rumah. Auyang-jinio juga
menghiburnya, "Tiong-ho, tidak perlu kau kuatir, ada Bunjinkeh
di sini, rasanya kedua bangsat itu takkan mampu merat.
Boleh kau masuk untuk mengaso saja."
Sekilas pandang Auyang Tiongho lihat Bun Ting-bik sedang
berkelit ke sana dan menghindar ke sini dan balas
menghantam dari jauh, agaknya rada jeri terhadap pedang
pusaka Kang Hay-thian. Rupanya Bun Ting-bik memakai siasat
sekadar bertahan saja.
Keruan Auyang Tiong-ho mendongkol, ia mendengus sekali
dan amarahnya dilampiaskan pada anak muridnya, dengan
gemas ia mendamprat, "Kalian ini semua orang mati, matamu
buta semua, kalian sebanyak ini, tapi digerayangi maling tidak
tahu!" "Tiong-ho, hari ini adalah hari bahagia, jangan omong yang
tidak-tidak," ujar Auyang-jinio.
"Sudah geger seperti ini, masih ada bahagia apa lagi?"
sahut Tiong-ho marah-marah. "Menantu terluka, putri sendiri
lari, sampai obat penolong jiwaku juga dicuri orang, hm, muka
keluarga Auyang kita benar-benar ludes sekarang!"
Memang benar, suasana riang gembira di dalam ruang
perayaan tadi kini sudah berubah tak keruan macamnya. Tibatiba
terdengar suara "fung", api lilin yang menganga di meja
sembahyang mendadak sirap, menyusul "biang" sekali, meja
sembahyang itupun jungkir balik kena pukulan nyasar. Para
tamu sudah banyak yang lari pontang-panting.
Agar sang suami tidak kena serangan nyasar, segera
Auyang-jinio perintahkan anak muridnya membawa Auyang
Tiong-ho ke belakang. Dengan penasaran sepanjang jalan
Auyang Tiong-ho terus mencaci maki.
Dalam pada itu Kang Hay-thian telah membagi Leng-ci yang
diterimanya dari Ki Hiau-hong menjadi dua potong. Sepotong
ia makan sendiri, sepotong yang lain ia kembalikan kepada Ki
Hiau-hong, katanya, "Setengah bagian ini harap Ki-pepek
simpan saja, aku sendiri tidak perlu sebanyak ini."
"Boleh juga rasanya, bukan?" tanya Ki Hiau-hong dengan
tertawa. "Ya, memang sedap," sahut Hay-thian. "Terima kasih Kipepek."
"Bukan padaku, tapi kepada tuan rumah," ujar Hiau-hong
dengan tertawa. "Begitu pula ayam panggangku ini memang
sangat lezat."
Habis berkata, karena ayam panggang itu sudah dilalapnya
habis, maka sekali tangannya saling gosok, mendadak ia
gunakan gerakan 'Tong-cu-pay-kwan-im' atau anak kecil
menyembah dewi Kwan Im, terus saja ia hantam Auyang Pekho.
Sama sekali Auyang Pek-ho tak menduga Ki Hiau-hong bisa
mendadak menyelinap keluar dari sinar pedang dan
menyerang padanya. Dalam sibuknya cepat ia menggeliat dan
membungkuk untuk menghindar, kemudian ia balas
menghantam juga.
Sekali serangan tidak kena, segera Ki Hiau-hong sudah
mundur kembali, serunya dengan tertawa, "Banyak terima
kasih pada suguhanmu, engkau tidak perlu balas menghormat
segala." Orang menghindarkan serangan dengan membungkuk
diolok-olok sebagai balas memberi hormat, keruan setengah
mati gemas Auyang Pek-ho.
Auyang-jinio yang kehilangan Leng-ci menjadi menyesal
dan gusar. Ia sedang menunggu kesempatan untuk melabrak
si pencuri sakti itu, tiba-tiba ia merasa kakinya tersandung
sesuatu benda, waktu ia periksa, kiranya adalah kain sutera
penutup jubah pengantin laki-laki yang jatuh tadi. Tanpa pikir
ia terus jemput kain sutera itu, ia kebas kain itu hingga mirip
seutas tali, ujung yang satu ia sabetkan ke arah Ki Hiau-hong,
ujung lain ia sabetkan ke arah Kang Hay-thian.
"Hai, hai, kau salah mata!" teriak Hiau-hong menggoda.
"Aku toh bukan pengantin prianya, kenapa engkau hendak
memasang kain merah itu padaku." Berbareng ia terus
menyusur kian kemari menurut tarian selendang sutera orang,
sudah beberapa kali Auyang-jinio mengganti serangan, tapi
tetap tak dapat menyenggol lawan.
Sebaliknya Kang Hay-thian memegang Pokiam, bila
selendang sutera orang menyabet tiba, kontan ia papas
dengan pedangnya. Di luar dugaan kain merah itu ternyata
sangat enteng hingga tidak dapat dipapas, sebaliknya
pedangnya malah tergubat.
"Lepas tangan!" bentak Auyang-jinio mendadak, berbareng
ia menarik sekuatnya untuk merampas pedang orang.
Untunglah tenaga dalam yang timbul dari Thian-mo-kay-tetay-
hoat di dalam tubuh Kang Hay-thian belum lagi hilang
seluruhnya, dibandingkan Lwekang Auyang-jinio ia masih jauh
lebih kuat. Maka sekali wanita itu mengerahkan tenaga,
selendang sutera itu menjadi kaku, seketika kena dipapas
pedang pusaka Cay-in-pokiam hingga putus sebagian.
Dan dengan cepat luar biasa, pada saat hampir
berbarengan, dari sebelah sana Bun Ting-bik sudah lantas
menghantam juga. Terpaksa Hay-thian mesti mengadu tangan
pula dengan lawan tangguh itu. "Plak", Kang Hay-thian
tergentak mundur tiga tindak, dan selagi Bun Ting-bik
bermaksud mendesak lebih jauh untuk menambahi serangan
yang lain, tahu-tahu pedang pusaka Kang Hay-thian sudah
terlepas dari gubatan kain sutera tadi, dengan tipu 'Heng-intoan-
hong' atau awan mengapung memutus puncak, senjata
itu sudah menahan rangsekan Bun Ting-bik.
Diam-diam Auyang-jinio gegetun, serangan Bun Ting-bik
yang lain urung dilontarkan. Tapi sesudah dapat menjajal
tenaga dalam Kang Hay-thian, segera ia pun ganti siasat, ia
tidak mengincar senjata lawan lagi, tapi menggunakan tenaga
lunak untuk mengatasi kekuatan lawan.
Di bawah keroyokan tiga lawan, akhirnya Kang Hay-thian
terdesak sampai di suatu sudut, keadaannya agak berbahaya.
"Bocah, sekarang kau takluk tidak" Selain ada lubang di
tanah yang dapat kau masuki, punya sayap juga takkan
mungkin engkau dapat kabur," ejek Bun Ting-bik. "Tapi
mengingat kau pernah diasuh beberapa lama oleh Kaucu
kami, bolehlah aku memberi jalan hidup padamu, asalkan
letakkan pedangmu sebagai ganti kerugian Leng-ci milik
Auyang-jinkeh yang kalian curi itu, lalu kau memberi hormat
dan minta maaf, atau boleh juga aku mintakan ampun
bagimu." Saat itu Ki Hiau-hong terlindung di tengah lingkaran sinar
pedang Kang Hay-thian dan sedang memeras otak mencari
jalan lari. Demi mendengar olok-olok Bun Ting-bik itu, tiba-tiba
tergerak pikirannya, serunya kepada Hay-thian, "Hiantit, aku
ada akal, kita tak bisa masuk ke tanah, tapi dapat naik ke
langit!" Hay-thian cukup cerdas juga, segera ia paham maksud Ki
Hiauhong itu. Mendadak ia menggertak keras, berbareng
pedangnya menyerang ke kanan dan ke kiri hingga Bun Tingbik
terdesak mundur, sebab kuatir pemuda itu menjadi nekat
dan akan mengadu jiwa setelah kepepet.
Tak tersangka tindakan Kang Hay-thian hanya siasat
belaka, begitu Bun Ting-bik terdesak mundur, mendadak ia
meloncat ke atas, sekali pedangnya menusuk, tertembuslah
atap rumah, menyusul ia hantamkan tangannya hingga lubang
atap itu pecah melebar. Genting hancur dan jatuh bertebaran.
"Celaka, bangsat kecil itu hendak lari!" cepat Auyang Pek-ho
berseru pada kawan-kawannya. Namun sudah kasip, Haythian
sudah keburu menerobos ke atas.
Segera Auyang-jinio menyabetkan selendang suteranya
dengan tujuan menggubat tubuh Ki Hiau-bong yang belum
sempat ikut menerobos keluar. Namun gerakan Ki Hiau-hong
sangat gesit, ia ikut di belakang Kang Hay-thian, dengan
sendirinya tidak dapat menerobos keluar bersama. Dan begitu
Kang Hay-thian sudah menyusup keluar,
Pendekar Bayangan Setan 6 Pendekar Super Sakti Serial Bu Kek Siansu 7 Karya Kho Ping Hoo Bentrok Para Pendekar 4
^