Pencarian

Kisah Pedang Di Sungai Es 7

Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen Bagian 7


lau lari, tentu
akan terkejar oleh pemuda itu.
Walaupun sinar pelita tidak terlalu terang, tapi dapat juga
kelihatan wajah sigadis yang penuh rasa takut itu. Lekas-Lekas
Hay-thian memasukan kembali pedang kesarungnya. lalu
katanya dengan tersenyum: "Maafkan, mungkin sikapku
barusan terlalu bengis hingga telah menakutkan engkau" Aku
cuma gemas pada tuan rumah ini. selamanya tidak kenal
dengan kita. tanpa permusuhan apa-apa. entah sebab apa
hendak meracuni kita. Sungguh tidak masuk diakali"
Mendengar dirinya tak dicurigai, barulah hati Auyang Wan
merasa lega. Tapi wajahnya sengaja masih mengunjuk rasa
kuatir dan sedih, katanya: "Engkau sangat baik padaku,
betapapun bengisnya sikapmu juga aku tidak takut. Aku cuma
kuatir bagimu, ai. racun mereka itu tentu sangat lihay bukan"
Bagaimana rasanya" Kalau tiada obat penawar, lantas apa
daya" Eh. mukamu?"?".mukamu sudah mulai bersemu hitam!"
Namun Kang Hay-thian malah menghiburnya: "Tak perlu
engkau kuatir, biarpun racun mereka cukup lihay. rasanya
masih belum dapat melenyapkan jiwaku."
Auyang Wan coba mengikuti apa yang dilakukan sipemuda,
ia lihat Hay-thian terus duduk bersila dan perlahan-lahan
mengabungkan jari tengah kanan, mendadak ujung jarinya
memancurkan seutas benang air berbau arak yang
memabukkan. Sungguh kejut Auyang Wan tak terkatakan. pikirnya:
"Biarpun Suhuku juga tidak sehebat ini Lwekangnya Untung
aku tadi tidak sembarangan bertindak."
Kiranya Hay-thian telah kerahkan ilmu saktinya untuk
menguras keluar arak beracun yang telah diminumnya itu
melalui ujung jarinya.
Dan sedang Auyang Wan merasa tidak tenteram. tiba-tiba
dilihat-nya wajah pemuda itu mengunjuk rasa menyesal. Tiba-
Tiba Hay-thian berdiri dan berkata kepadanya: "Jiwaku telah
dapatlah diselamatkan, tetapi terpaksa aku mesti minta maaf
padamu." Keruan Auyang Wan sangat heran, tanyanya: "Apakah
maksud perkataanmu ini?"
"Oleh karena kepandaianku terbatas, maka racun itu hanya
dapat kupaksa keluar, sebaliknya sisa racun yang mengeram
didalam badan tak dapat aku mengeluarkannya," demikian
kata Hay-thian. "Untuk bisa membersihkan sisa racun itu. aku
perlu duduk semadi barang dua hari lagi. Sebenarnya aku
telah berjanji akan menghantar engkau pulang ke Thaygoan.
tapi sekarang aku tidak berdaya lagi untuk menghantar
engkau. Kalau sisa racun dalam badanku ini tidak segera
kuperas keluar, mungkin badanku akan menjadi cacat
selamanya. Apalagi tenaga dalamku sekarang terbuang
banyak. dalam waktu sehari-dua juga susah pulih kembali.
Maka akupun tiada mampu melindungi engkau selama
tenagaku belum pulih. Sungguh aku menyesal telah menyalani
janjiku padamu tapi hal ini terjadi diluar dugaanku, hendaklah
engkau suka memaafkan."
Auyang Wan semakin ragu-ragu dan heran, pikirnya: .Dia
benar-benar seorang jujur dan polos, rasanya apa yang
dikatakannya ini tidaklah dusta."
Dalam pada itu tampak Hay-thian mengeluarkan beberapa
renceng uang perak dan disodorkan kepada sigadis.
"Apakah maksudmu ini?" tanya Auyang Wan dengan heran.
"Kau telah dirampok, tentu engkau sudah kehabisan
sangu." sahut Hay-thian. "Maka sedikit uang ini bolehlah
engkau ambil sekedar bekal ditengah jalan bila perlu.
Syukurlah dandananmu sekarang sudah menyerupai wanita
desa, maka boleh sewa sebuah kereta keledai untuk
menghantar engkau ke Thaygoan".
Seketika hati nurani Auyang Wan terketuk. Pikirnya dalam
bati: "Aku sedang mempedayai dia. sebaliknya dia sangat
memperhatikan diriku."
Melihat sigadis tidak lantas terima uangnya. Hay-thian
mengira orang merasa rikuh, maka katanya pula: "Yang
penting bagimu ialah lekas menyelamatkan diri. kenapa mesti
pikirkan sedikit urusan yang tak berarti ini" Masih ada pula
semacam barangku, tapi ini cuma kupinjamkan padamu saja."
Sambil berkata. Hay-thian terus melepaskan pedang
pusakanya yang tergantung dipinggangnya itu serta
diangsurkan kehadapan sigadis.
Kembali Auyang Wan terkesiap. Tapi terdengar Kang Haythian
telah berkata pula: "Menurut kata Suhuku, pedang ini
adalah senjata paling tajam dari semua pedang yang terdapat
di-dunia ini. maka bolehlah engkau membawanya untuk
menjaga diri. Pedang ini sangat enteng bobotnya. tentu
engkau kuat memegang-nya."
Sebelumnya Auyang Wan memang sudah tahu Cay-inpokiam
milik Hay-thian itu adalah sebatang pedang pusaka
yang tiada bandingan nilainya. Sebabnya dia mengatur
perangkap hendak mencelakai Kang Hay-thian sekali ini.
walaupun masih terdapat sebab-sebab pokok lain, tapi pedang
pusaka inipun merupakan salah satu maksud mereka untuk
merebutnya. Tapi mimpipun tak terpikir olehnya bahwa
pemuda itu secara begitu mudah terus mempersembahkan
pedang pusaka yang tiada taranya itu kepadanya. terhadap
seorang gadis yang baru saja dikenalnya ternyata tiada
sedikitpun merasa curiga.
Dalam keadaan begitu, asal Auyang Wan sudah menerima
pedang itu terus mengayunkannya sekali, dengan mudah Kang
Hay-thian dapat ditabasnya menjadi dua. Tapi aneh. entah
mengapa, tangannya serasa ribuan kati beratnya. betapapun
tidak sanggup mengangkat pedang yang bobotnya sebenarnya
sangat enteng itu. Ketika mendongak, dilihatnya sorot mata
Hay-thian memancarkan sinar yang penuh perasaan, perasaan
yang menyegarkan bagai tiupan angin silir-silir dimusim semi
dan membuat hati sigadis merasa terhibur, tapi sinar mata itu
tajam pula bagai panah yang menusuk hatinya hingga ia
merasa malu pada diri sendiri yang telah membayar air susu
dengan air tuba.
Sudah tentu Kang Hay-thian tidak dapat menyelami
pertentangan batin sigadis itu. Melihat Auyang Wan menjadi
termangu-mangu. ia menjadi tertegun juga. Setelah memikir,
segera iapun berkata: ,.Nona Auyang. aku tahu engkau adalah
puteri keluarga bangsawan, tidak bisa ilmu silat, boleh jadi
selamanya juga tidak pernah menyentuh senjata. Tapi engkau
berani melarikan diri dari sarang penyamun, itu menandakan
engkau adalah seorang wanita yang bernyali. Pabila ditengah
jalan nanti engkau kelentukan orang jahat lagi. asal engkau
pegang teguh pada pendirian bahwa jika engkau tidak
mencelakai mereka, engkau sendirilah yang akan menjadi
korban, dengan demikian tentu engkau akan berani
menggunakan pedang ini. Meski engkau tidak paham ilmu
silat, namun pedang ini sangat tajam. asal engkau pegang
senjata ini dengan kenceng dan sekenanya mengayun sekali,
rasanya kalau cuma beberapa orang penyamun seperti siang
hari kemarin, tak mungkin mereka mampu mendekati engkau.
Haraplah engkau selamat dalam perjalanan nanti hingga
pedang ini tidak perlu di gunakan. Paling lambat lima hari atau
bila cepat tiga hari lagi tentu aku akan datang kekediamanmu
di Thaygoan untuk mengambil kembali pedang ini."
Begitulah sedang Kang Hay-thian mencerocos dengan
"kuliah-nya" bagi sigadis yang disangkanya seorang Siocia
lemah dari keluarga bangsawan, sekonyong-konyong
dilihatnya dua butir air mata menetes dari kelopak mata
Auyang Wan. Keruan ia bingung dan melengak. tanyanya
cepat: "Hai. nona Auyang. kenapa engkau menangis?"
Tapi Auyang Wan tidak menjawab. sebaliknya balas
menanya: "Bila sisa racun dalam tubuhmu itu telah lenyap.
apakah tenagamu dapat seketika pulih?"
Kang Hay-thian tidak paham guna apa sigadis bertanya hal
itu kepadanya. tapi toh dijawabnya sejujumya: "Aku belum
lagi mencapai ilmu kebal yang sempurna, seumpama minum
obat penawarnya juga kira-kira perlu sejam-dua baru dapat
mengerahkan tenaga dalamku lagi. Tapi sepasang suami-isteri
tua itu sudah lari semua, kemana mencari obat penawarnya"
Sudahlah engkau tak perlu memikirkan diriku, lekaslah engkau
terima uangku dan pedang ini untuk menyelamatkan diri.
biarkan aku sendiri tinggal disini untuk memulihkan tenagaku."
Dan selagi Hay-thian ragu-ragu apakah barangkali sigadis
itu merasa berat mesti berpisah dengan dirinya. makanya
timbul keyakinnya tentang obat penawar segala. tiba-tiba
terdengar suara "bluk" sekali, Auyang Wan telah lemparkan
sebungkus apa-apa kedepannya sambil berkata: "Ini adalah
obat penawarnya, lekas engkau meminumnya. kalau terlambat
mungkin tidak keburu lagi!"
Tengah Kang Hay-thian terperanjat, sementara itu dengan
cepat sekali Auyang Wan sudah membuka pintu dan berlari
pergi. Melihat gerak tubuhnya yang gesit dan enteng itu,
teranglah seorang yang memiliki Ginkang yang t.nggi.
Untuk sejenak Hay-thian tertegun, segera ia mengejar
keluar sambil berseru: "Nona Auyang, apa.. apakah artinya ini
sebenarnya?"
Dari jauh didengbrnya suara Auyang Wan sedang
menjawabnya: "Kang-toako, jangan engkau mengejar, aku
tiada muka lagi untuk bertemu dengan engkau. Obat penawar
itu lekaslah engkau minum, lekas!"
Dan karena bingung pikirannya, seketika racun menerjang
keatas kepala hingga Hay-thian merasa matanya menjadi
gelap, hampir-hampir ia roboh terjungkal. Bila kemudian ia
dapat tenangkan diri pula. namun bayangan Anyang Wan
sudah tidak kelihatan lagi.
"Apakah artinya ini?" Hay-thian menjadi bingung sendiri.
"Mengapa dia menipu aku" Sebenarnya dia orang jahatkah
atau orang baik-baik" Apakah dia bermaksud mencelakai aku"
Tapi kenapa memberi pula obat penawarnya padaku?"
Bekerjanya racun semakin menghebat dan kepala Hay-thian
se rasa akan pecah. maka ia tidak sanggup memikir pula,
terpaksa ia kembali kedalam gudang kayu tadi, ia jemput
bungkusan yang ditinggalkan Auyang Wan dan membukanya,
ia lihat didalam bung kusan kecil itu terdapat tiga butir obat pil
yang berwarna jambon Pikimya: "Sekali ini apakah dia akan
menipu aku lagi" Biarlah, sekalipun ini adalah racun,
memangnya aku sudah keracunan, kalau ditambah tiga pil
racun inipun aku tidak gentar, aku justeru ingin mencoba apa
yang dikatakannya ini benar-benar obat penawar atau bukan?"
Ketiga butir pil itu menguarkan bau busuk, tapi Hay-thian
tidak ambil pusing, ia lekap hidung sendiri dan telan mentahmentah
ketiga butir pil itu sekaligus.
Setelah pil itu masuk perut. Hay-thian merasa seluruh
tubuhnya sangat panas. Darahnya bergolak dan isi perutnya
seakan-akan diaduk-aduk. Keruan ia terkejut, lekas-lekas ia
duduk bersila dan menjalan kan tenaga murntnya. Aneh juga,
dimana tempat yang sesak buntu waktu tadi ia menjaiankan
tenaganya, tempat-tempat itu sekarang sudah tembus dan
berjalan dengan sangat lancar dan menyegarkan rasanya.
Kiranya obat penawar yang diminum Kang Hay-thian itu
sifatnya maha panas, kalau diminum orang biasa, seketika
akan merasa panas bagai dibakar. Tapi karena racun yang
mengeram ditubuh pemuda itu sifatnya sangat dingin, untuk
bisa menyembuhkannya justru diperlukan racun yang maha
panas, jadi menyerang racun dengan racun. Dari itulah waktu
minum obat itu mula-mula rasanya sangat menderita, tapi
kemudian menjadi segar dan sembuh.
"Ha. ternyata dia tidak menipu aku lagi." pikir Hay-thian
dalam hati. Maka dengan tenang dapatlah pemuda itu duduk semadi
untuk memulihkan tenaga dalamnya. Dan sedang saat terakhir
hampir diselesaikannya. tiba-tiba terdengar dari luar ada suara
keresekan yang sangat pelahan dan cepat sekali datangnya.
Namun sekali mendengar, segera. Hay-thian mengetahui telah
kedatangan tokoh persilatan yang Ginkangnya sangat tinggi.
Ia menjadi heran: "Apakah nona itu telah datang kembali" Eh.
suara tindakannya seperti lebih dari satu orang."
Selang sejenak. tiba-tiba dilihatnya ada dua orang
melongok kedalam kamarnya. Segera Hay-thian dapat
mengenali mereka, yaitu kedua orang tua yang menghilang
itu. Hay-thian menjadi gusar, karena itu, tenaga murnlnya
yang sedang mencapai titik paling genting itu hampir-hampir
saja sesat. Lekas-Lekas Hay-thian menarik kembali tenaga
murni itu dan pusatkan pikiran, ia pejamkan mata sekali,
kedua pendatang itu tak digubrisnya lagi. tapi tekun
menjalankan tenaganya.
Ia dengar si "pemburu" tua itu telah bersuara heran sekali,
menyusul suara seorang wanita muda berkata: "Mengapa bisa
jadi begini" Kemanakah perginya Wan-sumoayku itu?"
Mendengar ada seorang mengaku sebagai Sucinya Auyang
Wan. tak tertahan lagi Hay-thian membuka matanya. ia lihat
orang-orang itu sudah masuk kedalam kamar situ. Kecuali
sepasang suami-isteri orang tua itu, terdapat pula seorang
Tojin dan seorang gadis ber umur 20-an. Keempat orang itu
tampak lagi saling pandang dengan terheran-heran.
"Be-lotoa " terdengar Tojin berjubah kasar itu berkata,
"bukankah engkau suka mengagulkan obat racun buatanmu
adalah 'kartu undangan' Giam-lo-ong, tapi mengapa bocah ini
masih segar bugar disini?"
"Ya. Aku..aku sendiripun tidak mengarti." sahut sikakek
dengan gelagapan. "Setan, sebab apakah ini" Kenapa dia
masih mampu bertahan sampai sekarang tanpa pingsan?"
"Jangan-Jangan sibudak Wan telah main gila?" ujar sigadis
tadi dengan mengkerut kening.
Sedangkan sinenek lantas membuka ceret wedang dan
memeriksanya, katanya kemudian: "Nona Jing. jangan engkau
salah menuduh Sumoaymu. Air teh ini adalah buatan dari
bunga Siulo. isinyapun sudah dimirum setengah ceret oleh
bocah ini."
Bunga Siulo yang dikatakan itu khusus cuma tumbuh di
Tayswat-san diperbatasan Tibet, orang biasa kalau mencium
baunya yang harum saja seketika lemas lunglai, apalagi
dipakai untuk membikin air teh. keruan jauh lebih lihay
daripada arak beracun. Karena itulah, semua orang menjadi
terperanjat mendengar isi ceret sudah terminum separoh. tapi
Kang Hay-thian masih tidak apa-apa.
Saat itu Hay-thian sedang mengerahkan seluruh tenaga
dalamnya dan sudah mencapal titik yang paling genting. ubunubunnya


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tampak menguap hingga berwujut kabut tipis.
Keempat orang itu tidak tahu kalau Hay-thian sudah minum
obat penawar, mereka hanya menyangka: "Bocah ini sudah
minum arak beracun. pula sudah minum teh berbisa, tapi
ternyata masih dapat mengerahkan Lwekang setinggi ini.
sudah tentu sekali-sekali kami bukan tandingannya."
Mereka tidak tahu bahwa saat itu Kang Hay-thian justeru
lagi himpun tenaga murni untuk melancarkan semua urat nadi
yang penting, tenaganya saat itu belum cukup untuk dipakai
bertempur, dalam keadaan begitu, seorang biasa saja sudah
cukup untuk membinasakannya dengan mudah.
Moa-ih-tojin atau imam berjubah kain bagor. diantara
keempat orang itu paling tinggi ilmu silatnya, pengalamannya
juga paling luas. maka sekarang iapun dapat berpikir
mengenai keadaan Hay-thian itu. Tapi dasarnya memang dia
sangat licik dan culas. segera pikirnya pula: "Pabila tenaganya
belum pulih, sekali serangan sudah tentu akan berhasil, tapi
kalau dia masih mempunyai sisa tenaga untuk melayani kami
dan aku sembarangnn maju, tentu aku akan celaka lebih
dulu". Memikir sejenak. segera ia mendapat satu akal, tiba"
katanya kepada sikakek: "Be-lotoa. ini adalah rumah
tinggalmu, kalau pintu jendela kurang bersih, seharusnya
engkau sendiri lekas membetulkannya. Kenapa engkau juga
tidak lekas mengganti sumbu pelita itu supaya lebih terang
sedikit." Kiranya apa yang diucapkan itu adalah kata-kata kiasan
orang Kangouw. maksudnya mengatakan kepada Be-lotoa
bahwa pekerjaanmu ini kurang sempurna. terpaksa engkau
harus mencoba-coba keadaan bocah itu apakah dia masih
bertenaga atau tidak.
Sudah tentu Hay-thian tidak paham perkataan itu. ia
menjadi heran malah mengapa dalam keadaan begitu mereka
masih ada waktu iseng untuk membersihkan rumah dan
mengganti sumbu pelita segala. Segera terpikir pula olehnya:
"Ah. buat apa aku ikut sibukan ocehan mereka hingga
mengacaukan pemusatan pikiranku." " Segera ia pejamkan
mata pula, ia tidak ambil pusing lagi terhadap apa yang bakal
terjadi. Melihat pemuda itu sedemikian tenang dan anggap sepi
mereka. sikakek yang dipanggil sebagal Be-lotoa tadi menjadi
gugup, ia memandangi Hay-thian sampai lama dengan raguragu.
Tapi dibawah sinar mata si Tojin yang tajain mengancam
itu. terpaksa ia harus nekat dan mencoba Kang Hay-thian. Ia
ambil sebatang pikulan dipojok ruangan sana. dengan
tabahkan hati. tapi badan gemetar, setindak demi setindak ia
mendekati pemuda itu. Ia lihat Hay-thian masih pejamkan
mata dan duduk dengan tenang, badannya tidak bergerak
sedikitpun. Ia kertak gigi terus saja angkat pi-kulannya dan
mengemplang keatas kepala Kang Hay-thian sambil
membentak keras".
Maka terdengarlah suara "krak" dibarengi sinar pedang
yang ke milauan menyilaukan mata Kontan Be-lotoa terjungkal
roboh ke-belakang, pikulan kayunya itupun patah menjadi
dua, dan Kang Hay-thian masih tetap duduk ditempatnya.
matanya juga tetap terpenjamkan. Hanya tangannya
bertambah sebatang pedang.
Sinenek menjadi kaget dan buru-buru membangunkan sang
suami sambil berseru: "Wah. domba itu kurang jinak. biji
mangga susah ditelan. Lebih baik tarik panjang saja dan
mencari jagal lain!" " maksudnya berkata: musuh terlalu
lihay. jalan paling selamat ialah kabur saja: Nanti kita datang
lagi sesudah mendapat kan bala bantuan.
Namun Moa-ih-tojin itu lantas berseru juga: "Be-toaso,
engkau telah salah mata! Coba engkau boleh tanya Be-toako
apakah bukan dia terjatuh sendiri?"
"Benar!" teriak sikakek itu sebelum sang isteri
memayangnya, tapi terus melompat bangun. "Tenaga bocah
itu memang belum pulih, hayolah kita maju mengerubutnya!"
Kiranya sebabnya Kang Hay-thian dapat menahas putus
pikulan Be-lotoa itu sebenarnya adalah berkat ketajaman
pedangnya Cay-in-pokiam. disertai kepandaian "meminjam
tenaga lawan untuk menghantamnya kembali". Pabila Be-lotoa
tadi tidak terlalu keras mengeluarkan tenaga, tentu pikulannya
tidak sampai ter kutung. Tapi justeru ia mengemplang dengan
sepenuh tenaga, maka begitu membentur pedang yang tajam
itu, terus saja ter-kutung.
Tapi si Tojin adalah jago kelas pilihan juga, sekali lihat
segera dapat diketahuinya bahwa terjungkalnya Be-lotoa itu
adalah akibat tenaga sendiri yang membalik dan sekali-sekali
bukan terpental oleh karena tenaga dalam Kang Hay-thian
yang hebat. Dapat mengetahui keadaan Hay-thian yang lemah itu.
segera imam itu menjadi berani, serunya: .Ya. marilah kita
maju. asal kita jangan membentur pedangnya, tentu takkan
apa-apa. Mari kita menangkapnya hidup-hidup!"
Habis berkata, terus saja ia mendahului merangsang maju,
sekali pedangnya bekerja. segera "Nui-moa-hiat" di bagian iga
Kang Hay-thian ditusuknya.
Ia menyangka Kang Hay-thian sudah tidak mampu
menangkis sama sekali, maka yakin serangannya akan berhasil
dengan mudah. Siapa duga pada saat itu juga Hay-thian
sudah dapat melancar-kan jalan darahnya. hawa murni sudah
merata diseluruh tubuh, tenaganya sudah pulih kembali.
Ketika ujung pedang imam itu sudah dekat sasarannya.
Sekonyong-konyong Kang Hay-thian menggertak sekail, kedua
jarinya menyelentik cepat beruntun-runtun. Tepat sekali
selentikan itu mengenai punggung pedang lawan, biarpun
imam itu sangat hebat ilmu silatnya, betapapun tidak tahan
juga oleh ilmu sakti tunggal ajaran Kim Si-ih yang lihay itu.
Terdengarlah suara "trang" sekali, hampir-hampir pedang
imam itu terpental ke udara bagai kena disampok dengan tja
besi. Pada saat lain. dengan cepat luar biasa Sucinya Auyang
Wan juga sudah merangsang maju, senjata yang dia gunakan
adalah cambuk yang lemas, sekali cambuk, segera ia
mencambuk ke pergelangan tangan Kang Hay-thian. Nyata ia
jeri terhadap pedang pusaka pemuda itu, maka maksudnya
akan merampas dulu senjata itu dari tangan Kang Hay-thian.
Diam-Diam Hay-thian memikir: "Mengingat engkau adalah
Sucinya nona Auyang, biarlah aku tidak membunuh engkau."
" Tiba-Tiba ia masukan pedang kesarungnya dan berseru:
"Kalau cuma kepandaian kalian saja tidak perlu aku mesti
memakai senjata."
Namun Pian-hoat atau ilmu permainan cambuk sigadis itu
sangat hebat, sedikit Hay-thian ayal, yaitu memasukan pedang
ke sarungnya dan tertegun sejenak. segera cambuknya
bekerja lagi, "ser". cambuknya menyambar lagi dan tepat
melilit d pergelangan tangan Kang Hay-thian, menyusul gadis
itupun mendesak maju dua tindak untuk menarik cambuknya
dengan kencang hingga pergelangan tangan Kang Hay-thian
seakan-akan terbelenggu oleh-nya.
Si Tojin tadi menjadi girang, serunya: "Bagus! Anak
keparat, apa kau masih bisa berkutik lagi!" " Berbareng
pedangnya menusuk pula. serangan ini jauh lebih ilhay dari
tadi. yang di incar adalah leher Kang Hay-thian.
Tapi sebelum pedangnya mencapai sasarannya. tiba-tiba
terdengar suara peletak-peletok bagai gorengan kacang
didalam wa-jan, tertampak cambuk sigadis tadi telah rontok
terputus-putus menjadi potongan kecil-kecil. Nyata cambuknya
telah tergetar hancur oleh ilmu sakti Hou-teh-sin-kang Haythian.
Keruan kejut Tojin itu tak terkatakan, dan selagi dia
terkesiap. dengari cepat luar biasa tahu-tahu Kang Hay-thian
sudah menubruk kearahnya memapak ujung pedangnya tadi
sambil membentak: "Hidung kerbau, marilah ingin kulihat
engkau masih mempunyai kepandaian apa lagi?" " Berbareng
jarinya men-jentik pula. "creng". kembali pedang Tojin itu
kena diselen-tik sekali.
Jentikan Kang Hay-thian sekali ini memakai hampir sepenuh
tenaganya. bahkan disertai ilmu Lwekang "Keh-but-thoankang"
atau ilmu pukulan dari balik benda lain, yang sangat
lihay. Kontan saja lengan Tojin itu seakan-akan disodok oleh
sesuatu benda yang keras, seketika genggaman tangannya
pecah dan mengulirkan darah. Namun kepandaian Tojin itu
memang bukan kaum lemah, dalam keadaan begitu ia masih
tidak tergetar roboh, bahkan terus timpukan sekalian
pedangnya kedepan dan menyambar ketenggorokan Kang
Hay-thian. Sudah tentu tidak sembarangan Kang Hay-thian dapat
diserang, sedikit ia menggeser kesamping. serangan musuh
sudah lu put. Tapi kesempatan itupun telah digunakan oleh
Tojin ita untuk melarikan diri keluar ruangan.
"Selamanya aku tidak kenal kalian, mengapa kalian hendak
mencelakai aku" Hayo. kalian harus tinggalkan pengakuan
yang terang!" demikian bentak Hay-thian sambil memburu
keluar. Saat itu sigadis juga baru lari sampai didepan pintu, segera
Kang Hay-thian ulur tangan hendak membekuk bahunya.
"Engkau tahu kesopanan tidak?" damperat sigadis
mendadak sambil mendakan tubuhnya dan cepat membalik
tubuh, menyusul dada Kang Hav-thian terus dihantamnya.
Cengkeram Hay-thian tadi kalau diteruskan, dengan tepat
pasti akan memegang dada sigadis yang telah memutar tubuh
itu. Akan tetapi karena damperatan sigadis itu. ia menjadi
melengak dan sadar bahwa tindakannya itu memang tidak
pantas. Ilmu silat gadis itu tidak dibawah Tojin tadi. maka sedikit
Kang Hay-thian ayal. pukulan sigadis sudah tepat mengenai
da-danya. Namun bukan Kang Hay-thian yang roboh,
sebaliknya gadis itu lantas menjerit dan terpental keluar oleh
Hou-teh-sin-kang pemuda itu. Tanpa menoleh lagi gadis itu
cepat merangkak bangun dan melarikan diri dengan terbiritbirit.
Betapapun Hay-thian merasa dadanya kesakitan juga.
Walau pun tidak terluka. tapi toh tergetar mundur setindak.
Saat itu kedua suami-isteri yang tua dan lebih rendah
kepandaian mereka, belum seberapa jauh mereka sempat lari.
tiba-tiba Kang Hay-thian sudah mengudak sampai dibelakang
mereka sambil membentak: "Hai, mengapa kalian meracuni
aku. jangan kalian coba lari sebelum ada pengakuan yang
jelas!?" Berbareng tangannya meraup kedepan dan sikakek
yang bernama Be-lotoa itu kena dicengkeramnya.
Keruan kakek itu kesakitan sambil menjerit bagai babi
disembelih. biji matanya melotot hampir mencotot keluar
bagai mata ikan emas.
Meski Kang Hay-thian tidak ceriwis seperti ayahnya, tapi
mewarisi sifat sang ayah yang jujur dan berbudi. Melihat
kakek itu kesakitan begitu rupa. ia menjadi tidak tega hingga
tanpa merasa cengkeramnya lantas dikendorkan.
Diluar dugaan kakek itu terus meronta sekuatnya hingga
terlepas dari pegangan Kang Hap-thian. menyusul kelima
jarinya terus menjojoh kedada pemuda itu ditempat "Soan-kihiat
yang berbahaya.
Namun Kang Hay-thian memiliki ilmu Tian-to-biat-to, sudah
tentu ia takkan terbinasa dengan begitu saja. Maka
terdengarlah suara "bluk" sekali. Be-lotoa terpental hingga
jauh oleh Hou-teh-sin-kang yang hebat dari pemuda itu
Sebaliknya karena sebelumnya Hay-thian sama sekali tidak
ber-jaga. serangan musuh juga dilakukan sepenuh tenaga,
mesti tidak sampai terluka. namun ia menjadi kesemutan dan
untuk sejenak agak sempoyongan.
Melihat sang suami terpental jatuh hingga kepala puieng
tujuh keliling, sinenek tidak sempat lagi untuk menyerang
Kang Hay-thian lagi, tapi cepat membangunkan sang suami
terus digendong untuk melarikan diri. Bila kemudian Kang
Hay-thian telah tenang kembali, sementara itu suami-isteri Belotoa
itu sudah kabur jauh.
Hay-thian melancarkan pula jalan darah serta mengatur
pernapasannya hingga merasa tiada sesuatu halangan,
kemudian ia masuk kembali kegudang kayu itu. ia ambil
rangsalnya dan keluar lagi. Ia lihat fajar sudah menyingsing.
cuaca mulai terang. Namun kudanya sudah tak kelihatan lagi.
mungkin semalam telah di bawa oleh Be-lotoa dan tidak
dikembalikan lagi. Terpaksa ia me-lanjutkan perjalanan
dengan berjalan kaki.
Dipadang yang luas itu sunyi senyap tiada bayangan
seorang manusiapun, ditanah rumput hanya tertinggal banyak
bekas tapak kaki orang yang tak teratur. Sambil mengikuti
bekas tapak kaki orang itu. Kang Hay-thian merasa mimpi saja
oleh kejadian-kejadian aneh semalam itu. Sungguh ia tidak
mengarti mengapa jadi berkelahi dengan orang-orang itu dan
untuk apa mereka hendak membokong dirinya
Ia goyang-goyang kepala dan gegeran oleh kejadian yang
masih merupakan teka-teki baginya itu Ia menggumam
sendiri: "Apa yang di katakan nenek (maksudnya Nyo Liu-jing)
memang tidak salah, hati manusia umumnya culas dan keji,
nyatanya memang betul!"
Tapi segera ia geleng-geleng kepala lagi sambil
menggumam pula: "Tapi apa yang dikatakan ayah juga tidak
salah. Ia bilang 'Jin-ci-jeh. seng-pun-sian' (watak manusia
sejak dilahirkan sebenarnya sudah bajik), setiap orang
sebenarnya orang baik semua. Asal engkau menghadapi orang
dengan hati nurani yang baik, maka orang lain juga akan
membalas engkau dengan cara yang sama baiknya. Seperti
nona Auyang itu, bukankah semula ia bermaksud mencelakai
aku" Tapi akhirnya ia yang telah memberikan obat
penawarnya kepadaku hingga jiwaku tertolong".
Baru pertama kali berkelana dikangouw Kang Hay-thian
sudah kebentur kejadian-kejadian aneh itu, bahkan hampir
jiwanya melayang secara tidak berharga dan tidak tahu apa
sebabnya, ia menjadi ragu-ragu apakah ucapan ayahnya itu
lebih tepatkah atau apa yang dikatakan neneknya itu yang
benar" Atau ucapan kedua orang itu semuanya benar atau
boleh jadi juga salah semua"
Semakin dipikir semakin ruwet, ia merasa sesuatu didunia
ini yang paling susah diraba ialah hati manusia. Ia menjadi
teringat kepada Auyang Wan. seorang nona jelita justeru telah
tersesat kejalan yang salah, ia merasa kasihan baginya dan.
merasa sayang pula. Memangnya pemuda berumur 16"17
tahun seperti Kang Hay-thian itu mudah terpengaruh. Watak
Hay-thian menurunkan watak jujur dan berbudi dari sang


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ayah. tapi juga terpengaruh sebagian sifat Suhunya. yaitu Kim
Si-ih. sifat yang suka ugal-ugalan
Belum habis ia bersemenanjung. tiba-tiba dari arah samping
sana satu penunggang kuda tampak mendatangi dengan
cepat. Penunggangnya seperti seorang Su-seng atau pemuda
pelajar. sampai di depan Kang Hay-thian, mendadak pemuda
itu menahan kudanya dan menegur dengan Kiongkhiu:
"Numpang tanya. apakah saudara bernama' Kang Hay-thian?"
Hay-thian terperanjat. pikirnya: "Jangan-Jangan datang
seorang yang hendak menjebak diriku lagi?" " Segera ia
waspada dan balas menanya: "Siapakah saudara, darimana
dapat mengetahui namaku"
Sikap pemuda itu ternyata sangat angkuh, tanpa
meninggalkan pelana kudanya ia berkata pula dengan dingin:
"Engkau tidak perlu urus siapa diriku. Aku hanya ingin tanya
padamu, engkau apa benar-benar seorang laki-laki sejati yang
punya keberanian dan bertanggung-jawab."
Hay-thian menjadi bingung, sahutnya dengan mengkerut
kening: "Aku tidak paham ucapanmu ini Apakah aku telah
berbuat sesuatu yang memalukan hingga aku tidak berani
bertanggung jawab?"
"O, jadi engkau masih belum tahu?" ujar pemuda itu
dengan tertawa dingin. "Ada seseorang hampir mati oleh
karena perbuatanmu, tapi engkau malah enak-enak
bersenandung disini?"
"Ngaco-belo?" semprot Hay-thian dengan gusar. "Siapa
orang nya yang hampir mati karena perbuatanku" Hm!" "
Dalam hati ia menjengek. justeru akulah yang hampir-hampir
mati menjadi korban kelicikan orang.
Rupanya pemuda itu seperti tahu apa yang terpikir oleh
Kang Hay-thian. segera katanya pula: "Apakah engkau sudah
lupa kepada si nona yang semalam tinggal sekamar dengan
engkau itu " Engkau hampir mati diracunnya bukan" Tapi
berkat obat penawar pemberian nona itu hingga jiwamu
tertolong, betul tidak" Dan sesudah kau selamat, sekarang dia
yang mesti menanggung akibatnya Gurunya telah mengetahui
kejadian semalam, dan sekarang juga telah menyekap nona
itu untuk dihukum mati bersama engkau jika sebentar lagi
engkau tertawan."
"Bagus, tidak perlu mereka menawan aku. sekarang juga
aku pergi kepadanya!" demikian seru Hay-thian dengan gusar.
"Nah. dimana dia sekarang" Tunjukan tempatnya!"
"Mereka tinggal disuatu rumah berbentuk bundar di lembah
pegunungan sana," sahut pemuda itu sambil menunjuk
dengan cambuknya. "Jika engkau benar-benar berani datang
kesana. lekaslah berangkat sekarang juga supaya nona
Auyang tidak banyak menderita siksaan."
Kang Hay-thian menjadi naik darah, teriaknya: "Baik.
sekarang juga aku berangkat kesana, masakah aku takut?"
Tapi baru saja beberapa langkah ia bertindak. tiba-tiba
pemuda itu menteriakinya lagi: "Hai, masih ada lagi sesuatu,
pabila engkau benar-benar seorang laki-laki sejati yang berani
berbuat berani bertanggung jawab. sekali-sekali jangan
engkau katakan siapa yang tunjukan engkau kesana."
"Baiklah, kenapa engkau ceriwis begini, memangnya aku
tiada punya permusuhan apa-apa dengan engkau, buat apa
mesti menyeret sangkutkan dirimu?" sahut Hay-thian
mendongkol. "Hm. mungkin kau jeri kepada mereka, tapi aku
tidak!" Belum selesai ucapan Hay-thian itu, pemuda itu sudah
lantas ayun cambuknya dan melarikan kudanya kejurusan lain
dengan cepat. Angin pagi yang meniup sepoi-sepoi basa membikin kepala
Hay-thian yang rada panas karena naik pitam tadi menjadi
dingin kembali. Tiba-Tiba ia tersadar: "Aneh. darimana
pemuda ini mengetahui pengalamanku semalam " Jangan-
Jangan suatu perangkap lagi?"
Setiap peristiwa menambah pengalaman Kang Hay-thian.
sekali ini boleh dikata terkaannya telah tepat separoh. Pemuda
itu sebenarnya adalah sekomplotan dengan orang-orang
semalam itu. termasuk pula sigadis bernama Auyang Wan itu.
Tapi setengah lainnya Hay-thian telah salah terka, sebabnya
pemuda itu datang minta Hay-thian pergi menolong Auyang
Wan itu bukanlah perangkap, tapi ada alasan lainnya.
Walaupun sudah timbul rasa curiga Kang Hay-thian. tapi
toh timbul pikirannya yang bertentangan: "Lebih baik aku
percaya kemungkinannya daripada tidak percaya. Paling-Paling
aku akan tertipu sekali lagi. sebaliknya Auwyang-kohnio itu
benar-benar akan dihukum mati gurunya lantaran telah
menolong jiwaku. bagaimana hati nuraniku dapat merasa
tenteram oleh pengorbanannya itu ?"
Berpikir begitu, terus saja Kang Hay-thian berlari kedepan
secepat terbang menuju kelembah pegunungan yang ditunjuk
itu. Sesudah dekat, benar juga dilihatnya ada sebuah rumah
kuno yang besar dengan bentuknya yang istimewa, atapnya
yang lonjong bulat miring kebawah itu lebih mirip sebuah
kuburan raksasa. Ditengah lembah pegunungan yang sunyi
senyap ditambah bangunan yang aneh itu. suasana waktu itu
menjadi lebih seram dan menimbulkan macam tafsiran yang
penuh rahasia. Meski hatinya rada was-was juga. namun Kang Hay-thian
ibarat anak banteng yang tidak kenal apa artinya takut, ia
pikir: "Sekali aku sudah datang, masakah aku mundur
ketakutan. Biarpun sarang harimau juga akan terjangnya!" "
Maka dengan penuh semangat segera ia mendekati pula
rumah aneh itu.
Kira-kira ratusan tindak didepan rumah itu. tiba-tiba
terdengar ada suara seruan orang: "He. Suheng yang mana
yang telah kembali ?" " itulah suara seorang wanita.
Segera terdengar pula suara seorang lelaki menjawabnya:
"Eh. tidak benar, ia seorang asing yang tak kita kenal!"
Hay-thian merandek. ia coba memperhatikan ketempat
datang-nya suara itu. ia lihat kedua orang itu kiranya
bersembunyi dibalik sebuah batu besar, waktu itu sedang
melongok untuk menantikan kedatangannya.
Diam-Diam Kang Hay-thian meragukan cerita sipemuda tadi
entah benar atau tidak, ia pikir boleh coba tanya kedua orang
ini. Maka segera ia menggunakan ilmu "Thoan-im-jip-bit". ilmu
mengirimkan gelombang suara dari jauh. untuk bertanya:
"Hai. numpang tanya. apakah diternpat kalian sini ada seorang
nona Auyang " Aku bernama Kang Hay-thian. aku ingin
mencari nona Auyang!"
Sebabnya Hay-thian menggunakan ilmu Thoan-im-jip-bit itu
tujuannya ialah supaya kalau Auyang Wan benar-benar
dikurung didalam rumah bundar itu. tentu akan ikut
mendengar ucapannya itu.
Sebaliknya demi mendengar pertanyaan Hay-thian itu. silelaki
dibalik batu itu lantas mengomel: "Bocah tolol ini berani
benar!" " Kontan saja "creng-cring" dua kali. dua butir peluru
besi terus disambitkannya kearah Kang Hay-thian.
Diam-diam Hay-thian mendongkol, serunya: "Kenapa
engkau begini kasar " Belum kenal sudah menyerang orang
sekeji ini ?"" Sambil berkata. tahu-tahu kedua butir peluru
besi itu sudah tertangkap oleh tangannya.
Menyusul. diam-diam Hay-thian mengerahkan tenaga
saktinya. tangannya masing-masing meaggenggan sebutir
peluru besi itu dan mendadak dilemparkan keudara. maka
terdengarlah suara benturan yang nyaring, kedua butir peluru
itu saling bentur hingga pecah berkeping-keping kecil dan
meletikan lelatu api. Dan pada saat itu pula, dua bilah Hui-to
atau pisau terbang siwanita juga sudah menyambar tiba.
Hay-thian sengaja hendak pamerkan kepandaiannya untuk
menakutkan lawan-lawan itu. Pada badannya memakai Pekgik-
kaho. yaitu satu diantara tiga pusaka tinggalan Kiau Pakbeng
dan tidak mempan senjata itu. Maka ia membiarkan
kedua bilah pisau musuh mengenai tubuhnya. terdengarlah
suara "crang-creng" dua kali, kedua pisau terbang itu terpental
dan patah menjadi empat potong oleh tenaga saktinya Haythian.
"Kalau ada apa-apa marilah bicara secara baik-baik.
mengapa baru ketemu sudah roenye.ang orang?" demikian
kata Hay-thian kemudian dengan tertawa.
Tapi tak terdengar orang menjawab. Waktu ia menegasi,
ternyata kedua orang itu sudah lenyap. Hay-thian menjadi
boran, pikirnya: "Kepandaian kedua orang ini hanya biasa
saja, masakan Ginkang mereka sedemikian lihay. hanya
sekejap saja sudah menghilang?"
Sudah tentu Hay-t'iian tidak tahu bahwa batu besar itu
sebenar nya kosong tengahnya, didalamnya terpasang alat
rahasia. Ketika kedua orang itu melihat Kang Hay-thian
sebegitu lihaynya, cepat mereka menyusup kecalam lorong
dan kembali melaporkan kepada pemimpin mereka.
Hay-thian masih ingat petunjuk neneknya tentang
peraturan-peraturan Kangouw, pikirnya: "Betapapun aku harus
minta bertemu dengan pemimpin mereka secara terangterangan
dan menurut aturan sebagai kaum lebih muda."
Karena itu. segera ia mendekati rumah aneh itu.
maksudnya hendak mengetok pintu, tapi ternyata tiada
pintunya meski sudah di-cari sekelilingnya. Hay-thian mencoba
meraba dinding rumah bundar itu. ternyata dinding itu terdiri
dari batu Hoa-kang-ciok yang besar lagi tebal, biarpun
membobol dinding itu dengan pedang pusakanya yang tajam
itu juga diperlukan waktu yang lama.
Hay-thian ragu-ragu sampai agak lama, akhirnya ia ketokketok
juga dinding rumah itu can berseru: "Wanpwe bernama
Kang Hay-thian, mohon bertemu dengan tuan rumah disini,
haraplah membuka pintu!"
Tiba-Tiba terdengar suara sahutan seorang sedingin es dari
dalam rumah aneh itu: "Kenapa engkau sendiri tidak masuk
saja, me-mangnya apa aku yang harus keluar menyambut
kedatanganmu?"
Suara orang itu melengking keras dan menusuk telinga
bagai gesekan benda logan hingga anak telinga Hay-thian ikut
mendenging. Bahkan perasaannya tergetar juga seperti
terbetot. Keruan ia kaget.
Ia pernah mendengar dari Suhunya. yaitu Kim Si-ih, bahwa
dalam kalangan Sia-pay ada semacam ilmu "Hou-hun-tayhoat"
atau ilmu membetot sukma, ilmu itu dapat mengganggu
ketenteraman pikiran seseorang dengan suaranya yang aneh.
akibatnya sang korban akan pening dan pingsan.
Maka diam-diam Hay-thian berpikir: "Kiranya tuan rumah
aneh ini benar adalah tokoh kelas lihay dari Sia-pay. entah
apakah dia inilah gurunya nona Auyang atau bukan?"
Oleh karena ilmu Lwekang yang dilatih Hay-thian itu berasal
ajaran Kim Si-ih yang merupakan kombinasi dari intisari
Lwekang aliran Cing dan Sia. maka begitu ia himpun tenaga
murninya. segera semangatnya yang rada kabur sudah pulih
kembali. Tiba-Tiba dilihatnya dinding didepannya merekah dan
menggeser ke-kanan dan kiri hingga berwujut sebuah pintu.
Kiranya adalah sebuah pintu hidup yang dapat membuka dan
menutup secara otomatis.
Terus saja Hay-thian bertindak kedalam dengan langkah
lebar. Ia mendengar suara seorang berkata, dengan sangat
lirih: "Besar juga nyali anak ini!" " Namun cuma suaranya
yang terdengar, tapi orangnya tidak kelihatan.
Didalam situ adalah sebuah jalan loreng yang gelap dan
hening, sekitarnya tiada bayangan seorangpun. Waktu sampai
dipo-jok sana, Hay-thian terhalang pula oleh sebuah pintu
besi. Tapi orang didalam itu seperti bermata sakti yang dapat
menembus dinding, terhadap setiap gerak-gerik Kang Haythian
seakan-akan dapat .melihat dengan sangat terang. Baru
saja Hay-thian sampai didepan pintu itu dan selagi pemuda itu
hendak mengetok, tahu-tahu pintu itu terpentang pula dengan
sendirinya. Begitulah seterusnya Kang Hay-thian telah melalui tiga
buah pintu, sesudah melampaui pintu ketiga. tiba-tiba
pandangannya Hay-thian menjadi terang1
Ternyata didalam situ adalah sebuah ruangan yang
menyerupal keraton. Empat pojek ruangan masing-masing
terdapat sebuah meja sembayangan. diatas meja masingmasing
tersulut sebatang lilin raksasa hingga ruangan itu
terang-benderang oleh cahaya lilin. Cuma sinar lilin itupun
sangat aneh. ber&emu hijau seram bagai api setan, maka
suasana ruang an itu menjadi lebih seram rasanya.
"Ditengah ruangan itu tampak berduduk seorang wanita
tua, rambutnya yang putih bagai perak itu terurai kebawah
hingga mencapai pundaknya. Hidung wanita itu besar
membetot dan matania melotot bengis, batok kepalanya
nonong dan menonjol. mukanya sangat jelek mirip perempuan
tenung yang jahat.
Disebelah kiri wanita tua yang jelek rupanya itu berdiri dua
pemuda, dan disisi kanannya berdiri pula dua wanita muda.
Segera Kang Hay-thian dapat mengenali seorang diantaranya
sebagai Sucinya Auyang Wan yang pernah bergebrak dengan
dirinya semalam itu.
Diam-diam Hay-thian memikir: "Barangkali wanita tua inilah
gurunya Auyang Wan. Pemuda itu mengatakan padaku bahwa
gurunya hendak menawan dan membunuh diriku, agaknya
belum tentu dapat dipercaya. Biarlah aku tetap
menghadapinya dengan sopan, akan kutanya dia lebih dulu."
Segera Hay-thian melangkah maju. dengan sedikit menekuk
lutut ia memberi hormat, lalu katanya : "Wanpwe Kang Haythian
memberi salam honnat kepada Locianpwe".
"Engkau adalah muridnya Kim Si-ih. penghormatan ini
terlalu berat untuk kuterima", sahut wanita tua itu dengan
dingin. Pada saat yang sama itulah tiba-tiba Kang Hay-thian
merasa lutut-nya seakan-akan kena ditepuk orang sekali
hingga lututnya yang sedikit tertekuk itu tegak kembali. Tapi
sebelumnya Hay-thian sudah ber-jaga-jaga kalau diserang
orang secara menggelap, maka ia telah gunakan kepandaian
"Jian-kin-tui" yang membikin bobot tubuhnya seberat ribuan
kati. penghormatannya itu tetap dilakukanniya sebagaimana
lazimnya. Mendadak kedua mata wanita itu memancarkan sinar
tajam. wajahnya mengunjuk rasa heran, namun ia terus
menanya pula dengan suaranya yang seram dingin: "Untuk
apa engkau ingin mencari Auyang Wan "'
"Nona Auyang ada budi padaku, aku kemari untuk
menghaturkan terima kasih kepadanya." sahut Hay-thian


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tenang. Tiba-tiba wanita tua itu tertawa hingga tertampak giginya
yang tidak rata dan kedua siungnya yang kuning
menyeramkan itu. Katanya kemudian: "Hm. tidak nyana
engkau juga punya perasaan. Baiklah, biarkan engkau
melihatnya sekali legi." " Berbareng iapun memberi tanda
dengan tangannya kebelakang.
Maka terdengarlah suara gemerantang yang nyaring. itulah
suara rantai besi yang terseret ditanah. Tertampak Auyang
Wan digiring keluar dengan tangan terbelenggu.
Hati Hay-thian tergetar, hanya berpisah sehari saja. wajah
Auyang Wan yang cantik molek itu kini telah menjadi lesu dan
lebih kurus bagai sekuntum bunga yang telah layu. Dengan
muka-nya yang pucat dan sepasang matanya yang mencelos
gadis itu sedang memandangi Kang Hay-thian dengan rasa
kuatir. Namun dari sorot matanya yang sayu itu dapatlah
dirasakan adanya sifat malu-malu dan kuatir. tapi ada pula
rasa yang menimbulkan simpatik orang.
Tak tertahan timbul rasa kasih-sayang Kang Haythian.
pikirnya: "Aku mengira setiap orang Suhu didunia ini pasti juga
akan sayang kepada muridnya bagai ayah-ibu sendiri, tapi
mengapa gurunya nona Anyang mi sedemikian kejam
kepadanya ?"
Dalam pada itu terdengar nenek itu sedang tertawa dingin,
dengan mendelik ia telah tanya Auyang Wan: "Nah. masih ada
apa lagi yang hendak kau katakan " Apakah sekarang kau
masih berani menyangkal bahwa obat penawar itu bukan
engkau yang memberikan pada bocah ini ?"
Suara wanita tua itu begitu dingin dan seram hingga
mendirikan bulu roma bagi yang mendengarnya. Maka
terdengarlah suara gedebuk. Anyang Wan telah jauh kelantai
dengan badan menggigil ketakutan.
Tak tahan lagi Kang Hay-thian lantas berseru: "Dosa
apakah yang telah dibuat oleh nona Auyang" Apakah
disebabkan karena dia telah memberi obat penawar padaku"
Jika benar itu sebabnya. perbuatannya yang mulia demi
menyelamatkan jiwa sesarna-nya. hal ini sepantasnya dipuji.
kenapa malah terbalik engkau hendak menghukumnya "
Engkau memutar-balikkan antara kebaikan dan kejahatan.
engkau kena! aturan atau tidak "'
"Hahahaha!" nenek itu terbahak-bahak geli. "Dengarlah
kalian, bocah ini malah hendak memberi kuliah padaku,
seakan-akan orang tua bangka seperti aku ini masih harus
belajar padanya tentang caranya menjadi guru orang. Nah.
Wan-ji. ingin kulanya padamu sekarang:. pasal pertama dari
larangan perguruan kita itu bagaimana bunyinya "'
"Barang siapa berani mendurhakai guru dan leluhur,
dihukum mati!" sahut Auyang Wan dengan suara gemetar.
"Bagus, jika kau toh masih ingat, kenapa sengaja engkau
melanggarnya?" tanya nenek itu dengan dingin. "Aku suruh
kau meracuni bocah ini dan menawannya. Kenapa engkau
malah memberikan obat penawar kepadanya "'"
Mendengar itu barulah sekarang Kang Hay-thian
mengetahui duduk perkara yara sebenarnya. Kiranya diantara
orang-orang yang hendak mencelakainya. termasuk Auyang
Wan, semuanya adalah atas perintah wanita tua ini. Keruan ia
terperanjat dan gusar pula. kanyanya dengan mendongkol:
Locianpwe, selamanya aku tidak kenal padamu, mengapa
engkau hendak membikin susah aku " Silahkan engkau
menerangkan alasannya!"
"Hahaha! Alasan " Hahaha!" nenek itu tergelak-gelak
mencemohkan Hay-thian. "Hanya jiwa seorang saja masakah
diperlukan alasan apa segala" Hahaha, usiaku sudah seianjut
ini, tapi selamanya aku belum pernah ketemukan orang yang
ajak bicara tentang alasan apa padaku."
Hay-thian menjadi murka, teriaknya: "Baik, sekarang
engkau tidak perlu susah-susah mencari aku lagi, aku sendiri
sudah datang kemari, lalu engkau hendak apakan diriku"
Hendak sembelih atau hendak dikorek?"
"Huh. apa yang engkau sibukan, belum lagi datang
giliranmu?" sahut nenek itu dengan tawar. "Wan-ji, majulah
kau kesini!"
Auyang Wan masih gemetar, tapi tidak berani
membangkang, ia mengesot kehadapan sang guru dengan
takut-takut. "Wan-ji," kata s nenek pula dengan tertawa dingin, "engkau
menyukai bocah ini bukan?"
Wajah Auyang Wan menjadi merah dan malu hingga tidak
tahu cara bagaimana harus menjawab.
Kang Hay-thian menjadi gusar. "Jangan engkau peduli dia
lagi. nona Auyang, guru yang berhati keji seperti itu jangan
kau pusingkan lagi. biar aku memberi hajaran setimpal
padanya!" Demikian Hay-thian membentak dan berbareng
menghantamkan telapak tangannya kearah sinenek.
Pukulan Hay-thian itu sangat hebat, pukulan Pik-khongciang
(pukulan dari jauh dengan bertangan kosong) itu
memakai sepenuh tenaganya, begitu hebat hingga membawa
serba suara gemuruh.
Sekalipun ilmu silat nenek itu sangat lihay, menghadapi
serangan Kang Hay-thian yang luar biasa itu, mau-tak-mau
membuatnya kaget juga. Cepat kedua tangannya dihantamkan
serentak, iapun balas memapak dengan Pik-khong-ciang yang
hebat. Maka terdengarlah suara "plak-plak". tahu-tahu nenek itu
sempoyongan dan mundur tiga tindak.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Hay-thian. dengan cepat
sekali ia pegang belenggu ditangannya Auyang Wan sinar
tajam berkelebat, juga sekali pedangnya bekerja, kontan saja
belenggu itu terkurung. Segera iapun berseru: "Nona Auyang.
lekas engkau melarikan diri! Suhu semacam ini jangan kau
sudi mengakui lagi!"
Betapapun cepat gerakan Kang Hay-thian itu untuk
menabas belenggunya Auyang Wan. namun nenek itupun
ternyata juga tidak kalah cepatnya. Pada saat itu juga. belum
lagi selesai ucapan Hay-thian. Tahu-tahu wanita tua itupun
sudah menubruk kearah-nya, sekali bergerak dengan gaya
tipu "Yu-liong-tam-jiau" atau naga hidup hendak mencakar.
sepuluh jarinya dengan kuku-kukunya yang panjang terus
mencakar kemukanya Hay-thian.
Kuku jari nenek itu ternyata merupakan suatu senjata yang
istimewa. Panjangnya luar biasa. rata-rata belasan senti
panjangnya. Diwaktu tidak digunakan dapat digulung, bila
hendak dipakai, mendadak bisa menjulur panjang. bahkan
berbunyi gemerincing mirip sepuluh bilah belati tajamnya
Kiranya "kuku" nenek itu sebenarnya buatan dari semacam
emas murni yang lemas, kuku palsu ia pasang diujung jari dan
sesudah terlatih masak dapa; digunakannya dengan hidup
sekali dan merupakan semacam senjatanya yang istimewa.
Tapi Kang Hay-thian dapat ganti serangannya dgn lebih
cepat, pedangnya ia puter. dengan tipu "Pek-hong-koan-jit"
atau pelangi putih menembus sinar matahari, mendadak ia
menusuk kedepan.
Gerakan kedua orang sama-sama seecepat kilat, tampaknya
serangan kedua belah pihak akan sama-sama mengenai
sasarannya. Tiba-Tiba Kang Hay-thian tergerak pikirannya:
"Meski dia jahat. tapi tidak seharusnya aku membinasakan
dia". Karena pikiran itulah. pedangnya sebenarnya menusuk ke
"Soan-ki-hiat" didada musuh, mendadak ia geser hingga
berganti arah memotong etangan sinenek itu.
Pertarungan diantara tokoh-tokoh kelas wahid sebenarnya
tidak boleh ragu-ragu atau ayal sedetikpun. dengan
kepandaian sinenek yang hebat itu, biarpun Hay-thian
mengeluarkan tipu serangannya yg paling lihay juga belum
tentu mampu membinasakannya hanya datam satu jurus saja.
Tapi kini ia ayal sejenak, ditengah jalan serangannya berganti
haluan lagi. kesempatan inilah telah dipergunakan musuh
dengan baik. maka terdengarlah suara "cring" sekali, kuku
nenek itu menjentik dan tepat menyocok lebih dulu ditangan
Kang Hay-thian hingga seketika pedangnya terjentik lepas dari
cekalan. Menyusul kedua tangan sinenek bekerja dengan cepat.
tangan kiri mencengkeram Kang Hay-thian dan tangan kanan
menjamberet Auyang Wan.
Tapi meski Hay-th'an sendiri terancam bahaya. ia masih
tidak lupa melindungi sinona. cepat ia berkelit sambil memutar
kesamping. telapak tangannya yang tajam bagai golok itu
memotong Sedengkul sinenek. berbareng tangan yang lain
mendorong pelahan-lahan. dengan cara yang sangat tepat ia
dapat mendorong Auyang Wan kepojok ruangan sana.
Serangan Hay-thian itu sangat lihay dan memaksa musuh
mesti menyelamatkan diri lebih dulu. betapapun ganasnya
nenek itu. terpaksa ia mesti berkelit juga. Akan tetapi karena
Hay-thian mesti mengerjakan dua tgas sekaligus, disaat
Auyang Wan sedang didorong pergi hingya langkahnya sedikit
ayal. betapa tajam matanya sinenek. segera kesempatan itu
digunakannya dengan baik. secepat kilat ia menubruk maju
lagi. sekali tangannya memukul lagi, seketika lingkungan
tubuh Kang Hay-thain sudah terkurung dibawah daya
serangannya. Mendadak Hay-thian mengendus bau amis yang
memuakan, itu lah bau amis yang teruar dari angin pukulan
nenek itu Dalam kejutnya Hay-thian tidak berani
menangkisnya dari depan, dengan mengandalkan Hon-teb-sinkang.
cepat ia membalik tubuh. Maka terdengarlah suara '
blang" sekali, punggung Haythian sengaja dipapakan kepada
pukulan sinenek.
Sebaliknya karena getaran tenaga sakti pelindung badan
Kang Hay-thian, nenek itupun terhuyung-huyung hampir
jatuh. Tapi sesudah kena pukulan itu, segera Hay-thian juga
merasakan punggungnya rada pegal dan gatal, rasanya sangat
tidak enak. Kiranya kuku-kuku palsu sinenek itupun telah dicelup
kedaiam racun. oleh karena kulit Kang Hay-thian menjadi lecet
oleh tutukan kukunya, racuiinya sudah menyusup kedaiam
daging. Untung racun dikuku wanita tua itu tidak selihay racun
dalam arak yang pernah diminum Kang Hay-thian itu. maka
segera pemuda itu menutup Hiat-to "Ciong-hiat"
dipunggungnya untuk menahan menjalarnya racun hingga
untuk sementara tiada halangan apa-apa.
Sungguh tak tersangka oleh Kang Hay-thian bahwa garagara
maksud baiknya tidak tega membinasakan wanita tua itu.
sekarang ia sendiri yang mesti telan pil pahit. Ia menjadi gusar
dan mendam perat: "Sungguh tidak kenal adat manusia
engkau ini. Selamanya kita tidak punya permusuhan apa-apa.
kenapa engkau begini keji dan ingin membinasakan aku"
Terpaksa sekaranga akupun tidak sungkan-sungkan lagi!"
"Hm, memangnya siapa yang main sungkan-sungkan
dengan engkau?" sahut nenek itu dengan tertawa dingin
Berbareng ia mengisar dan memukul pula, bau amis yang
memuakan itu lebih keras lagi daripada tadi.
Kini Kang Hay-thian sudah dapat mengenal betapa lihaynya
"Sin-coa-ciang" akan pukulan ular sakti dari sinenek. Sudah
tentu ia tidak membiarkan dirinya digebuk mentah-mentah
lagi. segera ia mengeluarkan langkah Thian-lo-poh-hoat yang
cepat. untuk mengatasi musuh lebih dulu dengan jentikan
keras "It-ci-sian-kang" segera ia tutuk urat nadi pergelangan
tangan sinenek.
Namun jari tangan wanita tua itu keburu dimekarkan hingga
kukunya yang panjang tajam bagai pisau itu dipakai memapak
selentikan Kang Hay-thian.
Hay-thian menyelentik dengan jarinya yang lebih pendek
daripada kuku sinenek yang panjang. terpaksa ia urungkan
serangannya itu sambil menggeser kesamping untuk
menghindari cakaran lawan yang telah menubruk maju lagi.
Kalau Hay-thian memegang pedang, sekalipun tidak dapat
lantas menang misalnya, tapi paling tidak juga takkan
terkalahkan. Kini kedua pihak sama-sama bergebrak dengan
bertangan kosong, sedangkan nenek itu telah melatih Sin-coaciang
yang berlumuran racun jahat, pada jarinya terdapat pula
kuku palsu yang me-nyerupai senjata tajam, maka Kang Haythian
menjadi kewalahan dan tidak berani sembarangan
mendesak maju, dengan demikian ia menjadi terdesak.
Makin lama pertarungan mereka makin sengit. Dalam
sekejap saja wanita tua itu sudah menyerang tujuh kali
dengan tipu-tipu keji, suatu ketika kuku nenek itu telah
mencakar kemuka Kang Hay-thian. untunglah dengan Thian-
Io-poh-hoat dapatlah pemuda itu menghindar. Tiba-tiba
terdengar suara jeritan kaget, sekilas Hay-thian melihat wajah
Auyang Wan pucat lesi dan terhuyung-huyung akan roboh,
rupanya saking tegangnya menyaksikan pertempuran itu. ia
menyangka barusan Hay-thian telah kena dilukai oleh
gurunya. makanya menjerit kuatir.
Saat itu Sucinya Auyang Wan juga berada dipinggir ruangan
Itu untuk mengawasi sang Sumoay, ketika melihat gadis itu
terhuyung-huyung. bukannya ia menayangnya, sebaliknya ia
memberi persen sekali tamparan kepipi Auyang Wan sambil
mendamperat: "Budak hina dina yang tidak tahu malu! Yang
engkau ingat cuma orang luar saja dan tidak pikir pada Suhu
sendiri lagi ya?"
Kiranya sang Suci itu biasanya sangat iri kepada Auyang
Wan karana gadis ini paling disayang oleh gurunya. Kini ada
kesempatan baik, terus saja ia mengumbar dendamnya, ia
menambahi dua kali tamparan pula dipipi Auyang Wan. lalu
mengambil sebuah belenggu baru untuk membelenggu pula
sang Sumoay itu.
Melihat itu. pikiran Hay-thian menjadi rada kacau, tiba-tiba
pandangannya terasa kabur dan gelap, kepala pusing dan
telinga mendenging. Kiranya racun dalam tubuhnya sudah
mulai menjalar. Meski dia memiliki Hou-teh-sin-kang yang
hebat, tapi karena hampir seluruh tenaganya telah digunakan
untuk melawan sinenek. tenaga murni yang dipakai
melindungi badan sendiri itu menjadi sangat berkurang. Hiatto
sendiri kurang rapat tertutup, racunnya lantas menjalar masuk
pelahan-lahan. Diam-Diam Hay-thian mengeluh bisa celaka. Betapa
lihaynya nenek Itu, sekilas saja keadaan Kang Hay-thian itu
sudah diketahuinya, sedikit kesempatan itu segera digunakan
olehnya. Cepat tangan kirinya menangkis hingga serangan
Kang Hay-thian yang sedang dilontarkan dikesampingkan,


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyusul mana sebelah tangannya te rus menyodok kedepan
dada pemuda itu sambil menggertak: "Kena!"
Hay-thian terkesiap oleh serangan musuh yang cepat itu.
tapi merasa gusar juga, pikirnya: "Engkau begini keji, terpaksa
aku-pun tidak peduli mati hidupku lagi, biarlah aku mengadu
jiwa dengan engkau!" " segera la kerahkan sepenuh
tenaganya dan memapak juga dengan tangannya.
Sebenarnya tenaga dalam Kang Hay-thian sudah terlatih
sampai tingkatan yang dapat dilontarkan atau ditarik kembali
sesuka hatinya. Siapa duga sekali ini telah meleset sama
sekali, maksud ada tenaga kurang, baru saja tangannya
memukul kedepan dan tenaga hendak dikerahkan, mendadak
"Sam-sing-hiat" didekat sikut tangan terasa kaku pegal
seakan-akan tertusuk oleh sebatang ja rum yang lembut tajam
hingga seketika lengannya lumpuh, tenaga yang dilontarkan
itu ternyata tergetar kembali, dan untuk selanjut nya sama
sekali la tidak bertenaga pula dan takbisa berkutik, tangan
yang memukul kedepan itupun menjadi kaku dan terangkat
lurus takdapat ditarik kembali. Keadaan Kang Hay-thian
menjadi seperti patung dengan wajah murka.
Kiranya Hay-thian telah kena didahului satu tindak oleh
wanita tua itu. telah kena tertutuk Hiat-tonya. Ilmu Tiam-hiat
wanita tua itu ternyata lain daripada yang lain. ia dapat
menggunakan kukunya yang panj-uig itu untuk menutuk. Hiatto
lawan. "To-hiat" atau mencomot jalan darah, ilmu sakti ini
jauh lebih li-hay daripada ilmu Tiam-hiat biasa.
Oleh karena kedua orang saling gebrak dengan kepandaian
tung gal masing-masing. soal waktu sedetik saja sudah akan
mengubah imbangan kekuatan mereka. Meski nenek itu
berhasil mencomot Hiat-to disiku tangannya Kang Hay-thian.
tapi karena tenaga dalam pemuda itu tadi juga sedang
dilontarkan, maka nenek itu tersentak juga oleh tenaga itu
hingga tubuhnya yang kurus itu mence-lat keatas sampai
berjumpalitan dua kali.
Sesudah nenek itu mengindiak tanah kembali dan dapat
menenangkan diri. ia lihat Kang Hay-thian sudah takbisa
berkutik bagai patung, ia terbahak-bahak senang, katanya:
"Hayolah unjukan pula kepandaianmu yang lain. betapapun
ganasnya kau juga tidak terlepas dari genggamanku!"
Sungguh gusar Kay-thian tak terkatakan. diam-diam la
mengeluh pula dan menyesal mengapa sampai kena
diselomoti orang.
Kalau bicara tentang kepandaian sejati. sebenarnya tidak
mung kin Hay-thian dikalahkan nenek itu. tapi sekarang toh ia
sudah kalah! Setelah bergelak ketawa, kemudian sinar mata sinenek
mengalih kearah Auyang Wan dengan tajam. Katanya dengan
dingin: "Hm. kau telah durhaka karena membela orang luar,
sebenarnya aku tak bisa mengampuni kau. Tapi mengingat
ibumu, biarlah aku memberi kesempatan satu kali lagi
padamu." " Ia merandek sejenak. tiba-tiba dengan wajah
senyum tidak senyum berkata pula: "Ya. tentu engkau ingin
dijodohkan kepada bocah ini bukan?"
Auyang Wan menjadi malu dan gugup hingga mukanya
merah, seketika ia menjadi gagu.
"Setelah kau jadi isterinya. segera akupun menerimanya
sebagai murid." demikian sinenek menyambung lagi. "Dengan
demikian keinginanmu bukankah tercapai dan sama-sama
baiknya" Tapi engkau tentu tidak melupakan peraturanperaturan
perguruan kita. Sebelum aku menerima murid
berasa! dari perguruan orang lain. lebih dulu dia harus minum
dua butir pil ini barulah aku merasa lega" " sam-bil berkata ia
terus Mengeluarkan dua butir obat pil dan meneruskan lagi:
"Wah, Wan-ji. kedua pil ini sekarang juga kuserahkan padamu,
apakah dia akan mati atau hidup, akan beruntung atau celaka.
semuanya tergantung ditanganmu!'
Sungguh bingung Auyang Wan tidak terhingga, jeritnya dgn
suara tajam: "Suhu. Aku..aku tidak dapat mencelakai dia!" "
Dan dengan sendirinya tangan yang semula diulurkan
kehadapan sang guru terus ditarik kembali seperti takut
dipagut ular. Maka kedua butir obat pil itu lantas jatuh
kelantai. Kiranya kedua pil itu adalah semacam racun yang dapat
menghilangkan pikiran sehat orang, barang siapg minum pil
itu seketika akan menjadi orang gendeng dan tidak ingat apaapa
lagi. yg dikenal cuma perintah sang majikan saja. Dalam
hal ini dengan sendirinya adalah perintah wanita tua bagai
nenek tenung itu.
Melihat kelakuan Auyang Wan. nenek itu menarik muka.
katanya pula dengan tertawa ?dingin: "Bagus, jadi kau tidak
mau menurut kesempatan yang kuberikan ini. Baiklah,
terpaksa aku menjalankan peraturan rumah tangga perguruan
kita untuk menghukum engkau. Sekarang biar kupunahkan
dulu ilmu silat bocah ini, akan kutembus Pi-pe-kut (tulang
lemas) dipundaknya. kemudian akan menjadi giliranmu untuk
mencicipi rasanya siksaan Sin-coa-ciang!"
Habis berkata. Pelahan-lahan ia lantas berjalan mendekati
Kang Hay-thian.
Pada saat itu juga tiba-tiba terdengar suara orang melapor:
"Hu-kaucu dari Thian-mo-kau mohon bertemu!" Tampak
nenek itu tercengang sejenak, katanya: "Sudah lama aku
tiada hubungan kekeluargaan dengan mereka, buat apa Le
Hok-sing itu datang kemari?"
Mendengar ucapan sang guru itu menyimpang dari
laporannya, kembali murid wanita yang memberi lapor itu
bertanya pula; "Apa kah Suhu akan menemui atau tidak?"
Wanita tua itu memikir sejenak, lalu sahutnya: "Baiklah, jika
tidak menemui dia malah akan menimbulkan curiga. Suruh dia
masuklah!"
Maka masuklah kemudian seorang laki-laki berbaju hitam
dengan dandanan yang aneh Rambutnya panjang menjulur
sampai di-pundak, wajahnya cakap seperti wanita,
dibelakangnya mengikuti dua ekor binatang aneh berbulu
emas. Kang Hay-thian pernah mendengar cerita dari Suhunya
tentang laki-laki berbaju hitam itu. Maka segera ia menduga:
"Tentu inilah Le Hok-sing yanq pernah mengacau ke Bin-san
dan dikalahkan Suhu itu. kini dia telah menjabat sebagai
Hukaucu (wakil ketua) dari Thian-mo-kau."
Ketika melihat kedua ekor Kim-mo-soan itu sangat galak
dan menakutkan, murid wanita sinenek yang membukakan
pintu rada jeri. Namun dengai tertawa Le Hok-sing telah
berkata: "Tidak perlu kuatir, kalau aku tidak memberi perintah,
mereka takkan sembarangan mengganggu orang."
Ketika ia bersuit pelahan. benar juga kedua ekor Kim-mosoan
yang dengan jinak lantas berdiri didekat pintu tanpa
bergerak lagi. Le Hok-sing memar dang sekejap kearah Kang Hay-thian
yang takbisa berkutik itu. lalu ia memberi hormat kepada
siwanita tua dan berkata: "Im-kohpo (nenek Im). harini
cucumu ini sengaja datang memberi selamat kepadamu."
"Le-hukau-cu tidak perlu banyak adat." nenek itu sedikit
membungkuk tubuh membalas hormat orang. "Numpang
tanya, hal apa yang membuat engkau memberi selamat
padaku?" "Ada beberapa komplotan yang mengincar diri bocah ini.
tapi kini dia telah jatuh dibawah tanganmu, bukankah hasil
usahamu ini pantas diberi selamat?" sahut Le Hok-sing sambil
menuding Kang Hay-thian.
"Hm. berita kalian sungguh cepat dan tajam juga." jengek
sinenek dengan sikap dingin.
"Untuk bicara terus terang, sebenarnya kami telah
diperintahkan oleh Kaucu untuk mengikuti bocah ini sepanjang
jalan." sahut La Hok-sing. "Baiknya sekarang dia bukan jatuh
dalam tangan orang luar, tapi dibawah tangan Kohpo sendiri.
Maka sudilah angkaa orang tua suka memberi muka
kepadaku, serahkanlah bocah ini kepadaku untuk
membawanya kembali sebagai prrtanggungan-jawabku
kepada Kaucu."
"Enak saja kau bicara. sinenek mendengus. "Kau akan
membawanya untuk menunaikan tugasmu kepada Kaucu
kalian, lalu dengan apa aku harus mempertanggung-jawabkan
kepada pemilik Kim-eng-kiong?"
Hay-thian tergerak mendengar ucapan sinenek. pikirnya:
"Eh. kiranya nenek she Im ini ada hubungannya dengan Kimeng-
kiong yang kutuju. Menurut orang she Le itu. katanya
masih ada beberapa komplotan lain yang mengincar diriku,
entah siapa-siapa saja mereka itu?"
"Hal ini memang Kaucu sudah tahu dan telah mengatur
jalan sebaik-baiknya." sahut Le Hok-sing "Kata beliau,
memang tela'i di-ketahuinya juga bahwa pemilik Kim-engkiong
itu juga inginkan bocah ini. tapi kenap beliau sendiri
tentu akan pergi ke Kim-eng-kiong untuk memberi
penjelasan."
Nenek itu tidak menjawab. ia berdehem sekali dan
bertindak kembali ketempat duduknya tadi.
Maka Le Hok-sing membuka suara pula: "Pada diri bocah ini
ada dua macam benda mestika yang asalnya adalah pusaka
tinggalan Kiau-cosu kami. barang-barang itupun harap engkau
orang tua suka mengembalikan semua".
Habis berkata, sekilas ia melirik kearah sigadis yang berdiri
di belakang nenek she Im itu. Kiranya Cay-in-pokiam yang
terlepas dari cekalan Kang Hay-thian tadi telah dijemput oleh
Sucinya Auyang Wan dan saat itu dijinjing olehnya sambil
berdiri di-sisi gurunya.
Namun dengan sikapnya yang tetap senyum-tak-senyum
itu. sinenek berkata pula: "Wah. banyak amat permintaanmu
ya. Ingin orangnya minta barangnya pula. Sungguh harapan
kalian muluk-muluk benar."
"Pabila Im-kohpo sudi meluluskan, sungguh Kaucu kami
akan berterima kasih dan bersedia memberi balas jasa pula."
kata Le Hok-sing.
Habis berkata. Le Hok-sing terus mengeluarkan satu
bungkusan sutera merah, ia membuka bungkusan itu hingga
akhirnya tertampaklah sejilid buku. Lalu katanya pula: "Ini
adalah salinan kitab Pek-tok-cin-keng. dengan ini kami akan
balas jasa Im-kohpo. tentunya engkau takkan merasa
dirugikan."
Tiba-Tiba sorot mata nenek itu memancarkan sinar yang
berkilauan, sekali raup terus saja ia sambar kitab itu dari
tangan Le Hok-sing.
Le Hok-sinq bergirang malah oleh perbuatan sinenek itu.
tanya-nya segera: "Jadi engkau orang tua telah menerima
siarat kami" Baiklah, silahkan menyerahkan pedang itu. lalu
dimana Pek-giokkah itu" Harap serahkan sekalian. Waktunya
sudah mendesak, aku tidak dapat menunggu terlalu lama
disini. biarlah aku lantas mohon diri dengan membawa serta
bocah itu."
Namun dengan dingin nenek she Im itu telah menjawab.
"Engkau boleh pulang saja dan beritahukan kepada Cumah
bahwa turunan Pek-tok-cin-keng ini telah kutahan disini.
Karena dia sudah berdiri sendiri, sudah seharusnya kitab
pusaka dari Cit-im-kau ini harus dikembalikan padaku. Pabila
ada yang hendak dia bicarakan. suruh dia datang ke Kim-engkiong
pada hari Tiong-khiu tahun ini. disana aku akan
bicarakan berhadapan dengan dia." " Habis ini ia lantas
berkata juga kepada seorang murid wanitanya: "Bawa bocah
itu kedaiam dan geledah badannya!"
Le Hok-sing menjadi gusar, serunya: ,He. engkau kenal
aturan tidak" Sudah terima barang kami, tapi tidak
menyerahkan orang-nya dan mengembalikan mestikanya."
"Hm. kau ini orang macam apa?" jengek sinenek "Kau
adalah orang luar. maka kau tidak tahu hubunganku dengan
Cumah. Hal ini adalah utang-piutang bersejarah ratusan tahun
lamanya. biar kujelaskan juga engkau takkan paham. Maka
bolehlah engkau pulang untuk tanya Kaucu kalian saja".
Seperti diketahui. "Cumah" yang disebut nenek itu adalah
nama kecilnya Thian-mo-kaucu. Karena itu. hati Le Hok-sing
tergerak, pikirnya: "Kaucu memanggil orang tua ini sebagai
Kohpo (nenek, saudara dari kakek), maka selamanya aku
mengikuti pang gilan Kaucu. Tapi diantara mereka toh
berlainan she. lalu hubungan kekeluargaan manakah
sebenarnya diantara mereka" Jangan-Jangan keluarga mereka
dimasa silam memang ada hubungan istimewa yang susah
diketahui orang luar?"
Akan tetapi Le Hok-sing ini paling setia kepada Thian-mokau
cu, setiap tugas yang diberikan kepadanya oleh Thian-mokaucu
pasti akan ditunaikannya dengan baik. Karena itu ia
tidak peduli lagi latar belakang apa diantara hubungan nenek
she Im itu dengan sang Kaucu. secera iapun unjuk gigi dan
menjawab: "Yang kuketahui cuma perintah Kaucu kami. hal ini
hendak engkau orang tua suka makli m Maka ingin aku ulangi
sekali lagi pertanya anku: Engkau mau serahkan bocah itu dan
benda mestikanya tidak?"
"Tidak, tidak sama sekali, dan engkau mau apa?" sahut
sinenek menjadi murka. "Hai, apakah kau berani coba-coba
main kekerasan padaku?"
"Mana aku berani menantang engkau orang tua?" sahut Le
Hok-sing dengan dingin. "Tapi kalau engkau tidak mau kasih,
terpaksa aku mengambilnya sendiri."
Habis berkata, terus saja ia bersuit panjang sekali. Dan
begitu suara suitan terdengar serentak kedua ekor Kim-mosoan
tadi melompat maju. yang seekor menubruk kearah
Sucinya Auyang Wan dan yang lain menubruk kearah Kang
Hay-thian. Kaka-guru Auyang Wan adalah sigadis yang menjinjing
pedang rampasan dari Kang Hay-thian itu. Ketika mendadak
melihat seekor Kim-mo-soan menubruk kearahnya. saking
kagetnya hampir-hampir semangatnya terbang meninggalkan
raganya. Dalam gugupnya selagi dia hendak mencabut pedang
untuk melawan. tahu-tahu cakaran Klm-mo-soan itu sudah
menyelonong tiba, sekali pegang, terus saja Pokiam
ditangannya itu kena direbut binatang itu. Untung Kim-mosoan
itu tujuannya cuma merebut pedang saja hingga dia
tidak terluka. Sedang Kim-mo-soan yang menubruk kearah Kang Haythian
itu hampir-hampir saja celaka kena diserang oleh nenek
she Im. Tadi ketika mendengar suitan Le Hok-sing. segera
nenek itu tahu Hukau-cu itu sedang memberi komando kepada
kedua ekor Kim-mo-soan untuk menyerang. Maka sekali


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

melesat, cepat sekali ia sudah men dahului melompat
kesamping Kang Hay-thian. begitu Kim-mo-soan itu menubruk
tiba. kontan ia papak dengan sekali pukulan.
Melihat kehendaknya dirintangi. Kim-mo-soan itu
menggerung sekali terus berdiri tegak bagaikan manusia,
iapun ulur kedua cakarnya untuk mencengkeram kemuka
sinenek. Tapi binatang itu cuma tenaganya saja teramat besar dan
gerak-geriknya cepat. tapi apapun juga tidak bisa melebihi
seorang jago silat pilihan seperti sinenek yang mahir berkelit
atau menghindar. Maka dengan mudah saja sinenek
mendakan tubuh dan menggeser kesamping, luputlah"
cakaran Kim-mo-soan itu. Sebaliknya karena terlalu keras
tubrukannya itu dan tidak dapat menahan diri. binatang itu
terus menubruk lewat disisi sinenek.
"Binatang kurangajar!" damperat sinenek. berbareng
tangannya terus membalik, "plak". bokong Kim-mo-soan itu
tepat kena di-gablok dengan keras.
Sekalipun kulit daging binatang itu sangat tebal dan keras,
tapi kena pukulan dengan Lwekang itu. ia menjadi kesakitan
juga. seketika binatang itu terguling-guling ditanah sambil
mengeluarkan suara gerangan yang mengeramkan.
Sebaliknya karena kuku sinenek tidak mempan melukai kulit
Kim-mo-soan. saking keras pukulannya hingga akar kukunya
juga mengeluarkan darah. Dan selagi hendak maju pula untuk
menghantam Kim-mo-soan yang lain, tiba-tiba sinar dingin
berkelebat didepannya. Le Hok-sing telah mengeluarkan Giokjio
atau mistar kemalanya sambil merintangi didepan sinenek.
"Memukul anjing juga mesti memandang majikannya. kau
telah menyerang Kim-mo-soan piaraanku, maka jangan kau
salahkan akupun berlaku kurang sopan." demikian kata Le
Hok-sing dengan gusar.
Nenek itu tahu Le Hok-sing adalah keturunan keluarga Le
yang pasti lihay ilmu silatnya. tapi melihat usianya masih
muda. betapa pun ia tidak pandang berat, maka jawabnya
dengan tertawa di-ng'in: "Hm. kalau sudah hajar Kim-mosoanmu.
lantas kau mau apa- Enyahlah dari sini!" "
berbareng tangannya terus menjulur kedepan. sepuluh kuku
jarinya yang tajam bagai pisau itu lantas mencakar kearah Le
Hok-sing. Meski usia Le Hok-sing masih muda. tapi dalam hal ilmu
silat sesungguhnya sudah tergolong kelas satu. Dahulu waktu
bertempur melawan Kim Si-ih di Bin-san. untuk
mengalahkannya juga Kim Si-ih harus bergebrak sampai lebih
30 jurus. Kini ia menjadi gusar oleh lagak sinenek itu. segera
iapun balas men-damperat: "Bagus, jadi engkau anggap lebih
tua. lantas hendak berlagak padaku ya" Hm. aku justeru tidak
mau pergi, ingin kulihat cara bagaimana engkau
mengenyahkan aku?"
Belum habis ucapannya. secepat kilat sepuluh kuku jari
sinenek sudah mencakar tiba. namun sedikit menggeliat dan
menggeser, dengan "Thian-lo-poh-hoat" yang lincah Le Hoksing
telah dapat menghindarkan, serangan itu, bahkan mistar
kemalanya berbareng menghantam balik untuk mengetok
tangan sinenek.
Gusar nenek itu tak terkatakan. "Lepas tangan!" bentaknya
sengit, berbareng iapun mengisar dan jarinya menjentik.
Seka" ini serangannya ternyata sangat tepat, sasarannya
sedikitpun tidak meleset. Giok-jio lawan tepat dipapak oleh
jentikannya itu. Dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang
sempurna, nenek itu menyangka sekali jentik tentu akan
membuat lawannya tak berkutik atau paling tidak tentu dapat
mementalkan senjata lawan dari cekalannya
Tak tersangka olehnya bahwa Kong-lik atau keuletan
Lwekang si Le Hok-sing itu memangnya setarap dengan dia.
apalagi Giok-jio yang digunakan itu adalah pusaka tinggalan
Kiau Pak-beng. meski panjangnya cuma 20"30 senti, namun
kadarnya sangat antap. ketika kuku sinenek yang terbuat dari
logam itu membentur Gick-cio itu. bukan saja mistar itu tidak
bergeming sedikitpun. sebaliknya kuku sinenek menggehnting
balik malah hingga pangkal kukunya ikut kesangkitan luar
biasa, sampai orang tua itu menjerit saking tak tahan.
Dalam pada itu Kim-mo-soan yang dirobohkan oleh sienek
tadi sudah berbangkit kembali dan sedang mengincar orang
tua itu dengan beringas. Dari sikapnya yang buas dan
menakutkan itu. tampaknya setiap saat akan menubruk pula
kearah sinenek dan membcsetnya menjadi dua potong.
Untung sebelumnya Le Hok-sing telah memberi tunda dan
membentak: "Soan-ji. aku tidak perlu bantuanmu, lekas kau
hantar pulang orang itu lebih dulu!"
Karena perintah sang majikan itu. dengan agak ogahogahan
Kim-mo-soan itu lalu memutar kesana terus angkat
Kang Hay-thian yang tak bisa berkutik itu untuk selanjutnya
dikempit dibawa lari keluar. Karena tidak dapat bergerak apaapa.
terpaksa Kang Hay-thian menyerah kepada nasib dan
membiarkan dirinya diperbuat sesukanya oleh binatang itu.
Sudah tentu sinenek tidak membiarkan tawanannya
digondol lari Kim-mo-soan itu. sekali ayun tangannya.
segenggam jarum berbisa terus dihamburkan kearah binatang
itu dengan tujuan membutakan matanya. Namun dari samping
Le Hok-sing keburu melontarkan sekali hantaman Pik-khongciang
hingga hujan jarum beracun itu kena dibuyarkan
kejurusan lain.
"Hm. apa engkau ingin kedua ekor Kim-mo-soan itu tinggal
di sini saja. kau kira akan lebih menguntungkan kau" Haha.
bukan mustahil engkau akan lebih cepat keok malah?"
demikian Le Hok-sing mengolok-olok dengan tertawa.
"Sudahlah, mari kita satu-lawan-satu saja. biarlah aku sendiri
belajar kenal lebih jauh dengan kukumu yang beracun itu!"
Dalam murkanya sinenek pikir ada benarnya juga ucapan
Le Hok-sing itu. Pabila kedua ekor Kim-mo-soan itu tetap
tinggal disitu. betapapun dirinya menanggung risiko akan
dikeroyok. Karena itu. biarpun hatinya tidak rela. terpaksa ia
menyaksikan begitu saja kedua ekor Kim-mo-soan itu
menggondol lari Po-kiam dan orang tawanannya.
Segera kedua orang kembali bergebrak pula. Kini sinenek
sudah waspada dan tidak berani membentur Giok-jio lawannya
lagi. Sebaliknya Le Hok-sing cukup tahu betapa lihnynya Sincoa-
ciang (pukulan ular sakti), dan kukunya yang berbisa,
maka iapun tidak berani keras-lawan-keras hingga kena
tercakar oleh kuku sinenek.
Begitulah dengan cepat sekali kedua orang itu saling gebrak
dan saling menghindarkan benturan jarak dekat. masingmasing
sama menunggu kesempatan baik untuk menyerang
Begitu sengit pertem puran mereka hingga angin pukulan
mereka men deru-deru keras dan para murid sinenek terpaksa
menyingkir jauh-jauh.
Dalam pada itu Kim-mo-soan yang menggondol lari Kang
Hay-thian tanpa ada sesuatu rintangan karena anak murid
sinenek sudah ketakutan kepadi binatang yang buas itu.
dengan leluasa Kim-me-soan itu berlari keluar dengan cepat
bersama dengan kawannya yang menggondol pedang pusaka.
Meski keadaan Kang Hay-thian takbisa berkutik, tapi
pikiran-nya masih sangat jernih. Dengan jelas dapat
didengarnya suara jeritan kuatlr Auyang Wan tadi. lalu dirinya
dikempit dan dilarikan Kim-mo-soan itu dengan secepat
terbang. Hanya sekejap saja tahu-tahu sudah keluar dari
lembah pegunungan itu.
Kang Hay-ihian sudah tidak pusingkan mati-hidupnya lagi.
pikirnya: "Sungguh tidak nyana kembali aku jatuh kedaiam
ceng-keraman Thian-mo-kau-kaucu pula. Diwaktu aku masih
kecil. ia sangat baik kepadaku, tapi sekali ini entah mengapa
dia telah kirim pemuda baju hitam itu tersama kedua ekor
Kim-mo-soan untuk menangkap diriku" Aku tidak kuatir diriku
tertangkap olehnya. cuma sinenek tukang tenung itu pasti
akan lebih murka dan entah siksaan keji apa yang bakal
diderita pula oleh nona Auyang?"
Tengah Hay-thian liengelamun. tiba-tiba dari depan
terdengar ada suara berdetaknya kuda. seorang penunggang
kuda tampak mendatangi. Sesudah dekat segera Hay-thian
dapat mengenali penunggangnya itu tak-lain-tak-bukan adalah
sipemuda yang memberi kabar kepadanya untuk menolong
Auyang Wan itu. Ketika mendadak melihat Kang Hay-thian
digondol lari oleh seekor orang utan. pemuda itu menjadi
kaget dan berteriak: "Hai. Kang-siangkong. kenapakah
engkau" Dimanakah Sumoayku. dapatlah dia menyelamatkan
diri?" " Belum selesai perkataannya. mendadak Kim-mo-soan
itu menggerung keras-keras. saking kagetnya kuda pemuda
itu sampai berdongkrak ketakutan dan meloncat kesamping.
lalu roboh takdapat bangun kembali, keruan pemuda itu ikut
terbanting hingga kepala pusing tujuh keliling
Kiranya saking takutnya kuda itu menjadi pecah nyalinya
oleh suara auman Kim-mo-soan hingga roboh terbinasa. Tapi
kedua ekor Kim-mo-soan d perintah oleh majikannya tidak
boleh semba rangan mencelakai jiwa manusia, maka mereka
hanya berlari lewat disamping sipemuda yang terjungkal jatuh
itu tanpa mengganggunya.
Dalam kuatirnya tadi pemuda itu telah kelepasan mulut
hingga mengaku siapa dirinya. diam-diam Kang Hay-thian
menjadi sadar duduknya perkara dan membatin: "Pantas,
kiranya dia adalah Su-hengnya nona Auyang. makanya dia
pesan wanti-wanti padaku agar jangan mengaku mendapat
petunjuk dari dia untuk menolong sinona. Tampaknya dia
sengaja hendak meminjam tenagaku untuk menyelamatkan
Sumoaynya. Padahal gurunya sangat kejam. tapi dia toh
berani menanggung risiko ini. Ehm. baik hati juga dia ter
hadap Sumoaynya!"
Begitulah kedua ekor Kim-mo-soan itu berlari terus secepat
terbang mendaki sebuah gunung ypng tinggi. Kim-mo-soan
yang mengempit Kang Hay-lh bn itu agaknya merasa kurang
leluasa, segera ia berganti cara. Hay-thian digendongnya
dipunggungnya. rupa nya iapun tahu keadaan Hay-thian tak
bisa bergerak, tangannya tidak dapat dipakai memegang,
maka ekornya yang panjang lantas digantolkan keatas hingga
mirip seutas tambang yang mengikat kenceng dipinggang
Hay-thian. Dengan demikian. Kim-mo-soan itu dapat berlari
lebih cepat dengan keempat kakinya.
Setelah melintasi sebuah lereng gunung, tiba-tiba
tertampak jauh d.depan sana ada dua titik hitam sedang
bergerak dengan cepat kearah sini Segera terdengar suara
seorang wanita sedang berkata: "Eh. mak. lihatlah kedua ekor
binatang aneh itu!"
Menyusul suara seorang wanita yang lebih tua telah
menjawab: .Ya, aneh, bukankah binatang-binatang ini adalah
Kim-mo-soan piaraan Hukaucu dari Thian-mo-kau?"
"He. dipunggung seekor Kim-mo-soan itu tergendong pula
seorang!" seru suara wanita yang muda tadi. "Ha, yang seekor
lebih lucu pula. mulutnya menggigit sebatang pedang
tampaknya!"
Tengah bicara. jarak kedua pihak sudah dekat. Waktu Haythian
memandang kedepan. ia melihat seorang wanita muda
belia bersama seorang wanita tua kira-kira berusia 50-an dan
rambutnya sudah mulai ubanan, sudah berada didepan situ.
Dari percakapan mereka tadi. terang mereka adalah ibu dan
anak. Wanita tua ttu agak bungkuk dan membawa tongkat. Sekali
tongkatnya menutul tanah. tahu-tahu orangnya terus melesat
kedepan beberapa meter jauhnya dengan cepat luar biasa,
bahkan tepat memapak kehadapan kedua ekor Kim-mo-soan
Diam-Diam Kang Hay-thian merasa heran, pikirnya: "Berani
sekali kedua wanita ibu dan anak ini, ternyata tidak jeri
kepada Kim-mo-soan ini!'
Tiba-Tiba didengarnyi wanita tua itu bersuara heran pula.
lalu katanya kepada sigadis: "Eh, pedang yang digigit Kim-mosaon
itu adalah sebatang Pokiam. bocah yang digendong Ini
besar kemungkinan adalah murid Kim Si-ih yang she Kang
itu." "Tapi mengapa bisa berada digendongan binatang ini?" ujar
sigadis. "Bukankah semalam Moa-ih-tojin melaporkan kepada
kita bahwa bocah ini sudah dapat ditawan Wan-moay".
.Ya. tentu, ada apa-apa yang mencurigakan." kata siwanita
tua. "Sudahlah, terpaksa aku tak dapat pikirkan apakah akan
bermusuhan dengan Thian-mo-kau atau tidak?"
Tengah berkata, jarak kedua pihak sudah tinggal beberapa
meter saja. Kim-mo-soan yang didepan lantas menggerung
pula ketika melihat ada orang merintangi jalan mereka,
berbareng terus menubruk kedepan dengan buas.
"Binatang buta. biar kucolok matamu supaya kenal siapa
nenekmu ini!" bentak wanita tua itu dengan gusar.
Sekonyong-konyong terdengar suara menderingnya benda
keras menyam-bar di udara. Hay-thian tidak tahu apakah Kimmo-
soan yang menggendongnya itu kena tertimpuk oleh
senjata rahasia lawan atau tidak, yang terang tubuhnya sendiri
terasa terkena sebutir sebangsa Thi-lian-ci atau biji teratai
besi. Menyusul siwanita tua lantas berseru: "Awas. Pik-ji!"
Dan aneh juga. Entah mengapa, pada saat itu juga Haythian
merasakan badannya seperti dapat bergerak kembali. Ia
coba menahan punggung Kim-mo-soan itu dengan sikunya
serta men-dongakan kepalanya. Dan pada saat itu juga tibatiba
terdengar berkeslurnya angin, tongkat siwanita tua
sedang mengepruk ke-atas kepala Kim-mo-soan yang
menggendongnya itu.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 6 Walaupun Kim Mo Soan itu sangat cekatan, tapi serangan
wanita tua itu sangat cepat, binatang itu keburu mengegos
sedikit, namun tidak urung bahunya juga keserempet oleh
hantaman tongkat. Saking kesakitan binatang itu sampai
berkuik dan mendadak melompat ke atas setinggi dua-tiga
meter untuk menubruk ke depan- Melihat kebuasan binatang
itu, wanita tua itu tidak berani memapaklnya, cepat ia
mengisar ke samping, berbareng tongkatnya hendak
disabetkan pula, namun Kim Mo Soan yang lain sudah ikut
menubruk juga ke arahnya.
"Binatang, apa kau juga cari mampus" bentak si wanita tua
sambil acungkan tongkatnya dengan gaya Ki Hwe Liau Thian
(Angkat obor Menerangi Langit), ujung tongkat tepat
mengincar kepala Kim Mo Soan itu. Apabila binatang itu berani
menubruk maju, pasti kepalanya akan berlubang oleh tutukan
tongkatnya.

Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sekonyong-konyong sinar pedang tampak berkelebat.
Kiranya Kim Mo Soan itupun sangat cerdik, melihat sang
kawan terancam dan insaf dirinya bukan tandingan wanita tua
itu. maka ia telah menirukan gerakan jagoan silat kelas wah
id, mendadak ia berdiri tegak bagaikan manusia dan pedang
pusaka rampasannya telah dilolos keluar olehnya. Sekali
pedangnya bergerak, krak, tahu-tahu tongkat si wanita tua
sudah terkutung sebagian-
Dalam kejutnya wanita itu masih memuji: Bagus Cay Im
Pokiam benar-benar tiada bandingannya di dunia ini
Berbareng tongkatnya ia tarik kembali untuk segera akan menj
erang pula dengan tipu lain. Tapi pada saat, itulah tiba-tiba
terdengar jeritan ketakutan anak gadisnya.
Kiranya Kim Mo soan yang menggendong Kang Hay-thian
dengan melompat setinggi dua-tiga meter itu tadi tidak terus
menubruk ke atas kepala wanita tua itu, tapi melayang lewat
kesana dan tidak membalik untuk membantu kawannya
mengerubut si wanita tua, sebaliknya lantas berganti haluan
dan menubruk ke arah si gadis.
Karuan si gadis menjerit kaget dan baru saja pedangnya
dilolos, tahu-tahu sudah kena dirampas oleh Kim Mo soan.
Ketika binatang itu mencakar pula, untung gadis itu sempat
berkelit namun bajunya terobek sebagian juga.
Cepat gadis itu enjot tubuhnya sekuat-kuatnya untuk
memanyat ke atas sebatang pohon-Tapi Kim Mo soan itupun
ikut meloncat, jaraknya cuma kacek beberapa senti saja
hampir-hampir tumit kakinya kena disambar oleh cakar
binatang itu. Coba kalau Kim Mo soan itu tidak menggendong
orang di punggungnya, pastilah gadis itu akan dipegang
olehnya. Karuan saja gadis itu ketakutan setengah mati dan
menjerit pula minta tolong sang ibu.
Dalam keadaan begitu, wanita tua itu tidak sempat memikir
untuk menyarang lagi Kim Mo soan tadi, terpaksa ia memburu
kesana menolong puterinya sambil membentak: Binatang
kurang ajar Berbareng iapun menimpukkan senyata
rahasianya pula untuk mengusir Kim Mo soan itu.
Namun secepat anak panah kedua ekor Kim Mo Soan sudah
lantas melesat ke depan. Bila kemudian wanita tua itu dapat
menolong puterinya turun dari atas pohon, sementara itu
kedua ekor binatang itu sudah melintasi beberapa lereng
bukit. Betapa tinggi wanita tua itupun tidak keburu
mencandaknya. Diam-diam Kang Hay-thian merasa geli di atas gendongan
Kim Mo soan itu. pikirnya: Kedua binatang ini benar-benar
sangat cerdik, Ternyata dapat memakai taktik akal licik. Purapura
menyerang sebelah sana, tapi terus lari melalui sini. ilmu
silat wanita tua itupun sangat lihay. Tampaknya tidak di
bawah suhu-nya nona Auwyang. Terdengar si gadis tadi
menyebut nona Auwyang sebagai Wan-moay (adik Wan)
Jangan-jangan Auwyang Wan juga puteri wanita tua ini"
dengan ilmu silatnya yang tinggi ini, mengapa mesti mengirim
puterinya sendiri untuk menjadi murid orang lain"
Teringat kepada Auwyang Wan, hati Hay-thian menjadi
hampa seakan-akan kehilangan sesuatu. Ia menarik napas
sekali, tiba-tiba terasa hawa murninya berjalan dengan sangat
lancar. Ketika dicobanya pula, benar juga tubuhnya sudah
dapat bergerak dengan merdeka.
Kiranya Kang Hay-thian dasarnya memang memiliki ilmu
Tiau To Hiat To yang aneh. sebabnya dia tak bisa bergerak
adalah karena kena sabetan kuku si nenek yang aneh hingga
tenaga dalam orang tua itu meresap ke dalam tubuhnya dan
mengganggu kelancaran jalan darah di urat nadi tempat Hiat
To yang terserempet, makanya menjadi kaku seketika. Tapi
tadi secara kebetulan tubuhnya kena tertumpuk sebiji Thi Lian
ci dari si wanita tua bersama gadisnya itu hingga Hiat To-nya
yang terganggu itu lambat-laun lancar kembali. Ditambah lagi
Hay-thian memang memiliki ilmu sakti pelindung badan
HouTeh sinkang, maka tidak antara lama dapatlah ia bergerak
seperti sediakala.
setelah berlari sejenak pula, tiba-tiba Kim Mo soan itu
berhenti dan mengeluarkan uara untuk memanggil kawannya,
kemudian saling mengusap dan menggesekkan badan dengan
mesra sambil merangkul leher Kim Mo soan yang
menggendongnya itu, Kang Hay-thian coba melongok ke
depan. ia lihat ujung mata Kim Mo soan itu meneteskan darah,
agaknya terluka oleh Am Gi (senyata rahasia) si wanita itu.
Untung tidak mengenai biji matanya.
Hay-thian memang selalu membawa obat luka, kini ia sudah
bisa bergerak. maka ia lantas mengeluarkan obat untuk
dibubuhkan di ujung mata Kim Mo soan yang terluka itu.
Merasa matanya menjadi segar dan tidak kesakitan lagi,
binatang itu berjingkrak-jingkrak senang. Ekornya perlahanlahan
digosok-gosokkan ke tubuh Kang Hay-thian sebagai
tanda suka-cita.
"sekarang kita sudah menjadi teman baik bukan" Nah,
ekormu boleh lepaskan badanku sekarang," ujar Hay-thian
dengan tertawa.
Padahal tenaga Hay-thian sebenarnya sudah hampir pulih
semua. Kalau mau, sekali ia meronta tentu dapat melepaskan
diri dari gendongan Kim Mo soan itu. Tapi ia tidak ingin
menyakiti binatang itu, maka sengaja omong secara baik-baik
dengan dia. Ternyata Kim Mo soan itu juga sangat cerdik dan seperti
paham maksud Kang Hay-thian. Ekornya yang mirip tambang
melilit di pinggang Kang Hay-thian itu lantas dikendorkan.
Maka dapatlah Kang Hay-thian menarik napas lega. Ia coba
lemaskan otot kaki tangan. Kemudian ia melompat turun dari
punggung Kim Mo soan, sekali sambar, segera Pokiam yang
digigit Kim Mo soan yang lain itu direbutnya kembali. Lalu
katanya dengan tertawa: sekarang kalian bolehlah pulang
sendiri Maafkan aku tak dapat berjalan bersama kalian lagi.
Habis berkata, segera la angkat kaki melarikan diri
Tapi tahu-tahu sesosok bayangan melesat lewat di atas
kepalanya. seekor Kim Mo soan telah melampaui di depannya
dan Kim Mo soan yang lain juga ikut menyusulnya. Ia menjadi
tergencet di tengah dan diserang dari muka dan belakang.
Dengan lengan mereka yang panjang itu, kedua Kim Mo soan
itu lantas menubruk ke arah Kang Hay-thian-
He, apakah kalian sudah melupakan persahabatan kita"
seru Hay-thian sambil tertawa dan berkelit.
Mendadak Kim Mo soan yang berada di depannya itu berdiri
tegak seperti manusia sedang menghormat padanya sambil
mulutnya bercuat-cuit beberapa kali.
Hay-thian dapat menangkap maksudnya, tentu binatang itu
ingin mengatakan dia terpaksa mesti menangkap kembali
pemuda itu sebab mereka harus tunduk kepada perintah
majikan, maka Hay-thian diharap maklum.
Namun Kang Hay-thian menggeleng-gelengkan kepala,
katanya: Aku sendiri masih ada urusan yang harus
diselesaikan, hendaklah kalian memberi jala n padaku.
Kedua ekor Kim Mo soan itu tampak garuk-garuk pinggang
mereka, sekonyong-konyong mereka mengaum tertahan dan
berbareng terus menubruk ke arah Kang Hay-thian.
Tapi dengan Thian Lo Poh Hoat yang cepat dan gesit, Kang
Hay-thian lantas menyusup lewat di bawah bahu Kim Mo soan
yang menubruk dari depan itu.
Tak tersangka Kim Mo soan yang menyerang dari belakang
itu sangat cekatan gerak-geriknya, terus saja ia memburu
maju dan menyambret pundak Hay-thian.
Dalam kagetnya Kang Hay-thian sampai menjerit. Padahal
Kim Mo soan itu cuma ingin menangkapnya hidup-hidup dan
tiada maksud hendak mencelakainya. Maka begitu mendengar
teriakan pemuda itu, segera la kendorkan cakarnya, sebaliknya
ekornya lantas melingkar ke atas hendak melilit badan Kang
Hay-thian. Namun dengan cepat pemuda itu lantas meloloskan
diri seperti belut licinnya.
Tapi kedua ekor Kim Mo soan itu masih terus menguber.
Tampaknya mereka bertekad mesti menangkap kembali Kang
Hay-thian. Mau tak mau Kang Hay-thian menjadi mendongkol,
bentaknya tiba-tiba Jika kalian masih menguber terus,
terpaksa aku akan berlaku kasar Berbareng cay in Pokiam
terus saja dilolosnya. Krak, pedangnya membacok ke samping
hingga sepotong batu terbelah menjadi dua. Menyusul ia putar
kencang pedangnya hingga sinar putih berkilauan.
Kedua ekor Kim Mo soan itu dapat memahami betapa
lihaynya Pokiam, tapi mereka hanya menghindar saja agak
jauh ke pinggir dan masih tetap tak mau meninggalkan Kang
Hay-thian. Tapi dengan memutar pedang pusakanya, dapatlah Haythian
menerjang pergi belasan tindak jauhnya. Dari belakang
ia masih mendengar suara gedebak-gedebuk. tanpa menoleh
juga ia tahu pasti kedua ekor Kim Mo soan itu masih
membututi dirinya.
Sekonyong-konyong Hay-thian membalik dan pura-pura
membacok. bentaknya dengan lagak sangat gusar: Apa kalian
ingin mampus" Hayo, lekas pergi danjangan merecoki aku lagi
Untuk sesaat kedua Kim Mo soan itu terpaksa melompat ke
samping untuk menghindar, tapi begitu Hay-thian berjalan
kembali mereka memburu pula dengan suara ribut.
Kang Hay-thian sudah sehari semalam tidak makan-makan
apa-apa, setelah berlari tak lama, ia merasa kepala pusing dan
mata berkunang-kunang, punggung juga mulai terasa gatalgatal
pegal. Rupanya tempat yang lecet tercakar oleh kuku
gurunya Auwyang Wan itu. Berkat Lwekang yang tinggi
semula Hay-thian masih dapat menahan menyalarnya racun
dari luka lecet itu. Tapi kini setelah badan lemas, racun dalam
badan mulai bekerja dan merangsang dengan hebat.
Diam-diam Hay-thian menjadi gopoh, pikirnya: "Betapapun
aku tak akan mampu meninggalkan kedua ekor Kim Mo soan
ini, kalau aku tidak membunuh mereka, sebentar bila
keadaanku sudah payah, tentu akan ditawan mereka. pula
kalau tidak lekas-lekas mencari suatu tempat sepi untuk
mengaso, bila racun sudah menyalar, pasti jiwaku juga akan
melayang sendiri"
Sebenarnya dengan ilmu silat Kang Hay-thian, ditambah
Pokiam yang berada padanya itu, kalau dia hendak membunuh
kedua ekor Kim Mo soan itu sebetulnya tidak susah. Tapi
mengingat binatang-binatang itu adalah kenalan lama gurunya
pula tiada bermaksud jahat pada dirinya, maka Hay-thian
tetap ragu-ragu dan tidak mau menggunakan pedang untuk
membunuh. sebaliknya kalau Hay-thian cuma main gertak
saja, kedua ekor Kim Mo soan itupun tetap tak dapat
dienyahkan Tengah Hay-thian merasa kewalahan karena recokan kedua
ekor Kim Mo soan itu, tiba-tiba terdengar suara burung
berkaok nyaring di udara. Hay-thian terkesiap. ia heran burung
jenis apakah itu sedemikian keras suaranya"
Dalam pada itu tiba-tiba segumpal awan hitam tampak
melayang turun dari udara, makin lama makin rendah.
sesudah dekat, kiranya bukan awan bukan mega, tapi seekor
rajawali raksasa. Lebar kedua sayapnya yang terpentang itu
sedikitnya dua-tiga meter luasnya.
Sambil berkaok-kaok beberapa kali, mendadak burung itu
menubruk ke bawah. Begitu hebat sambaran rajawali itu
hingga Kang Hay-thian tergeliat oleh sampokan angin sayap
binatang itu. selagi ia hendak membela diri dengan
pedangnya, tahu-tahu sasaran yang disambar oleh rajawali itu
kiranya adalah kedua Kim Mo soan
Berbareng kedua ekor Kim Mo soan itu meloncat ke atas
untuk memapak sambaran rajawali itu dengan lengan mereka
yang panjang. Brak, bulu rajawali itu tercabut secomot.
Mendadak kedua sayapnya bergerak. sekali pentang dan sekali
sabet, biarpun kedua ekor Kim Mo soan itu adalah binatang
yang kuat juga, tetap tidak tahan oleh tenaga sampokan
sayap rajawali. Baru saja mereka meloncat atau mendadak
sudah tersampokjatuh lagi. Tanpa ayal lagi rajawali itu lantas
menyambar ke bawah hingga kedua ekor Kim Mo soan itu
kena dicengkraman oleh kedua cakarnya yang tajam dan kuat
itu, terus dibawa ke udara. Kemudian kedua ekor Kim Mo soan
itu dilemparkan ke dalamjurang dari atas udara.
Hay-thian terkejut dan menyangka kedua ekor Kim Mo soan
itu pasti akan binasa .tak terduga, sejenak kemudian,
terdengarlah suara gerungan kedua ekor Kim Mo soan itu di
bawah jurang sana. Nyata binatang-binatang itu sang at
perkasa, dibanting dari udara setinggi itu toh masih belum
mati. Bila manusia dijatuhkan dari udara setinggi itu, boleh
jadi sudah hancur lebur menjadi bakso. Kejut dan girang rasa
Kang Hay-thian. Kejut karena rajawali raksasa itu ternyata
dapat mengalahkan kedua ekor Kim Mo soan dengan mudah
dan entah cara bagaimana akan berbuat terhadap dirinya.
Girangnya karena kini telah bebas dari recokan kedua ekor
Kim Mo soan itu.
Tapi aneh juga, rajawali itu ternyata sangat jinak padanya.
Binatang itu cuma terbang mengitar di atas kepalanya sambil
berkaok beberapa kali, lalu terbang pergi kemudian putar
balik. sayapnya bertepuk perlahan, habis itu terbang lagi
dengan lambat. Begitulah berulang kali, rajawali itu pergi
datang sambil mengitar di atas kepala Kang Hay-thian
Sudah tentu Hay-thian terheran-heran Akhirnya ia berkata
pada binatang itu: "Apakah kau maksudkan supaya aku ikut
pergi denganmu?"
Dengan sendirinya rajawali itu tidak dapat menyawab, tapi
terdengar ia bersuara nyaring sekali sambil mengitar satu kali
di atas kepala Kang Hay-thian. Begitu rendah terbang burung
itu hingga sayapnya hampir menepuk di atas kepala pemuda
itu, kemudian mendahului terbang ke depan seakan-akan
sedang menunjukkan jalan.
Karena heran dan tertarik, tanpa pikir lagi Hay-thian lantas
ikut di belakang rajawali itu. Pikirnya: "Apakah rajawali ini
adalah binatang piaraan orang dan sengaja datang buat
menolong diriku?"
Setelah berlari-lari mengikuti arah terbang rajawali itu,
akhirnya hari sudah dekat magrib. Kang Hay-thian
mendapatkan dirinya sudah berada di atas sebuah puncak
gunung yang terjal dan curam. Angin pegunungan meniup
dengan kencang. Hay-thian sudah lapar dan kedinginan pula.
ia benar-benar sudah payah dan kehabisan tenaga.
Sekonyong-konyong rajawali itu bersuara panjang sekali,
lalu terang tinggi ke angkasa. Hanya sekejap saja sudah


Kisah Pedang Di Sungai Es Pengemis Berbisa Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menghilang dibalik awan.
Diam-diam Kang Hay-thian mengeluh, baru sekarang ia
merasa menyesal telah mengikuti rajawali itu secara
serampangan hingga kesasar ke atas puncak gunung yang
curam. Kini tenaga sudah habis, untuk turun dari puncak
gunung itu terang susah. Kalau paksakan diri, boleh jadi bisa
mati tergelincir ke bawah jurang. Keadaannya sekarang
menjadi serba susah, maju tak bisa mundur pun salah. Lebih
celaka lagi ialah bekerjanya racun di dalam badannya semakin
hebat hingga kepalanya semakin pening rasanya.
Sekuatnya Hay-thian melangkah ke depan lagi, tiba-tiba ia
melihat di depan ada berkelipnya sinar api. Hampir Hay-thian
tidak percay akepada matanya sendiri Ia coba kucek-kucek
matanya dan menegas pula. Ya, memang tidak salah, itulah
berkelipnya sinar pelita. Remang-remang tampak pula ada
sebuah rumah menyelip di antar pohon-pohon yang rindang di
depan sana. Sementara itu pandangan Hay-thian sudah mulai kabur dan
kepala puyeng. sama sekali tak dapat berpikir lagi rumah
siapakah yang tinggal di puncak gunung setinggi itu dan
mengapa memasang Teng long (pelita lampion) di depan
rumahnya. Yang terpikir olehnya ialah tentang keadaan dirinya
yang sudah payah itu kini telah dapat diketemukan rumah
tinggal manusia yang dapat dimintai bantuan makanan dan
sekedar pondokan. Maka pelita itu baginya seakan-akan mercu
suar di tengah samudera raja bagi sebuah sampan yang
terombang-ambing di antara ombak samudera.
Hampir dengan seantero tenaganya, dengan susah payah
akhirnya dapatlah Kang Hay-thian mengesot sampai di depan
rumah itu. Tapi untuk mengetuk pintu ia sudah tidak sanggup.
Bruk. terjungkal dia tak kuat berdiri lagi. samar-samar
didengarnya suara merdu seorang gadis lagi berkata di dalam
rumah : "Eh, ayah Benar-benar ada orang datang".
Menyusul pintu terdengar dibuka dan muncul seorang gadis
jelita. Namun Hay-thian sudah tak kuat bicara lagi. Ia cuma
merintih sambil memegangi perutnya. Dengan susah payah
akhirnya tercetus suara dari mulutnya: "La". Lapar" Begitu lirih
suaranya sampai telinga sendiripun hampir-hampir tidak
mendengarnya. "o, kasihan" seru gadis itu.
Lalu dalam keadaan sadar tak sadar Hay-thian merasa gadis
itu telah memayangnya ke dalam rumah dan diletakkan di atas
pembaringan. Menyusul seperti suara seorang tua telah
berkata: "Paling penting tolong jiwa orang. Kenapa mesti
malu" Hayolah suapi dia" sejenak kemudian, Hay-thian merasa
mulutnya disuapi sesuatu yang cair.
Setelah kemasukan makanan, perlahan-lahan dapatlah
Kang Hay-thian memulihkan semangatnya. Waktu ia membuka
mata, ia lihat seorang tua dengan wayah merah bercahaya
sedang berduduk di depannya. Di tengah situ adalah sebuah
meja bundar, di atas meja terletak sekuali bubur yang masih
hangat dan mengepul. Di samping itu ada pula beberapa
mang kok sayur-mayur sebangsa tahu, abon, telur dan
sebagainya yang mudah ditelan. Di sebelahnya terdapat
seorang gadis dan sedang menyuapi dirinya dengan senduk.
Diam-diam Hay-thian menjadi heran, pikirnya: "Keluarga
orang macam apakah ini" Mengapa mereka seakan-akan
sudah tahu akan kedatanganku. pula di pegunungan sunyi
seperti ini sudah tersedia daharan yang cocok bagi orang yang
perlu perawatan?"
Dalam pada itu terdengar si gadis telah berseru girang: "Ah,
sudahlah mendusin sekarang"
Hay-thian meronta untuk duduk lebih tegak. lalu katanya:
"Terima kasih, nona Biarlah aku makan sendiri saja" Habis
berkata, terus saja ia terima senduk dan mang kok dari tangan
si gadis. Hanya sekejap saja seluruh bubur di dalam kuali dan
sayur-mayur di atas meja sudah disapu bersih olehnya ke
dalam perut. Melihat betapa lahapnya cara makan pemuda itu, diamdiam
si gadis jelita itu tertawa geli.
Hay-thian menjadi jengah, katanya kemudian dengan kikuk:
"Banyak terima kasih atas pertolongan Lotiang (bapak) dan
nona. sungguh aku memang sedang kelaparan sekali.
Numpang tanya, siapakah nama Totiang yang mulia" Mengapa
seakan-akan sudah tahu sebelumnya Cayhe bakal bikin repot
kesini?" "Aku bernama Hoa Thian-hong dan ini adalah puteriku, Inpik,"
sahut kakek itu "sudah biasa orang kesasar jalan di
pegunungan ini, maka setiap malam aku memasang pelita
kerudung di depan rumah agar yang kesasar dapat mencari
jalan kemari untuk menginap. Dengan demikian sekedar
dapatlah kami berbuat sedikit kebajikan untuk sesamanya."
Jawaban yang kurang lengkap membuat Kang Hay-thian
setengah percaya setengah ragu-ragu. Dan selagi ia hendak
menanya lebih jauh, namun si kakek sudah lantas mendekati
dan berkata kepadanya: "siang kong (tuan muda) tentu terlalu
lelah, silahkan mengaso sajalah. Ada apa-apa dapat kita
bicarakan lagi besok." Ia anggap Kang Hay-thian seperti anak
kecil saja, maka sembari berkata sambil tepuk-tepuk pundak
pemuda itu dengan ramah-tamah.
Kena ditepuk dan diraba dengan perlahan, aneh juga, Kang
Hay-thian merasa badannya menjadi segar dan hilang rasa
curiganya, tanpa merasa akhirnya ia terpulas.
Entah sudah berapa lamanya Hay-thian tertidur. Ketika tibatiba
ia terjaga oleh suara berisik suara burung dan membuka
matanya, ternyata cahaya sang surya yang gilang gemilang
sudah menyinari angkasa raya. Di depan sana ada sebuah
pohon besar dan rajawali raksasa yang dilihatnya kemarin itu
tampak hinggap di atas pohon sedan menjulurkan lehernya
yang panjang itu untuk melongak-longok seakan-akan sedang
mengintai dirinya.
Hay-thian merasa dirinya habis mimpi, ia pikir burung
raksasa itu mungkin adalah peliharaan si kakek she Hoa itu.
Pada saat itulah tiba-tiba didengar nya suara seseorang
yang sedang bicara dengan lantangnya: "Tampaknya ilmu silat
bocah ini memang sangat tinggi tapi pengalamannya yang
kurang, masih sangat hijau dalam pengembaraan."
Hay-thian menjadi kaget, jangan-jangan dirinya terjebak
dalam perangkap musuh lagi. Tapi segera pikirnya lagi: "Ah,
tidak mungkin. Kalau mereka bermaksud mencelakai aku, buat
apa semalam mesti menolong aku" Ia coba jalankan napas
dan lemaskan otot, terasa semuanya berjalan lancar tak
kurang apa-apa. Racun dalam tubuhnya juga terasa sudah
hilang bersih."
Lalu terdengar suara tadi berkata pula:
Hoa-locianpwe, beruntung engkau piara burung rajawali ini
hingga bocah ini dapat diselamatkan. Namun akibatnya
engkau menjadi bermusuhan dengan beberapa orang. Ai,
semuanya ini adalah gara-garaku saja."
Hay-thian coba berduduk dan memandang ke arah luar
jendela. Ternyata mereka yang sedang bercakap-cakap itu
berada di luar pelataran. Yang bicara adalah seorang laki-laki
setengah umur, bajunya berwarna-warni buatan dari
berpuluh-puluh potong kain kecil-kecil yang disambung satu
sama lain. Melihat dandanannya itu agaknya adalah seorang
pengemis. Ia menjadi heran, pikirnya: "Darimanakah
pengemis ini" selamanya kau tidak kenal padanya. Tapi dari
nada perkataannya tadi kedengarannya dialah yang minta si
kakek Hoa agar supaya menolong diriku. Teka-teki apakah
dibalik kejadian ini?"
Tengah Hay-thian tidak habis mengerti, didengarnya si
kakek Hoa itu sudah berkata: "Cong-laute, untuk bicara terus
terang, sebenarnya akupun sudah ada maksud bertemu
dengan majikan Kim Eng Kiong itu Toh, akhirnya aku pasti
bermusuhan dengan dia, soal cuma waktunya saja. Dan
bagaimana pendapatmu, apakah kaupun ingin ikut melihat
ramai-ramai kesana?"
"Aku sudah berjanji untuk bertemu dengan Ek pangcu di
Pek Ling Bio pada pertengahan bulan tujuh nanti," terdengar
pengemis setengah umur itu menyawab. "Maka tentang
perjamuan pada hari Tiongciu yang diadakan majikan Kim Eng
Kiong itu, entahlah apakah aku masih sempat ikut hadir atau
tidak?" Diam-diam Hay-thian ragu-ragu, ia tidak tahu tokoh macam
apakah Cukong atau majikan dari Kim Eng Kiong itu Dari lagu
ucapan kakek Hoa itu, kedengarannya orang tua itu kenal
asal-usulnya. Pikirnya pula: "Ek-pangcu yang dimaksudkan
pengemis ini tentu adalah Ek Tiong-bo, itu ketua Kay Pang
sekte selatan jika demikian, orang she Tiong inipun kambrat
dari Kay Pang."
Benar juga, segera terdengar si kakek Hoa berkata pula:
"Tiong- laute, lebih dahulu aku memujikan perundingan kalian
dari Utara dan selatan bisa dipersatukan kembali. selanjutnya
Thian Mo Kau pasti tidak berani sembarangan berbuat
sewenang-wenang lagi. Dan semua golongan dan aliran di
Kang-ouw juga pasti akan mengindahkan Kay Pang kalian."
Hay-thian terkejut mendengar sampai disini, tiba-tiba ia
sadar: "Ha, apakah barangkali pengemis setengah umur ini
adalah Tiong Tiang-thong, itu Pangcu dari Kay Pang Utara?"
Dahulu Hay-thian pernah mendengar cerita suhu-nya
bahwa Tiong Tiang-thong itu adalah tokoh pilihan di dalam
Kay Pang. Belum ada 30 tahun usianya sudah diangkat
menjadi Pangcu dari Kay Pang Utara. Hanya dalam beberapa
tahun saja, semua organisasi pengemis itu telah disusun
dengan baik sekali. sebenarnya Kay Pang sekte utara itu
sudah banyak mundur, tapi sesudah Tiong Tiang-thong
menjadi ketua, segera dapatlah ditegakkan kembali
kekuatannya. Bicara tentang umur, Tiong Tiang-thong jauh
lebih muda daripada Ek Tiong-bo, tapi dalam hal ilmu silat
mungkin Ek Tiong- bo tiada setengah tingginya daripada ketua
Kay Pang utara ini.
Kang Hay-thian jarang mendengar gurunya memuji orang
lain, sebab itulah nama Tiong Tiang-thong yang pernah
disinggung Kim si-ih itu sangat berkesan dalam benaknya.
Pikirnya kemudian "Hoa-locianpwe ini menyebut dia Tionglaute,
sedangkan dia mengatakan akan berunding tentang
peleburan antara Kay Pang Utara dan selatan dengan Ek
Tiong-bo, maka tidak usah disangsikan lagi pengemis
setengah tua ini memang Tiong Tiang-thong adanya Dalam
girangnya segera Hay-thian bermaksud keluar untuk
berkenalan dengan tokoh Kay Pang itu Tapi segera terpikir
olehnya bahwa orang sedang berunding urusan penting,
mungkin akan tidak senang kalau terganggu. pula bila orang
itu bukan Tiong Tiang-thong, tentu dirinya akan merasa malu.
Karena itu ia mengurungkan niatnya untuk keluar.
Dalam pada itu terdengar si kakek sedang berkata: "Kalau
dibicarakan, aku masih utang kebaikan kepada E k Tiong-bo.
Maka bila engkau bertemu dengan dia, sampaikan terima
kasihku kepadanya."
"Hutangmu kepadanya itu sudah kau bayar lunas, masa
engkau masih belum tahu?" demikian sahut si pengemis she
Tiong itu dengan tertawa. "Bahkan dia yang harus berterima
kasih kepadamu."
"Mengapa bisa begitu?" tanya si kakek she Hoa dengan
heran. "Kang-siauhiap ini adalah muridnya Kim si- ih, kepergiannya
ke utara ini adalah untuk kepentingan Bin-san Pay. Ek Tiongbo
sendiri adalah suheng-nya Kok Ci-hoa, pejabat ketua Binsan
Pay sekarang. Dari itu, sewaktu Kang-siauhiap ini
berangkat menuju ke utara, Ek-pangcu sudah lantas
mengirimkan kabar burung merpati kepadaku agar Kay Pang
utara membantunya bilamana perlu. Kini engkau telah
menolong dia, kebaikanmu ini sudah jauh lebih dari cukup
untuk membayar hutangmu itu."
"Hahaha, kiranya demikian, pantas kabar beritamu begitu
cepat," ujar si kakek Hoa dengan terbahak-bahak.
Dan baru sekarang Kang Hay-thian sadar juga, pikirnya:
"Ah, kiranya demikian Makanya selamanya aku toh tidak kenal
mereka, tapi d Elang Pemburu 3 Pendekar Cacad Karya Gu Long Pendekar Panji Sakti 7
^