Pencarian

Musuh Dalam Selimut 2

Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen Bagian 2


telah menjadi isteri orang, sepantasnya anak mesti punya
rumah tangga sendiri dan tidak dapat membikin repot kepada
ayah lagi."
Wanyen Tiang-ci melengak. Tanyanya: "Apakah maksudmu
kau hendak pindah keluar istana?"
Dengan suara pelahan Hui-hong mengiakan.
Maka Wanyen Tiang-ci berkata pula: "Tingkah-laku Tingkok
memang agak sembrono dan apa yang terjadi tadi
sungguh tidak pantas. Cuma aku pasti akan memarahi dia.
Harap kau jangan pikirkan peristiwa tadi lagi."
"Anak mana berani menyalahkan kakak." sahut Hui-hong.
"Cuma setelah kupikir ada lebih baik tinggal diluar istana saja.
Pertama untuk menjaga kehormatan istana, kedua juga untuk
menghindarkan prasangka orang seakan-akan Si-hiong
memperoleh kedudukan karena lindungan ayah".
6. Pembunuhan Di Malam Pengantin
Karena alasan Hui-hong cukup masuk diakal, dengan
sendirinya Wanyen Tiang-ci dapat menerima. Apalagi iapun
kuatir Ting-kok bikin onar pula bila Hui-hong tetap tinggal di
dalam istana, membikin malu istana masih tidak menjadi soal,
celakanya rencana yang telah diatur dan berjalan lancar
jangan-jangan akan runyam malah. Maka sambil mengangguk
ia berkata: "Kalian akan berumah tangga sendiri juga ada
baiknya. Tapi apakah kau tahu maksud tujuanku dengan
menyodohkan kau kepada Si-hiong?"
"Jika Si-hiong mempunyai sesuatu tujuan tertentu, tentu
gerak-geriknya akan sangat berhati-hati di dalam istana untuk
menutupi perbuatannya, maka ada lebih baik kalau
menyelidiki dan mengikuti tingkah-lakunya di luar istana," kata
Hui-hong. "Benar-benar anakku yang baik dan pintar, tidak
percumalah kasih sayangku kepadamu selama ini," puji
Wanyen Tiang-ci. "Sebenarnya aku hendak memberitahukan
maksud tujuanku padamu, tapi ternyata kau sudah dapat
memahami hatiku."
"Anak pasti akan memupuk kesetiaan Si-hiong kepada ayah
dan pasti takkan membiarkan dia punya maksud jelek", sahut
Hui-hong. Wanyen Tiang-ci merenung sejenak, kemudian berkata,
pula dengan suara pelahan: "Si-hiong adalah orang yang
dikirim oleh Tan-goanswe, pantasnya dia tidak perlu dicurigai,
cuma segala apa ada lebih baik berhati-hati. Aku ada suatu
akal untuk menguji dia begini ...... (ia membisiki Hui-hong).
Sesudah diuji, coba dia sanggup melakukannya tidak, habis itu
barulah kau pindah keluar istana."
"Sungguh bagus akal ayah puji Hui-hong. "Baiklah, malam
nanti juga anak akan menguji dia. Menyelang pagi tentu akan
ketahuan hasilnya."
Dalam pada itu Loh Si-hiong rada gelisah juga menunggu di
luar. Ia heran mengapa dirinya tidak dipanggil masuk kekamar
oleh dayang. Apa saja yang dibicarakan Ong-ya dengan
puterinya sesudah sekian lamanya mengantar pengantin
perempuan ke dalam kamar pengantin"
Diam-diam ia masih merasa curiga terhadap peristiwa di
tengah pesta tadi. Mengapa pangeran muda itu
memandangnya seakan-akan musuh besarnya" Apakah tidak
suka dirinya menjadi iparnya atau masih ada sebab-sebab
lain" Sebagai pemuda yang cerdik dengan sendirinya Si-hiong
juga dapat berpikir jangan-jangan dibalik kejadian itu
menyangkut pula persoalan asmara muda-mudi. Tapi yang
lebih dikuatirkan olehnya adalah kemungkinan dirinya dicurigai
oleh Wanyen Tiang-ci ayah dan anak itu. Bukan mustahil apa
yang diperbuat oleh Wanyen Ting-kok tadi justeru atas
suruhan ayahnya sebagai suatu ujian pula padanya.
Begitulah makin dipikir makin ruwet persoalannya. Teringat
olehnya ujian-ujian aneh yang telah dialaminya sejak
memasuki istana pangeran dan entah ujian apalagi yang
masih dihadapinya dikemudian hari.
Sementara itu bulan sabit sudah tergantung ditengah
langit, suara musik di tengah pesta di dalam taman sayupsayup
masih terdengar diseling dengan bunga api yang
gemilapan di udara. Namun di tengah suasana pesta pora
yang ria itu, Si-hiong merasakan hatinya teramat sunyi, tanpa
sadar pikirannya melayang-layang kembali ke tempat yang
jauh, kepadang rumput yang luas dimana bayangan seorang
nona cantik terkenang pula.
Tiba-tiba ia tersadar oleh suara kentongan dua kali. Tak
peduli untung atau buntung, yang pasti sebagai menantu
pangeran kerajaan Kim yang paling berkuasa harus
dilakukannya terus, demikian akhirnya Si-hiong meneguhkan
tekadnya. Pada saat itulah seorang dayang Tokko Hui-hong telah
keluar memanggilnya masuk kamar.
Waktu Si-hiong masuk kekamar pengantin, terlihat cahaya
lilin terang benderang, tirai setengah tergulung. Kamar
pengantin terhias dengan indah semarak dengan segala
kemewahan. Pengantin perempuan yang cantik bagai bidadari
tampak sudah menunggu.
Walaupun di dalam lubuk hati Loh Si-hiong tersimpul suatu
bayangan seorang nona lain, tapi menghadapi gadis cantik
seperti Tokko Hui-hong yang akan menjadi isterinya
betapapun hatinya berdebar-debar juga.
Tokko Hui-hong seperti tidak tahu masuknya Si-hiong ke
dalam kamar, sedikitpun ia tidak menggeser dari tempat
duduknya dan tidak mengangkat kepala untuk
memandangnya. Sungguh aneh, di malaman pengantin ini
bukannya gembira, sebaliknya pengantin perempuan
tampaknya muram durja.
Si-hiong menjadi ragu-ragu. Selang agak lama Hui-hong
masih diam saja. Terpaksa Si-hiong melangkah maju dan
menyapa lebih dulu: "Aku berasal dari keluarga yang rendah,
akupun tahu tidak sesuai memperisterikan Tuan Puteri, maka
bila sekiranya Tuan Puteri merasa tidak senang atas
perjodohan ini ........"
"Jangan kau berkata, demikian," sela Hui-hong tiba-tiba.
"Akupun serupa kau. Ayahmu adalah bawahan Tan-goanswe,
ayahku tidak lebih juga cuma punggawa Ong-ya. Asalkan kau
tidak mencela diriku, maka puaslah hatiku."
Lega dan nikmat rasa hati Loh Si-hiong, katanya pula:
"Terima kasih isteriku. Dan jika demikian, apakah kemurungan
isteriku adalah karena ada urusan lain"''
"Ya, memang aku sedang sedihkan sesuatu urusan," kata
Hui-hong. "0 entah urusan apa, dapatkah Tuan Puteri menerangkan
padaku?" tanya, Si-hiong. Dari panggilan isteriku berubah
menjadi sebutan Tuan Puteri pula, hal ini menunjukkan
guncangan perasaan Si-hiong yang tidak tenteram.
Baru sekarang Hui-hong menengadah, sambil menatap Sihiong
ia berkata: "Kau menikah dengan aku adalah karena
menurut perintah Ong-ya saja atau dengan setulus hati kau
suka padaku?"
Pertanyaan demikian terpaksa dijawab oleh Loh Si-hiong:
"Tuan Puteri cantik dan pintar tiada bandingannya, hamba
sendiri yang merasa beruntung dapat mempersunting Tuan
Puteriku, apalagi yang mesti kuharapkan pula," meski dia tidak
bicara secara jujur, tapi sesungguhnya di dalam hati kecilnya
telah menyukai Tokko Hui-hong.
"Jika begitu, jadi kau benar-benar suka padaku"'' Hui-hong
menegas. "Ya, semoga selama hidup ini hidup berdampingan dan
menghamba bagi Tuan Puteri," sahut Si-hiong.
Tersenyumlah Tokko Hui-hong, katanya pula: "Apakah kau
benar-benar akan menurut segala keinginanku, apa yang
kukatakan akan kau lakukan?"
"Ya, kelautan api, ke dalam air mendidih juga takkan
menolak," sahut Si-hiong.
"Baik, malam ini juga aku ingin minta kau melakukan
sesuatu, apakah kau sanggup?"
"Silakan Tuan Puteri mengatakan,"
"Malam ini juga aku minta kau pergi membunuh satu
orang." kata Hui-hong dengan suara pelahan.
Si-hiong terkejut. "Ah, tentunya isteriku hanya bergurau
saja?" katanya kemudian dengan tertawa. "Malaman
pengantin yang bahagia ini masakah aku disuruh membunuh
orang?" "Siapa yang bergurau padamu?" kata Hui-hong dengan
menarik muka. "Sebelum kentongan lima kali nanti bila kau
tidak pulang dengan membawa kepala orang itu, maka
kaupun jangan harap memasuki kamar pengantin."
Si-hiong ragu-ragu sejenak, tapi akhirnya menjawab:
"Baiklah, akan kulaksanakan. Siapakah yang harus dibunuh?"
"Di jalan Tiang-an sana ada sebuah Gang Kopiah, dimana
ada tinggal seorang pengusaha toko kulit, juragannya she
Nyo. Pernah satu kali aku hendak membeli kulit rase untuk
membikin mantel, tapi dia telah mengeluarkan kata-kata tidak
sopan. Pergilah kau membunuh orang she Nyo itu."
Tergetar hati Loh Si-hiong, sedapat mungkin ia mengekang
perasaannya itu dan dengan tenang menjawab: "Hanya
urusan sekecil ini membunuh orang itu, apakah ini tidak
........."
"Kau hendak berkata apakah ini tidak keterlaluan, bukan?"
Hui-hong menegas.
"O, tidak. Cuma kukira dosa orang itu tidak sampai mesti
dihukum mati."
"Dia berani main gila padaku, apakah ini urusan kecil" Hm,
baru saja kau mengoceh siap terjun ke lautan api bagiku
segala, tapi sedikit pekerjaan saja sekarang kau sudah
menolak dengan macam-macam alasan. Apa barangkali kau
kenal baik kepada orang she Nyo itu dan tidak sampai hati
untuk membunuhnya?"
Dengan mengertak gigi terpaksa Si-hiong menjawab: "Baik,
saat ini juga aku lantas berangkat. Sebelum kentongan kelima
aku akan kembali membawa kepalanya.''
"Hendaklah kau dengar yang jelas, juragan she Nyo itu
berusia tiga puluhan, berbadan sedang, rambut pendek dan
bergodek, pipi sebelah kiri ada tahi lalat besar dan paling
gampang untuk dikenali. Jangan kau salah membunuh orang
lain." "Dengan keterangan sedemikian jelas aku pasti takkan
salah membunuh." sahut Si-hiong.
Sudah tentu Si-hiong tahu bahwa Tokko Hui-hong
bukannya kuatir dia salah membunuh, tapi kuatir dia
sembarangan membunuh seorang lain lalu pulang sekadar
mempertanggung jawabkan tugasnya itu, sebaliknya orang
she Nyo itu sempat lolos. Tapi dengan menegaskan ciri-ciri
orang she Nyo itu, Si-hiong tak bisa menggunakan bukti
kepala palsu lagi.
Padahal Loh Si-hiong tidak perlu keterangan sejelas itu dari
Tokko Hui-hong, sebab terhadap orang she Nyo itu mungkin
Si-hiong jauh lebih tahu daripada keterangan-keterangan yang
ada pada Hui-hong.
Orang she Nyo pengusaha toko kulit yang dimaksudkan
Tokko Hui-hong itu adalah keturunan panglima Nyo dari
kerajaan Song, yaitu Nyo Leng-kong yang termashur. Sudah
tentu keturunan panglima keluarga Nyo itu tidak mungkin
jauh-jauh tinggal di negeri Kim bilamana tiada punya maksud
tujuan tertentu, dia memang punya tugas rahasia.
Malahan Loh Si-hiong juga tahu ilmu silat juragan Nyo itu
sangat tinggi, dirinya belum tentu dapat menandinginya.
Begitulah setelah meninggalkan istana, diam-diam Si-hiong
tersenyum kecut. Sungguh tak terduga bahwa Wanyen Tiangci
toh masih sangsi padanya dan sekarang barulah-benarbenar
suatu ujian yang berat baginya. Ia dapat menerka
bahwa sebabnya Tokko Hui-hong minta dia membunuh orang
she Nyo itu tentulah atas perintah Wanyen Tiang-ci. Dan kalau
orang she Nyo itu hendak dibunuh, maka teranglah bahwa
Wanyen Tiang-ci sendiripun sudah cukup tahu siapa dan apa
kerjanya orang she Nyo itu.
Betapapun beraninya Loh Si-hiong, sekarang dengan tugas
membunuh orang keturunan panglima Nyo kerajaan Song itu,
mau tak mau dia dicengkam juga oleh rasa gelisah dan takut.
Pergi kesana atau tidak" Membunuhnya atau tidak" Boleh
jadi dirinya tidak mampu membunuh orang, sebaliknya malah
jiwa sendiri melayang dibawah golok orang she Nyo, Tapi
kalau tidak membunuhnya tentu urusannya sendiri bisa
runyam. Dalam keadaan ragu-ragu, akhirnya ia sampai juga di jalan
yang dituju. Sementara itu kentongan sudah berbunyi tiga
kali, padahal kentongan kelima tugasnya harus selesai. Waktu
sudah mendesak dan tidak memberi kesempatan padanya
untuk berpikir pula sekalipun pikirannya masih belum pasti.
___ "Dia jadi berangkat dan membunuhnya atau tidak?"
demikian saat itu Hui-hong juga sedang mengemukakan
kesangsiannya kepada Wanyen Tiang-ci.
Sesudah memberangkatkan Loh Si-hiong segera nona itu
pergi menemui ayah angkatnya.
Dengan tertawa Wanyen Tiang-ci menjawab: "Ya, akupun
tidak tahu. Biarlah kita menunggu dulu, dalam waktu tidak
lama tentu dapat diketahui. Jika dia membunuh orang itu,
maka dapatlah kita mempercayai dia sepenuhnya. Kalau tidak,
maka dia pasti mata-mata musuh dari kerajaan Song."
"Tapi kalau....kalau dia sesungguhnya ingin mengabdi
kepada ayah dengan setia dan malah jiwanya melayang
dibawah golok orang she Nyo itu. Lalu bagaimana ......"
"Untuk ini kau jangan kuatir," ujar Wanyen Tiang-ci "Aku
sudah mengirim dua jago kepercayaanku dan selalu menguntit
di belakangnya. Asal dia bertempur sungguh-sungguh dan tak
sanggup melawan orang she Nyo, pada saat yang gawat
kedua jago utusanku pasti akan membantunya. Tapi kalau dia
berpikiran lain dan mau menyeleweng, maka kedua jago
itupun akan membinasakan dia. Anak Hong, apakah kau
benar-benar suka padanya?"
Tokko Hui-hong menjadi mengkirik sendiri. Pikirnya: "Cara
ayah ini sungguh keji dan ganas juga." Tapi dimulut ia
menjawab: "Ya, jika dia toh tak bisa dipercaya, buat apalagi
aku menjadi isterinya. Sekalipun ayah tidak membunuhnya
juga aku akan membunuh dia."


Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Apa yang diucapkan Hui-hong memang tidak pura-pura.
Jika Loh Si-hiong mata-mata musuh memang dia bisa
membunuhnya. Cuma dia justeru mengharap Si-hiong
bukanlah mata-mata musuh, sebab diam-diam dia sudah rada
suka padanya. "Caranya aku menguji dia begini adalah demi
kepentinganmu, anak Hong," kata Wanyen Tiang-ci pula.
"Coba pikirkan, jika dia tak bisa membuktikan kesetiaannya
mana boleh aku mengizinkan dia meninggalkan Gian-keng-ih
dan boleh pergi pulang setiap hari. Ya, jika dia tak dapat
pulang pergi setiap hari, lalu apa artinya lagi kau menjadi
isterinya" Jadi harap kau paham akan maksudku yang baik
ini." Muka Hui-hong menjadi merah, katanya sambil
menundukkan kepala: "Anak paham, terima kasih atas
perhatian ayah."
Tapi diam-diam ia benci kepada Wanyen Tiang-ci yang
telah menggunakan perkawinannya sebagai alat belaka.
Pikirnya: "Sekarang upacara pernikahan sudah selesai, aku
sudah menjadi isterinya. Tapi kalau ujian malam ini
membuktikan dia adalah mata-mata musuh dari kerajaan
Song, maka bukan saja ayah akan membunuhnya, bahkan
perkawinankupun akan gagal dan membikin susah hidupku
selanjutnya."
"Sebenarnya cara aku menguji dia ini masih terasa agak
sayang," kata pula Wanyen Tiang-ci dengan tertawa.
Hui-hong melengak karena tidak tahu arah ucapan ayah
angkatnya itu. Tanyanya: "Apa yang disayangkan ayah?"
"Kau tentu tahu bahwa sudah sejak lama aku mengetahui
siapakah orang she Nyo itu, jika aku mau membunuh dia
boleh dikata semudah tanganku sendiri. Tapi mengapa aku
menunggu sampai sekarang baru menyuruh Loh Si-hiong
membunuhnya?"
"O, jadi maksud ayah adalah mengulur tali pancing untuk
memancing kakap?" tanya Hui-hong, baru sekarang ia paham
duduknya perkara.
"Ha..ha..ha. kau sungguh pintar, anak Hong," Wanyen
Tiang-ci bergelak tertawa. "Jika orang she Nyo itu dibiarkan
tetap berusaha dengan toko kulitnya, maka setiap orang
Kanglam yang datang kemari tentu tak terlepas dari
pengawasan kita. Bukankah ini jauh lebih berguna daripada
kita membinasakan dia" Tapi sekarang disebabkan dirimu aku
harus menguji Si-hiong dengan mengorbankan nyawa orang
she Nyo itu, maka untuk selanjutnya bila mau menyelidiki
mata-mata musuh dari selatan terpaksa aku harus mencari
jalan lain dan tentu akan lebih banyak memakan tenaga dan
pikiran lagi."
"Sedemikian baik perhatian ayah kepadaku, sungguh anak
merasa terima kasih tak terhingga," kata Hui-hong. Tapi di
dalam hati ia berpikir: "Ya, cuma kuatirnya jangan-jangan tiga
pihak akan sama-sama runyam."
Apakah yang dimaksudkan "tiga pihak'' biarlah sementara
ini para pambaca boleh berpikir.
"Mungkin kau kuatir dia takkan lulus ujian terakhir ini
bukan?" tiba-tiba Wanyen Tiang-ci bertanya pula. "Waktunya
sudah hampir sampai, coba tunggu lagi sebentar dan segala
persoalan tentu akan menjadi jelas."
Hui-hong merasa tidak tenteram. Menunggu "sebentar"
ternyata dirasakan seakan-akan bertahun-tahun lamanya dan
mirip seorang pesakitan yang sedang menantikan keputusan
hakim. "Sudahlah, sekarang kau boleh merasa lega, dia sudah
pulang," tiba-tiba Wanyen Tiang-ci berkata.
Waktu Hui-hong pasang kuping, benar juga terdengar ada
suara orang memasuki pekarangan belakang. Tapi yang
datang apakah Loh Si-hiong atau bukan" Jika dia, apa dia
berhasil membunuh orang she Nyo itu"
"Coba kita keluar menyambut kedatangannya," kata Tiangci
dengan tertawa.
Dengan perasaan kebat-kebit Hui-hong ikut keluar untuk
memapak pulangnya Loh Si-hiong. Mendadak terdengar suara
"bluk", sesosok tubuh kebetulan melintasi pagar tembok dan
berdiri seakan-akan jatuh dihadapannya. Suara jatuhnya itu
rada berat. "Kan terluka, Si-hiong?" tanpa merasa Hui-hong berseru
kuatir. Yang datang ini memang Loh Si-hiong adanya. Ia telah
dapat berdiri tegak kembali. Lebih dulu ia memberi hormat
kepada, Wanyen Tiang-ci dan sengaja memperlihatkan rasa
terkejut, lalu berkata: "Kiranya ayah pangeran juga berada
disini." - Habis itu dia baru berkata kepada Hui-hong: "Tak
apa-apa, meski aku kena dibacok dua kali, untung tidak
parah." Wanyen Tiang-ci belum tidur, bahkan berada bersama
Tokko Hui-hong sedang menunggu pulangnya, hal ini memang
sudah di dalam dugaan Loh Si-hiong. Yang diluar dugaannya
adalah pertanyaan Hui-hong tadi, bukannya tanya dia berhasil
membunuh sasarannya atau tidak, sebaliknya menguatirkan
dulu lukanya. "Tampaknya dia benar-benar rada menaruh
cinta padaku," demikian pikir Si-hiong dan dengan sendirinya
timbul rasa mesra di dalam hati.
"Dari anak Hong kudengar kau disuruh pergi membunuh
seseorang, karena merasa kuatir, maka akupun menunggu
kau," kata Tiang-ci kemudian. "Tampaknya lukamu juga tidak
ringan, marilah kekamarku dulu untuk membalut lukamu."
Melihat sekujur badan Si-hiong bermandikan darah,
walaupun tidak cinta, tapi mengingat lukanya itu adalah
lantaran gara-garanya, Hui-hong merasa menyesal juga. Maka
ia sendiri lantas memayang Si-hiong ke dalam kamar untuk
membersihkan darahnya dan dibubuhi obat luka.
Dalam pada itu terdengar suara kentongan tepat dipalu
lima kali. "Untung tidak sampai gagal. Silakan periksa kepala
ini apakah benar orang yang harus kubunuh itu?"
Segera dari sebuah kantong kulit Si-hiong mengeluarkan
sebuah kepala manusia yang masih berlumuran darah.
Legalah hati Hui-hong demi mengenali kepala itu. Jelas kepala
itu bergodek dan berambut pendek, pada pipi kiri ada sebuah
tahi lalat besar, air mukanya yang tampak murka masih belum
hilang dari wajah yang telah meninggalkan tubuhnya itu. Huihong
sangat girang, katanya: "Benar, inilah orang she Nyo
yang telah kau bunuh."
Selagi Tokko Hui-hong mengamat-amati kepala yang
dibawa pulang Loh Si-hiong itu, adalah Wanyen Tiang-ci
sedang memperhatikan mimik yang timbul pada air muka Loh
Si-hiong pula. Perasaan Si-hiong pada saat itu sangat kusut, ia sedang
berpikir: "Jika orang she Nyo itu dibiarkan tetap hidup
memang ada gunanya bagiku, tapi juga ada ruginya. Setelah
dia terbunuh berarti aku telah berkurang seorang saingan
berat." Lantaran pikiran demikian, maka wayahnya sedikitpun
tidak mengunjuk rasa menyesal, sebaliknya malah berseri-seri
senang. "Apakah ilmu golok orang she Nyo ini sangat lihay"''
demikian Tokko Hui-hong telah tanya.
"Benar-benar sangat lihay," sahut Si-hiong. "Semula, aku
menyangka jiwaku akan melayang dibawah goloknya, siapa
tahu pada saat terakhir, waktu dia membacok dengan
goloknya, entah mengapa tangannya mendadak menjadi
lemas. Kesempatan itu tidak sia-sia bagiku, segera pedangku
menabas lehernya." - Ia bicara dengan tertawa, padahal
didalam hati masih merasa ngeri membayangkan detik
berbahaya tadi.
"Apakah kau ingin tahu mengapa tangan orang she Nyo itu
mendadak menjadi lemas?" tiba-tiba Wanyen Tiang-ci
bertanya dengan tertawa. Waktu ia menepuk tangan, segera
masuklah dua orang berbaju hitam. Setiap orang
menghaturkan sebatang jarum perak yang masih berdarah.
Baru sekarang Si-hiong sadar, katanya: "Banyak terima
kasih atas bantuan ayah pangeran secara diam-diam. Kiranya
juragan she Nyo itu sebenarnya dibunuh oleh kedua Toako
ini." "Bukan, bukan kami yang membunuhnya, tapi adalah Yang
Mulia sendiri," sahut kedua orang itu. "Jika Yang Mulia tidak
bertempur dengan gigih sehingga orang she Nyo itu terpaksa
memusatkan perhatiannya, mana bisa senjata rahasia kami
dapat mengenai sasarannya?"
"Sudahlah, kalian boleh pergi, laksanakan rencanaku, ciduk
semua begundal orang she Nyo itu," demikian Wanyen Tiangci
memberi tanda dan kedua orang berbaju hitam lantas
membeli hormat dan mengundurkan diri.
"Sekarang aku harus mengucapkan selamat kepada Sihiong
yang telah berjasa besar," kata Tiang-ci pula dengan
tertawa. Si-hiong berlagak tidak paham, jawabnya: "Hanya seorang
pedagang kulit saja, jasa apa yang dapat ditonjolkan?"
"Orang yang memiliki ilmu silat setinggi itu masakah cuma
seorang pengusaha toko kulit begitu saja" Biar kuterangkan
asal-usulnya yang sesungguhnya."
Padahal Si-hiong sendiri sudah tahu siapa sebenarnya
orang she Nyo itu. Katanya: "Sungguh tidak nyana bahwa dia,
sebenarnya adalah pimpinan mata-mata musuh kerajaan Song
yang diselundupkan kemari."
Wanyen Tiang-ci tidak bicara lebih banyak lagi, ia
mengeluarkan sebotol kecil obat bubuk dan menetesi kepala
orang she Nyo itu dengan setitik obat bubuk itu, hanya
sekejap saja kepala itu sudah hancur luluh menjadi air darah.
"Sekarang menjadi giliran anak untuk mengucapkan
selamat kepada ayah karena telah ditumpasnya suatu bahaya
besar," kata Si-hiong kemudian.
Disangkanya dirinya sudah boleh merasa lega setelah ujianujian
yang telah dilaluinya. Tak terduga Wanyen Tiang-ci
masih menggoyang kepala pula dan berkata: "Tidak, masih
ada suatu bahaya yang lebih besar. Orang ini sukar
diketemukan seperti setan yang tak menentu tempatnya.
Walaupun belum pasti apakah dia berasal dari kerajaan Song,
tapi jelas dia jauh lebih sulit dilayani daripada orang she Nyo
itu." "Siapa orang itu?" tanya Si-hiong dan Hui-hong berbareng
karena sama-sama terkejut.
"Tiada diketahui siapa namanya,'' sahut Tiang-ci. "Hanya
diperoleh keterangan bahwa dia mempunyai julukan Lam-hayciam-
liong (naga sembunyi dari laut selatan). Naga sembunyi
ini telah menyusup ke kotaraja kita ini, kita telah
mengerahkan orang untuk mencarinya, tapi belum dapat
menangkap dia. sebaliknya belasan jago kita malah sudah
terbunuh olehnya. Untuk selanjutnya boleh jadi diperlukan
juga tenaganya Si-hiong."
Si-hiong tergetar, sahutnya cepat: "Jika tenagaku
diperlukan, setiap saat aku pasti siap mengabdi bagi ayah."
"Sudahlah, bolehlah kalian kembali ke kamar untuk
mengaso, jangan sampai jasa yang telah kau buat ini
mengacaukan malaman pengantinmu", kata Tiang-ci akhirnya.
Setibanya kembali di dalam kamar pengantin, meski
pasangan pengantin haru itu sudah teramat letih, tapi mereka
toh tak bisa pulas.
"Siapakah "naga sembunyi" itu"'' demikian pertanyaan yang
timbul dibenak mereka.
Si-hiong memang pernah mendengar julukan "Naga
sembunyi dari laut selatan" itu, tapi tidak tahu siapakah
sebenarnya si Naga sembunyi itu"
7. Orang Aneh Dengan Tugas Aneh
Sang tempo telah lalu dengan cepat, Dalam sekejap saja
lima tahun sudah lampau.
Pada hari ketiga sesudah menikah Loh Si-hiong dan
isterinya lantas pindah rumah keluar istana pangeran. Rumah
mereka adalah bekas rumah orang tua Tokko Hui-hong yang
telah diperbaharui oleh Wanyen Tiang-ci.
Akan tetapi kehidupan selama lima tahun itu benar-benar
dirasakan sangat kaku dan hambar oleh Loh Si-hiong. Setiap
pagi ia berangkat ke Gian-keng-ih dan malamnya pulang ke
rumah, pulang pergi itu tetap dihantar oleh si kusir tua seperti
biasa. Sudah tentu, selama lima tahun ini suasana di rumah
tangga Loh Si-hiong juga sudah berubah sedikit. Terutama
keluarganya telah bertambah dua jiwa baru, yaitu tahun
kedua sesudah menikah Hui-hong telah melahirkan seorang
anak laki-laki dan tahun yang lalu bertambah seorang anak
perempuan. Makin lama Loh Si-hiong juga makin banyak mendapat
kepercayaan dari Pan Kian-hau. Kedudukannya di dalam
lembaga penyelidikan itu makin tinggi juga. Terhadap rahasia
Hiat-to-tong-jin juga, lumayan hasil penyelidikannya. Cuma
gambar patung itu memang terlalu luas dan jelimet, maka
sampai sekarang, hasil yang diperolehnya paling-paling baru
dua atau tiga bagian saja dari keseluruhannya. Ke-27 gambar
patung itu yang pernah dilihatnya juga cuma tujuh lembar
saja. Mengenai kitab Lwekang tinggalan Tan Hu itu hakikatnya
Si-hiong belum pernah melihatnya.
Sebagai menantu pangeran kerajaan Kim yang paling
berkuasa sudah tentu Loh Si-hiong mendapat penghormatan
istimewa. Tapi tata tertib di dalam Gian-keng-ih itu tetap
harus dipatuhi, seperti biasa, setiap hari pulang pergi dia
masih harus dikerudungi oleh si kusir.
Mereka suami-isteri juga sering berkunjung ke istana
pangeran untuk menyenguk Wanyen Tiang-ci. Wanyen Tingkok
sudah rada beda sikapnya, rupanya ia sudah tidak
memikirkan Hui-hong lagi, hal ini telah meringankan pikiran
Loh Si-hiong. Namun Si-hiong masih mempunyai dua persoalan pelik.
Pertama, entah kapan dia baru dapat membaca seluruh
rahasia patung tembaga serta kitab Lwekang tinggalan Tan Hu
itu" Kedua, siapakah "si naga sembunyi?" Teka-teki ini sampai
kini masih belum terpecahkan. Sejak malaman pengantin itu
dia mendapat tahu munculnya "si naga sembunyi" di kotaraja,
sejak itu pikirannya lantas tidak tenteram.
Ia tidak tahu siapakah si naga sembunyi itu. Cuma dari
seseorang pernah didengar sedikit keterangan tentang asal
usul naga sembunyi itu, katanya adalah seorang jago pilihan
dari kerajaan Song selatan, jejaknya sukar dibayangi karena
sangat pandai menyamar. Mukanya yang asli selamanya
belum dikenal, bahkan tua atau muda, laki-laki atau


Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perempuan juga belum diketahui. Jadi hanya sekelumit saja
tentang si naga sembunyi yang diketahui oleh Loh Si-hiong, ia
hanya diperingatkan agar hati-hati terhadap naga sembunyi
yang merupakan lawannya yang paling kuat.
Untuk menghadapi "naga sembunyi" itu Wanyen Tiang-ci
telah mengerahkan segenap anak buahnya yang paling cerdik
dan pandai, akan tetapi selama bertahun-tahun meski setiap
pelosok yang dicurigai di tengah kotaraja sudah diselidiki toh
jejak naga sembunyi itu masih belum diketemukan.
Tugas Loh Si-hiong yang paling penting adalah menyelidiki
rahasia Hiat-to-tong-jin, karena sudah sekian tahun jejak si
naga sembunyi tidak diketemukan, maka persoalan
menggerebeg mata-mata musuh itupun dikesampingkan
olehnya dan perhatiannya khusus dicurahkan dalam
pekerjaannya. Cuma iapun tahu, selama naga sembunyi itu
tidak muncul keadaan akan baik, tapi sekali bila naga itu
muncul, maka pasti akan merupakan lawannya yang paling
berat. Sekarang Si-hiong sudah punya keyakinan mampu
melayani Wanyen Tiang-ci sebab dia tahu sang ayah mertua
itu sudah tidak menaruh syak apa-apa lagi padanya.
Sebaliknya ia tidak punya keyakinan mampu melayani naga
sembunyi itu, lantaran itulah naga sembunyi itu tetap
merupakan suatu bayangan hitam yang mencengkam
sanubarinya. Hari itu, seperti biasa Si-hiong keluar dari kediamannya dan
siap menaiki kereta kuda yang hendak mengantarnya ke Giankeng-
ih. Menurut biasanya kusir tua itu seharusnya sudah
menunggu dia di depan rumah.
Akan tetapi hari ini ternyata ada sedikit perubahan. Kereta
kuda itu tetap berhenti di depan gedungnya, tapi kusirnya
telah berganti seorang baru.
Kusir baru ini berusia sangat muda, tampaknya belum ada
30 tahun. Wayahnya ada satu jalur bekas luka, air mukanya
kaku dingin sehingga membuat seram orang yang
memandangnya. Waktu Si-hiong keluar tadi kusir baru itu sedang
mengantuk di dalam kereta, sesudah dipanggil "Sam-ya"
beberapa kali barulah dia menongol keluar. Kusir tua yang
dulu she Moa dan bernama Sam. Si-hiong tahu Moa Sam
berkepandaian tinggi, untuk menghormatinya selalu Si-hiong
memanggilnya "Sam-ya" (tuan Sam).
Kusir yang baru itu hanya memandang dingin sekejap
kepada. Si-hiong dan menjawab: "Moa-samya tidak datang
lagi, selanjutnya akulah yang menggantikan dia."
Habis berkata ia lantas pentang kantong kain yang besar
seperti biasanya terus mengerudung ke atas kepala Si-hiong.
Peraturan ini adalah peraturan lama seperti biasa. Tapi
karena orangnya telah ganti orang baru, betapapun Si-hiong
merasa curiga. Pertama Gian-keng-ih itu adalah tempat yang
dirahasiakan, jika bukan orang kepercayaan Ong-ya sekali-kali
takkan diberi tugas sebagai pengantar Loh Si-hiong. Padahal
selama lima tahun keluar masuk istana pangeran, boleh dikata
semua orang kepercayaan Ong-ya sudah dikenalnya, namun
orang baru ini selamanya belum pernah dilihatnya. Kedua, jika
ganti pengantar mestinya sebelumnya Ong-ya akan
memberitahukan padanya. Ketiga misalkan dia memang benar
orang yang dikirim Ong-ya seharusnya, juga membawa
sesuatu tanda bukti atau pengenal, mengapa hanya
memberitahu secara lisan saja yang sukar dipercaya oleh Sihiong.
Karena hal-hal yang menyangsikan itu, ditambah lagi sikap
kusir baru yang aneh, dengan sendirinya Si-hiong menjadi
curiga dan kuatir jangan-jangan akan kena perangkap musuh.
Sebagai seorang yang sudah cukup terlatih, sedikit
menaruh curiga saja segera ia ambil keputusan. Ketika
kantong kain tadi menutup tiba, segera jari tangannya
menutuk kebelakang, "cret", dengan tepat kena sasarannya.
Pikirnya tak peduli siapa dia, yang penting robohkan dia dulu,
perkara belakang.
Ilmu menutuk Loh Si-hiong itu adalah kepandaian curian
yang dia pelajari dari lukisan Hiat-to-tong-jin itu, jadi ada
persamaannya dengan "Keng-sin-ci-hoat" yang dibanggakan
Wanyen Tiang-ci itu. Ilmu Tiam-hiat demikian sekali-kali sukar
dipunahkan oleh sembarangan jago silat biasa.
Maka begitu tutukannya mengenai sasaran, segera ia
hendak melepaskan kantong kain yang menutup kepalanya
itu. Tapi mendadak badannya terasa enteng. ternyata kusir
baru itu telah mengangkat badannya sehingga sedikitpun Sihiong
tak bisa berkutik lagi.
"He, kau mau apa?" terlak Si-hiong terkejut.
"Apakah Yang Mulia sudah melupakan tata-tertib Giankeng-
ih?" sahut orang itu dengan nada dingin. Sekali
tangannya bergerak, Si-hong lantas dilemparkan ke dalam
kereta. Orang itu bukan saja dapat membuka Hiat-to sendiri yang
tertutuk, bahkan dapat dengan kecepatan luar biasa sekaligus
membekuk Si-hiong. Betapa tinggi Lwekang dan jurus ilmu
silatnya sungguh membikin Si-hiong patah semangat.
Padahal ilmu silat Si-hiong sudah cukup lihay, selama lima
tahun ini banyak pula yang dapat dipelajari di Gian-keng-ih
itu. Tapi segampang ini kusir baru jang masih muda ini
ternyata dapat membekuknya, keruan ia mengeluh bisa celaka
apabila kusir muda ini adalah musuh.
Dalam pada itu kusir baru itu lantas melompat ke atas
kereta dan segera dilarikan.
Karena sudah sangat apal dengan jalanan yang menuju ke
Gian-keng-ih, biarpun kepalanya berkerudung, juga Si-hiong
mengetahui kereta kuda itu memang betul mengambil jalan
yang biasa ke Gian-keng-ih itu, baru sekarang hatinya merasa
lega. Kusir itu hanya mencurahkan perhatiannya pada
mengendalikan keretanya, sama sekali ia tidak menyinggung
hal Si-hiong menutuknya tadi seakan-akan tak pernah terjadi
apa-apa. Sebaliknya Si-hiong yang tidak tahan rasa ingin
tahunya segera ia tanya: "Dimana Moa-samya" Mengapa dia
tidak datang?"
"Dia sudah terbaring didalam peti mati, dengan sendirinya
dia tak bisa datang menyemput kau," kata kusir itu. Si-hiong
terkejut. "Dia ...... Moa-samya sudah mati?" tanyanya.
Kusir itu hanya mendengus pelahan saja tanpa menjawab.
Padahal dengan kedudukan Si-hiong sebagai menantu
pangeran yang paling berkuasa, selama beberapa tahun ini dia
hanya disanjung puja oleh orang banyak dan tidak pernah
dijengek atau dihadapi sikap dingin dari orang lain. Keruan
sekarang ia mendongkol juga atas sikap kusir itu. Cuma tidak
enak untuk mengumbar perasaannya, maka terpaksa ia tutup
mulut tanpa bicara lagi.
Namun didalam hati Si-hiong lantas timbul suatu
pertanyaan baru: "Mengapa mendadak Moa-samya bisa mati"
Padahal kemarin ia masih dijemput dan dihantar pulang oleh
kusir tua itu, orang yang tampak sehat walafiat itu mengapa
mendadak bisa mati"
Agaknya kusir muda itu dapat menerka apa yang sedang
dipikirkan Si-hiong, tiba-tiba ia membuka suara dengan nada
dingin: "Kau punya medali bernomor 124 bukan" Jika kau
masih menyangsikan diriku, kau bebas untuk tidak
menumpang keretaku ini."
"Mana aku berani sangsi," sahut Si-hiong tertawa. "Saudara
she apa?" "Beng," sahut orang itu singkat.
Si-hiong hanya tanya she-nya dan orang itu juga cuma
menyawab she-nya saja, sampai-sampai namanya juga malas
untuk disebut. Diam-diam Si-hiong membatin: "Apa barangkali sifat orang
ini memang tidak suka banyak bicara atau memang
mengandung rasa permusuhan padaku?"
Tapi sekarang ia bisa lebih mempercayai si kusir baru ini
karena nomor pengenalnya ternyata dapat disebutnya dengan
tepat. Jadi pasti bukan orang luar.
Tidak lama kemudian sampailah mereka di depan Giankeng-
ih, seperti adat biasanya kereta kuda itu berhenti di
depan pintu, setelah melepaskan kantong kerudung kepala,
asal Si-hiong memperlihatkan medali emasnya kepada penjaga
akan dapat masuk ke gedung itu dengan bebas. Tapi hari ini
ternyata ada sesuatu yang luar biasa. Yang menjaga, di depan
pintu tidak cuma pengawal biasa saja, bahkan terdapat pula
Pan Kian-hau. Lekas-lekas Si-hiong memberi hormat, dan baru hendak
bicara, terlihat Pan Kian-hau sedang mengangguk kepada
kusir muda tadi dan menyapa: "Kau sudah pulang?"
Si-hiong terkejut. Baru sekarang ia tahu bahwa sebabnya
Pan Kian-hau menunggu didepan pintu bukanlah karena
hendak memapak dia, tapi adalah untuk menyambut kusir
muda itu. Dari hal ini saja sudah dapat dibayangkan
kedudukan kusir itu yang sebenarnya.
Kusir itu lantas memberi salam pula kepada Pan Kian-hau
dan menjawab: "Ya, sudah pulang tiga hari lamanya. Apakah
baik-baik, Pan-tayjin?"
"Baik. Kami senantiasa memikirkan kau," kata Pan Kianhau.
"Sayang Moa Sam telah mati sehingga terpaksa Ong-ya
telah menyuruh kau mewakilkan dia secara darurat. Baru saja
Ong-ya mengirim orang memberitahukan hal ini kepadaku."
Lalu ia berpaling kepada Loh Si-hiong dan berkata dengan
tertawa: "Moa Sam pagi buta tadi telah mati, maka Ong-ya
suruh Beng-laute mewakilinya memapak kau, hal ini tidak
sempat memberitahukan lebih dulu padamu Tapi kalian tentu
tidak terjadi salah paham bukan?"
Si-hiong berasa kikuk dan menjawab: "0, tidak."
Sedangkan kusir muda itu lantas berkata juga dengan
tertawa: "Ah, Loh-ciangkun adalah seorang yang pegang
disiplin."
Melihat orang tidak menyinggung kejadian tadi, diam-diam
Si-hiong merasa rada terima kasih karena orang rupanya
sengaja tak mau membikin malu padanya.
"Ya, memangnya akupun yakin kalian tentu tak sampai
terjadi salah paham," ujar Pan Kian-hau. "Cuma aku merasa
Beng-laute baru pertama kali datang ke Gian-keng-ih sini dan
untuk pertama kali pula memapak Loh-ciangkun, maka aku
tetap merasa kuatir dan keluar kesini untuk menunggu.
Sekarang aku boleh merasa lega karena kalian telah datang
dengan baik-baik."
Terhadap seorang kusir kereta Pan Kian-hau telah
menyebutnya sabagai "Laute" (saudara), nadanya juga rada
segan dan hormat, keruan hal ini membuat Loh Si-hiong
tampak heran dan lebih ingin tahu pula akan betapa tinggi dan
pentingnya kedudukan kusir muda itu.
Dalam pada itu kusir itu telah mohon diri.
Sesudah kusir itu pergi, Si-hiong ikut Pan Kian-hau masuk
ke dalam Gian-keng-ih itu. Karena masih penuh tanda tanya,
segera Si-hiong bertanya: "Siapakah orang tadi, mengapa aku
belum pernah melihatnya dari dulu?"
"Dia adalah pengawal pribadi kesayangan Ong-ya," tutur
Kian-hau. "Dahulu Ong-ya mempunyai seorang pengawal
pribadi yang paling dipercaya, yaitu ayahnya Hui-hong.
Sesudah beliau gugur gantinya adalah Beng-laute tadi,
namanya Tiong-hoan, katanya ayahnya Hui-hong yang
mengajukan Beng-laute sebagai calon penggantinya. Kira-kira
dua bulan sebelum kau masuk istana pada lima tahun yang
lalu Ong-ya telah mengirim Beng-laute ke Mongol untuk
sesuatu tugas rahasia dan baru sekarang dia pulang, sudah
tentu kau belum pernah kenal dia."
"Wah, jika demikiankan terlalu merendahkan dia, masakah
dia disuruh menjadi kusirku, mana aku berani menerimanya,"
kata Si-hiong dengan serba salah.
"Gian-keng-ih ini tidak boleh sembarangan didatangi orang
luar. Maka tugas mengantar kau pulang pergi setiap hari juga
amat penting," demikian jawab Pan Kian-hau. "Pula Ong-ya
sendiri tentu sudah memikirkan hal ini, maka kau tidak perlu
merasa gelisah."
Rada tenteramlah perasaan Si-hiong, tapi rasa sangsi yang
lain segera timbul pula: "Jika betul orang she Beng ini adalah
pengganti yang diusulkan oleh ayahnya Hui-hong, Ong-ya
juga sangat sayang padanya, mengapa selama ini Hui-hong
tak pernah membicarakan dia kepadaku?"
Teringat kehidupannya sendiri selama beberapa tahun ini,
meski antara suami-isteri cukup memperlihatkan rasa kasih
sayang, tapi diantara kedua orang rasanya masih tetap
terpisah oleh sesuatu. Kehidupan "rapat dilahir dan pisah di
batin" ini dapat dirasakannya tapi sukar diutarakan. Terpikir
sampai disini, tanpa merasa diam-diam ia menghela napas.
"Paling akhir kabarnya "naga sembunyi" itu muncul lagi. Di
kotaraja, apa kau tahu?" tanya Pan Kian-hau tiba-tiba.
Si-hiong terkejut: "Apakah ada orang yang pernah
melihatnya?"
"Tidak, masih tetap seperti dulu, orang hanya mendengar
ceritanya, tapi tak pernah melihat mukanya dan tak tahu
apakah betul-betul ada orangnya atau tidak. Cuma cerita
sekali ini mempunyai beberapa titik dasar. Bukankah kau
masih ingat kedua orang yang pernah membantu kau
membunuh juragan she Nyo itu?"
"Ya, ada apa dengan kedua orang itu?" Si-hiong menegas.
"Telah dibunuh orang secara gelap," sahut Pan Kian-hau.
"Sesudah membunuh mereka, pembunuh itu telah melukiskan
seekor naga di atas dinding dengan menggunakan darah
kedua korbannya."
"O, peristiwa demikian masih belum kuketahui," kata Sihiong.
"Inipun peristiwa yang terjadi semalam," kata Kian-hau.
"Kita menduga naga yang dilukis di atas dinding itu pasti
tanda, yang ditinggalkan oleh 'naga sembunyi' itu. Sudah
tentu ada kemungkinan orang lain memalsukan tanda
pengenalnya. Tapi betapapun kita harus waspada. Sebab
itulah kukira, Ong-ya sengaja mengutus Beng Tiong-hoan
untuk menjadi kusirmu, maksud beliau adalah sekalian dapat
menjaga keselamatanmu. Meski kepandaianmu tinggi, tapi
naga sembunyi itu muncul dan menghilang tak menentu
bilamana kau kepergok sendirian dengan dia mungkin akan
repot. Tapi kalau Beng Tiong-hoan berada bersama kau Ongya
takkan kuatir lagi."
"Banyak terima kasih atas perhatian Ong-ya dan Pantayjin,"
sahut Si-hiong dengan rendah hati. Tapi diam-diam ia
tertawa. Padahal pagi tadi waktu Tiong-hoan hendak


Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengerudung kepalanya malahan dirinya menyangsikan orang
she Beng itu bisa jadi adalah "si naga sembunyi".
Begitulah, setelah bicara tentang peritiwa naga sembunyi
itu Pan Kian-hau lantas kembali ke tempatnya sendiri. Si-hiong
juga menuju ke tempat kerja, biasanya sesudah salin pakaian
oleh dayang-dayang cantik.
Biasanya, bila memasuki kamar dia, akan terus membuka
gambar yang telah diletakkan di atas meja, lalu mencurahkan
seluruh perhatiannya untuk mempelajari isi gambar itu. Tapi
hari ini pikirannya ternyata tidak tenteram dan sukar
memusatkan perhatian.
Meski tahu kusir baru itu bukanlah si naga sembunyi. Tapi
teringat kepada gerak-geriknya yang aneh lebih-lebih sorot
matanya yang dingin tajam waktu bertemu pertama kalinya
seakan-akan penuh mengandung rasa permusuhan, mau tak
mau Si-hiong masih menaruh curiga.
Hal lain yang membuat perasaan Si-hiong tidak enak adalah
Wanyen Tiang-ci yang telah begitu mempercayainya mengapa
sama sekali tidak pernah memberitahukan padanya tentang si
kusir muda itu yang menurut cerita Pan Kian-hau adalah
pengawal pribadi kesayangan Ong-ya itu. Begitu pula Huihong,
mengapa juga tldak pernah menyebut adanya pemuda
aneh ini" Setelah termenung-menung sekian lamanya, kemudian
barulah Si-hiong membuka berkas gambar yang telah
disediakan Pan Kian-hau itu. Waktu gambar itu terbentang di
atas meja sungguh di luar dugaan, girang Si-hiong tak
terkatakan. Selama lima tahun ini setiap hari gambar yang dipelajari
adalah gambar Hiat-to-tong-jin. Maka tadi ia mengira gambar
yang tersedia tentu juga salah satu dari gambar mengenai
patung tembaga itu. Siapa tahu setelah dibuka ternyata hari
ini yang disediakan Pan Kian-hau ternyata adalah sebagian
dari pada pelajaran Lwekang ciptaan Tan Hu.
Adalah terlalu dalam untuk bisa menjajaki rahasia gambar
patung tembaga itu, tapi kalau sudah mempelajari lebih dulu
Lwekang tinggalan Tan Hu itu dan kemudian baru menyelidiki
rahasia patung itu, maka hasilnya tentu akan lain dari pada
apa yang telah dicapainya sekarang. Walaupun yang
dihadapinya sekarang hanya satu bagian dari pada sebagian
pelajaran Lwekang Tan Hu itu, tapi setidak-tidaknya ini adalah
suatu tanda permulaan yang baik.
"Dilihat dari ini agaknya Ong-ya dan Pan Kian-hau masih
dapat mempercayai sepenuhnya padaku," demikian pikir Sihiong.
Saking senangnya untuk sementara ini ia telah
mengesampingkan rasa curiganya terhadap si kusir muda tadi.
Ia mencurahkan segenap semangatnya untuk mempelajari
lembaran yang berisi inti Lwekang mujijat itu tanpa mengenal
lelah sehingga tanpa merasa hari sudah petang, sudah tiba
waktunya dia pulang. Tapi saat ini dia sedang menyelami satu
titik persoalan yang merupakan kunci dari pada Lwekang itu,
jika soal ini dapat dipecahkan, maka pelajaran selanjutnya
akan dapat ditembus dengan lancar.
Lantaran itu ia lantas suruh seorang penjaga untuk
memberitahukan kusir kereta bahwa pulangnya akan
terlambat satu jam.
Soal kelambatan demikian pernah juga terjadi beberapa kali
selama Si-hiong mempelajari gambar patung tembaga itu.
Cuma hari ini adalah hari pertama datangnya kusir baru itu, ini
baru teringat oleh Si-hiong sesudah dia melangkah keluar
Gian-keng-ih. Sementara itu hari sudah mulai gelap, waktu Si-hiong
sampai di luar, terlihat kereta kuda itu sedang menunggu di
tempat biasa, tapi kusir baru itu tidak kelihatan. Diam-diam Sihiong
merasa tidak enak, jangan-jangan kusir muda itu
merasa mendongkol dan telah pergi, demikian pikirnya.
Namun seorang penjaga. telah memberitahukan: "Bengtoako
sedang berjudi dengan kawan-kawan disana, biar aku
memanggilnya."
"Beng-toako itu tampaknya bersikap dingin dan tidak suka
omong, tapi ternyata bisa cocok dengan kalian?" kata Si-hiong
kepada pengawal yang lain. Diam-diam ia heran mengapa
orang she Beng itu mau merendahkan derajatnya untuk
bergaul dengan kawanan penjaga itu, padahal Pan Kian-hau
saja memanggil "saudara" padanya.
Maka pengawal itu telah menjawab: "Beng-toako adalah
seorang yang sangat ramah, mengapa Loh-ciangkun bilang dia
bersikap dingin kepada orang" Selamanya dia sangat baik
terhadap kami dan suka taruhan dengan para kawan-kawan."
Tengah bicara tampak Beng Tiong-hoan sudah mendatangi,
dibelakangnya beberapa orang pengawal telah berseru
padanya: "Besok siangan dikit Beng-toako, agar kita bisa main
sepuas-puasnya."
Akan tetapi berhadapan dengan Loh Si-hiong kembali
wajah Beng Tiong-hoan berubah kaku lagi.
"Maaf, Beng-toako, bikin kau menunggu terlalu lama,"
demikian kata Si-hiong.
"Ah, tak apa, orang seperti kami memang, sudah
seharusnya melayani orang sebaik-baiknya. Silakan naik
kereta." Kembali Si-hiong menerima sikap yang tak bersahabat,
terpaksa ia tidak bicara lagi, ia mengerudungi kepalanya
sendiri dan naik ke atas kereta.
Di atas kereta Si-hiong merenungkan kembali hasil
penyelidikannya sehari tadi, diam-diam ia membatin: "Hm,
orang she Beng, jangan kau berlagak, ada kalanya
kepandaianku kelak pasti akan melebihi kau."
Sampai dikediamannya, kembali terjadi sesuatu yang di luar
dugaan Loh Si-hiong. Yaitu Tokko Hui-hong ternyata sudah
menunggu di depan pintu. Padahal selama ini Hui-hong tak
pernah berbuat demikian biarpun Si-hiong beberapa kali
pernah pulang terlambat.
Dengan sendirinya Si-hiong tercengang. Katanya kemudian:
"Aku pulang terlambat sehingga membikin kau menunggu.
Tapi aku telah membawa seorang kenalan lama bagimu."
Air muka Hui-hong tampak rada pucat. Mendengar ucapan
Si-hiong itu barulah pelahan-lahan dia mengalihkan sorot
matanya ke arah kusir muda itu.
Segera Beng Tiong-hoan melangkah maju dan memberi
hormat, sapanya: "Hormat kepada Tuan Puteri dan selamat
pula, maafkan hamba tidak sempat memberi kado apa-apa
pada waktu pernikahan Tuan Puteriku."
Sebisanya Hui-hong menahan perasaannya dan wajah
semakin pucat. Ia hanya mendengus saja, lalu bertanya:
"Selama beberapa tahun ini kau berada dimana" Apa kau
sudah berkeluarga?"
"Selama beberapa tahun ini berada di Mongol, di tengah
gurun luas, berada dirantau orang, asalkan dapat pulang
dengan selamat saja sudah untung, mana hamba berani pikir
soal berkeluarga segala."
Si-hiong terkesiap: "Jadi beberapa tahun dia berada di
Mongol. Wah, jika demikian harus hati-hati terhadap dia."
Dalam pada itu Tokko Hui-hong hanya diam saja. Maka
Beng Tiong-hoan berkata pula: "Jika Tuan Puteri tiada
perintah apa-apa biarlah hamba mohon diri saja."
Sikap Tokko Hui-hong tampak seakan-akan orang
kehilangan sesuatu, katanya kemudian: "Kalian pulang
terlambat, bolehlah kau bersantap malam disini. Kedua anakku
juga belum pernah kau lihat."
"Terima kasih, tapi aku sudah makan di Gian-keng-ih sana
biarlah lain hari saja akan kujenguk Pangeran-pangeran cilik
itu," sahut Beng Tiong-hoan.
Setelah Beng Tiong-hoan pergi, Si-hiong lantas berkata:
"Kabarnya dia adalah orang yang diusulkan ayahmu kepada
Ong-ya, tentu kau sangat kenal dia?"
"Waktu tinggal di dusun dia adalah tetangga kami, tapi
tidak lama kemudian dia lantas pindah ke tempat lain,"
demikian tutur Hui-hong. "Kami hanya kenal diwaktu kecil
sehingga tidak dapat dikatakan kenalan baik. Mungkin di
tengah pasukan kemudian ayah bertemu lagi dengan dia."
8. Si Naga Sembunyi Muncul Di Dalam Istana.
Di waktu menjawab pertanyaan Si-hiong, tanpa merasa
Hui-hong telah mengelakkan sinar mata Si-hiong yang tajam,
terang apa yang dikatakan tidak benar seluruhnya dan
mungkin hati kecilnya rada malu. Sebagai seorang yang
cermat dan cerdik, sudah tentu Si-hiong dapat
mengetahuinya. Namun sedikitpun Si-hiong tidak memperlihatkan
perasaannya, katanya dengan tersenyum: "0, kiranya begitu.
Pantas selama ini kau tidak pernah bercerita padaku tentang
dia." "Petugas-petugas di dalam istana berjumlah terlalu banyak,
cara bagaimana aku bisa membicarakannya padamu satu per
satu," kata Hui-hong dangan kurang senang.
"Ya, aku hanya tanya secara iseng saja, kau jangan
marah," kata Si-hiong.
Tapi didalam hati ia dapat menduga ketidak wajaran air
muka Hui-hong itu tentu disebabkan munculnya kembali Beng
Tiong-hoan, tentu di antara mereka tidak cuma kenalan biasa
saja. Tapi kalau dikatakan mereka mempunyai hubungan
gelap rasanya sukar dipercaya pula. Sebab seorang pangeran
muda seperti Wanyen Ting-kok saja tidak terpandang di mata
Hui-hong, apalagi hanya seorang Beng Tiong-hoan" Janganjangan
Beng Tiong-hoan adalah petugas yang dikirim Wanyen
Tiang-ci untuk memata-matai dirinya, tapi Hui-hong tidak enak
untuk memberitahukan terus terang padanya"
Begitulah Si-hiong merasa ragu-ragu dan penuh tanda
tanya yang tak terjawab. Teringat kepada tugasnya sendiri, ia
anggap penting untuk mengambil hati isterinya, tak peduli
Beng Tiong-hoan itu siapa sebenarnya, sekalipun ada
hubungan gelap dengan Hui-hong juga terpaksa dirinya akan
berlagak pilon, pura-pura tidak tahu.
Malamnya pelayanan Hui-hong terhadap sang suami
ternyata lebih mesra dari pada biasanya. Setelah bersantap
malam lantas suruh Si-hiong lekas mengaso. Akan tetapi
tanda-tanda tanya yang timbul dalam hati Si-hiong
membuatnya membolak-balik tak bisa pulas.
Melihat suaminya tak bisa tidur, perasaan Tokko Hui-hong
sendiri juga sedang bergolak. Mendadak ia bangun dan
berkata: "Si-hiong, mungkin hari ini kau terlalu lelah dalam
pekerjaanmu sehingga tak bisa pulas. Biar kutambahkan
sedikit dupa wangi untukmu."
Biasanya Hui-hong memang suka kepada bau wangiwangian,
diwaktu tidur sering ia membakar satu anglo kayu
cendana yang wangi. Bau cendana mempunyai khasiat
penenteram pikiran, maka dia mengatakan hendak membakar
dupa itu bagi Si-hiong.
Si-hiong juga anggap biasa hal demikian itu, maka ia hanya
mengiakan secara samar-samar saja.
Ketika asap dupa yang wangi terisap oleh Si-hiong,
terasalah nyaman sekali dan benar juga pikirannya lantas
mulai meriyap-riyap ingin tidur.
Selagi ingatan Si-hiong melayang-layang akan lelap, samarsamar
pikirannya tergerak, dirasakannya bau harum ini ada
sesuatu yang tidak beres.
Sebagai seorang agen rahasia yang pernah mendapat
gemblengan secara teliti dia pernah mempelajari berbagai
macam obat bius. Maka sekarang iapun dapat memastikan
bahwa bau wangi yang tercium sekarang pasti bukan bau
kayu cendana wangi seperti kata Hui-hong tadi, tapi adalah
sejenis dupa pembius yang bisa membikin orang tak sadarkan
diri seketika. Berdasarkan pengetahuan Loh Si-hiong-tentang obat
pembius, walaupun ia tidak tahu jenis obat mana yang
digunakan oleh Tokko Hui-hong, akan tetapi bau wangi itu
adalah obat bius sudahlah pasti. Cuma sayang agak terlambat
diketahuinya, baru saja pikirannya bergerak sudah tidak
keburu lagi, hanya sekejap saja ia sudah tertidur nyenyak.
Dalam pada itu kusir muda yang, baru alias Beng Tionghoan,
saat itu sedang mondar-mandir di tengah hutan di
belakang istana Loh Si-hiong. Disitulah tempat yang pernah
beberapa kali digunakan pertemuan gelap antara dia dengan
Tokko Hui-hong.
Saat itu Beng Tiong-hoan sedang berpikir: "Sungguh bodoh
aku ini. Sekarang mereka berdua tentu sedang berpelukan di
tempat tidur mereka, mana Hui-hong mau ingat kepada
hubungannya dengan aku di masa lampau" Mimpipun
mungkin dia takkan teringat lagi padaku".
Tak terduga, belum lagi lenyap pikirannya tiba-tiba sesosok
bayangan tampak berlari mendatangi dengan cepat. Di bawah
sinar bulan dapat terlihat dengan jelas, siapa lagi yang datang
itu kalau bukan orang yang senantiasa dirindukannya siang
dan malam, Tokko Hui-hong.
Kejut tercampur girang Beng Tiong-hoan. Tanpa merasa ia
berseru: "Hui-hong, benar-benar kau adanya" Ai, mengapa
kau berani keluar dengan menempuh bahaya begini?"
Hui-hong menghela napas, katanya: "Aku tahu engkau
pasti sedang menunggu aku disini. Jika aku tidak datang
menemui kau tentu hatiku takkan tenteram."
"Ai, Hui-hong, betapa terima kasihku kepadamu," kata
Tiong-hoan dengan penuh haru. "Tapi aku tak boleh menodai
nama baikmu, bila kedatanganmu ini diketahui suamimu tentu
urusan bisa runyam. Lebih baik kau lekas kembali saja."
"Aku sudah menggunakan Hek-kam-hiang (obat tidur
wangi) sekali pulas paling sedikit besok pagi sesudah matahari
terbit barulah dia dapat mendusin, maka kedatanganku ini
tidak mungkin diketahui olehnya," sahut Hui-hong dengan
suara pelahan. "Bagaimana keadaanmu selama beberapa tahun ini"
Suamimu apakah cukup baik terhadap kau?" tanya Tionghoan.
Dengan rasa sedih Hui-hong memandang Tiong-hoan
sekejap, lalu berkata dengan tunduk kepala: "Baik, cukup baik.
Tapi kau tentu tahu bahwa di dalam hatiku telah terisi olehmu
dan tidak mungkin digantikan oleh orang kedua. Aku, aku
terpaksa menikah padanya. Tatkala itupun kau berada di
Mongol dan tiada seorangpun yang dapat membantu aku."
Beng Tiong-hoan menghela napas, katanya: "Seumpama
waktu itu aku berada disini juga tidak dapat membantu apaapa
padamu. Kau tentu tidak dapat mengecewakan jerih
payah Ong-ya yang telah membesarkan kau selama ini,


Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rasanya Ong-ya juga takkan sudi mengambil menantu seorang
kusir kereta. Sudahlah, urusan yang sudah lalu tak perlu kita
bicarakan lagi."
"Kenapa kau mau menjadi kusir keretanya, Tiong-hoan"
Bukankah ini terlalu merendahkan derajatmu," tanya Huihong.
"Ini adalah permintaanku sendiri." sahut Tiong-hoan
dengan tertawa. Sudah tiga hari aku pulang dan belum
mendapat akal untuk bertemu dengan kau. Kebetulan saja
Moa Sam telah mati."
"Aku tahu tindakanmu ini adalah karena diriku. Tapi
hendaklah kau berlaku hati-hati. Dia juga seorang yang cerdik
dan cermat."
"Apakah kau pernah membicarakan asal-usulku
kepadanya?"
"Mana mau kukatakan padanya" Bahkan Ong-ya juga tidak
tahu kau adalah orang Han."
"Tapi semuanya ini aku harus berterima kasih padamu,
tanpa bantuanmu tidak mungkin Ong-ya mau percaya dan
memberi tugas penting padaku selama ini."
"Sungguh aku merasa menyesal telah mengusulkan kau
diterima sebagai petugas di dalam istana. Semula, kukira kita
dapat menunggu kesempatan baik untuk mohon Ong-ya
mengizinkan perjodohan kita, siapa duga urusan menjadi
runyam malah seperti apa yang terjadi sekarang."
Kiranya Beng Tiong-hoan itu adalah Tokko Hui-hong yang
menariknya ke dalam istana, ia pura-pura bilang Beng Tionghoan
adalah temannya sejak kecil dan atas pesan mendiang
ayahnya agar Tiong-hoan dapat mengabdikan diri kepada
negara, Tapi Hui-hong juga cuma tahu Beng Tiong-hoan
adalah orang Han, sesungguhnya ia tidak tahu Tiong-hoan
masih mempunyai tugas rahasia lain. Soalnya di dalam istana
Kim tidak mungkin menggunakan petugas bangsa Han, maka
Tokko Hui-hong memalsukan Beng Tiong-hoan sebagai
bangsa Kim. Begitulah maka Tiong-hoan telah menyawab: "Ya, sekarang
akupun menyesal, sebaiknya aku tidak pulang kesini."
"Bagaimana keadaanmu di Mongol selama ini, kabarnya
Ong-ya merasa sangat puas atas jasamu disana," tanya Huihong.
"Baik-baik saja aku di sana. Walaupun sedikit menderita,
tapi tidak apa, aku memang suka bekerja bagi Ong-ya," kata
Tiong-hoan. Tampaknya ucapannya itu belum habis dan ingin
menambahkan sesuatu. Tapi setelah memandang sekejap
Kepada Hui-hong tiba-tiba ia tidak meneruskan lagi.
Angin malam meniup. tiba-tiba terdengar suara keresakan.
Tanpa bicara lagi Beng Tiong-hoan melompat ke atas
sebatang pohon. Tapi suasana tampak tenang-tenang saja,
sang dewi malam menghias di tengah cakrawala dikelilingi
bintang-bintang yang berkelap-kelip, tapi tiada terdapat
bayangan seorangpun.
Sesudah Beng Tiong-hoan meloncat turun kembali, dengan
tertawa Hui-hong berkata: .,Mungkin kau terlalu bercuriga.
Padahal dia sudah tidur nyenyak, di tempat ini rasanya tiada
orang yang berkepandaian tinggi lagi. Apalagi dalam saat
demikian masakah ada orang datang kemari?"
Namun Tiong-hoan masih bersangsi, katanya: "Malam ini
mungkin benar-benar ada kedatangan orang pandai. Cara
hubungan kita ini pada akhirnya tentu akan diketahui
olehnya." "Aku paham," sahut Hui-hong dengan menghela napas
"Akupun ingin menyatakan padamu bahwa di dalam hatiku
sebenarnya cuma terisi olehmu. Akan tetapi sekarang aku
sudah punya putera-puteri. Aku cinta padamu, tapi akupun
cinta mereka. O, Tiong-hoan, harap kau memaafkan aku. Jika
aku tidak punya anak tentu aku akan lari minggat bersama
kau." "Sudahlah Hui-hong, boleh kau pulang saja. Untuk
selanjutnya aku takkan mencari kau lagi."
"Kau tidak marah padaku bukan?"
"Aku malah berterima kasih padamu, terima kasih padamu
karena tanpa menghiraukan apapun malam ini kau sudi keluar
menemui aku. Dengan pertemuan ini sudah cukup
menghilangkan segala deritaku. Aku memujikan bahagia
rumah tanggamu dan jangan memikirkan diriku lagi."
Dengan berlinang-linangkan air mata Tokko Hui-hong
melangkah pergi, tapi baru dua tiga tindak mendadak ia
menoleh dan bertanya pula: "Apakah kau mempunyai sesuatu
keinginan yang memerlukan bantuanku?"
"Aku sudah sangat banyak menerima bantuanmu, sungguh
aku sangat berterima kasih, pulangku kali ini hanya karena
ingin bertemu satu kali pula dengan kau dan tiada harapan
lain," demikian sahut Tiong-hoan. Tapi diam-diam membatin
di dalam hati: "Maafkan Hui-hong bahwa aku tak dapat
memberitahukan cita-citaku sesungguhnya. Hal inipun kau tak
bisa membantu. Ada lebih baik kau tidak tahu daripada
mengetahui."
Kembali Hui-hong menghela napas pelahan, katanya:
"Baiklah, aku akan kembali, harap kau menjaga diri baik-baik."
Sekali ini dia benar-benar melangkah pergi. Angin meniup
dingin dan ranting pohon berderak, rembulan guram tertutup
oleh mega seakan-akan sedang menyatakan simpatik mereka
kepada sepasang kekasih yang tidak beruntung ini.
___ Dalam keadaan pulas Loh Si-hiong sendiri tidak tahu sudah
lewat berapa lamanya, ketika tiba-tiba terasa sesuatu yang
menyejukkan, dengan cepat ia lantas mendusin. Dilihatnya
disebelahnya telah berduduk seorang wanita. Wanita itu
sedang menunduk dan memandang padanya.
Baru saja Si-hiong bermaksud menyapa sebab dikira
isterinya, tapi ia menjadi terkejut ketika diketahui bahwa
wanita itu bukanlah Tokko Hui-hong, segera ia berseru: "He,
Ci-ma, kau?"
Gadis Ci-ma ini tak lain tak bukan adalah kekasihnya sejak
masa remaja, selama lima tahun ini ia tetap menyembunyikan
rahasianya itu walaupun perasaannya sangat merindukan
nona itu. "Kau tidak mengira aku akan datang mencari kau bukan?"
tanya Ci-ma dengan tertawa.
Untuk sejenak Si-hiong celingukan kian kemari, lalu
bertanya dengan ragu-ragu: "Dimanakah Hui-hong?"
"Baru bertemu dengan aku yang kau tanyakan adalah
isterimu, apakah kau tidak merasa rikuh kepadaku?" sahut Cima
dengan tertawa.
Sifat Ci-ma ternyata lebih periang, sama-sama mengalami
kegagalan asmara - kekasih lama telah menikah dengan orang
lain, tapi dia ternyata tidak sesedih seperti Tokko Hui-hong.
Si-hiong kenal watak Ci-ma, dengan tersenyum pahit ia
berkata: "Ci-ma, kau tentu tahu bahwa perkawinanku ini
adalah terpaksa masakah kau masih tega bergurau padaku?"
"Aku tahu, aku tidak menyalahkan kau. Bahkan aku ingin
memberi selamat kepadamu. Jika kau tidak menjadi menantu
pangeran yang paling berkuasa disini mana bisa kau masuk ke
Gian-keng-ih untuk melakukan tugasmu" Pula isterimu itupun
serba bagus, apalagi yang akan kau cari"
Ini bukan kelakar, sesungguhnya Hui-hong berada di
mana?" kata Si-hiong. Ia rada kuatir kalau-kalau Ci-ma
membunuh Tokko Hui-hong. Sebagai suami-isteri selama lima
tahun, betapapun juga sudah timbul kasih sayangnya. Pula
jika dia kehilangan Tokko Hui-hong berarti dia kehilangan
sandaran dan usahanya tentu bisa runyam setengah jalan.
"Kau jangan kuatir, masakah aku sampai hati menciderai
isterimu sehingga kau menjadi duda?" ujar Ci-ma dengan
tertawa. "Tapi kemanakah dia dan cara bagaimana kau masuk
kemari?" tanya Si-hiong. Betapapun ia kuatir juga bilamana
kedatangan Ci-ma sampai dipergoki Hui-hong.
Diam-diam Ci-ma membatin isterimu sedang menemui
kekasihnya yang lama dan sekarang akupun datang menemui
suaminya. Cuma ia tidak ingin Si-hiong mengetahui pertemuan
Hui-hong dengan Beng Tiong-hoan agar tidak menambah
kusut pikirannya. Maka dengan mengerut kening ia berkata:
"Sudahlah, kau tak perlu menguatirkan dia. Dalam waktu
singkat rasanya iapun takkan kembali kesini. Aku ingin tanya
padamu bagaimana hasil usahamu selama beberapa tahun ini
menyelidiki Hiat-to-tong-jin serta Lwekang tinggalan Tan Hu
yang telah kau yakinkan itu?"
"He, dari mana kau bisa tahu?" tanya Si-hiong heran.
"Jika Lwekangmu tidak jauh lebih maju daripada dulu
rasanya kau takkan begini cepat siuman kembali biarpun aku
memberi obat pemunah padamu."
"Tapi, Ci-ma, kau belum memberitahukan padaku apa
tujuan kedatanganmu ini?"
"Bagaimana dengan kedua macam benda itu" Sudah kau
dapatkan belum?"
Si-hiong menggeleng: "Masih jauh. Walaupun ada sedikit
hasil penyelidikanku, tapi gambar-gambar patung tembaga
yang kulihat baru ada tujuh lembar. Malahan pelajaran
Lwekang itu baru hari ini aku mulai membacanya."
"Itu tidak boleh jadi. Dalam satu bulan kau harus
mendapatkan kedua macam benda itu. Ini adalah perintah."
"0, kiranya kau dikirim kemari sebagai pembantuku?"
"Tidak dapat dikatakan sebagai pembantu. Tapi aku datang
untuk menerima barang yang harus kau peroleh itu."
Begitulah secara tergesa-gesa Ci-ma memberitahukan
seperlunya cara-cara berhubungan bilamana mendadak
diperlukan, lalu katanya: "Aku tak bisa, tinggal lama-lama
disini, aku akan segera pergi. Lekas kau berbaring lagi dan
jangan sampai dicurigai oleh isterimu."
Benar juga, tidak lama Ci-ma berangkat Tokko Hui-hong
sudah kembali ke kamar. Ketika melihat suaminya masih tidur
nyenyak, tanpa merasa ia menghela napas, wajahnya yang
pucat menampilkan senyuman getir.
<> Sang tempo berlalu dengan cepat, tanpa merasa kusir baru
itu sudah melakukan tugasnya selama 20 hari atau dengan
lain perkataan, batas waktu yang diberikan oleh Ci-ma kepada
Loh Si-hiong sudah berlalu dua pertiga bagian.
Siang dan malam Loh Si-hiong selalu cemas dan gelisah
karena belum memperoleh sesuatu jalan untuk memperoleh
kedua macam benda pusaka, sebab gambar-gambar lengkap
Hiat-to-tong-jin dan kitab Lwekang ciptaan Tan Hu itu
semuanya tersimpan di dalam kamar rahasianya Wanyen
Tiang-ci, bahkan di mana letak kamar rahasianya saja selama
ini masih belum diketahui oleh Loh Si-hiong, dan betapa
kerasnya penjagaan disana tentulah dapat dibayangkan.
Seperti biasa pagi itu Si-hiong berangkat ke Gian-keng-ih.
Tak terduga, baru saja ia turun kereta dan membuka
kerudung kepalanya segera ia dihadapkan kepada suatu
kejadian yang menggetarkan perasaan.
Kiranya di dinding gedung itu ada lukisan seekor naga, saat
itu ada tukang batu sedang sibuk mengapur dan bagian ekor
naga itu sudah terkapur lenyap sebagian. Penjaga-penjaga
juga telah bertambah dari empat orang menjadi delapan
orang. Dengan kejut-kejut heran segera Si-hiong menarik seorang
penjaga untuk ditanya: "Apakah si naga sembunyi itu telah
muncul disini?"
"Ya, hebat benar kejadian semalam disini," sahut penjaga
itu. Cuma waktu kami berdinas kemari keadaan sudah aman
kembali sehingga seluk-beluk yang jelas hamba tidak
mengetahui."
Tapi seorang penjaga lain segera menyambung: "Wah,
agaknya Loh-ciangkun belum mengetahui bahwa dua jago
tertinggi kita disini kabarnya telah tewas di tangan naga tak
kelihatan itu."
Sampai disini tiba-tiba terdengar suara Wanyen Tiang-ci
sedang marah-marah di ruangan dalam. Segera penjaga tadi
berkata pula: "Ong-ya sedang gusar. Harap Loh-ciangkun
lekas masuk ke dalam dan coba membujuk Ong-ya, kalau
tidak mungkin kami kaum hamba ini bisa celaka."
Cepat Si-hiong mengganti pakaian seperti biasanya, lalu
masuk ke ruangan dalam. Dilihatnya Wanyen Tiang-ci sedang
marah dan mendamperat: "Kalian sebanyak ini apakah cuma
tukang gegares saja" Masakah seorang musuh saja tidak
mampu menangkapnya?"
Pan Kian-hau tampak berdiri disamping dengan serba
salah, dengan suara lemah ia menjawab: "Ya, memang hamba
sekalian tak becus semua sehingga membikin Ong-ya marah.
Tapi 'naga sembunyi' itu sesungguhnya teramat lihay, sampaisampai
Hong-lothau dan Ki-loji juga terbunuh olehnya."
Hong-lothau atau sikakek she Hong adalah orang tua yang
melempar-lemparkan biji catur pada hari pertama datangnya
Loh Si-hiong dahulu itu. Adapun Ki-loji atau si kakek kedua
she Ki adalah orang yang menyambit tawon dengan jarum
halus itu. Saat itu kedua kakek lihay itu sudah mati semua, jenazah
mereka telah dimasukkan ke dalam peti dan tunggu perintah
dikubur saja. Keruan Si-hiong terkejut dan jeri pula. Pikirnya: "Kedua
kakek lihay ini sekaligus kena dibunuh oleh 'naga sembunyi"
itu, jika aku yang kepergok bukan mustahil jiwaku pun akan
melayang."
Pan Kian-hau adalah wakilnya Wanyen Tiang-ci,
kedudukannya sangat tinggi, hubungan mereka berdua juga
mirip sahabat, maka sesudah marah-marah akhirnya Tiang-ci
sendiri merasa tidak enak. Segera ia berkata pula: "Kian-hau,
akupun tahu kau telah berusaha dengan sepenuh tenaga.
Sesungguhnya akupun harus bertanggung jawab karena lalai
mengadakan penjagaan lebih kuat. Jika semalam aku berada
disini rasanya takkan membiarkan musuh lolos begitu saja."
"Ya, Ong-ya adalah jago nomor satu dari kerajaan Kim kita,
jika Ong-ya berada disini biarpun musuh punya sayap juga
takkan bisa kabur," demikian umpak Pan Kian-hau dengan
tersenyum. "Cuma setiap hari Ong-ya terlalu sibuk dengan
urusan-urusan negara, betapapun pentingnya Gian-keng-ih ini
juga tidak dapat meminta pengawasan Ong-ya sendiri."
Pan Kian-hau cukup kenal watak Wanyen Tiang-ci yang
suka unggul, tapi sudah tentu dalam kedudukannya yang
maha penting itu tidak mungkin Wanyen Tiang-ci dibiarkan
turun tangan untuk menghadapi 'si naga sembunyi', makanya
Kian-hau sengaja mengucapkan kata-kata umpakan tadi.


Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kata-kata Pan Kian-hau yang luwes itu ternyata sangat
mencocoki selera Wanyen Tiang-ci, ia manggut-manggut dan
berkata: "Benar. Lantaran aku sendiri tak dapat berjaga disini,
tapi kuatir dikacaukan lagi oleh musuh itu, maka aku merasa
serba salah. Kian-hau, bagaimana kalau kita mencari beberapa
orang kuat dan dapat dipercaya untuk ikut berunding
mengenai persoalan ini."
Saat itulah Si-hiong telah maju memberi hormat kepada
Wanyen Tiang-ci dan Pan Kian-hau lantas mengusulkan
kepada Wanyen Tiang-ci agar tenaga Si-hiong diikut sertakan.
Diam-diam Si-hiong sangat girang, tapi lahirnya ia
merendah diri dan pura-pura menolak.
Namun Wanyen Tiang-ci lantas berkata: "Si-hiong, kita
adalah orang sendiri, selama ini akupun mempercayai kau,
maka bolehlah kau terima saran Pan-tayjin."
Menyusul Pan Kian-hau mengajukan beberapa orang calon
pula, dua orang diantaranya adalah jago yang semalam ikut
mempergoki jejak "si naga sembunyi" itu.
Setelah disetujui Wanyen Tiang-ci, segera Pan Kian-hau
mengumpulkan jago-jago kepercayaan itu untuk ikut
berunding ke kamar rahasianya Wanyen Tiang-ci. Dikamar
rahasia inilah Wanyen Tiang-ci menyimpan gambar-gambar
Hiat-to-tong-jin serta kitab Lwekang pusaka.
Ternyata kamar rahasia itu dibangun di tengah dua buah
gunung-gunungan buatan, kedua gunung itu berhadapan
sehingga berbentuk suatu selat buatan. Pada bagian jalan
masuk selat itu ada tiga susun alat rahasia. Dibagian dalam
terpasang pula tiga susun alat rahasia yang lain. Namun tiga
susun perkakas rahasia bagian luar serta kedua susun
pertama bagian dalam itu ternyata, sudah dirusak oleh "si
naga sembunyi" semalam.
Dari bekas-bekas pesawat rahasia itu, antara lain ada jaring
tembaga yang telah ditabas putus talinya, ada pula bandul
raksasa yang terhenti di atas dan belum anjlok ke bawah,
semuanya itu masih berada dalam keadaan semula, untuk
menunggu pemeriksaan Wanyen Tiang-ci sendiri.
Diam-diam Si-hiong terkesiap menyaksikan pesawatpesawat
rahasia yang lihay itu, pikirnya: "Jangankan kamar
rahasia ini sukar diketemukan, sekalipun dapat diketemukan
juga aku merasa tidak mampu memasukinya."
Sesudah mengambil tempat duduk masing-masing di dalam
kamar rahasia itu, segera Wanyen Tiang-ci mulai bicara:
"Coba silakan Kian-hau menuturkan dulu peristiwa semalam
secara jelas. Apakah jejak 'naga' itu telah kalian ketemukan"
Sesungguhnya bagaimana orangnya"''
Salah seorang dari kedua jago pengawal yang menyaksikan
semalam itu lantas berkata: "Waktu kami memburu tiba, kami
mendengar jerit ngeri Hong-lothau dan Ki-loji berdua. Cepatcepat
kami memburu masuk untuk menolong Hong dan Ki
berdua yang sudah menggeletak di lantai sehingga kami tidak
sempat mengejar musuh."
Diam-diam Wanyen Tiang-ci dapat menduga kedua orang
itu tentu jeri kepada "naga sembunyi" yang lihay itu,
sedangkan Hong dan Ki yang berkepandaian paling tinggi juga
terbunuh, maka ketakutan mereka, itupun tak bisa disalahkan.
Namun ia, tidak mau mencela perbuatan kedua jago
pengawal itu, segera ia tanya pula: "Dan sebelum
menghembuskan napas penghabisan apakah Hong-lothau dan
Ki-loji ada meninggalkan ucapan apa-apa?"
"Ketika kami hendak mengangkat mereka, ternyata napas
mereka sudah putus," sahut orang tadi.
"Larinya musuh sungguh amat cepat, cuma kami masih
sempat melihat dua sosok bayangan yang lenyap dalam
kegelapan dibalik gunung-gunungan sana,'' sambung
kawannya. "Hah, jadi ada dua orang"'' Wanyen Tiang-ci menegas.
"Benar, selain si "naga' yang jelas adalah seorang laki-laki,
seorang lagi adalah wanita," kata Pan Kian-hau. "Tadi hamba
belum sempat melapor kepada Ong-ya ......"
"He, jadi kau telah melihat mereka,'' seru Wanyen Tiang-ci
terkejut tercampur girang.
"Tapi sayang aku hanya dapat membedakan mereka dari
bayangan belakang saja, bahwa satu di antara mereka
memang jelas adalah kaum wanita," sahut Kian-hau,
"Untunglah hamba masih sempat memburu maju dan
menyambitkan sebilah pisau dan rasanya satu diantara
mereka ada yang terkena seranganku itu."
"Yang laki-laki atau yang perempuan?" tanya Tiang-ci.
"Waktu itu mereka baru hendak menghilang dibalik semaksemak
sana dan pisau itu keburu kulemparkan. Terdengar
suara mengaduh seorang, tapi entah yang mana. Cuma dari
suaranya boleh jadi adalah yang laki-laki, jadi 'naga' itulah
yang terkena pisauku. Kalau tidak kena kepalanya tentulah
kena bahunya."
"Karena mereka masih dapat melarikan diri, tentu yang
terluka adalah bahunya," ujar Wanyen Tiang-ci. "Tapi bagus
juga, seranganmu yang mengenai sasarannya itu telah
memberi suatu lubang pencarian yang baik."
"Agaknya "naga' itu sangat paham dengan jalanan-jalanan
Gian-keng-ih, kalau tidak tentu takkan begitu mudah lolos dari
sini," kata Pan Kian-hau.
Harus diketahui bahwa di dalam Gian-keng-ih itu dibuat
sedemikian rupa sehingga di mana-mana dan benda apapun
seperti pepohonan, gunung-gunungan, semuanya dapat
menyesatkan orang. Bahkan penghuni-penghuni Gian-keng-ih
sendiri seringkali juga kesasar.
"Benar, makanya kita harus lebih waspada," kata Wanyen
Tiang-ci. "Apakah antara kalian ada usul yang baik?"
"Tempat tujuan 'naga' itu adalah kamar rahasia ini, maka
menurut pendapatku kita pertama-tama harus mengganti alatalat
rahasia disini dahulu," usul Si-hiong.
"Benar. Toasuhumu tidak melulu mahir ilmu silat, beliau
juga pintar mengatur macam-macam pesawat rahasia. Apakah
kau telah menguasai kepandaiannya itu?" tanya Wanyen
Tiang-ci. 9. Teman Tidur ..... Sudah Mengetahui
"Sudah tentu hamba tidak mampu menguasai seluruh
kepandaian Toasuhu, paling-paling hanya tujuh atau delapan
bagian saja," sahut Si-hiong.
"Bagus," seru Pan Kian-hau girang. "Dengan kepandaianmu
itu saja sudah cukup untuk mengatur seperlunya pesawatpesawat
rahasia yang kita inginkan."
"Baiklah, aku setuju merombak semua pesawat-pesawat
rahasia disini," kata Tiang-ci. "Si-hiong, aku memberi tempo
satu hari padamu untuk menyiapkan rencananya, apa kau
sanggup?" Dengan rendah hati Si-hiong menerima tugas itu. Segera ia
mulai mengadakan pemeriksaan setempat, lalu mengatur
enam susun pesawat rahasia, di tengah pekarangan banyak
diatur pula tali-tali yang digandengkan pada genta-genta, bila
musuh datang dan salah langkah, seketika genta-genta akan
berbunyi. Wanyen Tiang-ci merasa puas akan rencana Loh Si-hiong
itu, segera tukang-tukang dipanggil, malam itu juga pesawatpesawat
rahasia itu lantas dibangun dengan diawasi sendiri
oleh Wanyen Tiang-ci.
Diam-diam Si-hiong sangat girang, setelah ganti pakaian
semula ia lantas mohon diri untuk pulang.
Karena kerja keras, pulangnya rada terlambat. Sementara
hari sudah remang-remang hampir gelap. Dilihatnya kereta
kuda itu sedang menunggu di depan pekarangan, Beng Tionghoan
tampak sedang mengantuk.
Tiba-tiba pikiran Si-hiong tergerak, pelahan-lahan ia
mendekati Tiong-hoan, baru saja kusir itu membuka mata
segera Si-hiong menepuk pundaknya dan menegur: "Maaf,
kau menunggu terlalu lama".
Dengan menepuk pundak Beng Tiong-hoan diam-diam Sihiong
yakin bilamana pundak Tiong-hoan pernah terluka,
maka dia pasti akan menjerit kesakitan. Sebaliknya kalau
dugaannya keliru, paling-paling tepukannya itu akan dianggap
sebagai tanda keakraban saja dan kusir muda itupun rasanya
takkan marah. Ternyata Beng Tiong-hoan tidak memberikan reaksi apaapa,
sikapnya tetap dingin saja, sahutnya acuh-tak-acuh: "Ah,
tidak menjadi soal. Silakan naik. Hawa hari ini sangat gerah,
maafkan hamba berlaku kasar."
Belum lagi Si-hiong paham apa maksud ucapan Beng
Tiong-hoan itu, tiba-tiba Tiong-hoan sudah menanggalkan
bajunya, pundaknya kelihatan dengan jelas, bekas luka
sedikitpun tidak nampak.
Setelah melempit bajunya dan ditaruh di bawah tempat
duduknya, kemudian Beng Tiong-hoan baru mengerudungi
kepala Loh Si-hiong. Agaknya Beng Tiong-hoan sengaja
memperlihatkan pundaknya kepada Loh Si-hiong.
Keruan Si-hiong merasa kikuk, sambil duduk di dalam
kereta ia berpikir: "Rupanya aku sendiri yang terlampau
curiga, mana bisa dia adalah 'si naga sembunyi' yang
menggegerkan itu. Tentu iapun tahu aku sengaja menjajal dia,
kini dia bertambah sirik lagi kepadaku."
Ditengah menggelindingnya roda kereta pikiran Loh Sihiong
juga sedang berputar. Pikirnya: "Bisa jadi orang yang
terkena pisau Pan Kian-hau itu adalah yang wanita. Tapi
siapakah yang wanita itu" Ai, apakah mungkin Ci-ma" " Tapi
rasanya tidak bisa jadi. Jika Ci-ma, mengapa dia berada
bersama dengan si 'naga' itu?"
Belum sempat Si-hiong menarik sesuatu kesimpulan
sementara itu kereta sudah sampai di depan rumahnya.
Si-hiong tidak tahu apakah Hui-hong sudah mengetahui
atau belum tentang munculnya, 'naga sembunyi' itu, bila tahu
mungkin isterinya juga akan cemas. Dengan pelahan-lahan Sihiong
masuk ke kamarnya, waktu pintu dibuka pelahan,
dilihatnya Hui-hong berduduk di depan meja rias seperti
sedang termangu-mangu, tangannya memegang sebuah botol
porselen kecil. Ketika mendengar suara buru-buru botol itu
lantas disimpan seperti orang yang terkejut. Lalu ia berbangkit
dan menyapa pulangnya Si-hiong.
"Aku pulang agak terlambat karena disana telah terjadi
keonaran," tutur Si-hiong.
Dengan sedikit pembukaannya itu Si-hiong menyangka
isterinya pasti akan ketarik dan akan menanyakan lebih lanjut
apa yang terjadi. Diluar dugaan Hui-hong ternyata acuh tak
acuh, katanya: "Ada terjadi apa-apa bolehlah kau ceritakan
besok saja. Siau-hiong keluar cacar air, aku rada kuatir, maka
aku ingin mendampingi dia buat beberapa malam ini."
Siau-hong adalah puteri mereka yang baru umur setahun
itu. Biasanya putera-puteri mereka itu ada mak inang yang
menjaganya. Si-hiong terkejut juga mendengar anaknya sakit, katanya:
"Hah, Siau-hong sakit cacar air" Marilah kita pergi
melihatnya."
"Kau tentu sudah lelah, biarlah kau mengaso siangan saja,"
ujar Hui-hong. "Aku sudah mengambilkan obat menurut resep
tabib keraton, tentu Siau-hong akan lekas sembuh, maka kau
jangan kuatir."
Habis berkata ia terus mengunci sebuah laci yang baru saja
dibuka, lalu keluarlah ke kamarnya Siau-hong.
Mendengar sakit puterinya Si-hiong menjadi tambah cemas,
pikirnya: "Batas waktu sebulan hanya tinggal sepuluh hari
saja. Jika usahaku berhasil segera aku akan pulang bersama
Ci-ma dan untuk selanjutnya takkan dapat bertemu dengan
putera-puteriku lagi."
Si-hiong bukan seorang yang lebih mementingkan rumah
tangga daripada tugas, tapi cinta orang tua kepada anak
adalah pembawaan manusia. Bila teringat dalam waktu
singkat sudah akan berpisah dengan putera-puterinya yang
disayang itu, mau tak mau timbul juga rasa beratnya.
Namun ada hal lain yang membikin senang Si-hiong. Dia
telah bekerja satu hari bagi Ong-ya untuk mengatur pesawatpesawat
rahasia di dalam Gian-keng-ih. Pikirnya: "Tadinya aku
sedang sedih karena tak berdaya mencuri benda pusaka yang
ditentukan itu, sekarang aku sendiri yang mengatur pesawatpesawat
itu, untuk memasuki kamar rahasia itu bagiku
menjadi terlalu gampang seperti merogoh sakunya sendiri."
Akan tetapi lantas terpikir pula: "Diluar dalam kamar
rahasia itu walaupun terpasang pesawat-pesawat rahasia yang
sudah kuketahui, tapi disamping itu pasti ada penjagapenjaga,
apalagi peraturan-peraturan disitu sangat keras,
secarik kertas saja tak bisa dibawa keluar, lalu cara bagaimana
aku dapat mengelabui mata telinga orang-orang yang berada
disana" Jika menerobos dengan kekerasan rasanya juga
melawan jago-jago yang begitu banyak, sedangkan 'naga' itu
saja terluka, apa lagi diriku?"
Selagi memeras otak dan tak berdaya, tiba-tiba pikiran Sihiong
tergerak, pandangannya jatuh kearah laci yang tadi
baru saja dikunci oleh Tokko Hui-hong itu. Biasanya laci itu
selalu terkunci, anak kunci disimpan sendiri oleh Hui-hong,
belum pernah Si-hiong membuka laci isterinya itu.
Untuk membuka laci yang terkunci itu adalah tidak sukar
bagi Si-hiong. Dia mahir mengatur macam-macam pesawat
rahasia, untuk membuka sebuah gembok atau kunci saja lebih
pintar dia daripada tukang kunci biasa. Seadanya ia
mengambil sepotong kawat dan dimasukkannya ke dalam
lubang kunci, hanya sebentar saja ia berkutak-kutik laci itu
lantas terbuka.
Waktu ia periksa isi laci itu, kiranya adalah macam-macam
botol dan kotak (dos). Pikirnya: "O, kiranya ini adalah laci
obatnya yang dirahasiakan padaku."
Ia coba periksa botol-botol obat itu satu per satu.
Berdasarkan pengetahuannya terhadap ilmu pengobatan
dengan mudah saja ia sudah dapat menemukan obat tidur
yang digunakan isterinya untuk membius dirinya pada malam
itu. Ia coba mencari obat pemunahnya dengan cara membaui
sedikit obat tidur itu, lalu mengendus pula obat yang dia yakin
pasti obat pemunahnya, dan betul juga, percobaannya itu
telah berhasil dengan baik.
Si-hiong sangat girang, ia pikir obat tidur itu kebetulan
akan dapat digunakan olehnya. Segera ia menuang sebagian
obat tidur itu dan diisi ke dalam sebuah botol kosong, lalu dari
beberapa botol obat lain yang warnanya sama dituangnya
sedikit-sedikit dan dimasukkan ke dalam obat tidur itu


Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sehingga tidak tampak banyak berkurang isinya, habis itu ia
menaruh kembali botol-botol itu ke tempat semula dan laci itu
dikunci kembali.
Alangkah senangnya Si-hiong sesudah berbuat demikian, ia
berbaring ditempat tidurnya untuk merenungkan tipu daya
yang baik guna mencuri pusaka.
<> Saat itu Tokko Hui-hong sedang berada dikamar puterinya
yang kecil itu dan secara rahasia tengah mengobati lukanya
sendiri. Dengan menghadapi sebuah cermin Hui-hong telah
membuka baju sehingga kelihatan suatu jalur luka di atas
pundaknya, darah sudah membeku. Setelah membersihkan
noda darah Hui-hong telah membubuhi obat luka yang berasal
dari keraton, obat luka mujarab pemberian raja Kim kepada
Wanyen Tiang-ci, dan Hui-hong mendapat satu botol dari sang
ayah. Saat itu Hui-hong sedang berpikir asalkan luka itu dibubuhi
obat selama tiga hari tentu lukanya sudah sembuh, dengan
demikian takkan kuatir diketahui oleh Loh Si-hiong.
Ditengah cermin seakan-akan terbayang wajahnya Beng
Tiong-hoan. Hui-hong menjadi teringat kepada kejadian
semalam yang sangat berbahaya, bila dibayangkan sungguh ia
masih merasa ngeri. Kiranya orang yang terkena sambitan
pisaunya Pan Kian-hau bukan lain daripada Tokko Hui-hong.
Semalam Beng Tiong-hoan telah masuk ke Gian-keng-ih
untuk mencuri pusaka, tapi diketahui oleh Hui-hong dan diamdiam
menyusulnya, dengan demikian barulah Beng Tionghoan
dapat melarikan diri dengan selamat. Diam-diam Huihong
merasa bersyukur pernah melihat petanya pada waktu
Wanyen Tiang-ci membangun Gian-keng-ih. Kalau tidak
biarpun kepandaian Beng Tiong-hoan setinggi langit juga
sukar lolos dari tempat yang menyesatkan itu.
"Tapi untuk apakah Tiong-hoan masuk kesana dengan
menghadapi risiko sedemikian besarnya?" demikian Hui-hong
tidak habis mengerti. Jika karena ingin menjadi jago nomor
satu di dunia ini rasanya bukanlah alasan yang mutlak. Tibatiba
terkilas suatu pikirannya: "Jangan-jangan dia adalah 'si
naga sembunyi' itu" Wah, jika benar, lantas apa yang akan
kulakukan?"
Sudah tentu Tokko Hui-hong berharap Beng Tiong-hoan
bukanlah 'si naga sembunyi' itu, tapi makin dipikir tanda-tanda
mengenai hal itu makin mencurigakan.
Begitulah diantara suami-isteri dan kekasih lama itu
masing-masing mempunyai rahasia sendiri-sendiri. Sementara
itu batas waktu pencurian pusaka sudah makin mendekat.
Pada malam hari terakhir, baru saja lewat tengah malam,
kentongan berbunyi tiga kali, sesosok bayangan secepat
terbang telah melintas keluar pagar tembok Gian-keng-ih yang
tinggi. Orang ini bukan lain adalah Loh Si-hiong.
Malam ini tiada bulan dan bintang, keadaan gelap gulita.
Keluar dari Gian-keng-ih dalam sekejap saja Si-hiong sudah
menghilang di tengah rimba yang gelap.
Saat itu jago-jago Gian-keng-ih sudah tidur semua,
mimpipun mereka tidak nyana bahwa menantu kesayangan
pangeran yang paling berkuasa itu kini sudah melarikan diri
dari Gian-keng-ih. Ya, bahkan Loh Si-hiong sendiripun tidak
percaya bahwa dirinya akan dapat meloloskan diri dengan
begitu gampang.
Setiba di dalam hutan yang lebat dan gelap itu, keadaan
sunyi senyap tiada seorangpun. Ia menghela napas lega.
Saking gembiranya hampir-hampir Si-hiong bergelak tertawa
puas. Ia merasa bersyukur karena usahanya telah berhasil
dengan baik dan segera dia dapat pulang ke negeri asalnya.
Tanpa merasa tangannya meraba ke bagian dadanya
sendiri, terasa jantung masih berdebar-debar, dimana
tangannya menyentuh ada sesuatu yang menonyol. Kiranya di
dalam bajunya itu terdapat 27 helai gambar Hiat-to-tong-jin
serta sejilid kitab Lwekang tinggalan Tan Hu, kedua benda
pusaka itu telah berhasil dicurinya semua.
Semalam ia pura-pura asyik mempelajari soal sulit yang
dihadapkan padanya dari kitab Lwekang itu sehingga terpaksa
mesti bermalam di Gian-keng-ih. Kejadian begini sebelumnya
sudah pernah dilakukannya beberapa kali sehingga tiada
seorangpun yang menduga bahwa pada malam inilah dia akan
mencuri pusaka.
Cara Si-hiong mengatur tipu muslihatnya cukup rapi,
siangnya ia sudah suruh orang memberitahukan rumahnya,
bahwa malamnya terpaksa menginap di Gian-keng-ih, kusir
kereta itupun disuruh jangan memapak.
Walaupun cara mengatur rencananya itu sangat rapi, tapi
secara begitu gampang dia berhasil melaksanakan rencananya
sesungguhnya juga sangat diluar dugaan. Terbayang olehnya
adegan kejadian tadi. Dengan dupa wangi ia telah membius
para penjaga sehingga tertidur semua sebelum mereka tahu
apa yang terjadi.
Pesawat-pesawat rahasia di kamar penyimpan pusaka itu
adalah Si-hiong sendiri yang pasang, dimana digandeng
dengan genta-genta tanda bahaya juga diketahui semua,
maka dengan gampang saja ia dapat turun tangan, boleh
dikata setanpun tidak tahu, maka dengan bebas ia dapat
meloloskan diri keluar.
Pikir Si-hiong: "Sesudah mengisap asap dupa itu, para
penjaga itu paling cepat baru akan sadar kembali besok pagi
setelah matahari terbit. Hui-hong telah diberitahu bahwa aku
bermalam di Gian-keng-ih, mungkin dia baru akan mencari
diriku bilamana sampai lewat lohor masih belum nampak aku
pulang. Tatkala mana, he..he, tentu aku sudah kabur jauhjauh
meninggalkan kotaraja Kim ini."
Gian-keng-ih itu dibangun di bukit Bwe-san di belakang
keraton, sebelumnya Si-hiong sudah mengapalkan jalannya,
biarpun mata tertutup juga dia dapat pulang pergi tanpa
kesasar. Setelah keluar hutan, pada suatu kaki bukit pertama
ia menemukan sebatang pohon cemara tua, di atas batang
pohon itu ada sebuah gerowokan, segera Si-hiong
menyembunyikan barang-barang curiannya itu di dalam
lubang pohon. Apa yang dilakukannya ini sesuai perjanjiannya dengan Cima.
Pada kentongan keempat tepat Ci-ma akan datang
ketempat ini untuk menerima pusaka curian itu. Dia berjanji
pada kentongan keempat dengan Ci-ma sebab ia tidak
menduga bahwa usahanya takkan berhasil dengan begitu
gampang. Menurut perhitungan mereka, dia tentu tak bisa kabur
bersama-sama dengan Ci-ma, maka kedua macam pusaka itu
harus dibawa lari lebih dulu oleh Ci-ma. Hal ini bukannya Cima
tidak percaya padanya, tapi adalah untuk menjaga
kemungkinan kalau dikejar musuh.
Menurut jalan pikiran mereka, Ci-ma yang belum dikenal
musuh tentu akan lebih gampang bergerak. Sesudah
pencurian pusaka itu ketahuan, tentu Wanyen Tiang-ci akan
mengerahkan segenap jago-jagonya untuk mengejar dan
membekuk Loh Si-hiong sehingga risiko akan tertangkapnya
Si-hiong sangat besar sebelum dia melarikan diri ke luar
wilayah kerajaan Kim. Sebab itulah mereka berdua harus
memisahkan diri dan pusaka yang telah berhasil dicurinya itu
harus dibawa oleh Ci-ma.
Akan tetapi lantaran usahanya terlalu lancar melampaui
perhitungan mereka sehingga Si-hiong lebih siangan sampai di
tempat pertemuan yang telah dijanjikan dan Ci-ma masih
belum muncul. Si-hiong pikir daripada menunggu lagi satu jam sampai
datangnya Ci-ma ada lebih baik dirinya menggunakan waktu
yang lowong ini untuk berbuat sesuatu. Ia yakin gerowokan
pohon tempat penyimpanan benda pusaka hasil curiannya itu
tiada lain orang yang tahu kecuali dirinya dan Ci-ma. Setelah
Ci-ma menerima benda-benda pusaka itu dirinya juga akan
memisahkan diri untuk membelokkan perhatian musuh. Tapi
kini hari belum terang, pintu gerbang kota belum dibuka,
terang dirinya belum dapat lari keluar kota. Lalu kemanakah
dirinya harus sembunyi malam ini"
Mestinya tempat yang paling baik untuk sembunyi adalah di
sekitar pintu gerbang benteng kota, begitu terang tanah dan
pintu gerbang dibuka segera dirinya dapat kabur dengan
leluasa. Namun sekarang timbul suatu pikiran lain dalam
benak Loh Si-hiong: "Sekali aku sudah meninggalkan kotaraja
ini, seterusnya aku takkan kembali lagi kesini."
Sekali-kali Loh Si-hiong tidak merasa berat meninggalkan
kotaraja Kim yang memberikan kedudukan tinggi dan
kehidupan mewah itu, tapi disini terdapat rumah tangganya,
ada isterinya, ada putera puterinya yang tercinta. Walaupun
"rumah tangga" ini dibangun diluar rencananya pada waktu ia
ditugaskan mencuri pusaka ke kotaraja Kim ini, namun sudah
selama lima tahun ia memupuk mahligai rumah tangga itu,
betapapun sudah mempunyai perasaan erat. Sekalipun suami
isteri mereka hidupnya cuma rukun dilahir dan berpisah dalam
batin, tapi terasa rada berat juga terhadap Tokko Hui-hong
yang hidup berdampingan selama lima tahun, pada saat harus
berpisah untuk selamanya betapapun dirasakan agak sedih.
Lebih-lebih kedua putera puterinya yang kecil mungil itu
benar-benar sukar untuk dilupakan.
"Selama beberapa tahun ini seluruh perhatianku terpusat
pada rencana pencurian pusaka, pagi-pagi aku sudah
berangkat ke Gian-keng-ih dan sampai malam baru pulang
sehingga pada hakikatnya jarang sekali aku merasakan
bahagianya orang berumah tangga, terhadap putera puteriku
itupun aku tidak memberikan perhatian selayaknya. Sekarang
Siau-hong sakit cacar air dan akupun belum sempat
menjenguknya. Apakah aku mesti tinggal pergi dengan begini
saja" " Tidak, sebelum berangkat betapapun aku harus
melihat mereka dulu. Mungkin aku tidak sempat berbicara
dengan mereka, tapi sekalipun mereka sudah tidur, asalkan
aku dapat memandang muka mereka, maka perasaanku tentu
tidak terlalu berat lagi meninggalkan mereka."
Begitulah setelah dipikir berulang kali, akhirnya Si-hiong
mengambil keputusan akan pulang kerumah dulu. Mumpung
hari belum terang, waktu untuk kabur masih cukup luang.
Andaikan nanti dirinya dipergoki Hui-hong juga dia sudah
merencanakan kata-kata yang akan diucapkan kepada
isterinya itu. Sambil pikir tanpa terasa dia telah sampai di depan
rumahnya. Ia tidak mengetok pintu, tapi melompat lewat
pagar tembok dan diam-diam menuju ke kamar tidur
puterinya. Dilihatnya Siau-hong sedang tidur dengan nyenyak,
mak inang tidak kelihatan, juga Hui-hong tidak nampak.
Diam-diam Si-hiong merasa heran mengapa isterinya tidak
menjaga disamping puterinya yang sakit itu. Tapi karena
waktunya mendesak sehingga dia tidak sempat banyak
berpikir. Pelahan-lahan ia mencium pipi puteri kecil itu.
Pada saat itulah sekonyong-konyong telinganya mendengar
suara bisikan orang: "Kalunker-kuhinhap!"
Si-hiong terkejut dan cepat berpaling. Ternyata Tokko Huihong
sudah berdiri di belakangnya dengan air muka
tersenyum-senyum dan menatapnya dengan tajam.
Terpaksa Si-hiong menyapa dengan tersenyum ewa:
"Kiranya kau, Hui-hong. Nyata, betapapun aku tak bisa
membohongi kau."
Kalimat "kalunker-kuhinhap" itu adalah bahasa Mongol
yang berarti "kau mata-mata musuh". Kalimat ini pernah
diucapkan Tokko Hui-hong ketika untuk pertama kalinya Huihong
menyamar sebagai jago pengawal dan ditugaskan oleh
Wanyen Tiang-ci untuk menguji Loh Si-hiong di kamar batu
itu. Tatkala mana Si-hiong pura-pura tidak paham kata-kata
Mongol itu sehingga dapat mengelabui Hui-hong dan Wanyen
Tiang-ci. Sekarang sesudah mereka menikah selama lima
tahun dan mendadak Tokko Hui-hong membisiki kata-kata itu
pula, dengan sendirinya Si-hiong lantas tahu bahwa
rahasianya sendiri terang sudah diketahui oleh isterinya itu.
Mestinya Si-hiong sudah menyiapkan serentetan kata-kata
bohong yang akan diucapkan bilamana kepergok oleh sang
isteri. Tapi kini ia sadar tiada dapat mengelabui Hui-hong lagi,
terpaksa ia berkata pula dengan tersenyum kikuk: "Hui-hong,
pulangku malam ini memangnya aku bermaksud memberi
tahukan semua duduknya perkara padamu."
Tiba-tiba Hui-hong menggoyang tangan dan mendesis:
"Ssst, jangan keras-keras dan mengejutkan Siau-hong. Marilah
ikut padaku, jangan takut. Asal kau bicara terus terang aku
pasti takkan membikin susah padamu."
Si-hiong merasa lega. Ia ikut isterinya ke suatu kamar yang
tersembunyi dibalik gunung-gunungan dan pepohonan yang
lebat, kamar ini selamanya belum pernah didatangi oleh Sihiong.
Pikirnya: "Jika aku tidak dibawa kesini aku benar-benar
tidak tahu bahwa di rumahnya sendiri masih terdapat sebuah
kamar yang dirahasiakan seperti ini."
Setelah menutup pintu kamar dari dalam, Hui-hong lantas
berkata: "Kau tidak perlu menceritakan apa yang terjadi
malam ini, semuanya aku sudah tahu. Apakah kau pulang
untuk mengambil perpisahan untuk selamanya padaku?"
"Darimana kau tahu?" tanya Si-hiong.
"Sudah lama aku mengetahui siapa dirimu yang
sebenarnya," sahut Hui-hong. "Diwaktu siang hari kau dapat
menutupi dirimu dengan rapi. Cuma sayang, di waktu malam
kau tak dapat mengelabui aku lagi. Bukankah kau pernah
mengatakan belum pernah pergi ke Mongol. Tapi bila kau
mengingau, yang kau ucapkan adalah bahasa Mongol yang
tulen." Diam-diam Si-hiong menyesalkan dirinya sendiri. Sebagai
seorang agen rahasia yang telah digembleng, sungguh tidak
nyana akhirnya toh bocor juga rahasianya melalui igauannya
di waktu tidur.
Hui-hong lantas berkata pula: "Semula kami mencurigai kau
adalah mata-mata musuh dari kerajaan Song selatan. Setahun
kemudian aku baru mengetahui dirimu yang sebenarnya,
kiranya kau adalah mata-mata dari Mongol."
"Mengapa setahun kemudian baru diketahui olehmu?"
tanya Si-hiong.
"Setahun sesudah kita menikah terlahirlah Siau-hong, pada
malam pertama kau menjadi ayah itulah, rupanya kau
terlampau senang sehingga tanpa sadar kau telah mengingau.
Cuma kaupun tidak sering-sering mengingau, selama


Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

beberapa tahun ini aku sudah kenal kebiasaanmu. Hanya
diwaktu pikiranmu terlalu tegang atau perasaanmu terlampau
girang barulah kau mengingau. Beberapa hari terakhir ini
hampir-hampir setiap malam kau selalu mengingau."
Keruan Si-hiong terkejut. "Apa yang kuucapkan?" tanyanya.
Hui-hong tersenyum dan tidak lantas menjawab. Sejenak
kemudian baru dia tanya: "Siapakah Ci-ma?"
Wajah Si-hiong menjadi merah, ia tahu tak bisa
membohongi sang isteri lagi, terpaksa menjawab: "Dia adalah
sobatku diwaktu masih kanak-anak, paling akhir dia
ditugaskan kesini untuk membantu aku. Cuma, Hui-hong,
harap kau percaya padaku, aku tidak pernah berbuat sesuatu
yang kurang pantas terhadapmu."
Hui-hong menghela napas, katanya: "Perkawinan kita
memangnya bukan keinginan kita sendiri, kita hanya seperti
boneka yang didalangi. Seumpama dia adalah kekasihmu juga
aku tidak menyalahkan kau." Selang sejenak ia menyambung
pula: "Cuma dari ingauanmu yang bertambah sering itu aku
sudah menduga dalam waktu singkat kau tentu akan
melakukan sesuatu. Malam ini kau tidak pulang, apa yang
hendak kau lakukan juga sudah dalam perhitunganku. Sebab
itulah tidak usah kau ceritakan padaku."
"Apakah telah kau laporkan kepada Ong-ya bahwa kau
telah mengetahui rahasiaku?" tanya Si-hiong ragu-ragu.
"Jika kulaporkan, apakah malam ini kau dapat datang kesini
dengan selamat?" sahut Hui-hong. "Ai, aku telah mengingkari
budi kebaikan Ong-ya yang telah membesarkan diriku. Aku
telah mengalami pertentangan batin yang hebat. Dengan
sejujurnya biar kukatakan padamu bahwa sebabnya aku tidak
berbuat sesuatu sekali-kali bukan demi kau, tapi adalah demi
anak-anak kita ini."
Baru sekarang perasaan Si-hiong benar-benar merasa
lapang. katanya dengan terharu: "Hui-hong, kau telah
merahasiakan diriku, betapapun juga selama hidupku ini aku
akan senantiasa berterima kasih padamu."
Mendengar ucapan ini, hati Hui-hong rada-rada pedih juga.
pikirnya: "Tapi, tapi aku toh sudah memberitahukan tentang
dirimu kepada seseorang." Cuma ia tidak sampai menceritakan
hal itu kepada Si-hiong.
Katanya kemudian: "Si-hiong, ada suatu hal aku masih
tidak paham. Cara bagaimanakah kau berhasil mengelabui
Ong-ya sehingga dia mau percaya padamu. Padahal kau kan
bukan putera pengawal pribadinya yang sudah gugur itu?"
"Ya, bukan, aku adalah palsu", sahut Si-hiong.
"Aku tahu kau adalah palsu, tapi justeru inilah yang
membikin aku tidak paham. Dahulu waktu Ong-ya mengutus
orang mencari kalian ibu dan anak, utusan itu jelas adalah
kenalan baik Loh-taysiok (paman Loh, maksudnya ayahnya
Loh Si-hiong yang dipalsukan itu), mengapa dia tidak
mengetahui rahasia pemalsuanmu?"
"Meski utusan itu pernah melihat putera keluarga Loh, tapi
tatkala mana anak itu baru berumur tiga tahun, dan waktu dia
diutus mencarinya anak itu sudah berusia sepuluh tahun.
Dengan sendirinya anak yang berumur sepuluh itu adalah
diriku. Asalkan Loh-taynio (nyonya Loh) mengaku diriku
sebagai pureranya masakah utusan itu berani menaruh
sesuatu curiga"''
10. Siapakah Si Naga Sembunyi"
"Dan mengapa Loh-taynio mau bersekongkol dengan kalian
dan mau membiarkan kau memalsukan anaknya?" tanya Huihong
pula. Teka-teki ini sudah terpikir beberapa tahun olehnya
dan belum terpecahkan selama ini, sebab itulah pada saat
sebelum suaminya pergi untuk selama-lamanya masih tidak
lupa diajukan pertanyaannya ini untuk memecahkan teka-teki
yang belum terjawab.
"Ini kan sangat sederhana," sahut Si-hiong tertawa. "Orang
kami telah menangkap anaknya dan berjanji padanya asalkan,
dia suka bekerja sama dengan kami, kelak dia akan
dipertemukan kembali dengan puteranya di Mongol, jika tidak,
maka anaknya akan dibunuh. Dengan ancaman ini masakah
dia berani membangkang kepada keinginan kami?"
"Keji amat cara ini," ujar Hui-hong. "Lalu, dimanakah Loh
Si-hiong yang tulen itu?"
"Aku tidak tahu," sahut Si-hiong dengan menunduk. "Aku
.... akupun tidak diberitahu lagi tentang dia."
Kiranya ibu dan anak itu setibanya di Mongol sudah lantas
dibunuh oleh orang-orangnya, lantaran malu terhadap
perbuatan itu, maka Si-hiong tidak berani bicara terus terang.
"Ya, pertanyaanku yang terlalu bodoh. Sudah tentu mereka
takkan hidup lagi," kata Hui-hong sambil menghela napas. "Sihiong
sungguh aku tidak nyana kau ........"
"Tidak nyana, aku sedemikian kejam bukan"'' sambung Sihiong.
"Tapi aku juga terpaksa. Habis siapa yang suruh kedua
negeri kita sama-sama hendak merajai dunia" Dalam
peperangan, jangankan cuma sepasang suami-isteri atau dua
orang ibu dan anak, bahkan beribu-ribu rumah tangga juga
bisa hancur. Seumpama kau, bukankah kaupun pernah minta
aku pergi membunuh juragan she Nyo itu?"
"Ucapanmu memang tepat," kata Hui-hong. "kita hanya
boneka yang didalangi orang. Tapi kalian telah berbuat curang
terhadap seorang anak yang sudah kehilangan ayah, hal ini
betapapun aku tak dapat memaafkan kau."
"Baiklah," sahut Si-hiong dengan lesu. "Pulangku ini hanya
untuk sekali lagi melihat kau dan anak-anak, sekarang citacitaku
sudah terkabul, terserah apa yang hendak kauperbuat
atas diriku."
Kembali Hui-hong menghela napas, katanya kemudian:
"Boleh kau pergi saja. Meski aku tak dapat memaafkan kau,
tapi akupun tidak ingin membunuh kau."
Setelah mempengaruhi perasaan Hui-hong, kini Si-hiong
sudah ada harapan untuk menyelamatkan diri, diam-diam ia
merasa girang. Tapi pada saat akan berpisah untuk selamanya
ini mau tak mau timbul juga perasaan murninya terhadap
sang isteri. Tanpa merasa ia genggam tangan Hui-hong dan
berkata: "Kau tak dapat memaafkan aku, tapi aku akan
berterima kasih kepadamu untuk selamanya. Baiklah, aku
akan pergi, harap kau menjaga dirimu baik-baik."
Hui-hong mengebaskan tangannya yang dipegang itu, tapi
mendadak ia menarik kembali tangan Si-hiong dan berkata:
"Jangan keluar melalui pintu depan. Ong-ya adalah seorang
yang amat cermat, aku sudah tahu malam ini dia tidak
berdiam di rumah, kaupun tidak melihat dia di Gian-keng-ih,
hal-hal ini sangat meragukan. Jika perbuatanmu telah
diketahui, tentu dia akan menduga kau akan pulang lagi ke
sini." Si-hiong terkesiap, katanya: "Benar, jika begitu biar aku
berangkat melalui pintu belakang."
Sudah tentu iapun dapat menduga bilamana Ong-ya benarbenar
mau menangkapnya, tentu pintu muka dan belakang
sudah diawasi dengan ketat. Cuma dia berharap dengan pintu
belakang akan mengurangi sedikit risikonya.
Namun Hui-hong telah tersenyum, katanya: "Aku
mempunyai jalan lain yang dapat kau gunakan. Di dalam
kamar ini ada pintu rahasia yang menembus ke tengah
gunung-gunungan buatan dan dari sana ada sebuah jalan di
bawah tanah yang menembus keluar."
Apa yang dikatakan Hui-hong ini adalah jalan rahasia yang
pernah digunakannya untuk pergi menemui Beng Tiong-hoan
tempo hari. Keruan Si-hiong sangat girang, katanya: "Hui-hong, kau
benar-benar tuan penolongku yang berbudi."
Belum habis ucapannya mendadak Tokko Hui-hong
bersuara kaget.
"Ada apa?" tanya Si-hiong bingung.
Hui-hong, tampak sangat terperanjat dan gugup, katanya:
"Sungguh aneh pesawat pintu rahasia ini agaknya telah rusak,
Aku ...... aku tak dapat membukanya."
"Biar aku mencobanya lagi," kata Si-hiong. Sebagai orang
ahli sekali coba saja segera ia mengetahui bahwa pintu
rahasia itu telah dikunci oleh orang dari sebelah sana.
Pada saat itulah, selagi Si-hiong mengeluh, terdengarlah
suara orang bergelak tertawa di luar: "Loh Si-hiong, apakah
kau masih mau coba melarikan diri"''
Cepat Si-hiong menerjang keluar kamar, terlihatlah di
depan gunung-gunungan sana telah berdiri seorang dengan
membawa sebatang tongkat bambu. Kiranya adaiah pangeran
muda Wanyen Ting-kok.
"He..he..he..he, kau tidak sangka akan kepergok olehku
bukan?" seru Wanyen Ting-kok sambil menyeringai dan
menuding Si-hiong dengan tongkat bambu yang hijau itu.
"Hm, jangan kau kira aku bukan tandinganmu, jika kau berani
bergerak sedikit saja sebentar lagi tanggung kau akan dihujani
anak panah hingga badanmu mirip landak."
Waktu Si-hiong melirik sekitarnya, dibalik semak-semak
telah penuh dengan bayangan orang, banyak ujung anak
panah yang menonjol keluar dan tampak gemilapan dalam
kegelapan. Nyata pangeran muda itu telah menyembunyikan
pasukannya di sekeliling taman.
Hui-hong juga telah ikut keluar. Melihat keadaan demikian
seketika wajahnya pucat pasi. Pikirnya: "Cara bagaimana
mereka mengetahui" Padahal Ong-ya biasanya tidak
mencurigai Si-hiong, jangan-jangan Tiong-hoan yang telah
melaporkannya" Ah, tapi tidak mungkin. Tiong-hoan sudah
berjanji padaku, tidak nanti dia ingkar janji."
Dalam pada itu Wanyen Ting-kok tengah tertawa pula,
katanya: "Adik yang baik, kau telah lupa bahwa gedungmu
yang megah ini adalah ayah yang membangun bagi kalian,
segala pesawat rahasia yang diatur di dalam rumahmu ini
masakah dapat mengelabui aku" Cuma akupun tidak
menyangka bahwa ternyata sedemikian setiamu kepada sang
suami sehingga melupakan budi kebaikan ayah yang telah
membesarkan kau."
Karena merasa sukar untult melarikan diri lagi, Hui-hong
menjadi tenang malah, sahutnya: "Urusan sudah ketelanjur
begini, aku tidak ingin bicara apa-apa. Boleh terserah
kepadamu apa yang hendak kau lakukan. Tapi kedua anakku
itu tidak berdosa, hendaklah kau jangan membikin susah
mereka. Ya, aku memang sudah menerima budi kebaikan
keluargamu. tapi selama ini akupun sudah banyak berjasa
bagi kalian, betapapun kalian tidak boleh melupakan hal ini."
"Eh, adikku yang manis, kenapa kau berkata, demikian,"
kata Ting-kok dengan cengar-cengir. "Kepadamu aku hanya
ada cinta, masakah aku tega membunuh kalian ibu dan anak"
Bahkan untuk mengampuni jiwa Si-hiong juga masih dapat
kupertimbangkan bila kau memintanya. Sudah tentu,
semuanya ini tergantung kepada dirimu pula."
Saking gusarnya alis Hui-hong sampai menegak.
Damperatnya: "Ting-kok, kau ..... kau tidak tahu malu."
Melihat Sang isteri toh tidak mau mengkkhianatinya pada
saat berbahaya itu, sungguh hati Si-hiong sangat terhibur.
Serunya segera: "Hui-hong, tak perlu gubris padanya. Palingpaling
hanya mati saja bagiku." - Habis itu ia berbalik ketawa
terbahak-bahak terhadap Wanyen Ting-kok.
"Gila, kematianmu sudah di depan mata, apa yang kau
tertawakan"'' bentak Wanyen Ting-kok.
"Aku mentertawai kalian ayah dan anak, kalian telah tertipu
olehku, tapi masih berlagak menang dan merasa senang,"
seru Si-hiong dengan tertawa. "Apakah kau sudah mengetahui
bahwa kedua macam pusaka di Gian-keng-ih itu sekarang,
sudah jatuh di tangan kami. Biarpun kau membunuh aku juga,
tiada gunanya, toh kalian tetap sudah kalah."
Tiba-tiba Wanyen Ting-kok juga bergelak tertawa, bahkan
tertawanya lebih lantang daripada Si-hiong.
Keruan Si-hiong melengak malah, damperatnya: "Hm, apa
yang kau tertawakan?"
"Aku mentertawai ketololanmu," jawab Ting-kok sesudah
puas tertawa. "Memangnya kau mengira kami telah kau tipu,
siapa tahu justeru kaulah yang telah masuk perangkap kami.
Terus terang kukatakan bahwa sudah lama ayah mengetahui
tipu muslihatmu, beliau sengaja membiarkan kau mengatur
pesawat-pesawat rahasia dan memberi kesempatan kepadamu
untuk mencuri kedua macam pusaka itu. Ini adalah tipu
menjaring ikan sekaligus, tahu tidak"''
Mendengar jawaban demikian, seketika wajah Si-hiong
pucat sebagai mayat, ia benar-benar mati kutu dan tak bisa
bersuara lagi. Luar biasa senangnya Wanyen Ting-kok. Ia kuatir Tokko
Hui-hong masih belum jelas duduknya perkara, maka sengaja,
dia memberi keterangan lebih jauh: "Loh Si-hiong, apakah kau
tahu sebab apa kami tidak menangkap kau sewaktu kau turun
tangan mencuri pusaka" Jika kau tidak tahu, biar kukatakan
padamu. Sebab kalau kau ditangkap di Gian-keng-ih sana,
paling-paling yang tertangkap hanya kau seorang, sebaliknya
kalau kau dibiarkan lolos keluar, tentu begundalmu akan dapat
dijaring sekaligus. Padahal di tengah hutan sana sebelumnya
sudah penuh dijaga oleh orang-orang kami dan sekarang
tinggal menunggu kedatangan kawanmu untuk masuk jiratan
sendiri. Sekarang kau sudah paham belum"
Betapapun tabahnya Loh Si-hiong, setelah mendengar
keterangan itu mau tak mau badannya menjadi gemetar juga.
Pikirnya: "Gebrakan ini benar-benar aku telah mengalami
kekalahan habis-habisan. Jiwaku sendiri tidak menjadi soal,
celakanya jiwa Ci-ma juga akan menjadi korban lantaran
kecerobohanku."
Dalam pada itu Wanyen Ting-kok lantas membentak:
"Sekarang kau sudah tahu duduknya perkara, nah, apakah
kau tidak lekas menyerahkan diri?"
Tak terduga, belum lama ia merasa senang dan bangga,
pada saat dia membentak agar Si-hiong menyerah itulah
sekonyong-konyong terdengar suara tertawa orang yang
panjang, sesosok bayangan secepat terbang tahu-tahu
melayang lewat gunung-gunungan itu, belum lagi pemanahpemanah
yang disembunyikan disitu itu melihat jelas siapa
yang datang, tahu-tahu orang itu sudah berdiri di depan
Wanyen Ting-kok.
"Hah, Beng Tiong-hoan, kau" Untuk apa kau datang
kemari?" seru Ting-kok dengan terkejut.
Belum lenyap suaranya sekali cengkeram Beng Tiong-hoan
sudah berhasil membekuknya. Selisih ilmu silat Wanyen Tingkok
dengan Beng Tiong-hoan terlampau jauh sehingga sama


Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sekali ia tak bisa berkutik lagi.
Pada saat itulah baru ada beberapa anak panah yang
dibidikkan oleh pemanah-pemanah tersembunyi tadi, tapi
Tiong-hoan lantas angkat Wanyen Ting-kok ke atas sambil
membentak: "Baiklah, boleh kalian panah mampus
majikanmu!"
Sudah tentu pasukan pemanah itu takut membikin celaka
pangeran muda mereka, maka hujan panah tidak jadi
dilancarkan, semuanya hanya melongo kesima tak berdaya.
"Beng-toako, ken ...... kenapa kau berkhianat, selamanya
ayah tidak jelek terhadapmu," seru Ting-kok.
"Benar," sahut Tiong-hoan, "sebagai kusir keluargamu aku
memang sudah menerima budi kalian. Kalau tidak siapa diriku
saat ini tentu sudah diketahui orang."
"Hah, siapakah kau sebenarnya?" teriak Ting-kok terkejut.
"Ha..ha..ha..ha!" Tiong-hoan bergelak tertawa. Ia banting
Ting-kok ke atas tanah dan menginyak dadanya dengan
sebelah kaki, lalu serunya lantang-lantang: "Aku tak lain tak
bukan adalah 'si naga sembunyi" yang hendak kalian tangkap
itu!" Tokko Hui-hong ikut terkejut dan bergirang pula. Baru
sekarang ia melihat jelas bahwa badan Beng Tiong-hoan
berlepotan darah, terang lukanya tidak enteng. Cepat ia
berseru: "Beng-toako, mengapa tidak dulu-dulu kau
memberitahukan padaku?" - Tanpa merasa ia memburu maju
ke samping Beng Tiong-hoan dan mengeluarkan sapu
tangannya untuk membersihkan darah di atas badan bekas
kekasihnya itu.
Ia tahu sebabnya Beng Tiong-hoan mau datang kesitu
dalam keadaan terluka pasti karena ingin mencarinya. Kalau
tidak, sesudah terluka dan beruntung dapat meloloskan
mestinya dia dapat kabur dengan leluasa.
Terdengar Beng Tiong-hoan berseru dengan tegas: "Huihong,
marilah kita pergi. Biarpun jiwaku melayang juga aku
akan membawa kau pergi dari sini."
Maka pahamlah Si-hiong duduknya perkara, pikirnya:
"Pantas selama beberapa tahun sebagai suami-isteri Hui-hong
dan aku hanya rukun dilahir tapi berbeda dalam batin. Kiranya
orang yang dia kasihi adalah 'si naga sembunyi'."
Sambil mengnela napas akhirnya Si-hiong berkata: "Benar
Hui-hong, silakan kau ikut pergi bersama dia."
"Dan bagaimana dengan kau?" tanya Hui-hong.
"Aku tidak dapat melaksanakan perintah Khan (raja
Mongol) yang besar, aku malu untuk pulang kesana," sahut Sihiong.
Hati Hui-hong terasa pilu, katanya: "Si-hiong, boleh jadi
aku bersalah padamu. Tapi jauh sebelumnya, aku sudah kenal
dia, sama halnya seperti kau dan Ci-ma."
"Ya, aku tahu," sahut Si-hiong sambil menunduk "Dan
entah bagaimana dengan nasib Ci-ma?"
"Kau jangan kuatir, Ci-ma sudah lama meninggalkan
kotaraja kata Beng Tiong-hoan. "Dia tidak mendapatkan kedua
macam pusaka itu, tapi telah menemukan kembali jiwanya.
Benda-benda pusaka itu telah kuambil, akulah yang suruh Cima
lekas pergi dari sini."
Si-hiong melengak: "Kau maksudkan kau yang telah
merintangi pengejar-pengejarnya dan membiarkan dia sempat
melarikan diri?"
"Benar, malahan aku menasihatkan dia lebih baik jangan
pulang ke Mongol," kata Tiong-hoan. "Dia adalah seorang
nona yang baik dan tiada harganya untuk menjual nyawa bagi
keangkara-murkaan Khan besar kalian. Sebaliknya tugasku
tidak sama dengan kalian, sebab kedua macam benda itu
asalnya memang milik negara kami, maka kami harus
mengembalikannya ke kandangnya semula. Kalian mencurinya
hanya untuk memenuhi nafsu keserakahan Khan kalian,
maknanya sama sekali berbeda. Apakah kau sudah paham?"
"Ya, cuma sayang aku terlambat memahaminya," sahut Sihiong
dengan lesu. "Banyak terima kasih atas pertolonganmu
kepada Ci-ma. Selanjutnya Hui-hong juga perlu
perlindunganmu."
Habis berkata mendadak goloknya menikam dadanya
sendiri. Hui-hong menjerit kaget, namun tidak keburu lagi
untuk menolongnya. Si-hiong sudah terkulai dengan mandi
darah, dengan suara lemah dan terputus-putus ia masih
berkata: "Le ...... lekas kalian pergi!"
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang
menjengek: "Hm, ingin lari" Jangan mimpi!"
Siapa lagi dia kalau bukan Wanyen Tiang-ci. Terlihat dia
menggandeng Siau-liong dan tangan lain membopong Siauhong,
selangkah demi selangkah ia mendekati Hui-hong.
Kemudian ia mendengus pula: "Hui-hong, sungguh tidak
nyana kaupun mengkhianati aku?"
Wajah Hui-hong pucat pasi, katanya: "Ong-ya, kau boleh
membunuh aku, tapi anak-anak itu tidak tahu apa-apa,
mereka tidak berdosa."
Dalam pada itu Siau-liong telah memanggil-manggil "ibu"
dan Siau-hong menangis ketakutan.
"Jangan kuatir, Hui-hong," seru Tiong-hoan. "Jika dia tidak
mengembalikan anak-anakmu, segera akupun mencabut
nyawa putera anjingnya ini." Menyusul ia terus cengkeram
Wanyen Ting-kok dan memalangkan goloknya di atas
kuduknya. Saking murka Wanyen Tiang-ci menyeringai malah,
katanya: "Beng Tiong-hoan, keji amat caramu ini. Baiklah,
anggaplah aku yang terjungkal ditanganmu. Tapi kau "si naga
sembunyi' ini akhirnya toh kelihatan juga belangnya. Apakah
kau mengira akan dapat lolos keluar dari kotaraja ini dan
pulang ke negerimu dengan selamat?"
Kiranya Wanyen Tiang-ci sudah bergebrak dengan Beng
Tiong-hoan di tengah hutan sana. Tiong-hoan berhasil
menerjang keluar kepungan sesudah dilukai beberapa tempat
oleh Wanyen Tiang-ci. Setelah pertarungan itu dengan
sendirinya Wanyen Tiang-ci mengetahui siapa sebenarnya
Beng Tiong-hoan.
Maka dengan ketus Tiong-hoan menjawab: "Dapat lolos
atau tidak adalah urusanku. Sekarang aku hanya ingin tanya
padamu, kau mau terima tawaranku tadi atau tidak?"
"Baik, marilah kita tukar orang!" sahut Wanyen Tiang-ci.
"Tapi aku tak dapat mempercayai kau,'' ujar Tiong-hoan.
"Kau sendiri harus mengantar kami keluar kota, kira-kira
sepuluh li di luar kota barulah kita menukar tawanan."
Terpaksa Wanyen Tiang-ci menurut, katanya: "Baiklah, aku
setuju." Ia anggap Tiong-hoan sudah terluka, betapapun ia
tidak kuatir padanya.
"Biarlah malam ini untuk pengabisan kalinya aku menjadi
kusir pangeran kerajaan Kim yang paling berkuasa," kata
Tiong-hoan dengan tertawa. "Hui-hong, marilah kita naik ke
atas kereta." Dengan mengempit Wanyen Ting-kok ia
mengajak Hui-hong menuju kereta kuda yang berhenti di luar
gedung seperti biasa.
"Aku tidak menumpang keretamu," kata Wanyen Tiang-ci.
Lalu ia memanggil Pan Kian-hau, seorang membopong satu
anak mereka naik kuda mengikut di belakang kereta Beng
Tiong-hoan itu.
Hari masih pagi buta, pintu gerbang benteng belum dibuka.
Tapi atas perintah pangeran yang paling berkuasa, dengan
leluasa rombongan mereka lantas dibukai pintu.
Kira-kira belasan li di luar kota barulah fajar menyingsing.
Wanyen Tiang-ci menahan kudanya dan berseru: "Seorang
laki-laki sejati omong pasti pegang janji. Marilah tukar orang
menurut perjanjian."
Beng Tiong-hoan lantas melompat turun dari keretanya
dengan tetap mencengkeram Wanyen Ting-kok.
Tokko Hui-hong mengikuti dibelakangnya.
Diam-diam Wanyen Tiang-ci mengedipi Pan Kian-hau,
maksudnya bila sudah tukar tawanan segera mereka akan
melabrak musuh. Mereka yakin dengan gabungan dua orang
tentu dengan mudah akan dapat membekuk "si naga
sembunyi".
Tapi sebelum tukar tawanan dilakukan, mendadak Beng
Tiong-hoan bersuit nyaring, dari lereng sana lantas muncul
tiga penunggang kuda dengan cepat.
"Ong-ya, hendaklah kau jangan pakai akal licik, kata Tionghoan
dengan tertawa. "Nah, Hui-hong, boleh kau pergi
menerima kembali anak-anakmu. Sesudah kau terima kembali
anak-anakmu barulah aku melepaskan tawanan kita."
Terpaksa Wanyen Tiang-ci tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah Hui-hong menerima kembali kedua anaknya, lalu
Wanyen Ting-kok juga dibebaskan oleh Beng Tiong-hoan dan
menggabungkan diri dengan ayahnya.
Tiba-tiba Hui-hong berkata: "Tiong-hoan, harap kau
pondongkan anak-anak ini."
Tanpa curiga sedikitpun Tiong-hoan memondong kedua
anak kecil itu dari pangkuan ibunya.
Waktu itulah Wanyen Tiang-ci telah berkata: "Hm,
persiapan kalian memang sangat rapi, tapi juga jangan
bergirang dulu. Mungkin tidak begitu mudah bagi kalian
melarikan diri keluar wilayah negeri ini."
"Ha..ha..ha, sekarang juga boleh kau saksikan
keberangkatan kami," sahut Tiong-hoan sambil terbahakbahak.
Dengan memondong kedua anak kecil segera ia
mendahului naik ke atas kereta.
"Coba kucium dulu anak-anak itu," pinta Hui-hong. Segera
ia menciumi Siau-liong dan Siau-hong yang berada dalam
pondongan Beng Tiong-hoan yang sebelah kakinya sudah
melangkah ke dalam kereta.
"Anak baik, anak manis, jangan menangis dan jangan ribut,
ya, menurutlah kepada kata-kata paman," demikian Hui-hong
tepuk-tepuk badan bocah-bocah itu dengan pelahan.
Setelah menaruh kedua anak itu di dalam kereta, lalu
Tiong-hoan berseru: "Hui-hong, mengapa kau tidak lekas naik
kemari?" Tapi mendadak Hui-hong menjawab: "Tiong-hoan, ada kau
yang sudi menjaga mereka, maka aku takkan kuatir lagi."
Keruan Tiong-hoan terkejut, cepat ia melompat turun dan
berseru: "Apa yang hendak kau lakukan?"
Namun sudah terlambat sedikit, tertampak Tokko Hui-hong
sudah rebah di atas tanah, di atas dadanya menancap sebilah
belati. "Tiong-hoan," dengan suara lemah Hui-hong masih dapat
bicara, "maafkan, aku, ... aku tak dapat menjadi isterimu.
Ong-ya, budi kebaikanmu yang telah membesarkan aku kini
kubalas dengan kematianku, dengan demikian dapatlah kau
merasa puas."
Sebagai seorang ahli, dari lukanya dapatlah Tiong-hoan
mengetahui keadaan Hui-hong yang parah dan sukar ditolong
lagi, seketika hatinya mencelos. Sambil menahan air mata
Tiong-hoan memberi tanda untuk memanggil ketiga
penunggang kuda tadi. Sesudah mereka mendekat, lalu Tionghoan
bertanya: "Apakah benda-benda pusaka itu sudah
dikaburkan?"
"Jangan kuatir, Beng-toako," sahut satu yang lebih tua
diantara mereka itu. "Semalam orang kita sudah menyusup
keluar kota, saat ini paling sedikit sudah berada ratusan li dari
sini." "Kau dengar tidak, Ong-ya?" tiba-tiba Tiong-hoan berseru
kepada Wanyen Tiang-ci dengan gelak tertawa. "Sekarang
sekalipun kau membunuh kami juga kau tetap kalah."
Habis itu ia berpaling pula kepada ketiga orang tadi,
perintahnya: "Kalian harus mengantar kedua anak ini ke
tempat yang aman, mumpung mereka belum mengerahkan
pasukan untuk mengejar, lekas kalian gunakan kereta yang
bertandakan istana pangeran ini, sepanjang jalan tentu tiada
orang yang berani merintangi kalian."
"Dan kau bagaimana, Beng-toako?" tanya ketiga orang itu.
"Jangan urus diriku," sahut Tiong-hoan tegas. "Ini adalah
perintah, lekas kalian berangkat!"
Tiada jalan lain terpaksa ketiga orang itu menurut, segera
mereka melarikan kereta kuda itu bersama kedua anaknya Loh
Si-hiong dan Tokko Hui-hong.
Dalam pada itu Wanyen Tiang-ci telah melangkah maju,
namun Tiong-hoan telah menghadang didepannya dengan
golok terhunus, jengeknya: "Ong-ya, semalam aku kena
dilukai karena kalian berjumlah lebih banyak. Tapi kalau satu
lawan satu terang kau bukan tandinganku. Aku sendiri akan
dapat mengakhiri diriku, tapi kalau kau berani melangkah
maju biarlah aku mengadu jiwa padamu."
Terhadap si "naga" yang sudah terluka itu nyatanya Wanyen
Tiang-ci rada jeri sehingga tidak berani sembarangan maju.
Kemudian Beng Tiong-hoan memangku Tokko Hui-hong
yang sudah mandi darah itu, katanya dengan suara pelahan:
"Jangan kuatir, betapapun kita akan selalu berada bersama
bukan?" Hui-hong membuka matanya dengan sinar mata yang
guram, katanya lemah: "Kau .... kau tidak berangkat," begitu
lirih suaranya sehingga cuma Beng Tiong-hoan saja yang
dapat mendengarnya.
"Ya, aku akan senantiasa berada didampingmu, Hui-hong,"
sahut Beng Tiong-hoan.
Habis berkata iapun menikam uluhatinya sendiri dan
robohlah tubuhnya di sisi Tokko Hui-hong.
Pelahan-lahan Tokko Hui-hong menutup kedua matanya
dengan mengulum senyuman puas.
TAMAT Sepasang Pedang Iblis 26 Naga Naga Kecil Kisah Para Naga Di Pusaran Badai Karya Marshall Pendekar Pemetik Harpa 3
^