Pencarian

Pendekar Pedang Kail Emas 4

Pendekar Pedang Kail Emas Karya Liu Can Yang Bagian 4


berbaju kuning yang kurus kering, sudah menghadang di
hadapannya. Hweesio itu kelihatan sudah berusia tujuh puluh tahunan, sedang
meredupkan sepasang mata-nya, di lehernya dikalungkan sebuah
tasbih, penam-pilannya damai sekali, Sin-hiong terpengaruh oleh
kecepatan gerakannya, tidak tahan jadi tertegun dan bertanya:
"Tay-suhu menghadang jalanku, apakah tidak mengizinkan aku
turun gunung?"
Hweesio itu pelan-pelan membuka matanya sambil
merangkapkan telapaknya berkata:
"Sicu sudah datang ke kuil kami, buat apa terburu-buru pergi?"
Saat ini Ci-keng Taysu berempat sudah terbang menghampiri,
begitu melihat hweesio tua kurus kering ini, buru-buru
merangkapkan telapaknya menghormat, sambil memanggil Supek,
ke empat orang itu mundur dengan hormat ke belakang.
Melihat ke empat orang ini begitu meng-hormati orang ini, dan
juga memanggil Supek, Sin-hiong jadi sadar kedudukan hweesio tua
kurus kering ini amat tinggi, jika bukan ketua Siauw-lim-si, juga
pasti saudara seperguruannya ketua Siauw-lim-si.
Dugaannya sedikit pun tidak salah, hweesio tua kurus kering ini
adalah Sute ketua Siauw-lim-si, Bu-cu Taysu, dia juga salah satu
dari tiga tetua Siauw-lim-pai yang masih ada, tingkat ilmu silatnya,
tampak tidak dibawah Suhengnya Bu-su Taysu.
Nama seseorang seperti bayangan pohon, Sin-hiong tidak berani
bertindak sembarangan, dia berkata:
"Bukan aku ingin buru-buru pergi, karena kemarin malam ada
orang yang menggunakan nama-ku, sebelum masalahnya jelas, aku
terpaksa menunda sebentar."
Bu-cu Taysu mengeluh, sepasang matanya mendadak
membelalak besar, satu sorot mata yang dingin menyorot ke arah
wajah Sin-hiong dan berkata:
"Kalau begitu ternyata benar, menurut pendapatku, murid Khu
Ceng-hong tidak mungkin berbuat begitu."
Mendengar ini, dalam hati Sin-hiong timbul perasaan bangga dan
berkata: "Terima kasih atas pujian Tay-suhu!" Bu-cu Taysu berpikir
sejenak, berkata lagi:
"Tapi, Sicu kecil sudah datang kesini, masalah dengan perguruan
kami, lebih baik diselesaikan secepatnya!"
Sin-hiong tergerak, di dalam hati berpikir: Hweesio tua ini masih
mudah marah saat itu sambil menghela nafas dia berkata lagi:
"Saatnya tentu saja tidak akan lama lagi, Tay-suhu tenang saja,
aku sudah datang kemari, tengah malam ini aku pasti datang untuk
bertemu dengan Bu-su Lo- cianpwee!"
Bu-cu Taysu tersenyum, dia mengayunkan tangannya, Ci-keng
berempat semua mundur ke pinggir, tidak terlihat dia bergerak,
tahu-tahu tubuh-nya sudah meloncat ke atas, orangnya masih di
udara dia sudah berkata:
"Kalau begitu, aku dan saudara seperguruan akan menanti
anda." Setelah berkata, dalam sekejap mata tubuhnya sudah
menghilang di tengah gunung, kecepatannya sungguh jarang
terlihat di dunia persilatan!
Dengan penuh pertanyaan, pelan-pelan Sin-hiong berjalan turun
gunung, saat ini sudah hampir tengah hari, dia berputar dua
putaran, di sekitar lereng gunung sembarangan makan sedikit
makanan, tapi tidak melihat satu pun bayangan orang yang mencurigakan!
Ketika sore hari, Sin-hiong kembali fagi! Dia tidak berani
bertindak sembarangan menghadapi kuil Siauw-lim-si, maka dengan
hati-hati sekali berjalan menelusuri pinggir gunung, setelah berjalan
sejenak baru menggunakan ilmu silat meringan-kan tubuh naik ke
puncak gunung! Ilmu meringankan tubuhnya memang hebat, tidak sampai satu
jam, dia sudah naik setengah gunung lebih.
Saat ini, di puncak gunung sudah ada titik-titik sinar lampu, suara
"Duuk duuk!" dari tambur dan "Tang tang!" dari gong tidak hentihentinya
terdengar, kiranya para hweesio Siauw-lim-si sedang
melaksana-kan pelajaran malam.
Ketika sedang melihat-lihat, mendadak dari hutan di sebelah
kanan terdengar suara "Ssst ssst!", lalu dua bayangan orang dengan
kecepatan tinggi berkelebat di depan matanya!
Sin-hiong tergerak lalu dia pun menambah kecepatan, dalam dua
tiga loncatan sudah hampir mengejar mereka. Begitu melihat, di
dalam hati berpikir, 'ternyata mereka berdua"'
Ilmu silat kedua orang itu tidak lemah, tapi dibandingkan dengan
Sin-hiong, masih kalah satu dua kelas, dua orang itu berlari di
depan, diam-diam Sin-hiong mengikuti dari belakang, kedua orang
itu masih belum tahu ada yang mengikutinya.
Ketika kedua orang itu sudah sampai di pinggir hutan, mendadak
menghentikan langkah, salah satunya berkata:
"Sian-ku, waktunya masih terlalu pagi?"
Ternyata dua orang ini adalah Lam-goat-sian-ku dan Ceng-ji,
kemarin malam di dalam penginapan, Ceng-ji telah di totok jalan
darahnya oleh Sin-hiong, setelah Sian-ku datang, Ceng-ji
menceritakan kejadian-nya, usia Lam-goat-sian-ku walaupun tidak
besar, tapi pengalaman di dunia persilatan sudah banyak, setelah
dipikir dengan teliti, maka dia segera datang ke kuil Siauw-lim-si
bersama Ceng-ji.
Sin-hiong berjalan melalui jalan raya, sedang mereka berdua
berjalan melalui jalan kecil. Ketika Sin-hiong beristirahat di dalam
gunung, kedua orang ini diam-diam naik ke atas gunung, setelah
merobohkan hweesio Siauw-lim-si sebanyak lima-enam belas orang,
akhirnya menuliskan Kim-kau-kiam-khek lalu pergi.
Dalam pikiran Lam-goat-sian-ku, tidak peduli Kim-kau-kiam-khek
naik ke atas gunung atau tidak, dia sudah membuat satu kesan
buruk untuk dia, setelah dia mengetahuinya pasti akan datang
kesini, maka kedua orang itu malam ini secara diam-diam naik ke
atas gunung untuk melihatnya.
Siapa sangka masalah ini sudah ketahuan, dan yang lebih diluar
dugaan mereka adalah saat ini Sin-hiong sedang mengikuti mereka
dari belakang"
Lam-goat-sian-ku melihat cuaca, berkata:
"Ceng-ji, kita tunggu disini, kita menunggu di timur dan barat,
jika menemukan sesuatu, maka ber-tepuk tangan tiga kali sebagai
tanda." Ceng-ji menganggukan kepala, setelah Lam-goat-sian-ku selesai
berkata, langsung jalan kearah barat.
Setelah Lam-goat-sian-ku pergi, Ceng-ji menoleh ke belakang,
baru saja melangkah dua langkah, tiba-tiba dia merasa di
belakangnya bertiup angin kecil, Ceng-ji terkejut, dengan reflek dia
mencabut pedangnya dari punggung, tapi dipunggung hanya
tertinggal sarung pedang yang kosong.
Wajah cantik Ceng-ji menjadi pucat karena terkejut, baru saja
mau bertepuk tangan tiga kali, tapi dia tidak tahu apakah orang
yang datang ini adalah Sin-hiong atau bukan, ketika dia terbengong,
tiba-tiba dia merasa lehernya kesemutan, sepertinya ditiup oleh
orang, hatinya kembali terkejut, dia melihat-lihat ke sekeliling,
setengah bayangan orang pun tidak terlihat!
Ceng-ji berputar dua putaran lalu berguman:
"Tidak peduli kau atau bukan, aku tepuk tangan tiga kali dulu
saja." Dia .mengangkat telapaknya saat akan bertepuk, mendadak
merasa sikutnya kesemutan, saat membalik kan kepala melihat ke
belakang, di belakang tubuh sudah berdiri seseorang!
Rasa tekejut Ceng-ji kali ini amat sangat, saat dia melihat jelas
orang yang berdiri di belakang adalah Sen Sin-hiong yang dia cari
itu, baru saja akan bertepuk tangan lagi, tiba-tiba Sin-hiong
memukul tangannya dengan gagang pedang, sambil tersenyum
bertanya: "Nona Ceng, apakah kalian kemarin malam sudah datang
kemari!" Ceng-ji yang sudah dipukul oleh Sin-hiong, jadi tidak bisa
mengangkat tangannya, tidak tahan sambil marah berkata:
"Tidak tahu!"
Teriakan Ceng-ji ini menimbulkan perasaan heran Lam-goat-sianku,
dari kejauhan dia bertanya:
"Ceng-ji, kau sedang bicara dengan siapa?"
Sin-hiong takut dia berteriak lagi, dia memutar pegangan pedang
menotok jalan darah Ceng-ji, ketika Lam-goat-sian-ku berlari
datang, Ceng-ji sudah dikempit Sin-hiong entah dibawa pergi
kemana" Lam-goat-sian-ku bersuara "Iiih!" teriaknya:
"Ceng-ji! Ceng-ji......"
Suaranya terdengar sampai jauh, tapi jejak Ceng-ji sudah
menghilang. Dia tidak berteriak tidak apa-apa, sekali berteriak telah
mengejutkan para hweesio Siauw-lim-si, tidak lama setelah dia
berteriak, dari kejauhan ada empat bayangan orang berlari
mendekat! Lam-goat-sian-ku tertegun sejenak. Sesaat dia masih belum
menentukan apakah dirinya harus menghindar atau tidak,
mendadak dari sisi kiri berhembus angin kecil, sesosok bayangan
manusia secepat kilat sudah menyambut kedatangannya!
Lam-goat-sian-ku terkejut, baru saja akan mengejarnya,
mendadak di belakang terdengar suara "Mmm..!", Lam-goat-sian-ku
segera membalikkan tubuh, melihat, terlihat Ceng-ji sedang
terbaring disisi satu pohon besar"
Tidak perlu bertanya lagi, dia sudah tahu apa yang terjadi, buruburu
dia membuka totokan Ceng-ji dan berteriak:
"Cepat kita kejar!"
Begitu melihat, dia melihat empat bayangan orang itu sudah
berbelok ke arah lain.
Lam-goat-sian-ku sadar ini sengaja dipancing oleh Sin-hiong tapi
dia sedikit pun tidak merasa berterima kasih, dia bersuara
"Hemm...!" lalu lari ke puncak gunung bersama dengan Ceng-ji!
Mereka berdua terus lari ke depan, tapi setiap berjarak sekitar
sepuluh tombak, di atas tanah selalu tergeletak dua orang hweesio,
para hweesio ini sepertinya sedang terlelap tidur, kelihatannya telah
ditotok jalan darah tidurnya!
Diam-diam Lam-goat-sian-ku merasa heran, jika orang yang
melakukannya adalah Sen Sin-hiong, jarak waktu dia berangkat
tidak berbeda jauh dari pada dirinya, bukan saja dia bisa
menghindar dari empat orang hweesio, malah ketika dia berlari ke
depan, di sepanjang jalan bisa menotok hweesio sebanyak ini, ilmu
silatnya sungguh sudah sampai ke titik menakutkan!
Sekarang sudah hampir jam sembilan malam, Lam-goat-sian-ku
dan Ceng-ji sudah tiba di depan gerbang kuil. Terlihat di seluruh kuil
gelap gulita, di dalam dan di luar kuil nampak sepi, seperti tidak ada
orang saja! Melihat ini, Lam-goat-sian-ku kembali merasa heran, melihat
keadaan sekarang, apakah Sen Sin-hiong itu masih belum sampai"
Ketika dia bertanya-tanya, tiba-tiba di belakang tubuh terdengar
suara "Sreek sreek!", suara ini walau kecil sekali, tapi dengan
kemampuan ilmu silatnya Lam-goat-sian-ku, tentu saja tidak sulit
bisa men-dengarnya, begitu dia memutar tubuh, empat orang
hweesio berbaju abu-abu sudah berdiri di belakang tubuhnya.
Lam-goat-sian-ku mendengus dan berkata:
"Kalian bersembunyi seperti ini mau apa?"
Hweesio yang datang ini adalah Ci-keng Taysu dan kawankawannya,
empat orang ini adalah murid terhebat di generasinya,
mereka sedang kesal sebab tidak bisa menghalangi kedatangan Sinhiong.
Malam ini kuil Siauw-lim-si bersiaga penuh seperti akan
menghadapi musuh berat, setelah larut malam, selesai pelajaran
malam, seluruh lampu dari depan sampai belakang dipadamkan,
tapi setelah berjaga-jaga setengah malaman, bukan saja murid di
bawah gunung tidak ada yang melapor, dan juga tidak menemukan
jejak musuh seorang pun"
Sebenarnya, mereka tidak tahu, murid-murid yang disebar di
bawah gunung telah ditotok jalan darahnya oleh orang secepat kilat.
Ci-keng Taysu berempat ditugaskan menjaga pintu gerbang, tadi
mereka menemukan di bawah gunung ada orang, tapi selelah
mengejarnya sebentar, orang itu sudah menghilang, saat ini baru
saja kembali lagi ke pintu gerbang, mendadak melihat Lam-goatsian-
ku muncul bersama dengan pelayannya, empat orang itu
segera keluar mengikutinya.
Ci-keng Taysu sambil tersenyum berkata:
"Apakah yang datang ini Lam-goat-sian-ku?"
Lam-goat-sian-ku mendengus dingin:
"Aku tanya kalian, apakah kalian berempat ini datang untuk
menghadang aku?"
Tay-suhu Ci-goan menggerakan tubuhnya yang gemukbesar itu
dan berkata: "Maaf......"
Kata-kata selanjutnya belum selesai, dia membentak, tongkatnya
diangkat menyerang ke belakang tubuh Lam-goat-sian-ku!
Lam-goat-sian-ku tidak meyangka dia akan diserang, baru saja
mau mencabut pedangnya untuk melawan, mendadak seseorang
dengan lembut berkata:
"Dimana Bu-su Lo-cianpwee?"
Begitu perkataannya habis, orangnya muncul, dialah Sin-hiong!
Saat ini tongkat Tay-suhu Ci-goan sedang menyapu, ketika Sinhiong
berkelebat, tepat ketika tongkat Ci-goan menghantam ke
bawah, hanya terdengar "Weet!" orangnya sudah berlari menuju ke
ruangan besar! Maka enam orang yang di luar kuil jadi saling pandang terkejut!
Ci-keng Taysu berempat adalah orang yang bertugas menjaga
gerbang, Lam-goat-sian-ku berdua dengan pelayannya, berniat mau
bertarung dengan dia, enam orang ini punya tujuan sama, setelah
tertegun, enam bayangan orang segera meluncur mengikutinya.
Gerakan Sin-hiong sangat cepat, tapi saat dia mau masuk ke
dalam ruangan besar, mendadak dia merasakan ada angin kencang
mendorong keluar, kemudian seseorang membentak:
"Keluar!"
Tubuh Sin-hiong sedikit tergetar, mengikuti angin pukulan, di
udara dia bersalto dua kali, tahu-tahu pedangnya sudah dipegang,
terlihat satu kelebatan sinar perak menyabet ke bawah, sambil
tertawa dia berkata:
"Belum tentu!"
Dia menunjukan kehebatan ilmu meringankan tubuhnya, sambil
pedangnya dengan cepat disabetkan ke bawah, terdengar orang di
dalam ruangan berteriak:
"Ilmu meringankan tubuh yang hebat, jurus pedangnya juga
hebat!" Sedikit mengangkat telapak tangannya, telapak tangan kiri
menggantikan telapak tangan kanan, satu angin keras kembali
menyerang Sin-hiong!
Rupanya orang di dalam ruangan itu tidak mau Sin-hiong masuk
ke dalam ruangan, tapi sifat Sin-hiong juga aneh sekali, semakin
orang tidak mengijin-kan dia masuk, dia semakin memaksa


Pendekar Pedang Kail Emas Karya Liu Can Yang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menerjang masuk!
Saat ini enam orang di belakang sudah datang, empat buah
tongkat dan dua bilah pedang, semuanya menyerang sejurus pada
Sin-hiong! Selarang di depan dan di belakang diserang musuh, tidak peduli
lagi dia maju atau mundur, jika dia tidak membuat gerakan yang
mengejutkan, bagaimana pun dia tidak akan lolos dari bahaya.
Apa lagi, saat ini tubuhnya berada di udara"
Serangan pedang Sin-hiong tadi, bukan saja tidak bisa memukul
mundur orang itu, saat angin pukulan kedua lawan menembus
keluar, malah meng-angkat tubuhnya sedikit ke atas, Sin-hiong
sadar ilmu silat orang ini jauh lebih tinggi dari pada Ci-keng Taysu
berempat! Tidak sulit bagi dia menghadapi serangan ini, tapi tidak terpikir
juga oleh enam orang di belakang yang ikut menyerang, hatinya
tergetar, di saat bahaya ini, dia menarik nafas mengerahkan tenaga
dalamnya, kaki kirinya menopang ke kaki kanan, tubuhnya kembali
melesat ke atas, jurus dahsyat dari tujuh orang dari depan dan
belakang, jadi lewat di bawah kaki dia!
Menyaksikan ini, tujuh orang pesilat dunia persilatan jadi terkejut
sekali! Tapi, yang lebih mengejutkan mereka masih ada di belakang,
tepat ketika ke tujuh orang itu tertegun, tubuh Sin-hiong sudah
turun ke bawah, lalu dengan tepat menerjang masuk ke dalam
ruangan besar! Sekejap mata, ke tujuh orang itu terkejut sampai bengong.
Sin-hiong tidak mempedulikan mereka, setelah tubuhnya
berhenti, sorot matanya menyapu, terlihat di tengah ruangan duduk
satu orang, saat inipun sedang bangkit berdiri dan berkata:
"Ilmu meringankan tubuh dan jurus Sicu tadi bisa dikatakan tiada
dua nya di dunia, tapi aku Bu-in masih ingin mencobanya!"
Kata-kata ini membuat Sin-hiong merasa tersanjung! Sebab jika
kata-kata ini keluar dari mulut orang lain, nilainya tidak seberapa,
tapi kata-kata ini keluar dari mulut salah satu tiga tetua Siauw-lim-si
Bu-in Taysu, dan Siauw-lim-si adalah lambang kekuatan dunia
persilatan, murid dari perguruan ini tidak pernah memuji siapa pun,
hari ini dia bisa memuji Sin-hiong, bagaimana Sin-hiong tidak
merasa bangga"
Sin-hiong tersenyum dan berkata: "Kata-kata Tay-suhu sungguh
membuat aku malu, silahkan Tay-suhu keluarkan jurusnya!"
Bu-in Taysu mengangkat kepala dan tanpa sungkan berteriak:
"Kalau demikian, aku tidak sungkan lagi!" Dia lalu mengayunkan
telapak tangannya, menyerang Sin-hiong dengan dahsyatnya!
Serangan telapak tangannya kelihatan sedikit pun tidak
bertenaga, tapi begitu telapaknya sampai di tengah jalan, mendadak
terjangan anginnya menguat, enam orang pesilat tinggi yang berdiri
di belakang Sin-hiong pun merasakan angin pukulan ini menerpa
wajah, menimbulkan rasa sakit, bisa dibayangkan dahsyatnya
pukulan telapak tangan ini!
Sin-hiong melemparkan pedangnya teriaknya:
"Bagus!"
Setelah berkata, ujung pedangnya pelan-pelan menyabet, inilah
salah satu jurus hebat dari jurus Kim-kau-kiam yang dinamakan
Ceng-cui-boan-ta (Meniup ringan memukul pelan)!
Walaupun jurusnya dilancarkan lambat, tapi Bu-in Taysu seperti
sudah tahu kelihayan jurus ini, dia membalikan telapak tangan, lima
jarinya yang seperti kaitan, dengan cepat mengunci pergelangan
tangan Sin-hiong!
Sin-hiong berkelebat, setelah meloncat lalu dia berputar, dia
tetap melanjutkan tusukannya.
Tadinya Lam-goat-sian-ku mau membantu menyerang, tapi
melihat gerakan mereka begitu pelan, kelihatannya seperti anak
kecil sedang bermain-main, di dalam hati dia kebingungan, siapa
sangka di saat dia berpikir, kedua orang itu sudah menambah
jurusnya lagi, sekarang mereka bergerak dengan kecepatan dan
kedahsyatannya, mungkin sejak lahir baru kali ini dia
menyaksikannya!
Wajah Bu-in Taysu berubah, tadi dia sudah menyerang dua jurus,
tubuhnya tidak 'pernah bergeser sedikit pun, ketika jurus kedua Sinhiongdilancarkan,
dia tidak bisa lagi tidak bergerak, mantel besarnya
mengembang, membalas dengan sebuah pukulan telapak tangan.
Kecepatan pukulan tangannya sudah menggunakan seluruh
kemanpuannya, dia menghantam dengan dahsyat ke arah pedang
pusaka Sin-hiong!
Sin-hiong tersenyum dan berteriak: "Jurus telapak tangan yang
bagus!" Dia segera menarik pergelangan tangannya, mendadak
jurus Ceng-cui-boan-ta berubah menjadi jurus San-tian-keng-hong
(Kilat mengejutkan pelangi), kecepatan gerakan pedangnya pun
sulit digambarkan, dalam waktu sekejap mata, ujung pedang sudah
hampir memotong punggung telapak tangan Bu-in Taysu! Burin
Taysu mengeluh sambil berkata: "Jurus pedang ini, bisa dikatakan
hasil karya terhebatnya Khu-tayhiap!"
Walaupun perkataannya sangat santun, tapi jurus telapak dan
gerakannya sedikit pun tidak lambat, perkataannya belum selesai
"Hut hut hut!" berturut-turut dia menyerang dua tiga telapak
tangan! Serangan pedang Sin-hiong kali ini tampak akan berhasil, tapi
tidak diduga begitu Bu-in Taysu menghantam, angin pukulan yang
bergetar, bisa merubah sedikit arah pedang, Sin-hiong terkejut,
tepat di saat ini, sebelah telapak tangan Bu-in lainnya, secepat kilat
datang menyerang!
Sin-hiong terkejut, lengannya dijulurkan, pedangnya menyabet
ke samping! Dia tidak ingin melukai musuhnya, asal kan dirinya selamat sudah
cukup, siapa tahu begitu Bu-in Taysu mendapat kesempatan,
tubuhnya maju mendesak, lengan bajunya sekali digetarkan, satu
jurus Liu-in-hui-siu (Awan mengalir lengan baju terbang) sudah
dilancarkan, Sin-hiong hanya melihat bayangan orang berkelebat,
sebuah angin pukulan yang dahsyat sudah datang menggulung ke
arah wajahnya! Kekuatan terpaan angin ini, hampir membuat Sin-hiong tidak bisa
membuka matanya!
Empat orang hweesio besar dari Siauw-lim-si yang berdiri di
pinggir melihat keadaan ini, wajahnya tampak gembira, di dalam
hati mereka berpikir:
'Jika Kim-kau-kiam-khek sampai tidak bisa mengalahkan paman
guru Bu-in, maka tidak perlu lagi datang ke paman guru Bu-cu."
Wajah cantik Lam-goat-sian-ku tampak sedikit gelisah, dia pun
mengharapkan Sin-hiong kalah, tapi di dalam hati seperti merasa
mengkhawatirkan Sin-hiong.
Merasa kipasan lengan baju Bu-in Taysu amat dahsyat, Sin-hiong
segera membentak "Heh!", satu jurus Cian-li-peng-swat segera di
lancarkan (Seribu Li semua es), jurus ini adalah jurus terhebat dari
jurus pedang Kail emas, terlihat ribuan titik-titik bunga perak,
dilanjutkan dengan suara keras "Sreet!", bayangan orang mendadak
berpisah, dan Sin-hiong berteriak:
"Maaf Bu-in Taysu!"
Setelah berkata, tubuhnya sudah berlari masuk ke dalam
ruangan besar ke dua!
Kejadian ini bukan saja di luar dugaan ke enam orang yang ada
di belakang, Bu-in Taysu pun tergetar!
Lengan bajunya sudah robek dipotong pedang Sin-hiong,
wajahnya tampak merasa malu, dengan perasaan berat dia berjalan
dua langkah dan berkata:
"Ci-hui, kau kemari!"
Hweesio Ci-hui terdiam seribu bahasa, lalu maju ke depan, Bu-in
Taysu kembali berkata:
"Kedudukanku, hari ini aku serahkan padamu! Jika sepuluh tahun
kemudian aku beruntung masih hidup, aku akan membalas
penghinaan ini."
Habis berkata, dengan lesu dia berjalan ke bawah gunung!
Enam orang di sisi begitu mendengar kata-kata ini, tidak peduli
dari hweesio Siauw-lim-si atau bukan, semua merasa hatinya
menjadi dingin, harus diketahui dengan kedudukan dan ilmu silatnya
Bu-in Taysu, masih tidak bisa melupakan penghinaan ini, kalau
begitu, kekalahan dia tadi, mungkin orang luar tidak bisa
merasakannya. Ci-hui Taysu merangkapkan telapak meng-antar kepergiannya, di
d alam hati dia juga merasa kosong.
Saat ini, Sin-hiong sudah masuk ke dalam ruangan besar kedua,
terlihat Bu-cu Taysu yang bertemu kemarin malam sedang
tersenyum menjaga pintu dan berkata:
"Sicu sungguh menepati janji, aku sudah lama menunggu."
Sin-hiong membungkuk menghormat: "Harap Tay-suhu bisa
memberi petunjuk!" Bu-cu Taysu melihat, tidak terasa di dalam hati
berkata: 'Ilmu silat anak ini tidak bisa diukur, tapi sikapnya sangat sopan,
tampaknya sangat berbeda dengan sifat Khu Ceng-hong dulu?"
Saat itu dia memiringkan sedikit tubuhnya dan pelan-pelan
melepaskan tasbih di leher, kembali berkata:
"Aku akan menggunakan 108 butir tasbih Budha ini untuk
mencoba kepandaian Sicu!"
Sin-hiong menegakan tubuhnya dan sambil tersenyum berkata:
"Kalau begitu, aku akan mulai bertindak!"
Kim-kau-kiam dijulurkan, menusuk ke arah kiri dan kanan jalan
darah Kian-keng di bahu Bu-cu Taysu.
Tanpa menggerakan tubuhnya, Bu-cu Taysu menangkis dengan
tasbih di tangannya, Sin-hiong terpaksa menarik kembali
pedangnya, Bu-cu Taysu berteriak, tasbih di tangannya mendadak
melesat, setiap butirnya menuju salah satu jalan darah Sin-hiong,
seratus delapan butir tasbih ini satu pun tidak ada yang meleset,
menutup seratus delapan jalan darah besar maupun kecil!
Tubuh Sin-hiong tergetar, dia memutar pedang nya membentuk
tabir pedang yang rapat, melindungi seluruh jalan darah di
tubuhnya, sehingga tasbih Bu-cu Taysu membentur pedangnya,
terdengar suara "Ting ting tang tang!" tidak berhenti-hentinya,
meskipun tasbih Bu-cu Taysu tidak mengenai dirinya, tapi kedua
lengan Sin-hiong terasa kesemutan!
Bu-cu Taysu berteriak:
"Sungguh kepandaianmu hebat sekali!"
Segera dia menggerakan kaki dan tangannya, tasbih yang
berceceran mendadak jadi meluncur ke tangannya, sesudah bersatu
lagi laksana sebuah pecut saja, datang melilit pinggangnya Sinhiong!
Dalam pertarungan sejurus tadi, untung saja Sin-hiong tidak
sampai kalah, sekarang semangatnya jadi menggelora, dia
menggerakan pedangnya membentuk
beberapa bunga pedang, dengan keras berteriak:
"Kepandaian Tay-suhu juga tidak lemah!" Lalu kedua orang itu
dalam sekejap mata sudah saling menyerang lima enam jurus,
saling tidak bisa mengungguli lawannya, setiap kali merapat
langsung berpisah lagi, saat ini, dari belakang pelan-pelan masuk
lima orang. Lima orang ini adalah Lam-goat-sian-ku dan lain-lain, hanya tidak
terlihat Ci-hui Taysu seorang.
Ci-keng Taysu dengan wajah penuh perhatian menyaksikan dua
bayangan yang bertarung di tengah ruangan, terlihat kedua orang
itu berputar-putar, tidak terasa dia menghirup nafas dingin, di dalam
hati berkata: "Anak ini sudah bertarung dengan paman guru Bu-in, sekarang
masih dapat bertarung dengan paman guru Bu-cu begitu lamanya,
tampaknya pintu inipun tidak bisa menahan dia."
Lam-goat-sian-ku pun lama memperhatikan, dia seperti sedikit
terharu, di dalam hati berpikir:
'Ilmu silat orang ini sungguh hebat sekali, selama ada dia, kami
Sian-souw-ngo-goat jangan harap bisa berdiri di dunia persilatan."
Setelah berpikir demikian, dia sudah bertekad memusnahkan Sinhiong!
Tepat pada saat ini, mendadak Bu-cu Taysu berteriak keras,
tasbihnya menjelma jadi bayangan pecut, menyerang ke empat titik
jaan darah di seluruh tubuh Sin-hiong!
Sin-hiong memiringkan tubuh, menusuk dengan jurus Ban-li-insan
(Awan gunung tampak selaksa li), dengan cepat memotong
pecutnya Bu-cu Taysu.
Wajah Bu-cu Taysu terlihat sangat serius, sambil menggetarkan
pergelangan tangannya, dia memusatkan seluruh tenaga dalam ke
lengan kanannya, butir-butir tasbihnya dengan tekanan ribuan kati
sudah menekan ke seluruh tubuh Sin-hiong.
Sin-hiong merasa ada angin pukulan yang menekan dadanya,
buru-buru dia merubah jurusnya, siapa tahu tasbihnya Bu-cu Taysu
seperti ada tenaga sedotan yang sangat besar, hanya terdengar
suara keras "Ssst ssst!" pelan-pelan menyedot pedangnya Sin-hiong.
Memang ini adalah serangan terakhir Bu-cu Taysu yang telah
mengerahkan seluruh tenaga dalam-nya, jika jurus ini gagal, dia
akan kehabisan tenaga, walaupun Sin-hiong tidak menyerang, dia
pun harus tahu diri mundur mengalah.
Sin-hiong terkejut, tangannya memegang erat-erat pedang
pusakanya, tapi tenaga dalam dia masih di bawah Bu-cu Taysu,
walau telah mengerahkan seluruh tenaganya, pedangnya pelanpelan
masih tertarik.
Lima orang di belakang yang melihatnya, semua menahan nafas,
dan berdebar-debar.
Tiba-tiba, sebuah pikiran aneh berkelebat di kepala Lam-goatsian-
ku, dalam hatinya berkata:
'Jika Sin-hiong sampai kalah, apakah aku yang harus bertarung
melawan Bu-cu Taysu?"
Kenapa dia bisa berpikir seperti ini, mungkin dia sendiri pun tidak
tahu" Hanya saja, ketika pikirannya sedang bimbang, pedang pusaka
Sin-hiong tinggal lima cun dari sisi tubuh Bu-cu Taysu. Asalkan
mendekat sedikit lagi, tangan Bu-cu Taysu yang lain bisa memukul,
meski-pun pelan, sehebat apa pun kemampuan Sin-hiong, mungkin
tidak berdaya melawannya, akhirnya dia harus kembali lagi ke
gunung untuk berlatih beberapa tahun lagi.
Kepala Sin-hiong sudah mengeluarkan keringat, tiba-tiba di
depan matanya terbayang wajah gurunya yang tersenyum penuh
kasih sayang, tampaknya wajah tersenyum beliau ini terjadi ketika
telah mengalahkan berbagai perguruan, di dalam hati dia jadi
berpikir: 'Jika dia sendiri tidak bisa mengalahkan Siauw-lim-pai ini, apa
bisa disebut muridnya Khu Ceng-hong?"
Berpikir sampai disini, segera matanya menjadi terang, entah ada
tenaga yang datang dari mana, maka dia berteriak keras, pedang
pusakanya didorong lalu disabetkan, terdengar "Trang!" yang keras,
tasbih di tangan Bu-cu Taysu sudah terpotong jadi dua oleh Sinhiong,
"Ting ting ring!" butiran tasbih jatuh ke tanah.
Wajah Bu-cu Taysu berubah hebat, tubuhnya tergetar dan
berkata: "Sicu memang hebat, aku mengaku kalah!" Habis berkata, lalu
dia meloncat dan menghilang di kegelapan malam.
Di sekeliling terdengar keluhan pelan, ternyata ketika kedua
orang itu bertarung sengit, di dalam ruangan kedua sudah berdiri


Pendekar Pedang Kail Emas Karya Liu Can Yang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tidak kurang seratusan hweesio Siauw-lim-si.
Keluhan seperti ini, tentu saja menyayangkan Bu-cu Taysu, tapi
bagaimana mereka bisa tahu, setelah pertarungan ini tenaga dalam
Sin-hiong pun sudah terkuras banyak, tubuhnya bergoyang-goyang
dua kali, hampir saja jatuh ke tanah.
Buru-buru dia memejamkan sepasang matanya, diam-diam
mengumpulkan, ketika mengangkat kepala, terlihat seorang hweesio
tua yang rambut dan janggut-nya sudah putih berjalan
menghampiri. Baru saja Sin-hiong mau membuka mulut, hweesio tua itu sudah
berkata: "Di bawah jenderal yang kuat tidak ada prajurit yang lemah,
kelihatannya sejarah dua puluh tahun yang lalu kembali akan
terulang."
Begitu hweesio tua itu keluar, para hweesio di sekeliling
semuanya memberi hormat, Sin-hiong jadi tergerak, dalam hati
berkata: "Orang ini pasti ketua Siauw-lim-si, Bu-su Taysu." Siauw-lim-pai
adalah pemimpin dunia persilatan, walaupun sepuluh tahunan
terakhir ini, masing masing perguruan saling berebut kekuasaan,
tapi terhadap Bu-su Taysu, mereka masih menghormatinya. Sinhiong
memaksakan diri supaya tenang, sambil mengepalkan telapak
tangan berkata:
"Terima kasih, aku datang kemari atas wasiat guru aku, harap
Lo-cianpwee bisa mengerti!"
Ketua Siauw-lim-si tersenyum dan berkata: "Sicu kecil berturutturut
telah mengalahkan dua adik seperguruanku, ilmu silatnya
sudah lebih tinggi dari pada guru Sicu dulu, tampaknya ombak di
belakang Tiang-kang mendorong ombak yang depan, jika Pinceng
pun kalah di tangan Sicu kecil, murid-murid Siauw-lim-si tidak akan
pernah lagi muncul di dunia persilatan."
Kata-kata ini begitu keluar, tidak saja para hweesio besar kecil
dari Siauw-lim-si sangat terkejut, Sin-hiong pun tidak tahan jadi
tergetar. Memang kata-kata Bu-su Taysu ini, tidak ber-beda dengan
menggunakan nama baik ratusan tahun Siauw-lim-pai sebagai
taruhannya, dengan kata lain, jika dia pun kalah oleh Sin-hiong,
maka di kemudian hari tidak ada lagi nama Siauw-lim-pai.
Taruhan dia sungguh terlalu berat, mungkin tidak masalah
Siauw-lim-pai mengorbankan beberapa orang, tapi jika
mengorbankan seluruh orang-orang Siauw-lim-si, hal ini tidak
pernah terjadi selama ratusan tahun sejarah Siauw-lim-si.
Tapi, jika Bu-su Taysu tidak ada keyakinan bisa menang, dengan
kedudukan dia dan pengalamannya, bagaimana pun dia tidak akan
melakukan hal sebodoh ini"
Semua mata para hweesio membelalak besar, nafas semua orang
seperti terhenti, hati berdebar-debar, keringat dingin di punggung
bercucuran. Lam-goat-sian-ku adalah seorang wanita, tentu saja akan lebih
teliti dibandingkan orang lain, melihat keadaan begini, tidak tahan di
dalam hati berkata:
"Hweesio tua Bu-su ini sungguh pandai mengambil kesempatan,
Sen Sin-hiong sudah bertarung setengah malaman, tenaga
dalamnya belum pulih, dia sekarang malah bertingkah seperti orang
jujur, hemm.. hemm... orang-orang Siauw-lim-si ternyata sama
saja?" Walaupun dia mengharapkan Sin-hiong kalah, tapi menyaksikan
ketidak adilan ini, dia jadi memihak pada Sin-hiong.
Sin-hiong jujur, dia tidak banyak pikiran, melihat Bu-su Taysu
menyatakan ini, di dalam hatinya malah jadi tidak tenang dia
berkata: "Terlalu berat kata-kata Tay-suhu ini, bagiku cukup
melaksanakan perintah guruku saja, mengenai masalah perguruan
anda di kemudian hari, kiranya terlalu pagi dikatakan sekarang,
sebelum tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah."
--oo0dw0oo-- JILID KE DUA BAB 5 Ketua perkumpulan Naga
Habis berkata, dia menggerakan tubuhnya, di dalam hatinya
kembali menggelora, jika di dalam pertarungan ini, dia beruntung
bisa mengalahkannya dan selain namanya membumbung di dunia
persilatan, yang paling membuat hatinya tenang adalah bisa
menyelesaikan salah satu harapan gurunya.
Bu-su Taysu melepaskan kebutan di pinggang-nya dan sambil
tersenyum berkata:
"Pinceng sudah puluhan tahun tidak bertarung, malam ini Sicu
datang ke kuil Pinceng, dan berturut-turut mengalahkan murid
perguruan kami, dan Sicu juga sudah bertarung setengah malaman,
menurut pendapat Pinceng, kita menentukan siapa pemenang-nya
dalam tiga puluh jurus saja, bagaimana?"
Mendengar ini, Lam-goat-sian-ku tidak bisa menahan diri lagi,
mendadak dia menyela:
"Jika di dalam tiga puluh jurus tidak ada yang menang atau
kalah, bagaimana?"
Bu-su Taysu melirik, dengan tawar berkata:
"Itu hal yang tidak mungkin."
Lam-goat-sian-ku melihat tingkahnya yang dingin, tidak tahan
dengan tertawa dingin berkata:
"Mungkin saja, dia sudah bertarung setengah malaman, Taysuhu
ingin mengambil kesempatan sebelum tenaganya pulih
langsung bertarung dengan-nya, pada saatnya tiba, mungkin tidak
seperti yang diharapkan?"
Kata-kata ini sama dengan membuka boroknya Bu-su Taysu,
wajah Bu-su Taysu menjadi merah, dengan dingin berkata:
"Lalu harus bagaimana menurut pendapat nona?"
Lam-goat-sian-ku tertawa dingin:
"Pertarungan apa pun harus ada yang menang dan yang kalah,
kenapa harus ditentukan dulu dua puluh jurus atau tiga puluh
jurus?" Perkataannya samar-samar mengandung ejekan, wajah Bu-su
Taysu jadi berubah katanya marah:
"Nona ini hanya bisa bersilat lidah saja, tiba saatnya tentu bisa
tahu sendiri!"
Lam-goat-sian-ku mendengus, sepasang matanya melototi Sinhiong,
diam-diam mengumpat:
"Kau sungguh bodoh sekali, sudah setengah harian aku
membelamu, malah tampak seperti tidak ada apa-apa, jika kau nanti
sampai kalah, aneh jika aku tidak menambah dua sayatan pedang
ditubuhmu!"
Ketika Bu-su Taysu berdebat dengan Lam-goat-sian-ku, Sin-hiong
sudah memulihkan tenaganya, dalam hatinya berpikir:
'Malam ini adalah urusan pribadiku, kau malah bicara mewakiliku,
saat itu dia sengaja bertanya:
"Kalian berdua sudah selesai bicaranya?"
Mendengar ini, Lam-goat-sian-ku bertambah naik pitam, dia
mendengus beberapa kali.
Bu-su Taysu tertawa:
"Ternyata kalian tidak satu kelompok, Pinceng malah telah
meninggalkan masalah pokoknya."
Setelah berkata, dia menggetarkan kebutan di tangannya dan
berkata lagi: "Sicu kecil, silahkan maju!"
"Maaf!" teriak Sin-hiong tidak sungkan lagi.
Dia menggerakan pedangnya, ujung pedang nya mengeluarkan
desiran angin tajam, secepat kilat menusuk tiga tempat di tubuh Busu!
Bu-su Taysu tadi mengatakan dalam tiga puluh jurus ingin
menentukan pemenangnya, walaupun Sin-hiong tidak berkata apaapa,
tapi di dalam hati dia pun punya niat yang sama, maka begitu
menyerang dia sudah menggunakan tiga jurus yang dahsyat!
Tubuh Bu-su Taysu berputar, kebutan di tangannya digulung,
serat kebutan tiba-tiba mengembang jadi besar, dengan cepat
disapukan ke punggung Sin-hiong!
Serangan Sin-hiong tidak mengenai sasaran, tapi dia masih
tenang, dia membalikkan tangan menusuk lagi: "Inilah jurus kedua!"
Bu-su Taysu mengembangkan kebutannya, melihat Sin-hiong
membalas serangan dengan menusukkan pedangnya, di dalam hati
berpikir: 'Kesempatan baik ini jangan disia-siakan", dia sedikit mengurangi
tenaga, serat kebutannya tiba-tiba menyatu kembali, begitu di
putar, langsung menggulung pergelangan tangan dan pedangnya
Sin-hiong. Penggunaan jurus ini sangat tepat, saat ini Sin-hiong masih
belum membalikkan tubuhnya, jadi dia kehilangan kesempatan
menyerang, jika ingin merebut kembali kesempatan menyerang,
mungkin sulit di dapat dalam sepuluh jurus!
Dalam hati kedua orang itu sepertinya sudah berjanji akan
menentukan kemenangan dalam tiga puluh jurus itu, serangan Busu
Taysu ini bisa dikatakan sangat cepat dan jitu, Sin-hiong sedikit
tergetar, dia membalikkan tangannya, kembali pedang nya menusuk
ke belakang! Bu-su Taysu pun sama dia membalikkan pergelangan tangannya,
kembali membelit pergelang-an tangan Sin-hiong, sambil tertawa
berkata: "Ini seharusnya jurus kelima bukan!"
Tapi Sin-hiong sudah membalikkan tubuh dan menusuk dengan
pedangnya dua kali, kedua tusukan ini menggunakan jurus yang
sama, Bu-su Taysu pun begitu, orang yang di pinggir bisa melihat
dengan jelas, Bu-su Taysu sudah berada diatas angin!
Saat ini, di dalam ruangan ratusan pasang mata sedang
memperhatikan pertarungan hidup atau mati ini, para hweesio
Siauw-lim-si melihat ketua mereka berada diatas angin, hati mereka
jadi merasa lega, ada juga yang berbisik-bisik
memperbincangkannya.
Lam-goat-sian-ku merasa menyesal, di dalam hati berpikir:
'Jurus ini jelas-jelas diciptakan sendiri oleh Sin-hiong, jika orang
lain yang melakukannya, mungkin tidak akan membiarkan
mengambil kesempatan."
Tepat ketika kebutan Bu-su Taysu menggulung, Sin-hiong
mengambil nafas dan teriak:
"Betul, ini jurus keenam!"
Setelah berkata, mendadak tubuhnya meluncur ke atas, jurus Busu
Taysu jadi lewat di bawah telapak kakinya, tapi, Bu-su Taysu
tidak mengendur serangan-nya sedikit pun, begitu tubuh Sin-hiong
bergerak naik ke atas, dia pun ikut naik keatas,
"Ssst!" di udara dia menyapukan kebutannya, tetap menyerang
punggung Sin-hiong!
Jurus yang dikeluarkan sangat keji, ratusan orang di lapangan
menjadi tegang, tidak peduli yang kenal atau tidak, semua orang
jadi mengkhawatirkan Sin-hiong!
Ternyata Sin-hiong masih menyimpan jurus-nya, sekejap Bu-su
Taysu menyerang, dia menarik nafasnya, tubuhnya kembali
meluncur ke bawah, serangan Bu-su Taysu kembali gagal!
Baru saja tubuh Sin-hiong turun, dengan cepat dia membalikkan
tubuhnya dan berkata:
"Jurus ke enamku walaupun belum dikerahkan sepenuhnya, tapi
tetap dihitung satu jurus, inilah jurus ketujuh!"
Setelah berkata, pedang pusakanya disabetkan ke atas, dengan
cepat menyabet sepasang kaki Bu-su Taysu!
Dalam sekejap Sin-hiong sudah membalikkan keadaan, sekarang
pedangnya sudah menyerang, jika Bu-su Taysu ingin turun ke
bawah dengan selamat, kelihatannya hal ini sulit sekali.
Perubahan ini, membuat para hweesio Siauw-lim-si menjadi
tegang, semua orang jadi khawatir!
Tapi pengalaman bertarung Bu-su Taysu sudah puluhan tahun,
menghadapi keadaan yang berbahaya ini dia menghentakan
sepasang kakinya,
"Weet!" dengan jurus Coan-ping-kiu-siau (Burung garuda
berputar sembilan kali di kabut), dari atas dia menyapukan kebutan
di tangannya ke bawah.
Sin-hiong dengan tenang meloncat ke samping dan berkata:
"Tay-suhu silahkan turun saja, aku tidak akan mengambil
kesempatan dalam kesempitan!"
Tentu saja Bu-su Taysu tidak menduga lawan-nya bisa begitu
cepat menghindar ke samping, otaknya berputar cepat, saat itu
dengan keras berkata:
"Sicu tidak percuma menjadi muridnya Khu Ceng-hong, setiap
tindakanmu telah mendapat arahannya!"
Saat tubuhnya turun ke bawah, dia memainkan kebutannya
membentuk beberapa gulungan angin, berlapis-lapis menutup ke
arah Sin-hiong!
Kelihatannya dia sudah benar-benar marah, Sin-hiong masih
tetap tenang, dia menggerakan pedangnya, berturut-turut menusuk
tiga empat kali, mulutnya dengan keras berteriak:
"Jurus ke delapan, ke sembilan, ke sepuluh!"
Bu-su Taysu tidak bicara apa-apa, jurusnya semakin lama,
semakin kuat, gulungan angin yang dia bentuk pun semakin besar,
dalam sekejap sudah menyerang tujuh-delapan jurus!
Angin menderu-deru, orang-orang yang menyaksikan di pinggir
ikut merasakan ada angin dingin menerpa wajahnya, dan angin itu
telah menggulung Sin-hiong di tengah-tengah gulungan angin!
Bu-su Taysu merasa kesal sebab serangannya tidak berhasil,
inaka dia melakukan serangan cepat, di dalam hati berpikir:
'Setelah satu-dua puluh jurus berlalu, walau-pun tidak bisa
mengalahkan dia, tapi seharus dia bisa menang setengah jurus, jika
tidak, mulai sekarang dan seterusnya Siauw-lim-pai akan terputus
dengan dunia persilatan."
Setelah mendapat lawan yang seimbang, Sin-hiong jadi
bersemangat, jurus sakti dari jurus Kim-kau-kiam pun di keluarkan
semua, dalam sekejap dia pun balas menyerang tujuh-delapan
jurus! Sungguh satu pertarungan yang jarang terjadi, keduanya tidak
mau mengalah, sehingga hati orang-orang yang menyaksikannya
jadi berdebar-debar!
Dua puluh jurus sudah lewat, penentuan siapa pemenangnya
tinggal dalam sisa sepuluh jurus lagi, maka kedua belah pihak
semakin menyerang habis-habisan, tadi masih bisa terlihat ada dua
gulung angin keras saling menyerang, lewat dua puluh jurus, dua
gulungan angin sudah menjadi satu, tidak bisa dilihat lagi mana Busu
Taysu mana Sin-hiong"
Ci-keng Taysu adalah murid sulung Bu-su Taysu, dia mengerti
nama baik Siauw-lim-si ada dalam pertarungan ini, dia jadi tidak
bisa menahan diri pelan-pelan maju ke depan!
Sorot mata Ceng-ji cukup tajam, melihat keadaan ini dia jadi
berteriak: "Sian-ku, mereka mau mengeroyok!"
Lam-goat-sian-ku melirik, benar saja terlihat Ci-keng dan Ci-goan
pelan-pelan berjalan meng-hampiri arena pertarungan, maka
setelah mendengus, dia berkata:
"Siapa yang berani mengeroyok!"


Pendekar Pedang Kail Emas Karya Liu Can Yang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Habis bicara, dia sendiri pun maju ke depan!
Semua orang jadi mengalihkan perhatian, tepat pada saat ini,
tiba-tiba terdengar
"Ssst ssst!" seseorang berteriak:
"Sudah! Tepat tiga puluh jurus!"
Mendengar suaranya, dia adalah Sin-hiong, terlihat bayangan
mereka berpisah, wajah Bu-su Taysu tampak pucat, Sin-hiong
memasukan pedang ke dalam kecapi kunonya dan berkata lagi:
"Bu-su Lo-cianpwee, terima kasih telah sudi mengalah!"
Mendengar teriakan ini, semua orang yang tidak tahu apa yang
telah terjadi, segera melihat wajah Bu-su Taysu, sekarang semua
orang jadi mengetahui siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Ternyata setelah sejurus tadi, kedua orang itu melakukan
serangan secara bertubi-tubi, setelah Bu-su Taysu menyerang tujuhdelapan
jurus, dilanjutkan dengan menyerang lagi lima-enam jurus,
setiap jurusnya amat ganas, dan ditujukan ke bagian mematikan
Sin-hiong! Sebaliknya Sin-hiong semakin bertarung semakin berani, setelah
Bu-su Taysu berturut-turut menyerang tiga empat belas jurus, dia
pun tidak jadi lemah, dia membalas menusukan pedangnya
sebanyak tiga belas jurus pedang!
Tiga belas jurus pedang ini, semuanya adalah jurus mematikan
dari jurus Kim-kau-kiam, dalam sesaat, Bu-su Taysu hanya
merasakan di depan mata ada hawa pedang yang bergetar-getar,
tidak tahu arah mana yang dituju oleh pedang Sin-hiong, sedikit
tertegun saja, kebutan di tangannya sudah disabet pedang Sinhiong,
hingga terdengar dua suara "Ssst ssst!", rambut kebutannya
sepertiga sudah dipotong oleh pedang Sin-hiong!
Wajah Bu-su terlihat sangat berat, teriaknya: "Ci-keng, kau
kemari!" Dengan perasaan ngeri Ci-keng Taysu berjalan menghampiri,
dengan suara gemetar berkata:
"Murid menghadap guru."
Bu-su Taysu menghela nafas panjang, katanya:
"Ci-keng, mulai sekarang, kau adalah ketua Siauw-lim-si, tidak
peduli apapun yang terjadi" Selama ada Kim-kau-kiam-khek, maka
murid Siauw-lim-si dilarang menginjakan kakinya di dunia
persilatan!"
Ci-keng Taysu tergetar, baru saja mau bicara, Bu-su Taysu
kembali berkata:
"Ingat baik-baik kata-kata gurumu ini, kau harus baik-baik
menjaga diri!"
Setelah berkata begitu, dia berjalan selangkah demi selangkah ke
kamar sembahyang di belakang!
Di dalam ruangan walaupun ada seratus lebih hweesio, tapi hati
semua orang seperti telah mendapat sebuah pukulan berat, semua
orang bukan saja merasa berat, setengah lebih diantaranya malah
diam-diam menangis.
Sin-hiong melihat keluar ruangan, bulan sudah terbenam di
barat, kelihatannya sudah jam tiga pagi! Dia menggeleng-gelengkan
kepala, tidak tahu apa yang akan dilakukan" Dia diam seribu
bahasa, berjalan ke arah yang berlawanan!
Seratus lebih hweesio Siauw-lim-si saat ini menatap
punggungnya dengan sorot mata marah, beberapa di antaranya
yang beremosi tinggi, beberapa kali mau menerjang keluar, tapi
semua dicegah oleh Ci-keng Taysu, Sin-hiong pelan-pelan berjalan
keluar ruangan!
Keluar dari gerbang kuil, mata Sin-hiong sudah berlinang air
mata, dia berguman pada dirinya sendiri:
"Guru, guru, persoalan dengan Siauw-lim-si telah selesai!"
Baru saja melangkah beberapa langkah lagi, terdengar satu
orang dengan dingin berkata:
"Sen-tayhiap, selamat, tapi persoalan kita belum selesai!"
Sin-hiong tidak perlu memutar kepala, dia sudah tahu siapa
orangnya, maka dia menjawab:
"Nona, aku tidak ada dendam denganmu, buat apa kau memaksa
aku terus?"
Ternyata orang yang datang itu adalah Lam-goat-sian-ku, dia
masih belum melupakan kebencian-nya kepada Sin-hiong, setelah
mendengar perkataan Sin-hiong, kembali dengan dingin dia berkata:
"Apa kau sudah takut?"
Diam-diam Sin-hiong mengambil nafas dengan menahan diri dia
berkata: "Betul!"
"Kalau begitu, di kemudian hari kau tidak boleh mengatakan
Sian-souw-ngo-goat pernah dikalah kan olehmu!"
Sin-hiong kembali menganggukan kepala: "Sebenarnya aku tidak
pernah mengatakan hal itu!"
Setelah berkata, tidak peduli lagi keadaan Siauw-lim-si
bagaimana, juga tidak pedulikan wajah Lam-goat-sian-ku seperti
apa, di depan matanya terbayang beberapa gunung besar, yaitu
gunung Bu-tong, gunung Kun-lun, gunung Tiang-pek......, gununggunung
inilah yang harus dia datangi selanjut nya, makanya tidak
peduli lagi Lam-goat-sian-ku berkata apa" Dia pun pergi
Sin-hiong pelan pelan berjalan turun gunung!
Malam semakin larut!
Sin-hiong menunggang kuda turun ke bawah gunung, derap kaki
kudanya terdengar pelan-pelan, orang dan kudanya menghilang di
kegelapan malam.
Dia berjalan pelan-pelan, di dalam hati merasakan perasaan lega.
Sekarang dia sudah meninggalkan Song-san hampir tiga puluh li,
melewati satu parit yang jernih, di depan ada satu hutan yang lebat,
dia melihat-lihat, di dalam hati berkata:
'Hari segera akan terang, lebih baik aku istirahat di dalam hutan
itu saja.' Setelah berpikir begitu, maka dia mencari satu tempat yang agak
tersembunyi, mengikat kudanya di pinggir, lalu menyandar ke
sebuah pohon besar untuk beristirahat.
Siapa sangka, baru saja dia memejamkan matanya, mendadak
ada setetes benda yang lengket dan dingin menimpa di wajahnya,
tadinya Sin-hiong mengira itu adalah embun pagi, tapi setelah
diusap-nya, terasa tetesan itu ada yang aneh, dia segera meloncat
berdiri dan berkata:
"Darah!"
Menggunakan matanya yang tajam, dia melihat ke atas, benar
saja diantara dedaunan yang rimbun ada satu benda bergoyanggoyang,
dia melihat lagi dengan teliti, ternyata itu adalah sepasang
kaki manusia. Tampaknya orang ini digantung diatas pohon, Sin-hiong jadi
terkejut, di dalam hati berkata:
"Melihat keadaannya, mungkin disini pernah terjadi sesuatu, tapi
sepanjang aku berjalan, kenapa tidak melihat ada tanda yang
mencurigakan!"
Dia berpikir kembali lalu berguman:
"Disini sangat dekat dengan Siauw-lim-pai, siapa orang yang
berani melakukan kejahatan di daerah ini, orang ini sungguh berani
sekali?" Sambil berpikir dia berjalan ke depan, tanpa terasa sudah
kembali lagi ke pinggir parit itu, di bawah sinar yang masih remangremang,
sepertinya air parit ini samar-samar ada warna merah.
Sin-hiong melihat keadaannya begini, tanpa berpikir panjang dia
lari menelusuri parit itu.
Berjalan tidak jauh, benar saja di tengah parit tergeletak sesosok
mayat, punggung orang ini telah dikapak orang dengan sadis, darah
segar mengalir mengikuti arus parit, hatinya membenarkan adanya
kejadian ini. Tapi ketika dia menelitinya, di atas arus sungai kembali ada
segumpal darah, Sin-hiong tergerak, di dalam hati berkata:
'Apakah diatas juga terjadi sesuatu"'
Dia kembali berjalan ke depan, berjalan tidak sampai sepuluh
tombak, benar saja di dalam parit tergeletak lagi sesosok mayat!
Karena orang ini tergeletak menengadah ke atas, terlihat orang
ini berusia lima puluh tahun lebih, beralis tebal, dadanyajuga
dikapak dengan sadis oleh orang!
Sin-hiong tertegun, di dalam hati berpikir sungguh sadis orang
yang melakukan ini, yang satu dikapak', dadanya, yang satu dikapak
punggungnya, malah setelah membunuh, mayatnya dilemparkan ke
dalam parit, siapa yang melakukannya"
Hatinya berpikir, kakinya pelan-pelan berjalan ke depan, berjalan
tidak jauh, terlihat di tengah-tengah parit duduk satu orang, melihat
ini, Sin-hiong menghentikan langkahnya dan bertanya:
"Siapa Tuan?"
Tapi, setelah dia bertanya, orang itu diam tidak menjawab, Sinhiong
berjalan menghampirinya, ter-lihat bibir orang ini
mengeluarkan darah, kelihatannya orang ini sudah mati terkena
oleh pukulan keras, mungkin belum lama terjadi"
Sin-hiong mengambil nafas panjang, keadaan yang terjadi di
depan mata ini sangat aneh dan misterius, walaupun dia sangat
pintar, saat ini dia pun tidak bisa tahu apa yang terjadi"
Dia melihat ke kiri dan ke kanan, saat ini, di ufuk timur sudah
tampak putih, bumi samar-samar bisa terlihat, tapi setelah dia
memeriksa, tetap saja tidak tahu apa yang telah terjadi, terpaksa
dia kembali berjalan ke depan.
Tiba di dalam hutan, terlihat di bawah pohon banyak tetesan
darah menghitam, hati Sin-hiong tergerak, baru saja mau meloncat
ke atas, memeriksa apa yang terjadi, mendadak dari luar hutan ada
orang berteriak:
"Saudara, jangan sekali-sekali menyentuhnya!"
Sin-hiong terkejut, buru-buru menghentikan gerakannya, terlihat
seorang tua sedang berjalan masuk ke dalam hutan.
Setelah orang tua itu masuk ke dalam hutan, dia berkata lagi:
"Saudara kecil ini mungkin tidak tahu nama besarnya Cian-tokmo-
kun (Iblis seribu racun), setelah dia melukai orang, lalu
menyebarkan racun di sekeliling mayatnya, jika dia menyebarkan
racun yang sifatnya ganas, orang biasa begitu menyentuhnya
langsung mati!"
Mendengar kata-kata ini, hati Sin-hiong langsung terasa dingin,
buru-buru dia berterima kasih dan berkata:
"Jika bukan Lo-cianpwee yang mencegah, mungkin aku sudah
mati sekarang, boleh tahu nama Lo-cianpwee?"
Orang tua itu tersenyum pada Sin-hiong:
"Aku Ong Ciu-ping, teman-teman di dunia persilatan
memanggilku Mo-in-kim-ci (Mengusap awan dengan sayap emas)!"
Hati Sin-hiong sedikit tergerak, dia berpikir: 'Yang lain mungkin
aku tidak tahu, Mo-in-kim-ci Ong Ciu-ping ini adalah ketua dunia
persilatan bagian selatan, saat aku turun gunung, di sepanjang jalan
aku sudah sering mendengar orang menyebut namanya, kenapa
bisa bertemu dia disini"'
Setelah berkata, Ong Ciu-ping melihat Sin-hiong yang sedang
bengong menatap dirinya, tidak tahan di dalam hati berkata:
'Siapa sebenarnya orang ini" Tampaknya dia belum tahu nama
besar Cian-tok-mo-kun, terhadap diriku pun mungkin masih sangat
asing." Otak Sin-hiong berputar, lalu berkata:
"Ternyata Ong Lo-cianpwee, terimalah hormat Boanpwee,
apakah Lo-cianpwee tahu mayat-mayat itu siapa?"
Ong Ciu-ping menghela nafas, berkata:
"Tiga orang yang mati di parit adalah Koan-lok-sam-hiong, Ting
bersaudara, mengenai yang diatas pohon itu" Orangnya lebih
ternama lagi dia adalah Tiang-long-kiam-khek Ang Han-nian!"
Sin-hiong mendengar, hatinya jadi tergetar!
Semua orang dunia persilatan tahu, empat orang ini adalah
orang-orang yang telah menggempar-kan dunia persilatan, setiap
orang yang bergerak di dunia persilatan, hampir tidak ada yang
tidak tahu nama besar mereka, tidak diduga mereka bisa mati
bersamaan di tempat ini, bagaimana tidak mengejut-kan orang"
Siapa sangka, baru saja Ong Ciu-ping selesai bicara, mendadak
terdengar sebuah tawa yang lembut dan dingin, mula-mula
terdengar jauh tapi sekejap sudah mendekat!
Wajah Mo-in-kim-ci Ong Ciu-ping berubah, teriaknya:
"Dia sudah datang!"
Sin-hiong melihat ke arah suara, terlihat orang yang datang ini
kepalanya sangat besar, tingginya tidak sampai lima kaki, wajahnya
bulat seperti bola saja, kedua matanya menonjol keluar, laksana
setan muncul di dalam hutan!
Ternyata orang yang datang ini adalah Cian-tok-mo-kun,
sepasang matanya yang menonjol itu melototi kedua orang ini,
dengan dingin berkata:
"Tidak disangka Mo-in-kim-ci Ong-tayhiap pun sudah datang, lalu
siapa bocah ini?"
Tampangnya sudah jelek, ditambah bicaranya begitu dingin,
membuat orang yang mendengarnya, jadi merasakan hatinya
menjadi dingin.
Ong Ciu-ping maju dua langkah sesudah mendengus lalu
berkata: "Tidak salah, aku memang sudah datang, kelakuanmu dari dulu
tidak berbeda jauh, Ting bersaudara dan Ang-tayhiap tidak mau
mendengar nasihatku, dan bersikeras mau mengejar, jadi hanya
bisa menyalahkan nasib mereka yang tidak bagus."
Tubuh Cian-tok-mo-kun yang pendek kecil bergoyang dua kali,
sambil tertawa terkekeh-kekeh dia berkata:
"Kau pun tidak perlu berbuat seperti kucing menangisi tikus,
pura-pura baik hati, jika kau datang untuk mendapatkan Ho-siu-oh
(sejenis ginseng) yang berusia ribuan tahun ini, hemm.. hemm..
nasibmu juga tidak akan lebih baik dari pada mereka?"
Mo-in-kim-ci tertawa terbahak-bahak, katanya:
"Kau pandai sekali mengangkat dirimu, orang lain takut padamu,
tapi aku Ong Ciu-ping tidak takut sedikitpun!"
Cian-lok-mo-kun tertawa dingin:
"Aku tidak menyuruh orang takut padaku!"
Baru saja dia menggerakan tangannya ingin menyerang,
mendadak dari kejauhan datang lagi tiga bayangan orang, sambil
tertawa berkata:
"Orang-orang yang serakah sudah datang, aku akan mengantar
mereka ke neraka satu per satu!"
Setelah berkata, ketiga bayangan orang itu sudah tiba.
Salah satunya berkata:
"Aku bilang apa, dia tidak akan lari kemana?"
Habis bicara, dari pinggangnya melepaskan sepasang Poan-koanpit
(Pena hakim), wajahnya tampak sombong sekali.
Ketiga orang ini berusia sekitar lima puluhan, dua orang lainnya
yang satu sedang menghisap pipa tembakau panjang, yang satunya
lagi bertangan kosong, mereka adalah Hio-cu (Ketua ruangan) dari
tiga ruangan dalam di perkumpulan Poan-liong ( Naga yang melilit),
Seng-si-poan (Hakim mati hidup) Kang-ceng, Thie-yan-kan (Tongkat
tembakau) Seng Ki-ho, Ang-sat-ciang (Telapak tangan merah) Laicen.
Cian-tok-rno-kun tertawa lalu berkata:
"Kalian dari Poan-liong-pang berambisi menguasai dunia
persilatan, kali ini demi sebatang Ho-siu-oh yang berusia ribuan
tahun, tidak segan-segan mengerahkan seluruh kekuatan, rupanya
hari ini sebuah pertarungan sengit tidak akan terhindarkan lagi."


Pendekar Pedang Kail Emas Karya Liu Can Yang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Saat ini matahari sudah terbit, wajah orang-orang di dalam hutan
semua terlihat tegang, asalkan ada salah seorang sedikit bergerak,
mungkin satu pertarungan besar akan pecah.
Tanpa sengaja Sin-hiong menjumpai masalah ini, dia tahu Hosiu-
oh ada barang langka bagi manusia, tapi setelah dipikir-pikir,
empat pesilat tinggi di depan mata ini bersedia mati demi sebuah
keserakahan, berebut sampai akhirnya semua orang tidak mendapat
keuntungan. Berpikir sampai disini, maka pelan-pelan dia bergerak siap
meninggalkan hutan.
Tapi baru saja dia melangkah dua langkah, mendadak terdengar
seseorang dengan dingin berkata:
"Bocah, berhenti kau!"
Suaranya tidak keras, tapi sepatah kata-kata-nya jelas terdengar,
Sin-hiong tahu orang ini adalah Cian-tok-mo-kun, dia lalu berhenti
dan bertanya: "Kenapa aku harus menurut padamu?"
Cian-tok-mo-kun tertawa dingin:
"Kau sudah datang kesini, tentu saja aku harus memasukan kau
ke dalam persoalan ini, kau tidak boleh pergi?"
Diam-diam Sin-hiong menarik nafas, berkata: "Mungkin aku tidak
pantas?" Cian-tok-mo-kun melepaskan kapak di punggungnya dan berkata
lagi: "Aku tidak peduli kau pantas atau tidak, pokoknya Ho-siu-oh
berusia ribuan tahun ini aku pun mendapat dari orang lain, jika ada
orang ingin merebut dari tanganku, harus melihat kemampuannya
sampai dimana" Kau juga boleh mencoba nasibmu!"
Sin-hiong memutar otaknya, hati berpikir:
'Dia memaksaku seperti ini, rasanya ingin pergi pun tidak bisa."
Baru saja akan menjawab, mendadak dari luar hutan ada orang
berkata: "Boleh tidak sekalian masukan aku Lim Tai-goan!"
Begitu suaranya menghilang, orangnya sudah muncul, terlihat
dari luar hutan berjalan masuk satu orang!
Orang ini memakai baju compang camping, wajahnya kotor,
tangannya memegang sebatang tongkat pemukul anjing dari bambu
hijau, setelah masuk ke dalam hutan, dia memandang semua orang
dan berkata lagi:
"Minat semua orang tidak kecil, menurut pendapatku, lebih baik
kita rundingkan dulu sebuah cara yang bagus."
Dia bicara seorang diri, tapi semua orang yang ada dilapangan
tidak ada satu pun yang mempedulikannya.
Tiga pesilat tinggi dari perkumpulan Poan-liong yang baru
datang, saling menatap sekali, Thie-yan-kan Seng Ki-ho batuk dua
kali lalu berkata:
"Kami dari Poan-liong-pang tidak mau tahu persoalan orang lain,
Kang-hiocu, betul tidak?"
Seng-si-poan mengadukan sepasang Pan-koan-pit di tangannya,
sambil menganggukan kepala:
"Betul!"
Lai-ceng menggosok-gosok telapaknya dan melanjutkan:
"Kalau begitu, biar aku yang duluan saja!"
Setelah berkata, dia mengayunkan telapak tangannya, terlihat
telapak tangannya berwarna merah darah, pukulan telapak
tangannya mengarah pada Cian-tok-mo-kun!
Cian-tok-mo-kun menangkis menggunakan kapak di tangan
kanannya, tangan kiri dengan cepat dijulurkan sambil berkata
dingin: "Kalian bertiga tidak bersama-sama maju, mungkin tidak akan
mampu!" Dalam ayunan kapaknya, samar-samar terdengar suara gemuruh,
tangan kirinya menyerang ke Ki-bun-hiat di tubuh Ang-sat-ciang Laicen!
Dia langsung menggunakan sepasang tangan-nya, serangannya
pun secepat kilat, tidak percuma disebut pesilat tinggi kelas wahid di
dunia persilatan!
Lai-cen berturut-turuit menghindar, sambil menghantam tiga kali,
teriaknya: "Kepandaian yang begini, masih belum masuk dalam pandangan
aku marga Lai!"
Mata Cian-tok-mo-kun menyorot sinar aneh, di dalam hati
berpikir: Disini ada tiga pesilat tinggi dari Poan-liong-pang, disana masih
ada Ong Ciu-ping yang menjadi ketua lima wilayah selatan dan
ketua Kai-pang Lim Tai-goan, di antara orang-orang ini, tidak ada
satu pun yang terlihat lemah, entah bagaimana dengan bocah itu"'
Hatinya sedang berpikir, tapi tangannya sedikit pun tidak
mengendur, kapak besarnya berputar putar, tubuhnya mendadak
maju satu langkah, tangan kiri secepat kilat memukul ke depan!
Melihat ini, Kang-ceng tidak tahan berteriak:
"Lai-heng, hati-hati telapaknya beracun!"
Lai-cen sudah tahu di telapak tangan kirinya Cian-tok-mo-kun
ada racunnya, maka dia tidak berani terlalu mendesak ke depan, dia
hanya memiringkan tubuhnya sedikit. Tapi Cian-tok-mo-kun yang
mendapat kesempatan tidak mensia-siakannya:
"Hemm..!" lalu kapaknya dibacokan ke arah pinggang!
Ang-sat-ciang terpaksa menghindar lagi, Cian-tok-mo-kun jadi
mendapat kesempatan:
"Weet weet weet!" berturut turut membacokan kapaknya tiga
kali! Karena Lai-cen kehilangan kesempatan, maka terpaksa mundur
terus ke belakang, melihat keadaan ini, Seng Ki-ho dari Poan-liongpang
segera berteriak Thie-yan-kan di tangannya bergerak
menyerang! Cian-tok-mo-kun tertawa dingin berkata:
"Kalau masih ada lagi, kenapa tidak sekalian maju saja?"
Tangan kirinya menyapu melintang, kapak di tangan kanan tetap
membacok ke Ang-sat-ciang dengan ganas!
Mendapat bantuan dari Seng Ki-ho, tekanan terhadap Lai-cen
dengan sendirinya jadi berkurang, dia langsung melancarkan
serangan bertubi-tubi, sepasang telapak tangannya, mencoba
merampas kapak di tangan Cian-tok-mo-kun!
Setelah dua orang dari Poan-liong-pang maju bersama, mereka
bisa mengambil kembali inisiatif, Sin-hiong yang melihat di pinggir,
sangat memandang rendah tindakan pengeroyokan ini, hidungnya
mendengus, sorot matanya tertuju pada Seng-si-poan, mendadak
satu bayangan orang berkelebat, tongkat pemukul anjing dari ketua
Kai-pang Lim Tai-goan menotok dari atas!
Lim Tai-goan adalah orang yang sudah ternama dan banyak
akalnya, setelah menyaksikan di pinggir, dia tahu Ho-siu-oh yang
berusia ribuan tahun itu berada di tangannya Cian-tok-mo-kun, buat
dia menghadapi Cian-tok-mo-kun sendiri, dia masih ada akal bisa
merebutnya, tapi jika sampai jatuh ke tangan orang-orang Poanliong-
pang, yang orangnya banyak, ingin merebut dari tangan
mereka, harus menghabis-kan banyak tenaga.
Sebagai ketua Kai-pang, ilmu silat Lim Tai-goan tentu saja tidak
rendah, begitu tongkatnya menotok, dia sudah menyerang ketiga
orang itu. Ketiga orang itu sedang bertarung sengit, tidak mengira Lim Taigoan
bisa melakukan hal ini, maka mereka jadi tidak
memikirkan'untuk melukai lawannya lagi, sekuat tenaga mereka
membalas menyerang, lalu dengan cepat meloncat mundur ke
belakang! Thie-yan-kan Seng Ki-ho menghisap pipa tembakaunya dua kali,
dengan dingin berkata:
"Ketua Lim pun ingin melibatkan diri?"
Saat ini Lim Tai-goan sudah menarik kembali tongkat pemukul
anjingnya, sambil tertawa berkata:
"Maaf, karena saudara Seng bertiga ingin mengeroyoknya, aku
merasa ini tidak adil, jadi terpaksa membantunya."
Seng-si-poan Kang-ceng tadinya mengawasi Sin-hiong, jadi
ketika kedua temannya bertarung, dia masih tetap diam tidak
bergerak, saat semua orang sudah berhenti tidak bertarung, dia
langsung meloncat ke depan dan berkata:
"Saudara Lim, jika kau benar mau melibatkan diri, biar aku saja
yang menemaninya, bagaimana?"
Lim Tai-goan melirik, sambil berseri-seri berkata:
"Kenapa kau begini terburu-buru" Nanti pun aku pasti akan
membuatmu puas."
Setelah berkata, dia melambaikan tangan pada Sen Sin-hiong
dan berkata lagi:
"Bocah, kau murid siapa?"
Sin-hiong mengerutkan alis, di dalam hati berpikir:
'Orang-orang dunia persilatan yang baru sedikit punya nama,
kenapa rata-rata sombong dan membosankan, saat itu dia maju
dua langkah dan berkata: "Apa kau punya masalah" Silahkan
katakan saja."
Lim Tai-goan mengedipkan mata, berkata: "Jika kau murid dari
perguruan ternama yang lurus, aku bisa menjadikan kau seorang
wasit, jika dari generasi penerus aliran tidak karuan, maka kau tidak
pantas dijadikan juri!"
Mendengar ini, di dalam hati Sin-hiong sedikit marah, dia tertawa
dingin dan berkata:
"Walaupun aku bukan keluaran dari perguruan ternama dan
lurus, tapi juga bukan dari aliran sesat, anda salah mencari orang!"
Setelah berkata, pelan-pelan mendekati Cian-tok-mo-kun,
berkata lagi: "Entah saudara tua ini percaya padaku atau tidak, coba kau
keluarkan Ho-siu-oh berusia ribuan tahun itu biar aku yang
menjaganya untukmu, aku jamin mereka tidak bisa merebutnya!"
Kata-kata ini begitu terdengar, lima pesilat tinggi yang ada di
pinggir semuanya jadi terkejut!
Lim Tai-goan tertawa keras dan berkata:
"Saudara kecil, kelakar apa yang kau lakukan?"
"Yang aku katakan ini kenyataan!" kata Sin-hiong serius.
Dia tadi melihat kelakuannya Cian-tok-mo-kun sangat sadis,
semula dia tidak simpatik padanya, tapi setelah melihat beberapa
orang yang datang belakangan, selain Mo-in-kim-ci, semua
menampakan ketamakannya, maka dia mengeluarkan kata-kata ini.
Cian-tok-mo-kun meneliti dan berkata: "Tadi bukankah kau
berkata tidak pantas?"
Sambil tersenyum Sen Sin-hiong berkata: "Sekarang sudah
pantas, tidak percaya kau boleh mencoba aku tiga jurus dulu."
Cian-tok-mo-kun tertawa terkekeh-kekeh: "Melihat hal ini, kau
pun bisa dianggap salah satunya, aku akan mencoba setiap orang,
lihat nyawa tua siapa yang lebih panjang!"
Setelah berkata, tubuhnya bergerak, tangan kiri nya dijulurkan
mencengkram ke arah Sin-hiong!
Melihat usia Sin-hiong masih muda, Cian-tok-mo-kun menyerang
hanya menggunakan separuh tenaga dalamnya, pikiran di dalam
hati: 'Kalau kau bisa menghindar jurusku ini, sudah bisa dianggap
bagus. Tapi kejadiannya di luar dugaan semua orang, saat tangan Ciantok-
mo-kun mencengkram, tampak di depan mata bayangan orang
berkelebat, tahu-tahu dia sudah kehilangan bayangan Sin-hiong!
Cian-tok-mo-kun jadi sangat terkejut!
Dengan cepat dia memutar tubuhnya, terlihat Sin-hiong sambil
tertawa berdiri di belakang tubuh-nya, tidak tahan dia menarik nafas
dingin, di dalam hati berkata:
"Gerakan bocah ini sungguh cepat, dia orang yang sulit
dihadapi!"
Gerakan Sin-hiong yang sangat cepat, tidak saja membuat Ciantok-
mo-kun terkejut, lima orang pesilat tinggi yang berdiri di pinggir
pun ikut terkejut.
Sin-hiong masih berdiri di sana tidak bergerak dia berkata:
"Kenapa kau tidak mengerahkan seluruh tenagamu, jurus ini
tidak usah dihitung, coba lagi!"
Diam-diam Cian-tok-mo-kun tergetar, di dalam hati berpikir:
'Tidak peduli bagaimana, aku harus mencoba-nya lagi", maka
sambil berteriak, tubuhnya menerjang ke depan!
Di dunia persilatan sekarang, Cian-tok-mo-kun termasuk salah
satu pesilat tinggi terhebat, jika tidak, dia tidak mungkin bisa
membunuh Koan-lok-sam-hiong dan Tiang-long-kiam-khek Ang
Han-nian. Mengambil kesempatan saat menerjang ini, sepasang tangannya
bergantian menyerang, satu telapak dan satu kapak, tenaganya
tidak kurang dari ribuan kati, tapi, baru saja tubuhnya mendekat,
kembali bayangan orang berkelebat, serangan dia kali ini kembali
mengalami kegagalan!
Cian-tok-mo-kun sangat terkejut, tepat pada saat ini, sebuah
benda dingin sudah menempel diatas lehernya, Cian-tok-mo-kun
kembali terkejut, terdengar suara Sin-hiong di belakang dengan
tertawa dingin dan berkata:
"Silahkan kau nilai, apakah aku pantas atau tidak?"
Cian-tok-mo-kun hanya merasa perasaan dingin di leher, terus
menembus ke telapak kakinya, bagaimana dia bisa menjawab
pertanyaan ini"
Tampak wajah keheranan tiga pesilat tinggi dari Poan-liong-pang
dan ketua Kai-pang setelah melihat peristiwa ini, Mo-in-kim-ci Ong
Ciu-ping tidak bisa menutupi emosi di dalam hatinya, sambil
menghela nafas panjang berkata:
"Ternyata saudara kecil adalah Kim-kau-kiam-khek yang
menggemparkan dunia, apa lagi yang tidak pantas?"
Nama Kim-kau-kiam-khek, dalam beberapa bulan ini sudah
tersebar ke seluruh dunia persilatan, jika kejadian kemarin malam di
Siauw-lim-si juga dihitung, mungkin seluruh dunia persilatan juga
akan geger, tapi apa cukup dengan wajah terkejut beberapa orang
di lapangan ini, langsung masalah ini selesai"
Sin-hiong tertawa:
"Jika sudah cukup pantas, tolong keluarkanlah biar aku yang
menjaganya, kalian mau bagaimana bertarung, aku tidak peduli, aku
masih ingin baik-baik beristirahat."
Setelah berkata, dia sudah menarik kembali pedang pusakanya,
Cian-tok-mo-kun membalikkan tubuh, meneliti lagi Sin-hiong, pelanpelan
mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna kuning emas dan
berkata: "Aku percaya pada Kim-kau-tayhiap, tapi aku punya satu hal
yang harus kukatakan terlebih dulu."
"Asalkan saudara tua percaya, semua mudah dibicarakan." Kata
Sin-hiong Cian-tok-mo-kun membuka setengah kotak kecil itu, para pesilat
tinggi yang berdiri di pinggir membelalakan sepasang matanya, otak
mereka berputar dengan cepat, walaupun mereka gentar terhadap
ilmu silat Sin-hiong, tapi demi keuntungan besar di depan mata,
semua orang juga bersiap siap ingin mencobanya.
Mata Cian-tok-mo-kun menyapu sekali, katanya:
"Terus terang saja, Ho-siu-oh berusia ribuan tahun yang aku
miliki ini, adalah hasil curian dari seorang saudagar kaya di ibu
kota."

Pendekar Pedang Kail Emas Karya Liu Can Yang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Seng-si-poan Kang-ceng marah dan berkata:
"Walaupun kau mencuri dari baginda raja, apa urusannya dengan
kami" Ada kentut apa cepat lepaskan, kami tidak sabar menunggu
lama-lama."
Dengan kesal Cian-tok-mo-kun melototinya dan berkata lagi:
"Walau aku dijuluki Cian-tok-mo-kun, tapi aku percaya hatiku
masih bersih, dibandingkan dengan orang yang mengaku dirinya
dari aliran lurus, tapi secara diam-diam melakukan hal yang busuk,
laki-laki merampok, yang perempuan jadi pelacur, apakah kalian
tahu untuk apa aku jauh-jauh menempuh ribuan li mencuri Ho-siuoh
ini?" Seng-si-poan melihat dia bicara memutar jauh, tidak tahan
menjadi marah berkata:
"Buat apa kau banyak bicara kosong" Siapa yang pedulikan
semua ini!"
Cian-tok-mo-kun tertawa dingin dan berkata:
"Hemm.. hemm.., aku bicara kosong" Aku ingin bertanya sebuah
pertanyan, bagaimana kelakuan ketua perumahan Tiong Hong-kun
dari perumahan Ho-gu di Ho-lam?"
Begitu kata-kata ini keluar, wajah beberapa orang disana
tergetar, mereka bersama-sama berkata:
"Orang ini tidak jelek, kenapa dia?"
Cian-tok-mo-kun menghela nafas panjang dan berkata:
"Bagus, tiga bulan yang lalu aku lewat di Ho-gu-cung, aku
melihat Tiong-tayhiap sudah sekarat, setelah aku tanya, baru tahu
ternyata dia diserang secara diam-diam oleh musuh!"
Mo-in-kim-ci terkejut dan bertanya:
"Siapa yang diam-diam menyerang dia?"
Sorot tajam mata Cian-tok-mo-kun menyapu wajah ketiga ketua
hio dari perkumpulan Poan-liong, satu kata persatu kata berkata:
"Pangcu dari Poan-liong-pang, Kiu-bun-liong (gambar sembilan
naga) CiuKiu-kun!"
Orang-orang yang mendengar kabar itu, kecuali Sin-hiong
semuanya sangat tergetar!
Ketua Ho-gu-cung Tiong Hong-kun, sepanjang usianya menjalin
persahabatan di seluruh dunia persilatan, bukan saja ilmu silatnya
sangat tinggi, orangnya pun sangat ramah, di dunia persilatan tidak
peduli aliran putih atau hitam, tidak peduli terjadi masalah apa,
asalkan dia keluar mendamaikannya, tidak ada satu pun yang tidak
jadi berdamai, sehingga dia pun mendapat sebutan membanggakan
Hoo-hoo-sianseng (Tuan baik hati), tidak diduga orang yang
dihormati oleh semua orang, malah mendapat serangan diam-diam
dari ketua Poan-liong-kun Ciu Kiu-kun, siapa yang berani percaya"
Seng-si-poan tertawa sinis dan berkata:
"Kau mau mengadu domba, tidak mungkin?"
Setelah berkata, sepasang penanya dengan dahsyat sudah
datang menyerang!
Tapi baru saja tubuhnya bergerak, mendadak dari luar hutan ada
orang tertawa keras dan berkata:
"Kang-hiocu jangan sembarangan bertindak, kata-kata dia sedikit
pun tidak salah!"
Suara ini sangat nyaring, menggetarkan telinga setiap orang
sampai mendengung tidak henti hentinya.
Sin-hiong melihat ke arah suara itu berasal, terlihat dari luar
hutan melayang masuk satu orang, orang ini terlihat belum tua,
memakai baju putih, yang paling mencolok mata orang, di atas
bajunya ada gambar sembilan naga emas, dengan mulut terbuka
lebar dan cakarnya membentang, seperti melepaskan diri terbang
keluar. Kang-ceng terpaksa menghentikan gerakan-nya, setelah tertegun
lalu bertanya: "Ketua, kata-kata anda ini apakah benar?"
Ternyata orang yang datang ini adalah ketua Poan-Iiong-pang
sendiri, Kiu-bun-liong Ciu Kiu-kun, tampangnya walaupun masih
muda, sebenarnya usia-nya sudah mencapai enam puluh tahun,
ilmu silat luar dan dalamnya sudah mencapai puncaknya, setahun
yang lalu dia mendirikan Poan-liong-pang, ambisinya sangat besar,
yaitu ingin menghadapi berbagai perguruan besar.
Ciu Kiu-kun tertawa:
"Sebenarnya dia hanya tahu sedikit tidak tahu yang lainnya, kita
rebut dulu Ho-siu-oh nya!"
Cian-tok-mo-kun mendengus dingin, berkata:
"Rasanya tidak segampang itu!"
Ketua Poan-liong-pang melihat sekali pada semua orang dengan
sombongnya dan berkata:
"Tidak peduli barang apa itu, asalkan aku marga Ciu
menginginkannya, walau itu adalah simpanan istana raja, aku pun
akan merebutnya."
Sin-hiong ikut mendengus dingin.
Ketua Poan-liong-pang tertawa dingin:
"Ternyata saudara Lim, masih belum rela?"
Ketua Kai-pang berdiri sangat dekat dengan Sin-hiong, dengusan
tadi di kira Kiu-bun-liong, Lim Tai-goan yang mengeluarkannya,
makanya setelah membalikkan rubuh, bibirnya tersenyum dingin.
Sebenarnya dugaannya salah besar, yang mengeluarkan
dengusan dingin ini bukan Lim Tai-goan, tapi dari Sin-hiong yang
dipandang rendah oleh dia.
Di dalam hati Lim Tai-goan merasa lucu, hatinya berkata:
'Melihat sasaran saja sudah salah, buat apa masih bersikap
sombong" Tapi dia tidak mau dipandang lemah, dia balik
membalasnya dan berkata:
"Tentu saja, kita harus mencoba mengujinya!"
Mendadak ketua Poan-liong-pang tertawa terbahak-bahak dan
berkata: "Bagus, kalau begitu kita harus menunggu apa lagi" Sedari dulu
barang pusaka dan senjata pusaka, orang yang berilmu baru bisa
mendapatkannya, kau dan aku selesaikan dulu saja masalah kita."
Pelan-pelan dia melepaskan ikat pinggangnya, sekali digetarkan,
terdengar satu suara "Ssst!", ikat pinggang itu sudah menjadi tegak
lurus, segulung sinar perak bergetar, ternyata itu adalah sebuah
pedang lentur! Thie-yan-kan Seng Ki-ho meloncat ke depan dan berteriak:
"Ketua, membunuh ayam tidak perlu menggunakan golok sapi,
pengemis ini serahkan saja padaku!"
Dengusan Sin-hiong tadi, Kiu-bun-liong pun berdiri
membelakanginya, maka tidak tahu suara itu berasal dari Sin-hiong,
tapi Seng Ki-ho melihatnya dengan jelas, setelah dia menyaksikan
ilmu silatnya Sen Sin-hiong, dia khawatir Kiu-bun-liong meman-dang
sebelah mata, maka setelah mendengar perkataan Kiu-bun-liong,
pipa tembakaunya menunjuk pada Sin-hiong dan berkata lagi:
"Orang ini adalah Kim-kau-kiam-khek yang baru-baru ini muncul
di dunia persilatan, Cian-tokmo-kun mau menyerahkan Ho-siu-oh
padanya, agar dia menjaganya!"
Mendapat laporan ini, wajah Kiu-bun-liong tidak tahan jadi
berubah, berita Kim-kau-kiam-khek mengalahkan Ang-hoa-kui-bo,
dan Bu-tong-sam-kiam, juga ketua Hoa-san-pai hingga
mengundurkan diri dari dunia persilatan, telah menggemparkan
dunia persilatan, dia tidak diduga peristiwa yang menggemparkan
dunia ini, dilakukan oleh seorang bocah yang begitu muda"
Tapi, Ciu Kiu-kun sudah bertekad harus mendapatkan Ho-siu-oh,
dia berpikir sejenak lalu menganggukan kepala dan berkata:
"Saudara Kang, saudara Lai, kalian masing masing hadapi satu
orang, Kim-kau-kiam-khek yang termasyur ini biar aku yang
menghadapinya!"
Kang-ceng dan Lai-cen menyahut sekali, yang satu maju dan
berdiri di hadapan Cian-tok-mo-kun, yang satu lagi menghadang di
depan Mo-in-kim-ci Ong Ciu-ping, dia sendiri pelan-pelan berjalan
menuju Sin-hiong.
Situasi mendadak jadi menegangkan, tapi Sin-hiong dengan
tenangnya memetik sekali kecapinya, dia berteriak pada Cian-tokmo-
kun: "Hei, apa yang sudah kau katakan itu jadi tidak?"
Saat ini Seng-si-poan Kang-ceng sudah berdiri di depan Cian-tokmo-
kun, kedua orang ini sedang saling mengawasi dengan ketat,
ketika Sin-hiong berteriak, tubuh Cian-tok-mo-kun sedikit bergerak
dan menjawabnya:
"Tentu saja jadi, hanya......"
Tadinya dia mau mengatakan "Tapi sekarang tidak bisa", tidak
disangka kata-katanya belum keluar, Pan-koan-pit Seng-si-poan
dengan cepat sudah menyerang!
Sen Sin-hiong marah dan berkata:
"Siapa yang berani mengganggu acaraku?"
Tubuhnya meloncat ke atas, pedangnya dengan dahsyat sudah
menyabet dari atas.
Ketua perkumpulan Poan-liong tidak bersiap, sehingga Sin-hiong
bisa terlepas meloncat keatas.
Melihat Sin-hiong terlepas dari pengawasannya, dia berteriak
keras, tubuhnya datang menerjang, ketika pedang Sin-hiong
menusuk ke bawah, pedang pusakanya pun sudah menyerang.
Tampak dua sinar bentrok, diikuti suara "Paak paak!", Kiu-bunliong
berteriak: "Jurus pedang yang bagus!"
Dia menggetarkan lengannya, menyalurkan tenaga dalam ke
batang pedang, lalu melancarkan tiga jurus pedang menyerang ke
atas, tidak membiarkan Sin-hiong bisa selamat turun ke bawah.
Tubuh Sin-hiong sedang berada di udara, walau serangan dia
sangat dahsyat, tapi karena tidak ada pijakan, saat dua pedang
beradu, tubuh Sin-hiong kembali terlontar ke atas!
Saat ini enam orang yang berdiri di pinggir masih belum
bertarung, melihat cara bertarung kedua orang ini, semua orang
membelalakan matanya, Mo-in-kim-ci Ong Ciu-ping malah jadi
mengkhawatirkan keadaan Sin-hong.
Sin-hiong tidak terburu-buru, dia menyabetkan pedangnya dua
kali, setelah terlontar ke atas, tubuh berikut bayangan pedang
kembali dengan dahsyat menusuk ke bawah.
Karena Kiu-bun-liong berada di bawah, tentu saja lebih
menguntungkan dia, tapi setelah dia berturut turut menyerang tiga
empat jurus dengan sia-sia, hatinya jadi sangat terkejut!
Saat ini, rubuh Sin-hiong kembali meluncur ke bawah, ketua
perkumpulan Poan-liong memutar otak, dia cepat menghindar ke
samping sedikit, tapi ketika jarak Sin-hiong ke tanah tinggal tiga
lima cun lagi, Ciu Kiu-kun mendengus dingin, pedangnya menyabet
pinggang Sin-hiong.
Jurus ini sungguh diluar dugaan, tadi dia menghindar, orangorang
yang menyaksikan di pinggir mengira dia tidak sanggup
menahan serangan Sin-hiong, tidak di sangka dia mempunyai
rencana lain. Sin-hiong tertawa dingin dan berkata:
"Jika aku tidak tahu kau punya gerakan ini, maka tidak pantas
berkelana di dunia persilatan."
Walaupun tubuhnya belum menyentuh tanah, pedangnya sudah
menusuk dari samping, inilah jurus Can-goat-siau-seng (Bulan sabit
menyinari bintang) dari jurus Kim-kau-kiam! .
Jurus Can-goat-siau-seng ini, di dalam ilmu Kim-kau-kiam adalah
jurus yang paling ganas, ketika Sin-hiong mempelajari jurus ini,
gurunya pernah dengan nada terharu berkata:
"Kalau tidak dalam keadaan sangat mendesak, jangan
menggunakan jurus Can-goat-siau-seng ini!"
Selama mengembara, Sin-hiong sudah tidak sedikit bertarung
dengan pesilat tinggi dunia persilat-an, tapi jurus ini tidak pernah
dia gunakan. Ketika pedang ketua Poan-liong-pang sedang di gerakan
menyerang melintang, dia merasa yakin serangannya akan berhasil,
tapi baru saja jurus pedangnya keluar setengah, pedang Sin-hiong
sudah datang menyerang dari sisi miring, Kiu-bun-liong segera
merasa punggung tangannya tersentuh dinginnya logam, tidak
tahan dia jadi terkejut sekali, tubuhnya pun meloncat mundur ke
belakang kurang lebih tiga tombak!
Sin-hiong masih berbaik hati, saat mengenai sasaran dia hanya
memukul menggunakan bagian pedang yang tidak tajam, jika dia
berniat melukai Kiu-bun-liong, telapak lengan kanan ketua
perkumpulan Poan-liong ini tentu sudah terpotong.
Sin-hiong dengan angkuhnya tertawa:
"Ketua Poan-liong-pang pun biasa-biasa saja.."
Enam orang yang berada di pinggir lapangan semuanya terkejut
dan ngeri, siapapun tidak berani mengeluarkan suara"
Cian-tok-mo-kun mengeluh dan berkata:
"Kim-kau-tayhiap bolehkah aku menanyakan nama anda?"
Sin-hiong tertawa dan berkata:
"Maaf, namaku Sen Sin-hiong, apa kalian masih ada
pertanyaan?"
Semua orang menyaksikan ketua Poan-liong-pang saja dalam
sekejap sudah dikalahkan, siapa yang berani mengajukan
pertanyaan pada dia"
Cian-tok-mo-kun tidak berucap apa-apa lagi, dia mengeluarkan
kotak kecil berwarna kuning emas itu, dengan kedua tangan
menyodorkannya.
Tapi baru saja dia menjulurkan tangannya, terdengar beberapa
teriakan, dan bayangan orang berkelebatan, Cian-tok-mo-kun
secepat kilat mundur ke belakang, sambil tertawa berkata:
"Melihat keuntungan lupa budi pekerti, apakah ini sifat asli
kalian?" Dalam kejadian tadi, orang-orang yang ada di lapangan semua
bereaksi, sampai ketua lima wilayah selatan dari golongan
perampok Ong Ciu-ping juga tidak terkecuali! Hanya Sin-hiong saja
yang tidak bergerak.
Terlihat sekali orang-orang ini menginginkan benda langka itu,
jika kotak kecil ini sampai jatuh ke tangan Sin-hiong, mereka
berpikir betapa sulitnya merampas barang itu, sedangkan jika masih
berada di tangan Cian-tok-mo-kun, mereka tidak terlalu risau.
Setelah semua orang tidak berhasil merebut-nya, ketua Kai-pang
Lim Tai-goan melihat pada Kiu-bun-liong dan berkata:
"Ketua Kiu, apakah kita sekarang di barisan yang sama!"
Mata Kiu-bun-liong berputar-putar, lalu menganggukan kepala:
"Jika kami berhasil mendapatkan Ho-siu-oh, kami akan membagi
kau sepuluh persen!"
Memang Ho-siu-oh adalah barang pusaka, jika orang biasa
makan sedikit saja, bisa menghidupkan orang mati, jika orang yang
berlatih ilmu silat makan barang pusaka ini, hampir sebanding
dengan berlatih ilmu silat selama sepuluh tahun, walau jumlah
sepuluh persen itu kecil, tapi faedahnya besar sekali, Lim Taigoan
memperhitungkan keadaan di lapangan, dia merasa itupun sudah
memuaskan, maka dia berkata:
"Perkataan laki-laki sejati...!"
Kiu-bun-liong segera menjawab:
"Seperti kuda lari ditambah satu pecut!" jawab Kiu-bun-liong
Kedua orang ini adalah ketua dari dua perkumpulan besar di
dunia persilatan, begitu perjanjian disepakati, sama dengan kerja
sama kedua perkumpulan besar itu, walaupun Sin-hiong saat ini bisa
mendapatkan Ho-siu-oh, tapi dia akan mendapatkan kerepotkan


Pendekar Pedang Kail Emas Karya Liu Can Yang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang besar sekali"
Ketua dari lima wilayah selatan Ong Ciu-ping merasa selalu tidak
diajak bicara, saat ini tidak bisa menahan diri lagi, sambil tertawa
dingin berkata:
"Sen-tayhiap, biar aku membantumu!"
Kata-kata dia ini mengisyaratkan sesuatu, Kiu-bun-liong dan Lim
Tai-goan berdua jadi mendengus mendengarnya, bersama Seng-sipoan
tiga orang tiba-tiba menghadang di tengah Sin-hiong dan
Cian-tok-mo-kun, tujuannya adalah untuk mencegah Cian-tok-mokun
memberikan Ho-siu-oh itu ke tangan Sin-hiong.
Sin-hiong mendengus lalu berkata:
"Kalian mau apa?"
Tangan kiri menyapukan kecapinya, tangan kanan menyerang
dengan pedangnya, dengan dahsyat menyerang kelima orang itu!
Ilmu silat ke lima orang ini tidak lemah, bersama-sama mereka
berteriak, masing-masing mengeluarkan kehebatannya, dalam
sekejap angin pukulan dan bayangan tongkat, hawa pedang dan
ujung pena hakim balik menyerang Sin-hiong!
Sin-hiong tertawa keras dan berkata:
"Silahkan kalian tanya pada diri sendiri, apakah lebih hebat dari
pada tiga tetua Siauw-lim-si?"
Sepasang tangan berputar-putar, dalam sekejap mata dia
melancarkan serangan sebanyak lima-enam jurus, dan tubuhnya
pun sudah keluar dari kepungan!
Cian-tok-mo-kun buru-buru mengeluarkan kotak kecil itu, Sinhiong
menggeleng-gelengkan kepala dan berkata:
"Tidak usah, kau pergilah, orang-orang disini biar aku yang
urus!" Setelah berkata, dia melihat sekali pada Ong Ciu-ping dan
berkata lagi: "Ong Lo-cianpwee, menolong nyawa orang, bagaimana pun jauh
lebih baik dari pada melihat keuntungan lalu lupa pada teman, jika
ketua perumahan Tiong itu adalah orang yang dihormati dunia
persilatan, maka mohon Lo-cianpwee melupakan niat merebut Hosiu-
oh ini." Kata-kata yang dia ucapkan itu amat kuat, Mo-in-kim-ci dengan
terharu berkata:
"Dengan perkataan Sen-tayhiap ini, aku marga Ong tidak akan
ada pikiran merebutnya lagi, sekarang di tempat ini aku sudah tidak
ada urusan lagi, jika Tayhiap di kemudian hari ada kesempatan,
harap mampir ke Bu-tiang, untuk mengunjukan rasa hormat-ku."
Setelah berkata, dia bersoja pada Sin-hiong, membalikkan tubuh
pergi meninggalkan tempat itu.
Cian-tok-mo-kun lebih terharu lagi, berteriak:
"Sen-tayhiap, aku juga tidak banyak basa-basi lagi, mengucapkan
terima kasih, aku pasti menyampaikan hati tulus anda pada ketua
perumahan Tiong, jika dia beruntung bisa sembuh, sepanjang tahun
akan mendirikan peringatan untuk menyembahmu."
Setelah berkata begitu, sekali meloncat orang-nya dengan cepat
pergi. Seumur hidup Sin-hiong belum pernah di hormati orang seperti
ini, saat ini dia malah merasa tidak enak, sorot matanya pelan-pelan
ditarik, tiba-tiba dia melihat ketiga Hio-cu dari Poan-liong-pang
sudah berlari keluar dari hutan!
Sin-hiong jadi marah, sambil berteriak, tubuh-nya dengan cepat
mengejar keluar!
Tapi baru saja dia bergerak, Lim Tai-goan dan Ciu Kiu-kun dua
pesilat tinggi inipun sudah mengambil kesempatan, dua macam
senjata dengan cepat datang menyerang.
Sin-hiong mendengus dingin, Kim-kau-po-kiam disabetkan ke
belakang, tapi tubuhnya tetap menerjang ke depan!
Ciu Kiu-kun marah dan berkata:
"Jika kami berdua tidak bisa menghadangmu, untuk apa aku
marga Ciu berkelana di dunia persilatan lagi!"
Baru saja mau mengejar, mendadak dia ditekan oleh Lim Taigoan
yang berada di sampingnya:
"Saudara Ciu, suara di timur serang ke barat, ini kesempatan
bagus buat kita!"
Mendengar ini, Ciu Kiu-kun seperti sadar, tepat ketika Sin-hiong
mengejar Seng-si-poan dan kawan-kawannya, kedua orang itu
saling tertawa, lalu mengejar ke arah larinya Cian-tok-mo-kun.
Sen Sin-hiong yang kurang pengalaman di dunia persilatan, terus
mengejar tiga orang itu, malah melupakan dua orang ini.
Ilmu meringankan tubuhnya sangat hebat, Kang-ceng bertiga
sudah berlari sejauh dua tiga puluh tombak, sesudah Sin-hiong
berhasil mengejarnya dia membentak:
"Berhenti!"
Mendengar bentakannya, ketiga orang itu langsung berhenti,
Seng Ki-ho dengan dingin berkata: "Apa kami tidak boleh pergi?"
Sin-hiong tertawa dingin:
"Apa tujuan kalian pergi, bukankah kalian mau berputar lalu
mengejar orang, hemm... hemm... siasat busuk ini tidak bisa
mengelabui aku?"
Ang-sat-ciang Lai-cen tergesa-gesa, perlahan berkata:
"Tahan dia!"
Tujuan Sin-hiong menghadang mereka sesaat, supaya Cian-tokmo-
kun bisa dengan bebas pergi, tapi begitu dia melihat, di depan
mata seperti ada yang kurang, mendadak hatinya tergetar, di dalam
hati dia berpikir:
'Kenapa aku begini bodoh, tiga orang di depan ini hanya orang
kelas dua, dua orang di belakang itu, baru orang yang mesti
diperhatikan.' Berpikir sampai disini, dia jadi malas menjawab, dia membalikkan
tubuh lari kembali lagi ke tempat semula.
Dia sungguh orang pintar yang bodoh sesaat, walaupun sekarang
balik lagi ke tempat tadi, apakah Lim Tai-goan dan Kiu-bun-liong
masih ada disana"
Begitu Sin-hiong tiba di tempat semula, benar saja tempat itu
sudah tidak ada satu orang pun, pertama-tama dia tertegun, lalu dia
mengerti, dia sendiri jadi tertawa bisu, di dalam hati berkata:
"Yang penting kalian semua pasti pergi ke Ho-gu-cung, aku
punya kuda Ang-ji, tidak usah takut tidak bisa mengejar mereka?"
Berpikir sampai disini, dia lalu naik ke atas kudanya mengejar ke
arah Ho-gu-cung!
Sin-hiong sadar mereka berangkatnya masih belum lama, di
dalam hati berpikir:
"Paling bagus jika aku bisa mengejar mereka sebelum tengah
hari", maka dia menjepitkan sepasang kakinya, satu orang dengan
satu kuda dengan cepat berlari ke depan.
Sambil memacu kudanya dia mengawasi, tapi tetap saja
menemukan satu orang pun.
Sin-hiong berpikir di dalam hati:
'Apakah Cian-tok-mo-kun melakukan perjalan-an melalui jalan
kecil" Jika tidak, bagaimana pun seharusnya dia sudah
menemukannya."
Tadinya masalah ini tidak ada sangkut paut dengan dirinya, tapi
karena dorongan rasa keadilan, tanpa sadar, Sin-hiong jadi
mengambil beban ini.
Di sepanjang jalan, sejauh mata memandang, semua adalah
hutan rimbun, semakin Sin-hiong berjalan ia merasa semakin ada
yang tidak beres, tadinya dia ingin balik kembali, tapi sekarang
waktu sudah tidak |Mgi lagi, saat dia maju ke depan, bukan saja
tidak pernah bertemu orang, satu rumah pun tidak terlihat, di dalam
hati dia berpikir:
'Dari pada kembali lagi, lebih baik mencoba jalan ke depan lagi,
siapa tahu bisa menemukan sesuatu"'
Setelah memutuskan, maka dia melarikan kudanya lagi.
Berjalan tidak lama, jalannya sudah sedikit datar, di sepanjang
jalan pun sudah ada beberapa rumah, dia mencoba menanyakan
pada orang-orang di jalan, apakah melihat orang yang seperti Ciantok-
mo-kun k-vval, orang-orang itu menjawabnya tidak tahu, walau
pun sia masih meneruskan jalannya, tapi pikirannya sudahh sedikit
goyah. Waktu tengah hari sudah lewat, di depan mata kembali tampak
tanah liar, Sin-hiong jadi merasa menyesal, jika sudah tahu begini,
tadi dia seharusnya beristirahat dulu.
Kembali berjalan beberapa saat dia merasa perutnya keruyukan,
hatinya jadi sedikit gelisah dan begitu mengangkat kepala, dia
melihat tidak jauh dari tempatnya tampak ada satu tembok merah.
Hati Sin-hiong tergerak di dalam hatinya berfikir:
'Kelihatandi didepan itu jika bukan kelenteng pasti sebuah kuil,'
karena sedang merasa kelaparan dia tidak berpikir panjang lagi,
mempercepat jalannya mendekati tempat itu.
Setelah dekat dia dia melihat memang sebuah kelenteng, warna
merah ddi sudut temboknya sudah terkelupas, tembok di
perkarangan belakang juga sudah roboh, tampaknya sebuah
kelenteng yang sudah tidak digunakan lagi
Sin-hiong merasa lemas, tapi dia sudah datang kesini, terpaksa
pelan-pelan turun dari kuda, masuk ke dalam bangunan kelenteng,
terlihat patung Budha di dalam sudah pada miring-miring, tiang
merahnya pun sudah tidak berwarna merah lagi, melihat
keadaannya kelenteng ini paling sedikit sudah ada lima enam tahun
tidak ada penghuninya.
Pelan-pelan dia berjalan ke tengah ruangan, begitu
memperhatikan, ternyata ini adalah kelenteng Koan kong di dalam
hati berpikir: 'Rasa setia kawan Koan-kong menerangi bumi dan langit, kenapa
kelentengnya tidak ada orang yang mengurus"'
Hatinya merasa ada ketidakadilan untuk Koan kong, sorot
matanya melihat ke arah koridor sebelah kanan, terlihat dalam
bayangan di sudut koridor ada sepasang kaki, Sin-hiong melihatnya
jadi terkejut sekali.
Tapi karena ilmu silatnya tinggi dan orangnya pemberani, dia
berdiri sesaat, kedua kaki itu tetap tidak bergerak, dia tahu pasti
ada sesuatu, maka dia berjalan menghampirinya, siapa tahu, begitu
dia melihat, ternyata itu adalah setengah bagian tubuh bawah
seseorang. Hati Sin-hiong jadi merasa tertekan, diam diam dia menarik nafas
dan di dalam hati berkata:
'Dimana setengah bagian rubuhnya lagi"'
Dia maju lebih dekat lagi, siapa tahu tidak melihat tidak apa-apa,
begitu meneliti, hatinya jadi tambah terkejut!
Pagi ini dia telah melihat bagaimana baju Cian tok-mo-kun, saat
ini orang yang tergeletak diatas lantai, baju dan warnanya persis
sama dengan yang dipakai Cian-tok-mo-kun, maka orang yang mati
ini di pastikan Cian-tok-mo-kun.
Sin-hiong jadi bengong melihatnya, di dalam hati dia berpikir,
'setengah tubuh bawahnya berada disini, setengah tubuh atasnya
mungkin ada disekitar ini, maka dengan telapak tangan menjaga
didepan dada, tubuhnya meloncat melesat ke dalam koridor.
Koridor ini tidak panjang, setelah Sin-hiong melewatinya,
matanya menjadi terang, ternyata di ujung koridor ada sebuah
pekarangan yang tidak kecil, di tengah pekarangan ada tiga buah
pohon besar, karena sudah lama tidak ditinggali, orang yang melihat
merasa ada sedikit angker.
Setelah masuk ke dalam pekarangan, sorot mata dia pelan-pelan
menyapu, mendadak, di belakang pohon besar kedua seperti ada
sesuatu yang digantung" tidak berpikir panjang lagi, dia langsung
berjalan mendekat!
Sin-hiong jadi terkejut, dalam hatinya berpikir:
'Cian-tok-mo-kun belum lama berpisah dengan nya, bagaimana
bisa dalam waktu yang begitu singkat sudah dibunuh orang, jika dia
dibunuh oleh Kiu Bun-liong dan Lim Tai-goan, tampaknya tidak
mungkin" Terhadap ilmu silat ketua Kai-pang dan ketua perkumpulan Poanliong,
dan Cian-tok-mo-kun sangat tahu sekali, walau dua orang
mengeroyoknya, Cian-tok-mo-kun pun tidak akan mati secepat ini"
Setelah Sin-hiong berpikir-pikir, dalam sesaat masih belum
terpikir siapa orang yang memiliki ilmu silat setinggi ini, saat itu dia
pelan-pelan berjalan mendekati mayat itu, ketika dia ingin
menurunkan mayat Cian-tok-mo-kun kebawah, baru saja mengangkat
tangannya, mendadak dia melihat disisi mayat Cian-tok-mokun
ada sebelas huruf yang diukir orang dengan menggunakan ilmu
jari Tay-lek-kim-kong-ci (Jari Kimkong), berbunyi, 'mengembalikan
perbuatan orang pada orangnya sendiri'!
Sebelas huruf ini terukir sedalam kira-kira setengah senti, jika
dilihat dari ilmu silatnya, baru kali ini dia melihatnya sejak turun
gunung. Sin-hiong sangat terkejut, kembali melihat kekiri dan kanan, dia
melihat disisi kiri mayat Cian-tok-mo-kun, juga digambar satu
kuntum bunga teratai dengan cara yang sama, dia teringat Say-hoato
pernah berkata masalah pulau Teratai, di dalam hati dia berpikir,
'apakah semua ini dilakukan oleh ketua pulau Teratai"'
Dia tidak tahu, siapa nama dan marga ketua pulau Teratai, hanya
dia sudah merasa ilmu silatnya gadis berbaju merah itu sangat
tinggi, maka bagaimana dengan ketua pulau Teratai" Tentu saja
tidak perlu ditanya lagi.
Dia memutar otaknya, mengangkat tangan untuk kedua kalinya,
baru saja mau menurunkan mayat Cian-tok-mo-kun, mendadak dari
luar koridor ada yang teriak:
"Tunggu, tunggu, apa kalian melihat jelas bocah itu lari masuk ke
dalam kuil ini?"
Terdengar orang lainnya menjawab:
"Tidak peduli benar atau tidak, diluar ada kuda, maka di dalam
pasti ada orang!"
Baru saja orang itu berhenti berkata, mendadak "Iiih!" dan
berkata lagi: "Tan-tayhiap, kau melihat apa?"
Ternyata orang yang datang itu hanya dua orang saja, orang
yang dipanggil Tan-tayhiap melihat kearah yang ditunjuk dan
berteriak: "He he, sepasang kaki!"
Kedua orang di luar itupun sudah menemukan sepasang kaki itu,
Sin-hiong melihat ke sekeliling, melihat disebelah kiri ada panggung
bedug, maka tanpa mengeluarkan suara dia meloncat keatasnya!
Tapi baru saja dia masuk ke dalamnya, mendadak dia merasakan
sebuah pukulan dahsyat menghantam dari atas!
Sin-hiong terkejut, dia menjulurkan tangan ingin menangkisnya,
mendadak orang itu menarik kembali pukulan tangannya, dengan
dingin berkata:
"Sen-tayhiap, dunia ini benar-benar sempit!"
Sin-hiong semakin terkejut, sekali melihat, tidak tahan dia
terkejut dan berteriak:
"Ternyata kau?"
"Betul, kau tidak menyangka!"
"Tidak juga?" kata Sin-hiong tersenyum.
Walaupun berkata begitu, tapi di dalam hati dia merasa sungguh
sedikit diluar dugaan, pikirnya:
'Menurut kabar, bukankah dia sudah meng-ikuti gurunya pulang
ke Hoa-san?"


Pendekar Pedang Kail Emas Karya Liu Can Yang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ternyata orang ini bukan orang lain, dia adalah Ho Koan-beng
murid dari Hoa-san, juga calon suami-nya Sun Cui-giok!
Kenapa Ho Koan-beng bisa datang kesini, dan bersembunyi di
dalam kegelapan, hanya dia sendiri yang tahu, dia pelan-pelan
berjalan keluar, tampak janggutnya sudah tumbuh panjang,
wajahnya kusam Sin-hiong yang melihat di dalam hati merasa tidak enak, dia
mengira karena Koan-beng merindukan Cui-giok, dia diam-diam
kabur keluar gunung, sehingga keadaannya jadi tidak terurus.
Ho Koan-beng melihat pada Sin-hiong sambil tersenyum berkata:
"Di luar ada orang yang datang mengejarku, perkataan kita harus
pelan sekali!"
'Tidak apa-apa!" kata Sin-hiong tertawa dingin.
Ho Koan-beng mendadak mengangkat kepalanya, dalam hati
berpikir, 'dia ini pernah mengalahkan Ang-hoa-kui-bo, di sepanjang
jalan, Lam-goat-sian-ku dari Ngo-goat juga pernah dikalahkan dia,
walaupun Cap-poh-tui-hun (Sepuluh langkah pengejar roh) Tan
Tong dan Hek-ho (Rubah hitam) Souw Cian sangat lihay, mungkin
masih bukan lawannya?"
Ketika Ho Koan-beng sedang berpikir, di bawah sudah terdengar
derap kaki orang, dua orang itu mengawasi dari atas ke bawah,
terlihat dua orang laki-laki yang satu hitam dan yang satu lagi putih,
sedang berjalan keluar dari koridor.
Sin-hiong tidak mengenal kedua orang ini, juga tidak tahu apa
hubungan Ho Koan-beng dengan mereka, di dalam hati dia hanya
menduga, jika kedua orang itu naik ke atas, bagaimana pun aku
akan membela Ho Koan-beng.
Kedua orang itu mencari-cari di dalam pekarangan, sedangkan di
dalam hati Ho Koan-beng memikirkan hal lain, dia berpikir, dia telah
mendapat-kan sebuah buku rahasia yang diinginkan oleh seluruh
orang di dunia persilatan, tampaknya Sin-hiong sedikit pun tidak
lalui, sayang saat ini dia masih belum melatih ilmu mIaI y.mg ?ida
di dalam buku itu, jika tidak, jangan kala kedua orang yang ada di
bawah itu, terhadap Sin-hiong pun, dia akan menyerang untuk
membalas dendam karena telah merebut istrinya.
Sesaat kedua orang itu mencari-cari di bawah, terdengar laki-laki
yang berwajah putih itu berkata:
"Saudara Souw, kau lihat itu?"
Habis berkala, dia sudah datang menghampiri dan melihat,
mendadak dia berteriak:
"He he he, ternyata perbuatan ketua pulau Teratai?"
Begitu kata-kata ini keluar, laki-laki wajah hitam itu jadi tertegun,
sambil gugup berkata: "Dia"......"
Ketika berkala, wajahnya tampak tidak wajar, Sin-hiong yang
melihat, jadi ingat apa yang dikatakan oleh Sai-hoa-to di
penginapan itu, ternyata perkataan-nya tidak bohong, bagaimana
hebatnya ketua pulau Teratai, hanya melihat warna wajah kedua
orang di bawah itu sudah bisa dibaca, jika bertemu dengan ketua
pulau Teratai, jangan dibicarakan lagi.
Laki-laki berwajah hitam itu hanya mengucap-kan satu patah
kata, laki-laki berwajah putih itu jadi mundur satu langkah, berkata
lagi: "Apa kau tahu siapa yang digantung diatas pohon itu?"
Laki-laki wajah hitam menggelengkan kepala, laki-laki wajah
putih itu menghela nafas, dengan kaku berkata:
"Cian-tok-mo-kun!"
Laki-laki berwajah hitam terlihat lebih terkejut dan berkata:
"Tan-tayhiap, menurut pendapatku, kalau dia sudah melibatkan
diri dalam masalah ini, aku pikir lebih baik kita mundur saja."
Tan-tayhiap itu berpikir sesaat, lanjutnya:
"Aku tidak sependapat, dengan kemampuan kita berdua, kenapa
harus takut padanya?"
Walaupun berkata begitu, tapi wajahnya ada sedikit rasa
khawatir, tampak dia menggenggam erat-erat kepalannya, seperti
merasa ketua pulau Teratai bersembunyi di sekitar tempat ini.
Laki-laki wajah hitam itupun berpikir sejenak, dia merasa katakatanya
masuk akal, dia menegakan rubuhnya sebentar dan
berkata: "Aku Hek-ho Souw Cian dan Cap-poh-tui-hun Tan Tong ada
disini, jika ketua pulau ada maksud apa, silahkan keluar saja!"
Kata-katanya hanya untuk menggertak saja, setelah dia berkata,
di sekeliling masih sunyi senyap!
Kedua orang itu menunggu sejenak, melihat di sekeliling masih
tidak terdengar apa-apa, Cap-poh-tui-hun jadi berani, sambil
tertawa dia berkata:
"Entah siapa, berani sekali menyamar jadi ketua pulau Teratai,
he he......"
Dia tertawa sejenak, sepasang matanya mengawasi ke sekeliling.
Sin-hiong yang bersembunyi diatas panggung bedug, merasa
dengan kepandaian Ho Koan-beng, walau berlatih sepuluh tahun
lagi, tidak mungkin bisa menyamar jadi ketua pulau Teratai,
kelihatannya huruf dan tanda gambar diatah pohon itu memang
perbuatan ketua pulau Teratai.
Setelah berpikir begitu, dia melirik ke sisi, terlihat Ho Koan-beng
pun sedang memandang dia, saat itu dengan pelan dia bertanya:
"Saudara Ho, saat kau datang kesini, apakah melihat ketua pulau
Teratai?" Ho Koan-beng menggelengkan kepala, dengan pelan berkata:
"Aku masuk dari belakang, keadaan di depan, sedikit pun aku
tidak tahu!"
Berkata sampai disini, mendadak dia teringat satu hal dan
kembali berkata:
"Sen-tayhiap, jika kedua kedua orang itu naik ke atas, apa kau
bisa membantuku menahannya?"
Sin-hiong tersenyum dan berkata:
"Tentu saja bisa!"
Ho Koan-beng menarik nafas lega dan berkata: "Kalau begitu, di
kemudian hari jika kita bertemu lagi, aku pasti mengalah dulu tiga
jurus pada mu!"
Sin-hiong jadi tergetar, dia tidak tahu apa maksud kata-katanya"
Dia jadi bengong melihat pada Ho Koan-beng.
Mungkin, karena Ho Koan-beng berkata sedikit emosi, suaranya
jadi sedikit keras, ilmu silat kedua orang di bawah itu tidak rendah,
sedikit saja ada gerakan, tidak bisa mengelabui mereka, Cap-pohtui-
hun berteriak: "Diatas ada orang!"
Hek-ho menghentikan geraknya, membentak: "Siapa" Cepat
keluar?" Melihat kedua orang itu berteriak, Sin-hiong dan Ho Koan-beng
sudah tidak bisa bersembunyi lagi, wajah Ho Koan-beng berubah
dan berkata: "Sen-tayhiap, apa kau sanggup menahan mereka berdua?"
Dalam benak Sin-hiong masih memikirkan kata katanya tadi,
setelah mendengar sambil mengangguk-kan kepala berkata:
"Aku bisa mencobanya!"
Ho Koan-beng tertawa dingin dan berkata lagi:
"Kalau begitu, aku ada satu permintaan kecil?"
"Silahkan katakan!"
Ho Koan-beng melihat-lihat ke bawah, melihat Cap-poh-tui-hun
dan Hek-ho sudah bersiap-siap meloncat ke atas, cepat-cepat
berkata: "Hadang mereka berdua, atau pancing mereka keluar kuil!"
Sin-hiong tertegun, baru saja mau bertanya, mendadak satu
bayangan orang berkelebat, Cap-poh-tui-hun sudah loncat naik ke
atas! Sin-hiong tidak sempat bertanya lagi, telapak tangannya sudah
menghantam sambil berkata:
"Turun!"
Serangannya sangat cepat, belum sempat Cap-poh-tui-hun
menginjakan kakinya, mendadak merasa ada sebuah angin pukulan
menyerang dadanya, tubuhnya bergoyang lalu telapak tangannya
menangkis sambil berkata dingin:
"Sobat, apa kau berani turun ke bawah?"
Dia tidak bisa menginjakan kakinya diatas, sambil bersalto
terpaksa turun lagi ke bawah.
Karena masalah sudah mendesak, Sin-hiong memandang pada
Ho Koan-beng katanya:
"Tidak peduli apa pandanganmu terhadap aku" Masalah ini biar
aku sendiri yang menanggung-nya!"
Setelah bicara, orangnya langsung melayang turun ke bawah.
Cap-poh-tui-hun dan He Hu berdua melihat dari atas ada orang
melayang turun ke bawah, kedua orang itu mengawasi, tapi tidak
mengenalnya, Souw Cian berteriak:
"Saudara Tan, mungkin dia yang menyamar jadi ketua pulau
Teratai." Tan Tong mendengus, lalu berkata:
"Rasanya belum pantas!"
Hati Sin-hiong merasa tidak enak, sebenarnya dia dengan hati
tulus membantu Ho Koan-beng, tapi Ho Koan-beng malah
membalas dengan memusuhi-nya, mengatakan di kemudian hari
jika bertemu lagi, akan mengalah tiga jurus pada dia, maka dia
malas bicara banyak dengan kedua orang ini, dia berkata:
"Biar kalian lihat, apa aku pantas atau tidak!"
Dia memutar sebelah tangannya, menyapu ke arah dua orang
itu! Cap-poh-tui-hun tertawa dingin:
"Bocah, bicaramu terlalu besar!"
Sepasang telapak tangannya berturut-turut menghantam, dan
terlihat angin pukulan laksana gunung datang menekan Sin-hiong.
Ketika Sin-hiong menyerang dengan sebelah tangannya,
mendadak dia merasa serangan yang datang ini seperti kurang
tepat, dalam waktu yang singkat ini, dia masih belum lupa katakatanya
Ho Koan-beng, yaitu harus menghadang kedua orang ini,
atau memancing mereka keluar dari kuil. Maka dia mengambil
nafas, pukulannya di geser dan tubuhnya meluncur keluar,
mendarat ke samping Hek-ho, Souw Cian sambil menghantam dan
berkata: "Kenapa kau tidak bergerak?"
Pukulannya terlihat enteng sekali, Souw Cian tertawa dan
berkata: "Bocah, kau ingin main main?"
Siapa sangka baru saja dia selesai bicara, mendadak dia merasa
angin pukulan lawan berubah bertambah kuat, Sin-hiong sambil
tertawa berkata:
"Main-main juga boleh!"
Hek-ho tergetar, sekarang tenaga pukulan Sin-hiong sudah
bertambah beberapa kali lipat, terlihat angin pukulannya seperti
gelombang ombak datang menerjang, Souw Cian berteriak:
"Saudara Tan, ilmu silat orang ini tidak di bawah ketua pulau
Teratai!" Setelah Cap-poh-tui-hun berteriak, diam-diam menyerang
dengan telapak tangannya!
Sebenarnya Sin-hiong bisa saja dengan sekali pukulan memukul
mundur Souw Cian, tapi dia selalu teringat pesannya Ho Koan-beng,
maka ketika serangannya sampai di tengah jalan, dia mengurangi
tenaga dalamnya, walau demikian, Hek-ho Souw Cian tetap tidak
bisa menahannya, "Duuk duuk duuk!" dia mundur tiga langkah ke
belakang. Tan Tong mendapat julukan Cap-poh-tui-hun, tentu saja pukulan
tangan kosongnya luar biasa, serangan yang dilakukan secara
diam-diam tetap menimbulkan angin pukulannya yang menderu,
membentuk tembok tenaga yang amat dahsyat di depan belakang
dan menekan ke arah Sin-hiong!
Tapi Sin-hiong berkelebat, kembali berputar ke belakang Hek-ho,
sambil tertawa berkata:
"Kau tidak boleh pergi?"
Pelan-pelan dia mendorong telapak tangannya, dengan
menghindar ke timur menyerang barat, dua serangan Cap-poh-tuihun
tidak mengenai sasaran, sedangkan Hek-ho Souw Cian merasa
tekanannya makin bertambah"
Souw Cian membentak, secepat kilat dia menyerang sampai lima
enam pukulan tangan!
Sin-hiong tertawa, dengan entengnya menghindar, lalu
membalas serangan dengan telapak tangannya pada Cap-poh-tuihun!
Cap-poh-tui-hun dan Hek-ho masing-masing jadi bertarung
sendiri-sendiri, sebab dengan gerakan cepat Sin-hiong berkelebat
diantara mereka, kedua orang itu sudah mengerahkan segala
kemampuannya tapi tetap tidak bisa menyentuh dia"
Hek-ho berteriak:
"Saudara Tan, lebih baik kita mengeroyok dia?"
Dia menduga ilmu silat Sin-kiong tidak di bawah ketua pulau
Teratai, jadi tidak masalah kalau melakukan pengeroyokan"
Sin-hiong tertawa dan berkata:
"Apa masih ada orang ketiga?"
Setelah berkata, dia mengeluarkan Kim-kau-po-kiam, kilatan
pedang berkelebat, dengan cepat memotong pergelangan tangan
Souw Cian! Cap-poh-tui-hun tergetar dan berteriak: "Kim-kau-kiam!" .
Pendekar Sadis 23 Kekaisaran Rajawali Emas Pendekar 4 Alis I Karya Khu Lung Pedang Golok Yang Menggetarkan 14
^