Pencarian

Bende Mataram 19

Bende Mataram Karya Herman Pratikto Bagian 19


Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kini, Wirapatilah yang jadi keheran-heranan. Tanyanya menegas, "Engkau seperti sudah mengenal dia."
"Aku kenal namanya, karena muridku yang memperkenalkan," ujar Suryaningrat. Kemu-dian dia menjelaskan mengapa tiba-tiba bisa datang ke tempatnya. Sesungguhnya, waktu itu dia menerima kabar bahwa muridnya ber-ada di Desa Gebang. Segera ia menyusul, karena mengkhawatirkan
keselamatannya. Dugaannya benar. Di tengah jalan ia bertemu dengan Sondong Majeruk yang
mengabarkan bahwa Gusti Retnoningsih hampir saja kena bahaya. Untunglah, dia ditolong oleh seorang pemuda yang bernama Sangaji. Sebagai anak murid Kyai Kasan Kesambi yang diajar
meng-hargai budi, segera ia menyusul jejak Sangaji untuk menyatakan terima kasih. Di luar dugaan, ia melihat kakaknya seperguruan ter-ancam bahaya. Ia heran kakaknya seperguru-an itu memperoleh seorang pembela yang gagah berani sepak terjangnya. Sama sekali tak diduganya, bahwa pembela kakaknya seperguruannya adalah Wirapati. Maka ia bersembunyi di atas pohon agar bisa menga-mat-amati lebih cermat lagi. la heran, menga-pa gerak gerik penolong itu mengingatkannya kepada kakaknya seperguruan Wirapati. Baru saja ia hendak mencongakkan
diri. Bagus Kempong sudah bisa mencium dirinya.
"Betapa pun cermat engkau bersembunyi, Kangmas Bagus Kempong sudah mengetahui
keberadaanmu semenjak tadi. Aku sendiri sa-ma sekali tak tahu," potong Wirapati dengan tertawa. "Suryaningrat!" sambung Bagus Kem-pong. "Kakakmu ternyata kian segar-bugar.
Rupanya belum berumah-tangga pula. Hm-bukankah kita dahulu mengira, dia bersembunyi untuk memelihara seorang bidadari?"
Suryanignrat tertawa cekikikan. Mau tak mau Wirapati tertawa juga kemalu-maluan. Kata Bagus Kempong lagi, "Tetapi tahukah engkau adikku Wirapati" Sebentar lagi, engkau bakal mempunyai adik-ipar. Karena itu pulangmu adalah kebetulan sekali. Pertama-tama, kita sudah bersiap sedia merayakan hari ulang tahun guru yang ke-83. Setelah itu ikut pula mengecap sepotong paha ayam malam perayaan perkawinan Suryaningrat. Bukankah bagus?"
"Hai Bagus! Bagus! Bagus sekali!" seru Wirapati girang sambil bertepuk-tepuk tangan.
"Siapakah mempelai wanitanya" Pastilah seorang puteri jempolan."
Muka Suryaningrat merah-padam sampai tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Buru-buru
Bagus Kempong menolong, "Calon adik-iparmu adalah puteri kesayangan Kanjeng Pangeran Arya Panular. Siapa namanya, baiklah kita tak usah tergesa-gesa minta keterangan."
"Wah... kalau begitu apabila Suryaningrat berani nakal seperti dahulu, dia bisa dikeroyok keluarga Sri Sultan," sahut Wirapati.
Bagus Kempong tersenyum. Mendadak wajahnya berubah muram dan nampak lesu. Katanya
setengah berbisik* "Calon adik-ipar-mu terkenal dengan nama Gusti Ayu Kistibantala. Apalah itu namanya yang benar, tak tahulah aku. Tetapi dia seorang puteri yang berjiwa ksatria. Seringkali dia ikut dalam pasukan-pasukan keamanan. Hm"mudah-mudahan saja puteri berkedok yang kita jumpai kemarin petang, bukan dia."
Wirapati terkesiap. Terloncatlah perkataan-nya, "Apakah dia seorang wara prajurit?"
Bagus Kempong mengangguk.
"Tetapi dara yang kita jumpai, kepandaian-nya masih dangkal. Kurasa bukan diajeng
Kistibantala. Bila benar dia, celakalah aku. Orang bisa menuduh aku membela engkau dan tak mau memihak Suryaningrat dengan melindungi kekasihnya. Betapa seorang kakak-seperguruan bisa berlaku kurang adil."
Wirapati terdiam. Diam-diam ia khawatir, "Jangan-jangan puteri yang berkedok kemarin adalah kekasih Suryaningrat." Tetapi Surya-ningrat nampak ayem. Pemuda itu berkata tenang-tenang sambil tertawa perlahan, "Terima kasih terima kasih atas perhatian Kangmas sekalian. Kangmas sekalian cukup cerdik dan cerdas. Hanya satu hal yang mungkin belum pernah diperhitungkan."
"Apakah itu?" Wirapati menungkas.
"Kata orang, seorang calon mempelai sudah jauh-jauh hari dipingit. Nah, legakan hati Kangmas sekalian. Dua hari yang lalu, aku datang dari Yogya. Itulah sebabnya aku mendengar kabar tentang beradanya muridku di Gebang."
"Ah!" Bagus Kempong tersentak girang. Pa-ras mukanya berubah seketika itu juga. "Nah, marilah kita angkat tangan dalam hal ini."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Buru-buru Suryaningrat menolak maksud itu. Segera ia menghampiri Sangaji dan terus meraba lengannya, la bermaksud hendak membalas budi dengan menolong mengusir racun. Tetapi ia
heran benar, karena lengan Sangaji ternyata tiada luka.
"Kangmas Wirapati!" serunya kagum. "Terang sekali bekas cengkeraman ini mengandung racun. Tetapi muridmu sama sekali kebal dari racun."
Suryaningrat tak tahu, bahwa Sangaji per-nah menghisap getah sakti pohon Dewadaru. Karena itu kebal dari segala racun. Kalau semalam badannya menjadi panas, adalah disebabkan karena cengkeraman itu merubah letak urat-uratnya.
Wirapati segera datang pula memeriksa. Begitu melihat lengan Sangaji, dengan sebat ia lantas bekerja. Suryaningrat tak mau ketinggalan. Dengan ilmu ketabiban yang diperoleh dari gurunya, ia mengurut-urut letak urat. Sebentar saja Sangaji telah pulih kembali.
"Hm, semenjak kemarin petang kita senanti-asa diuber-uber suatu ketegangan, sampai
melalaikan dia," kata Wirapati penuh sesal.
"Siapakah orangnya yang bisa melukai Kangmas Bagus Kempong?" tanya Surya-ningrat heran.
Wirapati tak segera menjawab, la segan ter-hadap kakaknya seperguruan yang terang kena
dilukai. Tetapi Bagus Kempong dengan dada terbuka menyahut, "Orang itu memiliki tenaga pukulan besi sampai bisa menembus tulang. Nanti kita tanyakan kepada Guru. Dan bahwasannya Sangaji masih bisa bertahan dan hanya salah urat, bukankah berarti lebih tangguh daripadaku sendiri?"
Suryaningrat tercengang sejenak. Kakaknya yang satu itu selamanya tak pernah memuji orang.
Dia jarang berbicara dan tak pernah bergurau. Setiap perbuatan dan kata-katanya mengandung kesungguhan. Itulah sebabnya, lantas saja ia menyiratkan pandang kepada Sangaji. Kemudian kepada Wirapati.
"Jika demikian, tak sia-sialah Kangmas Wirapati meninggalkan perguruan selama itu. Dia sudah menemukan ahli warisnya."
Sambil berbicara mereka melanjutkan per-jalanan. Karena Sejiwan sudah di depan mata, maka belum lagi lewat luhur telah sampai. Sepanjang perjalanan Wirapati nampak gembira, meskipun agak prihatin juga mengingat luka Bagus Kempong. Maklumlah, dua belas tahun lamanya dia
meninggalkan perguruan seperti terenggut dewa sakti. Kini bisa kembali tanpa kurang suatu apa.
Diam-diam ia membayangkan betapa girangnya dapat bertemu kembali dengan saudara-saudara
seperguruannya, terutama gurunya yang dipuja sepanjang zaman.
Sampai di atas gunung, mereka melihat di luar pagar perguruan empat ekor kuda ter-tambat pada pohon-pohon kelapa. Keempat kuda itu terang bukan milik perguruan. Maka terloncatlah perkataannya, "Hai, kuda siapa ini?"
"Marilah kita lewat belakang. Agaknya kita mempunyai tamu," kata Suryaningrat. "Di se-rambi belakang kita lebih tenang memperbin-cangkan orang yang menyamar sebagai ser-dadu yang
melukai Kangmas Bagus Kempong. Siapa tahu, Kangmas Gagak Handaka dan Kangmas
Ranggajaya kebetulan berada di belakang."
Rupanya, diam-diam Suryaningrat mencoba meraba-raba asal-usul orang yang menyamar
sebagai serdadu itu. Tetapi, tetap ia tak ber-hasil.
Rumah perguruan mereka berada di atas dataran sebuah bukit. Bukit itu bernama Kalinongko.
Lengkapnya orang menyebut dengan Gunung Damar Kalinongko. Tanahnya terdiri dari bongkahan batu dan tanah liat. Karena itu apabila hujan, licinnya bukan kepalang.
Sambil memapah Bagus Kempong, Sur-yaningrat mendahului berjalan. Sedangkan Wirapati
berjalan di belakangnya diikuti Sangaji. Sebentar-sebentar Wirapati mene-rangkan kesan kanak-kanaknya kepada mu-ridnya. Tatkala tiba di dapur, semua penghunipadepokan ) jadi sibuk.
Pertama-tama melihat Bagus Kempong pulang dengan terluka parah. Kedua, kembalinya Wirapati setelah hilang tiada kabar-beritanya selama dua belas tahun lebih. Para cantrik, pembantu rumah tangga dan pelayan-pelayan girang bukan main. Mereka segera merubung menanyakan
kesehatannya. Seorang pelayan bernama Wirasimin yang melayani Wirapati semenjak kanak-
kanak menangis kegirangan. Tanpa segan-segan lagi terus saja dia memeluk dan mencium
kakinya. Tatkala Wirapati menanyakan tentang gurunya, cepat ia menjawab.
"Sang Panembahan masih dalam semadi. Apakah perlu hambamu membangunkan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wirapati segera menyanggah. Dengan berjingkit-jingkit ia memasuki ruang tengah dengan
diikuti Sangaji. Mereka langsung ke paseban dan mengintip tiap kamar saudara-saudara
seperguruannya. "Dimanakah Kangmas Gagak Handaka dan Kangmas Ranggajaya" Apakah mereka sedang turun gunung?"
"Mereka sedang menemui tamu di paseban," jawab Wirasimin.
"Eh, tamu macam apakah sampai mereka menemui dengan berbareng?" Wirapati heran.
"Semuanya empat orang. Galaknya bukan main. Tampangnya seperti tukang landeng."
Tatkala itu, Suryaningrat telah menidurkan kakaknya seperguruan, kemudian bergegas mencari Wirapati. Begitu mendengar kakak-nya minta keterangan tentang tamu yang datang segera ia memberi penjelasan.
"Mereka mengaku sebagai hamba kadipaten Bumi Gede. Dan memperkenalkan diri dengan
nama, Manyarsewu, Sawungrana, Abdulrasim dan Cocak Hijau,"
Mendengar nama mereka. Wirapati terper-anjat. Begitu pulalah Sangaji. Ih, cepat benar
mereka menyusul, pikirnya.
"Eh, mengapa mereka bisa-bisa berada di sini?" Wirapati menegas.
"Katanya anak Pangeran Bumi Gede terluka. Mereka minta pertanggungan jawab," kata Suryaningrat dengan tertawa. "Kangmas Wirapati! Semenjak engkau meninggalkan perguruan, kita seringkali dibuat sibuk oleh tetamu-tetamu yang kurang terang asal-usul-nya. Tetapi kebanyakan mereka cepat-cepat mengundurkan diri apabila telah berhadapan dengan Kangmas
Gagak Handaka. Barangkali mereka segan, berhadapan dengan pribadi Kangmas Gagak Handaka."
"Mengapa tidak?" sahut Wirapati cepat.
"Pribadi Kangmas Gagak Handaka seperti Sultan Agung. Tenang penuh perwira."
Setelah berkata demikian, timbullah rasa rindunya kepada kakaknya seperguruan yang tertua itu. Maka ia mengintip dari belakang sintru ). Dilihatnya Gagak Handaka dan Ranggajaya sedang menghadapi keempat tamunya. Gagak Handaka mengenakan jubah pertapaan. Meksipun dia
bukanlah seorang pendeta, tetapi dandanannya sedang meniru gurunya. Dia kini sudah nampak sebagai seorang ayah. Wajahnya bercahaya tenang dan sabar seperti sediakala. Hanya saja, rambut pelipisnya sudah memutih. Perawakan tubuhnya agak kegemuk-gemukan. Namun tetap
gagah perkasa. Sedangkan Ranggajaya tetap seperti dahulu. Perawakan tubuhnya tinggi tipis.
Bulu jenggotnya hampir memenuhi mukanya sehingga jadi seorang berewok. Pandang matanya
tajam berwibawa. Dia adalah seorang yang selalu bersungguh-sungguh, sehingga nampak kini menjadi lebih tua daripada Gagak Handaka.
"Kalau kakakku berkata satu adalah satu, berkata dua adalah dua. Masa kalian tak per-nah mendengar watak Gagak Handaka?" katanya dengan suara keras.
Diam-diam Wirapati berpikir, tabiat Kang-mas Ranggajaya yang keras dan kasar ternya-ta tidak berubah. Mengapa dia membentak tamunya" Pastilah ada alasannya.
Memperoleh pikiran demikian, segera ia mengalihkan pandang kepada tamunya. Tak usah
lama, segera ia mengenal siapa mereka. Manyarsewu, Cocak Hijau, Sawungrana dan Abdulrasim berdiri sejajar dengan wajah te-gang. Cocak Hijau yang berwatak berangasan segera berkata kepada Gagak Handaka se-olah-olah tidak mendengarkan ucapan Rang-gajaya.
"Jika Gagak Handaka sudah berkata demi-kian, bagaimana kami berani menganggap sepi.
Hanya saja, tolong kami diberitakan kapan kedua adik seperguruan Tuan datang!"
Mendengar Cocak Hijau menyinggung dirinya, Wirapati terkejut. Hm, kedatangan mereka
benar-benar perkara diriku. Pastilah mereka menghendaki Sangaji. Mereka hanya hendak
memperoleh kepastian, apakah aku dan Sangaji sudah berada di pertapaan. Apabila sudah
memperoleh kepastian, hm" bukankah lebih mudah untuk merencanakan suatu perlawanan
tertentu" pikirnya. Tatkala itu Ranggajaya berkata keras lagi. "Meskipun kepandaian dan ilmu sakti kami berlima jauh dibandingkan dengan perguruan-perguruan ternama lainnya, tetapi dalam hal pengertian apa yang dinamakan kebajikan dan keadilan, rasanya tidak pernah ketinggalan. Berkat gelaran yang diberikan masyarakat, maka kami berlima terkenal dengan gelar para pandawa. Padahal gelar tersebut amat memalukan. Sebenarnya tak berani kami menerimanya...."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wirapati tersenyum geli mendengar kata-kata kakak-seperguruannya yang kedua itu. Dua belas tahun tak bertemu, ternyata Kangmas Ranggajaya yang sok uring-uringan sudah begini pandai berbicara. Dahulu dalam satu hari, belum tentu dia berbicara sepatah katapun jua. Rupanya semua memperoleh kemajuan, kecuali aku, pikir Wirapati.
Dalam pada itu terdengar Ranggajaya berkata lagi, "Dan kalau kami telah dibebani gelar seberat itu, meskipun merasa diri tak sanggup, sedapat mungkin harus juga mengimbangi. Karena itu dalam setiap gerak-gerik kami, selalu kami perhitungkan dan jangan sampai berbuat sesuatu hal yang kurang pantas. Bagus Kempong dan Wirapati adalah adik-seperguruan kami yang paling halus perasaannya. Tak mungkin mereka berdua melukai seorang tanpa alasan yang kuat."
"Nama murid-murid Kyai Kasan Kesambi yang gilang-gemilang siapa yang tak pernah
mendengar?" tungkas Cocak Hijau, "Karena itu, apa perlu anak murid Kyai Kasan Kesambi meniup-niup diri sendiri. Bukankah nama anak murid Kyai Kasan Kesambi sangat besar seperti bunyi guntur meledak di siang hari?"
Mendengar kata-kata Cocak Hijau yang bernada mengejek dan menyindir, wajah Ranggajaya
berubah tegang. Katanya cepat, "Sebenarnya kalian bermaksud apa mengun-jungi pesanggrahan kami" Katakanlah terus terang!"
Cocak Hijau hendak membalas mendam-prat, mendadak saja Manyarsewu yang lebih bisa
mengendalikan diri berkata mendahului.
"Anak-murid Kyai Kasan Kesambi apabila berkata satu pastilah satu. Berkata dua pasti-lah dua.
Tetapi masakan mata kami berempat salah lihat" Kami berempat waktu itu lagi mendampingi
majikan kami, nDoromas Sanjaya yang kena pukulan tinju cucu murid Kyai Kasan Kesambi."
"Cucu murid?" Ranggajaya heran.
"Tiba-tiba saja kami diserbu." Manyarsewu tak mengindahkan.
"Sepuluh orang di antara kami dilukai."
"Siapa yang melukai?"
"Hm, biarpun muka anak-murid Kyai Kasan Kesambi ditutupi dengan berewok tebal masakan kami tak mengenal gaya pu-kulannya?"
Mendengar ucapan Manyarsewu, Wirapati terkejut sampai tubuhnya bergetaran. Sekonyong-
konyong sesosok bayangan berkelebat di dalam benaknya. Seketika berpikirlah ia, apakah bukan dia yang menya-mar sebagai serdadu"
"Selamanya tak pernah kami menyamar," bantah Ranggajaya, "Kami dididik berjiwa ksa-tria.
Menang dan kalah bukanlah suatu soal utama bagi perguruan kami."
"Bagus!" seru Cocak Hijau tinggi. "Menye-rang di waktu kami sedang tidur lelap, apakah itu suatu perbuatan ksatria" Bagus Kempong! Wirapati! Hm... benar-benar ksatria-ksatria jempolan!"
Di belakang pintu angin, Suryaningrat men-dadak saja menjadi gusar. Tak senang hatinya
mendengar orang mengejek dan menyindir kakak seperguruannya. Rasanya lebih rela ia kena
tampar daripada mendengar ejekan demikian terhadap kakak sepergurannya. Cepat ia menoleh kepada Wirapati. Tetapi
Wirapati tetap tenang. Diam-diam dia berpikir dalam hati, ... Kangmas Wirapati benar-benar menjadi ksatria yang sabar dan tenang. Pantas guru selalu memuji padanya dan percaya kepada kebijaksanaannya.
Waktu itu Ranggajaya nampak berdiri tegak. Dengan suara lantang ia membentak, "Dua belas tahun lebih adikku Wirapati le-nyap dari padepokan. Engkau telah menyebut namanya. Mudah-mudahan, dia bisa pulang dengan selamat. Inilah kabar gembira bagi kami. Tapi tentang tuduhan itu, nanti dulu! Semenjak adikku hilang dari padepokan, orang terus menerus menuduh yang bukan-bukan terhadapnya. Dahulu orang menuduh dia melakukan pembunuhan keji terhadap
sepasukan laskar dari Banyumas. Kini, kalianpun datang-datang terus menghu-jani tuduhan-
tuduhan keji, seolah-olah dia melukai rekan-rekanmu yang sedang tidur pulas. Baiklah! Aku Ranggajaya dan Gagak Handaka mati dan hidup bersama dengan Wirapati dan Bagus Kempong.
Apabila kalian mencari permusuhan dengan mereka berdua, timpakan kepadaku! Mereka berdua tiada di sini, dan anggaplah aku mewakili mereka. Terus terang saja kepandaianku masih kalah jauh daripada mereka berdua. Karena itu,untunglah bahwa kalian hanya berhadapan dengan aku."
Cocak Hijau yang berwatak brangasan beta-pa tahan mendengar sumbar Ranggajaya. Terus
saja dia berdiri tegak dan dengan mata melotot dia membentak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hari ini, aku Cocak Hijau, berani mendaki Gunung Damar tanpa mengukur kekuatan diri sendiri. Pastilah aku ditertawakan sekalian pendekar seluruh pelosok tanah air. Tetapi Cocak Hijau bukanlah makhluk yang berkem-ben ) sutera. Mati hidup apa perlu dipersoalkan, demi piutang yang belum terbayar. Sepuluh orang di antara kami, bakal hidup cacat karena pukulan anak-murid Kyai Kasan Kesambi yang terkenal bajik. Dalam sewaktu pertempuran, mati atau luka-luka
bukanlah menjadi soal. Tetapi anak murid Kyai Kasan Kesambi memukul lawan dengan cara licik.
Mula-mula diselomoti obat bius, kemudian merusak sendi tulang belulang dalam keadaan setengah sadar. Apakah itu suatu laku seorang ksatria?" Setelah berkata demikian terus saja ia melangkah maju.
Semenjak tadi, Gagak Handaka berdiam saja. Kini apabila melihat Ranggajaya dan Cocak.
Hijau akan bergerak benar-benar, ia menyanggah dengan tangannya. Kemudian berkata
dengan tersenyum, "Kalian datang ke mari dengan tetap menuduh kedua adikku seperguruan berbuat sesuatu hal yang kotor dan keji. Kudengar kalian menyebut-nyebut pula Wirapati salah seorang adik seperguru-anku yang menghilang dua belas tahun yang lalu. Baiklah, jika demikian, pastilah adikku itu sebentar lagi akan tiba di padepokan. Kuharap kalian bersabar barang sebentar menunggu kedatangannya. Pada saat itulah kalian dan kami bisa menentukan siapakah yang
benar-benar bersalah."
Abdulrasim, pendekar dari Madura"yang mengepalai mereka, mendadak saja membuka mulut.
"Manyarsewu! Cocak Hijau! Sawungrana! Baiklah kita mendengarkan saran pendekar Gagak Handaka. Mari kita duduk dengan te-nang-tenang. Manaka a Bagus Kempong dan Wirapati belum pulang ke gunung, bagaimana kita bisa memperoleh keterangan yang benar. Tetapi ketahuilah hai pendekar Gagak Han-daka yang kami hormati, sesungguhnya kami mengalami suatu kejadian
yang sangat menusuk hati. Biarlah kami terangkan lebih jelas lagi, agar Tuan memperoleh
gambaran. Kemarin pagi, kami berempat habis mengadu senjata dengan kedua adik-seperguruan Tuan.
Oleh suatu peristiwa ganjil, terpaksa kami berpisah. Kami membawa pulang nDoromas Sanjaya putra Pangeran Bumi Gede yang terluka parah. Malam itu, kami beristirahat dengan sepuluh pendekar undangan lainnya dalam suatu pesanggrahan. Tak tahunya, malam itu pesanggrahan
kami digerayangi orang."
"Orang itu menyebar bius, sehingga kami tidur pulas. Tetapi untunglah, kami tidaklah selemah dugaannya. Lapat-lapat, kami berem-pat melihat sesosok tubuh yang mengenakan muka samaran.
Terang sekali, dia adalah anak-murid Kyai Kasan Kesambi. Orang itu dengan kejinya mematahkan sendi tulang-tulang rekan-rekan kami. Terus sesumbar dengan melepaskan pukulan khas ajaran perguruan Tuan."
"Pukulan keluaran perguruan kami, bukan-lah suatu ajaran yang sulit dan rahasia. Setiap orang apabila mempunyai kepandaian sedikit, pasti bisa menirukan," potong Gagak Handaka.
"Benar! Tetapi apabila bukan anak-murid Kyai Kasan Kesambi, mengapa bisa meng-ungkat-ungkat peristiwa perkelahian kemarin pagi?" menungkas Abdulrasim dengan cepat.
"Dia mengejek kami dengan mengatakan, bahwa kami berlindung di balik kedatangan Adipati Surengpati dan iblis Pringgasakti."
"Adipati Surengpati?" Gagak Handaka ter-kejut.
"Nah, Tuan pun terkejut pula. Sesungguh-nya apabila bukan dia, masakan mengetahui suatu peristiwa kemarin pagi tatkala Adipati Surengpati muncul dengan tiba-tiba. Karena hal ini menyangkut pula tentang nama Adipati Surengpati, maka perkenankan kami meng-hadap Kyai
Kasan Kesambi. Kyai Kasan Kesambi adalah seorang tokoh tertinggi pada zaman ini. Tiap ksatria di seluruh jagat me-ngagumi dan percaya kepadanya. Kami ingin memperoleh peradilannya.
Masakan orang tua itu akan berlaku berat sebelah karena mem-bela muridnya."
Meskipun kata-kata pendekar Abdulrasim sangat beralasan dan agak segan-segan, tetapi
sebenarnya bernada mendesak. Sudah barang tentu, Ranggajaya dapat menangkap maksudnya.
Jawabnya tenang, "Guruku sedang bersemadi. Sampai sekarang belum keluar dari pertapaan. Lagi pula, perkara keduniawian diserahkan kepada Kangmas Gagak Handaka. Kecuali, apabila tetamu itu adalah seorang tokoh penting pada zaman ini, mungkin guruku sudi menemui."
Terang sekali maksud ucapan Ranggajaya anak-murid Kyai Kasan Kesambi yang berwatak
angkuh itu hendak berkata kepada mereka, bahwa mereka belum berharga untuk dapat menemui
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gurunya. Karuan saja Cocak Hijau yang berangasan dan mudah tersinggung sekaligus berdiri tegak sambil tertawa dingin. Berkata tajam, "Sungguh! Semua peristiwa .dalam dunia ini nampaknya terjadi dengan kebetulan. Baru saja kami datang, gurumu Kyai Kasan Kesambi lantas saja menutup pintu karena sibuk bersemadi. Bagus! Tetapi masakan utang nyawa harus disudahi sampai begini saja, karena Tuan rumah beralasan sedang bersemadi" Cuh!"
Mendengar ucapan Cocak Hijau yang tajam itu cepat-cepat Manyarsewu mengedipi mata agar
menguasai diri. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Seketika itu juga, Ranggajaya terus saja membentak karena tersinggung.
"Jadi kaumaksudkan guruku sengaja berdalih bersemadi karena takut menghadapi
tampangmu?" Cocak Hijau adalah seorang pendekar ber-adat kaku dan kukuh. Meskipun seorang berangasan-sekali menentukan sikap-tak sudi mengalah. Maka dengan tertawa melalui hidung ia menentang pandang Ranggajaya dengan mata tak berkedip.
Dalam keadaan demikian, betapa Gagak Handaka terkenal sebagai pendekar sabar dan
pendiam, tertusuk juga hatinya mendengar nama baik gurunya direndahkan seseorang. Semenjak menjadi murid Kyai Kasan Kesambi, belum pernah ia mendengar dan melihat seseorang menghina gurunya dengan ucapan-ucapan kasar. Maka dengan menahan diri dia berkata, "Kalian datang dari jauh dengan mengenggam tujuan beralasan. Tetapi kami tak ingin menyusahkan kalian. Silakan pergi saja dengan selamat!" Setelah berkata demikian, dengan sengaja ia mengibaskan lengan bajunya. Seketika itu juga, angin keras menyambar ke depan. Pendekar Abdulrasim, Sawungrana, Manyarsewu dan Cocak Hijau sekonyong-konyong terjengkang ke belakang. Ternyata kibasan
lengan pendekar Gagak Handaka yang nampaknya halus, dan ringan saja, di luar dugaan
membawa suatu tenaga tindasan yang keras luar biasa. Abdulrasim, Sawungrana, Manyarsewu
dan Cocak Hijau bukanlah sekelompok pendekar murahan. Tetapi kena sapu kibasan lengan Gagak Handaka dada mereka menjadi sesak. Terasa napasnya nyaris putus. Cepat-cepat mereka
menghimpun tenaga hendak bertahan, tetapi angin kibasan Gagak Handaka cepat datang-nya dan menghilang pula dengan cepat. Segera himpitan tenaga yang menindas dada lenyap tak berbekas.
Dengan lega, mereka bisa menghirup napas kembali.
Wajah Abdulrasim dan Sawungrana nampak merah membara karena malu. Sedangkan
Manyarsewu dan Cocak Hijau menjadi pucat kuyu. Sungguh tak terduga, bahwa Gagak Handaka
benar-benar sakti. Andaikata Gagak Handaka berniat jahat, sekali mengibaskan lengannya untuk yang kedua kalinya, pastilah mereka akan terluka parah. Salah-salah bisa mampus seketika itu juga. Diam-diam bulu romanya menggeridik tak setahunya sendiri. Sekarang sadarlah mereka, bahwa pendekar yang bersikap tenang, sabar dan halus gerak-geriknya itu memiliki suatu
kepandaian yang susah diukur.
Di antara keempat pendekar undangan Pangeran Bumi Gede, Mayarsewu tergolong salah
seorang pendekar yang jujur. Serentak ia membungkuk sambil berkata penuh hormat.
"Terima kasih atas kemurahan Tuan Gagak Handaka. Perkenankan kami mengundurkan diri."
Dengan membungkuk hormat pula, Gagak Handaka membalas.
"Terima kasih pula atas kunjungan Tuan-tuan. Entah kapan, kami akan memerlukan
mengunjungi Tuan diistana Bumi Gede sebagai pembalasan."
Waktu itu Manyarsewu, Abdulrasim, Sawungrana dan Cocak Hijau sudah bergerak
mengundurkan diri. Gagak Handaka segera pula mengantarkan mereka sampai ke seram-bi
depan. "Sudahlah! Tak perlu Tuan mengantarkan kami," kata Manyarsewu. Diam-diam ia kagum dan menaruh hormat kepada Gagak Handaka. Ternyata Gagak Handaka tidak hanya tinggi ilmu
kepandaiannya, tetapi juga amat sopan santun. Oleh sikapnya itu, rasa permusuhannya
sekonyong-konyong lenyap dua pertiga bagian.
Selagi mereka saling mengucapkan kata-kata merendah, masuklah Suryaningrat dengan
tergesa-gesa. Kemudian berkata kepada Gagak Handaka, "Kangmas! Kangmas Bagus Kempong dan Wirapati telah kembali. Kangmas Bagus Kemong luka parah. Dia kena pukul seorang laki-laki berperawakan pendek tegas dan bermuka berewok. Kudengar mereka membicarakan tentang lakilaki berewok itu, barangkali kita bisa memperoleh keterangan."
Mendengar ujar Suryaningrat, Gagak Handaka dan Ranggajaya terperanjat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus Kempong terluka" Benarkah itu?"
Gagak Handaka dan Ranggajaya benar-benar terperanjat sehingga berubahlah wajah mereka.
Segera mereka menoleh kepada tetamunya. Dengan agak gugup Gagak Handaka berkata, "Silakan Tuan-tuan menunggu. Mereka ternyata sudah datang. Bagus Kempong bahkan terluka."
Abdulrasim, Sawungrana, Manyarsewu dan Cocak Hijau saling memandang. Meskipun tiada
saling berkata, mendadak saja mereka bisa percaya kepada keterangan Gagak Handaka. Melihat dan menyaksikan sikap Gagak Handaka yang tenang dan sabar kini mendadak bisa menjadi agak gugup, pastilah bukan suatu permainan sandiwara. Dan apabila Bagus Kempong benar-benar
terluka oleh seseorang yang bermuka berewok, bukankah tuduhan mereka jadi tak beralasan"
Daripada akan menanggung malu dan mungkin pula akan menghadapi hal-hal yang kurang enak
ditambah tingkatan kepandaiannya yang tak nempil bila dibandingkan dengan kepandaian anakanak murid Kyai Kasan Kesambi,serentak mereka mengambil keputusan untuk cepat-cepat
meninggalkan padepokan. Setelah saling memberi isyarat, Abdulrasim terus berkata.
"Tak usahlah kami mengganggu Tuan-tuan lebih lama lagi. Rupanya Tuan-tuan lagi mem-
peroleh kesibukan dan biarlah kami melapor-kan peristiwa ini kepada atasan. Bagaimana kelak diputuskan terserahlah yang berwenang."
Setelah berkata demikian, Abdulrasim men-dahului keluar halaman dengan diikuti ketiga
rekannya. Gagak Handaka dan Ranggajaya menunggu sampai mereka lenyap di bawah gundukan
tanah, kemudian mereka berkata berbareng kepada Suryaningrat minta kete-rangan.
"Suryaningrat! Kakakmu Wirapati benar-benar telah kembali pulang ke gunung" Di manakah dia?"
Suryaningrat heran. Ternyata kedua kakak-nya seperguruan benar-benar merindukan Wirapati, sampai seolah-olah tak memper-hatikan keadaan Bagus Kempong yang terluka oleh sesuatu
pukulan dahsyat. Waktu itu Wirapati telah muncul dari balik pintu angin. Segera ia lari menyongsong Gagak Handaka dan Ranggajaya.
"Kangmas Gagak Handaka! Kangmas
Ranggajaya! Aku datang kembali!" serunya terharu.
Gagak Handaka adalah seorang yang sa-ngat mengutamakan Yudanegara ). Meskipun hatinya
terguncang melihat adik sepergu-ruannya yang hilang tiada kabar berita selama dua belas tahun, masih saja dia bersikap penuh tata cara. Dengan memanggut kecil ia menyambut menguasai diri.
"Wirapati, adikku! Selamat, selamat! Akhir-nya engkau kembali juga."
Sebaliknya, Ranggajaya yang beradat kaku, mendadak saja terus berkata sambil me-nerkam
lengan. "Wirapati! Keempat orang itu menfitnah dirimu begitu kurangajar. Bukankah kamu tidak melukai rekan-rekan mereka dengan cara licik" Hm, pastilah kau telah mendengar semua
tuduhannya. Heran! Ternyata kau jauh lebih sabar daripadaku sendiri. Benar-benar tepat pujian Guru terhadapmu. Engkau calon seorang pendekar besar pada zaman yang akan datang."
"Peristiwa itu sulit untuk diterangkan. Dengan sungguh-sungguh kukatakan, bahwa aku sama sekali tak melakukan perbuatan terkutuk itu. Kangmas Bagus Kempong pun tidak. Bahkan dia menjadi salah seorang kor-ban di antara mereka. Dia pun kena pukulan orang bermuka berewok yang gerak-geriknya sangat samar-samar dan susah ditebak."
Gagak Handaka dan Ranggajaya girang mendengar ujar Wirapati. Dengan demikian tak sia-
sialah mereka mempertahankan kebersihan namanya. Meskipun demikian, Ranggajaya masih
minta ketegasan, "Orang-orang Banyumas, bukan pula kau yang membinasakan?"
"Seorangpun aku tidak membunuhnya. Meskipun dalam keadaan terjepit masih saja aku tak melupakan ajaran guru. Bahwasanya murid Kyai Kasan Kesambi dilarang keras membunuh sesama bangsa apabila tidak ter-lalu terpaksa."
"Bagus!" seru Ranggajaya girang. "Hm, dua belas tahun kami terus-menerus dikeroyoki urusan pembunuhan itu. Tetapi aku yakin, bahwa bukan kau yang melakukan pem-bunuhan itu. Sekarang ternyata benar belaka."
Setelah itu, Gagak Handaka minta keterangan tentang diri orang bermuka berewok yang ..
memukul Bagus Kempong. Segera Wirapati menerangkan dengan sejelas-jelasnya. Tetapi baik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gagak Handaka atau Ranggajaya tidak juga dapat menebak siapakah orang itu yang memiliki
pukulan dahsyat sampai bisa melukai Bagus Kempong.
"Biarlah nanti kita minta petunjuk guru, setelah beliau selesai bersemadi," akhirnya Gagak Handaka memutuskan. Kemudian ia membawa sekalian adik-adiknya seperguruan menjenguk
Bagus Kempong. Mendadak di tengah jalan ia melihat Sangaji. Heran ia menoleh kepada Wirapati minta penjelasan.
"Ah, hampir lupa aku." kata Wirapati ter-sipu-sipu. "Sesungguhnya, aku telah mem-punyai seorang murid."
"Murid?" Gagak Handaka dan Ranggajaya menyahut berbareng.
"Ya," Wirapati menjawab dengan agak segan. Kemudian dengan singkat ia mengi-sahkan riwayat perjalanannya sampai bertemu dengan Sangaji.
"Bagus! Bagus!" kata Gagak Handaka dan Ranggajaya berbareng pula. "Kita kini mem-punyai seorang kemenakan murid."
"Kabarnya Dimas Suryaningrat mempunyai murid pula," Wirapati minta ketegasan.
"Ya," ujar Ranggajaya. "Dan sudah barang tentu seorang bidadari pilihan."
Mendengar ujar Ranggajaya, Suryaningrat merah mukanya. Mereka lantas saja tertawa
berkakakan. Gagak Handaka terus menggan-deng Sangaji dan diajaknya pula masuk ke dalam.
Sebagai seorang pendekar, dengan cepat ia mengetahui bahwa Sangaji bukanlah seorang pemuda sembarangan. Cepat ia mengamat-amati, kemudian tersenyum se-nang sambil berkata, "Sangaji!
Tenaga jas-manimu luar biasa kuat. Apakah gurumu benar-benar hanya seorang belaka?"
Semenjak ikut mengintip di belakang pintu angin, diam-diam Sangaji telah mengagumi pribadi Gagak Handaka yang agung dan bijak-sana. Maka begitu ia memperoleh pertanyaan dengan
mendadak, sekaligus berubahlah mukanya.
"Paman!" katanya sulit. "Selain Guru, aku masih mempunyai seorang guru lagi. Namanya Jaga Saradenta. Tetapi kecuali mereka berdua, sesungguhnya di tengah jalan aku berjumpa dengan seorang tokoh sakti. Meskipun aku belum mengangkatnya sebagai guru, tetapi dia..."
"Baiklah... kelak engkau bisa dengan perla-han-lahan menerangkan hal itu semua kepada sekalian paman-pamanmu," tungkas Gagak Handaka. Pendekar yang agung pribadinya itu tahu, bahwa Sangaji agak susah hendak menjelaskan. Terasa pula bahwa anak muda itu bersikap
hendak membela diri. Maka cepatcepat ia mengalihkan pembicaraan. "Kabarnya kota Jakarta amat ramainya. Pastilah jauh berlainan dengan keadaan di gunung. Biasa-kanlah hidup sunyi di atas gunung ini. Pastilah, kelak engkau akan memperoleh keindahannya di tengah kesunyian..."
* * * 20 HADIAH ULANG TAHUN KYAI KASAN KESAMBI
Mereka memasuki kamar Bagus Kempong. Waktu itu Bagus Kempong sedang melakukan
semadi. Dengan tekun ia mengatur pernapasannya. Tanpa berbicara lagi, Gagak Handaka dengan Ranggajaya terus saja menempelkan tangannya masing-masing ke dada dan punggungnya.
Kemudian dengan berbareng mereka menyalurkan anasir hawa lewat lubang urat syaraf dan urat tali jantung. Seperti diketahui, jasmaniah ini terbagi tiga anasir. Yakni: anasir api, bumi dan air.


Bende Mataram Karya Herman Pratikto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Masing-masing memiliki kadar gaib, yang selaras dan seimbang, hanya dalam saat-saat tertentu ketiga anasir itu bergolak oleh suatu pengaruh dari luar. Seseorang yang mengalami pergolakan bahan pokok ini, harus secepat mungkin bisa mengendalikan diri. Apabila tidak, kesehatannya akan terganggu. Setidak-tidaknya akan menderita penyakit urat syaraf yang sulit untuk
dikembalikan seperti sediakala.
Sebagai anak murid Kyai Kasan Kesambi, Gagak Handaka dan Ranggajaya diajar mene-kuni
asal bahan bagan manusia. Seringkali Kyai Kasan Kesambi merasukkan istilah-istilah anasir air, bumi, api ke dalam ingatannya. Sedangkan anasir angin atau hawa selalu ditaruh di belakang ketiga anasir tersebut seolah-olah suatu lampiran belaka yang tidak begitu penting. Memang, anasir hawa atau angin terjadi oleh suatu akibat pergeseran (percampuran) ketiga anasir itu.
Karena itu, Kyai Kasan Kesambi menitikberatkan ajarannya kepada penguasaan ketiga anasir pokok. Seseorang yang sudah mahir menguasai ketenangan ketiga anasir tersebut, takkan
gampang-gampang bisa terperosok ke dalam anasir angin yang penuh melagukan hawa nafsu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hawa amarah dan nafsu-nafsu kehendak lainnya. Sebaliknya, dia akan memperoleh manfaat besar karena sari-sari anasir ketiga tersebut akan saling terjalin merupakan benteng maha dahsyat.
Tetapi apabila benteng itu sekali kena terpecahkan oleh suatu arus hawa dari luar, maka yang terpenting ialah mengimbangi arus desakan hawa itu dengan perlahan-lahan. Kemudian dengan teratur pula mengusirnya pergi.
Demikianlah, apabila Gagak Handaka dan Ranggajaya dengan berbareng menyalurkan anasir
hawa dari sari-sari pergerakan ketiga anasir bumi, air dan api. Seketika itu juga, dalam diri Bagus Kempong terasa segar hangat. Perlahan-lahan racun hawa yang menggoncangkan daya tahan
anasir tiga kena didesak mundur. Tak sampai satu jam lamanya, kesehatannya lantas saja pulih kem-bali. Butir-butiran keringat yang berasal dari tumpuan anasir hawa merembes, keluar lewat sumsum, tulang, darah, urat-urat, daging, kulit dan rambut.
"Ih!" Gagak Handaka mengerenyitkan kening sambil melepaskan tangannya. "Apabila aku tiada memperoleh bantuan Ranggajaya dan engkau sendiri, belum tentu aku dapat mengusir tenaga
racunnya yang tersekam dalam tubuhmu."
Bagus Kempong masih belum berani berbicara, hati-hati ia menarik napas dan memeriksa ruas-ruas tulang sambung. Apabila benar-benar tiada gangguan lagi, baru dia berkata: "Selama hidupku selain Guru, baru kali itulah aku berhadapan dengan seseorang yang memiliki tenaga pukulan maha dahsyat. Memang tadinya sama sekali aku tak mengira, karena melihat dia kena dipukul Wirapati sekali rebah. Mendadak saja tatkala aku mengadu tenaga, suatu dorongan
dahsyat menusuk urat nadi. Cepat-cepat aku hendak bertahan diri, tapi nampaknya telah kasep.
Namun andaikatapun aku bersiaga sebelumnya, tenaga orang itu benar-benar bukan
tandinganku." Gagak Handaka meninggikan alis. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menebak asal usul orang
itu dengan titik tolak bekas pukulannya. Tetapi tetap saja, teka-teki itu tak dapat dipe-cahkannya.
Ranggajaya yang masih sibuk mengusap keringatnya sekonyong mendengus.
"Apakah dia berberewok?"
Bagus Kempong dan Wirapati mengiakan dengan berbareng.
"Hm," dengusnya lagi. "Terang-terangan dia bermuka berewok, meskipun demikian kalian kena tuduh. Apalagi, seumpama orang-orang itu pernah mengenal tampangku."
Ranggajaya mukanya berbulu juga, sehing-ga oleh ujarnya itu sekalian saudara-saudara
seperguruannya tertawa terbahak-bahak. Sangaji sendiri meskipun merasa diri dari angkatan muda diam-diam ikut tertawa pula. Pikirnya, pamannya seorang ini nampaknya angker dan keren, tetapi pandai pula berke-lakar meskipun bernada sungguh-sungguh.
Malam harinya, mendung padepokan Gunung Damar telah tersapu bersih. Maklumlah Wirapati
telah kembali dan kesehatan Bagus Kempong sudah pulih. Semenjak sore hari, mereka duduk
berkumpul memperbin-cangkan orang berberewok yang memiliki pukulan sakti itu. Mereka
mengingat-ingat tokoh-tokoh yang pernah diperkenalkan gurunya dan membawa-bawa pula tokoh utama pada zaman itu, tetapi tetap belum memperoleh kata sepakat. Terasa benar, bahwa asal usul orang itu tersekap di balik halimun kabut tebal yang susah ditembus. Karena membawa-bawa nama tokoh-tokoh sakti pada zaman itu, mendadak saja Sangaji terus berkata: "Paman sekalian.
Sebenarnya dengan tak sengaja, aku telah menerima ilmu Kumayan Jati dari Paman Gagak Seta.
Meskipun aku tiada mengangkatnya sebagai guru."
"Hai! Gagak Seta?" Gagak Handaka terkejut. Terus saja ia meraih tangannya dan didekapkan dengan hangat ke dadanya. Berkata mengesankan. "Anakku! Berbahagialah engkau!
Berbahagialah! Engkau seperti dihampiri malaikat Jibril yang datang mengkaruniai suatu ilmu maha sakti. Mengapa engkau bersegan-segan" Apabila engkau telah menjadi murid Paman Gagak Seta, kedudukanmu sejajar dengan kami."
Mendengar ujar Gagak Handaka, Sangaji terkejut sampai tak terasa menarik tangannya. Ia
merasa, di balik kata-kata itu pamannya menegurnya dengan tajam. Tetapi sebenarnya, Gagak Handaka berkata dengan jujur dan setulus-tulusnya. Dalam kebimbangannya, cepat ia
menyiratkan pandang kepada gurunya untuk mencari kesan. Tetapi Wirapati memandangnya
dengan manis sekali. Juga Ranggajaya, Bagus Kempong dan Suryaningrat. Oleh pandang mereka ia seperti terpaku. Wajahnya berubah hebat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sangaji!" kata Wirapati. "Tentramkan hatimu. Benar-benar pamanmu tiada mencelamu.
Bahkan aku pun sendiri menyesal, mengapa engkau tiada cepat-cepat mengangkat beliau sebagai guru. Coba andaikata engkau telah mengangkat beliau sebagai guru, pastilah engkau akan diwarisi sekalian ilmu saktinya. Pada zaman ini, beliau termasuk salah seorang tokoh maha sakti di samping Adipati Sureng-pati, Kebo Bangah dan guru kami."
"Guru! Tak berani aku berbuat demikian," potong Sangaji gugup. "Budi Guru terhadapku sebesar Gunung Semeru. Apabila aku tiada memperoleh asuhan Guru, apakah arti aku ini dalam percaturan hidup" Tidak! Tidak! Guru adalah pelita hidupku. Guru adalah seumpama mercu suar hidupku. Bagaimana aku berani mengambil sesuatu keputusan dengan melalaikan Guru, meskipun andaikata malaikatpun datang menawari aku kunci surga. Meskipun aku harus menyeberangi
lautan pedang, apabila Guru yang menitahkan aku pun takkan menyesal dan beragu."
Bukan main hebat kesan ucapan Sangaji yang dilepaskan dari hati setulus-tulusnya, bagi
pendengaran sekalian anak murid Kyai Kasan Kesambi. Seperti diketahui, anak murid Kyai Kasan Kesambi diajar untuk menghargai jiwa luhur di atas segalanya. Maka begitu mendengar ucapan pemuda itu, seketika mereka berdiri serentak. Bahkan Suryaningrat yang berperasaan halus, terus saja memeluknya dan menciumi dengan hati terharu.
"Anakku, anakku!" katanya berbisik, "Berbahagialah engkau! Karena engkau dilahirkan sebagai seorang ksatria sejati." Kemudian kepada Wirapati, "Andaikata aku mempunyai seorang murid begini tinggi nilainya, biarpun usiaku dikurangi dua puluh tahun, tiada kusesalkan. Ah, benar-benar tak tersia-sia keper-gianmu ke daerah barat. Kangmas Wirapati telah menemukan suatu butir mustika yang paling berharga pada zaman ini."
Gagak Handaka, Ranggajaya dan Bagus Kempong dengan berbareng mengucapkan selamat
pula kepada Wirapati. Sedangkan Sangaji sendiri, terlongoh-longoh keheranan menyaksikan
perangai dan sikap mereka. Pemuda yang berhati sederhana itu jadi bi-ngung.
"Pantas! Pendekar-pendekar tadi menyebut majikannya kena pukul cucu murid guru. Alihkan anakku sendiri, Sangaji. Siapa yang mengira?" kata Ranggajaya penuh semangat. Kemudian ia minta keterangan tentang diri majikan para pendekar yang mengunjungi padepokan tadi siang.
Mereka semua bersikap terbuka hatinya. Maka lambat laun Sangaji dapat menguasai diri dan segera memberi keterangan. Bahkan ia tak kepalang tanggung lagi. Dikisahkan riwayat hidupnya dengan sejelas-jelasnya. Wirapati pun ikut menguatkan, menambahi dan membubuhi sehingga
pembicaraan itu menjadi lancar sedap serta mengasyikkan. Tak terasa, larut malam telah dilalui.
Tetapi masih saja mereka tak mau melepaskan diri dari rangkaian cerita. Bahkan, manakala kisahnya mulai menyinggung warisan Pangeran Semono yang berupa Bende Mataram, Keris Kyai Tunggulmanik dan Jala Korowelang. Seketika wajah mereka berubah menjadi tegang. Betapa
tidak" Kecuali cerita khayal itu benar-benar ada, mereka semua terlibat semenjak dua belas tahun yang lalu. Wirapati menghilang dari padepokan Gunung Damar karena munculnya peristiwa
pusaka Pangeran Semono. Juga saudara-saudara seperguruan-nya direcoki orang terus menerus perkara pusaka itu. Dan oleh peristiwa perebutan pusaka itu pula, akhirnya gurunya lantas menyekap diri dalam pertapaan bertahun-tahun lamanya.
Sampai matahari terang benderang, mereka masih sibuk memperbincangkannya. Baik Bagus
Kempong, Wirapati dan Sangaji tidak menghiraukan lagi rasa lelahnya setelah melalui perjalanan malam panjang. Dengan sungguh-sungguh dan senang hati mereka memberikan keterangan-keterangan dan kesaksian-kesaksian semua peristiwa yang dialami. Hal itu membuat Gagak
Handaka, Ranggajaya dan Suryaningrat berpikir keras.
Demikianlah setelah lima hari mereka ber-kumpul dan berbicara maka datanglah saat yang
mendebarkan hati. Biasanya sepuluhhari sebelum hari ulang tahun, guru mereka berkenan keluar dari pertapaan untuk menemui sekalian muridnya. Hari itu, jatuh pada hari Jumat Pahing. Sepuluh hari lagi, Kyai Kasan Kesambi akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-83. Tepat waktu matahari lagi mengintip di ufuk timur, Kyai Kasan Kesambi terdengar mendehem tiga kali. Orang tua itu berkesan gembira dan syukur, karena selama menyekap diri dalam perse-madian telah memperoleh suatu ilham sebagai bahan penciptaan ilmunya yang kelak akan menggoncangkan
dunia. Ilmu itu bersumber kepada kodrat alam yang selalu bergerak dan berasa. Kelak ia
menamakan ilmunya: Sukma Buwana Langgeng. Orang tua itu sengaja menggunakan istilah
buwana dan bukan bawana sebagai lazimnya yang pernah di dengar orang semenjak lama. Karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia hendak membedakan secara tegas antara pengertian buwana dan bawana. Buwana adalah
kegiatan gaib (dalam), sedangkan bawana adalah gelar. Untuk memperjelas kedudukan istilah itu dia menggambarkan, bahwa Buwana diperintah oleh Hyang Ismaya. Sedangkan Bawana
diperintah Hyang Manikmaya. Di kemudian hari, dia berhasil pula menciptakan ilmu-ilmu sakti bersumber pada kodrat gerak dan rasa seperti: Cundamani ), Lumembak Kumambang, Rasa
Sejati-sejatinya Rasa, Tulis tanpa papan dan Papan tanpa tulis, Terang tiada cahaya, Sangkan-paran ), Trisakti dan sebagainya. Dengan diketemukan kunci pengertian gaib itu, kini dia tiada merasa segan menghadapi ilmu-ilmu sakti lainnya semenjak zaman dahulu sampai pada dewasa itu. Tak usahlah dia malu dibandingkan dengan ilmu-ilmu sakti pendekar-pendekar Mangkubumi 1, Sultan Agung, Panembahan Senopati, Kebo Bangah, Pangeran Samber Nyawa, Kyai Haji Lukman
Hakim, Gagak Seta atau Adipati Surengpati. Maka pagi hari itu, dengan dada lapang ia hendak menemui murid-muridnya.
Dengan mengibaskan tangan kanannya seperti gerak lambaian tangan wajar, ter-bukalah
kamar persemadiannya. Sekonyong-konyong ia menjumpai suatu penglihatan yang nyaris tak
dipercayai sendiri. Benarkah yang berdiri di depan ambang pintu adalah Wirapati muridnya keempat yang menghilang selama dua belas tahun lebih. Segera ia menguncak-uncak kedua
matanya agar bisa melihat dengan tegas. Dan pemuda yang berdiri di depannya benar-benar
adalah Wirapati. Dalam pada itu, Wirapati terus saja me-nubruk kedua lututnya dan dengan suara parau berkata sambil menyembah.
"Guru! Muridmu keempat menghaturkan selamat."
Gagak Handaka, Ranggajaya, Bagus Kempong dan Suryaningrat berturut-turut pula
menghaturkan sembah takzim. Hampir berjanji mereka berkata: "Guru! Wirapati telah kembali pulang ke pangkuan Guru...
"Kyai Kasan Kesambi adalah seorang perta-pa yang berperawakan tinggi tegap. Umurnya kini telah mencapai 83 tahun. Dan hampir 60 tahun, dia menyekap diri di atas pegunungan jauh dari persoalan dunia. Karena itu dia di sebut sebagai seorang pertapa suci. Hatinya bebas dan tiada terikat oleh semua bentuk masalah dunia. Meskipun demikian, karena hubungannya dengan
kelima muridnya bagaikan ayah dan anak-anak, maka begitu melihat munculnya Wirapati
mendadak saja terus memeluknya dan menciumnya dengan air mata berlinangan.
Kelima muridnya dengan cepat menyedia-kan pakaian bersih dan menolong pula mem-
bersihkan badannya. Sambil membiarkan sekalian kelima muridnya menyatakan kasih sayangnya, ia terus saja berwawan-sabda de-ngan muridnya keempat, Wirapati. Wirapati sendiri bisa
membawa diri. Agar tiada me-risaukan hati orang tua yang baru saja menyekap diri dalam
pertapaan semadinya, ia hanya mengisahkan riwayat perjalanan selama dua belas tahun dengan singkat. Sama sekali tak menyinggung tentang pusaka warisan Bende Mataram yang menjadi
pokok soal atau tentang orang berewok yang memukul Bagus Kempong. Katanya kemudian,
"Guru! Siswa terlalu lancang, karena mengambil murid tanpa seijin Guru."
"Ha, ha, alangkah lucu ujarmu," tukas Kyai Kasan Kesambi.
"Engkau jauh terpisah dariku, masa menunggu sampai ada keputusanku" Eh, masa Kasan
Kesambi mempunyai murid yang tak dapat mengambil keputusan dengan cepat?"
Wirapati lantas berlutut. Berkata lagi, "murid siswa adalah seorang pemuda sederhana. Dia seorang anak petani dan tiada berpendidikan..."
"Ih, apa bedanya" Biarpun seorang petani, bukankah manusia juga" Gurumu ini kaukira berasal dari mana" Gurumu ini dilahirkan di gunung dan selamanya menjadi orang gunung. Janganlah engkau bermodal pikiran terlalu sempit. Andaikata muridmu seorang yang tumpul otaknya, apakah celanya. Yang penting ialah dasar hatinya. Suatu kepandaian bisa dicari dan dipelajari, tetapi dasar hati adalah suatu pembawaan."
Diam-diam Wirapati bergembira mendengar ucapan gurunya. Memang ia sengaja meren-
dahkan diri untuk memperoleh pandangan gurunya. Begitu ia mendengar tiap-tiap kata gurunya, masih ia mencoba, "Tetapi Guru murid siswa, tidaklah hanya siswa seorang. Dia pun murid Jaga Saradenta. Anak murid almarhum Kyai Haji Lukman Hakim. Dan akhir-akhir ini menerima ajaran ilmu sakti dari seorang tokoh liar Gagak Seta..."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apa kauhilang" Gagak Seta seorang tokoh liar?" damprat Kyai Kasan Kesambi, "Eh, me-ngapa pikiranmu mendadak menjadi sempit" Memandang rendah martabat seseorang merupakan suatu
kesalahan terkutuk. Liar, sesat dan benar suci adalah surut berlalu. Semua tidak tetap dan tergantung kepada kebutuhan seseorang semata. Seseorang yang tadinya terkenal suci dan suatu kali berlaku sesat, dia sekaligus menjadi seorang yang ter-sesat. Sebaliknya, meskipun dia terkenal liar tetapi berbuat kebajikan, dialah seorang laki-laki sejati."
Kali ini Wirapati benar-benar girang bukan kepalang. Menurut lazim, seorang guru merasa
kehormatannya tersinggung apabila muridnya tiba-tiba mengangkat guru lain. Bahkan tiada
jarang, muridnya disuruh membunuh diri dengan istilah mengembalikan sekalian ilmu yang pernah diberikan. Tetapi Kyai Kasan Kesambi seorang tokoh maha besar pada zaman itu, ternyata
mempunyai pendirian hati yang benar-benar luas dan tak terperikan. Tidak hanya ia memaklumi, bahkan segera menyuruh Wirapati bangkit berdiri sambil berkata: "Cucu muridku menjadi muridnya pula, anak murid almarhum sahabatku Kyai Haji Lukman Hakim adalah suatu karunia yang menggembirakan. Sama sekali tak terduga, bahwa sebagian kecil ilmu saktinya bisa
bergabung pada tubuh cucu murid Kasan Kesambi. Coba seumpama ia bisa bangun dari liang
kuburnya, pasti ia akan menutup kembali matanya dengan aman tentram. Dan pendekar sakti
Gagak Seta, sudah lama aku kenal dirinya. Aku pun kagum kepada ilmu saktinya. Orangnya jujur pula, hanya tabiatnya aneh. Dia seperti burung rajawali yang datang pergi sesuka hatinya sendiri.
Meskipun sepak terjangnya aneh, tetapi ia bukanlah manusia bermartabat rendah. Orang seperti dia, boleh menjadi sahabat sehidup semati."
Diam-diam Gagak Handaka, Ranggajaya, Bagus Kempong dan Suryaningrat berpenda-pat,
bahwa gurunya benar-benar amat kasih kepada Wirapati. Sampai-sampai meskipun lagak-lagu
Gagak Seta berkesan liar menurut tata pergaulan lumrah dan merupakan momok yang sangat
ditakuti orang, dipujinya serta dia pun bersedia mengangkat sahabat sehidup-semati.
Kyai Kasan Kesambi terus saja memerintah-kan memanggil Sangaji. Waktu itu Sangaji baru saja pulang mandi dari sungai yang mengalir melingkari padepokan. Begitu mendengar dipanggil kakek gurunya, segera lari memasuki rumah dengan gugup. Di ruang tengah, ia melihat keempat paman dan gurunya duduk menghadap meja panjang dengan santapan pagi. Dan tepat menghadap
padanya, matanya tertumbuk pada seorang laki-laki berambut dan berkumis putih. Raut mukanya bersih bening dan perawakan tubuhnya tegap tinggi. Dialah Kyai Kasan Kesambi yang menyambut kedatangannya dengan pandang berseri.
"Suatu kesatuan tenaga yang dahsyat," kata Kyai Kasan Kesambi. "Hanya saja kurang la-tihan sehingga belum bisa menyelaraskan dan menserasikan. Cucuku, siapakah namamu" Bolehkah aku mengenal namamu?"
Suara Kyai Kasan Kesambi diucapkan de-ngan lembut seperti berbisik. Tetapi tiap-tiap kata seolah-olah dapat menembus tulang sumsum. Hal itu membuktikan, bahwa per-bawa Kyai Kasan Kesambi luar biasa kuat. Tenaga gendamnya susah diukur lagi atau dijajaki. Sangaji pernah bertemu dengan dua orang tokoh lainnya yang kedudukannya se-tingkat dengan Kyai Kasan
Kesambi. Yang pertama, pendekar sakti Gagak Seta. Yang kedua ayah Titisari, Adipati Surengpati.
Terhadap kedua orang sakti itu, dia mempu-nyai kesan-kesan tertentu.
Pribadi Gagak Seta, berkesan semberono dan agak liar. Tetapi penuh dengan pengucap-an
seorang ksatria sejati. Tabiatnya aneh. Susah diraba dan susah pula dilayani. Meskipun demikian hatinya terbuka dan bukan merupakan seorang ksatria yang angkuh dan sombong. Berbeda
dengan kesan Adipati Surengpati. Ksatria itu mempunyai perbawa menakutkan. Sepak terjangnya liar, galak dan bengis, la mudah tersinggung dan bisa mengambil keputusan tanpa dipikirkan panjang lagi. Sebaliknya, terhadap Kyai Kasan
Kesambi"Sangaji mempunyai kesan lain dari-pada mereka berdua. Orang tua itu benar-benar
memancarkan rasa suci. Perbawanya sejuk menentramkan hati. Matanya bercahaya seolah-olah emoh terlibat oleh suatu duka cita. Terhadap sarwa benda yang dilihatnya terasa sekali betapa dia selalu memantulkan rasa kasih sayang. Maka pantaslah, murid-muridnya terkenal sebagai ksatria-ksatria luhur budi dan agung.
"Cucu murid bernama Sangaji. Dengan ini menghaturkan sembah," terus saja Sangaji berlari memeluk kedua betisnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Menyaksikan betapa Sangaji menghaturkan sembah dengan hati setulus-tulusnya, hati Kyai
Kasan Kesambi runtuh seketika itu juga. Dengan penuh kasih sayang ia membangun-kan seraya berkata, "namamu Sangaji" Alang-kah bagus nama itu. Sangaji dari asal kata Sang Aji. Aji adalah ratu. Karena itu, hatimu harus pula secemerlang mustika ratu."
Kena raba Kyai Kasan Kesambi, Sangaji ter-peranjat. Pada saat itu, seluruh tubuhnya
mendadak terasa hangat segar. Suatu hawa hangat menyusup lewat ketiaknya dan terus
berputaran meraba urat-uratnya. Tahulah ia, bahwa orang tua itu diam-diam menolong
menyempurnakan tata peredaran darahnya yang masih saja merupakan penghalang besar apabila sedang menghimpun tenaga lewat napas. Beberapa saat kemudian, setelah dia tegak berdiri, Kyai Kasan Kesambi berkata setengah heran.
"Hebat! Darimanakah engkau memperoleh tenaga murni sebagus ini?"
Tanpa segan-segan lagi Sangaji terus saja menuturkan perjalanan hidupnya mulai berte-mu
dengan Wirapati sampai memperoleh petunjuk-petunjuk dari Ki Tujungbiru dan mendapat warisan ilmu Kumayan Jati dari Gagak Seta. Hanya pengalamannya terhadap Adipati Surengpati, sama sekali ia tak menyinggungnya.
"Hm," dengus Kyai Kasan Kesambi sambil mengurut-urut jenggotnya. "Petunjuk ksatrian Banteng itu tidaklah buruk. Apabila engkau benar-benar menekuni ajarannya tata laku bersemadi akan besar faedahnya." la berhenti seperti lagi menimbang-nimbang. Tadi tatkala dia merasukkan hawa murni ke dalam tubuh si anak, ia mendapat perlawanan hebat sampai tangannya tergetar.
Diam-diam ia mencoba menebak teka-teki itu. Bertanyalah dia mencoba, "Kecuali mereka berdua, pernahkah engkau memperoleh sesuatu ilmu dari seseorang yang sifatnya menghisap?"
Memperoleh pertanyaan itu, mendadak saja teringatlah Sangaji kepada daya sakti getah pohon Dewadaru. Maka berceritalah dia seje-las-jelasnya tentang pengalamannya yang aneh. Mendengar pengalaman Sangaji, seka-lian murid Kyai Kasan Kesambi kecuali Wi-rapati jadi sibuk
memperbincangkan. Ternyata Kyai Kasan Kesambi tiada asing akan kesak-tian pohon tersebut.
Meskipun belum pernah melihat, tetapi sebagai seorang mahaguru yang berpengetahuan luas, dia bisa mene-rangkan dengan sejelas-jelasnya. Bahkan lebih jelas daripada keterangan Sangaji atau Ki Tunjungbiru sendiri.
Tengah mereka berbicara sambil bersantap, masuklah seorang cantrik dengan tergesa-gesa.
"Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegoro I dan Kanjeng Pangeran Arya Ngabehi mengirimkan serombongan utusan untuk menghaturkan oleh-oleh kepada sang Panembahan,"
katanya. "Aha, apakah sudah waktunya aku meneri-ma segala hadiah istana untuk hari ulang tahunku yang kedelapan puluh tiga?" sahut Kyai Kasan Kesambi dengan tertawa. "Gagak Handaka, cobalah lihat macam pesalin apakah yang dihadiahkan kepadaku!"
Segera Gagak Handaka mengundurkan diri dari meja bersantap dan bergegas ke paseban.
Suryaningrat yang masih berbau kanak-kanak, ikut pula sibuk. Terus saja dia mengikuti kakaknya seperguruan yang tua.
"Eh! Bukankah mereka utusan dari putera-putera almarhum Sultan Hamengku Buwo-no I?"
tegur Ranggajaya. "Apakah mungkin pula ada sebuah pesanan dari bakal mertua Kanjeng Pangeran Panular?"
Mendengar godaan Ranggajaya, kecuali Sangaji semuanya jadi tertawa berbareng. Muka
Suryaningrat merah padam. Meskipun demikian tetap saja dia mengikuti Gagak Handaka
menjenguk paseban. Terlihatlah di paseban dua orang laki-laki bermuka buruk berdiri tegak bagaikan patung. Di belakangnya berdiri pula sekelompok pengiring kurang lebih berjumlah sepuluh orang. Mereka semuanya mengenakan pakaian prajurit, kecuali dua orang tersebut.
"Terimalah hormat hamba yang rendah. Hamba berdua bernama Kasan dan Kusen. Dengan ini menghaturkan sembah kepada ksatria Wirapati yang telah pulang dengan selamat." Gagak Handaka dan Suryaningrat heran mendengar bunyi kata-kata mereka.
Menghaturkan sembah kepada Wirapati yang baru saja pulang" Meskipun demikian, mereka
berdua lantas saja membalas hormat sambil mempersilakan duduk.
"Masuklah!" kata Gagak Handaka kemu-dian. Diam-diam ia mulai memperhatikan keadaan mereka berdua. Benarkah mereka bernama Kasan Kusen" Kasan-Kusen adalah nama dua ksatria
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pada zaman Majapahit. Biasanya nama itu dikenakan oleh dua orang saudara sekandung yang
kembar. Melihat tampang mukanya, sama sekali mereka jauh berbeda. Terang sekali, mereka
bukanlah saudara sekandung. Yang bernama Kasan, bentuk wajahnya mirip telur itik. Keningnya terdapat bekas luka sangat panjang sampai mencapai tepi mulut. Hidungnya gede dan bermulut lebar, sedangkan yang bernama Kusen mempunyai potongan muka bulat. Kedua pipinya
melembung dan penuh ben-tong-bentong bekas penyakit cacar. Alis dan bibirnya tebal. Melihat kesan muka berdua, masing-masing berusia lebih dari 50 tahun.
"Tuan berdua datang bukankah atas nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom
Amangkunegara 1 dan Kanjeng Pangeran Arya Ngabehi" Bagaimana keadaan beliau berdua"
Sebenarnya guru kami, tidak berani menerima bingkisan dari keluarga raja. Betul leluhur beliau berdua adalah sahabat karib guru kami, tetapi kedudukan masing-masing jauh berbeda," kata Gagak Handaka merendah.
Tetapi Kasan dan Kusen bersikap dingin seolah-olah tiada mendengarkan. Yang berna-ma
Kasan lantas saja mengeluarkan daftar barang hantaran dan dipersembahkan kepada Gagak
Handaka dengan kata-kata kaku.
"Yang mengutus kami berdua perkenankan menghaturkan selamat atas kedatangan ksa-tria Wirapati dan dengan ini menghaturkan bingkisan tak berharga kepada anak muridnya yang
bernama Sangaji. Kami semua berharap sangat memperoleh petunjuk-petunjuknya yang
berharga." Mendengar kata-kata ulangan yang ditekan-kan, Gagak Handaka meninggikan alisnya. Terang
sekali kedatangan mereka bukan untuk gurunya, tetapi untuk Wirapati dan Sangaji. Wirapati baru beberapa hari datang ke padepokan. Mengapa mereka telah mengetahui" Bahkan mereka
mengenal nama murid Wirapati. Sekaligus timbulah kecurigaannya. Jangan-jangan mereka datang untuk memperoleh keterangan tentang pusaka Bende Mataram. Tetapi sebagai tuan rumah
dengan menekan perasaannya sendiri, ia berkata mencoba. "Sebenarnya, Tuan-tuan sekalian utusan siapa?"
"Periksalah barang bingkisan ini dahulu," Kasan menyahut tak memedulikan.
Tak senang hati Gagak Handaka melihat sikap tamunya. Tetapi tatkala melihat barang
bingkisan yang ditebarkan di atas meja ia menjadi terkejut. Ternyata barang bingkisan itu berjumlah kurang lebih 150 macam. Dan semuanya terdiri dari emas, intan atau berlian. Barang-barang demikian bukan main tinggi harganya pada dewasa itu. Agaknya yang mengutus mereka, sengaja memilihkan barang-barang yang berharga untuk sesuatu maksud tertentu.
Gagak Handaka benar-benar jadi sibuk. Segera ia berkata kepada Suryaningrat, "Coba
panggillah kakakmu Wirapati! Bukankah bingkisan ini untuknya?"
Mendengar ujar Gagak Handaka, tiba-tiba saja Kasan dan Kusen terus saja membungkuk sambil berkata, "Tak usah tergesa-gesa. Kami akan pergi dahulu. Kelak saja pada hari ulang tahun guru Tuan, kami akan datang kembali untuk menerima petunjuk-petunjuk."
Setelah berkata demikian, mereka mengun-durkan diri. Dan sekalian orang-orangnya terus saja mengiringkan.
"Hai Tuan!" seru Suryaningrat. "Apakah artinya ini?"
"Hm, bukankah sudah jelas?" sahut Kasan tanpa menoleh. Diperlakukan demikian, Suryaningrat merasa tersinggung. Segera ia hendak mengejar, tetapi Gagak Handaka mencegah cepat.
"Biarlah mereka pergi. Kita usut hal ini de-ngan perlahan-lahan," katanya. Kemudian ia memanggil beberapa cantrik untuk mengurus bingkisan tersebut. Dan bersama-sama de-ngan
Suryaningrat ia bergegas menghadap gurunya. Terus saja ia melaporkan tentang rombongan tamu yang mencurigakan. Kemu-dian terpaksa ia mengutarakan semua pe-ngalamannya menjaga
pertapaan selama gurunya bersemadi.
"Guru!" ia mulai. "Orang-orang yang men-coba memperoleh keterangan tentang pem-bunuhan orang-orang Banyumas dua belas tahun yang lalu, ternyata mempunyai maksud lain yang jauh lebih penting. Yakni, hendak mencoba mencari jejak pusaka Bende Ma-taram. Ternyata pusaka tersebut benar-benar ada. Karena peristiwa pusaka itu pulalah, maka adinda Wirapati sampai meninggalkan perguruan selama ini."
Habis berkata demikian, segera ia menoleh kepada Wirapati. Dan mau tak mau Wirapati segera menuturkan riwayat perjalanannya dengan sejujur-jujurnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"E-hm," tukas Kyai Kasan Kesambi. "Meskipun pusaka yang kaukatakan itu belum tentu pusaka Bende Mataram tetapi pastilah kita bakal kebanjiran tamu. Kalian bakal jadi sibuk..."
Ulasan Kyai Kasan Kesambi ternyata benar. Semenjak hari itu, secara berturut-turut pade-
pokan Gunung Damar kebanjiran tamu tak diundang. Mereka datang dengan dalih meng-
hantarkan barang bingkisan untuk hari ulang tahun Kyai Kasan Kesambi. Ada pula yang terang-terangan menerangkan, bahwa keda-tangannya hendak bertemu dengan Wirapati dan Sangaji.
"Guru!" kata Sangaji kepada Wirapati pada suatu hari. "Terang sekali kedatangan mereka adalah untukku, karena kesalahanku dahulu membuka rahasia pesan almarhum Paman Wayan
Suage di tengah lapangan terbuka. Tak kukira, bahwa kehadiranku ke mari akan membuat susah Eyang Guru dan sekalian paman. Bagaimana baiknya... apakah aku harus mengambil pusaka
warisan itu dahulu dan kemudian kuserahkan kepada Eyang-Guru" Bukankah Eyang Guru belum
yakin, bahwa kedua pusaka tersebut adalah pusaka Bende Mataram" Dengan kedua pusaka ada
pada tangan Eyang Guru, terserahlah eyang-guru hendak mengadili..." la berhenti sejenak menunggu pertimbangan gurunya.
Waktu itu Wirapati sedang mengaduk kapur dinding. Hari itu ia hendak mengapur dinding
bersama dengan Suryaningrat, agar pade-pokan kelihatan bersih. Dan begitu mendengar ujar muridnya, seolah-olah ia memperoleh ilham. Katanya kemudian, "aha, bagus penda-patmu.
Sekiranya kedua pusaka itu telah berada di sini, kita sekalian bisa menentukan sikap. Jika bukan pusaka Bende Mataram maka selesailah persoalannya. Apabila memang benar-benar pusaka
Bende Mataram masakan eyang gurumu akan membiarkan pusaka tersebut terampas dari
tanganmu. Sebab, engkau adalah hak warisnya."
Sehabis berkata demikian, pandang mata Wirapati berseri-seri. "Sudahlah, tenangkan hatimu!
Aku akan membicarakan hal itu de-ngan sekalian paman-pamanmu..."
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar Surya-ningrat berseru, "Kangmas Wirapati! Cepatlah engkau mengaduk kapur!" Lalu dengan tertawa ia menyambung lagi, "siapakah yang suruh Kangmas pandai mengapur dinding.
Heh, Aji! Barangkali baru hari ini kauketahui, bahwa gurumu pandai mengapur dinding..."
"Aku pun akan mencoba-coba belajar me-ngapur," sahut Sangaji.
"Tak usah. Lebih baik kau memimpin sekalian cantrik-cantrik menebang pohon untuk kayu bakar!"
Hari itu sekalian anak murid Kyai Kasan Kesambi sibuk mengapur dinding dan meng-atur rumah tangga. Sedangkan Sangaji de-ngan rajinnya mematahkan beberapa pohon dengan ilmu Kumayan Jati. Hal itu membuat gempar seluruh penduduk pertapaan, sampai-sampai Kyai Kasan Kesambi berkenan menyaksikan. Sudah barang tentu Sangaji jadi ersipu-sipu. Maklumlah, tadi dia hanya bermaksud sekedar melatih diri merubah tata peredaran darah sebagai titik tenaga dorong, setelah memperoleh penyempurnaan dari eyang gurunya dahulu hari.
Pada malam harinya, Wirapati segera be-runding dengan sekalian saudara-saudara se-
perguruannya hendak mengambil kedua pusa-ka warisan Bende Mataram. Sebenarnya mereka
tidak menyetujui sebelum memperoleh izin gurunya. Tetapi mengingat suasana bertambah hari bertambah gawat, mereka jadi menyetujui. Bahkan mereka berharap, agar kedua pusaka keramat itu kelak bisa merupakan hadiah ulang tahun gurunya yang ke-83.
Dengan dalih hendak mengatur penyambut-an tamu di gunung, Wirapati mohon restu dari Kyai Kasan Kesambi. Kemudian berangkatlah dia turun gunung dengan diantarkan sekalian saudara seperguruannya. Selagi mereka ber-pisahan di kaki gunung, mendadak datanglah Sangaji dengan berkata nyaring. "Paman! Apakah artinya ini?"
Sangaji menyerahkan sebuah lencana terbuat dari perak dan sehelai panji-panji kecil, kepada Gagak Handaka. Tatkala Gagak Handaka memeriksa lencana dan panji-panji itu, kedua alisnya terus saja terangkat. Keningnya berkerut-kerut dan terloncatlah perkataannya.
"Hai, bukankah ini lencana tanda pengenal utusan Kanjeng Pangeran Arya Blitar" Blitar bukan dekat. Ini adalah suatu kehormatan tak kecil artinya."
"Sebaiknya apabila Kanjeng Pangeran Arya Blitar datang, Guru sendiri kelak yang harus menyambut," sambung Ranggajaya. Mereka kemudian cepat-cepat memberi laporan kepa-da Kyai Kasan Kesambi.
Seminggu kemudian tepat pada hari ulang tahun Kyai Kasan Kesambi datanglah Kanjeng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Arya Blitar dengan dua belas pengiringnya.
"Ksatria sakti itu kabarnya tak pernah menginjak daerah Jawa Tengah. Mengapa dia bisa mengetahui hari ulang tahun seorang pendeta tak berarti?" kata Kyai Kasan Kesambi menebak-nebak setelah memperoleh laporan datangnya tamu agung. Segera ia memanggil Gagak Handaka, Ranggajaya dan Bagus Kempong dan membawa mereka ke paseban. Ia nampak gopoh, sehingga
tak melihat ketidak-hadiran muridnya yang keempat Wirapati.
Maka terlihatlah seorang laki-laki gagah berpakaian hitam. Lengan dan celananya pan-ang
dengan ditutupi kain pembebat bagaikan dodot. Nyata sekali bahan pakaiannya terbuat dari kain sutra yang mahal harganya. Dia berdiri gagah. Wajahnya sabar, tenang dan berwibawa, tidaklah memalukan, apabila dia terkenal sebagai keluarga yang memusuhi pemerintah Belanda. Namanya termasyhur di seluruh tanah air dan disegani pula. Di belakangnya terdiri dua belas pengiringnya, yang diketuai oleh ksatria lndrajaya dan Indrasakti. Kedua ksatria itu berasal dari Pulau Sumatera.
Berulang kali Kyai Kasan Kesambi mengu-capkan terima kasih sambil mengangguk tanda
hormat. Sedangkan Gagak Handaka segera memimpin adik-adik seperguruannya membuat
sembah berdiri. Dan dengan gopoh pula Kanjeng Pangeran Arya Blitar membalas hormat mereka sambil berkata, "Nama Kyai Kasan Kesambi sangat tenarnya bagaikan bintang kejora bergetar di angkasa raya. Masa kami berani menerima hormat sang Panembahan dan sekalian anak
muridnya." Dan baru saja mereka dipersilakan duduk, masuklah seorang pelayan yang mengabarkan
bahwa di luar padepokan terdapat lima orang tetamu. Mereka memperkenalkan diri sebagai tokoh ksatria yang datang dari pinggang Gunung Muria. Mereka sengaja datang hendak mengucapkan selamat ulang tahun ke-83, Kyai Kasan Kesambi.
Pada waktu itu, nama Arya Lumbung Ami-sena dari Gunung Lawu, Arok Kudawa Neng-pati dari
Bulukerto, ksatria Watu Gunung dari Gunung Tangkubanprahu dan Adipati Sosro-kusuma dari
Pesantrenan sangat tenar, melebihi ksatria sakti lainnya. Masing-masing memiliki anggota yang disebutnya siswa. Kemudian selain mereka, terhitung pula sang Dewaresi dan Kyai Wuker dari Bangil. Selanjutnya barulah anak buah Putut Pranolo dari Gunung Muria. Demikianlah apabila dibandingkan, tataran cikal bakal siswa-siswa dari Gunung Muria (Putut Pranolo) samalah derajat dengan Gagak Handaka. Begitu pula tataran sang Dewaresi dan Kyai Wuker. Bahkan mereka ini pun, tingkatannya tak melebihi Wirapati. Meskipun demikian, Kyai Kasan Kesambi sangat ramah dan bersikap merendahkan diri. Segera dia berkata menyambut, "Ksatria Putut Pranolo datang pula. Biarlah aku sendiri yang mempersilakan duduk."
Putut Pranolo dengan keempat muridnya dengan tersipu-sipu membungkuk hormat dan segera
memasuki paseban. Kanjeng Pangeran Arya Blitar ikut berdiri menghormati pula, tetapi hanyalah mengangguk kecil. Setelah itu datanglah orang-orang dari Banyumas. Pemekaknyawa dari Tuban, Lio Bun Tan dari Cirebon dan beberapa pendekar undangan Pangeran Bumi Gede yang berturut-turut menyatakan ingin mengucapkan selamat ulang tahun.
Sebenarnya tetamu-tetamu yang datang dengan bermaksud menghaturkan selamat hari ulang
tahun, tidaklah lazim pada zaman itu. Tahun yang lalu, hari ulang tahui Kyai Kasan
Kesambi hanya dirayakan dalam lingkungan sendiri. Siapa mengira, banwa hari ulang tahun kali ini begitu banyax dacunjungi tetamu-tetamu dari jauh dan bahkan masih asing pula. Keruan para anak murid Kyai Kasan Kesambi jadi repot melayani. Persediaan kursi tak cukup lagi.
Gagak Handaka dan ketiga adik seperguruannya jadi bingung. Sangaji kemudian terpak-sa
membongkar batu-batu pegunungan dan ditaruh di paseban sekedar sebagai kursi-kursi darurat.
Meskipun demikian, masih saja kurang cukup. Maka terpaksalah tempat duduk yang disediakan hanya untuk para pemimpin belaka. Sedangkan para siswanya harus berdiri atau duduk di atas batu-batu. Cangkir dan piring habis pula. Terpaksa pulalah, Sangaji dan sekalian pamannya menyediakan tempu-rung-tempurung sebagai mangkok.
Diam-diam Suryaningrat mengedepi Bagus Kempong agar masuk ke dalam kamar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kangmas Kempong, bagaimana kesan Kangmas" Adakah suatu tanda-tanda yang
mencurigakan?" "Agaknya kedatangan mereka sudah saling berjanji dahulu. Setidak-tidaknya, masing-masing mempunyai rencana tertentu," kata Bagus Kempong dengan tenang.
"Benar. Kedatangan mereka tiada sungguh-sungguh hendak menghaturkan selamat hari ulang tahun kepada guru. Terang sekali dengan dalih itu, mereka menyembunyikan maksud hati masingmasing."
"Apakah engkau bisa membaca maksud mereka?" Bagus Kempong berganti bertanya.
Suryaningrat adalah murid Kyai Kasan Kesambi yang kelima. Meskipun sikapnya masih berbau kekanak-kanakan, tetapi otaknya cerdas dan cekatan. Dalam kebanyakan hal, ia pandai
mengambil kesimpulan dengan cepat dan tepat. Hal itu disebabkan, karena dia memiliki
pembawaan prarasa yang kuat. Maka menjawablah dia. "Kukira mereka datang bukan untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun. Juga bukan mengungkat-ungkat peristiwa pembunuhan
orang-orang Banyumas dahulu. Tetapi kedatangan Kangmas Wirapati dan Sangaji yang
membawa-bawa dongengan pusaka warisan Bende Mataram, bukankah suatu peristiwa yang amat


Bende Mataram Karya Herman Pratikto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menarik?" "Ah betul," puji Bagus Kempong. Seko-nyong-konyong beralih, "di manakah anak Sangaji kini berada" Bawalah dia masuk ke dalam dan jangan perkenankan sembarangan muncul di paseban.
Mengingat pengalamanku dahulu, di antara mereka pasti ada yang lagi mengincar dirinya."
Suryaningrat terus saja keluar kamar dan memanggil salah seorang ketua siswa. Setelah
menyampaikan perintah agar membawa Sangaji masuk ke dalam, dia kembali meng-hadap Bagus
Kempong. Berkata lagi minta pertimbangan. "Apakah yang harus kita lakukan kini?"
Bagus Kempong adalah seorang ksatria yang tenang sikapnya, berhati-hati dan senantiasa
berwaspada. Tak sembarangan dia bertindak menuruti ungkapan pemikiran yang meletus dengan mendadak apabila hatinya belum yakin. Maka setelah merenung-renung sejenak, dia berkata
mengandung keputusan, "'Biarlah kita berlaku hati-hati dahulu dan jangan ceroboh menentukan sikap. Asalkan kita bersatu-padu, kekuatan kita takan mengecewakan. Anak murid Kyahi Kasan Kesambi sudah terlalu sering mengalami gelombang badai, masakan takut menghadapi mereka?"
Suryaningrat jadi ikut berpikir pula. Jumlah mereka kini tinggal empat orang, tetapi masih mempunyai Sangaji yang memiliki ilmu sakti tak beda dengan mereka. Di samping dia, masih ada pula Kyai Kesambi yang ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkatan kesempurnaan. Hanya
saja, dia harus mempertimbangkan usianya yang sudah tua. Dalam menghadapi suatu kekerasan yang maha besar, sedapat mungkin orang tua itu harus berada di luar garis. Betapa tinggi ilmunya tetapi usianya yang sudah tua itu tak mengizinkan otaknya terlalu keras bekerja. Cukuplah sudah, dia memberi petunjuk-petunjuk saja yang akan diselesaikan oleh anak muridnya. Oleh
pertimbangan ini, Suryaningrat nampak berpikir makin keras. Sadarlah dia, bahwa urusan hari ini tidaklah gampang diselesaikan dengan begitu saja. Maklumlah, jumlah mereka sangat besar dan nampaknya seia-sekata dalam satu tujuan tertentu. Dapatkah dia berlima menandingi mereka"
Bagaimanapun juga akibatnya, anak murid Kyai Kasan Kesambi akan mempertahankan pamor
perguruan. Namun sulitnya bukan kepalang.
Dalam pada itu Gagak Handaka dan Ranggajaya berdua, terus mendampingi gurunya tanpa
beristirahat. Diam-diam mereka bercuriga juga dan mencoba menebak maksud kedatangan para tamu. Menyaksikan tamu datang tiada berputusan, mereka jadi bertam-bah heran. Belum lagi mereka berhasil menebak maksud kedatangan mereka, kem-bali lagi penjaga padepokan datang melapor.
"Gusti Ayu Kistibantala datang atas nama Sri Paduka Sultan Hamengku Buwono II. Beliau datang dengan tiga puluh pengiring dengan membawa bingkisan raja."
Suryaningrat yang mendengar bunyi lapor-an itu, terus saja keluar dari kamar. Keruan saja Bagus Kempong, Gagak Handaka, Ranggajaya tersenyum memaklumi. Hati siapa tak tergerak
mendengar kekasih yang dirindukan tiba pula tanpa diundang. Sudah barang tentu muka
Suryaningrat merah padam. Sikapnya mendadak saja jadi kaku.
"Mari, mari kita berdua menyambut dia," ajak Bagus Kempong.
Gusti Ayu Kistibantala, ternyata seorang wanita yang berperawakan padat berisi, gagah dan berwibawa. Perbawanya tak kalah dengan seorang pria. Tatkala melihat Suryaningrat, terus saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepalanya menunduk. Pandang matanya berseri-seri. Wajahnya menjadi merah jambu. Suatu
tanda, bahwa hatinya ikut berbicara.
Segera Bagus Kempong maju dengan memberi hormat serta mempersilakan masuk ke
paseban. Suryaningrat sendiri, sikapnya makin kaku. Tak berani dia memandang kekasihnya.
Tetapi tatkala sekalian tamu berdiri memberi hormat, diam-diam ia mencuri pandang. Secara kebetulan pula, Gusti Ayu Kistibantala menoleh. Begitu pandang mereka bertemu, masing-masing tergetar hatinya. Tiba-tiba Ranggajaya berdehem. Keruan saja mereka berdua jadi tersipu-sipu.
Tertawalah Rangga-jaya dan terus saja berkata, "Eh, tak kukira bahwa dehemku mengejutkan kalian. Mari kupilihkan tempat duduk sebaik-baiknya."
Suryaningrat tercekat hatinya, la khawatir, kakaknya seperguruan akan mencarikan sebuah
tempat duduk panjang yang sengaja diperuntukkan baginya. Bukankah dia lantas akan merupakan pengantin di tengah para tamu" Tetapi, ternyata kakaknya seperguruan hanya bergurau belaka.
Dengan begitu tenteramlah hatinya. Tatkala melihat pengiring kekasihnya yang berjumlah tiga puluh orang, hatinya jadi bersyukur. Katanya dalam hati, dia membawa tiga puluh pengiring.
Apabila terjadi suatu kekerasan, masakan dia tak mau membantu kita"
Begitulah dalam setengah hari saja, tetamu dari berbagai daerah datang tak berkeputusan.
Nama Kyai Kasan Kesambi sesungguhnya sangat tenar dalam pergaulan luas. Namun kedatangan para tamu ini benar-benar luar biasa dan tidak sewajarnya. Anak-anak murid dan sekalian cantrik Gunung Damar jadi repot luar biasa. Persiapan-persiapan perjamuan sama sekali tiada. Karena harus menyuguh tamu, mau tak mau mereka terpaksa hanya menyediakan semangkok nasi
dengan sedikit sayur dan tempe godok. Berulang-ulang kali Gagak Handaka atas nama gurunya menyatakan diri sangat menyesal, karena tak mampu menghidangkan sesuatu yang lebih baik
lagi. Tatkala itu Ranggajaya dan Bagus Kempong memperhatikan tetamu-tetamu mereka. Mereka
melihat para pemimpin atau ketuanya bisa menghargai diri sendiri tanpa membawa senjata. Tetapi diantara anak murid atau pe-ngiringnya dengan diam-diam menyembu-nyikan senjata di balik baju dan kainnya. Hanya anak murid Purut Pranolo dan pengi-ring-pengiring Pangeran Arya Blitar dan Gusti Ayu Kistibantala yang benar-benar datang dengan bertangan kosong. Ranggajaya yang
berwatak keras, mendongkol menyaksikan mereka yang diam-diam menyembunyikan senjata. Ini adalah suatu perbuatan rendah dan kotor. Mestinya mereka harus meninggalkan senjata mereka tatkala hendak mendaki gunung. Meskipun demikian, ia tak bisa berbuat lain kecuali menelan kenyataan pahit.
Maklumlah, mereka adalah tamu. Dan Kyai Kasan Kesambi tiada mengadakan peraturan
menanggalkan senjata apabila hendak mene-mui dirinya. Hal itu hanya diserahkan kepada
pertimbangan keluhuran budi masing-masing belaka.
Hadiah-hadiah dan bingkisan-bingkisan mereka pun hanya terdiri dari barang-barang lumrah yang mudah diperoleh di pasar terbuka atau kedai-kedai jalan. Hadiah dan bingkisan demikian tidaklah pantas dipersembahkan kepada Kyai Kasan Kesambi yang termasyhur sebagai guru besar pada zaman itu. Hanya bingkisan dari Kanjeng Pangeran Arya Blitar dan Gusti Ayu Kistibantala saja yang benar-benar di nilai. Atas nama Sri Sultan Hamengku Buwono II, Gusti Ayu Kistibantala membawa satu peti penuh dengan 200 macam barang. Kecuali itu, masih ada pula 10 potong
jubah pertapaan, dari bahan sutra Tionghoa.
"Jubah pertapaan ini adalah hasil pekerjaan para dayang. Meskipun karya sangat kasar, tetapi oleh dorongan hati yang sembrono, kami memberanikan diri mempersembahkan sebagai bingkisan ulang tahun sang Panembahan," kata Gusti Ayu Kistibantala.
Senang sekali Kyai Kasan Kesambi mendengar kata-kata Gusti Ayu Kistibantala. Dengan tertawa ia menyahut, "Almarhum ayahanda Sri Paduka Sultan Hamengku Buwono 11, adalah
sesembahanku pada zaman Perang Giyanti. Sekarang puteranya masih ingat memberi anugerah
jubah pertapaan kepada seorang pendeta tak berarti yang bermukim di pinggang Gunung Damar.
Benar-benar suatu anugerah tak ternilai harganya."
Dalam pada itu, Suryaningrat yang banyak tipu muslihatnya, melihat para tetamu sering
melihat keluar paseban seolah-olah menunggu kedatangan jagonya. Diam-diam ia jadi heran dan curiga. Pikirnya, bala bantuan yang mana lagi yang mereka tunggu" Celakalah keadaan guru.
Karena tak mengira bakal tertumbuk suatu permusuhan dalam selimut, sampai tak sempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memberi kabar kepada sahabat sejatinya. Seumpama guru mengerti akan mengalami peristiwa
demikian masakan sahabat-sahabatnya seperti Paman Gagak Seta, Adipati Surengpati dan Kebo Bangah tak diundang hadir. Dengan kehadiran tiga tokoh sakti itu, tidaklah perlu menggubris sepak terjang mereka.
Sekonyong-konyong Bagus Kempong mem-bisiki, "Suryaningrat! Apakah kakakmu Wira-pati belum ada kabar beritanya"',
Memperoleh pertanyaan itu, Suryaningrat terperanjat. Pikirnya, ya, mestinya Kangmas Wirapati harus sudah datang. Dia telah pergi selama satu minggu. Masakan belum sampai ke tujuan"
Dengan berpikir demikian, ia menggelengkan kepala.
Bagus Kempong nampak menghela napas panjang. Berkata dengan berbisik, "mereka datang untuk dia. Dengan membawa pusaka Bende Mataram atau tidak, pastilah mereka akan
menerbitkan gara-gara sebagai alasan untuk mengompres keterangan dari mulut kakakmu dan
Sangaji. Yah, urusan sudah jadi begini, terpaksa kita lawan mereka sekuat tenaga."
Di antara kelima murid Kyai Kasan Kesambi, pribadi Bagus Kempong adalah selalu bersungguhsungguh. Jarang sekali dia bergurau. Dan apa yang telah terucapkan pasti mempunyai alasan kuat. Boleh jadi, mereka semua akan mengalirkan darah di atas padepokan yang mendidik dan membesarkannya. Di antara para tamu, apabila satu lawan satu kecuali Pangeran Arya Blitar, mungkin tiada yang mampu menandingi anak murid Kyai Kasan Kesambi. Tetapi perbandingan
mereka adalah satu lawan 40. Maka bergegas Suryaningrat mengajak Bagus Kempong masuk ke
dalam kamar lagi. Kemudian memanggil pula Sangaji. Bagus Kempong menurut ajakan adiknya
yang bungsu, karena adiknya ini kerap kali mempunyai akal dan tipu muslihat.
"Kangmas Bagus Kempong," ia berkata, "sebentar apabila terjadi suatu kekerasan, biarlah kita berusaha satu melawan satu. Hanya saja mereka nampaknya mempunyai tujuan yang sama.
Dalam suatu kebutuhan yang sama pastilah mereka akan melakukan keroyokan, apabila kita
mencoba melawan." "Ujar Dimas Suryaningrat sedikit pun tak salah," sahut Bagus Kempong. "Hanya saja kuusutkan agar Sangaji meninggalkan gunung. Mereka datang untuk dia. Dengan hilangnya dia, tujuan
mereka jadi sia-sia. Siapa tahu, mereka lantas saling menyalahkan dan kemudian terbit suatu permusuhan. Dengan demikian, darah kita ada harganya untuk kita percikkan di atas bumi."
Mendengar Bagus Kempong berkata demikian, Sangaji jadi terkejut. Terus saja dia menyahut.
"Paman! Manakala sekalian Paman tewas berlumuran darah, masakan aku akan ngacir
meninggalkan gunung" Meskipun aku bukan berasal dari Gunung Damar, tetapi guruku diasuh di pertapaan ini."
"Anakku yang baik," tukas Suryaningrat, "ucapanmu, senang aku mendengarkan. Tetapi engkau harus bisa berpikir lebih jauh. Jika engkau sampai tewas pula di sini, siapa lagi yang akan membalaskan dendam kami?"
Sangaji tergugu mendengar kata-kata Sur-yaningrat. Memang dia pun tak pandai berde-bat
atau mengemukakan pikiran dengan ce-pat. Maka sekaligus terbungkamlah mulutnya.
"Kangmas Bagus Kempong," kata Surya-ningrat sejurus kemudian, "aku mempunyai akal untuk menghadapi mereka. Hanya saja terlalu keji dan berbahaya."
"Coba katakan, kudengarkan," perintah Bagus Kempong.
"Begini. Kita masing-masing mengincar seorang lawan tertentu. Sekali gebrak, kita harus dapat menawannya dalam satu jurus. Dengan menawan mereka, kawan-kawan mereka takkan
sembarangan bergerak."
Bagus Kempong diam menimbang-nimbang. Pikirnya, sekali gebrak harus bisa menawan" Kalau
gagal, besar bahayanya...
"Kangmas Bagus Kempong, janganlah takut gagal" Suryaningrat seakan-akan bisa mem-baca hati. "Biarlah kita menggunakan ilmu Pamekak Manikem!"
Mendengar Suryaningrat mengucapkan nama ilmu itu, sekujur badan Bagus Kempong jadi
meremang. Sangaji yang belum mengenal ilmu itu, jadi keheran-heranan. Terus saja dia bertanya,
"Ilmu apakah itu?"
Dengan beragu Suryaningrat memandang Bagus Kempong untuk minta pertimbangan. Melihat
Bagus Kempong masih saja diam ter-paku, lantas saja dia berkata menerangkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Anak Sangaji, sebenarnya ilmu Pamekak Manikem ini tak boleh kukabarkan kepadamu. Tetapi menimbang, bahwa engkau termasuk golongan kami, biarlah kuterangkan kepa-damu. Hanya
saja, janganlah berharap bahwa salah seorang dari kami akan mengajari. Sebab, ilmu tersebut sangat keji."
Sesungguhnya ilmu Pamekak Manikem tersebut adalah ciptaan Ranggajaya. Gerakan-nya
mencengkeram, menangkap dan menu-bruk. Ciptaan itu berdasarkan ilmu ciptaan Kyai Kasan
Kesambi yang bernama, ilmu Pamekak Nyawa. Jurusnya terdiri dari 14 macam. Dan merupakan
ilmu perguruan Gunung Damar yang berbahaya dan sangat hebat. Tetapi Ranggajaya yang
berdarah muda, masih pula menambahi dengan tujuh jurus. Tatkala dia memperlihatkan ilmu ciptaannya kepada gurunya, ternyata hanya disambut dengan anggukan kecil belaka.
Memperoleh kesan, bahwa gurunya hanya mengamini belaka, Ranggajaya mengira bah-wa ilmu
ciptaannya kurang sempurna. Maka dengan bertekun dia memperlengkapi dan menguatkan titik-titik kelemahannya. Bebera-pa bulan kemudian dia mempertunjukkan kembali di depan gurunya.
Namun sekali lagi Kyai Kasan Kesambi tidak begitu bersemangat menyambut ciptaannya. Dengan menghela napas, orang tua itu berkata: "Ranggajaya! Tujuh jurus ciptaanmu adalah jauh lebih berbahaya daripada ilmu Pamekak Nyawa. Biarlah kunamakan Ilmu Pamekak Manikem. Hanya
saja, titik seranganmu mengarah pada ping-gang dan bawah perut. Siapa yang kena kau-
cengkeram, akan habislah keturunannya. Karena itu aku menamakan Manikem. Apakah ilmu
ciptaanku yang berterus terang, kurang cukup kuat, sehingga engkau perlu membuat lawan tak bisa berkutik selama-lamanya?"
Keringat Ranggajaya terus saja merembes keluar setelah mendengar celaan gurunya, la hendak membuang ilmu ciptaannya. Tetapi seminggu kemudian, saudara-saudara seperguruannya
dipanggil gurunya. Kata orang tua itu, "Tujuh jurus ilmu ciptaan Ranggajaya adalah hasil karya tak mudah. Dengan tak mengenal lelah, ia berusaha menciptakan suatu ilmu sebagai penambah ilmu Pamekak Nyawa. Sebenarnya sangatlah sayang untuk dibuang dengan begitu saja, karena ilmu ciptaannya itu akan merupakan ilmu tunggal dalam jagat ini. Bolehlah kalian minta belajar kepadanya. Hanya saja, ilmu itu jangan kalian pergunakan di sembarang tempat, apabila tiada terpaksa benar. Sebab orang yang kena cengkeraman ilmu ciptaan Ranggajaya, akan hancur
benih keturunannya."
Gagak Handaka, Bagus Kempong, Wirapati dan Suryaningrat lalu mempelajari ilmu terse-but
dengan pedoman gurunya. Selamanya belum pernah mereka menggunakan ilmu tersebut. Hari
itu, keadaan sangat memaksa, maka Suryaningrat teringat akan ilmu itu. Meskipun demikian, Bagus Kempong masih beragu.
"Benar ilmu Pamekak Manikem akan meng-hancurkan bibit keturunan, tetapi aku mempunyai akal. Kita pilih saja, mereka yang sudah tua, atau yang menjadi pendeta."
Bagus Kempong tersenyum, sedang Sangaji lantas jadi ikut berpikir dengan sibuknya.
"Engkau sangat nakal dan pandai mencari akal," ujar Bagus Kempong sejurus kemudian.
"Baiklah, apabila kita terjepit, atas usulmu akan kami lakukan jurus-jurus ilmu Pamekak Manikem."
Setelah memperoleh keputusan, mereka berdua terus membisiki rencana itu kepada Gagak
Handaka dan Ranggajaya. Mereka berdua diam-diam terperanjat, tetapi dengan diam-diam
mereka mulai memilih sasaran juga. Hanya Sangaji seorang yang tak dapat melakukan jurus-jurus ilmu Pamekak Mani-kem, karena sama sekali buta. Tetapi dalam hatinya ia berjanji hendak
berjuang sekuat tenaga untuk mengusir bahaya.
Sehabis makan dan pelayan telah member-sihkan meja, Ranggajaya yang menciptakan ilmu
Pamekak Manikem jadi tak enak sendiri. Segera ia mempersilakan Gagak Handaka untuk
memperoleh pertimbangan. Katanya, "Keadaan kita agaknya memang terjepit, sehingga mau tak mau kita harus memikirkan menggunakan ilmu itu. Tetapi masakan ilmu sekejam itu terpaksa digunakan pada hari ulang tahun guru yang ke-83" Bukankah akan mengotori usia guru yang suci"
Cobalah Kangmas carikan jalan yang lebih sempurna lagi!"
Memang dalam hati, Gagak Handaka beragu juga. Maka setelah merenung sebentar suatu
bayangan berkelebat dalam benaknya. Terus berkata, "Ranggajaya! Bukankah Wirapati sudah satu minggu meninggalkan perguruan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Diingatkan tentang kepergian Wirapati, hati Ranggajaya tergerak. Segera ia mengetahui
maksud kakak seperguruannya. Ya, seumpa-ma Wirapati telah berada diantara mereka, kesulitan ini akan dapat diselesaikan. Karena Wirapati akan bisa memberi penjelasan. Apabila dia datang membawa pusaka Bende Mataram, gurunya pun akan bisa bertindak bijaksana, suatu
pertempuran bisa dihindarkan dengan lebih gampang.
Cepat ia memanggil Bagus Kempong dan Suryaningrat. Lalu dikabarkan tentang diri Wirapati yang sudah satu minggu belum pulang ke gunung.
"Andaikata Wirapati sudah berada di sini, tak usahlah kita berusah-payah lagi. Apa pendapatmu kalau salah seorang di antara kita menyusul dia?"
Bagus Kempong dan Suryaningrat me-nyetujui pendapatnya. Hanya saja, siapa yang harus
menyusul, inilah soalnya. Mereka semua tak boleh meninggalkan paseban, mengingat gawatnya suasana. Kecuali itu, mereka tak mengetahui tempat tujuan Wirapati dengan sejelas-jelasnya.
Satu-satunya orang yang bisa menyusul Wirapati dengan cepat adalah Sangaji sendiri. Teringat akan saran Bagus Kempong bahwa Sangaji harus meninggalkan gunung apabila nanti terbit suatu pertempuran, Suryaningrat lantas berkata: "Baiknya anakku Sangaji saja yang menyusul.
Bukankah ini suatu alasan yang bagus pula untuk menjauhkan dia dari persoalan gawat" Kita tak usah bercemas hati lagi memikirkan keselamatannya. Demikian, kita bisa bertempur dengan lebih tenang dan mantap."
Ranggajaya dan Bagus Kempong menyetujui pendapat itu. Maka Sangaji terus saja
dipanggilnya dan diperintahkan turun gunung menyusul Wirapati. Mereka sendiri terus kembali ke paseban menemui tetamunya kembali.
Dalam pada itu, di paseban telah terjadi suatu perubahan. Gagak Handaka yang sela-ma itu hanya bersikap membisu dan seolah-olah tiada pedulian atas kehadiran para tetamu yang datang tiada diundang, seko-nyong-konyong mengambil tindakan di luar dugaan. Dengan berdiri tegap, ia mem-bungkuk tiga kali dan terus berkata nyaring.
"Tuan-tuan yang mulia, para sahabat perkenankan kami atas nama guru meng-haturkan terima kasih atas kehadiran Tuan-tuan sekalian pada hari ulang tahun ke-83 guru kami. Seluruh penghuni perguruan Gunung Damar amat gembira dan berbesar hati. Hanya saja, sayang dalam pelayanan kami kurang memuaskan dan terlalu sederhana. Untuk itu, kami mohon dimaafkan. Memang
kehadiran Tuan-tuan sekalian di luar dugaan kami. Guru sendiri, tiada berencana memberi kabar kepada Tuan-tuan sekalian. Sebaliknya, kami pun sadar bahwa kedatangan Tuan-tuan sekalian ini, kecuali hendak mengunjungi hari ulang-tahun Guru, ingin pula mendengar kabar tentang diri adik kami seperguruan Wirapati. Adik kami seperguruan Wirapati lenyap dari perguruan selama 12
tahun. Dia datang dengan membawa kabar yang menggemparkan Tuan-tuan sekalian. Yakni,
membawa pusaka warisan Bende Mataram yang semenjak zaman bahari sudah menjadi
pembicaraan ramai dan menjadi bahan perebutan pula. Sebenarnya, pada bulan depan kami akan mengundang Tuan-tuan sekalian. Kemudian adik kami seperguruan Wirapati akan kami persilakan untuk me-nerangkan tentang pusaka warisan tersebut. Karena itu, kedatangan Tuan-tuan sekalian pada hari ini pasti akan kecewa. Betapa tidak"
Pertama kali, adik kami seperguruan belum bersiaga untuk memenuhi kehendak Tuan-tuan
sekalian. Kedua, kami semua mempersiapkan diri untuk mengatur perjamuan tersebut. Baiklah kita mundurkan beberapa waktu dahulu, sementara ini, untuk mengganti kekecewaan Tuan-tuan sekalian, kami semua bersedia mengantarkan Tuan-tuan sekalian berkeliling menikmati
pemandangan Gunung Damar yang berdiri megah semenjak zaman dahulu di antara bukit-bukit
Geger Menjangan, Jambu dan Sundoro Sumbing."
Hebat kata-kata Gagak Handaka. Terdengar sederhana dan wajar, tetapi sebenarnya lang-sung menikam tenggorokan mereka. Pertama secara tidak langsung ia menegaskan, bahwa Kyai Kasan Kesambi dan sekalian anak-muridnya sebenarnya sudah dapat menebak maksud mereka
sesungguhnya di balik bingkisan dan ucapan-ucapan selamat. Kedua, mencegah mereka memaksa Wirapati menerangkan rahasia pusaka warisan Bende Mataram. Ketiga, menitik-beratkan kepada arti hari ulang tahun. Karena itu apabila ada yang membuat keruh akan berarti sengaja
menerbitkan permusuhan. Dengan demikian apabila anak-murid Kyai Kasan Kesambi mengambil
tindakan, adalah wajar. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seketika itu juga, para tetamu nampak gelisah. Nyatalah kini, bahwa kedatangan mereka
benar-benar bukan untuk mengucap-kan kata-kata selamat hari ulang tahun kepada guru besar Kyai Kasan Kesambi, tetapi hendak memperoleh keterangan tentang berita pusaka Bende
Mataram. Meskipun mereka tiada bersekutu, tetapi tujuan kedatangannya adalah sama. Hanya saja mereka tak berani bertindak ceroboh, mengingat nama perguruan Kyai Kasan Kesambi
termasyhur di seluruh Nusantara. Masing-masing takut menanggung akibatnya apabila dengan terang-terangan hendak menerbitkan bibit permusuhan. Tetapi seumpama mereka seia-sekata
dalam suatu tindakan, rasanya ada juga yang berani tampil ke muka sebagai pembukaan jalan.
Maklumlah, jumlah mereka melebihi seratus orang. Masakan mereka tak bisa merobohkan Kyai Kasan Kesambi dengan sekalian anak muridnya, andaikata sampai terjadi suatu pertumpahan
darah. Maka beberapa saat, mereka saling memandang minta pertimbangan. Akhirnya, saling
berbisik menyatakan gerutu hatinya.
Setelah mereka saling berbisik dan ber-bicara, tampillah seorang laki-laki berpera-wakan pendek gemuk. Dia bercambang agak tebal. Matanya bulat dan wajahnya berkesan keruh. Dialah pendekar undangan Pangeran Bumi Gede berasal dari Blora yang datang dengan membawa enam
pendekar undangan lainnya. Namanya Wongso Udel, seorang sakti yang ternama di daerahnya.
Kedatangannya entah sepengetahuan Pangeran Bumi Gede entah atas kehendak sendiri, tidaklah terang. Dengan membusungkan dada agar bisa mem-peroleh suara nyaring, ia berkata lantang,
"Rekan Gagak Handaka yang kami hormati. Rasanya tak perlu lagi, kami main bersembu-nyi-sembunyian. Biarlah kami berkata dengan terus-terang. Maksud kedatangan kami yang pertama, memang untuk ikut merayakan hari ulang tahun guru besar Kyai Kasan Kesambi. Di samping itu, kami ingin mencari keterangan tentang tempat persembunyian pusaka Bende Mataram. Kami
sadar, bahwa permintaan itu sangat pantas, mengingat pusaka itu bukan milik perguruan Gunung Damar atau milik siapapun juga. Tetapi milik umum. Katakanlah, milik dunia. Berikanlah kami kesempatan untuk mengadu untung. Atas budi Tuan, kami takkan melupakan. Jika di kemudian hari ada perkembangannya, bukankah nama-nama Tuan akan tercantum sebagai tokoh-tokoh
percaturan negara?" "Bagus! Bagus! Setuju!" Terdengar suara sokongan dari beberapa penjuru.
Suryaningrat, murid kelima Kyai Kasan Kesambi yang masih berdarah muda, mendongkol
mendengar suara mereka. Lantas saja dia meledak.
"Bagus! Pantas! Pantas! Inilah tamu yang pantas dihormati."
Mendengar kata-kata Suryaningrat, pendekar Wongso Odel terperanjat. Sebentar ia menjadi
bingung hendak menentukan sikap. Kemudian berkata seolah-olah minta kete-rangan, "Apakah ada yang kurang pantas?"
"Hm semula aku mengira, kalian datang semata untuk menghaturkan atau mengucapkan
selamat ulang tahun Guru. Mendadak saja aku heran, sewaktu menyaksikan dan melihat di antara kalian ada yang membawa senjata. Apakah kalian hendak membawa hadiah senjata kepada
Guru?" sahut Suryaningrat. "Timbulah kini pertanyaanku, beginikah tamu-tamu yang harus kuhormati?"
"Lihatlah yang terang! Lebarkan matamu dan tebarkan penglihatanmu!" Wongso Udel meledak.
"Seorang anak muda janganlah membiasakan diri gampang menuduh. Buktikan di antara kami, siapakah yang membawa senjata?"
"Bagus! Memangnya aku tak mampu mencari bukti!" ejek Suryaningrat. Dan berbareng dengan ucapannya, terus saja Suryaningrat menyambar dua orang tetamu sekaligus. Dalam satu gerakan, pinggang kedua orang itu kena ditarik. Seketika itu juga, jatuhlah dua golok pendek
bergeroncangan di atas lantai dari pinggang mereka. Melihat jatuhnya senjata, semua yang hadir jadi terbungkam. Dengan gugup pendekar Wongso Udel berkata gagap, "Ya... ya... benar!
Senjata! Tapi... maksud mereka... apakah salahnya menggunakan senjata, seumpama kakakmu
seperguruan Wirapati tak sudi menjelaskan tempat beradanya pusaka warisan itu."
Menggigillah tubuh Suryaningrat karena menahan marah. Sewaktu hendak mendamprat, tiba-
tiba terdengarlah suara bersahutan dari tiga penjuru, kemudian menyerukan salam,
"Assalamualaikum..."
Suara seruan mereka terdengar sangat nyaring, terang dan berkumandang, padahal tubuh
mereka belum nampak. Keruan saja para tetamu yang hadir terperanjat. Karena apabila seseorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
belum mencapai ilmu sakti sedemikian tinggi, tidaklah mampu bersuara dari jauh seolah-olah hanya berhadap-hadapan saja. Maka seperti saling berjanji, mereka bercelingukan mencari arah datangnya.
"Kami datang berempat," seru mereka lagi. "Lumbung Amiseno dari Gunung Lawu, Warok Kudawenengpati dari Bulukerto, Watu Gunung dari Gunung Tangkubanperahu dan Adipati
Pesantrenan Sosrokusumo. Kami datang untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun Kyai Kasan Kasambi."
Mendengar ucapan mereka, Kyai Kasan Kesambi lalu membalas seruan dengan ilmu Peliritan
untuk mencapai jarak jauh.
"Silakan! Silakan datang! Kami akan menyambut kedatangan Tuan-tuan bersama anak murid kami."
Nampaknya suara itu diucapkan dengan wajar belaka tetapi bisa menembus lapisan alam,
sehingga mengejutkan sekalian tetamu. Mereka semua lantas saja berhati ciut.
Kanjeng Pangeran Arya Blitar yang selama itu berdiam diri, mendadak saja berdiri sambil
berseru girang. "Benar-benarkah mereka datang" Jika begitu, kedatanganku kemari bukanlah sia-sia."
Pangeran ini pun memiliki ilmu Peliritan, sehingga dapat berbicara seakan-akan berhadap-
hadapan saja. Keruan, para tetamu yang menyaksikan kesaktian itu diam-diam kagum dalam hati.
Sebaliknya waktu itu Gagak Handaka, Ranggajaya, Bagus Kempong dan Suryaningrat lantas
berpikir, apakah tokoh-tokoh sakti itu pun datang untuk kepentingan pusaka Bende Mataram"
Apabila benar, teranglah sudah bahwa pusaka Bende Mataram benar-benar ada dan bukan merupakan dongeng belaka. Mengingat tanda-tan-danya, agaknya tak gampang kita dapat
menyelesaikan. "Kalian datanglah segera! Aku Arya Blitar berada pula di sini..." seru Kanjeng Pangeran Blitar lagi.
Tak lama kemudian, munculan empat orang yang tiba di halaman paseban hampir berbareng.
Yang datang dari arah utara berperawakan tinggi semampai. Dialah Adipati Pesantrenan
Sosrokusumo. Orangnya berkumis, pandang matanya berkilatan. Suatu tanda, bahwa dia telah memiliki ilmu sakti yang sukar diraba tingginya.
Yang datang dari arah barat, berperawakan pendek ketat. Rambutnya sudah hampir memutih
semua. Dia mengenakan pakaian hijau muda dan memperkenalkan diri dengan nama Watu
Gunung. Melihat bentuk dan pakaiannya serta namanya orang lantas mem-bayangkan sebuah
batu berlumut. Yang datang dari arah timur dua orang, Perawakan mereka tinggi besar dan seram. Mereka
mengenakan pakaian pendeta daerah dan bangga pula akan pakaiannya. Nama mereka Lumbung
Amiseno dan Warok Kudawanengpati.
Begitu melihat Kyai Kasan Kesambi menyongsong sampai di halaman, mereka terus saja berdiri menghormat, kata mereka hampir berbareng: "Selamat! Selamat! Kami percaya, Tuan akan bisa hidup 200 tahun lagi!"
Kyai Kasan Kesambi membalas hormat dengan takzim kemudian memperkenalkan kepada
sekalian tetamu yang berada di paseban. Karena jumlah tetamu sangatlah banyak, maka setelah mengambil tempo agak lama, barulah mereka duduk pada suatu tempat dekat Kanjeng Pangeran Arya Blitar. Maklumlah, meskipun mereka bukan keturunan orang ningrat, tetapi tingkatan mereka sejajar dengan Kanjeng Pangeran Arya Blitar.
Diam-diam Suryaningrat memperhatikan keadaan tetamunya kembali. Kemudian berpikir,
mereka sekarang tak lagi mengarahkan perhatiannya ke luar. Apakah mereka inilah yang
ditunggu-tunggunya" Tentang siapakah Adipati Pesantrenan, Watu Gunung, Lumbung Amiseno dan Warok
Kudawanengpati, semua anak-murid Kyai Kasan Kesambi pernah mendengar kabarnya dari
gurunya. Mereka adalah sesama-perguruan dan sengaja bermukim di tiga penjuru dalam mengabdi cita-
cita masing-masing. Guru mereka dahulu, konon kabarnya seorang sakti dari Gunung Semeru
bernama Resi Buddha Wisnu. Nama itu pernah mengguncangkan pendekar-pendekar ulung pada
zamannya. Dikabarkan bahwa Resi Buddha Wisnu pernah menyeberang Pulau Bali dengan hanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkendaraan setangkai daun alang-alang. Pernah membunuh seekor naga di telaga Rengel Tuban seorang diri dengan bersenjatakan sepotong kain sutra. Dan termasyhur ilmu ketabibannya pula.
Karena itu, meskipun orang belum pernah menyaksikan"murid-muridnya yang berjumlah empat
orang tersebut kabarnya sakti pula. Mereka telah mewarisi kepandaian gurunya. Maka namanya disegani dan dimalui segenap orang di seluruh Nusantara.
Jarang sekali mereka menampakkan diri dalam pergaulan umum, apabila tiada sesuatu alasan penting yang memaksa mereka keluar dari pertapaan masing-masing. Kali ini, mereka bahkan datang berbareng dengan men-dadak. Keruan saja, peristiwa demikian gam-pang ditebak. Mau tak mau memaksa sekalian anak murid Kyai Kasan Kesambi meninggikan kewaspadaan. Sebentar lagi permainan pasti akan dimulai dan dengan hati-hati mereka menunggu sambil bersiaga.
"Hari ini padepokan Gunung Damar kebanjiran tetamu. Sama sekali tak terduga, bahwa rekan Lumbung Amiseno, Watu Gunung, Kudawanengpati dan Adipati Pesantrenan sudi melelahkan diri mengunjungi pertapaan orang tak berarti," kata Kyai Kasan Kesambi dengan tertawa
merendahkan diri. Apabila ditinjau tentang perbedaan umur mereka dengan Kyai Kasan Kesambi paling tidak
selisih 20-30 tahun. Namun Kyai Kasan Kesambi menyebut mereka sebagai rekan. Suatu bukti, bahwa Kyai Kasan Kesambi seseorang yang begitu kokoh memegang tata cara umum dan bahkan
bersedia merendahkan diri. Tetapi merekapun bisa membawa diri. Dengan agak segan-segan,
mereka berbicara dan tiada berani membawa sikap angkuh.
"Kyai Kasan Kesambi! Kalau menurut usia, kami berempat terhitung angkatan muda daripada Kyai Kasan Kesambi. Dengan begitu, sebenarnya setingkat dengan anak murid perguruan Gunung Damar. Sebaliknya mengingat nama guru kami Resi Buddha Wisnu yang pernah menduduki
tempat teratas dalam percaturan zaman yang telah lampau, maka kami atas namanya pula ingin memperoleh keterangan yang terus terang kepada Kyai Kasan Kesambi. Kami mengharap, semoga Kyai Kasan Kesambi jangan merasa tersinggung."
Tabiat Kyai Kasan Kesambi sesungguhnya senang berterus terang. Itulah sebabnya, begitu
mendengar kata-kata tetamunya, segera ia berkata: "Apakah kedatangan empat orang sakti dari tiga penjuru ini, mempunyai kepentingan dengan tibanya murid kami yang keempat Wirapati
setelah merantau dari pertapaan selama dua belas tahun?"
"Benar," sahut Lumbung Amiseno. "Inilah celakanya, mengapa dahulu kami berempat menyanggupkan diri untuk memenuhi pesan terakhir guru kami Resi Buddha Wisnu. Yang
pertama, kami diwajibkan untuk dapat mendengarkan dimanakah pusaka Bende Mataram berada.
Dan yang kedua, bagaimana asal mula pusaka Bende Mataram tersebut diketemukan. Sebab bagi kami, pusaka tersebut merupakan mustika yang paling berharga dan bernilai. Pusaka tersebut bahkan merupakan jiwa kami, mercu suar kami, matahari kami dan akhirnya lambang kejayaan tanah air. Konon ditambahkan bahwa pada pusaka warisan itulah diselipkan suatu rahasia besar untuk dapat mengatur kesejahteraan tanah air. Itulah sebabnya tolonglah kami memperoleh
Pendekar Sakti Suling Pualam 7 Legenda Kematian Karya Gu Long Memanah Burung Rajawali 7
^