Pencarian

Bende Mataram 4

Bende Mataram Karya Herman Pratikto Bagian 4


mempunyai bakat, agaknya masih ada waktu.
Mendadak saja timbullah suatu pikiran lain. Eh, sekiranya Sangaji nanti malam tak datang apa yang akan kulakukan" Bukankah hati kanak-kanak seringkali berubah" Celaka"aku belum tahu rumahnya.
Memikir demikian, cepat ia kembali ke lapangan. Sangaji baru saja melangkahkan kaki
meninggalkan lapangan. Ia girang. Mau dia percaya, kalau selama itu Sangaji masih tertegun-tegun memikirkan kehebatannya yang diperlihatkan tadi.
Ia kuntit si anak dari jauh. Setelah memasuki tangsi ia segera berhenti.
Ih! Anak Willem katanya, Wirapati berpikir. Tak boleh dia dihinggapi perasaan itu. Betapa baik si Willem dia bukan bangsa sendiri. Di kemudian hari siapa tahu bisa menyulitkan Sangaji.
Wirapati adalah seorang yang tebal rasa ke-bangsaannya. Jika tidak, tak mungkin dia
mendekati Sangaji ketika digebuki pemuda-pemuda Belanda. Sungguh tak diduganya ia bertemu dengan si anak yang sudah dicarinya selama delapan tahun.
Tiba-tiba ia melihat suatu kesibukan di dalam tangsi. Dua orang kompeni datang dengan
menunggang kuda yang dilarikan amat cepat. Ia menduga pastilah terjadi suatu warta yang harus disampaikan kepada komandan tangsi. Dan warta itu mestinya sangat penting. Tak lama
kemudian setelah dua orang kompeni itu masuk ke dalam tangsi, didengarnya bunyi terompet melengking ke udara. Dari dalam los-los kompeni muncullah serdadu-serdadu dengan sibuk dan riuh. Mereka berlari-larian dengan berderap-an. Senapan-senapan mereka tak sempat dipanggul, hanya dijinjing atau diseret sambil membetulkan letak bajunya.
Mereka berbaris dengan teratur rapih. Cepat dan berdisiplin. Wirapati yang menonton di luar lantas berpikir, mereka teratur rapi dan berkesan perkasa. Pantas mereka bisa menjelajah dan menjajah tanah-tanah dan negeri-negeri yang dikehendaki. Ah"sekiranya kita mempunyai tentara begitu teratur dan disiplin, pastilah tak gampang Belanda menginjak-injak negeri kita.
Seperempat jam kemudian mereka berbaris keluar tangsi. Panji-panji pasukan dan bendera
berada di depan barisan. Mereka membawa genderang dan terompet. Di barisan belakang
berjalanlah pasukan berkuda. Penunggangnya menghunus pedang panjang. Di tiap pinggang
tergantung sepucuk pistol.
Tanpa merasa Wirapati memuji: "Hebat!" Lantas ia menduga-duga ke mana mereka akan pergi
dan mengapa begitu sibuk. Karena pikiran itulah ia segera menguntit. Dasar dia usilan. Setiap kali merasa tertarik takkan puas sebelum
endapat penjelasan. Watak itu pulalah yang membuatnya kini merantau ke Jakarta sampai
delapan tahun lamanya. Gara-gara bertemu dengan serombongan penari yang aneh.
Pasukan tentara yang berjumlah kurang lebih 500 orang itu berbaris ke lapangan. Mereka
membuat suatu bentuk barisan. Kemudian menunggu, sedangkan para perwira sibuk .berunding.
Ah"kiranya ada pembesar yang datang, Wirapati menduga. Kemudian ia pergi meninggalkan
lapangan hendak cepat-cepat pulang ke pondokan untuk menunggu kedatangan Jaga Saradenta.
Mendadak saja ia melihat barisan lain mendatangi. Barisan itu terdiri dari sepasukan tentara berkuda. Jumlahnya kurang lebih 250 orang.
Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Kejadian itu adalah peristiwa lumrah. Tapi Wirapati
tertarik pada suatu penglihatan lain. Di depan barisan yang mendatangi itu, nampaklah dua puluh orang berkuda yang mengenakan pakaian seragam Kasultanan Yogyakarta.
Yang berada di depan seorang pemuda ganteng. Umurnya belum melebihi tiga puluh tahun.
Kagetnya, ia mengenal wajah pemuda itu. Dialah si pemuda yang membunuh salah seorang
anggota rombongan penari yang aneh. Dia pulalah yang melarikan Sapartinah, isteri Wayan
Suage. Cepat ia bersembunyi di belakang pagar rakyat yang datang melihat dengan berduyun-duyun.
Ia mengintai si pemuda itu dengan sungguh-sungguh.
Seperti dahulu pakaian yang dikenakan si pemuda mentereng. Dia didampingi oleh dua orang laki-laki yang berparas buruk. Yang sebelah kiri berkepala gede, kulitnya hitam legam bagaikan orang hutan. Yang sebelah kanan seorang laki-laki bermata sipit, matanya menjorok ke dalam,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mulutnya lebar dan berkulit keputih-putihan seperti orang sakit kuning. Kesan penglihatan dua orang itu menggeridikkan bulu roma.
Di belakang si pemuda berderet tujuh belas prajurit Kasultanan Yogyakarta dengan tanda
pasukan pengawal kepatihan. Wirapati mengira si pemuda itu anak Patih Danureja II"sahabat VOC di Jakarta.
"Sudah datang! Mereka datang!" tiba-tiba serombongan pemuda-pemuda Belanda berteriak di
dekat Wirapati. Pemuda-pemuda ini mengenakan pakaian preman. Di antara mereka terdapat
seorang gadis kira-kira berumur enam belas tahun. Gadis itu keturunan Belanda (Indo) wajahnya cantik dan keagung-agungan. Perawakannya langsing padat dan gayanya mulai dapat
menggiurkan penglihatan. Dia ikut berteriak pula: Suaranya nyaring bercampur girang. Diam-diam Wirapati berpikir, kenapa mereka seolah-olah menyatakan syukur"
Mendadak seorang pemuda berseru kepada gadis itu. "Hai Sonny! Itulah Pangeran "Bumi Gede.
Kau nanti bertugas melayani dia."
"Dih! Aku" Mengapa aku?" sahut si gadis dengan mencibirkan bibir.
Pemuda itu tertawa berkakakkan. Teman-temannya yang lain menyumbangkan tertawanya
pula. Mereka lantas menggoda.
"Dia seorang Pangeran Baron wilayah Bumi Gede."
"Mana itu Bumi Gede," potong si gadis dengan suara dingin.
Mereka tak dapat menjawab pertanyaan si gadis. Pemuda yang mula-mula berkata mendekati
si gadis. "Dia tamu pemerintah. Dan kau bagian protokol. Apa perlu mesti minta penjelasan tentang
tamu itu atau negeri asalnya" Dia datang dari Yogyakarta. Mestinya Bumi Gede termasuk kerajaan Yogyakarta."
Ternyata mereka adalah pegawai-pegawai Bataafse Republik. Hari itu mereka menerima kabar, Pemerintah Belanda di Jakarta akan mendapat kunjungan utusan dari sekutuannya di Yogyakarta.
Pangeran Bumi Gede adalah utusan Patih Danureja II yang hendak mengadakan suatu
perserikatan rahasia. Seperti diketahui Patih Danureja II adalah lawan Sultan Hamengku Buwono II. Dia bertujuan menggulingkan Sultan Hamengku Buwono II dari tahta kerajaan. Untuk
mencapai maksud itu dia berserikat dengan Pemerintah Belanda di Jakarta.
"Siapa nama Pangeran itu?" tiba-tiba si gadis bertanya.
Pemuda itu ternganga mendengar pertanyaan gadis itu. Dia lantas tertawa panjang.
"Mengapa tanya kepadaku" Tanyalah sendiri!" jawabnya menggoda.
Teman-temannya tertawa berkakakkan. Wajah si gadis lantas saja berubah merah jambu.
Cepat-cepat ia membela diri.
"Bukankah lebih memudahkan pelayanan, jika aku mengenal namanya terlebih dahulu" Dengan
begitu rasa kaku akan dapat terkikis cepat."
"Huuuuu...!" Pemuda-pemuda menyahut seperti koor nyanyian.
"Apa huu ...?" si gadis sakit hati. "Selain aku kan ada pula Helia, Nelly, Maria, Anneke, Thea, Isabella ... mengapa menduga yang bukan-bukan?"
Wirapati menyingkir jauh. Tak senang ia mendengar percakapan itu. Hatinya lantas saja
menangkap suatu firasat buruk. Diam-diam ia berpikir, Pemerintah Belanda menaruh perhatian besar terhadap kedatangan mereka, sampaisampai menyediakan suatu pelayanan khusus. Ada
apa" Mendadak teringatlah dia kepada peristiwa perebutan pusaka Bende Mataram dan keris Kyai
Tunggulmanik. Terloncatlah di benaknya. Ah! Apakah kedatangan mereka di sini bukan untuk sesuatu maksud keji" Pemuda itu terang gila kekuasaan, martabat dan uang. Bagaimana tidak"
la mengutuk Pangeran Bumi Gede kalang kabut. Baiklah kukuntit saja dari jauh, pikirnya. Nanti malam akan kucoba mengintip pembicaraannya. Sekiranya sampai menjual kemar-tabatan bangsa dan negara untuk memuaskan nafsunya sendiri, biarlah kucoba-coba mengadu nyawa dengan
jahanam itu. Kalau berhasil ini namanya sekali tepuk dua lalat mati sekaligus.
Wirapati lantas menguntit barisan itu. Mendadak ia melihat suatu penglihatan lain. Di belakang barisan utusan dari Yogyakarta berjalanlah lima orang laki-laki yang diikat oleh rantai panjang.
Mereka dipaksa berjalan dengan dicambuki tiada henti.
"Ih! Kenapa?" Wirapati menebak-nebak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat orang-orangnya mereka bukan golongan perampok atau begal. Mereka bersikap berani melawan dan tak sudi merasakan pedihnya cambukan cemeti. Mereka saling memandang dan
saling memberi isyarat. " Aneh, pikir Wirapati"kalau penglihatanku hari ini kuceritakan kepada Jaga Saradenta belum tentu dia percaya.
Barisan itu segera disambut barisan 500 serdadu kompeni yang datang dari tangsi. Kemudian diantarkan masuk kota. Rakyat berdiri berjejalan di pinggir jalan dengan sorak-sorai. Tak henti-henti mereka membicarakan rombongan tetamu yang masih asing baginya.
Wirapati menyelinap di antara mereka. Dari jauh dia terus menguntit dengan diam-diam.
Ternyata rombongan utusan dari Yogyakarta itu memasuki gedung negara. Sebentar mereka
mengikuti upacara-upacara penyambutan, kemudian menghilang di dalam gedung negara.
Wirapati menunggu sampai gelap malam tiba. Niatnya sudah pasti, mau mendengarkan pem-
bicaraan Pangeran Bumi Gede dengan Pemerintah Belanda, la akan menyelinap memasuki gedung negara dan melompati genting. Sekalipun gedung negara dijaga rapat oleh serdadu-serdadu, ia merasa sanggup mengatasi.
Selain Wirapati berwatak usilan, sesungguhnya dia seorang kesatria yang menaruhkan darma di atas segalanya. Pahit getir sebagai akibat pakarti itu tak diindahkan. Delapan tahun yang lalu, seumpama tak bertemu dengan rombongan penari aneh dari Banyumas, tidaklah bakal dia
berlarat-larat sampai ke Jakarta. Meskipun demikian, sama sekali tak pernah mengeluh. Kali ini dia berjumpa dengan si gadis Sonny dan melihat lima orang perantaian. Sama sekali tak diduganya juga, kalau di kemudian .hari dia akan mengalami kesulitan-kesulitan baru. Pengalamannya yang pahit seolah-olah tiada mampu menyadarkan. Kesadaran seolah-olah kena bius. Maka terasalah dalam hati manusia, manusia ini benar-benar merupakan permainan hidup belaka di mana dia harus menanggung akibat kepahitan yang tak kuasa menolaknya.
Demikianlah"selagi dia membulatkan tekad hendak mengintip pembicaraan rahasia antara
Pangeran Bumi Gede dengan pihak Pemerintah Belanda di Jakarta, gelap malam turun perlahan-lahan. Sekitar gedung negara mulai sunyi. Yang terdengar hanya derap langkah serdadu-serdadu mengatur penjagaan dan suara tertawa riang di dalam gedung.
Wirapati menjenguk ke dalam. Terlihat lampu menyala terang benderang. Sebuah kereta
berkuda berderap memasuki halaman. Tepat di depan pintu, kereta berhenti. Delapan gadis
keturunan Belanda turun berloncatan. Mereka mengenakan pakaian modern pada jaman itu, dan berbisik-bisik sangat sibuk. Syukur! Terang mereka belum mengadakan pembicaraan resmi,
Wirapati menduga. Sebab di antara ke delapan gadis itu ia mengenal si Sonny. Pastilah itu temantemannya yang disebutkan tadi yang bertugas menjaga kesenangan Pangeran Bumi Gede.
Mendadak selagi sibuk menduga-duga dilihatnya pengawal Pangeran Bumi Gede yang berkulit
kuning keputih-putihan meloncat ke dalam kereta. Sais segera menghentak kendali dan kuda-kuda penarik terbang keluar halaman.
Wirapati mendekam cepat. Setelah kereta lewat, ditegakkan kepalanya. Kembali ia menduga-
duga, orang itu agaknya telah mengenal kota Jakarta. Dia pergi tanpa penunjuk jalan. Apakah ada sesuatu yang penting yang akan dikerjakan"
Mendadak, sekali lagi ia melihat sesosok bayangan yang mencurigakan. Sesosok bayangan itu berkelebat melintasi jalan menghampiri dinding pagar. Ternyata dia menengok ke dalam,
kemudian melesat menjauhi.
Tertarik akan sepak terjang orang itu, Wirapati segera mengejar. Pikirnya, satu jam lagi, belum tentu pembicaraan resmi dimulai. Baiklah ku-kuntit orang itu, apa maksudnya menengok gedung negara.
Dalam hal kecepatan Wirapati melebihi kesanggupan orang lain. Sebentar saja ia sudah dapat menyusul. Betapa kagetnya ia, ternyata orang itu adalah Jaga Saradenta.
"Jaga Saradenta!" panggilnya.
"Aih!" Jaga Saradenta terkejut seperti tersengat lebah. Cepat ia berhenti dan berputar
mengarah ke Wirapati. Berkata setengah meminta, "Pulanglah dulu ke pondok! Jangan ikuti aku!"
Wirapati heran mendengar kata-katanya.
"Kenapa?" Jaga Saradenta tak menjawab. Ia melesat lagi. Wirapati jadi penasaran. Ia mengejar dan sekali melesat telah dapat menjajari.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jaga Saradenta! Mengapa kau begini?"
"Hm," Jaga Saradenta berhenti berlari. "Sejak kapan kau berada di sekitar gedung negara?"
"Sebelum matahari tenggelam."
"Musuhku telah muncul kembali. Kautahu" Itulah musuhku semenjak jaman Perang Giyanti.
Aku akan mengadu nyawa. Ini soalku, karena itu janganlah sampai kau terlibat."
Wirapati dan Jaga Saradenta telah berkelana delapan tahun lamanya mencari Rukmini dan
Sangaji. Meskipun tak pernah mengangkat saudara, tetapi dalam hati mereka masing-masing telah saling dekat dan akrab. Maklumlah, mereka sesama sependeritaan, sekata dan setekad, seia dan setujuan. Rasa persaudaraan mereka melebihi rasa persaudaraan biasa. Keruan saja mendengar kata-kata Jaga Saradenta, Wirapati ter-peranjat. Lantas saja mendamprat tak senang.
"Eh"sejak kapan kau berubah?"
Jaga Saradenta menghentikan langkahnya. Ia memandang Wirapati dan mencoba memberi
penjelasan. "Permusuhanku itu terjadi sebelum kau mengenal matahari. Terjadi semasa Perang Giyanti,
tahun 1750. Karena itu apa perlu kau terlibat pula?"
"Musuhmu adalah musuhku pula. Samalah halnya perjalananku ke daerah barat ini adalah
perjalananmu pula. Perlukah aku bersumpah sehidup semati?" sahut Wirapati tegas.
Jaga Saradenta terharu. Ia menyenak napas dalam. Sejurus kemudian dia berkata,
"Hari ini di Jakarta terjadi suatu peristiwa. Pemerintah Belanda lagi menyambut utusan dari Yogyakarta. Di antara mereka terdapat musuhku."
"Eh"apakah si pemuda yang membawa lari Sapartinah isteri Wayan Suage?" potong Wirapati.
Jaga Saradenta tercengang-cengang. "Yang mana?"
"Aku tadi melihat juga kedatangan rombongan utusan itu. Kukuntit mereka sampai di gedung negara."
"Ih! Jadi dia ada juga?"
Wirapati kini heran berbareng menebak-nebak.
"Lantas yang mana musuhmu?" tanyanya.
"Kau melihat dua orang yang bermuka luar biasa buruknya" Yang satu berkulit hitam dan yang lain berkulit kuning keputih-putihan. Itulah dua iblis terbesar di jaman ini."
"Siapa mereka?"
"Pringgasakti dan Pringga Aguna," jawab Jaga Saradenta.
Wirapati kaget sampai terjingkrak. "Bukankah mereka sudah lama mati?"
"Dari mana kautahu?"
"Guruku senngkali mengisahkan riwayat orang-orang gagah dan orang-orang sakti di
jamannya. Disinggungnya juga tentang nama dua iblis sakti itu pada jaman Perang Giyanti.
Pringgasakti dan Pringga Aguna yang dulunya bernama si Abu dan si Abas. Diceritakan, kalau kedua iblis itu mempunyai kebiasaan yang luar biasa biadab. Mereka menculik gadis-gadis mumi untuk diperkosanya dan dihisap darahnya, semata-mata untuk mempertahankan ilmu saktinya."
"Betul!" potong Jaga Saradenta bersemangat, -kupun menyangka, kalau kedua orang itu sudah lama mampus. Tak tahunya bersembunyi di sini. Entah apa yang dikerjakan. Nyatanya mereka berdua ditunjuk Pemerintah Belanda menjadi anggota penyambut tamu resmi," ia |erhenti
sebentar. Napasnya menyesak. "Gurumu telah menceritakan riwayatnya, tetapi belum pasti
tentang kesaktiannya secara terperinci. Kau belum mengenal mereka. Karena itu lebih baik kamu melarikan diri dari Jakarta sebelum mereka mengetahui siapa kau sebenarnya. Sebab mereka berdua adalah musuh gurumu pula." Jaga Saradenta mencoba menerangkan.
"Melarikan diri?" Wirapati tersinggung. Suaranya tiba-tiba sengit. Mendamprat, "Apalagi mereka berdua adalah musuh guruku, mana bisa aku ngacir seperti maling?"
Menyaksikan orang begitu mantap tekadnya, Jaga Saradenta akhirnya mau juga mengerti, la
mengajak Wirapati minggir ke tepi jalan dan berkata perlahan.
"Baiklah kuceritakan dulu lebih jelas, agar kelak kamu tak menyalahkan aku jika terjadi suatu malapetaka. Pringgasakti dan Pringga Aguna dulu bernama si Abu dan si Abas. Asal negerinya kurang jelas. Tetapi nama itu sebenarnya pemberian gelar dari Patih Paku Buwono II Kartasura yang bernama Pringgalaya. Ada satu dugaan pula, kalau Abu dan Abas itu saudara seperguruan Patih Pringgalaya. Nyatanya mereka berdua sangat sakti. Meskipun termasuk golongan sesat,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekarang kita berdua membuktikan kebenaran keyakinannya. Tahukah kamu mengapa mereka
memperkosa gadis-gadis dan menghisap darahnya" Dulu ada suatu kepercayaan, barang siapa
dapat memperkosa gadis dan menghisap darahnya akan dapat berumur panjang dan awet muda.
Nyatanya si jahanam Abu dan. Abas sampai kini masih nampak perkasa dan gagah. Padahal
umurnya kutaksir. sudah lebih dari 80 tahun."
"Ih!" Wirapati menggeridik. "Selama itu berapa jumlah gadis-gadis yang sudah menjadi
korbannya?" "Jangan tanya lagi. Ratusan sudah jumlahnya."
"Mereka bagaikan iblis, mengapa orang-orang sakti dan orang-orang gagah pada jaman itu
tidak beramai-ramai mengkerubutinya?"
"Hm... mudah dikatakan," sahut Jaga Saradenta cepat. "Tetapi nyatanya mereka tak mampu
memampuskannya. Pertama-tama, karena mereka sangat licin. Mereka mempunyai ilmu
penciuman yang lebih tajam melebihi panca indera kita. Mereka pandai mengetahui gelagat buruk.
Setiap kali akan kepergok, selalu saja dapat menghindarkan diri. Dan kedua, mereka mendapat perlindungan penuh dari Patih Pringgalaya dan kompeni Belanda."
Makin larna makin tertariklah hati Wirapati mendengar keterangan Jaga Saradenta.
"Kamu benar. Meskipun guruku kerapkali menyinggung nama orang-orang sakti, beliau enggan mengisahkan riwayat orang-orang sesat sampai jelas." Wirapati terus mendesak.
"Aku tahu sebabnya, karena gurumu khawatir akan meracuni kebersihan hati murid-muridnya,"
jawab Jaga Saradenta. "Dengarkan kuceritakan. Patih Pringgalaya adalah musuh Pangeran
Mangkubumi 1. Pada suatu hari terjadilah suatu pemberontakan di daerah Sukawati yang dipimpin oleh Raden Mas Said dan Panembahan Martapura. Paku Buwono II membuat pengumuman"
"Barang siapa dapat mengalahkan kedua pemimpin pemberontak itu akan mendapat hadiah tanah Sukawati." Pangeran Mangkubumi 1,"adik Paku Buwono II"tampil ke depan. Dengan diam-diam
Patih Pringgalaya mencoba untung pula, Pangeran Mangkubumi I berhasil mengusir kedua
pemimpin pemberontak itu. Patih Pringgalaya iri hatinya. Dengan pengaruhnya ia mencoba
mendesak Paku Buwono II agar menggagalkan hadiah itu. Paku Buwono II yang lemah hati
mendengar bujukan Patih Pringgalaya. Hadiah tanah Sukawati dibatalkan. Pada tanggal 19 Mei 1746, Pangeran Mangkubumi 1 meninggalkan istana dan menggabungkan diri dengan
pemberontak. Itulah asal mula terjadinya Perang Giyanti. Paku Buwono II gentar menghadapi adiknya. Tapi Patih Pringgalaya membesarkan hatinya. Lantas saja dia minta bantuan kompeni dengan menjanjikan tanah-tanah kerajaan diluar pengetahuan Paku Buwono II. Di samping itu dia mengumpulkan orang-orang sakti dan orang-orang gagah. Di antara mereka terdapat si Abu dan si Abas." Ia berhenti sejenak. Kemudian diteruskannya. "Kedua orang itu ditemukan sewaktu terjadi pemberontakan bangsa Tionghoa. Mereka abdi kepercayaan Raden Mas Garendi yang
diangkat oleh masyarakat Tionghoa menjadi Sultan Kuning. Sewaktu bangsa Tionghoa
menggempur istana Kartasura, mereka berdua itulah yang memimpin. Gadis-gadis istana banyak yang hilang dan kedapatan mati kaku dengan tengkuknya terluka parah bekas kena hisap. Patih Pringgalaya dan Pangeran Mangkubumi I tampil ke depan, waktu itu mereka berdua masih hidup rukun, dan berhasil mengalahkannya. Sedianya hendak dihukum mati, tapi mereka tak mempan kena senjata. Diam-diam Patih Priggalaya berpikir lain. Dia seorang yang cerdik dan pandai memilih pengikut. Mungkin juga pada waktu itu dia sudah mempunyai rencana-jencana tertentu.
Maka dengan pengaruhnya ia memohonkan ampun kepada Paku Buwono II. Dan semenjak itu,
Abu dan Abas menjadi pengikut setianya dan diberi hadiah gelar Pringgasakti dan Pringga Aguna.
Dalam Perang Giyanti mereka berdua sangat disegani pengikut-pengikut Pangeran Mangkubumi I.
Akhirnya gurumu tampi ke depan. Waktu itu gurumu berusia tigapu-uhan tahun, sedangkan aku baru berumur uang lebih 20 tahun. Aku dipilih gurumu sebagai pembantu. Gurumu lantas
bertempur melawan kedua iblis itu sampai tujuh hari tujuh malam."
"Tujuh hari tujuh malam?" Wirapati mengilang.
"Ya, "dan tak ada yang kalah dan menang kalah, kau bisa mengira-ira kesaktian mereka
berdua. Pada hari kedelapan aku disuruh gurumu bertanding. Rupanya gurumu hendak
beristirahat sebentar sambil mempelajari kelemahannya. Mana bisa aku tahan bertempur melawan mereka berdua" Baru sepuluh gebrakan aku sudah kalang-kabut. Tetapi waktu yang sebentar itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cukuplah sudah membuka pikiran gurumu. Gurumu lantas memanggil dua orang perajurit dan
membisiki sesuatu. Lantas gurumu mulai bertempur lagi."
"Guru membisikkan apa?" potong Wirapati lagi.
"Waktu itu sama sekali tak kuketahui. Tetapi sebentar kemudian semuanya menjadi jelas.
Ternyata dua orang perajurit itu disuruh mengumpulkan beberapa gadis desa yang diharuskan berpakaian dengan kemben melulu."
"Mengapa diharuskan hanya mengenakan kemben?"
"Apa-apa kamu tak bisa menerka?"
Wirapati mengerenyit sebentar. Tiba-tiba menjawab girang. "Tahu aku. Guru mau
mengacaukan pikiran mereka berdua. Bukankah mereka manusia penghisap darah gadis?"
"Betul!" sahut Jaga Saradenta cepat. "Begitu kedua iblis itu melihat tengkuk-tengkuk gadis-gadis desa, seketika kacaulah pikirannya. Mulutnya seperti meliur. Gerak-geriknya lantas saja bernafsu. Padahal bertempur melawan musuh berilmu tinggi adalah suatu pantangan besar
bergerak penuh nafsu. Seketika itu juga, gurumu menggertak dan memusatkan ketenangan hati.
Dengan suatu gerakan aneh gurumu merangsak mereka berdua. Belum lagi mereka sadar akan
kesalahannya, tahu-tahu mereka kena gempuran. Tak ampun lagi mereka tergetar mundur tiga langkah. Gurumu tak membiarkan mereka bernapas. Begitu kaki mereka menginjak tanah, lalu gurumu berkelebat. Suatu kecepatan yang sukar kulukiskan terjadi di luar pengamatan mataku.
Mereka berdua tiba-tiba berteriak dan tubuhnya tergempur melayang ke udara dan jatuh
berdeburan di tanah."
SERASA mengembang dada Wirapati ketika mendengar kisah keunggulan gurunya dalam
pertempuran itu. Hatinya terlalu bangga berbareng girang. Dalam benaknya berkelebat tubuh gurunya merangsak kedua iblis Pringgasakti dan hingga Aguna. Dan orang-orang yang menyak-skan pertempuran itu bersorak- sorai gemuruh.
"Guru tahu kalau mereka berdua mempunyai kebiasaan menghisap darah. Apa mereka waktu
itu sudah terkenal sebagai orang-orang sesat?" tanyanya memotong.
"Orang-orang gagah di kolong langit ini siapa yang tak mengenal sepak-terjang kedua iblis itu,"
jawab Jaga Saradenta yakin. "Nama mereka cukup menggegerkan dalam perang pemberontakan
bangsa Tionghoa di Kartasura. Selain lu bertempur terus-menerus dalam tujuh hari tujuh malam bukan sembarang orang dapat melakukannya. Gurumu yang sudah mengenal bermacam-macam
ilmu dan aliran kesaktian, lambat-laun jadi curiga. Pasti mereka bukan sewajarnya orang."
"Bukan sewajarnya orang?"
"Ya, bukan sewajarnya. Bagaimana tidak" Di kolong langit ini hanya empat orang yang bisa tahan bertempur selama itu. Pertama, almarhum Pangeran Mangkubumi I. Kedua, Raden Mas Said yang kelak terkenal sebagai Gusti Sambar Nyowo. Ketiga, Kyai Haji Lukman Hakim. Dan keempat, gurumu sendiri. Mereka berempat itulah orang-orang besar pada jaman ini."
"Kyai Haji Lukman Hakim dari Cirebon?" potong Wirapati. Teringatlah dia sewaktu delapan
tahun yang lalu diutus gurunya menghadap padanya.
"Ya, Kyai Haji Lukman Hakim adalah guruku," sahut Jaga Saradenta. "Seketika itu juga gurumu dapat menduga. Mereka berdua kalau tidak mendapat wahyu sewaktu bertapa pastilah
mempunyai ilmu kesaktian yang hebat. Sekiranya dua-duanya tidak, pastilah mendapat ilmu sakti warisan atau bantuan kekuatan gaib. Mempunyai dugaan begini, gurumu memperhebat
rangsakannya. Gurumu mengeluarkan ilmu-ilmu saktinya yang tinggi. Tapi, semuanya dapat
dilawan oleh kedua iblis dengan jurus-jurus sederhana tetapi penuh tenaga. Di kemudian hari gurumu mengakui, kalau hampir saja dikalahkan karena merasa tak tahan lagi. Mendadak selagi gurumu mempertaruhkan nyawanya dalam suatu pertempuran yang menentukan pada hari
ketujuh, terciumlah suatu bau anyir. Gurumu kaget. Mula-mula mengira kedua iblis itu melepaskan suatu mantran gaib. Tetapi setelah bertempur setengah hari ternyata bau anyir itu tidak
mempengaruhinya. Gurumu yang bermata tajam bahkan mengetahui kalau tenaga mereka berdua
makin lama makin susut berbareng dengan menajamnya bau anyir itu. Ternyata bau anyir datang dari keringat mereka. Pada saat itu teka-teki yang menutupi benaknya lantas saja tersingkap.
Untuk memperoleh kenyakinan gurumu meloncat ke luar gelanggang sedang aku disuruhnya
memasuki gelanggang."
"Hebat!" Wirapati memuji. "Lantas?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terbukalah kedoknya," sahut Jaga Saradenta cepat. "Sungguh tak terduga ternyata ilmu sesat itu benar-benar tangguh. Bagaimana bisa masuk akal, tubuh seseorang bisa menjadi kuat luar biasa hanya semata-mata menghisap darah seorang gadis sesudah diperkosanya! Begitu mereka berdua kena gempuran gurumu, seketika itu juga terpental ke udara seperti layang-layang putus.
Mereka luka parah. Kalau orang biasa pastilah rontok tulang rusuknya kena gempuran gurumu.
Tetapi mereka masih berdiri. Malahan bisa lari sepesat angin."
"Sayang, ya." "Ya"sayang." Jaga Saradenta menghela napas, sambil menunduk dalam. Kemudian
mendongak seolah-olah ingin melepaskan diri dari suatu ingatan buruk.
"Pada tanggal 13 Februari 1755 terjadilah Perjanjian Giyanti. Pangeran Mangkubumi I naik tahta menjadi Sultan Hamengku Buwono I. Selama itu kedua iblis Pringgasakti dan Pringga Aguna tidak muncul lagi dalam percaturan. Semua orang mengira mereka sudah mati akibat gempuran gurumu. Tak tahunya, tiba-tiba nama mereka disebut-sebut kembali. Kini mereka berdalih menjadi teman seperjuangan."
"Kenapa begitu?" Wirapati heran.
"Karena kompeni Belanda, Susuhunan Paku Buwono III dan Sultan Hamengku Buwono I
mempunyai kepentingan yang sama, bersama-sama menggempur Raden Mas Said yang
meneruskan perjuangan menuntut hak. Dua tahun kemudian"tahun 1757--RadenMas Said dapat
dikalahkan. Atas persetujuan Gubernur Hartingh beliau dinobatkan menjadi Kanjeng Gusti
Pangeran Adipati Aria Mangkunegara atau Pangeran Miji. Inilah hasil dari suatu kebijaksanaan Perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757."
Jaga Saradenta berhenti. Kemudian meneruskan kembali. "Permusuhan antara gurumu dengan
kedua iblis itu sementara berhenti. Gurumu pulang ke tempat asal"ke Desa Sajiwan Gunung
Damar. Mendadak pada suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang mengejutkan."
"Apa mereka menyerang guru di padepokan Sejiwan?"
"Tidak"mana mereka berani?" sahut Jaga Saradenta. 'Ternyata mereka dulu mendapat
pertolongan dari Kyai Haji Lukman Hakim."
"Terang-terangan mereka berdua musuh guruku. Bukankah musuh Kyai Haji Lukman Hakim
juga" Menurut guru, Kyai Haji Lukman Hakim adalah salah seorang sahabatnya."
"Betul. Akupun datang membantu gurumu atas perintah Beliau. Sebab Beliau adalah guruku."
"Ya"kamu sudah menerangkannya tadi. Soalnya, kenapa gurumu mau menolong mengobati."
"Pertama-tama, karena guruku seorang berbudi. Kedua, karena mereka berdua sudah beralih
menjadi teman seperjuangan. Patih Pringgalaya menekan agar guruku mau mengobati. Kedua iblis itu disebutkan sebagai saudara seperguruannya. Mereka bernama Pringgasakti dan Pringga Aguna.
Itulah mulanya kami mengenal si Abu dan si Abas bernama Pringgasakti dan Pringga Aguna.
Tetapi justru oleh kemurahan hati itu, timbullah suatu malapetaka."
"Mereka membunuh gurumu?" Wirapati memotong tak sabar.


Bende Mataram Karya Herman Pratikto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tidak. Tetapi samalah," sahut Jaga Saradenta. "Guruku mempunyai seorang gadis. Jumirah
namanya. Dulu beliau pernah mengatakan dialah calon istriku. Sebagai seorang gadis tabib yang sedang mengobati dia menolong merawat kedua iblis itu. Ah, tak tahunya... "
"Apa iblis itu menculiknya lantas di... "
"Ya," sahut Jaga Saradenta tinggi dan tangannya menggempur tanah. "Akupun tak punya
kekuatan. Kucoba mengejarnya, tetapi yang kutemukan hanya mayatnya. Betapa hancur hatiku saat itu tak terperikan. Kucari dua iblis itu untuk balas dendam. Tapi aku bisa dikalahkan, bahkan hampir mati. Untung, gurumu datang. Bersama-sama dengan guruku, gurumu menghajar mereka.
Tapi kedua bangsat itu melarikan diri dan lenyap dari percaturan. Empat puluh tahun lamanya mereka berdua hilang lenyap. Tak tahunya, sekarang muncul kembali begitu garang. Hm..!"
Wirapati dapat merasakan betapa besar dendamnya. Darah kesatrianya bergolak.
"Ayo! Guruku dulu pernah bekerja sama dengan gurumu. Sekarang biarlah aku membantumu
melampiaskan dendam." Kata Wirapati dengan lantang.
Perlahan-lahan Jaga Saradenta merenungi raut-muka Wirapati. la menghela napas.
"Terima kasih. Ayo, kita tolong dulu kelima orang perantaian itu."
"Siapa mereka?" Wirapati heran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tak tahu siapa mereka dan tak peduli siapa mereka, tetapi aku akan menolongnya. Sebab
mereka adalah tawanan kedua iblis itu."
"Dari mana kau tahu?"
"Mereka orang-orang dari Banten, Tangerang, Serang, Rangkasbitung dan Pandeglang, mereka itu salah satu korban keganasan kedua bangsat Abu dan Abas. Kau belum pernah kawin. Apalagi membayangkan arti seorang anak. Barangkali kamu menganggap peristiwa tu lumrah. Karena itu biarlah aku sendiri yang..."
"Sekali lagi kamu mengucap begitu, janganlah lagi berkawan denganku." "Kau tak menyesal?"
"Mengapa menyesal?"
Tujuanku yang utama mau mengadu nyawa dengan kedua iblis itu. Kelima perantaian itu hanya kubuat umpan agar kedua iblis itu mengejarku. Akan kupancing mereka supaya terpisah
lingkungan kompeni."
"Bagus! Kau tadi menjenguk gedung negara semata-mata untuk mencari keyakinan apakah
mereka berdua masih di sana."
"Tepat. Sebab kalau mereka berada di antara kompeni di dalam penjara akan menyulitkan.
Kaubawa senjata?" Wirapati memanggut. "Ayo, kita berangkat!"
Mereka lantas saja berlari kencang ke tangsi kompeni. Sepanjang jalan Jaga Saradenta
mengisahkan pengalamannya berjumpa dengan kelima perantaian. Ia berjumpa dengan mereka
berlima di selatan kota Jakarta. Mereka membicarakan tentang si Abu dan si Abas. Tertarik dengan kedua nama itu Jaga Saradenta lantas saja mengikuti perjalanan mereka.
"Kemudian mereka bertempur melawan Pringgasakti dan Pringga Aguna," kata Jaga Saradenta.
"Mana bisa mereka melawan kedua iblis itu. Sebentar saja mereka sudah kena ringkus dan
menjadi tawanan. Kamu tahu apa yang akan dilakukan kedua iblis itu" Biasanya mereka dibawa ke tengah lapangan, kemudian dipaksa bertempur sampai napasnya habis."
"Di adu domba?"
"Bukan! Bukan diadu domba, tetapi dibuat alat latihan mereka berdua. Kau nanti akan melihat betapa hebat sepak-terjang kedua iblis itu."
Mendengar keterangan tentang kegagahan mereka, hati Wirapati yang usilan lantas saja ingin mencoba kekuatannya sendiri. Tapi mengingat gurunya tak kuasa membunuh mereka berdua,
bulu romanya meremang. Tak lama kemudian mereka berdua telah sampai di depan tangsi. Ternyata tangsi kompeni
berdinding tebal tinggi. Nampak juga beberapa serdadu berjaga di atas menara dengan
memanggul senjata. Mereka berdua lantas saja mengeluh. Terang, mereka takkan mampu
meloncati dinding setinggi itu. Selagi mereka berpikir-pikir, mendadak dilihatnya beberapa orang preman masuk. Mereka mengenakan pakaian seragam corak Sunda dan datang membawa
minuman dan makanan. Ah, bukankah mereka sedang berpesta pula untuk menghormat tamu agung" pikir Wirapati.
Tendadak dilihatnya sebuah kereta berkuda berada di depan penjagaan. Lantas saja teringatlah dia kepada si iblis berkulit kuning yang tadi meloncat ke dalam kereta berkuda di dalam istana negara. Cepat ia menghampiri Jaga Saradenta dan berkata dengan gugup.
"Tadi dia menumpang kereta itu."
"Tadi siapa?" "Iblis yang berkulit kuning keputih-putihan."
"Ah"kapan?"
Dengan singkat Wirapati menceritakan apa yang dilihatnya tadi di halaman gedung negara.
Jaga Saradenta lantas saja termangu-mangu. Alisnya meninggi dan raut mukanya jadi serius.
"Baiklah, kalau begitu kita tunggu saja di luar," katanya memutuskan.
Mereka berdua minggir ke tepi jalan dan berlindung dalam gelapnya malam. Dalam kegelapan mereka melihat bayangan berjalan mondar-mandir tak berkeputusan. Pantas, tangsi dijaga sangat ketat. Diam-diam Wirapati berpikir, apa kelima orang itu termasuk tahanan yang sangat penting"
Wirapati tidak paham peraturan militer. Kelima perantaian itu meskipun bukan tawanan militer akan mendapat penjagaan yang ketat juga, karena dititipkan pada penjagaan tangsi. Seluruh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penghuni tangsi akan ikut bertanggung jawab sampai tawanan diambil kembali oleh yang
menitipkan. Jaga Saradenta memberi isyarat agar berlaku hati-hati. Meskipun tahu Wirapati memiliki ilmu tinggi dalam gerak cepat, tetapi ia menduga di dalam tangsi banyak terdapat kawan-kawan si iblis yang tak boleh dipandang enteng.
Tak lama kemudian di dalam tangsi nampak tersembul suatu cahaya yang bergoyang-goyang di udara. Empat orang berpakaian preman keluar dari pintu pagar dengan membawa obor. Jaga
Saradenta memberi tanda kepada Wirapati agar berlindung lebih rapi. Untung, di depan Tangsi tumbuh banyak pohon-pohon asam tua sebesar rangkulan tangan. Dengan mudah mereka berdua
mengumpet di belakangnya.
Kelima perantaian tadi sore ternyata sedang Jgiring ke luar. Mereka kini tak terbelenggu, bahkan nampak menyengkelit senjata masing-masing. Mereka didampingi empat orang preman
yang membawa obor dan dibawa menghampiri kereta berkuda.
"Masuk!" perintah mereka garang.
Dengan berdiam diri kelima orang perantaian memasuki kereta berkuda. Kemudian seorang di antara keempat orang pengawal meloncat menyambar kendali. Lainnya berdiri tegak menghadap pintu pagar seperti ada yang ditunggu.
"Wirapati!" bisik Jaga Saradenta. "Pastilah mereka menunggu si Pringga Aguna. Melompatlah ke dalam kereta. Sais itu biarlah kubekuknya."
Habis berkata begitu secepat kilat ia menubruk sais yang sedang mencengkeram kendali.
Dengan kecepatan yang sukar dilukiskan berhasillah dia mencekik si sais dan dilemparkan ke dalam kereta. Wirapati menyambutnya dan dibantingnya ke dasar kereta. Keruan saja kelima perantaian itu terkejut. Tapi belum lagi mereka dapat berbuat sesuatu, Wirapati telah membisiki,
"Ssst! Kawan sendiri!"
"Kawan sendiri dari mana?" mereka tak mengerti. Tapi suaranya bernada syukur. Belum lagi Wirapati menjawab kereta telah bergerak.
"Heeeee!" terdengar teriakan dari pintu pagar tangsi.
Jaga Saradenta tak mempedulikan. Niatnya sudah mantap. Kereta mau dilarikan sekencang
mungkin ke lapangan dekat pantai, la meninju pantat-pantat kuda. Keruan saja kuda-kuda penarik kaget bukan main. Serentak tubuh mereka melesat bersama dan kereta jadi bergoncangan.
Suara teriakan dari tangsi kian seru. Tetapi mereka belum curiga. Mereka mengira kuda-kuda penarik sedang binal.
"Tendang ke luar, biar mereka mengejar kita!" seru Jaga
Saradenta ke Wirapati. Wirapati lantas saja menendang orang yang dicekiknya. Orang
itu jatuh bergulungan di jalan. Tak usah diragukan lagi, seluruh
tubuhnya jadi babak-belur.
Kelima orang perantaian kini benar-benar bingung. Tadi
mereka mendengar keterangan, kalau Wirapati adalah kawannya.
Mereka mengira mendapat pertolongan tak terduga. Mendadak
kini berlaku begitu ceroboh, malahan mengharap agar dikejar
penghuni- penghuni tangsi militer.
"Saudara siapa?" desak salah seorang di antara mereka
kepada Wirapati. "Kawan sendiri," jawab Wirapati dingin.
"Kawan sendiri bagaimana?"
"Kawan sendiri."
"Kawan sendiri dari mana?"
"Jaga Saradenta! Apa yang harus kukatakan?" teriak Wirapati
kepada Jaga Saradenta. "Mereka minta penjelasan."
Jaga Saradenta tertawa berkakakkan "Tenangkan hatimu
kawan! Kamipun musuh iblis Abu dan Abas. Kalian tadi bertemu Abas?"
"Ya. Iblis itu mau membawa kami entah ke mana," sahut salah seorang dari kelima perantaian.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus! Kamipun pernah kehilangan seorang gadis. Malam ini aku mau mengadu nyawa! Kereta ini biarlah kularikan ke tengah lapangan, supaya iblis Abas mengejar kita. Tenaga kalian kubutuhkan. Masa kita bertujuh tak bisa membekuk dia?"
Mendengar keterangan Jaga Saradenta mereka menggeram berbareng. Terasa dalam hati
Wirapati betapa besar dendam mereka. Dalam kegelapan mereka saling memandang. Kemudian
berkata serentak, "Di atas lautan perantau-perantau bertemu gelombang besar. Apakah tiang agung akan dibiarkan runtuh?"
"Bagus!" Jaga Saradenta tertawa tinggi, la menghajar pantat-pantat kuda lagi.
"Saudara dari mana?" tanya mereka lagi.
"Aku hanya minta kalian bersatu-padu menggempur musuh," sahut Jaga Saradenta. Sekarang
tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan siapa aku dan mengapa aku dendam pada iblis itu. Tapi akupun senasib dengan kalian. Bukankah kalian kehilangan seorang gadis juga?"
Mereka menggeram kembali seperti seseorang kena tusuk.
"Bagus!" Jaga Saradenta berkata lagi. "Kita sekarang ke lapangan depan itu. Kalian membawa senjata?"
"Ya. Iblis itu membiarkan kami membawa senjata?"
"Wirapati, apa kubilang?" Jaga Saradenta memotong cepat. "Mereka akan dibuat alat berlatih sampai mampus."
"Apa?" mereka berteriak serentak. Jaga Saradenta tertawa lewat hidung. Dalam kegelapan ia menjawab, "Jika begitu, kalian belum mengenal musuh kalian. Nah, bersyukurlah pada Tuhan, karena kami berdua datang menolong kalian."
"Kami tak mengharap pertolongan siapa pun juga"
Jaga Saradenta terperanjat. Tahu, kalau mereka berwatak keras lantas saja dia mengubah
pembicaraan, "Bagus! Bagus!"Untung kami berdua mempunyai persoalan yang sama. Jika tidak, kalian sulit menuntut dendam pada jahanam itu."
Mereka terdiam. Perkataan Jaga Saradenta sedikitpun tak salah. Mereka pernah bertempur
melawan si Abu dan si Abas. Pada akhirnya, mereka dapat dirobohkan begitu gampang.
Pada saat itu kereta telah sampai di tengah lapangan. Jaga Saradenta mendahului melompat ke tanah. Cepat ia memberi tanda kepada Wirapati dan kelima perantaian.
"Di sini kita mengadu nyawa. Sebentar lagi dia pasti datang." Seru Jaga Saradenta tegas.
"Kamu yakin dia bakal datang?" potong Wirapati.
"Empat puluh tahun lebih setan itu selalu terbayang dalam benakku. Mengapa aku tak
mengenal tabiatnya?" Sahut Jaga Saradenta cepat. "Tabiatnya mau menang sendiri. Larinya
kelima perantaiannya akan dipandangnya sebagai tata-kehormatan diri. Aku tahu pasti, dia tak mau kehilangan harga diri. Pasti dia akan mengejar mereka biar sampai ke ujung dunia. Saudara-saudara, carilah tempat berlindung. Usahakan jangan sampai dia melihat kalian. Jaga tiap penjuru dan tunggu sampai aku tak dapat bertahan
"Kalian berani mengadu nyawa?"
"Laripun kami tak berguna lagi," sahut mereka serentak. Kemudian seorang yang berperawakan sedang berkata, "Namaku Atang asal Banten. Lantas ini Acep dari Tangerang, Hasan dari Serang, Kosim dari Rankasbitung dan Memet dari Pandeglang. Kami berlima mengangkat diri menjadi
saudara angkat. Ada rejeki kami bagi, ada susah kami pikul bersama. Karena kami mempunyai kepentingan bersama seperti saudara."
"Bagus! Bagus!" puji Jaga Saradenta. "Aku bernama Jaga Saradenta. Dan ini kawanku Wirapati.
Nah, kalian sudah mengenal nama kami. Sekiranya kalian masih berumur panjang dan kami
berdua mampus di sini, lemparkan saja mayat kami di parit Tak usah kalian bersusah payah mencari negeri asal kami. Karena kami berasal dari Jawa Tengah."
"Ah!" mereka berjingkrak
"Sekarang tak ada waktu untuk mendongeng. Ayo kita siaga. Mati dan hidup kita tergantung pada kerja sama kita."
Jaga Saradenta nampaknya berkata begitu sembrono, tetapi terasa benar bagaimana ia
menekankan tiap-tiap kata-katanya. Mereka yang mendengar menggeridik bulu kuduknya. Dalam hati mereka berjanji hendak berkelahi saling membela dan saling melindungi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Musuh kita sangat biadab dan bengis," kata Jaga Saradenta lagi. "Tapi kalian harus
menentukan hidupnya."
Mereka lantas saja bekerja. Atang dan Acep mencari bongkahan batu dan ditumpuk menjadi
semacam tempat perlindungan. Hasan mengambil tempat di sebelah selatan. Dia bersenjata
sebilah pedang panjang. Kosim dan Memet di sebelah barat. Mereka berdua enggan berpisah.
Yang berpikir lain ialah Wirapati. Melihat lapangan ini pikirannya teringat kepada Sangaji. Sore tadi bukankah dia sudah berjanji hendak menjumpai si anak" Hatinya jadi kebat-kebit memikirkan pertempuran yang bakal terjadi. Sekiranya si anak datang, bahaya yang mengancam takkan dapat dielakkan.
Memikir begitu ia hendak mengisiki Jaga Saradenta tentang sudah diketemukannya si anak.
Tetapi Jaga Saradenta sudah berjalan mengarah ke timur. Terpaksalah dia mengurungkan niatnya, la berdiri tegak termangu-mangu. Direnungnya kereta kuda yang sengaja ditinggalkan Jaga
Saradenta di tepi jalan. Iblis Abas pasti akan penasaran. Setelah menemukan tubuh si sais yang babak belur, dia pasti mengejar. Manakala kereta berkudanya telah dilihatnya, tentu dia akan memasuki lapangan. Pertempuran bakal terjadi, dan Wirapati tegang dengan sendirinya.
"Wirapati, awas!" teriak Jaga Saradenta tertahan.
Wirapati menoleh cepat. Jauh di sana lamat-lamat ia mendengar langkah cepat serta ringan.
Diam-diam ia memuji ketajaman pendengaran kawannya. Waktu itu kira-kira pukul sembilan
malam. Bulan tanggal sepuluh mulai tersembul d langit. Remang-remang sinarnya meratakan dri ke seluruh alam. Sesosok bayangan nampak berkelebat di kejauhan. Geraknya cekatan dan
mengejutkan. Hebat! puji Wirapati dalam hati. Pantas guru setanding dengan kegagahannya. Hm"apa kita
bertujuh bisa menang"
Mereka semua melihat kedatangan si iblis. Atang, Acep, Hasan, Kosim dan Memet pernah
bertempur melawannya. Dengan sendirinya telah mengenal kehebatannya. Begitu melihat
kedatangan si iblis, hati mereka tegang dan serentak menahan napas.
Jauh di belakangnya nampak pula tiga bayangan bergerak-gerak. Itulah kawan-kawan si sais yang tadi membawa obor menggiring kelima perantaian. Terang sekali mereka berusaha menyusul si iblis, tampaknya jaraknya bahkan kian dekat.
Ketika melihat kereta berkuda yang berhenti di tepi jalan, si iblis Pringga Aguna lantas saja berhenti dengan mendadak, la merenung sebentar, kemudian mendongakkan kepalanya ke udara.
Tahulah Jaga Saradenta, kalau Pringga Aguna lagi menebarkan ilmu penciumannya. Dan benar juga, sebentar kemudian dia tertawa panjang menyayat-nyayat hati.
"Hai jahanam! Kalian kira bisa mengecoh aku?" serunya nyaring.
Suaranya berderuman dan terasa menumbuki dada. Ini hebat! Tak gampang orang mendapat
kekuatan demikian hebat, jika tidak mempunyai ilmu sakti yang dilatihnya dengan tekun bertahun-tahun lamanya.
Yang paling dekat berada di sekitar si iblis Pringga Aguna ialah Wirapati. Diam-diam ia berpikir, hebat tenaganya, pantas Jaga Saradenta memuji kegagahannya.
Cepat ia meraba senjatanya. Wirapati berpikir, kalau sekarang kutikam dia, sembilan dalam sepuluh pasti berhasil. Tapi kalau dia kebal sampai tak mempan, parah akibatnya ....
Wirapati ragu-ragu. Karena ragu-ragu, seluruh tubuhnya bergemetar. Hatinya tegang luar
biasa. Atang, Acep, Hasan, Kosim dan Memet yang menempati penjuru Selatan dan Barat tegang
sampai menahan napas. Ingin mereka meloncat serentak dan menyerang berbareng. Tapi mereda ingat pesan Jaga Saradenta yang mau menjajal kegagahan si iblis seorang diri. Maka niat itu dkirungkan.
Pada saat itu ketiga pembantu si iblis datang berturut-turut memasuki lapangan. Napas mereka tersengal-sengal. Begitu melihat kereta kuda landas saja mereka berseru serentak, "Itu
keretanya." "Ya, aku tahu," damprat si iblis. "Bagaimana mereka bisa lolos dari penjagaanmu, itulah
soalnya." Mereka tergugu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Si iblis Pringga Aguna lantas saja tertawa berkakakkan menyeramkan hati. Mendadak ia
bergerak cepat dan menyambar ketiga orang itu dengan sekaligus. Sambil menggempur dia
berteriak. "Bagus! Kalian yang menggantikan mereka."
Ketiga orang itu sama sekali tak mengira diserang begitu tiba-tiba, sehingga tak sempat
membela diri. Tapi seumpama mereka sudah berjaga-jaga pun tak akan mampu membela diri
menghadapi serangan si iblis Pringga Aguna. Gerakannya sangat gesit dan susah dilukiskan.
Hereka bertiga serempak terlempar ke udara. Selagi tubuhnya melayang-layang, iblis Pringga Aguna melejit sambil melontarkan gempuran. Tanpa ampun lagi, mereka jatuh terbanting di tanah dengan napas terputus.
"Hidup kalian pun tak ada gunanya! Percuma latihan!" teriak si iblis Pringga Aguna seperti mengumpat. Mendadak ia menjejakkan kakinya dan tubuhnya hingga terloncat tinggi di udara.
Kemudian turun dengan berjumpalitan dua kali. Tangannya menyambar dada sesosok mayat dan dilontarkan ke udara. Berbareng dengan itu menukik lagi ke udara, suatu kehebatan
mengagumkan. Tiba-tiba menggempur dada mayat itu sehingga terbelah berserakan.
Menyaksikan pemandangan yang menyeramkan serta kehebatan si iblis Pringga Aguna, kelima
orang bersaudara menggeridik bulu kuduknya. Coba, seumpama mereka tak ditolong Jaga
Saradenta dan Wirapati, pastilah akan dijadikan mainan seperti itu. Diam-diam mereka berterima kasih kepada dua orang penolongnya. Setelah itu timbullah api kemarahannya. Serentak mereka meraba senjatanya masing-masing dan bersiap sedia.
Pringga Aguna masih saja lari berputar-putar. Kedua mayat lainnya dilontar-lontarkan ke udara, kemudian dirobeknya pula. Isi perutnya dihamburkan dan ia membiarkan diri tersiram darahnya.
Hebat pemandangan itu! Meskipun Wirapati bukan anak kemarin sore, belum pernah sekali juga menyaksikan kebiadaban demikian. Darah kesatrianya lantas saja bangkit.
Dengan menggigit bibir ia bertekad hendak mengadu nyawa demi kemanusiaan.
Mendadak Pringga Aguna berhenti bergerak dengan sekonyong-konyong. Matanya mengarah
kepada tumpukan batu. Benar-benar matanya tajam luar biasa. Ia melihat bayangan orang. Itulah bayangan Atang dan Acep yang sudah berusaha bersembunyi sebaik mungkin. Merasa kepergok, serentak mereka mengeluarkan senjatanya. Atang menggenggam sebuah birui dan Acep sebilah golok Sunda. Tidak sangsi lagi mereka berdiri dan bersiaga menunggu serangan lawan.
Pringga Aguna tetap berdiri tegak, la seorang yang berpengalaman dan cerdik. Melihat
munculnya dua orang lantas saja dia menduga-duga tempat persembunyian ketiga temannya yang lain. la tertawa perlahan. Jaga Saradenta yang mengenal kehebatan penciumannya langsung
dapat menduga kalau iblis itu telah mengetahui tempat persembunyian musuh-musuhnya.
Ia meloncat maju mendekati tumpukan batu. Kira-kira dua langkah dari tumpukan batu, ia
meloncat mundur dengan mendadak. Kesannya seolah-olah ia sayang kepada kedua musuhnya
kalau mati terlalu cepat Atang ternyata seorang yang mudah tersinggung, karena harga dirinya terlalu tinggi. Begitu menduga kehendak lawan, lantas saja ia menerjang sambil mengayunkan bindinya.
Pringga Aguna tahu diserang lawan. Ia nampak tenang saja dan bersikap tak peduli. Serangan bindi lawannya tak dielakkan. Bahkan tangannya memapak dan didorongkan tajam. Hebat
akibatnya. Atang merasakan suatu dorongan tenaga dahsyat sampai ia terhuyung mundur dua
langkah. Pringga Aguna tak membiarkan Atang lolos dari rencana rangsakannya. Sebat luar biasa ia
melompat ke udara dan mencengkeram pundak lawan. Atang sadar akan bahaya. Secepat kilat ia menjatuhkan diri ke tanah dan menyingkir bergulungan.
Acep yang berada tak jauh dari Atang buru-buru membantu. Dengan memutar golok Sundanya
ia menerjang. Ia mengarah kepada cengkeraman Pringga Aguna.
Pringga Aguna kaget Terpaksa ia membatalkan cengkeramannya dan dengan cepat menangkis
golok Acep. Meskipun demikian dalam satu gerakan yang cepat ia masih juga berhasil melukai pundak Atang.
"Monyet! Kau siapa?" betaknya.
Acep tak mau melayani. Ia meludahi muka Pringga Aguna dan serangan goloknya makin
gencar. Atang yang teriolos dari bahaya dapat pula membantu. Meskipun pundaknya terasa nyeri, tenaganya tak kurang. Ia menggempur dari samping sambil memaki kalang-kabut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pringga Aguna benar-benar perkasa. Dengan tertawa panjang ia bergerak sangat gesit. Tanpa menolak ia menendang Atang. Tapi tendangannya membentur suatu benda panjang. Tatkala
menoleh ia melihat seorang berperawakan tegap memutar pedang panjang. Itulah si Hasan yang tadi bersembunyi di sebelah selatan. Pukulannya kuat dan serangannya menyambar arah kaki.
Terpaksalah Pringga Aguna meloncat ke udara dan membatalkan serangan kepada kedua
musuhnya. "Ah! Kalian teman latihan cukup tangguh." Serunya nyaring sambil tertawa panjang.
la turun ke tanah dan mengulangi serangannya, la menyerang Atang dan Acep sekaligus,
sedang kakinya tetap melayani pedang panjang si Hasan. Serangannya cepat dan aneh. Ketiga orang lawannya tak dapat menduga-duga.
Dua orang lain yang berperawakan agak kegemuk-gemukan muncul ke gelanggang. Mereka
membawa senjata keris dan pedang pendek. Itulah Kosim dan Memet pendekar dari
Rangkasbitung dan Pandeglang. Mereka berdua lantas saja menyerang rapat Gerakannya gesit dan berbahaya.
Pringga Aguna mundur selangkah. Rasanya yang peka lantas saja tahu, kalau dirinya berada dalam kepungan. Dihitung berjumlah lima orang. Hatinya kini lega, karena tak usah takut
menghadapi serangan gelap. Lantas saja ia memusatkan tenaganya.
Mereka berjumlah lima orang. Baiklah kugempur yang dua dahulu, pikirnya. Berpikir demikian, tubuhnya berkelebat Tangannya menggempur bindi Ateng. Tetapi Hasan mencegat serangannya
dengan pedang panjang. Suatu perbenturan tak dapat dihindarkan lagi. Tangannya tergetar, sedangkan pedang Hasan hampir terpental dari genggamannya. Diam-diam ia kaget Rkirnya, eh, ternyata mereka cukup tangguh. Aku tak boleh main-main.
Kini ia berpaling ke Hasan. la merangsak, tetapi ke empat lawannya yang lain merangsak pula.
Permainan senjata mereka lumayan. Mereka bahkan mahir memainkan senjatanya masing-masing.
Secepat kilat ia menyambar Kosim yang bersenjatakan sebilah keris.
Memet melihat sahabatnya berada dalam bahaya. Dengan senjata pedang pendek ia menetak
pergelangan tangan Pringga Aguna. Tetapi Pringga Aguna tak mempedulikan serangan itu.
Dengan membalikkan tangan ia memapak pedang pendek Memet. Agaknya dia tak takut melawan
tajamnya senjata. Kosim terkejut bukan main. Buru-buru ia mundur selangkah. Tetapi Pringga Aguna tak mem-
biarkannya membebaskan diri. Tangannya yang menyambar tadi terus ditusukkan. Gerakannya
kuat sampai menimbulkan ke siur angin. '
Terdengar kemudian suara meretak. Pedang pendek Memet tepat mengenai sasaran. Begitu
juga bindi Atang bersamaan menggempur pundak. Tapi Pringga Aguna tetap berdiri tegak, la tak menggubris. Serangannya tak dihentikan. Keruan saja Memet dan Atang terkejut
Dia bukan manusia! pikir Memet.
Pedang pendeknya adalah pedang pusaka. Biasanya barang siapa kena terpegas pasti tak
ampun lagi akan terkupas kulit dagingnya. Tapi dia nyaris bersorak karena gembira. Tak tahu dia menumbuk batu.
Sekarang nasib Kosim tinggal tergantung pada selembar rambut. Ia tak dapat lagi membela diri maupun mengelakkan serangannya. Sebilah kerisnya cepat-cepat dilintangkan ke dada. Ujungnya dihadapkan ke depan, siap ditusukkan ke perut lawan.
Mendadak selagi ia berputus asa berkelebatan sesosok bayangan. Bayangan itu kuat luar biasa.
Ia membawa sebuah cempuling dan menggempur dada Pringga Aguna. Itulah Jaga Saradenta.
Akibatnya fatal. Pringga Aguna yang sedang memusatkan perhatiannya kepada dada Kosim tergempur dadanya
sehingga terpental mundur dua langkah. Cepat ia mendorong dengan sekuat tenaga dan Jaga
Saradenta tergetar mundur lima langkah. Sudah pasti kalau tenaga mereka dapat terukur sepintas lalu. Tenaga Jaga Saradenta masih juga kalah seurat. Tetapi munculnya musuhnya yang keenam itu mengejutkan hati Pringga Aguna. Diam-diam dia berpikir, malam ini mengapa aku bertemu dengan orang seperkasa dia"
"Hai monyet, siapa kau?" bentaknya.
Jaga Saradenta berdiri tegak di tanah. Raut mukanya angker dan berkesan bengis. Dengan
menggeram dia menyahut, "Kamu masih ingat dengan Jumirah, anak Kyai Haji Lukman Hakim?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pringga Aguna tercengang. Kemudian tertawa panjang.
"Hauhooo ... bocah! Jadi kau belum mampus" Nyawamu rangkap tujuh, ya."
"Bagus! Kau masih ingat bagaimana kau menghajarku. Kekasihku kau bunuh lagi. Untung, Kyai Haji Lukman Hakim berhasil menolong lukaku. Tapi aku berjanji, selama hayat masih dikandung badan..."
"Kau mau menuntut balas?" potong Pringga Aguna dengan tertawa riuh.
"Tak salah," sahut Jaga Saradenta cepat. "Selama kamu belum mampus, tak sudi aku hidup


Bende Mataram Karya Herman Pratikto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bersama dalam dunia ini."
Pringga Aguna tertawa tinggi. Dan karena percakapan itu, pertempuran berhenti dengan
sendirinya. Masing-masing mempersiapkan senjata dan berniat hendak menyelesaikan
pertarungan secepat mungkin. Kelima orang dari Jawa Barat saling memberi isyarat. Mereka mendengarkan percakapan itu dengan penuh perhatian tetapi tetap waspada.
"Kamu datang dengan lima cecurut itu, apa mereka kawanmu?" tanya Pringga Aguna.
"Kamipun senasib dengan dia," sahut kelima orang dari Jawa Barat dengan serempak.
"Kembalikan gadis kami."
"Ah!" potong Pringga Aguna. "Apa modal kalian mau menunut dendam" Kalian bosan hidup!"
Mendadak datanglah kesiur angin. Kelima bersaudara itu lantas meloncat mundur berpencaran.
Pringga Aguna ternyata telah mulai menyerang dengan tiba-tiba. Untung, mereka cukup waspada.
Dan pertarungan terjadi lagi lebih dahsyat "
Kali ini Pringga Aguna tak berani berlaku ayal-ayalan. Dia bertempur bagaikan seekor singa.
Dua kali cempuling Jaga Saradenta menghantam pinggangnya. Tetapi Pringga Aguna tetap tak bergeming. Bahkan dia nampak kian lama kian gagah. Menyaksikan itu, diam-diam mereka
mengeluh dan seluruh tubuhnya meremang. Meskipun demikian, mereka membiarkan dirinya
terpengaruh oleh kekebalan Pringga Aguna. Sadar akan bahaya, mereka berkelahi kian sengit.
Ketika itu, Pringga Aguna memusatkan perhatiannya kepada Jaga Saradenta. Diantara keenam lawannya. Dialah yang paling tangguh. Kesiur cempulingnya menerbitkan angin. Sekalipun
tubuhnya tak mempan, tetapi jika mengenai kepala bisa berbahaya. Karena itu ia melindungi kepalanya rapat-rapat
Mendadak saja ia melihat sesosok bayangan berkelebat di udara. Ia heran sampai terhenyak beberapa detik. Ia baru sadar tatkala bayangan itu meniup dan langsung menikam tengkuknya.
Buru-buru ia mengendapkan diri dan meloncat mundur.
"Hai siapa kau?" teriaknya. Hatinya gentar juga melihat musuh-musuh yang tak terduga.
"Hm..." dengus Wirapati. la mengulangi setangannya sangat gesit dan tangguh.
"Hai! Jangan kau mati tanpa nama," damprat Pringga Aguna. la sadar, kalau sepak-terjangnya selama ini pasti akan menimbulkan suatu keonaran. Musuh-musuhnya sangat banyak, muncul satu per satu seperti cendawan di musim hujan. Tetapi sama sekali tak diduganya, kalau di antara mereka ternyata ada juga yang gagah perkasa.
"Aku Wirapati."
"Wirapati?" Pringga Aguna mengingat-ingat Ia merasa tak mempunyai musuh bernama
Wirapati. "Aku murid Kyai Kesambi Sejiwan Gunung Damar Kalinongko."
"Ah!" ia terperanjat. "Murid Kyai Kasan?" Diam-diam ia berpikir, apakah orang tua itu ada pula di sekitar lapangan ini?"
Ia sangsi. Masa Kyai Kasan merantau sampai memasuki kota Jakarta. Tapi itu bisa terjadi.
Hatinya jadi gelisah. Karena gelisah, kehebatannya kendor. Wirapati mempergunakan kesempatan itu. Sebat luar biasa ia menghujani serangan beruntun. Jaga Saradenta dan kelima bersaudara merangsak pula dengan berbareng.
Diserang demikian, jantung Pringga Aguna berkebat-kebit juga. Ia mundur jumpalitan sambil menangkis serabutan. Memang ia seorang gagah pada jaman itu. Gerak-geriknya cekatan dan
tepat Semua serangan dapat dipunahkan dengan sekaligus.
"Wirapati!" Pringga Aguna berteriak minta keyakinan. "Apa gurumu ada di sini?"
"Kalau iya, apa pedulimu," sahut Wirapati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah!" Pringga Aguna tercengang. Kemudian tertawa riuh, karena telah mendapat kepastian, la dapat menebak kalau Kyai Kasan Kesambi yang disegani tidak berada di sekitarnya. Mendapat kepastian begitu lantas saja dia melabrak maju.
Wirapati dan Jaga Saradenta maju berendeng. Mereka mencoba menangkis sambil mencoba-
coba kekuatan musuh. Tetapi kelima bersaudara tak mau tinggal diam. Mereka bergerak berputar-putar dan merupakan suatu kerjasama yang rapih.
Dikerubut demikian rapi, timbullah amarah Pringga Aguna. Ia memperhebat rangsakannya.
Kelima bersaudara didesaknya ke pinggir. Tetapi Wirapati dan Jaga Saradenta bukanlah musuh-musuh yang ringan. Kedua orang itu memiliki ilmu jauh lebih tinggi daripada kelima orang bersaudara. Begitu mereka berdua mendapat peluang, lantas saja mengggempur bersama. Jaga Saradenta mengemplangkan cempuling-tiya mengarah muka, sedang Wirapati menyodok perut
bagian bawah. Inilah bahaya.
Cepat-cepat Pringga Aguna bergerak mundur, tetapi Wirapati lebih cepat Serangannya berubah.
Ia meloncat mencegat gerakan mundur dan mengemplang tengkuk.
Pringga Aguna terperanjat la membungkuk, tapi justru membungkuk cempuling Jaga Saradenta mencengkeram mukanya. Pringga Aguna merasa kesakitan sampai menjerit tinggi. Pringga Aguna bertambah gusar dan mengumbar marahnya. Tanpa menghiraukan rasa sakit lagi ia menubruk
Jaga Saradenta. Untung Jaga Saradenta sempat melompat ke samping, sedangkan Wirapati mundur tiga
langkah. Celakalah nasib kelima bersaudara. Mereka tak sempat mengelak, karena waktu itu baru feergerak maju, tak ampun lagi mereka terpaksa berbenturan mengadu tenaga. Bagaimana
mereka sanggup melawan tenaga Pringga Aguna. Begitu mereka kena gempur, tubuhnya terpental di udara dan jatuh ke tanah seperti layang-layang putus. Tiga orang di antara mereka luka parah.
Pringga Aguna jadi kalap, la melejit ketiga musuhnya yang jatuh terkapar di tanah. Tetapi Jaga Saradenta dan Wirapati tak membiarkan ia berbuat semaunya sendiri. Dengan berendeng mereka berdua mencegat dan melancarkan serangan kilat berantai. Keruan saja Pringga Aguna kelabakan.
Meskipun begitu dia tidak gugup. Tenang-tenang ia memunahkan serangan kedua orang itu.
Pada saat itu jumlah kelima bersaudara tinggal dua orang yang masih dapat bergerak dengan leluasa. Atang dan Hasan. Menyaksikan ketiga kawannya menggeletak setengah hidup, mereka jadi penasaran. Mereka nekad. Tanpa menghiraukan keselamatan nyawanya, lantas saja mereka menyerbu hendak mengadu nyawa.
Meskipun Pringga Aguna seorang tokoh kenamaan tetapi menghadapi orang sedang kalap,
repot juga. Apalagi selain mereka masih ada dua orang musuhnya yang tak bisa di anggap enteng.
Jaga Saradenta cukup bertenaga, sedangkan kecekatan Wirapati mengagumkan hatinya.
Teringatlah dia pada Kyai Kasan Kesambi empat puluh tahun yang lalu.
Ah, benar-benar bukan nama kosong Kyai Kesambi Sejiwan. Dia dapat mewariskan
kehebatannya kepada muridnya, pikirnya diam-diam.
Mendadak di tengah lapangan terjadi suatu peristiwa di luar dugaan. Dari sebelah utara
nampaklah bayangan seorang pemuda tanggung berlari-lari cepat
Wirapati menoleh. Segera dia mengenali Sangaji yang benar datang. Mestinya dia girang, tapi mengingat bringasnya Pringga Aguna dia jadi cemas. Karena rasa cemasnya, ia berteriak,"Bocah!
Mnggir dulu!" "Siapa?" tanya Jaga Saradenta.
"Sangaji," sahut Wirapati dengan suara gemetar.
Mendengar disebutnya nama Sangaji, Jaga Saradenta terperanjat sampai berdiri tertegun.
Sebaliknya Pringga Aguna orangnya cerdik. Lantas saja dia dapat menduga. Cepat ia mundur jumpalitan. Kini ia mencegat larinya Sangaji dengan gesit.
Wirapati gugup bukan main. Cepat ia menjejak tanah dan melesat menyusul. Jaga Saradenta
tak mau kalah sebat. Dengan sepenuh tenaga ia mencoba menjambret lengan Pringga Aguna.
Tapi luput, la kalah hebat.
Atang dan Hasan ikut memburu. Mereka sadar akan bahaya yang bakal terjadi. Kalau si iblis mau jahat, dia dapat mencekik leher si anak dengan sekali sambar. Apakah dia lantas menghisap darahnya, itu tergantung nasib si bocah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sangaji mendengar teriakan orang yang dikagumi, la menjerit kegirangan, lantas berseru
nyaring. Sama sekali tak tahu, kalau ia sedang menghadapi bahaya. Cuma ia melihat beberapa orang melesat berkelebatan. Semuanya mengarah kepadanya seolah-olah datang menyambutnya.
Ia berhenti terhenyak. Hatinya heran menebak-nebak. Pikirnya, tadi cuma dia seorang. Mengapa sekarang banyak"
Jaga Saradenta yang kalah cepat agak jauh tertinggal di belakang. Sambil melesat memburu ia mulai menduga-duga. Sangaji, pikirnya. Apakah bocah yang dicarinya selama ini" Mengapa
Wirapati baru bilang sekarang"
la lupa. Semenjak berjumpa dengan Wirapati petang tadi, perhatiannya terpusat kepada kedua iblis musuhnya turun-temurun. Wirapati tak diberinya kesempatan menceritakan pengalamannya.
Pada saat itu Pringga Aguna telah berada tiga langkah di depan Sangaji. Wirapati gugup. Cepat ia berseru nyaring, "Minggir!"
la kaget mendengar seruannya sendiri. Ya" bagaimana si bocah bisa mengerti tentang bahaya yang mengancam dirinya dengan seruan peringatan sependek itu. Sadar akan hal ini, ia menjejak tanah dan mengerahkan tenaga kegesitannya yang penghabisan.
Pringga Aguna telah berhasil menyambar lengan Sangaji. Tetapi begitu ia berhasil menyambar lengan, mendadak terasa enteng. Ia heran sampai terhenyak. Ternyata si bocah kena rampas Wirapati yang dapat bergerak begitu gesit. Hatinya penasaran. Ia menjejak tanah dan melejit.
Wirapati sedang mengempit Sangaji. Sudah barang tentu kecepatannya berkurang. Ia kena
pukulan Pringga Aguna. Tak ampun lagi ia jatuh terjungkal di tanah.
Serangan Pringga Aguna tidak berhenti sampai di situ. la melontarkan pukulan maut. Wirapati masih dapat menguasai kesadarannya. Ia bergulingan sambil melemparkan Sangaji ke samping.
Setelah itu ia memaksa diri untuk berdiri tegak. Tetapi matanya berkunang-kunang. Alam seakanakan bergerak berputar di aepannya.
Untung, waktu itu Jaga Saradenta telah sampai di tempatnya. Orang tua itu tak memikirkan bahaya lagi. Ia melompat dan merangkul kaki Pntigga Aguna, sehingga iblis jatuh bergulingan di tanah. Tetapi Pringga Aguna benar-benar searang yang gagah. Sadar akan bahaya ia menendang sambil melontarkan rangkulan Jaga Saradenta. Hebat tenaganya. Jaga Saradenta kena dilontarkan dan terbang tinggi di udara.
Setelah terlepas dari rangkulan Jaga Saradenta, Pringga Aguna berdiri tegak, la mengulangi serangannya. Justru waktu itu Hasan dan Atang tiba. Kedua orang itu gagah berani. Tanpa
menghiraukan bahaya, senjata mereka dilin-tangkan. Kemudian dengan berbareng mereka
mengadu tenaga. Pringga Aguna tak memandang sebelah mata. Tanpa menghiraukan serangan mereka, dia
meneruskan serangannya. Wirapati terkejut. Buru-buru ia mengatur napas sambil mengelak ke samping. Terdengar kemudian suara gemeretak. Ternyata pedang panjang Hasan patah menjadi dua. Sedang bindi Atang melesat ke samping.
Sekarang terjadilah suatu keajaiban. Sangaji yang
dilemparkan Wirapati ke samping mendadak saja tergugah
kesadarannya. Sepintas lalu tahulah dia, kalau orang yang
dikagumi sedang menolong dirinya dari bahaya. Orang itu
ternyata tak menghiraukan keselamatannya. Diam-diam ia
memuji dan berterima kasih padanya. Kemudian dilihatnya
pula tampang musuh orang yang dikagumi. Bulu romanya
menggeridik. Tanpa disadari sendiri tangannya meraba
pinggang. Mencabut pistolnya. Segera ia mengisi pistol itu
dan bersiaga mencari kesempatan.
Waktu itu Pringga Aguna sedang menghajar Hasan dan
Atang. Begitu ia berhasil mematahkan pedang si Hasan,
tangannya lantas saja menerkam dada lawan. Hasan kena
dijambret dan dilontarkan ke udara. Selagi tubuhnya
melayang-layang, ia menggempur dengan sekuat tenaga.
Atang dan Wirapati tak keburu memberi pertolongan.
Tidak berdaya mereka menyaksikan tubuh Hasan pecah berantakan sampai isi perut keluar dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lontak ke tanah. Sangaji terkejut melihat kekejaman itu. Mendadak saja timbullah rasa amarahnya.
Lantas saja ia menyerbu merangkul lutut Pringga Aguna. Keruan saja Pringga Aguna terkejut.
Wirapati tak terkecuali sampai dia memekik hebat. Jaga Saradenta yang sudah dapat menguasai meloncat menyerbu. Atang yang melihat tawannya ditewaskan begitu rupa, tak menghiraukan
bahaya lagi. la menubruk pula dengan membabi buta.
Mendadak terdengarlah suatu letusan nyaring dari tubuh Pringga Aguna jatuh terkulai tanpa suara. Ternyata tanpa sengaja jari-jari Sangaji menarik pelatuk pistol, karena gerak perenggutan Pringga Aguna. Inilah kejadian di luar perhitungan manusia wajar. Pringga Aguna yang sudah malang melintang ke seluruh penjuru pulau Jawa selama lima puluh tahun lebih, akhirnya mati di tangan bocah berumur empat belas tahun. Siapa dapat menduga!
Atang sudah jadi kalap. Melihat musuhnya terkulai lantas saja menerkam lehernya,
kebenciannya kepada si iblis sudah begitu memuncak sampai ia memekik-mekik tinggi sambil meremas lehernya. Kemudian menggigitnya dan merobek-robek kulit dagingnya. Setelah itu ia menangis meraung-raung.
Wirapati menghampiri Sangaji dan dengan penuhi perasaan mengelus-elus gundulnya. Jaga
Saradenta merenungi. Napasnya masih tersengal. Pandangnya beralih dari mayat Pringga ke
Sangaji, kemudian ke Wirapati dan Pringga lagi. Beberapa saat kemudian dia berkata perlahan kepada Wirapati, "Sangaji nama anak anak ini?"
Wirapati mengangguk. "Apakah bocah yang selama ini kita cari?" Wirapati mengangguk.
"Pertemuan aneh." Jaga Saradenta mengesankan diri sendiri. Berkata lagi, "Bagaimana dia
datang ke mari dan membawa-bawa pistol?"
"Sore tadi kita sudah berjanji. Dan mengapa ia membawa pistol perlahan-lahan kau akan tahu.
Dia dipungut sebagai anak-angkat seorang kompeni Belanda."
Jaga Saradenta termenung-menung mendegar keterangan Wirapati. Mendadak Sangaji berkata
nyaring, "Tak sengaja aku menembaknya. Aku direnggutkan. Jari-jariku menarik pelatuk." Wirapati memeluk gundulnya sambil berbisik, "Sama sekali kau tak bersalah. Kaupun bukan pembunuh.
Pelatuk pistol kautarik dengan tak sengaja."
"Meskipun disengaja, kita berdua patut menyatakan terima kasih padamu," potong Jaga
Saradenta. "Wirapati...! Anak ini sudah membayar pajak kepada kita berdua."
Sangaji jadi kebingungan mendengar pembicaraan mereka berdua, la menyiratkan pandang
penuh pertanyaan. "Sangaji! Malam ini kamu benar-benar datang menepati janji. Kamu ingin berguru kepadaku!
bukan?" kata Wirapati.
Sangaji mengangguk. "Bagus! Mulai sekarang kau harus patuh kepada setiap patah kata gurumu. Aku bernama
Wirapati. Dan ini, Jaga Saradenta. Diapun gurumu, sama seperti aku. Kamu mengerti?"
Kembali Sangaji mengangguk.
Setelah berkata demikian Wirapati kemudi menghampiri Atang. Perlahan-lahan ia memegang
pundaknya. "Sekalipun kau robek-robek hancur berserakan, diapun tak merasa apa-apa. Lebih baik
kaurawatlah jenazah sahabatmu. Dan mayat iblis itu biarkan menggeletak di sini. Apa peduli kita"
katanya berpengaruh. Dengan berdiam diri Atang menghampiri janazah Hasan yang telah rusak. Sementara itu, Jaga Saradenta datang berturut-turut memondong Memet, Kosim dan Acep yang luka parah. "Saudara!"
katanya, "iblis ini masih mempunya seorang kakak. Pringgasakti namanya, alias si Abu, lebih baik kalian pergi menjauh. Apalagi kalian luka parah. Kereta berkuda dapat pergunakan. Pergilah sekarang sebelum
Mereka sadar akan bahaya. Tanpa membantah sepatah katapun juga mereka mengangguk
bersama. Hampir berbareng mereka berbisik "Terima kasih."
"Terima kasih" Mengapa berterimakasih kepadaku?" sahut Jaga Saradenta cepat, "Kami berdua berterimakasih juga kepada kalian. Seandai-kalian tidak membantu kami, sudah siang-siang tadi kami mampus."
Mereka sedang luka parah, mana sanggup berbicara terlalu panjang. Mereka kemudian
Melemparkan pandang ke Atang yang masih merenungi jenazah Hasan. Tak terasa air mata Jaga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Saradenta mendekati Atang. "Hatiku ikut juga berduka. Tetapi dia mati secara jantan.
Pengorbanannya tidak sia-sia. Apakah masih ada waktu-mengubur dia?"
Atang yang mudah tersinggung menegakkan kepala. "Apa maksudmu?"
"Aku khawatir kalian tidak ada waktu lagi mengubur dia. Seandainya iblis datang..."
"Akan kami bawa jenazahnya."
"Pikiran yang bagus," potong Jaga Saradenta. "Apalagi jika kalian bisa menyerahkan jenazah Hasan kepada keluarganya. Tetapi pertimbangkan dulu soal ini. Membawa-bawa jenazah yang
begitu ri... Apa tidak menyulitkan keselamatan kalian?" Ujar Jaga Saradenta meskipun menusuk perasaan, tapi ada benarnya. Di antara empat orang, tiga orang luka parah. Kini akan membawa-bawa jenazah pula. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya jika tiba-tiba kepergok sesuatu bahaya.
"Lantas?" ia minta pertimbangan.
"Sebentar atau lama si iblis Pringgasakti pasti datang ke mari. Kalau dia melihat jenazah Hasan di samping mayat adiknya pastilah mengira mereka berdua mati berbareng. Keselamatan kalian bisa dijamin," kata Jaga Saradenta. Kemudian dia menghampiri Wirapati dan mengisyarati agar cepat-cepat meninggalkan lapangan.
Atang dapat berpikir cepat. Ia menoleh kepada saudara-saudara angkatnya. Mereka tak berkata sepatah katapun. Maka ia berkata memutuskan. "Terima kasih. Saranmu kami terima."
Sehabis berkata demikian ia menunduk. Kemudian menangis terisak-isak.... Jaga Saradenta
tahu kedukaannya. Tetapi ia tak mau berpikir lama-lama. Dengan memberi isyarat kepada
Wirapati ia menghampiri ketiga orang yang sedang luka parah, lalu memapahnya seorang.
Wirapati segera memapah si Acep. Dan Atang memapah si Kosim.
Mereka dimasukkan ke dalam kereta. Atang meloncat ke depan dan dengan membisu menarik
kendali. Waktu itu bulan benar-benar bersiar terang. Sinarnya mulai merata. Perlahan-lahan kuda-kuda penarik mulai berderapan. Atang melemparkan pandang ke tengah lapangan. Ketiga saudara angkatnya pun tak terkecuali. Dengan tertatih-tatih mereka mencongakkan diri jendela kereta.
Kesenyapan mulai bercerita di tengah lapang. Tidak ada lagi suara senjata beradu. Tidak
terdengar suara napas bersengal-sengal. Tidak ada lagi nampak berkelebatnya seorang
manusiapun. Yang ada hanya dua mayat yang menggeletak tak terurus di atas tanah"mayat si Hasam dan si iblis Pringga Aguna.
*** 8 SONNY SI GADIS INDO DENGAN berdiam diri pula Jaga Saradenta membimbing tangan Sangaji di samping Wirapati.
Kesan pertempuran tadi masih saja meriuh dalam otaknya. Hatinya bisa menduga apa yang bakal dilakukan Pringgasakti ketika melihat adiknya mampus begitu terhina di tengah lapangan.
"Iblis itu benar-benar kebal dari semua senjata tajam. Tapi kekebalannya tak kuasa
mempertahankan diri dari letupan pistol. Jika begitu, boleh juga kita belajar menembak," katanya perlahan.
Wirapati adalah murid keempat Kyai Kasan Kesambi yang diajar membenci senjata bidikan.
Begitu mendengar ujar Jaga Saradenta lantas saja menyahut. "Bukan karena mesiu pistol dia mampus, tetapi karena kebetulan tepat mengenai lubang kelemahannya."
"Bagaimana kautahu?"
"Pertama-tama kulihat dia selalu melindungi kepalanya rapat-rapat dari gempuran
cempulingmu. Seandainya dia benar-benar kebal, apa perlu berlaku begitu" Kedua, tembakan pistol Sangaji tepat mengenai pusatnya. Memang semendjak kau memasuki gelanggang sudah
terpikir olehku tentang tempat-tempat kelemahannya. Cuma saja aku belum berhasil
menemukan." Jaga Saradenta tercengang.
"Eh, Wirapati! Dalam soal kecerdasan otakmu jauh lebih encer daripadaku. Coba terangkan
kenapa kamu mendapat kesan begitu." Katanya dengan suara meninggi.
"Karena aku tak percaya manusia bisa sekebal itu. Dalam cerita-cerita kuno tak pernah
dikisahkan tentang riwayat kekebalan seseorang yang bebas dari semua senjata. Dia mempunyai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keistimewaan hebat. Menghisap darah untuk meyakinkan ilmunya. Justru cerita itu mendadak saja berkelebatlah suatu bayangan di dalam benakku."
"Apa itu?" Jaga Saradenta tertarik. "Apa kau dapat ilham dari pekerti gurumu ketika tiba-tiba mendatangkan gadis-gadis untuk mengacaukan perhatian si iblis?"
"Itupun termasuk bahan keyakinanku," jawab Wirapati. "Tetapi aku teringat pada kisah Guntur Wiyono."
"Apa itu Guntur Wiyono?"
"Bagian kisah dari Arjuna-Wiwaha. Guntur Wiyono dimaksudkan adu kesaktian5). Yakni perang tanding antara Arjuna dengan raja raksasa Niwatakawaca. Seperti kau ketahui Niwatakawa-ca adalah raja raksasa yang mendapatkan kesaktian dari Hyang Rudra. Meskipun demikian ada
kelemahannya. Tempat kelemahannya ada pada ujung lidahnya. Kelemahan ini tak dapat
diketahui para dewa. Bahkan Hyang Manikmaya sendiripun tak kuasa menandingi. Hanya Arjuna bernasib baik. Dengan pertolongan bidadari Supraba diketahuilah tentang kelemahannya. Maka dalam pertempuran itu sengaja ia menjatuhkan diri berpura-pura gugur. Raksasa Niwatakawaca tertawa terbahak-bahak karena merasa menang perang. Justru karena kelalaian yang sedikit itu terbidiklah panah Arjuna tepat mengenai ujung lidahnya."
Mendengar keterangan Wirapati yang menarik hati itu Jaga Saradenta kegirangan sampai berjingkrak. Hatinya bangga mempunyai seorang kawan yang begitu mengenal sastra. Tak terasa ia berkata, "Bagus! Bagus! Jadi karena kisah kuno itu kamu mendapat ilham" Ah! Kecerdasanmu tak berada di bawah gurumu! Pantas kamu tadi terjungkal kena serangan Pringga Aguna. Kamu pura-pura mampus ya seperti Arjuna?"
"Ih!" Wirapati tertawa geli. "Aku bukan Arjuna."
"Lantas?" "Aku benar-benar terjungkal karena perhatianku terpusat pada Sangaji."
Jaga Saradenta diam menebak-nebak. Berkata pelahan, "Bagaimanapun juga, kamu hebat!
Seandainya aku mempunyai pikiran demikian pastilah aku bisa berkelahi lebih mantap. Dasar otakku tumpul!"
Wirapati tertawa nyaring.
"Kau jangan terburu-buru memujiku! Selama pertempuran tadi belum kutemukan tempat ke-
lemahannya. Barangkali kalau Sangaji tidak kebetulan menembak tempat kelemahannya, belum tentu dalam sepuluh hari aku berhasil mengetahuinya."
Selama mereka berbicara, Sangaji tetap membisu. Hatinya sedang menduga-duga tentang
peristiwa perkelahian tadi. Ia mendapat kesan tentang hebatnya pertempuran, tetapi latar belakang terjadinya pertempuran masih samar-samar baginya. Untuk minta penjelasan, rasanya kurang sopan.
"Sangaji!" kata Jaga Saradenta tiba-tiba. "Berbahagialah kamu, karena mendapat guru
sepandai Wirapati. Aku sudah begini tua. Tetapi dengan kejadian tadi, aku yakin kamu seorang anak yang mempunyai rejeki besar. Kautahu, musuh gurumu sudah malang-melintang selama 50
tahun lebih tanpa lawan. Akhirnya dengan tak sengaja, kamu berhasil menumbangkannya. Cuma saja aku berpesan kepadamu, janganlah kejadian malam ini kauceritakan kepada siapa pun juga.
Kamu mau berjanji?" Sangaji mengangguk.
Jaga Saradenta kemudian menerangkan tentang terjadinya pertempuran dan mengapa dia
dilarang bercerita kepada siapa pun juga. Sebab Pringga Aguna masih mempunyai seorang kakak bernama Pringgasakti yang lebih berbahaya. Setelah itu ia mengalihkan pembicaraan tentang terjadinya pertemuan antara Sangaji dan Wirapati.
"Munculnya si iblis sampai merenggutkan kewajibanku yang pertama," katanya menyesali diri sendiri. "Seumpama aku tadi mampus dalam tangan iblis sia-sialah perjalananmu ke daerah
Barat." Wirapati segera menceritakan tentang pertemuannya dengan Sangaji. Setelah itu ia berkata,
"Besok, keempat musuhmu yang memukulmu datang ke lapangan. Kamu akan dihajarnya kembali.
Melawan mereka bukan pekerjaan berat. Malam ini kuajarkan kau tiga jurus. Tetapi kamu kularang mendekati lapangan selama setengah bulan, sampai peristiwa pembunuhan Pringga Aguna
mereda." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sangaji mengerti maksud gurunya. Ia mengangguk kembali dan berjanji akan taat pada pesan itu. Kemudian ia dibawa ke pantai untuk menerima tiga jurus ilmu berkelahi.
"Sekarang, ayo berlatih!" perintah Wirapati.
Tiba-tiba saja ia mengkait kaki Sangaji dan ditarik cepat. Tak ampun lagi, Sangaji jatuh tengkurap.
"Ah!" bentak Jaga Saradenta. "Bakatmu terlalu miskin!"
Nada suara Jaga Saradenta terdengar sangat kecewa. Ia memang berwatak terburu nafsu dan
mudah dikecewakan oleh suatu kenyataan yang tak cocok dengan otaknya.
"Delapan tahun kami mencarimu. Masa kami kausuguhi suatu permainan lemah macam
perempuan" Berdiri dan berlatihlah sungguh-sungguh!"
Sangaji sebaliknya seorang anak yang mudah tersinggung. Dulu dia pernah membandel
terhadap hajaran Mayor de Groote semata-mata karena harga dirinya tersinggung. Sekarang ia didamprat demikian rupa. Karuan saja bangkitlah rasa harga dirinya. Dengan pandang murka ia berkata nyaring kepada Wirapati. "Mengapa sebelum aku siaga Guru mengkait kakiku?"
"Ini namanya adu kecekatan dan kepandaian," sahut Wirapati. "Hati dan otakmu harus bersatu sehingga dapat kauajak menduga-duga sebelum musuh bergerak."
Sangaji diam berpikir. Ternyata otaknya cerdas juga. Segera ia sadar dan mengerti.
"Baik"sekarang Guru boleh mencoba mengkait lagi."
Tetapi Wirapati tidak mengkait kaki. Sebaliknya ia menyerang dengan tinju kanan. Sangaji mengelak ke kiri, tetapi tangan kiri Wirapati justru memapaki dan menempel tepat di hidungnya.
Dan sebelum sadar apa yang harus dilakukan, tinju kiri Wirapati telah ditarik kembali.
Sangaji tercengang-cengang, tetapi hatinya mendadak jadi girang. Tadi sore dia hanya menjadi penonton belaka. Kini menjadi muridnya. Kalau pukulan-pukulan itu diajarkan kepadanya
bukankah dia akan menjadi pandai" Kemudian ia berseru, "Guru! Mengerti aku sekarang. Ternyata pukulan-pukulan tinju dan serangan-serangan kaki tak serupa dan dapat diatur bagus."
Tanpa meladeni seman muridnya Wirapati berjongkok. Tiba-tiba melompat menumbukkan
kepala ke pinggang Sangaji. Karena tumbukan itu Sangaji jatuh terguling ke tanah. Tapi sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah, tangan Jaga Saradenta telah menyambarnya dan diberdirikan.
"Nah pelajari dulu tiga jurus itu," kata Wirapati. "Kalau kau sungguh-sungguh berlatih, orang dewasapun tak gampang mengalahkanmu."
Sangaji girang bukan main. Segera ia sibuk dengan latihan-latihan. Jaga Saradenta membawa Wirapati agak menjauhi.
"Anak ini miskin bakatnya. Celaka, waktu kita tinggal sedikit." Katanya agak berbisik.
"Bukan miskin bakatnya, tetapi karena sama sekali belum mengenal ilmu berkelahi," Wirapati mempertahankan. "Aku menaruh harapan padanya, selama kita bersabar memberi pengertian
lebih dahulu." "Memberi pengertian?"
"Kita pompakan semangat pembalasan dendam. Kedua, kita beri dongeng-dongeng orang-
orang gagah dan contoh-contoh. Ketiga, kita tilik terus-menerus dan kita ajak berlatih sungguhsungguh. Kukira dalam tiga empat tahun bisa kita lihat hasilnya."
"Menurutmu, pembunuh ayahnya sekarang ada di Jakarta. Mengapa tak kauperlihatkan
sekalian?" Wirapati tertawa perlahan. "Mestinya begitu. Tapi kamu bikin gara-gara."
"Kok aku?" "Coba, kalau tidak ada urusan iblis Pringga Aguna, kita bisa leluasa bergerak. Sekarang, mana berani kita mendekati gedung negara. Salah-salah bisa tercium penciuman Pringgasakti yang hebat. Bukankah kita tadi saling berbentur dan bersentuh" Menilik ceritamu, pasti ilmu penciuman Pringgasakti dapat mencium keringat adiknya."
Jaga Saradenta tergugu. Kata-kata Wirapati benar. Sadarlah dia, mulai saat itu ia berada dalam pengawasan lawan. Maka sebelum tengah malam ia mengajak meninggalkan pantai. Malam itu


Bende Mataram Karya Herman Pratikto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

juga ia ingin menyelidiki perkembangan peristiwa pembunuhan Pringga Aguna.
Sangaji diantarkan pulang. Sekali lagi ia berpesan agar jangan menceritakan kejadian yang dilihatnya tadi kepada siapa pun juga. Kemudian ditekankan pula agar pada setiap malam datang berlatih di tepi pantai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sangaji!" katanya lagi. "Aku bersikap keras terhadapmu. Memang adatku keras. Kalau kau
tidak sungguh-sungguh mau aku menggampar kepalamu. Tahu?"
Sangaji memanggut. "Malam ini biarlah kita berpisah di sini. Kalau semuanya sudah beres, kami berdua akan
menjumpai ibumu." Sehabis berkata demikian Jaga Saradenta menarik lengan Wirapati meninggalkan tangsi.
Diapun sebenarnya agak segan mengampiri tangsi. Tetapi Sangaji jadi tercengang. Kesannya kurang menyenangkan terhadap gurunya yang satu itu. Pikirnya, belum lagi dia mengajarku, galaknya seperti geledek. Hiiii..."
Sangaji mengawasi kepergiannya si guru galak sampai tubuhnya lenyap ditelan tirai malam.
Kemudian dengan kepala menunduk memasuki tangsi. Waktu itu sudah tengah malam. Penjaga di gardu menegor, "Begini malam baru datang. Dari mana?"
"Menengok Ibu sakit," jawabnya cepat.
Tiap penghuni tangsi mengetahui, kalau ibu Sangaji hidup di luar tangsi. Maka karena jawaban itu si serdadu tidak bertanya lagi.
*** JAGA SARADENTA membawa Wirapati kembali menjenguk lapangan. Sepanjang jalan Wirapati
mempersoalkan keadaan muridnya. Ia nampak girang dan sayang benar padanya. Selalu dia
memuji, "Otaknya cerdas dan agak licin. Coba ingat, saat dia sedang berlatih. Selain berkemauan keras, otaknya juga cerdas."
Tapi Jaga Saradenta malas meladeni. Pikirannya lagi terpusat pada mayat Pringga Aguna. Ia seperti mendapat firasat buruk. Dan benar juga.
Belum lagi ia sampai di pinggir lapangan, terdengarlah derap kuda di kejauhan.
Cepat ia meloncat ke pinggir jalan dan mendekam di balik pepohonan. Ia melihat sepasukan serdadu berkuda dengan membawa obor. Tak lama kemudian lapat-lapat terdengar bunyi kentung ritir.Tanda rajapati.
Sebentar saja pasukan berkuda itu lewat cepat dan memasuki lapangan. Suara aba-aba mulai terdengar. Lalu berpencaran dan berputaran.
"Hooo!" terdengar seru kepala pasukan.
Orang itu lantas melompat turun. Serdadu-serdadu yang lain berlompatan turun pula. Mereka mengerumuni sebidang tanah dengan meninggikan nyala obor. Tahulah Jaga Saradenta, mereka menemukan mayat Pringga Aguna dan Hasan.
Tetapi akhirnya Jaga Saradenta jadi keheran-heranan. Ternyata mereka hanya sibuk
menggotong mayat Hasan. Setelah itu mereka pergi berderapan meninggalkan lapangan.
"Wirapati! Yuk, kita periksa!" bisik Jaga Saradenta. Tanpa menunggu jawaban kawannya, lantas saja ia melesat memasuki lapangan. Benar-benar dia heran. Ternyata mayat iblis Pringga Aguna tidak ada bekasnya lagi.
"Wirapati, apa pendapatmu" Jelas-jelas dia sudah mampus dan mayatnya menggeletak di sini.
Kenapa sekarang hilang lenyap seperti ditelan bumi?"
"Apa kamu pernah mendengar kabar, kalau dia bisa hidup kembali sesudah terang-terangan
mampus?" sahut Wirapati dingin.
'Tidak! Mustahil dia bisa hidup kembali. Dulu dia pernah dilukai gurumu. Menurut ukuran
manusia dia bisa rontok tulang rusuknya. Ternyata dia hidup segar kembali, tetapi karena pertolongan guruku. Lagipula, waktu itu aku melihat dia bisa lari cepat. Lain halnya dengan malam ini. Napasnya sudah habis ludes. Masa dia bisa menyembunyikan napas?"
"Jika begitu mungkin dia tadi belum mampus. Mungkin pula kakaknya telah datang
menyingkirkan mayatnya."
"Kenapa kamu bisa berpikir begitu?"
"Iblis itu pasti mempunyai harga diri terlalu tinggi. Kalau orang sampai mendengar di antara mereka berdua ada yang mampus karena pertarungan, di manakah yang lain bisa
menyembunyikan namanya" Pringgasakti pasti berusaha menyembunyikan mayat Pringga Aguna
agar tak ketahuan orang. Setelah itu dia bersiap-siap menuntut dendam. Kebetulan sekali ia melihat mayat Hasan. Ia lapor kepada kompeni agar mereka datang menyelidiki. Dengan begitu ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bisa menggunakan tenaga kompeni dalam menyelidiki dan mencari jejak si pembunuh mayat si Hasan. la tinggal membuntuti dari belakang. Tahu-tahu menerkam kita."
Ih! Sungguh bahaya, hati Jaga Saradenta menjadi ciut. Sebaliknya Wirapati malahan tertawa geli menyaksikan perangainya.
"Mengapa tertawa?" Jaga Saradenta bersakit hati.
"Menurut katamu selama empat puluh tahun kau sibuk mencari si iblis. Sekarang dia bahkan akan mencarimu, mengapa mendadak jadi berubah sikap?"
"Bukan aku takut pada si iblis. Tapi dia bersembunyi di belakang kekuatan kompeni. Aku mau mati bertarung melawan dia. Sebaliknya tak rela aku mati di tiang gantungan kompeni. Di alam baka sukmaku akan berkeliaran penasaran."
"Janganlah berkecil hati. Aku akan menemanimu jadi setan liar." Wirapati tetap menggoda.
"Paling penting, sekarang kita mencari keyakinan dulu, apakah si iblis Pringga Aguna benar-benar sudah mampus. Sekiranya dia hidup kembali, kesulitan kita berlipat. Kita berdua tidak ada harapan lagi buat hidup aman merdeka di kota Jakarta ini."
Satu malam suntuk mereka berdua berusaha mencari mayat Pringga Aguna. Tetapi usahanya
sia-sia belaka. Makiumlah, selain malam hari mereka pun tidak punya pegangan. Meskipun
demikian sampai pagi hari mereka terus berputar-putar mengelilingi lapangan
Akhirnya, mereka duduk beristirahat di tepi pantai menghirup angin laut. Mereka diam. Masingmasing tenggelam dalam benaknya sendiri. Tak lama kemudian matahari benar- benar telah
tersembul di langit. Seperti telah berjanji, mereka saling memandang lalu saling memberi isyarat untuk meneruskan penyelidikannya. Mereka bangkit berdiri dengan berjalan berendeng. Kembali mereka mengarah ke lapangan, mendadak Wirapati melihat percikan darah. Tak jauh dari tempat itu dilihatnya sepotong lengan menggele-tak di dekat seonggok pasir. Cepat ia memberi isyarat dan dengan hati- hati menyapukan pandangannya.
"Kita jauhi tempat ini. Siapa tahu, ini hanyalah umpan!" bisik Wirapati agak gugup.
Mereka lalu meninggalkan tempat itu dengan jalan memutar. Di dekat sebatang pohon diketemukan pula sepotong kaki utuh dengan pipa celana. Jelas"itulah potongan celana Pringga Aguna.
Meskipun demikian mereka masih ragu juga. Mereka berjalan lagi. Kini membelok ke kiri mengarah petak-petak hutan. Di dekat gerumbulan mereka menemukan sepotong lambung. Sekarang
mereka yakin benar, kalau semua yang ditemukan adalah potongan-potongan tubuh Pringga
Aguna. Wirapati segera menarik lengan Jaga Saradenta untuk meninggalkan tempat itu secepat
mungkin. Mereka tak berani menggunakan ilmu berlari cepat, agar tidak menarik perhatian
seseorang. "Nah, apa pendapatmu?" Jaga Saradenta minta pertimbangan. "Siapa yang memotong mayat
Pringga Aguna" Binatang buas atau teman-teman dari Jawa Barat tadi?"
"Keduanya pasti tidak," jawab Wirapati cepat. "Apa perbuatan kakaknya?"
"Siapa lagi?" "Mengapa berbuat begitu?"
"Untuk menghilangkan jejak sambil menjebak si pembunuh adiknya."
"Apa menurut pendapatmu kita tadi sudah masuk perangkap?"-
"Kita lihat nanti." Jaga Saradenta menyelidiki kesan muka Wirapati. Sepertinya Wirapati
berbicara sungguh-sungguh. Karena kesan itu ia mulai berpikir keras. Seandainya kita telah diketahui, mengapa tak langsung menghadang" Wirapati mencoba menyangkal.
"Untuk membalaskan dendam adiknya, bukan pekerjaan sulit baginya. Kukira dia masih
menunggu bukti-bukti yang lebih yakin lagi. Jika tidak begitu, dia akan tetap berada di sekitar kita dan berusaha membunuh kita perlahan-lahan. Atau dia akan membuat jebakan-jebakan baru,
sehingga kita nanti mati sendiri karena ketakutan. Inilah cara mampus menanggung sengsara."
Jaga Saradenta mendongkol berbareng geli mendengar ujar Wirapati. Tetapi tak berani
menyangkal pendapat Wirapati. Diam-diam dia berpikir, iblis itu memang mempunyai cara dan akal sendiri untuk balas dendam. Baiklah mulai sekarang aku bersikap waspada dan hati-hati.
"Wirapati," katanya, "sebenarnya kita harus gembira dan bersyukur pada Tuhan, karena
akhirnya usaha kita mencari si bocah tidak sia-sia. Tetapi mendadak persoalan baru itu muncul tanpa kukehendaki sendiri. Apa kamu menyesali aku?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Musuhmu adalah musuhku," sahut Wirapati membesarkan hatinya. "Perkara si bocah jatuh
nomor dua. Seandainya nasib kita buruk, biarlah kita berdua mati di rantau. Tapi Tuhan menjadi saksi, kalau kita berdua telah menemukan si bocah. Marilah kita berlomba menjejali si bocah dengan ajaran-ajaran yang berdaya guna. Seandainya kita mati di tengah jalan, setidak-tidaknya si bocah pernah menjadi murid kita berdua."
"Wirapati! Tak kukira kamu berhati jantan seperti gurumu. Aku si orang tua takkan pernah menyesali lagi hidup di kolong langit ini," ujar Jaga Saradenta terharu.
*** Semenjak itu WIRAPATI dan JAGA SARADENTA tekun mewariskan ilmu-ilmunya kepada
Sangaji. Tempat berlatihnya di tepi pantai atau di tengah hutan yang sunyi dari manusia. Mereka berusaha menjauhi lapangan tempat berlatih menembak para serdadu. Dengan demikian, tanpa disengaja Sangaji menghindari ancaman kaki-tangan Mayor de Groote yang berjanji mau
menghajarnya sampai cacat.
Tetapi pada suatu hari Willem Erbefeld pulang ke rumah. Segera ia mendesak agar Sangaji
berlatih memahirkan menembak pistol. Dia merencanakan mau menurunkan ilmunya menembak
mahir dengan senapan. Terpaksalah Sangaji minta izin kedua gurunya untuk membagi waktu. Pada pagi hari dia
bersekolah berbahasa Belanda. Sore hari berlatih menembak dengan pistol. Dan pada malam hari menghadang kedua gurunya di tepi pantai atau tempat-tempat pertemuan yang telah ditentukan.
Rukmini telah mengetahui tentang adanya Wirapati dan Jaga Saradenta. Pernah dia bertemu, berbicara dan berunding. Untuk mata-pen-caharian hidup, Rukmini sanggup memikulnya dengan berjualan. Jaga Saradenta masih mempunyai sisa bekal hidup. Meskipun tidak berjumlah banyak, cukuplah buat modal pengukir waktu.
Syahdan,"pada suatu sore tatkala Sangaji sedang sibuk berlatih menembak pistol, datanglah seorang gadis tanggung. Dialah si Sonny, gadis Indo yang pernah dikenal Wirapati sewaktu rombongan utusan dari Yogyakarta datang ke Jakarta.
"Hai!" tegurnya. "Sejak kapan kau berlatih menembak?" Sangaji tak berprasangka buruk
padanya. Memang pada saat tertentu banyak kanak-kanak tanggung datang menonton dan
mengagumi. Hanya saja ia heran mendapat kesan pandangan si gadis.
Sonny ternyata seorang gadis tanggung yang sedang mekar. Gerak-geriknya setengah
kekanak-kanakan, setengah pula menggairahkan, la lincah dan berhati polos seperti adat seorang keturunan orang barat. Belum lagi Sangaji menjawab tegurnya, ia lantas menghampiri.
"Ini pistolmu?" tanyanya lagi. Sangaji menggelengkan kepala. "Kau mencuri?"
"Mencuri?" Sangaji merasa tersinggung. "Ini pistol kakakku."
"Siapa?" "Willem Erbefeld."
"Cis! Keluarga pemberontak bukan?"
Merah padam Sangaji mendengar cela si gadis. Segera ia mau membentak, tetapi dilihatnya si gadis tetap berwajah dingin.
"Keluarga pemberontak tak boleh menyimpan pistol," katanya lagi.
Habis kesabarannya Sangaji yang mudah tersinggung. Lantas saja mendamprat. "Kau siapa sih, berani ngomong seenaknya?"
"Memangnya siapa aku?" sahut Sonny cepat.
Muka Sangaji merah padam. Mendadak dilihatnya empat orang pemuda tanggung berdiri tak
jauh daripadanya. Keempat pemuda tanggung itu bertolak pinggang dan melihat tajam padanya.
Siapa lagi kalau bukannya Jan de Groote, Karel Speelman, Tako Weidema dan Pieter De Jong.
Sudah hampir dua bulan lama-nya mereka berempat mencari-cari kesempatan mau
menghadiahkan bogem mentah padanya. Tapi Sangaji tak pernah muncul di tengah lapangan.
Pada suatu hari mereka mendapat kabar dari Mayor De Groote kalau Sangaji mulai berlatih
menembak pistol lagi semenjak Kapten Willem Erbefeld pulang dari dinas luar daerah. Mereka lantas mencari dalih pertengkaran. Sore itu mereka mengirimkan si Sonny agar datang
menggodanya. Begitu melihat muka Sangaji merah padam, lantas saja mereka berempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghampiri. Jan De Groote kemudian mendamprat. "Anjing Jawa, kau berani kurang ajar pada seorang noniek?"
"Emangnya kau anggap apa noniek ini?" sambung Karel Speelman.
"Rupanya dia habis bertengkar sama seorang gadis. Anjing Jawa hanya berani berlawanan
dengan seorang gadis. Cuh!" sambung Tako Weide-ma.
"Babi ini, perlu kita hajar!" bentak Pieter De Jong.
Sangaji meskipun berotak cerdas tak pandai berbicara tajam. Dihujani dampratan begitu rupa, mukanya merah padam. Seluruh tubuhnya bergemetaran karena menahan marah. Lagipula
hatinya masih dendam pada mereka.
Sekarang ia berprasangka jelek pada si Sonny. Kedengkiannya lantas saja meluap. Didoronglah si Sonny ke pinggir sambil membentak, "Kau ular hijau, enyahlah!"
Sonny jadi terkejut. Memang ia tahu, dirinya dikirim ke lapangan untuk membangkitkan amarah Sangaji. Tetapi tak pernah dia menyangka akan diperlakukan demikian. Dasar dia masih kanak-kanak. Lantas saja dia menggerutu emoh dipersalahkan. Mendamprat.
"Kenapa kau mendorongku" Apa aku memukulmu?"
Sangaji tergugu. Diam-diam ia merasa bersalah karena terburu nafsu. Ia mau minta maaf,
mendadak keempat pemuda tanggung itu bersama-sama maju menyerang.
Sangaji sekarang, bukan lagi Sangaji dua bulan yang lalu. Ia bersikap tenang, tajam dan tahu menjaga diri. Keruan saja keempat pemuda Belanda itu menumbuk batu. Begitu mereka maju
dengan cepat Sangaji menggunakan jurus ajaran Wirapati. Ia mengelak, sambil kakinya mengkait.
Tinjunya dilontarkan mengarah dada. Kemudian membalik menyiku sambil mengirimkan
tendangan berantai ajaran Jaga Saradenta. Seketika itu juga, keempat pemuda Belanda jatuh terjengkang dan saling bertubrukan.
Sangaji sendiri kurang latihan. Meskipun bisa menjatuhkan lawan, ia masih belum dapat mempertahankan dorongan tenaga lawan, la berkisar dari tempatnya dan jatuh terguling. Tetapi ia dapat berdiri tegak dengan gesit.
Jan De Groote heran bukan main. Sama sekali tak diduganya kalau serangan mereka berempat bisa korat-karit.
"Hai anjing jawa! Kau bisa berkelahi sekarang?"
"Aku bernama Sangaji. Bukan anjing Jawa atau anjing Belanda," sahut Sangaji gemetaran.
"Aku senang memanggilmu anjing Jawa," damprat Jan De Groote. Matanya mengerling kepada
si Sonny hendak mencari pujian. Memang ia menaruh hati pada si gadis cilik. Sonny sengaja disuruh melihat perkelahian itu. Dia yakin bakal menang. Bukankah akan naik harga dirinya di mata si gadis"
Karel Speelman dan Pieter De Jong berwatak brangasan. Tanpa berbicara lagi mereka berdua lantas menyerang. Sangaji menggunakan ilmu ajaran Saradenta yang berpokok kepada
kedahsyatan dan keuletan tenaga. Serangan Karel Speelman dan Pieter De Jong ia sambut keras lawan keras. Kesudahannya hebat, la tergetar mundur tiga langkah. Tetapi Karel Speelman dan Pieter De Jong jatuh terpental dan terguling ke tanah. Menyaksikan itu, Jan De Groote bertambah heran. Diam-diam ia menduga-duga, hai anak ini dari mana mendapat tenaga dahsyat. Biar
kucobanya. Ia kemudian melompat maju dan menyambar rahang Sangaji. Dengan mudah Sangaji
mengelak. Tetapi mendadak saja Tako Weidema merangsak dari kiri. Terpaksa dia mundur.
Segera juga ia ingat ajaran Wirapati; 'dalam suatu pertempuran jangan biarkan dirimu dipengaruhi gerakan-gerakan musuh. Sebaliknya kamu harus mempengaruhi dan kemudian perlahan-lahan kau menguasai'.
Teringat akan ajaran Wirapati, ia cepat-cepat merubah cara berkelahi. Tadi dia membiarkan dirinya diserang lawan dan dia hanya menangkis belaka. Sekarang baiklah aku menyerang!
pikirnya. la lantas mengendapkan kepala seperti hendak menyerahkan gundulnya untuk dihantam.
Mendadak kedua tinjunya dilontarkan cepat ke pinggang lawan sambil menyerbu masuk. Jan De Groote kaget. Buru-buru ia mengelak, sedang Tako Weidema cepat-cepat menangkis. Tetapi
justru karena berubahnya tata berkelahi ini, mereka jadi keripuan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sangaji lantas saja dapat mempraktekkan ajaran-ajaran ilmu Wirapati dan Jaga Saradenta
dengan berbareng. Dengan gesit dan penuh tenaga ia menyerang. Sebentar dia menghampiri
Karel Speelman, mendadak pula menyambar Tako Weidema. Sebentar pula menghantam Jan De
Groote dan tiba-tiba memukul Piter De Jong.
Keruan saja mereka terkejut dan cara bertempurnya jadi kacau.
Di tepi lapangan kini banyak orang-orang yang datang melihat. Mereka bersikap diam.
Penduduk kota sudah barang tentu memihak kepada Sangaji karena rasa kebangsaannya. Tetapi serdadu-serdadu Belanda yang sedang berlatih menembak, memihak sebaliknya. Mereka heran
juga menyaksikan kegesitan si anak Bumiputera.
Makin lama makin seru perkelahian itu. Masing-masing tak sudi memberi hati. Mereka
mengerahkan tenaga dan segenap perhatiannya, Sangaji nampak bahkan makin tenang dan
mantap. Semua ajaran-ajaran gurunya meskipun masih sederhana, berkelebatan tiada henti di ruang benaknya. Kini, ia telah dapat mengenai tubuh lawan dengan benturan-benturan dahsyat.
Ia meloncat gesit berpindah tempat. Lambat-laun dapat meresapi ilmu kegesitan Wirapati.
Tetapi keempat pemuda Belanda itu, bagaimana mau mengaku kalah" Pertama, mereka
merasa berumur lebih dewasa. Kedua, ditonton seorang gadis mungil yang menggairahkan.
Meskipun cara berkelahi mereka tak teratur, namun cukup bernafsu dan sungguh-sungguh.
Melihat kenyataan itu Sangaji kini bersikap hati-hati. Ia berlaku sabar, tetapi bukan kendor.
Kecepatan tetap dipertahankan, begitu juga kekerasannya. Hanya hatinya tak mau dipengaruhi nafsu dan rasa amarah yang menyala-nyala. Sedikit demi sedikit ia mendesak tenis dan
mempengaruhi gerakan-gerakan lawan. Jurus- jurus yang dimainkan tak lebih dari tiga puluh jurus. Tetapi selalu diulang dan diulang dan dicampur baur serta disesuaikan. Untung, lawannya bukan termasuk barisan pendekar. Seumpama begitu, sudah lama dia bisa dikalahkan.
Jan De Groote yang memimpin ketiga kawannya mulai heran dan berkecil hati. Semua
serangannya dilakukan dengan sungguh-sungguh, tapi selalu meleset luput. Mulailah dia
menduga-duga, kalau kali ini ia dan kawan-kawannya akan menumbuk batu.
Karena ragu gerakannya mulai ayal. Sangaji bermata tajam. Begitu melihat gerakan Jan De
Groote jadi lemah, segera ia melontarkan pukulan telak. Gugup Jan De Groote mencoba
menangkap gempuran itu. Ia kaget, tatkala kena dorongan tenaga dahsyat. Cepat-cepat ia
melepaskan. Tapi justru itu, gempuran Sangaji meluncur tak tertahankan lagi. Dadanya kena benturan dan seketika itu juga ia berbatuk-batuk sesak. Rasanya seperti nyaris meledak.
Kawan-kawannya terkejut. Mereka lalu me-rangsak maju untuk melindungi. Sangaji sebaliknya sudah mendapat kepercayaan. Ia mulai menyerang lagi dan mempengaruhi mereka dengan
gerakan-gerakan gesit. Benar saja Karel Speelman, Tako Weidema dan Pieter De Jong jadi keripuhan. Mereka
menangkis dan menyerang tanpa pegangan. Gerakannya kacau dan membabi buta.
Sangaji kegirangan. Diam-diam ia mengubah cara berkelahinya. Kini hendak mempraktekkan
ajaran Jaga Saradenta. Ia menangkap lengan lawan danmemijit urat nadi. Kemudian ia menyiku lawan yang lain. Setelah itu tangan kanannya menyambar tenggorokan lawan yang merang-sak dari sebelah kanan. Fatal akibatnya.
Mereka mengerang kesakitan. Kemudian dengan meram, mereka menyerang kalang kabut. Tak
peduli Sangaji lebih unggul dalam tata berkelahi, tetapi demikian tak urung pundaknya kena terhajar.
Sangaji kaget. Pundaknya terasa sakit. Terpaksa ia menggulingkan diri sambil berpikir, kalau begini terus-menerus mana bisa aku mengalahkan mereka. Lebih baik kutangkap salah seorang dari mereka.
Lalu ia mengarah kepada Jan De Groote yang masih berbatuk-batuk. Cepat ia menyerang dan
menangkap lengannya. Grat nadinya segera dipi-jitnya. Sedang tangan kanannya mencekek leher.
"Kalau kalian tidak mengaku kalah, akan kucekek temanmu ini," ancamnya.
Besar juga pengaruh ancaman Sangaji. Karel Speelman, Tako Weidema dan Pieter De Jong
sesungguhnya hanya menjadi pembantu Jan De Groote. Melihat Jan De Groote bisa ditangkap
Sangaji, hatinya jadi kecut.
Untung, waktu itu di pinggir jalan nampaklah seorang laki-laki tegap duduk di atas pelana kuda.
Dialah Willem Erbefeld. Dia sudah berada di situ beberapa waktu menyaksikan perkelahian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka. Ia heran, menyaksikan Sangaji sanggup melawan empat orang lawan yang jauh lebih
besar daripadanya. Diam-diam ia berpikir, anak ini pandai berkelahi. Darimanakah dia memperoleh kepandaian itu"
Tatkala melihat Sangaji hendak mencekek lawan, segera ia menghampiri dan membentak
pemuda-pemuda Belanda. "Hai! Mengapa kalian mengkerubut seorang bocah?"
Karel Speelman, Tako Weidema dan Pieter De Jong tak kepalang kagetnya melihat datangnya
Willem Erbefeld. Sangajipun tak terkecuali. Tetapi ia bergirang hati. Segera ia melepaskan Jan De Groote dan berkata mengadu. "Mereka datang dan lantas saja menyerang. Dua bulan yang lalu aku dikerubut mereka berempat. Aku diseret dan dilemparkan ke parit."
"Apa perkaranya?"
"Mereka pasti diperintah Major De Groote. Dulu Major De Groote merampas pistol ini."
Willem Erbefeld lantas saja dapat mengerti persoalannya. Cekatan ia melompat dari punggung kuda. Tanpa berkata sepatah katapun ia menghampiri keempat pemuda Belanda dan dihajarnya kalang kabut.
Pendekar Elang Salju 9 Kehidupan Para Pendekar Karya Nein Arimasen Keris Maut 2
^