Pencarian

Hina Kelana 8

Hina Kelana Balada Kaum Kelana Siau-go-kangouw Karya Jin Yong Bagian 8


Ih Jong-hay terkejut, pikirnya, "Aku memang betul sudah selesai meyakinkan Ho-lui-kiu-siau-sin-kang, cuma kurang sedikit saja dalam hal keuletan. Jaringan berita tua bangka she Gak ini benar-benar sangat luas."
Tapi ia pun merasa bangga karena orang lain mengetahui kepandaiannya itu, segera ia menjawab, "Ah, memang sudah lama aku melatih Kiu-siau-sin-kang, tapi masih belum dapat dikatakan sudah matang."
Thian-bun Tojin, Ting-yat Suthay dan lain-lain ikut terkesiap. Mereka tahu Kiu-siau-sin-kang yang disebut itu adalah ilmu silat yang sangat dibanggakan Jing-sia-pay, selama ratusan tahun ini belum pernah terdengar ada tokoh Jing-sia-pay yang berhasil meyakinkan ilmu silat itu, siapa duga Tojin kerdil ini diam-diam telah berhasil melatihnya, pantas selama beberapa hari ini dia sangat garang dan takabur, kiranya memang mempunyai andalan.
Di tengah pembicaraan mereka, berturut-turut banyak tamu telah datang pula dari berbagai tempat. Hari ini adalah hari resmi Lau Cing-hong akan mengadakan upacara "Kim-bun-swe-jiu" atau cuci tangan di baskom emas, maka mendekati tengah hari, lebih dulu Lau Cing-hong telah mengundurkan diri untuk bersiap-siap, hanya anak muridnya saja yang bertugas menyambut tamu.
Menjelang tengah hari, kembali ada ratusan tamu yang membanjir pula, di antaranya terdapat Thio Kim-gok, wakil ketua Kay-pang; He-kolunsu bersama tiga orang menantunya dari Liok-hap-bun di The-ciu; Thi-lolo, si nenek besi yang tinggal di Sin-li-hong, puncak dewi di daerah Sucwan; Phoa Kong, pemimpin Hay-soa-pang, gerombolan bajak di lautan timur; Sin-to Pek Khik dan Sin Pit Lo Se-su, dua sekawan dari Tiamjong yang terkenal dengan julukan golok sakti dan potlot sakti itu.
Kebanyakan di antara jago-jago dan gembong-gembong itu belum saling mengenal, kedatangan mereka hanya ingin melihat ramai-ramai saja.
Thian-bun Tojin dan Ting-yat Suthay enggan bergaul dengan orang lain, mereka berdiam saja di kamarnya masing-masing. Mereka anggap Lau Cing-hong terlalu tidak tahu diri, masakah orang Ngo-gak-kiam-pay bergaul dengan orang-orang Kangouw yang tak keruan itu"
Hanya Gak Put-kun saja meski namanya "Put-kun" (tidak suka bergaul), tapi sifatnya sebenarnya suka bersahabat. Banyak di antara tetamu itu mendekati dan ajak bicara padanya, tanpa pandang bulu sedikit pun Gak Put-kun melayani mereka dengan baik, sama sekali tidak berlagak sebagai seorang ketua Hoa-san-pay yang angkuh.
Sementara itu para murid Lau Cing-hong sudah menyiapkan 200-an meja perjamuan. Ipar Lau Cing-hong yang bernama Pui Jian-ki dan murid Lau Cing-hong sendiri seperti Hiang Tay-lian, Bi Wi-gi dan lain-lain sibuk menyilakan para tamu mengambil tempat duduk sendiri-sendiri.
Menurut peraturan Bu-lim, tokoh yang mempunyai nama dan kedudukan tertinggi sebagai ketua Thay-san-pay, Thian-bun Tojin yang pantas duduk di tempat utama. Cuma di antara Ngo-gak-kiam-pay sudah berserikat, Thian-bun merasa sungkan terhadap Gak Put-kun, Ting-yat dan lain-lain, maka mereka saling mengalah untuk tempat duduk yang terhormat itu.
Selagi mereka sama sungkan menduduki tempat utama itu, tiba-tiba terdengar suara gembreng dan tambur ditabuh ramai, dari jauh terdengar pula suara bentakan-bentakan minta jalan, terang ada kaum pembesar yang akan lewat.
Sedang para hadirin terheran-heran, tertampak Lau Cing-hong bergegas-gegas keluar dengan memakai jubah sulam baru. Selang tak lama tertampak tuan rumah itu sudah masuk kembali mengiringi seorang pembesar. Diam-diam para kesatria heran. "Apakah barangkali pembesar ini juga seorang tokoh Bu-lim?" Tapi dari mukanya yang pucat dan jalannya yang lemah jelas tertampak bukanlah seorang yang mahir ilmu silat.
Gak Put-kun dan sebagian tamu lain mengira pembesar ini adalah penguasa setempat yang sengaja datang mengucapkan selamat kepada Lau Cing-hong yang terkenal sebagai seorang hartawan di kota Heng-san. Maka mereka tidak terlalu heran.
Di luar dugaan, pembesar itu tampak melangkah masuk dengan angkuhnya, segera ia berdiri di tengah-tengah ruangan. Seorang pengawalnya lantas berlutut di sebelahnya dengan kedua tangannya menyanggah sebuah nampan beralaskan sutera kuning, di tengah nampan itu terletak segulungan kertas.
Pembesar itu lantas mengambil gulungan kertas itu dan berseru, "Ada titah dari Sri Baginda, hendaklah Lau Cing-hong menyambut segera!"
Para kesatria terperanjat. Mereka tidak tahu ada hubungan apa antara maksud Lau Cing-hong hendak "cuci tangan" dan mengasingkan diri itu dengan pihak pemerintah" Mengapa mendadak datang titah raja" Apa barangkali Lau Cing-hong bermaksud memberontak dan telah diketahui" Jika demikian halnya tentu dosanya tak terampunkan lagi.
Terpikir demikian, serentak para hadirin berbangkit sambil meraba senjata masing-masing. Mereka menduga dengan kedatangan pembesar yang membawa titah raja itu tentu pula membawa serta pasukan dan suatu pertempuran besar pasti sukar dihindarkan lagi. Daripada mati konyol mau tak mau mereka harus ikut bertempur mati-matian. Asal Lau Cing-hong memberi tanda, segera mereka akan bergerak dan lebih dulu membereskan pembesar itu.
Siapa tahu Lau Cing-hong ternyata tenang-tenang saja, bahkan tampak sangat senang. Malahan tuan rumah itu lantas tekuk lutut dan menyembah ke arah pembesar itu sambil berseru, "Hamba Lau Cing-hong siap menerima titah dengan hormat dari Sri Baginda!"
Melihat keadaan demikian, semua orang menjadi melenggong.
Sementara itu pembesar tadi sudah membentang gulungan kertas dan membaca, "Berdasarkan laporan dan usul gubernur Oulam, bahwa penduduk Heng-san-koan bernama Lau Cing-hong banyak berjasa bagi kesejahteraan dan mahir ilmu silat pula, maka dengan ini dianugerahi dengan pangkat Canciang (perwira setingkat letnan)."
Segera Lau Cing-hong menyembah pula beberapa kali sambil mengucapkan terima kasih kepada Sri Baginda. Setelah bangun kembali, tidak lupa ia pun memberi hormat kepada pembesar itu.
"Selamat, selamat! Untuk selanjutnya Lau-ciangkun adalah sesama pejabat, maka tidak perlu saling sungkan lagi," demikian pembesar itu tertawa.
"Untuk selanjutnya masih diharapkan bantuan Thio-tayjin," ujar Lau Cing-hong. Lalu ia berpaling kepada Pui Jian-ki, "Pui-hiante, di manakah oleh-oleh untuk Thio-tayjin?" Pui Jian-ki mengiakan terus membawakan sebuah nampan bundar, di tengah nampan terdapat sebuah bungkusan dari kain sutera.
Lau Cing-hong ambil bungkusan itu dan diangsurkan dengan hormat kepada pembesar she Thio itu, katanya dengan tertawa, "Sedikit oleh-oleh ini harap Thio-tayjin sudi menerima dengan suka hati."
"Ah, saudara sendiri, buat apa Lau-tayjin mesti banyak adat segala," ujar pembesar she Thio itu dengan tertawa-tawa. Lalu ia mengedipi seorang pengiringnya yang segera mewakilkan menerima bungkusan itu.
Dari cara mengangkat bungkusan itu yang tampaknya agak antap bobotnya itu, si pembesar Thio lantas tahu isinya tentu bukan perak, tapi adalah emas murni. Ia merasa puas, dengan berseri-seri ia berkata pula, "Untuk urusan dinas Siaute tak dapat tinggal lama-lama di sini. Marilah kita minum tiga cawan, semoga Lau-ciangkun lekas naik pangkat pula."
Dalam pada itu para pelayan sudah lantas menuang arak. Thio-tayjin mengangkat cawan tiga kali dengan tuan rumah, lalu mohon diri. Dengan muka berseri-seri Lau Cing-hong mengantar tamu keluar. Maka terdengarlah suara tambur dan gembreng berbunyi pula bergemuruh, iring-iringan pembesar itu sudah berangkat.
Adegan yang terjadi itu benar-benar di luar dugaan setiap hadirin. Keruan banyak di antaranya saling pandang tanpa bicara, ada yang heran dan ada yang mencemoohkan.
Maklum, para tamu yang hadir di rumah Lau Cing-hong itu meski bukan golongan penjahat dan juga kaum pemberontak, tapi pada umumnya mereka cukup mempunyai nama baik di dunia persilatan, semuanya adalah tokoh-tokoh yang tinggi hati, biasanya tidak pandang sebelah mata kepada kaum pembesar negeri. Sekarang melihat Lau Cing-hong terima menghambakan diri kepada kerajaan dan mendapatkan suatu pangkat kecil sebagai "Canciang", lalu sikap orang she Lau yang kelihatan sangat senang dan amat terima kasih, maka para kesatria lantas mencemoohkan martabatnya yang rendah itu. Bahkan banyak di antara hadirin itu anggap pangkat itu pasti diperoleh Lau Cing-hong dengan membeli. Padahal mereka kenal Lau Cing-hong sebagai orang yang jujur, sungguh tidak nyana sampai hari tuanya lantas timbul rasa kemaruk akan kedudukan dan pangkat segala.
Begitulah, lalu Lau Cing-hong mendekati para tamunya pula, dengan riang gembira ia minta para tamu ke tempat duduknya masing-masing. Tapi tiada seorang pun yang mau menduduki tempat utama sehingga kursi besar di tengah-tengah itu tetap kosong. Tempat kedua sebelah kiri diduduki oleh wakil Pangcu dari Kay-pang, Thio Kim-gok. Tamu-tamu yang lain juga lantas mengambil tempat duduk masing-masing, para pelayan segera menyuguhkan minuman.
Sejenak kemudian Hiang Thay-lian telah menaruh sebuah meja kecil di tengah ruangan dengan taplak meja kain sutera sulam. Pui Jian-ki juga membawa keluar sebuah baskom emas yang gemilapan dan ditaruh di atas meja. Baskom itu sudah penuh terisi air bersih. Menyusul di luar pintu terdengar tiga kali suara petasan yang keras, lalu ramai pula suara petasan lain yang lebih kecil.
Dengan tertawa-tawa Lau Cing-hong lantas maju ke tengah, ia memberi salam hormat kepada sekalian tamu. Para kesatria cepat berbangkit untuk membalas hormat.
"Para kesatria angkatan tua, para sahabat, para hadirin yang terhormat," demikian Lau Cing-hong mulai dengan kata sambutannya. "Sungguh aku merasa sangat berterima kasih atas kunjungan kalian ini. Hari ini aku mengadakan upacara cuci tangan di baskom emas dan untuk selanjutnya takkan ikut campur pula mengenai urusan orang Kangouw, untuk ini tentu para hadirin sudah tahu akan sebab musababnya. Sebagai pejabat pemerintah sebagaimana para hadirin telah saksikan tadi, terpaksa aku harus taat kepada undang-undang dan pegang teguh disiplin. Sebaliknya orang Kangouw biasanya bicara tentang setia kawan. Jika di antara kedua pihak terjadi persengketaan, sebagai pejabat pemerintah tentu aku akan serbasulit. Maka sejak kini aku menyatakan mengundurkan diri dari dunia persilatan, bilamana murid-muridku ada yang mau masuk ke perguruan lain boleh silakan dengan bebas.
"Adapun maksudku mengundang kalian kemari adalah untuk ikut bantu menjadi saksi. Kelak bila para sahabat datang ke kota Heng-san sini sudah tentu masih tetap menjadi sahabatku, hanya saja mengenai seluk-beluk dan persengketaan orang Bu-lim aku tidak ikut campur lagi."
Habis berkata kembali ia memberi hormat kepada para tamunya.
Apa yang diuraikan Lau Cing-hong itu memang sudah diduga oleh semua orang. Pikir mereka, "Jika dia sudah kemaruk menjadi pembesar, ya apa mau dikata lagi. Setiap orang mempunyai cita-citanya sendiri dan tidak dapat dipaksakan oleh orang lain. Biarlah anggap dunia persilatan selanjutnya tiada terdapat tokoh sebagai dia dan masa bodohlah urusannya."
Namun ada juga yang berpendapat perbuatan Lau Cing-hong ini benar-benar sangat membikin malu Heng-san-pay, tentu ketua mereka, yaitu Bok-taysiansing, sangat marah makanya tidak tampak hadir.
Ada pula yang berpikir tindakan Lau Cing-hong ini tentu juga akan merendahkan martabat Ngo-gak-kiam-pay yang biasanya tidak pernah tunduk kepada pihak pemerintah, mustahil tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay yang hadir di sini ini takkan menggugatnya"
Begitulah, karena tiap-tiap orang sama tenggelam dalam pikiran sendiri-sendiri, maka suasana di ruangan itu menjadi sunyi senyap. Menghadapi kejadian tadi seharusnya para tamu beramai-ramai akan mengucapkan selamat bahagia kepada Lau Cing-hong dan memberi puji sanjung yang tinggi. Akan tetapi sekarang ribuan hadirin itu ternyata tiada seorang pun yang membuka suara.
Lau Cing-hong juga tidak ambil pusing, segera ia berdiri menghadap keluar dan berseru lantang, "Tecu Lau Cing-hong telah banyak menerima budi kebaikan Suhu, selama ini tidak pernah berjasa dan ikut mengembangkan kebesaran Heng-san-pay kita, sungguh Tecu merasa sangat malu. Syukurlah perguruan sekarang ada di bawah pimpinan Bok-suko yang bijaksana sehingga berada atau berkurangnya seorang Lau Cing-hong tentu tidaklah berarti apa-apa. Sejak kini Lau Cing-hong menyatakan cuci tangan dan melepaskan diri dari pergaulan Kangouw, selanjutnya hanya mencurahkan pikiran dan tenaganya dalam jabatannya yang baru. Jika melanggar pernyataan ini biarlah pedang ini sebagai contoh."
Mendadak ia melolos pedang, sekali tekuk, "krak", pedang itu patah menjadi dua. Ketika kedua potong pedang patah itu dibuangnya, "cret-cret" dua kali, potongan-potongan pedang patah menancap ke dalam jubin.
Melihat itu terkejutlah semua orang. Dari suara menancapnya potongan pedang itu teranglah pedang itu adalah senjata tajam yang luar biasa. Adalah tidak mengherankan jika seorang tokoh sebagai Lau Cing-hong memiliki pedang pusaka sebagus itu. Tapi secara mudah saja ia telah patahkan pedang pusakanya, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat tenaga jarinya itu.
"Wah, sayang, sayang!" demikian Bun-siansing sampai berseru. Entah yang dia sayangkan adalah pedangnya ataukah Lau Cing-hong yang rela menghambakan diri kepada kerajaan itu.
Dengan tersenyum Lau Cing-hong lantas menyingsing lengan bajunya, segera tangannya hendak dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air bersih itu.
Tapi belum lagi tangannya menyentuh air, tiba-tiba di luar pintu ada suara orang membentak, "Nanti dulu!"
Lau Cing-hong terkejut. Waktu berpaling, terlihatlah empat orang laki-laki berbaju kuning muncul dari luar. Begitu masuk keempat orang itu lantas berdiri di samping kanan dan kiri, menyusul seorang laki-laki lain yang bertubuh tinggi besar dan juga berbaju kuning melangkah masuk dengan bersitegang leher melalui barisan keempat kawannya itu. Pada tangan orang itu membawa sebuah panji pancawarna dengan penuh terhias mutiara dan batu permata sehingga mengeluarkan sinar gemilapan.
Banyak di antara hadirin mengenal panji pancawarna itu, semuanya terkesiap dan membatin, "Panji kebesaran Ngo-gak-kiam-pay sudah datang juga!"
Orang yang membawa panji itu langsung menghampiri Lau Cing-hong, sambil angkat tinggi-tinggi panjinya orang itu berseru, "Upacara 'cuci tangan' Lau-susiok ini diharap ditunda untuk sementara!"
"Perintah Bengcu berdasarkan panji pimpinan sudah seharusnya akan kutaati," sahut Lau Cing-hong sambil membungkuk. Tapi sejenak kemudian ia lantas menambahkan, "Tapi entah apa maksud Bengcu dengan menyampaikan perintah panji ini?"
"Tecu cuma melaksanakan tugas belaka dan tidak tahu apa maksud perintah Bengcu ini, harap Lau-susiok sudi memaafkan," sahut laki-laki itu.
"Tidak perlu sungkan-sungkan," kata Lau Cing-hong dengan tersenyum. "Kau ini adalah Jian-tiang-siong Su-hiantit bukan?"
Walaupun sambil bersenyum, tapi suaranya juga rada gemetar. Terang kejadian ini datangnya terlalu mendadak sehingga membuat perasaannya terguncang.
Laki-laki itu memang betul she Su bernama Ting-tat, murid Ko-san-pay yang berjuluk Jian-tiang-siong (pohon Siong seribu depa). Ia menjadi senang juga karena Lau Cing-hong mengenal nama dan julukannya. Dengan hormat ia menjawab pula, "Betul, Tecu Su Ting-tat menyampaikan sembah bakti kepada Lau-susiok."
Lalu ia pun berpaling dan memberi hormat kepada Thian-bun, Gak Put-kun, Ting-yat Suthay dan lain-lain dan berkata, "Anak murid dari Ko-san menyampaikan salam hormat kepada para Supek dan Susiok!"
Serentak keempat kawannya tadi juga lantas memberi hormat.
Ting-yat Suthay sangat senang, sambil membalas hormat ia berkata, "Gurumu telah tampil ke muka untuk merintangi persoalan ini, kurasa memang paling tepat. Menurut pendapatku, orang belajar silat sebagai kita harus hidup bebas merdeka dan mengutamakan setia kawan, buat apa mesti kemaruk menjadi pembesar negeri segala" Cuma tadi kulihat segala apa sudah diatur beres oleh Lau-hiante, biarpun kunasihatkan juga akan percuma, maka aku pun tidak suka banyak omong."
Lau Cing-hong merasa kehilangan muka juga. Segera ia berkata, "Dahulu Ngo-gak-kiam-pay kita telah berserikat untuk bantu-membantu dan menegakkan kebenaran dunia persilatan, bila terjadi sesuatu yang menyangkut kepentingan kelima aliran kita, maka kita harus tunduk kepada perintah Bengcu. Panji pimpinan pancawarna ini adalah simbol kelima aliran kita, melihat panji ini seperti melihat Bengcu, hal ini tidak boleh dibantah. Cuma urusan hari ini adalah urusan pribadiku, aku tidak melanggar iktikad kalangan persilatan, juga tiada sangkut pautnya dengan persoalan Ngo-gak-kiam-pay kita. Sekarang para sahabat yang hadir di sini boleh menjadi saksi, segala urusan di dunia ini tentu tak terlepas dari kebenaran, maka aku ingin minta keadilan kalian, urusan pribadiku tentunya tidak terikat di bawah perintah panji kebesaran Bengcu ini. Dari itu harap Su-hiantit suka melaporkan kepada gurumu bahwa aku tidak dapat menurut perintahnya ini, diharap Toasuheng suka memaafkan."
Habis berkata ia lantas mendekati baskom emas pula sambil menjulurkan tangannya.
Tapi dengan cepat Su Ting-tat telah melompat maju dan mengadang di depan Lau Cing-hong, sambil mengangkat panji ke atas ia berkata, "Lau-susiok, Suhuku telah memberi pesan wanti-wanti agar Lau-susiok harus menunda maksud 'Kim-bun-swe-jiu' ini. Kata Suhu, 'Ngo-gak-kiam-pay kita adalah senapas dan sehaluan laksana saudara sekandung'. Maksud Suhu mengirimkan panji pimpinan ini adalah untuk menjaga persahabatan Ngo-gak-kiam-pay kita yang kekal, juga demi menegakkan kebenaran dunia persilatan, berbareng juga demi kebaikan Lau-susiok sendiri."
"Hahaha! Aku menjadi kurang mengerti akan hal ini," Lau Cing-hong tertawa. "Bila Toasuheng benar-benar mempunyai maksud baik demikian, mengapa sebelumnya tidak memberi nasihat dan mencegah, tapi menunggu pada saat aku menjamu tetamu barulah mengirimkan panji kebesarannya untuk merintangi maksudku, bukankah hal ini terang-terangan ingin membikin malu diriku di depan para kesatria?"
"Menurut pesan Suhu, katanya Lau-susiok adalah seorang laki-laki sejati dari Heng-san-pay yang terkenal dan dihormati oleh setiap kaum kita, Suhu sendiri biasanya juga sangat kagum, maka Tecu dipesan jangan sekali-kali kurang sopan, kalau tidak tentu akan diberi hukuman setimpal. Maka dari itu, mengingat nama baik Lau-susiok di dunia Kangouw, rasanya tidaklah perlu mengkhawatirkan akan kemungkinan ditertawai orang segala," demikian kata Su Ting-tat.
"Ah, itu hanya pujian Bengcu yang berlebih-lebihan saja, dari mana aku mempunyai nama baik setinggi itu?" ujar Lau Cing-hong dengan tersenyum.
Melihat pembicaraan kedua orang itu bertele-tele dan tiada kecocokan satu sama lain, dengan tak sabar Ting-yat Suthay lantas menyela, "Lau-hiante, urusanmu ini bagaimana kalau kau tunda saja sementara" Yang hadir sekarang ini adalah kawan baik semua, siapa lagi yang hendak menertawai kau" Andaikan ada seorang dua orang keparat yang tidak tahu diri berani olok-olok padamu, sekalipun Lau-hiante tidak sudi mengurusnya, biarlah dia menghadapi dulu padaku ini!"
Habis bicara sinar matanya lantas menyapu sekeliling kepada para hadirin dengan sikap menantang.
"Jika demikian juga pendapat Ting-yat Suthay, maka bolehlah urusan Cayhe ini kutunda sampai besok tengah hari," kata Lau Cing-hong kemudian. "Para sahabat diharap jangan berangkat dulu, silakan menginap lagi semalam di sini, biarlah Cayhe berunding dulu lebih mendalam dengan para Hiantit dari Ko-san-pay."
"Banyak terima kasih kepada Lau-susiok," kata Su Ting-tat sambil menurunkan panji kebesarannya dan memberi hormat.
Tapi pada saat itu juga mendadak di ruangan belakang ada suara teriakan seorang wanita, "He, hei! Kau ini apa-apaan" Aku suka bermain dengan siapa kan urusanku sendiri, kenapa kau ikut-ikut campur?"
Para hadirin sama melengak. Mereka kenal suara itu tak-lain tak-bukan adalah anak dara cilik yang bernama Kik Fi-yan alias Fifi yang kemarin baru saja mengocok Ih Jong-hay di depan orang banyak.
Dalam pada itu terdengar pula suara seorang laki-laki sedang berkata, "Aku bilang kau harus tetap duduk di situ dan tak boleh sembarangan bicara dan bergerak. Sebentar lagi tentu akan melepaskan kau pergi."
"Hah, kan aneh! Memangnya apakah ini rumahmu?" demikian terdengar Fifi membantah. "Aku suka menangkap kupu-kupu bersama dengan Taci keluarga Lau, mengapa kau berani merintangi dan melarang kami?"
Terdengar orang tadi menjawab, "Baiklah, jika kau mau pergi boleh silakan pergi sendiri, tapi nona Lau harus tunggu dulu di sini."
"Melihat kau saja Enci Lau lantas muak, maka sebaiknya kau lekas enyah saja dari sini," demikian kata Fifi. "Selamanya Enci Lau tidak kenal kau, mengapa kau mengacau di sini?"
Lantas terdengar suara seorang wanita lain berkata, "Sudahlah, jangan pedulikan dia, adik Fifi. Marilah kita berangkat saja."
Tapi mendadak laki-laki itu berkata, "Nona Lau, silakan kau tunggu sementara di sini dan jangan sembarangan bergerak."
Lau Cing-hong menjadi gusar mendengar percakapan itu, pikirnya, "Dari manakah datangnya bangsat yang kurang ajar itu dan berani main gila di rumahku, bahkan berani merecoki putriku si Cing-ji?"
Dalam pada itu muridnya, yaitu Bi Wi-gi sudah memburu ke ruangan belakang. Maka tertampaklah Sumoaynya yang bernama Lau Cing itu bersama Kik Fi-yan sedang berdiri berendeng di depan pintu, seorang laki-laki berbaju hijau dengan pentang kedua tangan sedang merintangi jalan lalu mereka.
Dari warna pakaiannya, Bi Wi-gi lantas kenal orang itu adalah murid Ko-san-pay. Keruan ia mendongkol. Ia mendehem satu kali, lalu berseru, "Suheng ini tentunya adalah kawan dari Ko-san-pay" Mengapa tidak duduk saja di ruangan tamu sana?"
Waktu orang itu berpaling, kiranya adalah seorang pemuda berusia antara 27-28 tahun, tampaknya sangat tangkas dan kuat. Dia telah menjawab, "Terima kasih atas undanganmu. Atas perintah Bengcu, segenap keluarga Lau harus diawasi dan tidak boleh lolos seorang pun."
Kata-kata itu tidak terlalu keras ucapannya, tapi bernada sangat angkuh dan tegas. Keruan semua orang ikut terkesiap.
Lau Cing-hong menjadi murka. Segera ia tanya Su Ting-tat, "Sebenarnya apa-apaan ini?"
"Ban-sute," segera Su Ting-tat berseru kepada laki-laki di ruangan dalam itu, "silakan keluar saja. Kalau bicara hendaklah hati-hati. Lau-susiok sudah menyanggupi akan menunda upacaranya."
"Ya, itulah yang paling baik," sahut orang di dalam itu. Lalu muncul dari ruang belakang, ia membungkuk tubuh kepada Lau Cing-hong dan berkata, "Murid Ko-san-pay bernama Ban Tay-peng menyampaikan salam hormat kepada Lau-susiok."
Saking gusarnya badan Lau Cing-hong sampai gemetar. Dengan suara keras ia berseru, "Seluruhnya murid Ko-san-pay telah datang berapa banyak, boleh keluar saja semuanya!"
Baru habis kata-katanya, mendadak terdengar suara berpuluh orang dari atas rumah, di luar pintu, di pojok ruangan, di samping rumah, semuanya bergema menyatakan, "Baik, para murid Ko-san-pay menyampaikan hormat kepada Lau-susiok."
Karena berpuluh orang berteriak sekaligus, suaranya keras dan di luar dugaan sehingga para kesatria ikut terkejut. Maka tertampaklah berpuluh orang telah maju ke depan, sebagian besar berbaju kuning, sebagian pula dalam keadaan menyamar, terang sejak tadi mereka sudah menyelundup ke tengah perjamuan itu dan diam-diam mengawasi gerak-gerik Lau Cing-hong.
Ting-yat Suthay adalah orang pertama yang merasa penasaran, dengan suara keras ia berteriak, "Apakah artinya ini" Sungguh terlalu ... terlalu menghina orang!"
"Maafkan, Supek," ujar Su Ting-tat. "Menurut perintah Suhu, katanya betapa pun Lau-susiok harus dicegah supaya jangan melangsungkan 'cuci tangan' ini. Karena khawatir Lau-susiok tidak mau tunduk kepada perintah, makanya telah banyak mengambil tindakan-tindakan yang kurang pantas."
Pada saat itu dari ruangan belakang muncul pula belasan orang. Mereka adalah istri Lau Cing-hong dan dua orang putranya yang masih muda serta beberapa orang murid keluarga Lau, di belakang setiap orang diikuti pula oleh seorang murid Ko-san-pay. Murid-murid Ko-san-pay itu semuanya membawa senjata dan mengancam di belakang nyonya Lau dan lain-lain.
Kiranya anak murid Ko-san-pay itu diam-diam sudah menyusup ke ruangan belakang rumah Lau Cing-hong dan telah membikin nyonya Lau dan beberapa muridnya tak bisa berkutik dengan ancaman kekerasan. Malahan sikap Ban Tay-peng tadi terhadap putri Lau Cing-hong jauh lebih sopan, dia hanya memerintahkan nona Lau jangan sembarangan bergerak, tapi tidak mengancamnya dengan kekerasan.
Dengan suara lantang Lau Cing-hong lantas berseru, "Para hadirin yang terhormat, bukanlah aku sengaja berkepala batu, soalnya Co-suheng telah mengancam diriku sedemikian rupa, jika orang she Lau lantas tunduk di bawah kekerasan, lalu ke mana lagi mukaku ini akan kutaruh" Co-suheng melarang aku 'cuci tangan', untuk ini, hehe, kepalaku boleh dipotong, tapi cita-citaku tidak nanti dipatahkan."
Habis bicara segera ia melangkah maju dan kedua tangannya hendak dimasukkan pula ke dalam baskom.
"Tunggu dulu!" seru Su Ting-tat sambil mengebaskan panjinya serta mengadang di depan Lau Cing-hong.
Mendadak tangan Lau Cing-hong menjulur ke depan, kedua jarinya lantas mencolok mata lawan. Lekas-lekas Su Ting-tat menangkis ke atas dengan kedua tangannya. Tapi Lau Cing-hong sudah menarik kembali tangannya, menyusul tangan yang lain kembali mencolok lagi kedua mata Su Ting-tat.
Dalam keadaan sukar untuk menangkis lagi, terpaksa Su Ting-tat melangkah mundur. Kesempatan itu segera digunakan oleh Lau Cing-hong untuk mengangsurkan kedua tangannya ke dalam baskom.
Pada saat itu terdengarlah suara angin berkesiur dari belakang, ada dua orang telah menubruk maju. Tanpa menoleh lagi kaki kiri Lau Cing-hong lantas mendepak ke belakang. "Bluk", seorang murid Ko-san-pay telah didepak terguling, berbareng tangan kanan terus menyambar juga ke belakang sehingga dada seorang murid Ko-san-pay yang lain kena dijambret, sekali seret dan angkat, kontan Lau Cing-hong melemparkan tawanan itu ke arah Su Ting-tat.
Serangan mendepak dan mencengkeram ke belakang itu dilakukan dengan sangat cepat dan tepat, benar-benar hebat dan membikin murid-murid Ko-san-pay yang lain menjadi kuncup dan tidak berani maju lagi.
"Lau-susiok," tiba-tiba murid Ko-san-pay yang berdiri di belakang putra Lau Cing-hong berseru, "jika kau tidak menghentikan maksudmu terpaksa aku akan membunuh putramu."
Lau Cing-hong menoleh, ia pandang sekejap kepada putranya yang sulung itu, lalu menjawab dengan dingin, "Para kesatria berkumpul semua di sini, jika kau berani mengganggu seujung rambut anakku, tentu berpuluh murid Ko-san-pay kalian akan dicincang menjadi perkedel."
Ucapan Lau Cing-hong ini bukanlah sengaja menggertak. Kalau murid Ko-san-pay itu benar-benar mengganggu putranya itu, hal ini tentu akan menimbulkan kemarahan orang banyak dan mengerubutnya beramai-ramai, pasti murid-murid Ko-san pay yang berada di situ sukar menghindarkan tuntutan keadilan orang banyak.
Begitulah, setelah mengucapkan kata-kata tadi segera Lau Cing-hong hendak menjulurkan kedua tangannya ke dalam baskom pula.
Tampaknya sekali ini tiada seorang pun yang dapat merintanginya lagi. Di luar dugaan, sekonyong-konyong sinar perak berkelebatan, sebentuk senjata rahasia yang kecil telah menyambar tiba. Cepat Lau Cing-hong melangkah mundur. Maka terdengarlah suara "cring" yang nyaring, senjata rahasia itu tepat mengenai tepi baskom emas itu.
Rupanya timpukan senjata rahasia kecil itu membawa tenaga yang amat besar. Kontan baskom itu lantas bergelimpang dan jatuh ke lantai dengan menerbitkan suara gemerantang. Baskom itu jatuh terbalik, air tertumpah semua di lantai. Berbareng itu terlihat berkelebatnya bayangan kuning, dari atap rumah telah melompat turun satu orang. Tahu-tahu sebelah kaki orang itu menginjak ke atas baskom yang terbalik itu, kontan baskom itu menjadi gepeng terinjak.
Pendatang ini berusia antara 40-an, berbadan sedang, tapi sangat kurus. Bibirnya memiara kumis seperti kumis tikus, ia lantas merangkap tangannya memberi hormat dan menyapa, "Lau-suheng, atas perintah Bengcu, engkau dilarang Kim-bun-swe-jiu."
Lau Cing-hong kenal orang ini adalah Sute keempat dari ketua Ko-san-pay, she Hui bernama Pin, terkenal dengan ilmu pukulan Tay-ko-yang-jiu. Melihat gelagatnya, agaknya hari ini Ko-san-pay telah mengerahkan segenap jago-jagonya untuk melayaninya. Apalagi sekarang baskom emas itu sudah terinjak rusak, upacara "cuci tangan di baskom emas" terang sudah gagal. Urusan sekarang hanya ada dua jalan: bertempur sekuat tenaga atau menerima semua hinaan itu"
Sekilas itu timbul macam-macam pikiran dalam benak Lau Cing-hong, "Ko-san-pay mereka walaupun dipilih menjadi Bengcu dan memegang panji pimpinan, tapi caranya menekan orang yang keterlaluan ini masakah dapat diterima oleh para kesatria yang menyaksikan ini, apakah mereka tiada yang berani tampil ke muka untuk membela keadilan?"
Bab 22. Ketua Mo-kau Tonghong Put-pay
Segera ia balas menghormat dan menjawab, "Jauh-jauh Hui-suheng datang kemari, mengapa tidak sudi ikut minum barang secawan arak, tapi malah sembunyi di atas rumah merasakan terik sinar matahari" Rasanya Ting-suheng dan Liok-suheng tentu juga sudah datang, boleh silakan keluar saja sekalian. Melulu menghadapi orang she Lau, seorang Hui-suheng saja sudah jauh lebih dari cukup. Tapi untuk melayani para kesatria sebanyak yang hadir di sini mungkin kawan Ko-san-pay yang datang ini masih kurang cukup."
Hui Pin tersenyum, katanya, "Buat apa Lau-suheng mengeluarkan kata-kata mengadu domba demikian" Seumpama mesti berlawanan dengan Lau-suheng sendiri, Cayhe juga tidak mampu menahan gerakan 'Siau-lok-gan-sik' Lau-suheng barusan ini. Ko-san-pay sekali-kali tidak berani merecoki Heng-san-pay, lebih-lebih tak berani memusuhi setiap kesatria mana pun yang hadir di sini ini. Soalnya urusan ini menyangkut keselamatan jiwa beribu kawan-kawan Bu-lim, maka terpaksa kami harus minta agar Lau-suheng membatalkan maksud akan 'cuci tangan di baskom emas' ini."
Kata-kata itu membuat para kesatria melengak heran semua. Mereka tidak habis mengerti ada hubungan apakah antara acara "cuci tangan" yang dilakukan Lau Cing-hong dengan para orang Kangouw" Mengapa dikatakan menyangkut keselamatan jiwa beribu kawan Bu-lim"
Benar juga. Lantas terdengar Lau Cing-hong menjawab, "Ucapan Hui-suheng tadi sungguh terlalu menjunjung tinggi padaku. Padahal orang she Lau ini hanya seorang anggota Heng-san-pay biasa saja, sebaliknya tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay tak terhitung banyaknya, apa artinya bertambah atau berkurang dengan seorang Lau Cing-hong saja" Mengapa tindakanku ini dikatakan menyangkut jiwa ribuan orang kawan Bu-lim?"
"Ya, betul," demikian Ting-yat Suthay menyambung. "Soal Lau-hiante ingin Kim-bun-swe-jiu dan mau menjadi pembesar tergolong keroco itu, untuk bicara terus terang sesungguhnya aku pun merasa hina. Cuma setiap manusia mempunyai cita-citanya sendiri-sendiri, dia suka menjadi pembesar dan ingin rezeki nomplok, asalkan tidak merugikan rakyat jelata, tidak merusak kesetiakawanan sesama orang Bu-lim, maka siapa pun tidak dapat merintangi kebebasannya. Kukira Lau-hiante juga tidak mempunyai kemampuan sebesar itu sehingga dapat membikin celaka kawan Bu-lim sedemikian banyaknya."
"Ting-yat Suthay," ujar Hui Pin, "engkau adalah orang beribadat, sudah tentu kurang paham akan tipu muslihat orang luar. Hendak maklum, bilamana intrik besar ini sampai terlaksana, bukan saja banyak kawan Bu-lim yang akan menjadi korban, bahkan juga rakyat jelata yang tak berdosa akan ikut mengalami bencana besar. Coba kalian pikir sendiri. Lau-samya dari Heng-san-pay adalah seorang tokoh termasyhur, seorang kesatria yang terkenal di Kangouw, masakah beliau sudi merendahkan diri untuk mengekor kepada kawanan pembesar anjing yang korup itu" Harta benda Lau-samya sendiri sudah cukup kaya raya, masakan beliau masih kemaruk harta dan ingin kedudukan segala" Sebab itulah sudah lama kami merasa sangsi, bahwasanya seorang tokoh sebagai Lau-samya hanya sudi menjabat pangkat sedemikian kecilnya, hal ini benar-benar terlalu aneh dan mencurigakan."
"Hahaha! Bagus, bagus!" demikian Lau Cing-hong tidak marah, berbalik ia tertawa. "Kiranya di balik persoalan ini dikatakan masih mengandung suatu intrik besar yang maharahasia. Hm, Hui-suheng, jika kau mau memfitnah hendaklah juga perlu mencari alasan yang masuk di akal. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan urusan ini, sebab kalau kukatakan sesungguhnya akan membikin malu Heng-san-pay sendiri. Tapi karena urusan sudah telanjur begini, terpaksa aku tidak dapat mengelakkan lagi, biarlah para kawan yang hadir di sini sukalah menimbang dengan adil. Nah, Ting-suheng dan Liok-suheng boleh silakan keluar saja sekalian!"
"Baik!" berbareng terdengar dari sebelah timur dan barat di atas rumah ada dua orang berseru. Bayangan kuning berkelebat, tahu-tahu dua orang sudah berdiri di depan ruangan. Ginkang kedua orang ini serupa benar dengan cara Hui Pin melompat turun tadi.
Yang berdiri di sebelah timur adalah seorang botak, botak dalam arti kata gundul kelimis tanpa seujung rambut pun, sampai-sampai batok kepalanya kelihatan mengilap. Dia adalah tokoh kedua dari Ko-san-pay, namanya Ting Tiong.
Sedangkan orang yang berdiri di sebelah barat adalah seorang kurus kering seperti orang sakit TBC, agak bungkuk lagi pucat seperti orang yang sudah lebih seminggu kelaparan. Para kesatria mengenalnya sebagai tokoh ketiga dalam Ko-san-pay yang terkenal, namanya Liok Pek, berjuluk Wi-bin Cukat atau si Cukat Liang (Khong Beng) bermuka pucat, yaitu lantaran dia sangat banyak tipu akalnya.
Ting Tiong dan Liok Pek sangat termasyhur di dunia persilatan, maka para kesatria serentak berbangkit menyambut kedatangan mereka berbareng saling mengucapkan salam hormat masing-masing. Tampaknya tokoh Ko-san-pay yang datang ini makin lama makin banyak dan makin jempolan, agaknya urusan hari ini sangat penting, rasanya Lau Cing-hong pasti akan menghadapi kesukaran.
"Lau-hiante," demikian Ting-yat Suthay telah membuka suara, "kau jangan khawatir. Segala urusan di dunia ini tak terlepas dari satu kata, yakni 'kebenaran'. Janganlah kau anggap orang lain berjumlah banyak, memangnya para kawan kita dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay dan Hing-san-pay hanya datang untuk gegares saja tanpa bekerja?"
Di balik ucapannya itu, secara terang-terangan ia hendak menyatakan bilamana Ko-san-pay berani main kekerasan dan mengandalkan orang banyak, maka Hing-san-pay yang dipimpinnya adalah pihak pertama yang akan membela keadilan. Sedangkan Thian-bun Tojin, Gak Put-kun dan lain-lain juga takkan tinggal diam.
Tapi Lau Cing-hong hanya tersenyum getir saja. Katanya, "Sungguh memalukan kalau urusan ini diceritakan. Sebenarnya persoalannya mengenai urusan dalam Heng-san-pay kami, tapi sekarang para kawan mesti ikut-ikut khawatir, sungguh aku merasa tidak enak. Sekarang aku pun dapat memahami duduknya perkara. Tentulah Bok-suheng kami juga telah mengadu biru kepada Co-suheng Bengcu tentang macam-macam kesalahanku sehingga para Suheng dari Ko-san-pay lantas dikerahkan kemari untuk merecoki aku. Ya, ya, apa mau dikata lagi, biarlah aku mengaku salah saja kepada Bok-suko."
Sorot mata Hui Pin yang tajam menyapu sekeliling kepada para hadirin. Kemudian ia berkata, "Kau bilang urusan ini ada sangkut pautnya dengan Bok-taysiansing" Jika demikian silakan Bok-taysiansing keluar saja, biar kita bicara secara terus terang."
Habis ucapannya, suasana di tengah sidang menjadi hening senyap. Sampai agak lama tetap tidak tertampak munculnya "Siau-siang-ya-uh" Bok-taysiansing, ketua Heng-san-pay atau Suheng Lau Cing-hong yang termasyhur itu.
Dengan tersenyum getir Lau Cing-hong lantas membuka suara pula, "Tentang pertengkaran antara kami bersaudara seperguruan cukup diketahui oleh para kawan dari Bu-lim dan tidak perlu kututup-tutupi lagi. Para sahabat tentu maklum bahwa dari warisan leluhur, maka keluargaku boleh dikata cukup berada, sebaliknya Bok-suko kami adalah orang yang miskin. Sebenarnya saling membantu antarkawan adalah lazim, apalagi antarsesama Suheng dan Sute. Namun berhubung urusan ini Bok-suko lantas sirik dan selamanya tak mau menginjak lagi ke rumahku, sudah ada beberapa tahun kami Suheng dan Sute tidak berbicara dan tidak bertemu, maka dengan sendirinya hari ini Bok-suko juga tidak mungkin hadir di sini. Adapun yang membuat aku merasa penasaran adalah Co-bengcu hanya percaya kepada pengaduan sepihak saja lalu mengirimkan para Suheng kemari untuk menghadapi aku, sampai-sampai anak-istriku juga ikut ditawan, bukankah hal ini agak ... agak keterlaluan?"
"Angkat panjimu!" seru Hui Pin kepada Su Ting-tat.
Su Ting-tat mengiakan dan segera mengangkat panjinya dan berdiri di samping Hui Pin.
"Lau-suheng," kata Hui Pin dengan keren, "urusan hari ini sama sekali tiada hubungannya dengan Bok-taysiansing, ketua Heng-san-pay kalian, maka kau tidak perlu menyinggung tentang dirinya. Menurut perintah Bengcu, kami diharuskan menyelidiki dan menanya kau dengan jelas, yaitu bagaimana persekongkolanmu dengan Tonghong Put-pay dari Mo-kau, intrik apa yang telah kalian atur untuk menghadapi Ngo-gak-kiam-pay kita dan para kawan dari Bu-lim?"
Kata-kata itu telah mengguncangkan perasaan setiap hadirin. Hendaklah maklum bahwa Mo-kau (agama sesat) selalu memusuhi para kesatria dari kalangan Pek-to, permusuhan demikian sudah berlangsung selama ratusan tahun dan tidak habis-habis, kedua belah pihak sama-sama banyak jatuh korban. Dari ribuan hadirin sekarang paling sedikit ada separuhnya yang pernah diganggu oleh pihak Mo-kau, ada yang ayah-bundanya terbunuh, ada gurunya terbinasa, maka bila menyebut agama iblis itu semuanya merasa dendam dan benci. Sebabnya Ngo-gak, yaitu aliran lima gunung (Ko-san, Thay-san, Hoa-san, Heng-san dan Hing-san) berserikat justru tujuan utamanya adalah untuk menghadapi Mo-kau.
Ilmu silat Mo-kau baik Lwekang maupun Gwakang mempunyai caranya yang khas, betapa pun hebat ilmu silat pihak Ngo-gak sering juga kewalahan melawannya. Lebih-lebih ketua Mo-kau yang bernama Tonghong Put-pay, bahkan oleh orang diberi julukan sebagai "jago nomor satu selama seabad ini". Sesuai dengan namanya: Put-pay (tidak terkalahkan), maka sejak dia mengetuai Mo-kau memang belum pernah dikalahkan oleh siapa pun juga.
Lantaran itulah demi para kesatria mendengar Hui Pin membongkar hubungan antara Lau Cing-hong dengan pihak Mo-kau, apakah hal ini betul atau tidak, yang jelas setiap kesatria itu ikut berkepentingan dan menyangkut keselamatan mereka pula. Maka dari itu rasa simpatik mereka kepada Lau Cing-hong semula lantas lenyap seketika.
Maka terdengar Lau Cing-hong telah menjawab tuduhan Hui Pin tadi, "Selamanya Cayhe belum pernah melihat, apalagi kenal kepada ketua Mo-kau Tonghong Put-pay, entah dengan dasar apa aku dituduh bersekongkol dan berintrik dengan pihak Mo-kau"''
Hui Pin tidak menjawabnya, ia hanya melirik Samsuhengnya, yaitu Liok Pek.
Maka dengan suara perlahan-lahan, Liok Pek telah bicara, "Lau-suheng, apa yang kau katakan rasanya masih banyak yang ketinggalan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Di dalam Mo-kau ada seorang Hou-hoat-tianglo (sesepuh pembela agama) yang bernama Kik Yang. Entah Lau-suheng kenal atau tidak?"
Sejak mula Lau Cing-hong sebenarnya sangat tenang, tapi demi mendengar nama "Kik Yang", seketika air mukanya berubah hebat. Namun bibirnya terkatup rapat-rapat dan tidak menjawab.
Ting Tiong, tokoh kedua Ko-san-pay yang berkepala botak kelimis itu sejak datang tadi belum bersuara sepatah pun. Sekarang mendadak ia bertanya dengan suara bengis, "Kau kenal tidak kepada Kik Yang?"
Sedemikian keras dan lantang suaranya sehingga anak telinga setiap orang sampai mendenging. Dalam pandangan semua orang jejak Ting Tiong seakan-akan bertambah tinggi besar secara mendadak dan penuh wibawa.
Namun Lau Cing-hong masih tetap tidak menjawab. Seketika perhatian beribu orang terpusat kepadanya, dalam hati setiap orang sama merasa sikap Lau Cing-hong yang bungkam itu serupa saja dengan mengakui pertanyaan Ting-Tiong secara diam-diam.
Selang agak lama barulah Lau Cing-hong mengangguk dan berkata, "Betul! Kik Yang, Kik-toako memang kenalanku. Malahan bukan cuma kenalan sekadar kenalan, bahkan dia adalah sahabatku yang baik. Sahabatku yang paling kental selama hidupku ini."
Seketika suasana sidang menjadi gempar. Para kesatria ramai membicarakan pengakuan Lau Cing-hong yang terus terang dan di luar dugaan itu. Semula mereka menyangka paling-paling Lau Cing-hong hanya akan mengaku bahwa Kik Yang memang betul pernah dikenalnya dan sekali-kali tidak menduga bahwa dia berani menyatakan bahwa gembong Mo-kau itu justru adalah sahabatnya yang paling kental.
Hui Pin tampak tersenyum, katanya, "Baik sekali karena kau sendiri sudah mengaku. Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Nah, Lau Cing-hong, sekarang Co-bengcu telah menentukan dua jalan, bolehlah kau pilih sendiri."
Akan tetapi Lau Cing-hong seperti tidak mendengar apa yang dikatakan Hui Pin itu, dengan tenang saja ia duduk kembali, ia menuang secawan arak dan ditenggaknya habis.
Diam-diam para hadirin memuji dan merasa kagum terhadap sikap Lau Cing-hong yang tabah dan tenang itu. Menghadapi saat segawat ini ternyata dia masih sanggup bersikap tenang tanpa sedikit memperlihatkan tanda-tanda kecemasan.
Dengan suara lantang Hui Pin lantas berseru pula, "Menurut Co-bengcu, katanya Lau Cing-hong adalah tokoh yang jarang terdapat di dalam Heng-san-pay, hanya karena sedikit kekhilafannya sehingga salah bergaul dengan orang jahat, apabila mau insaf kembali, sudah tentu kaum kita akan suka memberi kesempatan padanya untuk memperbaiki kesalahannya. Jikalau jalan ini yang kau pilih, maka Co-bengcu memberi batas waktu sebulan agar kau membunuh gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang itu, bawalah buah kepalanya sebagai bukti, dengan demikian segala kesalahan yang lain takkan diusut lebih lanjut dan kita masih tetap sahabat baik dan saudara dalam Ngo-gak-kiam-pay."
Para kesatria berpikir bahwa selamanya antara yang baik dan yang jahat tidak pernah hidup bersama. Orang-orang Mo-kau bilamana kepergok oleh tokoh-tokoh dari kalangan pendekar tentu lantas saling labrak mati-matian. Kalau sekarang Co-bengcu mengharuskan Lau Cing-hong membunuh dulu Kik-Yang untuk membuktikan kesetiaannya, hal ini pun dapat dimengerti dan bukan sesuatu permintaan yang berlebihan.
Sekilas air muka Lau Cing-hong bersenyum sedih, sahutnya kemudian, "Kik-toako dan aku begitu bertemu lantas seperti sobat lama, lalu berhubungan dengan sangat akrab. Dia telah bertemu belasan kali dengan aku, kami tidur satu ranjang dan bicara sepanjang malam, terkadang bila kami menyinggung tentang persengketaan di antara berbagai golongan, Kik-toako selalu menghela napas dan merasa menyesal, beliau anggap pertengkaran antara kedua pihak sesungguhnya tidak ada gunanya. Persahabatanku dengan Kik-toako hanya mengutamakan saling bertukar pikiran tentang seni musik. Beliau adalah ahli menabuh kecapi dan aku suka meniup seruling. Di kala bertemu sebagian besar waktu kami gunakan untuk menabuh musik kesukaan masing-masing. Tentang ilmu silat selamanya kami tidak pernah membicarakannya."
Sampai di sini Lau Cing-hong tertampak tersenyum puas, lalu menyambung, "Boleh jadi para hadirin tidak percaya, tapi aku anggap pada zaman ini dalam hal menabuh kecapi rasanya tiada orang lain yang sanggup melebihi Kik-toako, sedangkan dalam hal meniup seruling rasanya juga tiada orang kedua yang melebihi Lau Cing-hong. Meski Kik-toako adalah orang Mo-kau, tapi dari suara kecapinya aku cukup mengenal wataknya yang baik dan budinya yang luhur, beliau benar-benar seorang manusia yang berperasaan. Sebab itulah Lau Cing-hong benar-benar sangat kagum padanya dan biarpun bagaimana jadinya tidak nanti aku mau mencelakai seorang jantan sebagai Kik-toako."
Para kesatria bertambah heran. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa persahabatan Lau Cing-hong dengan Kik Yang itu dimulai dari seni musik. Melihat ucapan Lau Cing-hong yang sungguh-sungguh dan jujur itu, mau tak mau mereka harus percaya kepada ceritanya itu. Di dunia Kangouw memang banyak orang-orang kosen yang aneh-aneh tingkah lakunya, jika Lau Cing-hong keranjingan dalam hal musik juga tidak perlu diherankan.
Bagi orang yang tahu akan seluk-beluk Heng-san-pay lantas teringat pula bahwa di antara tokoh-tokoh Heng-san-pay dari dulu sampai sekarang memang banyak yang suka kepada seni musik. Misalnya pejabat ketua mereka sekarang, yaitu Bok-taysiansing yang berjuluk "Siau-siang-ya-uh", beliau juga paling suka menabuh rebab sehingga diberikan gelar "di dalam rebab tersimpan pedang, di tengah pedang bersuarakan rebab". Dari itu bila persahabatan Lau Cing-hong dengan Kik Yang itu diawali dengan main musik, hal ini memang cukup masuk di akal.
Hui Pin lantas berkata pula, "Tentang persahabatanmu dengan gembong Mo-kau itu dalam seni musik, hal ini sudah diselidiki Co-bengcu dengan jelas. Kata Bengcu kita, setiap orang Mo-kau mempunyai tipu muslihat tertentu. Mereka tahu sesudah perserikatan Ngo-gak-kiam-pay kita, pasti kekuatan kita akan bertambah besar dan sukar dilawan oleh Mo-kau. Sebab itulah dengan segala daya upaya pihak Mo-kau berusaha hendak memecah belah dan mengadu domba kita, segala akal licik dapat pula dijalankan oleh mereka. Terhadap kaum muda kita sering pula mereka pancing dengan wanita cantik. Terhadap tokoh sebagai Lau-suheng yang hidupnya serbakecukupan, mereka lantas berusaha mendekati kegemaranmu dalam hal seni musik dan tugas ini telah diserahkan kepada Kik Yang. Untuk ini hendaklah Lau-suheng suka menggunakan pikiran secara dingin, sudah berapa banyak saudara-saudara kita yang telah menjadi korban keganasan pihak Mo-kau" Mengapa engkau kena dikelabui mereka dengan akal-akal licik itu dan tanpa sadar sedikit pun?"
"Benar, apa yang dikatakan Hui-sute memang tidak salah," demikian Ting-yat Suthay menimbrung. "Ditakutinya Mo-kau bukanlah lantaran ilmu silat mereka yang keji, tapi adalah macam-macam tipu muslihat mereka yang licik dan sukar diterka itu. Lau-sute, engkau adalah orang baik-baik, kalau tanpa sadar kena ditipu juga tidak menjadi soal. Biarlah kita bersama-sama turun tangan dan membunuh gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang itu, maka segala urusan akan menjadi beres. Ngo-gak-kiam-pay kita selamanya senapas dan sehaluan, jangan sekali-kali kena diadudombakan oleh Mo-kau sehingga saling bertengkar sendiri."
"Ya, Lau-sute, seorang laki-laki sejati bila tahu akan kesalahan sendiri dan mau memperbaiki, hal ini bukanlah sesuatu yang mesti diributkan," ujar Thian-bun Tojin. "Asalkan sekali tebas kau binasakan gembong Mo-kau she Kik itu, maka kawan-kawan dari dunia persilatan akan tetap memuji ketegasanmu sebagai seorang kesatria yang bijaksana. Sebagai kawanmu kami pun akan ikut merasa bangga."
Lau Cing-hong ternyata tidak menjawabnya, sinar matanya beralih ke arah Gak Put-kun. Katanya, "Gak-toako, engkau adalah seorang laki-laki yang bijaksana, para kawan-kawan terhormat dari Bu-lim yang hadir di sini sama mendesak aku menjual kawan, kalau menurut pendapatmu bagaimana baiknya?"
"Lau-hiante," sahut Gak Put-kun, "jika benar-benar demi sahabat, sebagai kaum Bu-lim kita ini biarpun leher putus demi membela kawan juga tidak menjadi soal. Namun gembong Mo-kau she Kik itu terang adalah manusia palsu mulutnya, tapi hatinya berbisa. Dia sengaja mendekati Lau-hiante dan mengikuti kegemaranmu dalam seni musik untuk melaksanakan tipu muslihatnya yang keji. Bila manusia demikian juga kau anggap sebagai sahabat, bukankah kata-kata 'sahabat' akan ternoda" Manusia iblis demikian masakah kau anggap sebagai sahabat karib segala?"
"Itu dia, apa yang diucapkan Gak-siansing memang tegas dan tepat," demikian orang banyak menanggapi. "Kita harus dapat membedakan antara kawan dan lawan. Terhadap kawan kita memang harus setia, tapi terhadap lawan kita tidak kenal ampun, apalagi bicara tentang setia kawan pula?"
Lau Cing-hong menghela napas. Ia tunggu sesudah suara orang banyak rada tenang kembali barulah bicara dengan perlahan, "Sejak mulai bersahabat dengan Kik-toako sudah kuduga akan terjadi seperti hari ini. Melihat gelagatnya akhir-akhir ini, kutaksir tidak lama lagi Ngo-gak-kiam-pay kita tentu akan terjadi suatu pertarungan habis-habisan dengan Mo-kau. Di satu pihak adalah para saudara serikat sendiri, di lain pihak adalah sahabat karib pula sehingga sukar bagiku untuk menentukan pihak mana harus dibantu. Lantaran itulah aku mencari jalan dengan mengadakan upacara 'cuci tangan' seperti sekarang ini, maksudku adalah untuk mengumumkan kepada para kawan kaum kita bahwa orang she Lau sejak kini telah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak ikut campur kepada segala persengketaan orang Kangouw, harapanku adalah supaya dapat hidup bebas tenteram dan tidak tersangkut di dalam permusuhan dan bunuh-membunuh. Tujuanku membeli suatu pangkat sekecil ini juga hanya untuk menghindarkan diri dari kesukaran, padahal pangkat sekecil ini sesungguhnya cuma membikin cemar namaku saja. Siapa duga Co-bengcu memang benar-benar mahasakti, langkah yang kuambil ini toh tetap susah mengelabui dia."
Mendengar keterangannya ini barulah para kesatria mengerti duduknya perkara. Kiranya dia mengadakan upacara "cuci tangan di baskom emas" ini sebenarnya mempunyai maksud tujuan sejauh ini. Pantas orang heran masakah seorang tokoh terkemuka dari Heng-san-pay sudi menjabat pangkat sekecil itu.
Hui Pin juga saling pandang sekejap dengan kedua Suhengnya, yaitu Ting Tiong dan Liok Pek, mereka merasa puas karena Ciangbun-suheng mereka telah berhasil mengetahui maksud tujuan Lau Cing-hong itu dan keburu merintangi tepat pada waktunya.
Maka terdengar Lau Cing-hong sedang menyambung pula, "Tentang permusuhan antara Mo-kau dan golongan kita memang sudah sangat lama dan berlarut-larut, siapa yang benar dan siapa yang salah juga sukar untuk diceritakan. Yang kuharap hanyalah melepaskan diri dari persengketaan berdarah ini, selanjutnya biar hidup tenteram sebagai rakyat yang patuh kepada undang-undang negara dan menghibur diri dengan meniup seruling. Kurasa cita-citaku ini toh tidak sampai melanggar peraturan perguruan sendiri atau perjanjian antara Ngo-gak-kiam-pay kita."
"Huh, enak saja kau bicara," demikian Hui Pin mendengus. "Jika setiap orang meniru kau, melarikan diri di saat akan menghadapi musuh, maka dunia ini pasti akan celaka dan dikuasai oleh kaum iblis. Kau sendiri ingin melepaskan diri dari segala persoalan, tapi gembong Mo-kau she Kik itu apakah juga mau berlaku seperti kau?"
Cing-hong tersenyum, jawabnya, "Di hadapanku Kik-toako sudah bersumpah kepada cikal bakal Mo-kau mereka untuk selanjutnya biarpun apa yang terjadi antara Mo-kau dengan kaum persilatan kita, maka Kik-toako sama sekali tak mau ikut campur lagi. Asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mengganggu orang."
"Hahaha! Bagus amat istilah 'asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mengganggu orang'," dengus Hui Pin dengan tertawa. "Lalu bagaimana apabila kaum kita yang mengganggunya?"
"Kik-toako sudah menyatakan bahwa beliau akan mengalah sedapat mungkin," sahut Lau Cing-hong, "sekali-kali beliau takkan main menang-menangan dan bertempur dengan orang, bahkan akan berusaha sekuatnya untuk menghindarkan salah paham kedua pihak. Kemarin juga Kik-toako telah mengirim berita padaku bahwa murid Hoa-san-pay yang bernama Lenghou Tiong telah dilukai orang, jiwanya dalam keadaan bahaya, tapi beliau telah memberi pertolongan seperlunya."
Ucapan ini kembali membikin gempar para hadirin, lebih-lebih bagi orang-orang Hoa-san-pay, Hing-san-pay, dan Jing-sia-pay.
Dengan cepat Gak Leng-sian, itu putri Gak Put-kun, lantas bertanya, "Lau-susiok, di manakah Lenghou-suko berada sekarang" Apakah ... apakah benar dia telah ditolong oleh ...oleh Locianpwe she Kik itu?"
"Jika begitu ucapan Kik-toako, rasanya tentu benar adanya," sahut Lau Cing-hong. "Untuk jelasnya boleh kau tanya Lenghou-hiantit sendiri bila kelak kau bertemu dengan dia."
"Huh, buat apa mesti mengherankan hal-hal begitu?" ejek Hui Pin. "Orang-orang Mo-kau memang paling pandai memecah belah dan mengadu domba, segala tipu akal yang licik dapat dilakukan oleh mereka. Dengan segala daya upaya ia telah memelet murid Hoa-san-pay. Boleh jadi lantaran itu Lenghou Tiong menjadi merasa terima kasih dan ingin membalas budi pertolongannya itu. Bukan mustahil sejak kini Ngo-gak-kiam-pay kita telah bertambah lagi seorang pengkhianat."
Mendadak alis Lau Cing-hong menegak, tanyanya dengan angkuh, "Hui-suheng, kau mengatakan sejak kini telah 'bertambah lagi' seorang pengkhianat. Apa maksudmu dengan kata-kata 'bertambah lagi' itu?"
"Siapa yang berbuat, dia harus tahu sendiri, apa perlu aku jelaskan pula?" sahut Hui Pin.
"Hm, jadi secara langsung kau menuduh orang she Lau ini telah menjadi pengkhianat?" tanya Lau Cing-hong. "Aku berkawan dengan siapa saja adalah urusan pribadiku, orang luar tidak berhak untuk ikut campur. Selamanya Lau Cing-hong tidak merasa mengkhianati kawan dan mendurhakai perguruan, maka istilah 'pengkhianat' itu biarlah aku aturkan kembali kepadamu."
Tadinya sikap Lau Cing-hong tampaknya ramah tamah sebagaimana layaknya seorang hartawan terhadap tamunya, tapi sekarang mendadak sorot matanya memancarkan sinar yang tajam, sikapnya gagah berani. Walaupun berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan toh dia tetap mengadu mulut dengan tidak kalah tajamnya dengan Hui Pin, mau tak mau para hadirin merasa kagum juga terhadap ketabahannya.
"Jika demikian, jadi sudah terang Lau-suheng tidak mau memilih jalan pertama dan tegas-tegas tidak mau membinasakan gembong she Kik dari Mo-kau itu?" Hui Pin menegas.
"Bila memang sudah ada perintah dari Co-bengcu, tiada halangannya sekarang juga Hui-suheng turun tangan untuk membunuh segenap keluargaku," sahut Lau Cing-hong.
"Huh, jangan kau mentang-mentang ada sekian banyak kesatria-kesatria dari segenap penjuru sedang bertamu di rumahmu ini dan mengira Ngo-gak-kiam-pay kami akan merasa jeri, lalu tidak berani mengadakan pembersihan kepada kaum pengkhianat?" demikian jengek Hui Pin. Mendadak ia memberi tanda kepada Su Ting-tat dan berseru, "Coba kemari!"
Su Ting-tat mengiakan sambil melangkah maju. Hui Pin mengambil panji pancawarna itu dari tangan Su Ting-tat, lalu diangkat tinggi-tinggi ke atas sambil berseru, "Dengarkanlah Lau Cing-hong! Atas perintah Co-bengcu, jika kau tidak mau berjanji untuk membunuh Kik Yang di dalam waktu sebulan, maka terpaksa Ngo-gak-kiam-pay harus segera mengadakan pembersihan di antara anggota-anggotanya sendiri untuk menghindarkan bencana di kemudian hari. Babat rumput harus sampai akar-akarnya, sedikit pun tidak kenal ampun. Untuk ini hendaklah kau pikirkan lagi semasak-masaknya!"
Lau Cing-hong tersenyum pedih, jawabnya, "Orang she Lau ini mencari sahabat, yang diutamakan adalah kecocokan lahir batin satu sama lain, mana boleh sahabat sendiri dibunuh demi untuk menyelamatkan diri sendiri" Jikalau Co-bengcu sudah pasti tidak dapat memaafkan, apa mau dikata lagi, terserahlah kepada kebijaksanaan Co-bengcu saja, masakah orang she Lau yang tidak punya pengaruh apa-apa berani melawannya" Memangnya segala apa sudah diatur oleh Ko-san-pay kalian, boleh jadi peti mati bagiku mungkin juga sudah kalian sediakan. Kalau mau turun tangan boleh silakan saja, mau tunggu kapan lagi?"
Mendadak Hui Pin mengebaskan panji kebesarannya, serunya dengan suara lantang, "Para Suheng dan Sute dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay, Hing-san-pay dan Heng-san-pay, menurut pesan dari Co-bengcu, selamanya antara Cing-pay dan Sia-pay (golongan baik dan jahat) tidak pernah hidup bersama. Mo-kau dan Ngo-gak-kiam-pay kita telah mengikat permusuhan sedalam lautan. Sekarang Lau Cing-hong dari Heng-san-pay bersahabat dengan kaum penjahat dan menggabungkan diri kepada musuh, setiap anggota Ngo-gak-kiam-pay kita harus membunuhnya bersama-sama. Siapa yang tunduk kepada perintah Co-bengcu ini hendaklah berdiri ke sisi kiri."
Tertampaklah Thian-bun Tojin yang pertama-tama berbangkit dan berjalan ke sebelah kiri dengan langkah lebar tanpa menoleh sekejap pun kepada Lau Cing-hong.
Kiranya gurunya Thian-bun Tojin dahulu telah ditewaskan oleh seorang gembong wanita dari Mo-kau. Sebab itulah bencinya terhadap Mo-kau boleh dikata merasuk tulang sumsum. Maka begitu dia menyisihkan diri ke sebelah kiri, segera anak muridnya juga ikut ke sebelah sana.
Orang kedua yang berbangkit adalah Gak Put-kun, katanya, "Lau-hiante, asal kau manggut saja, maka orang she Gak ini akan mewakilkan kau membereskan Kik Yang itu. Kau bilang seorang jantan jangan sekali-kali mengkhianati sahabat. Apakah di dunia ini hanya Kik Yang seorang saja adalah sahabatmu" Apakah orang-orang Ngo-gak-kiam-pay kita dan para kesatria yang hadir di sini bukanlah sahabatmu" Ratusan, ribuan sahabat dari kalangan persilatan ini begitu mendengar engkau hendak mengundurkan diri dari dunia persilatan, serentak mereka lantas datang dari tempat jauh untuk mengucapkan selamat kepadamu dengan segala ketulusan hati. Apakah tindakan mereka ini belum dapat dianggap sebagai sahabat" Sekalipun Kik Yang itu mahir memetik kecapi, apa karena itu lalu jiwa segenap keluargamu serta persahabatan antara Ngo-gak-kiam-pay kita dan kawan-kawan yang hadir di sini ini kurang berharga daripada persahabatan dengan Kik Yang seorang?"
Perlahan-lahan Lau Cing-hong menggeleng kepala, sahutnya, "Gak-suheng, engkau adalah orang terpelajar dan tentu tahu apa yang pantas dilakukan seorang laki-laki sejati dan apa yang tidak patut diperbuat. Nasihatmu yang baik ini kuterima juga dengan rasa terima kasih. Akan tetapi orang lain memaksa aku membunuh Kik-toako, hal ini sekali-kali tidak dapat kulakukan, sama halnya bila ada orang yang memaksa aku membunuh engkau Gak-suheng atau salah seorang sahabat yang hadir ini, biarpun seluruh anggota keluargaku tertimpa bencana juga takkan kulakukan. Kik-toako adalah sahabatku yang paling karib, hal ini sudah terang, tapi Gak-suheng juga sahabat baikku. Dan bila Kik-toako sampai membuka suara bermaksud mencelakai salah seorang sahabatku dari Ngo-gak-kiam-pay, maka perbuatannya itu tentu akan kupandang hina dan takkan menganggapnya sebagai sahabat lagi."
Karena ucapan Lau Cing-hong ini sangat sungguh-sungguh dan tulus kedengarannya, mau tak mau tergerak juga perasaan para kesatria. Maklumlah orang-orang persilatan paling mengutamakan budi setia antarkawan. Sedemikian tegas Lau Cing-hong membela Kik Yang, diam-diam para kesatria merasa gegetun juga akan jiwa luhur tokoh Heng-san-pay itu.
"Lau-hiante," ujar Gak Put-kun, "ucapanmu ini terang tidak betul. Lau-hiante mengutamakan setia kawan, hal ini memang mengagumkan. Tapi untuk itu juga harus dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, antara yang betul dan yang salah. Selama ini Mo-kau telah banyak berbuat kejahatan, tidak sedikit orang Kangouw yang baik-baik telah menjadi korban keganasannya, begitu pula rakyat jelata yang tak berdosa. Lau-hiante sendiri hanya karena merasa cocok dan sepaham dalam hal main musik lantas segenap jiwa anggota keluargamu juga kau pertaruhkan untuknya. Rasanya engkau telah salah mengartikan 'setia kawan' yang kau junjung tinggi itu."
Lau Cing-hong tersenyum hambar, katanya, "Gak-toako, engkau tidak suka seni suara, makanya tidak paham maksudku yang mendalam. Hendaklah maklum bahwa dalam ucapan dan kata-kata, orang dapat berdusta dan membohong, tapi suara musik, suara kecapi dan seruling adalah suara hati yang tidak dapat dipalsukan atau dibikin-bikin. Kik-toako bersahabat dengan aku berdasarkan perpaduan suara kecapi dan seruling, jiwa kami telah saling mengikat, aku bersedia menanggungnya dengan segenap jiwa anggota keluargaku bahwa Kik-toako meski betul adalah orang Mo-kau, tapi beliau sedikit pun tidak berbau jahat seperti orang Mo-kau yang lain."
Gak Put-kun menghela napas panjang, dia tidak bicara lagi terus berjalan ke sebelah Thian-bun Tojin. Segera Lo Tek-nau, Gak Leng-sian, Liok Tay-yu dan lain-lain mengikuti jejak sang guru.
Sekarang bergilir atas diri Ting-yat Suthay, dengan tajam ia menatap Lau Cing-hong. Katanya, "Selanjutnya aku tetap memanggil Lau-hiante padamu atau menyebut Lau Cing-hong saja?"
Lau Cing-hong tersenyum getir, sahutnya, "Jiwa orang she Lau ini hanya tergantung sekejap lagi, selanjutnya Suthay tiada sempat memanggil padaku pula."
Ting-yat Suthay merangkap tangannya dan menyebut Buddha, lalu perlahan-lahan berjalan ke sebelah Gak Put-kun dengan diikuti oleh anak muridnya.
"Urusan ini hanya menyangkut Lau Cing-hong seorang," sahut Hui Pin kemudian, "maka tiada sangkut pautnya dengan murid-murid Heng-san-pay yang lain-lain. Para murid Heng-san-pay yang tidak ikut membantu kejahatan dan mau sadar kembali boleh berdiri semua ke sebelah kiri."
Suasana di ruangan sidang menjadi sunyi senyap. Selang sejenak, seorang laki-laki setengah umur telah berseru, "Lau-supek, maafkanlah kepada kami!"
Lalu ada belasan murid Heng-san-pay menyingkir dan berdiri di sebelah Ting-yat Suthay. Mereka adalah murid keponakan Lau Cing-hong. Sedangkan tokoh Heng-san-pay angkatan tua yang sebaya dengan Lau Cing-hong kali ini tidak ada yang datang.
"Murid keluarga Lau sendiri disilakan juga berdiri ke sisi kiri!" seru Hui Pin pula.
Tapi Hiang Tay-lian lantas berseru lantang, "Kami telah menerima budi besar dari perguruan, bilamana Suhu ada kesukaran, sudah seharusnya kami ikut memikul tanggung jawab. Kini para murid keluarga Lau bertekad sehidup semati dengan Suhu."
"Bagus! Bagus!" kata Lau Cing-hong dengan air mata bercucuran saking terharunya. "Tay-lian, dengan ucapanmu ini kau sudah cukup berbakti kepada gurumu. Bolehlah kalian berdiri ke sebelah sana saja. Suhu sendiri yang berbuat, sedikit pun tiada sangkut pautnya dengan kalian."
"Sret", mendadak Bi Wi-gi melolos pedang. Serunya, "Para murid keluarga Lau sudah tentu bukan tandingan Ngo-gak-kiam-pay. Tapi urusan hari ini tiada pilihan lain kecuali menghadapi dengan kematian. Siapa yang berani mengganggu guru kami boleh silakan membunuh dulu orang she Bi ini!"
Habis berkata ia terus berdiri di depan Lau Cing-hong dengan gagah berani.
"Huh, mutiara sebesar beras juga mau coba-coba bersinar?" ejek Hui Pin. Mendadak tangan kirinya bergerak, "crit", sejalur sinar perak yang kecil terus menyambar ke depan secepat kilat.
Lau Cing-hong terkejut, cepat ia tolak lengan kanan Bi Wi-gi sehingga murid itu terlempar ke samping dengan sempoyongan, sedangkan sinar perak itu terus menyambar ke dada Lau Cing-hong.
Lantaran ingin melindungi sang guru, tanpa pikir Hiang Tay-lian terus menubruk maju. Maka terdengarlah jeritannya yang ngeri, sinar perak yang berwujud jarum itu tepat menancap di tengah ulu hatinya. Kontan ia roboh dan binasa.
Dengan tangan kirinya, Lau Cing-hong masih sempat merangkul tubuh muridnya itu. Ia coba periksa pernapasannya dan ternyata sudah putus. Ia menoleh dan berkata kepada Ting Tiong, "Lo-loji, adalah Ko-san-pay kalian yang lebih dulu membunuh muridku!"
"Benar," sahut Ting Tiong. "Memang kami yang turun tangan lebih dulu. Lalu kau mau apa?"
Mendadak Lau Cing-hong angkat jenazah Hiang Tay-lian terus dilemparkan ke arah Ting Tiong. Melihat tenaga lemparannya itu, Ting Tiong tahu Lwekang Heng-san-pay memang mempunyai keistimewaannya sendiri, apalagi Lau Cing-hong adalah tokoh terkemuka dari Heng-san-pay, tentu tenaga yang digunakan tidak boleh dipandang enteng. Maka diam-diam ia pun menghimpun tenaga dan siap menyambut datangnya tubuh tak bernyawa itu untuk kemudian akan dilemparkan kembali.
Segera ia balas menghormat dan menjawab, "Jauh-jauh Hui-suheng datang kemari, mengapa tidak sudi ikut minum barang secawan arak, tapi malah sembunyi di atas rumah merasakan terik sinar matahari" Rasanya Ting-suheng dan Liok-suheng tentu juga sudah datang, boleh silakan keluar saja sekalian. Melulu menghadapi orang she Lau, seorang Hui-suheng saja sudah jauh lebih dari cukup. Tapi untuk melayani para kesatria sebanyak yang hadir di sini mungkin kawan Ko-san-pay yang datang ini masih kurang cukup."
Hui Pin tersenyum, katanya, "Buat apa Lau-suheng mengeluarkan kata-kata mengadu domba demikian" Seumpama mesti berlawanan dengan Lau-suheng sendiri, Cayhe juga tidak mampu menahan gerakan 'Siau-lok-gan-sik' Lau-suheng barusan ini. Ko-san-pay sekali-kali tidak berani merecoki Heng-san-pay, lebih-lebih tak berani memusuhi setiap kesatria mana pun yang hadir di sini ini. Soalnya urusan ini menyangkut keselamatan jiwa beribu kawan-kawan Bu-lim, maka terpaksa kami harus minta agar Lau-suheng membatalkan maksud akan 'cuci tangan di baskom emas' ini."
Kata-kata itu membuat para kesatria melengak heran semua. Mereka tidak habis mengerti ada hubungan apakah antara acara "cuci tangan" yang dilakukan Lau Cing-hong dengan para orang Kangouw" Mengapa dikatakan menyangkut keselamatan jiwa beribu kawan Bu-lim"
Benar juga. Lantas terdengar Lau Cing-hong menjawab, "Ucapan Hui-suheng tadi sungguh terlalu menjunjung tinggi padaku. Padahal orang she Lau ini hanya seorang anggota Heng-san-pay biasa saja, sebaliknya tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay tak terhitung banyaknya, apa artinya bertambah atau berkurang dengan seorang Lau Cing-hong saja" Mengapa tindakanku ini dikatakan menyangkut jiwa ribuan orang kawan Bu-lim?"
"Ya, betul," demikian Ting-yat Suthay menyambung. "Soal Lau-hiante ingin Kim-bun-swe-jiu dan mau menjadi pembesar tergolong keroco itu, untuk bicara terus terang sesungguhnya aku pun merasa hina. Cuma setiap manusia mempunyai cita-citanya sendiri-sendiri, dia suka menjadi pembesar dan ingin rezeki nomplok, asalkan tidak merugikan rakyat jelata, tidak merusak kesetiakawanan sesama orang Bu-lim, maka siapa pun tidak dapat merintangi kebebasannya. Kukira Lau-hiante juga tidak mempunyai kemampuan sebesar itu sehingga dapat membikin celaka kawan Bu-lim sedemikian banyaknya."
"Ting-yat Suthay," ujar Hui Pin, "engkau adalah orang beribadat, sudah tentu kurang paham akan tipu muslihat orang luar. Hendak maklum, bilamana intrik besar ini sampai terlaksana, bukan saja banyak kawan Bu-lim yang akan menjadi korban, bahkan juga rakyat jelata yang tak berdosa akan ikut mengalami bencana besar. Coba kalian pikir sendiri. Lau-samya dari Heng-san-pay adalah seorang tokoh termasyhur, seorang kesatria yang terkenal di Kangouw, masakah beliau sudi merendahkan diri untuk mengekor kepada kawanan pembesar anjing yang korup itu" Harta benda Lau-samya sendiri sudah cukup kaya raya, masakan beliau masih kemaruk harta dan ingin kedudukan segala" Sebab itulah sudah lama kami merasa sangsi, bahwasanya seorang tokoh sebagai Lau-samya hanya sudi menjabat pangkat sedemikian kecilnya, hal ini benar-benar terlalu aneh dan mencurigakan."
"Hahaha! Bagus, bagus!" demikian Lau Cing-hong tidak marah, berbalik ia tertawa. "Kiranya di balik persoalan ini dikatakan masih mengandung suatu intrik besar yang maharahasia. Hm, Hui-suheng, jika kau mau memfitnah hendaklah juga perlu mencari alasan yang masuk di akal. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan urusan ini, sebab kalau kukatakan sesungguhnya akan membikin malu Heng-san-pay sendiri. Tapi karena urusan sudah telanjur begini, terpaksa aku tidak dapat mengelakkan lagi, biarlah para kawan yang hadir di sini sukalah menimbang dengan adil. Nah, Ting-suheng dan Liok-suheng boleh silakan keluar saja sekalian!"
"Baik!" berbareng terdengar dari sebelah timur dan barat di atas rumah ada dua orang berseru. Bayangan kuning berkelebat, tahu-tahu dua orang sudah berdiri di depan ruangan. Ginkang kedua orang ini serupa benar dengan cara Hui Pin melompat turun tadi.
Yang berdiri di sebelah timur adalah seorang botak, botak dalam arti kata gundul kelimis tanpa seujung rambut pun, sampai-sampai batok kepalanya kelihatan mengilap. Dia adalah tokoh kedua dari Ko-san-pay, namanya Ting Tiong.
Sedangkan orang yang berdiri di sebelah barat adalah seorang kurus kering seperti orang sakit TBC, agak bungkuk lagi pucat seperti orang yang sudah lebih seminggu kelaparan. Para kesatria mengenalnya sebagai tokoh ketiga dalam Ko-san-pay yang terkenal, namanya Liok Pek, berjuluk Wi-bin Cukat atau si Cukat Liang (Khong Beng) bermuka pucat, yaitu lantaran dia sangat banyak tipu akalnya.
Ting Tiong dan Liok Pek sangat termasyhur di dunia persilatan, maka para kesatria serentak berbangkit menyambut kedatangan mereka berbareng saling mengucapkan salam hormat masing-masing. Tampaknya tokoh Ko-san-pay yang datang ini makin lama makin banyak dan makin jempolan, agaknya urusan hari ini sangat penting, rasanya Lau Cing-hong pasti akan menghadapi kesukaran.
"Lau-hiante," demikian Ting-yat Suthay telah membuka suara, "kau jangan khawatir. Segala urusan di dunia ini tak terlepas dari satu kata, yakni 'kebenaran'. Janganlah kau anggap orang lain berjumlah banyak, memangnya para kawan kita dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay dan Hing-san-pay hanya datang untuk gegares saja tanpa bekerja?"
Di balik ucapannya itu, secara terang-terangan ia hendak menyatakan bilamana Ko-san-pay berani main kekerasan dan mengandalkan orang banyak, maka Hing-san-pay yang dipimpinnya adalah pihak pertama yang akan membela keadilan. Sedangkan Thian-bun Tojin, Gak Put-kun dan lain-lain juga takkan tinggal diam.
Tapi Lau Cing-hong hanya tersenyum getir saja. Katanya, "Sungguh memalukan kalau urusan ini diceritakan. Sebenarnya persoalannya mengenai urusan dalam Heng-san-pay kami, tapi sekarang para kawan mesti ikut-ikut khawatir, sungguh aku merasa tidak enak. Sekarang aku pun dapat memahami duduknya perkara. Tentulah Bok-suheng kami juga telah mengadu biru kepada Co-suheng Bengcu tentang macam-macam kesalahanku sehingga para Suheng dari Ko-san-pay lantas dikerahkan kemari untuk merecoki aku. Ya, ya, apa mau dikata lagi, biarlah aku mengaku salah saja kepada Bok-suko."
Sorot mata Hui Pin yang tajam menyapu sekeliling kepada para hadirin. Kemudian ia berkata, "Kau bilang urusan ini ada sangkut pautnya dengan Bok-taysiansing" Jika demikian silakan Bok-taysiansing keluar saja, biar kita bicara secara terus terang."
Habis ucapannya, suasana di tengah sidang menjadi hening senyap. Sampai agak lama tetap tidak tertampak munculnya "Siau-siang-ya-uh" Bok-taysiansing, ketua Heng-san-pay atau Suheng Lau Cing-hong yang termasyhur itu.
Dengan tersenyum getir Lau Cing-hong lantas membuka suara pula, "Tentang pertengkaran antara kami bersaudara seperguruan cukup diketahui oleh para kawan dari Bu-lim dan tidak perlu kututup-tutupi lagi. Para sahabat tentu maklum bahwa dari warisan leluhur, maka keluargaku boleh dikata cukup berada, sebaliknya Bok-suko kami adalah orang yang miskin. Sebenarnya saling membantu antarkawan adalah lazim, apalagi antarsesama Suheng dan Sute. Namun berhubung urusan ini Bok-suko lantas sirik dan selamanya tak mau menginjak lagi ke rumahku, sudah ada beberapa tahun kami Suheng dan Sute tidak berbicara dan tidak bertemu, maka dengan sendirinya hari ini Bok-suko juga tidak mungkin hadir di sini. Adapun yang membuat aku merasa penasaran adalah Co-bengcu hanya percaya kepada pengaduan sepihak saja lalu mengirimkan para Suheng kemari untuk menghadapi aku, sampai-sampai anak-istriku juga ikut ditawan, bukankah hal ini agak ... agak keterlaluan?"
"Angkat panjimu!" seru Hui Pin kepada Su Ting-tat.
Su Ting-tat mengiakan dan segera mengangkat panjinya dan berdiri di samping Hui Pin.
"Lau-suheng," kata Hui Pin dengan keren, "urusan hari ini sama sekali tiada hubungannya dengan Bok-taysiansing, ketua Heng-san-pay kalian, maka kau tidak perlu menyinggung tentang dirinya. Menurut perintah Bengcu, kami diharuskan menyelidiki dan menanya kau dengan jelas, yaitu bagaimana persekongkolanmu dengan Tonghong Put-pay dari Mo-kau, intrik apa yang telah kalian atur untuk menghadapi Ngo-gak-kiam-pay kita dan para kawan dari Bu-lim?"
Kata-kata itu telah mengguncangkan perasaan setiap hadirin. Hendaklah maklum bahwa Mo-kau (agama sesat) selalu memusuhi para kesatria dari kalangan Pek-to, permusuhan demikian sudah berlangsung selama ratusan tahun dan tidak habis-habis, kedua belah pihak sama-sama banyak jatuh korban. Dari ribuan hadirin sekarang paling sedikit ada separuhnya yang pernah diganggu oleh pihak Mo-kau, ada yang ayah-bundanya terbunuh, ada gurunya terbinasa, maka bila menyebut agama iblis itu semuanya merasa dendam dan benci. Sebabnya Ngo-gak, yaitu aliran lima gunung (Ko-san, Thay-san, Hoa-san, Heng-san dan Hing-san) berserikat justru tujuan utamanya adalah untuk menghadapi Mo-kau.
Ilmu silat Mo-kau baik Lwekang maupun Gwakang mempunyai caranya yang khas, betapa pun hebat ilmu silat pihak Ngo-gak sering juga kewalahan melawannya. Lebih-lebih ketua Mo-kau yang bernama Tonghong Put-pay, bahkan oleh orang diberi julukan sebagai "jago nomor satu selama seabad ini". Sesuai dengan namanya: Put-pay (tidak terkalahkan), maka sejak dia mengetuai Mo-kau memang belum pernah dikalahkan oleh siapa pun juga.
Lantaran itulah demi para kesatria mendengar Hui Pin membongkar hubungan antara Lau Cing-hong dengan pihak Mo-kau, apakah hal ini betul atau tidak, yang jelas setiap kesatria itu ikut berkepentingan dan menyangkut keselamatan mereka pula. Maka dari itu rasa simpatik mereka kepada Lau Cing-hong semula lantas lenyap seketika.
Maka terdengar Lau Cing-hong telah menjawab tuduhan Hui Pin tadi, "Selamanya Cayhe belum pernah melihat, apalagi kenal kepada ketua Mo-kau Tonghong Put-pay, entah dengan dasar apa aku dituduh bersekongkol dan berintrik dengan pihak Mo-kau"''
Hui Pin tidak menjawabnya, ia hanya melirik Samsuhengnya, yaitu Liok Pek.
Maka dengan suara perlahan-lahan, Liok Pek telah bicara, "Lau-suheng, apa yang kau katakan rasanya masih banyak yang ketinggalan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Di dalam Mo-kau ada seorang Hou-hoat-tianglo (sesepuh pembela agama) yang bernama Kik Yang. Entah Lau-suheng kenal atau tidak?"
Sejak mula Lau Cing-hong sebenarnya sangat tenang, tapi demi mendengar nama "Kik Yang", seketika air mukanya berubah hebat. Namun bibirnya terkatup rapat-rapat dan tidak menjawab.
Ting Tiong, tokoh kedua Ko-san-pay yang berkepala botak kelimis itu sejak datang tadi belum bersuara sepatah pun. Sekarang mendadak ia bertanya dengan suara bengis, "Kau kenal tidak kepada Kik Yang?"
Sedemikian keras dan lantang suaranya sehingga anak telinga setiap orang sampai mendenging. Dalam pandangan semua orang jejak Ting Tiong seakan-akan bertambah tinggi besar secara mendadak dan penuh wibawa.
Namun Lau Cing-hong masih tetap tidak menjawab. Seketika perhatian beribu orang terpusat kepadanya, dalam hati setiap orang sama merasa sikap Lau Cing-hong yang bungkam itu serupa saja dengan mengakui pertanyaan Ting-Tiong secara diam-diam.
Selang agak lama barulah Lau Cing-hong mengangguk dan berkata, "Betul! Kik Yang, Kik-toako memang kenalanku. Malahan bukan cuma kenalan sekadar kenalan, bahkan dia adalah sahabatku yang baik. Sahabatku yang paling kental selama hidupku ini."
Seketika suasana sidang menjadi gempar. Para kesatria ramai membicarakan pengakuan Lau Cing-hong yang terus terang dan di luar dugaan itu. Semula mereka menyangka paling-paling Lau Cing-hong hanya akan mengaku bahwa Kik Yang memang betul pernah dikenalnya dan sekali-kali tidak menduga bahwa dia berani menyatakan bahwa gembong Mo-kau itu justru adalah sahabatnya yang paling kental.
Hui Pin tampak tersenyum, katanya, "Baik sekali karena kau sendiri sudah mengaku. Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Nah, Lau Cing-hong, sekarang Co-bengcu telah menentukan dua jalan, bolehlah kau pilih sendiri."
Akan tetapi Lau Cing-hong seperti tidak mendengar apa yang dikatakan Hui Pin itu, dengan tenang saja ia duduk kembali, ia menuang secawan arak dan ditenggaknya habis.
Diam-diam para hadirin memuji dan merasa kagum terhadap sikap Lau Cing-hong yang tabah dan tenang itu. Menghadapi saat segawat ini ternyata dia masih sanggup bersikap tenang tanpa sedikit memperlihatkan tanda-tanda kecemasan.
Dengan suara lantang Hui Pin lantas berseru pula, "Menurut Co-bengcu, katanya Lau Cing-hong adalah tokoh yang jarang terdapat di dalam Heng-san-pay, hanya karena sedikit kekhilafannya sehingga salah bergaul dengan orang jahat, apabila mau insaf kembali, sudah tentu kaum kita akan suka memberi kesempatan padanya untuk memperbaiki kesalahannya. Jikalau jalan ini yang kau pilih, maka Co-bengcu memberi batas waktu sebulan agar kau membunuh gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang itu, bawalah buah kepalanya sebagai bukti, dengan demikian segala kesalahan yang lain takkan diusut lebih lanjut dan kita masih tetap sahabat baik dan saudara dalam Ngo-gak-kiam-pay."
Para kesatria berpikir bahwa selamanya antara yang baik dan yang jahat tidak pernah hidup bersama. Orang-orang Mo-kau bilamana kepergok oleh tokoh-tokoh dari kalangan pendekar tentu lantas saling labrak mati-matian. Kalau sekarang Co-bengcu mengharuskan Lau Cing-hong membunuh dulu Kik-Yang untuk membuktikan kesetiaannya, hal ini pun dapat dimengerti dan bukan sesuatu permintaan yang berlebihan.
Sekilas air muka Lau Cing-hong bersenyum sedih, sahutnya kemudian, "Kik-toako dan aku begitu bertemu lantas seperti sobat lama, lalu berhubungan dengan sangat akrab. Dia telah bertemu belasan kali dengan aku, kami tidur satu ranjang dan bicara sepanjang malam, terkadang bila kami menyinggung tentang persengketaan di antara berbagai golongan, Kik-toako selalu menghela napas dan merasa menyesal, beliau anggap pertengkaran antara kedua pihak sesungguhnya tidak ada gunanya. Persahabatanku dengan Kik-toako hanya mengutamakan saling bertukar pikiran tentang seni musik. Beliau adalah ahli menabuh kecapi dan aku suka meniup seruling. Di kala bertemu sebagian besar waktu kami gunakan untuk menabuh musik kesukaan masing-masing. Tentang ilmu silat selamanya kami tidak pernah membicarakannya."
Sampai di sini Lau Cing-hong tertampak tersenyum puas, lalu menyambung, "Boleh jadi para hadirin tidak percaya, tapi aku anggap pada zaman ini dalam hal menabuh kecapi rasanya tiada orang lain yang sanggup melebihi Kik-toako, sedangkan dalam hal meniup seruling rasanya juga tiada orang kedua yang melebihi Lau Cing-hong. Meski Kik-toako adalah orang Mo-kau, tapi dari suara kecapinya aku cukup mengenal wataknya yang baik dan budinya yang luhur, beliau benar-benar seorang manusia yang berperasaan. Sebab itulah Lau Cing-hong benar-benar sangat kagum padanya dan biarpun bagaimana jadinya tidak nanti aku mau mencelakai seorang jantan sebagai Kik-toako."
Para kesatria bertambah heran. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa persahabatan Lau Cing-hong dengan Kik Yang itu dimulai dari seni musik. Melihat ucapan Lau Cing-hong yang sungguh-sungguh dan jujur itu, mau tak mau mereka harus percaya kepada ceritanya itu. Di dunia Kangouw memang banyak orang-orang kosen yang aneh-aneh tingkah lakunya, jika Lau Cing-hong keranjingan dalam hal musik juga tidak perlu diherankan.
Bagi orang yang tahu akan seluk-beluk Heng-san-pay lantas teringat pula bahwa di antara tokoh-tokoh Heng-san-pay dari dulu sampai sekarang memang banyak yang suka kepada seni musik. Misalnya pejabat ketua mereka sekarang, yaitu Bok-taysiansing yang berjuluk "Siau-siang-ya-uh", beliau juga paling suka menabuh rebab sehingga diberikan gelar "di dalam rebab tersimpan pedang, di tengah pedang bersuarakan rebab". Dari itu bila persahabatan Lau Cing-hong dengan Kik Yang itu diawali dengan main musik, hal ini memang cukup masuk di akal.
Hui Pin lantas berkata pula, "Tentang persahabatanmu dengan gembong Mo-kau itu dalam seni musik, hal ini sudah diselidiki Co-bengcu dengan jelas. Kata Bengcu kita, setiap orang Mo-kau mempunyai tipu muslihat tertentu. Mereka tahu sesudah perserikatan Ngo-gak-kiam-pay kita, pasti kekuatan kita akan bertambah besar dan sukar dilawan oleh Mo-kau. Sebab itulah dengan segala daya upaya pihak Mo-kau berusaha hendak memecah belah dan mengadu domba kita, segala akal licik dapat pula dijalankan oleh mereka. Terhadap kaum muda kita sering pula mereka pancing dengan wanita cantik. Terhadap tokoh sebagai Lau-suheng yang hidupnya serbakecukupan, mereka lantas berusaha mendekati kegemaranmu dalam hal seni musik dan tugas ini telah diserahkan kepada Kik Yang. Untuk ini hendaklah Lau-suheng suka menggunakan pikiran secara dingin, sudah berapa banyak saudara-saudara kita yang telah menjadi korban keganasan pihak Mo-kau" Mengapa engkau kena dikelabui mereka dengan akal-akal licik itu dan tanpa sadar sedikit pun?"
"Benar, apa yang dikatakan Hui-sute memang tidak salah," demikian Ting-yat Suthay menimbrung. "Ditakutinya Mo-kau bukanlah lantaran ilmu silat mereka yang keji, tapi adalah macam-macam tipu muslihat mereka yang licik dan sukar diterka itu. Lau-sute, engkau adalah orang baik-baik, kalau tanpa sadar kena ditipu juga tidak menjadi soal. Biarlah kita bersama-sama turun tangan dan membunuh gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang itu, maka segala urusan akan menjadi beres. Ngo-gak-kiam-pay kita selamanya senapas dan sehaluan, jangan sekali-kali kena diadudombakan oleh Mo-kau sehingga saling bertengkar sendiri."
"Ya, Lau-sute, seorang laki-laki sejati bila tahu akan kesalahan sendiri dan mau memperbaiki, hal ini bukanlah sesuatu yang mesti diributkan," ujar Thian-bun Tojin. "Asalkan sekali tebas kau binasakan gembong Mo-kau she Kik itu, maka kawan-kawan dari dunia persilatan akan tetap memuji ketegasanmu sebagai seorang kesatria yang bijaksana. Sebagai kawanmu kami pun akan ikut merasa bangga."
Lau Cing-hong ternyata tidak menjawabnya, sinar matanya beralih ke arah Gak Put-kun. Katanya, "Gak-toako, engkau adalah seorang laki-laki yang bijaksana, para kawan-kawan terhormat dari Bu-lim yang hadir di sini sama mendesak aku menjual kawan, kalau menurut pendapatmu bagaimana baiknya?"
"Lau-hiante," sahut Gak Put-kun, "jika benar-benar demi sahabat, sebagai kaum Bu-lim kita ini biarpun leher putus demi membela kawan juga tidak menjadi soal. Namun gembong Mo-kau she Kik itu terang adalah manusia palsu mulutnya, tapi hatinya berbisa. Dia sengaja mendekati Lau-hiante dan mengikuti kegemaranmu dalam seni musik untuk melaksanakan tipu muslihatnya yang keji. Bila manusia demikian juga kau anggap sebagai sahabat, bukankah kata-kata 'sahabat' akan ternoda" Manusia iblis demikian masakah kau anggap sebagai sahabat karib segala?"
"Itu dia, apa yang diucapkan Gak-siansing memang tegas dan tepat," demikian orang banyak menanggapi. "Kita harus dapat membedakan antara kawan dan lawan. Terhadap kawan kita memang harus setia, tapi terhadap lawan kita tidak kenal ampun, apalagi bicara tentang setia kawan pula?"
Lau Cing-hong menghela napas. Ia tunggu sesudah suara orang banyak rada tenang kembali barulah bicara dengan perlahan, "Sejak mulai bersahabat dengan Kik-toako sudah kuduga akan terjadi seperti hari ini. Melihat gelagatnya akhir-akhir ini, kutaksir tidak lama lagi Ngo-gak-kiam-pay kita tentu akan terjadi suatu pertarungan habis-habisan dengan Mo-kau. Di satu pihak adalah para saudara serikat sendiri, di lain pihak adalah sahabat karib pula sehingga sukar bagiku untuk menentukan pihak mana harus dibantu. Lantaran itulah aku mencari jalan dengan mengadakan upacara 'cuci tangan' seperti sekarang ini, maksudku adalah untuk mengumumkan kepada para kawan kaum kita bahwa orang she Lau sejak kini telah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak ikut campur kepada segala persengketaan orang Kangouw, harapanku adalah supaya dapat hidup bebas tenteram dan tidak tersangkut di dalam permusuhan dan bunuh-membunuh. Tujuanku membeli suatu pangkat sekecil ini juga hanya untuk menghindarkan diri dari kesukaran, padahal pangkat sekecil ini sesungguhnya cuma membikin cemar namaku saja. Siapa duga Co-bengcu memang benar-benar mahasakti, langkah yang kuambil ini toh tetap susah mengelabui dia."
Mendengar keterangannya ini barulah para kesatria mengerti duduknya perkara. Kiranya dia mengadakan upacara "cuci tangan di baskom emas" ini sebenarnya mempunyai maksud tujuan sejauh ini. Pantas orang heran masakah seorang tokoh terkemuka dari Heng-san-pay sudi menjabat pangkat sekecil itu.


Hina Kelana Balada Kaum Kelana Siau-go-kangouw Karya Jin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hui Pin juga saling pandang sekejap dengan kedua Suhengnya, yaitu Ting Tiong dan Liok Pek, mereka merasa puas karena Ciangbun-suheng mereka telah berhasil mengetahui maksud tujuan Lau Cing-hong itu dan keburu merintangi tepat pada waktunya.
Maka terdengar Lau Cing-hong sedang menyambung pula, "Tentang permusuhan antara Mo-kau dan golongan kita memang sudah sangat lama dan berlarut-larut, siapa yang benar dan siapa yang salah juga sukar untuk diceritakan. Yang kuharap hanyalah melepaskan diri dari persengketaan berdarah ini, selanjutnya biar hidup tenteram sebagai rakyat yang patuh kepada undang-undang negara dan menghibur diri dengan meniup seruling. Kurasa cita-citaku ini toh tidak sampai melanggar peraturan perguruan sendiri atau perjanjian antara Ngo-gak-kiam-pay kita."
"Huh, enak saja kau bicara," demikian Hui Pin mendengus. "Jika setiap orang meniru kau, melarikan diri di saat akan menghadapi musuh, maka dunia ini pasti akan celaka dan dikuasai oleh kaum iblis. Kau sendiri ingin melepaskan diri dari segala persoalan, tapi gembong Mo-kau she Kik itu apakah juga mau berlaku seperti kau?"
Cing-hong tersenyum, jawabnya, "Di hadapanku Kik-toako sudah bersumpah kepada cikal bakal Mo-kau mereka untuk selanjutnya biarpun apa yang terjadi antara Mo-kau dengan kaum persilatan kita, maka Kik-toako sama sekali tak mau ikut campur lagi. Asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mengganggu orang."
"Hahaha! Bagus amat istilah 'asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mengganggu orang'," dengus Hui Pin dengan tertawa. "Lalu bagaimana apabila kaum kita yang mengganggunya?"
"Kik-toako sudah menyatakan bahwa beliau akan mengalah sedapat mungkin," sahut Lau Cing-hong, "sekali-kali beliau takkan main menang-menangan dan bertempur dengan orang, bahkan akan berusaha sekuatnya untuk menghindarkan salah paham kedua pihak. Kemarin juga Kik-toako telah mengirim berita padaku bahwa murid Hoa-san-pay yang bernama Lenghou Tiong telah dilukai orang, jiwanya dalam keadaan bahaya, tapi beliau telah memberi pertolongan seperlunya."
Ucapan ini kembali membikin gempar para hadirin, lebih-lebih bagi orang-orang Hoa-san-pay, Hing-san-pay, dan Jing-sia-pay.
Dengan cepat Gak Leng-sian, itu putri Gak Put-kun, lantas bertanya, "Lau-susiok, di manakah Lenghou-suko berada sekarang" Apakah ... apakah benar dia telah ditolong oleh ...oleh Locianpwe she Kik itu?"
"Jika begitu ucapan Kik-toako, rasanya tentu benar adanya," sahut Lau Cing-hong. "Untuk jelasnya boleh kau tanya Lenghou-hiantit sendiri bila kelak kau bertemu dengan dia."
"Huh, buat apa mesti mengherankan hal-hal begitu?" ejek Hui Pin. "Orang-orang Mo-kau memang paling pandai memecah belah dan mengadu domba, segala tipu akal yang licik dapat dilakukan oleh mereka. Dengan segala daya upaya ia telah memelet murid Hoa-san-pay. Boleh jadi lantaran itu Lenghou Tiong menjadi merasa terima kasih dan ingin membalas budi pertolongannya itu. Bukan mustahil sejak kini Ngo-gak-kiam-pay kita telah bertambah lagi seorang pengkhianat."
Mendadak alis Lau Cing-hong menegak, tanyanya dengan angkuh, "Hui-suheng, kau mengatakan sejak kini telah 'bertambah lagi' seorang pengkhianat. Apa maksudmu dengan kata-kata 'bertambah lagi' itu?"
"Siapa yang berbuat, dia harus tahu sendiri, apa perlu aku jelaskan pula?" sahut Hui Pin.
"Hm, jadi secara langsung kau menuduh orang she Lau ini telah menjadi pengkhianat?" tanya Lau Cing-hong. "Aku berkawan dengan siapa saja adalah urusan pribadiku, orang luar tidak berhak untuk ikut campur. Selamanya Lau Cing-hong tidak merasa mengkhianati kawan dan mendurhakai perguruan, maka istilah 'pengkhianat' itu biarlah aku aturkan kembali kepadamu."
Tadinya sikap Lau Cing-hong tampaknya ramah tamah sebagaimana layaknya seorang hartawan terhadap tamunya, tapi sekarang mendadak sorot matanya memancarkan sinar yang tajam, sikapnya gagah berani. Walaupun berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan toh dia tetap mengadu mulut dengan tidak kalah tajamnya dengan Hui Pin, mau tak mau para hadirin merasa kagum juga terhadap ketabahannya.
"Jika demikian, jadi sudah terang Lau-suheng tidak mau memilih jalan pertama dan tegas-tegas tidak mau membinasakan gembong she Kik dari Mo-kau itu?" Hui Pin menegas.
"Bila memang sudah ada perintah dari Co-bengcu, tiada halangannya sekarang juga Hui-suheng turun tangan untuk membunuh segenap keluargaku," sahut Lau Cing-hong.
"Huh, jangan kau mentang-mentang ada sekian banyak kesatria-kesatria dari segenap penjuru sedang bertamu di rumahmu ini dan mengira Ngo-gak-kiam-pay kami akan merasa jeri, lalu tidak berani mengadakan pembersihan kepada kaum pengkhianat?" demikian jengek Hui Pin. Mendadak ia memberi tanda kepada Su Ting-tat dan berseru, "Coba kemari!"
Su Ting-tat mengiakan sambil melangkah maju. Hui Pin mengambil panji pancawarna itu dari tangan Su Ting-tat, lalu diangkat tinggi-tinggi ke atas sambil berseru, "Dengarkanlah Lau Cing-hong! Atas perintah Co-bengcu, jika kau tidak mau berjanji untuk membunuh Kik Yang di dalam waktu sebulan, maka terpaksa Ngo-gak-kiam-pay harus segera mengadakan pembersihan di antara anggota-anggotanya sendiri untuk menghindarkan bencana di kemudian hari. Babat rumput harus sampai akar-akarnya, sedikit pun tidak kenal ampun. Untuk ini hendaklah kau pikirkan lagi semasak-masaknya!"
Lau Cing-hong tersenyum pedih, jawabnya, "Orang she Lau ini mencari sahabat, yang diutamakan adalah kecocokan lahir batin satu sama lain, mana boleh sahabat sendiri dibunuh demi untuk menyelamatkan diri sendiri" Jikalau Co-bengcu sudah pasti tidak dapat memaafkan, apa mau dikata lagi, terserahlah kepada kebijaksanaan Co-bengcu saja, masakah orang she Lau yang tidak punya pengaruh apa-apa berani melawannya" Memangnya segala apa sudah diatur oleh Ko-san-pay kalian, boleh jadi peti mati bagiku mungkin juga sudah kalian sediakan. Kalau mau turun tangan boleh silakan saja, mau tunggu kapan lagi?"
Mendadak Hui Pin mengebaskan panji kebesarannya, serunya dengan suara lantang, "Para Suheng dan Sute dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay, Hing-san-pay dan Heng-san-pay, menurut pesan dari Co-bengcu, selamanya antara Cing-pay dan Sia-pay (golongan baik dan jahat) tidak pernah hidup bersama. Mo-kau dan Ngo-gak-kiam-pay kita telah mengikat permusuhan sedalam lautan. Sekarang Lau Cing-hong dari Heng-san-pay bersahabat dengan kaum penjahat dan menggabungkan diri kepada musuh, setiap anggota Ngo-gak-kiam-pay kita harus membunuhnya bersama-sama. Siapa yang tunduk kepada perintah Co-bengcu ini hendaklah berdiri ke sisi kiri."
Tertampaklah Thian-bun Tojin yang pertama-tama berbangkit dan berjalan ke sebelah kiri dengan langkah lebar tanpa menoleh sekejap pun kepada Lau Cing-hong.
Kiranya gurunya Thian-bun Tojin dahulu telah ditewaskan oleh seorang gembong wanita dari Mo-kau. Sebab itulah bencinya terhadap Mo-kau boleh dikata merasuk tulang sumsum. Maka begitu dia menyisihkan diri ke sebelah kiri, segera anak muridnya juga ikut ke sebelah sana.
Orang kedua yang berbangkit adalah Gak Put-kun, katanya, "Lau-hiante, asal kau manggut saja, maka orang she Gak ini akan mewakilkan kau membereskan Kik Yang itu. Kau bilang seorang jantan jangan sekali-kali mengkhianati sahabat. Apakah di dunia ini hanya Kik Yang seorang saja adalah sahabatmu" Apakah orang-orang Ngo-gak-kiam-pay kita dan para kesatria yang hadir di sini bukanlah sahabatmu" Ratusan, ribuan sahabat dari kalangan persilatan ini begitu mendengar engkau hendak mengundurkan diri dari dunia persilatan, serentak mereka lantas datang dari tempat jauh untuk mengucapkan selamat kepadamu dengan segala ketulusan hati. Apakah tindakan mereka ini belum dapat dianggap sebagai sahabat" Sekalipun Kik Yang itu mahir memetik kecapi, apa karena itu lalu jiwa segenap keluargamu serta persahabatan antara Ngo-gak-kiam-pay kita dan kawan-kawan yang hadir di sini ini kurang berharga daripada persahabatan dengan Kik Yang seorang?"
Perlahan-lahan Lau Cing-hong menggeleng kepala, sahutnya, "Gak-suheng, engkau adalah orang terpelajar dan tentu tahu apa yang pantas dilakukan seorang laki-laki sejati dan apa yang tidak patut diperbuat. Nasihatmu yang baik ini kuterima juga dengan rasa terima kasih. Akan tetapi orang lain memaksa aku membunuh Kik-toako, hal ini sekali-kali tidak dapat kulakukan, sama halnya bila ada orang yang memaksa aku membunuh engkau Gak-suheng atau salah seorang sahabat yang hadir ini, biarpun seluruh anggota keluargaku tertimpa bencana juga takkan kulakukan. Kik-toako adalah sahabatku yang paling karib, hal ini sudah terang, tapi Gak-suheng juga sahabat baikku. Dan bila Kik-toako sampai membuka suara bermaksud mencelakai salah seorang sahabatku dari Ngo-gak-kiam-pay, maka perbuatannya itu tentu akan kupandang hina dan takkan menganggapnya sebagai sahabat lagi."
Karena ucapan Lau Cing-hong ini sangat sungguh-sungguh dan tulus kedengarannya, mau tak mau tergerak juga perasaan para kesatria. Maklumlah orang-orang persilatan paling mengutamakan budi setia antarkawan. Sedemikian tegas Lau Cing-hong membela Kik Yang, diam-diam para kesatria merasa gegetun juga akan jiwa luhur tokoh Heng-san-pay itu.
"Lau-hiante," ujar Gak Put-kun, "ucapanmu ini terang tidak betul. Lau-hiante mengutamakan setia kawan, hal ini memang mengagumkan. Tapi untuk itu juga harus dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, antara yang betul dan yang salah. Selama ini Mo-kau telah banyak berbuat kejahatan, tidak sedikit orang Kangouw yang baik-baik telah menjadi korban keganasannya, begitu pula rakyat jelata yang tak berdosa. Lau-hiante sendiri hanya karena merasa cocok dan sepaham dalam hal main musik lantas segenap jiwa anggota keluargamu juga kau pertaruhkan untuknya. Rasanya engkau telah salah mengartikan 'setia kawan' yang kau junjung tinggi itu."
Lau Cing-hong tersenyum hambar, katanya, "Gak-toako, engkau tidak suka seni suara, makanya tidak paham maksudku yang mendalam. Hendaklah maklum bahwa dalam ucapan dan kata-kata, orang dapat berdusta dan membohong, tapi suara musik, suara kecapi dan seruling adalah suara hati yang tidak dapat dipalsukan atau dibikin-bikin. Kik-toako bersahabat dengan aku berdasarkan perpaduan suara kecapi dan seruling, jiwa kami telah saling mengikat, aku bersedia menanggungnya dengan segenap jiwa anggota keluargaku bahwa Kik-toako meski betul adalah orang Mo-kau, tapi beliau sedikit pun tidak berbau jahat seperti orang Mo-kau yang lain."
Gak Put-kun menghela napas panjang, dia tidak bicara lagi terus berjalan ke sebelah Thian-bun Tojin. Segera Lo Tek-nau, Gak Leng-sian, Liok Tay-yu dan lain-lain mengikuti jejak sang guru.
Sekarang bergilir atas diri Ting-yat Suthay, dengan tajam ia menatap Lau Cing-hong. Katanya, "Selanjutnya aku tetap memanggil Lau-hiante padamu atau menyebut Lau Cing-hong saja?"
Lau Cing-hong tersenyum getir, sahutnya, "Jiwa orang she Lau ini hanya tergantung sekejap lagi, selanjutnya Suthay tiada sempat memanggil padaku pula."
Ting-yat Suthay merangkap tangannya dan menyebut Buddha, lalu perlahan-lahan berjalan ke sebelah Gak Put-kun dengan diikuti oleh anak muridnya.
"Urusan ini hanya menyangkut Lau Cing-hong seorang," sahut Hui Pin kemudian, "maka tiada sangkut pautnya dengan murid-murid Heng-san-pay yang lain-lain. Para murid Heng-san-pay yang tidak ikut membantu kejahatan dan mau sadar kembali boleh berdiri semua ke sebelah kiri."
Suasana di ruangan sidang menjadi sunyi senyap. Selang sejenak, seorang laki-laki setengah umur telah berseru, "Lau-supek, maafkanlah kepada kami!"
Lalu ada belasan murid Heng-san-pay menyingkir dan berdiri di sebelah Ting-yat Suthay. Mereka adalah murid keponakan Lau Cing-hong. Sedangkan tokoh Heng-san-pay angkatan tua yang sebaya dengan Lau Cing-hong kali ini tidak ada yang datang.
"Murid keluarga Lau sendiri disilakan juga berdiri ke sisi kiri!" seru Hui Pin pula.
Tapi Hiang Tay-lian lantas berseru lantang, "Kami telah menerima budi besar dari perguruan, bilamana Suhu ada kesukaran, sudah seharusnya kami ikut memikul tanggung jawab. Kini para murid keluarga Lau bertekad sehidup semati dengan Suhu."
"Bagus! Bagus!" kata Lau Cing-hong dengan air mata bercucuran saking terharunya. "Tay-lian, dengan ucapanmu ini kau sudah cukup berbakti kepada gurumu. Bolehlah kalian berdiri ke sebelah sana saja. Suhu sendiri yang berbuat, sedikit pun tiada sangkut pautnya dengan kalian."
"Sret", mendadak Bi Wi-gi melolos pedang. Serunya, "Para murid keluarga Lau sudah tentu bukan tandingan Ngo-gak-kiam-pay. Tapi urusan hari ini tiada pilihan lain kecuali menghadapi dengan kematian. Siapa yang berani mengganggu guru kami boleh silakan membunuh dulu orang she Bi ini!"
Habis berkata ia terus berdiri di depan Lau Cing-hong dengan gagah berani.
"Huh, mutiara sebesar beras juga mau coba-coba bersinar?" ejek Hui Pin. Mendadak tangan kirinya bergerak, "crit", sejalur sinar perak yang kecil terus menyambar ke depan secepat kilat.
Lau Cing-hong terkejut, cepat ia tolak lengan kanan Bi Wi-gi sehingga murid itu terlempar ke samping dengan sempoyongan, sedangkan sinar perak itu terus menyambar ke dada Lau Cing-hong.
Lantaran ingin melindungi sang guru, tanpa pikir Hiang Tay-lian terus menubruk maju. Maka terdengarlah jeritannya yang ngeri, sinar perak yang berwujud jarum itu tepat menancap di tengah ulu hatinya. Kontan ia roboh dan binasa.
Dengan tangan kirinya, Lau Cing-hong masih sempat merangkul tubuh muridnya itu. Ia coba periksa pernapasannya dan ternyata sudah putus. Ia menoleh dan berkata kepada Ting Tiong, "Lo-loji, adalah Ko-san-pay kalian yang lebih dulu membunuh muridku!"
"Benar," sahut Ting Tiong. "Memang kami yang turun tangan lebih dulu. Lalu kau mau apa?"
Mendadak Lau Cing-hong angkat jenazah Hiang Tay-lian terus dilemparkan ke arah Ting Tiong. Melihat tenaga lemparannya itu, Ting Tiong tahu Lwekang Heng-san-pay memang mempunyai keistimewaannya sendiri, apalagi Lau Cing-hong adalah tokoh terkemuka dari Heng-san-pay, tentu tenaga yang digunakan tidak boleh dipandang enteng. Maka diam-diam ia pun menghimpun tenaga dan siap menyambut datangnya tubuh tak bernyawa itu untuk kemudian akan dilemparkan kembali.
Bab 23. Keluarga Lau Cing-hong Dibabat Habis oleh Ko-san-pay
Tak terduga gerakan Lau Cing-hong itu ternyata hanya pancingan belaka. Tampaknya jenazah itu dia sorongkan ke depan tapi mendadak ia melompat ke samping, jenazah itu diangkat dan disodorkan kepada Hui Pin.
Karena datangnya terlalu cepat lagi tak tersangka-sangka, terpaksa Hui Pin mengerahkan tenaga pada kedua tangannya untuk menahan di depan dada. Tapi pada saat yang hampir bersamaan, tahu-tahu bawah iga terasa kesemutan. Nyata Hiat-to bagian iga telah kena ditutuk oleh Lau Cing-hong.
Sekali serangannya berhasil, secepat kilat tangan kirinya lantas digunakan untuk merampas panji pancawarna dari tangan lawan, tangan kanan berbareng melolos pedang terus dipalangkan di depan tenggorokan Hui Pin. Jenazah Hiang Tay-lian dibiarkannya jatuh ke lantai.
Beberapa gerakan dan perubahan yang teramat cepat ini, Hui Pin kena dibekuk dan panji kebesarannya kena dirampas, setelah semuanya ini terjadi barulah para hadirin sadar akan apa yang sudah terjadi. Yang digunakan Lau Cing-hong itu adalah kepandaian Heng-san-pay yang hebat, namanya "Pek-pian-jian-yu-cap-sah-sik" (tiga belas gerakan dengan beratus macam perubahan).
Sudah lama Thian-bun Tojin, Gak Put-kun dan tokoh-tokoh lain mendengar tentang ilmu silat andalan Heng-san-pay itu, ada juga di antaranya pernah menyaksikan anak murid Heng-san-pay menggunakan kepandaian itu, tapi kalau dibandingkan caranya Lau Cing-hong yang hebat tadi sungguh bedanya seperti langit dan bumi.
Kiranya ilmu "Pek-pian-jian-yu-cap-sah-sik" itu adalah ciptaan tokoh seorang angkatan tua Heng-san-pay di masa yang lalu. Tokoh ini hidupnya dari main sulap di samping memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Sampai hari tuanya, kepandaiannya main sulap makin tinggi, kepandaian ilmu silatnya juga makin lihai. Akhirnya dia telah mencampurkan kedua macam ilmu kepandaiannya itu sehingga ilmu silatnya itu sedemikian lihainya seakan-akan orang main sulap saja. Dasar sifat tokoh angkatan tua itu memang jenaka, maksudnya menciptakan ilmu silat bergaya sulap itu sebenarnya hanya sekadar untuk permainan saja, tak tersangka akhirnya ilmu silat yang hebat itu telah menjadi satu di antara tiga jenis ilmu andalan Heng-san-pay.
Sejak Lau Cing-hong mempelajari ilmu silat yang hebat itu belum pernah dia gunakan terhadap lawan. Siapa duga sekarang untuk pertama kalinya dipraktikkan terhadap jago Ko-san-pay seperti Hui Pin yang sesungguhnya tidak kalah lihai daripada Lau Cing-hong, tahu-tahu telah berhasil menawan musuh secara menakjubkan.
Pendekar Bodoh 14 Pangeran Anggadipati Seri Kesatria Hutan Larangan Karya Saini K M Jodoh Rajawali 15
^