Pencarian

Dewi Penyebar Maut V 1

Candika Dewi Penyebar Maut V Bagian 1


CANDIKA: DEWI PENYEBAR MAUT-5
Oleh Djokolelono
? Penerbit PT Gramedia,
Jl. Palmerah Selatan 22, Jakarta 10270
Desain dan gambar sampul oleh Djokolelono
Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia,
anggota IKAPI, Jakarta, April 1989
1. DI PUNCAK GUNUNG
DI PUNCAK GUNUNG. Sunyi. Hanya terdengar deru a-
ngin. Dingin meresap merasuk menusuk tulang. Kabut
senantiasa terbang rendah, berebut pengaruh dengan
sinar matari menyelimuti tanah.
Gunung itu tinggi menjulang. Dan ini hampir di pun-
caknya. Di salah satu perbukitannya, seorang lelaki berdiri.
Usianya pastilah sudah tua. Rambutnya putih perak,
digelung tinggi di atas kepala. Alisnya tebal putih. Tapi wajahnya yang bebas
kerutan tampak muda. Matanya
pun hitam dalam cemerlang.
Dan di kedinginan itu ia bertelanjang dada. Kain ka-
sar berwarna hitam melilit pinggangnya. Ia berdiri tegar menghadap matahari.
Tangan terangkap di depan wajah. Bibir bergetar menyampaikan doa.
Sebagian rambutnya yang lepas terbuai oleh angin.
Angin memang bertiup kencang. Membuat garis-garis
riak di danau kecil di bawah sana. Danau yang hanya
diganggu oleh garis-garis angin. Hijau tua warnanya.
Menandakan kedalaman yang sangat.
Danau itu dipagari rapat oleh hutan pepohonan ber-
batang tinggi semampai, gemulai ditiup angin. Hutan
yang melebar naik-turun punggung bukit hingga juga
mengelilingi puncak tempat lelaki itu berada.
Dia menengadah, menentang matahari. Dan dia
mengembuskan napas panjang bertenaga, menguman-
dangkan suara desis yang bagaikan terpantul jauh ke
kaki bukit dan menyeberang danau serta membentur
dinding gunung di seberang sana, kembali bersama em-
busan angin yang menusuk dingin.
Agak di belakangnya, semak-semak di antara ke-
kayuan bergerak dan tersibak. Seorang wanita muncul.
Wajahnya segar dan masih tampak cantik. Tetapi se-
perti si lelaki, rambutnya juga telah memutih, tebal
panjang dipuntir hingga melebihi pinggang. Pakaiannya kain kasar sederhana.
Tangannya memegang sebatang
ranting kering yang agaknya baru dipungutnya.
Sesaat ia memperhatikan si lelaki. Kemudian ia du-
duk di sebuah batu agak ke tepi dari tempat terbuka di puncak bukit itu.
Menunggu. Si pria pun akhirnya menghentikan gerakannya. Me-
mejamkan mata dan membaca beberapa mantra. Ke-
mudian berpaling.
"Aku merasakan kehadiranmu," katanya tersenyum,
mendekat. "Atau Kakang mendengar kedatanganku." Si wanita
tersenyum pula dan sesaat berdiri untuk memberi hor-
mat seperti yang layak dilakukan seorang istri pada suaminya.
"Kau begitu jauh meninggalkan padepokan," kata si
lelaki. "Ah, di padepokan terlalu sepi saat-saat ini." Si wa-
nita berpaling menghadap ke arah danau. "Dan kukira,
ini tidak terlalu jauh. Kakang kemari hampir tiap purnama."
"Aku menyukai tempat ini." Si lelaki menghirup hawa
dingin itu dalam-dalam, berjalan perlahan menuju tepi tempat terbuka tersebut.
"Aku sering merindukan hidup jauh di sana...." Pandangan matanya memandang jauh
menyeberang danau. "Jauh di balik hutan-hutan itu,
jauh di balik lereng gunung itu... hidup sebagai orang desa sederhana... dengan
pemikiran yang sederhana...."
Si wanita menghela napas panjang dan mendekat,
pandangannya seakan kosong.
"Tentu Kakang Megatruh membayangkan... pagi be-
rangkat ke ladang... bekerja di ladang hingga tengah ha-
ri... dan istri Kakang datang membawa makanan dan
minuman...."
"Tentu saja istriku ya kamu," si lelaki tersenyum. Tetapi si wanita tak membalas
senyuman itu. Masih me-
nunduk. "Dan saat Kakang makan di bawah kerindangan pe-
pohonan... Kakang akan menanyakan bagaimana anak-
anak Kakang di rumah...." Si wanita kini berjalan menjauh seolah dalam mimpi,
kepalanya tengadah menen-
tang matahari. "Sewaktu Kakang di sore hari pulang
pun, Kakang akan menyempatkan diri mencari gang-
sir. ... Membanjiri liang gangsir itu hingga sang gangsir keluar... atau bahkan
membongkarnya dengan cangkul."
"Tidak, akan kugenangi dengan air saja...." Si lelaki tersenyum lagi dan
memejamkan mata seolah membayangkan apa yang diceritakan si wanita.
"Kakang akan memperoleh dua ekor gangsir yang be-
sar-besar. Kemudian Kakang potong dahan pohon ri-bang, Kakang bentuk menjadi
semacam kereta sa-ngaaaat kecil... dan Kakang gunakan serat waru untuk mengikat
gangsir itu pada kereta kecil tersebut."
"Ah, kau menceritakannya begitu tepat, Dinda Nyai
Rahula." "Begitu Kakang muncul di ujung desa... anak-anak
Kakang akan gembira berlari menyambut Kakang....
Yang lelaki berebut kereta gangsir itu... yang perempuan akan membantu Kakang
membawakan kendi, cangkul,
atau topi Kakang."
Si lelaki akan tersenyum. Tetapi tidak jadi. Ada nada sedih di suara si wanita.
"Kau begitu pandai berkhayal, Dinda Rahula... tetapi
kau agaknya tak menyukai khayalanmu itu sendiri."
"Karena aku tak pantas berada dalam khayalan itu,
Kakang Megatruh."
"Apa maksudmu?" Si lelaki mengerutkan kening he-
ran. "Bukankah sudah jelas... aku... aku takkan pernah
bisa memberimu... keturunan!" Si wanita tampak benar
menahan diri untuk tidak menangis. Wajahnya yang
masih tampak cantik kini menentang langit. Matahari
yang bersinar dari arah belakangnya membuat rambut
peraknya seolah membuat bingkai kemilau di wajah itu.
"Dinda Rahula... kkenapa tiba-tiba pikiranmu sam-
pai ke sana?" Si lelaki tampak agak gugup.
"Sudah sekian puluh tahun kita berdua, Kakang Me-
gatruh...."
"Dan itu adalah tahun-tahun yang sangat membaha-
giakanku."
"Sering kupikir... mungkin aku tak layak mendampi-
ngimu." "Dinda Rahula!"
"Aku sering teringat akan... Kakangmbok Respati mi-
salnya.... Kukira kau cocok dengan sira... sama-sama sakti, dan bahkan kakeknya
adalah gurumu.... Kau pun
agaknya mengingat sira... misalnya, kaunamakan ilmu pukulanmu yang baru Bindi-
Saketi. .. yang adalah nama ayah sira...."
"Dinda Rahula, pastilah kau sedang sakit, maka kau
berpikiran yang tidak-tidak itu...." Si lelaki berusaha memegang bahu si wanita.
Tetapi dengan halus si wanita menolaknya.
"Yang jelas... mungkin Kakangmbok Respati dapat
memberimu apa yang kaudambakan selama ini... seo-
rang anak untuk melanjutkan keturunanmu."
Si lelaki terdiam beberapa lama.
"Demi Mahesywara, Dinda Rahula... aku tak mengerti arah tujuan percakapan ini.
Terus terang, memang
aku sangat mendambakan keturunan. Tetapi bagiku itu
adalah kehendak Dewata Agung. Yang lebih penting la-
gi, adalah kebahagiaan kita berdua... dan itu, bukan
hanya kehendak Dewata Agung, sebab kita sendiri ha-
rus berusaha untuk menciptakan rasa bahagia itu. Ra-
sa bahagia datang dari kita sendiri, Dinda.... Jika kita tahu sesuatu akan
memberi rasa pahit, langkah pertama tentunya adalah menghindarinya."
"Aku mengerti, Kakang... tapi aku begitu kecewa, ka-
rena akulah penyebab ketidak-mampuanmu memiliki
keturunan!"
"Berkorban untuk orang lain memang baik, Dinda...
tapi aku bukanlah orang lain. Aku adalah engkau. Dan
kau adalah aku. Mengapa menyalahkan dirimu sendiri,
agar aku merasa tidak bersalah" Bisa saja yang menye-
babkan adalah aku sendiri. Siapa tahu kehendak Dewa-
ta" Kalau kau memang ingin tahu penyebabnya, aku
punya suatu alasan yang membebaskan kau dan aku
dari rasa bersalah, sekaligus memberi kita rasa bangga karena kita telah berbuat
baik pada orang lain... kalau memang kebanggaanlah yang kita cari...."
"Apa yang kaumaksud, Kakang?"
"Dinda... ini juga kesalahanku. Sesungguhnya... Din-
da telah berkorban sangat banyak saat kita semua me-
nolong adik kita Sinom dari katatonia yang dideritanya.
Kau. Dan Adik Mahendra. Kalian berdua harus mengu-
ras tenaga dalam. Menguras habis. Dan itu pasti sangat berpengaruh. Aku kira
itulah penyebabnya. Dan... kembali, kamilah yang sesungguhnya penyebabnya. Kalau
Adik Sinom tak menderita penyakit itu, tentulah itu tak perlu terjadi. Dan
kemungkinan Dinda Rahula tetap segar sebagaimana mestinya. Kalau harus
berhitung- hitung tentang utang budi, akulah yang membuatmu
kecewa, Dinda.... Kau yang mestinya jadi putri dalam is-
tana... kau yang mestinya masih memiliki rambut hitam menawan... Itu adalah
kesalahanku! Apakah aku begitu
tak punya hati hingga berani menyalahkanmu" Tidak,
Dinda... bagiku, keturunan memang penting. Tapi mem-
buatmu bahagia lebih penting."
"Oh, Kakang... maafkan kecupatan cara berpikir-ku...." Tiba-tiba si wanita
merangkul si pria dan me-
nangis tersedu-sedu di dadanya yang bidang.
Si lelaki menghela napas panjang. Pikirannya mene-
rawang. "Dinda Rahula," bisiknya lembut di dekat telinga
yang dibelai-belai oleh kibaran rambut putih lepas. "Aku tahu bahwa dalam usia
kita ini, terutama pada dirimu...
akan tiba saatnya timbul keragu-raguan besar pada diri kita.... Di mana kita
mulai mempertimbangkan masa la-lu dan masa mendatang. Kelebihan kita adalah...
kita lebih sering mencoba mendekat pada Sang Mahesywa-ra... dan dalam Syiwabakti itu
kita bisa meredam apa yang seyogyanya harus kita redam sebagai orang yang
susila. Mestinya tak usah kukatakan semua itu pada-
mu. Katakan sesungguhnya, apa yang menyebabkan
kau... agak keluar garis ini?"
Si wanita kini mundur dan agak kemalu-maluan ber-
paling, berkata perlahan, "Adinda Sinom..."
"Sinom... kaumaksud... Ya, Dewata!" Tiba-tiba si le-
laki tertawa tergelak-gelak. Suaranya lepas hingga ber-gema berpantulkan lereng-
lereng perbukitan.
"Kakang Megatruh! Kau menertawakan aku!" si wa-
nita berkata cemberut.
"Memang pada tempatnya kau harus ditertawakan,
Dinda!" Si lelaki mencoba menghentikan tawanya. "Ah.
Aku tahu kini mengapa kau datang kemari. Sinom telah
datang ke padepokan dan pasti mengajakmu berteng-
kar. Dan... kau kalah?"
"Sira tidak mengajakku bertengkar." Si wanita masih cemberut. "Pertengkaran kami
yang dulu belum juga selesai!"
"Dinda Rahula...." Si lelaki memperhatikan si wanita.
"Tak pernah kuduga kau punya perasaan mendendam?"
"Adik Sinom selalu... pamer... mmm... anaknya...." Si wanita tertunduk.
"Sebetulnya aku juga sangat menyukai Tantri, tetapi entah bagaimana kalau Adik
Sinom yang bercerita tentang Tantri... aku ingin membantah-
nya! Kemudian... kupikir... kalau... kalau kita punya anak sendiri... mungkin
aku takkan seiri itu!"
"Apakah... Adik Sinom... menyindirmu tentang... kea-
daan kita yang sampai kini belum punya momongan?"
tanya si lelaki berhati-hati.
"Kakang... aku tak bisa menahan diri!" Tiba-tiba si
wanita menubruk dada si pria, merangkulnya rapat-
rapat dan menangis tersedu-sedu.
"Kenapa?" Kembali si lelaki mengerutkan kening.
"Aku... aku... Adik Sinom keterlaluan, mengejek
bahwa aku takkan pernah punya anak.... Kemudian...
kemudian kukatakan padanya bahwa ini karena... aku
dulu membantu menyembuhkan dia... dan... dia..."
"Dia marah?"
"Bukan... dia hanya tertawa... tidak percaya.... Aku
yang marah... aku hajar dia!" Si wanita melepaskan
rangkulannya. Mengusap air matanya dan mundur.
"Aku tidak menyesal menghajarnya. Kalau perlu aku in-
gin menghajarnya sekali lagi...."
"Dia berkunjung begitu jauh ke padepokan kita. Pas-
tilah agak lama ia akan tinggal di sini. Masih ada kesempatan bagimu untuk
menghajarnya," si lelaki meng-
goda. "Tidak semudah itu." Si wanita menghela napas ge-
mas. Air mata sudah bersih dari mukanya, dan kini wa-
jah cantik itu seakan keras oleh suatu kemauan. "Aku...
aku berhasil dikalahkannya! Kakang Megatruh boleh
tertawa, tetapi aku berhasil dikalahkannya!"
"Kenapa aku harus tertawa, Dinda...." Tak urung si
lelaki tersenyum. "Pertama, pertarungan kalian berdua tak menguntungkan siapa
pun. Kedua, Adik Sinom memiliki sifat tak mau kalah pada siapa pun. Dan ia me-
mang suka pamer. Jadi, kukira ia memang telah terus-
menerus berlatih hanya untuk menunjukkan ilmunya
pada kita. Paling tepat, jangan ladeni dia... dan dia akan begitu putus asa
hingga akhirnya kalah dengan sendi-rinya!"
"Siapa berani tidak meladeni Sinom, si Kidang Bra-
ngah!" Tiba-tiba terdengar suitan dan suara tertawa ria dan renyah. Suara itu
seakan datang dari berbagai
arah, seakan berputar dibawa angin.
Ki Megatruh. Nyai Rahula. Sinom. Dan Ki Mahendra.
Nama-nama itu dulu pernah menjadi buah bibir para
prajurit Wilwatikta. Dari pantai utara. Ke pegunungan kapur di tengah. Sampai
pantai selatan.


Candika Dewi Penyebar Maut V di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Saat itu mereka hanya sekelompok 'anak-anak ajaib'.
Yang tersedot oleh gejolak beberapa bentrokan besar.
Dan dengan memiliki kesaktian khas, mereka pun
mengukir nama. Tahun berganti tahun. Mereka mengundurkan diri
dari dunia ramai. Ingin mendekati Sang Mahesywara.
Ingin mencapai keutuhan manusia. Sesuatu yang ter-
nyata tak mudah mereka capai.
Ki Megatruh, dengan istrinya, Nyai Rahula, mendiri-
kan padepokan di Tasik Arga ini. Ia ingin menyepi, me-luruhkan diri pada
kedamaian alam. Dan di balik pun-
cak gunung, di tepi Danau Kuwung, Sinom pun men-
dirikan padepokan bersama suaminya, Ki Mahendra.
Perbedaan sifat Ki Megatruh dan adik kandungnya,
Sinom, tampak jelas pada keadaan kedua padepokan
mereka. Tasik Arga benar-benar merupakan tempat
mengamalkan dan pengertian agama secara mendalam.
Sementara Danau Kuwung oleh Sinom dibuat untuk
menarik kedatangan orang lebih banyak. Maka ramai-
lah Padepokan Danau Kuwung - bukan padepokannya,
tetapi tanah pemukiman di sekelilingnya.
Terlihat sekilas gumpalan putih berkilau. Dan Sinom
berdiri di depan Ki Megatruh dan Nyai Rahula.
Sinom berpakaian serba putih, dengan sutera putih
berkilau melilit tubuhnya. Umurnya tak berbeda banyak dengan Nyai Rahula, tetapi
wajahnya tampak jauh lebih muda dan rambutnya hitam legam tebal kemilau. Di
pinggangnya terselip sepasang tanduk rusa.
"Hei, siapa berbicara tentang Sinom?" katanya lan-
tang, mengawasi Ki Megatruh dan Nyai Rahula.
"Adik Sinom, jangan kurang ajar," terdengar suara
lain, menyusul. Suara lelaki, ceria, nyaring.
Dan tiba-tiba di situ telah muncul seorang lelaki lagi.
Mungkin setua Ki Megatruh. Namun rambut putihnya
tak terlihat. Kepalanya digundul mengkilat. Hanya alis, bulu mata dan kumis
serta jenggotnya menunjukkan
betapa putih rambutnya, jika rambut itu ada. Ia juga
hanya memakai kain putih kasar dibelit-belitkan pada
tubuhnya. Begitu berdirinya tegak ia langsung membungkuk
memberi sembah pada Ki Megatruh dan Nyai Rahula,
"Kakang Megatruh... Kakangmbok Rahula... semoga
Dewata Agung melindungi kalian...."
Sebelum Ki Megatruh atau Nyai Rahula menjawab,
Sinom dengan tepat menirukan sikapnya dan berkata,
"Kakang Megatruh... Kakangmbok Rahula... Kakang
Mahendra... semoga Dewata Agung melindungi anakku
yang bagaikan bintang cemerlang di langit luas, yang
bagaikan..."
"Adik Sinom!" Ki Mahendra menukas.
"Kenapa" Kakang Mahendra tidak setuju kalau anak-
ku secemerlang itu?" Sinom berkacak pinggang meng-
hadapi Ki Mahendra, suaminya.
"Aku tidak setuju. Sebab dia bukan anakmu saja.
Tapi juga anakku! Aku yang mengandung! Aku yang
melahirkan... eh, bukan, ya?"
"Bukan, yang kaukandung dan kaulahirkan itu bu-
kan Tantri...," Sinom bersungguh-sungguh berdebat.
"Kakang Megatruh, kurasa lebih baik aku pulang
dahulu," kata Nyai Rahula lemah.
"Enak saja pulang. Kakangmbok Rahula tadi menye-
rangku, tetapi aku berhasil mematahkan serangannya.
Apa tidak hebat, Kakang Megatruh?" tanya Sinom de-
ngan mata bersinar-sinar.
Dalam hati Ki Megatruh ingin tertawa. Adiknya itu
seakan tak berubah oleh puluhan tahun. Tetap gadis cilik tak mau kalah yang dulu
tinggal di desa dan meng-
ikutinya ke mana pun ia pergi. Ia ingin tertawa dan
mendekatinya. Sinom memang paling suka menggoda
orang. Dan tak mau kalah.
"Sinom, kau harus minta maaf pada Dinda Rahula!"
kata Ki Megatruh tegas.
"Enaknya!" tukas Sinom mencibir. "Sira yang menye-rangku lebih dahulu... mengapa
aku yang harus minta
maaf! Lagi pula... ilmu apa yang digunakannya" Me-
mang ilmu baru, tetapi... kalau itu ciptaanmu, Kakang Megatruh, aku malu mengaku
jadi adikmu. Biar kalau
orang bertanya tentang kau, aku bilang kau bukan apa-
apaku... baru kenal kemariiin, gitu...."
"Eh, betulkah Kakangmbok Rahula menyerangmu
dengan ilmu baru?" tanya Ki Mahendra.
"Betul! Wah... tapi... ndusuuun... enteeeeng! Aku ya-
kin itu dicangkok dari ilmu pukulan Kakangmbok Res-
pati dulu.... Lihat, salah satunya aku hafal...."
Tiba-tiba Sinom meloncat ke tengah tempat terbuka
itu. Bersungguh-sungguh ia memasang kuda-kuda. Ka-
ki bagian bawah bersilang. Ditekuk. Badan agak mem-
bungkuk. Tangan kiri menyilang dada dan tangan ka-
nan ditekuk di samping kepala. Kemudian ia bergerak
cepat sekali. Tangannya sebatas siku bagaikan selalu
terayun kaku, seolah penggada besi yang menderu jika
bergerak. Ki Megatruh mengerutkan kening melihat semua ge-
rakan itu. Itulah gerakan dari ilmu Bindi-Saketi! Bagaimana Sinom begitu cepat
menguasainya"
Tiba-tiba Sinom melompat mundur, membongkar
kuda-kudanya dan tertawa.
"Hanya itu yang kuketahui, Kakang Megatruh, ja-
ngan kau melotot seperti itu!" katanya.
"Wuah! Itu tadi ilmu baru ciptaan Kakang Mega-
truh?" kata Ki Mahendra. Dan ia tertawa terkekeh-
kekeh. "Ya, terlalu... mudah ditebak ya, Kakang." Sinom ter-
tawa juga. "Pasti anakku... dan anakmu, si Tantri, dengan mudah dapat
memecahkannya dalam sepuluh ju-
rus...." "Adik Sinom, jangan berkata begitu... kau lupa bah-
wa Tantri adalah juga keponakan Kakang Megatruh,"
kata Ki Mahendra.
"Jadi?" tanya Sinom.
"Yah... paling-paling tujuh jurus anak kita Tantri bi-sa merubuhkannya," kata Ki
Mahendra bersungguh-
sungguh. Dan kedua orang itu tertawa terpingkal-pingkal.
"He, kalau kalian bukan tamu..." Nyai Rahula sudah
hampir meledak amarahnya. Tetapi Megatruh meng-
angkat tangan mencegahnya.
"Kalau Tantri sudah begitu hebat, tentu aku juga
ikut gembira," kata Ki Megatruh sabar. "Di mana rika"
Tidak ikut?"
"Tidak ikut gimana" Kami ini ke sini mau mencari si
bintang Wilwatikta itu!" kata Sinom. "Kan pamitnya per-gi ke sini. Sesungguhnya
kami larang, ya toh, Kakang
Mahen" Ingat nggak waktu itu aku bilang..."
"Ssst... jangan bilang Kakang Megatruh kau mela-
rang Tantri pergi ke Tasik Arga karena... toh di Tasik Arga paling-paling diberi
makan ubi dan ikan asin yang tidak asin, hi hi hi...." Ki Mahendra tertawa
terpingkal-pingkal. "Jangan bilang begitu lho... nanti Kakangmbok Rahula
marah... padahal benar kok!"
"Aku memang ngomong begitu, ya" Rasanya kok iya!
Hi hi hi...." Sinom juga tertawa. "Lucunya, baru aku
bertanya pada Kakangmbok Rahula... eh, dia kok ma-
rah!" "Bertanya apa sih?" tanya Ki Mahendra sambil me-
nutupi gundulnya dengan tangan.
"Aku berkata... 'Kakangmbok, mana anakku si bin-
tang Wilwatikta yang tampan itu" Jangan-jangan Ka-
kangmbok curi karena Kakangmbok takkan pernah
punya anak!' Eh, aku langsung diterjangnya!" Sinom
tertawa. "Kau memang patut dihajar!" tiba-tiba Nyai Rahula
membentak geram dan langsung menghantam Sinom
dengan ranting kayu yang dibawanya!
"Aduh! Matrik aku!" teriak Sinom, cepat menjatuh-
kan diri ke belakang dan berguling mundur.
"Dinda Rahula!" seru Ki Megatruh.
Tetapi Nyai Rahula telah kalap. Ranting kayunya ber-
gerak bagaikan seribu ular mematuk dari segala jurus-
an. Mendesis. Mendesing. Menyengat. Ki Megatruh sen-
diri tampak tertegun. Ia sudah lama tidak melihat gerakan ini. Tapi ia langsung
bisa mengenalinya.
Nyai Rahula dahulu adalah anak seorang pendekar
pantai selatan yang bersenjatakan cambuk. Sewaktu
kemudian ayahnya tewas, Rahula dipungut oleh seo-
rang pangeran yang nyawanya diselamatkan sang ayah.
Dari pangeran inilah Rahula kemudian memperoleh ba-
nyak ilmu kesaktian. Di antaranya, gerak ilmu cambuk
yang sudah diubah.
Sinom belum pernah menghadapi ilmu ini. Dan ilmu
ini pun telah lama tenggelam - agaknya Rahula merasa
ia tak perlu menggunakannya. Kini, saat Sinom menge-
jek ilmu Ki Megatruh, ia sadar harus membuat Sinom
terkejut dengan ilmu yang belum dikenalnya. Dan inilah
Rahula Arani ilmu pukulan cambuk yang panasnya melebihi api bara jika kena.
"Adik Sinom!" panggil Ki Mahendra dengan khawatir
pula. "Awas, jangan sampai kalah, lho!"
"Dinda Mahendra, kukira Dinda akan memisahnya,
bukan malah mengadunya. Tolong hentikan pertempur-
an itu!" "Dihentikan bagaimana" Lihat, Adik Sinom menggu-
nakan ilmuku, Tan Trasanana... dan itu belum pernah dicoba dalam suatu
pertempuran. Biarlah dahulu, nanti kalau aku sudah puas kita pisahkan."
Hampir saja Ki Megatruh tersenyum. Nama ilmu Ki
Mahendra memang selalu aneh. Tan Trasanana, misalnya, berarti 'jangan ditakuti'.
Apanya yang jangan ditakuti"
Terlihat sekali gerakan-gerakannya ganas. Tinjunya
selalu mengarah pada daerah-daerah yang sangat pen-
ting. Agaknya ilmu itu sungguh tepat bagi Sinom yang
bertubuh kecil langsing itu. Begitu gesit. Begitu tegas.
Begitu tuntas. Hanya karena Nyai Rahula memakai ran-
ting kayu yang panjang saja maka beberapa kali se-
rangan Sinom terpaksa dihentikan. Ki Megatruh sendiri heran. Gerakan Nyai Rahula
begitu lancar dan mulus
melancarkan Rahula Arani. Setahunya, istrinya itu tak pernah lagi berlatih ilmu
kadigdayan. Dari heran timbul pula rasa sesal. Ia baru sadar bahwa selama hidup
ber-tahun-tahun dengannya, kemungkinan istrinya merasa
tertekan: tertekan oleh perasaan bersalah karena tak
bisa memberi keturunan, dan kemungkinan perasaan
iri karena selama ini ilmu-ilmu yang ditekuni oleh Ki Megatruh hanyalah ilmu-
ilmu yang berasal dari guru-guru Ki Megatruh sendiri, sementara ilmu Nyai Rahula
terlupakan. Sesuatu yang tak pernah dipikirkan. Sesua-tu yang tampaknya hanya
persoalan kecil. Sesuatu
yang, mungkin, kekanak-kanakan. Tetapi itu bisa saja
terjadi! Ki Megatruh terbangun dari lamunannya. Oleh suara
tertawa pendek Sinom. Dan dilihatnya kini, walaupun
bersenjata ranting kayu itu, Nyai Rahula terdesak he-
bat. Gerakannya kini hanya mengikuti gerakan sera-
ngan Sinom yang semakin ganas. Dan Ki Mahendra ter-
dengar bertepuk tangan gembira.
Keharuan Ki Megatruh meningkat. Sekilas terlihat
mata Nyai Rahula tertuju padanya. Suatu gerakan yang
harus dibayarnya mahal: iga kirinya kena sodok tangan Sinom dan saat ia memutar
diri untuk menghindar te-basan Sinom tubuhnya terpelanting. Untung Sinom ce-
pat puas. Ia tertawa terbahak-bahak dan menghentikan
serangannya. "Kakang Mahen, kata orang Tartar, biru itu hijau ju-
ga asalnya. Kakang Megatruh harus minggir, hi hi hi
...." Sinom tertawa.
"Belum, Dinda... Kakang Megatruh sih belum malu...
itu tadi kan Rahula Arani... bukan ilmu Kakang Mega-
truh!" kata Mahendra.
"O, bukan, to" Aku ingat, ini ilmu dari hutan selatan itu, ya?" Sinom
menelengkan kepala.
"Dan disempurnakan oleh Pangeran Peksajandu,"
kata Ki Mahendra.
"Ah, kalau begitu lega hatiku, Kakang. Dahulu Ka-
kang Megatruh kalah oleh Pangeran Peksajandu, maka
mestinya ilmu ini lebih hebat dari ilmu Kakang Mega-
truh. Benar, kan, benar, kan, benar, kan?" Sinom ber-
tanya mengejek pada Ki Megatruh.
Sementara itu Ki Megatruh cepat mendekati istrinya.
"Dinda... kau tak apa-apa?" Ki Megatruh memba-
ngunkan Nyai Rahula.
"Kalau Kakang tidak menghapuskan rasa malu ini,
aku takkan bisa mengerti lagi," bisik Nyai Rahula, dengan halus menolak tangan
Ki Megatruh. "Sudahlah, Dinda," bisik Ki Megatruh.
"Aku takkan mau sudah," desis Nyai Rahula berdiri.
"Sira menghinaku sebagai wanita. Sira menghinaku sebagai adik dan murid Pangeran
Peksajandu. Sira menghina suamiku. Dan Sira membuat suamiku memaling-kan muka
saat aku menderita. Aku takkan mau sudah!"
Dengan mata menyala-nyala, Nyai Rahula berdiri te-
gak menatap Sinom.
"Lho, tidak sudah ya sudah," Sinom tertawa.
"Dinda Sinom, jangan kurang ajar!" tukas Ki Mahen-
dra. "Bicara kok tidak ada artinya begitu... tidak sudah ya sudah bagaimana"
Kakangmbok tadi bilang..."
"Sinom, minta maaf pada kakakmu!" tukas Ki Mega-
truh dingin. Matanya begitu muram.
"Boleh... mohon beribu maaf, Kakang Megatruh," ka-
ta Sinom genit. "Tapi untuk apa?"
"Bukan padaku. Pada Dinda Rahula!" desis Ki Mega-
truh. "Oh, kudengar kau tadi bilang kakakku. Kan kakak-
ku hanya kau, Kakang!"
"Tak usah banyak bicara, Sinom, lakukan!" geram Ki
Megatruh. "Eh, kenapa kau membela dia, Kakang... kan dia
saudara bukan, sanak bukan... aku adik kandungmu,
lho!" Sinom makin kurang ajar.


Candika Dewi Penyebar Maut V di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jangan paksa aku menghajarmu, Sinom...." Ki Me-
gatruh masih mencoba menenangkan dirinya.
"Kakang... kau tak usah turun tangan sendiri...
aku... aku tak mau kau bentrok dengan adikmu. Biar-
lah aku kelak yang membalas rasa malu ini. Jaga diri-
mu baik-baik, Kakang...." Tiba-tiba Nyai Rahula berpaling dan melompat melesat
berlari pergi menuruni bu-
kit. "Dinda!" teriak Megatruh. Ia pun berlompat mengejar. Tetapi langkahnya
terhenti, karena tiba-tiba Sinom menghadangnya, dan menyerangnya!
"Hei, gila kau!" tanpa terkejut Ki Megatruh menghin-
dar. Namun Sinom adalah jagonya Sura-caya. Ke mana pun Ki Megatruh bergerak,
Sinom berhasil menghadangnya. Dan walaupun Ki Megatruh juga memiliki il-
mu yang sama, kelenturan dan keringanan tubuh Si-
nom tak bisa ditandinginya.
"Sinom, jika kau tidak minggir, kuhajar kau! Kau
sudah begitu parah merusak keadaan!" Sesaat Ki Mega-
truh melompat mundur.
"Lho, siapa yang salah! Bukan aku yang menyerang
lebih dahulu! Terus... Kakangmbok Rahula kan ingin
menyelesaikan sendiri persoalan ini?" Sinom tertawa.
"Aku... aku tak mau bicara padamu. Minggir!" bentak
Ki Megatruh. "Lhoh! Aku ini tamu, kalau kau tak mau bicara pa-
daku apa kata orang nanti" Ya kan, Kakang Mahen?"
"Mungkin orang bilang Kakang Megatruh bisu. Kan
sudah. Lalu kenapa?"
"Sialan! Apa kaukira aku akan senang punya seo-
rang kakak yang bisu?" Sinom sekarang seolah marah
pada Mahendra, yang membuat tubuhnya mengkeret
seolah ketakutan.
"Maksudku... kok dari dulu... dia masih belum so-
pan-santun. Kita kan tamu, ya, masa mau di... diapa-
kan tadi, Dinda Sinom?" tanya Mahendra berbaik hati.
"Sudahlah, minggir kau, Sinom!" kata Ki Megatruh.
Nada suaranya begitu dingin kini.
"Buat apa aku minggir! Dengan ini saja sudah ku-
buktikan bahwa kau tak bisa menang dari aku, Ka-
kang!" Sinom tertawa.
"Terserah. Aku tak mau menang darimu. Aku akan
menemui istriku, yang telah kauhinakan!" geram Ki Me-
gatruh. "Itulah... tidak enak punya istri. Segala macam ter-
kungkung. Makanya sampai saat ini pun aku tidak be-
ristri... hebat, kan?" tanya Sinom bangga. "Tapi toh aku punya anak! Daripada
kau, Kakang... punya istri tak
punya anak! Apa enaknya!"
"Sinom, aku ingin kau tak mengulangi lagi apa pun
tentang anak di depan Dinda Rahula!" kata Ki Megatruh tegas.
"Lho kenapa! Ini mulut siapa coba, mulut siapa!" ka-
ta Sinom menuding ke mulutnya sendiri. "Kan mulutku
sendiri toh" Aku mau ngomong Baaaah aku mau ngo-
mong Buuuh kan urusanku sendiri!"
"Kau masih juga belum mengerti" Dinda Rahula ti-
dak dapat punya keturunan karena sira telah menyalurkan tenaga dalamnya, begitu
berlebihan, hingga ia
mengalami cedera dan tak bisa memiliki keturunan.
Dan itu semua untuk menyembuhkanmu! Tanpa pe-
ngorbanannya... mungkin kau sudah tak ada di dunia
ini, tahu?" Dengan kesal Ki Megatruh terpaksa menga-
takan apa yang tak pernah dikatakannya pada Sinom.
Dikiranya Sinom akan meledak. Dikiranya Sinom akan
terkejut. Dikira Sinom akan terharu.
Tapi tidak. Sinom malah tertawa.
"Lalu kenapa" Apakah aku harus berterima kasih
sampai aku menjadi budak utang budiku?" Sinom ter-
kekeh-kekeh. "Siapa menyuruh ia menolongku" Siapa
menyuruh ia berkorban" Aku tidak! Aku bahkan ter-
singgung, kok sepertinya dia sendiri begitu jago hingga berani-beraninya merebut
aku dari Dewa Yama!"
"Sinom! Kau sungguh... sungguh tak punya hati nu-
rani!" Ki Megatruh malah yang meledak heran.
"Itulah! Orang yang terlalu banyak hati nuraninya
pasti tak punya anak!" Sinom tertawa.
"Ya, Mahesywara!" Ki Megatruh harus berhenti sejenak untuk menyabarkan hatinya.
Tanpa bicara lagi, ia
pun berpaling untuk melangkah pergi. Dua hal berke-
camuk dalam hatinya. Perasaan kesal akan kekuranga-
jaran Sinom. Perasaan haru karena betapapun Sinom ma-
sih hidup, berhasil diselamatkan dari maut yang dulu
disebabkan oleh tangannya. Memang sifat Sinom tak-
kan bisa berubah. Sejak kecil ia seperti itu.
"Hei, mau ke mana, Kakang?" Tiba-tiba Sinom telah
berada di depannya.
"Aku tak punya waktu bercanda denganmu, Sinom.
Minggir!" kata Ki Megatruh tegas.
"Pokoknya harus kaubuktikan kau lebih unggul dari
aku, Kakang!" Sinom tertawa dan langsung menyerang
Ki Megatruh. Ki Megatruh seolah sudah tahu dirinya akan dise-
rang. Kali ini tak menghindar. Dengan dua tangan lurus
ke depan ia menyambut serangan Sinom.
Sesaat Ki Megatruh terkejut. Dorongan tenaganya
tak membentur apa pun. Dan terdengar Sinom tertawa
terkikik. Dan dari samping terdengar Ki Mahendra tertawa.
"Tan Trasanana... jangan ditakuti!" terdengar ia berkata, sementara kembali
Sinom menyerang dengan menun-dukkan badan. "Gempuran gaya Astungkara dari Bindi-
Saketi punah, Dinda Sinom, suatu awal yang bagus!
Ingat-ingat semua gerakan Bindi-Saketi berikutnya... hi hi hi.... Kakang
Megatruh pasti malu! Hayo maju! Hayo maju! Jangan sampai malu! Hayo maju! Hayo
maju! Jangan sampai malu!" Dan Ki Mahendra pun menari-
nari di samping kedua orang yang sedang bertempur
itu. Kepalanya mengkilat, jenggot putihnya melambai-
lambai. Dalam bertarung itu, Ki Megatruh makin lama makin
heran. Ilmu baru ciptaan Mahendra dan Sinom ini
sungguh aneh, makin lama makin terasa anehnya. Sela-
lu dugaannya salah. Belum apa-apa ia sudah mulai me-
rasa terkungkung oleh rasa keputus-asaan. Cepat ia
memusatkan diri. Dan terpikir juga kata-kata Mahendra tadi. Mungkin kedua orang
ini sudah berlatih menggunakan ilmu baru mereka melawan ilmu-ilmu Ki Mega-
truh. Rahula tadi benar. Dan tiba-tiba Ki Megatruh
mengubah tata geraknya. Kuda-kuda kakinya kini me-
lebar, tangan kiri terangkat tinggi dan tangan kanan lurus menjurus menjarah
kedudukan dengan sambaran-
sambaran cepat bagai patukan ular. Dan kini Sinom
yang goyah. Tetapi ia terus tertawa dan mempergencar
serangannya. "Dinda Sinom, gerakan Kakang Megatruh seperti ge-
rakan Kakangmbok Rahula tadi, hi hi hi...," dari samping Ki Mahendra
berkomentar. "Jangan berlagak pintar! Aku sudah tahu!" seru Si-
nom, tiba-tiba berguling ke kiri dan melompat ke kanan.
Sesudah mengamati sekian lama, Ki Megatruh tiba-
tiba melihat, walaupun samar-samar, kesamaan Tan Trasanana ini dengan Sura-caya.
Sangat samar, memang, tetapi ada. Seolah gerak cepat tadi digabung dengan suatu
ilmu pukulan baru... dengan agak ngawur.
Ya, di situlah intinya. Dalam kengawuran penyusunan
gerak, tersembunyi tata serangan yang tak mudah di-
duga! Seolah suatu irama gamelan yang setiap saat di
mana pun juga dikurangi jumlah pukulannya... sesuka-
nya! Beberapa saat Sinom sudah mulai makin mantap
menyerang Ki Megatruh. Dan Ki Megatruh mengubah
lagi cara mempertahankan dirinya.
"Kacau! Kacau!" teriak Ki Mahendra dari samping. Ia
berhenti menari-nari dan membungkukkan badan un-
tuk dapat melihat dengan lebih baik. "Kakang Megatruh sudah bingung, Dinda
Sinom, semua gerakannya kacau!"
Kali ini Sinom tak bisa menimpali apa-apa. Beberapa
kali lecutan panas terlontar dari tangan Ki Megatruh
membuat lawannya beberapa kali menjerit kecil. Gera-
kan Ki Megatruh memang tampak kacau, dan tak enak
dipandang. Seolah orang baru belajar tata kewiraan dan sering lupa, gerakannya
patah-patah, sering tak berlan-jut, sering diulang, sering malah tiba-tiba tak
bergerak, membuat Sinom beberapa kali hampir terjerumus dan
dihajar oleh suatu sentilan pedas.
"Berhenti dulu! Berhenti dulu! Dulu berhenti kok...,"
kata Ki Mahendra. "Kakang Megatruh, waktu kita lati-
han, kalau Adik Sinom terdesak kita berhenti kok!"
Dan begitu mendadak Ki Megatruh berhenti. Kokoh
bagaikan tugu. Sinom yang sedang maju menyerang
terbentur mukanya oleh telapak tangan yang tiba-tiba
menghadang di depannya.
"Ugh!" Sinom terpental jatuh terduduk beberapa saat
kebingungan. Tapi ia segera melompat berdiri. "Curang kau, Kakang! Pertama kau
tak memakai ilmumu sendiri. Kedua, kau ngawur! Kau kalah!"
"Benar, Kakang Megatruh curang! Kalah! Kita kalah
tetapi tidak curang. Eh, kita tidak curang juga, tidak kalah juga!" kata Ki
Mahendra. "Baiklah aku kalah, sekarang... sudahlah, aku akan
menyusul kakak kalian!"
"Enak saja! Kakang belum mencoba Bahni Tamoli
kami!" seru Sinom sambil mulai memasang kuda-kuda
lagi. "Ya Kakang belum, belum Kakang!" Ki Mahendra ber-
lompat-lompatan kecil.
"Aku tak sempat lagi," kata Ki Megatruh.
"Harus sempat!" kata Sinom langsung menghirup
napas panjang dan memusatkan pikiran guna melon-
tarkan ajiannya!
"Sinom, aku tak punya waktu main-main dengan-
mu!" Ki Megatruh akan menyingkir, tetapi kini dihadang oleh Ki Mahendra.
"Kakang, selama ini Kakang mengagulkan Bhirawa-
dana. Sedang ilmuku Sasradahana. Karena kita berke-luarga, ilmumu dan ilmuku
sudah hampir menyatu.
Aku tak mau punya ilmu sama denganmu. Adik Sinom
juga tak mau. Dan kami menemukan ilmu ini... Bahni Tamoli!" seru Ki Mahendra,
dan ia melompat mundur serta memasang kuda-kuda seperti Sinom: tumpuan
pada kaki kiri, kaki kanan sedikit terangkat, bahu kanan terangkat dan kedua
telapak tangan menebar di
depan muka sementara pemusatan ajian berlangsung.
Ki Megatruh tertegun. Bahkan sesaat ini pun ia me-
rasakan wibawa ajian itu. Hawa hangat menerpanya.
Dan melihat asal-usul ajian utama Ki Mahendra yang
berlandaskan api, dan juga nama ajian tersebut yang
berarti 'api yang tak ada yang melebihi' - kembali nama yang lucu, begitu sempat
terpikir oleh Ki Megatruh -
maka bisa diraba ajian itu bersifat panas.
Ki Megatruh mungkin sudah dimakan usia. Pada
saat yang kritis itu terlintas di benaknya adegan puluhan tahun yang silam. Ia
berhadapan dengan Sinom.
Dalam suasana permusuhan. Dan rasa dendam yang
berkobar. Dan Bhirawadana yang dilontarkannya membuat Sinom tewas. Mati suri.
Memang akhirnya nyawa
Sinom tertolong, tapi tak pernah hilang dari pelupuk
matanya, adiknya terkulai tak bernyawa di tangannya.
"YAKHHHHHHHHHHHH!" tiba-tiba dari alam sadar-
nya ia mendengar bentakan keras itu.
Ki Megatruh pun menjerit keras, "PRATAPAAAAAA!"
Seruan itu seakan menggelegar. Bersamaan dengan
terlontarnya ajian Bahni Tamoli dari Sinom dan Ki Mahendra. Keduanya juga
memberi wibawa ledakan hebat.
Dan kemudian sunyi.
Ki Megatruh terduduk. Tunduk. Memejamkan mata.
Mengerahkan segala kekuatan dirinya.
Ki Mahendra dan Sinom terpaku bagai patung dalam
kedudukan terakhir mereka. Kemudian mereka menyu-
rutkan saluran tenaga. Mengorak pemusatan pikiran.
Pertama mereka saling pandang. Kemudian berdua
mereka memandang Ki Megatruh. Ki Megatruh tampak
menggigil duduk bersila mengerahkan kekuatannya.
Sinom berlari kecil mendekati Ki Mahendra.
"Kang... Kakang Megatruh...," bisik Sinom khawatir.
"Dinda Sinom... kalau aku boleh terus terang... se-
sungguhnya... Kakang Megatruh berhasil memusnah-
kan ajian kita!" bisik Ki Mahendra.
"Jadi... kita kalah?" bisik Sinom.
"Iya...," bisik Ki Mahendra.
"Aaaa, nggak mau, nggak mau, nggak mau...," Sinom
menjerit-jerit dan membanting-bantingkan kakinya.
"Ssst, diam, diam, nanti dia bangun dan dia tahu ki-
ta kalah!" Gugup Ki Mahendra menekap mulut Sinom.
"O, iya, ya... sebelum dia tahu kita kalah... kita pergi saja" Atau kita curi
kitabnya" Tadi agaknya ia memakai ilmu baru untuk memusnahkan ilmu baru kita."
"Kudengar dia tadi berseru 'Pratapa'... agaknya bu-
kan suatu ajian kewiraan... lebih sekadar pelindung di-ri, hanya semacam 'sinar
kekuatan' saja... mungkin semacam tirai pelindung diri." Ki Mahendra mengerutkan
kening. "Kita ganggu dia?" usul Sinom.
"Jangan. Aku... aku khawatir si Tantri. Di Padepokan
Tasik Arga dia tak pernah muncul... apakah dia tak berbicara apa pun?"
"Sebelum dia pergi?" Sinom berpikir-pikir sambil me-
lemparkan beberapa kerikil pada Ki Megatruh yang ma-
sih bersemadi. "Hm. Aku memang mendongeng tentang
kota-kota besar. Dan murid-murid kita. Mungkin dia
akan mengembara?"
"Yang jelas dia sudah bosan dengan masakanmu."
"Aneh."
"Kenapa?"
"Aku kan tidak pernah masak!"
"O, iya ya...."
"Coba kaupejamkan matamu, apa seperti Kakang
Megatruh juga?" pinta Sinom.
"Begini?" Ki Mahendra menutup matanya rapat-
rapat. Sinom tak menjawab. Ia melompat melesat dan ber-
lari pergi.

Candika Dewi Penyebar Maut V di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Hei, tunggu!" teriak Ki Mahendra. Gugup menghor-
mat pada Ki Megatruh dan berlari menyusul istrinya.
Tempat itu pun sunyi. Tinggal Ki Megatruh bersema-
di sendiri. 2. AWAL PERJALANAN
KI MEGATRUH mengorak sila dan berdiri. Sungguh ber-
bahaya. Hanya karena tenaga dalamnya yang begitu
kokoh maka ia selamat dari gempuran tenaga panas
yang begitu dahsyat itu. Bahni Tamoli. Memang ganas.
Liar. Dan belum dikembangkan sepenuhnya.
Sinom dan Mahendra. Masih senakal dulu. Dan Ra-
hula... tiba-tiba Ki Megatruh merasa begitu khawatir.
Ia pun menjejakkan kaki dan tubuhnya melesat begi-
tu cepat bagaikan terbang. Turun gunung. Berkelibas di antara pepohonan hutan.
Naik gunung. Melompati sungai. Toh matahari sudah condong ke barat saat ia
sampai di depan gerbang Padepokan Tasik Arga.
Beberapa orang cantrik cepat-cepat mendapatkannya, bersimpuh memberi hormat.
Pemimpin para can-
trik itu, Cantrik Dharmika langsung berdatang sembah,
"Selamat datang, Guru... semoga anugerah Dewa me-
nyertai Guru selalu...."
"Terima kasih, Dharmika. Apakah Nyai Guru-mu te-
lah tiba?" tanya Ki Megatruh tanpa pendahuluan lagi.
"Itulah yang ingin hamba haturkan, Guru. Nyai Guru
junjungan hamba semua hanya tinggal sebentar, meng-
ambil beberapa bekal dan pergi lagi tanpa berpesan apa pun."
"Sendiri?"
"Ditemani Ni Gori... dan tampaknya tergesa-gesa se-
kali." "Gurumu Ki Mahendra dan Nyai Sinom?"
Dharmika tampak agak sulit menjawab.
"Bagaimana, Dharmika?"
"Guru... junjungan hamba Ki Mahendra dan Nyai Si-
nom memang datang setelah Nyai Guru pergi. Kedua
junjungan hamba itu kemudian... mencoret-coret din-
ding dengan tom, kemudian pergi pula. Coretannya sungguh... memalukan, Guru....
Hamba sudah menyuruh orang untuk menghapusnya. Kemudian kedua be-
liau itu pergi ke arah utara."
"Baik, Dharmika, sementara pimpinan padepokan
ada di tanganmu. Aku akan pergi mencari gurumu."
Sebelum Dharmika menjawab, Ki Megatruh telah le-
nyap. 3. DI LEMBAH TRANG GALIH
LEMBAH TRANG GALIH sangat tersembunyi. Sebuah
dataran sempit. Di dasar jurang terjal. Diapit hutan
rimba. Lebat. Dinding jurang yang terjal. Dari batu-batu karang.
Dan gua-gua yang ada di dinding itu banyak yang bu-
kan buatan alam.
Di dasar lembah, api-api unggun sudah memadam.
Tinggal bara api sisa semalam. Embun hutan pun
mengendap hingga bagaikan asap menggumpal meng-
gantung di atas tanah. Di ujung lembah dan atas din-
ding tebing, tersembunyi, beberapa penjaga masih ber-
waspada. Di dalam gua-gua, beberapa puluh, atau
mungkin beberapa ratus orang masih tidur lelap.
Matahari belum terbit.
Di pintu lembah, beberapa orang penjaga tiba-tiba
tersentak oleh bau harum yang sangat menusuk hi-
dung. Dan mendadak saja di hadapan mereka berdiri
dua sosok tubuh. Seorang wanita setengah tua yang
berpakaian serba biru. Dan seorang pria yang berpa-
kaian rapat menutup seluruh tubuh.
Wara Hita dan Wara Huyeng.
Para penjaga itu langsung menjatuhkan diri bersim-
puh. "Kau kenal kami, itu bagus," kata Wara Hita yang
berpakaian pria. "Tapi kami berhasil mendekati kalian tanpa kalian ketahui.
Kalian harus dihukum. Siapa pe-mimpin di sini?"
"Hamba, Junjungan... Sorpana...." Seorang maju me-
nyembah. Wara Hita mengayunkan tangan. Dan orang itu ter-
lempar membentur dinding jurang. Dengan kepala pe-
cah. "Ambil itu sebagai pelajaran," kata Wara Hita.
"Kau..." Ia menuding seorang penjaga lainnya. "Kau-
pimpin yang lain. Jangan mengulang kesalahannya. Bi-
bi Huyeng..." Ia kini berpaling pada Wara Huyeng. "Bibi lihat kesiapan mereka
semua. Aku akan menemui
Eyang Guru. Aku yakin pwangkulun ada di puncak Ga-lih."
Tubuh Wara Hita bagaikan terbang. Melesat ke atas.
Dan dengan sekali-sekali menyentuh dinding jurang.
Melesat terus. Kemudian di kegelapan tubir jurang ia berlari. Cepat
dan pasti. Menembus hutan. Mendaki bukit.
Dan berhenti di depan sebuah bangunan dari batu.
Tempat itu gelap. Kabut pun masih mengendap.
Wara Hita maju selangkah. Mengambil sikap me-
nyembah. Bersujud. Dan maju lagi.
"Kau terlambat datang," terdengar suara berat dari
dalam bangunan batu itu.
"Hamba mohon dihukum, Guru...," sembah Wara Hi-
ta pasrah. "Nyalakan pahoman utara!"
Wara Hita langsung bergerak. Tanpa mengorak kedu-
dukan kakinya ia mengembuskan tenaga ke kedua tela-
pak tangannya. Dan tubuhnya berputar. Cepat sekali.
Tiba-tiba ia membentak. Keras. Pendek. Terasa sekilas wibawa panasnya api. Dan
sambaran kilat. Dan di depan bangunan batu itu tiba-tiba api berkobar. Besar.
Menerangi sebuah tempat berkorban.
"Pandanglah pahoman itu!"
Di bangku korban, tergeletak sesosok tubuh manu-
sia. Sesaat Wara Hita tersedak.
Ia memandang dirinya sendiri.
Ya. Yang berbaring terikat di bangku korban itu di-
rinya sendiri. Bahkan juga memakai pakaian pria. Se-
perti dia. Bahkan juga sedang memandang dirinya.
Dengan perasaan heran.
"Hancurkan dia. Dengan ilmu yang kaucuri dari mu-
rid Megatruh itu!"
Sesaat Wara Hita ragu-ragu. Yang manakah dirinya
yang sebenarnya"
Tetapi ia tak berani membantah. Dikepalkannya tin-
junya. Dan tiba-tiba tubuhnya melesat ke atas. Dengan kaki masih tertekuk
seperti saat bersimpuh. Dan tin-junya meluncur menghajar kepala orang yang di
pahoman tersebut. Tanpa berkedip. Kepala orang itu pun hancur berantakan. Tubuh
Wara Hita sendiri telah terpental ke atas, berputar di udara dan kembali duduk
di tempat tadi.
Sunyi. Kemudian, "Nyalakan pahoman selatan!"
Wara Hita memekik menyalurkan tenaga, berputar
cepat dan menghantam ke arah belakangnya.
Di belakangnya pun kini api berkobar menerangi pahoman. Dan seorang tua berjubah
putih dengan rambut dan jenggot berantakan melambai-lambai ditiup angin.
Tadinya orang itu membelakangi Wara Hita. Kemudian
perlahan ia berputar menghadapinya.
"Eyang Guru...," bisik Wara Hita menyembah.
"Hantam aku dengan ajian Wajra Prayaga!"
"Guru..."
"Lakukan!"
Sesaat tampak Wara Hita ragu-ragu. Kemudian ia
melompat berdiri. Kepalanya diguncangkannya. Hingga
gelung rambutnya terlepas. Kedua lengannya kaku. Ja-
ri-jemarinya berkembang lebar. Yang kiri terulur. Yang kanan di sisi muka. Dan
ia berteriak keras.
Dentuman yang terjadi mungkin hanyalah suatu
gambaran di otak. Tapi wibawa itu ada. Dan sekilas da-da orang tua berjubah
putih itu seakan membara. Dan
ia pun roboh. "Guru!" Wara Hita berseru terkejut, memburu.
Di depan tubuh yang roboh itu tak terasa ia menjerit
ketakutan. Ini bukan Sang Guru! Ini... Wara Huyeng!
Oh, tidak! Ketika diperhatikannya lagi, ini bukan Wara Huyeng! Ini dirinya
sendiri! Tapi... Wara Hita cepat memusatkan pikirannya. Dan tubuh di depannya
berubah lagi. Seseorang yang tak dikenalnya.
Ia menghela napas panjang, dan mundur. Berpaling.
Di depannya berdiri orang tua renta berjubah serba putih itu.
"Kau belum cukup matang," kakek itu berkata. "Ji-
wamu masih diliputi rasa ragu. Dan ilmumu belum
mantap pula."
"Hamba mohon dihukum, Guru...," kembali Wara Hi-
ta bersujud dalam-dalam.
"Tak ada gunanya kau dihukum."
Tiba-tiba orang tua itu berpaling. Membentak. Dan
mendorong dengan kedua telapak tangannya.
Bangunan batu itu roboh berantakan. Gemuruh bu-
nyinya. Si kakek menggelengkan kepala.
"Bahkan tenagaku pun belum pulih," katanya.
"Tenaga Guru sudah begitu hebat!" sembah Wara Hi-
ta. "Kau anak kecil tahu apa!" si tua mencibir. "Dahulu
... namaku begitu tenar. Nama Nagabisikan hampir sa-
ma artinya dengan peruntuh Wilwatikta. Waktu itu. Kau tahu... aku hampir saja
menjadi pendeta negara, negara yang sangat kuat, yang akan mencaplok Wilwatikta.
Sayang... anak bernama Megatruh itu kemudian bikin
gara-gara. Nah... aku ingin bisa membalas dengan tan-
ganmu. Kautaklukkan Wilwatikta. Aku akan memban-
tumu. Yang kauperlukan adalah: para pembantu yang
cukup tangguh."
"Kami sedang mengumpulkan itu, Eyang Guru."
"Pusaka yang tangguh dan ilmu yang tangguh."
"Untuk itu kami mohon petunjuk Guru."
Sesaat Sang Guru terdiam.
Tempat itu adalah suatu tempat ketinggian. Jauh di
sebelah timur Gunung Kawi menjulang. Dan langit di
punggung gunung yang menghitam itu mulai memerah.
"Hanya ada dua pusaka yang cocok untukmu. Ke-
duanya adalah pusaka kakek moyangmu dahulu. Per-
tama adalah pedang Krura Karma. Ini dulu direbut oleh Raden Gajah. Yang kedua
adalah gada Wesi Kuning. Ini yang agak sulit. Ketika Sang Wirabhumi jatuh, gada
ini sudah lenyap."
"Putu maharsi telah mengobrak-abrik beberapa keluarga keturunan dekat Raden
Gajah, tetapi belum me-
lihat tanda-tanda adanya kedua pusaka itu. Dengan
tambahan ilmu dari Guru, putu maharsi akan berani melabrak langsung ke istana
Wilwatikta."
"Aku tahu pendorong hatimu adalah hasrat memba-
laskan dendam kematian Sang Wirabhumi. Jangan lupa
bahwa itu berarti kau pun kemungkinan mendongkel
tahta Wilwatikta. Untuk itu kau jangan terburu nafsu.
Kau harus tahu mana yang harus kaudahulukan."
"Untuk itu hamba mohon petunjuk."
"Hanya kesempurnaan ilmumu yang bisa memban-
tumu. Ilmu Wajra Praya memang luas. Tetapi bahkan aku sendiri tidak menguasai
seluruhnya." Sang Guru
tampak menunduk sedih. "Pada pertemuan kami yang
terakhir, si Megatruh itu dengan licik telah menggunakan Bengawan Bera Rantas
untuk menggempurku. Dan itu sangat mengganggu pulihnya tenaga dan ingatanku.
Kitab Wajra Prayaga sendiri kemungkinan ada di tangan Megatruh setelah gugurnya
Pangeran Peksajandu.
Mungkin tiba saatnya nanti kau harus menyelidiki hal
itu." "Jiwa raga putu maharsi adalah milik Paduka, Guru,"
sembah Wara Hita.
"Jiwa ragamu tidak cukup. Yang kauperlukan adalah
otakmu. Dan tekadmu. Menentang Wilwatikta seperti
saja menentang matahari. Lakukan upacara untuk me-
nerima ilmumu."
"Baik, Guru."
Wara Hita menyembah. Kemudian mundur ke dalam
kegelapan yang masih ada. Dicopotnya seluruh pakai-
annya. Sementara itu Sang Guru dengan langkah tetap
memasuki kobaran api di tempat pemujaan.
4. KALUNG MANIK KAYU DEWA
DI RUANG JINGGA, rumah hiburan Emban Layarmega.
Tari, yang kini bernama Kasturi, terkejut saat ada
seseorang yang mengenali kalung yang dipakainya. Ka-
lung manik kayu dewa. Tari telah lupa segala-galanya.
Namanya sendiri pun ia tak ingat. Hanya dua hal yang
masih diingatnya dengan pasti. Sebuah nama. Tantri.
Walaupun ia tak tahu nama ini milik siapa. Dan kalung manik kayu dewa ini. Benda
inilah yang pertama kali dilihatnya saat beberapa hari yang lalu pertama kali ia
sadarkan diri. Maka ia menganggapnya suatu benda
yang mungkin merupakan miliknya yang asli. Sesuatu
dari masa lampaunya yang gelap.
Sebaliknya Tun Kumala, alias Rara Sindu. Ia menge-
nali kalung ini sebagai milik kakaknya, Ra Sindura,
yang kini dianggap bersalah dalam suatu peristiwa
pembunuhan besar yang mengguncangkan negara.
Mengapa kalung ini berada di leher seorang wanita
penghibur bernama Kasturi ini" Memang ia tahu Ra
Sindura sering mengunjungi tempat Layarmega ini. Da-
lam rangka tugas, katanya. Apakah diam-diam ka-
kaknya menaruh hati pada wanita penghibur ini"
Tetapi, apakah orang dengan kepribadian seperti Ra
Sindura sampai begitu terlibat dalam emosi hingga me-
relakan kalung jabatannya pada wanita ini" Wanita se-
perti ini" Kalau wanita yang disukai oleh Ra Sindura se-sama bangsawan tinggi,
masih mungkin. Tapi ini..."
Tapi Tun Kumala tak sempat berpikir lebih jauh.
Tari melihat ada orang yang mengenali kalungnya.
Sepercik harapan muncul. Mungkin juga semburan sik-
saan bertubi. Pasti ada orang yang tahu masa lalunya.
Mungkin ini ada hubungannya dengan penyebab me-
ngapa ia melupakan segala-galanya.
Sesuatu tiba-tiba menguasai Tari.
Sesuatu meledak di dada Tari.
Mendadak saja ia beringas. Tangannya terulur cepat
menyambar leher Tun Kumala. Dan mencekiknya.


Candika Dewi Penyebar Maut V di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Cepat katakan!" jeritnya. "Siapa sahabatmu yang
punya kalung mirip ini" Cepat!"
"Ekkkh... le... lepaskan dulu!" Tun Kumala alias Rara Sindu megap-megap tercekik
tak bisa bernapas. "Le...
lepas... lepaskan!"
Tapi cengkeraman Tari tak mudah terlepas, beta-
papun Tun Kumala meronta-ronta. Tari memang lupa
semua ilmu kadigdayan yang pernah dimilikinya. Tetapi otot-ototnya tak mudah
lupa. Cengkeramannya cengkeraman berilmu dengan tenaga yang cukup mantap.
Tun Kumala meronta lagi. Dan serta-merta Tari
menghempaskannya ke lantai keras-keras. Masih terus
mencekiknya. "Cepat katakan!" desis Tari dengan mata beringas
menyala dengan nafsu membunuh.
"Akku... akku... tak bisa bicara!" Penderitaan Tun
Kumala begitu hebat.
"Kau... kau harus katakan itu.... Harus!" Cekikan Ta-
ri semakin kuat di leher jenjang Tun Kumala. Begitu kalap Tari hingga ia tak
memperhatikan hal-hal yang ku-
rang wajar pada Tun Kumala: kulit dan dadanya yang
lembut, atau suara yang tiba-tiba terlalu kewanitaan.
"Punya... punya Kakang Sindura...." Siksaan seperti
ini sudah keterlaluan bagi Rara Sindu.
"Ra Sindura siapa?" Cekikan Tari semakin menya-
kitkan. "Pu... putra.... Rakryan... Rangga!"
Keterangan itu cukup bagi Tari. Dihempaskannya
Tun Kumala sekali lagi ke lantai. Dan ia melompat berdiri.
Ra Sindura. Putra Rakryan Rangga. Ini mudah dica-
ri. Terengah-engah Tari berdiri di sudut kamar, mem-
perhatikan Tun Kumala yang terbatuk-batuk dan me-
gap-megap kehabisan napas di lantai.
Sebersit pikiran muncul di benaknya. Kelakuannya
ini pasti tak bisa diampuni oleh Bibi Emban Layarmega.
Ya. Kenapa ia tadi begitu kasar" Kalau ia mau... pasti mudah merayu agar apa
yang diinginkannya dijawab
baik-baik oleh orang ini. Kini, tak ada jalan mundur.
Tapi, memang Tun Kumala agak lain. Tidak seperti
lelaki kebanyakan. Ya. Seperti lelaki yang mengaku
saudagar wewangian itu. Hanya kelainan mereka berbe-
da. Wisti si saudagar itu begitu jantan. Sedang Tun
Kumala ini begitu lemah. Kalaupun ia harus mening-
galkan rumah Emban Layarmega ini, ia akan mencari
orang bernama Wisti itu. Ia akan menghambakan diri
pada orang itu. Pasti diterima. Ia sudah mendapat pelajaran dari Bibi Emban Layarmega tentang mata lelaki.
Kasih Diantara Remaja 3 Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu Pedang Angin Berbisik 20
^