Pencarian

Pemikat Iblis 1

Pendekar Bloon 3 Pemikat Iblis Bagian 1


Cerita ini adalah fiktif
Persamaan nama, tempat dan ide hanya kebetulan belaka.
PEMIKAT IBLIS Oleh : D. AFFANDY
Diterbitkan oleh : Mutiara, Jakarta
Cetakan Pertama : 1993
Setting Oleh : M. Yohandi
Hak penerbitan ada pada penerbit
Mutiara Dilarang mengutip, mereproduksi dalam bentuk apapun
Tanpa ijin tertulis dari penerbit.
D. Affandy Serial Pendekar Blo'on
Dalam episode Pemikat Iblis
1 Gunung Galunggung hampir sepan-
jang masa menyemburkan lidah api
abadi. Hampir setiap saat penduduk di sekitarnya boleh dikata terancam mara-
bahaya. Letusan gunung hampir semua
orang tahu selalu mendatangkan malapetaka. Walaupun kesuburan tanahnya
memberi manfaat bagi kehidupan umat
manusia. Tidak jauh dari gunung Galung-
gung ini ada sebuah tempat yang
bernama Cilawu. Daerah ini merupakan sebuah daerah dataran rendah dan
berbukit-bukit. Meskipun daerah tersebut selalu tampak sunyi seakan tidak
berpenghuni. Bila dilihat dari dekat, maka setiap pagi selalu terdengar
suara bentakan-bentakan atau terkadang suara lengking tangis berkepanjangan.
Tidak jarang terdengar pula suara
beradunya dua senjata, terasa menya-
kitkan gendang-gendang telinga.
Melihat ke arah lembah gersang
dan berbatu cadas itu. Maka sege-ra terlihat seorang gadis berbaju
ungu dan berwajah angker sedang
bertarung mati-matian melawan seorang laki-laki tua muka tengkorak.
Rambutnya yang riap-riapan dibiarkan-
nya tergerai memanjang. Sementara
kakek berambut putih acak-acakan muka tengkorak, tampaknya juga tidak jauh
lebih baik dari gadis yang
di- hadapinya. "Kerahkan seluruh kepandaian
yang kau miliki!" suara kakek wajah tengkorak menggema ke seluruh bibir
lembah, menggetarkan dinding-dinding
batu, juga menulikan telinga.
"Jangan hanya gembar-gembor
macam harimau ompong tua bangka! Mari kita buktikan siapa yang paling kuat
di antara kita!" bentak gadis baju ungu tidak kalah sengitnya.
Tidak dapat dihindari pertem-
puran seru pun terjadi. Masing-masing tampaknya sama-sama mengandalkan tangan
kosong. Setiap serangan yang
mereka lancarkan selalu menimbulkan
angin bersiuran. Debu-debu mengepul di udara. Batu-batu berhamburan dan siap
menghantam tubuh lawannya. Lengah
sedikit, maka putuslah nyawa.
Pertempuran sengit itu semakin
lama semakin menghebat. Terlebih-lebih ketika kakek tua bertampang mengerikan
berbadan kurus kering itu lepaskan
salah satu pukulan yang paling
diandalkannya. "Heaaa...!" Tangan si kakek yang telah berubah menjadi biru tiba-tiba
saja dihantamkannya ke depan.
"Hmm. Hanya pukulan Racun Segala Bisa, siapa yang takut!" Gadis baju ungu
menggeram hebat. Ia kerahkan
tenaga dalam yang dimilikinya ke
bagian tangan kiri kanan. Hanya dalam waktu sekedipan mata saja kedua
telapak tangannya juga telah berubah
menjadi biru. Tanpa menunggu ia
lontarkan kedua tangannya memapaki
pukulan beracun yang dilepaskan oleh
kakek muka tengkorak mata buta
sebelah. "Huup!"
"Shaa...!"
Angin dingin mencucuk membekukan
darah saling menyambar dengan ganas.
Kemudian terjadi benturan yang sangat keras bukan alang kepalang.
"Duum! Duum!"
Dinding tebing yang selama
bertahun-tahun tidak pernah goyah
diterpa musim. Kini tampak longsor di sana-sini. Suara bergemuruh disertai
menyebarnya bau menusuk berbaur
menjadi satu. Debu mengepul tinggi
membumbung ke angkasa. Bila beberapa
saat kemudian debu-debu yang
berterbangan itu mulai menipis. Maka daerah di sekitarnya menjadi porak
poranda. Pada dua buah sisi yang
berlawanan terlihat dua sosok tubuh
tergeletak tidak bergerak sama sekali.
Dari bibir mereka mengalirkan darah.
Tampak jelas baik gadis berbaju ungu
maupun si kakek muka tengkorak
menderita luka dalam yang sangat
parah. Namun anehnya tidak berselang
lama. Terdengar suara tawa si muka
tengkorak bergelak. Tawa itu semakin
lama semakin meninggi, hingga membuat daun-daun hijau di atas pohon
berguguran. Gadis berbaju ungu agaknya juga menyadari apa yang tengah
dilakukan oleh laki-laki renta di
depannya. Itulah salah satu cara
menyembuhkan luka dalam lewat
pengerahan suara tawa. Dan inilah
merupakan sebuah cara yang teramat
langka dan sangat jarang dimiliki oleh orang-orang rimba persilatan.
Sadar lawannya mengerahkan hawa
murni untuk menyembuhkan luka dalam
yang dideritanya. Maka gadis baju ungu juga ikut tertawa. Suara tawanya
melengking tinggi. Tubuhnya yang
ramping bahkan sampai terguncang-
guncang. Suara tawa saling tindih
menindih hingga menimbulkan guncangan hebat pada tanah tempat mereka berada.
Dari arah barat laut, tiba-tiba
saja angin kencang berhembus. Pohon-
pohon di sekeliling lembah dan bukit
bertumbangan. Dan langit pun seketika berubah mendung. Gadis baju ungu
terkesima, sebaliknya kakek renta muka tengkorak semakin memperhebat suara
tawanya. "Ha ha ha...! Hujan angin...
inilah waktu yang kutunggu-tunggu
sejak tujuh belas tahun yang lalu...!
Hak kak kak...."
Gadis baju ungu terkesima.
Seraya jatuhkan diri dan berlutut di
depan kakek renta muka tengkorak.
"Guruku Tuan Muka Tengkorak Mata Api, apakah maksud ucapanmu?" tanya si gadis.
Ia seka darah yang membasahi
sudut-sudut bibirnya. Sementara luka
dalam yang dideritanya sudah tidak
terasa sakit lagi.
"Ha ha ha...! Muridku Mustika
Jajar. Sejak masih bayi merah aku
sengaja mengambilmu untuk kujadikan
seorang murid tanpa tanding. Sekarang dan untuk masa yang akan datang kau
akan menjadi seorang ratu yang tidak
ada tanding. Kau bukan saja menjadi
tokoh yang tidak ada duanya, tapi juga karena kecantikanmu yang sungguh
menggiurkan, membuatmu mudah
menundukkan laki-laki manapun yang kau sukai."
Seandainya ia seorang gadis yang
dididik oleh seorang tokoh aliran
lurus. Tentu saja wajahnya berubah
merah karena mendapat sanjungan. Tapi karena pada dasarnya ia merupakan
hasil gemblengan tokoh Maha Sesat.
Mustika Jajar malah tertawa bergelak
dan leletkan lidah basahi bibir.
"Sekarang hapuslah coreng moreng di wajahmu, Mustika!" perintah tegas kakek
renta muka tengkorak yang hanya mempunyai satu mata ini tegas.
"Hi hi hi...! Jika kuhapus bedak batu penutup wajahku. Aku takut guru
tergiur olehku. Jika guru yang
kepincut padaku, kujamin aku pasti
tidak bersedia melayani keinginan
guru!" Mustika Jajar tertawa genit.
Seraya lalu menghapus coreng moreng di wajahnya.
"Tidak perlu khawatir muridku.
Tidak nantinya pagar memakan tanaman.
Sejak kecil aku merawat dirimu.
Walaupun sekarang kau berpakaian rapi.
Sebagai gurumu tentu aku sudah tahu
lekuk liku tubuhmu!" kata kakek muka tengkorak sambil tertawa-tawa,
Mata Mustika Jajar mengerling
nakal. Wajahnya yang sekarang tidak
tertutup pelapis apa-apa tampak cantik berseri-seri.
Matanya berbinar penuh keman-
jaan. Tapi di balik penampilannya yang nyata, tersimpan kekejaman melebihi
manusia biadab.
"Ha ha ha. Sekarang kau benar-
benar telah menjadi gadis yang sudah
sangat dewasa sekali, Tika. Wajahmu
cantik melebihi bidadari. Jika saja
aku masih muda, tentu saja aku tidak
akan melepaskanmu setelah berhasil
mendapatkan cintamu. Ha ha ha...!"
"Ternyata guru dulunya mata
keranjang." Cibir si gadis.
"Lain dulu lain sekarang.
Sekarang adalah masa pembalasan di
mana kau harus mencari dan membunuh
seorang laki-laki yang berjuluk
'Malaikat Berambut Api'. Orang inilah yang dulu pernah mencungkil sebelah
mataku. Sudah menjadi tugasmu menja-
lankan perintahku. Selain itu kau juga berhak membunuh semua tokoh persilatan
aliran lurus. Pergunakanlah kecerdikan dan kecantikan yang kau miliki untuk
memperdaya setiap lawan. Jika lawan-
lawanmu merupakan tokoh yang sangat
sakti, kau pikatlah dengan kecantikan-mu! Jika mereka benar-benar telah
bertekuk lutut di bawah kakimu.
Peralatlah dia untuk mencapai cita-
citamu." "Tapi guru. Di mana aku harus
mencari musuh besar guru yang
mempunyai gelar 'Malaikat Berambut
Api' itu?"
Tua Tengkorak Mata Api terdiam
beberapa saat lamanya. Matanya yang
cuma sebelah itu memandang lurus ke
arah si gadis. Dan beberapa saat setelahnya suara tawa muka tengkorak
menggema kembali. Di tengah-tengah
suara tawanya yang tidak ubahnya bagai gaung suara harimau itu terdengar
ucapannya yang tajam menusuk.
"Di manapun adanya Malaikat
Berambut Api, kau harus mencarinya
Mustika Jajar! Terakhir kudengar ia
mengasingkan diri di Pulau Seribu Satu Malam yang terletak di daerah selatan
laut Jawa...."
"Apakah orang itu tidak
mempunyai murid, guru?"
"Mengenai murid aku sampai saat
ini tidak mengetahuinya. Tapi kelak
bila kau telah turun ke dunia ramai.
Tentu kau dapat mencari tahu!"
"Baiklah guru. Kalau semua ini
memang sudah merupakan keinginan guru.
Maka sebagai murid yang ingin berbakti padamu, aku siap menjalankan segala
perintahmu..." ujar gadis cantik berbaju ungu.
"Bagus! Sekarang kau duduklah di sini," ujar Tua Tengkorak Mata Api.
Mustika Jajar duduk di depan
kakek Muka Tengkorak. Seraya kemudian mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Setelah memberi isyarat pada
muridnya, lalu Mustika Jajar pun mengangkat kedua tangannya. Tangan mereka
saling menempel. Sebelum Mustika Jajar mengetahui apa yang akan diperbuat
oleh gurunya. Tiba-tiba gadis ini merasakan
adanya satu sengatan yang sangat keras dan menimbulkan rasa dingin yang tidak
tertahankan mengalir melalui telapak
tangan gurunya. Mustika Jajar sempat
terkesima. Hanya saja sebagai gadis
yang sangat cerdik ia segera menge-
tahui bahwa gurunya sengaja memper-
besar hawa murni yang dimilikinya.
Tubuh murid dan guru tampak
sama-sama tergetar hebat. Asap tipis
mencuat dari bagian atas ubun-ubun si
kakek muka tengkorak; Sebaliknya tubuh Mustika Jajar sudah tampak bersimbah
keringat. Tidak sampai sepemakan
sirih. Tua Tengkorak Mata Api sudah
menarik tangannya yang melekat di
tangan muridnya.
Mustika Jajar, gadis berbaju
ungu dan memiliki kecantikan luar
biasa ini menarik nafas panjang. Kini ia merasa tubuhnya semakin menjadi
ringan. Bahkan ketika ia menggerak-
gerakkan tubuhnya. Semuanya terasa
lebih hebat dari waktu-waktu sebelum-
nya. "Apa yang kau rasakan, muridku?"
tanya Muka Tengkorak. Sungguh pun saat itu ia sedang tersenyum. Tapi di mata
yang melihatnya senyumannya tidak


Pendekar Bloon 3 Pemikat Iblis di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ubahnya bagai seringai yang mengeri-
kan. "Aku merasa badanku berubah
seringan kapas!" jelas gadis cantik berhati telenggas ini sejujurnya.
"Bagus... ha ha ha... bagus...!"
kata Tua Tengkorak Mata Api. Seraya
meraba pinggangnya. Kemudian terlihatlah sebuah buntalan kecil warna hitam
tergenggam di tangannya.
Buntalan itu selanjutnya dibuka-
nya. Setelah buntalan terbuka sepe-
nuhnya. Maka terlihatlah sebuah
senjata yang sangat aneh bentuknya.
Senjata itu berbentuk bulat seperti
bulan sabit. Berwarna putih mengkilat
karena ketajamannya.
"Kau tahu cara mempergunakannya, muridku?" ,
Mustika Jajar menganggukkan
kepala. "Coba bagaimana?"
"Sabit Bulan adalah senjata yang sangat aneh. Aku tentu saja dapat
mempergunakannya. Walaupun hanya
dengan menggenggamnya."
"Bagus! Senjata ini sekarang
menjadi milikmu sepenuhnya," ujar kakek renta muka tengkorak. Seraya
menyerahkan senjata itu pada Mustika
Jajar. "Pantaskah aku menerimanya,
guru?" tanya gadis itu agak ragu-ragu.
"Tentu saja pantas, karena
sebentar lagi kau sudah harus mening-
galkan lembah Cilawu ini."
Mustika Jajar memang tidak perlu
membantah lagi. Sungguhpun hatinya
merasa berat untuk meninggalkan orang yang telah merawat dan mendidiknya
selama ini. Namun akhirnya ia harus
berangkat memulai kehidupan lain yang sangat baru.
2 Cambuk di tangannya sesekali
melecut di udara disusul dengan suara jerit kesakitan salah seorang dari
sekian banyak orang-orang dari mereka
yang terbelenggu mata rantai. Tubuh
yang semula muda perkasa ini lambat
laun hanya tinggal kulit pembalut
tulang. Mereka kurang makan, kurang
tidur, kurang istirahat dan kurang
segala-galanya. Sepanjang hari mereka harus terus menerus bekerja menggali
sebuah terowongan, mengayak serpihan
tanah untuk mendapatkan biji-biji emas murni.
Tidak jauh dari pekerja-pekerja
paksa itu lebih dari sembilan laki-
laki bertubuh tegap berkepala botak
dan bertampang beringas terus
mengawasi pekerjaan mereka tanpa
mengenal belas kasihan sama sekali.
Jika para pekerja itu tampak
malas, maka cambuk berduri di tangan
para algojo itu ikut bicara. Tidak
heran jika tiap hari para pekerja itu ada saja yang mendapat celaka atau
mati. Mayat-mayat mereka biasanya
dibuang begitu saja tanpa ada seorang pun yang di antara para pekerja itu
yang berani mengurusnya.
Sebuah dataran rendah tidak jauh
dari tempat penggalian emas telah
ditentukan sebagai tempat pembuangan
jenazah. Tidak heran jika dalam
beberapa tahun saja Bumi Ayu telah
dipenuhi dengan tulang belulang yang
bertimbun bahkan mulai menggunung.
Bau di tempat itu tidak dapat
dilukiskan. Kenyataan ini tentu saja
sangat mengganggu pernafasan para
pekerja paksa yang banyak didatangkan dari daerah Bumi Ayu dan Cijulang.
Tapi siapa yang akan perduli" Tidak
ada seorang pun yang memperdulikan
nasib mereka. Kalau pun ada di antara para pekerja paksa yang berusaha
melarikan diri. Tidak seorang pun di antara mereka yang dapat menyelamatkan
diri. Mereka yang ketahuan oleh algojo segera dihabisi nyawanya. Kalaupun ada
yang selamat sampai ke kampung
halaman. Maka dalam waktu yang sangat singkat para algojo itu menyeret
mereka untuk menerima hukuman mati
atas pelarian nekad itu.
Siang panas terasa membuat
rengat batok kepala. Para pekerja
paksa itu seakan tidak mengenal rasa
letih, terus melaksanakan tugasnya.
Jika di antara para pekerja itu ada
yang malas. Maka para algojo dengan
kejamnya langsung mengayunkan
cambuknya. Pada suasana seperti itu, di
kejauhan sana terdengar derap langkah suara kuda. Penunggangnya adalah dua
orang laki-laki berbaju serba hitam
bertampang tirus. Sedangkan kuda yang berada paling depan ditunggangi oleh
seorang laki-laki berpakaian
bangsawan. Semakin lama tiga ekor kuda tunggangan ini semakin dekat dengan
tempat tujuan. Para algojo begitu mengetahui
siapa yang datang langsung menyongsong kehadiran mereka dengan sikap penuh
rasa hormat. Tidak sampai sepemakan
sirih. Sampailah rombongan penunggang kuda ini di lokasi penggalian emas
Bumi Ayu. Tiga ekor kuda tunggangan
berhenti dengan tiba-tiba. Dua orang
penunggangnya melompat turun, sedang-
kan laki-laki berpakaian bangsawan
tetap duduk di atas pelana kudanya.
Seraya memperhatikan para algojo itu
dengan tatapan sulit dimengerti.
"Bagaimana hasil kerja selama
satu purnama ini, Dasa Reksa?" tanya saudagar Bergola kepada kepala algojo
"Maafkan kami, Tuan. Pendapatan
biji-biji emas agak merosot. Semua ini dikarenakan semakin menipisnya jumlah
pekerja. Menurut hemat hamba, kita
merasa perlu menambah jumlah peker-
ja..." ujar laki-laki berbadan tegap itu berpendapat.
"Hmm.... Seharusnya tidak kau
bicarakan itu padaku. Kalian boleh
mencari tambahan tenaga kerja di mana saja. Kau bisa pergi ke Argopuro,
Ciamis atau Tungku Jajar." kata
saudagar Bergola ketus.
"Ba... baik... Tuan. Kami segera melaksanakannya dengan baik!" kata kepala
algojo itu menyanggupi.
"Bagus! Kalian memang harus
selalu mengabdi kepadaku!" dengus
saudagar Bergola Mungkur. Seraya
kemudian beralih ke arah Giwang Rana
dan Bajar Saketi. Yaitu kedua tangan
kanannya yang sedang mengambil emas
hasil para pekerja paksa itu.
Ada senyum sinis menghias di
bibir si laki-laki. Tidak lama ia
segera memeriksa emas di dalam
bungkusan yang diserahkan oleh kedua
tangan kanannya.
"Hasil bulan ini tampaknya
memang agak berkurang banyak, Dasa
Reksa. Kuingatkan padamu agar tidak
mempermainkan aku. Jika ternyata kau
menyembunyikan sebagian hasil
pencarian ini. Seumur hidup kau
dan kawan-kawanmu benar-benar akan
kubuat menyesal!"
Rupanya ancaman saudagar Bergola
Mungkur bukan sekedar ancaman kosong
belaka. Karena ternyata Dasa Reksa
sang kepala algojo tampak sangat
ketakutan sekali.
"Saya mana mungkin berani
mempermainkan Tuan. Selama ini saya
sudah berusaha jujur kepada Tuan. Cuma karena belakangan para pekerja di sini
banyak yang kojor menemui ajal. Itu
sebabnya tenaga di lapangan menjadi
sangat berkurang sekali."
"Aku percaya kata-katamu, Dasa
Reksa. Untuk itu kuperintahkan pada
kalian segera mencari tenaga tambahan.
Purnama mendatang hasil yang kalian
peroleh harus semakin bertambah
meningkat!"
"Perintah segera kami laksa-
nakan, Tuan..." kata Dasa Reksa.
Saudagar Bergola Mungkur sama
sekali tidak menyahut. Malah setelah
memberi isyarat pada Giwang Rana dan
Banjar Saketi mereka memacu kuda-kuda tunggangan itu menuju daerah Cileles.
**** "Uhukk...! Uhuuuuukk..! Wuaakh..
kupikir benda hitam panjang yang
bergelantungan itu sarang lebah. Tidak tahunya...!" Pemuda tampan berbaju biru
muda memakai ikat kepala warna biru
belang-belang kuning ini hentikan
ucapannya. Perutnya mual seperti
hendak muntah. Lalu tanpa tertahankan lagi.
"Hoeek... hoeek...! Tuh kan,
muntah betul...!"
desisnya. Seraya
lalu menyeringai dan garuk-garuk
belakang kepalanya. Sekali lagi ia
memperhatikan mayat-mayat yang ter-
gantung di pinggir jalan menuju kota
kecil Malaya. Mayat-mayat itu rata-
rata kepala menghadap ke bawah, kaki
terikat pada cabang pohon. Ribuan
lalat tampak mengerumuni. Sebagian di antara mereka telah membusuk. Tapi
tidak jarang ada pula yang masih utuh.
Pemuda tampan yang tidak lain
adalah Pendekar Blo'on ini memper-
hatikan mayat-mayat itu dengan kening berkerut.
"Kulihat ada kematian di mana-
mana. Siapa mereka" Melihat luka-luka di tubuhnya rasanya mereka disayat-sayat
dengan senjata yang teramat
tajam. Apakah mungkin mereka ini merupakan orang-orang dari rimba
persilatan" Rasanya...!" Suro Blondo usap-usap keningnya yang berkeringat. Ia
melihat sebuah pedang pendek tergeletak di bawah salah satu
mayat yang tergantung.. Namun sama
sekali ia tidak punya, keberanian apa-apa untuk memungutnya.
"Ini merupakan pekerjaan yang
sangat keji.... Siapa pun pelakunya.
Siapa pun orangnya. Pastilah merupakan seorang pembunuh berdarah dingin."
Suro Blondo lagi-lagi terdiam. Sayup-
sayup ia mendengar suara jlenting
sesuatu di kejauhan sana. Pendekar
Blo'on berusaha mempertajam pendenga-
rannya. Suara denting seperti senjata sedang beradu terdengar semakin bertambah
jelas. Suro Blondo penasaran.
Hingga kemudian ia memutuskan untuk
mendekati sumber suara.
"Hhh...!" Dengan mengandalkan ilmu lari cepat Kilat Bayangan yang
sudah mencapai sempurna. Bergeraklah
Suro Blondo dengan kecepatan yang
sangat sulit diikuti kasat mata.
Tidak sampai sepemakan sirih,
sampailah pemuda itu di atas sebuah
dataran berbukit-bukit. Pemuda tampan bertampang tolol ini tidak langsung
menghampiri seorang laki-laki tua
bertelanjang dada dan berambut riap-
riapan. Melainkan bersembunyi di
sebuah tempat yang agak terlindung.
Sambil menahan nafas ia terus
memperhatikan laki-laki bertelanjang
dada yang ternyata sedang membuat
patung ukiran terbuat dari batu cadas.
Anehnya, laki-laki ini hanya mempergunakan kuku-kuku tangannya untuk
membentuk bagian-bagian tertentu badan patung. Suro Blondo leletkan lidah dan
usap-usap keningnya. Beberapa kali
terdengar decak kagum dari mulut si
pemuda. "Cek. Ceek! jika saja dia tidak
memiliki ilmu dan tenaga dalam yang
sudah mencapai tingkat sempurna. Tidak nantinya ia mampu menggores batu cadas
itu dengan ujung jemarinya." gumam Suro Blondo. Mata terbeliak lebar
terlebih-lebih setelah melihat betapa bagusnya patung yang dibuatnya.
"Melihat badannya yang reot
seperti rumah hendak roboh. Mustahil
rasanya ia mampu melakukan pekerjaan
yang memerlukan ketekunan dan tenaga
dalam yang tinggi. Dan hasil pahatan
itu juga sangat bagus sekali. Ia pasti seorang pengukir patung yang sangat
terkenal. Tapi untuk apa patung
sebagus itu dibuatnya" Lagipula
bagaimana membawanya" Patung itu ingin dijualnyakah?" kata Pendekar Blo'on lagi.
Kemudian ia garuk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Pendekar Blo'on dengan perasaan
takjub yang tidak ada habis-habisnya
terus memperhatikan si pembuat patung yang tampak sibuk menyelesaikan wajah
patung yang hanya tinggal menghalu-skannya saja. Dalam keadaan seperti
itu, tiba-tiba saja Suro, Blondo
mendengar kakek pembuat patung bicara.
Tapi suaranya seperti orang yang
sedang menyanyi. Pemuda itu pasang


Pendekar Bloon 3 Pemikat Iblis di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kuping dan gelang-gelengkan kepalanya.
Hidup delapan puluh tahun! Badan
renta dimakan hari dan waktu. Menunggu si anak tunggal datang, tuntut ilmu ambil
kepandaian. Yang ditunggu pendek umur pendek nafas. Tinggallah si tua renta
putus karapan patah asa. Hidup terlunta-lunta menunggu pengganti.
Tetap menunggu tidak seorang pun yang datang, dasar sial tua renta tidak
berjodoh! Suro Blondo tercenung. Kakek tua
itu barusan mengucapkan kata-kata yang tidak dimengertinya sama sekali. Anak
tunggal" Siapakah yang dimaksudkannya"
Apakah kakek pematung itu mempunyai
anak" Ataukah ia hanya seorang
pematung yang mempunyai otak tidak
waras" Keheranan di hati pemuda berbaju
biru muda ini belum juga lenyap ketika dari arah utara terdengar suara derap
langkah kuda yang dipacu sedemikian
cepat menuju ke arah pematung
tersebut. Si kakek tua bersikap acuh tak
acuh, ia tetap meneruskan pekerjaan-
nya. Dan kini ia mulai memoles badan
patung batu dengan sejenis pewarna
berwarna coklat tua.
Penunggang kereta kuda semakin
lama semakin mendekat ke arahnya.
Karena jalanan itu sempit. Maka ketika ketiga rombongan berkuda itu sampai di
depan si kakek. Maka ketiga penumpang kuda langsung memperlambat kuda
mereka. Salah seorang laki-laki di
depannya berpakaian bangsawan hampir
saja membentak, tapi begitu melihat
patung yang sedang diwarnai oleh si
kakek langsung katupkan mulut dan
telan ludah. Raut wajahnya yang selalu
menyimpan ketamakan itu tampak berubah memerah. Wajah patung tampak tampan.
Otot-otot tubuhnya bertonjolan, dada-
nya bidang. Bagian perutnya yang
menonjol tampak tegang dan berukuran
cukup besar. Dalam hati penunggang
kuda berpakaian bangsawan ini ber-
tanya-tanya, patung siapakah yang
dibuat oleh si kakek tua ini"
"Jalan di sini begitu lebar.
Kalau kalian mau lewat, silakan
saja!" kata si kakek tanpa berpaling sedikitpun.
Pengawal laki-laki berpakaian
bangsawan hampir saja membentak gusar jika saja laki-laki di depannya tidak
cepat memberi isyarat agar pengawal
merangkap tangan kanan itu diam.
"Orang tua, siapakah kau ini?"
tanya saudagar Bergola Mungkur tanpa
pernah mengalihkan perhatiannya pada
patung yang sedang diwarnai oleh si
kakek. Sama sekali si pematung tidak
menjawab, bahkan menoleh pun tidak.
Tapi saudagar Bergola Mungkur tetap
berusaha bersabar, walaupun di dalam
hatinya mencaci maki. Bagaimana tidak"
Ia adalah orang yang sangat disegani
di kota Malaya karena kekayaan dan
pengaruhnya yang besar terhadap
pembesar-pembesar Pariangan. Jika
hanya seorang pematung tidak mau
menjawab pertanyaannya, berlagak tuli seperti babu. Tentu ia merupakan orang
yang sangat istimewa atau paling tidak memiliki keterampilan yang sangat
tinggi. 3 "Kakek tua! Karyamu sungguh
bagus sekali. Aku menyukai patung yang sedang kau buat...!" kata saudagar
Bergola Mungkur mengulangi ucapannya.
Tanpa menoleh pematung tua itu
menyahut "Sesuatu yang bagus belum tentu menyenangkan. Sesuatu yang
disukai, belum tentu membawa kepuasan dan kebahagiaan."
"Jika aku ingin memilikinya,
apakah kau mau memberikannya padaku?"
tanya saudagar Bergola Mungkur tanpa
mengerti apa arti ucapan si kakek.
Pematung tua gelengkan kepala-
nya. "Bagaimana jika aku membelinya?"
tanya saudagar kaya itu penasaran.
"Patung ini kubuat bukan untuk
dijual atau kuberikan kepada siapa
pun. Jadi maafkan saja jika aku tidak dapat memenuhi permintaanmu, Saudara!"
ujar pematung tua tanpa pernah ber-
paling dari pekerjaannya.
"Bagaimana jika dua kan-
tung emas murni ini kita tukar dengan patung buatanmu, orang tua?"
kata saudagar Bergola Mungkur. Seraya menggerakkan dua kantung emasnya
sehingga menimbulkan suara bergemerin-cingan. Giwang Rana dan Banjar Saketi
pelototkan matanya.
Mereka sama sekali tidak
menyangka majikannya menjadi keran-
jingan setelah melihat patung buatan
si kakek tua. Gilanya lagi dua kantung emas yang tidak ternilai harganya
hendak ditukar dengan sebuah patung
batu. Walaupun memang patut diakui
patung itu memiliki kharisma yang
sangat hebat. Bukankah jika pematung
tua tidak menjualnya. Hanya dengan
memberi perintah pada mereka, ia dapat membereskan si pematung untuk kemudian
memiliki patung batu itu tanpa ada
yang berani menganggu"
"Apakah kau seorang saudagar?"
tanya si kakek dengan sikap acuh tak
acuh. "Benar, Aku adalah saudagar yang paling kaya di kota Malaya. Jika kau
merasa dua kantung emas ini tidak
sepadan dengan patung buatanmu itu.
Aku dapat menyuruh orangku untuk
mengambil dua kantung emas lagi
sebagai tambahan."
Pematung tua kerutkan kening
geleng-gelengkan kepala berulang-
ulang. "Sudah kukatakan dengan jumlah
emas berapapun harganya aku tidak akan menjualnya. Patung ini adalah bagian
dari hidupku!"
"Orang tua, kami harap kau tidak usah bertingkah di depan kami. Dua
kantung emas adalah jumlah yang tidak sedikit. Apakah kami harus memaksamu
untuk menyerahkan patung itu pada
majikanku?" bentak Giwang Rana. Dan rupanya laki-laki bergiwang dan bertampang
angker ini sudah tidak dapat lagi mengendalikan akalnya.
Saudagar Bergola Mungkur sendiri
yang merasa telah kehabisan kata-kata untuk membujuk pematung tua hanya
berdiam diri menunggu reaksi.
Untuk pertama kalinya pematung
tua palingkan wajahnya dan memandang
lekat-lekat ke arah Giwang Rana dan
Banjar Saketi. Ekspresi wajahnya tetap datar tidak menunjukkan kemarahan
sedikitpun. "Kalian menjadi kaya adalah
karena tenaga dan keringat darah
orang-orang yang tidak berdosa. Jika
kuterima tawaranmu, sama artinya aku melumuri hasil karyaku dengan darah
orang-orang yang terbunuh di goa
penambangan Bumi Ayu! Aku pematung
kelana setiap saat selalu mendengar
suara jeritan arwah-arwah orang yang
mati sebelum waktunya. Berlalulah
kalian dari hadapanku! Kehadiran
kalian hanya akan membuat udara di
sini menjadi pengap dan berbau dosa."
Bukan saja ketiga penunggang
kuda ini yang dibuat terkejut. Tapi
juga Pendekar Blo'on yang bersembunyi di atas bukit di balik batu cadas
terkesima. Entah siapa laki-laki aneh itu" Namun sungguh mengherankan ia
mengenali sepak terjang penunggang
kuda yang ternyata merupakan seorang
saudagar kaya ini.
"Orang tua! Kau benar-benar men-
cari penyakit telah berani mencampuri urusan kami!" bentak saudagar Bergola
Mungkur tiba-tiba.
Tanpa berpaling dari patung yang
sedang dipolesnya. Pematung Kelana
tersenyum dingin.
"Manusia yang memiliki jiwa
besar adalah orang yang berani
mengakui setiap kesalahannya. Tidak
perduli apakah kesalahan itu dibuat
oleh tua bangka sepertiku ini. Tapi
kebanyakan orang lupa, dan berusaha
mencari dalih dengan menyebar fitnah
untuk menutupi kesalahan sendiri.
Alangkah ruginya manusia semacam itu
kelak di kemudian hari!"
"Keparat! Aku tidak membutuhkan
khotbahmu!" maki saudagar dari kota Malaya itu geram bukan main.
"Aku adalah orang yang paling
tidak suka mendengar kata-kata yang
kotor! Sebaiknya kalian menyingkirlah dari hadapanku!" perintah pematung tua,
suaranya pelan namun tegas.
"Bangsat hina! Bunuh dia!" perintah saudagar Bergola Mungkur, lalu memberi aba-
aba pada Banjar Saketi dan Giwang Rana.
Serentak kedua laki-laki bertam-
pang beringas ini menggebrak kuda
tunggangannya. Kuda itu melabrak ke
arah Pematung Kelana yang tetap duduk ngejeplok di depan patung. Lalu kaki
Giwang Rana dan Banjar Saketi meng-
hantam dada dan kepala Pematung
Kelana. Namun sebelum kedua kaki
lawannya mencapai sasaran. Dengan
gerakan yang sangat sulit diikuti
kasat mata. Pematung tua gerakkan
tangannya ke arah bagian selangkangan kaki kuda.
Dengan tidak terduga-duga, kuda-
kuda itu melonjak ke atas sambil
meringkik-ringkik kesakitan. Giwang
Rana dan Banjar Saketi yang tidak
menyangka akan mengalami nasib sial
langsung terpelanting dari punggung
kuda. Untung mereka rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Sehingga
dalam keadaan yang sangat terdesak itu mereka masih sempat bersalto dan
menjejakkan kedua kakinya tidak jauh
dari pematung tua. Dua ekor kuda
tunggangan berlari kencang meninggal-
kan majikannya. Sementara Giwang Rana dan Banjar Saketi menjadi marah bukan
main. "Tua keparat! Tidak ada jalan
bagimu terkecuali mati! Sekarang kau
katakan pada kami kematian yang
bagaimana yang kau inginkan?" teriak Banjar Saketi.
"Kematian adalah urusan Tuhan!
Pergilah sebelum darah kalian tercecer
membasahi tanah gersang yang sangat
suci ini!"
"Juih...!" Giwang Rana meludah.
"Sriing!"
Dilain kesempatan laki-laki ber-
tampang pemberang ini telah menghunus senjatanya berupa sebilah kapak berwarna
kuning mengkilat. Sekali lirik
Pematung Kelana sudah dapat melihat
bahwa senjata di tangan lawan-lawannya mengandung racun yang sangat keji.
Tapi dasar laki-laki aneh, sungguhpun lawan telah menghunus senjata yang
sangat berbahaya. Namun ia tetap
bersikap tenang-tenang saja bahkan
tetap terpaku di tempatnya.
Merasa diremehkan, sambil meng-
geram aneh Giwang Rana dan Banjar
Saketi melompat ke depan, lalu
bacokkan senjata di tangannya membelah kepala Pematung Kelana, sedangkan
kampak lainnya menebas bagian ping-
gangnya. Angin dingin menderu menyer-
tai berkelebatnya kapak di tangan
lawannya. Serangan itu cepat bukan
main. Sehingga Pendekar Blo'on yang
melihat keadaan ini terpaksa menahan
nafas dan pentang mata lebar-lebar
"Heaaa...!"
"Wuus!"
"Aaaaakkkh...!"
Tiba-tiba terdengar suara pekik
kesakitan. Dua sosok tubuh terpelan-
ting dengan arah berlawanan. Di dekat
patung, si kakek tua bangkit berdiri
sambil sunggingkan seringai aneh.
Entah bagaimana caranya dua kapak di
tangan masing-masing lawannya kini
telah berpindah tangan. Matanya yang
agak cekung memandang ke arah lawan-
lawannya yang sedang berusaha bangkit berdiri.
Wajah Giwang Rana dan Banjar
Saketi sebentar memerah sebentar
berubah pucat. Selama malang melintang di rimba persilatan belum pernah
mereka mengalami nasib sial seperti
sekarang ini. Apalagi hanya dalam
gebrakan pertama saja mereka sudah
dibuat tidak berdaya!
Namun untuk mundur, merupakan


Pendekar Bloon 3 Pemikat Iblis di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

satu pantangan bagi mereka. Apalagi
mengingat di tempat itu ada majikan
mereka. Sambil menelan ludah, tiba-
tiba saja tangan kanan saudagar
Bergola Mungkur mencabut keris ber-
lekuk tiga di bagian pinggang kiri.
Keris itu diputarnya sedemikian rupa, sehingga membentuk sebuah bayang-bayang
berwarna putih berkilauan.
"Hap...!"
"Mampuslah kau!" teriak Banjar Saketi dan Giwang Rana hampir
bersamaan. Tubuh mereka melesat ke
depan laksana kilat. Keris di tangan
membabat dan menusuk ke arah sepuluh
jalan darah yang mematikan.
Tapi ternyata Pematung Kelana
adalah manusia serba bisa yang bukan
saja memiliki ilmu kepandaian mematung yang handal. Tapi juga mempunyai
simpanan jurus-jurus silat yang sangat mengagumkan.
Belum sempat senjata lawannya
menyentuh tubuhnya. Ia sudah melesat
ke udara. Senjata rampasan dilemparkannya dengan kecepatan sangat sulit
diikuti kasat mata.
"Jiiing!"
"Traang!"
"Waarkhgh...!" Giwang Rana dan Banjar Saketi menjerit setinggi
langit. Tubuh mereka mengejang kaku.
Kapak beracun yang dilemparkan oleh
pematung tua menghunjam di dada mereka dan langsung menembus di punggung.
Mata kanan saudagar Bergola Mungkur
terpentang lebar bagai melihat setan
perempuan telanjang.
Hanya sekejap saja tubuh mereka
berkelojotan, kemudian terdiam untuk
selama-lamanya. Kejut di hati saudagar kota Malaya itu bukan alang kepalang.
Di atas bukit Suro Blondo lelet-
kan lidah dan garuk-garuk kepalanya.
Sementara itu Pematung Kelana
kembali duduk ngejeblok dan meneruskan pekerjaannya yang tertunda. Sikapnya
begitu tenang seakan tidak pernah
terjadi apa-apa di situ. Dari rasa
kecut, Saudagar Bergola Mungkur beru-
bah menjadi sangat marah sekali.
"Manusia hina dina keparat! Kau
benar-benar tidak memandang muka sama sekali padaku! Kalau kau tidak punya nyawa
rangkap, sebaiknya kau berlutut di depanku dan serahkan patung marmer itu
secepatnya!"
Bukan menjawab, pematung tua
malah terkentut-kentut. Lalu terdengar suara batuk-batuk dari mulutnya yang
tertutup kumis memutih.
"Ah... lega rasanya. Punya perut harus bisa kentut, supaya jangan sakit
pemburut! Eeh... kau barusan bilang
apa?" tanya Pematung Kelana tanpa memalingkan muka sedikit pun.
"Bangsat hina! Makan nih
pedangku...!" teriak sang saudagar.
Tiba-tiba saja tubuhnya melesat
ke udara. Pedang di tangannya
mengeluarkan suara mendengung. Tapi
tiba-tiba saja dengan sikap acuh tak
acuh Pematung Kelana melibaskan
tangannya ke samping kanan. Angin
kencang laksana bara menderu-deru.
Angin kencang berhawa panas
menghanguskan itu melabrak Bergola
Mungkur hingga membuatnya jatuh
terjengkang. "Akkh..."
"Bruuk...!"
"Hhrrrk...!"
Bergola Mungkur bangkit berdiri.
Sekujur tubuhnya bergetar hebat, tanda amarahnya sudah memuncak sampai ke
ubun-ubun. Pendekar Blo'on yang
melihat kejadian itu bertepuk tangan.
Hanya saja tidak menimbulkan suara
sama sekali. Sementara itu Bergola Mungkur
sudah menerjang kembali dengan
pengerahan tenaga dalam yang sangat
tinggi. Sejengkal lagi pedang berwarna putih mengkilat itu hampir memutus
urat leher Pematung Kelana. Tiba-tiba si kakek menggerakkan tangannya ke
bagian dada lawan. Gerakan yang
dilakukannya tampak begitu lambat.
Tapi akibatnya sungguh sangat luar
biasa sekali. "Breet!"
"Iiih...!" Bergola Mungkur
terpekik kaget.
Baju saudagar kaya ini robek
besar bahkan seperti hangus terbakar.
Jika saja Pematung Kelana menghendaki, tentu sejak tadi nyawanya melayang.
Sekarang sambil melangkah ter-
huyung-huyung ia memperhatikan pema-
tung tua seakan tidak percaya dengan
kemampuan yang dimiliki oleh lawannya.
Tapi ia segera tahu gelagat. Kekayaannya menumpuk, siapa sudi kehilangan
nyawa" "Pergilah sebelum kesabaranku
benar-benar habis!" Pematung Kelana menggeram.
"Bbb... baiklah, aku akan pergi.
Tapi kau tunggulah nanti pembalasan-
ku!" kata Bergola Mungkur. Seraya cepat-cepat mendapatkan kudanya,
kemudian meninggalkan Pematung Kelana sambil memacu kudanya sekencang
mungkin. Dan ternyata kuda tunggangannya entah mengapa sudah tidak dapat
berlari kencang lagi. Sepanjang
perjalanan terus terkencing-kencing
dan meringkik-ringkik tidak teratur.
4 Pematung Kelana menarik nafas
pendek. Ia kemudian duduk kembali di
depan patung batu marmer yang
berkilat-kilat terkena sinar matahari.
Suro Blondo usap-usap keningnya
yang berkeringat. Ia sekarang menjadi ragu apakah ia harus menemui pematung tua
itu atau berlalu" Tapi bila
mengingat bahwa dirinya tidak punya
urusan dan kepentingan apa-apa dengan laki-laki aneh ini. Maka tidak lama
setelah itu ia pun memutuskan segera
berlalu. Namun baru beberapa langkah
ia meninggalkan tempat persembunyian-
nya, tiba-tiba sebuah suara
memanggilnya. "Hei... pemuda bertampang geb-
lek! Sejak tadi kau mengintip di situ, datang tidak permisi kini pergi tidak
memberi salam. Kau benar-benar manusia tolol yang tidak tahu peradatan!"
"Eeh... mati aku...!" Suro
Blondo garuk-garuk punggung kepalanya.
Kemudian senyumnya yang jenaka pun
mengembang. "Bagaimana ini, kakek itu rupanya mengetahui kehadiranku.
Sungguh! Walaupun sudah tua matanya
belum lamur. Sebaiknya aku hampiri
saja, ah...!"
Sambil tersenyum-senyum, Suro
Blondo datang menghampiri. Sampai di
depan Pematung Kelana seraya menjura
hormat. Tubuhnya terbungkuk-bungkuk
hingga nyaris menyentuh tanah.
"Maafkan aku, kakek tua. Karena
datang tidak memberi salam dan ingin
pergi tapi ketahuan...."
"Bocah goblok! Kapan aku kawin
dengan nenekmu" Seenaknya saja kau
memanggilku kakek"!" Pematung Kelana bersungut-sungut. Sebagaimana
kebiasaannya kali ini pun ia tidak
berpaling dari pekerjaannya.
"Lalu apakah aku harus memang-
gilmu, Mbah, Engkong, Buyut, orang tua keriputan, tua jelek atau manusia aneh
tukang ukir batu?" kata Suro Blondo sambil menahan tawa.
Sedikitpun ekspresi wajah Pema-
tung Kelana tidak menunjukkan
perubahan sama sekali. Hanya wajahnya saja agak dimiringkan. Sehingga pandangan
mereka saling bertemu.
Suro Blondo alias Pendekar
Blo'on melangkah mundur, bibirnya
yang nyaris tersenyum kini terkatup
rapat. Betapa sorot mata laki-laki tua di depannya tampak begitu berwibawa.
Si pemuda merasa tidak kuat berlama-
lama menatapnya. Ia kemudian beralih
ke arah patung. Pemuda ini lebih
terkesima lagi setelah melihat betapa bagusnya ukiran patung batu itu.
Dadanya bidang, otot-otot di tubuh
patung bersembulan melambangkan
seorang pemuda perkasa. Hanya pemuda
ini menjadi malu sendiri ketika
melihat ke bagian bawah perut patung.
Di sana ada daging yang
berlebih. Dan daging itu tampak tegang seukuran lengan bayi, tegak terpancang
menghadap ke langit.
"Walah! Patung ini memang indah.
Tapi mengapa harus dibuat porno?" Suro Blondo nyengir, lalu garuk-garuk
kepala. "Bocah! Kuminta hentikan oceha-
nmu, tutup mulutmu dan jangan
tersenyum macam orang gila di
depanku!" bentak Pematung Kelana.
Tiba-tiba saja suara tawa Suro
Blondo meledak. Perutnya terguncang
karena berusaha menahan tawa.
"Diam...!" bentakan menggelegar itu menghentikan tawa Pendekar Blo'on seketika
itu juga. "Kau siapakah?"
"Namaku Suro Blondo, Kek!"
sahut Pendekar Blo'on.
"Apakah kau mempunyai gelar?"
"Gelarku... ah bagaimana,
ya...!" Suro Blondo menggaruk belakang kepalanya berulang-ulang.
"Katakan saja kalau kau punya
gelar atau julukan!" desak Pematung Kelana Bambil memperhatikan pemuda di
depannya dengan kening berkerut.
"Aku Pendekar Blo'on...!"
jawabnya polos.
"Pantas! Tampangmu saja sudah
membuktikan bahwa kau seorang pemuda
tolol. Hmm... akhir-akhir ini aku
memang sering mendengar namamu! Oh
ya... apakah kau mau jika patung ini
kuberikan padamu?"
Suro Blondo terperanjat.
Saudagar Bergola Mungkur saja
yang berniat membeli patung itu dengan dua kantung emas ditampik oleh
Pematung Kelana. Mustahil sekarang
Suro Blondo dapat menerimanya. Lagi-
pula ia tidak berminat dengan segala
macam patung, sungguhpun karya
Pematung Kelana ini sungguh hebat dan mendekati sempurna tanpa cacat dan
kekurangan. "Bagaimana?"
"Wah... saya tidak berminat
dengan patungmu, Kek." jawab si
pemuda, tegas. "Mengapa" Apakah patung ini
tidak bagus, menurutmu?"
"Patung itu memang bagus. Tapi
aku mana berani terima pemberian yang sangat berharga ini." jawab si pemuda
polos. "Hmm, ternyata walaupun tampang-
mu tolol, tapi kau merupakan seorang pemuda yang cukup cerdik. Rupanya kau tahu
bahwa setiap keindahan yang kita lihat ternyata tidak selalu menjanji-kan
kebaikan. Rupa cantik belum tentu hati dan pribadinya cantik. Tampang
tidak selalu mencerminkan hati. Jadi
kau benar-benar tidak mau menerima
pemberianku ini?"
Suro Blondo golang-golengkan
kepalanya. "Apakah kau tidak menyesal, jika nanti aku memberikannya kepada orang
lain?" "Jika itu memang sudah kehendak-
mu, buat apa kusesalkan?"
"Kalau aku punya satu permintaan untukmu, apakah kau mau melaksanakannya?" tanya
Pematung Kelana.
"Tergantung baik buruknya
permintaan itu. Jika kau suruh aku
mencuri, siapa sudi. Jika kau suruh
merampok tentu aku kapok. Jika permintaanmu baik dan aku mampu
melakukannya, tentu dengan senang hati aku menjalankannya."
Pematung Kelana tersenyum, namun
hanya sesaat saja. Dilain waktu
sikapnya telah berubah serius. "Pergilah kau ke Bumi Ayu...!"
"Heh.... Bumi Ayu?"
"Betul!"
"Ada apa di sana?" tanya Suro Blondo tidak mengerti.
"Kau tidak layak bertanya!"
"Sialan. Tua bangka ini sangat
angkuh sekali. Dia yang suruh pergi,
tapi tidak mau kasih tahu apa yang
harus kuperbuat di sana?" gerutu Pendekar Blo'on.
"Aku tidak akan pergi jika aku
tidak tahu apa yang harus kulakukan di sana...!" kata Pendekar Blo'on
akhirnya dengan perasaan jengkel.
"Ha ha ha...! Kau rupanya curiga juga padaku. Perlu kau ketahui, bahwa saudagar


Pendekar Bloon 3 Pemikat Iblis di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang menawar patungku tadi
merupakan orang kaya yang telah
memperalat orang lain untuk mengambil biji-biji emas di Bumi Ayu! Hampir
setiap hari banyak di antara mereka
yang menemui ajal secara menyedihkan.
Mayat mereka dicampakkan begitu saja, hingga tempat itu bertimbun bangkai.
Sudah menjadi tugasmu Suro, untuk
menghentikan mereka. Jika usahamu itu berhasil. Maka kau juga harus
melenyapkan saudagar Bergola Mungkur.
Karena dia merupakan dalang dari semua penderitaan mereka."
"Mengapa tadi Kakek tidak
membunuhnya?"
"Hmm, aku memang sengaja memberi kesempatan untuk memperbaiki sepak
terjangnya. Lagipula aku berpantang
membunuh."
"Tapi terhadap dua ekor anjing
jelek itu mengapa Kakek dapat
melakukannya...?"
"Itu karena kepepet, dan mereka
memang sengaja mencari mati!"
Suro Blondo seka keningnya yang
berkeringat. "Satu hal yang harus kau ingat!
Jika kau telah berhasil menghentikan
mereka. Maka kau harus mencariku!"
"Untuk apa?" tanya Pendekar Blo'on terheran-heran.
"Sekarang belum waktunya bagiku
untuk menjelaskannya padamu. Nanti
jika tugasmu telah kau selesaikan."
"Baiklah, sekarang aku mohon
diri." kata si pemuda. Pematung Kelana menganggukkan kepala sambil memandangi
kepergian Pendekar Blo'on.
**** Dua pemuda penunggang kuda
berbulu hitam pekat itu tampak saling berlomba-lomba menuju ke daerah Bumi
Ayu. Melihat gelagat mereka yang dalam keadaan tergesa-gesa. Tampak jelas
bahwa mereka ini mengemban tugas yang cukup penting.
Siang malam mereka memacu kuda
tunggangan, seakan tidak mengenal
lelah sama sekali. Mereka baru
berhenti jika benar-benar merasa
lelah. Memang kalau dipikir-pikir
jarak yang mereka tempuh antara
Kuningan dan Bumi Ayu cukup jauh.
Sehingga dalam seminggu perjalanan
beberapa kali mereka terpaksa bermalam di hutan.
Matahari sudah mulai condong di
ufuk barat pada saat mereka memasuki
daerah Bumi Ayu. Yaitu sebuah tempat
terakhir yang menjadi sasaran
pengejaran mereka.
"Sebaiknya kita bermalam di sini saja, Kakang!" kata salah seorang di antara
pemuda itu. Pakaiannya yang
berwarna putih telah kotor berselimut debu. Wajah pemuda itu juga sudah
tampak kelelahan sekali.
"Jarak kita dengan gua-gua
penggalian sudah sangat dekat sekali.
Aku yakin pemuda-pemuda dari Kuningan yang diculik para algojo itu sampai
saat ini belum menjalani kerja paksa!
Bagaimana kalau kita lanjutkan saja?"
"Kakang Sapala! Kakang harus
ingat bahwa algojo yang menjaga
para pekerja paksa itu jumlahnya
tidak sedikit. Aku yakin mereka rata-
rata memiliki kepandaian yang sangat
tinggi. Kita membutuhkan waktu untuk
menghimpun tenaga yang terkuras selama dalam perjalanan. Kalau tidak ada aral
melintang besok pagi kita dapat
melanjutkan perjalanan ini."
"Baiklah, Panji. Jika memang itu sudah maumu, kali ini aku dapat
menurutinya...!"
Sapala dan Panji yang selama ini
dikenal sebagai Pendekar Kembar di
daerah Kuningan segera turun dari
punggung kudanya. Sebentar kemudian
mereka mulai mencari tempat yang cocok untuk melewatkan malam.
"Hhuimm... adalah tolol, jika
laki-laki tidur dengan laki-laki. Jika tidak mempunyai kelainan jiwa,
pastilah orangnya sudah sinting!"
Panji dan Sapala melengak kaget
ketika mendengar suara seorang
perempuan yang seakan datang dari
seluruh penjuru arah.
"Eeh... apakah kau mendengarnya, Panji?" tanya Sapala.
"Suara perempuan itu?"
"Ya....!"
Sapala kemudian memandang ke
sekelilingnya. Aneh selain pohon-pohon besar ia tidak melihat apa-apa di
situ. "Lihat!" Panji tiba-tiba menunjuk ke salah satu cabang pohon.
Ketika Sapala melihat ke arah itu.
Maka ia tersentak kaget.
Pada salah satu cabang pohon ia
melihat seorang gadis berbaju ungu.
Wajahnya cantik menggiurkan. Tubuhnya padat montok di balik pakaian yang
sangat tipis mencolok. Gadis itu
langsung tersenyum genit ke arah
mereka. Bibirnya sengaja dibasah-
basahkan dengan lidahnya.
"Mengapa kalian memandangku
seperti itu?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Mustika Jajar atau
terkenal dengan julukan 'Iblis Betina Dari Neraka'
Sapala dan Panji saling berpan-
dangan. Lalu dua-duanya memutar
langkah dan hendak berlalu meninggal-
kan Mustika Jajar yang masih tetap
duduk tenang di atas cabang pohon itu.
Namun baru saja tiga langkah,
tiba-tiba terasa adanya sambaran angin menerpa wajah mereka. Panji dan Sapala
bersurut dua langkah ke belakang.
Sebagai pendekar muda, mereka langsung bersikap waspada menjaga segala
kemungkinan. Tapi gadis berbaju ungu
yang sekarang berdiri menghadang di
depan mereka malah tersenyum memikat.
"Kalian salah sangka. Aku ber-
maksud menanyakan sesuatu pada
kalian!" ujar si gadis. Seraya
membungkukkan kepala, sehingga memperlihatkan kedua payudaranya yang putih mulus
menyembul ke luar.
"Siapa, Nisanak?" tanya Panji curiga. Mustika Jajar tersenyum.
Betapa senyumannya menimbulkan gelora yang menyentak-nyentak. Tapi hanya
dengan mengerahkan tenaga dalam, baik Panji maupun Sapala dapat menghi-
langkan semua pengaruh itu.
5 "Aku adalah orang yang tersesat
dan ingin mencari jalan menuju daerah Malaya. Eeh... apakah kalian
mengetahui arah yang hendak kutuju?"
tanya Mustika Jajar.
"Sebaiknya Nisanak menuju ke
arah timur!" sahut Panji bersungguh-sungguh.
"Hmm, begitu. Kalau pulau Seribu Satu Malam apakah kalian tahu di mana
letaknya?"
Sapala dan Panji menggelengkan
kepalanya. "Maaf kami tidak tahu. Mendengar namanya saja baru kali ini!" ujar Sapala.
"Sayang sekali kalian tidak
tahu. Oh ya kalian sendiri hendak
kemana, dua pemuda gagah?"
Panji dan Sapala saling
berpandangan. Salah seorang di antara mereka lalu menyahuti.
"Kami ingin pergi ke suatu
tempat!" "Aku tahu kalian pasti mengejar
para algojo yang menculik beberapa
puluh pemuda untuk dikerahkan menjadi tenaga pekerja paksa, bukan?" Gadis
berbaju ungu tiba-tiba saja tertawa
mengekeh. Lalu pinggulnya digoyang-
goyangkan membentuk sebuah gerakan
yang sangat merangsang.
Sapala dan Panji terkejut bukan
main. Bagaimana mungkin gadis ber-
pakaian merangsang ini dapat
mengetahui rencana perjalanan mereka"
Apakah tadi dia sempat mencuri dengar apa yang mereka bicarakan"
"Kuharap Nisanak tidak
mencampuri segala urusan kami!" Sapala memperingatkan.
"Hi hi hi...! Untuk apa mengejar para algojo itu" Apakah kalian tidak
tertarik melewatkan malam yang indah
bersamaku malam ini" Hik hik hik!"
Dengan sengaja Mustika Jajar
melepas salah satu kancing bajunya,
sehingga sebagian payudaranya yang
kencang itu menyembul keluar. Sebagai pendekar golongan lurus dan berhati
bersih, Sapala dan Panji cepat-cepat
palingkan muka ke arah lain dengan
wajah bersemu merah.
"Hah... kalian rupanya benar-
benar manusia banci. Baiklah, karena
kalian bermaksud pergi ke Bumi Ayu.
Tidak ada salahnya jika aku menjajal
sampai di mana kepandaian yang kalian miliki!" Gadis berbaju ungu menutup
ucapannya dengan satu serangan dahsyat yang tidak terduga sama sekali.
"Hiyaaa...!"
"Wuus!"
Sapala dan Panji yang tidak
menyangka akan mendapat serangan yang sedemikian cepat ini langsung melompat
mundur. Serangan pertama luput, namun mereka sempat merasakan sekujur tubuh
mereka seperti ditusuk-tusuk ribuan
batang jarum. Sadar lawannya menghendaki nyawa mereka. Maka tanpa sungkan-
sungkan lagi mereka mencabut pedang
yang miliki ketajaman pada kedua
sisinya. "'Jurus Hati Suci'!" teriak Panji memberi aba-aba. Pedang di
tangan kemudian diputar sedemikian
cepat. Angin menderu-deru. Hanya dalam waktu yang teramat singkat senjata di
tangan mereka telah berubah menjadi
gulungan sinar putih yang sangat
menyilaukan mata. Kehebatan jurus yang dimiliki oleh mereka adalah kecepatan dan
kekompakannya dalam melancarkan
setiap serangan. Demikian juga yang
terlihat pada saat itu. Namun lawannya malah tertawa mengikik. Mustika Jajar
yang dalam keadaan terkurung sinar
senjata lawannya ini tampak melesat ke udara.
"Haap...!"
"Shaaa...!"
"Wuuss!"
Segulung sinar hitam melesat
dari sekujur tubuh gadis berbaju ungu.
Sinar berhawa dingin menggidikkan itu menyapu lawan-lawannya dengan hanya
dalam tempo sekedipan mata saja.
Panji dan Sapala terdorong ke
belakang. Mereka merasa sulit mengge-
rakkan pedangnya. Bahkan tubuh mereka sendiri cepat terdorong, sungguhpun
mereka berusaha bertahan. Bahkan telah mengerahkan tenaga dalam untuk menghalau
pengaruh serangan aneh itu, tetap saja terlempar.
"Aaakh...!"
"Braak!"
Sapala dan Panji jatuh terban-
ting. Celakanya mereka sama sekali
tidak mampu menggerakkan tubuhnya.
Adalah sungguh mengejutkan jika
pendekar seperti mereka berdua ini
dapat terkalahkan dengan mempergunakan ilmu menotok jarak jauh.
Jika saja lawannya memang bukan
orang yang memiliki kepandaian yang
benar-benar sangat tinggi. Mustahil
mereka dapat dijatuhkan hanya dalam
waktu beberapa gebrakan saja.
"Bangsat pengecut! Lepaskan
kami...!" teriak Panji. Ia menjadi berang karena ternyata lawannya telah
memperdayai mereka.
"Tidak ada gunanya kalian
memaki! Kalian telah menjadi tawanan-
ku!" dengus Mustika Jajar.
Gadis ini kemudian mengambil dua
utas dari kulit kayu waru. Sebuah
kecerdikan sekarang terlintas dalam
hatinya. "Jika saudagar Bergola Mungkur
benar-benar merupakan orang yang kaya raya. Mengapa aku tidak memanfaatkan
kesempatan ini untuk menguasai harta-
nya" Mengenai musuh besar guruku aku
dapat mencarinya kemudian. Tapi aku
juga harus ingat harta juga tidak
kalah menariknya dengan musuh besar.
Kedua pemuda ini dapat kujadikan
jembatan untuk mendekati saudagar
itu!" Mustika Jajar tersenyum genit.
Seraya kemudian mendekati Sapala dan
Panji yang berhasil ditotoknya melalui pertarungan yang sangat singkat itu.
"Kkk... kau mau apa?" tanya Panji gugup.
"Hik hik hik! Kau tidak usah
takut. Aku tidak akan menggantung dan membunuh kalian seperti orang yang
tidak mau kasih keterangan di jalan!
Paling tidak sampai di rumah saudagar Bergola Mungkur!" dengus gadis itu.
Kemudian dengan cepat ia mengikat
tangan Panji dan Sapala.
"Perempuan iblis! Mau kau bawa
kemana kami?" teriak Sapala.


Pendekar Bloon 3 Pemikat Iblis di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tenang saja. Karena kalian
bermaksud membebaskan para pekerja di Bumi Ayu. Maka sekarang aku mau
menyeret kalian kepada saudagar itu
untuk terima hukuman yang setimpal!"
"Bangsat!"
"Memakilah sepuasmu! Aku memang
iblis dari neraka. Kalian tidak perlu gusar!" ujar gadis baju ungu. Seraya lalu
melompat ke atas punggung kuda
milik Sapala. Tali yang mengikat kaki kedua tawanannya disentakkannya. Tidak
lama kemudian melesatlah kuda tunggangan itu menyeret Sapala dan Panji.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa si gadis. Sementara di belakangnya
terdengar jerit dan lolong
kesakitan dari mulut kedua pemuda yang dalam keadaan tertotok itu.
**** "Jtar!"
"Jtarr!"
"Akkkh... ampun Pak... ampun
Tuan...!" suara pekik tangis itu menggema meningkahi suara lecutan
cambuk di tangan algojo. Beberapa
pemuda bertubuh tegap yang baru saja
didatangkan dari Kuningan tersungkur
dengan tubuh bersimbah darah.
"Di sini tidak ada kesempatan
hidup lebih lama lagi bagi seorang
pemalas! Tugas kalian adalah
mengumpulkan biji-biji emas. Tidak
layak membantah apalagi membangkang!
Cepat kerja!" bentak kepala algojo itu, lalu cambuk di tangannya
diayunkannya tinggi-tinggi.
"Jtar! jtaar...!"
"Walah... walah! Sakitt...!"
teriak salah seorang yang tangannya
dirantai ini kesakitan. Kepala algojo dan kawan-kawannya tergelak-gelak.
Tampaknya semakin banyak darah yang
mengalir dari tubuh para pekerja paksa ini semakin membuat puas hati mereka.
Apa yang terjadi di tempat itu
tampaknya tidak lepas dari perhatian
seorang pemuda berbaju biru muda.
Pemuda berambut panjang sebahu dan
memakai ikat kepala warna biru belang-belang kuning ini menggeram marah.
Mulutnya pletat-pletot, kepala golang-goleng ke kiri dan kanan.
"Algojo kepala botak itu tampak-
nya bukan manusia, tapi setan berkedok yang selalu haus darah. Jika terus
kubiarkan, tingkah mereka jadi
kapiran!" desisnya.
Dilain kesempatan pemuda ini
melangkah tenang menghampiri para
algojo yang selalu siap dalam keadaan waspada. Dasa Reksa Sebagai orang yang
mengepalai delapan orang anak buahnya tentu saja menjadi heran sekaligus
terkejut melihat kemunculan Suro
Blondo. Dalam waktu yang sangat
singkat, mereka langsung mengurung
Pendekar Blo'on.
Pemuda berbaju biru muda ini
garuk-garuk kepalanya. Mulutnya nye-
ngir begitu melihat ulah laki-laki
bertubuh tegap ini.
"Heh... hari ini kita dapat
tenaga tambahan lagi. Walaupun tampang kunyuk ini tolol. Tapi rasanya kita
dapat memanfaatkan tenaganya untuk
menggali emas dalam jumlah besar! He
he he... mimpi apa aku semalam?"
"Aha... aku yakin semalam kau
telah bermimpi buruk! Melihat badanmu yang lebih besar dari kawan-kawanmu,
rasanya tidak salah penglihatanku,
kaulah orangnya yang bernama Dasa
Reksa" Apakah betul...?" tanya Suro Blondo. Walaupun hatinya kesal bukan
main, tapi ia tetap tertawa-tawa.
Dasa Reksa sempat tersentak
kaget. Bagaimana mungkin pemuda ini
dapat mengetahui siapa namanya" Namun setelah mengingat sepak terjangnya,
maka ia merasa tidak tertutup
kemungkinan nama besarnya telah
dikenal di seluruh penjuru persilatan.
"Kalau kau sudah tahu siapa aku.
Bicaralah yang sopan dan sekarang
berlutut di depan majikanmu ini.
Setelah itu menyalak tiga kali!"
perintah Dasa Reksa diikuti tawa anak buahnya.
"Oh... maafkan aku majikan. Sama sekali aku tidak melihat tingginya
gunung di depanku. Tapi bolehkah aku
bertanya pada majikan yang terhormat?"
ucap Suro Blondo sambil membungkuk-
bungkukkan badannya.
"Bagus! Rupanya kau tahu
bagaimana caranya menghargai orang
lain. Sekarang coba katakan apa yang
ingin kau tanyakan?" perintah Dasa Reksa, lalu tersenyum. Sementara itu
satu dua orang algojo begitu melihat keramahtamahan atasannya terhadap
pemuda bertampang tolol yang tidak
dikenal itu langsung membubarkan diri.
"Yang ingin kutanyakan adalah
berapa harga setiap kepala gundul di
sini?" Dasa Reksa pentang mata lebar-
lebar dengan kening berkerut. Sedang-
kan pemuda di depannya kini. tampak
berubah serius.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku sudah jelas, Tuan!"
Suro Blondo mengusap keningnya.
"Kulihat di dataran rendah sebelah sana tulang dan bangkai manusia
bertimbun. Kalau dihitung mungkin
jumlahnya lebih dari dua ratus biji,
eeh... orang maksudku! Berarti sudah
dua ratus nyawa melayang menjadi
tumbal secara sia-sia. Dan semua itu
adalah hasil kejahatanmu dan orang-
orangmu. Kini aku datang menagih
hutang nyawa orang-orang yang tidak
berdosa. Apakah keterangan ini sudah cukup jelas bagimu?"
"Huh..., puih, pemuda edan dari
mana kau! Berani-beraninya kau
mengungkit-ungkit segala persoalan
yang terjadi di sini" Apakah kau pikir kau mampu melakukannya?" bentak Dasa
Reksa. Wajah sampai kepala botaknya
berubah merah padam.
"Pruuuh... ha ha ha ha...! Dasa
Reksa. Sudah kukatakan aku datang
kemari ingin membebaskan orang-orang
di dalam gua penggalian emas. Tentu
saja sekalian mencopot kepala kalian
dari badan!"
"Keparat! Kau benar-benar tidak
tahu penyakit! Hiaaa...!" Disertai satu teriakan melengking tinggi. Dasa Reksa
melompat ke depan. Tangannya
yang kokoh dan besar itu mencengkeram ke bagian leher. Ia berpikir hanya
dengan sekali gebrak saja, tentu
kepala pemuda tampan bertampang tolol terpotes dari kepalanya.
Tapi ternyata dugaan Dasa Reksa
benar-benar meleset. Laksana kilat
Suro Blondo yang telah memperhitungkan segala sesuatunya ini berkelit ke
samping. Serangan itu hanya menyambar tempat kosong. Karena saat menyerang
tadi Dasa Reksa mengerahkan tenaga
dalam yang cukup tinggi. Maka kini
setelah tidak mencapai sasarannya
membuat ia kehilangan keseimbangan.
Kesempatan itu dipergunakan oleh
Suro Blondo untuk membetot tubuh
lawannya. Dengan satu sentakan yang
sangat keras tubuh besar itu melayang dan tersungkur mencium tanah keras.
Dasa Reksa menggerung. Hidungnya
yang membentur tanah patah dua dan
berubah lembam membiru. Sambil
meringis kesakitan ia bangkit berdiri.
Matanya merah beringas. Memandang
penuh kekejaman pada Suro Blondo. Yang dipandang malah
tersenyum sambil
garuk-garuk belakang kepalanya.
6 "Anak-anak! Bunuh monyet ber-
tampang tolol itu!" teriak Dasa Reksa pada anak buahnya yang ternyata telah
berkumpul kembali mengurung Suro
Blondo. Perintah sang ketua disambut
oleh bunyi lecutan cambuk yang
meledak-ledak di udara.
Dalam waktu singkat delapan
mata cambuk berderu menyerang Pendekar Blo'on dari delapan penjuru arah.
Pemuda ini terpaksa melompat ke udara.
Lalu kerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'.
Sekejap tubuh pemuda ini
sudah melompat-lompat atau terkadang
menari-nari membentuk gerakan-
gerakanya yang sangat aneh. Dilihat sepintas lalu gerakan yang dilakukan
Suro Blondo ini memang sangat mirip
dengan gerakan monyet yang melompat-
lompat di atas pohon. Namun sungguhpun demikian hingga sejauh itu tidak
satupun lidah cambuk yang dapat
menyentuh tubuhnya apalagi sampai
melukainya. "Gila betul! Rupanya pemuda
bertampang tolol ini memiliki kepan-
daian yang dapat diandalkannya."
Membatin Dasa Reksa.
"Kerahkan jurus 'Seribu Bisa'!"
sang pimpinan berteriak-teriak memberi aba-aba.
"Shaa...!"
"Buut!"
"Tar... tar...!"
Jurus-jurus yang dimainkan oleh
para algojo itu secara serentak
berubah. Suara cambuk meledak-ledak
memekakkan gendang-gendang telinga.
Semakin lama cambuk di tangan lawannya tampak berubah menjadi banyak. Suro
Blondo leletkan lidah saat menyadari
posisinya dalam keadaan terdesak.
"Gila. Betul-betul gila! Aku
harus mengerahkan jurus 'Seribu
Siluman Kera Putih Mengecoh Harimau!"
batin Pendekar Blo'on dalam hati.
Namun sebelum ia sempat melak-
sanakan niatnya. Salah satu cambuk
lawan menghantam punggungnya. Baju
terkoyak lebar. Ada darah yang
mengalir di sepanjang luka guratan.
Suro Blondo tersungkur mencium tanah.
Saat itulah cambuk berduri bertubi-
tubi mendera tubuhnya. Dalam keadaan
tubuh remuk redam seperti itu. Ia
terus berguling-guling menghindari
mata cambuk berduri yang datang
mendera seakan tidak ada habis-
habisnya. Lalu....
"Haap...!"
Suro Blondo bangkit berdiri lalu
melompat mundur sejauh tiga tombak.
Mulutnya menyeringai menahan sakit.
Darah bercucuran membasahi bajunya
yang hancur di beberapa bagian.
"Bunuh! Jangan beri kesempatan
pada pemuda sinting itu meloloskan
diri!" teriak Dasa Reksa sambil terus memperhatikan jalannya pertempuran.
"Urusan jadi kapiran jika aku
sampai mati di tangan mereka!" gerutu Suro Blondo.
Tiba-tiba saja ia merangkapkan
kedua tangannya ke depan dada.
Setengah dari seluruh tenaga yang
dimilikinya dikerahkannya ke bagian
tubuhnya. Lalu... diawali dengan satu langkah yang sangat ganjil. Tubuhnya tiba-
tiba bergerak cepat laksana
kilat. Di tengah-tengah gerakan yang
sangat sulit diikuti kasat mata dan
membuat bingung lawannya itulah
terdengar suara aneh. Mula-mula
terdengar suara tawa meledak-ledak
bagaikan hendak mengguncang bumi. Tapi di saat lain terdengar pula suara
seperti orang yang sedang menangis.
Suara itu mendayu-dayu
mendirikan bulu roma. Dan di dalam kesempatan
lainnya suara tangis lenyap berganti
dengan suara gajah. Rupanya dalam
keadaan sedemikian rupa, Pendekar
Blo'on disamping mengerahkan jurus
"Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.
Ia juga mengerahkan jurus 'Tawa Kera
Siluman'. Kenyataan ini sempat membuat
terkesima lawan-lawannya. Namun mereka tidak mau berdiam diri lebih lama
lagi. Laksana kilat cambuk berduri di tangan mereka melecut mengejar kemana saja
bayangan Suro Blondo menghindar.
Namun berulang kali mereka dibuat
kecewa ketika serangan mereka mencapai tempat kosong. Bahkan dengan gerakan-
gerakan yang sulit diduga-duga Suro
Blondo mulai mempecundangi lawan-
lawannya. Satu demi satu lawan-
lawannya itu dibuat jatuh bangun. Hal ini semakin memancing kemarahan Dasa
Reksa. Ia pun mulai menerjunkan diri ke


Pendekar Bloon 3 Pemikat Iblis di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

medan pertempuran. Tidak pelak lagi,
Suro Blondo langsung mendapat
keroyokan sembilan jago-jago pembunuh yang memiliki kemampuan tidak rendah.
Sungguh pun pemuda tampan
bertampang tolol ini mempunyai watak
yang konyol. Namun ia terdidik oleh
dua guru yang memiliki pengalaman dan kepandaian sangat tinggi. Sehingga ia
segera menyadari bahwa saat itu
nyawanya benar-benar dalam kea-
daan terancam. "Hiyaa...!"
"Shaaa...!"
Gerakan silat Pendekar Blo'on
dari cepat kini menjadi lambat.
Sebagian tenaga dalam yang dimilikinya kini dikerahkannya ke bagian telapak
tangannya. Sehingga dalam waktu yang
singkat telapak tangan itu menjadi
putih berkilauan. Pada kesempatan yang sama cambuk di tangan lawan-lawannya
mendera sekujur tubuhnya hingga
membuatnya jatuh tergulung-gulung dan babak belur.
"Bunuh!" teriak Dasa Reksa
semakin bertambah beringas.
Serangan cambuk semakin menjadi-
jadi. Pakaian yang melekat di tubuh
Suro Blondo praktis tercabik-cabik.
Namun pemuda itu cepat bangkit ber-
diri. Cambuk di tangan lawan-lawannya menyambut dan melibat tubuhnya. Tarik
menarik pun terjadi. Andai saja
Pendekar Blo'on bukan pemuda yang
telah kenyang makan gemblengan
gurunya. Mungkin saat itu tubuhnya
telah terpisah-pisah.
Suro Blondo menggeram penuh
amarah. Sama sekali ia sudah tidak
menghiraukan darah yang mengalir dari setiap luka yang terdapat di tubuhnya.
Dan dalam keadaan dilanda kemarahan
sedemikian rupa. Satu hal yang tidak
pernah disadari oleh lawan-lawannya
adalah bahwa, rambut Pendekar Blo'on
yang hitam kemerah-merahan itu
sekarang telah berubah merah
sepenuhnya, "Heaaa...!" Suro Blondo
berteriak melengking tinggi.
Empat larik sinar putih menyilaukan ber-
kiblat melesat dari telapak tangannya.
Itulah salah satu pukulan yang bernama
'Kera Sakti Menolak Petir' yang
dilepaskan oleh Pendekar Blo'on.
Udara berubah menjadi panas
menyesakkan. Empat orang lawannya
terkesiap melihat datangnya gelombang sinar putih yang meluruk deras ke arah
mereka. Namun untuk menyelamatkan diri tidak ada kesempatan lagi bagi algojo-
algojo ini karena pukulan itu langsung menghantam tubuh mereka.
"Blaam! Buum! Buum!"
"Wuaaakh...!"
Empat sosok tubuh berpentalan
meregang ajal. Tubuh mereka berubah
hangus. Belum hilang rasa kejut di
hati kawan-kawannya, Suro Blondo telah melompat ke belakang sehingga membuat
cambuk yang membelit tubuhnya
terlepas. Tidak tanggung-tanggung. Ia kali ini melepas pukulan 'Matahari Dan
Rembulan Tidak Bersinar'.
Sinar redup bersemu merah
bercampur dengan warna biru datang
menggebu-gebu. Dun algojo lainnya kini menjadi korban. Tidak sempat menjerit
apalagi melolong. Tubuh mereka tiba-tiba terhempas ke depan. Wajah mereka
berubah pucat kebiru-biruan. Darah
kental menyembur tiada henti dari
mulut kedua algojo itu. Laksana mau
terbang semangat Dasa Reksa melihat
kejadian tragis yang sangat singkat
ini. Namun kematian tetap kematian.
Kenyataan yang dilihatnya tidak
membuat nyalinya lumer, apalagi lari
terbirit-birit meninggalkan pertem-
puran. Dengan dibantu dua orang
kawannya ia kembali merangsak ke
depan. Suro Blondo menyeringai seakan mengejek.
Menghadapi lawan yang sudah
banyak berkurang, malah ia semakin
berhati-hati. Selanjutnya ia
mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih
Mengecoh Harimau'. Gerakan laksana
kilat ini disusul dengan tendangan
maupun jotosan beruntun ke bagian-
bagian tubuh lawannya. Namun aneh...
kali ini setiap pukulannya dapat
dihindari oleh lawan. Ketika mereka
balas menyerang dengan mempergunakan
jurus 'Gaung Halimun' Maka serangan
balik itu juga lebih berbahaya dari
serangan dahsyat yang dilakukan oleh
Suro Blondo. "Buuuk! Buuuk!"
"Setan atas!" maki pemuda itu jatuh bangun mempertahankan diri.
"Ayo kerahkan semua kepandaian
yang kau miliki pemuda tolol!" teriak Dasa Reksa dan kawan-kawannya semakin
bersemangat. "Kalian meminta aku memberi!"
sahut Suro Blondo, Ia langsung meraba gagang mandau jantan di balik
pakaiannya. "Wuuus!"
Sinar hitam tiba-tiba saja
berkiblat. Salah seorang algojo yang
berada begitu dekat dengannya menjerit roboh sambil memegangi perutnya yang
Pendekar Bloon 15 Satria Gunung Kidul Karya Kho Ping Hoo Tokoh Besar 1
^