Pencarian

Api Di Bukit Menoreh 28

04 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja Bagian 28


Ternyata semuanya pun sependapat. Mereka segera berkemas. Mereka akan mengambil kuda-kuda mereka yang tersembunyi, dan secara terpisah mereka akan pergi ke Hutan Tambak Baya.
Menjelang sore hari, beberapa orang berpacu melintasi bulak-bulak panjang tanpa menimbulkan kecurigaan, karena mereka hanya masing-masing berdua atau bertiga. Mereka berharap untuk dapat bertemu dengan iring-iringan pengantin dari Sangkal Putung, sehingga mereka akan dapat memperhitungka kekuatannya.
Namun ternyata bahwa orang-orang dari sekitar Gunung Tidar itu terlampau cepat sehari, sehingga mereka harus bermalam lagi di hutan Tambak Baya, karena mereka tidak mau melepaskan iring-iringan itu lewat tanpa pengamatan.
Di pagi hari berikutnya, orang-orang Sangkal Putung telah sibuk mempersiapkan sebuah iring-iringan yang akan membawa Swandaru ke Tanah Perdikan Menoreh menjelang hari perkawinannya. Mereka dengan hati-hati mempersiapkan diri sehingga apabila terjadi sesuatu di perjalanan, tidak akan mengecewakan dan akan membuat mereka menyesal untuk seterusnya.
Lima belas orang anak-anak muda telah siap dengan kelengkapan masing-masing. Mereka sama sekali tidak menunjukkan perhiasan apa pun yang mereka persiapkan apabila saat perelatan itu tiba kelak di Tanah Perdikan Menoreh. Yang nampak di lambung mereka bukan sebilah keris dengan pendok emas dan ukiran bermata berlian. Tetapi di lambung mereka tergantung sebilah pedang yang berat sebagai kelengkapan yang wajar dari seseorang yang menempuh perjalanan jauh. Bahkan ada di antara mereka yang membawa di samping sehelai pedang, sebuah trisula yang mereka sangkutkan pada pelana kudanya.
Di halaman kademangan mereka membagi kelompok-kelompok kecil yang akan berjalan terpisah. Lima belas orang pengawal itu akan terbagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari lima orang. Sementara itu, sebuah kelompok yang lain akan berada di antara ketiga kelompok itu di dalam urutan perjalanan mereka. Sebuah kelompok tersendiri yang terdiri dari Ki Demang, Swandaru, dan Kiai Gringsing beserta dua orang tua-tua yang ikut bersama mereka ke Menoreh. Sedangkan sebuah kelompok tersendiri pula terdiri dari dua orang tua-tua, Sekar Mirah dan gurunya, Ki Sumangkar. Sedangkan Agung Sedayu berada di kelompok para pengawal di paling depan.
Setelah kelompok-kelompok itu terbagi sebaik-baiknya, maka mereka pun segera mempersiapkan diri. Swandaru masih sempat mencium tangan ibunya yang melepaskannya dengan setitik air mata.
"Kenapa Ibu menangis," bertanya Swandaru, "aku akan pergi menjemput menantu Ibu. Seharusnya Ibu bergembira karenanya. Bukan menangis."
Ibunya mencoba tersenyum. Namun senyumnya nampak lesu di bibirnya yang bergetar.
"Jangan Ibu hiraukan berita yang membuat hati Ibu berdebar-debar. Iring-iringan ini adalah iring-iringan yang kuat, sehingga Mataram pun tidak akan berhasil mencegah perjalanan kami seandainya mereka berniat demikian. Padahal, Ki Lurah Branjangan telah menyatakan kesanggupannya untuk memberikan bantuan secukupnya apabila kita perlukan."
Ibunya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab sepatah kata pun.
Demikianlah, iring-iringan itu pun kemudian meninggalkan Sangkal Putung, diiringi oleh para tetangga yang ingin melihat keberangkatan Swandaru menjelang hari perkawinannya di tempat yang cukup jauh. Di Tanah Perdikan Menoreh, yang letaknya di seberang Kali Praga.
"Ada dua buah sungai yang besar yang harus diseberangi," berkata seseorang yang sudah lanjut usia," yang satu Sungai Opak, sedang yang lain, yang lebih besar adalah Sungai Praga."
Yang mendengar keterangan itu mengangguk-angguk. Seseorang kemudian bergumam, "Dengan demikian, mereka harus melemparkan sebutir telur di kedua sungai besar itu."
"O, kelak jika mereka sudah melintas berdua dengan pengantin perempuannya."
Yang lain mengangguk-angguk. Namun mereka pun telah dicengkam oleh suatu keinginan, agar Swandaru segera kembali membawa isterinya yang belum pernah mereka lihat. Tetapi mereka sudah mengetahui nama dan kedudukannya di Tanah Perdikan Menoreh. Karena Ki Gede Menoreh tidak mempunyai anak yang lain kecuali calon isteri Swandaru itu, maka sudah tentu bahwa pada suatu saat akan timbul persoalan bagi Swandaru. Karena Swandaru adalah satu-satunya anak laki-laki Ki Demang Sangkal Putung.
Orang-orang Sangkal Putung itu memandang iring-iringan yang meninggalkan kademangan mereka sampai kelompok yang terakhir hilang di tikungan. Ketika debu yang dilontarkan oleh kaki-kaki kuda itu lenyap ditiup angin maka barulah mereka kembali ke rumah masing-masing.
Ki Jagabaya-lah yang kemudian bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan Sangkal Putung bersama para bebahu yang lain. Justru karena orang-orang terpercaya sedang meninggalkan kademangan, maka Ki Jagabaya telah mempertinggi kewaspadaan. Para pengawal diwajibkan berkumpul di kademangan, di banjar dan tempat-tempat yang telah ditentukan di beberapa bagian dari Kademangan Sangkal Putung. Di setiap gardu terdapat beberapa orang yang berjaga-jaga. Siang dan malam. Di padukuhan-padukuhan yang terpisah-pisah, disediakan alat-alat yang dapat melontarkan isyarat. Selain kentongan, juga disediakan panah sendaren dan panah api. Selain itu, kuda-kuda pun telah siap dipergunakan setiap saat.
Dalam pada itu, beberapa orang pengawal selalu mengadakan pengawasan di sekeliling Kademangan. Dari padukuhan yang paling ujung sampai ke ujung yang lain.
Selain tugas pengamatan Kademangan Sangkal Putung, Ki Jagabaya masih dibebani tugas untuk pergi ke Jati Anom sebagai wakil Ki Demang. Ki Jagabaya akan menjumpai Untara dan menyampaikan undangan untuk senapati muda itu pada saatnya Swandaru nanti diterima dengan perayaan yang meriah di Sangkal Putung.
"Mudah-mudahan di perjalanan ke Jati Anom tidak ada kesulitan apa pun," berkata Ki Jagabaya kepada para pengawal. "Jika aku sudah bertemu dengan Anakmas Untara, aku akan segera kembali."
Dengan dikawal oleh empat orang pengawalnya, Ki Jagabaya pun pergi memenuhi pesan itu untuk menjumpai Untara.
"Jadi saat ini Sangkal Putung sedang kosong?" bertanya Untara kepada Ki Jagabaya ketika Ki Jagabaya telah menyampaikan pesan Ki Demang dan menceriterakan saat keberangkatannya ke Tanah Perdikan Menoreh.
"Ya, Anakmas. Akulah yang diserahi tugas untuk menjaga keamanan Kademangan Sangkal Putung."
Untara mengangguk-angguk. Katanya, "Aku kira keadaan sekarang sudah bertambah baik di daerah ini setelah Tambak Wedi berhasil dibersihkan. Mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang terjadi di Sangkal Putung, selama Ki Demang tidak ada di tempat. Namun demikian, aku akan mengirimkan beberapa orang prajurit untuk meronda di daerah Selatan."
"Terima kasih," jawab Ki Jagabaya, "nampaknya memang tidak ada gejala-gejala yang dapat mencemaskan hati. Ketika aku melintasi bulak-bulak panjang ke Jati Anom, nampaknya sawah-sawah pun tetap digarap dengan baik dan teratur."
"Aku juga tidak pernah lagi mendapat laporan tentang kejahatan yang terjadi setelah aku membersihkan Tambak Wedi dan sekaligus penjahat-penjahat yang berkelompok di lereng Gunung Merapi ini. Mereka telah berusaha menemukan cara untuk mendapatkan bekal hidup dengan cara yang wajar. Memang mungkin ada satu dua orang yang memang sulit menyesuaikan diri. Tetapi pada umumnya mereka telah meninggalkan daerah ini dan pergi ke tempat yang jauh."
"Ya Anakmas. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu. Tetapi selama lima hari. kami harus menahan nafas."
"Lima hari ditambah dengan perjalanan kembali dari Tanah Perdikan Menoreh."
"Ya. Lengkapnya delapan hari."
Untara mengangguk-angguk. Katanya, "Aku akan hadir. Jika tidak ada sesuatu yang penting sekali, aku tentu akan datang di saat pengantin itu dirayakan di Sangkal Putung. Sangkal Putung bagiku merupakan kademangan yang banyak berjasa bagi Pajang."
"Tidak banyak yang telah dilakukan oleh Sangkal Putung," jawab Ki Jagabaya, "kesanggupan Angger Untara sangat membesarkan hati kami."
"Aku mengucapkan terima kasih atas pemberitahuan ini."
Demikianlah Ki Jagabaya tidak terlalu lama berada di Jati Anom. Setelah minum beberapa teguk dan makan jamuan beberapa potong, maka ia pun segera minta diri. Ia tidak dapat terlalu lama meninggalkan kademangannya yang sedang kosong.
Ternyata perjalanan Ki Jagabaya sama sekali tidak terganggu oleh apa pun juga. Bahkan daerah Jati Anom, Lemah Cengkar, Pakuwon, Macanan dan sekitarnya, nampak tenang dan tenteram. Sawah-sawah nampak hijau terpelihara. Air yang bening mengalir di parit-parit yang menjelujur di antara kotak-kotak sawah yang nampak subur.
Sementara itu, iring-iringan dari Sangkal Putung yang menuju ke Tanah Perdikan Menoreh telah mendekati Mataram. Mataram yang telah mengetahui akan kehadiran orang-orang Sangkal Putung yang mengantarkan Swandaru yang menjelang hari-hari perkawinan di Tanah Perdikan Menoreh telah bersedia menerima mereka. Sebagaimana diminta oleh Ki Demang Sangkal Putung, iring-iringan itu akan bermalam semalam di Mataram. Pada pagi harinya mereka akan melanjutkan perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh, sehingga mereka tidak terlampau sore sampai ke tujuan yang menurut berita terakhir agak kurang tenang.
Selain persediaan tempat dan jamuan secukupnya, Mataram ternyata juga meningkatkan penjagaannya meskipun sama sekali tidak nampak menyolok. Apalagi Mataram tidak menerima laporan apa pun juga tentang kemungkinan yang gawat di Tanah Perdikan Menoreh di saat-saat terakhir.
Karena itu, jika ada penjagaan di beberapa tempat adalah sekedar suatu sikap berhati-hati. Apabila ada sesuatu yang terjadi, Mataram tidak akan dapat disebut lengah.
Namun dalam pada itu, ketika orang-orang Sangkal Putung beristirahat sambil melepaskan ketegangan, karena mereka merasa bahwa penjagaan di Mataram cukup kuat. Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sempat berbicara tentang beberapa persoalan dengan Ki Lurah Branjangan.
Agar Mataram mendapat gambaran tetang perkembangan keadaan terakhir di Tanah Perdikan Menoreh, maka mereka pun telah menyampaikan berita tentang peristiwa yang terjadi menjelang perkawinan Swandaru.
Ki Lurah Branjang pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Jika demikian, keadaan memang cukup gawat. Tetapi nampaknya peristiwa itu tidak berkelanjutan. Jika peristiwa itu diikuti dengan peristiwa-peristiwa serupa, atau bahkan yang lebih besar, maka kami tentu mendapat laporan dari para pengawal di perbatasan."
"Nampaknya memang demikian, Ki Lurah," sahut Kiai Gringsing, "ternyata Tanah Perdikan Menoreh juga tidak memberikan keterangan yang lebih jauh dari yang pernah di sampaikan kepada Sangkal Putung. Namun agaknya kita memang tidak boleh lengah."
Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Ia sudah mendengar pula keterangan selengkapnya tentang peristiwa di Tambak Wedi dan kemudian menyusul di Tanah Perdikan Menoreh yang tentu ada sangkut pautnya. Ciri-ciri yang terdapat pada beberapa orang di Tambak Wedi beserta senjata-senjatanya yang mirip dengan ciri-ciri yang terdapat pada keping perak yang agaknya sengaja mereka tinggalkan pada saat pusaka-pusaka yang penting itu hilang dari Mataram.
"Semuanya memberikan tanda-tanda tentang sebuah kekuatan yang besar yang harus dihadapi oleh Mataram jika Mataram ingin mendapatkan kembali pusaka-pusaka yang hilang itu," berkata Ki Sumangkar.
"Ya. Dan Mataram sudah mulai membenahri dirinya sambil menunggu kehadiran Raden Sutawijaya yang bergelar Senopati Ing Ngalaga," jawab Ki Lurah Branjangan.
Sementara Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berbicara tentang berbagai macam kemungkinan, maka Ki Demang masih saja selalu dihinggapi oleh kegelisahan. Ia berjalan mondar-mandir di dalam biliknya. Sementara Swandaru dan Agung Sedayu sempat berbicara tentang Mataram di serambi belakang.
Di pendapa, para pengawal duduk sambil menikmati hidangan yang disediakan. Sedangkan beberapa orang yang lain tidur mendekur di gandok sebelah-menyebelah. Ketegangan di sepanjang jalan agaknya membuat mereka menjadi lelah, meskipun perjalanan sampai ke Mataram adalah sebuah perjalanan yang tidak begitu jauh.
Yang duduk seorang diri adalah Sekar Mirah. Ia tidak mempunyai kawan seorang perempuan pun dari Sangkal Putung. Untuk menghilangkan kesepian ia mencoba memperkenalkan dirinya kepada beberapa orang pembantu di dirumah Raden Sutawijaya yang telah ditinggalkan beberapa lamanya itu dan dipergunakan sebagai tempat yang menjadi pusat pimpinan pemerintahan di Mataram, bahkan beberapa orang sudah menyebutyna sebagai Istana Senopati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram.
Tetapi karena mereka sedang sibuk, akhirnya Sekar Mirah pun telah terlempar ke dalam kesendiriannya lagi. Jika ia mencoba ikut membantu para pelayan itu agar ia mempunyai suatu kesibukan, mereka selalu mempersilahkannya duduk saja di dalam biliknya.
"Menjemukan," desisnya sambil melangkah keluar. Dari longkangan ia melihat beberapa orang pengiring yang duduk senaknya di tangga pendapa. Tetapi Sekar Mirah tidak mendekati mereka, apalagi karena Agung Sedayu dan Swandaru tidak ada pula di pendapa itu.
Bagi para pengawal, Mataram benar-benar merupakan tempat yang menyenangkan untuk beristirahat. Mereka yakin bahwa tentu tidak akan ada peristiwa apa pun yang akan terjadi di dalam lingkungan pengawalan yang dapat dipercaya itu. Karena itu, ketika malam kemudian menyelubungi Mataram, para pengawal pun segera tidur dengan nyenyaknya. Namun demikian, seperti yang dipesankan oleh Agung Sedayu kepada mereka, bahwa di setiap bilik harus ada sekurang-kurangnya seorang yang berjaga-jaga bergantian. Bagaimansa pun juga, mereka tidak boleh menjadi lengah sama sekali.
Karena itulah, maka di gandok sebelah kiri yang berisi oleh enam orang yang tidur berjajar di sebuah amben besar di bagian dalam gandok itu, nampak seorang dari mereka duduk bersandar dinding sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Sedangkan di gandok sebelah kanan agaknya dipergunakan oleh jumlah yang lebih besar. Sedangkan Sekar Mirah berada sendiri di ruang samping, di sebelah bilik ayahnya bersama orang-orang tua dari Sangkal Putung. Sedangkan Agung Sedayu dan Swandaru bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berada di ruang belakang.
Malam itu merupakan malam yang sangat panjang bagi Swandaru. Semalam suntuk ia merasa gelisah, sehingga seolah-olah tidak memejamkan matanya sama sekali, seperti juga Ki Demang Sangkal Putung. Berbeda dengan Swandaru, para pengawal yang berada di gandok, merasa seolah-olah malam terlampau pendek. Seolah-olah mereka baru saja tertidur, ketika mereka mendengar kokok ayam jantan untuk yang penghabisan kali di malam itu.
Pagi-pagi benar iring-iringan itu sudah menyiapkan diri. Beberapa pesan Ki Demang telah diberikan, karena mereka akan segera memasuki tlatah Tanah Perdikan Menoreh yang mereka anggap gawat. Mereka membagi iring-iringan itu menjadi bagian-bagian kecil seperti saat mereka berangkat dari Sangkal Putung.
"Kami akan mengantar Ki Demang sampai ke gerbang kota," berkata Ki Lurah Branjangan.
"Terima kasih."
"Beberapa orang pengawal akan mengikuti Ki Demang sampai ke pinggir Kali Praga."
"Terima kasih," jawab Ki Demang.
Demikianlah, maka setelah minta diri kepada para pemimpin di Mataram, maka iring-iringan itu pun meneruskan perjalanan. Empat orang pengawal dari Mataram mengikuti mereka untuk meyakinkan bahwa mereka tidak mengalami sesuatu di tlatah Mataram yang sedang tumbuh itu.
Dalam pada itu, selagi iring-iringan dari Sangkal Putung itu dengan penuh kewaspadaan melaju di jalan-jalan yang semakin baik di daerah Mataram, maka sekelompok orang-orang dari sekitar Gunung Tidar sedang melarikan kudanya dengan kencang pula. Mereka menuju ke Hutan Pengarang. Tempat yang sudah mereka tentukan, menjadi ajang persiapan orang-orang yang akan menunaikan tugas mereka sehubungan dengan pengantin yang akan dirayakan di Tanah Perdikan Menoreh itu.
"Jumlah itu tidak terlampau banyak," berkata salah seorang dari mereka.
"Aku menghitung jumlahnya dengan tepat," sahut yang lain, "dua puluh lima orang, satu di antaranya agaknya seorang perempuan."
"Jika kelak orang-orang Tanah Perdikan Menoreh ada yang mengantar sepasang pengantin ke Sangkal Putung, maka mungkin jumlahnya akan bertambah banyak."
"Katakanlah menjadi lipat dua sebanyak-banyaknya."
"Ya. Lima puluh orang."
"Kita akan menyiapkan jumlah yang sama. Sebab aku yakin bahwa dari Tanah Perdikan Menoreh tidak akan ada pengiring sebanyak itu pula. Bukan karena tidak ada pengawal yang dipercaya sejumlah dua puluh lima orang, tetapi Tanah Perdikan Menoreh tentu menganggap bahwa pengawalan dari Sangkal Putung itu sudah cukup kuat. Jika bertambah dengan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, maka mereka hanyalah orang-orang tua yang akan mewakili Ki Gede menyerahkan anaknya kepada Ki Demang di Sangkal Putung."
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka sependapat, bahwa yang akan mengiringi pengantin itu dari Tanah Perdikan Menoreh tentu tidak akan sebanyak pengawal yang membawa Swandaru dari Sangkal Putung.
Namun demikian, akhirnya mereka bersepakat, bahwa setiap kelompok harus membawa kekuatan terpercaya dua puluh orang, sehingga jumlahnya menjadi enam puluh orang.
"Terlalu besar," gumam Ki Bajang Garing, "tetapi tidak ada salahnya untuk berhati-hati."
Gandu Demung memandang orang yang bertubuh pendek, lebih pendek dari dirinya sendiri yang sudah disebut pendek itu. Agaknya untuk mencari orang-orang sejumlah itu bagi kelompok yang dipimpin oleh Ki Bajang Garing memang agak sulit. Tetapi Ki Bajang Garing dapat memanggil orang-orangnya yang kebetulan berada di tempat yang agak jauh karena desakan keadaan yang tidak menguntungkan di sekitar Gunung Tidar. Bahkan mereka adalah justru orang-orang yang terbaik.
Sambil membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, orang-orang dari sekitar Gunung Tidar itu berpacu terus. Mereka akan mempersiapkan orangnya justru di daerah Jati Anom.
Mereka mengetahui bahwa masih ada beberapa daerah yang memungkinkan pemusatan kekuatan itu. Di hutan yang tidak begitu lebat di sebelah Barat Sangkal Putung, dapat mereka pergunakan sebagai arena yang menguntungkan. Mereka dapat bersembunyi di hutan itu, yang kemudian dengan tiba-tiba menyergap iring-iringan yang lewat di jalan sebelah.
"Di perjalanan kembali ke Sangkal Putung maka iring-iringan dari Sangkal Putung dan Menoreh itu tentu masih akan mempergunakan cara yang sama. Mereka akan menebarkan orang-orangnya dalam kelompok-kelompok kecil. Karena itulah, maka kita pun harus menebarkan orang-orang kita. Di hutan kecil itu, dua puluh orang kali tiga akan memencar dari ujung hutan sampai jarak yang diperlukan, menurut perkiraan kita sesuai dengan saat mereka berangkat," berkata Gandu Demung.
Yang lain mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan Gandu Demung, bahkan mereka sudah mulai membayangkan bahwa sergapan yang tiba-tiba tanpa diduga oleh yang berkepentingan itu, tentu akan membingungkan mereka.
"Kila langsung akan menawan sepasang pengantin itu. Terutama pengantin perempuannya, agar perlawanan pengiringnya segera dapat kita patahkan. Dengan tidak banyak korban, mereka kita paksa memberikan semua perhiasan. Jika mereka menolak, kita dapat mengancam untuk membinasakan pengantin perempuan itu," berkata Ki Bajang Garing.
"Tetapi menangkap pengantin perempuan dari Tanah Perdikan Menoreh itu bukan kerja yang mudah. Jika pengantin perempuan itu bukan anak perempuan Ki Gede Menoreh, maka rencana itu akan berjalan dengan lancar. Tetapi jika mencoba melakukannya atas anak perempuan pemimpin Tanah Perdikan Menoreh itu, kita harus memperhitungkan kemungkinan sebaik-baiknya," desis Gandu Demung,
Yang lain mengerutkan keningnya. Tetapi mereka pun mengangguk-angguk ketika mereka menyadari, bahwa pengantin perempuannya adalah Pandan Wangi. Telah tersebar kabar sampai ke tempat yang jauh, bahwa anak perempuan Ki Gede Menoreh adalah seorang yang terbiasa membawa sepasang pedang di kedua lambungnya.
Namun demikian Gandu Demung berkata seterusnya, "Tetapi kita dapat mencobanya. Sudah tentu orang-orang yang paling kuat di antara kita akan melakukannya. Sebab sepasang pengantin itu adalah sepasang pengawal yang kuat bagi diri mereka sendiri."
Dengan demikian, maka orang-orang itu pun menyadari, bahwa tugas yang akan mereka lakukan bukan tugas yang ringan. Tetapi menilik pengamatan mereka atas iring-iringan yang berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh, maka setidak-tidaknya mereka akan dapat merampas dua puluh lima pendok keris yang terbuat dari emas. Dua puluh lima pasang ikat pinggang dengan timang tretes permata.
"Bukan pekerjaan yang sia-sia. Sepasang pengantin itu tentu akan membawa perhiasan yang paling mahal. Meskipun harus dibagi-bagi, namun agaknya sisanya masih dapat memberikan sejumlah simpanan bagi setiap kelompok," berkata Ki Bajang Garang di dalam hatinya. Namun di samping harapan-harapan itu, ia pun mulai menilai kekuatan yang ada padanya. Sudah tentu ia tidak akan dapat membawa dua puluh orang dari tataran tertinggi di dalam kelompoknya, karena jumlah itu tidak akan dapat dicapainya. Separo dari mereka adalah orang-orang dari tataran kedua. Namun menurut pertimbangan Ki Bajang Garing, tentu cukup memadai.
Ternyata bukan saja Ki Bajang Garing yang diganggu oleh keadaan yang serupa. Saudara-saudara Gandu Demung pun sedang menghitung-hitung di dalam hati, siapa sajakah yang akan dapat dibawanya untuk memenuhi jumlah yang dua puluh itu. Seperti Ki Bajang Garing, maka hampir separo dari yang dua puluh itu adalah orang-orang dari tataran kedua pula. Demikian pula kelompok dari Hutan Pengarang.
Namun demikian, jumlah orang-orang yang paling baik dari ketiga kelompok itu sudah melampaui jumlah mereka yang mengawal pengantin itu dari Sangkal Putung. Selebihnya, orang-orang yang paling kuat dari ketiga kelompok itu jumlahnya lebih dari sepuluh orang. Di dalam kelompok Gandu Demung ada dua orang saudara Gandu Demung yang memiliki kelebihan di samping Gandu Demung sendiri. Agaknya raksasa yang berkepala botak itu pun dapat diandalkan. Sedangkan di dalam lingkungan Ki Bajang Garing ada sepasang kakak-beradik yang memiliki ilmu yang sulit dicari bandingnya, selain Ki Bajang Garing sendiri. Kakak-beradik yang sering disebut sepasang Srigunting dari Pesisir Utara itu memiliki kemampuan berkelahi seperti seekor Srigunting. Mereka dapat bergerak dengan kecepatan yang tidak terduga sebelumnya. Sedangkan seorang yang lain lagi, seorang yasg bertubuh sekasar batu padas. Berwajah penuh dengan cacat badaniah karena goresan-goresan semata dan bekas luka api, karena pada suatu saat ia pernah jatuh ke tangan sekelompok orang yang mendendamnya. Tetapi dalam keadaan luka parah ia berhasil melarikan diri dari tangan lawan-lawannya itu. Namun seperti wajahnya yang cacat karena siksaan yang berat, maka hatinya pun menjadi cacat pula oleh dendam dan kebencian. Dengan hati yang membara ia akhirnya menguasai ilmu yang dapat dipergunakannya untuk melepaskan dendam yang membara di hatinya itu. Bukan saja kepada orang-orang yang telah membuatnya cacat, tetapi kepada siapa pun juga yang dikehendakinya.
Sedangkan orang-orang dari Alas Pengarang, adalah orang-orang yang kadang-kadang disebut berilmu iblis. Mereka terbiasa melawan kerasnya alam di hutan yang meskipun tidak terlampau luas tetapi cukup buas dan liar. Bahkan beberapa orang berpendapat bahwa di dalam hutan itu masih dihuni berbagai macam jenis jin, peri, dan hantu-hantu yang lain, yang tersusun dalam satu jalur pemerintahan yang rapi. Namun ternyata bahwa kelompok yang ada di Hutan Pengarang itu mampu menguasai mereka dan bahkan menjadikan mereka sebagai sumber kekuatan. Bahkan Kiai Kalang Wedung sendiri kadang-kadang dikenal sebagai seorang yang memiliki kekebalan. Sedang seorang pengawalnya yang paling dipercaya, seolah-olah mampu melenyapkan diri dari tangkapan mata wadag. Orang ketiga dari Alas Pengarang itu adalah seorang yang sudah berambut putih. Namun ia masih mampu bertempur seganas serigala lapar.
Demikianlah maka mereka pun dengan hati-hati, agar tidak mengganggu pasukan Empu Pinang Aring yang berada di kaki Gunung Tidar, telah mempersiapkan dirinya. Ketiga kelompok itu masih mempunyai waktu lebih dari lima hari untuk berkumpul dan membawa mereka ke ujung hutan di tlatah Jati Anom. Pada suatu malam, menjelang saat iring-iringan pengantin dari Sangkal Putung itu lewat, mereka akan bergeser ke hutan di sebelah Barat kademangan itu.
Tetapi mereka pun menyadari, bahwa mereka tidak dapat bermain-main dengan Untara dari Jati Anom. Itulah sebabnya, maka mereka telah bersepakat, bahwa enam puluh orang itu harus datang ke tempat yang sudah ditentukan dalam waktu dua hari berturut-turut. Mereka harus melalui jalan-jalan yang penuh dengan pengawasan disegala daerah itu tidak lebih dari tiga orang di dalam setiap kelompok. Itu pun mereka harus mengatur jarak yang cukup panjang dari setiap kelompok. Bahkan mereka harus menempuh jalan yang berbeda-beda sehingga dengan demikian mereka akan memperkecil kecurigaan orang yang melihatnya.
Sementara orang-orang dari sekitar Gunung Tidar itu berpacu sambil membicarakan rencana mereka, maka iring-iringan yang menuju ke Tanah Perdikan Menoreh pun bergerak pula mendekati Kali Praga. Nampaknya mereka memang tidak terlalu tergesa-gesa. Mereka tidak berpacu secepat orang-orang yang sedang menuju ke daerah sekitar Gunung Tidar, dan yang akan segera berkumpul lagi bersama orang-orang mereka di Alas Pengarang untuk memberikan pesan dan petunjuk-petunjuk kepada setiap orang dari mereka yang akan ikut serta pergi ke Sangkal Putung.
Ternyata bahwa iring-iringan yang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh itu sama sekali tidak mendapat gangguan apa pun di sepanjang jalan di tlatah Mataram, sehingga mereka pun kemudian berhenti di tepian Kali Praga yang luas.
"Kami akan kembali," berkata salah seorang dari empat orang pengawal yang mengikuti mereka dari Mataram. "Agaknya iring-iringan ini tidak akan mendapat gangguan di sepanjang jalan. Tidak di daerah Mataram dan tentu tidak pula di tlatah Tanah Perdikan Menoreh."
"Mudah-mudahan," jawab Ki Demang. "Kami mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan hati. Sekali lagi aku pesan agar disampaikan kepada Ki Lurah Branjangan, ucapan terima kasih kami. Pada saat kami kembali ke Sangkal Putung, kami juga akan lewat jalan ini. Seperti yang kami lakukan saat kami berangkat, kami akan mohon kesempatan untuk bermalam."
"Tentu, bukankah Ki Lurah sudah mengetahuinya."
"Ya. Aku sudah mohon agar kami kelak diijinkan singgah."
"Tentu kami tidak akan berkeberatan."
Sejenak kemudian mereka pun berpisah. Iring-iringan itu melanjutkan perjalanan mereka ke Tanah Perdikan Menoreh, sementara keempat pengawal dari Mataram itu kembali setelah mereka yakin, bahwa iring-iringan itu tidak mengalami gangguan apa pun sampai mereka mencapai tepian Kali Praga.
Iring-iringan itu ternyata telah mempergunakan beberapa getek untuk menyeberang dengan kuda-kuda mereka. Untunglah bahwa Kali Praga tidak sedang banjir, sehingga mereka tidak perlu cemas dalam penyeberangan itu.
Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang pernah mengalami kesulitan karena tingkah laku beberapa orang yang mengaku tukang satang, menjadi sangat berhati-hati. Mungkin ada sesuatu yang dapat membuat perjalanan mereka mengalami hambatan yang dapat membahayakan.
Tetapi bahwa di dalam penyeberangan Kali Praga itu pun tidak terdapat gangguan apa pun juga. Tukang-tukang satang yang membawa mereka pun menyeberang bersama kuda-kuda mereka dengan beberapa buah getek, adalah benar-benar tukang satang, yang mengharapkan dapat upah dari pekerjaannya.
Namun demikian karena Kiai Gringsing tidak secara kebetulan berada pada getek yang penyatangnya pernah dikenal, maka ia justru mendapat kesempatan untuk berbicara dengan mereka.
"Jadi peristiwa itu tidak pernah terjadi lagi?" bertanya Kiai Gringsing.
"Tidak, Ki Sanak. Sejak ada beberapa orang penumpang yang mampu melawan dan membunuh orang-orang yang ganas itu, tidak pernah terjadi gangguan lagi di penyeberangan ini. Sebenarnyalah gangguan semacam itu membuat beberapa keluarga menjadi pahit. Bukan saja beberapa orang karena setiap orang di antara kami mempunyai anak isteri di rumah. Jika kami tidak berani turun ke sungai apa pun alasannya, itu berarti kami tidak mendapat nafkah."
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi agar tidak menumbuhkan kecurigaan ia pun bertanya, "Apakah kalian tidak membuka daerah persawahan?"
"Kami sudah mempunyai sebidang tanah bagi kami masing-masing. Tetapi sebagaimana kau ketahui, letak tanah persawahan di sini agak lebih tinggi dari permukaan air Kali Praga, sehingga kami masih belum dapat mengairi sawah kami di musim kering. Di musim basah, apabila hujan turun, kami sempat menyelenggarakan sawah kami. Kami mendapatkan hasil panenan sekali saja dalam setahun."
Kiai Gringsing masih saja mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi tentang orang-orang yang pernah mengacaukan daerah penyeberangan ini. Namun agaknya hal seperti itu tidak terulang lagi.
Demikian iring-iringan itu berada di tepian di sebelah Barat sungai, maka mereka pun segera mengatur diri dalam kelompok masing-masing dan meneruskan perjalanan menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.
Namun, penglihatan yang tajam dari orang-orang Sangkal Putung segera menangkap, bahwa sebenarnyalah Tanah Perdikan Menoreh berada pada puncak kesiagaan.
Sambil tersenyum Kiai Gringsing bergumam kepada orang yang berada di sampingnya, "Perjalanan kita sampai saat ini ternyata tidak mengalami gangguan apa pun juga, sementara itu kita merasa semakin tenang jika kita melihat kesiagaan Tanah Perdikan Menoreh."
Orang tua bekas prajurit yang di samping Kiai Gringsing itu tersenyum. Jawabnya, "Tanah Perdikan ini adalah tanah yang subur. Tetapi agaknya sudah terlampau padat."
"Kenapa?" kawannya bertanya.
"Kau lihat, berapa banyaknya orang yang berada di sawah menurut ukuran kami, menurut ukuran cara kerja orang-orang Sangkal Putung. Kita melihat mereka yang sedang membersihkan rerumputan liar, yang tumbuh tidak dikehendaki di antara batang padi. Yang lain sedang namping pematang meskipun padi sudah tumbuh cukup tinggi. Sementara itu, di gubug-gubug pun satu dua orang laki-laki duduk seolah-olah sedang menunggui burung meskipun padi belum berbuah."
Yang mendengarnya tersenyum pula. Bahkan Kiai Gringsing tertawa sambil menyahut, "Alangkah suburnya tanah ini. Tetapi juga merupakan daerah yang tenteram karena kesiagaannya yang tinggi."
Demikianlah iring-iringan itu berjalan terus memasuki Tanah Perdikan Menoreh. Beberapa orang yang berada di sawah bukan saja karena mereka sedang mengerjakan sawah itu, tetapi semata-mata karena tugas mereka sebagai pengawal yang bertugas mengamati dengan sandi perjalanan iring-iringan itu agar tidak menimbulkan kegelisahan dan juga mungkin sekali akan dapat menjebak orang-orang yang berniat buruk, mengawasi iring-iringan itu sambil tersenyum-senyum pula.
Namun sama sekali tidak terkilas dugaan para pengawal yang siap melakukan tugasnya meskipun mereka sedang berada di dalam lumpur yang basah itu, bahwa persiapan yang matang sedang dilakukan oleh tiga buah kelompok yang termasuk paling kuat di sekitar Gunung Tidar. Kelompok-kelompok yang kadang-kadang menjangkau daerah yang cukup jauh untuk merampas dan menyamun.
Apalagi perhitungan bahwa orang-orang itu justru akan merampok iring-iringan pengantin pada saat mereka telah memasuki Kademangan Sangkal Putung itu sendiri.
Sementara itu, selagi iring-iringan itu berjalan menuju ke Tanah Perdikan Menoreh, maka di padukuhan induk Tanah Perdikan itu, orang telah sibuk menyediakan segala sesuatu bagi para tamu yang menurut pembicaraan di antara mereka, akan datang pada hari itu. Pendapa rumah Ki Gede Menoreh telah siap dibentangi tikar pandan sepenuh pendapa itu sendiri. Tiga buah rumah yang cukup besar dan memadai telah dipinjam oleh Ki Gede Menoreh untuk tempat menginap para pengiring dan bakal pengantin laki-laki dari Sangkal Putung itu.
Sementara itu Ki Waskita yang telah menjemput isteri dan anaknya sudah berada di Tanah Perdikan Menoreh pula. Ia pun ikut sibuk mengatur segala persiapan yang diperlukan bagi iring-iringan yang akan datang dari Sangkal Putung itu.
Namun dalam pada itu, ketika ada waktu senggang baginya, Ki Waskita menyisih sendiri dalam gandok. Sejenak ia mencoba melihat ke dalam dunia isyaratnya, karena ia merasa selalu gelisah menghadapi hari-hari perkawinan Swandaru justru karena penglihatan yang pernah menyentuh mata batinnya.
Tetapi yang dilihatnya sama sekali tidak berubah. Warna-warna buram di seberang hari-hari perkawinan Swandaru.
"O," desahnya, "apakah benar-benar akan terjadi sesuatu atas keluarga yang besok lusa akan mulai dengan sebuah perjalanan hidup bersama itu?"
Dari kecemasan itu ternyata telah mencengkam demikian dalamnya, sehingga Ki Waskita itu menggigil karenanya. Badannya terasa seperti seseorang yang sedang sakit berhari-hari.
Bahkan Ki Waskita yang seakan-akan telah kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri itu, mencoba melihatnya sampai dua tiga kali. Tetapi yang dilihatnya sama sekali tidak berubah. Yang dilihatnya tidak mau menyesuaikan diri dengan keinginannya.
Ki Waskita menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan kemudian hampir diluar kehendaknya sendiri, ia pun telah mencoba melihat apa yang akan ditemui Agung Sedayu di dalam perjalanan hidupnya pula.
Namun, yang dilihatnya telah menambah kegelisahannya. Juga pada Agung Sedayu ia melihat warna-warna yang buram.
"Apakah yang sebenarnya akan terjadi?" Ki Waskita bertanya kepada diri sediri. Sejenak ia merasa dirinya terlampau bodoh, bahwa yang dapat dilihatnya hanyalah sekedar isyarat. Ia pernah mendengar orang lain dapat melihat pada bagian-bagian yang lebih kecil, bahkan pada peristiwa dan kejadian.
"Alangkah bodohnya aku," desisnya. Namun kemudian ia menyesal atas kekecewaannya itu. Yang dapat dilakukannya adalah suatu kurnia yang melampaui kurnia Yang Maha Tahu kepada orang lain. Orang lain sama sekali tidak dapat melihat apa pun juga di hari mendatang.
"Betapa tamaknya aku," desisnya.
Namun dalam pada itu, hatinya masih saja dicengkam oleh kegelisahan, meskipun kemudian ia berusaha dengan sepenuh. hati untuk melenyapkan segala macam kesan dari kekecewaan, kecemasan dan bahkan ketakutannya memahami penglihatannya atas isyarat itu.
Dalam pada itu, Tanah Perdikan Menoreh menjadi semakin sibuk. Halaman rumah Ki Gede telah dihiasi dengan janur kuning, di semua sudutnya. Pintu gerbangnya nampak seakan-akan menjadi cerah, secerah wajah-wajah yang sedang sibuk di halaman rumah itu, selain beberapa orang yang justru menjadi sangat berhati-hati menanggapi keadaan.
Tetapi sama sekali tidak ada laporan, bahwa nampak kegiatan yang mencurigakan di tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Sedangkan, pengawasan pada jalan-jalan masuk di perbatasan ditingkatkan pula.
Karena itu, maka para pengawal di Tanah Perdikan Menoreh menganggap, bahwa memang tidak akan ada kesulitan apa pun juga pada saat perkawinan itu berlangsung nanti.
Meskipun demikian, seperti pesan Ki Gede, para pengawal sama sekali tidak boleh lengah karenanya. Mungkin orang-orang yang berniat jahat, sengaja menunggu sampai orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh itu menjadi lengah. Mereka dapat dengan tiba-tiba saja muncul dan dengan tiba-tiba pula menghilang.
Dalam pada itu, iring-iringan dari Sangkal Putung menjadi semakin dekat dengan padukuhan induk. Bahkan ketika iring-iringan itu nampak di ujung bulak panjang, para pengawal melaporkannya kepada Ki Gede, bahwa iring-iringan dari Sangkal Putung telah datang.
"Sokurlah," desis Ki Gede, "mereka datang tepat seperti yang mereka katakan. Agaknya memang tidak ada gangguan suatu apa di perjalanan."
Mereka yang bertugas menerima para tamu dari Sangkal Putung pun segera bersiap. Sampai masalah yang kecil pun telah dipersiapkan pula. Para penerima tamu itu sudah menyediakan tempat-tempat khusus untuk menempatkan kuda para tamu yang bakal datang.
Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu sudah berada di mulut lorong, yang memasuki padukuhan induk. Seperti yang sudah ditentukan, bahwa mereka akan bergabung menjadi satu iring-iringan yang besar jika mereka memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh itu. Karena itu maka Agung Sedayu pun telah berhenti sejenak, menunggu kelompok-kelompok berikutnya di dalam iring-iringan mereka.
Baru setelah semuanya berkumpul. Agung Sedayu membawa seluruh iring-iringan memasuki lorong yang langsung menuju ke rumah Ki Gede Menoreh.
Para pengawal yang berada di gardu di ujung lorong pun menyambut kehadiran iring-iringan itu bersama-sama dengan orang-orang di sebelah-menyebelah jalan. Mereka meninggalkan pekerjaan mereka dan berlari-lari melihat bakal pengantin yang besok akan diselenggarakan di rumah Ki Gede Menoreh. Anak laki-laki Demang Sangkal Putung yang akan kawin dengan satu-satunya anak perempuan Ki Gede Menoreh.
Karena itulah maka sambutan dari orang-orang Tanah. Perdikan Menoreh pun ternyata sangat membesarkan hati setiap orang di dalam iring-iringan itu.
Bahkan ketika iring-iringan itu mendekati pintu gerbang halaman rumah Ki Gede Menoreh, rasa-rasanya kaki Swandaru menjadi bergetar. Ternyata bahwa hari-hari yang ditunggunya itu akhirnya sampai pula di ambang pintu. Jika ia selamat sampai ke Tanah Perdikan Menoreh, dan memasuki halaman rumah Ki Argapati, maka itu akan berarti bahwa tidak akan ada lagi kekuatan yang dapat mencegah berlangsungnya perkawinannya dengan Pandan Wangi, anak perempuan Ki Gede Menoreh.
Demikianlah maka akhirnya iring-iringan itu pun kemudian memasuki halaman rumah Ki Gede Menoreh yang luas, yang nampak menjadi cerah dengan hiasan janur kuning dan dedaunan yang beraneka warna.
Dengan hati yang berdebar-debar, Ki Gede Menoreh menyambut tamu-tamunya disertai orang-orang tua dari Tanah Perdikan Menoreh dan Ki Waskita. Betapa pun suramnya hati Ki Waskita, namun di wajahnya nampak senyum yang cerah, seperti cerahnya wajah-wajah yang lain, yang sama sekali tidak melihat isyarat apa pun juga bagi saat-saat mendatang.
Ki Demang yang berada di paling depan setelah mereka turun dari punggung kuda, menerima salam Ki Gede Menoreh dan langsung dipersilahkan naik ke pendapa, sementara orang-orang yang telah ditentukan menerima kendali kuda setiap orang dalam iring-iringan itu dan membawanya ke tempat yang sudah disediakan.
Tidak semua orang di dalam iring-iringan dari Sangkal Putung itu naik ke pendapa. Para pengawal-pengawal muda, segera dibawa ke tempat peristirahatan yang sudah disediakan, di rumah seorang tetangga yang cukup luas dan tidak begitu jauh dari rumah Ki Gede, sementara Ki Demang dan orang-orang tua yang lain, dipersilahkan naik ke pendapa, sedangkan Swandaru dan Agung Sedayu, diiringi oleh beberapa orang pengawal ditempatkan di rumah yang telah tersedia pula.
Tidak banyak yang dibicarakan di pendapa. Ki Gede Menoreh, Ki Waskita dan orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh hanya sekedar mengucapkan selamat datang. Mereka sama sekali tidak membicarakan tentang perelatan yang sedang diselenggarakan di Tanah Perdikan Menoreh karena agaknya mereka masih lelah.
Karena itu, maka sejenak kemudian mereka pun segera diantar ke tempat peristirahatan yang sudah disediakan bagi mereka. Ki Demang dan Kiai Gringsing berada di dalam satu rumah dengan Swandaru. Sedangkan Agung Sedayu yang seharusnya berada di antara para pengawal telah diminta oleh Swandaru untuk mengawaninya. Ki Sumangkar-lah yang kemudian menggantikan kedudukan Agung Sedayu, berada dan mengawasi para pengawal-pengawal muda dari Sangkal Putung.
Karena Sekar Mirah adalah satu-satunya perempuan dalam iring-iringan dari Sangkal Putung itu, maka ia mendapat tempat tersendiri pula. Atas permintaan Pandan Wangi, ia berada di rumah Ki Gede Menoreh.
Orang-orang dari Sangkal Putung itu ternyata sempat beristirahat dengan tenang. Seperti di Mataram, mereka tidak cemas, bahwa tiba-tiba saja mereka telah disergap. Meskipun mereka sadar, bahwa dengan demikian bukan berarti bahwa mereka boleh lengah. Bahkan mereka pun kadang-kadang diganggu pula oleh dugaan, bahwa setelah mereka berkumpul di Tanah Perdikan Menoreh, pada saat perelatan berlangsung, maka segerombolan orang yang menyebut dirinya sedang mengumpulkan dana bagi sebuah perjuangan yang besar akan datang memeras mereka dan merampok semua harta dan benda yang ada.
Karena itu, maka dalam bilik-bilik peristirahatan, para pengawal itu telah menggantungkan senjata-senjata mereka dekat pada tempat pembaringan masing-masing, yang jika setiap saat diperlukan, mereka akan dengan mudah menjangkaunya.
Dalam pada itu, Ki Waskita yang tidak dapat menahan gejolak perasaannya, seakan-akan di luar sadarnya telah pergi menemui Ki Sumangkar yang berada di tempat yang terpisah dari Kiai Gringsing. Untuk mengurangi beban yang seakan-akan terlampau berat membebani hatinya, maka sekali lagi ia menyatakan betapa perasaannya terganggu oleh isyarat yang berbeda dengan keinginannya atas Swandaru dan bahkan Agung Sedayu.
"Bukankah aku pernah mengatakannya, Kiai," desis Ki Waskita, "dan kini agaknya aku masih selalu diganggu oleh perasaan itu."
"Ki Waskita," berkata Ki Sumangkar, "memang kita kadang-kadang dicemaskan oleh peristiwa dan kejadian yang terjadi di luar kemauan dan keinginan kita. Tetapi kita harus mengembalikan semuanya itu kepada sumber dari segala-galanya ini."
"Aku kira itu satu-satunya jalan yang dapat kita lalui. Namun aku masih ingin mengetahui, apakah ada jalan yang paling baik bagi Angger Swandaru dan Angger Agung Sedayu, yang dapat mengurangi warna-warna buram di masa depannya itu."
Ki Sumangkar hanya menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa ia pun menjadi gelisah. Memang ia pernah mendengar hal itu dari Ki Waskita, dan hal itu memang sangat menggelisahkan. Tetapi agaknya kini Ki Waskita telah mengulangi penglihatannya itu, dan kegelisahan yang lebih besar telah mencengkam hatinya, justru semakin dekat saat-saat perkawinan Swandaru dengan Pandan Wangi.
Tetapi keduanya tidak memperbincangkannya lebih panjang. Bahkan mereka seolah-olah tidak sedang berada di dalam kegelisahan apa pun juga. Sebab jika hal itu diketahui oleh orang lain, maka tentu akan menimbulkan persoalan yang jauh lebih besar dari kegelisahan orang-orang tua yang sudah dapat mengendapkan perasaannya itu.
Demikianlah maka Ki Waskita pun kemudian telah mencoba menceriterakan hal yang lain yang tidak menambah beban di dalam hatinya. Sambil menikmati hidangan yang disuguhkan kepada mereka yang baru datang dari Sangkal Putung, maka pembicaraan pun berlangsung dengan asyiknya, setelah beberapa orang pengawal ikut pula dalam pembicaraan itu. Namun yang mereka bicarakan adalah, persoalan-persoalan sehari-hari yang kadang-kadang justru meledakkan tertawa yang riuh.
Dalam pada itu, para pelayan menjadi sibuk mengantarkan hidangan ke rumah-rumah yang dipergunakan untuk beristirahat orang-orang yang datang dari Sangkal Putung. Mereka menyediakan makan dan minum secukupnya. Hanya orang-orang tua sajalah yang dipersilahkan hadir di pendapa untuk makan bersama orang-orang tua dari Tanah Perdikan Menoreh.
Sekali-kali, selagi mereka makan, tersinggung pula persoalan yang akan menyangkut perelatan pengantin yang akan diselenggarakan. Namun Ki Gede Menoreh dengan sengaja tidak membicarakan dengan sungguh-sungguh, karena ia telah meminta Ki Demang dan orang-orang tua dari Sangkal Putung untuk membicarakan malam nanti, setelah mereka beristirahat dan sudah bersiap-siap seperlunya.
Karena itulah, maka masalah-masalah yang disinggung di saat mereka makan, tidak berkembang selanjutnya.
Sementara itu, Pandan Wangi merasa mendapat seorang teman yang sepadan dengan kehadiran Sekar Mirah. Meskipun di antara mereka terdapat beberapa perbedaan sikap dan pandangan hidup, namun dalam saat-saat seperti itu, keduanya segera saling menyesuaikan diri.
"Aku selama ini rasa-rasanya justru menjadi kesepian," desis Pandan Wangi. "Aku sama sekali tidak boleh meninggalkan halaman rumah ini. Bahkan setiap kali aku keluar rumah dan turun ke halaman, ayah selalu memanggilku dan menyuruhku masuk. Aku hampir menjadi jemu karenanya."
"Kakang Swandaru juga selalu mengeluh," sahut Sekar Mirah, "meskipun Kakang Swandaru seorang laki-laki, tetapi menurut orang-orang tua, ia pun tidak boleh meninggalkan halaman rumah. Dengan kesal setiap hari ia hanya mondar-mandir mengelilingi rumah kami."
Pandan Wangi tersenyum. "Tetapi yang paling mengesalkan," berkata Sekar Mirah kemudian, "adalah hari-hari yang tersisa menjadi semakin panjang. Aku pun merasa pula, seolah-olah matahari menjadi semakin lamban dan bahkan berhenti untuk beberapa lamanya di tengah hari."
Pandan Wangi mengangguk-angguk. Ternyata bahwa di Sangkal Putung pun, hari seakan-akan menjadi bertambah panjang. Bahkan bukan saja yang dirasakan oleh Swandaru. Tetapi juga Sekar Mirah.
Dalam pada itu, di rumah Ki Gede Menoreh itu pun kesibukan menjadi semakin meningkat. Dapur yang sudah diperluas dengan serambi yang dibangun hanya untuk sementara perelatan itu berlangsung, ternyata masih juga terasa terlampau sempit. Beberapa orang perempuan hilir-mudik dengan tergesa-gesa, seakan-akan dikejar oleh waktu yang menjadi semakin sempit pula, sedangkan kerja yang harus mereka kerjakan masih terlampau banyak.
Ketika kemudian malam tiba di atas Tanah Perdikan Menoreh, maka mulailah orang-orang tua dari Tanah Perdikan Menoreh berkumpul untuk menemui orang-orang tua dari Sangkal Putung.
Setelah mereka minum beberapa teguk, maka mulailah mereka mengulangi semua pembicaraan yang pernah mereka sepakati bersama. Baik dalam pembicaraan langsung, maupun dalam pembicaraan melalui pesan-pesan yang dibawa oleh utusan dari Sangkal Putung dan sebaliknya.
"Tidak ada yang perlu dipersoalkan lagi," berkata Ki Gede kemudian. "Ternyata semuanya tetap seperti yang pernah direncanakan. Setelah malam ini Angger Swandaru beristirahat, maka besok malam, upacara pendahuluan dari perkawinan itu akan dilakukan. Pengantin perempuan akan dimandikan, dan upacara midadareni akan berlangsung. Malam lusa maka kedua pengantin akan dipersandingkan."
Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-angguk. Ia tidak dapat ikut menentukan acara yang akan berlangsung di tempat pengantin perempuan itu. Tetapi memang demikianlah kebiasaan yang berlaku. Di malam menjelang pengantin dipertemukan, telah berlangsung upacara khusus di rumah pengantin perempuan. Tetapi dalam pada itu, di Sangkal Putung pun diadakan juga sekedar upacara. Orang-orang tua berjaga-jaga sampai hampir pagi sambil memanjatkan doa, agar di hari berikutnya, perelatan perkawinan dapat berlangsung dengan selamat.
Selagi di pendapa berlangsung pembicaraan yang asyik tentang perelatan yang sedang berlangsung itu, di ruang dalam Pandan Wangi duduk berdua saja dengan Sekar Mirah. Agaknya mereka pun sedang asyik berbincang, sehingga mereka tidak menghiraukan orang-orang yang berjalan kian-kemari dalam kuwajiban masing-masing. Bahkan di ruang itu pula, beberapa orang perempuan sedang sibuk membuat kelengkapan perelatan dari daun-daun pisang, sedang di bagian lain, beberapa orang sibuk mengisi ancak dengan sesajian.
Seorang perempuan tua agaknya masih terlampau yakin, bahwa dengan sesajian yang memadai, maka perelatan itu akan berlangsung dengan selamat. Namun para pengawal di Tanah Perdikan Menoreh menganggap bahwa dengan meningkatkan kewaspadaan, maka keselamatan perelatan itu akan dapat dijaga.
"Mereka menempuh cara pada jalur mereka masing-masing," berkata Pandan Wangi ketika ia melihat Sekar Mirah memperhatikan beberapa ancak yang sudah terisi.
"O," Sekar Mirah mengangguk, "mereka telah melakukan apa yang dapat mereka lakukan. Tentu saja dengan maksud, agar perkawinanmu selamat."
Pandan Wangi tersenyum. Sambil mengangguk-angguk kecil ia memperhatikan orang-orang yang sedang sibuk pada kerja masing-masing.
Dalam pada itu, di lembah Gunung Tidar, Empu Pinang Aring pun sedang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan wajah yang berkerut-merut ia berkata, "Jadi menurut laporan itu, Gandu Demung akan melakukan pengambilan dana perjuangan itu justru di Sangkal Putung ketika sepasang pengantin itu dalam perjalanan pulang."
Panganti menarik nafas. Sambil tersenyum seperti yang selalu membayang di bibirnya, ia berkata, "Pandai juga anak itu mengatur cara penyergapan. Semula aku tidak yakin bahwa ia akan dapat berhasil. Namun agaknya yang akan dilakukan itu sama sekali tidak diduga oleh orang-orang Sangkal Putung sendiri."
"Ia berhasil membawa enam puluh orang," sahut Empu Pinang Aring.
"Jumlah yang cukup besar. Mudah-mudahan ia berhasil."
Empu Pinang Aring mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Kirimlah dua atau tiga orang untuk mengawasi apa yang terjadi. Jika Gandu Demung gagal, kalian harus yakin, bahwa ia lolos dari tangan orang-orang Sangkal Putung. Tetapi jika ia tertangkap, maka ia harus tertangkap mati. Kau tahu maksudku."
Panganti mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Jika ia tertangkap hidup, itu berarti bahwa ia harus dibunuh."
Empu Pinang Aring tidak menjawab. Bahkan ia berkata tentang persoalan yang sama sekali tidak ada hubungannya, "Baiklah, kita segera mempersiapkan diri. Pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu menjadi semakin dekat. Kita akan segera menerima keputusan terakhir dari Pajang. Sesuai dengan perkembangan keadaan di Pajang itu sendiri, dipertimbangkan dengan kematian Jalawaja dan peristiwa-peristiwa lain. Tetapi utusanku yang berhasil menemui Ki Kalasa Sawit yang sudah berada di lembah itu, setelah ia terusir dari Tambak Wedi mengatakan, bahwa waktunya sudah dekat. Dan kita memang harus segera bersiap-siap."
Panganti dan beberapa orang yang hadir di ruang itu mengangguk-angguk. Namun masih juga terbersit persoalan di hati Panganti. Jika pertemuan itu segera akan berlangsung, itu berarti bahwa yang harus pergi mengawasi Gandu Demung adalah orang lain.
"Tetapi tugas untuk menyelesaikan Gandu Demung jika ia tertangkap hidup di Sangkal Putung adalah tugas yang sangat sulit. Jika kurang hati-hati, maka orang-orang yang menyusul itu pun akan tertangkap pula dan mungkin terbunuh sebelum mereka berhasil membunuh Gandu Demung," gumam Panganti di dalam hatinya. Namun ia masih mempercayai dua pengawalnya yang mempunyai kemampuan melepaskan paser lewat lubang supit dari jarak yang cukup jauh. Ketepatannya membidik menyebabkan keduanya tidak perlu diragukan lagi. Meskipun demikian Panganti masih bertanya kepada diri sendiri, "Tetapi apakah kedua pengawalnya itu akan sempat mendekat, jika halangan itu benar menimpa Gandu Demung."
Meskipun demikian, Panganti harus melakukan tugas yang dibebankan oleh Empu Pinang Aring kepadanya, meskipun ia dapat menunjuk orang lain yang dipercayanya, sehingga tidak harus dirinya sendiri. Apalagi menjelang pembicaraan yang setiap saat dapat terjadi di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Empu Pinang Aring telah menunjuknya untuk ikut di dalam pembicaraan itu jika saatnya telah tiba.
Karena itu, maka Panganti pun kemudian memanggil dua orang kepercayaannya. Dengan jelas ia memberitahukan kepada keduanya apa yang harus mereka lakukan.
"Kalian harus berada di Sangkal Putung pada saat peristiwa itu terjadi. Kalian harus tahu pasti, akhir dari peristiwa itu. Jika Gandu Demung berhasil, kalian harus segera melaporkannya. Tetapi jika Gandu Demung gagal, kau harus tahu akibat dari kegagalan itu. Apakah Gandu Demung itu mati, tertangkap hidup atau berhasil melarikan diri. Jika ia tertangkap hidup, maka adalah tugas kalian untuk menyelesaikan."
Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Tugas yang demikian itu adalah tugas yang paling mereka benci. Membunuh kawan sendiri. Tetapi mereka tidak akan dapat ingkar apabila salah seorang pemimpin mereka, termasuk Gandu Demung sendiri memerintahkannya. Dan perintah yang demikian bukannya perintah yang pertama kali mereka dengar. Hampir setiap petugas selalu diikuti oleh petugas bayangan yang harus membinasakan jika petugas itu gagal dan apalagi tertangkap hidup-hidup oleh pihak lain. Dengan demikian maka rahasia mereka akan tetap tidak terpecahkan.
"Kau harus mempunyai bahan yang cukup tentang peristiwa yang bakal kau hadapi. Perkawinan itu akan berlangsung di Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi Gandu Demung berada di tlatah Sangkal Putung. Kau dapat langsung pergi ke Sangkal Putung dan mendengarkan dari siapa pun juga, kapan pengantin itu akan dibawa kembali. Kau harus menunggu saat itu terjadi dan kemudian mencari keterangan, apakah Gandu Demung berhasil atau tidak. Kau akan mendapat keterangan tentang Gandu Demung sebagai bahan untuk menentukan sikap apakah yang harus kau lakukan. Jika kau harus melakukan tugas yang paling buruk, yaitu membinasakan kawan sendiri, maka tugas itu pun harus kau lakukan dengan tabah."
Keduanya mengangguk-angguk. Tetapi keduanya pun sadar, bahwa mereka tidak akan dapat menyatakan keluhannya kepada Panganti. Mereka tahu benar sifat dan watak Panganti. Ia dapat menyatakan kesedihannya sambil tersenyum. Ia dapat membunuh sambil minta maaf kepada orang terdekat dari korbannya, tanpa memberikan kesan apa pun di wajahnya. Tetapi ia juga dapat menyesal atas kematian seseorang yang dibunuhnya sambil tertawa terbahak-bahak. Bahkan ketika ia menyadari bahwa orang yang dibunuhnya adalah yang sama sekali bukan yang dikehendaki, ia dapat menganggap itu sebagai suatu lelucon yang tidak menimbulkan penyesalan apa pun juga.
Karena itu, perintahnya tentang pembunuhan itu harus diterima tanpa keberatan apa pun. Bagi Panganti, maka setiap orang wajib melakukan tugas seperti dirinya sendiri. Tanpa kesan apa pun melihat darah dan nyawa yang terlepas.
"Berangkatlah agar kalian tidak terlambat. Orang-orang Sangkal Putung mungkin termasuk orang-orang yang kasar dan biadab. Jika mereka menangkap seseorang, maka mungkin sekali mereka akan menyiksa tanpa perikemanusiaan. Karena itu adalah kuwajiban kalian untuk menolong Gandu Demung. Melepaskannya dari malapelaka semacam itu. Kematian adalah kurnia yang tidak ada taranya di saat seseorang jatuh ke tangan lawan yang buas dan liar seperti orang-orang Sangkal Putung menurut pendengaranku. Mereka tidak lebih dari petani-petani yang dungu. Kemenangan kecil semacam itu, jika terjadi mereka anggap sebagai kebanggaan sehingga mereka akan menikmatinya sepuas-puasnya. Menyiksa tanpa mengenal batas," berkata Panganti sambil tersenyum.
Kedua orang itu mengangguk-angguk. Bahkan keduanya juga mencoba tersenyum seperti Panganti.
"Jangan menunggu sampai terlambat. Lebih baik kalian menunggu di sekitar Sangkal Putung. Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan."
"Baik, Ki Panganti," jawab salah seorang dari keduanya, "kami akan melakukan tugas kami sebaik-baiknya."
Panganti menepuk bahu kedua orang itu berganti-ganti. Kemudian tanpa memberikan pesan lagi ia meninggalkan kedua kepercayaannya yang termangu-mangu itu.
Keduanya pun kemudian dengan kesal mempersiapkan diri. Mereka memang pernah melakukan tugas seperti itu. Namun untuk waktu yang lama mereka tidak dapat melupakan wajah kawannya yang membeku karena paser yang mereka lontarkan dari supit yang tepat mengenai urat di leher. Karena paser itu beracun, maka sulit bagi seseorang untuk tetap hidup jika paser itu menyentuh tubuhnya, kecuali jika orang itu dengan cepat mendapatkan obat yang tepat dan tajam.
"Kita akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh," berkata yang seorang.
"Untuk apa?" bertanya yang lain. "Bukankah sudah jelas bahwa Gandu Demung ada di tlatah Sangkal Putung, atau sekitarnya menjelang iring-iringan itu kembali ke Sangkal Putung."
"Kita dapat singgah melihat perelatan itu di Tanah Perdikan Menoreh. Bukankah baru pada hari kelima mereka akan berangkat ke Sangkal Putung" Seperti saat mereka berangkat, yang menurut keterangan yang kita terima, mereka berhenti di Mataram, maka saat kembali pun mereka akan berhenti pula di Mataram untuk bermalam. Dengan demikian, perjalanan mereka bukannya perjalanan yang tergesa-gesa karena mereka tidak usah memikirkan waktu di perjalanan, bahwa mereka akan kemalaman."
Demikianlah maka keduanya pun kemudian meninggalkan Gunung Tidar. Langsung menuju ke Tanah Perdikan Menoreh.
Kawannya mengangguk-angguk. Agaknya menarik juga untuk melihat perelatan itu. Melihat saat pengantin bersanding sebelum melakukan pekerjaan yang menggelisahkan itu.
Ketika mereka berada di tlatah Tanah Perdikan Menoreh, maka Menoreh telah menghias dirinya. Ternyata bahwa kegembiraan tidak saja terjadi dirumah Ki Gede. Tetapi rakyat Tanah Perdikan Menoreh menyambut perkawinan Pandan Wangi dengan kegembiraan yang meluap.
Karena itulah, maka hampir setiap pedukuhan telah menghias pintu gerbang mereka, meskipun hanya sekedar menyangkutkan beberapa pelepah janur kuning dan obor yang melampaui jumlah obor yang biasa mereka pasang. Bahkan ada padukuhan yang menyambut perkawinan itu dengan mengadakan semacam pertunjukkan yang mereka selenggarakan dari antara mereka sendiri.
Terlebih-lebih lagi kegembiraan nampak di rumah Ki Gede Menoreh. Seperti yang direncanakan, maka di malam midadareni, beberapa orang laki-laki dan perempuan berjaga-jaga di rumah Ki Gede Menoreh semalam suntuk. Pandan Wangi telah dimandikan dengan air bunga dan digosok dengan mangir pada seluruh tubuhnya, sehingga kulitnya menjadi semakin kuning. Wajahnya menjadi bagaikan bercahaya memancarkan kecantikan yang hampir tidak nampak dalam keadaannya sehari-hari.
Sekar Mirah yang menunggui gadis yang sedang dirawat sebaik-baiknya oleh orang-orang tua itu tersenyum. Bahkan terbayang di dalam angan-angannya, bahwa pada suatu saat, ia pun akan mengalami perawatan seperti itu.
"Pada suatu saat," tiba-tiba saja wajahnya menjadi suram, "kapankah saat itu tiba?" pertanyaan itu telah mengganggu perasaannya.
Sementara itu, beberapa orang perempuan yang telah selesai meronce bunga bagi Pandan Wangi, kemudian memasuki biliknya dan menyerahkan untaian bunga melati itu kepada mereka yang sedang merawat dan kemudian akan mengenakan pakaian calon pengantin itu.
"Untaian ini akan dipakai malam ini," berkata seorang yang sudah berambut putih, "untuk besok, saat pengantin dipertemukan, akan dironce bunga yang lain. Lebih banyak jenisnya dari untaian yang sekarang akan dipakai."
Pandan Wangi menundukkan kepalanya, sedang Sekar Mirah mengangguk-angguk sambil mencoba tersenyum kembali.
"Untaian ini akan dipakai oleh pengantin laki-laki," berkata orang tua itu sambil menyisihkan beberapa untai bunga, "yang ini akan dipakai pada hulu kerisnya, yang ini adalah kalungnya."
Sekar Mirah mengangguk-angguk.
Dan perempuan itu meneruskan, "Seperti pengantin perempuan, maka bagi pengantin laki-laki pun besok akan dibuat reroncen yang lebih baik. Selain bagi hulu kerisnya dan kalung, juga akan dibuatkan hiasan baju dan disediakan dua buah melati untuk cunduk di bawah ikat kepala, di atas daun telinga."
Sekar Mirah masih saja mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba perempuan itu berkata, "Tetapi siapakah yang akan menyerahka untaian ini kepada pengantin laki-laki."
Tidak ada yang menjawab. Sekar Mirah pun ragu-ragu.
Karena tidak ada yang menjawab, maka orang tua itu kemudian menyuruh seorang pembantunya untuk memanggil siapa yang dapat membawa untaian bunga itu kepada pengantin laki-laki.
"Siapa?" bertanya pembantu perempuan berambut putih itu.
"Siapa saja. Suruhlah seorang dari mereka yang ada di pendapa untuk memanggil siapa pun dari antara para pengiring pengantin laki-laki itu. Pengantin lagi-laki itu malam ini harus juga mengenakan pakaian yang sudah disediakan meskipun bukan pakaian yang akan dipakai besok malam. Tetapi jika ada orang-orang tua yang menengoknya, pengantin itu sudah kelihatan seperti seorang pengantin."
Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tetapi ia mengerti maksud perempuan tua itu. Tetapi karena perempuan yang disuruhnya memanggil seorang dari antara para pengiring pengantin laki-laki itu masih nampak bingung, maka hampir di luar sadarnya ia berkata, "Suruhlah seseorang memanggil Kakang Agung Sedayu. Ia adalah orang terdekat dari Kakang Swandaru."
Pembantu perempuan tua itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian bergeser keluar dari bilik Pandan Wangi yang benar-benar dipenuhi oleh bau wewangian. Kepada seorang anak muda yang dijumpainya berdiri di depan pintu butulan pembantu itu berkata, "Panggillah anak muda yang bernama Agung Sedayu dari antara para pengiring pengantin laki-laki."
"Untuk apa?" bertanya anak muda itu.
"Ia harus mengambil beberapa untai bunga yang akan dikenakan oleh calon pengantin laki-laki malam ini."
"Biarlah bunga itu aku bawa saja ke sana."
"Tidak. Yang mengambil bunga itu di bilik pengantin perempuan adalah salah seorang pengiring pengantin laki-laki."
"Ah, kau ini rewel sekali. Apakah kau sangka bahwa untaian bunga itu akan aku pakai sendiri?"
"Meskipun tidak, tetapi kau tidak boleh melanggar ketentuan tentang bunga itu."
Anak muda itu tidak menjawab. Ia pun kemudian melangkah pergi ke tempat Swandaru beristirahat bersama beberapa orang pengiringnya.
Ternyata bahwa Swandara pun telah mengenakan pakaian yang memang sudah disediakan baginya. Meskipun ia masih nampak gemuk, tetapi wajahnya yang bulat itu menjadi nampak lain dari wajahnya sehari-hari.
Anak muda itu pun kemudian menyampaikan pesan perempuan pembantu orang yang sedang merawat Pandan Wangi, bahwa Agung Sedayu dipanggil ke dalam bilik pengantin perempuan untuk mengambil beberapa untai bunga.
Tanpa berpikir panjang, Agung Sedayu yang sudah berpakaian rapi pun segera melangkah ke rumah Ki Gede dan langsung lewat pintu butulan menuju ke bilik Pandan Wangi. Di ruang tengah ia menjadi ragu-ragu melihat perempuan-perempuan yang sedang sibuk hilir-mudik, sehingga langkahnya terhenti beberapa saat.
Tiba-tiba saja ia melihat Sekar Mirah muncul dari pintu bilik Pandan Wangi. Dengan ragu-ragu pula ia memanggilnya.
Sekar Mirah berpaling. Dilihatnya Agung Sedayu berdiri termangu-mangu. Karena itu, maka ia pun mendekatinya sambil berkata, "Masuklah. Orang tua itu menunggumu. Aku akan pergi ke pakiwan sebentar."
"Di ruangan itu banyak perempuan," desis Agung Sedayu.
"Tidak apa-apa. Mereka tidak akan menangkapmu."
Agung Sedayu tersenyum, tetapi ia masih tetap ragu-ragu. Sehingga Sekar Mirah kemudian mendorongnya sambil berkata, "Cepatlah, kau ditunggu. Jika kau lambat, maka Kakang Swandaru pun akan lambat berpakaian."
"Tetapi bukankah Swandaru tidak akan dibawa ke mari malam ini?"
"Memang tidak. Tetapi jika ada orang-orang tua yang datang menjenguknya di pondokan, maka akan lebih sopan jika ia pun sudah berpakaian lengkap, meskipun bukan pakaian yang akan dipakainya besok."
"Ambillah, aku menunggu di sini," desis Agung Sedayu.
"Ah kau ini. Ambillah sendiri. Aku akan ke pakiwan."
Sekar Mirah tidak menunggu lagi. Ia pun segera meninggalkan Agung Sedayu yang termangu-mangu.
Karena itulah maka Agung Sedayu tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus masuk ke dalam bilik pengantin untuk mengambil untaian melati yang akan dikenakan pada keris Swandaru dan selingkar kalung yang berjuntai sampai ke dadanya.
Sejenak Agung Sedayu membenahi pakaiannya. Ia jarang sekali mengenakan pakaian yang lengkap dan mapan seperti saat itu. Karena itu, maka justru ia merasa seolah-olah terkungkung dalam pakaiannya.
Dengan ragu-ragu Agung Sedayu mendekati pintu bilik Pandan Wangi yang terbuka sedikit. Ketika ada seorang perempuan keluar dari bilik itu maka ia pun berkata, "Aku akan mengambil untaian bunga melati bagi pengantin laki-laki."
"O, silahkan. Masuklah," perempuan itu pun segera membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan Agung Sedayu masuk.
Setapak demi setapak Agung Sedayu mendekati pintu. Ketika ia kemudian berdiri di pintu itu, terasa dadanya berdesir. Di sudut bilik itu ia melihat Pandan Wangi yang sudah hampir selesai berpakaian. Wajahnya nampak bagaikan bercahaya. Sekilas ia melihat mata gadis itu menyambarnya. Namun Agung Sedayu dengan cepat menundukkan kepalanya.
Dalam pada itu, jantung Pandan Wangi pun telah disengat oleh perasaan aneh ketika ia melihat Agung Sedayu muncul di pintu biliknya. Anak muda yang berpakaian rapi itu ternyata mempunyai pengaruh tersendiri di dalam hatinya. Sejak pertama kali ia melihat dua orang saudara seperguruan itu, maka perhatiannya yang pertama-tama adalah melekat pada Agung Sedayu. Namun akhirnya, ia telah menggiring dirinya sendiri untuk melihat kenyataan, bahwa sebenarnyalah Agung Sedayu telah terikat pada seorang gadis. Gadis itu adalah Sekar Mirah adik Swandaru sendiri.
Pandan Wangi pun kemudian menundukkan kepalanya pula. Ia tidak berani lagi memandang wajah Agung Sedayu. Bahkan dengan demikian, seolah-olah keduanya sama sekali tidak saling mengenal.
"Apakah Anak yang bernama Agung Sedayu," seorang perempuan tua tiba-tiba saja bertanya, sehingga Agung Sedayu terkejut karenanya. Dengan tergagap ia menjawab, "Ya, ya Bibi. Aku Agung Sedayu, dari pondok pengantin laki-laki."
"O," perempuan itu mengangguk-angguk, "kemarilah. Inilah untaian bunga melati bagi pengantin laki-laki malam ini. Besok akan disediakan untaian yang lain, yang lebih lengkap."
Agung Sedayu menjadi lebih gelisah ketika ia harus beringsut sambil berjongkok mendekati perempuan berambut putih yang sedang menyelesaikan pekerjaannya, mematut rias Pandan Wangi, yang duduk pada sehelai tikar yang dibentangkan di lantai.
Karena tidak dapat menahan desakan perasaannya, maka sekali lagi Agung Sedayu memandang wajah Pandan Wangi. Tetapi hatinya bergetar ketika saat yang sama Pandan Wangi pun sedang memandanginya.
"Gila," Agung Sedayu menggeram di dalam hati, "apakah yang sedang terjadi atasku sekarang ini?"


04 Api Di Bukit Menoreh Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat berpikir lebih lama lagi, karena perempuan berambut putih itu sudah menjulurkan sebuah nampan berisi untaian bunga melati bagi pengantin laki-laki.
Dengan tanpa mengangkat wajahnya lagi, Agung Sedayu pun kemudian minta diri. Ia beringsut sambil berjongkok sampai dimuka pintu, kemudian dengan tergesa-gesa ia pun melangkah ke luar dan meninggalkan bilik itu.
Di muka pintu butulan ia bertemu dengan Sekar Mirah yang baru saja ke pakiwan. Sambil tersenyum Sekar Mirah berkata, "Nah, bukankah kau masih utuh."
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya ia memandang wajah Sekar Mirah. Dan di luar sadarnya pula, telah tumbuh perbandingan antara kedua gadis yang dikenalnya sebagai gadis-gadis yang tangannya cekatan bermain pedang.
"Kau nampak gelisah sekali," desis Sekar Mirah.
"Tidak. Aku tidak apa-apa."
Sekar Mirah tertawa tertahan. Katanya, "Sekarang pergilah kepada Kakang Swandaru. Ternyata kau dengan selamat telah keluar dari bilik itu."
Agung Sedayu pun mencoba tersenyum pula, meskipun baginya sendiri senyum itu adalah senyum yang sangat hambar.
Di perjalanan ke pondok yang diperuntukkan bagi pengantin laki-laki itu, Agung Sedayu sempat berangan-angan tentang kedua gadis itu.
"Sekar Mirah memang cantik," desis Agung Sedayu di dalam hatinya. Namun ternyata baginya, kedua gadis itu mempunyai perbedaan sifat yang sangat jauh. Sekar Mirah adalah gadis yang keras hati dan terlampau menghargai dirinya sendiri. Keinginannya untuk menampakkan diri dalam kedudukan yang terpandang terasa sekali mempengaruhi cara hidup dan jalan berpikir.
"Sifat yang sama dengan sifat Swandaru," gumam Agung Sedayu di luar sadarnya.
Baginya sifat-sifat Pandan Wangi yang meskipun juga keras hati, tetapi mengandung kelembutan. Jika tangannya tidak sedang menggenggam pedang rangkapnya. Pandan Wangi adalah seorang perempuan yang pantas menjadi seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang, meskipun pada saat-saat tertentu ia adalah seekor macan betina yang berbahaya bagi lawan-lawannya.
"Uh," tiba-tiba Agung Sedayu menggeleng, "benar-benar aku telah keracunan dengan sifat-sifat burukku."
Tiba-tiba saja Agung Sedayu mempercepat langkahnya menuju ke pondok yang disediakan bagi Swandaru sambil membawa sebuah nampan berisi untaian bunga melati yang akan dikenakan di malam midadareni itu.
Namun dalam pada itu, ternyata kehadiran Agung Sedayu di dalam bilik Pandan Wangi telah mempengaruhi perasaannya. Sentuhan pandangan Agung Sedayu seolah-olah telah menyengat jantung. Rasa-rasanya ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.
Namun seperti Agung Sedayu, Pandan Wangi berusaha untuk menindas perasaan yang meledak di dalam hatinya itu. Bahkan dengan sadar ia merasa sedih, bahwa ia tidak dapat luput dari cobaan serupa itu.
"Bukan kemampuan untuk menindas perasaan yang tumbuh," desis Pandan Wangi di dalam hatinya, "tetapi bahwa perasaan itu telah sempat tumbuh meskipun seandainya aku berhasil mendesaknya ke bawah himpitan pertimbangan, namun bahwa perasaan itu pernah ada telah merupakan gejala keburaman hati ini."
Tiba-tiba terasa tubuh Pandan Wangi menjadi gemetar. Keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya, sehingga usapan mangir tumbuhnya yang menjadi semakin kuning itu, menjadi basah.
"O, keringatmu banyak sekali," desis orang tua yang sedang meriasnya.
Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak menjawab.
Perempuan yang meriasnya itu pun meneruskan kata-katanya, "Tapi itu adalah wajar. Setiap pengantin perempuan akan mengalami perasaan seperti yang kau alami sekarang. Gelisah, tetapi juga penuh harap."
Yang mendengarnya tertawa bersahutan. Beberapa orang mencoba menyambung dengan kelakar yang segar seperti kebiasaan mereka di bilik pengantin di tempat-tempat yang lain.
Pandan Wangi pun mengerti. Ia sering ikut pula bergurau seperti itu apabila ia sempat menghadiri malam midadareni. Bergurau hampir semalam suntuk.
Karena itu, betapa pun hatinya terasa kemelut, namun ia tersenyum juga. Dibiarkannya orang tua yang meriasnya mengusap tubuhnya beberapa kali.
"O, tetapi keringat ini terlalu banyak, sehingga mangir di tubuhnya akan dapat larut karenanya."
"Udara terasa panas sekali," Pandan Wangi mencoba menjawab.
"Aku merasa dingin sekali," tiba-tiba seorang gadis sebayanya menyahut.
Suara tertawa telah meledak. Pandan Wangi pun ikut tersenyum pula.
Karena gurau dan kelakar yang kemudian memenuhi ruangan itu, maka Pandan Wangi agak terlupa sedikit akan gejolak di dalam hatinya. Tetapi setiap saat masih juga terasa jantungnya bergetar.
Baru ketika ia selesai berpakaian, dan beberapa orang perempuan meninggalkan biliknya, kembali perasaan itu rasa-rasanya mulai bergetar lagi di hatinya.
"O, alangkah nistanya gadis yang bernama Pandan Wangi ini," berkata Pandan Wangi di dalam hatinya.
(***) BUKU 96 KETIKA PADA suatu saat perempuan yang menungguinya keluar juga sesaat, terasa kesepian telah mencengkam hatinya di dalam keributan persiapan perelatan perkawinannya besok di luar biliknya.
Bahkan dalam kilasan angan-angannya, terbayang wajah ibunya yang cantik, tetapi muram. Sepercik noda telah melekat pada wajah itu, dengan hadirnya dua orang laki laki di dalam hatinya. Laki-laki yang menurunkan seorang anak laki-laki, dan laki-laki yang lain yang telah melahirkan dirinya.
"O," Pandan Wangi tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, "alangkah hinanya. Agaknya hukuman dari Yang Maha Kuasa tidak saja mencengkamnya di saat ia memasuki kehidupan langgeng, tetapi di kehidupan yang wadag ini pun sudah mulai terasa, betapa hatinya tersiksa. Bahkan kedua anak yang lahir dari kedua laki-laki itu pun telah ditakdirkan saling membunuh."
Terasa pelupuk mata Pandan Wangi menjadi semakin panas. Ia mencoba menghindarkan diri dari pengakuan, bahwa ada dua orang laki-laki pula yang sudah hadir di dalam hatinya.
"Tidak," ia mencoba mengelak.
Seorang perempuan yang memasuki bilik Pandan Wangi terkejut melihat sikap gadis itu. Namun perempuan itu pun tersenyum sambil berkata, "Jangan cemas, Pandan Wangi. Jika sesuatu bergejolak di dalam hatimu, itu adalah wajar sekali."
Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Ia merasa bersyukur bahwa orang lain tidak menangkap perasaan yang sebenarnya bergejolak di dalam hatinya. Apalagi ketika perempuan berambut putih yang meriasnya masuk pula ke dalam bilik itu, maka hati Pandan Wangi mulai terhibur lagi dengan kelakarnya yang riang.
Di dalam pondoknya. Swandaru pun telah mengenakan pakaian yang khusus. Bahkan ia telah mengenakan perhiasan yang meskipun belum selengkap yang akan dipakainya di saat ia akan dipersandingkan. Untaian bunga melati yang dibawa oleh Agung Sedayu telah dikenakannya pula. Seuntai di hulu keris, seuntai yang panjang dikenakan di lehernya. Kemudian dua kuntum di atas telinganya sebelah-menyebelah.
Kawan-kawannya, para pengawal dari Sangkal Putung pun sempat pula mengganggunya, seperti gadis-gadis dan perempuan mengganggu Pandan Wangi. Namun Swandaru hanya sempat tertawa saja. Apalagi Swandaru sama sekali tidak diganggu oleh perasaan-perasaan lain seperti yang terjadi pada Pandan Wangi.
Selagi Swandaru dan para pengiringnya bergurau dengan riuhnya, Agung Sedayu yang gelisah berjalan sambil menundukkan kepalanya ke pakiwan. Ternyata berbagai macam perasaan telah bergejolak di dalam hatinya. Bukan saja usahanya menindas gambaran wajah Pandan Wangi yang bagaikan bercahaya, tetapi juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada dirinya jika kelak pada suatu saat ia kawin dengan Sekar Mirah.
"Apa yang dapat aku lakukan jika saat perkawinan itu tiba. Tentu aku tidak akan mampu mematut diri seperti Swandaru, bahkan dengan segala macam persiapan perelatan di Sangkal Putung."
Terbayang di angan-angan Agung Sedayu, kemampuan yang ada pada dirinya dan keluarganya. Saat kakaknya kawin, tidak ada perelatan sebesar yang diselenggarakan oleh Ki Gede Menoreh. Juga sudah tentu tidak sebesar nanti yang akan diselenggarakan di Sangkal Putung. Untara lebih senang hari-hari perkawinannya berlangsung dengan sederhana. Tetapi karena ia adalah seorang senapati besar, maka kesederhanaannya itu justru memberikan kewibawaan padanya. Bukan saja di dalam sorotan para prajurit dan rakyat di sekitarnya, namun sebenarnyalah bahwa Untara adalah seorang senapati yang persaja.
Meskipun demikian, dalam kesederhanaan itu nampak juga keagungan karena jabatannya. Para prajurit bersiaga dengan sepenuhnya. Di sepanjang perjalanan, mau pun di rumah kedua pengantin itu. Di rumah pengantin perempuan dan di rumah Untara sendiri.
Sekarang Swandaru kawin dengan segala macam kebesaran karena kedua orang tua sepasang pengantin itu cukup mempunyai beaya untuk menjadikan hari-hari perkawinan itu menjadi sangat meriah. Selain beaya yang memang sudah tersedia, keduanya adalah anak orang-orang terpenting di kedua tempat asal mereka. Swandaru anak seorang demang yang cukup di Sangkal Putung, sedang Pandan Wangi adalah anak kepala Tanah Perdikan di Menoreh.
"Jika kelak aku kawin," berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, "tentu Kakang Untara tidak akan berniat sama sekali menyelenggarakan perelatan sebesar perelatan yang kini disiapkan di Sangkal Putung saat ngunduh pengantin. Tentu tidak akan diselenggarakan melampaui saat Kakang Untara sendiri kawin. Apalagi aku sudah tidak mempunyai orang tua, sehingga kemampuan yang dapat diberikan oleh Paman dan Bibi adalah kemampuan yang terbatas sekali."
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun persoalan itu mengejarnya lagi. Katanya di dalam hati, "Aku sendiri sebenarnya tidak mempunyai keberatan apa pun juga, seandainya perkawinanku itu sama sekali tidak diramaikan dengan perelatan apa pun juga, apalagi bermacam-macam pertunjukan, aku pun sama sekali tidak menyesal. Tetapi apakah demikian pula Sekar Mirah?"
Kegelisahan itu justru semakin mencengkamnya sehingga jantung Agung Sedayu rasa-rasanya berdentang semakin cepat.
Namun tidak ada yang dapat memberinya petunjuk apa pun juga, karena Agung Sedayu menyimpan kegelisahan itu di dalam hatinya. Ia tidak dapat mengatakannya kepada siapa pun juga. Satu-satunya, keluarganya adalah kakaknya, Untara. Tetapi sudah tentu Untara tidak akan dapat mengerti perasaannya. Dengan tegas Untara akan berkata kepadanya, "Itu tergantung kepadamu. Jika kau memang menghendaki, jadilah. Jika calon isterimu itu berkeberatan, jangan kau hiraukan. Sejak saat perkawinanmu, kau dan isterimu harus saling memaklumi keadaan masing-masing. Jika Sekar Mirah seorang gadis yang baik, ia tidak akan terlampau banyak menuntut apa pun juga yang sulit kau laksanakan."
Tetapi sekilas terbayang di angan-angan Agung Sedayu, sikap Sekar Mirah yang keras dan tinggi hati. Seperti Untara ia pun akan berkata dengan lantang, "Perkawinan kita harus diselenggarakan dengan meriah. Setidak-tidaknya seperti Kakang Swandaru. Baik saat perelatan di Tanah Perdikan Menoreh, mau pun di Sangkal Putung. Kita pun harus merayakan hari-hari perkawinan kita di Sangkal Putung dan di Jati Anom. Bukankah kakakmu seorang perwira muda yang terpandang" Seorang senapati besar yang mempunyai pengaruh yang luas?"
"O," Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Angan-angan itu ternyata membuatnya menjadi sangat gelisah dan cemas.
Dalam pada itu, ketika ia sudah kembali dari pakiwan, dilihatnya Swandaru sedang mengenakan untaian bunga yang dibawanya dari bilik pengantin perempuan. Anak muda yang gemuk itu nampak cukup tampan pula. Sekali-sekali terdengar suara tertawanya jika kawan-kawannya yang mengiringinya mengganggunya.
"Kau pantas mendapat kehormatan yang tinggi Swandaru," berkata seorang kawannya yang ikut serta mengawalnya, "kau pantas disebut seorang tumenggung dengan pakaianmu itu. Untaian bunga melati itu membuatmu semakin nampak berwibawa. Tidak seorang pun yang akan menduga, bahwa kau adalah anak Kademangan Sangkal Putung."
Swandaru tertawa. "Aku kira perkawinanmu melampaui perelatan perkawinan para pemimpin di Demak dan Mataram. Kau lihat, perkawinan Sutawijaya dengan gadis dari Kalinyamat itu" Tidak seorang pun melihat upacara semeriah ini."
"Perkawinan itu berlangsung begitu saja. Bahkan dengan diam-diam," sahut yang lain.
"Tidak. Kanjeng Sultan telah memberikan restunya. Seandainya perkawinan itu diselenggarakan dengan meriah, tidak akan ada kesulitan apa pun lagi," sahut yang mula-mula.
"Kesulitan perasaan," jawab yang lain.
Mereka masih saja berkelakar terus. Kawan-kawan ternyata mengagumi Swandaru dalam pakaian midadareni. Dalam gurau itu, Swandaru bahkan berkata, "Jika sekarang aku seperti seorang tumenggung, maka besok aku tentu seperti seorang pangeran."
Suara tertawa telah meledak. Tetapi suara tertawa itu terputus ketika seorang tua memasuki biliknya sambil berkata, "Angger Swandaru. Jika kau sudah selesai berpakaian, marilah, duduklah di pendapa. Beberapa orang-orang tua dari Tanah Perdikan Menoreh yang belum pernah melihatmu, ingin bertemu barang sebentar. Sedangkan mereka yang telah mengenalmu saat api berkobar membakar ingin melihatmu dalam pakaian yang lain dari pakaian seorang yang hidup dalam asap api peperangan yang menyala di Menoreh ini."
Swandaru mengangguk sambil menjawab, "Baik, Paman. Aku akan segera pergi ke pendapa."
Ketika orang tua itu pergi, maka orang-orang tua dari Sangkal Putung yang melayaninya pun segera mempersiapkan Swandaru dan kemudian membawanya ke pendapa.
Ternyata di pendapa rumah yang disediakan bagi pengantin laki-laki itu sudah ada beberapa orang tua dari Menoreh yang duduk menunggu. Ketika mereka melihat Swandaru, maka mereka pun segera bergeser sambil memandanginya dengan penuh kekaguman.
"Inilah calon menantu Ki Gede," berkata seorang tua yang pernah mengenal Swandaru sebelumnya. Kemudian dengan senyum di bibirnya ia mempersilahkan Swandaru duduk di sebelahnya.
"Hampir setiap orang dari Tanah Perdikan ini telah mengenalnya," berkata orang tua itu, "meskipun ia seorang anak muda dari Sangkal Putung dan saat ini ia baru merupakan calon menantu Ki Gede, namun sebenarnyalah ia memiliki jasa yang barangkali lebih banyak dari anak-anak muda daerah ini sendiri atas Tanah Perdikan Menoreh."
Setiap orang di pendapa itu mengangguk-angguk. Apalagi yang memang sudah mengenal Swandaru dalam peperangan yang pernah menyala di atas Tanah Perdikan ini. Sedangkan mereka yang belum mengenal dari dekat pun mengangguk-angguk sambil bergumam, "Jadi, inilah anak muda yang dikagumi oleh setiap orang dari Tanah Perdikan Menoreh."
Di sudut lain dari pendapa itu, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar duduk berdekatan. Di belakangnya Agung Sedayu rasa-rasanya menjadi sangat gelisah oleh perasaan sendiri.
Tetapi ternyata bukan saja Agung Sedayu yang menjadi gelsah karena persoalannya sendiri, tetapi rasa-rasanya di hati Kiai Gringsing pun telan membayang sesuatu yang menggelisahkannya pula. Ia melihat sikap Swandaru yang mulai dibayangi oleh sifat dan wataknya yang sebenarnya. Di dalam asuhannya, Kiai Gringsing masih sempat mengendalikan sifat dan watak anak muda yang gemuk itu. Namun dalam saat-saat tertentu sifat itu masih juga muncul di luar sadar.
Dan kini Swandaru duduk dengan dada tengadah. Sambil mengangguk-angguk kecil ia tersenyum mendengarkan pujian orang-orang Menoreh atasnya. Bahkan seorang tua berkata, "Angger Swandaru tidak perlu merasa berada di tempat lain. Tanah Perdikan Menoreh adalah rumahmu sendiri. Pandan Wangi adalah satu-satunya anak Ki Gede. Jadi siapa lagi yang kelak akan mengendalikan Tanah Perdikan ini selain Angger Swandaru."
Rasa-rasanya dada Swandaru menjadi penuh dengan kebanggaan. Tiba-tiba saja ia melihat orang-orang yang ada di sekitarnya itu pada suatu ketika akan tunduk di bawah perintahnya. Orang-orang tua dari Sangkal Putung tentu akan menghormatinya sebagai pewaris satu-satunya dari kademangan yang besar dan subur itu, sedangkan orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh menganggapnya sebagai orang yang paling berjasa dan bahkan yang kelak akan menggantikan kedudukan Ki Gede Menoreh. Sehingga dengan demikian, ketika terpandang olehnya dalam cahaya obor dedaunan yang hijau kehitam-hitaman di halaman, maka rasa-rasanya ia melihat Tanah Perdikan Menoreh yang terbentang di bawah bukit Menoreh yang membujur ke Utara itu sebagai tlatah yang sudah berada di bawah kekuasaannya.
Sanjungan orang-orang Menoreh terhadapnya, membuat dada Swandaru rasa-rasarya menjadi bertambah sesak oleh kebanggaan tentang dirinya, sehingga dalam saat yang demikian, ia tidak ingat lagi untuk memanggil Agung Sedayu agar duduk di sebelahnya mengawaninya seperti ketika ia kesepian di saat-saat menjelang hari perkawinannya di Sangkal Putung. Meskipun Swandaru melihat juga Agung Sedayu yang duduk di belakang gurunya dan Ki Sumangkar, namun ia sama sekali tidak memanggilnya, bahkan menegurnya.
Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak memperhatikan sikap Swandaru. Ia sedang digelisahkan oleh perasaannya sendiri. Karena itulah, maka meskipun ia duduk di pendapa, di antara beberapa orang lain yang sibuk membicarakan Swandaru, namun angan-angannya telah menerawang ke dunia angan-angan yang sangat jauh.
Berbeda dengan Agung Sedayu, maka Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mulai memperhatikan Swandaru pada saat-saat yang agak terlepas dari kebiasaan yang ditempakan oleh Kiai Gringsing terhadapnya. Di medan perang, di padang pengembaraan, dan di pematang yang berlumpur, Swandaru sempat mengendalikan diri. Tetapi di tengah-tengah orang-orang tua yang seolah-olah mengerumuninya untuk menyatakan kekaguman mereka, di antara puji dan sanjung, maka yang telah terdesak jauh ke bawah pengendalian diri, di luar sadar telah melonjak kembali. Sebagaimana sifat dan watak anak muda yang bertubuh gemuk itu, yang sejak masa kanak-kanaknya hidup dengan manja dan terpenuhi segala keinginannya.
Sementara itu, di rumah Ki Gede Menoreh, Pandan Wangi pun telah mulai dikerumuni oleh orang-orang perempuan yang ingin melihat wajahnya yang tentu menjadi berbeda dengan wajahnya sehari-hari. Hampir setiap orang menjadi kagum akan kecantikan gadis itu. Setiap orang yang sehari-hari mengenalnya sebagai seorang gadis yang lembut tetapi di saat-saat tertentu dapat berubah menjadi harimau betina itu, menjadi terheran-heran melihat wajah yang seakan memancarkan cahaya yang menyilaukan.
Namun perempuan-perempuan itu pun ikut serta menahan hati ketika mereka melihat, di mata gadis yang cantik itu telah mengembang air mata. Mereka menyadari, bahwa tentu ada sesuatu yang bergejolak di hati gadis itu. Adalah wajar sekali bahwa di saat menjelang hari perkawinan, tetapi tidak ditunggui oleh ibunya yang sudah mendahului menghadap Tuhannya, rasa-rasanya hati menjadi pedih.
Tetapi tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa perasaan Pandan Wangi bukannya sekedar berhenti pada kesepian yang mencengkamnya di dalam keramaian itu. Bukan saja bahwa ia tidak ditunggui oleh ibunya. Namun gambaran ibunya itu telah dirangkapi oleh peristiwa-peristiwa yang telah melibatkan keluarganya ke dalam bencana.
Tiba-tiba saja terbayang saat-saat ibunya dikerumuni oleh perempuan-perempuan tua seperti dirinya saat itu. Namun ibunya sudah bukan seorang gadis lagi, karena kehadiran seorang laki-laki lain di samping ayahnya yang kemudian menjadi kepala Tanah Perdikan ini.
"O," sebuah keluhan telah menggetarkan bibirnya. Tetapi Pandan Wangi kemudian sempat bersukur. Meskipun di hatinya juga terukir dua wajah laki-laki, namun ia telah memasuki jenjang perkawinan dengan kegadisannya yang utuh.
"Tetapi hatiku tidak utuh," Pandan Wangi berteriak di dalam hati, "ini berarti aku sudah mulai berkhianat di hari permulaan."
Rasa-rasanya hati Pandan Wangi menjadi semakin pedih. Bagaimana pun juga ia berusaha, namun air yang mengalir dari matanya menjadi semakin deras. Bahkan Pandan Wangi pun kemudian terisak-isak. Setiap kali lengannya mengusap air di matanya, maka rias di wajahnya pun menjadi tergores oleh usapan itu pula.
Perempuan tua yang meriasnya melihat Pandan Wangi menangis. Dengan sabar ia pun kemudian membisikinya, "Sudahlah, Pandan Wangi. Kau tidak perlu menangis di mata yang berbahagia ini. Apa pun yang menyebabkan kau menangis, sebaiknya kau sisihkan dari hatimu. Setiap orang yang datang di malam ini ingin melihat wajahmu yang cantik dan cerah. Jika wajahmu kau hiasi dengan air mata, maka pertemuan di malam midadareni ini akan menjadi suram."
Pandan Wangi mengangguk. "Marilah, aku perbaiki rias di wajahmu."
Pandan Wangi tidak menyanggah. Dibiarkannya perempuan tua itu memperbaiki rias di wajahnya yang basah oleh air matanya. Dengan sekuat hati ia kemudian melawan tangis yang masih saja terasa menyekat lehernya.
Dalam pada itu, Sekar Mirah yang ikut menunggui Pandan Wangi telah tersentuh pula oleh perasaan iba. Gadis itu tidak beribu lagi. Itu sajalah yang berkesan di hatinya. Tidak lebih.
Untuk mengurangi perasaan pepat di hatinya, Sekar Mirah justru telah meninggalkan ruang itu dan turun ke halaman. Terasa angin malam yang sejuk telah menyentuh tubuhnya. Tubuhnya yang langsing sesuai dengan kemampuannya memegang pedang. Tetapi tubuh itu juga penuh berisi.
Dalam saat-saat seperti itu, seperti juga para pengiring yang lain, Sekar Mirah pun telah berpakaian dengan rapi. Ia pun mencoba merias dirinya sendiri, agar di dalam suasana yang cerah itu, ia tidak nampak terlampau suram jika pada suatu saat ia harus berada di samping Pandan Wangi.
Sejenak Sekar Mirah termangu-mangu. Dipandanginya beberapa orang yang nampak selalu sibuk kian kemari. Cahaya obor yang terang benderang di seluruh halaman dan rasa-rasanya Tanah Perdikan malam itu tidak akan tidur sama sekali. Di sudut padukuhan induk sekelompok anak-anak muda yang berjaga-jaga telah membuat suasana menjadi semakin ramai. Sedangkan di banjar, terdengar suara gamelan yang riuh. Di banjar itu ternyata sekelompok anak-anak muda sedang berlatih menari. Besok mereka akan meramaikan hari perkawinan Pandan Wangi yang meriah.
Pada saat Sekar Mirah termenung di bawah cahaya obor di halaman, seorang anak muda lewat dengan tergesa-gesa, melintas di hadapannya. Semula anak muda itu tidak menghiraukan Sekar Mirah yang juga tidak memperhatikannya. Namun tiba-tiba saja anak muda itu berhenti sejenak. Dipandangnya wajah gadis itu sesaat.
"Sekar Mirah," sapa anak muda itu.
Sekar Mirah berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia mencoba mengamati wajah itu. Namun Sekar Mirah pun kemudian tersenyum sambil menyahut, "Kau nampak sibuk sekali, Prastawa."
Prastawa pun tertawa. Jawabnya, "Tidak. Aku sekedar membantu. Apa saja yang dapat aku lakukan. Aku tidak dapat berbuat lebih banyak dari menyerahkan tenagaku. Apalagi aku agak terlambat datang."
"Kenapa kau baru datang hari ini?"
"Aku berada di rumah ini. Tetapi tiga hari yang lalu, aku pulang untuk menunggui rumah, karena ayah dan ibuku ada di sini."
"Ya. Aku sudah melihat ayah dan ibumu sore tadi. Tetapi bukankah sekarang rumahmu juga kau tinggalkan."
"Terpaksa. Tetapi sudah aku serahkan kepada para penjaga."
"Kau sudah bertemu dengan Kakang Swandaru dan Kakang Agung Sedayu?"
Prastawa menggeleng, "Belum. Aku terlalu sibuk. Aku harus pergi ke sana ke mari mencari perlengkapan yang kurang. Meskipun Paman Argapati sudah menyiapkan lama sebelumnya, tetapi ternyata masih ada juga yang kurang."
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya, "Itu wajar sekali. Di mana-mana pun terjadi serupa itu. Hal-hal di luar perhitungan kadang-kadang tumbuh di saat yang sudah terlalu dekat seperti sekarang ini."
"Maaf, Sekar Mirah," berkata anak muda itu, "aku harus menemui ibuku, karena aku sedang melakukan sesuatu untuknya."
Sekar Mirah tersenyum. Jawabnya, "Silahkan."
Prastawa pun tersenyum pula. Di luar sadarnya ia memandang wajah Sekar Mirah yang meskipun sederhana telah merias dirinya.
Terasa sesuatu tergerak di hati anak yang masih sangat muda itu. Sekar Mirah yang pernah dikenalnya sebagai seorang gadis bersenjata seperti Pandan Wangi itu, kini nampak benar-benar sebagai seorang gadis yang cantik. Wajahnya yang agak tengadah, dan dagunya yang terangkat, di mata Prastawa membuat Sekar Mirah nampak sebagai seorang gadis yang berwibawa dan penuh dengan gairah hidup yang menyala di dadanya.
Sekar Mirah mengangguk kecil. Namun hampir di luar sadarnya sesuatu merambat di wajahnya yang cantik. Namun kemudian terasa wajah itu menjadi panas.
Ketika Sekar Mirah kemudian menundukkah wajahnya itu, dengan tergagap Prastawa berkata, "E, sudahlah. Aku minta maaf Sekar Mirah. Aku akan ke belakang."
Sekar Mirah mengangguk kecil. Namun hampir di luar sadarnya, bibirnya terbersit sepercik senyum.
Dengan tergesa-gesa Prastawa meninggalkan gadis itu berdiri temangu-mangu. Namun tanpa dikehendakinya, Prastawa itu berpaling setelah beberapa langkah ia meninggalkan Sekar Mirah. Untunglah bahwa Sekar Mirah saat itu tidak sedang memperhatikannya karena seorang perempuan yang lewat sedang menyapanya.
"Sekar Mirah nampak cantik sekali," desis Prastawa yang masih sangat muda itu. Namun kemudian ia berdesis, "Apa peduliku. Ia datang bersama Agung Sedayu. Sudah tentu setelah Swandaru, maka Sekar Mirah pun tentu akan kawin pula."
Prastawa pun kemudian mengeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah ingin mengibaskan angan-angan itu dari kepalanya. Namun rasa-rasanya bayangan itu justru melekat di pelupuk matanya. Dan setiap kali ia bergumam di dalam hati, "Sekar Mirah memang cantik. Cantik sekali."
Sementara itu. Sekar Mirah pun kemudian melangkahkan kakinya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu di halaman. Namun kemudian ia pun pergi ke regol yang terang benderang.
Sekali lagi ia tertegun ketika ia bertemu dengan seorang anak muda yang menyapanya. Ketika Sekar Mirah memperhatikan wajah yang kemerah-merahan oleh cahaya obor itu, maka ia pun berdesis, "Rudita."
Rudita tersenyum. Jawabnya, "Ya, Sekar Mirah. Kau masih ingat aku?"
Sekar Mirah tersenyum pula sambil bertanya, "Kau sudah bertemu dengan Kakang Swandaru dan Agung Sedayu?"
"Sudah. Aku juga baru saja dari pondok Swandaru. Ia sudah selesai berpakaian. Wajahnya nampak cerah sekali. Di sana ada Agung Sedayu dan orang-orang tua."
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Rasa-rasanya ia ingin sekali pergi melihat Swandaru. Tetapi ia merasa segan pula, karena di sana tentu banyak anak-anak muda bukan saja para pengiring dari Sangkal Putung, tetapi juga anak-anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh.
"Apakah kau akan pergi ke sana Sekar Mirah?" bertanya Rudita.
Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Namun ia pun menggeleng sambil menjawab, "Tidak sekarang."
"Dan kau akan pergi ke mana?"
"Aku hanya kepanasan di dalam."
Rudita mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Baiklah. Aku akan pergi ke belakang sebentar."
"Silahkan," jawab Sekar Mirah.
Rudita pun kemudian melangkah meninggalkannya. Langkahnya lamban dan seolah-olah sama sekali tidak mempunyai kepentingan apa pun dengan kesibukan di seluruh halaman itu, bahkan di seluruh Tanah Perdikan Menoreh. Berbeda sekali dengan langkah Prastawa yang cepat dan nampak sibuk sekali.
"Anak malas," desis Sekar Mirah, "seharusnya ia bersikap sebagai anak laki-laki yang cekatan dan tangkas. Prastawa adalah gambaran dari seorang anak muda yang mempunyai gairah hidup yang besar."
Untuk beberapa saat Sekar Mirah masih memandangi langkah Rudita yang lambat menuju ke gandok.
Sejenak kemudian barulah Sekar Mirah melangkah. Tetapi ia pun tidak dapat berdiri berlama-lama di regol halaman itu, karena di gardu sebelah beberapa anak muda duduk sambil berbicara dan berkelakar. Beberapa orang pengawal yang bertugas justru tidak mendapat rempat untuk duduk di dalam gardu sehingga mereka berdiri saja di sisi regol yang terang benderang di bawah lampu obor yang berlipat dari jumlah lampu obor yang bisa terpasang.
Dengan mereka-reka tentang hari depannya sendiri Sekar Mirah melangkah kembali ke ruang dalam.
"Untunglah, bahwa Kakang Swandaru-lah yang mendahului kawin," berkata Sekar Mirah di dalam hatinya, "dengan demikian Kakang Agung Sedayu dapat mengukur, saat kita kawin nanti, perelatannya harus lebih meriah dari yang diselenggarakan sekarang."
"Aku akan minta Ayah untuk menyelenggarakan perelatan di Sangkal Putung lebih baik dari yang diselenggarakan di Tanah Perdikan Menoreh ini. Sedang Kakang Agung Sedayu akan dapat penghormatan yang meriah di Jati Anom karena ia adalah seorang adik dari Senapati Besar, Untara." Namun kemudian wajah Sekar Mirah menjadi berkerut ketika teringat olehnya, bahwa saat Untara kawin, Jati Anom tidak menyelenggarakan sesuatu yang mengejutkan. Perkawinan itu berlangsung sederhana di Banyu Asri.
"Tetapi," katanya kemudian, "kehadiran utusan dari Mataram dan Pajang membuat perelatan itu mempunyai wibawa yang agung meskipun tidak meriah."
Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Namun ia berniat untuk membicarakannya dengan Agung Sedayu. Perkawinan mereka harus diselenggarakan dengan meriah sekali. Lebih meriah dari perkawinan kakaknya, Swandaru.
Hampir di luar sadarnya, maka Sekar Mirah pun masuk kembali ke dalam bilik Pandan Wangi. Ia melihat orang perempuan berambut putih itu sudah memperbaiki rias Pandan Wangi yang dirusakkannya karena air matanya yang meleleh di pipinya. Meskipun demikian, wajah Pandan Wangi masih dibayangi oleh kepedihan hatinya, meskipun tidak ada orang yang dapat menebak dengan tepat, apakah sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.
Di luar kesibukan yang sedang berlangsung di Tanah Perdikan Menoreh, dua orang melintas perlahan-lahan. Keduanya telah menitipkan kuda mereka kepada seseorang yang belum mereka kenal sama sekali. Tetapi dengan berbagai macam alasan, mereka berusaha untuk dapat meyakinkan kepada orang yang dititipinya, bahwa kehadirannya semata-mata didorong oleh keinginannya untuk melihat perkawinan puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh.
"Tetapi aku belum mengenal kalian," desis orang itu.
Sejenak keduanya berpandangan. Salah seorang dari mereka pun kemudian mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggang kulitnya.
"Aku mempunyai uang sedikit. Barangkali dapat kau pergunakan untuk mengupah anak-anak agar besok dapat mencari rumput buat kudaku."
"Selama hari-hari perelatan sampai hari kelima. Kami akan ikut mengiringi pengantin itu ke Sangkal Putung."
"Tetapi kenapa kau titipkan kudaku di sini?"
"Itu lebih baik daripada aku membawanya kian kemari."
Orang itu masih bingung. Namun tiba-tiba saja ia mengangguk-angguk ketika salah seorang dari kedua orang itu melemparkan uang kepadanya. Terlalu banyak dari dugaan yang tumbuh di hatinya.
"Aku kira kau memerlukan uang itu," desis orang itu.
Sejenak orang yang semula ragu-ragu itu memandangi kedua orang yang terlalu baik kepadanya itu, yang melemparkan uang terlalu banyak jika dinilai dengan sekedar menitipkan dua ekor kuda meskipun ia harus mencari rumput untuk memberi makan kuda-kuda itu.
"Apakah masih kurang?" bertanya salah seorang dari kedua penunggang kuda itu.
"Apakah kau akan menambah lagi?"
"Gila," geram yang lain, "kau terlalu tamak."
Namun sikap itu justru menumbuhkan sesuatu di dalam hati pemilik rumah yang terhitung seorang yang miskin itu. Ketamakan benar-benar telah mencengkamnya, sehingga ia pun kemudian berkata, "Sebaiknya kalian menambah sedikit lagi, agar aku dapat mencarikan rumput segar bagi kudamu selama lima hari."
"Itu terlalu banyak."
"Ki Sanak. Sebenarnya kalian berdua menimbulkan kecurigaan padaku. Karena itu, kuda kalian di halamanku ini akan dapat menimbulkan banyak kesulitan. Karena itu, berilah sedikit uang tambahan. Aku akan mempertanggung-jawabkan semuanya."
"Gila. Itu sudah cukup."
"Mungkin ada tetangga yang melihat kedua kudamu ini. Mereka pun menjadi curiga seperti aku, lalu mereka pergi melaporkannya kepada para pengawal. Nah, sebelum mereka melaporkan kuda-kudamu, aku dapat mencegahnya dengan memberikan sebagian dari pemberianmu itu."
"Itu adalah kegilaan yang tidak pantas," tiba-tiba salah seorang dari kedua orang berkuda itu menarik pisau belati dari bawah bajunya. Sambil melekatkan ujung pisau itu di leher pemilik rumah itu ia berkata, "Kau mencoba memeras kami. Tetapi kami bukan orang yang terlalu baik hati. Jika terjadi sesuatu dengan kami di sini, maka sumbernya pasti kau. Ketahuilah, kami berdua mempunyai seribu kawan yang berkeliaran di Tanah Perdikan Menoreh. Masing-masing mengetahui keadaan dan kemungkinan yang terjadi dengan kawan-kawannya. Jika aku tidak berkumpul pada saatnya, maka mereka mengetahuinya, siapakah yang harus ditangkap, diseret di belakang kaki kuda, dan kemudian dilemparkan ke dalam kedung di pusaran Kali Praga untuk dijadikan makanan buaya. Bukan hanya kau, tetapi aku tahu, kau mempunyai anak yang masih kecil-kecil. Nah, tulangnya tentu masih lunak, dan tentu menyenangkan sekali bagi buaya-buaya kerdil di kedung itu."
Wajah orang itu tiba-tiba menjadi pucat. Ketika ujung pisau itu menyentuh kulitnya, ia mundur selangkah.
"Jangan, jangan."
"Kau orang yang sangat tamak. Nah, katakan sekali lagi bahwa kau minta uang tambahan."
"Tidak. Tidak. Itu sudah cukup."
"Jangan mencoba melaporkan kehadiranku di sini, jika kau masih sayang kepada nyawamu, anak-anakmu yang masih kecil-kecil dan isterimu."
"Tidak. Aku tidak akan melaporkannya."
Kedua orang itu saling berpandangan sejenak, lalu, "Kami akan pergi. Setiap saat kami akan datang untuk mengambil kuda kami. Tetapi selama itu, orang-orang kami akan selalu mengawasimu. Ingat. Nyawamu, nyawa anak-anak dan isterimu. Aku masih baik karena aku tidak minta uang itu kembali."
Kedua orang itu pun kemudian pergi. Tetapi sorot matanya penuh dengan ancaman, sehingga pemilik rumah itu menjadi semakin pucat. Namun ia benar-benar telah dicengkam oleh ketakutan, sehingga ia tidak berani berbuat apa pun juga. Meskipun sebenarnya memang ada kecurigaan di hatinya, tetapi ia tidak mempunyai keberanian untuk menyampaikan hal itu kepada para pengawal. Bahkan kemudian ia telah berusaha menyembunyikan kedua ekor kuda itu di longkangan belakang sehingga tidak seorang pun yang akan dapat melihat.
Kepada isterinya ia berpesan, agar tidak mengatakan apa pun juga tentang kedua ekor kuda itu kepada tetangga-tetangganya, dan bahkan anaknya yang masih kecil pun dipesannya juga, agar ia tidak berceritera kepada kawan-kawannya tentang kuda-kuda itu.
"Jika anak-anak menyebut tentang kuda-kuda hantu itu, maka lidahnya akan berkerut. Semakin lama menjadi semakin pendek, sehingga akhirnya lidah itu akan habis. Nah, jika lidahmu habis, kau tidak akan dapat berbicara lagi," ayahnya mencoba menakut-nakuti anak-anaknya.
Anak-anak kecil itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka memang benar-benar menjadi ketakutan sehingga mereka sama sekali tidak berani menyebut tentang kedua ekor kuda yang berada di longkangan itu.
Dalam pada itu, kedua penunggang kuda itu pun dengan leluasa berada di Tanah Perdikan Menoreh. Di siang hari mereka akan bersembunyi di hutan-hutan kecil, sedang di malam hari mereka akan muncul untuk melihat perelatan yang meriah di Tanah Perdikan Menoreh.
Misteri Kapal Layar Pancawarna 17 Jodoh Rajawali 11 Geger Perawan Siluman Pendekar Pemanah Rajawali 34
^