Pencarian

Senopati Pamungkas Satu 23

Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto Bagian 23


Singanada tidak mengubah kedudukan kakinya. Rambutnya yang tergulung tiba-tiba
saja lepas terurai dan menyampok ke wajah Halayudha. Bagai tusukan seratus jarum
seketika. Dengan mengeluarkan suara ejekan dingin, Halayudha merebahkan tubuhnya, dengan
kaki tetap menggunting kaki lawan.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Singanada merasa tempurung lututnya berdenyut.
Getaran tenaga Halayudha terasakan.
Secepat ancaman datang, secepat itu pula Singanada mengubah serangan. Tubuhnya
kembali tegak, rambut tertarik ke belakang, dan kantar di tangan kanan dan kiri
menghantam ke arah dada. Ke arah satu tempat.
Halayudha justru membalik tubuhnya.
Menyongsong maju. Menyerahkan dadanya kena totokan kantar.
Senopati Agung Brahma menahan napas. Apa yang dipertontonkan Halayudha jarang
dilakukan tokoh silat kelas utama. Tenaga yang tadinya ditarik ke belakang
dengan menekuk punggung, justru diubah ke depan saat serangan datang.
Gendhuk Tri juga heran. Karena gerakan yang pertama tadi, biasanya disusul dengan gerakan menjatuhkan
tubuh. Seperti yang selama ini selalu berhasil dilakukan untuk mengecoh lawan.
Akan tetapi sekarang justru dibalik.
Singanada memindahkan dua kantar pendek ke satu tangan. Dalam sepersekian
tarikan napas, ia merasa bahwa dada lawan yang diarah seperti pusaran air yang
menenggelamkan tenaga yang datang. Pada saat yang bersamaan kakinya terancam.
Tak ada cara lain kecuali melompat ke atas.
Dengan kekuatan satu kaki.
Karena kaki yang sebelah, lebih untuk menghindar dengan jalan memutar tubuhnya.
Saat melayang ke atas Singanada sudah bersiap menyambut datangnya serangan
beruntun. Yang pasti akan segera datang.
Pertarungan di tengah udara.
Perhitungan yang tepat. Akan tetapi tetap juga melesat.
Karena Halayudha tidak melanjutkan serangan dengan melompat ketengah udara,
melainkan memutar tubuhnya, dengan kaki terangkat sempurna ke atas.
Tubuh Singanada yang melayang ditendang dari jarak jauh dengan kekuatan
berputar, searah dengan putaran tubuh Singanada.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Mahapatih Nambi yang sejak tadi memperhatikan setiap gerakan, menduga-duga bahwa
Halayudha secara sengaja membalikkan setiap gerakan yang sudah diduga lawan.
Sesuatu yang sebenarnya sangat berbahaya.
Karena gerak rangkaiannya terpatah-patah dan sulit diterka kemungkinan yang
terjadi. Di samping itu, perlu diperhitungkan juga kekuatan lawan. Yaitu Maha Singanada,
yang bukan sembarang jago silat.
Sebagai sesama jago silat, Mahapatih Nambi bisa mengetahui bahwa dengan
membalik-balik gerakan, memungkinkan untuk sedikit
"bermain-main", merangsang kepekaan baru. Akan tetapi itu tak bisa dilakukan
dengan lawan yang seimbang.
Gerakan pembukaan dalam ilmu silat, tersusun langkah demi langkah yang
berangkaian. Setiap gerakan awal boleh dikatakan sudah pasti, sekurangnya sampai
pada jurus-jurus tertentu. Kecuali kalau memang kekuatan tenaga dalamnya lebih
berlipat ganda dari musuhnya.
Ibarat melawan prajurit biasa, walau gerakan lawan rumit dan tersusun, Nambi
bisa menyapu keras. Memusnahkan dengan mengadu tenaga dalam.
Kalaupun Halayudha lebih unggul setingkat, Singanada bukan lawan yang bisa
disapu begitu saja. Akan tetapi toh itu yang dilakukan oleh Halayudha.
"Loncat!" Teriakan Halayudha begitu keras, dan ternyata Singanada memang berloncatan ke
arah sembilan penjuru. Setiap kali bayangan tubuhnya berkelebat ke delapan
penjuru, untuk kemudian berada di tengah.
"Ini menarik, akan tetapi membosankan.
"Gendhuk kecil, bergabunglah.
"Aku ingin menyaksikan perpaduan bumi dengan air."
Telapak tangan Halayudha mengincar ke arah dada Gendhuk Tri!
Benar-benar kurang ajar! Asmara Berasal dari Dalam
BENAR-BENAR kurang ajar. Dan hebat. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Kurang ajar karena telapak tangan Halayudha mengincar dada Gendhuk Tri. Sesuatu
yang tak seharusnya dilakukan ksatria, apalagi senopati setingkat seperti
Halayudha. Akan tetapi Halayudha seperti bisa menebak dengan jitu, bahwa hanya dengan
gerakan kasar inilah ia bisa memancing Gendhuk Tri terseret ke dalam medan
pertempuran secara seketika.
Kalau hanya dipanasi atau diserang, belum tentu Gendhuk Tri mau ikutan terjun
mengeroyok. Hebat, karena di saat menghadapi serangan dari segenap penjuru, Halayudha masih
bisa mencuri peluang untuk menyerang Gendhuk Tri yang bersiaga.
Padahal dilihat selintasan, medan pertarungan yang dihadapi Halayudha belum
sepenuhnya menguntungkan dirinya. Belum ada tanda-tanda ia bisa merebut
keunggulan. Akan tetapi sudah mengeduk ke arah lain, membuat medan baru yang membuatnya
menghadapi risiko ganda. Bahkan kalau didengarkan apa yang diucapkan, Halayudha seakan tengah melatih
lawan. Bukan sedang berusaha mengalahkan.
Diam-diam Senopati Agung Brahma mengakui bahwa Halayudha dua tingkat di atas
ilmu yang dimiliki. Terutama sekali dari kecepatan dan ketepatan membaca gerakan
lawan. Sewaktu menghadapi Singanada, Halayudha sudah tahu bahwa ia tak bisa merebut
kemenangan dalam waktu singkat. Akan tetapi seperti sudah memperkirakan gerakan
lawan dan gerakannya sendiri.
Pertarungan seperti yang telah direncanakan, telah dihafal, sehingga ia bisa
bergerak sangat cepat sekali.
Dengan mengundang Gendhuk Tri, Halayudha seperti menemukan gairah baru untuk
menghadapi dua lawan sekaligus.
Pancingan mengena. Begitu tangan Halayudha merayap liar di depan dada, secara spontan Gendhuk Tri
menyampok keras. Selendangnya yang warna-warni menggulung tangan Halayudha.
Tangan kirinya terulur ke depan, menyambut jakun Halayudha.
Halayudha menarik tangannya, menekuk, dan sikunya menghantam perut Gendhuk Tri.
Dalam gerakan berputar. Sementara kakinya yang lepas, menahan serbuan dari Singanada.
Kali ini Senopati Agung yang menahan napas.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Sodokan siku itulah yang menamatkan perlawanannya. Yang membuat kerisnya bisa
direbut paksa. Itu yang akan dialami oleh Gendhuk Tri.
Karena selendang yang melibat tangan Halayudha ikut tertarik ketika Halayudha
menekuk tangannya. Badannya jadi ikut terdorong ke depan karena kerasnya
tarikan. Pada saat itu siku Halayudha yang berbisa siap menghancurkan.
Singanada yang melihat bahaya mengancam Gendhuk Tri, menyusup di antara celah
kaki Halayudha. Menyusup masuk.
Gendhuk Tri sendiri bukan lawan yang enteng.
Yang bisa dibekuk dalam satu gebrakan.
Dengan sangat cepat Gendhuk Tri memutar tubuhnya bagai gasing, ke arah yang
berlawanan dengan libatan selendangnya. Sehingga meskipun tertarik, bisa
melepaskan diri. Tanpa tersentuh siku Halayudha.
"Bagus. "Jangan terbang terlalu tinggi.
"Itu kurang bagus. Air tak akan membuat gelombang tinggi kalau tidak berada di
laut, kalau tak ada angin kencang."
Tubuh Gendhuk Tri yang melayang ke atas bergoyang-goyang.
Seperti gemetar. Karena pada saat itu Halayudha menggemboskan tenaga dalamnya.
Tenaga tarikan Gendhuk Tri jadi punah karenanya.
Hal yang juga dirasakan Singanada. Ia seperti amblas ke udara kosong. Sehingga
tubuhnya jatuh menderas. Singanada menggerung keras.
Dua kantar pendek berada di tangan kanan dan kiri. Pada saat yang sama kedua
tangannya membuka dan tubuhnya berputar keras.
Menyabet apa saja yang menghalangi.
Halayudha mengeluarkan decak kagum.
"Sembilan tenaga, bukan sembilan kali putaran."
Halayudha masih bisa memberi pengarahan, sambil menghindar ke arah samping.
Dengan demikian serangannya ke arah Gendhuk Tri batal. Malah ia terpaksa menarik
mundur kakinya. Tiga langkah saja. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Langkah keempat sudah kembali masuk ke dalam pertarungan.
Dengan kedua tangan terangkat ke atas, terkepal, dan pundak lurus rata dengan
tangan sampai siku. Inilah cara menggempur putaran tangan Singanada.
Mematahkan di tengah putaran.
Dengan tenaga keras. Singanada kembali mengaum. Tubuhnya menggeliat, dengan gerakan dahsyat ia
berusaha membelit tubuh lawan. Pertarungan keras dengan jarak sangat dekat.
Membelit tubuh dengan tubuh adalah gerakan yang cukup berbahaya. Justru karena
ilmu yang biasa dimainkan Singanada adalah ilmu Sembilan Penjuru. Mengurung
udara dan ruang pertarungan.
Berarti pertarungan berjarak.
Akan tetapi Singanada tak bisa memainkan Nawagraha atau Siasat Sembilan Bintang.
Bahkan kantar, tombak pendek, yang bisa untuk menjaga lawan berada dalam batas
serangan seperti macet. Halayudha bisa menebak gerakan-gerakan yang ada.
Dengan tenaga sedikit berlebih, Halayudha seakan siap menandingi benturan keras
sama keras. Adu tenaga pada posisi sekarang ini jelas lebih menguntungkan Halayudha.
Menghadapi situasi rumit, Singanada menggerung keras. Mengubah menjadi
pertarungan jarak pendek. Nawadwara atau Sembilan Pintu diringkas menjadi
pendek. Dengan pemikiran itu, Singanada ingin agar Halayudha tak mampu menebak
gerakannya, yang bisa terbaca dengan mudah.
Satu-satunya yang masih membuat Singanada was was ialah kemampuan tenaga dalam
Halayudha yang sempurna. Pada saat yang sama bisa mengubah antara berisi,
kosong, atau tenaga berputar.
Seperti yang barusan terjadi.
Tenaga putar demikian keras, lalu berubah menjadi kosong, dan kini berubah
menjadi keras. Menjebol kurungan tubuh Singanada yang berputar.
Singanada menggeliat ke sisi lain, untuk menghindar adu tenaga keras lawan
keras. Akan tetapi dengan begitu, Halayudha mempunyai kesempatan menyapu kaki Gendhuk
Tri yang sedang melayang dan bergoyang turun.
"Srimpung habis."
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Singanada mencelos. Tak menduga bahwa Halayudha akan menebas kaki Gendhuk Tri dengan gerakan kaki
berputar yang keras. Dengan menyrimpung, diartikan menebas rata.
Sekeras apa pun kaku dan kekuatan Gendhuk Tri, pasti bukan lawan Halayudha.
Lebih berbahaya lagi karena tak mungkin menghindar.
Tubuhnya sedang meluncur turun.
Dilihat dari goyangan tubuh, Gendhuk Tri belum menguasai sepenuhnya berat
tubuhnya. Gendhuk Tri menyadari bahaya.
"Kamu keliru!" Justru itu yang diteriakkan. Dengan tubuh terus meluncur. Akan tetapi kedua
kakinya ditekuk ke belakang. Sehingga srimpungan kaki dengan kaki yang menebas
dengan gaya berputar, menemukan tempat kosong.
Gendhuk Tri turun dengan lutut menyentuh tanah. Pada saat yang sama tangannya
melepaskan selendang dan menggulung leher Halayudha.
Hebat dan jeli Halayudha, akan tetapi terkesiap juga.
Sabetan selendang ke leher membuatnya perih. Kalau saja tenaga dalam Gendhuk Tri
setanding, Halayudha sudah terbanting seperti Sidateka!
Singanada maju ke depan mendampingi Gendhuk Tri.
Siap melindungi dan mengambil alih pertarungan.
Halayudha berdiri tegak. Dadanya membusung. "Bagus, bagus sekali.
"Kalian berdua ingat baik-baik. Inilah perpaduan sifat bumi dan air yang
sesungguhnya. Bagai bersatunya daya asmara yang berasal dari dalam. Dari batin.
"Ingat baik-baik. "Selama kalian berdua mencoba main sendiri-sendiri, ingin merebut kemenangan
satu dari yang lainnya, hasilnya justru sebaliknya.
"Tapi justru yang baru saja ini membuktikan kehebatan.
"Bagus, bagus sekali.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Di kelak kemudian hari, kalian berdua akan menjadi pasangan yang luar biasa.
Tapi karena sekarang ini masih terlalu ringan, kalian tetap kalah.
"Hanya mampu menunjukkan kebolehan, tapi tak bisa memenangkan pertarungan."
Duka dari Dewa HALAYUDHA menghela napas berat.
Wajahnya mendongak ke langit.
Guratan duka menggaris tajam.
Mengiris suaranya yang menggeletar.
"Dewa yang berada di langit, kenapa kamu begitu murka kepada Guru" Dosa apa yang
dilakukan sehingga kamu turunkan duka bertubi-tubi pada guruku, dan harus
kusandang" "Kalau kamu punya keberanian, turunlah.
"Aku, Halayudha, murid utama Paman Sepuh Dodot Bintulu, menantangmu."
Tubuhnya yang kokoh perkasa, kepalan tangannya yang kaku, masih kalah mengerikan
dibandingkan tusukan nada suaranya yang menyayat. Seakan disarati dengan beban
duka yang tak tertanggungkan.
Untuk pertama kalinya, siapa pun yang mengenal Halayudha merasa menemukan sosok
yang lain. Bahkan Senopati Agung Brahma yang begitu mendendam, tercerabut perasaan iba
untuk sesaat. Halayudha yang sekarang ini, seperti pertapa tua yang melontarkan dendam dengan
rintihan. Selama ini Halayudha selalu bisa menampilkan berbagai wajah. Bisa mengubah raut
muka untuk maksud-maksud tertentu. Akan tetapi sekali ini mengesankan sekali.
"Dewa di langit. "Kenapa kamu begitu pengecut?"
"Rupanya kamu pun kecewa.
"Untuk apa penyesalan itu?"
Gendhuk Tri menoleh ke arah datangnya suara. Karena serasa mengenali. Dan tidak
salah. Yang muncul adalah Nyai Demang yang masih menggendong Kakek Berune. Masih
beriapan tak keruan. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Terjadilah pemandangan yang aneh.
Halayudha yang baru saja memamerkan semua ilmu yang dimiliki, mendadak sangat
berubah perangainya. Mengutuk Dewa. Pada saat berikutnya muncul seorang wanita
yang menggendong mayat dan menjawab pertanyaan.
Hanya karena semua perhatian sedang tertuju kepada Halayudha, kemunculan Nyai
Demang dari persembunyian Halayudha tak begitu terperhatikan.
Sekarang semua berusaha mengikuti setiap langkah dan kata pembicaraan yang
membingungkan. "Jadi kamu pun kecewa, Dodot Bintulu"
"Kamu pun mengutuk Dewa" Sungguh tak tahu malu."


Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Meskipun kata-kata itu keluar dari mulut Nyai Demang, akan tetapi nadanya
sedikit berbeda. Karena sesungguhnya pengaruh Kakek Berune yang berbicara.
Maha Singanada yang sedikit-banyak mengerti latar belakang persoalan masih tetap
mengerutkan kening. Karena tak bisa menebak ke arah mana tanya-jawab yang tengah
terjadi. Apalagi pendengar yang lain.
Hanya Gendhuk Tri yang secara samar menemukan bentuk kira-kira apa yang tengah
berlangsung. "Kenapa kamu sesali kalau jurus Air sengaja diciptakan untuk mendampingi jurus
Bumi" Jurus Bumi yang ada bukan berarti Bejujag.
Itu bisa berarti dirimu sendiri."
Halayudha menggeleng. "Kakek Berune, ketahuilah, aku adalah Halayudha, murid utama Paman Sepuh... Aku
menuntut kepada Dewa, karena ia pilih kasih.
Karena ia membenci Guru, dan ikut membenciku!
"Dewa menjadi pengecut karena tak berani muncul menghadapiku.
Padahal sudah jelas aku menantangnya."
"Ah, itu karena kamu kecewa saja.
"Dari dulu yang namanya Dodot Bintulu selalu iri.
"Dari dulu kamu tak pernah berubah."
"Kakek Berune, jangan turut campur."
"Aha, kamu kira siapa kamu ini"
"Kamu kira, kamu yang dipilih Pulangsih" Tengok wajahmu yang morat-marit dan
nasibmu yang buruk itu."
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Halayudha mengertakkan giginya.
"Bapa Guru yang mulia menciptakan Kitab Bumi, meramu ilmu segala ilmu yang ada
di tanah Jawa. Untuk diabdikan kepada Keraton, untuk dijadikan pegangan para
ksatria. "Akan tetapi justru wanita yang disayanginya menganggap itu ciptaan Eyang Sepuh.
Justru wanita yang disayangi menciptakan ilmu untuk berpasangan seolah pasangan
Eyang Sepuh dengan Putri Pulangsih.
"Tidakkah itu menyakitkan"
"Bukankah itu penghinaan Dewa yang hanya mengirimkan duka kepada Rama Guru"
"Aku tak bisa menerima.
"Sepanjang hidupnya Bapa Guru begitu banyak menderita. Sampai ke anak muridnya
dipaksa menjadi durjana, karena duka yang kelewat berat.
"Di mana ada keadilan"
"Kalau tak bisa menunjukkan, biarlah aku yang ganti mengajari para Dewa."
Walau pembicaraan simpang-siur tidak menentu, Gendhuk Tri bisa menemukan alur
yang sesungguhnya. Dari sisi tertentu, Halayudha tetap ksatria. Yang tergila-gila pada ilmu silat,
lebih dari segala urusan. Termasuk kepangkatan dan derajat mulia dalam tata
pemerintahan Keraton. Betapapun besar nafsu berkuasanya, masih terselip
keinginan untuk muncul sebagai ksatria, untuk menjadi lelananging jagat.
Itu sebabnya ketika menduduki jabatan yang begitu rapat dengan puncak kekuasaan,
Halayudha masih mengejar ilmu silat. Masih menekuni dan mencoba menguasai.
Pangkat dan derajat tinggi di Keraton pada dasarnya hanya untuk memudahkannya
mengisap semua pelajaran ilmu silat yang ada. Segala ilmu yang dianggap sakti,
tanpa memedulikan apa pun, akan dikuasai.
Tindakan itu yang menyeret Halayudha kepada berbagai tokoh penjuru dunia.
Sampai pada titik tertentu, menemukan Kitab Air.
Tirta Parwa ini pula yang membawa kepada pengertian bahwa sesungguhnya
penciptaan Kitab Air untuk melengkapi atau sebagai padanan Kitab Bumi. Untuk
melengkapi kekurangan Kitab Bumi yang dikembangkan oleh Eyang Sepuh dengan
jurus-jurus Tumbal Bantala Parwa.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Hati Halayudha terluka. Tergores duka. Tersayat hina. Gabungan antara gerakan Gendhuk Tri, yang secara jelas mewarisi ilmu Putri
Pulangsih, dan gerakan dasar Maha Singanada, menunjukkan bukti hubungan daya
asmara di belakang penciptaan.
Begitu kedua ilmu digabung, yang menyembul ke luar adalah kekuatan baru yang
menakjubkan. Kekuatan yang mampu mengalahkan segala mara bahaya.
Mampu mengungguli ilmu yang selama ini secara mati-matian memaksa Halayudha
berlatih. Kenyataan inilah yang menjungkirbalikkan Halayudha.
Jalan pikirannya menjadi kacau.
Justru pada saat itulah tiba-tiba ia teringat Guru. Teringat Paman Sepuh yang
hidupnya begitu menderita. Yang dikhianati murid-muridnya sendiri, yang
dicelakakan, yang membuatnya menderita dan pedih sepanjang hidup.
Loncatan pikiran ke arah penderitaan gurunya, selama ini tak mempunyai arti apa-
apa bagi Halayudha. Sebelumnya. Tapi tidak setelah menyaksikan perpaduan gerakan Gendhuk Tri dan Maha Singanada.
Apa yang ditemui adalah suatu kenyataan baru. Yang walaupun sudah terpikirkan,
tetap membuatnya sangat terkejut. Keberhasilan perpaduan antara bumi dan air.
Sekarang ini, Halayudha masih bisa mengalahkan Gendhuk Tri maupun Singanada.
Halayudha masih percaya diri mampu menundukkan mereka berdua, walau tidak
semudah sebelumnya. Baik karena penguasaan ilmu Gendhuk Tri-Singanada belum menyatu benar, maupun
karena Halayudha percaya diri mempunyai siasat untuk merontokkan perpaduan itu.
Akan tetapi ini semua tak membantah kekuatan baru. Kekuatan yang bisa
menundukkannya, suatu ketika. Kekuatan yang bisa meletup, berbenih dari
perpaduan daya asmara. Sesungguhnya, inilah yang menampar kesadaran Halayudha.
Yang merasa akar pijakannya lepas.
Pada saat itu, sebersit pikiran ingat gurunya.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Pada saat itu pula, Kakek Berune yang kini memakai tubuh Nyai Demang sebagai
perantara, menemukan jawaban yang sama.
Kakek Berune, Paman Sepuh, Eyang Sepuh, Mpu Raganata, maupun Putri Pulangsih
adalah tokoh-tokoh yang pernah hidup sezaman seperti mereka sekarang ini. Lebih
dari itu mereka ditalikan oleh hubungan yang erat. Baik sebagai sesama prajurit
Keraton Singasari dan pemuja Sri Baginda Raja Kertanegara, maupun sebagai sesama
ksatria. Ikatan batin yang lebih kuat terjalin karena sama-sama berharap kepada Putri
Pulangsih. Maka kemunculan Kakek Berune bisa langsung menyambung pembicaraan.
"Kakek Berune, kalau mau mati, mati saja dengan tenang."
Duka Itu Masih Menetes SUARANYA lantang keras, akan tetapi menyentuh.
"Apa kamu bilang"
"Aku baru mau mati setelah kalian semua melihat bahwa Pukulan Pu-Ni yang
terbaik, dan Pulangsih mengakui itu."
"Apa ada gunanya lagi"
"Bumi dan Air sudah bersatu. Bukan Pu-Ni dan Air, bukan yang lainnya. Masihkah
penasaran dan tak mau menerima"
"Bukankah Guru yang lebih penasaran karena Bumi yang diciptakan diakui sebagai
milik orang lain?" Sampai di sini Gendhuk Tri mengentakkan kakinya.
"Jangan asal bicara, Halayudha.
"Tak nanti Eyang Sepuh mengakui ilmu orang lain."
Halayudha menggeleng. Berulang. "Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui semua ini."
"Ngawur! "Sudah jelas kamu yang mencuri kitab pusaka warisanku."
Halayudha tersenyum. Bagai seringai kesakitan.
Seakan duka abadi masih menetes dari napasnya.
"Gendhuk Tri, ambillah Kitab Air yang dibawa Sidateka. Entah kenapa bisa disalin
oleh pendeta dari Syangka yang sembrono itu. Bawalah semuanya. Kamu berhak
mendapatkannya. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Tak ada gunanya lagi bagiku."
Bahkan Singanada yang biasa berterus terang merasa aneh dengan perubahan sikap
Halayudha yang berbalik. Gendhuk Tri sempat bertanya-tanya apakah Halayudha sedang menyusun siasat kotor.
"Ambil kembali. Selama ini kusimpan di tempat pakaian kotor, yang tak bisa
diendus Sidateka. "Gabungkan agar kalian meneruskan keinginan yang tak terlaksana.
"Meskipun itu membuat Guru sakit hati selamanya.
"Juga di tempat Guru bertemu para Dewa."
Halayudha berbalik setelah mengangguk.
"Tunggu!" Nyai Demang maju setindak.
"Bintulu, kamu sudah menyerah kalah"
"Kamu sudah mengundurkan diri" Baik, baik. Kini giliranku."
"Bapa Guru jauh lebih tenang dan bahagia daripada Kakek yang masih penasaran."
Tangan Halayudha mengedut dan dua tombak prajurit di sampingnya bisa diraup
sempurna untuk dilontarkan ke arah Nyai Demang.
Yang dengan dingin menangkap.
Tombak itu retak. Berkeping-keping. Jatuh ke samping. Dua kali Halayudha menjajal, hasilnya sama saja.
Halayudha menoleh ke arah Gendhuk Tri dan Maha Singanada.
"Itu adalah tugas kalian berdua, kalau ingin memulihkan Kakek Berune. Aku tak
ada urusan lagi." Halayudha mengibaskan tangannya.
Tubuhnya melesat ke arah luar Keraton. Sedemikian cepatnya sehingga Singanada
menggerung keras, dan kantar-nya terlontar.
Karena menduga Halayudha melakukan gerakan menyerang.
Tombak pendek itu meluncur tepat.
Halayudha hanya menggerakkan tangannya pendek, dan kantar itu terlontar kembali.
Amblas ke kori butulan. Sehingga mengunci.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Tenaga kibasan yang luar biasa hebatnya. Tenaga yang sama yang ditujukan kepada
Nyai Demang. Yang berhasil dipatahkan dengan gampang.
Singanada memandang ragu ke arah Gendhuk Tri.
Keduanya berpandangan. Menghela napas bersamaan.
Apa yang baru saja terjadi menyingkap banyak persoalan dalam hati masing-masing.
Gendhuk Tri membenarkan semua kalimat Halayudha. Termasuk bagian di mana
perpaduan antara jurusnya dan jurus Singanada yang menjadi sakti.
Ketika masih menyerang sendiri-sendiri, Halayudha seakan bisa mempermainkan.
Bisa membuat seolah latihan di mana Halayudha memberi petunjuk.
Namun begitu berubah perasaan hati mereka berdua, serta-merta Halayudha bisa
terjerat. Terkena lilitan selendang.
Padahal kalau dilihat dari kemampuannya, tak mungkin Halayudha bisa tersudutkan
dalam pertarungan. Yang membuat Gendhuk Tri menjadi risau dan gamang ialah kenyataan bahwa ia
menyadari perasaannya ketika harus sama-sama menggempur tadi. Perasaan kepada
Singanada, seperti rasa kuatir, rasa membela, dan rela mengorbankan diri.
Hal yang kurang-lebih juga dirasakan oleh Singanada.
Hanya pada dirinya hal itu tidak begitu masalah. Karena merasa sejak sebelumnya
ia menyukai Gendhuk Tri dan Gendhuk Tri menyukainya.
Tak ada pikiran lain. Tak ada kerisauan seperti yang dirasakan Gendhuk Tri.
"Mari kita ambil kitab pusaka itu, dan kita menyingkir dari tempat ini."
Gendhuk Tri masih berdiri terpaku.
Nyai Demang memandang kiri-kanan.
"Di mana kamu, Dodot Bintulu?"
Perlahan-lahan tubuhnya bergerak, melaju ke depan, seakan gerakan yang limbung.
Seolah beban di tubuh Nyai Demang begitu berat, atau kakinya tak begitu kuat.
"Kenapa tidak ditolong?"
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Suara Cebol Jinalaya menjebol perhatian Gendhuk Tri.
"Tidak sekarang ini.
"Lebih mungkin membahayakan kami dan Nyai...."
Cebol Jinalaya mengangguk-angguk.
"Kalau begitu saya saja. Saya biasa mengantarkan orang menjelang ajal...."
Dua langkah kaki Cebol Jinalaya bergerak, Gendhuk Tri menarik kembali dengan
selendangnya. Lalu bersama dengan Singanada melangkah ke bagian samping, menuju
ke tempat kediaman Halayudha.
"Maaf, Senopati Campa, bolehkah aku yang tua ini mengenalmu?"
Singanada berbalik. "Bukankah sekarang sudah mengenal?"
"Namaku Brahma. Aku dulu utusan Baginda Raja yang sama-sama dengan Senopati Muda
ke tanah Campa...." "Itu kedua orangtua ku.
"Aku tak mau membicarakan itu. Maaf."
"Apakah orangtua Senopati bernama Mapanji Wipaksa?"
Jari-jari Singanada saling beradu.
Gerahamnya beradu, menimbulkan suara keras.
Pandangan matanya tajam menusuk.
Gendhuk Tri bergidik karenanya.
Tak pernah ia mengetahui bahwa Singanada bisa berubah sama sekali.
Selama ini ia bertanya-tanya dalam hati, dari mana asal-usul Maha Singanada.
Yang diketahui hanyalah sepotong kecil: ia salah seorang putra senopati yang
diutus ke tanah Campa untuk mengantarkan putri Keraton yang bernama Dyah Ayu
Tapasi. "Jangan paksa aku bertindak kasar."
Senopati Agung Brahma menggelengkan kepalanya.
"Rasanya aku mengenali.
"Tapi kalau Senopati Muda tak mau membicarakan, aku minta maaf.
"Maaf...." Suara Senopati Agung Brahma menjadi sangat berat.
Wajahnya menunduk. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Kedua bahunya menggunduk.
Beberapa kali kepalanya menggeleng lemah. Seakan mengusir bayangan yang ganjil
dan tak bisa dilepaskan seketika.
Maha Singanada sendiri berubah sikapnya.
Pandangan matanya menatap kosong. Gerahamnya beradu.
Tangannya kaku. Langkahnya tak menentu.
"Kenapa kamu begitu kasar kepada orang yang lebih tua?"
"Aku tak mau kamu campur tangan urusanku."
Gendhuk Tri mundur setindak.
Singanada menatap tajam. Mendadak berbalik. "Senopati Brahma, aku datang untuk membunuhmu.
"Bersiaplah." Singanada ternyata tidak main-main. Ia mengambil sikap sempurna.
Kedua tangannya bersiaga, membentuk sembah, lalu berubah dalam keadaan siap
menyerang. Senopati Agung Brahma menggelengkan kepalanya.
Disertai helaan napas berat.
"Sudah lama aku mengubur semua yang berlalu.
"Kalau hari ini aku melangkah kemari, aku tak menduga bakal menemukan begitu
banyak yang telah kulupakan.
"Ah, ada sesuatu yang tak bisa mati dan dikubur."
Melihat gelagat, Mahapatih Nambi memberi isyarat dan semua prajurit serta para
senopati bersiaga membela Senopati Agung.
Kidungan Masa Silam GENDHUK TRI tegak, tak segera bereaksi.
Justru pada saat Singanada bersiap menghadapi Senopati Agung yang dikelilingi


Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

semua senopati Keraton yang ada, Gendhuk Tri termenung.
Beberapa bayangan berkelebat dalam angannya secara tak teratur.
Dalam waktu yang singkat beberapa hal terjadi dan berubah dari yang telah
dikenalnya. Yang paling mencolok ialah perubahan Halayudha. Senopati licik yang dimusuhi
Upasara - lagi-lagi Upasara, yang tak pernah merasa dendam pada seseorang, tiba-
tiba saja kelihatan ganjil perangainya.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Apa pun penyebabnya, perubahan itu kelewat mengejutkan. Yang juga membuat
Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hatinya ialah seolah Halayudha sendiri tak
menyadari sepenuhnya. Seakan ada kekuatan lain yang membuatnya berbuat berbeda
dari biasanya. Keadaan yang sekarang dialami oleh Singanada.
Selama hari-hari terakhir ia mengenalnya, Singanada adalah ksatria yang terbuka,
lelaki yang bicara terus terang dan agak sembrono, tidak begitu memedulikan tata
krama. Akan tetapi, dengan satu pertanyaan dari Senopati Agung saja, seakan
menjadi pribadi yang lain.
Ada apa sebenarnya di balik ini semua"
Jawabannya adalah masa lampau. Kidungan yang terdengar sebelumnya, yang masing-
masing mengalami sebagai sesuatu yang tak ingin diketahui orang lain.
Sekurangnya begitulah jalan pikiran Gendhuk Tri mengenai diri Singanada.
Dibandingkan dengan dirinya sendiri, Gendhuk Tri tak pernah merasa bahwa
Singanada mempunyai alasan untuk gusar besar. Apalah artinya disebutkan siapa
nama orangtuanya. Yang bahkan Gendhuk Tri pun tetap tak mengenalnya. Selain nama
yang disebutkan sebagai senopati sabrang yang dikirim ke negeri Campa. Seperti
juga senopati sabrang lainnya.
Dengan duka dan derita yang pasti dialami. Kalaupun sesuatu yang mengerikan,
Gendhuk Tri kurang yakin hal ini, tak perlu membuat kalap.
Gendhuk Tri tak pernah merasa risau dengan dirinya, ia bahkan tak mengetahui
siapa kedua orangtuanya. Yang diketahui hanyalah sejak kecil ia diselamatkan
seseorang - bisa saja Jagaddhita, bisa pula Empu Raganata - dari kemungkinan
menjadi selir kesekian ratus Sri Baginda Raja. Ia bahkan belajar ilmu silat
tanpa mengenai nama ilmu silat yang dipelajari, sebelumnya.
Upasara - tidak adakah contoh lain, Gendhuk Tri" - juga tidak mengenai siapa kedua
orangtuanya. Selain sedikit petunjuk bahwa ia berasal dari Ksatria Pingitan.
Yang sangat mungkin sekali masih mempunyai darah Keraton.
Kalaupun tidak, kalaupun mereka ini dilahirkan sebagai kelompok paminggir,
kelompok yang asal-usulnya tak diperhitungkan dalam tata masyarakat, apa
salahnya" Gendhuk Tri masih berdiri mematung.
Pergelutan pikirannya masih belum selesai.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Selain masalah masa lampau, pikiran Gendhuk Tri juga dipenuhi dengan berbagai
kemungkinan dari pengaruh ilmu silat. Selama ini ia asal mempelajari saja, dan
langsung terjun ke medan pertarungan yang ada. Tanpa peduli apa-apa. Di masa
lalu ia pernah memutuskan telinga Mpu Ugrawe yang kesohor, pernah berhadapan
dengan saudara seperguruannya yang bernama Halayudha. Pernah kerasukan darah
yang sangat beracun. Semua dijalani dengan menggelinding saja.
Akan tetapi kenyataan demi kenyataan baru memaksanya berpikir.
Sejak kemunculan Putri Pulangsih yang "antara ada dan tiada" yang bisa manjing
ajur ajer dalam pengertian yang tinggi, Gendhuk Tri tergugah hatinya.
Bahwa sesungguhnya ilmu silat yang dipelajari bukan hanya membentuk dirinya
menjadi bisa berjumpalitan atau mengerahkan tenaga dalam. Akibatnya yang lebih
langsung justru lebih hebat dari itu.
Yaitu perubahan dalam diri seseorang.
Pembentukan watak. Bukan sesuatu yang sama sekali baru. Namun baru pertama kali Gendhuk Tri
menyadari secara dalam. Pengaruh dalam watak inilah yang dulu menyebabkan Upasara Wulung - aaaah! -
memusnahkan ilmu silatnya. Pengaruh Kitab Bumi yang tak akan terpahami
sepenuhnya. Hal yang sama, yang mungkin sekali terjadi pada diri Halayudha!
Pada satu tingkat tertentu, jalan pikirannya menjadi berbalik.
Mendadak saja Halayudha mengetahui kesengsaraan gurunya.
Merasakan kepedihannya. Pada satu tingkat tertentu, Kakek Berune masih menitipkan keinginan pada tubuh
Nyai Demang. Sementara tubuhnya sendiri sudah tidak memungkinkan.
Dilihat dari hal ini, Gendhuk Tri bisa menangkap dengan jelas perbedaan apa yang
dicapai para pendekar sejati. Eyang Sepuh, seperti juga Putri Pulangsih, telah
berada pada tingkat moksa, bisa lenyap seluruh raganya. Meskipun masih tergoda
untuk muncul kembali. Sementara Kakek Berune, yang dikatakan melalui jalan agak sesat, menghadirkan
dirinya kembali melalui raga orang lain.
Lalu kalau benar ini pengaruh ilmu silat, apa yang tengah terjadi dengan
Singanada" Lelaki gagah yang membuka mata hatinya sebagai wanita. Gendhuk Tri tak mampu
meneruskan pertanyaan karena mendengar suara Senopati Sepuh yang berat.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Saya minta para senopati yang lain mundur.
"Ini tantangan seorang ksatria kepada ksatria yang lain. Tak ada hubungannya
dengan Keraton atau takhta.
"Saya minta semua saja mundur...."
Mahapatih Nambi mundur selangkah.
Diikuti para senopati yang lain.
Senopati Agung menunggu sesaat.
Mahapatih Nambi mundur lagi. Lima langkah.
Diikuti oleh yang lainnya.
"Aku sudah bersiap, Singanada."
"Bagus. Aku sudah bersumpah, siapa pun yang menyebut nama orangtua ku harus mati
di tanganku." "Aku sudah menyebutnya.
"Bunuhlah kalau bisa.
"Hanya perlu kamu ketahui, anak muda, aku menyebut bahwa aku mengenalnya. Karena
kami sama-sama berangkat pada hari yang sama ketika rembulan masih tersisa.
Melalui lautan yang sama, menghirup angin yang sama."
"Aku tak peduli itu."
Senopati Agung mengentakkan kakinya.
"Aku tahu, bapakmu keras kepala seperti kamu.
"Tak salah lagi. "Aku iri dengan keberaniannya."
Tubuh Singanada tergetar.
Diiringi oleh jeritan mengaum, tubuhnya meloncat ke depan.
Kelebatan bayangannya menuju arah depan, tapi seketika berubah di delapan arah
yang berbeda, sebelum akhirnya menerjang maju.
Senopati Agung memperdengarkan suara nyaring yang sama.
Kakinya menjejak tanah, dan meloncat ke arah bayangan Singanada.
Mengikuti gerakan tubuh Singanada. Seakan wilayah udara yang dikuasai dengan
cepat direbut kembali. Ke arah mana Singanada berkelebat, ke arah itu pula
Senopati Agung memburu. Dalam sekejap keduanya seperti main kejar-kejaran.
Diseling dengan berbenturan di tengah, saling mengadu telapak tangan, kaki, yang
cukup keras. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
"Nawawidha." Gendhuk Tri menarik kepalanya sedikit. Teriakan Nawawidha kali ini justru
diucapkan oleh Senopati Agung! Bukan oleh Singanada yang sejak pertama dikenal
mempunyai cara bernapas melipat gandakan sembilan kali.
Singanada menggerung keras.
Tubuhnya menggeliat, memutar, dan menerkam Senopati Agung.
Yang terpaksa meloncat ke samping, untuk kemudian membuang diri ke arah dinding.
Singanada mengejar. Hinggap di dinding. Keduanya terlempar ke dalam.
Kembali ke dalam halaman prameswaren.
Seperti diketahui tadi mereka sudah berada di halaman depan, melewati pintu
kecil. Karena pintu itu ditutup paksa, sekarang keduanya melewati bagian atas.
Mahapatih Nambi tidak berdiam diri begitu saja.
Tubuhnya melayang ke atas, melompat dinding pembatas. Meskipun ia dilarang
Senopati Agung turun tangan, tak mungkin berpangku tangan kalau keadaan
membahayakan. Gendhuk Tri mendongak ke atas.
Sekejap ia ragu. Menyusul ke balik dinding atau menunggu.
Sekejap berikutnya, ia melihat satu bayangan berkelebat datang dari halaman,
disusul bayangan berikutnya.
Singanada dan Senopati Agung sudah kembali ke tempat semula.
Dan melanjutkan pertarungan.
Tubuh Mahapatih Nambi pun melompat kembali. Justru pada saat itu Singanada dan
Senopati Agung melompat secara bersamaan ke balik dinding.
Raja Tanpa Takhta TUBUH Mahapatih berada di halaman prameswaren, ketika Singanada dan Senopati
Agung di luar. Begitu juga sebaliknya. Sehingga sekilas seperti permainan petak
umpet yang menggelikan. Namun para senopati yang lain menyadari bahwa yang sedang terjadi bukan hanya
permainan yang menggelikan. Bukan hanya Mahapatih yang ternyata tak bisa menebak
arah pertarungan. Melainkan
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
pertarungan dua ilmu yang senada. Dua ilmu yang sejak lama tak bisa disaksikan.
Senopati Agung selama ini tenggelam dalam kebesaran para senopati yang lain.
Kedudukannya tidak memungkinkan dirinya tampil sebagai ksatria yang memainkan
ilmu silatnya. Baru sekarang ini muncul.
Itu pun bukan awal yang menguntungkan.
Karena sudah langsung menghadapi Pendeta Sidateka, dan kemudian munculnya
Halayudha secara meyakinkan. Sehingga tokoh terhormat yang tersembunyi seakan
makin tenggelam. Dengan pemunculan Singanada, baru ketahuan bahwa Senopati Agung tetap ksatria
yang berilmu tinggi. Karena para senopati sudah pernah menyaksikan kelebihan
Singanada. Dan kini Senopati Agung mampu mengimbangi dengan baik. Malahan
beberapa kali mendiktekan jurus-jurus yang dimainkan.
Pada usia setinggi itu, kemampuan Senopati Agung menimbulkan kekaguman. Apalagi
kalau dilihat bahwa selama ini seperti tak pernah berlatih atau memunculkan
ilmunya. Sementara di halaman terjadi pertarungan, di dalam Keraton terjadi sesuatu yang
tak diduga-duga. Halayudha ternyata melesat masuk ke dalam Keraton. Dengan gagah dan bertolak
pinggang, tubuhnya melangkah lebar. Prajurit kawal pribadi Raja disingkirkan
dengan sekali menggerakkan telapak tangannya.
Dengan tetap berdiri gagah, Halayudha berdiri di depan kamar peraduan Baginda.
"Sanggrama Wijaya, raja tanpa takhta, raja tanpa kebesaran matahari, apakah
masih melanjutkan mimpi yang indah dalam dekapan wanita-wanita ayu"
Suaranya betul-betul mengejutkan siapa pun yang mendengarkan.
Nada suaranya begitu tinggi.
"Apa yang kamu lakukan, Sanggrama Wijaya" Memerintahkan para istri memijati
kakimu yang tak digunakan melangkah" Memerintah dupa wangi mengasapi rambutmu?"
Semua prajurit kawal pribadi Raja berdiri siap. Dengan senjata dan keinginan
untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dan udara yang diisap oleh Halayudha.
Sebagian sudah melarikan diri ke depan, untuk melaporkan kepada Mahapatih Nambi
dan para senopati yang lain.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Akan tetapi Halayudha seakan tak peduli.
"Ingsun masih tetap raja, memegang tampuk pemerintahan tertinggi.
Ingsun masih matahari yang tertinggi.
"Siapa bermulut lancang membusuk di depan pintu?"
Suara Baginda tetap mengguntur.
Nada dan wibawanya mengalahkan apa saja yang berada dalam ruangan sekitar.
"Benarkah kamu masih memiliki takhta"
"Benarkah kamu masih setinggi matahari" Jangan-jangan itu hanya mimpimu yang
terindah saat ini. "Sanggrama, kamu bukan raja.
"Kamu tak memiliki takhta kewibawaan. Tak memegang matahari.
Kamu tak berbeda dari Nambi, menjadi mahapatih telanjang. Tak beda dari Kala
Gemet, putra mahkota yang mengejar gadis lajang. Apa yang akan kamu persembahkan
kepada Dewa" "Apa yang membuatmu merasa sama gagah dengan takhta yang dikenakan Baginda Raja
Sri Kertanegara?" Mendadak pintu kamar peraduan membuka keras.
Dibanting dengan tenaga dalam yang besar.
Baginda menapak maju dua tindak.
"Ingsun di sini...."
Kegagahan dan kewibawaan masih terserap dengan jelas. Bukan hanya dari
penyebutan diri sebagai ingsun, akan tetapi juga memancar dari semua lubang
kulit. "Kamu di situ, Sanggrama.
"Semua tahu. "Kamu menjadi raja. "Semua tahu. "Tapi apa yang kamu lakukan selama ini" Sibuk dengan permaisurimu yang banyak,
membiarkan senopati bertarung tak mematuhi perintahmu.
"Itukah perbuatan seorang raja, wakil para Dewa?"
Dengan satu tarikan napas atau satu kedipan mata, Baginda bisa membuat seluruh
prajurit dan senopati yang ada bergerak serentak.
Sakti seperti apa pun, Halayudha akan dibuat repot karenanya. Apalagi para
prajurit dan senopati ini, seluruhnya, akan menyerang tanpa memperhitungkan
keselamatan dirinya. KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Sepuluh prajurit terbunuh tapi bisa melukai Halayudha sudah lebih dari cukup.
Karena tugas utama mengawal dan mengamankan Baginda.
"Begitu banyak kitab bagus, tapi kamu bercengkerama. Begitu banyak ilmu sakti
mandraguna, tapi kamu membuatnya tak bermakna. Begitu banyak kawicaksanan bisa
kamu lakukan, tapi kamu bekukan?"
"Apakah masih berani kamu melihat leluhurmu?"
Wajah Baginda merah seketika.
Gerahamnya beradu. Giginya bersentuhan. Pandangannya menyala. "Setan busuk mana yang menelan rohmu, hai, kawula alit?"
Halayudha mendongak. "Setan busuk mana lagi kalau bukan tetesan kawicaksanan, kebijakan, Baginda Raja
yang tanpa tanding di seluruh jagat ini"
"Baginda Raja yang menguasai takhta. Yang mengarungi semua samudra, mendaki
semua gunung, mengurung semua lembah yang diciptakan Dewa"
"Raja segala raja yang pernah ada.
"Takhta terbesar dari semua takhta yang ada.
"Wijaya, mimpi apa kamu selama ini" Bertakhta dan menikmati kehidupan seperti
prajurit kecil yang memenangkan pertarungan.
Mendapat kenaikan pangkat dan hidup bersenang-senang.
"Alangkah menyedihkan.
"Alangkah kerdilnya.
"Bagaimana mungkin yang begini ini mengaku turunan Singasari?"
Dalam telinga semua prajurit, dentuman halilintar di siang hari tak lebih
mengerikan dibandingkan apa yang diucapkan Halayudha sekarang ini.
Setan paling busuk yang sedang mabuk pun tak akan mengucapkan kalimat sekasar
dan sehina ini. Bahwa berdiri di depan Raja saja, merupakan dosa yang tak bisa terampuni selama
tujuh turunan. Apalagi dilakukan seorang senopati!
Langit dan bumi serta seluruh isinya tak bisa untuk menebus kesalahan ini.
Apalagi bertolak pinggang dan mengeluarkan kata-kata lancang.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Dunia seperti dibalik-balik, dengan matahari muncul dari arah barat menuju


Senopati Pamungkas Satu Karya Arswendo Atmowiloto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

utara. Yang lebih aneh lagi, Baginda justru terdiam.
Jelas terasakan kegusaran yang tinggi, akan tetapi tarikan napas dan suaranya
masih tetap menunjukkan kelebihan yang utama.
"Apa yang kamu inginkan, Halayudha?"
"Saya ingin mengabdi raja yang raja. Raja yang menguasai jagat.
"Raja yang duduk sejajar dengan para Dewa, yang memegang matahari di tangannya
tanpa merasa panas."
"Apa yang dilakukan raja seperti itu?"
"Membuang abu dupa. "Mengangkat senjata, membunyikan terompet, mengarungi seluruh jagat. Menaklukkan
jagat." "Apa itu semuanya?"
"Raja yang dari tarikan napasnya lahir karya-karya terbesar yang pernah ada.
Yang mengumpulkan semua kitab yang pernah ditulis manusia. Yang mengajarkan ilmu
kanuragan seluruh jagat. Yang melihat ada gunung dan sungai seberang yang bisa
dikuasai. Yang tidak memberikan tempat bagi anak-cucu dan keturunannya
mengalahkan semua. Yang membuat perahu besar agar cucunya berlayar. Yang membuat
gunung tinggi agar cucunya menggenggam matahari."
"Apa itu pernah dilakukan?"
"Itu yang dipersembahkan kepada para Dewa.
"Semua tanah, air, batu, rumput, semut menjadi saksi. Kebesaran yang tiada tara
di kelak kemudian hari, dibangkitkan mulai hari ini.
"Itulah takhta yang sesungguhnya.
"Itulah ajaran hidup."
"Semua sudah lewat."
"Tak ada yang lewat!"
"Waktu berubah."
"Kebesaran tidak berubah bersama waktu."
"Keadaan hari ini tidak sama dengan kemarin."
"Kebesaran, keluhuran, kawikcasanan selalu abadi, sampai saat para Dewa menyatu
dengan manusia." Kidungan Para Raja BAGINDA menggerakkan jari kanan mengelus alis.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Halayudha masih memandang secara langsung.
"Tembangkan kidungan itu.
"Seberapa jauh kamu mengetahui?"
Halayudha menjulurkan lidahnya. Suara dari hidungnya mendesis.
"Ingsun lebih mengetahui dari kamu yang mencuri baca kitab pusaka, Halayudha.
Kamu tak akan pernah memahami."
"Itu tandanya tak pernah dibaca dengan hati.
"Itu tandanya tak ada rasa tuntas."
Tubuh Halayudha tergetar hebat. Seolah kedinginan, menggigil.
Bergoyang beberapa saat, lalu menunduk. Lututnya tertekuk. Ambruk.
Kepalanya condong ke depan.
Perlahan dahinya menyentuh lantai.
Seiring dengan itu terdengar kidungan yang lembut, perlahan, seperti desiran
angin menggoyang ujung daun yang menguning tanpa merontokkan.
Aku raja dengan takhta yang mencipta kidungan Dewa
untuk para raja sebab aku Kertanegara hanya bisa bicara dengan sesama raja
walau tanpa mahkota Raganata menyembah ujung kakiku
melaporkan Kitab Bumi sudah selesai
ia sudah tua, mau mati tapi matanya tertutup hatinya redup aku berkata padanya untuk apa itu semua kalau dibawa ke alam baka
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Raganata menyembah ujung kakiku
melaporkan Kidung Paminggir sudah selesai
aku katakan, aku sudah membaca
sebelum kidungan itu ditulis
sebab akulah raja sebab akulah Dewa kalau aku murka karena kidungan itu tak bisa ditembangkan sembarangan
hanya darah raja yang bisa
sebab hanya Dewa yang punya matahari
ada banyak raja juga yang tak punya takhta
aku raja, punya takhta punya semuanya jagat ini bakal kukuasai sebelum Dewa menyadari Singasari ini kayangan Tempat Dewa Sebab di sini dituliskan Kidungan Para Raja Yang menguasai jagat seluruhnya
raja harus punya selaksa wanita
untuk melayani siang dan malam
raja harus punya lautan untuk membasuh kakinya, siang dan malam
raja harus punya keris untuk menggaris raja harus punya selaksa hutan
untuk memelihara singa aduan
raja harus memiliki matahari
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
untuk mengalahkan Dewa raja harus memiliki anak raja
jumlahnya selaksa kau mengerti apa, Raganata"
kau tak berdarah raja kau bicara apa, Raganata"
kalau Dewa tak memilihmu inilah Kidungan Para Raja
raja segala raja lahir dari Singasari ke seluruh jagat tulislah kidungan apa saja
tak akan mengimbangiku sebab aku raja dengan takhta seperti Dewa
yang melahirkan raja yang mengalahkan Dewa....
Suara Halayudha lembut mengalun, akan tetapi dada Baginda naik-turun karenanya.
Setiap ujung suara beralun, setiap kali pula Baginda merasa perasaannya diremas-
remas. Kidungan Para Raja adalah kitab pusaka Keraton Singasari yang ditulis sendiri
oleh Baginda Raja Sri Kertanegara. Menurut cerita yang didengarnya, Baginda Raja
masih menuliskan di saat-saat terakhir, ketika prajurit Gelang-Gelang di bawah
pimpinan Jayakatwang dan Senopati Ugrawe menyerbu masuk Keraton.
Sudah barang tentu Baginda mengerti dan pernah mendengar serta membaca sendiri
kidungan itu. Karena merupakan kitab pusaka Keraton yang tiada tandingannya.
Yang dikumpulkan bersama kitab-kitab utama yang ditulis oleh para raja.
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
Dari sekian ratus segala jenis kitab, kumpulan Kidungan Para Raja menempati
tempat yang sangat terhormat. Boleh dikatakan tak ada angin yang bisa menjamah
selain seorang raja. Maka termasuk langka kalau Halayudha bisa membacanya.
Meskipun kalau dirunut, bukan sesuatu yang mustahil. Sewaktu Baginda belum
menduduki takhta, keadaan tidak menentu. Terusirnya prajurit Kediri dan kemudian
pertarungan terakhir dengan prajurit dari Tartar serta pemindahan pusat Keraton,
sangat memungkinkan tangan lain memegang atau membuka.
Akan tetapi barangkali hanya Halayudha yang dengan jail mengintip baca.
Dan kemudian menembangkan!
Bahwa kitab ilmu silat .saja dirahasiakan begitu rupa, dan masing-masing
menganggap suci, bisa dimengerti betapa kaget Baginda mendengar Halayudha
membaca Kidungan Para Raja.
Aku telah mengirimkan selaksa perahu
menghitung jumlah air di laut biru
aku telah mengirim selaksa senopati
menikam keris seluruh negeri
aku telah mengirimkan putri-putri
meneruskan keturunan Singasari
aku telah menuliskan Kidungan Para Raja
mengalahkan para Dewa sebut negeri mana seberang macam apa yang tak kudirikan panji kebesaranku
jawabannya: tak ada aku telah mengalahkan Dewa
sebab aku telah menjadi Dewa
aku telah mengalahkan semua raja
sebab aku melahirkan selaksa raja
KANG ZUSI WEBSITE http://kangzusi.com/
akulah raja, akulah takhta
akulah Dewa akulah bumi dan air dan matahari
dan semuanya menyatu dalam Singasari menyatu dari Sri Baginda Raja Kertanegara
yang bersama semesta menciptakan semesta! Di akhir kalimatnya, tubuh Halayudha seperti terangkat dari lantai.
Melayang ke atas secara perlahan, hingga tinggal dahinya yang menyentuh lantai.
Dengan napas Baginda mengiringi gerakan perlahan, dan kini sempurnalah Halayudha
melayang ke angkasa. Tubuhnya, seluruhnya, tak menyentuh tanah.
Menggantung di tengah udara.
Beberapa saat. Sebelum akhirnya terbanting kembali. Dengan suara keras. Secepat itu pula,
Halayudha meloncat bangkit. Bersamaan dengan itu pula para prajurit kawal
pribadi menyerbu karena menduga Halayudha melakukan serangan.
Bersambung ke Senopati Pamungkas # 2
Harpa Iblis Jari Sakti 16 Makam Bunga Mawar Karya Opa Duel Di Butong 1
^