Pencarian

Salah Sambung Ii 1

Fear Street - Salah Sambung Ii The Wrong Number Ii Bagian 1


PROLOG RAUNGAN gergaji mesin menggelegar semakin keras.
Getarannya mengguncang pepohonan.
Mati-matian, Deena mengeratkan pegangannya pada cabang
pohon yang tinggi. Di sampingnya, Jade"kengerian mencengkam
terpancar di wajahnya"berusaha mempertahankan pelukannya pada
batang pohon. Getaran pohon bertambah keras saat mata gergaji menembus
kulit pohon yang tebal dan mulai menggerogoti kayunya. Sambil
berjuang keras agar tidak jatuh, Deena menatap ke bawah menembus
kegelapan, dan menatap langsung kebulatan tekad di wajah Stanley
Farberson. "Jangan!" jeritnya. "Jangan"tolong!"
Namun bunyi gergaji mesin menenggelamkan permohonannya.
Farberson telah membunuh istrinya. Dan sekarang ia akan
membunuh Jade dan aku karena kami mengetahui perbuatannya!
Pikiran mengerikan berkelebat dalam benaknya. Berulang-ulang
hingga kata-katanya meraung lebih keras daripada gergaji mesin.
Pohon berguncang semakin keras. Deena mendengar derak
yang menakutkan. Seperti bunyi tulang patah, pikirnya.
Batang pohon pun terbelah. Lalu pohonnya mulai miring.
"Kita jatuh!" lolong Jade. Lalu tidak mengatakan apa-apa lagi,
wajahnya terbungkus topeng ketakutan yang amat sangat.
Deena memeluk cabang pohon semakin erat saat pohon itu
mulai roboh. Ia membuka mulut untuk berteriak"tapi tidak terdengar
suara apa pun. Matanya membelalak ketakutan, ia menatap pohon itu jatuh,
membawa dirinya bersama-sama.
Dan sekarang ia sendiri jatuh"jatuh langsung ke mata gergaji
yang berdenging. ************* "Ooh," Deena mengerang pelan dan menggeleng.
"Aku tak apa-apa." Ya, ia tidak apa-apa. Ia tengah
membungkuk di atas mejanya, menatap langit malam di balik jendela
kamar tidurnya. Mengingat-ingat. Mengingat-ingat sekali lagi malam yang mengerikan itu. Malam
di Fear Street. Malam ketika Stanley Farberson hampir membunuh dia
dan Jade. Setahun telah berlalu, katanya sendiri, sambil menggeleng
seakan hendak mengusir kenangan itu. Kenapa aku masih saja teringat
pada kejadian itu" Kenapa aku terus teringat saat berada di pohon,
menatap pandangan liar Farberson, mendengar raungan gergaji
mesinnya. Deena bangkit berdiri dan melangkah tertatih-tatih ke kaca rias.
Sambil bersandar ke meja rias, ia menatap bayangannya sendiri, pada
matanya yang kelelahan, ekspresinya yang tegang dengan bibir
terkatup rapat. "Tak ada yang perlu ditakuti sekarang," katanya sendiri.
"Farberson ada di penjara. Terkurung seumur hidup. Ia tak bisa keluar.
Ia tak bisa menyakiti kami lagi. Ia tak bisa..."
BAB 1 "BAGAIMANA tampangku dengan rambut pirang?"
"Apa?" Deena Martinson membanting buku sejarahnya hingga
tertutup dan memandang temannya sekilas.
"Aku serius," kata Jade Smith, sambil memuntir-muntir rambut
kemerahannya yang panjang dengan jari. "Kupikir punya rambut
pirang pasti asyik, setuju" Aku pasti mirip Sharon Stone."
Deena tertawa. "Kau ini ada-ada saja," katanya. "Rambutmu itu
yang paling bagus di sekolah, dan sekarang kau mau mengubahnya?"
"Atau mungkin sebaiknya aku mengenakan lensa kontak
berwarna." Jade berguling dari ranjang, tempat ia tadinya belajar. Ia
berdiri di depan cermin yang setinggi dirinya. Pakaian hijau cerah
ketatnya menyebabkan matanya tampak semakin hijau, dan
menampilkan posturnya yang indah.
Ia mengaitkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O
kecil dan menempelkannya ke mata. "Bagaimana tampangku kalau
mataku biru?" tanyanya.
"Jade, memangnya ada apa?" tuntut Deena. "Kau sudah sangat
cantik dengan penampilan aslimu. Kenapa kau ingin mengubahnya?"
"Bosan," keluh Jade. Ia menjatuhkan diri ke ranjang kembali,
mengaduk-aduk laci meja samping ranjang"mencari gunting kuku"
lalu mengguntingi kuku tangan kirinya.
"Aku juga," kata Deena sambil mendesah. "Mungkin aku yang
seharusnya ganti penampilan."
"Kenapa begitu?" tanya Jade.
"Entahlah. Mungkin akan lebih mudah mencari pacar baru
dengan penampilan baru."
Jade tertawa. "Bagaimana ceritamu dengan Pete Goodwin?"
"Pete itu membosankan," jawab Deena lembut.
"Kau mau kembali pada Rob Morell"begitu rupanya!" tuduh
Jade. Deena merasa wajahnya memanas dan tahu pipinya memerah.
"Mungkin." "Yah, lupakan saja," kata Jade padanya. "Rob sudah terlalu
tergila-gila pada Debra Kern, boleh dikatakan dia sudah tak bisa lagi
bicara dengan yang lainnya." Jade berkonsentrasi menggunting
kukunya. "Bagaimana dengan Steve Mason" Dia manis juga. Dan
aksen Australianya luar biasa."
"Ia tak pernah tertarik padaku," gumam Deena.
"Kenapa tidak?" tanya Jade. "Kau cuma perlu mengejarnya."
"Yang benar saja!" kata Deena, sambil memutar bola matanya.
"Bagaimana caranya?"
"Mudah," jawab Jade. "Lain kali kalau kau bertemu dengannya,
ajak bicara saja. Biar dia tahu kau naksir."
"Memangnya dengan begitu ia akan tertarik padaku?"
"Aku selalu berhasil dengan cara itu," kata Jade. "Malah?"
Telepon di meja samping ranjangnya berdering. Ia meletakkan
gunting kukunya dan meraih tangkai telepon. "Oh, hai, Teddy!"
Suaranya terdengar bagai dibanjiri madu. "Yah, tentu saja. Bagaimana
denganmu?" Deena terpesona menatap temannya. Bilamana berbicara
dengan cowok, seluruh ekspresi Jade berubah. Matanya menyalanyala, dan mulutnya melontarkan senyum misterius. Nada suaranya
membuat cowok itu merasa seperti orang yang paling hebat di seluruh
dunia. Deena dan Jade telah bersahabat sejak kelas empat. Tapi Deena
masih belum mengetahui bagaimana cara Jade melakukannya.
"Ya, Teddy, pasti. Uh-huh. Itu Jumat malam, kan" Tentu saja.
Aku tak mau ketinggalan. Oke." Jade meletakkan tangkai telepon.
"Teddy, ya?" tanya Deena.
"Uh-huh," Jade mengangguk. "Dia mau memastikan aku ikut ke
pertandingan besok malam."
Teddy Miller, bintang penjaga tim basket Shadyside Tigers,
orangnya jangkung dan kekar. Sebagian besar cewek di sekolah
menganggapnya sebagai salah satu cowok paling tampan. Ia sudah
berpacaran dengan paling tidak selusin cewek, dan sekarang ia sangat
tertarik pada Jade. "Hei, kukira kau dan aku akan nonton pertandingan bersamasama," kata Deena.
"Well, tentu saja kita akan pergi bersama-sama," jawab Jade.
"Teddy cuma mau memastikan aku akan menyaksikan dia
bertanding." Ia menyipitkan mata dan menatap Deena. "Kau tahu apa
yang salah denganmu?" katanya. "Kau kurang percaya diri."
Deena tertawa. "Apa hubungannya?"
"Itu sebabnya kau tak berani mengajak Steve bercakap-cakap,"
kata Jade mengambil kesimpulan. "Kau salah satu cewek paling
menarik dan pintar di Shadyside High. Entah kenapa kau tak mau
memberitahukannya pada Steve."
Karena aku malu, pikir Deena. Tapi ia lalu menyadari bahwa
pendapat itu hanya satu cara lain untuk mengatakan ia kurang percaya
diri. Mungkin Jade benar.
"Tolong ambilkan sikatku," kata Jade. Ada di meja rias."
Deena mengulurkan tangan untuk meraih sikat rambut itu. Di
bawahnya terdapat amplop dengan alamat Jade. Ia memberikan sikat
kepada Jade, lalu mengambil amplop itu. Deena mengenali tulisan
tangan di depannya. "Ini dari Chuck?" tanyanya.
"Tiba kemarin," kata Jade, sambil menyisir rambutnya yang
kemerahan. "Berapa sering ia menulis surat padamu?" tanya Deena.
"Setiap minggu," jawab Jade.
"Kau pasti bergurau!" jerit Deena. "Chuck sempat menulis surat
di akademi?" "Begitulah," kata Jade.
"Mungkin akademi sudah mengubahnya," kata Deena sambil
berpikir, menatap amplop itu. "Ia tampaknya tidak lagi terlibat
masalah. Polisi sana belum pernah menelepon sama sekali!"
Jade mencibir. "Saudara tirimu itu memang liar! Kupikir dia
orang paling pemarah yang pernah kukenal." Ia terus menyisir
rambutnya. Pemarah cuma salah satu kata untuk itu, pikir Deena suram.
Yang lainnya sinting. Tapi mungkin Chuck sudah belajar
mengendalikan temperamennya.
Ia merasa kenangan setahun yang lalu mendesak ke dalam
benaknya. Ia teringat ketika Chuck menelepon gila-gilaan.
Menghubungi nomor-nomor secara acak"hanya untuk bergurau.
Tapi gurauannya berakhir waktu Chuck menelepon salah satu
nomor di Fear Street. Nomor telepon Stanley Farberson. Chuck
menelepon pada saat yang tidak tepat. Farberson akan membunuh
istrinya. Jeritan istri Farberson di latar belakang memaksa Deena,
Jade, dan Chuck ke rumah Farberson untuk menyelidiki.
Untuk terlibat. Terlibat dalam pembunuhan mengerikan. Dan hampir
menyebabkan mereka sendiri terbunuh.
Semuanya karena Chuck. "Terkadang dia menulis lebih sering," kata Jade. "Dia benarbenar lebih manis. Sayang aku tak sempat membalas."
"Apa maksudmu tak sempat?" tuduh Deena.
"Kau tahu aku suka pada Chuck," Jade menjelaskan. "Tapi,
yang benar saja, dia di akademi, dan aku di Shadyside sini. Apa aku
harus mengurung diri demi dia?"
Sejenak Deena tidak menjawab. Jade selalu berganti-ganti
cowok. Tapi rasanya berbeda kalau mengenai saudara tiri Deena.
"Apa Chuck tahu kau pacaran dengan Teddy" Dan dengan cowokcowok lainnya?" tanya Deena.
"Aku tak tahu apa yang Chuck tahu," jawab Jade tajam.
"Maksudku, apa yang tak diketahui Chuck takkan menyakitinya,
kan?" "Kurasa begitu," gumam Deena. Ia merasa tidak enak.
Bukannya Jade dan Chuck sudah bertunangan atau semacam itu. Tapi
Deena merasa mereka berdua cocok satu sama lain.
"Kalau Chuck tahu dan meledak?" Deena memulai.
"Bukan masalah. Aku bisa mengatasi Chuck," Jade
meyakinkannya. Ia selesai menyisir rambutnya dan bangkit berdiri.
"Aku mau mengambil keripik atau apa di bawah. Kau mau Coke?"
tanyanya. Tanpa menunggu jawaban, Jade keluar ke koridor. Saat itu,
telepon kembali berdering. "Bisa kau terima?" teriaknya.
"Baik," kata Deena. Ia meraih telepon. Sekadar untuk bergurau,
ia memutuskan untuk meniru suara Jade yang merayu-rayu. "Haloooo," dengkurnya.
"Jade?" geram suara di ujung seberang.
"Siapa itu?" tanya Deena, jantungnya berdebar keras.
"Ini salah sambungmu, Jade," sergah suara berat itu.
"Hah" Apaku?"
"Ini salah sambungmu. Aku akan datang untuk memutuskan
hubungannya. Segera."
BAB 2 "SIAPA?" tanya Jade, sambil masuk kembali ke dalam kamar.
Ia meletakkan semangkuk keripik di meja rias dan memberikan
sekaleng Coke kepada Deena.
"Dari"rasanya salah sambung," kata Deena.
"Aku sering menerima salah sambung," kata Jade, sambil
mengunyah sepotong keripik kentang besar. "Apa bukan dari?" Ia
terdiam saat melihat ekspresi Deena. "Deena" Tampangmu aneh
sekali. Ada yang tak beres?"
"Telepon itu tadi," Deena menjelaskan. "Katanya dia"dia salah
sambungmu." "Maksudnya?" "Jade, suaranya seperti Mr. Farberson!" jerit Deena. "Suaranya
berat dan kasar." "Kau bercanda," kata Jade, tampak tenang sekali. Ia meraih
segenggam keripik ken tang lagi "Tak mungkin dia menelepon,
Deena. Mustahil."ebukulawas.blogspot.com
"Aku tahu," Deena mengakui. "Tapi suaranya mirip sekali. Dan
katanya"dia mau kemari atau apa."
"Tak mungkin," ulang Jade. "Farberson dihukum dua puluh
tahun. Dia bahkan tak bisa dibebaskan dengan jaminan sebelum
bertahun-tahun mendatang."
"Yah..." Deena berpikir sejenak. "Kau benar. Aku tahu kau
benar. Tapi aku tak bisa tidak merasa kacau setiap kali teringat
padanya. Aku masih terus bermimpi buruk tentang pengalaman kita."
"Aku juga," Jade mengakui. "Maksudku, bagaimanapun dia
hampir membunuh kita."
"Sulit dipercaya kalau semuanya dimulai dari telepon," lanjut
Jade. "Telepon ngawur," tambah Deena. "Tapi menyenangkan"
paling tidak pada awalnya."
"Aku benar-benar suka waktu kita meneleponi cowok-cowok
itu," kata Jade sambil menyeringai. "Ingat waktu kita membuat suara
kita terdengar seksi dan berusaha meyakinkan mereka kalau kita
diam-diam sangat mencintai mereka" Benar-benar sinting."
"Tapi tak lucu lagi begitu Chuck ikut terlibat," Deena
mengingatkannya. "Terutama waktu dia mulai mengancam melalui
telepon." "Chuck benar-benaaar busuk," kata Jade, mencibir. Ia
menawarkan semangkuk keripik kentang kepada Deena. "Telepon
yang kauterima tadi mungkin dari berandalan di sekolah yang mau
menakut-nakuti kita. Bagaimanapun, semua orang di Shadyside tahu
tentang peristiwa setahun yang lalu itu."
"Ya. Mungkin," jawab Deena sambil berpikir. "Tapi rasanya
masih menakutkan." "Lupakan saja," kata Jade tegas. "Nih. Ambil keripik
kentangnya. Hadapilah risiko hidup ini!"
********** Deena ditelepon sesaat sebelum tengah malam.
Ia baru saja memadamkan lampu dan hanyut ke dalam mimpi.
Dering telepon menyentakkannya.
"Halo?" gumamnya, suaranya dibebani kantuk.
"Deena" Deena Martinson?" bisik suara dari ujung seberang.
"Ya?" Ketakutan membanjiri dirinya.


Fear Street - Salah Sambung Ii The Wrong Number Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tadi aku menelepon temanmu," kata suara serak itu.
"Siapa ini?" tuntut Deena, ia duduk, jantungnya berdebar keras.
"Katakan saja aku ini teman lama. Orang yang sudah lama
sekali tak bertemu denganmu.
"Kau mau apa?" jerit Deena.
Tiba-tiba kemarahan menggumpal dalam dirinya. Tidak
mungkin Farberson yang meneleponnya. Ia masih ada di penjara.
Siapa yang meneleponnya sekarang ini"
"Kau mau apa?" teriak Deena.
"Balas dendm," bisik suara itu.
Deena mendengar bunyi klik. Hubungan terputus.
********** Keesokan harinya Deena berjuang untuk memperhatikan
aljabar, tapi benaknya tidak mau berkonsentrasi pada angka-angka.
Sebaliknya, ia terus-menerus mendengar suara serak penelepon itu,
dan ancamannya yang menakutkan?"Balas dendam."
Deena benar-benar tidak menduga ketika Mr. Forrest
mengadakan tes kecil. Ia belum sempat menyelesaikannya saat bel
berdering. Jadi ia bergegas menjawab sekenanya ketiga soal terakhir.
Ia mengumpulkan jawabannya lalu mulai mengemasi kertaskertas dan buku-bukunya. Saat melangkah ke pintu, ia hampir saja
bertubrukan dengan Steve Mason. Pelajaran Steve yang berikutnya
diselenggarakan di ruangan itu.
Masalahnya, kau kurang percaya diri. Kata-kata Jade semalam
terngiang di benaknya. Ajak dia ngobrol, instruksi Jade. Biar dia tahu
kau naksir dia. Kenapa tidak" pikir Deena. Sebelum sempat berpikir dua kali,
ia telah memaksa diri berbicara dengan Steve Mason. "Hai, Steve!"
sapanya sambil tersenyum lebar.
"Hai. G'day," jawab Steve, terkejut.
"Kau suka udara dingin?" sembur Deena.
"Sebenarnya lumayan," sahut Steve. "Lain dengan Sydney." Ia
tersenyum pada Deena. "Siapa Sydney itu?" tanya Deena bergurau.
Ia mengira Steve akan tertawa, tapi tidak.
Apa dipikirnya aku tak tahu Sydney itu kota di Australia"
Deena penasaran, merasa wajahnya memerah.
"Well, sampai ketemu," katanya malu-malu. Benar-benar
konyol! pikirnya sedih, sambil bergegas pergi.
"Ya. Sama-sama," terdengar sahutan Steve dari belakangnya.
********** Ketika Deena keluar dari ruang olahraga, pelajaran terakhirnya,
ia mendapati Jade tengah menunggunya dekat air mancur. Jade
mengenakan pakaian ketat berwarna merah cerah dengan jaket pendek
hitam. Aku tak mungkin berpakaian seperti itu, pikir Deena. Tapi Jade,
seperti biasa, tampak cantik sekali.
Seperti biasa, juga dikerumuni cowok-cowok"Teddy dan tiga
temannya dari tim basket.
"Sampai nanti, Teddy." Jade melontarkan senyum lebar. "Aku
akan pulang dengan Deena untuk menyusun makalah ilmiah kami di
rumahku." "Sampai nanti," kata Teddy, melontarkan penghormatan satu
jari kepada kami berdua. Ia berlalu bersama teman-temannya.
Deena mendului berjalan keluar sekolah. Matahari bersinar
cerah dari balik awan, tapi udara terasa dingin. Salju telah menutupi
tanah selama beberapa hari terakhir. Sekarang telah mulai mencair dan
berwarna kelabu. Trotoar dipenuhi genangan air kotor.
Rumah Jade tidak jauh dari sekolah. Saat mereka berjalan
menyusuri Park Drive, Deena menceritakan telepon semalam kepada
temannya. "Kau pasti bercanda!" seru Jade. "Orang yang sama?"
"Kedengarannya begitu," kata Deena bersikeras. "Ia menyebut
namaku, dan ia menyebut dirimu."
"Pasti berandalan yang sedang bikin lelucon tak lucu"setuju?"
tanya Jade. "Tak mungkin Farberson." Ia terdengar agak ragu. "Orang
tak bisa menelepon dari penjara, kan?"
"Kurasa tidak," sahut Deena. "Tapi seandainya Farberson bisa,
untuk apa ia menelepon kita" Ia masih akan dipenjara selama
bertahun-tahun." "Jadi pasti orang lain. Orang yang mau menakut-nakuti kita,"
Jade memutuskan. "Rasanya begitu."
"Artinya, cara terbaik untuk mengatasinya adalah jangan
ketakutan," Jade menyarankan.
"Benar," ulang Deena. Ia lalu menceritakan percakapan
singkatnya dengan Steve tadi pagi"saat tiba-tiba Jade menyambar
pergelangannya. "Deena!" bisik Jade. "Kaulihat mobil di depan itu?"
Deena tadinya tidak memperhatikan, tapi sekarang mengalihkan
pandangannya ke jalan. Sebuah Oldsmobile hijau bobrok dengan
jendela berkaca gelap perlahan-lahan melaju menjauhi mereka.
"Memangnya kenapa?" tanyanya.
"Mobil itu sudah dua kali melewati kita."
"Kau bercanda," kata Deena. "Untuk apa begitu" Apa anak dari
sekolah kita?" "Entahlah. Tapi aku penasaran" Itu dia." Mobil itu tiba-tiba
melesat dan berbelok di tikungan, bannya berdecit-decit.
"Aneh," gumam Jade. "Omong-omong, apa yang mau
kaukatakan tadi?" Deena mengumpulkan kembali pikirannya yang berantakan dan
menceritakan kepada Jade tentang kejadian tadi pagi waktu ia
bertubrukan dengan Steve. "Ia bahkan tak mengerti gurauanku!"
lolongnya. Jade tertawa. "Mungkin ia sudah pernah mendengarnya."
Ekspresinya berubah serius. "Lalu, apa yang terjadi sesudah kau
bercakap-cakap dengannya?"
"Tak ada." "Tak ada?" "Yah, aku harus mengikuti pelajaran. Lagi pula, aku tak tahu
harus bilang apa lagi."
"Tak penting apa yang kaukatakan," Jade meyakinkannya.
"Pokoknya asal dia tahu kau naksir dia. Lain kali kalau kau bertemu
dengannya, tanyakan sesuatu. Tanyakan grup musik Australia
kesukaannya. Atau tanyakan olahraga apa yang dilakukannya di
Australia sana. Pokoknya jangan bergurau lagi tentang Sydney."
"Tapi aku tak tahu apa?" Deena terdiam saat sebuah mobil
melaju melewati kedua gadis itu. "Jade"itu mobil yang sama!"
"Aku tahu," bisik Jade. Mobil bobrok itu berwarna hijau lumpur
gelap, dengan jendela-jendela yang begitu gelap hingga mustahil bisa
melihat orang di dalamnya.
"Jangan pedulikan," Jade menginstruksikan. Mobil itu boleh
dikatakan merangkak sekarang, menjajari langkah kedua gadis itu.
Mereka mempercepat langkah, dan mobil itu pun menambah
kecepatan. Deena menyipitkan mata untuk melihat pengemudinya. Tapi
kaca gelap jendelanya menghalangi.
Jade berhenti mendadak. Mobil itu juga berhenti.
"Jade, ayo," kata Deena tanpa bernapas. "Kita pergi dari sini."
Jade berbalik menatap mobil itu. Pada saat yang sama, Deena
mendengar bunyi klik pintu mobil terbuka.
"Jade?" jeritnya panik. "Ia"ia mengejar kita."
"Lari!" teriak Jade.
BAB 3 JADE menyambar lengan Deena dan menyeretnya di sepanjang
genangan salju. Mereka menyelinap ke celah di antara dua rumah.
Apakah orang itu mengikuti mereka" Apakah ia berada tepat di
belakang mereka" Gadis-gadis itu terlalu takut untuk berpaling ke belakang.
Sambil terpeleset salju lembut dan lumpur berulang kali, mereka
berlari sepanjang lorong-lorong kecil yang berliku-liku.
Pada saat dinding beton yang mengelilingi halaman rumah Jade
muncul, Deena tengah berjuang mati-matian untuk bernapas. Sakit
yang hebat menusuk-nusuk sisi tubuhnya.
"Ayo!" Jade tersentak, menarik gerbang hingga terbuka.
Sambil terengah-engah, Deena merunduk masuk dan berlindung
di halaman. Jade membanting gerbang. Lalu, sambil menghela napas dalam,
ia menjulurkan kepalanya ke atas pagar dan mengintip ke arah
kedatangan mereka. "Tak ada orang," lapornya.
"Tapi mobil itu jelas mengikuti kita," Jade bersikeras, sambil
masih terengah-engah. "Mungkin orangnya cuma mau menanyakan arah," Deena
menduga, menunggu sakit di sisi tubuhnya menghilang.
"Mungkin," kata Jade. "Tapi aku tak percaya"dan kurasa kau
juga tidak." "Menurutmu apa dia orang yang sama dengan yang
menelepon?" tanya Deena.
"A"aku tak tahu," kata temannya. "Tapi aku tak mau
mengambil risiko. Ayo masuk."
*********** Keesokan harinya, Jumat, pelariannya yang penuh ketakutan di
sepanjang lorong-lorong masih membebani benak Deena saat ia
menyusuri koridor-koridor Shadyside High.
Steve Mason, kau di mana" tanyanya pada diri sendiri.
Ia telah memutuskah mencoba bercakap-cakap dengan Steve
lagi. Tapi ia tidak melihatnya sepanjang hari ini.
Apa Steve sakit" Tidak. Saat berbelok di tikungan, Deena melihatnya melangkah
ke laboratorium ilmiah. Steve tidak sendirian.
Ia tengah berjalan bersama Bree Wade, salah satu kembar Wade
yang jangkung dengan rambut hitam. Mereka bercakap-cakap sambil
berdekatan dan tertawa-tawa.
Tentu saja! pikir Deena pahit. Kenapa aku mengira bisa
mengejar cowok seperti Jade"
Lupakan saja Steve, katanya sendiri. Dan itulah yang ia coba
lakukan sepanjang permainan voli di ruang olahraga. Ia tengah
mengeringkan rambut pirangnya setelah pelajaran olahraga, waktu
melihat Jade berdiri di belakangnya dari cermin.
"Oh, hai, Jade." Deena menyemburkan udara panas dari hairdryer untuk terakhir kalinya lalu meletakkannya.
"Kalau mau menyaksikan tim basket latihan, sebaiknya kita
bergegas," kata Jade. "Belnya sudah berdering sepuluh menit yang
lalu." Benar. Pertandingan itu. Deena menyelipkan hair-dryer-nya ke
ransel, lalu menyampirkan ransel itu dan tas pakaian ke pundaknya.
Orangtuanya akan menyaksikan konser di Waynesbridge, jadi Deena
akan menginap semalam di rumah Jade setelah pertandingan.
Mereka meletakkan barang-barangnya di rumah Jade, lalu naik
bus ke Mattewan High. Mereka tiba tepat pada saatnya untuk
mendapatkan tempat duduk di baris kelima tengah.
Deena tidak benar-benar menyukai basket, tapi senang
menyaksikan pertandingannya. Ia senang bertemu dengan temantemannya dan bersorak-sorak untuk memberi semangat para pemain
Shadyside. "Hai, Deena! Hai, Jade!" Lisa Blume muncul membawa
sekantong besar popcorn. "Tempat duduk yang hebat, guys!"
"Kaulihat?" kata Jade. "Sudah kukatakan ada untungnya datang
lebih awal." "Ya, mungkin," kata Deena. Tapi ia tahu alasan Jade menyukai
datang lebih awal" untuk menyaksikan para pemain melakukan
pemanasan. Sebagian besar kursi telah terisi. Jade turun untuk menyapa
Teddy. Deena membiarkan pandangannya berkeliaran mengawasi
stan-stan yang penuh sesak.
Steve"apa kau ada di sini" ia penasaran.
Tidak terlihat sama sekali.
Mungkin dia tak menyukai olahraga Amerika, pikirnya. Atau
mungkin dia duduk di sisi yang salah. Bagaimanapun, Steve belum
begitu lama di Amerika Serikat. Mungkin dia tak tahu tentang tim
tuan rumah dan tamu. Ia memandang ke seberang lapangan ke arah tempat duduk tim
tuan rumah. Yang terlihat hanyalah lautan warna merah dan biru
Mattewan. Ia takkan pernah menemukan Steve seandainya cowok itu
ada di sana. Deena baru saja akan menyerah"saat seseorang menarik
perhatiannya. Seorang pria mengenakan topi berburu oranye duduk
merosot dalam bayang-bayang di sisi tempat duduk tuan rumah.
Topi pria itu begitu rendah menutupi wajahnya hingga Deena
menemui kesulitan untuk mengenalinya. Ada sesuatu yang aneh pada
pria itu, tapi juga ada perasaan mengenali.
"Teddy benar-benar cowok hebat," kata Jade, kembali duduk di
samping Deena. "Katanya kita akan menang. Kau lihat apa?"
"Di sana," jawab Deena, menunjuk ke seberang lapangan.
"Kaulihat orang yang agak bersandar ke pintu itu" Dia agak aneh,
kan?" "Hah" Orang apa?" tanya Jade.
Deena memandang ke sana. Pria itu telah lenyap.
Bunyi peluit mengalihkan perhatian mereka kembali ke
pertandingan. Selama sejam berikutnya Deena tenggelam dalam
pertandingan. Mattewan Blue Sharks adalah salah satu pesaing utama
Shadyside. Dan pertandingan pertama antara kedua sekolah
merupakan salah satu pertandingan terbesar tahun ini.
"Ayo, Tigers!" jerit Jade. Setiap kali Shadyside mendapat bola,
ia melompat-lompat di kursinya. "Sikat, Teddy!"
Di sepanjang sisi lapangan, para pemandu sorak melakukan
rutinitas mereka, mendorong para penggemar berteriak lebih keras.
Di akhir paro pertama pertandingan, nilai bersaing ketat di
angka 35. Dalam paro kedua, posisi pemimpin pertandingan terus
berpindah tangan. Tidak satu tim pun yang mampu mendapatkan
kemenangan lebih dari satu bola.
"Pertandingan hebat! Pertandingan hebat!" jerit Deena. Ia juga
berdiri seperti orang-orang lainnya. Sorak penonton begitu keras
hingga mengguncang panggung penonton, dan Deena merasa atap
gedung akan meledak! Hanya tersisa beberapa detik lagi. "Bertahan! Bertahan!" teriak
para pemandu sorak Shadyside Tigers.
"Bertahan!" ulang para penggemar.
Mattewan meminta time-out. Deena mengamati Corky
Corcoran, pemimpin pemandu sorak, berjungkir balik dua kali. Lalu ia
memimpin para pemandu sorak yang berseragam merah tua dan putih
bersorak keras. Deena turut bersorak saat melihat kilasan oranye di
sampingnya. "Hei?" Ia membungkuk maju dan mengintip ke samping ke
ujung deretan tempat duduk.
Itu dia. Orang asing yang mengenakan topi berburu oranye.
Pria itu berdiri di sisi Shadyside di panggung penonton
sekarang. Ia tampaknya mengamati para penonton, bukan
pertandingannya. Kenapa orang itu terasa akrab" Deena bertanya sendiri.


Fear Street - Salah Sambung Ii The Wrong Number Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Deena!" Jade menyambar lengannya. "Deena, kau kenapa sih"
Time-out-nya sudah selesai!"
Deena memusatkan perhatian kepada pertandingan. Blue Sharks
telah memimpin dua poin. Shadyside mendapat bola sementara waktu
hanya tersisa lima belas detik.
"Tembak, Teddy!" Jade berteriak. "Tunjukkan pada mereka!"
Gary Brandt, kapten tim Tigers, men-dribble bola ke keranjang.
Ia menembak. Luput. Bolanya memantul ke tangan penjaga Mattewan. Para pemain
berhamburan kembali ke lapangan pihak Mattewan.
"Ambil bolanya!" jerit Jade.
Tinggal empat detik. Deena sadar bahwa ia telah menahan napas, paru-parunya
seakan telah berpindah ke kerongkongan. "Ayo, Tigers! Ambil
bolanya!" jeritnya. Ia melihat Teddy meraih bola dan mencurinya dari penjaga
Mattewan. Ia berputar balik ke keranjang.
Dua detik. Satu. "Tembak!" jerit Jade dan Deena bersamaan. "Tembak!"
Teddy mengangkat bola dan melontarkannya dari tengah
lapangan. Bel berdering. Bolanya masuk ke keranjang dengan mulus.
Tiga poin! Shadyside menang! Panggung penonton berguncang saat para penonton bersorak.
"Kita menang! Kita menang!" Jade memeluk Deena.
Deena balas memeluknya. Dari balik punggung Jade, ia melihat
pria yang mengenakan topi berburu oranye. Orang itu tengah
menyelinap keluar pintu. Deena masih belum melihat wajahnya. Tapi ia merasa"
perasaan yang sangat mengganggu"telah mengenal pria itu. Telah
pernah bertemu dengannya sebelum ini.
Kenapa ia tidak bisa mengingatnya"
Apakah pria itu seseorang yang tidak ingin diingatnya"
************ Mereka baru pulang ke rumah Jade setelah larut malam.
Sesudah pertandingan, Deena, Jade, dan sekelompok anak Shadyside
lainnya berjejal-jejal dalam van Teddy dan menuju ke Pete's Pizza
untuk merayakan kemenangan.
Perayaan berjalan lebih dari sekadar liar. Deena sempat
khawatir kalau mereka akan dilempar ke luar atau ditangkap karena
mengganggu ketertiban! Sekarang ia, Jade, dan Teddy berdiri di bawah siraman cahaya
pucat lampu serambi rumah Jade. "Selamat malam, Teddy," kata Jade.
"Thanks untuk tumpangannya."
"Tak apa-apa, Jade," gumam Teddy. Ia menatap Jade seakan
cewek itu permata yang sangat berharga.
Deena berpaling dan memutar bola matanya. Yang benar saja!
pikirnya. "Sampai ketemu," kata Jade. Entah bagaimana ia berhasil
mengatakannya tiga kali lebih lama daripada yang seharusnya.
"Nanti kutelepon," kata Teddy. Ia memeluk Jade dan mereka
mulai berciuman. Apa kalian bisa cepat sedikit" Deena merasa tidak nyaman. Aku
bisa mati beku di sini! Salah satu anak dalam van membunyikan klakson. Lalu semua
dalam van mulai berteriak-teriak dan bersuit-suit.
"Oke, oke!" teriak Teddy. Ia melepaskan Jade dan berlari-lari
kecil menyeberangi jalan setapak ke van.
"Teddy hebat sekali!" Jade mendesah, sambil membuka kunci
pintu depan. "Kau setuju?"
"Boleh juga," sahut Deena, sangat ingin masuk rumah.
"Boleh juga" Kukira kau menyukainya."
Deena mengangkat bahu, lalu mengikuti Jade menaiki tangga.
"Di mana orang-orang?" tanya Deena.
"Cathy menginap di rumah temannya, dan Mom menghadiri
pesta pemotong rambut. Dia pulang terlambat."
Jade menanggalkan jaketnya dan menyangkutkannya ke kenop
pintu. "Well?" katanya, berpaling kepada Deena.
"Well, apa?" balas Deena. Ia menjatuhkan tasnya di tepi ranjang
Jade dan duduk untuk membuka ikatan tali sepatu botnya.
"Kau kenapa sih?" Jade mengerutkan kening. "Kenapa kau
sedih" Ini malam yang luar biasa!"
"Ya. Kurasa begitu," kata Deena dengan perasaan enggan.
"Cuma, yah, rasanya kau cuma memanfaatkan Teddy."
Jade tertawa, tapi senyumnya segera menghilang. "Kau omong
apa, Deena" Kadang-kadang kupikir asalmu dari Mars!"
"Maksudku"kau tak menganggap Teddy seseorang yang
istimewa," Deena bersikeras, berbicara pelan-pelan, penuh pikiran.
"Malam ini dia istimewa!" sela Jade. "Dia memenangkan
pertandingan pada detik terakhir!"
"Tapi menurutmu dia tak seistimewa Chuck," kata Deena.
"Mereka lain," jawab Jade tidak sabar. "Teddy di sini dan
Chuck di akademi ratusan mil dari sini."
"Itu maksudku," kata Deena. "Kau cuma memanfaatkan Teddy.
Kau cuma mau bersenang-senang sampai Chuck kembali."
"Kau tahu tidak?" Jade meradang. "Kupikir kau cemburu."
"Tidak!" protes Deena. "Cuma?" Ia menghentikan katakatanya karena mendengar ketukan.
"Hah" Apa itu?" tanyanya.
Jade memiringkan kepalanya. Kedua gadis itu menatap lurus ke
depan, mendengarkan dengan penuh perhatian.
Tidak terdengar apa-apa. Sunyi sekali.
Jade mengangkat bahu. "Pokoknya, Deena," katanya sambil
mengerutkan kening, "kurasa bukan urusanmu dengan siapa aku
pergi?" Tok! Tok! Tok! Bunyi itu lagi. Lebih keras.
"Dari jendela," bisik Deena, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih
cepat. Ia mengalihkan pandangannya ke arah gorden gelap di jendela.
"Pasti karena angin," kata Jade meyakinkan diri. Tapi wajahnya
tampak ketakutan. Tok. Tok. Tok. Tok. "Kedengarannya seperti ada yang mencoba masuk!" kata
Deena. "Jangan bodoh!" seru Jade. "Kita ada di lantai dua."
Tok! Tok! Tok! "Aku mau menelepon polisi!" jerit Deena.
"Tunggu!" Jade bersikeras. "Mungkin cuma cabang pohon."
Ia memadamkan lampu. Kamar diselimuti kegelapan.
Mata Deena berkedip-kedip. Ia mengamati Jade merangkak
menyeberangi ranjang ke jendela. Jade menyentak gorden hingga
terbuka. Keduanya menjerit saat melihat wajah itu.
Terbingkai jendela. Tampak pucat dengan latar belakang langit
malam. Wajah seorang pria.
Pria yang mengenakan topi berburu oranye, menatap mereka.
BAB 4 DEENA membeku ketakutan. Ia tidak mampu bergerak. Tidak
mampu bernapas. Ia menatap topi itu, berjuang melihat wajah pria itu. Tapi yang
terlihat hanya kegelapan, tertutup bayang-bayang.
Dan lalu pria itu bergerak.
Ia mengangkat kepala ke arah cahaya bulan. Menyeringai
kepada gadis-gadis yang ketakutan itu.
Seringai yang akrab. "Chuck!" jerit Deena.
"Akan kubunuh dia!" jerit Jade dengan suara melengking dan
gemetar. "Akan kubunuh dia! Sungguh!" Lalu tawanya meledak.
"Chuck!" seru Deena. "Bagaimana kau bisa naik ke sini" Apaapaan sih kau?"
Chuck kembali mengetuk kusen jendela sebagai jawaban.
Deena dan Jade bekerja sama mengangkat daun jendela.
"Biarkan aku masuk!" jerit Chuck. "Aku bisa mati beku di sini!"
Gadis-gadis itu mengulurkan tangan dan membantu Chuck
masuk dari sebuah cabang pohon ek yang besar di mana ia duduk. Ia
jatuh berdebum di lantai. Lalu, sambil membersihkan jinsnya, ia
menatap Jade cukup lama dengan pandangan dalam.
"Kau cantik," katanya pada Jade.
"Thanks," kata Jade. "Kau juga kelihatan hebat. Topimu bagus."
Sambil menyeringai, Chuck menanggalkan topinya dan
melontarkannya ke ranjang Jade.
"Chuck"kau benar-benar sulit dipercaya!" seru Jade, sambil
berkacak pinggang. "Apa yang kaulakukan di sini?"
"Nanti," jawab Chuck. Ia menarik Jade, memeluknya erat-erat,
dan menciumnya. Lalu ia memeluk Deena sekilas. "Apa kabar, Deena?" tanyanya.
"Kau sinting!" gurau Deena. "Naik ke atas pohon."
"Bagaimana kau bisa naik kemari?" tuntut Jade.
"Manjat," sahut Chuck sambil mengangkat bahu. "Kecil. Cukup
layak mengingat tampang kalian tadi. Man, benar-benar lucu!"
"Kau sama lucunya dengan flu perut," kata Jade, menggelenggeleng. Tapi senyum merekah di wajahnya.
"Waktu kau menarik gorden dan melihatku, kupikir kau akan
langsung ganti kulit!" seru Chuck.
"Kau benar-benar menakutkan, Chuck," kata Jade datar.
"Kenapa tidak membunyikan bel saja seperti orang normal?"
"Booo-san!" jawab Chuck. "Kau tahu aku tak suka melakukan
hal-hal yang membosankan."
"Kau selalu begitu!" gumam Deena pelan.
Chuck pura-pura cemberut. "Kalian tak senang bertemu
denganku?" "Tentu saja aku gembira," jawab Jade. "Aku sangat gembira
melihatmu lagi." Ia meraih tangan Chuck dan melontarkan senyum
yang cukup hangat untuk melelehkan gunung es. "Tapi kukira liburan
musim dingin baru mulai minggu depan."
"Tidak," kata Chuck, dan seringainya lenyap. Ia berpaling.
Deena mengira telah melihat wajah Chuck cemberut.
"Kalau sekolah belum libur, lalu kenapa kau pulang?" tanya
Deena. "Aku sudah bosan sekolah," kata Chuck. "Jadi kuputuskan
untuk memulai liburanku lebih awal."
"Hah" Apa maksudmu, kau bosan?" tanya Deena.
"Maksudku aku keluar, oke?" jawab Chuck tajam. "Ada dua
dosen"mereka benar-benar mengincarku."
"Chuck?" Deena memulai.
"Itu kekeliruan!" jerit Chuck dengan emosi mendadak yang
dalam. "Seluruhnya kekeliruan. Seharusnya aku tak pernah masuk ke
akademi. Tak cocok untukku."
"Apa kata Dad nanti?" tanya Deena, memeluk dada.
"Hei"jangan ikut campur!" bentak Chuck dengan marah.
"Persetan apa kata Dad. Ini hidupku." Ia memelototi Deena. "Dan
jangan memandangiku seperti itu. Aku tahu apa yang kaupikirkan,
Deena. Kaupikir, Chuck yang malang. Dia bikin kacau lagi. Yah,
persetan apa pikiranmu."
"Baik. Baik," kata Deena, mengalah. Ia tidak menyukai sikap
Chuck seperti ini. Ia tahu sebaiknya menghentikan pembicaraan. Ia
tidak ingin Chuck meledak.
Dengan ekspresi masih mengancam, Chuck berpaling kepada
Jade. "Well" Kau tak mengatakan apa-apa, Jade. Kurasa kau juga
menganggapku sudah bikin kacau."
"Aku"aku tak yakin apa yang kupikirkan," Jade mengaku.
"Aku cuma penasaran apa rencanamu sekarang."
"Aku punya beberapa gagasan," jawab Chuck lembut.
Deena merasa jantungnya merosot. Chuck jelas terlibat
masalah. Masalah yang tidak bisa dibereskan dengan pesonanya
seperti biasa. Ia menyukai Chuck. Ia menyayangi Chuck. Bagaimanapun,
Chuck saudara seayahnya. Mereka memiliki ayah yang sama. Tapi ia sudah pernah melihat
sisi buruk Chuck. Chuck adalah masalah.
Ia selalu menimbulkan masalah.
Jade menjatuhkan diri ke ranjang. "Well?" tanyanya pada
Chuck. "Apa kau mau menceritakan gagasanmu pada kami?"
"Menurutku begini," jawab Chuck, duduk di bangku meja rias
Jade. "Untuk apa aku kuliah" Untuk jadi sutradara, kan?"
"Dan kau berubah pikiran?" tanya Deena.
"Tidak. Tidak mungkin," kata Chuck padanya. "Tapi kau
mengerti, akademi itu merupakan kekeliruan besar bagiku. Mereka tak
mengizinkanmu cuma mengambil pelajaran tentang film. Kau juga
harus belajar matematika, dan sejarah, dan banyak sampah lain yang
tak ada hubungannya dengan membuat film."
"Ya. Lalu?" tanya Jade, sambil melirik Deena yang tetap berdiri
di tengah kamar tidur. "Lalu"kenapa tak pergi saja ke tempat film berada" Kenapa
tak pergi ke L.A.?" ucap Chuck penuh semangat.
"Sungguh?" Jade merintih.
"Kau sinting apa?" tuntut Deena pada saat yang sama.
"Kenapa tidak?" ulang Chuck dengan tenang. "Aku punya
teman di sana. Aku bisa tinggal di L.A. dengan ibuku untuk
sementara. Lagi pula di sanalah bisnis pembuatan film berada. Kenapa
aku harus terkurung di tempat seperti Shadyside, atau mengikuti
pelajaran-pelajaran bodoh di akademi yang tak terkenal" Kenapa aku
tidak pergi saja ke tempat yang berkaitan langsung?"
"Kapan rencananya kau akan berangkat?" tanya Jade, matanya
membesar penuh semangat. "Begitu aku berhasil mengumpulkan uang," kata Chuck.
"Sulit dipercaya!" jerit Deena. "Kenapa kau tak memberitahu
Mom dan Dad kalau kau terlibat masalah di sekolah?"
"Karena ini bukan urusan mereka!" sergah Chuck.
"Aku cuma mengkhawatirkanmu, Chuck," kata Deena.
"Well, berhentilah khawatir!" kata Chuck marah. "Jangan
menggangguku, Deena. Berhentilah bersikap seperti ibuku, oke" Aku
sudah muak!" "Hentikan, kalian berdua!" Jade memegang belakang leher
Chuck dan mengusap-usapnya dengan lembut. "Sekarang, kita semua
tenang dulu. Yang paling penting Chuck ada di sini, ya kan?"
"Ya, ya," kata Chuck sinis.
Deena mendesah dan duduk di ujung ranjang. Ia mengawasi
Chuck dan Jade saling pandang.
"Aku senaaang bertemu denganmu lagi, Chuck," kata Jade.
"Ya. Aku juga," kata Chuck padanya. "Bagaimana kabarmu,
Jade" Apa saja yang kaulakukan selama kepergianku?"
"Oh, seperti biasa. Kau tahu"sekolah, keluyuran..."
"Sibuk juga, hah?" tuntut Chuck.
"Seperti biasa," ulang Jade.
"Terlalu sibuk untuk menulis surat, maksudku," kata Chuck
lembut. "Oh, yah, aku tak pernah suka menulis surat," kata Jade. "Kau
tahu itu, Chuck. Tapi aku sering memikirkanmu."
"Ya," gumam Chuck muram. "Kurasa kau juga sedang
memikirkanku waktu mencium cowok itu malam ini."


Fear Street - Salah Sambung Ii The Wrong Number Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sejenak kesunyian mengisi ruangan.
Oh, wow! pikir Deena. Jade terlibat masalah besar sekarang.
Tapi Jade cuma tertawa, matanya masih memandang Chuck
penuh pemujaan. "Maksudmu Teddy?" tanyanya seakan tanpa dosa.
"Teddy" Teddy siapa?" tuntut Chuck.
"Dia anggota Tigers," kata Jade. "Deena dan aku menyaksikan
pertandingannya. Teddy memenangkan pertandingan pada detik
terakhir. Dan aku cuma"memberinya selamat."
"Ya, tentu saja!" sergah Chuck. Ia bangkit berdiri dan mondarmandir dalam kamar. "Dan siapa lagi yang kauberi ucapan selamat
selama aku tak ada?"
"Chuck!" Jade terdengar benar-benar tersinggung. "Yang benar
saja. Aku keluar dengan beberapa cowok lainnya. Tentu saja.
Maksudku, aku bisa mati bosan kalau tidak."
Jade bangkit berdiri dan mengikutinya, meraih lengannya. "Tapi
aku cuma mengisi waktu. Menunggumu. Percayalah."
Jade menatapnya lurus dengan mata hijaunya yang besar dan
Deena hampir melihat Chuck meleleh. "Kau percaya padaku?" tanya
Jade lembut. Chuck ragu-ragu. "Ya. Kurasa begitu."
"Yah, bagus." Jade menciumnya sekilas. "Sekarang sudah larut.
Deena dan aku sudah kelelahan setengah mati karena menyaksikan
pertandingan tadi. Pulanglah dan kita ketemu lagi besok"oke?"
"Oke," Chuck setuju. "Masalahnya, aku sedang tak bersemangat
bertemu Dad malam ini. Bisa kupinjam kuncimu, Deena" Aku masuk
diam-diam saja." "Silakan," kata Deena. Ia merogoh tasnya untuk mencari kunci
dan memberikannya kepada Chuck. "Tapi kau tak perlu khawatir.
Mom dan Dad sedang pergi. Itu sebabnya aku menginap di rumah
Jade malam ini." Chuck tampak sangat lega. Jade mengantarkannya turun. Dari
kamar tidur, Deena bisa mendengar mereka bercakap-cakap pelan
beberapa menit sebelum pintu depan ditutup.
Dad bisa meledak, Deena menyadari. Ia takut membayangkan
apa yang akan terjadi waktu Chuck mengungkapkan kabar
kemundurannya dari kuliah.
Mungkin Mom dan Dad akan terbiasa dengannya, pikir Deena
penuh harap. Mungkin mereka bahkan akan membantu Chuck pindah
ke California. Atau mungkin malah bertengkar hebat.
"Aku senang sekali Chuck kembali. Kau juga?" tanya Jade,
melangkah masuk kembali ke kamar tidur.
"Ya. Tentu saja," jawab Deena cepat-cepat. Tapi ia sendiri tidak
yakin apakah ia benar-benar gembira.
Chuck selalu menimbulkan masalah....
Deena masih memikirkan Chuck saat menarik selimut hingga
ke dagunya dan memadamkan lampu. Beberapa menit kemudian ia
berhasil melupakan Chuck sama sekali dan hanyut ke dalam mimpi
yang indah tentang Steve Mason.
Ia tersentak bangun saat telepon di kamar berdering. Matanya
terbuka dan menjelajahi sekelilingnya yang asing. Sejenak kemudian
baru ia sadar tidak sedang berada di kamar tidurnya sendiri.
"Bisa kauterima?" tanya Jade dengan suara masih mengantuk.
"Teleponnya lebih dekat ke tempatmu."
Jam digital menunjukkan pukul setengah tiga saat Deena meraih
tangkai telepon. "Halo?" bisiknya.
"Halo." kata suara serak yang terasa akrab.
Deena tersentak bangkit, seketika waspada. "Siapa ini?"
tanyanya. "Kau tahu," sahut suara itu. "Ingat lemari pakaian itu?"
"Siapa itu?" tanya Jade dari seberang ruangan.
"Dia!" jerit Deena.
Jade bergegas mendekati Deena dan mendekatkan telinganya ke
telepon agar bisa turut mendengarnya.
"Ingat lemari pakaian itu?" lanjut suara itu. "Tempat kau
sembunyi dulu?" Deena tersentak. Setahun lalu ia dan Jade bersembunyi di dalam
lemari pakaian mungil di rumah Farberson sementara Farberson
memburu ke setiap ruangan, mencari mereka. Mereka meringkuk,
berpelukan, ketakutan setengah mati di bagian belakang lemari
pakaian yang gelap. Tapi Farberson berhasil menemukan mereka.
Tidak ada orang lain lagi yang tahu tentang lemari pakaian itu,
kata Deena dalam hati. Jade, aku, dan Farberson. Hanya kami yang
tahu. Itu artinya penelepon ini pasti Farberson!
"Pergi! Jangan ganggu kami!" jerit Deena ke tangkai telepon,
suaranya pelan dan ketakutan.
"Ingat bagaimana kau ketakutan malam itu?" bisik suara itu.
"Kau akan lebih ketakutan lagi"dalam waktu singkat."
BAB 5 "TERIMA kasih, Mrs. Smith," teriak Deena saat ibu Jade
mengantarnya pulang Sabtu pagi. Hari itu cuaca cerah dan dingin, dan
Deena berkedip-kedip memandang matahari sambil melangkah
menyusuri jalur masuk melengkung ke rumahnya.
Apa Mom dan Dad sudah tahu tentang kepulangan Chuck"
pikirnya. Saat melangkah ke bagian belakang rumah, ia mendengar pintu
dibanting diikuti teriakan marah.
Mereka sudah tahu! pikir Deena.
"Kenapa kau paling tidak memberitahu kami kalau terlibat
masalah?" teriak ibu Deena saat Deena membuka pintu belakang.
"Karena kurasa itu bukan urusan Mom!" balas Chuck sama
panasnya. Deena melangkah masuk ke dapur. Chuck mengangguk
kepadanya. Orangtuanya tidak menghiraukannya. Mereka
memusatkan perhatian kepada Chuck.
Jelas bagi Deena bahwa orangtuanya marah luar biasa
mendengar kabar dari Chuck. Ibunya terus-menerus menariki
rambutnya sendiri, mondar-mandir, dan menggeleng-geleng.
Mr. Martinson duduk di meja dapur, mencengkeram cangkir
kopinya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Wajah Chuck merah padam. Ia berdiri di ambang pintu dapur,
tangannya dijejalkan ke dalam saku depan jinsnya, ekspresi
kemarahan terpancar di wajahnya.
"Kau tahu tentang ini, Deena?" tanya ayahnya.
"Tentang apa?" Deena berusaha terdengar tidak bersalah. Ia
tidak tahu seberapa banyak rencana Chuck yang telah diungkapkan.
"Tentang masalah Chuck di sekolah," kata ibunya.
"Aku sudah tak terlibat masalah!" jerit Chuck. "Aku sudah
keluar." "Deena" Apa kau tahu?" desak ayahnya.
"Aku baru tahu semalam," sahut Deena. Ia menuangkan segelas
jus jeruk untuk dirinya sendiri.
"Deena tak tahu apa-apa," kata Chuck pada mereka sambil
mencibir. "Apa bedanya kalau Deena tahu" Keluar sekolah adalah
kejadian terbaik yang pernah kualami."
"Oh, Chuck!" Ibu Deena menjatuhkan diri ke kursi di samping
meja dan menunduk memandang lantai.
"Yah, selama kau ada di rumah," kata Mr. Martinson, "ada
beberapa hal yang harus dijelaskan. Pertama, kau harus mematuhi
semua peraturan keluarga"jam malam, tugas sehari-hari, segalanya.
Kau harus mencari pekerjaan dan membantu pengeluaran. Dan?"
"Apa lagi?" sela Chuck. "Apa aku perlu mencuci bagian
belakang telingaku setiap malam?"
"Cukup sudah!" teriak Mr. Martinson, sambil menghantam
meja dengan telapak tangan terbuka.
"Sayang?" Mrs. Martinson berusaha mengingatkan.
"Lupakan saja!" teriak Chuck. "Bisa kulihat kalau
kepulanganku kemari adalah tindakan keliru. Kalian mau mengatur
hidupku! Takkan kubiarkan! Aku tak perlu mematuhi kalian lagi. Aku
akan pergi ke L.A. akhir pekan nanti"dan kalian takkan pernah
bertemu denganku lagi!"
Chuck begitu marah hingga gemetaran. Deena berpikir keras
mau mengatakan apa" apa pun"untuk menenangkan semua orang.
Tapi Chuck telah menyeberangi dapur dan menyentak pintu
belakang hingga terbuka. Dibantingnya pintu itu begitu keras hingga
kusen jendelanya bergetar. Deena melihatnya berlari sepanjang jalur
masuk tanpa berpaling. "Apa dia sudah sinting?" lolong Mr. Martinson. Tangannya
terulur, menumpahkan cangkir kopinya. "Anak itu mengira dia bisa
lolos dari apa saja!" jeritnya. "Kali ini dia sudah keterlaluan!"
********** Sore hari itu, Chuck masih belum pulang. Deena mencoba
menghubungi Jade beberapa kali, tapi teleponnya sibuk terus.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, ia meminjam
mobil ibunya dan pergi ke rumah Jade untuk menceritakan apa yang
telah terjadi. Mungkin Jade punya gagasan tentang keberadaan Chuck
sekarang, pikir Deena. Begitu Jade membuka pintu depan rumahnya, Deena
menemukan jawabannya. Chuck duduk di sofa ruang duduk Jade,
mengunyah popcorn sambil menonton video.
Jade mengenakan pakaian ketat seperti biasa. Yang ini
bahannya kuning mengilat. Di kedua telinganya tergantung antinganting emas yang besar, rambutnya diikat menjadi satu dan
disampirkan pada salah satu bahunya.
Bahkan di Sabtu siang, Jade tampak seakan berasal dari majalah
mode! Deena terkagum-kagum.
"Ayo masuk," kata Jade pada Deena sambil tersenyum lebar.
"Kami sedang nonton Bikini Teen Mutants from Sunset Strip."
"Aku sudah pernah nonton," kata Deena. "Menurutku
menjijikkan." "Yo, Deena!" panggil Chuck. Ia tersenyum seakan tidak terjadi
apa-apa di rumah tadi. "Coba lihat zombie-zombie ini."
Deena memandang layar sekilas. Tiga gadis remaja berkulit
putih dan bermata cemerlang tengah berkeliaran di bawah pohonpohon nyiur dengan hanya mengenakan bikini mungil.
"Nah, menurutku begitulah musim dingin seharusnya!" kata
Chuck, sambil menyeringai dan menunjuk ke layar.
"Bagaimana kau tahu itu musim dingin?" tanya Jade.
"Tak penting. Cuaca di L.A. selalu hangat. Kalau tak percaya,
ayo ikut aku dan lihat sendiri."
"Ya. Mungkin. Suatu hari nanti," kata Jade. "Tapi aku harus
menyelesaikan high school dulu."
"Beri aku tiga alasan bagus," tantang Chuck. "Beri aku satu
saja." "Kalian ngomong apa?" tanya Deena, sambil menjatuhkan diri
ke kursi kulit hijau berlengan.
"Oh, saudara tirimu yang gila ini berusaha meyakinkanku untuk
ikut dengannya ke L.A.," kata Jade padanya, sambil memutar bola
matanya. "Dan Jade sudah hampir mengatakan ya, benar?" kata Chuck.
"Kau mimpi!" jawab Jade tajam.
"Aku serius," Chuck bersikeras. "Aku bisa cari pekerjaan,
mendapatkan cukup uang untuk kita berdua. Kalau mau, kau bisa
menyelesaikan sekolahmu di sana."
"Yah, mungkin kapan-kapan," ulang Jade. "Jelas aku harus
mempertimbangkannya lebih dulu." Lalu ia melontarkan salah satu
senyum peleleh gunung esnya kepada Chuck.
Oh, wow! pikir Deena. Apa Jade benar- benar akan
mempertimbangkannya"
"Well, waktumu hanya sampai akhir pekan untuk mengambil
keputusan," kata Chuck. "Karena apa pun yang terjadi, aku akan pergi
dari sini hari Jumat."
"Dari mana kau mendapatkan uang?" tanya Deena.
Sepintas, Deena menangkap keragu-raguan dalam pandangan
Chuck. Tapi lalu Chuck mengangkat bahu dan meringis. "Akan
kudapatkan. Bukan masalah."
Deena bersandar ke sofa dan memejamkan mata. Kenapa Chuck
membenci Shadyside sehebat itu" Kenapa dia tidak seperti cowokcowok lainnya, kuliah dan bersikap normal"
Kenapa dia selalu bikin kacau"
"Ada alasan lain kenapa kau harus ikut denganku," kata Chuck,
menyandarkan diri lebih dekat kepada Jade.
"Apa itu?" "Kau akan lebih aman."
Ia mengatakannya begitu lembut dan begitu serius hingga
Deena membuka matanya karena terkejut. "Apa katamu?" tanyanya.
"Chuck sudah kuberitahu tentang telepon itu," kata Jade.
"Sungguh?" Deena dan Jade sudah memutuskan untuk tidak
memberitahu siapa pun. "Kata Jade orang itu mengatakan sesuatu tentang salah
sambung, dan lemari pakaian tempat kalian berdua bersembunyi,"
tambah Chuck. "Menurutmu dia Farberson?" tanya Deena, kembali mendengar
bisikan itu dalam benaknya.
Chuck menggeleng. "Tak mungkin. Farberson ada di penjara,
kan" Mungkin orang yang dikenal Farberson, orang yang pernah
mendengar tentang peristiwa itu dari Farberson."
"Atau mungkin orang yang membaca perinciannya di koran,"
saran Jade. "Tapi yang jelas orang itu sangat sakit," lanjut Chuck. "Orang
yang bisa jadi berbahaya."
Deena menggigil sedikit. Seharusnya Mom dan Dad kuberitahu,
pikirnya. "Kalau di California," kata Chuck pada Jade, "kau lebih aman
dari orang sinting ini."
"Chuck, menurutku lebih baik?" Jade memulai. Tapi katakatanya terpotong dentang bel pintu. Ia melompat bangkit dan
bergegas membukakan pintu.
Sesaat kemudian Jade kembali ke ruang duduk, membawa
setumpuk amplop. "Cuma tukang pos," katanya. Ia mulai memeriksa
amplop satu per satu"dan berhenti dengan tiba-tiba.
Ia mencabut sebuah amplop putih panjang dan merobek sisinya.
Dikeluarkannya sehelai kertas yang terlipat, dibentangkannya, lalu
dibacanya isinya. Sesaat kemudian Jade menjatuhkannya sambil menjerit.
BAB 6 "JADE, ada apa?" jerit Deena, sambil berlari mendekat.
Jade tidak menjawab. Ia menatap ke bawah penuh kengerian ke
arah kertas itu, yang telah jatuh ke meja kopi.
Sementara Chuck melangkah ke belakangnya, Deena meraih
kertas itu. Ia mempelajarinya"dan kembali menggigil.
Itu bukan surat. Lembaran kertas tik itu ditempeli sebuah
gambar. Gambar sebuah gergaji mesin.
Ada yang mencipratkan spidol merah ke sana agar terlihat
seperti darah menetes dari mata gergajinya. Tetesan warna merah
cerah seperti darah itu mengarah ke huruf-huruf hitam di bagian
bawah halaman: BERIKUTNYA GILIRANMU.
"Sulit dipercaya!" jerit Jade. "Ini menjijikkan!"
"Orang ini benar-benar sakit jiwa," kata Chuck pelan.
"Yah, paling tidak sekarang kita tahu satu hal yang pasti," kata
Deena, mengalihkan pandangannya dari gambar yang mengerikan itu.


Fear Street - Salah Sambung Ii The Wrong Number Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Apa yang kita tahu?" tanya Jade.
"Kita tahu ini Farberson bukan pelakunya," kata Deena
mengumumkan. "Penjara selalu memeriksa surat-surat"ya, kan"
Farberson takkan bisa mengirimkan surat ini."
"Hei"kau benar!" jerit Jade. "Tapi, lalu siapa?"
"Bagaimana kalau Farberson berhasil keluar?" saran Chuck,
sambil menatap gambar gergaji mesin.
Deena menelan ludah dengan susah payah. "Me"mereka
takkan mengizinkannya keluar. Dia pembunuh," katanya pelan.
"Cuma ada satu cara untuk mengetahuinya," kata Chuck. "Ayo
ke Fear Street. Kita lihat apakah ada yang menempati rumah
Farberson." "Kau sudah sinting apa?" tukas Jade. "Terakhir kali kita ke
rumah Farberson, kita hampir saja terbunuh!"
"Kita tak perlu turun dari mobil," kata Chuck meyakinkannya.
"Cuma melewatinya saja. Memeriksa. Lalu pergi secepat mungkin.
Takkan terjadi apa-apa."
"Tak ada yang bisa dilihat di sana." Deena keberatan.
"Maksudku, rumah Farberson kosong sejak dia dipenjara. Kata Dad
begitu." "Kalau begitu tak ada yang perlu ditakuti," kata Chuck. Ia
bangkit berdiri. "Ayo. Pakai mantel kalian. Kita pergi."
********* Pertama kali mereka berbelok memasuki Fear Street, jalan itu
tampak seperti jalan-jalan lainnya di Shadyside. Tapi saat mereka
melaju melewati rumah Simon Fear yang telah terbakar dan
pemakaman Fear Street dengan nisan-nisan kunonya menonjol dari
tanah seperti tangan yang tinggal kerangkanya saja, mudah sekali
untuk melihat alasan mengapa ada begitu banyak cerita seram tentang
jalan itu. Rumah Farberson berada di lahan yang luas tepat di sebelah
pemakaman. Deena menghentikan Civic ibunya dekat trotoar yang telah
hancur. Cahaya matahari yang telah memudar menyebabkan rumah
dua tingkat bergaya Victoria itu tampak bahkan lebih mengerikan
daripada yang diingatnya.
"Benar-benar bobrok!" kata Deena. Dengan cepat ia bisa
melihat bahwa tidak ada orang yang tinggal di sana selama setahun
ini. Malahan, rumah itu begitu bobroknya hingga seakan-akan tidak
pernah ada yang tinggal di sana!
Beberapa jendelanya telah ditutup papan. Yang lainnya retakretak. Daun jendelanya terjuntai pada engselnya. Dan halaman
rumputnya tertutup alang-alang cokelat yang menonjol keluar pada
beberapa gumpalan salju. "Ya. Rumah ini jelas kosong," gumam Jade.
"Siapa yang mau tinggal di sini?" kata Deena. "Maksudku,
sesudah segala yang telah terjadi?"
"Kelihatannya benar-benar mirip rumah hantu!" seru Chuck,
sambil menatap ke sana. "Menurut kalian hantu itu memang ada?"
Deena menatap rumah itu. "Oh!" jeritnya terkejut saat cahaya
sekilas memancar dari salah satu jendela lantai atas.
Cahaya yang menakutkan. "A-ada orang di sana!" kata Deena. Ia menatap cahaya itu
seakan telah terhipnotis.
"Siapa kira-kira?" bisik Jade.
"Petugas gas?" gurau Chuck.
"Chuck, jangan ngawur!" jerit Jade. "Ada orang di rumah itu.
Ayo pergi! Sekarang!"
"Itu cuma pantulan sinar matahari pada jendela," Chuck
bersikeras. "Chuck, matahari sudah hampir tenggelam," kata Deena. "Ayo
pergi!" Ia tahu Chuck hanya sekadar menakut-nakuti mereka. Di
lingkungan ini Jade dan dirinya sangat mudah ketakutan"setelah
kejadian yang menimpa mereka di rumah itu.
"Kupikir sebaiknya kita periksa," kata Chuck, sambil meraih
pintu mobil. "Chuck!" jerit Jade.
"Mungkin cuma gelandangan yang pindah ke sana," kata
Chuck, tidak menghiraukan kepanikan Jade.
"Chuck"kau sudah janji," kata Jade. "Kau sudah janji kita
takkan keluar dari mobil. Kau bilang?"
Tapi Chuck telah mendorong pintu mobil hingga terbuka dan
menyelinap turun. "Sebentar saja."
Deena dan Jade berteriak menyuruhnya kembali. Tapi Chuck
malahan berlari-lari kecil menyeberangi halaman depan, naik ke
serambi. "Dia benar-benar menjengkelkan!" jerit Deena. "Dia sinting.
Benar-benar sinting! Dia sudah janji?"
"Deena"lihat!" seru Jade. Ia menunjuk ke rumah.
Deena mengalihkan pandangannya ke jendela lantai atas. Dan
terkejut melihat cahaya pucat itu bergerak.
Kegelapan telah menyelimuti rumah itu. Lalu, saat menatap ke
sana, ia melihat cahaya memancar di jendela lantai bawah.
"Siapa pun yang di sana"dia sudah turun ke bawah!" bisik
Jade. "Kita harus memperingatkan Chuck!" jerit Deena.
Chuck ada di mana" Deena mengedip-ngedipkan mata memandang cahaya pucat itu.
"Oh, tidak!" teriaknya.
Chuck telah naik ke serambi depan. Apakah dia mau masuk"
Deena dan Jade membuka pintu masing- masing dan menjerit
mati-matian. "Chuck! Chuck! Jangan masuk!"
BAB 7 "OH tidak!" jerit Jade. "Dia masuk! Aku harus mengejarnya!"
"Jade, jangan"!" pinta Deena. Tapi temannya telah turun dari
mobil dan berlari menyeberangi halaman depan ke serambi. Ia
terpeleset satu kali oleh genangan salju, tapi terus maju, sambil terus
memanggil-manggil Chuck. Chuck berbalik dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa
didengar Deena. Jade menunjuk ke lantai atas dan balas mengatakan sesuatu.
Mereka tampaknya berdebat.
Cepat, kalian berdua, desak Deena diam-diam. Kita harus
segera pergi dari sini! Lalu ia melihat sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa dilihat
Chuck dan Jade. Cahaya lain. Cahaya yang memancar dari belakang rumah.
Lalu Deena mendengar denging dan batuk-batuk mesin yang
dihidupkan. Ia berpaling dan pandangannya menyusuri jalan yang sunyi.
Bukan. Suara itu bukan berasal dari jalan.
Tapi dari belakang rumah.
"Jade! Chuck!" teriaknya. "Ada yang datang!"
Jade dan Chuck berhenti berdebat dan berpaling ke jalan. Deena
menyadari mereka pasti telah mendengar bunyi mesinnya juga.
Ia melihat Chuck melompat turun dari serambi dan berlari ke
belakang rumah. Jade menyambar lengannya dan mencoba
menariknya ke arah yang berlawanan.
"Kembali! Cepat!" teriak Deena. Dengan jantung berdebar
kencang, ia kembali masuk mobil. Setelah duduk di belakang kemudi,
ia memutar kunci dan menghidupkan mesinnya.
Deena menatap ke arah Jade dan Chuck. Rupanya Jade berhasil
memenangkan perdebatan. Deena mengawasi keduanya berlari-lari
kecil kembali ke mobil. Mesin di belakang rumah meraung lebih keras.
Di tengah-tengah halaman Jade kembali terpeleset. Kali ini ia
jatuh ke salju. Chuck membungkuk di atasnya.
"Pergelangan kakiku, pergelangan kakiku!" Deena mendengar
jeritan Jade. "Cepat! Ayo! Cepat!" jerit Deena.
Cahaya di belakang rumah menghilang. Halaman bermandikan
kegelapan biru-kelabu sekarang.
Deena mengawasi Chuck yang dengan lembut memeluk
pinggang Jade dengan satu tangan. Jade tampak menemui kesulitan
untuk melangkah di salju.
Cepat, cepat, cepat. Deena mengulang-ulang permohonan
bisunya. Raungan mesin mereda. Berubah. Tidak lagi raungan mesin
yang dihidupkan. Sekarang terdengar dengung mantap mesin yang bergerak"
sebuah mobil meluncur di jalur masuk.
"Chuck! Jade!" suara Deena terdengar seperti orang tercekik
dan ketakutan. Chuck masih memeluk pinggang Jade. Jade melangkah tertatihtatih"dan lalu diam membeku, menatap ke samping rumah.
Saat Deena berkedip-kedip memandang kegelapan, sebuah
mobil melonjak-lonjak keluar dari belakang rumah.
Lampu depannya dipadamkan, Deena menyadari.
Mobil itu meluncur keluar dari jalur masuk. Naik ke halaman
depan. Ia menambah kecepatan. Lebih cepat. Lebih cepat.
Lurus pada Chuck dan Jade.
BAB 8 DEENA mati-matian berteriak kepada teman-temannya. Tapi
mereka diam membeku di tempatnya.
Mobil itu semakin cepat melaju menyeberangi halaman depan
yang bersalju di sana-sini.
Pengemudi itu mau menabrak mereka! Deena menyadari. "Lari!
Ayo"lari!" jeritnya.
Akhirnya Jade dan Chuck mulai bergerak. Mereka menerjang
ke arah jalan, Jade terhuyung-huyung dan terpeleset-peleset sementara
Chuck berusaha membantunya.
Deena mencondongkan tubuhnya dan membuka pintu
penumpang. Mobil gelap itu bergerak semakin dekat, sambil terus
melonjak-lonjak. Jade menerjang masuk ke kursi belakang. Chuck menyelinap di
samping Deena, sambil terengah-engah. "Ayo! Ayo! Ayo!" teriaknya
tanpa bernapas. Dengan pintu masih terbuka, Deena menginjak pedal gas
hingga rata dengan lantai. Mobilnya tersentak dari tepi jalan, rodarodanya berdecit-decit.
Di spion Deena melihat mobil yang lain itu terlonjak turun dari
tepi jalan, berputar ke jalan.
Mobil itu mencoba menubruk kami! Ia menyadari.
"Cepat! Cepat! Cepat!" seru Chuck. Ia berputar di kursinya
untuk melihat melalui jendela belakang. "Mobil itu"mobil itu
mengejar kita!" Deena melihat lampu depan mobil itu dinyalakan. Cahaya putih
menyapu ke dalam mobilnya sendiri.
"Ayo! Cepat! Cepat!"
"Tak bisa lebih cepat lagi!" jerit Deena, dan melaju sambil
meraung-raung melewati tanda berhenti. Roda-rodanya mendecit di
jalan yang licin karena salju. Mobilnya tersentak ke depan, selip, lalu
melesat maju. "Kita"kita terkejar!" lolong Jade dari kursi belakang. "Apa
yang harus kita lakukan?"
Deena tidak mampu menjawab. Ia terlalu sibuk berkonsentrasi
untuk bisa berpikir. Pepohonan dan halaman-halaman depan yang
gelap di sepanjang Fear Street berdenging lewat bagai dalam mimpi.
Satu-satunya cahaya yang ada berasal dari lampu depan mobil yang
tengah memburu mereka. Deena tiba di Old Mill Road, berbelok di tikungan tanpa
melihat, berjuang agar mobil tetap berada di jalan. Roda-rodanya
mendecitkan protes. Terdengar klakson menyalak. Rem-rem berdecitdecit diinjak.
Lebih cepat lagi. Menyusuri jalan yang sepi dan gelap.
Mobil di belakang mereka turut berbelok. Cahaya lampu
depannya kembali membanjiri mobil mereka.
"Mobil itu"mobil itu tepat di belakang kita!" kata Jade
tergagap-gagap ketakutan. "Dia?"
Mereka terlonjak saat mobil itu menabrak mereka dari
belakang. "Ohh!" jerit Deena, dan kemudi pun terlepas dari tangannya.
Mobil Deena meluncur ke kiri. Kembali terdengar klakson
menyalak. Ia melihat sebuah van merah samar-samar meliuk
Jala Pedang Jaring Sutra 14 Rahasia 180 Patung Mas Karya Gan Kl Pengemis Tua Aneh 3
^