Pencarian

Jeritan Kucing Setan 2

Goosebumps - Jeritan Kucing Setan Bagian 2


Freddy menekan lengannya.
Anak-anak lain memberi semangat sambil tertawa-tawa.
Di kanan panggung ada beberapa anak yang sedang membuat balkon puri. Balkon itu
terbuat dari karton dan diikatkan di depan sebuah tangga yang sangat tinggi.
Pada adegan terakhir, aku harus memanjat tangga itu dan bersandar di balkon
ketika bicara dengan Ryan. Aku sudah beberapa kali mencoba tangga itu. Agak
goyang. Aku tidak suka ketinggian. Naik ke tangga itu benar-benar membuatku ngeri. Tapi
Mr. Keanes sudah menjanjikan bahwa tangga itu akan dipasang seaman mungkin.
"Hati-hati saja saat mendaki undakannya," katanya. "Dan kau pasti tidak apa-
apa." Aku meletakkan ranselku di sisi panggung, lalu berjalan ke singgasana.
Saat aku mendekat, Freddy berhasil mengalahkan Ryan dalam adu panco. Freddy
melompat bangkit sambil mengangkat kedua tangannya dengan penuh kemenangan, sementara
anak-anak lain bersorak-sorak.
Ryan menjauh, masih dengan wajah merah. Ia menggerutu dan menggoyang-goyangkan
tangannya dengan kesakitan.
"Jangan coba-coba adu panco dengan sang raja," seru Freddy.
Aku bergegas mendekati Ryan. "Kurasa Freddy sudah keterlaluan," kataku. "Sejak
kapan dia menyebut dirinya sang raja?"
Ryan menggoyangkan tangannya lagi. "Dia curang," gerutunya. "Aku hampir menang
tadi, tapi dia curang."
Aku jadi tertawa. "Bagaimana bisa main curang dalam adu panco?" tanyaku.
"Dia curang karena dia lebih besar dan lebih kuat daripada aku," kata Ryan.
Kami sama-sama tertawa. "Mana Mr. Keanes?" tanyaku.
"Ada di kantornya, sedang bicara dengan orang tua murid," sahut Freddy sambil
mempermainkan mahkotanya. Ia menunjuk ke tangga.
"Alison, kau sudah siap untuk adegan naik ke balkon?"
Aku memandangi tangga yang tinggi itu. Tim panggung mengalami kesulitan
mengikatkan balkon dari karton tadi. Salahseorang anak berseru nyaring ketika tangga berikut
balkon itu hampir ambruk ke lantai.
"Mungkin kita tidak akan berlatih adegan itu hari ini," kataku. "Aku belum
sempat menghafal dialogku."
Freddy menoleh ke Ryan. "Bagaimana tanganmu" Tidak patah, kan?"
Ia nyengir lebar. "Tidak," sahut Ryan dengan cemberut. "Lain kali kau kuhabisi."
"Lain kali?" Freddy tertawa. "Kau siap mencoba lagi?"
Ryan menghindari tatapan Freddy. "Mungkin besok," gumamnya.
Kami bercengkerama sebentar, sambil menunggu Mr. Keanes. Di tempat-tempat duduk,
anak- anak paduan suara mulai berlatih menyanyikan satu lagu.
Tim panggung akhirnya berhasil memasang balkon itu di tangga, lalu mereka turun
untuk mengaguminya. Ryan sedang menceritakan peristiwa lucu yang terjadi pada kelas seni Mr. Clay
tadi siang. Ia bisa meniru suara nyaring Mr. Clay dengan sangat baik. Kami semua
tertawa dan berusaha meniru suara Mr. Clay juga.
Tiba-tiba Ryan berhenti bercerita. Senyumnya memudar. Ia menyipitkan mata ke
arahku. "Alison, kau kenapa sih?" tanyanya. "Kenapa kau melakukan itu?"
"Aneh!" seru Freddy. "Kenapa kau menjilati punggung tanganmu?"
Aku masih terus menjilati tangan kiriku, lalu memeriksa kedua-duanya. Sekarang
sudah bersih. Aku mengeringkannya di celana jeans-ku.
"Hei, kenapa kalian memandangiku?" tanyaku.
15 TAK lama kemudian Mr. Keanes muncul dan latihan dimulai.
Mr. Keanes tampaknya lebih bersemangat daripada biasanya. Ia mondar-mandir di
panggung, menyela kami setiap beberapa detik, menulis dengan cepat di clipboard-
nya. Baru beberapa menit saja ia sudah berkeringat.
Kurasa ia gugup karena pertunjukan tinggal seminggu lagi. Aku sendiri merasa
agak gugup. Bisakah aku menghafal seluruh dialogku dengan baik pada saat itu"
Aku melompat dan berputar mendadak, sebab rasanya aku mendengar suara kucing.
Tapi ternyata itu hanya suara kursi lipat yang dibuka di auditorium.
Ketika aku menoleh lagi, Mr. Keanes sedang memandangiku. "Kau tidak mendengarku,
Alison?" tanyanya sambil mengamatiku dengan tajam dari balik kacamata bulatnya. "Kataku,
ayo kita berlatih adegan di balkon itu."
"Oh, maaf." Aku cepat-cepat berjalan ke tangga di sisi panggung. Mr. Keanes
memanggil dua anak laki-laki untuk memegangi tangga itu.
"Ini dia," gumamku. Aku menarik napas panjang dan mulai memanjat.
"Bagaimana?" seru Mr. Keanes. "Tangganya mantap, tidak?"
"Yeah. Lumayan," sahutku. Aku mencengkeram tepi-tepi tangga itu erat-erat dan
menarik diriku, undakan demi undakan.
Alison, jangan melihat ke bawah, kataku pada diri sendiri.
Tapi akhirnya aku melirik juga ke arah Ryan, Freddy, dan yang lainnya. Mereka
sedang mengawasiku memanjat. Aku sudah terengah-engah ketika tiba di atas. Kucengkeram tepi balkon karton itu
dan melongok ke bawah. "Bagaimana cuaca di atas sana?" seru Freddy.
"Lumayan," sahutku. "Agak berawan, tapi..."
"Sudah sore. Kita coba adegannya," Mr. Keanes menyela tak sabar.
"Ryan, ambil posisi."
Ryan menggaruk kepalanya. "Aku harus ke mana?"
Mr. Keanes memberi isyarat dengan clipboard-nya. "Di bawah balkon. Ya. Di situ.
Sekarang ingat, Alison, kau sedang sangat marah padanya. Kau baru mengetahui
bahwa dia ternyata bukan pangeran, dan kau ingin membalas perbuatannya."
"Baik," seruku dari atas. "Aku akan sangat marah, M r. Keanes."
Ia mengangguk dan menyuruh Ryan mulai.
Tapi, sebelum Ryan sempat membuka mulut, Jenny, salah satu sekretaris di kantor
Kepala Sekolah, berlari-lari ke tengah auditorium.
"Alison! Alison!" panggilnya.
Aku memandang ke arahnya.
"Alison" Ada telepon untukmu," ia berseru padaku. "Dari ibumu."
"Ha" Apa ada masalah?" tanyaku.
"Tidak, tapi dia perlu bicara denganmu, sekarang juga," sahut Jenny.
"Oke," kataku. "Aku turun sekarang."
Aku melongok ke lantai panggung. Tidak terlalu jauh, pikirku. Aku bisa mendarat
dengan mudah dengan kaki dan tanganku.
Kuangkat tanganku ke depan, lalu aku melengkungkan punggung dan menendang dengan
kakiku. Lalu aku melompat dari puncak tangga.
16 TERDENGAR teriakan dari bawah panggung.
Saat melompat, kulihat Mr. Keanes menjatuhkan clipboard-nya. Ryan ternganga dan
mengulurkan kedua tangannya, seolah berusaha menangkapku.
Aku mendarat dengan keras pada tangan dan lututku di lantai panggung.
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku.
Aku berguling telentang. Dan terkesiap kaget. Kenapa aku melakukan itu" Kenapa aku melompat dari puncak tangga"
Apa aku sudah sinting"
"Tolong dia!" seseorang berseru.
Auditorium itu dipenuhi seruan-seruan nyaring ketakutan.
"Apa dia jatuh?"
"Dia melompat?"
"Apa dia tidak terluka?"
"Cepat telepon 911."
Kulihat Ryan, Freddy, dan beberapa anak dari tim panggung berlari ke arahku.
Tapi aku tidak menunggu. Aku melompat bangkit dan lari keluar. Aku menabrak
Jenny dan terus lari. Kudengar orang-orang memanggilku, tapi aku tidak berhenti. Aku tidak mau
menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Aku tidak mau mengatakan pada mereka, kenapa aku
melompat seperti itu. Sebab aku sendiri tidak tahu, kenapa aku melakukannya.
Aku tak bisa menjelaskannya. Sepanjang hari ini tingkahku aneh sekali. Sejak
sarapan. Aku merasa ada yang tidak beres. Aku merasa bukan seperti diriku yang
biasanya. Aku harus pergi ke suatu tempat untuk memikirkan ini. Tapi pertama-tama aku
harus mencari tahu, kenapa Mom meneleponku di sekolah.
Dengan terengah-engah aku menyerbu masuk ke kantor Kepala Sekolah. Pesawat
telepon ada di meja Jenny, dan aku menyambarnya.
"Hai, Mom, ini aku," kataku terengah-engah.
"Alison, kenapa kau terengah begitu?" tanya Mom.
"Aku melompat dari puncak tangga!" kataku. "Rasanya... aneh sekali, Mom. Aku
merasa bisa mendarat dengan tangan dan kakiku."
Aku menunggu Mom menjawab, tapi kudengar ia sedang bicara dengan Tanner. Tak
lama kemudian, ia kembali ke telepon. "Maaf, aku tidak mendengarmu tadi. Tanner
selalu saja menyela kalau aku sedang bicara di telepon. Kau bilang apa tadi,
Alison?" "Eh, tidak apa-apa." Aku tidak berminat lagi memberi penjelasan.
"Ada apa?" tanyaku. "Kenapa Mom meneleponku?"
"Kau harus pulang dan menjaga Tanner," sahut Mom. "Ayahmu dan aku harus menemui
bibimu. Ada urusan penting. Kau tahu kan Bibi Emma. Kedengarannya dia benar-benar
panik." "Aku mesti pulang sekarang?" tanyaku.
"Cepatlah," kata Mom. "Aku tak mau meninggalkan Tanner sendirian. Dia sedang
rewel." Ia mendesah. "Kasihan dia. Kurasa ada sesuatu yang membuatnya takut di sekolah
atau apalah. Dia kelihatan tegang sekali."
Aku sendiri memang enggan kembali ke auditorium. Aku tidak mau ditanyai macam-
macam. Aku senang karena punya alasan untuk pergi.
"Aku akan segera pulang," kataku.
*** Mom segera berangkat begitu aku pulang. "Buatlah sandwich atau apa saja untuk
makan malam," kata Mom sambil masuk ke mobil. "Mudah-mudahan aku tidak pulang
terlalu malam." Tanner memang sedang rewel. Ia duduk di lantai kamarnya, nonton film kartun di
TV. Kucoba mengajaknya mengobrol, tapi ia menjawab malas-malasan.
Aku duduk di sampingnya. Ia menjauh dariku sambil cemberut.
"Kau cuma mau nonton TV?" tanyaku.
"Mungkin," sahutnya tanpa menoleh. Lalu ia berpaling padaku. "Mau nonton
kelanjutan film itu, tidak" Jeritan Kucing Setan?"
"Tidak," seruku. "Film itu membuatmu ketakutan setengah mati. Ingat tidak?"
Ia menyilangkan tangan di depan dada. "Kalau begitu, aku nonton film kartun
saja." "Bagus. Beritahu aku kalau kau sudah ingin makan malam," kataku.
"Aku tidak mau makan malam," katanya. "Kau tidak bisa bikin makanan yang enak."
Dasar rewel! Pukul enam lewat sedikit, ia berubah pikiran. "Makan malamnya apa?" tanyanya.
"Aku lapar." Aku juga lapar. Aku ingin sekali makan sandwich isi ikan tuna, tapi saat aku dan
Tanner ke dapur, aku baru ingat bahwa aku sudah menghabiskan seluruh persediaan
ikan tuna waktu sarapan tadi. "Mungkin aku mau minum susu saja," gumamku.
"Ha?" Tanner melongo. "Aku boleh makan sandwich mentega kacang dan jeli, tidak?"
"Boleh deh," jawabku.
"Jelinya sedikiiit saja," ia menegaskan.
"Iya, iya," gerutuku. Tanner selalu punya peraturan. Kalau jelinya terlalu
banyak, ia tidak akan memakan sandwich-nya.
Aku menyalakan lampu dapur dan kami berjalan ke lemari makanan.
Aku baru hendak menanyakan pada Tanner, ia ingin roti biasa atau roti panggang,
tapi tenggorokanku rasanya terhalang sesuatu.
Aku terbatuk. Aku menelan dengan keras, lalu terbatuk lagi. Ada gumpalan besar di
tenggorokanku. Aku tak bisa memuntahkannya.
Aku menarik napas panjang dan batuk sekeras mungkin.
Perutku bergolak. Gumpalan itu menyumbat jalan pernapasanku. Aku mulai tersedak dan tak bisa
menghirup udara. Tanner melotot ketakutan. Ia meraih tanganku. "Alison, kau kenapa?"
Aku tak bisa menjawab. Aku tersedak, berusaha batuk.
Akhirnya aku membungkukkan seluruh tubuhku ke depan dan mendengus keras.
Gumpalan itu bergerak, meluncur lewat tenggorokanku dan bergulir ke lidahku.
Sambil bernapas keras aku meraihnya dari dalam mulutku.
"Ohh!" Aku mengerang jijik.
Segumpal bulu kelabu sebesar bola pingpong. Kupandangi gumpalan menjijikkan itu
dengan ngeri. "Ihhh! Menjijikkan sekali," seru Tanner.
Aku berpaling darinya. Aku tak ingin ia melihat bahwa aku sangat ketakutan.
Apa yang terjadi padaku" pikirku.
Pasti ada hubungannya dengan kucing itu. Dengan Rip.
"Alison, kau sakit?" tanya Tanner dengan suaranya yang kecil.
"Aku... entahlah," aku tergagap.
Kupandangi lagi gumpalan memualkan itu. Akhirnya aku memutuskan bahwa aku harus
kembali ke rumah seram itu. Tak ada pilihan lain. Aku harus bicara dengan
Crystal. Ia harus memberitahuku, apa sebenarnya yang terjadi.
Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku harus pergi malam ini juga.
17 "ALISON kurang banyak mengoleskan mentega kacang di rotiku. Dan rotinya gosong,"
kata Tanner. Ia langsung mengadu begitu Mom dan Dad pulang.
"Aku yakin Alison sudah berusaha sebaik mungkin," kata Dad sambil tersenyum
padaku. "Dia payah," gerutu adikku.
Aku menjulurkan lidah padanya.
"Bibi Emma baik-baik saja?" tanyaku pada Mom.
Mom mengangguk. "Ya, dia baik-baik saja."
"Aku... aku mesti pergi sekarang," kataku tiba-tiba.
Dad melihat arlojinya. "Sudah hampir setengah sembilan."
"Aku sudah janji pada Ryan akan membantunya melatih dialognya untuk drama kami."
Sebenarnya aku tidak senang berbohong pada orangtuaku, tapi tak mungkin aku
mengatakan terus terang pada mereka bahwa aku akan menemui seorang gadis yang
aneh untuk menanyakan tentang seekor kucing yang sudah kutewaskan tiga kali.
Tak lama kemudian aku sudah berlari-lari kecil di Broad Street dan langkahku
semakin cepat saat menuruni bukit. Malam itu sejuk dan cerah. Bulan pucat
mengambang rendah di atas pucuk-pucuk pohon.
Rumput-rumput di pekarangan-pekarangan rumah berkilauan oleh embun basah.
Dua ekor anjing besar melompat dari tepi jalan. Keduanya memandangiku ketika aku
lewat. Sebuah van yang penuh anak remaja menderu lewat; dari jendelanya yang terbuka
terdengar gelegar musik rock.
Aku memelankan langkah ketika rumah Crystal sudah tampak. Aku menajamkan mata
melewati pekarangan yang dipenuhi alang-alang.
Cahaya kelabu pucat membias keluar dari jendela depan.


Goosebumps - Jeritan Kucing Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Dia pasti ada di rumah," gumamku.
Aku melangkah di jalan mobil yang berkerikil. Terdengar suara meong pelan dari
dalam rumah. Beberapa sosok gelap memandangiku dari jendela.
Aku menarik napas panjang dan mengetuk pintu depan. Rasa ngeri merayapi
punggungku dan aku menggigil, padahal malam itu udara hangat.
Di dalam rumah, meongan kucing-kucing semakin keras.
Aku menghapus keringat di dahiku dengan punggung tangan. Lalu dengan gugup
kusibakkan rambutku. Dan mengetuk lagi.
Jantungku berdebar keras sementara menunggu. Apakah Crystal bisa menolongku"
Bisakah ia menjelaskan apa yang terjadi"
Akhirnya pintu depan berderit membuka. Crystal melongok dari cahaya yang kelabu.
Ia mengenakan jumper hitam panjang. Bahkan dalam cahaya remang-remang itu aku bisa
melihat bahwa pakaiannya penuh bulu kucing.
Ia mengangkat matanya yang letih ke arahku. "Kau mau apa?" tanyanya tajam.
Nadanya tidak terlalu bersahabat.
"Aku... aku harus bicara padamu," kataku terbata-bata. "Kau ingat aku" Aku..."
"Aku tidak bisa bicara sekarang," ia menyela. Kucing-kucing melolong di
belakangnya. Seekor kucing hitam-putih melewati kakinya.
Ia hendak menutup pintu. "Tapi aku perlu bantuanmu," desakku. "Aku perlu mengetahui..."
Ia masih tetap memegangi pegangan pintu. "Apa ini tentang Rip?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Ya. Begini..."
Ia mengangkat tangan untuk menghentikanku. "Tolong... pergilah," serunya.
Matanya menyorot ketakutan. "Tolong... aku tak bisa."
Aku menahan pintu agar ia tidak membantingnya. "Kau harus menolongku!" teriakku.
"Kau harus menjelaskan apa yang terjadi."
"Tidak!" katanya. Dagunya gemetar. Matanya yang ketakutan memantulkan cahaya
kelabu yang misterius di belakangnya. "Tidak. Ibuku sangat tidak senang. Dia
tidak mau aku bicara denganmu."
"Tapi... dengar dulu!" pintaku. "Aku membunuh kucing itu. Aku tahu ini
kedengarannya sinting, tapi aku membunuh Rip. Tiga kali."
Crystal terkesiap. Ia menutupi mulutnya dengan tangan.
"Dia...dia terus kembali," kataku. "Aku membunuhnya, tapi dia kembali lagi."
Kucing-kucing di dalam rumah meratap. Crystal maju mendekatiku.
Cahaya kelabu menyelubungi kami. Ia meraih lenganku. Tangannya sedingin es.
"Berapa kali kau membunuh Rip?" tanyanya berbisik.
"Tiga," sahutku. "Tiga kali."
"Tidaaaak!" Ia berseru ketakutan. Tangannya yang dingin meremas lenganku.
"Kenapa" Apa yang salah?" tanyaku dengan suara gemetar. "Apa maksudmu?"
"Dia sudah menggunakan kedelapan nyawanya," erang Crystal sambil menggelengkan
kepala. "Dia sudah menggunakan delapan. Sekarang dia akan sangat waspada. Hati-hatilah.
Jauhi dia. Rip akan sangat nekat."
18 "AKU tidak mengerti," gumamku. "Tolong..."
Crystal melepaskan pegangan tangannya dari lenganku. Aku masih sempat melihat
sorot ketakutan di matanya. Lalu ia membanting pintu.
"Tidak!" jeritku. "Kau mesti menjelaskan! Crystal! Buka pintu. Masih ada yang
ingin kuceritakan padamu. Aku perlu bantuanmu. Rip mencakarku. Kau bisa
mendengarku" Dia mencakarku." Tapi pintu itu tidak dibuka lagi. Kudengar seekor kucing mengeong nyaring di
dalam sana. Dari celah di luar kulihat beberapa ekor kucing melotot padaku.
"Crystal, dengarkan," pintaku. "Rip mencakarku, dan sejak itu aku merasa sangat
aneh." Aku menempelkan telingaku di pintu kayu itu. "Apa kau masih di sana" Kau bisa
mendengarku?" Tak ada jawaban.
Aku mundur dari pintu. Kakiku gemetar hebat hingga aku nyaris jatuh. Aku memeluk
tubuhku sendiri untuk menghentikan gemetarku.
"Crystal?" panggilku. "Crystal?"
Kucing-kucing itu memandangiku dari jendela. Mata mereka bersinar-sinar seperti
lampu bohlam kecil. Aku mundur ke pekarangan.
Dan merasa seseorang mencengkeram bahuku. Dengan terkesiap kaget aku membalikkan
tubuh. "Ryan!" seruku. "Kenapa kau ada di sini?"
Ia melepaskanku dan mundur selangkah. Napasnya terengah-engah.
"Aku sedang pulang naik mobil bersama orangtuaku, dan aku melihatmu di sini,"
katanya. "Aku balik kemari, lari sepanjang jalan."
Ia membungkuk sambil menekankan tangan ke lututnya, menarik napas. "Alison, apa
yang terjadi?" tuntutnya. Ia menunjuk ke rumah Crystal. "Sedang apa kau di sini"
Apa kau melihat kucing itu lagi?"
Aku mulai berjalan. Ryan bergegas mengikuti. Aku belok kanan, menjauh dari arah
ke rumahku. Aku melangkah ke dalam bayang-bayang gelap sebaris semak-semak pagar.
"Aku harus bicara pada gadis itu," kataku pada Ryan. "Aku harus mengajukan
beberapa pertanyaan. Tapi dia tidak mau menolongku."
Aku menyeberangi jalan dan terus melangkah. Sesudah blok ini tidak ada rumah-
rumah lagi. Kami melewati sebuah daerah berhutan.
Pepohonan bergoyang-goyang diembus angin lembut.
Aku belum pernah berjalan ke sini. Tapi, karena suatu alasan yang aneh, aku
merasa sudah tahu ke mana tujuanku.
Di seberang jalan berikutnya ada sebuah lapangan lebar yang kosong.
Alang-alang tinggi menganggukangguk saat kami lewat.
"Hei, pelan-pelan. Kenapa dia tidak mau menolongmu?" tanya Ryan yang berlari-
lari kecil di sampingku. "Dia terlalu takut," gumamku.
"Hah?" "Dia terlalu takut," ulangku. "Setiap kali aku menyebut-nyebut Rip, dia langsung
ketakutan." "Rip itu kucingnya?" tanya Ryan.
Aku angkat bahu. "Dia terlalu takut untuk menceritakan apa pun padaku. Anak itu
aneh. Dia terus bicara tentang ibunya. Katanya ibunya tidak akan senang dengan
apa yang terjadi." "Apa urusan ibunya dengan semua itu?" tanya Ryan.
"Entahlah." Aku berbelok di tikungan berikutnya. Melewati segerumbulan semak
rendah. Di situ tampak sebuah lapangan lain yang juga penuh alang-alang.
Ryan mengibaskan rambutnya. "Kita mau ke mana?" tanyanya.
"Ha?" Entah kenapa, pertanyaannya tidak masuk akal bagiku. Aku berusaha keras
rnenemukan jawabannya, tapi sekonyong-konyong aku seperti tersihir. Masih terus
berlari-lari kecil, aku melayangkan pandang ke sekitarku dengan bingung.
"Kenapa kau menuju ke sini, Alison?" tanya Ryan terengah-engah.
Kusadari bahwa sekarang aku sudah berlari. Tapi ke mana" Kenapa aku menuju
kemari" Kami melewati sebuah lapangan kosong lagi.
Sekarang tidak ada lampu jalanan. Kegelapan menyelimuti kami.
Angin dingin berembus. Aku terus berlari. Ryan mengikuti dekat di belakangku.
Aku belum pernah melewati jalan ini. Kenapa sekarang aku ada di sini"
"Alison, berhentilah," pinta Ryan. "Kau mau ke mana" Kenapa kau melakukan ini"
Bisakah kita berhenti dan bicara sebentar?"
Aku tidak menjawab. Aku berbelok dan melintasi lapangan kosong itu. Alang-alang
menghantam kaki celanaku saat aku berlari. Sepatuku melesak ke tanah yang lembek
dan basah oleh embun. Ada sesuatu yang menarikku ke tempat ini. Suatu kekuatan yang tidak tampak.
Aku merasa tersihir. Lepas kendali.
Aku melompati segerumbul semak-semak rendah. Bulan mengintip keluar dari balik
segumpal awan gelap. Cahaya putih menyiram kami.
Seluruh dunia tampak bercahaya.
Ryan mencengkeram tanganku. "Alison, berhenti," bisiknya. "Lihat, ada di mana
kita." Aku memandang berkeliling. Berusaha memfokuskan mataku. Kulihat batu-batu pendek
menonjol keluar dari antara rumput tinggi.
"Alison, kenapa kau mendatangi kuburan ini?" tanya Ryan pelan, suaranya gemetar.
"Aku... aku tidak tahu," sahutku ketakutan. "Sungguh, aku tidak tahu. Sesuatu
menarikku ke sini. Sesuatu memaksaku kemari."
Masih kebingungan, aku maju beberapa langkah ke arah batu-batu nisan itu.
Kemudian sesuatu mencengkeram mata kakiku.
19 AKU membuka mulut dan menjerit ngeri.
Ryan melompat ke sampingku. Ia membungkuk dan menarik seutas akar panjang yang
melilit sepatuku. "Kupikir..." Jantungku berdebar kencang. Aku berdeham. "Kukira ada yang
mencengkeramku." Ryan tertawa. "Cuma seutas akar. Kau berjalan tepat ke tengahnya. Kuharap kau
tidak mulai aneh-aneh lagi."
Aku menggosok-gosok mata kakiku. Kepalaku pening dan kulitku rasanya kesat
seluruhnya. "Ayo pergi dari sini, Alison." Ryan menarik-narik lenganku.
"Tidak. Tunggu." Aku menjauh darinya dan maju beberapa langkah lagi ke arah
batu-batu nisan itu. Angin bertiup lebih kencang, membuat rumpu-rumput rebah di depanku. Batu-batu
nisan itu bersinar temaram di bawah cahaya pucat bulan separuh.
"Batu-batu nisan ini kecil sekali," gumam Ryan. Kami melangkah berdekatan ke
deretan nisan di belakang. Beberapa sudah roboh dan tergeletak begitu saja,
dikelilingi rumput tinggi.
Aku membungkuk untuk membaca tulisan yang terukir di sebuah nisan rendah. SPUD.
"Nama macam apa itu?" tanyaku pada Ryan.
Ia membaca nama-nama di batu-batu nisan lainnya. SPIKE, MILLIE, FLASH,
WHITEY.... Ryan berpaling padaku, wajahnya mengernyit bingung. "Ini kuburan binatang,"
katanya. "Hah?" Suaranya kedengaran sangat jauh. Aku menyipitkan mata ke arah barisan
nisan yang tampak seram dalam cahaya pucat itu.
"Binatang?" "Kenapa kau membawaku kemari?" tanya Ryan lagi. "Ini kuburan binatang. Semuanya
untuk kucing dan anjing. Lihat, ini ada anjing yang namanya Rover. Apa ada orang
yang benar-benar menamai anjingnya Rover?"
Ryan masih terus bicara. Ia memeriksa lagi barisan batu nisan itu.
Tangannya menelusuri puncak-puncak nisan tersebut.
Kurasa ia sedang menyebutkan nama-nama binatang yang mati itu, tapi aku tidak
mendengarnya. Terdengar suara siulan pelan di telingaku. Suara Ryan kedengaran bermil-mil
jauhnya. Batu-batu nisan itu tegak di hadapanku, mengingatkanku pada barisan gigi yang
sudah rusak. Suara Ryan memudar semakin jauh.
Aku berjalan di antara baris-baris nisan itu tanpa melihat apa pun.
Tanpa menyadari bahwa aku berjalan.
Aku serasa melayang dalam dunia yang sunyi. Duniaku sendiri.
Aku berhenti di depan sebuah nisan rendah. Bagian atas dan sisi-sisinya sudah
pecah-pecah. Kucoba membaca nama yang terukir di situ. Tulisannya hampir pudar.
Aku mesti membungkuk dan mendekatkan wajah agar bisa melihatnya dengan jelas.
Suara siulan di telingaku semakin keras dan nyaring.
Lalu menghilang. Aku berdiri diam. Dan memandangi nama pada nisan itu. RIP. Mataku terpaku pada keseluruhan tulisan
di situ. RIP. 1981-1993 "Dia sudah mati," gumamku. "Dia sudah mati. Itu sebabnya aku tak bisa
membunuhnya. Dia sudah bertahun-tahun mati."
20 AKU melotot ke arah batu-batu nisan itu, tak sanggup berpikir, tak sanggup
bergerak. Ucapan Crystal kembali bergaung di telingaku, "Dia bukan kucing biasa. Mestinya
kau tidak berurusan dengan Rip."
Rip sudah mati, pikirku. Kucing mati yang kutewaskan tiga kali lagi.
"Dia akan sangat nekat sekarang," Crystal sudah mengingatkanku. "Itu nyawanya
yang kedelapan. Sekarang dia akan sangat nekat."
Apakah ia percaya cerita lama itu, bahwa kucing mempunyai sembilan nyawa"
Aku tidak percaya. Tapi benarkah"
Kalau kucing itu hanya mempunyai satu nyawa, berarti dia mati selamanya dan
terkubur di bawah nisan ini. Mati dan terkubur pada tahun 1993.
Tak mungkin dia lari ke bawah roda sepedaku. Tak mungkin dia bisa menutupi
wajahku ketika aku tidur dan berusaha membuatku kehabisan napas.
Kalau dia hanya mempunyai satu nyawa, tak mungkin dia bisa mencakarku. Tak
mungkin dia bisa meninggalkan bekas-bekas cakaran berwarna putih itu di kulitku.
"Alison... kau sedang apa?"
Seruan nyaring Ryan masuk ke dalam kesadaranku.
Aku merasakan tangannya di bahuku. Tapi aku tidak membalikkan tubuh. Dan aku
juga tidak bangkit berdiri.
Aku sedang berlutut di rumput yang basah. Embun yang dingin meresap menembus
celana jeansku, tapi aku tidak peduli.
"Alison, kau sedang apa?"
Aku tahu apa yang kulakukan. Aku sedang menggali-gali kuburan kucing itu. Dengan
panik aku melemparkan segumpal tanah basah dengan dua tangan.
Aku lalu menggali dengan cepat sambil membuang tanahnya dengan gerakan liar ke
belakangku. Aku mencakar-cakar seperti seekor binatang. Tanganku terbenam semakin dalam dan
semakin dalam. Aku mesti melihat kerangka kucing itu. Aku mesti memastikan dia benar-benar ada
di bawah sini. "Alison, ayo pergi." Ryan berdiri di dekatku. Suaranya tinggi melengking.
"Alison... ayolah."
Aku tidak menjawab. Aku tidak ingin bicara dengannya. Aku tidak ingin
menjelaskan. Aku tak ingin ia melihatku menggali-gali begini, mencakar-cakar dengan sangat
liar dan putus asa. Lebih dalam... lebih dalam. Membungkuk di atas lubang makam.
Ada seruan-seruan pelan seperti suara binatang. Lalu kusadari bahwa suara-suara
itu keluar dari mulutku. "Oh... oh... oh... oh." Setiap kali menarik napas,
erangan pelan itu ikut meluncur keluar.
Keringat yang terasa panas mengaliri dahiku. Kedua tanganku terasa sakit. Tanah
basah menempel di bawah kuku-kukuku.
"Alison... hentikan!" seru Ryan. "Alison... kau membuatku takut. Kau benar-benar
membuatku takut. Kau bisa berhenti, tidak?"
Tidak, aku tidak mau berhenti.
Aku tidak bisa berhenti. Aku mesti tahu yang sebenarnya tentang Rip. Aku mesti yakin bahwa ia sudah
terkubur di bawah batu nisan ini.
Aku membungkuk lebih dalam dan terus menggali.
Kemudian tanganku menyentuh sesuatu yang keras.
"Ow!" teriakku, bukan karena sakit, tapi karena kaget.
Terengah-engah seperti binatang aku mulai melemparkan tanah lebih cepat dan
lebih cepat. Sebuah peti kayu berwarna gelap tampak olehku. Aku membersihkannya dari tanah
yang menutupi. Setelah bersih, barulah aku bisa melihat keseluruhan kotak itu.
"Ini peti mati si kucing," kudengar Ryan bergumam di belakangku.


Goosebumps - Jeritan Kucing Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Alison, kau mau apa dengan peti itu?"
Sambil mengerang keras aku meraih kedua sisi peti tersebut dan menarik-nariknya.
Ternyata lebih berat daripada yang kukira.
Aku terpeleset dan hampir jatuh dengan kepala lebih dulu ke dalam lubang makam.
"Tidak!" seruku. Aku berhasil menjaga keseimbangan. Lalu aku menjulurkan kepala
lagi. Kupegang kedua sisi peti itu erat-erat, lalu kutarik keluar dari dalam lubang
makam. .Sambil terengah-engah aku mengempaskan peti itu ke tanah dan
membersihkan tutupnya dari tanah yang menempel.
Ryan berdiri di belakangku. "Aku tidak percaya," gumamnya. Ia berlutut di
sampingku. "Kau benar-benar mau membuka peti ini rupanya?"
Aku tidak menjawab. Aku bernapas dengan susah payah. Tenggorokanku terasa sangat kaku dan kering.
Aku tidak tahu apakah aku akan bisa bicara.
Dengan gemetar aku mengulurkan kedua tanganku dan sekali lagi memegang peti mati
kucing itu. Lalu kuangkat peti itu ke pangkuanku.
Sesaat aku hanya terpaku memandanginya. Lalu aku menelan ludah dengan tegang.
Kupegang tutup peti dengan dua tangan... dan kubuka.
21 DENGAN cakar-cakar terangkat tinggi kucing itu melompat menerkamku.
Aku melihat kilatan matanya yang kuning. Lalu seringai taringnya yang tajam.
Saat melompat keluar dari peti mati, ia membuka mulutnya dan mengeluarkan
desisan nyaring. Aku tidak sempat menghindar. Peti mati yang terbuka itu jatuh dari pangkuanku.
Cakar-cakar si kucing menghantam bahuku dan aku jatuh telentang.
Kudengar Ryan berteriak kaget di tengah suara desisan si kucing.
Aku mengangkat kedua tanganku untuk menahan makhluk itu, tapi tubuhnya yang
panas dan berbulu menutupi wajahku dan cakar-cakar depannya memeluk leherku dengan erat.
Dia berusaha membuatku tercekik lagi, pikirku.
Aku mencengkeram punggungnya. Beberapa saat kami bergulat, berguling-guling di
rumput yang basah. Aku membuka mulut untuk menarik napas... tapi aku justru menelan segumpal bulu
kucing. Dengan tersedak aku berusaha menarik kucing itu dari wajahku.
Di atasku kudengar Ryan berseru-seru panik. Lalu aku merasa kucing itu diangkat
dari wajahku. Aku berguling dari bawahnya. Dengan terengah-engah aku berlutut.
Ryan memegangi kucing itu dengan dua tangan di perutnya.
Si kucing menendang-nendangkan kaki-kakinya dengan marah sambil mendesis-desis.
Sepasang matanya yang kuning berkilat-kilat murka seperti dua buah api kecil.
"Bangun, Alison," seru Ryan yang masih bergulat dengan kucing yang marah itu.
Aku bangkit berdiri dengan gemetar. Kepalaku serasa berputar.
Kucoba mengusir rasa pening dengan mengerjap-ngerjapkan mata.
"Lari! Aku... aku tidak bisa terus memeganginya," erang Ryan.
Rip menendang dengan keras. Seluruh tubuhnya meliuk-liuk.
Ia hampir lepas. Ryan masih berusaha memeganginya. "Lari, Alison!"
Lari ke mana" Aku menarik napas panjang dan mulai berlari.
"Tidaaaak!" seruku ketika kakiku tersandung peti mati kucing itu. Aku jatuh pada
siku dan lututku di rumput.
Aku membalikkan tubuh dan melihat si kucing berhasil melepaskan diri dari
cengkeraman Ryan. Sepasang mata kuningnya menyala-nyala. Ia memamerkan giginya yang tajam.
Ia merundukkan kepalanya, dan mengendap-endap ke arahku.
Ryan melangkah maju. Ia membungkuk dan mencoba meraih kucing itu lagi.
Tapi si kucing berputar dan dengan ganas mengayunkan satu cakarnya ke wajah
Ryan. Ryan mundur. Tapi Rip lalu berhenti dan berdiri di atas kaki belakangnya.
Sekali lagi matanya memandangiku dengan marah.
Lalu Rip menengadahkan kepalanya dan mengeluarkan lengkingan panjang dan
nyaring. Begitu nyaring, hingga aku harus menutup telingaku.
Segalanya seakan membeku. Ryan. Aku. Kucing yang berdiri dengan kaki belakangnya
itu. Kami semua seakan membeku sejenak.
Lalu aku mendengar suara gemuruh pelan dan tanah mulai bergetar.
Di sekeliling kami batu-batu nisan mulai bergoyang dan bertumbukan.
Sebuah batu nisan roboh dan dua lainnya saling tabrak.
Kemudian suara gemuruh pelan itu berubah menggelegar.
Rumput-rumput gemetar. Tanah berdenyut naik turun.
Aku melihat segumpal asap hitam melayang dari depan sebuah batu nisan yang
bergoyang. Sebuah batu nisan lain bergerak-gerak, lalu roboh dengan dahsyat ke tanah.
Semua makam itu bergetar dan bergoyang-goyang. Sebuah gumpalan asap kecil
lainnya meliuk keluar dari lubang di depan sebuah batu nisan.
Aku menoleh dan melihat banyak gumpalan asap hitam keluar dari makam-makam itu.
Melayang di atas rerumputan, semakin pekat.
Tanah bergetar dan berguncang.
Asap hitam di mana-mana. Udara menjadi dingin, sangat dingin....
"Apa yang terjadi?" seruku dengan suara pelan ketakutan. "Ryan, apa yang
terjadi?" 22 RYAN tidak menjawab. Aku berusaha mencarinya di tengah kabut, tapi asap yang mengelilingiku terlalu
tebal dan hitam. "Ryan?" panggilku. "Kau baik-baik saja?"
Tidak ada jawaban. Asap hitam itu mengelilingiku.
Begitu dingin. Udara begitu dingin.
Bau yang memuakkan merayap ke hidungku. Seperti bau daging yang sedang membusuk.
Sementara kabut gelap itu masih melayang-layang, aku mulai melihat sosok-sosok.
Ada kepala-kepala, kaki-kaki kurus, ekor-ekor yang melengkung, semuanya melayang
dalam kabut. Kucing-kucing. Kucing-kucing yang sudah mati.
Kucing-kucing hantu. Melayang keluar dari makam mereka.
Belasan kucing hantu melayang-layang mengelilingi aku, mata mereka yang kelabu
bersinar suram. Bau daging yang membusuk itu semakin tajam. Udara-pun semakin dingin.
Aku menggigil. "Tidak... jangan." Aku mencoba bergerak. Aku mesti pergi dari sini.
Tapi kucing-kucing dan asap itu mengelilingiku seperti pusaran tornado yang
gelap. Kucing-kucing itu mengawasiku dalam diam, berputar-putar dalam kabut. Semakin
cepat dan semakin cepat. Aku terperangkap. Aku tak bisa melihat. Dan tak bisa bergerak.
"Ryan?" panggilku. "Apa kau juga terperangkap?" Tak ada jawaban.
Aku mulai tersedak gara-gara asap itu. Kututupi mulut dan hidungku dengan satu
tangan dan kulindungi mataku dengan tangan lainnya.
Bisakah aku lari melewati mereka" pikirku. Apakah mereka hanya berupa asap"
Bukan tubuh yang nyata"
Bisakah aku meloloskan diri dari mereka"
Bau yang memuakkan itu semakin dominan. Dengan terbatuk-batuk aku mengangkat
mata ke arah kucing-kucing yang berputar-putar itu.
Kuhantam tornado asap itu dengan bahuku. Kegelapan menyelimutiku. Menelanku.
Mengitariku. Kupaksakan diri untuk maju dengan kepala dan bahu dirundukkan.
Lengkingan-lengkingan kucing-kucing hantu itu terdengar di sekitarku. Erangan
pelan kucing-kucing yang sudah mati.
Kabut itu makin gelap dan makin gelap... dan hidup. Hidup dengan hantu-hantu
yang melayang dan mengerang.
Aku mendorong dengan keras. Kurundukkan bahuku lagi, lalu aku maju dengan kaki
gemetar. Dan berhasil lewat. Udara malam yang dingin menerpa wajahku. Bulan keperakan berkilauan di
hadapanku. Aku melihat batu-batu nisan yang sudah roboh tadi. Juga lubang-lubang dalam,
tempat hantu-hantu itu keluar.
Di mana Ryan" Aku memanggil-manggilnya, tapi seruan dan erangan kucing-kucing hantu di
belakangku menenggelamkan teriakanku.
Aku tidak menoleh lagi. Aku terus berlari.
Aku menghirup udara segar banyak-banyak dan terus berlari.
Sepatuku terpeleset-peleset di rumput yang basah dan jantungku berygemuruh
kencang sekali. Aku keluar dari kompleks makam yang mengerikan itu. Melintasi lapangan kosong
yang penuh alang-alang. Aku lari dengan panik, melewati segerumbulan semak-semak tinggi.
Menyeberangi jalan. Lalu satu jalan lagi.
Dan kudengar suara BLUK keras di belakangku, terus mengikutiku.
Dengan ngeri aku menoleh.
Rip mengikutiku. Matanya menyala-nyala. Cakar-cakarnya yang gelap menapak di
jalanan. Ekornya melengkung di belakang.
Ia mendesis ketika mata kami bertemu.
Aku mengangkat mataku. Di belakang Rip kulihat kabut gelap berisi kucing-kucing
hantu yang terus mengerang-erang itu.
Mengikutiku. Melayang cepat. Berputar dan berputar sambil terus melayang.
Menyapu jalanan di belakangku.
Aku membungkukkan badan dan memaksakan diriku lari lebih cepat.
Perutku sakit dan pelipisku berdenyut-denyut.
Kucing-kucing mati itu mengerang dan meratap di belakangku. Begitu dekat.
Cakar-cakar Rip berbunyi keras di tanah.
Aku berbelok. Rumah Crystal tampak di hadapanku. Gelap. Hanya ada cahaya kelabu dingin dari
jendela depan. Dengan terengah-engah aku memaksakan diri lari ke pekarangan depan, ke pintunya.
Seluruh tubuhku terasa sakit saat aku mengangkat kedua tanganku dan menggedor-
gedor pintu depan. "Crystal, tolong aku! Tolong aku!" Suaraku serak oleh rasa takut.
"Crystal! Buka pintu! Kau harus menyelamatkanku.
23 TAK ada jawaban. Tak ada suara dari dalam rumah.
Aku beralih ke jendela depan. Kosong.
"Crystal, tolonglah," pintaku. Aku menggedor-gedor pintu depan dengan panik.
"Crystal?" Aku melihat ke jalanan. Rip sudah tiba di ujung pekarangan depan. Ia sekarang
melangkah di rumput yang basah, matanya tajam menatapku, berkilat-kilat.
Kabut gelap berisi hantu-hantu itu mengikutinya dekat di belakang.
"Crystal...," pintaku. Kuangkat kedua tanganku untuk menggedor lagi.
Dan akhirnya pintu itu dibuka. "Crystal...," kataku tercekat.
Ia mengulurkan tangan dan menarikku ke dalam.
"Aku... aku..." Aku tak bisa berbicara karena terengah-engah, berusaha menghirup
udara. Aku terpuruk di dinding, menunggu sampai kepalaku berhenti berdenyut-
denyut dan rasa sakit di perutku hilang.
"Rip...," kataku akhirnya. "Dan kucing-kucing mati... melayang seperti asap...
dan..." Anehnya Crystal justru merangkulku. "Oh, Alison, kasihan kau," serunya.
"Sungguh, aku kasihan sekali padamu."
Ia menekankan pipinya ke pipiku dan memelukku dengan penuh perasaan. Ketika ia
melepaskanku, kulihat wajahnya yang pucat tampak cemas... dan takut.
"Aku sudah memperingatkanmu," bisiknya. "Rip bukan kucing biasa. Rip tidak akan
berhenti. Sampai dia mendapatkan apa yang diinginkannya."
Aku tercekat. "Apa yang diinginkannya?" tanyaku terbata-bata.
Crystal menunduk. "Nyawamu," sahutnya.
"Tapi kenapa?" tanyaku.
Crystal menarikku ke lorong. "Tak ada waktu untuk menjelaskan," katanya. "Dia
memilihmu." "Ha?" seruku. "Aku tidak mengerti. Aku..."
Seekor kucing mengeong di depan pintu. Aku terlompat.
"Itu Rip," bisik Crystal. "Rip dan kucing-kucing lainnya. Yang lain itu adalah
para budaknya. Pintu yang terkunci pun takkan bisa menghalangi mereka."
"Tapi...," aku memulai.
"Tak lama lagi mereka bisa masuk ke rumah," kata Crystal, matanya terpaku ke
pintu. "Ayo, Alison, kita harus bergerak cepat."
"Tapi bisakah kau menolongku?" seruku sambil mengikutinya ke belakang rumah.
"Bisakah kau melindungi aku darinya?"
Crystal menarikku melalui lorong belakang. Ia berhenti di depan sebuah pintu
yang terkunci. Aku bisa mendengar lolongan kucing-kucing dari depan rumah. Dan lengkingan Rip
yang penuh ancaman. "Bisakah kau menolongku?" tanyaku lagi.
Crystal membuka pintu itu. Di baliknya hanya ada kegelapan. "Hanya ibuku yang
bisa menolongmu," bisiknya. "Hanya Mom yang bisa menyelamatkanmu darinya."
Kudengar suara langkah-langkah berat di depan rumah. Lengkingan kucing-kucing
itu semakin keras. Apakah mereka sudah masuk ke dalam rumah"
Crystal menyalakan lampu. Kulihat anak-anak tangga yang curam mengarah ke bawah.
"Cepat," ajaknya. Aku tidak mengerti. "Kita turun ke sana?" tanyaku.
"Tapi... di mana ibumu?"
"Di bawah sana," sahut Crystal. Ia menyipitkan mata ke lorong yang panjang.
"Cepat. Hanya Mom yang bisa menolongmu. Hanya Mom yang tahu bagaimana mengatasi
Rip." Aku memandangi tangga yang curam itu. Dalam cahaya yang kelabu bisa kulihat
sebuah tembok dari batu di bawah.
Rasa ngeri menjalari punggungku. Aku mundur. "Ibumu ada di bawah sana?" tanyaku.
Crystal mengangguk. "Jangan takut, Alison. Aku akan ikut denganmu. Aku akan
membantumu." Aku menarik napas panjang. Tangga ini tidak mempunyai birai. Tidak ada tembok di
kedua sisinya. Tidak ada tempat untuk berpegangan.
Kakiku masih gemetar akibat berlari lama dari kuburan tadi. Aku menggigil lagi.
"Cepat," desak Crystal.
Aku maju satu langkah. Lalu satu lagi. Perlahan-lahan dan sangat hati-hati. Aku
turun ke bawah sana. Crystal mengikuti dekat di belakangku, memegangi tanganku.
Ketika akhirnya kami tiba di bawah, aku melepaskan tangannya dan melayangkan
pandang. Dua bohlam suram di langit-langit menerangi ruang bawah tanah yang
panjang ini dengan cahaya kelabu kehijauan.
Ruangan ini dilengkapi dengan sebuah meja panjang di tengah-tengah.
Meja itu penuh dengan berbagai peralatan laboratorium yang aneh. Di sepanjang
tembok ada barisan mesin yang dihubungkan dengan kawat dan kabel-kabel.
"Ini laboratorium Mom," kata Crystal pelan. "Ibumu seorang ilmuwan?" tanyaku.
Crystal tidak menjawab. Ia memanggil-manggil, "Mom" Mom?"
Suaranya bergema di tembok-tembok batu itu.
Aku mendengar suara batuk, lalu seseorang bergerak di bagian belakang ruangan.
Kemudian kudengar langkah kaki pelan di lantai.
"Hanya Mom yang bisa menolongmu," Crystal mengulangi sambil berdiri di dekatku.
"Mom dulu harus berurusan dengan Rip... dan seluruh nyawa cadangannya."


Goosebumps - Jeritan Kucing Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Hah" Apa Rip benar-benar sudah mati?" bisikku. "Aku melihat kuburannya dan..."
Suaraku makin pelan ketika bunyi langkah kaki itu semakin keras.
Aku menahan napas dan menunggu. Benarkah ibu Crystal bisa melindungiku dari
kucing setan itu dan para budaknya"
Di ujung ruangan panjang itu sebuah sosok bungkuk muncul.
"Itu Mom," kata Crystal.
Aku berusaha menajamkan mata untuk melihatnya.
Lalu aku terperangah dan menjerit ngeri.
24 AKU menahan jeritanku dengan tangan, lalu aku mundur ketakutan ke tembok batu.
Ibu Crystal berwajah manusia, tapi dua telinga kucing yang runcing mencuat dari
rambutnya yang kelabu kusut. Dan kumis-kumis kucing berwarna putih tampak dari
kedua pipinya. Ia maju lebih dekat. Ia mengenakan sweater hitam dan rok merah panjang.
Tangan kanannya masih tangan manusia, tapi tangan kirinya berbentuk kaki kucing.
Dari bagian belakang roknya juga mencuat ekor kucing yang berbulu. Ketika ia
mendekatiku, kulihat bagian belakang lehernya ditiitupi bulu kucing juga.
"Ohhh," aku tak dapat menahan seruan ngeriku. Dia setengah manusia setengah
kucing. "Kadang-kadang orang memang terkejut melihatku," kata ibu Crystal padaku. Lalu
ia mengeong. Aku terkesiap. "Aku... aku..."
Ia mengulurkan tangan dan meraih lenganku. Lalu ia menundukkan kepala. Kumis
kucingnya menyentuh kulitku.
"Hentikan!" teriakku ketika ia membuka mulutnya dan menjilat bahuku.
"Aduh... hentikan!"
Ia mundur dengan tersinggung. "Aku cuma membersihkanmu sedikit," keluhnya.
Lalu ia menggaruk bulu di belakang lehernya dengan tangan manusianya.
Rasa mual menerpaku. Ia tampak sangat aneh, sangat menakutkan.
Seluruh tubuhku gemetar. Kakiku mulai lemas. Aku memeluk tubuhku dengan erat dan
bersandar ke tembok agar tidak jatuh.
Seulas senyuman aneh tersungging di wajah ibu Crystal. Ia menepuk-nepuk tanganku
dengan cakarnya. Lalu senyumnya memudar dan ia menoleh pada Crystal. "Apa dia sudah siap?"
Crystal mengangguk. "Ya, dia sudah siap."
"Kau... kau akan menolongku, bukan?" tanyaku pada Crystal.
"Tidak," sahut Crystal. Sepasang matanya yang gelap menatapku dengan dingin.
"Tidak, Alison, maaf, tapi kami tidak akan menolongmu. Kaulah yang akan menolong
kami." "Pegangi dia untuk Rip," perintah Mom.
25 "TIDAK!" Aku menjerit dan melesat ke tangga. Tapi Crystal bergerak cepat menghalangi
jalanku. Ia menangkap tubuhku dan menahanku.
Aku meliuk-liuk berusaha melepaskan diri, tapi ia memegangiku dengan erat. Lalu
aku merasa cakar ibunya melingkari pinggangku.
Mom mengeong, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berbisik, "Jangan coba-
coba melarikan diri. Dia sudah memilihmu. Rip memilihmu."
"Aku tidak mengerti," erangku. "Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
Crystal mengetatkan pegangannya. "Kau menabraknya," gumamnya.
"Kau mengambil satu nyawanya, jadi dia memutuskan kaulah yang akan jadi korban
berikutnya." "Berikutnya?" seruku. "Apa maksudmu?"
Cakar Mom semakin mengetat di pinggangku. Aku tak bisa bergerak.
"Kaulah yang berikutnya akan memberikan hidupmu untuknya," kata Mom.
"Hah" Memberikan hidupku?" jeritku. "Apa Anda sudah memberikan hidup Anda" Anda
juga sudah mati?" Mom menggeleng. Kumis kucingnya menyapu pipiku. "Tidak, aku tidak mati. Tapi
hampir. Aku tak punya nyawa lagi untuk kuberikan padanya. Itu sebabnya kami
membutuhkanmu." Ia mendesah berat, lalu menunjuk dengan tangan manusianya ke meja lab yang
panjang. "Semua eksperimenku berakhir mengerikan," katanya sedih. "Percobaanku
dengan kucing-kucing itu merupakan kesalahan besar."
Ia menggeleng. "Semua kucing itu mati. Aku menguburkan mereka di kuburan
binatang. Tapi Rip terlalu kuat dan jahat untuk mati. Dia menolak tetap mati,
dan dia menghidupkan kembali kucing-kucing lain untuk dijadikan budaknya."
Aku terpaku memandanginya, gemetar, tak percaya dengan apa yang kudengar.
"Aku... aku tidak mengerti," kataku.
Mom menekan pinggangku dengan cakarnya. "Apa dia mencakarmu?" tanyanya. "Apa Rip
mencakarmu?" Aku mengangguk. "Ya. Satu kali. Di kakiku."
"Setiap kali dia mencakarmu, kau jadi mirip sedikit dengannya," Mom menjelaskan.
"Dan setiap kali dia mencakarmu, dia juga mengambil sedikit hidupmu, untuk
memastikan agar kesembilan nyawanya tidak habis."
"Itu sebabnya dia bisa berkeliaran di luar kuburannya," gumam Crystal. "Dia
telah menggunakan energi Mom. Dan hidup Mom...."
Mom mendesah lagi. "Kau bisa melihat sendiri apa yang telah dia lakukan padaku.
Setiap cakaran membuatku lebih mirip dengannya. Dia ingin Crystal menyerahkan
hidupnya untuk dia, tapi aku tidak rela. Jadi, kuberikan hidupku untuk
menyelamatkan Crystal."
Mata wanita itu menatap mataku dengan berapi-api. "Tapi sekarang aku tidak
mempunyai sisa kehidupan lagi," bisiknya. "Begitu banyak cakarannya... begitu
banyak...." Aku mendengar suara di seberang ruangan. Aku menoleh dan melihat Rip. Ia berdiri
di puncak tangga, matanya yang kuning menatap kami.
"Dia di sini," seru Crystal.
"Gadis ini sudah siap untukmu," Mom berseru pada kucing itu.
"Gadis ini punya kehidupan baru untukmu, Rip."
"Tidaaaak!" Sebuah lengkingan nyaring terlompat dari mulutku..
"Kau menabraknya," kata Crystal sambil mempererat pegangannya.
"Kau berutang padanya, Alison."
"Tidak akan sakit," tambah Mom. "Cakarannya memang dalam, tapi tidak
mengeluarkan darah."
"Tapi... tapi...," aku terbata-bata dan jantungku berdebar kencang. Aku
ternganga memandang Mom. "Maksud Anda, aku akan jadi seperti Anda?"
"Tidak terlalu parah, bukan?" sahut Mom. "Kau akan terbiasa."
26 AKU mengangkat wajah dan melihat Rip bergerak tanpa suara menuruni tangga. Ia
berhenti di anak tangga paling bawah dan menatapku dengan dingin, tanpa
berkedip. Di puncak tangga terdengar lolongan dan ratapan. Kucing-kucing mati itu
bermunculan, melayang di atas lantai. Mata mereka yang kelabu bersinar suram saat mereka
mengikuti Rip ke bawah. Rip bergerak lebih dekat, ekornya tegang dan tinggi di belakangnya.
Bulunya yang kelabu meremang. Ia melengkungkan punggung, siap-siap menyerang.
"Dia sudah siap," kata Crystal padanya.
"Alison akan memenuhi kebutuhanmu," kata Mom pada kucing itu.
"Crystal dan aku sudah tidak punya urusan lagi di sini. Kami akan meninggalkan
tempat ini selamanya. Tapi Alison akan tetap di sini, agar kau bisa tetap
hidup." "Tidak!" seruku, lalu aku meronta-ronta sekuat tenaga, berusaha membebaskan
diri. Ternyata aku berhasil. Aku bebas dari cengkeraman Crystal dan aku mundur sampai
terpojok di dinding. Crystal dan Mom terpekik, tapi Rip tidak berhenti. Ia terus melangkah ke arahku
dengan punggung melengkung dan bulu meremang.
Aku melayangkan pandang ke sekitarku.
Ke mana aku bisa lari" pikirku.
Kucing-kucing hantu itu sudah berada di belakang Rip. Cakar mereka bergerak,
seperti berjalan. Tapi sebenarnya mereka melayang di atas lantai.
Dengan mendesis dan mengerang mereka membentuk barikade.
Aku tak mungkin bisa melewati mereka.
Tak ada tempat untuk lari.
Dengan satu lengkingan nyaring, Rip mengambil ancang-ancang.
Dia akan melompat ke arahku. Dia akan mencakarku.
Aku merembet di tembok, berusaha menghindar.
Tapi aku tahu usahaku tak ada gunanya. Kucing-kucing hantu itu membentuk barisan
yang kuat di belakang Rip.
Rip berdiri lebih tinggi dengan kaki belakangnya. Sepasang kaki depannya
mengoyak udara. Aku siap-siap merunduk. Aku akan menghindari terkamannya, pikirku, lalu akan kucoba menembus blokade
kucing- kucing hantu itu. Tubuhku tegang. Kutunggu kucing setan itu melompat ke arahku.
Aku memasukkan tanganku yang gemetar ke saku celanaku, dan merasakan sesuatu di
kantongku. Apa ini" Ada apa di sakuku"
Tanganku meraba-raba, dan aku menemukan tikus putar dari plastik itu. Rupanya,
ketika sedang membereskan kamarku, aku memasukkan tikus itu ke dalam saku
celanaku. Rip maju lebih dekat. Aku bersiap-siap merunduk.
Sebuah suara di puncak tangga membuat kami semua terkejut dan menoleh.
Aku mendengar bunyi langkah kaki berat. Lalu Ryan muncul.
"Kau di sini rupanya," serunya. "Alison, aku sudah mencarimu ke mana-mana.
Sedang apa kau di bawah sana?"
Aku ingin berteriak memperingatkannya.
Tapi Ryan sudah melesat turun.
"Jangan!" teriakku sambil memberi isyarat mengusirnya. "Ryan, jangan turun. Cari
bantuan! Jangan turun kemari!"
Ia tiba di lantai ruang bawah tanah dan menembus blokade kucing-kucing hantu
itu. Ia berlari menghampiriku. "Alison, kau tidak apa-apa?"
"Ryan... jangan...," seruku.
Sudah terlambat. Rip menyeringai dan mengeluarkan desisan melengking.
Lalu ia melompat dan dengan marah mengayunkan cakarnya ke lengan Ryan.
27 "AHHHH?" Ryan berseru kesakitan.
Aku terperangah melihat luka cakaran yang dalam di lengannya.
Rip menengadah dengan senang, lalu matanya terpejam puas.
Dengan satu teriakan marah aku maju dari tembok. "Ryan, cepat lari!" seruku.
Aku mengeluarkan tikus plastik itu dari saku celanaku dan melemparkannya pada
Rip. Tikus itu menghantamnya, lalu terpental ke lantai.
Aku menarik Ryan ke seberang ruangan, sementara kucing-kucing hantu itu
memandangi tikus plastik tersebut.
Akankah mereka percaya bahwa tikus itu tikus sungguhan"
Ternyata ya! Kucing-kucing berteriak nyaring, lalu menyerbu tikus plastik itu.
Sambil mencakar dan mendesis mereka mengerumuni benda itu, melewati Rip,
berkelahi memperebutkannya. Aku terperangah melihat mereka berkelahi dan saling menggigit. Rip tidak tampak
lagi di tengah sosok-sosok yang berkelahi itu.
Kucing-kucing lain menginjak-injaknya, menimpanya sampai ia tergeletak lemas dan
tak bergerak. Terkubur di bawah mereka.
Terkubur selamanya" Kucing-kucing hantu itu berputar makin cepat dan makin cepat, memamerkan gigi
dengan mata berkilat-kilat dan cakar menyambar-nyambar.
Lebih cepat... Sekarang semuanya melengking begitu nyaring, sampai semuanya menjadi satu nada
tinggi yang memekakkan telinga. Aku menutupi telingaku dengan tangan.
Kemudian sosok-sosok kucing yang berkelahi itu menghilang.
Suasana sunyi. Masih sambil menutupi telingaku, aku melihat ke lantai.
Tikus plastik itu tergeletak miring.
Kucing-kucing hantu tadi sudah lenyap. Rip juga. Ia sudah menghabiskan
kesembilan nyawanya. "Ryan... kita selamat," kataku.
Tapi di tengah segala ketegangan itu aku telah melupakan Crystal dan ibunya.
Dan sekarang mereka berdua maju serempak untuk menyerang kami.
27 RYAN dan aku terpaku. Telingaku masih berdenging akibat lengkingan kucing-kucing hantu itu. Aku merasa
limbung dan gemetar. Crystal dan ibunya mendekati kami dengan wajah keras dan dingin.
Lalu senyum lebar menghiasi wajah mereka
Crystal merangkul leherku. "Terima kasih, Alison!" serunya. "Terima kasih. Kau
telah menyelamatkan kami juga!"
Ia memelukku erat-erat, begitu pula ibunya.
Kami bertiga berdiri di tengah ruangan. Sangat senang dan lega.
Kemudian suara Ryan menyela kegembiraan kami. "Tak kusangka mereka bisa tertipu
oleh tikus plastik itu," katanya sambil menggeleng.
"Kucing tetap kucing," sahutku. "Meski kucing hantu sekalipun."
"Crystal dan aku akan pergi," kata Mom sambil memeluk putrinya dengan tangannya
yang normal. "Sekali lagi terima kasih, Alison. Terima kasih banyak."
"Kalian akan ke mana?" tanyaku.
"Pergi sejauh mungkin dari sini," sahut Mom dengan serius.
"Aku juga," kataku. Kusambar lengan Ryan dan kutarik dia ke tangga.
Tak lama kemudian kami sudah keluar dari rumah itu. Aku tak sekali pun menoleh
ke belakang. *** "Bisakah kau duduk sebentar dan menceritakan apa yang terjadi padamu?" kata Mom
sambil melongok ke dalam kamarku.
"Tidak bisa," kataku tak sabar. "Aku sudah terlambat untuk latihan. Mom kan
tahu, Mr. Keanes selalu marah kalau ada yang terlambat datang. Apalagi ini
latihan terakhir kami."
Hari itu hari Sabtu sore. Nanti malam kami akan mementaskan drama kami.
Gugupkah aku" Jelas.
"Ayahmu dan aku jarang melihatmu akhir-akhir ini," Mom menggerutu. "Tanner juga
kehilangan kau." "Nanti, sesudah pertunjukan, aku akan meluangkan waktu untuk semuanya," janjiku.
"Sekarang aku mesti pergi, Mom. Aku bahkan belum hafal semua lagunya, dan..."
"Hei!" Ryan muncul melewati ibuku. "Kita sudah terlambat, Alison. Kau kenapa?"
Aku mendesah dan cuma angkat bahu sebagai jawaban.
Mom menghilang ke ruang bawah. "Nanti aku datang ke pertunjukanmu," serunya.
"Dad dan aku akan duduk di baris depan. Dan membawa camcordernya."
"Oh, bagus," gumamku sambil memutar-mutar mata. Aku menoleh pada Ryan. "Aku
tegang sekali," erangku.
"Setidaknya kita tidak perlu mencemaskan kucing-kucing itu lagi," sahutnya.
"Ya, tidak ada lagi kucing hantu. Hidup kita kembali normal," aku setuju.
"Sekarang kita hanya perlu memikirkan hal-hal biasa."
Lalu dari ruang sebelah terdengar lengkingan nyaring yang membuat kami
terperanjat. 29 RYAN melesat ke ruangan tersebut.
Aku lebih cepat. Aku melewatinya, masuk ke kamar adikku.
"Tanner!" seruku.
Anak itu sedang berlutut di tempat tidurnya, menggigiti kuku-kukunya.
Di depannya seekor kucing raksasa sedang mengaum dan mengayun-ayunkan cakarnya
yang tajam. "Tanner, kukira kau sudah mengembalikan video itu!" seruku. "Kau kan tahu film
itu membuatmu ketakutan."
"Aku... aku cuma ingin lihat sebentar saja," katanya terbata-bata dengan
suaranya yang kecil.

Goosebumps - Jeritan Kucing Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aku mematikan video itu. Kucing raksasa itu hilang dari layar.
"Kau membuat aku dan Ryan ketakutan setengah mati," aku memarahinya. "Jangan
menjerit-jerit seperti itu lagi."
"Tapi aku harus menjerit," Tanner bersikeras. "Film itu seram sekali."
Kuambil kaset video itu dan kumasukkan ke kotaknya, lalu kuletakkan di rak
tinggi agar Tanner tak bisa mengambilnya.
Kucarikan dia film kartun.
"Kau mau tidak nonton sisa film itu untukku?" tanya Tanner.
"Kurasa tidak," sahutku. "Aku dan Ryan tidak suka kucing lagi."
Kemudian aku dan Ryan keluar lewat pintu belakang. Aku melindungi mataku dari
cahaya matahari yang terang. "Hari yang indah," gumamku.
"Hari yang indah untuk terlambat datang latihan," kata Ryan.
Kami berjalan di samping garasi. Aku menarik napas panjang, menghirup aroma
segar rumput yang baru dipotong. "Dad baru saja memotong rumput," kataku. "Aku
senang baunya." Ryan tampaknya tidak mendengar. Matanya tertuju pada sejumput rumput tinggi yang
tidak terpangkas di sudut garasi.
Sekonyong-konyong ia membungkuk dan menjulurkan wajahnya ke tengah rumput tinggi
itu. "Hei, kau kenapa sih?" seruku.
Ryan mengangkat kepala dan menoleh padaku. Di antara giginya ada seekor tikus
besar yang kelihatannya enak.
"Hei, berikan padaku!" tuntutku. "Aku lebih dulu melihatnya."
Ia menggeleng; tikus itu tergantung-gantung di mulutnya.
"Berikan!" kataku. Aku mengayunkan cakar depanku ke arahnya.
"Ayolah, Ryan, berikan padaku. Aku lebih dulu melihatnya."
END Ebook PDF: eomer eadig Http://ebukulawas.blogspot.com
Convert & Re edited by: Farid ZE
Blog Pecinta Buku - PP Assalam Cepu
Muslihat Cinta Iblis 1 Animorphs - 37 Kelemahan The Weakness Satria Pondok Ungu 2
^