Pencarian

Obat Pamungkas 7

Obat Pamungkas The Magic Bullet Karya Harry Stein Bagian 7


tidak" Kenapa obat tersebut bekerja padanya?"
Logan telah memikirkan hal yang sama selama hampir lima bulan sekarang.
"Entahlah. Aku sudah mempelajari tabelnya berulang-ulang. Aku bahkan terus
berhubungan dengannya untuk memastikan kalau dia masih baik-baik saja." Ia
mengangkat bahu. "Bahkan telinganya sakit-pun tidak." ,
"Pasti ada artinya, kan" Ini tidak mungkin terjadi tanpa alasan sama sekali."
"Ya. Hanya saja, terkadang alasannya begitu rumit sampai kami berpura-pura tidak
ada alasannya. Itu yang kami tulis sebagai 'idiosyncratic'."
"Tidak untukku. Juga tidak untukmu."
Ia tertawa. "Kau kedengarannya seperti Sabrina. Lagi."
514 "Ah, pujian tertinggi."
"Menurutmu aku terlalu banyak membicarakan dirinya?" Logan tampak khawatir. "Apa
aku membuat diriku tampak seperti idiot?"
"Tidak." Ia melambai. "Aku senang kau menganggapku mendekati kemampuannya." Ia
tersenyum pada sahabatnya. "Paling tidak di laboratorium."
"Yeah" Kau tidak tahu apa yang sudah kita lakukan di laboratorium." Ia diam
sejenak. "Pokoknya, kuharap kau jangan terlalu akrab dengan hewan-hewan ini,
seperti yang dilakukannya." Ia menunjuk kandang-kandang tikus di sudut. "Hampir
saatnya untuk menyuntik mereka."
515 Sudah hampir tiga bulan mereka tidak bercinta. Ia sedang tidak ingin dan, ?rupanya, karena kondisinya, John tidak mendesaknya. "Hei," katanya, meletakkan
bukunya di meja samping ranjang dan meraih tangan suaminya, "ini alasan yang
jauh lebih baik daripada sakit kepala, bukan?"
"Kau tidak pernah bilang begitu," jawab suaminya, tersenyum, sekali lagi merasa
bersyukur penyakit itu tidak mengusik syaraf humor istrinya.
"Nah, seharusnya dulu kulakukan. Dengan begitu kau pasti tidak akan mengajukan
begitu banyak pertanyaan sekarang."
"Sakit ya rasanya?" tanya suaminya lembut. "Betul, kan."
Sang suami mengelus wajah istrinya. "Ceritakan bagaimana rasanya."
Sikap pura-pura tabah ini membuatnya lelah. "Kurasa rasanya sama dengan yang
kelihatan." Tidak perlu dirinci lagi. Meskipun perasaan takut akan kehilangan rambutnya
telah lenyap" kedua siklus kemoterapi standar itu hanya membuat rambutnya
?sedikit menipis ia tidak pernah membayangkan kalau
?discan dan didjvu-kan untuk dimhader (dimhad.co.cc) oleh OBI
Dilarang meng-komersil- kan atau keslalan menimpa aada selamanya
PRC/TXT BY OTOY orang bisa tampak begitu kelelahan. Tidak peduli berapa lama ia tidur, lingkaran
gelap di bawah matanya tidak pernah bisa hilang; lingkaran tersebut menjadi
bagian dari wajahnya, sebagaimana hidung dan bibirnya. Selain itu, tampaknya,
cahaya matahari tidak lagi mampu mengusir warna pucat dan kelelahan di wajahnya
sebagaimana dulu. "Jadi sekarang tidak begitu sakit" Tidak ada rasa sakit yang nyata?"
"Cuma kalau aku bercermin." Ia menggenggam tangan suaminya. "Oh, John... aku
berusaha keras untuk tidak mengeluh. Tolong beritahu kalau aku mulai
mengingatkanmu pada Camille."
Suaminya tersenyum. "Kurasa tidak mungkin."
"Tapi tahu tidak" Berulang kali aku ingin mengeluh, aku merasa melodramatis." Ia
diam sejenak dan mengernyit, sebagaimana biasa kalau merasa jengkel terhadap
diri sendiri; hanya saja, sekarang rasanya lebih mengesalkan daripada
menyenangkan. "Betul kan, dengarkan omonganku sekarang! Oh, Tuhan, kita bicara
yang lain saja." Tapi,, tentu saja, pada hari-hari ini, usaha untuk membicarakan hal-hal
biasa bahkan bila pokok pembicaraannya berupa rincian menarik tentang pekerjaan?suaminya cenderung untuk kembali ke arah semula. Kisah tentang keberangkatan
?diam-diam kelompok negosiasi perdamaian Timur Tengah akan berakhir dengan
pembicaraan tentang sifat-sifat obat hummus; anekdot tentang pemimpin kongres
yang tidak disiplin berubah menjadi tentang saudara legislator yang pernah
dirawat di YKA. Tapi, ia tidak perlu khawatir untuk tahap ini:
517 krisis tidak membekukan ikatan di antara mereka. John, yang merasa tidak nyaman
dalam hal-hal yang berhubungan dengan emosi biarpun dengan istrinya sendiri,
yang biasanya jarang membuka diri, sekarang, tiba-tiba, mendapati dirinya
mencari-cari alasan untuk bisa berada di dekatnya; lebih daripada kapan pun.
"Kau mau kumatikan lampunya?" tanyanya. "Mungkin sebaiknya kau tidur."
"Ya, tolong." Suaminya mematikan lampu samping ranjang.
"John?" katanya dengan hati-hati.
"Apa, Kekasihku?"
"Kau tidak harus tidur di sini."
"Aku tahu." Ia diam sejenak. "Kau khawatir kalau dering telepon akan
membangunkanmu?" Suaminya tidak pernah suka penundaan; ia telah memerintahkan supaya dibangunkan
bila ada kabar apa pun yang menurut para asistennya penting.
"Tidak." Ia tertawa lembut. "Aku cuma ingin memastikan kalau kau memang mau
tidur di sini. Kau tahu aku tidak suka dikasihani."
"Jangan khawatir, kau tidak membuatku perlu me-ngasihanimu."
"Aku khawatir akan mempermalukan dirimu. Aku khawatir akan mengecewakanmu."
Suaminya berbalik untuk menatapnya. "Tolong, Elizabeth, akulah yang seharusnya
merasa malu, membuatmu harus menjalani semua kepura-puraan ini. Aku tidak suka.
Terkadang aku ingin berkata, 'Persetan!'"
"Tidak. Aku baik-baik saja. Pokoknya jangan ajak aku menaiki tangga yang
panjang. Aku kehabisan alasan untuk menjelaskan kenapa aku lelah."
518 "Kau sangat berarti bagiku, kau tahu itu."
Elizabeth tertawa, tapi segera terbatuk-batuk. "Tidak, aku tidak tahu! Dan
dengan posisimu, aku sudah seharusnya tidak mengetahuinya!"
Suaminya mengecup pipinya dan memeluknya. "Kau tidak bisa menahan diri, bukan"?selalu berkomentar sok bijaksana."
"Bukan sok bijaksana, tapi yang sebenarnya. Aku tidak mencoba membohongi diri,
John, dan aku tidak membencimu karenanya."
"Ada apa sebenarnya dengan tangga" Apa kata doktermu?"
"Stillman?" Suaminya tidak bisa melihat wajahnya, tapi kejijikannya terdengar
jelas. "Tentang tumor yang menghalangi pengeringan cairan di paru-paru, sehingga
cairan itu mengisi kantong udara. Sebenarnya, cukup menarik, kalau terjadi pada
orang lain. Kuharap aku tidak perlu selalu memancing keterangan seperti itu
darinya untuk membuatnya bicara."
"Elizabeth, dia yang terbaik. Semua orang bilang begitu."
"Mungkin." "Bukan mungkin. Dia spesialis nomor satu di institut kanker terkemuka di dunia."
"Oke. Tapi itu tentang pendidikan dan bukan cuma tentang kantong udara di paru-
?paru." "Maksudmu?" "Kalau bicara sejujurnya, mereka tidak mengetahui cara mengalahkan penyakit
seperti ini. Cuma mencoba-coba. Itulah rahasia besar yang mereka simpan dari
kita semua." Mereka berbaring dalam kesunyian cukup lama,
519 berpegangan tangan. Tiba-tiba suaminya menyadari kalau ia menangis. "Elizabeth?"
"Tidak apa. Aku cuma bersikap bodoh lagi."
Suaminya kembali memeluknya, wajah istrinya yang basah menempel pada wajahnya.
"Kau memikirkan anak-anak?"
Elizabeth mengangguk. "Konyol sekali. Aku ingin sekali masih hidup pada saat
pernikahan mereka. Aku ingin melihat cucu-cucuku." Sambil membenamkan wajahnya
ke bahu suaminya, ia menangis terisak-isak.
"Shhhh," suaminya berusaha menenangkannya, mengelus-elus rambutnya. "Segalanya
akan beres." Tentu saja mereka berdua mengetahui kalau hal tersebut tidak benar. Tapi kali
ini, aman dalam pelukan suaminya, ketakutan, Elizabeth tidak memrotesnya.
520 Perez tiba di laboratorium lebih dulu, jadi ia yang melihat kekacauan tersebut:
lemari-lemari diaduk-aduk, laci-laci ditumpahkan isinya, pecahan kaca dari
gelas-gelas percobaan dan tabung uji berserakan di mana-mana.
Begitu Logan masuk sepuluh menit kemudian, wajahnya seketika memucat. "Oh,
Tuhan!" "Yeah, aku tahu." Perez memandangi kekacauan tersebut. "Jangan khawatir, mereka
tidak menyentuh HIV. Sama sekali tidak mengusik fasilitas P-3." "Bagaimana
dengan tikus-tikusnya?" "Tidak masalah. Lebih baik daripada sebelumnya."
Sebenarnya, tiga hari setelah dosis harian pertama mereka, hewan-hewan tersebut
menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tumornya telah melunak dan
menyusut. Sama seperti sebelumnya.
Logan bergegas ke ruang penyimpanan untuk melihatnya sendiri. Memang benar,
hewan-hewan tersebut tampak sehat, kandang-kandangnya tidak diusik.
Saat kembali ke laboratorium, ia mengenyakkan tubuh di kursi. "Sulit dipercaya.
Ini sungguh sulit dipercaya!"
521 Perez berhenti menyapu, memandangnya. "Hei, ini ulah para pecandu, man. Biasa
terjadi apalagi di lingkungan seperti ini."?"Aku tahu." Ia menyadari kalau harus berkepala dingin dalam menghadapi peristiwa
ini; Perez telah menganggapnya paranoid.
"Seluruh dunia kacau, tidak bisa dihentikan. Biarpun sudah dijaga ketat,
Claremont saja sudah dua kali kebobolan." Ia melanjutkan menyapu. "Semua ini
bisa diganti. Bersyukurlah karena tidak ada kerusakan serius."
Logan tidak bisa menahan diri. "Kita lihat saja."
"Apa maksudmu?" Tapi tentu saja. Perez telah mengetahui maksudnya. "Aw, sialan,
man, lupakan, oke" Ini cuma ulah pecandu."
"Kenapa tidak ada yang hilang?"
"Kita beruntung."
"Pecandu tidak mengambil apa pun?"
"Aku tidak mau melanjutkan percakapan ini, Logan. Aku tidak suka kau mengubah
?berita baik menjadi buruk."
"Mungkin kau benar," kata Logan. "Kuharap begitu."
"Kau paranoid." * "Kita lihat saja."
"Kau tahu kenapa aku paling takut dengan ini?" tuntut Perez, tiga hari kemudian,
sambil membawa salah satu dari keenam bangkai tikus.
Logan menatap bangkai tersebut. "Karena aku akan bilang aku benar."
"Karena kau akan mengambil satu data keparat
522 ini bangkai-bangkai tikus dan salah menafsirkannya! Ini bukan sabotase, Logan.
? ?Hadapilah, obatmu yang membunuh hewan-hewan ini, sama seperti sebelumnya. Obatmu
gagal!" "Lalu kenapa Stillman tertarik padanya" Kenapa dia bersedia melupakan semuanya
asalkan kami bekerja untuknya?"
"Oh, man, apa kau tidak mengerti juga" Dia peneliti kanker, semua obat yang
aktif pasti menarik baginya."
"Kenapa dia berusaha menghancurkan diriku?"
"Jangan membesar-besarkan, Dan. Mereka tidak suka padamu itu beda. Kalau ?menjadi mereka, kau pasti bertindak begitu juga."
"Bohong!" Perez meletakkan bangkai tikus tersebut. "Tidak ada gunanya. Kau mau membuang
uang lebih banyak untuk mengotopsi bangkai-bangkai ini?"
Logan menggeleng. "Logan, tanya dirimu: Apa untungnya mereka berbuat begini" Kau sendiri yang
mengatakan kalau kemungkinan obat yang berhasil pada hewan laboratorium bisa
berhasil pada manusia sangat jarang."
"Aku mau mengadakan percobaan lagi," kata Logan tiba-tiba.
Perez mengangkat tangan. "Oh, sialan."
"Kita masih punya sisa campuran, hari ini juga aku akan memesan tikus lagi."
"Lupakan. Aku tidak mau terlibat."
"Kumohon, Ruben, aku membutuhkan bantuanmu. Kita tidak bisa menyimpan mereka di
sini dan kurasa rumahku juga kurang aman."
?523 "Di apartemenku" Logan, aku sedang memperbaiki kehidupan sosialku."
"Tolong, Ruben. Kumohon dengan sangat."
Ia tidak membesar-besarkan. "Kau sudah melewati batas, sobat. Kau sudah tamat"
Tapi Perez telah mulai memikirkan tempat untuk kandang-kandang tersebut agar
baunya tidak menyebar. Surat itu tiba sepuluh minggu setelah kepulangan Sabrina dari Cologne.
Seandainya di amplopnya tidak ada prangko Jerman pun, ia masih mengenali tulisan
tangan itu; sedikit gemetar tapi menunjukkan keanggunan tulisan pergantian abad.
Rudolf Kistner! Sabrina menutup pintu kantornya sebelum duduk dan membaca.
Dr. Como yang baik: Salam dan doa. Pertama-tama, terima kasih untuk keramahanmu dalam kunjunganmu
yang baru lalu. Terima kasih untuk rincian protokol yang kaugarap bersama Dr.
Logan. Kuharap kau tidak menganggapku kasar. Aku jarang menerima tamu. Mungkin sudah
lupa bagaimana caranya. Sejak kunjunganmu aku banyak memikirkan pertanyaan yang
kauajukan. Bahkan sekarang pun, aku tidak tahu apakah bisa memberikan jawaban
yang kaucari. Sudah terlalu lama masa yang berbeda, cara berpikir yang berbeda.
?Kuharap kau bisa memahami.
Herr Dokter Nakano seorang ahli kimia yang sangat baik. Pekerjaan yang
dilakukannya pen - 524 ting. Tapi harus kuberitahukan kalau dia sudah diperlakukan dengan tidak
selayaknya di negeri ini. ini merupakan aib bagi Jerman.
Apakah Herr Nakano temanku" Aku juga banyak memikirkan pertanyaan tersebut
akhir-akhir ini. Tentu saja pada waktu itu aku tidak menganggapnya begitu. Dia
pakar kimia, aku cuma pengagum muda salah satu dari sekian banyak pegawai yang ?bekerja di Perusahaan Christian Thomas. Aku tidak pernah mengunjungi rumahnya.
Juga sesudah mengetahui kalau dia dipaksa meninggalkan Christian Thomas karena
Frau Nakano menganut agama Yahudi. Itu terjadi pada tahun 1936. Sesudah itu aku
tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Kau harus tahu kalau aku bukan pengikut Sosialis Nasional (Nazi). Tidak banyak
orang-orang di laboratorium yang mendukung Nazi-Kami sangat menghormati Profesor
Nakano dan masalah pribadinya bukan urusan kami. Beberapa dari kami terus
bersurat-suratan dengannya sesudah dia pindah ke Frankfurt. Dengan cara inilah
aku mengetahui kalau dia masih terus menggarap campuran tersebut.
Secara pribadi, aku bukan orang yang suka menulis surat padanya. Karena itu aku
sangat terkejut ketika menerima suratnya pada bulan November 1938. Aku masih
menyimpan surat tersebut, saat itu dia masih tinggal di Borheimerstrasse 138.
Suratnya cukup pendek, cuma memintaku membantunya meninggalkan Jerman. Aku tidak
tahu kenapa dia memilihku. Mungkin dia menulis surat yang sejenis kepada
525 banyak orang. Mungkin dia ingat kalau aku " punya teman di kedutaan Swedia.
Tentu saja, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kau harus mengerti kalau pada waktu
itu tidak mungkin untuk membantunya. Almarhum istriku sendiri mengatakan kalau
itulah kesedihan terbesar dalam hidupku. Kurasa tidak. Tapi memang benar kalau
sampai sekarang hal itu mengganggu pikiranku. Karena pekerjaan Profesor Nakano
benar-benar sangat hebat.
Itu sebabnya aku sekarang menulis surat kepadamu, sebagaimana awalnya aku
menulis surat kepada Dr. Logan. Mungkin belum terlambat untuk melihat karyanya
diakui. Sekalipun saat itu belum lagi pukul 5.00 di New York, Sabrina meraih telepon dan
memutar nomor Logan. "Sabrina?" kata Logan, berjuang mengusir kantuk. "Ada yang tidak beres?"
"Logan, kau harus mendengar ini."
Ia membacakan surat tersebut dan menunggu jawaban.
Logan ragu-ragu, masih merasa pusing. "Dia tidak mengatakan apa-apa tentang
penelitian." "Menurutmu ini tidak penting?" tanya Sabrina. "Entahlah. Menurutmu?"
"Kurasa sebaiknya aku ke Frankfurt hari ini. Siang ini."
Dengan penerbangan pukul 15.40 dari Bandara Leonardo Da Vinci di Roma, ia
mendarat di Bandara 526 Internasional Frankfurt hampir dua jam kemudian. Pada pukul 18.30 ia berdiri di
depan bangunan yang, enam puluh tahun berselang, dihuni Mikio Nakano.
Seperti lingkungan di sekitarnya, bangunan tiga tingkat, dengan bagian depan
dari granit tersebut dulu sangat baik; pengetuk pintu besi yang berat di pintu
depannya dan pagar kuningan pada anak tangga depan mengungkapkan selera klasik
abad kesembilan belas, tapi bangunan tersebut sekarang menunjukkan kebobrokan di
tepi-tepinya. Beberapa jendela besarnya telah pecah dan diperbaiki dengan


Obat Pamungkas The Magic Bullet Karya Harry Stein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sembarangan, rumput di tamannya terlalu panjang, bahkan pengetuk pintu dan
pagarnya perlu dicat lagi.
Jalannya sendiri, sunyi dan sempit, diapit dua belas rumah yang serupa, sebagian
besar sekarang dihuni lebih dari satu keluarga. Jalan itu begitu jarang dilalui
hingga ketika taksi Sabrina tiba di sana, jalan tersebut tengah digunakan untuk
tempat main bola. Sekilas, Sabrina mengalihkan perhatian dari rumah tersebut ke permainan. Sekitar
dua belas anak terlibat, keturunan Jerman dan Turki. Hampir semuanya lelaki,
kecuali, ia senang melihatnya, anak perempuan yang dengan penuh semangat
melindungi gawangnya. Sambil tersenyum, ia berpaling kembali ke rumah, menaiki tangga, dan membunyikan
bel. Seorang wanita setengah umur dengan rambut yang dicat kuning cerah membuka
pintu. "Ja, bitteT "Boleh bertemu dengan pemilik rumah ini?"
Sejenak wanita tersebut tampak kebingungan: apa maunya orang asing yang anggun
ini" "Der Eigentumer" jawabnya akhirnya. Pemiliknya"
527 Sabrina tersenyum, berusaha menunjukkan kalau ia tidak bermaksud jahat. "Ada
teman lama saya yang tinggal di sini bertahun-tahun yang lalu. Saya mencari
beritanya." Wanita tersebut menatapnya sejenak. Kemudian berteriak ke balik bahunya,
"Mutter, komm bitte" Ia berpaling dan berteriak lagi lebih keras. "Ibu!"
"Ja." "Ada yang mau bertemu."
Sesaat kemudian seorang wanita tua, yang rapuh tapi dengan wajah sangat ramah,
muncul terhuyung-huyung. Ia mengenakan jubah mandi yang sudah robek-robek, dan
Sabrina merasa malu karena telah merepotkannya.
Perlahan-lahan, ia menjelaskan alasan kedatangannya sekali lagi.
"Aku pemilik tempat ini," jawab wanita tua tersebut. "Katakan apa maumu."
Sabrina menekan kegembiraannya. "Orang ini tinggal di sini dulu."
"Ya?" "Sebelum perang."
Ia menggeleng. "Nein, nein. Aku baru tiga tahun menjadi pemilik rumah ini. Sejak
suamiku meninggal." "Ah, saya mengerti. Maaf. Bisa tolong beri tahukan sudah berapa lama suami
Anda "?"Baru sejak 1969. Dia membelinya sebagai investasi." Ia tersenyum. "Bukan
investasi terbaik, tapi tidak apa-apalah."
Sabrina menyadari kalau ini tidak ada gunanya. "Dan Anda tidak mengetahui dari
siapa dia membelinya?"
discan dan didjvu-kan untuk dimhader (dimhad.co.cc) oleh OBI
Dilarang meng-komersil- kan atau keslalan menimpa aada selamanya
PRC/TXT BY OTOY Ia melambai. "Pria, namanya Klaus. Dia juga sudah meninggal, bertahun-tahun yang
lalu." "Well, terima kasih banyak."
Ia mengangguk. "Die Krieg ist seit langer Zeit vorbei." Perang sudah lama
berlalu. "Kami tidak banyak memikirkannya lagi."
Yah, pikir Sabrina, kembali di trotoar, sekarang bagaimana" Ia tidak berharap
segalanya akan mudah, tentu saja. Tapi, entah bagaimana, ia membiarkan dirinya
membayangkan begitu tiba di sini, arah penyelidikannya akan muncul secara ajaib.
Ia mengawasi permainan bola tersebut beberapa menit lagi sampai, dari sudut
matanya, ia melihat seorang wanita tua yang mendekat sambil mendorong alat bantu
berjalannya. "Permisi, madam"
Sekali lagi ia melihat betapa orang Jerman berusia tertentu secara refleks
bersikap defensif terhadap orang asing. Wanita tersebut sedikit mengurangi
kecepatannya, tapi tidak menjawab.
"Bisa minta tolong?" kata Sabrina, menjajari wanita tua tersebut. "Saya mencari
pria Jepang yang dulu pernah tinggal di sini." Ia menunjuk bangunan itu. "Di
rumah ini." "Nein, auf keinen Fail" jawab wanita tersebut sambil terus melangkah.
Tapi, karena tidak memiliki alternatif lain, inilah modus operandi Sabrina
sekarang. Ia mulai mendekati orang-orang yang berlalu-lalang di jalan secara
acak. siapa pun yang tampaknya berusia lebih dari enam puluh lima tahun, dan
mengulangi pertanyaan yang sama.
Mengingat temperamen Sabrina, ini merupakan
529 siksaan berat; ia memaksa diri, menantang diri, untuk melanjutkannya. Tapi
situasinya mulai sedikit lebih mudah ketika ia mengajukan pertanyaan yang lebih
umum, berpura-pura sebagai mahasiswi yang meneliti sejarah kota ini. Ia
mendengar tentang kemiskinan hebat yang terjadi selama perang; tentang anak-anak
dan cucu-cucu yang dibesarkan di rumah-rumah tersebut; dan beberapa kali,
tentang bagaimana kehadiran pekerja Turki telah memperburuk situasi. "Lihat
sekitarmu," kata salah seorang wanita dengan kejengkelan yang mencolok, menunjuk
dengan tangannya. Saat itu sudah hampir pukul 20.00, dan dalam kegelapan yang
mulai menyelimuti, Sabrina tidak lagi bisa membedakan rumah-rumah tersebut.
"Dulu, ini daerah terhormat. Tapi orang-orang ini, mereka tidak menghormati
rumah dan kami yang harus menanggung konsekuensinya."?"Apa bukan dari dulu orang asing sudah ada di sini?" kata Sabrina.
Wanita tersebut menggeleng. "Nein, nur Deutsche." Hanya Jerman.
"Katanya ada orang Jepang, ilmuwan terkenal, yang tinggal di jalan ini."
Ia menatap Sabrina tajam, terkejut sekaligus kesal. "Aku tidak tahu." Ia
beranjak pergi. "Seharusnya jangan mendengarkan gosip."
"Entschuldigung." Permisi.
Sabrina berbalik. Di belakangnya berdiri gadis kecil yang tadi bermain bola,
wajahnya yang cantik berbingkai rambut pirang yang kotor.
"Kau ingin mengetahui tentang distrik ini" Orang-orang yang dulu tinggal di
sini?" 530 "Ya. Itu sangat menarik minatku."
"Ikut aku, kakekku akan menceritakannya padamu. Dia sudah bertahun-tahun tinggal
di sini, seumur hidup di rumah yang sama."
Sabrina mengangguk. "Di mana dia?"
"Tidak jauh." Ia mengulurkan lengan kecilnya. "Namaku Agneta."
Sabrina menyalaminya. "Ich heisse Sabrina."
Tanpa berkata apa-apa, bocah tersebut mengajaknya berbelok dan menyusuri
sejumlah jalan-jalan perumahan, sebelum muncul di jalanan yang lebih ramai. Di
sini terdapat sejumlah toko sederhana. Hanya satu yang masih buka: toko kecil,
bagian dalamnya tidak terlihat, tertutup tirai manik-manik. Baru setelah
memasukinya Sabrina melihat kalau tempat tersebut merupakan kedai kopi bergaya
Timur Tengah, dikelola oleh orang-orang dari masyarakat imigran setempat.
Saat berusaha keras melihat ke balik uap yang memedihkan mata, ia hanya melihat
satu orang yang kelihatan jelas keturunan Jerman di tempat tersebut Agneta ?membimbingnya ke sana.
Pria tersebut berdiri untuk menyambut bocah itu, wajahnya yang masih tampak muda
menyeringai. "Kau mengunjungi kakekmu atau mau minta kue lagi?"
Temannya yang duduk semeja, orang Turki setengah abad, tersenyum lebar,
menampakkan sejumlah gigi emas.
"Kakek, ini Sabrina. Dia ingin mengetahui tentang lingkunganmu."
"Yah, kalau begitu" ia memberi isyarat dengan tangannya yang khas tangan
?pekerja keras "silakan duduk. Kau bertemu dengan orang yang tepat."
?531 "Terima kasih," kata Sabrina. "Kau dari mana?" tanya kakek Agneta, menyadari
aksen Sabrina. "Itali. Saya orang Italia."
"Ah, tempat yang sangat menyenangkan, orang-orangnya sangat ramah." Ia menunjuk
cangkir berisi cairan hitam mengepul di hadapannya. "Silakan, kau harus
mencicipi kopi Turki. Untukku, ini candu."
Ia memesan kopi dan kue manis untuk cucunya. "Nah, sekarang apa yang ingin
kauketahui" Aku tujuh puluh satu tahun, lebih dari itu harus kaucari di buku."
Ia begitu terbuka, sehingga Sabrina secara naluriah memutuskan untuk mengakhiri
penyamarannya. "Saya dengar kalau bertahun-tahun yang lalu, sebelum perang, ada
orang Jepang yang tinggal di jalan tempat rumah Anda. Ilmuwan."
Seketika, wajah pria tua tersebut melembut. "Ah, ya. Profesor. Sudah lama aku
tidak mengingatnya."
"Profesor Nakano."
"Ya, betul dia. Orang yang ramah. Tentu saja waktu itu aku cuma bocah. Dia
tinggal bersama keluarga istrinya, orang Yahudi. Dia juga punya laboratorium di
sana, di bawah tanah. Semua orang mengenalnya."
Sabrina menampilkan ekspresi tenang yang meyakinkan. "Saya dengar begitu. Itu
yang ingin saya ketahui, apa yang terjadi padanya, pada pekerjaannya."
"Ah, aku mengerti." Ia terdiam dan menghirup kopinya. "Kau tentunya sudah
mengetahui, waktu itu situasi tidak menyenangkan, sangat sulit."
"Ya, saya mengerti."
532 "Kami, anak-anak di lingkungan ini, kami sangat menyukai Profesor. Dia sering
memberi kami permen." Ia melirik cucunya. "Kau harus mengerti, tidak banyak
Sosialis Nasional di distrik ini. Orangtuaku sendiri, kakek buyutmu, Demokrat
Sosial." "Apa mereka mengetahui tentang pekerjaan Profesor?" tanya Sabrina.
"Cuma bahwa pekerjaannya sangat penting, sangat mengesankan."
"Kalau tidak salah tahun 1938 dia dipaksa pergi."
Pria tersebut mengangguk lambat. "Ya, tentu saja, mereka semuanya. Kau pernah
mendengar Kristallnacht! Sewaktu kelompok Nazi memburu Yahudi" Merekalah yang
menghancurkan laboratoriumnya. Semua orang mengetahuinya, bahkan anak-anak,
sungguh menyedihkan bagi kami, mengingat semua kerja kerasnya. Waktu itulah dia
mengirimkan barang-barangnya."
"Maaf?" Tanpa sadar Sabrina mencondongkan tubuhnya. "Barang apa?"
"Bukan cuma dia, banyak orang Yahudi lain yang berbuat begitu. Sesudah
Kristallnacht; mereka mulai mengirimkan barang-barang berharga mereka, apa yang
tersisa, ke luar negeri. Aku mengetahui tentang ini karena kakakku membantu
mengangkat sebagian peti-peti mereka ke kantor pelayaran." Ia kembali berpaling
kepada gadis kecil tersebut, menambahkan dengan bangga, "Paman buyutmu Helmut,
yang meninggal dalam perang. Peti Profesor termasuk yang pertama dikirim,
besoknya. Aku sangat mengingatnya, kata kakakku ia sangat gelisah. Biasanya ia
sangat tenang." 533 "Barang-barangnya dikirim ke kantor pelayaran?"
Pria tersebut mengangguk. "Di sebelah Balai Kota. Orang-orang malang, mereka
sendiri tidak bisa keluar, tapi menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan."
"Kalau begitu mereka pasti punya catatannya."
Pria tersebut tersenyum ramah. "Nein. Pusat kota hancur sepenuhnya."
"Anda tahu kalau Profesor Nakano berhasil meninggalkan negeri ini?"
"Tentu saja tidak." Ia diam sejenak. "Kau harus ingat, keluarganya Yahudi. Dia
bukan orang yang mau meninggalkan keluarganya."
Kopi itu membuat kepala Sabrina pening atau beritanya"?"Tidak lama sesudahnya," lanjut kakek Agneta, "banyak orang Yahudi di sana yang
dibawa pergi. Dan Profesor juga. Katanya mereka dikirim ke Dachau."
Sekalipun ceritanya tidak mengejutkan, Sabrina tidak siap menerima kekuatan yang
memancar dari cerita tersebut. Ia hampir tidak mengetahui apa pun tentang Mikio
Nakano, fotonya pun tidak pernah dilihatnya. Tapi selama setahun belakangan,
saat menggarap campuran tersebut, ia mulai merasakan keakraban dengannya. Malam
harinya, saat memikirkan pengacau yang merusak laboratorium dokter itu,
membayangkannya, Sabrina bahkan tidak berusaha menahan air matanya.
"Peti Profesor dikirim ke Amerika," tambah pak tua tersebut sekarang, berusaha
untuk membantu. "Anda yakin?" Ia mengangguk. "Aku percaya dia punya saudara
534 ipar. Banyak di antara mereka yang punya saudara di Amerika yang telah lebih
dulu berangkat." Sabrina ragu-ragu, hampir takut untuk mengajukan pertanyaan penting itu. "Apa
Anda ingat nama keluarga istri profesor itu?"
"Aku memikirkannya sewaktu kita berbicara. Sudah terlalu lama dan aku masih
sangat muda waktu itu. Tapi, ya. Aku yakin namanya... Falzheim. Kau tahu, seperti
nama kota dekat Stuttgart?"
535 Falzheim," gumam Logan. "Sulit dipercaya, Sabrina memperoleh namanya dari mantan
tetangga, orang yang benar-benar ingat pada Nakano?" Ruben Perez bahkan tidak
berpura-pura terkesan. "Jadi kau mendapat nama iparnya mungkin. Memangnya ?kenapa?"
"Ini suatu awal," balas Logan. "Awal yang bagus. Dia sudah meneliti prosesnya
selama dua puluh tahun! Seharusnya dia sudah mendapat banyak kemajuan."
"Benar. Dia menuliskan semuanya dan catatannya menunggu kautemukan entah di
mana." Ia menyeberangi ruangan dan mengambil buku telepon. "Manhattan. Bukankah
kebanyakan pengungsi Yahudi Jerman tinggal di sana?"
Sekalipun jengkel, Logan mengambil buku tersebut dan membuka halaman yang tepat;
tidak mengejutkan, nama tersebut tidak ada. "Aku tidak berkata kalau akan
semudah itu." Perez tertawa. "Sayang, sekali. Bisa-bisa kau menemukan obat AIDS. Mungkin dalam
botol yang mengambang di Pantai Jones."
Bagian tersulitnya adalah, kali ini, sikap skeptis
536 sahabatnya tersebut merupakan refleksi sikapnya sendiri. Logan mengetahui betapa
kecil kemungkinannya. Di sisi lain, ia juga mengetahui jauh lebih baik daripada
?yang bisa diketahui Perez bagaimana sulitnya memecahkan campuran ini. Paling
?tidak, ini petunjuk yang pantas ditelusuri.
"Tapi siapa tahu," kata Logan, menutup buku telepon tersebut, "pada prinsipnya
mungkin kau benar. Tampaknya nama yang cukup tidak umum."
Ia melangkah ke pintu. "Mau ke mana?" "Forty-second Street, perpustakaan besar di sana." "Untuk apa?"
"Kau seharusnya lebih banyak keluar, Ruben. Perpustakaan menyimpan buku telepon
dari berbagai tempat. Bisa saja mereka ada di Detroit atau Miami."
Sekarang giliran Perez yang menunjukkan kejengkelan. "Ayolah, man, aku cuma
bercanda. Kau harus menghentikan omong kosong ini, kita punya pekerjaan."
"Apa yang akan kaulakukan, melaporkanku" Aku kembali beberapa jam lagi."
Perkiraan tersebut ternyata terlalu berlebihan. Biarpun terdapat sekitar tujuh
puluh direktori di Perpustakaan Pusat Penelitian, dari berbagai kota menengah
dan besar di seluruh Amerika, hanya diperlukan lima belas detik untuk mencari di
mana nama Falzheim tapi tidak ada. Bahkan setelah perjalanan pulang-pergi ?dengan kereta bawah tanah, ia telah kembali ke kantor satu setengah jam
kemudian. "Ah, sial," katanya, melangkah ke pintu, "meng -
537 hadapimu akan lebih buruk daripada tanpa hasil. Jadi lontarkan saja nasihatmu
sekarang." Tapi ia terkejut. Perez cuma berbalik dari bangku tempat ia bekerja dan
mengangguk serius ke ujung ruangan.
Logan terpaku. Di sana, di atas kursi bulat, duduklah Allen Atlas.
"Halo, Dan," kata Atlas. Ia menunjuk sekitarnya. "Tempat yang menyenangkan."
"Apa maumu?" "Tidak banyak. Cuma ingin berbicara."
"Maaf," katanya dingin, "aku banyak pekerjaan."
"Kuhargai itu. Sebenarnya, itulah yang ingin kubicarakan denganmu pekerjaan."
?Sekalipun Atlas menampilkan ketulusan, Logan tidak bisa menahan perasaan kalau
dirinya tengah diejek. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan, tidak ada. Jangan
menganggap enteng apa yang sudah terjadi."
Atlas mengangguk ke arah Perez. "Mungkin kita bisa berbicara di tempat lain?"
"Jangan khawatir, dia sudah mengetahui tentang dirimu."
"Cuma sepuluh menit, itu saja. Aku janji, kau tidak akan menyesal." '
Paling tidak pada dirinya sendiri, Logan tidak mengingkari kalau ia terpancing.
Apa yang diinginkan keparat ini" Ia melirik arlojinya. "Sepuluh menit."
"Baik," kata Logan, saat mereka memasuki bar yang terletak dua pintu dari HIV-
EX, "waktumu tinggal enam menit."
538 Atlas tersenyum. "Kau seharusnya memper-ingatkanku kalau lift-mu yang paling
lambat di New York."
"Itu masalahmu." Mereka duduk di meja yang kosong. "Nah, apa yang kauinginkan?"
"Tunggu dulu. Apa aku tidak boleh memesan minuman dulu?"
Ia kembali semenit kemudian membawa dua gelas bir dan meletakkan satu di depan
Logan. "Minumlah, atas biaya YKA."
"Tidak, terima kasih."
"Ayolah, Logan, ini tidak lebih mudah bagiku daripada bagimu. Bersikaplah ramah
beberapa menit dan kita lihat apa yang bisa kita lakukan untuk yang lain."


Obat Pamungkas The Magic Bullet Karya Harry Stein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Persetan, Atlas. Bukan aku yang mencarimu." Logan menenggak birnya dan melirik
arloji. "Dua menit."
Atlas mengangkat kedua tangan, isyarat menyerah. "Kau benar." Ia diam sejenak.
"Aku cuma mau mengatakan kalau di YKA ada pemikiran kedua tentang apa yang
terjadi dengan kalian. Dr. Stillman, misalnya, menyadari kalau masalahnya bisa
ditangani dengan lebih baik."
Logan mencondongkan tubuhnya, matanya menyipit. "Bagian yang mana yang
kaubicarakan, Allen" Bagaimana mereka menghancurkan kami dalam dengar pendapat,
atau bagaimana mereka merusak kesempatanku mendapatkan pekerjaan lain?"
"Itu imajinasimu, Logan, kami tidak ada sangkut pautnya."
"Maaf. Waktumu habis."
discan dan didjvu-kan untuk dimhader (dimhad.co.cc) oleh OBI
Dilarang meng-komersil- kan atau keslalan menimpa aada selamanya
PRC/TXT BY OTOY "Tunggu!" Atlas mencengkeram lengannya. "Dengar, Stillman siap untuk melupakan
masa lalu. Kalau kau mau pekerjaan yang lebih baik, YKA bisa membantumu."
"Kenapa, Atlas" Tiba-tiba tumbuh kesadaran di sana?"
"Kami melakukan apa yang selalu kami lakukan, berusaha menyembuhkan kanker. Dr.
Stillman ingin kau tahu kalau dia punya kesempatan untuk mempelajari datamu
dengan jauh lebih teliti. Menurutnya Campuran J-mu punya masa depan. Dia ingin
membicarakannya denganmu."
"Katakan yang belum kuketahui, Atlas. Beritahu dia aku selalu lebih terharu
kalau dia menyampaikannya secara langsung." Ia menyentakkan lengannya. "Dan
beritahu dia kalau aku cukup senang dengan pekerjaanku yang sekarang."
"Kenapa kau ini?" sergah Atlas, semua kegembiraan palsunya lenyap. "Kau akan
kehilangan bakatmu di tong sampah seperti itu! Dan kesempatan untuk mendapat
reputasi." Logan berdiri dan hampir saja berkata: Hei, jahanam, jangan mengkhawatirkan
bakatku. KAU yang berusaha mengusir AKU. Tapi ia cuma melangkah ke pintu.
Atlas bergegas mengejarnya. "Hei, Logan!"
Logan berbalik memandangnya. "Selesai, Atlas. Tidak ada negosiasi." Ini mulai
membuatnya merasakan kesenangan yang semula dikiranya tidak akan pernah
dirasakannya lagi dalam bidang ilmu pengetahuan. "Tapi beritahukan padanya kalau
aku senang dijilat."
540 "Pasti." Atlas kembali tersenyum. "Satu hal lagi aku sungguh menyesal tentang ?sahabatmu, Reston." "Ada apa dengannya?"
"Kau tidak mendengar?" Ia diam sejenak penuh arti. "Mereka menemukan mayatnya di
kantor beberapa hari yang lalu. Barbiturates. Tampaknya dia sudah bosan hidup."
Logan cuma mengawasi saat Atlas berbalik dan melangkah pergi ke arah lain.
Amy mengangkat teleponnya setelah dering pertama. Begitu Logan mendengar
suaranya yang datar, jauh ia menyadari kalau Amy tengah kacau.? ?"Amy" Ini Dan Logan."
"Hai. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja. Kau?" Ia diam sejenak. "Aku mendengar apa yang terjadi."
"Aku baik-baik saja, lebih baik. Sudah hampir seminggu. Aku kembali bekerja
besok." "Aku sungguh prihatin. Kau tahu, bahkan sesudah semua yang terjadi ia masih "
?"Yeah, aku tahu."
" temanku. Aku tidak pernah menganggap semuanya sebagai masalah pribadi."
?"Well, terima kasih," kata Amy. "Dengar, Dan, kau baik mau menelepon."
Logan terperangah. Ia tidak ingin menutup telepon, belum. Terlalu banyak
pertanyaan yang menuntut jawaban. Dengan nekat ia mendesak, mencari wanita muda
penuh semangat yang pernah dikenalnya. "Allen Atlas yang memberitahuku."
"Atlas?" 541 "Dia datang ke New York hari ini, urusan bisnis. Sulit kupercaya. Itu sama
sekali bukan sifatnya. Kau bisa menjelaskan" Apa dia meninggalkan surat?"
"Kumohon, Dan, aku tidak mau membicarakannya."
"Aku bukannya mau ikut campur, tapi ini penting."
"Sungguh, aku tidak ingin."
"Kenapa tidak?"
"Sampai ketemu, Dan. Terima kasih sudah menelepon."
Setelah meletakkan telepon, Logan berbalik memandang Perez, yang tengah menyapu
sudut laboratorium. "Dia tidak mau mengatakan apa-apa."
"Tidak mudah menjadi kekasihnya. Dia mungkin merasa bersalah karena tidak
mengenali tanda-tandanya."
"Menurutmu begitu?"
"Aku sudah sering melihatnya. Menyedihkan, karena sesungguhnya bukan salah
mereka." Logan memikirkannya sejenak. "Ini bukan salah satu kasus seperti itu. Ada yang
tidak cocok." Ia diam sejenak. "Menurutnya Reston tidak bunuh diri."
Perez berhenti menyapu. "Maksudmu" Apa dia berkata begitu?"
'Tidak. Tapi aku kenal dia. Aku juga kenal Reston." Ia berhenti. "Juga ada
sesuatu pada cara Atlas memberitahuku."
"Cara dia memberitahumu?"
"Hampir seperti, entahlah... ancaman."
"Oh, yang benar saja, imajinasimu bekerja lembur lagi. Hentikan, man, kau mulai
membuatku sungguh-sungguh khawatir."
542 Ini membuat Logan diam sejenak. Penilaian Perez sekeras karang. "Menurutmu
begitu?" "Dengar, dia melakukannya sendiri. Titik. Kau lebih mengetahui daripada siapa
pun bagaimana tempat tersebut merusak orang-orang. Yang lainnya, yang
kautemukan..." "Barbara Lukas?"
"Apa itu juga palsu" Apa yang mereka lakukan di sana, membunuhi orang-orang yang
menjengkelkan?" Logan tersenyum. "Aku mau pulang. Kali ini kau mungkin benar."
"Kuanggap sebagai pujian," kata Perez, sambil mengangkat bahu. "Sudahlah, hari
ini kau lelah, kubelikan kau makan malam."
"Lain kali saja. Sekarang aku membutuhkan ketenangan dan kedamaian." Ia tertawa.
"Atau mungkin menurutmu ini juga imajinasiku?"
Tapi dua puluh menit kemudian, ketika ia tiba di apartemen studionya, bermain-
main sama sekali tidak terpikir olehnya. Dalam perjalanan pulang ia merasa
begitu gelisah sehingga, begitu masuk, ia berlari ke lemari obat untuk mengambil
obat penenang ringan. Keringatnya mengucur deras. Denyut nadinya mencapai 120.
Kenapa dia" Sadar kalau lapar, ia membuka sekaleng kacang panggang. Ia baru saja
membuka sebungkus hot dog ketika perut kanan bawahnya sakit luar biasa.
Dalam semenit sakit tersebut muncul secara teratur, setiap lima belas atau dua
puluh detik, cukup kuat untuk membuatnya meringkuk kesakitan. Ia me -
543 langkah terhuyung-huyung ke ruang sebelah dan terkapar di ranjang.
Kemudian kepalanya berdenyut-denyut keras, begitu hebat, sehingga ia jadi sulit
berpikir. Tapi ia begitu lemah hingga untuk bergerak pun sulit. Sambil berjuang
untuk tetap terkendali, berpikir jernih, ia berhasil menyentuh keningnya dan
memijatnya. Apa ini flu" Tapi, tidak, terlalu cepat, dan gejalanya tidak sesuai.
Usus buntu" Kelumpuhan sporadis dimulai di bagian tengah perut, terus hingga ke
bagian kanan bawah selama dua puluh empat jam. Dan ini bukan kelumpuhan ini ?sakit.
Keracunan makanan" Apa yang dimakannya hari ini" Benaknya berputar cepat.
Sarapan, hanya semangkuk Rice Krispies dan jus jeruk. Makan siang apa" mi
? ?ayam, roti dengan selai, teh. Ia baru saja minum obat penenang apa mungkin ada
?kaitannya" Tunggu dulu... bir yang diberikan Atlas!
Kepanikan yang tiba-tiba muncul jauh lebih besar daripada sakitnya. Mungkinkah
ini sekadar kegelisahan" Apa mungkin ini merupakan reaksi lebih lanjut dari apa
yang tadi dipicu oleh obat tidur" Atau cuma spekulasi gila-gilaan. Kepalanya
bagai mengambang, ia merasa kehilangan kesadaran. Ia harus ke rumah sakit, harus
mengeluarkan sampah ini dari dalam tubuhnya! Dengan mendorong ranjang sekuat
tenaga, ia beranjak bangkit.
Tapi hanya sampai di situ. Ia benar-benar melihat kegelapan datang dan
merasakannya menyelimutinya.
Ketika sadar, kamarnya masih gelap. Jam di meja
544 samping ranjang menunjukkan 3:23. Ia masih berpakaian lengkap^ masih memakai
sepatunya. Dengan hati-hati, ia mengangkat lengan, kemudian kepala; dan duduk.
Perlahan, ia turun dari ranjang dan melangkah ke dapur. Tapi sebelum langkah
kelima, teror itu menghantam bagaikan gelombang badai. Jadi trauma fisik selalu
menghasilkan efek samping paling tidak, kegugupan dan tidak terfokusnya ?konsentrasi. Tapi sekarang tidak ada apa-apa. Kecuali sengatan lapar, ia merasa
sehat sepenuhnya; malahan, lebih baik daripada yang dirasakannya selama
berbulan-bulan. Seperti atlet dalam kondisi puncak.
Ini sama menakutkannya. Ia selalu menganggap tubuhnya biasa, tapi bahkan ini pun
tampaknya telah di luar kendalinya.
Pemikiran tersebut, begitu hadir, mustahil untuk disingkirkan: Atlas! dan
?menurutnya ini hanya sebagai peringatan.
di-scan dan lii-djvii-kan untuk dimhader Dilarang meng-koniersil-kanatau kesialan menimpa anda selamanya
545 Waktu yang masih subuh bukan satu-satunya alasan kenapa ia tidak menceritakan
rencananya kepada Perez. Sangat sadar kalau sahabatnya tersebut menganggapnya
menderita halusinasi tentang masalah YKA, Logan bahkan tidak ingin membayangkan
reaksinya terhadap keputusannya untuk tiba-tiba di pagi buta berangkat ke
Washington D.C. Setelah mengambil mobilnya di tempat parkir sewaan di Eleventh Avenue, Logan
menuju ke Terowongan Lincoln tepat pada saat subuh merekah. Melaju dengan
kecepatan rata-rata tujuh puluh lima mil per jam, berhenti hanya sekali untuk
mengisi bahan bakar, ia tiba di depan Gedung FCC di M Street sesaat setelah
pukul 10.00. Terlambat. Trotoar, yang beberapa saat sebelumnya dibanjiri para pegawai negeri
yang bergegas-gegas untuk bekerja di bangunan-bangunan perkantoran yang
berbentuk persegi dan tidak bertanda di sepanjang jalan yang lebar itu, sekarang
hampir kosong. Logan berbelok ke kanan di tikungan terdekat, mengarah ke Pennsylvania Avenue
dan tujuan alternatifnya: Gedung Arsip Nasional.
546 Ia memerlukan Direktori Martin Allen tentang Kedatangan Orang-orang Eropa SS,
1890-1940, Pelabuhan New York. Ia mengetahui sehari sebelumnya, ironisnya
melalui Perpustakaan Umum New York, kalau direktori tersebut hanya tersedia di
sini. "Apa kau mencari pelayaran tertentu?" tanya pria muda yang menyerahkan buku
tersebut padanya. "Sebenarnya, aku mencari nama tertentu. Aku tidak tahu kapan tepatnya mereka
berlayar, atau bahkan tahun yang benar."
Pria muda tersebut tersenyum. "Kuharap waktumu banyak."
Karena buku tersebut hanya mencatat keberangkatan dan kedatangan daftar ?penumpang individualnya tersedia dalam mikrofilm Logan terpaksa mengandalkan
?probabilitas. Kemungkinannya, pengungsi Yahudi Jerman pasti berangkat dari
Hamburg, pelabuhan utama negara tersebut. Juga mungkin dengan anggapan
?keberangkatan mereka disebabkan oleh bangkitnya Nazisme kalau mereka berangkat
?antara Januari 1933, ketika Hitler masih merupakan kanselir Jerman, dan akhir
1938. Dan sekalipun ada beberapa perusahaan yang menjalani rute antara Jerman
Utara dan New York, Logan memutuskan untuk berkonsentrasi pada yang paling
terkemuka: Perusahaan Pelayaran Hamburg-Amerika.
Tapi, hampir dalam seluruh periode, Hamburg-Amerika memiliki tiga kapal yang
diberangkatkan dari Hamburg secara simultan Postdam, Bremen, dan Lubeck,
?masing-masing dalam setahun berlayar pulang-pergi sekitar lima belas kali.
Jumlahnya saja sudah mengejutkan. Lebih buruk lagi, ketika ia me-547
minta mikrofilm pertama berisi daftar penumpang, ia mendapati kalau daftarnya,
masing-masing berisi seribu lima ratus nama, berupa tulisan tangan dan tidak
?dalam urutan abjad. Benar-benar pekerjaan yang melelahkan, membaca kolom-kolom nama yang panjang
tersebut, jam demi jam; individu dan keluarga yang berjumlah ribuan, puluhan
ribu, semuanya sulit dibedakan satu sama lain. Ia memilih untuk memeriksa kapal
demi kapal, dimulai dengan Bremen. Lebih dari sekali, menyadari kalau
konsentrasinya telah berkurang bahwa matanya melihat tapi benaknya tidak
?menerimanya Logan harus kembali ke puncak daftar dan mulai membacanya lagi. Ia
?tidak berani mengambil risiko kelewatan membaca nama yang dicarinya.
Falzheim. Setelah mencari sepanjang pagi, ia tidak menemukannya. Nama yang mirip, yang
dicatatnya dengan hati-hati, adalah Pfaltzstein, Ernst.
Menjelang siang, setelah pindah ke Postdam, ia tiba pada bulan Agustus 1934,
sewaktu ia mencatat nama yang mirip. Forcheim, Leopold; segera diikuti Forcheim,
Hilda dan Forcheim, Greta. Seluruh klan kecil Forcheim, ia menyadari, dan terus
bekerja. Sejam kemudian, meriang akibat kelelahan, ia beristirahat dan menelepon
laboratorium. "Kau di Washington?" seru Perez. "Untuk apa?"
"Dengar, tolong aku. Ada buku telepon di dekatmu?"
"Oh, Tuhan, man. Kau ke sana untuk ituT "Aku cuma ingin mencoba dua nama padamu.
Kautemukan Pfaltzstein" Dengan P?"
548 "Apa?" Ia mengejanya. Logan mendengar bunyi kertas dibalik. "Tidak ada. Kau tahu, aku seharusnya
mengurungmu." "Bagaimana dengan Forcheim" Dengan F." Perez mendesah. "Hei,
yeah ada satu." "Di mana?"
?"Dekat rumahku, Washington Heights. 802 W 190th St."
Logan mencatatnya. "Bagus. Terima kasih." "Kau mau terus mencari?"
"Kurasa begitu. Kutelepon kau begitu tiba di rumah."
Tapi pada saat itu waktu telah menunjukkan pukul 16.00 lewat. Dalam waktu kurang
dari setengah jam, Logan meninggalkan gedung dan memanggil taksi. Ia tidak boleh
selisih jalan dengannya lagi.
Ia minta diturunkan di stasiun Metro Foggy Bottom di Twenty-third Street dan
melangkah ke tikungan terdekat. Tempat tersebut memberinya kesempatan untuk
melihat para pejalan kaki yang mendekati stasiun dari arah kantor Amy di M
Street. Ia menunggu sekitar sepuluh menit, dan Amy pun muncul; melangkah sigap tapi,
seperti harapannya, sendirian. Ia melangkah mendekatinya.
"Amy?" katanya, berpura-pura gembira karena tidak sengaja bertemu.
Karena terkejut, Amy refleks tersenyum. "Hai." Kemudian, ia mengenali Logan; dan
yang mengejutkan Logan, senyumnya ternyata tulus. "Sudah kuduga kau pasti
datang." discan dan didjvu-kan untuk dimhader (dimhad.co.cc) oleh OBI
Dilarang meng-komersil- kan atau keslalan menimpa aada selamanya
PRC/TXT BY OTOY Sambil meraih sikunya, Amy membimbingnya kembali ke tikungan. "Mau ke mana?"
"Cari tempat di mana kita bisa berbicara." "Kukira kau tidak mau."
"Kau meneleponku pada saat yang tidak tepat di rumah." Ia melirik ke belakang.?"Apa, menurutmu kau diikuti?"
"Entahlah. Mungkin kita sebaiknya terus berjalan." Ia tertawa tidak enak. "Bisa
kau lihat kalau aku tidak begitu pandai dalam hal ini."
"Amy, apa yang terjadi pada John?"
Ia tidak menjawab, hanya mempercepat langkahnya, berbelok ke kiri, kemudian
berbelok lagi memasuki Twenty-second; kemudian bergegas berbalik untuk melihat
ke belakangnya lagi. "Apa yang dikatakan Atlas padamu?"
"Bahwa mereka menemukannya di kantornya. Dia minum pil."
"Itu juga yang mereka katakan padaku." "Kau tidak percaya?"
"Tidak." Ia tampak sangat terluka. "Dan, kau mengenal John, apa dia tampak punya
kecenderungan bunuh diri?"
"Tidak. Itu yang membuatku heran." Ia bahkan jarang mengenal orang yang begitu
bebas dari keragu-raguan dan perasaan tidak nyaman secara moral bahkan sewaktu
?ia seharusnya merasa begitu.
"Entahlah, aku tidak tahu apa yang harus kupercaya." Amy membisu sepanjang
setengah blok berikutnya. "Mereka meminta informasi darinya. Tentang Campuran J.
Mereka amat mendesaknya."
550 Darah Logan membeku. "Stillman?"
Amy mengangguk. "Mereka ingin tahu bagaimana cara kerja obat tersebut, hal-hal
yang tidak bisa diceritakannya. Karena akuilah dia tidak terlibat sedalam ? ?itu."
"Benar." Logan hampir bisa mengerti: Reston yang kaku dan merasa tidak
aman keparat itu ingin memberikan apa yang mereka inginkan, mati-matian ingin
? ?bermain sebagai orang besar, tapi tidak berdaya untuk itu. Ia berusaha agar
pertanyaannya tidak terdengar terlalu penasaran. "Kenapa mereka ingin tahu?"


Obat Pamungkas The Magic Bullet Karya Harry Stein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Amy mengangkat bahu. "Tapi yang jelas, mereka lebih memperhatikan Campuran J
daripada yang mereka perlihatkan. Dan kau mengenal John, itulah caranya membalas
mereka." "Maksudmu?" "Dia menantang mereka tentang obat tersebut, mengejek mereka." Ia tersenyum.
"Paling tidak, itulah yang diceritakannya padaku. Dia mungkin sudah membesar-
besarkan." Setelah berjalan lima blok, berbelok-belok secara acak, mereka tiba-tiba muncul
di Connecticut Avenue. Sekarang, setelah mengungkapkan semuanya, Amy tampak lebih santai. Bahkan
ketakutannya kalau diikuti orang tampak telah lenyap. Ia menunjuk bar-restoran
terdekat. "Kurasa aku perlu minum."
Tapi percakapan tersebut pengaruhnya berlawanan terhadap Logan. Sekalipun
pendidikan medis selama bertahun-tahun telah mengajarnya untuk tetap tampil
tenang, mulutnya terasa kering dan kakinya bagai tidak menapak di tanah. "Aku
tidak, lain kali saja."
Amy berbalik. "Jangan bersikap terlalu keras pada -
551 nya, Dan. Dia memang keparat, tapi tidak pernah sengaja menyakiti siapa pun."
Apa maksudnya" "Sampai ketemu, Amy. Jaga dirimu."
"Lucu, aku mau berkata begitu padamu."
Begitu Amy masuk ke dalam bar, Logan berputar, mengawasi jalanan yang ramai.
Tidak ada apa-apa tapi dari mana ia tahu"
?Sekarang malam mulai turun. Ini area yang gaya, banyak toko dan restoran yang
bagus. Pasangan yang baru pulang dari pekerjaan masing-masing ada di mana-mana;
prianya dengan dasi kendur, banyak di antara wanitanya yang telah menukar sepatu
kerjanya dengan sepatu lari yang lebih nyaman. Tanpa berpikir panjang, ia
melesat ke toko buku. Paling tidak ia aman di sini. Tapi seketika ia teringat pada Georgi Markov,
pembelot Bulgaria yang dibunuh KGB di London. Ia membaca kasus tersebut:
bagaimana mereka menusuknya di halte bus dengan ujung payung, menggunakan racun
tanaman bernama ricin, hampir tidak terdeteksi oleh teknik forensik tradisional.
Ia penasaran, apa yang telah mereka gunakan pada Reston"
Apa yang diberikan Atlas padanya"
Bisa apa saja. Racun yang disuling dari tanaman Amazon yang hampir punah,
diambil oleh ahli botani yang dikontrak YKA untuk mencari obat antikanker baru.
Materi yang begitu jarang dan beracun hingga sepersejuta mikrogram sudah bisa
membunuh, dan tanpa meninggalkan jejak yang mencolok. Ia mengetahui sepenuhnya
kalau YKA punya akses lebih ba-552
nyak untuk campuran-campuran seperti itu daripada dinas intelijen mana pun di
dunia ini. Logan bergegas keluar kembali dari toko. Mobilnya masih ada di garasi bawah
tanah dekat Gedung Arsip Nasional. Ketika sopir taksi menurunkannya di pintu
masuk, ia berlari masuk tanpa berpaling lagi.
Setelah duduk di balik kemudi, barulah ia berusaha menenangkan diri. Ini
sinting, tidak ada gunanya bagi dirinya sendiri.
Mungkin cuma pemikirannya, tapi tiba-tiba ia mengetahui apa yang harus
dilakukannya. Kurang dari dua puluh menit kemudian ia tiba di rumah Seth Shein di Arlington.
Saat berhenti di depan rumah besar bergaya Tudor tersebut, ia melihat Range Rover merah Shein di ujung jalan masuk. Mobil
tersebut, tampak tidak cocok dengan tempatnya, merupakan sumber kebanggaan luar
biasa bagi seniornya. Logan mengetahui kalau pikirannya belum cukup jernih. Apa yang diharapkannya"
Penjelasan yang jujur" Semacam penenangan"
Ia masih mempertimbangkannya ketika Alice Shein membuka pintu. Ia melihat
perasaan tidak senang di wajah Alice. "Seth," teriak Alice. "Seth, kemarilah!"?Sesaat kemudian Shein muncul mengenakan celana panjang baggy dan kemeja kerja
kasar, membawa palu. Melihat Logan, ia tersentak mundur tapi segera menenangkan
?diri. "Logan, kau berantakan."
Sesaat, Logan dipenuhi keragu-raguan. "Aku harus mengetahui apa yang sedang
terjadi," katanya, berjuang keras untuk mengendalikan diri.
"Padamu?" jawab Shein. "Tidak banyak, dari yang
553 terlihat." Ia memandang tamunya dengan jijik. "Jangan mengira aku akan
mengajakmu masuk. Tidak ada yang mengundangmu."
Dengan berani, Logan menerobos masuk, kemudian berbalik memandangnya. "Apa yang
terjadi pada Reston?"
"Kau masuk tanpa izin, Logan," kata Shein ringan. "Dan kau masih terlihat
berantakan." "Apa yang terjadi pada Reston" Apa yang mereka berikan padanya?"
"Reston akhirnya mengetahui kalau ia cuma pecundang dan membereskannya. Akhir
cerita." Ia mendengus. "Kita semua lebih baik tanpa dirinya, termasuk dirinya."
"Kenapa mereka membunuh hewan-hewan laboratoriumku?"
"Membunuh hewan-hewan laboratoriummu?" Shein tertawa terbahak-bahak. "Kau
keliru, Logan kau yang membunuh hewan-hewan tersebut. Kenapa otakmu, kau
?mempermalukan diri sendiri!"
"Lalu kenapa" Lihat dirimu jelas kau bahkan tidak peduli pada hal itu."
?Melihat Shein berdiri di sana dengan senyum sombong itu rasanya tak tertahankan;
tiba-tiba, Logan meledak. Sambil menjatuhkan palu dari tangan Shein, ia
menghantamkan Shein ke pintu depan yang terbuka. "Kau keparat," kata Logan,
dengan napas terengah-engah. "Kau merusak hidup orang-orang dan tidak
memedulikannya sama sekali!"
Sekalipun terjepit ke pintu, Shein masih tetap tersenyum. "Tidak benar. Aku cuma
merusak mereka kalau itu alternatif yang menarik." Ia memandang
554 Logan lurus-lurus. "Apa yang akan kaulakukan, Logan, memukuliku" Itulah
masalahmu, kau tidak terkendali. Kau lebih buruk daripada pecundang, kau
pengecut." Jemari Logan mencengkeram lengan Shein saat ia mempererat pegangannya. Shein
mengernyit tapi suaranya tidak gemetar. "Akuilah, Logan, kau tidak cukup baik."
?"Keparat kau. Kau tidak mengetahui seberapa baik kerja Campuran J!"
"Ya Tuhan," ejek Shein, "tidak kukira aku bisa keliru menilai kau menyedihkan."
? "Lalu kenapa kalian" masih tertarik" Kenapa Stillman mengejar Reston untuk itu?"
"Kau sinting, Logan, kau maniak."
Logan mengguncangnya kuat-kuat. "Katakan, terkutuk!"
"Lepaskan aku," teriak Shein.
Logan melepaskannya. ' "Bagus," kata Shein, sambil menggosok lengan atasnya. "Sekarang pergi dari sini,
kembali ke lubangmu. Aku harus membetulkan "lemari dapur."
"Aku tidak akan pergi ke mana pun sebelum kaukatakan yang sebenarnya!"
"Alice," teriak Shein tiba-tiba.
Saat menengadah, Logan melihat Mrs. Shein berdiri di puncak tangga, ngeri.
"Panggil polisi," perintah Shein. "Tidak, hubungi polisi federal... katakan ada
psikopat di sini." Alice bergegas melesat ke ruangan lain.
"Aku bersumpah," kata Logan pelan, "kau tidak akan bisa meloloskan diri."
555 "Tentu saja bisa. Beberapa dari kita memang dilahirkan sebagai pemenang."
Tiba-tiba,. Logan meninjunya, tepat di wajah. Shein tersungkur ke lantai, darah
mengalir dari hidungnya. "Bagus," kata Shein, sengaja menghapus darahnya dengan lengan baju, "pukulan
yang hebat. Kau sama jujurnya dalam perkelahian seperti dalam laboratorium." Ia
memanggil istrinya sekali lagi. "Suruh mereka cepat-cepat. Beritahukan juga
kalau dia mengendarai Ford putih bobrok benar-benar bobrok."?Logan bergegas keluar.
Shein tetap di lantai, mengawasi Logan melaju pergi.
Tapi sekarang, terhuyung-huyung bangkit, ia menuju kantornya. Apa ia punya nomor
telepon rumah apoteker YKA dalam buku alamatnya"
Ya, ada!.Setelah menyambar telepon, Shein memutar nomornya.
556 Ada yang mengikutinya ia yakin! Sepanjang hampir lima puluh mil, di jalan tol
?New Jersey sejak dari Delaware hingga lewat Trenton, lampu mobil tersebut terus
berada pada jarak yang sama darinya; berganti lajur seiring dengan dirinya,
tampaknya mengikuti setiap perubahan -kecepatan yang dilakukannya.
Saat menghentikan mobil di tempat istirahat, ia tidak turun dari mobil cuma
?duduk dan menunggu, menatap kaca spion, pintu keluar tol terlihat sepenuhnya di
sana. Tidak ada apa-apa hanya arus mobil yang terus-menerus menembus kegelapan
?malam. Setelah sepuluh menit, ia kembali memasuki jalan tol.
Ia menghidupkan radio. Mendengarkan biarpun cuma acara percakapan tengah malam
?yang membicarakan pembunuhan JFK menenangkan pikirannya. Paling tidak
?memberinya ilusi kalau dirinya tidak sendirian.
Kemudian, tiba-tiba, tepat di luar New Brunswick, mobil itu muncul lagi.
Atau ia tidak bisa yakin mungkin mobil lain. Mobil itu terus mengikutinya ? ?selama sepuluh, lima belas menit. Tapi ketika ia
557 mengurangi kecepatan untuk keluar di pintu pertama yang ada pintu 8 mobil
? ?tersebut melesat lewat, Volvo wagon kotak. Mobil keluarga.
Apa matanya sudah menipunya" Atau lebih buruk lagi benaknya"
? ?Terlintas dalam benaknya, pikiran yang menenangkan, bahwa ia hanya tidur empat
atau lima jam selama dua hari terakhir; persepsinya mungkin sedikit menurun oleh
karenanya. Mengingat hal tersebut, ia dilanda gelombang kelelahan.
Sejenak, ia mempertimbangkan untuk menginap di motel. Tapi, tidak, kota tidak
sampai satu setengah jam lagi. Dan kalau mereka ada di luar sana kenapa
? ?mempermudah mereka"
Ia melanjutkan sisa perjalanannya di sisi kanan, dengan kecepatan lima puluh
lima mil perjam. Setelah memarkir mobil di tempat parkir, ia memanggil taksi dan
tiba di rumah pukul 1.30.
Lampu merah yang berkedip-kedip di sisi ranjangnya menunjukkan kalau hanya ada
satu pesan. Ia tidak terkejut mengetahui pesan tersebut dari Perez.
"Hei, Logan, apa yang kaulakukan terhadapku, man" Hubungi aku begitu kau pulang.
Segerai Tidak peduli jam berapa!"
?Sambil menendang sepatunya sampai lepas, Logan menjatuhkan diri di ranjang. Jam
berapa sekarang di Italia" pikirnya. Tapi sebelum sempat menghitungnya, ia telah
tertidur. Pada saat itu Seth Shein tidak tidur sama sekali, seluruh indranya terjaga.
?Pandangannya berpindah-pindah pada keempat fde yang terbuka di hadapannya
discan dan didjvu-kan untuk dimhader (dimhad.co.cc) oleh OBI
Dilarang meng-komersil- kan atau keslalan menimpa aada selamanya
PRC/TXT BY OTOY di mejanya di YKA, masing-masing ditulisi spidol hitam mencolok: RHOME, KOBER,
WILLIAMS, DIETZ. Sekali lagi, ia meraih laporan otopsi Dietz, hampir identik dengan laporan
Williams dan Rhome: "Nekrosis hati mendadak... pelepasan pleural... pericardial
tamponade meragukan." Ketiga wanita itu berubah drastis dari kondisi sehat
menjadi kerusakan total fisiologis dan meninggal dalam waktu beberapa jam; liver
mereka rusak, paru-paru mereka tidak berfungsi, jantung mereka melemah hingga
tidak tertolong. Tapi bagaimana dengan Kober" Ia juga memperoleh reaksi positif yang sama dari
obat tersebut. Kenapa sesudahnya tidak ada kerusakan yang sama"
Ia tertawa kecil. Dalam satu hal, sayang Kober tidak meninggal dengan begitu ia
?akan mendapat laporan otopsi dirinya untuk perbandingan.
Ia telah memeriksa jadwal pengobatan semua wanita tersebut dengan seksama.
Hampir identik. Kober tidak ketinggalan satu kali pengobatan pun, sebagaimana
yang semula diduganya; dosisnya juga tidak pernah dikurangi. Seperti yang lain,
Kober mendapat dosis penuh Campuran J dua gram setiap kalinya, dua minggu
?sekali selama empat bulan lebih.
Dengan santai, ia membuka-buka fde Kober; lalu, untuk yang ketiga kalinya,
mengambil CAT scan Kober.
Ia mengacungkan film tersebut di atas kepalanya hingga diterangi oleh lampu di
atas kepala. Ada delapan foto, masing-masing mewakili sebagian tubuh pasien pada
tingkat yang berbeda. Liver, yang homogen, memakan hampir satu foto tersendiri;
pada foto 559 berikutnya, ia sekali lagi melihat bagian atas batas ginjal kiri, hilum ginjal,
indentasi di mana pembuluh darah masuk dan keluar. Lalu... tunggu dulu, apa ini"
Mana batang atas ginjal kanan"
Dengan cepat, ia kembali pada catatan pemeriksaan awal Kober. Di sini
dikonfirmasi kalau wanita tersebut hanya memiliki satu ginjal!
Shein menyingkirkan file tersebut dan bersandar ke kursinya. Selintas, tidak
masuk akal sama sekali. Malahan terbalik. Seperti kebanyakan obat lainnya,
Campuran J dimusnahkan melalui ginjal. Tanpa satu ginjal, tubuhnya mestinya
menimbun lebih banyak obat daripada pasien-pasien lain, bukannya malah kurang.
Mengingat kadar racun yang ada, ia seharusnya lebih dulu sakit dan meninggal!
Ia meletakkan tangannya di belakang kepala dan memejamkan mata. Ini selalu
merupakan bagian yang menyenangkan.
Ia belum memahaminya, tapi pemahaman tersebut perlahan-lahan muncul.
560 Iogan tersentak bangun, telepon berdering nyaring di telinganya. Kamarnya masih
remang-remang. Ia meraba-raba mencari telepon. "Demi Tuhan, Ruben, beri aku
kesempatan beristirahat. Jam berapa ini?" Tapi di ujung seberang hanya ada
kesunyian. "Ruben?"
Ia mendengar bunyi klik telepon ditutup.
Seketika, kantuknya lenyap. Ia memutar nomor Perez dan membangunkannya.?"Dan?" tanya Perez, suaranya berat oleh kantuk. "Kau baru saja kembali?"
"Larut malam semalam."
"Kenapa meneleponku sekarang?"
"Ruben, dengarkan aku. Ada sesuatu yang terjadi." Tiba-tiba, ia berpikir lagi:
bagaimana kalau teleponnya disadap" "Tunggu, tunggu di sana."
"Memangnya aku mau ke mana?" tanya Perez jengkel.
Logan membanting telepon dan, dengan pandangan liar, melemparkan sejumlah
pakaian ke dalam tas kecil, kemudian melesat ke luar.
561 "Ruben?" katanya, sepuluh menit kemudian, di telepon umum.
"Logan, kau benar-benar merusak kehidupan."
"Tetap di sana. Aku mau ke sana!"
Ia naik kereta A ke pinggiran kota di Canal Street dan, duduk di antara orang-
orang yang berangkat paling pagi, bersembunyi di balik New York Times yang
terbuka. Pada jam-jam ini, perjalanan memakan waktu kurang dari setengah jam.
Waktu belum lagi menunjukkan pukul 7.00 ketika ia menekan bel rumah Perez dan ?membangunkannya lagi.
"Dengar, Ruben, maafkan aku," katanya, sambil memandangnya di ruang tamu Ruben
yang mungil. "Aku tahu ini berat untukmu."
Di sudut yang jauh, tikus-tikus berkeliaran dalam kandangnya; tumornya, yang
disuntikkan seminggu sebelumnya, tampak jelas bahkan dari tempat duduk Logan.
Dalam beberapa hari, ia akan mulai menyuntikkan obatnya.
Perez, yang mengenakan jubah mandi, memajukan tubuhnya di kursi dan menggosok
mata dengan kedua tangan. "Sekarang apa?"
Secara singkat, hanya garis besarnya, Logan menceritakan pengalamannya di
Washington. Temannya mendengarnya dengan serius, menyadari perubahan drastis emosi Logan
dalam dua hari ini. "Dengar, Dan," katanya pelan setelah Logan selesai, "sebaiknya kaupikirkan lagi
apa yang baru saja kauceritakan. Sungguh-sungguh memikirkannya." Ia diam
sejenak, mencari-cari kata yang tepat. "Dengar, aku mendengarmu. Aku tahu kalau
apa yang diceritakan gadis itu pasti membuatmu ketakutan. Tapi pikirkan
562 bagaimana situasinya, oke" Kekasihnya baru saja bunuh diri."
Logan menggeleng. 'Tidak. Bukan itu. Kau tidak mengenal orang-orang ini, Ruben."
"Itu YKA, Dan! Mereka tidak BERBUAT begini." Ia mengangkat tangan. "Apa kau
tidak menyadari perbuatanmu, man, kau memukul Seth Shein!"
"Dia bagian darinya. Dia sama busuknya dengan yang lain."
Perez mendesah. Orang ini membutuhkan bantuan, dan ia bukan psikolog. "Dengar,"
katanya sambil beranjak bangkit, "aku harus bersiap-siap berangkat kerja. Kau
juga." "Kurasa tidak, Ruben. Hari ini tidak."
"Ya Tuhan, Logan, kau membutuhkan pekerjaan ini! Bahkan Severson pun bisa habis
kesabarannya." "Aku tahu." Tapi Logan tetap tinggal di tempatnya. "Apa kau keberatan kalau aku
tinggal di sini" Cuma untuk beberapa hari?"
Perez menghilang ke dalam kamar tidur dan kembali membawa kunci. Ia
melemparkannya pada Logan. "Kuburanmu. Bagaimana dengan pakaianmu?"
Logan mengangguk ke tas kecilnya. "Tapi aku agak tergesa-gesa. Aku cuma membawa
dua potong." "Mfl/i, apa kau tidak punya teman lain?" Ia menggeleng jengkel. "Mana kunci


Obat Pamungkas The Magic Bullet Karya Harry Stein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rumahmu, kuambilkan lagi sepulang kerja nanti."
Perez sudah pergi setengah jam ketika Logan memusatkan perhatiannya. Setelah
mengaduk-aduk saku jaketnya, ia tidak bisa menemukan potongan kertas berisi
catatan nama-nama kemarin. Tapi di buku
563 telepon ada: Forcheim, G. 802 W. 190th St. Tidak jauh.
Logan mandi dan mengenakan jins dan kemeja lengan pendek. Ini cukup.
Ia memutuskan untuk berjalan kaki, menyusuri Broadway dan mendaki bukit yang
jalannya melengkung Bangunan tersebut mungkin dua belas tingkat tingginya,
berlawanan dengan panti jompo. Nama-nama pada panel di pintu masuk menampakkan
perubahan lingkungan, campuran hampir sama antara Yahudi Jerman dan Hispanik,
dengan dua nama Rusia. Forcheim, Apt. 3C. Ia menekan bel dan menunggu.
"Ya?" "Ms. Forcheim?" "Ya?"
Sekarang apa" "Nama saya Dr. Daniel Logan. Saya tahu ini mungkin kedengaran
aneh, tapi saya mencari "?"Maaf?"
Merasa sangat konyol, Logan mulai berteriak. "Saya mencari orang bernama
Nakano " ?Ia mendengar bunyi klik wanita tersebut mematikan interkom. "Sialan," gumamnya,
dan menekan belnya lagi. Tidak ada jawaban. Ia menekan lagi. Dan lagi.
Seorang penghuni gedung itu, yang melihatnya berdiri di sana, bergumam sendiri,
memasukkan kuncinya dan bergegas masuk, berhati-hati agar tidak sempat
diikutinya. "Sialan," kata Logan, keras-keras, dan akan berbalik ketika melihat pintu lift
di lobi terbuka di balik kaca pintu depan.
564 Seorang wanita mungkin pertengahan enam-puluhan muncul, mengenakan gaun
? ?longgar, tapi memiliki wajah tercantik yang pernah dilihatnya: rambut hitam
mengilat, kulit mulus, mata hitam dengan bentuk sedikit mirip bulan sabit. Saat
ia mendekat, Logan melihat kalau matanya sangat cemerlang.
Ia mengetahuinya bahkan sebelum wanita tersebut membuka pintu. "Dia ayahku."
Dua puluh menit kemudian, Logan sudah duduk di sofa lusuhnya, secangkir teh di
meja rendah di sebelahnya, saat wanita tersebut bercerita. Tampaknya wanita
tersebut berusia kurang dari setahun ketika tiba di Amerika bersama bibi dan
pamannya, adik lelaki ibunya. Rencananya adalah orangtuanya nanti akan bergabung
dengan mereka. "Tapi orangtua ibuku, kakek-nenekku, terlalu tua untuk pergi,
mereka tidak ingin pergi. Harus ada yang menemani mereka, dan kurasa semua orang
mengira karena ayahku bukan Yahudi..." "Pasti aman." -
"Kurasa tidak ada yang membayangkan betapa buruk situasi pada waktu itu."
Sejenak, tampaknya wanita tersebut akan menangis. "Aku sebenarnya beruntung. Ada
bibi dan pamanku. Mereka mengadopsiku. Aku tidak pernah sendirian. Bibiku
meninggal baru setahun yang lalu. Aku yang merawatnya."
Logan memandang sekelilingnya sekilas, ruangan tersebut dipenuhi gorden yang
berwarna-warni, tanaman, dan foto-foto dalam bingkai. Pandangannya terpaku pada
foto kecil dalam bingkai besi melengkung di kusen jendela di sampingnya
Menampakkan se - 565 orang pria Oriental muda yang mengenakan kacamata berbingkai hitam dan
berekspresi serius. "Ini dia?"
"Ya." Wanita tersebut tersenyum. "Tapi aku punya foto lain di mana ia tidak
tampak begitu kaku di mana ia bermain-main denganku. Sewaktu jelas ketahuan ?kalau mereka tidak bisa keluar, mereka mengirimkan satu album kepada kami."
"Dia sangat berbakat," kata Logan, berusaha mengalihkan arah pembicaraan,
"ilmuwan yang sangat hebat."
"Kau mau melihatnya?"
"Tentu saja." "Aku menyimpannya di sini." Ia meraih ke rak di sebelahnya dan mengambil album
dengan sampul kain yang telah lusuh. "Beginilah biasanya mereka membuatnya,
supaya tahan lama." Ketika membukanya, Logan seketika seperti terlontar ke waktu yang lain,
Frankfurt sebelum Hitler. Dunia yang telah lenyap tersebut terdiri atas gambar-
gambar hitam-putih, dengan hati-hati ditempelkan dan ditulisi dengan tulisan
tangan yang anggun; toko-toko kecil yang anggun, taman-taman yang terawat baik,
dan jalan-jalan yang tenang. Tapi, di atas semuanya itu, ia melihat keluarga
muda di latar depannya. Mikio Nakano, biasanya mengenakan setelan bisnis, tapi
sesekali menunjukkan sisinya yang lucu dan terkadang konyol; wanita di depannya,
masih bayi gemuk; ibunya yang masih muda dan cantik.
"Siapa nama ibu Anda?" tanya Logan.
"Emma. Dia cantik, bukan?" Jelas sekali kalau hal ini penting baginya.
"Sangat." 566 "Dia guru piano, kau tahu" Begitulah cara mereka bertemu. Meskipun pekerjaan
Ayah banyak, dia memutuskan untuk belajar piano." Ia tertawa. "Aku tahu semua
rinciannya. Ibuku juga mengirimkan buku hariannya. Kau mau melihatnya?"
"Boleh." Karena, sebenarnya, kisah keluarga ini mulai menarik hatinya.
"Sebenarnya, ada empat buku. Dia yang menulis semuanya."
Ia pergi ke lemari di seberang ruangan dan membawa keempatnya. Selama seperempat
jam berikutnya, saat ia membungkuk di balik bahu Logan, berkomentar, Logan
membaca halaman demi halaman.
"Luar biasa," kata Logan akhirnya, dengan lembut menutup buku, "harta yang
hebat." Ia diam sejenak. "Apa ayah Anda juga menulis buku harian?"
"Ayahku?" Ia menggeleng. "Entahlah, kurasa dia tidak sempat."
"Maksud saya tentang pekerjaannya."
"Ohh." Ia memikirkannya sejenak. "Sebenarnya, ya, kurasa ada sesuatu, semacam
jurnal..." Ia keftibali ke lemari di seberang ruangan dan mengaduk-aduknya. "Sebagian besar
tidak bisa ku-bedakan. Cuma angka-angka dan huruf." Ia berjinjit dan menarik
kotak dari rak teratas yang penuh sesak. "Kurasa di sini. Ya, ini dia."
Ia memegang buku hitam-putih bagai marmer, mirip dengan yang digunakan Logan
sewaktu sekolah dulu. "Kuharap kau memaafkan kekacauan ini. Tapi biasanya aku
selalu menemukan apa yang kucari."
Ia menyerahkannya kepada Logan. Dengan gaya santai, seakan sekadar membaca
artefak menarik lain - 567 nya, Logan membukanya. Apa yang dilihatnya di halaman pertama membuat bulu
romanya berdiri. Gambar struktur campuran yang tengah dikerjakan Logan.
"Kuharap ada gunanya," kata wanita tersebut.
Logan membalik ke halaman berikutnya dan kemudian berikutnya lagi; lalu, lebih
cepat, mempelajari sepuluh halaman lagi. Apa yang dilihatnya adalah serangkaian
entri singkat, tiga atau empat paragraf setiap halamannya. Sesekali satu
paragraf dilengkapi sketsa model kimia, ditandai dan ditanggali. Cerita yang ada
di sana memesonakan yaitu tentang evolusi pemikiran ilmuwan hebat itu saat ia ?berjuang selama lebih dari dua dekade untuk memecahkan masalah yang rumitnya
tidak terbayangkan. Dengan gembira, agak ketakutan, Logan berpindah ke halaman terakhir. Selusin
halaman terakhir kosong. Tapi di halaman sebelumnya tertulis: campuran yang
telah sepenuhnya jadi! Logan bergegas menerjemahkan kata Jerman di atasnya. "Es funktioniert!"
Berhasil! Tertanggal 26/ 10/38. Dua minggu sebelum Kristallnacht.
"Boleh ini saya pinjam?" tanya Logan, berusaha menjaga ketenangannya.
Wanita tersebut tiba-tiba tampak khawatir. "Itu sangat penting bagiku."
"Saya mengerti. Tentu saja." Bagaimana mengatakannya" "Saya rasa Anda harus
mengetahui bahwa ayah Anda berhasil melakukan pekerjaan yang mengagumkan dalam
buku ini." "Sungguh?" Ia berubah cerah. "Senang mendengarnya."
568 "Cuma selama satu atau dua hari, saya cuma mau mengopinya." Ia mencari-cari
dompet dalam jaketnya. "Saya tinggalkan SIM saya, kartu kredit..."
Setelah tiba-tiba tertawa, wanita tersebut melunak. "Tidak perlu, tentu saja kau
boleh meminjamnya. Tidak pernah kubayangkan akan ada orang yang tertarik."
569 Orang lain mungkin takut menghadapi konfrontasi ini. Tapi Seth Shein
menikmatinya. Dalam pengalamannya yang lama di YKA, ia belum pernah mendapat
kesempatan seperti ini, dan pasti tidak akan ada lagi.
Ia harus memanfaatkannya sebaik mungkin bahkan kalau itu berarti membesar-
?besarkannya. "Wah, Stillman," katanya, sambil melangkah masuk ke dalam kantor rivalnya
tersebut tanpa pemberitahuan, "sudah lama tidak bertemu."
Gregory Stillman menengadah dari kertas yang tengah ditulisnya, bibirnya
seketika mencibir. "Siapa yang mengizinkanmu masuk kemari?"
"Cuma penasaran dengan pekerjaanmu." Ia melihat Stillman meletakkan lengan
depannya ke atas kertas di hadapannya. "Antar kolega."
"Keluar dari sini!" Stillman menekan tombol inter-komnya. "Martha!" Tidak ada
jawaban. "Martha, terkutuk!"
"Kurasa dia sedang di kafetaria di bawah," kata Shein, tanpa berdosa. "Kurasa di
situ tadi aku me - 570 lihatnya." Ia duduk. "Nah... kau mau menceritakan pekerjaanmu?"
Stillman beranjak bangkit. "Aku tidak punya waktu untuk kebodohanmu, Shein." Ia
mendekati Shein. "Sekarang keluar!"
"Mungkin pertanyaanku keliru. Maksudku siapa yang kauobati dengan Campuran J?"?Stillman berhenti, kemarahannya berkurang, digantikan kebingungan. "Apa?"
"Pertanyaan sederhana. Aku melihat catatan di apotik. Tampaknya kau mengambil
lima belas gram obat tersebut. Untuk siapa?"
"Untuk penelitian, tentu saja," katanya. Tapi, menyadari dengan siapa ia
berurusan, ia tidak mampu bersikap cukup meyakinkan. "Aku tidak pernah menentang
kalau Campuran J tampaknya punya keaktifan."
Shein mendengus. "Jangan mengejek kecerdasanku," katanya, suaranya terdengar
berbahaya. "Kau boleh melakukan apa saja mengerti" tapi jangan mengejek
? ?kecerdasanku. Kita membicarakan lima belas gram! Berapa banyak tikus yang mau
kaujadikan percobaan, seratus ribu?"
"Shein, itu spekulasi yang paling tidak bertanggung jawab!"
Shein ragu-ragu cukup lama, tampaknya mempertimbangkannya. "Kau tahu apa yang
dipikirkan Logan?" katanya. "Menurutnya kau membunuh hewan-hewan
laboratoriumnya. Menurutnya kau sangat ingin mendiskreditkan penelitiannya, kau
meracuni hewan-hewan laboratoriumnya! Supaya kau bisa mengambil alih."
discan dan didjvu-kan untuk dimhader (dimhad.co.cc) oleh OBI
Dilarang meng-komersil- kan atau keslalan menimpa aada selamanya
PRC/TXT BY OTOY Kau melontarkan Logan padaku" Orang yang memalsu data" Dia jatuh karena ulahnya
sendiri." Shein mengangguk. "Kau benar, aku setuju denganmu Campuran J-lite sangat
?beracun. Tidak mungkin kau membunuh hewan-hewan tersebut." Ia tersenyum; sulit
untuk menentukan apakah ia bertindak berdasarkan intuisi sepenuhnya. "Cuma para
wanitanya." "Apa" Apa yang kau "
?"Cukup sederhana dengan racun baru ini, Greg. Apakah itu chrisanthetoxin itu
?merusak liver. Kau cuma perlu memasukkan seperseribu mikrogram ke dalam infus.
Atau, lebih baik lagi, ke dalam cokelat yang selalu dibagi-bagikan si Italia
cantik tersebut kepada para pasiennya."
Stillman tertawa. "Campuran J yang membunuh wanita-wanita tersebut, Shein. Itu
fakta yang sudah terbukti."
"Tidak, Greg, Campuran J tidak memiliki sifat racun seperti itu. Kau tahu. Kalau
tidak, kenapa kau berani mengambil risiko memberikannya pada orang lain?"
Stillman ragu-ragu, wajahnya tiba-tiba memucat. Tepat!
"Aku tidak sudi menjawabnya," kata Stillman akhirnya.
"Greg, kau sudah menjawabnya." Shein tersenyum percaya diri. "Dia pasti cukup
penting, sampai kau mau bersusah payah seperti itu. Kurasa tidak ada satu pun
obat konvensional yang bekerja, bukan" Jadi apa yang kaugunakan obatmu, yang ?tidak bereaksi itu" Campuran J mungkin coba-coba, ada masalah, tapi paling tidak
aktif." 572 "Dari mana kau memperoleh sampah ini?"
"Lihat file Kober, Greg. Wanita itu cuma punya satu ginjal..."
"Apa urusannya denganku?"
"Artinya dalam tubuhnya terdapat lebih banyak campuran J, bukannya kurang. Obat
tersebut tidak membunuhnya mungkin justru menyelamatkannya. Membantunya melawan
?racun." "Kau psikopat, Shein, kau bermimpi! Kau tahu apa yang kaukatakan?"
"Well, Greg, aku tahu ini: Kita punya tiga wanita yang meninggal dan Campuran J
tidak membunuh mereka. Cuma minat profesional apa kau menggunakan racun yang
?sama pada Reston" Keparat itu mulai lepas kendali, bukan?"
"Ya Tuhan!" Sambil mengangkat tangan, Stillman kembali ke kursinya dan terenyak
duduk. Shein tidak pernah membayangkan akan adanya kesempatan untuk bisa menyaksikan
rivalnya begitu tidak berdaya, begitu rapuh dan ia berniat menyelesaikannya.
?"Tidak apa kalau kau tidak mau mengatakannya. Dia baru dikubur berapa lama"
? ?seminggu. Tidak masalah untuk menggalinya lagi dan memeriksanya."
"Shein, dengar, kita "punya banyak masalah, kau dan aku. Tapi apa yang akan
kaulakukan padaku" Kita berdua dalam bisnis yang sama, kita berdua ingin
menyembuhkan kanker."
"Kuanggap kau cuma berbicara secara teoretis, bukan?"
"Apa yang ingin kaulakukan, merusak YKA" Aku tidak bilang ada kebenaran dalam
hal ini tidak ada. ?573 Tapi aku berjanji, kalau kau mengejarnya, itulah yang akan kaulakukan. Kau akan
merusak semua yang sudah kita kerjakan. Dan, dengarkan aku, saatnya tidak bisa
lebih buruk lagi daripada sekarang."
Shein mencondongkan tubuhnya. "Oh, yeah" Kenapa begitu?"
Stillman memejamkan mata dan menghela napas panjang.
"Ayolah, Greg," ia mendesaknya, hampir merayunya, "katakan. Kau tahu aku akan
tetap mengetahuinya."
Stillman menatapnya dengan pandangan serba salah. Kemudian mengambil file di
mejanya dan mengulurkannya.
574 Iogan telah membaca buku tersebut di ruang duduk Perez selama lebih dari empat
jam, tapi ia masih dipenuhi kegembiraan sebagaimana awalnya. Sekalipun ia tidak
pernah religius, ia sekarang bisa mengatakan kalau ia mengerti definisi
pengalaman spiritual. Karena apa yang dipegangnya saat itu mendekati
suci pekerjaan seumur hidup seorang ilmuwan sehebat yang pernah dipelajarinya
?dalam teks-teks klasik lainnya. Pekerjaan yang punya potensi luar biasa bagi
kepentingan umat manusia.
Telepon berdering, mengejutkannya.
"Logan" Kuharap kau tidak mengunyah karpetnya."
"Ruben, di mana kau?"
"Di tempatmu. Berapa banyak yang ingin ku-bawakan?"
Tidak ada yang sesepele itu menurutnya. "Entahlah, paling tidak untuk beberapa
hari." "Bagus," kata sahabatnya, jengkel.
"Oh tolong bawakan juga kamus Jerman-Inggris-ku. Ada di rak di sebelah sofa." ?Logan mengalami kesulitan menerjemahkan sejumlah catatan Nakano yang rumit.
575 "Untuk apa?" "Kumohon, kuceritakan kalau kau pulang nanti."
"Aku mengerti. Tampaknya berat sekali! Logan, sampah yang kubawa sudah terlalu
banyak." "Pakai taksi, kubayar. Tolong, cepatlah."
Logan kembali membaca bukunya. Tidak ada yang luar biasa dalam rinciannya,
catatan lengkap perkembangan campuran dari teori hingga kenyataan. Ia sekarang
bisa mengerti kalau Nakano menumpuk kesuksesan kecil dalam setiap
perkembangannya; tapi juga, betapa enggan ia untuk membuang sejumlaf gagasan
kunci yang tampaknya benar dan betapa lambatnya untuk menerima gagasan lain yang
muncul, mulanya samar-samar, tampaknya luar biasa.
Logan mengerti. Nakano pada mulanya juga yakin kalau kadar racunnya berkaitan
dengan panjangnya jembatan polimer malahan, telah berkutat dengan gagasan
?tersebut selama dua belas tahun yang bikin frustrasi. Penemuannya yang tidak
sengajalah yang menunjukkan kalau masalahnya terletak pada hal lain di tempat
?yang paling tidak mungkin yang memungkinkannya untuk terus maju; dan bahkan
?pada waktu itu, masih dibutuhkan sepuluh tahun lagi untuk menyelesaikannya.
Logan mempelajari gambar rangkaian akhir dengan sangat hati-hati. Yang
dibutuhkan hanyalah reposisi kelompok sulfonat, di kepala dan ekor modul
Campuran J. Campuran yang ditemukan Nakano, sebenarnya, merupakan isomer
Campuran J: jumlah atomnya persis sama dalam komposisi kimiawinya, tapi bagian-
bagiannya diatur sedikit berbeda.


Obat Pamungkas The Magic Bullet Karya Harry Stein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Molekul tersebut bagai setumpuk kartu yang, supaya
576 tipuan tertentu berhasil, kartu-kartunya harus disusun dalam urutan yang tepat.
Logan sendiri telah menyusun beberapa kartu secara keliru. Ia mungkin saja
menelitinya selama ratusan tahun ribuan! dan tidak akan pernah menemukan
? ?susunan yang tepat. Ia mendengar bunyi kunci pintu diputar dan menengadah.
"Well" kata Perez, membawa dua kantong belanja dan mengepit kamus, "panggil saja
aku Manusia Kantong dari Washington Heights."
"Ruben, kemarilah. Ada yang ingin kutunjukkan."
"Boleh kututup pintunya dulu?"
Ia baru saja menutupnya dan melangkah ke sofa ketika terdengar langkah berat di
lorong di luar, diikuti suara berdebam keras di pintu.
"Apa-apaan?" seru Perez, bergegas mengambil tongkat bisbol yang disimpannya di
sudut. Dalam kepanikannya, Logan menutup buku dan menyelipkannya ke bawah sofa.
Tiba-tiba, pintu didobrak, ditendang oleh salah seorang dari keempat pria kekar
yang bergegas masuk. Tiga di antaranya membawa pistol.
"Yang mana yang namanya Logan?"
"Siapa kalian?" tuntut Perez.
"Tutup mulut!".
Logan melihat kalau pemimpin mereka membawa foto kecil di tangannya. Mirip
dengan yang ada pada kartu pengenalnya di YKA. Seketika ia sadar: orang-orang
ini penjaga keamanan YKA.
"Aku," katanya. "Aku Dan Logan."
"Siapa dia?" "Temanku, tidak ada hubungannya."
577 "Dia juga ikut," kata pemimpin tersebut.
"Bagaimana dengan ini?" Salah satu anak buahnya menunjuk tikus-tikus.
Pemimpinnya tidak ragu-ragu. "Bawa sekalian."
Keduanya didorong keluar dan apartemen dan menuruni tangga. Di luar sudah ada
dua mobil, mesinnya menyala.
"Salahku, man" kata Perez, sebelum didorong ke salah satu mobil. "Aku benar-
benar idiot!" Logan tidak sempat menjawab sebelum ia menghilang ke mobil kedua Volvo. Tidak ?mungkin, pikirnya muram, SEMUANYA salahku.
Ia ditempatkan di lantai belakang, tidak terlihat oleh orang lain. "Temanku
tidak berbuat apa-apa," ulangnya. "Dia tidak mengetahui apa pun."
Tapi ia tidak ragu bahwa seandainya mereka siap untuk melenyapkannya agar bisa
mencuri Campuran J, Perez, yang terjebak dalam tembak-menembak, tidak akan punya
kesempatan untuk melarikan diri.
"Jangan khawatir," kata pemimpinnya.
"Bagaimana caramu menemukanku?" Sekalipun sebenarnya ia sekadar meyakinkan diri
kalau orang-orang ini cukup manusiawi untuk bercakap-cakap.
"Jangan berbicara, .Dokter. Itu perintah kami."
Jawabannya sudah jelas. Ia menduga setelah mengawasi rumahnya, mereka mengikuti
Perez pulang. Selama tiga puluh lima hingga empat puluh menit berikutnya mereka melaju dalam
kebisuan, menyeberangi ia menduga-duga, dari posisinya di lantai Jembatan ? ?George Washington dan memasuki New Jersey. Ketika mereka berhenti dan ia
?dibantu keluar dari mobil, ia terkejut mendapati mereka ada di tepi
discan dan didjvu-kan untuk dimhader (dimhad.co.cc) oleh OBI
Dilarang meng-komersil- kan atau keslalan menimpa aada selamanya
PRC/TXT BY OTOY apa yang tampaknya seperti landasan terpencil. Tapi sekarang ia didorong menaiki
pesawat di landasan sebelahnya, pesawat Learjet. Sesaat kemudian mereka telah
mengudara. Sekali lagi, ia dijauhkan dari jendela, tindakan yang menurutnya sama sekali
tidak ada gunanya. "Aku tahu tujuan kita," katanya tenang.
Tidak seorang pun dari kedua orang yang duduk di sebelahnya menjawab.
"Paling tidak beritahukan kalau aku benar."
Tidak ada reaksi. "Persetan!" katanya, mengerahkan seluruh keberanian terakhirnya. "Persetan
dengan kalian semua!"
Mereka turun di landasan yang mirip Virginia, menurut dugaannya, melihat
?situasinya dan ia dipaksa berbaring di lantai belakang mobil lain, sedan Buick.
?"Kuharap kau tidak terlalu sengsara," kata pemimpinnya, pertama kali berbicara
sejak New York. Tapi saat itu, dalam keputusasaannya, Logan meng1-anggapnya tidak lebih dari
sekadar menyadarkannya. Ia menerimanya. "Dengar, keparat, dengan tujuanku,
persetan dengan kesengsaraan."
Selama setengah jam berikutnya kebisuan kembali merebak hingga seseorang
?menepuk bahunya. "Oke, kau boleh duduk sekarang."
Dengan susah payah, ia berjuang untuk berlutut, kemudian dua pasang tangan
membantunya duduk di kursi belakang.
"Kenapa," katanya sambil membebaskan tangannya, "kau ingin aku melihat tempat "
?* Ia terdiam, ternganga. Apa yang menjulang di hadapannya begitu memukau, sehingga
sejenak ia 579 tidak mampu memahaminya. Mereka baru saja melaju melewati gerbang dan memasuki
jalur menuju bangunan tersebut. "Ini..."
"Ya, Sir, tentu saja. Gedung Putih."
Mereka berhenti di pintu masuk Timur dan Logan dibantu turun.
"Sekali lagi, aku minta maaf atas ketidaknyamanan-mu, Sir," kata pria senior
itu. "Kami khawatir kau menghindari kami, dan tugas kami adalah membawamu kemari
secepat mungkin. Kuharap kau mengerti."
Ia kembali ke mobil dan melaju pergi. Seketika, orang lain telah berada di
sebelah Logan. "Lewat sini, Dokter."
Ia membimbing Logan masuk ke dalam gedung, berbelok, dan menaiki tangga sempit.
"Maaf," kata Logan, "tapi bukankah ini "?Ia mengangguk. "Ruang pribadi, ya, Sir. Silakan ikuti aku."
Ia menuju ke koridor panjang, mengetuk pintu dekat ujungnya.
"Masuk," kata suara yang familier itu.
Pengawalnya membuka pintu dan melangkah ke samping untuk mempersilakan Logan
lewat. Di sana, di ruangan yang tampaknya merupakan ruang duduk, telah menunggu
Kenneth Markell, Raymond Larsen, dan Seth Shein!
Sekarang Logan bukan cuma terkejut. Ia menatap mereka;
"Dr. Logan," Markell mengangguk sebagai salam, seakan pertemuan seperti ini, di
tempat ini, merupakan hal yang paling alami di dunia.
580 Tiba-tiba sadar kalau masih mengenakan kaus dan jins, Logan melipat lengannya
"Kenapa aku dibawa kemari?"
"Kami menghadapi situasi," kata Markell. Logan berpaling kepada Shein. "Kenapa
aku dibawa kemari?" "Hei," jawab Shein, sambil melontarkan senyum yang dulu dianggapnya sebagai
senyum ramah, "jangan tanya aku, aku cuma bekerja di sini."
"Situasi" ulang Markell. "Dan kami berpendapat kau mungkin bisa membantu." Ia
diam sejenak. "Mrs. Rivers menderita kanker refraktori-kemoterapi. Ini buruk."
Ibu Negara" Benak Logan berputar kencang. Masuk akal, tentu saja tapi entah
?bagaimana ia sekali lagi terkejut. Ia selalu menyukai Elizabeth Rivers, ia
memilih suaminya pada Pemilu. Yang dikatakan Markell padanya adalah Elizabeth
tengah hancur; mereka telah menerapkan semua kemoterapi yang ada dan tidak satu
pun berhasil. "Maaf."
"Beliau bersedia menjalani terapi alternatif lain yang menurut kami tepat.
Presiden setuju dengan pandangan tersebut. Situasinya cukup mendesak."
"Kami tahu," tambah Shein, "bahwa kau terus meneliti Campuran J."
Ia memandang mereka bergantian. "Dari mana kalian mengetahuinya?"
"Seharusnya kau sudah mengetahuinya, Dokter, kami harus mengikuti perkembangan
hal-hal seperti itu," jawab Markell. "Bagian dari tanggung jawab kami."
Pengrusakan itu ternyata bukan cuma Stillman!
?581 Haram jadah! Monster-monster ini! Tapi bukannya marah, ia malah merasa begitu
gembira. "Ya, tentu saja, aku hampir melupakan bagaimana cara kerja YKA."
Logan menunggu reaksi balasan, kemudian tersenyum kecil ketika tidak
memperolehnya. Benar: MEREKA memerlukan DIRINYA. IA yang sekarang mengendalikan
situasi. IA punya kekuasaan. "Mana temanku" Mereka juga membawa temanku."
"Dia baik-baik saja. Tentu saja ada masalah keamanan dalam hal ini; kami tidak
ingin polisi maupun pers terlibat. Kami harus memastikan kalau dia mengerti akan
hal itu." Logan mengangguk. "Bukankah mestinya ada seorang lagi?"
"Siapa?" tanya Markell, tampak tidak mengerti.
"Dr. Stillman. Atau dia keberatan aku dipanggil?"
Markell memandang Shein, yang tampaknya senang untuk menjawab pertanyaan
tersebut. "Dr. Stillman meninggalkan YKA untuk ladang yang lebih hijau. Dia
menerima tawaran untuk menjadi direktur Pusat Kanker Regional Barat Daya di
Phoenix. Itu cukup jauh untukmu, Logan?"
"Dr. Stillman yang sebenarnya menangani kasus ini," tambah Markell cepat-cepat.
"Sialnya, dia tidak menyetujui arah yang kami pilih. Tapi kami tetap dalam
kondisi baik. Kuharap tidak ada respons negatif dari Yayasan."
Selama itu, Larsen, yang duduk di sudut, tampak seakan ingin menghilang dari
muka bumi. Sekarang, Logan dengan percaya diri berpaling padanya. "Bagaimana
denganmu, Dr. Larsen" Kau setuju?"
582 Larsen melirik khawatir kepada Markell. "Sebenarnya, aku sendiri baru saja
mengerti kasusnya. Tapi, ya, kurasa aku setuju sepenuhnya."
"Begitu" Maksudmu kau berubah pikiran tentang campuran ini" Dan aku" Kau mau
minta maaf?" Larsen bergerak-gerak gelisah di tempatnya. "Aku hanya tertarik pada apa yang
terbaik bagi Yayasan Kanker Amerika," jawabnya keras kepala. "Itu ke-
bijaksanaanku. Seperti biasa."
"Ah, tapi bukan itu yang kutanyakan. Apa kau tidak ingat, kita punya sejarah
bersama, kau dan aku."
"Dokter," sela Markell, "apa ini perlu" Ada saatnya untuk mengesampingkan
perasaan pribadi untuk kepentingan bersama."
"Hei, ayolah," kata Shein, memeluk bahu Logan, "Logan ada benarnya dan kita juga
tahu itu. Kau" ia menunjuk Larsen "memperlakukannya seperti sampah. Kalau dia? ?ingin melihatmu merintih sedikit, aku, salah satunya, tidak bisa
menyalahkannya." Ia tersenyum riang pada koleganya. "Izinkan aku berbicara
sebentar dengan Dr. Logan."
Markell mengangguk. "Silakan."
Shein mengajak Logan ke kamar mandi di sebelah dan menutup pintu di belakang
mereka. "Bagus." Ia tertawa, menggerakkan ibu jarinya ke arah ruang yang baru saja
mereka tinggalkan. "Aku menikmatinya seperti dirimu." Ia menggosok rahangnya.
"Dan jauh lebih menikmatinya daripada pertemuan terakhir kita."
"Bagaimana bisa jadi begini?" tanya Logan dingin.
Shein mengangkat bahu. "Hei, sudah kukatakan kalau kau bisa mengandalkan aku,
bukan" Dan seka - 583 rang kita di sini, kembali di atas pelana Lone Ranger dan Tonto." Ia
?merendahkan suaranya. "Kau tahu yang paling baik" Ini tawaran tanpa kelemahan.
Kalau dia bereaksi, kita mendapat nama baik. Kalau dia meninggal, Stillman yang
disalahkan. Maksudku, kau seharusnya melihat keadaannya, begitu lemah sampai
tidak bisa bergerak. Wanita itu menghabiskan lima bulan pengobatan yang sia-
sia!" "Markell bersedia menerimanya?"
"Pilihan apa lagi yang ada untuknya" Dia sudah sangat putus asa."
Logan tersenyum. "Kedengarannya bagus. Ayo kembali dan menyelesaikannya."
"WW/?" tanya Markell begitu mereka muncul.
"Kau benar. Jelas sekali, kita harus berusaha sebisa mungkin." Logan diam
sejenak, kemudian memandang Shein. "Aku ingin mengumpulkan timku, tentunya."
Shein tersentak. Untuk pertama kalinya Logan melihatnya tidak mampu bicara.
"Aku mengerti," kata Markell menyetujui.
"Kupilih sendiri orang-orangnya mulai dengan Dr. Como dan Ruben Perez."?"Tentu saja. Siapa pun yang kauperlukan."
"Bagaimana dengan FDA" Kita akan bekerja dengan campuran yang belum diuji."
Markell melambai. "Bisa diatasi. Katakan saja berapa banyak obat yang
kaubutuhkan, kita bisa mengambilkannya untukmu besok."
"Bagus." Logan mengalihkan pandangannya dari Markell, ke Larsen, ke Shein.
"Terima kasih, Tuan-tuan. Nah, sekarang di mana aku bisa memperoleh pakaian
ganti" Aku ingin menemui pasienku."
584 di-Ncun dun di djvu kun u n Lu k dlmhader (dliiiliad.co.ee) oleh
Dilaiang nieng komeisil kan atau kf-siulun menimpu undu sclumunyu
Suatu malam, hampir sepuluh bulan kemudian, Logan merasa bahunya ditepuk. "Mrs.
Rivers," katanya, terkejut. "Aku yakin kau berjanji akan berdansa denganku,
Dokter." "Itu pasti salah satu kebohongan yang dikatakan para dokter untuk membangkitkan
semangat pasiennya." Ia menyeringai malu-malu, menyadari puluhan mata yang
tengah menatap mereka. "Saya tidak ingin mempermalukan Anda di depan semua orang
ini." "Itu yang selalu dikatakannya pada saya," kata Sabrina, "padahal tidak ada yang
memandang kami. Dia ini cuma tidak tahu bagaimana caranya bersenang-senang."
"Well, aku tidak mudah malu. Ayolah, lagunya lambat. Jangan khawatir, kupimpin."
Mrs. Rivers meraih tangannya dan membimbingnya ke arah kerumunan di lantai
dansa, yang lain segera memberi jalan untuk mereka.
"Kau seharusnya berdansa dengannya," goda Mrs. Rivers, "dia wanita tercantik di
sini." "Nah..." Logan mengubah pembicaraan, menatap
585 ke ruang dansa hotel yang luas tersebut, "berapa lama Anda harus menghadiri
setiap pesta?" Ia tertawa. "Siapa yang tahu, aku cuma bertindak sesuai perintah. Percayalah,
tujuh pesta dansa bukanlah gagasanku."
"Pokoknya," kata Logan, "saya rasa sudah selayaknya Anda mendapat ucapan
selamat." "Terima kasih tapi apa bukannya dua arah" Rasanya bagiku kalian sendiri juga ?merupakan kisah sukses."
Logan tersenyum. "Benar." Yang dimaksud adalah penunjukannya sebagai Direktur
Penelitian Dasar di Institut Penelitian Kanker Roosevelt yang bergengsi di New
York dengan Sabrina sebagai Direktur Uji Klinis. "Mereka membuat kami cukup
?sibuk." "Tapi kuharap kau ada kalau kubutuhkan."
"Tentu saja." Logan lega mendengarnya berkata begitu. Ia tampak ceria dan dalam hal ini Logan
?lebih bangga lagi hasil CAT scan-nya bersih selama lima bulan lebih. Tapi ia
?juga mengetahui kalau penyakit ini sulit untuk dipastikan sembuh sepenuhnya:
selama beberapa waktu Mrs. Rivers harus diawasi dengan ketat.
"Katanya kau mau melakukan uji coba besar-besaran dengan obatmu."
"Ya, masih banyak yang harus kami ketahui dari campuran ini. Saya ingin
memperoleh dua ratus pasien untuk uji coba ini."
"Kau sudah mematenkannya?"
Logan menyeringai. "Seberapa dekat hubungan Anda dengan IRS?"
"Jangan khawatir, aku bisa dipercaya."
"Pokoknya, tiga perempat keuntungan akan di -
586 berikan pada putri Nakano. Percayalah, uang bukan tujuannya."
Elizabeth Rivers memandangnya lekat-lekat dan mengangguk. "Aku tahu."
"Aku tidak tahu bagaimana caranya bersenang-senang?" tuntut Logan, sambil
membuka pintu kamar hotelnya. "Aku" Kau keliru menilai orang, Nyonya."
Sabrina tertawa. "Baiklah, kuakui, kau tahu cara bersenang-senang yang seperti
ini." Logan menatapnya dengan lembut sekaligus bernafsu. Sabrina mengenakan gaun hitam
Versace, sangat seksi sekaligus anggun. "Kemari."
"Tunggu dulu, please. Aku harus melepas perhiasan ini dulu, bukan" Ini sewaan."
Logan melepas tuksedo dan sepatunya dan membaringkan diri di ranjang yang
terlalu besar itu. Dengan santai ia meraih remote dan menghidupkan TV. "Sudah
siap" Kau membuatku sinting."
"Kau sudah sinting, Logan. Itu salah satu yang kucintai darimu." Ia melepaskan
anting-anting keduanya dan meletakkannya di atas lemari pendek. "Nah. Siap." Ia
naik ke ranjang dan jatuh ke dalam pelukan Logan.
Mereka begitu tenggelam dalam ciuman penuh nafsu, hingga kata-kata di latar
belakang mereka tidak terdengar.


Obat Pamungkas The Magic Bullet Karya Harry Stein di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Pihak berwenang dari Yayasan Kanker Amerika yang terkenal hari ini
mengumumkan..." 587 Sepasang Naga Lembah Iblis 3 Pendekar Pedang Pelangi Karya Sriwidjono Dendam Asmara 8
^