Pencarian

Kisah Cinta Abadi 2

Taj Mahal Kisah Cinta Abadi Karya Timeri N Murari Bagian 2


menjadi sebuah tempat yang tersia-sia, dihantui oleh ruhnya. Dia masuk ke tempat
yang belum pernah dimasuki oleh seorang pun, dan tidak ada yang bisa masuk ke
sana. Aku telah menjadi kesultanannya, kerajaannya, subjeknya. Belenggu ini
terasa berat, mencekik, dan melekat rapat bagaikan besi di hatiku. Hanya dia
yang bisa membebaskanku dari rasa sakit, dari keberadaanku yang bagaikan mimpi,
yang tidak kuketahui dengan pasti, apakah aku hidup atau berada di dunia lain.
"Apa yang harus kulakukan?"
Sang Jenderal telah menjadi guru pribadiku hampir seumur hidupku, sejak saat aku
sudah cukup kuat untuk mengangkat pedang. Dia telah mengajariku seni-seni rumit
permainan pedang, menunggang kuda, bergulat, dan taktik-taktik di medan perang.
Seperti semua leluhurku, aku terlahir sebagai pemberani. Tidak bisa tidak.
"Lupakan dia," tukasnya kasar, berteriak mengatasi percikan air. Dia menikmati
kemewahan di istana, budak-budak wanita yang terlihat menarik di matanya, dan memijat
tubuhnya, tertawa ketika dengan kurang ajar dia mencubit paha seorang budak
dengan tangannya. Cubitan itu membekaskan noda basah di choli si budak. "Aku
tahu, itu adalah nasihat yang salah bagimu, Shah Jahan. Tapi, aku belum pernah
menjadi seorang bangsawan. Aku benar-benar terkesan pada peribahasa Istana:
'Jika sang raja bersabda pada siang hari, saat ini malam hari, kita harus
berkata, lihatlah bulan dan bintang-bintang.' Tapi, kau telah bertanya kepadaku
dan aku telah menjawabnya. Camkan, kau bisa melakukannya. Lupakan dia."
"Aku tidak bisa."
"Kau pasti bisa, suatu saat."
"Sudah berbulan-bulan lewat sejak aku melihatnya. Tapi, sepertinya baru kemarin
kami berbicara dan saling menatap. Bahkan, jika aku memiliki lukisan dirinya,
pasti lukisan itu tidak akan begitu jelas. Satu-satunya kenikmatanku hanyalah
dengan memanggil kenangan itu. Aku memoles kenangan itu bagaikan sebuah berlian
besar yang diberikan Humayun kepada Babur. Katanya, harga berlian itu bisa
memberi makan seluruh penduduk dunia selama dua hari. Dia sama berharganya
dengan berlian itu bagiku. Setiap saat aku bermimpi, aku melihat dia begitu
segar, rambutnya yang seperti sutra, kulitnya yang bagaikan gading dalam cahaya
lampu. Aku bertanya-tanya, apa yang akan kulihat pada siang hari" Aku iri, iri
kepada orang-orang yang telah Tuhan tempatkan di sampingnya.
Budak-budaknya, pelayannya, ibunya, ayahnya, bibinya, pamannya. Mereka jauh
lebih beruntung daripada aku."
"Kalau begitu, jadilah seorang sanyasi. Mengembaralah untuk mencari Tuhan,
pakailah baju karung berdebu, dengan patung Arjumand yang tergantung di lehermu.
Cinta tidak layak bagi para pangeran. Kau bukan seorang prajurit atau orang
biasa. Kau adalah Shah Jahan. Kau akan menikahi seorang perempuan yang memang
sudah seharusnya. Bukan demi cinta, tetapi demi politik. Apakah Babur menikah
karena cinta" Apakah Humayun juga begitu" Apakah .?"
"Ya, dia begitu. Humayun begitu." "Dan ingatlah bencana yang terjadi karena
tindakannya." Mahabat Khan mengabaikan fakta lain bahwa kakek buyutku dengan konyol mematuhi
instruksi ayahnya: "Jangan menyerang saudara-saudara lelakimu, meskipun mereka
mungkin layak mendapatkannya" dan hasilnya membawa masalah bagi dirinya. Tidak
ada hubungannya dengan cinta kakek buyutku kepada Hamida. Aku tidak akan membuat
kesalahan yang sama. "Apakah Akbar begitu" Jahangir?"
"Aku mendengar ayahku terobsesi kepada Mehrunissa."
Mahabat Khan melirikku, kemudian memandang para perempuan yang sedang menunggu
kami. Dengan bijaksana, dia menolak untuk tenggelam dalam pembicaraan ini, dan
juga mengingatkanku. Perjalanan sang Sultan ke liang kubur masih jauh dan dia pasti akan mendengar
bisikan paling halus sekalipun di lingkungan istana. Sedikit saja ada
kesalahpahaman dengan nama perempuan itu, hidup kami pasti terancam.
Mehrunissa! Dia adalah sebuah teka-teki, suatu lingkaran berbelit-belit yang
harus kuurai di tempat rahasia dan pribadi dalam pikiranku sendiri. Ah, jika aku
bisa berbicara dengan seseorang yang bisa kupercayai, seseorang yang tidak akan
begitu saja meneruskan kata-kataku, mengartikan kata-kata itu untuk
kepentingannya sendiri, ke telinga ayahku. Apa yang diinginkan oleh Mehrunissa"
Aku mendengar bahwa ambisinya tidak terbatas, sebagaimana kesultanan ini
sendiri. Dia tidak bisa menjadi permaisuri, karena ibuku, Jodi Bai, adalah istri
pertama ayahku. Tetapi, Mehrunissa juga sudah menikah dan tidak bisa bercerai;
para mullah yang mengawasi tidak akan mengizinkan ayahku menikah dengan seorang
janda cerai. Aku meragukan apakah Mehrunissa ingin menjadi seorang selir yang
tinggal di dalam harem, dikelilingi para perempuan lain dan dihancurkan
kebosanan. Itu akan menjauhkannya dari singgasana. Kupikir, jika ayahku memang
terobsesi, entah bagaimana caranya, dia pasti akan membawa Mehrunissa ke
dekatnya, dan telinganya akan selalu siap mendengar bisikan perempuan itu.
Mungkin Mehrunissa bisa menjadi sekutuku, menggemakan bisikanku sendiri:
Arjumand, Arjumand. "Aku sudah mengajukan pertemuan dengan
ayahku, tapi dia menundanya."
"Tidak diragukan lagi, dia berharap hasratmu terhadap gadis itu akan memudar dan
kau akan kembali mendapatkan akal sehatmu. Saat itu dia baru mau menerimamu."
"Dia pasti berpikir jika aku bisa melupakannya, karena dia menyetujui
kedatanganku besok. Tapi, api itu masih membara dalam diriku. Aku akan
meminta .." "Berbicaralah kepada ayahmu dengan lembut. Tidak ada yang bisa meminta atau
memerintah di tanah ini kecuali dia. Dan tetaplah berpikir logis." Dia memilih
seorang gadis Kashmir dan mendorongnya ke arahku. "Ambillah perempuan ini untuk
memuaskan hasrat itu. Yang kau rasakan itu hanya nafsu."
"Bukan. Ini cinta." Aku memberi isyarat agar gadis itu menjauh.
"Baiklah, ingat nasihatku. Pikirkan dengan saksama sebelum kau berbicara dengan
Padishah. Para lelaki sering kali memenggal kepala mereka sendiri dengan lidah
mereka. Yang bisa kukatakan hanyalah, ingatlah, kau adalah pangeran Shah Jahan."
Istanaku terletak jauh di dekat hulu sungai dari benteng. Aku yang merancangnya
sendiri, dan lebih disempurnakan lagi dengan saran-saran para ahli bangunan dan
seniman ayahku. Aku menghabiskan banyak waktu bersama mereka, mengamati mereka
mengonstruksi model-model bangunan yang telah didirikan oleh ayahku di Agra dan
Delhi. Hal ini membuatku tahu bahwa batu yang keras dan padat bisa dibentuk selentur tanah liat
dan digunakan untuk menciptakan rancangan-rancangan yang rumit. Orang-orang
Hindu, yang merupakan ahli bangunan paling hebat di dunia, telah menemukan bahwa
atap raksasa dan tembok-tembok besar bisa disangga dengan bobot mereka sendiri.
Kuil-kuil dan istana-istana mereka, seperti salah satu yang ada di Gwalior,
berbentuk lengkungan indah, disangga oleh keseimbangan bobot lengkungan itu
sendiri. Itu adalah salah satu contoh yang sudah kami pelajari. Atas perintah
kakekku, merekalah yang membangun istana di Fatehpur-Sikri, yang sekarang sudah
tidak digunakan lagi. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana keterampilan mereka
bisa menjadikan batu menyerupai kayu, dan bagaimana mereka bisa menyempurnakan
suatu sistem konstruksi untuk menyangga sebuah bangunan untuk selamanya"
Istanaku sendiri lebih sederhana, menyerupai sebuah kolam air mancur.
Bangunannya bertingkat-tingkat ke bawah seperti jatuhnya air, dengan jalan masuk
di tingkat paling atas. Di luar, di atap setiap fondasi, aku membuat sebuah
taman dan memenuhinya dengan beragam jenis semak berbunga.
Dulu bangunan ini dibangun untuk kenikmatanku, sekarang tampaknya tidak cocok
untuk kesendirianku. Istanaku menggemakan kehampaan hatiku. Saat senja, aku
memandang ke arah rumahnya, yang terlihat di antara pepohonan. Aku membayangkan
dia sedang menatap keluar, ke
arahku, dan pada waktu-waktu lain dia mengamati saat aku menyusuri kota untuk
melakukan tugas-tugas kenegaraan. Jika saja aku bisa melihatnya sebentar .
tetapi dia begitu tersembunyi di balik layar kemurnian yang terkutuk.
"Siapkan seorang perempuan dan bawa dia kepadaku."
Malam itu dingin, aroma bunga tercium semanis anggur kuning. Aku bisa
membayangkan tubuhku tak berjiwa, melupakan jikalau aku memiliki perasaan dan
pikiran, dan berpura-pura jika aku hanya memiliki tubuhku. Para musisi,
tersembunyi di balik layar semak-semak, memainkan raga malam. Melodinya begitu
lembut, melankolis, meratapi hari-hari yang bergulir. Lupakan. Lupakan. Lupakan.
Sungguh tidak mudah untuk membuat otak buta, tidak seperti menutup mata, karena
di sana tidak ada suatu kenangan tunggal semata, tetapi keseluruhan jagat raya
ingatanku. Perempuan yang mereka bawa untukku masih muda dan bertubuh montok. Dia hanya
mengenakan gelang kaki dan gelang tangan, rambutnya terurai hingga pinggul.
Kulitnya begitu mulus dan putih; menyentuhnya bagaikan menyentuh emas. Aroma
tubuhnya harum karena wewangian. Rekan-rekannya melepaskan pakaian dan turbanku,
lalu mulai mengolesi seluruh tubuhku dengan minyak. Hasratku juga mulai bangkit,
karena pengaruh cinta dan minuman anggur.
Mereka berbisik di telingaku, menjanjikan kenikmatan yang belum pernah kuketahui
sebelumnya. Tawa mereka bagaikan musik, yang melenakan hati. Di atas kepalanya,
bulan tampak bagaikan sekeping koin perak yang baru dipoles dan tampak pudar,
diselubungi awan tipis, dan bintang-bintang terang yang dingin bagaikan serbuk
perak. "Banteng telah menerkam rusa," aku mendengar sebuah bisikan dan nada itu begitu
lembut memasuki telingaku.
Semua berjalan begitu memabukkan, diiringi alunan musik, dan selama sesaat
keriuhan jangkrik yang mengerik pada malam ini menjadi bisu. Kemudian, jangkrik-
jangkrik itu mengerik lagi serempak.
Oh, Arjumand! Prajurit yang menjaga pintu masuk diwan-i-khas menerima belatiku yang berhias
emas dan batu mirah. Bahkan aku pun tidak bisa mendekati ayahku dengan membawa
sejata. Sang Padishah duduk di singgasana, dikelilingi oleh para menteri yang
berdiri, di antara mereka terdapat Ghiyas Beg, kakek kekasihku. Aku membungkuk
dan ayahku menyambut kedatanganku dengan acuh tak acuh. Karena dia tidak
mempersilakan aku duduk, aku juga tetap berdiri.
Para menteri bergiliran berbicara, dan ayahku mendengarkan kata-kata mereka
dengan saksama. Ketika mulai menduduki takhta, perhatian ayahku mengagetkan
orang-orang yang memercayai Akbar,
yang yakin jika ayahku tidak akan pernah bisa menjadi pemimpin yang bertanggung
jawab. Akbar sempat berpikir untuk melantik abangku Khusrav menjadi sultan baru,
tetapi ketika ajal menjemputnya, Akbar mengubah pikirannya dan mewariskan takhta
kepada ayahku, yang menerimanya dengan sangat antusias, dan segera berusaha
masuk ke dalam kerumitan kesultanan ini dengan segala urusannya. Akbar
meninggalkan kami sebuah negeri yang stabil, harta karun melimpah, dan hukum
yang memberikan keamanan dan keadilan bagi rakyat kami. Melawan protes para
mullah, dia menghapuskan jizya, pajak yang harus dibayar oleh orang-orang kafir.
Dan karena kebanyakan rakyat kami beragama Hindu, hal itu membuat mereka merasa
nyaman karena diperlakukan setara dengan kaum Muslim. Dia mereformasi hukum
pajak bagi para petani, mengubah pembayaran dari setiap tahun Islam menjadi
setiap tahun Masehi, dan dalam waktu-waktu sulit membantu mereka dalam hal
keuangan. Dia melarang pernikahan kanak-kanak dan mencoba melarang suttee,
kebiasaan Hindu yang kejam-membakar janda hidup-hidup, termasuk mewariskan
sistem pemerintahan negeri saat ini melalui empat menteri.
Tengah hari sudah lewat saat rutinitas berakhir dan para menteri pergi. Sang
Padishah tampak lesu. Matanya berwarna seperti buah ceri muda, bukan karena
kelelahan, melainkan karena kebiasaan minumnya yang berlebihan.
"Khurrum!" Dia memanggil nama kecilku. "Mendekatlah padaku."
Dia memelukku. Aku mencium aroma cendana yang terasa akrab. Kenangan masa
kecilku kembali muncul, ketika dia memainkan beberapa permainan denganku apabila
waktu dan keadaan mengizinkan. Dia bangkit, menguap, dan kami berjalan ke
kamarnya. Dia merangkulku erat-erat. Sejak abangku Khusrav melakukan
pemberontakan dan percobaan pembunuhan sang Padishah, diriku mendapatkan
perhatian dan penghormatan lebih dari ayahku. Selain nama dan gelarku, aku juga
diberi sebuah jagir Hissan-Feroz yang luas. Bertahun-tahun yang lalu, Akbar
sempat memberikan jagir yang sama kepada ayahku. Tetapi, aku yakin kasih
sayangnya kepadaku juga disebabkan oleh kurangnya kasih sayang Akbar kepada
dirinya. Dia ingin memperbaiki keadaan, dan tidak mengharapkan aku tumbuh
sehampa dan kekurangan kasih sayang seperti dirinya.
"Apa yang kau inginkan, Khurrum?"
Meskipun dia mengetahui alasan mengapa aku meminta pertemuan dengannya, dia
bertanya hanya demi sopan-santun kebangsawanan, bagaikan memperingatkan aku
bahwa apa yang dia tunjukkan tidak bisa diterima begitu saja. Aku harus
bernegosiasi tentang masalah ini dalam batas-batas protokoler yang tepat.
"Mengapa aku harus menginginkan sesuatu?"
"Kau akan tahu jika orang-orang menginginkan pertemuan dengan Padishah karena
mereka menginginkan sesuatu-dan aku satu-satunya yang bisa memberikan hal itu kepada
mereka." Kami memasuki kamarnya; memandang ke luar, ke arah Sungai Jumna.
Dinding batu paras merah ruangan ini dipahat dengan elok, tetapi tidak cocok
dengan bayanganku tentang tempat tinggal indah seorang sultan. Para budak
melangkah maju untuk melepaskan turbannya, ikat pinggang dan selendang emasnya,
serta belati emas dengan sebutir berlian besar di ujung gagangnya. Dia mengambil
segelas minuman anggur yang sudah didinginkan.
"Kita memiliki masalah dengan Rajput lagi. Mewar menolak untuk memberi
penghormatan. Dia tidak akan puas hingga kita menghancurkannya. Kupikir
penghancuran Chitor oleh Akbar telah membuatnya jera." Dia menyandarkan
punggungnya ke dipan, tampak muram, dan tiba-tiba ingat jika aku berada di
dekatnya, lalu tersenyum kepadaku. "Ayo, katakan kepadaku, apa yang kau
khawatirkan" Jika bisa, aku akan menghilangkannya."
Aku tahu, aku harus berbicara dengan mengesankan; aku berdoa semoga lidahku
tidak akan membeku karena keinginanku yang menggebu-gebu. Jika aku tidak bisa
meyakinkan Padishah sekarang, Arjumand dan aku tidak akan memiliki harapan.
Ayahku menghabiskan isi gelas anggurnya dan menyuruhku lebih mendekat. Wajahnya
berkerut-kerut karena masa mudanya yang keras. Matanya tampak buram, setengah
tertutup dalam sikapnya yang biasa saat dia
mendengarkan dengan saksama. Aku tidak bisa memperkirakan suasana hatinya.
Apakah sedang pemurah dan baik" Ataukah sedang kasar dan kejam" Sosoknya begitu
kaku; topeng khas seorang sultan.
"Padishah, Sultan Hindustan, Penakluk Dunia, Pembela Keyakinan, Prajurit Tuhan,
Ayahku. Ayah tampak baik-baik saja."
"Aku memang baik-baik saja," dia menyetujui, "jika anakku tidak bertingkah
seperti bangsawan yang menjilat. Kau adalah anakku yang paling kusukai dan
kusayangi; kau tak perlu bertingkah dengan formalitas seperti itu di hadapanku."
Dia mencubit pipiku dan membelai wajahku; kebiasaannya jika menunjukkan kasih
sayang. Aku membungkuk karena keramahannya, tidak sepenuhnya memercayai ayahku.
Jika aku tidak menghormatinya dengan formalitas seperti ini, dia pasti akan
kecewa. Selama sesaat, aku merasa beruntung karena dia mengizinkan aku untuk
duduk di sebelahnya. Tangannya masih memegang lenganku.
"Bicaralah, bicaralah," dia kembali mengambil minuman anggur. Dua gelas lagi,
dan perhatiannya akan mengembara.
"Aku sedang di Pasar Malam Bangsawan Meena
ii "Tamasha yang menyenangkan! Kupikir aku harus mengatur agar acara itu
diselenggarakan lebih sering. Setiap bulan, bukannya hanya setiap tahun. Para
perempuan juga sangat menikmatinya.
Bagaimana menurutmu?"
"Jika acara itu menyenangkan bagi para perempuan, maka harus diselenggarakan
lebih sering." "Aku akan memikirkannya lebih dalam." Perhatiannya terganggu oleh seorang budak
yang memijat lehernya. "Bukan, di sana, Bodoh . ah."
"Aku tahu sebentar lagi pernikahanku akan segera diatur .."
Perhatiannya kembali dengan cepat, dan tiba-tiba dia menjadi waspada.
"Kebahagiaanku dan pilihan siapa pengantinku ada di tangan Ayah, dan aku akan
menerima siapa pun yang Ayah nilai cocok, baik untukku maupun untuk kesultanan.
Di pasar malam, aku melihat seorang gadis yang menurutku paling cantik. Dia
menjual perhiasan perak. Mungkin Ayah juga melihatnya. Dia berasal dari keluarga
yang sangat baik. Kakeknya adalah Ghiyas Beg, Itiam-ud-daulah Ayah." Aku
berhenti sesaat, mencoba memperkirakan efek kata-kataku. Sang Padishah tidak
berkata apa-apa, seperti telah mengetahui apa yang akan kukatakan selanjutnya.
"Bibinya adalah Mehrunissa, putri Ghiyas Beg. Dia adalah istri .."
"Aku mengenal suaminya," dia berkata dengan cepat, jarinya mengetuk-ngetuk
lenganku dengan tidak sabar. "Aku juga telah melihat gadis itu. Dia manis."
"Dia cantik jelita," dengan lembut aku membantah ayahku. "Otak dan hatiku
dipenuhi perasaan kepadanya." Aku menahan napas, tetapi tidak bisa mengendalikan
lidahku. "Aku mencintainya."
"Begitu cepat! Hanya sesaat kau bersamanya, dan kau sudah mengatakan kau
mencintainya."

Taj Mahal Kisah Cinta Abadi Karya Timeri N Murari di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aku mendengar suara gema, pelan dan penuh rasa cemburu. Saat masih seumurku, dia
hidup dalam kesendirian, di bawah bayangan Akbar. Hidupnya, harapannya,
impiannya, semua ditentukan oleh kakekku yang berkuasa. Sungguh tidak mungkin
untuk menyuarakan kebutuhan akan kasih sayang. Akbar tidak memberikannya sama
sekali kepada anak-anaknya. Ayahku menikah karena Akbar menginginkan persekutuan
yang kuat dengan pangeran Rajput, Rana daerah Malwar. Jika Jahangir mencintai
perempuan lain, dia pasti tidak bisa mengungkapkannya karena takut kepada Akbar.
Kuharap dia akan memutuskan hal ini berdasarkan kenangan pribadinya, bahwa dia
akan memberiku kebahagiaan yang pernah dia ingkari. Dari tekanan lembut jari-
jarinya, denyut nadinya yang meningkat, aku merasakan harapan. Aku mencari
tanda-tanda di wajah dan matanya, sikap tubuhnya, di lipatan sarapa-jubah
kebesaran-sutranya, di gulungan kancing-kancing emas serta ornamen-ornamen
mutiara dan berliannya, bahkan di seberkas sinar matahari suram yang menyinari
lemari perak di sudut ruangan.
Dan ayahku mengamatiku. Tatapannya penuh rasa ingin tahu, bagaikan dia menemukan
orang yang berbeda di dalam diri anaknya. Aku
membayangkan bisa menemukan kebaikan hati dan simpati di sana. Dia akan mengerti
kerinduanku, rasa sakitku, karena dia juga harus mengalami kebingungan yang sama
karena perasaannya terhadap Mehrunissa. Dia pernah melihat Mehrunissa sekali,
saat masih muda, ketika ayah Mehrunissa pertama kali melaksanakan tugas dari
Akbar. Mungkin sejak saat itu dia sudah mencintai Mehrunissa, tetapi tidak ingin
mengungkapkannya kepada Akbar. Aku telah mengetahui ketertarikan ayahku terhadap
Mehrunissa dari salah seorang budak perempuan kesayangannya, tetapi ayahku tidak
pernah membicarakan hal-hal yang begitu pribadi denganku. Dia telah mengubur
cintanya untuk mematuhi ayahnya; aku yakin saat ini dia tidak akan menolak
ungkapan perasaanku. "Akbar," dia mulai berbicara perlahan, membaca pikiranku,
"sering menceramahiku tentang tugas-tugas seorang pangeran. Sudah takdir kita
untuk memerintah. Tuhan sendiri yang memilih kita untuk tujuan itu. Kita bukan
dacoit ataupun perampok yang merebut kerajaan. Kita adalah keturunan Ghengis
Khan dan Timur-i-leng, dan kesultanan yang telah kita bangun dari Hindustan
berasal dari kualitas kita sebagai penguasa. Seorang pangeran hanya boleh
memikirkan keuntungan bagi kerajaannya. Jika ia lebih memikirkan dirinya
sendiri, kerajaan setelahnya, semua akan hilang. Kau harus membaca kitab
Arthasastra karya Kautiliya. Dengan bijaksana, orang-orang Hindu telah
menuliskan tugas-tugas seorang pangeran. Sebelum melakukan
segala sesuatu, pertama-tama yang kupikirkan adalah keuntungannya bagi
kesultanan, atau bagaimana efeknya terhadap negara. Saat kau sudah naik takhta,
kau akan belajar untuk berpikir dengan cara ini. Sekarang, untuk pertanyaanmu
tentang gadis ini, Arjumand, aku mempertimbangkannya bukan sebagai ayah seorang
anak lelaki yang kucintai, tetapi sebagai seorang sultan yang memikirkan putra
mahkotanya. Hidup kita, Putraku, bukan untuk diri kita sendiri. Hidup kita hanya
untuk kerajaan. Bagaimana pernikahan dengan Arjumand bisa memperkuat kesultanan"
Pikirkanlah hal itu."
Aku sudah tahu jika aku kalah, dan aku tidak bisa berpikir jernih di antara
degup jantungku yang kencang. Dalam keputusasaan, aku menukas cepat, "Itu akan
membuatku bahagia." "Ah, Badmash, kau tidak mendengarkan aku." Dia menonjokku perlahan. "Membuatmu
bahagia" Kukatakan kepadamu, hidup kita bukan milik kita sendiri. Seorang rakyat
jelata bisa berkata, 'Aku akan melakukan itu,' dan melakukannya. Kepada siapa
tindakan itu berakibat" Hanya kepada dirinya sendiri, mungkin hanya bagi
keluarga terdekatnya. Tapi, jika Shah Jahan yang berkata, 'Aku akan melakukan
itu karena itu membuatku bahagia,' itu akan berakibat kepada seluruh kesultanan.
Apa yang ada dalam diri Arjumand" Kekayaan" Kekuasaan" Sebuah kerajaan"
Persekutuan politik" Apakah menikahinya akan mendamaikan kita dengan seorang
musuh, seperti yang selalu Akbar
sarankan" Apakah itu akan memperluas kerajaan" Jika jawabannya 'y3' untuk setiap
pertanyaan, kau bisa mendapatkan restuku untuk menikahinya."
Matanya masih menyorotkan kasih sayang, tetapi di baliknya, aku bisa menemukan
tatapan penuh kekuasaan. "Kau sudah tahu jika jawabannya 'tidak'."
"Maka masalah ini sudah diputuskan." Dia menarikku ke pelukannya dengan penuh
kasih sayang, dan aku bisa merasakan aroma masam minuman anggur dari napasnya.
"Setelah pernikahanmu yang untuk kepentingan negara, ambillah dia sebagai istri
keduamu, jika kau masih merasakan cinta yang sama kepadanya. Kau masih muda, kau
akan melupakan hasratmu ini."
"Aku ingin dia menjadi istriku yang pertama dan satu-satunya," aku mulai
membandel. "Aku tidak akan .."
"Jangan memerintah dalam pertemuan denganku." Alis ayahku bertaut, dan
tatapannya menjadi galak, menepis kasih sayangnya. "Kau akan melakukan apa yang
kuperintahkan. Nikmatilah tubuh perempuan lain. Begitu banyak di antara mereka.
Pilihlah siapa saja yang kau mau, dan berhentilah memikirkan gadis itu. Sekarang
pergilah, aku lelah."
"Kumohon .." "Pergilah." Aku terlalu lama ragu-ragu untuk mematuhi perintahnya, dan melihat kemarahannya
mulai memuncak. Aku tidak ingin membuat sang Sultan
lebih kesal lagi. Aku bangkit dan membungkuk, tetapi saat aku mencapai ambang
pintu, dia memanggilku lagi.
"Aku sudah memilih istrimu."
Aku berlalu tanpa mendengarkan pilihannya.[]
6 Taj Mahal 1043/1633 Masehi Murthi merasa sangat kecewa. Dia memicingkan mata, menatap istrinya, di dalam
cahaya yang lemah. Lampu ini merupakan sebuah wadah keramik kecil yang berisi
minyak. Sumbunya, beberapa helai kain katun yang digulung, melingkar di dalam
minyak, dengan sedikit bagian yang muncul di mulut wadah. Dia mendesah, membuat
nyala api bergoyang; bayangan menari dan membeku kembali. Tubuh Sita tampak
berkilat, sarinya yang basah kuyup membungkus tubuh lemahnya yang mungil, seolah
dia baru saja berendam di sungai. Di sampingnya, Lakshmi, istri tetangga Murthi,
berjongkok sambil menggendong si bayi. Seperti Sita, bayi itu sedang tidur.
Murthi berjalan terseok-seok keluar dan berjongkok di pintu masuk.
Murthi sangat menginginkan seorang anak lelaki lagi. Setiap hari saat fajar, dia
berdoa agar anak yang akan lahir adalah anak lelaki. Sebelum Gopi, dia memiliki
dua anak lelaki; yang pertama meninggal saat dilahirkan, yang kedua meninggal
saat berusia delapan bulan.
Ram, Ram, dia berbisik, mengapa membebaniku dengan anak perempuan ini" Bagaimana
dia bisa berguna" Anak-anak lelaki, itulah yang kuminta. Anak-anak lelaki akan
mempelajari pekerjaanku, memeliharaku saat aku tua. Seorang anak lelaki tidaklah
cukup. Dia menatap Gopi; Gopi sedang bermain gilli dan dandu dengan anak-anak lelaki
lain. Murthi berdiri dan berjalan menyusuri jalan setapak, menuju kedai di
sudut. Beberapa pria sedang berjongkok di sekitar pintu masuk, menenggak arak
dari gelas-gelas keramik. Sebuah kota telah tumbuh di sekitar maidan, tidak
terencana dan berantakan. Kota itu semakin melebar, berkembang terus setiap
hari. Kebanyakan tempat tinggal berupa gubuk, seperti miliknya, meskipun ada
beberapa rumah-rumah bata yang dibangun untuk para petugas. Ada empat bangunan
kantor besar yang mengatur kehidupan dan kemajuan pembangunan monumen. Kota ini
dinamakan Mumtazabad. Murthi menyesap segelas arak yang kuat, dan memisahkan diri dari orang lain.
Lelaki-lelaki lain juga merupakan buruh kasar: liar, keras, hanya ingin mabuk,
untuk melupakan hasrat mereka. Mereka orang-orang Panjabi: lebih tinggi dan
lebih kekar daripada Murthi. Murthi telah menemukan dua keluarga dari negaranya,
mereka berbicara bahasa Telugu, dan meskipun bukan berasal dari kasta yang sama,
setidaknya mereka memiliki hubungan dengan kampung halamannya. Salah seorang
dari mereka adalah pemotong marmer, yang seorang lagi adalah tukang tembok. Tidak
seperti Murthi, mereka melakukan perjalanan panjang ke utara untuk mencari
kerja. Raja tidak memerintahkan mereka untuk datang kemari. Ada beberapa orang
Tamil juga, dan orang-orang Nair, dan mereka semua-meskipun tidak terlalu akrab
dengan bahasa satu sama lain-setidaknya merasa memiliki identitas yang sama.
Mereka semua bekerja, kecuali Murthi. Ini membuat Murthi bingung dan khawatir.
Setiap hari dia dibayar, berbaris dalam antrean panjang untuk menerima upah,
tetapi setiap saat dia bertanya, jawabannya selalu: Tunggu. Orang-orang lain
yang menunggu tidak menerima apa-apa. Mengapa aku diberi upah" Dia sering
berpikir begitu. Dia tidak bisa menemukan jawabannya. Dia tidak berani bertanya
kepada petugas, karena khawatir tidak akan diberi upah lagi. Hingga dua hari
sebelum si bayi lahir, Sita masih juga bekerja. Dia akan kembali bekerja besok;
mereka tidak akan mampu hidup hanya dari upah Murthi sendiri.
Sita, dengan ribuan perempuan lain, telah mengubah alur sungai. Mengapa alur
sungai harus diubah, tidak ada yang mengetahui, tetapi itulah yang diperintahkan
kepada mereka. Sungai mengalir dalam sebuah saluran yang cukup jauh dari lokasi
monumen, lalu membelok ke dekat benteng. Perlahan-lahan, dengan usaha yang
keras, sementara para lelaki menggali saluran baru untuk mendekatkan sungai ke
lokasi, Sita membawa tanah
segar di dalam sebuah keranjang anyaman kecil dan menumpahkannya ke air. Para
perempuan ini diawasi; mereka tidak bisa berhenti atau bermalas-malasan.
Beberapa pria menggali dengan cangkul, yang lain menyekop tanah ke barisan
panjang baskom yang dibawa oleh para perempuan. Dari hari ke hari, bulan ke
bulan, saluran itu melebar, dan akhirnya sungai sudah terbendung. Sita berhenti
memikirkan hal ini, hanya menunggu upahnya dibayarkan pada sore hari. Lalu, pada
malam hari, para perempuan lain mengambil alih tempatnya dan bekerja di bawah
cahaya ribuan lampu. Tiga puluh tujuh pria berdiri diam dalam keremangan senja, menunggu Sultan di
teras marmer benteng. Isa berdiri agak jauh; seperti mereka, dia mengawasi
kesibukan di seberang sungai, sosok-sosok kecil yang mondar-mandir di dalam
bayangan, membungkuk di bawah bawaan mereka yang berbeda-beda.
Seorang gadis budak menyalakan lampu dan meletakkan lilin-lilin di relung-
relung. Cahaya berkelip-kelip di wajah para pria itu. Mereka telah datang dari
berbagai penjuru dunia, diperintahkan oleh Mughal Agung. Ismail Afandi, seorang
Turki yang gemuk dan periang, Perancang Kubah; Qazim Khan dari Persia, perajin
emas dan perak; Amarat Khan, juga dari Persia, seorang pria dingin bermata sayu,
Ahli Kaligrafi; Chiranji Lal, seorang Hindu dari
Delhi, seorang ahli pemotong dan pengukir batu mulia; Mir Abdul Karim, yang
telah bekerja untuk Sultan Jahangir dan telah diberi hadiah besar berupa delapan
ratus budak dan empat ratus kuda. Dia, bersama Markarrinat Khan, seorang Persia
lainnya, adalah administrator pembangunan monumen. Semua pria ini adalah majikan
bagi para pekerja terbaik-pembuat perhiasan, pelukis, para tukang bangunan yang
terlatih-dari Hindustan dan dari jauh seperti Chatay, Samarkand, dan Shiraz. Di
bawah perintah Shah Jahan, Isa telah memanggil mereka semua, menjanjikan
kekayaan besar yang akan menjadi imbalan karena keterampilan mereka.
Monumen tersebut, dipahat dari kayu, dilukis, masih belum selesai, berdiri di
belakang mereka di lantai marmer. Benda itu adalah ancaman bisu yang menghantui
hidup mereka. Mereka tidak menatapnya, tetapi memandang ke seberang sungai, dan
mencoba membayangkan benda itu berubah, menjulang tinggi ke langit, tetapi tidak
ada yang mampu melakukannya. Itu tidak nyata, impian semata. Sebagai ahli, para
perajin itu menyadari bahwa monumen yang mereka lihat itu terasa akrab, tetapi
ganjil. Monumen itu menyerupai Guri Amir, makam Timur-i-leng di Samarkand;
tetapi bukan; mirip makam Akbar di Sikander, tetapi garis-garisnya lebih bersih
dan tajam; mirip makam Ghiyas Beg, sang Itiam-ud-daulah, tetapi ini jauh lebih
besar. Bentuk ini muncul dalam impian Shah Jahan, Isa menerangkan, dan mereka mengerti.
Sebagai seniman besar, mereka juga memimpikan dan melihat bentuk-bentuk serta citra-
citra yang diubah dari batu oleh tangan mereka sendiri. Benda itu menjelma,
mengawang-awang dalam pikiran sang Sultan, bagian demi bagian, sedikit di sini,
sedikit di sana, dan karena terobsesi, dia telah menerjemahkan bayangan itu ke
dalam gambar, murka ketika seniman-senimannya tidak mampu mereproduksi apa yang
dia perintahkan, membanjiri mereka dengan pujian dan hadiah saat mereka bisa
menangkap maksudnya dan menggambar citra yang dia ingat. Setelah dua tahun
impian itu baru bisa dikuakkan dari balik bayangan pikirannya, dan diwujudkan ke
dalam suatu model kayu di lantai.
Tetapi, ini masih belum lengkap. Mereka telah mengajukan saran yang tidak
terhitung jumlahnya, tetapi semua ditolak oleh sang Sultan yang penuh amarah.
Dia mengumpat dan menjuluki mereka, dan mereka gemetar, karena kekerasan yang
memancar dari wajah dan pikirannya, dan kematian bisa mengancam kapan saja
karena kemarahannya. Isa memerhatikan model itu, tidak mampu untuk melihat suatu
kesalahan. Dia telah hidup bersama hal ini dalam waktu yang lama, sehingga tidak
mampu memikirkan benda ini dalam bentuk atau sosok yang berbeda. Makamnya
berdiri di bagian tengah, menjulang di atas kolom-kolom marmer, dengan masjid di
kedua sisinya. Makam itu tampak damai dalam kesendiriannya, terisolasi, dan Isa
sangat menyukai kesunyiannya.
Di bengkel kerja yang dibangun di istana, ratusan orang membungkuk di atas
gambar mereka siang dan malam, merancang pola-pola dan bentuk paling rumit untuk
dinding-dinding interiornya. Sang Sultan memaksa mereka bekerja keras, menolak
kebanyakan hasil karya, menginginkan rancangan itu diciptakan lebih detail, dan
dibuat lebih indah sehingga semua ide dan rancangan asli telah hilang dalam
lusinan kali. Mereka telah mematuhi semuanya, tetapi tetap saja tidak ada
hasilnya. Sepertinya Shah Jahan ingin mewujudkan kekuatan kekuasaannya dalam
kemurnian bunga-bunga yang mengancam.
Pertentangan yang rumit sedang terjadi di dalam benak sang Sultan, dan
pertempuran itu tampak di monumen tersebut. Dia sedang mencoba menyeimbangkan
kemegahan Mughal Agung penuh hiasan rumit yang menyesakkan dengan kesederhanaan
cinta obsesifnya terhadap sang Ratu. Dia terombang-ambing di antara tekanan yang
berlawanan ini. Kubah-kubah kecil, menara-menara, kubah perak, dinding-dinding
ruby dan lantai berlian, fondasi-fondasi batu paras dan landasan-landasan marmer
hitam, tangga-tangga emas dan pilar-pilar zamrud, dan balkon-balkon mutiara. Apa
yang tidak bisa diciptakan oleh seseorang yang amat kaya raya"
Itu semua, sang Mughal Agung membayangkan, adalah surga. Tetapi, keseimbangan
itu terganggu, dan tiba-tiba dia mengenang kecantikan Arjumand yang sederhana,
tubuh langsingnya, garis alisnya, lengkungan pipinya, hidungnya yang lurus, dan
senyuman yang tidak melebar di wajahnya, tetapi hanya mengambang di atas
kulitnya yang bersih. Dan di antara setiap bentuk, tampak ada di sana-mungkin
muslihat imajinasi-sebuah ruangan tenang yang tak berbatas. Saat dia mengenang
ini semua, dia akan mengenyahkan semua perhiasan yang mendekorasi makam ini,
menginginkan untuk hanya merefleksikan kecantikan sang Ratu dalam proporsi yang
sebenarnya. Shah Jahan bagaikan ingin membangun patung atau melukis potretnya
saja, menerapkan bentuk hidung, mulut, dan matanya ke dalam pintu, jendela, dan
kubah-kubah. Putih adalah warna pagi hari, jadi saat dia menatap kreasinya itu,
dia dan seluruh rakyatnya akan ingat bahwa mereka sedang meratap; bahwa luka di
hatinya terlalu parah untuk disembuhkan. Oh Tuhan, dia menangis diam-diam, apa
yang kulakukan kepadanya"
Saat dia meratap, Isa tetap diam dan tidak berekspresi, tidak tersentuh oleh air
matanya. Shah Jahan menyeberangi teras perlahan-lahan, jubah putihnya menyapu lantai
marmer. Dia tidak memandang, atau berbicara, kepada orang-orang yang berkumpul,
tetapi berjalan perlahan mengelilingi modelnya. Orang-orang yang berkumpul di
situ tetap membungkuk dalam sikap kornish, meskipun Shah Jahan sudah
memerintahkan bahwa tidak boleh ada orang yang boleh mempertunjukkan sikap
berlebihan itu kepadanya. Dia merasakan kegugupan mereka.
"Lampu," dia memerintah.
"Baik, Padishah," mereka berkata serempak.
Mereka berlari mengambil obor, mengambil lilin-lilin dari relung-relung sehingga
teras menjadi gelap, dan hanya model itu yang menyala di dalam cahaya, kecuali
bayangan hitam Shah Jahan yang menimpanya.
Dalam cahaya seperti ini, pikir Shah Jahan, makam ini tampak terlalu kesepian,
terlalu terisolasi. Dia harus mengakui, ada kesederhanaan yang dia nikmati dalam
tiga bangunan ini; masjid-masjidnya kecil dan rendah bagaikan ingin memohon
kemurahan Tuhan akan kemahakuasaan-Nya. Dia mengerutkan wajah; dia berharap
untuk bisa memecahkan kesunyian tanpa merusak kedamaian. Ada sesuatu yang
hilang. Dia bergerak ke arah pagar dan orang-orang bubar untuk kemudian berkumpul lagi
di belakangnya. Hari sudah malam, tetapi dia masih bisa melihat bayangan-
bayangan para pekerja yang bergerak-gerak di antara berkas-berkas cahaya. Dia
tidak bertanya-tanya tentang sosok-sosok kecil yang terus-menerus bekerja keras
tanpa henti untuk memindahkan alur Sungai Jumna, bekerja hanya karena dia
memerintahkannya. Air akan memantulkan monumennya, dan dia mengamati air gelap
yang tenang, mencoba membayangkan bagaimana citra yang akan membayang di
permukaan. Mir Abdul Karim, seorang pria tinggi yang serius, mendekat dan membungkuk


Taj Mahal Kisah Cinta Abadi Karya Timeri N Murari di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rendah. "Padishah, ada satu masalah."
Dia menunggu tanda agar bisa meneruskan. Shah Jahan mengamatinya. Abdul Karim
bercucuran keringat. Dia mengingat sang pangeran muda, dengan tatapan yang
dingin seperti tatapan rajawali. Sekarang, dalam rengkuhan usia dan kekuasaan,
tatapan itu mirip tatapan seekor elang tua, bijaksana, tetapi penuh keteguhan.
"Sungainya," suara Mir Abdul Karim melemah, berdeham sebelum dia meneruskan.
"Perubahan saluran menyebabkan air menyapu lokasi monumen, Padishah. Tanah tidak
akan bisa menahan beban bangunan. Kita harus membangun konstruksinya lebih
jauh .." "Keringkan lokasi itu. Jangan datang kepadaku dengan masalah-masalah sepele.
Kaulah yang membangun, bukan aku."
"Baik, Padishah. Itu akan dilakukan. Tapi, tidak ada batu-besi yang bisa mengisi
fondasi untuk mencegah lebih banyak air yang akan menyapu lokasi."
"Belilah," dia memerintahkan dengan tidak sabar. "Mengapa pembangunan belum
dimulai?" Pertanyaan itu dijawab dengan keheningan.
Akhirnya, Isa berbicara, "Padishah, modelnya belum lengkap. Quran melarang
adanya perubahan jika pembangunan sudah dimulai. Para tukang bangunan hanya
menunggu perintah Paduka."
"Aku harus melakukan semuanya," gerutu Shah Jahan. "Kau harus mempersiapkan
gambar sebagai tambahan bagi makam, yang tidak akan merusak kesederhanaannya."
Orang-orang itu saling bertukar pandang. Sekali lagi, cahaya menerpa model itu.
Mereka menatap . berharap supaya bisa menemukan jawaban, tetapi model itu tetap
membisu. Dan entah bagaimana, model itu tampak bagaikan memiliki nyawa, dan
sudah mulai menjelma. "Pergilah. Besok, aku ingin jawabanmu, Isa!"
Isa tidak bergerak. Orang-orang menghilang ke dalam kegelapan taman di bawah,
saling bergumam satu sama lain. Shah Jahan berbalik dari pagar.
"Seperti apa dia, Isa?" sang Mughal Agung terdengar bagaikan seorang anak kecil
yang ingin diceritai suatu kisah yang sudah akrab, seperti Akbar yang minta
seorang budak membacakan cerita untuknya.
mm Dari bukit di timur lokasi, Murthi mengawasi. Dia berjongkok dengan sabar
bersama Gopi dan Savitri yang sedang bermain dengan tanah di sampingnya. Si bayi
bisa bertahan hidup dan tumbuh, kuat, sehat, dan berkepribadian baik. Menjaga
bayi membuat Murthi merasa tidak enak. Itu adalah pekerjaan perempuan, tetapi
jika dia tidak sedang bekerja, Sita menitipkan si bayi kepadanya. Saat si bayi
harus disusui, Murthi akan membawanya kepada Sita, dan Sita akan terburu-buru
menunda pekerjaannya untuk menyusui si bayi.
Di bawah, kerumunan sudah terbentuk. Para peramal bintang telah memperhitungkan
waktu yang tepat untuk menggali tanah, agar pembangunan
dimulai, dan para mullah sedang berkumpul, berjubah hitam seperti gagak, untuk
melakukan ritual. Semua pekerjaan sudah dihentikan. Murthi menunggu. Dia
mendengar suara genderang dan terompet, dan dari kejauhan di hulu sungai, dia
melihat sebuah prosesi mendekat dari Lai Quila. Sang Sultan berada di atas
tandu, diikuti oleh para prajurit, orang-orang terhormat, dan para petugas
kerajaan. Butuh beberapa saat sebelum mereka mencapai lokasi, dan saat matahari
berada di titik tertinggi pada siang hari, orang-orang yang bersembahyang
membanjiri ruang kosong. Dia melihat asap dupa, kemudian sang Sultan berlutut
dan mencium tanah, kemudian semua selesai. Murthi terkejut karena ritual itu
begitu singkat dan sederhana. Saat sebuah kuil akan dibangun, ritual akan
berlangsung berhari-hari; sesaji yang tak terhingga jumlahnya akan
dipersembahkan, Veda akan dilantunkan dari fajar hingga senja, api akan membakar
jeruk dengan ghee dan susu, santunan akan dibagikan kepada orang-orang miskin.
Dia kecewa dengan tamasha kecil ini.
mm Murthi menghabiskan hari-harinya dengan gelisah dan bosan. Dia bisa mengeluarkan
perkakasnya, sembilan pahat dengan beragam ukuran, yang terkecil sehalus lidi,
yang tampak mudah patah dalam genggaman yang kuat. Dengan desahan keras, dia
akan membungkus mereka kembali di dalam karung goni. Dia sudah mengajari Gopi
bagaimana caranya merawat peralatan penting dan mengasah perkakas ini.
Dia menggali sebuah lubang kecil yang dalam di luar gubuknya, kemudian membuat
sebuah terowongan sempit di ujung satunya, yang membuka di dalam lubang itu. Dia
meletakkan selongsong panjang puputannya di mulut terowongan sehingga ketika dia
memompa, debu terbang dari lubang tersebut. Selama sehari, dia meninggalkan
tanah itu agar mengeras, kemudian memenuhi lubang dengan batu bara yang masih
menyala. Saat Gopi meniup puputan, Murthi menempelkan ujung pahatnya di batu
bara tersebut, dan saat batu bara itu merah membara, dia memindahkannya dengan
capitan, dan memukulnya dengan palu di atas batu-besi yang mulus. Akhirnya, dia
menjatuhkan batu bara itu ke dalam sebuah baskom berisi air agar mengeras. Lalu,
dia mengizinkan Gopi untuk berlatih, dan lama sekali mereka tenggelam dalam
pekerjaan mereka. Suatu malam, saat Murthi duduk di luar gubuknya, dia melihat sekelompok orang
mendekat. Salah satu atau dua orang pernah dia kenali; tetapi yang lain masih
asing baginya, semua berpakaian indah. Pemimpin mereka adalah Mohan Lal, seorang
pedagang rempah-rempah. Biasanya, dia berpakaian lusuh, tidak berharap
memperlihatkan kekayaan melimpah dari usahanya, tetapi malam ini dia mengenakan
baju baru yang bersih. Murthi segera berdiri dan memberikan namaste. Kecuali
lantai tanah, tidak ada tempat lain untuk duduk. Beberapa
duduk bersila, yang lain berjongkok. Murthi menyuruh Sita untuk menyuguhkan
chai; orang-orang itu memprotes, tetapi hanya untuk sopan santun, dan menunggu
teh dihidangkan. "Aku Chiranji Lal," seorang pria gemuk pendek berbicara. "Aku datang dari Delhi
untuk bekerja sebagai ahli batu mulia monumen ini. Aku telah mendengar jika kau
seorang Acharya." Murthi tertawa gembira. "Ya, ya. Itulah aku, tapi bangunan ini tidak membutuhkan
keterampilanku, jadi aku harus mengerjakan hal lain. Apakah Anda seorang
petugas?" Tiba-tiba, dia merasa tidak nyaman. Mereka telah datang untuk menghentikan
upahnya. Mereka tahu dia tidak bekerja.
"Bukan," jawab Chiranji Lal. "Kedatangan kami kemari tidak ada hubungannya
dengan monumen. Banyak penganut Hindu di antara kami, tapi kami tidak memiliki
kuil untuk dipuja. Kami tidak tahu apakah akan diberi izin untuk membangun
sebuah kuil. Kami berencana mendekati Padishah untuk membicarakan hal ini."
Murthi menunggu. Dia merasakan ketidaknyamanan mereka, dan, dari wajah mereka,
dia melihat keberanian mereka sudah menguap saat mereka memikirkan petisi.
Selama berabad-abad, kuil-kuil Hindu besar telah dihancurkan dan masjid-masjid
sudah dibangun menggantikan kuil-kuil di lokasi yang sama. Para penakluk Muslim
yang sukses telah menghancurkan kepercayaan mereka, tetapi saat ini mereka
merasakan perubahan. Akbar telah memulainya dengan din-i-illah-nya, suatu agama berjiwa
bebas yang menghargai seluruh kepercayaan kepada Tuhan. Ada kemungkinan
pembangunan sebuah kuil kecil akan diizinkan, tetapi tetap ada risikonya.
"Aku tidak bisa membangun kuil," kata Murthi. "Keluargaku .."
"Tidak. Kami tidak ingin kau membangun sebuah kuil. Kau harus memahat sebuah
patung Durga untuk kami puja. Bisakah kau melakukan hal itu?"
Murthi merasa senang. Dia berdiri dan mengangguk.
"Aku bisa melakukannya. Akan makan waktu beberapa lama. Aku tidak bisa mulai
bekerja hingga aku menerima visi."
Mereka semua mengerti. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk
mendapatkan suatu visi. Sosok Durga-saudara perempuan Kali, bertangan delapan,
dan menunggangi seekor singa-sudah banyak diketahui. Dia ada, tetapi Murthi
harus mendapatkan visi tentang Durga untuk bisa memahatnya dengan imajinasi dan
penuh detail, tetapi tanpa menyinggungnya.
"Batu apa yang bisa kugunakan?"
"Marmer. Hanya itu yang kami miliki. Kami bisa membeli sebongkah marmer dari
pedagang keliling yang memasok marmer untuk pembangunan monumen."
Mereka tetap tinggal selama beberapa saat, mendiskusikan detail pembayaran. Saat
mereka pergi, Murthi segera memberi tahu Sita.
Keberuntungannya sudah berubah.
Tetapi, seminggu kemudian, keberuntungannya lagi. Murthi dipanggil oleh si
petugas yang mempekerjakannya. Dia gemetaran, yakin bahwa si petugas menemukan
kejanggalan dalam pembayaran, dan dia harus mengembalikan seluruh upahnya atau
mendapatkan hukuman.[] 7 Arjumand Duk, duk, duk, duk, duk, duk, duk. Derap kaki kudaku, teredam debu, menghantam
tanah seirama dengan detak jantungku yang membosankan. Aku merasa sesak, bukan
karena udara yang berdebu, tetapi karena rasa sakit di hatiku. Betapa kilatnya
racun itu sudah sampai di telingaku. Para perempuan, orang-orang kasim, para
prajurit, budak, dan pelayan, semua tahu apa yang telah terjadi bagaikan mereka
berada seruangan dengan Jahangir dan Shah Jahan, serta bisa mendengar setiap
kata yang dibicarakan antara ayah dan anak tersebut.
Sudah tak terhitung berapa kali hal ini dibicarakan-dengan keprihatinan palsu,
kesedihan tetapi penuh kepuasan, rasa iba yang berpura-pura-dan setiap kali,
peristiwa itu mengalami sedikit penambahan cerita. Aku masih hidup, berharap
dengan teguh, hanya karena aku tahu dia mencintaiku. Dia telah mengatakan itu
dengan jujur, Kisah Cinta 1018/1608 Masehi kepadaku dan kepada ayahnya. Aku memimpikan kata-katanya, membisikkan dengan
lembut kepada diriku, membayangkan bagaimana dia memikirkan kata-kata itu;
membayangkan juga, dengan melepas kekuasaannya sebagai pangeran, selubung
perlindungannya, dia akan menampakkan kerapuhannya kepadaku.
"Kau harus naik tandu, Agachi."
"Begitu pengap di sana." Aku sedang menunggangi seekor kuda poni berbulu cokelat
tua, sementara Isa, yang bersenjata lathi berujung perak, berjalan di sampingku.
Dia tidak menyetujui keterbukaanku, yang bertentangan dengan martabatnya. Para
perempuan di istana berselonjor di tandu-tandu yang tertutup, bergosip, bermain
kartu, minum-minum, bahkan kadang-kadang menghibur seorang pria secara diam-
diam; hanya para prajurit, budak, dan pelayan-pelayan rumah yang berjalan.
"Bagaimana dengan debu" Di luar sini lebih berdebu. Di dalam, udara akan lebih
bersih .." "Diamlah, Isa." Aku berkata dengan tajam. Bahkan jika aku merasakan
ketidaknyamanan, aku tidak akan menuruti sarannya. Debu yang berwarna kemerahan
dan jernih tergantung bagaikan awan mengepul dari ujung cakrawala ke ujung
satunya, di utara, selatan, timur, dan barat. Debu juga mengaburkan matahari dan
langit, kemudian menempel dengan lembut di pepohonan dan semak-semak, membuat
kusam hijau daun mereka yang terang.
Jahangir bergerak, dan kesultanan mengikutinya. Kami sudah dua hari keluar dari
Agra. Pada hari ketiga, kelompokku akan meninggalkan iring-iringan kesultanan
dan akan berbelok ke selatan, ke arah Bengal. Aku akan mengunjungi Mehrunissa
dan menyambut bebasnya aku dari Agra dan formalitas berlebihan kaum bangsawan.
Dari tempat aku menunggangi kudaku, aku bisa melihat pangkal hingga ujung
barisan. Entah di mana, jauh di depan, Shah Jahan bergerak bersama ayahnya. Di
antara kami ada arus manusia dan hewan.
Aku memanggil Isa agar mendekat dan membungkuk untuk berbisik: "Dia harus tahu
jika aku berada jauh di belakangnya. Jika dia tidak datang kepadaku segera, Isa,
kau harus menunggangi kuda dan memberinya ini." Aku melepaskan sebuah cincin
perak dan Isa menyembunyikannya di dalam lipatan pakaian. "Jangan kau
hilangkan." "Aku akan menjaganya dengan nyawaku."
Para penunggang kuda berderap ke depan dan ke belakang, ke atas dan ke bawah
barisan, tetapi tidak ada yang mendekati kami.
Jahangir dan Shah Jahan memimpin iring-iringan. Mereka diikuti oleh sembilan
gajah, masing-masing membawa panji-panji Mughal bergambar singa yang merunduk,
siap menerjang di depan matahari terbit; kemudian empat gajah lagi yang membawa
bendera-bendera hijau bergambar matahari. Setelah itu, ada sembilan kuda jantan
putih tanpa penunggang yang memakai sadel, sanggurdi, dan
tali kekang emas, dan di belakang mereka ada dua penunggang kuda. Salah seorang
membawa panji yang bertuliskan gelar Jahangir, "Penakluk Dunia", yang lain
membawa dundhubi yang dia tabuh secara teratur untuk menandai kedatangan Mughal
Agung. Tiga puluh lelaki berlari di belakang mereka, mencipratkan air wangi
sehingga sang Sultan akan menapaki jalan yang harum dan tidak berdebu. Di kedua
sisi sang Sultan ada hazari dengan panji-panji mereka yang terpisah, masing-
masing memimpin ribuan penunggang kuda mereka.
Sedikit di belakang Jahangir, ada empat wazir yang membawa tumpukan kertas.
Kertas-kertas ini berisi seluruh informasi penting bagi sang Sultan tentang
daerah yang sedang dia lalui. Jika dia bertanya, mereka akan memberi tahu
kepadanya nama desa dan siapa nama kepala desanya, penghasilan desa tersebut,
tanaman ladang, buah-buahan, dan bunga-bunga, dan karena Jahangir adalah
penguasa yang sangat ingin tahu tentang segala hal, mereka terus-menerus
mencatat informasi yang ingin dia masukkan ke dalam Jahangir-nama. Sedikit di
belakang beberapa orang ini, ada dua orang lagi. Mereka membawa tali, dan dari
Gerbang Lal Quila, mereka mulai mengukur jarak perjalanan Jahangir. Lelaki yang
di depan membuat tanda; yang di belakang berjalan ke arahnya dan meletakkan
ujung talinya sebagai penanda, ketika yang pertama berjalan menjauh lagi. Di
belakang dua orang ini, ada orang ketiga yang memegang bukunya, terus-menerus
mencatat jarak perjalanan ini. Jika Jahangir bertanya, "sudah seberapa jauh kita
berjalan?" pria ini bisa menjawabnya. Orang keempat membawa sebuah jam pasir dan
gong perunggu. Setiap jam sekali, dia menabuh gong.
Beberapa langkah dari Jahangir ada dua penunggang kuda dengan elang bertengger
di lengan mereka. Lalu, sepuluh penunggang kuda mengikuti: empat orang membawa
jezail-jezail kerajaan yang dibungkus dalam kantong-kantong kain keemasan, yang
kelima membawakan tombak Jahangir, yang keenam membawakan pedangnya, yang
ketujuh membawakan perisainya, yang kedelapan membawakan belatinya, yang
kesembilan membawakan busurnya, dan yang kesepuluh membawakan sebuah wadah
berisi anak panah miliknya. Setelah para pembawa senjata, di belakangnya ada
Ahadi, para prajurit yang dikomandoi langsung oleh sang Padishah. Mereka diikuti
oleh tiga tandu kesultanan, semua terbuat dari perak dan dihiasi mutiara dengan
indah. Di belakang mereka ada dua puluh empat penunggang kuda, delapan orang
membawa terompet, delapan orang membawa seruling, dan delapan orang membawa
genderang. Kemudian, di belakangnya ada lima gajah kesultanan yang membawa
howdah-howdah emas dan perak. Gerakan gajah yang berayun-ayun lembut dan tak
teratur membuat sang Sultan tertidur. Rasanya bagaikan dininabobokan dalam
buaian. Di sisi gajah-gajah berhias megah ini masih ada
tiga gajah lagi. Gajah yang di bagian tengah membawa tiga buah perabotan perak
terbaik, dipasang di atas sebuah landasan perak dan diselubungi oleh beludru.
Benda itu melambangkan bahwa Jahangir adalah seorang "Pengawas Iman terhadap
Muhammad". Seekor gajah lagi membawa simbol yang sama, melambangkan bahwa dia
adalah "Penjaga dan Pemelihara Iman". Gajah ketiga menampilkan pelat tembaga
yang diukir dengan kalimat "Allah Yang Maha Esa memberkahi Muhammad".
Empat gajah lagi mengikuti, howdah-howdah mereka dihiasi oleh lambang-lambang
penting lainnya. Salah seekor gajah membawa sebuah timbangan yang berarti bahwa
sang Sultan memerintah dengan adil, seekor lagi membawa sehelai bendera besar,
yang jika ditiup oleh angin, menampakkan sulaman gambar buaya pada kain putih
bersih yang tampak seakan hidup, menggeliat, dan memperlihatkan taringnya, yang
ini melambangkan bahwa Jahangir adalah "Raja Sungai". Seekor gajah membawa
bendera berukuran sama, namun bergambar kepala seekor ikan, melambangkan bahwa
Jahangir adalah "Raja Lautan", sementara seekor gajah lagi membawa sebuah tombak
emas tinggi di udara, "Simbol sang Penakluk". Gajah-gajah ini diikuti lagi oleh
dua belas ekor gajah yang membawa para musisi.
Semua kemegahan ini ada di antara diriku dan kekasihku. Tampaknya dia berada di ujung
dunia yang satu, sementara aku berada di ujung dunia
yang lain. Aku tak mampu lagi menahan beban kebisuannya. Sudah lewat tengah
hari, dan aku turun dari kudaku.
"Isa, bawalah kudaku dan pergilah ke Shah Jahan. Katakan kepada ." aku tidak
bisa mengatakannya, kalimat itu tercekat di kerongkonganku karena ketakutan, .
"kekasihku, aku ada di sini. Dia harus menemuiku. Aku harus mengetahui apa yang
akan terjadi kepadaku. Apakah cintanya padaku sudah berakhir" Haruskah aku
menunggu" Aku akan menunggu jika dia memerintahkanku begitu. Aku membenci
perempuan yang akan menjadi pengantinnya dengan rasa pedih sebesar rasa
cintaku." "Agachi, aku tidak bisa memberi tahu hal-hal seperti itu kepadanya."
"Kalau begitu, jemput dia dan ajaklah kemari, dan aku akan mengatakan kepadanya.
Naiklah." Isa menatap kakinya, kemudian memandang kuda di dekatnya dengan ketakutan.
Orang-orang dan hewan-hewan melewati kami bagaikan arus sungai yang terbelah di
bebatuan.

Taj Mahal Kisah Cinta Abadi Karya Timeri N Murari di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Agachi, aku tidak bisa menunggang kuda. Aku akan berlari."
"Jaraknya terlalu jauh, dan aku akan menunggu terlalu lama. Naiklah sekarang dan
segera pegang kendalinya. Dia akan langsung membawamu ke kekasihku, dan
segeralah kembali ke sini dengan jawaban darinya."
Dengan gugup Isa mematuhi perintahku, meskipun wajahnya terlihat tidak bahagia
karena menghadapi lonjakan kuda yang berderap. Aku hanya menunggu hingga posisi Isa
seimbang dan mengarahkan kepala kuda ke arah yang benar, kemudian menampar paha
belakangnya dengan keras. Kuda itu mencongklang dengan Isa berpegangan erat ke
lehernya. Isa akan mengetahui pentingnya saat itu. Pada waktu-waktu lain, aku
akan merasa iba dan geli karena penderitaannya, tetapi saat ini kedua perasaan
itu sudah menguap dari diriku.
Sebuah tandu menunggu dan dengan lega aku masuk ke dalamnya untuk menyembunyikan
air mataku dari beribu-ribu mata yang mengamatiku. Aku bergerak bersama harem,
di belakang rombongan Permaisuri Jodi Bai. Dia duduk di atas seekor gajah, di
dalam sebuah pitambar, singgasana beratap yang dibuat dari emas tempa dan
dilapisi batu-batu mulia. Dia sedang menderita karena suatu penyakit aneh yang
parah, dan lebih memilih untuk tetap tinggal di istana, tetapi Jahangir
bersikeras ingin Jodi Bai menemaninya dalam perjalanan ini. Gajah tunggangan
Jodi Bai diikuti oleh seratus lima puluh prajurit perempuan Uzbek yang
bersenjata tombak, dan di kedua sisinya orang-orang kasim berjalan sambil
membawa lathi-lathi berujung emas yang akan mereka lecutkan jika ada seorang
pria yang bertindak tolol dengan mendekati rombongan. Di belakangnya ada gajah-
gajah yang tak terhitung jumlahnya, membawa para perempuan lain milik Jahangir,
masing-masing ditemani oleh kelompok budak,
pelayan, dan budak-budak kasim mereka.
Tentu saja, urusan negara tidak bisa dilupakan atau diabaikan sementara sang
Sultan berpindah dari Agra ke Ajmer, atau ke mana pun dia memilih untuk
melakukan perjalanan. Di belakang kami ada delapan puluh ekor unta, tiga puluh
ekor gajah, dan dua puluh kereta yang penuh berisi catatan kesultanan. Di
belakangnya, ada lima puluh unta yang membawa seratus kotak berisi sarapa milik
Jahangir, tiga puluh gajah yang membawa perhiasan yang akan dibagikan sebagai
hadiah kepada orang-orang yang kurang beruntung, untuk menarik simpati; dua
ratus unta mengikuti di belakangnya dengan uang-uang rupee perak, seratus unta
dengan uang-uang rupee emas, dan seratus lima puluh unta yang membawa jaring-
jaring untuk memerangkap harimau atau nilgai-antilop-atau cheetah. Ada juga lima
puluh unta yang mengangkut air untuk minum dan mandi, sementara kereta-kereta
besar yang bercat warna-warni membawa hamam, tempat sang Sultan dan kami para
perempuan bisa mandi tanpa terlihat orang lain. Di belakang kami semua, berjaga-
jaga di bagian belakang, sang pangeran Rajput, Jai Singh, memimpin delapan ribu
prajurit berkuda. Satu kos di depan awal iring-iringan ada seorang lelaki penunggang unta yang
membawa sehelai kain linen putih yang paling bagus. Jika dia melewati bangkai
seekor hewan atau mayat seseorang, dia akan menutupinya dengan kain itu, lalu
membebaninya dengan batu-batu berat. Ini
dilakukan agar tidak mengganggu pemandangan sang Sultan, dan sepanjang dia tidak
sedang terusik oleh keingintahuan, jika dia meminta orang-orangnya membuka kain
sehingga dia bisa melihat apa yang terbaring di baliknya.
Siang berlalu begitu lambat. Aku menatap ke kejauhan, melihat bayangan bukit-
bukit dan pepohonan yang merentang di sepanjang daerah ini. Aku belum melihat
tanda-tanda keberadaan Isa. Saat ini aku menyesal karena sudah tidak sabar.
Mungkin Isa terjatuh dan tewas, sehingga pesanku akan menghilang untuk
selamanya. Dengan egois, aku berdoa agar Isa tetap hidup; dan agar dia bisa
menjumpai kekasihku. Aku berdoa lebih khusyuk pada saat matahari terbenam, dan
cahaya perkemahan mulai menyala di area luas di depan kami.
Sehari sebelum iring-iringan kami berangkat, ada sebuah prosesi besar lain yang
dipimpin oleh Kepala Rumah Tangga Kesultanan. Hewan-hewan bawaannya membawa do-
ashiyana manzil, peralatan memasak, makanan, dan keperluan-keperluan lain untuk
kenyamanan sang Sultan dan pengikutnya. Sang Kepala Rumah Tangga akan memilih
tempat yang nyaman, di dekat sungai jika mungkin, dan sepasukan kecil pelayannya
akan mendirikan perkampungan tenda. Di bagian tengah akan menjadi tempat
peristirahatan sang Sultan. Tenda bertingkat dua miliknya terdiri dari beberapa
ruangan yang serasi dengan kemegahan istana sendiri, termasuk sebuah diwan-i-
khas dan diwan-i-am. Di belakang tempat Sultan ada tenda-tenda untuk harem kesultanan,
dan seluruh tempat tinggal ini tertutup oleh sehelai layar berwarna merah tua.
Perencanaan perkampungan tenda ini tidak berubah sejak Timur-i-leng berkuasa.
Setiap orang mengetahui di mana mereka harus bermalam, untuk makan, untuk mandi,
dan mengandangkan hewan-hewan tunggangan. Hal ini mencegah kebingungan saat
iring-iringan mencapai lokasi perkemahan pada malam hari. Sebenarnya, ada dua
perkampungan seperti ini. Ketika yang satu sedang digunakan, yang lain bergerak
maju agar siap untuk menyambut kedatangan sang Sultan pada malam berikutnya.
Karena ini hanya sebuah perjalanan berburu, bala tentara Mughal masih berada di
Agra. Sudah ditentukan bahwa iring-iringan Sultan akan tiba di lokasi yang
ditentukan dalam setengah hari, dan sehari penuh jika bala tentaranya ikut
bersama sang Sultan. Aku menemukan tempat istirahatku di dalam tenda harem. Para perempuan menikmati
perjalanan ini. Mereka tertawa dan berceloteh sambil menyiapkan diri mereka
untuk hiburan malam. Aku masih memisahkan diri. Saat harus mandi dan berpakaian
aku memilih untuk berbaring, menolak tawaran makanan dan yang ingin menemani.
Aku tidak memerlukan apa-apa, penderitaanku sudah cukup menjadi makanan dan
teman bagiku. Isa menemukan aku, ketika wajahku menghadap ke tembok, dengan mata yang terpejam
rapat. "Agachi, aku tidak bisa menemukan Pangeran.
Setiap orang yang kutanyai menyuruhku bertanya kepada orang lain. Aku malu."
"Kau sudah berusaha. Sekarang, tinggalkan aku sendiri. Pergilah."
Aku tidak bisa memalingkan wajahku kepadanya dan hanya mendengar dia melangkah
menjauh dengan perlahan. Saat ini ada suatu emosi baru yang membuncah di dadaku.
Berani-beraninya Shah Jahan mengabaikanku! Bahkan, jika dia datang kepadaku saat
ini, aku akan menolaknya, mengusirnya pergi seperti yang kulakukan terhadap Isa.
Setelah beberapa saat, aku mendengar Isa kembali dan berbisik pelan, "Agachi,
seorang pembawa pesan menunggumu."
"Dari siapa?" Aku berusaha menampilkan ketidaktertarikan, tidak berani berharap.
"Dari sang Pangeran. Ayo ikut."
Aku tidak bisa bergerak, tetapi masih meringkuk memunggungi Isa.
"Ambil saja pesannya. Katakan kepadanya aku akan membalasnya beberapa hari
lagi." Isa tidak bergerak untuk pergi, jadi aku duduk. "Aku menyuruhmu pergi."
"Agachi, aku mengerti kemarahanmu, tapi kau tidak akan menumpahkannya kepadaku.
Hanya kau yang bisa menerimanya. Tolong, ikutlah denganku. Kau akan menyesalinya
nanti jika kau menolak."
Isa masih berdiri di dalam bayangan, tetapi aku bisa melihat goresan-goresan dan
memar di wajah dan lengannya.
"Maafkan aku karena menyuruhmu menunggang kuda."
"Itu adalah suatu cara untuk belajar."
Aku berdiri dengan cepat. "Aku akan menemui si pembawa pesan dan kuharap dia
membawa berita yang lebih menyenangkan."
Kami keluar, menuju udara malam yang sejuk. Perkampungan buatan ini terentang
sejauh mata memandang, menutupi lembah-lembah dan bukit-bukit. Lentera-lentera
kuning dan api-api yang terbuka berkelap-kelip dalam gelapnya malam yang hitam
kelam. Besok, semua akan menghilang secepat datangnya iring-iringan ini.
Si pembawa pesan menunggu di dalam bayangan paling gelap, di salah satu sisi
tenda, betul-betul tersembunyi dari prajurit-prajurit yang sedang berpatroli dan
para perempuan Uzbekistan. Dia tampak seperti makhluk yang menyedihkan,
terbungkus dalam sehelai jubah usang dengan ujung turban yang menutupi wajahnya.
"Kau membawa pesan untukku?" Dia mengangguk. "Dari siapa?"
"Dari diriku sendiri, Kekasihku." Shah Jahan berbisik. "Mengapa kita harus
selalu bertemu dalam kegelapan?"
"Mungkin Yang Mulia tidak mampu menatapku pada siang hari."
"Mengapa kau marah kepadaku?"
"Jadi, apa yang harus kurasakan?" aku berkata dengan dingin, hanya berharap
untuk menghindari tatapannya, melupakan bahwa dia dan aku
sama-sama ada di dunia ini. "Aku sudah menunggu berbulan-bulan. Sepatah kata,
sepenggal bisikan, sebuah simbol kecil pasti bisa mengobati pedihnya hatiku.
Tapi, yang kuterima darimu, saat aku mendengar kabar angin dan kebohongan yang
lain, hanyalah kebisuan."
"Aku telah membahayakan hidupku untuk datang kemari dalam samaran ini. Jika aku
tertangkap, nasibku akan lebih buruk dibandingkan nasib pengemis." Dia menoleh
ke samping ketika seorang kasim lewat dan aku melangkah semakin mendekatinya, ke
dalam bayangan yang semakin gelap. "Aku tidak bisa melepaskan diri dari sisi
ayahku, dan pada malam hari aku duduk dan mendengarkan puisi-puisinya.
Percayalah, satu-satunya yang kuidamkan adalah datang menemuimu."
Aku merasakan diriku melunak, tetapi tidak bisa langsung mengenyahkan kemarahan
yang membara dalam dadaku.
"Seorang pembawa pesan, kalau begitu?"
"Siapa yang bisa membawa pesan lebih baik daripada diriku sendiri?" Dia berlutut
di kakiku dan menundukkan kepala. "Maafkan aku, maafkan aku."
Hatiku meleleh. "Aku tidak bisa menahan rasa malu ini. Aku memaafkanmu, dan
hanya bisa menyalahkan cinta untuk kemarahanku. Ini adalah rasa lapar yang tidak
bisa kukendalikan. Jika cinta adalah makanan dan minuman, aku akan menjadi orang
rakus dan tak akan pernah puas melahapnya."
Dia meraih tanganku dan meletakkannya di
dahinya, kemudian berdiri.
"Akulah yang layak kau salahkan karena menunjukkan pengendalian seorang pangeran
terhadap hatiku." Tiba-tiba, aku merasakan selubung rasa malu tersibak dari hadapanku. Sebelumnya,
aku belum pernah berdua saja dengan kekasihku, atau pria lain, dan pikiran serta
impianku sekarang tampaknya tidak lagi menampilkan keberadaan mereka. Tetapi,
jika aku mengatakan: "Aku mencintaimu", jawaban apa yang akan dia katakan untuk
membuatku nyaman" "Kau telah mendengar .?"
"Ya." "Aku tidak bisa lagi menolak tanpa membangkitkan amarahnya. Aku harus tetap
menjadi putranya yang patuh, dan sungguh kejam karena kita berdua harus
terbebani oleh tanggung jawabku sendiri."
"Apakah dia tidak akan berubah pikiran?"
"Bukan dia, tapi aku, Shah Jahan, yang tidak akan berubah. Aku bisa menikahimu
sebagai istri kedua .."
"Jika itu keinginanmu," aku berbisik. "Bahkan menjadi selirmu. Aku bahagia hanya
jika ada di sampingmu."
"Bukan. Itu bukan keinginanku. Suatu hari, aku akan menjadi sultan, dan pasti
anak kita yang akan mewarisi takhta."
Dia membungkuk ke depan dan menciumku dengan lembut."Betapa manis dirimu,
bagaikan kelopak mawar."
"Ini hanya untukmu. Orang lain akan merasa kepahitan bila berada di hadapanku."
"Dan aku juga, bagi orang lain."
Tiba-tiba kami terkejut karena teriakan Isa. "Agachi!"
Orang kasim yang tadi lewat sekarang berdiri sambil menatap ke arah kami. Lathi
yang dia pegang teracung dengan menakutkan, dan aku merasakan kekasihku merogoh
untuk melepaskan belatinya di balik jubah. Aku menghentikan tangannya.
"Siapa itu?" suara tinggi orang kasim itu bertanya.
"Pelayanku. Aku akan menyuruhnya mengantar sesuatu. Pergilah."
"Aku akan mengantarnya keluar. Ayo, ikutlah bersamaku."
Dengan kasar dia menarik pangeranku dan Shah Jahan mengikutinya ke pintu dengan
malu-malu. Aku mengawasi dan mengawasi, hingga dia sudah hilang dari pandangan,
berharap dia akan menoleh kepadaku sekali lagi. Tetapi, dia sudah menghilang.
Sentuhan bibirnya masih terasa sepanjang malam, hingga keesokan harinya. Rasanya
dingin dan menyegarkan, tetapi tidak menyejukkan kesendirianku. Aku hanya
menunggu, seperti yang dia perintahkan, tetapi janji yang dibuat ketika hasrat
sedang menggelegak dapat dilupakan dengan mudah oleh para pangeran.
mim Betapa leganya bisa lepas dari kebingungan karena begitu banyaknya orang dan
hewan dalam perjalanan. Kami menempuh perjalanan lebih cepat, memilih jalur
sendiri, dan lebih mengikuti rute kami sendiri daripada yang diperintahkan oleh
peraturan dan keinginan Jahangir. Lima ratus penunggang kuda mengawalku,
demikian juga dengan selusin pelayan dan Isa. Tetapi, aku berusaha memisahkan
diri semampuku. Aku tidak ingin melakukan percakapan penuh sopan santun atau
berpura-pura gembira, dan aku merasa begitu kesepian. Kadang-kadang aku sedih,
kadang-kadang marah, bahkan Isa pun mengkhawatirkan perasaanku yang berubah-
ubah. Setiap malam kami berkemah di serais, semacam tempat peristirahatan terlindung
yang tersebar di seluruh kesultanan, yang biasanya digunakan oleh para
pengembara. Para prajurit tidak diizinkan masuk ke dalamnya, dan, karena aku
memilih perlindungan mereka dari orang asing, aku tidur di khargah. Di sini juga
dingin. Hawa beku terasa melingkupi tepat di atas bayangan kegelapan, tertahan
di teluk oleh malam yang dingin, hanya bisa membuat kita meneruskan istirahat
kurang dari satu jam setelah matahari terbit.
Aku berbaring di khargah sambil membayangkan rasanya tidur seperti yang
kuinginkan, dengan ditemani oleh kekasihku. Tetapi, setiap malam itu tidak
pernah menjadi kenyataan. Aku akan memilih untuk tidur di tempat terbuka dan
menatap langit luas yang bersih. Memikirkan jagat raya yang
terentang jauh di luar batas imajinasi seorang manusia ternyata bisa mengalihkan
pikiranku. Angkasa menggambarkan kebesaran Tuhan dan membuat kita merasa kecil
dan tak berdaya, bahkan sang Mughal Agung sekalipun.
Hal ini memberiku kenyamanan dan harapan. Aku bisa menatap bintang-bintang di
angkasa secara bergantian, meyakini bahwa pergerakan mereka yang halus benar-
benar bisa mengendalikan nasib manusia, mendorong manusia memilih suatu jalan
dan melakukan sesuatu, mengubah tujuan hidup mereka. Tetapi, bagaimana jika
tidak ada yang terjadi" Jika bintang-bintang tidak mengendalikan hidup kita, apa
yang melakukannya" Hidupku begitu menderita, hampa dalam kesia-siaan. Kuharap
aku bisa menghindari perangkap kekuasaan dan kekayaan ini, dan menjelajah negeri
seperti seorang sunyasi. Siapa perempuan itu" Kalimat terakhir Jahangir yang dikatakan kepada kekasihku
adalah: "Aku sudah memilihkan istri bagimu." Diam-diam, aku telah mencari tahu,
meskipun rasanya sakit. Tidak ada yang mengetahuinya, atau mereka tidak mau
memberi tahu aku. Apakah dia benar-benar ada" Putri mana yang sepadan untuk
dinikahi oleh seorang putra mahkota" Apakah dia Hindu" Muslim" Aku mencoba
membayangkannya saat aku menatap langit-langit khargah yang bergaris-garis,
merasa sesak karena aroma dupa. Di sekelilingku, seluruh pelayanku tertidur, dan
Isa berbaring telentang di dekat pintu masuk. Di tengah malam ini, aku
dikelilingi oleh para prajurit. Tetapi, tidak ada yang bisa menjaga pikiran
burukku yang menyelinap. Aku mendengar beberapa penunggang kuda datang ke perkemahan kami dan berbicara
dengan petugas penjaga, kemudian terdengar gumam suara-suara pelan mendekat.
Lalu, Isa terbangun dan berbisik kepada pria itu, sebelum memanggilku pelan ke
dalam khargah: "Agachi."
Aku pura-pura tertidur dan menunggu dia memanggilku lagi.
"Agachi, sang Padishah mengirimkan pembawa pesan. Dia hanya mau berbicara
kepadamu." Seorang pelayan membawakan jubah untukku, yang lain menyalakan lampu. Aku menuju
pintu masuk dan mengintip di antara kisi-kisi. Seorang pria berdiri dalam
bayangan dan Isa mengangkat lampu sehingga aku bisa melihat wajahnya. Sang
pembawa pesan bersenjata dan memiliki bekas luka yang menggores dari atas
dahinya dan menghilang ke dalam turbannya. Dia mengenakan pakaian biasa di balik
baju zirahnya. "Siapa kau?" aku bertanya sambil berdiri, sehingga dia tidak bisa melihatku,
hanya bisa mendengar suaraku. Dia mencoba memandang dari ujung satu ke ujung
pintu yang lain. "Pembawa pesan dari Sultan, Begum. Saya tergabung dengan Ahadi Sultan."
"Tapi kau tidak mengenakan seragam kerajaan."
"Yang Mulia tidak mau kedatangan saya diketahui," dia berbisik dengan gugup.
Aku juga merasa tidak nyaman dengan kerahasiaan kunjungan ini. Seorang prajurit
seharusnya mengenakan seragam merah tua khas kesultanan, tetapi dia tampak
seperti seorang dacoit. "Apa yang kau bawa" Berikan kepada Isa. Dia akan memberikannya kepadaku."
Isa menyelipkan dua bungkusan melalui lubang pintu. Salah satu bungkusannya
tipis, terbungkus kain sutra, yang lain ada di dalam tas beludru, yaitu sebuah
kotak perhiasan yang rancangannya indah, dengan sosok yang menari di atasnya.
Keduanya disegel dengan Muhr Uzak. "Benda-benda ini untuk Begum Mehrunissa,
untuk diantarkan oleh Anda kepadanya secara pribadi. Itu hadiah dari Sultan."


Taj Mahal Kisah Cinta Abadi Karya Timeri N Murari di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mereka memanfaatkan diriku! Betapa sakit hatiku. Aku tidak berarti apa-apa bagi
Jahangir, kecuali sebagai kurirnya. Aku tidak bisa menikah dengan anaknya karena
aku sama sekali tidak penting, tetapi aku bisa membawa tanda cintanya ke
selatan, ke Bengal, untuk Mehrunissa. Apakah dia tidak menyadari ironi ini" Aku
bisa merasakan demam cintanya kepada Mehrunissa dalam benda yang kupegang;
mengapa dia tidak bisa memahami rasa pedihku" Dia telah memerintahkan Shah Jahan
untuk melupakanku. Bisakah perintah seorang sultan menghapus kenangan,
melenyapkan cinta" Tetapi, dia tidak memerintahkan aku untuk melupakan Shah
Jahan. Aku masih bisa terus mencintainya, sementara kekasihku harus melupakanku.
Si prajurit bergerak, seperti hendak pergi.
"Tunggu. Bagaimana kabar Permaisuri?"
"Dia . tidak membaik, Begum."
Sebelum aku meninggalkan iring-iringan, aku mendengar kabar bahwa Jodi Bai
semakin parah. Dia tidak mau makan ataupun minum; setiap makanan yang dia santap
akan segera dia muntahkan lagi. Itu adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan
oleh hakim, tabib kesultanan, meskipun telah mencoba semua ramuan herbalnya.
Semakin hari, Jodi Bai semakin lemah. Sang hakim telah melarangnya bepergian
lebih jauh bersama Sultan. Perjalanan ke Ajmer hanya akan semakin membuatnya
lelah, tetapi anehnya, Jahangir bersikeras agar Jodi Bai tetap mendampinginya.
Dia berkata apabila dia tidak bisa terus-menerus berada di sisi Jodi Bai, dia
khawatir terjadi sesuatu padanya.
"Dan Pangeran Shah Jahan?" Membutuhkan usaha yang keras untuk bisa menyebut
namanya keras-keras, untuk memperlihatkan kepedulianku kepadanya dengan begitu
terbuka. "Dia baik-baik saja, Begum."
Aku menunggu sambil menahan napas. Dia tidak menambahkan apa-apa lagi, tetapi
hanya berdiri di sana sambil menunggu dan membisu. Tidak ada pesan. Tidak ada
kabar. Shah Jahan masih terus menjadi anak yang berbakti.
"Kapan kau akan kembali?"
"Saya tidak akan kembali hingga nanti. Sang Sultan telah memerintahkan agar saya
bergabung dengan rombongan Begum ke Bengal." Dia memalingkan wajah, tetapi tidak
cukup cepat. Dia masih menyimpan rahasia. "Aku bersama lima ratus penunggang kuda. Berapa orang yang kau bawa?"
"Dua ratus." "Semua Ahadi?" Dia tidak menjawab pertanyaanku ini, dan mulutnya menjadi rapat dan berkerut.
Dia membungkuk, berbalik dengan terburu-buru, dan menghilang dalam kegelapan.
"Coba cari tahu mengapa mereka akan mengawal kita, Isa. Tapi hati-hati."
"Aku akan sangat berhati-hati, Agachi, meskipun mungkin aku akan gagal. Para
pengawal pribadi Sultan tidak akan membocorkan misi mereka kepada seorang
pelayan rendahan." Isa menyerah, meskipun bukan karena tidak berusaha. Para penunggang kuda Ahadi
masih terus berjalan bersama rombongan kami, melangkah sejauh satu kos di
belakang, terus mengawasi kami, tetapi tidak pernah bergabung dengan iring-
iringan kami. Semua prajurit mengenakan pakaian biasa, bagaikan para dacoit yang
liar, bukannya pengawal pribadi Jahangir yang terpilih.
Mereka juga membuat komandan perjalananku merasa tidak nyaman. Dia adalah
seorang Rajput yang masih muda dan tampan, anak bungsu Rana Jaipur. Para
pangeran Jaipur telah bergabung dengan bala tentara Mughal sejak zaman kekuasaan
Babur dan Humayun; Fateh Singh selalu mengikuti leluhurnya dalam bidang militer.
Biasanya, dia menunggang kuda di sampingku untuk menunjukkan
bangunan-bangunan yang menarik, dan sering harus berbalik untuk mengawasi para
Ahadi, yang selalu jauh berada di belakang kami.
Bentang lahan yang kami lewati berbukit-bukit kecil dan hanya sedikit berubah.
Semakin ke selatan, vegetasi tumbuh semakin subur, dan kami melalui hutan yang
hijau dan menyenangkan, penuh burung-burung berwarna-warni dan beragam hewan. Di
sini, bumi tampaknya tidak sekeras dan sekejam biasanya, dan setiap desa kecil
dikelilingi oleh ladang gandum atau cabai, yang warna merahnya menyala terang,
membara di samping warna kuning tanaman mostar yang berayun-ayun.
Kebanyakan penduduk desa bersembunyi dari kami. Hanya anak-anak yang mengintip
dari balik pintu atau semak-semak, dan mengamati dengan mata lebar. Bangunan di
desa-desa ini berdinding lumpur, beratap ijuk, dan dilindungi oleh pagar kawat
berduri. Aku tidak melihat seorang perempuan pun, kecuali sekelebat kain sari
yang berwarna terang. Bukan hanya bentang alamnya yang berubah, tetapi
bahasanya, kebiasaan, dan mode pakaian. Segalanya tampak akrab-orang-orang,
burung-burung, hewan-hewan-dan kami berjalan bagaikan di atas jalinan benang
rapat yang warna dan teksturnya berubah, sepanjang jalur tersebut.
Suatu pagi, sebelum kami meneruskan perjalanan, Fateh Singh menawarkan apakah
aku mau pergi beberapa kos ke Khajuraho untuk melihat-lihat kuil.
"Kuil-kuil itu dipahat dengan sangat indah," dia berkata dengan sebuah senyuman
sekilas. "Kau akan menikmatinya."
Aku tidak mau semua prajurit menemani kami, kehadiran mereka sering kali
menakutkan para penduduk. Aku melakukan perjalanan pada waktu fajar bersama Isa,
beberapa pelayan, dan selusin prajurit yang dipimpin oleh Fateh Singh.
Dalam cahaya pagi yang lembut, sebuah kuil besar bagaikan tergantung di langit
seperti perhiasan dari benang emas, dengan semburat warna cokelat yang benar-
benar indah. Ada empat kuil yang terletak berdekatan, dan agak jauh di seberang
bentang tanah yang menanjak, aku bisa melihat banyak kuil lain. Mungkin
jumlahnya tiga puluh kuil. Kuil-kuil itu memiliki fondasi yang lebar dan berdiri
sekitar tiga puluh meter di atas permukaan bumi. Hanya dibutuhkan perjalanan
singkat melewati patung Buddha raksasa, kami sudah bisa melihat ladang-ladang
gandum yang merentang ke arah tanjakan, dan kami sudah tiba di perkampungan.
Pasti tidak akan ada lebih dari seratus jiwa yang tinggal di sana, dan sungguh
aneh karena monumen-monumen yang sangat besar itu dibangun oleh segelintir orang
saja. Sekelompok perempuan sedang berjalan menuju salah satu kuil; saat melihat
kami, mereka ragu-ragu, kemudian setelah saling merapatkan diri, mereka terus
berjalan, meskipun sama sekali tidak menatap para prajurit. Mereka membawa
bunga-bunga, buah kelapa, dan pisang raja di atas baki kuningan, sementara dari
kuil tersebut terdengar suara dentang lonceng perlahan.
"Kuil itu sudah berusia tujuh ratus tahun," kata Fateh Singh. Dia tidak bisa
menyembunyikan kekaguman terhadap keantikan mereka. Kuil-kuil itu tampak baru
dipahat. "Ini adalah Kerajaan Hindu Jijhoti. Lihatlah betapa tolerannya kerajaan
ini." Dia menunjuk ke kanan dan ke kiri. "Ada para penganut Buddha, dan ada
Jain." Setelah berkendara lebih dekat, aku menyadari bahwa ada banyak ukiran, masing-
masing tersusun di sebuah panel seperti tangga menuju langit. Kami turun dari
kuda dan berjalan menuju kuil, sementara para prajurit terus berjaga-jaga.
Ukiran-ukiran itu sangat cantik dan memesona; sosok lelaki dan perempuan di
relief-relief kuil menunjukkan kemuliaan dan kecantikan abadi, saling bertaut
dalam berbagai pose sensual. Entah bagaimana, bagiku, batu ini bagaikan telah
berubah menjadi daging karena sentuhan sebuah pahat, dan saat ini, dagingnya
dipenuhi oleh hasrat. Gambaran perempuannya sangat molek, dengan kaki-kaki
panjang; para prianya tampan, tubuh-tubuh mereka yang berotot kekar bertonjolan,
bagaikan sedang menahan napas sambil menunggu kami melintas. Betapa rumitnya
pekerjaan itu, bahkan ukiran pakaian pun tampak seperti sutra. Begitu banyak
sosok yang terekam dalam beragam pose, sehingga mereka bagaikan berputar dan
menari di depan mataku, membuat batu dan daging berbaur membingungkan.
Pemandangan itu begitu menggairahkan dan mengguncang hasratku yang masih ranum.
Aku membayangkan diriku sendiri bersama Shah Jahan ikut ambil bagian dalam tahan
itu, membeku bersama dalam batu-batu pudar ini-tubuh kami selamanya bersatu
dalam kebisuan. Aku merasakan hawa panas naik ke wajahku, dan bersyukur karena
beatilha menyembunyikan pikiran nakalku.
"Sungguh aneh orang-orang Hindu menampilkan hal-hal semacam itu di tempat mereka
melakukan pemujaan."
"Hanya karena semua hal ini menampilkan kemuliaan dan keindahan anugerah Tuhan,"
sahut Fateh Singh. Dia menunjuk beberapa patung yang dirusak dengan sengaja,
kemudian berbicara dengan penuh amarah. "Lihat, bahkan Ghazi sekalipun, Dewa
Penghancur, menghentikan tangannya sendiri dari penghancuran keindahan ini
secara komplet." Ini memang benar, karena tidak ada penjelasan lain, mengapa kuil-kuil ini tidak
benar-benar dirusak oleh orang-orang yang melewatinya. Mereka telah melihat
pahatan-pahatan itu, dan telah memindahkan hasrat dan keindahan ukiran-ukiran
tersebut. Di daerah lain, banyak kuil yang dihancurkan dan masjid-masjid
didirikan di lokasi tersebut. Islam menutup wajah Hindustan bagaikan cadar yang
menutupi wajahku. Di Agra, dikelilingi oleh istana, aku hanya bisa melihat
sekilas kehidupan seperti ini, tetapi setelah di luar lingkaran kekuasaan, semua
tampak bagiku. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, aku merasa bukan seperti
orang asing di negeriku. Tanah ini berbaring di bawah kakiku seperti seekor
binatang liar, menyeruduk dan berbalik, tidak sepenuhnya terbangun dan tidak
benar-benar menyadari keberadaan kami.
Para perempuan telah selesai melakukan pemujaan, dan karena melihat para
prajurit yang berdiri di kejauhan, mereka melihatku. Mereka berdiri sambil
membisu, malu-malu, tetapi nyata-nyata ingin tahu. Aku mendekat dan berbicara
dengan mereka dalam bahasa Persia, kemudian Fateh Singh menerjemahkannya ke
dalam bahasa Rajasthani. Mereka tidak mengerti, tetapi tertawa cekikikan, sambil
memegang sari mereka untuk menutupi wajah, dan terburu-buru kembali ke
perkampungan mereka. Sang pendeta berdiri sambil mengamati kami dari puncak tangga kuil. Dia
bertelanjang dada dan hanya mengenakan kain putih di sekeliling pinggangnya,
yang ditarik di antara kakinya. Di dadanya, ada seuntai benang keramat dan di
dahinya tergambar tiga garis horizontal lambang Siwa. Aku menaiki tangga, tetapi
dia menghalangi jalanku. Dalam cahaya yang berkelip-kelip di belakangnya, aku
bisa melihat sebuah patung dewa yang dihiasi rangkaian bunga.
Isa bergabung bersama rombongan kami setengah jam kemudian. Dia berkata, dia
harus tinggal di belakang untuk memerhatikan pahatan-pahatan itu dengan saksama,
tetapi aku melihat bahwa dahinya masih bernoda vibuthi. Kami tidak pernah
membicarakan hal itu lagi.
Tiga puluh hari kemudian, kami tiba di Gaur. Para penunggang kuda Ahadi hilang
dari pandangan kami di suatu jalan yang berkelok-kelok dan Fateh Singh mengira
bahwa mereka sudah pergi untuk melapor ke Mir Bakshi. Wajah familier pertama
yang kutemui adalah Muneer. Dia menyambutku dengan ramah, dan sambil mengatur
pembongkaran barang-barang, dia terus-menerus memprotes tentang Gaur. Kupikir
Gaur adalah tempat yang paling menarik. Tempat ini terentang empat belas kos di
sepanjang Sungai Gangga, dan setiap pemimpin yang sukses pernah meninggalkan
kenang-kenangannya di sini. Ini adalah sebuah kota suci; Kadam Rasul menyimpan
tapak kaki sang Nabi. Gaur juga merupakan lumbung bagi kesultanan dan para
penduduknya hidup berkecukupan.
Bibiku Mehrunissa tinggal di salah satu istana terbesar, sebuah bangunan luas
dan lapang yang dikelilingi oleh beranda, dan dibangun di atas sebuah kebun
besar penuh dengan pohon mangga dan banyak buah-buahan lain. Ini adalah tempat
tinggal mewah yang sudah pasti layak untuk pamanku yang berpenghasilan besar dan
berposisi penting, sebagai Diwan Bengal.
Mehrunissa datang segera setelah aku mandi dan berpakaian, dan dia tampak
gembira dan ceria. Aku mengira kebahagiaannya bukan disebabkan oleh kehadiranku,
melainkan karena kotak perhiasan emas yang tersimpan di dalam petiku. Di
sekeliling lehernya, dia memakai seuntai kunci emas. Ladilli membuntuti Mehrunissa,
bagaikan bayangannya, dan dia merangkulkan lengannya ke tubuhku. Dia telah
bertambah dewasa, tetapi tingkah lakunya hanya sedikit berubah; bagiku dia
selalu merupakan anak kecil yang pemalu, berapa pun usianya.
Segera setelah aku menyerahkan hadiah dari Jahangir, Mehrunissa memerintahkan
kasimnya, Muneer, untuk membawa hadiah-hadiah itu ke kamarnya. Kupikir kertas-
kertas itu mungkin berisi puisi, karena Jahangir menganggap dirinya sendiri
sebagai penyair yang ahli. Aku tidak tahu apa-apa tentang isi kotak emas itu.
"Apakah kau akan memperlihatkan kepadaku apa isinya?" aku bertanya kepada
Mehrunissa. "Tidak, aku lega kau tidak bisa membuka segala sesuatu yang dititipkan
kepadamu," dia berkata. Lalu, sambil mengecupku, Mehrunissa berbisik: "Jangan
sebut-sebut hadiah ini kepada pamanmu. Dia mungkin akan salah paham."
Dia berdiri lagi, kemudian untuk pertama kalinya memerhatikan penampilanku. Aku
tahu bahwa aku tampak pucat pasi dan kehilangan bobot tubuh, tetapi aku tidak
perlu memberi tahu bibiku tentang penyebabnya. Tetapi, meskipun jarak yang
terbentang di antara kami begitu jauh, Mehrunissa mengetahui semua yang terjadi.
"Gadisku yang malang," dia menepuk pipiku. "Kau masih sangat muda. Kau akan
melupakan dia sepenuhnya."
"Aku tidak bisa, aku tahu itu."
"Kami akan memberikan beberapa hiburan untukmu. Dia bukan satu-satunya pria muda
di dunia ini." "Aku tak ingin yang lain."
Mehrunissa mendesah putus asa. "Apakah karena dia putra mahkota, maka kau
mencintainya?" "Tentu saja tidak," aku membantah dengan kesal.
Mehrunissa menatapku dari dekat, mencoba mengartikan maksud jawabanku.
"Shah Jahan adalah kekasihku, bukan putra mahkota. Bahkan, jika dia seorang
pengemis, aku pasti akan tetap mencintainya."
"Apa kata ibumu?"
"Sama seperti perkataan Bibi, sama seperti perkataan Sultan. 'Lupakan dia.1
Kata-kata itu sendiri seolah membunuh perasaan dalam hatiku." Aku menarik napas
dalam-dalam dan memandang wajahnya. "Tolong aku, Bibi." "Bagaimana?"
"Bicaralah dengan sang Sultan. Tulislah surat kepadanya. Katakan kepadanya
tentang ...." "Tapi apakah Jahangir akan mendengarkanku" Aku hanya seorang teman dan tidak
memiliki kekuasaan." Dia ragu-ragu, seperti hendak menambahkan sesuatu, tetapi
berubah pikiran, dan malah menampilkan senyum manisnya. "Aku akan mencoba untuk
menolong. Itu saja yang bisa kujanjikan. Sekarang, aku harus mengalihkan
perhatianmu semampuku."
Apa pun benda yang ada di dalam peti, hal itu membuat Mehrunissa gembira. Aku
membujuk dan mengoreknya agar bisa memberi tahu isinya, tetapi dia hanya menggelengkan
kepala, tertawa, kemudian membawaku menjelajahi kota. Dia terus merasa gembira
dan dia menjadi sangat mencintai serta memerhatikan Sher Afkun, yang tampak
bangga dan puas. Dia benar-benar menikmati posisi pentingnya di Bengal, dan
mengalami kepuasan karena posisinya tidak dibayang-bayangi oleh kesuksesan ayah
Mehrunissa. Pertunjukan kasih sayang Mehrunissa yang terang-terangan, belaian-
belaian di wajah dan tubuh suaminya, dan pujian-pujian penuh kekaguman yang
membuat suaminya senang hanya membuatku merasa tidak nyaman. Aku bisa membaca
pikirannya lebih baik daripada suaminya sendiri, tetapi banyak yang berkata
bahwa para pria mudah diperdaya dengan kecupan dan belaian, dan Mehrunissa
sangat ahli dalam seni merayu seperti itu.
"Kau harus tinggal di sini seterusnya," kata pamanku. "Kau telah membuat
Mehrunissa-ku begitu gembira. Hingga saat ini, dia selalu merasa sedih-hawa
panas, keringat, kebosanan-dan meskipun aku berusaha sebaik mungkin untuk
membuatnya senang, dia tidak pernah puas. Sekarang, kau datang, dan membawa
kebahagiaan besar untuk kami."
"Ya, kau harus tinggal," kata Mehrunissa, lalu tertawa bersamanya.
Dia mengetahui jika aku menyadari alasan temperamennya yang membaik. "Suamiku
sayang, bisakah kau mengatur sebuah qamargah untuk
menghibur Arjumand minggu depan" Aku sudah sangat lama tidak keluar untuk
berburu. Saat terakhir aku melakukannya, Arjumand juga ikut, saat kita
mendampingi Akbar. Sekarang, dia sudah mengetahui bagaimana caranya menembakkan
sebuah jezail, dan kita bisa mengizinkannya menembak seekor harimau. Di daerah
ini, harimau-harimau lebih besar dibandingkan di tempat-tempat lain. Arjumand,
kau akan menikmatinya."
"Kumohon, jangan menyulitkan diri kalian," sahutku. "Aku tidak lagi menikmati
hiburan seperti itu."
"Omong kosong. Kau akan mengaturnya kan, Sayangku?"
"Tentu saja," jawab pamanku.
Qamargah adalah sebuah bentuk perburuan yang pertama kali diperkenalkan oleh
Timur-i-leng. Ribuan penunggang kuda berkumpul bersama untuk membentuk suatu
bentuk bulan sabit besar yang lebarnya bermil-mil, dan perlahan-lahan, mereka
terus maju hingga membentuk sebuah lingkaran. Tak terhitung jumlah hewan yang
bisa terperangkap di dalam lingkaran ini: harimau, leopard, nilgai, kera, dan
rusa chital. Para pemburu bergantian masuk sesuai dengan derajatnya, untuk
membunuh binatang dengan metode apa pun yang mereka pilih: jezail, tombak,
pedang, busur dan anak panah. Sekali waktu, Akbar memasuki area itu sambil
berjalan kaki dan seekor nilgai menanduk testikelnya, membuat dia harus
memulihkan diri selama berbulan-bulan.
Untuk qamargah kali ini, pamanku telah memilih hutan di sebelah timur Gaur. Di
daerah itu banyak harimau, dan dia berharap untuk memamerkan kemampuan
Mehrunissa berburu kepada banyak pegawai kesultanan dan keluarga mereka yang


Taj Mahal Kisah Cinta Abadi Karya Timeri N Murari di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

akan menemani kami. Ada sebuah pesta perayaan yang dilangsungkan di perkemahan semalam sebelumnya.
Tenda-tenda berdiri di sekitar danau yang indah, dan banyak makanan serta
minuman. Para lelaki berkumpul di tenda Sher Afkun, dan para perempuan berkumpul
di tenda Mehrunissa. Kegembiraan kami sama meriahnya dengan keriuhan para
lelaki, karena Mahrunissa sangat menyukai penyelenggaraan pesta, dan telah
menyewa penyanyi serta penari untuk menghibur kami. Kami menyesap minuman anggur
dan bereksperimen dengan huqqa, dan selama berjam-jam mendengarkan para
biduanita menyanyikan lagu-lagu cinta, patah hati, dan kebahagiaan. Perburuan
ini akan berlangsung selama beberapa hari, dan para penunggang kuda sudah
dikirim ke garis depan untuk mengarahkan hewan-hewan buruan ke lapangan yang
dipilih. Sebagai Diwan, pamanku berhak untuk masuk pertama kali. Mehrunissa
bersikeras untuk menemaninya, dan, sebagai tamu istimewanya, aku juga akan
mendapatkan kemudahan yang sama. Kami akan menunggangi gajah masing-masing.
Meskipun perburuan harus dimulai pada dini hari, pesta perayaan kami berlangsung
hingga tengah malam. Bahkan, ketika kami bersiap-siap tidur, kami
masih bisa mendengar suara-suara yang riuh dan meriah dari tenda lelaki di
seberang lapangan. Pasti hanya segelintir orang yang bisa berburu pada keesokan
harinya, sebagaimana yang direncanakan, pada dini hari. Beberapa perempuan
menggumam dalam kantuknya tentang para lelaki konyol itu, dan aku tertidur di
antara tawa mereka. Di kejauhan, aku bisa mendengar suara chital yang terdengar
merdu. Pada saat cahaya tidak membuat bayangan, saat peralihan malam menuju pagi hari,
aku terbangun oleh suara teriakan dan suara pedang yang menebas mengerikan.
Dalam kegelapan, awalnya kami tidak bisa menentukan dari arah mana perkelahian
itu, tetapi suara-suara itu sekarang terdengar di seberang lapangan, dari tenda
pamanku. "Apa itu" Apa yang terjadi?" Para perempuan ketakutan dan berkumpul bersama.
Teriakan-teriakan itu semakin keras dan bercampur jeritan seseorang yang
sekarat. Gajah-gajah terkejut dan melengking keras, para lelaki berlarian ke
segala arah. Terdengar suara jezail ditembakkan sekali, kemudian sebatang pedang
beradu dengan perisai. Aku melepaskan diri dari kerumunan para perempuan dan
mencoba keluar dari tenda. Tiba-tiba, aku merasa lenganku dicengkeram dengan
kuat. "Mau ke mana kau?" Mehrunissa berbisik.
"Melihat peristiwa itu."
"Tinggallah di sini."
Matanya berkilat dalam cahaya redup dan tubuhnya tegang ketika dia
meregangkannya untuk mendengar peristiwa itu. Aku menyadari bahwa dia tidak
ketakutan, dan yang lebih parah, dia tidak tampak terkejut. Tampaknya dia benar-
benar mengetahui apa yang sedang terjadi.
Kericuhan berhenti secepat bermulanya. Keheningan menggantung dan mencekam,
bagaikan seekor elang sedang mengawasi, siap menerkam dan membunuh. Perlahan,
Mehrunissa melepaskan cengkeramannya di lenganku. Setelah sesaat, kami mendengar
kuda-kuda berderap dalam kegelapan malam. Aku gemetar karena kedinginan ketika
berhenti di luar. Bintang-bintang di langit gelap sudah memudar dan hanya
meninggalkan semburat merah jambu bagaikan darah yang bercampur dengan air.
Rumput terasa lembap di kakiku yang telanjang. Di seberang lapangan, kerumunan
pria sedang berkumpul di sekeliling tenda pamanku. Aku mendorong dan menyelinap
sehingga bisa melihat pamanku berbaring dengan bayangan kematian yang tenang dan
rumit di wajahnya. Sebuah pedang tertusuk dalam-dalam di sisi tubuhnya. Saat ini
jiwanya sedang bergerak ke dunia lain, dan kami yang ditinggalkan hanya bisa
menatap raga yang tersia-sia. Aku berlutut di rumput yang bergelimang darah dan
mengecupnya, menghirup harum khasnya yang samar-samar dan terasa akrab, campuran
keringat dan wewangian, tetapi juga sekarang bercampur dengan aroma darah. Aku
lalu menangis. Aku sangat menyayanginya. Dia adalah seorang
lelaki yang baik hati dan lembut. Keberaniannya sebagai seorang prajurit telah
memberinya ketangguhan, suara yang membahana, yang timbul karena kawalan
sepasukan prajuritnya, tetapi dia masih bersikap malu-malu, yang membuat orang
menyayanginya. Lima lelaki lain tergeletak dalam posisi ganjil di sekelilingnya.
Sebuah lengan terputus, jari-jarinya mencengkeram, bagaikan hendak merayap
kembali ke tubuhnya. "Angkat lampunya," aku memerintahkan.
Cahaya memancar dan menerangi wajah-wajah para pria lain yang tewas. Pria yang
paling dekat telah kehilangan turbannya, dan ada sebuah bekas luka yang
memanjang dari dahi dan menghilang ke balik rambut hitamnya yang tebal-sang
pembawa pesan Jahangir. Saat aku berdiri lagi, M i r Bakshi mengangkat bahu
dengan gerakan yang sangat tidak kentara. Suaranya lemah, dan matanya yang merah
tampak tidak berekspresi.
"Dacoit," dia menggumam.
Mehrunissa meratap panjang dan keras. Aku tidak bisa menghiburnya; ada rasa
dingin yang membekukan hatiku. Ladilli adalah orang yang paling kehilangan
karena kematian ayahnya, dan dia menangis diam-diam, terus-menerus. Aku terus
menemaninya semampuku, dan dia mencengkeram tanganku kuat-kuat. Ayahnya adalah
sahabat terdekat Ladilli, dan saat ini dia tampak sangat kehilangan dibandingkan
waktu-waktu lainnya. Mir Bakhsi mengirim laporan ke Jahangir: para dacoit telah membunuh Sher Afkun.
Dia akan menjelajahi bumi dan langit untuk menemukan pembunuh itu. Seorang pembawa pesan
tiba dari kesultanan dengan ungkapan dukacita bagi Mehrunissa. Dia mengantar
salah satu janda Akbar, Salima, untuk mendampingi Mehrunissa. Sebelum
meninggalkan Gaur, Mehrunissa menghabiskan banyak energi untuk merencanakan
makam bagi suaminya. Makam itu dibangun di dekat danau di tepi kota, menghadap
ke barat, ke arah hutan tempat dia terbunuh. Itu merupakan monumen yang
sederhana dan tidak mahal.
Pada malam terakhir kami di Gaur, aku duduk bersama Ladilli, dan menyadari jika
kotak emas yang kuantarkan kepada Mehrunissa tergeletak di meja gading. Ladilli,
yang masih layu karena kesedihannya, tidak memerhatikan diriku. Kuncinya ada di
lubang, jadi aku membukanya dan mengintip ke dalam. Sebutir berlian sebesar
kepalan tanganku terletak di sebuah lapisan penuh zamrud. Aku tahu, ini adalah
batu yang dikembalikan oleh Babur kepada Humayun. Kematian selalu mengiringi
pemberian itu.[] 8 Taj Mahal 1044/1634 Masehi Sita berpikir, aku mirip dengan Sita, istri Rama. Dia juga mengikuti suaminya
menuju pengasingan. Sita bisa saja tetap tinggal di tempat tinggalnya yang
nyaman, tetapi dia bersikeras untuk pergi bersama Rama ke hutan, karena itu
adalah karmanya sebagai seorang istri. Aku meratap saat kami meninggalkan rumah
kami, menginginkan Murthi untuk melakukan perjalanan sendiri: Sita istri Rama
begitu tabah dalam kesepiannya; aku tidak.
Sita sangat kehilangan keluarganya, ibu, nenek, ayah, saudara-saudara perempuan,
sepupu-sepupu, dan bibi-bibi. Dia merindukan perkampungan sederhana yang
terletak di tengah sawah-sawah dengan padi hijau yang berkilauan, di mana dua
lahan kecil milik keluarganya berada. Hari-hari kehidupannya yang tak terhitung
dihabiskan dengan menanam, merawat, memanen, dan menjemur hasil sawahnya. Dia
merindukan perjalanan bersama para perempuan lain menuju tangki air di dekat
desanya. Di sana, mereka mencuci, mandi, dan berkumpul untuk sekadar bergunjing. Rasa kehilangan akan
kuil kecil yang terletak di atas sebuah bukit batu, berjarak setengah hari
perjalanan dari desa menyeruak dalam hatinya.
Di Agra tidak ada kuil; dan Sita hanya memiliki patung pemujaan kecil di
gubuknya. Dia memikirkan semua ini sambil menempuh perjalanannya menyusuri lokasi dengan
membawa bebannya. Dia bertubuh kecil, lentur, dan langsing, tubuhnya hanya
terdiri dari otot dan tulang, tidak ada yang lainnya. Dia berjalan cepat,
menjunjung keranjang di kepalanya dengan sangat seimbang, di atas gulungan kain
untuk melindungi tengkoraknya. Wajahnya berbentuk oval sempurna dengan tulang
pipi tinggi, mata cokelat yang teduh, dan bibir yang selalu tersenyum. Dia hanya
mengenakan sebuah perhiasan, yaitu thali pernikahannya. Seluruh sisa koleksi
perhiasannya yang hanya segelintir, beberapa gelang emas, anting-anting hidung,
dan anting-anting, terkubur di lantai gubuk mereka.
Sita berdiri dengan sabar di antrean untuk menerima beban tanah berikutnya. Saat
itu di Agra sedang musim dingin, dan dia belum pernah merasakan hawa sedingin
ini. Musim dingin yang lalu terasa lembut, tetapi musim dingin saat ini begitu
mematikan; orang-orang tua, orang-orang lemah, orang-orang muda, orang-orang
miskin, semua meninggal. Sita merasa takut jika terbangun dalam kegelapan dengan
embun lembap dan dingin yang tergantung dan mengancam. Dia tidak lagi
mengenakan sari, tetapi berpakaian dengan gaya Panjabi, berupa kurta dan piama,
lapisan-lapisan itu telah kotor karena hawa terlalu dingin untuk mandi ataupun
mencuci secara teratur. Di desanya, Sita mandi setiap hari, dan saat ini dia
merasa dirinya kotor, yang membuatnya semakin tenggelam dalam kepahitan.
Para lelaki mengkhawatirkan bumi. Tanahnya keras, kering, dan kejam; mereka
bertempur dengan peralatan besi yang sederhana, membuat debu kuning kecokelatan
mengepul dan jatuh di serpihan tanah yang keabu-abuan. Di sekelilingnya para
perempuan berceloteh, tetapi Sita tidak mengerti apa-apa. Bahasa yang aneh
membuatnya semakin merasa kesepian dan membuatnya jadi ceroboh. Saat ini dia
mendapatkan gilirannya kembali. Dia menyerahkan keranjangnya kepada lelaki yang
berdiri di tanah. Si lelaki menumpahkannya ke dalam lubang raksasa sedalam
sekitar dua ratus meter, dan menerima sebuah keranjang dari seorang lelaki lain
di kedalaman bumi yang gelap.
Pembangunan fondasi ini membutuhkan waktu bertahun-tahun. Rancangan makam berupa
sebuah susunan jembatan-jembatan yang melintang di atas sumur-sumur, yang pada
akhirnya akan dihubungkan dengan busur-busur kuat. Inti sumur-sumur ini akan
diisi dengan serpihan batu, kemudian ruangan di antaranya diisi dengan bebatuan
padat. Jembatan-jembatan ini akan menyangga beban makam yang berat, sementara
sumur-sumurnya akan mencegah air Sungai Jumna
menerpa bangunan itu. Batu-batu bata direndam di dalam lemak panas agar kedap
air selama berabad-abad ke depan. Adukan semen yang mengikatnya juga merupakan
campuran istimewa: perasan limau dan berlian, gula mentah, tanaman miju dan
tepungnya, cangkang tiram dan kulit telur yang dihancurkan, serta getah pohon
karet. Sita berjongkok dan meraih salah satu sisi keranjang, sementara si lelaki
memegang yang lain. Bersama-sama, mereka mengangkat dan meletakkan di kepala
Sita. Dia menyeimbangkan tubuhnya, dan perlahan-lahan, dengan terkendali, dia
berdiri. Itu adalah usaha yang keras. Setelah tubuhnya tegak, dia harus
menyusuri jalan dalam kebingungan. Permukaan tanah bergelombang berbukit-bukit,
dan Sita mengikuti sebuah jalan setapak sempit, hanya selebar kaki telanjang,
menuju dinding batu penahan air. Di situlah awal sebuah jalan besar, yang
sekarang hanya setinggi tiga puluh sentimeter, tetapi akhirnya akan menanjak dan
terus menanjak, mengikuti ketinggian bangunan. Gajah-gajah dan kerbau-kerbau
akan menapaki tanjakan yang melengkung, menghela muatan batu bata dan bebatuan.
Sita menurunkan bawaannya, kemudian seorang lelaki yang berjongkok memukul-mukul
tanah yang segar itu dengan balok-balok kayu besar.
Dia kembali dengan melewati rute lain. Dalam bayangan pohon banyan yang berdebu,
dia melihat sekelompok anak sedang bermain. Yang paling muda masih bayi,
sementara gadis tertua berusia sekitar
empat atau lima tahun. Dia yang menjaga anak-anak lain. Sita mencari Savitri dan
menemukannya sedang duduk di atas tumpukan pasir dengan ceria. Sita berjongkok
dan memeluk putrinya, meniup hidung Savitri, merapikan pakaiannya, kemudian
kembali bergabung dalam antrean. Sita menoleh ke belakang; Savitri menangis,
mengulurkan tangannya, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan.
Di kejauhan, dia melihat sekelompok lelaki berpakaian indah yang mendekat, dan
mendengar bisikan para pekerja lain: sang Padishah, sang Padishah. Dia berdiri
membeku dan melongo bersama yang lain, seperti melihat seorang dewa turun ke
bumi. Sang Sultan menyeberangi tanah bagaikan kilat, para lelaki dan perempuan
membungkuk rendah di hadapannya. Para prajurit mendorong dan membersihkan jalan
di antara para pekerja untuk sang Padishah. Tampaknya, sang Sultan tidak
memedulikan orang lain. Dia mendaki tembok batu penahan air, berdiri hingga
tampak siluetnya di depan latar langit biru, terisolasi dari semua yang
mengelilinginya, dan menatap bumi yang tergali. Kemudian, dia menatap langit
dalam waktu yang lama dalam keheningan, dan, tampak bagi Sita, dia melihat
sesuatu-sesuatu yang menjulang di atasnya, yang tidak bisa dilihat oleh orang
lain. Kemudian, dia kembali ke istana.
Kelelahan, Sita berjongkok di dekat perapian. Asap membuat matanya perih dan dia
menyekanya terus-menerus dengan lengan kurta yang dia
kenakan. Panci-panci keramik berdesis, yang satu berisi nasi, yang lain berisi
dhal, yang ketiga berisi brinjal, cukup untuk memberi mereka makan selama satu
hari. Setiap pagi, dia membungkus makanan dingin dengan daun, membuat bekal
makanan yang rapi untuk dirinya sendiri, Murthi, Gopi, dan Savitri.
Sita sedang tidak enak badan; ini adalah sebuah penyakit yang sudah lama dia
ketahui. Dia sudah beberapa lama tidak datang bulan dan mengetahui, dengan
gembira, bahwa dia hamil lagi. Dia membisikkan sebuah doa: seorang putra, Siwa,
Wishnu, Lakshmi, seorang putra. Jika ada sebuah kuil di sekitar situ, Sita akan
mandi, mengenakan sari bersih, menyelipkan rangkaian melati di rambutnya,
kemudian membawa sesaji sederhana bagi para dewa. Dia akan memberi sedikit koin
kepada pendeta untuk mengalunkan puja istimewa, untuk bayinya yang baru tumbuh,
dan berdoa diiringi alunan puja tersebut, agar mendapatkan anak lelaki.
Cepat, cepat, cepat, cepat.
Kata-kata itu berdentam seakan-akan dikatakan dengan keras; jantungnya berpacu
dengan kata-kata tersebut. Shah Jahan duduk di bantal, menatap model. Tangannya,
tangan khas seorang Sultan, yang lembut, pucat, dan dihiasi emas dan berlian,
membelai kubah model itu. Bangunan tersebut membebaninya, menyakitkan dirinya,
bagaikan tulang-tulangnya terbuat dari marmer
putih, menghunjam dagingnya bagaikan luka yang tidak bisa sembuh. Hanya jika
bangunan itu selesai, hilang sudah rasa sakitnya, lukanya menutup kembali, dan
beban itu akan terangkat dari tubuhnya. "Ada sesuatu yang salah," dia berbisik.
"Isa, panggilkan Ismail Afandi."
"Akan saya kerjakan, Padishah."
Tangan Shah Jahan terus-menerus membuat gerakan membelai, mencari sebuah
kesalahan. Menteri-menterinya-Diwan, Mir Saman, Mir Bakshi-berdiri membisu dan
tidak bergerak, tidak ada yang berani mengganggu meditasi sang Sultan.
Akhirnya, Diwan bersuara: "Padishah!"
"Ada apa?" Sang Diwan membereskan kertas-kertasnya, menimbulkan suara gesekan. "Jika Paduka
bersedia, kita harus menangani beberapa masalah. Tahun ini hujan turun terlambat
dan para petani kehilangan banyak hasil panen mereka. Saya harus memberi izin
untuk mengurangi pajak mereka, sebagaimana yang ditetapkan oleh Akbar. Tapi,
saya pikir itu tidak mungkin. Lembaga keuangan menghabiskan jumlah yang sangat
banyak untuk pembangunan makam Paduka Mumtaz-i-Mahal. Apa yang harus kita
lakukan, Padishah?" "Nanti, nanti."
"Padishah," Mir Bakshi berbicara. "Para pangeran Deccan memberontak secara
terbuka. Kita harus mengirimkan bala tentara untuk menangani mereka. Siapa yang
akan memimpin pasukan?"
"Selalu ada pembuat onar," jawab Shah Jahan.
"Apa yang pernah berhasil kita lakukan di sana" Aku telah mencoba, Akbar telah
mencoba, ayahku juga. Masalah itu bisa menunggu." "Baik, Padishah."
"Sekarang, pergilah. Menghadaplah kepadaku nanti."
Menteri-menterinya membungkuk dan mengundurkan diri. Seperti seluruh kesultanan
ini, mereka menahan napas mereka. Sang Mughal Agung tampaknya mencengkeramkan
tangannya ke bumi, membekap para manusia dan hewan serta membekukan semua
gerakan, hanya mengizinkan ribuan pekerja di sungai untuk meneruskan pekerjaan
harian mereka yang menyibukkan.
Ismail Afandi, sang Perancang Kubah, menunggu hingga Shah Jahan menyadari
kehadirannya yang tidak kentara. Tangan sang Sultan masih menempel di kubah. Di
sisinya ada sebuah tungku yang terisi batu bara menyala, menguarkan hawa panas
yang harum. "Model ini tidak sempurna, Afandi." "Ya, Padishah."
Ismail Afandi masih diam dan bersikap patuh, jawabannya bermakna ganda. Kubah
itu sempurna. Bukankah dia pernah membangun sebuah kubah untuk masjid besar di
Shiraz, dan kubah untuk makam sultan Turki" Keahliannya belum pernah
Bangau Sakti 4 Pendekar Rajawali Sakti 211 Harpa Neraka Eng Djiauw Ong 8
^