Pencarian

Sang Godfather 10

The God Father Sang Godfather Karya Mario Puzo Bagian 10


seorang teman menggunakan koneksinya dan aku bebas, tapi rumah sakit besar tidak mengizinkan
aku mengoperasi. Jadi di sinilah aku sekarang berada. Memberi nasihat yang baik, tapi diabaikan
orang seperti dulu."
"Aku tidak mengabaikannya," kata Johnny Fontane. "Aku memikirkannya."
Lucy akhirnya mengganti topik pembicaraan. "Apa yang kaulakukan di Vegas,
Johnny" Bersantai dari
tugas-tugasmu sebagai pengusaha Hollywood kelas kakap atau bekerja?"
Johnny menggeleng. "Mike Corleone ingin bertemu denganku. Ia akan terbang kemari
malam ini bersama Tom Hagen. Kata Tom, mereka akan menemuimu, Lucy. Kau tahu apa yang akan
mereka bicarakan?" Lucy menggeleng. "Kami akan makan malam bersama besok malam. Freddie juga.
Kupikir ini ada hubungannya dengan hotel. Kasino banyak mengeluarkan uang belakangan ini, yang
seharusnya tidak boleh. Don mungkin ingin Michael memeriksanya."
"Kudengar akhirnya wajah Mike bisa disembuhkan," kata Johnny.
Lucy tertawa. "Kurasa Kay membujuknya memperbaiki wajah. Mike tidak mau
melakukannya ketika mereka menikah. Aku tidak tahu sebabnya. Kelihatannya begitu mengerikan dan
hidungnya jadi terus mengeluarkan ingus. Seharusnya ia
572 memperbaikinya lebih dini." Ia berhenti sesaat. "Jules dipanggil Keluarga
Corleone untuk melakukan operasi itu. Mereka menggunakannya sebagai konsultan dan pengamat."
Johnny mengangguk dan berkata singkat, "Aku yang merekomendasikan begitu."
"Oh," kata Lucy. "Selain itu, kata Mike ada yang akan dilakukannya untuk Jules.
Itu sebabnya ia mengundang kami makan malam besok."
Jules berkata sambil berpikir. "Ia tidak memercayai siapa pun. Ia memperingatkan
aku supaya memerhatikan apa yang dilakukan setiap orang. Itu merupakan pembedahan biasa
yang cukup sederhana. Setiap dokter yang kompeten bisa melakukannya."
Terdengar suara dari kamar tidur suite dan mereka memandang ke tirai. Nino sudah
sadar kembali. Johnny mendekatinya dan duduk di ranjang. Jules dan Lucy melangkah ke kaki
ranjang. Nino tersenyum padanya dengan wajah pucat. "Oke, aku tidak akan sok tahu lagi. Aku
merasa benar-benar tidak enak. Johnny, ingat setahun yang lalu, apa yang terjadi sewaktu kita
bersama dua cewek itu di Palm Springs" Aku bersumpah padamu aku tidak cemburu pada apa yang terjadi. Aku
merasa senang. Kau percaya padaku, Johnny?"
Johnny berkata untuk menenangkan, "Tentu saja, Nino, aku percaya padamu."
Lucy dan Jules berpandangan. Dari semua yang mereka dengar dan ketahui tentang
Johnny Fontane, rasanya mustahil ia merampas gadis dari sahabat karib seperti Nino. Dan kenapa
Nino mengatakan ia tidak cemburu setahun yang lalu sewaktu hal itu terjadi" Pikiran yang sama
melintas dalam benak keduanya, bahwa Nino minum sampai mati
karena alasan romantis, hanya karena seorang gadis meninggalkan dirinya demi
Johnny Fontane. Jules kembali memeriksa Nino. "Akan kuusahakan ada perawat untuk menjagamu,"
kata Jules. "Kau benar-benar tidak boleh turun dari ranjang selama dua hari. Ini serius."
Nino tersenyum. "Oke, Dok, asalkan perawatnya jangan terlalu cantik."
Jules menelepon meminta perawat, lalu pergi bersama Lucy. Johnny duduk di kursi
dekat ranjang untuk menunggu kedatangan perawat. Nino kembali tidur, wajahnya menunjukkan
kelelahan. Johnny memikirkan apa yang tadi dikatakannya, tentang ketidakcemburuan Nino atas apa
yang terjadi lebih dari setahun yang lalu di Palm Springs bersama dua cewek. Tidak pernah terlintas
dalam benaknya bahwa Nino mungkin cemburu.
Setahun yang lalu, Johnny Fontane duduk di kantornya yang mewah, kantor
perusahaan film yang dipimpinnya, dan seumur hidup belum pernah merasa sekacau itu. Mengherankan,
karena film pertama yang diproduksinya, dibintangi dirinya sendiri dan Nino sebagai pemeran
pembantu, menghasilkan gunungan uang. Setiap orang melakukan tugasnya. Film tersebut
dibuat dengan biaya di bawah anggaran. Setiap orang mendapat banyak uang dari film itu dan Jack Woltz
kehilangan sepuluh tahun dari hidupnya. Sekarang Johnny memproduksi dua film lagi, satu
dibintanginya sendiri dan yang
lain dibintangi Nino. Nino hebat sekali di layar putih sebagai salah satu pria
tampan yang dicintai kaum wanita. Semua yang disentuhnya menjadi uang, dan uang terus mengalir masuk.
Godfather menerima persentasenya melalui bank, dan itu menyebabkan Johnny benar-benar
senang. Ia telah membuktikan bahwa dirinya bisa dipercaya
Godfather. Tapi hari ini hal itu tidak banyak membantu.
Dan sekarang ia menjadi produser film yang mandiri dan sukses, ia memiliki
kekuasaan yang sama besarnya, mungkin lebih besar lagi, daripada sewaktu ia menjadi penyanyi.
Wanita-wanita cantik jungkir balik mengejar dirinya seperti dulu lagi, sekalipun untuk alasan yang
lebih komersial. Ia memiliki pesawat sendiri, ia hidup lebih mewah, dengan keuntungan pajak istimewa
bagi pengusaha yang tidak didapatkan para artis. Jadi apa yang mengganggu pikirannya"
Ia mengetahui apa yang mengganggu pikirannya. Bagian depan kepalanya sakit,
saluran hidungnya sakit, tenggorokannya gatal. Satu-satunya cara untuk menggaruk dan meredakan
gatal-gatal itu hanya dengan menyanyi, padahal mencobanya saja ia takut. Ia menelepon Jules Segal
untuk membicarakan keluhannya, menanyakan kapan waktu yang aman baginya untuk mencoba menyanyi dan
Jules mengatakan kapan saja ia menginginkannya. Jadi ia mencoba menyanyi dan terdengar
begitu serak dan jelek sehingga ia berhenti mencoba. Dan tenggorokannya terasa sangat sakit
keesokan harinya, sakit yang berbeda dengan sebelum kutilnya diangkat. Rasa sakit yang lebih
buruk,, seperti terbakar.
Ia takut menyanyi, takut ia bakal kehilangan suara selamanya, atau merusaknya.
Dan kalau ia tak bisa menyanyi lagi, apa gunanya hal-hal lain" Segala sesuatu
yang lainnya hanyalah omong kosong. Cuma menyanyi yang diketahuinya. Mungkin ia lebih tahu tentang
menyanyi dan jenis musiknya sendiri daripada siapa pun di seluruh dunia. Sebaik itulah dirinya,
sekarang ia menyadarinya. Selama bertahun-tahun itu ia benar-benar profesional. Tidak ada
seorang pun yang bisa memberitahu dirinya mana yang benar dan mana yang salah, ia tidak
575 perlu bertanya pada siapa pun. Ia mengetahuinya. Sayang sekali bakatnya tersia-
sia, penyia-nyiaan yang terkutuk. Waktu itu hari Jumat dan ia memutuskan melewatkan akhir pekan bersama Virginia
dan anak-anak. Ia menelepon Virginia seperti yang biasa dilakukannya untuk memberitahu Ginny bahwa
ia akan datang. Sesungguhnya ia memberikan kesempatan bagi Ginny untuk menolaknya. Tapi Virginia
tidak pernah mengatakan tidak. Tidak pernah selama bertahun-tahun sesudah mereka bercerai.
Sebab ia tak pernah bisa menolak kesempatan mempertemukan anak-anaknya dengan ayah mereka. Wanita
yang hebat, pikir Johnny. Ia beruntung punya Virginia. Dan walaupun sekarang ia lebih
menyayanginya daripada wanita-wanita lain yang dikenalnya, ia mengetahui mustahil bagi mereka untuk
hidup bersama secara seksual. Mungkin sesudah mereka berusia 65 tahun, seperti kalau orang pensiun,
mereka akan pensiun bersama, pensiun dari segala-galanya.
Tapi realita menghancurkan pikirannya sewaktu ia datang ke sana dan mendapati
Virginia agak murung serta kedua putrinya tidak terlalu gembira bertemu dirinya karena mereka
sudah dijanjikan diajak mengunjungi teman-temannya di peternakan di California, tempat mereka
bisa berkuda. Ia menyuruh Virginia mengirim kedua anaknya ke peternakan dan mereka mencium
keduanya sebagai ucapan selamat berpisah sambil tersenyum geli. Ia sangat memahami perasaan
mereka. Anak mana yang tidak memilih berkuda di peternakan daripada pergi bersama ayah yang muram
dan memilih sendiri waktunya sebagai ayah" Ia berkata pada Virginia, "Aku akan minum, lalu
aku sendiri harus pergi." "Baiklah," kata Virginia. Suasana hatinya sedang buruk, yang jarang terjadi,
tapi Johnny bisa mengetahuinya. Tidak mudah bagi Virginia untuk menjalani kehidupan seperti ini.
576 Virginia melihatnya mengambil minuman banyak-banyak. "Kenapa kau perlu menghibur
dirimu?" tanya Virginia. "Segalanya berjalan baik bagimu. Aku tidak pernah menduga kau
berbakat jadi pengusaha besar." Johnny tersenyum padanya. "Tidak terlalu sulit kok," katanya. Pada saat yang
sama ia berpikir, jadi itulah yang tidak beres. Ia memahami perasaan wanita dan sekarang ia mengerti
bahwa Virginia murung karena menduga Johnny melakukan segalanya semaunya sendiri. Wanita
biasanya tidak senang melihat pasangannya terlalu sukses. Mereka jadi jengkel. Mereka jadi
tidak terlalu yakin akan cengkeraman mereka pada pria yang berdasarkan kasih sayang, kebiasaan seksual,
atau ikatan pernikahan. Jadi lebih untuk menggembirakan Virginia daripada menyuarakan
masalahnya sendiri, Johnny berkata, "Apa bedanya semua itu kalau aku tidak bisa bernyanyi?"
Suara Virginia terdengar jengkel. "Oh, Johnny, kau bukan anak-anak lagi. Umurmu
sudah tiga puluh lima tahun lebih. Kenapa kau terus mengkhawatirkan urusan menyanyi" Lagi pula,
kau mendapat uang yang jauh lebih banyak sebagai produser."
Johnny memandangnya dengan tatapan menyelidik dan berkata, "Aku penyanyi. Aku
senang menyanyi. Apa hubungannya dengan usia tua?"
Virginia jadi tidak sabar. "Toh aku tidak pernah menyukai nyanyianmu. Sekarang
sesudah kau menunjukkan bahwa kau bisa membuat film, aku gembira kau tidak bisa menyanyi
lagi." Mereka sama-sama terkejut sewaktu Johnny berkata marah, "Itu perkataan yang
sangat busuk." Ia terguncang. Bagaimana Virginia bisa merasa seperti itu" Bagaimana Virginia bisa
begitu tidak menyukai dirinya" Virginia tersenyum melihat Johnny tersinggung, sebab rasanya berlebihan kalau
Johnny marah padanya karena omongannya, dan berkata, "Menurutmu bagaimana perasaanku waktu
semua gadis mengejar-ngejar dirimu karena caramu bernyanyi" Bagaimana perasaanmu seandainya
aku telanjang di jalan agar pria-pria mengejarku" Seperti itulah nyanyianmu dan aku selalu
berharap kau kehilangan suaramu sehingga tidak bisa bernyanyi lagi. Tapi itu sebelum kita bercerai."
Johnny menghabiskan minuman. "Kau tidak memahami apa-apa. Sedikit pun." Ia pergi
dari dapur dan memutar nomor telepon Nino. Dengan cepat ia mengatur agar mereka berdua bisa
pergi ke Palm Springs akhir pekan itu dan memberi Nino nomor telepon gadis yang harus
dihubungi, gadis cantik yang benar-benar masih segar. "Ia akan mengajak temannya untukmu," kata Johnny.
"Aku akan tiba di tempatmu satu jam lagi."
Virginia mengucapkan selamat berpisah dengan dingin waktu Johnny pergi. Johnny
tidak peduli, ini salah satu dari sedikit kesempatan ketika ia marah pada Virginia. Persetan
dengan semua itu, ia baru
saja membebaskan diri untuk menikmati akhir pekan dan membuang semua racun dari
sistem tubuhnya. Memang benar, segalanya terasa indah di Palm Springs. Johnny menggunakan
rumahnya sendiri di sana, yang selalu terbuka dan dirawat stafnya sepanjang tahun. Dua gadis yang
mereka panggil masih cukup muda sehingga sangat menyenangkan dan tidak terlalu rakus imbalan.
Beberapa orang datang untuk menemani mereka di kolam renang hingga tiba waktu makan malam. Nino pergi
ke kamar bersama salah seorang gadis untuk bersiap-siap menjelang makan malam dan
bercinta kilat sementara Nino masih hangat karena sinar matahari. Johnny kurang berselera dan
menyuruh gadisnya, yang berambut pirang dan bernama Tina, pergi ke atas untuk
mandi sendiri. Ia tidak pernah bisa bercinta dengan wanita lain sesudah bertengkar dengan
Virginia. Ia pergi ke serambi berdinding kaca dan dilengkapi piano. Sewaktu bernyanyi
bersama band ia sering main-main dengan piano, hanya untuk bergurau, sehingga ia bisa pura-pura
bernyanyi dengan gaya sendu di bawah sinar bulan. Sekarang ia duduk menghadapi piano sambil
menggumamkan lagu, sangat
pelan, mengucapkan beberapa kata tapi tidak benar-benar bernyanyi. Tiba-tiba
Tina telah berada di dekatnya, membuatkan minuman untuknya dan duduk di sisinya di depan piano.
Johnny memainkan

The God Father Sang Godfather Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

beberapa lagu dan Tina turut bernyanyi. Lalu ia meninggalkan Tina di piano dan
pergi ke atas untuk mandi. Sambil mandi pancuran ia menyanyikan kalimat-kalimat pendek, lebih mirip
orang berbicara. Lalu ia berpakaian dan turun kembali. Tina masih seorang diri; Nino benar-benar
menggarap ceweknya atau mabuk. Johnny duduk di depan piano sementara Tina keluar melihat kolam renang. Johnny
mulai menyanyikan salah satu lagu lamanya. Tenggorokannya tidak lagi terasa terbakar.
Nyanyian yang dilantunkannya lebih pelan tapi dengan nada yang tepat. Ia memandang ke taman.
Tina masih di sana, pintu kaca tertutup sehingga gadis itu tidak bisa mendengar suaranya. Johnny
memulai lagi dengan balada lama yang paling disukainya. Ia menyanyikan lagu sepenuh hati seakan
bernyanyi di depan umum, membebaskan diri, menunggu perasaan terbakar pada tenggorokannya, tapi
gangguan itu tidak datang lagi. Ia mendengarkan suaranya sendiri, memang agak berbeda, tapi ia
menyukainya. Suaranya lebih berat, suara pria, bukan suara anak-anak. Mantap, pikirnya, kelam
dan mantap. Ia mengakhiri nyanyiannya sambil mengendurkan ketegangan dan duduk
di depan piano, memikirkannya. Di belakangnya, Nino berkata, "Tidak jelek, Sobat, sama sekali tidak jelek."
Johnny berbalik. Nino berdiri di ambang pintu, seorang diri. Gadisnya tidak
bersamanya. Johnny merasa lega. Ia tidak keberatan Nino mendengarkan nyanyiannya.
"Yeah," kata Johnny. "Kita singkirkan kedua gadis itu sekarang. Suruh mereka
pulang." Nino berkata, "Kau saja yang menyuruh mereka pulang. Mereka anak-anak manis, aku
tidak ingin menyakiti perasaan mereka. Selain itu aku baru saja menggarap cewekku dua kali.
Bagaimana kesannya kalau aku menyuruh mereka pergi tanpa mengajak mereka makan malam?"
Persetan semua, pikir Johnny. Biar saja kedua gadis tersebut mendengarkan
meskipun nyanyiannya jelek. Ia menelepon pemimpin band yang dikenalnya di Palm Springs dan memintanya
mengirimkan mandolin untuk Nino. Pemimpin band memprotes, "Tidak ada yang memainkan mandolin
di California." Johnny berteriak, "Kirimkan saja satu untukku."
Rumah penuh peralatan rekaman dan Johnny meminta kedua gadis itu mengontrol
tombol on-off dan volume suara. Sesudah makan malam, Johnny mulai bekerja. Ia meminta Nino bermain
mandolin sebagai pengiring dan menyanyikan semua lagu lamanya. Ia menyanyikan semua lagu
hingga habis, tidak menahan-nahan suaranya sama sekali. Tenggorokannya baik-baik saja, ia
merasa sanggup bernyanyi selamanya. Selama berbulan-bulan sewaktu tidak bisa bernyanyi, ia
sering berpikir tentang bernyanyi, merencanakan menggunakan lirik yang berbeda dari waktu ia masih
kanak-kanak. Ia menyanyikan semua lagu itu dalam
hati dengan variasi dan penekanan yang lebih canggih. Sekarang ia benar-benar
melakukannya. Kadang terjadi kesalahan sewaktu ia benar-benar menyanyikannya, bagian yang
kedengaran bagus sewaktu ia hanya mendengarkan tapi ternyata tidak bagus saat ia menyanyikannya
keras-keras. KERAS-KERAS, pikirnya. Ia tidak mendengarkan dirinya sekarang, ia memusatkan
perhatian untuk tampil. Ia agak kikuk dengan temponya tapi tidak apa-apa, ia hanya kurang
latihan. Ia memiliki metronom dalam kepalanya yang tidak pernah mengecewakannya. Yang diperlukan
hanyalah sedikit latihan. Akhirnya ia berhenti bernyanyi. Tina mendekat dengan mata berbinar-binar dan
menciumnya lama sekali. "Sekarang aku tahu kenapa Ibu menonton semua filmmu," katanya. Itu
komentar yang salah untuk dilontarkan kapan saja kecuali saat ini. Johnny dan Nino tertawa.
Mereka memutar kembali rekamannya dan sekarang Johnny benar-benar bisa mendengar
suaranya sendiri. Suaranya berubah, banyak berubah, tapi tidak diragukan lagi itu suara
Johnny Fontane. Suaranya jadi lebih mantap dan berat daripada yang disadarinya selama ini, tapi
juga mengandung kualitas nyanyian pria dewasa, bukan nyanyian anak-anak. Suaranya berisi lebih
banyak emosi, lebih banyak karakter. Dan urusan teknis nyanyiannya jauh lebih unggul daripada apa
pun yang pernah dilakukannya sebelum ini. Nyanyiannya tidak kurang dari level master. Dan kalau
ia sebagus itu sekarang, meskipun masih kaku, sebagus apa ia nanti sesudah suaranya pulih
sepenuhnya" Johnny tersenyum pada Nino. "Apa nyanyianku sebagus yang kukira?"
Nino memandang serius wajahnya yang bahagia. "Bagus sekali," katanya. "Tapi mari
kita lihat bagaimana kau bernyanyi besok pagi."
Johnny sakit hati karena Nino begitu dingin. "Sialan, kau tahu kau tidak bisa
bernyanyi seperti itu. Jangan khawatir soal besok pagi. Aku merasa sangat mantap." Tapi ia tidak
bernyanyi lagi malam itu.
Ia dan Nino mengajak kedua gadis tersebut ke pesta dan Tina melewatkan malam itu
di ranjangnya, tapi Johnny tidak banyak beraksi di sana. Tina agak kecewa. Tapi persetan, orang
tidak bisa melakukan segalanya dalam sehari, pikir Johnny.
Ia bangun pagi harinya dengan perasaan sedih, dengan kengerian samar kalau-kalau
ia hanya bermimpi suaranya pulih kembali. Lalu sesudah yakin itu bukan mimpi, ia
ketakutan suaranya rusak kembali. Ia melangkah ke jendela dan bersenandung sedikit, lalu turun ke ruang
duduk, masih mengenakan piama. Dipilihnya sebuah nada di piano dan tidak lama kemudian ia
mencoba bernyanyi dengan iringan piano. Ia bernyanyi perlahan-lahan tapi tidak ada rasa sakit, tidak ada serak di
tenggorokannya, jadi ia mengerahkan seluruh kemampuannya. Suaranya keluar dengan wajar dan mantap, ia
sama sekali tidak perlu memaksakannya. Tenang, tenang, tuangkan saja terus. Johnny menyadari bahwa
masa yang paling buruk telah berlalu, sekarang ia memiliki semuanya kembali. Dan ia sama
sekali tidak peduli kalau filmnya gagal, tidak masalah jika ia tak bisa bermain-main dengan Tina
semalam, tidak masalah jika Virginia membencinya karena ia bisa bernyanyi lagi. Sejenak hanya satu yang
disesalinya. Seandainya suaranya kembali saat ia mencoba bernyanyi untuk anak-anaknya,
alangkah indahnya saat itu. Akan sangat indah. Perawat hotel masuk ke kamar mendorong kereta penuh obat. Johnny berdiri dan
menunduk memandang Nino, 582 yang tidur atau mungkin sekarat. Ia tahu Nino tidak cemburu karena ia
mendapatkan suaranya kembali. Ia tahu Nino hanya cemburu karena ia begitu bahagia mendapatkan
suaranya kembali. Bahwa ia begitu menghargai kemampuannya bernyanyi. Sebab sekarang jelas sekali bahwa
Nino Valenti tidak terlalu memedulikan apa pun sehingga ingin tetap hidup.
Bab 27 Michael Corleone datang menjelang malam, dan atas perintahnya sendiri, tidak
dijemput di bandara. Hanya dua pria yang mendampinginya: Tom Hagen dan pengawal pribadi baru, namanya
Albert Neri. Suite hotel yang paling mewah sudah disiapkan bagi Michael dan rombongannya. Di
suite itu menunggu orang-orang yang perlu ditemui Michael.
Freddie menyambut adiknya dengan pelukan hangat. Freddie jauh lebih tegap, lebih
ramah, riang, dan jauh lebih rapi. Ia mengenakan setelan sutra abu-abu dan aksesori yang sesuai.
Rambutnya baru dipangkas dan ditata secermat bintang film, wajahnya berseri-seri karena
terawat, bahkan kukunya pun tidak terlewatkan. Ia orang yang sama sekali berbeda dengan yang dikirim
dari New York empat tahun berselang. Ia mundur sedikit dan mengamati Michael dengan sayang. "Kau tampak jauh lebih
baik sesudah wajahmu diperbaiki. Istrimu akhirnya berhasil membujukmu, heh" Bagaimana kabar
Kay" Kapan ia akan mengunjungi kami di sini?"
Michael tersenyum kepada abangnya. "Kau juga tampak
584 sangat sehat. Seharusnya Kay ikut sekarang, tapi ia hamil lagi dan harus
mengurus bayinya. Selain itu
aku harus menangani bisnis, Freddie, aku harus terbang pulang besok malam atau
lusa pagi." "Kau harus makan dulu," kata Freddie. "Kami punya koki yang hebat di hotel, kau
akan mendapat makanan paling lezat yang pernah kaunikmati. Mandilah dan ganti pakaian,
segalanya akan ditata di sini. Aku telah menyiapkan semua orang yang akan kautemui. Mereka akan sudah
menunggu saat kau siap nanti, aku tinggal menelepon mereka."
Michael berkata ramah, "Kita panggil Moe Greene yang terakhir, oke" Minta Johnny
Fontane dan Nino makan bersama kita. Dan Lucy bersama teman dokternya itu. Kita bicara
sambil makan." Ia berpaling pada Hagen. "Ada orang yang ingin kautambahkan, Tom?"
Hagen menggeleng. Freddie menyambutnya kurang ramah dibandingkan terhadap
Michael, tapi Hagen mengerti. Freddie ada dalam daftar orang-orang yang tidak disukai ayahnya, dan
Freddie tentu saja menyalahkan sang Consigliori karena tidak meluruskan masalah. Hagen dengan
senang hati bersedia melakukannya, tapi ia tidak mengerti kenapa Freddie tidak disukai ayahnya. Don
tidak pernah mengungkapkan kejengkelannya secara spesifik. Ia hanya membiarkan perasaannya
diketahui orang lain. Selewat tengah malam barulah mereka berkumpul mengelilingi meja makan yang
khusus disiapkan di suite Michael. Lucy mencium Michael dan tidak mengomentari wajahnya yang tampak
jauh lebih baik sesudah operasi. Jules Segal dengan berani memeriksa tulang pipi yang sudah
diperbaiki dan berkata pada Michael, "Pekerjaan yang bagus. Ini bisa tersambung dengan sempurna.
Sinusmu baik-baik saja?" "Baik," kata Michael. "Terima kasih atas bantuanmu."
585 Perhatian terpusat pada Michael sementara mereka makan. Mereka semua menyadari
kemiripan sikap dan gaya bicaranya dengan Don. Dengan cara yang aneh ia membangkitkan rasa
hormat yang sama, sekalipun begitu ia bersikap wajar sepenuhnya dalam usahanya membuat setiap
orang merasa tenang. Hagen seperti biasa selalu berada di latar belakang. Si pengawal baru yang belum
mereka kenal, Albert Neri, juga pendiam dan tidak menonjolkan diri. Ia bilang tidak lapar dan
duduk di kursi berlengan dekat pintu sambil membaca koran setempat.
Sesudah mereka minum dan makan, para pelayan diperintahkan pergi. Michael
berbicara kepada Johnny Fontane. "Kudengar suaramu pulih seperti sedia kala, kau mendapatkan
kembali semua penggemarmu. Selamat."
"Terima kasih," kata Johnny. Ia ingin mengetahui apa alasan sebenarnya Michael
ingin menemui dirinya. Bantuan apa yang akan diminta darinya"
Michael berkata kepada mereka semua secara umum. "Keluarga Corleone sedang
mempertimbangkan pindah ke Vegas sini. Menjual semua kepentingan kami dalam bisnis minyak zaitun
dan menetap di sini. Don dan Hagen, serta aku sendiri, sudah membicarakan hal ini dan menurut
kami, di sinilah letak masa depan bagi Keluarga. Itu tidak berarti sekarang atau tahun depan. Mungkin
akan memakan waktu dua, tiga, bahkan empat tahun untuk membereskan segalanya. Tapi itu rencana
umum. Beberapa teman kita memiliki persentase yang cukup besar di hotel dan kasino yang akan
menjadi fondasi kita. Moe Greene akan menjual bagiannya kepada kita sehingga hotel ini akan dimiliki
teman-teman Keluarga sepenuhnya."
Wajah Freddie yang bulat tampak gelisah. "Mike, kau yakin Moe Greene bersedia
menjualnya" Ia tidak pernah 586 menyinggung hal itu padaku dan ia menyukai bisnis ini. Menurutku, ia tidak akan
menjualnya." Michael berkata pelan, "Akan kuajukan tawaran yang tidak bisa ditolaknya."
Kata-kata itu diucapkan dengan nada biasa, tapi pengaruhnya terasa dingin,
mungkin karena kata-kata tersebut merupakan kalimat yang sangat disukai Don. Michael berpaling pada
Johnny Fontane. "Don
mengandalkan dirimu untuk membantu kami memulai segala sesuatunya. Kami
diberitahu bahwa hiburan akan menjadi faktor besar untuk menarik para penjudi. Kami berharap kau
bersedia menandatangani kontrak untuk tampil lima kali setahun, selama sekitar seminggu
penuh setiap kalinya. Kami berharap teman-temanmu di film bersedia melakukan hal yang sama.


The God Father Sang Godfather Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kau sudah banyak membantu mereka, sekarang kau bisa gantian meminta bantuan mereka."
"Tentu saja," kata Johnny. "Aku bersedia melakukan segalanya untuk Godfather-ku,
kau tahu itu, Mike." Tapi ada sedikit keraguan dalam suaranya.
Michael tersenyum dan berkata, "Kau tidak akan kehilangan uang dalam urusan ini,
begitu juga teman-temanmu. Kau akan mendapat poin di hotel, dan kalau menurutmu ada orang
yang cukup penting, ia juga akan mendapat bagian. Mungkin kau tidak memercayaiku, jadi akan
kukatakan bahwa ini pesan dari Don sendiri."
Johnny berkata tergesa-gesa, "Aku percaya padamu, Mike. Tapi di Strip sekarang
sedang dibangun sepuluh hotel dan kasino lagi. Saat kau masuk, pasar mungkin telah jenuh,
mungkin kau sudah terlambat, karena banyak persaingan di sini."
Tom Hagen berbicara. "Keluarga Corleone memiliki teman-teman yang membiayai tiga
dari hotelhotel itu."
Johnny segera memahami bahwa yang dimaksud adalah Keluarga Corleone memiliki
ketiga hotel itu, bersama kasinonya. Dan akan banyak poin yang dibagi-bagikan. "Aku akan mulai
menyusun rencana," kata Johnny. Michael berpaling pada Lucy dan Jules Segal. "Aku berutang budi
padamu," katanya pada Jules. "Kudengar kau ingin kembali memotong-motong orang dan tidak ada
rumah sakit yang mengizinkan dirimu menggunakan fasilitas mereka karena masalah aborsi dulu. Aku
harus mengetahuinya langsung darimu sendiri, apa benar itu yang kauinginkan?"
Jules tersenyum. "Kurasa begitu. Tapi kau tidak mengetahui jaringan di kalangan
medis. Seberapa pun kekuasaan yang kaumiliki sekarang mungkin tidak ada artinya bagi mereka. Aku
khawatir kau tidak bisa menolongku dalam hal ini"
Michael mengangguk tidak peduli. "Tentu saja kau benar. Tapi ada beberapa
temanku, orang-orang sangat terkenal, yang akan membangun rumah sakit besar untuk Las Vegas. Kota ini
akan memerlukannya, kalau melihat pertumbuhannya dan bagaimana kota ini diproyeksikan
tumbuh. Mungkin mereka akan mengizinkanmu masuk ke ruang operasi kalau masalah ini
diberitahukan pada mereka dengan cara yang benar. Berapa banyak ahli bedah seandal dirimu yang bisa
mereka tarik untuk datang ke gurun ini" Atau bahkan yang kemampuannya separo saja
kemampuanmu" Kita akan
mendatangkan keuntungan pada rumah sakit itu. Jadi tetaplah di sini. Kudengar
kau dan Lucy akan menikah?" Jules mengangkat bahu. "Sesudah aku tahu bahwa aku memiliki masa depan."
Lucy berkata, "Mike, kalau kau tidak mendirikan rumah sakit itu, aku akan mati
sebagai perawan tua."
Mereka semua tertawa. Semua kecuali Jules. Ia berkata
588 pada Michael, "Kalau kuterima pekerjaan ini, tidak boleh ada ikatan apa pun."
Michael berkata dingin, "Tidak ada ikatan apa pun. Aku hanya merasa berutang
budi dan ingin kita impas." Lucy berkata lembut, "Mike, jangan jengkel."
Michael tersenyum padanya. "Aku tidak jengkel." Ia berpaling pada Jules. "Tolol
sekali omonganmu tadi. Keluarga Corleone berusaha membantumu. Menurutmu aku begitu tolol sehingga
memintamu melakukan hal-hal yang tidak kausukai" Tapi kalau memang aku berbuat begitu,
lalu mau apa" Siapa lagi yang sudi berusaha membantumu kalau kau mendapat kesulitan" Sewaktu
kudengar kau ingin kembali menjadi dokter bedah yang sesungguhnya, kuhabiskan banyak waktu untuk
menyelidiki apakah aku bisa membantu. Ternyata bisa. Aku tidak akan meminta apa pun darimu.
Tapi setidaknya kau bisa mempertimbangkan hubungan kita sebagai sahabat, dan kuduga kau akan
bersedia melakukan bagiku apa yang mau kaulakukan bagi sahabatmu. Hanya itu ikatan yang kuinginkan.
Tapi kau boleh menolaknya." Tom Hagen menunduk dan tersenyum. Bahkan Don sendiri tidak bisa melakukannya
lebih baik lagi. Wajah Jules memerah. "Mike, aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Aku sangat
berterima kasih padamu dan ayahmu. Lupakan saja apa yang tadi kukatakan."
Michael mengangguk dan berkata, "Baik. Sebelum rumah sakit itu berdiri dan
dibuka, kau akan menjadi direktur medis untuk empat hotel. Pilih stafmu sendiri. Penghasilanmu
juga akan naik, tapi kau bisa membicarakan masalah itu dengan Tom nanti. Dan Lucy, aku membutuhkan
bantuanmu untuk hal-hal yang lebih penting. Mungkin mengoordinasi semua toko yang akan
dibuka di hotel, pada segi keuangannya. Atau mungkin mempekerjakan gadis-gadis yang
kita butuhkan untuk menjalankan kasino. Semacam itu. Jadi kalau Jules tidak
menikahimu, kau bisa menjadi perawan tua yang kaya raya."
Freddie sejak tadi mengisap cerutu dengan marah. Michael berpaling padanya dan
berkata lembut, "Aku hanya pesuruh Don, Freddie. Apa yang diinginkannya kaulakukan pasti akan
dikatakannya sendiri, tapi aku yakin apa pun itu, cukup penting untuk membahagiakan dirimu.
Setiap orang memberitahu kami bahwa kau melakukan pekerjaan yang penting di sini."
"Kalau begitu kenapa ia marah padaku?" tanya Freddie kesal. "Hanya karena kasino
kehilangan uang" Bukan aku yang mengendalikan segi itu, itu bagian Moe Greene. Apa yang
diinginkan Papa dariku?"
"Jangan mengkhawatirkannya," kata Michael. Ia berpaling pada Johnny Fontane.
"Mana Nino" Aku
ingin bertemu dengannya lagi."
Johnny mengangkat bahu. "Nino sakit cukup parah. Perawat menjaganya di kamar.
Tapi dokter ini mengatakan ia seharusnya dirawat di rumah sakit, bahwa ia mencoba bunuh diri.
Nino!" Michael berkata serius, sangat heran, "Nino selama ini orang yang baik. Aku
tidak pernah mengetahui ia melakukan tindakan yang buruk, mengatakan atau melakukan apa pun yang
mengecewakan orang lain. Ia tidak pernah memedulikan apa pun. Kecuali minuman keras."
"Yeah," kata Johnny. "Uangnya terus mengalir, ia bisa mendapat banyak pekerjaan,
bernyanyi atau main film. Ia mendapat lima puluh ribu untuk satu film sekarang dan ia menyia-
nyiakan kesempatan itu. Selama bertahun-tahun kami bersahabat dan aku tidak pernah mengetahui ia
melakukan tindakan yang mengerikan. Dan keparat sialan itu minum terus sampai membahayakan jiwanya
sendiri." Jules hendak bicara sewaktu terdengar ketukan di pintu suite hotel. Ia heran
melihat orang yang duduk di kursi berlengan, yang paling dekat dengan pintu, tidak membuka pintu dan
tetap membaca koran. Tom Hagen yang membuka pintu. Dan ia nyaris terdesak ke samping sewaktu Moe
Greene bergegas masuk ruangan diikuti dua pengawal pribadi.
Moe Greene adalah bajingan tampan yang terkenal sebagai salah satu algojo Murder
Incorporated di Brooklyn. Ia pindah ke perjudian dan pergi ke barat untuk mencari peruntungan,
menjadi orang pertama yang melihat peluang di Las Vegas dan mendirikan salah satu hotel kasino
di Strip. Ia masih pemarah dan ditakuti semua orang di hotel, tidak terkecuali Freddie, Lucy, dan
Jules Segal. Mereka selalu menghindarinya sebisa mungkin.
Wajahnya yang tampan sekarang tampak muram. Ia berkata pada Michael Corleone,
"Aku menunggu kesempatan untuk bisa berbicara denganmu, Mike. Banyak sekali yang harus
kulakukan besok pagi, jadi kupikir sebaiknya kutemui kau malam ini. Bagaimana?"
Michael Corleone memandangnya dengan tatapan yang tampak keheranan tapi ramah.
"Tentu saja," katanya. Ia memberi isyarat pada Hagen. "Ambilkan Mr. Greene minuman, Tom."
Jules memerhatikan bahwa pria bernama Albert Neri itu mengawasi Moe Greene
dengan cermat, mengabaikan sepenuhnya para pengawal pribadi yang menyandar ke pintu. Ia
mengetahui tidak mungkin akan terjadi kekerasan, di Vegas ini tidak mungkin. Kekerasan dilarang
keras karena berakibat fatal bagi seluruh proyek untuk menjadikan Vegas suaka judi yang legal
bagi para penjudi Amerika. Moe Greene berkata pada kedua pengawal pribadinya,
"Ambilkan keping bagi orang-orang ini agar mereka bisa berjudi aras tanggungan
tuan rumah." Jelas sekali yang dimaksudkannya adalah Jules, Lucy, Johnny Fontane, dan pengawal
pribadi Michael, Albert Neri. Michael Corleone mengangguk setuju. "Itu gagasan yang bagus." Baru sesudah itu
Albert Neri bangkit dari kursi dan bersiap-siap mengikuti yang lain keluar kamar.
Sesudah selamat berpisah diucapkan, di dalam ruangan yang tersisa hanyalah
Freddie, Tom Hagen, Moe Greene, dan Michael Corleone.
Greene meletakkan minuman di meja dan berkata dengan kemarahan yang nyaris tidak
terkendali, "Apa ini yang kudengar bahwa Keluarga Corleone akan membeli hotel untuk
mendepakku" Aku yang
akan membeli untuk mendepakmu. Kau tidak bisa mendepakku."
Michael berkata tenang, "Kasinomu selalu merugi dalam keadaan bagaimana pun. Ada
yang tidak beres dengan caramu beroperasi. Mungkin kami bisa melakukannya lebih baik."
Greene tertawa kasar. "Dasar Dago sialan, kubantu kalian dengan menerima Freddie
sewaktu kalian mengalami kesulitan dan sekarang kalian mendesakku. Itu menurutmu. Aku tidak
bisa didesak siapa pun dan aku memiliki teman-teman yang akan mendukungku."
Michael masih menggunakan pertimbangan akal sehat. "Kau menerima Freddie karena
Keluarga Corleone memberimu setumpuk uang untuk membantumu menyelesaikan hotelmu. Dan
membiayai kasinomu. Dan karena Keluarga Molinari di Pantai Barat menjamin keselamatan
Freddie dan memberimu layanan karena kau menerima Freddie. Keluarga Corleone dan dirimu
impas. Aku tidak tahu apa yang membuatmu marah-marah. Kami akan membeli sahammu dengan
harga pantas yang kausebutkan, apa salahnya itu" Apa yang curang di sana"
Mengingat kerugian kasinomu, berarti kami menolongmu." Greene menggeleng. "Keluarga Corleone tidak memiliki kekuasaan sebesar itu lagi.
Godfather sakit. Kau diburu Keluarga-Keluarga lain hingga keluar New York dan kau mengira akan
menemukan sasaran yang lebih empuk di sini. Kunasihati kau, Mike, jangan coba-coba."
Michael berkata pelan, "Itu sebabnya kau mengira bisa menampar Freddie di depan
umum?" Tom Hagen, terkejut, mengalihkan pandangan ke Freddie. Wajah Freddie Corleone
memerah. "Ah, Mike, bukan apa-apa. Moe Greene tidak bermaksud apa-apa. Terkadang kemarahannya
tidak terkendali, tapi aku dan ia bersahabat. Benar, Moe?"
Greene waspada. "Yeah, tentu saja. Terkadang aku harus bersikap keras agar
tempat ini bisa berjalan sebagaimana seharusnya. Aku jengkel pada Freddie karena ia meniduri semua
pelayan koktail dan membiarkan mereka bermalas-malasan. Kami bertengkar sedikit dan aku berhasil
membereskan masalah." Wajah Michael tetap pasif sewaktu ia bertanya pada kakaknya. "Masalahmu sudah
dibereskan, Freddie?" Freddie menatap adiknya dengan ekspresi muram. Ia tidak menjawab. Greene tertawa
dan berkata, "Keparat ini membawa mereka ke ranjang dua orang sekaligus, gaya sandwich.
Freddie, harus kuakui kau benar-benar hebat dengan sundal-sundal itu. Tidak ada yang bisa
membahagiakan mereka lagi
sesudah kaubuang." Hagen melihat informasi itu mengejutkan Michael. Mereka bertukar pandang.
Mungkin inilah alasan utama Don tidak menyukai Freddie. Don orang yang sangat kuno dan ketat
dalam hal seks. Ia akan menganggap main-main seperti yang dilakukan putranya
Freddie, dua wanita sekaligus, merupakan kebejatan moral. Membiarkan dirinya dihina secara fisik
oleh orang seperti Moe Greene akan menurunkan respek terhadap Keluarga Corleone. Itu juga alasan lain
mengapa Freddie masuk daftar hitam ayahnya.
Michael bangkit dari kursi, berkata dengan nada tuntas, "Aku harus kembali ke
New York besok, jadi pikirkan harga yang akan kauajukan."
Greene berkata kasar dan penuh kemarahan, "Keparat sialan, pikirmu kau bisa
menyingkirkan aku begitu saja" Aku membunuh orang lebih banyak daripada kau. Aku akan pergi ke New
York dan bicara dengan Don sendiri. Aku akan mengajukan penawaran padanya."
Freddie berkata gelisah pada Hagen, "Tom, kau consigliori, kau bisa berbicara
dengan Don dan menasihatinya." Saar inilah Michael memperlihatkan kepribadiannya yang dingin dan mengerikan
kepada kedua orang dari Vegas itu. "Don boleh dibilang setengah pensiun sekarang," katanya. "Aku
yang mengelola bisnis

The God Father Sang Godfather Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Keluarga. Dan aku sudah menggeser Tom dari kedudukan consigliori. Ia akan
menjadi pengacaraku khusus di Vegas sini. Ia akan pindah bersama keluarganya dua bulan lagi dan
memulai semua urusan hukum. Jadi kalau ada yang ingin kaukatakan, katakan saja padaku."
Tidak seorang pun bersuara. Michael berkata dengan nada resmi, "Freddie, kau
kakakku, aku menghormatimu. Tapi jangan sekali-kali berpihak pada siapa pun yang
berseberangan dengan Keluarga lagi. Aku bahkan tidak akan menyinggung hal ini dengan Don."
Ia berpaling pada Moe Greene. "Jangan menyinggung perasaan orang yang akan
membantumu. Lebih baik kaugunakan tenagamu untuk menyelidiki kenapa kasino merugi. Keluarga
Corleone menanamkan uang yang sangat banyak di sana dan kami tidak mendapat hasil yang sesuai dengan
uang yang sudah dikeluarkan, tapi aku datang kemari bukan untuk menegurmu. Aku menawarkan
bantuan. Well, kalau kau memilih menyepelekan bantuan itu, itu urusanmu. Aku tidak bisa mengatakan
apa-apa lagi." Tidak pernah satu kali pun ia meninggikan suara, tapi kata-katanya membuat Moe
dan Freddie terdiam. Michael menatap mereka berdua, menjauhi meja untuk menunjukkan ia
mengharapkan mereka berdua pergi. Hagen melangkah ke pintu dan membukanya. Kedua pria
tersebut pergi tanpa mengucapkan selamat malam.
Keesokan paginya, Michael Corleone mendapat pesan dari Moe Greene: ia tidak akan
menjual bagiannya di hotel dengan harga berapa pun. Freddie yang mengantarkan pesan itu.
Michael mengangkat bahu dan berkata pada kakaknya, "Aku ingin menemui Nino dulu sebelum
pulang ke New York." Di suite Nino, mereka mendapati Johnny Fontane duduk di sofa menyantap sarapan.
Jules memeriksa Nino di kamar tidur. Akhirnya tirai disibakkan.
Michael terkejut melihat tampang Nino. Orang itu jelas sekali mengalami
kemerosotan fisik. Matanya
berkaca-kaca, mulurnya ternganga, semua otot di wajahnya kendur. Michael duduk
di tepi ranjang dan berkata, "Nino, senang sekali bisa bertemu denganmu. Don selalu menanyakan
dirimu." Nino tersenyum, senyumnya yang dulu. "Katakan padanya aku hampir mati. Katakan
padanya bisnis pertunjukan lebih berbahaya daripada bisnis minyak zaitun."
"Kau akan pulih kembali," kata Michael. "Kalau ada apa
pun yang mengganggumu dan Keluarga bisa membantu katakan padaku."
Nino menggeleng. "Tidak ada apa-apa," katanya. "Tidak ada apa-apa."
Michael bercakap-cakap sejenak dengannya, lalu pergj Freddie mengantarnya dan
rombongan ke bandara, tapi atas permintaan Michael tidak menunggu pesawat lepas landas.
Sewaktu naik ke pesawat bersama Tom Hagen dan Al Neri, Michael berpaling pada Neri dan bertanya, "Kau
sudah mengingatingatnya?"
Neri mengetuk dahi. "Aku sudah memotret dan menomori Moe Greene di sini."
Bab 28 Di pesawat pulang ke New York, Michael Corleone bersantai dan mencoba tidur.
Tapi sia-sia. Masa paling mengerikan dalam hidupnya makin dekat, mungkin bahkan masa yang fatal.
Ini tidak bisa ditunda lagi. Segala sesuatu sudah siap, semua tindakan berjaga-jaga telah
diambil, yang dilakukan selama dua tahun. Tidak boleh ada keterlambatan lagi. Minggu lalu sewaktu Don
resmi mengumumkan pengunduran dirinya kepada para caporegime dan anggota Keluarga
Corleone lain, Michael mengetahui itulah cara ayahnya mengatakan padanya bahwa waktunya sudah
tiba. Sekarang sudah hampir tiga tahun sejak ia pulang ke rumah dan lebih dari dua
tahun sejak ia menikahi Kay. Tiga tahun telah dilalui untuk mempelajari bisnis Keluarga. Ia melewatkan
waktu berjam-jam dengan Tom Hagen, berjam-jam bersama Don. Ia sangat tertegun ketika mengetahui
betapa kaya dan berpengaruhnya Keluarga Corleone sesungguhnya. Keluarganya merniliki real estate
yang nilainya sangat besar di pusat kota New York, bangunan perkantoran utuh. Keluarganya
mempunyai, dengan kamuflase, kepemilikan di dua kantor pialang Wall Street, bagian-bagian bank di
Long Island, kepemilikan di pusat industri pakaian jadi, semua ini di samping
operasi ilegal dalam perjudian. Hal paling menarik yang dipelajari Michael Corleone, sesudah memeriksa semua transaksi yang
dilakukan Keluarga Corleone, adalah bahwa Keluarga menerima uang perlindungan
dari sekelompok pembajak rekaman musik sesudah perang. Para pembajak ini membuat duplikat dan
menjual piringan hitam para artis ternama, mengemas segalanya begitu andal sehingga tidak
terungkap. Tentu saja dari
rekaman bajakan yang mereka jual tersebut artis dan perusahaan rekaman aslinya
tidak mendapatkan sepeser pun. Michael Corleone menyadari Johnny Fontane mengalami kerugian besar
karena pembajakan ini, sebab waktu itu, sebelum ia kehilangan suara, rekamannya paling
populer di Amerika. Ia menanyakan hal itu pada Tom Hagen. Kenapa Don membiarkan penipu membajak
karya putra baptisnya" Hagen mengangkat bahu. Bisnis adalah bisnis. Selain itu, Johnny waktu
itu tengah tidak disukai Don, sebab Johnny menceraikan kekasih masa kanak-kanaknya untuk menikahi
Margot Ashton. Tindakan ku sangat tidak menyenangkan Don.
"Kenapa orang-orang ini menghentikan operasi?" tanya Michael. "Polisi mengetahui
perbuatan mereka?" Hagen menggeleng. "Don mencabut perlindungannya. Tepat sesudah pernikahan
Connie." Ini pola yang sering dilihat Michael. Don membantu orang yang kesusahan, yang
sebagian kesusahannya justru berasal dari Don sendiri Mungkin bukan karena kelicikan yang
disengaja, tapi karena begitu banyaknya kepentingan atau mungkin sudah menjadi sifat alam
semesta, keadaan saling terkait antara buruk dan baik, hal yang memang alamiah.
Michael menikahi Kay di New England, pernikahan tanpa
598 pesta, hanya dihadiri keluarga Kay dan beberapa temannya. Lalu mereka pindah ke
salah satu rumah di kompleks Long Beach. Michael takjub melihat betapa mudahnya Kay menyesuaikan
diri dengan orangtuanya dan rukun dengan sesama penghuni kompleks. Dan tentu saja ia
langsung hamil, seperti layaknya istri Italia yang baik dan kuno, dan hal itu membantu. Anak kedua yang
sekarang dalam kandungan menambah kebahagiaan mereka.
Kay akan menunggunya di bandara. Kay selalu menjemputnya, selalu gembira kalau
ia pulang dari bepergian. Begitu juga Michael. Kecuali sekarang. Sebab di akhir perjalanan ini
ia harus mengambil tindakan yang sudah dipersiapkan bagi dirinya selama tiga tahun terakhir. Don
akan menunggunya. Para caporegime akan menunggunya. Dan ia, Michael Corleone, akan memberikan
perintah, mengambil keputusan yang akan menentukan nasibnya sendiri dan keluarganya.
Setiap pagi ketika Kay Adams Corleone bangun tidur untuk mengurus sarapan
bayinya, ia melihat Mama Corleone, istri Don, diantar salah seorang pengawal pribadi dengan mobil
meninggalkan kompleks, dan pulang sejam kemudian. Kay segera mengetahui ibu mertuanya ke
gereja setiap hari. Sering ketika pulang, Mama Corleone mampir untuk minum kopi dan menengok
cucunya. Mama Corleone selalu mulai dengan menanyakan pada Kay kenapa ia tidak berniat
menganut Katolik, mengabaikan kenyataan bahwa anak Kay telah dibaptis sebagai Protestan. Jadi Kay
merasa wajar ia menanyakan kepada mertuanya kenapa ia ke gereja setiap hari, apakah itu bagian
yang diharuskan sebagai orang Katolik. Seakan menganggap ini akan menghalangi Kay pindah agama, Mama Corleone menjawab,
"Oh, tidak, tidak. Beberapa orang Katolik bahkan hanya ke gereja pada Paskah dan Natal. Kita ke
gereja kapan pun kita menginginkannya." Kay tertawa. "Kalau begitu, kenapa kau ke gereja sedap pagi?"
Dengan sikap sangat wajar, Mama Corleone menjawab, "Aku ke gereja untuk
suamiku." Ia menunjuk
ke bawah, ke lantai, "agar ia tidak pergi ke sana." Ia terdiam sejenak.
"Kupanjatkan doa bagi jiwanya
sedap hari agar ia pergi ke atas sana." Ia menunjuk ke langit. Ia mengatakan ini
sambil tersenyum jail, seakan dengan suatu cara telah melanggar keinginan suaminya, atau seakan
tindakannya merupakan kesia-siaan. Ia mengutarakannya hampir dengan gaya humor Italia yang muram. Dan
seperti biasa kalau suaminya tidak ada, timbul sikap yang tidak menghormati Don yang agung.
"Bagaimana perasaan suamimu?" tanya Kay sopan. Mama Corleone mengangkat bahu. "Ia tidak
seperti dulu lagi, sejak mereka menembaknya. Ia membiarkan Michael yang menangani semua pekerjaan.
Ia hanya bermain-main dengan kebunnya, cabenya, tomatnya. Seolah ia masih menjadi petani.
Tapi pria memang selalu begitu."
Lalu pada pagi itu Connie Corleone menyeberangi kompleks dengan kedua anaknya
untuk mengunjungi Kay dan bercakap-cakap. Kay menyukai Connie, menyukai keriangannya,
kasih sayangnya yang terlihat jelas pada saudaranya Michael. Connie mengajari Kay cara
memasak beberapa hidangan Italia, tapi terkadang membawakan masakannya sendiri untuk
dicicipi Michael. Pagi itu, seperti yang biasa dilakukannya, ia bertanya pada Kay bagaimana
pandangan Michael terhadap suaminya, Carlo. Apakah Michael benar-benar menyukai Carlo, sepera yang
terlihat" Carlo selalu mendapat kesulitan kecil dengan Keluarga, tapi tahun-tahun terakhir ini
ia sudah "lurus".
Sebenarnya pekerjaannya di serikat buruh baik, tapi ia harus bekerja begitu
keras, begitu lama. Carlo
sebenarnya menyukai Michael, begitu yang selalu dikatakan Connie. Tapi memang
setiap orang menyukai Michael, sama seperti setiap orang menyukai ayahnya. Michael adalah
penjelmaan Don sendiri. Michael memang pantas mengelola bisnis minyak zaitun Keluarga.
Kay memerhatikan kalau Connie membicarakan suaminya sehubungan dengan Keluarga,
ia selalu sangat ingin mendengar kata-kata yang menyenangkan mengenai Carlo. Kay pasti
tolol kalau tidak menyadari keingintahuan Connie mengenai apakah Michael menyukai Carlo atau
tidak. Pada suatu malam ia membicarakan hal itu dengan Michael dan menyebutkan fakta bahwa tidak
ada yang pernah membicarakan Sonny Corleone, bahkan tidak ada yang menyinggungnya, minimal di
hadapan Kay. Kay pernah mencoba menyatakan belasungkawa pada Don dan istrinya, dan kata-
katanya didengarkan dengan sikap diam yang hampir terasa tidak sopan, lalu diabaikan. Ia pernah
berusaha membujuk Connie agar bercerita mengenai kakaknya, tapi tidak berhasil.
Istri Sonny, Sandra, mengajak anak-anaknya pindah ke Florida, tempat orangtuanya
sendiri sekarang tinggal. Telah diatur pemberian tunjangan kesejahteraan agar ia dan anak-anaknya
bisa hidup tenang, tapi Sonny tidak meninggalkan warisan apa pun.
Michael dengan enggan menjelaskan apa yang terjadi pada malam sewaktu Sonny
terbunuh. Bahwa Carlo waktu itu memukuli istrinya dan Connie menelepon ke kompleks, yang
diterima Sonny. Sonny pergi tergesa-gesa dengan kemarahan membabi-buta. Jadi tentu saja Connie dan
Carlo selalu gelisah, menganggap seluruh Keluarga menyalahkan
mereka karena secara tidak langsung menyebabkan kematian Sonny. Atau Connie
menyalahkan suaminya, Carlo. Tapi bukan itu masalahnya. Buktinya Keluarga memberi Connie dan
Carlo rumah di kompleks dan mempromosikan Carlo untuk mendapat pekerjaan yang penting dalam
urusan serikat buruh. Dan Carlo telah memperbaiki kebiasaannya, berhenti minum minuman keras,
berhenti main perempuan, dan berhenti menjadi orang yang sok tahu. Keluarga puas dengan
pekerjaannya, juga sikapnya selama dua tahun terakhir ini. Tidak ada yang menyalahkannya atas apa
yang telah terjadi. "Kalau begitu, bagaimana kalau kauundang mereka kemari suatu waktu nanti dan kau
bisa menenangkan adikmu?" usul Kay. "Kasihan, ia selalu gelisah memikirkan pendapatmu
tentang suaminya. Katakan padanya. Dan minta ia menyingkirkan kelmawatiran yang tidak
berdasar itu dari kepalanya." "Aku tidak bisa berbuat begitu," kata Michael. "Kami tidak membicarakan hal-hal
seperti itu dalam keluarga kami." "Apa kau ingin aku yang mengatakan padanya apa yang barusan kauberitahukan
padaku?" tanya Kay. Ia bingung karena Michael membutuhkan waktu lama sekali untuk memikirkan
sarannya, yang sudah

The God Father Sang Godfather Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jelas merupakan tindakan yang seharusnya dilakukan. Akhirnya Michael berkata,
"Menurutku kau tidak perlu berbuat begitu, Kay. Menurutku hal itu tak ada manfaatnya. Connie
akan tetap merasa gelisah. Itu kebiasaan yang tidak bisa diubah siapa pun."
Kay takjub. Ia menyadari Michael selalu agak dingin pada Connie, melebihi
sikapnya pada siapa pun, walau Connie menyayanginya. "Tentu kau tidak menyalahkan Connie atas kematian
Sonny?" tanya Kay. Michael menghela napas. "Tentu saja tidak," jawabnya. "Ia adikku dan aku
menyayanginya. Aku kasihan padanya. 602 Carlo sudah memperbaiki sifatnya, tapi ia sebenarnya bukan suami yang tepat. Ini
hanya salah satu dari hal-hal seperti itu. Kita lupakan saja semuanya."
Bukanlah sifat Kay untuk mendesak; ia menyingkirkan masalah itu dari benaknya.
Ia juga mengetahui Michael bukan orang yang bisa didesak, yang kalau didesak, sikapnya berubah
dingin karena tidak senang. Ia mengetahui hanya dirinya yang mampu mengubah kemauan Michael, tapi ia
juga mengetahui kalau terlalu sering melakukannya, ia akan merusak "kelebihannya"
itu. Dan hidup bersama Michael selama dua tahun terakhir menyebabkan ia semakin mencintai pria
tersebut. Ia mencintai Michael karena suaminya itu selalu adil. Aneh juga. Tapi Michael
selalu adil terhadap orang-orang di sekitarnya, tidak pernah sewenang-wenang bahkan dalam hal kecil
sekalipun. Kay memerhatikan Michael sekarang sangat berkuasa. Orang-orang datang ke rumah untuk
berunding dengannya dan meminta bantuan, memperlakukan Michael dengan segan dan hormat,
tapi ada satu hal yang menyebabkan ia sangat menyayangi Michael melebihi hal-hal lainnya.
Sejak Michael pulang dari Sisilia dengan wajah yang rusak, setiap orang dalam
Keluarga berusaha membujuknya agar mau menjalani operasi pemulihan. Ibu Michael terus mengejarnya;
pada suatu acara makan malam di hari Minggu seluruh Keluarga Corleone berkumpul di kompleks
dan ia berseru pada Michael, "Kau tampak seperti penjahat dalam film, perbaiki wajahmu, demi
Tuhan dan demi istrimu. Dengan begitu hidungmu akan berhenti mengalirkan ingus seperti orang
Irlandia mabuk." Don, yang duduk di kepala meja, memerhatikan segalanya. Ia bertanya pada Kay,
"Apa masalah itu mengganggumu?" Kay menggeleng. Don berkata pada istrinya, "Ia sudah bukan tanggung jawabmu
lagi, itu bukan urusanmu." Seketika ibu Michael berhenti mendesak. Bukan karena ia takut kepada
suaminya, tapi karena menentang suaminya dalam hal-hal seperti itu di depan orang lain
merupakan perbuatan yang tidak hormat. Tapi Connie, kesayangan Don, datang dari dapur tempatnya memasak hidangan hari
Minggu, wajahnya memerah karena kepanasan api kompor, dan berkata, "Kurasa ia harus
memperbaiki wajahnya. Ia pria paling tampan dalam keluarga sebelum cedera. Ayolah, Mike,
katakan kau mau melakukannya." Michael memandangnya dengan tatapan kosong. Ia terkesan seperti tidak mendengar
apa-apa. Ia tidak menjawab. Connie mendekat dan berdiri di sisi ayahnya. "Paksa ia melakukannya," katanya
pada Don. Kedua tangannya diletakkan di bahu ayahnya dan ia menggosok-gosok leher ayahnya. Hanya
ia satu-satunya yang begitu dekat dengan Don. Kasih sayang Connie pada ayahnya sangat
mengharukan. Itu kasih sayang penuh kepercayaan, seperti kasih sayang anak kecil. Don menepuk-nepuk
tangannya dan berkata, "Kita semua sudah kelaparan di sini. Letakkan spaghetti di meja,
sesudah itu baru bicara."
Connie berpaling pada suaminya dan berkata, "Carlo, bilang pada Mike agar
memperbaiki wajahnya. Mungkin ia akan mendengar kata-katamu." Suaranya menimbulkan kesan Michael dan
Carlo Rizzi memiliki hubungan persahabatan yang melebihi siapa pun.
Carlo, yang kulitnya kecokelatan dan bagus, dengan rambut pirang dipotong dan
disisir rapi, meneguk anggur buatan sendiri dalam gelasnya dan berkata, "Tidak seorang pun bisa
menyuruh Mike melakukan apa pun." Carlo telah
menjadi orang yang berbeda sejak pindah ke kompleks. Ia mengetahui tempatnya
dalam Keluarga dan mempertahankannya. Ada sesuatu yang tidak dipahami Kay dari semua ini, sesuatu yang tidak bisa
dilihat matanya. Sebagai wanita, ia mengetahui Connie terang-terangan merayu ayahnya, sekalipun ia
melakukannya dengan manis, bahkan tulus. Tapi tidak spontan. Jawaban Carlo menunjukkan maskulinitas.
Michael sama sekali mengabaikan segalanya.
Kay tidak memedulikan wajah suaminya yang rusak bentuknya, tapi ia khawatir
dengan masalah hidung yang diakibatkannya. Pembedahan wajah juga bisa menyembuhkan hidung
Michael yang selalu mengeluarkan ingus. Karena alasan itu ia ingin Michael masuk rumah sakit
dan menjalani operasi yang diperlukan. Tapi ia juga mengetahui dengan cara yang aneh bahwa
Michael menyukai wajahnya yang rusak. Ia yakin Don juga tahu.
Tapi sesudah Kay melahirkan anak pertama, ia terkejut sewaktu Michael bertanya,
"Apa kau mau wajahku diperbaiki?"
Kay mengangguk. "Kau tahu bagaimana anak-anak, anakmu akan tidak enak sesudah ia
cukup besar untuk mengetahui bahwa kondisimu tidak normal. Aku hanya tidak ingin anak kita
melihatnya. Aku sendiri tidak peduli, sungguh, Michael."
"Oke." Michael tersenyum padanya. "Aku akan melakukannya."
Michael menunggu hingga Kay pulang dari rumah sakit, lalu membereskan segala
sesuatu yang diperlukan. Operasi berjalan sangat baik. Bekas luka pada pipi Michael sekarang
nyaris tidak terlihat. Semua orang dalam Keluarga merasa senang, tapi Connie
yang lebih senang daripada semua orang lainnya. Ia mengunjungi Michael setiap
hari di rumah sakit, mengajak Carlo. Ketika Michael pulang, ia memeluknya erat-erat dan menciumnya,
memandanginya dengan kagum, dan berkata, "Sekarang kau kakakku yang tampan lagi."
Hanya Don yang tidak terkesan, mengangkat bahu, dan berkomentar, "Apa bedanya?"
Tapi Kay bersyukur. Ia mengetahui Michael melakukannya berlawanan dengan
keinginannya sendiri. Michael melakukannya karena ia yang minta, dan hanya ia satu-satunya orang di
dunia yang bisa membuat Michael bertindak bertentangan dengan siratnya sendiri.
Sore hari sewaktu Michael kembali dari Las Vegas, Rocco Lampone mengemudikan
limusin ke kompleks untuk menjemput Kay agar bisa menemui suaminya di bandara. Kay selalu
menjemput suaminya sepulangnya dari luar kota, terutama karena ia kesepian tanpa suaminya,
hidup dalam kompleks yang bagai benteng itu.
Kay melihat Michael turun dari pesawat bersama Tom Hagen dan anak buah barunya,
Albert Neri. Kay tidak begitu menyukai Neri, orang itu mengingatkan dirinya pada Luca Brasi
dengan kekejamannya yang tenang. Ia melihat Neri berjalan agak jauh di belakang Michael
dan sedikit ke samping, pandangan matanya yang tajam menyapu setiap orang yang tidak jauh dari
Michael. Neri juga yang pertama kali melihat Kay dan menyentuh bahu Michael agar Michael
melihat ke arah yang seharusnya. Kay berlari ke pelukan suaminya. Michael menciumnya sekilas, lalu melepaskannya.
Bersama Tom Hagen dan Kay, ia masuk ke limusin, sementara Albert Neri menghilang. Kay tidak
menyadari bahwa Neri masuk ke mobil lain bersama dua pria lain dan bahwa mobil itu meluncur di
belakang limusin hingga tiba di Long Beach.
Kay tidak pernah bertanya pada Michael mengenai bisnisnya. Bahkan pertanyaan
yang sopan pun akan terasa kikuk bukan karena Michael akan memberinya jawaban yang sama sopannya,
tapi karena pertanyaan itu akan mengingatkan keduanya pada wilayah terlarang yang tidak
boleh dilanggar dalam pernikahan mereka. Kay tidak peduli lagi. Tapi sewaktu Michael mengatakan ia
harus melewatkan sore itu bersama ayahnya untuk melaporkan hasil perjalanan ke Las Vegas, tanpa
sadar Kay mengernyit kecewa. "Maaf," kata Michael. "Besok malam kita ke New York dan menonton pertunjukan
sesudah makan malam, oke?" Michael menepuk-nepuk perutnya, kandungannya telah berusia hampir
tujuh bulan. "Sesudah anak ini lahir, kau akan terikat lagi. Sialan, kau lebih Italia
daripada Yankee. Dua anak
dalam dua tahun." Kay menyahut pedas, "Dan kau lebih Yankee daripada Italia. Sore pertama di rumah
kauhabiskan dengan menangani urusan bisnis." Tapi Kay tersenyum padanya sewaktu mengatakan,
"Kau tidak akan sampai larut malam?"
"Sebelum tengah malam," kata Michael. "Jangan menunggu kepulanganku kalau kau
kelelahan." "Aku akan menunggu," kata Kay.
Pada pertemuan malam itu, di perpustakaan sudut di rumah Don Corleone, Don
sendiri hadir, juga Michael, Tom Hagen, Carlo Rizzi, dan dua caporegime, Clemenza dan Tessio.
Suasana pertemuan sama sekali tidak sesantai dahulu. Sejak Don Corleone
mengumumkan dirinya setengah pensiun dan Michael mengambil alih bisnis Keluarga, terasa ada se-
606 dikit ketegangan. Suksesi kekuasaan di institusi seperti Keluarga sama sekali
tidak berdasarkan keturunan. Dalam Keluarga lain, caporegime yang kuat seperu Clemenza dan Tessio
bisa menggantikan kedudukan Don. Atau sedikitnya mereka diberi kesempatan memisahkan
diri dan membentuk Keluarga sendiri.
Selain itu, sejak Don Corleone berdamai dengan Lima Keluarga, kekuatan Keluarga
Corleone merosot. Keluarga Barzini sekarang tidak bisa diingkari lagi merupakan keluarga yang
terkuat di wilayah New York. Karena bersekutu dengan Keluarga Tattaglia, mereka sekarang memegang
kedudukan yang dulu dipegang Keluarga Corleone. Dan mereka secara licik menggerogoti kekuasaan
Keluarga Corleone, memaksa memasuki daerah perjudian mereka, memancing reaksi Keluarga Corleone,
dan ketika mengetahui Keluarga Corleone lemah, mereka memantapkan bisnis penjualan kupon
taruhannya sendiri. Keluarga Barzini dan Keluarga Tattaglia senang sekali dengan pensiunnya Don
Corleone. Michael, walaupun mungkin terbukti sangat kuat, tidak akan bisa berharap menyamai Don
dalam soal kelicinan dan pengaruh, sedikitnya selama sepuluh tahun lagi. Keluarga Corleone jelas
sekali mengalami penurunan. Keluarga ini memang menghadapi masalah serius. Freddie ternyata tidak lebih
daripada pengurus penginapan dan senang main perempuan, pria yang sama sekali tidak jantan.
Kematian Sonny juga merupakan bencana. Sonny dulu ditakuti, tidak bisa dipandang ringan. Tentu saja
ia melakukan kesalahan dengan mengirimkan adiknya, Michael, untuk menghabisi si Turki dan
kapten polisi itu. Sekalipun dari segi taktik tindakan itu diperlukan, sebagai strategi jangka
panjang langkah itu terbukti
merupakan kesalahan besar.
Akibatnya Don terpaksa turun tangan meskipun sakit. Michael jadi kehilangan dua
tahun yang berharga, yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mencari pengalaman dan
menjalani pelatihan di bawah bimbingan ayahnya. Dan tentu saja mengangkat orang Irlandia sebagai
consigliori merupakan satu-satunya kebodohan yang pernah dilakukan Don. Tidak ada seorang Irlandia pun
yang bisa berharap menyamai orang Sisilia soal kelicikan. Begitulah pendapat semua
Keluarga dan tentu saja mereka jadi lebih menghargai persekutuan Barzini-Tattaglia daripada Keluarga
Corleone. Mereka juga menganggap Michael tidak bisa menyamai Sonny dalam hal kekuatan meskipun tentu
saja lebih cerdas, tapi belum secerdas ayahnya. Ia hanya pengganti dengan mutu pas-pasan
dan tidak perlu ditakuti. Juga, biarpun Don dikagumi secara umum karena kemampuannya sebagai negarawan
sewaktu menciptakan perdamaian, kenyataan bahwa ia tidak menuntut balas atas terbunuhnya
Sonny menyebabkan Keluarga kehilangan banyak respek. Itu dianggap sebagai kebijakan
negarawan yang timbul akibat kelemahan.

The God Father Sang Godfather Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Semua ini disadari orang-orang yang duduk dalam ruangan itu dan mungkin bahkan
diyakini beberapa orang di antaranya. Carlo Rizzi menyukai Michael, tapi tidak takut padanya
seperti ia takut terhadap
Sonny. Juga Clemenza, meskipun memuji Michael karena "karyanya" terhadap si
Turki dan si kapten polisi, mau tidak mau berpikir bahwa Michael terlalu lunak untuk menjadi don.
Clemenza berharap akan diizinkan membentuk Keluarga sendiri, memiliki kerajaan yang terpisah dari
Keluarga Corleone. Tapi Don sudah mengisyaratkan itu tidak mungkin dan Clemenza begitu menghormati
Don sehingga tidak bisa tak mematuhinya. Tentu saja dengan perkecualian kalau keadaan tidak
tertahankan lagi. Tessio memiliki pendapat yang lebih baik mengenai Michael. Ia merasa ada yang
lain pada diri anak muda ini: kekuatan dengan kecerdikan yang tersembunyi, pria yang sifat
pencemburunya menyebabkan ia menyimpan kekuatannya yang sesungguhnya agar tidak diketahui
orang. Michael selalu mengikuti aturan Don bahwa teman harus selalu menganggap kebaikanmu lebih
sedikit daripada yang sebenarnya dan lawan harus selalu menganggap kesalahanmu lebih
buruk daripada yang sebenarnya. Don sendiri dan Tom Hagen tentu saja tidak berilusi mengenai Michael. Don tidak
akan pensiun kalau tidak memiliki kepercayaan mutlak terhadap kemampuan putranya dalam
menyelamatkan kedudukan Keluarga. Hagen merupakan guru Michael selama dua tahun terakhir dan takjub
melihat kecepatan Michael memahami segala sesuatu mengenai bisnis Keluarga yang rumit. Michael
benar-benar putra ayahnya. Clemenza dan Tessio jengkel pada Michael karena ia mengurangi kekuatan regime
mereka dan tidak pernah menghidupkan kembali regime Sonny. Akibatnya Keluarga Corleone sekarang
hanya memiliki dua divisi tempur dengan jumlah personel yang lebih sedikit daripada sebelumnya.
Clemenza dan Tessio menganggap tindakan itu sama saja dengan bunuh diri, terutama mengingat
penjarahan yang dilakukan Barzini-Tattaglia terhadap kekaisaran mereka. Jadi sekarang mereka
berharap kesalahan itu bisa diperbaiki dalam rapat luar biasa yang dipimpin Don sendiri ini.
Michael memulai dengan menceritakan pada mereka hasil perjalanannya ke Las Vegas
dan penolakan Moe Greene terhadap tawarannya membeli bagian Moe Greene di hotel. "Tapi kita
akan memberinya penawaran yang tidak bisa ditolaknya," kata Michael. "Kalian sudah mengetahui
rencana Keluarga Corleone untuk memindahkan operasi ke Barat. Kita memiliki empat hotel
kasino di Strip. Tapi hotel-hotel itu tidak bisa langsung kita operasikan. Kita membutuhkan waktu
untuk membereskan banyak masalah." Ia berbicara langsung pada Clemenza, "Pete, kau dan
Tessio, kuminta kalian mengikuti rencanaku selama setahun tanpa syarat dan tanpa bertanya. Pada
akhir tahun itu, kalian boleh memisahkan diri dari Keluarga Corleone dan menjadi bos sendiri,
memiliki Keluarga sendiri. Tentu saja, tidak perlu kukatakan lagi, bahwa kita akan tetap
memelihara hubungan persahabatan, sesaat pun aku tidak akan menyinggung perasaan kalian dan rasa
hormat kalian pada ayahku dengan berniat sebaliknya. Tapi hingga waktu itu tiba, kuminta kalian
mengikuti kepemimpinanku dan jangan khawatir. Ada negosiasi yang sedang berlangsung yang
akan memecahkan masalah yang menurut dugaan kalian tidak terpecahkan. Jadi
bersabarlah dulu sebentar."
Tessio angkat bicara. "Kalau Moe Greene ingin bicara dengan ayahmu, kenapa tidak
kaubiarkan saja" Don selalu bisa membujuk siapa pun, tidak pernah ada orang yang bisa menentang
pertimbangan akal sehatnya." Don sendiri yang menjawab. "Aku sudah pensiun. Michael akan kehilangan
kehormatan kalau aku turut campur. Selain itu, ia orang yang lebih baik tidak kuajak bicara."
Tessio teringat cerita yang pernah didengarnya tentang Moe Greene memukul
Freddie Corleone pada suatu malam di hotel Vegas. Ia mulai mencium ada yang tidak beres. Ia menyandar
ke kursi. Moe Greene pasti mati, pikirnya. Keluarga Corleone tidak ingin membujuknya.
Carlo Rizzi bicara. "Apa Keluarga Corleone akan berhenti beroperasi di New York
sama sekali?" Michael mengangguk. "Kita akan menjual bisnis minyak
zaitun. Segala sesuatunya akan kita serahkan pada Tessio dan Clemenza, apa saja
yang bisa kita berikan. Tapi, Carlo, aku tidak ingin kau memikirkan pekerjaanmu. Kau dibesarkan
di Nevada, kau mengenal negara bagian itu, kau mengenal orang-orangnya. Aku mengandalkan dirimu
sebagai tangan kananku sesudah kita pindah ke sana."
Carlo menyandar ke kursi, wajahnya memerah penuh rasa terima kasih. Saatnya
sudah tiba, ia akan naik ke langit kekuasaan.
Michael melanjutkan. "Tom Hagen tidak lagi menjadi consigliori. Ia akan menjadi
pengacara kita di Vegas. Sekitar dua bulan lagi ia akan pindah permanen ke sana bersama
keluarganya. Semata-mata sebagai pengacara. Tidak seorang pun akan menemuinya untuk masalah bisnis
seperti sekarang, detik ini. Ia hanya pengacara dan hanya itu. Tidak ada yang akan mempermasalahkan Tom.
Sebab begitulah yang kuinginkan. Selain itu, kalau aku membutuhkan nasihat, siapa yang memiliki
nasihat yang lebih baik daripada ayahku?" Mereka semua tertawa. Tapi mereka bisa menangkap pesannya
meskipun disampaikan dengan cara bergurau. Tom Hagen dipecat; ia tidak lagi memegang
kekuasaan apa pun. Mereka semua melirik sekilas untuk melihat reaksi Hagen, tapi wajah Hagen tetap
pasif. Clemenza berbicara tersengal-sengal sebagaimana layaknya pria gemuk. "Kalau
begitu, dalam waktu setahun kami akan berdiri sendiri, bukan?"
"Mungkin kurang dari ku," jawab Michael sopan. "Tentu saja kau selalu boleh
menjadi bagian Keluarga, kalau itu yang kauinginkan. Tapi sebagian besar kekuatan kita akan
berada di Barat dan mungkin lebih baik kau mengorganisir keluargamu sendiri."
Tessio berkata pelan, "Kalau begitu masalahnya, kupikir
kau perlu memberi kami izin untuk merekrut orang-orang baru bagi regime kami.
Keparat-keparat Barzini itu terus menggerogoti wilayah kita. Kupikir akan bijaksana memberi
mereka sedikit pelajaran mengenai sopan santun."
Michael menggeleng. "Tidak. Tidak baik. Tetap diam saja. Semua masalah itu akan
dirundingkan, segalanya akan diselesaikan sebelum kami pergi."
Tessio tidak mudah dipuaskan. Ia berbicara langsung pada Don, mengambil
kesempatan ini untuk menyatakan ketidaksenangannya pada Michael. "Maafkan aku, Godfather, biarlah
persahabatan kita selama bertahun-tahun menjadi alasanku. Tapi kupikir kau dan anakmu keliru
mengenai urusan Nevada ini. Bagaimana kau bisa berharap akan berhasil tanpa didukung kekuatanmu
di sini" Keduanya akan saling mendukung. Dan sesudah kau pergi dari sini, Barzini dan Tattaglia
akan menjadi terlalu kuat bagi kami. Aku dan Pete akan menghadapi kesulitan, cepat atau lambat kami
akan berada di bawah kekuasaan mereka. Dan Barzini bukan orang yang kusukai. Menurutku,
Keluarga Corleone harus mengambil tindakan berdasarkan kekuatan, bukan kelemahan. Kita harus
membangun regime kita dan merebut kembali wilayah kita yang hilang, sedikitnya di Staten Island."
Don menggeleng. "Aku sudah mengadakan perdamaian, jangan lupa, aku tidak bisa
menjilat ludahku sendiri." Tessio tidak bersedia dibungkam begitu saja. "Setiap orang mengetahui Barzini
memprovokasimu sejak saat itu. Dan, selain itu, kalau Michael menjadi kepala Keluarga Corleone
yang baru, apa yang menghalanginya untuk mengambil tindakan yang dianggapnya cocok" Kata-katamu
tidak mengikatnya secara ketat."
Michael menyela cepat. Ia berbicara pada Tessio dengan wibawa penuh sebagai
kepala Keluarga sekarang, "Ada hal-hal yang sedang dirundingkan yang akan menjawab pertanyaanmu
dan menyingkirkan keraguanmu. Kalau kata-kataku belum cukup bagimu, tanyakan pada
Don." Tapi Tessio mengerti ia telah melewati batas. Kalau berani bertanya pada Don, ia
akan menjadikan Michael musuhnya. Jadi ia mengangkat bahu dan berkata, "Aku berbicara demi
kebaikan Keluarga, bukan demi kepentinganku sendiri. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
Michael melontarkan senyum ramah. "Tessio, aku tidak pernah meragukanmu dalam
hal apa pun. Aku tidak pernah berbuat begitu. Tapi percayalah padaku. Tentu saja aku tidak bisa
menandingi dirimu atau Pete dalam hal-hal seperti ini, tapi bagaimanapun aku mendapat bimbingan
dari ayahku. Aku tidak akan terlalu buruk, dan kita akan mencapai hasil yang sebaik-baiknya."
Pertemuan berakhir. Yang merupakan berita besar adalah Clemenza dan Tessio akan
diizinkan membentuk Keluarga mereka sendiri dari regime masing-masing. Tessio akan
memiliki usaha perjudian dan galangan di Brooklyn. Dan Clemenza akan menguasai perjudian di
Manhattan dan kontak-kontak Keluarga di pacuan kuda Long Island.
Kedua caporegime tersebut berlalu dengan perasaan tidak terlalu puas, masih
merasa agak tidak nyaman. Carlo Rizzi masih berada di ruangan karena berharap telah tiba waktunya
ia akhirnya diperlakukan sebagai salah satu anggota keluarga, tapi ia dengan cepat melihat
Michael tidak berpendapat begitu. Ia meninggalkan Don, Tom Hagen, dan Michael di ruang
perpustakaan di sudut itu. Albert Neri mengantarnya ke luar rumah, dan Carlo menyadari Neri berdiri di
ambang pintu mengawasi dirinya menyeberangi kompleks yang terang benderang.
Di perpustakaan, ketiga orang itu bersantai seperti yang
hanya bisa dilakukan orang-orang yang telah tinggal serumah selama bertahun-
tahun, dalam satu keluarga. Michael menyajikan anisette untuk Don dan scotch untuk Tom Hagen. Ia
mengambil minuman bagi dirinya sendiri, yang jarang dilakukannya.
Tom Hagen yang berbicara terlebih dulu. "Mike, kenapa kau tidak melibatkan
diriku?" Michael tampak terkejut. "Kau akan menjadi orang nomor satuku di Vegas. Kita
akan sah sepenuhnya dan kau yang menangani segi hukumnya. Apa lagi yang lebih penting?"
Hagen tersenyum agak sedih. "Bukan itu yang kumaksud. Maksudku mengenai Rocco
Lampone yang membangun regime diam-diam. Yang kumaksud adalah kau yang langsung berurusan
dengan Neri dan bukannya melalui diriku atau caporegime. Kecuali, tentu saja, kalau kau tidak
mengetahui apa yang dilakukan Lampone." Michael berkata lembut, "Dari mana kau mengetahui tentang regime Lampone?"
Hagen mengangkat bahu. "Jangan khawatir, tidak ada kebocoran, tidak ada orang
lain yang mengetahuinya. Tapi di posisiku aku bisa melihat apa yang terjadi. Kau memberi
Lampone kehidupan sendiri, kau memberinya banyak kebebasan. Tapi semua orang yang direkrutnya
harus dilaporkan padaku. Dan kusadari setiap orang yang dimasukkannya ke dalam daftar gaji agak
terlalu bagus untuk pekerjaan itu, mendapat sedikit lebih banyak uang daripada nilai sebenarnya
tugas yang dilakukannya. Omong-omong, kau memilih orang yang benar sewaktu memilih Lampone. Ia beroperasi
dengan sempurna."Michael menghadapi Tom Hagen dan tanpa ragu memberitahunya terus
terang. "Tom, kau bukan consigliori masa perang. Situasi mungkin akan menjadi lebih sulit karena
langkah-langkah yang sedang kita usahakan ini dan kita mungkin terpaksa berperang. Dan aku ingin kau
juga tidak terlibat dalam tembak-menembak, sekadar untuk berjaga-jaga."
Wajah Hagen memerah. Kalau Don yang memberitahukan hal itu padanya, ia pasti
menerimanya dengan rendah hati. Tapi bagaimana Michael bisa membuat penilaian sekeras itu"
"Oke," katanya, "tapi kebetulan aku setuju dengan Tessio. Kupikir kau keliru
melakukan semua ini. Kau mengambil langkah dari kelemahan, bukan kekuatan. Itu selalu buruk. Barzini
seperti serigala, dan kalau ia mencabik-cabik dirimu sepotong demi sepotong, Keluarga-Keluarga
yang lain tidak akan bergegas datang membantu Keluarga Corleone."
Don alchirnya berbicara. "Tom, ini bukan hanya Michael. Aku yang memberinya
saran-saran dalam masalah ini. Ada hal-hal yang mungkin harus diselesaikan, yang tidak bisa
kupertanggungjawabkan dengan cara apa pun. Ini keinginanku, bukan Michael. Aku tidak pernah menganggap
dirimu consigliori yang buruk. Menurutku Santino akan menjadi don yang buruk, semoga
arwahnya beristirahat dalam damai. Ia memiliki hati yang baik, tapi bukan orang yang


The God Father Sang Godfather Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tepat untuk memimpin Keluarga waktu aku tertimpa kemalangan. Dan siapa yang akan menduga Fredo bisa
menjadi tukang main perempuan" Jadi jangan merasa tidak senang. Michael mendapat seluruh
kepercayaanku seperti dirimu. Karena alasan yang tidak kauketahui, kau tidak boleh terlibat dalam apa
yang mungkin akan terjadi. Omong-omong, aku sudah memberi tahu Michael bahwa regime rahasia
Lampone tidak akan luput dari matamu. Jadi itu sudah menunjukkan bahwa aku memercayai dirimu."
Michael tertawa. "Aku sungguh tidak menduga kau akan
menyinggung hal itu, Tom."
Ha gen mengetahui ia tengah dibujuk. "Mungkin aku bisa membantu," katanya.
Michael menggeleng tegas. "Kau tidak terlibat, Tom."
Tom Hagen menghabiskan minuman dan sebelum pergi ia menegur Michael dengan
lunak. "Kau hampir sebaik ayahmu," katanya pada Michael. "Tapi ada satu hal yang masih harus
kaupelajari." "Apa?" tanya Michael.
"Bagaimana cara mengatakan tidak," jawab Hagen. Michael mengangguk serius. "Kau
benar," katanya. "Akan kuingat."
Sesudah kepergian Hagen, Michael berkata dengan nada bergurau pada ayahnya.
"Kukira kau sudah mengajarkan segala sesuatunya padaku. Coba katakan bagaimana caranya mengatakan
tidak pada orang lain dengan cara yang mereka sukai."
Don pindah dan duduk di belakang meja tulis besar. "Kau tidak bisa mengatakan
'tidak' pada orang yang kausayangi, tidak sering. Itu rahasianya. Dan kalau kau mengatakannya,
usahakan terdengar seperti 'ya'. Atau kau harus membuat mereka yang mengatakan 'tidak'. Kau harus
menyediakan waktu yang lama dan mau bersusah payah. Tapi aku orang kuno, kau dari generasi
modern, jangan dengarkan kata-kataku."
Michael tertawa. "Benar. Tapi kau setuju untuk tidak melibatkan Tom dalam semua
ini, kan?" Don mengangguk. "Ia tidak boleh dilibatkan dalam masalah ini."
Michael berkata pelan, "Kurasa sudah tiba saatnya untuk mengatakan padamu bahwa
apa yang akan kulakukan bukan 617 semata-mata pembalasan dendam atas kematian Apollonia
dan Sonny. Ini memang sudah seharusnya dilakukan. Tessio
dan Tom benar mengenai Keluarga Barzini." Don Corleone mengangguk. "Pembalasan
dendam adalah hidangan yang paling lezat kalau disajikan dalam keadaan dingin," katanya. "Aku
seharusnya tidak mengadakan perdamaian, tapi aku tahu bahwa tanpa perdamaian, kau tidak bisa
pulang dalam keadaan hidup. Sekalipun begitu, aku heran Barzini tetap berusaha membunuhmu untuk yang
terakhir kalinya. Mungkin itu sudah direncanakan sebelum perundingan damai dan ia tidak bisa
menghentikannya. Kau yakin mereka bukan mengincar Don Tommasino?"
Michael berkata, "Memang itulah kesan yang ingin ditampilkan. Dan mestinya
sempurna sekali, kau sendiri pun tidak bakal curiga. Tapi aku selamat. Aku melihat Fabrizzio pergi
melalui pintu gerbang, melarikan diri. Dan tentu saja aku memeriksa semuanya sejak kepulangan ku."
"Apakah mereka menemukan si penggembala?" tanya Don.
"Aku menemukannya," kata Michael. "Aku menemukannya setahun yang lalu. Ia
memiliki kedai pizza di Buffalo. Dengan nama baru, paspor palsu, dan kartu identitas palsu.
Penggembala Fabrizzio ini sangat sukses." Don mengangguk. "Jadi tidak ada gunanya menunggu lebih lama lagi. Kapan kau akan
memulainya?" Michael berkata, "Aku ingin menunggu Kay melahirkan. Hanya untuk berjaga-jaga
seandainya ada penyimpangan dari rencana. Dan aku ingin Tom menetap di Vegas dulu agar ia tidak
terlibat dalam masalah ini. Kurasa setahun dari sekarang."
"Kau sudah mempersiapkan segalanya?" tanya Don. Ia tidak memandang Michael
sewaktu bertanya. Michael berkata lembut, "Kau sama sekali tidak dilibatkan. Kau tidak bertanggung
jawab. Aku yang bertanggung jawab sepenuhnya. Aku bahkan menolak memberimu hak veto. Kalau kau
mencoba melakukannya sekarang, aku akan meninggalkan Keluarga dan mengambil jalanku
sendiri. Kau tidak bertanggung jawab." Don terdiam lama sekali, lalu menghela napas. Ia berkata, "Kalau begitu,
lakukanlah. Mungkin itu sebabnya aku pensiun, mungkin itu sebabnya kuserahkan segala sesuatunya padamu.
Aku sudah melakukan bagianku dalam hidup ini, aku tidak memiliki keinginan apa-apa lagi.
Dan ada beberapa tugas yang tidak bisa diselesaikan orang yang paling baik sekalipun. Jadi
lakukanlah." Tahun itu juga Kay Adams Corleone melahirkan anak kedua, putra lagi. Ia
melahirkan dengan mudah, tanpa kesulitan apa pun, dan saat pulang ke Kompleks, ia disambut bagai putri
raja. Connie Corleone menghadiahi si bayi sehelai seprai sutra buatan tangan dari Italia, yang sangat
mahal dan indah. Ia berkata pada Kay, "Carlo yang menemukannya. Ia mencari-cari di seluruh toko di
New York untuk menemukan hadiah yang istimewa sesudah aku tidak bisa menemukan apa pun yang
benar-benar kusukai." Kay tersenyum sebagai ucapan terima kasih, seketika memahami bahwa ia
harus menyampaikan kisah yang bagus itu pada Michael. Ia tengah dalam proses menjadi
orang Sisilia. Tahun itu juga Nino Valenti meninggal karena perdarahan otak. Kematiannya
diberitakan di halaman depan tabloid karena film produksi Johnny Fontane yang menampilkan dirinya mulai
diputar beberapa minggu sebelumnya dan menjadi film laris, memantapkan Nino sebagai bintang
besar. Koran-koran menyebutkan Johnny Fontane yang menyelenggarakan upacara pemakamannya, bahwa
pemakaman 619 itu merupakan acara pribadi, hanya dihadiri keluarga dan teman-teman dekat.
Berita sensasional bahkan menyatakan bahwa ketika diwawancara, Johnny Fontane menyalahkan diri
sendiri atas kemarian sahabatnya; bahwa seharusnya ia memaksa sahabatnya menjalani perawatan
medis. Tapi wartawan menjadikannya kedengaran seperti penyesalan terhadap diri sendiri dari
saksi yang peka tapi tidak bersalah atas suatu tragedi. Johnny Fontane telah membuat teman masa
kanak-kanaknya, Nino Valenti, jadi bintang filmapa lagi yang bisa dilakukan seorang sahabat"
Tidak ada anggota Keluarga Corleone yang menghadiri pemakamannya di California
kecuali Freddie. Lucy dan Jules Segal hadir. Don sendiri ingin pergi ke California, tapi
kebetulan ia mengalami serangan jantung ringan, memaksanya berbaring di ranjang selama sebulan. Sebagai
gantinya, ia mengirim karangan bunga yang sangat besar. Albert Neri juga (dikirim ke Barat
sebagai wakil resmi Keluarga. Dua hari sesudah pemakaman Nino, Moe Greene ditembak mati di rumah bintang film
yang menjadi gundiknya di Hollywood; Albert Neri tidak muncul lagi di New York hingga hampir
sebulan sesudahnya. Ia berlibur di Kepulauan Karibia dan sewaktu pulang untuk bertugas
lagi, kulitnya begitu cokelat sehingga nyaris hitam. Michael Corleone menyambutnya dengan senyuman dan
beberapa patah kata pujian. Ia juga memberi tahu bahwa sejak itu Neri akan menerima
"nafkah" tambahan,
pemasukan Keluarga dari penjualan kupon taruhan East Side yang dipandang paling
makmur. Neri senang, puas karena hidup di dunia yang memberikan imbalan layak pada orang-
orang yang melaksanakan tugas. 620 Bab 29 Michael Corleone mengambil langkah berjaga-jaga terhadap setiap kemungkinan.
Rencana nya tanpa kesalahan, segi keamanannya tanpa cacat. Ia sabar, berharap bisa menggunakan
waktu setahun penuh untuk mempersiapkannya. Tapi ia tidak mendapat waktu hingga setahun karena
takdir sendiri yang melawannya, dan dengan cara yang paling mengejutkan. Sebab Godfather, Don yang
agung sendiri, yang menggagalkan rencana Michael Corleone.
Pada suatu pagi hari Minggu yang cerah, sementara kaum wanita di gereja, Don
Vito Corleone mengenakan seragamnya untuk berkebun: celana cokelat kebesaran, kemeja biru yang
telah luntur, topi fedora usang berwarna cokelat kotor yang dihiasi pita sutra abu-abu. Don
bertambah berat badannya selama beberapa tahun terakhir, dan bekerja di kebun tomat, katanya,
demi kesehatannya. Tapi ia tidak bisa menipu siapa pun.
Sebenarnya ia memang senang berkebun; ia senang memandangi tanamannya di pagi
hari. Tindakan itu mengembalikan kenangan masa kanak-kanaknya di Sisilia enam
621 puluh tahun yang lalu, mengembalikan kenangannya tanpa kengerian, kesedihan
karena kematian ayahnya. Sekarang kacang polong yang berderet-deret sudah berbunga putih pada
pucuknya. Batangbatang bawang merah yang berwarna hijau memagari semuanya. Di
ujung kebun terdapat tong yang
berdiri bagai penjaga. Isinya pupuk kandang dari kotoran lembu, pupuk terbaik
untuk kebun. Juga di bagian kebun yang lebih rendah ada kerangka kayu persegi buatannya sendiri,
bilah-bilah kayu yang bersilang diikat tali putih. Di atas kerangka ini menjalar sulur-sulur tanaman
tomat. Don bergegas menyirami kebun. Ia harus melakukannya sebelum matahari terlalu
panas dan mengubah air menjadi prisma api yang bisa membakar daun-daun selada seperti
kertas. Matahari lebih penting daripada air, air juga penting; tapi keduanya, kalau dipadukan dengan
cara yang tidak benar, bisa menimbulkan bencana besar.
Don menjelajahi kebunnya mencari semut. Kalau ada semut berarti ada kutu di
tanaman sayuran, semut mengejar kutu, dan itu berarti ia harus menyemprot kebun.
Ia mengairi kebun tepat pada waktunya. Matahari memanas dan Don berpikir,
"Bijaksana. Bijaksana."
Tapi ada beberapa batang tanaman yang harus ditopang bilah-bilah kayu dan ia
membungkuk lagi. Ia akan kembali ke rumah sesudah selesai merawat deretan terakhir tanamannya.
Tiba-tiba saja ia merasa seolah-olah matahari turun begitu dekat dengan
kepalanya. Udara penuh bintik keemasan yang menari-nari. Putra sulung Michael berlari-lari melintasi
kebun ke tempat Don berlutut dan anak itu terbungkus selubung cahaya kuning yang menyilaukan. Tapi
Don tidak bisa ditipu. Ia sangat berpengalaman. Maut bersembunyi di balik selubung kuning yang
menyala-nyala itu, siap menerkam dirinya. Don melambai memperingatkan cucunya agar me-622
nyingkir menjauhi dirinya. Tepat pada waktunya. Dadanya terasa seperti dihantam
palu godam dan ia terengah-engah kekurangan udara. Don tersungkur ke tanah.
Cucunya berlari memanggil ayahnya. Michael Corleone dan beberapa pria yang ada
di pintu gerbang Kompleks berlari ke kebun dan menemukan Don tertelungkup, tangannya mencengkeram
tanah. Mereka mengangkat Don dan memindahkannya ke keteduhan di teras berubin batu.
Michael berlutut di samping ayahnya, memegangi tangannya, sementara seseorang menelepon ambulans
dan dokter. Dengan susah payah Don membuka mata untuk melihat putranya sekali lagi. Serangan
jantung yang parah mengubah wajahnya yang kasar menjadi kebiruan. Ia sekarat. Ia mencium bau
kebun, melihat selubung cahaya kuning yang menyengat mata, dan berbisik, "Hidup begitu indah."
Ia lolos dari pemandangan kaum wanita yang menangis. Ia meninggal sebelum para
wanita pulang dari gereja, meninggal sebelum ambulans atau dokter datang. Ia mengembuskan
napas terakhir dikelilingi para pria, sambil memegangi tangan putra yang paling disayanginya.
Pemakamannya berlangsung seperti pemakaman raja-raja. Lima Keluarga mengirimkan
para don dan caporegime masing-masing, begitu pula Keluarga Clemenza dan Keluarga Tessio.
Johnny Fontane membuat berita besar dalam tabloid dengan menghadiri pemakaman, sekalipun
Michael menyarankan ia tidak usah datang. Johnny Fontane membuat pernyataan pada media cetak bahwa
Vito Corleone adalah bapak permandiannya dan orang paling baik yang pernah dikenalnya. Ia juga
menyatakan merasa mendapat kehormatan bisa memberikan penghormatan terakhir kepada orang
tua itu dan sama sekali tidak peduli semua orang mengetahuinya.
Acara berjaga dilangsungkan di rumah, dengan cara kuno.
623 4 Amerigo Bonasera tidak pernah melakukan pekerjaan yang lebih baik, mempersiapkan
sahabat dan Godfather-nya dengan penuh kasih sayang seperti ibu mempersiapkan mempelai putri
untuk pernikahannya. Setiap orang berkomentar betapa maut tidak bisa menghapus


The God Father Sang Godfather Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

keagungan dan wibawa Don. Dan komentar seperti itu membuat Amerigo Bonasera sangat bangga, merasakan
kekuasaan yang aneh. Hanya ia yang tahu betapa mengerikan apa yang dilakukan malaikat maut
terhadap Don. Semua teman lama dan orang yang mengabdi kepadanya berdatangan. Nazorine,
istrinya, anak perempuannya bersama suami dan anak-anaknya; Lucy Mancini datang bersama Freddie
dari Las Vegas. Tom Hagen bersama istri dan anak-anaknya, para don dari San Francisco dan
Los Angeles, Boston, Cleveland. Rocco Lampone dan Albert Neri menjadi pengusung peti bersama
Clemenza dan Tessio, dan tentu saja anak-anak Don. Seluruh kompleks dan rumahnya penuh
karangan bunga. Di luar pintu gerbang kompleks menunggu orang-orang media cetak dan juru foto
serta truk kecil yang diketahui berisi orang-orang FBI yang membawa kamera, merekam semua peristiwa
bersejarah itu. Beberapa orang media cetak yang mencoba menerobos masuk mendapati pintu gerbang
dan pagar dijaga para pengawal yang minta tanda pengenal dan undangan. Dan walaupun mereka
diperlakukan sopan sekali, diberi minuman, mereka tetap tidak diperbolehkan masuk. Mereka
mencoba berbicara dengan beberapa orang yang keluar dari rumah, tapi disambut dengan tatapan
dingin tanpa bicara sepatah pun. Michael Corleone menghabiskan sebagian besar hari itu di ruang perpustakaan
sudut bersama Kay, Tom Hagen, dan Freddie. Orang-orang diperbolehkan masuk untuk me-
624 nemuinya, untuk menyampaikan ucapan belasungkawa. Michael menerima mereka semua
dengan sopan. Tapi ketika beberapa orang di antara mereka memanggilnya dengan julukan
Godfather atau Don Michael, hanya Kay yang melihat bibirnya terkatup rapat tanda ia tidak
senang. Clemenza dan Tessio datang untuk bergabung dengan kalangan dalam, dan Michael
sendiri yang menjamu mereka dengan minuman. Mereka mengobrol sedikit mengenai bisnis. Michael
memberitahu mereka bahwa seluruh kompleks akan dijual kepada perusahaan
pengembangan dan pembangunan. Dengan keuntungan yang sangat besar, yang merupakan bukti
kejeniusan Don yang hebat. Mereka semua memahami bahwa sekarang seluruh kerajaan besar akan berada di
Barat. Bahwa Keluarga Corleone akan melikuidasi kekuasaannya di New York. Tindakan seperti
itu menunggu pengunduran diri atau kematian Don.
Hampir sepuluh tahun telah berlalu sejak ada perayaan di rumah itu, hampir
sepuluh tahun sejak pernikahan Constanzia Corleone dan Carlo Rizzi, begitulah kata orang. Michael
berjalan ke jendela yang menghadap ke taman. Dahulu sekali, ia duduk di taman bersama Kay dan tidak
pernah bermimpi akan menjalani takdir yang seaneh ini. Dan ayahnya menjelang kematian
mengatakan, "Hidup begitu
indah." Michael tidak ingat ayahnya pernah mengucapkan kata-kata mengenai
kematian, seakan kematian Don terlalu agung bagi kata-kata filsafat.
Sekarang saatnya pemakaman. Sudah tiba waktunya memakamkan Don yang agung.
Michael bergandengan dengan Kay dan pergi ke taman untuk bergabung dengan para pelayat.
Di belakangnya berbaris para caporegime yang diikuti para prajurit masing-masing, lalu semua
orang "biasa" yang
pernah ditolong Godfather semasa hidupnya. Tukang roti Nazorine,
625 janda Colombo dan anak-anaknya, juga orang-orang lain yang tidak terhitung
banyaknya dari dunia yang diperintah Don dengan tegas tapi adil. Bahkan ada beberapa musuhnya, yang
datang untuk memberi penghormatan terakhir.
Michael memerhatikan semua itu sambil tersenyum sopan. Ia tidak merasa terkesan.
Tapi, pikirnya, kalau aku bisa mati sambil mengatakan "Hidup begitu indah", yang lain tidak
penting. Kalau aku bisa begitu percaya diri, tidak ada lagi yang penting. Ia akan mengikuti ayahnya. Ia
akan mengurus anakanaknya, keluarganya, dunianya.
Tapi anak-anaknya akan tumbuh dewasa dalam dunia yang berbeda. Mereka akan
menjadi dokter, seniman, ilmuwan. Gubernur. Presiden. Apa saja. Ia akan mengusahakan mereka
menjadi bagian keluarga besar umat manusia, tapi ia, sebagai orangtua yang berkuasa dan
bijaksana, tetap akan mengawasi keluarga besarnya dengan waspada.
Pada pagi hari sesudah pemakaman, semua pejabat penting dalam Keluarga Corleone
berkumpul di kompleks. Tidak lama sebelum tengah hari mereka dipersilakan masuk ke rumah Don
yang kosong. Michael Corleone menerima mereka.
Mereka hampir memenuhi ruang perpustakaan di sudut. Ada dua caporegime, Clemenza
dan Tessio; Rocco Lampone, dengan ekspresi pandai dan tenang; Carlo Rizzi, sangat pendiam,
menyadari posisinya; Tom Hagen meninggalkan perannya yang hanya menangani bidang hukum
untuk ikut mengatasi krisis; Albert Neri, yang berusaha agar secara fisik selalu berada di
dekat Michael, menyulut rokok Don yang baru, mencampur minumannya, semua untuk memperlihatkan
kesetiaan yang tidak goyah sekalipun bencana belum lama ini menimpa Keluarga Corleone.
626 Kematian Don merupakan musibah berat bagi Keluarga. Tanpa kehadirannya, rasanya
separo kekuatan mereka hilang, dan hilang juga seluruh kekuatan negosiasi terhadap persekutuan
Barzini-Tattaglia. Setiap orang dalam ruangan menyadari hal ini dan mereka menunggu apa yang akan
dikatakan Michael. Di mata mereka, ia belum lagi menjadi Don yang baru; ia belum layak
menerima kedudukan atau jabatan tersebut. Seandainya Godfather masih hidup, ia bisa mengukuhkan
suksesi putranya; sekarang hal itu sama sekali tidak pasti.
Michael menunggu hingga Neri selesai menyajikan minuman. Lalu ia berkata pelan,
"Aku hanya ingin mengatakan kepada setiap orang di sini bahwa aku mengerti bagaimana perasaan
kalian. Aku tahu kalian semua menghormati ayahku, tapi sekarang kalian harus memikirkan diri
sendiri dan keluarga masing-masing. Beberapa di antara kalian bertanya-tanya bagaimana peristiwa yang
baru terjadi akan memengaruhi rencana yang sudah kita susun dan janji yang sudah kuberikan. Well,
jawaban untuk itu adalah: tidak ada pengaruhnya. Segala sesuatu akan tetap seperti biasa."
Clemenza menggelengkan kepalanya yang besar dan berambut lebat seperti kepala
bison. Rambutnya yang telah ubanan dan wajahnya, yang makin keriput karena tambahan lapisan
lemak, memancarkan rasa tidak senang. "Keluarga Barzini dan Keluarga Tattaglia akan menyerang kita
habis-habisan, Mike. Kau harus bertempur atau duduk berunding dengan mereka." Setiap orang
dalam ruangan menyadari bahwa Clemenza tidak menggunakan panggilan resmi Michael, apalagi
gelar Don. "Kita tunggu dan lihat saja apa yang akan terjadi," kata Michael. "Biar mereka
yang terlebih dulu melanggar perdamaian."
627 Tessio berbicara dengan suaranya yang lunak. "Mereka sudah melakukannya, Mike.
Mereka membuka 'dua buku' di Brooklyn pagi ini. Aku mendapat beritanya dari kapten polisi yang
memegang daftar perlindungan di kantor polisi. Dalam waktu sebulan aku tidak akan memiliki
tempat lagi untuk menggantungkan topiku di seluruh Brooklyn."
Michael menatapnya sambil berpikir. "Kau sudah mengambil tindakan soal ini?"
Tessio menggelengkan kepalanya yang kecil seperti kepala cerpelai. "Belum,"
jawabnya. "Aku tidak
ingin memberimu masalah."
"Bagus," kata Michael. "Duduk saja diam-diam. Dan kurasa itulah yang ingin
kukatakan pada kalian semua. Tetap duduk diam-diam. Jangan bereaksi terhadap provokasi apa pun. Beri
aku waktu beberapa minggu untuk membereskan masalah, untuk melihat ke arah mana angin bertiup. Lalu
aku akan mengambil tindakan yang terbaik bagi setiap orang yang ada di sini. Sesudah itu
kita akan menyelenggarakan pertemuan terakhir dan mengambil keputusan final."
Ia mengabaikan keheranan mereka dan Albert Neri mulai mengantar mereka keluar.
Michael berkata tajam, "Tom, kau tunggu di sini sebentar."
Hagen melangkah ke jendela yang menghadap ke halaman kompleks. Ia menunggu
hingga melihat para caporegime dan Carlo Rizzi serta Rocco Lampone digiring Neri melalui pintu
gerbang berpenjaga. Lalu ia berbalik menghadap Michael dan berkata, "Kau sudah menjalin
hubungan dengan semua koneksi politik?"
Michael menggeleng dengan penuh penyesalan. "Belum semuanya. Aku membutuhkan
waktu sekitar empat bulan lagi. Aku dan Don sudah merencanakannya. Tapi aku menguasai semua
hakim, itu yang kami bereskan terlebih dulu,
628 dan beberapa orang yang lebih penting di Kongres. Dan para pembesar partai di
New York sini tidak akan jadi masalah, tentu saja. Keluarga Corleone jauh lebih kuat daripada dugaan
semua orang, tapi aku berharap Keluarga bebas dari kesalahan." Ia tersenyum kepada Hagen. "Kurasa
sekarang kau memahami segalanya."
Hagen mengangguk. "Tidak sulit. Kecuali alasanmu menginginkan aku tidak terlibat
dalam tindakan yang diambil. Tapi lalu kupakai topi Sisilia-ku dan akhirnya aku juga bisa
memahami hal itu." Michael tertawa. "Ayahku bilang kau memang akan mengerti. Tapi itu kemewahan
yang tidak lagi bisa kunikmati. Aku membutuhkan kehadiranmu di sini. Setidaknya hingga beberapa
minggu mendatang. Sebaiknya kau telepon Vegas dan berbicara dengan istrimu. Katakan
saja beberapa minggu." Hagen bertanya dengan nada penasaran, "Menurutmu bagaimana mereka akan
menyerangmu?" Michael menghela napas. "Don mengajariku. Melalui seseorang yang dekat denganku.
Barzini akan menjebakku melalui seseorang yang dekat denganku, dan mungkin orang yang tidak
akan kucurigai." Hagen tersenyum padanya. "Seseorang seperti aku."
Michael membalas senyumnya. "Kau orang Irlandia, mereka tidak akan percaya
padamu." "Aku Jerman-Amerika," tukas Hagen.
"Bagi mereka kau orang Irlandia," balas Michael. "Mereka tidak akan mendekatimu,
juga tidak akan mendekati Neri, karena Neri polisi. Selain itu, kau dan dia terlalu dekat
denganku. Mereka tidak berani mengambil risiko. Rocco Lampone tidak cukup dekat. Tidak, orang itu
mungkin Clemenza, Tessio, atau Carlo Rizzi."
629 Hagen berkata perlahan, "Aku berani bertaruh orang itu Carlo."
"Kita lihat nanti," kata Michael. "Tidak lama lagi."
Keesokan paginya, sementara Hagen dan Michael sarapan bersama, terjadilah apa
yang sudah mereka duga. Michael menerima telepon di perpustakaan, dan setelah kembali ke dapur, ia
berkata pada Hagen, "Semua jebakan sudah dipasang. Aku akan bertemu Barzini seminggu dari
sekarang. Untuk membuat perdamaian baru karena Don telah meninggal." Michael tertawa.
Hagen bertanya, "Siapa yang meneleponmu" Siapa yang membuat kontak?" Mereka
berdua tahu bahwa siapa pun dalam Keluarga Corleone yang membuat kontak itu pasti sudah
menjadi pengkhianat. Michael tersenyum sedih penuh penyesalan pada Hagen. "Tessio," katanya.
Mereka melanjutkan sarapan sambil berdiam diri. Di atas kopinya Hagen
menggeleng. "Aku tadinya
berani sumpah orang itu pasti Carlo atau mungkin Clemenza. Aku tidak pernah
mencurigai Tessio. Ia yang paling baik di antara semua orang."
"Ia yang paling cerdik," kata Michael. "Dan ia melakukan apa yang menurutnya
merupakan hal yang paling cerdik. Ia menjebakku untuk dihabisi Barzini dan mewarisi Keluarga
Corleone. Kalau ia tetap setia kepadaku, ia akan ikut tersapu; ia memperhitungkan aku tidak akan menang."
Hagen terdiam beberapa saat sebelum bertanya segan pada Michael, "Setepat apa
perhitungannya?" Michael mengangkat bahu. "Kelihatannya ini buruk. Tapi ayahku satu-satunya orang
yang memahami bahwa koneksi politik dan kekuasaan nilainya sama dengan sepuluh regime.
Kupikir aku sudah memiliki sebagian besar kekuasaan politik ayahku, tapi aku
satu-satunya yang benar-benar mengetahuinya." Ia tersenyum pada Hagen, senyuman yang menenangkan.
"Aku akan membuat mereka memanggilku Don. Tapi aku merasa tidak enak pada Tessio."
Hagen berkata, "Apa kau setuju bertemu Barzini?"
"Yeah," sahut Michael. "Seminggu dari malam ini. Di Brooklyn, di wilayah Tessio,
tempat aku akan

The God Father Sang Godfather Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aman." Ia tertawa lagi.
Hagen berkata, "Berhati-hatilah sebelum saat itu."
Untuk pertama kalinya, Michael bersikap dingin pada Hagen. "Aku tidak perlu
consigliori untuk memberiku nasihat semacam itu," katanya.
Seminggu menjelang pertemuan antara Keluarga Corleone dan Keluarga Barzini,
Michael memperlihatkan kepada Hagen seberapa hati-hati dirinya. Ia tidak pernah
menginjakkan kaki ke luar
kompleks dan tak pernah menerima siapa pun tanpa didampingi Neri. Hanya ada satu
komplikasi yang menyebalkan. Anak laki-laki tertua Connie dan Carlo akan menerima Sakramen
Penguatan di gereja dan Kay meminta Michael menjadi bapak permandiannya. Michael menolak.
"Aku tidak sering meminta padamu," kata Kay. "Tapi sekarang kumohon kau mau
melakukan ini untukku. Connie sangat menginginkannya. Begitu pula Carlo. Ini sangat penting
bagi mereka. Ayolah, Michael." Kay bisa melihat suaminya marah padanya karena mendesak dan mengira pria itu
akan menolak. Ia kaget ketika Michael mengangguk dan berkata, "Oke. Tapi aku tidak bisa
meninggalkan kompleks. Katakan pada mereka supaya pastor mengatur agar memberikan penguatan anak itu di
sini. Aku akan membayar berapa saja. Kalau mereka mendapatkan kesulitan dengan orang-orang
gereja, Hagen akan mengurusnya." Maka sehari sebelum pertemuan dengan Keluarga Barzini, Michael Corleone menjadi
bapak permandian anak laki-laki Carlo dan Connie Rizzi. Ia menghadiahi anak itu jam
tangan sangat mahal yang terbuat dari emas. Ada pesta kecil di rumah Carlo, para caporegime
diundang, juga hadir Hagen,
Lampone, dan semua orang yang tinggal di dalam kompleks, termasuk janda Don.
Connie begitu dikuasai emosi sehingga memeluk dan menciumi kakaknya dan Kay sepanjang sore ku.
Bahkan Carlo Rizzi juga terpengaruh emosinya, meremas tangan Michael dan memanggilnya
Godfather kapan saja ada kesempatanmengikuti adat istiadat leluhur. Michael sendiri belum pernah
seramah itu, sangat terbuka. Connie berbisik pada Kay, "Kupikir Carlo dan Mike sekarang akan benar-
benar bersahabat. Kejadian-kejadian seperti ini selalu mendekatkan orang."
Kay meremas lengan adik iparnya. "Aku sangat gembira," katanya.
Bab 30 Albert Neri duduk di apartemen Bronx-nya dan dengan hati-hati menyikat pakaian
seragam polisinya yang lama, berwarna biru tua. Ia melepas lencana dan meletakkannya di meja untuk
dilap. Sarung dan pistol dinasnya disampirkan di sandaran kursi. Pekerjaan rutin ini anehnya
menyebabkan ia bahagia, salah satu dari sedikit waktu ketika ia merasa bahagia sejak istrinya
meninggalkannya, hampir dua
tahun berselang. Ia menikah dengan Rita sewaktu wanita itu masih duduk di sekolah menengah dan ia
baru menjadi polisi. Rita pemalu, berambut hitam, berasal dari keluarga Italia yang keras
didikannya dan tidak pernah mengizinkan Rita keluar rumah setelah pukul 22.00. Neri sangat
mencintainya, menyukai kepolosannya, begitu juga kebaikan dan kecantikan Rita.
Mula-mula Rita Neri terpesona pada suaminya. Albert sangat kuat dan Rita bisa
melihat orang takut pada suaminya karena kekuatannya dan karena sikapnya yang tidak bisa dibelokkan
mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Ia jarang bersikap taktis. Kalau tidak menyetujui
sikap sekelompok orang atau pandangan seseorang, ia menutup mulut
atau mengutarakan tentangannya dengan cara yang brutal.
Ia juga tidak pernah memberikan persetujuan dengan sopan.
Ia memiliki karakter Sisilia sejati dan kemarahannya bisa
mengerikan. Tapi ia tidak pernah marah pada istrinya.
Dalam waktu lima tahun, Neri menjadi salah seorang polisi yang paling ditakuti
di Kepolisian New York City. Juga salah seorang polisi yang paling jujur. Tapi ia memiliki cara
sendiri dalam menegakkan hukum. Ia membenci pemuda-pemuda berandalan. Dan kalau ia melihat
sekelompok bajingan muda mengganggu di tikungan jalan di malam hari, mengganggu orang yang
melintas, ia mengambil tindakan yang cepat dan pasti. Ia menggunakan kekuatan fisik yang
benar-benar luar biasa, yang tidak disadarinya sendiri sepenuhnya.
Pada suatu malam di Central Park West, ia melompat turun dari mobil patroli dan
membariskan enam pemuda berandalan berjas sutra hitam. Partnernya tetap duduk di belakang kemudi,
tidak ingin terlibat, karena sudah mengenal Neri. Keenam pemuda itu, semua hampir berusia
dua puluhan, baru saja menghadang orang-orang untuk minta rokok dengan ancaman tapi tidak melukai
siapa pun. Mereka juga mengganggu gadis-gadis yang lewat dengan isyarat seksual yang lebih
bergaya Prancis daripada Amerika. Neri membariskan mereka menghadap dinding batu yang memisahkan Central Park dan
Eighth Avenue. Waktu itu masih sore, tapi Neri membawa senjata yang paling disukainya,
lampu senter besar. Ia tidak pernah bersusah payah mencabut pistol; sama sekali tidak perlu.
Kalau ia marah, wajahnya saja sudah penuh ancaman, dan dipadukan dengan seragamnya, cukup untuk
menyebabkan para berandalan gemetar. Dan para berandalan ini pun bukan perkecualian.
634 Neri bertanya pada pemuda pertama yang berjas sutra hitam, "Siapa namamu?" Anak
itu menjawab dengan nama Irlandia dan Neri berkata padanya, "Pergi kau dari sini. Kalau
sekali lagi kulihat kau di
sini, akan kusalib dirimu." Ia memberi isyarat dengan lampu senter dan pemuda
itu bergegas pergi. Neri melakukan prosedur yang sama dengan dua pemuda berikutnya. Ia membiarkan
mereka berlalu. Tapi pemuda keempat memberi nama Italia dan tersenyum pada Neri seakan
menyatakan hubungan kekerabatan. Neri jelas sekali keturunan Italia. Neri memandang pemuda itu
sejenak dan bertanya penuh perhatian, "Kau Italia?" Bocah itu tersenyum penuh keyakinan.
Neri menghantam dahinya dengan lampu senter. Anak itu jatuh berlutut. Kulit dan
daging dahinya tercabik dan darah mengalir membasahi wajahnya. Tapi lukanya hanya luka daging.
Protokol Keempat 2 Pendekar Mata Keranjang 15 Badai Di Karang Langit Mutiara Hitam 16
^