Pencarian

Malaikat Dan Iblis 10

Malaikat Dan Iblis Angels And Demons Karya Dan Brown Bagian 10


Ketika keriuhan itu menjadi-jadi, sebuah kutipan Illuminati bergema dengan pemahaman baru: "Sebutir berlian tanpa cela, lahir dari elemen-elemen kuno dengan kesempurnaan yang tiada duanya sehingga semua orang yang melihatnya hanya bisa terpana."
Langdon sekarang tahu kalau mitos itu benar. Tanah, Udara, Api, Air. Berlian Illuminati.
117 ROBERT LANGDON YAKIN kalau keramaian dan histeria yang menyebar di Lapangan Santo Petrus saat ini melebihi apa pun yang pernah disaksikan oleh Bukit Vatican. Tidak ada pertempuran, tidak ada penyaliban, tidak ada perjalanan ziarah, tidak ada penglihatan mistis ... tidak ada sesuatu pun yang bisa menandingi kejadian dan drama yang terjadi sekarang ini di depan sebuah gereja terbesar di dunia.
Ketika tragedi itu terkuak, Langdon merasa tersisihkan ketika berdiri di samping Vittoria di puncak tangga Basilika Santo Petrus. Peristiwa itu tampak menjauh, seolah terbungkus waktu, dan semua kegilaan ini merayap lambat ....
Camerlegno yang dicap ... membuat dunia terpesona...
Berlian Illuminati ... terbuka dalam kejeniusannya yang kejam...
Jam yang berdetik mundur menunjukkan dua puluh menit terakhir dari sejarah Vatican ...
Walau demikian, drama ini baru saja dimulai.
Sang camerlegno, seolah masih dalam keadaan tidak sadar akibat trauma yang dideritanya, tiba-tiba tampak bertenaga dan dirasuki setan. Dia mulai meracau, berbisik pada sesuatu yang tidak tampak, menatap ke langit dan merentangkan lengannya pada Tuhan.
"Bicaralah!" sang camerlegno berseru ke arah langit. "Ya, aku mendengarmu!"
Pada saat itu Langdon mengerti. Jantungnya seperti berhenti berdetak.
Tampaknya Vittoria juga mengerti. Dia menjadi pucat. "Sang camerlegno terguncang," katanya. "Dia berhalusinasi. Dia mengira dia sedang berbicara dengan Tuhan!"
Harus ada yang menghentikan ini semua, pikir Langdon. Ini akan menjadi akhir yang memalukan dan menyedihkan. Bawa orang ini ke rumah sakit!
Di bawah mereka, di anak tangga Basilika Santo Petrus, Chinita Macri berdiri dan merekam gambar dari tempat yang menguntungkan. Gambar yang diambilnya langsung tersaji di seberang lapangan di belakangnya, di layar-layar besar dari media lainnya ... seperti bioskop drive-in yang tidak pernah berakhir, semuanya menayangkan peristiwa tragedi mengerikan yang sama.
Pemandangan keseluruhan terlihat seperti dongeng. Sang camerlegno dengan jubahnya yang koyak dan dada hangus tercap, tampak seperti seorang pemenang yang babak belur setelah berhasil menguasai ring neraka dan sedang mengalami pewahyuan. Sang camerlegno berseru pada langit.
"Ti sento, Dio! Aku mendengarmu, Tuhan!"
Chartrand mundur, tatapannya terlihat terpesona.
Kesenyapan langsung tercipta di dalam kerumunan yang tadinya hiruk pikuk itu. Untuk sesaat, kesenyapan itu seakan terjadi di seluruh dunia ... semua orang yang sedang menonton tayangan ini dari televisi, menjadi kaku dan menahan napas bersama-sama.
Sang camerlegno berdiri di a
tas tangga Basilika Santo Petrus, di hadapan semua orang dan mengangkat kedua lengannya. Dia hampir menyerupai Kristus; telanjang dan
terluka di hadapan dunia. Dia mengangkat tangannya ke arah langit dan mendongak sambil berseru. "Grazie! Grazie, Dio!"
Kesunyian dalam kerumunan itu tidak terusik.
"Grazie, Dio!" sang camerlegno berseru lagi. Seperti matahari yang menguak langit mendung, kegembiraan merona di wajahnya. "Grazie, Dio!"
Terima kasih, Tuhan" Langdon menatap keheranan.
Air muka sang camerlegno sekarang berseri-seri, dan perubahan yang menakutkan itu menjadi semakin sempurna. Dia menatap ke arah langit, masih sambil mengangguk-angguk dengan bersemangat. Dia kembali berseru ke arah langit. "Di atas batu karang ini aku akan mendirikan jemaatku!"
Langdon mengenal kata-kata itu, tetapi dia tidak tahu mengapa sang camerlegno dapat menyerukan kata-kata itu.
Sang camerlegno kemudian menatap ke arah kerumunan dan kembali meneriakkan kata-kata itu sehingga menembus kegelapan malam. "Di atas batu karang ini, aku akan membangun jemaatku!" Lalu dia mengangkat tangannya ke angkasa dan tertawa keras. "Grazie, Dio! Graziel"
Lelaki itu jelas sudah gila.
Dunia yang menontonnya pun terpaku.
Peristiwa ini jelas bukan hal yang diduga oleh siapa pun.
Dengan luapan kegembiraan yang terakhir, sang camerlegno berputar dan berlari kembali ke dalam Basilika Santo Petrus.
118 PUKUL 11 LEWAT 42 malam. Iring-iringan itu kembali memasuki Basilika Santo Petrus untuk menarik sang camerlegno. Langdon sama sekali tidak pernah menduga dirinya akan ikut serta melakukan itu ... apalagi sebagai pemimpinnya. Tetapi dia berdiri paling dekat ke pintu dan secara naluriah dia segera bertindak.
Dia ingin mati di sini, pikir Langdon sambil berlari dengan cepat melewati ambang pintu yang membawanya ke ruangan yang gelap. "Camerlegno, berhenti!"
Kegelapan yang menyambut Langdon di dalam sangat pekat. Bola matanya berusaha untuk menyesuaikan diri setelah sebelumnya menerima sinar yang menyilaukan di luar gereja, dan jarak pandangnya sekarang terentang tidak lebih dari beberapa kaki di depan wajahnya. Kakinya tergelincir ketika berusaha untuk berhenti. Di suatu tempat di dalam kegelapan di depannya, dia mendengar suara jubah sang camerlegno yang bergemerisik ketika pastor itu berlari ke arah gereja.
Vittoria dan para penjaga juga segera tiba di sana. Lampu-lampu senter menyala, tetapi sinar itu sekarang hampir mati dan bahkan tidak dapat membantu mereka untuk menerangi ruangan gereja di depan mereka. Cahaya senter mulai menyapu ke belakang dan ke depan dan hanya mampu melihat pilar-pilar dan lantai kosong. Sang camerlegno tidak terlihat di mana-mana.
"Camerlegno!" teriak Chartrand, ada ketakutan dalam suaranya. "Tunggu! Signore!"
Suara ribut-ribut di belakang mereka membuat mereka semua menoleh. Tubuh Chinita Macri yang besar menyerbu melalui pintu masuk di belakang mereka. Kameranya terpanggul di atas bahunya, dan sinar merah yang berkilauan di atasnya menandakan bahwa kamera itu masih terus menyiarkan peristiwa itu. Glick berlari di belakang Macri sambil membawa microphone di tangannya, dan berteriak pada Macri untuk memperlambat larinya.
Langdon tidak dapat memercayai tingkah kedua wartawan itu. Ini bukan waktunya!
"Keluar!" bentak Chartrand. "Kalian tidak boleh melihat
ini!" Tetapi Macri dan Glick terus mendekat.
"Chinita!" seru Glick terdengar takut sekarang. "Ini bunuh diri namanya! Aku tidak ikut!"
Macri mengabaikannya. Dia menyalakan sebuah tombol di kameranya. Lampu di atasnya menyala benderang dan menyilaukan semua orang.
Langdon menutupi wajahnya dan berpaling dengan perasaan kesal. Sialan! Tapi ketika dia melihat lagi, ruang gereja di sekitarnya menjadi terang benderang dengan radius sejauh tiga puluh yard.
Pada saat itu suara sang camerlegno menggema dari kejauhan. "Di atas batu karang ini aku akan membangun jemaatku!"
Macri mengarahkan kameranya ke arah suara itu. Jauh di balik keremangan di ujung jangkauan sinar kamera Macri, secarik kain hitam melambai dan menampakkan bentuk yang sudah tidak asing lagi yang s
edang belari di sepanjang gang utama gereja itu.
Ada sinar keraguan yang terlihat di mata setiap orang ketika melihat gambaran yang aneh itu. Tapi kemudian keraguan itu menghilang. Chartrand bergegas melewati Langdon dan berlari mengikuti sang camerlegno. Langdon mengikutinya. Kemudian para penjaga dan Vittoria.
Macri mengikuti mereka, menyinari jalan mereka dan terus menyiarkan peristiwa kejar mengejar yang menghebohkan itu kepada dunia. Glick yang enggan ikut serta dalam kejadian ini menyumpah keras ketika akhirnya dia harus ikut berlari. Sambil terbata-bata dia memberikan laporan yang sepotong-sepotong.
Gang utama di Basilika Santo Petrus, seperti yang pernah dibayangkan oleh Letnan Chartrand, lebih panjang daripada ukuran lapangan sepak bola. Tetapi malam ini, dia merasa gang itu menjadi lebih panjang dua kali lipat. Ketika para penjaga berlari dengan cepat mengejar sang camerlegno, dia bertanya-tanya ke mana larinya lelaki itu. Sang camerlegno jelas dalam keadaan terguncang sehingga mengigau karena luka yang dideritanya dan harus memikul beban karena menyaksikan pembantaian yang mengerikan di Kantor Paus tadi.
Di suatu tempat yang jauh, di luar jangkauan sinar lampu sorot kamera BBC, suara sang camerlegno terdengar keras penuh kegembiraan. "Di atas batu karang ini aku akan membangun jemaatku!"
Chartrand tahu lelaki itu meneriakkan ayat Mattius 16:18, kalau dia tidak salah ingat. Di atas batu karang ini, aku akan membangun jemaatku. Itu hampir menjadi inspirasi yang tidak tepat-gereja ini sebentar lagi akan hancur. Jelas, sang camerlegno sudah gila.
Atau memang begitu" Saat itu juga, jiwa Chartrand seperti bergetar. Penglihatan suci dan pesan ilahiah selalu tampak seperti khayalan yang tidak masuk akal baginya. Itu hanya berasal dari pikiran yang terlalu taat sehingga mereka mendengar apa yang mereka ingin dengar. Tuhan tidak berhubungan langsung dengan manusia!
Sesaat kemudian, seolah Roh Kudus sendiri yang turun untuk membujuk Chartrand dengan kekuatan-Nya, letnan Garda Swiss itu seperti mendapatkan penglihatan suci.
Lima puluh yard di depannya, di tengah-tengah gereja itu, sesosok hantu menampakkan diri ... sosok tembus pandang yang bersinar. Sosok pucat itu adalah sang camerlegno yang setengah telanjang. Hantu itu seperti tembus pandang dan memancarkan sinar. Chartrand terhuyung dan berhenti. Dia merasa dadanya menjadi kaku. Sang camerlegno bersinar! Tubuh itu tampak bersinar lebih terang sekarang. Lalu bayangan itu mulai tenggelam ... lebih dalam dan lebih dalam lagi, hingga menghilang seperti sihir ke dalam lantai yang gelap.
Langdon juga melihat bayangan itu. Sesaat, dia juga berpikir dirinya sedang mendapat penglihatan ajaib. Tetapi ketika dia melewati Chartrand yang terpaku dan berlari ke arah titik tempat sang camerlegno menghilang, dia sadar pada apa yang baru saja terjadi. Sang camerlegno tiba di Niche of the Palliums-ruang dengan lantai cekung yang hanya diterangi oleh 99 lampu. Lampu di ruangan itu bersinar ke atas dan menyinari sang camerlegno sehingga tampak seperti hantu. Kemudian, ketika sang camerlegno menuruni tangga dengan sinar lampu di sekelilingnya, dia tampak seperti menghilang ke bawah lantai.
Langdon tiba di pinggir ruangan itu dengan terengah-engah sambil menatap ruangan di bawahnya. Dia melongok ke lantai bawah. Di dasar lantainya, diterangi oleh sinar keemasan dari lampu-lampu minyak, dia melihat sang camerlegno berlari
melintasi ruangan dari pualam untuk menuju ke arah sepasang pintu kaca yang membawanya ke ruangan yang menyimpan kotak keemasan yang terkenal itu.
Apa yang dilakukannya" Langdon bertanya-tanya. Tentu saja dia tidak berpikir kalau kotak keemasan itu-
Sang camerlegno membuka pintu di depannya dengan kasar dan berlari ke dalam. Anehnya, dia mengabaikan kotak keemasan itu, dan terus berlari melewatinya. Lima kaki dari kotak itu, sang camerlegno menjatuhkan diri, berlutut, dan berusaha untuk mengangkat sebuah sarangan besi yang tertanam di lantai.
Langdon melihatnya dengan ketakutan karena sekarang dia tahu ke mana sang camerlegno menuju. Ya ampun, jangan! D
ia kemudian berlari lebih cepat untuk mengejarnya. "Bapa! Jangan!"
Ketika Langdon membuka pintu kaca dan berlari ke arah sang camerlegno, dia melihat sang camerlegno telah mengangkat sarangan besi itu. Penutup besi itu terbuka dan jatuh dengan menimbulkan suara hantaman yang memekakkan telinga.
Sarangan itu menunjukkan sebuah ruangan dan tangga sempit yang menuju ke bawah tanah. Ketika sang camerlegno bergerak ke arah lubang itu, Langdon meraih bahunya yang telanjang dan menariknya kembali. Kulit lelaki itu licin karena keringatnya, tetapi Langdon terus memeganginya.
Sang camerlegno memutar tubuhnya dan betul-betul terkejut. "Apa yang kamu lakukan"" tanyanya dengan keras.
Langdon heran ketika mata mereka bertemu. Tatapan sang camerlegno tidak lagi seperti seseorang yang sedang tidak sadar. Matanya tajam dan berkilauan karena mempunyai tujuan yang jelas. Cap di dadanya tampak mengerikan.
"Bapa," kata Langdon sambil berusaha setenang mungkin. "Anda tidak boleh pergi ke bawah sana. Kita harus pergi dari
sini." "Anakku," kata sang camerlegno, suaranya terdengar sangat sadar. "Aku baru saja menerima pesan. Aku tahu-"
"Camerlegno!" Chartrand dan yang lainnya tiba. Mereka datang sambil berlarian memasuki ruangan yang kini diterangi oleh lampu kamera Macri.
Ketika Chartrand melihat kuburan terbuka di lantai, matanya dipenuhi ketakutan. Dia membuat tanda silang dan menatap Langdon dengan pandangan penuh terima kasih karena telah menghentikan sang camerlegno. Karena Langdon telah cukup banyak membaca tentang arsitektur Vatican, dia tahu apa yang ada di bawah sarangan besi itu. Di sana adalah tempat yang paling suci bagi umat Kristiani. Terra Santa, Tanah Suci. Beberapa orang menyebutnya sebagai Necropolis. Ada juga yang menamakannya Catacomb. Menurut catatan beberapa pendeta terpilih yang pernah turun ke sana beberapa tahun yang lalu, Necropolis adalah sekumpulan ruang bawah tanah yang dapat 'menelan' pengunjung kalau mereka tersesat. Mereka tidak akan mau mengejar sang camerlegno hingga ke tempat itu.
"Signore," Chartrand memohon. "Anda sedang terguncang. Kita harus meninggalkan tempat ini. Anda tidak boleh pergi ke bawah sana. Itu bunuh diri namanya."
Tiba-tiba sang camerlegno seperti menahan diri. Dia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas bahu Chartrand dengan tenang. "Terima kasih untuk perhatian dan pelayananmu. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Aku tidak bisa memintamu untuk mengerti. Tetapi, aku telah mendapatkan wahyu. Aku tahu di mana antimateri itu disembunyikan."
Semua orang terpana. Sang camerlegno berpaling pada sekelompok orang di sekitarnya. "Di atas batu karang ini aku akan membangun jemaatku. Itulah pesan yang aku terima. Artinya sangat jelas."
Langdon masih belum dapat memahami keyakinan sang camerlegno bahwa dirinya telah berbicara dengan Tuhan. Terlebih lagi sang camerlegno dapat mengartikan pesan itu. Di atas batu karang ini aku akan mendirikan jemaatku" Itu adalah kata-kata yang diucapkan Yesus ketika beliau memilih Petrus sebagai murid pertamanya. Apa hubungannya dengan semua
ini" Macri bergerak masuk untuk mendapatkan gambar yang lebih dekat. Glick tidak bisa berkata apa-apa seolah dia terguncang.
Sekarang sang camerlegno berbicara dengan cepat. "Illuminati telah menempatkan senjata mereka di sudut paling rahasia dari gereja ini. Di dasar gereja." Dia menunjuk ke lantai bawah. "Di batu tertentu yang menjadi pondasi gereja ini. Dan aku tahu di mana batu itu berada."
Langdon yakin sudah waktunya dia melumpuhkan sang camerlegno untuk menghentikannya. Sejelas apa pun itu, pastor ini jelas mengumbar omong kosong. Sebuah batu" Sudut paling rahasia yang terdapat di pondasi gereja ini" Tangga di depan mereka itu tidak menuju ke pondasi bangunan ini, tetapi ke Necropolis! "Kutipan ayat dari Alkitab adalah sebuah metafora, Bapa! Tidak ada batu yang sesungguhnya!"
Wajah Sang camerlegno menampakkan kesedihan yang tidak biasa. "Ada batu yang sesungguhnya, Anakku." Dia menunjuk ke dalam lubang itu. "Pietro e la pietra."
Langdon seperti membeku. Dalam sekejap semua menjadi jelas.
Kes ederhanaan yang sangat sempurna itu membuat Langdon menggigil. Ketika Langdon berdiri di sana bersama dengan yang lainnya sambil menatap ke bawah, ke arah tangga sempit yang panjang itu, dia sadar kalau di sana memang ada batu yang ditanam di balik kegelapan bagian bawah gereja ini.
Pietro e la pietra. Petrus adalah batu.
Keyakinan Petrus pada Tuhan begitu kuatnya sehingga Yesus memanggilnya Petrus "si batu." Karena keyakinannya yang tak tergoyahkan sehingga Yesus mendirikan gerejanya di atas bahunya. Langdon menyadari di tempat inilah, di Bukit Vatican, Petrus disalib dan dimakamkan. Umat Kristen pertama membangun gereja kecil di atas makamnya. Ketika agama Kristen menyebar, gereja ini dibangun lebih besar lagi, sedikit demi sedikit dan berpuncak menjadi gedung Basilika Santo Petrus yang besar ini. Keyakinan umat Katolik telah dibangun, secara harfiah di atas bahu Santo Petrus.
"Antimateri itu disembunyikan di makam Santo Petrus," kata sang camerlegno, suaranya sangat jelas.
Walau informasi tersebut tampak berasal dari sumber supranatural, Langdon merasakan logika yang jelas di dalam pesan itu. Dengan menempatkan antimateri pada makam Santo Petrus, pesan Illuminati menjadi sangat jelas. Illuminati, dalam usahanya menentang gereja, menempatkan antimateri itu di pusat kerajaan Kristen ini, baik secara harfiah maupun simbolis. Penyusupan yang paling hebat.
"Dan kalau kalian membutuhkan bukti yang nyata," kata sang camerlegno, suaranya terdengar tidak sabar lagi. "Aku baru saja mengetahui kalau sarangan ini tidak lagi terkunci." Dia lalu menunjuk tutup di atas lantai itu. "Pintu ini tidak pernah terbuka seperti ini. Seseorang telah turun ke bawah sana ... baru-baru
ini." Semua orang menatap ke dalam lubang itu.
Sesaat kemudian, dengan kelenturan yang tak terduga, sang camerlegno berputar dan meraih sebuah lampu minyak dan bergerak masuk ke lubang itu.
119 ANAK TANGGA BATU itu menurun dengan curam ke dalam tanah. Aku akan mati di bawah sini, pikir Vittoria sambil berpegangan pada tali tambang berukuran besar yang berada di sisi tangga ketika dia menuruni jalan masuk yang sempit di belakang yang lainnya. Walau Langdon sudah berusaha untuk menghentikan sang camerlegno supaya tidak memasuki ruangan di bawah tanah itu, Chartrand ikut campur dan menarik tangan Langdon dan menahannya. Tampaknya penjaga berusia muda ini yakin sang camerlegno tahu apa yang dikerjakannya. Setelah berselisih sebentar, akhirnya Langdon dapat melepaskan diri dan mengejar sang camerlegno bersama Chartrand yang berjalan dekat sekali di belakangnya. Secara naluriah, Vittoria juga berlari di belakang mereka.
Sekarang Vittoria tanpa pikir panjang lagi ikut berlomba menuruni anak tangga terjal yang berbahaya karena begitu salah menempatkan kaki, hanya kematian yang akan menyapanya. Jauh di bawah sana, dia dapat melihat cahaya keemasan dari lampu minyak yang dipegang sang camerlegno. Di belakang Vittoria, kedua wartawan BBC juga bergegas menyusul mereka. Lampu kamera yang dibawa oleh si juru kamera membuat bayangan mereka bergerak-gerak di depan mereka ketika mereka menuruni jalan itu. Vittoria hampir tidak percaya kalau dunia dapat menjadi saksi dari kegilaan ini. Matikan kamera sialan itu! Walau begitu, Vittoria tahu lampu kamera itulah satu-satunya alat yang memungkinkan mereka menuruni jalan ini.
Ketika kejar-kejaran yang tidak lazim itu terus berlanjut, pikiran Vittoria terus berpacu. Apa yang dapat dilakukan sang camerlegno di bawah sini" Walaupun dia dapat menemukan antimateri itu, tapi sudah tidak ada waktu lagi!
Vittoria merasa heran ketika akhirnya dia sekarang berpikir kalau sang camerlegno mungkin saja benar. Dengan menempatkan antimateri tiga tingkat di bawah tanah, hal itu terlihat sebagai pilihan yang terhormat dan penuh belas kasih. Jauh di bawah tanah-mirip dengan lab-Z-ledakan antimateri akan tertahan sebagian. Tidak akan ada ledakan panas, tidak ada benda-benda tajam yang melayang dan melukai orang-orang di atas sana yang sedang menonton dengan penuh rasa ingin tahu. Yang terjadi hanyalah tanah yang merekah seperti kisah
di Alkitab sehingga Basilika Santo Petrus yang megah ini akan runtuh ke dalam kawah itu.
Apakah ini tindakan kesopanan Kohler" Kesopanan untuk menyelamatkan kehidupan" Vittoria masih tidak dapat membayangkan keterlibatan direkturnya itu. Dia dapat menerima kebencian Kohler terhadap agama ... tetapi konspirasi mengagumkan ini tampaknya tidak mungkin bagi Kohler. Apakah benar kebencian Kohler sedemikian dalamnya sehingga dia tega meluluhlantakkan Vatican dengan menyewa seorang pembunuh" Membunuh ayahnya, Paus, dan keempat kardinal" Rasanya tidak masuk akal. Dan bagaimana Kohler mengatur pengkhianatan di balik dinding Vatican" Rocher adalah orang dalam Kohler, kata Vittoria pada dirinya sendiri. Tidak diragukan lagi, Kapten Rocher memiliki kunci ke semua pintu, seperti ruangan di Kantor Paus, Il Passetto, Necropolis, makam Santo Petrus, semuanya. Mungkin saja dia yang menempatkan antimateri itu di makam Santo Petrus yang merupakan tempat yang paling rahasia di gedung ini, lalu memerintahkan anak
buahnya agar tidak membuang-buang waktu dengan mencari di kawasan terlarang di Vatican. Rocher tahu tidak seorang pun yang dapat menemukan tabung itu.
Tetapi Rocher tidak pernah memperkirakan sang camerlegno akan mendapat petunjuk dari atas.
Pesan itu. Ini adalah loncatan keyakinan yang Vittoria sendiri masih sukar untuk menerimanya. Apakah Tuhan benar-benar berkomunikasi dengan sang camerlegno" Intuisi Vittoria menyangkalnya. Tapi pikirannya terpengaruh pada ilmu fisika yang terkait dengan ilmu lain. Dia pernah menyaksikan komunikasi yang luar biasa setiap harinya seperti dua telur penyu kembar yang dipisahkan dan diletakkan di dua laboratorium yang terpisah bermil-mil jauhnya, dapat menetas dalam waktu yang bersamaan ... jutaan ubur-ubur berdenyut dengan irama yang tepat seperti memiliki satu pikiran. Selalu ada jalur komunikasi yang tidak terlihat di mana-mana, pikirnya.
Tetapi antara Tuhan dan manusia"
Vittoria berharap ayahnya berada di dekatnya untuk memberinya keyakinan itu. Ayahnya pernah menjelaskan komunikasi ilahiah kepadanya dengan menggunakan istilah ilmiah sehingga membuat Vittoria memercayainya. Vittoria masih ingat, pada suatu hari dia melihat ayahnya berdoa dan dia bertanya kepada ayahnya. "Ayah, mengapa ayah harus berdoa" Tuhan tidak dapat menjawabmu."
Leonardo Vetra terjaga dari meditasinya dan tersenyum kebapakan. "Putriku yang ragu-ragu. Jadi, kamu tidak percaya Tuhan berbicara kepada manusia" Biarkan kujelaskan dengan bahasamu." Ayahnya kemudian mengambil model otak manusia dari atas rak bukunya dan meletakkannya di depan Vittoria. "Mungkin kamu tahu, Vittoria, sebagian besar manusia
menggunakan kemampuan otaknya hanya beberapa persen saja, sangat sedikit. Walau demikian, kalau kamu menggunakannya dalam keadaan yang melibatkan emosi, seperti ketika merasakan sakit pada tubuh, kegembiraan yang luar biasa atau takut, meditasi yang khusuk, tiba-tiba saja neuron-neuron di otakmu bekerja dengan sangat aktif sehingga menghasilkan kejernihan mental yang meningkat secara besar-besaran."
"Memangnya kenapa"" tanya Vittoria. "Hanya karena kamu berpikir dengan jernih tidak berarti kamu berbicara dengan
Tuhan." "Aha!" seru Vetra. "Tapi solusi yang mengagumkan untuk sebuah masalah yang sangat sulit sering muncul dalam keadaan jernih seperti itu. Inilah apa yang disebut para guru sebagai kesadaran yang lebih tinggi. Ahli biologi menyebutnya altered states. Ahli psikologi menyebutnya super-sentience." Ayahnya berhenti berbicara. "Dan umat Kristiani menyebutnya doa yang dikabulkan." Lalu sambil tersenyum lebar, ayahnya menambahkan, "Kadang kala menerima ilham berarti menyesuaikan otakmu agar mau mendengar apa yang sudah diketahui oleh hatimu."
Sekarang, ketika dia berlari menuruni tangga untuk menuju kegelapan di bawahnya, Vittoria merasa mungkin ayahnya benar. Begitu sulitnyakah untuk meyakini trauma yang dialami sang camerlegno telah berhasil menempatkan otaknya dalam keadaan tercerahkan sehingga "mengetahui" di mana antimateri itu diletakkan"
Masing-masing dari kita adalah Tuhan, kata Buddha. Masing-masing
dari kita tahu segalanya. Kita hanya harus membuka diri untuk mendengarkan kebijakan diri kita sendiri.
Itu adalah momen kejernihan ketika Vittoria menuruni tangga menuju ke bawah tanah dan merasakan pikirannya
terbuka ... kebijakan dalam hatinya mengemuka. Dia kini langsung mengetahui niat sang camerlegno. Kesadarannya itu membawa serta rasa takut yang belum pernah dirasakannya.
"Camerlegno, jangan!" Vittoria berteriak ke bawah. "Anda tidak mengerti!" Vittoria membayangkan sejumlah besar orang di sekitar Vatican City sehingga tubuhnya menjadi dingin. "Jika Anda membawa antimateri itu ke atas ... semua orang akan mati!"
Langdon sekarang meloncati tiga anak tangga sekaligus, dan terus berusaha untuk mengejar langkah sang camerlegno. Jalan itu sempit tetapi dia tidak lagi merasakan claustrophobia yang dimilikinya. Ketakutan yang dulu melemahkannya itu sekarang tertutupi oleh ketakutan yang jauh lebih dalam.
"Camerlegno!" Langdon berteriak dengan keras. "Anda harus membiarkan antimateri itu tetap di tempatnya! Tidak ada pilihan lain!"
Bahkan ketika Langdon mengatakannya, dia tidak memercayai apa yang dikatakannya tersebut. Bukan hanya dia telah menerima kalau sang camerlegno telah menerima petunjuk dari Tuhan mengenai lokasi disembunyikannya antimateri, tapi tanpa dia sadari Langdon juga sedang membujuk sang camerlegno agar mereka membiarkan Basilika Santo Petrus yang merupakan mahakarya arsitektur dunia, hancur bersama-sama dengan karya seni yang tersimpan di dalamnya.
Tapi orang-orang yang berdiri di luar sana ... hanya ini satu-satunya jalan.
Tampaknya ini adalah ironi yang kejam bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan orang-orang di luar sana adalah dengan menghancurkan gereja. Langdon membayangkan Illuminati pasti akan terhibur oleh simbolisme itu.
Udara yang keluar dari dasar terowongan itu dingin dan berbau apak. Di suatu tempat di bawah sana terdapat Necropolis yang suci ... tempat pemakaman Santo Petrus dan banyak lagi penganut Kristen pertama. Langdon merasa gemetar dan berharap ini bukanlah misi bunuh diri.
Tiba-tiba lentera sang camerlegno tampak akan mati. Langdon segera mengejarnya.
Ujung tangga itu tiba-tiba muncul dan keluar dari kegelapan. Sebuah pintu gerbang dari besi tempa dengan hiasan menonjol berupa tiga tengkorak menghalangi dasar tangga itu. Sang camerlegno berada di sana, sedang menarik pintu itu untuk membukanya. Langdon meloncat, lalu mendorong gerbang itu sehingga tertutup lagi, dan menghalangi jalan sang camerlegno. Yang lain datang menyusul dengan ribut ke bagian bawah tangga itu. Semuanya tampak putih seperti hantu karena disinari oleh lampu sorot kamera BBC ... terutama Glick yang tampak lebih pucat setiap kali dia melangkah lebih ke bawah.
Chartrand mencengkeram lengan Langdon. "Biarkan sang camerlegno lewat!"
"Jangan!" seru Vittoria dari atas sambil terengah-engah. "Kita harus pergi dari sini sekarang juga! Anda tidak bisa membawa antimateri itu keluar dari sini! Jika Anda membawanya keluar, semua orang yang berada di luar akan mati!"
Suara sang camerlegno terdengar luar biasa tenang. "Semuanya ... kita harus percaya. Waktu kita hanya sedikit."
"Anda tidak mengerti," kata Vittoria. "Ledakan di permukaan akan lebih buruk daripada ledakan di bawah sini!"
Sang camerlegno menatapnya. Mata hijaunya bersinar cemerlang penuh kesadaran. "Siapa yang mengatakan akan ada ledakan di permukaan""
Vittoria menatapnya. "Jadi, Anda akan meninggalkan antimateri itu di bawah sini""
Kepastian sikap sang camerlegno sangat memengaruhi mereka. "Tidak akan ada kematian lagi malam ini."
"Bapa, tetapi-"
"Kumohon ... percayalah." Lalu suara sang camerlegno berubah menjadi bisikan. "Aku tidak meminta siapa pun untuk menemaniku. Kalian boleh pergi dengan bebas. Apa yang kuminta hanyalah jangan ganggu petunjuk yang diberikan-Nya. Biarkan aku mengerjakan apa yang Tuhan perintahkan kepadaku." Tatapan sang camerlegno sangat tajam. "Aku akan menyelamatkan gereja ini. Dan aku bisa melakukannya. Aku bersumpah demi hidupku."
Keheningan yang mengakhiri kalimatnya itu sama dampaknya dengan halili
ntar yang mengejutkan. 120 PUKUL 11 LEBIH 51 malam. Necropolis, makna harfiahnya adalah Kota Kematian.
Segala yang pernah dibaca oleh Robert Langdon tentang tempat ini ternyata tidak mempersiapkan dirinya untuk melihat apa yang sekarang dilihatnya. Ruangan besar di bawah tanah itu berisi reruntuhan mausoleum yang berbentuk seperti rumah kecil di dalam sebuah gua. Di dalam situ, udara yang tercium adalah kematian. Kisi-kisi yang aneh membatasi di jalan sempit berbentuk melingkar dengan berbagai monumen yang rusak. Sebagian besar dari monumen itu terdiri atas batu bata dengan lempengan pualam yang sudah hancur. Seperti terbuat dari debu, sejumlah pilar menjulang tinggi dan menyangga langit-langit dari tanah yang bergantung rendah di atas sekumpulan bentuk-bentuk tidak jelas di dalam kegelapan.
Kota Kematian, pikir Langdon sambil merasa terperangkap di antara rasa ingin tahu akademis dan ketakutan yang luar biasa. Mereka semua berlari ke tempat yang lebih dalam dengan menyusuri jalan melingkar itu. Apakah aku memilih pilihan yang salah"
Chartrand adalah orang pertama yang terpengaruh oleh pesona sang camerlegno. Dia-lah yang membuka pintu gerbang Necropolis dan mengungkapkan keyakinannya pada sang camerlegno. Glick dan Macri, sesuai permintaan sang camerlegno, merasa terhormat untuk memberikan penerangan yang mereka butuhkan. Tapi mereka juga memperhitungkan
penghargaan yang menanti mereka kalau mereka dapat keluar dari sini hidup-hidup sehingga motivasi mereka dapat dipertanyakan. Vittoria adalah orang yang paling tidak bersemangat dari semuanya. Dan Langdon melihat mata Vittoria yang memancarkan kewaspadaan yang entah kenapa terlihat sangat mirip dengan intuisi perempuan.
Sekarang sudah terlambat, pikir Langdon. Dia dan Vittoria berlari di belakang yang lainnya. Kami telah berjanji.
Vittoria tidak berbicara, tetapi Langdon tahu mereka sedang memikirkan hal yang sama. Sembilan menit tidaklah cukup untuk keluar dari Vatican City kalau sang camerlegno ternyata salah.
Ketika mereka berlari melalui mausoleum itu, Langdon merasa kakinya sangat letih, terkejut karena orang-orang lainnya mendaki dengan langkah tetap. Ketika Langdon tahu mengapa mereka mendaki, dia merasa sangat gemetar. Topografi di bawah kakinya itu adalah tanah pada zaman Kristus. Dia sedang mendaki di atas Bukit Vatican yang sesungguhnya! Langdon pernah mendengar para ahli Vatican mengklaim bahwa makam Santo Petrus berada di dekat puncak Bukit Vatican, dan Langdon terus bertanyatanya dari mana mereka mengetahui hal itu. Sekarang dia tahu. Bukit itu masih ada di sini!
Langdon merasa sedang berlari di antara lembaran-lembaran sejarah. Pada suatu tempat di depannya, terletak makam Santo Petrus yang merupakan peninggalan sejarah Kristen. Sulit dibayangkan kalau makam asli tersebut dulunya hanya ditandai oleh sebuah tempat suci yang sederhana. Tetapi sekarang tidak lagi. Ketika kebesaran Petrus tersebar, sebuah makam suci baru dibangun di atas makam yang lama. Kini bangunan itu membentang sepanjang 440 kaki dan dihiasi
dengan kubah karya Michelangelo. Puncaknya ditempatkan tepat di atas makam asli dengan pergeseran sekitar satu inci saja.
Mereka terus mendaki jalan yang berliku-liku di depannya. Langdon melihat jam tangannya. Delapan menit lagi. Dia mulai bertanya-tanya apakah dia dan Vittoria akan bergabung dengan mayat-mayat itu di sini selamanya.
"Awas!" seru Glick dari belakang mereka. "Lubang ular!" Langdon segera melihatnya. Serangkaian lubang-lubang kecil menghiasi jalan di depan mereka. Dia meloncatinya untuk menghindarinya.
Vittoria juga meloncatinya. Dia tampak cemas ketika mereka terus berlari. "Lubang ular""
"Lubang snack untuk kudapan bukan snake seperti katamu tadi," Langdon meralat. "Percaya padaku, kamu tidak ingin tahu tentang hal itu." Langdon baru saja menyadari kalau lubang-lubang itu adalah libation tube. Umat Kristen pertama memercayai kebangkitan orang yang telah meninggal dan mereka menggunakan lubang-lubang itu untuk betul-betul "memberi makan orang yang sudah meninggal" dengan menuangkan susu dan madu ke dalam ruang
an di bawah lantai itu. Sang camerlegno merasa lemah.
Dia terus berlari ke depan, kakinya menemukan kekuatan dari rasa kewajibannya terhadap Tuhan dan manusia. Hampir sampai di sana. Dia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Pikiran dapat membuat rasa sakit menjadi lebih hebat daripada apa yang dirasakan tubuh itu sendiri. Dia tahu waktu berharganya hanya tinggal sedikit.
"Aku akan menyelamatkan gerejamu, Bapa. Aku bersumpah." Walau ada lampu kamera BBC di belakangnya
yang menerangi langkahnya, sang camerlegno juga membawa lampu minyaknya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Aku adalah menara suar di dalam kegelapan. Aku adalah cahaya. Lampu minyak itu tumpah ketika dia berlari, dan untuk beberapa saat dia khawatir minyak yang mudah terbakar itu memercikinya dan membuatnya terbakar. Dia sudah mengalami luka bakar malam ini, dan itu sudah cukup baginya.
Ketika dia mendekati puncak bukit itu, tubuhya bermandikan keringat dan hampir tidak dapat bernapas lagi. Tetapi ketika dia melampaui puncak bukit, dia merasa terlahir kembali. Dia berdiri terhuyung di atas dataran di mana dia sudah sering berdiri. Di sinilah jalan itu berakhir. Necropolis itu tiba-tiba berakhir di sebuah dinding tanah. Sebuah tanda kecil bertuliskan: Mausoleum S.
La tomba di San Pietro. Di depannya, setinggi pinggangnya, terdapat sebuah lubang di dinding. Tidak ada plakat yang berkilap di sini. Tidak ada hiasan. Hanya sebuah lubang sederhana di dinding. Di dalamnya terletak sebuah gua kecil dan sebuah sarkofagus yang hancur. Sang camerlegno melongok ke dalam lubang dan tersenyum lelah. Dia dapat mendengar yang lainnya berdatangan di belakangnya. Dia meletakkan lampu minyaknya dan berlutut untuk berdoa.
Terima kasih Tuhan. Ini hampir berakhir.
Di luar, di lapangan Santo Petrus, dikelilingi oleh para kardinal yang terheran-heran, Kardinal Mortati menatap ke layar pers dan menyaksikan drama di bawah tanah yang sedang terjadi. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dipercayanya. Apakah seluruh dunia juga melihat apa yang baru saja dilihatnya" Apakah Tuhan benar-benar telah berbicara kepada sang
camerlegno" Apakah benar antimateri itu akan ditemukan di makam Santo Petrus-
"Lihat!" kerumunan itu semua menarik napas.
"Di sana!" semua orang tiba-tiba menunjuk ke arah layar. "Itu sebuah keajaiban!"
Mortati mendongak. Sudut pandang kamera itu tidak tetap tetapi cukup jelas. Gambar itu tidak akan pernah mereka lupakan.
Direkam dari belakang, sang camerlegno tampak sedang berlutut dan berdoa di atas tanah. Di depannya terdapat sebuah lubang kasar di dinding. Di dalam lubang itu, di antara batu-batu yang berserakan, terdapat sebuah peti mati dari genteng. Walau Mortati pernah melihat peti mati itu hanya satu kali dalam hidupnya, dia tahu dengan pasti apa isinya. San Pietro.
Mortati tidak cukup naif untuk mengira bahwa sorak sorai kegembiraan dan kekaguman yang sekarang membahana di seluruh kerumunan itu merupakan ungkapan atas kesempatan mereka melihat peninggalan Kristen yang paling suci. Makam Santo Petrus bukanlah hal yang dapat membuat orang-orang segera berlutut berdoa dan bersyukur secara spontan. Benda yang duduk di atasnyalah yang memancing sorak sorai itu.
Tabung antimateri itu tergeletak di sana ... tempat di mana benda tersebut berada sepanjang hari ... tersembunyi di dalam kegelapan Necropolis. Berkilap. Sangat berbahaya. Mematikan. Ilham yang diterima sang camerlegno ternyata benar.
Mortati menatap penuh kagum pada silinder tembus pandang itu. Tetesan cairan itu masih melayang-layang di bagian tengah tabung tersebut. Gua di sekitarnya berkedip merah ketika jam digital yang muncul di layar LED menghitung mundur hingga lima menit terakhir hidupnya.
Juga tergeletak di atas makam itu dan berjarak hanya beberapa inci dari tabung berbahaya itu, terlihat kamera keamanan nirkabel milik Garda Swiss yang diarahkan ke tabung antimateri agar dapat menyiarkannya ke pusat kontrol di markas Garda Swiss.
Mortati membuat tanda silang di dadanya. Ini jelas adalah gambar yang paling menakutkan yang pernah dilihatnya seumur hidupnya. Dia sadar beberapa saat
kemudian keadaan ini akan menjadi lebih buruk.
Tiba-tiba sang camerlegno berdiri. Dia meraih antimateri itu dalam genggamannya dan berpaling ke arah yang lainnya. Wajahnya memperlihatkan kesungguhannya. Dia berjalan melewati yang lainnya dan mulai menuruni Necropolis ke arah dia datang tadi, lalu berlari menuruni bukit itu.
Kamera Macri menangkap Vittoria Vetra yang membeku karena takut. "Mau ke mana! Camerlegno! Kukira Anda tadi mengatakan-"
"Percayalah!" seru sang camerlegno sambil terus berlari.
Vittoria berpaling pada Langdon. "Apa yang harus kita
lakukan"" Robert Langdon mencoba untuk menghentikan sang camerlegno, tetapi Chartrand berlari dan mencegah Langdon. Tampaknya dia memercayai keyakinan sang camerlegno.
Gambar yang tersiar dari kamera BBC sekarang tampak seperti sebuah roller coaster yang sedang berlari, berkelok dan berbelit. Kamera itu memperlihatkan kebingungan dan rasa takut ketika iring-iringan itu bergegas kembali menembus kegelapan ke arah pintu masuk Necropolis.
Di luar, di lapangan Santo Petrus, Mortati terkesiap ketakutan. "Apakah dia akan membawa benda itu ke atas sini""
Dalam tayangan televisi di seluruh dunia, tampak sang camerlegno berlari dengan cepat ke luar dari Necropolis dengan membawa antimateri di depannya. "Tidak akan ada kematian lagi malam ini!"
Tetapi sang camerlegno salah.
121 SANG CAMERLEGNO MUNCUL di pintu Basilika Santo Petrus pada pukul 11:56 malam. Dia terhuyung-huyung di depan sorotan lampu media. Sang camerlegno membawa antimateri itu di depan tubuhnya seperti membawa semacam persembahan. Dengan matanya yang menyala-nyala, dia dapat melihat sosoknya sendiri; setengah telanjang dan terluka, dan berdiri menjulang seperti raksasa di dalam berbagai layar media yang terdapat di sekitar lapangan.
Sang camerlegno belum pernah mendengar sorak-sorai seperti meledak dari kerumunan di Lapangan Santo Petrus. Ada tangisan, jeritan, doa, nyanyian ... campuran dari pemujaan dan ketakutan yang luar biasa.
Selamatkan kami dari kejahatan, sang camerlegno berbisik.
Dia merasa betul-betul kehabisan tenaga karena berlari dari Necropolis tadi. Hampir saja semuanya ini berakhir dengan bencana. Robert Langdon dan Vittoria Vetra sudah ingin menghalanginya, dan membuang tabung itu kembali ke ruang bawah tanah di mana dia sebelumnya berada, lalu berlari ke luar untuk berlindung. Mereka itu orang-orang bodoh!
Sang camerlegno sekarang sadar, di malam-malam lainnya dia tidak akan memenangkan perlombaan lari seperti tadi. Namun malam ini, Tuhan kembali bersamanya. Robert Langdon, yang hampir menyusul sang camerlegno, telah dihalangi oleh Chartrand yang sangat setia dan patuh pada apa yang dikehendaki sang camerlegno. Kedua wartawan itu, tentu
saja terpaku dan terbebani oleh peralatan mereka yang terlalu banyak untuk mencampuri urusan sang camerlegno.
Tuhan bertindak dengan cara yang misterius.
Sang camerlegno sekarang dapat mendengar pengiringnya datang di belakangnya ... dan dia dapat melihat kedatangan mereka dari layar berbagai media yang menjulang di sekitar Lapangan Santo Petrus. Dengan mengumpulkan kekuatan terakhirnya, dia mengangkat tabung antimateri itu tinggi di atas kepalanya. Lalu pastor muda itu membusungkan dadanya sehingga luka bakar yang berbentuk cap Illuminati tampak jelas menantang. Kemudian dia berlari menuruni tangga. Satu tindakan terakhir. Semoga berhasil, pikirnya. Semoga berhasil.
Empat menit lagi ... Langdon hampir tidak dapat melihat ketika dia menyerbu keluar dari pintu depan Basilika Santo Petrus. Sekali lagi, terpaan sinar lampu media memasuki retinanya. Yang dapat dilihatnya adalah sosok buram sang camerlegno, yang berada tepat di depannya, sedang berlari menuruni tangga. Saat itu juga, dengan diterangi oleh lampu-lampu media, sang camerlegno tampak suci seperti dewa di era modern. Jubahnya melorot hingga pinggangnya seperti selembar kain kafan. Tubuhnya terlihat menakutkan karena terluka oleh musuhnya, tapi dia masih bertahan. Sang camerlegno terus berlari dengan tegak sambil berseru kepada dunia agar tetap percaya. Dia kemudian berlari ke arah m
assa sambil membawa senjata pemusnah itu.
Langdon berlari menuruni tangga untuk mengejarnya. Apa yang ingin dilakukannya" Membunuh mereka semua"
"Ciptaan setan," teriak sang camerlegno, "tidak punya tempat di Rumah Tuhan!" Dia berlari ke arah kerumunan yang sekarang menjadi ketakutan.
"Bapa!" teriak Langdon di belakangnya. "Anda tidak bisa pergi ke mana-mana lagi!"
"Tataplah langit! Kita lupa melihat ke langit!"
Pada saat itu, ketika Langdon melihat ke mana arah tujuan camerlegno, kebenaran yang sesungguhnya muncul di depan matanya. Walaupun Langdon tidak dapat melihat karena sinar lampu-lampu media yang menyilaukan, dia tahu penyelamat mereka ada di atasnya.
Langit Italia yang dipenuhi bintang-bintang. Jalan pembebasan.
Helikopter yang telah disiapkan untuk membawa sang camerlegno ke rumah sakit, diam menunggu di depannya. Pilotnya sudah duduk di kokpit, dan baling-baling telah berputar dalam posisi netral. Ketika sang camerlegno berlari ke arah pesawat tersebut, tiba-tiba Langdon merasa luar biasa gembira.
Gagasan yang menggugah benak Langdon muncul seperti semburan kawah gunung berapi ....
Pertama-tama dia membayangkan Laut Mediterania yang terbuka lebar dan luas. Berapa jauhnya dari sini" Lima mil" Sepuluh mil" Dia tahu pantai Fiumocino hanya berjarak tujuh menit dengan kereta api. Tetapi dengan menumpang helikopter dengan kecepatan 200 mil per jam tanpa berhenti ... Kalau mereka dapat menerbangkan tabung itu cukup jauh ke laut untuk kemudian menjatuhkannya ... Tapi masih ada pilihan yang lain lagi, pikir Langdon dan dia merasa sangat ringan ketika berlari. La Cava Romana! Tambang penggalian pualam di sebelah utara kota yang berjarak kurang dari tiga mil. Berapa besarnya area itu" Dua mil persegi" Yang jelas tempat itu sangat sunyi pada jam seperti ini! Jatuhkan tabung itu di sana ...
"Semuanya, mundur!" sang camerlegno berteriak. Dadanya terasa sakit ketika berlari. "Menyingkir! Sekarang!"
Garda Swiss yang berdiri di sekitar helikopter itu langsung ternganga ketika melihat sang camerlegno mendekati mereka.
"Mundur!" pastor itu berteriak.
Para penjaga itu pun bergerak mundur.
Dengan seluruh dunia menyaksikan dengan terkagum-kagum, sang camerlegno berlari mengelilingi helikopter untuk menuju ke arah pintu pilot dan membukanya dengan sentakan. "Keluarlah, Nak. Sekarang!"
Si pilot meloncat keluar.
Sang camerlegno melihat tempat duduk pilot yang tinggi dan tahu bahwa dalam keadaan yang sangat letih seperti saat ini dia memerlukan kedua tangannya untuk mendorong tubuhnya ke atas. Dia berpaling pada pilot yang gemetar di sampingnya lalu menyerahkan tabung itu padanya. "Pegang ini. Serahkan padaku lagi begitu aku sudah di atas."
Ketika sang camerlegno berusaha naik, dia mendengar suara Robert Langdon berteriak-teriak dengan bersemangat sambil berlari ke arah pesawat itu. Sekarang kamu mengerti, pikir sang camerlegno. Sekarang kamu percayal
Sang camerlegno naik ke dalam kokpit dan mengatur beberapa tuas yang sudah diakrabinya, lalu berpaling ke jendela untuk meminta tabung itu.
Tetapi pilot yang diserahi tabung itu berdiri dengan tangan kosong. "Dia mengambilnya!" teriak pilot itu.
Sang camerlegno merasa jantungnya seperti terampas. "Siapa"" serunya keras.
Pilot itu menunjuk. "Dia!"
Robert Langdon juga heran karena ternyata tabung itu berat sekali. Dia berlari ke sisi lain helikopter itu dan meloncat masuk ke tempat dia dan Vittoria sebelumnya duduk beberapa jam yang lalu. Dia membiarkan pintunya terbuka lalu mengikat dirinya. Kemudian dia berseru pada sang camerlegno yang duduk di bangku depan.
"Terbang, Bapa!"
Sang camerlegno menoleh ke ke arah Langdon yang duduk di belakangnya, wajahnya sangat pucat karena takut. "Apa yang kamu lakukan"" tanyanya keras
"Anda terbang! Saya akan melemparnya!" teriak Langdon. "Tidak ada waktu lagi! Terbangkan saja helikopter ini!"
Sang camerlegno tampak lumpuh sesaat. Lampu media yang menyorot menembus kaca kokpit membuat wajahnya yang kuyu menjadi gelap. "Aku dapat melakukan ini sendiri," bisiknya. "Seharusnya ini kukerjakan sendirian."
Langdon tidak mau mendeng
arkan. Terbang! Dia mendengar dirinya berteriak. Sekarang! Aku di sini untuk menolongmu! Langdon menatap tabung itu dan merasa napasnya tercekat di tenggorokannya ketika dia melihat angka yang berkedip di jarum digitalnya. "Tiga menit lagi, Bapa! Tiga!"
Angka itu seolah menyadarkan sang camerlegno sehingga membuatnya kembali tenang. Tanpa ragu lagi, dia mulai mengendalikan helikopter itu. Dengan suara gemuruh, helikopter itu terbang.
Melalui debu yang berterbangan, Langdon dapat melihat Vittoria berlari ke arah helikopter itu. Mata mereka bertemu, dan kemudian Vittoria tertinggal di bawah seperti batu yang tenggelam.
122 DI DALAM HELIKOPTER, suara deru mesin dan angin kencang yang bertiup melalui pintu yang terbuka, menerpa perasaan Langdon dengan keriuhan yang memekakkan telinga. Dia berusaha menjaga keseimbangannya saat melawan gravitasi ketika sang camerlegno menerbangkan helikopter itu langsung ke atas. Kemilau Lapangan Santo Petrus menyusut di bawah mereka hingga menjadi bentuk elips yang bersinar di antara lampu-lampu kota.
Tabung antimateri itu terasa sangat berat di tangan Langdon. Dia memegangnya dengan lebih erat. Telapak tangannya sekarang licin karena keringat dan darah. Di dalam tabung itu, tetes antimateri melayang-layang tenang, sementara jam digital berwarna merah berkedip-kedip sambil menghitung mundur.
"Dua menit!" seru Langdon sambil bertanya-tanya di mana sang camerlegno akan menjatuhkan tabung itu.
Lampu-lampu kota di bawah mereka tersebar dari segala penjuru. Dari kejauhan di arah barat, Langdon dapat melihat kerlip garis pantai Mediterania-tepian bergerigi yang diterangi sinar lampu yang membatasi kegelapan luas tak terbatas di seberangnya. Laut itu sekarang tampak lebih jauh dari yang dibayangkan Langdon semula. Lagipula, kumpulan lampu di pantai itu seperti memperingatkannya. Sekalipun ledakan itu terjadi jauh di tengah laut, ledakan tersebut tetap akan menimbulkan akibat yang merusak. Langdon tidak
memperhitungkan datangnya gelombang pasang sebesar sepuluh kiloton yang akan menghantam pantai.
Ketika Langdon berpaling dan menatap lurus ke depan melalui jendela depan kokpit pesawat, harapannya mengembang. Tepat di depan mereka, terlihat bayangan bergulung dari perbukitan Roma yang muncul di gelap malam. Bukit-bukit itu dihiasi oleh titik-titik lampu yang berasal dari villa orang-orang kaya. Tetapi kira-kira satu mil ke utara, perbukitan itu menjadi gelap. Tidak ada lampu sama sekali, yang ada hanya kegelapan. Tidak ada yang lainnya.
Tambang itu! pikir Langdon. La Cava Romana!
Langdon menatap terus ke tanah kosong itu, dan merasa bahwa tanah itu cukup luas. Selain itu, tambang tersebut juga terlihat cukup dekat. Jauh lebih dekat daripada lautan di sisi barat. Semangat mulai merasukinya. Ini jelas tempat di mana sang camerlegno ingin membawa antimateri itu! Helikopter ini langsung menuju ke arahnya! Tambang itu! Anehnya, walau suara mesin terdengar lebih keras dan helikopter itu terbang dengan cepat menembus udara, Langdon bisa melihat kalau tambang itu mulai menjauh. Apa yang dilihatnya mengubah semangatnya menjadi kepanikan. Tepat di bawahnya, ribuan kaki di bawahnya, terlihat kilau lampu-lampu media di Lapangan Santo Petrus.
Kita masih ada di atas Vatican!
"Camerlegno!" seru Langdon seperti tercekik. "Terus ke depan! Kita sudah cukup tinggi! Anda harus mulai terbang ke depan! Kita tidak dapat menjatuhkan tabung ini kembali di atas Vatican City!"
Sang camerlegno tidak menjawab. Tampaknya dia memusatkan perhatiannya untuk menerbangkan pesawat itu.
"Waktu kita kurang dari dua menit lagi!" teriak Langdon, sambil memegangi tabung itu. "Aku dapat melihatnya! La Cava Romana! Beberapa mil ke utara! Kita tidak punya-"
"Tidak," kata sang camerlegno. "Itu terlalu berbahaya. Maafkan aku." Ketika helikopter itu mulai naik lagi, sang camerlegno berpaling kepada Langdon dan tersenyum muram. "Semestinya kamu tidak ikut, kawan. Kamu telah mengorbankan dirimu."
Langdon melihat mata letih sang camerlegno dan tiba-tiba dia mengerti. Darahnya menjadi sedingin es. "Tetapi ... pasti ada tempat ya
ng dapat kita datangi!"
"Ke atas," jawab sang camerlegno, suaranya terdengar seperti menyerah. "Itu satu-satunya hal yang pasti."
Langdon hampir tidak dapat berpikir. Dia betul-betul salah mengartikan rencana sang camerlegno. Lihat ke langit!
Langit tempat di mana surga berada. Sekarang Langdon tahu maksud sang camerlegno. Ke sanalah dia benar-benar akan pergi. Sang camerlegno tidak pernah bermaksud menjatuhkan tabung antimateri itu. Dia hanya ingin membawanya sejauh yang dapat dilakukannya dari Vatican City.
Ini adalah perjalanan satu arah.
123 DI LAPANGAN SANTO PETRUS, Vittoria Vetra menatap ke atas. Sekarang helikopter itu tampak sebagai sebuah titik. Lampu-lampu media tidak lagi dapat mencapainya. Bahkan deru baling-balingnya pun telah memudar menjadi gumam yang sangat jauh. Tampaknya saat itu, seluruh tatapan dunia terpusat ke atas. Mereka semua terdiam sambil harap-harap cemas. Semua orang mengadahkan kepalanya ke langit ... semua orang, semua keyakinan ... semua jantung berdegup seperti menjadi satu.


Malaikat Dan Iblis Angels And Demons Karya Dan Brown di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Perasaan Vittoria campur aduk. Ketika helikopter itu menghilang dari pandangan, dia membayangkan wajah Robert tinggi di atasnya. Apa yang dipikirkannya" Tidakkah dia mengerti"
Di sekitar lapangan, kamera-kamera televisi menyorot ke atas, ke arah kegelapan malam dan menunggu. Lautan wajah menatap ke arah langit, bersatu dalam hitungan mundur tanpa suara ... tak lama lagi langit Roma akan diterangi oleh bintang-bintang kemilau. Vittoria merasa air matanya mulai terbit.
Di belakangnya, berdiri di atas lantai pualam, 161 kardinal menatap dengan kekaguman tanpa suara. Beberapa orang kardinal mengatupkan tangan mereka untuk berdoa. Kebanyakan dari mereka hanya berdiri tak bergerak seperti tersihir. Beberapa orang menangis. Detik-detik berlalu.
Di dalam rumah-rumah, bar-bar, kantor-kantor, bandara-bandara, rumah-rumah sakit, di seluruh dunia, jiwa-jiwa bersatu
dalam kesaksian universal. Lelaki dan perempuan saling bergandengan tangan. Yang lainnya memeluk anak-anak mereka. Waktu seperti melayang, dan jiwa mereka bersatu dalam kebersamaan.
Lalu tanpa rasa belas kasihan, lonceng Santo Petrus mulai berdentang.
Vittoria membiarkan air matanya jatuh.
Lalu ... dengan disaksikan oleh seluruh dunia ... waktu yang ada sudah habis.
Kesunyian absolut saat peristiwa itu terjadi adalah hal yang paling menakutkan.
Tinggi di atas Vatican City, sebuah titik cahaya muncul di langit. Dalam sekejap saja, sebuah benda langit baru saja dilahirkan ... sebuah titik cahaya yang begitu murni dan putih seperti yang belum pernah dilihat orang sebelumnya.
Lalu terjadilah. Sebuah kilatan. Titik itu menggelembung seolah menelan dirinya sendiri, lalu terurai di langit dalam radius berukuran besar berwarna putih menyilaukan. Kemudian sinar tadi terpencar ke segala arah dengan kecepatan yang tak terkira, dan menelan kegelapan. Ketika bidang cahaya itu membesar, dia menjadi lebih kuat, seperti musuh yang berkembang dan mempersiapkan diri untuk menelan seluruh langit. Cahaya itu berpacu turun ke arah orang-orang di lapangan Santo Petrus dengan kecepatan yang luar biasa
Cahaya itu begitu menyilaukan dan menyinari wajah semua orang yang terkesiap sehingga membuat mereka menutup mata sambil menjerit-jerit ketakutan.
Ketika cahaya itu menggemuruh ke segala arah, sesuatu yang tak terbayangkan terjadi. Seolah terikat oleh kehendak
Tuhan, cahaya dengan radius yang bertambah semakin besar itu tampak seperti menabrak dinding. Seolah ledakan itu terjadi di ruangan kaca raksasa. Cahaya itu kembali berkumpul ke dalam, dan beriak di antara mereka sendiri. Gelombang itu tampaknya telah mencapai diameter yang sudah ditetapkan sebelumnya dan mengambang di sana. Pada saat itu juga, bidang sinar yang menyilaukan menerangi Roma. Malam yang sebelumnya gelap gulita itu menjadi siang hari yang terang benderang. Lalu terjadilah.
Benturan itu sangat keras dan mengeluarkan suara yang memekakkan seperti gelombang guntur yang meledak dari atas langit. Guntur itu turun ke bawah, ke arah orang-orang di Lapangan Santo Petrus seperti kemurkaan neraka dan mengg
uncangkan pondasi Vatican City yang terbuat dari batu granit sehingga membuat napas semua orang tersendat dan membuat mereka terjengkang ke belakang. Getaran itu mengelilingi pilar dan diikuti oleh curahan udara hangat yang muncul secara tiba-tiba. Angin panas itu seperti merobek lapangan dan mengeluarkan suara seperti erangan ketika melintasi pilar-pilar dan menghantam tembok. Debu berputar di atas mereka ketika orang-orang yang berdesak-desakan di Lapangan Santo Petrus menyaksikan kiamat yang terjadi di hadapan mereka.
Tapi secepat munculnya, bidang cahaya itu tiba-tiba seperti tersedot sendiri dan saling bertubrukan ke dalam sehingga menjadi titik kecil cahaya seperti asalnya semula.
124 KESUNYIAN SEPERTI INI belum pernah terjadi
sebelumnya. Satu persatu wajah-wajah di Lapangan Santo Petrus memalingkan matanya dari langit gelap di atas sana dan menundukkan kepalanya dengan rasa takjub. Lampu-lampu media mengikuti langkah mereka dan menurunkan sorotan kameranya kembali ke tanah seolah mereka memberikan penghormatan kepada langit yang kembali menjadi gelap gulita. Saat itu seluruh dunia seperti bersama-sama menundukkan kepala.
Kardinal Mortati berlutut dan berdoa. Para kardinal lainnya pun bergabung bersamanya. Petugas Garda Swiss menurunkan pedang panjang mereka dan berdiri dengan tegak seperti memberi penghormatan. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada seorang pun yang bergerak. Di mana-mana, jantung semua orang bergetar dengan emosi yang spontan: rasa kehilangan, ketakutan, ketakjuban, keyakinan, dan rasa hormat yang besar terhadap kekuatan baru yang mengagumkan yang baru saja mereka saksikan.
Vittoria Vetra berdiri dengan gemetar di ujung tangga Basilika Santo Petrus yang luas. Dia memejamkan matanya. Walaupun perasaannya berkecamuk di dalam dadanya, ada satu kata yang teringat dan terngiang-ngiang kembali: kekejaman. Dia berusaha mengusir perasaan itu. Namun kata itu terus menggema. Sekali lagi dia berusaha untuk mengenyahkannya.
Tapi rasa sakit ini begitu mendalam. Dia berusaha untuk menenggelamkan pikirannya ke dalam gambaran yang muncul di dalam pikiran orang lain ... antimateri adalah kekuatan yang mengguncangkan dunia ... pembebasan Vatican ... sang camerlegno ... tindakan penuh keberanian ... keajaiban ... sifat tidak mementingkan diri sendiri. Meskipun begitu, kata itu terus menggema ... terucap menembus keriuhan dengan perasaan kesepian yang menusuk. Robert.
Robert datang ke Kastil Santo Angelo untuk menyelamatkannya.
Robert telah menyelamatkannya.
Dan sekarang Robert telah hancur karena antimateri ciptaannya.
Ketika Kardinal Mortati berdoa, dia bertanya-tanya apakah dia juga akan mendengar suara Tuhan seperti yang dialami sang camerlegno. Apakah seseorang harus percaya pada keajaiban agar dapat mengalami keajaiban itu" Mortati adalah orang modern dengan keyakinan yang kuno. Keajaiban tidak pernah menjadi bagian dari kepercayaannya. Tentu saja keyakinannya berbicara tentang keajaiban-keajaiban ... telapak tangan yang berdarah, kebangkitan orang yang sudah meninggal, jejak pada kain kafan Yesus ... tapi pikiran Mortati yang rasional selalu menganggap semua ini hanya sebagai bagian dari mitos. Semuanya itu adalah hasil dari kelemahan manusia yang paling parah-kebutuhan mereka akan bukti. Keajaiban tidak lebih dari kisah-kisah yang kita percayai karena kita berharap mereka sungguh-sungguh terjadi.
Tapi walau demikian .... Apakah aku begitu modern sehingga tidak dapat menerima apa yang baru saja kusaksikan dengan mataku sendiri" Itu sebuah keajaiban, bukan" Ya! Tuhan, dengan bisikan yang disampaikanNya di telinga sang camerlegno, telah turun tangan dan menyelamatkan gereja ini. Mengapa ini begitu sulit untuk dipercaya" Apa kata orang tentang Tuhan jika Dia tidak melakukan apa-apa" Bahwa Yang Mahakuasa tidak peduli" Bahwa Tuhan tidak berdaya untuk menghentikan bencana ini" Sebuah keajaiban adalah satu-satunya jawaban yang mungkin!
Ketika Mortati berlutut sambil bertanya-tanya, dan berdoa bagi jiwa sang camerlegno. Dia berterima kasih kepada Kepala Rumah Tangga Kepausan yang berusia muda itu.
Walaupun usianya masih muda, dia telah membukakan mata tuanya untuk melihat keajaiban yang tidak meragukan ini.
Yang luar biasa adalah, Mortati tidak pernah menduga bahwa keyakinannya sebentar lagi akan diuji ....
Kesenyapan di Lapangan Santo Petrus mula-mula terkoyak dengan suara desiran. Suara desiran itu kemudian menjadi gumaman. Lalu tiba-tiba berubah menjadi gemuruh. Tak disangka-sangka, kerumunan itu menjerit bersama-sama.
"Lihat! Lihat!"
Mortati membuka matanya dan berpaling ke arah kerumunan itu. Semua orang menunjuk ke arah di belakangnya, ke arah bagian depan Basilika Santo Petrus. Wajah mereka pucat pasi.
Beberapa orang jatuh berlutut. Beberapa orang lainnya pingsan. Beberapa orang lainnya menangis. "Lihat! Lihat!"
Mortati berpaling dengan bingung. Kemudian dia mengikuti arah yang ditunjukkan oleh tangan-tangan yang terulur di sekitarnya. Mereka menunjuk ke bagian tertinggi dari Basilika
Santo Petrus, ke atas teras di puncak gedung, di tempat berdirinya patung Yesus dan murid-muridnya yang sedang menatap kerumunan di bawahnya.
Di sana, di sebelah kanan Yesus, dengan kedua lengan terentang ke angkasa ... berdirilah Camerlegno Carlo Ventresca.
125 ROBERT LANGDON TIDAK lagi melayang jatuh.
Tidak ada lagi ketakutan. Tidak ada lagi rasa sakit. Bahkan tidak ada lagi suara angin yang menderu. Yang terdengar hanyalah suara lembut dari air yang berkecipak seolah dia sedang tertidur dengan nyamannya di pantai.
Dalam situasi seperti itu, Langdon merasa ini adalah kematian. Dia merasa senang karenanya. Dia membiarkan perasaan mati rasa yang mulai muncul untuk segera menguasai seluruh tubuhnya. Dia membiarkannya membawanya ke mana pun perasaan itu ingin pergi. Rasa sakit dan ketakutan sudah tidak terasa lagi, dan Langdon tidak ingin kembali merasakannya. Kenangan terakhirnya adalah sesuatu yang hanya bisa terjadi di neraka.
Ambil aku. Kumohon.... Tapi riak air yang membuatnya terlena malah yang membuatnya tersadar kembali. Riak itu seperti ingin membangunkannya dari mimpi. Tidak! Biarkan aku begini! Langdon tidak ingin bangun. Dia merasakan iblis-iblis berkumpul di sekeliling kebahagiaan yang sedang dirasakannya sambil mengetuk-ngetukkan tangannya untuk menghancurkan keadaan damai ini. Gambaran yang kabur pun bermunculan. Suara-suara yang berteriak-teriak. Angin yang berhembus kencang. Tidak, kumohon! Semakin dia berusaha untuk melawan, semakin kuat kemurkaan itu mengalir
Kemudian, dengan sekonyong-konyong dia harus menghadapinya kembali ....
Helikopter itu membubung tinggi sekali sehingga membuatnya pusing. Dia terperangkap di dalamnya. Melalui pintu yang terbuka, Langdon dapat melihat lampu-lampu Roma yang semakin jauh setiap detiknya. Insting untuk bertahan hidup mengatakannya untuk melemparkan tabung itu sekarang juga. Langdon tahu, itu hanya membutuhkan waktu kurang dari dua puluh detik sampai tabung itu meluncur jatuh sejauh setengah mil. Tapi tabung itu akan jatuh ke arah sebuah kota yang dipenuhi dengan banyak orang.
Lebih tinggi! Lebih tinggi!
Langdon bertanya-tanya sudah mencapai ketinggian berapa mereka sekarang. Dia tahu, pesawat berbaling-baling kecil seperti ini hanya dapat terbang setinggi empat mil. Helikopter ini pasti sudah mencapai ketinggian sekitar itu sekarang. Dua mil ke atas" Tiga mil" Masih ada kesempatan. Kalau mereka memperhitungkan jatuhnya tabung itu dengan tepat, tabung tersebut hanya akan jatuh setengah jalan ke arah bumi, dan meledak pada jarak aman dari atas tanah dan cukup jauh juga dari helikopter itu. Langdon melongok ke arah kota yang membentang di bawahnya.
"Bagaimana kalau kamu salah menghitung"" tanya sang camerlegno.
Langdon berpaling dengan tatapan terkejut. Sang camerlegno tidak sedang menatap ke arahnya, tetapi tampaknya dia dapat membaca pikiran Langdon dari pantulan kaca depan pesawat yang buram. Anehnya, sang camerlegno tidak lagi asyik mengemudikan pesawat itu. Bahkan kedua tangannya tidak lagi memegang tongkat kendali. Tampaknya helikopter itu
sekarang terbang secara otomatis dan diprogram untuk terus menambah ketinggian. Sang camerlegno merai
h sesuatu di atas kepalanya, mencari sesuatu di langit-langit kokpit, lalu merogoh di belakang sebuah tempat kabel, kemudian melepas sebuah kunci yang disembunyikan di sana.
Langdon melihat semua gerakan sang camerlegno dengan bingung. Dengan cepat sang camerlegno membuka kotak kargo dari logam yang terpasang di antara tempat duduk di bagian depan. Setelah itu pastor muda itu mengeluarkan sebuah bungkusan berukuran besar dari bahan nylon berwarna hitam. Dia lalu meletakkan bungkusan tersebut di tempat duduk di sebelahnya. Pikiran Langdon mulai berkecamuk. Gerakan sang camerlegno tampak tenang seolah dia tahu apa yang sedang dikerjakannya.
"Berikan padaku tabung itu," kata sang camerlegno, nada suaranya terdengar tenang.
Langdon tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukannya. Dia menyerahkan tabung itu pada sang camerlegno. "Sembilan puluh detik!"
Apa yang dilakukan sang camerlegno pada tabung itu sangat mengejutkan Langdon. Dengan hati-hati sang camerlegno memegang tabung itu dengan kedua tangannya, lalu meletakkannya di dalam kotak kargo. Setelah itu dia menutup tutup kotak yang berat itu dan menguncinya rapat-rapat.
"Apa yang Anda lakukan"" tanya Langdon.
"Membawa kita jauh dari godaan." Lalu sang camerlegno membuang kunci itu keluar melewati jendela helikopter.
Ketika kunci itu melayang ke dalam langit malam, Langdon merasa jiwanya juga terbang bersamanya.
Kemudian sang camerlegno mengambil bungkusan nylon hitam itu dan menyelipkan kedua tangannya di antara kedua
pengikat yang terdapat di bungkusan itu. Dia lalu mengencangkan tali berperekat di sekitar perutnya dan mengenakannya seperti tas ransel. Setelah itu dia menoleh ke arah Robert Langdon yang sedang tercengang.
"Maafkan aku," kata sang camerlegno. "Seharusnya tidak terjadi seperti ini." Kemudian dia membuka pintunya dan melemparkan dirinya ke dalam langit malam.
Gambaran itu terpatri di pikiran bawah sadar Langdon bersama dengan rasa sakit yang muncul kemudian. Rasa sakit yang sesungguhnya. Sakit yang dirasakan oleh tubuh. Rasanya begitu pedih dan membakar jiwanya. Dia memohon untuk segera diambil oleh Tuhan sehingga rasa sakit ini segera berakhir, tapi ketika air beriak semakin keras di telinganya, gambaran baru mulai bermunculan. Nerakanya baru saja dimulai. Dia melihat berbagai macam potongan gambaran. Gambaran yang terpecah-pecah dalam kepanikan. Dia tergeletak di antara kematian dan mimpi buruk, memohon untuk dibebaskan dari tubuh ini tapi gambaran itu semakin terang di dalam otaknya.
Tabung antimateri itu terkunci dan berada jauh dari jangkauannya. Jam digitalnya menghitung mundur tanpa ampun ketika helikopter tersebut membubung semakin tinggi. Lima puluh detik. Lebih tinggi lagi. Lebih tinggi lagi. Langdon merasa pikirannya berputar dengan liar di dalam kabin pesawat dan berusaha untuk memahami apa yang baru saja dilihatnya. Empat puluh lima detik. Dia mencari-cari di bawah tempat duduk untuk mencari parasut lain. Empat puluh detik. Tidak ada apa-apa! Pasti ada pilihan lain! Tiga puluh lima detik. Dia bergegas menuju pintu helikopter yang sudah terbuka dan membiarkan angin yang bertiup keras menerpa wajahnya ketika dirinya
menatap lampu-lampu yang berkedip di kota Roma yang terbentang di bawahnya. Tiga puluh dua detik.
Kemudian dia membuat pilihan.
Sebuah pilihan yang luar biasa ....
Tanpa parasut, Robert Langdon melompat ke luar dari pintu itu. Ketika langit malam menelan tubuhnya yang jatuh berguling-guling di udara, helikopter itu tampak terus membubung semakin tinggi di atasnya. Sementara itu suara mesin pesawat tersebut seperti menghilang dan tertelan suara deru angin yang mengiringi terjun bebas yang dilakukan Langdon.
Ketika dia meluncur ke arah bumi, Robert Langdon merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakannya sejak dia berlatih loncat indah selama bertahun-tahun-gaya tarik yang luar biasa ketika dia jatuh ke dalam kegelapan malam. Semakin cepat dia jatuh, semakin kuat bumi menarik tubuhnya, dan menghisapnya ke bawah. Walau demikian, kali ini ketinggian yang berada di bawahnya bukanlah lima puluh kaki di atas kolam renang. Kal
i ini Langdon jatuh dari atas ribuan kaki dan meluncur turun ke sebuah kota yang terdiri atas hutan beton dan aspal yang keras.
Di suatu tempat di antara angin yang menderu-deru dan keputusasaan yang melingkupinya, suara Kohler seperti bergema dari kuburnya ... kata-kata yang disampaikannya pagi ini ketika mereka berdiri di depan tabung terjun bebas yang terdapat di CERN. Satu yard persegi parasut dapat memperlambat jatuhnya tubuh sebesar hampir dua puluh persen. Langdon kini menyadari, dua puluh persen bahkan tidak mendekati apa yang dibutuhkan seseorang untuk bertahan hidup
dalam keadaan terjun bebas seperti ini. Walau demikian, lebih karena merasa tidak berdaya dan sudah tidak punya harapan lagi, Langdon mencengkeram erat pada satu-satunya benda yang dapat diraihnya dari helikopter sebelum dia melompat keluar dari pintu tadi. Benda itu adalah kenang-kenangan yang tidak biasa, tetapi itu satu-satunya benda yang memberinya harapan.
Penutup kaca depan yang terbuat dari kain terpal itu tadi tergeletak di bangku belakang helikopter. Penutup itu berbentuk persegi cekung dengan ukuran kira-kira empat kali dua yard dan terlihat seperti kain sprei lebar. Perkiraan terkasar untuk parasut yang bisa dibayangkan Langdon. Tidak ada pengikat tubuh, hanya ada lubang yang berada di setiap ujung yang digunakan untuk mengikatkannya ke kaca depan helikopter itu. Langdon menyambarnya, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam lubang-lubang itu, kemudian memegangnya erat-erat dan meloncat ke dalam kehampaan.
Ini adalah tindakan paling hebat yang terakhir kali dalam hidupnya.
Tidak ada bayangan akan hidup pada saat itu.
Langdon jatuh seperti batu. Pada awalnya kaki menghadap ke bawah. Kedua lengannya terangkat. Tangannya mencengkeram lubang-lubang yang terdapat di kain terpal itu. Kain itu menggelembung seperti jamur di atasnya. Angin menderu di sekitarnya dengan kejam.
Ketika dia meluncur dengan deras ke arah bumi, terdengar ledakan besar pada suatu tempat di atasnya. Tampaknya terjadi jauh lebih tinggi dari yang diduganya. Dengan segera, gelombang guncangan menerpanya. Dia merasa napasnya tercekat di dalam paru-parunya. Tiba-tiba udara di sekitarnya terasa hangat. Dia berusaha keras untuk terus berpegangan. Udara panas seperti berlomba turun mengejarnya. Bagian atas
terpal itu mulai meleleh ... tetapi masih dapat menahan tubuhnya.
Langdon meluncur dengan deras ke bawah, di ujung gelombang sinar yang menyilaukan itu. Saat itu Langdon merasa seperti seorang pemain selancar yang berusaha untuk menunggangi gelombang pasang setinggi ribuan kaki. Kemudian dengan tiba-tiba, gelombang panas itu berkurang.
Sekali lagi, Langdon meluncur di dalam kegelapan yang dingin.
Sesaat kemudian, Langdon merasakan secercah harapan. Tapi, harapan itu segera memudar seperti panas yang tadi datang kemudian menghilang di atasnya. Walau kedua lengannya terasa sangat kaku karena memegang terpal untuk menahan kejatuhnya dan angin masih merobek tubuhnya dengan kecepatan yang memekakkan telinganya, Langdon masih juga meluncur terlalu cepat. Dia tidak akan selamat tiba di bawah. Dia akan hancur ketika menghempas tanah.
Perhitungan matematika berebut memasuki benaknya, tetapi Langdon terlalu mati rasa untuk memikirkannya ... satu yard persegi parasut ... dua puluh persen mengurangi kecepatan. Apa yang dapat diperhitungkan oleh Langdon adalah terpal di atas kepalanya itu cukup besar untuk memperlambat kejatuhannya lebih dari dua puluh persen. Celakanya, dia mengetahui dari angin yang menderu-deru di sekitarnya bahwa apa pun yang dilakukan kain terpal ini untuk menahannya, itu masih tidak cukup. Dia masih meluncur terlalu cepat ... dia tidak mungkin turun hidup-hidup di antara lautan beton dan semen yang menunggunya di bawah.
Di bawahnya, lampu-lampu kota Roma terhampar dari segala penjuru. Kota itu tampak seperti langit yang bertaburkan bintang, tempat di mana Langdon akan jatuh. Keluasan
hamparan bintang-bintang yang sempurna itu hanya ternodai oleh garis gelap yang membelah kota itu menjadi dua-sebuah pita tanpa penerangan yang berkelok-kelok di antar
a titik-titik cahaya itu seperti seekor ular gemuk. Langdon menatap ke bawah, ke arah sebentuk pita berwarna gelap itu.
Tiba-tiba, gelombang harapan yang tak terduga muncul dan mengisi hatinya.
Dengan kegembiraan yang hampir membuatnya gila, Langdon menarik kanopinya ke bawah dengan tangan kanannya. Terpal itu tiba-tiba mengepak lebih keras, menggelembung, memotong ke kanan untuk mencari jalan yang memiliki tolakan yang lebih kecil. Langdon merasa dirinya terbawa angin ke samping. Dia kemudian menarik terpal itu lagi dengan lebih keras, dan mengabaikan rasa sakit pada telapak tangannya. Terpal itu mengembang, dan Langdon merasa tubuhnya meluncur ke samping. Tidak terlalu banyak. Tetapi cukup banyak! Dia melihat ke bawahnya lagi, ke arah ular hitam yang berkelok-kelok itu. Ular itu terletak agak ke sebelah kanan, tetapi dia masih terlalu tinggi. Apakah dia menunggu terlalu lama" Dia menarik dengan sekuat tenaga dan akhirnya dia menerima apa saja keputusan Tuhan dengan pasrah. Dia memusatkan perhatiannya di bagian terlebar dari ular hitam itu dan ... untuk pertama kali dalam hidupnya, Langdon berdoa memohon keajaiban.
Kemudian sisanya adalah keburaman.
Kegelapan menyerbu di bawahnya ... naluri loncat indahnya datang lagi ... gerakan refleks untuk menegakkan tulang belakangnya dan meruncingkan jari kakinya ... menarik napas dalam-dalam sehingga membuat paru-parunya menggembung untuk melindungi organ-organ vital di tubuhnya ... menegangkan ototo-tot kakinya hingga menyerupai tongkat
pemukul ... dan akhirnya ... untunglah Sungai Tiber sedang bergejolak sehingga membuat airnya deras dan penuh dengan udara ... dan tiga kali lebih lembut daripada air yang mengalir tenang.
Lalu terjadilah tabrakan itu ... kemudian gelap.
Terdengar suara menggelegar dari kanopi yang mengepak sehingga menarik perhatian sekelompok orang yang sedang menyaksikan bola api yang berpijar di langit. Langit di atas Roma penuh berisi tontonan malam ini ... helikopter yang meroket ke langit, sebuah ledakan dahsyat, dan sekarang benda aneh ini meluncur ke air yang menggelegak di Sungai Tiber, tak jauh dari pinggiran sebuah pulau kecil yang terdapat di sungai itu, Isola Tiberina.
Sejak pulau itu digunakan untuk mengkarantina orang-orang sakit selama wabah pes terjadi di Roma pada tahun 1656, pulau itu dipercaya mempunyai kekuatan penyembuh mistis. Untuk alasan itulah Rumah Sakit Tiberina dibangun.
Tubuh itu terlihat babak belur ketika ditarik ke tepi. Denyut nadi lelaki itu masih ada walau lemah sekali dan itu mengejutkan mereka. Mereka bertanya-tanya apakah itu karena reputasi penyembuhan mistis yang dimiliki Tiberina sehingga jantung lelaki itu masih mampu berdetak. Beberapa menit kemudian, ketika lelaki itu mulai terbatuk-batuk dan lambat laun mulai sadar, sekelompok orang itu memutuskan bahwa pulau ini memang memiliki keajaiban.
126 KARDINAL MORTATI TAHU tidak ada kata-kata dalam bahasa apa pun yang bisa menggambarkan misteri yang terjadi saat itu. Kesunyian yang melingkupi Lapangan Santo Petrus bernyanyi lebih keras daripada paduan suara para malaikat.
Ketika dia menatap Camerlegno Ventresca, Mortati merasakan benturan yang melumpuhkan jantung dan otaknya. Pemandangan itu tampak nyata dan jelas. Walau demikian ... bagaimana itu dapat terjadi" Semua orang melihat sang camerlegno memasuki helikopter itu. Mereka semua menyaksikan bola cahaya di angkasa. Dan sekarang, sang camerlegno berdiri tegak di atas mereka di teras yang terdapat di atap Basilika Santo Petrus. Diturunkan oleh para malaikat" Mengalami reinkarnasi dengan bantuan tangan Tuhan"
Ini tidak mungkin.... Hati Mortati sangat ingin memercayainya, tetapi pikirannya menjerit-jerit minta penjelasan. Walau demikian, semua orang yang berada di sekitarnya menatap ke atas bersama-sama dengan para kardinal. Jelas, mereka juga melihat apa yang dilihatnya, dan pemandangan itu membuat mereka terkesima karena takjub.
Itu memang sang camerlegno. Tidak diragukan lagi. Tetapi dia tampak berbeda. Dia terlihat seperti dewa. Seolah dia telah disucikan. Apakah dia sesosok arwah atau manusia denga
n darah dan daging" Kulitnya yang berwarna putih bersinar di
balik lampu sorot seolah tampak sangat ringan seperti tidak bertubuh.
Di lapangan terdengar tangisan, sorak sorai dan tepuk tangan spontan. Sekelompok biarawati jatuh berlutut dan meratapkan saetas. Gemuruh mulai bertambah keras dari kerumunan itu. Tiba-tiba, seluruh orang di lapangan itu memanggil-manggil nama sang camerlegno. Para kardinal, beberapa di antaranya sambil berurai air mata, ikut bergabung. Mortati melihat ke sekelilingnya dan mencoba memahaminya. Apakah ini benar-benar terjadi"
Camerlegno Carlo Ventresca berdiri di atas teras atap Basilika Santo Petrus dan memandang ke bawah ke arah kerumunan orang yang menatapnya. Apakah dia sedang tidur atau terjaga" Dia merasa menjelma menjadi bentuk lain. Dia bertanya-tanya, apakah itu tubuhnya atau hanya arwahnya yang melayang turun dari surga ke arah Taman Vatican City yang lembut dan gelap ... diam-diam seperti patung malaikat di taman yang sunyi, parasut hitamnya menyelubunginya di balik bayangan Basilika Santo Petrus yang menjulang. Dia bertanya-tanya apakah tubuhnya atau arwahnyakah yang memiliki kekuatan untuk memanjat Stairway of Medallions yang kuno itu untuk menuju teras di atap yang menjadi tempatnya berdiri sekarang.
Dia merasa begitu ringan seperti hantu.
Walau orang-orang di bawah menyerukan namanya, dia tahu bukan dirinya yang mereka elu-elukan. Mereka bersorak-sorak karena dorongan kegembiraan. Kegembiraan yang sama yang dia rasakan setiap hari dalam hidupnya ketika dia merenungkan Yang Mahakuasa. Mereka mengalami apa yang
selama ini mereka tunggu-tunggu ... jaminan dari Yang Mahatinggi ... penguatan kekuasaan sang Pencipta.
Camerlegno Ventresca sudah berdoa sepanjang hidupnya agar saat seperti ini terjadi, dan masih terus berdoa untuk itu, walau dia tidak dapat membayangkan bagaimana Tuhan menemukan cara untuk mewujudkannya. Dia ingin berteriak dengan keras kepada orang-orang itu. Tuhan kalian adalah Tuhan yang nyata! Lihatlah pada keajaiban di sekitarmu.
Dia berdiri di sana sebentar, mati rasa tapi merasa lebih banyak daripada yang selama ini dia rasakan. Ketika pada akhirnya jiwanya menggerakkan tubuhnya, dia menundukkan kepalanya dan mundur dari tepian.
Setelah sendirian, dia berlutut di atap dan berdoa.
127 BAYANGAN-BAYANGAN DI sekitarnya terlihat kabur. Kadang terlihat, kadang tidak. Mata Langdon lambat laun mulai dapat melihat dengan jelas. Kakinya sakit, dan tubuhnya terasa seperti baru digilas oleh truk. Dia berbaring di tanah dengan posisi menyamping. Ada bau yang menusuk seperti bau cairan empedu. Dia juga masih dapat mendengar suara air yang berkecipak di dekatnya. Suara itu tidak lagi terdengar menenteramkan baginya. Ada suara yang lainnya juga. Mereka berbicara di dekatnya, di sekelilingnya. Dia melihat bentuk putih yang kabur. Apakah mereka semua berpakaian putih" Langdon berpikir dia sekarang entah berada di rumah sakit jiwa atau di surga. Dari rasa terbakar yang terasa di tenggorokannya, Langdon yakin dia tidak mungkin berada di surga.
"Dia sudah selesai muntah-muntah," seorang lelaki berkata dalam bahasa Italia. "Balikkan tubuhnya." Suara itu terdengar tegas dan profesional.
Langdon merasa ada tangan-tangan yang menggulingkannya dengan hati-hati sehingga dia sekarang kembali terlentang. Kepalanya terasa pusing. Dia berusaha untuk duduk, tetapi tangan-tangan itu dengan lembut memaksanya kembali berbaring. Tubuhnya menyerah. Lalu Langdon merasa ada seseorang yang merogoh sakunya untuk mengambil sesuatu.
Kemudian dia pingsan lagi.
Dr. Jacobus bukan orang yang religius; ilmu pengobatan telah mengalir di pembuluh darahnya sejak lama. Tapi, peristiwa malam ini di Vatican City telah membuat logika sistematisnya teruji. Sekarang ada tubuh jatuh dari langit"
Dr. Jacobus meraba denyut nadi lelaki yang tergeletak di atas tempat tidur itu, lelaki yang baru saja mereka tarik dari Sungai Tiber. Dokter itu yakin bahwa Tuhan sendirilah yang telah mengirim lelaki ini dengan selamat sampai ke bumi. Benturan ketika jatuh menimpa permukaan sungai telah membuat korban in
i tidak sadarkan diri. Jika bukan karena Dr. Jacobus dan anak buahnya yang saat itu sedang berdiri di tepi sungai untuk menyaksikan pertunjukan di langit, pasti tidak ada orang yang melihatnya sehingga dia bisa mati tenggelam.
"E Americano," kata seorang perawat sambil melihat ke dalam dompet lelaki itu setelah mereka telah menariknya ke daratan.
Orang Amerika" Orang Roma sering bergurau bahwa orang Amerika begitu melimpah ruah di kota itu sehingga hamburger bisa menjadi makanan resmi Italia. Tetapi orang Amerika jatuh dari langit" Jacobus menyalakan senter kecilnya ke mata lelaki itu untuk menguji kesadarannya. "Pak" Dapatkah Anda mendengarku" Anda tahu di mana Anda sekarang""
Lelaki itu pingsan lagi. Jacobus tidak heran. Lelaki ini memuntahkan begitu banyak air setelah Jacobus memberikan bantuan pernapasan ke mulutnya.
"Si chiama Robert Langdon" kata seorang perawat sambil membaca SIM lelaki itu.
Sekelompok orang yang berkumpul di dermaga itu tiba-tiba berhenti.
"Impossible!" seru Jacobus. Robert Langdon adalah lelaki yang tadi masuk televisi-seorang dosen asal Amerika yang
telah menolong Vatican. Beberapa menit yang lalu Jacobus melihat Pak Langdon memasuki helikopter di Lapangan Santo Petrus dan terbang bermil-mil ke udara. Jacobus dan yang lainnya berlari ke luar untuk menuju dermaga dan menyaksikan ledakan antimateri yang menghasilkan bidang sinar yang sangat luas yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bagaimana mungkin ini adalah lelaki itu!
"Ini memang dia!" seru perawat itu sambil mengusap rambut basah lelaki itu ke belakang. "Aku mengenali jas wolnya!"
Tiba-tiba seseorang berteriak dari arah pintu masuk rumah sakit. Itu adalah salah satu dari pasien yang dirawat di sana.
Perempuan itu berteriak-teriak heboh sambil mengangkat radio kecilnya ke langit dan memuja Tuhan. Rupanya Camerlegno Ventresca muncul di atas atap Vatican secara ajaib.
Dr. Jacobus memutuskan begitu giliran tugasnya selesai pada pukul 8 pagi, dia akan langsung ke gereja.
Lampu di atas kepala Langdon sekarang tampak lebih terang dan berbau steril. Dia sekarang dibaringkan di atas semacam meja periksa. Dia mencium aroma cairan alkohol dan zat-zat kimia yang asing. Seseorang baru saja menyuntiknya dan mereka telah melepas pakaiannya.
Jelas mereka bukan kelompok gipsi, pikir Langdon dalam keadaan mengigau setengah sadar. Makhluk luar angkasa, mungkin" Ya, dia pernah mendengar hal-hal seperti itu. Untungnya makhluk-makhluk ini tidak akan melukainya. Apa yang mereka inginkan hanyalah-
"Jangan coba-coba!" seru Langdon sambil tiba-tiba duduk. Matanya melotot ke orang-orang di sekelilingnya.
"Attento!" salah satu dari makhluk-makhluk itu berteriak sambil menahan tubuh Langdon. Kartu nama di dadanya tertulis Dr. Jacobus dan dia terlihat sangat mirip seperti manusia.
Langdon tergagap, "Aku ... pikir
"Tenanglah, Pak Langdon. Kamu berada di rumah sakit."
Kabut mulai terangkat dari kepalanya. Langdon merasa lega sekali. Walau dia membenci rumah sakit, tetapi mereka jelas bukan makhluk luar angkasa yang ingin memotong testisnya.
"Namaku Dr. Jacobus," kata lelaki itu. Dia menjelaskan apa yang baru saja terjadi. "Kamu beruntung sekali dapat hidup."
Langdon sendiri tidak merasa beruntung. Dia hampir tidak dapat memercayai ingatannya sendiri ... helikopter itu ... sang camerlegno. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Mereka memberinya air minum, tapi Langdon hanya berkumur. Mereka membalut telapak tangannya dengan perban baru.
"Di mana pakaianku"" tanya Langdon. Dia sekarang mengenakan baju kertas.
Salah satu dari perawat itu menunjuk ke arah tumpukan dari bahan khaki dan wol yang meneteskan air di sudut ruangan. "Baju Anda basah kuyup. Kami harus memotongnya untuk melepaskannya dari tubuh Anda."
Langdon menatap jas wol Harris-nya sambil mengerutkan keningnya.
"Anda juga mengantongi kertas tisu," kata perawat itu.
Saat itu juga Langdon melihat cabikan kertas perkamen mencuat dari saku jasnya. Lembaran folio dari Diagramma karya Galileo. Salinan terakhir di dunia yang masih ada baru saja hancur olehnya. Dia begitu mati rasa sehingga tidak
tahu harus bereaksi seperti apa. Langdon hanya bisa bengong.
"Kami berhasil menyelamatkan benda-benda pribadimu." Perawat itu memegang sebuah mangkuk plastik. "Dompet, kamera video mini dan bolpen. Aku sudah berusaha mengeringkan kamera mini ini sebisaku."
"Aku tidak mempunyai kamera video mini."
Perawat itu mengerutkan keningnya dan menyodorkan mangkuk plastik di tangannya. Langdon kemudian melihat isinya. Bersama dompet dan bolpennya, tergeletak sebuah kamera video berukuran mini bertuliskan Sony RUVI. Dia sekarang ingat. Kohler tadi menyerahkan kamera itu kepadanya dan memintanya untuk memberikannya kepada media.
"Kami menemukannya di dalam sakumu. Kukira kamu harus membeli yang baru." Perawat itu kemudian membuka layar sebesar dua inci di bagian belakangnya. "Layarnya retak." Lalu dia tampak ceria. "Tapi suaranya masih terdengar." Dia kemudian membawa benda itu ke dekat telinganya. "Benda ini terus memutar suara yang sama berulang-ulang" Dia mendengarkannya dan kemudian dengan wajah cemberut dia memberikannya kepada Langdon. "Dua orang sedang bertengkar, kukira."
Langdon bingung, dan mengambil kamera video mini itu lalu menempelkannya di telinganya. Suara itu terdengar cempreng dan seperti berasal dari kaset yang rusak, tetapi masih terdengar jelas. Satu suara terdengar dekat. Sementara yang lainnya terdengar jauh. Langdon mengenali kedua suara itu.
Sambil duduk di atas meja periksa dan mengenakan baju kertas, Langdon mendengarkan percakapan itu dengan terheran-heran. Walau dia tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi, ketika dia mendengar akhir dari rekaman yang mengejutkan itu, dia bersyukur dia tidak perlu melihatnya.
Ya ampun! Ketika rekaman itu diputar kembali dari awal, Langdon menurunkan kamera perekam itu dari telinganya dan duduk
dengan perasaan ngeri. Antimateri itu ... helikopter ... Pikiran Langdon sekarang mulai jernih. Tetapi itu berarti....
Dia ingin muntah lagi. Dengan meningkatnya perasaan yang merupakan percampuran antara bingung dan murka, Langdon turun dari meja dan berdiri dengan kaki gemetar.
"Pak Langdon!" seru dokter itu sambil mencoba mencegahnya.
"Aku membutuhkan pakaian," seru Langdon ketika merasakan aliran udara di bagian belakang tubuhnya yang telanjang.
"Tetapi kamu perlu istirahat."
"Aku keluar. Sekarang, aku memerlukan pakaian."
"Tetapi, Pak. Kamu-" "Sekarang!"
Semua orang saling bertatapan dengan bingung. "Kami tidak punya pakaian," kata dokter itu. "Mungkin besok, seorang teman dapat membawakan pakaian untukmu."
Langdon menarik napas perlahan dengan sisa-sisa kesabarannya yang masih ada dan menatap tajam pada dokter itu. "Dr. Jacobus, aku akan keluar dari pintu rumah sakitmu sekarang juga. Aku memerlukan pakaian. Aku akan pergi ke Vatican City. Aku tidak bisa pergi ke Vatican City dengan bokong terbuka seperti ini. Jelas""
Dr. Jacobus tidak berusaha menyembunyikan rasa tidak setujunya ketika berkata, "Berikan pada lelaki ini sesuatu untuk dikenakannya."
Ketika Langdon berjalan tertatih-tatih ke luar rumah sakit Tiberina, dia merasa seperti anggota pramuka yang terlalu tua. Dia mengenakan pakaian paramedis berwarna biru dengan resleting di depan serta dihiasi oleh emblem yang menerangkan kualifikasi pemilik baju itu.
Petugas yang menemaninya adalah seorang perempuan gemuk dan mengenakan pakaian yang sama. Dokter Jacobus meyakinkan Langdon kalau perempuan itu akan mengantarnya ke Vatican dalam waktu singkat.
"Molto traffico," kata Langdon sambil mengingatkan petugas itu bahwa area sekitar Vatican dipenuhi oleh mobil-mobil dan manusia.
Perempuan itu tampak tidak khawatir. Dia menunjuk dengan bangga ke arah salah satu dari emblem yang dimilikinya. "Sono conducente di ambulanza."
"Ambulanza"" Sekarang semuanya menjadi jelas. Langdon merasa dirinya tidak keberatan menumpang mobil ambulans.
Perempuan itu mengantar ke bagian samping gedung itu. Di atas panggung kecil yang terletak di atas air, terlihat sebuah landasan dari semen tempat di mana kendaraan perempuan itu menunggu. Ketika Langdon melihat kendaraan itu, dia menghentikan langkahnya. Itu adalah helikopt
er medis yang sudah tua. Di badan helikopter itu tertulis Aero-Ambulanza.
Langdon terpaku. Perempuan itu tersenyum. "Terbang ke Vatican City. Sangat cepat."
128 DEWAN KARDINAL BERJALAN dengan penuh semangat dan diliputi perasaan gembira ketika mereka kembali ke dalam Kapel Sistina. Sebaliknya, Mortati merasa semakin bingung sehingga membuat kepalanya seperti ingin pecah. Dia percaya pada keajaiban-keajaiban kuno yang tertulis di dalam Alkitab, tapi apa yang baru saja disaksikannya adalah sesuatu yang sulit dimengerti. Setelah pengabdian seumur hidupnya selama 79 tahun, Mortati tahu peristiwa itu semestinya bisa membuatnya menjadi semakin saleh ... dia baru saja menyaksikan keyakinan yang sungguh-sungguh dan nyata. Walau demikian, apa yang dirasakannya adalah berkembangnya perasaan cemas yang aneh. Ada sesuatu yang tidak wajar di sini.
"Signore Mortati!" seorang Garda Swiss berseru sambil berlari di koridor. "Kami telah memeriksa ke atas atap seperti yang Anda minta. Sang camerlegno ... memang berada di sana! Beliau benar-benar manusia! Bukan arwah! Beliau seperti yang selama ini kita kenal!"
"Apakah beliau berbicara denganmu""
"Beliau berlutut dan berdoa dengan diam! Kami takut menyentuhnya!"
Mortati semakin bingung. "Katakan pada beliau ... para kardinal menunggu."
"Signore, karena beliau itu seorang manusia ... " petugas itu ragu-ragu.
"Ada apa""
"Dadanya ... terbakar. Haruskah kita membalut lukanya" Beliau pasti kesakitan."
Mortati memikirkannya. Selama masa pengabdiannya di gereja, dia sama sekali tidak dipersiapkan untuk menghadapi masalah seperti ini. "Kalau beliau adalah seorang manusia, perlakukan beliau seperti manusia. Mandikan beliau. Balut lukanya. Ganti jubahnya dengan jubah baru. Kami menunggu kehadiran beliau di Kapel Sistina."
Penjaga itu berlari pergi.
Mortati berjalan menuju Kapel Sistina. Para kardinal lainnya telah kembali berada di dalam sekarang. Ketika dia berjalan di sepanjang koridor, dia melihat Vittoria Vetra duduk dengan lemas di atas sebuah bangku di kaki tangga Royal Staircase. Mortati dapat melihat luka hati dan perasaan kesepian yang dirasakan perempuan muda itu karena kehilangan orang-orang yang dekat dengannya. Mortati ingin mendekatinya, tetapi dia tahu dia tidak bisa melakukannya sekarang. Dia punya kewajiban ... walau dia tidak tahu kewajiban apa yang mungkin dihadapinya.
Mortati memasuki kapel. Ada suara kegembiraan yang riuh di sekitarnya. Dia menutup pintunya. Tuhan, tolong aku.
Helikopter Aero-Ambulanza bermesin ganda milik Rumah Sakit Tiberina itu berputar di belakang Vatican City. Langdon mengeraskan rahangnya dan bersumpah ini terakhir kalinya dia akan naik helikopter.
Setelah meyakinkan pilot itu bahwa peraturan yang mengatur penerbangan di Vatican adalah hal yang paling tidak dihiraukan oleh negara kecil itu saat ini, Langdon menuntun pilot helikopter itu ke sebuah tempat tersembunyi di balik
dinding belakang pagar yang mengelilingi Vatican dan mendarat di sebuah landasan helikopter.
"Grazie," kata Langdon sambil merundukkan tubuhnya dengan susah payah ketika dia turun ke tanah. Sang pilot meniupkan ciumannya dan segera terbang kembali, menghilang di balik dinding, dan tenggelam di balik malam.
Langdon menarik napas sambil berusaha menjernihkan kepalanya, dan berharap dapat melakukan apa yang harus dilakukannya. Sambil membawa kamera video mini di tangannya, dia menaiki mobil golf yang sama dengan yang ditumpanginya sore tadi.
Mobil listrik itu belum diisi lagi baterenya, dan petunjuk baterenya memperlihatkan daya yang dimilikinya sudah hampir habis. Langdon mengemudi tanpa lampu untuk menghemat tenaga.
Selain itu, dia juga lebih suka kalau tidak seorang pun melihatnya datang.
Di bagian belakang Kapel Sistina, Kardinal Mortati berdiri dengan kepala pusing ketika melihat kekacauan yang terjadi di depannya.
"Itu sebuah keajaiban!" teriak salah satu dari kardinal-kardinal itu. "Itu tindakan Tuhan!"
"Ya!" yang lain berseru. "Tuhan telah membuat kehendakNya menjadi nyata!"
"Sang camerlegno akan menjadi paus kita!" yang lain berteriak. "Dia memang be
lum menjadi kardinal, tetapi Tuhan telah mengirimkan tanda keajaiban kepada kita semua!"
"Ya!" seseorang menyetujuinya. "Peraturan yang mengatur rapat pemilihan paus adalah peraturan yang dibuat oleh
manusia. Kehendak Tuhan adalah hal yang harus kita utamakan! Aku menuntut pemungutan suara sekarang juga!"
"Pemungutan suara"" tanya Mortati sambil bergerak ke arah mereka. "Aku yakin itu adalah tugasku."
Semua orang berpaling. Mortati dapat merasakan para kardinal itu sedang mengamatinya. Mereka tampak jauh, tidak akrab, kebingungan dan tersinggung oleh ketenangan sikapnya. Mortati juga ingin merasakan jiwanya tersapu dalam kegembiraan seperti yang terlihat pada wajah-wajah di sekitarnya itu. Tetapi dia tidak merasakannya. Entah kenapa, di hatinya terasa sakit ... kesedihan menyakitkan yang tidak dapat dijelaskannya. Dia telah bersumpah untuk memimpin proses pemilihan paus dengan kemurnian jiwanya, dan keraguan ini adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikannya dengan mudah.
"Kawan-kawan," kata Mortati sambil melangkah ke altar. Suaranya tidak terdengar seperti suaranya sendiri. "Aku pikir aku akan berjuang sepanjang hidupku untuk memahami apa yang baru saja kusaksikan malam ini. Tapi, apa yang kalian katakan tentang sang camerlegno ... itu tidak mungkin merupakan kehendak Tuhan."
Ruangan itu menjadi sunyi.
"Bagaimana ... kamu dapat mengatakan itu"" salah satu dari kardinal itu akhirnya bertanya. "Sang camerlegno menyelamatkan gereja ini. Tuhan berbicara langsung pada sang camerlegno sendiri! Lelaki itu selamat dari kematiannya. Tanda-tanda apa lagi yang kita butuhkan!"
"Sang camerlegno akan segera berada di sini," kata Mortati. "Mari kita tunggu saja. Kita dengarkan dulu sebelum kita mengadakan pemungutan suara. Mungkin ada penjelasan yang masuk akal."
"Penjelasan""
"Sebagai petugas yang menjalankan pemilihan paus, aku telah bersumpah untuk menjalankan peraturan rapat dengan baik. Kalian pasti tahu kalau menurut Hukum Suci Vatican, sang camerlegno tidak memenuhi syarat untuk masuk ke dalam bursa calon paus. Beliau bukan seorang kardinal. Beliau adalah seorang pastor ... hanya Kepala Rinnan Tangga Kepausan. Selain itu, usianya juga masih sangat muda." Mortati merasa tatapan mereka menjadi lebih keras. "Dengan menyetujui diadakannya pemungutan suara pada saat ini, itu berarti saya membiarkan kalian semua mencalonkan seseorang yang menurut Hukum Vatican tidak boleh dicalonkan sebagai paus. Itu berarti saya meminta kepada masing-masing kardinal di hadapan saya sekarang untuk melanggar sumpah suci yang sudah kita ucapkan sendiri."
"Tetapi apa yang terjadi di sini malam ini," seseorang berseru, "jelas menjadi lebih penting dari hukum kita itu!"
"Begitukah"" seru Mortati seperti meledak. Dia tidak tahu darimana kata-katanya itu berasal. "Apakah itu kehendak Tuhan agar kita mengabaikan aturan gereja" Apakah itu kehendak Tuhan sehingga kita mengabaikan akal sehat dan membiarkan kita bertindak gila-gilaan""
"Tetapi tidakkah kamu juga melihat apa yang kita lihat tadi"" yang lainnya menantang dengan marah. "Kenapa kamu meragukan kekuasaan seperti itu!"
Suara Mortati sekarang mengalun dengan getaran yang dia sendiri tidak pahami. "Aku tidak meragukan kekuasaan Tuhan! Tuhanlah yang memberikan akal sehat dan kehati-hatian kepada kita! Kepada Tuhanlah kita mengabdi dengan cara mempraktikkan kehati-hatian!"
129 DI KORIDOR YANG terletak di luar Kapel Sistina, Vittoria Vetra duduk terpaku di sebuah bangku yang terdapat di kaki Royal Staircase. Ketika dia melihat ada sesosok yang datang dari pintu belakang, dia bertanya-tanya apakah dia melihat arwah yang lainnya lagi. Sosok itu dibalut, berjalan terpincang-pincang, dan mengenakan pakaian petugas rumah sakit.
Vittoria berdiri ... tidak dapat memercayai matanya. "Ro ...
bert"" Lelaki itu tidak menjawabnya. Dia hanya langsung berjalan ke arahnya dan memeluknya. Ketika dia mencium bibir Vittoria, itu adalah ciuman impulsif yang dipenuhi oleh kerinduan dan rasa syukur.
Vittoria merasa air matanya terbit. "Oh, Tuhan ... oh, terima kasih Tuhan .... "
Langdon menciumnya lagi , sekarang lebih bergairah dan Vittoria merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan lelaki itu dan membiarkan dirinya larut di dalamnya. Tubuh mereka saling berpelukan seperti sudah saling mengenal sejak dulu. Vittoria melupakan rasa takut dan sakit yang selama ini dirasakannya. Dia memejamkan matanya dan pada saat itu dia merasa tubuhnya seperti melayang.
"Itu kehendak Tuhan!" seseorang berteriak, suaranya menggema di dalam Kapel Sistina. "Siapa lagi kalau bukan
orang pilihan yang dapat selamat dari ledakan dahsyat seperti
itu"" "Aku bisa," sebuah suara terdengar dari belakang kapel.
Mortati dan yang lainnya menoleh dengan pandangan penuh keheranan ketika melihat sosok yang berjalan terpincang-pincang yang datang dari gang utama kapel itu. "Pak ...
Langdon"" Tanpa banyak bicara, Langdon berjalan perlahan ke bagian depan Kapel Sistina. Vittoria Vetra juga masuk. Kemudian dua orang Garda Swiss masuk sambil mendorong sebuah meja dorong dengan sebuah pesawat televisi di atasnya. Langdon berdiri menunggu ketika mereka menyambungkan kabelnya sambil menatap mata para kardinal. Kemudian Langdon memberi tanda kepada kedua Garda Swiss itu untuk meninggalkan ruangan. Mereka pergi, dan menutup pintunya.
Sekarang Langdon dan Vittoria hanya bersama para kardinal. Langdon memasang output dari Sony RUVI ke dalam pesawat televisi. Dia kemudian menekan tombol PLAY.
Pesawat televisi itu menyala terang.
Pemandangan yang muncul di depan para kardinal menunjukkan ruang Kantor Paus. Rekaman video itu tampaknya telah diambil dari sudut yang tak biasa, seolah dari kamera tersembunyi. Di tengah-tengah layar itu tampak sang camerlegno yang berdiri di balik keremangan perapian yang menyala di depannya. Walau dia tampak seperti sedang berbicara langsung ke arah kamera, dengan cepat terlihat kalau sang camerlegno sedang berbicara dengan seseorang-siapa pun yang membuat rekaman itu. Langdon mengatakan kepada mereka bahwa rekaman ini diambil oleh Maximilian Kohler, Direktur CERN. Satu jam yang lalu Kohler secara diam-diam telah merekam pertemuannya dengan sang camerlegno dengan
menggunakan kamera video mini yang terpasang di lengan kursi roda listriknya.
Mortati dan para kardinal lainnya menyaksikannya dengan bingung. Walau percakapan dalam rekaman itu sudah dimulai, Langdon merasa tidak perlu mengulanginya dari awal. Sepertinya, apa yang diinginkan Langdon agar dilihat oleh para kardinal itu sedang ditayangkan ....
"Leonardo Vetra menyimpan buku harian"" tanya sang camerlegno. "Kukira itu adalah berita bagus untuk CERN kalau buku harian itu berisi proses penciptaan antimateri-nya-"
"Tidak seperti itu," kata Kohler. "Kamu boleh merasa lega karena proses pembuatan zat itu ikut mati bersama Leonardo. Walaupun begitu, buku hariannya berisi hal lainnya. Kamu."
Sang camerlegno tampak resah. "Aku tidak mengerti."
"Buku itu menjelaskan bahwa bulan lalu Leonardo bertemu dengan seseorang. Denganmu."
Sang camerlegno ragu-ragu lalu melihat ke arah pintu. "Rocher seharusnya tidak membiarkanmu masuk tanpa berbicara denganku. Bagaimana kamu dapat masuk ke sini""
"Rocher tahu yang sebenarnya. Aku meneleponnya sebelum aku tiba dan mengatakan padanya apa yang telah kamu lakukan."
"Apa yang telah kulakukan" Cerita apa pun yang kamu katakan kepadanya, Rocher adalah anggota Garda Swiss yang terlalu setia pada gereja ini dan tidak mungkin lebih memercayai seorang ilmuwan sinis daripada camerlegno-nya sendiri."
"Sebenarnya, dia memang terlalu setia untuk tidak memercayaimu. Rocher begitu setia sehingga dia tidak bisa menerima kalau ada bukti yang menunjukkan bahwa ada orang yang telah mengkhianati gereja. Sepanjang hari ini, dia berusaha mencari penjelasan lain yang masuk akal."
"Jadi, kamu berikan penjelasan itu kepadanya""
"Aku memberikan kebenaran yang sesungguhnya. Berita itu membuatnya sangat terguncang."
"Kalau Rocher memercayaimu, dia telah menangkapku sejak tadi."
"Tidak. Aku tidak akan membiarkannya. Aku menawarkan diri untuk tutup mulut kalau dia memberikan izin untuk bertemu denganmu."
Sang camerlegno tertawa aneh. "Kamu berencana untuk memer
as gereja dengan cerita yang tidak seorang pun akan memercayainya""
"Aku tidak perlu memeras. Aku hanya ingin mendengar kebenaran dari mulutmu. Leonardo Vetra adalah temanku."
Sang camerlegno tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap ke bawah, ke arah Kohler yang duduk di atas kursi rodanya.


Malaikat Dan Iblis Angels And Demons Karya Dan Brown di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Coba dengarkan ini," bentak Kohler. "Kira-kira satu bulan yang lalu, Leonardo Vetra menghubungimu untuk meminta kesempatan agar dapat bertemu dengan Paus untuk urusan yang mendesak. Kamu mengatur pertemuan itu karena Paus adalah pengagum karya-karya Leonardo dan karena temanku itu mengatakan ini sangat mendesak."
Sang camerlegno berpaling ke arah perapian. Dia tidak mengatakan apa-apa.
"Leonardo datang ke Vatican secara diam-diam. Dia telah mengkhianati kepercayaan putrinya dengan datang ke Vatican, kenyataan yang ternyata sangat mengganggu pikiran Leonardo sendiri. Tetapi dia merasa tidak punya pilihan lain. Hasil penelitiannya telah memberinya pertentangan besar di dalam
dirinya sehingga dia membutuhkan petunjuk spiritual dari gereja. Dalam pertemuan pribadi itu, Leonardo mengatakan kepadamu, dan juga kepada Paus, bahwa dia telah membuat penemuan ilmiah yang membawa dampak yang besar terhadap agama. Dia telah membuktikan bahwa Kitab Kejadian bisa diterangkan secara fisika, dan sumber energi yang hebat itu dapat meniru saat penciptaan alam semesta seperti yang dilakukan oleh Tuhan. Sunyi.
"Paus terpaku," Kohler melanjutkan. Yang Mulia Paus berpendapat bahwa penemuan itu mungkin akan dapat menjembatani jurang antara ilmu pengetahuan dan agama. Seumur hidupnya Paus sudah mengidam-idamkan agar hal itu dapat terwujud. Kemudian Leonardo menjelaskan kepadamu kekurangan dari penemuan itu yang menjadi alasan mengapa dia memerlukan petunjuk dari gereja. Tampaknya percobaan penciptaannya itu, tepat seperti apa yang diperkirakan Alkitabmu, membuktikan bahwa segalanya berpasangan dan berlawanan seperti terang dan gelap. Leonardo menyadari, selain menciptakan materi, dia juga menciptakan antimateri. Aku boleh melanjutkan""
Sang camerlegno tidak menjawab. Dia membungkuk dan menambah arang pada perapiannya.
"Setelah Leonardo Vetra datang ke sini," Kohler melanjutkan, "kamu datang ke CERN untuk melihat hasil kerjanya. Buku harian Leonardo mengatakan kamu juga mengunjungi lab-nya secara pribadi."
Sang camerlegno mendongak.
Kohler melanjutkan lagi. "Paus tidak dapat bepergian tanpa mengundang perhatian media, jadi beliau mengirimmu. Leonardo membawamu berkeliling laboratoriumnya secara
diam-diam. Dia memperlihatkan kepadamu kehancuran antimateri seperti yang terjadi ketika Ledakan Besar menciptakan alam semesta. Dia juga memperlihatkan kepadamu spesimen dalam ukuran besar yang disimpannya sebagai bukti bahwa proses percobaannya itu dapat menghasilkan antimateri dalam jumlah besar. Kamu terkagum-kagum saat itu. Lalu kamu kembali ke Vatican City untuk melaporkan kepada Paus apa yang telah kamu lihat."
Sang camerlegno mendesah. "Dan apa yang mengganggumu" Bahwa aku tidak menghormati kerahasiaan Leonardo dengan berterus terang kepada dunia tentang antimateri itu malam ini"
"Tidak! Yang menjadi masalahku adalah Leonardo Vetra telah berhasil membuktikan keberadaan Tuhanmu, dan kamu telah membunuh lelaki itu!"
Sekarang sang camerlegno berpaling, wajahnya tidak menujukkan emosi apa pun.
Satu-satunya suara adalah gemertak kayu yang sedang dimakan api.
Tiba-tiba, kamera itu bergoyang, dan tangan Kohler tampak tertangkap kamera. Dia membungkuk ke depan seolah dia sedang berusaha mengambil sesuatu dari bawah kursi rodanya. Ketika dia kembali ke posisi semula, dia menggenggam sepucuk pistol di depan tubuhnya. Sudut pengambilan kamera itu mengerikan ... di ambil dari belakang ... sehingga memperlihatkan pistol yang teracung ... diarahkan tepat kepada sang camerlegno.
Kohler berkata, "Akui dosamu, Bapa. Sekarang."
Sang camerlegno tampak terkejut. "Kamu tidak mungkin keluar dari sini dalam keadaan hidup."
"Kematianku akan menjadi pembebasan yang melegakan dari kesengsaraan yang disebabkan oleh keyakinanmu sejak aku masih kecil. Aku sudah m
enunggu kematian itu." Kohler memegang senjata itu dengan kedua tangannya. "Aku memberimu dua pilihan. Akui dosamu ... atau mati sekarang."
Sang camerlegno melirik ke arah pintu.
"Rocher ada di luar," kata Kohler menantang. "Dia juga bersiap untuk membunuhmu."
"Rocher sudah bersumpah untuk-
"Rocher telah membiarkan aku masuk ke sini dengan membawa senjata. Dia juga sudah muak dengan kebohonganmu. Kamu hanya punya satu pilihan. Mengakulah padaku. Aku harus mendengarnya dari bibirmu sendiri."
Sang camerlegno tampak ragu.
Kohler mengokang pistolnya. "Kamu ragu aku akan mampu membunuhmu""
"Apa pun yang akan kukatakan padamu," kata sang camerlegno, "orang sepertimu tidak akan mengerti."
Kesatria Berandalan 4 Pendekar Rajawali Sakti 67 Perangkap Berdarah Peristiwa Burung Kenari 5
^