Pencarian

Imajinatta 3

Imajinatta Karya Mia Arsjad Bagian 3


"Kamu sering ke sini, ya""
Inta terlonjak kaget. "HA"" pekiknya heran pada cowok berperawakan kurus, berkulit putih mulus dengan tampang... ganteng! Yang tiba-tiba berdiri di dekat kursinya.
(Adegan ini permintaan Kenzi. "Tuntutan", tepatnya!)
"Kamu siapa" Maksud kamu apa""
Inta mulai mencari-cari benda keras yang bisa dia gapai buat jaga-jaga (nyindir Natta banget sih!). Kok dia tau Inta sering ke sini"
Cowok itu malah dengan santainya mengulurkan tangan sambil tersenyum lebar. "Aku Kaya... temen baru kamu," katanya pede.
Inta mengerutkan alisnya.
"Aku tau kamu sering dateng ke sini soalnya aku selalu ada di sini. Dan selalu liat kamu," jelas Kaya membaca kebingungan Inta. Jawabannya malah bikin Inta tambah bingung.
"Hah" Maksud kamu... kamu... tinggal di sini""
Kaya tertawa lebar. "Tinggal" Hmmm... bisa dibilang begitu."
Tinggal di sini" Di taman ini" Jangan-jangan... Inta mulai merasa agak merinding. "Kamu... kamu hantu"" tanya Inta blo'on terbata-bata. Apa di sini dekat kamar mayat, ya" Apa cowok itu eks pasien yang meninggal" Mati deh! Ketemu hantu di siang bolong.
Kaya malah tersenyum lebar. "Mungkin."
Inta meneliti wajah Kaya. Dia memang pucet banget. Nggak ada rona merah sedikit pun di kulit wajahnya yang putih mulus. Mendadak Inta ketakutan setengah mati. Kenapa jawabannya mungkin" Mungkin hantu" Mungkin setan" Apa bedanyaaaa"
Lagi-lagi Kaya tersenyum lebar. Kayaknya dia tau ketakutan Inta. Siapa juga yang nggak takut ketemu hantu. "Aku bilang 'mungkin', kan" Bukan iya. Jadi mungkin aku hantu, mungkin juga bukan. Aku kerja di sini. Di kafeteria rumah sakit. Udah empat bulan. Tuh..." Kaya menunjuk dinding kaca kafeteria yang langsung menghadap taman. Kafeteria yang sangat keren buat ukuran rumah sakit. "Aku bisa liat kamu dari situ."
Ohhh... kerja di kafeteria... Inta membuang napas lega.
"Kok kamu ada di sini" Nggak kerja""
Kaya tertawa lebar. Ada sedikit rona merah di kulit wajahnya yang pucat. "Kan ada jam istirahatnya..."
Selama ini aku nggak pernah liat kamu di taman." Kalau udah empat bulan, kenapa dia baru nyapa Inta sekarang"
Kaya mengangkat bahu. "Tau deh. Butuh waktu empat bulan buat aku meyakinkan diri sampai akhirnya berani nyamperin kamu di sini."
Inta diam. Jadi selama ini dia mengobservasiku" Huh! Nggak sopan!
"Terus habis ini apa, Nat" Ada ide, nggak" NAT"!"
Hah! Natta tersadar dari lamunannya. Balik jadi Natta setelah tadi sempat jadi Inta dan menikmati dunia Inta di kepalanya. Semakin lama Natta semakin yakin naskah ini bakal betul-betul bagus karena Kenzi. Ceritanya begitu nyata di kepala Natta.
"Habis itu apa" Bacanya kok sambil bengong""
Natta disuruh Kenzi membaca ulang paragraf yang baru mereka bikin buat mikirin adegan selanjutnya. Natta malah asyik tersedot ke dalamnya. Keasyikan jadi Inta. "Kenzi, kamu kok mau sih bantuin aku"" Yang keluar dari mulut Natta malah pertanyaan yang nggak nyambung.
Alis Kenzi bertaut. "Bukannya waktu itu aku udah jawab" Aku seneng aja bantuin kamu. Lagian aku pengin banget nuangin ide di kepala nih. Pas, kan" Sekalian kamu juga Bantu aku menyalurkan ide nih. Ya, nggak""
Natta menatap Kenzi nggak puas. Memang sih alasan itu masuk akal, tapi mereka kan baru kenal. Kok Kenzi semangat banget nolongin dia" Ya bisa aja sih Kenzi memang betul-betul baik. Tapi... nggak tau deh! Natta-nya aja, kali yang kebanyakan pertanyaan. "Makasih ya, Ken."
"Kamu kenapa sih"" tanya Kenzi heran.
Natta mengediDitn bahu. "Tau deh. Ken, istirahat dulu, ya" Ya" Ini udah lumayan banyak kok."
"Emang nggak papa ya kayak gini" Menurut kamu dialognya nggak kurang"" Kenzi serius menatap layer laptop di pangkuan Natta.
"Menurut aku sih nggak. Kan bisa pake narator buat ngejelasin keadaannya. Ntar juga pasti ada dialog lagi, kan" Lagian kalo kayak gini lebih gimanaaa gitu. Menurutku bagus kok," kata Natta. Diskusi serius nih.
Kenzi manggut-manggut. "Ya sih. Tapi emang ntar bakal banyak dialog juga antara Inta dan Kaya."
"Kamu berbakat jadi penulis, Ken. Jangan-jangan isi laptop kamu banyak naskah-naskah tulisan kamu."
Mata Kenzi membulat lucu. "Kok kamu tau sih" Peramal, ya""
Natta nyengir. "Lucky guess."
Kenzi melipat tangan di dada lalu bersandar. Lalu tiba-tiba duduk tegak dan menoleh cepat ke arah Natta. "Kamu mau baca""
"Tulisan kamu""
Kenzi mengangguk. "Kamu baka
l jadi first reader. Belum pernah aku publikasiin lho. Takut tenar. Belum siap nih dicubitin ibu-ibu."
Natta mendelik. "Eh, yang suka dicubit ibu-ibu kalo jumpa fans itu artis sinetron. Penulis mah ada di balik layer, tau! Lagian ibu-ibu mana yang mau nyubit kamu" Cowok ceking kayak gini nyubitnya juga takut! Mana nggak ngegemesin sama sekali, lagi."
Kenzi garuk-garuk. "Iya juga, ya. Hehehe... Jadi, mau nggak""
Natta mengangkat kedua alisnya lucu. "Boleh juga. Daripada kamu menebar aib ke orang laen, biar aku aja yang pertama baca."
"Nih, aku save ya" Jangan lupa kasih komentar pesan dan kesan habis baca ntar." Jemari Kenzi yang putih menekan tombol save ke flashdisc Natta.
*** Bener-bener menakjubkan! Mencengangkan! Ternyata si Kenzi ini memang jago nulis. Terang aja dia bisa punya ide naskah buat Natta yang keren gitu. Di flashdisc Natta ada sekitar dua puluh naskah cerpen. Natta belum baca semua sih. Baru lima. Tapi lima-limanya keren banget. Biarpun ada yang bikin Natta heran...
Natta menekan nomor telepon Kenzi.
"Halo"" "Ken, lo emang beneran penulis, ya" Nggak usah pura-pura deh," tembak Natta.
"Wah, ada apa nih""
"Udah berapa buku sama cerpen yang terbit" Ngaku, nama pena lo siapa"" tuduh Natta lagi.
Kenzi kedengaran bingung. "Nggak ada."
"Terus naskah-naskah ini" Nggak mungkin cuma koleksi pribadi dong""
"Memang koleksi pribadi. Bukannya aku kemaren bilang kamu itu first reader" Kamu lagi bud-bud ya" Budeks, maksudnya hehehe."
"Sayang banget cerpen-cerpen begini cuma jadi koleksi pribadi doing. Tapi, Ken, kenapa ending-nya sedih semua sih" Tragis-tragis. Ditinggal mati kekasih, meninggal dalam sakit diem-diem nggak ada yang tau, yang satu lumayan nih meninggal di pelukan kekasih... tapi sedih semua! Kamu cowok mellow juga, ya""
"Bukan cowok mellow. Nggak tau deh, buat aku lebih syahdu aja nulis cerita-cerita yang sedih dan menyentuh hati gitu. Buat aku lho ya."
Dasar aneh. Ternyata cowok taman yang punya hobi berimajinasi kayak Natta ini, punya rahasia baru. Kalau Natta lebih suka berkhayal yang indah-indah, ini malah yang sedih-sedih.
"Kayaknya seru aja kalo punya cerita hidup yang dramatis. Hehehe..."
"Dasar aneh," cetus Natta. "Ya udah... udah, ya" Sampe ketemu di pertemuan kita selanjutnya. Hehehe..."
"Oke, dah." "Dah." *** "Ya nggak usah terus-terusan arisan lah, Bu. Emangnya kalo banyak arisan bisa cepet kaya"" suara Ayah samar-samar terdengar sampai ke kamar Natta.
Ibu sepertinya meletaDitn gelas di atas meja. Lalu mondar-mandir gusar. "Lho ya nggak papa, kan" Yang penting kan usaha. Arisan yang Ibu ikutan kan bukan cuma sekadar arisan biasa, Yah." Suara Ibu mulai meninggi.
Tumben berantem. Akhirnya topik arisan muncul juga.
"Ya tapi nggak perlu sesering itu kan, Bu. Di rumah kek lebih sering. Arisan juga kan ngeluarin uang, Bu" Konsumsi lah, beli barang dagangan orang lah... batasin dong, Bu. Anak-anak kan perlu perhatian juga." Wah, hebat! Akhirnya Ayah ngeh (biarpun telat!).
"Ah, Ayah! Apa salahnya sih Ibu juga ikut usaha biar kehidupan kita kembali seenak dulu""
Dengusan Ayah terdengar kasar. "Bu! Memangnya Ayah banting tulang tiap hari buat apa" Cari uang, Bu! Kalo Ibu mau support dan bantu, Ayah juga senang. Tapi jangan cuma buang-buang waktu melulu," protes Ayah.
"Udahlah, Yah, Ibu capek! Siapa bilang Ibu nggak perhatiin anak"! Ayah nih suka sembarangan!" Blam! Ibu masuk kamar sambil banting pintu. Peristiwa yang jarang. Mereka komunikasi! Biarpun lewat berantem.
Dalam hati Natta menjawab pertanyaan Ibu. "Ibu sayang sih sama Natta dan Kakak, tapi Ibu nggak perhatian. Buktinya, Kakak sakit berkali-kali nggak ada tanggapan lebih dari Ibu. Bawa Kakak ke rumah sakit aja Ibu nggak mau."
Natta jadi teringat Nanta. Hari ini Kakak nggak ada di rumah lagi. Ngapain sih Kakak betah banget di luar sana" Biarpun rumah mereka bukan rumah iKinkinl dalam gambaran sinetron-sinetron dengan ibu yang selalu masak dengan make up lengkap (aneh banget!), dan Ayah yang selalu baca Koran sambil bersandar di sofa raksasa ruang tengah
yang mewah, tapi kan seenggaknya ini rumah mereka...
+ + + _Delapan Belas_ Kaya bisa bikin burung-burung bicara, kupu-kupu menari, bunga-bunga tersenyum...
Kaya bisa apa aja yang bikin Inta bahagia. Kaya bisa ikut berkhayal bareng Inta. Ikut masuk ke dunia Inta. Kaya memang cuma cowok yang bekerja di kafeteria rumah sakit, tapi baru kali ini Inta ketemu orang yang begitu mengerti dia. Yang bisa masuk ke dunianya. Yang bikin Inta selalu bahagia.
"Kamu nggak pengin balik sekolah, Kay"" kata Inta sambil menatap wajah teduh Kaya. Umur mereka cuma beda setahun. Tapi Kaya sudah harus meninggalkan bangku sekolah.
Kaya tersenyum manis. Semakin ganteng aja kalo senyum begitu. Cewek mana juga pasti luluh. "Lebih dari pengin. Penginnya lebih edan daripada ngilernya, aku pengin punya Toyota PRIUS kayak punya Cameron Diaz," jawab Kaya setengah asal.
"Kenapa kamu nggak coba aja sekolah lagi" Kan demi masa depan kamu juga." Kalimat Inta sok heroik menumbuhkan jiwa berjuang hidup.
Kaya tersenyum lebih lebar daripada tadi. "Kalo bisa pengin jadi dokter."
Inta memain-mainkan rambutnya. "Kalo aku sakit gratis dong."
Kaya menatap Inta lurus-lurus. Bikin Inta salah tingkah.
Tau-tau Kaya cengengesan tengil. "Enak aja. Hari gini minta gratis. Lupa ya, kalo pipis aja bayar" Zaman aku jadi dokter nanti, kayaknya kentut juga bayar."
Inta manyun. Dasar Kaya. Dia betul-betul suka cowok ini. Mungkin Kaya satu-satunya manusia berlabel cowok keren yang mau sedekat ini sama dia. Mesra (ge-er), akrab, manis, sopan...
Inta terdiam. "Kok kamu nggak jawab pertanyaanku" Kenapa nggak balik aja ke sekolah" Kamu kan bisa kerja part time, kalo memang itu masalah biaya..."
Giliran Kaya terdiam. Lalu menjawab, "Bukan cuma soal biaya kok. Inta, ada kalanya... kita bener-bener nggak punya pilihan. Aku pengin banget balik ke sekolah. Tapi nggak bisa. Maaf ya, aku nggak bisa jelasin lebih jauh. Kalo pertanyaannya aku pengin apa nggak, aku pengin banget," jawab Kaya misterius. (Kenzi ngotot banget pengin bikin tokoh yang penuh kemisteriusan. Katanya biar mirip dia! Dasar narsis! Huh! Padahal rahasianya udah kebongkar!)
"Kamu tau nggak apa yang aku pengin banget selain Toyota Prius"" ujar Kaya lagi.
Inta menggeleng. "Tank baja"" katanya menebak-nebak ngaco.
"Berenang di Waterboom." HAH" "Naik seluncuran yang katanya tinggi banget itu. Aku pengin banget ngerasain meluncur dari situ. Aku bisa mengkhayal lagi meluncur di atas pelangi dari atas awan menuju bumi. Pasti asyik banget. Tapi kalo aku nekat bunuh diri namanya. karena aku tau jantungku nggak kuat. Dosa besar." Mata Kaya menerawang. Mungkin dia lagi mencoba mengkhayalkan gimana rasanya naik seluncuran yang tinggi dan berputar-putar itu.
Inta menatap Kaya. Entah apa yang merasukainya sampai nekat bilang, "Kaya, kamu... kamu... mau nggak... jadi pacarku""
"Wah nggak bisa nih!" pekik Natta dengan nada protes menuntut keadilan dan cairnya THR Lebaran. Pokoknya melengking sampe urat-urat lehernya keluar kayak Ruth Sahanaya lagi nyanyi.
Kenzi memegang dadanya kaget. Mukanya pucat. Lalu napasnya putus-putus.
"Wah, kamu kaget beneran, ya" Maaf, maaf, makanya jangan ngelamun. Lagian jadi cowok kagetan amat."
Kenzi menepuk-nepuk dadanya sambil setengah mati berusaha mengatur napas. kaget beneran dia.
"Nggak bisa nih," ulang Natta dengan nada yang lebih tenang.
Kenzi yang mulai pulih dari kekagetannya menatap bingung. "Apanya yang nggak bisa""
"Kok gini" Kalimat terakhir nggak setuju ah! Masa Inta duluan yang nyatain. Inta kan perempuan!" protes Natta lagi.
Kenzi tersenyum geli. "Lho tadi katanya paragraf ini terserah aku."
"Tapi ya nggak terserah-terserah banget gini. Ini sih namanya melampaui batas keterserahan."
"Hahahaha!" Kenzi malah ngakak.
Natta manyun saking sebalnya. "Yeeee... kok malah ngakak sih" Nyebelin ah. Jangan Inta duluan doong..."
Kenzi mengangkat tangan menyuruh Natta tenang. "Kan Inta manusia."
"Ya, tapi perempuan."
"Ya, tapi situasinya Inta kan tau Kaya itu cuma teman khayalannya. Dia cuma mengajukan proposal
supaya Kaya naik jabatan dari teman khayalan jadi pacar khayalan. Lagian namanya juga khayalan, bebas-bebas aja, kali. Sebebas burung terbang dan eek sembarangan," jawab Kenzi asal.
"Ajuin aja proposalnya ke tukang donat! Biar dapet donat gratis," dumel Natta ngaco. Natta mati kutu. Huh! Dasar jago silat lidah! Maunya kan Kaya duluan. Mau Kaya khayalan kek, gambar tempel kek, poster kamar mandi kek, seprai kena ompol kek... yang penting laki-laki duluan yang nyatain! Huh! Huh! Huh! "Oke, oke... awas aja ya, aku bales di paragraf selanjutnya! Kamu cukup sampe situ." Mereka lagi mencoba metode baru: ganti-gantian nulis paragraf. Sambil ngetes bakal nyambung apa nggak. Aneh-aneh aja.
HP Natta bergetar. Nomor siapa nih" "Halo""
"Ini Deva. Inget aku, nggak""
Dahi Natta berkerut-kerut mikir. "Deva temen Kakak""
"Iya, iya. Natta, kamu di mana"" suara Deva kedengaran panik dan buru-buru.
"Di..." aduh di mana, ya" Dia harus bohong! "Aku di..."
"Cepet ke Rumah Sakit Medika Sehat!"
Hah" Medika Sehat" Itu kan di sini. Di Jalan Dago, di depan rumah sakit besar yang terkenal di Bandung. "Ada apa, Kak""
"Cepet ya, Nat. Di UGD! Kamu telepon aja HP ini kalo nyasar. Oke" Nanta..."
"Kakak kenapa"" Natta mulai panik. Ngapain Nanta di rumah sakit"! Ada apa"
"Cepet ya, Nat." Klik.
Natta mematung bingung. Kenapa suara Deva panik" Kenapa... Nanta kenapa" Tak terasa air mata Natta menggenang di pelupuk matanya. Matanya mulai panas.
"Natta" Kamu kenapa" Siapa yang telepon""
"Aku... aku... harus ke Medika Sehat... kakakku..."
"Medika Sehat"" Kenzi mengulang nama rumah sakit itu dengan ragu.
Natta mengangguk. "Iya... Medika Sehat. Kakakku..."
"Kakak kamu kenapa""
Natta menggeleng. "Aku nggak tau dia kenapa. Aku harus ke sana sekarang... aku... aku... kita ketemu lagi nanti ya, Ken..." Natta beranjak dan sempat nyaris jatuh karena mendadak lemas.
Tangan Kenzi menangkap lengan Natta. "Kamu jangan pergi sendiri. Aku anter kamu."
Apa" "Lho, bukannya kamu nggak bisa...""
"Rumah Sakit Medika Sehat kan masih lingkungan sini. Aku bisa anter kamu ke sana. Nanti kamu ketabrak delman kalo jalan sendiri sambil sempoyongan begini. Ayo."
Natta mengangguk. Untung ada Kenzi. Dia nggak sendirian.
*** Jantung Natta berdegup kencang membayangkan kira-kira ada apa dengan Nanta. "Ayo, Ken, ayo kita buruan masuk!" Natta menarik tangan Kenzi yang mendadak berhenti di depan gerbang masuk rumah sakit. Wah. Jangan bilang dia tipe cowok yang fobia rumah sakit dan bau-bauannya.
Kenzi menepuk bahu Natta lembut. "Sori ya, Nat, aku cuma bisa nganter kamu sampe sini. Dari sini ke UGD deket kok. Tuh di depan. Kamu pasti baik-baik aja."
Lah" Kenapa sih" Natta menatap Kenzi terheran-heran. "Kenapa sih" Kamu nggak mau ketemu kakakku""
Kenzi tersenyum tipis. "Bukan... bukan. Aku... aku... nggak bisa ikut masuk. Maaf, ya""
Nggak bisa ikut masuk" Kenapa" "Emangnya kenapa, Ken""
Kenzi mendorong punggung Natta pelan. "Aku nggak bisa jelasin kenapa. Udah, buruan masuk... nanti kita ketemuan lagi."
Nggak bisa jelasin alasannya lagi" Aneh banget sih! Tapi... "Aku masuk dulu." Nggak ada waktu buat ngebahas itu. Natta harus buru-buru ke dalam.
Lorong rumah sakit menuju UGD ramai banyak orang lalu-lalang. Di mana Nanta"
"Natta!" Deva. Baru aja Natta mau telepon dia. Sahabat kakaknya itu berlari dengan muka cemas ke arah Natta. "Lewat sini," katanya sambil menarik tangan Natta.
Mengikuti langkah Deva yang panik dan buru-buru Natta jadi makin waswas. Sebetulnya ada apa sih" Kecelakaan" Flunya parah sampe Kakak pingsan" Kakak punya kanker stadium lanjut" Apa"!
Rasanya Natta mendadak jadi patung es saat berdiri di depan ranjang UGD yang dibatasi tirai. Di atasnya Nanta tergeletak dengan segala macam slang menempel ke hidung dan mulutnya. Belum lagi infus. Bibirnya nyaris biru. Matanya cekung dan ada lingkaran hitam di sekelilingnya. Tapi nggak ada perban. Berarti kakaknya bukan kecelakaan.
"Nanta OD." Deg! HA"! "OD... Over... Dosis""
Deva mengusap mukanya lalu mengangguk pelan. Sebelah
tangannya meraih bahu Natta dan meremasnya lembut. "Kakak kamu kena narkoba, Nat."
APA!" "Tap...tapi..."
"Dia bukan flu. Maaf ya, Nat, aku udah tau dari lama, tapi Nanta keras kepala. Kadang dia bilang dia udah bersih. Tapi di belakang... Makanya aku lebih suka dia nginep di rumahku terus. Supaya aku bisa liat dia, ngawasin dia... tapi akhir-akhir ini... maaf ya, Nat, aku udah berusaha sebisaku buat jaga Nanta. Aku juga bukannya nggak mo cerita ke kamu, ibu, atau ayah kamu, tapi kalo sampe Nanta jadi nggak percaya sama aku, dia bisa menjauh. Dan kita malah sama sekali nggak bisa meraih dia."
"Kakak bukan flu""
Deva menggeleng. "Dia sakaw, pakaw, nagih... apalah istilahnya," katanya setengah mengeluh.
Rasanya kaki Natta nggak menapak di tanah. Melayang-layang. Nggak percaya. Selama ini dia cuma mendengar cerita orang-orang. Liat iklan BNN, polisi, atau TV tentang narkoba dan orang yang kena narkoba. Siapa sangka ternyata orang terdekat... kakak kandungnya... bisa... "Sejak kapan, Kak"" air mata Natta mulai menggenang lagi.
Deva menarik napas dalam-dalam. "Sejak dia jarang pulang ke rumah."
Selama itu"! Dan seisi rumah nggak ada yang sadar"! Ibu dan Ayah cuma menganggap anak laki-laki lebih suka di luar rumah daripada di rumah itu biasa. Kecurigaan Natta senggaknya lebih mending daripada Ibu yang cuma memaksa Nanta minum obat flu dan istirahat waktu dia di rumah dengan kondisi mengerikan itu. Kenapa mereka bisa begitu percaya diri bahwa anak mereka baik-baik aja"! Deva menarik Natta pelan ke pelukannya. Natta cuma bisa menangis sesenggukan. Tangisan paling heboh yang dia punya.
"Ya sabar aja. Kata Dokter dia parah, tapi masih bisa diselamatkan."
Tiba-tiba Natta tersadar dan mengeluarkan HP-nya. "Kak Deva untuk menelepon Ibu atau Ayah""
Deva menggeleng. "Belum. Di HP Nanta cuma ada telepon kamu. Telepon rumah nggak diangkat."
Natta menghela napas. Kenapa kakaknya yang lebih dewasa, laki-laki, ternyata memendam perasaan yang jauh lebih hancur gini dibanding Natta"! Natta juga kecewa dengan perubahan sikap Ayah dan Ibu sejak kebangkrutan Ayah. Cuma karena harta semuanya berubah. Tapi Natta lebih memilih tetap merasa bahagia dan menikmati hidup...
Ayah dan Ibu datang terpisah. Sudah pasti Ayah dari bengkel dan Ibu dari arisan atau entah apa. Muka mereka kelihatan cemas.
Selama ini Natta nggak pernah sedikit pun merasa benci atau marah pada orangtuanya. Tapi kali ini...
"Natta... kakak kamu kenapa"" tanya Ibu, meraih kepala Natta.
Natta refleks menepis tangan Ibu. Menatap dengan pandangan tak terbaca ke arah Ibu dan Ayah. "Liat aja sendiri," katanya ketus, lalu berbalik pergi. Dia lagi nggak pengin dekat-dekat mereka sekarang.
"NATTA!" panggil Ayah dan Ibu kompak.
"Tante, Oom, sebaiknya liat Nanta dulu..." suara Deva samar-samar. Natta berjalan cepat menuju pintu keluar dengan napas memburu dan banjir air mata.
*** Belum pernah Natta selega ini melihat seseorang. Melihat Kenzi yang duduk sendiri di bangku taman.
Tanpa bilang apa-apa Natta langsung duduk lalu menangis heboh lagi, kali ini di pelukan Kenzi. Nggak ada satu patah kata pun keluar dari mulut Kenzi. Dia cuma diam mengusap-usap bahu Natta. Mendengar setiap segukan tangis Natta merasakan tetes demi tetes air mata Natta membasahi bajunya.
"Sekarang mau cerita"" Mata Kenzi teduh menatap Natta yang mulai tenang.
Natta mengusap matanya. Lalu mulai bercerita sambil sekali-sekali menghapus air mata yang meluncur dari matanya tanpa sadar. Kok dia jadi cengeng begini"
"Aku nggak pernah mau marah... apalagi benci mereka," suara Natta parau kebanyakan nangis.
Kenzi menepuk-nepuk bahu Natta. "Memang nggak perlu. Dan nggak boleh. Mereka itu orangtua kamu, Nat. Apa pun yang mereka lakukan sekarang sebetulnya karena mereka pengin hidup lebih enak, kan" Dalam artian... bahagia" Biarpun caranya mungkin salah." Kalimat Kenzi terdengar bijak. "Kadang usia yang lebih dewasa bukan jaminan orang pasti bersikap dewasa."
"Kakak hampir mati, Ken. Gimana mungkin kami semua nggak ada yang sadar Kakak bukan flu"!"
"Gim ana kalian tau, Nat" Memang kamu pernah ada pengalaman dengan narkoba sebelumnya""
Natta menggeleng. "Ayah-ibumu""
Natta menggeleng lagi. "Apalagi Ayah-Ibu."
"Nah, makanya, wajar kan kalian nggak tau" Ya udah, Nat. Itu kan udah lewat. Nggak ada gunanya nyalahin diri sendiri kayak gitu. Dengan kejadian seperti ini, seenggaknya ada hikmahnya. Kalian semua jadi tau."
"Tapi Kak Deva kok..."
Kenzi menekan telunjuknya di bibir Natta. "Jangan nyalahin diri sendiri, apalagi orang lain. Udah, Nat... Kalo udah telat untuk mencegah, seenggaknya kamu sekarang masih dikasih kesempatan buat mengobati."
Natta diam. "Ternyata aku nggak kenal satu pun anggota keluargaku," desah Natta.
"Kamu harus ngomong, Nat. Ini mungkin waktu yang diatur Tuhan supaya kamu bisa ngomongin segala unek-unekmu ke ayah dan ibu kamu."
Natta tercenung. Mungkin.
+ + + _Sembilan Belas_ DUH, apa sih pagi-pagi udah ribut-ribut"! Natta mengucek-ngucek matanya yang masih ngantuk. Suara ribut-ribut di luar bikin bangun aja nih!
"Ayah jangan cuma bisa nyalahin Ibu aja dong!!!" suara Ibu melengking memecah keheningan pagi. Ayah dan Ibu berantem"
Breek! Kayaknya Ayah mendorong kursi pake tenaga dalam superekstra. "Tapi sebagai ibu, sudah kewajiban Ibu untuk lebih ngurusin rumah dan anak-anak!" Nada suara Ayah tak kalah melengking.
"Lho! Masa cuma Ibu doang"! Itu kan kewajiban Ayah juga!!! Sekarang kalo udah kayak gini aja, bisanya cuma nyalahin orang."
"Bu, sebagai kepala rumah tangga, Ayah berkewajiban cari nafkah, Ibu ngurus rumah tangga!"
"Maksud Ayah"! Ibu nggak boleh ikut usaha untuk nambahin penghasilan keluarga kita"!"
"Mana hasilnya, Bu"! Cuma ngegosip, kumpul-kumpul nggak ada manfaatnya!!" Kali ini Ayah kedengaran betul-betul marah.
"Kan nggak instan, Yah! Lagian, Ibu bukannya nggak peduli sama anak-anak. Ibu tetap sayang sama mereka, tapi mana mungkin Ibu ngikutin mereka 24 jam sehari" Apalagi Nanta! Anak itu kan udah dewasa. Laki-laki, lagi."
"Terus Natta"! Apa Ibu tau apa yang terjadi sama Natta dalam kehidupan dia"!" tantang Ayah.
Oke, cukup! Natta duduk tegak di tempat tidur. Ini waktunya!!! tekadnya.
"Cukup, Yah! Bu!" teriak Natta lantang di depan pintu kamarnya yang terpentang lebar.
Ibu dan Ayah berbarengan menoleh ke arah Natta.
Natta berjalan cepat ke arah ibu dan ayahnya dengan baju tidur, rambut berdiri jigrak, dan mata sembap kayak jengkol muda gara-gara nangis terus tidur. "Apa gunanya sih Ayah sama Ibu berantem" Kakak lagi di rumah sakit, Bu. OD! Narkoba! Ibu sama Ayah malah berantem." Entah dari mana tau-tau Natta punya nyali segede kulkas.
Ayah menatap Natta dengan alis berkerut. "Kami bukan berantem, tapi diskusi."
"Diskusi"! Itu sih bukan diskusi. Tapi saling nyalahin. Kenapa sih bukannya malah mikirin jalan keluar" Ayah sama Ibu telat banget kalo diskusi sekarang."
Ayah dan Ibu pandang-pandangan. Ini bener Natta nih yang ngomong"
"Yah, Bu, jangan berantem dong. Natta juga nggak mau Ibu sama Ayah cuek-cuekan kayak biasanya. Emangnya kenapa sih, Yah, kita nggak bisa kayak dulu" Pertanyaan Kakak pasti juga sama," keluh Natta sambil menatap ayah-ibunya bergantian.
Ayah mendekati Natta dan merangkul anak perempuannya itu. "Natta, kamu kan tau kejadian yang menimpa Ayah waktu itu. Sekarang Ayah lagi usaha mengembalikan kondisi keluarga kita," ujar Ayah lembut.
Natta menatap mata Ayah. "Cuma secara materi, Yah" Apa Ayah nggak mau mengembalikan keharmonisan keluarga kita juga""
Kata-kata Natta betul-betul menohok Ayah dan Ibu. Mereka kelihatan kaget dan terbengong-bengong. Anak mereka bisa ngomong begitu" Sementara mereka sibuk mengejar materi, anak mereka malah mempertanyakan soal keharmonisan keluarga.
"Natta sama Kakak kangen Ayah dan Ibu. Kakak mungkin lebih kangen daripada Natta sampe-sampe Kakak kayak gini. Natta seneng Ayah dan Ibu pengin keluarga kita kayak dulu lagi dari segi materi. Tapi biarpun kayak sekarang, asal kita sekeluarga harmonis kayak dulu, Natta juga seneng. Ayah sama Ibu jangan cuek-cuekan lagi, ya" Mesra kayak dulu, ya" Sekarang kit
a harus nolong Kakak."
Mata Ibu berkaca-kaca. Spontan ia memeluk Natta erat. "Maafin Ibu ya, Sayang..."
Tangan Ayah yang merangkul Natta meraih Ibu. Lalu memeluk mereka berdua erat-erat. Sudah lama Natta tidak pernah sedekat ini dengan ayah dan ibunya.
"Maafin Ayah juga, ya..."
Lagi-lagi Natta nangis. Tapi tangis bahagia. Dia tau, mulai hari ini keluarganya bakal berubah lebih baik.
*** "Ma...afin... Nanta, ya..." Dengan suara parau dan terputus-putus Nanta minta maaf.
Ibu tak tahan membendung air matanya. Apalagi Natta yang akhir-akhir ini jadi supercengeng. Sejak kenal Kenzi, dia jadi lebih berani menunjuDitn emosinya.
"Ayah sama Ibu juga minta maaf..." suara Ayah terdengar bergetar. Pasti Ayah juga pengin nangis tapi ditahan-tahan. Tangannya menepuk-nepuk lengan Nanta.
"Kakak harus banyak istirahat."
Nanta tersenyum datar. "Aku pengin... sembuh..." katanya lagi. "Aku mau... mau masuk rehab..."
Ibu terisak-isak. Ayah menarik napas dalam-dalam. "Pasti kami dukung. Pasti. Nanti Ayah yang cari tempat rehabilitasi yang bagus ya. Kamu pasti sembuh."
Nanta menatap Ayah dan Ibu bergantian. "Yah... Ibu... maafin Nanta, ya..." katanya lagi. "Nanta... betul-betul... nggak dewasa. Nanta malu. Nyesel."
Ibu makin terisak-isak. Bisa-bisanya dia sibuk mencari uang yang nggak pasti hanya karena ingin kembali punya materi seperti dulu. Sementara anaknya seperti ini"! Padahal mereka bukannya jatuh miskin. Apa lagi yang Ibu nggak tau soal anak-anaknya" Apa ada yang terjadi pada Natta juga" Anak perempuannya yang selalu kelihatan baik-baik aja itu"
"Nanta, Ayah sama Ibu juga minta maaf karena kurang perhatian sama kalian dan cuma sibuk mencari materi." Kali ini Ayah betul-betul menitiDitn air mata. Lalu dengan sayang membelai rambut Nanta sementara sebelah tangannya meraih Natta ke dalam pelukannya. "Natta... makasih ya. Ayah senang kamu baik-baik aja. Ayah senang. Ayah bersyukur."
Inilah pelukan "keluarga" mereka yang pertama.
"Yah, Natta mo beli cemilan dulu ya di bawah."
"Ada uangnya""
Natta mengangguk. "Ada. Tapi kalo Ayah mo ngasih lagi juga Natta nggak nolak lho, Yah."
Ayah terkekeh dan merogoh dompetnya. "Nih... bonus."
"Makasih, Yah."
*** Di lantai bawah rumah sakit ada kafeteria. Mini market juga ada. Tapi kayaknya Natta pengin beli roti bakar aja.
Natta melenggang memasuki kafeteria. Lho... itu kan..."
Sekilas Natta melihat sosok yang dia kenal. Kenzi. Ngapain cowok itu di sini" Katanya dia nggak bisa masuk rumah sakit. Gimana sih" Natta berjalan cepat ke arah Kenzi yang memunggunginya.
"Kenzi!" panggil Natta. Tapi kayaknya Kenzi nggak dengar. Kok perasaan tadi dia sempat noleh sih"!
Natta berlari kecil menghampiri Kenzi.
Lho" Mana, kok menghilang"! Ke mana larinya" Masa iya Natta cuma berhalusinasi" Natta yakin ah tadi memang Kenzi. Tapi cowok itu ke mana ya" Natta celingukan mencari-cari sosok Kenzi yang menghilang tiba-tiba. Apa dia ke WC" Masa Natta mo nongkrong di depan WC cowok"!
Akhirnya Natta duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu WC. Natta mau coba menunggu. Kemungkinan besar Kenzi ke WC. Ke mana lagi, coba" Lagian kalau dia ketemu Kenzi, dia mau ngenalin Kenzi ke keluarganya.
HP Natta bergetar. Ibu. "Halo, Ibu""
"Ibu nitip jus, ya" Ibu haus banget. Cepet ya, Nat""
Karena setelah Natta beli jus Kenzi nggak nongol-nongol juga, ya terpaksa Natta tinggal. Lain kali deh Natta tanya Kenzi. Tapi ngapain ya Kenzi di sini" Bukannya waktu itu dia menolak masuk ke gedung rumah sakit meski dengan alasan yang nggak jelas" Aneh...
+ + + _Dua Puluh_ NATTA dirubung sahabat-sahabatnya. Inna, Kinkin, dan Dara. Duduk di kursi taman di belakang perpustakaan yang sepi.
"Gue nggak nyangka Nanta bisa nekat kayak gitu," komentar Kinkin setelah mendengar cerita Natta.
Inna merangkul Natta. "Tapi seenggaknya sekarang keluarga lo jadi nyatu lagi, kan" Ada hikmahnya lah."
Natta mengangguk. Semua Natta ceritain. Terkecuali bagian dirinya sedang bersama Kenzi waktu mendapat telepon dari Deva.
"Narkoba itu setan," komentar Dar
a dari balik bukunya. "Sama kayak judi-dan zinah."
HA"! Semua mata mendelik. Dasar aneh! Komentarnya kok kayak syair dangdut gitu sih"
"Sekarang Nanta mana" Udah di rumah"" tanya Kinkin lagi.
"Kakak langsung masuk rehab di daerah PunDit."
Semuanya terdiam. Cerita Natta betul-betul "besar". Nggak satu pun dari mereka pernah punya masalah keluarga yang serius. Yang paling serius di keluarga Inna adalah waktu mamanya berantem sama tukang sayur gara-gara terlalu ngotot nawar ikan gurame sampe harus dilerai tetangga. Masalah terbesar di keluarga Kinkin adalah waktu Johan, kakaknya, digerebek empat cewek sekaligus ke rumah menuntut kepastian karena ternyata Johan meng-empat alias macarin empat-empatnya sampe-sampe Mami dan Papi juga Pak RT harus turut serta menjinaDitn cewek-cewek mengamuk itu. Dara" Masalah terbesar di keluarga Dara adalah waktu Dara berantem hebat sama adiknya soal masalah buku mahal yang katanya kesayangan Dara tapi malah dijadiin ganjel meja adiknya yang jomplang. Dara musuhan sama adiknya sampe seminggu dan akhirnya bundanya harus turun tangan mendamaikan perang saudara itu.
Tapi narkoba" Orang tua nggak harmonis" Betapa mereka selama ini sangat beruntung dibanding Natta.
"Eh, gimana naskah kalian"!" Natta nggak tahan berlama-lama bersentimentil ria. Mana dia akhir-akhir ini cengeng banget. Bisa-bisa dia mewek lagi. Nggak deh mewek di sekolah. Kalo dia ketemu Ditto gimana" Masa mata kayak ikan mas ditonjok kura-kuranya diliat Ditto" Oh, no, no!


Imajinatta Karya Mia Arsjad di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Inna mengangkat tangan. "Gue nyerah deh. Nggak ada ide."
Kinkin mengangguk. "Iya. Gue juga. Mana gue makin sering latihan nyanyi. Gue aktif di Karang Taruna pula. Nggak ada waktu deh," kata Kinkin sok sibuk. Sibuk PDKT sana-sini, maksudnya.
Dara mengintip dari balik bukunya. "Gue mendingan baca daripada bikin naskah. Masih banyak buku yang harus gue baca." Wek! Alasan yang mengerikan.
Lalu semua menatap Natta penuh tanda tanya.
Natta tersenyum lebar. "Naskah gue bakal keren. Nggak sabar nih pengin selesai. Pokoknya berkat bantuan..." UPS. Ampir keceplosan.
"Bantuan apa"" tanya Inna.
"Siapa"" sambung Dara.
Natta meringis. "Bantuan Tuhan... jadi terinspirasi."
Semua mengernyit. Bohong banget nih! Bantuan Tuhan sih nggak disebut juga semua orang udah tau, kali!
Natta meringis lagi. Kali ini meringis ngeri. Takut dikorek lebih dalam. "Bener kok! bantuan Tuhan. Kayaknya tau-tau aja ada ide. Hehehe... Bener deh. Kan... kita harus rajin berdoa."
"Jadi lobeneran nih nggak bakalan mundur soal Ditto"" selidik Inna rese.
Natta mengangguk mantap. "Nggak! Sebelum mereka resmi pacaran, kenapa nggak" Lagian gue yakin dengan bantuan A-Tuhan, gue pasti bisa. Buktinya naskah gue mengalir lancar tuh." Lagi-lagi Natta nyaris kepleset lidah sendiri.
Kinkin mengangkat bahu. "Yang penting sih lo harus siap sama semua kemungkinan terburuknya, Nat."
"Jangan bunuh diri. Hina," lanjut Dara ekstrem. "Apalagi sampe diliput berita kriminal. Kami-kami nanti ikut malu." Komentar sadis!
"Jangan jatuhin semangat gitu dong," protes Natta.
Inna menepuk bahu Natta. "Pokoknya lo harus berprinsip nothing to lose deh." Apaan, lagi" Dasar pada asal semua.
*** "Gila gede amat!" Kenzi takjub menatap ukuran Ditue segede gajah itu. "Ni makanan orang nih" Yakin" Jangan-jangan khusus dibuat untuk badak," komentarnya.
Natta geleng-geleng. "Ini namanya Ditue jumbo."
"Dumbo maksudnya" Gede banget!"
Ih! "Dumbo mah kecil. Kalo diibaratkan gajah, ini mammoth! Tau nggak" Gajah purba."
Kenzi ngakak geli. "Gede sih gede. Jumbo sih jumbo. Enak, nggak""
Telunjuk Natta bergoyang ke kanan-kiri di ujung hidung Kenzi. "Ck... ck... ck... coba dulu ya, baru komentar. Mana mungkin sih aku bawa makanan nggak enak buat penasihatku"" Mendadak Kenzi sekarang punya tiga jabatan: teman, asisten penulis naskah, dan yang terbaru, penasihat.
Nyam! Ujung kue Ditue masuk ke mulut Kenzi. "Hm... mmm... lumayan."
"Pake sausnya doong..."
"Nggak ah. Kamu kan tau aku nggak suka saus-sausan."
Natta meleletkan lidah. Apa enaknya makan Ditue nggak pak
e saus" Justru sausnya itu yang bikin enak. Dasar Kenzi aneh.
"Gimana kakak kamu""
AH! Mendengar nama Nanta, Natta teringat sesuatu. "Ken, waktu itu kamu ngapain di kafe rumah sakit" Kata kamu..."
Kenzi kelihatan kaget. "Aku" Nggak ah. Kapan aku ke kafe rumah sakit" Kamu salah liat, kali."
Natta memonyong-monyongkan bibirnya pose mikir. "Nggak. Aku yakin itu kamu. Kamu bukan anak kembar, kan""
Kenzi menggeleng. "Setauku nggak. Tapi ya nggak tau juga kalo ternyata aku ini kembar terpisah... terus..."
Plok! Natta menepuk bahu Kenzi. "Ngelindur. Kalo nggak ya nggak."
"Nggak," jawab Kenzi pendek dengan mata membulat bodoh. Natta berusaha mencari-cari kebohongan di mata Kenzi. Tadi waktu dia kaget ada kemungkinan dia bohong. Tapi sekarang dia keliatan tenang dan jujur.
Telunjuk Natta mengetuk-ngetuk bibirnya sendiri. "Masa iya aku salah liat""
"Mungkin aja. Orang kan banyak yang mirip-sebanyak orang yang mataya bolor alias rabun tapi nggak ngeh kalo dia harus pake kacamata setebel selop nenek."
"Itu namanya sama, bukan mirip. Aku nggak rabun dan nggak perlu selop nenek."
Kenzi mengangkat bahu. "Waduh... aku harus buru-buru matenin mukaku dong, ya" Gawat kalo banyak yang pengin mirip terus niru-niru pake operasi plastik."
Natta melotot. "Operasi ember"! Tom Cruise aja nggak ada yang niru sampe tuek begitu. Apalagi kamu. Lagian apanya yang mo ditiru""
Kenzi cekikikan. "Ya udah, ya udah. Nulis. Nulis. Naskah niiiih..."
Kayaknya aku emang salah liat, gumam Natta dalam hati, berusaha meyakinkan dirinya sendiri supaya nggak penasaran lagi. Balik ke naskah aja...
Kedengarannya memang aneh. Bodoh. Ajaib. Konyol. Apa lagi" Tapi Inta nggak peduli. Toh nggak ada yang tau kalo Kaya pacarnya adalah pelayan kafeteria rumah sakit itu, yang nggak sekolah, yang...
"Lo nggak cuma ngada-ngada kan, Ta"" Ivanna, cewek paling populer di kelas, dengan santai duduk di meja Inta.
Inta menggeleng sambil menunduk. Dia nggak punya pacar, dihina-hina habis-habisan. Sekarang mengaku punya pacar, ternyata sama keruhnya. Teman-temannya memang keterlaluan!
"Namanya siapa"" tanya Evi, sobatnya Ivanna yang sama nyebelinnya.
"Ka...Kaya." "Hihihihi. Kaya apa" Kaya monyet" Kaya domba" Kaya sapi" SriKaya" Sekolah di mana"" berondong Tita.
Seisi kelas tertawa. Dalam kepala Inta, Kaya datang dan menunjuDitn dirinya pada semua temannya. Betapa semua melongo menyaksikan kegantengan Kaya.
Di tengah tawa teman-temannya, Inta beranjak dari kursi dan berlari meninggalkan kelas. Dia pengin ketemu Kaya... biarpun Kaya nggak mungkin bisa menghajar semua orang yang usil pada Inta karena mereka pacaran diam-diam. Tapi buat Inta dialah pahlawannya, jagoannya, malaikat pelindungnya. Entah hinaan apa yang bakal dilontarkan teman-temannya kalo tau pacarnya cowok putus sekolah yang nggak "selevel" dengan mereka.
"Kamu nangis"" Kenzi menatap Natta yang menitiDitn air mata.
Saking menghayatinya, saking dalamnya Natta masuk ke dunia Inta, dia sampe-sampe ikut-ikutan nangis. "Miris banget sih si Inta ini. Pasti kalo naskah ini jadi di-film-in, penonton bakal ikut sedih deh. Aku aja sedih ngebayangin perasaan Inta."
"Itu karena kamu istimewa, kamu bisa masuk ke cerita ini," puji Kenzi.
Natta tersenyum manis. "Aku penginnya yang baca naskah ini juga terharu. Supaya menang. Hehehe." Diakhiri dengan cengengesan.
"Aku doain deh."
Natta mengklik save. "Ken, aku jadi penasaran nih akhir ceritanya gimana."
Baru kali ini Natta melihat senyum jenis ini di bibir Kenzi. Kayaknya jenis senyum yang satu ini masuk kategori senyum misterius. Penuh rahasia. "Sabar dong."
*** Malam itu Natta senyam-senyum sendiri kayak orang gila. Dia bisa ngebayangin Ditto pasti seneng dapet peran yang unik kayak gini. Biarpun entah kenapa kok kayaknya Ditto kurang pas aja sama tokoh Kaya. Tapi Ditto pasti bisa sih memerankan dengan oke. Denger-denger dulu Ditto pernah jadi figuran sinetron remaja. Pasti punya dasar akting dong.
Bukan bermaksud meremehkan naskah teman-teman yang lain, tapi kayaknya ide Kenzi ini beda bang
et. Tok tok tok! "Nattaaa..." panggil Ibu dari balik pintu kamar Natta.
"Masuk, Bu." Ibu melongok. "Nih, ada telepon. Dari Inna."
Inna" Ngapain nelepon ke rumah"-Ah! Ya ampun!!! "Halo, Vi" Aduuuuh soriii... HP gue tadi di-silent. Tadi gue lagi bikin naskah. Perlu konsentrasi. Sori, sori..." repet Natta kayak knalpot motor bebek sebelum disikat habis sama Inna pake jurus nenek judes nyumpahin maling jambu.
"Gile, semedi minta nomor ya" Atau lo lagi bikin naskah horor sampe harus cari suasana di gua kelelawar" Nggak laku! Basi, tau!" Tetep aja si nenek judes turunan wewe gombel ini merepet. Pengin dipanggang nggak sih, biar jadi sate Inna" "Sekalian aja lo puasa tujuh hari tujuh malem. Biar langsing. Apa lo mo gue bawain ayam yang item semua itu" Apa tuh namanya" Ayam teh manis"" Kayaknya Inna udah seribu kali neleponin Natta. Sampe kesel banget gini.
"Cemani," ralat Natta. Ayam teh manis. Asal. Marah-marah tapi dongo.
Inna mendengus kesal. "Cemani, teh manis, kintamani, si manis... apa kek. Jangan menghilang gitu dong."
"Emang ada apa sih""
"Kita tuh mo jalan bareng, ehhh, lo menghilang aja gitu tadi pas pulang sekolah. Ke mana sih" Kok kayaknya sembunyi-sembunyi gitu."
Oow! Natta emang tadi sengaja pergi gitu aja nggak pake bilang-bilang. Menghindari berondongan interogasi dari teman-teman segengnya yang selalu pengin tauuuuu aja itu. Harusnya kalo mereka nggak ada rencana pergi Natta sekarang aman-aman aja. Duh! Kenapa pake ada yang mencetuskan rencana jalan bareng segala sih" "Gue nggak sembunyi-sembunyi kok. Nggak," elak Natta gugup. "Tadi aku..."
"Aku"" "Gue... gue... tadi gue ngomong kok. Kalian aja kali yang nggak denger." Waduh, lidahnya gimana sih. Maunya kepeleseeet melulu. Bisa gawat nih!
Inna kedengaran ngedumel nggak jelas. Pasti karena nggak percaya. "Lo ngomongnya pake bahasa cacing ya, sampe-sampe kami nggak denger""
Kayaknya nggak perlu dijawab. Bisa panjang.
"Lo kenapa sih" Akhir-akhir ini lo aneh."
Bener, kan" Nggak dijawab aja jiwa detektif Inna langsung nongol. "Aneh gimana" Muka gue jerawatan, ya" Iya nih... kayaknya gue dapet tamu bul-"
"Bukan itu, tau!" potong Inna cepat. "Kayaknya lo sering menghilang. Kayak sibuk sendiri gitu. Emang ada apa sih""
Interogasi beneran nih! "Nggak ada apa-apa. Gue cuma lagi semangat beresin naskah aja. Makanya buru-buru pulang."
Di seberang sana Inna kedengaran menghina-dina Natta. "Gue nelepon ke rumah lo, tau! Kok lo nggak ada" HP juga nggak aktif."
Waw waw! "Ya tadi gue... ke supermarket dulu beli cemilan."
Inna udah pasti nggak percaya. Tapi juga udah nggak berdaya buat mengorek info lebih lanjut. Natta memang aneh akhir-akhir ini.
"Sori ya, Vi..." kata Natta pelan.
Semakin lama Natta semakin pengin menyimpan Kenzi dan taman itu sebagai rahasianya. Kayaknya antara dunianya bersama teman-temannya di sekolah dengan dunianya bersama Kenzi dan kursi di pojok taman itu nggak nyambung aja. Dua dunia berbeda yang Natta rasa sangat nyaman kalo nggak usah saling terhubung.
+ + + _Dua Puluh Satu_ KOK gitu"! Natta menatap Kenzi dengan alis berkerut bingung. Gimana nggak berkerut bingung, coba. Permintaan Kenzi aneh banget. Katanya dia minta tolong dibolehin nyelesein akhir naskah itu sendiri tanpa bantuan Natta. "Emangnya kenapa sih" Ideku jelek-jelek, ya"!"
Kenzi buru-buru menggeleng. "Bukan, bukan... bukan berarti ide kamu jelek-jelek..."
"Buruk-buruk""
Kenzi menggeleng geli. Bukannya itu sama aja"
"Bodoh-bodoh"" bibir Natta berkerut-kerut kayak kulit jeruk.
Kali inicekikikan. "Hihihi... bukan... bukan..."
"Habis apa dong" Jelek bukan. Buruk bukan. Bodoh juga bukan... terus kenapa" Kenapa kita nggak selesein bareng-bareng aja kayak sekarang""
Kenzi menggaruk-garuk kepalanya dengan tampang frustasi. Tebakannya kok nggak mutu banget. "Bukan itu, Nattaaa... anggep aja deh aku minta hadiah ulang tahun."
"Ih, emangnya kamu pikir aku bakalan ngasih kado ya kalo kamu ultah" Ge-er."
Kenzi nyengir. "Ya namanya juga usaha."
"Emang kamu ultah kapan""
Kenzi meringis miris. H ahaha... pertanyaan yang menjebak. "Ung... September depan."
Mulut Natta menganga. "Haaaa" Masih lama, kaleee... minta kadonya kok sekarang."
"Hehehe... boleh ya, Nat"" bujuk Kenzi.
Natta melipat tangan di dada dan langsung pasang tampang mikir. "Ya tapi kenapa""
"Ya udah, ya udah, gimana kalo dibalik" Anggep ini hadiah ulang tahun kamu dari aku. Boleh dong ngasih kado""
Natta manyun. "Lebih parah. Ulang tahunku masih Februari tahun depan. Ngaco ah. Kenapa siiih""
Kenzi memutar duduknya menghadap Natta. "Kinkindline-nya tinggal minggu depan, kan""
Natta mengangguk. "Iya. Payah deh, dimajuin seminggu Kinkindline-nya. Makanya harus cepet beres!"
"Makanya, izinin aku yang nyelesein, ya" Aku jamin cepet selesei deh, dan aku maunya jadi kejutan buat kamu. Kamu mau kan bantuin wujudin cita-citaku jadi penulis" Kasih aku kesempatan, ya" Kalo kamu nggak suka, boleh kamu ganti. Aku minta dua hari aja. Ya""
Kayaknya nggak ada ruginya. Kalo Natta nggak suka, toh masih ada waktu buat ngerombaknya. Sekali-sekali deh berbuat baik menghargai Kenzi yang sudah rela membantunya dengan ikhlas sekalian menghargai pengakuan Kenzi tentang obsesinya jadi penulis. "Boleh deh. Tapi janji lho, kalo aku nggak suka... set set! Aku ganti," ancam Natta.
Senyum senang langsung mengembang di wajah Kenzi. "Wah arigato, tengkyu ya, Nat. Kamu nggak tau betapa berharganya ini buat aku. Kalo menang, aku pengin banget nonton filmnya."
"Ya nonton aja."
Kenzi malah senyum misterius lagi. Senyum misteriusnya yang kedua.
"Jadi sekarang kita nggak ngapa-ngapain dong""
"Nggak seru, ya" Satu hari nggak ngapa-ngapain bagai sayur tanpa garam, bagai jempol tak berbau."
Natta bergidik. "Ihhhh... perumpamaannya yang bagusan dikit kek. Nggak semua jempol bau, kali! Iya nih, nggak seru. Eh, kita ke..." Natta berhenti melihat ekspresi Kenzi. Oh iya, karena alasan yang nggak jelas kan Kenzi nggak bisa pergi jauh-jauh dari sini. Tadinya dia mau ngajak Kenzi nonton aja di BIP alias Bandung Indah Plaza. Kan deket. Tapi buat Kenzi BIP pasti juga di luar jangkauan.
"Sori, ya"" kata Kenzi lagi. Kayaknya dia bisa baca pikiran Natta yang berniat ngajak dia pergi tadi.
Natta mengembuskan napas. "Ya udah deh, aku pulang aja, kali. Ngapain juga duduk berduaan di taman gini nggak ngapa-ngapain" Kamu juga pulang aja. Selesein tuh naskaaah..."
Tau-tau Kenzi menahan tangan Natta yang hampir beranjak dari duduknya. "Eh, jangan pulang dong. Kamu mo sesuatu yang seru""
"Emangnya apa yang seru""
"Yuk!" Kenzi menarik tangan Natta.
"Ke mana nih""
"Udaaah, ikut aja. Pasti seru." Kenzi berjalan menaiki tangga taman menuju jalanan di atas sambil terus menggenggam lengan Natta.
Wah, jangan-jangan Kenzi memutuskan untuk nekat melawan "takdir"-nya yang nggak bisa ke mana-mana.
Kenzi merogoh HP-nya. "Dokumentasi," katanya.
"Ha" Ngapain sih""
"Kamu pilih yang besar, ya" Jangan takut, di sini aman."
Natta mengernyit. "Pilih apa yang gede" Kenzi! Apaan sih""
Kenzi cengengesan jail. "Naik kuda. Pilih yang gede. Yang kecil khusus buat anak kecil. Hehehe..." mata Kenzi menatap satu-satu kuda-kuda wisata yang lagi pada nongkrong menunggu penumpang. "Tuh yang itu. Yang rambutnya pink! Hahaha pasti keren tuh difoto. Putri Natta menunggang kuda berambut pink! Buruan panggil."
"Hah"! Gila kamu! Nggak ah, nggak mau! Kamu aja... kan kamu yang bilang kalo hari ini nggak ngapa-ngapain bagai jempol tanpa bau! Bagai kentut tak berbunyi!" repet Natta panik. Kok dia disuruh naik kuda" Ogah! Pertama, dia takut. Kedua, dia takut banget. Ketiga, takut, kaliiii! Keempat, malu dong kalo ada orang dikenal lewat! Ini kan tempat piknik anak-anak! Kalaupun ada orang dewasa yang naik, pasti turis dari luar Bandung yang belum pernah melihat atau naik makhluk bernama kuda, terobsesi jadi koboi gagal, atau nemenin anaknya! Kalaupun Natta punya anak nanti, belum tentu juga Natta mau mengorbankan harga diri dan martabat naik kuda di sini.
Kenzi memasang tampang sok memelas. "Sayangnya aku alergi bulu. Aku sih pengin banget. Tapi nanti aku bersin-
bersin terus, belum lagi mataku bakal bengkak, pipiku bakal tembem mendadak, ingusku bakal..."
"Nyeeeeeeeet! Stop, stop! Ya udah, aku juga nggak mau!"
"Kamu nggak alergi, kan" Kalo bilang iya berarti kamu ikut-ikutan. Kalo alasannya takut, Natta, rasa takut itu harus dilawan." Kenzi sok bijak nyebelin.
Dasar curang! "Kamu mo bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, ya" Makan roti cokelat sementara aku makan tempe bongkrek"!" Hi! Tempe bongkrek! Makanan zaman urdu banget!
"Aku pengin merasakan keseruan kamu yang lagi naik kuda. Ikut menikmati. Aku foto lho!"
Natta manyun. Terus kalo difoto kenapa"!
"Ayo dong. Kamu belum pernah kan, naik kuda di sini""
"Belum... lagian ngapain! Kurang kerjaan. Mendingan ngepel-ngepel di rumah atau ngerujak, ngebakso, menyulam, cocok tanam, atau ngapain kek!" Natta masih nggak rela jadi objek penderita.
Kenzi malah menepuk pundak Natta. "Eh, nggak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru. Yang unik. Yang menantang!"
"Ini sih bukan menantang, tapi malu-maluin!"
Kenzi mengusap-usap dagunya. "Iya, menantang malu! Bersenang-senang, nggak usah mikir. Kita kan nggak pernah tau kapan waktu terakhir kita buat seneng-seneng. Rahasia Tuhan."
Natta mengernyit ngeri. "Kok jadi nakut-nakutin sih"! Yang kayak gini nih yang malah bikin mati cepet. Serangan jantung!"
"Orang yang punya sakit jantung pasti pengin banget lho bisa seneng-seneng kayak gini tanpa takut mati mendadak. Kamu yang sehat malah ngomong gitu. Bukannya bersyukur." Lah kok jadi serius sih"
"Ya udah, ya udah!" kata Natta akhirnya. Daripada suasananya jadi nggak enak. Habis Kenzi ngotot banget pengin Natta naik kuda. Demi kodok melompat di semak-semak lalu nyemplung ke rawa Nyi Blorong, nggak sedikit pun Natta pernah punya cita-cita jadi koboi. Gila ya, hari gene, zaman transportasi udah canggih, lebih baik memanfaatkan kemajuan zaman. Nelepon pake HP, nggak perlu lagi merpati pos yang mungkin aja menebar eek di kepala-kepala orang yang kebetulan lagi melenggang kangkung di bawahnya selama perjalanan. Kirim duit pake ATM, sampe deh. Nah!!! Ke mana-mana pake mobil atau motor aja, kaliiii... ngapain masih iseng-iseng naik kuda" Ck, ck, ck. Nggak punya mobil" Masih ada angkot, taksi, bus kota, Transjakarta, kereta... dipilih-dipiliiiiiiih!!!
Kenapa mulut kuda ini berbusa" Apa dia habis minum obat nyamuk dan menunggu detik-detik kematian" Waduh, waduh, jangan-jangan pas mereka lagi lari-lari mengelilingi jalan aspal yang pastinya keras ini tiba-tiba ini kuda belang nyungsep mati mendadak, lagi. Wah, kayaknya Natta harus pake helm! Gila apa tiarap di aspal" Jidatnya bisa cacat seumur hidup. "Mang... ini kudanya sehat walafiat lahir batin, kan""
Alis si Mang pemilik kuda berkerut bingung. "Maksudnya, Neng""
"Ya, eng... kudanya nggak keracunan atau rabies gitu kan, Mang" Yang bisa bikin dia menggila atau mati mendadak""
Si Neng rada-rada, kali nih, pikir si Mang. Masa iya kuda keracunan dibawa ngojek" Lagian, sepengetahuan si Mang, yang kena rabies itu umumnya kucing, anjing, sama monyet. "Tenang, Neng... kuda Mang baik-baik aja. Pit banget deh."
"Pit"" "Pit, Neng, pit. Sehat. Prima." Oh, fit!
Sambil komat-kamit mengucapkan semua doa yang dia hafal (doa orangtua, doa tidur, doa makan) Natta bersiap-siap naik. "Kamu bakal bayar mahal buat ini, Ken."
"Lho, Neng, ya Neng atuh yang bayar ke Mang. Masa Mang yang bayar" Bayar mahal, lagi. Nama Mang juga bukan Ken, tapi Usep Sudasep. Panggilannya Usep atau Asep."
Ha" "Saya nggak ngomong sama Mang, saya ngomong sama..." Lho, ke mana Kenzi" Natta celingukan. Tadi perasaan Kenzi berdiri di belakang si Mang kuda. Mana sih"! Lho... lho... kok si Kenzi udah di sana" Di bawah pohon di pojokan jalan. Sambil cengar-cengir megang HP yang kameranya kayaknya udah ON. Dia melambai-lambai heboh. Dasar nyebelin.
"Siap, Neng" Pegangan, Neng. Rileks aja... jangan tegang," kata Mang Usep Sudasep sok asyik.
Lalu si kuda belang mulut-berbusa-bak-keracunan-obat-nyamuk pun berjalan pelan-pelan. Lalu berlari-lari kecil. Natta boro-boro menoleh waktu
Kenzi kayaknya manggil-manggil dia supaya menoleh pas difoto. Yang ada malah tegang pengin pipis di celana. Mana si Usep Sudasep ini ngoceeeh melulu tentang keluarganya. Kakaknya yang juga tukang kuda namanya Eman Sulaeman, tetehnya yang jualan jamu gendong Tintin Surantin, adiknya yang masih sekolah Piah Sopiah, dan saudara-saudaranya dengan nama superkreatif lainnya. Didin Saipudin, Encang Suencang, Mala Komalawati, Tikah Sartikah... dll, dst. Dan tebak siapa nama kudanya" Boboi Markoboi. UGH! Kasian banget kuda ini. Nama Si Belang kayaknya lebih beradab.
Setengah putaran yang menyiksa.
"Neng, mendingan Neng pegang nih!" Mang Usep menyodorkan pecut.
"Wah, buat apa nih""
"Buat ngegas, Neng... biar larinya si Boboi gas pol! Coba deh, Neng, seru lah pokoknya," Mang Usep semangat mempromosikan si Boboi Markoboi.
Natta menarik napas panjang. Setelah dirasa-rasa ternyata nggak terlalu menakutkan. Ada perasaan seru yang gimanaaa gitu, bercampur angin sepoi-sepoi. Apalagi si Markoboi ini jinak berat. Penurut dan nggak banyak tingkah. Kayaknya seru juga mencoba usul si Mang buat tancep gas pol.
Ctak! Hieeeh! dengus si Markoboi. Lalu... keteprok... keteprok... keteprok... larinya makin cepat. Angin semakin kencang menerpa muka Natta. Markoboi tancep gassss... "Yihuuuuuuuu!!!!" pekik Natta heboh pas banget waktu melewati pohon kecil di pojokan jalan tempat Kenzi berdiri sambil menatap takjub ke arahnya. Kayaknya seru banget. Tapi Kenzi nggak mungkin bisa melakukan hal kayak Natta. Mungkin kalo Natta bisa melihat dari dekat, tatapan iri itu jelas banget di mata Kenzi.
Yang tadinya ketakutan dan menolak keras mengorbankan pantatnya duduk di atas sadel, eh, Natta malah ketagihan dan muter-muter tiga putaran bersama si belang Boboi Markoboi. "Oke, Mang, cukup. buat percobaan pertama tiga kali aja cukup."
Mang Usep menuntun si Boboi menepi. "Laen kali mah Neng sewa aja si Boboi sejam sekalian," tawarnya berpromosi.
Natta meringis. "Sejam"!" Tiga putaran sih masih seru. Tapi sejam" Aduh plis deh, Mang Usep Sudasep, sesuatu yang berlebihan itu nggak bagus. Karena Kenzi cuma ngasih Natta uang buat satu putaran, terpaksa deh dua putaran bonus Natta bayar sendiri.
Lalu si Boboi Markoboi pun berlalu bersama Mang Usep Sudasep, mencari penumpang lain.
"Kenzi... sini! Ngapain sih diem di bawah pohon kayak gitu" Kayak pot aja! Gimana aksiku tadi""
Kenzi senyam-senyum lalu berjalan mendekati Natta. "Aksinya cukup hebat. Sampe nambah dua putaran. Tapi yang pasti, yang diabadikan sama wartawan Kenzi cuma tampang ketakutan pas mulai jalan. Kamu udah kayak mo dicekik nenek grondong!!"
"HAH" Pasti pas muka aku jelek banget, ya" Ahhh... Kenzi tega bangeeet... mana sini liat!!!" Ternyata Kenzi tinggi juga. Buktinya Natta harus lompat-lompat kayak kodok kontet setengah mati supaya bisa ngambil HP yang diangkat Kenzi tinggi-tinggi dengan tangan lurus ke atas.
Hari ini bener-bener fun!
*** Segeeeer! Habis naik kuda dan ngejer-ngejer Kenzi tadi, rasanya enak banget begitu habis mandi. Natta mengucek-ngucek rambutnya dengan handuk sambil melenggang keluar dari kamar mandi.
"Tuh, HP kamu berisik banget! Dicariin pacarnya, ya" Gitu banget." Nanta yang lagi dapet hari "pesiar" dari pusat rehabnya nyeletuk dari sofa di depan TV.
"Ih, sok tau banget sih! Siapa bilang juga yang nelepon pacar," protes Natta. Sejak kejadian kakaknya masuk rumah sakit gara-gara OD waktu itu, kehidupan di rumahnya berangsur-angsur jadi lebih baik. Kakak jadi sehat. Ibu dan Ayah mulai harmonis lagi. Bukannya Natta bersyukur kakaknya OD, tapi ternyata ada hikmahnya juga.
Pluk! Nanta menimpuk Natta pake gumpalan tisu. "Siapa lagi yang nelepon sampe bertubi-tubi begitu kalo bukan pacar" Naaah... kamu ada utang ya sama Ibu Kantin" Tuh, tuh, bunyi lagi!"
Natta menimpuk balik kakaknya dengan gumpalan tisu jijay yang tadi Nanta pake buat nimpuk jidatnya, lalu ngeloyor buru-buru ke kamarnya. Siapa sih yang nelepon"!
Kenzi! Layar HP berkelap-kelip dengan nama Kenzi mejeng mentereng.
"Halo"!" "Busyeeet... dari mana aja
siiih" Diteleponin dari tadi, juga."
Natta melompat ke atas kasurnya. "Mandi lah. Badan aku bau kentut kuda nih gara-gara kamu."
Kenzi cengengesan. "Tapi hepi, kan""
Natta senyam-senyum sendiri mengingat petualangannya bersama Usep Sudasep dan Boboi Markoboi. "Hehehe, iya sih. Makasih ya, Ken. Kalo bukan karena ketololan dan kekurangajaran kamu nyuruh-nyuruh aku naek kuda, seumur hidup aku nggak bakal tau rasanya naek kuda."
"Laen kali kamu coba deh naek kebo, gajah, onta-"
"Eh, eh, cukup! Kuda aja cukup. Ngerjain sih ngerjain, jangan semua binatang kamu suruh aku naekin. Sekalian aja suruh aku naek babi hutan," protes Natta. Kenzi tuh ternyata jail juga. "Ngomong-ngomong, ada apa nelepon""
"Nggak ada apa-apa. Pengin aja ngerasain telepon-teleponan sama temen."
Aneh. janggal. Tak lazim. Ajaib. "Ih, nggak jelas deh."
"Emang nggak jelas. Tapi beneran. Aku nggak banyak punya temen. Bisa dibilang kamu temen akrabku yang pertama."
PeNantau ulung. Buaya cap kadal nungging. Nantauan cemen. Dodol asem.
"Ya udah ya, Nat."
Natta melongo. "Begitu doang" Sampe miskol-miskol sejuta lima ratus ribu kali cuma begitu doang""
Kenzi cekikikan geli. Jebol, kali, HP-nya kalo ada miskol segitu banyak. "Iya begitu doang. Lagian mo ngeberesin naskah, kan""
"Ya udah deh. Bener selesein, ya."
"Pasti." "Dah, Natta..."
"Daaahh..." "Makasih ya, Nat..."
Ha" Klik. + + + _Dua Puluh Dua_ "MAU ke mana lagi sih"" Inna menatap Natta heran. Gimana nggak heran" Hari ini Ditto bakal ikut tanding, tapi Natta malah mau buru-buru pergi. Ini peristiwa langka selangka burung dodo mendarat darurat di halaman rumah presiden Indonesia.
Kinkin menyikut Natta, juga dengan tampang bingung dan mata memancarkan sinar tanda tanya berjuta-juta watt. "Gila! Jadi akhirnya lo udah selesei nih sama Ditto" Nggak naksir lagi""
"Akhirnya... kirain sampe kiamat masih naksir terus," celetuk Dara dari balik bukunya, tapi tetep pasang kuping karena penasaran sama jawaban Natta. Natta mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Tenang! Tenang! Kalian semua salah! Mana mungkin lah gue menyerah begitu aja selama bendera jadian Ditto sama cewek lain belum berkibar," kata Natta berapi-api.
"Upacara, kali. Sekalian aja undang Kepala Sekolah, RT setempat, sama kepala hansip. Buat sambutan-sambutan." Celetukan Dara kali ini dapat cubitan maut rasa digigit semut yang langsung mendarat di lengannya tanpa mampir-mampir dulu. Sengatan semut dendam.
Kalau ada lomba nyeletuk rendah mutu sedunia, udah pasti Dara juaranya. Natta melirik Dara keki. Tiap nyeletuk nyelekit banget. "Udah deh, pokoknya kalian jangan bawel. Kalian gue tugasin nonton pertandingannya Ditto dan melaporkan hasilnya selengkap-lengkapnya ke gue ntar. Percaya deh, keperluan gue sekarang ini demi kelanjutan hubungan gue sama Ditto."
"Pacaran aja belum tentu, udah punya hubungan." Dara nggak bosen-bosennya nyeletuk.
Natta cuma bisa manyun. "Pokoknya gue pergi dulu. Jangan pada kabur dari tugas ya. Tonton Ditto. Eh, Inna, HP lo kan canggih, kameranya gambarnya bersih banget, kan""
Muka Inna langsung asem. "Jangan bilang lo mo nyuruh gue ngerekam pertandingan Ditto."
Gigi Natta berderet nyolot waktu si empunya gigi nyengir lebar. "Ngapain bilang, tuh lo udah tau. Hehehe..."
Huh! Padahal niatnya Inna mo kabur. Pake dapet tugas merekam si Ditto, lagi. Huh, huh, huh! Buang-buang memori HP aja.
"Gue harus latihan nyanyi buat acara gereja gue, jadi gue nggak bisa nemenin, Vi." Dengan kecepatan cahaya Kinkin mengeles dari tugas nggak mutu nonton Ditto tanding. Mendingan nyamperin kecengan sendiri, kali.
Inna mulai panik. Sedikit.
"Kayaknya gue harus ke rumah tetangga gue hari ini. Dia punya buku nguik nguik hieeee ngok ngok cwiwiwit yang udah langka banget. Kalo gue nggak buru-buru ke sana, ntar keburu diembat tetangga gue yang rajanya kutu buku," kata Dara.
"Cocok dong sama lo," sambut Kinkin semangat. "Pacaran aja sama dia."
"Jadi lo juga nggak nemenin gue"" Inna panik betulan. Males amat nongkrongin Ditto sendirian. Pake ngerekam, lagi. I
ni sebenarnya yang naksir siapa sih"! "Natta, gue juga..."
Kalimat Inna terputus melihat Natta yang menatapnya dengan tatapan bintang-bintang harapan. Minta tolong dari lubuk hati yang terdalam.
"Huh," dumel Inna pasrah.
Natta nyengir lebar. "Tuhan, berikanlah pahala yang sebesar-besarnya buat Inna sahabatku, yang rela berkorban dan berjuang demi kebahagiaan temannya... terimalah dia..."
"DI SISIMU"" pekik Inna histeris. "Lo doain gue cepet mati"!"
Natta langsung kabur. "Daaahhh... makasih ya, Viiii..." Dia menyongsong harta karunnya demi merebut hati Ditto.
*** Wah! Kenzi udah dateng!!! Nggak bawa laptop. Berarti naskahnya udah beres. Berarti hari ini nggak ada acara nulis naskah.
"Kenzi!!!" teriak Natta semangat. Padahal dia masih jauh.
Kenzi melambai tak kalah semangat ke arah Natta.
Natta duduk di sebelah Kenzi. Eits, ada yang aneh. apa ya" Hmmm...
Alis Kenzi terangkat lucu. "Kenapa sih" Ngeliatinnya kok gitu" Operasi plastiknya keliatan, ya" Wah, parah nih dokter. Padahal dia udah janji nggak bakalan pake plastik daur ulang ember."
Ngaaaaaaa... mulut Natta menganga selebar gua kelelawar. "Ha" Kamu operasi plastik idung" Ya ampun, emang bisa pake daur ulang em...ber...""
"HAHAHAHAHAHAH!"
Idih!!! Ngerjain! "Hih! Nyebelin! Aku kira beneran. Lagian yang aneh emang bukan di muka kamu, tau!!!!"
"Ya iyalah bohong. Kalo pake daur ulang ember, mukaku bisa buat nyuci baju dong. Yakin bukan tambah Ditep" Tambah keren" Tambah mulus""
Natta menggeleng kencang-kencang. "Yakin satu juta seratus sepuluh koma lima persen, bukan!" Natta menilik Kenzi lagi. Lalu hidungnya kembang-kempis mengendus-endus. AHA! "Hari ini kamu keren banget. Wangi banget, lagi. Niat dandan, ya" Mo ke mana sih"!" Secara Kenzi nggak bisa jauh-jauh dari sini. Biarpun Natta heran kenapa cowok itu nggak bisa jauh-jauh dari sini, tapi bisa ke sekolahnya yang jauh banget itu. Natta harus tanya soal itu. Hari ini.
"Aku mo ngajak kamu jalan-jalan."
Jalan-jalan" "Ha" Ke mana""
"Nonton. Di BIP aja, ya""
Wah! Nggak salah nih" Tumben. Baru aja dipikirin, taunya dia mo ngajak jalan. "Kok bisa" Bukannya kamu..."
"Ini khusus buat kamu. Sekali ini aja bisanya. Mau nggak""
"Dalam rangka apa""
Kenzi tersenyum lebar menggoyang-goyangkan flashdisc di depan hidung Natta. "MeNantaakan jadinya naskah ini... sekalian aja ngeNantaain jadian kamu sama Ditto nanti."
Orang ini memang ajaib seeeeajaib-ajaibnya. "Idih, kok yakin aku bakal cocok sama naskahnya" Terus, pede banget bakal menang. Lagian kalo ntar jadian, ya ntar aja ngeNantaainnya."
Kenzi menepuk jidat Natta. "Ini aku udah pake pengorbanan lho, kamu malah bawel. Nanti-nanti kemungkinan aku udah nggak bisa lagi punya kesempatan kabur kayak gini, tau! Nggak ada kesempatan jalan-jalan bareng kamu. Udah sekarang aja! Mumpung bisa nih sekarang..."
Natta mengangkat bahu. Siapa juga yang mo nolak. Orang cuma nanya doang. Kan Kenzi selalu ngotot banget dia nggak bisa keluar dari "daerah sini". Kecuali ke sekolah, kali. "Yeee, aku kan cuma nanya. Siapa takut. Ayo aja. Mari kita berangkat deh kalo gitu."
"Eh, tapi aku nggak tau lho naek angkot apa ke sana," kata Kenzi polos.
Natta mendelik. "Udik. Ya udah, tenang, aku tau. Sekarang""
"Gimana kalo tiga jam lagi""
"Ha" Terus tiga jam kita di sini ngapa-"
"HAHAHAHA!"

Imajinatta Karya Mia Arsjad di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Buk! Natta menggebuk Kenzi dengan gumpalan sweter yang dia tenteng. "Nyebeliiiin!!!"
*** Wihhhhh... ditraktir makan juga sama Kenzi! Lucu juga ya, padahal naskah ini kan proyeknya Natta. Kenapa pas beres malah Kenzi yang getol banget ngeNantaain" Pake acara melanggar pantangannya, lagi. Harusnya juga Natta yang nraktir Kenzi. Tapi palingan cuma mie ayam atau hot dog sekolah kayak biasanya. Paling bagus ya... hmm... crepes deh. Kenzi malah nraktir makan di Hoka Hoka Bento.
"Bener nih cukup"" tantang Kenzi melihat beef teriyaki, tempura, nasi, Cola, tambah puding karamel yang Natta pesan.
Natta menatap pesanannya. "Kayaknya cukup. Nanti kalo masih mau, masih boleh nambah, kan"" katanya nggak tau malu. Ogah rugi banget.
"Boleeeh... boleeeh... tapi berarti kakakku bohong ya."
Nah lho, apa hubungannya sama makanan" Kok tiba-tiba nuduh kakaknya bohong" Natta cuma mengernyit bingung yang artinya "maksudnya"".
Kenzi memisahkan sumpitnya yang masih saling dempet lalu siap-siap makan. "Kata kakakku, cewek itu kalo di depan cowok makannya suka jaim. Sedikit. Pura-pura nggak laper, padahal disuruh makan batok kura-kura juga mau alias setan perutnya histeris. Ternyata nggak. Buktinya kamu nggak jaim. Cuek aja makannya banyak."
Eh"! Ini muji apa nyindir" Ngatain kakaknya salah apa ngatain Natta gembul binti rakus" Yang ada pipi Natta langsung merah padam. Terlepas nyindir apa bukan, porsi makannya emang banyak banget. Maklum, udah lama nggak ke Hokben, eh sekalinya dateng lagi sekarang, gratisan. Hehehehe... namanya juga sifat dasar manusia. Mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan modal yang seemprit-empritnya (alias sedikiiit banget). Kalo pake istilah ekonomi cara barter, sebisa mungkin dapet mobil Merci dituker pake biji salak atau kedondong.
"Eh, bukan berarti kamu nggak boleh makan banyak lho," Kenzi jadi nggak enak, sadar Natta jadi merah padam tersipu-sipu bak kepiting rebus. "Maksudnya aku malah seneng lho punya temen nggak jaim kayak kamu, asyik. Keren... keren... cewek makan banyak menurut aku keren kok." Nah lho, kok malah Kenzi yang salting"
"Iya, iya. Udah dong jangan diomong-omongin... malu, tau!" Ck, susah deh jadi cewek kurang gaul. Harusnya dia tau jangan kalap gitu mesen makanan di depan cowok. Disangka rakus deh. Mana baru pertama makan di luar bareng, lagi. Kesan pertama langsung bikin harga diri drop. Untung ini Kenzi. Kebayang kalo Ditto. Bisa-bisa Natta pingsan saking malunya. Ternyata ada pelajaran yang dia dapat dari jalan bareng Kenzi. "Eh, makasih ya, Ken."
"Ditraktir""
"Bukan cuma itu. Atas pelajaran berharganya."
"Yang mana""
"Yang tadi. Soal cewek jaim. Untung aku lagi jalan sama kamu. Coba kalo aku jalannya sama Ditto terus mesen makanan kalap gini. Wah, bisa kacau tuh."
Alis Kenzi berkerut heran. "Kenapa" Aku bilang kan bagus, malah kamu nggak jaim. Bukannya nyuruh kamu jaim."
"Ya itu kan kamu. Ditto kan tipe ceweknya iKinkinl. Kalo ntar aku jalan sama dia, aku udah tau deh harus jaim. Cukup salad sama air putih. Manis, kan""
Kenzi bergidik. "Manis" Nyiksa keluarga cacing perut maksudnya" Mana kenyang""
Natta nyengir. "Yang penting berkesan, tau!"
Kenzi mengangkat tangan tanda menyerah. "Ken, aku mo tanya boleh nggak" Kalo kamu ntar nggak mo jawab juga nggak papa. Tapi aku penasaran aja."
Kenzi mengangkat bahu sekilas. "Tanya apa""
"Kamu aneh ya" Katanya kamu nggak bisa jauh-jauh dari daerah taman. malah masuk rumah sakit aja nggak mau. Tapi aku baru inget, kamu kan sekolah di SMA 333. Itu kan jauh banget. Tuh, buktinya kamu bisa pergi ke tempat lain yang jauh, di luar wilayah taman. Ya, kan""
Muka Kenzi kelihatan kaget. Dia kayaknya nggak siap sama pertanyaan ini.
"Kalo nggak mo jawab ya udah. Nggak papa kok."
Kenzi menaruh sumpitnya. "Bukan... bukan... tapi, apa kamu beneran mo tau cerita tentang aku yang sebenernya"" suara Kenzi pelan. Nyaris bisik-bisik.
Natta mengangguk. "Tapi kamu jangan kaget, ya""
Natta menggeleng. "Terus, kalo udah denger ceritanya kamu masih mau temenan sama aku""
Natta mengangguk lagi. Sebentar lagi mukanya bakal berubah jadi muka ondel-ondel. "Iya, iya, iya."
Kenzi bersandar lalu melipat tangannya di dada sambil pasang tampang serius. Sehebat apa sih ceritanya sampe nggak boleh kaget segala"
"Sebenernya ini nggak boleh aku ceritain ke orang lain. Ini rahasia keluargaku."
Serius nih kayaknya. Tampang cemberut Natta mulai melonggar. Kalo Kenzi sampai percaya buat menceritakan soal keluarganya, artinya Natta harus betul-betul menghargai dong. Kayak Kenzi menghargai Natta juga waktu dia perlu bantuan dan support.
"Aku pindah ke Bandung karena terpaksa. Keluargaku, termasuk aku, terancam."
"Maksud kamu" Terancam...""
"Papaku pengusaha. Kantor pusatnya di Jakarta, tapi punya cabang di beberapa negar
a Asia. Bisa dibilang papaku sukses. Tipe sukses yang udah mengundang banyak orang sirik dan suka melakukan pemerasan. Juga ancaman-ancaman pembunuhan, penculikan... begitulah. Kayak yang kamu pernah liat di film-film."
Wah, anak konglomerat! pekik Natta dalam hati. "Terus""
"Ya... keluargaku dapet surat ancaman. Katanya aku ada dalam bahaya. Nggak ngerti juga maksudnya. Apa aku bakal diculik, dibunuh, atau apa... makanya aku pindah ke sini."
"Pelakunya""
Kenzi menggeleng. "Entah deh, nggak ada petunjuk. Namanya juga orang jahat. Bisa orang jahat beneran atau malah kolega Papa."
Ngeri juga ternyata jadi orang kaya, pikir Natta dalam hati.
"Jadi, aku diantar-jemput ke sekolah biarpun jauh. Ruteku cuma rumah dan sekolah. Nggak boleh ke mana-mana lagi. Taman itu tempat rahasiaku. Deket dari rumah dan menurutku sangat aman. Aku juga nggak berani jauh-jauh dari rumah. Kalo ada apa-apa, orangtuaku pasti bakal kecewa. Karena mereka udah sebisa mungkin jaga aku, tapi akunya bandel. Makanya aku nggak mau terlalu nekat. Mama-Papa tau aku pergi. Dan aku janji nggak akan jauh-jauh. Aku juga nggak mau nyelakain diri sendiri dan ujung-ujungnya bikin susah orangtua." Kenzi menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya pelan-pelan. "Gitu, Nat."
Natta melongo. Kayak film India aja. Nggak nyangka cerita kayak gini bener-bener terjadi.
"Selamatkan anak kita, Pa..." mama Kenzi menangis sedih di pelukan suaminya, papa Kenzi. Biarpun air matanya banjir, make up-nya nggak luntur. Orang kaya... pasti make up-nya waterproof. Tahan air!
Papa Kenzi mengelus-elus pundak istrinya. "Kita ungsikan anak kita, Ma..."
"Ke mana aku bakal dikirim, Pa"" Kenzi yang mendengarkan perDitapan orangtuanya muncul tiba-tiba dari balik pintu.
Papa dan mama Kenzi menatap anaknya dengan berat. "Bandung."
"Haaaa, Bandung"" Deket banget. Kenapa bukan Amerika, Belanda, atau Hongaria...
Papa dan Mama mengangguk kompak.
"Nggak kurang jauh"" pertanyaan Natta menyambung khayalannya. Masa ngungsi ke Bandung, deket banget"
"Maksud kamu""
Natta mencolek pudingnya. "Ya kamu kan dalam ancaman bahaya besar. Bandung kan deket banget. Biasanya kan orang kabur ke Singapura kek, Australia kek, ke mana kek. Yang jauhan. Mesir gitu sekalian. Sekalian jalan-jalan, maksudnya. Hehe."
Kenzi nyaris keselek mendengar pertanyaan Natta. "Uhuk... papaku punya alasan sendiri, Nat. Justru Bandung ini tempat yang nggak terduga buat si pelaku. Mereka pasti punya pikiran kayak kamu. Aku lebih aman di sini. Mungkin."
Natta mengernyit. Antara percaya-nggak percaya. Kenzi memang misterius. Tapi kalo semua ceritanya itu benar, berarti Natta punya teman "istimewa" yang punya cerita "nggak biasa". Seru juga. "Kamu sekarang bener-bener nekat. Ini berarti bahaya banget, kan"" Natta baru tersadar atas tindakan Kenzi.
"Kamu masih mau temenan sama aku, kan""
"Duuuhhh, Kenzi, ya masih lah. Cuma kamu harusnya nggak usah maksain kayak gini, kan" Nanti orang yang ngincer kamu liat gimana""'
Kenzi diam. "Apa kita pulang aja""
"Eh, jangan. Kita kan nggak tau kapan kita punya kesempatan kayak gini lagi, Nat. Belum tentu aku punya kesempatan dua kali bisa kabur-kaburan gini. Hari ini orang yang dibayar Papa buat ngawal aku lagi libur. Istrinya mo melahirkan."
HA" Aneh. Kayaknya kok kebetulan banget gitu. "Tapi kan bahaya."
"Tenang aja, Nat. Aku kan udah nyamar gini." Kenzi mengingatkan topi yang nangkring di kepalanya.
Natta jadi waswas. Masa jalan-jalan nonton aja berisiko tinggi gini" "Nggak ada salahnya kita berdoa aja deh, Ken."
Kenzi nyengir. "Kamu takut, ya""
Natta tersenyum kecut. Dia kan sama sekali nggak nyangka temennya ini anak konglomerat calon korban penculikan bahkan pembunuhan. Ya mo dibilang apa kek, Natta shock juga. Biarpun dia masih agak-agak ragu. Mungkin ceritanya nggak seratus persen betul, kan" Baru kali ini dia mendengar cerita sinetron jadi kenyataan. "Hidup kamu kayak sinetron aja."
"Emang," setuju Kenzi.
"Mama kamu nggak pake sasakan tinggi terus make up melulu kalo di rumah, kan""
Kenzi cekikikan. "Hah
aha, itu sih beneran sinetron, kali."
"Ya kali aja. Eh, kamu mau pudingnya, nggak" Aku baru makan sepotong kecil. Mendadak kenyang."
Mendadak muka Kenzi berubah serius. Lalu menatap Natta lurus-lurus. "Nat, aku mohon, jangan berhenti jadi temenku, ya""
"Ha" Kok tiba-tiba ngomong gitu""
Kenzi menunduk sedih. "Kamu nggak nafsu makan kan gara-gara ceritaku""
Natta meringis. "Nggak. Aku mulai kekenyangan. Aku takut sakit... perut... di dalam bioskop nanti," jawab Natta malu-malu. Habis pertanyaannya menjebak!
"Nat..." "Ya"" Kenzi menarik napas dalam. "Kamu bakal terus jadi temenku, kan, apa pun yang terjadi" Siapa pun aku" Gimana pun aku""
Lho, lho, kok jadi surem gini suasananya" "Aku kan udah bilang iya, Ken. Tadi aku emang kaget. Tapi sekarang udah nggak papa kok. Aku tetep jadi temen kamu. Apa pun yang terjadi deh. Justru aku nggak bakalan ninggalin kamu cuma gara-gara itu. Aku bakal support kamu terus. Tapi aku nggak jago silat lho. Jadi kalo kamu diserang, kita lari aja."
Kelihatan banget Kenzi bahagia. "Makasih ya, Nat. Tenang aja, aku kan cuma pengin kamu jadi temenku. Bukan bodyguard-ku, sampe harus belajar silat segala. Hihihi."
Hari ini Kenzi nggak seceria biasanya. Pulang dari bioskop lebih banyak diam. Terus-terusan minta Natta janji bakal tetap jadi temannya. Dan melontarkan pertanyaan aneh seaneh-anehnya. "Nat, misalnya aku menghilang tiba-tiba, kamu bakal nyari aku nggak""
Ya ampun. Ya ampuuuuuuuun. "Ya iya lah, Ken. Malah aku ikut deh sama polisi-polisi yang nyari kamu. Tenang aja deeeh. Masa aku cuek kamu ilang" Emangnya aku sadis apa" Punya temen ilang diem aja."
"Bener bakal nyariin aku""
"Kenzi, jangan nanya aneh-aneh melulu dong. Nakutin, tau!"
Kali ini Kenzi tertawa lebar. "Thanks for being my friend." Dan ditutup kalimat aneh, lagi. Kayaknya Kenzi juga ketakutan, kali, udah nekat melanggar "pantangan" keluar wilayah taman.
Natta menatap temannya prihatin. Ternyata cowok ini hidupnya berat juga. Duit banyak, tapi nggak bahagia. Malah ketakutan. Kasian. Natta janji bakal terus jadi temennya.
+ + + _Dua Puluh Tiga_ HAP... HAP... HAP... HAP... Natta berjalan tegap dengan dagu sedikit diangkat. Gaya jalan yang bukan Natta banget deh. Di sampingnya berjejer sahabat-sahabat setianya: Inna, Kinkin, dan Dara.
Jalannya udah kayak artis mo lewat red carpet aja. Padahal jantung Natta dag dig dug ser blug blug plas... saking groginya. Amplop cokelat di tangan kiri Natta ikut bergoyang maju-mundur mengikuti ayunan tangan Natta.
RUANG OSIS. Tulisan di papan tanda yang menggantung di atas pintu di mata Natta tiba-tiba jadi ada efeknya kayak di film kartun. Membesaaaaar... mengeciiil... membesaaar... mengeciiiil... Sok dramatis. Inilah harinya! Akhirnya!
"Cari siapa""
Inilah awal perjuangan yang sebenarnya... langkah menuju cita dan cinta...
"Cari siapa yaaa""
Duk! Inna menyenggol lengan Natta sadis.
"Cita dan cinta! Demi masa depan!" pekik Natta refleks dan SANGAT MEMALUKAN!
Jelas banget teteh-teteh si penanya tadi mukanya langsung aneh nahan ketawa. Apaan, lagi, cita dan cinta demi masa depan" Udah gila, kali nih anak.
Huh! Sial! "Uhm... ini, Teh, saya... mau nyerahin naskah... naskah... lomba itu lho, Teh," kata Natta tergagap-gagap. Baru kali ini Natta berharap nggak ada Ditto di situ. Apa lagi yang lebih memalukan selain kepergok sama kecengan memekiDitn semboyan yang amit-amit noraknya"
Si Teteh menerima amplop yang disodorkan Natta. Inilah awal perjuangan si naskah menuju kegemilangan, kejayaan, rona-rona cinta masa remaja Natta. Hehehe... "Ini, tanda terima penyerahan naskahnya."
Natta menerima selembar kertas tanda terima sambil berdoa komat-kamit. Tinggal ditambah nyembur, udah deh, persis Mbah Dukun. Pokoknya perjalanan si naskah terus diiringi doa deeh. Biar mantap! "Pengumumannya kapan, Teh""
Si Teteh menaruh amplop Natta di atas tumpukan amplop yang lain. Wah, banyak juga yang ikut. "Hmmm... kira-kira satu minggu dari sekarang. Kamu rajin-rajin aja baca mading."
Kinkin pasang aksi sok asyik sambil menganggu
k-angguk ngeselin. "Tuh, kaan... baca mading, kan""Masih dendam juga dia soal mading waktu itu.
Mulai hari ini Natta punya tekad baru: rajin-rajin baca mading.
*** Semua mata menatap layar laptop sambil tiduran tengkurap di kamar Kinkin. Penasaran berat cerita kayak apa sih yang sudah dengan nekatnya Natta ikut sertakan ke sayembara menulis naskah itu"
Inta menatap ibu pemilik kafeteria tak percaya. "Bu, saya ketemu Kaya hampir setiap hari. Dia jelas-jelas bilang dia kerja di kafeteria ini kok. Dia selalu makan siang bareng saya di bangku taman. Apa dia berhenti kerja, Bu" Apa dia menghindar dari saya""
Ibu pemilik kafeteria menatap Inta tak kalah bingung. "Betul, Neng, Ibu nggak bohong. Di sini nggak ada pegawai yang namanya Kaya."
Betul-betul keterlaluan! Apa salah Inta" Kenapa Kaya menghilang begitu aja" Kalo memang mereka harus putus, apa nggak bisa ngomong baik-baik" Menjelaskan baik-baik" Hargai sedikit perasaan Inta dong. Kenapa harus kabur begini" Sampe-sampe ngompakin seisi kantin"! "Padahal saya sayang banget sama dia, Bu... padahal... padahal saya seneng punya pacar dia..." Inta sesenggukan. Dia putus asa. "Makasih, Bu. Kalo Ibu ketemu dia, bilang makasih karena sudah mau jadi pacar Inta. Bikin saya tau rasanya punya pacar." Inta berbalik dan siap pergi dari situ.
Tapi Ibu Kantin teringat sesuatu. "Tunggu, Neng!"
Inta menoleh lemah. "Ada apa, Bu""
"Gimana ciri-ciri pacar Neng yang namanya Kaya itu""
Inta menjelaskan ciri-ciri Kaya sekenanya. Apa gunanya sih" Kalo memang dia sudah nggak mau lagi ketemu Inta, buat apa"
Mendengar penjelasan Inta, si Ibu menarik napas dalam-dalam. "Coba Neng cari dia di sini. Mungkin ini Kaya yang Neng maksud." Si Ibu menyerahkan secarik kertas bertuliskan catatan pendek.
Inta menatap tulisan itu bingung. Kenapa harus cari di sana"
Plak! Inna menepuk bahu Natta. "Ini serius lo yang nulis"! Penasaran gue! Eh, lo nggak nyontek cerita serial drama apa gitu, kan" Sekarang kan lagi musim plagiat-plagiat gitu," tuduhnya sadis.
Natta cemberut protes. "Ini orisinal. Bukan contekan dari mana pun!" katanya bangga. Orisinal buatan Kenzi maksudnya.
"Lanjut dong ke bab selanjutnya!" Wah! Dara aja sampe rela melepas sejenak bukunya yang katanya buku paling menghebohkan abad ini. Ternyata dia tertarik juga toh sama cerita cinta-cintaan.
"Duhhhh... kalo menang Kinkin mau donggg jadi pemeran utamanya," kata Kinkin genit dan sok imut.
Natta melotot. "Iya, iya, Natta-Ditto, Natta-Ditto," sungut Kinkin.
"Lanjut ya, scroll ke bawah yaaa..." telunjuk Inna menekan mouse menuju bab selanjutnya.
Lt 3. Kamar Lavender 305. Ngapain Kaya di situ" Kamar VIP.
Inta berhenti di depan pintu kamar Lavender 305. Tok... tok... tok...
Perempuan cantik; tinggi, dan kelihatan capek membukakan pintu. "Ya" Cari siapa"" suaranya lembut tapi juga kedengaran capek.
"Saya... saya mau cari... Kaya."
Mata perempuan itu kelihatan kaget. Menatap Inta dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. "Kamu siapa" Di mana kamu kenal Kaya""
Nggak jelas kenapa perempuan itu menangis sesenggukan waktu Inta cerita siapa dia dan bagaimana dia kenal Kaya.
"Kaya di mana, Tante" Inta nggak mau ganggu Kaya. Inta cuma pengin tau kenapa Kaya tega ninggalin Inta gitu aja."
Perempuan itu berusaha mengatur perasaannya. Menghapus air matanya. "Inta, Kaya itu... bukan pelayan kafeteria."
"Ha"" "Dia pasien di sini. Pasien gagal jantung." Ternyata karena itu Kaya ada di sini. Dia pasien gagal jantung. Nggak boleh capek. Nggak bisa sekolah. Harus tinggal di RS berbulan-bulan. Bolak-balik operasi. Dia... dia sakit parah. Sekarang Inta juga tau kenapa dia begitu pucat. "Dia drop lagi... sudah seminggu ini diisolasi di ICCU."
Inta terdiam. Tak percaya.
Kaya terbujur di ranjang di balik kaca tebal ruang ICCU. Segala macam slang menempel di tubuhnya. Jarum-jarum menusuk kulitnya. Detektor jantung, oksigen, semua bekerja keras menopang hidup Kaya. Apa itu Kaya yang sama yang Inta kenal dan temui setiap hari hampir dua bulan belakangan ini" Yang dalam waktu singkat jadi pa
carnya"! "Dia sering keluar diam-diam. Badannya nggak kuat," ujar tante cantik yang ternyata mamanya Kaya itu pelan.
Inta menunduk dalam. "Maafin Inta, Tante, Inta nggak tau. Inta..."
Jemari halus mama Kaya membelai rambut Inta. "Bukan salah kamu. Kalo Kaya begitu ngotot untuk terus nemuin kamu, berarti dia memang bahagia bisa ketemu kamu."
Inta semakin terdiam. Bingung harus marah atau kasihan sama Kaya.
Inna menarik napas. Lalu membuangnya pelan-pelan.
"Romantis bangeeet..." gumam Kinkin sambil memeluk-meluk boneka kura-kura bertampang sedih.
"Lo yakin nih bukan karya contekan" Zaman sekarang apa-apa dibawa ke meja hijau lho," celetuk Dara nyebelin. Dan bletuk! Langsung kena sambit kulit jeruk.
"Penasaran gue ending-nya. Pasti si Inta nungguin Kaya yang koma gitu, kan" Pilihannya si Kaya langsung mati atau malah sembuh, terus si Inta berjanji bakal jadi pendamping Kaya terus. Pasti standar deh." Kinkin nyerocos sok tau. Yang pastinya langsung dapat sambutan sadis. Timpukan benda-benda menyakitkan.
Natta melotot. "Baca aja deh! Malah sok tau, lagi!"
Mungkin ini mimpi. Mungkin juga Inta lagi berhalusinasi di siang bentong. Katanya kan kalo kepanasan bisa ada efek halusinasi. Yang jelas Inta melihat Kaya. Cowok itu berdiri di depan gerbang sekolahnya, di bawah pohon besar yang rimbun.
"Inta." Ini bukan mimpi. Kalo mimpi kenapa Kaya bisa menyentuh Inta" Dan cewek-cewek gaul bermulut silet itu kelihatan sibuk bisik-bisik sambil menatap Inta sinis. tapi menatap Kaya ngiler. Berarti mereka bisa lihat Kaya, kan" Jadi ini bukan mimpi, halusinasi, atau fatamorgana. "Ka... Kaya" Kok kamu ada di sini""
Diikuti pandangan sinis dan bisik-bisik tetangga yang heboh seberisik arisan ibu-ibu tawon, Inta dengan patuh mengikuti langkah Kaya waktu cowok itu meraih tangannya, menggandungnya masuk ke taksi yang menunggu. Memang bukan waktunya, tapi Inta sedikit senang melihat cewek-cewek rese itu sirik menatapnya dan membuktikan dengan mata kepala mereka sendiri Kaya itu betul-betul ada.
"Kamu udah tau semuanya, Ta." Setelah beberapa saat saling diam, akhirnya Kaya berkata dengan suara pelan. "Maafin aku, ya..."
Inta diam. Maaf untuk apa" Untuk identitas palsunya" Untuk pura-pura sehat"
"Semoga kedatanganku ke sekolah kamu tadi bisa bikin temen-temen kamu yang usil itu diem," ujar Kaya lagi. Dia betul-betul bisa baca pikiran orang, ya" Apa dia tau Inta puas banget melihat tampang cewek-cewek usil itu"
"Makasih. Tapi Kaya, kamu kan... kok kamu bisa keluar" Kamu kan... kita mo ke mana""
"Aku mau ngajak kamu kencan. Begitu kan harusnya orang pacaran" Kita nonton yuk""
Inta menatap Kaya bingung. "Kencan" Nonton" Tapi badan kamu kan... jantung kamu..."
Kaya menggenggam tangan Inta. "Aku pengin berkencan dengan kamu."
Inta diam. Dia juga pengin.
"Wih, adegan menggenggam tangan nih. Biar bisa mesra-mesraan sama Ditto, ya" Lagian kalo bukan lo yang meranin, emangnya lo rela yang pegang-pegang tangan Ditto bukan elo"" ledek Inna. Dia amat, sangat meragukan kemampuan akting Natta. Secara temannya ini cuma disuruh jadi protokol upacara aja bisa nyaris pipis di celana.
Natta manyun. "Yang penting selama proses latihan dan syuting gue bakal deket sama dia. Dan dia pasti bakal berterima kasih dapet peran yang keren dan membangun imej."
"Dasar niaaaat..." sindir Kinkin.
"Mending sekarang lo rajinin doa aja. Yang penting menang dulu," celetuk Dara seperti biasa. Menjatuhkan mental lawan. Kalo ada lomba debat, Dara nggak perlu ngomong, cukup nyeletuk. Dan si lawan bakal nangis bombay capcay ala India karena sakit hati sama celetukan mautnya.
"Pada bawel ah. Mo baca sampe selesai nggak nih" Kalo nggak matiin aja nih laptop-nya," ancam Natta penuh kekekian.
"Ampun... ampuun... lanjut deeeh... lanjuttt..." Kinkin buru-buru merebut mouse.
"Kamu yakin nama kamu nggak kamu cantumkan di buku kumpulan puisi ini""
Inta menggeleng. "Nggak, Mbak Tia. Itu memang bukan karyaku. Aku cuma ngebantu Kaya ngewujudin mimpinya. Buku kumpulan puisi ini betul-betul milik Kaya."
Mbak Tia, edi tor di perusahaan penerbitan yang bakal menerbitkan kumpulan puisi Kaya, tersenyum kalem. "Puisi-puisi Kaya bagus banget. Pembaca bisa merasa dekat sama dia biarpun nggak kenal sama Kaya. Puisinya pasti membekas di hati pembaca. Apalagi yang lagi jatuh cinta."
Akhirnya aku bisa bantu kamu wujudin mimpi kamu, Kay. Karya kamu bakalan terbit dan beredar di seluruh toko buku di Indonesia. Biarpun kamu harus hidup di rumah sakit, nggak bisa bersosialisasi seperti remaja lainnya, karya kamu nggak kalah hebat sama orang-orang yang sehat. Tekad hidup kamu, perjuangan kamu... ada hasilnya. Kalo kita mau, bahkan berkhayal pun, ada gunanya.
*** "HUAAAAAAAAAAAA!!! Seru banget, Kaaaaaayy!!!" Inta mengangkat tangan tinggi-tinggi. Menikmati angin yang menerpa mukanya waktu bannya meluncur cepat turun dari ketinggian di atas seluncuran menuju kolam renang di bawahnya.
BYURRRRRRRR!!! Inta menatap langit puas. Akhirnya mereka bisa juga pergi ke Waterboom.
Sambil tersenyum lebar Inta menatap Kaya, tepatnya foto Kaya sedang tertawa lebar yang sudah basah kuyup karena digenggam Inta selama meluncur tadi. "Gimana rasanya, Kay" Dua impian terbesar kamu udah tercapai. Kamu seneng kan, Kay" Maaf ya, Kay, aku cuma bisa segini aja. Kamu udah bikin hidupku lebih ceria dengan jadi teman dekatku. Ini yang bisa aku kasih buat kamu sebagai balesannya..." bisik Inta pada cowok yang tersenyum lebar di foto itu. "Aku bener-bener bersyukur pernah kenal sama kamu. Punya seseorang yang bisa nerima aku apa adanya. Kamu juga udah bikin aku keluar dari persembunyianku. Kamu udah mengubah hidupku, Kay."
Belaian sayang mendarat di rambut Inta.
"Makasih ya, Inta, udah mewujudkan impian-impian Kaya." Tante Dinna-mama Kaya.
Inta tersenyum. "Makasih ya, Tante udah nganterin aku jauh-jauh ke Jakarta buat berenang."
Tante Dinna mengangguk. "Itu juga kan demi Kaya. Dia pasti tersenyum di atas sana. Mulai sekarang kamu juga anak Tante, Inta."
Inta mengangguk. Hidupnya betul-betul berubah sejak kepergian Kaya. Sedihnya yang hebat akhirnya bisa berlalu. Sekarang Inta bukan lagi Inta penyendiri yang dulu. Sebagai wakil Kaya untuk kumpulan puisinya, Inta jadi lebih mengenal dunia luar. Talkshow di mana-mana, penandatanganan buku, berbagi pengalaman, dia jadi banyak teman. Terima kasih, Kaya. Mungkin kamu salah satu malaikat yang dikirim Tuhan buat Inta. Untuk mengubah hidup Inta-oh ya, dan makasih juga untuk kencan pertama dan terakhir kita.
"Lo nangis, yaaaaaaa"! Gila lo, Nat, lo pasti udah baca ni naskah berulang kali, kan" Masa masih nangis sih" Lagian ini kan lo yang bikin. Dasar tukang mengkhayal! Lo pasti terlalu mendalami peran deh," cerocos Kinkin yang memergoki Natta mengusap air matanya. Padahal kalo aja dia tau ini karya emas Kenzi, cowok yang mereka kira nggak pernah ada dalam kehidupan Natta, mereka pasti kaget. Apalagi kalo tau cerita hidup Kenzi. Bisa pingsan mereka.
Natta menjawil hidung Dara. "Eh! Lo nangis juga, ya" Gile, si nyinyir nangis!!"
Dara manyun. "Kelilipan debu buku, tau! Siapa juga yang nangis."
"Sekalian aja kelilipan tatakan piring! Terharu aja nggak mo ngaku," ledek Inna. "Tapi, Nat, asli, ini keren banget."
Kinkin mengangguk setuju. "Iya, keren. Nggak nyangka gue, daya khayal lo yang dahsyat berguna juga. Semoga menang nih!!!"
Amin, gumam Natta dalam hati.
Tmn2 q blg, naskahnya bgs bgt!
Mrk yakin naskah kt ada ksmptn menang.
Thx ya, Ken... - Natta - Wah... dipuji aj ak udh seneng bgt!
Ak doain deh spy menang. Spy cita2 km kesampean. - Kenzi - + + + _Dua Puluh Empat_ SLUUURRPPP!!! Mie ayam kantin sebenarnya nggak istimewa-istimewa banget, tapi kalo lagi jam istirahat dan cacing perut lagi pentas congdut alias keroncong dangdut, rasanya jadi mie ayam paling enak setanah airku deh!
Dengan nikmat Natta menyeruput lembaran mie kenyal berlumur saus tomat itu.
"Lo nggak niat ikut casting bintang iklan mie rebus"" Dengan takjub Kinkin menatap Natta yang menyeruput mienya ala Luna Maya di iklan mie rebus yang berseliweran di TV. Menurut Kinkin iklan itu rada aneh.
"Um" Slur rrrp!-Saingan sama Luna Maya dan Titi Kamal" Seruputan gue harus maut banget dong, ya""
Inna cekikikan. Kayak apa tuh seruputan maut" Sekali seruput satu mangkuk mie habis nggak pake putus"! Bisa monyong dong.
Slurrrrp! "Natta"" Sluuurr... "UM"!" Pose melongo Natta dengan sedikit ujung mie yang belum masuk menggantung betul-betul jijay dan menjatuhkan pasaran banget. Secara yang memanggil namanya dan berdiri di depan meja mereka sekarang adalah Ditto. Sang pujaan hati.
"Selamat ya." SLUUURP! "Ha-Selamat"" Natta merasa bibirnya bengkak dan penuh kuah mie ayam sampe dia betul-betul nggak pede dan salah tingkah menjilat-jilat bibirnya sendiri.
Ditto mengangguk sambil tersenyum. "Naskah kamu masuk lima besar. Naskah kamu keren juga. Kebetulan aku salah satu jurinya. Yah, secara aku juga aktif di teater, gitu."
WAH!!! "Serius"! Naskahku masuk lima besar"!" Mendadak perut Natta kayaknya muat buat dua mangkuk mie ayam lagi saking hepinya. Kegirangan bisa bikin kantong perut Natta membesar dua kali lipat.
"Serius lah. aku salah satu yang ngasih poin bagus buat naskah kamu. Aku suka karakter-karakternya," puji Ditto dengan tampang sumringah.
Waaaaaaaaaah! Natta mengangkat tangan tinggi-tinggi. "YESSS!" lalu melompat naik ke meja kantin, si kayu panjang bobrok dan bangkotan seumuran nenek-nenek gondrong.
Saking girangnya, Natta betul-betul nggak bisa lagi ngontrol diri. Dari atas meja, dengan heboh Natta menebar kiss bye bertubi-tubi ke seluruh penjuru kantin diiringi nyanyian "Weeee are the champion, my frieeeeend..."
Duk! Natta mengerjap-ngerjapkan mata kesakitan. Nyelekit banget rasanya kena sikutan siku tajamnya Inna. "Ngelamun!" desis Inna.
Ditto masih berdiri di situ dengan senyum lebar.
"Anu... makasih... makasih ya, udah ngasih tau," kata Natta grogi.
"Nanti pengumumannya bisa kamu liat di mading kok. Setelah lima besar kami bakal rapat lagi untuk menentukan tiga naskah terpilih. Tapi bener lho, aku suka karakter dan cerita naskah kamu. Unik."
Bibir Natta kayak otomatis tersenyum. Gila! Dia dipuji Ditto!!! Gila! naskahnya masuk lima besar!!!
"Dit, ngapain di sini""
Yah! Bebek ganjen dateng lagi. Siapa lagi kalo bukan Oik! Males banget. Langsung gelayutan manja gitu. Udah kayak siap melengkungkan janur kuning sama nanggep wayang buat pesta kawinan aja.
Ditto menoleh menatap Oik, lalu tersenyum muaniiis sekali. "Hai, Ik. Ini, aku kebetulan liat Natta di sini. Sekalian aja aku kasih tau naskah dia masuk lima besar."
Oik menatap Natta agak-agak sinis. "Oh," katanya pendek. "Sekarang udah dong""
Ditto mengangguk. "Udah. Aku juga udah kasih tau dia buat liat pengumumannya di mading."
"Kalo gitu temenin aku beli penggaris dong ke koperasi," pinta Oik manja. Ih, ngeselin! Kayak sengaja gitu.
"Oke deh, Nat. Aku jalan dulu ya. Beneran lho, aku suka banget cerita dan karakter di naskah kamu itu," puji Ditto lagi, bikin Natta nyaris-nyaris mengkhayal lagi berjalan di red carpet buat nerima Oscar untuk kategori skenario terbaik.
Natta melongo dengan tampang idiot menatap Ditto yang tersenyum MUANIS lalu pergi bersama Oik.
"Anu... DITTO, TUNGGU!" pekik Natta memanggil Ditto yang bukan cuma bikin Inna bingung, Kinkin meringis ngeri, dan Dara menutup bukunya dengan barbar, tapi juga sukses bikin Ditto dan Oik yang udah agak jauh berhenti mendadak.
Ditto berdiri di tempatnya, menunggu Natta yang berlari-lagi kecil menuju ke arahnya. "Ada apa""
"Eng... kalo naskahku kepilih, eng... aku... aku mau minta kamu jadi pemeran utamanya. Mau nggak"" Fiuuuuuhhh! Natta lega banget serasa baru aja ngeden habis-habisan di WC melepas beban kehidupan.
Mendengar "lamaran" Natta, Ditto melempar senyum terlebar yang pernah ada di muka bumi ini. Senyum yang lebih mekar daripada bunga bangkai di Kebun Nantaa Bogor. "Aku mau banget."
WUAAAAAAAHHH! Ini hari paling menyenangkan yang pernah Natta rasakan selama memakai seragam putih abu-abu.
*** "Waahh, liat, Ken, Menara Eiffel!!!"
Kenzi menatap ke luar jendela pesawat, ke arah yang ditunjuk Natta.
"Kita harus fo to-foto di sana. Bukti kalo kita pernah ke Paris!"
Tung, tung, tung! Tanda mengencangkan sabuk pengaman, dilarang merokok, dan koar-koar pramugari menyuruh mereka menegaDitn sandaran kursi menyala, tanda pesawat bakal segera mendarat.
"Duuuh... cuaca buruk nih. Kok mo mendarat pesawatnya goyang-goyang gini" Nggak boleh pipis, ya""
"HAHAHAHA!" Kenzi ngakak.
Kenyataannya mereka sekarang lagi duduk di bangku favorit mereka di taman sambil sama-sama berkhayal lagi ada di dalam pesawat menuju Paris.
"Mengkhayalnya kejauhan, tau!" Kenzi berhenti menggoyang-goyang kursi yang menciptakan efek turbulance tadi.
Natta mencibir. "Namanya juga berkhayal. Jauh-dekat sama aja."
"Emang angkot" Tapi seru juga ya kalo bisa masuk festival film di Paris" Pastinya dong kita foto-foto."
Natta mengangguk. "Ahhh... tapi kalo kamu sih bisa-bisa aja kan ke Paris. Papa kamu kan kaya. Minta aja liburan gitu."
"Kamu mo ikut""
"Ih, males amat berduaan sama kamu."
Kenzi cekikikan geli. "Yakiiin nggak mo ke Paris gratisan""
"Wek! Nggak!" "Jadi... seneng dong Ditto udah selangkah lebih dekat""
Natta menatap langit sambil nyengir konyol. "Bukan cuma selangkah, Viiin... ini udah nyebrang jembatan San Francisco namanya. Kebayang nggak siiih, gimana asyiknya proses syuting nanti""
Kenzi menatap Natta jail. "Kebayang banget. Pasti kamu keganjenan berat deh."
"Biarin! Kamu berdoa dong, Viiin, supaya kita masuk tiga besar. Selangkah lagi niiih."
Tiba-tiba Kenzi memegang bahu Natta dan menghadapkan Natta padanya. "Perhatiin muka aku..."


Imajinatta Karya Mia Arsjad di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Natta mengernyit bingung. "Ngapain kamu" Belajar hipnotis" Sori ya, dompetku nggak ada isinya."
Kenzi geleng-geleng. "Liat baik-baik... muka aku pucet gini, mata berkantong, bibir kering... ini semua gara-gara aku berdoa habis-habisan tiap hari sampe malem buat kemenangan naskah kita."
Natta melongo. Lalu cengengesan. "Itu sih kamunya aja kekurangan vitamin! Panas dalem!" Tapi Kenzi memang kelihatan pucet dan kuyu banget hari ini. Kayak mayat hidup aja. Palingan juga begadang nonton bola. Sok berdua habis-habisan tiap malam segala.
"Tapi bener lho aku doain," kata Kenzi lagi, berusaha meyakinkan.
"Iya, iya, percaya. Eh, Ken, kamu asisten sutradaranya lho!"
Mata Kenzi berubah sayu. Oh iya ya, Kenzi nggak mungkin bisa terlibat kegiatan syuting kayak gitu. Nggak kebayang gimana hebohnya kalo beneran pas lagi syuting para penculik atau penembak jitu berseliweran mengincar Kenzi. Bisa-bisa itu lebih seru daripada film yang mereka bikin. "Tapi aku bakal ikut ngawasin kok. Dari sana," Kenzi menunjuk langit.
Dari langit" Kok" Memangnya Kenzi mau mening-
"Woi! Kok mukanya jadi sedih gitu" Hahaha! Pasti kamu sangka aku bakal jadi roh yang melayang-layang nontonin kamu syuting dari awan, ya" Ngekhayalnya kejauhan tuh. Maksudku, aku bakal sewa helikopter buat muter-muter di atas sana biar aman."
Natta menaiDitn alis. "Itu lebih mengkhayal lagi."
Kenzi terkekeh-kekeh geli. Dia seneng banget godain Natta. Habis reaksinya itu lho... suka berlebihan. "Suatu saat kalo novel aku terbit dan jadi bestseller, baru deh terbukti kalo khayalan itu sangat berguna."
"Lho, ini aja udah bukti, tau. Naskah kamu masuk lima besar."
Tangled 5 Misteri Lukisan Tengkorak Seri 4 Opas 4 Warriors Karya Wen Rui An Ilusi Illusion 2
^