Pencarian

Miss Pesimis 3

Miss Pesimis Karya Alia Zalea Bagian 3


Tapi bagaikan tidak mendengarku, Baron melanjutkan penjelasannya. Aku
kelimpungan waktu tahu kamu berangkat ke Amerika, jauh banget, aku nggak bisa
ngejar. Aku pernah nyoba beberapa kali untuk cari tahu informasi tentang kamu,
tapi aku terlalu gengsi untuk nanya ke teman-teman kamu, dan itu memang salah
aku, aku akui itu, tapi aku mau memperbaiki itu semua. Kalau aku tinggalin Olivia,
apa kamu mau sama aku"
Holy shit. He loves me, NOT loved , untuk masa lalu, he loves me, with an s ,
untuk saat ini. Tapi ketika kalimat terakhirnya dapat dicerna oleh otakku di antara katakatanya
yang lain yang membuat hatiku berbunga-bunga, rasa bungah itu hilang
dalam sekejap mata. Oke, stop, stop sekarang juga. Kamu nih ngomong apa
sih" teriakku panik.
Tanpa kusangka-sangka Baron kemudian menggenggam tanganku dan
mencoba mencari suatu kepastian dariku. Tiba-tiba kulihat Nadia sedang berjalan
cepat ke arahku. Dri, Dri, eh, gue harus pulang nih. Kafka sudah jemput.
Nadia berhenti beberapa langkah dari hadapanku. Tatapannya jatuh ke tangan
kananku yang sedang digenggam erat oleh Baron. Aku yakin Nadia juga tidak
ketinggalan melihat wajah kami berdua yang merah padam. Dengan rasa bersalah
aku buru-buru melirik ke jam tanganku yang sudah menunjukkan jam 00.10, buruburu
kutarik tanganku dari genggaman Baron.
Gila, gue sangkain masih jam sebelas. Ya sudah, say hi ya buat Kafka. Aku
bergegas berdiri dan melangkah ke arah Nadia, memeluk dan mencium pipinya.
Telepon gue besok, atau gimana kek, minggu depan mungkin kita bisa jalan lagi.
Nadia hanya berdiri terpaku beberapa saat tanpa reaksi. Dan situasi menjadi
semakin parah ketika Dara muncul sambil meneriakkan namaku. Dri... Nih dia
anaknya, dicariin dari tadi sama Jana, dia mau pulang, gue juga sudah capek.
Ketika Dara sadar bahwa Baron sedang berdiri di belakangku, dia terdiam dan
memberikan pandangan penuh tanda tanya kepada Nadia yang hanya mengangkat
bahu. Kemudian kurasakan tangan Baron di leherku. Otomatis aku langsung
merinding. Dan aku yakin itu bukan gara-gara angin sepoi-sepoi yang tiba-tiba
bertiup. Dri" tanya Dara padaku sambil menatap Baron dengan penuh cirga.
Kamu sudah mau pulang" tanya Baron padaku dan tidak menghiraukan
tatapan curiga dari Dara.
Nggak, eh... iya, aduh... Aku terbata-taba. Lalu aku menghitung sampai tiga
dalam hati sebelum berbicara lagi. Jana yang antar aku ke sini, kalau aku nggak
pulang sama dia, nanti aku nggak bisa pulang, jawabku.
Saat itu juga Jana muncul sambil melambai-lambaikan tangannya memanggilku
dan Dara. Woi... pulang yuk, teriaknya.
Pada saat yang bersamaan aku melihat serombongan teman Baron memandang
ke arahku karena teriakan Jana yang cukup keras itu.
Aku bisa antar kamu pulang kalau misalnya kamu belum mau pulang, tibatiba
Baron berkata, yang tentunya membuat aku, Dara, dan Nadia kaget.
Pada saat itu kulihat Jana berjalan ke arahku. Sudah siap" Ketika dia melihat
bahwa aku sedang berdiri dengan Baron, Jana pun mencoba untuk menaturalkan
suasana. Eh, elo, Ron, masih ngobrol saja sama Adri.
Baron melemparkan senyumannya, karena dia tahu Jana hanya mencoba untuk
meringankan suasana. Tapi dia ngedrop bom terakhirnya yang paling dahsyat.
Kalau lo pada suah mau pulang, gue bisa antar Didi nanti, ucap Baron tanpa
berkedip ketika menatap Dara, Jana, dan Nadia.
Lidahku langsung kelu, kerongkonganku kering, perutku terasa mual dan aku
tidak bisa bernapas. Jana yan gmasih belum sadar apa yang terjadi hanya tersenyum
bingung. Nggak apa-apa kan kalau sobat lo gue pinjam malam ini" tanya Baron lagi
dengan penuh harap pada Dara.
Aku memandang Baron tidak percaya, dalam hati aku berkata, Are you kidding
me" Gimana, Dri" tanya Dara.
Aku terdiam. Aku harus membuat pilihan. Di satu sisi aku tahu bahwa
pembicaraanku dengan Baron masih jauh dari kata Selesai . Tapi di sisi lainnya
aku tidak berani untuk sendirian dengan Baron. Aku tidak bisa memercayai diriku
sendiri untuk tidak melakukan hal-hal yang akhirnya akan kusesali seumur hidup.
Oke, terakhir kali aku hanya berdua dengan laki-laki yang bukan pacar atau
anggota keluargaku, itu tidak berakhir buruk. Mudah-mudahan yang ini juga sama,
pikirku dalam hati. Di" tanya Baron lagi.
Jana kemudian mencairkan suasana dan berkata, Ya sudah, lo antar Adri
pulang sampai pintu rumahnya ya, awas kalau nggak, dengan nada bercanda tapi
penuh ancaman. Sebelum aku bisa berkata apa-apa lagi, Jana, Dara, dan Nadia sudah berlalu,
meninggalkanku dengan Baron sendirian.
Yuk, ucap Baron pelan sambil menggandengku menuju mobilnya yang
diparkir tidak jauh dari situ.
Kami baru saja berjalan beberapa langkah ketika aku mendapat ide cemerlang.
Ron, aku ke kamar mandi sebentar ya. Aku langsung berlari ke dalam restoran
dan masuk ke kamar mandi. Aku mengunci diriku di salah satu stall dan duduk di
atas to ilet. Oh my God, what have I done" ucapku pelan pada diriku sendiri.
Kutenggelamkan wajahku di antara kedua belah tangan. Dalam kebingungan
sempat terlintas ide untuk melarikan diri, tapi ketika aku mengintip ke luar untuk
memastikan apakah aku bisa lari ke pintu keluar tanpa terlihat oleh Baron, ternyata
dia sedang menungguku di depan pintu WC wanita.
Sialan! Tidak mungkin! Akhirnya setelah mencoba menimbang-nimbang solusi lain dan tidak
mendapatkannya, aku mengaku kalah dan melangkah ke luar kamar mandi dengan
wajah pura-pura sakit perut.
Ron... aku kayaknya mendingan pulang deh, soalnya perutku sakit. Mungkin
tadi aku salah makan. Baron memandangku dengan tatapan curiga. Dri, kamu pernah pakai alasan
itu waktu kita masih SMP supaya kamu nggak usah diantar pulang sama sopirku
sehabis Prom. Sekali lagi Baron membuatku terkejut. Memang malam Prom itu Baron
menawarkan untuk mengantarku pulang karena sebagai panitia, aku, dia, dan
beberapa anak lainnya terpaksa pulang lebih lambat. Meskipun ada sopir yang
menjemputnya, tapi aku tetap merasa takut berada sendirian di bangku belakang.
Akhirnya aku meminta bapakku menjemputku.
Waktu itu kamu aku lepas pulang sendiri, walaupun alasan kamu nggak
masuk akal. Kalau aku tahu malam itu malah terakhir aku ketemu kamu selama
lebih dari sepuluh tahun berikutnya, aku nggak akan ninggalin kamu. Sekarang
kamu harus ikut aku, ayo, nggak pakai alasan-alasan lagi. Dan dengan begitu
Baron menggeretku ke mobilnya.
Dalam perjalanan ke mobil kami berpapasan dengan beberapa teman Baron
yang memberikan pandangan tidak suka dan penuh curiga.
So i wasn t the most popular kid in school. Big deal.
Ron, mau ke mana lo" Eh, itu anak orang mau lo kemanain" tanya Irene, salah
satu mantan pacar Baron. Ron, Oli ke mana, Ron" tanya seseorang lagi.
Beberapa pertanyaan lain dilontarkan oleh teman-teman Baron yang tidak
digubris sama sekali olehnya. Dia tetap menggenggam tanganku dan hanya
melambaikan tangan pada teman-temannya.
Beberapa saat kemudian aku menemukan diriku sedang dalam perjalanan
menuju Tangerang. Setelah aku sadar bahwa Baron tidak akan membuka
pembicaraan, aku berkata, Ron, kita mau ke mana" tanyaku pelan.
Makan, jawabnya pendek. Tapi kita baru makan, ucapku bingung.
Ya kita makan lagi, balasnya.
Kami kemudian berdiam diri lagi. Akhirnya, bosan dengan kesunyian aku
menanyakan satu hal yang sudah menggangguku semenjak malam kami bertemu di
Hard Rock. Ron, kamu sama Oli baik-baik saja, kan" tanyaku pelan.
Tiba-tiba tanpa disangka-sangka Baron memotong jalur ke kiri menuju tempat
peristirahatan tol. Kemudian dia menghentikan mobilnya di bawah salah satu
lampu neon besar yang menyinari pelataran rest stop itu. Ketika dia mematikan
mesin mobil kupikir dia mau ke toilet, tapi ketika dia tidak beranjak dari kursinya,
aku jadi bingung. Rest stop itu terlihat sepi, hanya ada sekitar tiga mobil lain yang
parkir cukup berjauhan dari mobil kami.
Ehm... Aku mencoba untuk menanyakan kenapa dia berhenti tanpa sebab.
Aku nggak mau ngomongin Oli lagi. Aku mau ngomongin tentang kita. Kamu
tuh bikin aku gila, tahu nggak"
Aku tidak ingat persis apa yang terjadi, tiba-tiba aku dapat merasakan Baron
mencium bibirku dengan paksa, tangan kirinya mencengkeram leherku dan tangan
kanannya sudah ada di atas pahaku yang untungnya tertutup celana jins.
Karena terlalu kaget selama beberapa detik aku tidak berbuat apa-apa.
Ciumannya terasa sangat terburu-buru, aku tidak terbiasa dengan jenis ciuman
seperti ini. Aku bisa merasakan lidah Baron di seluruh mulutku dan kedua
tangannya di sekujur tubuhku. Aku mencoba menjaga mulutku agar tetap tertutup.
Tapi kemudian tangan kanannya masuk ke bawah kausku dan semua pertahananku
hilang. Aku buka mulutku dan merasakan lidah Baron bersentuhan dengan lidahku.
Kedua tanganku melingkari lehernya dan menariknya untuk lebih dekat denganku.
Aku dapat merasakan kulit tengkuk Baron terasa agak basah.
Dari bibirku Baron mengalihkan ciumannya ke arah leher dan aku bisa
merasakan giginya di leherku. Meskipun tidak keras, tapi aku yakin besok aku
harus pakai turtle ne ck, kalau tidak, semua orang bisa lihat bekasnya. Tubuhku mulai
terasa gerah, seperti aku sedang berdiri terlalu dekat dengan api unggun. Entah
suara-suara aneh apa yang kukeluarkan ketika menciumnya, tapi aku bisa
mendengar geramannya ketika aku mulai menggunakan lidahku untuk
merasakannya. Baru aku sadar, sudah terlalu lama aku menghabiskan waktuku
tanpa mencium orang yang aku betul-betul suka. Minus Ervin, karena itu bukan
ciuman, tapi kecelakaan. Ketika teringat Ervin, pikiran bersalah muncul di benakku. Stop, aku tidak boleh
seperti ini. Ciuman tidak akan menyelesaikan masalah. Aku mencoba untuk berpikir
jernih. Stop, aku mencoba mengatakan kata itu di antara ciuman Baron yang semakin
tinggi intensitasnya. Aku mencoba menekan dadanya agar menjauh, tapi rupanya
itu justru malah membuatnya menciumku lebih dalam lagi. Jujur saja, aku rasanya
sudah mau gila. Aku mau berteriak slow down, this is going too fast. Alhasil yang
keluar adalah, Stop, aku berkata lagi dengan lebih keras.
No!! Kudengar suara Baron di antara napasnya yang semakin memburu.
Aku kemudian mendorong bahunya sekuat tenaga, sambil berteriak. Aku
bilang stop. Baron melepaskan cengkeramannya pada leherku dan menarik
tangannya dari kait braku yang sudah berhasil dia lepas. Dia terlihat shock. Aku
mencoba menarik napas, begitu juga dia. Aku mengambil napas dalam-dalam
sebelum berkata, What the hell are we doing"
Di... Baron mencoba berbicara.
Aku menatap wajahnya yang terlihat agak-agak marah, bersalah, tersinggung,
bingung, dan sedih. Bibirnya yang selalu kemerah-merahan sekarang lebih merah
lagi karena ciumanku. Did I do that" tanyaku pada diriku sendiri.
Rambutnya yang tadinya rapi, kini agak berantakan. Tanpa sadar ternyata aku
sudah membuka semua kancing di kemeja hitamnya yang tadinya tertutup rapat.
Untung kausnya masih terpasang. Aku yakin penampilanku tidak jauh berbeda
dengannya. Kualihkan perhatianku dengan mencoba untuk merapikan rambutku
menggunakan jari-jariku dan memasang kait braku kembali. Baron pun merapikan
kemeja dan rambutnya. Bisa antar aku pulang, Ron" tanyaku walaupun nadaku lebih seperti perintah
daripada permintaan. Tiba-tiba terbayang wajah Olivia di kepalaku. Dalam hati aku
memohon maaf kepada Olivia karena telah melakukan hal yan gbisa menyakitkan
hatinya kalau dia sampai tahu. Aku berterima kasih kepada Tuhan karena telah
menyadarkanku. Sejujurnya, kalau aku membiarkan diriku, entah apa yang sudah
kukerjakan. Bagaimana mungkin hanya karena Baron, aku hampir rela melepaskan
keperawananku. Di mobil, pula. Rasa marah mulai muncul ketika aku sadar bahwa
kelihatannya ini bukan pertama kalinya Baron melakukan hal ini di mobil. Perutku
langsung terasa mual. Kurasakan Baron menarikku ke pelukannya dan berkata sesuatu yang akhirnya
bisa kudengar dengan jelas. I m sorry, I m sorry, I m sorry... Dia mencium keningku
dan memelukku semakin erat.
Aku mengistirahatkan kepalaku di dadanya, aku dapat mencium aroma
tubuhnya yang khas. Aroma yang kucintai karena aku mencintainya. Aku
merasakan jantungnya masih berdetak lebih cepat daripada biasanya.
Aku antar kamu pulang, bisik Baron pelan.
Aku mengangguk. Baron pun melepaskan pelukannya dan men-starter mobil.
Kami tidak berbicara sepatah kata pun dalam perjalanan pulang ke rumahku. Aku
hanya bersuara untuk memberikan arah.
Aku telepon kamu besok, ucap Baron ketika aku akan melangkahkan kakiku
keluar dari mobilnya setibanya kami di depan rumahku.
Aku hanya menggeleng tanpa menatap Baron. Aku masih mencoba mencerna
kejadian sejam yang lalu. Aku bingung, apa sebenarnya arti semua ini"
Baron menarik bahuku dan memaksaku menatapnya. Camkan ini, Di, aku cinta
kamu. Lalu Baron melepaskanku.
Oh my God. I am sooooo screwed.
13. CEMBURU KETIKA HP-ku berbunyi tepat tujuh jam kemudian, aku sedang bermimpi bahwa
Baron dan aku berada di tengah-tengah taman Suria KLCC di Kuala Lumpur. Ada
banyak orang di sekitarku yang menghitung mundur, seven, six, five, four, three, two,
one... Happy New Year. Aku mendengar bunyi terompet yang ekstra keras. Anehnya
bunyi terompet itu tidak berhenti,
tapi justru bertambah keras. Saat itu aku pun
terbangun, dan sadar bahwa itu bukanlah bunyi terompet, tapi bunyi HP-ku.
Dengan malas aku mencoba membuka mata. Kubiarkan panggilan itu masuk ke
voicemail sembari melirik beker yang terletak di samping tempat tidur. Jam sudah
menunjukkan pukul sebelas siang. Aku merasa itu masih terlalu pagi untukku. Aku
berniat untuk tidur hingga tengah hari. Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu, dan
buru-buru meloncat dari tempat tidurku, berlari mengambil handuk dan masuk ke
kamar mandi. Perjalanan menuju Pondok Indah yang ditemani lagu-lagu yang dilantunkan
My Chemical Romance membantuku menjernihkan pikiranku yang sedang campur
aduk. Aku memikirkan tentang Baron dan Oli. Baron mengatakan bahwa dia mau
meninggalkan Oli untuk aku. Tapi apa mungkin" Senekat-nekatnya Baron, tidak
mungkin dia senekat itu. Beberapa bulan yang lalu memang aku sempat berpikir
bahwa aku mau melakukan apa saja untuk mendapatkan Baron, termasuk sampai
harus menyakiti Olivia. Tapi sekarang, setelah ada tawaran itu dari Baron, aku tidak
berani dan tidak tega. Aku bukan hanya takut terkena karma, tapi karena aku suka
pada Olivia, orang baik yang lembut dan penuh kasing sayang. Aku tidak mau
menyakiti hatinya. Olivia tidak pernah berbuat apa pun yang menyakiti hatiku. Dia
berhak mendapatkan lebih baik dari itu.
Tapi Baron juga mengatakan bahwa dia mencintaiku. Is that true" Jujur saja,
secara fisik mungkin aku masih tertarik dengannya, karena oh my God, he is such a
good kisser. Aku tidak akan berkeberatan kalau setiap pagi dicium olehnya. Tapi
ketertarikan fisik saja tidak cukup untuk membangun hubungan serius.
Tepat pukul satu siang aku memasuki pelataran parkir PIM. Karena hari itu
adalah hari Minggu, hampir seluruh penghuni Jakarta sepertinya sedang ada di
PIM. Tiba-tiba aku melihat ada tempat parkir kosong, buru-buru aku melaju menuju
tempat parkir itu. Ketika aku sedang mencari tasku setelah parkir, seseorang
mengetuk kaca mobilku. Orang itu ternyata Sarah. Dia melambaikan tangannya
kepadaku. Aku buru-buru keluar dari mobil dan memeluknya.
Sori, telat ya, ucapku buru-buru.
Nggak apa-apa, aku juga baru sampai. Jalanan macet banget, balas Sarah.
Kamu parkir di mana"
Oh, tuh di sana. Sarah kemudian menunjuk ke arah sebuah sedan berwarna
hitam. Ketika melihat mobil itu otomatis tubuhku langsung jadi kaku.
Itu kan mobil Ervin, dalam hati aku berkata.
Melihat reaksiku yang tiba-tiba terdiam, Sarah membalas. Tenang, Mbak, itu
bukan mobil Ervin kok, itu mobil Mama.
Hah" Apa" balasku terbata-bata.
Sarah hanya memandangiku sambil mengulum senyum.


Miss Pesimis Karya Alia Zalea di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ketika aku perhatikan lebih saksama, mobil itu berwarna maroon bukan hitam.
Aduh, sepertinya aku mulai berhalusinasi lagi.
* * * Kami lalu menuju ke arah food court dan memesan makanan masing-masing. Aku
memilih spageti dan segelas Pepsi sedangkan Sarah dengan teppanyaki dan ice lemon
tea. Setelah kami menemukan meja kosong. Sarah pun meluncurkan rudalnya.
Mbak, Mbak kenapa sih sama Ervin"
Kenapa" Maksud kamu" aku bertanya balik, pura-pura tidak tahu sambil
mencoba untuk mencampur spagetiku dengan dua garpu.
Nggak, soalnya Ervin kok jadi gampang marah akhir-akhir ini, jawab Sarah
sambil memisahkan sumpit kayu untuk teppanyaki-nya.
Masalah kerjaan, kali, balasku sok tenang.
Kalau masalah kerjaan dia nggak akan segini cranky-nya. Cuma kalau sudah
urusan perempuan dia biasanya langsung kayak gini. Sarah memberikan
pandangannya yang menuduh.
Setelah dipikir-pikir, selama ini aku selalu bingung kenapa kok Ervin bisa
kakak-beradik sama Sarah, mereka berdua benar-benar tidak mirip. Tapi setelah
melihat tatapan Sarah, aku bisa melihat persamaan reaksi wajah Ervin pada Sarah.
Ya mana aku tahu, Sar" Kamu nggak tanya langsung saja ke orangnya"
jawabku akhirnya sambil memasukkan segulung besar spageti ke mulutku dan
mulai mengunyah. Aku sudah tanya, terus dia bilang soalnya ini gara-gara Mbak, Sarah berkata
dengan polos. Aku langsung tersedak. Buru-buru aku minum Pepsi-ku. Sarah mencoba
membantu dengan menepuk-nepuk punggungku.
Gara-gara aku" Enak saja dia nuduh,
memangnya aku ngapain" kataku,
berusaha menangkis tuduhan Sarah setelah batukku reda.
Apa gara-gara kejadian di rumah Mbak itu jadinya Mbak nggak mau terima
teleponnya" lanjut Sarah.
Kini aku benar-benar kaget dan tidak mampu berkata apa-apa.
Yep, dia cerita ke aku. Mbak kenapa mesti kaget gitu" Mbak kan tahu si Jabrik
satu tuh selalu cerita semua ke aku. Lagian juga memang sudah seharusnya dari
dulu dia ngelakuin itu. Dia sama Mbak kan selalu dekat.
Gila, kamu berdua honest banget, ya" Bukannya gitu, Sar, aku... Aku mencoba
menjelaskan situasi yang sebenarnya, tapi entah kenapa aku tidak bisa. Yang ada
aku malahan mengingat kejadian tadi pagi. Masih kuingat jelas sentuhan bibir Baron
di bibirku. Memangnya kenapa Mbak kok kayaknya nggak comfortable sama Ervin" Ada
cowok lain yang lebih ganteng dari dia, ya"
Ketika Sarah selesai mengatakan kalimatnya yang kedua, kami pun saling
pandang dan mulai cekikikan. Alhasil Sarah menyenggol gelas ice lemon tea-nya dan
tumpahlah semua ke meja dan mengalir ke lantai.
Aku buru-buru mengeluarkan tisu dari tasku, sementara bertugas mas-mas
yang membersihkan meja langsung datang untuk membantu kami membersihkan
tumpahan teh itu. Aduh, Mas, sori ya, nggak sengaja, kata Sarah sambil masih mengulum
senyum dan mencoba membersihkan tumpuahan itu. Setelah meja kami kembali
bersih dan Sarah memesan satu gelas ice lemon tea lagi, percakapan kami pun
bersambung. Gila, jangan bilang ke Ervin bahwa aku bilang dia ganteng, dia bisa-bisa
langsung superpede dan bikin aku jadi semakin pusing, ucap Sarah setelah kembali
ke meja. Aku hanya tertawa dan mengangguk untuk meyakinkan dan menenangkan
Sarah. So, gimana" Memangnya ada cowok lain" Sarah bertanya lagi.
Aku tidak menjawabnya tapi hanya menaikkan kedua alisku.
Si Thomas, ya" Sekarang aku benar-benar kaget, aku tidak menyangka Ervin cerita semuanya
ke Sarah. Aku selalu tahu Sarah dan Ervin memang dekat, tapi tidak tahu bahwa
sedekat ini. Apalagi, sampai Ervin tentang love life-nya.
Sumpah mati deh aku nggak tahu kenapa aku nyium Ervin hari itu, ucapku
akhirnya. Kini giliran Sarah yang tersedak mendengar pernyataanku. Aku lalu
melanjutkan, Don t get me wrong ya, Sar, Ervin tuh baik, hot as hell, tapi dia tipe lakilaki
yang cuma bisa jadi teman sama aku.
Aku melihat senyum terbentuk di bibir Sarah.
Kenapa kamu senyum" tanyaku.
Lalu barulah Sarah bertanya, Mbak nyium Ervin"
Kini giliranku yang melongo. Lho, memangnya maksud kamu kejadian yang di
rumahku tuh yang mana" balasku.
Mbak nyium Ervin" tanya Sarah lagi. Aku melihat bahwa Sarah berusaha
keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak.
Aku dapat merasakan mukaku mulai memerah. Aku lalu menuntut Sarah untuk
menceritakan kejadian di rumahku, versinya Ervin.
Ervin cuma cerita Mbak bilang akan ngenalin dia sama kakak Mbak, jelas
Sarah. Oh my God, oh my god, oh my god..., ucapku berkali-kali sambil menguburkan
mukaku ke kedua belah tanganku.
Dia nggak pernah cerita soal cium-mencium, lanjut Sarah.
Aku lalu memandang Sarah, menimbang-nimbang apaakha ku mau
menceritakan kejadian seluruhnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan
versiku. Interesting, tapi aku rada bingung juga kenapa Ervin nggak cerita ke aku
tentang itu, ucap Sarah setelah mendengarkan ceritaku.
I know. Jadi itu toh sebabnya Mbak nggak mau ngomong sama dia.
Aku mengangguk. Aku cuma lagi butuh waktu untuk bisa memberikan
penjelasan yang masuk akal untuk Ervin.
Kami kemudian terdiam beberapa saat dan berkonsentrasi pada makanan
masing-masing. So, terusnya gimana soal Thomas"
Kenapa tentang Baron" jawabku singkat sebelum kemudian aku sadar bahwa
Sarah sedang memancingku. Kenapa kamu tiba-tiba tanya tentang Baron" aku
balik bertanya dengan penuh curiga.
Baron" Itu siapa lagi" tanya Sarah bingung.
Aku lalu teringat bahwa Ervin tidak mengenal Baron sebagai Baron, tapi sebagai
Thomas. Baron itu Thomas, Sar, tapi aku kenal dia sebagai Baron. Baron tuh nama
tengahnya. Tapi kebanyakan teman SMP Thomas kenal dia sebagai Baron, jelasku.
Sarah lalu membulatkan mulutnya menjadi O, menandakan bahwa
dia mengerti. Jadi Mbak nggak mau nge-date sama Ervin tapi lebih prefer pining over si Tom,
eh... Baorn yang sudah tunangan"
What" teriakku. Lo dikirim sama Ervin buat nanya-nanya tentang ini"
Sarah terlihat kaget oleh reaksiku dan menjawab. Eh, nggak, lagi, aku cuma
bingung... gimana nature hubungan Mbak, Ervin, sama Baron ini.
Setelah menghabiskan suapan terakhir spagetiku, aku pun melayani
keingintahuan Sarah. Aku juga masih bingung, Sar. Tanya lagi tahun depan deh.
Kami berdua hanya berdiam diri untuk beberapa saat sebelum Sarah kemudian
bertanya, Semua orang yang sudah lihat Mbak sama Ervin sudah tahu Mbak sama
Ervin saling cinta. Yang nggak tahu soal itu cuma Mbak sama Ervin.
Ervin nggak cinta sama aku, seruku kaget.
Tuh kan. Mbak juga cinta, lagi, sama dia, balas Sarah.
Aduh, Sar, untuk orang seumuranku, susah untuk bisa ngomongin cinta.
Terlalu banyak hal lain yang bersangkutan dengan kata itu. Tapi kalau suka, ya
memang aku suka. Sarah mencoba berargumentasi tapi aku potong.
Kamu mungkin pikir kakak kamu tuh cinta sam aaku, tapi sebenarnya dia
bukannya cinta, tapi dia cuma... comfortable sama aku. Tapi so what" Bantal juga
comfortable kok. Oke, fine, pertanyaannya aku ganti. Kalau misalnya kakak laki-laki tercintaku
yang kadang-kadang suka jadi goblok kalau sudah urusan cinta itu ngomong ke
Mbak bahwa dia cinta sama Mbak, apa Mbak mau setidak-tidaknya untuk percaya
bahwa dia betul-betul cinta sama Mbak"
Sar, percaya deh sama aku, dia nggak cinta sama aku. Kamu tahu sendiri kan
berapa banyak jumlah perempuan yang nge-date sama dia setahun terakhir ini"
Nggak satu pun dari mereka yang tampangnya kayak aku. Aku ini terlalu biasa"
buat Ervin. Ooooohhhhh, God, I am wasting my time with this woman, teriak Sarah frustrasi.
Aku langsung meminta Sarah untuk menurunkan volume suaranya, karena
orang-orang mulai melirik ke arah kami.
Sudahlah, nggak usah mikirin soal aku sama Ervin. Mendingan ngomongin
soal lamaran kamu. Wajah Sarah masih kelihatan frustrasi, tapi akhirnya kami mengganti bahan
pembicaraan ke persiapan pesta lamaran Sarah.
Kami baru menuju pelataran parkir untuk pulang sekitar pukul delapan malam
itu. Sebelum pulang Sarah berkata, Well, setidak-tidaknya Mbak telepon Ervin lah
ya, plea...se deh. Aku kasihan sama kakakku yang buat pertama kalinya tahu rasanya
patah hati. Stop it, dia nggak patah hati.
Ya, Mbak kan nggak tahu. Terima teleponnya aja nggak mau, gimana bisa
tahu" Aku tadinya mau menyangkal tuduhan itu, tapi kata-kata Sarah memang
mengena sekali. Well, oke, akhirnya aku setuju.
* * * Semalaman aku tidak bisa tidur. Ketika bekerku berbunyi tepat pukul 05.30
keesokan harinya, dengan gondok aku langsung mematikannya dan kembali
bersembunyi di bawah selimutku. Dalam perjalanan ke kantor aku berjanji pada
diriku sendiri bahwa aku akan menyelesaikan masalahku dengan Ervin yang sudah
berkelanjutan ini sampai tuntas. Kalau aku memang mau tahu perasaan Ervin yang
sebenarnya kepadaku, aku harus memberanikan diri untuk menanyakan hal itu
padanya. Memang ada kemungkinan aku akan malu kalau misalnya ternyata dia
mengatakan bahwa dia tidak ada perasaan apa-apa kepadaku. Tapi bodo amat deh
aku sudah bertekad. * * * Tepat pukul 12.00 siang aku memutuskan bahwa sudah tiba saatnya bagiku untuk
menghadapi Ervin. Aku harus bertemu dengan Ervin minggu ini karena minggu
depan sudah libur Natal, aku takut dia ada rencana cuti. Aku tidak akan mampu
menunggu hingga Januari untuk berbicara dengannya. Dengan berat hati aku
melangkah ke arah ruangannya. Baron masih belum menghubungiku lagi, dan aku
sangat bersyukur. Mudah-mudahan dia sudah melupakan kejadian hari Sabtu itu.
Pintu ruangan Ervin tertutup, aku pun bimbang sesaat. Apa aku harus
mengetuk atau menunggu hingga pintu itu terbuka" Aku melangkah bolak-balik di
depan ruangannya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.
Setelah beberapa ketukan dan tidak ada jawaban, aku kemudian membuka pintu
ruangannya dan melihat ke dalam. Ternyata kosong. Aku buru-buru menutup pintu
itu kembali sebelum kemudian berpapasan deng
an Wulan, resepsionis kantorku,
yang sedang terburu-buru melangkah kembali ke mejanya sambil menggenggam
secangkir kopi di tangan kanannya.
Eh, Dri... Dri..., teriak Wulan dengan keras tepat sebelum dengan tidak
sengaja tangan kiriku menghantam cangkir yang sedang dipegangnya. Alhasil,
cangkir itu jatuh dan menumpahkan kopi hitam ke karpet biru yang menutupi lantai
kantor. Ya ampun, sori, Lan, sori... gue nggak lihat, ucapku buru-buru.
Wulan hanya memberiku tatapan kesal, sebelum bertanya, Cari siapa, Dri"
Kalau lo lagi cari Ervin, dia lagi ke convention di Manila.
Aku berusaha untuk terlihat tenang sebelum menjawab, Eh, nggak, gue lagi...
nggak nyari siapa-siapa kok. Omong-omong kayaknya musti telepon maintenance
ya, ucapku buru-buru sebelum kembali berjalan kembali ke arah ruanganku.
Seperti membaca pikiranku Wulan pun berteriak. Dia baru balik minggu
depan, Dri. * * * Selama satu minggu aku menunggu Ervin kembali dari Manila dengan keresahan
yang tidak tergambarkan. Memang betul aku bisa menelepon atau mengirimkan email
untuk menyelesaikan masalah ini, tapi aku merasa lebih sreg kalau bisa
bertemu langsung dengannya.
Hari Sabtu sore akhirnya aku menyerah untuk mencemaskan Ervin dan
menemani ibu dan bapakku pergi menghadiri perkawinan Alya, anak salah satu
teman baik ibuku, Tante Mega. Perkawinan yang diselenggarakan di Hotel Grand
Hyatt Jakarta itu betul-betul megah. Aku tentunya hanya datang untuk menemani
orangtuaku harus banyak duduk diam di sudut ruangan sambil makan karena tidak
kenal siapa pun. Aku hanya pernah bertemu dengan Alya mungkin lima kali
sepanjang hidupku. Alya memang leibh seumuran dengan kakakku, tetapi
meskipun begitu mereka juga tidak pernah dekat.
Ketika aku sedang berjalan menuju gubuk yang menghidangkan pencuci mulut,
tiba-tiba aku melihatnya... Ervin. Dia yang seharusnya masih ada di Manila ternyata
sekarang berdiri di hadapanku dan mengantre mengambil kambing guling. Kaget,
aku mundur selangkah dan bertabrakan dengan seorang ibu dengan anaknya yang
sedang bergegas menuju toilet. Tetapi tiba-tiba aada secercah keberanian yang
mendorongku untuk menyapanya. Aku sadar bahwa Ervin belum melihatku dan
setelah cukup dekat aku baru tahu kenapa. Ternyata dia sedang berdiri di sebelah
seorang wanita paling cantik yang pernah aku lihat, dan... Tidak salah lagi, wanita
itu adalah Kinar, mantan pacarnya yang model merangkap bintang film itu.
Kaget untuk yang kedua kalinya selama kurang dari lima menit, aku berhenti
melangkah dan hampir tersandung kakiku sendiri. Aku melihat tangan wanita itu
sedang melingkari tangan kiri Ervin dan mereka seperti sedang terlibat pembicaraan
yang sangat romantis. Reaksi pertamaku adalah terkesima, lalu aku dapat
merasakan bahwa apabila aku tetap berdiri di sana, bisa-bisa aku mulai menangis
tersedu-sedu. Aku sempat mencoba untuk merasionalkan bahasa tubuh mereka, tapi
tidak ada interpretasi lain selain bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Rasa
cemburu, marah, dan sedih langsung menyelimutiku. Aku paham bahwa aku bukan
siapa-siapanya Ervin dan biasanya aku tidak pernah cemburu saat melihatnya
bermesraan dengan perempuan lain. Kenapa sekarang aku seperti orang kebakaran
jenggot melihatnya bersama Kinar" Mungkin karena aku sudah menunggunya
selama satu minggu dengan kecemasan yang tidak tergambarkan dan sekarang,
ketika aku sudah bertemu dengannya, dia malahan bersama perempuan lain
sehingga aku tidak bisa meluapkan apa yang ada di hatiku.
Ternyata Ervin ya tetap Ervin. Dia akan selalu dikerumuni perempuan. Ervin
yang selalu menjadi penyebab utama kenapa lima puluh persen penghuni Jakarta
yang perempuan, patah hati. Bagaimana mungkin aku percaya bahwa dia telah
memperlakukanku berbeda dengan perempuan lainnya" Bagaimana bisa aku
berpikir bahwa aku spesial di matanya" Ini salahku sendiri. Terselimuti dengan
kemarahan pada diri sendiri, buru-buru aku berbalik ke arah aku datang, tapi
terlambat, Erivn sudah melihatku. Dengan tatapan agak kaget dia melambaikan
tangan ke arahku dengan penuh semangat. Tapi aku tidak memedulikannya.
Aku harus keluar dari sini, kataku dal
am hati dan melangkah cepat ke arah
pintu keluar. Dalam perjalanan keluar aku mencari HP-ku dan menekan angka dua,
memori untuk nomor HP bapakku. Takut diikuti oleh Ervin, aku menolehkan
kepalaku ke belakang, tetapi aku tidak melihatnya di antara kerumunan. Rasa
tenang juga kesal karena dia tidak mencoba mengejarku semakin meresahkan hatiku
yang memang sedang galau. Buru-buru aku menyampaikan pesan singkat kepada
bapakku bahwa aku ada keadaan darurat dan harus segera pulang. Aku meminta
orangtuaku untuk menemuiku di pintu masuk.
Mengambil alih posisi seorang petugas valet parking, aku masuk ke sisi
pengemudi SUV bapakku. Aku melihat kedua orangtuaku sedang bergegas ke
arahku. Tetpai kemudian aku lihat di belakang mereka ada Ervin yang sedang
berlari-lari, mencoba menutup jarak dengan kedua orangtuaku. Kepanikan langsung
muncul di hatiku. Tetapi sebelum orangtuaku sampai ke pintu mobil dan masuk,
Ervin telah berhasil menarik perhatian mereka. Orangtuaku yang belum tahu duduk
permasalahan aku dan Ervin menyambut sapaan hangat dari Ervin dengan terbuka.
Di, kok nggak bilang halo sama Ervin" tanya Ibuku polos.
Aku agak kaget kok ibuku mengenali Ervin sampai ingat namanya segala. Tapi
aku menepikan pikiran itu. Karena tidak mau bikin kerusuhan di depan banyak
orang yang sedang menunggu jemputan, aku pun turun dari sisi pengemudi dan
bergegas menghampiri ibuku.
Halo, Dri, tadi gue lihat lo di dalam, gue sudah panggil-panggil beberapa kali,


Miss Pesimis Karya Alia Zalea di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tapi kayaknya lo nggak dengar, ucap Ervin padaku sambil mendekat untuk
memberikan ciuman di pipiku seperti biasanya. Ervin memegang lenganku ketika
melakukannya, tetapi dia tidak melepaskan pegangannya setelah itu.
Dari tatapannya aku tidak menemukan adanya rasa bersalah ataupun
pandangan bahwa dia mau memberikan penjelasan padaku tentang Kinar.
Bukannya aku merasa bahwa Ervin harus menjelaskan apa-apa kepadaku, karena
dia tidak harus. Lagi-lagi aku mengingatkan diriku siapa aku, pacar bukan, saudara
bukan, jadi apa urusanku untuk tahu dengan siapa dia datang ke acara resepsi ini.
Menyadari hal itu ternyata justru membuatku semakin kesal.
Eh iya, nggak, soalnya orangtua gue sudah mau pulang, jadi gue mesti buruburu
ngambil mobil, balasku dengan cepat sambil memberikan kode kepada ibu
dan bapakku. Tentunya ibuku yang memang suka agak lemot kalau sudah urusan kodekodean
hanya memandangiku dengan tatapan bingung, untungnya bapakku segera
tanggap atas dilema yang sedang kuhadapi.
Aku dapat merasakan bahwa genggaman tangan Ervin semakin mengerat.
Iya, harus buru-buru, sampai ketemu lagi ya, ucap bapakku kepada Ervin.
Iya, Pak, Bu, balas Ervin sopan.
Pak, Bu" Enak saja dia memanggil orangtuaku Bapak sama Ibu. Bapak-Ibu
mbahmu, omelku dalam hati.
Lalu orangtuaku pun beranjak mendekati mobil. Tapi ketika aku akan masuk ke
mobil, Ervin tetap tidak melepaskan lenganku. Aku memandangnya, memberikan
tatapan memohon, kemudian perlahan-lahan dia melepaskan cengkeramannya.
Aku buru-buru masuk ke mobil. Ervin kemudian membukakan pintu belakang
agar ibuku bisa naik ke mobil dan menutupnya dengan rapat. Lalu bapakku masuk
ke kursi penumpang di sampingku. Aku baru sadar kemudian bahwa Ervin sedang
berdiri di samping jendela pengemudi. Aku tidak ada pilihan selain menurunkan
jendela. Hati-hati, Dri, ucapnya pelan.
Aku pun berlalu meninggalkan Ervin dengan muka bingungnya.
* * * Malam itu, setelah satu hari berusaha menahan rasa sedih karena kebodohanku
sendiri, aku masih duduk terdiam di kamarku dan mulai menangis ditemani oleh
Nick Lachey yang sedang meneriakkan What s left of me untuk Jessica Simpson.
Terakhir kali aku menangis seperti ini adalah lebih dari sepuluh tahun yang lalu,
ketika aku memikirkan nasibku yang tidak bisa menghapuskan Baron dari
pikiranku. Tapi sekarang... aku menangis karena perasaanku yang tidak keruan.
Bagaimana mungkin aku mencintai Baron tapi tidak mau menerima pernyataan
cintanya" Bagaimana mungkin kalau aku mencintai Baron, aku bisa cemburu ketika
melihat Ervin dengan perempuan lain"
14. MENYINGSINGKAN LENGAN BAJU
KEESOKAN harinya, pagi-pagi sekali aku sudah bang
un. Biasanya aku paling malas
mencuci mobilku dan selalu minta tolong Pak Yoyok. Tapi pagi itu tanpa menunggu
Pak Yoyok, aku langsung membasahi body mobilku dengan selang dan mulai
menyapunya dengan busa dan sabun. Jam delapan pagi, saat aku masih sibuk
mencuci mobilku, SUV perak Baron memasuki pekarangan rumahku. Aku
menimbang-nimbang apakah aku bisa lari masuk ke dalam rumahku tanpa terlihat
olehnya. Tapi terlambat, mobil itu sudah berhenti dan Baron melangkah keluar.
Dengan agak gugup, kuperhatikan penampilanku pagi itu. Rambut acak-acakan
yang hanya diikat asal dengan karet, kaus dan celana pendek yang sudah lusuh.
Aku mengembuskan napasku dan berharap Baron tidak memperhatikan pakaianku.
Baron berjalan ke arahku dengan penuh semangat. Dia terlihat rapi dan
superganteng untuk jam delapan pagi hari Minggu. Dia melemparkan senyumnya
ke arahku dan duniaku langsung terasa ceria. Keraguan yang kurasakan tadi malam
kini sirna dan dalam hari aku berkata, I ll marry him today if he asks me, Olivia and all
the world be damn. Bagaimana mungkin aku bisa membandingkan Baron dengan
Ervin tadi malam" Baron cinta sejatiku, Ervin... well, aku tidak tahu apa arti Ervin
untukku. Aku mengedipkan mataku berkali-kali untuk mencegahnya berkaca-kaca.
Akhirnya Tuhan telah mendengar permintaanku dan memberiku jalan.
Ron, kok nggak nelepon mau datang" teriakku dengan suara seceria mungkin.
Aku sudah tinggalin Olivia, tunangan kai batal. Sekarang aku sudah bebas, aku
bisa ngerjain apa saja yang aku mau. Dan aku mau kamu, Baron meneriakkan katakata
itu. Pertama-tama aku hanya bisa bengong. Hatiku menyuruhku lari ke pelukannya
dan menciumnya saat itu juga. Selang air di genggamanku masih menyala dan
mengucurkan air ke kakiku, tapi aku tidak menyadarinya. Ternyata bukan hanya
aku yang mendengar pernyataan Baron, beberapa tetanggaku yang sedang jogging
sempat berhenti untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Perlahan aku berjalan
menuju keran air dan mematikannya. Aku melirik ke pintu rumahku untuk
memastikan bahwa orangtuaku tidak mendengar teriakan Baron tadi.
Baron menghampiriku. Gimana, Di" Aku tahu kamu juga mau aku, Baron memohon.
Hatiku berteriak, aku mau kamu dengan sepenuh hatiku. Andaikan aku bisa
mengungkapkan kata-kata itu kepada Baron. Tapi otak dan hatiku sepertinya tidak
bisa bekerja sama. Ron, kamu lagi bingung sekarang. Ayo, kita duduk dulu. Kamu harus tenang.
Aku berjalan menuju kursi di teras rumahku.
Kepalaku mulai terasa sedikit pusing. Aku baru sadar beberapa saat kemudian
bahwa Baron tidak mengikutiku. Ketika aku berbalik menghadapnya, aku harus
mundur beberapa langkah dan meletakkan tangan kanan di dadaku. Baron sedang
berlutut di hadapanku sambil memegang cincin.
Di... kamu mau kan nikah sama aku" tanyanya sambil menatap wajahku.
Aku lihat mata Baron yang beberapa menit yang lalu terlihat ceria, kini
meredup. Aku selalu mengharapkan bahwa kalau seorang laki-laki melamarku,
wajahnya tidak akan terlihat sesedih dan sebingung ini. Lalu satu pemahaman
terlintas... Baron tidak mencintaiku. Dia tidak pernah betul-betul mencintaiku. Dia
terlalu bingung dengan perasaannya sendiri sehingga dia tidak tahu apa yang dia
mau. Andaikan aku bisa mencekik seseorang saat itu juga, mungkin orang tersebut
sudah mati kehabisan napas. Lalu aku sadar bahwa Baron-lah orang yang ingin
kucekik. Bagaimana mungkin dia berani melamarku padahal dia tidak tahu
perasaannya yang sebenarnya terhadapku.
Stupid, selfish bastard!!!
Meskipun hatiku hancur berkeping-keping, aku tahu bahwa aku harus
melakukan hal yang benar. Aku berjalan ke arah Baron lalu berlutut di hadapannya.
Kugenggam tangan kanan Baron yang sedang memegang cincin.
Ron... kamu nggak bisa nikah sama aku. Kita nggak kenal satu sama lain. Aku
cuma ingat kamu dari memoriku tentang kamu, dan setelah lebih dari sepuluh
tahun, sejujurnya aku bahkan nggak tahu apa itu memori atau imajinasiku saja. Aku
yakin kamu sudah banyak berubah semenjak itu, karena aku juga sudah banyak
berubah, ucapku pelan. Mataku terasa panas, dan aku harus mengedipkan mataku beberap akali untuk
mengendalika n air mataku agar tidak mengalir keluar. Aku harus menahannya.
Orang nggak akan berubah, Di. Aku tetap mau kamu, kata Baron keras
kepala. Aku juga mau kamu, tapi Oli lebih memerlukan kamu daripada aku. Dan aku
yakin kamu juga perlu Oli.
Aku nggak mau Oli, aku mau kamu. Tanpa kusangka-sangka Baron mencoba
menciumku. Untung aku bisa menghindar dan jatuh terduduk di rumput halaman
rumahku. Sekarang sudah ada beberapa orang lagi yang berhenti jogging untuk
menonton kejadian menarik yang sedang berlangsung di halaman depan rumahku
itu. Baron kelihatan tersinggung ketika aku menolak ciumannya.
Ayo... kita bicarakan ini baik-baik, Ron.
Tapi kamu juga nyium aku, Di, kamu... kamu...
Aku buru-buru mengangkat tangan untuk memotong kalimatnya, karena aku
takut akan arah pembicaraan ini kalau kubiarkan.
Aku tahu... dan aku minta maaf soal malam itu. Itu... kecelakaan, jawabku
dengan susah payah. Sebelum Baron bisa membalas, tiba-tiba ada mobil lain masuk ke pekarangan
rumahku yang memang tidak berpagar itu. Sebelum sang pengemudi keluar dari
kendaraan, aku sudha tahu bahwa duniaku akan jadi lebih rumit lagi dalam
beberapa detik. Dua orang keluar dari mobil itu, Ervin dan... Oh my God... Olivia...
mampus aku. Aku buru-buru berdiri dan mencoba menarik Baron untuk berdiri
bersamaku tapi dia menolak dan tetap berlutut di hadapanku.
Ron, bangun, Ron, ucapku cepat.
Bilang kamu cinta sama aku juga, tegas Baron. Garis-garis di wajahnya lagilagi
menunjukkan kekeraskepalaannya, yang biasanya kuanggap cute sekali, tapi
tidak pagi ini. Thomas Baron Iskandarsyah, bangun nggak!!! bentakku.
Baaaaarrrrrrrrooooooooonnnnnnnnnnnnn!!! teriakan Olivia memecahkan
keheningan pagi itu. Bapakku buru-buru keluar dari rumah, disusul ibuku.
Olivia berlari ke arahku, diikuti Ervin. Kemudian Olivia berlutut di samping
Baron. Dri... what s going on" tanya Ervin padaku ketika dia tiba di sampingku
dengan napas sedikit terengah-engah. Ervin melambaikan tangannya kepada
orangtuaku yang membalasnya dengan antusias.
Sayang, kamu ngapain" Aku sudah bilang kita bisa selesaikan masalah ini. Kita
nggak usah married buru-buru. Aku nggak maksa. Olivia memohon pada Baron.
Olivia sepertinya tidak menyadari posisi Baron yang sedang berlutut di
hadapanku sambil memegang cincin. Tapi Ervin sadar.
Tom, lo lagi ngapain" tanya Ervin curiga.
Ngelamar Didi, jawab Baron singkat tanpa menghiraukan Olivia sama sekali.
Aku mendengar ibuku menarik napas kaget dan menutup mulutnya yang
menganga dengan tangan kanan.
Di, ada apa sih" tanya ibuku.
Nggak ada apa-apa, Bu. Ibu sama Bapak masuk saja, nanti aku jelaskan,
ucapku, mencoba untuk mengusir mereka dari hadapanku.
Aku tidak bisa berpikir dengan jernih di bawah tatapan keingintahuan mereka.
Ibuku terlihat ragu, tapi sekali lagi bapakku menyelamatkanku dan menggiring
ibuku masuk kembali ke dalam rumah.
Tiba-tiba pikiranku terganggu oleh suara Olivia. Sayang... tolong... jangan
gini.... Aku akan berubah, tapi kamu nggak bisa tinggalin aku. Please... Sekarang
nada suaranya sudah hampir menangis. Tapi Baron masih tidak memperhatikannya.
Alhasil Olivia mulai menangis.
Di" tanya Baron lagi. Aku tidak mampu berkata-kata, aku masih terlalu kaget.
Kesedihan dan kemarahanku telah hilang, digantikan rasa kasihan pada Olivia. Aku
sadar tetangga-tetanggaku sudah pergi. Mungkin mereka sudah bosan dengan apa
yang mereka saksikan. Tapi aku yakin sore ini ibuku akan menerima banyak telepon
yang ingin menanyakan kejadian pagi ini.
Aku terkejut ketika mendengar Ervin berteriak. For the love of God, Olivia,
bangun, ngapain lo mohon-mohon sama dia kayak gitu" Tom, bangun nggak"
Nggak kasihan apa sama calon istri lo"
Baron merangkak bangun sambil tetap memegang cincin itu. Berlian solitaire
yang terletak di cincin itu bersinar kerlap-kerlip.
Itu cincin paling cantik yang pernah kulihat dan cincin itu tidak akan pernah
jadi milikku. Damn it all to hell, teriakku dalam hati.
Olivia yang melihat Baron bangung langsung beridiri di sampingnya dan
mencoba memeluk Baron sambil mencoba segala upaya untuk mengontrol air
matanya. E rvin menatap berapi-api padaku.
Ol, gue minta maaf soal ini, lanjutku. Gue nggak tahu tentang ini sama
sekali. Baron tiba-tiba saja muncul..., aku mencoba menjelaskan situasiku kepada
Olivia. Olivia menatapku sedih, tapi kulihat dia mengangguk mengerti. Aku bersyukur
dia sepertinya tidak menyalahkanku sama sekali.
Di... please... kamu harus jujur sama diri kamu sendiri. Aku cinta kamu. Kamu
cinta kan sama aku" teriak Baron gemas.
Aku menarik napas panjang dan tanpa memang Baron aku menjawab, Olivia
yang cinta sama kamu Ron, bukan aku.
Kamu bohong. Aku tahu kamu bohong, teriak Baron. Kini dengan nada
marah. Aku menatap Baron terkesima. Baron marah padaku"
Sekali lagi, aku tanya kamu, kamu cinta kan sama aku" tanya Baron lebih
keras. Tapi suaranya sudah tidak terlalu yakin.
Aku merasakan seperti ada sebongkah es di tenggorokanku.
Kali ini aku menatap mata Baron sebelum berkata. Sori, Ron.
Please, Di, jawab yang jujur, Baron mencoba meyakinkanku.
Aku menggeleng. Ervin memandangku dengan tatapan menuduh. Ini bukan
pertama kali dia menatapku seperti itu. Mungkin sekali lagi dia menuduhku
mencari gara-gara dengan Baron.
Kemudian perhatian Ervin beralih kepada Baron. Ron, Adri nggak cinta sama
elo, ucap Ervin tiba-tiba.
Aku menlongo. WHAT" Ngapain sih dia ikut-ikutan mengomentari" Ini tidak
ada sangkut pautnya dengan dia. Ini antara aku, Baron, dan Olivia.
Sayang, Adri nggak cinta sama kamu, tapi aku... aku ngagk bisa hidup kalau
nggak sama kamu, desah Olivia.
Aku betul-betul tidak tega. Rasanya aku mau menampar Olivia agar dia sadar.
Buat apa dia mengemis cinta dari laki-laki gemblung seperti Baron" Ini Olivia,
wanita paling cantik yang pernah kukenal. Walaupun memang pagi ini dia tidak
kelihatan cantik sama sekali. Tanpa make-up dan rambut yang kelihatannya tidak
disisir, untuk pertama kalinya Olivia terlihat... biasa.
Ol, sadar, Ol. Kalau lo mau cinta Baron, bukan gini caranya, aku memohon
kepada Olivia. Kemudian beralih ke Baron, Dan kamu, Olivia cainta sama kamu,
apa kamu nggak bisa lihat" Aku tarik Baron dan Olivia lalu menggeret mereka
masuk ke rumah. Selama hampir sepuluh tahun jadi psikolog, tidak pernah-pernahnya aku mau
menyingsingkan lengan bajuku untuk menjadi marriage counselor, karena aku tidak
mau pusing gara-gara memikirkan urusan cinta orang lain. Urusan cintaku saja
berantakan, bagaimana mau mengurusi orang lain"
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bersandiwara bagaikan aku tidak peduli
bahwa aku akan membantu laki-laki yang kucintai untuk bisa akur lagi dengan
tunangannya, meskipun hatiku hancur berkeping-keping. Aku mempersilakan
mereka duduk di ruang makan. Setelah menuangkan minum dan menghidangkan
roti untuk mereka, aku lalu memulai sesi konseling pro-bono-ku. Orangtuaku dengan
rela menghabiskan pagi itu di taman belakang.
Sekarang lo berdua ngomong, apa sih masalah lo berdua" tanyaku dengan
nada setenang mungkin. Baron memandangiku, tapi aku tidak menghiraukannya karena Olivia sedang
memandangi Baron dengan tatapan penuh cinta yang sangat familier, karena itulah
tatapan yang kuberikan kepada Baron selama beberapa bulan ini.
Aku nggak suka cara kamu mengatur hidupku, jawab Baron sambil tetap
menghadapku. Ron, coba kamu bicaranya langsung ke Oli, jangan ke aku. Dan kamu pandang
dia waktu kamu sedang berbicara.
Baron menarik napas sebelum berbicara. Aku nggak suka cara kamu mengatur
segala sesuatu tentang hidupku. Menuruti saranku, Baron memandangi Olivia
sewaktu berbicara padanya.
Aku bukannya mengatur, Sayang, aku cuma mau kamu jadi orang yang lebih
baik lagi, ucap Olivia yang juga mengikuti instruksiku dan menatap Baron.
Apa aku masih kurang baik untuk kamu"
Bukan, bukan begitu... Maksud aku... daripada kita buang uang untuk bayar
sewa rumah, lebih baik kita tinggal sama orangtuaku. Setidak-tidaknya sampai ada
cukup uang untuk beli rumah. Olivia menarik napas sebelum melanjutkan,
Keadaan keuangan kita sekarang nggak akan cukup untuk bisa hidup di Jakarta.
Itu yang aku nggak ngerti sama kamu. Kalau kamu memang sudah milih aku
sebagai suami kamu, kamu harus terima
aku apa adanya. Kalau memang kita cuma
punya uang untuk beli rumah yang sederhana di daerah Bogor, ya kamu harus
terima itu. Baron melirik ke arahku yang hanya mengangguk ke arahnya sambil
mendengarkan. Dari sudut mataku, kulihat Ervin sedang berdiri sambil menyandarkan
punggungnya ke dinding. Mmmmhhhh... aku lupa soal Ervin. Aku pikir dia sudah
pulang. Apa perlu kamu tiap minggu beli baju baru" Apa perlu kamu tiap tiga hari
sekali pergi ke salon untuk nge-blow rambut" Kita bisa hidup sederhana, tapi kamu
harus menyesuaikan diir. Aku terima kamu apa adanya, tapi kenapa kamu nggak
bisa" lanjut Baron.
Dan jebol sudah bendungan air mata Olivia. Dia yang tadinya cuma terisak-isak,


Miss Pesimis Karya Alia Zalea di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sekarang sudah menangis tersedu-sedu.
Aku menyodorkan tisu yang ada di sudut meja makan. Setelah agak lebih
tenang Olivia baru bisa menjawab.
Aku... hik hik... memang sudah milih kamu... hik... hik... dan aku bangga sama
pilihanku itu. Cuma Mama dan Papa kan sudah tua... hik... hik... aku anak satusatunya....
aku nggak mau meninggalkan mereka sendirian. Lagian juga kalau aku
harus tinggal di Bogor... hik... hik... agak-agak susah kalau aku kangen saa mereka.
Bogor terlalu jauh dari Jakarta, akhirnya Olivia bisa menyelesaikan argumentasinya
dengan cukup mulus. Ya tapi Mama kamu juga selalu maksa urusan wedding kita, harus beginilah
begitulah. Kan budget-nya jadi besar, Ol. Suara Baron yang tadinya memusuhi kini
terdengar lebih tenang. Tapi kan hik hik... Mama mau bantu kita, Sayang... hik... dia sudah transfer dua
puluh juta ke tabunganku untuk nambahin budget kawin.
Pada saat itu aku sadar betul bahwa Olivia baru saja menginjak-injak harga diri
Baron. Tidak heran kalau Baron mengambil langkah seribu. Kebanyakan laki-laki
mungkin akan senang kalau calon istrinya tajir supaya mereka tidak usah
mengeluarkan uang untuk menghidupi sang istri. Tapi tidak Baron. Dia salah satu
laki-laki paling arogan yang kukenal. Dia tidak akan mau menerima sumbangan
dalam bentuk apa pun, meskipun sumbangan itu bermaksud untuk membantu.
Itu dia yang bikin aku nggak mau nikah sama kamu. Pikiran kita nggak
sejalan. Tapi kamu nggak pernah bilang kamu keberatan. Mana aku tahu"
Kulihat Olivia menelan ludah untuk menahan tangisnya agar tidak banjir lagi.
Kamu kan tahu aku nggak suka yang mewah-mewah. Lebih baik daripada
menghabiskan uang untuk pesta pernikahan, uangnya disimpan untuk beli rumah.
Kamu kan tinggal ngomong ke aku. Cuma masalah ini kok kamu sampai mau
ninggalin aku sih" Apa cinta kamu sama aku cuma sampai situ aja"
Aku cinta kamu, Ol, cuma kalau aku mesti hidup sama kamu dengan gaya
hidup kamu yang sekarang, aku nggak bisa. Kamu harus memilih, kamu mau aku,
atau gaya hidup kamu"
Saat Baron mengatakan kata-kata itu, aku bisa merasakan mukaku langsung
memerah dan udara langsung terasa gerah. Mataku pun lagi-lagi terasa panas.
Ternyata dugaanku benar. Baron memang mencintai Olivia, dan aku... aku cuma
iseng. Sialan, laki-laki memang bejat.
Aku bisa melihat tatapan Ervin kepadaku. Dari matanya kurasa dia bisa
membaca apa yang ada di pikiranku. Ya Tuhan, janganlah sampai dia tahu bahwa
aku ini cinta mati sama sobatnya.
Maksud kamu" tanya Olivia bingung.
Kalau kamu ikutin aku, resepsi pernikahan kita harus di bawah dua puluh juta.
Aku nggak mau terima sumbangan dari oirangtua kamu, karena aku juga nggak
terima apa-apa dari mamaku.
Di bawah dua puluh juta" Mana bisa" Tamu kita banyak sekali. Belum juga jas
kamu, kebaya aku, gedung, semuanya...
Aku lihat Olivia sudah siap menangis lagi. Aku sebetulnya agak kaget, karena
ternyata permasalahan Olivia dan Baron sangat simple. Cuma masalah uang dan
harga diri. Jelas-jelas sebagai seorang laki-laki, Baron mau dihargai sebagai provider
untuk keluarganya. Aku juga tidak pernah tahu bahwa Olivia ternyata tipe
perempuan yang gampang menangis dan materialistis.
Kita kurangi jumlah tamunya. Pokoknya harus di bawah dua puluh juta.
Planning-nya tetap aku serahkan ke kamu. Itu penawaran dari aku. Kamu bisa
terima" Kalau aku terima... hik... apa berarti kamu masih mau married sama aku"
Ya iyalah, jawab Baron tidak sabaran. Tapi..., Olivia mencoba untuk mencari sela-sela yang masih bisa dikompromi.
Tapi Baron rupanya sedang tidak mood untuk kompromi.
Kalau kamu masih mikir-mikir lagi, hari ini juga kita officially putus dan aku
mau mulai dating Adri, ucap Baron geram.
Hah"""!!!!! Kenapa juga gue masih dibawa-bawa Cari mati nih orang.
Aku baru saja mau buka mulut untuk protes. Ternyata Ervin juga baru akan
melakukan hal yang sama. Tapi kami berdua dipotong oleh Olivia.
Nggak, nggak... aku setuju, ucap Olivia. Tapi aku minta kamu untuk tidak
ketemu sama Adri lagi sampai kita nikah, tegas Olivia.
Dri, aku minta maaf soal ini, tapi bisa tolong kamu jangan mau dikontak Baron
lagi setelah hari ini" Please, Dri, aku mohon, lanjut Olivia memohon kepadaku.
Aku ternganga mendengar komentar Olivia, tapi aku lebih kaget lagi atas
permintaannya. Baron terlihat agak-agak kaget atas permintaan itu. Dia tidak sadar
bahwa ternyata persyaratannya bisa jadi senjata makan tuan. Baron memandangku
beberapa saat. Ini semua gara-gara kamu, kalau kamu mau kontak aku sebelumnya,
urusannya nggak akan kayak gini. Baron mengomeliku.
Olivia langsung memandangku bingung. Aku juga bingung, maksud dia apa
sih" Lalu aku ingat kedua e-mail yang dikirimnya. Baron menatapku tidak sabaran.
Di... yes or no" tegas Baron akhirnya padaku.
Aku memandang mata Baron sedalam-dalamnya, mencoba untuk telepati.
Thomas Baron Iskandarsyah, aku cinta kamu, selalu akan cinta sama kamu,
kamu sudah jadi bagian hidupku sejak aku berumur lima belas tahun. Tapi kamu
cinta sama Olivia, dan dia lebih mencintai kamu dibanding aku.
Aku tidak tahu apa pesan itu sampai ke Baron, tapi dari tatapan matanya
sepertinya sampai. Oke, akhirnya Baron berkata.
Aku mendengar Ervin mengembuskan napasnya. Aku berpaling padanya, yang
sedang mengacungkan kedua jempolnya kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum
lemas. * * * Olivia memelukku erat-erat dan mengucapkan kata thank you berkali-kali sebelum
pulang. Begitu mobil Baron menghilang dari pandangan, aku langsung masuk
rumah dan buru-buru menuju kamarku. Topeng yang kukenakan bisa kulepaskan
sekarang, aku bisa menangis sesuka hatiku. Sudah lima jam aku menahan diri agar
tidak menangis di depan semua orang. Tapi sekarang aku sudah tidak sanggup lagi
untuk menahan. Aku HARUS mengeluarkan kesedihanku, melampiaskan patah
hatiku, rasa gondokku pada diri sendiri, yang lagi-lagi kalah kalau sudah urusan
cinta, dan karena aku sudah dibesarkan dengan norma-norma hidup yang
bertentangan dengan kemauanku sehingga aku tidak pernah bisa mendapatkan
yang kuinginkan. Dri..., panggil Ervin sambil memegang bahuku.
Aku tidak menghiraukannya dan tetap berjalan menuju kamarku di lantai atas.
Dri, sekali lagi Ervin mencoba mendapatkan perhatianku. Kali ini dia
menggapai tanganku. Aku mengentakkan tangan Ervin dari pergelanganku.
Just give me a minute, will you" ucapku pelan tanpa menghadap Ervin dan
langsung masuk ke kamarku dan menutup pintu.
Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower dengan air dingin
lalu duduk di bawahnya sampai semua bajuku basah. Aku mencoba menangis
dengan mengeluarkan air mata, tapi tidak ada setetes pun yang keluar. Dan itu
semakin membuatku sengsara. Dadaku sudah mau meledak.
Aku tidak tahu kapan Ervin masuk ke kamarku, tapi tahu-tahu dia sudah
duduk di sampingku. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dia juga tidak
mencoba untuk menyentuhku sama sekali. Aku tidak tahu berapa lama kami duduk
seperti itu, tapi akhirnya aku bersuara, Kok Olivia bisa datang bareng elo sih"
tanyaku tanpa menatap Ervin.
Beberapa jam yang lalu karena terlalu panik ketika melihat Olivia, aku tidak
memikirkan adanya kejanggalan bahwa Olivia bisa muncul bersama-sama dengan
Ervin, tapi setelah semuanya lebih tenang, aku menyadari hal ini.
Ervin mengembuskan napasnya, seakan-akan lega bahwa akhirnya aku
mengeluarkan suara juga, sebelum menjawab, Pagi-pagi jam tujuh Olivia telepon
gue buat nanya apa Baron ada sama gue. Waktu gue bilang nggak, dia terus nanya
apa gue tahu alamat rumah lo. Gue tanyalah apa urusannya sampai Baron pe
rlu pergi ke rumah lo segala. Olivia langsung histeris di telepon, intinya dia bilang
kalau mereka habis berantem besar tadi malam dan Baron mutusin pertunangan
mereka. Gue nggak pasti persisnya gimana, Olivia berkesimpulan Baron bakalan
langsung lari ke elo. Gue tahu perasaan elo berdua satu sama lain, jadi gue langsung
minta dia untuk ketemu sama gue di jalan supaya kita bisa pergi barneg-bareng ke
sini. Aku hanya mendengarkan ini semua sambil menyandarkan kepalaku ke
dinding dan menutup mataku. Ervin mungkin tidak tahu apa yang sudah terjadi di
antara aku dan Baron, tapi sepertinya tidak begitu halnya dengan Olivia. Satusatunya
penjelasan yang bisa keluar dari kepalaku bagaimana Olivia bisa
berkesimpulan seperti itu adalah Baron sudah menceritakan kejadian tempo hari
kepada Olivia. Dan lain dari pikiranku, sepertinya Ervin tahu betul tentang
perasaanku kepada Baron, sehingga dia bisa menyambungkan titik-titik yan guntuk
orang lain mungkin hanya terlihat berantakan.
Aku tidak tahu apa yang harus aku rasakan ketika mendengar ini semua. Aku
tidak bisa menangis, apa aku harus tertawa saja dan menganggap bahwa ini semua
hanyalah suatu hiburan" Kuletakkan kedua tanganku untuk menutupi mataku.
Nggak, ini bukan hiburan.
Dri, elo nangis" tanya Ervin pelan. Dan entah karena suaranya atau nadanya,
aku langsung menangis tersedu-sedu. Semua kekecewaanku bisa kutumpahkan.
Ervin hanya memelukku dengan sabar.
It s okay, it s okay... I m here... I m here.... Itu saja yang perlu dia katakan dan aku
menangis semakin keras. Selama beberapa menit dia hanya terdiam dan tetap
memelukku. Aku juga tidak mampu melepaskan cengkeramanku di bahunya.
Untuk pertama kalinya aku merasa terlindungi oleh Ervin. Ervin yang sempat
membuatku menangis tersedu-sedu kemarin malam.
Gue matiin shower-nya, ya, bisik Ervin padaku setelah tangisku agak reda.
Aku mengangguk. Dia mematikan shower yang gagangnya memang berada
persis di atas kepalaku. Bisa berdiri" tanyanya lagi.
Aku lagi-lagi mengangguk. Tapi ketika aku mencoba bangun, rasa sakit
menjalar ke sekujur tubuhku yang ternyata berasal dari kram di kaki kananku.
Kenapa, Dri" tanyanya panik.
Aku tidak bisa menjawab karena kakiku masih kram. Seolah berat tubuhku
hanya satu kilogram, bukannya lima puluh, Ervin langsung menggendongku kelaur
dari kamar mandi dan mendudukkanku di atas tempat tidur. Aku tahu bedcover-ku
jadi basah karenanya, tapi aku tidak peduli. Ervin menghilang sebentar dan kembali
dengan membawa dua handuk besar. Dia memintaku berdiri dengan menggunakan
tubuhnya sebagai penyangga sebelum menyingkapkan bedcover di satu sisi tempat
tidurku dan mengalasi tempat tidurku dengan satu handuk sebelum memintaku
untuk duduk kembali di atas handuk yang telah ditebarkannya di atas seprai.
Kemudian Ervin mulai mengeringkan sekujur tubuhku. Bermula dari kepala hingga
kaki dengan handuk yang satu lagi. Setelah semua cukup kering dia langsung
menyelimuti bahuku dengan bathrobe yang tadinya tergantung di pintu kamar
mandi. Dia kemudian mematikan AC kamarku dan membuka jendela besar yang
menghadap ke balkon. Lo harus ganti baju, kalau nggak nanti masuk angin. Tiba-tiba dia sudah
menyodorkan satu set kaus dan celana training, juga pakaian dalam kering yang
diambilnya dari lemariku.
Ervin langsung menyibukkan diri dengan menarik bedcover-ku dan membawanya
keluar untuk dijemur di balkon. Walaupun sulit, aku mencoba melepas kausku
yang basah, juga pakaian dalamku.
Setelah selesai berpakaian, aku meringkuk di tempat tidur. Ervin masuk dan
buru-buru menyelimutiku dengan selimut. Aku lihat Ervin membereskan baju-baju
basahku dan menaruhnya di keranjang di kamar mandi. Kemudian dia keluar dari
kamarku sambil menggumam, I ll be right back.
Aku baru sadar beberapa saat kemudian bahwa Ervin juga pasti basah kuyup.
Ya ampuuuunnnn... kasihan banget tuh anak. Beberapa lama kemudian dia masuk
kembali ke kamarku dan sudah mengenakan baju yang kering. Aku tahu dia selalu
membawa pakaian ganti di bagasi mobilnya untuk keadaan darurat. Ervin adalah
salah satu orang paling efisien yang kukenal. Dia selalu siap un
tuk menghadapi situasi apa pun. Vin..., panggilku di antara bantal-bantal dan selimut yang menutupi tubuhku
yang masih kedinginan. Ya, Dri" tanya Ervin yang berjalan ke arahku, lalu berlutut di sampingku.
Makasih ya, ucapku pelan.
Ervin hanya tersenyum dan membelai rambutku yang masih agak basah.
Could you... Aku menghentikan diriku sebelum mengatakan kata-kata itu.
Could you stay for a while" Karena takut terdengar terlalu memaksa.
Tapi seperti membaca pikiranku Ervin mengangguk. Dia menarik kursi ke
samping tempat tidurku dan mencoba menghangatkan tanganku yang memang
masih terasa dingin dengan menggenggamnya di antara kedua telapak tangannya
dan mulai menggosoknya. Aku baru sadar bahwa tangan Ervin terasa sangat
hangat. Tak lama aku pun tertidur.
Ketika terbangun beberapa jam kemudian, Ervin sudah hilang dari kamarku.
Aku masih bisa mencium baunya. Aku mengembuskan napas, merasa kehilangan.
Saat itu aku sadar bahwa aku melihat sisi lain dari Ervin. Sisi yang membuat semua
perempuan tergila-gila padanya, ternyata bukan hanya karena wajah Dewa Yunaninya,
tapi karena pada dasarnya, Ervin adalah orang baik.
15. TAHAP PENYEMBUHAN MALAM itu aku menghindar ketika orangtuaku ingin membahas kejadian tadi pagi.
Aku tidak bisa memberikan penjelasan apa pun kepada mereka. Aku tahu bahwa
orangtuaku tahu Ervin menemani aku di kamarku, tapi mereka tidak mengucapkan
sepatah kata pun tentang itu dan aku tidak menawarkan penjelasan. Untung saja
kantorku libur hingga hari Rabu karena Natal, membuatku punya waktu untuk
mengistirahatkan pikiranku yang sedang tidak keruan. Aku bisa merasakan gejala
flu mulai menyerangku. Malam itu Ervin meneleponku untuk memastikan apakah
aku baik-baik saja dan meminta maaf karena harus meninggalkanku sebelum aku
bangun karena ada acara keluarga malam itu. Dia terdengar agak khawatir.
Selama beberapa hari Baron tidak menghubungiku sama sekali. Sepertinya dia
akan menepati janjinya pada Olivia. Meskipun aku tahu bahwa aku sudah
melakukan hal yang benar, tapi hatiku terasa remuk. Hampir setiap malam aku
pergi tidur sambil menangis. Mataku membengkak, tampangku kacau-balau,
sehingga membuat orangtuaku khawatir. Tapi aku meyakinkan mereka bahwa aku
hanya terkena flu. Pada Hari Natal aku dan orangtuaku pergi ke rumah kakakku
yang merayakan ulang tahunnya yang ke-33. Kakakku yang melihat keadaanku
langsung khawatir juga. Aku yakin orangtuaku sudah menceritakan kejadian hari
Minggu itu. Tapi Mbak Tita tidak menanyakan apa-apa padaku.
Selama liburan Natal, daripada menghabiskan waktunya bersama keluarga,
Ervin justru ada di rumahku dan menghabiskan liburan dengan keluargaku.
Orangtuaku tidak berkeberaan sama sekali karena mereka kini telah cukup
mengenal Ervin. Sedangkan aku sendiri juga tidak berkeberatan karena sejujurnya,
ternyata Ervin cukup menghibur. Hubunganku dengan Ervin berangsur membaik.
Ervin tidak pernah menyinggung soal Baron, dan aku pun tidak membahas perkara
itu. Ervin juga tidak menyinggung mengenai kejadian aku menciumnya atau aku
melarikan diri ketika bertemu dengannya di pernikahan Alya. Aku juga puas hanya
dengan berdiam diri. Hari Kamis sewaktu aku seharusnya sudah masuk kantor lagi, Ervin
menanyakan apa aku perlu dijemput dan diantar pulang olehnya. Tapi aku menolak
dan memilih naik taksi. Aku tidak bisa membawa mobil sendiri karena akhir-akhir
ini terlalu sering tiba-tiba menangis tanpa sebab kalau sedang sendirian. Daripada
nanti kecelakaan, aku lebih pilih safety.
Hari pertama aku kembali bekerja, ketika semua orang kantor sudah pulang,
aku menemukan diriku sendirian di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh.
Aku harus pulang tapi aku justru menutup pintu ruanganku, duduk bersila tanpa
sepatu di kursi kerjaku sambil menghadap jendela dan mulai menangis sejadijadinya.
Aku mendengar ketukan, tapi tidak kuhiraukan. Aku pikir itu pasti Mr.
Bron, alias Brondong, salah satu office boy di kantorku yang nama aslinya adalah
Bejo. Tapi kemudian aku mendengar pintu ruanganku dibuka.
Aku mencoba untuk menghapus bekas-bekas air ata di wajahku.
Kok belum pulang, Jo" tanyaku sambil mem
utar kursiku untuk menghadap
pintu. Ternyata bukan Bejo yang aku temui, tapi Ervin. Melihat wajahku yang merah
dan mataku yang bengkak dia langsung tahu aku haibs menangis.
Dri... mmmmhhhh... gue lihat lampu ruangan lo masih nyala. Gue cuma
mau... Dia tidak melanjutkan kata-katanya dan hanya tersenyum sedih melihat
keadaanku. Aku mencoba untuk tersenyum. Iya, gue juga baru mau pulang, ucapku dan


Miss Pesimis Karya Alia Zalea di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

buru-buru membereskan mejaku mencoba mengalihkan perhatian Ervin dari
wajahku. Setelah kejadian hari Minggu di kamar mandi itu Ervin memang tidak pernah
melihatku menangis lagi. Setidak-tidaknya dia berusaha keras untuk menghiburku
agar aku tidak menangis lagi. Selama itu pula aku berpura-pura tegar dan
bertingkah laku bagaikan kejadian dengan Baron tidak berdampak apa-apa padaku.
Tapi malam itu aku mengaku kalah, dan aku tidak peduli bahwa Ervin
memergokiku sedang menangis.
Tiba-tiba Ervin sudah berdiri di sampingku, menggenggam tanganku dan
memelukku. Vin, I m fine, you don t have to do this, ucapku sambil mencoba untuk
melepaskan diri dari pelukannya.
No, jawabnyas ingkat dan tetap memelukku.
Really, I m fine, bujukku sekali lagi. Tapi Ervin justru mengeratkan
pelukannya. Lepas, ucapku lagi, kini dengan nada lebih serius.
Nggak, Dri. Lepasin, lepas... Ervin lepasin!!! Kini aku mulai berteriak panik. Tapi Ervin
tetap memelukku. Akhirnya bendungan air mataku meledak, dan aku tersedu-sedu
sambil sebisa mungkin berpegang erat pada Ervin.
Gue cinta sama Baron, Vin. Kenapa gue nggak bisa sama dia" ucapku di
tengah tangisanku. I know, ucapnya pelan. I can t do this, tangisku.
Lo bisa, lo pasti bisa. Gimana lo bisa tahu, lo nggak pernah patah hati, ucapku dengan keras kepala.
Ervin tidak mengatakan apa-apa, hanya tetap memelukku.
Aku tidak tahu berapa lama aku berada di pelukannya, tapi pasti sudah cukup
lama karena bekas-bekas air mata sudah mengering di pipiku. Aku mengangkat
kepalaku dari dada Ervin dan memandangnya. Ervin pun memandangku dengan
memegang kepalaku di antara kedua belah tangannya yang besar itu. Kemudian dia
mulai menciumku perlahan-lahan. Mulai dari kening, kedua mataku yang masih
agak basah, pipi, dan hidung. Ervin berhenti sesaat untuk menatap mataku yang
mungkin terlihat bingung dan kaget. Lalu pandangannya jatuh ke bibirku, dan dia
terlihat ragu. Mobil lo di mana" tanya Ervin setelah beberapa menit di keheningan.
Di rumah. Gue naik taksi ke kantor.
Mau gue antar pulang"
Aku mengangguk. Ervin melepaskanku. Dia berdiri sejauh mungkin dari aku.
Wajahnya terlihat serius ketika menungguku membereskan barang-barang. Aku
menunggu dia mengatakan sesuatu, tapi tidak ada satu patah kata pun yang keluar
dari mulutnya. * * * Keesokan paginya aku terlalu lelah dan cranky untuk pergi ke kantor sehingga
meminta izin sakit. Pat yang mendengar suaraku yang memang agak-agak serak
langsung maklum dan minta aku untuk pergi ke dokter dan beristirahat hingga
sembuh. Pukul sembilan pagi Ervin meneleponku untuk menanyakan keberadaanku
karena dia tidak melihatku di kantor. Aku memakai alasan kelelahan. Selama satu
hari penuh aku tidak keluar kamar, aku hanya makan Cadbury sebanyakbanyaknya
dan memutar hampir semua DVD romantis yang kumiliki, mulai dari
Pretty in Pink hingga 27 Dresses . Tapi rupanya Molly Ringwald dan Katherine
Heigl tidak bisa menyelamatkanku. Akhirnya aku hanya terbaring di tempat tidur
sambil memandangi langit-langit kamarku. Orangtuaku tidak menggangguku sama
sekali karena setahu mereka aku memang masih sedikit flu.
Pukul enam sore Ervin memasuki kamarku untuk melihat kondisiku dengan
menjinjing satu kantong plastik berisi stroberi, buah kesukaanku. Ketika melihat
kamarku yang gelap dan tubuhku yang meringkuk di atas tempat tidur, Ervin
langsung menarikku turun dari tempat tidur.
Addduuuuhhhhhh sakit, Vin, ucapku sambil meraba pergelangan tanganku
yang merah karena cengkeraman ganas Ervin.
Bagus, itu berarti lo masih sadar. Pak baju, Dri, kita pergi ke Lembang malam
ini juga, perintahnya sambil mulai membuka-buka laci dresser dan mengeluarkan
beberapa kausku. Lo ngapain sih" tanyaku sebal sambil mencoba menata kaus-kausku kembali
pada tempatnya. Gue mau bawa lo liburan. Gue udah minta izin ke bonyok lo, ucapnya
singkat. Gue nggak butuh liburan, teriakku.
Ayo, jalan! geramnya balik padaku.
Kaget atas geramannya, aku hanya bisa melongo beberapa saat.
Apa mau gue bilang ke orangtua lo supaya ngebawa lo ke rumah sakit"
tanyanya. Mendengar kata orangtuaku disebut-sebut aku langsung ngamuk.
Bilang saja ke mereka, memang gue pikirin, balasku sambil melangkah
kembali ke tempat tidurku. Aku sebenarnya hanya menggertak. Tapi Ervin tahu
sifatku dan menggertak balik.
Oke, ucapnya lalu membuka pintu kamar.
Aku yang melihat dia ternyata benar-benar mau mengadu ke orangtuaku
tentang kondisiku yang sebenarnya langsung panik dan menarik tangannya.
Eh, jangan! Oke, gue ikut elo! Kasih gue waktu setengah jam.
Aku buru-buru ngacir ke kamar mandi.
Satu jam kemudian kami sudah dalam perjalanan menuju Lembang. Ervin
menceritakan padaku bahwa dia berkata kepada orangtuaku ada acara kantor yang
harus dihadiri di Lembang pada hari Sabtu pagi, makanya aku harus pergi malam
itu juga. Orangtuaku bahkan tidak menanyakan di mana aku akan tinggal. Mereka
terlalu terkesima dengan tingkah laku Ervin yang akhir-akhir ini selalu muncul di
saat aku memerlukannya. Aku hampir tidak pernah berbohong kepada orangtuaku,
kecuali untuk hal-hal yang bisa membuat mereka pingsan kalau mendengar
kenyataannya. Dan inilah salah satu keadaan di saat mereka lebih baik tidak tahu
tentang keadaanku yang sebenarnya.
Lembang bukannya ramai akhir minggu ini" Kan mau Tahun Baru" tanyaku
membuka pembicaraan. Gue ada kenalan yang punya hotel, dia bisa kasih kita tempat, jelas Ervin
singkat. Aku hanya membentuk mulutku menjadi O sambil manggut-manggut.
Stereo di mobil Ervin sedang melantunkan Dirty Little Secret milik The All
American Rejects. Aneh, aku tidak pernah tahu Ervin suka band rock ABG.
Mmmmhhhh, dirty little secret. Sepertinya itu yang harus kukerjakan akhir minggu
ini. Mengerjakan sesuatu yang gila untuk menghapus wajah Baron dari kepalaku
dan rasa patah hatiku ini.
Kami tiba di Lembang jam sebelas malam karena tol Cikampek ternyata padat
sekali. Kukira sewaktu Ervin mengatakan tempat yang dimaksud adalahd ua
kamar hotel, paling maksimum mungkin suatu suite. Tapi ternyata kami dibawa ke
sebuah cottage dengan empat kamar. Hotelnya sendiri juga ternyata adalah salah
satu hotel termahal di Lembang. Aku langsung memilih satu kamar yang paling
jauh dari Ervin. Pukul satu pagi, ketika barang-barang sudah di-unpack dan aku sudah berbaring
di atas tempat tidur, taktik untuk meluncurkan ide dirty little secret-ku mulai
terbentuk. Aku baru saja selesai merencanakan langkah pertamaku untuk
melupakan Baron, yaitu: Get real drunk and start making out with some random guy.
Tiba-tiba aku mendengar langkah Ervin terhenti di luar pintu kamarku. Tapi dia
tidak mengetuk dan beberapa menit kemudian kudengar langkahnya kembali
menuju kamarnya. Untuk pertmaa kali selama beberapa hari, aku bisa tertidur
sambil tersenyum. * * * Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Setelah menelepon orangtuaku, aku pun pergi
keluar cottage untuk jalan-jalan pagi. Aku tidak peduli Ervin masih tidur. Kalau
memang mau berburu laki-laki, aku harus mengerjakan ini sendiri. Aku hanya
membawa kunci kamar dan saputangan ketika keluar dari cottage.
Cuaca di luar cukup dingin, tapi tidak sampai membuatku menggigil. Aku
menghirup udara segar Lembang yang bersih dan bebas polusi. Perlahan-lahan aku
mulai berjalan menuju bangunan utama hotel. Ternyata sudah banyak tamu yang
sedang berolahraga, beberapa dari mereka cute juga.
Nice butt, pikirku ketika ada dua cowok bule lari melewatiku. Kaus yang mereka
kenakan sudah basah kuyup karena keringat. Lalu ada segerombolan anak-anak
dengan rollerblade meluncur ke arahku. Aku memilih jalan yang agak menanjak
karena itu bisa lebih cepat membakar kalori. Mungkin habis ini aku mau ke gym
untuk mulai latihan cardio agar perutku tidak kelihatan terlalu buncit, habis itu
mungkin berenang. Tapi baru berjalan selama setengah jam aku
sudah kelelahan, untung saja aku sudah hampir sampai di bangunan utama. Aku langsung menuju
ke restoran hotel untuk sarapan. Aku tidak memikirkan bahwa Ervin mungkin
sekarang sedang mencariku. Bodo amat deh. Siapa suruh memaksa orang yang
sedang tidak mau diganggu untuk pergi ke Lembang"
Aku memasuki restoran dengan kaus yang sudah agak basah dengan keringat.
Wajahku sudah aku sapu dengan saputangan sehingga tidak berkeringat lagi, tapi
rambutku sudah menempel di kulit kepalaku. Aku tidak peduli. Kalau aku harus
kembali ke cottage untuk mandi dan mengganti pakaian sebelum ke restoran, aku
bisa telanjut mati kelaparan.
Ketika sedang berjalan mengelilingi meja buffet, aku menyadari bahwa ada tiga
laki-laki yang duduk di salah satu meja di dekat jendela sedang memperhatikanku.
Mungkin mereka sedikit bingung melihat perempuan sedang sarapan sendirian di
restoran hotel beberapa hari sebelum Tahun Baru. Lagi-lagi, bodo amat. Aku
mengambil tiga chocolate chip waffles dan menyiramkan sirup maple di atasnya, serta
segelas besar orange juice. Aku memilih untuk duduk di salah satu meja khusus
untuk dua orang di dekat dinding. Aku mulai melahap sarapanku dengan santai.
Lagi-lagi ketiga laki-laki tadi memandangiku dengan lebih saksama. Aku tersenyum
ke arah mereka. Aku memfokuskan diri pada potongan waffle yang kedua. Tiba-tiba aku melihat
salah seorang dari ketiga laki-laki tadi mendatangiku. Aku hampir saja tersedak
potongan waffle yang baru masuk mulutku.
Mudah-mudahan laki-laki ini tidak menginterpretasikan senyumku tadi sebagai
suatu undangan untuk hal-hal yang tidak-tidak, pikirku.
Excuse me, ucap laki-laki itu padaku ketika dia sudah berdiri di depan mejaku.
Ya" tanyaku bingung.
Adri, kan" tanyanya.
Aku mengangguk. Lho kok nih orang bisa tahu namaku ya" Aku jelas-jelas tidak
mengenalnya. Tapi tunggu... Oh my God, dia ini... aduhhhhh siapa namanya" Aku
kenal dia... siapa namanya"
Aku Eddie, ingat nggak" Aku pernah datang ke rumahmu pas pesta Natal
beberapa tahun yang lalu....
Oh my God, iya, aku ingat. Maaf, tadi aku tidak mengenalimu, soalnya kamu...
beda, ucapku ketika memoriku mulai kembali. Eddie Tan adalah salah satu orang
Cina-Malaysia yang rekan kerja Vincent. Orangnya cukup baik, bahkan terkadang
suka kocak. Sori, maksudku... kami... tidak bermaksud mengamatimu tadi, tapi kupikir aku
kenal kamu saat kamu masuk tadi. Eddie melambaikan tangannya pada kedua
temannya. Aku tertawa. It s alright. Kalian lagi liburan" tanyaku sambil melambaikan
tangan kepada teman-teman Eddie dan mempersilakan Eddie duduk di kursi di
depanku. Iya. Ini liburan khusus cowok. Aku akan menikah April besok...
Wow! Selamat ya! Mmm... aku sudah dengar soal kamu dan Vincent. I m sorry about that,
ucapnya penuh simpatia. Ah... nggak pa-pa kok. Lagi pula, itu sudah lama lewat.
Kau tau kan dia menikah dengan orang Malaysia" tanyanya.
Yeah, Farah, right" Ya, kok tahu" tanya Eddie kaget.
Vi ngasih tahu aku, balasku.
Oke... tapi kamu tahu mereka sudah pindah ke KL"
What""!! Bercanda kamu"
Eddie menggelengkan kepalanya. Vincent sudah mulai kerja di sana bulan
lalu. Oh my God, dia tidak bilang-bilang soal ini, tapi yah... rasanya aku lupa
membalas e-mail terakhirnya, ucapku sambil tertawa, mengingat bahwa aku
menerima e-mail terakhir darinya sekitar tiga bulan yang lalu.
Vincent pasti kesal kalau kuberitahu aku bertemu denganmu di sini. Dia
tadinya mau datang, tapi terlalu sibuk mengurus soal pindahan.
Ah, kurasa dia nggak bakalan marah, ucapku.
Hei, kamu sendirian di sini"
No, aku sama temna, tapi dia masih tidur, jelasku.
Well, kamu ada rencana malam ini" Aku dan teman-temanku akan merayakan
saat-saat terakhir kebebasanku di bar nanti malam. Kau dan temanmu datang saja.
Aku yang traktir minum. Serius" Eddie mengangguk. Jam berapa" Aku antusias juga dengan rencana malam ini.
Tiba-tiba aku melihat Ervin berjalan ke arahku dengan wajah merah padam. Uhoh,
sepertinya dia akan ngamuk karena aku pergi tidak bilang-bilang.
Sekitar jam sembilan, setelah makan malam. Bagaimana" jawab Eddie.
Jam sembilan oke. Ad a dress code" Pakai sesuatu yang... well, comfortable. We gonna party till dawn. Eddie
mengucapkannya sambil bergaya seperti John Travolta di Pulp Fiction .
Oke, I ll see you at nine then, ucapku buru-buru sambil tertawa karena Ervin
sudah hampir sampai ke mejaku.
Eddie lalu berdiri, siap meninggalkan mejaku dan hampir saja bertabrakan
dengan Ervin yang menatapnya dengan sangar.
Where the hell were you" geram Ervin ketika Eddie sudah berlalu. Dia berusaha
menahan teriakannya. Well, good morning to you too, balasku santai.
Gue bangun lo sudah hilang, gue tungguin nggak balik-balik. Gue cari ke
mana-mana nggak ada, mana HP ditinggal, lagi. Nggak tahunya di sini lagi makan,
omelnya panjang-lebar. Waffles" tanyanya mengabaikan omelannya sambil memindahkan piringku ke
hadapannya. Hari ini pokoknya aku menolak untuk bertengkar dengan siapa pun. Aku tidak
mau merusak suasana hatiku yang sudah lumayan happy.
Vin, hari Senin gue mesti kerja lho. Kita musti balik besok pagi.
Senin kan hari kejepit, lo minta libur saja deh sama Pat. Divisi gue saja diliburin
kok. Enak saja lo, Pat mana bisa kerja kalau nggak ada gue"
Ya bilang saja lo masih sakit. Gimana kek. Sekali-sekali bohong sama Bos kan
nggak apa-apa, Dri. Lo nantangin gue" tanyaku.
Ervin agak kaget dengan pertanyaanku. Maksud hatiku adalah supaya kata-kata
itu keluar dengan nada galak, tapi malah justru terdengar menggoda.
Ervin mengeluarkan BlackBerry dari celana jinsnya dan menyodorkannya
kepadaku. Nggak usah, nanti gue telepon pakai HP gue. Lagian nggak ingatlah gue
nomornya Pat. Ervin memandangiku dengan tatapan menantang.
Oh ya, nanti malam lo mau ikutan nggak party sama gue" tanyaku
mengalihkan pembicaraan. Party" tanya Ervin sambil menusukkan garpu ke waffle yang aku sodorkan
kepadanya dan mulai makan.
Bachelor party-nya Eddie.
Eddie" tanya Ervin dengan mulut penuh. Melihat tampangnya dengan mulut
penuh tapi masih mencoba untuk berbicara, aku jadi ingat ikan mas koki.
Itu tuh, cowok yang tadi duduk sama gue. Saat itu pasukannya Eddie sudah
selesai sarapan dan melambaikan tangan. Eddie mengacungkan jari-jarinya
menunjuk angka sembilan. Aku mengangguk dan melambaikan tanganku.
Setelah menelan potongan waffle yang cuku pbesar dan menghabiskan orange
juice-ku Ervin bertanya, Dia siapa sih"
Teman pac... eh... teman gue waktu di D.C., ucapku akhirnya. Kalau aku
sampai harus menceritakan tentang Vincent bisa jadi panjang urusannya.
Memang gue diundang"


Miss Pesimis Karya Alia Zalea di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ya iyalah diundang, Jabrik. Kalau nggak ngapain gue ajak elo" Enakan juga
pergi sendiri biar bisa ngegaet cowok. Daripada nongol sama elo, prospek gue bisa
garing. Ervin memandangku curiga. Prospek"
Iya prospek, ngaku deh. Lo bawa gue ke sini untuk nenangin gue supaya gue
bisa lupa sama Baron, kan" Ya sudah, ini gue lagi mau usaha untuk ngelupain dia.
Aku berdiri dan berjalan menuju meja prasmanan untuk mengambil dua lembar
French Toast dan segelas susu. Rupanya Ervin menunggu hingga aku sampai di meja
sebelum ngembat salah satu rotiku.
Aduhhhh... ambil sendiri deh, omelku.
Tapi Ervin sepertinya tidak peduli. Lagi-lagi dia minum susuku sampai habis.
Tapi kini dia berdiri dan mengisi dua gelas lagi.
Setelah sarapan aku menolak paksaan Ervin untuk pergi ke Dago. Bodo deh, beli
baju kan bisa di Jakarta, ngapain amat mesti beli di Bandung" Lagian juga tubuhku
tidak akan tahan untuk melalui jalan yang berliku-liku seperti tadi malam. Akhirnya
Ervin pun tidak jadi pergi ke Dago dan menghabiskan sisa pagi itu dengan
menonton TV. Kubiarkan Ervin dengan HBO-nya, sementara aku menyibukkan diri
untuk memilih-milih baju yang akan kukenakan malam itu. Setiap perempuan pasti
ada sisi slutty-nya, dan aku berencana mengeluarkannya full force malam ini. Aku
memutuskan untuk menggunakan atasan warna hijau dengan plunging neckline,
tanpa ritsleting. Atasan itu tanpa lengan, jadi aku terpaksa mengenakan kardigan
supaya tidak kedinginan. Aku dan Ervin pergi makan siang di restoran hotel jam setengah dua. Lalu aku
menemaninya nonton TV. Aku meninggalkan Ervin untuk mandi jam setengah
enam. Jam se tengah tujuh Ervin sudah mengetuk pintu kamarku.
Dri, makan yuk. Aku keluar dari kamarku dan bertatapan dengan Ervin yang memandangku
dengan mulut ternganga. Tidak pernah aku melihat reaksi seperti ini di wajah Ervin.
Apalagi penyebab utama reaksinya adalah aku. Dia memandangiku mulai dari
kakiku yang hanya mengenakan sandal warna biru langit, rok jinsku sebatas
dengkul dengan belahan depan, dan atasan hijauku yang kututupi dengan kardigan.
Ervin menggunakan baju serbaputih. Celana panjang yang longgar dari bahan goni,
kemeja putih, dan sandal. Cukup biasa, tapi tetap... ganteng.
Yuk, ucapku santai. Ervin tidak memberikan komentar apa-apa dan berjalan bersamaku.
Kami memutuskan untuk makan malam di bar hotel malam itu. Ketika
memasuki bar aku sadar bahwa banyak orang yang tiba-tiba memperhatikan kami.
Aku agak-agak risi. Ya ampun, dandananku pasti salah, pikirku dalam hati. Tapi
sudah terlambat, aku tidak mungkin kembali lagi ke cottage untuk ganti baju. Ervin
juga rupanya sadar bahwa orang-orang di bar sedang memperhatikan kami karena
dia langsung menggandeng tanganku.
Ketika sedang menikmati makan malam, tiba-tiba ada waiter yang mendatangi
meja kami sambil membawa segelas Dirty Martini.
Mbak, ini dari cowok yang duduk di bar itu, ucap si waiter sambil menunjuk
ke seorang laki-laki bule yan gdari tadi memang berusaha mendapatkan
perhatianku tapi tidak kuhiraukan.
Aku mengangkat gelas itu ke arahnya dan meminum seteguk. Ervin langsung
memelototiku. Lo ngapain sih" geramnya.
Minum, jawabku singkat. Dri... Dari nadanya aku tahu Ervin sedang mencoba untuk mengingatkanku
agar tidak terlalu ramah pada laki-laki yang tidak kukenal.
Aku belum sempat menenangkan Ervin ketika Eddie dan rombongannya tiba.
Aku buru-buru menyambut mereka.
Hey, Eddie, meet my friend. This is Ervin. Vin, ini Eddie, ucapku
memperkenalkan mereka. Aku belum sempat memperkenalkan mereka di restoran
tadi pagi karena wajah Ervin terlihat sangat sangar untuk bisa dikenalkan sebagai
temanku. Kemudian Eddie memperkenalkan dua temannya, Zach dan Othman.
Jelas-jelas Othman adalah keturunan Melayu Malaysia, kok dia mau sih masuk ke
bar" Mmmmhhhh liberal juga. Beberapa jam kemudian aku sadar seberapa
liberalnya Othman itu. Sepanjang malam Ervin kelihatan cukup ramah terhadap teman-temanku, tapdi
dia menatap dingin kepadaku. Dari Eddie, Ervin akhirnya mengetahui sejarahku
dengan Vincent. Ketika kami meninggalkan bar malam itu, cuma tinggal Zach dan
aku yang masih sadar. Ervin kelihatan cukup sadar, tapi matanya merah
kebanyakan minum tequilla shots dengan Eddie dan Othman. Aku dan Zach memilih
minum Corona, karena kami berdua ternyata memang tidak biasa minum.
* * * Aku dan Ervin masuk cottage sekitar pukul empat pagi. Aku sudah hampir
memenuhi langkah pertamaku untuk get drunk and make out with some random guy
sebelum Ervin menarikku dari pelukan seorang laki-laki bule yang mencoba
menciumku. Damn it. Cowok tadi sempat mencium lo nggak" tanya Ervin ketika aku sedang
menyalakan salah satu lampu sambil melepaskan kardiganku.
Cowok yang mana" tanyaku cuek sambil melepaskan sandalku.
Cowok yang mendorong lo ke dinding itu, Jawabnya dengna nada meninggi.
Nggak, nggak jadi, elo sih ganggu, kalau nggak kan pasti sudah jadi.
Maksud lo" Aku menghadap Ervin sambil bertolak pinggang.
Langkah pertama untuk melupakan Baron, get drunk and make-out with some
random guy. Lo bercanda. Nope, I am dead serious. Gara-gara elo, jadinya gue nggak bisa menyelesaikan
langkah pertama. Besok gue mesti cari cowok lain.
Ervin memandangiku bingung. Aku buru-buru menambahkan, Iya, biar selesai
langkah penyembuhannya. Lo drunk" Aku berpikir sejenak, lalu menghadap Ervin. Sedikit, hehehe... Lo malahan
yang kelihatan slammed, ujarku sambil tersenyum. Aku menolak bertengkar
dengannya. Humorku pun tertular ke Ervin. I m fine. I have a good buzz, jawabnya sambil
nyengir iseng. Matanya mulai bersinar-sinar.
Okay then, gue mau tidur...
Aku baru akan melangkah ke kamarku ketika Ervin menggapai tanganku.
Can I do it" tanya Ervin sambil mendekatkan dirinya pad
aku. Aku mundur selangkah dan punggungku menabrak dinding.
Do what" tanyaku bingung.
Making-out sama elo. Aku terdiam sesaat, mencoba mencerna kata-katanya. Ya nggak bisalah, lo kan
bukan some random guy. I need some random guy, balasku akhirnya masih dengan
humor. I can be random. Ervin menutup jarak tiga puluh sentimeter yang memisahkan
tubuhku dengan tubuhnya. Definisi dari random guy adalah laki-laki yang gue nggak kenal dan nggak akan
ketemu lagi setelah gue cium, balasku sambil mencoba tidak menahan napas ketika
sadar bahwa mata Ervin malam itu kelihatan superseksi. Semua selera humorku
telah hilang, diganti dengan rasa ragu.
Ya lo pura-pura saja nggak kenal sama gue untuk beberapa menit. Dan gue
janji, besok gue nggak akan ngomongin masalah ini lagi. Tatapan Ervin turun dari
mata ke bibirku. Saat itu juga aku berhenti bernapas. Aku mencoba mencari alasan yang lebih
masuk akal dan teringat sesuatu yang bisa mengulur waktu.
Apa ini trik yang selalu lo gunakan sebelum nyium perempuan" Lo bawa dulu
dia makan malam, pura-pura marah kalau lo lihat ada laki-laki lain yang
kelihatannya tertarik sama perempuan itu, terus lo bawa pulang ke apartemen lo, lo
dorong dia ke dinding, terus lo cium dia" Gitu" jawabku ketus samibl mencoba
bergeser ke kiri supaya ada udara untuk bernapas. Tapi usahaku diblok Ervin yang
kini menekanku ke dinding dengan seluruh berat tubuhnya.
Menurut lo" Ervin mendorong bahu kiriku ke dinding.
Gue nggak tahu, makanya gue tanya ke elo. Suaraku terdengar serak. Ervin
semakin menekan tubuhku ke dinding. Aku harus mengangkat tumitku dan berjinjit
dalam usaha untuk menghindarinya. Aku mulai berasa gerah. Dada Ervin menekan
payudaraku. Biasanya sih memang gitu, tapi malam ini kayaknya gue kurang sukses, jawab
Ervin cuek sambil mulai memandangiku seperti aku ini es krim yang siap dijilat.
Aku hanya bisa tertawa lemah. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Ervin mulai
bergerak ke leherku. Aku dapat merasakan embusan napasnya di kulitku sebelum
kemudian ujung-ujung jarinya mulai menyentuh kulitku.
Ada pertanyaan lagi" bisik Ervin dengan suara sedikit serak. Jari telunjuknya
menarik garis dari leher ke belahan dadaku. Kakiku langsung lemas.
Aku tadinya mau mengangguk, tapi aku memang tidak punya pertanyaan lagi
untuknya. Lebih tepatnya otakku tiba-tiba beku, sehingga aku tidak bisa berpikir
sama sekali. Aku lalu menggeleng.
Jangan menghindar lagi, oke"
Aku harus mengangkat wajah untuk bisa menatap matanya yang terlihat sangat
serius. Aku menelan ludah sebelum menjawab. Okay then, tantangku.
Ervin kelihatan kaget atas jawabanku. Dari matanya tebersit sedikit keraguan
tapi pelan-pelan dia mulai menciumku. Pertama-tama ciumannya hanya meliputi
bibirku tapi kemudian dia pindah ke leherku, untungnya dia kemudian kembali lagi
ke bibir, kalau tidak aku bisa pingsan di pelukannya. Tiba-tiba ciuman Ervin
menjadi semakin dalam. Satu-satunya benda yang masih menopangku berdiri
adalah tubuh Ervin yang menekanku ke dinding.
Ervin meraba pahaku di bawah rok jinsku, sementara bibirnya tidak pernah
meninggalkan bibirku. Aku mau protes, tapi Ervin menelan semua perkataanku dan
memaksaku membuka mulut lebih legar agar dia bisa merasakan, sementara
tangannya mengelusi bagian-bagian sensitif tubuhku. Dan untuk pertama kalinya
aku percaya bahwa seorang perempuan bisa mencapai orgasme di luar seks.
Tubuhku menggeletar saat aku melepaskan hiasan terakhirku. Erivn langsung
berhenti menciumku sebelum kemudian memelukku. Ervin cukup berpengalaman
untuk tahu bahwa dialah penyebab kenapa aku baru saja mengeluarkan teriakan
yang agak tertelan oleh bibirnya.
Mataku agak-agak kabur, dan aku tidak bisa melihat dengan jelas untuk
beberapa menit. Napasku pun pendek-pendek.
Cukup, ucapku mencoba melepaskan diri dari pelukannya.
Ervin tidak bergerak dari hadapanku, dia malah mendekatkan keningnya
hingga menyentuh keningku. Dia sepertinya juga agak shock. Napasnya memburu.
Aku tetap menunduk karena tidak berani menatap Ervin. Aku menggelengkan
kepalaku lemah. I m going to bed, ucapku. Lalu meninggalkan Ervin di ruan
g tamu. Tidak lama kemudian aku mendengar suara kepalan tinju menghantam dinding.
Langkah pertama untuk melupakan Baron beres. Agak sedikit keterlaluan dan
sedikit di luar rencana karena harus melibatkan Ervin, tapi beres. Langkah kedua... I
need to have a one night stand. Aku baru sadar dari kejadian beberapa menit yang lalu
bahwa tubuhku sudah tidak sinkron dengan otakku. Secara mental aku tidak siap
untuk mulai berhubungan secara seksual dengan seorang laki-laki di luar nikah, tapi
secara fisik, aku siap. 16. MEMENUHI KEBUTUHAN AKU menolak bersembunyi di kamarku. Bagaimanapun juga, kejadian tadi malam
adalah pilihanku, bukan suatu paksaan siapa pun. Aku mencoba menghadapi Ervin.
Ketika aku keluar dari kamarku, Ervin sedang duduk di depan TV yang
dibiarkannya tidak bersuara. Di TV, Oprah sedang mewawancarai Tom Hanks.
Kelihatannya Ervin belum mandi karena dia masih menggunakan celana piama dan
kaus tidurnya. Rambut jabriknya terlihat seperti jengger ayam yang agak layu dan
matanya agak-agak merah, seperti orang yang tidak tidur semalaman.
Lo hangover, Vin" tanyaku lalu duduk di sampingnya.
Ervin memandangiku dengan tatapan kesal sebelum menjawab, Nggak.
Eh, kemarin lo bilang mau ke Dago" Masih mau pergi" Gue pergi deh sama
elo. Lo dah telepon Pat" tanya Ervin sambil mengganti channel TV dengan remote
control. Belum. Besok pagi saja, jawabku. Jujur saja, aku lupa sama sekali untuk
menelepon Pat. Lo takut" tantangnya.
Siapa yang takut. Gue cuma mikir mendingan gue telepon dia besok pagi, biar
lebih meyakinkan kalau gue sakit. Gitu lho.
Gue bilang lo takut. Sudah dibilang nggak, lo nggak dengar, ya"
Itu kan cuma soal kecil, Dri. Orang sering kok melakukan itu. Kalau memang lo
butuh, kenapa nggak minta"
Iya, gue tahu orang sering izin, tapi gue nggak bisa. Gue nggak tega ninggalin
Pat dan Sony untuk ngerjain pekerjaan gue. Lagian juga hari libur gue sudah habis.
Kok bisa sih self control lo segitu tingginya" Padahal orang kalau sudah sampai
second base susah berhenti. Itu keputusan yang nggak bisa dibalik.
Ervin lagi membicarakan apa sih" pikirku.
Second base" Memangnya baseball" tanyaku sambil tertawa lalu mencoba
merebut remote dari tangan Ervin.
Lo ngapain sih" tanya Ervin sambil masih tetap mempertahankan remote di
tangannya dan menjauhkannya dari jangkauanku.
Pinjam dong, gue mau lihat Oprah. Aku masih mencoba merebut remote itu
tapi tidak berhasil. Tangan Ervin yang jelas-jelas lebih panjang daripada tanganku
dengan mudahnya menjauhkan remote itu dari jangkauanku.
Untuk beberapa menit kami pun sibuk berebut remote sambil sama-sama tertawa
karena urusan ini sebetulnya tidak seharusnya dilakukan oleh dua orang dewasa
yang sudah melewati ulang tahun ketiga puluh mereka. Namun, akhirnya aku bisa
merebut remote itu dari tangannya.
* * * Hari itu kami akhirnya memang memutuskan untuk pergi ke Dago. Ervin
memperbolehkanku untuk mengemudikan mobilnya agar aku tidak mual. Dan
tidak sengaja kami bertemu lagi dengan Eddie dan pasukannya.
How s your head" tanyaku pada Eddie ketika kami sudah duduk di salah satu
restoran untuk makan. It s okay, ucap Eddie sambil tertawa. Dia hanya minum air putih dan makan
roti bakar. Aku tertawa melihat tampangnya yang bersusah payah mencoba menelan
sepotong roti. Perutnya pasti masih tidak keruan rasanya setelah delapan shot
tequilla masuk ke tubuhnya.
Ada plan for tonight" tanya Othman padaku.
Setelah semalam, aku tahu kalau Othman selalu berbicara dengan bahasa
Inggris bercampur dengan bahasa Melayu. Menurutku itu kocak sekali.
Tidak, masih mencari cara untuk bohong pada bosku supaya tidak usah kerja
besok, jawabku sambil makan sate ayamku.
Kau mesti kerja besok" tanya Eddie dan Zach kaget.
Tapi ini Tahun Baru, tak ada orang nak buat kerja, teriak Othman.
Well, sepertinya di Malaysia tidak usah kerja soalnya kalian toh masih berlibur
di sini, balasku sambil tertawa.
Bilang saja kamu sakit atau apa, lanjut Zach.
I know, I know... bilan gsaja kamu mabuk berat jadi tidak bisa kerja, sambar
Eddie. Or, or... kamu terlalu capek setelah a crazy bu
t very fulfilling last minute sex to
complete the quota for this year, sambung Zach.
Yang disambut oleh kata, What" Dari kami berempat.
I was just saying... Zach tidak menyelesaikan kalimatnya karena dipelototi oleh
Eddie. Aku tertawa cekikikan melihat reaksi Zach yang seperti anak SD yang baru
ditegur oleh gurunya. You know what... here, awak guna phone saya, awak telefon bos awak tu dan cakap kat
dia, kalau awak nak ambil cuti, Othman menyodorkan HP-nya.
No... no... it s fine, I ll do it later, tolakku.
Kena buat sekarang lah, nanti lambat. Dah hampir jam lapan dah, you don t want to be
rude by calling people after dinner.
Call... call... call... call..., teriak keempat laki-laki gila yang sedang duduk
bersamaku. Aku agak panik karena sekarang banyak orang yang mulai menoleh ke arah
kami. Okay, okay... I ll call him now. Goddamnit, aku bisa dipecat gara-gara ini, ucapku
sambil mengeluarkan HP dari tasku dan menekan nomor HP Pat.


Miss Pesimis Karya Alia Zalea di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aku meninggalkan mejaku dan berbicara dengan Pat selama beberapa menit di
depan WC perempuan. Pat ternyata tidak peduli bahwa aku akan izin besok karena
dia sendiri akan mengambil off. Dia hanya bertanya apa aku baik-baik saja dan
mengucapkan Happy New Year. Izin dari Pat itu disambut teriakan gembira dari
keempat laki-laki sableng di mejaku itu.
Hei, aku ngomong sama Vincent tadi pagi dan dia pengin ketemu kamu, ucap
Eddie ketika aku sudah duduk kembali di mejaku.
Begitu ya" tanyaku kagok karena Ervin sedang mengerlingkan matanya
penuh curiga. Yeah, datanglah ke KL kapan-kapan. Kami ajak kamu jalan-jalan. Bagaimana
kalau kamu datang ke pernikahanku April nanti"
Are you serious" tanyaku.
Yeah, kamu belum pernah lihat acara pernikahan tradisional Cina, kan"
Aku menggeleng. So you should come. Pernikahannya tanggal 22, hari Jumat. Tapi kamu harus
datang ke resepsinya, tanggal 23, jawab Eddie. You should come too, man, if you
could, lanjutnya mengundang Ervin.
Okay, I ll think about it, ucapku.
You do that and let me know, kata Eddie dan tersenyum kepadaku.
Akhirnya kami hangout sampai malam yang diakhiri dengan acara clubbing.
Tadinya aku sudah mau menolak tapi setelah dibujuk oleh Othman yang katanya
mau lihat club-nya orang Indonesia, akhirnya aku memutuskan untuk bela-belain
pergi. Alhasil, selama di club aku berputar di antara beberapa laki-laki. Dari Ervin ke
Zach, Othman, Ervin lagi, satu laki-laki yang berhasil mendekatiku meskipun telah
diblokir oleh keempat bodyguard-ku, lalu Eddie, dan akhirnya Ervin lagi. Mulai dari
versi remix lagunya Anggun sampai Hillary Duff, semuanya kuikuti.
Usahaku untuk have a one night stand before New Year kelihatannya mulai
menipis, dan aku memutuskan untuk pulang ke hotel dan melanjutkan pencarianku
di bar hotel, jauh dari keempat bodyguard-ku. Tapi Ervin tidak mengizinkanku
pulang sendiri, akhirnya dia ikut pulang ke hotel juga dan gagallah rencanaku.
* * * Aku masuk cottage dengan dongkol karena Ervin tidak memperbolehkanku pergi ke
bar hotel sendiri. Nggak, Dri, ini sudah jam satu pagi. Nggak bagus buat perempuan datang
sendirian ke bar jam segini, omelnya sambil membuka pintu lemari es dan
mengeluarkan sebotol air putih.
Lo kok ngatur gue gini sih" Terserah gue dong gue mau ngapain. Kan lo sudah
tahu tujuan gue ke sini untuk apa.
Iya, tapi bukan berarti lo harus make-out sama siapa saja dong, Dri. Suaranya
masih tenang, membuatku gondok.
Siapa bilang gue make-out sama siapa saja" Lo sama watch dogs yang lain nggak
ngasih gue kesempatan. Watch dogs" Iya. Elo, Zach, Eddie, dan Othman. Lo ngomong apa sih ke mereka sampai
mereka melototin tiap laki-laki yang minta nge-dance sama gue"
Ya soalnya setiap laki-laki yang mau nge-dance sama elo malam ini juga mau
ngeraba-raba elo, Dri. Biarin saja, gue memang lagi mau diraba-raba kok.
Lo memang lagi... Ervin terdiam sejenak, keningnya berkerut seperti sedang
mencoba untuk mencari kata yang tepat. Lalu ...dalam tahap penyembuhan, tapi
bukan begini caranya, lanjutnya masih tetap terdengar tenang.
Oh ya" Kalau lo tahu cara lain yang punya efek lebih cepat, lo b
ilang ke gue. Tapi untuk saat sekarang gue perlu have a one night stand before the New Year, okay.
Ervin membuang botol kosong yang digenggamnya dan berjalan ke arahku,
wajahnya sangar. Matanya berapi-api.
Apa maksud lo sama one night stand"
Bagus, aku telah membuatnya marah. Aku lebih baik bertengkar dengan orang
yang memang membentakku daripada orang yang hanya mengucapkan kata-kata
dengan nada tenang dan menggurui.
You know, seorang perempuan dan seorang laki-laki... sama-sama... ML....
Ervin memotong kalimatku.
Gue tahu one night stand itu apa. Maksud gue, kenapa lo perlu itu"
Oh, come on... lo nggak buta, kan" Lo tahu kan kalau manusia itu ada
kebutuhannya. Ya gue lagi butuh, balasku lalu melangkah ke kamar tidurku.
Lo nggak bisa tidur sama orang seenaknya, Dri. Ervin mengikutiku masuk ke
kamar. Oh ya" Kenapa tuh" Lo saja bisa kok, kenapa gue nggak"
Aku menghadap Ervin yang berdiri di depan pintu dan harus mundur
selangkah ketika melihat ekspresi wajahnya.
Uh-oh... aku sudah salah bicara.
Maksud lo" Tubuhnya yang tinggi itu tiba-tiba membuat segala sesuatu di
sekelilingnya menjadi kecil.
Nggak usah sok nggak tahu deh....
Gue nggak pernah tidur sama perempuan seenak gue. Itu tergantung sama
perempuannya, mereka harus sudah siap dan mau. Dia berjalan ke arahku. Dan
gue selalu pakai protection, tambahnya geram.
Siapa bilang gue nggak akan pakai protection" Gue sudah siapin kok. Jelasjelas
aku bohong. Aku sebetulnya tidak memikirkan rencanaku dengan matang.
Aku tidak bawa kondom karena sejujurnya kalau ada orang yang menanyakan
tentang ukuran kondom, aku tidak akan bisa menjawab. Aku hanya tahu satu brand
kondom, Durex, itu saja. Aku juga tidak pernah minum pil KB. Aku tidak
mempertimbangkan bahwa akan ada suatu konsekuensi kalau aku sudah
berhubungan intim dengan seorang laki-laki. Aku tahu bahwa seharusnya ada suatu
perhitungan yang bisa dilakukan untuk berhubungan intim tanpa pelindung untuk
mencegah kehamilan. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menghitungnya. Dulu
memang pernah diajarkan pada saat sex education sewaktu SMA, tapi aku lupa
karena sudah lama. Lagi pula memang tidak pernah kupraktikkan, jadi aku tidak
pernah berusaha untuk mengingat-ingat informasi itu.
Goddamnit, that s not the point. Teriakan Ervin menarikku kembali ke realita.
Jadi maksudnya apa dong" balasku dengan nada agak mengejek.
Maksud gue, lo nggak tahu gimana laki-laki itu, mereka banyak yang kurang
ajar dan nggak tahu cara memperlakukan perempuan sewaktu ML.
Aku ternganga. Jangan-jangan... Ya ampuuuuunnnnnnn, gimana dia bisa tahu
sih aku masih perawan" Memangnya kelihatan" Apajangan-jangan ada suatu tanda
di keningku yang bertuliskan PERAWAN dengan tinta merah.
Tubuhku mulai gemetar karena rasa terpojok dan kemarahan yang tidak
terbendung lagi. Mungkin buat dia seks tidak akan menyelesaikan masalah, tapi itu
adalah satu-satunya hal yang bisa menyelesaikan masalahku sekarang ini.
Fuck it, I m going to the bar, ucapku lalu mengambil dompet dan kunci kamar
dan melangkah pergi. Dri!!!!!!!!!!!!!!!! teriak Ervin, membuat langkahku terhenti karena kaget dan
berbalik menatapnya. Do you really want to do this" tanyanya, nadanya melembut.
Dari matanya kulihat bahwa dia sedang mencoba untuk memahami keadaanku.
Aku mengangguk. Lo yakin lo siap" Dia memandangiku dari seberang ruangan. Sekali lagi
nadanya lembut, tapi kini terdengar putus asa.
Aku lagi-lagi mengangguk.
Ervin menarik napas panjang. Aku pun melakukan hal yang sama. Aku
bersyukur akhirnya dia bisa mengerti keadaanku. Aku tersenyum padanya.
Tutup pintunya, ucapnya pelan.
Hah" What the hell""" teriakku dalam hati.
Tutup pintunya, kalau lo memang siap untuk seks. Lo harus mulai dari gue.
Gue aman, Dri. Sama elo" Sudah gila, kali. Nggak mau, ucapku siap untuk melangkah keluar
dari cottage. Tapi Ervin sudah berdiri di sampingku dan menutup pintu yang sudah
setengah terbuka itu. Apa lo akan lebih mau kalau gue ini Thomas" tanya Ervin dengan nada
sedikit marah. Itu bukan urusan lo, geramku dan mendorong Ervin dari depan pintu.
Ervin bergeming. D ia sudah pilih Olivia, dia nggak milih elo, Dri, ucap Ervin
dengan tenang sambil menatapku dalam-dalam.
Aku tidak bisa berkata-kata. Hatiku sudah cukup terluka tanpa perlu air jeruk
yang sekarang sedang ditumpahkannya di lukaku itu. Beribu-ribu jarum sedang
menusuk-nusuk mataku dan aku yakin bahwa aku akan menangis kalau aku tidak
bertindak dengan cepat. Lo memang nggak punya hati, Vin, geramku sambil menatap Ervin dengan
penuh kemarahan. Tubuhku terasa panas.
Ervin terlihat kaget dengan perkataanku. Kemudian tanpa kusangka-sangka dia
mengangkat tangan kirinya dan jari-jarinya mulai menyentuhku. Perlahan-lahan
jari-jari itu menyentuh wajahku, leherku, sepanjang tanganku, sebelum kembali lagi
ke wajahku. Tanpa kusadari aku sudah menahan napas setiap kali jari-jari itu
bergerak dan mengembuskan napas ketika jari-jari itu berhenti. Jantungku mulai
berdebar-debar. FOKUS, ADRIIIII... FOKUS...
Ervin tidak melepaskan tatapannya selama jari-jarinya menyentuhku.
Dendam Empu Bharada 32 Satria Gendeng 12 Pewaris Keris Kiai Kuning Pembalasan Pendekar Bule 2
^