Pencarian

Pendekar Setia 10

Pendekar Setia Pendekar Kembar Bagian Ii Karya Gan K L Bagian 10


kan sama seperti dia yang mengalaminya. Menjadi budak anak kan tidak menjadi soal, anak perempuan hasil dari bibit bayangannya sendiri, meladeni anak kan sama seperti meladeni dirinya sendiri."
"Ah. logika aneh, teori janggal," ujar Yu Wi menggeleng.
"Kejanggalan didunia ini terlalu banyak. bergantung kau pandang dari sudut mana." ujar Pek-yan "Bagimu mungkin janggal, tapi bagi orang yang mengalaminya langsung akan terasa layak dan jamak. kau heran, dia malah menganggap dirimu aneh "
Yu Wi menggeleng kapaia tanda tidak sependapat. Mendadak teringat olehnya wajah Soh-sim yang jelek itu, ia coba tanya, "Mengapa engkau sama sekali tidak mirip dengan ibumu?"
"Bagi pandanganmu sekarang. tentu kau bilang aku sangat cantik, kelak bila aku sudah tua dan kau melihatku lagi, mungkin aku sudah berubah lebih buruk daripada ibuku sekarang."
Yu Wi tidak percaya, katanya, "Biarpun bagaimana perubahannya, tidak seharusnya ibumu berubah menjadi sama sekali berlainan denganmu."
"Supaya kau tahu, Bu-eng-bun masih ada suatu peraturan, yaitu bilamana sudah tua dan menjadi nikoh, yang bersangkutan diharuskan merusak wajahnya sendiri," tutur Pek-yan-
Sungguh tidak kepalang kejut Yu Wi, pikirnya dengan tidak habis mengerti, "Sungguh aneh peraturan Bu- eng- bun ini, peraturan ini bukankah terlalu menyiksa cikal-bakal Bu- eng- bun itu sendiri" Sudah menjadi nikoh, diharuskan pula merusak wajahnya sendiri, memangnya apa maksudnya" Jika dibilang sebagai tanda penyesalan untuk menebus dosa, kenapa anak perempuan sendiri diharuskan mengikuti jejaknya pula?"
Bagi Yu Wi memang sukar uatuk dimengerti tapi bagi anak murid Bu-eng-bun justeru dianggap sesuatu yang jamak dan tidak perlu diherankan- Mungkin peraturan ini timbul akibat cikal- bakal Bu- eng- bun pernah mengalami pengkhianatan sang suami dan perbuatan anak yang durhaka maka dia menentukan peraturan yang bersifat balas dendam ini sehingga membikin susah keturunannya sendiri.
Melihat Yu Wi diam saja, Pek-yan menyambung pula, "Ibuku juga tidak benar-benar merusak wajah sendiri. konon sejak dahulu hanya cikal-bakal Bu-eng-bun sendiri yang menjadi nikoh dan sekaligus merusak wajah sendiri, seterusnya enam angkatan hanya menjadi nikoh saja, sedangkan peraturan merusak wajah cuma dilakukan secara simbolik saja. Kelak bilamana aku sudah tua menjadi nikoh memang kewajiban, merusak wajah terang takkan kulakukan- tatkala mana akan kupakai sebuah topeng, kan beres segala urusan?"
Yu Wi terbahak geli, pikirnya, "Pembawaan wanita suka kepada kecantikan, ternyata memang terbukti. Setiap anak murid Bu-eng-bun dapat mematuhi segala peraturannya, hanya urusan yang menyangkut wajah sendiri setiap angkatan selalu dilakukan dengan cara menipu leluhurnya."
Dengan tertawa Yu Wi ini, hilangnya sengketa kedua orang. Pek-yan tidak ikut tertawa, tapi lantas berkata pula sambil berkerut
kening, "Tertawamu sedemikian riang, memangnya tidak kaupikirkan anakmu yang mati itu?"
"Kau lahirkan dia. toh tega pula kau bunuh dia tanpa pikir, aku yang menjadi ayahnya tidak pernah merasakan kesusahan apa pun tentu lebih-lebih tidak manjadi soal mengenai mati- hidupnya," kata Yu Wi dengan mengulum senyum.
Pek-yan menghela napas, "Anaknya sendiri, darah-daging sendiri, setelah terbunuh, kalau dipikirkan sekarang terasa memilukan juga." -
"Jika tahu begini, mengapa hal itu kau lakukan?" ucap Yu Wi dengan kereng. "Kulihat jiwamu bukanlah orang yang pantas mewarisi Bu-eng-bun anak perempuan kita kelak pasti juga bukan manusia yang berhati kejam, maka selanjutnya lebih baik persoalan Bu-eng-bun harus kau hapus dalam benakmu, jadilah isteriku secara baik, mau?"
Tergerak juga hati Pek-yan, ia menunduk memandang anak perempuan yang tertidur nyenyak dalam pangkuannya, ia diam saja tanpa menjawab.
Yu Wi mengira si nona menerima ejakannya, kedua tangannya memegang pundak Pek-yan dan berkata pula, "Sekarang kuberitahukan suatu berita baik padamu, yakni putra kita tidak mati."
"Hah, apa betul?" seru Pek-yan terkejut dan bergirang.
"Tentu saja betul," sahut Yu Wi dengan tertawa. "Sekarang hari sudah gelap. besok akan kubawa dirimu pergi menjenguknya."
Karena percakapan mereka yang sudah lama ini, hari memang sudah gelap gulita sehingga jari sendiri saja tidak kalihatan.
Kedua orang lantas bergandengan menuju ketempat tinggal Yu Wi.
Mendadak terlihat samar-samar didepan gua berdiri sesosok bayangan hitam, melihat kedatangan mereka berdua, orang itu lantas memberi salam.
Kedatangan orang ini dirasakan seperti hantu yang muncul mendadak, sungguh kaget Pek-yan tak terkatakan.
Tapi Yu Wi dapat mengenali pendatang ini, diam-diam iapun terkejut dan tidak mengerti cara bagaimana orang bisa datang dilembah buntu ini, dengan ragu2 ia menegur, "Ya-ji, cara. . . cara bagaimana engkau datang kesini?"
Pendatang ini ternyata benar Ko Bok-ya yang sekarang telah menjadi nikoh dan bergelar Soh-sim.
"Nama agamaku Soh-sim dan tidak bernama Ya-Ji lagi," jawab Soh-sim dengan suara pedih.
Rasa kejut Pek-yan rada tenang, ia tahu Soh-sim adalah bekas kekasih Yu Wi dahulu, akan tetapi muncul pada saat dan ditempat begini, jangan2 badan halusnya. Dengan menabahkan hati ia coba bertanya, "Untuk apa kau datang kemari" Yu Wi kan tidak berbuat sesuatu kesalahan padamu?"
cara bicaranya se-akan2 menganggap Soh-sim benar-benar adalah badan halus alias setan-
Soh-sim dapat menangkap arti ucapan Pek-yan itu, jawabnya sambil merangkap kedua tangannya. didepan dada, "Soh-sim belum mati, Yu-sicu tidak ada permusuhan apa-apa denganku, arwahku takkan mengacau kesini."
Hati Yu Wi merasa sangat tidak enak. tanyanya, "Mengapa kau datang kesini, jangan-jangan Ji-bong Taysu yang mengurungmu ditempat ini?"
Disangkanya akibat perbuatan dirinya tempo hari, maka ji- bong Taysu telah menghukum Soh-sim kelembah maut ini.
Tapi Soh-sim lantas menggeleng. katanya, "Ji-bong Suco (kakek guru) berhati Welas asih, mana bisa mengasingkan diriku ke tempat
seperti ini. Sepuluh bulan yang lalu Suco memberitahukan kepadaku bahwa Yu-sicu sudah mencuri Jit-yap-ko dan kejeblos kedalam sumur perangkap. mestinya Suco hendak menolongnya keluar, tapi mendadak menghilang tanpa bekas. Maka kupikir tanpa sebab masakah orang bisa menghilang tanpa bekas, tentu didalam sumur perangkap itu ada saluran lain dan mungkin menembus kelembah buntu ini."
"Dari mana kau tahu disini ada sebuah lembah buntu ini?" tanya Pek yan-
"Soalnya sifatku gemar pada pemandangan alam." tutur Soh-sim, "Suatu hari kulewat dipuncak sana dan menemukan jurang kurung ini, kuteliti pinggang gunung ini dengan air terjunnya, kuheran dari mana datangnya air, maka diam-diam kuselidiki keadaan buminya dan dapat kuketahui air disekitar puncak ini berkumpul di sini. kemudian kuselidiki pula seluk-beluk sumur perangkap yang diatur Suco itu. cuma sayang, tinggi sekali lembah ini, sedikitnya ada ribuan tombak sehingga sukar untuk memberi pertolongan- Tapi lantaran Yu-sicu pernah menolong jiwa ku, tidak boleh kutinggal diam, maka bulat tekadku akan kupilin seutas tambang panjang. Usahaku selama sepuluh bulan ini tidaklah sia-sia, dapatlah kubuat tambang sepanjang ribuan tombak dan kuturun kelembah sini, diam-diam aku berdoa semoga Yu Sicu tidak kurang sesuatu apa, semoga jerih payahku selama sepuluh bulan dapat sekedar membalas budinya. Akhirnya Thian ternyata maha pengasih, Yu-sicu memang tidak beralangan apapun."
Ber-ulang2 ia sebut Yu Wi sebagai "sicu" atau tuan dermawan, sebutan yang biasa digunakan kaum paderi terhadap orang preman, hati Yu Wi merasa pedih sekali, Ia pikir Ya-ji pasti masih ingat kepada kejadian malam yang telah melukai hatinya itu, meski sekarang dia berusaha menyelamatkan dirinya dengan menyerempat bahaya dan harapannya sangat tipis. namun perbuatannya yang mulia ini sungguh sangat mengharukan, tapi setelah berhadapan sekarang malah sengaja bersikap dingin lagi.
Padahal usaha Soh-sim menolong Yu Wi benar-benar telah banyak memeras pikiran dan tenaganya, dugaannya memang tidak dapat dipastikan seratus persen, sebab siapa pun tidak dapat memastikan Yu wi akan terhanyut kelembah kurung ini atau tidak. Seumpama benar terhanyut kesini oleh air bah, siapa pula yang berani menjamin dia masih hidup.
Namun Soh-sim tidak menghiraukan jerih-payah sendiri akan berhasil atau tidak- cukup sedikit harapan baginya, tanpa kenal lelah dia lantas mengumpulkan akar rotan di puncak lembah ini dan memilin tambang siang dan malam.
Membuat tambang sepanjang ribuan tombak tentu saja sangat makan waktu dan tenaga, melulu bobot tambang sepanjang itu saja dan ketahanan tambang itu sendiri juga tidak boleh disepelekan, akar rotan yang dipakai harus dipilih yang kuat, dia dapat memilinnya dalam waktu 10 bulan, cara bekerjanya terhitung cepat.
Selama sepuluh bulan dia berkemah di atas puncak dan bekerja siang dan malam, kehujanan dan kedinginan juga tak terpikir olehnya.
Dengan jerih-payahnya ini, tujuannya selain hendak menyelamatkan jiwa Yu wi, api asmaranya juga menyala. hakikatnya tidak serupa keadaan pertemuan malam itu sebagaimana disangka Yu wi sekarang.
Tapi setelah cita-citanya tarcapai dan dia dapat turun kedasar lembah. tiba-tiba dilihatnya Pek-yan telah melahirkan anak. dapat diduga anak siapa kalau bukan anak Yu Wi, keruan hatinya yang penuh gairah itu serupa disiram air dingin, dalam keadaan demikian dapatkah dia memperlihatkan sikap mesra dan memanggil Toako lagi kepada Yu Wi"
Dengan sendirinya Yu Wi tidak tahu sejak tadi Soh-sim sudah berada di situ, sudah menyaksikan mereka bercakap-cakap disana dengan memondong anak. dia hanya menunggu didepan gua secara diam-diam.
Begitulah setelah ketiga oang sama-sama diam sampai sekian lamanya, tiba-tiba Pek-yan berkata, "Numpang tanya, terletak dimana tambang panjang itu?"
Soh-sim menuding kesebelah kiri dan berkata, "Di depan sana. sekarang kumohon diri, malam hari kurang leluasa, boleh kalian naik keatas esok pagi saja."
"sekarang juga engkau akan naik kembali keatas?" cepat Yu Wi tanya,
Soh-sim berpaling kearah lain dan menjawab, "Setelah turun satu kali kesini, aku sudah apal tempat tali itu, kewajibanku sudah selesai, tidak perlu kutinggal lagi disini."
Habis berkata ia terus melayang ketepi tambang dan merambat keatas dengan cepat, hanya sebentar saja sudah tak kelihatan bayangannya.
Yu Wi berdiri dibawah tambang dengan perasaan kesal dan bimbang, sepantasnya dia bergembira apabila dapat lolos dari tempat ini, anehnya sedikitpun dia tidak merasa senang, ia cuma memandangi tambang panjang itu dengan termangu-mangu. diraSakannya setiap jengkal tambang itu penuh cinta kasih, dan cinta kasih ini sekarang justeru marupakan sindiran besar baginya.
Pelahan Pek-yan mendekatinya dan berbisik padanya, "Siangkong (tuanku, sebutan kepada suami atau junjungannya), tidurlah"
"Kau pergi tidur dulu, aku ingin berdiri sebentar disini," kata Yu Wi sambil menggeleng.
Diam-diam Pek-yan menghela napas , ia kembali ke gua dan tidur lebih dulu.
Setelah mendusin esok paginya, Pek-yan merasa semangat penuh dan tenaga segar, untuk merambati tambang panjang itu rasanya takkan gagal ditengah jalan- Segera ia mengikat anak perempuannya dipungggung, lalu memandangi tambang panjang itu.
Dilihatnya Yu Wi masih berduduk di tempat berdirinya semalam dan sedang memandangi tambang itu dengan termangu-mangu. Diam-diam Pek menggeleng kepala, ia tahu semalam suntuk Yu Wi tidak tidur, ia menjadi kuatir cara Yu Wi menyiksa itu akan menganggu kelancarannya merambat nanti. bisa jadi malah akan menimbulkan bahaya.
Pek-yan mendekati tambang dan coba membetotonya dengan kuat, dirasakan tidak berhalangan, segera ia berseru, "Siangkong, marilah kita manjat keatas"
Yu Wi berdiri, katanya, "Kita berangkat begini saja, apakah tidak urus anak lelaki kita lagi?"
"Boleh kau pergi mengambilnya, kutunggu disini," sahut Pek-yan dengan tak acuh.
Yu Wi berpikir sejenakk, katanya kemudian "Kau ikut pergi mengambilnya."
"Tidak- aku tidak ikut," jawab Pek-yan tanpa ragu.
"Mengapa tidak mau ikut pergi, bukankah semalam kita sudah sepakat akan pergi bersama?" kata Yu Wi.
"Anak itu berada dimana?" tanya Pek-yan dengan kurang senang
"Tersembunyi didalam sebuah gua karang dari belakang air terjun sana,. tutur Yu Wi sambil menuding kearah air terjun-
"Apakah cicimu itu tinggal di sana?" tanya Pek-yan dengan dingin-
"Betul, pada hari pertama kita berada disini sudah kutemukan dia, cuma belum pernah kubicarakan denganmu."
"Hm, pantas bila engkau menyelam lantas setengah harian, tadinya kukira tenaga dalammu luar biasa. kiranya dibawah sana masih ada dunia lain- Selama sepuluh bulan ini entah sudah berapa kali kau pergi kesana."
Dari nada ucapan orang, Yu Wi tahu Pek-yan merasa cemburu, dengan tertawa ia berkata, "Kalau kukatakan mungkin engkau tidak percaya. Total sampai saat ini baru tiga kali kupergi kesana."
"Peduli berapa kali kau pergi kesana, yang jelas aku tidak mau kesana," kata Pek-yan dengan aseran-
"Ai, jika engkau tidak mau pergi kesana, tentu dia takkan mengembalikan anak itu kepadaku." ujar Yu Wi dengan mengiring tawa.
"Aneh, bukan anaknya, kenapa tidak dikembalikannya kepadamu?" jengek Pek-yan-
"Dia anggap engkau sengaja membunuh anak itu, tentu akan kau bunuh dia lagi, jika kau pergi kesana dan menyatakan kepadanya bahwa anak itu pasti takkan dicelakai lagi, dengan sendirinya akan dikembalikannya kepada kita."
"Aku tidak berani menjaminnya." ucap Pek-yan dengan dingin.
"He, apa halangannya?" seru Yu Wi terkesiap. "Anak itu kan darah-dagingmu sendiri, aku tidak percaya kau tega membunuhnya lagi."
"Bu-eng-bun, Bu-kun-cu, ajaran ini sudah berakar didalam benakku." ujar Pek-yan-
"Mak. . . .maksudmu tidak mau lagi kau jadi isteriku?" seru Yu Wi.
Dengan ketus Pek-yan menjawab, "Anak murid Bu-eng-bun tidak akan mempunyai suami yang punya bayangan, tentunya kau pun tahu kedua kalimat lain yang berbunyi, "Yu-kun-cu, Sit-eng-jin setelah kukembalikan kebebasanmu, sulit lagi bagi kita untuk hidup bersama."
Diam-diam Yu Wi sangat mendongkol, teriaknya, "Semalam kan sudah kau sanggupi akan menjadi isteriku baik-baik?"
"Semalam dan sekarang kan tidak sama," jawab Pek-yan dengan muram, "Pula, semalam aku-pun tidak pernah menyanggupi kehendakmu."
Sungguh hati Yu Wi sangat berduka. ia malahan bergelak tertawa dan berseru, "Hahaha, jadi semalam aku sendirilah yang mimpi. Pek-siocia, silakan kau- berangkat saja lebih duu."
"Kutunggu dirimu dan naik bersama keatas," ujar Pek-yan dengan menyesal.
"Terima kasih, aku tidak perlu ditunggu," kata Yu Wi. "Memangnya hendak kau tunggu anak yang akan kuambil nanti untuk kau bunuh dia sekali lagi?"
Ucapan ini sangat menusuk perasaan Pek-yan, dengan air mata berlinang ia menjawab, "Aku tidak mau melanggar ajaran leluhur Bu-eng-bun, tapi bila aku disuruh membunuh untuk kedua kalinya, biar-pun bukan darah-dagingku sendiri juga aku tidak tega membunuhnya, Siang kong, jika engkau kuatir, biarlah kuberangkat lebih dulu." Habis berkata segera ia memanjat tali keatas dengan gerakan yang gesit.
Yu Wi menengadah mengikuti kepergian orang, setelah bayangannya menghilang baru menunduk kembali. Pikirnya, "Mengapa Pek-yan berubah pikiran secara mendadak, jangan-jangan dia tidak berani melepaskan diri dari Bu-eng-bun karena perguruannya itu pasti takkan mengampuninya."
Memang banyak juga sirikan Pek-yan, sebab cukup diketahuinya selama hidupnya tidak mungkin dapat melepaskan diri dari Bu-eng-bun, bahkan ia kuatir membikin susah Yu Wi. Bila anak muda itu sudah menjadi bibit bayangannya, maka para kakaknya pasti takkan memberi kebebasan kepada Yu Wi, ketiga cicinya pasti tidak menghiraukan keputusannya itu.
Ada satu hal tidak dikatakannya kepada Yu Wi, yaitu bilamana anak murid Bu-eng-bun sudah merasa bosan mempermainkan bibit bayangannya, orang itu bisa lantas dibunuhnya. Bahwa Pek-yan
sendiri jelas takkan membunuh Yu Wi, tapi siapa yang berani menjamin ketiga cicinya takkan membunuhnya"
Maka maksudnya menyuruh Yu wi manjauhi dirinya adalah satu-satunya jalan untuk mempertahankan jiwa anak muda itu, kalau masih berdekatan berarti akan mendatangkan petaka.Jika keduanya dapat hidup berdampingan selamanya didasar lembah buntu itu, tanpa pikir tentu akan dilakukannya, Sekarang mereka dapat lolos dari kurungan lembah maut ini, mau tak-mau mereka harus kembali lagi pada kehidupan dunia Kangouw, mana mungkin dia dapat hidup bebas dengan Yu Wi"
---ooo0dw0ooo---
Bab 22 Kesulitan Pek-yan itu tak dapat diselami Yu Wi, disangkanya Pek-yan tidak mempunyai keberanian untuk melepaskan diri dari Bu-eng-bun, melepaskan diri dari ikatan macam-macam peraturan perguruan yang aneh dan kejam itu.
Begitulah dengan hati bimbang Yu Wi berjalan lagi ketepi kolam, pikirnya, "Pada waktu kuberitahukan ada tambang panjang yang dapat digunakan untuk meloloskan diri dari lembah kurung ini, Ko-cici yang biasanya pendiam itu pasti akan berjingkrak kegirangan-"
Ia lupa bahwa sejak mula Ko-Bok-cing sudah menyatakan bahwa dirinya pasti dapat lolos dari lembah buntu ini dalam waktu setahun. Keadaan ternyata sudah berada dalam dugaannya.
Untuk keempat kalinya Yu Wi datang lagi ke gua gelap dibalik air terjun.
Ketiga kali sebelumnya Ko-Bok-cing selalu bersikap dingin padanya, tapi sekali ini Yu Wi yakin bila nona mendengar berita baik akan dapat lolos dari kurungan lembah ini, tentu tak dapat lagi menahan rasa girangnya dan bicaranya tentu juga takkan dingin dan ketus pula.
Siapa tahu, baru saja ia menyumbul kepermukaan air, belum lagi merangkak keatas, suara Ko-Bok-cing yang dingin itu sudah terdengar olehnya, "Untuk apalagi kau datang kemari" Apakah hendak kau minta kembali anakmu?"
Yu Wi melompat keatas dan berseru, "Anak itu tidak ber-ibu, tidak perlu kuminta kembali dengan tergesa-gesa."
Dalam hati Ko-Bok-cing merasa menyesal, tanyanya, "Jadi memang betul nona Pek yang mencekik anaknya sendiri?"
Teringat kepada pendirian Pek-yan yang tidak teguh, Yu Wi jadi menyesal juga, ucapnya, "Betul, dia memang bermaksud mencekik mati anaknya, dan karena kuatir diketahui olehku, maka anak itu dibuangnya kedalam kolam."
Kening Bok-cing bekernyit katanya, "Masa didunia ada ibu sekejam ini?"
Tanpa diminta segera Yu Wi menceritakan seluk-beluk Bu-eng-bun dengan segala macam peraturannya yang tidak sehat itu.
Habis mendengarkan cerita itu, Bok-cing menghela napas gegetun, "Kiranya masih ada persoalan yang berliku- liku ini, pantaslah rona Pek bertindak kejam."
Betapa pun perempuan tetap bersimpati Kepada perempuan- Dia anggap tindakan cikal-bakal Bu-eng-bun itu tidak dapat disalahkan- Memang banyak juga lelaki yang kejam dan busuk di dunia ini.
Tapi Yu Wi tidak sepakat dengan pikiran Ko-Bok-cing, ucapnva, "Benci dan dendam pribadi seorang tidak seharusaya merembet sampai turun-temurun. Peraturan buruk Bu-eng-bun yang membunuh anak lelaki dan membenci suami itu tidak dapat dibenarkan. Pek-yan dan kawan-kawannya turun temurun mematuhi peraturan jelek ini juga tidak patut. Padahal jelas-jelas diketahui peraturun itu tidak betul bukannya berusaha melepaskan diri dan meninnggalkannya, tapi masih terus melaksanakannya, sungguh orang-orang ini sudah sukar diobati lagi."
"Apakah nona Pek yang kau maksudkan?" tanya Bok-cing.
"Ai, pada dasarnya dia sebenarnya berhati bajik," ujar Yu Wi dengan gegerun, "entah . . . entah mengapa. . . ."
Dia jadi teringat kepada Pek-yan yang tidak mau menuruti kehendaknya sehingga membikin anak lelakinya tidak beribu dan anak perempuannya tidak berayah, saking gemas jadi tidak sanggup bicara lagi.
"Jangan-jangan pernah kau bujuk nona Pek agar melepaskan diri dari ikatan Bu-eng-bun?" tanya Bok- cing.
Dengan gorot mata nanar Yu Wi berkata, "Ku bujuk dia agar dia menjadi suami-isteri denganku secara resmi, tapi dia tidak mau menurut."
Bok-cing merasa heran, katanya. "Kupercaya nona Pek itu menyukaimu, berada di tempat buntu seperti ini, apalagi yang dikuatirkannya sehingga tidak mau menurut bujukanmu?"
Dengan tulus iklas dia berharap Yu Wi dan Pek-yan dapat terikat menjadi suami-isteri resmi tanpa sirik atau cemburu sedikit pun, sekalipun dahulu dia pernah mencintai Yu Wi, bahkan pernah menyatakan ingin menjadi isttrinya secara terus terang.
Yu Wi lantas menggeleng dengan perasaan pedih, ucapnya, "Ya,akupun tidak tahu apa sebabnya, dia lebih suka putra-putrinya tidak beribu dan yang lain tidak berayah, betapapun dia tidak dapat melepaskan diri dari Bu-eng-bun, maka dia sudah pergi."
"Pergi?" Bok-cing bertambah heran- "Dia pergi ke mana?"
Yu Wi mengetuk kepalanva sendiri dan berseru dengan menyesal, "Ai, betapa linglungnya diriku ini, hanya bicara urusan pribadi melulu, sampai lupa memberitahukan suatu kabar baik kepadamu"
"Kabar baik?" Bok-cing manegas, dia seperti sudah merasakannya, "Apakah maksudmu berita sudah dapat lolos dari lembah buntu ini?"
"Tepat sekali ucapanmu," seru Yu Wi dengan tertawa. "coba kau terka lagi, siapakah yang datang menolong kita?"
"Jimoay, betul tidak?" ucap Bok-cing dengan hambar.
"Kembali tepat sekali tebakanmu," seru Yu Wi dengan tertawa." Ayolah sekarang juga kita pergl dari sini"
Diam-diam ia sangat kagum kepada Ko-Bok-cing yang masih tetap bersikap tenang tanpa memperlihatkan emosi sedikit pun.
Bok-cing memang tetap tenang saja, seperti orang yang sudah mati rasa, tidak bergerak sama sekali, ucapnya dengan dingin, "Bawalah anak itu kesini."
Sungguh gemas Yu Wi terhadap sikap dingin Ko-Bok-cing,teriaknya, "Kau tidak senang dengan kabar baik ini?"
Pertanyaan ini dilontarkan secara mendadak, Bok-cing Jadi melenggong, tapi ia lantas mengulang, perkataannya, "Bawalah anak itu kesini"
Suaranya jelas merasa kurang senang sehingga nadanya sekarang seakan-akan memberi perintah.
Dengan menahan rasa dongkol Yu Wi masuk kebelakang gua dan membawa keluar anak lelakinya yang matanya belum dapat terbentang terlalu lebar itu.
Mendadak Bok-cing berkata pula, "Kutahu yang hendak mencelakai anak ini bukan dirimu. maka dapat kuserahkan padamu tanpa kuatir. cuma ada sesuatu hendak kukatakan padamu, nona Pek mempunyai kesulitannya sendiri, sedangkan anak tidak boleh tanpa ibu, hendaknya usahakan agar nona Pek berbaik kembali denganmu, katakan padanya selanjutnya kalian akan meninggalkan dunia Kangouw dan mengasingkan diri, tentu dia akan terima tawaranmu untuk menjadi isterimu secara resmi."
Yu Wi bukan orang bodoh, segera ia bertanya, "Apakah kau pikir sebabnya Pek-yan tidak berani melepaskan diri dari Bu-eng-bun adalah karena takut tidak diizinkan para kakaknya?"
"Hal ini kan sangat sederhana dan seharusnya dapat kau pikirkan," kata Ko-Bok-cing. "Peraturan leluhur Bu-eng-bun sangat keras, bila nona Pek meninggalkan Bu-eng-bun. begitu saja, apakah para kakak dan angkatan tua perguruannva yang lain dapat tinggal diam" Sekalipun ibu kandungnya juga akan membunuhnya tanpa kenal ampun bilamana dia mengkhianati perguruan."
"Akan . . . akan tetapi jika aku diharuskan . . . diharuskan mengasingkan diri, jelas .. .jelas hal ini tidak boleh jadi" seru Yu Wi sambil menggelang.
"Huh,-justaru lantaran nona Pek mengetahui engkau tidak dapat meninggalkan dunia Kangouw, makanya dia sengaja menyatakan tidak mau melepaskan diri dari Bu-eng-bun agar tidak dapat menjadi suami-isteri denganmu dan mesti menjaga anak lelaki lagi sehingga melanggar kedua peraturan besar perguruannya, akhirnya dia yang akan menjadi korban-"
Yu Wi dapat menerima ucapan Ko-Bok-cing ini. Tapi dia juga tidak ingin mengasingkan diri begitu saja dengan Pek-yan, terutama bila mengingat sakit hati dan macam-macam tugas lain yang masih harus ditunaikan- Maka dengan serba susah ia berkata, "cici, tentunya kau tahu betapa banyak tugas yang masih harus kukerjakan- mana boleh ku-asingkan diri begitu saja?"
"Ya, dalam hal ini aku bersimpati kepadamu," ujer Bok-cing. "sebenarnya Pek-yan harus berjuang. mestinya dia tidak perlu kuatir para kakaknya akan membikin celaka kalian, sebab dengan kemampuanmu sekarang, dia seharusnya percaya penuh kepadamu."
"Kemampuanku apa?" kata Yu Wi sambil menggeleng kepala. "Bukan maksudku merendah diri, kenyataannya, satu jurus serangan Jicinya saja tidak sanggup kutangkis."
"Huh, seorang lelaki harus punya keyakinan akan diri sendiri, jika sedikit-dikit lantas patah semangat, lalu apa yang dapat kau hasilkan?" ejek Ko-Bok-cing. "Padahal lain dulu lain sekarang,
seharusnya kau tahu, bahwa Yu Wi sekarang bukan lagi Yu Wi yang hijau pelonco seperti dulu itu."
Tapi Yu Wi sudah kadung ngeri terhadap ilmu pedang Pek-yan dan Tho-kin, sedikit pun dia tidak percaya lagi kepada kemampuannya sendiri, katanya, "Dengan kemahiran apa dapat kulawan ilmu pedang Jicinya" Tidak . . tidak mungkin"
Bok-cing sangat mendongkol, mendadak ia mengherdik, "Hai-yan-kiam-boh yang kuberikan itu sudah kau latih belum?"
"Sudah, sudah lama kulatih dengan baik,"jawab Yu Wi, untuk ini dia cukup yakin akan kesanggupannya sendiri.
Bok-cing jadi teringat kepada ambisi Yu wi yang pernah berkeras akan belajar lengkap Hai-yan- kiam-hoat itu, segera ia memberi dorongan- "Meski aku tidak pernah berlatih ilmu pedang, tapi bila kubaca Hai-yan-kiam-boh itu. dapat kupastikan bahwa ilmu pedang inilah nomor satu di dunia, memangnya perlu takut kepada siapa lagi?"
Tapi Yu Wi masih jeri, ucapnya, "orang pertama adalah Jici Pek-yan yang bernama Tho-kin itu, jelas tak dapat kutandingi dia."
Sebagaimana diketahui Yu Wi pernah menyerang Tho-kin dengan jurus Bu-tek-kiam dan tidak berhasil, lantaran itulah dia telah kehilangan kepercayaan terhadap kedelapan jurus Hai-yan-kiam-hoat, ia anggap ilmu pedang Tho-kin jauh diatas Hai-yan-kiam-hoat.
Dengan sendirinya Bok-cing tidak tahu Yu Wi sudah pernah mencoba jurus Bu-tek kiam terhadap Tho-kin- ia pikir ilmu pedang sakti yang baru saja diyakinkan belum lagi dipertandingkan lantas mengaku kalah, orang ini sungguh terlalu tidak becus dan penakut, sia-sia belaka maksud baik Jimoay hadiahkan kitab pusaka ini kepadanya.
Maka dengan gemas ia mengomel, "Sungguh menyedihkan dan menyebalkan orang yang dicintai Jimoay sebelum menjadi nikoh ternyata sedemikian tidak berguna. sungguh sia-sia cintanya yang murni itu."
Di balik ucapannya itu seakan-akan juga menyesali dirinya sendiri yang telah salah memilih orang yang pernah dicintainya.
Dengan sendirinya Yu Wi tidak mau dipandang goblok oleh Ko-Bok-cing, segera ia menjelaskan pula cara bagaimana dia bertempur melawan Tho-kin tempo hari, tatkala mana jurus Put-boh kiam ternyata tidak sanggup bertahan, sedangkan Bu-tek kiam tidak mampu menyerang. Kalau bertahan tidak bisa dan menyerang juga gagal, lalu cara bagaimana akan dapat menang"
Setelah mendapat penjelasan, Bok-cing merasa ucapan sendiri tadi agak terlalu keras, dengan menyesal ia berkata, "Aku tidak tahu didunia ini masih ada orang yang mampu mengalahkan Hai-yan-kiam-hoat, maafkan jika pengetahuanku dalam hal ilmu pedang teramat dangkal sehingga keliru menyalahkan dirimu."
"Ah memang aku juga tidak becus sehingga pantas diomeli cici," ucap Yu Wi dengan tulus.
Dengan pembicaraan ini, Bok-cing tambah tidak enak hati, disangkanya didunia ini memang masih banyak orang yang mampu mengalahkan Hai-yan-kiam-hoat.
Dengan perasaan tidak enak karena merasa telah menyinggung harga diri Yu Wi. kemudian Ko-Bok-cing bertanya pula, "Bagaimana dengan Su-ciau-sin- kang. sudah selesai kau latih belum?"
Sebenarnya ilmu itu sudah dilatihnya, tapi Yu Wi tahu hasil yang dicapainya itu selisih terlalu jauh bilamana dibandingkan kesaktian Bok-cing, maka ia tidak berani mengaku. jawabnya, "Be . . . belum."
Bok-cing juga percaya takkan begitu cepat ilmu itu dikuasai anak muda itu, ia merasa pertanyaan sendiri yang terlalu bodoh. Tapi memang itulah harapannya, maka ia berkata pula,
"Jika begitu, tunggulah setelah Su-ciau-sin- kang sudah kau kuasai dengan baik barulah keluar dari lembah ini, tatkala mana jika nooa Pek juga menikah denganmu, tentu Bu-eng-bun tak dapat mengapa- apakan kalian-"
Ko-Bok-cing cukup yakin terhadap kesaktian Su-ciau-sin- kang, dengan ilmu pedang Yu Wi yang hebat ditambah keajaiban Su-ciau-sin- kang, betapa-pun tinggi jago pedang didunia ini juga pasti bukan tandingan Yu Wi lagi.
Mendengar Bok-cing menghendaki dirinya tinggal lagi disitu untuk meyakinkan Su- ciau-sin-kang, yang jelas tidak ada harapan untuk lebih maju lagi, cepat Yu Wi menggeleng-geleng kepala dan barkata, "Tidak, tidak boleh jadi.Jika tidak ada harapan untuk keluar dari lembah ini tidaklah menjadi soal. Sekarang jalan untuk keluar lembah sudah terbuka, bila teringat kepada macam-macam tugas yang masih harus kulaksanakan, sungguh berdiam lagi satu hari di sini rasanya sudah tidak betah."
"Masa begitu terburu-buru keinginanmu meninggalkan lembah ini?" tanya Bok-cing dengan hampa.
Dengan terus terang Yu Wi memperlihatkan sifat cinta kebebasan manusia umumnya, tanpa pikir ia berkata, "Bicara terus terang, sungguh aku tidak sabar lagi dan ingin lekas-lekas keluar dari lembah buntu ini agar tidak lagi terjadi suatu, jangan-jangan tambang itu putus, kan selamanya kita tak dapat pergi dari sini."
Membayangkan betapa panjangnya tambangi tu. Bok-cing berucap dengan gegetun, "Sejak mula memang sudah kuduga Jimoay pasti akan berusaha memberi pertolongan bilamana dia tahu ada orang yang terjeblos kedalam sumur perangkap itu terdapat juga dirimu. Dan ternyata benar dugaanku, tambang itu bukan saja dipilin dengan akar rotan yang kuat, juga disertai kasih sayang yang tak terhingga, tanpa cintanya yang mendalam, biarpun beberapa tahun lagi juga sukar menghasilkan tambang sepanjang itu."
Rasa gegetun Bok-cing itu menimbulkan juga rasa pedih hati Yu Wi, ia memandang jauh ke depan dengan termangu- mangu, serupa dia duduk semalam suntuk sambil memandangi tambang panjang itu
Suasana hening, Bok-cing tahu perasaan Yu Wisaat itu, akhirnya ia berdehem pelahan dan berkata, "Baiklah Yu Wi, tinggalkan
anakmu disini, akan kurawat dia bagimu, agar engkau dapat mencurahkan segenap perhatianmu untuk berlatih Su-ciau-sin- kang, kalau sudah ada hasilnya baru kau-keluar dari lembah ini. Setuju?"
Yu Wi tersadar dari lamunannya, katanya. "Engkau akan tinggal disini bersama anakku, memangnya engkau tidak ingin meninggalkan lembah ini?"
"Aku sudah hambar terhadap kehidupan manusia, tidak serupa dirimu yang cinta kepada kehidupan, maka terburu-buru mencari jalan keluar dari lembah ini. Bagiku tidak menjadi soal apakah dapat pergi dari sini atau tidak." ujar Bok-cing dengan tersenyum getir.
Yu Wi tidak mengerti mengapa Bok-cing bisa berubah menjadi pesimis begini, katanya dengan menyesal, "Usiamu masih muda, janganlah engkau berpikir demikian- Menurut pendapatku, marilah kita tinggalkan lembah ini sekarang juga mumpung tali sudah tersedia, sekeluarnya dari lembah ini, lalu kucari sebuah tempat untuk meyakinkan Su-ciau-s in- kang, kan sama saja."
"Untuk apa mencari tempat lagi, jika didunia ini ada tempat berlatih ilmu yang paling baik, maka tempat itu adalah lembah kurung ini," kata Bok-cing dengan ngotot. "Malahan dapat kuberi jaminan padamu, apabila Su-ciau-sin- kang berhasil kau kuasai, tanpa bantuan tambang juga dapat kau keluar dari lembah ini."
Semula Yu Wi tidak pernah memikirkan hal ini, setelah disebut Bok-cing barulah ia merasa hal ini memang sangat mungkin terjadi. Hal ini berarti bahwa Ko-Bok-cing sebenarnya sudah lama dapat keluar dari lembah ini dengan Su-ciau-s in- kang maha sakti yang dikuasainya itu. Akan tetapi sungguh aneh bin ajaib, dia seakan-akan rela terkurung di gua gelap ini, bukan saja tidak ingin meloloskan diri dari lembah maut ini, bahkan keluar dari gua inipun tidak pernah terjadi.
Bukankah memang demikian buktinya" Padahal dluar sana ada buah-buahan dan juga bisa mendapatkan daging, tapi dia lebih suka makan jamur di dalam gua ini"
Makin dipikir makin heran Yu Wi, ia coba tanya, "Jika kau tahu kesaktian Su-ciau-sin- kang, mengapa tidak sejak dulu meninggalkan lembah maut ini?"
Bok-cing tampak melenggong, ia salah tangkap maksud pertanyaan Yu Wi itu, dengan gusar ia menjawab, "Memangnya kau kira kubohongimu dan tidak percaya dapat lolos dari sini tanpa bantuan tambang, asalkan sudah menguasai Su-ciau-sin- kang, Hm, bisa jadi tidak kau ketahui betapa ajaibnya su-ciau-sin-kang, tapi masakah kau pun tidak tahu kungfu Leng-po-toh-hi yang maha tinggi bagi seorang yang telah menguasai lwekang yang sempurna?"
Dengan sendirinya Yu Wi tahu "Lang po-toh-hi" atau langkah mengapung seperti terbang yang hebat itu, ia pun tahu bilamana Su-ciau-ain-kang sudah diyakinkan, Leng-po-toh-hi itupun jadi tidak ada matinya lagi.
Tiba-tiba ia mendapat akal. dengan serius ia berucap, "Kutahu bilamana lwekang seorang sudah sempurna, mudah baginya menguasai kungfu Leng-po-toh-hi, tiada sesuatu pula didunia ini yang dapat merintanginya."
"Sama halnya dengan Su-ciau-s in- kang, bilamana sudah kau kuasai dengan baik, di dunia ini pun tidak ada sesuatu yang dapat merintang imu."
"Wah, ini . . . ini kurang jelas bagiku . . . ." Yu Wi sengaja berlagak bodoh.
"Hm, kau berani meremehkan Su-ciau-s in- kang. ..."
Melihat Bok-cing marah, cepat Yu Wi menyela, "Jangan gusar, cici, untuk membuktikan kedangkalan pengetahuanku, dapatkah cici mencobanya, bilamana engkau dapat naik ke atas tanpa alangan, tentu dapat kutinggal disini untuk meyakinkan Su-ciau-s in- kang tanpa kuatir lagi."
Tujuan Yu Wi hendak memancing supaya Ko-Bok-cing mau meninggalkan tempat ini, bilamana sudah naik ke atas, dapatlah dia membujuknya agar tidak turun lagi kebawah. Kalau tidak mungkin
selama hidup dia takkan pergi dari sini. Mendadak air muka Ko-Bok-cing berubah,
Yu Wi mengira orang akan tertipu olehnya, tak tahunya malah menyinggung bagian Bok-cing yang sakit segera nona itu mengayun tangan dan berteriak. "Pergi, pergi, Lekas pergi... Tidak kuperlukan kau tinggal disini untuk berlatih ilmu segala, mau kemana boleh terserah padamu dan takkan kupeduli"
Yu Wi jadi melongo dan merasa kecewa, tidak enak juga perasaannya melihat Ko Bok-cing marah, terpaksa ia minta ampun, "Maaf cici, kukira cici yang benar, bila Su-ciau-sin-kang sudah berhasil dikuasai, dengan mudah pasti dapat lolos dari sini dan tidak perlu dicoba lagi."
Bok-cing sangat sakit karena tersinggung dirinya, kembali ia berteriak. "Pergilah lekas, mumpung tali itu belum putus, lekas pergi membawa anakmu"
Yu Wi tidak menyangka ucapannya tadi bisa menimbulkan amarah Ko Bok-cing, maka lamat-lamat dapatlah diduga sebab musababnya Ko Bok-cing tidak mau meninggalkan lembah ini, cuma dia tidak sampai hati untuk bertanya. ia coba membujuknya, "Marilah kau ikut pergi bersamaku"
Kata "ikut" digunakannya dengan samar-samar, mestinya ia hendak bilang "kubantu kau meninggalkan lembah ini", tapi ia kuatir ucapannya terlalu menyolok dan akan menusuk perasaan Bok-cing lagi.
Ternyata Bok-cing lantas menggeleng dan menjawab, "Tidak. selama hidup ini tak ingin kutinggalkan lembah ini, silakan kau pergi sendiri, semoga setelah kau keluar dari lembah ini, segala urusan hendaknya kau sampingkan dulu dan berlatihlah Su-ciau-sin-kang yang lebih penting, itulah modal usahamu bila Su-ciau-sin-kang sudah kau kuasai, Tahu tidak?"
Ucapan "selama hidup tak ingin meninggalkan lembah ini" sungguh sangat mengharukan Yu Wi, ia pikir, yang benar bukan "tak ingin", tapi memang tak dapat kau tinggalkan lembah ini.
Ia menduga Ko Bok-cing pasti cacat kedua kakinya, ia tidak tahu apa yang menyebabkan cacatnya itu, tapi dapat dipastikannya hal ini, sebab kalau tidak terjadi begini, tidak nanti nona itu patah semangat dan lebih suka hidup menyendiri, masa selama bertemu empat kali tidak sekalipun terlihat dia menggeser tubuh"
Mendadak Yu Wi mncucurkan air mata duka, kuatir ditertawai Bok-cing cepat ia menunduk dan mengusap air matanya, berbareng ia bicara, "Jangan kau harapkan aku akan berhasil menguasai Su-ciau-sin- kang, salamanya tak dapat kukuasai ilmu sakti ini, juga tidak memenuhi syarat untuk mengaku sebagai murid Goet-heng-bun. Su-ciau-sin-kang tidak berjodoh denganku, Pek-yan juga sukar memisahkan diri dari Bu-eng-bun untuk hidup tenteram bersamaku. Kedua anak itu juga akan hidup terpisah, yang satu tak berayah, yang lain tak beribu, terpaksa semuanya pasrah nasib."
Mendadak Bok-cing mendamperatnya, "Jangan sembarangan mengoceh, kulihat engkau inilah manusia yang paling sembrono di dunia ini.Jika tekadmu teguh, umpama setahun su-ciau sin-kang tak dapat kau kuasai, berlatihnya dua tahun dan seterusnya, kalau sudah delapan atau sepuluh tahun, mustahil tak dapat kau kuasai dengan baik?"
"Jangankan delapan atau sepuluh tahun, tiga puluh atau lima puluh tahun juga tidak bisa kukuasai ilmu itu," kata Yu Wi dengan menyesal.
"omong kosong" bentak Bok- cing dengan gusar.
"Janganlah engkau menyesali diriku, kenyataannya memang demikian," kata Yu Wi pula.
Tergerak juga hati Bok-cing karena berulang-ulang Yu Wi menyatakan tidak mampu menguasa ilmu sakti itu, ia coba tanya, "Sebenarnya alangan apa yang kau temui dalam melatih Su-ciau-sin-kang?"
"Tidak ada alangan apa-apa," jawab Yu wi sambil tersenyum getir, "ilmu itu telah kulatih dengan lancar sampai tamat dan sama sekali tidak terjadi sesuatu alangan."
"Mana bisa jadi?" seru Bok-cing. "Sejak kecil kulatih ilmu ini dan banyak mengalami macam-macam rintangan- Bahwa dapat kau latih hingga tamat tanpa rintangan, itu kan berarti sudah berhasil kau kuasai dengan baik ilmu itu."
Yu Wi menyengir dan menjawab, "Betul, memang sudah tamat kupelajarinya, cuma saya manfaatnya sangat sedikit, tiada bedanya Seperti tidak melatihnya."
Bok-cing tercengang, ucapnya dengan tidak mengerti, "Su-ciau-sin-kang terbagi menjadi 12 bagian, apakah sudah kau latih seluruhnya ke 12 bagian itu setingkat demi setingkat?"
"Sudah."jawab Yu Wi. "Jika tidak percaya, biar kumainkan, silakan lihat " Segera ia menaruh anak bayi di samping. lalu duduk bersila dan mulai berlatih Su-ciau-sin-kang dari bagian permulaan-
Su-ciau-sin-kang atau ilmu sakti empat pancaran itu terbagi menjadi empat tingkatan yang masing-masing meliputi tiga bagian pula, seluruhnya menjadi 12 bagian- Gaya setiap tingkatan itu tidak sama, setiap bagian juga berlainan lagi cara melatihnya.
Dengan apal diluar kepala Yu Wi terus menyebutkan kunci latihannya disertai gerakan menurut gaya setiap tingkat latihan-
Setiap bagian yang dilatihnva selalu dibenarkan oleh Ko Bok-cing, sedikitpun tidak keliru.
Setelah melatih dari awal sampai akhir, lalu Yu Wi berolok-olok sendiri, "Boleh juga, sekali berlatih sudah lebih dari satu jam."
Tiba-tiba Bok-sing berkata, "Kalimat kunci latihan yang kau sebut tadi memang benar, mungkin gaya latihanmu yang tidak tepat. coba kau duduk di sampingku dan- berlatih lagi satu kali, akan kulihat betul atau tidak."
Yu Wi mengira keadaan didalam gua terlalu gelap. ia pikir apa alangannya kulatih lagi lebih dekat didepanmu.
Tak terpikir olehnya akan kejanggalan dalam ucapan Ko-Bok-cing tadi. Nona itu mengatakan "mungkin-, disangkanya nona itu cuma mendengarkan dan tidak memandangnya ketika dia berlatih tadi."
Padahal pada hakikatnya Ko-Bok-cing tidak sanggup lagi menyaksikan Yu Wi berlatih dengan matanya, sebab sudah lama matanya buta
Yu Wi hanya menduga nona itu lumpuh karena cacat kedua kakinya, tak tahunya kedua matanya telah buta sama sekali.
Sebabnya Bok-cing menghendaki Yu Wi berlatih lagi dengan duduk disampingnya memang mempunyai maksud tujuan lain, tapi Yu Wi tidak curiga, ia pikir apa susahnya berlatih lagi satu kali, bukan mustahil si nona akan dapat mengetahui dimana letak sebab musababnya Su-ciau-sin- kang yang tak dapat memancarkan kesaktiannya meski sudah dilatihnya dengan baik itu.
Segera ia menuju kesamping Bok-cing dan membatin, "Ketiga kali kedatanganku yang dulu selalu kau larang kudekati dirimu, sekarang engkau sendiri yang minta kududuk disampingnya, Sungguh kontradiksi jalan pikiranmu."
Padahal tidak ada kontradiksi sama sekali, bahwa Ko Bok-cing melarang dia mendekat adalah kerena kuatir anak muda itu akan mengetahui matanya buta dan kakinya lumpuh, sekarang demi menyelami persoalan Su-ciau-sin-kang, terpaksa ia kesampingkan rasa kuatirnya itu.
Begitulah Yu Wi lantas duduk didepannya.
Tapi mendadak Bok-cing memberi perintah, "Duduk menghadap kesana"
Dengan demikian Yu Wi jadi tidak dapat melihat kedua matanya yang buram itu.
Begitulah Yu Wi lantas berlatih Su-ciau-sin-kang lagi mulai dari awal. Baru saja ia mulai bergerak. mendadak Hiat-to bagian punggungnya tertekan oleh telapak tangan Ko Bok-cing.
Mau-tak-mau terpikir oleh Yu Wi, "Ah. sebabnya kau suruh kududuk membelakangimu adalah karena hendak kau coba caraku mengerahkan tenaga."
Ia tidak tahu bahwa salah atau benar cara orang mengerahkan tenaga dapat dipandang dari luar, seumpama tak dapat dilihat juga tidak perlu memegang Hiat-to di bagian punggung, cukup beradu telapak tangan saja sudah dapat diketahui, tapi Bok-cing justeru tidak mau anak muda itu duduk berhadapan sehingga akan mengatahui matanya yang buta.
Yu Wi sendiri yakin cara berlatihnya tidak salah, maka kembali ia mengulangi latihan tanpa sangsi.
Setiap bagian dan setiap tingkatan jelas dilakukannya dengan tepat, tentu saja Bok-cing sangat heran.Jika cara latihan anak muda ini ternyata betul lancar, seharusnya hasilnya akan sangat gemilang, mengapa dia mengaku tidak mendatangkan manfaat apapun"
Selesai berlatih, Yu Wi lantas berdiri, baru saja ia membalik tubuh, mendadak Bok-cing berseru, "coba sambut pukulanku ini"
secepat kilat telapak tangan Kanannya terus menghantam Yu Wi, tahu orang hendak mengujinya, segera ia mengerahkan segenap tenaga untuk menangkis.
Begitu beradu tangan Bok-cing lantas tahu tenaga anak muda itu sangat kuat dan keras, tidak serupa tenaga sendiri yang halus dan lunak. melukai orang tanpa kelihatan-
cepat ia menahan sebagian tenaganya, walaupun Yu Wi dapat menangkisnya, tapi tenaga pukulannya terasa lenyap begitu saja.
Malahan lantas dirasakannya semacam arus tenaga yang lunak mendampar dari depan dan membuatnya tergetar nmudur beberapa langkah.
Setelah ujian ini, diam-diam Bok-cing merasa heran, "Aneh, mengapa tenaganya kalah kuat dari pada sebagian tenagaku?"
Diam-diam Yu Wi juga kaget dan mengakui kehebatan Su-ciau-sin- kang, untuk pertama kalinya ia sendiri merasakan secara langsung betapa lihainya ilmu sakti itu. Dengan tidak mengerti Bok-cing menggeleng dan berucap. "Aneh, sungguh aneh"
Ia heran. sebab Su-ciau-sin- kang yang dilatih Yu Wi jelas benar dan baik, mengapa tenaganya justeru tidak sekuat dirinya.
Hal ini tak dapat dipecahkannya, dahulu ayah Ban Put-tong juga tidak habis mengerti setelah berhasil meyakinkan Su-ciau-sin-kang dan ternyata tidak mendatangkan manfaat apa-apa.
Ayah Ban Put-tong dahulu memang benar telah meyakinkan Su-ciau-sin-kang dengan betul seperti Yu Wi sekarang, tapi dia juga tidak mampu menghadapi Thay- yang- bun- sebaliknya malah terpedaya oleh musuh dengan tipu "perempuan cantik" sehingga terpecah-belah hubungan baik antara ayah dan anak. akibatnya rumah tangga hancur dan manusianya runtuh, Goat-heng-bun juga terus ambruk dan hampir musnah sama sekali.
Mereka tidak tahu Su-ciau-sin-kang harus dilatih sejak kecil dengan badan jang masih suci bersih, jika tidak suci lagi, ilmu itu paling-paling hannya sekedar untuk kesehatan badan saja
Jadi selama hidup Yu Wi tidak mungkin berhasil menguasai Su-ciau-sin-kang sebagai Ko Bok- cing, biarpun dia berlatih lagi seratus tahun juga sia-sia belaka.
Dengan sendirinya Ko Bok-cing tidak dapat memecahkan sebab musababnya Yu Wi tidak dapat menguasai ilmu sakti itu.
Maka dengan tertawa Yu Wi berkata. "sudahlah, tidak perlu engkau banyak pikir. Mungkin harus berjodoh untuk dapat menguasai Su-ciau-sin-kang, aku sendiri tidak berjodoh sehingga tidak mampu menguasainya."
"Masa berlatih kungfu juga bicara tentang jodoh?" jengek Bok-cing.
"Ya, apa boleh buat, urusan yang sukar dipecahkan, terpaksa harus diberi jawaban dengan kata jodoh. kalau tidak, cara bagaimana engkau memberi alasan?"
"Tentu saja ada," kata Bok-cing.
Ucapannya ini bukan menanggapi pertanyaan Yu Wi itu, tapi diam-diam dalam hati ia telah mengambil suatu keputusan. "Apa alasannya, coba engkau jelaskan," pinta Yu Wi.
"Tidak ada gunanya meski kujelaskan sekarang, yang penting harus berdaya untuk berlatih dengan baik," ujar Bok-cing.
Padahal, betapapun tidak dapat memberi penjelasan apa sebabnya Yu Wi tak dapat mengeluarkan kesaktian Su-ciau-s in- kang meski ilmu Itu sudah dilatihnya dengan betul.
"Kalau tidak menemukan sebab musababnya, biarpun kulatih sampai ubanan juga tetap tak bermanfaat. kan lebih baik kulatih lwekang keluargaku sendiri saja." .
"Apa namanya lweekang keluargamu itu." tanya Bok-cing.
"Yang satu bernama Thian-ih-sin-kang. yang lain disebut Ku-sit-tay-kang," tutur Yu Wi.
"Wah, tak tersangka masih ada kepandaian ganda simpananmu." ejek Bok-cing.
"cici yang baik, janganlah engkau mengejek." ucap Yu Wi dengan rendah hati. "Kutahu, biarpun kulatih sampai tua juga tidak dapat menandingi Su-ciau-sin- kang mu."
Menurut watak Yu Wi yang keras- mestinya dia tidak tahan ejekan Ko-Bok-cing. tapi ia merasa kasihan terhadap si nona yang sudah cacat, ia tidak sampai hati memperlihatkan sikap ketus.
"Eh jangan kau panggil semesra itu, usiaku juga sudah lebih tua dari padamu," kata Bok-cing tiba-tiba.
Yu Wi ingin membuat senang hati si nona ucapnya pula, "Jika begitu biar kupanggil adik padamu. Nah, adik yang baik."
Muka Bok-cing menjadi merah, omelnya. "Huh, usil"
Sedapatnya Yu Wi berusaha membangkitkan gairah hidup si nona, maka ia berlagak Jenaka dan menjulur lidah.
Dengan sendirinya Bok-cing tidak dapat melihat lagaknya yang lucu itu, dengan muka kaku ia berkata pula, "Ada satu caraku dapat membuatmu menguasai Su-ciau-sin-kang. Kau mau terima atau tidak?"
Yu Wi tertawa, "Apakah seperti kejadian di tempat kediamanmu dulu, akan kau bantuku lancarkan segenap urat nadi dan sebagainya."
"Tidak perlu kau tanya," jawab Bok-cing.
Karena tidak tega menolak maksud baik orang terpaksa Yu Wi menjawab, "Baiklah, terserah apa kehendakmu, akan kuturut semuanya."
Dengan kereng Bok-cing lantas berkata, "Duduk di sampingku sini."
Yu Wi menurut dan berduduk. "Pejamkan mata" Bok-cing memberi perintah pula seperti anak yang penurut, segera Yu Wi pejamkan mata.
"Julurkan tangan kirimu," kata Bok-cing lagi^


Pendekar Setia Pendekar Kembar Bagian Ii Karya Gan K L di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dan begitu Yu Wi mengangsurkan telapak tangan kirinya, segera Bok-cing menjulurkan telapak tangan kirinya juga sehingga kedua tangan menempel erat.
"Ada pesan apalagi?" ujar Yu Wi dengan tertawa.
Tapi dengan bengis Bok-cing lantas membentak. "Dilarang bicara, pusatkan pikiran dan kerahkan tenaga, dan terima tenaga murni yang kusalurkan, cara bagaimana kulakukan harus kau turut dan tidak boleh melawan-Hati jangan merasakan, mata jangan melihat. Dilarang membuka mata, perut kosong, tidak boleh makan dan minum, tidak boleh memikirkan waktu."
Beberapa larangan dan tidak boleh itu membuat Yu Wi menggeleng kepala, pikirnya, "Mendingan jika diriku hendak kau jadikan patung, tapi soal waktu juga tidak boleh kupikirkan, memangnya kalau duduk sampai sebulan atau setahun juga harus diam saja?"
Tiba-tiba Bok-cing berkata pula, "Dan dilarang berpikir macam-macam."
"Dilarang" yang terakhir itu terpaksa juga diturut oleh Yu Wi, dengan begitu dia lantas berubah serupa orang hidup yang mati.
Sang waktu berlalu dengan cepat, Yu Wi merasakan suara sang waktu seolah-olah berlalu di tepi telinganya.
Ko Bok-cing sendiri juga memejamkan mata dan berduduk tidak bergerak. Keduanya serupa patung yang tidak bargerak. Padahal hawa murni dalam tubuh mereka terus bergerak tanpa berhenti, serupa dengan pabrik yang sedang berproduksi terus menerus.
Hawa murni dalam tubuh Yu Wi terus dikerahkan dan berlebur dengan hawa murni yang disalurkan oleh Ko Bok-cing, tapi begitu terlebur lantas tertumpas, sehingga lama-lama dalam tubuh Yu Wi seolah-olah dipenuhi oleh hawa murni Ko Bok-cing, tangan kiri Yu Wi dimulai dari telapak tangan ke atas makin lama makin putih dan masih terus menjalar ke atas.
Setelah seluruh lengan menjadi putih, lalu mulai menjalar ke sebagian tubuhnya. Yu Wi merasakan dimana hawa murni Ko Bok-cing tersalur, bagian yang bersangkutan lantas terasa segar sekali, ia tidak tahu bahwa hawa murni dalam tubuhnya telah mengalami pembaharuan.
Setelah merasakan hawa murni jang timbul makin penuh, diam-diam Yu Wi merasa heran-Lama-lama dirasakannya gelagat tidak enak. pikirnya. "Wah, jika hawa murni dalam tubuhku terus bertambah begini, akhirnya bukankah diriku bisa meledak?"
Lalu terpikir pula olehnya kalau hawa murni Ko-Bok-cing terus menerus disalurkan kepadanya, Bukankah akhirnya juga akan kehabisan tenaga dan mati kering"
Ia bermaksud membuka mata untuk minta penjelasan, tapi kuatir dlomeli si nona, juga kuatir ditertawai, sebab dengan kehebatan Su-ciau-sin- kang si nona masa perlu dikuatirkan olehnya"
Dengan demikian, terpaksa ia bertahan terus, tanpa bicara, tanpa melihat dan tidak bergerak dengan cepat sehari semalam telah lalu.
Selama sehari semalam badan Yu Wi hampir separo telah berubah menjadi putih.
Bahwa Bok-cing melarang Yu Wi memikirkan waktu, hal ini agak sulit. sebab perut Yu Wi cukup jelas berapa lama sudah lalu. bukan karena lapar, tapi ia menjadi kuatir Ko Bok-cing sendiri takkan tahan-
Tiba-tiba terpikir olehnya akan membuka mata untuk melihatnya. Tapi lantas teringat lagi pada pesan si nona yang menyuruhnya jangan berpikir, tidak boleh memandang. dilarang membuka mata Jika dia membuka mata berarti telah melanggar perintahnya.
Kini Bok-cing membantunya berlatih Su-ciau-sin- kang, hal ini serupa si nona telah menjadi gurunya, karena itulah ia merasa perintah sang guru perlu dipatuhi.
Selama sehari semalam Bok-cing dan Yu Wi terus berduduk tanpa bergerak dan tanpa bicara dengan mata terpejam, Yu Wi masih berpikir ini dan itu, sebaliknya Bok-cing tidak berpikir apapun, perhatiannya terpusat pada tujuannya untuk membantu Yu Wi mengganti hawa murni.
Sudah dalam perhitungannya, bilamana penyaluran hawa murni iu sudah terlaksana setengah badan, selanjutnya harus dilakukan dengan berganti tangan. Maka tidak lama kemudian ia berkata, "Awas, kerahkan tenaga pada tangan kanan, bila kukatakan ganti tangan harus cepat julurkan tangan kananmu dan tarik kembali tangan kiri. Harus cepat, tidak boleh tertambat."
Yu Wi dengar suara si nona agak berat, napasnya terdengar rada tersengal, inilah keadaan yang tidak biasa, bahkan waktu bicara si nona harus mengerahkan tenaga agar suaranya tidak tersirap oleh gemuruh air terjun, jelas tenaganya banyak berkurang daripada waktu sebelum membantunya berlatih Su-ciau-sin-kang. Kenyataan ini membuat Yu Wi terperanjat,
"Wah mengapa lwekangnya berkurang sebanyak ini" ia ingin membuka mata untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya, atau buka mulut untuk tanya sebab musababnva, tapi iapun kuatir melanggar beberapa larangan Ko Bok-cing dan membuatnya tidak senang.
Mendadak terdengar bok-cing berkata pula, "Mengapa tidak lekas himpun tenaga pada tangan kananmu?"
"Baik," cepat Yu Wi menyahut dan segera mengerahkan tenaga pada lengan kanan-
Pikirnya, "Diantara beberapa larangannya sudah kulanggar tentang tidak boleh memikirkan waktu dan sembarangan berpikir, jika kulanggar lagi larangan membuka mata, memangnya kenapa?"
Mendadak Bok-cing berseru pula, "Ganti tangan "
Pada waktu menariK tangan dan menjulurkan tangan yang lain, diam-diam Yu Wi membuka matanya sedikit.
Saat itu sudah selesai ganti tangan, kini tangan kanan Ko-Bok-cing dan tangan kanan Yu Wi jadi saling tempel. Pada saat berganti tangan, Bok-cing hanya mengangkat tangan kanan sedangkan tangan kiri lantas melambai kebawah dengan kaku. ia tidak mengira diam-diam Yu Wi telah mengintip.
Makin lebar Yu Wi membuka matanya, air mukanya penuh rasa kejut, saking terperanjatnya ia jadi melongo.
Bok-cing tidak tahu kelakuan anak muda itu, ia malah mengomel, "Kenapa tidak kau kerahkan tenaga dengan baik" Pikiranmu bercabang, sembarangan mengelamun, bukan?"
Mendadak Yu Wi menarik tangannya dan melompat mundur sambil berseru, "He, tangan . . .tangan kirimu . . . ."
Bok-cing tetap memejamkan mata dan tidak bergeraK, katanya, "Kenapa kau langgar perintahku" Lekas berduduk dan ulurkan tangan kananmu" Tapi Yu Wi lantas berteriak. "coba kau pandang tangan kirimu sendiri"
Bok-cing seperti tahu apa yang menyebabkan kaget Yu Wi itu, ia menghela napas dan berkata, "Jika tidak lekas kau duduk. Su-ciau-sin- kang bantuanku pasti akan kurang berhasil."
Dengan suara pedih Yu Wi berucap, "Aku . . . tidak . . . tidak mau berlatih lagi."
Bok-cing tetap tidak membuka matanya dan berkata, "Kenapa tidak mau berlatih lagi, memangnya hendak kau bikin usahaku jadi sia-sia belaka?"
Mendadak Yu Wi berjongkok dan mendekam diatas tanah sambil menangis, ucapnya dengan terharu, "Aku ...aku tidak dapat membikin engkau menjadi . . . menjadi begini .... coba . . . coba engkau membuka mata . . . dan melihatnya . . . ."
"Apa yang perlu kulihat?" ujar Bok-cing dengan tetap tidak bergerak, "Kutahu tangan kiriku berubah menjadi kurus, bukan?"
Tidak kepalang rasa duka Yu Wi, serunya dengan tersendat, "Jika . . .jika engkau tahu tanganmu akan berubah menjadi begini bilamana kau bantu kulatih Su-ciau-sin-kang, mengapa . . . mengapa tidak Kau katakan padaku" ...."
"Jika kukatakan, apakah kau mau terima?" ujar Bok-cing dengan tersenyum getir.
Mendadak Yu Wi menggunakan tangan kanannya untuk memukul tangan kirinya sendiri, "plak-plok", ia memukul dengan keras sambil berteriak dan menangis, "Tangan ini membikin susah padamu, harus kupukul patah dia"
Makin keras dia memukul, tapi tangan kiri itu tidak babak belur sedikit pun, sebaliknya tangan kanan yang memukul berbalik merah. Padahal pukulan tangan Yu Wi biasanya dapat menghancurkan batu, namun tangan kiri sendiri tidak cedera sedikit pun, sungguh aneh.
Bok-cing ternyata tidak mencegahnya, meski pukulan Yu Wi bertambah keras, dengan tenang ia berkata, "Tangan kirimu sudah berhasil kau latih dan terisi Su-ciau-sin- kang, tangan kananmu sudah jauh kalah kuat betapapun kaupukul juga takkan membuatnya patah."
Rupanya setengah badan kiri Yu Wi telah berhasil diisi dengan Su-ciau-sin- kang yang disalurkan oleh Ko-Bok-cing, bilamana ketemu serangan dari luar, dengan sendirinya lantas timbul daya perlawanannya. Sebaliknya setengah badan kanan Yu Wi belum berhasil diisi dengan Su-ciau-sin- kang, kekuatannya masih serupa dulu, tentu saja tidak mampu memukul patah tangan kiri yang sekarang sudah jauh lebih kuat itu.
Tentu saja Yu Wi tercengang sendiri melihat kejadian aneh ini, tangan kanan yang memukul terasa kemang, sebaliknya tangap kiri yang dipukul tidak merasakan kesakitan apa pun. Pikirnya, "Wah, hal ini sama dengan mengorbankan lengan kirinya untuk menambah tenaga pada tangan kiriku. Ah, apakah aku Yu Wi masih dapat dianggap sebagai manusia dengan cara mengorbankan orang lain untuk keuntungan diriku sendiri?"
Karena gemas dan sedihnya, mendadak ia berteriak gusar, "Lengan yang yang tidak tahu malu ini, meski tidak dapat kupukul patah, biar kupUntir patah saja." Habis berkata, segera ia gunakan tangan kanan untuk memutir tangan kiri.
Bok-cing terkejut, ia tahu meski lengan kiri anak muda itu sudah diberi tenaga Su-ciau-sin-kangnya, tapi kekuatannya tak dapat mencapai bagian ruas tulang yang mudah patah itu, maka cepat ia membentak, "Berhenti"
Berbareng itu tangan kanannya terus menghantam dan mengenai lengan kanan Yu Wi. Kekuatan lengan kanan Yu Wi bukan tandingan telapak tangan kanan Bok-cing, kontan dia jatuh terjungkal. Tapi ia bertekad akan mematahkan tangan kiri untuk menebus kesalahannva terhadap si nona, setelah merangkak bangun segera ia gunakan tangan kanan untuk memuntir tangan kiri.
Mendadak tangan kanan Ko Bok-cing mencengkeram pergelangan tangan kanan Yu Wi, anak muda itu menyadari bilamana terpegang, sukar lagi mematahkan tangan kiri demi tercapai tujuannya, tanpa pikir ia sambut tangan Bok-cing dengan telapak tangan kiri. "Plak". kedua tangan beradu dengan tepat.
Ternyata tenaga tangan kedua orang sama kuatnya, tubuh kedua orang sama-sama tidak tergetar.
Bok-cing sangat senang, katanya, "Bagus Tangan kirimu ternyata sudah berhasil menguasai Su-ciau-sin-kang dengan baik. Ayo lekas, biar kubantu lagi melatih tangan kananmu"
Tapi mendadak Yu Wi menarik tangan kirinya untuk menabas tangan kanan- Dengan tenaga tangan kiri yang sudah menguasai Su-ciau-sin-kang, tenaga tabasannya tentu saja luar biasa dan tangan kanan itu pasti akan patah.
Bok-cing tidak dapat melihat, namun daya pendengarannya sangat peka, begitu mendengar sambaran angin, segera ia tahu apa yang hendak diperbuat Yu Wi, karena tangan kanan tidak sempat digunakan, tanpa terasa tangan kiri lantas diangkat untuk menghalang ditengah kedua tangan Yu Wi.
Karena emosinya Yu Wi hendak menabas tangan kanan sendiri, tapi demi melihat tangan kiri Bok-cing yang sudah susut kurus itu, ia tidak tega, cepat ia menarik kembali pukulannya. Kini tangan kirinya sudah menguasai Su-ciau-sin- kang, setiap gerak-geriknya dapat dilakukan sesuka hatinya.
Walaupun tenaga pukulannya sempat ditarik tidak urung tangan kirinya tetap menyampuk tangan kiri Bok-cing, karuan nona itu tidak tahan dan roboh terguling.
Walaupun begitu nona itu tetap bersorak. "Haha, bagus Satu bayar satu. cuma kau gunakan tangan kirimu untuk memukul aku, rasanya agak tidak pantas"
Dengan gugup Yu Wi membangunkan si nona, ucapnya sambil menangis, "Kepapa engkau malah tertawa gembira,. masa tidak kau lihat tangan kirimu"
"Kulihat jelas, tidak perlu dibicarakan lagi," potong Bok-cing, "adalah kebanggaanku dapat kubantu engkau menguasai separo Su-ciau-sin- kang, engkau sendiri seharusnya juga bergembira bagiku." Dia Sudah membuka matanya, tapi apa yang dapat dilihatnya" Dia berdusta pada Yu Wi, sebab sama sekali dia tidak dapat melihat.
Dengan tangan kirinya yang kurus kering itu Bok-cing membelai rambut Yu wi, katanya serupa seorang ibu sedang membujuk anaknya, "Jangan menangis, jangan menangis Apa yang perlu disedihkan" Kan cukup berharga bila kucacat tapi dapat membantumu menguasai Su-ciau-s in- kang. Apalagi tanganku tidak menjadi cacat. coba lihat, bukankah masih dapat bergerak dengan bebas."
Makin berduka hati Yu Wi, ia menangis tersedu-sedan seperti seorang anak kecil yang menangis di dalam pangkuan sang ibu.
"Janganlah kau bikin cacat diri sendiri," dengan lembut Bok-cing berkata pula. "Hendaknya kau tahu bahwa tangan kirimu sekarang sama juga seperti milikku, jika kau patahkan dia, tentu akupun akan berduka. Bahwa tangan kiriku sudah kehilangan tenaga dan tidak mungkin pulih kembali, jika tangan kirimu kau patahkan, apa manfaatnya bagiku, hanya akan menambah dukaku saja, kan tidak perlu?"
Bok-cing membangunkan Yu Wi dengan tangan kanan, katanya dengan tertawa, "Mari, ulurkan tangan kananmu, biar kubantu
melatih lagi separo Su-ciau-sin-kang yang lain-Jangan menangis, lekas usap air matamu"
cara bicaranya benar-benar menganggap Yu Wi sebagai anak kecil.
Dengan lengan bajunya Yu Wi mengusap air mata, ketika Bok-cing tidak memperhatikannya, mendadak dengan tangan kiri ia pegang pergelangan tangan kanan sendiri dan berkata, "Kau suruh kulatih Su-ciau-sin-kang lagi dengan tangan kanan, tapi tangan kanan ini masih milikku, akan kupatahkan dia supaya tidak membikin msah padamu." Berbareng ia terus memuntir sehingga menimbulkan bunyi keriut.
Keruan Bok-cing terkejut, cepat ia membentak "Jangan Bila berani kau patahkan tanganmu sendiri, segera kutumbukkan kepalaku pada dinding batu, biar kumati saja di depanmu."
Yu Wi menghentikan gerakan memuntirnya dan berkata, "Boleh juga tidak kupatahkan tangan kanan, cuma aku harus tahu cara bagaimana memulihkan tangan kirimu?"
"Untuk apa kau pikirkan hal ini?" ujar Bok-cing sambil menggeleng kepala.
"Seorang lelaki, mana boleh kubikin susah padamu untuk keuntunganku?" seru Yu Wi tegas.
"Mana kau bikin susah padaku" Bukankah aku baik bagini?" ujar Bok-cing dengan suara lembut.
"Baik-baik?" ucap Yu Wi sambil tersenyum getir, "Keadaanmu begini kau bilang baik" Biarpun orang berhati juga akan terharu melihat keadaan setenga badanmu sebelah kiri ini?"
"Kenapa mesti terharu?" ujarBok cing dengan tertawa. "Kan cuma agak kurus saja. Aku memang gemuk. kan jadi lebih baik bila kurus sedikit."
"Lebih baik katamu" Masa . . . masa kau anggap lebih baik?" seru Yu Wi dengan perasaan pedih.
Bok-cing menggeleng, katanya, "Ai, kenapa ribut, separti anak kecil saja."
Yu Wi menatap mata Ko Bok-cing, ucapnya pula, "Masa aku tidak boleh ribut" Tidakkah kau lihat jelas keadaanmu ini?"
"Sudah kulihat dengan jelas," ujar Bok-cing dengan tertawa.
"coba kau lihat lagi," kata Yu Wi dengan ngotot. Bok-cing berlagak menunduk untuk melihat tangan kiri sendiri.
---ooo0dw0ooo---
Bab 23 Yu Wi kuatir si nona tak dapat melihat jelas, pelahan ia mengangkat tangan si nona agak lebih tinggi. Ketika sorot matanya menyentuh tangan Bok cing yang kurus kering dan berwarna hitam itu, seketika air matanya bercucuran. Tapi dilihatnya biji mata Ko Bok- cing tidak bergerak sama sekali, sewajarnya si nona menarik kambali tangannya dan berkata dengan tertawa, "Nah, kan sudah kulihat."
Air mata Yu Wi bercucuran seperti hujan, katanya, dengan tersedu-sedan, "Meski. . . .meski sudah kau lihat, tapi. . . tapi serupa tidak melihat."
Berubah air muka Bok-cing, "Apa artinya ucapanmu ini?"
Sedapatnya Yu Wi menahan tangisnya, ia mengusap air mata sendiri, namun betapapun air matanya masih terus mengalir.
Bok-cing menduga anak muda itu telah dapat melihat penyakit matanya, segera ia tertawa dan berkata, "Mungkin karena terlalu lama berdiam ditempat gelap. akhir-akhir ini mataku memang kurang jelas melihat sesuatu. Tapi untuk melihat lenganku sendiri masih dapat kulihat dengan terang." Yu Wi tidak menanggapinya.
Setelah berdiam sejenak, Bok-cing berkata pula dengan tertawa, "Tadinya aku tidak percaya Koh-bok-sian (ilmu kayu kering) dapat
membantu orang berlatih Su-ciau-sin-kang, sekarang setelah terbukti tenaga tangan kirimu banyak bertambah, ternyata pelajaran Koh-bok-sian itu bukan omong kosong belaka."
Ia tidak tahu bahwa secara diam- diam Yu Wi telah menggeser dan berduduk dibelakangnya, di sangkanya dirinya masih bicara berhadapan dengan anak muda itu.
Melihat Bok-cing tidak mengetahui dia sudah berpindah tempat, Yu Wi tidak tahan lagi akan rasa pedihnya, ia menangis tergerung- gerung, tangisnya ini sungguh jauh lebih berduka daripada rasa menyesalnya karena telah memukul tangan kiri Bok-cing tadi.
Setelah mendengar suara tangis Yu Wi dibelakangnya barulah Bok-cing tahu anak muda itu telah menguji matanya yang buta itu. Segera ia berpaling, katanya sambil menggeleng kepala, "Ai, se-orang lelaki gagah perkasa, mengapa menangis melulu, masa tidak takut ditertawai oleh orang perempuan- coba lihat, setetes air mata pun aku tidak menangis, agaknya sudah ikut terkuras habis oleh tangismu sehingga aku tidak dapat menangis."
"Meng . . . mengapa matamu buta?" tanya Yu Wi dalam tangisnya.
Waktu dilihatnya mata Bok-cing buram dan kaku tadi, timbul sudah rasa curiga Yu Wi. Kemudian ketika nona itu disuruh memeriksa tangan kiri sendiri yang hitam dan kering itu, Yu Wi sendiri merasa tidak sampai hati memandang keadaan tangan itu, tapi Bok-cing juga memandang tanpa berkedip dari sini lebih terbukti lagi bahwa matanya pasti tidak normal. Akhirnya Yu Wi mengujinya dengan memutar kebelakangnya dan terbuktilah Bok-cing sama sekali sudah buta. Pantas dia tidak mau meninggalkan tempat ini, kalau kedua kaki lumpuh dan mata buta, siapapun tidak berkeinginan lagi berkecimpung didunia Kangouw dan akan mengakhiri hidupnya di tempat yang tenang ini.
Waktu mengetahui kaki Bok-cing cacat saja rasa duka YU Wi sudah tak terkatakan, apalagi sekarang diketahui matanya juga buta
semua, sungguh sukar dilukiskan rasa pedihnya. Ia pikir Thian sungguh kejam memperlakukan si nona.
"Meski buta, biarkan saja, apa mau dikatakan lagi?" ujar Bok-cing kemudian, "Untuk apalagi kau tanya ini dan itu, memangnya kau ingin aku ikut menangis bersamamu?"
Maka Yu Wi tidak berani tanya lagi, ia menduga mungkin waktu terhanyut kedalam air terjun, Bok-cing mengalami nasib sial, bukan saja babak-belur terluka, bahkan juga rusak wajahnya, kaki lumpuh dan mata buta. Sebaliknya Yu Wi sendiri dan Pek-yan hanya mengalami luka ringan saja.
Ia merasa Thian terlalu tidak adil, mengapa memperlakukan Ko Bok-cing sekejam ini" Mengapa selain membuatnya terluka dan merusak wajahnya, sekaligus juga membutakan mata dan melumpuhkan kakinya"
Dengan pedih Yu Wi berpikir, "Meski Jip-yap-ko mungkin dapat memulihkan wajahnya, tapi penyakit buta dan lumpuh ini mana ada obat di dunia ini yang dapat manyembuhkannya?"
Sungguh kalau bisa ia berharap dirinya saja yang buta dan lumpuh waktu terhanyut masuk air terjun daripada membikin susah Ko Bok-cing yang perlu di kasihani ini.
"Mataku buta, dengan sendirinya tidak berguna lagi kumiliki lwekang Su-ciau sin- kang." demikian kata Bok-cing. "Maka dari itu, Toako, biarlah kau terima bantuanku untuk meyakinkan separo Su-ciau-sin-kang yang lain,"
Namun Yu Wi tidak menghiraukan maksud baik Bok cing itu, tiba-tiba ia malah bertanya, "Apakah Koh-bok-sian yang kau sebut tadi?"
Bok-cing tidak menjawabnya, ia mendengarkan dengan cermat, mendadak ia berseru, "He, anakmu menangis, lekas kau gendong kemari."
Rupanya mereka menjadi lupa anak Yu Wi yang ditaruh disamping sana, sudah sehari semalam bayi itu kelaparan dan telah lama menangis, tapi lantaran suara gemuruh air terjun sehingga
suara, tangisan anak itu tidak terdengar. Bilamana lwekang mereka tidak tinggi, biarpun bicara berhadapan juga tidak terdengar jelas.
Waktu Yu Wi berpaling kesana, benarlah terlihat putranya sedang menangis sambil mencak-mencak dengan tangan dan kakinya yang kecil itu, kasihan anak itu, selama dilahirkan cuma sekali saja disusui sang ibu, habis itu lantas tidak pernah lagi merasakan kasih sayang sang ibunda.
Yu Wi ingin mencoba apakah kedua kaki Bok-cing benar lumpuh, ia berlagak bicara sewajarnya, "silakan kau gendongkan bagiku, jelas anak itu kelaparan- aku tidak tahu cara bagaimana memberi makan padanya."
Air muka Bok-cing tampak memperlihatkan rasa cemas, tapi tidak bergerak, katanya, "Putramu sendiri, tidak kau gendong, masa suruh orang lain?"
"Biarkan saja dia menangis, mari kita bicara tentang Koh-bok-sian " ujar Yu Wi.
"Huh, kau ini ayah macam apa?" omel Bok-cing. "Anak itu sudah lapar sehari semalam, lekas kau petik setangkai jamur untuk diisapnya, tentu akan berhenti tangisnya."
Sesungguhnya hati Yu Wi memang tidak tega melihat tangis anaknya yang luar biasa itu, ia tidak berani banyak omoug lagi, buru-buru ia memetik setangkai jamur dan dijejalkan kemulut kecil si bayi, lalu digendongnya dan ditimang-timang.
Anak itu juga tidak rewel, begitu mulutnya mengisap seuatu yang serupa dot, ia tidak menangis lagi, pelahan iapun terpulas.
Pelahan Yu Wi lantas menaruh lagi anaknya di tanah, sekarang ia yakin Ko Bok cing memang benar tidak dapat berjalan, kalau dapat, seorang wanita yang mempunyai perasaan keibuan tentu akan mendahuluinya menggendong anak yang menangis itu.
"Anak itu tidak apa-apa?" tanya Bok-cing.
"Ya, anak itu sudah tidur lagi," jawab Yu wi.
"Di mana kau taruh dia?" tanya pula si nona.
"Tepat di pojok dibelakangmu."
Dengan kedua tangan menahan tanah Bok-cing seperti bermaksud merangkak kesana untuk mengatur tempat tidur bayi itu, tiba-tiba leringat dirinya tak dapat berjalan, jika main merangkak tentu tidak sedap dipandang Yu Wi, maka ia duduk tegak lagi dan berkata, " jangan Kau taruh di sana, di situ sangat lembab, lekas bawa masuk kedalam gua."
Yu Wi tahu Bok-cing sangat sayang kepada anaknya itu, terbayang olehnya waktu anak itu diselamatkan dari dalam air, lalu ditaruh didalam gua serta dirawat, semuanya itu dilakukan dengan merangkak kian-kemari Seketika dia seakan-akan melihat adegan Bok-cing merangkak ketepi kolam untuk minum air, saking terharunya ia mengucurkan air mata lagi.
"Sudah kau pindah belum?" tanya Bok-cing pula dengan kuatir.
Karena didesak. lekas Yu Wi memindahkan anaknya ke dalam gua, lalu kembali berduduk didepan Bok-cing, katanya, "Sudah kupindahkan anak itu kedalam. Sekarang harap kau jelaskan Koh-bok-sian."
"Aku sendiri tidak tahu jelas. sebenarnya apakah Koh-bok-sian?" jawab Ko Bok-cing,
"Jika engkau tidak tahu, mengapa dapat kau gunakan Koh bok-sian untuk membantuku menguasai Su-cian-sin- kang dengan baik," tanya Yu Wi pula
"Siapa bilang sudah kau kuasai dengan baik Su-ciau-sin-kang itu masih ada setengah bagian yang belum kau kuasai," jawab Bok-cing dengan tertawa
"Menurut saja padaku, jangan kau takuti aku dengan memuntir tangan kananmu, biarlah kubantu kau latih setengah bagian yang lain, setelah berhasil dapatlah kau angkat kembali kejayaan Goat-heng-bun. Hendaklah kau maklum, sekarang mataku sudah buta, tidak dapat lagi ikut berkecimpung di dunia Kangouw, maka
kejayaan Goat-heng-bun masa depan akan bergantung pada perjuanganmu."
Diam2 Yu Wi membatin, matipun tidak kuterima bantuan setengah Su-ciau-sin-kang yang lain- la menggeleng kepala saja sambil memandang tangan kiri Bok-cing yang hitam yang kering itu.
"Bagaimana, kenapa diam saja" Kau marah karena tidak kujelaskan tentang Koh-bok-sian?" tanya Bok-cing.
Yu Wi sengaja diam saja seakan-akan membenarkan pertanyaan orang.
"Aku benar-benar tidak tahu tentang Koh- bok- sian, aku cuma apal rumusnya dan cara menggunakannya, hal itu kutemukan didalam kitab Su-ciau-sin-kang, kubaca dan kuingat diluar kepala, kemudian kupikir kegunaan Koh-bok-sian hanya akan membantu orang lain untuk mengisap tenagaku sendiri, buat apa kusimpan ilmu yang tidak berguna yang hanya merugikan diri sendiri ini, maka kubuang catatan mengenai ilmu itu."
"Jika kau tahu ilmu itu hanya akan merugikan dirimu sendiri, mengapa kau gunakan bagiku?" tanya Yu Wi dengan menyesal.
"Waktu kutahu Su-ciau-sin-kang berhasil kau pelajari dengan baik, tapi tidak memancarkan kesaktiannya. kupikir jika begitu, lalu cara bagaimana engkau dapat menjabat ahli waris Goat-heng-bun" Padahal aku sudah cacat dan tidak berguna lagi, kalau ilmu yang kukuasai tidak kuberikan padamu, untuk apa segala kesaktian yang kukuasai ini?" setelah berhenti sejenak. lalu Bok-cing menyambung lagi, "Toako, kau pun tidak perlu merasa sedih, kubantu meyakinkan su-ciau-sin-kang adalah karena ilmu ini akan sangat berguna bagimu. Bilamana mataku tidak buta, tentu takkan kulakukan cara ini."
"Dapatkah kau ajarkan rumus Koh-bok-sian itu kepadaku?" pinta Yu Wi.
"Untuk apa engkau mempelajarinya?" tanya Bok-cing.
"Supaya . . .supaya bila perlu. ilmu sakti yang kukuasai dapat kusalurkan kepada anakku atau ahli- warisku," kata Yu Wi.
Tapi Bok-cing lantas menggeleng, katanya , "Kutahu maksud tujuanmu, tentunya hendak kau berikan kembali kepadaku ilmu itu agar tangan kiriku dapat pulih seperti sediakala, betul tidak?"
"Ah. tidak. bukan" cepat Yu Wi menyangkal.
Tiba-tiba timbul akal Ko Bok-cing ia pikir pemuda itu harus ditipu agar secara tak sadar mau melatih setengah Su-ciau-sin-kang yang lain, bagaimana ilmu itu sudah telanjur dikuasai, lalu dibujuk dan akhirnya tentu akan diterimanya dengan baik.
Karena itulah ia pura-pura apa boleh buat dan berkata, "Jika kau ingin belajar, boleh juga kuberi-tahu. cuma harus kau janji takkan kau gunakan atas diriku."
Yu Wi hanya mengangguk tanpa menyanggupi dengan mulut. Ia pikir bila perlu boleh main pokrol bambu.
Begitulah Ko Bok-cing lantas mulai menguraikan Koh-bok-sian dan semua diapalkan Yu Wi dengan baik, berulang tiga kali nona itu menguraikan ilmu itu supaya Yu Wi dapat mengingatnya dengan betul.
Setelah merasa apal benar Koh-bok-sian ajaran Bok-cing, dengan tangan kanan memegang tangan kiri Yu Wi berkata dengan tertawa, "Moiymoay, telah kutipu dirimu, aku cuma mengangguk dan tidak mengucapkan janji atas permintaanmu."
"Menipu apa segala, dari mana kutahu engkau mengangguk atau tidak?" jengek Bok-cing. "seorang lelaki sejati harus bisa pegang janji, kupandang engkau seorang Kuncu, asal kau terima ajaranku, kan sama seperti kau terima juga syaratku, tidak perlu harus berjanji dengan mulut."
"Pendek kata, apapun anggapanmu terhadapku, tetap akan kugunakan kembali atas dirimu dengan Koh-bok-sian, tidak boleh kulihat keadaanmu yang mengenaskan ini gara-gara diriku."
"Jika aku tidak mau terima, memangnya apa yang dapat kau lakukan?" jengek Bok-cing pula.
"Karena kubikin susah padamu, maka lengan kiriku yang menjadi gara-gara ini akan kubuang," kata Yu Wi dengan tegas.
Bok-cing berlagak tak berdaya, jawabnya, "caramu mengancamku ini bukanlah perbuatan seorang lelaki sejati."
Mendengar nada si nona sudah lunak dan seperti mau terima kehendaknya, Yu Wi berkata pula dengan tertawa, "ini bukan mengancam melainkan supaya pulang kandang saja."
Bok-cing menggeleng, "Tidak kau terima pemberianku seluruhnya, sebaliknya malah akan mengembalikan setengah bagian kungfu yang telah kusalurkan padamu. Padahal tanpa menguasai Su-ciau-sin-kang, cara bagaimana engkau akan memenuhi kewajibanmu atas pesan Ban Put-tong Lo-cianpwe untuk menghadapi Thay- yang- bun?"
"Di dunia ini tidak ada urusan sulit. yang penting adalah tekad yang bulat, jika Thay- yang- bun berani bertindak jahat didunia Kangouw, aku tidak percaya tanpa Su-ciau-sin-kang tak dapat menumpasnya"."
Bok-cing mendengus, "Dari nada ucapanmu ini, agaknya kau yakin dapat mengalahkan Thay- yang- bun tanpa menggunakan Su- ciau-sin-kang" "
"Sudahlah, kita jangan bicara urusan lain, sekarang silakan mengulurkan tangan kirimu, biar kukembalikan tenagamu," kata Yu Wi.
"Tenaga setengah badanku sudah punah, cara bagaimana dapat kuterima saluran kembali tenagamu?" ujar Bok-cing.
Yu Wi jadi melengak, "Wah lantas . . . lantas bagaimana?"
"Tolol, tangan kananku kananku kan masih kuat, asalkan kau salurkan tenaga melalui tangan kananku, kan sama saja."
"Ah, bagus," seru Yu Wi. "Moay moay yang baik, ulurkan tangan kananmu, sesudah beres segalanya baru kita rundingkan urusan lain-"
Tapi dengan kereng Bok-cing berkata, "Masih ingat segala larangan dan tidak boleh yang kukatakan tadi?"
"Ingat. sekarang engkau yang harus mematuhinya" jawab Yu wi dengan tertawa.
"Tapi perlu diketahui, pihak yang menyalurkan tenaga juga harus mentaati larangan tersebut."
"Ya, kutahu, pokoknya semua peraturan akan kuturuti," kata Yu Wi, lalu ia memejamkan mata dan berkata pula. "Nah, semuanya sudah siap. ulurkan tangan kananmu."
Tangan Bok-cing terus disodorkan, kedua tangan saling menempel, Yu Wi menjalankan Koh-bok-sian menurut uraian Bok-cing tadi.
Tapi begitu tenaga dalamnya mulai bekerja, segera ia merasakan gelagat tidak betul, serasa tenaga murni sendiri tidak tersalur keluar sebaliknya hawa murni Ko Bok-cing malah terisap olehnya.
Tentu saja Yu Wi terkejut, dia memang sudah sangsi kalau Koh-bok-sian dapat membantu orang lain mengisap tenaganya, tentu juga dapat digunakan mengisap tenaga orang lain-Buktinya sekarang benar"benar terjadi begitu. Ia tidak tahu bahwa yang diajarkan Ko Bok-cing j usteru kebalikannya.
Kiranya Koh-bok-sian terbagi menjadi pasif dan aktif. Yang dipahami Yu Wi sekarang adalah aktif, maka begitu mengerahkan ilmu itu, serentak tenaga Ko Bok-cing yang terisap olehnya. Apabila tenaga Bok-cing bagian kanan badan terisap habis, tanpa kelihatan dia telah memperoleh pula setengah bagian Su-ciau-sin-kang yang lain-
Karena Bok-cing berniat mengajarkan Yu Wi agar menguasai Su-ciau-sin-kang secara lengkap. maka dia sengaja menipunya. Tapi Yu
Wi bukan anak tolol, keadaan yang tidak benar ini segera diketahuinya.
cepat Yu Wi bermaksud menarik tangannya. tapi ternyata sukar dibetot kembali. Sebabnya Bok-cing malah mengerahkan segenap tenaga sehingga tangan Yu Wi bertambah lengket, serunya, "Mainkan dengan baik, jangan sembarangan bergerak."
Tapi setelah tahu ketidak beresan ini, mana Yu Wi mau melanjutkan permainannya, segera ia berhenti mengarahkan Koh-bok-sian,
Tapi tenaga murni Bok-cing masih terus mengalir kedalam tubuh Yu wi. Karuan anak muda itu menjadi gelisah, bentaknya mendadak. "Tarik tanganmu"
Mendadak tangan kanannya menghantam kedua tangan yang saling lengket itu, karena Wi sekarang juga sudah menguasai setengah Su-ciau-sin-kang, tenaganya sama kuatnya dengan Bok-cing, sekali hantam kedua tangan lantas tergetar terpisah. Tangan Bok-cing melambai kebawah, ia menangis sedih.
"Hendak kau jebloskan diriku menjadi manusia yang tak berbudi?" kata Yu Wi dengan menyesal.
"Tak berbudi apa" Sengaja hendak ku- ajarkan ilmu sakti padamu, tapi tidak kau terima dengan baik, ini artinya engkau tidak tahu diri," jawab Bok-cing.
"Menarik keuntungan bagi diri sendiri dengan mengorbankan dirimu, kau bilang aku tidak tahu diri?" kata Yu Wi.
"Hm, pikiranmu yang cupet melebihi orang perempuan ini sungguh tidak bijaksana, tidak kaupikirkan bilamana Su-ciau-sin-kang sudah kau kuasai dengan baik, entah berapa banyak keluhuran yang akan kau buat. coba jawab, jika kelak Thay- yang- bun menggaran didunia Kangouw, dengan cara bagaimana akan kau selamatkan dunia persilatan?"
"Meski kungfuku sekarang tidak cukup tangguh, pelahan masih dapat kugembleng diriku sendiri, akhirnya pasti akan mencapai
tingkatan yang sempurna dan kuyakin sanggup menghadapi Thay- yang- bun. "
"Huh, untuk itu akan kau tunggu sampai kapan?" jengek Bok-cing.
"Sampai kapan pun tidak menjadi soal daripada membikin susah padamu," jawab Yu Wi. "Kuyakin Thian juga tidak berkenan bilamana kuterima bantuan ilmu sakti secara tidak bijaksana."
"Huh, masih bicara tentang bijaksana segala. "jangek Bok-cing. "Sesungguhnya kau mau terima tidak sebagian Su-ciau-sin-kang lagi?"
"Tidak." jawab Yu Wi tegas.
"Jadi sengaja kau bikin aku mati dengan penasaran?" tanya Bok-cing dengan tersenyum getir.
Yu Wi menjadi gelisah, disangkanya si nona mengancamnya akan membunuh diri, ucapnya dengan kelagapan, "Masa engkau . . . engkau . . . ."
Bok-cing menghela napas, katanya "Terus terang kukatakan padamu, sekarang bukan saja ke-dua mataku buta, kedua kakiku juga tidak dapat bergerak. Kedua macam cacat ini membuatku putus asa dan bosan hidup, Tak lama lagi hidupku di dunia ini, mengapa tidak kau terima permintaanku sebelum ajal ini. Perlu kau ketahui, setelah ku- ajarkan ilmu sakti padamu, meski mati hayatku, tapi jiwaku seakan-akan masih hidup pada badanmu. Memangnya kau tega membikin cita-citaku atas dirimu tidak terlaksana?"
Karena uraian Bok-cing ini, Yu Wi tambah tidak mau terima kehendaknya, ia pikir kalau si nona sudah putus asa, bila ilmu sakti selesai diajarkan padanya, tentu segera dia akan bunuh diri. Sebaliknya kalau ilmu sakti belum diajarkan, selama masih menaruh sesuatu harapan, tentu dia takkan bunuh diri.
Maka ia coba membujuknya, "ilmu saktimu tidak ada tandingannya didunia, hendaknya kau hidup dengan baik-baik, biarlah kujelajahi dunia ini untuk mencari obat yang dapat
menyembuhkan cacat mata dan kakimu, jika engkau sudah dapat melihat dan berjalan lagi, ilmu saktimu adalah kekuatan pembasmi kejahatan dan penumpas Thay-yang-bun yang ampuh."
"Hm, obat untuk menyembuhkan mata dan kaKiku" Hal ini sama sekali tidak kuharapkan lagi," ujar Bok-cing dengan tersenyum getir "Semenjak ku selamatkan kedua orang itu tempo hari, aku sudah rela menerima kedua cacat ini selamanya."
Tergerak hati Yu Wi oleh ucapan si nona, cepat ia tanya, "Kedua orang yang kau maksudkan itu apakah Pek-yan dan diriku"
"Betul, yang kuselamatkan itu adalah kalian berdua," jawab Bok-cing. "Kau pikir apa sebabnya wajah dan tubuhku penuh luka" Semua ini adalah karena waktu itu kuangkat tubuh kalian berdua dan membiarkan badanku sendiri disayat oleh dinding karang yang tajam. Sebab apa kalian dapat terhanyut kedalam air terjun dan terdampar ke tepi kolam, sebaliknya aku terbawa arus masuk kesini" Sebabnya karena kutahu bilamana kita bertiga terdampar kedinding karang tentu kita akan sama-sama hancur lebur, aku tidak ingin kalian berdua mati bersamaku, maka dengan ilmu saktiku kulemparkan kalian keluar air terjun. Kusangka diriku sendiri akan hancur lebur, namun sedikitnya sudah kuselamatkan kalian berdua. Siapa tahu Thian kasihan kepada maksud baik-ku itu dan tidak membinasakan diriku. sesudah kulemparkan kalian sekuatnya, tubuhku berputar. kedua kakiku jatuh ke tanah lebih dulu sehingga tulang kakiku terbanting remuk. Bersama dengan gerakan putaran itu, akupun terhanyut kedalam gua ini dan syukur badan tidak terluka parah. Waktu aku mendusin, kurasakan kakiku sudah remuk. mata pun buta, yaitu karena terpukul oleh air terjun yang keras itu Waktu itu aku membentang mata untuk menaksir bagian tempat yang akan kulemparkan kalian kesana supaya tidak terbanting hancur, lantaran mata baru terpentang dan digerujuk air terjun yang keras, mataku jadi buta oleh getaran air terjun itu. Meski mataku buta, tapi dapat melemparkan kalian ke tempat yang aman, kan berharga juga pengorbanan ini?"
Mendengar sampai disini, hati Yu Wi pedih seperti disayat-sayat, ingin menangis pun tak keluar air mata. Diam-diam ia bertobat didalam hati "o, Thian, demi menyelamatkan aku dan Pek-yan dia menjadi buta dan lumpuh, jika aku Yu Wi tidak berusaha menyembuhkan dia, apa aku sampai hati hidup terus didunia ini" Selama aku masih hidup didunia ini, tujuanku yang utama adalah mencari penyembuhan bagi mata dan kakinya. Ya, harus kucarikan obat mujarab baginya "
setelah ambil keputusan didalam hati, segera timbul hasratnya untuk pergi dari gua itu.
"Kuceritakan sebab musababnya kecacatanku bukan karena ingin menonjolkan jasaku. juga bukan untuk menarik simpatimu," kata pula Bok-cing "Maksudku hanya agar kau tahu bahwa setelah kusalurkan seluruh tenagaku padamu, seluruh kehidupanku juga telah kutitipkan padamu. coba pikir, aku yang menyelamatkan jiwamu, dengan kedua tangan kusalurkan tenagaku, jika seterusnya engkau melakukan pekerjaan mulia di dunia Kang-ouw, kan serupa juga aku sendiri yang berbuat hal-hal itu. Apabila dapat kau terima penjelasanku ini, hendaknya kau duduk lagi disini, biar kuajarkan pula setengah Su-ciau-sin-kang yang lain padamu."
"Kuharap engkau hidup dengan baik di sini, kupasti dapat mencarikan obat mujarab untuk menyembuhdan penyakitmu." kata Yu Wi.
Bok-cing menjadi marah, katanya, "Kan sudah kukatakan tiada sesuatu lagi yang kuharapkan- ini, kukembalikan padamu."
Mendadak ia mengambil sesuatu terus dilemparkan kepada Yu Wi.
Setelah terima barang itu, Yu Wi berseru kaget, "Hei Jit-yap-ko"Jadi. . .jadi buah ini tidak kau makan" Lalu cara bagaimana mukamu bisa pulih?"
"Kau heran bukan?" ujar Bok-cing dengan tertawa. "Makanya kubilang nasib tidak dapat dipaksakan- Thian maha adil, aku tidak dijadikan setan bermuka buruk dan setan kelaparan, maka didalam
gua ini banyak tumbuh jamur yang dapat kumakan selalu untuk tangsal perut,jamur ini juga berkhasiat menyembuhkan luka dan memulihkan daging.
Apabila Thian menghendaki mataku tidak buta, tentu sudah lama juga mataku dapat melihat kembali. cuma sayang Thian tidak menumbuhkan jamur ini untuk menyembuhkan mata buta dan kaki lumpuh, ini berarti aku sudah ditakdirkan harus cacat selamanya, kenapa aku harus berusaha penyembuhannya lagi" "
Tapi Yu Wi tambah yakin usahanya nanti pasti akan berhasil, katanya, "Jika Thian dapat memulihkan wajahmu, tentu akan membantuku menemukan dua jenis obat penyembuhan yang mustajab. Kuharap engkau sabar menunggu disini, pasti akan kubawakan obat ajaib untuk mengobati matamu."
Bok-cing menggeleng, "Aku tidak mengharapkan Thian akan memperlakukan diriku dengan istimewa."
Dia tidak percaya didunia ini ada obat yang dapat menyembuhkan mata buta, apalagi menyembuhkan tulang kaki yang sudah remuk.
Tapi dengan suara keras Yu Wi berkata, "Pasti dapat kudapatkan obatnya, yang penting hendaknya engkau hidup baik-baik disini."
"Aku tidak ingin hidup baik segala, kecuali. . . ."
Yu Wi kuatir nona itu akan membunuh diri, hal ini akan membuatnya menjesal selama hidup, maka cepat ia tanya, "Kecuali apa?"
Dengan tulus ikhlas Bok-cing berkata, "Kecuali engkau menerima setengah bagian Su-ciau-sin-kang yang lain, dengan begitu barulah ada harapanku untuk hidup."
"Kalau aku tidak mau?" sahut Yu Wi dengan tegang.
"Kalau tidak mau, biar kumati di depanmu sekarang juga." kata Bok-cing.
"Wah, jika demikian, rasanya mau-tidak-mau harus kuterima setengah bagian Su-ciau-sin-kang itu," kata Yu Wi dengan tertawa.
"Jika kau minta aku jangan mati, terpaksa harus kau terima permintaanku," kata Bok-cing dengan ngotot.
Tapi Yu Wi menjawab dengan dingin, "Tapi apakah engkau tahu caramu mengalirkan tenagamu padaku itu meski tidak membuat kumati malu namun sudah kuputuskan selamanya takkan menggunakan ilmu sakti ajaranmu ini."
Bok-cing menggeleng dengan tertawa, "Ilmu sakti sudah masuk tubuhmu, tak mungkin tidak kau gunakan-"
Yu Wi masukkan tangan, kiri ke dalam bajunya dan berkata, "Selanjutnya takkan kugunakan tangan kiriku ini"
Mendengar ucapan Yu Wi sedemikian tegas, Bok-cing menjadi kuatir, katanya. "Mengapa engkau mesti ngotot" Sengaja kau bikin marah padaku?"
"Bukan sengaja kubikin marah padamu, aku cuma ingin memberitahukan padamu bahwa aku tidak suka menerima saluran tenaga saktimu dengan cara demikian," kata Yu Wi.
"Habis dengan cara bagaimana baru akan kau terima?" tanya Bok-cing.
Yu Wi kuatir nona itu akan membunuh diri, untuk membesarkan hasrat hidupnya, terpaksa ia menjawab, "Nanti bila sudah kudapatkan obat mujarab dan menyembuhkan matamu baru akan kuterima ajaran ilmu saktimu."
Karena sudah kehabisan akal, terpaksa Bok-cing berkata, "Baiklah, akan kutunggu, semoga nanti kau dapatkan obat mujarab dan tentu takkan kau tolak lagi bila kuajarkan setengah bagian ilmu sakti itu."
Yu Wi percaya bok-cing takkan bunuh diri lagi, sagera ia membalik tubuh dan terjun ke dalam air.
"Hei, bawa serta anakmu" seru Bok-cing."
"Tidak. tolong engkau sudi merawatnya bagiku" jawab Yu wi, lalu ia menyelam dan sekejap saja lantas menghilang.
Bok-cing tahu maksud tujuan Yu Wi meninggalkan anaknya, sebab kalau dia diwajibkan merawat anak bayi itu betapapun dia bosan hidup juga tak dapat membunuh diri tanpa memikirkan nasib orok itu.
Dia lantas merangkak ke dalam gua, dengan penuh kasih sayang ia gendong anak itu, katanya di dalam hati, "Toako, biarpun engkau tidak mau terima sebagian Su-ciau-kang-yang lain, kan sama saja bila kuajarkan kepada anakmu nanti."
---ooo0dw0ooo---
Tidak lama kemudian, Yu Wi telah muncul kembali dipermukaan kolam sana dan berlari ketempat tali panjang itu. Dilihatnya tambang itu masih terjulur ditempat semula, segera kedua tangannya memegang tambang dengan erat dan siap untuk memanjat keatas.
Mendadak ia masukkan tangan kiri kedalam baju, hanya dengan satu tangan dibantu kedua kaki ia terus memanjat ke atas. Sebabnya dia memasukkan tangan kiri kedalam baju adalah untuk menepati janji selanjutnya takkan menggunakan tangan kiri.
Lebih dari satu jam Yu Wi memanjat, akhirnya dapatlah ia mencapai puncak tebing dengan kelelahan-
Tempat ini terletak di atas salah satu puncak Siau hoa-san, pegunungan Siau-hoa banyak sekali puncaknya yang tinggi, sedikitnya ada dua ribu kaki tinggi puncak ini.
Sudah dua malam Yu Wi tidak tidur, ditambah lagi kelelahan, rasanya tidak tahan lagi, ia bertiarap diatas tanah untuk mengaso.
Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar sambaran angin keras, Dengan cekatan Yu Wi melompat bangun sehingga cengkeraman orang dapat dihindarkan-
Sekali mencengkeram tidak mengenai sasarannya, orang itu berganti sasaran, tangannya lantas menabas ujung tambang sehingga putus. Tambang panjang dan berat itu seketika terjatuh kedasar lembah seluruhnya.
Padahal didasar lembah sana masih tinggal Ko Bok-cing dan anaknya, keruan Yu wi menjadi cemas dan gusar, bentaknya sambil menuding orang itu, "Nikoh jahat, mengapa sengaja kau bikin celaka orang?"
Ujung tambang itu hanya tersisa sepotang saja masih terikat pada batu karang, untuk membuat tambang baru sepanjang itu belum tentu dapat jadi dalam setahun, jelas selama itu pula Yu Wi tak dapat turun ke bawah, tentu saja hal ini membuatnya gemas,
Ternyata orang yang memotong tambang itu tak lain-tak-bukan ialah Ji- bong Taysu, itu nikoh tua pemimpin cu-pi-am.
"omitohud" demikian Ji-bong bersabda, "Nikoh tua mengutamakan welas-asih dan tidak ingin mencelakai siapa pun."
"Memangnya tidak kau ketahui dibawah sana masih ada orang?" teriak Yu Wi murka.
Ji- bong menggeleng kepala, "Kan sudah naik semua, masih ada siapa pula?"
Dia sengaja berlagak pilon, padahal hatinya cukup jelas dibawah Sana masih ada seorang Ko Bok-cing, seorang nona yang kesaktiannya tidak dibawahnya, seorang nona yang menjuasai Su-ciau-sin-kang dengan sempurna.
Yu Wi juga tahu orang sengaja memotong tambang panjang itu agar Ko Bok cing tak dapat naik keatas. tapi kalau ji- bong tidak mau mengaku, apa yang dapat diperbuatnya, apalagi kungfu nikoh tua itu maha tinggi, apa yang dapat diperbuatnya"
Terpaksa Yu Wi menahan perasaannya, ia pikir terpaksa aku harus memilin tambang panjang lagi. Sekarang dirinya bukan tandingan nikoh tua ini,jalan paling baik adalah angkat kaki saja.
Karena pikiran itu, segera ia membalik tubuh dan tinggal pergi. Tapi baru dua-tiga langkah, mendadak Ji-bong membentak, "Berhenti"
Dengan mendongkol Yu Wi berpaling dan bertanya, "Kau sengaja memutus tambang itu dan aku tidak berurusan lebih lanjut denganmu, memangnya hendak kau cari perkara malah padaku?"
ji- bong mengulurkan tangannya dan berkata, "Harap Sicu mengembalikan Jit-yap-ko"
"sudah kumakan buah itu," sahut Yu Wi dengan gusar,
Mendadak Ji-bong bertepuk tangan pelahan, maka Ji-tiau lantas muncul dari balik batu karang sana dengan menggendong seorang bayi perempuan-
Bayi yang digendongnya itu jelas bukan orang lain dari pada anak perempuan Yu Wi. Keruan Yu Wi terkejut,
"Dimana Pek-yan?" teriaknya.
"Pek-yan siapa?" tanya Ji-bong dengan dingin-
Yu Wi menuding bayi dalam gendongan Ji-tiau, dengan gusar ia berteriak pula, "ibunya, perempuan yang membawanya ke atas tadi "
"Huh, masa yang kau perhatikan hanya Pek-yan dan tidak memperhatikan lagi perempuan lain" " jengek Ji- bong,
"Siapa yang kau maksudkan" Apakah Soh-sim?" tanya Yu Wi dengan terkejut. "Telah kau apakan dia?"
"Tidak kuapa- apakan dia, boleh kau lihat sendiri," kata ji-bong sambil bertepuk tangan lagi.
Dalam sekejap lantas muncul Boh-tin dan Boh-pi dari balik batu karang, masing-masing mengempit satu orang, mereka adalah Ko Bok-ya alias Soh-sim dan Pek-yan-Keduanya terkempit dibawah ketiak dan tak dapat berkutik.


Pendekar Setia Pendekar Kembar Bagian Ii Karya Gan K L di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Segera Ji-bong siap menghadang didepan Yu Wi sambil mendengus, "Di depanku, jangan coba-coba main gila"
Yu Wi tahu maksud tujuan orang, teriaknya gusar, "Memangnya apa kehendakmu?"
"Apalagi" Tetap mengenai Jit-yap-ko, harap kembalikan," kata ji-bong sambil menjulurkan tangannya.
"Huh, hanya untuk sebuah jit-yap-ko, sebagai seorang beragama engkau dapat berbuat apa pun?" jengek Yu Wi dengan menghina
"Betul, sudah sepuluh bulan kutunggu, tujuanku hanya ingin minta kembali Jip-yap-ko seperti sekarang ini." jawab ji-bong, "Dan sekarang jika tidak mau kau kembalikan buah itu. jiwa mereka bertiga juga tak dapat kujamin,"
"Kalau begitu, jadi selama sepuluh bulan Soh-sim memilin tambang dengan susah pajah juga sudah kau ketahui?" tanya Yu Wi
"jika tidak ku-beritahukan padanya bahwa diantara tiga orang yang terjeblos kedalam sumur perangkap itu terdapat dirimu, tentu Soh-sim takkan bersusah payah mencari tempat terkurungnya kalian itu."
"Jadi sengaja kau beritahukan tentang terjeblosnya diriku?" tanya Yu Wi.
Ji- bong tampak senang, katanya, "Kupercaya kepada kecerdasan soh-sim, ditambah lagi tekadnya yang besar, orang lain mungkin tidak marmpu menemukan jejak kalian, tapi bulan yang lalu sudah kuduga Soh-sim pasti dapat menemukan kalian-"
Yu Wi mengejek. "Hm, Taysu memang seorang yang maha cerdik dan dapat memandang jauh, sungguh aku sangat kagum."
"Betapapun kau kagum sungguhan atau pura-pura, yang jelas pihakku berada diatas angin- mau tak- mau harus kau serahkan kembali Jit-yap-ko," kata Ji- bong.
Dengan tangan kanan Yu Wi mengeluarkan Jit-yap-ko yang dimaksud, digenggamnya dengan baik dan berkata, "Setelah Taysu menerima kembali Jit-yap ko ini, lalu apa tindakanmu selanjutnya?"
"Dengan sendirinya akan kuperlakukan kalian dengan lebih baik," ucap Ji-bong.
"Lebih baik bagaimana?" tanya Yu Wi.
"Paling tidak, tentu takkan kubunuh kalian-"
Jawaban ini tidak memuaskan Yu Wi, ia menggeleng kepala.
Air muka Ji-bong berubah, "Bagaimana, tidak mau kau kembalikan?"
"Bukannya tak mau kukembalikan, aku cuma menghendaki jaminan dari Taysu," sahut Yu Wi.
"Jaminan apa yang kau minta?" tanya ji- bong.
"Jaminan keselamatan kami berempat."
"Termasuk Soh-sim" " jengek Ji- bong .
"Ya," jawab Yu wi. "Dengan susah payah Soh-sim telah menyelamatkan aku dan Pek-yan, dengan sendirinya tidak bolah dia mendapat susah karena perbuatannya ini."
Dengan kurang senang Ji-bong berseru, "Yu Wi, jangan kau kira dapat kau peras diriku dengan sebuah Jit-yap-ko. Hm, jaminan keselamatannya segala, kalau tidak kubunuh kalian sudah untung besar, apalagi yang kau harapkan" Soh-sim adalah anak murid cu-pi-am, tidak perlu kau kuatirkan dia."
"Kutahu memang tidak patut melakukan pencurian, cuma urusan sudah telanjur terjadi, mohon Taysu sudi memberi maaf," pinta Yu Wi dengan menyesal,
"Jika tahu salah dan mau minta maaf, biarlah urusan ini dibicarakan lagi kelak," kata Ji-bong.
"Tapi Jit-yap-ko belum juga kau Kembalikan, bukankah sengaja hendak kau peras diriku?"
Menurut pertimbangan Yu Wi. dalam keadaan demikian tidak boleh membuat marah Ji- bong Taysu, supaya urusan bisa beres, terpaksa Jit-yap-ko harus dikembalikan lebih dulu. segera ia menyodorkan buah itu kedepan Ji-bong.
Ji-bong mendengus. "Beginilah baru dapat disebut orang yang tahu gelagat."
Sambil bicara ia terus menjulurkan tangan kanan untuk menerima Jit-yap-ko, tapi tangan kiri mendadak juga bergerak untuk menangkap Ki-kut-hiat yang penting dibahu kiri Yu Wi.
Setengah badan kiri Yu Wi kini sudah menguasai Su-ciau-sin-kang, meski mendadak tercengkeram. serentak urat nadinya juga bergolak dan memantulkan tenaga perlawanan, seketika tangan Ji-bong meleset memegang sasarannya.
Setelah terlepas dari cengkeraman orang, pada saat Ji-bong tercengang, tangan kanan Yu Wi segera membalik dan merampas kembali Jit-yap-ko Gerakan menyodorkan Jit-yap-ko, melepaskan diri dari cengkeraman lawan dan merampas kembali. semua itu dilakukan secara berurutan dan cepat sekali.
Keruan Ji- bong terkejut, ia heran kungfu anak muda ini dapat maju sepesat ini. Lebih-lebih tenaga dalam yang timbul dari bahu kiri Yu Wi, rasanya, sedemikian kuat dan sukar diatasi, hal ini sungguh membuat Ji-bong tercengang.
Dari malu Ji-bong menjadi gusar, bentaknya, "Yu Wi, kau berani bermusuhan denganku?"
"Wanpwe tidak berani," jawab Yu wi.
"Kalau tidak berani, mengapa kau rampas kembali Jit-yap-ko Itu?"
"sebab Taysu bermaksud mencelakai diriku, terpaksa Wanpwe melakukan perlawanan-"
"Jika kau ingin minta maaf, segala sesuatu harus menuruti kehendakku."
Yu Wi menggeleng, sahutnya, "Rasanya orang she Yu tidak sebodoh itu."
Ji- bong menjengek. "Hm, kau kira setelah terbekuk olehku akan kucelakai dirimu" Kau tahu orang beragama mengutamakan welas-asih, asalkan benar kau mau mengaku salah, dengan sendirinya akan kumaafkan kesalahanmu. Tapi tampaknya sekarang urusan mengaku salah dan minta ampun segala tidak perlu dibicarakan lagi."
Yu Wi memang tidak puas terhadap kelicikan Ji-bong, sekarang orang malah bicara tentang welas-asih segala, segera ia menjengek
"Jika Taysu mengaku mengutamakan welas-asih, hal ini sungguh kuragukan- Kukira Taysu belum lupa ucapanmu sendiri waktu menolak mempertemukan Soh-sim denganku. maka sekarang tak dapat lagi kupercayai keterangan Taysu. Apalagi terbukti pula tindak-tanduk Taysu sendiri, melihat orang celaka tidak mau menolong, orang terjeblos kedalam sumur kau lempari batu sekalian-Wanpwe bertiga hampir saja mati di dasar lembah sana. Ho, biarpun Wan-pwe lebih bodoh lagi juga takkan mempercayakan jiwa sendiri kepada Taysu."
Di depan Ji-tiau, Boh-tin dan Boh-pi sekaligus Yu Wi membongkar kedok dan mengorek borok Ji-bong. keruan nikoh tua itu menjadi murka, bentaknya, "Maling cilik, untuk menangkap dirimu adalah terlalu mudah bagiku,"
Kini Yu Wi tambah kenal watak Ji-bong yang keji, hanya berkedok sebagai nikoh, tapi diam-diam melakukan berbagai kejahatan- Dasar usianya masih muda, tentu saja iapun naik darah, kontan ia balas mengejek. "Maling cilik" Maksudmu siapa" Kalau maling tua kukira lebih cocok bagi Taysu."
Tidak kepalang gusar Ji-bong, dengan jari gemetar ia tuding Yu Wi, sampai lama tidak sanggup bersuara.
Ji-tiau lantas tampil ke depan, katanya, "Yu-sicu, cara bicaramu ini agak keterlaluan."
Yu Wi sudah nekat, jawabnya, "Keterlaluan bagaimana?"
"Perbuatan Yu-sicu mencuri Jit-yap-ko kan jelas terbukti?" ucap Ji-tiau.
"Betul, akupun tidak menyangkal, tapi aku bukan maling, tindakanku itu hanya mengambil barang milik ibuku yang hilang," jawab Yu Wi tegas.
"ibumu" Siapa ibumu?" tanya Ji-tiau.
"ibuku she Tan bernama Siok-cin," tutur Yu Wi. "Jit-yap-ko adalah milik ibu, ketua kalian merampasnya dari tangan ibuku, coba katakan, perbuatan pemimpin kalian ini apakah pantas?"
Sungguh tak tersangka oleh Ji-tiau bahwa si perempuan berbaju hitam yang setiap tahun pasti datang buat minta kembali Jit-yap-ko itu ialah ibu Yu Wi. Soal apakah Jit-yap-ko benar diberikan oleh Kan Yok-koan kepada Ji-bong Taysu atau tidak Ji-tiau sendiri juga tidak jelas, maka ia menjadi gelagapan, "oo, jadi ini ... ini ... . "
"Mundur,ji-tiau" seruji- bong mendadak.
Ji-tiau tidak dapat lagi ikut campur, terpaksa ia mundur kesamping.
Ji- bong lantas berkata pula.. "Apakah benar Tan Siok-cin itu ibumu?"
"Masakah diriku perlu sembarangan mengaku orang lain sebagai ibuku?" sahut Yu Wi.
"Bagus jika begitu, marilah kita bertempur secara tuntas," kata Ji- bong dengan ketus.
"Dengan alasan apa pertarungan ini dilangsungkan?" tanya Yu Wi.
"Untuk menentukan maling," kata Ji-bong. "Apakah kau maling cilik atau aku maling tua, biar ditentukan dalam pertarungan ini."
"Maksud Taysu, Jika Taysu menang, terbukti Jit-yap-ko ini memang benar pemberian Kan Yok-koan kepadamu?"
"Betul," dengus Ji-bong, "Jika aku kalah anggaplah aku bicara secara ngawur dan anggaplah memang tidak patut kurampas Jit-yap-ko dari ibumu."
"Dan tentunya sebutan maling tua juga akan kau terima dengan baik?" tukas Yu Wi tanpa sugkan-sungkan.
Selaku ketua suatu biara dengan kedudukan yang dihormati selama berpuluh tahun, mana pernah Ji-bong mendapatkan perlakuan tidak sopan oleh seorang anak muda seperti sekarang ini.
Dengan murka ia tuding Yu Wi dan berteriak, "Maling cilik, betapapun takkan kubiarkan kau pergi dengan aman hari ini."
Yu Wi menjengek, "orang she Yu memang sudah bertekad takkan meninggalkan tempat ini dengan hidup. Namun sebutan maling cilik jangan terburu-buru kau gunakan, jika aku menang nanti secara resmi akan kubawa pulang barang ibuku yang hilang ini dan sebutan maling harus Taysu terima kembali."
"cis, jangan mimpi" damperat Ji-bong. "Memangnya kau kira aku harus minta maaf karena sebutan maling cilik bagimu tidak tepat?"
"Tepat atau tidak, siapa yang pantas disebut maling, biarlah kita tentukan saja dalam pertarungan ini" kata Yu Wi.
sebenarnya Yu Wi tidak yakin akan dapat mengalahkan ji- bong, tapi apapun juga pertarungan ini harus diperjuangkan sekuatnya, sebab partarungan ini sama halnya dia bertempur atas nama ibunya. Kalau menang, biarpun ada alasan apapun Jit-yap-ko pasti akan menjadi milik ibunya. Tatkala mana tuduhan mencuri Jit-yap-ko dengan sendirinya juga hapus. Andaikan kelak Jit-yap-ko itu jatuh lagi ke tangan Ji-bong juga wajib dikembalikan kepada ibunya.
ji- bong sendiri juga tidak memandang Yu Wi sebagai lawan setaraf, segera ia mengejek, "IHm, apakah kaupikir akan menang dengan untung-untungan?"
"Tentu saja kuharap begitu, "jawab Yu wi- "Jika aku menang, ada suatu permintaanku."
"IHm, tentunya kau minta kebebasan putrimu bersama ibunya?"jengek Ji-bong.
"Betul, memang itulah permintaanku, dapatkah Taysu berjanji?"
ji- bong merasa tidak sabar, katanya, "Terlalu cepat kau bayangkan kemenanganmu, jika mampu, coba mengalahkan dulu diriku sejurus dua"
"jangan- jangan Taysu tidak berani berjanji?" ujar Yu Wi.
"jangan mimpi muluk-muluk. anak muda," teriak Ji-bong dengan gusar. "Nah, lekas katakan, cara bagaimana kau ingin bertanding denganku, katakan saja dan pasti kuiringi." Dia terlalu tinggi hati dan meremehkan Yu Wi.
sebaliknya karena Yu Wi tidak yakin akan menang, maka dia sangat prihatin, jawabnya kemudian, "Bagaimana kalau bertanding pedang?" Segera Ji-bong berpaling dan berseru, "Ambilkan pedang,ji-tiau"
Secepat terbang Ji-tiau berlari pergi, srjenak kemudian dia sudah kembali dengan membawa dua batang pedang.
Ji- bong menerima satu dan pedang lain dilemparkan kepada Yu Wi, kedua pihak menghunus pedang berbareng.
Dengan pedang di tangan, Yu Wi tidak terburu-buru mencari kemenangan, lebih dulu ia mengeluarkan jurus pertahanan yang tak terbobolkan, yaitu Put-boh-kiam. Jit- bong melengak. pikirnya, "Gerak jurus ini seperti sudah kukenal?" Tapi dia tetap tidak menaruh perhatian, pedang terayun dan diangkat lurus ke depan.
Jika Thay- yang- bun memandang ilmu pedang sebagai kungfu kedua dan lebih mengutamakan ilmu pukulan, maka Goat-heng-bun justeru kebalikannya, yaitu mengutamakan ilmu pedang dan golok, sedang ilmu pukulan tidak terlalu penting.
Sebab itulah Ji-bong sekarang jadi menggunakan kelemahan sendiri untuk menyerang keunggulan lawan-
Padahal Hai-yan-to-hoat merupakan inti kung-fu Goat-heng-bun, setiap kali kedua perguruan itu bertempur, bilamana Goat-heng-bun memainkan ilmu goloknya itu, Thay- yang-
Hati Budha Tangan Berbisa 2 Golok Halilintar Karya Khu Lung Pendekar Panji Sakti 10
^