Pencarian

Pukulan Naga Sakti 22

Pukulan Naga Sakti Karya Khu Lung Bagian 22


menyangka bakal ada orang yang menyergap mereka, waktu itu
1261 segenap pikiran maupun perhatian mereka ditujukan ke tengah
arena guna menghadapi segala kemungkinan. Itulah sebabnya
walaupun Bu im sin hong Kian Kim siang serta Bu Im telah berhasil
menyelundup ke belakang tubuh mereka pun, kakek berjubah
kuning tersebut belum merasakan juga datangnya ancaman bahaya
tersebut. Ilmu meringankan tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang boleh
dibilang tiada tandingannya dikolong langit diluar Thi Eng khi
maupun Ciu Tin tin, maka seandainya kakek berjubah kuning itu
tidak menyadari akan kehadirannya, keadaan tersebut masih bisa
dibilang mendingan. Namun, kalau sampai kehadiran Bu Im pun
sama sekali tidak mereka sadari, pada hakekatnya hal ini merupakan
yang paling mengenaskan.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera melejit ke tengah udara,
dari situ dia lancarkan sebuah totokan ke arah punggung salah
seorang diantara kakek berjubah kuning itu. Tiga orang kakek
berjubah kuning lainnya yang berada pada arah lain tentu saja dapat
menyaksikan datangnya sergapan tersebut namun belum sempat
berteriak untuk memberi peringatan, kakek berjubah kuning itu
sudah terkena serangan kilat yang dilancarkan Bu im sin hong Kian
Kim siang tepat pada jalan darah Siau yau hiatnya, tak ampun dia
jatuh tak sadarkan diri.
Tiga orang kakek berjubah kuning lainnya menjadi tertegun
menghadapi situasi semacam ini. Bu Im yang menyaksikan
kesempatan yang sangat baik mendadak melompat ke depan dan
menotok pula jalan darah seorang kakek berjubah kuning lainnya.
Dua orang kakek berjubah kuning yang masih segar tak sempat
melihat jelas berapa banyak musuh yang turut didalam penyergapan
tersebut, mereka tak berani meninggalkan posisi masing masing
untuk Bu im sin hong Kian Kim siang serta Bu Im. Dengan suatu
gerakan yang cepat mereka membalikkan badan untuk memeriksa
keadaan disekeliling sana, setelah tahu kalau yang datang hanya dua
orang, mereka baru melejit ke udara dan menerjang Bu im sin hong
Kian Kim siang serta Bu Im secara garang.
Sekarang, lima pasang sosok bayangan manusia yang berada
dipuncak saling bertarung dengan sengitnya. Dengan kepandaian
silat yang dimiliki Bu im sin hong Kian Kim siang, ternyata untuk
beberapa saat lamanya belum berhasil menaklukkan lawan
lawannya. Boan san siang koay telah menunjukkan gejala tak kuat
1262 untuk bertarung lebih lanjut, posisinya telah berada dibawah angin,
rupanya sebentar lagi pun mereka akan roboh.
Pertarungan semacam ini lebih menguntungkan jika diselesaikan
dalam waktu singkat, karena bila keadaan berlarut larut, sekalipun
dapat meraih kemenangan mutlak, toh akan kehilangan tujuan
mereka yang sebenarnya maka dari itu Bu im sin hong Kian Kim
siang merasa sangat gelisah.
Kakek berbaju kuning yang bertarung melawan Bu im sin hong
Kian Kim siang benar benar keteter hebat. Dibawah serangan Bu im
sin hong yang ketat dan dahsyat meski sudah berada dalam posisi
dibawah angin tapi mustahil bisa dilakukan dalam dua tiga puluh
jurus mendatang. Lagipula kakek berjubah kuning itupun amat
cekatan, selain mengambil posisi bertahan, dia berpekik panjang
tiada hentinya untuk mengundang datangnya bala bantuan.
Menghadapi situasi semacam ini, angin pukulan yang dilancarkan
Bu im sin hong Kian Kim siang bertambah gencar dan rapat, namun
perasaannya pun ikut bertambah tegang.
Dalam situasi yang amat kritis inilah mendadak dari sisi tubuh Bu
im sin hong Kian Kim siang berkumandang suara bisikan dari Keng
thian giok cu Thi Keng yang dipancarkan dengan ilmu
menyampaikan suara :
"Waktu amat kritis dan mendesak, siaute segera akan turun
tangan membantumu."
Betapa girangnya Bu im sin hong Kian Kim siang setelah
mendengar bisikan itu, serunya pula dengan ilmu menyampaikan
suara : "Bagus sekali kedatangan Thi tua, sekarang kita sedang
menghadapi manusia manusia buas yang berbahaya bagi umat
persilatan, kita tak perlu mempersoalkan gengsi atau nama baik lagi,
siaute akan menyambut bantuanmu dengan senang hati."
Baru saja dia selesai berkata, mendadak dijumpainya gerak
serangan dari kakek berjubah kuning itu menjadi lebih lamban, jelas
ia sudah termakan sergapan jari sakti yang dilancarkan Keng thian
giok cu Thi Keng secara diam diam. Sebagai seorang jagoan yang
berilmu sangat tinggi, tentu saja Bu im sin hong Kian Kim siang tidak
menyia nyiakan kesempatan yang sangat baik itu, dengan jurus Ci
thian hua tee (nenuding langit menggaris bumi) dia totok tubuh
kakek berjubah kuning itu.
1263 Berhasil dengan serangannya, Bu im sin hong Kian Kim siang tak
sempat untuk memeriksa lagi bagaimana keadaan kakek berjubah
kuning itu sesudah terkena serangannya, dia membalikkan badan
dan balik menubruk ke arah kakek berjubah kuning yang sedang
bertarung dengan lotoa dari Boan san siang koay tersebut.
Setelah Bu im sin hong Kian Kim siang menerjang ke arah kakek
berjubah kuning yang lain, kakek yang bertarung melawannya tadi
baru roboh terjengkang ke tanah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Disamping itu, tampaknya Bu Im juga memperoleh bantuan diluar
dugaan, secara lancar dan gampang ia berhasil menaklukan kakek
berjubah kuning yang menjadi lawan bertarungnya, begitu berhasil
diapun menerkam kakek berjubah kuning yang bertarung melawan
jikoay Cia Gun. Hampir pada saat yang bersamaan, dari belakang
batu cadas melompat keluar Keng thian giok cu Thi Keng yang
langsung menghantam tubuh Tiang pek lojin gadungan.
Berada dalam posisi semacam ini, rasanya mustahil baginya
untuk menghindarkan diri lagi dari serangan Thian liong ciang yang
dilancarkan Keng thian giok cu Thi Keng. Terdengar Tiang pek lojin
gadungan mendengus tertahan lalu roboh terkapar di tanah dengan
batok kepalanya hancur berantakan, hancur termakan pukulan maut
dari Keng thian giok cu Thi Keng.
Sekarang tinggal dua orang kakek berjubah kuning yang masih
bertarung namun dibawah kerubutan banyak orang, mereka pun tak
bisa bertahan terlalu lama, tak selang berapa saat kemudian
merekapun terluka parah dan kehilangan kemampuan. Dua orang
kakek berjubah kuning yang terakhir ini nampak terperanjat sekali
setelah menyaksikan Keng thian giok cu Thi Keng turun tangan
membunuh Tiang pek lojin gadungan, segera serunya tertahan :
"Thi tongcu, kau...."
Dengan kening berkerut Keng thian giok cu Thi Keng berseru :
"Cia lote berdua, tolong bantulah lohu untuk melenyapkan bibit
bencana dikemudian hari!"
"Terima perintah!" sahut dua bersaudara Cia dari Boan san
bersama sama. Mereka berdua turun tangan menghajar kedua orang kakek
berjubah kuning yang terluka itu sehingga tewas seketika.
Memandang kedua sosok jenasah tersebut, Keng thian giok cu Thi
Keng segera menjura dalam dalam sembari berkata :
1264 "Sukma kalian berdua di alam baka tentu tahu, harap maafkan
lohu yang mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan, mau tak
mau terpaksa kami harus bertangan keji dengan menyingkirkan
kalian dari muka bumi ini."
Keng thian giok cu Thi Keng memang seorang manusia yang
berjiwa besar sekalipun dengan keji dia telah membunuh orang
namun sikapnya masih cukup membuat kagum orang lain. Setelah
minta maaf kepada dua sosok mayat dari kakek berjubah kuning itu,
tidak sempat menyapa semua orang lagi, segera perintahnya lagi
kepada Boan san si?ang koay :
"Lote berdua, kalian masih harus membantu kami dengan
menghantar jenasah dari gembong iblis yang menyaru sebagai So
lote ini sebagai So lote yang sesungguhnya. Hantarlah dia turun dari
bukit ini."
Mula mula Boan san siang koay agak tertegun namun dengan
cepat mereka dapat memahami maksud hati dari Thi Keng.
Terdengar Keng thian giok cu Thi Keng berkata lagi :
"Sedangkan So lote sendiri harus menyaru pula sebagai So lote
gadungan di dalam istana Ban seng kiong!"
Sebagai jago kawanan yang sangat berpengalaman dalam dunia
persilatan, tentu saja Boan san siang koay memahami maksud hati
dari Thi Keng, yakni mereka disuruh menganggap jenasah jenasah
gembong iblis tua itu sebagai Tiang pek lojin asli dan membawanya
melarikan diri turun bukit. Dengan wajah serius, mereka lantas
berkata : "Kami berdua memahami maksud hati Thi lo, harap kau tak usah
kuatir, setelah meninggalkan bukit ini gembong iblis tersebut adalah
So toako kami"
"Kecuali lote berdua, lebih baik jangan sampai ada pihak ketiga
yang mengetahui rencana ini," pesan Tiang pek lojin So Seng pak
lagi. Boan san siang koay segera menjura kepada semua orang lalu
berkata : "Kami ingin mohon diri lebih dulu, moga moga kalian suka
menjaga diri baik baik demi kesejahteraan dan keamanan umat
persilatan pada umumnya!"
Dengan ji koay yang membopong jenasah Tiang pek lojin
gadungan, berangkatlah kedua orang itu meninggalkan bukit.
Mendadak Bu im sin hong Kian Kim siang membentak keras :
1265 "Harap kalian berdua suka berhenti sebentar!"
Boan san siang koay membalikkan badannya dan balik kembali ke
tempat semula, kemudian ujarnya :
"Kian tua ada petunjuk apa?"
Sambil menunjukkan arah jalan dimana ia lalui sewaktu naik
gunung, Bu im sin hong Kian Kim siang berkata :
"Kalian berdua boleh turun gunung melewati jalan ini, semua
penghadang sepanjang jalan telah lohu dan Bu lote bersihkan,
dengan begitu kalian pun bisa mengurangi banyak kesulitan."
"Terima kasih!" sahut Boan san siang koay bersama sama.
Sekali lagi mereka melejit ke udara dan meluncur turun ke bawah
bukit.. Jilid 40 Sepeninggal kedua orang itu, Bu im sin hong Kian Kim siang
segera mengenalkan Bu Im kepada Keng thian giok cu Thi Keng
serta Tiang pek lojin So Seng pak. Semua orang adalah tokoh tokok
termashur dalam dunia persilatan, berada dalam keadaan dimana
waktu adalah emas, mereka tidak banyak berbicara lagi, kedua belah
pihak pun saling menganggukkan kepalanya sebagai tanda
perkenalan. Secara ringkas Bu im sin hong Kian Kim siang
menceritakan kisah tertangkapnya Thi Eng khi kepada Thi Keng.
Mendengar penuturan tersebut, dengan kening berkerut Keng
thian giok cu Thi Keng berpikir beberapa saat, kemudian katanya
sambil menghela napas :
"Belakangan ini, menurut hasil laporan yang diterima di istana
Ban seng kiong, jago jago kepercayaan dari gembong iblis tua
tersebut berhasil menjebak kawanan jago persilatan kenamaan di
bukit Cian san, bahkan tak lama lagi akan dibawa pulang ke istana
bila kita ingin melaksanakan rencana pertolongan, maka yang
penting adalah menolong jago jago persilatan tersebut lebih dulu,
tentang cucuku, dia toh sudah kehilangan tenaga dalamnya sekali
pun kita selamatkan jiwanya tak bakal bermanfaat bagi keadaan,
aku rasa lebih baik biarkan saja dia ditawan."
Begitu Keng thian giok cu Thi Keng menyelesaikan kata katanya,
Bu im sin hong Kian Kim siang yang bersusah payah datang dari
tempat jauh untuk menolong Thi Eng khi ini menjadi kecewa sekali.
Namun berhadapan dengan manusia yang berjiwa luhur dengan
mengutamakan kepentingan umum lebih dulu sebelum kepentingan
1266 pribadi, timbul juga perasaan kagum dan hormatnya. Ia merasa
kurang leluasa untuk mendesak lebih jauh maka ia pun
membungkam dalam seribu bahasa. Thi Eng khi adalah cucu
menantu Tiang pek lojin, sudah barang tentu Tiang pek lojin pun
merasa kurang leluasa untuk banyak berbicara"..
Saat inilah Bu Im segera mengusulkan.
"Menurut pendapat Bu Im, kalau toh didalam melaksanakan
rencana semula cianpwe sekalian kekurangan Kian cianpwe seorang
sehingga sukar dilaksanakan dengan sempurna, sedangkan usaha
untuk menolong para jago kenamaan yang tertawan dibukit Cian san
pun belum tentu akan berhasil dengan sukses, menurut Bu Im
mengapa kita tidak manfaatkan kesempatan yang ada sekarang
untuk membawa Kian lo serta Bu Im memasuki istana Ban seng
kiong dan mencari kesempatan untuk menolong mereka secara
diam-diam" Entah bagaimanakah menurut pendapat kalian?"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera bertepuk tangan memuji,
serunya dengan cepat :
"Usul dari Bu lote memang dapat dilaksanakan, mengapa kita
tidak manfaatkan kesempatan ini untuk menyelundup ke dalam
istana Ban seng kiong" Harap Thi lo memutuskan."
Dengan wajah berseri Keng thian giok cu Thi Keng segera
berkata : "Kalau begitu kita harus membuat dosa terhadap lote berdua... "
Berbicara sampai disitu, dia lantas turun tangan menotok jalan
darah Bu im sin hong Kian Kim siang serta Bu Im. Sambil tertawa
Tiang pek lojin So Seng pak segera berkata:
"Thi toako, aku akan segera membebaskan jalan darah keempat
orang itu."
Tubuhnya berkelebat ke depan dan telapak tangannya diayunkan
berulang kali, dalam waktu singkat dia telah membebaskan jalan
darah dari keempat kakek berjubah kuning yang tertotok itu.
Semenjak jalan darahnya tertotok, keempat orang kakek berjubah
kuning itu selalu berada dalam keadaan tak sadar. Setelah mendusin
mereka pun tidak mengetahui kalau Tiang pek lojin So Seng pak
yang berada dihadapan mereka sekarang bukanlah Pek hou tongcu
yang tadi, begitu melompat bangun dari atas tanah, serentak
mereka bertanya kepada Tiang pek lojin So Seng pak.
"Tongcu, apakah orang yang menyaru sebagai tongcu itu sudah
dimusnahkan?"
1267 Tiang pek lojin So Seng pak menghela napas panjang :
"Aaaai.., hampir saja kita terkecoh hari ini, coba kalau Thi tongcu
tidak datang tepat pada saatnya dan berhasil membinasakan orang
yang menyaru sebagai diriku serta membekuk dua orang lainnya,
entah bagaimanakah keadaannya nanti?"
Salah seorang diantara keempat kakek berjubah kuning itu
segera bertanya :
"Lantas ke mana perginya jenasah dari orang yang menyaru
sebagai tongcu?"
"Jenasah telah dilarikan oleh Boan san siang koay."
Ketika satu diantara kakek berjubah kuning itu menyaksikan Bu


Pukulan Naga Sakti Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

im sin hong Kian Kim siang tergeletak ditanah, dengan perasaan
tercengang ia lantas berseru :
"Hei, bukankah orang ini adalah Kian tongcu?"
"Siapa tahu" Kami tidak dapat memastikannya dengan begitu
saja, terpaksa harus dibawa pulang dulu ke istana kemudian baru
diselidiki lebih jauh!"
Berbicara sampai disitu, dia lantas menitahkan kepada kedua
orang kakek berjubah kuning itu agar membopong tubuh Bu im sin
hong Kian Kim siang dan Bu Im. Baru saja akan turun gunung,
segulung angin berhembus lewat disusul munculnya seseorang.
Orang tersebut bukan lain adalah Ban li tui hong (selaksa li pengejar
angin) Cu Ngo yang sudah lama tak nampak batang hidungnya, dia
menuju ke hadapan Keng thian giok cu Thi Keng, kemudian agak tak
tenang lapornya :
"Thi ciangbunjin serta para jago kenamaan dari berbagai partai
telah sampai dalam istana harap tongcu berdua segera kembali ke
istana untuk berunding."
Keng thian giok cu Thi Keng dan Tiang pek lojin So Seng pak
saling berpandangan sekejap, seakan akan mereka sedang bilang :
"Begitu cepat mereka sudah dibawa kesini!"
Suasana di atas puncak Wu san puncak Wang soat hong istana
Ban seng kiong nampak diliputi kegembiraan yang meluap lu?ap.
Siapa pun tak menyangka, dunia persilatan berhasil dikuasai oleh
pihak Ban seng kiong hanya didalam semalaman saja. Dalam
seharian ini, secara beruntun Hian im Tee kun telah membuat tiga
macam surat perintah. Surat perintah yang pertama merupakan
suatu pengumuman yang menggembirakan semua anggota
perguruannya, isi pengumuman tersebut adalah begini
1268 "Segenap ciangbunjin dari berbagai perguruan dan orang orang
kenamaan dari seantaro jagad, besok lusa tengah hari akan datang
ke istana kami untuk bergabung dengan kami semuanya, disamping
itu ciangbunjin dari Thian liong pay Thi Eng khi akan berkunjung
pula ke istana untuk melebur permusuhan menjadi persahabatan,
kemudian bersama sama ciangbunjin dari pelbagai perguruan besar
dan orang kenamaan dari seantero jagad akan melangsungkan pesta
perjamuan untuk merayakan hari yang damai..."
Surat perintah kedua menitahkan kepada segenap anggota istana
Ban seng kiong agar dalam dua hari selesai menghiasi jalanan
sepanjang sepuluh li menuju ke istana untuk menyambut
kedatangan para jago persilatan itu sebagai tamu agung, selain pula
mengundang jago jago lainnya agar ikut menghadiri perayaan mana.
Sedangkan surat perintah ketiga berbunyi dalam pesta perayaan
yang bakal diselenggarakan nanti akan diadakan pembagian hadiah
menurut pahala yang dibuat setiap orang.
Dalam pada itu, dibagian belakang istana Ban seng kiong, dibalik
sebuah ruangan yang mungil dikelilingi gunung gunungan dan
kolam, duduklah dengan tenang tiga tokoh sakti dari dunia
persilatan. Mereka adalah Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni
dan Tiang pek lojin So Seng pak.
Bu im sin hong Kian Kim siang dan Bu Im yang ditawan, setelah
dibebaskan jalan darahnya secara diam diam oleh Keng thian giok cu
Thi Keng. kemudian diserahkan kepada anggota Ban seng kiong
lainnya agar disekap sambil menunggu dijatuhi hukuman. Maka Bu
im sin hong Kian Kim siang dan Bu Im menjadi tawanan dari istana
Ban seng kiong, mereka tak dapat hadir dalam ruangan megah
bersama Keng thian giok cu Thi Keng sekalian untuk bersama sama
merundingkan tindakan yang bakal diambil untuk menghadapi
kejadian besar esok pagi.
Sekilas pandangan, Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga
seakan akan sedang bersemedi dalam keadaan lupa segala galanya.
Padahal pada saat itu, mereka sedang mempergunakan ilmu Hu hi
sim ing (irama hati suara perut) yakni semacam ilmu sakti setingkat
lebih tinggi dari ilmu Coan im ji mi untuk merundingkan siasat guna
menolong orang dan menaklukan musuh.
Kekuatan yang dimiliki pihak Ban seng kiong benar benar diluar
dugaan mereka semula. Dilihat dari hal ini, bisa disimpulkan bahwa
rencana mereka untuk mengerubuti Hian im Tee kun tak akan bisa
1269 terwujud. Dari keempat kekuatan yang semula disiapkan, kini
berkurang dengan Bu im sin hong Kian Kim siang seorang, berbicara
soal kekuatan sudah jelas merupakan suatu pukulan yang cukup
berat, mereka telah kehilangan keyakinan untuk bisa meraih
kemenangan dan justru inilah merupakan salah satu alasan
mengapa rencana tersebut dibatalkan.
Tapi masih ada satu alasan yang lain lagi, yakni pada hakekatnya
mereka tidak pernah memperoleh kesempatan yang baik untuk
mengerubuti Hian im Tee kun. Entah disaat dan keadaan apapun
Hian im Tee kun tak pernah menerima mereka bersama tanpa
membawa pengawal, oleh sebab itu kekuatan mereka pun tak
pernah dapat terhimpun untuk mengerubuti gembong iblis tua
tersebut. Bila sedang berada dalam suatu pertemuan yang dihadiri jago,
tentu saja mustahil bagi mereka untuk turun tangan, jangan dikata
kelihayan dari gembong iblis itu sendiri, ke delapan kakek berjubah
merah yang selalu mendamping Hian im Tee kun pun memiliki
kemampuan yang tak boleh dianggap enteng.
Sekalipun kekuatan gabungan dari mereka berdelapan belum
tentu bisa mengungguli empat tokoh sakti ini, namun untuk
menaklukkan mereka paling tidak mereka harus bertarung sampai
ratusan gebrakan lebih dahulu. Apalagi jika harus dua lawan satu,
keempat orang tokoh sakti itu makin tak akan peroleh keuntungan
apa apa. Dan sekarang, mereka bertiga pun tidak berhasil
menemukan suatu cara yang paling baik dan paling besar
kemungkinannya untuk berhasil dengan sukses.
Sekalipun mereka bisa menggabungkan Bu im sin hong Kian Kim
siang dan Bu Im dengan mereka semuapun, belum tentu
kemenangan bisa diperoleh secara gampang. Sementara mereka
bertiga masih memutar otak mendadak seorang gadis cantik berbaju
hijau munculkan diri dalam ruangan dan memotong pembicaraan
mereka. Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan, gadis berbaju hijau
itu segera melapor :
"Tee kun mengundang tongcu bertiga agar masuk ke ruang
semedi untuk berunding."
Selesai berkata, gadis berbaju hijau itu segera mengundurkan
diri. 1270 Sepeninggal nona berbaju hijau itu, dengan wajah berseri Tiang
pek lojin segera berseru:
"Oooh, rupanya Thian masih melindungi umat persilatan untuk
hidup dengan merdeka!"
"So lo sicu jangan keburu bergembira dulu," cegah Sim ji sinni
dengan cepat, "dengan mengandalkan gabungan tenaga kita bertiga
dapatkah menaklukan gembong iblis tersebut, hingga kini masih
merupakan suatu tanda tanya besar, apalagi siapa yang bisa
menduga apakah dia telah mempersiapkan gembong iblis lainnya
didalam ruang tersebut atau tidak."
"Sebagai seorang Kun cu, yang penting adalah berusaha sedapat
mungkin, soal keberhasilan atau kegagalan, hal tersebut merupakan
masalah kedua," sambung Keng thian giok cu Thi Keng dengan
semangat yang berkobar kobar.
"Toako,apakah kita memerlukan bantuan dari Bu im sin hong
saudara Kian dan Bu lote?" tanya Tiang pek lojin So Seng pak.
"Waktu tidak mengijinkan kita untuk berbuat sampai ke situ,
untung saja aku telah membebaskan jalan darah mereka, dengan
kecerdasan Kian lote, semestinya dia dapat mengusahakan suatu
upaya untuk lo?los dari kurungan, maka aku pikir lebih baik kita
kerjakan dulu pekerjaan yang sedang kita hadapi."
Kemudian tanpa berbicara lagi mereka bertiga bersama sama
keluar dari ruangan dan berangkat menuju ke ruang semedi dari
Hian im Tee kun. Di dalam ruang semedi, tampak Hian im Tee kun
berdiri seorang diri di situ dan menyambut kedatangan mereka
dengan senyuman dikulum...
Melihat hal mana dengan emosi yang bergolak ketiga orang itu
segera berpekik di hati "Oooh... Thian!"
Tak terlukiskan gejolak emosi yang mereka alami sekarang,
mereka mengira inilah kesempatan yang sangat baik buat mereka
untuk melenyapkan Hian im Tee kun dari muka bumi. Apabila
mereka bertiga berhasil menaklukan gembong iblis tua ini maka
dunia persilatan pasti akan terselamatkan, atau sekalipun tak
mampu mempertahankan diri, mereka masih dapat memaksakan
suatu pertarungan adu jiwa.
Keng thian giok cu Thi Keng setelah melangkah masuk ke dalam
ruangan segera bergerak menuju ke lima depa disisi kiri Hian im Tee
kun, Sim ji sinni menuju ke kanan sedangkan Tiang pek lojin berada
di tengah pintu...
1271 Dengan cepat mereka membentuk posisi mengepung dari tiga
penjuru... Hian im Tee kun berlagak seakan akan tidak melihat keadaan
tersebut, bahkan dengan senyuman dikulum katanya :
"Lusa adalah hari yang paling gembira bagi istana kita karena itu
sengaja kuundang kedatangan tongcu bertiga untuk membicarakan
suatu masalah."
Keng thian giok cu Thi Keng menganggap saatnya yang paling
baik telah tiba, dia enggan untuk banyak berbicara lagi dengan Hian
im Tee kun, setelah memberi tanda dengan kerlingan mata ke arah
Sim ji sinni serta Tiang pek lojin So Seng pak, hawa murninya yang
berada dalam pusar segera dihimpun. Siapa tahu baru saja hawa
murninya terhimpun, mendadak nadinya terasa linu dan hawa murni
yang telah berkumpul itupun membuyar secara tiba tiba...
Betapa terkejutnya Keng thian giok cu Thi Keng setelah
menyaksikan kejadian tersebut, dia segera berpekik dihati:
"Aduh, celaka aku!"
Tanpa terasa dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Sim
ji sinni serta Tiang pek lojin, paras muka mereka berdua berubah
menjadi pucat pias seperti mayat atau dengan perkataan lain kedua
orang rekannya sama sama dicelakai orang secara diam diam.
Sambil tertawa terkekeh kekeh Hian im Tee kun berseru :
"Ambilkan kursi!"
Tiga orang nona berbaju hijau muncul dari pintu luar sambil
membawa tiga buah kursi, kemudian diletakkan dihadapan Hian im
Tee kun, setelah itu seorang satu membimbing ketiga tokoh sakti itu
untuk duduk. Dengan suara menggeledek Keng thian giok cu Thi Keng segera
berteriak : "Lohu sekalian lebih suka mengakhiri hidup saja."
"Thi lo, buat apa kau mesti memandang persoalan ini amat
serius," ujar Hian im Tee kun sambil tertawa licik, "seandainya lohu
benar benar berniat mencelakai kalian, tak nanti akan kuperlakukan
kalian sampai hari ini sebagai tamu agungku, bahkan akupun tak
usah bersusah payah untuk menciptakan Hua kong san (bubuk
pembuyar tenaga) untuk menghadapi kalian."
Hua kong san adalah sejenis bubuk beracun yang tidak berwarna,
tidak berasa dan tidak berbau, barang siapa terkena racun tersebut,
asal tidak mengerahkan tenaga dalam maka meski sedang
1272 bersemedi pun tak akan merasakannya. Bila didalam dua puluh
empat jam setelah keracunan, sipenderita tidak mengerahkan
tenaga dalam daya kerja racun itu akan punah dengan sendirinya
tanpa bekas. Oleh sebab itu, dalam dua puluh empat jam setelah
keracunan, si penderita tak boleh marah atau mengerahkan tenaga
sehingga memancing bekerjanya racun itu.
Cara penggunaannya pun sangat sederhana, bubuk racun itu
cukup diletakkan didalam ruangan, orang akan menghisapnya ke
dalam tubuh tanpa sadar dan mereka pun akan keracunan tanpa
terasa pula. Tak heran kalau ketiga orang tokoh sakti itu tertipu
mentah mentah. Keng thian giok cu Thi Keng bertiga belum pernah merasakan
sendiri racun semacam itu, tapi mereka pernah mendengar racun itu
dari cerita orang persilatan, sungguh tak nyana mereka bertiga
harus merasakan sendiri hari ini. Ketiga orang itu tidak berbicara apa
apa lagi, namun keenam buah mata mereka saling bertukar
pandangan, mereka tahu Hian im Tee kun pasti hendak memperalat
mereka untuk melalukan perbuatan yang memalukan sehingga
mereka dimaki dan dicela orang lain.
Daripada mengalami nasib tragis seperti itu, mereka mengambil
keputasan untuk bunuh diri agar terbebas dari segala malapetaka".
Seperti mempunyai hubungan batin yang amat erat, mereka
bertiga segera menggigit lidah sendiri untuk menghabisi nyawa
sendiri. Rupanya Hian im Tee kun selain waspada dan mengawasi
perubahan wajah ketiga orang itu dengan seksama, baru saja Keng
thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga menggerakkan tulang
gerahamnya untuk menggigit putus lidah sendiri, sambil tertawa
seram Hian im Tee kun telah mengayunkan jari tangannya dan
menotok jalan darah Ya si hiat mereka bertiga?"
Sekarang tiada kesempatan lagi bagi Keng thian giok cu sekalian
bertiga untuk menghabisi nyawa sendiri. Selesai menotok jalan
darah Ya si hiat mereka, Hian im Tee kun berhenti tertawa dingin,
kemudian sambil melompat bangun dan menggunakan gaya
mengejek, dia berjalan bolak balik di depan Keng thian giok cu
bertiga, serunya sambil tertawa bangga :
"Tahukah kalian sejak kapan lohu mengetahui jika kalian sedang
menyusun rencana keji?"
Berhubung jalan darah Ya si hiat dari Keng thian giok cu bertiga
sudah tertotok, mulut mereka tak dapat bergerak, otomatis
1273 merekapun tak dapat menjawab dengan jelas, namun sikap mereka
tetap serius dan angker.
Memandang sikap mereka yang serius tersebut, Hian im Tee kun
tahu kalau orang orang itu tak bakal menjawab pertanyaan, padahal
dia memang tidak bermaksud untuk menantikan jawaban mereka,
maka setelah tertawa terbahak bahak katanya sambil menuding
kearah Keng thian giok cu Thi Keng serta Sim ji sinni :
"Sejak kalian berdua memasuki istana Ban seng kiong, lohu
sudah tahu kalau kalian adalah orang yang sesungguhnya."
Tergetar perasaan Keng thian giok cu Thi Keng serta Sim ji sinni,
setelah mendengar perkataan itu, tanpa terasa mereka menarik
napas dingin. Setelah tertawa seram Hian im Tee kun berkata lagi:
"Di atas topeng kulit manusia yang lohu kenakan pada ketiga
orang yang menyaru sebagai kalian, diam diam telah kubuat kode
rahasia yang tidak diketahui oleh mereka sendiri, kode rahasia itu
sangat halus dan berbeda beda letaknya, bahkan jauh lebih
sempurna ketimbang kode jarum perak yang kalian pergunakan
dengan sangat menyolok ini."
Sembari berkata dia melepaskan jarum perak dari pakaian Tiang
pek lojin dan dibuang keluar jendela sesudah diamati sekejap,
sikapnya amat sinis dan menghina. Merah padam selembar wajah
Keng thian giok cu Thi Keng bertiga, mereka merasa yaa malu yaa


Pukulan Naga Sakti Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyesal. Setelah puas menggoda, tiba tiba Hian im Tee kun
menarik wajahnya, kemudian berkata :
"Lusa adalah saat para jago dari pelbagai daerah datang
bergabung dengan perkumpulan kami, sampai waktunya kalian
bertiga harus bekerja dengan baik dan jangan menimbulkan urusan,
kalau tidak jangan salahkan jika pun Tee kun akan menghadapi
kalian dengan cara yang lebih keji lagi."
Keng thian giok cu sekalian bertiga sama sekali tidak menggubris
ocehan dari Hian im Tee kun, mereka hanya duduk tak berkutik
tanpa memperlihatkan perlawanan.
"Bersediakah kalian" Kalau bersedia segera mengangguk sebagai
tanda setuju," bentak Hian im Tee kun lagi.
Tiga orang tokoh besar dari dunia persilatan itu masih saja
membungkam dalam seribu bahasa. Menyaksikan hal ini, Hian im
Tee kun segera memperdengarkan suara tertawa dingin yang
menggidikkan hati, teriaknya menyeramkan :
1274 "Bagus! Bagus! Bagus! Tampaknya kalian memang keras kepala,
tampaknya aku harus memberikan sedikit kelihayan untuk kalian
rasakan.... "
Selesai berkata, tiba tiba saja Hian im Tee kun mengayunkan
tangannya dan menotok jalan darah Sin bun hiat, pek hwee hiat,
hapi kok hiat, kwan goan hiat, heng kian hiat, lwee kwan hiat, tiong
kek hiat, kau kut hiat, tay wi hiat dan Mia bun hiat sepuluh buah
jalan darah penting ditubuh Tiang pek lojin.
Baik Keng thian giok cu Thi Keng maupun Sim ji sinni, kedua
duanya merupakan tokoh silat dari dunia persilatan, ketika mereka
saksikan jalan darah yang ditotok Hian im Tee kun sebagian besar
adalah jalan darah yang menimbulkan rangsangan pada syaraf dan
bagi badan mereka jalan darah tersebut tidak akan menimbulkan
perubahan apa apa, untuk beberapa saat lamanya mereda tidak
mengetahui permainan busuk apakah yang sedang dilakukan oleh
Hian im Tee kun"
Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mereka
telah menyaksikan perubahan pada wajah dan sikap Tiang pek lojin,
ternyata kakek itu menunjukkan sikap yarg munduk munduk dan
menghormat sekali.
Hian im Tee kun segera menotok bebas jalan darah Ya si hiat
pada pipi Tiang pek lojin, kemudian ujarnya kepada Tiang pek lojin :
"Sekarang, bawa kemari Bu im sin hong Kian Kim siang!"
"Baik!" sahut Tiang pek lojin dengan hormat.
Kemudian setelah memberi hormat lagi kepada Hian im Tee kun,
dia membalikkan badan dan berlalu dari situ. Terkesiap sekali Keng
thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni setelah menyaksikan kejadian
itu, paras mukanya segera berubah hebat, diam diam mereka
membenci Hian im Tee kun, terutama dengan caranya bekerjanya.
Pelan pelan Hian im Tee kun berkata :
"Didalam kitab pusaka Hian im hui goan keng tercantum
semacam kepandaian sakti untuk mengendalikan jalan pikiran orang,
kepandaian tersebut disebut Si im ko heng (cuci otak merubah
watak). Kalian berdua tidak pernah menyangka bukan?"
Setelah berhenti sejenak, dengan gembira dia berseru kembali :
"Heeehhhh.... heeeehhh... heeehhhh..... mulai sekarang, empat
tokoh sakti dari dunia persilatan akan menjadi pelindung yang setia
dari istana Ban seng kiong."
1275 Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni sangat terkesiap,
dalam keadaan demikian mereka hanya bisa pasrah kepada nasib.
Tak lama kemudian, Tiang pek lojin telah membawa Bu im sin hong
Kian Kim siang menghadap.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menangkap kegelisahan
yang menghiasi wajah Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinnie.
Sementara dia masih tidak habis mengerti, Hian im Tee kun telah
memandang kearahnya sambil tertawa seram. Sebagaimana
diketahui, jalan darah Bu im sin hong Kian Kim siang yang tertotok
telah dibebaskan oleh Keng thian giok cu Thi Keng secara diam
diam, sesungguhnya dia berada dalam keadaan bebas kini.
Sebagai orang yang berotak cerdas, dengan cepat dia sudah
melihat kurang beresnya keadaan, maka diambilnya keputusan
cepat. Mendadak ia membalik telapak tangannya balas
mencengkeram urat nadi Tiang pek lojin, kemudian didorongnya
tubuh Tiang pek lojin kearah Hian im Tee kun. Sedang ia sendiri
lantas melejit keluar dari ruangan itu dengan gerakan ikan leihi
menembusi ombak. Mimpi pun Hian im Tee kun tidak menyangka
kalau Bu im sin hong Kian Kim siang bakal bertindak cekatan dengan
mendorong tubuh Tiang pek lojin untuk menghalangi jalan perginya,
menanti dia bersiap untuk turun tangan, keadaan sudah terlambat.
Dengan perasaan mendongkol ia berpekik nyaring, dia tahu para
jago lihay dari istananya pasti akan turun tangan untuk menghalangi
jalan pergi Bu im sin hong. Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim
siang telah berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Hian im Tee
kun, dia telah mengambil keputusan untuk meloloskan diri dari situ,
maka ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im nya yang lihay
segera digunakan mencapai pada puncaknya.
Berada dalam keadaan demikian, dia memutuskan untuk
rnenghindari pertarungan yang tak ada gunanya maka setiap
peluang kosong dimanfaatkan olehnya dengan tepat. Didalam istana
Ban seng kiong memang terdapat banyak jago lihay, andaikata Bu
im sin hong Kian Kim siang harus menyerbu dengan kekerasan,
jangan lagi seorang sepuluh orang pun jangan harap bisa lolos dari
situ dengan selamat. Tapi tindakan Bu im sin hong Kian Kim siang
yang kabur tanpa melayani pertarungan justru mendatangkan
keuntungan baginya. Didalam situasi yang serba kalut karena
kurangnya persiapan dari kawanan iblis istana Ban seng kiong, dia
berhasil meloloskan diri dari Ban seng kiong dengan selamat.
1276 Kaburnya Bu im sin hong Kian Kim siang menimbulkan kekacauan
yang luar biasa bagi istana Ban seng kiong meskipun Hian im Tee
kun tidak senang hati namun dengan kemenangan yang sudah
berada di depan mata, apalagi diapun menganggap kekuatan Bu im
sin hong Kian Kim siang tak akan menjadi suatu ancaman baginya,
persoalan itupun disudahi sampai disitu saja. Tapi yang paling apes
adalah Bu Im, Hian im Tee kun segera mengirim orang untuk
menotok jalan darahnya, membuat rencananya yang telah di susun
rapi menjadi berantakan tak karuan.
Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang telah melarikan diri
dari istana Ban seng kiong, dia baru menghembuskan napas lega
setelah dilihatnya tiada orang yang mengejar dirinya. Dengan
mengerahkan ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im, dia sengaja
memilih jalanan yang terpencil dan curam untuk menghindari
pengejaran musuh. Entah berapa saat dia sudah berjalan dan entah
berapa jauh dia sudah kabur...
Menanti dia merasa sudah berada ditempat yang aman, Bu im sin
hong Kian Kim siang baru mencari sebuah gua kecil untuk
beristirahat. Pelan pelan gejolak perasaan hatinya dapat dikendalikan
kembali.... Namun pikirannya justru menjadi amat kalut dan tak karuan
bentuknya lagi. Sekarang, dia mencoba untuk membayangkan
kembali keadaan di dalam kamar semedi Hian im Tee kun. Kalau
dilihat dari kegelisahan yang terpancar dari wajah Keng thian giok cu
Thi Keng serta Sim ji sinni, sudah jelas mereka sedang menguatirkan
keselamatan jiwanya, tapi mengapa Tiang pek lojin tidak memberi
bisikan terlebih dahulu kepadanya" Mungkinkah Tiang pek lojin tak
berani berbicara apa apa kepadanya karena menguatirkan
keselamatan jiwa dari kedua orang sahabat karibnya"
Bu im sin hong Kian Kim siang teringat kembali sewaktu dia balik
mencengkeram urat nadi Tiang pek lojin dan mendorongnya untuk
menghalangi Hian im Tee kun. Dia merasa Tiang pek lojin begitu
lemah dan sama sekali tak bertenaga sedikitpun, hal ini tak
seharusnya dijumpai dalam tubuh seorang jago silat kenamaan.
Sebab walaupun Tiang pek lojin mempunyai niat untuk
mengorbankan diri dan tidak memberikan perlawanan, namun reaksi
dari seorang persilatan bila menghadapi serangan seharusnya
dimiliki. Tapi kenyataannya Tiang pek lojin tidak memberikan reaksi
1277 apa pun, untuk kejadian tersebut rasanya hanya bisa dijelaskan
kalau kepandaian silatnya telah dipunahkan orang.
Teringat sampai disitu, diapun lantas menduga kalau Keng thian
giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni telah mengalami nasib yang sama.
Berpikir sampai ke situ, Bu im sin hong Kian Kim siang lantas
beranggapan bahwa keadaan dunia persilatan sudah berada dalam
keadaan yang tak dapat ditolong lagi, dia menghela napas sedih.
Sekalipun ia masih tersekap dalam pohon cemara dimasa lampau
pun belum pernah ia rasakan keputus asaan seperti hari ini.
Dalam keadaan kekecewaan yang besar inilah akhirnya dia
tertidur didalam gua. Entah berapa lama dia sudah tertidur.
Mendadak Bu im sin hong tersentak kaget dan mendusin dari
tidurnya.... Ketika membuka mata, tampak suasana dalam gua itu gelap
gulita, tampaknya malam hari telah menjelang tiba. Mengikuti
hembusan angin gunung, dia menangkap ada suara ujung baju yang
terhembus angin lewat didepan mulut gua. Setelah mendusin dari
tidurnya sekarang, Bu im sin hong Kian Kim siang merasakan
kekecewaannya telah mereda, dengan semangat yang berkobar
kobar dia melompat keluar dari gua itu.
Angin malam berhembus kencang, bintang bertaburan di
angkasa, namun tak nampak ada manusia yang lewat disitu. Bu im
sin hong Kian Kim siang termashur karena ilmu meringankan
tubuhnya yang tiada bandingan didunia ini, tentu saja dia enggan
menyerah dengan begitu saja, bagaikan segulung asap dia
mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan mulai melakukan
pencarian. Alhasil tidak dijumpai sesuatu apapun. Disaat dia hendak
kembali ke gua kecil itu, mendadak terdengar olehnya ada orang
sedang berbicara. Suara pembicaraan tersebut berkumandang dari
balik semak belukar tak jauh dari gua kecil itu.
Sambil menghela napas panjang, diam diam Bu im sin hong Kian
Kim siang berpikir : "Aaaa..i makin tua, aku semakin tak becus, masa
badut kecilpun berani mengejek didepan hidungku."
Dengan kepandaiannya yang tinggi, dalam beberapa kali gerakan
saja dia telah mendekati semak belukar itu tanpa menimbulkan
sedikit suara pun. Dipasangnya telinga baik baik untuk menyadap
pembicaraan tersebut dengan cepat dia merasa kalau suara
pembicaraan orang itu sangat dikenal olehnya. Tanpa terasa dia
menerjang lebin ke depan lagi.
1278 Sembari meluncur ke muka, ia lantas menegur :
"Sinni, sejak kapan kau sampai disini" Lohu Kian kim siang
berada di sini!"
Setelah menembusi semak belukar, disitu muncul sebuah mulut
gua, karena dia yang bersuara lebih dulu maka orang yang berada
dalam gua itu tidak menghalanginya untuk menerobos masuk ke
dalam. Sinar obor menyoroti tiga lembar wajah yang asing sekali
baginya. Bu im sin hong Kian Kim siang segera menghentikan
gerakan tubuhnya dan tak berani masuk lebih ke dalam, sambil
berdiri didepan pintu gua, bentaknya keras keras :
"Siapakah kalian?"
Salah seorang diantaranya segera melepaskan topeng kulit
manusia yang menutupi wajahnya, lalu berseru :
"Aaaah, rupanya benar benar Kian tayhiap! Pinni adalah Sam
ku".."
Kemudian kepada dua orang lainnya dia perintahkan :
"Cepat kalian lepaskan topeng kulit manusia yang kalian kenakan
itu..." Setelah melepaskan topeng kulit manusia yang dipakai, maka
diketahui kalau kedua orang itu adalah pencuri sakti Go Jit serta
nona Siu Cu. Sambil tertawa Bu im sin hong Kian Kim siang
menghampiri mereka semua, lalu tegurnya :
"Mengapa kalian sampai disini pula?"
"Nona Siu Cu dan Go tayhiap tak mau menyelamatkan diri untuk
kepentingan sendiri, maka mengandalkan kemampuan mereka yang
hapal dengan situasi disekitar istana Ban seng kiong, mereka
bermaksud untuk ikut menyumbangkan tenaga demi kepentingan
umum." Mendengar perkataan tersebut, Bu im Sin hong Kian Kim siang
segera menghela napas panjang.
"Aaai, segala sesuatunya sama sekali diluar dugaan, tampaknya
kita sudah tidak berdaya lagi."
Sam ku sinni menjadi tercengang setelah medengar ucapan itu,
segara tegurnya :
"Kian tayhiap, maksudmu berkata demikian?"
Bu im sin hong Kian Kim siang tidak merahasiakan apa yang telah
dialaminya lagi, dia lantas membeberkan kegagalan mereka didalam
usahanya menjalankan rencana baik untuk menaklukan Hian im Tee
kun, siapa tahu malah kena dipecundangi oleh musuh. Selesai
1279 mendengar penuturan itu, Sam ku sinni segera bermuram durja,
dengan sedih sekali dia menundukkan kepalanya rendah rendah.
Si pencuri sakti Go Jit pun berjalan bolak balik sambil
menggendong tangan, tak sepatah kata pun yang diutarakan. Paras
muka Siu Cu pun berubah beberapa kali, akhirnya sambil
mendepakkan kakinya ke atas tanah dia berseru :
"Locianpwe bertiga harap menunggu sebentar didalam gua,
boanpwe akan mencoba menyusup ke dalam istana untuk mencari
kabar." Selesai berkata dia lantas menerobosi kegelapan dan lenyap dari
pandangan mata. Sejak peristiwa yang pahit itu, dimana Bu im sin
nong Kian Kim siang hampir saja tertipu oleh Hiau im Tee kun, tanpa
terasa dia meningkatkan kewaspadaannya untuk menghadapi segala
masalah, atas persetujuan semua orang, dia pun berpindah ke gua
kecil miliknya sambil menunggu kedatangan Siu Cu. Sam ku sinni
serta pencuri sakti Go Jit sangat menguatirkan pula keselamatan dari
Siu Cu, maka atas persetujuan dari Bu im sin hong mereka pun ikut
pindah ke gua kecil milik Bu im sin hong Kian Kim siang tersebut.
Malam berlalu dengan cepat, kini fajar pun menyingsing. Di
tengah lapisan kabut pagi yang tebal, nampak dua sosok bayangan
manusia meluncur ke arah gua rahasia dibalik semak belukar itu
dengan kecepatan tinggi. Dari kejauhan Bu im sin hong Kian Kim
siang telah melihat akan kehadiran bayangan manusia tersebut.
Dengan kening berkerut dia memberi tanda kepada Sam ku sinni
serta pencuri sakti Go Jit, kemudian mereka melompat keluar dan
melakukan pengepungan.
Siu Cu muncul dengan membawa seorang lelaki bertubuh kekar,
begitu masuk ke dalam gua dia lantas berseru tertahan :
"Aaah, ke mana mereka pergi?"
"Nona Siu Cu," lelaki kekar itu segera menegur, "tak nyana kalau
kau masih punya kegembiraan untuk bergurau dengan aku Cu Ngo,
kalau begitu jangan salahkan kalau aku Cu Ngo akan bertindak tak
sungkan kepadamu."
Ternyata lelaki kekar itu adalah Ban li tui hong Cu Ngo yang
pernah ditolong oleh pil sakti Thian liong pay. Buru buru Siu cu


Pukulan Naga Sakti Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru :
"Harap Cu tayhiap jangan salah paham, persoalan ini"..
persoalan ini....."
"Ke mana mereka telah pergi" Masa kau tidak tahu?"
1280 Siu Cu tak dapat menjawab, namun kegelisahan dan rasa jengah
telah menghiasi wajahnya. Di luar gua, Bu im sin hong Kian Kim
siang yang menyaksikan Siu Cu kembali sambil membawa
seseorang, pun menjadi tidak habis mengerti. Sebenarnya dia
hendak menampakkan diri tapi segera dicegah oleh si pencuri sakti
Go Jit. "Jangan Ban li tui hong Cu Ngo adalah sahabat karib boanpwe,
biar boanpwe saja yang menampakkan diri untuk berbincang
bincang dengannya kemudian locianpwe baru bertindak menurut
keadaan." Bu im sin hong Kian Kim siang dan Sam ku sinni mengangguk
tanda setuju, dengan langkah lebar si pencuri sakti Go Jit segera
munculkan diri dari balik gua. Suara langkah kakinya dengan cepat
mengejutkan Ban li tui hong Cu Ngo serta Siu Cu, cepat mereka
membalikkan badan sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk
menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Setelah mengetahui kalau yang muncul adalah pencuri sakti Go
Jit, Ban li tui liong Cu Ngo baru menghembuskan napas panjang dan
membuyarkan tenaga dalamnya. Siu Cu lebih girang lagi, dia lantas
berseru : "Go tayhiap, kedatanganmu kebetulan sekali, hampir saja Cu
tayhiap hendak menyerang diriku!"
Walaupun pencuri sakti Go Jit adalah sahabat karib Ban li tui
hong Cu Ngo namun berhubung mereka berdiri pada posisi yang
berbeda, maka dia tak berani bersikap terlampau dekat dengan
bekas sahabatnya. Sambil tertawa hambar pencuri sakti Go Jit
berkata : "Cu tayhiap, kau ada urusan apa?"
Ucapannya ketus dan sama sekali tidak berperasaan. Meskipun ia
tidak menganggap Cu Ngo sebagai musuh, namun dia pun tidak
mencerminkan sikap persahabatan. Dengan wajah sedih Ban li tui
hong berkata : "Saudara Go, mengapa kau bersikap seperti ini terhadap
siaute....?"
"Paling tidak kedudukan kita sekarang adalah berbeda!"
"Dahulu siaute tak berani mengungkap rahasia hatiku, tapi
sekarang setelah kau berkhianat terhadap Ban seng kiong, siaute
bermaksud untuk berkata secara terang terangan."
Mendengar itu, pencuri sakti Go Jit tertawa dingin, katanya :
1281 "Aku si pencuri tua menganggap lebih baik menjadi pengkhianat
Ban seng kiong daripada menjadi kaki tangan Ban seng kiong!"
Ban li tui hong Cu Ngo tertawa getir.
"Saudara Go, harap kau jangan memotong pembicaraanku lebih
dulu, ucapan siaute belum selesai!"
Pencuri sakti Go Jit segera mendengus dingin, dia menunggu
kata kata selanjutnya dari Ban li tui hong Cu ngo. Dengan airmata
berlinang, Ban li tui hong Cu Ngo berkata :
"Sejak hari pertama siaute bergabung dengan Ban seng kiong,
sejak saat itu pula aku merupakan musuh dalam selimut bagi pihak
Ban seng kiong, harap saudara Go suka mempercayai kesulitan
siaute ini.... "
Tampaknya pencuri sakti Go Jit dibikin terharu oleh ucapan Ban li
tui hong Cu Ngo, dengan nada suara yang jauh lebih lembut dia
berkata : "Harap kau suka berbicara yang lebih jelas lagi!"
Secara ringkas Ban li tui hong Cu Ngo menceritakan kisahnya
bagaimana dia mengirim surat undangan, terluka, ditawan Huan im
sin ang dan dipaksa menuruti perintahnya dengan ancamaa mati
hidup Thi Eng khi, lalu bagaimana dia terpaksa berbakti kepada
pihak Ban seng kiong...
Akhirnya dengan sedih dia menambahkan :
"Siaute bersedia untuk berkawan dengan musuh karena aku ingin
mencari kesempatan untuk membalas budi pertolongan dari Thi
sauhiap, kini tuan muda dari Thian liong pay telah mengalami nasib
yang tragis, peristiwa ini sungguh membuat siaute amat sedih, oleh
karena itulah sengaja siaute datang kemari bersama nona Siu Cu
untuk mengajak saudara Go sekalian merundingkan persoalan ini."
Semestinya pencuri sakti Go Jit harus percaya dengan perkataan
dari Ban li tui hong Cu Ngo, tapi dia masih merasa sangsi dan
merasa wajib untuk membongkar persoalan itu sampai jelas, maka
kembali ujarnya :
"Tempo hari, kau menyuruh aku si pencuri tua mencuri pil Tay
tham wan, sebenarnya apa tujuanmu?"
"Siaute pernah menelan pil Toh mia kim wan milik Thian liong
pay, maka akupun ingin membalas kebaikan tersebut dengan
menghadiahkan sebutir pil Tay tham wan untuk Thi sauhiap."
"Mengapa pula kau bisa berhubungan dengan nona Siu Cu?"
kembali pencuri sakti bertanya.
1282 "Keadaan nona Siu Cu tidak jauh berbeda dengan keadaan lo
heng, dia merupakan penghianat yang berhadiah besar bila dapat
diringkus, oleh sebab itu tatkala siaute melihat dia menyusup
kembali ke istana Ban seng kiong, maka akupun lantas mencari
kabar tentang diri kalian... "
"Mengapa nona Siu Cu dapat percaya kalau kau mempunyai
maksud tujuan lain?"
"Persoalan ini merupakan masalah nona Siu Cu sendiri, siautepun
tak bisa menjelaskan."
Tidak menanti si pencuri sakti bertanya kepadanya, Siu Cu segera
berkata cepat :
"Sesungguhnya aku tidak percaya kepadanya, maka itulah aku
mengajaknya kemari dan kalianlah yang memutuskan nasibnya!"
Pencuri sakti Go Jit segera menghela napas panjang :
"Nona seandainya Cu loji meninggalkan kode rahasia sepanjang
jalan, bukankah kita akan mati semua tanpa tempat kubur?"
katanya. Siu Cu menjadi amat terkesiap, serunya kemudian agak tergagap
: "Tentang soal ini.... "
Tiba tiba pencuri sakti mengalihkan pembicaraan, katanya
dengan suara mantap :
"Tapi aku si pencuri tua, percaya kalau Cu Lo Ngo bukan seorang
manusia yang sudi menjual teman untuk mencari pahala."
Rasa tegang yang semula menghiasi wajah Siu Cu kini
mengendor kembali, dengan cepat dia menghembuskan napas lega.
Dengan penuh emosi dan rasa haru Ban li tui hong Cu Ngo berseru
pula keras : "Terima kasih atas kesediaan saudara Go untuk memahami
keadaanku...!"
"Sesungguhnya hal ini dikarenakan daya pengaruh dari Thi
sauhiap, entah mengapa sejak kau menyinggung tentang dia, aku si
pencuri pun merasakan sesuatu perasaan yang aneh, tentu saja aku
harus memahami perasaanmu lebih dulu sebelum mempercayai
ucapanmu."
Kemudian dia berpaling dan serunya lagi :
"Cianpwe berdua, bagaimanakah menurut kalian atas pendapat
boanpwe ini?"
1283 Angin lembut berhembus lewat dari luar gua, seorang pendeta
wanita dan seorang kakek munculkan diri. Begitu berjumpa dengan
Bu im sin hong Kian Kim siang, dengan terkejut Ban li tui hong Cu
Ngo berseru : "Kian tongcu, kau.... "
Di dalam istana Ban seng kiong memang berlaku suasana yang
serba misterius dan rahasia, dihari hari biasa banyak tersiar berita
sensasi tentang tokoh tokoh silatnya. Cerita tentang asli dan percaya
Bu im sin hong Kian Kim siang memang tersiar pula di dalam istana,
namun jarang sekali ada orang yang menyaksikan dengan kepala
sendiri maka dari itu tak heran kalau ia terkejut sekali menyaksikan
munculnya tokoh sakti tersebut.
Mungkin terpengaruh oleh berbagai cerita kosong atau kelihayan
dari Kian Kim siang, oleh sebab itu Ban li tui hong Cu Ngo pun
merasa terperanjat sekali sesudah berjumpa sendiri dengan tokoh
yang disegani ini. Dengan cepat Bu im sin hong Kian Kim siang
menggoyangkan tangannya berulang kali mencegah Ban li tui hong
Cu Ngo melanjutkan kembali kata katanya.
Kemudian dengan suara lembut dia berkata :
"Lohu bukan Tongcu dari Ban seng kiong, harap Cu tayhiap
jangan menaruh curiga selain itu lohu pun tak ada waktu untuk
memberi penjelasan lagi kepadamu, bila ingin tahu tanyakan saja di
kemudian hari kepada Go tayhiap."
Setelah berhenti sejenak dan melihat Ban li tui hong Cu Ngo
berhasil menenangkan kembali hatinya, ia baru melanjutkan kembali
kata katanya : "Dengan menyerempet bahaya Cu tayhiap datang kemari, entah
rahasia apakah yang hendak kau sampaikan?"
Ban li tui hong Cu Ngo segera berkata langsung :
"Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin
setelah dikuasai jalan pikirannya oleh Hian im Tee kun, besok
mereka dipersiapkan untuk melakukan suatu tindakan yang bakal
menghancurkan nama besar mereka."
"Perbuatan apakah yang akan menghancurkan nama besar
mereka...?" tanya Bu im sin hong Kian Kim siang dengan perasaan
cemas dan tak tenang.
"Tengah hari besok, mereka bertiga akan mewakili segenap umat
persilatan yang ada dikolong langit untuk mengangkat sumpah dan
1284 menyatakan kesetiaannya terhadap Ban seng kiong, bahkan akan
mengalunkan pula kata kata pujian."
Berbicara sampai disitu dia menghela napas panjang, dengan
wajah sedih terusnya :
"Bila hal ini sampai terjadi, maka ketiga orang locianpwe itu akan
kehilangan muka untuk bertemu orang lagi, itulah sebabnya
boanpwe merasa gelisah sekali, sengaja aku datang kemari untuk
mengajak locianpwe sekalian merundingkan masalah ini, kita harus
berupaya untuk menyelamatkan nama baik ketiga orang tua
tersebut."
"Lohu telah mencoba kalau kepandaian silat mereka telah punah,
tapi tidak habis mengerti dengan cara apakah Hian im Tee kun bisa
menguasahi jalan pemikiran mereka?"
Ban li tui hong Cu Ngo menggelengkan kepalanya berulang kali
sebagai pernyataan bahwa diapun tak tahu. Siu Cu dengan kening
berkerut segera berkata :
"Suatu ketika, tanpa sengaja boanpwe pernah mendengar Cun
Bwee Seng li membicarakan tentang semacam ilmu si sim ko heng
(cuci otak merubah watak) yang konon tercantum dalam kitab
pusaka Hian im huan goan keng. Bisa jadi ketiga orang locianpwe itu
sudah terkena ilmu tersebut....."
Tanpa berpikir panjang Bu im sin hong Kian Kim siang segera
bertanya : "Apakah nona Siu Cu mengetahui cara pertolongannya?"
"Adakah sesuatu cara untuk menolong pengaruh tersebut,
boanpwe tak pernah mendengar Cun Bwee seng li
membicarakannya."
"Sekarang keadaan sudah sangat kritis, sekalipun mengetahui
cara pertolongannya lalu apa gunanya?" ujar Sam ku sinni.
"Seandainya didalam kitab pusaka Hian im hwee goan keng
tersebut memang tercantum cara pertolongan, maka kita meminta
bantuan Go lote untuk mendemontrasikan kelihayannya dengan
mendapatkan kitab pusaka Hian im huan goan keng tersebut, asal
Thi lo sekalian bisa mendapatkan kejernihan pikirannya lagi, urusan
lain dapat dibicarakan belakangan."
"Belakangan ini suasana dalam keraton sangat ramai, manusia
yang berlalu lalang amat kacau, memang tepat sekali untuk
menyusup ke dalam istana."
Sambil bertepuk dada pencuri sakti Go Jit berseru :
1285 "Selama hidup aku si pencuri sakti memang pekerjaannya
mencuri, tiap kali turun tangan tentu merugikan orang
menguntungkan diri, sekarang kesempatan baik bagiku untuk
berbakti kepada dunia persilatan telah tiba, meski sampai tertawan
dan menerima hukuman mati, akupun rela dan pasrah.
"Andaikata dalam kitab pusaka Hian im huan goan keng tersebut
tidak terdapat cara pertolongan?" tanya Sam ku sinni tiba tiba.
Bu im sin hong Kian Kim siang termenung beberapa saat
lamanya, mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya.
Semua orang mengira dia menemukan cara yang lebih baik, dengan
wajah berseri mereka lantas memasang telinga dan siap
mendengarkan usulnya itu. Siapa tahu ibarat bola yang kempes,
dengan wajah lesu dan sedih Bu im sin hong Kian Kim siang berkata
: "Kita tak boleh menggunakan cara seperti ini untuk menghadapi
Thi lo sekalian."
"Kian lo, apa yang kau penuju" Utarakan saja secara blak blakan
agar kita dapat membincangkannya bersama sama."
Dengan cepat Bu im sin hong Kian Kim siang menggelengkan
kepalanya berulang kali :
"Seandainya lohu mengutarakan usulku ini berarti lohu berbuat
salah kepada Thi lo bertiga."
Tentu saja Pencuri sakti Go Jit, Ban li tui hong Cu Ngo dan Siu Cu
bertiga ingin mengetahui juga apa usul dari Bu im sin hong Kian Kim
siang itu namun dibandingkan dengan Kian Kim siang, kedudukan
mereka masih selisih jauh, Sam ku sinni saja terbentur batunya,
tentu saja mereka semakin tak berkeberanian untuk buka suara lagi.
Tapi wajah dan pancaran mata mereka memancarkan sinar
pengharapan, perasaan tersebut terlihat jelas pada wajah mereka.
Sambil tersenyum tiba tiba Sam ku sinni berkata :
"Padahal sekalipun tidak kau katakan, pinni juga sudah
menduganya sejak tadi?"
Bu im sin hong Kian Kim siang hendak tertawa tergelak, tapi Sam
ku sinni kembali mencegah :
"Kian tua, hati hati kalau sampai membocorkan rahasia jejak kita
.... " Bu im sin hong Kian Kim siang segera menyadari akan
kesilafannya tapi berhubung gelak tertawanya sudah mulai, maka
usahanya untuk menahan tertawa ini membuat wajahnya kelihatan
1286 lucu sekali. Tapi dalam keadaan situasi seperti ini meski semua
orang dibikin geli oleh sikapnya yang lucu, rasa geli itu tak dapat
melenyapkan suasana murung yang menyesakkan napas.
Setelah berhasil menahan rasa gelinya, dengan wajah serius Bu
im sin hong Kian Kim siang berkata :
"Sinni, kalau toh pendapat kita sama mari kita laksanakan
menurut rencana tersebut!"


Pukulan Naga Sakti Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ban li tui hong Cu Ngo dibuat kebingungan setengah mati, agak
tersipu dia bertanya :
"Siasat bagus apa sih yang locianpwe berdua dapatkan" Cepatlah
diutarakan, agar boanpwe sekalian pun bisa turut bergembira.... "
Bu im sin hong Kian Kim siang, melirik sekejap orang orang itu,
melihat Pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu tersenyum dikulum seperti
telah mengerti, maka kepada Siu Cu katanya sambil mengangguk :
"Nona Siu Cu, bagaimana kalau kau mewakili lohu untuk
mengutarakannya keluar?"
"Tapi boanpwe tak tahu jalan pikiran boanpwe ini betul atau
salah.... "
"Kalau kulihat dari paras mukamu, sudah tak bakal salah lagi."
Maka kepada Ban li tui hong Cu Ngo, Siu Cu berkata :
"Menurut pendapat locianpwe berdua, jikalau kita tak sanggup
menolong ketiga orang locianpwe itu, maka demi menjaga nama
baik serta pamor mereka di mata umat persilatan, lebih baik kita
cepat cepat mengirim mereka pulang ke nirwana!"
Ban li tui hong Cu Ngo sangat terperanjat setelah mendengar
perkataan itu, serunya :
"Tapi.... kita mana boleh turun tangan mencelakai jiwa ketiga
orang locianpwe itu.... hal ini.... hal ini tak boleh sampai terjadi.... "
"Asalkan tindakan tersebut dapat melindungi nama baik ketiga
orang locianpwe itu, boanpwe bersedia mewakili umat persilatan
untuk melaksanakannya, biar orang memakiku tapi tindakanku ini
justru akan kutujukan untuk membalas budi kepada Thi sauhiap, "
seru pencuri sakti Go Jit dengan gagah.
"Go Jit, apakah kau sudah edan?" bentak Ban li tui hong Cu Ngo
dengan mata melotot.
Siu Cu menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya :
"Cu tayhiap, coba kau pikirkan lebih mendalam, seandainya
pelbagai usaha kita tak berhasil menolong ketiga orang locianpwe
itu, sehingga membiarkan mereka lakukan perbuatan perbuatan
1287 tanpa sadar yang akan merusak nama baik mereka, apakah tindakan
semacam ini mencerminkan kasih sayang kita kepada mereka" Toh
lebih baik kita melindungi nama baik mereka sebagai pernyataan
rasa kasih kita terhadap mereka?"
Ban li tui hong Cu Ngo adalah seorang lelaki berdarah panas, tadi
ia dapat berkata begitu karena belum memahami sampai lebih
mendalam, tapi setelah dijelaskan oleh Siu Cu sekarang dia menjadi
paham, katanya kemudian :
"Betul! Ucapan kalian memang betul, melindungi nama baik
mereka bertiga memang jauh lebih penting daripada melindungi
keselamatan jiwa mereka, aku Cu lo ngo tak akan ketinggalan, biar
orang lain salah paham kepadaku, akupun bersedia ambil bagian
didalam rencana ini... "
"Boanpwe pun bersedia memikul tanggung jawab dan tugas yang
tak nanti bisa dimaafkan orang lain ini," sambung Siu Cu pula
dengan gagah perkasa.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera manggut manggut :
"Beginipun ada baliknya juga, kalian seorang bertanggung jawab
satu korban bila mana keadaan memaksa, terpaksa kita harus
menempuh jalan yang memedihkan hati ini."
Maka keputusan pun segera diambil, si pencuri sakti Go Jit dan
Siu Cu tetap ditugaskan untuk menyusup kembali ke istana Ban seng
kiong dan berusaha bersama sama mencuri kitab Hian im huan goan
keng milik Hian im Tee kun. Seandainya dalam kitab itu tidak
tercantum cara pertolongan atau kitab Hian im huan goan keng tak
berhasil diperoleh maka sebelum upacara dimulai besok, ditugaskan
kepada Ban li tui hong Cu Ngo, pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu untuk
melakukan pembunuhan terhadap Keng thian giok cu Thi Keng,
Tiang pek lojin So Seng pak serta Sim ji sinni.
Bu im sin hong Kian Kim siang dan Sam ku sinni ditugaskan
sebagai penyambut atau pembantu bilamana diperlukan, seandainya
salah satu diantara Cu Ngo bertiga tak mampu melaksanakan tugas
dengan lancar, mereka harus membantu dari samping hingga
sasarannya tercapai. Kemudian setelah mereka merundingkan
kembali masalah masalah kecil yang dianggap perlu, barulah Ban li
tui hong Cu Ngo mengajak si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu untuk
bersama sama kembali ke istana Ban seng kiong.
Sebelum berangkat kembali Ban li tui hong Cu Ngo meninggalkan
empat lembar topeng kulit manusia yang dibagikan kepada Bu im sin
1288 hong Kian Kim siang, Sam ku sinni, pencuri sakti Go Jit serta Siu Cu
empat orang. "Omitohud.... " bisik Sam ku sinni sambil menerima topeng itu
"Cu sicu benar benar membawa persiapan yang lengkap, tidak
sedikit topeng yang kau bawa rupanya."
Ban li tui hong Cu Ngo tertawa :
"Selama bertugas dalam istana Ban seng kiong, setiap saat setiap
keadaan boanpwe perlu untuk menyaru muka dalam menghadapi
setiap keadaan. oleh sebab itu Huan im sin ang Ui Sam ciat telah
menyerahkan banyak sekali topeng kulit manusia kepadaku,
sungguh tak disangka topeng topeng tersebut bermanfaat sekali
untuk situasi seperti ini."
Memegang topeng kulit manusia tersebut. Saat terbayang
kembali bagaimana dia harus memakai topeng untuk membohongi
orang, Sam ku sinni merasa murung, sedih bercampur kesal.....
Sementara itu, Thi Eng khi bersama Pek leng siancu sekalian
telah tiba pula di istana Ban seng kiong sehari sebelum upacara
dimulai, karena Hian im Tee kun mempunyai maksud dan tujuan lain
terhadap mereka, maka ia tidak membawa mereka secara langsung
ke dalam istana Ban seng kiong. Untuk itu secara rahasia mereka
ditempatkan disuatu tempat yang sepi dan terpencil dibawah bukit
Wong soat hong yang jauh dari keramaian manusia.
Tatkala Ciu Tin tin bersama Pek leng siancu So Bwe leng
membimbing Thi Eng khi nemasuki sebuah gua besar yang dijaga
secara ketat, tampak dalam gua tersebut banyak disekap jago jago
persilatan. Tak salah lagi, meraka adalah kawanan jago persilatan
yang dipermainkan oleh Cun Bwee di lembah Hu liong kok bukit Cian
san tempo hari. Rupanya dalam keadaan dahaga dan lapar yang luar
biasa, mereka berhasil ditawan semua oleh jago jago lihay dari
istana Ban seng kiong. Oleh Hian im li Cun Bwee jalan darah mereka
ditotok secara khusus hingga tenaga dalamnya tersumbat dan
menjadi seekor domba yang menanti dijagal.
Disaat suasana tak puas meliputi seluruh gua tersebut, dari luar
gua muncul Thi Eng khi, Ciu tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng dan
Bu Nay nay. Dibawah sorotan para jago, suasana dalam gua itu
semakin gaduh dan kalut. Pada mulanya ada yang menaruh salah
paham dengan mengira Thi Eng khi menerima bujukan dari Keng
thian giok cu Thi keng sehingga bergabung pula dengan pihak Ban
seng kiong, dan sekarang mendapat tugas untuk membujuk mereka.
1289 Maka suara desisan mengejek berkumandang dari seluruh gua
tersebut. Menghadapi suasana seperti ini, Thi Eng khi hanya tertawa
hambar tanpa menggubris. Sedangkan Ciu Tin tin menundukkan
kepalanya dengan sedih. Pek leng siancu So Bwe leng mendongkol
sekali, dengan gemas diapun mendepak depakkan kakinya ke atas
tanah. Hanya Bu Nay nay seorang yang tak sanggup menahan
amarahnya, dengan mata melotot segera bentaknya :
"Sungguh memalukan! Tahukah kalian demi seluruh dunia
persilatan Thi sauhiap sudah banyak menderita dan tersiksa, tapi
sekarang kalian menghadapinya dengan sikap demikian, hmmm!
Sungguh memalukan! Sungguh memalukan! Benar benar
memalukan sekali!"
Para jago persilatan itu menjadi tertegun oleh umpatan tersebut,
dan suara desisan mengejek pun segera berhenti. Pada saat itulah
salah seorang iblis dari Ban seng kiong yang berada dalam gua
segera mengejek :
"Thi ciangbunjin, orang baik tidak memperoleh pembalasan yang
baik, mereka benar benar kawanan manusia yang lapuk, percuma
saja sauhiap berkorban untuk mereka."
"Ini urusan kami sendiri, tak usah kau campuri!" umpat Bu Nay
nay lagi sambil melotot gusar.
Iblis tersebut angkat bahunya sambil tertawa seram:
"Aku mah cuma tidak puas menyaksikan ketidak tahuan aturan
mereka masa aku salah berbicara?"
Segera diajaknya mereka menuju ke sebelah kanan, membuka
pintu berterali besi dan membawa mereka ke dalam ruang batu di
dalamnya, kemudian setelah mengunci kembali pintu tersebut,
mereka berlalu.
Jilid 41 Dalam anggapan orang orang Ban seng kiong, tenaga dalam
yang dimiliki kawanan jago persilatan itu sudah punah dan tidak
berdaya lagi untuk melawan, untuk menghindari umpatan serta caci
maki mereka, maka kawanan iblis itu bersama sama mundur dari
gua dan hanya berjaga di mulut gua saja. Dengan demikian mereka
sama sekali tidak mau tahu terhadap kejadian yang berlangsung
dalam gua tersebut.
1290 Sepanjang jalan, Thi Eng khi sama sekali tidak memberitahukan
kepada Ciu Tin tin ataupun So Bwe leng dan Bu Nay nay kalau ilmu
silatnya sudah pulih kembali. Tak heran kalau mereka merawat dan
melayani kebutuhan Thi Eng khi dengan hangat dan penuh kasih
sayang, justru karena itu pula kawanan iblis dari Ban seng kiong
semakin percaya kalau Thi Eng khi benar benar sudah kehilangan
kepandaian silatnya. Itulah sebabnya mereka mengurungnya
bersama sama kawanan jago persilatan lainnya, dengan demikian
banyak membantu Thi Eng khi sehingga bisa bertindak lebih leluasa.
Setelah kawanan gembong iblis dari Ban seng kiong
mengundurkan diri, Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liu sianseng
Lim Biau lim dari Thian liong pay, mereka datang mendekati terali
besi dan menjumpai ciangbunjinnya. Thi Eng khi tidak leluasa untuk
mengucapkan sesuatu terhadap mereka, maka setelah berbincang
bincang sebentar, dengan alasan lelah karena menempuh perjalanan
jauh, dia menitahkan kepada mereka agar mengundurkan diri.
Dengan kejadian ini maka ketua Siau lim pay Ci long siansu dan
ketua Bu tong pay Keng hian totiang yang sebenarnya ingin datang
menghibur, menjadi mengurungkan niatnya, mereka hanya menyapa
dari kejauhan sebagai adat kesopanan saja.
Dengan disekapnya Thi Eng khi bersama para jago lainnya, tanpa
diberi penjelasan lagi semua kesalah pahaman orang terhadap
dirinya hilang lenyap dangan sendirinya. Dalam gua tiada
penerangan maka setelah larut malam, suasana ditempat itu
menjadi gelap gulita. Sebagaimana diketahui, jalan darah dari
kawanan jago persilatan itu sudah tertotok, dengan demikian
kepandaian mereka untuk melihat dalam kegelapan pun tak dapat
digunakan, tak heran kalau mereka macam terkena buta ayam saja,
tak dapat melihat siapa siapa. Bahkan tidak terkecuali pula dengan
Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng serta Bu Nay nay.
Satu satunya orang yang tidak mengalami keadaan tersebut
hanyalah ketua Thian liong pay Thi Eng khi, meskipun dia terkena
totokan pula oleh orang lain, tapi dengan kemampuan tenaga
dalamnya yang sempurna, bila bukan Hian im Tee kun yang turun
1291 tangan sendiri, maka hakekatnya tiada orang yang mampu untuk
menguasahi dirinya.
Dengan tenang dia memeriksa sejenak keadaan disekeliling
tempat itu, kemudian setelah manggut manggut katanya :
"Sekarang, aku tak dapat berpura pura terus."
Dia memandang sekejap ke arah Ciu Tin tin yang sedang tidur
bersandar diatas dinding, timbul perasaan menyesal dalam hatinya,
kemudian dengan ringan dia berkelebat ke depan, ternyata Ciu Tin
tin tidak merasakan hal ini. Thi Eng khi segera menutupi bibir Ciu Tin
tin dengan tangannya, ketika gadis itu tersadar dan hendak
berteriak, ia sudah tak mampu bersuara lagi, pada saat itulah dia
mendengar suara bisikan Thi Eng khi yang
dipancarkan dengan ilmu menyampaikan suara :
"Enci Tin, sesungguhnya ilmu silat yang siaute miliki sudah pulih
kembali sejak semula, tapi oleh karena aku hendak menciptakan
suatu kesempatan yang dapat membuat Hian im Tee kun gugup dan
gelagapan maka termasuk enci sendiri pun kutipu sampai sekarang,
harap kau sudi memaafkan."
Meskipun Ciu Tin tin tak dapat berbicara, setelah mendengar
kabar gembira tersebut gemetar keras seluruh tubuhnya karena
girang, dia segera menggenggam lengan Thi Eng khi kencang
kencang. Sementara air matanya bagaikan hujan gerimis jatuh
bercucuran tiada hentinya. Harapannya muncul kembali, semua
kesedihan dan kepedihan yang mencekam perasaannya selama
inipun hilang lenyap tak berbekas.
Thi Eng khi menunggu sampai gejolak perasaan dari Ciu Tin tin
menjadi tenang kembali, kemudian dia baru berkata lebih lanjut :
"Enci Tin, harap kau jangan berbicara dulu, siaute hendak
membebaskan jalan darahmu dan memulihkan kembali tenaga
dalammu".."
Sembari berkata, dia menarik kembali tangannya yang dipakai
untuk menutupi mulut Ciu Tin tin itu. Berhubung Ciu Tin tin tidak
mengetahui sampai dimanakah kemajuan yang dicapai Thi Eng khi
1292 dalam kepandaian silatnya, tanpa terasa satu ingatan melintas dalam
benaknya : "Adik Eng, mampukah kau?"
Belum habis ingatan tersebut melintas, angin jari yang
dipancarkan Thi Eng khi sudah menotok tujuh buah jalan darah
kematiannya secara beruntun menyusul kemudian pemuda itu
menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Pay sim hiatnya.
Segulung hawa murni yang segar dan hangat dengan cepat
menembusi badannya. Ciu Tin tin merasakan bagian jalan darahnya
yang tertotok itu menimbulkan suara nyaring, seakan akan batu
yang menyumbat jalan darahnya itu sedang dicukil orang, menyusul
kemudian peredaran hawa murninya menjadi segar dan lancar
kembali, hawa murninya mengumpul dan mengikuti petunjuk dari
Thi Eng khi berputar tiada hentinya secara teratur.
Setelah mengatur napas tiga kali, tenaga dalam yang dimiliki Ciu
Tin tin telah pulih kembali seperti sedia kala. Sekarang dia sudah
dapat mengajak Thi Eng khi untuk berbicara dengan ilmu
menyampaikan suara. Pertama tama dia tertawa dulu, kemudian
baru serunya : "Adik Eng, enci memang sangat bodoh padahal ketika kau
membantu Bu Im cianpwe untuk menembusi urat nadi Jin dan tok
mehnya, aku sudah seharusnya dapat menduga kalau tenaga
dalammu sudah pulih kembali seperti sedia kala."
Thi Eng khi tersenyum.
"Oleh sebab enci terlalu memperhatikan dan percaya kepada
siaute maka kau tidak membiarkan kecurigaanmu itu berkembang
menjadi besar, siaute sangat berterima kasih kepadamu, hanya gara
gara kejadian ini maka enci Tin lah yang susah!"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menyambung lebih jauh :
"Namun bila kau benar benar tak tahu kalau siaute berhasil


Pukulan Naga Sakti Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mendapatkan kembali kepandaianku, sudah pasti dalam sikap
maupun gerak gerikmu tadi mudah untuk mengendalikan diri secara
wajar, siapa tahu gara gara hal itu usahaku akan menjadi sia sia dan
berantakan tak karuan."
1293 Ciu Tin tin tersenyum.
"Kau memang selalu punya alasan... "
Kemudian setelah berhenti sejenak sambil cemberut, katanya lagi
kepada Thi Eng khi :
"Tentunya kau tak akan membiarkan adik Leng menderita terus
bukan....."
Semu merah selembar wajah Thi Eng khi oleh perkataan
tersebut, ia segera berkata :
"Tentang Bu Nay nay, terpaksa aku mesti merepotkan diri enci..."
"Aku belum pernah mempelajari ilmu membebaskan jalan
darah...!"
Thi Eng khi segera menerangkan kepada Ciu Tin tin bagaimana
caranya membebaskan pengaruh totokan, kemudian dia baru
membantu Pek leng siancu So Bwe leng untuk membebaskan diri
dari pengaruh totokan. Tak terlukiskan rasa gembira Pek leng siancu
So Bwe leng setelah mendengar kenyataan tersebut, dengan ilmu
menyampaikan suaranya dia lantas mengomeli si anak muda itu
panjang lebar. Thi Eng khi harus membujuk Pek leng siancu So Bwe
leng sampai setengah harian lamanya sebelum dapat membuatnya
menjadi tenang kembali.
Kemudian Thi Eng khi menyuruh mereka tetap tinggal dalam
ruangan batu untuk menanti, sedang dia sendiri mendekati pintu
berterali besi, mengerahkan hawa murninya dan mengorek
gembokan diatas pintu baja tadi. Bagaikan sedang bermain sulap
saja tanpa menimbulkan cedera atau pun suara, kunci itu berhasil
dibongkar. Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi
sekarang, sekalipun jago jago silat yang berada dalam gua itu belum
kehilangan tenaga dalamnya pun, jangan harap mereka berhasil
mengetahui gerak geriknya. Sekarang, tentu saja dia semakin dapat
bergerak leluasa diantara orang orang tersebut.
1294 Mendadak dia mempercepat gerakan tubuhnya, sepasang
tangannya digerakkan ke kanan ke kiri, dalam waktu singkat dari
dua puluh sembilan jago lihay yang berada dalam gua, sudah ada
dua puluh delapan orang diantaranya yang tertotok jalan darah
tidurnya. Sekarang yang masih tetap sadar hanya ketua Bu tong pay, Keng
hian totiang seorang. Thi Eng khi segera menghentikan gerakan
tubuhnya persis di hadapan ketua Bu tong pay Keng hian totiang,
setelah itu bisiknya lirih :
"Totiang! Totiang! Eng khi berada di sini!"
Seperti diketahui, ketua Bu tong pay Keng hian totiang sudah
kehilangan daya penglihatannya dalam kegelapan semenjak tenaga
dalamnya dipunahkan, ketika mendengar bisikan Thi Eng khi secara
tiba tiba, ia nampak terkejut sekali dan segera membuka matanya
lebar lebar. Tapi berhubung gua itu sangat gelap maka sulit baginya
untuk melihat wajah Thi Eng khi.
Setelah menghela napas panjang, dia pun bergumam,
"Mungkinkah pinto sedang bermimpi?"
Thi Eng khi terharu sekali menyaksikan seorang ciangbunjin dari
suatu partai besar harus mengalami nasib yang begini tragis, agak
emosi dia berkata :
"Baik baikkah ciangbunjin selama ini" Thi Eng khi berdiri
dihadapanmu!" Sembari berkata dia memegang bahu Keng hian
totiang. Gemetar keras sekujur badan Keng hian totiang menghadapi
kejadian ini, dia segera membentak lirih :
"Kau betul betul adalah Thi ciangbunjin?"
Oleh karena dia tidak mempersiapkan batinnya secara baik,
walaupun mendengar suara dari Thi Eng khi, namun dia masih tidak
percaya kalau orang yang sedang berdiri di hadapannya adalah Thi
Eng khi yang asli.
1295 "Aku benar benar adalah Thi Eng khi!" kembali pemuda itu
berkata sambil menghela napas.
Keng hian totang segera mengangkat tangannya bersama sama
memegang lengan Thi Eng khi yang sedang memegang bahunya itu,
sementara rasa haru membuatnya menjadi gemetar :
"Sungguh tak nyana kita menjadi tawanan semua pada hari ini,
Thi ciangbunjin. Baik baikkah kau selama ini" Bukankah kepandaian
silatmu .... aaaai! Setelah terjatuh ke tangan orang orang Ban seng
kiong, tentu saja kaupun kehilangan semua tenaga dalammu,
pinto.... pertanyaan pinto betul betul terlalu bodoh."
"Terima kasih banyak atas perhatian totiang, tenaga dalamku
telah pulih kembali seperti sedia kala!" bisik Thi Eng khi dengan
suara lirih. Keng Hian totiang yang mendengar ucapan tersebut menjadi tak
terlukiskan girangnya dia sampai berseru tertahan :
"Kau..."
Dengan cepat Thi Eng khi menutup mulut Keng hian totiang
dengan tangannya, kemudian menjawab :
"Harap totiang jangan berisik,jangan sampai mengecutkan orang
orang Ban seng kiong."
Kemudian selesai berpesan dia menarik kembali tangannya. Keng
hian totiang benar benar diliputi oleh emosi, apalagi setelah tahu
kalau ilmu silat Thi Eng khi masih utuh, sambil melompat bangun
dan mencengkeram bahu si anak muda itu, serunya dengan gembira
: "Terima kasih langit! Terima kasih bumi, akhirnya kami tertolong
juga......."
Tapi setelah berhenti sebentar, tiba tiba dia menghela napas
sedih seraya berkata :
"Sayang sekali kami semua telah tertotok jalan darah Hian ki dan
Khi bun hiat oleh Hian im li Cun Bwee dengan ilmu Kok kiong ting
meh jiu hoat (ilmu melewati nadi memantek urat) sehingga
1296 kepandaian silat kami punah, kami tak dapat membantu ciangbunjin
lagi..." Urat nadi Keng hian totiang sudah cukup lama tertotok, ditambah
pula dia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, kesemuanya
ini membuat badannya menjadi lemah. Setelah berbicara dengan
terburu napsu, napasnya mulai tersengkal sengkal macam orang
yang kehabisan tenaga.
Lama sekali dia harus berhenti untuk mengatur napas kemudian
ujarnya kembali :
"Thi ciangbunjin, walaupun tenaga dalammu sangat hebat,
namun satu tangan sukar menghadapi tiga lengan, menurut
pendapat pinto, lebih baik kau menyelamatkan diri lebih dahulu,
terjanglah keluar dari sini, kemudian kumpulkanlah segenap orang
ga?gah dari berbagai perguruan untuk membalaskan dendam bagi
kami!" "Totiang, harap kau jangan berbicara lagi," seru Thi Eng khi
dengan suara dalam.
"Sekarang aku hendak memulihkan dahulu tenaga dalammu
sebelum kita berbincang lebih jauh!"
"Hian im kok kiong ting meh jiu hoat merupakan ilmu yang
beracun yang tiada taranya didunia ini," kata Keng hian totiang tidak
percaya, "konon ilmu ini tak bisa dibebaskan siapapun, Thi
ciangbunjin..."
"Aku tak berani rnengatakan pasti bisa, tapi aku bersedia
membantu totiang," tukas Thi Eng khi tersenyum.
"Terima kasih banyak Thi ciangbunjin!"
Dia lantas duduk bersila, merapatkan sepasang matanya dan siap
menunggu Thi Eng khi turun tangan. Berbicara soal ilmu Hian im kok
kiong ting meh jiu hoat dan Hek sin thian kang ci, bila kedua ilmu
tersebut dibandingkan maka yang muka jauh lebih lihay. Hian im kok
kiong ting meh jiu hoat tersebut selain ganas lagipula beracun
1297 sekalipun ada jago lihay dapat memunahkan ilmu ting meh jiu hoat
tersebut, tidak gampang untuk menghapuskan hawa dingin yang
sudah terlanjur merasuk ke dalam badan. Bukan begitu saja, selain
tak dapat memulihkan kembali hawa murninya, bisa jadi malah akan
membuatnya cacad seumur hidup ....
Seandainya Thi Eng khi tidak memperoleh penemuan aneh sekali
lagi, mungkin dia sendiripun tidak mampu untuk memberikan
pertolongan, tapi sekarang sekalipun ilmu Hian im kok kiong ting
meh jiu hoat lebih ganas dan beracun pun, hal mana tak akan
sampai menyulitkan dirinya.
Tampak dia mengerahkan tenaga dalamnya ke ujung jari tengah
dan telunjuknya dengan senyuman dikulum, kemudian setelah
berputar mengitari Keng hian totiang sebanyak tiga kali, dia menotok
sebuah jalan darah Keng hian totiang, ketika berputar dua puluh
tujuh lingkaran, Thi Eng khi sudah habis menotok jalan darah Pek
hwee hiat, Pi liang hiat, Jin tiong hiat, Jit kan hiat, In thian hiat, Tui
ko hiat, Pay sim hiat dan Wi ciau hiat, sembilan buah jalan darah
penting. Selesai menotok ke sembilan buah jalan darah tersebut, dengan
tenaga dalam yang begitu sempurna dari Thi Eng khi pun tak urung
berubah juga paras mukanya menjadi semu merah. Ia menarik
napas panjang lalu duduk bersila dibelakang tubuh Keng hian
totiang, telapak tangannya segera ditempelkan diatas jalan darah
Pay sim hiat dipunggung Keng hian totiang.
"Sekarang aku hendak mempergunakan ilmu Tun yang cing kik
untuk membantu totiang dalam usaha mengusir keluar sisa racun
hian im tok dari tubuhmu!"
Seusai berkata, segulung hawa murni yang amat panas segera
menyusup masuk ke dalam tubuh Keng hian totiang. Tenaga dalam
yang dimiliki Keng hian totiang memang sangat sempurna, di bawah
petunjuk dari Thi Eng khi, tidak sampai setengah perminum teh
kemudian seluruh sisa racun hian im tok yang bersarang dalam
tubuhnya sudah dapat diusir keluar semua.
1298 Kedua orang itu serentak menarik kembali tenaganya bersama
sama sambil melompat bangun, kemudian sembari menggenggam
tangan Keng hian totiang berdiri dengan sepasang mata berkaca
kaca, dia benar benar terharu sekali.
"Sangat beruntung aku dapat mewujudkan keinginan totiang
tanpa melesat," kata Thi Eng khi kemudian sambil tertawa,
"sekarang aku harus membantu Ci long siansu ketua Siau lim pay..."
Kali ini Thi Eng khi membebaskan dahulu totokan dari ketua Siau
lim pay Ci long siansu sebelum membebaskan totokan pada jalan
darah tidurnya. Begitu tersadar dari tidurnya, ketua Siau lim pay Ci
long taysu menyaksikan ada dua sosok bayangan manusia berdiri di
hadapannya, karena kaget hampir saja dia bersuara. Tapi ketua Bu
tong pay, Keng hian totiang segera mencegahnya dengan berbisik :
"Siansu, jangan berisik dulu, aku adalah Keng hian dan Thi
ciangbunjin!"
"Thi ciangbunjin....," bisik ketua Siau lim pay Ci long siansu
gugup, "bukankah dia disekap di ruangan yang lain?"
"Aku telah melakukan kesalahan besar sehingga membuat siansu
banyak menderita, oleh sebab itu kami sengaja datang kemari untuk
minta maaf!" sela Thi Eng khi cepat.
"Oooooh...." belum sempat ketua Siau lim pay Ci long siansu
berkata lebih jauh, ketua Bu tong pay Keng hian totiang sudah
menyela kembali :
"Siansu tak perlu banyak curiga, sekarang Thi ciangbunjin telah
membantu siansu untuk terlepas dari pengaruh totokan, asalkan sari
racun Hian im tok yang bersarang dalam tubuhmu sudah terusir
keluar, niscaya tenaga dalammu akan pulih kembali seperti sedia
kala." "Harap siansu mengerahkan hawa murnimu, aku akan membantu
siansu dari belakang," kata Thi Eng khi cepat.
Tanpa membuang banyak waktu lagi, dia lantas menempelkan
telapak tangannya diatas jalan darah Pay sim hiat di punggung Ci
1299 long siansu. Ketika tenaga dalam yang dimiliki ketua Siau lim pay Ci
long siansu dapat dipulihkan kembali, Thi Eng khi merasakan
wajahnya menjadi panas, jelas perbuatan ini banyak mengorbankan
tenaga dalamnya. Hanya saja keadaan tersebut sama sekali tidak
diketahui oleh ketua Bu tong pay Keng hian totiang maupun ketua
Siau lim pay Ci long siansu.
Selanjutnya Thi Eng khi turun tangan pula memulihkan tenaga
dalam dari Manusia aneh bermata sakti Ku Kiam ciu dari bukit Tay
pek san, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, si unta sakti Lok It
hong, Tiang cun siusu Li Goan, ketua Kay pay si pengemis sakti
bermata harimau Cu Goan po, Hui cun siucay Seng Tiok sian, Giok
koay popo Lo ko ci, Soh sim tocu si Bidadari penyebar bunga Leng
Cay soat, Ci tiok an cu Beng seng suthay, ketua Hoa san pay si
sastrawan berbaju putih Cu Wan mo sekalian sepuluh orang.
Setelah menyembuhkan kesepuluh orang ini, Thi Eng khi benar
benar merasakan kepalanya pening dan matanya berkunang kunang,
dia merasa hawa murninya tak mampu dikerahkan lagi. Terpaksa dia
harus mengatur napas dan bersemedi beberapa saat lamanya
sebelum dapat meneruskan pekerjaannya menolong Phu thian toa
tiau Kay Poan thian.
Saat itu yang mengikuti di belakang Thi Eng khi hanya ketua Siau
lim pay Ci long siansu, ketua Bu tong pay Keng hian totiang,
pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dan Cang ciong sin
kiam Sangkoan Yong berempat. Lainnya atas nasehat dari Thi Eng
khi telah mengatur napas dan bersemedi sebagai persiapan
menghadapi pertarungan besok pagi .....
Ketua Siau lim pay Ci long siansu, ketua Bu tong pay Keng hian
totiang, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sekalian
bertiga memang menaruh kesan baik terhadap Thi Eng khi, mereka
bersikeras hendak mendampingi pemuda tersebut kemana pun dia
hendak pergi. Dulu Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong pernah menaruh
banyak prasangka terhadap Thi Eng khi, prasangka semacam ini
membuat dia menaruh perasaan yang sinis terhadap pemuda ini.
1300 Atau dengan perkataan lain, entah berapa pun besarnya
pengorbanan Thi Eng khi terhadap umat persilatan, dalam
pandangan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, dia tetap
menganggap Thi Eng khi tidak melakukan apapun.
Tapi sejak dia dipulihkan kembali tenaga dalamnya oleh Thi Eng
khi, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong seolah olah baru merasa
matanya menjadi melek, dia benar benar memahami kebesaran jiwa
serta ketulusan hati pemuda ini.
Terbentuk dari dasar liangsimnya, waktu itu dia tidak
mengutarakan rasa terima kasihnya, melainkan berkata begini :
"Thi ciangbunjin, dengan sikapku di masa lampau terhadapmu,
banyak berbicara pun sama sekali tak ada gunanya, yang jelas
setelah hari ini dalam hati kecilku hanya ada kau seorang."
Maka dia pun bersikeras mengikuti Thi Eng khi kemanapun anak


Pukulan Naga Sakti Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

muda tersebut pergi, bagaimana Thi Eng khi membujuk dan
menasehatinya, dia tetap menguntil dibelakang anak muda itu.
Akhirnya atas pertolongan Thi Eng khi dengan sepenuh tenaga,
Phu thian toa tiau Kay Poan thian pun berhasill memperoleh kembali
tenaga dalamnya. Baru sekarang Thi Eng khi menunjukkan tanda
tanda kelelahan, dan gejala itupun tak pernah dapat mengelabuhi
orang orang yang mengikutinya. Sebenarnya Cang ciong sin kian
Sangkoan Yong merupakan musuh bebuyutan dari Thi Eng khi, tapi sejak
dia takluk kepada pemuda tersebut, penampilannya kelihatan luar
biasa besarnya.
Dengan semangat yang menyala nyala tiba tiba dia berseru :
"Bagaimana kalau sisanya yang lain serahkan saja kepada lohu
sekalian untuk menolong?"
"Saudara Thi, " ucap si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan
po pula, "cepat beritahu kepada kami bagaimana caranya
membebaskan pengarih totokan tersebut!"
1301 Thi Eng khi merasa serba salah, dia tak tahu bagaimana mesti
menjawab pertanyaan dari kedua orang itu, sebab tenaga dalam
yang dimiliki Hian im li Cun Bwee jauh lebih lihay daripada mereka,
sekalipun mereka mengetahui cara membebaskan jalan darah
tersebut, belum tentu sanggup untuk membebaskan pengaruh
totokan dari Hian im li Cun Bwee.
Thi Eng khi termenung sebentar, lalu ujarnya :
"Boleh saja siaute utarakan bagaimana caranya membebaskan
pengaruh totokan tersebut, Cuma ..... Cuma ..... tak usah
merepotkan kalian semua."
Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong maupun pengemis sakti
bermata harimau Cu Goan po sama sama tertegun setelah
mendengar ucapan tersebut, katanya kemudian hampir berbareng :
"Apakah kau hendak memeras tenaga sampai mampus?"
Thi Eng khi sungkan untuk menyatakan bahwa tenaga dalam
yang mereka miliki belum memadai sehingga tak mampu banyak
membantu, tapi diapun tak dapat menemukan cara yang tepat untuk
mengutarakan isi hatinya, dengan wajah murung dia menjadi
kelabakan sendiri.
Pada saat itulah mendadak dari belakang tubuhnya bergema
suara dari Ciu Tin tin :
"Adik Eng, menurut kau apakah tenaga dalamku cukup untuk
membebaskan jalan darah mereka?"
Rupanya Ciu Tin tin yang menyaksikan Thi Eng khi yang pergi
sudah begitu lama belum juga kembali, meski dia tahu pemuda itu
sedang membantu rekan rekan yang lain memulihkan kembali
tenaganya, toh gadis itu merasa kuatir. Sampai Cang ciong sin kiam
Sangkoan Yong dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po
mengucapkan kata "kau hendak memeras tenaga sampai mampus",
dia baru menyadari bahwasannya Thi Eng khi tentu sudah banyak
mengorbankan tenaga dalamnya. Dalam kuatirnya, ia tak bisa
menahan diri lagi dan segera berjalan keluar dari ruang batu.
1302 Dengan diutarakannya kata kata tersebut, Thi Eng khi semakin
rikuh lagi untuk berbicara. Sekarang Cang ciong sin kiam Sangkoan
Yong dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po baru
mengerti kalau tenaga dalam yang mereka miliki belum memadai
untuk membantu, maka kedua orang itu pun tidak berbicara lagi.
Thi Eng khi memperkenalkan Ciu Tin tin kepada semua orang,
kemudian sambil manggut manggut dia berkata ;
"Enci Tin, besok kaulah yang merupakan kekuatan utama dalam
menghadapi Hian im Tee kun, hari ini kau tak perlu mengorbankan
tenaga dengan percuma."
Dengan perkataan dari Thi Eng khi ini, berarti nilai dari Ciu Tin tin
pun meningkat beberapa kali lipat, sebab dengan kemampuannya
menghadapi Hian im Tee kun, mau tak mau ketua Siau lim pay
sekalipun memandang lain kearahnya.
Dipandang seperti ini oleh semua jago, Ciu Tin tin menjadi rikuh
sendiri, katanya kemudian sambil tertawa ;
"Adik Eng, bagaimana dengan kau" Kau ingin mungkir" Aku
bukan tandingan dari Hian im Tee kun!"
"Sekarang siaute sudah banyak membuang tenaga dalamku,
kekuatan yang tersisa sudah tidak cukup untuk menghadapi Hian im
Tee kun lagi. Enci Tin, sekalipun dewasa ini kau belum mampu
mengungguli Hian im Tee kun, namun sudah cukup untuk bertarung
ratusan gebrakan melawannya, bila ditambah dengan yaya sekalian,
sudah pasti kemenangan berada di pihak kita."
Setelah Thi Eng khi mengungkapnya soal Keng thian giok cu Thi
Keng sekalian dengan nada begini, bukan cuma ketua Siau lim pay
sekalian dibikin melongo, bahkan Ciu Tin tin sendiripun ikut tertegun
dibuatnya. Tanpa terasa pembicaraan merekapun beralih keatas
masalah Keng thian giok cu Thi Keng sekalian.
Kini Thi Eng khi sudah merasa kalau saat untuk menentukan
siapa menang siapa kalah sudah tiba, sedang waktu yang
dinantikanpun sudah matang, dia tak ragu lagi untuk
mengungkapkan keadaan yang sesungguhnya, bahkan dengan nada
1303 membangkitkan semangat semua orang, dia menerangkan
bagaimana Keng thian giok cu Thi Keng berempat membenamkan
diri dalam lumpur dengan tujuan hendak menyelamatkan dunia
persilatan dari kehancuran.
Keterangan ini bukan saja mengharukan semua jago termasuk Ci
long siansu sekalian yang berada di sekitar itu, bahkan mereka lebih
menaruh hormat lagi kepada Keng thian giok cu Thi Keng sekalian.
Bukan begitu saja, malah kawanan jago lihay yang baru saja pulih
kembali tenaganya berkat pertolongan dari Thi Eng khi pun tanpa
terasa menghentikan semedi masing masing untuk datang
mengucapkan beberapa kata kagum sebelum balik dan melanjutkan
kembali semedinya.
Sampai disini, pembicaraanpun beralih kembali pada usul Ciu Tin
tin untuk membantu para jago lainnya memulihkan kembali
kekuatan yang dimiliki. Ciu Tin tin nampak agak keras kepala,
dengan cepat dia berkata lagi :
"Untuk menghadapi Hian im Tee kun, aku rasa hal ini merupakan
tugasmu, pokoknya aku hendak membantumu untuk memulihkan
kembali kekuatan mereka."
Ucapan ini hanya dapat mewakili perasaan sayang dan kuatir
gadis ini terhadap kekasihnya, tidak diikuti maksud maksud
lainnya..... Thi Eng khi tidak tega untuk menampik maksud baik gadis itu, dia
lantas memutar otak, kemudian sambil tertawa ujarnya kemudian
kepada pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po :
"Engkoh tua, masih ada berapa orang lagi yang belum dapat
memulihkan kekuatannya?"
Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menghitung
sebentar, kemudian menyahut
"Kami semua berjumlah dua puluh sembilan orang, yang berhasil
memperoleh kembali kekuatan baru tiga belas orang, berarti masih
ada enam belas orang yang belum pulih."
Thi Eng khi lantas bergumam :
1304 "Kecuali Wong tianglo dan Lim tianglo dari partai kami, masih ada
empat belas orang yang perlu memperoleh kembali tenaga
dalamnya ..."
Dia sudah menyatakan kalau kekuatan yang dimilikinya amat
terbatas sehingga untuk sementara waktu terpaksa harus
mengesampingkan dahulu orang sendiri. Mendengar ucapan mana,
tanpa terasa ketua Siau lim pay Ci long siansu dan ketua Bu tong
pay Keng hian totiang saling berpandangan sekejap. Kemudian
Ketua Bu tong pay Keng hian totiang berkata :
"Dua orang sute kami Keng it dan Keng ning tak perlu Thi
ciangbunjin pikirkan di dalam hati!"
Menyusul kemudian ketua Siau lim pay Ci long siansu berkata
pula : "Ci kay dan Ci liong sute dari partai kami pun tak usah Thi
ciangbunjin risaukan."
Thi Eng khi cukup memahami keterbatasan kekuatan yang
dimilikinya maka dia pun tidak sungkan sungkan lagi, kepada kedua
orang ciangbunjin tersebut katanya dengan nada menyesal :
"Ciangbunjin berdua harap maklum dan untuk kesediaan ini
kuucapkan banyak terima kasih."
Lalu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata
lagi kepada Ciu Tin tin:
"Sekarang tinggal sepuluh orang, dengan tenaga dalam yang
dimiliki enci paling banter hanya bisa membantu lima orang,
bagaimana dengan lima orang lainnya?"
Dari ruang dalam secara beruntun muncul Bu Nay nay dan Pek
leng siancu So Bwe leng, dengan cepat dia menyela :
"Bagaimana kalau sisanya kami yang kerjakan?"
"Waaah, kalau sampai begitu maka kita tak punya panglima
perang lagi," seru Thi Eng khi sambil berkerut kening.
Walaupun ucapan tersebut kelewat berat untuk didengar, namun
memang merupakan suatu kenyataan, bila tiada Thi Eng khi, Ciu Tin
1305 tin, Bu Nay nay dan Pek leng siancu So Bwe leng sekalian, mungkin
dari perguruan besar lainnya tak akan mampu untuk menandingi
Hian im ji li sekalipun.
Oleh karena semua orang menyadari hal ini, maka tak seorang
pun yang memberi komentar. Setelah menghela napas panjang, Ciu
Tin tin berkata :
"Apakah kau masih mempunyai kekuatan untuk memulihkan
kembali kekuatan dari kesepuluh orang tersebut?"
"Harap kalian semua sudi membantu kekuatan kepadaku, dengan
begitu rasanya masih dapat memulihkan kembali kekuatan dari
kesepuluh orang tersebut. Kini waktunya sudah tidak banyak lagi,
selesai memulihkan tenaga dalam kesepuluh orang itu, siaute perlu
bersemedi kembali, dengan begitu aku baru memiliki kemampuan
untuk menghadapi pertarungan esok pagi."
Selesai berkata dia berjalan menuju kehadapan Im tiong hok
Teng Siang dan mengerahkan tenaga untuk membebaskan jalan
darahnya, tatkala telapak tangannya menempel diatas jalan darah
Pay sim hiat di tubuh Im tiong hok Teng Siang, Pek leng siancu So
Bwe leng segera menyelinap datang dan menempelkan telapak
tangannya ke atas jalan darah Pay sim hiat di punggung Thi Eng khi
.... Sambil tertawa Thi Eng khi berpaling dan berkata :
"Adik Leng, kau bersama enci Tin dan Bu Nay nay tetap berada di
belakang saja untuk membantuku!"
Pek leng siancu So Bwe leng memahami apa yang dimaksudkan
Thi Eng khi, dia menghendaki orang yang bertenaga dalam paling
sempurna berada di barisan terbelakang untuk membantunya, dan
sekarang masih belum membutuhkan bantuan mereka. Sambil
tertawa mereka lantas mundur dari situ. Sudah barang tentu para
jago lainnya dapat memahami maksud hati dari Thi Eng khi tersebut.
Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera menggantikan
kedudukan dari Pek leng siancu So Bwe leng, telapak tangannya
dengan cepat ditempelkan diatas jalan darah Pay sim hiat pada
punggung Thi Eng khi, serunya :
1306 "Biar lohu maju duluan!"
Demikianlah dengan mempergunakan kemampuan yang terbesar,
pengorbanan yang paling besar, bahkan berada dalam keadaan
hampir saja menghancurkan diri sendiri, Thi Eng khi membantu
sepuluh orang yang terakhir untuk memulihkan kembali tenaga
dalamnya... Tapi setelah pekerjaan berat itu, Thi Eng khi sudah kehabisan
tenaga sehingga wajahnya berubah menjadi pucat pias seperti
mayat, suara untuk berbicara pun lemah sekali. Oleh Ciu Tin tin dan
So Bwe leng, dia segara dibimbing kembali ke kamar untuk
beristirahat, selain itu, pintu terali besi dikunci kembali seperti sedia
kala. Atas peristiwa tersebut, semua jago pun benar benar merasa
terharu sekali atas pengorbanan dari Thi Eng khi, mereka semakin
menaruh hormat terhadap jago muda tersebut. Seandainya pada
saat ini ada orang mengucapkan kata yang tak menguntungkan bagi
Thi Eng khi, mungkin segera akan muncul manusia yang beradu jiwa
dengannya. Lambat laun, suasana dalam gua pun pulih kembali dalam
keheningan. Semua orang sama sama beristirahat sambil mengatur
napas guna menyongsong datangnya pertarungan yang akan
berlangsung besok...
Keesokan harinya, pagi sekali, suara gemuruh yang keras
membangunkan semua orang dari tidurnya. Ternyata pintu besar di
mulut gua sudah dibuka orang, serentetan cahaya matahari pagi
mencorong masak ke dalam gua dan menerangi seluruh ruangan
tersebut. Menyongsong datangnya cahaya matahari nampak Hian im
ji li munculkan diri dengan senyuman dikulum. Mereka muncul
dengan langkah yang santai dan membawa suasana yang ramah,
begitu masuk ke dalam gua, sambil tertawa merdu serunya lantang :
"Engkoh tua dan enci sekalian, siaumoay berdua datang
menjenguk kalian!"
"Hmmmm! Hmmm! Hmmm....."
1307 Dengusan dingin bergema tiada hentinya dari hidung para jago
sebagai pertanda rasa muak dan benci mereka yang meluap luap.
Hari ini Hian im ji li menunjukkan watak yang jauh lebih baik, bukan
saja berlagak tidak mendengar, bahkan senyuman mereka jauh lebih
lembut dan hangat.
"Engkoh tua dan enci tua sekalian," demikian gadis itu berkata,
"benarkah kalian tidak dapat memaafkan siaumoay sekalian?"
Dua orang nona dengan perawakan tubuh yang indah itu segera
berdiri tegak di tengah ruang gua. Setelah memandang sekeliling
tempat itu dengan sorot mata yang jeli, Cun Bwee segera berkerut
kening sambil tertawa dingin. Suara tertawa dinginnya ini dengan
cepat menimbulkan perasaan benci dan kesan buruk dalam hati
semua orang, bahkan ada diantara mereka segera berpikir :
"Hmm, jika kau berani berlagak sok lagi, hari ini pasti akan
kujagal kau sampai hancur berkeping keeping."
Ternyata Cun Bwee tertawa dingin bukan terhadap mereka,
melainkan terhadap rekannya Ciu Lan. Terdengar dia sedang
menegur dengan wajah keren :
"Ji moay, beginikah cara kita orang orang Ban seng kiong dalam
melayani tamu?"
"Yaa, betul, aku memang benar benar bodoh sehingga membuat
malu kita orang orang Ban seng kiong saja, biar siaumoay bertanya
siapa yang bertugas disini, nanti orang itu harus dijatuhi hukuman
yang setimpal."
Sembari berpaling ke luar, segera teriaknya keras keras :
"Mana petugas disini?"
Suara mengiakan bergema menyusul munculnya seorang lelaki
berpakaian ringkas berwarna hitam, sambil membungkukkan badan
memberi hormat orang itu berkata : "Hamba Hek bin bu pah (raja


Pukulan Naga Sakti Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bengis berwajah hitam) To Thi gou siap menerima perintah dari
Seng li!" 1308 "Kaukah yang bertugas melayani kebutuhan dari para tamu
agung ini?" tegur Ciu Lan dengan kening berkerut.
Raja bengis berwajah hitam To Thi gou adalah manusia yang
termashur namanya di dalam dunia persilatan belakangan ini, dia
berdarah panas dan kasar. Tapi sekarang, dihadapan Ciu Lan boleh
dibilang mati kutunya, bernapas keras keras pun tak berani.
"Hamba tidak tahu perbuatan salah apakah yang telah dilakukan,
mengapa Seng li marah marah besar?" katanya sambil merendahkan
suaranya. Ciu Lan tertawa dingin.
"Heehhhh..... heeehhhh.... heeehhh... percuma manusia macam
kau dijadikan petugas menerima tamu, mengapa tidak memakai otak
untuk berpikir, tempat sekotor ini mana boleh dipakai untuk
menyambut tamu agung kita" Kau tahu mereka adalah para
ciangbunjin dan jago kenamaan dalam dunia persilatan dewasa ini.
Hmmm, perbuatan mu sungguh membuat kami orang orang Ban
seng kiong kehilangan muka!"
Sebagai orang kasar tentu saja Raja bengis berwajah hitam To
Thi gou tak dapat berpikir dengan menggunakan akalnya, ketika
mendengar teguran tersebut dia nampak tertegun, kemudian
serunya agak tergagap :
"Soal ini... tentang soal ini..."
"Apa ini itu?" bentak Ciu Lan semakin gusar, "kau sudah berani
menyiksa tamu agung kami, apakah kau belum sadar kalau salah?"
Sudah barang tentu Raja bengis berwajah hitam To Thi gou tak
dapat menebak maksud hati dari Hian im ji li. Oleh karena dia
merasa memperoleh perintah untuk bertugas demikian, kontan saja
amarahnya meledak. Dengan mata melotot besar dan muka merah
membara, teriaknya keras keras :
"Hamba tidak bersalah!"
Ji li Ciu Lan semakin marah, kembali dia membentak :
1309 "Manusia bedebah yang bernyali besar berani amat bersikap
kurang ajar kepadaku" Hmmm, apabila aku tidak menjatuhi
hukuman yang setimpal kepadamu, orang pasti akan memandang
rendah Ban seng kiong!"
Sembari berkata lantas membalikkan jari tangannya dan langsung
menyodok ke bawah ketiak si Raja bengis berwajah hitam To Thi
gou. Pada dasarnya si Raja bengis berwajah hitam To Thi gou
adalah seorang lelaki yang berdarah panas, tapi karena salah
langkah dia berhasil ditarik Huan im sin ang Ui Sam ciat untuk
bergabung dengan Ban seng kiong, atas hal mana dia sudah lama
merasa menyesal. Sekarang Hian im ji li ada maksud untuk
mengorbankan dirinya, serangan yang dilancarkan pun keji dan tidak
kenal ampun. Dalam keadaan yang tak siap dan sama sekali tak
menduga, bagaimana mungkin Raja bengis berwajah hitam To Thi
gou dapat menghindarkan diri dari desakan jari tangan Ciu Lan. Tak
ampun lagi dia telah terhajar telak dadanya dan tewas seketika itu
juga. Selesai menghabisi nyawa Raja bengis berwajah hitam To Thi
gou, Ciu Lan tertawa cerah, setelah memberi hormat kepada para
jago katanya : "Menyesal sekali orang kami tak becus sehingga membuat kalian
harus tersiksa semalaman suntuk, atas kesalahan mana siaumoay
telah menghukum mati orang kami, harap kalian sudi
memakluminya."
Membunuh orang dalam suasana begini sebagai jago kawanan
yang banyak pengalaman dalam dunia persilatan tentu saja para
jago dapat menebak maksud dan tujuannya. Maka ada diantara
mereka yang tidak bisa menahan amarahnya lagi, beberapa orang
diantaranya segera tertawa dingin.
Dengan kening berkerut, Hiam im li Ciu Lan berlagak seakan akan
tidak mendengar, tiba tiba teriaknya kearah luar gua itu :
"Bawa masuk hadiah yang telah dipersiapkan!"
Seseorang mengiakan dari luar gua dan menggotong masuk
sejumlah barang kemudian meletakkan sebuah bungkusan
1310 dihadapan setiap orang. Empat bungkus yang terakhir dibawa oleh
seseorang langsung menuju ke ruang batu berterali besi yang dihuni
Thi Eng khi sekalian.
Hian im ji li berlagak seakan akan tidak mengetahui apa yang
terjadi, mereka berjalan menuju ke pintu terali besi dan melongok ke
dalam, kemudian sambil menjerit kaget mereka membukakan pintu
dan minta maaf tiada hentinya kepada Thi Eng khi bahkan
menyerahkan sendiri keempat buntalan tersebut kehadapan mereka.
Dengan suara dingin Pek leng siancu So Bwe leng segera
menegur : "Ciu Lan kau masih kenal dengan nonamu?"
Tanpa terasa Ciu Lan tertawa rikuh, kemudian sahutnya :
"Enci harap kau sudi memaafkan adikmu, dalam kejadian yang
sudah lewat memang akulah yang bersalah, sekarang kita sudah
sekeluarga, sekalipun harus melayani kau sepanjang hiduppun adik
rela." Melihat ketidak tahuan malu orang itu, Pek leng siancu So Bwe
leng menjadi kehilangan napsunya untuk bersilat lidah dengannya,
sambil melengos dia berseru :
"Huuuh, siapa yang kesudian satu keluarga denganmu"
Hmmmm....!"
Hian im li Ciu Lan sama sekali tidak acuh terhadap ejekan orang
bahkan marah pun tidak. Hian im li Cun Bwee segera bertepuk
tangan dua kali, kemudian serunya :
"Apakah setiap orang memperoleh satu bungkusan?"
"Memangnya matamu robek tidak bisa melihat sendiri?" umpat
seseorang. Kemudian suara tertawa dingin ber?kumandang tiada hentinya
dari sana sini. Hian im li Cun Bwee sedikit pun tidak mempersoalkan
masalah tersebut, kembali ujarnya sambil tertawa :
"Tampaknya engkoh tua sekalian ku?rang tidur dan makan tak
enak selama dua hari belakangan ini maka api napsunya kelewat
1311 besar. Yaa, pertanyaan siaumoay memang terlalu berlebihan,
su?dah seharusnya siaumoay memeriksa sendiri!"
Sorot matanya yang tajam segera menyapu sekejap sekeliling
tempat itu, kemudian sambil mengangguk katanya lagi :
"Didalam menempuh perjalanan jauh kemari, Tee kun kuatir
pakaian yang kalian kenakan menjadi kotor atau robek, maka beliau
sengaja mengutus siaumoay untuk menghadiahkan satu stel jubah
dan sepasang sepatu untuk saudara sekalian, harap kalian sudi
menerimanya dengan senang hati!"
Giok koay popo Li Ko ci adalah perempuan tua yang paling jelek
wataknya, sejak semula dia sudah mendongkol sekali, agaknya dia
lupa kalau tenaga dalam yang dimilikinya sudah pulih kembali, tanpa
mempertimbangkan lagi bagaimanakah akibatnya, pertama tama dia
yang tak sabar lebih dulu.
Sambil menendang bungkusan yang berada di hadapannya, dia
berteriak keras keras :
"Siluman rase berwajah tertawa, siapa yang kesudian menerima
hadiahmu itu!"
Kena tendangannya bungkusan tersebut segera menggelinding
sejauh empat lima kali dan mencapai satu kaki lebih.
"Ooooh" Hian im li Ciu Lan berseru tertahan, "taci, aku lihat si
nenek ini sangat mencurigakan."
Setelah berbuat Giok koay popo Li Ko ci baru menyesal atas
keberangasan sendiri, bila mereka sampai tahu kalau tenaga dalam
nya telah punah kembali, kendatipun berhasil membunuh kedua
orang perempuan Hian li ini, tapi rencana semua orang un?tuk
menyusup ke dalam istana Ban seng kiong akan hancur berantakan.
Jika rencana tersebut sampai gagal total, berarti dialah yang mesti
memikul tanggung jawabnya.
Berpikir sampai disini, tanpa terasa peluh dingin bercucuran
membasahi tubuhnya, sedang selembar wajahnya turut berubah
pula menjadi pucat pias seperti mayat. Dengan sorot mata yang
1312 tajam Hian im li Cun Bwee mengawasi Giok koay setengah harian
lamanya kemudian sambil tertawa ujarnya :
"Jimoay tak banyak curiga, enci tua ini menendang dengan
sepenuh tenaga, kalau bisa menendang sebuah bungkusan sejauh
satu kaki, lantas apalah artinya?"
Sembari berkata dia lantas bergerak ke depan dan langsung
mendekati Giok koay popo Li Ko ci. Semua orang yang menyaksikan
kejadian ini menjadi ikut tegang, mereka sadar nasib dunia
persilatan selanjutnya tergantung pada tindakan yang akan
dilakukan Giok koay popo berikut ini.
Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong paling gelisah, dengan
berdasarkan hubungannya yang akrab di hari hari biasa, dia lantas
memperingatkan Giok koay popo Li Ko ci dengan ilmu
menyampaikan suaranya :
"Hei nenek, lebih baik bersabarlah diri, jika kau bertindak secara
sembarangan, harapan kita semua akan pudar sampai di sini saja!"
Sementara itu Giok koay popo Li Ko ci sedang menyaksikan Hian
im li Cun Bwee sedang menerkam kearahnya lalu mendengar pula
peringatan dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, satu ingatan
Hikmah Pedang Hijau 3 Pendekar Laknat Pendekar 3 Jaman Karya S D Liong Kisah Para Pendekar Pulau Es 13
^