Pencarian

Pedang Pembunuh Naga 7

Pedang Pembunuh Naga Penggali Makam Karya Tan Tjeng Hun Bagian 7


"Kalau begitu ini berarti aku telah ditawan?"
Pelayan perempuan itu berkata sambil membungkukkan badannya:
"Siaohiap merupakan tetamu terhormat di tempat ini, tuduhan itu terlalu berat. Maksud majikan hanya mengharap supaya siaohiap bisa merawat diri dan beristirahat dengan tenang."
"Aku sekarang sudah sembuh. Selain daripada itu orang yang datang itu juga ada sedikit perselisihan denganku. Inilah kesempatan yang paling baik untuk menyelesaikan."
"Kalau majikan pulang harap siaohiap tanggung jawab sendiri!"
"Ini sebetulnya bukan urusanmu!"
"Kalau begitu biarlah budakmu ini yang akan mengunjukkan jalan bagi siaohiap."
"Aku ingin pinjam sebilah pedang"."
"Oh, nanti kuambilkan!"
Pelayan perempuan itu lalu masuk ke dalam. Tak berapa lama ia sudah balik lagi sambil membawa pedang. Pedang itu lalu diserahkan kepada Hui Kiam, kemudian berjalan lebih dahulu sebagai penunjuk jalan.
Keluar dari kamar tampak suatu pemandangan yang menawan hati. Bentuk bangunan dan keadaan di sekitar tempat itu mirip dengan istana.
Tetapi saat demikian ia tiada hati untuk menikmati. Ia berjalan di belakang pelayan perempuan. Setelah melalui beberapa pintu, di luar tampak pintu gerbang yang menjulang tinggi.
Dari lobang pintu, tampak deretan puncak bukit yang menjulang tinggi. Nampaknya bangunan ini dibangun di dalam lembah.
Suara beradunya pedang terdengar nyata yang disiarkan dari luar pintu gerbang.
Hui Kiam lompat melesat, setelah melalui pelayan perempuan yang mengunjukkan jalan, bagaikan anak panah melesat keluar pintu gerbang di situ segera tampak olehnya empat pahlawan wanita sedang mengerubuti seorang perempuan berbaju hijau yang berkerudung di mukanya.
Kedua pihak bertempur sengit. Sepuluh lebih pahlawan perempuan yang lainnya, berdiri di samping sebagai penonton. Dekat pintu gerbang terdapat tiga pahlawan wanita yang rebah terlentang dalam keadaan luka.
Hui Kiam kenal baik kepandaian para pahlawan perempuan itu, maka terlukanya tiga orang itu telah mengunjukkan betapa hebatnya kepandaian perempuan berbaju hijau berkerudung itu.
Semua pahlawan perempuan ketika melihat Hui Kiam, segera memberi hormat sebegaimana mestinya.
Hui Kiam mengangkat tangan membalas hormat. Dalam hati merasa heran. Perkampungan yang demikian luas, ternyata tidak tampak seorang lelakipun juga, sehingga kedudukan dan asal-usul Tong-hong Hui Bun nampaknya semakin misterius.
Selagi pertempuran berjalan seru, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang:
"Semua berhenti!"
Hui Kiam segera berpaling. Orang yang mengeluarkan suara bentakan itu ternyata adalah Hek Bwee Hiang, perempuan tua jelek yang pada satu hari berselang sebagai kusir kereta yang mengantarkan ia kemari.
Pahlawan perempuan yang sedang bertempur ketika mendengar suara perempuan tua itu, segera melompat keluar kalangan mengundurkan diri.
Hui Kiam lalu berkata sambil memberi hormat kepada perempuan tua itu.
"Cianpwe baik-baik saja?"
"Bagaimana kau keluar?"
"Boanpwe dengan orang itu ada sedikit perselisihan paham yang perlu dibereskan."
Hek Bwee Hiang tidak berkata apa-apa. Ia menghampiri perempuan berkerudung baju hijau itu, lalu berkata dengan nada suara dingin:
"Apakah kau muridnya si Raja Pembunuh?"
"Benar!"
"Kau sungguh berani, berani datang kemari melukai orang-orangku"."
Perempuan berbaju hijau itu mendengarkan suara ketawa dingin, kemudian memotong ucapan Hek Bwee Hiang dan berkata:
"Apakah kau menjadi majikan tempat ini?"
"Meskipun bukan, tetapi aku dapat mengambil keputusan!"
"Itu bagus sekali. Harap kau serahkan pembunuh Wanita Tanpa Sukma!"
Hui Kiam terkejut. Kiranya kedatangan perempuan itu adalah hendak menuntut balas Wanita Tanpa Sukma. Maka seketika itu ia lalu berkata dengan suara nyaring:
"Pembunuh Wanita Tanpa Sukma sudah mati terkena senjata rahasia jarum melekat tulang."
Perempuan berkerudung hijau itu nampak heran dan terkejut, lalu berkata:
"Penggali Makam, apakah... kau juga merupakan salah seorang dari sini?"
"Aku di sini sebagai tamu!" jawab Hui Kiam dingin.
Hek Bwee Hiang tertawa dingin, kemudian berkata:
"Budak, adanya si Raja Pembunuh tidak dapat menggertak diriku. Kedatanganmu ini berarti cari mati sendiri. Kuberitahukan kepadamu, tempat ini boleh kau masuki tetapi tidak ijinkan kau keluar. Kau sekarang hendak habiskan sendiri ataukah perlu aku
yang harus turun tangan?""Kau suruh aku habiskan jiwaku sendiri" Ha ha ha"."
Hek Bwee Hiang melotot matanya. Parasnya yang jelek menunjukkan sikapnya yang gusar. Katanya dengan suara keras:
"Budak hina, kau nanti segera mengerti sendiri!"
Sementara itu tangannya yang bagaikan cakar burung sudah menyambar dada perempuan berbaju hijau itu.
Perempuan berkerudung baju hijau itu menggunakan pedangnya untuk menangkis serangan tangan itu hingga Hek Bwee Hiang terpaksa menarik kembali serangannya dan melompat mundur tiga kaki.
Hui Kiam hampir saja mengeluarkan suara untuk memuji gerakan perempuan itu, sebab gerakan pedang itu ternyata bagus sekali. Bukan saja sudah menutupi semua bagian dirinya, tetapi juga diikuti dengan gerakan serangan pembalasan. Apabila Hek Bwee Hiang tidak menarik tangannya pasti akan dibalas dengan serangan yang mematikan.
---ooo0dw0ooo---
JILID 14 D E N G A N gagalnya serangan perempuan tua itu, membuatnya semakin gemas. Kembali ia memperdengarkan suara tertawa dingin. Lima jari tangan kanannya dipentang untuk menyambar lagi, sedang tangan kirinya digunakan untuk membacok dua tangan dua rupa gerak tipu serangan masing-masing mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat.
Perempuan berkerudung itu tidak berani melawan dengan gerak tipu semula. Dengan kecepatan bagaikan kilat ia melompat mundur delapan kaki.
Hek Bwee Hiang terus membayangi. Kedua tangannya melakukan serangan dengan gerak tipu berlainan.
Perempuan berkerudung itu gerakkan pedangnya perlawanan dengan gerak tipu yang sangat aneh sehingga untuk kedua kalinya Hek Bwee Hiang tarik kembali serangannya.
Hui Kiam sudah tidak sabar lagi, segera lompat dan berdiri di tengah-tengah dua orang itu kemudian berkata kepada Hek Bwee Hiang:
"Ijinkanlah Boanpwee membereskan perselisihan dengan nona ini."
Dengan paras sangat murka Hek Bwee Hiang berkata:
"Kau mundur, di sini tidak ada urusanmu."
Dengan wajah dingin Hui Kiam berkata:
"Boanpwee sudah berjanji dengan nona ini apabila berjumpa lagi harus membereskan perselisihan di antara kami."
"Di sini akulah yang berhak!"
Hui Kiam yang beradat tinggi hati tidak sanggup menerima perlakuan demikian. Tetapi karena harus memandang muka Tong-hong Hui Bun, ia terpaksa menahan sabar dan menelan hinaan itu. Dengan nada suara dingin ia berkata:
"Bukan maksud boanpwee untuk merebut hak pihak tuan rumah."
"Kau menyingkir!" berkata Hek Bwe Hiang sambil mengulapkan tangannya.
"Boanpwee hanya memandang muka To-hong Hui Bun, maka berlaku hormat terhadap Cianpwee!"
"Jikalau bukan karena dia, bagaimana aku sudi banyak bicara denganmu"!"
Dan menurut pikiran cianpwee bagaimana?"
"Kau lekas balik ke rumah."
"Jikalau boanpwe menolak, bagaimana?"
"Setiap perkataan yang keluar dari mulutku tidak dapat dirobah. Tidak mau menurut juga harus diturut!"
Hui Kiam benar-benar tidak dapat mengendalikan kesabaran lagi, hawa amarahnya meluap. Dengan nada suara dingin ia berkata:
"Setiap kata yang keluar dari mulut Boanpwee juga belum pernah dirubah!"
"Jangan coba berlaku sombong terhadap aku!"
Setelah itu tangannya lalu bergerak ke arah Hui Kiam untuk melakukan serangan sebagai gertakan. Namun ternyata kekuatannya sangat hebat.
Hui Kiam tidak menduga perempuan itu benar-benar akan turun tangan, maka seketika itu terdorong mundur sampai tujuh delapan langkah.
Sementara itu perempuan berkerudung itu menyaksikan kejadian tersebut dengan sikap dingin dan tidak berkata apa-apa.
Mata Hui Kiam menjadi merah. Dengan suara gemetar ia berkata:
"Cianpwe jangan paksa Boanpwe bertindak!"
Wajah orang tua yang berkeriputan itu nampak berkerenyit, lalu berkata dengan nada suara dingin:
"Kau jangan berlaku sombong dan tak pandang mata orang lain karena dirimu disayang."
Hui Kiam yang mendengar perkataan itu sangat gusar sehingga sekujur badannya gemetar. Perkataan itu sangat menusuk hatinya, juga merupakan suatu hinaan yang terbesar selama hidupnya. Maka ia segera maju dua langkah untuk menghadapi Hek Bwee Hiang. Dengan wajah dingin dan mata beringas ia berkata:
"Apakah Cianpwe tidak ada maksud untuk menghina aku?"
Hek Bwee Hiang agaknya digetarkan oleh sikap pemuda itu. Dengan tanpa sadar mundur, baru berkata:
"Kalau ya mau apa?"
"Aku tidak suka dihina mentah-mentah!"
"Kau berani berbuat apa terhadap diriku?"
"Minta keadilan!"
"Ha ha ha, keadilan! Dengan cara bagaimana?"
Ucapan perempuan tua itu penuh ejekan dan hinaan.
"Bagi orang gagah boleh dibunuh tetapi tidak sudi dihina. Kau seharusnya mengetahui bagaimana caranya kau memberi keadilan."
Hek Bwee hiang dengan mata melotot dan rambut berdiri berkata dengan suara dingin:
"Apakah kau hendak bertindak terhadap diriku?"
"Begitulah maksudku!"
"Kau tentu tahu bahwa golok dan pedang itu tiada matanya, tangan dan kaki tidak kenal kasihan."
"Apabila aku tidak sanggup melawan, itu berarti kepandaianku belum cukup. Sekalipun mati juga tidak akan menyesalkan orang lain!"
"Ah, ah! Mendengar kata-katamu itu, kau agaknya ingin bertempur mati-matian denganku!''
"Anggaplah begitu!"
"Kau pikir lagi masak masak!"
"Sudah aku pikirkan!"
"Aku hanya menghawatirkan tidak sanggup menjelaskan urusan ini pada Hui-Bun."
Disebutnya nama itu hati Hui-Kiam bercekat, akan tetapi bagaimana ia harus menelan mentah-mentah hinaan itu maka ia lalu berkata dengan nada suara dingin:
"Tidak perlu kau pikirkan itu!"
Hek Bwee hiang kewalahan berkata. Akhirnya ia berkata dengan suara keras:
"Baiklah! Kau boleh mulai!"
Suasana menjadi tegang, semua pahlawan perempuan yang berdiri di situ nampak ketakutan. Tetapi karena mengingat kedudukan masing-masing, tiada satupun yang berani membuka mulut.
Perempuan berkerudung itu mundur beberapa langkah. Ia ingin menyaksikan pertempuran itu.
Hui Kiam dengan mata tidak berkedip menatap wajah perempuan tua itu, lalu berkata dengan nada suara dingin:
"Harap keluarkan pedangmu!"
Dengan suara sombong Hek Bwee Hiang berkata padanya:
"Terhadap kau barangkali tidak perlu aku menggunakan pedang."
Hui Kiam lalu berkata sambil tertawa dingin:
"Dengan tangan kosong kau bukan lawanku!"
Perkataan itu jika ditilik keadaan Hui Kiam pada saat itu, sedikitpun tidak dilebih-lebihkan. Sejak ia berhasil mempelajari ilmu silat dalam kitab Thian Gee Po-kip bagian lanjutannya, sekalipun belum berhasil memahami seluruhnya, tetapi juga sudah mengerti delapan bagian kepandaian. Kalau dibandingkan dengan sepuluh hari berselang, sudah mengunjukkan suatu perbedaan antara bumi dan langit.
Hek Bwee Hiang dengan mata berputaran berkata:
"Tunggu setelah aku membereskan budak gila itu, nanti bicarakan lagi"."
Tetapi dijawab oleh Hui Kiam dengan ucapan singkat dan dingin:
"Tidak bisa!"
Hek Bwee Hiang segera naik pitam. Ia berkata dengan suara bengis:
"Jika bukan lantaran Hui Bun, niscaya sejak tadi aku telah membunuhmu. Kau sebetulnya tidak tahu diri."
Hui Kiam hanya mengeluarkan suara dari hidung sebagai jawaban.
Betapapun juga, Hui Kiam di tempat itu kedudukannya merupakan seorang tamu yang terhormat, Hek Bwee Hiang meski dihormat oleh Tong-hong Hui Bun, tapi ia hanya merupakan pelayan terdekat dari ibunya, biar bagaimana perbedaan kedudukan itu masih ada. Maka meskipun saat itu ia sudah marah sekali tapi masih memikirkan akibatnya. Ia terpaksa kendalikan perasaan dan berkata dengan sabar:
"Kita hanya menggunakan batas tiga jurus saja. Kau boleh mengeluarkan serangan sesukamu. Kalau dalam tiga jurus tak sanggup menjatuhkan diriku, kau harus balik ke rumah!"
Bagi Hui Kiam sebetulnya juga karena merasa terhina, tiada maksud untuk melakukan pertempuran mati-matian, lalu menjawab sambil menganggukkan kepala:
"Boleh !"
"Nah, keluarkanlah seranganmu!"
Hui-Kiam tahu sebelum berhasil memahami seluruh kepandaian dalam kitab Thian gee Po-kip dalam hal serangan tangan kosong dan jari tangan, tidak akan menjatuhkan perempuan tua itu. Apa yang dapat diandalkan hanya tiga jurus ilmu pedangnya. Karena orang tua itu sudah mengatakan tidak akan menggunakan pedang, sudah tentu merasa tidak perlu menelad perbuatan perempuan tua itu. Maka ia segera menggerakkan pedang di tangannya seraya berkata :
"Jurus pertama!"
Pedang segera meluncur hanya terlihat berkelebatnya sinar pedang dengan gerak tipunya yang aneh luar biasa, menggulung diri Hek Bwee Hiang.
Melihat serangan demikian, wajah nenek tua itu berubah. Ia lalu memutar tubuhnya untuk menyingkir tetapi tidak balas menyerang.
Hui Kiam tidak berhasil dengan gerakannya yang pertama, lalu disusul dengan gerak tipunya yang kedua, Bintang-bintang Bertebaran di Langit.
"Sambutlah serangan kedua!" demikian ia berkata, ujung pedang seolah-olah mengeluarkan api bagaikan bintang bertebaran, meliputi tempat sejarak dua tombak persegi.
Semua orang yang ada di situ, terhitung orang-orang kuat kelas satu, tetapi tidak urung juga dibuat kagum oleh gerak tipu luar biasa itu.
Dengan seluruh kekuatan tenaga dan kepandaiannya, Hek Bwee Hiang mengeluarkan delapan kali serangan tangan kosong, baru terhindar dari serangan yang aneh itu, tetapi sudah terkejut dan terheran-heran sedemikian rupa, sehingga napasnya memburu.
Sambil menggertak gigi Hui Kiam berkata:
"Masih tinggal satu jurus."
Juius ini merupakan jurus yang menentukan. Kalau ia tidak menang, itu berarti tidak mampu mencuci kehinaannya tadi, dan perselesaiannya dengan perempuan berkerudung itu juga jangan harap bisa dibereskan.
Hek Bwee Hiang benar-benar dikejutkan oleh kepandaian anak muda itu. Ia belum pernah melihat kepandaian sebenarnya Hui Kiam, akan tetapi pada sepuluh hari sebelumnya ia dipancing dan dikepung oleh Koo Han San, Malaikat Langit dan Bumi serta sepuluh lebih orang-orang kuat Perserikatan Bulan Emas, telah terluka parah hampir binasa. Dari sini dapat ditarik kesimpulan ia seharusnya tidak mempunyai kekuatan dan kepandaian sedemikian tinggi. Tapi ditilik keadaannya pada sekarang ini cara bagaimana Koo Han San sanggup melawan" Ini benar-benar merupakan suatu hal yang tidak habis dimengerti.
Curiga tinggal curiga, fakta tidak mengijinkan ia banyak pikir lagi, ia kini harus menghadapi serangan yang ketiga. Mungkin serangan yang terakhir ini akan merupakan serangan yang terlalu hebat.
Demi keselamatan jiwanya ia sekarang tidak berani berlaku sombong lagi, maka lalu berkata kepada orang-orangnya:
"Berikan aku pedang!"
Seorang pahlawan perempuan segera maju memberikan pedang kepadanya.
Suasana makin tegang, hampir setiap orang tidak bisa bernapas.
Kecuali perempuan berbaju hijau berkerudung itu, yang perobahan sikapnya tidak dapat dilihat orang, semua pahlawan perempuan yang ada di situ, setiap orang nampak pucat perasaannyapun, badannya gemetar.
Hui-Kiam diam-diam sudah menghapalkan hafalan gerak tipu ketiga, ialah Tiang Menjulang Tinggi ke Langit, kemudian berkata:
"Aku hendak turun tangan!"
"Em!"
Di bawah pandangan banyak mata orang, pedang Hui Kiam nampak bergerak. Sedikitpun tidak tampak kehebatannya. Pedang itu perlahan membuat satu lingkaran....
Wajah Hek-Bwee Hiang berobah pucat. Gerak tipu ilmu pedang yang nampaknya sangat sederhana ini, ternyata ia sudah tidak sanggup memecahkan sehingga seketika itu pikirannya bingung.
Tetapi itu sudah tidak ada gunanya. Ia terpaksa menggerakkan tangannya. Pedang di tangannya dengan mengeluarkan hembusan angin sangat hebat, meluncur keluar.
Pedang di tangan Hui Kiam ketika nampak pedang lawannya sudah bergerak, tiba-tiba dari gerak lambat berubah menjadi cepat. Gerakannya cepat bagaikan kilat ....
"Aaaaa!"
Di antara suara seruan, tercampur suara seruan tertahan dan suara jatuhnya barang logam!
Pedang Hek Bwee Hiang sudah terlempar sejauh satu tombak lebih, badannya terdapat tiga luka, sedang ujung pedang Hui Kiam sudah mengancam tenggorokan perempuan itu.
Siapapun mengerti, apabila Hui Kiam menghendaki jiwa perempuan tua itu, niscaya siang-siang perempuan tua itu sudah menggeletak di tanah.
Dengan gerak lambat-lambat Hui Kiam menarik kembali pedangnya seraya berkata:
"Dengan memandang muka nona Tong-hong aku tidak akan berbuat keterlaluan."
Wajah Hek Bwee Hiang yang sudah jelek, nampak semakin jelek. Ia berdiri dengan mulut ternganga, sepatah katapun tidak bisa keluar dari mulutnya.
Hui Kiam berdiam sejenak, lalu berkata:
"Di sini adalah kau yang menjadi tuan rumah. Kalau di tempat lain, aku barangkali dapat berlaku menurut sesukaku."
Sehabis berkata, ia lalu berkata kepada perempuan berkerudung:
"Nona, mari kita bicara di luar."
"Baik," perempuan itu menyahut, lalu lompat melesat ke luar lembah.
Hui Kiam juga segera bergerak untuk menyusul.
Seorang pahlawan perempuan coba mencegah seraya berkata:
"Harap siaohiap jangan berlalu dari sini!"
"Aku bisa balik lagi!" jawab Hui Kiam dingin.
Ia bergerak lagi, dengan cepat menyusul perempuan berkerudung.
Jalan ke dalam lembah itu sangat panjang, tetapi datar. Ketika tiba di mulut lembah, perempuan berkerudung itu berpaling
sejenak, kemudian mengulapkan tangannya dan meluncur ke arah sebuah puncak gunung sebelah kanan.
Sebentar kemudian, dua orang itu sudah berada di puncak gunung, berdiri berhadapan.
Hui Kiam yang membuka suara lebih dulu.
"Apakah nona masih ingat perjanjian kita tempo hari?"
"Ingat!"
"Bagaimana kalau kita bereskan di tempai ini?"
"Sudah tidak perlu lagi!"
"Mengapa?"
"Aku sudah tidak sanggup melawan kau, maka aku menyerah kalah!"
Pernyataan itu sesungguhnya di luar dugaan Hui Kiam. Perempuan itu rela mengaku kalah, sudah tentu ia tidak dapat memaksa lawannya bertindak.
Setelah berpikir sejenak, lalu berkata sambil menganggukkan kepala:
"Tidak bertanding boleh, tetapi sepotong uang logam yang nona ambil dari tanganku, harap nona serahkan kembali benda itu."
Perempuan itu nampak terkejut, ia berkata:
"Uang logam itu kau ambil dari tangan Wanita Tanpa Sukma."
"Itu memang benar."
"Benda itu toh bukan kepunyaanmu, rasanya tidak ada perlunya kau ambil kembali."
"Bagaimana nona tahu kalau tidak ada perlunya aku ambil kembali?"
"Bagi kau tidak ada harganya sama sekali!"
"Apakah buat nona ada gunanya?"
"Mungkin!"
Jawaban itu menggerakkan hati Hui Kiam, sebab sepotong uang logam itu adalah peninggalan perguruannya, dan merupakan barang kepercayaan perguruannya. Kini perempuan itu menyatakan ada gunanya bagi dirinya, ini benar-benar merupakan suatu hal yang sangat menarik!
Perasaan heran timbul dalam hatinya, maka ia lalu bertanya:
"Apa faedahnya sepotong uang logam ini bagi nona?"
Perempuan itu tidak menjawab dengan langsung, sebaliknya balas menanya:
"Kau sendiri dengan kokoh ingin mengambil kembali, apa pula sebabnya?"
"Sebab inilah barang yang aku dapatkan!"
"Apakah jawabanmu ini tidak terlalu dibikin-bikin?"
"Aku tidak merasa demikian."
"Bagaimana andaikata kepandaianmu saat ini masih belum merupakan tandinganku.... "
"Satu hari kelak, aku pasti hendak mengambilnya kembali!"
"Perbuatanmu itu karena merasa tertarik oleh keanehan ataukah lantaran ingin menang saja?"
"Semua bukan!"
"Kalau begitu karena apa?"
"Sama dengan nona, benda itu mungkin ada gunanya bagiku."
"Apakah kau sudah bertekad hendak mendapatkan itu?"
"Tentu!"
"Penggali Makam, dahulu aku telah berlaku salah terhadapmu. Di sini aku minta maaf kepadamu. Sepotong uang logam ini hitung-hitung kau hadiahkan kepadaku, bagaimana?"
"Maaf, tidak bisa."
"Kalau begitu harap kau terangkan apa sebabnya benda itu berguna bagi dirimu."
Hui Kiam berpikir bolak-balik. Akhirnya ia mengambil keputusan bahwa sekarang sudah waktunya baginya membuka rahasia riwayatnya. Mungkin dengan demikian dapat memancing pula orang-orang dahulu menjadi musuh-musuh perguruannya. Pelajaran bagian lanjutan dalam kitab Thian Gee Po-kip, ia sendiri sudah ingat dengan baik, hanya masih kurang pelajaran ilmu jari tangan, tangan kosong dan gerak kaki, yang masih belum mahir benar. Tetapi itu hanya soal waktu saja, jikalau dipelajari dengan tekun, tidaklah sukar untuk memahirkannya.
Karena berpikir demikian, maka ia lalu berkata:
"Sebab aku sendiri justru mempunyai sepotong yang lainnya!"
Perempuan berkerudung itu agaknya terkejut. Dia mundur sampai tiga empat langkah, baru berkata dengan sikap terheran-heran:
"Apa" Kau.... mempunyai sepotong dari belahan uang logam ini?"
"Sedikitpun tidak salah."
"Boleh kau beritahukan asal-usulnya?"
"Benda itu adalah peninggalan suhu waktu hendak menutup mata."
"Oh!" perempuan itu mundur lagi satu langkah. Ia mengawasi Hui Kiam dengan sinar mata tajam kemudian berkata dengan suara gemetar:
"Aoakah suhumu itu adalah Cho-tee Sun Thian Koat?"
Kali ini gilirannya Hui-Kiam yang terperanjat. Ia sungguh tak menyangka bahwa wanita itu dapat menyebut nama suhunya. Namun ia masih coba berlaku tenang kemudian bertanya:
"Bagaimana nona bisa tahu?"
"Kalau begitu kau sudah mengaku?"
"Aku tidak menyangkal!"
"Apakah sepotong uang logam ini sebagai barang tanda kepercayaan?"
"Ya!"
"Suhumu meninggalkan pesan apa?"
Hati Hui-Kiam bergerak. Timbullah dugaannya, mungkinkah dia ini merupakan orang yang sedang dicari itu..."
"Apakah sepotong uang logam ini semula adalah barang kepunyaan nona?"
"Ya!"
Hui Kiam maju dua langkah. Dengan perasaan bergetar ia berkata:
"Apakah nona adalah putri sisupek Hwe-tee Pui-Un Tiong yang bernama Pui Ceng Un itu?"
Wanita itu terperanjat, ia menjawab dengan suara gemetar:
"Ya!"
Perasaan girang Hui-Kiam sungguh tidak dapat dilukiskan, pantas hari itu dengan secara paksa ia minta uang logam itu, dan hari ini dengan seorang diri ia datang ke tempat misterius ini untuk menuntut balas dendam bagi kematian Wanita Tanpa Sukma.
"Sutee, kau...."
"Aku bernama Hui-Kiam!"
"Bagaimana kau tahu namaku?"
"Aku sudah mengunjungi kuburan sisupek, di antara batu nisan terdapat namamu."
"Oh, kiranya begitu."
Hui Kiam merasa banyak kata-kata ingin diucapkannya tetapi ia tidak tahu bagaimana harus dimulai. Setelah hening cukup lama ia baru berkata:
"Suci, mari kita duduk omong-omong!"
"Baiklah!"
Dua orang itulah lalu duduk di atas batu. Hui Kiam lalu berkata:
"Menurut keterangan ibu angkat Wanita Tanpa Sukma, ketika suci dalam keadaan terluka parah telah menyerahkan sepotong uang logam itu kepada Wanita Tanpa Sukma dan minta kepadanya supaya keadaan suci itu dijelaskan padaku."
Pui Ceng Un menarik napas dalam. Dengan suara pilu ia berkata:
"Bencana yang melanda dalam perguruan kita pada sepuluh tahun berselang, kau tentunya sudah tahu?"
"Ya!"
"Sejak terjadinya bencana itu, ayah dan aku mengasingkan diri ke gunung Tay-bong-san, setiap hari mengharap-harap kabarnya ngususiok. Lima tahun berselang musuh lama perguruan kita, ialah jago pedang berkedok itu, telah berkunjung. Ia tetap menginginkan kitab Thian Gee Po-kip. Oleh karena senjata rahasia jarum melekat tulang yang mengenai ayah dahulu, membuat kepandaian dan kekuatan ayah lenyap separurmya. Waktu musuh itu berkunjung, justru kekuatan dan kepandaian ayah musnah. Dalam waktu keadaan berbahaya demikian, jago pedang berkedok itu telah membawa pergi kitab Thian Gee Po-kip serta membinasakan ayah...."
Hui Kiam berseru dengan suara keras:
"Sungguh buas penjahat itu! Ia nanti akan membayar hutangnya lebih besar atas perbuatannya itu."
"Aku juga diserang oleh musuh itu sehingga terluka parah dan pingsan. Mungkin musuh menganggap aku sudah mati, ia tidak bertindak lebih jauh lagi. Selanjutnya aku tahu bahwa lukaku sudah disembuhkan. Hanya karena urusan besar yang ayah telah pesan berwanti-wanti di masa hidupnya, aku berusaha keluar gunung dalam keadaan luka, dan berjumpa dengan Wanita Tanpa Sukma.


Pedang Pembunuh Naga Penggali Makam Karya Tan Tjeng Hun di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aku menganggap keadaan diriku sudah tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Barang kepercayaan itu aku berikan kepadanya."
"Tetapi bukanlah suci tertolong lagi?"
"la, adalah suhuku si Raja Pembunuh yang telah menolong diriku. Suhu membawa aku ke suatu lembah di gunung Sin-le-gong. Dalam waktu tiga bulan aku baru sembuh. Urusan selanjutnya kau sudah tahu semuanya...."
"Apakah suci pernah melihat orangnya jago pedang berkedok itu?"
"Ya!"
"Bagaimana macamnya?"
"Ia mengenakan pakaian berwarna lila dengan kain berwarna lila pula untuk mengerudungi mukanya...."
Hui Kiam melompat bangun bagaikan disambar geledek. Ia lalu berseru dengan suara keras:
"Kalau begitu dia, orang berbaju lila!"
Dengan suara gemetar Pui-Ceng Un menanya:
"Kau kenal kepadanya?"
Hati Hui-Kiam sudah kalut, maka pertanyaan Pui Ceng Un tadi sama sekali tidak masuk dalam telinganya, otaknya sedang berpikir keras. Orang berbaju lila itu sudah dipaksa terjun ke dalam jurang oleh Tong hong Hui Bun, pasti sudah hancur lebur badan dan tulang-tulangnya. Kalau itu benar, apakah ini berarti habislah sudah permusuhan dalam perguruannya itu"
Akan tetapi selagi pelayan perempuan Tong hong Hui Bun, Oey Yu Hong, hendak membuka rahasianya, tiba-tiba telah binasa karena serangan senjata rahasia jarum melekat tulang. Apakah orang berbaju lila itu belum mati" Ataukah kecuali orang berbaju lila, masih ada orang lagi yang bisa menggunakan senjata jarum melekat tulang"
Dan siapakah orangnya itu"
Mengapa ia harus membunuh Oey Yu Hong untuk menutup rahasianya"
Menurut keterangan Jin Ong, senjata itu ia cuma bikin sepuluh buah saja. Ia sendiri juga tidak mempunyai murid keturunan. Hanya dalam pertempuran waktu melawan delapan iblis dari negara Tian-tek ia pernah mengunakan satu kali, tetapi hal itu telah terjadi pada beberapa puluh tahun berselang. Dari manakah orang berbaju lila itu dapatkan senjata tersebut..."
Pui Ceng Un yang belum dijawab pertanyaannya lalu berkata pula:
"Sutee, kau berkata bahwa jago pedang berkedok itu adalah orang berbaju lila?"
"Ya!"
"Kau kenal dengannya?"
"Telah beberapa kali berjumpa, bahkan sudah pernah bertanding."
"Di mana orangnya?"
"Sudah mati."
Pui Ceng Un mendadak melompat bangun. Ia berkata dengan suara gemetar:
"Dia sudah mati?"
"Mungkin juga masih belum."
"Mengapa?"
Hui Kiam lalu menceritakan apa yang telah terjadi atas diri orang berbaju lila itu. Ia hanya kesampingkan hubungannya dirinya sendiri dengan To-hong Hui Bun!"
Sambil menggertak gigi Pui Ceng Un berkata:
"Aku hendak ke jurang di bawah puncak gunung batu itu untuk mencari tulang-tulangnya."
"Aku pergi bersama-sama dengan suci supaya dapat membuktikan orang berbaju lila itu benar sudah mati atau belum...."
"Sutee, perempuan she Tong-hong yang kau katakan tadi orang dari golongan mana?"
"Tidak tahu!"
"Ia mampu memaksa orang berbaju lila terjun ke dalam jurang, kepandaian perempuan itu di dalam rimba persilatan barangkali susah dicari tandingannya?"
"Mungkin.... Oya, dengan cara bagaimana suci bisa mencari tempat ini?"
"Aku menguntit seorang pahlawan perempuan muda sehingga sampai kesini."
"Pelayan wanita yang membinasakan Wanita Tanpa Sukma kini sudah binasa. Ia juga mati terkena serangan jarum melekat tulang."
"Apakah orang berbaju lila itu benar-benar masih belum mati?"
"Kemungkinannya sangat kecil sekali.
"Kalau begitu, bukankah sudah tidak ada harapan untuk mendapatkan kembali bagian lanjutan kitab pelajaran ilmu silat Thian Gee Pokip!"
Hui Kiam berpikir, kemudian berkata:
"Kitab itu sudah aku dapatkan."
"Benarkah" " Kau sudah berhasil mendapatkan kitab itu?"
"Ya!"
"Aku tidak mengerti?"
Kitab itu berada dalam kamar buku gedung besar dalam lembah itu."
"Dengan cara bagaimana sutee bisa menjadi tetamu dengan gedung besar itu?"
Muka Hui Kiam merasa panas, ia berkata:
"Penghuni gedung besar itu adalah perempuan yang memaksa orang berbaju lila itu terjun ke dalam jurang, Tong-hong Hui Bun...."
" Oh!"
"Ketika aku dikepung oleh sepuluh lebih orang-orang kuat dari Persekutuan Bulan Emas telah terluka parah, kemudian ditolong dan dirawatnya."
"Apakah kau tidak tahu asal usulnya?"
"Tidak tahu!"
"Apakah ia tahu asal-usul dirimu?"
"Juga tidak tahu!
"Mari kita berangkat sekarang?"
"Suci, mengapa kerudung di mukamu itu kau tidak buka?"
Pui Ceng Un bagaikan disengat lebah. Sebentar hatinya merasa pilu kemudian berkata:
"Aku... tidak bisa!"
Hui Kiam merasa heran, ia bertanya:
"Tidak bisa" Kenapa?"
"Harap kau jangan menanyakan soal itu."
Hui Kiam tidak berdaya. Apakah sebabnya tidak boleh bertanya" Apakah suci itu mempunyai kesulitan yang tidak dapat diterangkan"
Semula ia mengira bahwa kerudung itu digunakan untuk menutupi wajah aslinya, juga untuk menghindarkan mata-mata musuhnya, tetapi sekarang setelah mendengar jawaban itu, ternyata bukan. Kalau begitu lantaran apa" Ini benar-benar merupakan satu soal yang membingungkan. Ia mengharap supaya dapat mengetahui sebab-musababnya. Ini berarti bukan karena tertarik oleh perasaan herannya saja, melainkan satu perhatian yang sangat besar yang timbul dalam hati nuraninya sendiri, sebab di dalam dunia ini ia boleh dikata sudah tidak mempunyai sanak
saudara lagi. sedangkan sang suci itu, merupakan keturunan satu-satunya dalam perguruannya. Sejak ia menjelaskan asal usulnya, dalam hati Hui Kiam lalu timbul semacam perasaan, seolah-olah berjumpa dengan saudaranya sendiri. Seorang yang sudah lama hidup sebatang kara, perasaan demikian lebih tajam, sebab dalam hatinya selalu mengharapkan oleh hiburan kekeluargaan yang harmonis.
Oleh karenanya maka ia terus mendesak:
"Suci, walaupun antara kita merasa masih asing tetapi hubungan yang terjalin dalam perguruan kita dapat melenyapkan perasaan itu. Apakah kau menganggap perlu mengelabuhi diriku?"
"Apakah... kau ingin tahu?"
"Dalam hatiku memang ingin, tetapi aku tidak berani memaksa. Kalau benar memang ada kesulitan, sudah saja!"
"Sute, kau lihatlah sendiri!" berkata sang suci, lalu menarik kerudung di mukanya.
"Astaga!"
Hui Kiam berseru, ia mundur dua langkah, wajahnya berubah seketika. Apa yang tampak di hadapan matanya, ternyata adalah sebuah paras muka yang amat buruk sekali, lima jalur bekas guratan kuku yang sudah menjadi matang biru bagaikan sarang laba-laba di atas mukanya, jelas sudah bahwa muka itu dirusak oleh kuku jari, satu-satunya bagian yang nampak masih utuh adalah bagian matanya dengan biji matanya yang jernih.
"Sutee, bagaimana?" bertanya Pui Ceng Un, matanya berkaca-kaca.
"Suci, apakah artinya ini?"
'"Inilah aku sendiri yang rela dibuat demikian."
"Si Raja Pembunuh telah menolong diriku, kemudian mengambil aku sebagai muridnya. Tetapi menurut penuturan orang tua itu, apabila berjumpa dengan orang harus turun tangan...."
"Apakah ia yang merusak parasmu" Siapa yang masuk perguruannya, harus menerima penderitaan demikian?"
"Ini benar-benar terlalu kejam dan tidak mempunyai perikemanusiaan sama sekali!"
"Orang tua itu telah melepas budi menolong jiwaku, kalau bukan dia, aku sudah lama mati di pinggir jalan. Kecuali itu, oleh karena memerlukan bekal untuk keperluanku menuntut balas aku harus mempunyai kepandaian yang lebih tinggi."
"Apa sisupek, yang namanya termasuk salah satu orang kuat dalam daftar Lima Kaisar, kepandaiannya yang diturunkan kepadamu masih di bawah kepandaian si Raja Pembunuh?"
"Ayah sudah terkena serangan senjata jarum melekat tulang, ada beberapa macam kepandaian yang tidak dapat diturunkan kepadaku."
"Aku selalu menganggap bahwa perbuatan Si Raja Pembunuh itu keewat kejam...."
"Urusan yang sudah lalu tidak perlu dibicarakan lagi. Aku juga tidak membenci dia si orang tua."
"Apakah ia masih mempunyai murid lain?"
"Tidak ada. Selama hidupnya ia tidak pernah menerima murid, juga belum pernah menolong orang. Terhadap aku, dapat dikata merupakan suatu terkecualian.
Suci, Tuhan sesungguhnya tidak adil, nasibmu sebenarnya terlalu menyedihkan."
"Jangan kau sebut lagi. Hidupku semata-mata karena ingin menuntut balas, apapun yang akan terjadi aku tak pikir lagi, apalagi baru cacat muka saja." Sehabis berkata ia kenakan kembali kerudungnya, kemudian mengalihkan pembicaraan ke lain soal:
"Sutee, barusan kau berkata sudah mendapatkan bagian lanjutan kitab pusaka Thian-Gee Po-kip, tetapi baru berkata setengahnya. Bagaimanakah sebetulnya?"
Dalam mata Hui Kiam masih terbayang muka buruk sucinya, ia tahu mesti dimulutnya sang Suci itu tidak berkata, tetapi dalam hati pasti amat menderita. Suka akan kecantikan memang sudah menjadi sifatnya setiap manusia, baik laki-laki maupun wanita semuanya begitu, apalagi dalam usia remaja seperti sucinya itu. Ia sebelumnya ingin menghibur padanya, tapi ia tidak tahu bagaimana membuka mulut. Ketika ditanya demikian, ia berusaha menenangkan pikirannya, lama baru bisa berkata :
"Tong-hong Hui Bun ada mempunyai hobi senang mengumpulkan kitab pelajaran ilmu silat. Dalam kamar bukunya, terdapat banyak sekali kitab demikian."
"Apakah kitab Thian Gee Po-kip itu juga terdapat di dalamnya?"
"Ya."
"Dengan cara bagaimana ia mendapatkan kitab itu?"
"Katanya kitab itu dihadiahkan oleh orang berbaju lila itu."
"Ada hubungan apa ia dengan orang berbaju lila itu?"
"Tentang ini" katanya orang berbaju lila itu menaruh hati kepada dirinya."
"Oh!"
Sinar matanya tajam, berputaran di wajah Hui Kiam.
Hui Kiam seolah-olah dibuka rahasia hatinya, maka wajahnya merah seketika.
Pui Ceng Un bertanya pula:
"Supek yang kau maksudkan dapatkan tadi, sebenarnya dengan cara bagaimana?"
"Aku sudah hapalkan dan ingat betul isinya. Aku sudah berhasil memahami sebahagiaan."
"Ilmu pedangmu telah mendapat kemajuan yang sangat menakjubkan, apakah itu ada hubungannya dengan ini?"
"Ya. Kebetulan pelajaran dalam kitab Thian Gee Po-kip itu dari kepala sehingga bagian ekornya, satu sama lain ada hubungannya yang sangat erat, jikalau kau tidak pelajari menurut urutannya, betapa cerdas otakmu, kau juga tidak berdaya untuk memahami satu jurus saja, maka kitab ini bagi orang lain, hanya merupakan suatu barang yang tidak ada harganya."
"Tentang ini aku sudah pernah mendengar dari ayahku. Sekarang aku ingin tahu, bagaimana kau bisa masuk dalam kamar rahasia orang dan mempelajari sesukamu?"
"Tentang ini...."
Dia tidak dapat melanjutkan, mukanya semakin merah.
Pui Ceng Un adalah seorang wanita, sudah tentu mempunyai perasaan lebih halus dan lebih tajam. Ketika menyaksikan sikap sutemya itu, lalu tertawa ringan kemudian berkata:
"Sutee, apakah Tong-hong Hui Bun cantik?"
Maksud pertanyaan itu tentu dimengerti oleh Hui Kiam, maka ia merasa semakin tidak enak. Namun demikian ia harus menjawab sambil tertawa:
"Ia cantik sekali!"
"Berapa usianya?"
"Nampaknya baru dua puluh tahun lebih!"
Walaupun mulutnya berkata demikian, tetapi dalam otaknya terbayang ucapan orang berbaju lila yang mengatakan: ia boleh menjadi ibumu.
Oleh karena itu diam-diam ia bergidik. Apakah ia mempunyai ilmu awet muda" Atau karena memakan obat mujijat sehingga usianya nampak tetap muda"
Akan tetapi biar bagaimana, cinta kasih dan perlakuannya yang lemah lembut, sudah mengikat erat-erat hatinya. Dengan tanpa sadar, matanya memancarkan sinar aneh.
Maka ketika ia teringat oleh karena urusannya Pui Ceng Un sehingga ia harus bertempur dengan Hek Bwee Hiang, perbuatan itu dengan Tong-hong Hui Bun, benar-benar merupakan suatu perbuatan yang agak keterlaluan. Nanti apabila berjumpa lagi, benar-benar sulit untuk memberi penjelasan.
Tetapi karena perbuatan itu tadi telah membuka rahasia diri Pui Ceng Un, hal ini juga masih berharga.
Dengan suara agak duka Pui Ceng Un berkata:
"Sutee, apakah kau cinta kepadanya?"
Hui Kiam tidak menduga bahwa sucinya akan mengajukan pertanyaan demikian. Selembar mukanya seketika dirasakan panas, kemudian baru berkata dengan suara terputus-putus:
"Suci... aku... tidak menyangkal."
Pada saat itu, mereka tiba-tiba mendengar suara orang tertawa dingin.
Hui Kiam dan Pui Ceng Un sama-sama terkejut, lalu memasang mata. Di tempat sejauh kira-kira tiga tombak tampak sesosok bayangan manusia berdiri bagaikan hantu.
Orang itu ternyata adalah seorang tua yang usianya kira-kira sudah tujuh puluh tahun lebih. Rambut jenggot dan alisnya seluruhnya sudah putih, badannya mengenakan pakaian besar berwarna kuning, tangannya membawa sebuah tongkat bambu. Nampaknya bagaikan dewa baru turun dari kahyangan. Tetapi kedua matanya memancarkan sinar biru, sehingga sinar mata itu dengan pakaian luarnya sangat tidak sesuai.
Hui Kiam setelah mengawasi orang tua itu sejenak lalu menegurnya dengan nada suara dingin:
"Tuan orang pandai dari mana?"
Orang tua bermata biru itu tidak memperdulikan pertanyaan Hui Kiam, sebaliknya dengan sepasang matanya ia menatap diri Pui Ceng un. Lama ia baru berkata dengan nada sangat dingin dan menakutkan:
"Apakah kau murid si Raja Pembunuh?"
"Benar, bagaimana sebutan tuan?" jawab Pui Ceng Un dengan tenang.
"Tidak perlu tanya. Antar aku menemui suhumu!"
"Sudah beberapa puluh tahun suhu tak mau menemui orang luar!"
"Tetapi ia tak boleh tidak harus menemuiku."
"Bolehkah tuan memberitahukan namamu?"
"Kau belum pantas menanya!"
Hui Kiam merasa tidak senang, apalagi setelah menyaksikan sikap sombong dan tidak pandang mata orang lain yang diperlihatkan oleh orang tua itu, hawa amarahnya meluap seketika. Sambil perdengarkan suara ketawa dingin ia berkata:
"Tuan, kau terlalu sombong!"
Mata orang tua itu dialihkan ke arah Hui Kiam, kemudian berkata dengan suaranya yang menyeramkan:
"Bocah, kau siapa?"
"Penggali Makam!"
"Seorang yang tidak berarti juga berani bertingkah. Aku tak sempat bicara denganmu."
"Kalau aku seorang yang tak berarti, apakah tuan seorang yang berarti?"
"Terhadap kau si bocah boleh dikata begitu!"
Hui Kiam mendengarkan suara tertawa dingin kemudian baru berkata:
"Sungguh tak tahu malu. Barangkali tuan masih tidak tahu apa arti perkataan itu?"
Sinar mata biru orang tua itu nampak semakin biru. Ia berkata dengan suara bengis:
"Kau jangan desak aku orang tua ini melakukan pembunuhan!"
Wajah Hui Kiam kembali seperti biasanya yang dingin angkuh. Ia berkata sonbong:
"Anggaplah aku mendesakmu, habis kau marah?"
Orang tua itu menggeser kakinya. Tongkat di tangannya diketukkan di tanah dua kali. Wajahnya nampak semakin bengis, berkata dengan suara semakin menyeramkan:
"Apa kau mencari mampus?"
Pui Ceng Un segera maju dan berkata:
"Sutee, ini adalah urusanku, biarlah aku sendiri yang membereskan!"
Kemudian ia berpaling dan berkata kepada orang tua itu:
"Ada urusan apakah sebetulnya tuan ingin menemui suhu?"
Dengan sikap semakin galak orang tua mata biru itu berkata:
"Percuma aku beritahukan kepadamu. Bawa saja aku menjumpainya!"
"Kalau tuan tidak mau memberitahukan nama dan maksud, maaf aktu tidak sanggup!"
"Tetapi kau tidak dapat berbuat menurut sesuka hatimu!"
"Barangkali belum tentu!"
"Apa kau ingin coba?"
"Begitulah maksudku."
Orang tua itu segera bergerak. Tongkat bambu di tangannya menotok Pui Ceng Un. Wanita itu segera memutar tangannya. Tapi belum mengeluarkan serangannya, tongkat orang tua itu mendadak
berubah gerakannya, dari gerakan menotok dirubah menjadi gerakan membabat. Arah tujuannya di bagian tempat-tempat yang membahayakan.
Dengan kepandaiannya Pui Ceng Un, ternyata masih belum sanggup menutup serangan itu. Terpaksa ia menarik kembali tangannya dan mundur ke belakang, sedang badannya hampir kena diserang.
Hui Kiam terkejut, kepandaian orang tua itu sesungguhnya sangat tinggi sekali.
Orang tua itu memperdengarkan suara tertawanya yang aneh, kemudian berkata:
"Benar tidak kecewa kau menjadi murid Si Raja Pembunuh. Sambut lagi seranganku ini!"
Tongkatnya bergerak untuk menyerang lagi. Serangannya kali ini nampak semakin hebat.
Pui Ceng Un sedikitpun tidak mampu membalas, ia lompat mundur sejauh delapan kaki, lengan bajuuya terdapat tiga lobang.
Hui Kiam segera melompat maju, menggantikan tempat Pui Ceng Un, sambil lonjorkan pedangnya ia berkata dengan nada suara dingin:
"Aku yang rendah ingin menerima pelajaranmu!"
Dengan sikap memandang rendah orang tua itu memperdengarkan suara di hidung, kemudian gerakkan tongkatnya menotok pada dada Hui Kiam.
Hui Kiam menggerakkan tangannya, melancarkan serangan dengan menggunakan gerak tipunya jurus pertama yang dinamakan Melempar Pecut Memutus Aliran.
Kedua senjata saling beradu, lalu mengeluarkan suara nyaring. Kedua pihak mundur dua langkah.
Orang tua itu wajahnya berobah. Ia sungguh tidak menduga anak muda itu mempunyai kekuatan sedemikian hebat.
Hui Kiam diam-diam juga mengagumi kekuatan lawannya. Kekuatan tenaga dalam yang menembus pedangnya luar biasa hebatnya, sehingga pedangnya hampir terlepas dari tangannya.
Orang tua mata biru itu berkata dengan keras:
"Bocah, kau murid siapa?"
Perasaan gusar Hui Kiam masih belum lenyap, maka dijawabnya dengan nada meniru kesombongan orang tua tadi itu:
"Tuan masih belum pantas menanyakan guruku."
Jawaban itu memang sangat sombong hingga wajah orang tua itu pucat seketika. Ia membentak dengan suara keras:
"Terlalu sombong!"
la lalu ayun tongkatnya dengan kekuatan sangat hebat mengantam kepala Hui-Kiam.
Hui-Kiam menggunakan jurus kedua dari ilmu silat yang di muat dalam kitab Thian Gee Po-kip untuk menyambut serangan tersebut dan sekaligus digunakan untuk balas menyerang.
Kedua senjata itu saling beradu sampai sepuluh kali lebih. Aliran kekuatan tenaga dalam yang keluar dari tangan orang tua itu membawa pengaruh demikian hebat, sampai Hui Kiam mundur tiga langkah.
Hui Kiam terkejut, sejak ia mendapat tambahan kekuatan tenaga yang disalurkan oleh Jin-Ong, serta sudah memahami tiga jurus ilmu pedang dalam kitab Thian-Gee Po-kip, kepandaiannya sudah jauh lebih tinggi daripada waktu yang lalu, tetapi sungguh tidak diduga bahwa ia masih belum sanggup menghubungi kekuatan orang tua itu.
Orang tua berbaju biru itu lalu berkata sambil tertawa:
"Bocah, benar-benar kau mempunyai kepandaian yang lumayan. Pantas kau begitu sombong."
Dengan mata merah Hui-Kiam memperdengarkan suara di hidung, melancarkan serangannya yang paling hebat, Tiang Menjulang Tinggi ke Langit.
Di antara berkelebatnya sinar pedang ternampak dirinya orang tua bermata biru itu lompat mundur lima kaki. Matanya birunya memancarkan sinar terheran-heran.
Hui Kiam tergoncang, sebab serangan yang pernah membikin Hek Bwee Hiang tidak berdaya itu, si orang tua mata biru ini ternyata masih bisa menyingkir dalam keadaan yang selamat. Nampaknya dalam pertempuran ini akan kurang menguntungkan baginya.
Ia segera maju lagi, kembali menggunakan gerak tipunya yang itu juga, dilancarkan dengan seluruh kekuatan tenaganya.
Orang tua bermata biru itu mundur lagi lima kaki, tetap tidak mendapat luka apa-apa.
Dua kali serangan Hui Kiam tidak berhasil, agaknya merasa terkejut.
Orang tua bermata biru itu setelah menyingkir dari serangan tersebut, kemudian putar tongkatnya demikian rupa untuk mengurung Hui Kiam.
Hui Kiam masih tetap menggunakan gerak tipunya yang ke-tiga itu untuk melawan musuhnya. Di antara suara bentakan nyaring, bayangan tongkat lenyap seketika. Hampir serentak pada saat itu tangan kiri orang bermata biru itu diangkat, lima jari tangannya mengeluarkan hembusan angin ke arah Hui Kiam.
Dalam pertempuran jarak dekat, betapapun gesit gerakan Hui Kiam, juga tidak keburu menyingkir, sehingga lima tempat jalan darahnya terkena serangan berbareng. la mundur sempoyongan hampir roboh di tanah.
Bagi orang lain, lima bagian jalan darah terserang demikian, sekalipun tidak mati juga akan terluka parah. Tetapi karena pelajaran ilmu silat Hui Kiam sangat berbeda dengan yang lainnya, maka tidak sampai terganggu. Namun demikian hembusan angin
hebat itu dirasakan bagaikan pedang tajam yang menusuk badannya sehingga menimbulkan rasa sakit luar biasa.
Orang tua bermata biru itu menggunakan kesempatan tersebut segera membabat dengan tongkatnya. Maka tidak ampun lagi badan Hui Kiam tersapu dan terlempar sejauh dua tombak.
Sambil mengeluarkan bentakan keras Pui Ceng Un menerjang orang tua bermata biru itu dengan pedang terhunus.
Dengan tongkat dan tangannya, orang tua bermata biru itu menyambut serangan Pui Ceng Un, sehingga nona itu terpental balik ke tempatnya lagi.
Orang tua bermata biru itu menghampiri Hui Kiam yang rebah terlentang di tanah, berkata dengan suara keras:
"Bocah, aku terpaksa harus membunuhmu. Ini adalah akibat dari kelakuanmu yang sombong!"
Tongkatnya segera bergerak hendak menghantam kepala Hui Kiam....
Dada Hui Kiam dirasakan mau meledak. Tetapi ia sudah tidak mempunyai tenaga untuk memberikan perlawanan sehingga hanya dapat mengawasi bergeraknya tongkat yang akan menghantam kepalanya.
Pui Ceng Un dengan cepat segera berteriak:
"Tahan!"
Orang tua bermata biru itu menarik kembali tongkatnya dan berkata:
"Mau apa?"
"Aku mengajak kau menjumpai suhu, tetapi kau tidak boleh melukai dirinya!"
"Ini ada soal lain!"
"Untuk menjumpai gurumu kau harus mengunjukkan jalannya, tetapi ini bocah aku juga harus bunuh mati padanya!"
"Kalau begitu kau jangan harap aku sudi mengunjukkan jalan bagimu!"
"Soal ini ada di tanganku, kau tidak dapat berbuat apa-apa!"
"Kau bunuh aku juga tidak ada gunanya. Tempat kediaman suhu sangat tersembunyi dan sangat berbahaya, jikalau kepandaianku terganggu, sama saja kita tidak dapat mencapai ke tempatnya!"
Biji mata biru orang tua itu nampak berputaran beberapa kali, kemudian berkata dengan nada suara dingin:
"Baiklah, untuk sementara waktu kuturut kehendakmu!"
Sehabis berkata ia terus mundur selangkah.
Hui Kiam yang beradat tinggi hati setelah menarik napas, perlahan-lahan ia berdiri dan berkata sambil menggertakkan gigi:
"Jikalau aku tidak mati aku pasti akan membalas dendam sakit hati ini. Kalau kau mau mengambil jiwaku, harus segera bertindak, supaya lain hari tidak menyesal!"
"Haa, haa, haa, bocah yang tak tahu diri, karena ucapanmu ini, aku tidak akan membunuh kau dan menantikan tindakanmu yang hendak menuntut balas."
"Tinggalkan namamu!"
"Tidak perlu, kau toh tidak akan kesalahan mengenal orang."
Pui Ceng Un segera berkata:
"Sute, lukamu"."
"Tidak apa-apa."
Kita terpaksa berpisah untuk sementara. Kau ambilah ini."
Setelah itu, ia mengeluarkan potongan uang logam itu. Diberikannya kepada Hui Kiam seraya berkata pula:
Meskipun faedahnya sudah hilang sebaiknya kau simpan saja, hitung-hitung sebagai tanda peringatan.
Hui Kiam menyambuti seraya berkata:
"Terima kasih, sucie!"
Orang tua bermata biru itu berkata dengan mata melotot:
"Bocah, apakah kau juga muridnya Si Raja Pembunuh?"
"Kau tak perlu tahu!"
Pui Cing Un khawatir kalau orang tua itu nanti bertindak lagi, maka buru-buru berkata:
"Tuan, mari kita berangkat!"
Wajah orang tua itu sebentar terlintas nafsu amarahnya, tetapi segera lenyaplah. Kemudian ia berkata:
"Bocah, lain kali apabila bertemu lagi, aku pasti akan membunuhmu."
Hui-Kiam perdengarkan suara di hidung lalu berkata:
"Sama-sama!"
Pui-Ceng Un berkata:
"Sutee, kau pergi dulu ke tempat yang barusan kita katakan tadi. Aku berjalan melalui jalan ini. Setelah tugasku selesai, aku nanti datang menjumpai kau."
Hui-Kiam mengerti bahwa yang dimaksudkan oleh sucienya itu ialah untuk menyelidiki soal mati hidupnya orang berbaju lila itu. Maka ia segera menjawab sambil menganggukkan kepala:
"Baik!"
"Kalau begitu aku hendak pergi dulu!"
"Suci, harap kau baik-baik menjaga diri!"
Orang tua bermata biru itu mengikuti Pui Ceng Un berjalan turun gunung.
Setelah dua orang itu berlalu, Hui-Kiam terus berpikir tetapi ia tidak dapat menduga apa maksud dan tujuan orang tua bermata biru itu mencari Si Raja Pembunuh. Tetapi kebanyakan mengenai soal permusuhan.


Pedang Pembunuh Naga Penggali Makam Karya Tan Tjeng Hun di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dalam pertempuran tadi hampir saja ia antarkan jiwanya. Maka ia berpikir harus mencari tempat yang tersembunyi untuk memperdalam pelajaran dalam kitab Thian-gee Po-kip supaya pelajaran itu bermanfaat bagi dirinya.
Matanya segera ditujukan ke mulut lembah yang tidak jauh dari situ. Pikirannya menjadi kalut. Ia tidak tahu Tong-hong Hui Bun sudah pulang atau belum" Karena ia sendiri sudah bentrok dengan Hek Bwee Hiang, sudah tentu tidak bisa kembali sendiri, akan tetapi ia tidak mampu mengusir keinginannya yang hendak menemui Tong-hong Hui Bun.
Sudah tentu, yang terpenting pada dewasa itu adalah merawat lukanya. Serangan orang tua bermata biru tadi hampir mematahkan tulang pinggangnya. Meski goncangan dalam badannya tidak terlalu berat, tapi juga tidak ringan.
Ia telah memilih tempat yang letaknya agak tersembunyi. Selagi hendak bersemedi untuk menyembuhkan lukanya".
Tiba-tiba muncul empat orang berpakaian hitam.
Hui Kiam terkejut. Ia mengawasi empat orang itu. Entah apa yang dilakukan mereka.
Empat orang berpakaian hitam itu begitu melihat Hui Kiam, wajah mereka berubah semuanya.
Untuk sesaat mereka saling berpandangan. Salah satu di antaranya lalu maju menghampiri dan berkata sambil mengangkat tangan untuk memberi hormat.
"Siaohiap, maaf kita mengganggu ketenangan siaohiap!"
Hui Kiam kembali merasa heran, nampaknya orang-orang itu mengenali dirinya. Lalu berkata dengan suara dingin:
"Bagaimana sebutan sahabat?"
"Utusan Bulan Emas!"
Hui Kiam diam-diam mengeluh. Dengan orang-orang Persekutuan Bulan Emas, ia mempunyai permusuhan sangat dalam,
dan kini berjumpa dengan mereka di tempat seperti ini, sedangkan badannya sendiri sedang luka, nampaknya tidak akan sanggup menghadapi orang itu.
Mungkin kedatangan orang itu hendak mencari jejak Tong-hong Hui Bun, mungkin juga ada maksud lain.
Akan tetapi, bila orang-orang itu sudah berhadapan matanya sudah tentu ia tidak dapat menyembunyikan diri, maka lalu berkata dengan suara dingin:
"Ada keperluan apa?"
Dengan nada suara lunak utusan itu berkata:
"Sebetulnya kita tidak berani menganggap Siaohiap, hanya ingin tanya perempuan berkerudung baju hijau tadi sekarang ada di mana?"
Hui Kiam merasa heran. Manusia dicari oleh manusia berpakaian hitam itu ternyata adalah Pui Ceng Un, sedangkan terhadap dirinya sendiri agaknya tidak mengandung permusuhan. Lebih mengharapkan adalah mengapa manusia-manusia Bulan Emas itu bisa mencari ke tempat ini.
Setelah berpikir sejenak, ia lalu berkata:
"Apakah sahabat hendak mencari perempuan berkerudung baju hijau tadi?"
"Benar!"
"Kenapa?"
"Kami hanya menjalankan tugas perintah atasan!"
"Dia sudah pergi!"
"Sudah pergi?"
"Ya."
"Apakah siaohiap tahu kemana ia pergi?"
"Ia dipaksa berjalan oleh seorang tua bermata biru yang aku tidak tahu namanya!"
Wajah utusan itu nampak berubah. Ia menggerutu sejenak, lalu berkata sambil mengerutkan keningnya:
"Apakah orang tua itu seorang yang berusia kira-kira tujuh puluh dan tangannya membawa tongkat bambu?"
"Benar!"
"Oh! Kiranya dia si orang tua."
Setelah mengucapkan perkataan yang tidak dimengerti oleh Hui Kiam, utusan itu kembali mengangkat tangan memberi hormat seraya berkata pula:
"Terima kasih banyak-banyak!" Kemudian berpaling dan berkata kepada tiga kawannya:
"Mari kita pergi!"
Sebentar kemudian empat orang berbaju hitam itu sudah meninggalkan tempat tersebut.
Hui Kiam bingung menyaksikan kelakuan empat orang itu. Para utusan Perserikatan Bulan Emas itu seharusnya menganggap musuh dirinya, tetapi ternyata tidak demikian. Orang dicari justru sucinya sendiri, sedangkan terhadap orang tua bermata biru yang sangat misterius itu mereka sebut orang tua. Dari golongan apakah sebetulnya orang tua bermata biru itu"
Sementara itu dari tempat yang tidak jauh, tiba-tiba terdengar empat kali suara jeritan ngeri.
Bukan kepalang terkejutnya Hui Kiam. Apakah suara jeritan itu keluar dari mulut empat utusan itu tadi?"
Kepandaian ilmu silat para utusan Persekutuan Bulan Emas di dalam kalangan Kang-ouw sudah terhitung tenaga pilihan kelas satu, siapakah orangnya dalam waktu singkat dapat membinasakan empat orang tua itu tadi"
Mungkin dia.....Tong hong Hui Bun"
Berpikir sampai di situ semangatnya terbangun. Entah dimana datangnya kekuatan terasa sesaat itu telah melupakan rasa sakit dilukanya. Ia segera berjalan ke tempat tersebut.
Berjalan kira-kira lima puluh tombak jauhnya, benar saja segera dapat lihat empat orang berpakaian hitam itu sudah binasa semuanya.
Siapakah pembunuhnya"
la coba mencari, tetapi tidak kelihatan bayangan seorangpun juga.
Heran, apakah pembunuh itu sudah kabur jauh sehabis melakukan pembunuhan"
Nampaknya perbuatan itu tidak mungkin dilakukan oleh Tong hong Hui-Bun....
Selagi masih berpikir, di belakangnya tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing baginya:
"Penggali Makam, hari kematianmu sudah tiba!"
Hui Kiam terperanjat. Ketika ia membalikkan badan segera berseru: "Oh!"
Jantungnya tergoncang keras. Ia hampir tidak percaya kepada matanya sendiri. Sesaat lamanya ia berdiri tertegun.
Orang yang berdiri di hadapannya, bukan lain daripada si orang berbaju lila.
Manusia buas itu jelas sudah dipaksa terjun oleh Tong-hong Hui Bun, tidak diduga ia ternyata masih hidup. Kejadian ini sesungguhnya tidak habis dimengerti.
Setelah lenyap perasaan herannya, menyusullah perasaan bencinya dan dendamnya.
Kini ia sudah mengetahui bahwa orang berbaju lila itu, juga adalah jago pedang berkedok yang pada sepuluh tahun berselang merupakan musuh besar perguruannya juga merupakan orang yang pernah melukai encinya dan orang yang merampas kitab wasiat
Thian Gee Po-kip yang kemudian dihadiahkan kepada Tong-hong Hui Bun. Selanjutnya kitab itu dengan secara tidak terduga-duga telah didapatkan olehnya. Maka jalannya nasib manusia sesungguhnya sangat aneh.
Dengan hati penuh rasa dendam Hui Kiam berkata:
"Orang berbaju lila, kau ternyata belum mati?"
"Apakah kau merasa heran?"
"Memang begitu!"
"Ha, ha, ha, kalau aku mati, siapa yang membereskan kau dan perempuan cabul tidak tahu malu ini" Ha ha ha...."
---ooo0dw0ooo---
JILID 15 KARENA ucapan kotor yang memaki perempuan pujaannya, maka Hui Kiam telah melupakan dirinya yang sedang terluka, juga melupakan kepandaian musuhnya. Ia segera menggerakkan pedangnya dan berkata dengan suara bengis:
"Orang berbaju lila, kau memaki orang dengan perkataan kotor, ini bukanlah perbuatan seorang gagah."
"Bocah, kau hanya merupakan barang permainan dalam tangan perempuan rendah itu, apakah kau juga pantas menyebut diri sebagai orang gagah."
"Tutup mulut orang berbaju lila! Kalau aku tak cincang badanmu, aku bersumpah tidak mau jadi orang lagi!"
Orang berbaju lila itu tertawa tergelak-gelak, kemudian berkata:
"Bocah, kau sedang mimpi."
"Lihat pedang!"
Hui Kiam segera mengayunkan pedangnya, tetapi rasa sakit menyerang ke ulu hatinya, kekuatan tenaga dalamnya terganggu,
sehingga serangannya itu ditarik kembali, badannya terhuyung-huyung, darah hampir keluar dari mulutnya.
Orang berbaju lila itu berkata dengan nada suara dingin:
"Bocah, kau terluka?"
Hui Kiam yang berhadapan dengan musuh besarnya, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, hatinya dirasakan sakit itu lebih hebat daripada rasa sakit yang diderita karena luka di badannya.
Apabila ia sekarang binasa di tangan orang berbaju lila itu, kematiannya itu benar-benar sangat mengecewakan.
Orang berbaju lila itu bertanya pula:
"Bocah, bagaimana kau terluka?"
"Ini bukan urusanmu!"
"Apakah kau ditendang dan dilempar kemari setelah dipermainkan sepuas-puasnya oleh perempuan rendah itu?"
"Tutup mulut!"
"Bocah, karena kau muncul di tempat ini, barangkali sudah menjadi kekasihnya. Ia adalah seorang cantik nomor satu dalam rimba persilatan, juga merupakan seorang perempuan yang paling cabul dan paling jahat."
"Tutup mulut, kau manusia rendah!"
"Aku rendah" Ha, ha, ha, memang benar, aku orang berbaju lila sekarang telah merasa diriku rendah. Tetapi bocah, terus terang kuberitahukan kepadamu, kau masih sangat muda, tampan dan ganteng, ia telah menggunakan kau sebagai alat untuk mengumbar nafsu binatangnya, apakah kau tidak menganggap rendaih?"
Hui Kiam sangat murka, karena ia tidak dapat berbuat apa-apa akhirnya menyemburkan darah segar.
Sambil tertawa menyeramkan orang berbaju lila itu berkata:
"Nampaknya ia masih cinta kepadamu, itu bagus. Aku tiba-tiba berpikir untuk tidak ingin membunuhmu, hanya hendak
memusnahkan kekuatan dan kepandaianmu. Aku akan membuat cacat urat-uratmu, supaya kau tidak bisa melakukan kewajiban sebagai orang laki-laki dan biarlah perempuan rendah itu merasakan penderitaan batin hebat....."
Dada Hui-Kiam dirasakan mau meledak. Ia berkata dengan suara serak:
"Kau bukan manusia. Sayang aku tidak dapat membunuhmu."
Pedang di tangannya disambitkan ke arah musuhnya, tetapi karena sudah tidak bertenaga maka perbuatannya itu bagaikan permainan anak-anak saja. Ini sebetulnya hanya merupakan suatu perbuatan yang sekedar untuk mengumbar hawa amarahnya. Ia sendiri juga tahu bahwa perbuatan itu tidak berarti apa-apa.
Orang berbaju lila itu mengulurkan tangannya dan pedang itu dipatahkan menjadi dua, lalu dilemparkan ke tanah.
Mata Hui Kiam gelap, mulutnya kembali menyemburkan darah.
Pada saat itu, tiba-tiba dua bayangan kecil langsing tiba di situ.
Orang berbaju lila itu dengan cepat menyingkir dan sembunyi di belakang batu besar.
Orang yang baru datang itu ternyata adalah dua pelayan perempuan. Satu di antaranya dengan perasaan girang berkata:
"Bagus sudah ketemu. Siaohiap, harap lekas pulang...."
Tiba-tiba matanya dapat melihat empat Utusan Bulan Emas yang sudah menggeletak di tanah sebagai bangkai, hingga dua orang itu mengeluarkan seruan terkejut.
Seorang di antaranya berkata dengan suara gemetar:
"Siaohiap, kaukah yang membinasakan mereka?"
"Bukan aku!"
"Apakah siaohiap terluka?"
"Ya!"
"Siapakah yang membinasakan mereka?"
"Orang berbaju lila."
Wajah dua perempuan itu berobah seketika. Mereka berseru serentak:
"Siaohiap maksudkan orang berbaju lila?"
"Benar, dia adalah itu orang berbaju lila, yang dipaksa terjun ke dalam jurang oleh ibu majikanmu!"
"Di ... dia ... tidak mati!"
"Bagaimana aku bisa cepat-cepat mati?" demikian seorang berkata dengan nada suara dingin, kemudian disusul oleh munculnya orang baju lila.
Dua pelayan wanita itu terperanjat bagaikan berjumpa dengan hantu, wajahnya mengunjukkan perasaan takutnya, setindak demi setindak mundur ke belakang....
Orang baju lila itu setelah tertawa bergelak-gelakan, lalu menghampiri dua wanita itu dan berkata dengan suara dingin:
"Apakah wanita rendah itu ada di dalam Istana Bidadari?"
Hati Hui Kiam tergerak, apakah yang dimaksudkan Istana Bidadari oleh orang berbaju lila itu adaLah gedung mewah yang berada dalam lembah"
Pelayan perempuan itu menjawab:
"Ibu majikan sudah keluar sehingga sekarang belum kembali!"
"Dan rase tua itu, ada di mana?"
"Di.... bawah gunung!"
Orang berbaju lila itu kembali memperdengarkan suara ketawanya yang mengandung kebencian. Pedang panjang sudah berada di tangannya. Dengan sinar matanya yang bengis ia mengawasi dua perempuan itu, kemudian berkata dengan suara dingin:
"Kau berdua boleh jalan lebih dulu!"
Pedangnya segera berkeltbat, lalu disusul oleh suara jeritan ngeri. Satu di antara dua pelayan perempuan itu sudah roboh binasa.
Satunya lagi dengan ketakutan setengah mati buru-buru kabur.
"Lari kemana!"
Orang berbaju lila itu segera memburu. Kembali terdengar suara jeritan ngeri. Punggung pelayan perempuan itu sudah ditembus oleh ujung pedang.
Hui Kiam yang menyaksikan itu dadanya dirasakan meledak, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Sementara sesosok bayangan orang sudah lari menghampiri.
Orang itu bukan lain dari pada Hek Bwee Hiang. Ketika nampak orang berbaju lila, lalu berkata:
"Kau.... "
Ia cuma dapat mengeluarkan sepatah kata itu saja, kata-kata selanjutnya tiba-tiba berhenti di tenggorokan.
Orang berbaju lila itu berkata dengan suara dingin dan angkuh:
"Rase tua, kau tidak menduga ya?"
Lama sekali Hek Bwee Hiang menjawab:
"Apa kau tidak mati?"
"Saat kematianmu sudah tiba. Hek Bwee Hiang kau sudah tua tapi tak patut sebagai orang tua, biarkan perempuan rendah itu melakukan perbuatan cabul yang merusak akhlak manusia. Kaulah orang pertama yang harus dibinasakan!"
"Kau masih untung lolos dari kematian, seharusnya sembunyikan diri. Mengapa masih berani membuka mulut besar...?"
"Tutup mulut, rase tua! Kematianmu sudah di depan mata, kau belum tahu menyesal. Sekujur badanmu sudah penuh noda, sekalipun mati kau juga tak dapat mencuci bersih noda itu."
"Orang berbaju lila, aku akan menyaksikan kematianmu yang tidak wajar!"
"Kau tidak dapat menyaksikan lagi!"
Ucapan itu ditutup dengan satu serangan pedang yang ditujukan pada Hek Bwee Hiang.
Hek Bwee Hiang sudah siap, maka baru saja orang berbaju lila itu bergerak, hampir di saat itu juga ia sudah bertindak.
Keduanya merupakan orang kuat yang jarang terdapat dalam rimba persilatan sehingga pertempuran itu merupakan suatu pertempuran hebat dan sengit tidak ada taranya.
Kepandaian orang baju lila ada lebih tinggi, tapi Hek Bwee Hiang yang harus mempertahankan jiwanya, telah menyerang secara nekad sehingga untuk sementara, kedua pihak nampak berimbang.
Sepuluh jurus kemudian Hek Bwee Hiang sudah mulai terdesak, sedangkan serangannya orang berbaju lila itu semakin ganas.
Hek Bwee Hiang terpaksa berlaku nekad sekaligus melancarkan serangan sampai delapan belas kali. Orang berbaju lila itu terpaksa mundur sampai tiga langkah.
Dalam keadaan demikian, Hek Bwee Hiang telah lompat melesat hendak melarikan diri.
Ia bergerak cepat sekali, tapi orang berbaju lila itu bertindak lebih cepat. Dengan dua kali gerakan ia sudah berhasil merintangi kaburnya perempuan tua itu.
Pertempuran hebat itu, dilanjutkan lagi".
Hui Kiam berpikir bolak-balik. Apabila saat itu tidak pergi, tunggu kapan lagi" Apakah harus menantikan kembalinya orang berbaju lila membinasakan dirinya setelah binasakan Hek Bwee Hiang"
Demikian ia segera kabur ke belakang bukit.
Suara beradunya dua senjata, masih terdengar di belakang dirinya, tapi suara itu makin lama makin jauh akhirnya tak terdengar lagi.
Ia dapat menduga bahwa pertempuran itu tidak bisa terlalu lama, paling-paling ia hanya dapat melawan sampai lima puluh jurus saja. Apabila ia jalan terus tentunya akan dapat dikejar oleh orang berbaju lila itu.
Oleh karenanya, maka ia membelok ke kanan masuk ke dalam rimba lebat.
Kekuatan tenaganya tidak mengizinkan melanjutkan perjalanannya. Ia terpaksa mencari-cari tempat untuk sembunyi. Dekat tempat ia berdiri terdapat sebuah lobang gua yang cukup untuk satu orang. la lalu memasuki gua tersebut, kemudian dengan daun pohon ia menutup lobang gua, sehingga tidak dapat dilihat oleh orang sekalipun lewat di sampingnya.
Ia tenangkan pikirannya, mulai bersemedi untuk menyembuhkan lukanya.
Ia coba gunakan ilmu pelajaran menyembuhkan luka dengan kekuatan tenaga dalam yang terdapat dalam kitab Thian Gee po-kip. Berulang-ulang ia coba hingga beberapa puluh kali, baru berhasil menemukan 'kuncinya".
Dua jam kemudian, ia mulai menggunakan pelajaran ilmu yang baru dapat itu untuk menyembuhkan luka-lukanya.
Memang sangat ajaib pelajaran dalam kitab wasiat itu, hanya dalam setengah jam, lukanya sudah sembuh sama sekali, kekuatan tenaganya juga bertambah satu bagian.
Dari dalam goa dengan melalui sela-sela daun pohon, samar-samar dapat lihat di atas langit ada banyak bintang, suatu tanda bahwa hari sudah mulai malam. Ia berpikir, saat itulah merupakan suatu saat yang paling baik untuk mempelajari ilmu totokan jari tangan dan ilmu gerak kaki.
Ia harus menjernihkan pikirannya lagi untuk mempelajari ilmu itu.
Ia sudah terbenam dalam gerak tipu yang aneh luar biasa itu. Seluruh perhatiannya dipusatkan kepada ilmu silat itu. Entah berapa lama telah berlalu, ia sudah tak ingin makan dan minum.
Ilmu pukulan telapak tangan, ilmu jari tangan dan gerak kaki, sudah berhasil dipahamkan satu-persatu, dan yang terakhir, adalah seluruh pelajaran atau yang merupakan pelajaran bagian penutup dalam kitab wasiat tersebut.
Sampai di sini, berhasillah sudah cita-cita Hui Kiam untuk mendapatkan pelajaran ilmu silat yang merupakan pelajaran lebih tinggi, setiap gerak tipu bertambah kekuatannya kini berlipat ganda daripada sebelum ia memahami pelajaran terakhir dari tempat tersebut.
Ketika ia keluar dari dalam goa, ternyata matahari sudah naik tinggi. Ia rasakan kekuatan tenaga dalamnya banyak ditambah, badannya dirasakan segar, setiap gerakannya dirasakan ringan. Ia sendiri tidak tahu bahwa kepandaiannya mendapat kemajuan begitu pesat, dalam waktu yang sangat singkat seolah-olah sudah berobah seperti dua manusia.
Apakah dalam waktu satu malam itu ia sudah menyelesaikan semua kepandaian yang terdapat dalam kitab wasiat itu"
Agaknya itu tidak mungkin.
Ia keluar dari dalam goa. Tidak jauh dari situ terdapat sebuah aliran sungai kecil. Karena sekujur badannya penuh dengan tanda bekas darah, maka perlu mandi dulu. Pakaiannya yang ia pakai itu adalah pemberian dari Tong hong Hui Bun, sudah tentu ia tidak ingin membuangnya.
Tatkala ia mengawasi mukanya dari air, ia terkejut, sebab di sekitar dagunya dan atas bibirnya sudah tumbuh kumis dan jenggot pendek. Kalau begitu ia sendiri berada di dalam gua setidak-tidaknya sudah lima hari lebih.
Sejenak ia berdiri tertegun, lalu membersihkan darah-darah di sekujur badannya, lalu lari menuju ke puncak gunung.
Tiba di tempat di mana bekas ia bertempur, di tempat itu ternyata sudah kosong. Kecuali tanda darah yang sudah kering, sudah tidak tampak satupun bangkai manusia yang menjadi korban tangan kawanan jahat itu.
Orang berbaju lila itu sudah tentu sudah pergi jauh. Entah bagaimana dengan nasib Hek Bwee Hiang yang bertempur dengannya pada hari itu"
Tiba-tiba matanya dapat melihat seundukan tanah makam yang nampaknya masih baru. Tertariklah hatinya. Ia lalu pergi menghampiri makam itu. Ternyata makam Hek Bwee Hiang, hingga untuk sesaat lamanya ia berdiri tertegun:
Hek Bwee Hiang benar sudah binasa di tangan orang berbaju lila itu. Orang yang mengubur jenazahnya sudah tentu orang-orang dari gedung misterius itu.
Entah Tong Hong Hui Bun sudah pulang atau belum"
Memikirkan perempuan pujaan hatinya itu, timbullah perasaannya ingin menjumpai.
Bersama dengan itu, ia juga ingat encinya itu yang dipaksa oleh orang tua bermata biru untuk menjumpai suhunya. Oleh karena dengan sucinya itu ia sudah berjanji, harus bertemu dalam perjalanan yang menuju ke puncak gunung batu, dan sekarang ia sendiri telah tertunda, mungkin sudah selip waktunya. Lagi pula oleh karena orang berbaju lila itu sudah mengunjukkan diri, perjalanan yang maksudnya hendak menyelidiki orang jahat itu, berarti sudah tidak perlu lagi. Yang paling penting pada saat itu ia berusaha menjumpai sucinya supaya dapat merundingkan soal menuntut balas.
la segera lari menuju ke bawah gunung.
Di hadapannya terbentang sebuah jalan yang menuju ke lembah di mana terdapat gedung misterius itu.
Untuk sesaat lamanya ia merasa sangsi apakah ia harus menjumpai perempuan pujaan hatinya itu atau tidak.
Akal budi kadang-kadang memang mudah ditundukkan oleh perasaan yang sedang merangsang, begitulah keadaan Hui-Kiam pada saat itu. Terdorong oleh perasaan segera ingin menjumpai perempuan pujaan hatinya maka ia memilih jalan yang menuju ke arah lembah itu.
Ketika tiba di dalam lembah, seketika itu ia berdiri tertegun, darahnya juga dirasakan telah membeku, sekujur badannya gemetar.
Bangunan yang megah bagaikan istana itu kini telah berubah menjadi runtuhan puing. Gedung yang megah itu telah hancur lebur.
Siapakah yang menghancurkan gedung itu" Dan di manakah penghuninya" Apakah sudah menjadi korban seluruhnya"
Paras Tong-Hong Hui Bun yang cantik bagaikan bidadari, kembali terbayang dalam otaknya.
Andaikata ia mengalami nasib malang".
Ia tidak berani memikir lagi, pukulan batin itu agaknya ia tidak sanggup menerima, tetapi kemudian ia berpikir lagi, kepandaian Tong Hong Hui Bun sangat tinggi sekali, siapa yang sanggup melukai dirinya, karena berpikir demikian, maka dengan tanpa sadar mulutnya telah mencetuskan perkataan:
"Tidak, tidak mungkin, ia pasti selamat!"
Tiba-tiba satu suara menjawab perkataannya:
"Benar, memang ia tidak mati!"
Mendengar suara itu Hui Kiam terperanjat. Ia membalikkan badan, segera melihat seorang pengemis muda sedang berjalan menghampirinya sambil tertawa cengar-cengir. Bukan lain daripada Sukma Tidak Buyar Ie It Hoan, yang telah muncul dan suka mengunjukkan diri dengan rupa berbeda-beda.
Munculnya Ie It Hoan di tempat itu, sesungguhnya di luar dugaan Hui Kiam, maka ia segera bertanya dengan perasaan terheran-heran.
"Adik Hoa, kau!"
Ie It Hoan lalu menjawab dengan sikapnya yang tidak main-main lagi.
"Toako, cepat sekali gerak kakimu. Aku tadi melihatmu turun dari puncak gunung. Aku mengejar tetapi tak dapat mencapaimu."
"Bagaimana kau bisa datang kemari?"
"Di dekat sini aku sudah menunggu tiga hari tiga malam lamanya. Aku kira sudah tidak dapat menemukan kau lagi...."
"Disini kau sudah menunggu tiga hari tiga malam?"
"Ya!"
"Untuk apa?"
"Mencari kau!"
"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"
"Sudah tentu tahu. Jikalau tidak, bagaimana aku dapat memakai nama julukan Sukma Tidak Buyar?"
"Bagaimana kau artikan dengan perkataanmu "sudah tentu tadi?""
"Rahasia alam tidak boleh dibocorkan, jikalau tidak selanjutnya tidak manjur lagi."
Hui Kiam tahu benar sifat nakal dan senang memain pemuda itu, maka ia tidak menanya lebih jauh dan mengalihkan pembicaraan pada lain soal:
"Adik Hoan, tadi kau berkata dia tidak binasa?"
"Dia" Siapakah dia itu?" demikianlah Sukma Tidak Buyar balas bertanya sambil membuka lebar matanya.
Hui Kiam yang sifatnya pendiam, tidak suka bersenda gurau, ketika mendengar perkataan itu wajahnya lalu berubah.
Sukma Tidak Buyar kemudian memberikan penjelasan:
"Apakah yang toako maksudkan adalah si cantik jelita itu" Ia memang benar masih hidup!"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Sewaktu terjadi peristiwa ini ia tidak berada di sini."
"Ini perbuatan siapa?"
"Orang berbaju lila."
"Lagi-lagi dia," berkata Hui Kiam dengan hati panas.
"Kejadian demikian sangat kebetulan. Apabila perempuan cantik itu ada di rumah, betapapun besar keberanian orang berbaju lila itu juga tak berani menghancurkan gedung ini."
"Bagaimana dengan dia?"
"Tiga hari berselang ia pulang. Setelah mengurus urusan di sini sebentar, ia pergi lagi."
"Adik Hoan, tahukah asal-usul yang sebenarnya tentang dirinya?"
"Kalau pada sekarang ini aku terangkan, barangkali tidak ada faedahnya bahkan buruk akibatnya."
"Bagaimana kau bicara selalu suka menyimpan rahasia?"
"Toako, aku juga terpaksa berlaku demikian. Tentang ini harap kau suka memberi maaf."
"Hm!"
"Toako, adikmu ini ada sedikit perkataan yang tidak boleh tidak akan diucapkan. Terus-terang mungkin ucapan yang mengandung maksud baik akan tidak enak didengar, akan tetapi"."
"Jangan coba berlaku berbelit-belit. Bicaralah terus terang!"
"Perempuan adalah bibitnya bencana. Harap toako suka menggunakan akal budiman untuk melepaskan diri dari libatan asmara. Pentingkanlah keselamatan dunia rimba persilatan!"
"Apakah yang kau maksudkan itu Tong-hong Hui-Bun?"
"Ya!"
"Ini ada hubungan apa dengan keselamatan dunia rimba persilatan?"
"Ada hubungannya. Di kemudian hari toako akan tahu sendiri. Aku sangat khawatir toako akan kehilangan semangat untuk bekerja
bagi kepentingan dunia rimba persilatan. Kecuali itu, cintamu barangkali tidak berakhir dengan baik."
"Ucapanmu ini berdasarkan atas apa?" tanya Hui Kiam terkejut.
"Adikmu ini hanya menjalankan perintah, untuk sementara tidak dapat membuka rahasia," berkata Sukma Tidak Buyar sambil tertawa getir.
"Atas perintah siapa?"
"Suhu!"
"Eh, bukankah kau pernah berkata bahwa suhumu sudah menutup mata. Apakah kau dapat perintah dari orang yang sudah meninggal dunia?"
"Toako, hidup atau mati, mengapa kau anggap begitu sungguh-sungguh?"
"Kau semakin lama bicaramu semakin melantur. Dengan terus terang, menyuruhku memutuskan hubungan dengan dia itulah tak mungkin!"
"Baiklah soal ini untuk sementara kita jangan bicarakan lagi!"
"Ada urusan apa kau mencari aku?"
"Urusan penting!"
"Urusan penting apa?"
"Harap toako jawab dulu pertanyaan-pertanyaanku."
"Tanyalah!"
"Bagaimana dengan perjalananmu ke gunung Kiu-kiong-san?"
"Sedikit berhasil aku sudah dapat menemukan Jin Ong dan sudah membuktikan bahwa senjata jarum melekat tulang memang kepunyaannya. Tetapi perbuatan itu bukan dia yang melakukan. Menurut kabar dan yang sudah dibuktikan oleh seseorang, hal itu adalah perbuatannya orang berbaju lila. Tetapi darimana ia dapatkan jarum itu masih belum berhasil kuselidiki."
"Untuk dewasa ini paling baik bisa berserikat dengan orang berbaju lila...."
Hui Kiam terperanjat. Ia bertanya:
"Berserikat dengan orang berbaju lila, mengapa?"


Pedang Pembunuh Naga Penggali Makam Karya Tan Tjeng Hun di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Hubungan orang berbaju lila dengan Persekutuan Bulan Emas sudah bagaikan air dengan api, maka kita harus berserikat dengannya, sama-sama menghadapi Perserikatan Bulan Emas!"
"Hal itu tidak mungkin!"
"Kenapa?"
"Orang berbaju lila itu adalah musuh besar perguruanku!"
"Apakah kau sudah membuktikannya?"
"Sudah terbukti!"
"Bolehkah kiranya kita pentingkan kepentingan umum lebih dulu kemudian urusan pribadi?"
"Apakah sebabnya kita harus berserikat dengannya?"
"Orang berbaju lila itu kepandaiannya tinggi sekali, lagi pula mempunyai pengaruh dan kedudukan kuat."
"Apakah itu menurut pendapatmu?"
"Bukan, adikmu hanya mendapat perintah untuk menyampaikan ucapan ini!"
"Apakah itu perintah suhumu lagi?"
"Anggaplah begitu!"
Hui Kiam sebetulnya ingin menanyakan siapakah sebetulnya suhunya Sukma Tidak Buyar itu, tetapi karena mengingat pemuda aneh itu selalu mengelakkan setiap pertanyaan yang menyangkut diri suhunya, maka bertanyapun tidak ada gunanya. Ucapan yang sudah keluar dari mulutnya terpaksa ditelan kembali.
"Aku boleh mencoba, tetapi mungkin aku tidak sanggup. Aku khawatir tidak bisa bekerjasama dengan musuh."
Sukma Tidak Buyar terkejut. Ia berkata:
"Dan lagi, mengenai soal sepotong uang logam itu, apakah kau sudah mendapatkan tanda-tandanya?"
"Sudah beres!"
"Oh! Kalau begitu toako...."
"Kepandaianku sudah mendapat sedikit kemajuan!"
"Bagaimana kalau dibandingkan dengan orang berbaju lila iiu?"
"Sudah boleh digunakan untuk mengimbangi dengan tanpa khawatir!"
"Itu bagus sekali. Sekarang kita balik ke pembicaraan kita semula. Maksudku mencari kau, ialah hendak melakukan suatu urusan besar."
"Katakanlah!"
Partay-partay rimba persilatan pada dewasa ini, kecuali Siao-lim, Bu-tong dan golongan pengemis, yang lainnya semua sudah dalam genggaman tangan Persekutuan Bulan Emas. Para ketua berbagai-bagai aliran yang menggabungkan diri dengan Persekutuan Bulan Emas, masing-masing telah diangkat sebagai Lengcu pasukan bendera kuning di bawah perintah persekutuan itu."
Hui Kiam terkejut. Ia bertanya dengan perasaan heran:
"Kalau begitu sudah tidak jauh lagi untuk mencapai maksud Persekutuan Bulan Emas yang hendak menguasai dunia?"
"Bagi siapa yang tidak menurut atau yang tidak setuju dengan maksudnya, semua dimasukkan ke dalam daftar hitam yang akan dibunuh!"
"Oh."
"Yang paling mengejutkan adalah empat iblis dari Delapan Iblis Negara Thian-tiek, ternyata juga sudah menggabungkan diri dengan persekutuan itu, bahkan sudah diangkat sebagai anggota pelindung hukum yang tertinggi."
Kembali Hui Kiam dikejutkan oleh berita itu.
"Empat puluh tahun berselang, Delapan Iblis dari Negara Thian-tiek itu sudah terkena serangan jarum melekat tulang Jin Ong, apakah delapan iblis itu kala itu tidak mati?"
"Hal ini aku tidak tahu."
"Barang siapa yang terkena serangan jarum melekat tulang, kecuali Jin Ong sendiri, tidak ada orang yang bisa menolong. Hal ini benar-benar tidak habis dimengerti. Apakah beritamu ini boleh dipercaya?"
"Seratus persen penuh!"
"Bagaimana kepandaian dan kekuatan empat iblis itu?"
"Tidak di bawah kepandaian orang berbaju lila itu."
"Kalau begitu hal ini merupakan suatu ancaman yang lebih besar."
"Dunia rimba persilatan daerah Tiong-goan kini sedang menghadapi hari Kiamat."
"Maksudmu memberitahukan berita ini kepadaku, apakah....."
"Aku masih belum berkata soal pokok...."
Hui Kiam mengerutkan keningnya. Ia berkata:
"Apakah yang kau maksudkan dengan soal pokok?"
Dengan sikap dan nada sungguh-sungguh Sukma Tidak Buyar berkata:
"Siu-mo, salah satu dari empat iblis itu, di gunung Bu-leng-san diam-diam telah melatih serombongan algojo. Rombongan pasukan algojo itu dinamakan Im-hong tui."
"Im-hong-tui" Nama ini sungguh aneh."
"Pasukan itu terdiri dari serombongan perempuan cantik yang mempunyai bakat baik. Lebih dulu wanita-wanita cantik itu dihilangkan sifat diri masing-masing dengan obat khusus istimewa kemudian dipelajari ilmu yang digunakan untuk memancing
orang-orang kuat dunia Kang-ouw dengan kecantikan parasnya, mereka harus bisa menghisap tenaga laki-laki yang ditumpukan untuk menambah kekuatannya sendiri dalam waktu seratus hari setiap perempuan dalam rombongan perempuan itu, akan menambah tambahan kekuatan tenaga seratus tahun ke atas.
"Perbuatan yang melanggar akhlak kesusilaan ini, pasti dikutuk oleh Tuhan."
"Selanjutnya wanita-wanita itu akan dididik dengan pelajaran ilmu silat golongan sesat dari Negara Thian-tiek oleh empat iblis itu. Oleh karena wanita-wanita itu sifatnya sudah berobah dari pengaruh obat, hanya mau dengar perintahnya ketua atau pemimpin Persekutuan Bulan Emas seorang saja. Apabila kita membiarkan mereka berhasil melatih pasukan itu, dalam dunia rimba persilatan tidak seorang pun yang dapat membasmi pasukan itu. Berbareng dengan itu, orang-orang kuat dalam rimba persilatan yang digunakan sebagai alat menambah kekuatan bagi wanita-wanita itu semuanya juga akan binasa karena kehabisan tenaganya."
Hui-Kiam yang mendengarkan itu hatinya bergidik, keringat dingin membasahi badannya.
"Bagaimana sebetulnya pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu?"
"Ini masih merupakan suatu teka teki."
"Pasukan Im-hong-tui itu dilatih di tempat mana di gunung Bu-leng-san?"
"Tempat itu letaknya sangat tersembunyi. Kita harus menggunakan waktu untuk mencari."
"Bagaimana usaha kita sekarang?"
"Kita harus menggunakan akal menyusup diri dalam rombongan itu untuk menggagalkan rencana mereka. Rombongan perempuan itu sebelum berhasil mendapat didikan ilmu dari golongan sesat tidak susah dihadapinya."
"Mereka toh tidak berdosa?"
"Karena hendak menolong nasib rimba persilatan terhindar dari kehancuran dan mencegah jatuhnya korban jiwa sesama orang-orang rimba persilatan, terpaksa kita menahan sabar!"
"Apakah kita harus berangkat sekarang?"
"Sudah tentu. Makin lekas makin baik. Tindakan selanjutnya, nanti kita bicarakan perlahan-lahan di tengah jalan.
Hui Kiam berpikir sejenak lalu berkata:
"Aku masih ada satu urusan yang belum diselesaikan. Bagaimana kalau kita berjanji bertemu lagi di suatu tempat?"
"Tentang ini"."
"Urusan ini tidak dapat ditunda lagi. Itu berarti aku tidak boleh tidak harus selesaikan dengan segera."
Sukma Tidak Buyar apa boleh buat menurut keinginan toakonya. Sambil geleng-gelengkan kepala ia berkata:
"Baiklah. Urusan itu toako memerlukan waktu berapa lama?"
"Susah dikatakan. Mungkin satu hari tetapi mungkin juga tiga atau lima hari."
"Aku akan tunggu kau di kota kecil Ma-kek-cip di bawah kaki gunung Bu-leng-san. Kalau aku belum pernah bertemu dengan kau, aku belum mau pergi."
"Baiklah!"
"Sekarang aku akan berangkat dulu."
Mata Hui Kiam kembali ditujukan ke arah gunung yang sudah hancur itu. Rupa-rupa pikiran timbul dalam hatinya. Kejadian yang tidak terduga-duga itu sesungguhnya di luar dugaannya. Dimana perempuan cantik itu sekarang" Kapan selanjutnya dapat berjumpa lagi"
Setelah berdiri termenung sebentar, ia lantas mengikuti jejak Sukma Tidak Buyar. Tatkala tiba di atas jalan raya, dua sahabat itu
akhirnya harus berpisahan. Hui Kiam menuju ke timur, sedang Sukma Tidak Buyar menuju ke Bu leng san.
Dengan hati berat Hui Kiam melakukan perjalanannya. Pikirannya masih belum terlepas dari kejadian yang telah disaksikan itu. Meski ia tahu Tong-hong Hui Bun pasti tidak terganggu keselamatannya, namun sedikit banyak masih dibuat pikiran.
Ketika di waktu senja, ia sudah tiba di bawah kaki gunung Keng-san, tetapi ia tidak melihat bayangan sucinya.
Ia agak gelisah. Menurut perhitungan, sang suci itu sudah tiba di jurang di bawah puncak gunung batu dan seharusnya sudah tentu....
Ia juga menduga bahwa kedatangan orang tua bermata biru itu dengan maksud menuntut dendam kepada Raja Pembunuh. Kepandaian orang-orang tua sedemikian tinggi, apabila si Raja Pembunuh tidak sanggup melawan, Pui Ceng Un barangkali juga tidak luput dari bencana itu.
Ia ingin pergi ke gunung Bu-san untuk mencari tahu, tetapi waktu sudah tidak mengijinkan lagi. Urusan yang harus dilakukan dengan Sukma Tidak Buyar lebih penting.
Setelah berpikir bolak-balik, akhirnya ia mengambil keputusan untuk menginap di satu kota kecil di bawah kaki gunung Keng-san. Ia minta kepada seorang pelayan rumah penginapan untuk menunggu di jalanan serta mencari kabar apakah dalam beberapa hari ini ada seorang perempuan berbaju hijau yang mengenakan kerudung yang lewat di situ atau pernah melihat menunjukkan diri di kota tersebut.
Semalaman itu ia lewatkan dengan tidak mendapat berita apa-apa. Terpaksa ia melanjutkan tujuan ke gunung Keng-san dengan membawa persediaan makanan kering cukup banyak.
Tiba di tempat yang dituju, tiba-tiba ia teringat makam yang ditemukan di gunung tersebut, karena makam itu tertulis nama ibunya, sehingga selama itu terus merupakan suatu pertanyaan dalam hatinya.
Ia lalu berjalan menuju ke makam tersebut.
Tiba di puncak gunung, sewaktu matanya ditujukan ke jurusan makam itu, hampir saja ia menjerit.
Di depan makam itu, berdiri bayangan seseorang yang membelakangi dirinya. Orang itu ternyata adalah musuh besarnya sendiri, Orang Berbaju Lila.
Rasa dendam dan benci seketika timbul dalam otaknya. Ia sungguh tak menduga, baru berhasil memahami pelajaran ilmu silat yaug sangat tinggi, ia sudah mendapatkan kesempatan untuk melakukan balas dendam terhadap musuh besarnya.
Perkaiaan Sukma Tak Buyar yang minta ia supaya berserikat dengan orang berbaju lila itu untuk menghadapi Bulan Emas, telah lenyap dalam pikirannya. Kecuali menuntut balas dendam, sudah tidak ada pikiran lain.
Maka setindak demi setindak ia geser kakinya mendekati orang berbaju lila itu. Jikalau pada saat itu ada orang yang melihat mukanya, pasti akan terkejut.
Orang berbaju lila itu masih tetap berdiri bagaikan patung, agaknya tidak merasa kedatangan Hui Kiam. Sementara Hui Kiam tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh, suara tindakan kaki, sekalipun orang biasa juga dapat mendengar. Namun orang berbaju lila itu agaknya tidak perduli. Ia anggap kepandaian sendiri terlalu tinggi atau memang sengaja tidak mau menghiraukannya.
Hui-Kiam berhenti di tempat terpisah sejarak tujuh delapan langkah di belakangnya. Tetapi orang berbaju lila itu masih tetap tidak bergerak.
Ketenangan luar biasa orang berbaju lila itu sebaliknya malah menimbulkan perasaan curiga Hui-Kiam. Tidak boleh tidak ia menimbang-nimbang kekuatannya lebih dulu.
Namun ia yakin bahwa kepandaiannya sendiri pada saat itu cukup untuk digunakan untuk menghadapi orang berbaju lila. Karena kedatangannya sendiri ke puncak gunung itu adalah ambil keputusan secara tiba-tiba, tidaklah mungkin dapat diduga oleh
orang berbaju lila itu. Apalagi ia sendiri dahulu memang bukan tandingan orang itu. Berhasilnya sendiri memahami ilmu silat dalam kitab Thian Gee Po-kip itu hanya baru terjadi dalam waktu beberapa hari saja, siapapun juga tidak tahu, maka ia mau menduga bahwa biang berbaju lila itu tidak memperhatikan dirinya.
Tiba-tiba ia teringat kedatangannya yang pertama, juga di tempat inilah ia berjumpa dengan orang berbaju lila. Kala itu orang berbaju lila pernah berkata padanya: "Siapapun tidak boleh mengotori tempat ini....." Perkataan itu sekarang kalau dipikir bukan mustahil mengandung maksud dalam.
Karena pikiran itu, Hui Kiam terpaksa menngendalikan amarahnya. Ia berkata dengan nada suara dingin:
"Orang berbaju lila, kita bertemu lagi!"
Orang berbaju lila itu agaknya terkejut. Ia membalikkan badannya. Sesaat itu ia tercengang, kemudian ia berkata:
"Bagus! Penggali Makam, meski dunia lebar tetapi jalan bagi musuh tidak cukup lebar."
"Memang begitu!"
Kedatanganmu ini berarti kupu-kupu terbang menerjang api...."
"Belum tentu, aku justru mencari kau. Sungguh tidak kuduga demikian cepat kita bisa berjumpa. Agaknya sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa."
"Apakah hatimu merasa pedih, istana wanita rendah itu telah kuhancurkan?"
Pertanyaan itu membuat Hui Kiam seketika naik pitam, hampir tidak sanggup menindas perasaan gusarnya. Dengan suara bengis ia membentak:
"Orang berbaju lila, kau jangan coba melukai hati orang dengan kata-kata. Kau nanti akan membayar mahal atas perbuatanmu ini!"
"Ha, ha, bocah, katamu seolah-olah sungguh-sungguh."
"Orang berbaju lila, kau jangan banyak bicara. Sebelum aku membunuh kau, jawablah pertanyaanku."
"Sebelum membunuh aku" Ha, ha, ha. Aku ingin lihat sebelum aku membunuh kau, cobalah. Kau bisa berbuat apa" Aku juga ingin dengar apalagi kau ingin katakan?"
"Pada sepuluh tahun berselang karena sejilid kitab Thian Gee po-kip, Kim-te telah mengalami kecelakaan. Mok-tee dan Jui-tee telah terluka, kemudian Hwee-tee dan Tho-tee menderita karena jarum melekat tulang dan pada lima tahun kemudian anak perempuannya Hwe-tee kembali hendak dibinasakan. Apakah semua itu adalah perbuatanmu?"
Orang berbaju lila itu dengan perasaan terkejut dan terheran-heran mundur satu langkah lalu berkata dengan suara gemetar:
"Bocah, sebetulnya siapakah kau ini?"
"Murid keturunan Lima Kaisar!"
"Kau, apakah murid keturunan lima kaisar?"
"Benar!"
"Benarkah Lima Kaisar masih ada mempunyai murid?"
"Keadilan dan kebenaran tidak dapat dilenyapkan untuk selama-lamanya!"
"Sudah habislah ucapanmu?"
"Kau mau mengaku atau tidak?"
"Aku tidak menyangkal!"
"Bagus sekali. Masih ada, jarum melekat tulang itu dari mana kau dapatkan?"
"Aku belum pernah menggunakan jarum melekat tulang!"
"Apa" Apakah kau belum pernah menggunakan?"
"Tidak, tidak pernah!"
"Mengapa di badan Hwee-te dan Tho-tee terdapat luka dari jarum melekat tulang?"
"Pergilah tanya pada mereka yang sudah mati!"
"Dan lagi pelayan wanita pemilik gedung Istana Bidadari, yang bernama Oey Yu Hong, pada waktu paling belakang ini, juga binasa karena senjata jarum itu, apakah kau tahu?"
"Kau tidak berani mengakui?"
Orang berbaju lila itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:
"Bocah, terhadap kau perlu apa aku harus tidak berani mengakui?"
Hui Kiam seketika itu ternganga. Ucapan orang berbaju lila ini mungkin benar, tapi ia sudah mengakui terus terang sebagai orang yang membunuh suhunya dan melukai empat supeknya, sedangkan jarum melekat tulang yang mengenakan suhu dan empat orang supeknya juga tidak salah. Dalam pesan terakhir suhunya pun demikian.
Bahkan ia sendiri pernah menyaksikan kematian suhunya sendiri yang sangat menyedihkan. Siapa lagi yang berbuat jikalau bukan orang ini?"
Orang yang bertempur dengan empat supeknya waktu itu, juga hanya ia seorang, apakah masih ada pembantunya"
Teringat perkara pembantu, maka ia lalu bertanya dengan suara gemetar:
"Orang berbaju lila, kau tidak mengakui menggunakan jarum melekat tulang, dan siapakah yang membantu kau melakukan perbuatan itu?"
"Lucu, untuk apa aku memerlukan bantuan orang"!"
"Kalau begitu mengapa kau tidak berani mengakui?"
"Aku tiada waktu bicara denganmu lagi."
Pikiran Hui Kiam terus bekerja. Karena ?orang berbaju lila itu tidak mau mengakui, pasti ada sebab-sebabnya yang tidak boleh diberitahukan kepada orang lain. Namun karena bukti sudah nyata, mengakui atau tidak sama saja.
"Soal ini sampai di sini dulu. Masih ada satu soal lagi. Belum lama berselang kau dengan menggunakan siasat keji dan rendah, telah membunuh penghuni loteng merah beserta To Liong Kiam-khek Suma-Suan itu karena apa"
Sepasang mata orang berbaju lila itu memancarkan sinar tajam. Dengan suara gemetar ia berkata:
"Bocah, kau tidak perlu tahu."
"Tetapi aku harus tahu."
"Kau masih belum pantas, juga percuma saja, sebab kematianmu sudah di depan mata."
"Kegaiban hanya bisa terjadi satu kali saja, tidak mungkin akan terulang lagi."
"Itu toh bukan mustahil."
"Kau jangan mimpi!"
Pada saat itu mata Hui Kiam mengawasi batu nisan di makam itu, kemudian ia bertanya dengan suara gemetar:
"Orang berbaju lila, orang yang dikubur dalam makam ini benarkah Yok-su Sian-cu Hui Un-khing?"
Tubuh orang berbaju lila itu nampak gemetar, sinar matanya mengunjukkan perasaan yang terheran-heran. Lama ia baru berkata:
"Ini ada hubungan apa denganmu?"
Hui Kiam telah dapat kenyataan bahwa dalam urusan ini agak aneh, maka ia telah berkeputusan hendak mencari tahu. Katanya pula dengan nada suara dingin:
"Sudah tentu ada hubungannya denganku!"
"Hubungan apa?"
"Katakanlah, benar apa tidak?"
Dengan sinar mata tajam orang berbaju lila ini menatap wajah Hui Kiam, agaknya hendak menembusi hatinya. Setelah hening sejenak, lantas menjawab dengan nada suara parau:
"Benar orang yang bersemayam di dalam kuburan ini adalah Yok-su Siao-cu Hui Un-khing!"
Hui Kiam di luarnya meskipun masih tetap dengan sikapnya yang dingin dan kaku, tetapi dalam hatinya bergolak hebat. Ia sungguh tidak menduga bahwa di dalam dunia ada kejadian yang sangat ganjil seperti ini. Seorang yang meninggalkan dunia dikubur di dua tempat. Sudah jelas makam di depan matanya itu adalah seratus persen bohong, tetapi mengapa To Liong Kiam-khek harus membuat makam palsu ini" Inilah yang merupakan suatu teka-teki yang harus dicari kuncinya. Satu hal lagi adalah hubungan sebenarnya antara To Liong Kiam-khek Suma Suan dengan ibunya. Apabila kedua teka-teki itu sudah terungkap maka apa sebabnya ia mengikuti dan memakai she ibunya, juga segera menjadi terang.
Setelah berpikir kesana kemari, akhirnya ia bertanya:
"Apakah kuburan ini didirikan oleh To Liong Kiam-khek Suma Suan?"
"Apakah kau tidak pernah membaca surat di atas batu nisan itu" Bukankah sudah jelas diukir namanya?"
"Ada hubungan apa antara Sama Suan dengan Yok-su Sian-cu?"
"Suami istri!"
Hati Hui Kiam tergetar. Ia bertanya pula:
"Benarkah suami istri...?"
Tubuh orang berbaju lila itu kembali gemetar, sinar matanya garang. Katanya pula dengan suara agak tidak tenang:
"Bukan, bukan suami istri...."
"Jawabanmu satu sama lain sangat bertentangan, ini apakah maksudnya?"
"Perlu apakah aku harus memberitahukan kepadamu?"
"Tetapi aku harus ingin tahu!"
"Tadi kau berkata bahwa urusan ini ada hubungannya dengan kau. Coba kau katakana, apakah sangkut pautnya denganmu?"
"Di dalam dunia ini ada berapa Yok-sok Sian-cu Hui Un-khing?"
Orang baju lila itu kembali mengunjukkan sikapnya yang terheran-heran. Jawabnya:
"Sudah tentu hanya satu. Pertanyaanmu ini"!"
Sebelum bertanya lebih jauh, Hui Kiam sudah menyela:
"Kalau benar hanya satu, mengapa dikubur di dua tempat?"
Kini jelas sekali bahwa orang berbaju lila itu sangat terpengaruh oleh pertanyaan Hui Kiam ini, ia maju satu tindak dan menanya dengan suara gemetar:
"Dua tempat?"
"Benar!"
"Kau jangan mengatakan yang bukan-bukan!"
"Tidak perlu aku berbuat demikian."
"Tidak mungkin, tidak mungkin...."
"Mengapa kau dapat memastikan?"
"Sewaktu Suma Suan mengubur jenazah dan mendirikan makam ini, aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, tidak mungkin salah."
Hui Kiam untuk sesaat berdiri tertegun, ia juga berkata:
"Tidak mungkin."
"Coba kau katakan apa sebabnya tidak mungkin!"
"Sewaktu jenazah Yok-sok Sian-cu dikubur, bukan saja aku sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tetapi juga turun tangan sendiri!"
"Benarkah ada kejadian demikian?"
"Benar."
"Aku tidak percaya. Di dalam dunia bagaimana ada suatu kejadian yang sangat ganjil seperti ini....."
Karena Hui Kiam ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya, terpaksa ia mengakui.
"Mau tidak mau kau harus percaya, sebab aku adalah anak Yok-sok Sian-cu."
Orang berbaju lila itu bagaikan disambar geledek, sinar matanya menunjukkan perasaan terkejutnya yang tidak kepalang. Sinar mata itu menunjukkan sinar aneh yang tidak dapat dikatakan. Ia berseru dengan suara semakin gemetar:
"Kau adalah anaknya Yok-sok Sian-cu?"
"Ya!"
"Siapakah namamu?"
"Hui Kiam."
"Hui Kiam... Hui Kiam, kau ikut she ibumu?"
"Benar."
Orang yang berbaju lila itu tiba-tiba mendongakkan kepala, matanya memandang ke atas, lama tidak bicara, tetapi tubuhnya gemetar. Semua itu dalam matanya Hui Kiam menunjukkan sesuatu pemandangan yang sangat ganjil.
Lambang Naga Panji Naga Sakti 8 Pendekar Cacad Karya Gu Long Seruling Perak Sepasang Walet 10
^