Pencarian

Riwayat Lie Bouw Pek 9

Riwayat Lie Bouw Pek Karya Wang Du Lu Bagian 9


rumahnya Bouw Pek bersenyum tawar.
"Buat ketermui dia adalah urusan mudah. Sekarang aku
tidak niat segera ketemu ia, aku rasai tubuhku kurang sehat"
ia kata. Ia lihat orang seperti sedang pikir apa2. lantas ia
sengaja unjuk roman tawar. Ia tertawa ketika ia tambahkan:
"Su ciangkui, kau jangan kuatir hal ini benar bikin aku gusar
akan tetapi aku bisa berpikir, andaikata aku cari mereka,
melulu untuk bikin mereka merasa pusing kepala, pasti aku
tidak akan terbitkan onar. Kau ketahui, disini aku tidak punya
sanak-beraya....."
Dengar ucapannya ini Bouw Pek mau kasitahu pada Su
Poan-cu, supaya tukang warung ini jangan takut, dengan
tukang warung itu telah tanggung dtrinya, ia akan jaga diri
baik2 agar tidak sampai terbit onar. Diluar dugaannya, si
Gemuk sudah lantas tepuk2 dada
"Jangan kuatir. Lie Toaya, kau boleh bikin apa kau suka!" ia
kata. "Apa juga akan terjadi, Su Poan cu bersedia
bertanggung jawab. Aku kasih tahu pada Lie Toaya, aku
bukannya seperti pedagang yang nyalinya kecil"
"Aku mengerti " Boow Pek kata sambil bersenyum, sembil
lirik tukang warung itu.
Su poan cu turut melirik, sambil bersenyum juga. Hingga
keduanya seperti telah mengerti satu pada lain.
Bouw Pek minum araknya, ia dahar sayur serta kuenya.
"Nah, sampai sebentar malam!" berkata ia yang segera
berbangkit buat terus pulang kebio. Didalam kamarnya ia
rebahkan diri akan pikirkan perhubungannya dengan Cui Siam.
ia tidak mengerti, kenapa si nona langgar janji, sedang dia itu
sudah janji hendak menuoggunya.
"Hm kau anggap Lie Bouw Pek boleh dihina" ia ngoce
sendirian, sebab sengit ingat perbuatannya Poan Louw Sam
dan Cie Sielong. "Jikalau aku tidak lampiaskan
kemendongkolanku ini, dan bila aku tidak sanggup tolong
perempuan yang bercelaka itu, Lie Bouw Pek bukannya laki2,
ia bukannya enghiong"
Bahna sengit, hampir Bouw Pek berbangkit dan pergi ke
Kauw-thio Go-tiauw guna cari Siam Nio. Tapi ia mesti rebah
terus, karena ia rasai kepalanya sakit dan malas bangun.
sembari rebah, ia hunus pedang pemberiannya Tiat Pweelek
dan pandang itu, ia dapat kenyataan, pedang itu benar2
pedang tua. Tapi kapan ia manoleh pada pedangnya sendiri
yang tergantung ditembok, pikirannya bekerja
membandingkan kedua senjata itu.
"Pedang ini pedang tua, bagus dipandang seperti barang
kuno. enak buat dipakai merantau, untuk tempur orang, lebih
baik aku tetap pakai pedangku sendiri. Pedangku pedang
biasa, tetapi cukup tajam dan aku telah pakai sejak lama,
malah diwaktu belajar pedang pada suhu Kie Kong Kiat, aku
telah pakai itu dengan pedang itu aku telah piebu dengan Jie
Siu Lian dan sontek ikat kepalanya, dengan pedang itu aku
telah pecundangi Lie Mo ong Ho Kiam Go, Say Lu Pou Gui
Hong Siang, Hoa-khio Phang Liong, Kim-too Phang Bouw
Tegasnya, aku telah dapat namaku sekarang melulu karena
aku mengandal pada pedangku itu, maka itu aku tidak boleh
sia2kan Ia menghela napas ia lalu berbangkit akan gantung pedang
tua itu. Dengan paksakan diri, ia keluar dari bio buat pergi ke
Poan cay Hotong Selatan, ke rumah paman misannya Kie
Thian Sin. Kapan ia ketok pintu, pengawal segera muncul. Ia
ini lantas unjuk hormatnya, kendati dengan roman kaget dan
bcrkuatir. "Lie Toaya, kenapa selama beberapa hari ini kau tidak
pernah datang" " ia tanya.
Lie Bouw Pek bisa lihat roman orang, ia ketahui orang lagi
berpura pura pilon.
"Apakah Looya ada dirumah" " ia tanya.
"Ada, sekarang ia sedang terima tamu. Silahkan toaya
masuk" "Kalau sedang ada tamu, aku tidak usah masuk" kata Bouw
Pek. "Dalam beberapa hari ini aku telah kebentrok dengan
orang, hingga aku terfitnah dan masuk penjara..."
"Apakah Itu benar, Toaya" " ia tegasi. "Perkara apakah itu"
" "Looya tentu siang sudah dengar perihal perkaraku ini. Tapi
sekarang sudah beres semua, karena Tiat Siauw Pweelek,
yang jadi sobatku, sudah tolong dan tanggung aku, hingga
aku dimerdekakan. Tentang aku ini, kau boleh beritahukan
kepada looya, agar ia dapat ketahui dan tidak buat kuatir
lagi." "Aku nanti sampaikan, toaya. Dengan ada pweelekya yang
menanggung, pasti perkara telah beres semua."
Pengawal itu bicara sambil manggut2. "Sekarang aku masih
tetap tinggal di Hoat Beng sie, Bouw Pek kasi tahu lebih jauh.
"Tapi aku sudih pikir, lagi satu bulan aku niat berangkat
pulang. Sebentar kau kasi tahu looya, bahwa lagi beberapa
hari aku akan datang pula kemari."
Setelah kata begitu. Bouw Pek berlalu. Di tengah jalan ia
berdiri sekian lama, bara ia bertindak dan menuju ke Kauw
thio Go tiauw. Ia jalan perlahan2 Ia telah dapat cari rumahnya
isteri muda dari Louw Sam dan Cie Sielong. Memandang
rumah itu, hatinya panas, hampir ia pikir menerjang masuk
akan cari Cui Siam untuk tanya ia itu ikut Cie Sielong dengan
sungguh2 hati atau bukan, untuk cekuk si Terokmok buat kasi
hajaran padanya. Ia mundar mandir sekian lama, pintu tetap
terkunci rapat, tidak ada seorang juga yang keluar atau
masuk. Mendadak Bouw Pek ingat suatu apa, ia lantas saja
berjalan pulang. Ia sekarang rasai kepalanya makin sakit.
"Apakah aku akan jatuh sakit" " ia kata dalam hatinya.
ingat sakit, hatinya menjadi lemah. Lekas2 ia rebahkan diri,
akan kemudian jadi pulas Kapan ia sadar, sang sore sudah
datang, la bangun dan rapikan pakaian, ia terus pergi
kewarungnya Su Poan cu akan bersantap. diwarung waktu itu
banyak tamu, Su Poan cu sedang repot melayani, sebab itu
sobat ini tidak bisa diajak pasang omong, ia terus pulang
kebio. Menungkulkan diri, Bouw Pek jalan jalan di pelataran.
Tatkala itu dipermulaan musim ketiga. Langit terang,
sepotong megapun tak tertampak. Sang rembulan bulat sisir
sudah muncul. bintang berombongan tiga atau empat, berkelik
kelik disana sini. Suasana sunyi dan menyeramkan karena
dikedua samping ada peti mati rebah melintang. Melulu sang
kutu kutu malam, yang suka kasi dengar suara mereka.
Tiba tiba Bouw Pek ingat Jie Siu Lian dan si nona seperti
berbayang didepan matanya, dibawahnya sang puteri malam.
"Kenapa aku berkukuh" " pikir ia, yang jadi ngelamun. ayah
Siu Lian sudah menutup mata, tunangannya tidak ketahuan
kemana parannya, usia mudanya tidak boleh disia siakan...
Aku cinta ia, kenapa aku tidak mau pergi pada ibunya akan
lamar ia Kenapa aku tidak mau cari ayahnya si pemuda Beng,
untuk damaikan urusan jodohku ini"
Sekejab itu, ia berniat segera berangkat ke Soanhoa, untuk
rampungkan pembicaraan, supaya ia biia lekas menikahi nona
Jie yang elok dan gagah.
"Tapi aku telah ikat perhubungan dengan Cui Siam, apa ia
tidak kecewa apabila aku menikah dengan Siu Lian" pikiran
lain muncul pula.
Ia jadi bersangsi, kebetulan sang angin sambar ia, ia
bergidik sebab dinginnya hingga kesadarannya datang pula. Ia
anggap tidak pantas ia menikahi Siu Lian, si nona tidak boleh
diganggu dan di sia siakan, bahwa adalah keharusan baginya
akan cari si pemuda she Beng. supaya mereka berdua bisa
jadi suami istri. Dengan berbuat demikian, itu mengunjukkan
ia seorang gagah.
Ia dongak memandang rembulan, ia keluarkan helaan
napas lega, kemudian bertindak masuk kedalam kamarnya.
Kamar gelap, dengan tidak nyalakan api lagi ia naik
kepembaringan. Sang kutu diluar kamar masih saja menyanyi tak
berhentinya... Bouw Pek legakan hatinya. maka akhirnya ia bisa juga
pulas. Tapi, berapa lama ia sudah tidur, ia tidak ketahui waktu
ia di bikin sadar oleh suara pelahan, hingga ia terperanjat
dikertas jendela ia tampak sinar lemah dari sang bulan.
Diantara suaranya kutu2, masih terdengar suara pelahan itu.
"sinar jendela mesti ada orang "pikir ia, yang segera
berbangkit. Dengan berindap2 ia hampirkan tembok akan
ambil pedangnya, kemudian ia pergi kepintu, yang daunnya ia
buka dengan tiba2, disusul dengan ia lompat mencelat. Ia
masih dengar suatu suara melesatkan tetapi orangnya tak
tertampak, hingga ia memandang kesekitarnya.
Rembulan sekarang sudah datang, bintang telah berkurang.
Dilangit yang biru. segulung dengan segulung, tertampak
mega2 asyik main main. Dikedua pinggiran, dimana ada peti
mati dengan berisikan mayat semua serba gelap....
"Rupanya orang itu atau penjahat, lari sembunyi diantara
peti mati," ia menduga dengan bawa pedangnya ia periksa
kedua samping, tetapi disitu tak kedapatan apapun juga.
Masih penasaran, Bouw Pak lompat naik keatas genteng,
disini ia memandang keempat penjuru hingga ia jadi heran.
Disaat ia hendak loncat turun, sekonyong2 ia tampak sinar api
didalam kamarnya. sinar yang kelihatan dari kertas jendela. Ia
menjadi kaget, karena terang ada orang pasang api didalam
kamarnya itu. Cuma api itu padam sekejab kemudian.
Tak ayal lagi Ia lompat turun, justeru dari dalam kamarnya
loncat keluar seorang yang mencekal pedang yang dengan
tiba tiba lompat menusuk dia! Karena ia sudah siap, ia bisa
menangkis buat terus balas menyerang.
Orang itu bertubuh tidak tinggi, mukanya sebagian ditutup
saputangan, serangannya hebat, gerakannya gesit dan
bertenaga. Tapi pemuda kita tidak takut, sambil borsenyum sendirian
melayani dengan tabah. Ia tidak mau mengeluh, saban ada
saatnya ia balas mendesak. Beberapa kali pedang mereka
beradu dan menerbitkan suara nyaring.
Kapan pertempuran sudah jalan dua puluh jurus lebih,
barulah Bouw Pek menjadi heran sekali. Lawan itu ilmu
pedangnya sempurna, sebegitu jauh belum pernah ia dapat
tandingan, seperti orang tak dikenal ini. Maka untuk melayani
lebih jauh, ia robah caranya bersilat, agar bisa rebut
kemenangan. Diluar dugaan, juga gerakannya lawan itu berobah dengan
cepat. Diantara cahaya sang puteri malam, kedua pedang
berkeredapan. Nyata sekarang kedua pihak sedang unjuk kepandaian
mereka, oleh karena sukar buat maslng2 dapat kemenangan.
Satelah buat sekian lama pula, Bouw Pek dapat pikiran
akan tahan serangan musuh, guna meeegor buat ketahui
musuh itu siapa dan apa maksud kedatangannya, tetapi belum
sampai ia buka mulutnya, atau orang itu mendadak lompat
mundur dua tindak, darimana ia enjot tubuhnya akan terus
loncat naik keatas genteng, gerakannya gesit dan pesat
laksana seekor kucing.
"Tunggu, sobat " anak muda kita berseru seraya juga
loncat naik keatas genteng untuk menyusul tetapi kapan ia
sampai diatas, musuh sudah tidak ada. disekitarnya tak
terlihat barang satu bayangan.
"Bagus, bagus akhirnya Bouw Pek ngoceh seorang diri
selagi ia loncat turun dari genteng buat menuju kekamarnya.
"Sekarang ternyata, tidak sia2 aku datang ke Pakkhia, disini
aku dapatkan tandingan setimpal"
Kapan ia sampai didalam kamanrya, ia nyalakan api. Ia
heran apabila ia memandang ketembok, karena disitu pedang
tua pemberian dari Tiat Pweelek sudab lenyap
"Terang dia datang untuk pedang itu " pikir ia akhirnya.
Bukannya ia jadi duka atau murka, sebaiiknya ia jadi gembira
dan girang, melebihi girangnya waktu isi bisa rubuhkan Gui
hong Siang dan lawan lain lagi. Ia lantas rapatkan pintu,
padamkan api dan naik kepembaringannya
Kalau tadi ia rasai otaknya keruh atau pikiran ruwet,
sekarang Bouw Pek merasa lega. maka sebentar kemudian ia
sudah pulas hingga tidak ingat apa2 lagi.
Esoknya pagi anak muda ini mendusin. Ia rasai pusingnya
belum hilang. Ia pergi kewarung yang berdekatan akan beli
obat, dari situ ia pergi kewarungnya Su Poan-cu buat minta air
teh, dengan apa ia telan obat itu. Ia pasang omong dengan si
Gemuk, akan tetapi ia tidak tuturkan, bahwa ia telah kecurian
pedang. "Nah, sampai sebentar malam!" kata anak muda ini, yang
pamitan tak lama berselang. Dari situ dengan sewa kereta ia
pergi ke Pweelekhu. Ketika sampai diistal ia dapat keterangan
bahwa Pweelek tiada dirumah ia tidak jadi masuk.
"Baik aku ketemukan si bujang istal, kata ia Tapi baru saja
niatan itu muncul atau pikiran sehat mencegah ia. "Kenapa
aku mesti cari Siauw Jie, yang disini ada seorang bujang istal
Aku bukannya tamu agung, tapi pweelek perlakukan aku
dengan manis dan semua bujang disini berlaku hormat padaku
apa kata mereka apabila aku kunjungi bujang istal" Orang
bisa berbalik pandang enteng padaku atau celakanya, mereka
bisa jadi curiga......."
Oleh karena ini ia cuma mondar-mandir didepan istana, ia
harap Siauw Jie keluar dengan tuntun kuda, supaya ia dapat
alasan akan bicara dengan bujang itu. Siapa tahu, ditunggu
sampai lama bujang itu tak pernah muncul.
"Biarlah lain kali saja aku ketemui dia........" pikir ia
kemudian. Ia lalu bertindak dengan perlahan2, menuju
keselatan. Jalan belum jauh ia rasai kepalanya pusing, maka
lekas ia sewa kereta buat pulang ke Sinsiang Hotong. begitu
sampai digereja, dalam kamarnya ia sudah lantas rebahkan
diri. Ia tidak dahar tengah hari. sampai magrib baru ia sadar
dan berbangkit.
Buat kedukaannya, Bouw Pek rasai tubuhnya benar2 tidak
sehat, kepalanya pusing, pikirannya ruwet, hingga akhirnya ia
jadi menghela napas.
"Meski bagaimana juga, urusannya Cui Siam mesti
dibereskan malam ini....." ia berpikir. .-Sesudah urusan beres,
aku tidak punya sangkutan lagi, hingga aku bisa berdiam


Riwayat Lie Bouw Pek Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dirumah untuk beristirahat beberapa hari, kemudian aku
berangkat ke Yankeng akan susul Tek Siauw Hong......"
Ia pergi kewarungnya Su Poancu untuk bersantap malam.
Ia gunai ketika ini buat pasang omong dengan pemilik warung
arak itu Su Poan cu selalu sambut ia dengan manis dan layani
ia dengan hormat dan telaten. Sehabis bicara sebentar, ia
pulang kebio Sekarang ini Bouw Pek tidak dapat lantas tidur pulas. Ia
ingat si pencuri psdang, yang ia harap2 supaya datang lagi. Ia
tahu kesehatannya terganggu, tetapi ia merasa masih cukup
kuat akan tempur pula pencuri itu, guna ukur tenaga dan
kepandaian mereka sampai terdapat keputusan. Ia sengaja
tidaK kunci pintu kamar, agar musuh bisa datang dan masuk
dengan leluasa.....
Malam itu, selewatnya jam tiga, Bouw Pek rasai dirinya
terbenam dalam kesunyian. Apa yang ia dapat dengar adalah
suaranya sang kutu dan sampokannya angin musim Ciu.
"Sekarang sudah waktunya!" pikir ia, yang semangatnya
jadi terbangun. Ia berbangkit dengan gembira akan tukar
pakaiannya ia libat dengan angkin, Bepatunya juga ia tukar
dengan yang enteng. Setelah padamkan api, dengan kempit
thungsha dan bawa pedangnya. ia keluar dari bio. Ia dongak,
ia lihat langit guram.
Disaat itu Bouw Pak menyesal yang ia tidak mampu
terbang, hingga ia tidak dapat segera bersama Cui Siam
dengan siapa sudah lama ia tidak bertemu
Bouw Pek Ioncat naik keatas rumah, dari situ ia lontat
turun keluar. Ia menoleh kesekitarnya, ia lihat d dalam gang
tidak ada orang lain. Maka lekat lekas ia pakai thungshangnya,
setelah sembunyikan pedangnya dalam baju yang panjang
dan gerombongan itu, ia mulai bertindak menuju ke Kiauw
thio-Go ciauw. Tatkala itu dltengah malam, jalanan aunyi sekali, seorang
juga tak tertampak. Malah dengan orang rondapun ia tidak
berpapasan Ia kenal baik Kauwthio Go tiauw, belum lama ia
sudah sampai ditempat itu. Iapun segera dapat cari rumah
gundiknya Poan Louw Sam, sebuah rumah kecil tetapi baru
Kedua pintu terkunci, maka ia menuju ke belakang. Disini ia
buka thungshanya, yang ia gulung dan ikat dipunggnngnya.
Maka sekarang, dengan pakaian singsat, dengan leluasa ia
loncat naik keatas tembok, terus merayap keatas genteng.
Dari atas genteng kelihatan bagian dalam rumah itu
terpecah tiga, kamar utara dan kamar barat terang dengan
cahaya api. Dengan hati hati Bouw Pek pergi kekamar utara. Ia
merayap diatas genteng dan pasang kupingnya. Lantas ia
dengar suara bicara dan tertawa dari orang perempuan bukan
suara dan seorang saja. Kemudian suara itu jadi makin nyata
terdengarnya. "Aku hendak tidur sekarang!" demikian seorang
perempuan. "Andai kata kau tidak puas. kau tunggu saja!"
Itu suara yang Bouw Pek kenal, maka mendengar itu
hatinya seperti tertusuk.
Lantas juga kelihatan A Go keluar dengan memimpin Siam
Nio dan seorang nyonya tua urut keluar dengan membawa
tengloleng. "Kau tidur sendirian saja, apa kau tidak takut" " terdengar
A Go menggoda Siam Nio "Lebih baik kau tidur dengan aku
dalam kamarku, sekalian kau temani aku Umpama kata
sebentar Louw Sam ya datang, tidak ada halangannya sama
sekali...."
Siam Nio nampaknya mendongkol, tetapi ia tertawa.
"Mulut kau paling bisa ngaco belo" ia berkata. "Awas, aku
nanti kasi tahu pada Cie Tayjin!"
A Go tidak takut dengan ancaman itu.
"Kau berani, kau herani ngadu pada cie tayjin" " ia kata,
sambil menggoda terus. "Awas Jikalau kau benar berani
mengadu, aku nanti bikin supaya Cie Tayjin buat selamanya
tidak datang pula pada kau!"
A Go pegang tangan orang dan Siam Nio berontak.
"Eh, kau ini Cie Tayjin punya apa, maka kau berani kata
demikian" " nona ini kata sambil tertawa. Kenapa Cie Tayjin
mau tunduk padamu" ......"
Siam Nio bisa lepaskan diri. ia lari kedalam kamar sebelah
barat. A Go mengejar, tetapi pintu altar sudah dikunci.
"Encie yang baik, sudahlah," Siam Nio berkata. "Sekarang
sudah jauh malam, Louw Samya juga tentu tidak akan datang,
baik kau masuk tidur! Besok kita ketemu pula"
A Go tertawa, kemudian dengan ajak si nyonya tua ia
kembali kekamarnya.
Bouw Pek berada diatas genteng separuh hatinya menjadi
tawar dengan segera.
"Tadinya aku anggap, dengan jadi gundiknya Cie Sielong,
entah berapa sedihnya Siam Nio, siapa nyana sekarang ia
begini bergirang" ia berpikir. "Kenapa ia sudi menjadi isteri
muda orang" Dilihat dari sini, benar hati perempuan sangat
sukar diketahui"
Dari tawar hati, Bouw Pek jadi mendongkol. Ia sudah mau
berlalu dengan bawa kemendongkoiannya. waktu ia lihat api
di kamar barat masih belum dipadamkan.
"Ibunya Siam Nio tentu tidur dikamar lain" pikir ia. "Malam
ini Cie Sielong dan Poan Louw Sam tidak datang, maka
kasihan dua perempuan itu. yang ditinggal masing2 seorang
diri...... lantaran mesti tunggui kamar kosong, mereka jadi
sudah bersenda gurau..... Cie Sielong dan Poan Louw
Sam mestinya ketahui aku sudah keluar dari penjara, pasti
sekali mereka takut datang kemari."
Bouw Pek loncat turun dari atas genteng, ia hampirkan
jendala dari kamar barat, dari kaca jendela ia memandang
kedalam. Siam N o duduk diam seorang diri, romannya sangat lesu,
tetapi baju dan celana dadunya indah dan mentereng. Ia
tunduk, hingga melulu rambutnya yang bagus yang kelihatan.
Mau tidak mau, hatinya anak muda kita jadi lemah pula. Ia
pindahkan pedang kepunggung ia lalu mengetok dengan
pelahan. "Siam Nio, buka pintu .... Aku ..." ia berkata.
Siam Nio terkejut, hingga mukanya pucat dan tubuhnya
gemetar. Ia berbangkit denga tergopoh2.
"Kau..... kau siapa" " ia tanya dengan susah Lantas katanya
terputus, karena pintu telah terbuka dan seorang bertindak
masuk Ia hampir berteriak, kapan lihat orang itu, yang
bertubuh tinggi dan berpakaian hitam Ia lantas saja berdiri
diam, romannya kaget dan takut dengan berbareng. Sekarang
ia kenalkan Lie Bouw Pek.
"Kau jangan takut," kata ia dengan perlahan, sinar matanya
adalah sinar mencinta.
Si nona masih saja berkuatir, tampak mukanya yang elok
bersinar menyedihkan.
"Bagaimana kau bisa datang kemari" " demikian
pertanyaan satu nya.
Bouw Pek adukan kedua baris giginya, bibirnya menjadi
rapat satu pada lain la kendalikan dirinya. Dengan mata tajam
ia awaskan si nona yang lemah itu.
"Aku datang hendak bicara padamu, sebentar saja"
akhirnya ia bilang.
Menampak orang tidak bergusar, batin Siam Nio pe!ahan2
menjadi tetap. "Apa itu Bilanglah" " ia kata
"Poan Louw Sam dan Cie Sielong sudah gunai akal busuk,
dengan apa mereka fitnah aku, hingga aku mesti masuk
penjara," ia kata, "maksudnya itu tidak lain supaya mereka
bisa dapati dirimu. Apakah kau ketahui ini" " Siam Nio
manggut. "Aku telah ketahui semuanya," ia menyahut. "Aku juga
ketahui, yang kau telah ke1uar dari penjara. Sudah dua harimeraka
tidak datang kemari, sebabnya yalah mereka takut
padamu!" Bouw Pek tertawa dingin.
"Beruntung mereka tidak ada disini" kata ia. "Coba mereka
ada di sini, tidak bisa tidak, aku tentu bunuh mereka "
Mendengar itu Siam Nio bergidik, apa pula sekarang ia
telah dapat lihat pedangnya menggembloh dipunggungnya.
Bouw Pek bertindak maju akan datang lebih dekat, air
mukanya bersorot gusar.
Lie Bouw Pek seorang laki laki, ia tidak akan kasi dirinya
dipermainkan dan dihina!" ia kata dengan sengit. "Aku juga
tidak bisa lihat yang kau mesti menjadi gundiknya tua bangka
yang sendirinya sudah punya dua tiga isteri muda. Kau turut
aku, besok kita nanti tinggalkan Pakkhia ini Tidak perduli
kemana kita pergi, aku pasti tidak nanti bikin kau menderita
kesengsaraan"
Siam Nio kaget, sampai mundur dua tindak, la goyang
goyang kepala. "Aku tidak bisa ikut kau" ia menyahut.
Bouw Pek sudah ulur tangannya akan tarik si nona, ketika
ia tercengang karena mendengar jawaban itu.
"Kenapa kau tidak biia ikut aku" " ia tegasi. "Apakah kau
memang suka menjadi gundiknya tua bangka she Cie itu"
Siam Nio goyang pula kepalanya.
"Tidak," ia menyahut, "aku tidak suka, Tapi... Cie Tayjin
punya pengaruh besar ia punya banyak uang, dengan itu
semua ia bisa berbuat segala apa. Lain dari itu, ia telah
perlakukan kami ibu dan anak baik sekali, maka kami tidak
boleh tidak punyakan liangsim, tidak...."
Mendadak nona Cia menangis, hingga perkataannya jadi
terputus. Ia agaknya tidak takut lagi, ia banting banting
kakinya. "Sekarang aku tidak bisa nikahi kau..." berkata ia. "Kau
orang kalangan Sungai Telaga, tidak ada yang baik hatinya.
Aku suka ikut Cie Tayjin seumur hidupku! Jikalau kau hendak
bunuh Cie Tayjin, hayo, kau sekalian bunuh aku juga"
Bouw Pek jadi melongo, hatinya menjadi dingin.
"Baiklah. akhirnia ia manggut2. "Oleh karena kau telah
mengucap begini, aku juga tidak mau timbulkan pula urusan
kita berdua, anggap saja aku telah keliru kenal orang Baiklah,
aku pergi sekarang ..."
Ia bertindak keluar, daun pintu ia tutup pula cuma dengan
satu enjotan tubuh ia sudah mencelat keatas genteng.
Siam Nio tercengang, kemudian ia jatuhkan kepalanya
diatas meja dan menangis. Ia menyesal yang ia telah
perlakukan secara demikian anak muda itu, roman siapa yang
cakap telah segera berbayang dimatanya, suara siapa yang
sabar telah berkumandang dikapingnya Ia seperti lihat satu
tubuh yang gagah berdiri dihadapannya tapi sekejab saja, dan
sekarang ia berada sendirian, seperti tadinya....
Lie Bouw Pek sudah pulang kegereja, ia tidak gusar atau
mendongkol, ia hinya sesalkan diri sendiri
"Kenapa aku mesti main api dengan Siam Nio" " demikian
ia pikir. sebenarnya, begitu ketahui Jie Siu Lian sudah tidak
merdeka, aku mesti berusaha di Pakkhia ini, atau aku terus
pergi marantau. Kenapa aku berlaku jujur terhadap Siam Nio"
Benar katanya Su Poan-cu, jikalau aku tidak kenai Siam
Nio, tidak nanti aku sampai kena dianiaya oleh Louw Sam.
Sudah begitu, sekeluarnya dari penjara, kenapa aku mesti
tengok pula Siam Nio, hingga sekarang ia berlaku begini rupa
padaku Apa itu bukan berarti aku cari malu sendiri" Sudah,
aku tidak boleh penasaran lagi ......"
Ia lantas naik atas pembaringan uatuk melegakan hati
tetapi kendati demikian, sehingga lama ia tidak bisa pulas.
ESOKNYA pagi Bouw Pek mendusin, ia rasai tubunnya tetap
tidak sehat, kapan ia turun dari pembaringan ia rasai
kepalanya pusing dan kakinya lemas. Ia kertak gigi, ya
keraskan hati. Ia tidak lagi duduk, hanya bertindak keluar
kewarungnya Su Poan cu. Ia duduk dikursi dengan tangan
menunjang kepala, ia tidak kata apa2.
Su Poan cu tidak menyangka kesehatan orang terganggu,
ia duga anak muda ini masgul karena urusannya Siam Nio,
maka ia tertawa.
"Bagaimana, Lie Toaya" " ia menegor. "Apa kau sadah
ketemui Siam Nio 7"
Bouw Pek geleng kepalanya sendiri dan menghela napas
"Sudahlah, diangan sebut2 pula dia itu ....." ia menyahut
Si gemuk bersenyum mendengar jawaban itu.
"Kau laki2, kenapa urusan begini kecil bisa ganggu kau
seperti ini" " ia kata dalam hatinya. Tiba2 ia tertawa dan tepok
meja. "Sudah. Lie Toaya kau jangan berduka lebih lama pula!"
berkata ia. "Urusan yang menyukarkan kau itu, kau serahkan
saja padaku. Kau akur, bukan" Jangan kau banyak lihat Poan
Louw Sam punya enam rumah gadai dan Cie Sielong
berpangkat tinggi Aku seorang she Su meski hanya tukang
warung tetap aku tanggung adalah mudah sekali buat suruh
mereka itu serahkan kembali Siam Nio padamu, Lie Toaya!"
Lagi lagi si Gemuk tertawa, sembari mengawasi si anak
muda. Ia telah lonjorkan sebelah lengannya yang besar. Ia
seperti hendak bilang.
"Lie Toaya jikalau kau tidak pergi, nanti aku yang pergi
gantikan kau"
Tetapi Su Poan cu telah menduga keliru. Bouw Pek lesu
bukan urusannya Siam Nio, ia lesu karena gangguannya sakit
kepala, yang sebisa bisa ia hendak lawan. Ia malah tidak
dengar semua ucapannya si Gemuk itu.
"Jangan kau ngaco belo, sekarang ini pikiranku lagi kusut!"
ia kata ia menghela napas, kemudian ia berbangkit "Aku tidak
bisa duduk lama disini, aku hendak pulang"
Dengan tindakan berat, ia pergi keluar. Ia pergi kerumah
obat. Ia pulang buat teras rebahkan diri, ia bisa juga tidur
pulas. Terapi setelah mendusin dari tidurnya, Bouw Pek rasai
kepalanya sakit sangat, tubuhnya pun panas.
"Saudara Bouw Pek"
Suara itu datangnya dengan mendadak.
Bouw Pek terperanjat, ia buka matanya, yang baru seja ia
meramkan. Suara itu berada dekat dan ia ingin lihat siapa
orangnya yang menegor ia, yang panggil ia "saudara".
Kapan ia sudah. buka matanya. Ia menjadi heran.
Didepan pembaringan berdiri seorang dengan muka kuning
dan kurus, dua matanya besar, bajunya hijau. Ia adalah si
bujang istal dari Pweelek-hu, yang telah bisa ketahui ilmu alat
rahasia Bouw Pek.


Riwayat Lie Bouw Pek Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Lekas2 Bouw Pek berbangkit, tapi ia mesti senderkan
badannya. "Saudara Jie, aku justeru harap kau" ia berkata. "Kemarin
aku pergi keistana mencari kau. kau tidak ada! Silahkan duduk
Maafkan aku, buat penyambutanku yang kurang hormat
ini....... Aku sedang sakit."
"Aku juga lihat toako seperti sedang sakit" berkata Siauw
Jie, dengan sikapnya yang menghormat, "karena ini, diwaktu
masuk kedalam kamarmu ini, aku tidak berani banyak
bersuara. Kau tidak boleh kena angin toako, silahkan kau
rebah pula"
Bouw Pek geser bantal kepala buat tunjang kapalanya.
JlLlD KE-14 "KELIHATANNYA sakitku ini tidak berarti" sahut ia sambil
menghela napas. "Rupanya aku telah terkena angin dingin.
Aku belum undang thabib aku hanya makan beberapa butir
yohwan. Sesudah mengaso dua tiga hari, barangkali aku akan
sembuh." Sembari kata bagitu, matanya Bouw Pek memandang
kemejanya, dimana sekarang terletak sebatang pedang ialah
pedang pemberiannya Tiat Siauw Pweelek, yang diwaktu
malam lenyap tercuri orang. Ia lantas bersenyum.
"Saudara Jie," berkata ia, "ketika kemarin ini aku layani Jie
ya main pedang dan kau telah lihat ilmu pukulanku dan lantas
peringati Jie ya, aku lantas ketahui yang kau seorang ahli silat,
maka selanjutnya aku perhargai diri kau. Pada Tek Lok aku
telah minta keterangan, adalah diri dia itu aku ketahui kau
orang she Jie. Aku menyesal yang Tiat Jie-ya sudah tidak
mampu melihat orang Kau punya kepandaian tinggi, kenapa
kau diantapi mendekam dikandang kuda" Aku telah pikir, aku
mesti ketemui Jie ya guna kasi tahu tentang dirimu. Kemarin
aku kunjungi Jie ya, ia kebetulan tidak ada diistana...."
Tetapi Siauw Jie goyang kepala.
"Jangan, toako. pada Pweelek ya jangan kau sebut aku, ia
minta. "Pekerjaan meroskam kuda itu adalah pekerjaan yang
aku sendiri inginkan. Sudah hampir satu tahun sejak aku
datang dan bekerja di Pweelek hu, tetap hari kecuali
melakukan kewajibanku aku tidak mau urusan lain. adalah
nama kau yang terkenal, sudah sejak sebulan yang berselang
aku dapat dengar orang buat sebutan. Kemarin ini waktu hal
toako piebu dengan Jie ya, aku kagumi benar ilmu ulat kau
yang luar biasa itu. Kau bisa bergerak dengan gesit sekali. Aku
sampai lupa diri, hingga diluar keinginan aku telah buka suara.
Oleh karena itu, aku mesti terima seselan oiang. Pasti sekali
aku tidak sudi berurusan daigan orang2 semacam mereka itu.
Tempo hari itu meu menyaksikan Jie ya kasih hadiah pedang
pada toako aku kagum bukan main, sebab tertariknya hatiku.
Begitulah malamnya aku telah datang kemari, kesatu aku ingin
minta pelajaran dari toako dan kedua aku ingin pinjam lihat
pedang tua itu Sekarang pedang tua itu aku sudah lihat, aku
dapat kenyataan, meski benar pedang itu sudah tua tetapi
tajamnya tidak seberapa Aku tahu toako tentu telah pikirkan
pedang itu. maka sekarang aku telah bawa itu buat
dipulangkan. Buat perbuatanku, aku minta toako sudi maafkan
aku....." "Pedang itu aku tidak pakai, baik kau ambil, saudara Jie,
aku suka kasihkan itu pada kau," ia bilang. "Kemarin malam
kau datang dengan pakai tutup muka, kendati demikian, aku
sudah ketahui, kau adalah orang itu, maka juga dihari kedua
aku lantas cari kau. Bukannya maksudku saudara Jie, buat
minta pulang pedang itu! Saudara Jie, ijinkan aku omong terus
terang. Aku masih muda, aku merantau belum cukup lama,
akan tetapi Gui Hong Siang, oey Kie Pok, Kim too Phang Bouw
dan lain2, semua orang2 yang namanya tersohor, aku telah
pernah tandingi. Ternyata mereka sebenarnya orang biasa
saja. Untuk menangkan mereka itu emua, aku telah tidak
gunakan terlalu banyak tenaga Tapi saudara, kemarin malam,
waktu aku berhadapan kau, barulah aku betul2 ketemu lawan!
Saudara, dengan bermain2 dengan kau aku girang bukan
main, pertama aku kagum, kedua karena aku sanggup layani
kau! Saudara, oh, aku girang bukan main!"
Bouw Pek begitu gembira, hingga ia mau bangun, tetapi
apa mau kepalanya berat, kakinya lemas, ia tidak sanggup
berbangkit, sedang Siauw Jie juga sudah lantas mencegah.
"Jangan bergerak, saudara Lie, kau rebah saja!"
"Saudara Jie, aku masih belum belajar kenal dengan kau"
kata tuan rumah, sambil mengawasi dengan tajam. "Saudara,
aku masih belum ketahui nama kau yang besar dan kau asal
mana..." "Aku asal Tho kee kauw," ia menyahut, "sedan masih kecil
aku telah tidak punya ayak bunda, maka kesudahannya aku
jadi hidup terlunta-lunta dikalangan Sungai Telaga. Ada orang
panggil aku Siauw Jie, atau Jie Muda, ada juga yang panggil
Jie Jie, yaitu Jie yang kedua .....
Itu adalah jawaban yang menyimpang, dari situ Bouw Pek
ketahui orang masih belum mau kasih tahu namanya yang
tenar. "Pasti ia seorang yang mempunyai riwayat" ia pikir. "Ia
tinggal di pweelek hu secara merendahkan diri, itu mesti ada
maksudnya yang tersembunyi, atau ia lakukan itu karena
terpaksa. Sekarang kita baru kenal, aku tidak boleh desak ia,
ia niscaya tidak mau omong terus terang, maka baiklah aku
bersabar, sampai persobatan kita sudah cukup kekal
"Oleh karena aku tidak punya tempat simpan, pedang ini
baiklah ditinggal disini," berkata pula Siauw Jie, "jikalau nanti
aku perlu dan hendak pakai, aku nanti datang kemari akan
minta pada toako. Kau sakit toako, kau tidak boleh alpa, kau
perlu lekas panggil thabib."
Bouw Pek berterima kasih buat perhatiannya itu.
?Terima kasih, saudara Jie" la menyahut. "Kau tidak usah
kuatirkan aku, aku nanti minta tolong hweeshio disini pergi
panggilkan thabib. Kalau sebentar kau pulang, tolong
beritahukan Jie ya, bahwa aku lagi sakit dan karena itu baru
satu dua hari lagi aku bisa berkunjung padanya."
Siauw Jie manggut.
"Aku nanti Sampaikan omongan toako ini," ia kata.
"Sekarang silahkan toako mengaso, aku hendak pulang, besok
aku nanti datang pula."
"Terima kash, saudara. Maafkan aku, aku tidak antar kau,"
berkata Bouw Pek.
Siauw Jie manggut, lantas ia bsrlalu.
"Kelihatannya orang she Jie ini jujur, ia pikir Bouw Pek
setelah perginya tamunya itu. "ada harganya bagiku buat ikat
tali persahabatan padanya Aku hanya heran, begitu gagah dan
masih muda, kenapa ia sudi menjadi bujang istal, menjadi
tukang roskam kuda .... Itu toh Suatu pekerjaan rendah
Sebenarnya Bouw Pek merasa heran dan masih hendak
pikirkan halnya Siauw Jie itu, akan tetapi mengingat sakitnya
dan kepala pusing, ia lantas coba lupakan. Tidak lama
hweeshio datang menengoki, tapi ia berat buat buka mulutnya
Ia tahu, jikalau thabib dipanggil, siapa yang nanti belikan
dan masakkan obat" Ketika hweeshio itu berlalu, ia jadi sedih
sendirinya. Beginilah orang yang hidup sebatang kara
dikampung orang aakit tidak ada yang menengok dan rawati,
hingga kalau umpamanya menutup mata, siapa akan urus
mayatnya" Kedukaannya anak muda ini jadi bertambah. kapan ia
teringat pada Siu Lian yang sudah tidak punya oraag tua, yang
hari depannya guram berhubung lenyapnya tunangannya.
iapun teringat pada Siam Nio yang lemah. yang ia percaya
telah menjadi korbannya pengaruh dan uang.
Sehingga lewat tengah hari Bauw pek belum dahar, sedang
buat minum air saja tidak ada orang yang bawakan ia air teh.
Semua menambah kedukaannya, pikirannya jadi pepat. Adalah
disaat ini, kupingnya dapat dengar suara tindakan diluar
kamar. Ia lekas memandang kepintu, akan akhirnya tampak
Siauw Jie datang pula.
Siauw Jie layani sobat ini minum teh. ia lihat sang waktu
masih belum malam, maka ia pergi keluar, diwaktu bilik lagi ia
datang bersama thabib. Bouw Pek lantas diperiksa, terutama
nadinya. susudah itu thabib itu menulia surat obat dan
kemudian pergi. Siauw Jie pun pergi untuk beli obat, ketika ia
pulang, ia sekalian bawa anglo, sepiauw arang, beras dan
lain2. Lebih dulu ia masak obat, lantas masak bubur. Maka
sehabis makan obat, bouw Pek bisa lantas dahar bubur dan
minum teh. "Hiatee, terima kasih buat kebaikanmu ini," kata si sakit ia
sangat bersyukur. Ia merasa sangat berhutang budi.
"Jangan kau berkata demikian, toako" kata Siauw Jie
dengan sungguh, nampaknya ia kurang senang. "Aku minta
kau jangan seejie, tidak berarti apa2 bagiku akan merawat
kau, apa yang aku harap adalah kau mengaso dan lekas
sembuh. Kalau nanti kita sudah lama bersobat, baru kau akan
dapat ketahui, aku si Siauw Jie orang macam apa"
Selagi mereka bicara tiba daun pintu ada yang tolak dari
luar dan seorang gemuk bertindak masuk berbareng dengan
ucapannya yang berlagu lidah Shoasay, katanya
"Bagaimana eh, Lie Toaya Kau sakit?"
Siauw Jie pasang lampu seraya terus awasi erang yang
baru datang itu, yang pun berbalik mengawasinya.
Bouw Pek sudah lantas mengenali siapa si gemuk itu.
"Su Ciangkui," ia lantas memanggil. "Aku sedang sakit,
barangkali aku akan meninggal disini ...."
"Eh Lie Toaya kau jangan ngeco belo " si Gemuk menegur.
"Siapa sih orangnya yang tidak pernah dapat sakit" Lewat dua
tiga hari, kau tentu akan sembuh?"
"Diwaktu begini bukankah kau sedang repot?" Bouw Pek
tanya "Kenapa kau bisa bagikan tempo untuk datang kemari?"
"Memang ada bsberapa meja yang penuh dengan tamu.
tetapi orangku sanggup yam mereka sendirian " Su Poan cu
jawab. "Sebenarnya sudah dua hari ini aku lihat air mukamu
beda dari pada biasanya, aku kuatir kau dapat sakit, dan hari
ini kau tidak muncul seantero hari, aku jadi menduga keras
bahwa kau sakit. Demikianlah aku datang"
Bouw Pek tertawa, ia menoleh pada Siauw Jie.
"Kau lihat, hiantee," berkata ia. "Benar aku hidup sebatang
kara dikota pakkhia ini, akan tetapi peruntunganku baik,
buktinya Su Ciang-kui ini, baru satu hari ia tidak lihat aku, ia
sudah berkuatir! ...."
Sebelum orang menyahuti, Su Poan cupun menoleh pada
bujang istal itu,
"Kau siapa, tuan ?" ia tanya "Bolehkah aku ketahui she kau
yang mulia ?"
"Aku orang she Jie." sahut Siauw Jie sembari bersenyum
"Saudara ini adalah Jie Jietee," Bouw Pek memberi tahu,
"ilmunya jauh lebih liehay daripada apa yang aku bisa" Segera
ia tambahkan : "Hiantee, tuan ini adalah Su Ciangkui yalah
tuan dari warung arak diluar gang kita. lapun menjadi sobat
kekalku." Siauw Jie dan Su Poan Iyu bcrkiongkhiu satu pada lain.
Masih saja Su Ciangkui mengawasi kenalan baru itu,
barulah ia menoleh pada Bouw Pek.
kau telah undang thabib toaya, sesudah makan obat
bagaimana kau rasakan?" ia tanya.
"Thabib bilang penyakit ini tidak berarti" Sauw Jie yang
talangi menjawab, "katanya sesudah minum beberapa
bungkus obat. ia akan sembuh. Cuma ia perlu mengaso"
Su Poan cu manggut .
"Itulah aku percaya," ia bilang. "Cuma Lie Toaya ini.
kendati ia pandai ilmunya dan pandai mencari hiburan tapi
pikirannya agak tertutup. Sebenarnya juga, orang muda
seharusnya mesti pantang paras elok ..."
Mendengar ucapannya si Gemuk, Siauw Jie tercengang,
kemudian ia lekas menoleh pada si sakit.
Bouw Pek pandang si Gemuk itu, ia berniat mencegah
orang bicara teius, tetapi Soe Poan coe yang tidak
mamperdulikan mukanya bersemu merah, sudah bicara lebih
jauh, katanya: "Apa yang lebih liehay lag1 daripada paras elok adalah sakit
rindu ....."
Bouw Pek tidak bisa tahan sabar lagi, hingga ia menegor:
"Soe Ciangkoei , ayo jangan kau ngaco belo"
Tapi si Gemuk yang lucu itu tertawa
"Jangan sembunyi sembunyikan, sobatku ......" kata ia. Lie
toaya. hayo bicara menurut liangsim kau! Mustahil penyakit
kau ini bukan disebabkan Coei Siam" ia nona bunga latar,
jikalau ia suka nikah Poan Louw Sam atau mau ikut Cie
Sielong, perduli apa antap salya! Kita laki , asal kita punya
kepandaian dan kemauan berapa saja nona kita hendak nikah,
kita bisa dapatkan! kenapa sih kau mesti selalu pikirkan Coei
Siam. hingga kau bikin rusak tubuhmu yang kuat laksana besi"
Bunga raya yang tidak punya liangsim, kita jangan buat
pikiran! Kau seorang pintar, Lie Toaya, kau sebenarnya tidak
usah minum obat, asal kau suka buka matamu dan hatimu
dengan sendirinya penyakitmu akan sembuh !......"
Beda dari pada biasanya, Soe Poan coe bicara dengan
sungguh sungguh, nampaknya ia sengit atau tidak tenang,
tetapi kemudian kelihatannya ia agak menyesal maka ia
terpandang Siaaw Jie dan kata pada orang baru ini:
"Aku adalah orang Yang asing suka omong terus terang.
urusannya Lie Toaya ini telah bikin aku menjadi ibuk sekali Lie
Toaya ini menjadi langgananku dan berbareng sobat baik yang
aku hargakan "
Siauw Jie manggut, ia tidak jawab tukang warung itu. Tapi
Lie Bouw Pek, yang rebah dipembaringannya, bersenyum
tawar. "Soe Cangkoei, apa yang kau barusan bilang, semuanya
tfdak cocok" ia membantah. "Memang aku telah kenal bunga
raya, tetapi sekarang ini dia itu aku telah lupakan Sakitku ini
sedikit diuga tak ada hubungannya dengan bunga itu!"
Tapi si Gemuk bandel, ia tertawa.
"Sudah cukup Lie Toaya," kerkata ia. "Sekarang baiklah kau
mengaso aku tidak mau adu lidah, sekarang aku mau pulang,
besok aku nanti datang pula ......"
Sehabis kata begitu, si Gemuk pandang Siauw Jie dan
manggut, lalu bertindak pergi.
Siauw Jie anggap pemilik warung arak itu seorang yang
aneh Ia tidak mengerti, kenapa meskipun tubuhnya begitu
besar, tindakannya cepat dan tepat.
Lie Bouw Pek bila lihat yang orang merasa heran, maka ia


Riwayat Lie Bouw Pek Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kata: "hiantee, kau jangan pandang enteng pada tukang warung
arak ini! ia memang punya bagian bagian yang istimewa aku
telah pernah timbulkan itu kepadanya, tetapi ia tetap
menyangkal"
Siauw Jie manggut.
"Aku lihat dia dari sikapnya, dari tindakannya, ia mestinya
seorang yang mangerti ilmu silat," ia bilang.
"Aku percaya ia seorang beriwayat" Bouw Pek kata pula.
"Tunggulah sampai sakitku sudah sembuh aku mesti cari
keterangan untuk mengetahui jelas siapa dia itu. Masih ada
beberapa hal lain. yang bikin aku heran, tetapi ah biarlah,
tunggu saja lain waktu, nanti dengan perlahan aku bicarakan
itu padamu ...."
Siauw Jie manggut. Ia sebenarnya ingin ketahui halnya
Poan Louw Sam dan Cie Sielong serta Coai Siam. ia mau minta
keterangan dari Bouw Pek, tetapi melihat orang sedang sakit
dan agaknya tidak mau banyak omong ia batalkan niatnya itu.
"Baiklah aku bersabar" demikian ia pikir.
Dengan begitu mereka jadi diam dua duanya. Siauw Jie
duduk disamping lampu yang apinya guram. Suasana dalam
kamar sunyi diluar tertampak dari jendela rembulan sedang
bercahaya indah. Suaranya kutu malam terdengar nyata
dalam kesunyian itu.
Lama juga Bouw Pek rebah, akhirnya kedengaran ia
merintih beberapa kali ia merasa sekujur tubuhnya panas.
Tukang roskam kuda iu menunjang dagu alisnya
mengkerut, suatu tanda ia masgul Rambutnya kusut,
pakaiannya bunyak jahitannya, tanda kemiskinannya.
Memandang ia dalam keadaannya itu, siapapun tak akan
percaya, bahwa ia sebenarnya pandai boegee.
Diam diam anak muda kita menghela napas.
"Didalam dunia ini entah berapa banyak orang gagah yang
telah mati menderita didalam kalangan Sungai Telaga" ia pikir,
"Di fihak lain, umpama di pwee!ek hoe, segala kauwsoe dan
cinteng semua bisa makan enak dan pakaian bagus, hidupnya
senang Kenapa tidak ketahui orang sebagai Siauw Jie ini" Dari
omongaunya, dari gerak gerakannya, ia bukannya orang
sembarangan. Ia juga tentu belum lama ceburkan diri dalam
kalangan Sungai Telaga. Kenapa ia tidak punya nama?"
Kendati demikian, Bouw Pek tidak berani lantas tanya asal
usulnya. "Ia berkepandaian tinggi, tetapi ia tidak sudi campur gaul
dengan orang jahat ia lebih suka hidup menderita, dari sini
sudah terniata ia searang yan? psga i g kekal dera-jatnya. Kita
baru kenal, tetapi ia suka berkorban untuk temani dan rawati
aku. Ini juga bukti lain yang menyatakan ia berhati mulia ...."
Oleh karena ini, anak muda kita jadi makin bersyukur.
"Hiantee sekarang sudah bukan siang lagi, pergilah kau
tidur" ia berkata. "Sayang aku tidak punya pembaringan lain
selainnya yang aku pakai sekarang Hawa udara sangat
dingin....."
Ditegor begitu Siauw Jie sadar dari ngelamunnya, ia terus
berbangkit. "Buat aku tidak ada selimut atau lainnya, tidak apa" kata ia.
"Sekarang baru dipermulaan musim rontok, hawa udara belum
biasa dibilang terlalu dingin. Besok aku nanti ambil parabot
tidur. Toako kau mau minum?"
Ia tuangkan teh. Dan bawakan Itu pada anak muda Kita.
Bouw Pek minum sambil menghaturkan terima kasih.
Sebentar kemudian pintu ditutup dan api dipadamkan,
berdua mereka masuk tidur.
Esoknya siang Tek Lok datang.
"Jie ya berkuatir ketika ia dengar Lie Toaya sakit, maka ia
perintah aku datang menyambangi" berkata hamba yang
dipertaya itu. "Jie-ya pun perintah aku undang thabib untuk
periksa sakit toaya Thabib itu, Siang Tayhu, adalah tabib
pandai, ia akan datang sebentar lagi, karena tadi waktu aku
pergi padanya, ia masih mesti pergi kedua rumah."
"Terima kasih" Bouw Pek kata. "Jie ya begitu baik hati,
bagaimana aku balas budinya?"
"Jie ya juga perintah aku sampaikan soal ini pada toaya"
Tek Lok berkata pula. "Jie ya bilang, apabila toaya perlu uang
diminta toaya bilang saja, jangan seejie . Sekarang Jie ya
sudah sediakan beberapa puluh tail perak, tatapi kerena Jie ya
kuatir toaya sangsi, ia tidak lantas titah aku bawa uang itu"
"Perkara uang, aku masih sedia cukup" Bouw Pek bilang.
"Tapi Jie ya tentu perhatikan aku, aku sungguh merasa malu
sendiri... " Ia lalu tunjuk Siauw Jie, yang berada
disampingnya, ia tambahkan "Tuan Jie ini telah bantu aku,
maka kapan sebentar kau pulang, tolong kau sampaikan pada
Jie ya umpama kata diistana ia tidak punya pekerjaan lain aku
minta supaya ia diperkenankan berdiam lagi beberapa hari
sama aku disini Aku perlu orang buat temani aku."
"Itu perkara kecil, aku sendiri bisa kasi putusan" Tek Lok
jawab dengan cepat "Biarlah ia berdiam disini, karena diistal ia
tidak banyak pekerjaannya."
Tek Lok sudah bicara dengan bawa sikap seperti
taykoankee atau kuasa istana, tetapi Siauw Jie disampingnya
berdiri diam, sikap dan air mukanya tidak berobah barang
sedikit juga. Bouw Pek jadi heran, kenapa Siauw Jie sudi
bekerja sebagai bujang dan mesti terima perlakuan seperti
menghina dari seorang budak. Meski begitu, ia diam saja, ia
tidak mau buka rahasianya si orang she Jie ini pada budak
yang pegang kekuasaan atas Pweelek hu itu.
Atas undangan tuan rumah, Tek Lok duduk dan minum teh,
sembari bicara ia mau tunggui datangnya Siang Tayhu, yang
muncul tak lama kemudian.
Thabib ini adalah salah satu thabib yang terkena!
diPakkhia, ia bisa keluar masuk istana raja2 muda atau
gedung2 besar, tidak heran kalau tingkah lakunya tinggi. Maka
itu, masuk kedalam kamar kecil dari sebuah gereja, bicarapun
ia tidak mau, ia lantas periksa nadinya Bouw Pek, bikin resep
lantas ngeloyor pergi.
Tek Lok antar thabib itu sampai diluar gereja, lantas ia
masuk pula akan periksa surat obat.
"Surat obat ini berharga mahal, biarlah aku yang bawa
pulang untuk dibelikan obatnya" ia berkata. "Kami memang
punya perhubungan tetap dengan rumah obat Hok Lian Tong"
"Aku kira tidak usah kau yang bawa, biarlah sebentar
saudara Jie saja yang belikan obatnya" Bouw Pek mencegah.
Tek Lok letakkan surat obat itu.
"Baiklah." ia bilang. "Nah, sekarang aku hendak pulang"
"Baik. Tolong sampaikan terima kasihku pada Jie ya" bouw
Pek pesan. Tek Lok manggut, lantas ia berlalu.
Seperginya budak yang berkuasa itu, Siauw Jie kata pada
sobatnya : "Sungguh baik perlakuan Tiat Jieya terhadapmu toako. Tek
Lok ini pengikut Jie ya yang paling dipercaya, sampai Tek Lok
diutus menyambangi kau dan mengundang thabib, itu berarti
peighargaan atas dirimu.
Bouw Pek manggut.
"Ketika aku masih dipenjara, Jie ya juga perintah Tek Lok
beberapa kali datang menengoki" ia kata. Lantas ia menghela
napas. "Jie Hiantee. aku benar2 tidak mengerti"ia
melanjutkan. "Orang sebagai kau, aku percaya, dalam segala
apa mesti bisa angkat kepala, maka aku heran, konapa kau
justeru pilih pekerjaan bujang istal istananya Tiat Jieya ....
Kenapa, hiatee ?"
Ditanya begitu, Siauw Jie menghela napas. Sampai lama
juga baru ia angkat kepalanya.
"Toako aku hendak bicara secara terus terang padamu," ia
menyabut. "Aku ini telah merantau dikalangan Sungai Telaga
sejak masih kecil sekali, lantaran itu, sekarang sesudah besan,
aku tidak mau merantau pula
"Kalau begitu, kenapa hiantee tidak mau coba pertontonkan
kepandaianmu dihadapan Jie ya ?" Bouw Pek tanya pula.
"Seperti kau lihat sendiri, Jie ya gemar silat, la hargakan orang
orang yang punya kepandaian, siapa tahu andaikata ia angkat
kau jadi cinteng" Tidakkah itu lebih baik daripada pekerjaan
yang kau pegang sekarang?"
Berulang ulang Siauw Jie goyang kepala.
"Sekarang ini aku tak ingin lakukan itu macam pekerjaan"
ia terangkan. "Umpama kata aku menjadi cinteng, segera
akan banyak orang yang ketahui aku ini orang macam apa
....." Bouw Pek terperanjat.
"Kalau begitu, hiantee" berkata ia, "jadinya dengan jadi
tukang istal ini kau sedang umpatkan diri" Kau jadinya tak
ingin orang kenali kau"..."
Siauw Jie manggut pula disertai helaan napas.
"Toako, sekarang kau telah mengerti, aku minta kau jangan
menanyakan lebih jauh" memegat tukang istal ini.
"Ringkasnya dalam hatiku aku punya kesukaran yang aku tak
dapat Uraikan Tapi Jie Jie tidak takut, tidak takut siapa juga.
Akupun belum pernah lakukan apa yang melanggar undang
negeri, aku tinggal di Pweelekhu selaku bujang istal melulu
untuk sementara. Aku sekarang lagi uji kesabaran lagi tunggu
waktu, apabila ketikanya sudah tiba, aku hendak pergi
ketempat lain"
"Hiantee, kalau nanti aku sudah sembuh, aku hendak pergi
ke Yankeng, apakah kau suka ikut aku sama pergi kesana?"
Bouw Pek tanya. "Di Yankeng aku punya sobat kekal yang
bernama Tiat seeciang Tek SiauW Hong serta Sin-tho Yo Kian
Tong mereka itu sedang menantikan aku. Disana kita bisa
bekerja sebagii piauwsu"
Tapi Siauw Jie goyang2 kepala.
"Ke Yankeag aku tidak mau pergi" ia menyahut.
Bouw Pek heran atas jawaban ini. Ia anggap sobat ini
benar2 kukoay. Ketika ia hendak bicara pula, tiba ia lihat
Siauw Jie berbangkit. tangannya menyambar surat obat.
"Toako tunggu, aku hendak pergi beli obat" ia kata.
"Kau tidak bawa uang, hiatee. Dikantongku ada beberapa
tail, kau ambilah itu."
"Tidak usah, aku juga punya uang" ia kata Dan sembari
kata begitu ia bertindak keluar.
Bouw Pek bertambah pusing kepalanya, karena ia tidak
mengerti kelakuan yang aneh itu.
Belum terlalu lama Siauw Jie sudah kembali dengan
bungkusan obat, ia terus nyalakan api dan masak obat itu.
Setelah Bouw Pek minum obat, ia rebahan dan kemudian tidur
pulas. Ketika ini digunai olah Siauw Jie buat pulang keistalnya
di Pweelek bu, buat ambil perabot tidur.
Hari itu Kie Thian Sin kirim hambanya pergi tengok Bouw
Pak, kapan pamannya dengar kcponakannya sakit ia kirimkan
uang belasan tail perak.
Malamnya, Su Poan cu juga kirim bujangnya datang
membawakan bubur dan lain2 untuk sobatnya yang sakit itu.
Maka itu, kesudahannia, Bouw Pek tidak mengalami
kesukaran. Uang sedia, obat dan makanan ada. pelayan juga
ada serta kawan yang dapat diajak bicara cuma, sebab selalu
mesti rebah dan jadi ngangguk, kadang ia teringat pula pada
Siu Lian atau Siam Nio dan setiap habis ingat mereka ini ia jadi
masgul berduka dan menyesal Semua kejadian itu ia ingin
jadikan pengalaman dan tauladan, agar lain kali ia jangan
coba dekati orang perempuan lagi ......
"Siauw Jie benar juga" demikian ia pikir lebih jauh. biar jadi
bujang istal, ia merdeka, pikirannya tidak terganggu...
Oleh karena ia bisa hiburkan diri, lewat beberapa hari Bouw
Pek telah sembuh dari sakitnya, melulu karena sekian lama
mesti diam saja diatas pembaringan ia masih lemah.
"Kau baik mengaso terus, toako" Siauw Jie kasih tahu.
"Tentang makananmu dan lain2, kau tetap serahkan padaku"
"Dengan begitu aku melulu bikin banyak susah padamu"
Bouw pek bilang.
"semua itu tiada artinya" Siauw Jie yelaskan.
Sudah dua hari Su Poan cu tidak kirim orangnya datang
membawa makanan, sebaliknya dari Pweelekhu setiap hari
ada datang orang untuk menyambangi sekalian bawakan ia
yan oh dan makanan-makanan lain untuk kuatkan badan
maka Bouw Pek bukan main bersiukurnya pada Tiat Jieya,
yang begitu perhatikan ia.
Hari itu turun hujan kecil, tetapi hawa udara dingin sekali.
Maka Siauw Jie pindahkan anglo kedalam kamar, buat pakai
itu sebagai perapaian sambil berbareng masak air, masak nasi
dan lain2. Dengan begitu, ia juga berada didalam, hingga
Bouw Pek bisa pasang omong dengan dia.
"Tuan Lie, apakah kau dirumah?" demikian terdengar
pertanyaan dengan tiba suara itu datangnya dari luar dan
asing bagi Bouw Psk, hingga ia jadi heran.
Siauw Jie lari membuka pintu dan melihat.
Nyata yang datang ada aeorang hamba negeri, hamba dari
Kim-bun Teetook yang duluan tangkap Bouw Pek. Tapi
sekarang hamba ini bersikap sabar.
"Tuan Lie, apa dalam beberapa hari Ini kau tidak pergi
kemana2?" ia tanya,
"Tidak" menyahut Bouw Pek. Ia bawa sikap tenang. Ia
mengerti, dengan hujan2 datang juga, hamba ini mesti ada
urusan penting. "Aku telah sakit sudah sepuluh hari lebih.
Selama itu aku berdiam dirumah dan makan obat. Sekarang
aku sudah sembuh, tetapi aku masih belum turun dari
pembaringan. Ada apa kau hari ini datang cari aku, lauwhia?"
Hamba negeri itu duduk dikepala pembaringan, ia
keluarkan kantong tembakau buat isap huncwee matanya
mengawasi keatas meja dimana ada bungkusan obat, sedang
ditanah ia tampak kip-siauw. Iapun lihat muka orang yang
perok dan pucat. Akhirnya ia tertawa sendirinya, ia goyang
kepala. "Tidak apa2 !" ia menyahut. "Aku datang melulu untuk
melihat kau, Lie Toaya. Toaya, apakah dalam beberapa hari ini
kau tidak pernah ketemu Jie ya?"
"Seperti aku sudah bilang, aku diserang penyakit, hingga
buat belasan hari aku mesti berdiam saja didalam kamar ini,"
Bouw Pek menyahut. "Aku tidak ketemu Jieya, tetapi buat
sakitku ini aku telah terima banyak sekali budinya jie ya.
Setiap hari tentu Jie ya kirim orang sambangi aku. Ia juga
yang undangkan aku thabib dan belikan aku obat"
"Memang, Jieya seorang yang mulia hatinya!" memuji
hamba itu. Ia nampaknya berpikir sebentar, lantas ia menanya


Riwayat Lie Bouw Pek Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Lie Toaya, apakah kau ketahui urusannya Poan Louw Sam
dan Cie Sielong?"
Mendengar pertanyaan itu, Bouw Pek melegak sebentaran.
tapi lekas juga ia geleng kepala.
"Aku tidak kenal mereka itu." ia menyahut.
Hamba negeri itu tetap bawa sikap sabar.
"Lie Toaya, aku hendak sampaikan satu kabar baru
padamu?" ia berkata pula. "Kemarin malam Poan Louw Sam
dan Cie Sielong berada dirumah isteri muda mereka
diKauwthio Go tiauw, mendadak ada orang yang datang
sambil membawa golok, berdua mereka telah dibunuh
mati......"
Mau tidak mau, Bouw Pek terperanjat sampai air mukanya
berubah. Bagaimana juga, kabar itu hebat baginya. Itu adalah
kejadian yang ia tidak pernah sangka.
Si hamba negeri teruskan omongannya
"Sesudah lakukan pembunuhan itu, si penjahat telah
angkat kaki dan kabur, Tidak ada barang apa juga yang
lenyap, maka itu orang menyangka itu adalah pembunuhan
guna membalas sakit hati. Kami dikantor menjadi sangat
repot, begitu lekas kami dengar kabar itu. Gundiknya Louw
Sam, yaitu A Go, dan gundikiya Cie Sielong. Siam Nio, serta
ibunya gundik ini, Cia Loo Mama, kami telah bawa kekantor
untuk didengar keterangannya. Toaya tahu apa" Gundiknya
Louw Sam itu telah seret kau, Toaya ......"
Bouw Pek terkejut hingga tertampak kemurkaannya.
"Apakah perempuan itu bilang aku yang bunuh Louw Sana
dan Cie Sielong?" ia tanya.
"Sabar toaya" berkata hamba itu seraya ulapkan
tangannya. "Urusan itu tidak bisa ada sangkutannya dengan
kau. Memang benar A Go bilang, bahwa Louw Sam dan Cie
Sielong bermusuhan dengan toaya, bahwa karena dapat tahu
kau telah keluar dari penjara, karena ketakutan mereka tidak
berani datang kerumah gandik mereka. Sudah beberapa hari
mereka tidak datang, kalau kemarin mereka toh datang, itu
disebabkan A Go dan Cui Siam sudah kirim orang minta
mereka datang juga. Adalah diluar dugaan, justeru malam itu
sudah terjadi pembunuhan. Pembunuh itu seorang gemuk,
kedua tangannya, kepalanya semua dibungkus dengan kain
Hitam. Bujang perempuan yang tua juga dapat lihat
pembunuh itu"
Didalam hatinya, Bouw Pek kaget kapan ia dengar si
pembunuh adalah seorang gemuk. Tapi karena itu ia bisa
bcrsenyum tawar.
"Syukur aku bukannya seorang gemuk " kata ia.
Hamba itu mengawasi sambil bersenyum.
"Kami dikantor semua ketahui itu, maka kami juga tidak
curigai kau toaya" berkata ia. "Tapi oleh karena A Go ada
sebut nama toaya, sep kami tidak bisa tidak kirim aku kemari
untuk menyambangi toaya, guna mencari keterangan ...."
"Keterangan apakah bisa didapat dari aku?" kata Bouw Pek
dengan bersenyum dingin. "Benar Poan Louw Sam telah fitnah
aku dan benar aku benci dia akan tetapi perbuatan demikian
datangi orang di waktu malam dan membunuh. perbuatan
yang rendah, aku Lie Bouw Pek tak nanti sudi lakukan!
Sementara itu sudah beberapa hari aku rebah karena sakit,
mana aku ada tenaga dan mampu lakukan itu" Andaikata kau
tidak percaya aku. kau boleh cari thabib yang diundang oleh
Tiat Pweelek untuk mengobati aku, akan dengar
keterangannya, kau boleh tanya padanya aku sakit benar atau
berpura2 saja"
Dijelaskan demikian, hamba negeri itu tertawa, meskipun
sebenarnya ia mesti merasa jengah atau likat.
"Bukankah siang2 aku telah terangkan, toaya?" berkata ia
sambil tertawa. "Dikantor kami apa juga tidek ada yang curigai
toaya Malah buat menduga saja, kami tidak berani, Jikalau
demikian, tidaklah perlunya kau datang meminta keterangan
dari aku?" Bouw Pek bilang. "Poan Louw Sam dan Cie Sielong
itu setiap hari andalkan uang dan pengaruh mereka, tidak ada
kejahatan yang mereka tidak lakukan, maka itu bisa
dimengerti. bahwa orang yang telah jadi korban mereka
banyak, entah berapa banyaknya!"
"Dikota raja ini aku punya banyak sanak dan sobat, aku
tidak bisa pertaruhkan jiwaku buat singkirkan dua manusia
busuk itu, jikalau orang lain, itu urusan mereka sendiri!"
Bouw Pek bicara dengan lagu dan roman menyatakan ia
sangat mendongkol dan berbareng juga merasa puas, karena
kebinasaannya Poan Louw Sam dan Cie Sielong memang
membikin ia puas.
Hamba negeri itu tidak kata apa2 lagi, apa pula ia
memangnya percaya, pembunuhan itu tidak bisa diadi
perbuatannya anak muda ini, maka tidak lama berselang ia
berbangkit untuk pamitan.
"Lihay" kata Bouw Pek seperginya hamba negeri itu,
"baiknya aku kebetulan sakit, jikalau tidak, lagi aku mesti
berurusan dengan pembesar negeri dan dalam perkara yang
lebih hebat..."
"Itulah belum pasti, toako" Siauw Jie borkata. "Tidakkah
saksi2 perempuan sendiri bilang, sipembanuh berbadan
gemuk?" Bouw Pek berdiam, ia berpikir, lalu ia bcrsenyum.
Berulang2 ia manggut2.
"Toako, apa benar kau kenal Cui Siam, gundiknya Cie
Sieloag itu?" kemudian Suuw Jie tanya.
Ditanya begitu, Bouw Pak merasa malu sendiri. Ia
menghela napas.
"Saudara, betul pantangan paling keras untuk anak muda
adalah perkenalan dengan nona nona," ia berkata. "Selama
setengah tahun ini aku sangat menderita oleh karena aku
kenal orang perempuan, hingga semangatku jadi seperti telah
buyar pergi... Aku merasa tidak beruntung lantaran adanya
perkenalan itu. Sekarang aku mengerti, sekarang aku
menyesal bukan main .....Saudara jikalau kau suka dengar aku
nanti menuturkan"
Siauw Jie bersenyum. Ia memang ingin ketahui hal
ihwalnya jago muda ini, maka pengutaraan itu ia sambut
dengan girang sekali.
"Silahkan, toako" ia bsrkata seraya terus pasang kuping.
Bouw Pek bersenyum secara menyedihkan.
"Dalam satu tahun ini, dua kali aku telah mengalami
pertemuan yang berkesudahan bikin hatiku terluka," ia mulai
"Pertama adalah perkenalanku dengan nona tetangga daerah,
yaitu nona dari Kielok. Ia dari satu she dengan kau, hintee"
Siauw Jie nampaknya kaget, sebagaimana air mukanya
telah berobah lengan mendadak. Terang ia tertarik hati secara
luar biasa. Bouw Pek tidak perhatikan perobahan sikap itu, ia lantas
melanjutkan dengan penuturannya. Ia tuturkan segala halnya
dengan Jie Siu Lian bahwa karena tawar bati terhadap nona
itu yang ia tidak berani ganggu ia jadi kenal Cui Siam, bahwa
karena bersobat dengan Cui Siam, diluar tahuaya ia telah
dimusuhi oleh Poan Louw Sam dan Cie Sielong,
Aku telah teryerat, lain kali aku tidak mau bersobat lagi
dangan orang perempuan" ia kata akhirnya dengan sengit.
Siauw Jie bingung mendengarkan penuturan itu, terutama
bagian halnya Sioe Lian
"Menurut aku, toako" kata ia kemudian, sambil barsenyum
"aku lihat kau dan si nona she Jie itu adalah pasangan yang
setimpal...."
Hatinya Bouw Pek sebenarnya belum mati, maka
mendengar perkataanaya kawannya itu ia menghela napas.
Aku telah berusia hampir tiga puluh tahun, sebabnya
kenapa aku masih belum menikah, karena aku lagi tunggui
nona yang segalanya mirip dengan nona Jie itu" ia akui, Diluar
dugaanku, peruntungan tipis. Nyata nona Jie sudah
bertunangan, maka lantaran itu aku tidak berani mengharap
yang bukan2! Sejak itu aku telah ambil putusan guna cari
Beng soe Ciauw, supaya mereka berdua bisa lekas menikah,
apabila mereka sudah tertangkap, barulah batiku lega. Aku
sendiri, apa pula setelah pengalamanku dengan Coei Siam,
aku sudah sumpah tidak mau menikah. Bicara hal pernikahan
saja, aku tidak sudi!"
"Siauw Jie bersenyum itu dingin apabila ia dengar ucapan
sengit itu. "Kenapa kau bersikap demikian keras, toako?" ia berkata.
"Orang she Beng itu tidak ketahuan dimana adanya, tidak ada
halangannya toako nikahi nona Jie Sioe Lian"
Bouw Pek tertawa.
"Hiantee " berkata ia, "aku benar bodoh dan kelihatannya
sukar buat aku bisa lupai persobatanku dengan nona Jie akan
tetapi perbuatan tidak pantas demikian, yang bertentangan
dengan adat peradatan, aku pasti tak akan lakukan Umpama
buat selama lamanya Beng Soe Ciaw tidak ketahuan kemana
parannya. atau umpama ia telah menutup mata, aku tetap tak
akan ambil Jie Sioe Lian se bagai isteriku Daripada nikahi nona
Jie, aku lebih suka hidup duda untuk seumur hidupku ...."
Siauw Jie tertawa dengan dingin.
"Kau terlalu berkukuh, toako " ia berkata.
Sehabis ia kata begitu, Siauw Jie berbangkit akan bertindak
keluar kamar. Ia berdiri diteratapan, akan memandang sisanya
hujan musim Cioe. Sampai sekian lama baru ia masuk pula.
Sorenya, sehabis masuk, Siauw Jie ajak Bouw Pek
bersantap. Mereka dahar sama sesudah pasang lampu,
mereka duduk berhadapan buat pasang omong.
Lagi sekali 8ouw Pek minta seorang she Siauw itu robah
sikapnya, jangan tuntut terus penghidupan yang rendah itu.
"Sekarang ini Tiat Pweelek perlakukan kau tidak
selayaknya" kata anak muda kita, "tetapi itu bukan karena
sengaja hanya lantaran ia tidak meugetahui macam apa
adanya kau. Coba ia ketahui kau gagah dan adalah
tandinganku, aku penyaya ia segera akan perlakukan kau
sebagai tamu yang terhormat."
Siauw Jie geleng kepala.
"Tiat Pweelek tidak perhatikan aku, aku juga tidak ingin
pertontonkan kepandaianku dihadapannya" ia bilang. "Aku
tidak ingin peroleh kedudukan karena pertontonkan
kepandaianku itu! Lagian sekarang aku sudah ambil putusan
akan robah cara hidupku. Toako. aku mau tunggu sampai kau
sembuh betul, segera aku akan tinggalkan Pakkhia pargi
ketempat lain!"
Bouw pek terperanjat.
"Eh hiantee kemana kau hendak pargi?" ia tanya.
"Aku pikir buat pergi ke kanglam, akan cari seorang sobat"
sahut Siauw Jie dengan roman sangsi.
"Bagus" berseru Bouw Pek dengan kegirangan "Aku juga
ingin pergi ke Lamhia sudah lama aku berniat, sebegitu jauh
belum bisa kejadian. Aku asalnya dari Titlee, tetapi aku terlahir
di Kanglam. Hiantee tahu, di Kanglam aku punya beng
pehhoe, yaitu empe yang menjadi saudara angkatnya ayah ku,
yalah loo hiapkek Kang Lam Hoo. Aku ingin kunjungi beng
pehhoe itu. Baik, laotee. bila nanti aku sudah sembuh betul,
mari kita pergi sama2, pesiar ke Selatan! Kau akur bukan?"
Tetapi Siauw Jie goyang kepala.
"Toako, kau jangan samakan dirimu dengan diriku" ia kasi
mengerti. "Aku sebatang kara, dimana aku sampai, disitu ada
rumahku. Lain dari itu bagiku segala macam pekerjaan sudah
biasa, apa saja aku bisa lakukan. Kau sebaliknya, dikampung
kau masih mempunyai paman, sedang kedatanganmu ke
Pakkhia adalah dengan tujuan yang besar. Kau mempunyai
pengharapan, sebagai sekarang sudah terbukti, tiap hari
namamu naik makin tinggi dan tiap hari sobatmu bertambah.
Aku minta toako jangan sia siakan hari depanmu yang penuh
pengharapan itu! Aku percaya, toako, dibelakang hari kau
akan lakukan suatu pekerjaan besar di sini, waktu itu kau
boleh mendirikan rumah
tangga bersama nona Jie Sioe Lian, secara begitu tidaklah
kau bikin kecawa dirimu sebagai seorang gagah yang
bersemangat! Aku seorang dengan peruntungan malang,
buktinya sekarang aku tidak peroleh kemajuan, hingga mesti
hidup terlunta lunta aku tidak berdaya....."
Bouw Pek tidak puas dengan pengutaraannya sobat itu, ia
masgul akan dengar namanya Sioe Lian di sebut sebut. Tiap
kali nama itu disebut, tiap kali juga ia merasa tertusuk. ia juga
tak merasa puas terhadap sikapnya orang she Jie ini, yang
hatinya baik, tapi dalam persobatan agaknya hendak jauhkan
diri". Buktinya, ia sudah tuturkan hal dirinya dengan jelas, tapi
Siauw Jie sendiri bungkam perihal riwayatnya. Ia tetap hanya
baru ketahui, Siauw Jie adalah Jie Jie. anak yang kedua.
"Meski bagaimana juga, ia seorang aneh" akhirnya ia
beranggapan. Dengan berhenti bicara, kamar jadi sunyi. Diluar masih
terdengar menetesnya air hujan. Keduanya berdiam, mereka
nampaknya punya kesukaran masing2.
Ditembok tergantung dua batang pedang.
Lilin sekarang telah hampir tinggal pongkotnya saja.
=================Ada Bagian
Hilang======================
"Secara terus terang, sudah dua tiga tahun lamanya aku
Soe Poancoe tidak sudi mcnjadi orang yang usilan" demikian
katanya dengan nyaring sikapnya gagah, tetapi Louw Sam
dengan uangnya terlalu jahat, ia telah lakukan banyak sekali
kebusukan dan kekejaman, hingga sudah sekian lama aku
berniat singkirkan ia. Kemurkaanku telah meluap sesudah ia
fitnah kau, hingga kau masuk penjara dan ketika ia pakai buat
ancam dan jerumuskan Coei Siam kedalam kedudukan hina
dina, hingga kau, enghiong besar, mesti jatuh sakit karena
rindu. Kejadian seperti itu aku tidak bisa tonton lebih lama
lagi. Maka tadi malam aku telah pergi ke Kauw thio Go tiauw,
dimana aku telah bikin habis jiwanya Poan Louw Sam dan Cie
Sielong. guna bikin tamat lelakon keyahatannya. Sekarang
Coei Siam telah menyadi janda muda, mustahil ia sekarang
tidak bisa menikah pada kau?"
Mukanya Bouw Pek neniyidi merah
"Kau ngaco!" ia membentak.
Tetapi bukannya kuncup, si Genuk sebaliknya tertawa.
"Aku tidak mau berbantahan," ia kata. "Aku merasa puas,
karena dengan jalan ini aku telah lampiaskan hawa busuk
dalam perutku. Aku tabu yang hamba negeri sudah mulai cari
aku, lantaran itu aku tidak bisa tinggal lebih lama pula di
Pakkhia ini. Malam ini juga aku akan angkat kaki dari sini


Riwayat Lie Bouw Pek Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tetapi lebih dulu aku hendak beritahu kau kau satu hal. Kau
jangan anggap Oey Kie Pok itu seorang dengan hati baik. Baru
saja selama dua hari ini aku dapat keterangan yang benar.
Dalam perkara kau difitnah, bukan melainkan Louw Sam
seorang yang aniaya kau, diantaranya Oey Kie Pok juga turut
memasukkan bukan sedikit racun Tek Ngo ya pulang ke
Pakkhia belum ada tiga hari, ia sudah dipaksa mesti angkat
kaki pula. Sekarang Oey Kie Pok lagi bertindak lebih jauh, ia
sudah berkonco dengan Phang Hoay dan Phang Liong dua
saudara, mereka telah minta Moh Po Koen dari Soe Hay Piauw
Tiam pergi ke Holam guna undang Teng couw hie Biuw Cin
San dan Kim khio Thio Giok Kin. Mereka semua diundang
untuk musuhi kau! Maka, Lie Bouw Pek, seorang kau mesti
berlaku hati2! Thio Giok Kin punya Tumbak Emas, Biauw Cin
San punya piauw terbang, bersama2 Oey Kie Pok punya golok
yang tersembunyi
dalam tertawanya yang manis. semua itu tidak boleh
dipandang ringan semua berbahaya sekali. Aku kasi tahu
padamu, karena aku akan pergi, aku tak dapat bantu kau lebih
jauh" Ia tertawa, ia angkat kedua tangannya, kiongcioe pada
dua orang didalam kamar itu lalu ia tambahkan "Aku
berangkat sekarang! Mudah2an nanti kita akan bertemu pula"
Setelah kata begitu, ia putar tubuhnya dan bertindak
keluar, kapan diluar terdengar suara angin menyambar dan
genteng terinjak, si Ular Gunung telah hilang lenyap dimalam
yang gelap itu.
Tapi Lie Bouw Pek mendadak tertawa berkakakan.
"Kau lihat, hiantee sudah terang Lie BouW Pek bukannya
tidak ternama." ia kata pada Siauw Jie, yang ia awasi.
"Lihatlah, namaku sudah mendatangkan kedengkiannya
semua orang itu! Bukankah Soe Poan coe telah beritahukan
barusan, bahwa Sioe Bie too Oey Kie Pok sudah minta
bantuannya si orang she Moh buat undang datang Kim khio
Thio Giok Kin dan Biauw Cin San" Namanya Thio Giok Kin itu
aku pernah dengar dari mulutnya almarhum Jie Loo enghiong.
tetapi namanya Biauw Cin San barulah pertama kali ini aku
dapat tahu. Bagus! Kalau nanti mereka sampai di Pakkhia,
sakitku tentulah sudah sembuh betul, maka waktu itu aku
pasti suka ketemu mereka itu" Ia tertawa secara dingin.
Bukannya jerih, ia justru jadi berani luar biasa. Lantas ia
damprat Oey Kie Pok. katanya: "Oey Kie Pok, bagus betul
perbuatanmu! Ketika aku dipenjara, kau telah datang
sambangi aku, siapa nyana ku sebenarnya seorang busuk
dengan mulut manis! Baiklah, sekarang aku tidak pergi cari
kau, aku mau tunggu sampai nanti sudah datang orang
undangan kau, baru aku sekalian coba kau !"
Saat ini sebenarnya panas. tetapi Siauw Jie duduk diam,
nampaknya ia tidak perdulikan urusan itu, ia malah lantas
tutup pintu buat terus lupakan diri dan tidur.
Bouw Pek sendiri tidak bisa lantas meramkan mata Ingat
Kie Pok, ia mendongkol bukan main. Tapi kapan ia ingat Soe
Poan coe, ia jadi gembira, karena situkang warung arak
adalah seorang yang lucu, menarik hati dan mengagumkan.
Apabila ia ingat si bujang istal, ia heran, kecurigaannya tak
bisa lenyap dengan lantas Si orang she Jie ini tetap sukar
diduga hatinya.
Lewat lima atau enam hari lagi, sakitnya Bouw Pek sudah
sembuh sama sekali. Sejak |tu siauw Jie pindah pula ke
Pweelek hoe, malah ia telah tidak datang.
Pagi itu Bouw Pek bangun dan pakai baju kapas yang
lemas, kepalanya ditutup dengan kapas, baru seja ia keluar
dari pintu ia sudah disambut angin pagi yang dingin, yang
membikin ia bergidik. Kapan ia tunduk, memandang kelatar, ia
lihat ber tumpuknya daun rontok. Dengan tindakan perlahan ia
keluar dari pekarangan bio kapan ia sampai dimulut utara dari
Sinsiang Hotong darimana ia bisa lihat warung arak dari Soe
Poan coe ia dapatkan warung itu tertutup rapat, nampaknya
sunyi, mirip seperti setumpukan kuburan yang tidak terawat.
Ia tidak mau berdiam lama atau mondar mandir didekat
warung itu, ia buat orang nanti sangka bahwa ia punya
hubungan dengan si Gemuk, yang sudah kabur, ia lalu sewa
kereta buat mtnuju ke An leng moei, ke Pweelekhoe.
Kapan anak muda ini sampai di istana raja muda oleh
pengawal ia disambut dengan hormat dan manis dan lantas
persilahkan masuk kekamar yang mungil, dimana
dipersilahkan duduk. Ia menantikan tidak lama lalu tertampak
Siauw Hong Jiam Tiat Siauw Pweelek bertindak masuk.
Pangeran Boan itu terkejut kapan ia tampak tamunya.
"Ah, kau menjadi begini kurus " ia berkata
Bouw Pek barsenyum meringis, ia berbangkit buat unjuk
hormatnya. "Silahkan duduk." mengundang tuan rumah
"Sudahkah sakitmu sembuh seanteronya?" Tiat Siauw
Pweelek tanya. "Terima kasih. Jie ya, aku telah sembuh betul" sahut Bouw
Pek "Aku penyaya, lewat lagi beberapa hari, aku akan sudah
sehat kembali seperti sediakala Ia berhenti sebentar,
kemudian menambahkan "Mengenai sakitku ini aku sangat
bsrsyukur pada Jieya begitupun pada saudara Jie Jie, yang
telah rawat aku."
Tiat Pweelek manggut.
"Siauw Jie memang anak baik, " ia kata, "cuma aku dengar
orang bilang ia sangat malas......,"
Mendengar begitu Bouw Pek bersenyum. Ia mengerti,
bahwa pengeran ini telah dapat kabar yang dibikin2. Ia berniat
bantah itu, ia ingin kasi tahu raja muda ini bahwa siorang she
Jie sebenarnya pandai boegee dan tidak boleh diantap tinggal
dikandang kuda. Tapi selagi ia mau buka mulut, Tiat Pweelek
sudah bicara lebih jauh.
"Bouw Pek, aku memang harap aupaya kau lekas sembuh"
kata ia. "Apakah kau ketahui Oey Kie Pok sudah kirim utusan
ke Holam guna undang Teng couw he Biauw Cin San dan Kim
khio Thio Giok Kin ke Pakkhia ini untuk diadu dengan kau?"
Bouw Pek terima kabar itu dengan tenang.
"Dari mana Jieya dapat kabar ini?" ia tanya.
"Kemarin ini aku telah ketemu Gin khio Ciangkoen Khoe
Kong Ciauw." Tiat Siauw Fweelek menyahut. "Khoe Kong
Ciauw telah beritahukan hal itu dan ia nyatakan sangat tidak
puas. Mengenai ini, ia sudah tanyakan Oey Kie Pok yang
menyungkal keras. Oey Kie Pok bilang, bahwa dengan kau ia
tidak bermusuhan, bahwa ia belum pernah rasai tanganmu
bahwa ia juga bersobat padamu, Ia juga bilang, waktu kau
ditahan dalam penjara, ia sudah datang menyambangi ..."
Bouw Pek tertawa secara menyindir.
"Memang benar beberapa kali Kie Pok minta aku menjadi
sobatnya" ia bilang "Tapi, siapakah ketahui bagaimana
sebenarnya hatinya" Tantang orang yang ia undang aku bisa
bilang, meski sekarang aku belum sehat seperti sediakala, aku
tidak takut. Scbenarnya aku berniat pergi ke Yankeng, tapi
karena ada urusan ini, aku hendak tunda perjalananku itu, aku
hendak tunggu Biauw Cin San dan Thio Giok Kin, buat dapat
ketahui mereka sebetulnya orang macam bagaimana....."
Tiat Tweelek puas dengan pengutaraan itu.
"Benar" ia bilang. "Aku juga ingin kau kasi mereka lihat kau
sebenarnya orang macam bagaimana !"
Berdua mereka berdiam, sampai kemudian Tiat Pweelek
mendadak menghela napas.
"Suasana dikota raiya ini benar busuk" demikian ia
nyatakan, "Kalau disini datang orang dari tempat lain dan
orang itu unjuk sedikit saja kepandaiannya ia lantas jadi bulan
bulanan dari kedengkian dan iri hati Umpama kau, coba kau
tidak kena1 aku atau Tek Siauw Hong, entah sampai dimana
kau jad1 korbannya orang2 yang iri hati itu ! Belakangan ini
aku telah dapat tahu satu hal yang mendongkolkan sekali,
lantaran kau sedang sakit dan kelihatannya sakit itu berat, aku
telah tidak kasi beritahukan hal itu padamu Itu adalah hanya
Poan Lauw Sam dan Cie Sielong, yang dirumah gundiknya
sudah ada yang bunuh mati secara diam2 . Menurut
keterangan orang2 perempuan didalam rumah itu, katanya si
pembunuh seorang gemuk tubuhnya, tapi Oey Kie Pok mau
gunai ketika ini untuk bikin celaka kau. Kau tahu, ia telah kasih
tahu teetok. bahwa sipembunuh adalah kau, hingga lantaran
ini Moh teetok telah datang padaku menanyakan perihal kau.
Tentu saja aku kasih keterangan, bahwa kau sedang sakit dan
aku berani tanggung yang kau tidak lakukan pembunuhan.
itu" Bouw Pek manggut2.
"selagi aku sakit, orangnya teetok juga datang padaku"
kata ia, yang tuturkan kedatangannya hamba negeri,
bagaimana hamba itu sudah bicara dan bagaimana ia telah
menjawab, kemudian ia meneruskan dengan suara
menyatakan mendongkolnya hati "Duluan, sebelum aku
datang kemari, aku telah dengar namanya Sioe Bie too 0ey kie
Pok, yang orang sohorkan hingga aku turut-turutan jadi
hargakan dia, maka aku tidak sangka ia sebenarnya manusia
yang dalam tertawanya umpatkan senjata tajam. Biarlah, satu
kali aku nanti cari ia, buat tanya ia, kenapa ia berlaku begini
macam terhadapku"
Bahna mendongkol, mukanya anak muda ini yang pucat
berubah menjadi merah.
"Tidak usah kau cari dia" pangeran ini mencegah "Kau baru
sembuh, kau tidak bo1eh umbar napsu amarahmu. Kau juga
tidak akan dapat cari dia itu. Sejak kau keluar dari penjara, ia
jarang keluar pintu, dan sekarang, berhubung dengan
kebinasaanya Poan Louw Sam dan Cie Sielong, ia benar sekap
dirinya didalam gedungnya. yang paling benar adalah
selanjutnya kau jaga diri baik2 terhadap dia"
Bouw Pek menyatakan bahwa ia akan perhatikan nasehat
itu, tetapi didalam hati, ia gusar bukan main.
Selanjutnya berdua mereka bicara pula sekian lama, sampai
kemudian Bouw pek minta perkenan untuk undurkan diri. Ia
tidak terus pulang, ia mampir diistal akan cari Siauw Jie, tetapi
bujang istal itu tidak ada menurut kawannya sejak kemarin
pergi keluar, roskam itu belum kembali.
Bouw Pek heran dan bercuriga Ia tidak kata apa2 lagi. ia
lantas sewa kereta buat pufang ke Lam shia, Kota selatan.
duduk diatas kereta hatinya berpikir:
"Aneh yang aku telah mesti hadapi orang yang luar biasa.
Secara luar biasa Soe Poan-coe telah menjadi sobatku selama
satu bulan lebih ia berhati baik, ia mau bantu aku apa lacur,
maksudnya itu telah bikin aku menghadapi bahaya. Sekarang
aku bertemu Siauw Je, yang jauh lebih aneh dari pada si
Gemuk itu. Entah apa yang orang aneh ini hendak lakukan?"
Kereta telah jalan dengan cepat, Sebentar kemudian Bouw
Pek sudah sampai di LouW ma sie toakay yaitu jalan besar di
Louw ma sie diluarnya Tian moei. Ia duduk dikereta dengan
tidak turunkan tenda, maka itu, selainnya bisa melihat
kesekitarnya. orang lain pun bisa lihat ia dengan nyata.
Banyak orang yang mundar mandir dikiri dan kanan banyak
warung atau toko. Selagi keretanya jalan terus tiba tiba ia
dengar orang teriaki ia berulang ulang "Lie Toaya Lie Toaya
Mendengar panggilan itu, anak muda kita segera menoleh
kejurusan darimana suara datang. Maka ditepi jalanan ia
tampak seorang perempuan tua yang lagi menggape ia sambil
masih terus memanggil2. Dan la segera kenalkan Cia Loo
mama, ibunya Siam Nio.
Nyonya itu berpakaian tua, bajunya pendek, tangannya
disesapkan karena kedinginan, tetapi ditangan itu kelihatan
bungkusan obat.
Bouw pek perintah kusir tahan keretanya.
"Ada apa?" ia tanya. Kenapa kau disini?"
Cia Mama menghampirkan, ia unjuk hormat sambil
membongkokkan tubuh, kemudian ia menunjuk kejurusan
selatan. "Aku tinggal disana, di Hun pong Liu lie kay" ia menyahut.
"Bersama2 si Siam aku sudah pindah, sekarang kami
menumpang pada engkimnya. Siam Nio setiap hari ingat kau,
looya lantaran selalu ingat kau, ia sampai jatuh sakit.... Apa
kau sekarang lagi senggang, looya" Mari ikut aku pergi lihat si
Siam!" Suaranya Cia Mama perlahan dan mendatangkan rasa
kasihan, pakaian dan romannyapun bisa membikin orang
terharu. Bouw Pek bisa duga kesukaran orang, yang
disebabkan mampusnya Cie Sielong. Ia sebetulnya tidak niat
keremui Cui Siam lagi, tetapi kapan ia ingat persobatannya
duluan, hatinya berubah dalam sekejap. Ia ingat, baru dua
bulan perubahan telah terjadi begini rupa.
"Baiklah, aku nanti lihat ia" ia menyahut akhirnya. Ia turun
dari kereta, bayar uang sewanya, lantas ikut nyonya itu.
Mereka masuk dimulut jalan sebelah utara dari Hun pong
Liu lie kay. Sekarang ini nyonya setengah tua itu nampaknya gembira,
tubuhnya yang sedikit melengkung ia coba bikin lumpang.
"Lie Looya, anakku itu terang berjodoh padamu" ia kata
sembari jalan. "Sejak hari itu kau tinggalkan ia, ia tidak napsu
dahar dan minum, hingga berias juga ia tidak mau, hingga
kesudahannya kami jadi kebentrok dengan pihak Po Hoa pan,
dengan kesudahan kami keluar dan pindah. Engkimnya
hendak berdaya buat carikan tempat lain, tetapi si Siam
menolak, sembari menangis ia kata ia tidak mau lagi hidup
dirumah pelesiran. Ia bilang ia hendak tunggui kau"
Bouw Pek mendongkol berbareng geli mendengar ocehan
itu. "Tua bangka ini benar2 licin dan tidak tahu malu," pikir ia.
Ia berani rahasiakan perbuatannya, yang ia kira aku tidak
ketahui" Berbareng ini iapun jadi curiga.
"Tidakkah ia dustakan aku, buat pancing aku datang pada
anaknya itu?" pikir ia. "Hm! Meski andaikata benar2 Siam Nio
hendak robah haluan dan menjadi baik akupun tidak sudi kasi
diriku dipermainkan pula oleh sang cinta buta ..."
Jalan tidak seberapa jauh, Cia Mama berhenti didepan
sebuah rumah yang daun pintunya sudah rusak dan tidak
ditutup. Looya, silahkan masuk" ia mengundang, inilah rumah kami,
harap kau tidak buat celaan....."
Bouw Pek bertindak masuk. Ia lihat ceracapan yang sempit,
dimana ada air becek dan daun kotor. Disitu terdapat enam
atau tujuh kamar. Maka ia menduga, pengisi rumah mesti
terdiri atas beberapa keluarga.


Riwayat Lie Bouw Pek Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Segera juga muncul tiga orang perempuan yang rambutnya
kusut, tetapi mukanya medok tak keruan, karena mereka ini
lihat Cia Mama datang bersama seorang anak muda yang
pakaiannya rapi dan potongannya beda daripada orang
kebanyakan. Tapi mereka itu tidak lagi keluar, mereka hanya
nongol di muka pintu.
Bouw Pek bisa menduga siapa adanya nona itu, ia tidak
ambil perduli. Cia Mama bawa anak muda kita kedepan kamar sebelah
barat, sebuah kamar kecil, ia tolak daun pintunya, yang
ditutupi kertas robekan dan undang masuk tamunya.
BOUW PEK bertindak masuk, hidungnya segera disampok
bebauan obat dan bau lain yang tidak menyedapkan. Dalam
kamar Itu tidak ada meja, cuma ada bangku yang merupakan
pembaringan, yeng dialasi dengan selembar kain merah yang
belum terlalu tua. Ia ingat, itu adalah kain yang dulu ia belikan
untuk Siam Nio.
Rebah diatas pembaringan itu, dengan tubuh dikerobongi
selimut dan kepala separoh tertutup, hingga tertampak
rambut yang kusut, kelihatan tubuh Cui Siam yang tidak
bergerak. Cia Mama sudah lantai dekati anaknya.
"Cui Siam Cui Siam lihat berkata ia. "Lihat, anak, siapa yang
datang kemari!'
Siam Nio merintih, ia keluarkan kepalanya dan angkat itu.
Menampak anak muda kita ia nampaknya kaget dan heran,
berbareng menyesal..----
"Akhirnya kau datang!....." berkata ia dengan lemah "Kau,
Lie Looya. kau sekarang tentunya sudah merasa puas...."
Bouw Pek lihat mukanya bengkak dan matang biru.
diantara itu ada bekas mengalami airmata dan darah Ia lihat
sepasang mata yang sinaruya masih hidup dan menarik hati.
Itulah roman yang penuh kedukaan, yeng mendatangkan rasa
terbaru Setelah kata begitu. Siam Nio tutupi pula mukanya dan
menangis sesenggukan.
Cia Mama diam saja, tapi air matanya keluar, la menangis.
Bouw Pek bisa menduga. Tentu setelah kebinasaannya Cie
Sielong dan Poan Louw Sam Siam Nio telah jadi kurban
kompasannya pembesar negeri, yang mestinya curigai dia dan
coba mencari pengakuan dengan jalan kekerasan.
Mau tidak mau, anak muda kita merasa kasihan dan
terharu. Jie Sielong dan Poan Louw Sam benar jahat dan harus
dibunuh mati, tetapi perkara mereka itu menang bukan tidak
ada sangkutannya dengan aku....." Ia berpikir. "Mereka telah
terima hukuman mereka, tetapi Siam Nio, apakah. salahnya?"
Oleh karena terharu, hatinya Bouw Pek menjadi lemah. Ia
menghampirkan. "Cui Siam, kau jangan sesalkan aku, yangan penasaran," ia
berkata. "Poan Louw Sam dan Cie Sielong ada yang bunuh.
inilah aku tidak sangka. Aku telah jatuh sakit setengah bulan
lamanya dan sekarang aku baru sembuh...."
Tiba2 Siam Nio angkat kepalanya dan mengawasi.
"Bagaimana aku bisa sesalkan kau "---- kata ia sambil
bersenyum tawar. "Cuma... ia menoleh pada ibunya dan kata:
"Mama tolong kau keluar sebentar, aku hendak bicara pada
Lie Looya Cia Mama mengerti, sambil lepas air matanya ia
undurkan diri. SIam Nio masih mendongkol, tetapi ia bicara dengan
perlahan. "Aku tahu, Looya, sipembunuh bukan kau," kata ia, "tetapi,
bisakah kau bilang bahwa aku tidak ketahui siapa
pembunuhnya?"
Bouw Pek terparanjat, hingga ia tercengang iapun
bersenyum tawar.
Taruh kata aku ketahui siapa dia, habis bagaimana?" ia
tanya. "Ketika Cie Sielong dibunuh, sakitku justeru sedang
hebatnya. Dalam keadaan seperti itu, apa aku masih, punya
pikiran buat perintah orang pergi lakukan pembunuhan?"
Siam Nio tertawa dingin.
JILID 15 "HM! HM !" ia kasi dengar suara dari Hidungnya. "Bisa jadi
sipembunuh yang gemuk itu bukan suruhan kau, tetapi aku
kenal dia! Adalah dia sendiri yang bilang padaku, bahwa ia
sobat kekal kau. Jikalau dimuka pengadilan aku mau
menerangkan seperti ini, tidak nanti orang kompes dan siksa
aku, hingga aku bercelaka begini macam pendeknya jangan
kau pandang aku seperti bunga raya yang kebanyakan, aku
masih kenal harga diriku Aku bernasib buruk, aku terima itu
sendiri, aku hanya mengharap looya, supaya kau baik, itulah
pengharapanku ......"
Siam Nio berhenti sebentar akan susuti air matanya.
"Aku memang sudah ketahui kau, orang2 dari kalangan
Sungai Telaga tidak boleh dibuat permainan" kata ia pula,
"jikalau bukan begitu, tidak nanti aku sudi ikut Cie Sielong si
tua bangka ....."
Ia rupanya telah tarluka pula hatinya, maka ia lantai
menangis pula, sesenggukan dan mengulum.
Bouw Pek tercengang, ia mendongkol berbareng berduka.
"Apa kau bilang ?" ia kata. "Kau tetap anggap aku orang
kalangan Sungai Telaga ?" la berdiam. Biar bagaimana juga ia
merasa kasihan pada nona ini. yang dapat anggapan keliru
tentang dirinya. anggapan mana telah dikukuhi. "Ah" ia
menghela napas.
"Nampaknya sukar buat aku kasih mengerti padamu" ia
kota kemudian. "Baiklah kau ketahui, juga kerena aku
mengerti bugee, lantas kau anggap aku orang dari kalangan
Sungai Telaga. Hal yang sebenarnya, justeru orang dari
kalangan Sungai Teiaga banyak yang musuhkan aku, yang
benci aku sampai kedalam tulang2 mereka! Sebaliknya, aku
paling suka seterukan orang2 jahat dari kalangan Sungsi
Telaga itu. Sejak dimusim panas aku datang ke Pakkhta ini
untuk cari pekeryaan, aku berbareng pun telah tanam bibit
permusuhan. Beberapa orang dari kalangan Sungai Telaga
telah cari aku dan pieboe dengan aku, aku telah rubuhkan
mereka, lantaran itu, mereka jadi benci aku. Begitulah mereka
telah siarkan omongan yang bukan2 , katanya aku orang dan
kalangan Sungai Telaga, bahwa aku penjahat besar! Demikian
Poan Louw Sam dan Oey Kie Pok berdua mereka telah gunai
pengaruh uang, fitnah aku dan bikin aku celaka. Sampai
sekarang ini mereka masih belum puas. Kau tahu, tidak lama
lagi akan datang orang dari Holam, yang diundang untuk
tempur aku. Mereka adalah Teng Coaw hie Biauw Cin San dan
Kim chio Thio Giok Kin"
Mendengar namanya Biauw Cin San, Siam Nio angkat
kepalanya. "Apa kau bilang" Biauw Cin San?" ia menegasi dengan air
mata meleleh. "Benar" Bouw Pek manggut. "Biuaw Cin San adalah erang
paling terkenal dalam kalangan Sungai Telaga di Holam! Tentu
saja kau tidak akan mengerti tentang mereka itu," ia
tambahkan, "kalau aku sebut nama mereka, itu melulu untuk
kasih mengerti pada kau. Aku laki2 yang utamakan kejujuran
dan keadilan aku mengerti aturan, aku mengerti boegee, kalau
aku berkelahi tidak lain sebabnya yalah aku tak sudi dihina
oleh orang lain! lihatlah malam itu waktu aku dengar kau suka
ikut Cie Sielong, aku lantas berlalu dengan tidak kata apa2
lagi, tapi jikalau kau sangka aku cemburu dan jelus, hingga
lantaran itu aku perintah orang bunuh Cie Sielang, terang
kausalah anggap tentang diriku!"
Selagi Bouw Pak bicara. Siam Nio sudah takluk. Ia kaget
bukan main dengan Biauw Cin San akan datang kekota raja.
meskipun si anak muda tidak bilang yang kedatangan itu
bukan untuk cari ia. Air matanya turun dengan deras. Segera
ia bayangkan roman yang bengis dari Teng couw hie Biauw
Cin san si Ikan Lodan ia seperti dengar dampratan yang hebat
dari okpa yang me menakutkan itu.
Didepan matanya seperti berpeta bagaimana ayahnya telah
dianiaya sampai binasa. Ia juga merasa, satu kali Biauw Cin
San sampai dikota raja, ia akan menemui ajalnya begitu juga
ibunya, yang akan tidak dapat ampun.
Ketika itu Cia Mama telah bertindak masuk, ia tidak dengar
perkataannya Bouw Pek, tetaoi melibat anaknya menangis,
sedang Lie Bouw Pek lagi berdiri dengan air muka merah
bahna gusar. Buat sesaat, ia jedi melegak.
Bouw Pek awasi nyonya itu.
"Bagaimana kau pikir tantang hari kemudian kau?" ia tanya.
"Bagaimana bisa disebut urusan dibelakang, sedang
sekarang kami ibu dan anak akan lekas binasa?" kata Siam
Nio, yang dului ibuaya menjawab.
Sinona ini bicara sambil menrngis dan air mata bercucuran.
Cia Mama kaget. Ia memang lagi bersedih, menampak
roman anaknya itu, ia turut menangis.
"Urusan kami berdua aku tak dapat umpatkan terhadapmu,
looya," berkata ia kemudian seraya susut air matanya. "Siam
Nio menikah Cie Sielong belum ada satu bulan, sielong itu
sudah lantas ada penjahat yang bunuh. Celaka adalah kami
ibu dan anak. buat beberapa hari kami mesti mendekam
didalam penjara, malah Siam Nio telah menderita kompesan.
hingga selanjutnya ia telah jadi seorang yang berpenyakitan.
Memang sudah sedari tadinya anakku punya tubuh tidak kuat
dan sering dapat sakit. Dikantor orang telah taboki ia secara
hebat. Barang berharga kami sementara itu telah dirampas
oleh pihaknya Cie Sielong. Karena semua itu terpaksa kami
pindah kerumah engkimnya Siam Nio Tapi disini kami tidak
bisa tinggal lama2 sebab engkim itu punya rewatao beberapa
anak lainnya dan Siam Nio terluka mukanya, hingga ia tidak
bisa tuntut pula penghidupannya yang lama. Disebelah itu, ke
mana ia mesti pergi akan pinjam pakaian dan barang
perhiasan" Lantaran ini, aebab sudah tak berdaya, aku telah
minta kau, Lie Looya datang kemari. Aku mohon, mengingat
perhubungan kau dan Siam Nio dulu, sukalah kau tolong
kami." Bouw Pek berdiam. Biar bagaimana juga, ia terharu,
"Seteiah segala apa berjalan begini rupa apa aku bisa bikin?"
kata ia, sambil menghela napas ia melihat keatas. menghela
napas pula. Kemudian ia kata pula Sekarang begini saja. Aku
nanti pergi pada beberapa sobatku akan pinjam uang, guna
tolong kau, sedikitnya buat lewatkan hari yang mendatang.
Tunggu hingga Siam Nio sudah sembuh supaya ia bisa ikut
orang yang baik2, agar kau, Ibu dan anak, dapat penghidupan
yang tentu Aku pikir selanjutnya baik kau jangan tinggal lagi
dirumah pelesiran.."
Mendengar orang hendak carikan uang, Cia Mama lantas
saja jadi kegirangan.
"Kau benar, looya " berkata ia "Memang juga, jikalau ada
jalan yang benar, siapa mau kasi anaknya hidup didalam
rumah pelesiran" Lie Looya...."
Cia Mama hendak omong terus, ketika Bouw Pek rogoh
sakunya dan keluarkan uang yang terus diserahkan pada itu
adalah dua lembar ginpio.
"Sekarang pakailah ini dulu." berkata si anak muda .Lewat
lagi dua hari, kau boleh pergi ke Hoat Peng Sie cari aku, aku
nanti sediakan lagi belasan tail Sekarang ini. lantaran aku baru
sembuh, aku tidak suka sering berpergian. Selanjunya aku
juga tidak akan datang lagi kemari, maka sukalah Siam Nio
baik-baik rawat dirinya"
Setelah kata begitu, Bouw Pek menoleh pada si nona Siam
Nio rebah dengan kedua mata terbuka lebar, dari dua-dua
mata itu air mata meleleh keluar tidak berhentinya. Kedua
belah pipinya, yang matang biru telah menjadi jalan mengucur
dari airmata itu. Ia mirip sisa bunga yang rontok, yang
mendatangkan rasa terharu dan kasihan ....
Bouw Pek memandang pula, tetap ia kuatkan bati. Ia
menghela napas.
"Nah, aku pergi," kata ia dan bertindak keluar.
Cia Mama mengantarkan.
Bouw Pek jalan terus dengan tidak menoleh lagi, ia
bertindak di Hunpong Liu-liekay dengan tidak keruan rasa.
Mengikuti Louw-ma-sie Toakay ia menuju kebarat. Disini ia
cari sebuah warung nasi. Selagi dahar ia dengar orang bicara
disebelah mejanya.
"Disebelah barat itu, warung araknya Su Poancu maju,
heran, kenapa ia telah tutup warungnya dan pindah entah
kemana?" Mendengar itu. Bouw pek mengerti, bahwa orang tidak
ketahui Su Poancu adalah pembunuhnya Cie Stelong dan Poan
Louw Sam "Setahu kemana Su Poau-cu sudah pergi " ia pikir. "Kalau ia
tidak kerembet-rembet dengan urusanku. tidak nanti ia kabur,
hingga sekarang aku jadi kesepian......"
Sehabis dahar ia terus berjalan pulang. Ia tetap berduka
mengingat nasibnya Siam Nio. Biar bagaimana juga, ia mesti
hargakan nona itu, yang berani tanggung siksaan,
melulu untuk tidak sebut namanya. Maka amabil putusan
akan cari uang, guna tolong anak dan ibunya. Tapi, tentang
pernikahan, ia sudah ambil putusan menolak.
Sekarang Bouw Pek cuma harap dua hal Pertama,
rahasianya Siauw Jie, yang ia ingin kotahui supaya ia dapat
tahu betul siapa orang she Jie itu. Dan kedua supaya ia bisa
lekas sehat seperti sediakala, agar ia bisa sambut Biauw Cin
San dan Thio Giok Kin. Ia bernapsu betul nenggunai
pedangnya akan tandingi dua musuh dari Holam itu
Satu hari lewat, Bouw Pek bangun pagi2, tidak perduli
angin musim Ciu menyampok nyamook dengan hebat, ia
gunai pedangnya akan bersilat, untuk melatih diri. Ia bersilat
mulai dari perlahan, sampai menggunai tenaga besar. Ia dapat
kenyataan penyakitnya telah tidak ganggu hebat padanya.
Tidak Ia masih bisa berlatih, selama mana ia ingat Siauw
Jie dan kagumi kegagahannya "bujang istal" itu, ia pakai
thungsha dan berjalan keluar. Ia bawa kereta, dengan apa ia
pergi ke Pweelek-hu. Ia tidak masuk dari pintu depan, hanya
langsung menuju kepintu samping buat pergi ke istal
Semua pegawai istal telah ketahui, yang anak muda ini
adalah tamu yang dihargakan oleh pweelek, dari itu mereka
menyambut dengan hormat, dan tempo sianak muda kasi tahu
maksudnya akan cari Siauw Jie, satu diantaranya lantas lari
akan panggil tukang roskam kuda itu.
Siauw Jie muncul dengan muka kotor, seperti juga sudah


Riwayat Lie Bouw Pek Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

beberapa hari ia tidak cuci muka. Iapun masih pakai baju dan
celana birunya yang sudah rombeng.
"Hiantee, kemarin aku datang cari kau, katanya kau keluar"
kata Bouw Pek dengan sungguh2.
Siauw Jie manggut.
"Ya, selama dua hari ini aku punya sedikit urusan" ia
menyahut. Bouw Pek terharu akan lihat pakaian jelek dan tipis itu.
"Hiatee, mari ikut aku" ia berkata. "Kita pergi kewarung
arak, dimana kita bisa bicara"
Siauw Jie manggut, ia ikut anak muda itu keluar dari istal
akan menuju kebarat. Sang angin telah sambar mereka
berulang2 Bouw Pek pakai pakaian tebal, ia masih merasa sedikit
dingin, akan tetapi kapan ia menoleh pada si bujang istal. ia
bertindak dengan gagah, sedikit juga sobat itu tidak terganggu
oleh hawa dingin.
Segera juga mereka telah masuk kedai sebuah warung
arak, mereka pilih meja dan minta arak dan temannya.
"Apakah kau tidak merasa dingin hiatee?" agak muda kita
tanya. "Sedikit diuga tidak," sahut Siauw Jie seraya geleng kepala.
"Jikalau kau tidak punya baju kapas, aku nanti kasikan kau
sepotong" "Begitupun baik," sahut kawan ini tanpa malu malu.
Bukan main girangnya Bouw Pek mengetahui sobat itu suka
terima pemberiannya,
"Baru dua hari aku tidak ketemu kau, aku kesepian bukan
main!" kata ia kemudian sambil tertawa. "Tadi aku berlatih
sendirian, lantas aku ingat kau, hiantee. Aku bayangkan, coba
kita tinggal sama2, kita tentu boleh saling mengajar,
bagaimana menggembirakan"
Siauw Jie hirup araknya. ia manggut. Tapi ketika ia bicara
ia menghela napas.
"Toako, aku hendak berlalu dari Pakkhia, tapi seyenak aku
tidak punya uang," ia kata.
"Itu bukannya soal, aku bisa carikan kau beberapa puluh
tail" Bouw Pek jawab dengan cepat, cuma..."
Tapi Siauw Jie potong omongan orang "Aku tidak ingin kau
kasi pinjam uang padaku! Keadaan kau toako, tidak berbeda
jauh daripada keadaanku.."
Bouw Pek goyang kepalanya.
"Itu uaing bukannya uangku" ia terangkan. "Ketika Tek
Siauw Hong mau berangkat, padaku ia serahkan sejilid buku
uang dengan jumlah duaribu tai1, ia bilang aku boleh pakai
uang itu menurut sukaku. Sampai sekarang uang itu aku
belum pernah pakai sama sekali, maka kebetulan hiantee
perlu uang, uang itu aku boleh pakai. Tek Siauw Hong
berharta, uangnya itu tidak berarti apa2 baginya."
Siauw Jie manggut , tetapi ia kata "Justeru uang sobatmu
itu aku lebih2 tidak bisa pakai?" Kelihatannya ia bersangsi.
Kemudian ia tambahkan "Hal ini baiklah kita bicarakan lagi lain
kati, perlahan saja, Aku tidak akan berangkat lekas2..."
Dengan matanya yang tajam, Bouw Pek awaskan sobat luar
biasa itu. Ia menduga, bahwa sobat ini sedang menghadapi
soal ruwet, cuma dengan sikap tenang yang dibikin bikin dia
itu bikin dirinya seperti tidak tertampak perobahan apa juga.
Ia ketahui yang sobat ini tetap ucapkan apa2 padanya.
"Hiantee" berkata anak muda kita, "perkenalan kita belum
berjalan lama. akan tetapi sejak kau rawat aku selama aku
sakit, aku telah lantas pandang kau sebagai saudara
kandungku. Aku sangat berterima kasih buat kebaikan hatimu.
Maka aku harap diantara kita baiklah jangan ada perbedaan
apa2 dan dimana perlu haruslah kita saling bantu saling tolong
Hiantee, aku lihat dalam hatimu terkandung suatu apa, tetapi
kau agaknya tidak mau bicara terus terang kepadaku Kenapa
begitu, hiatee?"
Siauw Jie bersenyum.
"Kita sama2 muda, kita sama2 pandai meoggunai pedang,
malah kepandaian kita sebanding satu pada lain, tetapi
kendati demikian, keadaan dan tabeat kita berlainan," ia
berkata dengan sabar. "Jikalau aku mesti tuturkan tentang
hatiku, toako, kau pasti tidak akan mengerti. Maka mengenai
ini, baiklah kau bersabar, nanti juga kau akan meegetahui
sendiri. Percaya aku, bukannya aku tidak mau jadi sobatmu
yang sejati"
Bujang istal ini hirup cawan arak yang penghabisan. Ia
sudah tenggak dua poci akan tetapi kelibatannya belum
pusing sama sekali, jangan kata sinting. Lantas juga ia
berbangkit "Toako, sekarang aku mau pulang" ia berkata. "Besok aku
nanti pergi kegerejamu akan tengok kau, nanti kita bicara pula
lebih jauh Ia lantai keluar dari warung arak itu.
Ditinggal secara demikian, Bouw Pek jadi duduk menjublek
seorang diri. Ia benar2 tidak mengerti
"Apakah tidak bisa jadi ia sebangsa Su Poan cu, yang
asalnya penjahat besar?" ia meduga duga. "Apakah ia telah
lakukan suatu kejahatan besar, maka sekarang ia umpatkan
diri di Pweelekhu" Kelihataanya dugaanku ini mesti keliru ! Ia
begitu gagah kalau ia jadi penjahat, siapa nanti mampu bekuk
ia" Kenapa ia kesudian siksa diri, di waktu hawa udara begini
dingin ia sudi pakai terus baju rombeng dan tipis" Kenapa juga
ia, untuk bikin perjalanan, mesti pikirkan soal kesukaran uang"
Kalau ia penjahat uang bagi ia tiada artinya sembarang waktu
ia bila gasak dari sembarangan orang" Pada ini mesti ada
sebab lain......Tapi, apakah itu?"
Bouw Pek jadi bingung sendirinya, oleh karena ia memikir
dengan tetap berada dijalan buntu Mendadak ia ingat Lauw
Kie-In pauwsu dari Tay Hin Piauw Tiam, piauwsoe yang telah
ada umur dan banyak pengalaman dan mesti banyak kenalan
dan pendengarannya.
"Kenapa aku tidak mau pergi pada Louw Piauwsoe, akan
minta keterangan ia?" demikian ia pikir. "Piauwsoe inipun jadi
sobatnya almarhum Jie Loo enghiong dari Soan ho hoa Disaat
aku boleh sekalian minta keterangangan perihal Jie Sioe Lian
dan perihal Bang Soe Ciauw sudah ada kabar ceritanya atau
belum......"
Setelah pikir bsgitu, Bouw Pek bayar uang arak, ia cari
kereta, yang ia sewa kereta ke Ta mo tong, diluar Tian moei.
Ia telah sampai dengan cepat, malah ia bisa lantas ketemu
dengan Louw Kie In, yang kebetulan ada di piauwkiok.
Lauw kie In girang sekali melihat kedatangannya tamu
muda ini. "Lie Lauwtee, sudah lama kita tak bertemu!" kata ia dalam
penyambutannya. "Aku sebenarnya niat kunjungi kau, sayang
aku telah lupa alamat kau"
"Aku juga sudah lama ingin berkunjung kemari, sayang
karena kebetulan dapat perkara dan sakit, baru hari ini aku
bisa datang." Bouw Pek jawab.
"Tentang perkaramu itu, akupun dengar kabar. Tadinya aku
berkuatir, tetapi kapan kemudian aku dengar kau dibantu oleh
Tek Siauw Hong dan belakangan oleh Cie Siauw Pweelek,
hatiku meujadi lega, sebab aku percaya, bantuan mereka pasti
akan berhasil Aku hanya tidak ketahui, kapan kau keluarnya
dan kesaduhannya kau dapat sakit"
"Sakitku lebih hebat daripada perkaraku" sabut Bouw Pek
sambil menghela napas. "Sekarang aku sudah sembuh tetapi
kesehatanku masih belum kembali seperti sediakala"
Sampai disitu, mereka lantas bicarakan urusan lain dan
Bouw Pek segera timbulkan hal orang orang gagah dari
kalangan Sungai Telaga.
"Ya, loo pianwtnuw, kau kenal atau tidak seorang muda
she Jie yang menjadi anak yang kedua dan umuranya dua
puluhan orang panggil Siauw Jie?" ia tanya kemudian.
Tentang orang she Jie yang aku kenal, sedikit sekali" Lauw
Kie In jawab. Apa yang aku ketahui adalah almarhum
kawanku, Tiat jie tiauw Ji lauwko. Tentang orang muda ku lebih2
tidak ketahui sama sekali"
Atas jawaban itu Bouw pek tidak kata apa2, ia hanya lalu
tanya pauwsoe ini apa ada kedatangan orang dari Soathoa
boe dan tentang Beng Soe Ciauw apa sudah ada kabarnya.
"Beberapa hari yang lalu aku telah kedatangan seorang
sobat kekal," Louw Kie ln menyahut. "ia katanya telah mampir
di Soan hoa hoe dan ketemu Beng Eng Siang. Menurut
sobatku ini, Beng Soe Ciauw masih belum pulang dan tidak
ada kabar kabarnya Nona Jie matih tinggal dirumah keluarga
Beng dan ibunya sedang sakit, katanya sakitku, berat....."
Bouw Pek terkejut dan berbareng lantas merasa kasihan
pada Sioe Lian. Ia anggap nasibnya nona itu dan pamilinya
malang sekali. Tapi kendati demikian, ia tidak kata apa2,
Mareka minum teh, buat sekian lama mereka sama sama
bungkam. Kemudian mendadak Lauw Kie In bicara pula.
"Lie Lauwtee," ia kata, "kau tahu atau tidak, dua hoohan
yang terkenal dari Holam akan datang ke Pakkhia ini untuk
ketemu kau!"
"Apakah mereka bukannya Biauw Cin San dan Thio Giok
Kin" " tanya Bouw Pek seraya bersenyum ewah.
"Benar" piauwsoe tua itu manggut. "Moh Po Koen dari Soe
Hay Piauw Tiam sudah pergi lebih dan setengah bulan
lamanya, maka boleh jadi bersama2 Biauw Cin San dan Thio
Giok Kin ia akan lekas kembali...."
Bouw Pek tetap unjuk romannya yang gagah
"Jikalau tidak ada urusan ini. siang2 aku sudah pergi ke
Yankeng" ia kasi tahu, "Sekarang aku justru sedang tunggui
mereka. Biauw yin San itu tidak ada sangkutannya dengan
aku, kami tidak bermusuhan. Tapi Kim chio Thio Giok Kin aku
tahu adalah seorang jahat dan perbuatannya sewenang
wenang, malah Jie Hiong Wan Jie Loo piauwtauw ialah yang
desak sampai jadi matinya. Isterinya. Lie Mo ong Hoo Kiam Go
pernah aku lukai dan dia sekarang barangkali masih
meringkuk dalam penjara di lauwyang Oleh karena adanya
permusuhan ini, aku dan Thio Giok Kin tentu adu jiwa.
Menyebalkan adalah Sioe Bie too Oey kie Pok! Jikalau ia benci
aku, apa halangannya buat cari aku secara langsung" Kenapa
didepan ia berlaku hormat dam manis padaku, tetap!
dibelakangku ia seraya akan fitnah dan bikin celaka aku" Ini
orang yang sangat kejam dan berbahaya!"
Begitu memangnya sifat Oey Kie Pok" berkata Lauw Kie In.
"Maka itu aku puji dan kagumi Kim too Phang Bauw Ia datang
kemari dengan kemurkaan, tetapi sesudah pieboe kalah, ia
berlaku secara laki2. Sekarang ia berada dirumahnya di Cim
cioe, dimana ia lewati penghidupan yang tenang tenteram,
jikalau ada sobat dari kalangan Sungai Telaga cari ia. semua ia
tolak ia tidak mau ketemu."
Kabar ini baru bagi Bouw Pek, maka ia pun menjadi kagum
terhadap she Phang itu, yang beda dari pada saudara2nya
"Inilah sayang," ia pikir. "Kapan ada ketikanya, aku mesti
sambangi ia ada harganya kau bertobat dengan laki laki sejati
separti ia."
Sehabis, itu mereka masih kongkouw sekian lama, akhirnya
baru Bouw Pek pamitan. Di Cian moei Toakay ia mampir
dltoko pakaian, akan beli sepotong baju kapas, pendek dan
panjang, yang ia duga cocok untuk Siauw Jie, sedang ditoko
lain ia beli sepasang sepatu dan kopia untuk sobat itu. Dengan
bawa belanjaan itu, melawan sampokan angin Cioe, ia pulang
ke Hoat Beng Sie. Ia baru saja sampai dipintu perkarangan
datang seorang dengan pakaian hijau hampirkan ia seraya
menegor: "Lie Toaya, apa kau baik ?"
Orang itu adalah budaknya Tek SiauW Hong dari Tong soe
sam Hong. "Ada apa kau datang kemari?" la tanya.
Bujang itu memberi hormat sambil bersenyum, tangannya
merogo keluar sepucuk surat dari dalam sakunya.
"Baru saja ada datang orang dari Yankeng." menyahut ia.
"Ia adalah orangnya loo-ya yang katanya membawa surat
untukmu, toaya. Katanya looya kita akan lekas pulang"
Bouw Pek sambuti surat itu, ia kasi persen pada bujang itu,
yang membilang terima kasih dan lantas berlalu, ia girang
sekati, cepat cepat ia masuk kekamarnya akan buka suratnya
Tek Siauw Hong.
Surat itu terdiri dari beberapa lembar. Ia segera baca:
"Saudara Bouw Pek yang baik!"
Satu bulan hampir lewat sejak kita berpisahan. Kepergianku
ini separoh karena titah separoh lagi buat urusanku peribadi.
Tentang ini aku nanti tuturkan padamu, apabila kita sudah
bertemu muka. Ketika aku berangkat, saudara, kau masih terkurung dalam
penjara, perkaranya belum diperiksa selesai, melulu karena
ada bantuannya Tiat Siauw Pweelek aku berani paksa
tinggalkan kau pergi. Sekarang aku percaya kau tentu sudah
bebas dan merdeka.
Aku telah sampai di Yankia, lawat beberapa hari aku telah
omong pada Siu chio Yo Samya tentang urusanmu. Ia
ternyata perhatikan dan kagumi kau, hingga ia utarakan
keinginannya untuk pergi ke Pakkhia buat ketemui kau.
Sslainnya ini, saudara, disini ada kabar girang untukmu!
Kami telah kedatangan tamu agung Ia bukan orang lain dan
pada orang yang saudara, sekalipun dalam impian, tak bisa
lupai! Ia adalah hiaplie Jie Sioe Lian!
Membaca sampai disitu, Bouw Pek torcengang. Tapi karena
ia sangat tertarik, ia membaca terus:
"Oleh karena adanya jodoh yang luar biasa itu saudaraku,
pasti sekali aku akan berdaya untuk morecoki. Biarlah Kim cee
dan Poo kiam dipasangi, baju merah dan baju hijau ditimpa",
supaya mereka yangan mencinta mendirikan rumah tangga!
Kapan ini dapat berwujud, aku Tek Siauw Hong pastilah telah
berbuat banyak kebaikan!
Tidak lama sehabis nmngirimkan surat ini, bersama Sin chio
Yo Samya dan nona Jie aku akan lekas berangkat pulang.
Dimana Perjalanan tidak jauh, tentulah kami akan lekas
sampai! Maka, saudaraku, hayo kau lekas atur arak
kegirangan, lekaslah untuk kita bcrpesta pora! Aku pujikan kau
keselamatan dan keberuntungan!
Sekarang terimalah hormatnya Tek Siauw Hong, Yo Kian
Tong dan Jie Sioe Lian
Setelah baca surat itu. Bouw Pek heran, girang dan masgul
dengan berbareng. tetapi yang sudah terang adalah Tek


Riwayat Lie Bouw Pek Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Siauw Hong telah "main kayu"
"Benar benar aneh," pikir ia lebih jauh. "Baru saja Lauw Kie
In kasi tahu aku yang nyonya Jie sedang sakit berat, kenapa
sekarang Sioe Lian bisa berada di Yankeng dan hendak datang
kemari" Apa bisa jadi yang nyonya Jie telah menutup mata"
Apa bisa jadi menurut bunyinya surat dari Siauw Hong si Sioe
Lian telah berodia ataa menikah aku 7 Kalau ini benar, inilah
hebat ! Bagaimana nanti, apabila Beng Soe Ciauw dapat jari"
Tidak, bagaimana juga, perjodohanku pada Sioe Lian tidak
bisa dirangkap ! Siauw Hong, ah kau main gila
Pendekar Pengejar Nyawa 21 Amarah Pedang Bunga Iblis Karya Gu Long Pedang Berkarat Pena Beraksara 5
^