Pencarian

Bunga Ceplok Ungu 3

Bunga Ceplok Ungu Karya Herman Pratikto Bagian 3


tak karuan" Sekarang cobalah terka, apa sebab aku berada di sini?"
"Justru inilah yang menjadi teka teki keponakanmu sejak semalam," sahut Bagus Boang.
"Ceritanya panjang. Nanti kuceritakan dengan perlahan-
lahan," kata Pancapana cepat. "Kau tadi menyebut-nyebut nama Ki Tapa, Ganis Wardhana, Harya Sokadana dan Watu
gunung. Kau pernah dengar riwayat mereka?"
Bagus Boang mengangguk. "Pernah aku mendengarkan
kisah mereka yang menarik. Mereka saling memperebutkan
suatu mustika tiada taranya di dunia. Itulah buku warisan Arya Wira Tanu Datar, pedang Sangga Buwana dan kitab ilmu
pedang Syech Yusuf."
"Benaf! Kau masih muda belia, tapi pengetahuan dan
wawasanmu sudah cukup banyak. Bagi kaum pendekar, kedua
kitab tersebut merupakan suatu mustika dunia yang luar biasa nilainya," ujar Pancapana. "Menurut cerita, buku warisan Arya Wira Tanu Datar tersebut ditulis oleh seorang pu-teri pada
zaman ribuan tahun yang lalu. Puteri sakti itu bernama Dewi Rengganis. Dialah adik Pangeran Semono yang bersinggasana
di Jawa Tengah. Pangeran Semono mempunyai tiga pusaka
termasyur sepanjang zaman. Jala Karawelang, keris Kyai
Tunggulmanik atau yang disebut keris Panubiru dan Bende Mataram. Pada tiap-tiap pusakanya, Pangeran Semono
mewariskan ilmu saktinya dengan gurit-guritan sandi. Apa
yang diwariskan itu sampai detik ini tiada seorangpun dapat mengetahui. Orang-orang tua kita zaman dahulu hanya
meninggalkan sebuah pesan, "Barangsiapa dapat memiliki, membaca, kemudian menyelami ilmu warisan itu akan menjadi
sakti tak ubah dewa. Suaranya akan bergelora di seluruh alam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan akan didengar oleh sekalian raja di seluruh Nusantara. Ia akan menjadi pandai tanpa berguru. Gerak geriknya gesit
seperti dapat melintasi mahkota pepohonan dengan wajar. Dia tak akan dapat diundurkan oleh lawan siapa saja. Dewa pun
akan takluk. Jin setan akan tunduk. Ha, bukankah hebat?"
Mendengar kata-kata Pancapana, hati Bagus Boang
tergetar. Selama hidupnya baru kali ini, ia mendengar nama
Pangeran Semono. Namun ia merasa diri seperti mempunyai
tali hubungan keluarga. Entah apa sebabnya, ia sendiri tak
kuasa menjawab.
"Sebenarnya, siapakah yang disebut Pangeran Semono?" ia bertanya
"Siapa yang tahu" Aku sendiri hanya mendengarnya
sebagai tokoh dongeng," jawab Pancapana. "Dahulupun pernah aku tanyakan kepada guruku. Beliau memberi
keterangan terlalu singkat. Begini keterangan Beliau,
'Pangeran semono itu sebenarnya penjelmaan Dewa Tunggal.
Itulah ayah Dewa Maha Punggung Ismaya dan Manikmaya.
Pangeran semono turun di Pulau Jawa pada zaman ribuan
tahun yang lalu. Kemudian melahirkan raja pertama. Beliau
memberikan ilmu-ilmu saktinya untuk melawan jin, setan, iblis dan dewa agar tidak sanggup menghalang-halangi
kehendaknya untuk menggalang suatu kerajaan di dunia ini.
Dan oleh ilmu saktinya itu keturunannya dapat mendirikan
kerajaan-kerajaan Jawa. Akhirnya sampai pula meluas ke
seluruh dunia.' Kau percaya atau tidak itu bukan urusanku,"
kata Pancapana. "Dan anak keturunan Pangeran Semono
diantaranya ada yang di kenal pula oleh sejarah. Seperti
Sanjaya, Prabusana, Pancasana, Rengganis dan lain lainnya.
Nah, itulah sebabnya orang tuaku mengenakan nama
Pancapana kepadaku. Barangkali akupun termasuk manusia
prasejarah pula." Sampai di sini Pancapana tertawa terbahak-bahak, la girang dan geli mendengar kata-katanya sendiri
sehingga Bagus Boang ikut tersenyum pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baiklah kuceritakan inti persoalannya saja." Sejurus kemudian Pancapana berkata lagi. "Menurut suatu keyakinan, pusaka Jala Karawelang berada di bumi Priangan ini.
Persoalannya kini, bumi Priangan sangatlah luas. Dimanakah
pusaka tersebut harus dicari" Sedangkan beradanya pusaka
Jala Karawelang tersebut hanya malaikat yang tahu. Tapi
setelah mengarungi masa ribuan tahun lamanya akhirnya
terbetiklah suatu kabar. Seorang pertapa bernama Arya Wira
Tanu Datar yang berada di tapal batas Cianjur, pada suatu
hari didatangi sesosok bayangan bagaikan seorang raksasa.
Bayangan itu mengaku diri bernama Mapatih Lawa Ijo. Konon
kabarnya, dia dahulu patih Pangeran semono. Tubuhnya
setengah Dewa dan setengah jin pula. Orang-orang Sunda
menyebutnya sebagai Kyai Semar. Sedangkan orang-orang
Jawa menyebutnya dengan Kyai Sabda Palon. Dialah
penunggu Tanah Jawa." Ia berhenti mengesankan. Kemudian meneruskan, "Dia datang dengan seorang bidadari bernama Dewi Rengganis: Pada zaman ribuan tahun yang lalu, pernah
hidup sebagai puteri seorang raja pendeta dari pertapaan
Argapura. Nah, puteri ini memberi sebuah buku rahasia ilmu
pedang Jala Karawelang kepada Arya Wira Tanu Datar. Itulah
ilmu pedang yang tiada taranya di jagat ini. Bukunya terbagi menjadi dua. Bagian atas dan bagian bawah. Kecuali itu, Arya Wira Tanu Datar menerima pula sebilah pedang pusaka
bernama Sangga Bu-wana. Sedangkan Mapatih Lawa Ijo
mewarisi rahasia ilmu penghimpunan dat gaib. Dan rahasia
ilmu tenaga sakti ini ditulis pula oleh Arta Wira Tanu Datar.
Karena merasa diri menjadi hamba kepercayaan Mataram,
maka dia hendak mempersembahkan. Tetapi maksud itu
belum sampai, ia keburu meninggal dunia. Dan semenjak itu,
buku warisan Arya Wira Tanu Datar sampai menjadi mustika
perebutan diantara para pendekar besar.
* dw*kz * Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
4 WARISAN ARYA WIRA TANU DATAR
INGAT-INGATLAH ceritaku ini, kata Pancapana. Karena
kisah ini akan menjadi latar belakang peristiwa-peristiwa yang menyusul di kemudian hari. Latar belakang apa sebab Harya
Udaya berkhianat terhadap ayahmu, apa sebab dimusuhi
sahabat-sahabat seperjuangan. Latar belakang apa sebab aku
berada di sini. Dan barangkali kelak engkau akan muncul
dalam percaturan hidup karena dipanggul tinggi oleh latar
belakang ini pula.
Pada suatu hari di puncak Gunung Cakra-buwana yang
berada di sebelah utara Ma-langbong, berkumpullah lima
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pendekar besar. Harya Udaya, Harya Sokadana, Ki Tapa,
Ganis Wardhana dan Watu Gunung. Gunung Cakrabuwana
yang mempunyai ketinggian setinggi 1721 meter, kala itu
sangat dingin. Namun mereka berlima tidak ismoyo
menghiraukan rasa dingin itu. Karena mereka sedang
mengadu kecerdikan untuk memperebutkan kitab ilmu pedang
Syech Yusuf yang kabarnya berasal dari turunan kitab sakti
Arya Wira Tanu Datar. Akhirnya Harya Udaya, Ganis
Wardhana, Harya So-kadana dan Watu Gunung mengakui
bahwa kakak seperguruanku itu ternyata berada di atas
mereka. Dengan berbesar hati, aku menyertai kakak seperguruanku
pulang menghadap Guru. Guruku bernama, Ki Ageng
Darmaraja, waktu itu Beliau masih hidup. Melihat kakak
seperguruanku datang mempersembahkan kitab ilmu pedang
dan pedang pusaka Sangga Buwana, guruku tetap membawa
sikap dingin. Kami berdua tahu sebabnya. Untuk kitab ilmu
sakti dan pedang Sangga Buwana itu sudah berapa banyak
yang menjadi korban. Kata guruku dengan sedih kepada
kakak seperguruanku, "Kakakmu Pangeran Purbaya pada
waktu ini sedang sengit-se-ngitnya menuntut keadilan.
Sedangkan para pengawalnya semestinya harus mencurahkan
tenaga untuk membantu cita-cita luhur itu, sebaliknya malah saling berebut demi kitab itu. Masing-masing sudah banyak
jatuh korban. Aku khawatir pula, mereka akan terpecah-belah.
Demi menjaga keutuhan mereka, apakah engkau mau
berkorban?"
"Untuk kakakku seperjuangan, masakan muridmu ini akan
sayang pada nyawa sendiri?" sahut kakak seperguruan.
"Bagus!" guruku manggut-manggut dengan hati lega.
Sejenak kemudian berkata, "Kitab sakti yang kau peroleh dengan susah payah ini, bagaimana kalau kubakar saja agar
musnah dari percaturan hidup?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Budi Guru sebesar gunung," kata kakakku seperguruan.
"Jangan hanya sebuah kitab, meskipun Guru menghendaki
nyawaku, murid akan menyerahkan dengan hati ikhlas."
Terharu hati guruku mendengar ujar kakakku seperguruan,
sampai Beliau meneteskan air mata. Sebaliknya aku heran
mendengar keikhlasan hati kakakku seperguruan. Masakan ia
setuju pada pendapat Guru" Meskipun kami berdua muridnya,
tapi kitab dan pedang itu adalah hasil daya upayanya yang
sulit luar biasa. Eh, bagaimana penda-patmu"
Pertanyaan itu datangnya dengan tiba-tiba sehingga Bagus
Boang terperanjat sampai berjingkrak. Tak sempat
menimbang-nimbang lagi, ia terus menyahut: "Memang
pantas kitab itu dibakar saja. Coba, kalau disimpan, bukankah bangsa kita akhirnya saling tikam sehingga Kompeni Belanda
dapat bergerak di sini dengan leluasa seperti sekarang?"
Pancapana heran mendengar pendapat Bagus Boang. Ia
menatap wajah keponakannya itu lama-lama. Kemudian
berkata dengan menghela napas. "Hai! Kaupun sependapat dengan Guru! Kalau begitu, memang akulah manusia yang
tipis rasa kemanusiaanku."
Melihat paman kandungnya berduka cita, cepat-cepat
Bagus Boang memperbaiki diri. Katanya asal saja, "Kalau memang buku itu sayang untuk dibakar, asal disimpan saja
oleh guru Paman pastilah akan aman. Sebab siapakah yang
berani beradu jiwa dengan guru Paman?"
"Hai! Hai! Kau masih semuda ini, bagaimana dapat
menebak dengan tepat?" Pancapana tercengang."Memang, setiap guru hendak membakarnya punah, mendadak timbullah
rasa sangsinya."
Bagus Boang heran pula, apa sebab kalimatnya tepat
mengenai sasaran. Padahal dia hanya ngawur belaka. Karena
itu mukanya merah oleh pujian pamannya. Katanya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kupikir, guru Paman sudah mencapai puncak
kesempurnaan. Mungkin pula waktu itu sudah berusia lanjut.
Apa perlu bersusah payah diri untuk menyelami ilmu sakti
tersebut yang belum tentu banyak gunanya. Beliau
menyimpan kitab tersebut semata-mata demi keutuhan
bangsa. Pendeknya, Beliau tak sampai hati apabila para
pendekar besar terbelok perhatiannya sehingga saling
membunuh. Sedangkan sebenarnya justru harus memutuskan
perhatiannya untuk mengusir sepak terjang Kompeni Belanda.
Bukankah begitu?"
Pancapana mendongakkan kepalanya, dengan berdiam diri.
Dalam hati Bagus Boang berkebat-kebit karena khawatir salah bicara.
"Mengapa kau dapat berpikir demikian?" Akhirnya
Pancapana berkata perlahan dengan menghela napas. Ia
memandang wajah Bagus Boang dengan penuh selidik. Dan
memperoleh pertanyaan itu Bagus Boang menggelengkan
kepalnya. "Aku hanya berpikir, kitab itu sudah membunuh banyak pendekar-pendekar gagah entah sejak kapan. Karena
itu sudah seharusnya dimusnahkan. Apakah yang janggal?"
"Kau benar, alasanmu sederhana sekali. Justru itulah, cara berpikirmu mengingatkan aku kepada Guru," kata Pancapana kagum. "Akupun sekarang dapat berpikir begitu. Hanya saja waktu itu kenapa aku tidak dapat berpikir begitu" Pernah pada suatu kali guruku berkata bahwa bakatku memang baik, ulet,
tabah, kukut dan cermat. Tapi kekuranganku hanya pada
sifatku yang kurang berperi kemanusiaan, kurang dermawan
dan mau menang sendiri. Itulah sebabnya, walaupun aku
berlatih keras serta rajin, tidak bakal aku mencapai puncak kemahiran. Tatkala itu, tak mau aku mendengarkan ucapan
guruku. Masakan suatu ilmu kepandaian ada hubungannya
dengan sifat manusia. Tetapi sekarang, setelah aku berada di sini selama lima belas tahun barulah aku membenarkan.
Anakku, dalam hal ilmu kepandaian engkau kalah dariku.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi dalam hal kejujuran, kehalusan budi dan kelapangan
hati, engkau menang sepuluh kali lipat. Karena itu aku yakin, bahwa dikemudian hari engkau bakal memperoleh hasil
sepuluh kali lipat dariku. Sayang ayahmu... guruku sudah...
Tapi di atas puncak bukit Munara masih ada kakakku
seperguruan. Kau bisa berguru padanya. Dan manakala
kakakku seperguruan sampai mewarisi sekalian ilmu saktinya, engkau akan merajai seluruh bumi Priangan ini."
Bagus Boang hendak segera membantah ucapan pamannya
itu. Tujuan hidupnya bukanlah untuk menjadi manusia kelas
wahid. Tetapi hendak menyatukan bangsanya untuk mengusir
VOC dari bumi Jawa. Tatkala hendak membuka mulutnya, ia
melihat kedua mata Pancapana sudah penuh dengan air mata.
Dan sebentar kemudian, orang tua itu menangis dengan
menggerung-gerung.
Bagus Boang heran bercampur terharu, la tak mengerti apa
"ebab pamannya itu tiba-tiba menangis sedih. Agaknya ia
seperti sedang menyesali diri.
Sebentar kemudian, Pancapana menegakkan kepalanya.
Lalu berkata sambil menyingkirkan sedu-sedannya.
"Ah, ya... bukankah ceritaku terputus di tengah jalan"
Mulutku ini memang mahal mulut tak tahu aturan. Masakan
terus saja menangis" Baiklah aku nanti menangis lagi setelah selesai ceritaku. Ai, sampai di mana ceritaku tadi" Kenapa kau diam saja tidak mencegah tangisku?"
' Aneh lagak laku Pancapana ini, sehingga Bagus Boang
tertawa geli dalam hati. Hati-hati ia menyahut, "Paman tadi baru mengisahkan sikap guru Paman dalam hal mengambil
keputusan hendak memusnahkan buku warisan."
"Ah ya!" Pancapana berseru dengan girang. Dan isaknya senyap dengan sekaligus. Katanya dengan penuh semangat,
"Guruku menyimpan kitab Arya Wira Tanu Datar dan kitab Syech Yusuf dibawah batu. Aku mencoba meminta pada Guru,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
agar aku melihat kedua kitab itu. Tetapi Beliau marah. Dan
semenjak itu tak berani lagi aku menyebut-nyebut buku
tersebut. Benar saja, setelah kedua buku itu berada di tangan Guru, bumi Priangan lantas menjadi tenang. Tetapi setelah
Guru meninggal atau lebih tepat pada saat Guru hendak
menghembuskan napas yang terakhir, timbullah suatu
gelombang baru."
Tatkala mengucapkan kalimat yang terakhir itu, Pancapana
berteriak keras hingga hati Bagus Boang tercekat. Pada saat itu terasalah hati pemuda itu, bahwa gelombang baru yang
disebutkan Pancapana, pastilah bukan gelombang kecil yang
tiada artinya. Karena itu, ia segera memusatkan
pendengarannya.
"Guru tahu saatnya sudah tiba. Setelah meninggalkan
pesan-pesan tertentu kepada kakakku seperguruan Ki Tapa,
Beliau memanggil aku. Aku diperintahnya mengambil kedua
kitab sakti dari bawah batu," kata Pancapana meneruskan ceritanya. "Guru menyuruh aku pula menyalakan api
pendiangan. Tahulah aku, bahwa Guru berniat membakar
kedua kitab warisan itu. Sambil mengusap-usap kedua warisan itu, Guru menghela napas beberapa kali. Akhirnya Beliau
berkata kepadaku, 'kitab ini merupakan kitab pusaka tanah
Jawa. Masakan akhirnya termusnah oleh tanganku" Hm,
bagaimana namaku dikemudian hari, apabila aku berani
melakukan niat itu. Nyala api dapat memusnahkan segala, tapi dapat pula mematangkan yang serba mentah. Air dapat
membenamkan persada bumi, tapi dapat pula menghidupi
semua yang berada di atas bumi dan yang di bawah atap
langit. Semuanya itu tergantung bagaimana cara
menggunakannya. Lihatlah kitab ini! Benda ini kelak dapat
memusnahkan peradaban, tetapi dapat membangunkan
peradaban juga. Sekarang, tinggal siapa yang mewarisi.
Hanya saja pesanku, semua muridku tidak kuperkenankan
mempelajari. Hal ini perlu kauperhatikan, agar sejarah
dikemudian hari tidak menuduh aku terlalu serakah sehingga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mau mengangkangi warisan leluhur kita pada zaman purba
untuk kepentinganku semata.' Setelah berkata demikian, Guru menutup mata dan meninggal. Jenazah Beliau aku tidurkan di
atas dipan dan kuselimuti rapat-rapat. Aku berniat hendak
mengabarkan berita duka cita kepada sekalian murid dan
handai taulan Guru. Tetapi belum lagi jam tiga malam, sudah terjadi keonaran." "Keonaran apa itu?"
"Malam itu aku berada di tengah-tengah ketujuh cantrik Guru, menunggu jenazah Guru," kata Pancapana dengan
suara pilu. "Kira-kira tepat tengah malam, aku mendengar beberapa gerakan yang mencurigakan. Kuhitung lebih dari
sepuluh orang. Ketujuh cantrik Guru langsung memecah diri
untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka keluar
halaman dengan maksud memancing lawan agar tidak
merusak jenazah guru. Aku sendiri tetap berada di samping
jenazah guru. Tiba-tiba di luar dugaan kudengar suara
bentakan agar kami menyerahkan kitab sakti. Musuh itu pun


Bunga Ceplok Ungu Karya Herman Pratikto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bahkan mengancam hendak membakar rumah perguruan.
Mendengar ancaman itu, dengan hati panas aku melongok
keluar jendela. Keringat dinginku lantas saja keluar. Kulihat seorang berperawakan tegap berdiri di atas pohon tinggi.
Teranglah bahwa ilmu kepandaiannya di atas diriku. Pada saat itu teringatlah aku pada kakakku seperguruan. Sayang,
setelah menerima pesan-pesan Guru, rupanya ia diperintahkan segera turun gunung untuk membantu perjuangan Pangeran
Purbaya. Dengan kenyataan itu, aku harus berjuang mati-
matian mempertahankan jenazah dan kitab warisan. Dengan
memberanikan diri aku meloncat ke atas pohon. Waktu itu,
para cantrik sudah mencoba mengerubutnya. Tapi dengan
sekali menyapukan kakinya, mereka terbanting roboh ke
tanah. Akupun tak dapat bertahan lama juga. Setelah
melawan kira-kira empat puluh jurus, pundakku kena dihajar, dan aku terjatuh dari pohon."
000dw000kz000 Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagus Boang heran. Katanya dengan suara tinggi, "Paman sudah begitu tinggi ilmunya. Walaupun demikian tidak
sanggup melawan musuh itu dalam empat puluh jurus saja.
Siapakah dia?"
"Usianya lebih muda dari aku. Tetapi ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Cobalah tebak, siapa dia?" sahut Pancapana.
Bagus Boang berpikir sejenak. Lalu menjawab, "Watu
Gunung!" "Eh, mengapa kau bisa menebak dengan tepat?"
Pancapana heran.
"Sebab pendekar yang kepandaiannya melebihi Paman
hanya empat orang. Harya Udaya, Harya Sokadana, Ganis
Wardhana dan Watu Gunung. Sedang Ki Tapa adalah kakak
seperguruan Paman." Bagus Boang memberi keterangan.
"Harya Udaya seorang yang merasa tinggi harga dirinya. Ganis Wardhana seorang ningrat. Harya Sokadana seorang pendekar
yang berwatak ksatria tulen. Karena itu yang dapat berlaku
licik hanyalah Watu Gunung."
"Mengapa bukan Harya Udaya?" Pancapana mencoba.
"Dengan Harya Udaya baru sekali aku mengenal mukanya.
Dia angkuh dan tinggi hati. Kurasa dia bukan tergolong
manusia yang tebal mukanya hingga dapat berbuat serendah
itu"menyerang seorang rekan selagi dirundung malang..."
Baru saja Bagus Boang menutup mulutnya, terdengarlah
suara bentakan dari belakang gerombol belukar. "Eh, binatang cilik! Tak kukira engkau mempunyai pandangan luas pula."
Dengan sekali menjejak tanah, Bagus Boang melesat
menubruk belukar itu. Tetapi orang yang membentak tadi
tiada nampak bayangannya lagi. Bagus Boang heran dengan
kecepatan itu. "Anakku, kembalilah!" seru Pancapana. "Dialah Harya Udaya. Semenjak tadi aku tahu dia bersembunyi di balik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gerombol belukar itu. Itulah sebabnya, aku tidak menyebut
Pangeran Purbaya sebagai ayahmu. Kini dia sudah pergi jauh."
Dengan hati masih terheran-heran, Bagus Boang kembali
menghampiri paman kandungnya.
"Harya Udaya pandai berilmu gaib pula," kata Pancapana lagi. "Gerakannya gesit bagaikan bayangan. Sepuluh tahun lagi engkau belajar, belum tentu dapat mencapai tepi
kepandaiannya."
Tentang kepandaian pendekar besar Harya Udaya, Guru
dan sekalian paman gurunya sering membicarakan, la tidak
hanya memiliki ilmu tata berkelahi yang sempurna, tapi juga memiliki berbagai ragam ilmu pengetahuan. Otaknya cerdas,
sehingga disegani lawan dan kawan. Sayang, bahwa orang
sepandai itu menurut Bagus Boang tersesat jalannya.
"Anakku! Kau menyebut Watu Gunung," kata Pancapana memecahkan ketegangan. "Tahukah kau, siapakah namanya
di masa mudanya?"
Bagus Boang menggelengkan kepalanya.
"Apakah gurumu tidak pernah menyebut nama Harya
Kebonan?" Pancapana menegaskan.
"Ah! Apakah dia yang bernama Harya Kebonan?" Bagus Boang heran. "Jadi dialah pengganti Raja Galih Pakuan, Raden Galuh Barma Wijayakusuma?"
Mendengar ucapan Bagus Boang, Pancapana tertawa
terkekeh-kekeh. Katanya dengan tubuh bergoyangan, "Bukan!
Bukan dia! Itu khan terjadi pada zaman Raja Ciung Wanara.
Tapi Watu Gunung ini, pendekar yang hidup pada zaman
sekarang. Benar, namanya Harya Kebonan, tapi bukan Harya
Kebonan zaman baheula."
Meskipun Pancapana tidak bermaksud mengejek, tetapi
paras muka Bagus Boang merah juga. Salah terka itu terjadi, karena pikirannya terbagi. Ia masih kagum pada ilmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepandaian Harya udayadaya sehingga masalah Watu Gunung
sebentar tadi hilang dari pengamatannya. Maka cepat-cepat ia memusatkan perhatiannya kembali dan berkata, "Paman!
Bagaimana setelah Watu Gunung berhasil merobohkan
Paman?" "Bagus pertanyaanmu itu!" kata Pancapana girang. "Coba kau tidak cepat-cepat mengembalikan jalan ceritanya, bisa-bisa mulutku mengoceh tak keruan juntrungan-nya. Nah,
begitu kena pukulan Watu Gunung, sekujur tubuhku
gemetaran seperti kemasukan racun. Sakitnya sampai
menusuk ulu hati sampai akupun tak dapar bergerak. Tetapi
melihat dia melompat masuk menghampiri jenazah Guru,
dengan mati-matian aku memaksa diri untuk mengejarnya.
Tekadku, aku hendak mati berbareng. Namun sudah barang
tentu, ia lebih cepat daripada aku. Melihat kedua buku sakti dan pedang Sangga Buwana berada disisi jenazah Guru, cepat
ia menyambar. Hatiku hancur. Di dalam ruang itu tiada
seorangpun jua. Aku sendiri sudah dikalahkan. Bagaimana aku dapat mempertahankan kedua kitab pusaka itu" Selagi
demikian, sekonyong-konyong aku mendengar suara
bentakan. Dan dipan tempat peristirahatan jenazah Guru,
hancur berantakan."
"Apakah Watu Gunung menghajar dipan guru Paman?"
Bagus Boang terkejut.
"O, tidak! tidak!" sahut Pancapana cepat.
"Sebaliknya oleh gerakan guru itu sendiri, dipannya lantas ambrol berantakan."
Mendengar keterangan Pancapana, Bagus Boang heran
bukan main. la seperti mendengar sebuah dongeng anak-
anak. Masakan seseorang yang sudah meninggal dapat hidup
kembali. Maka dengan kepala penuh tanda tanya ia
mengamati wajah paman kandungnya yang berwatak angin-
anginan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pancapana rupanya dapat menebak keadaan hati
kemenakannya. Terus saja ia berkata, "Hayo, tebaklah!
Apakah arwah Guru terbangun kembali" Apakah Guru hidup
kembali" Apakah... pendeknya bukan semua. Guru hanya
berpura-pura mati."
"Berpura-pura mati?" Bagus Boang mengulang dengan heran.
"Benar! Rupanya Guru sudah kenal sifat serta perangai
Watu Gunung. Kakak seperguruanku yang diajaknya
berbicara, sebenarnya sedang melaporkan sepak terjang Watu
Gunung yang sedang mengerahkan anak-anak muridnya
hendak merebut kedua buku sakti dengan pedang Sangga
Buwana sekaligus. Pada saat itu, dia sedang berkeliaran di
sekitar pertapaan menunggu saat yang baik. Memperoleh
laporan itu, Guru lalu berpura-pura meninggal dunia. Guru
sudah mencapai tataran kesempurnaan. Beliau dapat
menahan napasnya dan membuat dingin tubuhnya selama
mungkin. Kalau perlu dapat bertahan sampai tiga hari tiga
malam. Kalau dia memberitahu hal itu kepadaku atau kepada
cantrik cantriknya, pastilah aku maupun para cantrik tidak
akan berduka cita dengan sungguh-sungguh. Begitu Watu
Gunung bergerak menyambar kedua kitab sakti, dengan sekali
melesat, Guru menghantam batok kepala Watu Gunung
dengan ilmu Sorga Dahana. Itu suatu pukulan untuk
memusnahkan semua ilmu kepandaian lawan.
Bila tidak terpaksa, semua murid guru dilarang
menggunakan pukulan tersebut. Sebab seseorang yang kena
diserang pukulan Sorga Dahana akan punah ilmunya.
Bukankah hal itu akan menghancurkan hari depannya" Tetapi
Watu Gunung adalah pendekar keji dan jahat. Daripada
dikemudian hari akan malang melintang tanpa tanding lagi,
maka Guru memutuskan untuk melakukan pukulan dahsyat
itu. Pancapana berhenti sejenak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagus Boang manggut-manggut, lalu mendesak: "Lantas
bagaimana" Apakah guru Paman berhasil?"
"Tentu saja. Masakan Guru bisa luput" Watu Gunung boleh memiliki ilmu kepandaian setinggi langit, tetapi diserang
begitu mendadak dan sama sekali tak terduga tak sempat lagi ia menangkis," sahut Pancapana meyakinkan, "la kaget bukan kepalang. Sewaktu memasuki ruang dalam, ia melihat Guru
telah meninggal benar-benar. Dengan demikian hatinya tidak
menaruh curiga. Dan begitu kena pukulan, ilmu
kepandaiannya lantas saja lenyap. Terhadap guru, ilmu
kepandaiannya selisih sangat jauh. Sedangkan melawan
kakakku seperguruan saja ia tak berkutik. Karena itu, mana
bisa ia dapat membela diri" Maka dengan menjerit tinggi, ia lari pulang ke sarangnya. Ilmu kepandaiannya sudah punah.
Itulah sebabnya, tiada kabarnya lagi tentang dirinya."
Tak terasa Bagus Boang menarik napas panjang. Ia
menyayangkan ilmu kepandaian Watu Gunung yang semenjak
itu menjadi punah tak berbekas. Namun mengingat sepak
terjangnya, pantas ia di hukum begitu.
"Setelah memukul Watu Gunung, aku dipanggil
menghadap," kata Pancapana meneruskan. "Kedua kitab sakti dan pedang Sangga Buwana diserahkan kepadaku. Kata
Beliau dengan suara lemah, 'Bawa dan jagalah dengan
jiwamu!' Kemudian Beliau membisiki aku, 'dimanakah aku
harus menyimpannya.' Setelah itu Beliau diam bersemedi. Aku tahu, Guru baru saja menahan napas dan mendinginkan tubuh
hampir satu hari satu malam lamanya. Setelah itu dengan
mendadak mengeluarkan tenaga pukulan dahsyat pula. Sudah
barang tentu, Guru kehabisan tenaga saktinya dan perlu
mengembalikan tenaga cepat-cepat. Maka tak berani aku
menganggunya. Tatkala itu, para cantrik yang mendengar
kabar tentang Guru, pulang ke pertapaannya dengan hati
girang. Maklumlah, Guru tidak meninggal dunia. Mereka ingin menghadap untuk menyatakan rasa suka citanya. Tetapi aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencegahnya. Kukatakan kepada mereka, bahwa Guru
sedang mengembalikan tenaga sakti. Beliau tidak boleh
diganggu. Maka dengan menyabarkan diri, mereka duduk di
serambi depan menunggu kehadiran Guru. Tetapi sampai
keesokan harinya, Guru tidak turun dari tempat persemadian.
Tatkala aku memberanikan diri untuk menengoknya, terjadi
suatu peristiwa yang mengejutkan."
"Peristiwa apa lagi?" Bagus Boang tercekat hatinya.
"Tubuh Guru nampak miring. Paras mukanya lain dari pada biasanya," sahut Pancapana. "Aku lantas menghampiri dan kuraba tubuhnya. Ternyata tubuh Guru sangat dingin. Setelah kuamat-amati dengan seksama, tahulah aku bahwa pada saat
itu Guru benar-benar telah meninggal."
"Ah!" Bagus Boang terperanjat.
"Aku lantas berkemas-kemas hendak melaksanakan pesan
Guru terakhir. Kitab ilmu pedang Syech Yusuf, hendak
kuserahkan kembali kepada pendekar Ganis Wardhana.
Sedangkan kitab warisan Arya Wira Tanu Datar kupecah
menjadi dua. Bagian atas dan bagian bawah. Begitu pesan
terakhir Guru. Dan aku harus menyimpannya pada suatu
tempat." "Mengapa harus dipecah menjadi dua bagian?" Bagus Boang minta penjelasan
"Seumpama yang satu tercuri atau terampas, yang lainnya tidak," sahut Pancapana. "Seseorang yang hanya dapat mempelajari salah satu bagiannya, tiada berguna. Seumpama
mahirpun tidak bakal dapat mencapai kesempurnaan. Karena
itu tempatnya harus terbagi pula. Setelah aku menyimpan
yang satu, segera aku membawa bagian lainnya ke tempat
lain. Tetapi di tengah jalan aku berpapasan dengan Harya
Udaya." "Ah!" seru Bagus Boang terkejut. Ia seperti sudah dapat menebak sebagian.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dengan Harya Udaya sudah sering aku bertemu dan
berbicara. Ilmu kepandaiannya lebih tinggi dari aku. Sifatnya tenang membawa diri, angkuh dan tinggi hati. Tetapi dia
bukan manusia yang tergolong seperti Watu Gunung. Karena
itu, aku tak perlu mencemaskan tentang buku warisan Arya
Wira Tanu Datar. Hanya celakanya, dia sedang berjalan
bersama dengan Dewi Naganing-rum."
"Bibi Naganingrum, maksud Paman?" Bagus Boang
terkejut. Pancapana mengangguk. Berkata dengan suara rendah,
"Ya, ibumu yang satunya. Seorang wanita cerdas yang pernah kujumpai selama hidupku. Dia murid guru besar Syech Yusuf.
Adik seperguruan pendekar Ganis Wardhana. Lalu menjadi
istri ayahmu, junjunganku dan juga kakak seperguruanku.
"Karena itu, dia pun menjadi kakak iparku sekaligus
junjunganku pula. Hanya sayang...."
"Sayang bagaimana?" Bagus Boang bernafsu ingin tahu.
Pancapana tak segera menjawab. Ia seperti sedang sibuk
menimbang-nimbang. Kemudian berkata mengalihkan
pembicaraan, "Kulihat paras muka .Harya Udaya sangat
terang. Kupikir pastilah dia sedang berhati girang. Apakah
laskar Pangeran Pur-baya memperoleh kemenangan" Waktu
itu Sultan Ageng Tirtayasa sedang dalam puncak
kemegahannya. Dimana-mana laskar perjuangan Banten
memperoleh kemenangan melawan laskar Pangeran Haji yang
dibantu pihak Kompeni Belanda. Namun karena aku bertabiat
senang membawa perasaanku sendiri, tak sempat aku
memikirkan persoalan orang lain. Segera aku menggambarkan
tentang meninggalnya Guru dan sepak terjang Watu Gunung
yang rendah. Membicarakan meninggalnya Guru, dengan
sendirinya aku mengisahkan betapa Watu Gunung terpunah
ilmu saktinya oleh pukulan Sorga Dahana. Kuceritakan
padanya, bahwa untuk membangun ilmu saktinya kembali,
Watu Gunung membutuhkan waktu paling tidak sepuluh tahun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lagi. Sampai di situ, Ratu Naganingrum meminta kepadaku
agar buku ilmu pedang Syech Yusuf dan pedang Sangga
Buwana kuserahkan. Menimbang bahwa warisan Syech Yusuf
merupakan milik keluarga perguruannya, maka aku tak
keberatan. Pikirku, Guru berpesan agar mengembalikan kitab
ilmu pedang Syech Yusuf kepada Ganis Wardhana. Ratu
Naganingrum adalah adik seperguruan Ganis Wardhana dan
juga junjunganku pula. Maka tiada celanya apabila kuserahkan saja. Akupun tidak susah-susah lagi mencari Ganis Wardhana
yang selama hidupnya selalu berpindah-pindah tempat karena
harus memimpin perjuangan di seluruh bumi Priangan. Hanya
saja pedang Sangga Bu-wana itu bukan milik perguruan Syech
Yusuf. Karena itu, tak dapat aku memenuhi permintaannya."
"Ya benar," potong Bagus Boang. "Menurut riwayat pedang Sangga Buwana berasal dari surga. Pembuatnya bernama
Empu sempani. Entah sudah keberapa kalinya berpindah
tangan dan akhirnya jatuh di tangan Raja Prabu Sedah.
Kemudian kakek moyangku dapat merampasnya. Dan
bagaimana dapat berada di tangan Harya udayadaya, ingin
aku mendengar riwayatnya."
"Bagus! Kaupun memiliki pengetahuan yang luas!" seru Pancapana bersyukur. Kemudian melanjutkan ceritanya, "Ratu Naganingrum tidak memperlihatkan suatu kesan buruk tatkala
aku menolak menyerahkan pedang Sangga Buwana. Setelah
membalik-balik beberapa lembar kitab ilmu pedang Syech
Yusuf, ia minta pinjam untuk melihat bagaimana rupa kitab
warisan Arya Wira Tanu Datar yang sudah membinasakan
beratus-ratus pendekar gagah semenjak dahulu. Harya CIdaya
sangat hormat terhadap junjungannya itu. Melihat aku
keberatan, dia pun lantas membujukku. Katanya meyakinkan
diriku, "Pancapana! Kau anggap apa Ratu Naganingrum"
Beliau isteri junjungan kita. Beliau pun kakak iparmu juga. Dan juga Beliau pun adik seperguruan Ganis War-dhana. Kurasa
tidak ada halangannya. Kalau kau takut aku hendak
mengakalimu, biarlah aku bersumpah. Sekali aku mengerling
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ke arah kitab itu, akan kucukil kedua mataku dengan tanganku sendiri. Sebaliknya, dengan budimu ini aku akan mewartakan
kepada seluruh rekan-rekan seperjuangan. Pastilah junjungan kita Gusti Pangeran Purbaya tidak akan berpeluk tangan.


Bunga Ceplok Ungu Karya Herman Pratikto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sebaliknya, apabila kau membuat hati Gusti Pangeran Purbaya kecewa, aku dan rekan-rekan seperjuangan tidak akan tinggal diam saja. Kakakmu Ki Tapa boleh tinggi ilmunya, tapi
masakan mampu membela diri manakala kami kerubut
beramai-ramai?" Terang sekali ucapan Harya Udaya berkelit-kelit dan mengandung bisa. Tetapi dia memang seorang
jagoan yang jarang tandingannya. Dengan kakakku dia kalah
seurat. Tetapi kalau dia sampai membawa-bawa pula Ganis
Wardhana, Harya Sokadana dan lain-lainnya, pastilah kakakku sukar mempertahankan jiwanya sendiri walaupun tumbuh
sayapnya. Memikirkan demikian, aku segera menjawab,
"Perkara kitab ini, kakakku tidak ada sangkut pautnya. Guru sudah menyerahkan kepadaku. Karena itu, kalau mau marah,
carilah aku pendekar babi yang tidak kenal Tuhan dan setan!"
Dan mendengar ucapanku itu Ratu Naganingrum tertawa
terpingkal-pingkal. Ia menganggap ucapanku lucu."
Bagus Boang tersenyum. Ia pun menganggap lucu
mendengarkan Pancapana menyebut dirinya sendiri seperti
babi. Lalu berkata mendesak, "Lalu bagaimana?"
"Ratu Naganingrum memutuskan agar pertemuan itu
jangan menimbulkan kesan tegang. Baiklah jangan kita
persoalkan lagi perkara kitab warisan, katanya. Tak apalah
aku tidak diperkenankan melihatnya. Setelah berkata demikian Ratu Naganingrum menoleh kepada Harya Udaya. Katanya
setengah berbisik, "Rupanya kitab warisan itu sudah kena dirampas Watu Gunung. Itulah sebabnya, dia tak dapat
memperlihatkan kepadaku. Kau tak perlu memaksanya, tiada
manfaatnya, malah bisa-bisa menjadi renggang hubungan
kalian." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan mendengar perkataan Ratu Naganingrum, Harya
Udaya tertawa, katanya: "Benarlah pendapat Ratu! Eh,
Pancapana! Kalau begitu, marilah kubantu mencari Watu
Gunung biadab itu. Nanti kita membuat perhitungan yang
adil!" Sederhana terdengarnya kata-kata Harya Udaya. Tetapi
Bagus Boang yang berotak cerdas segera dapat menebak
intinya, berkata: "Paman! Bibi Naganingrum benar-benar cerdik. Paman kena dipancing harga diri Paman."
"Benar!" sahut Pancapana. Lalu meneruskan dengan suara angkuh. "Masakan aku tidak tahu" Hanya saja aku tidak mau mengalah. Masakan aku dikatakan tidak dapat menjaga kitab
warisan yang dipercayakan Guru kepadaku"
Bagus Boang tersenyum. Benar-benar Pancapana kena
pancingan. Namun orang tua itu tidak merasa begitu. Dia
malahan bersikap angkuh. Karena itu ia tidak berkata lagi.
"Dengan serta merta kuterangkan padanya, bahwa kitab
warisan masih ada padaku," kata Pancapana. "Kupikir, tidak apalah asal hanya melihat saja. Lalu aku menegas, apa
syaratnya?"
Harya Udaya tertawa gelak. Katanya nyaring, "Mari kita bermain catur. Kukira, waktu tersebut cukuplah sudah engkau membuat puas Ratu Naganingrum." Aku menyetujui, lalu
kuserahkan kitab warisan Arya Wira Tanu Datar kepada Ratu
Naganingrum. Dan demikianlah kami berdua bermain catur.
Sambil bermain aku mengerling kepada Ratu Naganingrum.
Karena itu perhatianku terpecah, sehingga dua kali berturut-turut aku kena dikalahkan dengan mudah. Harya Udaya
agaknya tahu keresahan hatiku, sebab aku terkenal sebagai
ahli catur"di samping dia sendiri. Maka katanya, "Eh,
Pancapana! Di zaman ini berapa orangkah yang dapat
memenangkan aku dalam hal mengadu ilmu kepandaian?" Aku menjawab, "Yang dapat mengalahkan engkau dalam arti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebenarnya belum tentu ada. Tetapi yang dapat mengalahkan
aku, engkaulah itu." Harya Udaya tertawa gelak, katanya:
"Kau pandai mengangkat angkat aku." Jawabku, "Bukan!
Aku berkata sebenarnya. Yang lain, kakakku seperguruan,
Ganis Wardhana, Harya Sokadana dan Watu Gunung.
Meskipun kakakku seperguruan dapat melebihi engkau seurat,
tetapi untuk mengalahkan engkau dalam arti yang
sebenarnya, masih belum tentu. Sedangkan yang lainnya
setaraf denganmu. Sekarang, Watu Gunung terpunah ilmu
saktinya oleh pukulan Guru. Dengan demikian tinggal tiga
orang yang dapat mengimbangimu." Mendengar ujarku, Harya Udaya berkata meyakinkan diriku, "Kata-katamu benar.
Karena itu, kalau kita berdua bersekutu, di dunia ini tak ada tandingannya lagi. Sekarang untuk kitab warisan yang sedang dibawa Ratu Naganingrum, kita jaga berdua. Siapakah yang
berani mencoba-coba merampas atau merusaknya?" Aku
mengangguk membenarkan. Katanya lagi, "Nah, mengapa
hatimu tidak tenteram" Hayo kita bermain sungguh-sungguh!"
"Kupikir benar juga alasannya. Itulah sebabnya hatiku
menjadi lega. Sementara itu, Ratu Naganingrum masih saja
sibuk mem-bolak balik lembaran kitab warisan Arya Wira Tanu Datar yang belum pernah kulihat sendiri. Mulutnya komat
kamit setiap kali membaca kalimat-kalimatnya. Kadang-kadang alisnya nampak berdiri tegak dengan dahi berkerenyit.
Tahulah aku sebabnya, sebagian kitab telah kusimpan pada
suatu tempat. Karena itu dia hanya membaca bagian atas.
Setiap kali kalimatnya akan masuk pada bagian bawah,
terputus di tengah jalan. Tak mengherankan, bahwa ia
nampak bersungut-sungut atau mengernyitkan dahi. Melihat
itu, hatiku senang dan menganggapnya lucu. Pikirku lagi,
meskipun andaikata kitab itu lengkap, masakan dia sanggup
memahami dengan secepat itu. Namun Ratu Naganingrum
tetap membacanya dengan perlahan-lahan dan cermat.
Melihat begitu, hatiku tak sabar lagi. Baru aku kembali
membuka mulut untuk memintanya kembali, Beliau ternyata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah sampai pada halaman terakhir. Kukira akan segera
mengembalikan. Eh, Beliau membacanya lagi mulai dari
halaman pertama. Sebentar kemudian, Beliau memanggil aku
seraya berkata dengan menarik napas panjang. "Pancapana!
Kasihan kau! Ini bukan kitab warisan Arya Wira Tanu Datar.
Rupanya kitab warisan itu benar-benar kena rampas Watu
Gunung. Dia sempat menukar sebuah kitab lain, sewaktu kena
diserang gurumu."
Aku tertawa mendengar kata-kata Ratu Naganingrum. Dia
boleh cerdik, tapi jangan harap akan dapat mengakali aku.
"Bukankah Watu Gunung melarikan diri, sewaktu kena
pukulan gurumu hanya satu kali saja?" kata Ratu
Naganingrum. "Benar. Tapi pukulan Guru adalah pukulan Sorga Dahana.
Di dunia ini manusia manakah yang sanggup menangkis
pukulan Guru untuk yang kedua kalinya?" Aku membela diri.
Naganingrum tersenyum. Pandangnya iba kepadaku.
Katanya dengan suara halus, "Benar, di dunia ini siapakah yang sanggup menerima gempuran gurumu" Tapi, apa sebab
kitab ini bukan kitab warisan?"
"Kalau bukan, lantas kitab apa?" aku penasaran.
Ratu Naganingrum mendongak ke langit. Dahinya
berkerenyit sejenak, lalu menyahut: "Pancapana! Ia adalah sebuah kitab kidung"kitab nyanyian untuk menolong
menidurkan anak-anak. Pada masa mudaku, sering aku
mendengar dari mulut ibuku, sehingga aku hafal benar. Kau
tak percaya" Coba lihatlah kitab ini! Kau pernah melihat kitab warisan itu atau tidak?"
"Guru melarang aku melihatnya," sahutku.
"Nah, tuuu... sekarang lihatlah. Perhatikan kalimat-
kalimatnya. Aku akan membaca dari sini. Kalau ada sepatah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kalimatku yang tidak cocok, katakan aku berdusta!" kata Ratu Naganingrum.
Dengan panas hati, aku menerima kitab itu. Kemudian
kubalik-balik halamannya. Seruku panas, "Cobalah baca!"
Benar-benar Ratu Naganingrum dapat menghafal dengan
tepat dan lancar sekali. Mulai dari permulaan sampai lembaran terakhir tidak ada satu kesalahan sedikitpun. Dan memperoleh kenyataan itu, keringat dinginku mengucur sangat deras.
"Jadi... jadi... ini kitab palsu?" seruku ter-gagap-gagap.
Kalau ada seorang tersambar geledek, tiada yang melebihi
rasa kagetku. Seluruh tubuhku gemetaran. Bayangan
pendekar Watu Gunung tatkala melesat keluar rumah
perguruan nampak berkelebat sangat jelas dalam benakku.
Tak terasa terlontarlah makianku. "Jahanam!"
BAGUS BOANG hanya pendengar kisah Pancapana.
Walaupun demikian, ia terkejut. Dengan sangat heran ia minta keterangan,
"Mungkinkah pendekar Watu Gunung berkesempatan
menukar kitab sakti itu dengan kitab kidungnya, tatkala guru Paman belum bergerak dari tempat tidurnya?"
"Mula-mula akupun menduga demikian," sahut Pancapana dengan menghela napas. "Tapi aku kenal Harya Udaya
semenjak beberapa tahun yang lalu. Ia seorang pendekar
yang licin dan berbakat. Terhadap junjungannya ia seorang
pengawal yang setia. Belum pernah aku mendengar la
melanggar pantangan sedikitpun. Tetapi apa sebab hari itu, ia berjalan berbareng dengan Ratu Naganingrum" Oleh pikiran
itu, aku mengawasi wajah Ratu Naganingrum dengan penuh
selidik. Rupanya Ratu Naganingrum melihat perubahan
wajahku. Lalu berkata dengan berseyum, "Gurumu seorang pendengar bangsa yang jujur. Sayang ia masih kena tipu daya Watu Gunung. Kalau engkau masih bersangsi, kau cabutlah
halaman mana saja. Asalkan engkau menyebut kalimat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
permulaan atau tengahan atau yang terakhir, pastilah aku
masih bisa menghafal seluruhnya. Buku bacaan yang selalu
diresapkan ke dalam dadaku semenjak kanak-kanak, masakan
aku bisa lupa?" Mendengar perkataannya sekali lagi aku hendak mengujinya.
Dan benar saja. Pada halaman mana saja, Ratu
Dewi~KZNaganingrum dapat melengkapi kalimat-kalimatnya.
Dan benar-benar menjadi putus asa. Oleh rasa mendongkolku
hampir saja aku merobek-robeknya. Untunglah" suatu
ingatan menusuk benakku. Lantas saja aku lari pontang
panting tak karuan jun-trungnya dengan menbawa lagu
kecewa luar biasa dalam sanubariku. Semenjak itu, aku
menyekap diri. Kutekuni semua ilmu semua ajaran guruku
dengan sungguh-sungguh.. Tujuanku hendak mencari Watu
Gunung setelah aku mencapai tataran kakak seperguruanku.
Kitab warisan hendak kuminta dengan baik-baik, kalau
membangkang pasti kurampungi pada saat itu juga."
"Daripada bersusah payah demikian, bukankah lebih
gampang mengadu kepada Ki Tapa?" tukas Bagus Boang.
"Ha"aku ini laki-laki! Bukan perempuan yang pandai
mengadu atau merengek-rengek. Masakan aku tak tahu?"
bentak Pancapana.
Bagus Boang terbungkam. Tak pernah disangkanya, bahwa
pamannya yang baru itu mudah tersinggung kehormatannya.
Karena itu, ia batal pula hendak minta keterangan tentang
sebab musabab Harya Udaya berjalan bersama Ratu
Naganingrum yang belum dijelaskan. Tak diduganya, tiba-tiba Pancapana merubah adat. Dengan didahului tertawa geli, ia
berkata: " Memang aku ini si tua bangkotan yang senang membawa tabiatku sendiri. Kalau saja aku dahulu mempunyai
ingatan untuk minta bantuan Ki Tapa, pastilah aku tak bakal dipermainkan orang. Memang kau benar! Pikiranmu sangat
jitu. Hanya saja waktu itu aku berpikir begini: Guru telah
mempercayakan kitab warisan kepadaku. Masakan aku tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pandai menjaganya" Kesulitanku itu harus kusele-saikan
sendiri. Kalau tidak, aku bukan termasuk golongan manusia.
Itulah sebabnya sampai kini aku menjadi permainan Harya
Udaya! "Hai! bukankah Watu Gunung yang mencuri" kitab itu?"
Bagus Boang heran.
"Bukan! Bukan!" Pancapana tertawa terkekeh-kekeh. Tapi si jahanam Harya Udaya!
"Bagaimana mungkin?" tukas Bagus Buang. "Bukankah justru Bibi yang mem-beritahu bahwa kitab itu bukanlah kitab warisan Arya Wira Tanu Datar" Apakah... Apakah Harya Udaya
mendahului Paman meminta kitab itu dari tangan Watu
Gunung?" "Itu pun bukan!" sahut Pancapana pendek, la meruntuhkan pandang ke tanah. Kemudian meneruskan berkata dengan
suara setengah berbisik. "Aku segan terhadap kakakku Ki Tapa. Tetapi mengingat kitab warisan itu dan Ratu
Naganingrum tersangkut pula, aku memberanikan diri
menghadap kakakku seperguruan yang ke dua, Pangeran
Purbaya. Maksudku setelah menjelaskan persoalannya, aku
hendak berpamitan mati untuk merebut kembali kitab warisan
dari tangan Watu Gunung. Tetapi begitu Pangeran Purbaya
mendengar kabar, bahwa Ratu Naganingrum berjalan bersama
dengan Harya Udaya, berubahlah wajah Beliau. Segera aku
diperintahkan kembali ke pertapaan sedangkan Beliau lantas
menyelidiki hubungan antara Ratu Naganingrum dan Harya
Udaya. Ternyata mereka berdua sering bertemu dengan diam-
diam sampai kemudian tersiarlah suatu berita, bahwa mereka
sedang sibuk menekuni ilmu pedang warisan Syeh Yusuf
berbareng kitab Arya Wira Tanu Datar bagian atas."
"Eh"bagaimana mungkin" " tukas Bagus Boang terkejut.
"Bukankah kitab warisan berada di tangan Watu Gunung.
Paman berkata, bahwa Harya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Udaya tidak datang mengambilnya kembali. Kalau begitu
apakah itu hanya kabar bohong belaka untuk mempermainkan
Paman?" Pancapana tertawa terkekeh-kekeh. Katanya senang, "Kau berhati sederhana seperti aku dikala itu. Seumpama
engkaulah yang menghadapi persoalan itu, pastilah engkau
tidak akan sadar bahwa seseorang telah menipumu."
Bagus Boang melongoh. Benar-benar ia tak dapat
menembus teka-teki pelik itu. Akhirnya ia menyerah dengan
sikap memusatkan perhatian hendak mendengar keterangan
Pancapana selanjutnya. Kata Pancapana dengan suara
menang. "Sekalian muridku segera kupanggil. Kemudian
kuperintahkan melakukan penyelidikan secermat-cermatnya.
Dua bulan mereka pergi dan datang kembali dengan warta
yang mengejutkan hatiku. Hayo... kira-kira warta apakah yang mengejutkan hatiku!"
Bagus Boang mengernyitkan dahi. Menebak, "Kitab warisan Arya Wira Tanu Datar itu benar-benar berada di tangan Harya Udaya."
"Benar," tukas Pancapana, "Hanya saja, ia memperolehnya bukan dari Watu Gunung. Tetapi mencuri dari tanganku
sendiri." Bagus Boang heran mendengar keterangan itu. "Bukankah
buku yang terbawa Paman adalah kitab kidung" Ataukah Bibi
Naganingrum berdusta pada Paman setelah menukar kitab asli
dengan kitab kidung?"
"Ratu Naganingrum memang berdusta," sahut Pancapana.
"Buku yang kubawa benar-benar kitab warisan Arya Wira Tanu Datar yang asli. Selagi ia membalik-balik halamannya, mataku tak pernah terlepas daripadanya. Aku sudah berjaga-jaga
sebelumnya, kalau-kalau dia hendak mempermainkan daku.
Meskipun dia terkenal kege-sitannya, namun tak bakal
gerakannya terluput dari pengamatanku. Bukankah orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
semacam aku yang terkenal mahir menggunakan senjata
jarum, memiliki mata yang cukup tajam?"
"Kalau begitu, bagaimana caranya dia menukar kitab asli dengan kitab kidung?"
"Dia bukan menukar atau mencuri. Tetapi menggunakan
kecerdasan otaknya. Selagi membalik-balik halaman kitab Arya Wira Tanu Datar, ia menghafalkan di luar kepala."
"Ah!" Bagus Boang terperanjat berbareng kagum.
"Anakku," kata Pancapana. "kulihat, kau ini seorang pemuda yang cerdas. Sekarang"kalau engkau menghafalkan
suatu buku penuh-penuh, berapa kali engkau membutuhkan
membaca ulangan?"
"Yang gampang"apalagi tipis"aku membutuhkan dua tiga
puluh kali," jawab Bagus Boang pasti. "Tapi apabila tebal, apalagi sukar"hm"kurasa aku membutuhkan membaca
ulangan sampai tujuh atau delapan puluh kali. Mungkin
seratus kali!"
"Kau benar! Hal itu disebabkan, engkau tidak begitu senang membaca buku."
"Memang.... aku lebih senang menekuni ilmu tata perang atau ilmu silat daripada membaca buku."
Pancapana tertawa. Kemudian berkata dengan sabar, "Ya"
nampaknya kau bukan tergolong manusia kutu buku. Tetapi di
dalam hal ilmu silat, engkau mempunyai banyak pengertian.
Nah, marilah kita berbicara tentang ilmu silat atau ilmu sakti.
Meskipun engkau berotak cerdas, kurasa engkau harus
mengulangi tiap ajaran gurumu beberapa kali. Itu pun
membutuhkan waktu pula. Bukankah begitu?"
Bagus Boang mengangguk. "Benar," sahutnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Akan tetapi anakku, di dalam dunia ini ada juga beberapa orang yang begitu melihat seorang berlatih ilmu sakti, terus saja dapat memahami dan menghafalkan pada saat itu juga."
Bagus Boang memiringkan kepalanya. Menyahut, "Ya"
benar. Aku sendiri belum pernah menyaksikan. Tetapi guru
pernah membicarakan hal itu. Kata Beliau, mungkin Bibi
Naganingrum tergolong manusia demikian. Bibi terkenal


Bunga Ceplok Ungu Karya Herman Pratikto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seorang wanita yang cerdas luar biasa. Gurunya Syeh Yusuf
belum pernah mengulangi tiap pelajaran yang diberikan
kepadanya. Entah benar entah tidak, tak tahulah aku."
"Bagus! Gurumu ternyata melebihi aku dalam mengenal
seorang pandai," kata Pancapana dengan bernafsu. "Tatkala Ratu Naganingrum pinjam kitab Arya Wira Tanu Datar, dia
hanya membaca ulang dua kali. Meskipun demikian tak satu
huruf pun luput dari ingatannya. Rupanya setelah pulang, dia menulis kembali ingatannya itu. Kemudian dengan bantuan
Harya Udaya, mereka berdua berlatih. Itulah sebabnya, sering mereka bertemu. Dan akhirnya mereka kawin."
"Tentang pengkhianatan Harya Udaya terhadap ayahnya,
sudah terlalu sering Bagus
Boang mendengar wartanya. Walaupun demikian, ia
terperanjat tatkala mendengar peristiwa itu dari mulut
Pancapana. "Jadi, itulah yang menyebabkan?" ia berseru dengan tergagap-gagap. Kemudian cepat-cepat ia mengalihkan
pembicaraan, "Ah" kenapa di kolong langit ini terdapat seorang wanita yang demikian cemerlang otaknya?"
Pancapana berwatak angin-anginan. Namun demikian
usianya sudah tua. Karena itu ia dapat mengerti kegoncangan hati Bagus Boang. Segera ia menjauhkan masalah perkawinan
Harya Udaya dan Naganingrum. Berkatalah dia, "Setelah
mendengar berita tersebut, segera aku mencari Ki Tapa. Dia
tidak menyesali diriku, tetapi bergusar mendengar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengkhianatan Harya Udaya. Coba dia berwatak seperti diriku, pastilah Harya Udaya segera dicarinya. Bukankah ilmunya
setingkat lebih tinggi dari jahanam itu" Sebaliknya, ia
menganggap kitab warisan Arya Wira Tanu Datar sudah
diserahkan kepada himpunan para pendekar. Itulah sebabnya,
maka perhitungannya diserahkan belaka kepada mereka. Dia
sendiri lantas menutup pintu. Aku tak bersabar lagi. Tanpa
kawan aku mendaki Gunung Patuha. Harya Udaya lantas
kulabrak. Pikirku, ilmu kepandaianku dahulu kalah seurat.
Tetapi setelah menekuni ilmu warisan guruku kurasa dapat
aku menandingi. Ternyata aku menumbuk batu. Meskipun
kitab warisan Arya Wira Tanu Datar yang berada ditangannya
hanya bagian atas, namun hebatnya tak terkatakan. Semua
ilmu warisan guruku, dapat dipunahkan dengan mudah. Dalam
kejengkelanku, aku lalu mengumpat. "Kau mengaku seorang pendekar, mengapa sampai pula menggelapkan kitab milik
orang lain?" Dengan tegas ia menjawab," Siapa yang kesudian menggelapkan kitab milik orang lain" Isteriku, hanya mencatat apa yang pernah diingatnya. Kemudian kami berdua mencoba
mempercayai, bahwa ingatannya itu benar-benar seperti bunyi kitab warisan yang belum tentu benar seluruhnya. Nah"
dimanakah aku menggelapkan kitab milikmu?" Terang sekali dia sangat licin, namun ucapannya benar. Sama sekali ia idak menggondol selembar halaman kitab warisan Arya Wira Tanu
Datar. Meskipun demikian, aku tak mau mengerti. Dengan
sengit aku menyerangnya bertubi-tubi dengan ilmu warisan
guru yang pernah merobohkannya tatkala dia bertanding
melawan Ki Tapa di atas Gunung Cakra Buwana.
Kesudahannya.... "
"Kesudahannya?" Bagus Boang mengulang dengan
bernafsu. "Aku tersekap di sini selama lima belas tahun," sahut Pancapana dengan sederhana. "Sekarang aku menjadi
tahanannya. Ia memaksa aku menyerahkan bagian kitab yang
lain. Hm"jangan lagi kitab bagian bawah, sedangkan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
atas sampai kini tetap ku-pertahankan dengan mati-matian.
Rupanya karena dia masih mengharapkan kitab yang lain, tak
berani ia membunuh aku...."
"Jadi Paman kalah?" tukas Bagus Boang.
Pancapana tertawa. Ia menganggap pertanyaan Bagus
Boang menggelikan hatinya. Sahutnya, "Jika aku menang, masakan aku berada di sini" Dia telah mematahkan kedua
kakiku. Setiap kali ia datang untuk memaksa aku
menyerahkan kitab warisan bagian bawah. Bahkan yang
bagian atas pun dimintanya pula. Tetapi betapa dia dapat
mencapai angan-angannya. Aku selalu menjaganya dengan
rapi. Sekiranya dia memaksaku, aku sudah mengambil suatu
keputusan. Hendak kubakar kitab itu dan kemudian aku
membunuh diri. Namun Harya Udaya bukan manusia yang
gampang berputus asa. Dia mengancam berbareng
membujuk. Dengan segala tipu daya, dia menyerang aku. Kini
ia menghimpun tenaga saktinya untuk melumpuhkan urat
syarafku. Bila aku sampai menjadi sinting, bukankah aku akan gampang dikuasainya" Tapi aku tetap dapat bertahan. Hanya
tadi malam, hampir saja aku menyerah kalah. Syukur kau
datang dan menolong. Coba, sekiranya malaikat tidak
mengirimkan engkau kemari, kitab warisan Arya Wira Tanu
Datar pasti sudah jatuh ditangan-nya. Sebab hampir saja aku jatuh pingsan."
"Mengapa Paman tidak menjauhi dia saja?" Bagus Boang minta penjelasan.
"Di sini atau di ujung dunia adalah sama saja. Manakala Harya Udaya menginginkan sesuatu darimu, meskipun engkau
melarikan diri di balik dunia, akan dikejarnya juga. Kalau tidak begitu, betapa ia dapat merenggut Ratu Naganingrum dari
tangan.... "
Bagus Boang menundukkan kepalanya. Dan Pancapana
cepat-cepat memperbaiki kesalahannya. Katanya mengalihkan
pembicaraan. "Lima belas tahun aku tersekap di sini. Dia tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berani membuat aku lapar atau kekurangan sesuatu, la takut
aku akan membakar kitab idaman hatinya."
Bagus Boang menghela napas. Otaknya penuh dengan
berbagai persoalan. Tanyanya kemudian, "Paman! Paman
mengaku tidak dapat memenangkan Harya Udaya. Seumpama
Paman berangkat untuk minta bantuan para pendekar atau
minta pertolongan kakak seperguruan Paman, pastilah dia
sudah menghadang di tengah jalan. Lantas bagaimana untuk
menggagalkan maksud Harya Udaya?" Pancapana tertawa.
"Aku hendak mengadu umur dengan Harya Udaya." sahutnya.
"Siapakah di antara kami berdua yang panjang umurnya. Dia atau aku!"
Bagus Boang mengerinyitkan dahi. Itulah bukan suatu daya
upaya yang sempurna untuk mengatasi keserakahan Harya
Udaya. Ia mencoba ikut-ikut mencari jalan. Namun sekian
lamanya dia berpikir, belum juga berhasil. Akhirnya ia
menegas, "Apa sebab Ki Tapa atau pendekar-pendekar
sahabat Paman tidak datang kemari untuk menolong Paman?"
"Kebanyakan mereka tidak mengetahui aku berada disini.
Bukankah gurumu belum pernah menyebut namaku?"
"Benar."
"Andaikata mereka mendengar dan kemudian datang
kemari, pastilah Harya Udaya tidak tinggal diam. Dengan ilmu warisan
Arya Wira Tanu Datar dia kini dapat malang-melintang
tanpa tandingan lagi," kata Pancapana meyakinkan.
"Bagus Boang mengasah otaknya. Usia Pancapana sudah
termasuk tinggi. Meskipun sifatnya riang, polos dan terbuka"
namun ia lebih tua beberapa tahun daripada Harya Udaya
yang masih nampak gagah perkasa. Apakah dia yakin bahwa
umurnya lebih panjang dari lawannya. Mengingat perangai
Harya Udaya, Bagus Boang lebih dekat kepada Pancapana.
Hatinya berkenan dan Pancapana nampaknya berkenan pula
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepadanya. Justru memperoleh pertimbangan demikian,
hatinya jadi ikut resah.
Selang beberapa waktu, cahaya merah telah memenuhi
langit barat. Perlahan-lahan, matahari turun dibalik persada bumi. Tatkala itu, kedua bujang Harya Udaya telah datang
menghantarkan makan malam. Mereka lantas saja menyapu
bersih semua hidangan dan minuman untuk bekal mengarungi
malam di pegunungan.
Setelah kedua bujang meninggalkan gua, Pancapana
berkata: "Lima belas tahun aku berada dalam sekapan.
Meskipun demikian, aku berterima kasih kepada Tuhan. Sebab
selama itu tak pernah hidupku mensia-siakan waktuku. Di
tempat ini aku dapat meyakinkan dan mendalami ilmu guru.
Coba aku berada di dunia luar, betapa aku mempunyai waktu
sebaik kini. Seumpama berhasil memaksa diri, pasti pula
membutuhkan waktu dua atau tiga puluh tahun untuk
mencapai taraf ilmuku sekarang ini."
"Kalau ilmu Paman suatu ilmu silat, bagaimana cara
melatihnya apabila tiada kawan berlatih?" tukas Bagus Boang.
"Temanku adalah kedua tanganku ini," sahut Pancapana sederhana. Dan mendengar ujar Pancapana, Bagus Boang
heran. Menegas. "Betapa mungkin bertempur dengan
tangannya sendiri?"
Pancapana tidak segera menjawab, la mendongak ke
udara. Kemudian tertawa perlahan-lahan sambil mengurut-
urut jenggotnya
*** 5 ILMU SAKTI DWI TUNGGAL
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
WAKTU ITU rembang petang telah tiba dengan diam-diam.
Malam menjadikan bulan cerah. Meskipun di atas Gunung
Patuha nampak gelap oleh kabut, namun suasana alam terasa
akan menjadi kering. Bagi mata kedua pendekar itu, tiada
terasa halangannya.
"Kau bertanya, bagaimana caranya kedua tanganku saling bertempur?" kata Panca-pana kemudian. "Untuk itu, aku membuat suatu perumpamaan. Tangan kananku, ku-umpamakan Harya Udaya, sedang tangan kiri aku sendiri.
Kapan tangan kananku memukul, tangan kiriku cepat-cepat
menangkis untuk membuyarkan serangan itu. Setelah
menangkis, tangan kiriku segera melancarkan suatu serangan
pembalasan. Dengan demikian kedua tanganku lantas saja
bertempur amat seru."
Sambil berkata, Pancapana menggerakkan kedua
tangannya seolah-olah dua pendekar besar sedang serang
menyerang. Dan melihat pertunjukan itu, Bagus Boang heran
berbareng geli. Tetapi setelah memperhatikan selang
beberapa waktu lamanya, ia menjadi kagum. Benar-benar luar
biasa gerakan itu. Seperti dua tokoh wayang golek saling
bertempur dengan amat serunya. Kalau lain orang
menggunakan kedua belah tangan untuk menyerang atau
bertahan, Pancapana hanya menggunakan sebelah tangan.
Inilah suatu kesanggupan yang patut dikagumi.
"Paman!" seru Bagus Boang. "Jurus tadi seperti jurus ajaran guruku yang bernama; merapikan pakaian di bawah
pohon. Apa sebab Paman tidak menggunakan kaki, sebaliknya
hanya menggerakkan tangan?"
Pancapana tertawa senang. "Bagus! Matamu tajam juga!
Mari, mari kita coba!" Setelah berkata demikian ia
melencangkan lengannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagus Boang tahu maksud Pancapana. Segera ia
melencangkan kedua lengannya pula untuk menandingi.
"Hati-hati!" Pancapana memberi peringatan. "Engkau akan kutolak ke kiri!"
Selagi memberi peringatan, Pancapana sudah mengerahkan
tenaganya. Ia mengulangi jurus yang dibicarakan Bagus
Boang. Bagus Boang mengenal jurus itu dengan baik. Segera ia
melawannya dengan jurus menyapu badai di atas
pegunungan. Kesudahannya ia terkejut sendiri. Tiba-tiba
tubuhnya terpukul mundur tujuh langkah. Pergelangan
tangannya sakit luar biasa dan terasa nyeri sampai menusuk
jantung. "Kau kesakitan?" ujar Pancapana. "Aku meminjam tenagamu sendiri untuk memukul balik perlawananmu."
"Tapi kenapa aku sampai terkenal?" Bagus Boang minta keterangan.
"Karena aku pinjam tenaga kakimu," sahut Pancapana.
Sekarang, marilah kita mencoba-coba lagi. Aku tidak akan
pinjam tenaga kakimu. Awas!"
Bagus Boang menurut. Segera ia melen-cangkan lengannya
kembali dengan mengerahkan tenaga. Sekarang ia bejaga-
jaga. Perhatiannya dipusatkan pada suatu tipu-muslihat lawan.
Terasa kini ia terdorong dan tiba-tiba pula tertarik. Begitulah terulang sampai tiga kali.
Akhirnya kuda-kudanya runtuh. Dan ia jatuh terjerumus ke
depan. Kepalanya terbanting ke tanah membentur batu.
Untung ia seorang pemuda yang terlatih. Cepat ia bangun
dengan keheran-heranan. Tak tahulah sebabnya, apa yang
membuat tenaganya punah dengan mendadak.
"Kau mengerti tidak?" Pancapana menguji.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak!" sahut Bagus Boang dengan menggelengkan
kepala. Pancapana mengamat-amati wajah Bagus Boang.
Kemudian berkata, "Ilmu ini kuperoleh selama aku tersekap sepuluh tahun lebih di dalam gua sini. Kau tidak segera
mengerti, itulah tidak mengherankan. Sebab ilmu ini pun
kuperoleh dengan tiba-tiba pula. Dahulu, seringkah Guru
mengesankan suatu ajaran padaku tentang tipu menggertak
yang menjadi suatu serangan benar-benar. Waktu itu, belum
dapat aku menyadarinya. Malahan, perhatianku kurang. Baru
di sini, aku dapat memahami. Mula-mula aku masih bersangsi, karena aku hanya dapat melatih semata. Sebaliknya tipu
gertakan itu harus mempunyai teman untuk mengadakan
suatu percobaan. Sekarang"setelah aku bertemu
denganmu"nah, barulah aku yakin benar-benar. Marilah
anakku, mari kita coba lagi sampai mahir benar-benar. Hanya saja, kau harus berani roboh beberapa kali."
Bagus Boang berbimbang-bimbang. Terhadap Paman
angkatnya itu, ia bersedia melakukan segalanya untuk
membuatnya senang. Tetapi yang masih harus diperhitungkan
adalah akibat latihan itu. Bisa-bisa tulangnya menjadi patah.
Setidak-tidaknya bisa terkilir.
Pancapana menyadari kebimbangan anak angkatnya.
Segera ia membujuk, "Aku ini memang manusia keranjingan ilmu silat. Rasanya melebihi jiwaku sendiri. Lima belas tahun lamanya aku berada di sini. Selama itu aku berdoa, mudah-mudahan malaikat mengirimkan aku seorang teman berlatih.
Syukur bisa tahan sampai selesai mencoba seluruh jurusku.
Bila tidak, beberapa jurus pun" jadilah! Beberapa bulan yang lalu puteri Harya Udaya datang kemari menjenguk aku. Ia
mencoba menghiburku. Katanya, ibunya yang menyuruh.
Segera aku memancingnya, agar aku dapat menguji ilmuku.
Tetapi hari itu juga, ia tak muncul. Dan tidak pernah
menampakkan hidungnya lagi sampai hari ini. Tahulah aku"
ayahnya melarangnya datang kemari. Anakku yang baik, aku
berjanji tidak akan merobohkanmu keras-keras."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagus Boang melihat kedua tangan Pancapana bergerak-
gerak seperti kena gatal.
Maka tahulah dia, bahwa Pancapana benar-benar
keranjingan ilmu silat melebihi jiwanya sendiri. Pikir pemuda itu, "Baiklah aku jangan membuatnya kecewa. Tidak apalah, manakala sampai roboh beberapa kali saja." Memperoleh
pikiran demikian, segera ia melencangkan kedua tangannya!
"Ha"bagus! Bagus!" seru Pancapana girang. Lantas saja ia mendahului menyerang. Hebat serangannya. Makin lama
makin terasa berat. Maka cepat-cepat Bagus Boang
mengerahkan tenaga untuk melawan. Tapi sebentar saja, ia
jatuh terguling ke kiri. Belum tangannya meraba tanah, kedua kakinya kena di sapu sehingga ia jatuh terpental beberapa
langkah. Setelah merayap bangun, alangkah sakit.
Menyaksikan Bagus Boang jatuh terpental. Pancapana
nampak menyesal. Segera ia membujuk, "Anakku"tidak siasia engkau roboh untukku. Nanti aku memberi penjelasan apa
sebab engkau jatuh terguling dalam jurus ini."
Bagus Boang menahan rasa nyerinya. Ia merayap
mendekati Paman kandungnya. Dan Pancapana lantas saja
memberi kuliah.
"Lihatlah mangkok ini!" ujarnya sambil mengangkat sebuah mangkok nasi. "Mangkok ini terbuat dari lumpur lembek.
Tengahnya dikosongi, lalu dapatlah dibuat menjadi tempat
nasi. Coba, seumpama terisi penuh-penuh, apakah gunanya
lagi?" Bagus Boang seorang pemuda yang cerdas. Segera ia
dapat menangkap maksud Pancapana. Pikirnya, inilah suatu
pendapat yang sederhana. Meskipun demikian belum pernah
aku berpikir sebelumnya.
"Demikian jugalah sebuah rumah," kata Pancapana lagi.
"Karena didalamnya kosong, dapatlah dibuat tempat tinggal.
Apalagi lantas dberi pintu dan jendela. Maka rumah itu


Bunga Ceplok Ungu Karya Herman Pratikto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi tambah kokoh serta aman. Tetapi apabila bangunan
rumah itu terisi penuh-penuh apalagi tanpa pintu dan
jendela"apakah jadinya?"
Bagus Boang mengangguk mengerti.
"Bagus! Kau cepat mengerti!" seru Pancapana bersyukur.
"Nah"begitulah inti dasar ilmu perguruanku. Semua gerak tipu jurusnya berintikan pada kosong dan lemas. Kosong
dapat diisi, sedang lemas dapat dibuat keras."
Bagus Boang mengernyitkan dahi. "Jadi"apakah maksud
Paman"tiada semua pukulan harus mengerahkan tenaga
berat?" "Benar," sahut Pancapana. "Teringatlah dahulu aku kepada pesan almarhum guruku yang berbunyi demikian, "Bila engkau bertemu dengan seorang pendekar yang dapat
menghancurkan sebuah batu raksasa dengan satu pukulan
atau dapat merobohkan sebatang pohon raksasa dengan
pukulannya, masih boleh engkau mencoba-coba. Tetapi
manakala engkau bertemu dengan seorang pendekar yang
dapat menghantam seonggok kapuk menjadi tumpukan abu,
larilah engkau cepat-cepat!" Dan pesan ini senantiasa melekat dalam ingatanku. Nah, bukankah pukulan lemas lebih
berbahaya daripada pukulan keras" Coba pikir, dengan cara
bagaimana engkau harus menghantam sejumput kapuk"
Apakah engkau harus menggunakan tenaga pukulan keras?"
Kagum luar biasa Bagus Boang mendengar kata-kata itu
sampai tak terasa ia menghela napas. Katanya, "Itulah suatu ilmu kepandaian yang tak dapat lagi diukur betapa tingginya.
Tetapi di dunia ini, siapakah yang sudah dapat mencapai
tataran setinggi itu?"
"Seumpama guruku masih diperkenankan hidup seratus
tahun lagi, aku yakin Beliau dapat mencapai tataran itu,"
sahut Pancapana. Ia tak sadar, bahwa pada zaman ini tiada
seorang pun dapat hidup sepanjang dua ratus tahunan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan demikian, di dunia ini belum pernah seorang pun
mencapai tataran demikian.
Bagus Boang tertawa. Katanya, "Paman! Meskipun Paman
belum tentu mencapai tataran itu, namun dengan
pengetahuan Paman"pastilah dikemudian hari Paman akan
menjagoi ilmu silat yang sifatnya lembek. Ha"Harya Udaya
boleh memiliki tenaga dahsyat, tetapi melawan pukulan
lembek pastilah tidak akan berdaya lagi."
"Benar! Benar!" seru Pancapana girang. "Memang! Lemas dapat memenangkan yang keras. Hanya saja, kalau ilmuku
sekarang setaraf dengan ilmu kepandaian Harya Udaya, tidak
mudah aku merobohkanmu. Sebab semuanya itu
sesungguhnya tergantung kepada kemampuan seseorang.
Karena itu, sekarang perhatikanlah dengan baik-baik!"
Pancapana kemudian memberi penjelasan dengan gerakan-
gerakan tangannya. Tak bosan-bosan ia menunjukkan letak
inti tiap jurusnya, sehingga Bagus Boang melupakan rasa
nyerinya. Setelah yakin, bahwa anak muda itu sudah dapat
menangkap intisarinya, segera ia mengajak. "Kalau rasa nyerimu sudah hilang, mari aku merobohkanmu beberapa kali.
Sebab kalau hanya ngomong saja, betapa engkau bisa maju."
Bagus Boang tertawa lebar.
"Sakitnya sih"tidak. Hanya saja, ada beberapa bagian
yang belum mengerti seluruhnya." Setelah berkata demikian, ia segera mengingat-ingat. Tetapi Pancapana tidak sabar lagi.
Ia mendesak berulangkali. Katanya, "Ayo! Ayo!"
Bagus Boang terpaksa menurut. Meskipun belum paham
benar, namun sedikit banyak ia sudah memperoleh kemajuan.
Tetapi menghadapi paman angkatnya yang kepandaiannya
setaraf dengan Harya tldaya, ia kuwalahan juga. Beberapa kali ia kena dirobohkan dengan gampang. Untung, dia termasuk
seorang pemuda yang ulet dan tabah. Setiap kali terbanting
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
segera ia bangun kembali. Dan hal itu membuat hati
Pancapana bergembira dan bersyukur.
Demikianlah"selanjutnya mereka berdua berlatih siang dan
malam tiada hentinya. Yang menderita ialah Bagus Boang.
Tubuhnya matang biru akibat kena bantingan tidak hanya
puluhan kali, tapi ratusan kali. Syukur tubuhnya kuat. Darah ular merah yang mendekam di dalam dirinya, banyak
membantu ketahanan diri. Maka dengan tidak terasa, Bagus
Boang telah mewarisi ilmu istimewa ciptaan Pancapana selama lima belas tahun tersekap di atas Gunung Patuha. Itulah ilmu sakti Dwitunggal atau ilmu pukulan kosong yang tiada duanya di dunia.
*** ENTAH SUDAH lewat berapa minggu, mereka berdua
berlatih dengan tekun. Pada suatu hari, Pancapana berkata
kepada Bagus Boang: "Anakku! Kau sekarang sudah mewarisi ilmu sakti yang kunamakan Dwitunggal. Maksudku, itulah
suatu peringatan pertemuan kita berdua. Selanjutnya tidak
mudah lagi aku merobohkanmu. Karena itu, kita kini harus
mencari cara berlatih yang lain."
Bagus Boang girang mendengar ujar paman angkatnya.
Dengan penuh semangat ia menjawab, "Bagus! Apakah
Paman mempunyai cara lain lagi?"
"Sekarang kita bermain seperti empat orang sedang
berkelahi."
"Empat orang?" Bagus Boang heran.
"Benar, empat orang!" sahut Pancapana. "Begini. Kita berdua, masing-masing mempunyai dua tangan. Tangan kiri
dan tangan kanan. Itulah kita umpamakan sepasang
pendekar. Tetapi antara tangan kiri dan tangan kanan, seolah-olah tidak saling mengenal. Dengan sendirinya tidak saling
membantu. Dengan demikian, kita berdua merupakan empat
orang pendekar yang akan saling menggempur untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memperebutkan suatu kemenangan. Nah"bukankah bakal
menarik hati?"
Penjelasan itu sungguh-sungguh menarik. Bagus Boang ikut
bergembira. Tetapi dia berkata, "Hanya sayang, tak dapat aku membagi tanganku."
"Mengapa tidak" Nanti kuajari," tukas Pancapana khawatir.
"Baiklah! Kau boleh menggunakan kedua belah tanganmu
untuk mewakili seorang pendekar. Sedangkan aku akan
melakukan peranan dua orang. Tapi awas, masing-masing
tidak saling kenal."
Pancapana segera melakukan serangan. Ia dapat memecah
diri menjadi dua tokoh pendekar kelas wahid. Gerak-geriknya gesit dan masing-masing tangannya benar-benar dapat
mewaikili seorang pendekar. Sebaliknya, Bagus Boang hanya
dapat mewakili diri sendiri. Dia terpaksa bertempur melawan dua orang pendekar. Sudah barang tentu ia terdesak. Tatkala Pancapana melihat dia terdesak, sebelah tangannya lantas
membantu melawan tangannya yang lain. Lucu permainan itu.
Tetapi benar-benar hebat.
Dalam pertempuran itu, Bagus Boang menang. Hal itu
disebabkan ia memperoleh bantuan sebelah tangan
Pancapana. Ia jadi bersemangat dan mulai timbul kepercayaan kepada diri sendiri. Tiba-tiba ia teringat kepada Ratna
Permanasari. Pikirnya, coba Ratna ada di sini pastilah bisa berlatih bertiga dengan berbareng. Bukankah akan menjadi
tangan enam pendekar buntung yang masuk ke gelanggang
dengan saling menyerang dan bertahan" Bagus Boang yakin,
bahwa Ratna Permanasari akan senang dengan permainan itu.
Pancapana bersemangat sekali. Setelah melihat anak
angkatnya cukup beristirahat, ia segera mengajaknya berlatih lagi. Ia bersyukur, tatkala Bagus Boang ternyata sudah dapat melayani dengan baik. Katanya memuji: "Sekiranya engkau tidak mewarisi ilmu guru-gurumu yang berjumlah banyak,
tidak dapat engkau melayani ilmu sakti Dwitunggal yang harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pandai memecah diri. Cobalah, kau gunakan tangan kirimu
melakukan jurus-jurus ajaran Mundinglaya.
Dan lainnya kau gunakan mengempur atau bertahan
dengan ilmu warisan gurumu yang lain. Lambat laun kau bisa
memecah diri."
Ucapan Pancapana itu benar-benar menggugah semangat
tempur Bagus Boang. Dasar ia seorang pemuda cerdas dan
besar semangat tempurnya, maka segera ia dapat melakukan
anjuran itu. Pancapana tidak bosan-bosan memberi keterangan dan
penjelasan. Maka selang beberapa hari, Bagus Boang benar-
benar dapat membagi dua tangannya dengan tugas masing-
masing. Semenjak itu, mereka berdua dapat bertempur
seumpama empat orang pendekar. Kemajuan begini, mimpi
pun tidak pernah terlintas dalam benak Bagus Boang.
"Sekarang, mari kita coba yang lain!" ujar Pancapana.
"Tangan kananmu dan tangan kiriku seumpama sepasang
kawan. Sedang tangan kirimu dan tangan kananku seumpama
sepasang pendekar yang lain. Nah, kini kita saling bertempur dan saling membantu."
Bagus Boang makin berkobar-kobar semangatnya. Dengan
gembira ia melayani kehendak Pancapana. Beberapa saat
kemudian, masing-masing bersenjata empat batang ranting.
Lalu bertempur dengan amat serunya. Mula-mula dengan
gerakan lambat. Setelah Pancapana memberi keterangan dan
penjelasan, pertempuran meningkat menjadi cepat. Dengan
pertempuran ini, kembali lagi Bagus Boang mewarisi ilmu sakti baru. Sekarang ia dapat melayani lawan dengan
menggunakan dua bilah pedang. Rasanya" meskipun ilmu
kepandaian Harya Udaya masih berada diatasnya"namun
untuk menjatuhkannya semudah dahulu, tidaklah mungkin
lagi. Bahkan ia mempunyai harapan untuk memaksa Harya
Udaya berpikir keras.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hari terus merangkak-rangkak dengan tak terasa.
Pancapana kini mengajak Bagus Boang bertempur benar-
benar. Mereka bergebrak seolah-olah empat pendekar
bertangan satu. Hebat pertempuran itu. Karena girang dan
bersyukur, Pancapana bertempur dengan tertawa terbahak-
bahak. Bagus Boang sebaliknya seringkali dalam kerepotan.
Berulangkali ia kena didesak tanpa dapat mengadakan suatu
perlawanan. Apabila tangan kanannya terdesak, tangan kirinya terpaksa membantu. Dengan begitu, mereka berdua seringkali
berkelahi seperti tiga orang pendekar. Meskipun demikian,
lambat-laun Bagus Boang memperoleh kemajuan juga. Selang
dua minggu, ia sudah mahir memecah diri menjadi dua orang.
"Paman!" tiba-tiba ia berkata pada suatu hari. "Aku mempunyai suatu gambaran."
"Apa itu?" Pancapana tertarik.
"Paman dapat menggunakan kedua belah tangan seakan-
akan milik dua orang pendekar. Jika demikian halnya,
bukankah Paman dapat melawan musuh seumpama dua
orang maju dengan berbareng" Kita sekarang hanya bermain-
main, tetapi kurasa dapat digunakan untuk suatu pertempuran sungguh-sungguh."
Pancapana tidak menjawab. Dia hanya tertawa terus.
Mendadak saja, ia melesat keluar dari gua sambil menyambar
ranting pohon. Setelah itu ia mondar-mandir di depan mulut
gua sambil tertawa terus lagi.
"Paman, kau kenapa?" Bagus Boang cemas berbareng
heran. Pemuda itu melihat Pancapana seperti berubah
ingatan. "Kau kenapa?" desaknya lagi.
Tetap saja, Pancapana tertawa terus, la seperti segan
untuk menjawab dengan segera. Selang beberapa saat
kemudian, baru ia berkata: "Anakku"hari ini aku akan keluar dari gua."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus! Keluarlah!" seru Bagus Boang girang, la lantas meloncat memasuki gua sambil berkata lagi, "Biarlah aku yang akan menggantikan Paman berjaga di sini. Tapi Paman jangan
pergi terlalu lama!"
Pancapana tertawa. Menyahut, "Dengarlah! Saat ini,
kepandaianku mencapai tataran yang paling tinggi di dunia.
Perlu apa kutakuti lagi Harya Udaya" Kini aku tinggal
menunggu saja untuk menghajarnya kalang-kabut."
Bagus Boang heran, meskipun ia sudah menyadari hal itu.
Katanya menguatkan. "Paman pasti dapat memenangkan
Harya Udaya."
"Benarkah begitu?" Pancapana kini malah beragu lagi.
"Sebenarnya, aku masih kalah seurat dengan dia. Tetapi sekarang aku dapat memecah diri. Itulah berarti dua melawan satu. Di kolong langit ini, tidak bakal ada seseorang dapat melawan aku lagi. Harya Udaya, Ganis Wardhana, Harya
Sokadana boleh hebat sekali! Tetapi dapatkah mereka
melawan dua orang Pancapana?"
Bagus Boang girang. Alasan Paman angkatnya masuk akal.
Baru ia hendak membuka mulutnya, Pancapana sudah berkata
lagi: "Anakku!" Kau pun sudah mengerti rahasia ilmu memecah diri ini. Tinggal memahirkan saja. Beberapa tahun
lagi"setelah engkau dapat mencapai taraf seperti diriku
sekarang"pastilah engkau bakal merajai seluruh pendekar
Jawa Barat."
Giranglah hati dua manusia anak dan paman angkat itu.
Dalam hati masing-masing, inginlah mereka melihat
munculnya Harya Udaya lagi. Beberapa minggu yang lalu,
mereka sangat takut kepadanya. Kini bahkan mengharap-
harap kedatangannya untuk memperlihatkan taringnya.
Coba"andaikata Harya Udaya tidak mempunyai seorang
puteri yang menggiurkan hati"pastilah Bagus Boang sudah
mengajak Pancapana untuk melabrak padepokannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada sore hari itu, mereka bersepakat hendak makan
sekenyang-kenyangnya. Meskipun tiada kata persetujuan, tapi hati mereka masing-masing telah memutuskan hendak
melabrak Harya Udaya. Tatkala bujang Harya Udaya datang
membawa makanan petang, Pancapana menekap pergelangan
tangan bujang itu sambil berkata: "Panggil majikanmu Harya Udaya! Suruhlah datang kemari menemui aku! Katakan,
bahwa aku manusia yang tidak mengenal Tuhan dan setan,
ingin menghajar batok kepalanya!"
Bujang itu menggoyang-goyangkan kepalanya selama
Pancapana berbicara. Mula-mula orang tua itu heran, lalu
sadarlah dia. "Ah" ya!" suaranya kecewa. "Aku lupa, dia kan tuli dan gagu!" Namun tak mau ia mengalah. Segera ia
menoleh kepada Bagus Boang. Katanya mengajak, "Petang ini, makanlah sekenyang-kenyangnya. Biar bagaimana, aku ingin
mencoba ilmu ciptaanku ini." Setelah berkata demikian, ia membuka tutup niru dan terciumlah bau sedap menusuk
hidung. Bagus Boang kaget mencium bau sedap itu. Ia seakan-akan
telah mengenal macam masakannya dengan baik. Segera ia
melongok memeriksanya. Tatkala melihat kulit ayam yang
dimasak sangat lunak, hatinya tergetar. Tiada lagi ia beragu, pastilah itu masakan Ratna Permanasari yang diperuntukkan
baginya. Jika demikian, Ratna Permanasari telah mengetahui
belaka beradanya di gua Pancapana. Dengan hati berdebaran,
ia memeriksa hidangan petang sesaksama-saksamanya. Di
atas piring nampaklah setumpuk potongan juadah. la
mengamat-amati. Jari telunjuknya segera bekerja memijit-mijit potongan juadah itu.
Bagus Boang memang seorang pemuda yang cerdas, la
menduga sesuatu. Dan benar juga, sepotong di antara
potongan jua-dah itu, serasa berat. Pastilah ada sesuatu yang menyebabkan. Maka tatkala Pancapana dan bujang-bujang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penghantar makan petang berada dalam kesibukannya, cepat-
cepat ia memasukkan juadah itu ke dalam sakunya.
Kedua orang itu lalu makan dengan pikirannya masing-
masing. Pancapana bergembira, karena berhasil menciptakan
suatu ilmu sakti yang baru. Ia berharap agar dapat bertemu
dengan Harya Udaya secepat-cepatnya untuk mencoba
ketangguhannya.
Oleh pikirannya yang penuh dengan jurus-jurus gerak tipu
muslihat, ia makan sambil tangannya bergerak-gerak tiada
hentinya. Sebaliknya Bagus Boang hanya memikirkan teka-teki juadah dalam sakunya. Ia berdoa, moga-moga di dalam
juadah itu terdapat sepucuk surat Ratna Permanasari. Kalau
suratnya berisikan sastera asmara, alangkah nikmat. Memikir demikian hatinya bergelisah dengan sendirinya.
Akhirnya"Pancapana selesai memenuhi perutnya. Dengan
puas hati, ia meneguk dua cawan minuman keras. Lalu ia
memberi isyarat kepada bujang-bujang penghantar makanan
agar berlalu dengan segera.
Pada saat itu Bagus Boang memeriksa juadahnya. Benar
saja, didalamnya terdapat secarik kertas tulisan Ratna
Permanadewi-kzsari. Bunyinya:
"Ayah tidak marah lagi kepadamu. Simpanlah baju
dalammu baik-baik. Di kemudian hari pasti berguna besar
bagimu." Agak kecewa Bagus Boang membaca bunyi tulisan itu.


Bunga Ceplok Ungu Karya Herman Pratikto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Itulah berita pemberitahuan dan bukan berita asmara seperti yang diharapkan. Maka dengan kepala kosong, ia
mengangsurkan surat itu kepada Pancapana. Paman
angkatnya lantas saja tertawa berkakakkan. Katanya sambil
memeriksa bunyi surat.
"Kau sudah menang separoh. Belum-belum engkau telah
mencuri hati anak perempuannya. Kalau kau mau mendekam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lebih lama lagi di sini, pastilah di atas gunung ini akan ada suatu pesta keramaian."
Hati Bagus Boang tengah kecewa, karena harapannya tidak
terpenuhi. Kini ia kena ejek paman angkatnya. Tak
mengherankan ia kehilangan kegembiraannya. Dengan hati
murung, ia duduk bersemedi di dalam gua.
Ia ingin memperoleh ketenteramannya, namun tidaklah
mudah. Bayangan Ratna Permanasari senantiasa berkelebat
dalam benaknya.
Waktu itu, cuaca malam mulai meraba seluruh persada
bumi. Perlahan-lahan hari menjadi gelap. Dingin gunung
meraba kulit dan menggerumuti tulang. Di atas, bulan bulat
sedang menjenguk dari balik awan. Ia selalu nampak indah
semenjak dahulu dan untuk selama-lamanya.
Sekian lamanya, Bagus Boang berusaha menguasai gejolak
hatinya. Lambat-laun ia berhasil. Dan hatinya menjadi tenang.
Justru ia memperoleh ketenangan, tiba-tiba timbullah
ingatannya kepada ilmu warisan paman angkatnya. Itulah ilmu memecah diri. Untuk mencapai suatu kemahiran, haruslah dia
berlatih dengan sungguh-sungguh. Maka kedua lubang
hidungnya ditutupnya bergantian dengan kedua belah
tangannya. Ia mencoba memisahkan jalan pernapasannya
menjadi dua jalan yang sama kuat dan teratur rapih.
Kurang lebih satu jam ia berlatih dan ia merasa diri
memperoleh kemajuan. Tatkala itu, angin pegunungan meniup
ke dalam gua. Ia menghirup sepuas-puasnya. Tibatiba ia
mendengar suatu kesiur yang sangat tajam. Cepat ia
membuka matanya. Dalam cuaca remang-remang, matanya
yang tajam menangkap suatu gerakan. Itulah rambut
Pancapana yang panjang yang bergerak-gerak cepat di antara
kumis dan jenggotnya yang tebal. Setelah diamat-amati,
tahulah dia apa sebabnya. Orang tua itu sedang berlatih
mendalami ilmu sakti Dwitunggal ciptaannya sendiri. Hebat
gerak-geriknya. Semuanya terdiri dari seratus empat puluh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jurus. Setiap pukulannya lemah tiada bertenaga. Tapi begitu gerakannya berhenti, dengan mendadak suatu angin dahsyat
datang bergulungan. Maka ternyatalah, bahwa pukulan lemas
sesungguhnya jauh lebih berbahaya daripada suatu pukulan
keras. Menyaksikan kehebatan ilmu sakti Dwitunggal, Bagus
Boang girang bukan main.
Ia berharap moga-moga paman angkatnya itu menjadi
seorang jagoan tiada tandingannya di jagad ini.
Selagi Bagus Boang bersyukur di dalam hati, penciumannya
yang kini menjadi tajam mencium suatu bau amis. Ia melihat
Pancapana masih asyik dalam latihannya. Tiba-tiba orang tua itu menjerit tinggi. Tangannya bergerak cepat. Suatu benturan terjadi. Dan nampaklah suatu benda panjang terpental keluar gua. Benda itu nampak hitam lebam dalam cuaca remang dan
terpental menghantam batang pohon. Itulah akibat pukulan
Pancapana yang dahsyat.
Bagus Boang terperanjat. Paman angkatnya dilihatnya
terhuyung-huyung. Cepat ia memapah Pancapana memasuki
gua. Paras orang tua itu, nampak pucat lesi kena pantulan
cahaya bulan. Setelah diletakkan di atas tanah, tanpa berpikir lagi ia menyobek lengan bajunya dan membalut paha
Pancapana keras-keras. Itulah suatu usaha pencegahan
menjalarnya bisa ular. Setelah menyulut api, ia memeriksa
dengan teliti. Ternyata bagian betisnya yang kena pagut. Kini nampak membengkak kehitam-hitaman. Suatu tanda, bisa ular
tersebut sangat berbahaya.
Sejenak kemudian, Pancapana menyenakkan matanya.
Dengan suara parau orang tua itu berkata, "Selama berada di sini, belum pernah kulihat seekor ular pun berkeliaran sampai di sini. Mengapa petang ini, mendadak ular itu... bukankah
hijau warnanya" Itulah ular yang sangat berbahaya!"
Pancapana bukanlah manusia lumrah. Ia seorang sakti.
Namanya sejajar dengan gurunya dan hanya kalah setingkat
dengan Harya Udaya. Tapi kena dipagut ular hijau, suaranya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi parau. Dan semangat hidupnya seakan-akan hampir
padam. Itulah suatu tanda betapa jahat bisa ular hijau yang dikenalnya. Untunglah, paman angkatnya seorang ahli silat.
Dalam bahaya, masih pandai ia menguasai pernapasannya.
Bila tidak, seluruh tubuhnya akan segera terjalari bisa ular.
Dan betapa sakti dia, pastilah akan kehilangan kesadarannya dengan segera. Memperoleh pertimbangan demikian, tiada
berpikir panjang lagi Bagus Boang membungkuki. Ia menggigit bekas pagutan itu. Lalu dengan bernafsu ia menyedot darah
paman angkatnya yang sudah bercampur-baur dengan bisa
ular. Inilah suatu perbuatan yang mengancam hidupnya sendiri.
Pancapana sampai terkejut menyaksikan perbuatan
kemenakan angkatnya. Terus saja mencegah, "Jangan!
Jangan! Ular itu... ular hijau. Di dunia ini, tiada keduanya. Aku mati, biarlah mati. Tapi kau ... kau tidak boleh mati!"
Bagus Boang tidak mengindahkan sanggahan paman
angkatnya. Untuk menolong jiwa orang tua itu, ia lupa kepada keselamatan dirinya sendiri. Dengan kuat, ia menekap betis
Pancapana. Dan mulutnya menyedot terus dan sekali-kali
memuntahkan darah bercampur bisa ke tanah.
Hati Pancapana goncang menyaksikan pengorbanan Bagus
Boang. Ia bergerak hendak berontak. Namun tenaganya
terasa menjadi punah. Karena hatinya penasaran, ia jatuh
pingsan tak sadarkan diri. Dengan demikian, Bagus Boang kini dapat meneruskan usahanya seleluasa-leluasanya.
Tiga puluh empat menit, Bagus Boang berjuang dengan
gigih. Ia berhasil menyedot bisa ular hijau sebagian besar.
Sesungguhnya ancaman bahaya bagi Pancapana belum pudar.
Namun ia harus merasa puas. Pikirnya, ia akan mengulangi
lagi manakala tenaganya sudah pulih kembali.
Pancapana seorang pendekar yang kuat tubuhnya. Berkat
latihan dan kesaktiannya, ia sadar kembali setelah selang satu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jam lamanya. Begitu memperoleh kesadarannya, segera
berkata kepada Bagus Boang dengan suara terharu.
"Anakku! Aku tahu, kau berhati mulia. Tetapi tidaklah
kukira, bahwa hatimu semulia ini. Sebentar lagi, pamanmu ini akan berangkat pulang ke alam baka. Aku tidak menyesal.
Sebab sebelum mati aku telah mengangkat seorang
kemenakan yang berhati mulia seperti dirimu ini. Anakku,
hatiku sangat girang. Aku benar-benar terhibur."
Mendengar ucapan Pancapana, Bagus Boang mengucurkan
air mata. Itulah air mata yang mengucur dari kelopak mata
untuk yang pertama kalinya. Pendek masa pergaulannya
dengan Pancapana. Tetapi hatinya merasa amat dekat
padanya. Barangkali oleh kesederhanaan hati orang tua itu.
Maka benarlah ucapan orang-orang tua pada zaman dahulu
kala, bahwa suatu persahabatan sejati tidaklah terikat oleh suatu waktu. Ia merasa diri seolah-olah sudah berdekatan
semenjak dalam kandungan.
Melihat pemuda itu mengucurkan air mata, Pancapana
tertawa dalam suatu kedukaan. Katanya sabar, "Anakku,"
kitab ciptaan Arya Wira Tanu Datar bagian atas berada dalam peti. Peti itu kusimpan di bawah tempat dudukku di dalam
tanah. Itu"di situ!" Pancapana menuding. "Sebenarnya hendak aku mewariskan ilmu sakti itu kepadamu. Tapi
sayang"sungguh sayang"engkau sudah kena bisa ular
jahanam. Mengapa engkau menghisap bisa ular itu" Pastilah
kau bakal mati muda pula. Baiklah, anakku"kita pulang
bersama dengan bergandengan tangan ke alam baka. Di sana
kita meneruskan hidup bersahabat tanpa gangguan lagi."
Bagus Boang heran berbareng terkejut mendengar khotbah
Pancapana. Ia dikatakan bakal mati muda akibat bisa ular" la merasakan seluruh tubuhnya sehat segar. Rasanya tiada
kurang suatu gejala yang menunjukkan sesuatu hal luar biasa.
Maka hatinya tenteram kembali penuh yakin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia menyalakan api perdiangan, kemudian memeriksa luka
paman angkatnya. Orang tua itu nampak menggigil. Rupanya
sedang berjuang melawan bisa ular yang masih ada di dalam
tubuhnya. Oleh rasa iba, ia mendekatkan nyala api memeriksa wajahnya. Paras orang tua itu, kelihatan hitam-gelap. Apakah bisa ular itu sudah sampai meraba tubuh bagian atas"
Pancapana sendiri, nampaknya tidak memedulikan. Dengan
tersenyum ia memandang wajah Bagus Boang yang bersih
segar. Dan melihat wajah sesegar itu, Pancapana heran.
Apakah anak ini bebas dari bisa ular, pikirnya. Tengah
berpikir, pandangnya runtuh kepada baju dalam Bagus Boang.
Dilihatnya baju dalam itu, penuh dengan ukir-ukiran hitam
seperti deretan huruf. Ia memejamkan penglihatannya. Ya
benar. Itu bukan sekedar suatu hiasan baju dalam suatu corak warna. Tapi benar-benar deretan huruf yang berbunyi. Karena terkejut ia melupakan pergulatan mautnya. Sekali bergerak,
tangannya melemparkan selimut baju luar Bagus Boang
seraya berkata minta keterangan.
"Eh"anakku! Kau pernah menelan benda mustajab macam
apa" Kau menyedot bisa ular hijau, namun bisa ular itu
nampaknya tak dapat merasuk ke dalam tubuhmu. Kau seperti
kebal dari bisanya!"
Mendengar pertanyaan Pancapana, hati Bagus Boang
tergugah. Beberapa hari yang lalu, ia pernah menelan buah
Dewa Ratna dan meneguk air Tirtasari hadiah Ratna
Permanasari. Segera ia menceritakan pengalamannya itu.
"Ah, mustahil! Mustahil!" bantah Pancapana. "Kedua benda itu, memang mustajab. Namun bukanlah berarti engkau
menjadi kebal dari bisa ular jahat!"
Dibantah demikian, Bagus Boang membenarkan dalam hati.
Itulah bantahan yang masuk akal. Buah Dewa Ratna dan
Tirtasari menurut Ratna Permanasari, memang mustajab
untuk mengobati luka dalam. Gadis itu tidak pernah
menerangkan, bahwa kedua obat mustajab itu manjur pula
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghadapi bisa ular. Memikir bisa ular, tiba-tiba ingatannya kembali kepada pengalamannya tatkala kena lilit ular merah di dalam jurang.
Berkatalah ia mencoba, "Paman! Karena terpaksa, pernah aku meneguk habis darah ular merah!"
Setelah berkata demikian, ia menceritakan pengalamannya
di dalam jurang. Dan mendengar kisah itu, Pancapana
berdiam diri. Ia tidak membantah maupun membenarkan.
Tiba-tiba, tangannya menuding kepada baju dalamnya.
Katanya, "Kau mengenakan baju dalam. Darimanakah kau
peroleh?" Bagus Boang menundukkan kepalanya, memeriksa baju
dalam yang dikenakan. Ia tercengang sendiri. Baju dalam
yang dikenakan, terang bukan miliknya. Mendadak teringatlah dia kepada surat Ratna Perma-nasari. Katanya meledak,
"Inilah miliknya! Rupanya, baju dalamku kotor kena darah tatkala aku terluka oleh pukulan Suryaku-sumah. Dan ia
mengganti baju dalamku dengan baju dalam ayahnya. Ah!"
Sampai disini mukanya merah dengan sendirinya. Untung di
dalam gua tidaklah begitu terang, sehingga warna mukanya
nampak samar-samar. Sekali pun demikian, Pancapana dapat
menebak hatinya. Berkatalah orang tua itu dengan tertawa
puas. "Itulah suatu mustika, simpan baik-baik! Kalau begitu...
kalau begitu...."
Tidak sempat orang tua itu menyelesaikan ucapannya.
Tiba-tiba ia jatuh terbanting. Ternyata ia kehilangan
kesadarannya kembali untuk kedua kalinya.
Kejadian itu sangat mengejutkan Bagus Boang. Bahkan
dalam kagetnya, pemuda itu menjadi bingung. Cepat ia
mengurut-urut betis, lengan dan dada Pancapana. Namun
usahanya sama sekali tak berhasil. Gugup ia meraba paha
orang tua itu. Terasa luar biasa panasnya tak ubah api sedang membara. Tatkala ia memeriksa luka pagutan dengan sulutan
api, hatinya memukul. Luka itu membengkak hitam lekam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersemu hijau biru. Oleh rasa cemas, ia lari keluar gua. Sekali menjejak tanah, ia melompat ke atas pohon. Lalu berteriak-teriak nyaring, "Ratna! Ratna! Tolong! Harya Udaya... eh...
Tuan Harya Udaya, toloooong!"
Hebat suara teriakannya. Apalagi, berkat darah ular sakti,
tenaga saktinya kini bertambah entah berapa kali lipat. Namun demikian, gaung suaranya tiada tanggapan. Gaung itu hilang
lenyap tertelan kekelaman alam Gunung Patuha. Ia mencoba
berteriak lagi dan berteriak lagi. Tetap saja usahanya sia-sia belaka. Yang terdengar hanya gaung pantulan suaranya
sendiri dari dinding ke dinding gunung, di jauh sana.
Hati Bagus Boang menjadi lemas sendiri. Habislah daya
upayanya mencari pertolongan. Namun ia tidak berputus asa.
Dasar ia seorang pemuda berotak cerdas. Mendadak saja
teringatlah dia pada suatu hal. Pikirnya, "Aku tadi sudah menghisap darahnya. Paman Pancapana yakin, bahwa aku
telah kejalaran bisa ular. Nyatanya sama sekali tidak. Apakah hal itu bukan disebabkan darah ular merah yang sudah
merasuk ke dalam darah dagingku?" Memperoleh pikiran
demikian, timbullah semangatnya.
Cepat ia balik dalam gua, mencari mangkok. Tanpa berpikir
panjang lagi ia mengiris lengannya dengan belatinya. Begitu darahnya menyembur keluar, segera ia menampungnya di
dalam mangkok. Ia menunggu sampai darahnya berhenti
mengucur. Kemudian ia membawa mangkok itu ke dekat
mulut Pancapana. Dengan mengerahkan tenaga sedikit, ia
mengangkat kepala orang tua itu. Kemudian menggelogokkan
darahnya ke dalam mulut paman angkatnya.
Perlahan-lahan ia meletakkan kepala Pancapana di atas
bantalan kayu. Dan ia menunggu dengan sabar. Meskipun
darahnya hanya mengucur keluar satu mangkok, tubuhnya
serasa menjadi lemas juga. Segera ia bersandar diri pada
dinding gua sambil mengatur napas. Tak dikehendaki sendiri, ia tertidur, dengan sangat nyenyak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Entah sudah berapa lama ia tertidur nyenyak, sekonyong-
konyong lengannya serasa kena raba. Tatkala menyenakkan
mata, ia melihat rambut rereyapan. Itulah rambut panjang
Pancapana. Orang tua itu, sedang sibuk membalut lukanya
dengan perasaan kasih sayang tak terhingga. Dan begitu
melihat Pancapana, hati Bagus Boang girang luar biasa. Tanpa memedulikan segala, ia meloncat bangun sambil memekik
penuh syukur. "Paman! Kau... kau.... "
"Ya anakku, aku sehat kembali!" sahut Pancapana dengan terharu. "Kau telah menolong aku. Kau begini korban untukku, sampai perlu mengalirkan darahmu."
Bagus Boang meruntuhkan pandang ke betis paman
angkatnya. Bekas luka pagutan, tiada membengkak lagi.
Warna hitamnya lenyap. Tinggal bersemu merah belaka.
Itulah suatu tanda, bahwa bisa dalam tubuh Pancapana sudah
punah. Waktu itu, fajar hari sudah menyingsing. Angin
pegunungan meniup sejuk. Perasaan segar merayapi tubuh
mereka. Kedua orang itu, tiada berkata-kata lagi. Mereka
duduk bersemedi menentramkan diri. Suatu hawa hangat
lantas saja meraba seluruh tubuh. Di tengah hawa gunung
yang sejuk dingin, terasa nyaman luar biasa.
* * * 6 HARYA SOKADANA MAKAN TENGAH HARI telah tiba pula. Setelah bujang-
bujang penghantar makan siang berlalu, barulah Pancapana
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
minta keterangan lebih jelas lagi perkara baju dalam yang
mengejutkan hatinya.
Dengan senang hati Bagus Boang mengulangi
keterangannya semalam. Kisahnya di mulai tatkala kena
pukulan Suryakusumah sampai tiba-tiba terawat oleh Ratna
Permanasari. la menceritakan pula, betapa puteri Harya Udaya memperlihatkan sebagian ilmu pedangnya yang membuat
hatinya kecil dan kagum.
"Jadi benar-benar kau tak sadar, bahwa, baju dalam itu barang mustika," kata Pancapana. Orang tua itu lalu berpikir keras. Tiba-tiba pandang matanya berseri-seri. Berkata
dengan penuh semangat, "Jika demikian, kepandaian Harya Udaya belum melebihi Harya Sokadana seperti sangkaku
semula. Baju dalam itulah yang membuktikan!"
Heran Bagus Boang mendengar ujar Pancapana. Segera
minta keterangan, "Paman lagi membicarakan perkara baju dalam. Tiba-tiba Paman dapat mengadakan suatu penilaian
baru terhadap kepandaian Paman Harya Udaya. Sebenarnya
barang mustika apakah baju dalam ini" Benar-benar aku tak


Bunga Ceplok Ungu Karya Herman Pratikto di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengerti!"
"Tentu saja kau tak mengerti. Dan lebih baik, kau tetap tak mengerti saja!" sahut Pancapana cepat dengan tertawa
terkekeh-kekeh.
Mendongkol hati Bagus Boang mendengar ujar Pancapana.
Tapi teringat watak paman angkatnya yang angin-anginan, ia
menjadi geli. Ia menghibur diri"barangkali bisa ular hijau
yang mungkin masih mengeram dalam tubuh orang itu kini
mengganggu kewarasan otaknya. Dan teringat akan bisa ular
itu, segera tangannya bergerak hendak memeriksa bekas
pagutan. Pancapana memiliki perasaan tajam pula. Ia seperti dapat
membaca gejolak hati Bagus Boang. Lantas saja ia cepat-
cepat menolak sambil berkata dengan tertawa tinggi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Legakan hatimu! Oleh pengorbananmu, bisa ular jahat
tiada lagi dalam diriku. Aku sehat! Otakku waras!"
Dalam hal ini, Bagus Boang kalah seurat daripada
Pancapana. Meskipun seorang pemuda yang tinggi ilmunya
dan luas pengetahuannya, tapi siapa pun tidak pernah
mengira bahwa hiasan baju dalamnya adalah deretan huruf-
huruf sakti warisan Arya Wira Tanu Datar bagian atas yang
jatuh pada Harya Udaya lima belas tahun yang lalu.
Tatkala Pancapana melihat hiasan baju dalam Bagus Boang
ia kaget berbareng heran. Diam-diam ia berpikir keras, apa
sebab Bagus Boang memiliki catatan tulisan ilmu sakti
tersebut. Setelah pemuda itu menerangkan, bahwa baju
dalam itu berasal dari Ratna Permanasari, ia jadi mengerti.
Itulah disebabkan, ia ikut membaca tulisan Ratna Permanasari yang tersimpan dalam juadah. Meskipun demikian, ia berpikir keras pula. Tak dapat ia mengerti, apa sebab Harya Udaya
mencatat ilmu sakti Arya Wira Tanu Datar pada baju
dalamnya, la tak sempat berpikir lebih jauh, karena keburu
pingsan. Tadi pagi tatkala Bagus Boang sedang bersemedi"ia
berkesempatan lagi untuk memecahkan teka-teki itu.
Sungguh aneh! pikirnya berulang kali di dalam hatinya.
Kenapa Harya Udaya mencatat ilmu sakti itu pada baju
dalamnya" Apakah Ratu Naganingrum dahulu tak dapat
mengingat-ingat seluruhnya, sehingga hanya mencatat
menurut ingatannya belaka" Ataukah Harya Udaya hendak
bermain tipu muslihat untuk menghadapi himpunan para
pendekar di kemudian hari, manakala ia harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya" Ataukah Ratu
Naganingrum sedang mencoba menggabungkan inti ilmu sakti
Arya Wira Tanu Datar dengan ilmu sakti Syeh Yusuf" Dia
berpikir keras, namun tiada juga ia memperoleh suatu
keputusan. Akhirnya, setelah ia mengulangi penyelidikannya
tentang baju dalam untuk yang kedua kalinya dari mulut
Bagus Boang, timbullah suatu pendapat dalam dirinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Rupanya putri Harya Udaya kena tercuri hatinya begitu berkenalan dengan anakku ini. Teringat kesukaran Bagus
Boang hendak menghadapi ayahnya, ia mencuri baju dalam
ayahnya. Eh"Tidak! Tidak! Baju dalam itu dikenakan
padanya, sebelum Bagus Boang bertanding dengan Harya
Udaya. Jadi, gadis itu belum mengerti maksud kedatangannya.
Kalau begitu, pasti ada alasannya lagi. Ah ya! Bagus Boang
kagum dan merasa berkecil hati, sewaktu melihat gadis itu
memperlihatkan ilmu pedangnya. Kesan itu, rupanya tiada
luput dari pengamatannya. Sebagai seorang gadis yang sudah
runtuh hatinya, ia tak menginginkan ilmu kepandaian idaman
hatinya berada dibawahnya. Kalau ia sudah rela menelankan
buah Dewa Ratna yang tak ternilai harganya dan menegukkan
air Tirtasari ke dalam tubuh Bagus Boang mengapa ia tak rela pula menyerahkan rahasia ilmu saktinya kepadanya?"
Memperoleh pikiran demikian, hatinya jadi lega.
"Kau berteka-teki mendengar pernyataanku, sebaliknya aku pun berteka-teki dengan ucapanku sendiri," katanya dengan tertawa terbahak-bahak. "Baiklah begini saja. Sebenarnya aku belum boleh mengadakan suatu kesimpulan, sebelum
kuperiksa baju dalammu."
"Sesungguhnya apakah ini?" Bagus Boang menegas.
"Bukankah aku sudah berkata, itu benda mustika?"
"Benda mustika bagaimana?"
"Mustika ya mustika! Mengapa kau begini pelit?" Pancapana menggerembengi.
Bagus Boang tak berani mendesak lebih jauh. Teringatlah
dia watak paman angkatnya angin-anginan. Kalau kena desak,
jangan-jangan kumat wataknya. Maka ia bersikap
menyabarkan diri, meskipun hatinya mendongkol berbareng
geli. "Coba biar kuperiksa dahulu baju dalam itu!" Pancapana berkata lagi. "Kalau sudah kuperiksa, nanti aku menjelaskan!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagus Boang menanggalkan baju dalamnya dan diserahkan
kepada Pancapana. la heran, setelah melihat baju dalam yang dikenakan itu. Seluruhnya penuh dengan coretan-coretan yang teratur rapi. Sekilas pandang, nampaknya seperti coretan
garis-garis hiasan belaka. Tapi apabila diamat-amati,
ternyatalah suatu barisan huruf-huruf kecil yang tersulam
sangat cermatnya. Huruf Sunda kuno yang terkenal bagus
lekak-lekuknya.
Setelah mengamat-amati barisan huruf pada baju dalam
itu, Pancapana benar-benar terbenam dalam suatu kesangsian
luar biasa. Sebab begitu dibacanya, teranglah sudah"bahwa
itulah bunyi kalimat rumus rahasia ilmu sakti Arya Wira Tanu Datar bagian atas.
Pancapana tiada niatnya hendak mempelajari rahasia ilmu
sakti itu. la hanya membacanya karena iseng saja. Seperti
diketahui, ia menyimpannya di dalam sebuah peti yang
dipendam di bawah tempat duduknya. Setiap kali hatinya lagi kosong, ia membuka peti itu dan dibacanya kitab sakti
tersebut. Tidak hanya untuk satu dua kali. Selama tersekap
lima belas tahun di dalam gua itu, entah sudah beberapa kali ia membacanya sehingga hafal benar di luar kepala. Karena
itu, ia segera mengenal bunyi deretan huruf yang terdapat
pada baju dalam Bagus Boang dengan selintas pandang saja,
sebagai salah satu kalimat kitab warisan Arya Wira Tanu
Datar. Bagian atas ilmu sakti itu, memuat rumus-rumus ilmu
berkelahi dengan tangan kosong dan ilmu pedang. Sedangkan
bagian bawah, memuat rahasia serta inti tipu muslihat untuk mengalahkan lawan. Itulah sebabnya, meskipun Harya Udaya
sudah mahir bagian atas, belumlah berarti bahwa dia bakal
menjagoi seluruh pendekar Jawa Barat. Sebab, manakala ia
bertemu seseorang yang mahir bagian bawah"dia akan habis
dayanya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena betapa tinggi ilmu silat bagian atas, belum memberi
petunjuk cara penyelesaiannya. Sehingga ilmu kepandaian
yang kini dimilikinya tak ubah sebuah sampan yang terayun-
ayun di atas permukaan air dan tak berkemudi pula. Maka
tidaklah mengherankan, betapa ia dengan sungguh-sunguh
hendak memiliki ilmu sakti Arya Wira Tanu Datar bagian
bawah yang berada dalam tangan Pancapana.
Selama tersekap di dalam gua, Pancapana sendiri
senantiasa sibuk menduga-duga bagaimana isi rahasia ilmu
sakti Arya Wira Tanu Datar yang belum sempat dibacanya. Dia boleh cerdas dan boleh memiliki bermacam-macam ilmu
kepandaian, namun untuk menebak bagaimana sambungan
ilmu sakti Arya Wira Tanu Datar bagian bawah dia
menyangsikan kesanggupan dan kemampuan diri. Harya
Udaya pun pasti demikian pula.
"Anakku, benar-benar ini barang berharga." Katanya kemudian, "Inilah bunyi rumus kitab sakti Arya Wira Tanu Datar bagian atas. Hanya saja, kurang lengkap. Nanti kuperlihatkan yang asli kepadamu. Tapi justru kurang lengkap, aku jadi berpikir."
Mendengar keterangan Pancapana, Bagus Boang kaget
sampai hatinya tergetar. Terloncatlah perkataannya, "Kalau itu barang begitu berharga, apa sebab Ratna mengenakannya
kepadaku?"
Pancapana tertawa terkekeh-kekeh, sahutnya: "Soal itu
mudah dijawab. Kalau dia sudah rela merasukkan buah Dewa
Ratna dan air Tirtasari ke dalam tubuhmu, mengapa tidak rela pula memberikan rahasia ilmu pedangnya kepadamu"
Bukankah menurut tutur katamu, ia memperlihatkan sedikit
ilmu pedangnya sebelum kau makan?"
"Ya, tapi mengapa dia berbuat begitu?"
"Itu mudah lagi untuk dijawab," Pancapana tersenyum.
"Kau bukan sanaknya dan bukan pula saudaranya, tetapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan susah payah ia menggendongmu keluar dari dalam
jurang. Lalu ia menelankan buah Dewa Ratna. Lalu ia
menegukkan air Tirtasari. Ia memasak bubur dan lauk
untukmu. Ia menidurkan di dekat pedang mustika dunia. Ia
mempertontonkan pula ilmu kepandaiannya. Untuk apakah
semuanya ini" Bukankah untuk mengabdi pada hatinya
sendiri?" Bagus Boang bukan seorang pemuda bodoh. Dengan
segera ia dapat menebak kata-kata Pancapana. Hatinya
tergoncang dan paras mukanya menjadi merah muda. Dan
melihat paras muka pemuda itu, Pancapana tertawa
mengakak. Kata orang tua itu, "Selama hidupku yang kutakuti adalah perempuan. Sebab hati seorang perempuan sukar
ditebak! Ia merupakan gudang rahasia besar tak ubah rahasia hidup ini sendiri. Tapi kau bukan aku dan aku bukan engkau!
Kurasa, kalau engkau didampingi seorang wanita demikian
dunia ini sudah berada dalam genggamanmu!" Dan kembali Pancapana tertawa mengakak. Tiba-tiba mengalihkan
pembicaraan, "Anakku, aku tadi berkata bahwa tulisan ini belum lengkap! Memang benar! Tapi justru demikian, aku jadi berpikir keras. Kita berdua pernah melihat tulisan puteri Harya Udaya di atas secarik kertas kemarin petang. Tapi belum
pernah melihat tulisan Ratu Naganingrum dan Harya Udaya.
Karena itu, sukarlah aku mengambil suatu kesimpulan tentang siapakah yang menyulam huruf-huruf itu. Harya Udaya, pasti
tidak. Aku kenal wataknya! Dia bukan seorang sembrono.
Lagipula aku takkan percaya, dia pandai main sulam segala.
Benar baju dalam ini pasti miliknya, tapi dia tidak akan
berbuat sesembrono begini. Bukankah dia tahu, bahwa semua
pendekar di semua penjuru ini sedang mencari bukti
kecurangannya" Karena itu, kini tinggal Ratu Naganingrum
dan Ratna Permanasari." la berhenti mencari kesan.
Meneruskan, "Ratu Naganingrum seorang pendekar wanita
yang sangat cerdas. Ia tidak membutuhkan catatan segala.
Apalagi mengenai bunyi kalimat ilmu sakti Arya Wira Tanu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Datar bagian atas. Bahkan dialah merupakan insan pertama
yang hafal bunyi kitab sakti itu terlebih dahulu. Karena itu, aku yakin bahwa Ratna Permanasari yang menyulamnya. Mari kita
perbandingkan dengan tulisan tangannya!"
Bagus Boang merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik
kertas tulisan Ratna Permanasari. Setelah diperbandingkan
ternyata sangat miripnya. Meskipun bentuknya berbeda,
namun gayanya tiada dapat disangsikan.
"Puteri Harya Udaya adalah mustika yang sebagian besar hidupnya tersekap di atas gunung," kata Pancapana
kemudian, la belum banyak makan garam. Karena itu pula,
belum dapat melihat akibat sulaman ini. Meskipun demikian,
aku sangsi bahwa perbuatannya itu diluar pengamatan
ayahnya. Bahkan aku yakin, bahwa dia menyulam huruf-huruf
itu atas sepengetahuan ayahnya. Tapi mengapa tidak
lengkap" Inilah suatu masalah yang sukar kujawab."
Bagus Boang ikut mengasah otak pula. Dasar ia berotak
cerdas, segera ia mencoba: "Mungkin benar Ratna menyulam huruf-huruf itu atas perintah ayahnya. Tetapi ayahnya
membiarkan Ratna menyulam berdasarkan ingatannya sendiri
yang kurang lengkap. Dia pernah menyatakan kepadaku,
bahwa ilmunya belum mewarisi sepertiga bagian ilmu
kepandaian ayahnya."
"Bagus!" sahut Pancapana cepat. "Tapi Harya Udaya memandang bunyi kitab sakti itu sebagai jiwanya sendiri. Apa sebab membiarkan kurang lengkap?"
"Mungkin pula ia meniru Paman, la membagi menjadi dua
atau tiga bagian."
Pancapana tertawa terbahak bahak. Katanya, "Alasanmu
masuk akal. Coba, kalau aku tidak bertemu engkau, segera
aku akan mempercayai. Tapi justru aku bertemu dengan
engkau, maka alasan itu sangat lemah."
"Manakah yang lemah?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hai! Jangan kau anggap enteng hati seorang perempuan
yang sudah bersedia menyerahkan diri kepadamu. Sebab dia
tidak hanya bersedia mempersembahkan miliknya saja,
tapipun kalau perlu jiwanya sendiri. Karena itu baju dalam ini benar-benar barang mustika! Eh, mengapa kau sia-siakan
persembahan ini?"
Ditegur demikian, paras Bagus Boang merah padam.
Teringatlah dia ucapan Suryakusumah, bahwa ia menyia-
nyiakan cinta kasih Fatimah. Apakah dia bersikap demikian,
pula terhadap Ratna Permanasari. Memperoleh ingatan
demikian, ia jadi agak gugup dengan sendirinya. Menyahut tak jelas, "Bila tidak demikian, bagaimanakah menurut pendapat Paman?"
"Hm... hmm..." dengus Pancapana. "Harya Udaya memang jahanam licin! Dia mengira dengan membawa baju dalam itu
akan dapat mempertanggungjawabkan kecurangannya
terhadap himpunan para pendekar. Dia akan berkata, bahwa
itulah bunyi ingatan isterinya tentang bunyi kitab ilmu sakti Arya Wira Tanu Datar. Dengan begitu, kecurangannya akan
dapat dimaafkan. Syukurlah, hari ini aku telah melihat gaya bentuk tulisan puterinya. Kalau tidak, akupun bakal dapat
diingusi di depan para pendekar. Tetapi kini soalnya, apa
sebab ia perlu membuat suatu persiapan pembelaan"
Menghadapi semua pendekar di Jawa Barat, dia tidakkan
gentar. Ilmu kepandaiannya berada di atas semuanya.
Meskipun gurumu sendiri, tidak akan dapat merobohkan."
"Tapi Ki Tapa?" potong Bagus Boang "Kakekku hidup sebagai seorang pertapa. Pastilah dia tidak mau diganggu soal tetek bengek," sahut Pancapana berduka."Ganis Wardhana sudah meninggal. Seumpama masih hidup pun, dia takkan
dapat berbuat banyak. Sebab Naganingrum adalah adik
seperguruannya. Karena itu menurut pendapatku, hanya
kepada seorang belaka . ia merasa segan. Ia merasa diri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kurang yakin dapat memenangkan. Dialah pendekar besar
Harya Sokadana."
"Paman Harya Sokadana?" Bagus Boang terperanjat
bercampur kagum luar biasa.
"Apakah engkau pernah berjumpa?"
"Belum. Aku hanya mendengar nama besarnya. Aku
mengagumi ilmu kepandaiannya. Hari ini, bahkan dari mulut
Paman sendiri aku mendengar suatu pernyataan, bahwa ilmu
Pedang Dan Kitab Suci 20 Pedang Tanpa Perasaan Karya Khu Lung Pendekar Pengejar Nyawa 12
^