Pencarian

Harimau Mendekam Naga Sembunyi 9

Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu Bagian 9


yang satunya masih muda, baru kira-kira duapuluh tahun.
Ia ini jalan di belakangnya si nyonya, sikapnya
menghormat, ia mirip dengan satu nyonya mantu yang lagi
iringi mertuanya. Ia pakai pakaian Boan tetapi kakinya
mirip dengan orang yang kakinya diikat, jalannya tidak
tetap, hanya mukanya yang panjang potongannya, ada elok, kulitnya dadu, alisnya lentik dan bagus. Di matanya Poan Thian In ia cuma kalah sedikit daripada Giok Kiau Liong.
Sedang dandanannya pun kalah mentereng dengan
dandanannya si nona Giok.
Kedua nyonya tua dan muda itu naik atas kereta mereka,
yang terus dikasih jalan ke arah timur.
Kalau tadi ia mengawasi saja, Siau Hou kemudian
bertindak cepat, akan menyusul kereta itu, sampai di
Koulau depan, ia dapati Hoa Lian Hoan dari siapa ia minta kudanya, lalu dengan menunggang kudanya itu, ia terus
susul kereta itu.
Sesudah lewati beberapa jalanan, kereta di depan sampai
di Tangshia, Kota Timur, di mana kusir kasih kudanya
masuk ke dalam sebuah gang, di mulut gang mana ada
dipasang satu tiang. Di situ ada merek yang berbunyi
"Samtiau Hoo-tong". Dan kapan dari gang itu orang menoleh ke selatan, nyata di situ ada Tong Su-Paylau.
Siau Hou ikut masuk ke dalam gang, dari jauh-jauh ia
sudah lihat kedua kereta berhenti di depan sebuah rumah, rumah yang kalah besar dan bagus daripada gedungnya
Giok teetok, tetapi toh sedikitnya mesti ada tempat
kediamannya seorang berpangkat.
Di sini si cantik turun dari keretanya, akan iringi si
nyonya masuk ke dalam.
Siau Hou memandang sekian lama, lantas ia putar
kudanya, buat dikasih pergi. Kembali ia ada uring-uringan.
"Kenapa selalu nona-nona cantik keluarnya dari rumah-rumah hartawan atau orang berpangkat?" kata ia pada dirinya sendiri. "Lihat, sedikit pun ia tak mau melihat kepada orang lain! ... "
Sekeluarnya dari gang, Siau Hou ikuti jalan besar
menuju ke selatan.
"Buat kirim surat langsung pada Kiau Liong ada sukar, apa tidak baik kalau aku minta perantaraannya itu dua
nyonya barusan"
Kelihatannya mereka ada punya perhubungan rapat dengan keluarga Giok. Cuma bagaimana aku bisa minta perantaraan ini" Bagaimana
andaikata mereka tak mau campur urusanku" Terpaksa aku
mesti datang di waktu malam, dengan bawa-bawa golok ...
Ini ada sikap yang tak pantas, tetapi tidak ada halangannya kalau aku bicara secara baik ... Kalau aku minta mereka
menyampaikan secara diam-diam, mustahil mereka
menolak" ... "
Lantas Siau Hou ambil ketetapan, lantas ia berjalan
pulang ke hotelnya. Ia niat lantas tulis surat, supaya
sebentar malam ia bisa bawa balik ke Samtiau Hoo-tong.
Ia baru lewatkan Cianmui dan mau seberangi jembatan
Ceng-yangKio ketika di belakang ia, ia dengar tindakan
empat kaki binatang, ia lekas-lekas menoleh, hingga
karenanya, ia tampak seekor keledai sedang dilarikan ke
jurusan ia. Kapan ia awasi si penunggang itu, ia segera
kenali Itto Lianhoa Lau Tay Po, siapa ada berpakaian
ringkas dan di pinggangnya ada tergantung kantong piau.
Hanya sekarang, si Setangkai Bunga Teratai itu ada sedikit perok.
Selagi Poan Thian In bersenyum ewah, Lau Tay Po
sudah datang mendekati ia.
"Orang she Lo!" menegur suaminya Siang Moay, "aku memang tahu yang ini hari kau telah datang kemari, sedang tadi, aku sudah tunggu pada kau di sini! Sekarang Lau Tay Po hendak serahkan batok kepalanya padamu, supaya
urusan di antara kita jadi ada keputusannya! Lebih baik kita cari rumah penginapan di mana kita bisa pasang omong.
Aku tidak takut, sebagaimana aku tahu, kau juga tentu tak takut! Pertempuran kita di Kie Bong Lau tidak ada artinya, pertempuran itu tidak akan membikin bentrokan di antara
kita merupakan permusuhan hebat. Aku tahu sekarang, kau
bukannya si Rase Kecil, tetapi aku percaya, kau sedikitnya mesti ada suheng dari si Rase Kecil itu! Mari, orang she Lo, mari turun dari kudamu, supaya kita bisa bicara. Atau kau ajak si Rase Kecil turut bicara juga, bagi aku tidak ada halangannya. Urusan bukannya sukar untuk dibereskan.
Andaikata kau benar ada orang-orang gagah yang mulia,
Lau Tay Po nanti unjuk hormat padamu, akan angkat kau
sebagai gurunya! Aku nanti anggap, apa yang sudah terjadi, semua itu ada kesalahanku sendiri, kemudian aku nanti
ajak isteriku pergi, buat untuk selama-lamanya tak kembali lagi ke kota Pakkhia ini! Kalau tidak begitu, aku nanti
haturkan batok kepalaku, sebagai tanda kehormatan dan
terima kasih terhadap kau. Atau kalau tidak demikian, kau berdua boleh lepaskan pula panah gelapmu, nanti dengan
sebatang goloknya, Lau Tay Po akan lakukan perlawanan.
Mengenai pertempuran ini, aku tahu bahwa aku bakal
kalah, kendati demikian, pasti aku tidak akan menyerah
kalah dengan mentah-mentah!"
Demikian Tay Po nyerocos, sampai keledainya,
kepalanya, telak bentur belakangnya kuda.
Lo Siau Hou tertawa berkakakan.
"Lau Tay Po," ia kata, "'aku kasih nasehat padamu, baiklah kau siang-siang tinggalkan Pakkhia ini! Di antara kita tidak ada permusuhan, oleh karenanya, jangan kau
terlalu mendesak kepadaku! Kau bicara tentang si Rase
Kecil, aku kenal dia itu, hanya ... aku tak bisa kasih
keterangan padamu! Apa yang aku tahu, apa yang aku bisa
beritahukan padamu adalah bahwa bugee-nya ada terlebih
tinggi daripada apa yang kau mampu, bedanya ada sangat
jauh! ... "
Tay Po buka matanya lebar-lebar.
"Biarnya beda sangat jauh, aku masih hendak coba
tempur padanya!" ia kata dengan sengit. "Coba kau kasih tahu aku, di mana tinggalnya si Rase Kecil itu! Aku juga ingin ketahui she dan namanya."
Tetapi Siau Hou menggeleng-geleng kepala, sebagai juga
orang yang tak punya banyak tempo akan mengobrol, ia
keprak kudanya buat dikasih lari, hingga sebentar saja, ia sudah tinggalkan Itto Lian-hoa jauh di belakang ia.
Bukan main mendongkolnya Tay Po, sampai ia mencaci
dan mengutuk kalang-kabutan.
Siau Hou dengar suara orang, ia tahan sabar, ia tertawa
bergelak-gelak, kudanya ia kasih lari terus, sampai ia tak dengar suatu apa lagi. Ia terus pulang ke hotel, kudanya ia kasih jongos untuk dirawat, ia sendiri lari masuk, sampai di tangga lauteng ia perdengarkan suara berisik dari
tindakannya yang cepat dan berat. Tapi, ketika ia sampai di dalam kamarnya, di depan pintu ia berdiri melengak,
sebagai orang diam terpaku.
Sebab ... sebab di dalam kamarnya ada si Saykong
Tukang Obat sedang berdiri dengan sikap yang mencurigai.
Ia segera menegur.
"Kenapa kau masuk kemari justru kamar ini kosong"
Kau ada punya urusan apa?"
Tapi si Saykong perlihatkan roman tabah dan angkuh.
"Aku datang untuk kembalikan uangmu!" ia menjawab.
"Kemarin ini aku tolong kau padamkan api di dalam
kamarmu ini, itu adalah pekerjaan yang tak berarti, tetapi untuk itu, kau telah kirimkan aku sepuluh tail. Mana aku bisa terima uang itu" Sekarang kau sudah pulang, nah,
terimalah uangmu ini!"
Ia letaki uangnya di atas meja.,
Saykong ini rambutnya panjang di kedua belah
kupingnya, lantaran itu ia jadi kelihatan semakin kurus, tetapi sebenarnya, tidak saja ia tak kurus, malah ia ada bertangan sehat dan kuat. Setelah itu, ia balik tubuhnya, buat pergi keluar.
Lo Siau Hou tidak marah, sebaliknya ia tertawa. Dengan
matanya yang tajam, ia pandang seluruh kamarnya, hingga
ia dapat kenyataan yang ia tak kehilangan apa juga. Setelah
itu, ia hampirkan pembaringannya, akan lempar diri di atas itu, akan rebah-rebahan. Ia lantas pikirkan si nona muda atau nyonya dengan dandan cara Boan tadi, ia agaknya ada ketarik hati, hanya sekejab kemudian datang pula uring-uringannya yang disusul sama elahan napas. Kembali ia
pukul pembaringannya, seraya ia menyanyi:
"Kita berempat, dunia ketahui semua, Hanya kita sendiri, tak saling mengenalinya, Hou adalah aku, Pa nama adikku, Tapi masih ada Eng dan Hong, perempuan dua ... "
Habis menyanyi, Siau Hou berbangkit, akan jalan bulak-
balik di dalam kamarnya itu, kemudian ia teriaki jongos
buat minta perabot lulis. Ia ambil tempo lama, ia menulis dengan rupa sengit. Di akhirnya, ia dapat rampungkan
suratnya itu. Ia menulis dengan huruf-huruf besar, begini bunyinya:
Kiau Liong, isteriku!
Aku datang ke kota raja sudah setengah bulan, tetapi kita bertemu baru satu kali. Kau tidak ijinkan aku bicara banyak padamu, kau dorong aku keluar dari kamarmu, inilah bikin aku uring-uringan. Beberapa kali aku cari kau, siapa tahu, kau telah pindah kamar, maka teranglah bahwa kau sengaja hendak menyingkir dari aku. Nyata hatimu sudah berubah.
Setahun sejak kita berpisah, aku telah turut anjuranmu.
Aku telah tinggalkan sahabat-sahabatku, aku sudah ubah
pekerjaanku, hingga aku telah berhasil mengumpul harta
keuntungan. Cuma pangka tyang aku tak beruntung bisa
mendapatinya ... Ini membikin aku tidak berdaya, hingga aku menyesal
sekali ... Dilihat begini, rupanya selama seumur hidupku, aku
tidak akan bisa pangku pangkat Mustahil, karena aku tidak
mampu pegang pangkat, lantas untuk seumur hidupku, aku
pun tidak bisa melihat lagi padamu"
Kau ada punya bugee yang tinggi, kenapa kau mesti
keram diri di rumah menjadi siocia saja" Kenapa kau mesti kasih dirimu dipermainkan oleh Itto Lianhoa, melulu akan merasai kemendongkolan"
Maka, Kiau Liong, isteriku yang bijaksana, mari lekas
turut aku pergi, Kita ada punya banyak uang ke mana saja kita pergi, kita akan merasai keberuntungan! Mengapa kau tetap inginkan menjadi satu koan-thaythay"
Kiau Liong, seterimanya surat ini, harap kau pikir
masak-masak, kemudian kau siapkan pauhok-mu, akan
tunggukan aku. Lusa aku akan datang sendiri, untuk papak padamu!
Siau Hou membubuhi tanda tangannya, setelah lipat dan
bungkus surat itu, ia simpan di sakunya.
Adalah di saat itu, Hoa Lian Hoan dan See Mo Cie
tertampak pulang.
"Ambil ini uang," ia kata pada si Tikus Gurun Pasir, sambil sodorkan uang sepuluh tail dari atas meja. "Si saykong cilik penjual obat ada seorang yang bersemangat
dan berambekan, ia tak sudi terima uang ini, maka pergilah kau ambil untuk kau berdua." Dan, ia terus tanya, "apa yang kau telah dapat dengar?"
"Banyak yang aku tetah dengar," sahut See Mo Cie, sambil buka kedua matanya. "Pengawal dari Tayhin
Piautiam, yang baru menjadi sahabatku, telah kasih tahu
padaku, bahwa toa-piautau-nya Ngojiau-eng Sun Ceng Lee,
sekarang sudah sembuh, bahwa tadi toa-piautau itu telah
dikunjungi Lau Tay Po. Katanya di dalam kamar Tay Po
dengan berisik bicarakan soal ia hendak hajar si orang she Lo dan hendak bekuk si Rase Kecil ... "
Siau Hou bersenyum ewah.
"Aku pun tadi dapat ketemu padanya," ia kasih tahu. "Ia telah aku di depanku bahwa kalau kita bertempur, ia pasti bakal kalah, maka terhadap dia itu, aku tidak mau ambil
pemandangan yang sama cupatnya ... "
"Menurut pegawai dari piautiam itu," kata pula See Mo Cie, "katanya sumoay dari Sun Ceng Lee, yaitu nona Jie Siu Lian, bakal datang ke Pakkhia ... "
Lo Siau Hou tertawa.
"Biarlah dia datang!" ia kata. "Aku justru hendak lihat padanya, akan mengetahui bagaimana bedanya apabila ia
dibandingkan dengan jantung hatiku ... "
"Yo Kian Tong juga bakal pulang," See Mo Cie
tambahkan. "Lau Tay Po hendak undang dan minta bantuannya
sahabat-sahabatnya di empat penjuru. Aku kuatir, kapan
sudah datang waktunya, kita akan jadi si sebelah tangan
yang tak mampu perdengarkan suara sendirian ... "
Tapi Lo Siau Hou tertawa berkakakan.
"Sedikit pun aku tak merasa jeri!" ia kata dengan berani.
"Aku ada punya poo-too!"
Baru saja Poan Thian In tutup mulutnya, atau di pintu
ada kepala yang nongol.
Dan itu ada kepalanya si Saykong Kecil, yang segera
menggape pada Hoa Lian Hoan.
"Mari, mari kita minum arak!" ia mengundang sambil tertawa.
Hoa Lian Hoan terima baik undangan itu, ketika ia
hendak keluar, ia kata pada pemimpinnya: "Looya, malam ini kau hendak pergi ke mana lagi" Aku hendak pergi
minum arak, barangkali aku tidak bisa lekas-lekas kembali
... " "Kau jangan pedulikan aku," sahut Siau Hou dengan cepat. "Ke mana juga aku pergi sebentar, kau tak usah kuatiri aku!"
Ia malah berikan tanda dengan tangannya, menyuruh si
Tikus Gurun pun pergi keluar.
Dua pengikut itu undurkan diri, tinggalkan "looya" ini berada sendirian dalam kamarnya.
Siau Hou agaknya berpikir keras, beberapa kali ia
tertawa sendiri, tertawa dingin.
Tidak antara lama, jongos datang dengan barang
makanan dan arak. Ia dahar, tetapi arak ia tak irup barang setetes. Ia antap jongos kemudian berbenah dan nyalakan
api. Habis dahar, ia rebah-rebahan, kemudian ia dandan
dengan cepat. Kembali ia rebahkan diri.
Benar ketika kentongan ronda berbunyi dua kali, ia
berbangkit. Ia periksa diri selelah merasa tidak ada yang kelupaan, ia padamkan api.
Di kamar-kamar lain kebanyakan api pun sudah padam.
Tetamu-tetamu sudah tidur, kecuali mereka yang datang
untuk pelesiran saja.
Tangga lauteng pun ada gelap sekali, gelap dari atas
sampai ke bawah, hingga dari atas memandang ke bawah,
ada seperti orang melongok ke dalam sumur ...
Siau Hou bertindak ke tangga lauteng, dengan niatan
turun, atau mendadak di depannya ada orang yang
mendahului ia turun di tangga lauteng sambil berlari-lari, hingga suara tindakan kakinya yang gencar, berbunyi
nyaring beruntun-runtun.
"Siapa?" Poan Thian In menegur.
Orang itu tidak menyahut, malah sedetik kemudian, ia
lenyap bersama bayangannya.
"Heran!" pikir Siau Hou. "Apakah ia ada satu bangsat?"
Dan segera ia memburu, sampai di bawah lauteng. Dari
kamar besar, ia segera dengar suara bicara dan tertawa dari beberapa orang.
"Hoa Lian Hoan!" ia memanggil.
Panggilan telah diulangkan, tetapi yang muncul adalah
See Mo Cie. Ketika pintu dipentang, kelihatan di dalam
kamar orang sedang main dadu, suaranya di dalam
mangkok ada berisik.
"Mana Hoa Lian Hoan?" Siau
Hou tegaskan pengikutnya itu.
"Ia sedang tidur," sahut si Tikus Gurun Pasir. "Si saykong cilik bikin ia mabok sampai ia lupa daratan! ... "
Pengikut ini bicara sambil tertawa:
"Sekarang aku hendak pergi ke kota buat satu urusan,"
Siau Hou berbisik pada orangnya itu. "Boleh jadi malam ini aku tidak kembali. Maka jagalah baik-baik kamarku, jangan sampai ada penjahat yang datang mencuri ... "
See Mo Cie manggut.
Malam itu langit ditabur dengan rembulan sisir, jalanan
boleh dibilang sunyi, karena ada sedikit orang yang berlalu lintas. Siau Hou tidak menunggang kuda, malah ia jalan
dengan perlahan-lahan. Ke dalam kota, ia menuju ke Tong
Su-Paylau. Ia sampai tepat pada jam tiga, dalam keadaan
sunyi senyap, karena semua pintu sudah dikunci, semua
penghuni rumah rupanya sedang tidur dengan asyik. Di
empat penjuru tidak ada tertampak apa juga yang bergerak-gerak, kecuali terdengarnya suara kentongan dari si orang ronda.
Siau Hou masuk ke dalam Samtiau Hoo-tong, ia sampai
di depan pintu yang ia kenal, tiba-tiba ia bersangsi.


Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tadi siang aku tak cari keterangan, ini rumah siapa dan penghuninya orang dari kalangan apa ... " demikian ia berpikir. "Bagaimana aku bisa lancang masuk ke dalam rumah orang dan justru untuk cari orang perempuan" Benar aku tidak bermaksud jahat dan melulu untuk minta tolong
orang sampaikan suratku, toh ini ada perbuatan lancang
juga ... "
Oleh karena ini, Siau Hou lantas putar tubuhnya.
Dengan tiba-tiba ia memikir buat pergi saja ke gedungnya Giok teetok, akan sampaikan sendiri suratnya pada Giok
Kiau Liong. "Kenapa aku mesti ganggu orang?" begitu ia berpikir lebih jauh. "Kenapa aku mesti minta pertolongannya orang yang tidak dikenal?"
Bahna sangsi, Poan Thian In lantas merandek.
"Tetapi nyonya muda itu ada sangat menggiurkan hati ...
" ia berpikir pula. "Siapa tahu jikalau ia ada satu nona yang belum menikah" Mustahil aku tak bisa nikah andaikata aku ketemui padanya, untuk separuh memohon dan separuh
memaksa" ... Umpama perbuatanku ini diketahui oleh Giok
Kiau Liong, halangan tak ada sama sekali! Malah dengan
ini aku bisa kasih lihat padanya, meskipun aku tidak
pangku pangkat, toh ada lain orang perempuan yang sudi
ikut aku ... "
Setelah memikir demikian, Siau Hou buka thungsha-nya,
untuk digulung, bersama sepatunya baju itu ia umpatkan di belakang kuda-kudaan batu di depan pintu, kemudian
dengan enjot tubuhnya, ia loncat naik ke atas tembok
pekarangan. Dari sini ia memandang ke dalam.
"Heran," ia berpikir, apabila ia lihat dari berbagai-bagai kamar ada terdapat sinar api. "Apakah artinya ini" Kenapa sudah begini malam, semua orang masih belum tidur?"
Walaupun demikian, Siau Hou tak dapat diganggu oleh
keheranannya itu. Ia loncat naik ke genteng, dari situ ia menuju ke belakang. Tiba-tiba dari belakang ada orang
yang bertindak mendatangi. Maka ia lekas-lekas merandek
akan umpatkan diri.
Menghadapi sebuah pintu, orang itu berhenti.
"Teng Mama!" ia lantas memanggil.
Dari dalam kamar lantas keluar seorang perempuan, satu
bujang. "Ada apa?" dia ini tanya.
"Looya perintah aku kasih tahu," berkata orang itu, satu bujang lelaki, "karena sekarang sudah jauh malam, Go naynay dan siauya serta siau-naynay diminta masuk tidur ...
Looya kata mustahil akan terjadi apa-apa ... "
"Tetapi Go naynay ada berkuatir dan siau-naynay tak ingin tidur," sahut si Teng Mama. "Urusan nampaknya masih belum tentu ... Beberapa tahun yang lalu, waktu aku layani nona Jie, pun pernah kejadian serupa ini. Tatkala itu siangnya ada satu penunggang kuda mengubar kereta,
lantas malamnya ada orang datang menyatroni, coba
bukannya nona Jie ber-bugee liehay, entah bagaimana
akibatnya!"
Dua orang itu bicara tidak keras, tetapi Siau Hou di atas genteng telah dapat dengar semua dengan nyata, hingga ia menjadi terperanjat.
"Heran juga," pikir ia. "Jadi nyonya muda itu telah curigai aku dan ia menduga bahwa malam ini aku bakal
datang. Apakah bisa jadi yang ia mempunyai kepandaian
bugee tinggi sebagai Kiau Liong" Baik, karena ini, aku
justru jadi ingin mencoba-coba ... "
Lantas Siau Hou mendekam terus, sampai si bujang
lelaki berlalu, begitupun si bujang perempuan masuk pula ke dalam.
Sesudah kesunyian kembali, Siau Hou loncat turun akan
samperkan kamar itu. Ia pasang kuping, hingga ia dengar
suara orang bicara. Ia merasa bahwa tidak ada orang yang ketahui bahwa ia berada di situ. Dengan tindakan hati-hati, ia hampirkan jendela. Ia ada bernyali besar, di daun jendela ia menggurat, akan membuka satu lubang kecil akan
mengintip ke dalam.
Kamar ada berperlengkap indah, tetapi penghuninya
cuma dua. Ialah seorang muda serta satu nyonya yang
berpakaian sebagai orang Boan. Pemuda itu ada satu anak
sekolah yang tubuhnya halus lemah, pakaiannya sutera
hijau, kuncirnya digulung di atas kepala. Ia sedang tertawa menghadapi si nyonya muda, siapa ada berdiri membaliki
belakang terhadap Poan Thian In, hingga ia ini tak bisa
lihat muka orang. Hanya nyata, nyonya itu ada menyekal
sebatang golok.
Terang mereka ada suami isteri, yang sedang bersiap
menjaga orang jahat, bahwa mereka ada pasangan yang
saling menyinta, yang hidup rukun dan manis.
Pasangan itu bicara dengan perlahan.
Siau Hou terus mengintip, sampai ia lihat si nyonya
muda putar sedikit kepalanya, hingga ia tampak sebelah
mukanya. Itu adalah muka yang elok, yang ia kenali ada
muka dari si nyonya muda yang tadi siang ia lihat dan
menggoncangkan hatinya.
"Jangan jaili aku!" terdengar kata si nyonya, sembari tertawa. "Awas, naynay ada di dalam kamar sana. Siapa tahu kalau sebentar si penjahat datang?"
Si suami muda tak mempedulikannya, ia tertawa, ia
hendak cekal lengannya si nyonya. Ia ini sebaliknya angkat goloknya sebagai juga ia hendak bikin perlawanan, akan
serang suami itu.
"Jangan memain, eh!" ia kata, sembari tertawa, suaranya merdu. "Jangan memain, Bun Hiong yang baik, jangan
goda aku! Dengar, dengarlah! Sebentar, si orang jahat bakal datang! Kalau penjahat datang, kau jangan muncul, kau
belum punya pengalaman, aku kuatir ... "
"Kau juga belum punya pengalaman dari satu
pertempuran, aku pun kuatiri kau ... " kata si suami, sembari tertawa juga.
Demikian mereka bersendau-gurau.
Siau Hou di luar jendela mesti saksikan itu penghidupan
yang manis sedap, ia merasa tertusuk hatinya berbareng
mengiri. "Kenapa lain orang bisa hidup manis tetapi aku tidak?"
demikian ia berpikir. Ia memandang ke dalam, dengan
mendelong, sampai buat sesaat itu, ia lupa pada maksud
kedatangannya. Sekonyong-konyong ada sepotong batu menyambar,
mengenai punggungnya, hingga kecuali sakit, ia pun kaget, maka sambil hunus goloknya, ia segera putar tubuhnya.
Hampir di itu waktu, api di dalam kamar padam dengan
mendadakan. Lompat maju ke pekarangan yang luas, Siau Hou tidak
lihat apa juga, hingga ia jadi heran.
Ketika itu pintu terbuka dan si nyonya muda, bersama
suaminya muncul. Keduanya ada bersenjatakan golok, dan
mereka lantas beraksi, untuk menyerang.
"Tahan!" berseru Siau Hou, yang tadinya mundur beberapa tindak, goloknya siap di tangannya. "Aku tidak bermaksud jahat! ... "
Tapi ucapan itu belum dikeluarkan habis atau Bun Hiong
sudah menyerang.
"Tadi siang kau kuntit isteriku, sekarang tengah malam buta rata kau lancang datang kemari!" demikian suami muda itu. Bagaimana kau bilang kau tidak bermaksud
jahat?" "Bun Hiong, mundur!" berseru si nyonya muda. "Aku ...
" Ucapan ini disusul dengan serangan, hingga Siau Hou
jadi dikepung berdua. Ia dapat kenyataan ilmu golok dari si nyonya muda ada liehay, mau atau tidak, ia main mundur
karena ia tak punya keinginan untuk celakai siapa juga,
apapula itu sepasang suami isteri. Malah waktu ia didesak terus, ia lompat mundur, akan terus loncat naik ke atas
genteng. "Sabar!" ia berkata. "Aku datang untuk mohon sedikit pertolongan kau, enso. Di sini aku ada punya sepucuk surat
... " Tap, si nyonya muda pun pandai loncat naik ke atas
genteng, ia loncat naik akan terus menyerang pula.
Menampak demikian, Siau Hou tangkis golok orang
sambil memapas, maka berbareng dengan beradunya kedua
senjata, ujung goloknya si nyonya lantas tersapat, hal mana membikin nyonya itu terperanjat, hingga ia terus loncat
mundur. Siau Hou tetap tidak mau bikin perlawanan, ia pun
mundur. Tapi, di luar dugaannya, di belakang ia ada kaki yang mcndupak, dari mana ia tak mampu berkelit lagi,
maka tubuhnya ngusruk ke depan jatuh ke Lanah ...
Bun Hiong di bawah telah siap, mendapat lihat orang
jatuh, ia loncat maju dengan bacokannya.
Siau Hou rubuh bukan dengan tak berdaya, ia lihat
datangnya serangan, sembari rebah, ia mainkan sebelah
kakinya, maka lengannya Bun Hiong kena ketendang,
sampai goloknya terlepas dari cekalan dan jatuh ke tanah.
Di saat itu, Siau Hou gulingkan tubuh, akan terus loncat bangun, buat terus juga balas menyerang suami muda itu,
maka berbareng dengan satu jeritan hebat, Bun Hiong
rubuh terguling.
Kejadian ini bikin Siau Hou terperanjat.
Ketika itu si nyonya sudah loncat turun, benar goloknya
tinggal sepotong, tetapi sambil putar itu, dengan berani ia menyerang pula si tetamu malam, hingga jago dari gurun
pasir itu terpaksa mesti melayani juga.
Di dalam rumah sekarang terdengar suara berisik, disusul dengan suara dari luar, rupanya orang ronda.
Di mana ia tak bermaksud jahat, Siau Hou tidak mau
berdiam lama-lama di itu tempat yang berbahaya, maka
juga dengan lekas ia enjot pula tubuhnya, akan naik lagi ke atas genteng.
Apamau, di atas genteng, ada satu tubuh yang
mendekam, tubuh itu tidak dapat terlihat, hanya ketika Siau Hou sampai, orang ini sambut Siau Hou dengan rangsekan,
hingga badannya Siau Hou jatuh mendeprok di atas
genteng! Bukan main mendongkolnya jago dari Sinkiang ini, ia
loncat bangun akan menyerang. Ia tak lihat nyata
romannya orang, tetapi ia lihat orang yang bokong ia ada seorang yang bertubuh kecil dan kate.
"Kau siapa?" membentak Siau Hou, yang tak
berhentikan serangannya.
Itu orang tidak menyahut, ia berkelahi dengan tangan
kosong, tetapi ia mencoba untuk merampas itu golok
mustika! Atas satu desakan, Siau Hou gulingkan tubuhnya di atas
genteng, sampai ia turun menggelinding ke bawah, tetapi
disini ia bisa jatuh berdiri dengan tubuhnya terus berdiri. Ia dengar pula suara berisik, yang disusul sama suara tangisan orang perempuan. Ia insyaf bahwa ia telah terbitkan onar, maka ia memilih untuk menyingkir saja. Akan tetapi, ada
sukar buat ia menyingkir dengan gampang.
Lawan di atas genteng itu, yang tubuhnya kecil dan kate
tetapi gesit, sudah menyusul turun, cara lompatnya ada
sangat sebat, sebagai kucing malam saja, dan waktu ia
sampai di bawah, terus ia menerjang, gerakannya tetap
untuk merampas golok mustikanya Siau Hou!
Dengan satu sabetan, Siau Hou mengarah tangan orang,
tetapi lawan ia bisa tarik pulang tangannya, kembali
dimajukan secara sebat dan liehay. Hingga karenanya, Siau Hou mesri perlihatkan kepandaiannya untuk bikin
perlawanan. Di sini ia bisa bergerak dengan bebas.
Lawan cilik itu ada liehay, di antara berkelebatannya
sinar golok mustika, ia bergerak ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang, gesit sebagai seekor monyet. Atau ia beputar-putar sekitar dirinya Siau Hou, poo-too siapa ia tetap arah!
Siau Hou tidak mau kasih senjatanya kena direbut, tetapi berbareng dengan itu ia insyaf bahwa ia sedang hadapi satu musuh yang tangguh, terutama gerakan kaki musuh ada
cepat luar biasa, beberapa kali ia hampir kena ditendang atau disapu, hingga ia mesti berlaku hati-hati. Percuma ia mendesak, musuh cilik itu tidak mau mundur dengan
mentah-mentah, malah desakan pembalasannya ada hebat
sekali. Sesudah melayani pula sekian lama dengan tak peroleh
hasil, Siau Hou enjot tubuhnya, akan naik ke tembok
pekarangan, guna loncat turun ke lain sebelah.
Di situ ada rumah orang, penghuninya telah dibikin
tersadar dengan kaget karena suara berisik di sebelah
tetangganya. Di sana-sini segera terlihat cahaya api.
"Siapa?" demikian suara pertanyaan dari dalam rumah.
Siau Hou sudah loncat naik pula ke atas genteng, ia lari melewati beberapa ruangan. Segera ia lihat orang kejar
padanya, itu orang dengan tubuh kecil dan kate. Ia lari
terus, sampai ia loncat turun lagi, akan masuk ke dalam
sebuah gang. Dari sini, ia lari ke satu tempat yang berupa tegalan yang luas.
Si pengejar masih menyusul, larinya pesat sekali.
"Siapa kau?" Siau Hou tanya dengan bentakannya, seraya ia menyerang. "Kenapa kau desak aku sampai
begini?" Pengejar itu terdengar tertawa, tetapi ia tak menyahuti, hanya gesit luar biasa, ia lompat menubruk, akan sambar
tangannya Poan Thian In, guna rampas goloknya.
Sekarang Siau Hou jadi gusar dan sengit.
Setan!" ia berseru, seraya menerjang dengan hebat.
Laksana bayangan, pengejar itu berkelit dan balik pula
menubruk, dari mana ternyata, kecuali gesit, ia pun ada
sangat bernyali besar.
Sekali ini si cilik itu telah bisa mendapati lowongannya.
Dua kali kepalannya mengenai tubuhnya Siau Hou, satu
kali dupakannya telah memberi hasil. Tapi Siau Hou ada
berbadan kuat, kepalan dan kaki itu tidak menyebabkan ia rubuh atau kesakitan. Kalau tadi di atas genteng ia kena terdupak, itulah disebabkan ia telah dibokong. Hanya,
serangan itu ada menambah kemurkaan dan kemendongkolannya, hingga ia berkelahi semakin sengit,
sebab terang orang sedang ganggu ia.
Sesudah bertempur sekian lama, teranglah kelihatan, si
kecil dan kate itu tidak bermaksud mencelakai, karena
semua serangannya tidak menuju ke bagian anggauta-
anggauta yang berbahaya, yang hebat adalah maksudnya
untuk merampas golok mustika. Justru golok itu telah
dilindungi dengan hati-hati oleh Siau Hou, siapa lama-lama jadi kewalahan juga, hingga terpaksa, ia bertempur sambil mundur, sambil lari.
Sebagai bayangan saja, pengejar itu mendesak terus.
Tiba-tiba Siau Hou seperti injak tempat kosong, atau
tubuhnya segera melayang jatuh, karena ia sudah terjeblos ke lubang yang dalam dan kotor juga, ada air atau
lumpurnya, hingga dari situ ia tak mampu segera loncat
naik lagi. Di atas lalu terdengar suara tertawa terbahak-bahak.
"Kurang ajar! Setan!" Siau Hou mencaci atau mengutuk.
Tapi ia tidak memperoleh jawaban, di atas, segala apa ada sunyi.
Sesudah berdiam beberapa saat, akan tenangkan dirinya,
Siau Hou berdaya akan naik ke atas. Ia bisa merayap keluar dari lubang itu. Di atas sudah tak tampak lawan yang liehay dan licin itu. Di situ segala apa ada sunyi, tak seorang pun tampak di situ.
"Rupanya ia sudah pergi," ia berpikir. Kemudian ia bertindak, kakinya ia rasai masih basah. Hatinya terus tidak tenteram.
"Aku telah terbitkan onar ... " ia berpikir. "Bugee-nya nyonya muda itu tidak ada celaannya, malah ia bisa loncat naik ke atas genteng. Aku tidak sangka bahwa di Pakkhia
ada orang-orang pandai demikian. Hanya sang suami,
kepandaiannya ada kecewa ... Aku menyesal sudah
kesalahan melukai padanya ... Apakah, karenanya, sang
isteri tidak berduka?"
Tapi, kapan ia ingat apa yang ia saksikan, tentang
cintanya suami isteri itu, Siau Hou kembali mengiri.
"Sampai kapan aku dan Kiau Liong bisa jadi suami
isteri?" ia tanya dirinya sendiri. "Selama beberapa bulan tinggal di Pakkliia, Kiau Liong juga tidak menjadi seorang yang alim, ia bawa kelakuan bukan seperti satu siocia! Ia sering keluar malam, ia mencuri pedang, kelakuannya
sebagai hui-cat saja, si bandit terbang! Mengapa ia tak mau ketemui aku" Dia kenal si nyonya tadi, ia tentu kenal lebih banyak orang gagah lainnya. Mustahil, di antaranya, tak
ada yang tolong aku akan sampaikan suratku ini" Apa
benar-benar ia mau sia-sia aku, karena aku tidak bisa
pangku pangkat" Kalau benar, dia ada seorang perempuan
yang kejam! Tidak bisa, aku mesti cari dan temui padanya!"
Sesudah merasa aman, Siau Hou simpan goloknya. Ia
melihat ke sekitarnya, akan kenali tempat, kemudian ia
bertindak, ke jurusan Koulau.
Kesunyiannya sang malam terganggu oleh ramainya
suara gembreng atau kentongan orang-orang ronda, di
antaranya juga ada berketoprokannya kaki-kaki kuda.
Rupanya, kecuali orang ronda pun ada muncul hamba-
hamba polisi. Siau Hou masuk ke dalam satu gang kecil, ia mau
menyingkir dari mereka itu. Ia pergi ke Pakshia, Kota
Utara. Dengan cepat ia sampai di Koulau Barat, terus
sampai di depan gedungnya Giok teetok.
Di sini malam ada sunyi. Kecuali bergoyang-goyangnya
cabang dari delapan pohon hoay di pekarangan depan, di
situ tidak ada lain-lain gerakan lagi. Agaknya, juga di dalam gedung, tidak ada penjagaan apa-apa.
Siau Hou hampirkan pintu, di sini ia mau enjot
tubuhnya, akan loncat naik ke atas, untuk bisa masuk ke
dalam. Ketika ia mau geraki tubuhnya, ia dengar suara apa-apa, seperti ada sambaran angin. Pun ada suara orang,
"Hm!"
"Siapa?" ia menegur.
Ia tidak dapat jawaban, hanya segera ia merasai sakit.
Sebab sebatang piau telah mengenai dadanya, sampai ia
hampir rubuh. Ketika ia hendak cabut piau itu, atau liuseng-twie menyambar ia, mengenai belakang lehernya!
Berbareng dengan itu, dari atas pohon ada loncat turun


Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

satu orang, yang goloknya berkelebat, berbareng membacok padanya, serangan mana dari belakang disusul oleh
sambaran liuseng-twie lagi, dan bandringan mengenai
kempolannya! Dengan gagah Siau Hou pertahankan diri. ia tahan
sakitnya, tetapi karena ia telah terluka, terpaksa ia
menyingkir. Dua batang piau menyambar pula, sebatang dapat
dikelit, sebatang yang lain ia bisa sanggapi. Ia lari terus, ia tak pikir akan layani musuh, musuh-musuh yang tidak
dikenal. Di sebelah belakang, dua orang kelihatan mengejar
sambil mencaci juga.
Kemudian terdengar jelas suaranya seorang perempuan:
"Berhentilah berlari! Atau aku nanti gunakan piau akan bunuh mampus padamu!"
Siau Hou kelit kepalanya, tetapi piau tidak menyambar.
Selelah itu, ia dengar teriakannya satu suara lelaki.
"Sahabat baik, kau berhentilah! Kau sudah terluka, apa kau masih berniat lari terus" Berhenti, sahabat, mari kita bicara!
Kau datang untuk si Rase Kecil, demikian juga kita! Asal kau sudi terangkan, si Rase Kecil itu ada anggauta apa dari keluarga Giok, kita lantas terhitung dari satu golongan!"
Siau Hou segera kenali itu suara, suaranya Itto Lianhoa
Lau Tay Po. Ia jadi mendongkol, akan kenali orang itu. Ia berhenti berlari dan balik badannya.
"Oh, kau juga berani menghina aku?" ia berseru. Ia berniat tempur si Setangkai Bunga Teratai, tetapi si orang perempuan kembali hajar ia dengan piau, benar ia bisa egos diri, tetapi ia mengerti, dalam keadaan sebagai itu, ia
menghadapi bahaya besar, maka terpaksa, ia putar pula
badannya dan lari lagi.
Poan Thian In menyesal bukan main yang ini malam ia
sudah keluar dengan tidak bawa panah tangannya, kalau
tidak, ia tentu bisa bikin pembalasan dengan panahnya itu, atau sedikitnya ia bisa membela diri, hingga ia tak usah melarikan diri. Panah itu tak bisa dipakai membinasakan
jiwa orang tetapi faedahnya ada besar.
Sesudah lari jauh, baru Siau Hou lihat tidak ada orang
kejar ia, maka sekarang ia bisa berhenti lari dan ia jalan dengan perlahan-lahan. Ia merasai sakit pada dadanya ia
merasa lelah sekali. Ia sekarang ada masgul dan penasaran.
Ia tahu kepandaiannya, buat mainkan golok atau tombak,
ia berani tempur siapa juga, tetapi tadi, si Cilik Kate, yang berupa sebagai bayangan, benar-benar ada satu musuh yang baru ini kali ia hadapi. Ia tidak tahu, lawan itu telah gunai ilmu silat dari cabang apa, hingga ia, yang bersenjata golok mustika, tidak dikasih ketika akan rebut kemenangan di atas angin. Celakanya, ia kena dibokong oleh liuseng-twie dari Lau Tay Po, sedang piau dari si orang perempuan, benar -
benar ada liehay. Maka, ia merasa sakit dengan berbareng mendongkol, sampai dadanya dirasai mau meledak!
Di padang rumput, di gurun pasir, ia ada satu cabang
atas, tak ada orang yang berani padanya, tetapi di Pakkhia, di gang-gang yang kecil, ia seperti tak mampu perlihatkan kepandaiannya seperti tak berkutik, karena ia kasih dirinya dipermainkan oleh anak-anak pitik.
Jalan sampai di Lamshia, Kota Selatan, Siau Hou dari
tembok yang sunyi di mana ia merayap naik, akan keluar
dari kota, buat seterusnya ia kembali ke Cu-sie-kau Barat, akan pulang ke hotelnya.
Baik di bawah maupun di atas lauteng, dalam itu rumah
penginapan tidak ada cahaya api sama sekali, pintu telah dikunci. Ia tidak mengetok buat minta pintu, hanya ia
loncati pekarangan dan naik ke genteng, akan masuk ke
dalam. Hampir seperti meraba-raba, ia bertindak ke tangga lauteng, akan bertindak di undakan. Baru saja ia sampai di atas, atau mendadakan satu bayangan berkelebat di
depannya, tangannya bayangan itu menyambar ke
tubuhnya hendak merampas poo-too-nya.
Kaget dan gusar, Siau Hou bikin dua rupa gerakan
dengan berbareng. Dengan tangan kiri ia lindungi goloknya, dengan tangan kanan, ia menjotos.
Bayangan itu berkelit. Gesit luar biasa, sebelah kakinya bekerja.
Siau Hou merasakan kakinya kena disapu, tetapi kuda-
kudanya ada tangguh, ia tidak kena dibikin terguling oleh karenanya. Hanya, karena itu, ia jadi sangat gusar.
"Siapa kau?" ia berseru dengan tegurannya.
Pertanyaan ini tidak dijawab.
Dalam murkanya, Siau Hou segera menyerang, dengan
kepalan dan tendangannya.
Bayangan itu telah bikin perlawanan, ia nampaknya
tidak sanggup ladeni tenaga besar dari Poan Thian In, maka itu, ia telah gunai kegesitannya.
Pertempuran ini, di atas lauteng, telah menerbitkan suara berisik, karena papan lauteng saban-saban kena diinjak
dengan keras dan berbunyi nyaring, tidak heran kalau
sebentar kemudian, orang-orang dalam hotel, tetamu dan
jongos-jongos, pada tersadar dari tidurnya dengan kaget.
"Ada ada" Ada apa?" demikian banyak suara menanya, dengan keras.
"Ada orang jahat!" Siau Hou berikan jawabannya.
Pertempuran masih dilanjutkan, karena yang satu masih
penasaran, yang lain tak mau menyingkir.
Hanya sesaat kemudian, mendadakan si bayangan loncat
naik ke atas lankan, akan dari situ ia lompat turun ke bawah lauteng!
Siau Hou lari ke tangga, dengan niatan memburu, tetapi
dari bawah, ia dipapak dengan suara tertawa ejekan, setelah mana, bayangan itu lenyap di tempat yang gelap!
Tatkala itu dari berbagai-bagai kamar telah muncul sinar terang.
Dengan diam-diam, dengan cepat, Siau Hou lari masuk
ke dalam kamarnya, pintu kamar ia segera tutup, kemudian ia lempar dirinya ke atas pembaringan. Sekarang kembali ia rasai sakit pada dadanya, begitu juga pada bahunya bekas sambarannya liuseng-twie. Kemendongkolannya seperti
tidak mau molos keluar ...
Di luar ada terdengar suara berisik dari tindakan kaki,
tuan rumah penginapan pun rupanya sudah mendusin.
"Bocah itu sungguh menjemukan," pikir Siau Hou setiap ia ingat itu bayangan gesit. "Siapa dia" Kenapa dia satrukan aku" Kenapa ia kejar aku dari Tangshia sampai di Lamshia"
Dia pun tahu juga yang aku tinggal di sini hingga di sini ia bisa jaga dan tunggui aku! Ia selanjutnya bakal jadi satruku, maka apabila aku ketemu pula padanya, aku mesti
singkirkan!"
Rasa sakit dan mendongkol menyebabkan Siau Hou
sukar tidur pulas, meskipun ia lelah, hanya setelah
mendekati terang tanah, sesudah di luar lenyap semua suara berisik, baru ia bisa juga tidur, malah ia tidur nyenyak, sampai siang, sampai lewat tengah hari, baru ia bangun. Ini pun disebabkan pintu kamarnya ada yang gedor dan luar,
hingga dengan menahan sakit, ia berbangkit akan
membukai pintu.
Hoa Lian Hoan dan See Mo Cie telah menggedor pintu,
karena mereka lihat looya mereka belum keluar meskipun
sudah tengah hari bolong, hingga mereka jadi curiga. Dan mereka jadi terperanjat kapan mereka lihat looya itu ada berlepotan darah pada pakaiannya, yang pun kecipratan
lumpur. Begitu masuk, mereka gabruki pintu di belakang
mereka. "Kenapa, eh, looya?" si Tikus Gurun Pasir tanya, hampir berbisik.
"Jangan tanya!" sahut Siau Hou dengan pendek, dengan mata melotot. Ia tunduk akan lihat dadanya yang penuh
darah. Pantas ia merasakan sakit hebat. Sedang suratnya
telah berlepotan darah, basah separuh ... Dengan
mendongkol ia robek-robek suratnya itu.
Hoa Lian Hoan dan See Mo Cie berdiri tertegun, mereka
mengawasi dengan mata mendelong.
Siau Hou lantas ambil pakaiannya, dengan perlahan-
lahan ia bersihkan tubuh dan salin pakaian baru. Ia juga tukar kaus kakinya.
"Lekas pergi belikan aku obat luka dan sebatang golok poktoo!" kemudian ia kasih perintah.
See Mo Cie berikan penyahutannya, ia lantas ngeloyor
keluar. Hoa Lian Hoan membukakan pintu, akan lekas menutup
pula, kemudian ia dekatkan pemimpinnya.
"Apakah ini ada kejadian semalam?" ia tanya dengan perlahan.
Siau Hou goyangkan tangan akan cegah orang menanya
ia. "Sekarang kau harus menjaga dengan hati-hati," ia
hanya pesan. "Ada beberapa orang yang dengan cara diam-diam hendak bikin kita celaka ... "
"Ya, sejak tadi pagi pun ada cerita tersiar luas," kata si Kuda Belang, tetapi dengan perlahan. "Katanya tadi malam di Tangshia, di rumahnya Tek Siau Hong, ada terjadi
keonaran, karena penjahat sudah datang mengganggu
sampai siauyanya mendapat luka dan siau-naynay telah
tempur penjahat ... "
Mendengar ini, Siau Hou terperanjat. Jadi ia sudah
masuk ke rumahnya Tek Siau Hong di mana ia telah keliru
melukai putera orang, bahwa ia telah tempur si nona elok yang sebenarnya ada nona mantu dari orang Boan yang
kenamaan itu. "Itulah perbuatan tak selayaknya dari aku ... " pikir ia, yang jadi menyesal dan masgul. Ia jadi uring-uringan
sendirinya, hingga ia rebahkan pula dirinya.
"Sekarang ini ada dibikin penjagaan keras di dalam dan di luar kota," Hoa Lian Hoan cerita lebih jauh. "Di rumah-rumah makan, di warung teh, ada mata-mata polisi atau
pembesar negeri. Aku pikir, dalam satu-dua hari ini baiklah kita jangan pergi keluar ... "
Siau Hou manggut, ia menghela napas.
Hoa Lian Hoan ternyata pandai bekerja, dengan tidak
disuruh lagi, ia buntal pakaian yang penuh darah, buat
disembunyikan di kolong pembaringan, begitu juga golok
mustika dari looya-nya yang ia sembunyikan di bawah
kasur. Hampir pada waktu itu, pintu ada yang ketok.
Lo Siau Hou berbangkit buat duduk di atas
pembaringan, tetapi Hoa Lian Hoan kasih tanda dengan
tangannya, supaya ia rebah kembali, kemudian hamba yang
setia ini ambil selimut dengan apa ia kerebongi tubuhnya pemimpin itu. Sepasang kaus kaki yang penuh lumpur,
yang diletaki di depan pembaringan, ia tendang masuk ke
kolong pembaringan Sesudah itu baru ia samperi pintu akan dibuka.
Orang yang ketok pintu ada See Mo Cie yang datang
bersama si Saykong muda, dan si Saykong itu ada
menggendol peti di punggungnya. Ia bertindak masuk
sambil tertawa: "Hi hi hi hi! ... "
Siau Hou kaget setelah melihat saykong itu, air mukanya
sampai berubah.
Si Tikus Gurun Pasir samperi looya-nya.
"Tooya ini ada punya obat-obatan yang manjur," ia kata dengan perlahan, "ia ada punya obat buat sembuhkan luka-luka bekas bacokan, selama di Kanglam, ia sudah
sembuhkan banyak orang ... "
Siau Hou tidak jawab orangnya itu, ia hanya awasi si
Saykong. "Berapa lama kau sudah merantau di kalangan kangou?"
ia tanya. Si Saykong lelaki peti obatnya di atas bangku, ia
menghampirkan. "Sedikitnya sudah sepuluh tahun," ia menyahut. "Sudah turun-temurun kita ada jual obat-obatan dengan jalan
merantau. Dalam petiku itu semua ada obat-obatan yang
buatannya menurut pengunjukan leluhur kita."
Siau Hou buka matanya lebih lebar lagi.
"Kau toh mengerti silat?" ia tanya pula.
Saykong itu tertawa pula: "Hi hi hi hi," seraya goyang-goyang kepalanya, hingga ia mirip dengan seekor kunyuk.
"Aku tidak yakinkan ilmu silat," ia menyahut. "Orang dagang sebagai kita tidak perlu dengan ilmu itu. Tapi benar, aku sering obati lukanya orang-orang yang mengerti bugee.
Banyak hiapkek, banyak piausu dan tay-ong juga, yang
pernah undang aku untuk mengobati mereka. Aku punya
obat Poutiat Kimpeng-san dan koyok Seng-liong Wahou
Kou ada sangat tersohor!"
Sementara itu Hoa Lian Hoan sudah tutup pintu pula
dan Siau Hou telah singkap selimutnya yang menutupi
tubuhnya. Ia kasih lihat lukanya bekas piau yang masih
mengeluarkan sedikit darah.
Saykong itu buka peti obatnya akan keluarkan dua
lembar koyok serta sebungkus obat bubuk.
"Kau sering merantau," kata Siau Hou, "apa kau tahu, di kalangan kangou siapa yang bugee-nya paling liehay dan
namanya paling termashur?"
"Bicara tentang ilmu silat," menyahut si Saykong, "siapa juga tak akan ada yang melebihi Kang Lam Hoo, Lie Bou
Pek dan Khau Jie Chiu, itu tiga orang dari golongan tua
dan muda ... "
"Siapa itu Khau Jie Chiu?" Siau Hou tanya sambil bersenyum. "Belum pernah aku dengar namanya. Boleh jadi namanya tidak terkenal dan bugee-nya pun tidak tinggi,
bukan?" Saykong muda itu tertawa nyaring.
"Kalau begitu, kau belum tahu!" ia bilang. "Namanya Khau Jie Chiu ada terkenal sekali! Dia ada siauya dari Tam Jie Wangwee dari Hongyang-hu, ia ada murid kepala dari
Lie Bou Pek! Siapa yang sanggup tandingi ianya?"
Siau Hou pun tertawa.
"Dan apa kau tahu tentang satu orang nama Kho Long
Ciu?" ia tanya.
Saykong itu menggeleng kepala.
"Aku belum pernah dengar," ia jawab.
"Dan apa kau pernah pergi ke Butong San?" Siau Hou tanya pula.
"Ya, aku sudah pernah pergi ke sana," ia menyahut.
"Semua imam di sana, kepandaian bugee-nya, satu jaman tidak sama dengan lain jaman ... "
"Apakah kau tahu bahwa di Sinkiang ada satu Poan
Thian In?" Siau Hou tanya untuk sekian kalinya.
Kembali saykong itu goyang kepala. Ia nyalakan lilin
yang buntung, untuk garang koyok-nya di atas api lilin itu, kemudian ia peluruki obat bubuknya di atas obat pulung
itu. "Apa kau tahu tentang seorang bernama Yo Siau Pa?"
Siau Hou lanjutkan pertanyaannya.
"Ada seorang yang namanya terkenal pada tiga tahun
berselang," sahut saykong itu, "ia telah curi sri baginda punya empat puiuh butir mutiara pilihan, kemudian ia mati di Pooteng-hu. Tapi ia ada Tautoo Siau-thayswee Yo Pa.
Tentang Yo Siau Pa aku belum pernah dengar."
Dalam hatinya, Siau Hou terperanjat, segera juga ia
berduka. Ia telah buka matanya lebar-lebar, mengawasi
saykong itu. "Sesudah Yo Pa menutup mata, di rumahnya ia masih
punyakan siapa lagi sebagai anggauta-anggauta
keluarganya?" ia tanya pula.
Saykong itu sudah mulai siap dengan obatnya.
"Ia mempunyai saudara perempuan," ia menjawab pula.
"Tadi malam ada terjadi onar di rumahnya Thie-ciang Tek ngoya, mantunya dia ini yang bernama Yo Lee Hong
adalah adik perempuan dari Yo Paitu ... "
Bahna kaget, Siau Hou sampai tercengang.
Saykong itu lantas tempelkan koyok-nya yang masih
panas ke dadanya Poan Thian In, di bagian yang luka,
ketika ia menekan, cabang atas dari gurun pasir itu
keluarkan jeritan keras, lantas ia pingsan.
Si saykong sendiri kaget, sampai ia mencelat mundur.
Hoa Lian Hoan dan See Mo Cie lompat pada looya itu,
berulang-ulang mereka memanggil-manggil,
untuk membikin sadar.
"Eh, kenapa tubuhnya begini lemah?" tanya si Saykong, dengan roman heran. "Mustahil ia tidak kuat pertahankan koyok panas" ... "
Hoa Lian Hoan tidak jawab itu pertanyaan, ia hanya
pergi cari kertas, untuk disulut, guna asapnya dipakai
mengasapi pemimpinnya.
See Mo Cie dalam sibuknya masih memanggil-manggil:
"Looya! Looya! Lo toaya!"
Mendengar itu, saykong itu nampaknya terperanjat.
Cepat sekali, Lo Siau Hou telah tersadar, setelah itu, ia ulapkan tangannya, akan usir keluar pada semua orang,
hingga selanjutnya ia berada sendirian di dalam kamarnya itu. Dan lantas ia menangis, mengucurkan air mata
jagoannya. Ia menangis begitu sedih, sesenggukan sebagai seorang perempuan saja.
Sejak itu, Poan Thian In tidak keluar dari kamarnya, ia
tak bernapsu dahar, dan arak ia tak hirup sama sekali.
Nyanyiannya yang terkenal juga ia tidak suka perdengarkan lagi.
Entah obat apa si Saykong Cilik telah berikan, luka piau pada dadanya si Awan di Tengah Langit bukannya jadi
sembuh hanya jadi bengkak, hingga orang kuat ini jadi lebih menderita.
Sementara itu, lewat tiga atau empat hari, cerita di luar tersiar semakin hebat, katanya di dalam kota raja ada
sembunyi satu penjahat besar, bahwa baik dari kantor
teetok, maupun dari kantor giesu, semua ada dikirim orang-orang polisi dan mata-mata untuk membikin penyelidikan,
guna cari orang-orang yang dicuriga.
Kabar lebih jauh adalah bahwa Itto Lianhoa Lau Tay
Po, Sinchio Yo Kian Tong dan Ngojiau-eng Sun Ceng Lee
setiap malam mengitar di dalam kota, di jalan-jalan besar, di gang-gang, untuk cari penjahat yang melukai pada siauya dari keluarga Tek ngoya.
Dari pihaknya Siau Hou, cuma See Mo Cie seorang yang
masih berani keluar, akan selidiki kabaran, guna beli ini dan itu, yang mereka butuhkan. Hoa Lian Hoan mesti sekap
dirinya, karena mukanya ada cacat bekas bacokan golok,
hingga ia gampang membangkitkan kecurigaan orang. Ia
keram diri dengan senantiasa berjudi dengan si saykong
muda, hingga uang persenan dari looya-nya kena dibetot
oleh saykong itu, yang peroleh kemenangan.
Saykong itu bukan melainkan pandai berjudi, ia juga
banyak pendengarannya, luas pengetahuan umumnya.
Hanya tentang dirinya, ia tidak mau omong banyak, hingga Hoa Lian Hoan tak bisa mencari tahu terlebih banyak lagi.
Dalam lukanya dan kedukaannya, hingga ia jadi lesu,
Siau Hou tak lupakan golok mustikanya, yang memakai
gelang-gelangan. Ia menjaga dengan hati-hati, sebab ia tahu
ada orang arah goloknya itu, dan orang itu barangkali


Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tinggal sama-sama dalam satu hotel dengan ia. Hampir
setiap malam ia seperti dengar suara apa-apa di luar
kamarnya. Ia jadi semakinan berhati-hati, karena ia percaya itu orang ada seorang yang berilmu tinggi.
Di lain pihak, ia curigai si Saykong Cilik, yang ia duga ada seorang dari golongan Rimba Hijau, hanya kalau ia
awasi, rasa-rasanya dugaannya ada kurang tepat ...
Hoa Lian Hoan dan See Mo Cie telah dipesan, untuk
bikin penyelidikan, juga dua orang kepercayaan ini sukar mendapat keterangan penting.
Itu malam Siau Hou terus menderita. Luka di dalamnya
ia telah tukar obat tetapi hasilnya tidak ada, lukanya
bertambah bengkak. Sampai jauh malam, ia masih belum
bisa tidur pulas. Betul pada jam dua kira-kira, tiba-tiba ada orang masuk ke dalam kamarnya.
Mendengar tindakan kaki, Siau Hou tahan sakitnya dan
balik tubuhnya, sebelah tangannya segera meraba ke bawah kasur di mana ia sembunyikan golok mustikanya. Ia
pentang matanya, akan awasi orang yang lancang masuk
itu. Cahaya api memperlihatkan orang itu sebagai satu
pemuda yang pakai baju dan kopiah biru, tubuhnya
langsing, tampangnya cakap, tetapi kapan Siau Hou sudah
melihat dengan nyata, ia terperanjat bahna heran dan girang berbareng. Sebab itu orang bukannya satu pemuda hanya
satu pemudi, malah kekasihnya, nona Kiau liong!
"Ah, baru sekarang kau datang?" ia kata dengan tegurannya.
Kiau Liong ulapkan tangannya, pada mukanya yang
cantik, tidak ada senyuman, tidak ada paras kegembiraannya, hanya sikap tenang dan adem. Ia
bertindak mendekati, sambil tunduk ia kasih dengar
suaranya yang keren. Cuma suara itu ada perlahan.
"Apa maksudnya maka kau berdiam di Pakkhia ini?"
demikian pertanyaannya. "Mengapa sampai sekarang ini, kau masih belum mau angkat kaki. Onar apa kau terbitkan
di rumahnya Tek ngoya" Apakah kau tahu yang Yo Lee
Hong itu ada saudara kandungmu" Bahwa orang yang kau
telah bunuh itu adalah moayhu-mu Tek Bun Hiong" Oh,
kau mirip dengan satu penjahat besar! Aku menyesal yang
dahulu aku telah keliru berkenalan denganmu! ... "
Hatinya Siau Hou seperti diiris-iris dengan pisau, ia
bangun dan berduduk. Ia hendak buka mulutnya, untuk
memberikan keterangan, tetapi Giok Kiau Liong telah tidak berikan ketika padanya. Nona ini, dengan gusar, lanjutkan kata-katanya:
"Kalau kau tetap tinggal di sini, sampai beberapa hari lagi, pasti kau bakal ketahuan dan akan ditangkap! Aku
tidak sanggup tolong padamu karena untuk tolong diriku
sendiri, aku tidak berdaya ... Tiga tahun aku telah tunggu kau, aku harap bahwa kau bisa angkat dirimu, siapa nyana, harapan itu buyar seperti asap! Bukannya kau manjat, kau justru merosot turun, setiap hari! Sekarang ayah dan ibuku telah jodohkan aku pada Lou lianlim dari Sunthian-hu, aku tak berdaya akan bantah kehendaknya orang tuaku itu,
maka itu sekarang aku datang kemari, untuk memberitahukan padamu! Dalam hal ini, kau mesti
sesalkan dirimu, yang tak mau peroleh kemajuan, jangan
kau sesalkan aku tak menyinta kau ... "
"Kiau Liong!" kata itu anak muda.
Tapi si nona, dengan tidak kata apa-apa lagi bertindak
keluar dan berlalu.
Siau Hou keluarkan jeritan tertahan, suaranya sedih:
"Kiau Liong! Kiau Liong, adikku! ... "
Si nona dengar itu, ia merandek, ia balik badannya. Ia
rupanya memikir untuk kembali pada pemuda itu. Hampir
di waktu itu tiba-tiba ada satu bayangan, yang dari sebelah belakang ia menubruk padanya, ia lihat serangan itu, ia
segera berkelit.
Gesit laksana monyet adalah si penyerang, yang
bertubuh kecil dan kate. Dengan kedua tangannya, ia
menyambar pula. akan susul serangannya yang pertama,
yang mengenai tempat kosong.
Dengan tidak kalah gesitnya. Kiau Liong berkelit pula,
tangan kanannya dipakai menangkis, selagi kaki kirinya
menggeser ke kiri, kaki kanan-nya terangkat naik dan
melayang, mengenai tubuhnya penyerang itu, yang tak
ampun lagi, terus rubuh.
Dasar gesit, bayangan itu rubuh terguling untuk loncat
bangun pula. Tapi ia berhadapan dengan nona Giok, ia saj na sekali lak dapat hati, karena dengan satu rangsekan, ia kembali kena ditendang, lantaran mana, tubuhnya
terpelanting ke muka tangga, rubuh dan bergelindingan di undakan tangga, dari atas rerus ke bawah!
Habis itu Kiau Liong tak mau berayal lagi, ia berlalu dari lauteng dengan ayun tubuhnya loncat melewati lankan.
Justru ia sampai di bawah, si penyerang, yang sudah loncat bangun, menyambut pula padanya. Dalam keadaan begini,
ia tidak sempat menendang pula, ia berkelit, hingga tidak heran kalau kopiahnya kena kesan sampok jatuh!
Saking sengit, nona Giok segera balas menyerang, tetapi
itu penyerang cilik lompat mundur. Ketika ini digunakan
olehnya, untuk terus loncat ke pintu, buat berlalu dari
rumah penginapan itu.
Tatkala si nona sampai di luar, beberapa orang telah
mendusin dan keluar dari kamar mereka masing-masing.
Tatkala Kiau Liong muncul di muka pitu. disitu ada
berdiri dua orang, satu di antaranya ada memegang api
yang dinyalakan dengan mendadakan, sampai ia kaget dan
matanya silau, lekas-lekas ia lompat minggir.
Di lain pihak, orang yang memegang api itu juga
terperanjat, sampai ia lompat mencelat, sedang dari
mulutnya keluar seruan kaget: "Oh kiranya dia! Selama beberapa hari ini" Aku Lau Tay Po mimpi pun tidak akan
bisa memikir dia!
Berbareng sama kagetnya, Kiau Liong segera menyerang
dengan panah tangannya terhadap orang yang bicara itu,
tetapi dia ini bersama-sama kawannya, yang ia lindungi
segera lari menyingkir ke jurusan barat.
Di dalam rumah penginapan, masih saja terdengar ruara
berisik. Di mana di jalan besar masih ada beberapa toko yang
belum tutup pintu, maka Kiau Liong lantas lari ke arah
timur. Suara kentongan sekarang menandakan jam tiga, kota
Pakkhia telah terbenam dalam tidur yang nyenyak.
Giok Kiau Liong pulang ke gedungnya, ia masuk ke
dalam kamarnya dengan hati tidak tenteram.
Lau Tay Po sementara itu sudah lari jauh ke arah barat.
Ia kabur bersama-sama Lie Seng, kawannya. Memang
hampir setiap malam ia pasang mata di dekat-dekat
hotelnya Lo Siau Hou, apa mau malam itu, ia hadapi itu
kejadian yang ia tidak sangka. Ia lolos dari panah tangan, tetapi kempolannya Lie Seng merasai sebatang, hingga
kawan ini jadi kaget, kesakitan dan kuatir.
"Sudah, sudah, berhenti!" akhir-akhirnya Lie Seng kata.
Ia hampir tidak kuat lari lagi. "Kenapa ia begitu galak, dengan tidak kata apa-apa, ia terus saja menyerang dengan panah?"
"Dia itu adalah si Rase Kecil," Tay Po kasih tahu. "Inilah aku tidak sangka! Pantas nona Jie Siu Lian tak mau kasih tahu padaku, siapa adanya dia. Tentang ini, sekalipun
isteriku, aku tidak boleh kasih tahu. Sekarang, setelah aku ketahui siapa adanya dia, urusan tak sukar untuk
dibereskan!"
Lantas Tay Po ajak sahabatnya pulang ke Coanhin
Piautiam. Di hotelnya Siau Hou, orang bikin banyak berisik sekian
lama, dengan tidak ada hasilnya suatu apa.
Si saykong cilik telah matang biru dan bengkak muka
dan hidungnya, karena ia telah mendapati hajaran, sebab ia jatuh sungsang sumbel dan mesti bergelindingan di undakan tangga, meski demikian, ia toh telah mendapati satu kopiah kecil.
Tuan rumah murka pada saykong ini, yang kepergok
sebelum ia dapat ketika akan lari sembunyi ke dalam
kamarnya. "Pantas dalam beberapa hari ini sering terbit gara-gara di sini, kiranya kau yang main gila!" menuding ia dengan sengit. "Kau bikin semua tetamuku jadi tidak tenteram hatinya! Sekarang lekas kau pergi, aku tidak senang kau
tinggal di sini, atau aku nanti minta polisi bekuk padamu!"
Saykong itu tutupi mukanya yang babak belur, ia
mendongkol, meskipun demikian, ia diam saja.
"Sudah, sudah," kata satu tetamu.
"Sudah, jangan bikin berisik," kata tukang uang. "Biar malam ini ia numpang pula di sini, besok boleh minta dia pergi!"
Tuan rumah itu mencoba tahan sabar.
"Baiklah," ia kata kemudian. Kemudian ia pandang si Saykong. "Aku minta supaya besok kau pindah dari sini.
Tentang hutang persewaan kamar, aku tidak ingin kau
bayar lagi, cukup asal kau tidak terbitkan onar pula! Kau harus ketahui, kita di sini ada orang-orang yang berusaha dengan lurus!"
Masih saja Saykong itu tidak mau banyak omong, ia
kelihatannya bisa dikasih mengerti, karena ia manggut-
manggut. Itu waktu See Mo Cie samperkan looya-nya.
"'Siapa sangka bahwa si Saykong Kecil ada satu
pencuri," ia kasih tahu. "Barusan ia kena dihajar oleh seorang yang telah masuk ke kamar!"
Siau Hou seperti tak dengar itu laporan, dengan mata
mendelong ia mengawasi ke atas, tubuhnya rebah
celentang. Kedua matanya bercahaya merah, sinarnya
begitu menakutkan, hingga si Tikus Gurun Pasir mesti
lekas-lekas undurkan diri.
Tapi setelah itu, hotel jadi sunyi dan senyap.
Besoknya pagi-pagi si Saykong Kecil telah lenyap dari
kamarnya, entah pada jam berapa ia sudah angkat kaki.
Pintu kamarnya tertutup. Hanya di tembok, di tempat yang
nyata sekali, dengan arang, ada ditinggalkan tulisan yang berbunyi sebagai berikut.
"Aku adalah Kanglam Tayhiap Khau-jie-chiu Tam Hui.
Seberlalunya aku nanti, di dalam hotel masih ada orang
jahat, onar masih bisa terbit. Maka itu, aku minta tuan
rumah suka berlaku hati-hati!"
Sementara itu, Siau Hou juga sibuk bukan main, karena
segera ia dapat kenyataan, golok mustikanya, yang ia
umpatkan di bawah kasur, sudah lenyap, hingga ia jadi
sangat gusar dan mendongkol tetapi ia tak bisa berbuat
suatu apa, malah ia tidak berani bikin ribut, sebab ia merasa malu kalau orang ketahui yang ia telah kecurian. Ia pun tak berdaya untuk cari Tam Hui, yang tidak ketahuan di mana
tempat tinggalnya.
"Dia tentu berikan aku obat sembarangan saja!" ia pun pikir, dalam mendongkolnya. "Kalau tidak, kenapa lukaku menjadi bertambah bengkak, bukannya jadi sembuh! ... "
Akhirnya ia perintah See Mo Cie pergi undang lain
thabib, karena ia mengharap lekas sembuh, supaya ia bisa bergerak dengan leluasa, agar ia bisa bekerja akan
selesaikan urusannya sendiri. Di lain pihak, ia perintah Hoa Lian Hoan pergi keluar akan serep-serepi kabar.
Segera juga Siau Hou ketahui yang rombongannya Lau
Tay Po, seperti Yo Kian Tong dan Sun Ceng Lee, telah
mendapat tahu bahwa ia ada berdiam di dalam hotel itu,
terluka dan tak berdaya, kalau tidak, niscaya mereka sudah datang untuk menangkap atau menantang piebu. Meski
demikian, ia sekarang ada sebagai orang tahanan, yang
sedang ditilik atau diamat-amati, hingga adalah sukar untuk ia menyingkirkan diri.
Hoa Lian Hoan dan See Mo Cie jadi berkecil hati apabila
mereka ketahui yang mereka berada dalam ancaman
bahaya, hingga mereka jadi kurang napsu dahar dan tidak
tenteram tidur, mereka harap-harap "looya" mereka lekas sembuh, supaya mereka bisa lantas angkat kaki dari
Pakkhia. Kabar lain, yang bikin Siau Hou gelisah, adalah hal Giok Kiau Liong, bahwa si nona sudah pasti dijodohkan dengan
pemuda dari keluarga Lou, oleh karena ada orang-orang
dengan mulut jahat, yang uwarkan cerita yang tidak-tidak mengenai si nona, antaranya si nona dikatakan sebagai
"Siluman Rase Cilik", maka untuk bikin sirap semua cerita burung itu, katanya hari pernikahannya telah diperlekas, dimajukan sampai lain bulan, di tanggal pertengahan.
Bab 08 Setelah mengundang thabib dan menukar obat, lukanya
Siau Hou menjadi sembuh dengan perlahan-lahan,
melainkan kemendongkolannya yang belum lenyap,
hatinya masih terluka, terutama kapan ia ingat adik
kandungnya, suami siapa ia telah keliru lukai. Bertahun-
tahun ia cari adiknya itu, sesudah sekarang bertemu,
bukannya mereka bicara satu pada lain, sebagai engko dan adik, mereka justru bertempur sebagai musuh-musuh besar, sedang seharusnya mereka berdamai untuk cari jalan akan
cari musuh keluarga mereka, untuk mencari balas!
"Kiau Liong bilang bahwa Bun Hiong telah mati karena luka-lukanya, inilah hebat," ia berpikir pula. "Aku telah bunuh moayhu-ku, hingga karenanya, adikku mesti menjadi
janda selagi usianya masih sangat muda! Apakah ini tidak celaka" Cara bagaimana aku ada muka akan ketemui
adikku itu" Sekalipun aku dihukum picis, hukuman itu
tidak cukup berat akan aku tebus dosaku. Dan ucapannya
Kiau Liong, apa itu bukan ucapan yang memutuskan"
Begini saja janji kita di padang pasir, percintaan kita di padang rumput" Apa benar ia ikhlas akan nikah Lou liehu"
Ia sesalkan aku yang tidak bisa angkat diri, yang tidak
pangku pangkat ... Apakah aku bisa bikin, kalau aku lelah berdaya tetapi daya itu sia-sia saja?"
Siau Hou pun benci betul pada Khau jie-chiu Tam Hui.
"Kenapa ia ganggu aku" Kenapa ia arah golokku dan
sekarang golok itu ia bawa lari?" demikian ia pikir lebih jauh.
Menyesal, berduka dan gusar, itulah perasaan-perasaan
yang mengaduk menjadi satu dalam hatinya Siau Hou. Ia
pikir untuk ketemui Lee Hong, akan utarakan kemenyesalannya dan cari Kiau Liong guna tegur kekasih
itu, akan akhirnya cari Tam Hui buat minta pulang
goloknya, tetapi itu ada keinginan belaka. Lukanya
mencegah ia pikir itu, hingga sia-sia belaka ia mengatur rencana.
"Looya," kata Hoa Lian Hoan dan See Mo Cie, ketika hari itu mereka dekati pemimpin mereka. Mereka pun
bicara seperti berbisik: "Di sini kita tidak bikin apa-apa, kau pun sedang sakit, sedang Giok siocia hendak dinikahkan
pada keluarga Lou, apa tidak baik kita kembali saja ke
Sinkiang?"
Siau Houw goyang kepala.
"Jikalau kau mau pergi, nah, pergilah lebih dahulu!" ia jawab. "Aku nanti kasih ongkos jalan pada kau berdua ... "
"Ongkos tak menjadi soal, looya," kata si Kuda Belang.
"Hanya kau, bagaimana dengan kau" Kau sedang sakit dan di sini keadaan ada berbahaya ... "
Poan Thian In bersenyum mengejek.
"Aku justru mau tunggu dan lihat, bahaya apa yang
mengancam!" ia kata. "Aku mau lihat, apa yang orang berani lakukan terhadap diriku!"
Dua pengikut itu jadi masgul berbareng bingung.
Justru itu di tangga lauteng ada terdengar tindakan kaki yang berisik.
Hoa Lian Hoan loncat ke pintu untuk mengintip. Atau ia
segera kembali dengan muka pucat, romannya ketakutan.
"Dia telah datang, dia telah datang! Lau Tay Po! ... " ia berbisik.
Siau Hou pun terperanjat, tetapi ia bisa tetapkan hati.
"Mari ambil golokku," ia kata.
Si Kuda Belang menurut, ia jumput golok poktoo yang
baru dibeli, yang mana ia letakkan di samping looya-nya, di tutupi dengan selimut.
Siau Hou rebah terus, ia bersikap sebagai sedang tidur
nyenyak. Tatkala itu Lau Tay Po sudah sampai di atas lauteng,
bersama ia ada seorang muka hitam dan berkumis, yang
tubuhnya tinggi. Hoa Lian Hoan tahu, ia ini ada Sinchio
Yo Kian Tong, yang baru kembali dari Yankeng. Di
sebelahnya piausu atau pemilik dari Coanhin Piautiam itu, ada lagi seorang lain yang tubuhnya tinggi dan besar, yang tangannya menyekal sebatang golok besar dan berat. Dan ia ini adalah Ngojiau-eng Sun Ceng Lee, yang baru sembuh
dari lukanya bekas senjatanya Pekgan Holie.
"Sabar," kata Yo Kian Tong pada Sun Ceng Lee, ketika mereka bertindak masuk ke dalam kamarnya Siau Hou
dengan Lau Tay Po yang jalan di depan.
Siau Hou lihat mereka, ia bikin gerakan untuk
berbangkit. "Jangan, jangan bangun," Tay Po mencegah, seraya goyang-goyang tangannya. "Jangan seejie, rebah saja.
Sebenarnya kita mesti

Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

datang siang-siang untuk mengunjungi kau, lauhia, tetapi karena kau sedang sakit, kita tidak berani mengganggu. Tapi sekarang kita tahu
sakitmu sudah mendingan, dari itu hari ini kita datang
padamu. Tentang kejadian di rumahnya Tek ngoya, kau
jangan pikirkan lagi. Tek siauya kena kau lukai, tetapi
lukanya tidak seberapa hebat. Tek ngoya ada seorang sabar dan baik hati, ia lebih suka orang perhina ia daripada ia menghina orang, dari itu, kejadian tersebut ia tak tarik panjang. Malah ia dan isterinya sudah bujuki anak dan
nona mantu mereka untuk tinggal sabar ... "
Hatinya Siau Hou lega akan dengar keterangan itu. Jadi
kabar yang Kiau Liong bawa adalah kabar angin saja. Atau ia telah keliru dengar ucapannya kekasih itu. Tapi meskipun demikian, ia tetap menyesal dan merasa malu sendirinya.
Tay Po bicara terus selagi orang berdiam.
"Kita bertiga datang bukan buat lain urusan, hanya ... "
kata Itto Lianhoa. Ia merandek, karena ia segera awasi Hoa Lian Hoan dan See Mo Cie, pada siapa ia terus berkata:
"Jiwie, sukakah kau undurkan diri sebentaran" Aku hendak bicarakan urusan perseorangan dengan Lo toako ini. Kau
berdua jangan kuatir, kita tidak akan bertempur. Kita tidak bermaksud mengganggu Lo toako, kalau kita berpikir
demikian, kita tidak akan tunggu sampai ini hari untuk
datang kemari ... "
Kedua pengikut itu awasi looya mereka. Mereka
kuatirkan bahaya, tetapi dalam keadaan mendesak, mereka
tidak takut, malah mereka sudah bersedia akan adu jiwa.
Mereka hanya mau dengar titah pemimpin mereka.
"Looya ... " tanya Hoa Lian Hoan.
"Pergilah kau keluar," Siau Hou bilang.
Dengan bersangsi, dua kawan ini keluar dari kamar.
Sun Ceng Lee berdiri tegak dengan goloknya di tangan,
kedua matanya yang besar dibuka lebar-lebar mengawasi
Lo Siau Hou. Yo Kian Tong berdiri menghalangi di depannya si
Garuda Berkuku Lima ini, ia kuatir orang menyerang dan
ia hendak mencegah. Di lain pihak, ia pun memasang mata
terhadap orang yang sedang rebah itu.
Lau Tay Po maju mendekati satu tindak.
"Kita tahu yang kau datang dari Sinkiang," ia mulai berkata pula. "Kau sering pergi ke depan gedungnya Giok teetok di mana kau mondar-mandir, sedang Giok siocia,
dengan menyamar sebagai seorang lelaki, pernah datang
pada kau di sini. Kita tahu, di antara kau dan Giok siocia, mesti ada persahabatan kekal. Dan Pekgan Holie Kheng
Liok Nio, yang baru ini mati, aku percaya, semasa di
Sinkiang, kau pun tentu kenal, malah boleh jadi, dia adalah sahabatmu juga. Dan urusan ini ada besar kepentingannya
dengan urusan pernikahan dari Giok siocia ... "
Nyata sekali kelihatan Siau Hou ada terperanjat.
"Perkara yang sudah lewat, tetap lewat, berikut
urusannya Giok siocia," kata Lau Tay Po pula. "Kita ada sahabat-sahabat dari kalangan kangou, aku ingin kita bicara secara sahabat-sahabat juga. Lo toako, kau suka mengalah, maka kita juga tak ingin mendesak kau. Anggaplah
pertempuran kita ada pertempuran untuk belajar kenal,
sebagai tanda menghormat di antara kita kedua pihak.
Selanjutnya pun, harap kita tetap jadi sahabat-sahabat, yang bisa saling menolong ... Hanya sekarang, selagi kau sudah mulai sembuh, aku minta sukalah toako bicara terus terang pada kita. Sebenarnya, ada hubungannya apa di antara kau dan Giok siocia" Apa kau ada suheng dan sumoay atau
sahabat saja" Atau kau berdua ada punya perhubungan lain yang terlebih kekal pula" Dan, bugee dari Giok Kiau Liong, siapakah yang ajarkan" Bagaimana duduknya maka Pekgan
Holie bisa nyelundup masuk ke dalam rumah keluarga
Giok" Tentang Giok Kiau Liong pandai bugee dan di
rumahnya ada mengeram perempuan jahat itu, Giok tayjin
sendiri ketahui atau tidak" Asal kau bicara, toako, asal itu ada keterangan yang sebenarnya, lantas kita bertiga hendak undurkan diri pula, kita akan berterima kasih padamu, tidak nanti kita mau ganggu pada kau ... "
Tay Po bicara dengan perlahan dan sabar, sikapnya
manis. Mendengar kata-kata itu Siau Hou bersenyum. Ia
berpikir tidak lama, lalu ia berikan jawabannya.
"Apa yang kau tanyakan, aku telah mengerti," ia menyahut. "Tentang Giok Kiau Liong, aku tak tahu dengan jelas. Terutama tentang Pekgan Holie, aku tak tahu sama
sekali!" Tay Po melengak kapan ia dengar jawaban getas itu.
Sun Ceng Lee tidak puas dengan itu jawaban, ia tolak Yo
Kian Tong ke samping dan berlompat maju, goloknya
diayun, dipakai menyerang.
Siau Hou senantiasa waspada, ia bisa lantas lihat
gerakannya Ngojiau-eng, maka waktu orang lompat maju,
ia pun loncat bangun, tatkala golok sampai, ia menangkis dengan goloknya.
Kedua senjata beradu dengan keras.
Yo Kian Tong cepat maju, akan betot tangan kawannya,
yang ia terus tarik ke luar.
Baiknya Siau Hou tidak menyerang, kalau tidak, ada
sukar akan pisahkan mereka.
Tay Po maju ke depannya Poan Thian In, tangannya
diulapkan berulang-ulang.
"Jangan, jangan berkelahi," ia kata. "Marilah kita bicara secara baik-baik ... "
"Tetapi, dialah yang bokong aku!" jawab Siau Hou dengan sengit. "Kau datang di saat aku belum sembuh, ini ada bukti bahwa kau datang bukan dengan maksud baik!
Sekarang aku kasih tahu, aku dan Giok Kiau Liong
memang kenal satu pada lain, hanya tentang Pekgan Holie, aku tak tahu, aku tidak kenal padanya!"
Tay Po manggut.
"Keteranganmu ini pun sudah cukup!" ia kata. "Karena kau kenal Giok Kiau Liong sekarang aku hendak minta
pertolonganmu. Ialah justru sekarang ia belum menjadi
nyonya tiehu, tolong kau cari ia buat undang padanya
untuk kita bikin pertemuan rahasia, untuk kita bicarakah urusan di antara kita. Mengertilah kau, bukannya
maksudku akan mohon bantuanmu untuk angkat kita.
Sebenarnya, di antara
kita, sudah ada semacam
persahabatan selama setengah tahun. Mertuaku telah binasa di tangannya si nona, ia pun beberapa kali telah berkunjung ke gubuk kita, malah paha istenku ia pernah persenkan
sebatang panah. Kita pernah bertemu di rumahnya Tek
ngoya, di tanganku ada tulisan tangannya sendiri. Atau
tegasnya, meski sudah setengah tahun kita berhadapan
sebagai musuh-musuh, perhubungan kita sebetulnya ada
rapat sekali. Lagi dua-tiga hari, nona itu bakal jadi satu nyonya yang terhormat, dari itu, aku ingin, selagi ia belum naik atas joli terpajangnya yang indah, biar bagaimana, kita harus mengadakan pertemuan, untuk berbicara, supaya kita bisa rundingkan dan selesaikan semua urusan di antara kita, agar semua menjadi terang, supaya di belakang hari tidak timbul lagi akibat-akibat lainnya karenanya. Kita tidak bisa injak gedungnya Giok teetok, itulah sebabnya, toako,
kenapa kita datang pada kau, guna minta perantaraan kau
ini. Tentang tempat pertemuan, biar si nona yang pilih dan tetapkan sendiri. Baiklah pada si nona ditegaskan untuk ia bertetap hati, karena kita tidak bermaksud jahat. Umpama kata kita ada pikir sebaliknya, kau lihat sendiri, kita ada berjumlah besar. Umpama kata kita tidak memandang-mandang, ada gampang sekali buat kita bongkar dan beber
rahasianya. Apabila kita menguarkan cerita, meskipun
boleh jadi si nona tidak bakal digusur ke kantor ayahnya, untuk bikin perhitungan, sedikitnya besok atau lusa, pasti ia tak akan bisa naik joli pengamennya!"
Siau Hou letaki goloknya, beberapa kali ia goyang
kepala, ia menghela napas.
"Kau tidak ketahui bahwa sebenarnya bagiku pun ada
sangat sukar akan ketemui nona itu," Ia kasih tahu. "Seperti kau ketahui itu malam, dengan satroni rumahnya, aku
hendak coba ketemui ia, tetapi, apakah perlunya kau
rintangi aku" Malah kau telah hajar aku dengan sebatang
piau!" "Kejadian itu malam ada kekeliruanku!" Tay Po lekas aku. "Tapi ... Ah, sudahlah! Tolong kasih tahu aku, dengan menyamar sebagai lelaki, Kiau Liong datang cari kau, buat apakah itu?"
"Ia hendak bicara padaku!" Siau Hou jawab. "Kita bicara sedikit saja."
"Apakah itu yang dibicarakan. Apa toako suka mengasih tahu?" Tay Po tanya.
Siau Hou menggeleng kepala.
"Menyesal, aku tak bisa beritahukan," ia menjawab. "Itu ada urusan perseorangan dari kita, dengan kau tidak ada
sangkutannya!"
Air mukanya Lau Tay Po berubah.
Itu waktu Yo Kian Tong bertindak masuk pula, bersama
Sun Ceng Lee. Yang belakangan ini masih saja gusar,
mukanya merah, matanya terbuka lebar, dengan cekal
goloknya, yang ia pakai tuding Siau Hou, ia kata dengan
nyaring: "Buat apa ngobrol saja dengan binatang ini"
Gusurlah ia keluar dan bunuh padanya, guna lampiaskan
kemendongkolannya Tek ngoko!"
Yo Kian Tong hadangi lagi kawan itu, yang adatnya
berangasan. Lau Tay Po tidak cegah itu kawan, hanya dengan air
muka sungguh-sungguh, ia pandang Poan Thian In.
"Sahabat she Lo, sampai ini waktu, sebenarnya kita telah unjuk penghargaan kita terhadap kau!" demikian ia kata.
"Mengapa kau tidak mau bicara terus terang?"
"Apa lagi yang aku mesti bilang?" Siau Hou jawab. "Aku tidak mendusta terhadap kau! Gurunya Giok Kiau Liong
adalah Kho Long Ciu, ada sedikit sekali orang yang ketahui yang ia ada pandai silat. Pelajarannya Giok Kiau Liong
kebanyakan didapat dari dua jilid kitab, dan kabarnya kitab karangannya Kang Lam Hoo!"
Tay Po kaget, sampai air mukanya berubah menjadi
pucat, sedang Yo Kian Tong juga tidak kurang
terperanjatnya. Cuma Sun Ceng Lu yang tidak keder
dengan itu macam keterangan.
"Janganlah sebut-sebut Kang Lam Hoo untuk takut-
takutkan kita!" ia kata dengan sengit, sambil ia cekal keras goloknya, kedua matanya melotot.
"Buat apa aku takut-takuti kau dengan pakai namanya lain orang?" Siau Hou kata, dengan tidak kurang sengitnya.
"Ini adalah apa yang aku tahu dan ini aku terangkan pada kau. Baiklah kau keiahui, jangan sekali kau pandang tidak mata pada Giok Kiau Liong! Jangan kau pandang enteng
sebab ia ada seorang perempuan! Tentang ilmu silat,
sekalipun kau bertiga, kau masih bukan tandingannya!"
Yo Kian Tong merasa terhina, ia menjadi gusar.
Lo Siau Hou tidak pedulikan orang gusar atau
mendongkol, ia melanjutkan:
"Tentang ilmu silatku, kecuali dalam halnya golok dan tombak, aku pun harus menyerah terhadap dia, tetapi meski demikian, aku tidak takuti kau! Dan jikalau aku takut
padamu, niscaya sudah sedari siang-siang aku angkat kaki dari sini! Sekarang aku hendak jelaskan, selanjutnya
terserah padamu, kau hendak hadapi aku satu dengan satu
atau kau turun tangan dengan berbareng!"
Sun Ceng Lee tepuk dadanya.
"Mari, mari kau keluar!" ia menantang. "Mari kita bertempur satu dengan satu!"
Tapi Lau Tay Po melintang di depan kawannya itu.
Lo Siau Hou duduk atas pembaringannya.
"Sekarang aku hendak minta pertolonganmu untuk
disampaikan pada Tek ngoya," ia kata. "Sebenarnya aku tidak tahu bahwa pemuda itu ada puteranya, malah
bukanlah maksudku akan lukai puteranya itu. Ketika
kemarin ini aku dengar kabar puteranya binasa, aku kaget bukan main, aku sangat menyesal, sampai aku hendak
habiskan jiwaku. Begitulah, sampai ini hari aku sengaja
belum mau pergi, karena aku hendak sediakan jiwaku, guna ganti jiwa puteranya Tek ngoya itu. Tapi sekarang,
mendengar puteranya tidak binasa, hatiku lega sedikit.
Maka itu tolong kau sampaikan pada Tek ngoya, bahwa
aku bersyukur untuk puteranya itu, buat sikapnya yang tak akan tarik perkara menjadi panjang. Satu waktu aku Lo
Siau Hou akan kunjungi Tek ngoya, untuk memberi hormat
dan akui kesalahanku!"
Mendengar ini, Tay Po menjadi heran, begitupun Yo
Kian Tong dan Sun Ceng Lee.
"Jadilah kau kenal Tek ngoya?" mereka tanya.
"Bagaimana itu mulanya?"
Akan tetapi Lo Siau Hou goyang kepala.
"Sebenarnya, aku tidak kenal Tek ngoya," ia kasih tahu.
Ia menghela napas, ia lantas berdiam.
Lau Tay Po awasi Yo Kian Tong siapa pun balik
mengawasi padanya. Ia datang kemari melulu untuk cari
tahu halnya Giok Kiau Liong, nyata hasilnya tidak
memuaskan. Ia lantas kedipi mata pada kawannya itu,
kemudian sambil angkat kedua tangannya terhadap Lo Siau
Hou, ia kata: "Maaf, kita telah ganggu kau! Sampai ketemu pula!"
Lantas bertiga mereka keluar dari kamar, suara tindakan
mereka yang berat dan berisik terdengar di tangga lauteng.
Siau Hou duduk dengan bengong di atas pembaringannya, tetapi ia girang mengetahui Bun Hiong
tidak binasa. Hanya, kalau ia ingat yang Kiau Liong bakal
menikah dengan lain orang, hatinya panas. Hampir ia
lompat mencelat, sedang giginya ia kertek.
"Baik, Kiau Liong, baik! Kau telah ubah hatimu! Lusa kau akan menikah! Aku tahu apa yang aku mesti lakukan!"
Tidak antara lama, Hoa Lian Hoan dan See Mo Cie
nyelusup masuk.
"Bagaimana barusan?" mereka tanya. "Apa maunya Lau Tay Po?"
"Mereka semua ada bangsa hoohan," sahut Siau Hou.
"Mereka datang untuk bersahabat, lain tidak. Baik kau jangan banyak tanya. Ambilkanlah aku kertas, aku hendak
tulis surat."
See Mo Cie berlalu dengan cepat, sedang Hoa Lian
Hoan lantas menggosok bak.
Si Tikus Gurun Pasir balik dengan lekas, dengan kertas
dan sampul. Dengan minta dibantu, Siau Hou pergi ke meja, akan
berduduk, kemudian ia minta dua pengiringnya undurkan
diri. Ia bongkoki tubuh, dengan menahan sakitnya. Selama menulis, ia ada sangat berduka.
Yang terhormat,
Tek siau-naynay, norut Yo Lee Hong.
Kemarin ini aku telah terbitkan onar di gedungmu itu
ada perbuatan sangat tidak selayaknya. Tapi perbuatanku
ini bukan dengan maksud jahat, aku hanya hendak mohon
pertolongan kau. Aku tidak nyana, karena kesalahan turun tangan, aku telah kena lukai suamimu. Kejadian ini bikin aku sangat menyesal.
Aku ada orang she Yo, asal dari Lulam, Hoolam.
Tentang asal-usulku, aku sendiri tidak tahu jelas, hanya
mengenai aku, atau keluargaku, Kho Long Ciu pernah
tinggalkan syairnya.
(Di sini Siau Hou tulis syairnya itu, sampai di bagian
kedua saudaranya perempuan, Eng dan Hong).
Kho Injin kasih tahu padaku, bahwa kita, sekalian
saudaraku dan aku, akan saling mengenalnya karena
bunyinya syair itu. Maka aku percaya, kau pun tentunya
bisa nyanyikan syair itu.
Aku dengar kau ada punya engko bernama Yo Pa, yang
telah meninggal dunia. Dia itu sebenarnya ada saudaraku, maka itu, kau sendiri jadinya ada adik kandungku. Aku
adalah engko-mu yang sulung. Sebenarnya aku niat ketemui kau, supaya kita bisa bertemu, berkumpul dan bicara
banyak, apa mau telah terjadi itu kejadian di waktu malam, hingga aku jadi malu akan datang pula ke rumah keluarga
Tek. Sekarang ini aku sedang hadapi soal sulit, oleh
karenanya, lusa barangkali aku bakal binasa. Tapi sakit hati ayah dan ibu kita masih belum terbalas, jikalau sekarang aku mati, aku akan jadi satu anak yang berdosa.
Ketika itu malam kita telah bertempur karena salah
mengerti, aku dapat kenyataan bahwa bugee-mu ada
sempurna, kau ada melebihi aku, maka kalau kau bisa
mendapati bantuannya Tek ngoya, Yo Kian Tong dan yang
lain-lain, kau tentu bisa balaskan sakit hati kita.
Musuh kita ada searang she Ho, sayang namanya aku
tidak dapat tahu. Buat cari keterangan, kau bisa kirim orang ke Lulam. Di Lulam ada tukang warung arak nama Lo Loo
Sit. Dia adalah engkong luar kita. Engkong kita ini ada
punya sanak dekat, yang barangkali ketahui tentang musuh kita itu.
Kho injin ada punya satu engko kandung, namanya Bou
Cun. Dia ini adalah yang ketahui duduknya perkara dengan jelas. Kho injin sudah menutup mata, engko-nya itu barang kali masih hidup.
Ringkasnya, urusan membalas sakit hati ini aku serahkan
pada kau, karena aku sudah tidak punya kelebihan tenaga, untuk urus itu. Besok atau lusa, di dalam kota raja ini, aku bakal terbitkan satu kejadian yang akan mengejutkan
umum, jiwaku tentulah akan binasa sebagai akibatnya.
Dunia suram-guram,aku sudah tak berdaya, sambil
mengucurkan air mata, aku tulis suratku ini, aku tidak bisa menulis lebih banyak pula, maka, adikku, terimalah,
Hormatnya kandamu,
Lo Siau Hou. Dengan sebenarnya, sehabisnya menulis, air matanya
Siau Hou turun deras sekali. Ia lipat suratnya dan
masukkan ke dalam sampul, di atas mana ia menulis
alamatnya: "Dihaturkan kepada Tek siau-naynay Yo Lee Hong". Setelah itu, dengan perlahan-lahan ia kembali ke pembaringannya, akan rebahkan diri, untuk beristirahat.
Itu sore, sehabisnya bersantap, Siau Hou berbangkit,
akan dandan. Dadanya dilibat kuat, untuk mana ia mesti
menahan rasa sakit yang hebat. Ia keluar dari hotel, ia
suruh See Mo Cie siapkan kudanya, dengan menunggang
kuda, ia berangkat masuk ke dalam kota.
Pada jam satu, seluruh kota masih ramai, begitupun jalan besar di Tangshia, Kota Timur. Cuma di Samtiau Hoo-tong, keadaan sudah sunyi. Pintu pekarangan dari
gedungnya keluarga Tek pun ada tertutup rapat, terkunci
keras. Siau Hou hampirkan pintu, di situ ia turun dari kudanya.
Ia melihat ke sekitarnya, di mana tidak ada lain orang. Ia keluarkan suratnya dari dalam sakunya, terus ia poloskan itu di celah-celah daun pintu, kemudian ia naik pula atas kudanya, buat berlalu dari Samtiau Hoo-tong. Ia tadinya
niat pergi ke Koulau Barat, tapi ia rasakan dadanya


Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sakitnya tambah hebat, maka justru ia pun kuatir nanti
kemalaman dan pintu kota keburu ditutup, ia batalkan
niatannya itu. Beda daripada biasanya, sekarang ini ia tidak mau panjat tembok kota.
Kuda dilarikan ke arah selatan, baru ia lari sejurus, lantas kuda itu ia tahan pula, untuk dikasih jalan perlahan-lahan.
Laratnya kuda bikin ia bertambah sakit. Dengan jalan
perlahan, ia pun bisa dapat mengaso. Baru ia keluar dari Cianmui, See Mo Cie sudah muncul, lari menghampirkan
padanya, untuk pegang les kuda. Hamba ini lantas kata,
dengan suara perlahan:
"Tadi Lau Tay Po dan si orang tinggi besar yang
bersenjata golok jalan mundar-mandir di depan rumah
penginapan kita ... "
Buat sesaat, Siau Hou terkejut, tapi ia tenang pula
dengan segera. "Jangan takut!" ia bilang. "Mereka tentu ingin cari tahu tentang gerak-gerik kita. Asal kau berhati-hati dan tidak terbitkan gara-gara, mereka tentu tidak akan berbuat apa-apa terhadap kita. Kau sabar dahulu, asal urusanku sudah selesai, aku nanti tetapkan lagi, kita berangkat atau tinggal tetap di sini!"
Mereka sampai di depan hotel, Siau Hou turun dari
kudanya, selagi See Mo Cie urus kudanya, ia masuk ke
dalam Ia naik di undakan tangga dengan berpegangan pada
tangga. Lauteng ada gelap, di matanya seperti juga di sana
ada si Saykong Kecil sedang mendekam, maka juga ia
berlaku hati-hati, matanya dibuka, kakinya bertindak
dengan tetap. Ia pun masuk ke dalam kamarnya dengan
tidak kurang hati-hati, sesampainya di dalam, baru ia
menghela napas lega.
Ketika api telah dinyalakan, pemuda ini berdiri bengong
untuk sesaat. "Surat aku telah kirim, adikku tentulah ketahui segala apa ... " demikian ia pikir. "Dia pasti tak akan bisa kirim orang datang padaku, atau kalau toh ia kirim orang, aku
boleh menyangkal. Besok aku tinggal pula satu hari di sini, lantas lusa, di depan gedungnya Giok teetok aku akan bikin onar. Lou hanlim tentu datang akan papak pengantennya,
Giok Kiau Liong pasti akan nak joli, maka itu waktu, aku nanti menyerbu di antara orang banyak, akan bunuh
mereka semua, kemudian aku nanti kabur! Kalau aku gagal
dan binasa di sini, aku puas, dan bila aku berhasil, aku puas juga, semua ada harganya untuk aku lampiaskan
kemendongkolanku ... "
Lalu ia teriaki Hoa Lian Hoan, akan minta arak. Dengan
duduk di kursi, dengan separuh tubuhnya ditunjang oleh
meja, kemudian ia tenggak air kata-kata, beruntun sampai beberapa cangkir. Susu macan ini bikin ia rasakan tubuhnya panas dan kepalanya pusing atau berat. Kemudian lagi,
sambil dengan tangannya mengetok-ngetok meja, ia
nyanyikan nyanyiannya yang terkenal.
"Dahulu Kho injin ajarkan aku nyanyian guna anjurkan aku sendiri mencari balas," ia berpikir, "bukanlah maksudnya buat aku berkorban untuk seorang perempuan,
tetapi sekarang, apa boleh buat ... Dengan tak ambil
tindakan, sebagaimana aku sudah pikir, hatiku panas tak
akan bisa terlampias, dengan tidak selesaikan urusan ini, sekalipun aku masih hidup, aku toh tidak bisa lakukan yang
lain lagi ... Duapuluh tahun aku kesasar di kalangan Rimba Hijau, sampai hari kemudianku terpendam, sekarang
karena keliru kenal Giok Kiau Liong aku jadi putus daya
begini macam ... Kesembronoanku bikin aku tempur
adikku, sampai aku lupakan moayhu-ku, hingga aku malu
menemui keluarga Tek, dan membikin aku tak ada muka
akan melihat adikku ... "
Siau Hou menyesal, ia sesalkan dirinya, sampai hampir
dengan goloknya ia hendak bunuh diri.
Ia tenggak pula araknya. Ia menyanyi pula nyanyiannya.
Sampai mendekati terang tanah, baru ia merasa sangat lelah dan ngantuk, kepalanya sangat berat, karena pengaruhnya
susu macan. Maka ia letaki kepalanya di atas meja di mana segera juga ia tidur kepulasan. Api lilin padam sendirinya, lilin yang lumer sampai mengalir mengenai rambut
kepalanya, ia tak tahu atau merasa ...
Besoknya pagi, Hoa Lian Hoan dan See Mo Cie muncul
di dalam kamar, looya itu masih belum mendusin. Ketika
mereka mencoba buat tolongi looya ini pindah rebah di
pembaringan, mereka melulu bikin si looya sadar dengan
mabuknya belum hilang.
"Giok Kiau Liong, celaka kau!" Siau Hou memaki dalam lupa daratannya, sedang kakinya terangkat naik dengan
tiba-tiba, hingga sambil menjerit, Hoa Lian Hoan roboh
terguling ke kolong meja ...
"Looya, bangun!" See Mo Cie memanggil. "Looya, bangun! ... "
Baru setelah dikasih bangun berulang-ulang, Siau Hou
mendusin. Ia malah merasa bahwa ia telah keliru
mendupak si Kuda Belang.
"Apakah tidak ada orang cari aku?" ia tanya.
"Begini pagi, siapa yang datang mencari?" si Tikus balik menanya.
"Dalam peti uang masih ada berapa lagi uang kita?"
kemudian Siau Hou tanyakan hartanya.
"Aku tidak hitung itu," sahut See Mo Cie. "Sama sekali berikut uang kertas barangkali masih ada seribu tail lebih, belum terhitung uang emasnya ... "
"Keluarkanlah semua uang itu," menitah si looya. "Pergi kau tanya tuan rumah, apa di sini ada tetamu-tetamu
melarat, yang tak punya ongkos untuk mereka pulang ke
kampung asalnya, kalau ada, berikanlah mereka uang,
supaya mereka bisa pulang! Tanya juga, keluarga siapa
yang ada demikian sengsara, hingga mereka hendak jual
anak-anaknya, kalau ada, tolong juga mereka, supaya anak-anak dan orang tua tetap tinggal berkumpul sama-sama!
Kemudian, pergilah kau ke jalan-jalan besar, cari itu segala pengemis, berikan mereka seorang sepuluh tail perak!"
See Mo Cie menjadi heran.
"Looya, mengapa kau hendak beramal sampai begini?"
tanya ia. Siau Hou tidak menyahut, hanya ia berteriak: "Hoa Lian Hoan!"
Si Kuda Belang masih rebah di kolong pembaringan, ia
dengar suara dari kemurkaan itu, ia lekas-lekas merayap
keluar. "Ada apa, looya?" ia tanya.
"Lekas kau naik kuda dan pergi ke Koulau Barat, ke
gedungnya keluarga Giok," si looya menitah. "Kau mesti lihat, ada terjadi apa di sana! Umpama ada orang yang
datang memapak pengantin, kau mesti lekas kembali akan
kasih kabar padaku!"
Hoa Lian Hoan berikan penyahutannya, lantas ia
undurkan diri. "Mari tidur, looya," kata See Mo Cie, yang terus pimpin pemimpin itu, buat dipepayang ke pembaringannya.
Siau Hou rebah dengan meramkan mata, napasnya
memburu, ia seperti lagi tidur mengorok.
Berselang lama juga, Hoa Lian Hoan datang masuk
sambil berlari-lari, kepalanya mandi keringat, napasnya
sengal-sengal. "Looya!" ia berseru, begitu ia nongol di muka pintu.
Siau Hou buka matanya lebar-lebar.
"Bagaimana?" ia tanya dengan cepat, suaranya keras.
"Begitu aku sampai di Koulau Barat, di depan rumahnya Giok teetok, aku lihat caykie sudah dipasang!" kata pengikut ini sambil gerakkan tangan dan kakinya, akan
mempeta-petakan. Ia nampaknya ada gembira.
Akan tetapi Siau Hou perdengarkan suara menghina.
"Hm, hm!" Beberapa kali kepalanya manggut-manggut.
"Di dalam pekarangan rumah telah didirikan teratap
yang melebihi tingginya gedung," Hoa Lian Hoan menutur pula.
Mendengar itu, Siau Hou kertek giginya.
"Besok Giok Kiau Liong siocia akan menikah," si Kuda Belang melanjutkan keterangannya. "Pasti besok akan ramai benar di Koulau Barat ... "
"Celaka!" tiba-tiba Siau Hou berteriak, dengan kakinya dikasih kerja, hingga sekarang datang gilirannya See Mo
Cie yang berada di dekatnya, kena didupak sampai
terpelanting. Selagi sahabatnya meringis, Hoa Lian Hoan dekati
looya-nya itu. "Buat apa kita tinggal lama-lama di sini?" ia kata dengan perlahan. "Kenapa kita mesti ladeni segala mereka itu"
Luka looya sembuh banyak, baiklah besok kita berangkat,
umpama looya tak mau kembali ke Sinkiang, kita boleh
pergi ke lain tempat! Di sana masih banyak lain orang
perempuan yang cantik!"
Siau Hou kerutkan alisnya, ia gebrik dua pengikutnya itu keluar dari Lamar, kemudian seorang diri, ia banting-banting kakinya, tumbuki dengkulnya, akan umbar keluar
amarahnya. "Biarlah Lou hanlim papak pengantinnya hari ini,
supaya aku bisa segera bunuh mereka!" ia kata dalam hatinya.
Bukan main sukarnya untuk Siau Hou lewatkan hari itu,
sang malam juga. Satu hari rasanya ada sebagai satu tahun.
Di waktu malam ia pun sukar bisa tidur. Toh ia minum
arak pula, ia nyanyikan pula nyanyiannya, yang ia tak ingat semuanya, ia terus minum dan nyanyi, sampai ia pusing
benar-benar, setelah ia rebahkan diri, tidak lama, ia jatuh pulas.
Demikian sang malam dilewati.
Besoknya pagi, sha-gwee cap-it, angin timur ada
memberi hawa hangat, langit terang, suasana pun jernih.
Awan putih yang melayang-layang bagaikan bunga saja. Itu adalah hari yang baik. Sejak pagi-pagi sudah lewat dua
rombongan orang-orang yang hendak sambut pengantin,
lewat di depan rumah penginapan.
Itu adalah hari penghabisan, hari yang ditunggu-tunggu
... Luar biasa adalah sikapnya Lo Siau Hou. Sejak pagi-pagi
bangun ia ada tenang sekali. Melainkan air mukanya yang
tertampak suram dan guram, kedua matanya diam tetapi
bersinar. Siapa lihat sinar mata itu, tentu akan merasa jeri.
Ia seperti telah melupakan dadanya yang sakit. Ia
nampaknya ada sangat bersemangat.
See Mo Cie telah pergi cari tukang cukur buat cukuri
muka looya-nya hingga bersih, setelah mana ia membantui
salin pakaian: baju dan celana biru yang ringkas, yang di luar dilapis dengan baju merah tua, lalu dilapis pula dengan makwa hijau.
Hoa Lian Hoan telah tukarkan sepatunya Siau Hou
dengan yang baru.
Dengan dandanan ini, Siau Hou mirip dengan seorang
yang mau pergi kondangan, sebab pakaian dalamnya ada
tertutup oleh pakaian luar. Kemudian baru ia gosok
goloknya, sampai tajam dan mengkilap, sedang panah
mungilnya, ia siapkan sebanyak tigapuluh batang lebih.
"Lekas siapkan kuda," See Mo Cie diperintah.
"Hari ini kembali kau yang harus ikut aku," Siau Hou kata pada si Kuda Belang. "Kau bawa golokku dan tuntun kuda, kau tetap mesti menunggui di depan Koulau. Jangan
takut! Apa yang akan terjadi, masih belum bisa diduga.
Mungkin karena pekerjaanku ini aku kena ditangkap dan
mungkin aku dapat meloloskan diri. Hanya kau harus ingat, jikalau aku terbinasa, kau mesti segera kabur, tentang
mayatku, kau jangan pedulikan! Tapi andaikata aku bisa
lolos, itulah lebih baik lagi, kita tentu akan bisa menyingkir sama-sama. Atau bila kita berpisahan, kita mesti bertemu pula di Lulam!"
Itu adalah pesanan yang tegas dan terang, mukanya Hoa
Lian Hoan menjadi pucat, kedua kakinya bergemetaran,
tetapi Siau Hou dengan tindakan tetap, dengan sikap gagah, keluar dari kamarnya, turun di undakan tangga, maka
pengiring ini terpaksa ikuti padanya, dengan bawa goloknya yang tersimpan dalam sarung.
Di muka hotel, See Mo Cie sudah siap dengan kudanya,
dua ekor. Hoa Lian Hoan cantel golok di kuda bulu merah sepah.
Dengan tidak banyak omong, Siau Hou loncat naik atas
kudanya, setelah gunakan cambuknya, ia lantas kasih
binatang itu berlari-lari, sedikit pun ia tidak menoleh lagi ke belakang.
Hoa Lian Hoan bicara sedikit pada si Tikus Gurun Pasir,
sesudah itu, ia pun loncat naik atas kudanya menyusul
looya-nya, maka kedua kuda, satu di depan dan satu di
belakang, congklang di antara jalanan yang berbatu, hingga tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di Cianmui.
Begitu masuk ke dalam kota, jalanan lantas jadi berbeda
dengan jalanan di Lamshia, Kota Selatan. Di sini, kereta dan orang yang berlalu-lintas ada sedikit. Maka berdua bisa kasih kuda mereka lari keras.
Dengan dandanannya itu, Lo Siau Hou pun mirip
dengan satu pembesar, Hoa Han Hoan mirip dengan satu
hamba, dari itu, di tengah jalan, orang selalu lekas-lekas minggir buat mereka ini.
Tidak perlu banyak tempo digunakan untuk mereka ini
sampai di Koulau Depan. Di situ lantas kelihatan banyak
kereta dan joli, yang sedang berlerot menuju ke barat. Maka sekarang, mereka terpaksa kasih kuda mereka jalan
perlahan. Mukanya Hoa Lian Hoan jadi bertambah pucat, hingga
tapak golok di mukanya tertampak semakin nyata.
Sebaliknya, wajahnya Lo Siau Hou ada bersemu merah
padam. Sesampainya di Tee-an Kio, di Koulau Depan, Siau Hou
tahan kudanya dan terus loncat turun. Ia serahkan kudanya pada pengiringnya.
"Kau tunggu aku di rumah makan sana, jangan kau
terbitkan segala kecurigaan," ia pesan. Lantas ia bertindak ke arah utara.
Tatkala itu sudah siang, kira-kira jam sebelas. Orang
yang berlalu-lintas lebih banyak daripada biasanya, lelaki dan perempuan, tua dan muda. Semua berduyun-duyun
menuju ke Koulau Barat.
"Joli pengantin akan segera datang!" beberapa orang terdengar berkata.
Siau Hou jalan di antara orang banyak itu dengan
menahan amarahnya, hampir ia tak sanggup kendalikan
diri. Di antara orang banyak itu, yang paling besar jumlahnya
adalah nyonya-nyonya muda dan nona-nona dengan
dandanan mereka yang reboh atau perlente, yang kedua
adalah bangsa pengemis, kemudian beberapa buaya darat
atau tukang luntang-lantung, yang jalan nyeberang ke sana dan nyeberang ke sini, bajunya semua ada baju pendek atau ringkas.
Selewatnya Koulau, menuju terus ke barat, pemandangan telah menjadi lain. Sekarang, di kiri dan
kanan tertampak hamba-hamba polisi, ada yang menyoren
golok, ada yang menyekal cambuk. Mereka mengatur
jalanan, sebagaimana saban-saban mereka berteriak-teriak:
"Penonton semua jalan di tembok sebelah selatan, jangan kacau!"
Di lain pihak, pengemis-pengemis telah diusir-usiri,
antaranya ada yang dicambuki, karena mereka minta-
minta, hingga jalannya orang jadi terganggu. Mereka lari serabutan ke empat penjuru.
Siau Hou tetap nyampur di antara orang banyak, ia pun
jalan di sebelah selatan. Ia mandi keringat, karena ia
terdorong-dorong, sampai ia rasakan dadanya sakit.
Semua joli dan kereta, keledai dan kuda, ada menuju ke
barat. "Lihat di sana, itulah jolinya Thio tayjin!" kata satu orang dengan nyaring, tangannya menunjuk ke jurusan ke
mana ia memandang.
"Dan itu keretanya Lie sielong!" berseru yang lain.
"Dan ini ada keluarga perempuan dari Han giesu!" kata yang lain kgi.
Demikian bergantian orang saling tunjuk.
"Eh, jie-kounio, jangan pergi ke sana, di sini saja!
Sebentar joli pengantin bakal lewat di sini!"
Tapi yang menarik perhatian adalah suara yang
dikeluarkan separo berbisik:
"Lihat saja sebentar! Ini hari mesti terbit onar! Lau Tay Po bakal pertunjukkan kepandaiannya! ... "
"Aku kira tidak! Siapakah yang berani" Ini hari, siapa saja berani main gila menerbitkan onar, ia akan dihukum
mati!" Selagi Siau Hou mendengari, dari belakangnya seperti
ada orang yang bentur ia dengan sengaja, hingga ia
menoleh. Ia lihat dua buaya darat. Ia tahan sabar, ia egos diri dari mereka itu.
Jalan besar sekarang ada menjadi ramai, seperti pasar
saja ramainya. Cuma bedanya ada banyak hamba negeri,
dengan goloknya, ada banyak kereta dan joli dari pembesar-pembesar negeri.
Itu waktu langit ada terang, angin tidak ada. Kalau dari kondenya orang-orang perempuan ada tertampak mereka
punya tusuk konde emas, adalah dari ujung tembok selatan ada nongol bunga heng yang merah bertangkai-tangkai ...
Sebentar kemudian, Lo Siau Hou sampai di depan
gedungnya Giok teetok, di seberang jalanan, hingga ia tidak bisa melihat nyata ke sebelah dalam, karena pun di depan ia ada banyak orang lain. Hamba polisi dan lainnya, ada
menjaga di depan gedung itu. Kereta dan joli berhenti di muka pintu, sesudah muatannya turun, lantas jalan terus ke tempat perhentian.
Buat keledai dan kuda, di situ ada banyak bocah cilik
atau anak-anak tanggung sebagai penuntun atau penjaganya, hingga mereka kelihatan seperti mundar-


Harimau Mendekam Naga Sembunyi Karya Wang Du Lu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mandir serabutan.
Karena terdesak-desak orang banyak, Siau Hou
kegerahan dan tidak sabaran, hingga ia mesti coba
kendalikan diri akan berlaku sabar dan tenang. Ia sudah
siap, andaikata ada polisi menanyakan ia, ia mau aku diri sebagai pegawainya Han giesu atau Thio tayjin. Ia tidak
bawa goloknya, tapi ia ada sedia panah, yang ia sudah
siapkan. Meskipun ia percaya, yang orang nanti tegur ia, Siau
Hou toh maju ke depan, ke pintu pekarangan. Di luar
dugaannya, tidak ada seorang juga yang menghalanginya.
Ini rupanya disebabkan pakaiannya atau dandanannya,
hingga orang tak curigai ia.
Ia telah lewati pintu pertama, lantas ia sampai di muka
pintu kedua. Di sini ia berpapasan dengan seorang yang
romannya seperti orang polisi, yang dari dalam mau pergi keluar, tapi orang itu lekas-lekas minggir dengan kepalanya ditunduki, sikapnya menghormat, maka ia jalan terus
dengan angkat kepala, membawa aksi yang baik. Dengan
begitu ia sampai di jalanan yang menuju ke dalam.
Satu bujang perempuan umur kira-kira empatpuluh, yang
pakaiannya bagus, kelihatan jalan keluar, ia lantas dicegat oleh satu bujang lelaki yang tanya padanya: "Apa semua sudah siap di dalam?"
"Belum," sahut bujang perempuan itu. "Dua kali siocia nyisir, dua-dua kalinya gagal, sampai sekarang ia belum
selesai dengan kondenya. Justru siocia mau menikah, pada dua hari yang lalu, ia telah usir Siu Hiang. Sejak siocia tukar cacing dengan konde, setiap hari adalah Siu Hiang
yang mengkondei rambutnya."
"Apa sekarang ini siocia kelihatannya girang?" bujang lelaki itu tanya pula.
"Girang" Ia justru masih kucurkan air mata sampai pada detik ini!"
"Habis bagaimana" Joli pengantin bakal lekas datang! ...
" "Kalau joli datang, joli itu mesti disuruh menunggu!
Siapa berani desak siocia?"
Sampai di situ, dengan terburu-buru, bujang perempuan
itu lanjutkan perjalanannya keluar, ia lewat di sampingnya Poan Thian In.
Hatinya Siau Hou tergerak, ia terharu, sampai hampir ia
keteskan air mata. Ia mau jalan terus, tetapi bujang lelaki yang tadi, tahan ia. Cuma bujang ini bersikap dengan
hormat sekali. "Semua tetamu berkumpul di ruangan barat sana," ia kata, "di sini ada ruangan belakang. Mana pengiring looya"
Silahkan looya ikut aku pergi ke barat sana. Looya ada dari gedung siapa?"
Siau Hou tidak menyahuti, ia melainkan manggut. Ia
ikut bujang itu pergi ke arah barat. Mereka masuk dalam
sebuah pintu angin, sampai mereka berada dalam satu
ruangan yang ramai. Inilah tempat buat tetamu biasa.
Ruangan tetamu akan dipakai sebagai ruangan pesta.
Ruangan utara ada untuk tetamu-tetamu agung. Tetamu-
tetamu sepantaran dengan Giok tayjin disediakan tempat di ruangan timur. Ruangan barat ada untuk sahabat-sahabat
baru. Di antara wakil tuan rumah ada putera kedua dari Giok
teetok, jie-siauya Po Tek atau kakaknya Kiau Liong yang
kedua. Ia sudah berumur tigapuluh tahun, ia menjabat
pangkat tiehu di Sucoan. Ia sekarang pulang ke Pakkhia,
kesatu guna hadirkan hari nikah adiknya, kedua ia ingin
berdaya supaya peroleh kepindahan ke kota raja ini, supaya dengan tinggal dan bekerja di Pakkhia, ia bisa sekalian urus rumah tangga mewakili ayahnya dan rawati ayah dan
ibunya. Ia datang dengan bujang saja, tidak bersama
keluarganya. Toa-siauya, Po In namanya, tiehu dari
Hongyang-hu, tidak datang, sebab ada terjadi beberapa
perkara penting, hingga ia cuma bisa kirim dua hambanya, Hoo Seng dan Lian Hie.
Begitu, ketika Siau Hou sampai di muka ruangan, ia
kebetulan berpapasan dengan Po Tek, siapa tidak kenal ia, hingga ia disangka ada tetamu yang menjadi rekan ayahnya
atau rekan dari engko-nya, hingga dia ini lekas-lekas
menyambut dan perintah bujang melayani, sesudah itu dia
berlalu akan layani lain-lain tetamu pula.
Bujang yang lihat pakaian rapi dari tetamu ini tetapi
tidak pakai kopiah, ia tidak tahu pasti tetamu ini ada dari golongan apa, ia hanya anggap tetamunya pasti bukan dari kalangan agung, maka ia terus memimpin ke ruangan barat.
Di sini ada terdapat tiga kamar, ada tetamu duapuluh orang lebih.
Tidak ada satu orang yang Siau Hou kenal. Ia samperi
sebuah kursi merah, di situ ia berduduk. Tidak ada seorang yang pedulikan ia, sebab orang sedang kebetulan dengari
pembicaraan seorang lain. Dia ini bicara sambil duduk di kursi. Ia berpakaian bagus, tetapi ia tidak mirip dengan satu pembesar negeri. Ia berumur empatpuluh lebih, tubuhnya
tidak tinggi, tetapi romannya sehat. Ia ada piara kumis, tangannya menyekal cuihun.
"Ada orang bilang bahwa aku telah belajar kenal dengan orang-orang gagah di kolong langit, bahwa katanya ada
beberapa penjahat besar, yang sampai sekarang ini masih
suka bergaul dengan aku, bergaul secara rahasia, itulah
omongan hebat, itulah bikin aku penasaran!" begitu Siau Hou dengar.
"Siapa dia ini?" memikir anak muda ini, yang terus awasi orang itu.
"Sebenarnya, sampai sekarang ini aku tetap masih
seorang yang berdosa," orang itu melanjutkan omongannya.
"Selama tiga atau empat tahun yang lalu, segala tindakanku semua dilakukan dengan sangat hati-hati. Dulu aku kenal
Lie Bou Pek, hanya belakangan, pergaulan telah dibikin
putus, hingga umpama kata sekarang dia masih hidup, dia
tentu tak akan mengenali pula padaku."
Ucapan itu diberhentikan untuk menyedot huncwee,
matanya ditujukan pada Siau Hou, hingga dia ini sedikit
terperanjat. Lantas seorang lain menambahkan: "Umpama kata
sekarang Lie Bou Pek datang kemari, tidak ada halangan
sama sekali. Boleh jadi dia akan cari satu atau lebih pangkat
... " "Kalau Lie Bou Pek mau pegang pangkat sebagai hamba polisi umpamanya, itulah bagus sekali," kata seorang lain lagi. "Di kalangan penjahat, besar dan kecil, siapa yang tak takut ianya" Umpama dalam perkara baru-baru ini, jikalau Lie Bou Pek pangku pangkat di sini, siapa yang berani tiup-tiup" Itu waktu tentang siocia ada diuwarkan rupa-rupa
cerita gila, yang orang sukar percaya ... "
"Sudah, sudah," kata si orang yang isap hunijwee,
"sekarang ada waktunya pesta gembira, baik kita tidak bicarakan urusan rumah tangga ... "
Mendengar itu, beberapa orang lantas tertawa.
"Sekarang ini, sampaipun dalam hal bicara Siau Hong sangat berhati-hati!" kata seorang.
Lantas orang yang isap huncwee itu manggut.
"Itu benar," dia bilang, "sekarang ini, meski urusan sebesar jarum, aku tak berani campur tahu ... "
Baru sekarang Siau Hou tahu bahwa orang itu adalah
Thie-ciang Tek Siau Hong, si orang Boan yang kesohor
gemar dan pandai bergaul, yang hatinya baik. Ia pun
merasa kagum, terutama buat matanya yang tajam. Mereka
duduk berpisahan cukup jauh tetapi waktu matanya Siau
Hong mengawasi ia, ia merasa tak enak sendirinya.
Terpaksa, dengan alasan perhatikan pigura dan huruf-huruf
di atas tembok, ia berbangkit dan bertindak keluar dari
ruangan itu akan menuju terus ke depan.
Segera juga, dari sebelah belakang ada orang mendatangi
sambil berlari-lari.
Siau Hou tidak tahu, orang kenapa lari, tapi ia sudah
kaget duluan, maka ia cepatkan tindakannya akan keluar di pintu pekarangan.
Nyata orang itu datang buat bicara pada beberapa hamba
polisi yang berkumpul di depan situ, yang semua ia
kumpulkan. Rupanya itu ada pembicaraan yang penting,
sebab suasana segera menjadi berubah. Buktinya, penonton yang sedang berkumpul lantas diperintah mundur.
"Berdiri jauhan!" demikian titahnya. "Jangan ada orang berdiri di sini!"
Hamba-hamba polisi lalu mengusir mundur sambil ayun
cambuk mereka. Siau Hou berlaku tenang, sambil gendong tangannya, ia
berdiri diam, di tempat di mana ia berdiri, sikapnya tenang.
Satu hamba polisi, yang menyoren golok, lalu
menghampirkan. "Apa kau datang untuk mengasih selamat?" tanya hamba polisi ini, sembari tertawa.
Siau Hou tidak menyahuti ia hanya manggut.
"Kau ada dari ... "
Ditanya begitu, Siau Hou memotong, air mukanya
menunjukkan roman gusar.
"Kenapa kau tanya aku sampai begini melit?" demikian ia memotong. "Pergilah kau tanya Giok tayjin, ia kenal aku!
Tayjin kenal aku ketika kita masih sama-sama tinggal di
Cieboat ... "
Hamba polisi itu tertawa, sikapnya manis dan
menghormat. "Oh, kiranya kau datang dari Sinkiang?" ia kata.
"Memang, rekannya tayjin aku tidak kenal ... " Ia lalu menambahkan, dengan perlahan: "Kau tentu ketahui
keadaan di sini ... Di luar ada tersiar kabar angin, katanya ada orang jahat yang mau datang kemari untuk satrukan
tayjin. Begitulah barusan, Tek ngoya dari Tangshia telah pesan jie-siauya untuk kasih perintah pada penjaga-penjaga pintu agar semua menjaga dengan hati-hati, supaya
penonton di dekat pintu dimundurkan jauh-jauh sebab juga joli dari keluarga Lou, joli pengantin, bakal lekas datang."
Diam-diam Siau Hou terperanjat. Benar-benar matanya
Siau Hong amal liehay, dengan sekali lihat, ia sudah
dicurigai. Baiknya orang Boan itu masih sabar, perintah
tindakan keras tidak lantas dikeluarkan.
"Kalau begitu, silahkan tuan masuk ke dalam," akhirnya si hamba polisi mengundang.
Siau Hou goyang kepala.
"Di dalam ada terlalu banyak orang, kepalaku pusing," ia menyahut. "Aku ingin berangin di sini ... "
Hamba polisi itu kembali tertawa.
"Benar!" ia kata, "Di bawah pohon, hawa udara ada nyaman!"
Habis kata begitu, ia putar tubuhnya, akan bertindak ke
dalam. Begitu lihat orang sudah berlalu, Siau Hou pun buru-
buru pergi ke antara orang banyak, di sini ia kena terdesak-
desak, karena orang banyak pun lantas menjadi kalut,
lantaran gebahannya orang polisi. Dua orang, yang ayal
mundur, telah kena dicambuk mukanya.
Sementara itu, dalam suara berisik, ada terdengar
teriakan: "Sudah datang! Sudah datang!" Atas ini, suara berisik menjadi sirap, semua mata ditujukan ke satu
jurusan. Orang-orang polisi juga tak mengusir terlebih jauh.
Dalam kesunyian lalu terdengar suara musik, dari
perlahan sampai sedikit keras, tanda bahwa musik itu
sedang mendatangi. Kemudian orang lihat lerotan dari
lentera "Gu-kak-teng", ialah tanda pernikahan orang Kie (Boan), dengan lenteranya dituliskan sepasang huruf "Hie".
Di waktu siang kelihatannya kurang menarik, sebab apinya tidak dipasang, tetapi kalau lerotan dari enampuluh atau delapanpuluh pasang, toh bagus juga bagi pemandangan.
Mengikuti rombongan tetabuhan ada sebuah joli dengan
berlibat kain merah, tidak bersulam bunga, tetapi itu adalah joli pengantin perempuan. Di belakang ini ada menguring
tujuh atau delapan buah kereta yang besar, rupanya muat
nyonya-nyonya yang hendak sambut pengantin, dan
rupanya, pengantin lelaki berada dalam salah satu kereta itu.
Di depannya Siau Hou ada berdiri dua orang, dari itu, ia mesti berjingkat untuk ia bisa turut menyaksikan dengan
leluasa. Hatinya mulai panas pula, sampai hampir ia loncat maju akan serbu pengantin lelaki.
"Sabar, sabar! Tunggu sebentar lagi." Demikian ia
sabarkan diri. "Kau mesti lihat Kiau Liong dulu, ia mau naik ke joli atau tidak ... Kalau dia naik, nah, tidak bisa tidak, ia harus dibunuh! ... "
Ia kertak giginya akan menahan sabar.
Joli sekarang telah dibawa naik ke undakan tangga,
tukang gotongnya ada delapan orang.
Berbareng dengan itu, seorang polisi, maju ke depan. Ia
ada piara kumis panjang.
"Apa kau belum mau bubar?" ia kata pada sekalian penonton, yang masih saja mendesak. "Lihat, joli sudah dibawa masuk, apa lagi yang ingin ditengok" Apa kau mau
Bukit Pemakan Manusia 17 Sepasang Pedang Iblis Karya Kho Ping Hoo Pendekar Pedang Kail Emas 9
^