Pencarian

Kemelut Di Cakrabuana 1

Kemelut Di Cakrabuana Karya A Merdeka Permana Bagian 1


"Kemelut Di Cakrabuana
Karya A Merdeka Permana
Cerita Silat Jawa
Bab 1 LELAKI tua berjenggot putih itu mangangkat kaki kanannya dengan lutut sejajar pusar, sedangkan sepasang tangannya siap siaga di depan dada dengan telapak terbuka lebar.
Lelaki itu menahan napas sejenak, mulutnya berkomat-kamit. Secara tiba-tiba kaki kanan yang terangkat itu melompat ke depan. Bersamaan dengan itu sepasang tangannya mendorong dengan pengerahan tenaga kuat. Tenaga dorongan mengarah ke depan, ke arah sebongkah batu yang jaraknya ada sekitar lima depa (1 depa kurang lebih 1,698 meter). Seiring dengan teriakan yang keluar dari mulut lelaki tua itu angin pukulan pun terdengar berciutan. Kemudian tak lama antaranya terdengar suara ledakan memecah jantung. Bongkahan itu hancur hampir menjadi kerikil bertaburan.
"Mengagumkan sekali Paman Jayaratu!" teriak seorang pemuda yang berdiri terpana pada jarak sejauh lima depa.
"Suatu saat, engkau yang harus melakukan gerakan ini," kata Paman Jayaratu menatap pemuda itu.
"Saya?"
"Ya, Purbajaya ...!"
"Untuk apakah?"
"Untuk membela agamamu! Untuk memperkokoh, memperkuat bahkan membuatnya besar," tutur Paman Jayaratu.
"Paman kan pernah bilang, Islam tak butuh kekerasan," kata Purbajaya.
"Memang betul, Islam tak butuh kekerasan tapi kekuatan. Ilmu kedigjayaan adalah bagian dari kekuatan. Dan itu perlu untuk kewibawaan agama kita," tutur lagi Paman Jayaratu.
"Harus dengan kedigjayaankah Islam melebarkan sayap?" tanya pemuda itu, duduk bersila di sebuah hamparan tikar pandan.
Paman Jayaratu menghela napas. Kemudian dia pun mencoba duduk bersila di atas tikar yang sudah ditempati pemuda itu. Sebelum meneruskan percakapan, Paman Jayaratu mengnakan kembali baju kurung warna hitamnya. Ikat kepalanya yang juga berwarna hitam pun segera dikenakannya lagi, sehingga nampak kontras dengan warna rambut putihnya yang riap-riapan tertebak semilir angin tengah hari.
Mereka berdua duduk di bawah pohon kaso yang rindang yang berdiri terpencil di kaki bukit itu. Nun jauh ke sebelah utara nampak dataran rendah pantai utara yang langsung berbatasan dengan warna laut biru pesisir Cirebon.
"Kenakan kembali pakaianmu, Purba..." kata Paman Jayaratu.
Purbajaya segera mengambil baju rompi hitam yang terbuat dari kain beludru biru. Dadanya yang bidang dan putih sedikit tertutup oleh rompi. Purbajaya pun segera mengikat kepalanya dengan ikat kepala warna putih.
"Dalam hal apa pun kedigjayaan adalah lambang kegagahan. Namun harus diingat, kegagahan hanyalah sebuah pelengkap, atau bagaikan kembang pelengkap keindahan. Sedangkan sumber dari segala kekuatan itu sendiri adalah saripatinya. Islam di saat saat perkembangannya memang butuh kegagahan. Namun kegagahan itu sudah barang tentu jangan mengalahkan tujuan utamanya sendiri. Ingatlah, kalau pun ada terdengar orang Islam melakukan peperangan, itu bukanlah pamer kegagahan atau pun pamer kekuasaan, melainkan mempertahankan keberadaan. Kita berkewajiban mempertahankan keberadaan Islam. Untuk itu kita butuh kedigjayaan dan kekuatan," tutur Paman Jayaratu panjang lebar.
Purbajaya duduk tegak memangku kedua belah tangan. Termenung sejenak, kemudian mengangguk-angguk.
"Saya siap berlatih kedigjayaan, Paman ..." kata Purbajaya pada akhirnya.
"Tapi ingatlah, kau tidak dididik untuk jadi tukang berkelahi atau pun tukang pukul. Agama kita benci kepada kesombongan, takabur dan kejam," tutur Paman Jayaratu. Pemuda itu mengangguk-angguk lagi.
"Apakah agama kita benci pembunuhan?" tanya pemuda itu tiba-tiba.
"Hati-hatilah bicara pembunuhan sebab dalam agama kita, pengadilan pertama di hari kiamat adalah perkara pembunuhan!" potong Paman Jayaratu tegas.
"Jadi dalam agama kita tak boleh ada pembunuhan, Paman?"
"Di sini bukan berbicara masalah boleh atau tak bolehnya tapi menitikberatkan pada perkara apa yang kita hadapi ini."
"Tugas saya kelak dari Negri Carbon ini adalah menyelundup ke Pajajaran," gumam Purbajaya tiba-tiba dengan wajah tegang. Dia khawatir di tempat musuh nanti akan berhadapan dengan tugas-tugas membunuh.
Paman Jayaratu seperti maklum akan isi hati pemuda ini.
"Kita harus punya kedewasaan dalam berpikir. Kalau ada ucapan orang seagama berdosa besar membunuh sesamanya, tidak berarti bunyi ucapan ini bisa diputar-balik lantas kita bisa bebas dari dosa kalau membunuh orang yang tak seagama," kata Paman Jayaratu,"Dan kau harus hati-hati dalam berpikir, ilmu kedigjayaan yang aku berikan bukanlah ilmu untuk membunuh," tandasnya lagi. Kembali Purbajaya mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Tapi ikut bertugas menyebarkan agama kita ke masyarakat Pajajaran sungguh berat," keluh pemuda itu kemudian.
"Tidak berat sebab tak ada paksaan masuk agama kita. Engkau hanya perlu meyakinkan saja. Dan yang belum yakin dengan agama kita sebaiknya tak perlu masuk sebab bila telah masuk lantas keluar lagi, dia akan mendapat hukuman sebagai orang murtad," kata Paman Jayaratu.
Untuk ke sekian kalinya Purbajaya mengangguk-angguk.
"Nah, hari ini latihan selesai. Tapi ingatlah, dalam satu tahun ini, di sampaing kau kian memperdalam agamamu juga harus semakin memperdalam ilmu kewiraanmu. Tahun depan engkau harus diikutsertakan dalam tugas menyelundup ke pusat pemerintahan Pajajaran, yaitu dayo (ibukota) Pakuan," kata Paman Jayaratu.
Lelaki tua itu segera berdiri. Dia memerintah Purbajaya untuk menggulung tikar. Sesudah itu, bagaikan kijang, kaki Paman Jayaratu meloncat lincah. Dia berlari cepat menuruni bukit. Setiap ujung jari kakinya menotol tanah, maka setiap itu pula tubuhnya meloncat tinggi di udara. Dalam beberapa saat saja, orang tua itu telah berada jauh di bawah bukit, meninggalkan Purbajaya yang masih termangu sambil menggulung tikar. Namun sebentar kemudian dia pun sadar bahwa Paman Jayaratu tengah mengujinya, sejauh mana perkembangan ilmu napak sancang (semacam ilmu untuk meringankan tubuh dalam berlari) yang dimiliki pemuda itu.
Purbajaya pun segera meniru gerakan Paman Jayaratu. Dia menotolkan ujung jari kakinya ke atas tonjolan batu. Tubuhnya sedikit mumbul ke udara seperti di ujung jari kakinya dipasangi per baja. Pemuda itu memang bisa bergerak cepat kendati masih kalah cepat dibandingkan gerakan Paman Jayaratu.
SELAMA hampir satu tahun Purbajaya dididik ilmu kedigjayaan di samping semakin memperdalam pelajaran agamanya. Seingatnya, agamanya mulai dikenalkan di wilayah Negri Carbon sejak dia masih bocah. Kendati menurut banyak orang, agamanya belum merata diterima oleh masyarakat di tanah Sunda, namun bagi Purbajaya, agama baru ini bukan halangan bagi kehidupan manusia. Dalam agamanya yang baru, dia tak merasa ada hambatan dalam kebebasan. Kalau pun agama ini mengatur kehidupan, itu adalah sesuatu yang membimbingnya ke arah sesuatu kehidupan lebih baik.
"Betapa kacaunya isi dunia seandainya kehidupan manusia tidak diatur oleh keberadaan agama," pikir Purbajaya.
Dia tak merasakan keanehan dalam menempuh kehidupan beragama sebab pada umumnya orang yang berada di wilayah Karatuan Carbon adalah pemelk agama yang saleh kendati masyarakat Carbon terdiri dari banyak macam suku bangsa seperti Sunda, Keling, Arab, Cina.
Hanya saja yang membuat dirinya belum merasa tentram bila tiba saatnya dia harus memikirkan siapa dia sebenarnya. Selama belasan tahun ini dan tinggal di wilayah ini, dia tak tahu siapa keluarganya. Orang yang dekat dengannya sampai hari ini hanyalah Paman Jayaratu. Orangtuanyakah dia" Mengapakah dia tak memanggilnya ayahanda kepada Paman Jayaratu" Siapa pula ibunya"
"Suatu saat kau akan diberitahu ..." tutur Paman Jayaratu bila Purbajaya bertanya perihal itu.
Namun pada suatu saat tiba pula apa yang didambakannya.
Malam itu langit penuh bintang. Purbajaya tengah duduk bersila di bale-bale berhadapan dengan sebuah pelita dengan cahaya suram. Pemuda itu dengan sabar membaca beberapa ayat suci yang tengah dia pelajari.
Dia segera menghentikan pekerjaannya manakala ke pekarangan rumah masuk dua orang berpakaian prajurit. Mereka datang berbekal oncor (obor) yang cahaya merahnya menggelebur menerangi wajah-wajah mereka.
"Siapa?"
"Kami utusan dari Puri Arya Damar, ingin bertemu Ki Jayaratu," jawab seorang dari mereka.
"Arya Damar" Bukankah dia salah seorang pangeran dari Pakungwati?" tanya Purbajaya pelan.
"Ya, ada urusan amat penting. Jadi, bila Ki Jayaratu tak ada halangan, diharap ikut bersama kami ke puri," tutur prajurit.
"Paman Jayaratu sedang pergi ke Astanajapura. Tapi menurut rencana, malam ini pun harus sudah kembali," jawab Purbajaya masih duduk bersila.
"Silakan Ki Silah (saudara) berdua tunggu di sini..." tutur kedua orang itu mengajak kedua orang prajurit untuk duduk di bale-bale.
Namun sebelum kedua orang tamu itu duduk, tiba-tiba Paman Jayaratu muncul dari pekarangan.
"Kebetulan beliau sudah tadang ..." Purbajaya melihat orang tua itu dengan hati gembira.
"Kalian dari mana?" tanya Paman Jayaratu.
"Kami utusan dari Pangeran Arya Damar ..."
"Pangeran Arya Damar?"
"Beliau mengundangmu ke purinya tapi diharap anda membawa serta pemuda bernama Purbajaya," kata prajurit.
Purbajaya terkejut, mengapa dia pun musti ikut" Dan ketika dia melirik ke arah Paman Jayaratu, dia pun bertambah heran sebab alis orang tua itu nampak berkerut. Ada apakah"
"Harus sekarang jugakah kami menghadap beliau?" tanya Paman Jayaratu. Kedua prajurit itu mengangguk. Kembali dahi Paman Jayaratu berkerut. Dia termenung sejenak.
"Kami harus membawa kalian sekarang ini juga," kata prajurit menegaskan ketika Paman Jayaratu nampak meragu.
Paman Jayaratu masih termenung. Namun pada akhirnya dia mengangguk juga.
"Baiklah, kami berangkat menuruti titahnya," guman Paman Jayaratu."Purba, berkemaslah, malam ini kita menghadap ke Istana Pakungwati ..." kata Paman Jayaratu berjingkat.
"Ouw, jadi anak muda inikah Purbajaya?" kedua orang prajurit ini kaget kerika nama itu dipanggil.
"Apakah kalian sudah tahu tentang anak ini?" tanya Paman Jayaratu penuh selidik.
"Hanya sedikit-sedikit. Tapi anak muda ini amat menarik perhatian ..." kata prajurit berkumis tebal berdada bidang.
Berdebar dada Purbajaya. Mereka membicarakan dirinya tapi dia tak tahu perkara apa itu. Ketika Paman Jayaratu masuk ke ruangan rumah panggungnya, Purbajaya ikut berjingkat dengan alasan akan segera berkemas.
"Paman, ada apakah ini?" tanyanya berbisik.
"Ini adalah perihal masa depanmu tapi sekaligus juga tentang masa lalumu. Hanya saja aku hawatir, mengapa yang menanganimu malah Pangeran itu?" gumam Ki Jayaratu.
"Ada apa dengan Pangeran Arya Damar, Paman?"
Paman Jayaratu hanya menghela napas.
"Tak bisa aku katakan sekarang. Tapi mudah-mudahan berhadapan dengan pangeran itu tak mengejutkanmu," kata Paman Jayaratu semakin membuat pemuda itu bertanya-tanya hatinya.
"Tapi kau harus siap, apa pun yang pangeran itu katakan," kata pula orang tua itu. Purbajaya mengangguk tanpa tahu mengapa harus begitu.
"Kami sudah siap berangkat," kata Paman Jayaratu keluar menuju pekarangan.
Kedua orang prajurit itu pun berdiri. Masing-masing mengambil kembali obornya yang tadi disimpan di batang pagar bambu.
"Mari!" ajak prajurit.
"Mari ... Bismil-laahirrakhmaanir-rakhiim!" gumam Paman Jayaratu memulai langkahnya, diikuti oleh Purbajaya.
Maka keempat orang itu mulai berjalan beriringan. Pembawa obor berjalan paling depan sebagai penunjuk arah dalam gelapnya malam.
Malam itu memang tak ada bulan. Kendati bulan bertebaran dilangit, cahayanya tak sanggup menerangi semesta. Sedangkan menuju Istana Pakungwati jaraknya cukup jauh, harus merambah sedikit hutan jati.
Hanya saja Paman Jayaratu seperti tak menderita kesulitan. Nampaknya dia hapal betul, ke mana arah yang harus dilalui. Langkah orang tua itu mantap dan cepat. Sebentar saja dia sudah jalan paling depan, meninggalkan dua orang prajurit yang jalan tertatih-tatih karena mata silau oleh cahaya obor.
Purbajaya melangkat di belakang Paman Jayaratu. Hanya dia yang tahu, orang tua itu bisa jalan cepat dalam gelap karena memiliki ilmu bernama Sorot Kalong. Sorot Kalong adalah semacam ilmu melihat dalam gelap. Yang sudah menguasai ilmu ini, kendati berada di dalam gelap tidak kesulitan untuk melihat. Kata pemilik ilmu itu, seluruh alam bisa dilihat kendati remang-remang saja.
*** PAMAN Jayaratu sudah menguasai ilmuSorot Kalong dengan baik. Purbajaya pun sebenarnya sudah diperintah oleh orang tua itu untuk berlatih. Tapi pemuda itu hanya melakukannya dengan setengah-setengah saja. Sungguh berat melatih mata agar bisa melihat di dalam gelap. Selama tiga bulan penuh harus berada di dalam ruangan yang hanya menerima sedikit cahaya. Semakin hari, cahaya yang masuk ke dalam ruangan itu semakin dikurangi sampai pada suatu saat ruangan itu gelap gulita sama sekali. Namun demikian, kemampuan mata harus tetap seperti manakala melihat ruangan ketika masih mendapatkan cahaya.
Purbajaya tak kuat melebarkan pupil mata. Urat-urat di sekitar bola mata serasa menegang bahkan serasa mau putus dan kepala pun berdenyut disertai perasaan mual di ulu hati. Rasanya sudah mau muntah.
"Mata saya seperti tak sanggup memenuhi keinginan ini," tutur Purbajaya pada beberapa bulan lalu. Dia keluar ruangan dengan sepasang mata yang bengkak dan berwarna merah, bahkan dari sudut-sudut matanya keluar tetesan darah.
Mendengar keluhan ini Paman Jayaratu ketika itu hanya ketawa masam.
"Orang yang tak tahu melangkah tak akan sampai ke tempat tujuan. Dan alangkaha sedihnya bilamana suatu saat dia sadar bahwa selama ini dia hanya tinggal di tempat yang itu-itu juga. Dia tetap mentah pengalaman dan pengetahuan ..." kata Paman Jayaratu. Orang tua ini tak pernah memaksakan kehendak, kecuali memberikan gambaran seperti itu.
Dan hari ini baru terasa akibatnya, betapa ucapan Ki Jayaratu amat tepat. Orang yang tak mau beranjak tak akan sampai di tujuan. Hanya karena tak mau mempelajari ilmu Sorot Kalong maka Purbajaya tak bisa berjalan cepat di dalam gelap. Maka tak heran, dalam upaya mengejar ketinggalan, dia bergerak di tengah hutan jati dengan gerakan lintang-pukang, seruduk sana seruduk sini, sama seperti kedua orang prajurit yang berlari di belakangnya. Malah, dua orang prajurit itu lebih unggul sebab berbekal obor. Hanya saja yang menyebabkan Purbajaya ada di depan sebab pemuda itu memiliki ilmu lari cepat jauh lebih baik ketimbang dua prajurit.
"Kalau saja aku ulet dalam latihan ... " keluh pemuda itu. Terasa sekali, Paman Jayaratu hendak mengujinya, atau sekadar memberi pelajaran padanya, betapa orang bodoh selalu ketinggalan dalam segala hal. Paman Jayaratu kini beruia lebih dari limapuluh tahun, sementara tahun ini Purbajaya baru menginjak usi enambelas. Tapi usia yang terpaut jauh tidak menjamin. Tokh anak muda yang bodoh tak bisa mengalahkan orang berusia tua yang pandai.
Untunglah hutan jati sudah dirambah. Kini mereka berada di tengah padang alang-alang yang beberapa di antaranya gundul dan tanahnya berdebu. Namun di tempat terbuka seperti itu bintang-gemintang berjasa menolong Purbajaya. Dengan mengerahkan tenaga dia berlari kencang menyusul Paman Jayaratu. Yang payah adalah kedua orang prajurit. Mereka hanya memiliki kepandaian biasa-biasa saja. Maka diajak berlari menggunakan ilmu napak-sancang (ilmu lari meringankan tubuh), mereka ketinggalan jauh.
Ketika tiba di batas kota, barulah Paman Jayaratu menurunkan kepandaiannya. Dia bahkan berjalan lenggang-kangkung seperti memberi kesempatan kepada orang-orang di belakangnya untuk menyusul.
Dalam waktu yang tak terlalu lama, Purbajaya sudah berada di samping Paman Jayaratu dengan dada turun naik. Kedua orang prajurit Negri Carbon pun sudah ada di belakang mereka dengan napas senin-kemis dan wajah bersimbah keringat.
"Sekarang giliran kalian yang jalan di depan," kata Paman Jayaratu kepada dua orang prajurit.
Sekarang sudah sampai di kota tapi keadaan sudah lengang sebab malam hampir larut. Ketika memasuki gerbang keraton, mereka perlu mendapatkan pemeriksaan dari empat orang jagabaya. Setelah segalanya beres, maka semua boleh masuk.
Keraton Negri Carbon dikenal bernama Dalem Agung Pakungwati, dikelilingi pekarangan-pekarangan yang dibatasi dinding batu bata dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya melalui gerbang, kori dan pintu-pintu. Di dalam beberapa pekarangan terdapat kompleks bangsal (bangunan terbuka) yang terbuat dari lantai berhias.
Banyak puri di sana. Puri-puri itu dimiliki oleh para bangsawan, pejabat dan kerabat istana. Salah satunya adalah milik Pangeran Arya Damar.
Di depan puri Arya Damar ada pemeriksaan lagi tapi di sini tak seketat ketika diperiksa di luar istana. Barangkali petugas puri sudah diberitahu akan kedatangan dua orang tamu itu.
Di beranda depan ternyata Pangeran Arya Damar sudah duduk bersila di atas hamparan alketip buatan Negeri Parasi (Parsi-Iran)
Purbajaya sudah pernah bertemu dengan pangeran ini beberapa bulan silam. Itu pun terjadi pada waktu perayaan maulid dan bukan pada pertemuan khusus. Mengapa pejabat ini tiba-tiba ingin bertemu malam-malam seperti ini dengannya"
Pangeran Arya Damar malam itu amat berwibawa. Dia memakai baju bedahan lima terbuat dari beludru halus warna hitam. Pada sisi-sisi bedahan dikelim benang emas. Celananya pun terbuat dari beludru hitam pula, ditutup oleh kain batik trusmi yang dilipat dua. Ada keris dengan gagang beronce benang emas, tersembul tipis dari balik bedahan. Ketika Paman Jayaratu datang mendekat, keris itu dipindahkan sedikit ke belakang sehingga jadi tak terlihat. Tapi gerakan pangeran itu tetap mengesankan bahwa dia barusan memegang hulu senjata.
"Assalaamu'alaikum warahmatul-laah ... "
"Wa'alaikum salam... Silakan duduk Ki Jayaratu," sambut Pangeran Arya Damar sambil melinting kumis tipisnya.
Paman Jayaratu duduk bersila sesudah menghormat penuh takzim, diikuti oleh tindakan serupa yang dilakukan Purbajaya. Sedangkan dua prajurit, sesudah menyembah hormat segera undur diri.
"Engkau yang duduk di belakang tentu pemuda bernama Purbajaya itu, ya?" Pangeran Arya Damar matanya menyorot bagai mata burung elang.
Purbajaya menunduk. Dan untuk kedua kalinya dia menyembah.
"Serasa aku sudah pernah melihat wajahnya, di mana ya Ki Jayaratu?" tanyanya kemudian.
"Pangeran pernah melihatnya pada perayaan muludan beberapa bulan lalu ... " jawab Paman Jayaratu sambil kembali menyembah. Pangeran Arya Damar mengangguk-angguk sesudah mengingat-ingat sebentar.
"Bukankah yang menolong putriku Nyimas Waningyun ketika anak nakal itu hampir tenggelam di Taman Air Petratean?" tanya Pangeran Arya Damar lagi.
Jantung Purbajaya hampir berhenti dan teringat gadis ayu berlesung pipit. Dia putri Pangeran Arya Damar"
Beberapa bulan lalu, adalah perayaan 12 Mulud upacara tradisi memperingati hari lahirnya penyebar agama baru di dunia bernama Islam. Dialah Kangjeng Nabi Muhammad SAW.
Namun di samping perayaan yang bersifat keagamaan, perayaan lain pun ikut mewarnai. Berbagai kesibukan lain ikut meramaikan, misalnya jenis-jenis kesenian. Keramaian itu biasa diadakan sejak dua minggu sebelum 12 Mulud.
Perayaan secara besar-besaran selalu diadakan, terutama sesudah Kangjeng Syarief Hidayatullah atau lebih dikenal sebagai Sang Susuhunan Jati memegang tampuk pemerintahan Nagri Carbon (1479 Masehi). Susuhunan Jati mengadakan berbagai perayaan secara besar-besaran ini, bukan semata karena menghormati Kangjeng Nabi sebagai penyebar agama saja, melainkan juga karena menghormati nenek-moyang. Menurut garis ayah, Kangjeng Syarief Hidayatullah adalah keturunan ke 22 Kangjeng Nabi Muhammad SAW. Ayahandanya adalah Syarief Abdullah yang datang ke Pulau Jawa dari Mesir melalui Gujarat. Menikah dengan Nyimas Rara Santang putri Sri Baduga Maharaja penguasa Pajajaran.
Sebagai keturunan langsung dari penyebar agama Islam, sudah barang tentu Kangjeng Syarief Hidayatullah begitu menghormatinya secara khusus pula, hormat seorang keturunan kepada nenek-moyangnya. Makanya sejak saat itulah muludan di Nagri Carbon selalu meriah hingga kini.
Nagri Carbon menjadi tempat yang ramai bila muludan tiba. Ribuan orang akan datang dari mana-mana, termasuk dari wilayah karatuan yang telah bergabung dengan Carbon seperti Rajagaluh, Kuningan, Talaga dan Sumedanglarang.
Yang datanag berkunjung ke suasana pesta, bukan hanya orang tua. Bahkan orang muda, para gadis dan lajang saling memperlihatkan wajah dan penampilan agar satu sama lain menjadi saling tertarik.
Kebahagiaan juga larut ke dada para remaja bangsawan. Para ksatria dan puteri Karaton Pakungwati yang elok-elok sama bergembira namun tentu saja mereka tak berbaur dengan orang kebanyakan. Anak-anak kaum bangsawan hanya bercengkrama di Taman Air Petratean. Ini adalah sebuah taman indah di kompleks istana. Di kompleks itu ada kolam berbentuk melingkar, airnya jernih banyak ditumbuhi bunga teratai. Bila senja hari anak-anak bangsawan karaton bersenandung sambil bersampan, melewati taman-taman air Pulau Kaca, Pulau Manik dan kemudian berhenti di Taman Air Petratean (karena banyak ditumbuhi bunga teratai yang indah-indah).
Purbajaya bukan putra bangsawan. Namun pada perayaan ini dia bisa keluyuran ke Taman Air Petratean berkat Paman Jayaratu.
Kalau mengingat ini memang sungguh mencengangkan. Paman Jayaratu bukanlah seorang pejabat, tidak juga sebagai abdi keraton. Tapi entah mengapa, dia bisa keluar-masuk kompleks istana dan sering berhubungan dengan kalangan pejabat di Pakungwati.
Sesekali ada juga keinginan pemuda itu untuk bertanya, mengapa Paman Jayaratu punya kelonggaran seperti itu. Namun yang membuat keinginan itu selalu kandas, karena Paman Jayaratu orangnya acuh tak acuh. Jangankan orang tak bertanya, sedangkan orang perlu penjelasan darinya jarang mengabulkannya. Jadinya pemuda itu lebih memilih diam ketimbang pusing sendiri memikirkan sifat-sifat orang tua itu.
Purbajaya boleh menggunakan pakaian bagus. Ketika ikut keluyuran di Taman Air Petratean dia memakai pakaian seperti yang biasa digunakan oleh kaumsantana (golongan masyarakat pertengahan), yaitu memakai baju kurung tangan panjang terbuat dari kain halus buatan Nagri Campa (Cambodia kini), warna mencolok biru muda, sedangkan ke bawahnya menggunakan celana komprang (celana panjang sebatas mata kaki) dengan warna kuning tua. Kepala diikat kain batik motif atau corakpupunjungan . Tentu saja gagah sekali. Apalagi potongan wajah Purbajaya terbilang tampan. Dia berkulit putih bermata tajam. Ada ciri khas yang tak mungkin orang lupa, yaitu ujung dagu pemuda ini seperti terbelah dua oleh goresan.
Purbajaya jalan-jalan sendirian sebab Paman Jayaratu punya kepentingan lain.
Betapa gembiranya pemuda ini ketika dilihatnya di kolam taman itu banyak anak muda pria dan wanita bercengkrama. Beberapa di antaranya melayari kolam berbentuk lingkaran dengan wajah ceria.
Yang membuat Purbajaya terlongong-longong kagum, karena kaum remaja di sana selain berpakaian indah-indah juga wajahnya pun elok-elok. Yang perempuan cantik-cantik dan yang prianya tampan-tampan.
Namun dari sekian remaja elok yang dia kagumi, ada seorang dari sekumpulan gadis yang dia perhatikan. Dia punya kesan khusus terhadap gadis belia yang barangkali usianya masih sekitar limabelas tahun ini. Dia cantik melebihi yang lainnya, tapi tindak-tanduknya tenang setenang air kolam. Kalau orang lain menampakkan kegembiraan yang penuh sebagai remaja, adalah gadis itu hanya senyum-senyum saja. Namun dalam selintas nampak nyata bahwa gadis itu selalu jadi incaran para pemuda di sekelilingnya. Mereka seperti bersaing ingin lebih dekat dengan gadis itu. Selalu berusaha menggoda dan membuat kelucuan-kelucuan agar gadis itu tertarik padanya.
Purbajaya ingin sekali bergabung namun bagaimana caranya" Alangkah kurang sopannya bila secara tiba-tiba dia ikut melibatkan diri begitu saja. Mereka tidak saling mengenal.
Dan alangkah kecewanya Purbajaya ketika dilihatnya kelompok anak-anak muda itu meninggalkan bangku di bawah pohon rindang di mana tadi mereka duduk-duduk. Dari jarak agak jauh Purbajaya ikut ke mana mereka bergerak. Ternyata gadis berlesung pipit dengan hidung kecil mancung itu menuju sebuah sampan bersama tiga orang gadis dan dua orang pemuda. Mereka semuanya menaiki sampan dan berlayar mengitari kolam.
Tak terasa Purbajaya melangkahkan kaki ikut ke mana perahu itu bergerak. Kalau perahu atau sampan itu berhenti, maka kaki Purbajaya pun ikut berhenti. Sebaliknya bila sampan bergerak maka Purbajaya pun ikut bergerak. Ketika salah seorang dari gadis di sampan bersenandung, maka Purbajaya pun ikut bersenandung pelan.
Namun entah setan mana yang menggodanya, secara tiba-tiba saja di benaknya tersembul pikiran buruk. Pikiran ini terbentuk karena didesak oleh kebutuhan ingin bergabung dengan mereka.
Purbajaya dengan diam-diam memungut sebuah kerikil. Dengan pengerahan tenaga penuh dia melemparkan kerikil sebesar biji rambutan itu. Secepat kilat benda itu melesat mengarah bagian lunas perahu. Maka tak lama kemudian terdengar bunyi "tak!". Namun karena penumpang sampan tengah beriang gembira, maka bunyi aneh itu tidak terdengar oleh mereka. Tahu-tahu, secara perlahan namun pasti, sampan turun dan semakin turun, kemudian permukaan air seperti menjadi naik dan masuk ke dalam sampan.
"Hai ... perahu bocor!"
"Wah betul, perahu bocor!"
"Cepat tambal!" teriak pemuda satunya.
"Tambal dengan apa, tolol!"
"Wah, bahaya ini!"
"Tolong! Tolong! Perahu bocor!" teriak pemuda satunya lagi.
"Ya, betul! Tolong! Tolong!" teriak pemuda lainnya lagi. Dan tubuh perahu semakin turun juga.
Para penumpang nampak panik. Jangankan para anak gadis yang nampak panik dengan wajah pucat pasi, sedangkan kedua orang pemuda yang tadi bertindak sebagai pengawal dan pelindung pun berteriak-teriak minta tolong.
Purbajaya terkekeh-kekeh menyaksikan kejadian ini. Namun belakangan baru sadar bahwa para penumpang sampan itu kesemuanya tidak bisa berenang.
Pemuda itu segera meloncat dan terjun ke kolam manakala dilihatnya sampan mulai oleng dan menumpahkan isinya.
Terdengar teriakan minta tolong dan jerit ketakutan dari para penumpang sebab sampan benar-benar tenggelam.
Tak percuma Purbajaya hidup di daerah pesisir Muhara Jati, sebab dia punya kepandaian bermain di air dengan amat hebatnya. Paman Jayaratu memang melatih Purbajaya untuk menjadi puhawang (akhli teluk dan lautan). Sebagai orang yang dididik kebaharian, sudah barang tentu pemuda itu pandai berenang dan menyelam.
Purbajaya tidak panik harus menyelamatkan enam orang sekaligus, tokh itu hanya kolam biasa saja yang kedalamannya paling beberapa depa saja. Dalam waktu yang cepat dia sudah bisa menjemput dua orang gadis, namun yang didahulukan ditolong adalah gadis berlesung pipit dan berhidung kecil mancung. Gadis itu dipeluknya erat, kemudian disuruhnya bergayut pada buritan sampan yang terbalik. Sesudah itu dengan secepat kilat dia tolong lagi dua gadis. Keduanya dikempit kiri dan kanan. Dia berenang hanya mengandalkan gerakan sepasang kakinya saja. Paling akhir barulah kedua pemuda itu yang nampak kepayahan karena mulut gelagapan benyak kemasukan air. Sesudah semuanya bergayut di sampan, sampan ditarik ke tepi sambil berenang.
Di tepi kolam sudah banyak orang menunggu untuk memberikan pertolongan. Kaum lelaki kebanyakan hanya sibuk menolong para gadis saja. Purbajaya sibuk mengurusi gadis berlesung pipoit, berebutan dengan beberapa pemuda lainnya. Kedua orang muda yang tadi bersampan dan kini basah kuyup, mendorong tubuh Purbajaya ketika dilihatnya pemuda itu terkesan berlebihan menolong gadis berlesung pipit.
"Minggir kamu!" teriak salah seorang dari mereka geram.
"Eh, Rangga, jangan kasar! Bukankah pemuda itu rela berkorban menolong kita?" kata si gadis berlesung pipit dengan suaranya yang merdu. Tapi pemuda bernama Rangga itu hanya mendengus dan memalingkan muka.
Purbajaya baru sadar bahwa sebetulnya gadis berlesung pipit berkulit pipi halus putih dan berghidung kecil mancung itu sebenarnya menjadi pusat perhatian semua pemuda. Nampak nyata, ketika dia memeluk dan memeriksa keadaan gadis itu karena megap-megap kena air, semua pemuda yang ada di sana mendelik marah. Terbukti, tubuh Purbajaya sampai terjengkang didorong pemuda marah lantaran berani memeluk gadis cantik itu.
"Saya tidak kurang ajar, hanya berniat menolong saja," tutur Purbajaya memeras ujung baju yang basah kuyup.
"Kalau hanya pegang-pegang Nyimas, aku juga bisa!" teriak pemuda bernama Rangga itu hendak menerjang, membuat Purbajaya mundur satu tindak.
"Apa menolongnya" Ketika dia hampir tenggelam pun engkau bisa?" Purbajaya tak kepalang tanggung menantang kemarahan pemuda itu. Dan benar saja, kemarahan pemuda itu semakin memuncak. Dia menerjang dan melayangkan pukulan ke arah wajah Purbajaya. Namun dengan mendoyongkan tubuh ke belakang, jkepalan tangan pemuda itu tak sanggup menjangkaunya, hanya terpaut beberapa inci saja. Pemuda itu jadi bertambah marah. Dia pun maju setindak dan kembali melayangkan pukulan lurus ke depan mengarah dagu. Untuk kedua kalinya Purbajaya hanya perlu mendoyongkan tubuhnya ke belakang, sehingga kembali tohokan meleset.
"Rangga, sudahlah!" teriak gadis berlesung pipit mencegah. Namun pemuda bernama Rangga itu rupanya orang pemarah. Dia tak mau berhenti sebelum rasa marahnya terpuaskan. Purbajaya mengerti akan hal ini. Maka agar pemuda Rangga tak dikejar rasa penasaran, Purbajaya memperlambat gerakannya, sehingga ketika serangan yang ketiga datang menyusul, pukulan itu menohok telak ke ulu hato Purbajaya. Tenaga pukulan ini terasa biasa-biasa saja, walau pun sakit tapi tak terasa benar. Mungkin Rangga tak sepenuhnya mengeluarkan tenaga, atau mungkin juga hanya sebatas itu tenaga yang dimilikinya. Tapi untuk membuat Rangga senang, Purbajaya pura-pura kesakitan. Dia menjerit sambil menunduk dan kedua-belah tangannya memegangi ulu hatinya.
"Rangga jangan bertindak kejam!" teriak gadis berlesung pipit dengan nada tak suka. Namun Rangga seperti kurang puas. Dengan gerakan indah, pemuda itu meloncat dan kedua kakinya menerjang ke depan.
Purbajaya sadar bahwa pemuda bengal itu hendak menendang ubun-ubunnya. Dan bila demikian halnya, Purbajaya bisa menduga bahwa pemuda di hadapannyaini berhati kejam dan pendendam. Atau bisa juga dia ini orang yang biasa memelihara perasaan iri. Si Rangga ini iri karena Purbajaya berdekatan dengan gadis berlesung pipit itu.
Beberapa pemuda lain hanya melihat peristiwa ini tanpa berani bertindak atau menengahi. Ini hanya punya dua kemungkinan. Pertama, orang-orang merasa segan terhadap pemuda bengal itu. Kemungkinan kedua, semua pemuda setuju Purbajaya "dipermak" pemuda Rangga.
Tapi menurut jalan pikiran Purbajaya, orang barangkali segan untuk ikut campur. Mungkin pemuda Rangga bukan orang sembarangan. Dia orang terhormat barangkali.
Sebetulnya mudah saja bagi Purbajaya untuk menghindarkan terjangan ini. Dengan sedikit miringkan tubuh saja ke kiri atau pun ke kanan, serangan sudah bisa dipatahkan. Tapi kalau serangan ini patah, pemuda Rangga akan semakin berang, belum lagi rasa malunya sebab ditonton banyak orang. Maka untuk menjaga agar gengsi anak bengal itu tidak melorot turun, Purbajaya membiarkan serangan datang menerjang. Hanya biar pun begitu, Purbajaya tak mau begitu saja menerima tendangan. Dia pun harus balik memberikan pelajaran kepada pemuda pongah ini. Maka ketika terjangan sepasang kaki mengarah ubun-ubunnya, Purbajaya melindungi dirinya dengan sepasang ibu jari yang dirangkapkan dan mengacung mengarah ke telapak kaki lawan. Dengan kekuatan yang terlatih, Purbajaya melakukan serangan, menotol telapak kaki lawan dengan tohokan sepasang ibu jari tangan, tepat mengarah jaringan urat syaraf kaki.
Purbajaya terhempas ke belakang karena dorongan telapak kaki dan dia pura-pura menjerit ngeri. Dia jatuh berdebuk dan bergulingan beberapa kali.
Di samping kirinya ada suara jeritan halus. Ternyata itu suara merdu yang keluar dari mulut manis dan mungil gadis berlesung pipit. Gadis semampai itu menghambur menolong Purbajaya. Sambil duduk bersimpuh, gadis itu memeriksa kepala bahkan bagian badan lainnya, kalau-kalau terdapat luka serius di tubuh Purbajaya. Pemuda itu meram-melek tapi sambil pura-pura menahan sakit.
Purbajaya terlena keenakan. Sesekali matanya melirik ke arah pemuda Rangga. Dilihatnya, pemuda itu masih berdiri. Purbajaya tersenyum tipis dari balik sepasang telapak tangannya yang dipakai menutupi wajahnya. Walau pun pemuda Rangga masih berdiri tapi Purbajaya tahu,pemuda itu berdiri karena sepasang kakinya kaku menahan rasa sakit dan ngilu. Ini nampak jelas karena keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat-pasi dan mulutnya menyeringai. Rangga jelas menderita rasa sakit yang sangat. Purbajaya geli hatinya. Yang menderita justru pemuda Rangga tapi yang dirawat gadis cantik malah dia. Betapa dengan gerak-gerik halus penuh perhatian, gadis berlesung pipit ini mencoba sebisanya menolong Purbajaya yang tergeletak "kepayahan". Beberapa gadis lain pun ikut merubung dan membantu "mengobati".
*** TAK dinyana tak disangka, peristiwa lama itu kembali mencuat dalam ingatan hanya karena Pangeran Arya Damar mempercakapkannya kembali.
"Aku mendengar peristiwa itu. Tapi katanya hampir membuat keributan, benarkah itu?" tanya Pangeran Arya Damar menatap Purbajaya dengan seksama. Yang ditatap hanya menunduk.
"Maafkan, anak ini memang nakal tak tahu supan santun istana. Tapi urusan itu sudah saya selesaikan beberapa kemudian. Pangeran Aryadila bahkan sudah memeriksa perkara ini dan memberikan maaf," tutur Paman Jayaratu.
Purbajaya mengangkat muka dan menoleh . Sudah diselesaikan" Berarti peristiwa itu pernah berbuntut panjang dan perlu diselesaikan., padahal menurut perkiraannya, peristiwa itu selesai hari itu juga. Mengapa Paman Jayaratu tak mengabarinya bahwa percekcokan pernah berlarut-larut sehingga membuat Paman Jayaratu mengurusinya"
"Sudahlah. Kedatangan kalian ke sini bukan untuk membicarakan masalah itu ... " tutur Paman Pangeran Arya Damar menjegal kebingungan Purbajaya.
"Silakan Pangeran yang membicarakannya sebab hanya kalangan istana yang berwewenang memaparkannya," kata Paman Jayaratu.
Pangeran Arya Damar mengangguk, kemudian menatap Purbajaya.
"Anak muda, sudah berapa lama engkau tinggal bersama Ki Jayaratu?" tiba-tiba pangeran itu mengajukan pertanyaan aneh.
"Sudah sejak kecil saya bersamanya, Pangeran," tutur Purbajaya tanpa bisa menduga ke mana arah pertanyaan itu.
"Engkau anak siapakah sebenarnya?" sambung Pangeran Arya Damar lagi.
Purbajaya menoleh kepada Paman Jayaratu. Yang punya jawaban ini tentu orang tua itu, sebab sudah berulang kali Purbajaya bertanya namun Paman Jayaratu selalu berkata belum saatnya.
"Barangkali paman saya bisa menerangkannya, Pangeran," tutur Purbajaya sesudah merenung sejenak.
"Salah. Yang sanggup menerangkan siapa dirimu adalah aku, anak muda," jawab Pangeran Arya Damar menatap pemuda itu. Dengan amat terkejutnya Purbajaya balik menatap bangsawan itu. Mengapa Pangeran Arya Damar mengaku lebih hapal perihal dirinya" Purbajaya bingung dan tak sanggup meraba-raba misteri ini.
"Dengarkan, aku akan bercerita ... " kata Pangeran Arya Damar. Dan tak menunggu komentar, pangeran ini menuturkan sebuah kisah.
Nagri Carbon dulu merupakan wilayah kekuasaan Pajajaran. Namun ketika agama baru bernama Islam semakin berpengaruh di wilayah pesisir Jawa Dwipa (Pulau Jawa), Cirebon atau Carbon bertekad melepaskan diri dari Pajajaran.
Sudah barang tentu penguasa Pakuan (ibukota Kerajaan Pajajaran) tidak senang kedaulatannya terkikis. Maka sejak saat itu hubungan /cirebon dengan Pakuan semakin renggang. Cirebon sudah berhenti mengirimkan upeti. Penguasa Pakuan semakin cemas, apalagi melihat hubungan Cirebon dengan Kerajaan Demak, penyebar Islam di Jawa Dwipa semakin erat. Bahkan karena melihat hubungan ini semakin erat maka permusuhan terjadi.
"Bermusuhankah antara Carbon dan Pakuan, Pangeran?" tanya Purbajaya tiba-tiba.
"Ya, bermusuhan sekali!" jawab Pangeran Arya Damar tandas sekali. Purbajaya mennoleh ke arah Paman Jayaratu yang nampak masih duduk dengan tegak namun nampak nyata tidak begitu menyimak penjelasan ini.
"Saya dengar Pajajaran tidak membenci Carbon sebab dahulu pendiri Carbon adalah putra-putri Sang Prabu Sri Baduga Maharaja, penguasa Pajajaran (1482-1521 Masehi). Permesuri Sang Prabu adalah Nyimas Subanglarang, dari Pesantren Quro wilayah Tanjungpura (Karawang kini) dan ketiga putranya yaitu Walangsungsang, Larasantang serta Raja Sangara ikut agama ibunya yaitu Islam," potong Purbajaya.
"Benar, Nyimas Subanglarang orang Islam, anak-anaknya pun Islam juga dan kemudian mendirikan Carbon. Tapi ayahanda mereka bukan. Sang Prabu Sri Baduga Maharaja tak mau masuk agama baru. Itulah sebabnya, permusuhan terjadi," kata Pangeran Arya Damar.
Purbajaya menoleh ke arah Paman Jayaratu, nampak orang itu menghela napas.
"Sudahlah, bukan itu yang jadi titik perbincangan kita," kata bangsawan itu menepuk paha. Purbajaya pun seperti diingatkan kembali, bahwa percakapan utama adalah perihal dirinya.
Pangeran Arya Damar kembali melanjutkamn kisahnya. Karena antara Carbon dan Pajajaran sudah tak ada persesuaian paham, maka beberapa kali terjadi pertempuran antara Carbon dan Pajajaran. Carbon yang mendapatkan bantuan militer secara penuh dari Kerajaan Demak, lebih unggul dan sering memperoleh kemenangan. Beberapa tempat-tempat penting milik Pajajaran bisa direbut. Enam pelabuhan penting milik Pajajaran yaitu Ciamo (muara Cimanuk), Caravan (Ujung Karawang), Tamaram (muara Cisadane), Pontang (Marunda) dan Pelabuhan Bantam (Karangantu, Banten) menjadi milik Carbon, mengakibatkan pengaruh Pajajaran semakin terkikis. Dulu dia adalah nagara maritim dan agraris dan kini tinggal sebagai negara agraris saja sebab pengaruh Pajajaran kini hanya sebatas di daerah pedalaman.
"Ketika terjadi banyak pertempuran itulah engkau kami temukan!" kata Psangeran Arya Damar pada akhirnya.
Penjelasan ini amat mengejutkan Purbajaya. Dia menatap tajam ke arah pangeran itu, kemudian menoleh juga kepada Paman Jayaratu.
"Kalau begitu saya orang Pajajaran!" gumam Purbajaya.
"Benar, kau orang Pajajaran. Kau kami ambil di arena pertempuran yang terjadi antara Pasukan Carbon dan pasukan Pajajaran di wilayah Tanjungpura (Karawang kini)," tutur Pangeran Arya Damar lagi.
Purbajaya termenung lesu.
"Saya anak musuh Carbon ... " gumamnya dengan wajah pucat.
"Hahaha ...! Engkau bahkan anak dari penguasa Tanjungpura, anak muda," kata Pangeran Arya Damar semakin mengejutkan hati Purbajaya.
Hening sejenak. Paman Jayaratu tak berkomentar, kecuali bersila dengan tubuh tegak namun dengan wajah tertunduk. Yang paling kacau pikiran adalah Purbajaya. Ada galauan sedih, terkejut, marah dan sesal. Dia selama ini hidup dan dididik oleh orang Carbon dan merasa orang Carbon, nyatanya anak keturunan dari Pajajaran.
"Saya anak musuh, mengapa tidak dibunuh?" tanya Purbajaya.
"Hahaha! Itulah kemurahan hati orang Carbon, anak muda. Musuh tidak dibunuh bahkan diurus, diberi hidup dan diberi pendidikan. Namun tentu saja engkau tak boleh percuma tinggal di sini, harus ada semacam balas-budi," tutur pangeran itu, memeluk kedua belah tangan dan mata menerawang ke beranda depan.
Purbajaya masih menatap pangeran itu.
"Barangkali sudah kau dapatkan penjelasannya ..." kata Pangeran Arya Damar menatap.
"Saya ditugaskan kedayo (ibukota) Pajajaran, yaitu Pakuan," kata Purbajaya.
"Sanggupkah?"
"Belasan tahun saya dididik pengetahuan. Kata Paman Jayaratu, saya akhli sebagaipuhawang (akhli kebaharian), saya juga banyak menerima pendidikan kedigjayaan dan keagamaan. Kalau Carbon percaya dan berkenan memberi saya pekerjaan, maka semua kemampuan saya untuk negri ini," kata Purbajaya sepenuh hati namun masih dengan perasaan sedih.
"Bagus. Itu yang aku inginkan. Kau akan masih dididik beberapa lama di sini, di puri ini. Semua tugas-tugasmu di bawah kendaliku," ujar Sang Pangeran.
"Saya musti bersiap-siap untuk itu."
"Sekarang pun engkau harus sudah siap. Mulai malam ini, kau menjadi bagian dari puri ini," kata Pangeran Arya Damar tandas dan seperti tak boleh dibantah.
Tentu saja Purbajaya terkejut dengan perintah ini. Dia menatap Paman Jayaratu. Nampak orang tua itu pun terkejut dengan keputusan ini. Purbajaya menduga, barangkali pikiran dia dan Paman Jayaratu sama, yaitu tak ingin secepat itu berpisah. Benar keduanya masih berada di Carbon. Tapi yang namanya berjauhan tempat tinggal, itulah berpisah namanya. Hari ini dan seterusnya, dia akan tinggal di kompleks istana. Barangkali segalanya serba enak namun terasa asing. Beda lagi dengan bila berkumpul bersama Paman Jayaratu. Tinggal di dusun sunyi, rumah pun beratap rumbia dan berlantai tanah. Tapi itulah kehidupannya. Jauh dengan Paman Jayaratu tentu akan sunyi dan rindu. Orang tua ini mendidiknya dengan keras dan ketat namun tak pernah memarahinya. Inilah kerinduan, inilah kenangan. Mengapa dia tiba-tiba harus dipisahkan dari Paman Jayaratu"
"Saya perlu beberapa hari untuk berkemas-kemas, Pangeran," Purbajaya memohon.
"Segala sesuatu mengenai keperluanmu sudah disiapkan. Tinggalkan masa-lalumu. Kau bukan lagi pemuda dusun yang tak tahu sopan-santun, melainkan seorang ksatria dan calon perwira dari Carbon. Kau adalah keturunan bangsawan. Jadi, di Carbon pun kau tetap bangsawan. Tapi ada satu hal yang jangan terlupa. Kau bisa tinggal di sini karena utang budi. Camkan itu," kata Pangeran Arya Damar. Purbajaya mengangguk pelan.
"Malam sudah semakin larut. Ki Jayaratu silakan istirahat pulang. Anak ini Insya Allah aman dalam lindungan istana," kata Pangeran Arya Damar mengusir halus.
Paman Jayaratu menyembah takzim, kemudian beringsut ke belakang. Dan tanpa sempat saling pandang dengan Purbajaya, orang tya itu segera meninggalkan paseban (bangsal tempat pertemuan penting).
*** Bab 2 PURBAJAYA tak sanggup menilai, mimpi apakah ini" Sebuah anugrah ataukah sekadar mimpi buruk" Dianggap anugrah boleh juga sebab kehidupan dia secara lahiriah jadi terangkat. Baru dua hari saja tinggal di puri itu sudah dihormati dan disembah, baik oleh para jagabaya mauu pun oleh dayang istana. Jenis pakaian pun kini menjadi serba indah. Kalau sebelumnya dia hanya memakai baju rompi jenis kain kasar dan celanasontog (celana sebatas betis) juga dari kain kasar, di Puri Arya Damar pakaian yang dikenakan adalah jauh dari jenis yang digunakan orang kebanyakan. Dia memakai pakaian untuk kaumsantana (masyarakat golongan menengah, termasuk kaum ksatria). Kalau pun dia sedang menggunakan rompi dan sontog, hanyalah sebatas bila tengah berlatih kemiliteran di alun-alun. Pada hari-hari biasa dia selalu memakai pakaian necis. Seperti hari itu misalnya. Sore hari dia menyusuri benteng bata-merah sambil menggunakan baju jubah warna kuning mencolok. Jubah itu menjurai ke bawah sebatas lipatan dengkul. Dia menggunakan celana komprang warna hitam yang pada setiap pinggirnya berkelim benang perak. Kepalanya ditutup bendo citak dengan kain batik corakhihinggulan dengan garis-garis putih coklat. Inilah mungkin anugrah baginya.
Tapi dia juga berpikir tentang mimpi buruk. Betapa tidak. Dia hadir di sini sebenarnya sebagai orang yang berkewajiban menebus utang budi. Inilah yang menyedihkan hatinya. Sebelum berita perihal dirinya diketahui pasti, dia mengabdi di Negri Carbon karena pilihan hatinya. Carbon adalah negri tempat dia bernaung, berjuang dan mungkin mati. Tapi ada tuntutan yang tak berkenan di hatinya dan amat mengecewakan. Dia harus bekerja untuk negri ini karena urusan utang budi. Ya, utang budi seperti anjing kurus diurus dan sesudah gemuk musti taat tuannya. Mengapa kedudukannya jadi seperti itu,padahal sejak semula pengabdiannya hanyalah karena cinta tanah air semata. Tanah air" Oh, ya! Bukankah tanah air sebenarnya buat dirinya adalah Pajajaran" Tanjungpura, kata Pangeran Arya Damar adalah kampung halamannya dan Tanjungpura itu wilayah Pajajaran.
Dia dikhabari sebagai anak penguasa Tanjungpura. Kalau begitu dia anak seorangkandagalante ( setingkat wedana kini). Memang sudah termasuk kalangan bangsawan juga. Menurut khabar, yang jadi penguasa di wilayah Pajajaran biasanya merupakan bagian dari kerabat raja juga. Purbajaya tak mau tahu, apa benar dia masih kerabat raja atau bukan. Yang jelas khabar-khabar bahwa dia bukan orang Carbon dan "diambil" dari sisa pertempuran, amat menyakitkan hatinya.
Itulah sebabnya, di sore hari yang cerah ini, dia jalan-jalan menyusuri benteng Istana Pakungwati kendati dengan hati loyo.
"Itu dia anak muda yang kami maksud, Nyimas!" terdengar celoteh suara perempuan.
Purbajaya menatap ke depan. Berjarak kurang lebih sepuluh depa di depan ada serombongan gadis. Pakaian mereka indah-indah, mengingatkan dirinya pada perayaan muludan beberapa bulan lalu. Tapi yang membuat jantungnya berdegup dan bertalu-talu karena melihat siapa gadis yang berjalan paling depan.
"Nyimas Waningyun ... " bisiknya tak terasa.
Ya, dia tak pernah lupa wajah putih mulus dengan lesung pipit di pipi kirinya serta hidung kecil mancung dan mata berbinar itu. Selama hampir enam bulan semenjak pertama kali bertemu dengan gadis itu di pesta muludan yang berakhir dengan keributan, Purbajaya tak pernah lupa akan wajah purnama itu.
Purbajaya merandeg dan sepasang kakinya serasa terpaku di tanah, sedangkan matanya tak lepas-lepasnya memandang purnama gemilang itu. Belakangan baru dia sadar sesudah terdengar suara cekikikan di depannya. Yang tertawa adalah gadis-gadis yang tadi jadi pengiring Nyimas Waningyun itu. Barangkali mereka mengetawakan tindak-tanduk Purbajaya yang nampak lucu. Betapa tidak, mulut pemuda itu melongo dan matanya tak berkedip seperti mata ikan peda.
"Hei, awas nanti ada lalat masuk ke mulutmu!" teriak gadis-gadis itu. Purbajaya memalingkan muka kemudian menunduk. Sepasang pipinya terasa panas. Kalau dilihat orang, barangkali pipi itu bersemu merah seperti udang direbus.
"Nah lihat, sekarang pemuda itu menunduk malu seperti bocah dimarahi ibunya," goda gadis-gadis itu sambil kembali cekikikan.
"Sudahlah, kasihan dia digoda terus," tutur suara lain yang terdengar halus dan merdu.
Purbajaya masih berdiri terpaku. Ternyata Nyimas Waningyun pun masih tak beranjak dari tempatnya. Gadis bermata binar itu pun ternyata masih berdiri terpaku.Matanya yang jernih menatap lama ke arah Purbajaya. Ketika pemuda itu balik menatap, gadis itu cepat menunduk. Menatap sebentar kemudian menunduk lagi sesudah tahu bahwa dirinya masih ditatap pemuda itu. Akan halnya Purbajaya, dia pun bertindak-tanduk sama. Menatap dan kemudian menunduk sesudah tahu bahwa gadis itu menatap dirinya.
"Hai, kok saling tatap begitu. Majulah anak muda kalau dirimu merasa jantan," tantang salah seorang gadis pengiring. Tapi ditantang seperti itu, Purbajaya bukannya maju, melainkan malah kian tertunduk saja, sehingga membuat suara cekikikan semakin banyak.
"Ayolah maju, Nyimas!"
Tubuh gadis itu didorong-dorong dari belakang. Maksudnya agar segera mendekat ke arah Purbajaya.Sudah barang tentu gadis itu ogah. Dia malah berpegang pada tepian benteng dengan erat seperti orang takut jatuh. Melihat adegan ini, Purbajaya jadi berani tersenyum.
"Mengapa senyum-senyum" Monyet kamu, ya?" celetuk salah seorang gadis pengiring.
"Masa iya monyet bisa senyum?" jawab Purbajaya mulai berani bicara.
"Memang bukan senyum sebab kamu tadi itu cengar-cengir. Monyet kan yang cengar-cengir?"
"Purbajaya mengatupkan bibir sebagai tanda tak suka. Namun sungguh aneh, gadis berlesung pipit pun sama mengatupkan bibir. Tak sukakah Purbajaya disebut monyet oleh orang lain" Oh, kalau begitu, Nyimas Waningyun membelaku! Hati Purbajaya berbunga-bunga.
"Sudahlah, kalian jangan menggoda kami," kaya Nyimas Waningyun.
"Eh, kok kami" Kami itu, Nyimas dengan siapa?" gadis-gadis itu seperti tak habis-habisnya menggoda.Semakin gugup dan semakin merona warna pipi gadis itu.
Purbajaya merrasa kasihan kepada Nyimas Waningyun. Gadis itu habis kena goda karena kehadiran dirinya. Maka untuk jangan keterusan, maka dia mengangguk dan kemudian membalikkan diri untuk segera berlalu dari tempat itu.
"Hai, hai! Mau ke mana" Tidakkah engkau tahu bahwa jauh-jauh datang kemari karena Nyimas ingin bertemu denganmu?" teriak seorang gadis, membuat pipi Purbajaya terasa panas dan dada berdegup. Tanpa sadar, pemuda itu serentak menghentikan langkahnya.
"Hai, coba balik sini, kok tidak sopan sekali berdiri sambil memberi punggung?" terdengar lagi suara gadis. Seperti kena sihir saja, Purbajaya membalikkan tubuhya dan menghadapkan wajah ke arah mereka. Namun hanya sebentar sebab kepalanya segera tertunduk malu.
Maka terjadilah adegan yang lucu. Dua pasang muda-mudi berdiri berhadapan namun dengan kepala tertunduk, sedangkan di sekelilingnya beberapa gadis sibuk menonton sambil tertawa-tawa.
"Pergilah kalian. Aku bisa mati kalau terus digoda seperti ini ... " keluh Nyimas Waningyun dengan suara parau.
Namun walau masih senyum-senyum, pada akhirnya semua gadis pengiring mundur teratur dan tinggallah Purbajaya berdua dengan Nyimas Waningyun.
Keduanya masih sama membisu dan Purbajaya tak tahu bagaimana harus memulai.
"Maafkan saya ... "
"Maafkan saya ... "
Dua suara dengan bunya kalimat yang sama, hampir berbareng diucapkan oleh mereka. Kedua orang muda-mudi ini terkejut sendiri. Keduanya menganga, terbelalak namun keduanya akhirnya sama-sama tertawa geli. Nyimas Wanungyun tertawa sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan kanannya.
"Saya harus memaafkan apa, Nyimas?" tanya Purbajaya.
"Apa pula yang harus saya maafkan untukmu" Oh, siapa namamu" Purbajaya, ya?" gadis itu mulai berani buka suara. Purbajaya pun mengangguk gembira bahwa gadis itu sudah mengenal namanya. Hanya dalam dua hari gadis itu tahu namanya, hanya menandakan bahwa Nyimas Waningyun memperhatikan dirinya.
"Nyimas masih ingat saya?"
"Tidak. Hanya merasa diingatkan kembali. Oh, ya. Engkau sebetulnya pemuda bengal. Engkau harus minta maaf ke sana ke mari. Kepada Raden Ranggasena juga terhadapku!" sergah gadis itu.
"Lho, barusan Nyimas berkata apa yang musti dimaafkan. Sekarang malah Nyimas minta agar saya minta maaf," kata Purbajaya heran tapi dengan mengulum senyum.
"Ya, harus minta maaf karena engkau bengal, licik dan tukang bohong!" sergah lagi gadis itu. Kini malah telunjuk kanannya yang kecil dan putih bersih menuding hidung Purbajaya. Pemuda itu melihat hidungnya sendiri dengan picingkan mata, kemudian mencoba menyeka hidung, seperti di bagian tubuhnya itu ada kotoran menempel.
"Bukan di hidungmu!"
"Di mana?"
"Di hatimu! Hatimu itu!" teriak gadis kecil itu marah tapi merdu.
"Di hatiku?" giliran pemuda itu yang pegang dadanya.
"Ada apa di hatiku?" tanyanya ketolol-tololan.
"Terkalah sendiri, ada apa di hatimu?"


Kemelut Di Cakrabuana Karya A Merdeka Permana di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ouw, saya tahu!"
"Ya, coba katakan!" desak gadis itu. Tapi Purbajaya malah diam. Kembali gadis itu mendesak dan untuk ke sekian kalinya Purbajaya berdiam diri.
"Saya malu mengatakannya ... " jawab pemuda itu bersemu merah.
"Memang harus malu kalau merasa diri culas dan bengal."
"Eh, hatiku tidak culas dan juga tidak bengal. Apa yang ada di hatiku benar-benar tulus dan murni serta bisa dipercaya," kata Purbajaya dengan suara sungguh-sungguh.
"Tidak bisa dipercaya sebab engkau telah merugikan orang lain dengan main sembunyi. Dengarkan hai pemuda bodoh. Sampai seminggu lamanya dari kejadian itu, Raden Ranggasena tak bisa ke luar puri dan kerjanya tidur melulu."
"Mengapa?"
"Karena kakinya bengkak, urat nadinya tersumbat!"
"Lho?"
"Jangan lha-lha-lho-lho! Kaki itu bengkak karena ulahmu. Alhasil engkau waktu itu mengibuli orang. Berkaok-kaok pura-pura kesakitan seolah-olah disakiti Raden Rangga, padahal engkaulah sebetulnya yang mencederai pemuda bangsawan itu.Dan sialnya... Oh, malu aku mengatakannya!"
"Tentang apa, Nyimas?"
"Tentang, betapa aku mengkhawatirkanmu sampai-sampai aku marahi Raden Rangga, sampai-sampai aku pegang-pegang tubuhmu ... Oh!" Nyimas Waningyun membuang muka kemudian lari meninggalkan tempat itu.
Tinggallah Purbajaya berdiri mematung di tempat sunyi. Aneh sekali, pikirnya. Pada pertemuan awal, gadis itu nampak begitu manis begitu ramah dan bergalau tawa. Kenapa setelah ingat peristiwa lama malah jadi uring-uringan"
Ow, sialnya aku! Mengapa tak marah" Ya, siapa takkan sebal kalau pada akhirnya tindakan pura-puranya ketahuan" Pasti gadis itu marah karena merasa dipermainkan. Ya, dia masih ingat bahkan suka tertawa sendiri kalau mengingatnya. Raden Ranggasena menerjang Purbajaya dengan tendangan telak, namun serangan ini segera dijemput oleh totokan ibu jari tangannya yang bertindak seolah tengah melindungi kepalanya dari serangan itu. Purbajaya pura-pura terjengkang ke belakang dan menjerit kesakitan. Padahal yang sebenarnya terjadi, Ranggasenalah yang terluka karena urat nadi di telapal kakinya tersumbat.
Tidakkah Nyimas Waningyun pun tahu bahwa perahu bocor di tengah kolam pun sebetulnya sengaja dilubangi olehnya" Pikir Purbajaya melamun seorang diri.
Dengan hati murung pemuda itu berjalan pelan menyusuri benteng istana. Sayup-sayup terdengar suara azan magrib dari Mesjid Sang Ciptarasa.
*** MALAM itu Purbajaya tak bisa memejamkan mata. Banyak pikiran bergayut di benaknya. Pemuda itu berpikir tentang Paman Jayaratu, tentang Nyimas Waningyun dan juga tentang dirinya. Sungguh aneh, semuanya diselimuti misteri. Hatinya coba menguak perihal Paman Jayaratu. Siapa orang tua itu, dia tetap tak tahu. Ada sesuatu yang ditutupi Paman Jayaratu, paling tidak perasaannya terhadap Pangeran Arya Damar. Dalam selintas, Purbajaya sudah bisa menduga, Paman Jayaratu tidak menyukai Pangeran Arya Damar. Sejak Purbajaya menerima panggilan ke istana, sudah terlihat ada kerutan di dahi Paman Jayaratu. Orang tua itu adalah seorang penyabar dan bertindak-tanduk sederhana. Tidak pernah memperlihatkan perasaan suka atau tidak suka. Tapi Purbajaya sudah hapal perangai Paman Jayaratu, bahwa kalau memperlihatkan kerut-merut di dahi, pertanda ada sesuatu yang tidak disenanginya. Mengapa Paman Jayaratu tidak menyenangi Pangeran Arya Damar"
"Barangkali dia tak senang sebab dengan pemanggilan dirinya ke istana, hanya punya arti bahwa dia berpisah denganku ... " pikir Purbajaya.
Pemuda ini hanya bisa menduga hingga di ditu. Ya, dugaan ini yang paling dekat sebab dirinya sendiri pun sebetulnya punya perasaan yang sama, bahwa ada sedikit sesal mengapa keputusan istana begitu tergesa-gesa. Ini terlalu cepat memisahkan dirinya dengan Paman Jayaratu. Belasan tahun dia dididik Paman Jayaratu tapi manakala harus berpisah, dia tak sempat bilang terimakasih atau pun sekadar ucapan perpisahan. Ini menyedihkan hatinya. Dan barangkali hati Paman Jayaratu pun begitu. Jadi bisa dimengerti bila orang tua itu tak senang kepada Pangeran Arya Damar.
Sekarang pemuda itu berpikir tentang Nyimas Waningyun. Selama lebih dari enam bulan ini di benaknya selalu ada bayanagan seorang gadis ayu ayu yang berlesung pipit, yang berhidung mancung kecil dan dengan sepasang mata berbinar. Itulah Nyimas Waningyun. Selama berbulan-bulan ini hanya ada dalam bayangannya saja, tak dinyana dia diberi kesempatan untuk bersua kembali.
Tapi senja tadi, begitu marahnya gadis itu. Dulu gadis itu membela dirinya, kini berputar total jadi bela pemuda bernama Rangga.
"Engkau harus malu kalau mengaku dirimu culas dan bengal!" terngiang lagi ucapan Nyimas Waningyun. Memang dia malu sekali sebab akal bulusnya ketahuan sudah. Kalau gadis itu sudah tahu dia senang berakal-bulus, bisa-bisa dia dibenci sepanjang masa.
"Satu kali berbohong, selama hidup orang takkan percaya." Kini yang terngiang adalah nasihat Paman Jayaratu. Betul, Nyimas Waningyun akan benci selamanya. Dan akan semakin benci pula dia kalau akal bulusnya bukan itu saja, melainkan juga yang menyebabkan gadis itu basah kuyup kecebur ke kolam. Bukankah kejadian ini gara-gara tubuh perahu itu dia lempar dengan kerikil sehingga lunasnya bocor" Kalau gadis itu tahu, barangkali cercaannya akan berlipat-ganda. Bukan saja menuduhnya bengal, melainkan jahat. Jahat" Ouw, padahal Paman Jayaratu benci kejahatan.
"Hati-hati menjaga perasaanmu jangan sampai digilas oleh yang namanya iri. Iri adalah kembangnya kejahatan," tutur Paman Jayaratu suatu kali.
Tidak salah orang tua itu berkata begitu. Dia bertekad membocorkan perahu karena didorong oleh perasaan iri melihat pemuda lain bercengkrama dengan gadis-gadis cantik sementara dirinya penuh sepi.
Tapi sorot mata gadis itu penuh misteri. Purbajaya hanya merasakan, mulut dan kata-kata gadis itu saja yang pedas sedangkan matanya lembut dan ... dan seperti menyiratkan cahaya tertentu padanya. Cahaya apa, Purbajaya tak bisa menduganya, kecuali berpikir dengan hati berdebar disertai perasaan harap-harap cemas. Harapan cintakah itu" Sampai di sini hatinya merandek. Dia tak tahu, apakah bila melihat wajah wanita cantik disertai perasaan berdebar merupakan sesuatu bernama cinta"
Sampai di sini hatinya merandek. Dia tak tahu, apakah bila melihat wajah wanita cantik disertai perasaan berdebar adalah sesuatu bernama cinta" Lantas kalau memang begitu, bagaimana harus dimulai dan bagaimana pula selanjutnya" Kalau dia berani menyatakan cintanya, apakah tak akan terjadi sesuatu yang buruk" Purbajaya bingung memikirkannya. Dia bingung, bagaimana menyatakan perasaan ini, apakah musti melalui surat atau dengan menggunakan perantara, atau bahkan musti datang sendiri"
Namun belum sempat dia menimbang-nimbang berbagai cara yang barusan dia pikirkan, tangannya segera melayang dan menampar pipinya sendiri.
Sialan, mengapa aku berani berpikir seperti itu" Ada satu pertanyaan yang musti dijawab terlebih dahulu, apakah gadis itu pun sama punya perasaan seperti itu padanya"
Kalau melihat sorot mata gadis itu padanya, Purbajaya serasa mau bilang ya. Tapi banyak kendala yang harus dia pikirkan.Nyimas Waningyun adalah putri seorang bangsawan terkemuka sedangkan dirinya sendiri apa" Tak berlebihan bila pemuda Rangga marah besar melihat dia berdekatan dengan Nyimas Waningyun sebab Purbajaya sudah menduga, pemuda itu tengah mengharapkan cinta gadis itu. Dan pemuda mana pun pasti mengharapkan cinta gadis itu. Dan saingan Purbajaya sungguh berat. Dia hanyalah pemuda luntang-lantung yang tidak dikenal asal-usulnya, sementara para pesaingnya melulu keturunan bangsawan.Pemuda Rangga yang dia pecundangi itu, bukankah seorang meuda bergelar raden" Dia adalah Raden Ranggasena putra bangsawan terkemuka bernama Pangeran Danuwarsa yang cukup ternama di Carbon ini" Sedih hatinya ketika memikirkan hal ini. Bila demikian halnya, Purbajaya hanya berhadapan dengan sebuah gunung semata. Dia tak punya daya untuk mendakinya.
*** PAGI harinya Purbajaya sudah dipanggil ke paseban. Di sana Pangeran Arya Damar sudah duduk dengan penampilan amat anggun. Bangsawan itu duduk bersila dengan tubuh tegak. Duduk di atas hamparan karpet beludru buatan Nagri Parasi (Iran). Dia memakai baju warna coklat muda terbuat dari kain beludru halus jenis bedahan lima. Keria beronce benang emas tak tertinggal terselip di pinggang bagian belakang. Bangsawan itu memakai tutup kepala bendo citak terbuat dari kain batik motifhihinggulan .
Yang membuat Purbajaya heran, di paseban itu pun sudah terdapat beberapa orang lainnya. Melihat jenis pakaian mereka, tentulah para perwira kerajaan. Ada empat orang di sana. Rata-rata memakai pakaian serba-hitam dengan kelim-kelim benang warna perak. Di pinggang bagian belakang, terpasang keris dengan ronce-ronce indah kendati tak seindah ronce keris yang dimiliki Pangeran Arya Damar.
Ketika Purbajaya datang ke paseban, keempat perwira itu menatapnya dengan penuh perhatian. Pemuda itu tak berani balik menatap. Selain akan dianggap tak sopan juga karena sorot mata mereka berwibawa.
"Kau duduk di sini, Purba ..." kata Pangeran Arya Damar. Purbajaya beringsut menuju ke tempat yang ditunjukkan pangeran itu. Menyembah hormat ke hadapan Pangeran Arya Damar, baru kemudian kepada yang lainnya.
"Engkau harus berkenalan dengan empat perwira ini, Purba," tutur Pangeran Arya Damar sambil memperkenalkan mereka. Lelaki bertubuh jangkung sedikit kurus dengan kumis tipis, diperkenalkan sebagai Ki Albani. Beranjak kepada orang kedua, wajahnmya sedikit bulat dengan kumis tebal, diperkenalkan sebagai Ki Aspahar. Kemudian yang berhidung melengkung dengan mata dalam disebutnya sebagai Ki Aliman dan yang berwajah pucat tapi punya sorot mata tajam diperkenalkan dengan nama Ki Marsonah. Yang diperkenalkan ini sepertinya orang-orang yang tak suka banyak bicara dan mungkin juga tak punya keramahan. Terbukti dalam menerima hormat Purbajaya mereka hanya mengangguk kecil tanpa sesungging senyum sedikit pun.
"Kelak engkau akan ikut bertugas dengan keempat perwira ini, Purba ... " kata Pangeran Arya Damar menerangkan.
"Atasan sayakah mereka ini, Gusti?"
"Boleh dikata begitulah."
"Tentu banyak tugas yang saya emban kelak," kata Purbajaya.
"Kewajibanmu kelak hanyalah mengikuti perintah mereka," kata lagi Pangeran Arya Damar sambil melirik ke arah empat perwira itu.
"Mengapa kami perlu bertemu khusus dengan pemuda ini, Pangeran" Tidak cukupkah bila dalam menerima penjelasan dia, kita satukan saja dengan para prajurit lainnya?" tanya Ki Aliman sambil memandang enteng kepada Purbajaya.
"Dia memang prajurit tapi tengah kami persiapkan untuk jadi perwira juga. Dia punya sesuatu hal yang khusus. Jadi jangan samakan dia dengan prajurit kebanyakan," jawab Pangeran Arya Damar sepertinya bangga kepada Purbajaya.
"Maksud Pangeran, apakah pemuda ini punya kepandaian lebih tinggi dari kebanyakan prajurit?" Ki Aliman memicingkan matanya.
"Dia adalah murid Ki Jayaratu!" kata Pangeran Arya Damar. Sejenak keempat orang perwira itu memperlihatkan wajah terkejut. Hanya sebentar saja sebab kemudian sudah terlihat biasa lagi.
"Kami percaya kepandaian Ki Jayaratu tapi tidak kepada muridnya," kata Ki Aliman lagi tanpa melihat kepada Purbajaya.
"Purbajaya, Ki Aliman adalah tingkat keempat dari empat perwira ini. Silakan kau turun ke halaman dan bermain-main dulu sebentar dengan Ki Aliman," perkataan Pangeran Arya Damar ini bernada perintah. Tapi yang turun duluan adalah Ki Aliman. Bahkan dia langsung memasang kuda-kuda sebagai tanda siap untuk menguji kepandaian.
Purbajaya bimbang menghadapi peristiwa ini. Ini adalah pengalaman pertama di mana harus bertarung dengan orang lain. Memang benar selama bertahun-tahun mendapatkan gemblengan dan latihan kewiraan dari Paman Jayaratu tapi berkelahi secara sungguhan belum pernah dia lakukan. Melawan Ki Aliman barangkali hanya sekadar uji-coba saja. Tapi menurut pemuda ini, uji-coba punya arti sebagai pertandingan. Inilah yang merisaukannya. Yang namanya bertanding dia belum pernah melakukannya. Apalagi berlatih kewiraan baginya hanya merupakan olah gerak semata agar badan selamanya merasa sehat. Mengalahkan apalagi membunuh oirang lain adalah soal lain. Sudah berkali-kali Paman Jayaratu mengatakan bahwa mengalahkan orang lain belum tentu merupakan sebuah kemenangan. Orang yang dikalahkan akan memendam perasaan sakit hati, benci dan dendam. Dan bila dendam sudah membara maka setiap saat akan mencari peluang melakukan pembalasan. Dan karena sdendam ini pula maka kedamaian selalu terganggu."Tak ada kemenangan selama tak ada kedamaian," ujar Paman Jayaratu suatu kali. Dan menurut orang tua ini, kemenangan abadi yang membawa kedamaian adalah kemenangan tanpa mengalahkan.
"Ada banyak cara agar kita mencapai kemenangan tanpa mengalahkan," kata Paman Jayaratu pula.
"Bagaimana caranya, Paman?" tanya Purbajaya ketika itu.
"Mengalahlah untuk mencari kemenangan!"
Purbajaya melengak heran.
Kemudian Paman Jayaratu melanjutkan,"Kemenangan artinya mencapai suatu tujuan. Jadi yang penting, tujuan akhirlah yang dicapai dan bukan bagaimana caranya. Dengan kata lain, kita bisa mencari kemenangan tanpa harus melalui jalan dari mengalahkan orang lain . Sebuah kemenangan bisa diraih tanpa melakukan kekerasan."
"Ayo Purbajaya, turunlah ke pekarangan, Ki Aliman sudah menantimu!" seru Pangeran Arya Damar menyentakkan lamunan pemuda itu.
Dengan hati yang berat Purbajaya keluar dari ruangan paseban dan menuju pekarangan yang berumput hijau.
Ki Aliman sudah berdiri di sana dengan kedudukan kuda-kuda yang kokoh. Sepasang kakinya terpentang lebar ke kiri dan ke kanan sementara kedua pasang tangan membentuk gerakan sayap garuda. Anggun dan nampak gagah sekali, kecuali hidungnya yang melengkung dan sorot matanya yang dalam serta bibirnya mengatup rapat amat menampakkan dirinya adalah seorang yang angkuh.
Dengan perasaan masih ragu, Purbajaya menghormat kepada lelaki berusia empatpuluhan ini dan hanya dibalasnya dengan sebuah anggukan kecil.
"Kita bermain-main sebentar, anak muda," katanya pendek. Sesudah itu, lelaki berikat kepala kain hitam kasar ini segera mengubah sikap. Sambil mengepak-epakkan sepasang tangannya menyerupai kepak sayap burung garuda, Ki Aliman bergerak ke kiri dan ke kanan, kemudian berhenti dengan hanya menotolkan ujung kaki kiri saja. Belakangan, Ki Aliman mengubah kuda-kudanya. Tangan kanannya membentuk siku-siku dengan telapak tangan menghadap ke atas. Tangan kirinya pun membentuk siku-siku tapi berada di bawah kedudukan tangan kirinya. Kini telapak tangan kanan mengepal keras membuat tinju.
Purbajaya pernah mengenal gerakan ini. Kata Paman Jayaratu, gerakan ini disebutJurus Inti Garuda Paksi Tangan Delapan Bukan untuk penyerangan, melainkan untuk pertahanan belaka. Ini hanya membuktikan, Ki Aliman sebenarnya hanya akan menunggu serangan lawan dan bukan untuk mendahului melakukan serangan. Ada berbagai penilaian Purbajaya melihat sikap ini. Pertama, Ki Aliman bersikap menunggu karena sebagai orang yang usianya berada di atas lawannya dia bersikap "sabar". Namun penilaian kedua, bisa saja sikap ini menandakan kesombongan bahwa seorang yang kepandaiannya lebih tinggi, cenderung lebih menunggu lawan menyerang yang diketahui kepandaiannya ada di bawahnya. Atau bisa juga Ki Aliman punya kecerdikan lain. Banyak akhli berpendapat, bahwa serangan yang baik adalah pada saat lawan melakukan serangan. Mereka berpendapat bahwa bila lawan melakukan serangan, maka titik perhatiannya adalah pada penyerangan dan bukan pada pertahanan. Maka di saat dia melakukan serangan, akan terkuak pertahanan yang lowong. Itulah peluang si terserang untuk balik menyerang.
Karena punya pikiran seperti itu, maka Purbajaya bersikap hati-hati. Dia akan membagi dua perhatian. Setengah gerakan dia gunakan untuk menyerang dan setengahnya lagi untuk bertahan. Tapi bagaimana caranya, sudah barang tentu akan melihat dulu bagaimana nanti Ki Aliman melakukan serangan balasan.
Purbajaya mulai melakukan gerakan tertentu. Dia melangkah tiga tindak ke depan, sesudah itu melakukan gerakan ke samping kiri dan bersikap seolah-olah memutari tubuh Ki Aliman. Dengan cara memutar dia mencoba mengganggu pertahanan Ki Aliman. Lelaki itu akan terus mengubah sikap pertahanannya sesuai dengan gerakan memutar yang dilakukan Purbajaya. Sikap berubah-ubah karena mengikuti gerakan lawan, diperkirakan akan mengganggu konsentrasi dalam memantapkan kedudukan pertahanan. Namun demikian, Ki Aliman belum mengubah sikap sepasang tangannya yang membentuk siku-siku di depan dadanya. Sungguh tepat sebab itu adalah pertahanan yang kokoh sebab semua bagian penting tubuhnya akan terlindungi dengan baik. Serangan mengarah dada jelas akan tertutup rapat. Bila Purbajaya hendak menyerang ubun-ubun akan ada tangan kiri yang melindungi. Demikian pun bila hendak menyerang ulu hatinya, tangan kanan dari depan dada tinggi bergeser ke bagian bawah.Satu-satunya pusat penyerangan adalah mengarah ke bagian tubuh lawan yang tak begitu penting tapi sebetulnya bebas dari perlindungan kuda-kuda.
Kaki adalah bagian tidak penting yang tidak memerlukan pengawalan secara khusus. Mengapa begitu sebab semua orang menganggap bahwa kaki adalah bagian senjata tubuh yang berfungsi sebsagai alat untuk menyerang. Karena punya dugaan seperti ini, maka Purbajaya akan menitik-beratkan penyerangan ke bagian ini.
Oleh sebab itu, Purbajaya terus saja memutari tubuh Ki Aliman. Pandangan matanya tak lepas dari kepala lawan dengan harapan lawan menduga bahwa Purbajaya tengah mengincar kepala.
Purbajaya terus berputar dan berlari sepertinya tak ada tujuan lain baginya kecuali berlari sambil berputar. Sampai pada suatu saat Ki Aliman nampak kesal dan bosan dengan keadaan ini. Inilah modal penyerangan Purbajaya, yaitu membuat lawan bosan dan jenuh karena melihat gerakan monoton. Kesal dan marah akan menyebabkan hilangnya konsentrasi. Ketika kerut-merut di dahi Ki Aliman kian kentara, maka secara tiba-tiba Purbajaya mengubah gerakan. Kakinya tidak melakukan loncatan ke samping melainkan ke depan ke arah tubuh lawan.
Purbajaya berpura-pura seolah-olah mengarahkan serangan kedua belah tangannya ke arah ubun-ubun Ki Aliman. Dan benar perkiraannya, tangan kiri Ki Aliman bergerak ke atas.
Namun tentu saja Purbajaya tidak menghentikan serangan tangannya begitu saja. Dia ingin meyakinkan lawan bahwa dirinya hendak menyerang ubun-ubun. Tapi Purbajaya pun sadar bahwa tangan kanan Ki Aliman yang masih bersikap bebas sebenarnya adalah senjata yang kelak akan digunakan untuk melakukan serangan balasan. Maka sebelum tangan kanan itu digunakan untuk menyerang, terlebih dahulu harus disibukkan untuk melindungi. Tangan kiri pemuda itu tetap bersikap mengancam ubun-ubun tapi tangan kanan bersikap menyodok ke bawah untuk menohok ulu hati.
Ki Aliman segera menggerakkan tangan kanan ke bawah. Namun ternyata ini adalah serangan tipuan. Purbajaya tak menohok ke ulu hati, melainkan belok ke atas mengarah dada. Dengan demikian, secara tiba-tiba tangan Ki Aliman pun segera bergerak ke atas.Dan inilah peluang lowong. Ada kekosongan pertahanan di bagian bawah. Seharusnya Purbajaya serentak menyerang telak ke arah ulu hati melalui serangan tangan kirinya. Namun itu adalah serangan ganas yang membahayakan dan pemuda itu tak mau menyinggung kemarahan lawan. Yang dia lakukan adalah menjatuhkan dirinya seperti hendak bersila secara cepat kaki kirinya memang dilipat meniru-niru gerakan orang hendak bersila namun kaki kanannya dia ayunkan dengan keras menyerang dengan sapuan bagian betis lawan. Purbajaya sudah menduga kalau pada akhirnya tubuh Ki Aliman akan meloncat ke atas untuk menghindari sapuan ini. Untuk mencegah tindakan lawan, sapuan kakinya agak mengarah ke atas. Benar saja Ki Aliman melakukan gerakan meloncat. Tapi sapuan kaki kanan Purbajaya seolah terus mengejarnya sampai pada titik penghabisan gerakan loncatannya itu. Dan di saat tubuh Ki Aliman kembali bergerak turun, maka taka ayal, otot betis kaki kiri Ki Aliman mendapatkan sapuan keras telapak kaki kanan Purbajaya. Otot betis termasuk bagian lemah yang sulit menahan serangan keras. Maka ketika menerima sapuan keras, tubuh Ki Aliman jungkir-balik ke belakang. Dari mulutnya terdengar suara teriakan keras pertanda kesakitan. Tubuh lelaki berhidung melengkung ini jatuh berdebum karena punggungnya menimpa permukaan tanah dengan keras.
Dengan wajah merah padam dan sebentar berubah pucat, Ki Aliman segera bangkit berdiri. Namun untuk beberapa saat dia hanya berdiri terpaku. Namun kakinya terasa kaku dan ngilu karena kerasnya sapuan Purbajaya tadi.
Hanya sejenak saja dia berdiri mematung. Sesudah itu dengan suara gerengan keras dia menghambur melakukan serangan dahsyat. Ki Aliman meloncat ke depan, sedangkan sepasang tangannya secara bergantian melakukan serangan-serangan jarak jauh.
Purbajaya terkejut. Inilah serangan pukulan yang empergunakan tenaga dalam. Semakin tinggi tenaga dalam yang dimiliki maka akan semakin dahsyat hasilnya. Orang yang memiliki tenaga dalam tinggi bahkan bisa melakukan pukulan hanya dengan angin pukulan yang dilayangkan dari jarak jauh. Artinya, tanpa tangan menyentuh tubuh lawan maka yang diserang akan terjungkal atau kesakitan kena angin pukulan.
Dulu Purbajaya tidak percaya dengan hal ini. Mustahil tanpa disentuh lawan bisa jatuh.
Tapi kata Paman Jayaratu, dalam tubuh manusia terdapat salah satu daya. Dalam tubuh manusia terdapat sekitar satu triliun sel yang mengandung tenaga khusus (dalam pengetahuan ilmu bela diri masa kini dikenal sebagai sel bermuatan biolistrik tubuh). Antara satu sel dengan sel lainnya ada satu gaya yang pada zaman modern kini disebut sebagai gayaelektromagnetik dan selalu memancar keluar. Namun daya yang keluar bisa sangat kecil dan tidak teratur bila manusia tak sanggup memanfaatkannya secara benar.
"Oleh orang-orang yang benar-benar akhli, daya itu diatur sedemikian rupa. Misalnya tenaga ajaib itu dihimpun pada suatu bagian tubuh, sebutlah telapak tangan. Tenaga ajaib yang sudah terkumpul penuh di telapak tangan dikeluarkan secara serentak, maka jadilah sebuah tenaga tolakan yang amat dahsyat. Semakin baik orang melatihnya, akan semakin dahsyat hasilnya," kata Paman Jayaratu beberapa waktu berselang.
Purbajaya pun akhirnya mendapatkan latihan dalam upaya menghimpun tenaga dalam. Mula-mula dia disuruh berhadapan dengan api pelita dalam jarak sekitar satu depa (1,698 meter). Dari jarak sejauh ini Purbajaya mendorongkan sepasang telapak tangannya yang dibuka lebar-lebar. Pada tahap awal api di pelita hanya bergoyang pelan. Namun semakin lama berlatih, goyangan api semakin keras. Sesudah lebih dari sebulan melakukan gerakan ini, barulah api bisa padam. Kewajiban Purbajaya selanjutnya adalah mundurkan langkah beberapa depa ke belakang. Dengan jarak semakin jauh, harus tetap diusahakan cahaya api akan padam sesudah didorong angin pukulan tenaga dalam. Latihan ini terus ditingkatkan sehingga pada akhirnya angin pukulan pemuda itu sanggup merontokkan daun-daun pohon sawo di halaman gubuk. Hanya saja ketika latihan terus meningkat, Purbajaya tak sanggup meneruskannya. Pemuda ini merasa ngeri manakala melihat contoh yang diperagakan Paman Jayaratu. Dengan pukulan jarak jauhnya, orang tua itu sanggup menghancurkan batang pohon. Purbajaya ngeri. Bila yang dihantam oleh angin pukulan itu adalah tubuh manusia bagaimana jadinya" Ngeri hatinya bila memikirkan bahwa latihan-latihan itu dan kepandaian itu bisa membuat musibah bila dilakukan dengan cara yang tak benar, membunuh orang misalnya.
"Tanpa berlatih kedigjayaan pun sebetulnya kita bisa membunuh orang. Jadi pada akhirnya, semuanya terpulang pada diri kita sendiri. Bila kita memiliki sebuah pisau, apakah mau digunakan mengupas mangga ataukah untuk membunuh manusia" Pisau adalah pisau. Mau digunakan sebagai alat kebajikan atau pun kejahatan, kita yang menentukan," kata Paman Jayaratu tempo hari.
Purbajaya memang terus berlatih kendati tak memiliki kepandaian seperti yang diperagakan Paman Jayaratu. Dia masih tetap merasa ngeri dan menyangsikan, apakah bila kelak dia memiliki kepandaian sehebat itu tidak punya keinginan untuk membunuh orang"
Namun kepandaian tinggi ternyata dibutuhkan juga. Buktinya hari ini. Kendati belum tentu mendapatkan ancaman pembunuhan dari Ki Aliman, namun paling tidak Purbajaya harus sanggup mempertahankan nama baiknya di hadapan semua orang bahwa dia adalah murid Ki Jayaratu dan dia pun dipercaya untuk menerima titah negara. Kalau hari ini dia tak sanggup membuktikan dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan maka nama dia dan gurunya akan tercoreng.
Itulah sebabnya ketika menerima serangan angin pukulan dahsyat dari Ki Aliman, Purbajaya harus bijaksana meladeninya.Dia harus berupaya agar selain dirinya tak dipecundangi juga harus dijaga agar lawan pun tidak dipermalukan olehnya di hadapan umum. Dia harus ingat, padea mulanya Ki Aliman menantang dirinya hanya sekadar ingin menguji bukan untuk mengalahkannya. Selain itu, karena Ki Aliman menempatkan dirinya selaku penguji, hanya punya arti bahwa kemampuan si penguji tingkatannya harus lebih tinggi dari si penguji. Oleh sebab itu, Purbajaya jangan berkeras ingin kelihatan hebat dan apalagi terkesan tingkatannya jauh di atas Ki Aliman. Sambil dia tak kalah, dia pun jangan membuat Ki Aliman kalah.
Namun melihat gerakan Ki Aliman, Purbajaya menjadi khawatir. Wajah Ki Aliman masih nampak merah dan serbuan tenaga dalamnya secara penuh dikeluarkan. Kalau begitu, ini bukan lagi sekadar menguji, melainkan seperti berupaya akan membuat lawan cedera kalau pun tak dikatakan sebagai upaya untuk membunuhnya. Mengapa tak disebut begitu sebab serbuan tenaga dalam itu demikian dahsyat dalam jarak yang sedemikian dekatnya. Purbajaya sudah tak bisa mengelak kecuali mencoba menahan gempuran dengan tenaga dalam pula. Dan bila demikian halnya, inilah pertarungan hidup dan mati. Purbajaya harus mengeluarkan tenaga dalam seimbang dengan kekuatan yang disalurkan lawan sebab kalau salah satu lebih tinggi atau lebih rendah maka pihak yang lemah akan menderita luka dalam.Susahnya Purbajaya tak bisa mengukur berapa kekuatan yang disalurkan Ki Aliman dalam menyerang dirinya. Kalau dia membatasi diri, takut Ki Aliman malah melontarkan tenaga dalam sepenuhnya dan akhirnya dirinyalah yang merugi. Maka untuk berjaga-jaga kearah itu, Purbajaya berusaha mengeluarkan tenaga dalam tiga perempatnya. Dia akan mencoba menolak serangan dahsyat itu dengan pengerahan tenaga dalam takaran khusus.
Suara angin terdengar bersiutan dan hawa dingin terasa mengarah dadanya. Dan ketika dua tenaga besar saling bertabrakan, maka terdengar suara ledakan keras disertai bunga api berpijar. Tubuh Purbajaya terlontar hampir empat depa dan tubuh Ki Aliman masih tetap berdiri di tempatnya tapi dari sudut bibirnya meleleh sedikit darah. Ketika Purbajaya bangun arena tadi terjengkang, adalah kebalikannya yang menimpa Ki Aliman. Lelaki bermata dalam berhidung melengkung itu malah ambruk ke atas tanah.
Dada Purbajaya sebetulnya serasa mau pecah karena menahan sakit. Tapi melihat Ki Aliman rebah tak berdaya, rasa khawatir pemuda itu mengalahkan segalanya. Dia takut Ki Aliman celaka karena ulahnya. Oleh sebab itu dia buru-buru mendekati tempat di mana Ki Aliman tertelungkup.
Tiga perwira lainnya pun segera berlari mendekati Ki Aliman. Semuanya memeriksa tubuh lelaki itu dengan penuh seksama.
"Maafkan, saya terlalu kasar menghadapinya!" kata Purbajaya penuh sesal.
"Hm, adikku yang dungu ..." gumam Ki Albani, perwira bertubuh kurus dan berkumis tipis.
"Pangeran, saya bersalah telah membuatnya terluka," keluh Purbajaya lagi menengok ke arah Pangeran Arya Damar. Tapi Sang Pangeran malah tampak tertawa gembira melihat kejadian ini.
"Kekuatan kita semakin bertambah ... " gumamnya menatap Purbajaya dengan penuh arti. Tapi melihat kekalahan Ki Aliman, Ki Aspahar yang bertubuh bulat dan berkumis tebal maju ke depan dan berniat akan menggantikan Ki Aliman untu "menguji" Purbajaya.
"Tidak usah sebab rasanya sudah cukup," kata Pangeran Arya Damar.
"Ki Aliman belum memperlihatkan kepandaian sesungguhnya. Belum tentu dia kalah oleh anak ingusan itu kalau dia bermain-main dengan benar," kata Ki Aspahar tidak puas.
"Ini bukan mencari siapa menang siapa kalah. Yang penting kita bisa mengukur sejauh mana kepandaian anak muda ini. Dan anggaplah pengujian selesai. Aku sudah percaya kepada kepandaian anak ini dan dia cukup pantas menjadi anak buak kalian," kata Pangeran Arya Damar.
"Pangeran benar, anak muda ini bisa diandalkan kelak," kata Ki Albani yang nampak usianya paling tua di antara mereka."Saya setuju dia ikut kita. Tapi akan lebih tenteram hati kami bila Pangeran sudi menerangkan siapa sebenarnya anak muda ini," sambungnya sambil menatap tajam kepada Purbajaya.
Yaang membalas tatapan tajam ini adalah Pangeran Arya Damar. "Mari masuk kembali ke paseban," gumam Pangeran Arya Damar. Dia jalan di depan, diikuti oleh keempat perwira. Purbajaya jalan paling belakang.
Dan untuk yang kedua kalinya, Purbajaya kembali mendengarkan kisah dirinya yang dibeberkan Pangeran Arya Damar. Bahwa Purbajaya sebenarnya anak seorang kandagalante di wilayah Pajajaran yang "diambil" oleh Carbon di saat terjadi kemelut peperangan antara Carbon dengan Pajajaran.
"Bagaimana mungkin orang Pajajaran disuruh menyerbu negrinya sendiri, Pangeran?" tanya Ki Aliman yang nampak sesekali mengurut dadanya. Rupanya dia masih merasa sakit bekas adu tenaga yang dilakukan tadi dengan Purbajaya.
Ketiga orang perwira pun sama menatap Pangeran Arya Damar seolah membenarkan dan mendukung opertanyaan Ki Aliman.
Mendengar pertanyaan ini, Pangeran Arya Damar hanya mengangguk-angguk tenang seolah-olah dia sudah memiliki jawabannya.
"Anak muda ini sejak kecil berada di Carbon, dididik oleh orang Carbon dan sudah mengerti akan tujuan perjuangan negri kita. Maka sedikit sekali kemungkinan pemuda ini membelot ke Pakuan," kata Pangeran Arya Damar sambil menoleh pada Purbajaya sepertinya ucapannya sekaligus juga mengingatkan Purbajaya akan hal ini.
"Benarkah ucapan Pangeran, hai anak muda?" tanya Ki Aspahar dengan wajah dingin namun meminta kepastian.
"Kalau Pangeran Arya Damar tak memberitahu saya, maka saya tak tahu kalau saya ini anak dari Pajajaran," jawab Purbajaya menunduk.
"Sekarang kan sudah tahu. Jadi, bagaimana sikapmu?" Ki Aspahar mendesak.
"Saya tak tahu siapa orangtua saya. Yang saya kenal hanyalah Paman Jayaratu yang membesarkan dan memberi didikan pada saya," tutur Purbajaya sejujurnya.
"Engkau tak akan mengkhianati Carbon, anak muda?"
"Bahkan saya ingin membuktikan bahwa saya adalah orang yang tahu membalas budi," jawab lagi Purbajaya. Ki Aspahar mengangguk-angguk kendati yang lainnya masih belum memperlihatkan kepuasan.
"Tak usah didesak lagi sebab begitulah kenyataannya. Dia sudah bilang begitu dan aku tanggungjawab," kata Pangeran Arya Damar memutuskan.
Begitulah, pada akhirnya Purbajaya disetujui para perwira untuk ikut tugas. Tugas apa" Inilah yang Purbajaya tertarik memperhatikannya.
Pangeran Arya Damar berkilah bahwa perjuangan untuk menundukkan Pakuan sungguh berat. Kendati negri yang dipimpin oleh Sang Prabu Ratu Sakti akhir-akhir ini selalu digoncang perpecahan, namun kekuatannya masih sulit dirontokkan. Ini karena Pajajaran memiliki pembantu-pembantu yang kuat.
"Masih banyak yang bersetia kepada negri itu. Jangankan yang tengah mengabdi, sedangkan yang oleh ratunya sudah dianggap pembangkang dan pemberontak pun, masih tetap nerdiri untuk kepentingan negrinya," kata Pangeran Aeya Damar.
"Hebat sekali!" seru Purbajaya membuat terkejut semua orang. Purbajaya tersipu bahkan akhirnya terkejut sendiri dengan pernyataannya ini. Melihat sikapnya tadi, jangan-jangan orang bercuriga bahwa dia bersimpati kepada Pajajaran.
"Bahkan kepada musuh pun kita wajib bercermin. Itu yang diajarkan Paman Jayaratu kepada saya. Tapi maafkan bila saya salah menafsirkannya," tutur Purbajaya. Dia menyembah hormat kepada Pangeran Arya Damar, juga kepada keempat perwira itu.
"Engkau harus menerangkan tentang arti ucapanmu, anak muda," kata Ki Aliman dingin dan bercuriga sekali. Sebelum berani menjawab pertanyaan ini, Purbajaya melirik ke arah Pangeran Arya Damar. Nampak pangeran itu mengangguk tanda setuju.
"Saya hanya ingat perkataan Paman Jayaratu semata. Bahwa kita harus bercermin kepada sesuatu yang bermanfaat kendati itu datangnya dari musuh," kata Purbajaya."Barusan Pangeran mengabarkan bahwa banyak pejabat dan orang pandai di Pajajaran, kendati tak disukai penguasa, akan tetapi tetap mebela negrinya. Ini hanya menandakan bahwa orang-orang itu punya jiwa yang besar. Mereka patriotik.Yang penting hidupnya demi negara dan bukan demi penguasa. Saya pikir ini hebat dan patut kita teladani. Orang yang hanya mengabdikan dirinya untuk negara tak mungkin berkhianat. Apa pun yang dia kerjakan dan pikirkan, pasti untuk kepentingan negaranya," kata pemuda itu panjang-lebar.
"Pendapatmu bagus, anak muda. Itu pula yang aku harapkan di Nagri Carbon ini," tutur Pangeran Arya Damar.
"Saya bersumpah untuk mengabdi kepada Nagri Carbon, Pangeran ...." tutur Purbajaya menyembah takzim.
"Bagus. Kini saatnyalah engkau memperlihatkan rasa cintamu pada Nagri Carbon," sambut Pangeran Arya Damar.
Kemudian pangeran itu melanjutkan lagi penjelasannya. Bahwa sebelum Kangjeng Susuhunan melakukan perjalanan ke wilayah barat, (wilayah Pajajaran) dalam upaya semakin menyebarluaskan pengaruh agama baru, pihak militer Nagri Carbon perlu "membuka jalan" dahulu agar memperlancar perjalanan Kangjeng Susuhunan.
"Banyak kerikil tajam yang akan menghalangi perjalanan. Padahal tujuan utama Carbon adalah Pakuan. Kita harus menembusdayo ibukota) Pakuan."
"Apakah yang dimaksud dengan kerikil tajam itu, Pangeran?" tanya Purbajaya.
"Kerikil tajam itu adalah pembantu-pembantu utama dan para orang pandai yang hingga kini masih tetap bersetia kepada Pajajaran. Satu persatu kerikil itu harus disapu dan disingkirkan, sehingga jalan ke Pakuan kelak akan lurus dan rata, enak bagi yang akan melangkah," kata Pangeran Arya Damar lagi. Purbajaya mengangguk sebagai tanda mengerti ke mana arah perkataan pangeran ini.
"Ada kerikil yang amat tajam yang sekiranya akan jadi hambatan berat. Kalian tentu sudah mendengar seorang tokoh Pajajaran yang bernama Ki Darma Sungkawa," kata Pangeran Arya Damar sambil menatap satu persatu kepada keempat orang perwiranya.
"Dia adalah bekas anggota pasukanBalamati seribu perwira pengawal raja di Pakuan," kata Ki Albani bertubuh kurus berkumis tipis.
"Betul. Dia termasuk penghalang utama kita, Albani," kata Pangeran Arya Damar menatap tajam.
"Tapi dia sudah dimusuhi pemerintahnya. Khabarnya Sang Prabu Ratu Sakti amat membencinya. Oleh sesama perwiranya, Ki Darma selalu dikejar untuk ditangkap atau dibunuh. Mengapa orang yang sudah terdesak seperti ini malah kita anggap sebagai penghalang besar, Pangeran?" tanya Ki Albani heran.
"Seharusnya begitu logikanya. Tapi kenyataannya berkata lain," sahut Pangeran Arya Damar. Ki Albani juga rekan-rekannya menatap pangeran ini dengan seksama.
"Seperti sudah aku katakan sejak awal, banyak orang pandai membentengi Pajajaran. Ki Darma sekali pun tak disukai penguasa, akan tetapi tetap bersikap sebagai pelindung negri. Bukan saja dia tak mau takluk kepada Carbon, tapi malah dia berupaya menggagalkan berbagai upaya nagri Carbon untuk menguasai Pakuan. Karena dikejar-kejar di Pakuan, dia melarikan diri ke sana ke mari. Namun dalam pelariannya dia tak pernah berhenti menghalangi kita yang ingin memasuki wilayah Pakuan," kata Pangeran Arya Damar.
"Itulah salah satu maksudku. Kita harus mengirim kekuatan ke wilayah Talaga. Pertama untuk melumpuhkan Ki Darma agar tak menjadi duri dalam daging dan keduanya untuk menyelamatkan harta negara," kata Pangeran Arya Damar."Kita harus bersiap-siap. Dalam waktu dekat kalian aku kirimkan ke wilayah Talaga," kata Pangeran Arya Damar dengan yakin.
Keempat perwira menghormat dengan takzim dan berteriak menyatakan kesanggupannya. Karena semua orang pun berteriak begitu, maka Purbajaya pun ikut menyerukan kesanggupannya.
*** Bab 3 HAMPIR sebulan Purbajaya menerima gemblengan. Kalau oleh paman Jayaratu dia mendapatkan latihan ilmu bela diri, adalah ketika bersama dengan paraperwiradia mendapatkan pendidikan kemiliteran.
Selama dalam penggodokan pemuda ini baru mengetahuibahwa ilmu berkelahi hanyalah bagian kecil dari pengetahuan kemiliteran sebab dalam ilmu kemilioteran senua strategi dipelajari. Berkelahi hanyalah berpikir tentang kalah dan menang secara sempit. Tidak demikian dengan pengetahuan militer. Purbajaya sekali waktu bahkan mendapatkan ppengetahuan bahwa ukuran sebuah kemenangan dalam satu peperangan tak selamanya harus dilakukan melalui perkelahian.
"Perang yang paling baik adalah melakukan tipu muslihat, kemudian dengan tipu muslihat itu kita bisa menang tanpa melakukan perkelahian," tutur seorang periwra berjanggut tipis tapi memiliki alis tebal bagaikan sepasang golok melintang.
"Camkanlah ini, tujuan kita adalah menaklukan musuh bukan menghancurkannya. Jadi, sebelum pertimbangan kita jatuhkan kepada pilihan peperangan dengan menggunakan senajat, terlebih dahulu harus sanggup memilih peperangantanpa senjata. Kita harus sanggup mengalahkan musuh tanpa membunuh dan merebut wilayah tanpa merusak. Itulah sebabnya, siasat dan tipu muslihat harus kita tempuh," tutur perwira ini.
"Siapakah dia,Ki Silah (saudara)?" tanya Purbajay kepada prajurit muda yang duduk di sampingnya.
"Masak tak tahu, dialah Pangeran Suwarga, perwira kepala yang amat dipercaya Kangjeng Sunan," tutur prajurit itu.
"Kemudian Pengeran Arya Damar sebagai apa di Carbon ini?" tanya lagui Purbajaya.
Yang ditanya hanya mengerutkan dahinya, entah jengkel dengan pertanyaan rewel ini entah memang bingung menjawabnya.
"Aku harus tahu jabatan-jabatan di Nagri Carbon ini. Hanya yang aku tahu Pangeran Arya Damar cukup disegani. Dia pun menguasai militer dan banyak perwira dekat dengannya. Pangeran Suwarga pandai dalamakal-akalan (strategi) militer dan Pangeran Arya Damar banyak melontarkan pikiran untuk kemajuan Nagri Carbon. Kalau kedua orang itu bisa bersatu, maka Nagri Carbon pasti akan bertambah kuat," tutur prajurit itu.
"Jadi maksudmu antara kedua pangeran itu kini tak bersatu?" tanya Purbajaya heran.
"Aku tak bilang begitu, tolol! Sangkamu bila aku bilang kalau kedua orang itu bersatu, apa punya arti sedang tak bersatu," prajurit tua itu berkata jengkel.
"Sssttt! prajurit yang lebih tua memperingatkan agar mereka tak ribut. Beralasan sebab amat tak sopan pejabat sedang bicara di belakang ada yang bisk-bisik. Pangeran Yudhabangsa memang tengah serius memberikan ceramah mengenai strategi militer.
"Kalau kita akan melakukan penyerbuan terhadap musuh, maka jauh sebelumnya akan banyak hal harus dikerjakan," tutur lagi Pangeran Suwarga. Pengeran ini menjelaskan bahwa jauh sebelum kita menyerbu, maka keadaan lawan harus benar-benar diketahui dengan pasti. Pihak penyerbu terlebih dahulu harus bisa menyelidiki sejauh mana tingkat disiplin prajurit musuh, sejauh mana kepandaian panglima perangnya, sejauh mana tingkat rata-rata kepandaian prajuritnya, dan sejauh mana pemerintah memberikan penghargaan terhadap prajurit yang berjasa dan memberikan hukuman bagi yang bersalah.
"Kelemahan dan kekuatan nagri musuh harus benar-benar diketahui. Sebab. kalau kita pergi asal menyerbu, maka perang akan berkepanjangan. Camkanlah, menang dalam waktu singkat adalah tujuan utama peperangan. Kalau perang berkepanjangan, senjata akan menjadi tumpul dan semangat akan merosot. Kalau prajurit disuruh mengepung daerah musuh secara berekepanjangan, tenaganya akan terkuras dan dana negara termasuk segala perbekalan akan banyak dikeluarkan. Dengan kata lain, perang yang kita lakukan berharga mahal. Kendatipun kita pada akhirnya menang tapi segalanya telah compang-camping. Itulah kemenangan yang tiada arti," kata Pangeran Suwarga.
Selanjutnya pangeran ini berkata, dia perlu mengingatkan hal ini sebab perang berkepanjangan pernah dialami Nagri Carbon dalam melawan Pajajaran manakala masih mendapatkan bantuan Keratuan Demak puluhan tahun silam.
Ketika Pajajaran dikuasai oleh Sang Prabu Surawisesa (1521-1535), terjadi perang berlarut-larut dengan Nagri Carbon. Carbon yang diabntu Demakpada akhirnya menang tampil sebagai pemenang. Banyak wilayah yang dulu dikuasai Pajajaran menjadi milik Carbon, di antaranya adalah pelabuhan-pelabuhan penting perdaganagan di sepanjang pantai utara. Namun perang itu sangat berlarut-larut sampai lebih dari lima tahun.
"Kerugian banyak dialami bukan saja oleh pihak yang kalah, tapi juga oleh pihak yang menag. Aku ingin tanya kepada kalian, menang secara mutlakkah Carbon" Tidak. Tokh hingga kini Pajajaran masih berdiri dengan cukup tangguh dan tak bergeming hanya karena Keratuan Galuh, Talaga, dan Sumedanglarang telah dapat kita rebut. Kita belum bisa menundukkan Pajajaran secara total sebab kelemahan kita sejak awal yaitu tak sanggup mengenal kekuatan dan kekurangan lawan secara benar. Itulah sebabnya, hari ini berkali-kali aku katakan, kenalilah lawanmu, kenali pula dirimu sendiri. Maka dalam seratus kali pertempuran pun kalian tak akan dalam bahaya," tutur Pangeran Suwarga berapi-api.
Purbajaya terpukau mendengarkan ceramah pangeran yang nampak anggun berwibawa ini. Sampai ketika ceramah selesai, sampai ketika Pangeran Suwarga meninggalkanpaseban , pemuda itu termangu-mangu sebaba wejangan orang itu masih terngiang-ngiang di telinganya.
"Camkanlah, tujuan kita menaklukkan musuh dan bukan menghancurkannya ...," ucapan dan kalimat ini amat membekas di benak Purbajaya. Sungguh bijaksana dan mulia orang bisa berpikir seperti ini. Benar, mengapa orang harus saling membunuh karena berperang" Seratus kali berperang dan seratus kali membunuh, rasanya itu bukan sebuah kebanggaan sebab bukan sebuah kemenangan, paling tidak bukan kemenangan bagi kepentingan kemanusiaan.
"Aku ingin sekali bertukar pikiran lebih mendalam dengan pejabat ini. Sungguh aneh, Pangeran Suwarga adalah perwira kepala. Dia pelatih ilmu kemiliteran dan kata orang, banyak memiliki ilmu perang. Namun, pandangannya mengenai perang demikian halus dan beradab. Itulah yang menjadi kekaguman Purbajaya.
Berhari-hari dia berpikir mengenai kemungkinannya menemui Pangeran Suwarga. Sebentar lagi pemuda itu akan berangkat ke medan perang. Dia perlu bekal moril untuk ini. Jalan pikiran Pangeran Suwarga sungguh beda dengan Pangeran Arya Damar. Majikannya, kalau boleh disebut begitu, sepertinya hanya berpikir tentang ambisi, ambisi memenangkan perang. Arya Damar hanya berpikir bagaimana caranya menghancurkan musuh, dalam hal ini orang Pajajaran. Artinya, bila musuh hancur, itulah kemenangan. Kalau dipikir terasa ganjil, aneh, mengapa pejabat-pejabat di satu atap Keraton Pakungwati biosa punya pandangan yang beda perihal arti peperangan" Pangeran Arya Damar mestinya mengikuti pendapat Pangeran Suwarga sebaba dia sudah panglima. Pangeran Suwargalah yang oleh Sang Panembahan Pakungwati diakui sebagai konseptor militer dan akhli strategi perang. Mengapa Pangeran Arya Damar malah punya konsep sendiri"
"Panglima yang sesungguhnya adalah pimpinan di medan perang itu sendiri. Hanya dialah yang lebih tahu dari siapapun. Jadi, alagkah tak bijaksananya bila atasan yang hanya duduk di keraton, memerintahkan prajurit harus mundur padahal dia siap bertempur, atau malah sebaliknya menyuruh prajurit menyerang di saat mereka tak siap. Yang paling mengetahui siap dan tidaknya keadaan prajurit, hanyalah pimpinan yang ada di sekitar medan perang itu sendiri," tutur Pangeran Arya Damar suatu hari.
Purbajaya pernah mendengar bahwa puluhan tahun silam atau tepatnya terjadi sekitar tahun 1521-1535, Pangeran Arya Damar beberapa kali mendapat tugas memimpin prajurit Carbon menyerbu wilayah Pajajaran. Pada tahun-tahun itu, Carbon yang waktu itu dibantu Demak berhasil menguasai pelabuhan penting milik Pajajaran, yaitu Ciamo (muara Sungai Cimanuk), Caravam (muara Sungai Citarum di Tanjungpura, wilayah Karawang kini), Tangaram (muara Sungai Cisadane), Cigede (muara Sungai Ciliwung), Pontang, Bantam (di wilayah Banten kini), dan Sunda Kelapa, pelabuhan internasional.
Menurut pemerintah Nagri Carbon, ini adalah sukses besar sebab degngan direbutnya pelabuhan penting, hubungan Pakuan dengan bangsa asing (Portugis) menajdi terputus. Carbon dan Demak merasa bahwa kehadiran Portugis merupakan ancaman bagi keberadaan Jawa Dwipa (Pulau Jawa). Portugis sudah menguasai Malaka dan mungkin akan meluaskan pengaruhnya ke Jawa Dwipa. Namun Pajajaran seperti tak menyadari bahaya ini. Kerajaan Sunda ini malahan mengadakan hubungan daghang dan Portugis diberi keleluasaan mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Ini bahaya benar. Itulah sebabnya Demak dan Carbon mencoba merebut pelabuhan-pelabuhan milik Pajajaran dan berhasil.
Namun Pangeran Arya Damar yang waktu itu masih muda, berusia kurang lebih 25 tahun, tak menganggap ini sebuah sukses besar. Kemenangan sempurna bagi Carbon terjadi bilamana seluruh Pajajaran dikuasai sepenuhnya oleh Caron. Pangeran muda ini menyesalkan sikap Kangjeng Sunan yang karena kekerabatannya dengan penguasa Pajajaran selalu bersikap tanggung dalam menurunkan kebijaksanaan. Kangjeng Sunan seperti tak berniat menghancurkan Pajajaran. Sesudah terjadi peperangan hampir lima tahun lamanya, Carbon akhirnya malah mengadakan perjanjian damai dengan Pajajaran. Padahal Pangeran Arya Damar selalu mengusulkan agar Carbon yang diperkuat Demakharus menuntaskan perjuangan, yaitu menggempur Pajajaran hingga ke pusatDayo (ibukota negara) yaitu Pakuan.
"Kangjeng Sunan mengkhawatirkan keselamatan umat manusia. Kangjeng khawatir akan banyak korban percuma bila prajurit Carbon terus mendesak ke pedalaman. Padahal yang paling tahu mengenai kekuatan prajurit Carbon adalah panglima yang ada di medan perang yaitu aku!" tutur Pangeran Arya Damar. "agar Carbon menjadi besar, kuasailah Jawa Kulon sepenuhnya! tuturnya lagi.
Purbajaya menilai, inilah ambisi manusia, yaitu selalu tak puas memiliki kekuasaan yang ada. Pemuda ini teringat kembali, betapa alis Paman Jayaratu berkerut ketika dirinya dipanggil Pangeran Arya Damar ke istana. Mungkinkah Paman Jayaratu tidak menyenangi pengeran ini karena terlalu banyak memiliki ambisi"
Akhirnya Purbajaya bingung sendiri. Dia terlalu mentah untuk mengenal kehidupan politik. Itulah sebabnya, agar mengenal lebih jauh kehidupan politik, pemuda ini berniat mendekati Pangeran Yudhabangsa, bagaimana pun caranya.
*** SORE hari yang cerah. Jadi sambil menunggu beduk magrib dari masjid Sang Ciptarasa, Purbajaya berjalan-jalan di kompleks puri. Hatinya tertarik untuk kembali mendatangi kolam melingkar tempat anak-anak bangsawan bersampan bersuka-cita.
Hampir delapan atau sembilan tahun lalu di keramaian sekatenan putra-putri bangsawan bercengkrama di kolam, di atas sampan indah. Namun sore hari itu, suasana kolam sungguh sepi. Tak ada muda-mudi, juga tak ada ....... Nyimas Waningyun.
Purbajaya berkeluh-kesah dan hatinya sedih sekali. Baru dua kali dia bertemu gadis ayu itu. Satu kali ketika tubuh si cantik itu basah kuyup dan ada dalam pelukannya. Gadis itu penuh perhatian memeriksa tubuhnya yang "disiksa" Ranggasena. Namun dalam pertemuan kedua hampir sebulan lalu, gadis itu marah-marah kepadanya karena Purbajaya dituding pemuda culas dan pembohong.
"Beginilah orang yang berbohong. satu kali berbuat kesalahan selama hidup dibenci orang...."keluhnya. Kalau saja dulu bertindak jujur. Ya, kalau dulu bertindak jujur, akan bagaimana hasilnya"
"Ah, tentu aku tak pernah kenal padanya. Kalau aku tak membuat kekacauan, tak mungkin Nyimas Waningyun mengenalku," pikirnya lagi. Maka akhir jalan pikirannya bolak-balik menyalahkan dan membenarkan tindakannya waktu itu. "Coba kalau aku tak membocorkan perahu, mungkin tak bakalan menolong gadis itu dari bahaya tenggelam. Mungkin aku tak memangku tubuhnya dan mungkin aku tak berkenalan. Sekarang kan bisa berkenalan walaupun pada akhirnya dicerca habis-habisan," katanya lagi dalam hatinya.
Mengapa mesti tersinggung melihat Nyimas Waningyun marah" Marahnya gadis itu adalah anugrah baginya. Bayangkan, kendati tengah marah tapi gadis itu tetap cantik. Dalam kemarahannya, gadis itu menampilkan kecantikan khas. Betapa masih terbayang di pelupuk matanya, kaki gadis kecil itu dengan penuh greget menjejak-jejak tanah beberapa kali untuk memperlihatkan rasa jengkel dan marah. Namun dalam pandangan Purbajaya, gerakan itu amat indah dan manis. Ketika gadis itu sedikit mengangkat kaki, kain batiknya sedikit tersingkap sehingga sedikit betis bersinar kuning membuat dada pemuda itu berdebar keras. Lebih dari seminggu adegan itu terus membayang di pelupuk matanya.
Tapi itu sudah berlalu. Hingga kini Purbajaya tak pernah bertemu lagi dengan gadis itu. Kendati hampir setiap hari dia bertemu dengan ayahnya yaitu Pangeran Arya Damar, namun hanya sebatas di paseban saja. Purbajaya tak berani memasuki Kompleks Puri Arya Damar, apalagi melongok ke keputren.
Kolam berair bening itu kini sungguh sepi. Airnya bergerak tenang, kecuali oleh gerakan-gerakan binatang air bila terlihat lewat ke permukaan.
Seruling Perak Sepasang Walet 8 Peristiwa Merah Salju Karya Gu Long Duri Bunga Ju 6
^