Pencarian

Kisah Pengelana Di Perbatasan 6

Kisah Pengelana Di Kota Perbatasan Karya Gu Long Bagian 6


Sejak kapan mereka mati"
Dia merasakan dada mereka semua telah mendingin dan kaku. Mereka telah mati paling
tidak dua puluh jam yang lalu. Namun bila seperti itu, jadi siapakah orang-orang itu yang berbicara dengan Ye Kai di kota"
Saat Ye Kai memandang tubuh-tubuh tersebut, tidak ada sedikitpun rasa takut atau kaget di wajahnya. Sebaliknya, dia malah tersenyum, sepertinya sangat puas dengan dirinya. Apakah hal ini memang sudah diharapkannya"
Bila mereka ada mayat, tentu saja karena hal itu disebabkan karena kematian.
Ye Kai melihat dengan seksama luka-luka mereka dengan hati-hati beberapa saat. Kemudian, dia tiba-tiba menggeser semua tubuh mati tersebut keluar dan menyembunyikannya diantara semak-semak dibelakang vihara. Setelah itu, dia mengembalikan kembali peti-peti itu seperti posisi semula.
Namun, Ye Kai belum berani pergi. Dia melompat ke atas atap vihara dan memutuskan
untuk menunggu.
Siapakah yang dia sedang tunggu"
Dia tidak perlu menunggu terlalu lama. Sesaat setelahnya, seorang mengendarai kuda
dengan cepat ke arah vihara dari padang rerumputan. Pengendara tersebut mengenakan
pakaian yang sangat bagus, punuk di punggungnya berdiri tegak. Dia adalah Naga Punggung Emas Ding Qiu.
Ding Qiu tidak melihatnya saat dia berhenti dengan mendadak di depan vihara dan turun dari pelananya. Peti-peti itu itu masih tergeletak di dalam halaman, sepertinya sedikitpun tidak terusik.
Ding Qiu melihat sekelilingnya dan tidak melihat seseorangpun. Ini adalah saat yang tepat untuk menyalakan api, karena itu dia segera melakukan hal itu. Menyalakan api merupakan ketrampilan tersendiri, namun dia cukup handal melakukan hal ini. Saat api dinyalakan, api tersebut menyebar dengan cepatnya.
Orang yang membawa peti-peti mati ini adalah dia, dan orang yang mencoba membakarnya adalah dia juga. Kenapa dia harus membuang banyak tenaga memindahkan peti-peti mati ini kesini hanya untuk dibakar"
________________________________________
Matahari telah tinggi diangkasa, dan akan tetap berada disana beberapa saat sebelum
terbenam. Ye Kai memutuskan untuk kembali ke kota. Dia betul-betul tidak ada pilihan, sepertinya dia ingin sekali menelan seluruh kuda.
Vihara Dewa Guan telah hangus terbakar selama beberapa saat, apri telah mulai padam saat asap tebal menyebar kesekelilingnya.
"Bagaimana vihara Dewa Guan dapat terbakar"
"Itu pasti perbuatan orang pincang itu lagi."
"Seseorang telah melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri dia sedang tertidur di atas altar di dalam vihara tersebut."
Orang-orang berkerumun di depan api berbicara dan berdiskusi. Diantara mereka adalah Chen Da Guan, Ding Lao Si, dan Majikan Zhang. Namun Ye Kai sama sekali tidak terlihat kaget, sepertinya dia telah berharap melihat mereka disana.
Namun dia tidak mengharapkan melihat Ma Fang Ling juga.
Ma Fang Ling melihatnya dan segera terlihat pandangan aneh diwajahnya sepertinya dia sedang menimbang-nimbang untuk melambaikan tangannya kepadanya atau tidak.
Ye Kai malah berjalan ke arahnya dan berkata,"Bagaimana kabarmu?"
Ma Fang Ling menggigit bibirnya dan menjawab,"Tidak baik."
Dia tidak mengenakan baju merah hari ini. Bajunya semuanya berwarna putih, dan wajahnya juga putih pucat. Dia terlihat menjadi sangat kurus. Apakah karena tidak tidur selama dua hari ini"
Ye Kai mengedipkan matanya dan berkata,"Dimanakah Majikan Ketiga?"
Ma Fang Ling menatapnya balik dan menjawab,"Mengapa kau ingin tahu"
"Aku hanya bertanya."
" Tidak butuh perhatianmu."
Ye Kai menghela napas, kemudian menjawab sambil tersenyum,"Baiklah, aku tidak akan
bertanya."
Ma Fang Ling masih menatapnya seraya bertanya,"Aku ingin tahu sesuatu juga, darimana saja kau?"
Ye Kai tersenyum dan berkata,"Karena engkau tidak menjawabku, jadi kenapa aku harus
menjawabmu?"
"Untuk menyenangkanku."
"Aku sungguh-sungguh ingin mengatakannya kepadamu, namun suatu hal yang dilakukan
seorang laki-laki, yang tidak ingin diketahui oleh seorang wanita."
Ma Fang Ling menggertakan giginya dan berkata dengan pahit," Jadi kau melakukan suatu hal yang tidak perlu melihat cahaya matahari.
"Paling tidak aku tidak membuat api."
"Lalu siapa"
"Kenapa engkau tidak menebak?"
"Apakah kau telah melihat seseorang yang bernama keluarga Fu?"
"Tentu saja."
"Kapan?"
"Aku rasa kemaren."
Ma Fang Ling membelalakan matanya, kemudian membanting kakinya ke atas tanah dengan
keras sesaat wajahnya memerah.
Chen Da Guan berpikir sejenak, kemudian bertanya,"Apakah kau pikir dia pergi mencari Majikan Ketiga?"
"Dia tidak akan dapat menemukannya." Ma Fang Ling berkata.
"Kenapa?" Chen Da Guan berkata.
"Karena aku sendiripun tidak tahu dimana dia." Ma Fang Ling menjawab.
Kenapa tiba-tiba Majikan Ketiga menghilang" Kemanakah dia pergi"
Seseorang baru saja ingin bertanya namun tiba-tiba terdengar suara derap kuda yang sangat kencang meninterupsi kata-katanya. Seekor kuda yang hitam pekat dengan rambut yang
sehalus sutera dan kulit yang berkilat dipacu ke arah mereka dari luar kota. Dia atas kuda tersebut terdapat seorang laki-laki dengan otot-otot yang menonjol, dia berkepala gundul plontos dan mengenakan baju berwana hitam dengan benang berwarna emas. Kedua
tangannya tidak memegang tali kekang kuda, tapi malah mengangkat sebuah tiang yang
sangat tinggi. Di atas tiang tersebut terlihat seseorang.
Seseorang yang mengenakan baju merah, dengan kedua tangannya kebelakang, berdiri di
ujung atas tiang bendera yang tinggi tersebut. Kuda tersebut dipacu dengan sangat cepat, namun orang tersebut dapat berdiri dengan seimbangnya, mungkin lebih seimbang daripada dia berdiri di atas tanah.
Ye Kai hanya melihat sekilas untuk menyadari siapakah dia. Dia menghela napas dan
berkata,"Dia betul-betul kepagian.
Saat kuda hitam tersebut berlari ke jalan, setiap orang tidak dapat menahan diri untuk melihat keatas dan menatapnya dengan penuh keheranan dan kegembiraan. Setiap orang
pasti telah mengenali siapakah orang ini.
Tiba-tiba, kuda hitam tersebut meringkik dengan keras dan berhenti.
Orang dengan baju merah itu masih menekukan tangannya kebelakang sambil diam berdiri diujung atas tiang tersebut.
"Apakah kita telah sampai?"
"Ya."Orang gundul itu menjawab dengan terburu-buru.
"Apakah orang-orang telah datang menyambut kita?"
"Ada beberapa."
"Orang-orang seperti apa?"
"Mereka kelihatannya orang-orang dari desa."
Laki-laki dengan baju merah itu menganggukan kepalanya,"Cuaca cukup bagus hari ini, hari yang sempurna untuk membunuh."
Ye Kai menghela napas dan berkata,"Sayangnya engkau hanya dapat membunuh beberapa
burung di atas sana."
Laki-laki baju merah itu segera melihat kebawah dan menatapanya.
Dari bawah, siapaun dapat mengatakan dia adalah seorang pemuda yang sangat tampan
dengan sepasang mata yang bersinar.
Dari atas tiang tersebut, dia menatap Ye Kai dan bertanya dengan dengan tajam,"Apa yang baru saja kau katakan, kesiapa kau bicara?"
"Kau."Ye Kai menjawab.
"Tahukah kau siapa aku?"Laki-laki baju merah itu bertanya.
"Kau pasti seseorang yang membunuh tanpa berkedip, Lu Xiao Jia?"
"Paling tidak aku memiliki mata yang bagus."Laki-laki baju merah itu menjawab dengan tertawa dingin.
"Aku tersanjung."
"Dan siapakah kau?"
"Nama keluargaku Ye."
"Orang yang membuat mereka mengundangku untuk dibunuh adalah kau?"
"Aku kira bukan."
Laki-laki baju merah itu menghela napas dan berkata dengan dingin,"Betapa sayangnya."
Ye Kai menghela napas juga dan menjawab,"Sungguh-sungguh sayang sekali."
"Kau pikir disayangkan juga?"
"Sedikit."
"Setelah aku membunuh orang tersebut, bagaimana kalau aku kembali lagi untuk
membunuhmu?"
"Bagus sekali!"Ye Kai menjawab, memandang dengan antusiasnya.
Laki-laki baju merah itu mengangkat kepalanya dengan angkuh dan mengejek,"Siapapun
yang berkata seperti itu dia benar-benar laki-laki yang sangat buta."
"Ya, kemungkinan buta."Laki-laki gundul itu berkata.
"Apakah ada seseorang yang bernama keluarga Chen disini?"Laki-laki baju merah itu
bertanya. Chen Da Guan melangkah maju dan berkata,"Ini aku."
"Dimanakah orang yang membuat kau mengundangku untuk membunuh?"
Chen Da Guan tersenyum dan berkata,"Pendekar Lu tiba terlalu pagi dari yang aku harapkan, orang tersebut belum kesini."
"Pergi carilah dia dan katakan kepadanya kemari secepatnya supaya aku dapat
membunuhnya. Aku tidak mau menghabiskan waktu disini."Laki-laki baju merah itu berkata dengan eskpresi wajah jengkel.
Dari caranya dia berbicara, sepertinya mati di bawah pedangnya merupakan suatu
kehormatan, jadi orang tersebut harus menunggu untuk dibantai.
Bahkan Chen Da Guan tidak tahu pasti apakah harus tertawa atau menangis saat dia
mendengar kata-kata itu. Dia mencoba sebaik untuk menahan senyumnya dan
bertanya,"Karena Pendekar Lu telah tiba, kenapa tidak turun ke bawah dan duduk dulu."
Laki-laki baju merah itu menjawab dengan dingin,"Jauh lebih bagus di atas sini ?"
Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara kayu patah yang kencang sesaat tiang tempat dia berdiri telah tiba-tiba jatuh.
Laki-laki baju merah itu mengembangkan lengan bajunya dan bersalto dengan gerakan yang memutas, dia terlihat seperti kelelawar merah yang perlahan-lahan turun melayang ke atas tanah.
Setiap orang memandang kepadanya. Ma Fang Ling tiba-tiba bertepuk tangan dan
berseru,"Ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat!"
Sesaat kata-kata tersebut terucap dari mulutnya, laki-laki baju merah itu melayang
kehadapannya dan menatapnya langsung kematanya dan bertanya,"Dan siapakah kau?"
Kedua matanya hitam dan bercahaya. Wajah Ma Fang Ling telah menjadi merah sesaat dia menundukan kepalanya dan menjawab,"Nama " nama keluargaku Ma."
Suara patah yang keras kembali terdengar saat sisa tiang bendera yang telah patah terjatuh ke atas salah satu atap rumah dan seperti akan menimpa kepala beberapa orang. Laki-laki gundul itu tiba-tiba bergerak cepat dan menyundul sisa tiang bendera tersebut dengan kepalanya, dan menerbangkannya lebih dari lima puluh kaki melewati atap-atap rumah.
Ma Fang Ling tidak tahan terkikik dan berkomentas,"Orang itu memiliki kepala yang
sungguh-sungguh keras."
"Aku harap kepalamupun keras seperti kepalanya."Laki-laki baju merah itu berkata.
Ma Fang Ling berkedip-kedip dan bertanya dengan terkejut,"Kenapa begitu?"
Ekspresi laki-laki baju merah itu merengut sesaat menjawab,"Bagaimana bisa tiang bendera itu tiba-tiba patah" Jangan katakan padaku ada hantu. Sesaat aku melihatmu aku tahu
engkau tidak bermaksud baik."
Wajah Ma Fang Ling memerah, kali ini dengan kemarahan. Cambuk kudanya sudah
ditangannya, tiba-tiba dia melecutkannya kearah laki-laki baju merah tiu.
Laki-laki baju merah itu dengan sederhana menangkapnya dan mencengkeram ujung
cambuk itu dengan tangannya dan tertawa dengan dingin,"Sungguh berani, kau cukup
punya nyali, kau berani memukulku?"
Dia menarik tangannya ke belakang dan Ma Fang Ling kehilangan keseimbangannya dan
terjatuh kearahnya. Gadis itu ingin sekali menampar wajahnya namun saat tangannya
bergerak, dia menahannya juga.
Leher Ma Fang Ling telah memerah. Dia menggertakan giginya dan berteriak,"Lepaskan "
lepaskan aku!"
"Tidak."
"Apak yang kau inginkan?"
"Berlutut dan menyembah tiga kali, kemudian merangkah memutar dua kali, cepat lakukan."
"Lupakan!" Ma Fang Ling berteriak.
"Jadi lupakan melepaskanmu."
Ma Fang Ling menggigit bibirnya dan membantingkan kedua kakinya,"Orang yang bernama
keluarga Ye, apakah kau sudah mati?"
Ye Kai menghela napas dan berkata,"Ada seseorang yang mati disini, tapi bukan aku."
"Kalau bukan kau, lalu siapa?"
Ye Kai tersenyum dan mengangkat kepalanya. Dia melihat ke arah atap diseberang dimana mereka berdiri dan berkata,"Sudah jelas engkau yang membuat patah tiang itu, kenapa
engkau membiarkan orang lain disalahkan?"
Semua orang tidak dapat menahan untuk tidak memandang ke atas atap juga, tapi tidak
seorangpun terlihat.
Tiba-tiba, ada sesuatu yang disambitkan dari balik atas menuju ke atas tanah. Biji kacang yang sudah kosong.
Sengah menit kemudian, sesuatu yang lain meluncur dari balik atap. Kali ini, berupa
selembar kulit kering berbentuk bundar.
Sorot mata laki-laki baju merah itu berubah. Dia mengatupkan giginya dan
berkata,"Kelilhatannya hantu itu telah mengikuti kita sampai sini juga."
Laki-laki gundul itu menganggukan kepalanya, tiba-tiba dia berteriak. Dia telah melompat hingga tujuh kaki ke udara, memutar-mutar sebagian tiang bendera yang patah sebelum dia melemparkannya ke atap. Suara yang terdengar kemudian adalah suara putaran dari tiang tersebut, seluruh rumah kelihatannya akan runtuh.
Tiba-tiba, sebuah bayangan hijau terbang keluar dari balik atap dengan sekejap, bagian lain dari tiang yang telah terpotong. Kemudian yang terpukul oleh laki-laki gundul tersebut hanya udara kosong. Dia tidak dapat menahan dorongan yang dia lakukan sehingga dia terjatuh bergedebukan ke atas tanah.
Patahan tiang yang lainnya kembali beterbangan ke udara seperti cahaya hijau meluncur dari atas atap. Tiang tersebut telah terpotong menjadi tujuh atau delapan bagian dan jatuh ke atas tanah.
Setiap orang melihat dengan penuh takjub.
Ye Kai menghela napas dan berkata,"Betapa pedang yang cepat. Betul-betul sesuai dengan namanya."
Laki-laki baju merah membanting kakinya dengan keras dan berteriak,"Karena engkau disini, kenapa tidak keluar?"
Suara dari baik atas menjawab,"Lebih bagus di atas sini."
Laki-laki baju merah itu maju kedepan dan berteriak,"Kenapa kau selalu ikut campur
urusanku?"
"Kenapa kau selalu ikut campur urusan orang lain?"Suara itu menjawab.
"Siapa yang aku usik?"Laki-laki baju merah bertanya.
"Engkau sudah tahu bahwa gadis itu tidak mematahkan tiang itu, kenapa engkau
membuatnya sulit?"
"Karena aku suka melakukannya."
Ye Kai tertawa. Perbuatan Ma Fang Ling sudah tidak masuk diakal. Siapa tahu ada orang lain yang lebih tidak masuk akal dari dia"
"Karena gadis itu menjengkelkanku, apa urusannya denganmu" Kenapa engkau
membelanya" Saat seseorang membuat kesulitan padaku, kenapa kau tidak membelaku
juga?"Laki-laki baju merah itu berteriak balik.
"Siapakah kau?"Suaara itu bertanya.
"Aku " aku ?"
"Orang yang membunuh tanpa berkedip Lu Xiao Jia. Kapan orang lain menyulitkanmu?"
Laki-laki baju merah itu menundukan kepalanya dan berkata,"Siapa yang bilang aku Lu Xiao Jia?"
"Bukankah kau berkata seperti itu pada dirimu sendiri?"Suara dibalik atap menjawab.
"Orang itu yang mengatakannya, bukan aku."Laki-laki baju merah berkata, sambil menunjuk ke arah Ye Kai.
"Kalau kau bukan Lu Xiao Jia, jadi siapakah kau?"Suara itu bertanya.
"Kau."Laki-laki baju merah menjawab.
"Bila aku Lu Xiao Jia, lalu siapa yang berpura-pura menjadi aku?"Suara itu berkata.
Laki-laki baju merah kembali angkat suara dan berkata,"Karena aku menyukaimu, aku ingin memancingmu keluar."
Sesaat dia mengatakan hal itu, pandangan kaget terlihat diwajah kerumunan orang. Mereka semua mentapnya dengan mata yang terbuka lebar.
"Apa yang kalian lihat" Kenapa aku tidak boleh menyukainya?"Laki-laki baju merah berkata.
Dia tiba-tiba mengangkat kain merah dikepalanya dan berteriak,"Apakah kalian semua buta"
Apakah kalian tidak bisa melihat aku adalah seorang wanita?"
Dia betul-betul seorang wanita!
"Aku telah melepaskannya, kenapa engkau belum turun ke bawah sekarang?"
Tidak ada respon dari balik atap.
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun" Apakah kau tiba-tiba jadi bisu?"
Masih tidak ada respon. Wanita baju merah menggigit bibirnya, tiba-tiba dia melompat ke atas menuju ke atap.
Apakah ada seseorang di balik atap" Disana tidak ada seorangpun kecuali sekantong kulit kacang kosong.
Wajahnya berubah warna saat wanita itu berteriak,"Sikecil Lu, keneraka mana kau pergi mati" Keluarlah!"
Tidak ada seorangpun yang keluar.
Dia membantingkan kedua kakinya dan berteriak," Lihatlah berapa lama kau dapat
bersembunyi! Meskipun kau lari ke ujung langitpun akan ku kejar!"
Tubuhnya yang terbungkus baju merah telah melesat dan kemudian dia telah menghilang.
Laki-laki gundul itu tiba-tiba melompat, melompat ke atas kudanya dan mencongklangnya pergi.
Chen Da Guan terlihat terkejut, akhirnya dia menghela napas dan menggerutu," Wanita itu memiliki cukup banyak masalah."
Ma Fang Ling terlihat terkejut saat dia berkata pada dirinya sendiri dan menegaskan," Tapi aku mengaguminya."
"Kau mengaguminya?"Chen Da Guan bertanya dengan padangan serius.
Ma Fang Ling menundukan kepalanya dan berkata," Dia tidak takut menyatakan kepada
seseorang yang dia sukai bahwa dia menyukainya. Paling tidak dia lebih berani daripadaku."
Angin kencang bertiup. Angin itu berhembus menjatuhkan kulit-kulit kacang di atas atap, namun masih belum dapat membuat cerah hati Ma Fang Ling yang sedang gundah. Kedua
matanya melekat ke kejauhan, namun dia tidak dapat menahan untuk memandang Ye Kai
sekali-sekali. Ye Kai menatap kulit kacang yang tertiup angin, sepertinya tidak ada lagi pemandangan lain yang lebih baik didunia ini.
Untuk suatu sebab, wajah Ma Fang Ling memerah lagi. Dia menghentakan kakinya ringan
dan bersiul dan kuda tunggannya yang berwarna merah berlari kearahnya dari kejauhan.
"Karena kau sangat menyukainya, maka ambilah semuanya."
Sesaat kemudian kulit-kulit kacang jatuh ke atas lantai, orang dan kuda telah pergi jauh.
Chen Da Guan menyeringai dan berkata," Sebenarnya, tidak mengatakan dengan keras
mungkin tidak berbeda dengan berbicara dengan keras. Bukankah kau setuju, Tuan Ye?"
"Lebih baik kalau mereka tidak berbicara."Ye Kai menjawab.
"Kenapa begitu?"
"Karena orang yang berbicara terlalu banyak menyebalkan."
Chen Da Guan tersenyum, tentu saja senyum yang palsu.
Ye Kai berjalan melewatinya dan mendorong membuka pintu sempit itu." Tidak bicara baik-baik saja, namun tidak makan sudah tidak tahan lagi. Bagaimana beberapa orang tidak
dapat memahami hal sederhana seperti itu?"
Tiba-tiba, sebuah suara menjawab," Selama ada kacang, tidak makan baik-baik saja."
Orang itu sedang duduk di dalam ruangan utama dengan punggungnya mengarah kepintu.
Sekantong besar kacang tergeletak di atas meja di depannya. Dia membuka sebiji kacang, menjentikannya ke udara, dan menangkap dengan mulutnya. Dia menjentikan dengan
sangat tinggi dan menangkapnya dengan tepat.
Ye Kai tersenyum dan bertanya," Apakah kau tidak pernah menjatuhkannya?"
Orang itu menjawab tanpa menoleh," Itu tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Karena kedua tanganku sangat mantap dan mulutku juga sangat mantap.
"Itulah sebabnya orang lain memintamu untuk membunuh mereka."
Membunuh betul-betul membutuhkan kedua tangan yang mantap dan mulut yang mantap.
"Sayangnya mereka tidak memintaku membunuhmu."
"Setelah kau membunuh orang yang seharusnya kau bunuh, kenapa kau tidak balik kembali untuk membunuhku?"
"Hebat sekali!"
"Ye Kai mulai tertawa. Orang itu tiba-tiba mulai tertawa juga. Chen Da Guan yang baru saja melangkah masuk, memandang dengan ketakutan.
Ye Kai melangkah, duduk, dan mengambil kacang dengan kedua tangannya. Senyum orang
tersebut tiba-tiba menghilang.
Dia adalah seorang pemuda, pemuda yang aneh, dengan sepasang mata yang aneh. Bahkan
saat dia tertawa, matanya sedingin es. Kedua mata tersebut adalah mata orang mati, seratus persen tanpa emosi dan seratus persen tanpa ekspresi.
Dia menatap kearah kacang di tangan Ye Kai dan berkata," Lepaskan."
"Aku tidak boleh memiliki kacang ini?" Ye Kai bertanya.
"Kau dapat memintaku membunuhku, atau kau dapat membunuhku dengan kedua
tanganmu, tapi kau tidak dapat memiliki kacang itu." Laki-laki itu menjawab dingin.
"Kenapa?"
"Karena Lu Xiao Jia berkata seperti itu."
"Siapakah Lu Xiao Jia?"
"Aku."
Kedua matanya seperti abu keabu-abuan yang mematikan, namun bercahaya seperti mata
pedang.

Kisah Pengelana Di Kota Perbatasan Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ye Kai meneliti kacang di tanganya, kemudian berkata," Kelihatannya ini hanyalah sebuah kacang biasa."
"Betul."
"Tidak berbeda dari kacang lainnya di dunia ini."
"Tidak ada bedanya sama sekali."
"Jadi kenapa aku harus memakannya?"
Ye Kai tersenyum dan perlahan-lahan meletakan kacang tersebut kembali ke atas meja. Lu Xiao Jia tersenyum juga, namun kedua matinya masih dingin membeku.
"Kau pasti Ye Kai."
"Oh?"
"Selain Ye kai, tidak ada orang lain yang aku pikir akan sepertimu."
"Apakah suatu pujian?"
"Sedikit."
Ye Kai menghela napas kemudian tersenyum dan berkata," Sayang sekali, bahkan dengan
sepuluh kantong pujianpun aku masih tidak pantas untuk mendapatkan sebiji kacang."
Lu Xiao Jia menatapanya, setelah beberapa saat, dia perlahan-lahan bertanya," Engkau tidak pernah membawa senjata?"
"Paling tidak, tidak seorangpun yang pernah melihatku membawa senjata."
"Kenapa?"
"Tebaklah."
"Karena kau tidak pernar membunuh" Atau mungkin karena kau tidak membutuhkan senjata untuk membunuh?"
Ye Kai mulai tertawa, namun tidak terlihat sedikitpun tawa dikedua matanya.
Kedua matanya melekat pada pedang Lu Xiao Jia. Sungguh-sungguh pedang yang tipis,
setipis pisau cukur, setajam alat cukur juga.
Sebuah pedang tanpa sarung.
Pedang ini tergantung miring pada ikat pinggang dipinggangnya.
"Kau tidak menggunakan sarung?"
"Paling tidak, tidak seorangpun yang pernah melihatku menggunakan sarung."
"Kenapa?"
"Tebaklah."
"Karena kau tidak menyukai sarung" Atau mungkin pedang itu tidak memiliki sarung"
"Saat sebuah pedang diasah, maka tidak ada sarung."
"Oh?"
"Sarung digunakan setelahnya."
"Lalu Kenapa tidak ada sarung dipedangmu?"
"Tentu saja."
"Pedang yang ditakuti, bukannya sarungnya."
"Masuk akal."
"Jadi sarung tidak berguna."
"Engkau adalah seseorang yang tidak suka hal yang tidak berguna?"
"Aku hanya membunuh orang-orang yang tidak berguna.!"
"Orang "orang yang tidak berguna?"
"Beberapa orang di dunia ini, keberadaan mereka tidak berguna."
Ye Kai tersenyum,"Alasanmu sungguh-sungguh membingungkan.
"Jadi kau mengatakan bahwa kau setuju?"
"Aku kenal dua orang yang tidak pernah membawa sarung pedang, namun alasan mereka
tidak pernah membingungkan sepertimu."Ye Kai berkata sambil tersenyum.
"Mungkin karean kau tidak mengerrti apa yang telah mereka coba katakan padamu."
"Atau mungkin mereka tidak ingin mengatakan apapun."
"Oh?"
"Meraka adalah seorang laki-laki yang tidak banyak kata-kata. Selama meraka memahami keyakinan mereka, mereka tidak perlu menjelaskannya pada siapapun juga."
Lu Xiao Jia menatap mereka dan bertanya,"Tahukah kau orang seperti apakah mereka?"
Ye kai menganggukan kepalanya.
"Jadi kau tahu terlalu banyak,"Lu Xiao Jia menjawab dingin.
"Tapi aku tidak tahu orang seperti apakah kau?"
"Lebih baik kau tidak tahu, atau orang lain yang pertama mati disini bukanlah Fu Hong Xue, tetapi kau."
"Dan sekarang?"
"Sekarang, aku rasa tidak perlu membunuhmu dulu."
Ye Kai tersenyum dan menjawab,"Karena kau tidak perlu membunuhku dulu, tidak berarti kau dapat membunuhku juga."
Lu Xiao Jia tersenyum dingin.
"Apakah kau pernah melihat tekniknya?"Ye Kai bertanya.
"Tidak."
"Kalau kau tidak pernah, kenapa kau begitu yakin."
"Tapi aku hanya tahu dia pincang."
"Banyak sekali jenis orang pincang."
"Tapi hanya satu teknik orang cacat, hanya satu macam saja."
"Apakah itu?"
"Tetap diam dan tidak bergerak, bergerak hanya untuk bereaksi. Inti dari tekniknya adalah dia harus lebih cepat daripada musuhnya."
Ye Kai menganggukan kepalanya,"Itulah sebabnya dia bergerak belakangan, namun
memukul lebih dahulu."
Lu Xiao Jia tiba-tiba mengambil sebiji kacang dan menjentikannya ke udara. Dalam sekejap, pedangnya telah melesat keluar. Sebelum mata dapat mengikuti gerakan, dia telah
mengembalikannya kepinggangnnya. Dan ditangannya terdapat sebuah kacang yang telah
terkupas dengan bersih, kulit dan selaputnyanya telah dibersihkan. Bahkan bila
melakukannya dengan tangan, tidak akan sebersih itu. Kulit kacang telah terpotong menjadi potongan-potongan yang kecil.
Teriakan kekaguman yang keras dan suara tepuk tangan bergema di dalam ruangan. Bahkan Ye Kai tidak tahan untuk bertepuk-tangan juga meski hanya di dalam hatinya.
Pedang yang sungguh-sungguh cepat!
Lu Xiao Jia meletakan kacang yang telah bersih terebut ke dalam mulutnya dan bertanya,"
Kau pikir dia lebih cepat dariku?"
Ye Kai terbenam dalam pikirannya, kemudian menghela napas dan menjawab," Aku tidak
tahu " lebih baik aku tidak tahu."
"Sayang sekali kacang-kacang ini."
"Engkau salah satu yang memakan mereka."
"Kacang harus dikupas satu persatu, agar supaya dapat dinikmati satu persatu."
"Aku rasa aku lebih menyukai kacang yang telah dikupas juga."
"Sayangnya kau tidak bisa melakukannya."
Dengan sekali gerakan tangan, semua kacang itu telah beterbangan membentuk satu garis lusur, menancap seperti keong di tiang.
"Kau lebih menyukai kacangmu terbuang percuma, daripada orang lain merasakannya?"
"Aku sama seperti wanita, aku lebih baik membunuh mereka daripada membiarkan orang
lain mencicipinya."
"Jadi apapun yang kau nikmati, kau tidak akan membiarkan orang lain memilikinya?"
"Tepat sekali."
Ye Kai menghela napas dan berkata tegas," Untung sekali yang kau sukai hanyalah kacang dan wanita."
"Aku sangat menyukai uang juga."
"Oh?"
"Karena tanpa uang, tidak akan ada kacang, dan sudah pasti tidak ada wanita."
"Ya, meskipun banyak sekali di dunia ini yang lebih penting dari pada uang, semuanya itu tidak akan dapat diperoleh kalau kau tidak punya uang."
Lu Xiao Jia memperlihatkan senyumnya. Senyumnya terlihat kejam dan aneh.
"Kau telah berbicara setengah harian mengenai hal-hal yang biasanya dikatakan oleh Ye Kai."
ooOOOoo Bab 22. Pendahuluan Dan Penutupan Untuk Membunuh
Chen Da Guan, Majikan Zhang, Ding Lao Si dan yang lainnya telah tiba sekarang. Mereka semua berdiri diam menunggu perintah Li Xiao Jia, namun Li Xiao Jia bersikap sepertinya mereka tidak ada.
Hingga saat itu dia bahkan tidak peduli untuk sekalipun menoleh kearah mereka. Akhirnya, dia berkata,"Apakah ada orang yang mau memberikan ku uang?"
"Ada, tentu saja ada."Chan Da Guan segera menjawab."
"Apakah kau dapat melakukan apapun yang kuminta?"Lu Xiao Jia berkata.
"Aku akan melakukan yang terbaik."Chen Da Guan membalas.
"Kau harus melakukan lebih baik."Lu Xiao Jia menjawab dengan dingin.
"Silahkan minta."Chen Da Guan berkata.
"Aku ingin lima kantong kacang, dipanggang kering, dan jangan terlalu matang juga jangan terlalu mentah."
"Baiklah."
"Aku juga ingin se-bak mandi air panas, di dalam bak kayu yang tingginya enam kaki."
"Baiklah."
Juga sediakan dua set pakaian yang tertbuat dari sutera atau kapas."
"Dua set?"
"Dua set, satu aku pakai sebelum membunuhn dan satu setelahnya."
"Baiklah."
"Bila ada satu kacang yang pecah, aku akan memotong tanganmu. Bila ada dua, aku akan mencabut nyawamu."
Chen Da Gua seperti menghirup udara yang dingin, "Baiklah."
"Kau harus mandi dulu sebelum membunuh?"Ye Kai tiba-tiba bertanya.
"Membunuh orang tidak seperti membunuh babi. Membunuh adalah tindakan yang suci dan
penuh dengan kegembiraan.
Ye Kai tersenyum dan menjawab,"Jadi korbanmu harus menunggumu membersihkan dirimu
sebelum kau mencabut nyawa mereka?"
"Mereka tidak perlu menunggu. Aku dapat memotong kaki mereka dulu, kemudian mandi
sebelum akhirnya aku menghabisi nyawa mereka."Lu Xiao Jia berkata dingin.
"Siapa yang tahu kalau kau harus melakukan banyak hal yang merepotkan sebelum
membunuh."Ye Kai berkata sambil menghela napas.
"Aku harus melakukan banyak hal yang merepotkan juga setelah membunuh."Lu Xiao Jia
berkata. "Perkerjaan merepotkan seperti apa?"
"Yang paling merepotkan."
"Wanita?"
"Itu adalah hal kedua yang katakan hari ini."Lu Xiao Jia menjawab.
"Kesulitan terbesar laki-laki selalu wanita. Aku rasa laki-laki paling bodohpun mengetahui hal ini."
"Jadi pergilah dan siapkan seorang wanita untukku, yang terbaik yang bisa kau dapatkan."
Chen Da Guan terlihat sedikit ragu-ragu saat menjawab,"Tapi bagaimana bila gadis berbaju merah itu kembali?"
Lu Xiao Jia tertawa dan berkata,"Kau takut dia cemburu?"
Chen Da Guan tersenyum pahit dan menjawab,"Bagaimana aku tidak takut" Kepalaku sangat rentan."
"Kau sungguh-sungguh percaya dia kesini untuk mencariku"
"Memangnya bukan begitu?"
"Aku tidak pernah melihatnya selama ini."
"Pandangan terkejut keluar dari wajah Chen Da Guan,"Jadi apa yang dia katakan tadi ?"
"Jangan katakan padaku kau tidak menyadari bahwa dia hanya mencoba membuat
masalah?"Lu Xiao Jia berkata.
Chen Da Gua terlihat bingung.
"Hal itu terjadi karena kau membocorkan berita kedatanganku sehingga dia mengetahuinya, dan dia segera datang kesini sebelum aku tiba."Lu Xiao Jia berkata.
"Apakah tujuannya ikut campur?" Chen Da Guan bertanya.
"Kenapa kau tidak tanya sendiri saja kepadanya?"Lua Xiao Jia menjawab dingin.
Rasa takut terlihat di mata Chen Da Guan, namun dia masih memperlihatkan senyumnya.
Senyuman itu kelihatannya telah terukir dengan permanen diwajahnya.
________________________________________
Toko sutera dan satin Chen Da Guan tidak terlalu besar, namun disekitar sini bisa dikatakan cukup lega. Hari ini tdak terlalu banyak pelanggan yang berbelanja, hal itu terlihat dari wajah kedua penjaga toko di dalam yang nampaknya kebosanan dan lesu. Yang mereka inginkan
adalah matahari terbenam sehingga mereka bisa segera pulang ke rumah. Meskipun mereka hanya karyawan ditoko itu, namun mereka menjadi tuan saat mereka tiba dirumah.
Chen Da Guan tidak mempedulikan keadaan tokonya. Sesaat dia tiba dia langsung
kebelakang. Setelah melewati halaman kecil, terdapat sebuah rumah dimana dia tinggal.
Namun dia tidak pernah membayangkan bahwa seseorang telah menunggunya di halaman
tersebut. Di dalam hanya terdapat sebuah pohon banyan. Di bawah pohon tersebut berdiri Ye Kai,"Kau pasti tidak mengira aku disini, huh?"
Chen Da Guan terkejut, dia mencoba sebisanya untuk tetap tersenyum saat bertanya,"
Bukankah Tuan Ye sedang menemabi Tuan Lu" Kalian berdua nampaknya sedang ngobrol
panjang." "Dia tidak memberiku sebijipun kacang, aku terlalu lapar hingga aku ingin makan seekor kuda,"Ye Kai berkata.
"Aku kembali kesini untuk mengambil air mandinya, masih tersedia beberapa makanan di dapur, bila Tuan Ye tidak sungkan ?"
Ye Kai memotongnya dan berkata," Aku dengar Nyonya Chen adalah seorang tukang masak
yang cukup pandai, aku tidak percaya akhirnya aku beruntung untuk merasakan masakannya yang enak."
Chen Da Guan menghela napas,"Sayang sekali kau datang saat ini. Kebetulan istriku sedang sakit sementara ini."
Ye Kai mengangkat alisnya dan betanya,"Sakit?"
"Betul sekali dia sakit parah. Dia tidak dapat meninggalkan tempat tidurnya sekarang,"Chen Da Guan berkata.
Ye Kai tersenyum dingin dan berkata," Aku tidak percaya padamu."
Chen Da Guan terlihat terkejut," Kenapa aku harus berbohong padamu mengenai hal ini, Tuan Ye?"
"Dia betul-betul sehat-sehat saja semalam, bagaimana tiba-tiba dia jatuh sakit parah" Aku sungguh-sungguh harus menengoknya dan melihat penyakit apa yang dideritanya."Ye Kai
berkata dingin. Ekspresi wajahnya memburuk dan kelihatannya dia seperti tergopoh-gopoh ke dalam rumah.
Chen Da Guan menundukan kepalanya dan menjawab," Kalau begitu, aku akan mengantar
Tuan Yu melihatnya."
Dia berjalan dengan Ye Kai melewati ruang utama ke salah satu kamar tidur di belakang, perlahan-lahan mendorong pintu, dan membuka salah satu gorden. Tidak terlalu banyak
cahaya yang masuk ke ruangan, jendelapun tertutup rapat, dan aroma obat-obatan
memenuhi udara. Seorang wanita terbaring di atas ranjang dengan wajahnya mengarah ke dinding, rambut kepalanya tidak teratur, dan dia ditutupi oleh selimut. Kelihatannya wanita itu betul-betul sakit parah.
Ye Kai menghela napas dan berkata," Kelihatanya aku salah sangka terhadapmu."
Chen Da Guan tersenyum dan menjawab," Tidak usah dipikirkan."
"Sepertinya hari ini sangat panas, kenapa dia masih selimutan" Meskipun tidak sakitpun dia akan jatuh sakit karena kepanasan."Ye Kai berkata.
"Dia menderita malaria. Semalam dia menggunakan dua buah selimut dan masih juga
menggigil?"Chen Da Gua berkata,
Ye Kai tertawa dan menjawab," Aku tidak tahu bahwa orang mati bisa menggigil?"
Sebelum perkataannya selesai, dia melesat ke arah tempat tidur dan mengangkat
selimutnya. Selimutnya dibasahi oleh darah, ranjang tersebut juga dibasahi oleh darah, tubuh tersebut telah membeku kaku!
Ye Kai perlahan-lahan mengembalikan selimut itu, sepertinya dia hati-hati agar tidak membangunkan tubuh mati tersebut bangun. Dia menghela napas dan perlahan-lahan
memutas tubuhnya. Chen Da Guan masih berdiri disana membisu, dengan senyum licik
diwajahnya. "Sepertinya aku tidak akan pernah beruntung untuk merasakan masakan Nyonya Chen."Ye
Kai berkata. "Orang mati sungguh-sungguh tidak dapat memasak." Chen Da Guan berkata.
"Bagaimana denganmu?" Ye Kai bertanya.
"Aku bukan orang mati." Chen Da Guan menjawab.
"Tapi kau seharusnya mati."Ye Kai berkata.
"Oh?"
"Karena aku sudah melihatmu di dalam peti mati tadi."Ye Kai berkata.
Kelopak mata Chen Da Guan berkedip-kedip, namun dia masih memasang senyuman "
senyumnya itu betul-betul sudah terukir diwajahnya.
"Menyaru sebagai Chen Da Guan sungguh-sungguh bukan hal yang sulit, karena orang
tersebut selalu memasang muka palsu setiap hari di dalam hidupnya, sepertinya sudah ada kedok diwajahnya."Ye Kai berkata.
"Itulah sebabnya orang tersebut pantas mati." Chen Da Guan berkata.
"Namun tidak peduli bagaimana hebatnya kau menyaru, engkau tetap tidak dapat menipu
istrinya. Ilmu menyaru yang sehebat itu tidak akan pernah ada di dunia ini." Ye Kai berkata.
"Itulkah sebabanya dia juga harus mati."
"Aku hanya merasa aneh saja kenapa engkau tidak memasukan dia ke dalam peti mati
seperti yang lainnya."
"Lebih baik bila dia tertidur disini, jadi untuk menghindari kecurigaan para pegawai.
"Kau masih belum membayangkan kalau seseorang akan curiga."
"Aku betul-betul tidak membayangkan."
"Itulah sebabnya akupun harus mati."
Chen Da Guan menghela napas dan berkata," Kau betul-betul tidak memiliki apapun pada situasi seperti ini."
Ye Kai menanggukan kepalanya," Aku tahu, tujuan akhirmu adalah untuk menyingkirkan Fu Hong Xue."
Chen Da Guan pun menganggukan kepalanya," Dia betul-betul pantas mati."
"Kenapa?"
Chen Da Guan tersenyum dingin," Engkau tidak mengerti?"
"Semua musuh Gedung Sepuluh Ribu Kuda harus mati?" Ye Kai bertanya.
Tiba-tiba mulut Chen Da Guan tertutup.
"Jadi kalian semua diundang kesini oleh Gedung Sepuluh Ribu Kuda?"
Mulut Chen Da Guan tetap tertutup rapat-rapat. Namun telapak tangannya perlahan-lahan terbuka. Tangannya sebetulnya kosong, namun tiba-tiba, logam dengan cahaya yang dingin berkelebat keluar. Dan pada saat yang tepat, sebuah bintang perak melesat dari jendela dan mengembang seperti mahkota pada sebuah bunga. Bintang perak tersebut berubah menjadi hujan sinar yang menyilaukan, membutakan mata. Seluruh ruangan telah dibanjiri oleh
cahaya perak, sangat terang sehingga kau tidak dapat membuka matamu.
Namun pada saat yang tepat, sebuah pisau terbang telah menancap pada tenggorokan Chen Da Guan.
Bahkan pada saat matipun, dia tidak pernah membayangkan dari mana pisau tersebut
melayang. Semua senjata rahasia yang tadi dilontarkan semuanya terlihat, namun pisang itu sama sekali tidak terlihat. Hujan cahaya perak yang tadi memenuhi ruangan mendadak
padam. Ye Kai pun tidak terlihat lagi.
Angin berhembus dari jendela, tidak setitik napas terdengar di dalam ruangan.
Setelah beberapa saat, sebuah tangan mendorong membuka jendela. Sebuah tangan yang
indah, dengan jari yang lentik dan panjang. Namun lengan bajunya betul-betul berbeda, dipenuhi dengan minyak dan lemak. Sebuah wajah perlahan-lahan nongol dari jendela, itu adala wajah Majikan Zhang. Dia tidak melihat Ye Kai dimanapun, namun dia telah melihat sebuah pisau menonjol keluar dari tenggorokan Chen Da Guan.
Pisau sepanjang tiga hun tujuh inci.
Kemudian tangannya menjadi kaku. Tiba-tiba, sebuah pisau telah menancap
ditenggorokannya juga. Bahkan dalam matipun dia tidak melihat pisau. Pisau yang
menancap pada tenggorokan orang lain tidaklah berbahaya, itulah sebabnya dia dapat
melihatnya. Sayangnya, yang menyaksikan pisau ditenggorokannya hanya sebuah pegangan jendela.
Apakah senjata yang paling hebat adalah senjata yang tidak dapat dilihat"
Ye Kai melompat turun dengan ringan dari salah satu balok tiang dilangit-langit. Pertama-tama dia pergi mengambil senjata-senjata rahasiaitu, kemudian mengambil kembali
pisaunya. Dia menatap pisau ditangannya, ekspresi wajahnya berubah serius, raut wajahnya hampir kearah penuh kekaguman dan penghormatan.
"Aku tidak akan pernah memerintahkan kau untuk membunuh bila tidak perlu. Aku jamin
kepadamu bahwa aku hanya membunuh pada saat memang benar-benar tidak ada pilihan
lainnya!" ________________________________________
Majikan Song membuka kedua matanya.
Ada dua orang di dalam ruangan, keduanya mengenakan baju merah. Seorang wanita
berbaring menghadap ke dinding, dengan posisi yang hampir sama dengan istri Chen Da
Guan, kecuali rambutnya telah memutih semuanya. Pasangan tersebut telah bersama-sama selama bertahun-tahun. Keduanya nampaknya sedang tertidur.
Saat terdengan orang ketiga di dalam ruangan, Majikan Song membuka kedua matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah sebuah tangan. Tangan yang memegang sesuatu yang sangat aneh. Pertama terlihat seperti rumput-rumputan liar yang biasa tumbuh di pegunungan, kedua sebuah bunga yang terbuat dari logam. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan
melihat Ye Kai.
Saat itu di ruangan tersebut sangat gelap, namun kedua mata Ye Kai bersinar cerah seperti sebuah lentera saat menatap Majikan Song," Tahukah kau apakah ini semua?"
Majikan Song menggelengkan kepalanya. Rasa kaget dan takut terlihat disorot matanya, lehernya diam membeku.
"Ini adalah senjata rahasia. Senjata yang di disain untuk membunuh dan sulit untuk
diketahui."Ye Kai berkata.
Tidak terlalu jelas apakah Majikan Song mendengar apa yang dikatakan Ye Kai, namum dia telah menganggukan kepalanya.
"Dari kedua senjata ini, yang satu disebut Rumput Kebahagiaan Lima Racun, dan yang
satunya disebut Bunga Perak Api. Kedunya adalah senjata khas Cai Hua Feng dan Pan Ling."
Ye Kai berkata.


Kisah Pengelana Di Kota Perbatasan Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Majikan Song menjilat bibirnya yang kering dan berkata sambil terseyum dipaksakan," Aku tidak pernah mendengar kedua nama pendekar itu sebelumnya."
"Mereka bukanlah pendekar." Ye Kai menjawab.
"Mereka bukan?"
"Meraka adalah pencuri hina Lima Gerbang Rendah dan juga pemerkosa." Ekspresi wajah Ye Kai memarah seraya melanjutkan," Aku selalu menghargai kehidupan manusia, kedua orang tersebut pengecualian."
"Aku mengerti " pemerkosa tidak pantas untuk disesalkan." Majikan Song berkata.
Mereka adalah anggota dari Lima Gerbang Rendah, lima orang yang lebih menyukai
menggunakan senjata rahasia dari siapapun." Ye Kai berkata.
"Lima orang?"
"Di dalam dunia persilatan mereka dikenal dengan nama Lima Racun dari Jiang Hu.
Disamping mereka berdua, masih ada tiga orang lain yang lebih kejam." Ye Kai menjawab.
"Apakah mereka berlima telah tiba di Kota Perbatasan?"
"Tidak ada satupun yang kurang."
"Kapan mereka tiba disini?"
"Beberapa hari yang lalu, saat peti-peti mati itu dibawa kesini."
"Bagaimana aku tidak bisa melihat lima orang asing berkeliaran selama ini?"
"Mereka tidak berjalan datang pada saat itu. Mereka bersembunyi di dalam peti-peti mati itu, sehingga tidak ada seorangpun yang menyadarinya."
"Jadi sebab kedatangan sibongkok membawa semua peti-peti mati itu kesini adalah untuk menyelundupkan mereka di dalamnya?"
"Kira-kira seperti itu."
"Apakah mereka semua masih bersembunyi di dalam peti-peti mati itu?"
"Hanya mayat yang berbaring di peti-peti mati itu sekarang."
Majikan Song menghela napas dan berkata," Jadi mereka semua telah mati sekarang."
"Sayangnya tidak ada seorangpun yang mati."
"Apa yang kau maksudkan?"
"Karena saat mereka keluar, mereka telah menggantikan diri mereka dengan orang lain."
"Siapakah yang mereka masukan ke dalam peti-peti itu"
"Yang sekarang aku tahu yaitu Cai Hua Feng menggantikan dirinya dengan Chen Da Guan, Pan Ling menggantikan dirinya dengan Majikan Zhang."
"Bagaimana " bagaimana mereka menggantikan tempat seperti itu?"
"Pasti ada seseorang di kota ini yang mungkin memiliki ilmu menyaru yang paling hebat didunia!"
"Siapa?"
"Xi Men Chun."
"Dan siapakah Xi Men Chun" Bagaimana aku tidak pernah mendengar tentangnya selama
ini?" "Sebenarnya, aku sungguh-sungguh ingin juga siapakah dia. Namun, itu hanyalah masalah waktu saja." Ye kai berkata dengan senyum percaya diri.
"Jadi kau mengatakan dia telah mengubah Cai Hua Feng menjadi Chen Da Guan dan Pan
Ling menjadi Majikan Zhang?"
Ye Kai menganggukan kepalanya," Sayangnya tidak ada satupun ilmu menyaru yang dapat
mengelabuinya seorang istri. Itulah sebabnya orang pertama yang mereka incar adalah
Majikan Zhang."
"Kenapa?"
"Karena Majikan Zhan tidak menikah juga tidak memiliki teman. Juga, dia jarang sekali mandi sehingga tidak banyak orang yang mau bersamanya."
"Jadi meskipun dia terlihat sedikit berbeda, tidak ada yang mengenalinya."
"Sayangnya tidak banyak orang dikota ini yang seperti Majikan Zhan dan Ding Lao Si."
"Jadi itulah sebabnya mereka mengincar Chen Da Guan?"
"Karena dia adalah seseorang yang sangat menyebalkan. Tidak banyak orang yang
menyukainya juga."
"Namun dia memiliki seorang istri."
"Itulah sebabnya istrinya harus mati."
Majikan Song menghela napas," Seperti yang dikatakan orang-orang tua, mengunci pintu rumah, musibah muncul dari langit."
Setelah menyelesaikan perkataannya, Majikan Song mencoba untuk berdiri, namun Ye Kai menekan bahunya ke bawah.
"Aku telah berkata terlalu banyak, sekarang saatnya untuk bertanya sesuatu kepadamu." Ye Kai berkata.
"Silahkan."
"Karena Majikan Zhang adalah Pan Ling dan Chen Da Guan adalah Chai Hua Feng lalu
siapakah kau?"
Pandangan kaget terlihat di wajah Majikan Song seraya dia menggumama," Nama
Keluargaku Song, nama lengkapku Song Da Ji, jarang sekali orang-orang menanyakan
namaku selama ini."
"Itu karena engkau sudah terlalu tua, jadi kau mengira tidak seorangpun yang peduli
menanyakan namamu?"
Majikan Song tersenyum terpaksa dan menjawab," Sayangnya orang-oran gitu tidak
mengambil dirikua untuk menggantikan salah satu dari mereka."
"Oh?"
"Tuan Ye pasti tidak mengira aku palsu kan?"
"Kenapa tidak?"
"Istriku yang sudah tua telah bersamaku selama beberapa puluh tahun, masak dia tidak dapat membedakanku?"
"Kalau dia telah mati, maka dia tidak akan dapat mengatakan perbedaannya kan?"
"Masak aku tidur dengan mayat dalam ranjang yang sama?"
"Apakah ada hal lain yang orang-orang sepertimu tidak melakukannya" Lupakanlah orang mati, bahkan bila anjing mati sekalipun ?"
Sebelum dia menyelesaikan perkataannya, wanita tua di tempat tidur mengeluarkan
dengkurannya dan berbalik. Ye Kai tidak dapat lagi berbicara, orang mati tidak mungkin dapat berbalik. Wanita tua itu masih menggumam pada dirinya, sepertinya dia sedang
mengigau " orang mati tidak mungkin dapat mengigau.
Ye Kai menarik tangannya.
Majikan Song terlihat sangat senang pada dirinya sendiri seraya berkata," Apakah Tuan Ye bersedia membantuku membangunkan dia untuk menanyakan pada dirinya sendiri?"
Ye Kai tersenyum dan menjawab," Tidak perlu."
Majikan Song akhirnya bangkit berdiri dan berkata," Jadi apakah Tuan Ye bersedia
mengikutiku ke ruang tengah untuk minum teh?"
"Tidak, terima kasih."
Kelihatannya tidak tepat baginya untuk tetap tinggal, sehingga dia bersiap untuk pergi.
Tiba-tiba Majikan Song memengang pinggang wanita itu dan melemparkan seluruh tubuhnya ke arah Ye Kai. Gerakan ini sangat tidak terduga. Ye Kai tidak dapat memutuskan apakah menangkapnya atau tidak.
Kemudian sesaat ruangan telah dipenuhi oleh asap. Asap yang berwarna ungu cerah,
seindah cahaya saat matahari terbenam. Ye Kai mengulurkannya dan mendorong wanita tua itu kembali ke atas tempat tidur saat asap tebal menyelubungi dirinya.
Majikan Song memandangnya dengan sorot mata benci, menunggu Ye Kai terjatuh.
Tapi Ye Kai tidak jatuh. Saat asap tersebut akhirnya menghilang, Majikan Song melihat mata Ye Kai seterang sebelumnya. Dia benar-benar tidak mempercayai hal itu. Sesaat seseorang mencium sedikit saja Bubuk Penghancur Tulang, bahkan seorang yang paling kuat sekalipun pasti akan jatuh seperti segunduk lumpur.
Seluruh tubuh majikan Song membeku dengan rasa takut.
Ye Kai menatapnya dan menghela," Jadi sungguh-sungguh kau."
"Kau telah mengetahui siapa aku selama ini?"
"Bila tidak, aku pasti sudah tergeletak di atas lantai sekarang."
"Jadi kau datang dengan persiapan?"
Ye Kai terenyum dan berkata," Karena aku telah membeberkan segala yang aku ketahui,
tidak mungkin kau akan membiarkanku pergi hidup-hidup. Bila aku tidak bersiap-siap
sebelumnya, apakah aku berani datang."
Majikan Song mengatupkan giginya dan berkata," Tapi aku masih tidak dapat menduga
bagaimana kau dapat bertahan terhadap Bubuk Penghancur Tulang ku."
"Gunakan seluruh waktumu."
Mata Majikan Song bersinar.
"Kalau kau katakan siapa yang membantumu merias kau, maka kau dapat menghabiskan
sepuluh atau duapuluh tahun lagi untuk mencari tahu."
"Dan bila tidak?"
"Aku khawatir kau tidak pernah punya waktu untuk berpikir lagi."
Majikan Song tersenyum dingin dan berkata," Mungkin aku tidak mau memikirkan hal itu, mungkin aku ingin kau mengatakannya secepatnya."
"Maka kau tidak akan punya kesempatan sama sekali."
"Oh?"
"Bila kau menggerakan tanganmu, aku jamin kau akan mati ditempat tidur ini." Nada
suaranya menghangat, namun dipenuhi oleh rasa percaya diri yang menakutkan.
Majikan Song menghela napas," Aku bahkan tidak tahu siapakah kau, namun tidak bisa
tidak, aku harus mempercayaimu."
"Aku berjanji kau tidak akan menyesalinya." Ye Kai berkata sambil tersenyum.
"Kalau aku tidak mengatakannya kepadamu, maka kau tidak akan pernah menduga siapakah dia yang ?"
Dia tidak pernah mempunya kesempatan untuk mengakhiri ucapannya. Seluruh tubuhnya
tiba-tiba mengejang. Kedua matanya menghitam, seperti dua buah lentera yang tiba-tiba padam.
Ye Kai cepat-cepat bergerak ke arahnya dan menemukan sebuah jarum menancap
dilehernya. Jarum berwarna hijau jade.
Nenek Du telah beraksi lagi! Dia sungguh-sungguh masih hidup. Dimanakah dia" Apakah dia yang berpura-pura menjadi istri Majikan Song" Namun tubuh orang itu lemas dan lemah, dan napasnya pendek, tidak ada seorangpun yang dapat bertahan dari Bubuk Penghancur
Tulang seperti Ye Kai.
Dari manakah Jarum Penghancur Usus meluncur"
Ye Kai mendongakan kepalanya dan melihat sebuah jendela di atap yang telah hancur
terbuka. Dia tidak segera melompat ke atas karena dia tahu seperti apakah senjata Jarum Penghancur Usus itu.
Arah darimana dia datang haruslah arah dia pergi. Karena dia tahu itu adalah rute yang paling aman.
ooOOOoo Bab 23. Si kecil Bel Ding Dang
Disana terdapat sebuah halaman yang kecil diluar. Ye Kai berjalan keluar pintu dan menuju halaman yang disiniar oleh cahaya matahari. Seekor kucing kecil merangkak dibawah
bayangan salah satu pohon. Kucing itu sedang menatap seekor kupu-kupu yang berdansa
mengelilingi sekuntum bunga di dekat dinding, menunggu untuk menerkamnya, namun
cukup malas untuk bergerak.
Tentu saja, tidak ada seorangpun di atap. Ye Kai sudah tahu bahwa tidak akan ada
seorangpun di atas atap, Nenek Du tidak akan menunggunya keluar.
Ye Kai menghela napas, tiba-tiba dia merasakan dirinya seperti kucing itu. Bila dia
menyukainya, maka dia dapat bergerak untuk menerkam kupu-kupu itu kapan saja. Namun, meski dia tidak malas, dia tidak akan dapat menangkat kupu-kupu itu. Kupu-kupu bukanlah tikus.
Kupu-kupu dapat terbang. Kupu-kupu dapat terbang tinggi.
Tiba-tiba, sepasang tangan terulur melewati dinding, dengan suara PPPLLLUUKKK, sebuah perangkap telah menangkap kupu-kupu itu. Kupu-kupu itu menghilang dari pandangan.
Kedua lengan itupun telah menghilang dari pandangan.
Seseorang berdiri diatas dinding itu.
Diluar dinding terdapat sebuah lapangan yang luas. Siapakah yang tahu apa yang tumbuh disana, apakah gandum atau pohon plum" Tidak peduli apapun yang kau tanam disana, kau pasti tidak akan terlalu berhasil. Namun orang-orang masih selalu mencoba bercocok tanam setiap tahun.
Hidup memang seperti itu. Setiap orang harus hidup. Setiap orang harus menemukan cara untuk tetap hidup.
Beberapa gubuk yang sudah reot berderet di dataran tersebut. Gubuk-gubuk tersebut dimiliki oleh kelompok penduduk yang paling miskin di daerah ini. Anak-anak yang tumbuh di sini tetap saja dipenuhi dengan kebahagiaan. Namun, anak-anak tetap anak-anak yang dipenuhi dengan kepolosan. Ada tujuh hingga delapan anak-anak berdiri melingkat diluar dinding, memandangi seseorang yang berada di bawah sebuah pohon.
Orang yang duduk di atas tembok aadalah Ye Kai, dan diapun sedang memandangi orang
yang berada dibawah pohon.
Orang tersebut memiliki wajah yang bundar, dengan mata yang besar, kulit yang halus dan putih, dan lesung dipipinya saat gadis itu tersenyum. Mungkin gadis itu belum dapat
dikatakan memiliki kecantikan yang membuat orang menahan napas, namun tidak dapat
dipungkiri dia sungguh-sungguh manis dan menarik, dia mengenakan jubah yang berwarna putih yang terlihat seringan bulu. Dia memakai sebuah kalung emas dilehernya yang putih dimana pada kalung tersebut tergantung dua buah bel emas. Dia juga mengenakan gelang emas yang juga terdapat bel di kedua lengannya. Saat angin berhembus, seluruh tubuhnya berbunyi gemerincing dengan melodi yang menarik.
Namun gadis itu tidak mengenakan pakaian seperti itu sebelumnya. Sebelumnya, dia
mengenakan baju merah yang besar. Sebelumnya dia berdiri di ujunt tiang bendera yang tinggi. Sekarang dia berdiri dibawah pohon itu.
Ada sebuah meja kayu di depannya. Di atas meja terdapat sebuah boneka yang mengenakan baju merah, medali perak berbentuk bunga, kristal berwarna ungu, rantai berwarna pelangi, kantung yang dibordir, kandang burung, dan aquarium kecil.
Kupu-kupunya yang baru saja ditangkapnya terdapat diantara barang-barang itu juga. Siapa yang tahu darimana dia mendapatkan semua barang-barang ini" Yang lebih aneh lagi, di dalam kandang burung terdapat sepasang burung kenari dan di dalam aquarium kecil
terdapat dua ekor ikan emas.
Saat anak-anak melihatnya, sepertinya mereka sedang melihat seorang dewi yang turun dari awan,
Dia menepukan tangannya dan berkata,," Baiklah, kalian semua berbaris. Kali semua datang kemari dan pilih salah satu yang kalian suka. Tapi kalian sebaiknya hanya mengambil satu barang saja, kalau kalian serakah aku akan memukul pantat kalian."
Tenti saja anak-anak itu berkelakuan baik. Anak pertama melangkah kedepan dan melihat dengan bingung. Dia belum pernah melihat barang-barang seperti ini sebelumnya. Setelah menatap beberapa lama, akhirnya dia memilih medali perak. Anak kedua mengambil burung kenari.
Gadis bermata bulat besar itu tersenyum dan berkata," Bagus! Pilihan yang sangat bagus, satu dari kalian akan tumbuh menjadi seorang pengusaha, dan yang lainnya akan tumbuh menjadi sastrawan.
Kedua anak kecil itu tersenyum balik dengan riangnya. Anak ketiga seorang anak perempuan dan dia memilih kantung berbordir. Anak keempat adalah anak yang paling kecil, dia ingusan dan dia akhirnya memilih kupu-kupu mati.
"Tahukah kau ada barang-barang lain yang lebih bagus dari pada kupu-kupu mati?" Gadis bermata bulat besar itu bertanya.
Anak itu menganggukan kepalanya.
"Lalu kenapa kau pilih kupu-kupu mati?"
"Kalau aku mengambil yang lain, anak-anak lainnya akan merebutnya dariku. Aku tidak
cukup besar untuk melawan mereka, jadi lebih baik aku memilih mengambil barang yang
tidak seorangpun yang menginginkannya. Jadi, paling tidak aku dapat memainkannya selama beberapa hari." Anak kecil itu berkata dengan gagap.
"Kau betul-betul anak yang pintar." Gadis itu berkata dengan manis. Anak kecil itu memerah mukanya dan malu-malu sambil menundukan kepalanya.
Gadis itu mengedipkan matanya dan berkata," Sebenarnya, aku mengenal seseorang
sepertimu."
"Dia selalu dipalak?" Anak kecil itu bertanya.
"Sebelumnya, orang lain lebih kuat darinya, jadi dia harus mengalah daripada harus
berkelahi dengan mereka."
"Dan kemudian apa yang terjadi?"
"Karena alasan itu, dia bekerja dengan sangat keras untuk membuat dirinya lebih baik.
Sekarang, tidak ada seorangpuna yang berani memalaknya"
Anak itu tertawa dan berkata," Dia pasti selalu memperoleh barang yang baik sekarang."
"Betul sekali. Jadi bila kau menginginkan sesuatu yang baik, kau harus menjadi seperti dirinya dan bekerja dengan sangat keras. Mengerti kan?"
"Aku mengerti. Bila kau tidak ingin seseorang memalakmu, maka kau harus memiliki
kemampuan untuk mengambilnya kembali."
"Tepat sekali." Gadis itu berseru. Dia melepaskan salah satu bel emasnya dari lengannya dan berkata," Sini, aku berikan ini padamu. Bila seseorang berusaha merebutnya, katakan
padaku dan aku akan memukul pantat mereka."
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya dan menjawab," Aku tidak menginginkan itu
sekarang."
"Kenapa tidak?"
"Karena cepat atau lambat kau akan pergi. Kemudian anak-anak yang lain akan merebutnya dariku. Aku akan menunggu sampai aku memiliki kemampuan, lalu aku akan mengambil
semua yang bagus untukku."
Gadis itu bertepuk tangan dan berkata," Bagus! Kau pasti akan memiliki masa depan yang cerah."
"Seperti temanmu itu kan?"
"Tepat sekali!" Dia mengembangkan lengannya dan memeluk anak kecil itu. Muka anak kecil itu memerah seraya dia berjalan pergi.
Tiba-tiba anak itu berbalik dan bertanya kepadanya," Siapakah nama temanmu itu, yang bekerja dengan sangat kerja sehingga membuat dirinya menjadi lebih baik?"
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Karena aku ingin menjadi seperti dirinya. Aku ingin menyimpan namanya di dalam hatiku sehingga aku tidak akan pernah lupa."
Gadis itu tersenyum dan menjawab dengan jelas," Baiklah, dengarkan baik-baik yah. Nama keluarganya Ye, nama panggilannya Kai."
Semua anak-anak itu akhirnya pergi. Gadis itu kemudian menguap kemalas-malasan dan
menyender ke batang pohon sesaat matanyayang bulat besar memandang ke arah Ye Kai.
Ye Kai tersenyum balik.
Kedua mata gadis itu bergetar sesaat berkata," Apakah kau sangat bangga" Semuanya itu hanya mengatakan seseorang anak yang sepertimu."
"Sebetulnya dia harus belajar darimu."Ye Kai menjawab.
"Belajar apa?"
"Bahwa saat kau melihat sesuatu yang menarik, maka harus meranpasnya secepat mungkin.
Siapa yang peduli bila seseorang akan merebutnya darimu kembali."
Gadis bermata bulat besar itu menggigit bibirnya dan menjawab," Sebenarnya, bila hal itu sungguh-sungguh aku sukai, walaupun seseorang akan merebutnya, aku pasti akan
menemukan cara untuk merebutnya kembali."
Ye Kai menghela napas dan berkata," Namun siapa yang berani merebut barang dari nona besar Ding?"
Gadis itu terkikik dan menjawab," Itu untuk kebaikannya untuk tidak mencoba merebutnya dariku."
Ketawanya sangat mempesona, seperti bunga yang mekar saat bel yang berada ditubuhnya bergemerincing.
Namanya Ding Ling Lin. Bunyi bel yang dipakainya bergemerincing seperti namanya. Namun bunyi belnya tidaklah menghibur, juga tidak ada suatu yang lucu dengan bunyi belnya.
Sesunggunya bunyi tersebut menyeramkan. Sebenarnya, banyak orang di dunia persilatan ketakutan setengah mati terhadap bunyi bel Ding Ling Lin.
Namun Ye Kai tidak kelihatan sama sekali takut. Sepertinya tidak ada seseuatupun di dunia ini yang mengejutkannya.
Setelah Ding Ling Lin berhenti tertawa, dia menatap Ye Kai dan bertanya," Ah, apakah kau sudah lupa?"
"Lupa apa?" Ye Kai bertanya balik.
"Apa yang kau minta kepadaku sudah kulakukan."
"Oh?"
"Kau ingin aku berpura-pura menjadi Lu Xiao Jia dan menyelidi latar belakang semua orang-orang tersebut."
"Sepertinya kau tidak menemukan sama sekali."
"Kau tidak boleh menyalahkanku untuk hal itu."
"Lalu siapa yang harus disalahkan?"
"Salahkan dirimu sendiri. Kau sendiri yang mengatakan dia tidak akan datang terlalu awal."
"Kapan aku mengatakannya?"
"Kau juga yang mengatakan kalau dia datang, kau tidak akan membiarkan dia
mempermainkan ku."
"Aku tidak ingat kau telah dipermainkan."
"Tapi saat aku berurusan dengan orang seperti dia?"
"Siapa yang suruh kau malah cari gara-gara dengan orang lain bukannya malah melakukan tugasmu?"
Mata Ding Ling Lin tiba-tiba melebar lebih menakutkan daripada bunyi belnya," Orang lain"
Apanya yang orang lain" Apa hubunganmu dengannya" Kenapa kau masih saja
membelanya?"
"Baiklah paling tidak dia tidak mencari gara-gara denganmu." Ye Kai berkata sambil
tersenyum. "Tap dia cari gara-gara denganku. Aku melihatnya berdiri disampingmu dan itu sangat
membuatku sebal."
Setiap orang berpikir bahwa dia cemburu ke Lu Xiao Jia, siapa tahu sebetulnya hal itu disebabkan oleh Ye Kai. Kata-kata yang diarahkan kepada Lu Xiao Jia sebetulnya ditujukan kepada Ye Kai.
Dia bertolak pinggang dan berkata," Aku telah berusaha mencarimu selama tiga bulan dan akhirnya aku menemukanmu disini. Kemudian, kau menginginkanku berpakaian dan bergaya sebagai orang lain, yang aku ikuti dengan patuh. Apa kesalahan yang aku buat" Katakan padaku."
Dia menghentakan kakinya yang juga di kut dengan suara bunyi belnya. Namun suaranya
lebih menggema dari pada bunyi belnya. Bahkan, meskipun ada perkataan yang ingin
diucapkan Ye Kai, dia tidak memiliki kesempatan untuk mengucapkannya.
"Aku bertanya padamu, karena kau memiliki urusan dengan Ma Kong Qun, kenapa
membantu anak perempuannya" Apa yang telah kau lakukan dengan pelacur kecil itu
sehingga kau tidak bisa melihat yang lebih baik?"
"Tidak ada sama sekali."
Ding Ling Lin tersenyum dingin dan berkata," Baiklah, kau telah mengatakannya sendiri.
Karena wanita itu tidak ada hubungannya denganmu, maka aku akan membunuhnya
sekarang."
Sudah dapat dipastikan apapun yang Nona Ding katakan, dia pasti akan melakukannya. Ye Kai meloncat kedepan dan meraihnya.
"Jumlah wanit yang aku kenal di dunia ini hanya beberapa. Apakah kau akan mencari
mereka semua dan membunuhnya juga?" Ye Kai berkata sambil bergurau.
"Aku hanya ingin membunuhn yang satu ini."
"Kenapa?"
"Karena aku rasa aku suka melakukannya."
Ye Kai menghela napas dan bertanya," Baiklah, apa yang kau ingin aku lakukan?"
Mata Ding Ling Lin bersinar," Pertama, mulai sekarang tidak peduli kemanapun kau pergi, kau tidak boleh berpisah dariku."
"Mmmm." Ye Kai menjawab.
Ding Ling Lin memainkan matanya yang bulat besar dan menggigit bibirnyayang
menggemaskan. Dia menatap Ye Kai melalui sudut matanya dan menambahkan," Juga, aku
ingin kau menggandeng tanganku dan berjalan keliling kota, sehingga setiap orang tahu bahwa kita berpasangan. Apakah kau setuju?"
Ye Kai menghela napas dan tersenyum," Lupakan untuk menggandeng tanganmu, meskipun
kau memintaku memegan kakimu, aku pasti bersedia."
Ding Ling Lin mulai tertawa. Seluruh tubuhnya berbunyi gemerincing yang mengiringi suara ketawanya dengan harmonisnya.
________________________________________
Matahari telah terbenam.
Dataran terlihat seperti sebuah roti yang baru saja dikeluarkan dari dalam oven. Rumput dan pepohonan serupa dengan bawang bombay dan bawang merah di atas roti. Bila kau meraih dan menyentuhnya, maka kau akan mengetahui betapa panasnya.


Kisah Pengelana Di Kota Perbatasan Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ma Fang Ling memacu kudanya melewati padang rerumputan.
Padang rerumputan tersebut sangat lebar dan luas. Langit yang cerah terentang hingga puluhan ribu mil jauhnya.
Butiran-butiran keringat mulai menetes dari ujung hidungnya. Dia merasa seluruh tubuhnya terperangkap di dalam oven.
Dia tidak punya tujuan untuk pergi. Satu-satunya yang dia ketahui adalah dia sangat putus asa. Secara tiba-tiba dia merasakan betapa kasiannya dirinya sendiri.
Meskipun dia memiliki keluarga, tidak ada seorangpun yang mengerti dirinya. Nyonya Ketiga Shen telah pergi, seakarang ayahnya pun tidak tahu kemana.
Teman" Dia tidak memiliki teman. Semua pelatih kuda itu sebenarnya bukan teman-
temannya. Dan Ye Kai " sebaiknya Ye Kai pergi jauh-jauh dan mati saja.
Dia tiba-tiba merasa sendirian di dunia ini. Perasaan tersebut betul-betul membawanya mendekati kegilaan.
ooOOOoo Bab 24. Bendera Besar Berkibar di Senja Hari
Bendera Gedung Sepuluh Ribu Kuda yang besar dan khas berkibar dengan megahnya tertiup angin. Bila kau berdiri dari kejauhan, bendera tersebut kadang terlihat seperti sebuah saputangan yang melambaikan selamat tinggal. Kelima tulisan tebal berwarna merah di
atasnya adalah darah dan airmata kekasihnya.
Kelima tulisan tersebut mungkin ditulis oleh darah dan airmata.
Seseorang berdiri membisu di tengah-tengah padang rumput memandangi bendera yang
berkibar tertiup angin tersebut. Tubuhnya tinggi dan kurus dan membawa hawa kesepian dan keterkucilan.
Dia berdiri ditengah-tengah lautan rumput yang berwarna biru kehijauan seperti sebuah pohon yang kokoh. Pohon yang kuat dan keras, sendiri dan terkucil. Namun, bukankah
pohon mengalami rasa sakit dan kebencian di dalam hatinya"
Ma Fang Ling melihatnya, melihat golok ditangannya.
Seorang yang dingin dan tak berperasaan. Golok pembawa petaka.
Namun untuk suatu alasan tertentu saat dia melihatnya, hatinya dipenuhi dengan
kehangatan yang sulit dijelaskan. Seperti rasa arak yang menguap ditenggorokanmu.
Dia seharusnya tidak boleh merasakan perasaan seperti itu.
Hanya seorang yang kesepian yang mengerti perasaan orang lain yang merasakan jiwanya kesepian. Namun, gadis itu tidak ingin berpikir lagi, kudanya dipacu kearahnya.
Fu Hong Xue sama sekali terlihat tidak menyadari kehadirannya " paling tidak seharusnya dia menolehkan kepalanya.
Dia melompat turun dan berdiri menatap bendera itu juga. Saat angin berhembus, dia dapat mendengarkan napasnya sendiri yang memburu. Angin tidak bertiup terlalu kencang.
Sepertinya dia ditekan oleh besarnya tenaga yang muncul dari matahari yang bergerak
terbenam. Namun angin bertiup cukup kencang untuk membuat bendera itu tetap bergerak.
"Aku tahu yang ada dipikiranmu." Ma Fang Ling tiba-tiba berkata.
Fu Hong Xue tidak mendengarnya, dia menolak mendengarkannya.
"Kau berpikir suatu hari kau pasti datang menurunkan dan merobek bendera itu." Ma Fang Ling berkata.
Fu Hong Xue menutup bibirnya, dia menolak untuk berbicara.
Tetapi dia tidak dapat menghentikan Ma Fang Ling berhenti berbicara. Gadis tiu tertawa dingin dan berkata," Namun hari itu tidak akan pernah datang! Tidak akan pernah!"
Pembuluh darah ditangan Fu Hong Xue mulai membesar.
"Jadi aku menasihatimu untuk pergi, semakin jauh semakin baik."
Fu Hong Xue tiba-tiba menoleh dan menatapnya. Matanya berapi-api, sepertinya dia ingin membakar gadis itu.
Kemudian, dia berkata," Tahukah kau yang aku ingin potong bukanlah bendera itu, akan tetapi kepala Ma Kong Qun!"
Nada suaranya lebih tajam dari mata pedang.
Ma Fang Ling terhuyung mundur dua langkah tanpa disadarinya dan berteriak balik," Kenapa kau begitu membencinya?"
Fu Hong Xue tiba-tiba tersenyum. Memperlihatkan giginya yang seputih salju, senyumnya seperti seringai binatang buas. Setiap orang yang melihat senyum itu pasti melihat kebencian yang mendalam di hatinya.
Ma Fang Ling kembali mundur setengah langkah dan berteriak," Kau tetap tidak akan pernah dapat menjatuhkannya. Dia lebih kuat dari yang kau bayangkan. Kau bukan tandingannya!"
Dia berteriak. Semakin marah seseorang, suaranya semakin keras.
Suara Fu Hong Xue masih tenang," Tahukah kau kalau aku dapat membunuhnya. Dia sudah
tua, sudah cukup tua. Dia mungkin akan melukai dirinya sendiri hingga mati."
Ma Fang Ling menngertakann giginya, namun seluruh tubuhnya telah jatuh limbung.
Sepertinya dia merasakan dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk marah. Yang dia rasakan hanya ketakutan.
Dia menundukan kepalanya dan berkata dengan sedih," Kau benar, dia sudah tua. Dia bukan apa-apa, melainkan hanya seorang tua yang tidak memiliki tenaga lagi sekarang. Meskipun kau membunuhnya, kesenangan apa yang kau dapatkan?"
Sorot kejam keluar dari kedua mata Fu Hong Xue," Apakah kau memohon untuk
mengampuni nyawanya?"
"Aku " ya, aku memohon padamu. Aku tidak pernah memohon pada siapapun seumur
hidupku." "Kau pikir aku akan setuju?"
"Bila kau setuju, aku akan ?"
"Kau akan apa?"
Mata Ma Fang Ling tiba-tiba memerah, dia menundukan kepalanya dan menjawab," Aku
akan melakukan semua yang kau minta. Bila kau ingin aku berjalan, maka aku akan berjalan.
Bila kau ingin aku lari, maka aku akan lari."
Saat perkataan tersebut keluar dari mulutnya, dia menyesal telah mengatakan itu semua. Dia tidak mengerti kenapa dia berkata seperti tadi, tidak bahkan tidak yakin apakah dia
bermaksud seperti itu atau tidak. Apakah karena dia hanya berusaha membuatnya pergi"
Apakah karena dia dengan bingung menginginkannya sejak hari itu"
Bersikap seperti itu pada seseorang seperti dia terlalu sembrono, terlalu berbahaya dan terlalu menakutkan.
Untungnya Fu Hong Xue tidak menolaknya. Dia hanya menatapnya dingin. Tiba-tiba gadis itu menyadari bahwa sorot matatnya tidak hanya kejam, namun dia merasakan suatu hal yang sulit dicerna melalui sorot yang aneh seperti itu.
Sepertinya dia berkata," Kau menolakku hari itu, kenapa kau balik kepadaku sekarang?"
Perasaan Ma Fang Ling seperti diaduk-aduk di dadanya. Cemoohan yang tak terucapkan
seperti itu lebih buruk dari pada diabaikan.
Fu Hong Xue memandangnya dan tiba-tiba berkata," Aku hanya ingin tahu. Apakah kau
memohon padaku untuk ayahmu" Atau untuk dirimu sendiri?"
Dia tidak menunggu balasan. Sesaat dia menyelesaikan ucapannya, dia berbalik dan mulai berjalan pergi. Kaki kirinya melangkah maju, dan kaki kanannya diseret dari belakang. Cara melangkahnya yang aneh dan kaku kadang-kadang berubah menjadi seperti ejekan.
Ma Fang Ling mengepalkan jari-jarinya dan mengatupkan giginya namun dia tidak dapat
menahan dirinya sesaat dia jatuh limbung. Kotoran ditanah terasa panas asin dan panas pahit. Airmatanya pun terasa sama. Sebelumnya dia mengasihani dirinya sendiri, namun sekarang dia membenci dirinya sendiri. Dia membenci dirinya sendiri hingga ke titik kegilaan, dia membenci dirinya sendiri hingga mati. Dia berharap bumi akan membelah dan
menelannya kedalamnya. Sebelumnya dia ingin menghancurkan orang yang telah
mengabaikannya, sekarang dia ingin menghancurkan dirinya sendiri.
________________________________________
Cahaya matahari menyinari jalan raya. Tidak ada seorangpun di jalan, namun dibalik pintu yang retak dan dibalik celah jendela, beberapa pasing mata mengintip keluar melihat kepada satu orang.
Lu Xiao Jia. Dia tengah mandir di dalam bak mandi yang besar setinggi tujuh kaki yang diletakan di tengah jalan. Air didalamnya cukup dalam, saat dia berdiri di dalamnya bagian ujung atas kepalanya sepenuhnya terendam. Sepasang baju baru seputih salju terlipat dengan rapih diatas papan disamping bak mandi. Pedangnya juga diletakan disana, bersama dengan
sekantong besar kacang.
Dia hanya cukup menjangkaukan tangannya untuk mengambil pedangnya, dia hanya cukup
menjangkaukan tangannya untuk mengambil kacang-kacangnya. Kemudian, dia mengambil
kacang, membuka kulitnya, dan menjentikannya ke udara. Sesaat kacang tersebut telah
jatuh ke dalam mulutnya, perasaan puas dan senang terpancar dari wajahnya.
Matahari bersinar dengan sangat panasnya, air tersebut juga telah mendidih, namun tidak terlihat sedikitpun keringat diwajahnya. Sepertinya air tersebut masih kurang panas, dia berteriakn," Air panas, tambah air panas." Dua orang segera datang tergopoh-gopoh dari pintu kecil membawa pot. Salah satunya Ding Lao Si, dan yang lain Hu Ji Shou. Dia berlari seperti seekor tikus yang mulutnya dibubuhi arak, dia adalah penjaga toko makanan.
Penampilan seperti seekor tikus yang sedang mencuri makanan.
"Kenapa hanya kalian berdua" Dimana orang yang bernama keluarga Chen?"
"Dia tidak bisa kesini saat ini, dia mungkin sedang mencari seorang wanita untukmu seperti yang kau minta. Tidak banyak wanita disini." Penjaga toko Hu berkata.
Sesaat perkataannya selesai diucapkan, tiba-tiba di melihat seorang wanita yang benar-benar layak untuk dipandangi.
Dia berjalan bersamaan dengan terdengarnya bunyi bel. Suara ketawanya sama menariknya dengan suara gemerincing belnya. Cahaya matahari menyinari seluruh tubuhnya yang
memancarkan cahaya emas, yang masih memperlihatkan kulitnya yang seputih salju. Dia
mengenakan jubah tipis berwarna putih. Saat angin bertiup, jantung pria pasti akan berhenti.
Tangannya yang halus, indah dan panjang sementara jari-jarinya sedang menggandeng
tangan seorang pria.
Penjaga toko Hu tidak tahan untuk terus menatap. Semua pasang mata dibalik jendela dan pimtu juga tidak tahan untuk menatapnya juga.
Mereka dapat mengenali bahwa gadis itu adalah gadis yang sangat "menyukai" Lu Xiao Jia.
Namun tidak seorangpun membayangkan bahwa gadis itu sedang menggandeng tangan Ye
Kai dengan erat, dan bahwa dia tiba-tiba akan muncul disini. Hati wanita dapat berubah dengan cepat, namun tidak akan secepat ini"
Ding Ling Lin tidak peduli dengan pikiran orang lain. Tidak ada seorangpun di dalam
pandangan matanya kecuali Ye Kai. Dia tersenyum dan berkata," Hari ini adalah hari yang tepat untuk membunuh orang, tapi kenapa orang masih memilih untuk membunuh seekor
babi?" "Membunuh seekor babi?" Ye Kai menjawab.
"Apa lagi yang kau butuhkan dengan segitu banyak air panas?" Ding Ling Lin bertanya.
Ye Kai tersenyum," Aku dengar kita juga membutuhkan banyak air hangat saat melahirkan."
"Anehnya, saat bayi itu lahir, dia langsung tumbuh besar."
"Mungkinkah itu setan?"
Ding Ling Lin menganggukan kepalanya dengan mengejek dan menjawab," Pasti sejenis
monster." Seseorang dari balik salahs atu pintu tidak tahan untuk tertawa geli. Namun tawa geli itu segera berubah menjadi jeritan ketakutan. Sebuah kulit kacang meluncur melalui celah pintunya dan menyambar langsung dua buah giginya.
Ekspersi wajah Lu Xiao Jia masih sedingin es. Dia terlihat seperti sedang duduk di dalam air yang beku sesaat dia memandang Ding Ling Lin dan berkata," Jadi inilah Nona Ding yang mematikan."
Mata Ding Ling Lin bergerak saat menjawab dengan mempesona," Mematikan adalah kata
yang kasar, kenapa kau tidak menyebutku dengan sesuatu yang lebih menyenangkan?"
"Aku seharusnya menyadari bahwa kaulah orangnya, tidak banyak orang yang berani
mengaku-ngaku diriku." Lu Xiao Jia berkata.
"Sebenarnya, namamu pun terdengar kurang menyenangkan juga. Aku selalu heran kenapa
orang-orang menyebut Kijang Bunga Plum." Ding Ling Lin menjawab.
"Mungkin karena tanduk seekor kijang sangat tajam, dan dapat membunuh siapapun yang
menyentuhnya." Lu Xiao Jia berkata.
"Mungkin seharusnya mereka menyebutmu Sapi Air yang Gagah. Bukankah tanduk mereka
lebih tajam?" Ding Ling Lin menjawab.
Lu Xiao Jia menundukkan kepalanya. Dia menyadari berebut omong maju mundur dengan
wanita adalah tindakan yang sia-sia, jadi dia tiba-tiba mengubah pembicaraan dan bertanya,"
Bagaimana kakak laki-laki tertuamu?"
Ding Ling Lin tersenyum dan menjawab," Dia selalu sangat baik. Baru-baru ini, dia
memenangkan sebuah pedang yang bagus melalui duel dengan Pendekar Pedang Paus
Terbang dari Lautan Selatan. Tahukah kah betapa dia menyukai pedang-pedang yang bagus.
"Dan kakak laki-laki keduamu?"
"Tentu saja dia baik-baik juga. Baru-baru ini, dia menyerbu Gedung Macan Angin di Hebei dan meninggalkan tempat tersebut dengan porak-poranda. Dia juga memenggal kepala
pemimpin ketiga macan. Tahukah kau betapa dia menyukai membunuh para begal." Ding
Ling Lin menjawab.
"Kakak laki-laki ketigamu?"
"Dia telah melakukan yang terbaik dari mereka semua. Dia berduel dengan NanGong
bersaudara dari Gu Su selama tiga hari sekaligus dalam hal lagu, catur, puisi dan pedang.
Dia memenangi duel dan pulang kerumah dengan membawa tiga puluh gentong Arak Wanita
Merah yang sangat bagus serta sekumpulan penyanyi wanita muda. Tahukah kau Tuan
Ketiga Ding menyukai wanita yang cantik dan arak yang bagus." Ding Ling Lin berkata.
"Dan apakah yang disukai oleh saudara ipar laki-lakimu?" Lu Xiao Jia bertanya.
"Tentu saja saudara perempuanku."
"Berapa orang saudara perempuanmu?"
"Tidak banyak, hanya enam. Tentunya kau telah mendengar Keluarga Ding, Tiga Jago
Pedang dan Tujuh Bidadari."
Lu Xiao Jia tiba-tiba tertanya dan menjawab," Sangat bagus."
Ding Ling Lin memandanginya dan bertanya," Apa?"
"Yang aku maksud adalah, sangat bagus bahwa banyak wanitanya dan sangat sedikit laki-laki dalam keluarga Ding."
"Apa yang bagus mengenai hal itu?"
"Kau harus tahu bahwa aku tidak menyukai membunuh wanita." Lu Xiao Jia berkata.
"Oh?"
"Aku hanya harus membunuh tiga orang saja."
Ding Ling Lin terlihat sangat senang dan menjawab," Apakah kau sedang bersiap-siap untuk membunuh ketiga kakak laki-lakiku."
"Kau hanya memiliki tiga kakak laki-laki, kan?"
Ding Ling Lin menghela napas dan berkata," Itu tidak bagus."
"Apa?" Lu Xiao Jia berkata.
"Tidak ada seorangpun yang disini saat ini, tentu saja itu tidak bagus."
"Dan bila mereka disini?" Lu Xiao Jia bertanya.
"Maka mereka akan membunuhmu." Ding Ling Lin berkata.
Lu Xiao Jia menatapnya. Matanya perlahan-lahan bergeser dari wajahnya ke kantung
kacang. Kelihatannya akhirnya dia menemukan sesuatu yang menyenangkan matanya,
sehingga dia terlihat sangat puas dengan dirinya. Bahkan kedua matanya yang tajam
berubah melembut.
Dia mengambil sebuah kacang, membuka, dan menjentikannya ke udara. Kacang tersebut
berkilat-kilat dibawah cahaya matahari. Dia mengikuti kacang tersebut agar jatuh ke dalam mulutnya dan menutup kedua matanya. Kemudian, dia menarik napas panjang dan mulai
mengunyah perlahan-lahan.
Matahari yang hangat. Air yang hangat. Kacang yang manis. Dia menemukan segalanya
sangat menyenangkan.
Ding Ling Lin sama sekali tidak merasa senang. Semuanya ini seperti permainan dan
permainan ini harus diteruskan. Dia bahkan telah merencanakan dengan hati-hati bagaimana hal ini akan diakhiri. Siapa yang mengira ternyata Lu Xiao Jia seorang aktor yang
menyebalkan. Sepertinya dia telah sepenuhnya melupakan sisa skenario dan menolak untuk meneruskan. Hal ini betul-betul membuat kesal.
Ding Ling Lin menghela napas dan berbalik ke arah Ye Kai," Mulai sekarang, kau dapat melihat sendiri orang seperti apakah dia."
Ye Kai menganggukan kepalanya dan menjawab," Dia betul-betul laki-laki yang pintar."
"Laki-laki yang pintar?" Ding Ling Lin bertanya.
"Laki-laki yang pintar tahu bahwa lebih baik menggunakan mulutnya untuk mengunyah
kacang dari pada berebut omong dengan wanita." Ye Kai menjawab.
Ding Ling Ling merasa gatal menggunakan mulutnya untuk menggigitnya.
Bila Ye Kai memanggil Lu Xiao Jia tuli atau pengecut, maka dia pasti akan meneruskan. Siapa tahu ternyata Ye Kai juga seorang aktor yang menyebalkan, sepenuhnya tidak bekerja sama dengan maksudnya.
Saat Lu Xiao Jia selesai mengunyah kacang tersebut, dia menghela napas dalam-dalam dan berkata," Jadi ini waktunya seorang wanita menyukai melihat laki-laki mandi, kalau tidak kenapa dia masih disini?"
Ding Ling Ling menghentakan kakinya, menyentakan tangan Ye Kai sesaat wajahnya
memerah dan berkata," Mari pergi!"
Ye Kai mengikutinya pergi. Saat mereka membalikan kepalanya, mereka telah melihat Lu Xiao Jia tertawa dengan terpingkal-pingkal.
Ding Ling Lin menggertakan giginya dan menancapkan jarinya ke tangan Ye Kai.
"Apakah tanganmu terluka?" Ye Kai bertanya.
"Tidak." Ding Ling Lin menjawab.
"Lalu kenapa tanganku terluka sangat parah?" Ye Kai berkata.
"Sebab engkau orang tolol, kau tidak pernah mengatakan yang seharusnya kau katakan."
Ding Ling Lin menjawab dengan marah.
"Aku tidak pernah mengucapkan yang tidak ingin aku ucapkan juga." Ye Kai berkata sambil tersenyum pahit.
"Kau tahu apa yang aku inginkan untuk kau katakan?"
"Apapun yang ku katakan pasti tidak ada gunanya."
"Kenapa begitu?"
"Karena Lu Xiao Jia telah tahu bahwa kita berusaha mencari gara-gara dengannya, dan dia dia merasa lebih baik mendiamkannya saja."
"Bagaimana kau begitu yakin kalau dia sepintar itu?"
"Karena kalau dia tidak seperti itu, maka dia sudah menjadi kijang mati sekarang."
"Kelihatannya kau terlalu mengaguminya." Ding Ling Lin berkata sambil tersenyum dingin.
"Namun dia bukanlah seorang yang paling aku kagumi."
"Siapakah dia?"
"Aku sendiri."
Ding Ling Lin tidak tahan untuk tertawa, " Aku tidak dapat melihat satu halpun yang
mengagumkan dari dirimu."
"Paling tidak satu hal."
"Apakah itu?"
"Saat seseorang mencakarku dengan kuku jarinya, aku tidak merasakannya sama sekali."
Ding Ling Ling akhirnya tidak tahan untuk tersenyum dengan menariknya. Dia tiba-tiba merasa puas dengan apa yang telah terjadi.
Dia bahkan tidak menyadari sepasang mata sedang menatap mereka.
Sorot mata Ma Fang Ling dipenuhi dengan perasaan iri dan cemburu saat mereka berjalan ke toko pakaian wanita Chen Da Guan. Mereka memutuskan untuk menunggu disini. Mereka
akan menunggu hingga Fu Hong Xue tiba. Mereka akan menunggu disana hingga duel yang
mengerikan itu berlangsung.
Ding Ling Lin sudah agak kesal karena telah kehilangan kesempatan untuk membeli
beberapa pasang baju. Sangat sedikit wanita yang melewati kesempatan untuk membeli baju baru.
Ma Fang Ling menatap pada kedua tangan mereka yang saling bergandengan, sepertinya
kedua tangan mereka telah mengikat hati mereka. Bagaimana bisa tidak seorangpun pernah memegang tangannya seperti itu" Dia membenci dirinya sendiri, dia membenci kenyataan bahwa dia tidak pernah disukai oleh orang lain.
Pada ujung dinding keadaan remang-remang, bahkan sinar matahari tidak dapat memasuki tempat itu. Dia merasa dirinya yatim piatu yang telah diabaikan oleh orang tuanya saat lahir.
Air panas telah tiba.
Lu Xiao Jia menatap Penjaga toko Hu dari toko bahan makananan menuangkan air panas ke dalam bak mandi.
"Mengapa orang itu masih belum tiba juga?"
"Orang yang mana?" Penjaga toko Hu tersenyum pura-pura.
"Orang yang kalian semua inginkan untuk kubunuh."
"Dia akan kesini."
"Dia sendiri masih belum cukup."
"Siapa lagi yang kau harapkan datang?"
"Seorang wanita."
"Aku baru saja mencari Chen Da Guan."
Lu Xiao Jia tidak menjawab. Kedua matanya terfokus pada tangan penjaga toko Hu.
Meskipun tangannya kuning dan mengeriput, namun terlihat sangat kokoh. Seember penuh ari terlihat seperti ember kosong saat dia membawanya dan menuangkannya ke dalam bak mandi seperti tanpa memerlukan tenaga.
Lu Xiao Jia tertawa dan berkata," Setiap orang berpikir kau adalah penjaga toko bahan makanan. Apaka kau benar-benar penjaga toko?"
"Tentu saja ?" Penjaga toko Hu menggumam.
"Tapi kau tidak terlihat seperti itu." Dia tiba-tiba merendahkan nada suaranya dan berkata,"
Aku rasa kalian semua tidak perlu mengundangku kesini sama sekali."
"Kenapa begitu?"
"Saat kalian ingin seseorang mati sebelum ini, kalian telah membunuh dirimu sendiri."
Ember telah kosong, namun tangan yang memegangnya masih tergantung diudara.
Akhirnya, sepasang tangan itu diturunkan sesaat penjaga toko Hu merendahkan suaranya juga," Kami mengundangmu kesini untuk membunuh, kita tidak mengundangmu untuk
menginterogasi latar belakang kita."
Lu Xiao Jia menganggukan kepalanya dan tersenyum," Masuk akal."
"Harga yang telah kau tetapkan, kita telah membayarnya penuh. Dan tidak seorangpun dari kita yang menanyakan latar belakangmu."
"Namun bagaimana dengan wanita yang aku minta?"
"Wanita ?"
Sebelum penjaga toko Hu menyelesaikan ucapannya, suara kencang menginterupsinya,"
Tergantung wanita seperti apa yang kau cari?"
Suara itu suara seorang wanita. Lu Xiao Jia menolehkan kepalanya dan melihat seorang gadis berjalan kearahnya dari balik dinding. Gadis muda yang cantik, namun kedua matanya dipenuhi dengan kesedihan dan kebencian.
Ma Fang Ling berjalan ketengah jalan. Matahari menyinari wajahnya. Wajahnya
memperlihatkan raut muka yang aneh. Raut wajahnya membuatnya seperti orang yang tidak bisa bernapas.
Kedua mata Lu Xiao Jia menyapu dari kaki hingga ke kedua matanya dan akhirnya mulutnya.
Bibirnya terlihat halus dan basah, seperti buah yang matang.
"Kau menanyakanku wanita seperti apa yang kumau?" Lu Xio Jia berkata sambil tersenyum.
Ma Fang Ling menganggukan kepalanya.
"Kau tepatnya jenis wanita yang aku inginkan. Kau tentunya sudah tahu hal itu."
"Lalu wanita yang yang kau inginkan sudah disini."
"Kau?"
"Ya, aku."
Lu Xiao Jia tersenyum.
"Kau pikir aku berbohong padamu?"
"Tentu saja kau tidak akan bohong padaku, namun paling tidak kau harus tersenyum dulu padaku."
Jadi Ma Fang Ling tersenyum. Tidak ada seorangpun yang menyanggah dia tersenyum. Lu
Xiao Jia mengerutkan kedua alisnya.


Kisah Pengelana Di Kota Perbatasan Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kamu masih belum puas?"
Lu Xiao Jia menghela napas dan menjawab," Aku tidak pernah menyukai wanita yang terlihat menangis saat sedang tersenyum."
Ma Fang Ling menggigit bibirnya. Setelah beberapa saat, dia menjawab perlahan," Meskipun aku mungkin tidak dapat bersenyum dengan baik, aku dapat melakukan pekerjaan lainnya dengan lebih baik."
"Apa lagi yang dapat kau lakukan?"
"Apa lagi yang ingin aku lakukan untukmu?"
Lu Xiao Jia menatapnya. Tiba-tiba, dia mengambil handuk dari dalam bak mandi dan
melemparkannya kearahnya. Yang dilakukan oleh Ma Fang Ling adalah menangkapnya.
"Tahukah kau gunanya benda itu?" Lu Xiao Jia bertanya.
Ma Fang Ling menggelengkan kepalanya.
"Itu untuk menggosok punggung."
Ma Fang Ling memandang handuk dikedua tangannya dan mulai bergetar. Dia bergetar
dengan sangat kerasnya sehingga handuk ditangannya sampai terlepas. Namun cepat-cepat dia mengambilnya kembali dan memegangnya dengan keras. Sepertinya dia mengenggam
handuk itu dengan seluruh kekuatannya, pembuluh darahnya yang hijau telah membesar
dipunggung telapak tangannya. Namun kali ini dia memutuskan tidak akan membiarkan
handuk itu lepas lagi dari tangannya. Dia tidak akan melepaskan apapun dari tangannya lagi.
Dia telah kehilangan terlalu banyak.
Lu Xiao Jia masih memandangnya dengan tajam, sepertinya dia sedang mencoba menusuk
masuk ke hatinya.
Dia menggigit bibirnya dan berkata," Aku punya satu pertanyaan lagi."
"Aku tidak menyukai wanita yang banyak bicara, tapi aku mengijinkannya hanya sekali ini."
"Sekarang wanit yang kau inginkan sudah disini, tapi kenapa orang yang harus kau bunuh masih hidup?"
"Kau tidak menginginkan dia hidup?"
Ma Fang Ling menganggukan kepalanya.
"Kau datang, karena kau ingin aku membunuhnya?"
Lu Xiao Jia tertawa, " Omongan terakhir, aku jamin dia tidak akan hidup lebih lama lagi."
ooOOOoo Bab 25. Pedang Yang Berkelebat Kesegala Arah
Panas yang membakar.
Seharusnya tidak pernah sepanas ini setelah turun hujan yang panjang.
Butiran-butiran keringat mengalir pada tiap leher-leher orang-orang turun ke baju mereka sehingga membuat baju mereka transparan. Seekor kadal yang besar merangkak perlahan-lahan dibalikg sebuah batu sepertinya mencari tempat berteduh dari sengatan matahari.
Rumput-rumput yang baru saja dibasahi oleh air hujan terlihat telah mengering karena panas matahari.
Bahkan, hembusan anginpun terasa hangat. Angin yang berhembus dari padang rerumputan terasa seperti setan dari neraka yang sedang menghembuskan napasnya ke arah mereka.
Keadaan di dalam ruangan hanya sedikit lebih baik.
Sebuah konter selebar tiga kaki yang dibatasi oleh sutera dan satin yang berwarna-warni yang dipasang dengan baut-baut, memajang pakaian-pakaian yang telah jadi. Ye Kai duduk pada salah satu sudut dengan menjulurkan kaki dan melihat dengan kemalas-malasan ke
arah Ding Ling Lin yang masuk ke toko melihat-lihat.
Ada dua orang di toko tersebut. Yang satu sudah cukup tua dan berdiri menyender dengan kedua tangannya. Yang lainnya lebih lebih muda, sedang melongok keluar untuk melihat apa yang terjadi diluar.
Keduanya telah menggeluti bisnis ini cukup lama. Mereka sudah tahu bahwa wanita tidak akan peduli dengan pendapat maupun usulan saat mereka sedang melihat-lihat dan mencari baju.
Ding Ling Lin mengambil sebuah gaun berwarna hijau muda,mencoba-cobanya sebentar
ditubuhnya, lalu mengembalikannya lagi. Dia menghela napas dan berkata," Siapa yang kira mereka memilik stok yang banyak."
"Orang-orang biasanya komplain kalau mereka hanya memiliki variasi stok yang sedikit, kau malah komplain stoknya terlalu banyak?" Ye Kai berkata.
Ding Ling Lin menganggukan kepalanya dan menjawab," Semakin banyak pilihan, semakin
susah aku memutuskan. Bila hanya ada beberapa yang dijual, maka aku dapat memborong
semuanya."
"Memangnya betul seperti itu." Ye Kai menghela napas.
"Karena Nyonya dan Nona Muda dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda seringkali mendatangi toko kami, maka kami tidak punya pilihan selain menyediakan stok yang banyak. Kami sangat menyesali hal ini." Orang yang muda menjelaskan.
Ding Ling Lin tidak dapat menahan ketawanya," Kenapa kau menyesali hal ini, ini bukan kesalahanmu."
"Tamu selalu benar. Bila kau memiliki stok yang banyak, maka itu adalah kesalahan kami."
"Kalian betul-betul tahu cara menjalankan bisnis, sepertinya aku tidak memiliki pilihan selain harus belanja sesuatu." Ding Ling Lin menjawab.
Orang yang lebih muda yang di pintu masuk menghela napas dan berkata," Aku tidak pernah mengira, aku betul-betul tidak pernah mengira ?"
"Kau, apa yang kau tidak pernah kira?" Ding Ling Lin bertanya.
Dia terlihat sedikit terkejut saat berbalik kearahnya dan berkata," Maaf, aku tidak berani menanyakan pertanyaan ini."
"Pertanyaan apaan sih?" Ding Ling Lin bertanya.
"Aku hanya tidak pernah membayangkan kalau Nona Ma baru saja menggosok punggung
seseorang." Orang yang lebih muda menjawab,
"Nona Ma?"
"Anak perempuan kesayangan Majikan Ketiga dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda."
"Orang yang mengenakan baju merah?"
"Majikan Ketiga hanya memiliki seorang anak perempuan."
"Punggung siapa yang sedang dia gosok?"
"Orang itu " orang itu adalah orang yang sedang mandi di tengah jalan."
Mata Ding Ling Lin membesar dan tiba-tiba menoleh ke arah Ye Kai. Kedua matanya sedang tertutup dan kelihatannya dia tidak mau ambil pusing.
"Hey, emangnya kau tidak dengar apa yang baru dia katakan?" Ding Ling Lin menanyainya.
"Mmm." Ye Kai menjawab.
"Teman baikmu sedang menggosok punggung seseorang, masa kau tidak mau melihat?"
"Mmm."
"Apa maksudnya?"
Ye Kai menguap dan menjawab," Bila seorang laki-laki sedang menggosok punggun wanita, sebelum kau mengatakannya kepadaku aku pasti sudah pergi melihatnya. Namun seorang
wanita sedang menggosok punggun laki-laki itu adalah hal yang biasa-biasa saja, apa yang musti dilihat?"
Ding Ling Ling menatapnya dan akhirnya dia tidak dapat menahan senyumnya.
Orang yang muda menghela napas dan berkata," Aku rasa aku tahu kenapa Nona Ma mau
merendahkan dirinya seperti ini."
"Oh?"
"Nona Ma melakukan ini semua untuk Majikan Ketiga."
"Bagaimana bisa?"
"Sipincang adalah musuh Majikan Ketiga yang mematikan. Dia khawatir kalau-kalau Majikan Ketiga sudah menjadi tua dan tidak setimpalh dengannya."
"Jadi dia bersedia merendahkan dirinya dengan harapan Lu Xiao Jia akan membunuhn si
pincang untuknya?"
"Dia sungguh-sungguh anak perembuan yang berbakti." Orang tersebut menghela napas.
Ding Ling Lin tersenyum dingin dan menimpali," Mungkin dia memang menikmati menggosok punggung laki-laki."
Orang yang lebih muda terkejut dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Namun orang
yang lebih tua memelototinya dan dia menundukan kepalanya.
Sesaat terdengar derap suara kaki kuda memenuhi udara. Jelas sekali suara itu berasal dari lebih dari satu orang.
Mata Ding Ling Lin melihat kesekitar saat dia berkata," Pergilah keluar dan lihatlah dan katakan kepadaku siapa yang datang kekota."
Meskipun pelayan muda itu kelihatannya sangat tidak suka kepadanya, dia masih mengikuti perintahnya dan berjalan keluar.
"Mereka adalah pendekar-pendekar tua dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda.
"Berapa banyak?"
"Paling tidak empat puluh sampai lima puluh."
Ding Ling Lin membisu dan memandang Ye Kai dari sudut matanya." Kau pikir mereka akan membantunya" Atau hanya melihat saja?"
Ye Kai menghela napas dan menjawab," Tergantung apakah mereka tolol atau pintar."
"Jadi kalau mereka membantu, mareka pasti orang tolol?" Ding Ling Lin berkata.
"Seratus persen tolol." Ye Kai menjawab." Hanya orang yang seratur persen tolol yang melewatkan pertunjukan bagus."
Ding Ling Lin menghela napas dan berkata," Jadi kau benar-benar tertarik untuk melihat apakah golok Fu Hong Xue atau pedang Lu Xiao Jia yang lebih cepat?"
"Meskipun aku harus menunggu sampai tiga hari, itu masih pantas." Ye Kai menjawab.
"Itu sebabnya kenapa kau bukan orang tolol."
"Sama sekali bukan."
Saat ini jalan telah dipenuhi oleh keributan-keributan, suara batuk dan suara teriakan, namun sebagian besar dari mereka yang melihat merasa kasihan atau terkaget-kaget.
Banyak orang terkaget-kaget melihat Nona Ma menggosok punggung seseorang. Namun
tidak ada seorangpun yang campur tangan.
Betul-betul sedikit sekali orang tolol di dunia ini.
Tiba-tiba, semua keributan itu tiba-tiba berhenti total. Bahkan anginpun sepertinya berhenti berhembus.
Kedua pelayan toko tiba-tiba merasakan tekanan yang sangat besar yang sulit dijelaskan dan membuat mereka susah bernapas.
Mata Ding Ling Lin membesar," Dia telah datang, akhirnya dia telah datang ?"
Tidak ada seorangpun yang bergerak. Tidak ada seorangpun yang membuat suara.
Setiap orang merasakan suasana saat itu penuh dengan tekanan sepertinya membuat
mereka susah bernapas.
"Dia telah datang, akhirnya dia telah datang ?"
Matahari yang menyengat. Panas yang membara.
Angin berhembus dari padang rerumputan. Orang tersebut datang dari padang rerumputan juga.
Tanah di jalan telah mengering dan pecah-pecah. Dia perlahan-lahan berjalan, kaki kirinya membuat langkah kecil kedepan, kemudian kaki kanannya diseret dari belakang. Setiap
pandang mata sedang menatapanya. Matahari bersinar di atas wajahnya.
Wajahnya putih pucat, seperti salju dan es dari puncak gunung yang jauh. Namun matanya dipenuhi dengan api, kedua matanya menatap ke arah Ma Fang Ling.
Tangan Ma Fang Ling berhenti. Handuk tersebut meneteskan air. Hatinya meneteskan darah.
Satu tetes, dua tetes " duka, kemarahan, rasa malu, kebencian.
"Kenapa kau belum juga pergi" Kenapa kau masih disini?"
"Aku tidak dapat pergi, karena aku ingin melihat dia mati, di depan kedua mataku!"
Hatinya sedang bertarung dan bertempur, namun tidak sedikitpun emosi terlihat diwajahnya.
Mata Fu Hong Xue beralih ke Lu Xiao Jia. Lu Xiao Jia bahkan tidak melihat sekejappun kearahnya. Sebaliknya, dia malah melambaikan tangannya ke arah Ding Lao Si dan penjaga toko Hu. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menuruti perintah.
"Orang yang kau ingin untuk kubunuh, apakah dia?"
Ding Lao Si ragu-ragu dan menoleh ke arah penjaga toko Hu. Mereka berdua kemudian
menganggukan kepalanya.
"Apakah benar-benar dia yang kau ingin untuk kubunuh?"
"Benar sekali." Ding Lao Si menjawab.
Lu Xiao Jia mengeluarkan tawanya dan berkata," Baiklah, maka aku pasti akan
membunuhnya untukmu."
Dia mengulurkan tangannya dan mengambil pedangnya. Fu Hong Xia segera
mengenggamkan tangannya ke goloknya.
Lu Xiao Jia masih belum melihat kepadanya saat dia memandang pedangnya dan berkata,"
Aku selalu menepati apa yang kujanjikan."
"Sudah pasti." Ding Lao Si berkata,
"Jadi kau yakin?" Lu Xiao Jia bertanya.
"Tentu Saja." Ding Lao Shi menjawab.
Lu Xiao Jia menghela ringan dan berkata," karena kalian berdua yakin, maka kalian berdua bisa mati sekarang."
"Apa yang kau katakan."
"Aku mengatakan, kalian berdua bisa mati sekarang."
Dia tiba-tiba mengayunkan pedangnya. Pedang tersebut bergerak dengan sangat perlaha, dan sepertinya pedang itu tidak akan dapat menusuk siapapun juga. Saat Ding Lao Si
perlahan-lahan mengikuti pedang itu dengan kedua matanya, tiba-tiba dia terjatuh kaku.
Kemudian, seluruh tubuhnya merasa kaku.
Setiap orang menatap dengan kaget diwajahnya, tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah terjadi. Kemudian, tubuh Ding Lao Si telah rubuh. Saat dia jatuh ke lantai, darah keluar dari perutnya.
Lalu, setiap orang menyadari bahwa ada pedang yang lainnya di dalam bak mandi, dan telah meneteskan darah. Saat Ding Lao Sia melihat pedang di tangan kanan Lu Xiao Jia, pedang di tangan kiri Lu Xiao Jia telah menembus bak mandi dan menusuk perutnya.
Sesaat kemudian, penjaga toko Hu terjatuh juga. Darah telah mengucur dari
tenggorokannya.
Pedang di tangan kanan Lu Xiao Jia telah meneteskan darah juga sekarang. Saat penjaga toko Hu menyadari bahwa ada pedang yang lain di tangan kiri Lu Xiao Jia, pedang di tangan kanannya tiba-tiba berubah arah dan melesat seperti kilat. Sebelum dia menyadari apa yang telah terjadi, pedang tersebut telah menusuk tenggorokannya.
Tada seorangpun yang bergerak. Tidak ada seorangpun yang bersuara. Tidak ada
seorangpun yang bahkan berani bernapas.
Darah masih menetes dari ujung pedangnya. Saat dia melihat tetesan darah yang menjatuhi lantai, Lu Xiao Jia menghela napas dan berkata," Dalam pekerjaanku, bahkan saat
mandipun, aku harus menyiapkan pedang tambahan. Paling tidak, sekarang kalian berdua mengerti hal ini."
"Tapi aku tidak mengerti." Ma Fang Ling tiba-tiba bertanya.
"Kau tidak mengerti kenapa aku membunuh mereka?" Lu Xiao Jia berkata.
Tentu saja Ma Fang Ling tidak mengerti," Mereka bukanlah orang yang kau harus bunuh!"
Lu Xiao Jia menghela napas dan memutar kepalanya. Dia akhirnya melihat kepada kedua
mata Fu Hong Xue."
"Mengertikah kau?"
Tentu saja Fu Hong Xue pun tidak mengerti. Tidak ada seorangpun yang mengerti.
"Mereka tidak sungguh-sungguh mengundangku kesini untuk membunuhmu. Mereka hanya
ingin membokongmu saat kita bertarung." Lu Xiao Jia menjelaskan.
Fu Hong Xue masih tidak mengerti dengan jelas.
"Rencana mereka bagus. Tidak ada seorangpun yang dapat menghindari dari serangan
senjata rahasia saat mereka bertarung denganku. Khususnya bila mereka melepaskannya
dari bagian dalam bak mandi."
"Bagian dalam bak mandi?" Fu Hong Xue bertanya.
Tiba-tiba terdengar suara PPEENNGG yang keras keluar dari bagian dalam bak mandi. Lalu, bak mandi hancur dan terbuka seluruhnya. Air muncrat kesegala arah, dibawah pantulan cahaya matahari terlihat seperti kilasan sinar keperakan.
Sesaat, sesosok tubuh lari keluar dari bagian dalam bak mandi. Orang ini amat sangat cepat, namun pedang Lu Xiao Jia jauh lebih cepat. Pedangnya melesat dan di kuti dengan jeritan orang yang malang.
Cucuran darah lainnya telah memenuhi jalan. Seorang lain telah rubuh ke atas lantai. Dia Naga Punggun Emas!"
Tidak ada seorangpun yang membuat suara. Tidak ada seorangpun yang berani bernapas.
Jeritan malangnya telah terbawa angin berhembus ke padang rerumputan.
Setelah beberapa lama, Ding Ling Lin akhirnya menghela napas panjang dan berseru,"
Pedang yang amat sangat cepat!"
Ye Kai menganggukan kepalanya. Dia nampaknya setuju.
Tidak ada seorangpun yang menyangkalnya. Sebatang besi yang ditempa menjadi pedang,
saat berada ditangan Lu Xiao Jia, sudah bukan sekedar pedang. Pedang tersebut berubah menjadi senjata yang mematikan, kilatan cahaya yang berkelebat dari neraka yang paling dalam.
"Bahkan sekarang aku mengaguminya sekarang." Ding Ling Lin menghela napas.
"Oh?" Ye Kai berkata.
"Dia mungkin bukan orang yang pintar, atau orang yang baik, namun dia sudah pasti jago pedang yang hebat." Ding Ling Lin berkata.
Tetes darah terakhir akhinya menetes ke atas lantai. Pandangan Lu Xiao Jia bergeser dari mata pedangnya lalu ke arah Fu Hong Xue.
"Sekarang kau mengerti?"
Fu Hong Xue menganggukan kepalanya. Tentu saja dia telah mengerti sekarang, setiap
orang juga mengerti.
Ada ruangan kosong di bawah bak mandi, sangat cocok dan pas untuk tempat bersembunyi didalamnya. Setelah bak mandi di si dengan air, tidak ada yang dapat mengetahuinya
seberapa dalam bak mandi tersebut. Lu Xiao Jia pun tidak berdiri tegak, sehingga tidak ada seorangpun yang mengira terdapat ruangan dibawah bak mandi tersebut. Jadi bila Naga
Punggung Emas melepaskan senjata rahasia dari sana, Fu Hong Xue tidak akan pernah
mengira, bahkan di dalam mimpinya sekalipun.
"Jadi sekarang kau seharusnya mengerti aku mandi bukan karena aku takut menjadi kotor, tapi karena seseorang membayarku lima ribu tael perak." Lu Xiao Jia menghela napas dan melanjutkan," Bahkan Ye Kai pun pasti akan bersedia mandi untuk lima ribu tael perak.
Ye Kai menebarkan senyumnya.
Ekspresi wajah Fu Hong Xue masih pucat dan sedingin es. Di bawah matahari yang
membara, tidak ada setetespun keringat dikepalanya.
"Meskipun aku pikir rencana mereka sangat bagus. Namun mereka salah menilai satu hal."
Fu Hong Xue tidak dapat menahan untuk bertanya," Apa?"
"Aku." Lu Xiao Jia menjawab.
"Oh?"
"Aku telah membunuh sebelumnya dan aku akan selalu membunuh. Aku menyukai uang
juga. Untuk lima ribu tael perak aku akan selalu bersedia mandi kapanpun dan dimanapun."
Lu Xiao Jia tertawa seraya melanjutkan," Namun aku membenci orang yang mencoba
memanfaatkanku. Dan aku membenci orang yang mengira dapat menggunakanku sebagai
alat mereka."
Fu Hong Xue menghela napas panjang. Es diwajahnya perlahan-lahan mulai meleleh.
"Bila aku membunuh seseorang, aku akan melakukannya sendiri." Lu Xiao Jia berkata.
"Itu kebiasaan yang bagus," Fu Hong Xue menjawab.
"Aku memiliki kebiasaan yang bagus lainnya."
"Oh?"
"Kebiasaan lainnya yang kumiliki adalah aku tidak pernah menelan ucapanku sendiri."
"Aku mendengarkan."
"Jadi aku masih harus membunuhmu."
"Tapi aku tidak ingin membunuhmu."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak pernah menikmati membunuh orang sepertimu."
"Dan orang seperti apakah aku?"
"Orang yang lucu."
Lu Xiao Jia terlihat kaget," Aku lucu?"
Dia telah dicap berbagai hal yang jelek selama ini, namun tidak pernah seorangpun
memanggilnya lucu!
"Aku selalu merasa bahwa orang yang mandi sambil mengenakan celana lebih lucu daripada orang yang melepaskan celananya." Fu Hong Xue berkata.
Ye Kai tidak dapat menahan ketawanya. Begitu juga Ding Ling Lin.
Orang yang sudah besar yang hanya mengenakan celana yang basah sungguh lucu. Dan
pada akhirnya, orang ini bukanlah jenis orang yang kau harapkan dapat membunuh.
Lu Xio Jia tiba-tiba tersenyum dan berkata," Membingungkan, sungguh-sungguh
membingungkan! Siapa yang sangka kalau kau ternyata orang yang membingungkan. Aku
selalu menyukai orang seperti ini.
Kemudian, dia tiba-tiba menurunkan suaranya dan mengumumkan," Namun sayangnya aku
masih harus mencabut nyawamu!"
"Sekarang juga?"
"Sekarang juga!"
"Dalam celana basah itu?"
"Bahkan, meski aku tidak mengenakan celana sama sekali."
"Sungguh bagus." Fu Hong Xue berseru.
"Sungguh bagus?" Lu Xiao Jia bertanya.
"Aku juga merasa sungguh disayangkan untuk membiarkan kesempatan ini begitu saja." Fu Hong Xue menjawab.
"Kesempatan apa?"
"Kesempatan untuk membunuhku."
"Aku hanya memiliki kesempatan untuk membunuhmu sekrang juga?" Lu Xiao Jia menjawab.
"Karena saat ini kau tahu bahwa aku tidak ingin membunuhmu!" Fu Hong Xue menjawab.
"Apa yang kau maksudkan dengan perkataanmu?" Lu Xiao Jia bertanya dengan ekspresi
wajah yang berubah.
"Aku hanya ingin kau pun tahu bahwa aku pun tidak pernah menelan kembali ucapanku." Fu Hong Xue berkata.
Lu Xiao Jia menatapnya, raut wajah aneh muncul diwajahnya.
Wajah Fu Hong Xue benar-benar tidak beremosi.
Kemudian, Lu Xiao Jia mulai tertawa.
Disana terdapat kantong kulit dibawah tumpukan celana. Dia mencongkel kantong itu
dengan pedangnya dan mengambil dua buah uang kertas dari dalamnya. Yang satu senilai sepuluh seribu tael perak dan yang lainnya senilai lima ribu tael perak.
"Meskipun aku belum membunuh seseorang, tapi aku sudah mandi. Jadi aku akan
menyimpan yang lima ribu tael. Namun yang sepuluh ribu tael ini, akan kukembalikan
kepadamu."
Lu Xiao Jia melemparkan uang kertas tersebut kepada tubuh Ding Lao Si dan berkata," Aku minta maaf yang sebesar-besarnya, sangat sulit bagi seseorang untuk menarik kembali apa yang telah diucapkan. Aku yakin kau tidak akan menyalahkanku."
Tentu saja mereka tidak akan menyalahkannya. Orang mati tidak dapat membuka mulutnya.
Lu Xia Jia mengambil kantong itu dengan cara menutulkan pedangnya dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia bahkan tidak melirik sedikitpun kepada Fu Hong Xue atau Ma Fang Ling. Setiap orang hanya dapat melihat dia dengan bingung saat dia
melangkah pergi.
Namun saat dia melewati Ye Kai, tiba-tiba kakinya berhenti. Ya Kai masih tersenyum.
Lu Xiao Jia melihatnya dari atas ke bawah dan tertawa," Tahukah kau kenapa aku
menyimpan lima ribu tael ini?"
"Tidak, aku tak tahu." Ye Kai menjawab.
Lu Xiao Jia memberikan uang kertas itu kepadanya dan berkata," Untuk diberikan


Kisah Pengelana Di Kota Perbatasan Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kepadamu."
"Diberikan kepadaku" Untuk apa?"
"Karena aku memohon sesuatu kepadamu."
"Apakah itu?"
"Aku mohon kepadamu untuk mandi. Bila kau tidak mandi lebih lama lagi, aku rasa aku akan mati tidak bisa bernapas karena bau busukmu."
Dia tidak membiarkan Ye Kai menjawabnya, seraya dia membalikan badan dan melangkah
pergi. Ye Kai menatap uang kertas ditangannya dan tidak tahu apakah harus marah atau senang.
Ding Ling Lin tidak dapat menahan ketawanya," Apapun yang terjadi, mandi untuk
memperoleh lima ribu tael selalu layak untuk dilakukan."
Ye Kai cemberut bercanda dan menjawab," Kau betul-betul mengaguminya kan?"
Ding Ling Lin mengedipkan matanya dan berkata," Namun orang paling aku kagumi
bukanlah dia."
"Apakah dirimu sendiri?" Ye Kai bertanya.
"Bukan, tapi dirimu." Ding Ling Lin menjawab.
"Jadi kau mengagumi ku juga?"
Ding Ling Lin menganggukan kepalanya dan berkata," Karena ada orang yang mau
membayarmu lima ribu tael perak hanya untuk mandi."
Ye Kai ingin melepaskan tawanya, namun dia menahannya. Karena kemudian, suara
tangisan memenuhi telinganya.
Mereka mendengar suara tangis Ma Fang Ling. Dia sudah berusaha untuk menahannya
selama beberapa saat, dia telah berusaha menggunakan segenap tenaganya untuk
mengendalikan dirinya. Namun hal itu telah melewati batas-batas daya tahannya dan dia tidak dapat menahan diri untuk menangis. Dia benar-benar mengalami kesedihan dan
kemarahan yang amat sangat, karena dia merasa dirinya satu-satunya orang yang disakiti dan dianiaya.
Saat dia menangis, Fu Hong Xue berjalan melewatinya. Namun dia sama sekali tidak
menoleh, bahkan sedikitpun tidak meliriknya. Seperti saat dia berjalan melewati mayat Naga Punggung Emas.
Seluruh penjaga berkuda dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda masih berdiri disisi. Beberapa menundukan kepalanya, yang lainnya memandang kearah yang lain. Mereka semua adalah
orang yang gagah dan kasar, namun saat melihat anak perempuan Majikan Gedung telah
dihina, mereka semua berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi.
Ma Fang Ling tiba-tiba melangkah kearah mereka dan menunjuk Fu Hong Xue saat dia
melangkah berjaland dan terisak," Tahukah kau siapa dia" Dia adalah musuh besar Majikan Gedung. Dia adalah pembunuhn yang telah mengambil nyawa teman-teman dekat kalian."
Masih tidak ada seorangpun yang berkata-kata. Masih tidak ada seorangpun yang
memandang kearahnya. Semua mata mengarah kepada wajah seorang setengah tua.
Mereka memanggilnya Situa Jiao, karena dia memang penjaga berkuda yang paling tua.
Kelihatannya dia telah menghabiskan seluruh hidupnya melayani Gedung Sepuluh Ribu Kuda.
Waktu-waktu terbaik dari hidupnya dihabiskan di atas punggung kuda. Kedua kakinya telah bengkok dan punggungnya banyak luka panah. Kedua matanya yang biasanya gembira telah memerah karena minum-minuman berarak yang lama.
Kisah Sepasang Bayangan Dewa 3 Jodoh Si Mata Keranjang Karya Kho Ping Hoo Pendekar Sadis 20
^