Pencarian

Pendekar Aneh Dari Kanglam 6

Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong Bagian 6


berkata: "Didalam kereta itu terdapat tawanan penting dari
kerajaan... dan... dan sahabat ini hendak merebutnya, Maka
terpaksa aku harus mempertahankan, karena tugas dan
kewajiban yang telah dipercayakan padaku, harus
kulaksanakan dan kupelihara baik2!"
"Jika demikian halnya baiklah . ..!!" kata Bu Bin An.
"Bolehkah Siauwte mengetahui siapakah yang berada didalam
kereta itu... maksud Siauwte ialah tawanan didalam kereta
itu?" Liu Cung Kiat tampak ragu2, Tetapi Cun Liong To telah
menyahuti: "Tawanan yang di kurung didalam kereta itu
adalah seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki nasib
buruk di jebak oleh manusia2 rendah dengan mempergunakan
akal licik, dimana ia telah ditawan dan diperlakukan tidak
baik... maka kami bermaksud hendak menolongnya...!"
Liu Cung Kiat mengawasi dengan wajah memancarkan
sikap tidak senang.
Sedangkan Bu Bin An telah berkata lagi dengan suara yang
ragu2 : "Didalam urusan ini, tentunya merupakan persoalan
rimba persilatan, dan memang Siauwte tidak saling kenal
dengan kalian dari kedua golongan, dengan demikian tentu
saja Siauwte tidak berhak untuk turut mencampuri. Tetapi jika
memang Siauwte melihat, hanya untuk memperebutkan
seorang tawanan, tetapi kalian harus bertempur sehingga
menimbulkan korban jiwa, bukankah hal itu harus disayangkan
?" Liu Cung Kiat mengangguk.
"Ya... jika memang ada pengertian dari pihak Cun Toako,
tentu kamipun tidak akan menimbulkan hal2 yang bisa
melibatkan diri kami dalam suatu pertarungan yang memang
tidak memiliki arti apa2 ini...!" kata orang she Liu tersebut.
Cun Liong To telah memperdengarkan suara tertawa
dingin. "Hemm, jika demikian halnya, jelas bahwa engkau tetap
ingin meneruskan pertempuran kita, bukan?" katanya.
"Tetapi Toako...!" suara Liu Cung Kiat belum lagi habis
diucapkan, diwaktu itu tampak Bu Bin An telah memotong:
"Bagaimana jika memang orang tawanan itu dibebaskan
saja?" "Dibebaskan?" tanya Liu Cung Kbiat sambil mengderutkan
sepasanag alisnya.
"YaH.. dengan dibebaskannya orang tawanan itu, bukankah
urusan akan selesai?"
"Tetapi bagaimana kelak aku mempertanggung jawabkan
segalanya kepada atasanku?" tanya Liu Cung Kiat, "Maafkan...
maafkan, aku bukan tidak mau memberikan muka kepada
Siauwhiap, namun didalam urusan ini, tentu saja aku memiliki
kesulitan sendiri..!"
"Jika memang begitu, tentunya harus ada pengertian juga
dari pihak Cun Toako ini..!" kata Bin An lagi.
Tetapi Cun Liong To menggelengkan kepalanya perlahan
sambil memperdengarkan suara tertawa dingin.
"Kami telah bertekad untuk merebut tawanan itu,
Diserahkan atau tidak, kami tetap akan teguh dengan
keputusan kami, tawanan itu harus dapat kami rebut untuk
dibebaskan..!"
Bu Bin An mengawasi Liu Cung Kiat dan Cun Liong To
beberapa saat lamanya, sampai akhirnya ia berkata, "Baiklah,
keputusan bagaimana yang dikehendaki oleh kalian?"
"Kami akan terus bertempur untuk menentukan, siapa yang
berhak untuk memperoleh tawanan itu..!" menyahuti Cun
Liong To bersemangat, karena ia yakin bahwa Liu Cung Kiat
bukan menjadi tandingannya.
"Bagaimana jika kita mengambil jalan tengah saja, yaitu
kalian masing2 menghadapi tiga jurus serangan dariku, jika
memang kalian sanggup menghadapi tiga serangan Siauwte,
maka orang itulah yang harus dinyatakan sebagai orang yang
berhak memperoleh tawanan tersebut.."
"Tetapi jika kami berdua sanggup menerima tiga
seranganmu?" tanya Liu Cung Kiat dengan suara yang sinis,
karena ia merasa tersing gung, seperti diremehkan oleh
pemuda itu, yang menantang hanya dalam tiga jurus serangan
saja. "Walaupun pemuda ini tampaknya memiliki kepandaian
yang tinggi, tidak mungkin dalam tiga jurus ia bisa
merubuhkan diriku...!" pikir Liu Cung Kiat didalam hatinya.
Sedangkan Cun Liong To segera saja menyetujui usul yang
diberikan Bu Bin An.
"Baik, jika memang begitu, itulah usul yang baik!" katanya.
"Siapa yang mulai?" tanya Bu Bin An.
"Aku dulupun tidak menjadi soabl..!" menyahutid Cun Liong
To baersemangat.
"Babik... jagalah serangan pertama!" kata Bu Bin An.
Dan Bin An sambil berkata telah menggerakkan tangan
kanannya akan mencengkeram ke arah tulang piepe dari Cun
Liong To. Dan dalam waktu yang singkat sekali kelima jari
tangannya tahu2 hanya terpisah beberapa dim saja dari
bahunya. Cun Liong To jadi terkejut, karena ia tidak menyangka
bahwa gerakan Bu Bin An begitu cepat dan juga aneh.
Tetapi sebagai seorang jago yang memiliki kepandaian
tinggi, tentu saja Cun Liong To tidak berdiam diri saja.
Cepat luar biasa tahu2 ia telah berjongkok dan tangan
kirinya dipergunakan untuk me-nangkis, Gerakan yang
dilakukannya itu mempergunakan jurus dari Bin Hun Ciang
yang mengandung unsur untuk balas menyerang.
Bin An telah menarik pulang tangannya sebelum tangkisan
yang dilakukan oleh Cun Liong To berhasil menyentuh
tangannya, Berbareng tangannya yang satu pula meluncur
dan mencengkeram dada dari Cun Liong To.
Untuk kedua kalinya Cun Liong To terkejut, ia sedang
berjongkok, dan diwaktu itu serangan yang dilakukan oleh Bin
An menyambar datang.
Tetapi kembali Cun Liong To membela diri dengan ilmu
andalannya, Bian Hun Ciang yang dicampur dengan gerakan
Kim Na Ciu, yaitu gerakan menangkap, ia berusaha untuk
mencekal pergelangan tangan Bin An.
Untuk kedua kalinya Bin An menarik pulang tangannya,
Dan diwaktu itu ia berkata : "inilah serangan yang ketiga...!"
Dan untuk jurus yang ketiga Bin An mengulurkan sekaligus
kedua tangannya, untuk mencengkeram kedua bahu Cun
Liong To. Cun Liong To waktu itu telah sempat berdiri dan ia yakin,
jika ia menangkis dengan mempergunakan jurus dari Bian Hun
Ciang, tentu ia bisa menangkis serangan-serangan itu dan
berarti ia telah menerima tiga kali serangan dari pemuda
tersebut. Dengan hati yanrg girang ia mentgangkat kedua
tqangannya, dan dripergunakan untuk menangkis.
"Plakkk .. . . !" tangan mereka saling bertemu dan
membentur mengeluarkan suara yang keras sekali, tetapi
begitu dua kekuatan dikedua pasang tangan tersebut saling
membentur muka Cun Liong To jadi pucat, ia mengeluar kan
seruan tertahan, mukanyapun telah berobah menjadi merah
padam, dan pucat kembali kedua kakinya terhuyung mundur,
lalu terlihat tubuhnya tergoncang keras dan kejengkang.
"Uwah...!" dari mulutnya telah me muntahkan darah segar.
Bu Bin An terkejut.
"Akhh, maaf... maaf... Siauwte telah mempergunakan
tenaga yang berlebihan . . ,!" katanya sambil melompat
mendekati Cun Liong To.
Tetapi Cun Liong To tidak mengatakan apa2, ia telah duduk
bersamadhi sambil memejamkan matanya, guna mengatur
jalan pernapasannya.
Diwaktu itu Bu Bin An juga telah meletakan kedua telapak
tangannya pada punggung Cun Liong To, ia menyalurkan
kekuatan tenaga dalamnya, untuk disalurkan kepada Cun
Liong To, membantu agar Cun Liong To bisa memulihkan
tenaga dalamnya dan juga melancarkan jalan pernapasannya.
Sebentar saja muka Cun Liong To yang pucat ke-hijau2an
itu, akhirnya berobah kemerah-merahan kembali, rupanya ia
telah berhasil memulihkan jalan pernapasannya.
Sedangkan Liu Cung Kiat mengawasi semua nya dengan
hati yang agak tergoncang.
Ia heran, mengapa pemuda itu demikian kuat dan tangguh
sekali, Jika ia melihat dalam tiga jurus Cun Liong To bisa
dirubuhkan, malah terluka didalam seperti itu, hal ini benar2
merupakan urusan yang bukan main2 lagi, sebab dinilai dari
kekuatan tenaga lwekang yang dimiliki pemuda tersebut,
kemungkinan Liu Cung Kiat sendiri bukan menjadi
tandingannya. Dengan adanya pikiran seperti itu, akhirnya Liu Cung Kiat
mulai ragu2 untuk menerima tiga jurus serangan dari pemuda
yang tangguh tersebut jika semula ia yakin dirinya akan
sanggup menghadapi tiga jurus serangan yang dilancarkan
oleh pemuda tersebut, kini ia mulai bimbang.
Namun mengingat bahwa Cun Liong To telah berhasil
dirubuhkan oleh pemuda itu, tentu kesempatan baginya untuk
tetap dapat mengawal kereta tawanan itu lebih besar lagi, Jika
saja ia berhasil menghadapi tiga jurus serangan pemuda
tersebut, bukankah akhirnya ia yang berhak atas tawanan
yang berada didalam kereta berkuda itu "
Karena berpikir demikian, semangat Liu Cung Kiat jadi
terbangun, Dan telah mengerahkan tenaga Iwekangnya untuk
disalurkan pada tangannya.
Pedang yang dicekalnya itu tergetar, dan diwaktu itu
tampak ia telah bersiap sedia untuk menerima tiga serangan
dari Bu Bin An.
Setelah merasa cukup membantu Cun Liong To
memulihkan jalan pernapasannya, Bin An melompat berdiri:
"Apakah, kita mulai sekarang...?"
Liu Cung Kiat mengangguk.
"Ya... bolehkah aku meminta petunjuk Siauwhiap dalam hal
kepandaian Kiamhoat ?" tanya Liu Cung Kiat.
Bu Bin An mengangguk sambil tersenyum.
"Boleh... tentu menggembirakan sekali jika memang
engkau hendak main2 tiga jurus dengan mempergenakan ilmu
pedang...!" dan setelah beikata begitu, Bin An telah
menjejakkan kakinya, ia melambung tinggi ketengah uda ra
bukannya mencabut pedangnya, tetapi tangannya menyambar
kesebuah ranting pohon yang berada didekat tempat itu, ia
mematahkan ranting tersebut Waktu ia telah meluncur turun
ketanah, ditangannya terdapat ranting tersebut.
"Siauwte akan menemani main2 tiga jurus dengan
mempergunakan ranting ini sebagai gantinya pedang...!" kata
Bin An. Muka Liu Cung Kiat jadi berobah tidak senang, ia merasa
diremehkan sekali.
"Jika demikian, kalau sampai kelak aku kesalahan tangan,
tentu aku membuat hatiku jadi tidak tenang. . .!" kata Liu
Cung Kiat. Bin An tersenyum.
"Jika memang ternyata Siauwte tidak bisa memperoleh
kemenangan dalam tiga jurus berarti kemenangan itu untuk
Heng-tai ( saudara )...!"
"Baiklah," kata Liu Cung Kiat sambil tersenyum kecut,
"silahkan membuka serangan!"
Bin An berkata: "serangan pertama...!" sambil
menggerakkan ranting ditangannya, dimana ranting itu
menyambar dengan gerakan memutar.
Gerakan dari jurus pertama ini membuat Liu Cung Kiat jadi
terkejut, karena ranting itu berputar dengan demikian sulit
baginya untuk menentukan sasaran dari bagian anggota
tubuhnya yang mana hendak dijadikan terjangan ranting
tersebut. Tetapi karena ia memiliki kepandaian ilmu pedang yang
cukup tinggi, yaitu ilmu pedang Tui Hong Kiam Hoat, yang
memiliki perobahan-perobahan hebat dan aneh, dimana
selama hidupnya ia bisa mengenali rimba persilatan dengan
ilmu pedangnya tersabut, dengan demikian ia tidak jeri untuk
menangkisnya. Waktu ranting ditangan Bin An bergerak memutar, tampak
pedang ditangan Liu Cung Kiat menangkis dengan cara
menerobos, gerakan yang dilakukannya itu sangat cepat dan
berani sekali. Liu Cung Kiat berani melakukan gerakan tersebut, karena ia
yakin, pedangnya yang tajam dan merupakan pedang
sungguhan, tentu akan jauh lebih menang dibandingkan
dengan pedang yang terdiri dari ranting pohon tersebut.
Tetapi Bin An tampak tenang saja, ia menggerakkan
ranting ditangannya itu dengan gerakan yang cepat, dan
waktu itu pula ia telah sengaja membenturkan ranting
ditangannya pada pedang Liu Cung Kiat.
Namun kesudahannya memang luar biasa sekali.
Pedang Liu Cung Kiat tergetar.
"Hai..!" teriak Liu Cung Kiat terkejut, ia merasakan telapak
tangannya tergetar dan kulit telapak tangannya pedih, Jika
saja ia tidak mencekal pedangnya itu kuat-kuat, tentu
pedangnya akan terlepas dari cekalannya.
Rupanya ranting yang ada ditangan Bin An telah
mengandung kekuatan tenaga sinkang yang benar2 hebat
sekali, sehingga walaupun terdiri dari ranting pohon, namun
dengan diselubungi oleh kekuatan sinkang seperti itu, tentu
saja membuat ranting tersebut menjadi kuat.
Diantara benturan yang terjadi itu, Liu Cung Kiat telah
melompat kebelakang, dan mempergunakan pedangnya untuk
menikam lagi setelah ia membenarkan cekalan pada gagang
pedangnya, Maksudnya hendak mendahului guna menyudahi
jurus kedua. Tetapi Bin An pun bergerak cepat, juga ranting ditangannya
diputar, dan sewaktu ia menggeser kedudukan kakinya, ia
menikam mempergunakan ujung rantingnya untuk menotok,
dengan menyelinap diantara berseliwerannya pedang Liu Cung
Kiat. Liu Cung Kiat yang sama sekali tidak menyangka akan
menerima serangan seperti ini, jadi terkejut bukan main dan
mengeluarkan suara seruan lagi sambil berusaha melompat
kebelakang dua tombak jauhnya.
Namun Bin An tidak berhenti sampai di-situ, ia telah


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membarengi melompat maju, dua langkah mempergunakan
ranting ditangan untuk menyentak dan melibat batang pedang
Liu Cung Kiat. Gerakan yang dilakukan oleh Bu Bin An benar2 cepat luar
biasa dan sulit dielakkan lagi, walaupun Liu Cung Kiat
bermaksud untuk menarik pulang pedang, menghindari libatan
ranting Bin An, tokh ia gagal.
Tahu2 pedangnya telah terlepas dari cekalannya dan
terlontarkan ketengah udara, dimana pedang itu telah
menancap disebatang pohon dalam sekali.
Liu Cung kiat sendiri telah berdiri mematung dengan hati
yang berdebar keras, karena ia tidak menyangka akan
mengalami kesudahan dari pertempuran sedemikian rupa.
Bin An tertawa sambil melemparkan ranting ditangannya
iapun berkata: "Kalian berdua ternyata telah banyak mengalah
kepada Siauwte !" dan setelah berkata begitu Bin An
merangkapkan sepasang tangannya untuk memberi hormat
kepada Liu Cung Kiat yang masih berdiri mematung dan juga
kepada Cun Liong To yang waktu itu telah berdiri karena telah
berhasil memulihkan jalan pernapasannya.
"Maafkan... maafkan !" kata Bin An lagi.
Muka Liu Cung Kiat dan Cun Liong To jadi berobah pucat,
sedangkan anak buah Cun Liong To mengawasi dengan sinar
mata tajam, mereka bersiap sedia untuk segera menerjang
maju jika memang Cun Liong To memberikan perintah untuk
maju menyerang.
Diwaktu itu, Cun Liong To menghela napas.
"Kami berdua telah berhasil dirubuhkan Siauwhiap, berarti
tidak ada seorangpun diantara kami yang memperoleh
kemenangan Keputusan dari Siauwhiap ingin sekali kami
dengar...!" kata Cun Liong To.
"Ya," kata Liu Cung Kiat, "Tawanan itu harus diserahkan
kepada siapa ?"
Bin An tersenyum.
"Jalan yang pa!ing bijaksana, dibebaskan...!" kata Bin An.
"Dibebaskan?" tanya CunLiongTo, wajahnya memancarkan
kegembiraan, karena justru ia bersama anak buahnya
berusaha merebut tawanan ini untuk membebaskan tawanan
tersebut dari tangan orang2nya kerajaan.
Sedangkan muka Liu Cung Kiat jadi berobah guram, ia
berkata dengan suara yang tidak begitu lancar: "Dalam hal
ini... dalam hal ini..!"
Tetapi belum lagi ia selesai mengakhiri ucapannya itu, Cun
Liong To telah berkata: "Kita sebagai Hohan dari rimba
persilatan, tentu saja harus memegang perkataan kita, sekali
kita ber ucap, maka tidak akan dikejar walaupun oleh seribu
ekor kuda...!"
Mendengar perkataan Cun Liong To, tampak Liu Cung Kiat
menghela napas.
"Tawanan yang berada didalam kereta tersebut merupakan
tawanan yang benar-benar penting sekali," kata Liu Cung Kiat
kemudian. "Jika saja sampai tawanan ini dibebaskan dan
terjadi suatu kesalah pengertian, tentu akan menimbulkan
urusan yang besar, dimana menyangkut akan keselamatan
dan banyak jago2 rimba persilatan...!" kata Liu Cung Kiat
kemudian. "Mengapa begitu ?" tanya Bin An dengan suaramengandung
perasaan ingin tahu.
Liu Cung Kiat menghela napas lagi, ia kemudian berkata
dengan suara perlahan:
"Karena... karena tawanan yang berada didalam kereta itu
adalah... adalah...!" dan Liu Cung Kiat tidak meneruskan
perkataannya tersebut, ia telah menoleh dan memandang
kepada Cun Liong To.
Bin An mengawasi dan memandang kapada orang she Liu
tersebut, ia berdiam diri saja.
"Karena tawanan didalam kereta tersebut adalah... adalah
ciangbunjin Siauw Lim Sie...!" meneruskan Liu Cung Kiat.
"Ciangbunjin Siauw Lim Sie ?" tanya Bu Bin An dengan
wajah memperlihatkan perasaan heran bercampur kaget.
Liu Cung Kiat mengangguk.
"Ya," katanya menghela napas, "Tawanan itu memang
ciangbunjin Siauw Lim Sie yang lama, yaitu Bo Liang Siansu..."
Wajah Bu Bin An jadi berobah.
"Jadi... tokoh rimba persilatan yang bera da didalam kereta
itu adalah Bo Liang Siansu?" tanya Bin An kemudian.
Liu Cung Kiat mengangguk sambil menghela napas.
"Benar, maka tawanan yang berada didalam kereta itu
merupakan tawanan yang sangat penting sekali," menyahuti
Liu Cung Kiat. "Tetapi..." kata Bu Bin An kemudian dengan suara ragu2.
"jika memang tawanan yang berada didalam kereta itu adalah
Bo Liang Sian su Locianpwe, hal ini harus diselesaikan dengan
cara yang baik, karena... walaupun bagaimana Siauwte tentu
akan berdiri dipihaknya...!"
Wajah Liu Cung Kiat jadi berobah.
"Jadi... jadi...!" kata-katanya tidak lancar.
Bu Bin An tersenyum.
"Aku telah menerima budi kebaikan yang tidak sedikit
waktu dulu dari pihak Siauw Lim Sie... sekarang setelah aku
mengetahui bahwa tawanan yang berada didalam kereta itu
adalah Bo Liang Siansu, Locianpwe yang lenyap telah lama itu,
ditawan oleh pihak kerajaan, maka terpaksa aku harus
membantu pihak yang hendak membebaskannya...!"
Liu Cung Kiat menghela napas lagi, tampaknya ia berputus
asa. "Baiklah jika memang demikian...!" dan ia telah
merangkapkan sepasang tangannya, kemudian memberi
hormat kepada Bu Bin Abn dan juga Cun dLiong To.
Melihaat orang pamitabn, Cun Liong To jadi girang, ia
membalas pemberian hormat dari Liu Cung Kiat, Begitu juga
halnya dengan Bin An yang telah membalas hormat dari Liu
Cung Kiat. Setelah memberi hormat, Liu Cung Kiat menjejakkan
kakinya, tubuhnya mencelat tinggi sekali, meninggalkan
lembah tersebut.
Sedangkan Cun Liong To dan Bu Bin An telah menghampiri
kereta tersebut, dan Bu Bin An sendiri yang telah menyingkap
tirai jendela dari kereta itu.
Didalam kereta memang terdapat seseorang yang tengah
duduk dengan kedua tangan dibelakang dan juga dengan
leher yang dikenakan papan yang cukup lebar.
Hal itu memperlihatkan bahwa orang tersebut memang
merupakan seorang tawanan, Kepalanya gundul tidak memiliki
sehelai rambutpun juga, dialah seorang hwesio, jenggot
maupun kumisnya telah tumbuh panjang sampai kedada
berwarna putih.
Cun Liong To telah merangkapkan sepasang tangannya, ia
memberi hormat sambil berkata: "Boanpwe Cun Liong To
memberi hormat dan katanya juga: "Boanpwe Bu Bin An meng
hunjuk hormat kepada Bo Liang Siansu Locian pwe. . . .!"
Pendeta itu, yang memang tidak lain dari Bo Liang Siansu,
menghela napas dalam2, wajahnya sabar sekali, katanya,
"Siancai... Sian cai....! sesungguhnya kalian tidak perlu
mempertaruhkan jiwa untuk menolongi Lolap... karena
tentunya telah banyak sekali korban jiwa...! jika memang
Lolap hendak melarikan diri, sejak dulu bisa dilakukan oleh
Lolap... tetapi justru Lolap tidak mau melakukannya... jika
memang didalam hal ini terjadi sesuatu yang tidak
menggembirakan, seperti halnya terjatuh korban jiwa yang
banyak jumlahnya, tentu saja hal ini akan membuat hati Lolap
jadi tidak tenang...!"
Cun Liong To menghela napas, ia berkata: "Sudah sejak
lama kami memang merencanakan untuk membebaskan
Locianpwe dari tangan kerajaan... karena itu, beberapa kali
kami berusaha untuk merebut Locianpwe dari tangan orang2
kerajaan, baru sekarang kami berhasil. Tentunya ciangbun
Locianpwe akan gembira sekali bisa memperoleh kebebasan
seperti ini... sehingga ciangbun Locianpwe bisa kembali
memimpin Siauw Lim Sie sebagai mana adanya dulu...
kamipun hanya berusaha dan melbakukan sesuatu dyang
dapat kamia lakukan..!!"
Mbendengar perkataan Cun Liong To itu, muka Bo Liang
siansu tidak berobah, ia sabar sekali waktu berkata: "Tetapi
selama ditawan oleh pihak kerajaan, Lolap diperlakukan baik
sekali... Lolap kira, tidak perlu kalian bersusah payah seperti
ini. Bukan Lolap tidak mengenal budi, tetapi dengan adanya
kejadian hari ini, tentu pihak kerajaan akan mengirim
orang2nya untuk menangkap kembali Lolap, berarti akan
timbul suatu malapetaka kembali dalam rimba persilatan..!"
Dan setelah berkata begitu, Bo Liang Siansu menghela
napas beberapa kali.
Bu Bin Aa segera berkata : "Selama lenyapnya Locianpwe,
maka pimpinan Siauw Lim Sie telah dipegang oleh Bo Tie
Siansu Locian pwe... dan tentunya Bo Tie Siansu Locianpwe
akan gembira sekali melihat Locianpwe telah terbebaskan..."
Bo Liang Siansu menghela napas dalam2.
Kemudian dengan mudah, rantai besi yang melingkari
kedua pergelangan tangannya telah di tariknya dan putus
menjadi tiga potong. Sedangkan papan tebal yang melingkari
lehernya, telah dipecahkan dengan hanya menggelengkan
kepalanya. Hal itu memperlihatkan bahwa lwekang yang
dimiliki Bo Liang Siansu telah mencapai tingkat yang
sempurna. Bu Bin An dan Cun Liong To memandang kagum sekali
kepada pendeta tua yang memiliki sinkang demikian tinggi itu.
Bo Liang siansu setelah melepaskan dirinya dari libatan
rantai besi dan papan yang melingkari lehernya itu, berdiri
per-lahan2 keluar dari kereta itu.
Cun Liong To dan Bu Bin An telah menyingkir kesamping,
mereka membuka jalan buat Bo Liang Siansu yang telah
melangkah kurang lebih lima tombak jauhnya dari kereta
tersebut. Anak buah Cun Liong To semuanya telah berlutut memberi
hormat kepada Bo Liang Siansu.
Pendeta tua yang sabar ini telah mengulap-uIap
tangannya. "Terima kasih atas bantuan kalian, dan juga Lolap tidak
bisa melupakan budi kebaikan kalian... dan janganlah kalian
terlalu banyak peradatan seperti itu... bangunlah !"
Setelah berkata begitu, Bo Liang Siansu menghela napas
dalam2, ia menoleh kepada Cun Liong To, sambil katarnya
lagi: "Teritma kasih atas bqantuan yang telrah tuan berikan
kepada LoIap...sekarang Lolap akan berangkat ke Siauw Lim
Sie untuk menemui saudara2 seperguruanku."
Cun Liong To mengangguk sambil merangkapkan kedua
tangannya, katanya: "Selamat untuk Locianpwe, semoga tiba
di Siauw Lim Sie tanpa menemui kesulitan...!"
Bo Liang Siansu mengangguk ia menoleh kepada Bu Bin
An. "Dan kau, pendekar muda... apakah engkau ingin
melakukan perjalanan bersama-sama dengan Lolap ?"
Bu Bin An mengangguk cepat.
"Jika memang Locianpwe tidak keberatan, tentu saja
Boanpwe gembira sekali bisa melakukan perjalanan bersamasama
dengan Locianpwe..."
BegituIah, dengan diawasi oleh Cun Liong To dan anak
buahnya, ketua Siauw Lim Sie tersebut bersama Bu Bin An
telah meninggalkan lembah tersebut.
Sepanjang perjalanan Bo Liang Siansu banyak bertanya
kepada Bii Bin An mengenai perkembangan dunia persilatan
Dan Bin An menjelaskan semuanya dengan teliti, apa yang
diketahuinya, sedangkan Bo Liang Siansu juga telah
memberikan banyak petuah dan nasehat kepada Bin An, agar
pemuda ini benar2 bisa memanfaatkan kepandaian yang
dimilikinya itu untuk melakukan pekerjaan2 baik dan
perbuatan-perbuatan terpuji, untuk membela yang lemah dan
benar, dari tindakan yang kuat namun salah.
Bin An selalu mengucapkan terima kasih atas petuah yang
diberikan ketua Siauw Lim Sie tersebut. Memang telah belasan
tahun Bo Liang Siansu ditangan pihak kerajaan, dimana telah
ditahan dan selalu dikawal dengan ketat dan keras.
Disamping itu Bo Liang siansu juga tidak pernah diberikan
kesempatan untuk bertemu dengan siapa saja, karena
dianggap bisa berbahaya, dimana jika orang2 rimba persilatan
mengetahui mengenai urusan ditawannya Bo Liang Siansu,
tentu pendekar2 gagah rimba persilatan akan bergerak dan
menimbulkan gelombang besar dalam rimba persilatan.
Itulah sebabnya Bo Liang Siansu selalu di kawal ketat, dan
tempat dimana ia ditahan juga selalu berobah, tidak tentu dan
ber-pindah2. Bo Liang Siansu menjelaskan juga kepada Bin An, jika
memang ia ingin melarikan diri, walaupun dikawal oleh orang2
kerajaan yang memiliki kepandaian tinggi, ia bisa
melakukannya dengan mudah.
Apa yang dikatakan oleh Bo Liang Siansu memang bukan
perkataan sombong atau bicara besar saja, sebab kepandaian
dari Bo Liang Sian su telah mencapai tingkat yang tinggi
sekali. Dengan demikian, Bo Liang Siansu bisa saja mololoskan
diri, namun justru pendeta tua ini kuatir nanti pihak kerajaan
akan melampiaskan kemarahannya terhadap pendekar2 rimba
persilatan lainnya. Maka Bo Liang siansu membiarkan saja
dirinya menjadi tawanan pihak kerajaan.
Sebulan lebih mereka melakukan perjalanan sampai
akhirnya mereka tiba di Siong-san, dan merekapun telah
sampai dikuil Siauw Lim Sie.
Bo Tie Siansu dan saudara-saudara seperguruan Bo Liang
Siansu yang melihat kembalinya Bo Liang Siansu dalam
keadaan sehat dan segar bugar, jadi gembira sekali.
Bo Liang Siansu menjelaskan kepada saudara2
seperguruannya, agar tidak menimbulkan gelombang pula
dengan mencari urusan pada pihak kerajaan, karena jabatan
ciangbunjin Siauw Lim Sie tetap diserahkan kepada Bo Tie
Siansu, sebab Bo Liang siansu bermaksud untuk mensucikan
diri tidak mencampuri segala urusan lainnya lagi, ia ingin
melatih diri dan melewati hari tuanya dengan mempertinggi
tenaga sinkang dan juga pelajaran mengenai agama
Budhanya. Bu Bin An berdiam di Siauw Lim Sie selama tujuh hari,


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dimana ia banyak menerima petunjuk dari Bo Tie Siansu
mengenai berbagai prihal ilmu silat yang terdapat didalam
rimba persilatan Bo Liang Siansu juga telah memberikan
banyak petunjuk kepada Bu Bin An.
Begitulah, setelah berdiam di Siauw Lim Sie cukup lama,
pada hari kedelapan Bu Bin An pamitan ingin berkelana pula
untuk mencari pengalaman.
Bu Bin An telah menerima banyak petuah dan nasehat dari
pendeta2 Siauw Lim Sie tersebut ia bertekad untuk benar2
mengabdibkan diri demi kdebaikan dan keaadilan. Dan iapubn
akan berkelana untuk menambah pengetahuan dan
pengalamannya. Sebelum Bin An berangkat meninggalkan Siauw Lim Sie, Bo
Liang Siansu sempat berpesan, agar Bu Bin An benar2 melatih
sinkangnya, karena pemuda itu memiliki bakat dan bibit yang
benar2 baik, dimana ia memiliki tulang yang bagus sekali
untuk memiliki sinkang yang tinggi. Dengan demikian jika saja
Bin Bn mau melatih diri dengan baik, tentu ia bisa
memperoleh tenaga sinkang tinggi sekali.
Bo Liang Siansu juga telah menurunkan beberapa macam
ilmu kepandaian yang dimilikinya, sehingga Bik An memiliki
tambahan kepandaian yang tidak sedikit.
Sambil berkelana, Bin An juga tidak pernah lupa untuk
melatih-diri, sehingga ia memperoleh kemajuan yang pesat
sekali. -ooOdwOoo- DUNIA persilatan merupakan dunia dari orang2 yang
mengerti ilmu silat dan memiliki kegemaran tersendiri dimana
mereka terpisah dari orang2 kalangan Bun, yaitu orang yang
khusus mempelajari ilmu surat, memang umumnya orang2
rimba persilatan selalu berkelana ke berbagai tempat.
Dijaman itu, para gadis dan wanita yang mempelajari ilmu
sastra lebih banyak "dipingit" dirumah dan jarang keluar
rumah memperlihatkan diri. Namun untuk pendekap wanita
yang telah melatih ilmu silat, mereka umumnya senang
mengembara, hidup bebas dan mengandalkan kepandaian
ilmu silat mereka untuk menjaga keselamatan diri mereka.
Dan buat seseorang yang telah melatih ilmu silat, tentu
tidak pernah akan puas dengan kepandaian yang telah
dimilikinya, mereka tentu akan berusaha untuk memperoleh
kepandaian yang jauh lebih tinggi dan terus juga melatih diri
dengan giat. Tidak jarang pula, terdapat kesalah pah-haman dan
bentrokan diantara orang2 rimba persilatan, balas membalas,
rubuh merubuhkan, saling mengadu ilmu, dan akhirnya
menimbulkan permusuhan. Hal itu memang banyak terjadi.
Antara golongan yang satu bentbrok dengan golodngan
yang lainnaya, juga tidak bjarang terjadi didalam rimba
persilatan. Antara pintu perguruan silat lainnya sering terjadi
bentrokan yang menyeret mereka akhirnya pada dendam yang
tidak berkesudahan.
Dan diwaktu itu justru didalam rimba persilatan telah
muncul seorang tokoh persilatan yang aneh sekali, dimana
kemunculannya itu telah menggemparkan rimba persilatan
karena kepandaian yang dimilikinya sangat tinggi sekali.
Yang luar biasa, walaupun munculnya orang aneh tersebut
dalam rimba persilatan belum satu tahun, namun ia telah
memperoleh nama yang sangat terkenal.
Orang yang berkepandaian tinggi tersebut bernama Gu
Ping An bergelar Sin Coa Tung Hiap ( Pendekar Tongkat Ular
Sakti), karena orang tersebut memang bersenjata sebatang
tongkat pendek, yang ujungnya yang satu berbentuk kepala
ular. Sin Coa Tung Hiap selalu mengenakan topeng yang terbuat
dari kain berwarna merah, sehingga tidak ada seorangpun
yang pernah melihat wajahnya. Namanya yang begitu terkenal
dan ditakuti oleh orang2 rimba persilatan di propinsi Hunan,
dan juga sulit sekali diketahui jejaknya, karena ia selalu
muncul di-berbagai tempat diluar dugaan.
Ciri dari kemunculannya itu didahului selalu oleh sebuah
lambang pengenalnya, yaitu sebuah lukisan kelelawar yang
dilukis oleh ukiran yang kuat sekali pada dinding2 rumah
dengan mempergunakan jari telunjuknya.
Orang-orang rimba persilatan juga tidak mengetahui
sesungguhnya Sin Coa Tung Hiap Gu Ping An tersebut berdiri
didunia Hek-to (hitam/penjahat) atau memang berdiri dijalan
Pek-to (putih/lurus), karena selama setahun itu ia selalu
melakukan berbagai perbuatan dan tindakan yang sulit sekali
diterka. Pernah terjadi lima pendekar gagah dari gunung Lauw-san
telah dirubuhkannya, sehingga kelima pendekar gagah
tersebut yang terkenal memiliki kepandaian tinggi akhirnya
bercacad dan tidak memiliki kepandaian lagi, yaitu kepandaian
mereka telah dimusnahkan.
Tetapi tidak jarang juga Sin Coa Tung Hiap melakukan
perbuatan2 baik dengan membasmi penjahat2 yang
berkepandaian tinggi dan menguasai beberapa kota dipropinsi
tersebut. Dengan tindakan2nya itru, Sin Coa Tungt Hiap telah
menqarik perhatian rdari orang2 rimba persilatan. Dan yang
menonjol sekali karena kepandaiannya yang tinggi dan selama
setahun itu ia belum juga bertemu tandingannya.
Tentang usia dari Sin Coa Tung Hiap juga tidak seorangpun
yang mengetahuinya dengan pasti, karena mukanya selalu
mengenakan tutup muka. Tetapi melihat dari bentuk
tubuhnya, memperlihatkan bahwa usia dari Sin Coa Tung Hiap
tentu tidak lebih dari tiga puluh tahun.
Seperti pada pagi itu, didinding dari sebuah rumah makan
yang terbesar dikota Pai nano, tampak sebuah lukisan yang di
ukir pada dinding itu, dalam bentuk sebuah kelelawar yang
tengah mementang sayap.
Semula pemilik rumah makan tersebut ber sama pelayan2
yang melihatnya, menganggapnya itu hanya perbuatan dari
orang usil belaka, dan mereka tidak terlalu mengambil
perhatian, mereka malah menyukai ukiran tersebut yang
terukir -indah.
Tetapi setelah hari siang dan rumah makan tersebut mulai
ramai dikunjungi tamu, yang terdiri dari orang berbagai
kalangan, dan banyak juga orang2 dari rimba persilatan,
mulailah ramai pembicaraan mengenai lukisan yang terukir
didinding rumah makan tersebut, yaitu kelelawar itu,
"Sin Coa Tung Hiap akan muncul dikota ini...!" bisik
beberapa orang rimba persilatan.
"Ya... Sin Coa Tung Hiap akan muncul... ini pertanda akan
terjadi keramaian dikota ini...!" kata orang2 persilatan lainnya.
Seketika itu juga berita akan munculnya Sin Coa Tung Hiap
dikota tersebut tersiar luas.
Banyak dugaan2 mengenai kehadiran dari Sin Coa Tung
Hiap. Entah siapa orang yang akan disatroni oleh Sin Coa
Tung Hiap. Karena sangat terkenalnya nama Sin Coa Tung Hiap Gu
Ping An tersebut, maka akan hadirnya ia dikota ini,
menyebabkan banyak orang-orang persilatan yang ada dikota
itu men-duga2 apakah diri mereka yang akan disatroni oleh
Sin Coa Tung Hiap tersebut.
Dengan demikian, hampir semua orang2 rimba persilatan
dikota itu yang telah bersiap-sedia untuk mengadakan
persiapan untuk menyambut Sin Coa Tung Hiap, kalau saja
diri mereka yang diincar oleh orang aneh tersebut.
Dikota Pai-nam tersebut terdapat dua buah pintu perguruan
silat, yang masing2 memiliki cukup banyak murid2 yang
belajar ilmu silat pada kedua pintu perguruan tersebut.
Pintu perguruan yang satu bernama Pai Nam Kiesu
(Pendekar Gagah Pai Nam), dipimpin oleh seorang akhli ilmu
silat yang berasal dari pintu perguruan Bu Tong Pay, bernama
Bian Tung Siang, bergelar Jie Pian Kiehiap (Pendekar dua
cambuk), dimana senjata andalannya memang sepasang cara
buk pendek yang liehay sekali.
Sedangkan pintu perguruan yang satunya lagi bernama
Tiang Sun Hiap Tam, dipimpin oleh Thang tiang Su, murid Kun
Lun Pay. Kedua pintu perguruan tersebut sama terkenalnya dan juga
mereka memiliki murid yang sama banyaknya, Memang tidak
jarang terjadi bentrokan antara murid2 kedua pintu perguruan
tersebut, namun bisa diselesaikan dengan cara damai, karena
kedua guru silat yang memimpin kedua pintu perguruan
tersebut memang bersahabat cukup baik, sehingga mereka
selalu bisa mendamaikan murid2 mereka yang berselisih.
Selain dari dua pintu perguruan silat tersebut masih
terdapat banyak pintu perguruan silat lainnya, umumnya
memiliki murid yang tidak begitu banyak, hanya beberapa
orang saja. Dengan adanya gambar kelelawar yang terukir dirumah
makan itu, telah menyebabkan perguruan2 silat yang terdapat
dikota Pai-nam tersebut jadi sibuk men~duga2, apakah pintu
perguruan mereka yang akan disatroni oleh Sin Coa Tung Hiap
tersebut. Waktu hari menjelang sore, justru semakin banyak orang
yang membicarakan perihal akan munculnya Sin Coa Tung
Hiap dikota ini.
Sore itu, tampak dijalan Wie-ho berjalan seorang gadis
yang bertubuh langsing dan memakai baju singsat berwarna
kuning gading. Dipinggangnya, tampak sebatang pedang
tersoren, menyebabkan gadis tersebut tampaknya gagah
sekali, iapun mengenakan sepatu yang berukuran lebar,
memperlihatkabn bahwa gadis idni memang seoraang
pendekar wanbita yang berkelana dalam rimba persilatan.
Waktu ia tiba dikota Pai-nam, memang telah didengarnya
percakapan2 yang membicarakan diri dari Sin Coa Tung Hiap,
tetapi gadis itu kurang begitu tertarik, maka ia telah
melakukan perjalanannya terus.
Namun waktu ia lewat dimuka pintu perguruan dari Pai
Nam Kiesu, justru ia melihat banyak murid2 dari pintu
perguruan tersebut tengah berkumpul dimuka gedung
tersebut, membicarakan juga persoalan akan munculnya Sin
Coa Tung Hiap dikota ini.
Dengan demikian, perhatian sigadis jadi lebih besar,
sekarang ia memiliki keinginan untuk mengetahui siapakah
sebenarnya Sin Coa Tung Hiap yang banyak dibicarakan itu.
Sigadis telah menghampiri murid2 dari Pai Nam Kiesu, ia
merangkapkan sepasang tangannya, menjura memberi
hormat. "Maafkan, kalau Siauwmoay ( adik ) tidak salah dengar,
kalian seperti tengah berkuatir akan munculnya Sin Coa Tung
Hiap... bolehkah Siauwmoay mengetahui siapakah sebenarnya
Sin Coa Tung Hiap itu...?" tanya sigadis dengan suara yang
ramah. Murid2 Pai Nam Kiesu memandang dengan mata menyelidik
kepada sigadis, kemudian salah seorang diantara mereka telah
bertanya: "Siapakah siocia... dan ada hubungan apakah
dengan Sin Coa Tung Hiap..?"
Sigadis menggelengkan kepalanya.
"Siauwmoay justru kebetulan lewat dikota ini dan
mendengar banyak sekali orang membicarakan soal Sin Coa
Tung Hiap, maka Siauwmoay jadi tertarik. jika memang para
Sieheng (saudara) tidak keberatan, sudi kiranya
memberitahukan siapakah adanya Sin Coa Tung Hiap itu !"
Murid dari Pai Nam Kiesu mengawasi si gadis dengan sorot
mata masih mengandung sikap menyelidik, sampai akhirnya ia
menyahuti: "Sin Coa Tung Hiap merupakan seorang tokoh
rimba persilatan yang memiliki kepandaian sangat tinggi
sekali, dan juga memiliki sepak terjang yang tidak bisa diduga,
dengan demikian, kami tidak mengetahui juga, apakah Sin
Coa Tung Hiap akan benar2 muncul dikota ini atau bmemang
tidak...d tetapi biasanyaa, setelah muncbulnya gambar
Kelelawar, tentu akan muncul Sin Coa Tung Hiap... dan kota
ini justru telah muncul gambar kelelawar tersebut...!"
Sigadis mengangguk sambil tersenyum.
"Liehay sekalikah kepandaian dari Sin Coa Tung Hiap
tersebut ?" tanya sigadis.
Murid2 Pai Nam Kiesu mengangguk.
"Apa yang kami dengar, kepandaian Sin Coa Tung Hiap
memang luar biasa, ia memiliki kepandaian yang tinggi
sekali.... selama setahun ia muncul dalam rimba persilatan,
belum ada orang yang bisa menandingi kepandaiannya...!"
Sigadis menyatakan terima kasihnya dan kemudian
meminta diri, melanjutkan perjalanannya lagi, Murid2 Pai Nam
Kiesu hanya mengawasi saja dengan sorot mata mengandung
perasaan kagum akan kecantikan yang dimiliki gadis tersebut.
Sedangkan gadis itu telah berjalan terus, sampai akhirnya
ia memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar oleh
orang2 yang sibuk dengan pekerjaannya masing2, sedangkan
rumah makan dimana sigadis singgah itu, juga masih
menerima kunjungan tamu yang banyak sekali.
Si gadis berpakaian baju kuning gading itu, telah
mengambil setempat dtsebuah meja didekat jendela, ia
memesan beberapa macam makanan.
Sambil menantikan makanan yang dipesannya, sigadis telah
mengawasi orang2 yang berada dalam ruangan rumah makan
tersebut. Cukup berisik suara tertawa dan suara percakapan dari
para tamu rumah makan tersebut, mereka terdiri dari orang2
yang berpakaian sebagai pelajar, pedagang maupun orang2
rimba persilatan.
"Telah lama kudengar Pai Nam merupakan kota yang
ramai, dan rupanya kata2 itu memang tidak salah..." pikir
sigadis didalam hatinya.
Namua waktu ia berpikir sampai disitu, justru disaat itu
telah berkesiuaran angin dingin di belakang punggungnya.
Sigadis terkejut, namun ia memiliki pendengaran yang
tajam sekali, sehingga ia mengetahui menyambarnya sernjata
rahasia ptada punggungnyaq. Dengan tidak rmenoleh, gadis
tersebut telah memiringkan tubuhnya kekiri, maka senjata
rahasia yang menyambar kepunggungnya itu telah
menyambar lewat dan menancap di-meja dengan
menimbulkan suara yang keras.
Sigadis mengerutkan alisnya, yang menancap diatas meja
ternyata sebatang jarum panjang yang hampir mirip
bentuknya dengan jarum Bwee Hoa Ciam, hanya bedanya
bentuk jarum itu lebih panjang dan halus bentuknya, Daa
juga, dibatang jarum itu terdapat sehelai kertas yang terdapat


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tulisan. Dengan hati2 gadis berbaju kuning gading ini telah
mengulurkan tangan kanannya, tanpa menyentuh jarum yang
menancap diatas meja ia telah mengambil kertas yang berisi
tulisan itu. Ternyata didalam tulisan tersebut, terdapat kata2
tantangan untuk sigadis, yang bunyi-nya sebagai berikut:
"Engkau kunantikan, kentongan kedua datang di pintu kota
sebelah tenggara, disana aku akan meminta petunjukmu....
jangan tidak datang, aku akan sebutkan sebab2 dari
permintaanku ini."
Dan surat itu tidak memiliki tanda tangan juga tidak
terdapat nama sipengirim.
Sigadis berbaju kuning itu tidak mengetahui siapa yang
mengirim surat tersebut, ia memandang sekelilingnya, tetapi
tidak terlihat seorang pun yang memperlihatkan tanda2
sebagai pengirim surat tantangan tersebut.
Waktu itu sipelayan telah mengantarkan yang dipesan
sigadis, ia segera memakannya dengan cepat.
Jarum yang dipergunakan tadi untuk mengirim surat itu
dibiarkan saja menancap di-permukaan meja, hanya surat
tantangan itu yang telah dimasukkan kedalam sakunya.
Selesai bersantap, sigadis meninggalkan rumah makan itu
dan mencari rumah penginapan ia beristirahat menantikan
kentongan kedua.
Hari merangkak terus, dan kentongan kedua menjelang
tiba. Gadis berbaju kuning gading itu telah me-rapihkan
pakaiannya dan memeriksa pedang di pinggangnya, kemudian
meninggalkan rumah penginapan dengan mengambil jalan
melewati jendela kamarnya, ia melompat keatas genting, dan
menuju kearah kota sebelah tenggara.
Waktu tiba dipintu kota tersebut, keadaan disekitar tempat
itu sepi sekali, tidak terlihat seorang manusiapun juga.
Sigadis tidak mengetahui tempat dimana ia harus menemui
pengirim surat itu, karena tidak disebutkan tempatnya yang
pasti, hanya disebutkan ia dinantikan pada pintu kota sebelah
tenggara tersebut.
Namun disaat sigadis memandang sekeliling nya seperti
mencari-cari, diwaktu itulah ia mendengar suara angin
berdesir kuat dari arah belakangnya, Sigadis memang memiliki
kepandaian yang tinggi, ia mendengar suara mendesir itu dan
cepat sekali mengibaskan tangannya, tahu2, jari telunjuknya
telah berhasil menyentil sebatang jarum yang berukuran
cukup panjang, jatuh keatas tanah.
Gadis tersebut bergerak cepat sekali, sambil menyentil
segera dia menoleh kebelakang, ia melihat sesosok tubuh
yang berpakaian serba hitam, telah melompat turun dari atas
pohon yang terdapat diluar pintu kota sebelah tenggara
tersebut. Sosok tubuh itu bergerak lincah sekali dan juga dibarengi
dengan kata2nya: "Benar-benar anda datang memenuhi
permintaanku...!" suara orang itu terdengarnya dalam dan
parau, menunjukkan bahwa sosok tubuh itu merupakan orang
yang telah berusia tinggi.
Sigadis mementang matanya lebar2, segera juga dalam
keremangan malam dibawah sinar rembulan ia bisa melihat
seraut wajah yang sabar dan tenang, dengan kumis dan
jenggot yang tumbuh berwarna hitam.
"Siapakah engkau, paman ?" tanya sigadis sambil memberi
hormat, "Ada petunjuk apakah engkau mengundangku
kemari?" Sigadis bertanya dengan sabar, sesungguhnya ia kurang
begitu senang diperlakukan demikian oleh orang tua tersebut,
karena dua kali ia telah diserang secara menggelap oleh jarum
yang cukup berbahaya itu. jika memabng ia tidak memdiliki
kepandaiaan yang tinggi, bbukankah ia menjadi sasaran
serangan jarum tersebut "
Orang tua itu tertawa.
"Justru aku mengundangmu kemari nona, aku hendak
meminta petunjuk dari kau..!" kata orang tua itu.
"Aku hendak mengetahui apakah kitab "Huang Ciang Pitkip"
berada ditanganmu ?" tanya orang tua itu.
Mendengar disebutnya perihal "Hung Ciang Pit kip", yaitu
kitab pukulan Merah, muka sigadis jadi berobah, ia telah
memandang tajam kepada orang tua itu.
"Siapa paman sebenarnya, mengapa mengetahui perihal
kitab itu ?" tanya sigadis dengan suara bimbang dan penuh
kecurigaan. Orang tua tersebut tersenyum, sikapnya sabar sekali waktu
menyahuti: "Bukankah engkau murid tunggal dari niekouw tua
yang bergelar Liang Sie Suthay ?"
"Benar... dari mana paman mengetahuinya ?" tanya
sigadis. "Liang Sie Suthay merupakan sahabatku, dan telah lama
kami tidak bertemu.... tetapi dari beberapa orang murid2
tunggal dari nie-kouw tua tersebut.... Dan juga, aku telah
mendengar berita yang mendukakan hati mengenai
meninggalnya Liang Sie Suthay tiga tahun yang lalu, sayang
aku tidak bisa hadir dalam saat2 pemakamannya, setelah
Liang Sie Suthay meninggal dunia, engkau sebagai murid
tunggalnya tentu menerima warisan kitab pusaka Huang Ciang
Pit-kip itu bukan ?"
Muka sigadis jadi berobah memperlihatkan perasaan
kurang senang. "Benar apa yang dikatakan oleh paman, kitab pusaka itu
berada ditanganku, Lalu apa yang diinginkan oleh paman ?"
tanya sigadis. "Aku Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang, yang memimpin
pintu perguruan Pai Nam Kie su," menjelaskan orang tua
tersebut, "Dan kedatangan nona dikota ini justru kuketahui
dari murid2ku.... Maksudku sesungguhnya, hanya ingin
meminta petunjuk dari nona, bagaimana cara dan isi kitab
tersebut...!"
Sigadis tersenyum pahit, ia bebrkata: "Itulah dkepandaian
daria pintu perguruabn kami, tentu saja tidak bisa diberikan
kepada orang lain..!"
"Tetapi nona... aku memerlukan sekali petunjuk2 mengenai
isi kitab Huang Ciang Pit-Kip tersebut, untuk menyempurnakan
ilmu cambukku. walaupun kepandaian itu merupakan
kepandaian ilmu pukulan tangan kosong, namun justru
gerakan2 yang terdapat pada ilmu Jie Pian dan Huang Ciang
itu hampir bersamaan.
Dulu waktu aku bersahabat dengan gurumu, di waktu itu
kami pernah menciptakan ilmu ber-sama2, dan akhirnya kami
berpisah, dimana kami telah menciptakan ilmu sendiri2, yaitu
ilmu Jie Pian dan ilmu Huang Ciang. Jika saja nona mau
memberikan aku kesempatan meminjam kitab tersebut, tentu
hal itu menggembirakan sekali dan budi kebaikan nona tidak
akan kulupakan..!"
Tetapi gadis berbaju kuning gading itu menggelengkan
kepalanya perlahan.
"Sayang sekali paman... kitab pusaka itu tidak mungkin
dipinjami kepada siapapun juga."
Muka Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang memperlihatkan
perasaan tidak senang.
"Bukankah dengan hanya memperlihatkan kitab itu
kepadaku, hal itu tidak akan merugikan nona ?" tanyanya.
Sigadis berbaju kuning gading itu kembali menggelengkan
kepalanya perlahan.
"Paman, sayang sekali permintaan paman harus kutolak,
walaupun bagaimana kitab pusaka itu tidak bisa kupinjami
kepada siapapun juga.."
"Tetapi jika memang nona tidak mau meluluskan
permintaanku itu, menyesal sekali aku harus memaksamu..!"
kata Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang dengan suara yang
dingin. "Paman... engkau mengatakan dulu merupakan sahabat
guruku, tetapi sekarang mengapa terhadap murid dari
sahabatmu engkau memaksa demikian rupa..?"
Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang telah memperdengarkan
suara tertawa tawar.
-ooo0dw0ooo- Jilid 11 "JIKA memang nona mau memberikan secara baik2 agar
aku bisa memperoleh kesempatan untuk melihat kitab itu,
tentu kita akan menjadi sahabat yang baik, sayangnya dari
nona tidak terdapat persahabatan itu... sehingga kau begitu
saja telah menolak permintaanku, walaupun permintaan
tersrebut tidak akant merugikan sesuqatu apapun padarmu."
Sigadis berbaju kuning gading telah menggeleng lagi.
"Sayang sekali paman walaupun dengan cara apa yang
akan dipergunakan oleh paman tidak mungkin aku meminjami
kitab pusaka itu kepadamu...! Aku Hoa Lun Sian tidak bisa
melanggar pesan suhu agar tidak memperlihatkan kitab
tersebut kepada siapapun juga.!"
"Walaupun kepada sahabat dari gurumu itu ?" menegaskan
Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang.
Sigadis yang bernama Hoa Lun Sian tersebut mengangguk
dengan pasti. "Ya," sahutnya.
"Kalau begitu menyesal sekali aku harus mengambilnya
dengan jalan memaksa..." kata Bian Tung Siang.
"Terserah kepada paman..." kata Hoa Lun Sian sambil
mengawasi tajam kepada orang tua itu.
Jie Pian Kiehiap memandang sejenak kepada sigadis, lalu ia
mengeluarkan suara tertawa yang perlahan, tangannya tahu2
telah merabah pinggangnya dan pada kedua tangannya itu
telah mencekal dua batang Joan-pian (cambuk lemas) yang
berukuran pendek.
"Jika memang engkau tidak ingin memperlihatkan kitab itu
walaupun sebentar saja kepadaku, terpaksa aku akan
meminta petunjukmu beberapa jurus.." kata Jie Pian Kiehiap.
Sigadis tersenyum, sama sekali dia tidak jeri dan ia telah
mengangguk. "Baik, akupun ingin sekali menerima petunjuk dari
paman..." dan berbareng dengan perkataannya itu, tahu2
tangan kanannya telah mencekal gagang pedangnya dan ia
telah mencabut pedang yang tersoren dipinggangnya, sikap
nya gagah sekali.
Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang jadi agak mendongkol
juga melihat sigadis, yaitu Hoa Lun Sian sama sekali tidak
memperlihatkan perasaan gentar padanya, ia telah
memperdengarkan suara tertawa dingin.
"Kulitmu begitu halus, sedangkan senjata sama sekali tidak
bermata, jika sampai nanti kulitmu yang halus seperti itu
terluka, tentu merupakan hal yang harus dibuat sayang... jika
memang engkau hendak berpikir sekali lagi nona Hoa, tentu
engkau akan memilih jalan memperlihatkan kitab pusaka itu
sebentar saja kepadaku...!" kata Jie Pian Kiehiap.
Namun Hoa Lun Sian tetap menolak. "silahkan paman
membuka serangan... aku akan menerima petunjukmu..!" kata
sigadis. Rupanya Jie Pian Kiehiap telah habis sabar, ia
menggerakkan kedua cambuk pendek di tangannya, dan
diwaktu itu juga ditengah udara terdengar suara membeletar
yang nyaring sekali.
Hoa Lun Sian juga telah menggerakkan pedangnya, ia
mengibaskan ke tengah udara, terdengar suara yang
mengaung. Kedua orang ini telah memperlihatkan sikap hendak saling
menyerang. Sedangkan Jie Pian Kiehap menggerakkan tangan
kanannya, cambuknya akan menyambar melilit pedang
sigadis. Namun Hoa Lun Sian telah menggerakkan pedangnya
menurun kebawah sehingga lilitan dari cambuk lawannya tak
mengenai pedangnya.
Tetapi Hoa Lun Sian juga tidak tinggal berdiam diri, begitu
ia berhasil meloloskan pedangnya dari lilitan cambuk
lawannya, tahu2 pedangnya itu telah menghentak naik keatas,
dan meluncur akan menikam kedada lawannya.
"Serangan yang baik... tidak percuma Liang Sie Suthay
mendidikmu..!" memuji Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang
dengan suara yang nyaring dan berbareng dengan itu tahu2
kedua cambuk dikedua tangannya bergerak dengan serentak,
cambuk ditangan kanan telah mengincar akan melibat leher
sigadis, sedangkan cambuk ditangan kiri meluncur akan
melibat pinggang sigadis.
Kedua serangan pada kedua sasaran yang berlainan
tersebut sesungguhnya merupakan serangan yang sulit sekali
dihindarkan, karena justru selain menyambarnya cepat sekali,
pun mengandung tenaga lwekang yang kuat sekali pada
kedua cambuk tersebut.
Sedangkan Hoa Lun Sian sendiri yang melihat dirinya
terancam bahaya, ia menjejakkan kakinya, tubuanya seperti
seekor capung, telah melambung tinggi sekali ketengah udara,
gerakan yang diperlakukan oleh Hoa Lun Sian tersebut
mempergunakan ginkangnya yang memang cukup sempurna.
Dan sambil melayang ketengah udara tangan kanannya
bergerak memutar dan pedang nya menyambar dengan cepat
sekali, melingkar ke arah leher dari lawannya.
Jie Pian Kiehiap terkejut melihat cara menyerang lawannya
yang memiliki gerakan aneh seperti itu, ia telah melompat
mundur. Sigadis she Hoa telah meluncur turun dan hinggap ditanah.
"Bagaimana paman, apakah akan diteruskan pertempuran
ini ?" tanya sigadis kepada Jie Pian Kiehiap.
Orang tua she Bian tersebut jadi tambah mendongkol.
"Hemmm, baru memiliki kepandaian sedikit saja engkau
sudah bertingkah baik, baik, mari kita teruskan... terimalah
seranganku !"
Dan setelah berseru begitu, ia telah melompat lagi sambil
menggerakkan kedua cambuk-nya.
Tetapi Hoa Lun Sian sama sekali tidak merasa gentar, ia
mengeluarkan seruan panjang, tahu2 tubuhnya ber-goyang2
seperti akan rubuhnya bergoyang ke kiri atau kekanan tidak
menentu. Disaat itu, tampak Jie Pian Kiehiap melancarkan serangan
terus dengan kedua cambuknya, pukulan dan lecutan pertama
gagal, disusul dengan lecutan berikutnya.


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dengan demikian Hoa Lun Sian jadi terserang cepat dan
gencar sekali. Sigadis telah menggerakkan pedangnya
memberikan perlawanan yang gigih, dimana seringkali ia juga
menikam dan menusuk dengan ber-tubi2.
Kemudian Hoa Lun Sian menggunakan ilmu pedangnya
yang tinggi dan berbahaya sekali, karena ia menggunakan
jurus dari "pedang Menggulung Awan", dimana pedang sigadis
telah ber gulung2 melibat kedua pecut dari lawannya, maka
pecut dari Jie Pian Kiehiap tidak bisa terlalu bebas mendesak
dirinya. Dalam waktu yang sangat singkat sekali, mereka telah
bertempur dua puluh jurus lebih.
Sigadis she Hoa juga teringat, bahwa orang tua yang
bergelar Jie Pian Kiehiap tersebut telah dua kali melancarkan
serangan menggelap, pertama kali waktu ia mengirimkan
surat tantangannya, kedua kali waktu sigadis tiba dipintu kota,
dengan demikian, ia tidak bisa berdiam diri terus sekarang
ketika Jie Pian Kiehiap mendesak hendak meminjam kitab
pusaka Hung Ciang Pit-kipnya.
Dengan rapat ia memutar pedangnya untuk
mempertahankan diri dan balas menyerang kepada Jie Pian
Kiehiap. Sedangkan Jie Pian Kiehiap sendiri jadi semakin
mendongkol karena ia melihat usia si gadis masih begitu
muda, namun kenyataannya ia bisa menghadapi ilmu
cambuknya dengan baik, sama sekali Jie Pian Kiehiap tidak
bisa mendesak sigadis.
Dengan demikian membuat Bian Tung Siang jadi tambah
penasaran dan berulang kali ia menambah tenaga
serangannya, menggerakkan sepasang pecutnya. dimana ia
selalu melakukan lecutan pada tempat2 yang mematikan dan
berbahaya ditubuh sigadis.
Hoa Lun Sian sendiri melihat bahwa lawannya semakin
lama melakukan lecutan dan libatan dengan pecutnya itu
semakin kuat, memaksa iapun harus mengerahkan
Iwekangnya, dengan demikian ia memberikan perlawanan
yang kian gigih.
Tetapi yang tidak dimengerti oleh Hoa Lun Sian, mengapa
Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang tersebut memaksa hendak
meminjam kitab pusaka warisan dari gurunya"! Dengan
adanya pemikiran seperti itu, akhirnya waktu Hoa Lun Stan
berkelit mengelakkan lecutan cambuk di tangan kanan dari
Bian Tun Siang, ia berteriak dengan suara yang nyaring:
"Tahan... katakanlah paman, mengapa engkau mendesak
tsrus menerus seperti ini untuk meminjam kitab Huang Ciang
Pit Kip itu...?"
Jie Pian Kiehiap menunda lecutan cambuk nya, ia terus
tertawa agak keras, katanya dengan suara yang nyaring:
"Seperti telah kukatakan, bahwa aku membutuhkan sekali
Huang Ciang Pit Kip itu untuk menyempurnakan latihan
sepasang cambukku ini... Engkau juga telah melihat,
bukankah gerakan2 dari ilmu cambukku ini memiliki banyak
persamaan dengan jurus2 yang terdapat dalam Huang Ciang
Pit-kip. Hoa Lun Sian telah berkata nyaring: "Tetapi kedua ilmu itu
memiliki tenaga lembek dan keras yang digabungkan menjadi
satu, sedangkan kepandaian Huang Ciang merupakan pukulan
telapak tangan yang mempergunakan tenaga lunak...!"
"Hemmm, jika begitu engkau tetap tidak rela jika
meminjami aku melihat kitab tersebut...?" tanya Jie Pian
Kiehiap. "Menyesal sekali, aku tidak bisa memenuhi permintaan
paman." "Jika demikian, mari kita main2 lagi beberapa jurus." dan
berbareng dengan perkataannya iitu, Jie Pian Kiehiap
menggerakkan kedua cambuknya lagi.
Melihat menyambarnya lecutan2 yang jauh lebih berbahaya
dibandingkan dengan sebelumnya, Hoa Lun Sian juga tidak
berani berayal.
Cepat sekali dia menggerakkan pedangnya yang diputarnya
cepat, sehingga sinar pedang yang ber-gulung2 seperti juga
melindungi tubuhnya.
Begitulah, kedua orang ini saling serang dan bertempur
sampai tiga puluh jurus lebih.
Tetapi selama itu Jie Pian Kiehiap sama sekali tidak berhasil
dengan serangannya, karena disaat itu justru sinar pedang
sigadis telah menutupi tubuhnya seperti juga sebuah
perbentengan yang kuat sekali. Cambuk yang digerakkan oleh
Jie Pian Kiehiap sama sekali tidak berhasil menerobos
pertahanan sigadis.
Sedangkan Hoa Lun Sian sendiri tidak mau berlaku ceroboh
dengan melancarkan serangan balasan disaat lawannya
gencar melakukan Iecutan2 seperti itu. Beberapa kali ia
mengelak kan diri, dan waktu Jie Pian Kiehap tengah
melompat kebelakang untuk mengatur napas, diwaktu itulah
pedang sigadis telah meluncur cepat sekali, menikam kearah
leher lawannya.
Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang jadi terkejut bukan main,
ia melihat bahaya yang tidak kecil mengancam dirinya, ia
mengeluarkan suara seruan tertahan dan cepat2 melompat
mundur kebelakang lagi.
Pedang sigadis meluncur cepat sekali, mengulangi
tikaman2 kearah leher, dada dan perut lawannya.
Jie Pian Kiehiap beberapa kali mengeluarkan suara seruan,
tubuhnya sampai pernah sekali terhuyung akan terjatuh
karena ia bergerak terlampau ter-buru2.
Waktu itulah pedang sigadis menyambar cepat sekali,
dimana ia menikam lagi kearah pinggang Jie Pian Kiehiap.
Gerakan yang dilakukannya sangat cepat luar biasa.
Tetapi Jie Pian Kiehiap memiliki kepandaian yang tinggi,
dengan sendirinya ia bisa menghindari serangan itu dengan
menggeser kedudukan kakinya, pinggangnya telah ditarik
kedalam sedikit, dan waktu itulah pecutnya yang berada
ditangan kanan, telah bergerak menyambar akan melibat leher
sigadis. Hoa Lun Sian mengeluarkan seruan perlahan, ia menarik
pulang pedangnya, dan meng hindarkan diri dari libatan pecut
lawannya. Keduanya jadi berdiri berhadapan saling memandang
sejenak lamanya, Keduanya juga tidak mengeluarkan sepatah
perkataanpun, Sampai akhirnya Jie Pian Kiehiap telah berkata: "Baiklah,
sekali lagi aku bertanya apakah engkau bersedia meminjami
kitab dari Huang Ciang Pit Kip itu kepadaku?" suara Jie Pian
Kiehiap terdengar dalam sekali, matanya juga memandang
tajam sekali. Hoa Lun Sian menggeleng perlahan, sikapnya tegas sekali
waktu ia menyahuti: "Tidak! walaupun bagaimana kitab
pusaka itu tidak bisa dipinjami kepada siapapun juga, itu
memang telah menjadi pesan dari almarhumah guruku!"
Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang telah berkata dengan
suara yang dingin.
"Dengan kepandaian yang engkau miliki seperti ini tidak
mungkin engkau bisa menghadapi kedua cambukku ini... lebih
baik kita bicara secara baik2 dibandingkan jika kita harus
menjadi lawan..." kata Jie Pian Kiehiap dengan nada
mengancam. Tetapi justru Hoa Lun Sian sama sekali tidak merasa jeri, ia
tersenyum kecil, katanya. "Terserah kepada paman, aku
hanya menantikan petunjuk dari kau siorang tua..!"
Jie Pian Kiehiap tampaknya jadi mendongkol, ia
mengibaskan kedua cambuknya ke tengah udara, dan
katanya: "Baiklah, terpaksa kali ini aku turun tangan agak
berat..." dan berbareng dengan perkataannya tersebut, bJie
Pian Kiehiadp telah melakukaan Lecutan yangb jauh lebih
keras dibandingkan dengan yang tadi2. Dan juga tenaga
lwekang yang dipergunakannya lebih kuat lagi.
Pecutnya menyambar dengan gerakan menyilang dan
menuju kearah leher dan punggung sigadis, dimana cambuk
itu akan melipat bahu dan ujungnya akan menotok jalan darah
Tiam Cing Hiat yang berada dipunggung.
Gerakan yang dilakukan oleh Jie Pian Kiehiap memang
merupakan ancaman yang tidak kecil untuk Hoa Lun Sian, ia
mengeluarkan seruan perlahan dan cepat menggerakkan
pedangnya untuk menangkis.
Dengan cara memutar pedangnya, maka Hoa Lun Sian bisa
menyelamatkan dirinya dari sambaran kedua cambuk itu, Jie
Pian Kiehiap terpaksa menarik pulang kembali kedua
cambuknya. Tetapi Jie Pian Kiehiap merupakan tokoh persilatan yang
telah puluhan tahun berpengalaman dan iapun memang telah
mahir sekali melatih kedua cambuknya itu, dengan demikian ia
tidak segera menghentikan serangannya, melainkan begitu
menarik pulang kedua cambuknya, ia membarengi untuk
melakukan cambukan lagi dengan lecutan yang aneh sekali,
yaitu cambuknya bergulung dengan gerakan melingkar-iingkar
seperti juga sepasang ular yang menyambar tidak hentinya
kepada Hoa Lun Sian. Gerakan yang dilakukan oleh Jie Pian
Kiehiap merupakan jurus yang paling tangguh dari ilmu
cambuknya. Walaupun kepandaian Hoa Lun Sian cukup tinggi, tetapi
gadis tersebut kalah pengalaman dibandingkan dengan Jie
Pian Kiehiap, Dengan demikian, ia jadi terdesak beruntun
beberapa kali. Malah, diwaktu cambuk ditangan kanan Jie Pian Kiehiap
menyambar kearah lengannya Hoa Lun Sian gagal
mengelakkan, karena ia terlambat berkelit kesamping.
"Tarrr....!" seketika itu juga ujung cam buk telah merobek
lengan pakaiannya, dan di waktu itu juga terlihat kulit
lengannya yang berdarah akibat terluka oleh ujung cambuk
itu. Jie Pian Kiehiap mengeluarkan bsuara tertawa kdecil,
tampaknyaa ia puas.
"Bagabimana, apakah engkau masih mau meneruskan
permainan ini, nona ?" tanyanya.
Tetapi Hoa Lun Sian justru jadi kesakitan bercampur
mendongkol dimana lengannya telah terluka seperti itu. ia
mengeluarkan suara seruan perlahan, dan pedangnya tahu2
menyam bar dengan luncuran yang cepat sekali.
Bagaikan kilat, tampak secercah sinar putih menyambar
keperut Jie Pian Kiehiap.
Tikaman yang dilancarkan oleh Hoa Lun Sian merupakan
tikaman yang mengandung maut. Namun Jie Pian Kiehiap
dapat berkelit menghindarkan diri. Waktu tubuhnya bergerak
melompat kesamping, cambuk tangan kirinya bergerak lagi,
terdengar suara. "Tarrr . ..!" dan kembali bahu Hoa Lun Sian
telah terluka oleh ujung cambuk lawannya.
Gadis ini segera menyadari, jika memang mereka
bertempur terus, tentu tidak menguntungkan dirinya, karena
waktu itu ia telah terluka didua bagian dari anggota tubuhnya,
ia segera melompat mundur, dan memasukkan pedangnya
kedalam serangkanya, lalu ia ber-siap2 dengan kedua telapak
tangannya, sambil katanya dengan nyaring: "paman . . . aku
hendak meminta petunjukmu dengan melakukan gerakan
Hung Ciang . . . .!"
Wajah Jie Pian Kiehiap berobah sejenak, ia memperhatikan
sikap sigadis, sampai akhirnya ia mengangguk.
"Baik, baik, tetapi jika memang aku kesalahan tangan,
engkau jangan mengatakan bahwa aku situa telah menghina
yang muda..!" dan ia memasukkan kembali cambuknya, yang
dilibatkan pada pinggangnya.
Kemudian dengan kedua telapak tangan yang terbuka,
tampak Jie Pian Kiehiap ber-siap2 untuk menghadapi ilmu
telapak tangan sigadis.
Hoa Lun Sian telah menggerakkan kedua tangannya, yang
disilangkan kemudian ia memusatkan kekuatan lwekangnya,
dengan langkah kaki satu2, ia melangkah mendekati lawannya.
Sepasang mata Jie Pian Kiehiap memperhatikan baik2 diri
sigadis, dimana ia melihat bahwa telapak tangan Hoa Lun Sian
telah berobah merah, seperti juga darah berkumpul ditelapak
tangan gadis tersebut.
"Jaga serangan,r paman...!" bertseru Hoa Lun Siqan
dengan suarar yang nyaring, dan berbareng dengan itu
tampak kedua telapak tangannya bergerak cepat sekali untuk
melakukan pukulan, sehingga angin berkesiuran kuat sekali.
Jie Pian Kiehiap juga tidak berani memandang remeh pada
ilmu pukulan sigadis, karena ia mengerti akan hebatnya
Huang Ciang. ilmu yang diciptakan oleh guru sigadis.
Begitu tangan Hoa Lun Sian menyambar kearahnya, ia
berkelit menjauhi diri, Tetapi justru Jie Pian Kiehiap berkelit
bukan untuk mundur, ia telah membarengi dengan pukulan
kedua telapak tangannya, dimana ia telah melakukan
pemukulan dengan tangan kanannya ke arah bahu sigadis,
sedangkan tangan kirinya ber gerak akan menghantam
pinggang gadis itu.
Terpaksa Hoa Lun Sian harus berkelit berulang kali, tetapi
karena gadis ini juga memiliki ilmu pukulan telapak tangan
kosong yang cukup hebat, ia tidak jeri untuk mengadu
kekuatan dengan lawannya, Begitu berhasil mengelakkan diri,
segera ia menghantam lagi dengan kedua telapak tangannya
yang merah itu.
BegituIah, mereka berdua jadi saling-hantam dan memukul
sampai puluhan jurus, Akhimya, setelah bertempur sekian
lama, Jie Pian Kiehiap yang memiliki pengalaman jauh lebih
luas dari sigadis, telah melihat kelemahan dari ilmu pukulan
tersebut walaupun liehay, tenaga lwekang yang disalurkan
oleh gadis itu masih memiliki banyak kelemahan.
Maka dari itu, tampak Jie Pian Kiehiap telah mengerahkan
tenaga lwekangnya lebih kuat dari semula.
Secara beruntun ia berulang kali telah melakukan pukulan
yang ber-tubi2 sehingga memaksa Hoa Lun Sian selalu harus
mengelakan diri.
Disaat itu Hoa Lun Sian juga mulai merasakan tekanan dari
kekuatan tenaga dalam lawannya, dimana sigadis mulai
bergerak tidak leluasa. Dengan demikian tampak jelas betapa
kekuatan tenaga dalam yang dimiliki sigadis memang masih
kalah setingkat, dibandingkan dengan lwekang yang dimiliki
Jie Pian Kiehiap.
Beberapa kali Hoa Lun Sian telah mengeluarkan suara
seruan kaget, karena dia hampir saja terserang oleh


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lawannya, Tetapi dengan mengandalkan kegesitannya, Hoa
Lun Sian masih bisa memberikan perlawanan terus.
Namua suatu kali, disaat sigadis tengah berkelit kesamping
kiri, diwaktu itulah terlihat Jie Pian Kiehiap telah menghantam
dengan tangan kirinya kearah dada sigadis, Gerakan itu
merupakan tipu ancaman belaka dan waktu si gadis
mengelakkan diri, tampak Jie Pian Kiehiap menarik pulang
tangannya dan melakukan penyerangan sesungguhnya
dengan tangan kanan.
Gerakan itu ternyata berhasil dengan baik, karena bahu
Hoa Lun Sian terhantam dengan keras.
"Bukkk...!" tubuh Hoa Lun Sian terhuyung beberapa
langkah kebelakang, Dan juga wajah sigadis tampak berobah
jadi pucat. Sedangkan Jie Pian Kiehiap tidak mau tinggal diam sampai
disitu saja, ia mengeluarkan suara bentakan yang nyaring, dan
telah menyerang lagi.
Hoa Lun Sian beberapa kali berhasil mengelakkan diri,
namun disaat ia tengah sibuk berkelit kesana kemari,
tubuhnya tahu2 diterjang oleh suatu kekuatan tenaga dalam
yang dahsyat sekali, karena saat itu Jie Pian Kiehiap telah
memukul dengan kedua tangannya secara serentak.
Hoa Lun Sian tidak bisa mengelakkan diri lagi, dengan
mengeluarkan suara jeritan tertahan bercampur perasaan
sakit pada dadanya, dan kemudian jatuh rubuh diatas tanah.
Disaat itu Jie Pian Kiehiap telah mengeluarkan suara
tertawa yang keras.
"Apakah nona akan meneruskan pertandingan ini?"
tanyanya. Sigadis merangkak ber diri, dengan wajah yang sebentar
pucat dan sebentar berobah merah, ia berkata sengit:
"Walaupun bagaimana tidak bisa aku meminjamkan kitab
pusaka Huang Ciang Pit-kip kepadamu...!"
Jie Pian Kiehiap mengeluarkan suara tertawa dingin,
kemudian katanya: "Baiklah, jika memang demikian, aku akan
mengambilnya dengan cara paksa...!" dan setelah berkata
begitu tampaknya Jie Pian Kiehiap telah melangkah mendekati
sigadis. Sedangkan sigadis Hoa Lun Sian, mengawasi Jie Pian
Kiehiap dengan bersikap sedia untuk menerima serangan lagi,
walaupbun ia menyadarid bahwa dirinya atidak mungkin bbisa
menandingi kepandaian dan kekuatan lwekang yang dimiliki
oleh Jie Pian Kiehiap, namun ia tetap bertekad tidak mau
menyerahkan kitab pusaka yang dikehendaki oleh Jie Pian
Kiehiap Bian Tung Siang.
Jie Pian Kiehiap telah melangkah mendekati sigadis dengan
sikap bersiap sedia untuk melancarkan serangan, Waktu itu
mereka telah saling pandang sejenak lamanya, bersiap untuk
saling terjang lagi.
Jie Pian Kiehiap tertawa pula dengan suara yang bersungguh2
:"Apakah benar2 engkau tidak mau meminjami
kitab pusaka itu kepadaku?"
Sigadis she Hoa hanya menggeleng saja.
"Baiklah," kata Jie Pian Kiehiap, dan disaat itu tubuhnya
berjongkok sedikit, kedua tangannya diangkat keatas sampai
sebatas ke-palanya, ia ber-siap2 untuk melakukan pukulan
dengan tenaga lwekangnya.
Sigadis she Hoa itu juga ber-siap2 untuk menerima
serangan itu. Namun disaat sigadis tengah terancam bahaya, tiba2
berkelebat sesosok bayangan dengan gerakan yang sangat
gesit. Disaat mana, tangan kanan dari sosok bayangan itu
juga telah diulurkan untuk mencengkeram pundak Jie Pian
Kiehiap Bian Tung Siang.
Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang terkejut waktu merasakan
angin berseliweran dibelakang punggungnya. Segera ia
berkelit kesamping.
Tetapi tangan orang yang baru tiba itu telah berobah
mengikuti gerakan pundak Jie Pian Kiehiap, melakukan
cengkeraman kearah punggung dari Jie Pian Kiehiap.
Tentu saja hal ini mengejutkan Jie Pian Kiehiap, karena
walaupun ia telah bergerak cepat sekali untuk menghindarkan
diri dari cengkeraman itu, tidak urung angin serangan dari
sosok tubuh itu dapat diikuti dengan cepat.
Tetapi sebagai seorang akhli silat yang telah
berpengalaman, tampak Jie Pian Kiehiap melakukan gerakan
dengan cepat sekali, ia memutar tubuhnya sedikit, tangan
kanannya telah bergerak menangkis tangan sosok tubuh itu,
laksana petir yang menyambar tangan Jie Pian Kiehiap telah
dihantam kuat sekali oleh pergbelangan tangan dsosok tubuh
itua, menimbulkan sbuara yang keras sekali, dan Jie Pian
Kiehiap telah mengeluarkan suara jerit kesakitan, tubuhnya
juga terpental, bagaikan didorong oleh suatu kekuatan yang
luar biasa kerasnya.
Tubuh Jie Pian Kiehiap yang melambung ditengah udara
setinggi tiga tombak lebih itu, berusaha untuk menjumpalitan
menguasai tubuh nya agar tidak terbanting diatas tanah.
Namun usahanya itu gagal sama sekali, sebab tubuhnya telah
meluncur dengan cepat dan terban ting kuat diatas tanah,
debu jadi mengepul.
Dibawah cahaya rembulan, tampak wajah Jie Pian Kiehiap
jadi berobah pucat waktu ia telah berdiri kembali, dan juga Jie
Pian Kiehiap tampak menderita kesakitan yang bukan main,
karena waktu ia terbanting tadi, justru punggung nya yang
telah terbanting terlebih dulu.
Dengan demikian, Jie Pian Kiehiap segera menyadarinya,
bahwa kepandaian yang dimiliki sosok tubuh itu tinggi sekali,
karena ia yang memiliki kepandaian tinggi, ternyata bisa
dibuat terpental begitu rupa hanya dalam satu jurus.
Tetapi disamping terkejut, tampak Jie Piao Kiehiap juga jadi
mendongkol sekali, karena di rinya telah dirubuhkan demikian
rupa. ia pun merasa malu, dan dari malu akhirnya menjadi
marah. Ia mementang matanya lebar2 mengawasi sosok tubuh itu
yang telah berdiri tegak dihadapannya, seketika itu juga ia
melihat bahwa sosok tubuh itu merupakan seorang yang
mengenakan topeng pada mukanya, yang tertutup wajahnya
oleh secarik kain berwarna merah.
"Kau..." desis Jie Pian Kiehiap terkejut waktu melihat jelas
keadaan orang baru datang itu.
Orang yang bertopeng kain merah tersebut mengeluarkan
suara tertawa perlahan, tetapi suaranya itu mengandung nada
tidak sedap didengar dan katanya: "Apakah engkau mengenali
aku..?" "Engkaukah yang bergelar Sin Coa Tung Hiap?" tanya Jie
Pian Kiehiap dengan suara tergagap.
Orang bertopeng kain merah diwajahnya tersebut telah
mengangguk. "Benar...!"
Wajah Jie Pian Kiehiap jadi berobah pucat, ia telah
memandang lagi sejenak lamanya, akhirnya ia merangkapkan
tangannya. "Gembira sekalir bisa bertemu dtengan seorang Hqohan
seperti Sirn Coa Tung Hiap.... inilah merupakan suatu
peruntungan yang sangat baik sekali untukku...!"
Tetapi Sin Coa Tung Hiap telah mengeluarkan tertawa
dingin, katanya dengan nada yang tawar: "jika memang
engkau mengetahui apa maksud kedatanganku kekota ini,
tentu engkau akan mengatakan bahwa pertemuan ini tidak
menggembirakan..."
Hati Jie Pian Kiehiap jadi berdenyut, ia telah melihat lobang
dikain merah tersebut bersinar tajam sekali, Didengar dari
perkataan nya itti, tentunya Sin Coa Tung Hiap mengartikan
bahwa dirinya memang yang dicari oleh Sin Coa Tung Hiap
tersebut. "Baiklah, apakah memang Kiesu mencari aku siorang tua
she Bian ?" tanya Jie Pian Kiehiap akhirnya.
Sin Coa Tung Hiap mengeluarkan suara dingin, ia
mengangguk. "Aku tidak menyangka sama sekali bahwa Jie Pian Kiehiap
Bian Tung Siang ternyata hanya seorang manusia rendah yang
bisa hanya menghina seorang gadis lemah saja...!" katanya.
Muka Jie Pian Kiehiap jadi berobah merah, ia telah
memaksakan diri untuk tertawa.
"Tetapi aku memiliki urusan sendiri dengan nona itu, jadi
bukan se-kali2 maksudku hendak menghinanya...!" kata Jie
Pian Kiehiap kemudian.
"Baiklah sekarang aku hendak membicarakan urusanku!"
kata Sin Coa Tung Hiap kemudian. "Kedatanganku kekota ini
justru hendak mencari kau, Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang
kebetulan sekali aku bisa bertemu denganmu di tempat ini
sehingga aku bisa menyelesaikan urusanku disini saja..!"
"Persoalan apa yang hendak diurus oleh Sin Coa Tung Hiap
Kiesu" tanya Jie Pian Kiehiap kemudian. "Jika memang aku
siorang tua she Bian Bisa membantu tentu aku bersedia untuk
membantumu."
Tetapi Sin Coa Tung Hiap Gu Ping An telah berkata dengan
suara yang dingin: "Jika memang kau berkata begitu tentu
urusanku akan selesai tanpa memperoleh kesulitan." kata2nya
itu disusul dengan kakinya yang melangkah mendekati Jie Sin
Coa Tung Hiap berkata lagi: "Baiklah perlu kujelaskan
sekarang maksud kedatanganku hendak minta sesuatu barang
pada mu." "Meminta barang kepadaku " Apakah Kie Su kekurangan
ongkos perjalanan " Katakan saja, nanti akan kuperintahkan
orangku untuk mempersiapkan segala kebutuhan Kiesu !" kata
Jie Pian Kiehiap.
Tetapi Sin Coa Tung Hiap menggelengkan kepalanya
beberapa kali. "Aku tidak membutuhkan uang, yang kubutuhkan adalah
sepasang cambukmu itu !" kata2 Sin Coa Tung Hiap tersebut
ditutup dengan tatapan mata yang memancarkan sinar sangat
tajam sekali. Disaat itu, Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang jadi berobah
mukanya, ia berkata dengan suara yang tergagap: "Ini... ini
mana boleh terjadi... aku... aku menyesal sekali tidak bisa
meluluskan permintaan Kiesu !"
Harus diketahui, bahwa senjata yang diandalkan oleh
seorang pendekar rimba persilatan, merupakan barang yang
sangat dihargai seka!i. Jika memang senjata yang
dipergunakannya itu lenyap atau diambil oleh seseorang,
berarti hal itu jatuhnya nama dari jago yang bersangkutan.
Dengan demikian Jie Pian Kiehiap tidak bisa memberikan
senjatanya tersebut walaupun harus melalui suatu
pertempuran antara mati dan hidup, tentu Jie Pian Kiehiap
tidak akan menyerahkan cambuknya itu.
Sin Coa Tung Hiap mengeluarkan suara tertawa dingin,
katanya dengan suara yang tawar: "Baiklah, jika memang
engkau tidak bersedia memberikan secara baik-baik sepasang
cambukmu itu, aku akan mengambilnya sendiri...!"
Mendengar perkataan Sin Coa Tung Hiap itu, muka Jie Pian
Kiehiap jadi berobah, ia memaksakan diri untuk bersenyum.
"Kiesu, benda yang tidak ada artinya ini merupakan benda
peninggalan guruku, dan tidak mungkin aku bisa
memberikannyab kepadamu, terudtama sekali baraang
warisan inib juga merupakan senjata yang biasa
kupergunakan untuk menjaga diri, maka kuharap saja Kiesu
tidak memaksa untuk memintanya, karena ku kira benda2
tidak berharga ini tidak memiliki arti apa-apa untuk Kiesu !"
setelah berkata begitu, tampak Bian Tung Siang
membungkukkan tubuhnya sambil merangkapkan sepasang
tangannya, ia menjura memberi hormat.
Tetapi Sin Coa Tung Hiap mengeluarkan suara tertawa
dingin. "Jika memang engkau tetap bersikeras tidak ingin
menyerahkan benda yang kuminta itu, jangan menyesal jika
aku bertindak kasar untuk mengambilnya sendiri !" katanya.
Tetapi Jie Pian Kiehiap yang terdesak begitu, jadi habis
sabar. "Baik, baik," katanya kemudian, "Jika memang Kiesu masih
memaksa juga hendak mengambil kedua cambuk yang
kuandalkan sebagai senjataku ini, aku pun terpaksa harus
memberanikan diri menerima petunjuk dari kau...!"
Sin Coa Tung Hiap memperdengarkan suara tertawa
tawarnya, ia telah berkata dengan suara yang dingin: "Nah,
jagalah baik2 sepasang senjatamu itu, aku akan
mengambilnya!"
Membarengi perkataannya itu, tubuh Sin Coa Tung Hiap
telah bergerak cepat sekali, tahu2 telah berada dihadapan Jie
Pian Kiehiap, dan juga tangan kanannya telah diulurkan untuk
menotok biji mata dari Jie Pian Kiehiap.
Melihat ancaman seperti itu, Jie Pian Kiehiap bukan main
terkejutnya, karena tahu2 ujung jari dari Sin Hoa Tung Hiap
telah berada didepan biji matanya, hanya terpisah beberapa
dim saja. Diwaktu itulah, ia berusaha untuk berkelit menghindarkan
diri dari totokan jari tangan tersebut, menyelamatkan biji
matanya. Namun belum sempat ia bergerak, baru memiringkan
kepalanya saja, tahu2 ia telah merasakan pinggangnya dingin
sekali, dan Sin Coa Tung Hiap tidak meneruskan totokannya,
cepat sekali Jie Pian Kiehiap meraba pinggangnya dan
mukanya jadi pucat.
Ternyata kedua cambuk andalannya sudah tidak berada
dipinggangnya lagi.
Waktu tadi ia tengah berusaha menghindarkan diri dari
totokan jari tangan Sin Coa Tung Hiap yang mengancam biji
matanya, tbernyata Sin Coad Tung Hiap telaah
mempergunakanb tangannya yang lain untuk mengambil
sepasang cambuk Jie Pian Kiehiap dengan cepat, sehingga Jie
Pian Kiehiap sama sekali tidak mengetahui cara bagaimana Sin
Coa Tung Hiap mengambil sepasang cambuknya tersebut.
Dengan adanya peristiwa seperti itu, Jie Pian Kiehiap jadi
berdiri bengong saja, sedangkan Sin Coa Tung Hiap telah
memainkan kedua cambuk yang baru saja diambilnya itu
dengan kedua tangannya.
"Cambuk yang baik... cambuk yang baik!" ia memuji
beberapa kali. Sedangkan Hoa Lun Sian telah mengawasi semua itu
dengan perasaan kagum, karena ia telah menyaksikan betapa


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kepandaian dari Sin Coa Tung Hiap yang memang benar2
lihay. Dengan demikian, ia telah tertolong dari desakan Jie Pian
Kiehiap yang hendak memaksanya meminta kitab pusaka
Huang Ciang Pit Kip, yang dikatakannya hendak dipinjaminya.
Kembali Sin Coa Tung Hiap berkata dengan suara yang
tawar: "Hemmmm, sekarang kedua cambuk ini telah berhasil
kumiliki... dan dengan tidak adanya cambuk ini, kuharap saja
engkau tidak lagi melakukan perbuatan2 diluar garis Gie (budi
kebaikan), telah cukup banyak kudengar betapa pihak Pai
Nam Kiesu yang memiliki cukup banyak murid2nya, sering
melakukan perbuatan2 yang menindas pihak yang lemah...!"
Muka Jie Pian Kiehiap jadi berobah merah ia gusar sekali
karena senjata andalannya telah berhasil diambil begitu saja
oleh Sin Coa Tung Hiap. Namun karena ia menyadari bahwa
Sin Coa Tung Hiap memiliki kepandaian yang tinggi, dengan
demikian ia tidak berani bertindak sembarangan.
Dengan suara yang mengandung kemendongkolan ia
berkata: "Sin Coa Tung Hiap engkau keterlaluan sekali...
kembalikan sepasang cambukku itu dan urusan akan kuhabisi
sampai disini saja-!"
Sin Coa Tung Hiap tertawa dingin.
"Tampaknya engkau tidak senang dengan diambilnya
cambuk ini olehku ?" tanyanya, "Lalu, apa yang hendak kau
lakukan ?"
Maka Jie Pian Kriehiap jadi bertobah semakin meqrah.
"Jika memarng engkau tidak mengembalikan cambukku itu,
biarlah aku akan mengadu jiwa dengan kau...!" menyahuti Jie
Pian Kiehiap. Disaat itu Sin Coa Tung Hiap memperdengarkan suara
tertawa yang keras, ia tertawa sambil mengangkat kepalanya
memandang rembulan Dan setelah puas tertawa, ia berkata:
"Engkau hendak mengadu jiwa denganku " Baik, baik, aku
malah hendak melihat, sesungguhnya berapa tinggi
kepandaian yang dimiliki Jie Pian Kiehiap Ban Tung Siang...!"
"Kembalikan dulu sepasang cambuk itu itu, akan
kuperlihatkan bahwa Ban Tung Siang...!"
Sin Coa Tung Hiap memperdengarkan suara dingin lagi.
"Hemm, hemm, tampaknya engkau pensaran dan
beranggapan bahwa kepandaian memang tinggi sekali..!" kata
Sin Coa Tung Hiap. "Baik, baik, aku juga memang ingin
melihat, sampai berapa tinggi ilmu cambuk yang dimiliki oleh
Jie Pian Kiehiap... kau terimalah ini...!"
Dan setelah berkata begitu, tampak Sin Coa Tung Hiap
menggerakkan tangannya, ia telah melontarkan sepasang
cambuk yang berada di-tangannya.
Kedua cambuk lemas berukuran pendek itu telah
menyambar kuat sekali kearah Jie Pian Kiehiap.
Dengan cepat Jie Pian Kiehiap mengulurkan tangannya, ia
menerima kedua cambuk itu,
Tetapi waktu ia mencekal kedua cambuk itu, ia jadi
mengeluarkan seruan tertahan, karena ia merasakan telapak
tangannya pedih sekali.
Ternyata, samberan kedua cambuk itu memiliki kekuatan
yang mengejutkan sekali, sehingga walaupun cambuk itu telah
dicekal oleh Jie Pian Kiehiap yang berada dalam kedudukan
seperti itu dimana ia telah berjanji akan melawan Sin Coa
Tung Hiap dengan ilmu cambuknya tersebut, tidak bisa
menarik pulang kembali kata2nya.
"Kita mulai saja sekarang, aku memberikan kesempatan
kepadamu untuk melancarkan serangan sebanyak sepuluh
jurus, dan selama itu aku tidak akan melakukan serangan
balasan," kata Sin Coa Tung Hiap.
Jie Pian Kiehiap memperdengarkan suara dengusan,
dengan penasaran dia telah memusatkan seluruh kekuatan
sinkangnya pada kedua telapak tangannya dan disalurkan
kepada kedua cambuknya.
Gerakan yang dilakukannya kemudian sangat cepat sekali
dimana kedua cambuknya telah menyambar-nyambar dengan
kuat sekali menuju kebagian tubuh dari Sin Coa Tung Hiap.
Namun Sin Coa Tung Hiap selalu dapat berkelit dengan
lincah. Jurus pertama dan kedua telah lewat tanpa hasil begitu
juga jurus ketiga dan ke empat yang tidak berhasil mengenai
sasaran. Hal ini membuat Jie Pian Kiehiap jadi tambah penasaran,
beberapa kali dia melancarkan carabukan lagi dengan kuat.
Waktu jurus kesembilan justru waktu itu Sin Coa Tung Hiap
baru saja berkelit dengan tubuh doyong kesamping kiri dan Jie
Pian Kiehiap telah membarengi dongan cambukan lainnya lagi.
Namun Sin Coa Tunghiap ternyata memang memiliki
kepandaian yang sangat tinggi sekali ia juga sangat lincah
menyelamatkan diri dari sambaran cambuk lawannya.
Sampai akhirnya tiba jurus yang kesepuluh.
"Sekarang tiba giliranku untuk balas menyerang... kau
harus hati2 Jie Pian Kiehiap...!" kata Sin Coa Tung Hiap
dengan suara yang nyaring, dan berbareng dengan itu,
tampak ia telah-menggerakkan kedua tangannya, memutar
kedua telapak tangannya dengan cepat, dan tubuhnya juga
telah melompat kesana kemari dengan gerakan yang lincah
sekali. Jie Pian Kiehiap sendiri yang melihat dalam sepuluh jurus
tidak berhasil menyerang lawannya, jadi kuatir juga. Dan
sekarang melihat Sin Coa Tung Hiap ber-siap2 akan
melancarkan serangan balasan, membuat ia membawa sikap
yang lebih hati2.
Diwaktu itu, tampak Jie Pian Kiehiap harus melompat
mundur dua tombak lebih, serangan pertama dari Sin Coa
Tung Hiap telah menyambar datang kearah dadanya.
Walaupun Sin Coa Tung Hiap melakukan pemukulan
dengan telapak tangan, namun kenyataannya tenaga
pukulannya itu kuat sekali dan bisa mematikan.
Dalam keadaan demikian, Jie Piban Kiehiap sambdil berkelit
jugaa telah menggerbakkan cambuknya, ia berusaha melibat
pergelangan tangan Sin Coa Tung Hiap.
Tetapi Sin Coa Tung Hiap tidak mau membiarkan
pergelangan tangannya itu dilibat oleh cambuk lawannya, ia
menarik pulang tangannya berbareng ia telah melakukan
pemukulan dengan tangannya yang lain.
Kuat sekali tenaga pukulan dari telapak tangannya, karena
baru saja Jie Pian Kiehiap hendak menangkis dengan
cambuknya, justru tubuhnya telah terdorong oleh suatu
kekuatan yang tidak tampak dan kuat sekali.
Baru saja Jie Pian Kiehiap mengeluarkan suara seruan
kaget, ia merasakan tubuhnya jadi ringan sekali dan melayang
ditengah udara, kemudian terbanting diatas tanah.
"Bagaimana ?" tanya Sin Coa Tung Hiap dengan suara yang
tawar: "Apakah engkau mau menyerahkan sepasang
cambukmu itu ?"
Tetapi Jie Pian Kiehiap telah merangkak untuk bangun
kembali, ia ber-siap2 untuk melakukan penyerangan lagi,
tanpa menyahuti pertanyaan Sin Coa Tung Hiap, ia menatap
tajam sekali kepada lawannya.
Hoa Lun Sian yang menyaksikan ini, jadi berdiri mematung.
ia melihat, betapa kepandaian Jie Pian Kiehiap telah tinggi,
jika saja tadi Sin Coa Tung Hiap tidak keburu datang mungkin
sekarang dia telah terluka parah ditangan Jie Pian Tung Hiap.
Dan kini justru ia menyaksikan lagi kepandaian Sin Coa Tung
Hiap jauh lebih tinggi dari kepandaian Jie Pian Kiehiap.
Sigadis diam2 menghela napas, sambil katanya didalam
hati :"Hemm, memang tepat apa yang dikatakan bahwa
kepandaian itu tidak ada batasnya... kepandaian Jie Pian
Kiehiap yang tampaknya telah begitu tinggi, ternyata tidak
memiliki daya apa2 untuk menghadap kepandaian dari orang
bertopeng tersebut sesungguh nya, siapakah orang bertopeng
ini?" Sin Coa Tung Hiap telah berkata: "Kau harus berhati-hati,
Jie Pian Kiehiap karena aku akan mengambil sepasang
cambukmu itu."
Jie Pian Kiehiap mencekal sepasang cambuknya dengan
kuat, ia yakin jika dia berhati-hati dan mengadakan
perlawanan yang penuh kewaspadaan, cambuknya itu tentu
tidak mungkin bisa diserbu oleh Sin Coa Tung Hiapb.
Waktu itu Sind Coa Tung Hiap aberkata dengan bsuara
yang tawar: "Aku akan segera mulai, kau hati-hatilah!"
Tubuh Sin Coa Tung Hiap telah bergerak dengan lincah, ia
menghampiri menerjang kearah Jie Pian Kiehiap dengan
gerakan yang luar biasa cepatnya, Jie Pian Kiehiap hanya
melihat tubuh Sin Coa Tung Hiap berkelebat tahu2 ia
merasakan sepasang tangannya dingin.
Ternyata Sin Coa Tung Hiap telah merebut kedua cambuk
ditangan Jie Pian Kiehiap, dan diwaktu itu, ia mengambil
dengan hanya mempergunakan tangan kirinya saja, dengan
tangan kanannya ia mendorong kedada Jie Pian Kiehiap.
Tidak ampun lagi tubuh Jie Pian Kiehiap telah terlontarkan
dan ambruk diatas tanah, sedangkan sepasang cambuknya
telah berpindah ketangan Sin Coa Tung Hiap.
Diwaktu itu tampak Jie Pian Kiehiap telah mengerang
kesakitan, ia merangkak untuk berdiri.
Sin Coa Tung Hiap berdiri sambil memainkan sepasang
cambuk itu. "Untuk kedua kalinya aku berhasiI mengambil cambuk ini
dari tanganmu," kata Sin Coa Tung Hiap, "Apakah engkau
masih penasaran untuk mengadu kepandaian lagi !"
Tetapi Jie Pian Kiehiap yang menyadari bahwa dirinya tidak
mungkin bisa menandingi kepandaian Sin Coa Tung Hiap,
telah berdiam diri sejenak, kemudian ia merangkapkan kedua
tangannya memberi hormat.
"Baiklah. kali ini aku Jie Pian Kiehiap Bian Tung Siang jatuh
nama ditanganmu, aku menerima pengajaranmu kali ini, dan
Kuharap engkau mau mengembalikan cambukku...!"
Tetapi Sin Coa Tung Hiap telah menggeleng.
"Aku sudah mengatakan, aku menghendaki sepasang
cambuk ini...!"
"Hemm, jika memang engkau tidak mau mengembalikan
cambuk tersebut, berarti engkau memang hendak
menimbulkan dendam dipihakku...!"
Sin Coa Tung Hiap tertawa keras sekali ia berkata dengan
suara yang tawar: "Aku menurunkan tangan paling ringan
padamu, aku tidak memusnahkan kepandaianmu dan hanya
mengambil sepasang cambuk ini. Tetapi tampaknya engkau
menaruh dendam untuk hal ini. Baik, baik, jika memang
urusan irni tidak menyentangkan hatimu, qsetiap saat akur
akan menerima kedatanganmu kelak untuk memperhitungkan
semua ini...!"
Muka Jie Pian Kiehiap jadi berobah merah, ia gusar sekali,
tetapi mengingat bahwa ia tidak akan berdaya untuk merebut
kembali cambuknya, ia berdiam diri saja, dan kemudian
setelah menoleh memandang kepada Hoa Lun Sian beberapa
saat, ia membalikkan tubuhnya, ngeloyor pergi meninggalkan
tempat tersebut.
Setelah melihat Jie Piarj Kiehiap pergi, Sin Coa Tung Hiap
menghampiri Hoa Lun Sian.
"Apakah nona terluka cukup parah ?" tanyanya dengan
suara yang sabar.
Sigadis semula tertegun, tetapi kemudian menggelengkan
kepalanya. "Tidak, hanya terluka diluar saja !" sahutnya, "Terima kasih
atas pertolongan yang diberikan oleh inkong (tuan penolong)
!" Sin Coa Tung Hiap tertawa.
"Jangan nona berkata begitu," katanya, dan ia merogoh
saku bajunya, mengeluarkan sebuah botol berukuran kecil,
mengeluarkan tiga butir pil yang berwarna coklat tua.
"Pil ini," kata Sin Coa Tung Hiap lagi, "Merupakan pil untuk
luka yang cukup mujarab. telanlah sebutir, besok pagi eagkau
telan lagi sebutir dan sorenya sebutir lagi, lukamu akan
sembuh !" dan Sin Coa Tung Hiap menyerahkan ketiga butir
pil tersebut. Hoa Lua Sian menerima pil tersebut sambil menyatakan
terima kasihnya, iapun segera menelan pil yang satu dengan
bantuan air liur nya.
"Dan, sepasang cambuk ini kuhadiahkan untukmu, nona...!"
kata Sin Coa Tung Hiap kembali sambil mengangsurkan kedua
cambuk Jie Pian Kiehiap yang telah diambilnya tadi.
Sigadis tertegun lagi, tetapi kemudian tertawa.
"Terima kasih... kukira, kedua cambuk itu tidak begitu
berarti apa2 untukku, karena aku hanya mengerti sedikit ilmu
memainkan pedang!"
"Terimalah sebagai hadiah saja...!" kata Sin Coa Tung Hiap
sambil tetap mengangsurkan kedua cambuk tersebut.
Sigadis ragu2 sejenak, tetapi kemudian ia mengulurkan
tangannya, ia menyambuti kedua cambuk tersebut, yang
kemudian melibatkan pada pinggangnya. iapun lalu
merangkapkan sepasang tangannya, membungkuk memberi
hormat, sambil katanya: "Terima kasih atas bantuan dan
pemberian hadiah ini, Inkong," kata sigadis.
orang bertopeng kain merah yang bergelarSin coa Tung
Hiap tersebut telah menyingkir kesamping, ia tidak mau
menerima hormat si gadis.
"Jangan banyak peradatan,jangan banyak peradatan," kata
Sin coa Tung Hiap kemudian. "Bolehkah aku mengetahui she
dan nama nona yang mulia ?" Si gadis tertegun lagi, tetapi
kemudian ia menyebutkan she dan namanya.
sin coa Tung Hiap tertawa. iapun berkata: "Aku sendiri she
Gu dan bernama Ping An-Sahabat2 dalam rimba persilatan
memberikan sebutan main2 dengan julukan sin coa Tung
Hiap" "Sudah Cukup banyak yang didengar Siauw moay
mengenai nama dan julukan inkong.... rupanya inkong
merupakan Tokoh persilatan yang sangat terkenal sekali untuk
wilayah propinsi Hunan ini..."
sin coa Tung Hiap menghela napas, "sesungguhnya aku
hanya melakukan apa yang bisa kulakukan-.. dan aku selalu
berusaha untuk melakukan sesuatu yang bisa membawa
kebahagiaan dihatiku, yaitU keadilan dan kebaikan-.." kata Sin
coa Tung Hiap. "Namun, justru jika Siauwmoay tidak salah dengar, banyak
juga inkong melakukan-.. melakukan-.." tetapi sigadis tidak
meneruskan perkataannya.


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Melakukan apa ?" tanya Sin coa Tung Hiap sambil
memperhatikan sigadis.
"Tidak jarang juga inkong katanya melakukan perbuatan
yang cukup mengejutkan yaitu memusuhi orang-orang dari
jalan Pekto..." Mendengar perkataan sigadis, sin coa Tung
Hiap tertawa. "Tidak selamanya orang2 dijalan Pekto bersih dan lurus
semuanya, merekapUn manUsia dan memiliki banyak
kesalahan, maka dari itu, jika memang sekali2 aku bentrok
dengan orang2 dari jalan Pekto, itulah wajar. Dan begitu juga
halnya orang2 dijalan Hekto (hitam/penjahat), tidak semuanya
mereka itu jahat, terkadang di dalam segolongan Hekto
tersebut terdapat pendekar sejati yang memiliki jiwa yang
luhur dan mulia.
Maka dengan pendirian seperti itu, banyak orang2 rimba
persilatan yang beranggapan bahwa aku tidak memiliki
pendirian dijalan dan golongan mana, karena memang aku
sering bentrok dengan golongan Hek to maupun Pek-to, tapi
yang paling utama, justru aku selalu berusaha bertindak
dijalan kebajikan-.."
Hoa Lun Sian menghela napas dalam2, ia berkata kagum:
"Baiklah," katanya dengan suara yang mengandung perasaan
gembira. "Dengan bisa bertemu inkong dan berkenalan
langsung dengan inkong, benar2 merupakan rejeki yang sutit
sekali diperoleh Siauwmoay... sungguh menggembirakan
sekali." sin coa Tung Hiap tertawa, ia tela membalikkan tubuhnya
sambil berkata: "Sampai berjumpa dilain kesempatan-.^" Dan
belum lagi suaranya itu habis diucapkan, tubuhnya telah
lenyap dari pandangan mata Hoa Lun Sian.
"Ginkang yang mahir sekali..." memuji Hoa Lun Sian tanpa
dikehendakinya, karena ia sangat kagum sekali.
Setelah berdiam ditempat tersebut beberapa lama lagi, Hoa
Lun Sian akhirnya meninggaikan tempat tersebut dan kembali
kerumah penginapan.
Tetapi keesokan paginya diwaktu ia terbangun dari
tidurnya, Hoa Lun Sian jadi teringat selalu pada orang
bertopeng merah tersebut, yaitu Sin coa Tung Hiap yang telah
menghadiahkan kepadanya sepasang Cambuk milik Jie Pian
Kiehiap yang telah dirampasnya.
Setelah sarapan pagi, Hoa Lun Sian menuju kegedung
tempat Pai Nam Kiesu, menemui Jie Pian Kiehiap. ia telah
mengembalikan sepasang cambuk milik Jie Pian Kiehiap.
Bian Tung Siang yang menerima kembali sepasang
cambuknya tersebut, jadi gembira dan terharu kepada sigadis,
ia menyatakan terima kasihnya yang tidak terhingga, dan
telah menyatakan juga bahwa urusannya dengan Sin coa
Tung Hiap dihabisi hanya sampai disitu saja.
Begitu juga halnya dengan kitab pusaka Huang clang, Bian
Tung Siang menyatakan bahwa ia tidak ingin memaksa Hoa
Lun Sian untuk meminjamnya.
Setelah bercakap-cakap beberapa saat lamanya dengan
Bian Tung Siang, sigadis meminta diri untuk melanjutkan
perjalanannya. Hoa Lun Sian meninggaikan kota Pai Nam menuju kearah
barat daya, ia menuju kekota Liu-cing. perjalanan menuju
kekota Liu-cing, harus melewati padang rumput yang cukup
luas. Sejauh mata memandang, hanya rumput yang tumbuh
tinggi terhampar didepan mata.
Hoa Lun Sian melakukan perjalanan tanpa menunggang
kuda, ia hanya berjalan kaki. Karena berada ditempat yang
nyaman seperti padang rumput tersebut, telah membuat Hoa
Lun Sian jadi melakukan perjalanan per-lahan2, iapun melihat
banyak burung-burung yang berterbangan lincah diatas
padang rumput tersebut.
Diwaktu Hoa Lua Sian tengah berjalan dengan perlahan
sambil ber-nyanyi2, diwaktu itu ia mendengar dari arah
belakangnya suara derap langkah kaki kuda.
Hoa Lun Sian menoleh kebelakang, ia melihat seekor kuda
berbulu agak merah tengah mendatangi dengan cepat.
Gerakan kuda itu tegap sekali, dan diatas punggung kuda
tersebut tergemblok sebuah ransel yang besar dan
penunggangnya seorang pria berusia tiga puluh tahun.
Waktu kuda itu mencongklang cepat, bungkusan besar
tersebut ber-gerak2.
Melihat dari potongan kuda tersebut yang besar, Hoa Lun
sian tahu bahwa kuda tersebut merupakan kuda Mongolia
yang terkenal akan kegagahannya. Dan pemuda yang berada
diatas- kuda tersebut juga memiliki bentuk tubuh yang tegap.
Waktu kuda itu telah datang dekat Hoa Lun Sian baru bisa
melihat jelas wajah pemuda itu, yang ditumbuhi oleh berewok
yang cukup lebat dan kasar.
Waktu tiba didekat Hoa Lun Sian, pemuda itu telah menarik
tali les kudanya sehingga binatang tunggangan itu berhenti
mencongklang. "Maafkan aku ingin bertanya sedikit, kearah manakah jika
hendak menuju ke Liu-cing-kwan?" tanya pemuda itu
suaranya besar dan nadanya kasar.
Hoa Lun Sian memandang sejenak pada pemuda itu, ia
memandang juga pada bungkusan besar yang tergemblok
dibelakang punggung kuda tersebut. Kemudian gadis ini
menunjuk kearah kedepannya: "Ambil saja arah yang lurus,
nanti anda akan tiba ditempat yang sedang anda tuju itu..."
"Terima kasih..." kata pemuda berewok tersebut dengan
suara yang tetap besar, dan tanpa banyak berkata lagi ia telah
menarik tali les kudanya, sehingga kuda tunggangan itu
mencongklang dan berlari cepat sekali.
Hoa Lun Siang memandang kepergian pemuda tersebut,
dan ia melakukan perjalanan pula. Karena ia melakukan
perjalanan dengan berjalan kaki, menjelang sore hari barulah
ia tiba dikota Liu-cing.
Gadis she Hoa ini mencari sebuah rumah penginapan, dan
ia telah melihat dikota yang cukup besar ini hanya terdapat
sebuah penginapan saja yang cukup besar. Waktu sigadis
hendak memasuki pintu muka rumah penginap itu, ia melihat
kuda berbulu merah tertambat didepan rumah penginapan itu,
dibagian tempat menambatkan kuda2 para tamu yang
berkunjung dirumah penginapan tersebut, seketika itu juga
Hoa Lun Sian teringat kepada pemuda yang berewok lebat itu.
Waktu Hoa Lun Sian melangkah kedalam ruangan tengah
rumah penginapan itu, seorang pelayan yang semula sedang
duduk menyender dibalik sebatang tiang, telah melompat
menyambut. "Apakah slocia atau nona memerlukan kamar?" tanya
dengan sikap hormat. Hoa Lun Sian mengangguk.
"sediakan aku sebuah kamar yang bersih," pintanya.
Pelayan itu bekerja cepat dalam waktu yang singkat ia telah
mempersiapkan dan merapihkan sebuah kamar yang cukup
baik untuk sigadis yang terletak disamping kanan dari
bangunan rumah penginapan tersebut.
Rupanya kota Liu-cing walaupun merupakan kota yang
besar, namun jarang sekali dikunjungi orang yang hendak
pesiar, sehingga rumah penginapan ini walaupun hanya satu,
tetap tidak begitu padat menerima tamu.
Setelah membersihkan tubuhnya dan salin pakaian Hoa Lun
Sian menuju ke ruang makan memesan beberapa macam
makanan untuk menangsel perut.
Waktu menantikan makanan yang dipesannya disaat itu
dari jurusan tangga yang menghubungi ruangan bawah
dengan tingkat atas, turun seorang pemuda yang muka nya
berewok. Ketlka melihat Hoa Lun Sian, pemuda itu telah
mengangguk sambil tersenyum.
"Rupanya anda datang dikota ini juga , nona ?" katanya,
suaranya tetap besar, walaupun tampaknya pemuda itu telah
berusaha agar suaranya tidak terdengar kasar atau kaku.
Hoa Lun Sian mengangguk.
"Ya, rupanya memang kita sama tujuan-.." katanya, "Sudah
lamakah anda tiba disini?"
"Siang tadi "
Begitulah, pemuda berewok tersebut jadi duduk semeja
dengan Hoa Lun sian-
Merekapun ber-cakap2. Karena pemuda berewok tersebut
juga merupakan seorang yang berkelana dalam rimba
persilatan, cepat sekali mereka jadi merasa cocok. dimana
mereka membicarakan perkembangan keadaan dunia
persilatan akhir-akhir ini.
"Apakah kedatanganmu cung Sieheng (saudara she cung)
kekota Liu-cung ini ingin melakukan sesuatu pekerjaan yang
penting ?" tanya Hoa Luu Sian-
Sejenak kemudian pemuda yang berewok tersebut, yang
bernama Cung Kiang Bun, telah mengangguk.
"Benar... ada suatu urusan yang sangat penting harus
kuselesaikan-.." sahutnya, "Dan kau...?"
Hoa Lun Sian mengangguk sambil senyum.
"Jika siauwmoy hanya berkelana untuk mencari
pengalaman," katanya kemudian "jadi Siauwmoay tidak
memiliki tujuan yang tertentu... kemana saja kedua kaki
siauwmoay ini membawa, maka disitulah siauwmoay akan
tiba..." Pemuda berewok tersebut tersenyum.
"Jika demikian, engkau tentu bisa menyaksikan suatu
keramaian, jika saja engkau menghendakinya nona..." kata
pemuda she cung itu.
"Keramaian apa ?" tanya sigadis kemudian tertarik.
"Kedatanganku kekota Liu-cing ini untuk mengurus suatu
persoalan yang cukup aneh, yaitu urusan yang menyangkut
keselamatan puluhan jiwa manusia..."
Hoa Lun Sian mengerutkan sepasang alisnya, ia menatap
pemuda tersebut agak tajam, "Urusan apakah itu ?" tanya
sigadis pula. Sipemuda ragu2 sejenak. tapi kemudian ia berkata juga
dengan suara yang lebih perlahan dari semula: "Apakah
engkau melihat bungkusan besar yang kubawa pada
punggung kudaku beberapa saat yang lalu, ketika kita berada
dipadang rumput?" Hoa Lun Sian mengangguk.
"Ya... bungkusan itu besar sekali, Apakah isinya ?" tanya
Hoa Lun Sian- "Seorang manusia, seorang pendekar silat yang telah
berhasil kutawan-.. dan juga, dialah yang akan menentukan
berhasil atau tidaknya usahaku ini.."
"Seorang manusia ?" tanya Hoa Lun-Sian dengan suara
yang agak terkejut, "Jadi... isi bungkusan itu seorang manusia
?" Cung Kiang Bun mengangguk cepat.
"Ya... dia adalah murid Kun Lun Pay yang telah kutawan,
dan justru dialah yang akan menentukan apakah jago2 Kun
Lun Pay yang akan kuhubungi nanti mau mengerti dan
membereskan urusan kami. jika memang nona tidak memiliki
kesibUkan lainnya, dapat nona turut serta dengan aku gUna
menemul jago2 Kun Lun Pay..."
Hati Hoa Lun Sian jadi tertarik, Sebagai seorang gadis yang
gemar ilmusilat, tentu saja setiap keramaian sangat
menyenangkan hatinya. Apalagi sekarang ia diajak untuk
bertemu dengan tokoh2 Kun Lun Pay yang telah lama di
dengarnya bahwa orang2 Kun Lun Pay memiliki kepandaian
yang tinggi sekali, terutama untuk ilmu pedangnya. Tanpa
berpikir dua kali, Hoa Lun Sian telah mengangguk.
"Baiklah... tetapi bolehkah Siauwmoay mengetahui urusan
apakah yang terdapat antara cung Sieheng dengan orang2
Kun Lun Pay itu?"
"Urusan biasa, urusan yang menyangkut keselamatan jiwa
puluhan manusia, sesungguhnya aku dari pintu perguruan wie
liong-pay, dimana pihak perguruan kami telah bentrok dengan
beberapa murid Kun Lun Pay, tetapi justru disebabkan
bentrokan tersebut, yang sesungguhnya bisa
didamaikan,jago2 dari Kun Lun Pay telah menarik panjang
persoalan tersebut, akhirnya kami jadi terlibat dalam urusan
yang kian panjang dan ber-belit2. sehingga menarik perhatian
dari tokoh2 persilatan pintu perguruan lainnya.
Kami dari pihak Wie-liong-pay bermaksud untuk mengambil
jalan damai dengan pihak Kun Lun Pay, walaupun juga
seorang murid Kun Lun Pay secara diam2 telah mendatangi
tempat kami, bermaksud melakukan pembunuhan secara
menggelap. gagal, dan berhasil kami menangkapnya .
Kami tidak menyiksa atau menghukumnya, hanya akan
kami bawa untuk dipertemukan dengan orang2 Kun Lun Pay,
dimana kami akan mengemukakan maksud kami, agar
persoalan yang tidak berkesudahan itu diselesaikan saja..."
Hoa Lun Sian mendengarkan dengan tertarik.
"Lalu apa maksud cung Sieheng dengan mengatakan
bahwa urusan ini menyangkut urusan puluhan jiwa manusia ?"
tanya sigadis. cung Kian Bun menghela napas dalam2.
"Jika urusan ini ber-larut2 dan terjadi bentrokan-bentrokan
yang tidak berkesudahannya dan pertempuran2 diantara
kedua golongan yaitu Wie-liong-pay dengan pihak Kun Lun
Pay, akan menimbulkan korban yang cukup banyak. Justru
dari pihak kami, yaitu Wie-liong-pay, berusaha mencegah
jangan sampai berjatuhan korban2 lagi, bukankah lebih
bijaksana jika saja kami bisa mengambil jalan damai untuk
kedua belah pihak ?"
"Tetapi jika maksud baik dari Wie-liong-pay ditolak orang2
Kun Lun pay ?" tanya Hoa Lun Sian-
"Itu bagaimana nanti saja... karena sekarang ini bukankah
kami dari pihak Wie liong-pay juga belum lagi mengetahui
pendirian dari pihak orang2 Kun Lun pay tersebut?"
Hoa Lun Sian mengangguk, katanya lagi: "Apakah orang2
Kun Lun pay yang terlibat dalam bentrokan dengan pihak wieliong-
pay kalian memang diketahui oleh ketua mereka di Kun
LU San?" Cung Kiang Bun mengangkat bahunya ia telah berkata
perlahan- "Aku mana tahu... tetapi justru pihak Kun Lun pay
terlalu mendesak kami. tiga orang murid dari Wie-liong-pay
telah mereka tawan,jika memang mereka bermaksud
mengambil jalan damai, tentu dengan dikembalikannya murid
mereka yang berusaha melakukan percobaan membunuh
ditempat kami ini, mereka tentu akan menyudahi urusan
dengan mengembalikan tiga orang murid Wie-liong-pay.."
"Kapan cung sieheng akan berangkat ?" tanya sigadis.
"Mungkin besok pagi, dari Liu-cing masih memerlukan
perjalanan satu hari guna mencapai tempat berkumpulnya


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

murid- murid Kun Lun Pay itu."
Waktu itu pelayan telah membawakan yang mereka pesan,
Kedua nyapun telah memakannya dengan lahap.
selesai bersantap Hoa Lun Sian ber-cakap2 dengan Cung
Kiang Bun sampai jauh malam. Dan akhirnya mereka berpisah
untuk kembali kekamar masing2.
Keesokan paginya Cung Kiang Bun bangun terlebih dulu
dari Hoa Lun Sian, waktu sigadis selesai salin pakaian dan
keluar dari kamarnya, Cung Kiang Bun telah menantikan
diruangan makan.
Mereka sarapan pagi ber-sama2. Selesai makan,
merekapun melakukan perjalanan meninggaikan Liu-cing.
Karena Cung Kiang Bun memakai kuda merahnya dalam
melakukan perjalanannya tersebut Hoa Lun Sian juga telah
membeli seekor kuda yang cukup baik dikota tersebut,
seharga dua ratus tail perak.
Dengan melakukan perjalanan mempergunakan kuda
tunggangan tersebut, mereka bisa mencapai jarak yang cukup
jauh, waktu siang hari mereka telah melewati hampir seratus
lie lebih. Kuda merah milik Cung Kiang Bun merupakan kuda pilihan
yang baik sekali, sesungguhnya dalam satu harinya bisa
melakukan perjalanan lima ratus lie lebih. Tetapi karena kuda
tunggangan Hoa Lun Sian merupakan kuda tungganga biasa
saja, maka sengaja Cung Kiang Bun melarikan kuda merah
nya tidak terlalu keras.
Sore harinya, mereka telah tiba dipedusunan wue-liu-cung,
sebuah perkampungan yang tidak begitu besar, Cung Kiang
Bun tidak mengajak Hoa Lun Sian memasuki perkampungan
tersebut, hanya langsung menuju kesebuah kuil tua yang
terdapat dimuka pintu kampung tersebut sebelah timur.
Cung Kiang Bun juga telah menjelaskan kepada Hoa Lun
Sian, bahwa murid- murid Kun Lun Pay itu berkumpul dikuil
tersebut. Mereka telah turun dari kuda masing-masing dan
menghampiri pintu kuil.
Cung Kiang Bun mengetuk pintu kuil cukup keras, karena ia
mencekal gelang besi yang terdapat dipintu itu, untuk
dibenturkan dengan daun pintu,
Tidak lama kemudian pintu kuil itu terbuka.
Dari dalam kuil keluar seorang tojin (pendeta yang
memelihara rambut, agama To), yang memandang mereka
dengan sikap curiga, Terlebih lagi waktu tojin tersebut
mengenali bahwa yang menjadi tamunya adalah seorang
pemuda yang memang dikenalnya.
"Aha, rupanya cung Kiesu (orang gagah she cung) yang
telah berkunjung.." katanya dengan suara yang tidak
mengandung persahabatan. Cung Kiang Bun telah
membungkuk sedikit memberi hormat.
"Kedatangan Siauwte kemari untuk menyampaikan sebuah
berita, yang dititipkan oleh Ciangbunjin Wie-liong-pay kami."
Tojin yang membukakan pintu tersebut seorang tojin yang
berusia sekitar empat puluh tahun lebih, tetapi wajahnya
masih segar. Waktu mendengar perkataan Cung Kiang Bun, ia
mengangguk perlahan, katanya : "silahkan masuk... mari
silahkan masuk."
Dan sambil berkata begitu, dengan sikap mempersilahkan
tamu2nya tersebut masuk kedalam kuil, mata tojin itu juga
telah melirik tajam kepada Hoa Lun Sian-
Saat itu Cung Kiang Bun juga telah memperkenalkan Hoa
Lun Sian: "lni sahabatku Liehiap ini merupakan seorang
pendekar wanita yang memiliki kepandaian tinggi, ia she Hoa
dan bernama Lun Sian "
Tojin itu merangkapkan sepasang tangannya, ia menyebut
beberapa kata memuji akan nama Hoa Lun Sian- Seperti
diketahui, dalam rimba persilatan walaupun belum saling
berkenalan, tetapi jika bertemu dan diperkenalkan dengan
seorang pendekar lainnya, tentu akan saling menyatakan
perasaan kagum dan basa-basi menyatakan bahwa telah lama
mendengar nama besar dari orang yang bersangkutan-
Sedangkan Hoa Lun Sian juga telah merendahkan diri
dengan beberapa patah perkataan, lalu berdiam diri mengikuti
Cung Kiang Bun memasuki kuil tersebut.
Tojin itu telah membawa mereka ke ruang tamu. yang
bersih dan cukup luas.
Setelah mempersilahkan kedua tamunya itu untuk duduk
menanti, ia minta diri untuk memberitahukan saudara-saudara
seperguruannya.
Cung Kiang Bun duduk tenang menantikan murid- murid
Kun Lun Pay yang lainnya, sama sekali tidak terlihat sikap
gelisah, walaupun ia mengetahui tidak lama lagi ia akan
berhadapan dengan lawan yang berjumlah banyak dan juga
masing2 memiliki kepandaian yang tinggi.
Bungkusan besar, yang menurut Cung Kiang Bun berisi
seorang murid Kun Lun Pay yang telah berhasil ditawan,
diletakkan dilantai, di samping kursi tempat ia duduk. Hoa Lun
Sian juga telah duduk disebuah kursi disamping Cung Kiang
Bun- Gadis itu memandang sekeliling ruangan, menikmati
keindahan ruangan tersebut, yang banyak dihiasioleh lukisanlukisan
dinding yang menggambarkan keindahan panorama
pegunungan. Disaat itu, mereka mendengar suara langkah kaki beberapa
orang dari jurusan ruangan dalam, Disusul kemudian dengan
munculnya lima orang tojin yang tadi membukakan mereka
pintu. Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian segera bangkit dari
tempat duduk mereka.
Kelima tojin itu merangkapkan tangan mereka masing2
memberi hormat, yang dibalas oleh Cung Kiang Bun dan Hoa
Lun Sian. "Tidak kami sangka bahwa cung Kiesu akan berkunjung
ketempat kami.." kata tojin lainnya, "Rupanya cung Kiesu
memang membawa sebuah berita yang penting sekali untuk
kami..?" "Ya.... siauwte membawa pesan dari ciangbunjin kami,
untuk menyampaikan sesuatu kepada pihak kalian, dan juga
tentunya para Cinjin tidak akan menerima urusan ini dengan
sikap yang ter-gesa2, bijaksanalah jika para cinjin menerima
semua ini, yang akan Siauwte sampaikan dengan kepada
cinjin-." "Sesuatu " Apakah cung Kiesu akan menyampaikan sesuatu
barang barang untuk kami?" tanya tojin tua itu lagi. Cung
Kiang Bun mengangguk.
"Ya, secara kebetulan sekali kami telah berhasil
menggagalkan maksud buruk dari seseorang yang hendak
melakukan pembunuhan secara menggelap... pembunuh gelap
tersebut telah kami tawan, dan setelah diperiksa, ternyata dia
adalah seorang murid Kun Lun pay"
"ohhh," berseru tertahan tojin tua tersebut. "Lalu ?"
"ciangbunjin kami dari pihak Wie-liong-pay telah mengutus
Siauwte untuk menyampaikan murid Kun Lun Pay tersebut
kepada cinjin sekalian... maka harapan kami, agar cinjin
sekalian menerimanya dengan baik murid Kun Lun Pay ini..."
Setelah berkata begitu, Cung Kiang Bun menunjuk
bungkusan besar yang berada dilantai.
"Jadi murid Kun Lun Pay ditawan dan di bungkus dalam
bungkusan itu ?" tanya tojin tua itu.
Cung Kiang Bun mengangguk "Benar..." dan setelah
berkata begitu, Cung Kiang Bun berjongkok, ia membuka ika
tan bungkusan tersebut, segera terlihat seorang tojin berusia
tiga puluhan tahun, dalam keadaan terikat, Dan juga mulutnya
tersumbat. Dilihat dari wajahnya, tampaknya tojin itu lelah sekali dan
juga tentu telah terikat dalam waktu yang cukup lama.
Disaat itu wajah kelima tojin tersebut jadi berobah, mereka
telah memperlihatkan baik2 wajah dari murid Kun Lun Pay
yang terikat itu
Kemudian tojin tua itu telah merangkapkan sepasang
tangannya memberi hormat kepada Cung Kiang Bun, katanva
: "Terima kasih atas kebaikan dari Wie-liong-pay yang
mengembalikan murid kami ini dalam keadaan yang
bernyawa..."
"Itulah karena disebabkan kamipun menghendaki jalan
perdamaian diantara kita... dimana persoalan kita dapat
diselesaikan dengan secara baik. Dengan dikembalikannya
murid Kun Lun Pay ini, maka kami harapkan agar pihak Kun
Lun Pay juga mau mengembalikan tiga murid dari pintu
perguruan kami..."
Tojin tua itu mengerutkan sepasang alis-nya, ia kemudian
menghela napas.
"Sesungguhnya persoalan yang terdapat pada bentrokan
antara Wie-liong-pay dengan pihak Kun Lun Pay hanya
disebabkan kesalahan pahaman dari murid2 kedua pintu
perguruan silat tersebut, maka dengan demikian,
sesungguhnya memang tidak perlu sampai terjadi timbulnya
bentrokan yang jauh lebih besar. Dengan demikian, rupanya
pihak Wie-liong-pay memang bermaksud baik dengan
mengambil jalan damai untuk menyelesaikan persoalan dan
bentrok itu... kami akan mempertimbangkannya sebaik
mungkin..."
Dan setelah berkata begitu, tojin tua tersebut
mempersilahkan Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian untuk
duduk kembali ditempat mereka.
Kelima tojin Kun Lun Pay itu ternyata masing2 bergelar Wie
Lie cinjin, Wie Sin cinjin, Wie Lie cinjin, Wie To cinjin dan Wie
Lin cinjin- Kelima tojin tersebut merupakan lima orang murid
Kun Lun Pay dari tingkatan ke tiga. Kepandaian mereka juga
tinggi sekali terutama sekali ilmu pedang mereka yang sulit
sekali ditandingi.
Wie Lie cinjin, tojin yang tertua itu, merupakan tojin yang
Laron Pengisap Darah 5 Kait Perpisahan Serial 7 Senjata Karya Gu Long Kisah Pedang Di Sungai Es 11
^