Pencarian

Pendekar Aneh Dari Kanglam 7

Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong Bagian 7


sabar, dan memiliki kepandaian yang paling tinggi dari
keempat saudara seperguruannya tersebut. ialah yang selalu
muncul untuk menyelesaikan persengketaan antara murid2
Kun Lun Pay dengan pihak pintu perguruan lainnya .
Wie Lie cinjin juga telah menanyakan kepada Cung Kiang
Bun, persoalan yang hendak diselesaikan oleh pihak Wie-liongpay
itu sesungguhnya harus ditempuh dengan Cara dan jalan
bagaimana, Cung Kiang Bun menjelaskan jika saja pihak Kun
Lun Pay menyerahkan tiga orang tawanan yang terdiri dari
murid Wie-liong-pay maka pihak Wie-liong-pay akan
menyudahi urusan sampai disini saja.
"Tetapi untuk membebaskan ketiga orang murid Wie-liongpay
yang telah membinasakan enam orang murid Kun Lun Pay
bukanlah persoalan yang terlalu mudah karena ketiga tawanan
tersebut akan kami kirim langsung ke Kun Lun San dimana
nanti ciangbunjin kami yang memutuskan, hukuman apa yang
sesuai untuk dijatuhkan kepada ketiga orang murid Wie-liongpay
tersebut..."
Muka Cung Kiang Bun jadi berobah.
"Jika demikian, ternyata pihak Kun Lun Pay sama sekali
tidak memiliki pengertian " kata Cung Kiang Bun- "Bukankah
murid dari Kun Lun Pay yang berusaha melakukan
pembunuhan gelap pun telah berhasil kami tawan, malah kami
telah mengembalikannya, dengan mengantarkannya langsung
kepada pihak Kun Lun Pay..?"
Ditegur begitu, muka Wie Lie cinjin jadi berobah, ia
menunduk sejenak. dan kemudian baru berkata dengan suara
yang perlahan dan sikap hati-hati.
"cung Kiesu, menyesal sekali, kami belum bisa
mengabulkan permintaan pihak Wie-liong pay, karena kami
harus menuruti aturan yang terdapat dalam pintu perguruan
kami, yaitu pembunuh2 dari murid Kun Lun Pay harus di kirim
langsung ke Kun Lun San, guna nanti diadili langsung oleh
ciangbunjin kami... dengan demikian, jika memang kelak
ciangbunjin kami menyatakan bahwa ketiga orang murid Wie
liong-pay tersebut pantas untuk dibebaskan, maka kamipun
tidak bisa mengatakan apa2, selain membebaskan mereka...
yang telah membunuh enam orang murid Kua Lun pay..."
Wajah Cung Kiang Bun jadi berobah semakin tidak
gembira, dia telah memandang tajam sekali kepada kelima
tojin dari Kun lun pay tersebut.
Diwaktu itu tampak Hoa Lun Sian telah ikut bicara:
"Maafkan jika Siauwmoay ikut bicara.." katanya.
"sesungguhnya persoalan ini tidak diketahui apa pangkal dan
sebabnya namun jika Siauwmoay melihat dari Cerita dan kata2
cung Kiesu ini, maka pihak Wie-liong-pay memang telah
memperlihatkan maksud baiknya. Dengan demikian alangkah
mengeCewakan sekali jika pihak Kun lun pay menolak maksud
baik tersebut.."
Mendengar perkataan sigadis, Wie Lie cinjin telah
merangkapkan sepasang tangannya dan ia telah berkata
dengan suara yang sabar: "Apakah nona juga berasal dari
pintu perguruan Wie- liong-pay" "
-oo0dw0ooTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Jilid 12 MUKA sigadis berobah merah, "Bukan.... Siauwmoay hanya
sahabat dari cung Kiesu ini... dan kebetulan kami berjumpa
ditengah jalan, maka Siauwmoay jadi ikut sekalian menuju
kemari..."
"Hemm,jika demikian, tentunya nona tidak mengetahui
duduk persoalan yang sebenarnya, sejak dari awal maksud
Pinto." Dan setelah berkata begitu, Wie Lie cinjin telah menoleh
melihat kepada keempat orang saudara seperguruannya, ia
berkata: "Apakah kalian juga berpendirian sama dengan
suhengmu ?"
Keempat tojin itu mengiyakan dengan segera.
Wie Lie cinjin telah menoleh lagi kepada Cung Kiang Bun,
sambil katanya: "Nah, seperti cung Kiesu telah melihat sendiri,
bahwa kami berlima memang sama satu pendirian, yaitu
ketiga orang tawanan yang terdiri dari tiga orang murid Wieliong-
pay tersebut, harus dikirim langsung ke Kun Lun San
dulu, mengenai keputusan dibebaskan atau tidaknya ketiga
murid Wie-liong-pay tersebut, itu tergantung dari keputusan
yang akan diambil oleh ciangbunjin kami..." dan setelah
berkata begitu, Wie Lie cinjin merangkapkan sepasang
tangannya memberi hormat dengan sikap menyesal ia telah
menambahkan. "Maaf, maaf..."
Wajah Cung Kiang Bun jadi berobah semakin tidak enak
dilihat, ia memang seorang pemuda yang selalu bicara dan
membawa sikap yang agak kasar, dengan sendirinya sekarang
melihat persoalan telah terbentur jalan buntu seperti itu,
membuat Cung Kiang Bun tidak bisa menahan sabar, iapun
telah berkata dengan suara yang tawar: "Baiklah... jika
memang demikian kamipun dari pihak Wie-liong-pay tidak
mengatakan apa2, tetapi dengan adanya penolakan yang
diberikan oleh cinjin sekalian, berarti pertikaian diantara kedua
pintu perguruan kita akan berlangsung terus..."
Mendengar perkataan Cung Kiang Bun, Wie Lie cinjin
merangkapkan sepasang tangannya lagi memberi hormat.
"Sayang sekali, sulit buat Pinto menjelaskan hal yang
sebenarnya, sesungguhnya Pinto sama sekali tidak berhasrat
untuk bentrok dengan pihak manapun, dan memang
menggembirakan sekali jika suatu persoalan bisa diselesaikan
dengan baik dan menempuh jalan damai. Tetapi pihak kami
memiliki kesulitan yang tidak kecil, dimana keenam murid Kun
Lun Pay telah binasa ditangan ketiga murid Wie-liong-pay..."
cung Kiaug Bun berkata tawar: "Tetapi dengan keputusan
yang kalian ambil, telah memperlihatkan bahwa pihak Kun Lun
Pay tidak bermaksud baik dari Wie-liong-pay telah ditolak oleh
kalian begitu saja..."
"Maafkan... maafkan... memang sudah menjadi peraturan
kami dari pihak Kun Lun Pay, setiap pembunuh murid Kun Lun
Pay, harus dikirim langsung keadapan ciangbunjin kami, guna
diadili disana... dan kami tidak memiliki kekuasaan apapun
untuk melanggar peraturan yang telah ada tersebut..."
"Jika memang demikian, baiklah kami minta diri saja..."
kata cung Kian Bun dengan sikap tidak sabar, ia telah
merangkapkan tangan nya dan memutar tubuhnya.
Hoa Lun Sian telah mengulurkan tangannya mencekal
pergelangan tangan Cung Kiang Bun, katanya: "jangan pergi
dulu, cung Sie-heng... mari kita bicara secara perlahan-lahan,
kukira pihak Kun Lun Pay juga tidak akan mengambil tindakan
yang tetap keras jika memang kita bisa memberikan suatu
jaminan bahwa maksud baik dari Wie-liong-pay memang
merupakan suatu tindakan yang bijaksana untuk mencegah
timbulnya bentrokan2 yang lebih jauh antara murid2 kedua
pintu perguruan tersebut."
Cung Kiang Bun telah menahan langkah kakinya, ia melirik
kepada Hoa Lun Sian, katanya dengan suara yang ragu:
"Tetapi mereka telah mengambil keputusan yang pasti yaitu
tidak ingin membebaskan ketiga orang murid Wie liong-pay..."
Hoa Lun sian menoleh kepada Wie Lie cinjin dan keempat
murid Kun Lun Pay lainnya, "cinjin apakah kalian tetap tidak
menghendaki jalan damai antara pihak Kun Lun Pay dan Wieliong-
pay ?" Untuk menjelaskan persoalan itu Wie Lie cinjin telah
merangkapkan sepasang tangannya.
"Memang benar2 diluar dari kekuasaan kami untuk
membebaskan ketiga orang murid Wie liong-pay, maka dari
itu, jika memang dalam persoalan ini kami dipaksa, itupun
tetap saja tidak akan merobah keputusan kami yaitu untuk
mengirim ketiga orang pembunuh murid Kua Lun Pay itu ke
Kun Lun San-"
Mendengar keputusan yang diberikan oleh Wie Lie cinjin,
Hoa Lun Sian telah menghela napas dalam- dalam.
"Jika memang pihak Kun Lun Pay mengambil sikap keras
seperti ibi, tentu akan menimbulkan bentrokan yang
berkepanjangan".
"Tetapi kami harus mentaati peraturan Kun Lun Pay yang
telah ada " menyahuti Wie Lie cinjia, "Maafkan-.. maafkan
"dan Wie Lie cinjin berdiri dari duduknya, ia mengambil sikap
seperti juga tengah mempersilahkan tamu untuk berlalu.
Cung Kiang Bun tanpa menoleh lagi dan tanpa memberi
hormat, telah melangkah keluar dari ruangan dalam kuil
tersebut, diikuti oleh Hoa Lun Sian-
Kelima tojin dari Kun Lun Pay tersebut telah mengantarkan
kedua tamu mereka sampai di pintu kuil.
Dengan sikap mendongkol, Cung Kiang Bun telah melompat
keatas kuda merah nya. Sedang kan Hoa Lun Sian setelah
menoleh sekali lagi kepada kelima tojin Kun Lun Pay tersebut,
ia pun melompat keatas kuda nya.
Kedua orang ini melarikan kuda mereka, dalam waktu
sekejap mata saja telah dua puluh lie lebih.
Cung Kiang Bun tiba2 menghentak tali Ies kuda nya,
sehingga binatang tunggangannya berbulu merah itu telah
berhenti berlari.
"Aku tidak menyangka bahwa pihak Kun Lun pay akan
mengambil sikap seperti ini.." katanya setelah Hoan Lun Sian
menghentikan larinya kuda tunggangannya disisi kuda merah
cung Kian Bun. "Lalu apa yang hendak dilakukan oleh cung sieheng ?"
tanya Hoa Lun Sian-
"Aku telah dipesan oleh Ciangbunjinku, jika memang
perundingan yang akan diadakan antara pihak Wie-liongpay
dengan pihak Kun Lun Pay gagal, maka aku harus berusaha
mengambil jalan apapun untuk menolongi dan membebaskan
ketiga orang saudara seperguruanku. . . "
"Jadi...?" tanya Hoa Lun Sian terkejut.
"Ya... aku harus berusaha dengan jalan kekerasan
membebaskan ketiga orang murid Wie-liong-pay yang ditawan
orang2 Kun Lun pay itu..." Hoa Lun Sian menghela napas.
"Dengan demikian berarti bentrokan2 yang akan timbul
tentu lebih meluas lagi " kata Hoa Lun Sian dengan wajah
yang muram. "Tetapi sudah tidak ada jalan lain lagi.." kata Cung Kiang
Bun- Hoa Lun Sian menghela napas lagi, sigadis berdiam diri
sejenak. mengawasi langit.
Sedangkan cung Kian Bun telah berkata sambil mengawasi
sigadis : "Hoa-moay, apakah engkau bersedia untuk
membantuku?"
"Membantu bagaimana?" tanya sigadis.
"Malam ini kita satroni kuil orang-orang Kunlunpay itu..."
kata Cung Kiang Bun-
"Tetapi tampaknya kelima tojin itu memiliki kepandaian
yang tinggi, dan didalam kuil tersebut tentunya bukan hanya
mereka berlima saja..."
"Benar, disamping mereka berlima, masih terdapat belasan
murid Kun Lun Pay lainnya." menjelaskan Cung Kiang Bun-
Hoa Lun Sian menghela napas.
"Jika dilihat demikian usaha dengan jalan seperti itupun
akan gagal, karena kita hanya berdua tentu tidak akan
sanggup untuk menghadapi mereka. Jika saja kita tertawan
mereka, urusan akan menjadi lebih rumit lagi, Tidak lebih baik
Jika cung sieheng pergi kembali ke Wie-liong-pay guna
memberitahukan Ciangbunjinmu mengenai urusan yang
terjadi kali ini?"
Tetapi cung Kian Bun menggeleng perlahan.
"Kukira aku tidak bisa kembali ke Wie-liong-pay sebelum
melaksanakan pesan ciang bunjin kami..." kata Cung Kiang
Bun- "Mengapa begitu?" tanya Hoa Lun Sian-
"Karena memang ciangbunjin kami telah berpesan,
walaupun dengan jalan bagaimana jika memang jalan damai
gagal ditempuh aku harus berusaha membebaskan ketiga
orang saudara seperguruanku yang ditawan oleh orang2 Kun
Lun Pay itu."
Hoa Lun Siang kembali menghela napas sampai akhirnya ia
berkata: "Kita lihat saja malam ini, kita akan merundingkan
lagi dulu, tindakan apa yang akan kita ambil untuk
menghadapi orang2 Kun Lun Pay itu."
cung Kian Bun akhirnya diberi pengertian juga dan ia telah
mengiyakan-Begitulah, mereka telah melarikan kuda mereka
lagi dengan cepat.
Waktu bertemu dengan sebuah rumah penduduk. mereka
telah meminta ijin untuk menumpang beristirahat.
Sambil beristirahat, mereka juga merundingkan, tindakan
apa yang akan mereka ambil.
Waktu itu hari telah menjelang malam. Dan diwaktu itu
tampaknya langit mendung dan akan turun hujan.
Cung Kiang Bun tetap dengan keputusannya, untuk
menyatroni kuil orang-orang Kun Lun Pay tersebut, dimana ia
akan mempertaruhkan dirinya dan jiwanya guna bertempur
dengan pihak Wie Lie cinjin dan saudara-saudara seperguruan
Tojin itu. Tetapi Hoa Lun Sian justru merasa kuatir kalau2 mereka
tidak bisa menghadapi mereka, walaupun mereka mendatangi
kuil itu dengan secara diam-diam, tetapi jika mereka kena
kepergok, tentu mereka tidak mungkin bisa meloloskan diri
lagi. "Bagaimana jika kita mengadu untung saja ?" tanya Cung
Kiang Bun yang sudah tidak bisa menahan sabar.
Hoa Lun sian walaupun tidak menyetujui usul yang
diberikan oleh Cung Kiang Bun, tokh iapun tidak bisa
menentangnya. Maka ia mengiyakan saja.
"Baiklah " katanya kemudian, "Kita mendatangi mereka
secara diam-diam, tetapi tindakan kita harus hati-hati benar,
jangan sampai kepergok mereka. Terus terang saja
Siauwmoay katakan, melihat keadaan kelima tojin itu,
tampaknya mereka memiliki kepandaian yang tinggi, dan
tentunya mereka juga bukan lawan yang ringan, walaupun
kita berdua maju serentak, tentunya kita bukan menjadi lawan
mereka.." Cung Kiang Bun mengiakan-
Begitulah, merekapun telah pamitan pada tuan rumah yang
mereka tumpangi untuk beristirahat, kedua kuda mereka
dilarikan cepat sekali kembali kekuil yang berada dipintu
perkampungan Wie- liu- cung .


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ketika masih terpisah sepuluh lie lebih dari kuil yang
hendak mereka tuju itu, Cung Kiang Bun dan Hoa Lun sian
telah turun dari kuda tunggangan mereka masing2. Kuda
mereka telah ditambat, diikat disebatang pohon yang terdapat
ditempat itu. Dengan mempergunakan ginkang, keduanya
telah berlari-lari dengan cepat.
Dalam waktu sekejap mata saja, tampak kuil dimana Wie
Lie cinjin dan saudara seperguruannya berada, dengan hatihati
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian telah mendekati kuil
tersebut. Kuil itu tertutup rapat pintunya, keadaan sunyi dan sepi
sekali. Dengan mengandaikan ilmu meringankan tubuh mereka
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian telah melompati dinding
kuil tersebut. Mereka berindap2 menuju keruangan dalam kuil tersebut,
dan dilihatnya bahwa api penerangan didalam kuil tersebut
masih menyala. Waktu belum lagi kentongan kedua, dan rupanya masih
ada tojin yang tengah membaca Liamkeng.
Dengan hati2 sekali, tampak Cung Kiang Bun dan Hoa Lun
Sian telah memasuki kedalam kuil dan disebuah ruangan
belakang mereka hampir berpapasan dengan seorang tojin.
Untung saja mereka memiliki mata yang jeli dan mereka telah
cepat2 menyembunyikan diri.
Setelah melihat tojin yang berusia dua puluh tahun lebih itu
berlalu, mereka keluar kembali dari tempat persembunyian
mereka, Dengan langkah ang ringan, mereka menyelidiki
sekitar kuil tersebut,
Tetapi waktu Cung Kiang Bun dan Hoa Lun sian tiba
diruangan yang cukup luas dibelakang kuil itu, dimana mereka
melihat sepi dan tidak tampak seorang manusiapun juga tiba2
ter dengar suara orang menegur dengan sabar: "Kalian
rupanya telah datang berkunjung kembali, maafkan kami tidak
menyambut karena kami tidak diberitahukan terlebih dulu"
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun sianjadi terkejut bukan main,
gesit sekali mereka memutar tubuh mereka, sambil tangan
mereka memegang gagang pedang masing2.
Dihadapan mereka telah berdiri Wie Lie cinjin, Wie Sin
cinjin, Wie Lie cinjin, Wie To cinjin dan Wie Lin cinjin- Kelima
pendeta itu telah berdiri dengan bibir masing2 tersenyum
sabar. Tidak terlihat tanda kemarahan mereka.
Cung Kiang Bun yang melihat diri mereka kepergok
demikian rupa, telah berkata dengan sikap yang berani sekali:
"Tadi sore kami telah menyampaikan keinginan pihak Wieliong-
pay, agar urusan ini di selesaikan dengan cara yang
baik... tetapi kalian menolaknya, maka dari itu sekarang aku
akan mengadu jiwa, walaupun bagaimana aku hendak
membebaskan ketiga orang saudara seperguruan.." dan
setelah berkata begitu, tampak Cung Kiang Bun telah
menggerakkan pedangnya, ia bersiap-siap untuk melancarkan
serangan menikam kepada Wie Lie cinjin-
Sikap yang diperlihatkan oleh Wie Lie cinjin tetap tenang,
sama sekali ia tidak memperlihatkan tanda-tanda ingin
bertempur mengadu jiwa, Dengan suara yang sabar, ia pun
telah berkata: "jangan mengambil tindakan seperti itu, cung
Kiesu... karena tidak akan membawa penyelesaian yang
baik..." "Tetapi walaupun bagaimana, ketiga orang saudara
seperguruanku itu harus dibebaskan..."
"Kami telah menjanjikan jika memang cianbunjin kami nanti
memutuskan bahwa ke tiga orang murid Wie-liong-pay
tersebut tidak bersalah dan dibebaskan, maka mereka akan di
bebaskan, Tetapi untuk membebaskan mereka sekarang ini,
tentu saja tidak bisa kami lulus kan-.."
Sambil berkata begitu, Wie Lie cinjin telah merangkapkan
sepasang tangannya, ia berkata: "Harap cung Kiesu tidak
terlalu memaksa menimbulkan bentrokan2 pula..."
Cung Kiang Bun telah memperdengarkan suara tertawa
dingin. "Dalam persoalan ini,jelas kami pihak Wie liong-pay juga
tidak mau diperlakukan dengan seenak hati oleh pihak Kun
Lun pay..?"
"Kami memang mengakui maksud baik dari pintu
perguruan Wie-liong-pay... tetapi menyesal sekali, seperti apa
yang telah pinto katakan, bahwa kami tidak bisa melanggar
aturan yang terdapat didalam pintu perguruan kami. Maka,
sekarang kami minta dengan sangat, agar cung Kiesu kembali
ketempatmu, guna menyampaikan segala sesUatunya kepada
ciang bunjinmU, kelak jika memang ciangbunjin kami
menyatakan ketiga orang murid Wie-liong-pay itu dibebaskan,
kami akan membebaskannya "
"Tetapi jika ciangbunjin kalian tidak mau membebaskannya
?" tanya Cung Kiang Bun sambil menatap tajam sekali kepada
Wie Lie cinjin-
"Kami juga tidak bisa mengatakan apapun juga "
menyahuti Wie Lie cinjin, "Hal itu masih belum kami ketahui
dengan pasti, dan juga mengenai keputusan yang akaa
diambil oleh ciangbunjin kami, masih belum bisa kami
pastikan, Maka dari itu, jika memang pihak Wie-liong-pay
menghendaki urusan antara murid-murid kedua pintu
perguruan kita yang saling bertikai ini diselesaikan dengan
jalan damai maka harus sabar sampai nanti kami akan
mengirim kabar kepada pihak Wie-liong-pay "
Tetapi Cung Kiang Bun rupanya sudah tidak bisa menahan
sabar lagi. Dengan mengeluarkan suara seruan nyaring, tahutahu
dengan nekad pedangnya menyambar kearah dada Wie
Lie cinjin- Tojin tersebut tampak berdiri tenang ditempatnya, ia
mengawasi menyambarnya pedang Cung Kiang Bun, waktu
mata pedang telah menyambar dekat, tahu2 tojin itu telah
menggerakkan pergelangan tangannya yang di-kebutkannya
perlahan. Namun kebutan yang perlahan itu ternyata memiliki
tenaga menolak yang kuat sekali.
Tubuh Cung Kiang Bun telah terhuyung beberapa langkah
kebelakang, dan hampir saja ia kejengkang.
Begitu juga telapak tangannya dirasakanpedih sekali,
hampir saja pedangnya terlepas dari Cekalannya.
Dalam keadaan seperti ini, tampak Hoa Lun Sian tidak bisa
berdiam diri. Dengan Cepat ia telah mencabut keluar
pedangnya, bergerak lincah sekali, menikam kearah Wie Lin
cinjin, Gerakan yang dilakukan oleh Hua Lun Sian memang
cepat dan pedangnya menyambar dengan lincah, bagaikan
seekor ular yang melingkar menyambar kearah leher dari Wie
Lin cinjin- Namun wie Lin cinjin tetap tenang, seperti halnya dengan
Wie Lie cinjin, ia telah menyentil dengan jari telunjuknya
kepedang sigadis.
"Tranggg..." terdengar pedang itu berhasil disentilnya kuat
sekali, Dan akibat sentilan tersebut, membuat pedang Hoa Lun
Sian jadi terpental, hampir saja terlepas dari cekalan
tangannya. Hoa Lun Sian terkejut, cepat2 melompat mundur dengan
wajah yang berobah menjadi pucat, Tetapi gadis ini jadi
penasaran juga di dalam satu jurus serangan saja ia telah
berhasil dipukul mundur oleh Wie Lin cinjin hanya dengan
menggunakan sentilan jari telunjuknya.
Dengan mengeluarkan seruan- Jaga serangan, kembali
pedangnya telah menyambar akan menabas batang leher Wie
Lin cinjin. Gerakan yang dilakukan sigadis kali ini cepat sekali dan
tenaga lwekang yang disalurkan pada tangan dan pedangnya
itupun jauh lebih kuat dibandingkan dengan yang pertama
tadi. Angin serangan itu berseliran tajam sekali.
Namun wie Lin cinjin hanya mendongakkan sedikit
kepalanya dan ia telah mengebutkan lengan bajunya lagi,
maka kali ini serangan Hoa Lun sian kembali gagal mengenai
sasarannya. Sedangkan Cung Kiang Bun sendiri tidak tinggal diam
walaupun tadi ia telah dipukul mundur hampir kejengkang
oleh Wie Lie cinjin namun kuda-kudanya bisa diperkokoh
kembali. Ia telah mengeluarkan suara seruan nyaring, pedangnya
menyambar lagi kearah perut Wie Lie cinjin-
Jurus yang dipergunakannya merupakan jurus yang cukup
menakjubkan, karena pedangnya itu menyambar sekaligus
tiga jurusan, jurus itu biasanya dinamai "Sam Peng Kiam" atau
"Pedang Tiga Es".
Melihat cara menyerang Cung Kiang Bun, Wie Lie cinjin
tersenyum sabar.
Dengan gerakan yang lincah, Wie Lie cinjin tahu2 telah
berkelit dari samberan pedang Cung Kiang Bun, tubuhnya
miring kekiri, lalu tanpa terlihat gerakan tubuhnya, ia telah
berputar dan diwaktu itu pedang Cung Kiang Bun telah
berkelebat dengan cepat disisi tubuhnya.
Cung Kiang Bun mendongkol sekali melihat tikamannya
dengan pedangnya tidak mengenai sasaran, walaupun ia telah
mempergunakan jurus yang begitu kuat. Dengan demikian, ia
jadi penasaran dan sebelum menarik pulang pedangnya
membarengi dengan tikamannya.
Namun Wie Lie cinjin merupakan seorang pendeta yang
memiliki kepandaian tinggi, dengan demikian ia bisa melayani
serangan2 pedang lawannya dengan mudah sekali, tidak satu
pun serangan Cung Kiang Bun yang mengenai sasarannya.
Diwaktu itu, Hoa Lun Sian sendiri tengah sibuk menyerang
wie Lin cinjin, tubuh sigadis ber-kelebat2 bagaikan bayangan
saja, juga pedangnya berseliweran dengan membawa angin
yang menderu2. Namun sama halnya dengan Wie Lie cinjin,
maka Wie Lin cinjin juga memiliki kepandaian yang tinggi, ia
bisa menghadapi tikaman dan tabasan yang dilancarkan oleh
Hoa Lun Sian dengan mudah sekali.
Begitulah, keempat orang tersebut bergerak kesana kemari
melakukan pertempuran yang agak ganjil. Karena selama itu
Wie Lie cinjin maupun Wie Lin cinjin melayani Hoa Lun Sian
dan Cung Kiang Bun dengan bertangan kosong, dan pendeta2
tersebut juga selalu mengelakkan diri saja, selain main kelit,
mereka tidak pernah melakukan serangan balasan-
Dan yang mengagumkan, justru kepandaian kedua pendeta
tersebut memang tinggi sekali, sehingga Cung Kiang Bun dan
Hoa Lun Sian sama sekali tidak berhasil untuk mendesak
mereka, apalagi untuk memperoleh kemenangan-
Semakin lama Cung Kiang Bun memperoleh kenyataan
bahwa kepandaiannya bersama Hoa Lun Sian memang tidak
berarti banyak bagi Wie Lie cinjin dan wie Lin cinjin, jika saja
kedua tojin itu melakukan serangan yang sungguh2, tentu
dalam waktu yang singkat mereka akan dapat dirubuhkanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Sedangkan Wie Lie, Wie Sin dan Wie To cinjin, mereka
bertiga hanya berdiam diri saja, mengawasi pertandingan
yang tengah berlangsung itu. Disamping itu, tampaknya
merekapun tenang2 saja, karena mereka tidak berkuatir untuk
kedua saudara seperguruan mereka, yang mereka saksikan
memang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dan Cung Kiang
Bun dan Hoa Lun Sian-
Diwaktu pertempuran yang tidak berkesudahan antara Wie
Lie cinjin dengan Cung Kiang Bun dan Hoan Lun Sian dengan
wie Lin cinjin sedang berlangsung diwaktu itu terdengar suara
mendesis yang perlahan, namun tajam.
Sebagai tokoh persilatan yang memiliki kepandaian tinggi
dan pendengaran yang terlatih, suara yang perlahan dan aneh
itu telah menarik perhatian mereka, Malah Wie Lie cinjin telah
melirik kearah datangnya suara mendesis itu.
Seketika mukanya jadi berobah, karena ia melihat dari
pintu menggeleser masuk dua ekor ular berukuran Cukup
besar, sebesar lingkaran lengan manusia, kedua ular tersebut
yang telah mengeluarkan suara mendesis tersebut.
Cung Kiang Bun yang menoleh kebelakang, setelah ia gagal
melancarkan tikaman dengan pedangya, ia pun melihat kedua
ekor ular tersebut, Hoa Lun Sian juga melihat kedua ular itu.
Mereka jadi saling melompat memisahkan diri.
Wie Lie cinjin mengerutkan sepasang alisnya, ia telah
menggumam dengan suara mengandung keheranan yang
sangat: "Aneh... dari mana datangnya ular- ular ini ?"
Wie Lin cinjin sendiri telah melompat ke dekat ular2
tersebut, ia mempergunakan jari telunjuknya untuk menyentil
kearah kepala kedua ular tersebut. Sentilan yang dilakukannya
itu diliputi oleh tenaga lwekang yang cukup kuat.
Akibat sentilan itu, tubuh kedua ekor ular itu jadi terpental.
Dan waktu itu, suara mendesis telah lenyap.
Tetapi tak lama kemudian, terdengar kembali suara
mendesis perlahan namun tajam itu.
Dan waktu semua orang mengawasi kearah pintu, justru
saat itu mereka melihat lima ekor ular yang sama besarnya
dengan kedua ekor ular tadi, tengah merayap masuk keruang
dalam. Tubuh ular2 tersebut berbintik-bintik kuning seperti
kemilauan emas, dan juga warna tubuh ular itu kehijauhijauan-
Maka Wie Lie cinjin waktu melihat jelas tubuh ular itu, jadi
berobah mukanya.
"Kim Tok coa (Uiar Racun Emas)" ia berseru dengan suara
yang tersendat ditenggorokan.
Memang didalam rimba persilatan dikenal semacam ular
yang sangat beracun sekali, yaitu ular yang memiliki bintik2
kuning seperti emas. Dan ular jenis tersebut memiliki "bisa"
yang luar biasa, dimana jika seseorang terkena gigitannya dan
keracunan "bisa" ular tersebut, tidak lebih dari sepemakanan
nasi, tentu akan binasa dengan tubuh yang hangus kehitam2an-
Dan ular jenis Kim Tok coa tersebut merupakan ular yang
ditakuti oleh setiap orang rimba persilatan, karena ular2
serupa itu memang banyak sekali dipelihara oleh seorang
datuk persilatan yang terkenal sekali keganasannya, yaitu Kim
coa Tok Kun (pukulan BercCun Ular Emas) Sun cia Piang.
Semua orang rimba persilatan telah mengetahui, bahwa
ular- ular Kim Tok coa itu dipelihara oleh Sun cia Piang untuk
dipergunakan sebagai senjatanya ataupun juga sebagai
barisan ular beraCun yang dipergunakan mengepung
lawannya. Sekarang ular-ular itu muncul dikuilnya, tentu saja
membuat Wie Lie cinjin dan pendeta yang lainnya jadi
terkejut.

Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sedangkan Cung Kiang Bun dan Hoa Lun sian sendiri,
walaupun mereka merupakan pendekar-pendekar muda yang
belum begitu lama berkecimpung didalam rimba persilatan,
namun mereka pernah mendengar juga mengenai diri Sun cia
Piang. Dengan demikian mereka juga menyadari apa artinya
munculnya ular-ular Kim Tok coa tersebut.
Kelima ekor ular tersebut lelah merayap sampai ke ruang
dimana Wie Lie cinjin dan yang lainnya berada, Dan kelima
ekor ular tersebut telah mengeluarkan suara mendesis yang
sambung menyambung. Diruangan itupun seketika tersiar bau
amis yang tidak sedap untuk hidung.
Wie Lin cinjin menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya telah
melompat dengan gesit, ia menggerak-gerakkanjari tangan
kanannya berulang kali. Maka kelima ekor ular itu telah kena
disentil terpental keluar ruangan lagi.
Kelima ular tersebut mengeluarkan suara mendesis yang
cukup nyaring, karena tampak nya ular-ular itu menderita
kesakitan akibat di sendi dengan jari yang diselubUngi oleh
kekuatan tenaga Iwekang.
Dengan demikian, kelima ekor ular itu begitu terjatuh
dilantai, seketika melingkar-lingkar mengeluarkan suara
desisan yang jauh lebih kuat.
Tetapi bersamaan dengan itu, tampak beberapa ekor ular
yang sama telah merayap memasuki ruangan itu.
Melihat semua ini Wie Lie cinjin dan yang lainnya jadi
berobah mukanya. Dan diwaktu itulah Wie Lie cinjin telah
mengibaskan lengan jubahnya dan tubuhnya melompat
keruang depan- Gerakannya gesit sekali.
Sedangkan tojin2 yang lainnya juga telah menjejakkan
kakinya, tubuhnya melompat dengan ringan sekali dalam
sekejap mata mereka telah berdiri dibelakang Wie Lie cinjin-
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian juga telah melompat
keluar, Mereka masing2 masih mencekal pedangnya .
Dengan mata yang tajam Wie Lie cinjin dan lainnya telah
mengawasi sekelilingnya. Dari tempat mereka, berada
memang menghubungi dengan pelataran kuil, dengan
demikian bisa mereka memandang leluasa sekelilingnya.
Tetapi, disaat itu keadaan sunyi sekali tidak terlihat seorang
manusiapun juga .
Namun yang terlihat justru suatu pemandangan yang
cukup mengejutkan, yaitu dibawah pohon Siong yang tumbuh
didepan kuil tersebut, berjajar barisan ular Kim Tok coa, yang
mungkin jumlahnya lebih dari seratus.
Waktu itu ular-ular itu tidak ada seekorpun yang
mengeluarkan suara desisan, hanya berdiam diri dengan
mengangkat kepalanya, Bau amis yang tersiar santer sekali
disekitar tempat tersebut.
Wie Lie cinjin telah mengeluarkan suara perlahan, ia
menggumam: "Aneh sekali... apakah Sun cia Piang memang
muncul ditempat ini?"
Belum lagi Wie Lie cinjin selesai bergumam begitu, diwaktu
yang bersamaan telah terdengar suara tertawa bergelak-gelak
dari tempat yang Cukup jauh.
Dan suara tertawa itu panjang sekali tidak putus-putus. Hal
ini menunjukkan bahwa orang yang mengeluarkan suara
tertawa itu memiliki sinkang yang kuat dan sempurna.
Muka Wie Lie cinjin dan tojin-tojin lainnya yang mendengar
suara tertawa itu, jadi berobah air muka mereka, karena
didalam suara tertawa itu mengandung nada yang mengerikan
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian sendiri sampai
menggidik mendengar suara tertawa tersebut, karena mereka
merasakan tetinga mereka seperti tertusuk sakit sekali oleh
getaran suara tertawa tersebut.
Dengan demikian segera juga keadaan di kuil itu menjadi
sunyi, karena Wie Lie cinjin, Wie Lin cinjin dan wie sin cinjin,
semua nya berdiam diri memandang tegang pada pintu kuil,
sedangkan Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian mencekal
pedang mereka kuat2.
Cukup lama juga suara tertawa yang panjang itu terdengar,
sampai akhirnya lenyap.
Keadaan jadi sepi dan hening kembali, sedangkan barisan
ular itupun masih tetap berdiam ditempat mereka tanpa
bergerak dan tanpa mendesis.
Disaat itu, keheningan tersebut dirobek-robek kembali
dengan suara orang berkata: "Pendeta-pendeta Kun lun pay
keluarlah... temuilah aku,jika memang kalian membandel
kalian akan menjadi santapan ularku itu."
Wie Lie cinjin dan yang lainnya tergetar hatinya, suara
orang itu seperti juga runtuhnya gunung, sampai terasa
genting kuil tersebut seperti bergoyang.
Hal ini membuktikan lwekang orang berteriak tersebut
tinggi sekali. Dan sekali mendengar saja Wie Lie cinjin dan
yang lainnya telah mengetahui bahwa lwekang orang tersebut
jauh berada diatas lwekang mereka.
"Benar-benar Sun cia Piang telah muncul ditempat ini "
menggumam Wie Lie cinjin dengan suara agak tergetar.
Datuk persilatan Sun cia Piang memang merupakan momok
orang2 rimba persilatan karena orang she Sun tersebut
memiliki sikap yang ganas dan mengerikan sekali. Tidak
pernah lawannya dibiarkan tetap utuh, jika tidak menemui
kematian ditangannya, tentu akan berCacad seumur hidup,
Tetapi karena keadaan telah demikian rupa, dan juga Wie
Lie cinjin tidak mengetahui entah apa maksud dari Sun cia
Piang mencari mereka, ia telah membenarkan diri, dengan
mengerahkan lwekangnya, ia berkata: "Apakah yang
berkunjung Sun cia Piang Enghiong (orang gagah)?"
Terdengar suara orang mendengus diiringi lagi oleh suara
tertawanya yang nyaring.
Dan tahu-tahu sosok tubuh telah berada didalam pelataran
kuil tersebut. "Kalian pendeta2 tak tahu diri. Aku telah memberikan
kesempatan agar kalian keluar menyambutku, tetapi kalian
tetap berdiri seperti patung disitu, maka sekarang walaupun
kalian meminta ampun padaku, tetap tidak akan kuberikan-."
Dan sambil berkata begitu, sosok tubuh tersebut telah
mengeluarkan suara tertawa nya lagi yang menyeramkan,
tubuhnya sampai tergoncang keras:
Wie Lie cinjin dan yang lainnya telah mengawasi orang
tersebut, segera juga mereka melihat jelas seorang manusia
dengan wajah mengerikan- Karena muka orang tersebut
seperti wajah tengkorak. rusak sekali, dengan tanda Cacad
diberbagai tempat, seperti hidung, mata, kening, pipi, dagu
dan bagian2 lainnya. Dan Cacad yang terdapat dimukanya itu
seperti Cacad bekas gigitan ular.
Walaupun telah sering mendengar nama dan keganasan
Sun cia Piang, namun Wie Lie cinjin yang lainnya belum
pernah bertemu muka dengan datuk persilatan tersebut. Dan
kini setelah melihat wajah Sun cia Piang, mereka jadi bergidik
sendirinya. Begitu juga halnya dengan Cung Kiang Bun dan Hoa Lun
Sian, mereka jadi memandang terpaku kepada datuk
persilatan she sun tersebut.
Wie Lie cinjin cepat2 merangkapkan sepasang tangannya
memberi hormat, ia berkata dengan suara yang berusaha
memperlihatkan ketenangan hatinya: "Selamat datang dikuil
kami, Sun Enghiong... tentunya kedatangan Sun Enghiong
memiliki suatu keperluan dengan kami ?"
Tetapi Sun cia Piang begitu berhenti tertawa telah berkata
dengan suara yang parau menyeramkan: "Jika aku tidak
memiliki keperluan dengan kalian, untuk apa aku
melangkahkan kaki kemari?"
"Keperluan apakah yang menyebabkan Sun Enghiong
berkunjung kegubuk kami?" tanya Wie Lie cinjin lagi.
"Aku menghendaki kepala kalian-." menyahuti Sun cia
Piang. "Kepala kami?" tanya Wie Lie cinjin terkejut.
Sun cia Piang mengangguk dengan sikap yang angkuh
sekali, ia juga telah mengabulkan tangan kanannya ke tengah
udara. "Ya, aku menghendaki kepala kalian-." kata Sun cia Piang.
"Kalian orang2 Kun Lun pay terlalu bertingkah, Aku telah
memberikan kesempatan kepada kalian untuk keluar
menyambutku tetapi kalian terlalu bertingkah dan tidak mau
keluar untuk menyambutku. Maka sekarang aku menghendaki
jiwa kalian-.."
Waktu berkata begitu wajah Sun cia Piang tampak bengis
dan dingin sekali, apa lagi dengan wajahnya yang rusak
mengerikan seperti itu.
Wie Lie cinjin telah menghela napas ia berkata dengan
suara yang ragu-ragu: "Kami tak pernah bertemu dengan Sun
Enghiong, dan juga kami tidak pernah melakukan suatu
kesalahan apapun juga kepada Sun Enghiong, mengapa Sun
Enghiong memusuhi diri kami dari pihak Kun Lun Pay?"
Ditanya begitu, Sun cia Piang mendelikkan mata nya.
"Aku menghendaki kepala kalian, tidak ada tawar menawar,
Dan kalian juga tidak perlu menanyakan apa sebabnya,"
jawabnya. Wie Lie cinjin tersenyum pahit, dan kemudian katanya lagi :
"Jika memang demikian-baiklah, apakah ada petunjuk dari Sun
Enghiong ?"
Sun cia Piang mengangguk.
"Ada, inilah petunjukku "dan setelah berkata begitu, tahutahu
tubuh Sun cia Piang melompat gesit sekali, gerakannya
seCepat kilat dan sulit sekali dilihat jelas oleh pandangan mata
manusia biasa. Diwaktu mana tangan kanannya telah
diulurkan untuk menarik kepala Wie Lie cinjin-
Walaupun hati Wie Lie cinjin merasa jeri berurusan dengan
Sun cia Piang, namun karena ia didesak begitu rupa, maka
terpaksa juga ia berkelit dan menggerakkan tangan kanannya
menghantam dengan kekuatan lwekang lewat dari telapak
tangannya. Gerakan yang dilakukan oleh Wie Lie cinjin memang bisa
menolong dirinya diri Cengkeraman tangan Sun cia Piang,
karena tampak datuk persilatan yang ganas itu telah menarik
pulang pukulan tangannya.
"Kau memiliki kepandaian yang lumayan rupanya, heh ?"
kata Sun cia Piang.
Dan membarengi dengan perkataannya, ia melompat lagi
dengan gesit. Kali ini gerakan tangannya melingkar-lingkar,
dan diwaktu Wie Lie cinjin menangkisnya, terdengar benturan
yang keras sekali.
Yang luar biasa, justru tubuh Wie Lie cinjin telah terpental
keras sekali ditengah udara, dan kemudian ambruk diatas
tanah dengan keras.
Wie Lin, Wie Sin, wie Lie dan wie To cinjin yang melihat
apa yang dialami oleh saudara seperguruan mereka, jadi
mengeluarkan suara seruan kaget, serentak mereka melompat
mengurung sun cia Piang.
Gerakan mereka ringan, dan mereka juga bukan
mengurung dengan berdiam diri. Sebab begitu mereka
mengurung, empat pasang tangan bergerak lincah melakukan
pukulan kepada Sun cia Piang.
Datuk persilatan Sun cia Piang yang melihat datangnya
gempuran pada dirinya, telah menggeser kedudukan kakinya,
ia berdiri dengan kaki kirinya, kaki kanannya diangkat, dengan
sikap yang mirip dengan jurus "Kim Kee Tok Pit" atau Ayam
Emas Berdiri Dengan Kaki Tunggal, tubuhnya berputar cepat
sekali seperti titiran dan disaat itulah kedua tangannya
digerakkan maka dari kedua telapak tangannya telah meluncur
angin yang kuat sekali.
Angin gempuran dari Wie Lin cinjin, wie Lie cinjin, wie To
cinjin dan wie Sin cinjin telah tertolak kembali kepada
pemiliknya dan tubuh keempat tojin itu telah terpental keras
sekali, terbanting diatas tanah.
Dengan demikian keempat tojin itu juga mengeluarkan
suara seruan kesakitan, dan cepat2 mereka melompat berdiri
kembali Namun mereka tidak langsung melakukan serbuan
lagi, sebab mereka telah melihat dalam satu gebrakan itu,
bahwa mereka memang bukan menjadi dari Sun cia Piang.
Sun cia Piang juga telah mengeluarkan suara tertawa
dingin. "Seperti telah kukatakan, aku menghendaki kepala
kalian..." dan setelah berkata begitu, tubuh Sun cia Piang
bergerak lagi dengan cepat ke dua tangannyapun bergerakgerak
ketubuh tojin Kun Lun Pay itu.
Wie Lie cinjin berlima melihat bahwa tubuh lawan mereka
bergerak mengelilingi mereka dan merasakan menyambarnya
angin gempuran yang dahsyat, dengan cepat kelima tojin
tersebut berusaha memusatkan tenaga lwekang mereka dan
menangkisnya dengan sepenuh tenaga.
Namun begitu mereka menangkis, justru tubuh mereka
sendiri yang telah terpental dan ambruk diatas tanah, dengan
demikian, tubuh mereka telah tergempur oleh kekuatan
tenaga lwekang sun cia Piang.
Malah ketika kelima tojin tersebut berusaha untuk bangun
berdiri, mereka telah memuntahkan darah segar.
Wajah kelima tojin itu jadi berobah pucat dan mereka
berdiri dengan kedua kaki yang gemetaran menggigil, seperti
juga mereka akan terhuyung rubuh kembali.
Cun Kiang Bun dan Hoa Lun Sian yang melihat keadaan
seperti ini jadi memandang dengan wajah yang pucat pias,
karena mereka melihat betapa kepandaian dari Sun cia Piang
sangat tinggi sekali.
Tetapi diam2 mereka juga bergirang, karena tanpa sengaja
dan tidak langsung Sun cia Piang sebagai tuan penolong
mereka. Bukankah dengan terlukanya kelima tojin tersebut, berarti
mereka tidak akan memperoleh kesulitan lagi, untuk
membebaskan ketiga orang murid Wie-liong-pay yang menjadi
saudara seperguruan dari Cung Kiang Bun-
Wie Lie cinjin waktu itu telah merangkapkan sepasang
tangannya, ia telah mendekati ke mulutnya, tahu2 bersiul
dengan suara yang nyaring.
Dari dalam kuil tahu2 berlompatan keluar belasan tojin
yang lincah sekali, semuanya membawa pedang sebagai
senjata mereka.
"Sun Enghiong, kami tidak memiliki permusuhan dengan
kau, tetapi engkau telah menurunkan tangan yang demikian
keras dan kejam kepada kami... dengan demikian, tentu saja


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kami juga terpaksa harus menghadapi dengan cara yang bisa
kami tempuh." Sun cia Piang mengeluarkan suara tertawa
dingin. "Apa artinya belasan murid Kun Lun Pay itu... mereka
dengan mudah akan kubinasakan tetapi yang kuperlukan
adalah batok kepala kalian berlima." dan setelah berkata
begitu, tubuh Sun cia Piang bergerak lincah untuk menerjang
kepada Wie Lie cinjin, dan ia juga telah menggerakkan kedua
tangannya untuk melakukan gempuran pula.
Wie Lie cinjin menyadarinya, jika dia menangkis dengan
mempergunakan kekerasan tentu dirinya yang akan terluka
didalam. Maka dari itu, cepat sekali Wie Lie cinjin tanpa menantikan
tibanya sasaran lawan, ia telah berkelit kesamping dan tangan
kanannya tahu-tahu bergerak mencabut pedangnya, yang di
gerakkan untuk menabas kearah Sun cia Piang, sehingga
datuk persilatan itu terpaksa harus membatalkan
terjangannya. Dalam keadaan demikian, tampak Sun cia Piang juga hanya
mundur sejenak dan telah menerjang kembali kearah Wie Lie
cinjin- Walaupun Wie Lie cinjin memakai pedang sebagai
senjatanya, tampaknya Sun cia Piang sama sekali tidak
merasa gentar. Kun Lun Kiam Hoat atau ilmu pedang dari Kun Lun Pay
merupakan ilmu pedang yang dahsyat dan sulit untuk
ditandingi, tetapi dimata Sun cia Piang, ia sama sekali tidak
memandang sebelah mata terhadap ilmu pedang tersebut.
Dengan berani ia telah menerjang maju.
Diwaktu itulah, ketika pedang dari Wie Lie cinjin
menyambar kearah pinggangnya, disaat itu ia telah
menggerakkan tangan kirinya, menjepit pedang itu dengan
kedua jari tangannya, berbareng telapak tangan kanannya
menghantam kuat sekali.
Wie Lie cinjin yang waktu itu tengah berusaha menarik
pulang pedangnya, jadi tidak memiliki kesempatan buat
mengelakan diri lagi.
"Bukkk..." terdengar suara yang kuat sekali, dan tubuh Wie
Lie cinjin telah terlempar ditengah udara.
Apa yang dialami oleh Wie Lie cinjin benar2 mengenaskan
sekali, karena dadanya telah melesak dan tulang dadanya
patah dua, akibat kuatnya gempuran yang dilakukan Sun cia
Piang, Begitu tubuhnya terbanting diatas tanah pelataran kuil
tersebut seketika ia pingsan tidak sadarkan diri.
Saudara2 seperguruan Wie Lie cinjin jadi terkejut melihat
apa yang dialami oleh Wie Lie cinjin-
Diwaktu itu, Wie Sin cinjin telah melompat mendekati Wie
Lie cinjin, ia memeriksa keadaan saudara seperguruannya
tersebut. Sedangkan wie Lie, Wie Lin dan wie To cinjin melompat
mengurung Sun cia Piang, Mereka menyadari bahwa biarpun
mereka ber-tiga, tetap bukan menjadi tandingan dari Sun cia
Pian- Tetapi melihat saudara seperguruan mereka terluka
parah seperti itu, mereka jadi nekad, dan akan
mempertaruhkan jiwa mereka untuk menghadapi Sun cia
Piang. Sun cia Piang mengeluarkan suara tertawa yang ber-gelak2
dan ia telah memandang bengis kepada ketiga lojin yang
mengurung dirinya.
"Kalian memang harus dibereskan juga ..." katanya dengan
suara yang mengerikan.
Tanpa menantikan ketiga pendeta itu sempat ber-kata2 ia
telah melompat lagi untuk me lancarkan serangan-
Tetapi belasan lojin yang menjadi adik seperguruan dari
Wie Lie cinjin berlima telah loncat maju untuk bantu
mengepung datuk persilatan tersebut, yang memiliki tangan
begitu ganas. Pedang mereka juga ber-kelebat2 untuk menikam dan
menabas datuk persilatan she Sun itu.
Tetapi Sun cia Piang memang benar2 liehay, karena cepat
sekali ia bisa menghadapi keadaan seperti itu dengan gerakan
tubuh yang lincah.
Ketika kedua tangannya bergerak, tujuh sosok tubuh dari
adik seperguruan Wie Lie cinjin telah terpental dan ambruk
ditanah, dalam keadaan pingsan, malah dua orang diantara
mereka seketika menghembuskan napas terakhir akibat
kuatnya tenaga serangan Sun cia Piang.
Dengan demikian, wie To cinjin dan wie Lin serta Wie Lie
cinjin, sudah tak bisa berdiam diri, ia mengeluarkan suara
bentakan yang mengandung kemarahan, pedang mereka telah
bergerak lincah sekali dan berusaha menikam bagian anggota
tubuh Sun cia Piang yang bisa mematikan-
Terpaksa Sun cia Piang harus menghindarkan diri beberapa
kali. Dentingan antara pedang2 murid Kun Lun Pay yang saling
bentur itu terdengar nyaring sekali, Dan juga tampak Wie To
cinjin sendiri terhuyung mundur dengan muka yang pucat,
sebab pahanya telah tergempur dengan oleh pukulan telapak
tangan Sun cia Piang. Begitulah, pertempuran yang kaCau
telah terjadi seru sekali.
Namun memangnya Sun cia Piang memiliki tenaga lwekang
dan kepandaian yang tinggi sekali, dengan demikian ia bisa
menghadapi tojin2 dari Kun Lun pay tersebut dengan baik.
Dan lima jurus kemudian wie Lin cinjin telah terpental dan
terbanting pula ditanah cukup keras, menyebabkan debu
mengepul tinggi.
Angin malam yang berhembus dingin seperti juga
mengandung hawa pembunuhan yang mengerikan sekali, Dan
juga Wie Lie cinjin yang waktu itu belum terserang oleh Sun
cia Piang berusaha mengerahkan seluruh kepandaian ilmu
pedangnya untuk menikam dan mendesak Sun cia Piang,
dibantu oleh sisa dari saudara sepergUruannya yang lainnya.
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian yang menyaksikan
pertempuran seperti itu, jadi berdiri mematung.
Malah Hoa Lun Sian telah mencubit lengan Cung Kiang
Bun. "cung Sieheng, lebih baik kita mencari ke tiga orang
saudara seperguruanmu, untuk membebaskan mereka,
bukankah ini merupakan suatu kesempatan baik untuk kita ?"
Cung Kiang Bung seperti tersadar dan telah mengiyakan-
Mereka berdua segera bergerak untuk masuk keruang dalam
kuil. Namun mata Sun cia Piang tajam sekali, walaupun ia
tengah dikurung oleh murid- murid Kun Lun Pay, namun ia
bisa melihat gerakan Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian-
"Jangan bergerak, tetap berdiri ditempat kalian," bentak
Sun cia Piang. Tetapi Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Siao telah memutar
tubuh mereka akan memasuki ruang dalam dari kuil itu.
Melihat bentakannya tidak dilayani oleh ke dua muda- mudi
tersebut, Sun cia Piang jadi mendongkol sekali.
Sambil berkelit dari tikaman pedang pada lehernya yang
dilakukan oleh Wie Lie cinjin, tampak Sun cia Piang telah
menggerakkan kedua tangannya, angin berkesiuran
menyambar kearah punggung Cung Kiang Bun dan Hoa Lun
SianTiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua muda mudi tersebut jadi terkejut waktu merasakan
punggung mereka berkesiuran angin yang kuat sekali. Mereka
berusaha berkelit.
Namun pukulan Pek Kong ciang Sun cia Piang ternyata
tidak bisa dikelit oleh kedua muda mudi itu mereka terdorong
jatuh dilantai.
Hal ini memperlihatkan bahwa tenaga lwekang yang dimiliki
Sun cia Piang memang tinggi sekali, karena dari jarak yang
terpisah cukup jauh seperti itu ia masih sanggup merubuhkan
Hoa Lun Sian dan Cung Kiang Bun. Cung Kiang Bun dan Hoa
Lun sian cepat2 merangkak bangun.
Sun cia Piang sambil berkelit dari tikaman kedua murid Kun
Lun Pay telah membentak lagi: "Jika kalian berani
meninggalkan tempat ini, kalian akan kubinasakan juga."
Mendengar ancaman Sun cia Piang, Hoa Lun Sian dan juga
Cung Kiang Bun jadi bungkam dan berdiri mematung ditempat
mereka karena memang mereka telah menyaksikan betapa
kepandaian yang dimiliki Sun cia Piang tinggi sekali dan tidak
mungkin mereka bisa menandinginya .
Dengan demikian, kedua muda mudi tersebut jadi berdiri
diam saja menyaksikan pertempuran yang masih berlangsung.
Sun cia Piang bergerak cepat sekali, disaat ia menghentikan
kedua tangannya, maka tiga orang murid Kun Lun Pay telah
terpental lagi dengan kuat.
Murid2 Kun Lun Pay itu berusaha mengepung dengan ketat
diri datuk persilatan tersebut namun kenyataannya memang
Sun cia Piang merupakan jago yang memiliki kepandaian
sangat tinggi sekali,
Wie Lie cinjin yang melihat hal itu, jadi berputus asa,
karena yang belum terluka adalah dirinya sendiri.
Keempat saudara seperguruan yang memiliki kepandaian
sama tingginya dengan dia telah terluka, akhirnya Wie Lie
cinjin jadi nekad.
cepat sekali ia memutar pedangnya dan menyerbu tanpa
memperdulikan keselamatan dirinya.
Sun cia Piang mengeluarkan suara tertawa dingin, waktu
pedang dari Wie Lie cinjin tengah menyambar kearah dirinya,
dia telah menyentil dengan jari telunjuknya. Hebat sekali
sentilan tersebut.
Karena begitu pedang itu kena disentil, seketika pedang
Wie Lie cinjin jadi patah dua.
Dengan demikian, segera terlihat muka Wie Lie cinjin jadi
berobah pucat dan seketika ia melompat mundur untuk
menjauhi diri dari Sun cia Piang.
Sedangkan Sun cia Piang yang waktu itu tengah berusaha
untuk merubuhkan sisa kedua murid Kun Lun Pay, telah
menggerakkan kaki kanannya menendang Wie Lie cinjin,
sedangkan kedua tangannya berhasil mencengkeram pundak
kedua murid Kun Lun Pay yang masih melakukan tikaman
kepadanya. Dengan mengeluarkan suara bentakan yang nyaring sekali,
terlihat tubuh kedua murid Kun Lun Pay itu telah berhasil
dilontarkan oleh Sun cia Piang.
Sedangkan Wie Lie cinjin yang ditendang, berusaha
berkelit, tetapi kaki Sun cia Piang seperti juga memiliki mata,
karena begitu Wie Lie cinjin bergerak berkelit, ia telah
merobah arah sasaran dari serangannya.
Tidak ampun lagi, tubuh wie Lie cinjin jadi terpental karena
pahanya telah terkena tendangan tersebut.
Dengan mengeluarkan suara jeritan yang cukup keras,
tubuh wie Lie cinjin jadi terbanting diatas tanah. Dengan
demikian kelima tojin dari Kun lun pay yang memang
sesungguhnya memiliki kepandaian yang cukup tinggi, telah
berhasil dirubuhkan oleh Sun cia Piang dalam waktu yang
singkat. Disamping itu, belasan murid Kun Lun Pay yang lainnya
juga telah berhasil dirubuhkannya.
Setelah semua lawannya berhasil dilumpuhkan, maka Sun
cia Piang melangkah mendekati Cung Kiang Bun dan Hoa Lun
Sian- Dengan sinar mata yang tajam sekali ia memandangi kedua
muda- mudi tersebut, lalu dengan suara yang parau
menyeramkan ia telah berkata dengan suara yang tawar:
"Hemmm, kalian bukan murid Kun Lun Pay, mengapa berada
disini ?" Cung Kiang Bun dan Hoa Lun sian cepat cepat
merangkapkan tangan mereka memberi hormat setelah
memasukkan pedang mereka kedalam serangkanya.
"Kami berada ditempat ini untuk menolong tiga orang
saudara seperguruan kami yang tertawan oleh orang-orang
Kun Lun Pay itu, dengan kedatangan Locianpwe maka berarti
kami tidak akan dipersulit lagi oleh orang2 Kun Lun Pay itu "
jawab Cung Kiang Bun.
Sun cia Piang tertawa dingin, kemudian ia berkata dengan
suara yang tawar: "Kedatangan ku kemari bukan untuk
menolongi kalian-.. tetapi justru hanya untuk mengambil
kelima batok kepala dari pendeta-pend eta Kun Lun Pay
tersebut... sekarang disini kebetulan ada kalian berdua, maka
dengan demikian, kalian juga harus dimusnahkan ilmu dan
kepandaiannya..."
Mendengar perkataan Sun cia Piang itu, wajah Cung Kiang
Bun dan Hoa Lun Sian jadi berobah pucat, Kedua muda mudi
ini menyadari jika saja datuk persilatan tersebut menurunkan
tangan keras dan kejam pada mereka, tentu mereka berdua
tidak akan berdaya apa2 menghadapinya.
"Ber-siap2lah kalian-.." kata Sun cia Piang dengan suara
yang dingin, "Kalian harus dimusnahkan kepandaiannya..."
dan setelah berkata begitu, Sun cia Piang melangkah
menghampiri Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian berdua,
dengan sikap yang mengancam sekali,
Tubuh Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian jadi menggigil
ngeri melihat paras muka Sun cia Piang yang menyeramkan-
Tetapi mengetahui bahwa datuk persilatan tersebut hendak
memusnahkan kepandaian mereka, tentu saja Cung Kiang Bun
dan Hoa Lun Sian sama sekali tidak mau berdiam diri.
Waktu Sun cia Piang telah berada dekat dengan mereka,
keduanya ber-siap2 untuk melakukan perlawanan
Sun cia Piang tertawa perlahan, tetapi nada suara
tertawanya mengerikan sekali.
"Walaupun kalian mengeluarkan seluruh kepandaian kalian
hendak melakukan perlawanan percuma saja..." kata datuk
persilatan tersebut, yang memiliki tangan ganas sekali.
Bersamaan dengan itu, tubuh Sun cia Piang telah bergerak,
ia mengulurkan tangan kirinya untuk menotok tubuh Cung
Kiang Bun dan tangan kanannya bergerak hendak menotok
tubuh Hoa Lun Sian-
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun sian yang melihat datangnya
bahaya, tidak mau tinggal diam, cepat2 mereka melompat
kesamping, untuk menjauhi diri sejauh empat tombak lebih.
Gerakan yang dilakukan oleh Cung Kiang Bun dan Hoa Lun
Sian memang bisa meloloskan diri mereka dari bahaya yang
mengancam itu. Tetapi bersamaan dengan itu, Sun cia Piang jadi


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mendongkol dan membarengi melakukan penyerangan lagi.
Kali ini jauh lebih cepat dari yang tadi, kedua tangannya
berkelebat untuk mencengkeram punggung Cung Kiang Bun
dan Hoa Luu Sian. Cung Kiang Bun mengeluh, mati2an ia
berusaha berkelit. Kali ini ia gagal, pakaian dibagian
punggungnya telah kena dicengkeram.
Dengan mengeluarkan suara "Breett" pakaiannya dibagian
punggung telah robek, dan tubuh Cung Kiang Bun
menggelinding ditanah.
Keringat dingin seketika memenuhi tubuh Cung Kiang Bun.
Begitu juga halnya dengan Hoa Lun sian ia berusaha untuk
berkelit dari Cengkeraman tangan Sun cia Piang. Gerakan Hoa
Lun Sian lebih cepat dari Cung Kiang Bun, maka tak sampai
pakaiannya kena dicengkeram, sigadis telah membuang diri
menggelinding diatas lantai.
Gerakan kedua muda- mudi tersebut yang bisa
menyelamatkan diri mereka dari cengkeraman tangannya
membuat Sun cia Piang jadi tambah mendongkol.
"Kalian berusaha melawan, heh ?" tegurnya dengan wajah
yang berobah semakin bengis dan tidak sedap dipandang.
Disaat itulah, tubuh Sun cia Piang telah bergerak cepat
sekali dan mengulangi lagi gerakan kedua tangannya. Tetapi
sekarang ia bukan bermaksud hendak mencengkeram, dia
hanya melakukan pukulan dengan kedua telapak tangannya.
Tetapi tenaga pukulan yang dilakukan oleh Sun cia Piang
bukan merupakan tenaga pukulan biasa, karena tenaga
pukulan tersebut mengandung kekuatan lwekang yang benar2
bisa menghancurkan sebungkah batu gunung yang berukuran
besar. Maka dari itu, Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian jadi
tidak berani berayaL
Dengan mengeluarkan seruan nyaring, mereka telah
membuang diri dan menggelinding dilantai untuk menjauhi
diri. sun cia Piang jadi semakin penasaran, telapak tangannya
telah menghamtam dinding kuil dengan keras sekali, sehingga
dinding itu jebol.
Waktu itu, tampak Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian
tengah berusaha untuk berdiri.
Tetapi Sun cia Piang telah melancarkan serangan pula
dengan mengerahkan tenaga lwe-kangnya.
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian yang menyadari bahwa
diri mereka bukan menjadi tandingan dari Sun cia Piang,
cepat2 menjejakkan kaki mereka, tubuh mereka telah
melambung tinggi ketengah udara kedinding kuil tersebut.
Kembali serangan Sun cia Piang telah menghantam tempat
kosong, yaitu dinding kuil itu, yang kembali jebol oleh
kekuatan terjangan lwe kang Sun cia Piang.
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun sian sama sekali tak mau
membuang2 waktu lagi, begitu kaki mereka menginjak dinding
kuil, segera mereka menjejakkan kaki mereka lagi, maka
tubuh mereka bagaikan Capung yang menotok permukaan air,
telah melambung keluar kuil.
Gerakan mereka cepat, tetapi lebih cepat lagi gerakan yang
dilakukan oleh Sun cia Piang, karena dengan hanya
menjejakkan kakinya, tubuh Sun cia Piang seperti juga
terbang, telah melewati dinding itu dan tahu2 telah berdiri di
hadapan Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian-
Dengan demikian, jalan larinya Cung Kiang Bun dan Hoa
Lun Sian telah terhadang, dan mereka tidak memiliki
kesempatan lagi untuk melarikan diri.
Cung Kiang Bun jadi putus asa, dengan penuh kemarahan
berCampur takut ia telah berkata: "Kami tidak memiliki
hubungan apapun dengan kau maupun tojin2 dari Kun Lun
Pay itu, meng apa justru kami juga dimusuhi olehmu?" Tetapi
Sun cia Piang telah berkata dengan suara yang dingin.
"Tiga kali kalian bisa menghindarkan diri dari aku, hal itu
memang merupakan suatu hal yang cukup mengagumkan
umumnya jarang sekali orang bisa menghindarkan diri dari
tiga seranganku.... Sekarang kalian harus menerima lagi tiga
seranganku, jika memang kalian maSih meloloSkan diri, hal itu
membuktikan bahwa Thian melindungi..."
Mendengar perkataan Sun cia Piang, Cung Kiang Bun dan
Hoa Lun Sian jadi mengeluh, karena mereka menyadari tidak
mungkin mereka bisa menghadapi tiga serangan dari datuk
persilatan ini.
Karena jika tadi mereka dapat menghindari diri dan
menyelamatkan diri mereka dari ketiga serangan Sun cia
Piang, semua itu terjadi seCara kebetulan sekali dan nasib
mereka masih baik. Pertama2 karena Sun cia Piang waktu itu
memang melancarkan serangannya bukan sungguh2.
Sekarang jika memang mereka harus menghindarkan diri
lagi dari tiga serangan Sun cia Piang, tentu mereka akan gagal
sama sekali, karena justru Sun cia Piang tentu akan
melakukan penyerangan dengan sungguh2.
Dengan demikian, tipis harapan mereka bisa meloloskan
diri dari Sun cia Piang.
"Kalian sudah siap?" tegur Sun cia Piang dengan suara
yang dingin. Cung Kiang Bun dan Hoa Lun sian berdiam diri saja. Mereka
hanya mengawasi Sun cia Piang dengan sorot mata
penasaran, karena mereka menyadari bahwa mereka tidak
mungkin bisa menandingi kepandaian dari datuk persilatan ini.
Waktu itu Sun Cia Piang tanpa memperdulikan sikap mudamudi
ini, telah mulai menggerakkan tangan kanannya, untuk
melakukan penyerangan.
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian yang telah putus asa,
segera mencabut pedang mereka.
"Baiklah, kami akan mengadu jiwa dengan kau..." kata
Cung Kiang Bun dengan suara yang mengandung
kemendongkolan yang sangat.
Diwaktu itu, Sun cia Piang telah menggerakkan terus
tangannya, angin serangan yang meluncur dari telapak
tangannya berkesiuran sangat kuat sekali.
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian serentak melakukan
tikaman dengan pedang mereka tanpa memperdulikan
serangan yang dilakukan oleh Sun cia Piang.
Tetapi pukulan yang dilakukan oleh Sun cia Piang
mengandung tenaga lwekang yang kuat karena sebelum
ujung pedang Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian berhasil
mengenai tubuh Sun cia Piang, diwaktu itulah tampak tubuh
mereka telah tertolak keras sekali dan menggelinding
terbanting diatas tanah.
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian jadi merintih kesakitan,
karena mereka merasakan sekujur tubuh mereka seperti juga
telah remuk dan tulang2 mereka seperti juga bercopotan.
Dengan dibarengi oleh suara bentakan yang sangat bengis,
tampak Sun Cia Piang telah melompat untuk melakukan
serangan pula. Melihat ini Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian yang telah
terluka didalam jadi mengeluh, karena mereka yakin kali ini
mereka tentu akan menemui kematian, atau setidak-tidaknya
tentu akan terluka berat.
Dengan demikian, mereka jadi tidak memiliki daya apa-apa
lagi, sebab untuk menghindarkan diri juga mereka sudah tidak
sanggup, hanya rebah terlentang ditanah dan pasrah
menerima nasib saja, mengawasi betapa serangan yang
dilakukan oleh Sun Cia Piang telah meluncur datang dekat
sekali, akan menghantam batok kepala mereka.
Tetapi dalam keadaan yang sangat gawat dan
mengkuatirkan untuk keselamatan jiwa Cung Kiang Bun dan
Hoa Lun Sian, tiba2 berkelebat sesosok bayangan, disertai
dengan suara bentakan yang nyaring:
"Tahan.,.!" dan tangan dari sosok tubuh itu telah
menangkis tanganpun Cia Piang, ketika itu juga tampak
benturan yang kuat sekali telah terjadi, dimana dua kekuatan
tenaga lwekang yang tinggi sekali telah saling membentur dan
mendesak. Tubuh Sun Cia Piang tergoncang keras sekali, tampaknya ia
kaget juga telah ditangkis oleh suatu kekuatan yang begitu
dahsyat, dimana tenaga serangannya seperti juga ditindih.
Sosok tubuh yang baru datang itupun tidak menyangka
sama sekali, bahwa tenaga serangan yang dilakukan oleh Sun
Cia Piang benar2 tangguh sekali, maka telah membuat kuda2
kedua kakinya hampir tergoyahkan.
Waktu Sun Cia Piang berhasil berdiri tetap ditempatnya dan
mengawasi sosok tubuh itu, ia bisa melihat dengan jelas,
bahwa orang yang baru datang itu tidak lain dan orang yang
memakai topeng merah.
Hoa Lun Sian yang melihat orang bertopeng tersebut jadi
berseru girang sekali: "Sin Coa Tung Hiap !"
Dengan kedatangan orang bertopeng merah itu, Siu Coa
Tung Hiap, telah membuat Hoa Lun Sian timbul harapan dapat
lolos dari tangan Sun Cia Piang, karena Hoa Lun Sian
mengetahui betapa kepandaian dari Sin Coa Tung Hiap
memang tinggi sekali.
Sedangkan Sun Cia Piang telah berdiri dengan tubuh yang
tegak dan mata yang memancarkan sinar tajam sekali,
kemudian ia berkata dengan suara yang dingin: "Siapa kau?"
Sin Coa Tung Hiap tertawa tawar, lalu dia menyahuti
dengan diiringi suara tertawanya itu: "Aku Sin Coa Tung Hiap
Gu Piang An...!"
"Hemm, Sin Coa Tung Hiap yang akhir2 ini telah
menghebohkan rimba persilatan dengan sepak terjangnya?"
tanya Sun Cia Piang dengan suara menyindir.
Dan kemudian ia melanjutkan pula perkataannya dengan
sikap yang keras: "Dan aku Sun Cia Piang tidak akan
membiarkan orang bertingkah dihadapanku... engkau telah
begitu lancang tangan mencampuri urusanku dan berani
merintangi maksudku memusnahkan kepandaian kedua orang
tersebut maka engkau harus mempertanggung jawabkan
perbuatanmu tersebut..!"
Sin Coa Tung Hiap tenang sekali, dia telah berkata dengan
suara yang tawar: "Jika memang begitu maksud dari kau
tentu aku tidak akan menampik untuk main2 beberapa jurus
dengan kau...!" dan tampaknya Sin Coa Tung Hiap tidak
memandang mata kepada Sun Cia Piang, walaupun ia telah
mendengar banyak mengenai diri dan keadaan Sun Cia Piang,
sebagai datuk persilatan yang memiliki nama terkenal.
Sin Coa Tung Hiap walaupun memperlihatkan sikap tenang,
ia telah berwaspada, sebagai seorang yang memiliki
kepandaian tinggi sekali, tadi satu gerakan saja, ketika mereka
telah mengadu kekuatan tenaga Iwekang, Sun Coa Tung Hiap
mengetahui bahwa lwekang dari Sun Cia Piang tidak berada
dibawah dari tenaga lwe-kangnya.
Sun Cia Piang yang melihat sikap Sin Coa Tung Hiap, jadi
mendongkol tanpa mengucapkan sepatah perkataan pula, ia
telah bergerak melakukan pukulan yang kuat sekali.
Pukulan yang dilakukannya itu merupakan pukulan yang
luar biasa, karena memiliki kekuatan tenaga sinkang yang
bukan main dahsyat nya.
Sedangkan Sin Coa Tung Hiap yang memang sejak tadi
telah bersiap sedia melihat datangnya serangan itu, telah
melompat dan menangkis dengan mempergunakan kekuatan
yang sangat kuat pula, sehingga tampak dua kekuatan
lwekang itu membentur keras dan keduanya telah terhuyung.
Dengan begitu tampaknya mereka memang memiliki
kekuatan tenaga sinkang yang berimbang.
Melihat serangannya kembali gagal, Sun Cia Piang telah
melakukan pukulan ber-tubi2.
Tetapi Sin Coa Tung Hiap selalu berhasil mengelakkan diri
atau menangkisnya, bahwa tidak jarang Sin Coa Tung Hiap
balas melakukan penyerangan.
Begitulah mereka telah bertempur sampai dua puluh jurus
lebih. Tetapi untuk Sun Cia Piang, hal itu sudah merupakan
peristiwa yang jarang sekali terjadi karena sampai dua puluh
jurus lebih ia masih belum berhasil mendesak lawannya.
Setelah gagal sekali lagi melancarkan gempuran kepada Sin
Coa Tung Hiap tampak Sun Cia Piang telah merogoh sakunya,
ia mengeluarkan seekor ular yang berukuran kurus panjang,
kurang lebih setengah tombak.
Ular tersebut berwarna ke-hitam2an dan mengerikan,
dengan lidahnya yang terjulurkan panjang ke-merah2an
membuktikan sekali lihat saja bahwa ular itu merupakan ular
yang sangat beracun.
Dengan mengeluarkan suara mendesis, ular tersebut telah
dilontarkan dari tangan Sun Cia Piang, dimana ular itu
menyambar cepat sekali akan memangut punggung dari Sin
Coa Tung Hiap. Gerakan ular itu memang cePat sekali, sekali ini tampaknya
Sin Coa Tung Hiap tentu akan berhasil dirubuhkan oleh Sun
Cia Piang. Tetapi sebagai seorang pendekar yang memiliki kepandaian
yang tinggi, tentu saja Sin Coa Tun Hiap tidak berdiam diri
saja. Dengan lincah ia telah mengibaskan tangan kanannya.
Angin kibasan tangan Sin Coa Tung Hiap kuat sekali, tubuh
ular yang akan menyambar punggungnya itu telah
terlontarkan. Namun ular tersebut merupakan ular yang benar2 aneh
sekali, sehingga terlihat betapa ular itu walaupun berhasil
dibuat terpental, telah melompat menyambar kembali kepada
Sin Coa Tung Hiap.
Sebagai orang yang bergelar Sin Coa (Ular Sakti) dan Tung
Hiap (Pendekar Tongkat), tentu saja Sin Coa Tung Hiap
mengerti mengenai watak ular.
Setelah melihat ular itu dibuat terpental dan tahu-tahu ular
yang sedang melayang ditengah udara itu bukannya
menyambar kearah tubuh Sin Coa Tung Hiap malah telah
menyambar menurun, turun ditanah kemudian menari-nari!
Keadaan seperti ini mengejutkan Sun Cia Piang, sehingga ia
mengeluarkan suara seruan tertahan.
Dalam keadaan demikian, Sin Coa Tung Hiap tidak
menghentikan siulannya, yang terus juga bersiul nyaring
sekali, dimana ular itu me-nari2.
Dan bukan hanya ular tersebut yang me-nari, karena
ratusan ekor ular yang sejak tadi berdiam dihalaman kuil
tersebut, telah ikut me-nari2, terpengaruh oleh suara siulan
tersebut. Keadaan ini membuat Sun Cia Piang benar-benar jadi
kelabakan, ia telah mengeluarkan suara bentakan2 untuk


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menguasai barisan ular itu.
Tetapi usahanya itu tampak menemui kesulitan karena
diwaktu itu tampak ular2nya lebih mematuhi suara siulan Sin
Coa Tung Hiap. Melihat ini, tampak Sun Cia Piang jadi kelabakan, dengan
gusar ia mengeluarkan suara bentakan dan tubuhnya
melompat dengan gesit menerjang kepada Sin Coa Tung Hiap.
Beruntun tampak Sin Coa Tung Hiap harus mengerahkan
tenaga sinkangnya, karena ia memang memiliki kesulitan juga
jika harus bersiul terus, dimana tenaga dalamnya akan
terpecahkan. Dengan demikian, terpaksa siulannya dihentikan dan ia
menggerakkan kedua tangannya memberikan perlawanan.
Dalam saat-saat seperti itu, Sun Cia Piang tidak mau
memberikan kesempatan bernapas kepada Sin Coa Tung Hiap,
bertubi-tubi ia telah melancarkan serangannya.
Begitulah, kedua orang yang masing-masing memiliki
kekuatan tenaga lwekang sama tinggi-nya, dalam puluhan
jurus tampak telah terlibat dalam pertempuran yang
menentukan. Sun Cia Piang sebagai seorang datuk persilatan yang
memiliki nama sangat terkenal sejak puluhan tahun yang lalu,
jadi semakin penasaran setelah melihat lima puluh jurus lewat
begitu saja tanpa bisa mendesak lawannya.
Dengan demikian, ia telah menambah kekuatan tenaga
sinkangnya dan melakukan penyerangan yang lebih kuat.
Angin serangan dari kedua orang yang tengah bertempur
tersebut berkesiuran sangat kuat sekali, men-deru2 keras dan
debu telah berterbangan dengan keras bergulung ketengah
udara. Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian yang telah berhasil
bangun, berdiri dengan tubuh yang menggigil menahan sakit
karena waktu itu justru mereka telah terluka cukup parah
akibat serangan yang dilakukan Sun Cia Piang.
Sedangkan Cung Kiang Bun sendiri sambil berdiri begitu,
telah mengatur jalan pernapasannya ia berusaha memulihkan
jalan pernapasannya tersebut.
Di antara berkesiuran angin serangan dari kedua orang
yang tengah saling terjang tersebut tampak Sin Coa Tung Hiap
beberapa kali harus berusaha menghindarkan diri dari pagutan
ular berbisa yang selalu menuruti perintah Sun Cia Piang.
Tetapi Sin Coa Tung Hiap memang benar2 memiliki
kepandaian yang tinggi sekali, ia tidak menjadi gugup
walaupun diserang ber-tubi2 oleh Sun Cia Piang.
Beberapa orang pendeta Kun Lun Pay tampak telah ada
yang bisa berdiri.
Wie Lie Cinjin juga tersadar dari pingsan, ia duduk
bersemedhi untuk mengatur jalan pernapasannya.
Begitu juga halnya dengan Wie bLie dan Wie Lind Cinjin,
telah akeluar kuil, unbtuk menyaksikan pertempuran yang
tengah berlangsung antara Sun Cia Piang dan Sin Coa Tung
Hiap, pertandingan kedua orang tersebut memang semakin
lama semakin seru, karena tenaga sinkang yang mereka
pergunakan itu semakin kuat.
Dengan demikian, baik Sin Coa Tung Hiap maupun Sun Cia
Piang, sama2 berlaku waspada sekali disamping selalu
memusatkan seluruh kekuatannya untuk mendesak lawan
mereka. Sun Cia Piang sendiri heran melihat betapa Sin Coa Tung
Hiap dapat mempertahankan diri begitu lama dari
serangan2nya. Mereka telah bertempur lebih dari seratus
jurus. Sedangkan Sin Coa Tung Hiap, yang sejak berkelana dalam
rimba persilatan dan belum pernah bertemu lawan dan
tandingan, kini justru tidak bisa mendesak Sun Cia Piang,
dimana mereka hanya bisa saling menangkis ataupun juga
melancarkan serangan balasan tanpa hasil, keduanya tampak
seperti berimbang.
"Rupanya datuk persilatan ini memang memiliki nama yang
tidak kosong !" berpikir Sin Coa Tung Hiap didalam hatinya
dan ia berlaku semakin hati-hati.
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian yang menyaksikan
pertempuran itu jadi berdiri bengong ditempat mereka
masing2, karena mereka sendiri kagum sekali melihat betapa
kedua orang yang memiliki kepandaian begitu tinggi
bertanding demikian luar biasa.
Dan Cung Kiang Bun sendiri menyadari bahwa dirinya
masih belum memiliki kepandaian yang berarti, karena
dibandingkan dengan kepandaian kedua orang itu, jelas ia tak
berarti apa2 lagi dari kepandaiannya juga tidak ada
sepersepuluhnya dari kepandaian Sun Cia Piang dan Sin Coa
Tung Hiap. Hoa Lun Sian telah menarik lengan Cung Kiang Bun sigadis
berkata dengan suara yang parlahan sekali, seperti berbisik:
"Kita pergunakan kesempatan ini untuk melarikan diri . .!"
Cung Kiang Bun menggelengkan kepalanya.
"Tidak..!" sahutnya.
"Mengapa?"
"Kita tidak bisa meninggalkan btuan penolong kdita begitu
sajaa . . !"
"Tetapi jika sampai Sin Coa Tung Hiap dirubuhkan oleh Sun
Cia Piang, tentu kita akan memperoleh kesulitan pula,
walaupun disaat itu kita hendak melarikan diri, tentu sudah
bisa.!" Tetapi Cung Kiang Bun tetap menggelengkan kepalanya
dan dia tetap ingin menyaksikan jalannya pertempuran kedua
tokoh persilatan yang memiliki kepandaian tinggi itu.
Sedangkan Sin Coa Tung Hiap waktu itu merasakan dirinya
memang mulai terdesak oleh gulungan tenaga sinkang Sun
Cia Piang yang mulai melakukan serangan dengan kekuatan
sinkang yang lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya.
Per-lahan2 Sin Coa Tung Hiap mulai sibuk, selain berkelit
dan menangkis serangan2 Sun Cia Piang, juga ia sibuk sekali
menghadapi pagutan dari ular2 peliharaan Sun Cia Piang.
Dengan demikian, pertempuran tersebut benar2 meletihkan
sekali buat Sin Coa Tung Hiap, sedangkan Sun Cia Piang
sendiri masih terus melakukan serangan yang mengandung ke
kuatan sinkang yang tidak pernah mengendor.
Dengan demikian, pertandingan yang tidak berkesudahan
itu, berlangsung terus, Sun Cia Piang juga yakin, jika ia
bertempur dengan cara demikian terus, yaitu dengan dibantu
oleh pasukan ularnya, tentu akan membuat Sin Coa Tung Hiap
akhirnya kehabisan napas, dan letih dengan sendirinya,
diwaktu itu tentu ia bisa merubuhkan lawannya tersebut.
Tetapi Sun Cia Piang juga menyadari bahwa lawannya ini
bukan lawan yang lemah, di mana kepandaiannya memang
berimbang dengan kepandaiannya, walaupun ia mendesak
terus menerus, namun setiap serangannya selalu
diperhitungkan baik-baik.
Sin Coa Tung Hiap yang melihat dirinya mulai jatuh
dibawah angin, beberapa kali berusaha untuk mendesak agar
Sun Cia Piang tidak bisa terlalu keras mendesaknya.
Dengan demikian segera terlihat mereka telah berimbang
kembali, Tetapi gangguan dari ular-ular peliharaan Sun Cia
Piang yang terus menerus melakukan pagutan kepadanya,
membuat perha tian Sin Coa Tung Hiap sering terpecahkan, ini
merugikan sekali baginya.
"Kepandaian yang baik..!" memuji Sun Cia Piang waktu
suatu kali Sin Coa Tung Hiap melompat ke tengah udara
berkelit dari pukulan telapak tangan Sun Cia Piang, dan kedua
kakinya digerakkan, menrotol kepala duat ekor ular yangq
segera hancur rterkena totolan ujung kaki Sia Coa Tung hiap.
Tetapi sambil memuji begitu, Sun Cia Piang juga telah
menggerakkan kedua tangannya, mendesak Sin Coa Tung
Hiap. Waktu tubuhnya telah turun ketanah, dan juga serangan
Sun Cia Piang hampir tiba, tangan kanan Sin Coa Tung Hiap
merabah pinggangnya, dia telah mencabut keluar sebatang
tongkat yang berukuran pendek sekali.
-oo0dw0oo- Jilid 13 TONGKAT itu memiliki bentuk yang cukup aneh. Tubuh
tongkat itu kurus, dan diujungnya satunya terukir kepala
seekor macan. Tongkat itu berwarna coklat tua, dengan
lingkaran sebesar ibu jari tangan, dan waktu tongkat tersebut
digerakan oleh Sin Coa Tung Hiap, memperdengarkan angin
yang berkesiuran kuat sekali.
Sun Cia Piang melihat lawannya mengeluarkan senjatanya,
jadi memandang dengan sinar mata yang tajam sekali.
"Maafkan, aku terpaksa mempergunakan senjataku,
silahkan engkau mencabut senjatamu.." kata Sin Coa Tung
Hiap sambil tertawa kecil, sikapnya tenang. Dan sekali lagi dia
menggerakkan tongkatnya yang aneh itu, memperdengarkan
suara mendengung akibat berkesiuran kerasnya tongkat
tersebus ditengah udara.
Sun Cia Piang tertawa dingin, kemudian katanya dengan
suara yang tawar: "Baik, baik kita telah cukup main-main
dengan tangan kosong, sekarang mari kita main-main dengan
senjata...!" dan setelah berkata begitu, tampak Sun Cia Piang
meraba pinggangnya, ia melepaskan tali pengikat
pinggangnya, dimana dengan cepat angkin (pengikat
pinggang) tersebut telah digerakkan untuk melibat ujung dari
tongkat Sin Hoa Tung Hiap.
Cepat2 Sin Coa Tung Hiap harus melompat kebelakang,
untuk menyelamatkan ujung tongkatnya dari pada libatan
angkin Sun Cia Piang.
Tetapi Sun Cia Piang tidak tinggal berdiam diri waktu
libatan angkinnya itu gagalnya meIibat ujung tongkat
lawannya, bagaikan seekor ular yang melenggang lengok
kesana kemari, tampak angkin itu bergerak cepat sekali
menyambar keberbagai anggota tubuh dari Sin Coa Tung
Hiap. Namun Sin Coa Tung Hiap, yang memang bergelar sebagai
Pendekar Tongkat itu, rupanya memiliki kepandaian yang lihay
sekali untuk menggerakkan senjata tongkatnya tersebut,
karena begitu melihat angkin lawannya me-nyambar2 dengan
cepat, diwaktu itulah tam pak ia berkelit kesana kemari
dengan memutar tongkatnya.
Kelincahan dari tongkat ditangan Sin Coa Tung Hiap sama
sekali tidak kalah dari kelincahan angkin Sun Cia Piang,
sehingga tampaknya mereka tergulung oleh sinar tongkat dan
sinar angkin Sun Cia Piang.
Kedua jago yang memiliki kepandaian sama-sama tinggi
itu, telah mengeluarkan kepandaiannya, untuk mendesak
lawan mereka. Sun Cia Piang yang waktu itu benar2 telah penasaran
sekali, menjejakkan kedua kaki-nya, tubuhnya melompat
dengan ringan ke tengah udara, dan angkinnya diputar.
Bagaikan seorang penari, angkin itu bergulung-gulung
cepat sekali. Dengan melakukan gerakan seperti ini, serangan-serangan
dari Sin Coa Tung Hiap bisa digagalkannya.
Sun Cia Piang bukan hanya menangkis, di waktu itu ia
membarengi lagi dengan menggerakkan tangan kanannya,
yang dihentakkan dan disaluri oleh kekuatan lwekangnya,
maka seketika itu pula tampak angkin yang lemas itu menjadi
tegak dan kaku, seperti juga berobah menjadi tongkat yang
berukuran panjang sekali.
Yang lebih luar biasa lagi, justru saat itu tongkat yang dari
angkin ini telah menyambar akan menotok iga disebelah
kanan dari Sin Coa Tung Hiap.
Jurus yang dipergunakan oleh Sun Cia Piang merupakan
jurus yang mematikan. Kalau saja ujung angkin yang telah
kaku seperti ujung tombak itu berhasil menotok iga Sin Coa
Tung Hiap, seketika itu juga rusuk dari Sin Coa Tuog Hiap
akan remuk. Melihat kesempurnaan lwekang lawannya itu, Sin Coa Tung
Hiap, kaget tidak terhingga, ia mempergunakan tongkatnya
menangkis. "Tukkkk!" terdengar keras sekali, Dan Sin Coa Tung Hiap
merasakan pergelangan tangannya Iinu, dimana telapak
tangannya juga bseperti pedih, dhampir saja tonagkat
pendeknya bterlepas.
Hal itu memperlihatkan betapa tenaga sinkang yang
menyelubungi angkin yang kaku seperti tongkat itu sangat
kuat sekali, Sin Coa Tung Hiap cepat-cepat memusatkan kekuatan
lwekangnya pada telapak tangan nya.
Namun Sun Cia Piang telah mulai melakukan penyerangan
Iagi, angkinnya yang kaku seperti tongkat itu bergerak
berulang kali dengan cepat.
Sedangkan Sin Coa Tung Hiap hanya berkelit dari ketiga
totokan berikutnya. Dan pada totokan keempat yang dilakukan
Sun Cia Piang dia baru menangkis dengan tongkatnya.
Karena Sin Coa Tung Hiap juga telah mengempos seluruh
kekuatan tenaga Iwekangnya, dengan demikian tongkatnya
itu telah berhasil menggetarkan angkin lawannya, dan ia baru
saja ingin membarengi dengan totokannya kepada Sun Cia
Piang, telah terjadi sesuatu yang mengejutkannya.
Karena angkin Sun Cia Piang yang semula kaku seperti
tongkat itu, tiba2 sekali telah berobah menjadi lemas kembali,
dan tahu2 ujung dari angkin itu telah melibat tongkat pendek
Sin Coa Tung Hiap.
Sin Coa Tung Hiap mengeluarkan keringat dingin, dan
menghentak tongkatnya, berusaha menghindarkan tongkatnya
dari libatan yang lebih kuat dari angkin lawannya, gerakannya
itu tidak berhasil, karena angkin lawannya benar-benar telah
melibat tongkatnya.
Dari tubuh Sin Coa Tung Hiap telah mengeluarkan
semacam uap juga, dan ia memusatkan seluruh kekuatan
tenaga dalamnya, Mereka jadi saling tarik.
Sun Cia Piang sendiri telah mengeluarkan banyak sekali
keringat Wajahnya sebentar be robah pucat, sebentar berobah
merah. Kedua jago ini telah saling mengadu kekuatan lwekang
tingkat tinggi, sehingga pertandingan dengan tenaga dalam
seperti itu sesungguhnya jauh lebih berbahaya dibandingkan
dengan pertandingan mempergunakan senjata tajam.
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian yang menyaksikan
kedua jago tersebut lelah melakukan pertandingan tenaga


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dalam tingbkat tinggi sepedrti itu, merekaa hanya berdiri
bmenyaksikan dengan tubuh yang diam tidak bergerak dan
mata yang terpentang lebar-lebar.
Seperti diketahui, bahwa Cung Kiang Bun adalah murid
Wie-liong-pay yang telah menerima perintah dari pimpinannya
untuk berusaha membebaskan ketiga orang saudara
seperguruannya yang ditawan oleh pendeta-pendeta Kun Lun
Pay. Dengan demikian, Cung Kiang Bun merupakan salah
seorang murid Wie-liong-pay yang memiliki kepandaian tinggi
dimana ciangbunjin nya telah mempercayai tugas tersebut
kepadanya. Tetapi sekarang setelah menyaksikan sekian lama jalannya
pertandingan antara Sun Cia Piang dengan Sin Coa Tung Hiap,
seketika itu juga pemuda ini mengetahui bahwa kepandaian
yang dimilikinya itu memang masih belum berarti apa-apa.
Dengan demikian, segera terlihat Cung Kiang Bun
memperhatikan jalannya pertempuran tersebut jauh lebih
teliti, untuk melihat bagaimana hebatnya setiap gerakan dan
jurus dari kedua orang jago itu.
Dan juga disaat Sun Cia Piang dan Sin Coa Tung Hiap
tengah mengadu kekuatan tenaga lwe kangnya, diwaktu itulah
ia memperhatikan betapa napas kedua orang tersebut
memburu keras tidak teratur, menunjukan bahwa kedua orang
itu telah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang mereka
miliki. Begitu pula butir2 keringat yang memenuhi tubuh kedua
orang itu memperlihatkan bahwa tidak lama lagi keduanya
tentu akan merasa letih dan tenaga habis,
Cung Kiang Bun dan Hoa Lun Sian memperhatikan semua
itu dengan perasaan kuatir dan sayang, Kuatir kalau2 salah
seorang diantara kedua jago yang memiliki kepandaianku
begitu tinggi, sampai terluka parah ataupun terbinasa.
Sayang, karena mereka memang tidak memiliki kepandaian
yang tinggi sehingga mereka tak bisa menoIongi kedua orang
itu, memisahkan mereka dari libatan pertandingan yang
sangat menentukan tersebut.
Sedangkan Sun Cia Piang sendiri memperoleh kenyataan
bahwa tenaga lwekang yang dimiliki Sia Coa Tung Hiap
semakin lama seperti semakin membetot dirinya, dimana
dirinya bagaikan bergerak per-larhan2 akan tertatrik kedepan.
Mati2an Sun Cia Piang telah memusatkan tenaga
lwekangnya dan ia berusaha mempertahankan diri. Aagkinoya
telah ditariknya pula per-lahan2, dan diwaktu itu, ia telah
memperpendek jarak angkinnya dengan tongkat itu.
Sin Coa Tung Hiap yakin bahwa ia dapat menguasai
lawannya, jika saja Sun Cia Piang tidak sempat
memperpendek angkinnya itu, karena diwaktu angkin itu
terjulur panjang, tentu tenaga lwekang dari Sun Cia Piang
tidak bisa berkumpul keseluruhannya diujung angkin.
Tetapi sekali saja Sun Cia Piang berhasil memperpendek
angkinnya tersebut, tentu semakin kuat tenaga sinkang yang
berkumpul diujung angkinnya.
Dengan demikian Sin Coa Tung Hiap tidak mau tinggal
diam saja, ia mengeluarkan suara seruan dan menggerakkan
tongkatnya, Sambil memusatkan tenaga sinkangnya, ia
memutar tongkatnya itu secara dihentak.
Libatan angkin masih juga melibat ujung tongkatnya, tetapi
akibat dari hentakan tersebut membuat angkin dari Sun Cia
Piang jadi terangkat naik keatas.
Dan mempergunakan kesempatan itu, segera juga Sun Cia
Piang telah menarik pulang angkinnya.
Namun tanpa disadari oleh Sun Cia Piang, justru ia menarik
pulang angkinnya itu merupakan suatu kesalahan yang besar
untuknya. Begitu angkinnya ditarik, segera Sin Coa Tung Hiap
membarengi dengan menggerakkan tongkatnya, bagaikan
tertarik oleh angkin Sun Cia Piang, tongkat tersebut meluncur
kearah dada dari Sun Cia Piang, akan menotok jalan darah
Mie-so-hiat disebelah dada tiga dim dari ketiak.
Tetapi justru Sun Cia Piang juga memiliki kepandaian yang
tinggi ia tidak mau menerima serangan itu begitu saja,
walaupun ia harus melompat sambil berpoksay, ia
melakukannya juga dengan menggerakkan angkinnya untuk
menghantam mata lawannya, Gerakannya itu sesungguhnya
bisa menghancurkan tenaga dalamnya dan membuat ia
terluka didalam, sebab waktu itu seluruh kekuatan sinkang
yang berada diangkin nya belum ditarik pulang, dan sekarang
ia telah berpoksay ditengah udara, menyebabkan seluruh urat
dan sinkangnya tergempur.
Tetapi hal itu terpaksa dilakukan oleh Sun Cia Piang. ia
berhasil mengelakkan totokan yang mematikan dari Sin Coa
Tung Hiap, namun waktu kedua kakinya menginjak tanah, ia
memuntahkan darah segar dua kali, karena ia telah terluka
didalam oleh tenaga sinkangnya sendiri waktu ia berpoksay
ditengah udara.
Melihat Sun Cia Piang memuntahkan darah seperti itu, Sin
Coa Tung Hiap menahan serangan yang akan dilancarkan
kembali tadi, ia telah menatap tajam, lalu katanya dengan
suara yang tawar: "Apakah kita akan melanjutkan kembali
pertandingan kita ini...?"
Sun Cia Piang telah memandang kepada Sin Coa Tung Hiap
dengan sinar mata yang tajam, ia berdiam diri saja, karena
disaat itu ia tengah memusatkan tenaga sinkangnya, untuk
disalurkan guna memulihkan jalan pernapasannya.
Kemudian terlihat Sun Cia Piang memuntahkan kembali
darah segar dua kali, karena ia tidak berhasil membendung
luka didalam tubuhnya.
Wajah Suu Cia Piang jadi berobah semakin pucat.
Sin Coa Tung Hiap tertawa tawar, ia memasukkan
tongkatnya yang diselipkan pada ikat pinggangnya.
"Baiklah, karena engkau telah terluka parah seperti itu,
kukira tidak ada perlunya kita meneruskan pertandingan ini...
jika dilain waktu engkau hendak main2 lagi denganku, setiap
saat aku bersedia...!" dan setelah berkata begita Sin Coa Tung
Hiap memutar tubuhnya, ia menghampiri Cung Kiang Hun dan
Hoa Lun Sian. "Mari kita tinggalkan tempat ini...!" kata Sin Coa Tung Hiap.
"Tunggu dulu Inkong...!" kata Hoa Lun Sian, "Masih ada
tiga orang sahabat yang perlu dibebaskan dari tawanan
orang2 Kun Lun Pay !"
Sin Coa Tung Hiap memandang kepada Cung Kiang Bun.
kemudian tanyanya : "Di-mana ketiga orang itu berada ?"
Cung Kiang Bun segera merangkapkan sepasang tangannya
memberi hormat.
"Mereka ditawan dan ditahan didalam kuil orang2 Kun Lun
Pay itu..!" menjelaskan Cung Kiang Bun.
Sin Coa Tung Hiap segera bmenghampiri Wind Lin Cinjin,
keamudian katanya bsambil merangkapkan sepasang
tangannya. "Harap Cinjin tidak mempersulit ketiga orang sahabat kami
itu, dan bebaskanlah mereka..!" kata Sin Coa Tung Hiap
dengan suara yang sabar.
Wie Lin Cinjin memandang kepada Sin Coa Tung Hiap yang
memakai topeng terbuat dari kain merah tersebut, dan ia
membalas merangkapkan sepasang tangannya memberi
hormat, sambil katanya. "sesungguhnya terdapat suautu
urusan yong mempersulit kami membebaskan ketiga orang
tawanan kami tersebut... mereka telah membinasakan enam
orang murid Kun Lun Pay...!"
"Tetapi... jika memang Cinjin tidak mau membebaskan
mereka, berarti akan terlibat dalam urusan yang
berkepanjangan..."
"Menyesal sekali, justru yang menentukan dibebaskan atau
tidaknya ketiga orang tawanan kami iiu hanya dapat
ditentukan oleh ciangbunjin kami... dan sudah kewajiban kami
untuk membawa ketiga orang tawanan tersebut ke Kun Lun
San, guna disidangkan oleh Ciangbunjin kami itu..."
Disaat itu, Sin Coa Tung Hiap telah metrf perdengarkan
suara tertawa yang nyaring.
"Jika memang Cinjin bersedia memberi muka sedikit
kepada Siauwte, menyesal sekali jika Siauwte harus
membebaskan ketiga orang tersebut dengan mempergunakan
cara yang Siauwte tempuh...!"
Tetapi Wie Lin Cinjin memandang sabar dan tenang pada
Sin Coa Tung Hiap, kemudian ia berkata dengan suaranya
yang sabar: "Jika memang Kiesu tidik bisa mengerti akan
kesulitan kami... kamipun tidak tahu apa yang harus kami
lakukan, tetapi yang jelas, walaupun bagaimana, ketiga orang
tawanan tersebut akan kami kirim ke Kun Lun San... itu sudah
menjadi kewajiban kami, untuk mematuhi peraturan pintu
perguruan kami...!"
Sin Coa Tung Hiap mendengar perkataan Wie Lin Cinjin jadi
mengeluarkan suara tertawa yang perlahan, ia mengangguk
beberapa kali, kemudian katanya: "sekarang begini saja,
Cinjin, jika memang Cinjin memiliki kesulitan seperti itu, aku
mau mengerti... tetapi terus terang saja, permintaan
sahabatku agar membebaskan ketiga orang sahabat mereka
juga tidak bisa kutolak, Bagaimana jika Cinjin main2 sebpuluh
jurus dendgan Siauwte jikaa memang Cin jibn bisa melayani
sepuluh jurus dari serangan ku, tentu Cinjin tidak akan
memperoleh kesulitan apa2 lagi dari kami, nasib ketiga orang
tawanan itu kami serahkan ditangan Cinjin..!"
Muka Wie Lin Cinjin jadi berobah, ia telah sempat
menyaksikan Sin Coa Tung Hiap tadi bertempur dengan Sun
Cia Piang. Dengan demikian, sudah barang tentu mereka itu
sebagai seorang tokoh Kun Lun Pay yang memiliki kepandaian
tinggi, Wie Lin Cinjin mengetahui bahwa kepandaian yang
dimiliki Sin Coa Tung Hiap sangat tinggi sekali, melebihi
kepandaiannya. Dengan begitu, jika sampai mereka bertanding, jelas Wie
Lin Cinjin bukan menjadi tandingan Sin Coa Tung Hiap.
Namun justru Wie Lin Cinjin juga tak bisa menampik
permintaan dari Sin Coa Tung Hiap yang merupakan
tantangan buatnya, ia akhirnya terpaksa mengangguk.
"Baiklah..!" katanya, "jika memang Kiesu memaksa begitu,
Pinto tidak bisa mengatakan apa2 lagi selain menerima
tawaran yang diberikan oleh Kiesu..!"
Sin Coa Tung Hiap tertawa perlahan, kemudian ia ber-siap2
untuk melakukan serangan yang pertama.
"Hati2lah Cinjin, Siauwte akan segera mulai dengan jurus
yang pertama...!" katanya.
Wie Lian Cinjin juga telah ber-siap2. ia tadi telah bertempur
dengan Sun Cia Piang, maka ia telah mengeluarkan tenaga
yang cukup besar untuk dapat mempertahankan diri, dan
akhirnya ia bisa dirubuhkan juga. Dengan demikian tenaga
lwekangnya tidak terkumpul semuanya.
Tetapi setelah mengasoh mengatur jalan pernapasannya
disaat Sin Coa Tung Hiap bertempur dengan Sun Cia Piang,
kini-tenaga lwekangnya telah pulih sebagaimana biasa, Maka
melihat Sin Coa Tung Hiap mulai bersiap-siap untuk memulai
dengan jurus yang pertama, ia pun segera menyalurkan hawa
Tan-tian, yaitu hawa murni dari pusatnya, dan kemudian
menyalurkan lwekangnya itu pada kedua tangan-nya, ia telah
bersiap sedia untuk menerima serangan Sin Coa Tung Hiap.
Waktu itu Sin Coa Tung Hiap telah mengeluarkan suara
seruan: "Jaga serangan!" tampak tubuhnya telah rmenerjang
perlathan ke depan, dqan juga kedua trangannya digerakkan.
Gerakan kedua tangannya itu tidak terlalu cepat, ia
melakukan pukulan dengan tangan kirinya dulu, kearah
pundak dari pendeta tersebut, kemudian baru disusul dengan
gerakan tangan kanannya, dimana ia berusaha mencengkeram
dada sipendeta.
Melihat cara menyerang Sin Coa Tung Hiap tampak Wie Lin
Cinjin telah cepat2 berkelit kesamping, ia melangkah mundur
satu langkah. Disaat kedua tangan lawannya telah didekat dadanya, ia
tahu2 telah mengibaskan lengan jubahnya.
"Wutttt, . . !" angin lwekang yang kuat tersalurkan lewat
ujung jubahnya.
Tangkisan tersebut sesungguhnya hanya bisa memaksa Sin
Coa Tung Hiap untuk membatalkan serangannya, setelah itu
Sin Coa Tung Hiap melompat melancarkan pukulan pula
dengan jurus kedua.
Tetapi Wie Lin Cinjin memang telah bertekad, ia hanya
akan mempertahankan diri saja dari serangan lawannya ini,
karena ia yakin dalam sepuluh jurus serangan lawannya dia
akan dapat menghadapinya.
Pukulan kedua yang dilakuhan oleh Sin Coa Tung Hiap
ternyata jauh lebih kuat dibandingkan dengan yang pertama,
karena ia telah melancarkan serangan dengan kedua telapak
tangannya, tenaga Iwekangnya berkesiuran keras sekali
menyambar kelambung dari pendeta tersebut.
Angin lwekang itu bergulung keras sekali membuat Wie Lin
Cinjin tidak bisa berayal lagi, ia mengeluarkan suara seruan
perlahan, sambil menjejakkan kedua kakinya, dimana dia
membawakan jurus "Burung Bangau Menembusi Awan"
tubuhnya berjumpalitan ditengah udara, dan ia telah
melayang sambil menggerakkan kedua tangannya juga untuk
mendorong. Kuat sekali tenaga dorongan tersebut, karena Sin Coa Tung
Hiap seketika terhuyung mundur dua langkah. "Ilmu yang
hebat dan mengagumkan sekali!" memuji Sin Coa Tung Hiap
sambil mendengar kan suara tertawanya. "Dan jagalah
serangan berikutnya ini..." dan ia telah membarengi
perkataannya itu dengan melakukan gerakan yang gesit
sekali, kedua tangannya di-pentang, seperti akan merangkul
Wie Lin Cinjin.
Gerakan yang dilakukan Sin Coa Tung Hiap merupakan
gerakan yang berbahaya buat lawannya, karena jika sampai
kedua telapak tangan Sin Coa Tung Hiap mengenai sasaran
nya, niscahya tubuh lawannya akan terluka.
Saat itu Wie Lin Cinjin juga tidak mau sampai dirinya
terkena serangan Sin Coa Tung Hiap, ia berkelit lagi dengan
cepat, dengan cara memutar mempergunakan jurus
"Rembulan Menjatuhkan Permata" tubuhnya juga seperti
melingkar dalam bentuk bulatan, kedua telapak tangannya
diungkapkan dan ia telah mendorong lagi.
Begitulah, jurus keempat, kelima dan ke enam dengan
cepat dilewatkan.
Pada jurus keiujuh, tampak Sin Coa Tung Hiap yang mulai


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

penasaran belum bisa merubuhkan Wie Lin Cinjin mulai
melancarkan serangan yang jauh lebih kuat lagi.
Wie Lin cinjin mengelakkan diri dengan ringan sekali,
karena kedua kakinya tahu2 menginjak melebar dan kemudian
tubuhnya didoyongkan kebelakang, menjeblak begitu, dan
pukulan yang dilakukan oleh Sin Coa Tung Hiap mengenai
tempat kosong kembali.
Sin Coa Tung Hiap yang melihat bahwa dirinya kini hanya
memiliki dua jurus lagi, telah mengeluarkan suara seruan
nyaring, iapun berkata: "Terimalah serangan ini, Cinjin
membarengi dengan perkataannya itu, ia menekuk ke lima jari
tangan kanannya, dan telah mendorong dengan sikap akan
menotok, ia juga melakukan tabasan dengan pinggiran
telapakan tangannya yang lain, dengan demikian dia telah
melakukan jurus serangan "Membacok rembulan mendorong
Gunung. Jurus seperti ini sangat sulit untuk dipelajari. Ternyata Sin
Coa Tung Hiap memang telah berhasil mempelajari ilmu
tersebut dengan baik sehingga tenaga serangan yang
dilancarkannya benar2 luar biasa kuatnya.
Wie Lin Cibnjin yang menerdima serangan seaperti itu jadi
bterkejut bukan main, pendeta ini sampai mengeluarkan suara
teriakan yang sangat keras, dan berusaha membentur tenaga
serangan ini dengan tenaga sinkangnya.
"Bukkkkk...!" kuat sekali tenaga benturan itu, sehingga
tubuh Wie Lin Cinjin tampak ter pental keras ketengah udara.
Sedangkan tubuh Sin Tung Hiap jadi terhuyung-huyung
mundur beberapa langkah.
Wie Lin Cinjin telah melayang turun kembali ketanah
dengan tubuh yang limbung, hampir saja ia jatuh terjerunuk
mencium tanah. Untung saja pendeta tersebut memang memiliki ilmu yang
tinggi, segera ia bisa menguasai diri dengan melakukan
gerakan "Besi seribu kali menancap ditanah", dan tubuhnya
seperti juga sebatang besi, tahu2 telah tegak kembali.
Namun, wajah Wie Lin Cinjin berobah pucat, karena ia
telah tergempur didalam, walau pun tidak parah.
Sedangkan Sin Coa Tung Hiap telah berkata dengan suara
tawar: "Hanya tinggal satu jurus lagi, harap Cinjin berlaku
lebih hati2...!"
Dan sehabis berkata begitu, tampak Sin Coa Tung Hiap
merenggangkan kedudukan kedua kakinya, dan ia telah
menggerakkan tangan kanannya, untuk didekatkan pada
dadanya, dengan mengeluarkan suara siulan yang panjang,
tahu-tahu kedua kakinya itu dihentakkan, dan ia telah
menghantam dengan tangan kirinya, disusul dengan gerakan
tangan kanannya.
Tenaga sinkang yang dipergunakannya itu memiliki dua
gelombang yang menyambar dengan kuat sekali, dimana
kekuatan tenaga sinkang yang pertama belum lagi mengenai
sasarannya, kekuatan tenaga gelombang kedua telah
menyambar menyusul dengan cepat.
Wie Lin Cinjin berobah mukanya jadi pucat, karena ia
menyadari dengan adanya serangan seperti itu, tampaknya
Sin Coa Tung Hiap benar-benar telah mengerahkan sebagian
besar tenaga lwekangnya.
Sedangkan waktu itu Wie Lin Cinjin telah terluka didalam,
tidak mungkin ia menghadap serangan itu dengan kekerasan,
ia telahb menyedot hawa dudara dalam-dalaam, lalu ia
menbggeser kedudukan kakinya, berusaha berkelit.
Namun tenaga serangan dari Sin Coa Tung Hiap
menyambar begitu cepat sekali dan juga seperti membuntuti
dirinya, dengan demikian tampak Wie Lin Cinjin seperti tidak
sempat untuk mengelakkan diri dari gempuran lawannya.
Sin Coa Tung Hiap juga yakin bahwa ia akan berhasil
dengan serangannya itu. Dengan demikian ia telah
mengempos semangatnya dan menambah kekuatan tenaga
lwekangnya. Dan tampak betapa Wie Lin Cinjin telah
terhuyung berusaha membendung kekuatan tenaga serangan
itu, seluruh tenaga lwekangnya telah disalurkan dikedua
tangannya untuk menahan tenaga gempuran dari lawannya.
Tetapi gempuran dari tenaga sinkang yang dilakukan oleh
Sin Coa Tung Hiap benar2 dahsyat sekali, sehingga memaksa
Wie Lin cinjin harus bertahan mati2an.
Sin Coa Tung Hiap menghentak sambil membentak:
"Rubuh...!", kedua tangannya dikibaskannya dengan serentak.
Wie Lin Cinjin merasakan dadanya seperti juga diterjang
oleh kekuatan tenaga yang ribuan kati, dan tampak tubuh Wie
Lin Cinjin telah terlempar ke tengah udara, kemudian tubuh
pendeta tersebut telah meluncur turun dan terbanting kembali
ditanah. "Bukkk..!" tubuh Wie Lin Cinjin telah ambruk dengan keras
sekali. Sin Coa Tung Hiap melihat serangannya pada jurus
kesepuluh itu telah berhasil merubuhkan Wie Lin Cinjin, jadi
mengeluarkan suara tertawa yang keras sekali, sampai
tubuhnya ber goyang-goyang.
Wie Lin Cinjin merangkak bangun dengan gerakan yang
lambat sekali karena pendeta tersebut telah terluka didalam.
Tampak Wie Lin Cinjin berusaha untuk duduk kembali,
bersemadhi menyalurkan kekuatan sinkangnya untuk
mengatur pernapasannya.
Namun disebabkan tenaga sinkangnya telah tergempur dan
tergoncang keras, dengan sendirinya ia tidak berhasil dengan
segera memulihkan tenaga dan kesegaran tubuhnya, terutama
sekali untuk memulihkarn jalan pernapatsannya.
Sin Coaq Tung Hiap dengran sabar menantikan sampai Wie
Lin Cinjin selesai bersemadhi, ia hanya mengawasi pendeta itu
dengan sikap yang tenang.
Setelah lewat lagi beberapa saat, Wic Lio Cinjin telah
membuka sepasang matanya, memandang kepada Cung Kiang
Bun dan Hoa Lun Sian bergantian baru kemudian ia menoleh
ke pada Sin Coa Tung Hiap, sambil menghela napas, ia
berkata. "Baiklah, Pinto telah rubuh da lam pertandingan ini,
dan Pinto tidak akan mengingkari janji Pinto... ketiga orang
murid dari Wie-liong-pay akan segera dibebaskan..."
Setelah berkata begitu, tampak Wie LinCin jin bangkit dari
persemadiannya, ia telah menoleh kepada dua orang murid
Kun Lun Pay yang berada didepan kuil tersebut juga, katanya:
"pergilah kalian bebaskan ketiga orang murid Wie-liong-pay,
bawa mereka kemari..!"
Kedua murid Kun Lun Pay itu mengiakan Dan mereka
segera masuk kedalam kuil, tidak lama kemudian telah
mengantarkan tiga orang pemuda yang berpakaian singsat
dan membawa pedang dipinggang masing2.
Cung Kiang Bun yang melihat ketiga orang tersebut segera
mengeluarkan seruan girang: "Sute...!"
Ketiga orang pemuda itupun tampak girang bukan main,
merekapun memanggil "Suheng !" Ketiga pemuda tersebut
segera diperkenalkan kepada Hoa Lun Sian.
Sedangkan Sin Coa Tung Hiap telah menoleh kepada Wie
Lin Cinjin dan merangkapkan kedua tangannya memberi
hormat, sambil katanya: "Terima kasih atas pengertian Cinjin!"
Dan setelah berkata begitu, Sin Coa Tung Hiap mengajak
Cung Kiam Bun, Hoa Lun Sian dan ketiga orang murid Wie-
Iiong-pay meninggalkan tempat tersebut.
Waktu hendak meninggalkan tempat itu, diwaktu itulah Sin
Coa Tung Hiap telah melirik kepada Sun Cia Piang yang waktu
itu masih duduk bersemadhi mengatur jalan pernapasannya.
Sin Coa Tung Hiap telah berkata dengan suara yang
perlahan: "Sampai jumpa dilain kesempatan...!"
Pendeta2 Kun Lun Pay yang menyaksikan kepergian
mereka, hanya bisa menghela napas saja.
Sun Cia Piang setelah bersemadhi sekian-lama akhirnya
melompat berdiri ia meng-gerak2 kan kedua tangannya, maka
ular2nya telah merayap pergi meninggalkan kuil tersebut, Sun
Cia Piang sendiri telah menoleh memandang sejenak kepada
Wie Lin cinjin dan pendeta2 Kun Lun Pay lainnya, lalu berlalu.
Sesungguhnya ia masih ingin membinasakan kelima
pendeta Kun Lun Pay, seperti kata nya beberapa saat yang
lalu, ia menghendaki kelima batok kepala dari Wie To Cinjin,
Wie Lin Cinjin, Wie Lie Cinjin, Wie Lie Cinjin dan Wie Sin
Cinjin. Tetapi kekalahannya ditangan Sin Coa Tung Hiap membuat
ia akhirnya membatalkan maksudnya tersebut, dimana Sun
Cia Piang hendak kembali ketempat kediamannya, guna
memperdalam kepandaian lwekangnya.
SIN COA TUNG HIAP bersama dengan Hoa Lun Sian, Cung
Kiang Bun dan ketiga orang saudara seperguruan Cung Kiang
Bun, telah melakukan perjalanan bersama.
Namun dua hari kemudian setelah mereka berkumpul, Sin
Coa Tung Hiap memisahkan dirinya, karena ia ingin mengurus
suatu persoalan.
Hoa Lun Sian bersama Cung Kiang Bun dan ketiga murid
Wie-liong-pay itu telah menyatakan terima kasih mereka atas
pertolongan yang telah dibereskan oleh Sin Coa Tung Hiap Gu
Piang An. Setelah berpisah dengan Cung Kiang Bun dan lain2nya itu,
Sin Coa Tung Hiap melanjutkan perjalanannya dengan
mempergunakan seekor kuda tunggangan yang tegap. ia
melarikan kuda tunggangannya menuju kekota Bon-liangp,
dalam bilangan propinsi souwciu.
Perjalanan menuju kekota Bon-liang membutuhkan waktu
perjalanan dua bulan dengan menunggang kuda. Dan
memang Sin Coa TungHiap melakukan perjalanan dengan
cepat, tidak jarang, walaupun hari telah larut malam, ia masih
melanjutkan perjalanannya tanpa beristirahat tampaknya ia
sedang mengejar waktu.
Setelah melakukan perjalanan selama satu bulan, akhirnya
Sin Coa Tung Hiap Gu Piang An tiba disebuah lembah yang
terletak dikaki gunung Hoa-san, walaupun tidak setinggi
gunung Thian-san, namun keindahan gunung itu tidak kalah
dibandingkan dengan keindahan gunung manapun juga,
terutama pohon2 Siong yang banyak tumbuh digunung
tersebut. Sin Coa Tung Hiap telah melihat, didalam lembah itu
terdapat banyak sekali pohon Bwee dan Sin-tan yang tumbuh
dengan subur sekali.
Waktu itu hari sudah mendekati magrib, dan Sin Coa Tung
Hiap bermaksud hendak beristirahat di lembah tersebut. Di
waktu itu, Sin Coa Tung Hiap telah melompat turun dari kuda
tunggangannya, ia menambat kuda tunggangannya tersebut
disebuah pohon Siong, kemudian dengan langkah yang perlahan2
Sin Coa Tung Hiap mengelilingi lembah tersebut, ia
memperoleh suatu pemandangan yang menarik sekali.
Setelah puas menikmati pemandangan dilembah tersebut,
Sin Coa Tung Hiap kembali ke pohon Siong dan merebahkan
dirinya dibawah pohon itu.
Dengan mempergunakan kedua tangannya yang
disilangkan dibawah kepalanya sebagai pengganti bantal,
tampak Sin Coa Tung Hiap memejamkan matanya untuk tidur.
Namun belum lama ia merebahkan tubuhnya dibawah
pohon Siong itu, diwaktu itu ia telah mendengar samar 2
suara langkah kaki kuda yang tengah mendatangi.
Karena Sin Coa Tung Hiap memiliki pendengaran yang
tajam, maka ia segera mengetahui bahwa kuda tunggangan
yang tengah mendatangi itu berjumlah dua ekor.
Dengan gesit, segera Sin Coa Tung Hiap melompat bangun
dan memandang kemulut lembah.
Memang apa yang diduga oleh Sin Coa Tung Hiap tepat
karena tidak lama kemudian tampak dua ekor kuda yang
tengah mencongklang mendatangi dengan cepat sekali.
Diatas punggung kedua kuda itu tampak duduk dua orang
lelaki bertubuh tinggi besar dengan berewok yang lebat sekali.
Mereka menyoren golok dipinggang masing2 dan tengah
melarikan kuda mereka dengan keras.
Tetapi waktu melihat dimulut lembah terdapat seorang
yang berpakaian aneh dengan topeng kain merah menutupi
mukanya, kedua orang itu jadi menahan lari kuda tunggangan
mereka, segera mereka melompat turun dari kuda masing2.
Sedangkan Sin Coa Tung Hiap berdiri ditempatnya
mengawasinya kedua orang itu dengan berdiam diri, sama
sekali ia tidak memperlihat kan perasaan terkejut.
Salah seorang dari kedua orang berewok ter sebut, yang
usianya mungkin hampir mencapai empat puluh tahun, telah
melangkah mendekati Sin Coa Tung Hiap, ia berkata dengan
suara yang kasar: "Siapa kau" Mengapa berkeliaran dilembah
ini?" Sin Coa Tung Hiap memperdengarkan suara tertawanya.
"Lembah ini milik umum, jadi bukan milikmu pribadi, jadi
siapa saja yang ingin mempergunakan jalanan ini, mereka
berhak mempergunakannya !" menyahuti Sin Coa Tung Hiap.
"Dan ada hubungan apa dengan adanya aku dilembah ini
dengan kalian !"
Muka orang berewok itu merah karena marah, ia tidak
menyangka akan memperoleh jawaban seperti itu. Dengan
suara yang lebih kasar ia berkata lagi:
"Engkau seperti dedemit yang mungkin mukamu hancur
tidak keruan macam, sehingga mempergunakan topeng
seperti itu untuk melindungi wajahmu. Buka kain penutup
mukamu itu...kami hendak melihat wajahmu.,.!"
Sin Coa Tung Hiap memperdengarkan suara tertawa dingin,
ia berkata: "Aku mengenakan kain topeng pada mukaku ini
tidak ada seorangpun yang bisa melarangnya mengenai aku
bersedia membukanya atau tidak, itu tergantung pada
keputusanku sendiri...kita tidak pernah saling kenal dan juga
tidak memiliki hubungan apapun juga, maka kau tidak bisa
main perintah seperti itu kepadaku !"
Orang berewok tersebut jadi tambah marah, kerena ia tidak
biasanya ditentang seperti itu. Dengan cepat tangannya telah
mencekal gagang goloknya, kemudian katanya dengan suara
yang tawar: "Apakah engkau ingin merasakan tajamnya
golokku?" Sin Coa Tung Hiap memperdengarkan suara tertawa dingin.
"Jangan main gertak seperti itu... dan engkau jangan main2
dengan senjata tajam, karena jika memang senjata itu yang
tidak bermata mengenai diri kalian sendiri, tentu kalian yang
akan menderita..!"
"Ohh, manusia kurang ajar..!" teriak lelaki berewok
tersebut "Rupanya kau belum mengenal siapa kami berdua,


Pendekar Aneh Dari Kanglam Karya Sin Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

heh?" Sin Coa Tung Hiap memperdengarkan suara tertawa dingin.
"Hmm, untuk apa mengenal kalian?" tanya Sin Coa Tung
Hiap dengan nada yang dingin, "Kukira tidak ada perlunya aku
berkenalan dengan manusia2 seperti kalian!"
Jawaban yang diberikan oleh Sin Coa Tung Hiap membuat
kedua lelaki berewok itu tambah gusar, mereka dengan
serentak telah mencabut golok masing2.
Lelaki berewok yang tadi menegur Sin Coa Tung Hiap telah
membentak lagi : "Tahukah engkau bahwa kami Jie Tiauw Kim
To ( sepasang Rajawali Bergolok Emas ) ?"
"Aku tidak mau tahu apakah kalian manusia bergolok emas
atau memang bergolok buntung... tetapi yang terpenting aku
tidak mau diganggu oleh kalian. Nah, sekarang aku masih
memberikan kesempatan kepada kalian berdua untuk pergi,
jika nanti, kalian hendak pergi pun kukira sulit...!"
Mendengar perkataan Sin Coa Tung Hiap kedua orang lelaki
berewok itu, yang bergelar Jie Tiauw Kim To. jadi
mengeluarkan suara bentakan marah, golok mereka tahu2
meluncur menyambar kearah tubuh Sin Coa Tung Hiap.
Gerakan yang dilakukan oleh kedua Jie Tiauw Kim To
tersebut, yang masing2 mencekal sebatang golok berwarna
ke-kuning2an seperti terbuat dari emas, memang cepat dan
gesit sekali, tetapi justru gerakan Sin Coa Tung Hiap jauh lebih
gesit lagi, tubuhnya seperti bayangan, waktu kedua batang
golok itu menyambar dengan cepat sekali tubuhnya Sin Coa
Tung Hiap telah melejit kesamping, dengan gerakan yang luar
biasa cepatnya, tahu2 ia telah berada dibelakang tubuh kedua
orang lelaki berewok tersebut.
Tanpa mengeluarkan sepatah perkataan juga, Sin Coa Tung
Hiap mengeluarkan kedua tangannya, ia telah mencengkeram
punggung diri kedua lelaki tersebut, tiba2 Jie Tiauw Kim To
merasakan punggung mereka masing2 sakit sekali.
Dan belum lagi Jie Tiauw Kim To mengetahui apa yang
terjadi, diwaktu itulah terlihat betapa tubuh mereka telah
terlempar ke-tengah-tengah udara, keduanya hanya
merasakan mereka melayang dan kemudian terbanting diatas
tanah, menyebabkan mereka berdua menderita kesakitan
yang luar biasa.
Rupanya Sin Coa Tung Hiap setelah mencengkeram
belakang tubuh dari Jie Tiauw Kim To, ia melontarkannya
dengan kuat. Jie Tiauw Kim To telah melompat bangun dengan marah,
dan kedua lelaki berewok tersebut telah mengeluarkan seruan
marah, dimana golok mereka digerakkan lagi menerjang Sin
Coa Tung Hiap. Sin Coa Tung Hiap telah berkata. "Tahan...!" dengan suara
yang nyaring. Jie Tiauw Kim To menahan golok mereka, dan memandang
bengis. "Hmmm, engkau rupanya belum merasakan keliehaian
kami, dan kau rupanya memang hendak merasakan betapa
tajamnya golok kami ini... Jie Tiauw Kim To tidak pernah
main2 dalam bicara, jika memang kami bilang harus mati,
maka kau harus mati..."
Sin Coa Tung Hiap tertawa tawar, ia berkata dengan
dingin: "Kalian jangan mendesakku seperti itu... jangan
memaksa aku menurunkan tangan keras pada kalian..!
sekarang kalian pergilah...!"
Tetapi Jie Tiauw Kim To rupanya tengah diliputi kemarahan
yang bukan main, mereka mengeluarkan suara bentakan yang
sangat bengis sekali, tahu2 dua sinar kuning telah berkelebat
lagi dengan cepat sekali kepada Sin Coa Tung Hiap, dimana
kedua golok dari Jie Tiauw Kim To menyambar tubuh Sin Coa
Tung Hiap. Namun Sin Coa Tung Hiap mana memandang sebelah mata
kepada kedua lawannya tersebut. Dengan mengeluarkan
suara tertawa dingin, kedua tangan Sin Coa Tung Hiap
bergerak menyambar kedua pergelangan tangan dari
lawannya. Gcrakan yang dilakukan oleh Sibn Coa Tung Hiapd memang
berhasial dengan baik, bkarena kedua pergelangan tangan
dari kedua orang tersebut, telah berhasil dicekalnya, dan
diwaktu itulah tampak Sin Coa Tung Hiap telah menghentak
dengan kuat sekali.
Tidak ampun lagi tubuh kedua orang Jie Tiauw Kim To
tersebut telah tertarik dan kepala mereka saling bentur
dengan keras sekali.
Mata mereka juga seketika jadi ber-kunang2 mereka
mengeluarkan suara keluhan dan tubuh mereka berdua telah
merosot jatuh keatas tanah tanpa sadarkan diri.
Sin Coa Tung kembali tertawa dingin, kemudian sambil
mengibaskan pakaiannya, ia kembali ke bawah sebatang
pohon Siong, kesamping kuda tunggangannya yang tertambat
disitu, ia me-nepuk2 pantat kudanya, sambil katanya: "Nah,
sekarang kita bisa beristirahat dengan tenang tidak diganggu
oleh dua kelinci itu!"
Sin Coa Tung Hiap merebahkan tubuhnya kembali untuk
beristirahat tanpa memperdulikan kedua orang Jie Tiauw Kim
To yang tengah pingsan tidak jauh dari tempatnya berada.
Sedangkan Jie Tiauw Kim To telah tersadar dari pingsannya
setelah lewat seminuman teh.
Mereka merasakan kepala mereka masing2 masih
menderita sakit yang bukan main, lalu mereka meng-usap2
kepalanya yang sakit itu.
Ketika mereka menoleh kearah tempat dimana Sin Coa
Tung Hiap berada, mereka melihat lawan mereka tersebut
tengah tidur terlentang dengan sepasang mata terpejamkan.
Jie Tiauw Kim To saling pandang, dan mereka sejenak
lamanya berdiam diri, Kemudian mengambil golok mereka
masing2. dengan melangkah ber-indap2 mereka mendekati
tempat di mana Sin Coa Tung Hiap tengah rebah terlentang
itu. Jie Tiauw Kim To bermaksud melancarkan bacokan
membokong kepada Sin Coa Tung Hiap yang diduga oleh
mereka tengah tertidur.
Sesungguhnya Sin Coa TungHiap mendengar suara langkah
kaki kedua orang tersebut. namun ia beidiam diri saja, ia tetap
memejamkan matanya dan ingin melihat apa yang hendak
dilakukan oleh Jie Tiauw Kim To.
Waktu itu Jie Tiauw Kim To telah melangkah dekat sekali
dengan Sin Coa Tung Hiap, me reka mengangkat goloknya
masing2 bebr-siap2 untuk mdembacok.
Diwaktau demikian, sesbungguhnya jika Sin Coa Tung Hiap
hendak melompat untuk menerjang kepada mereka, tentu Jie
Tiauw KimTo akan bisa dibuat terpental lagi. Tetapi justru Sin
Coa Tung Hiap berdiam diri saja, kedua matanya tetap
dipejamkan. Tiba2 kedua golok dari Jie Tiauw Kim To telah melayang
menyambar kearah tubuh Sin Coa Tung Hiap, Gerakan yang
dilakukan oleh Jie Tiauw Kim To sangat cepat sekali, dimana
mereka juga membacok sekuat tenaga.
Angin bacokan tersebut berkesiuran kuat sekali, tetapi Sin
Coa Tung Hiap tetap tidak bergerak dari tempatnya rebah.
Jie Tiauw Kim To jadi girang waktu melihat hal ini mereka
menyangka bahwa serangan mereka kali ini akan berhasil
dengan baik, karena mereka yakin akan dapat membokong
Sin Coa Tung Hiap yang mereka duga tentunya tengah
tertidur lelap.
Dengan cepat mereka mengempos semangat mereka,
golok2 yang berwarna kuning itu berkelebat tambah kuat,
anginnya juga berkesiuran lebih keras.
Sin Coa Tung Hiap waktu merasakan menyambarnya angin
itulah dengan gerakan yang cepat sekali, kedua tangannya
telah bergerak.
Dengan mempergunakan jari telunjuknya, tangan kiri dan
kanannya telah menjepit kedua golok tersebut, ia
mengerahkan sinkangnya pada jari telunjuknya, dan terdengar
suara "Tranggg. .. !" kedua golok tersebut seketika menjadi
patah dua. Dan Sln Coa Tung Hiap tidak bertindak hanya sampai disitu
saja, dengan cepat kakinya telah menendang kedua lawannya.
Jie Tiauw Kim To yang melihat golok mereka terpatahkan
Pendekar Super Sakti 20 Anak Harimau Karya Siau Siau Persekutuan Pedang Sakti 11
^