Pencarian

Pendekar Misterius 3

Pendekar Misterius Karya Gan K L Bagian 3


Walaupun orang aneh itu berkedok, tapi dari bentuk tubuh dan dandanannya Jun-yan masih dapat mengenalinya, maka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
katanya kepada Ti Put-cian : "It-ci Toako, ternyata disini tidak sedikit kenalan lama !"
"Siapa saja ?" tanya Put-cian.
"Lihatlah, imam setengah umur itu ialah Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin, dan kakek pendek buntik itu adalah Tong-ting-hui-hi Bok Siang-hiong, sedang lelaki berkedok itu bukan lain adalah orang aneh yang banyak bikin gara2 atas diriku itu!"
"Benar" Kau tidak salah mengenalinya?" Put-cian menegas.
Dan rupanya saking girang hingga suaranya agak keras.
"Ssst", cepat pula Jun-yan menjawil padanya. Maka keduanya lantas saling pandang dengan tersenyum.
Mendadak suara tambur tadi semakin keras dan cepat, lalu beberapa ratus orang Biau lantas bersorak-sorai hingga suasana seketika bergemuruh oleh suara gema kumandang dilembah pegunungan itu.
"Hampir mulailah sekarang", kata Ti Put-cian rada tegang ketika melihat sang dewi malam sudah berada di-tengah2
cakrawala. Maka tertampaklah dari pintu besi sana berduyun2 datang tujuh orang, setiap orang memondong satu mayat yang sudah kering, ada lelaki ada perempuan, tapi tubuh mayat itu sudah mengering kuning hingga tampaknya sangat menyeramkan.
Dandanan mayat2 itupun tidak seragam, ada suku Biau, ada bangsa Han dan suku lain pula.
Agaknya, orang yang memondong mayat itu sangat
menghormat sekali terhadap apa yang mereka bawa itu.
Setelah sampai didepan ketujuh kursi kosong tadi, mereka-mereka meletakkan mayat2 itu diatasnya, lalu berlutut memberi sembah, sesudah bangun, mereka lantas berbicara, mula2 dengan bangsa Biau, kemudian dengan bangsa Han, seru mereka: "Secara sembrono kami berani menyentuh tubuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seng-co (nabi agung), pantas kalau mati, maka mengharap Seng-co suka memberi berkah!"
Habis berkata, cepat mereka melolos senjata terus
membunuh diri. Segera pula ada orang yang menyeret ketujuh jenazah baru ini kepinggir.
Betapa terkejut dan berdebar hati Jun-yan oleh kejadian itu, sebaliknya Ti Put-cian ternyata sangat kesemsem menyaksikan itu katanya dengan perlahan pada si gadis:
"Lihatlah, betapa agung perbawa Seng-co, sesudah wafat, tubuh emasnya masih begitu keramat hingga siapa yang menyentuhnya rela membunuh diri untuknya!"
"Apa2an Seng-co itu ?" tanya Jun-yan.
"Ssst, jangan sembrono", bisik Ti Put-cian dengan wajah kuatir.
Jun-yan masih hendak menanya, tapi suara tambur tadi sudah berhenti mendadak dan orang yang memukul tambur itu terus melompat turun dari meja batu itu dengan gesit.
Maka terlihatlah Tiat-hoa-popo menaiki meja batu dengan langkah yang tidak tetap sebagai lajimnya seorang nenek2.
Sesudah berada diatas, ia memandang kesekitarnya hingga seketika sunyi senyap, maka iapun mulai berkata, juga bahasa Biau dulu, kemudian bahasa Han. Katanya: "Seng co ketujuh sudah wafat 30 tahun yang lalu, Seng-co kedelapan juga sudah menghilang selama 30 tahun dan tak pernah kita ketemukan. Menurut tradisi kita, Seng-co kesembilan harus kita angkat diantara semua hadirin ini. Menurut peraturan, 49
bunga seruni sudah kita sebarkan keseluruh negeri, siapa yang memperolehnya malam ini juga sudah hadir semua.
Maka Lopocu (nenek-tua) tidaklah perlu banyak omong, terserah pada takdir, siapakah gerangannya yang bakal terpilih sebagai Seng-co dari rakyat2 72 gua kita."
Habis itu, sekali tubuhnya melesat cepat sekali orangnya sudah melayang turun. Jangan dikira usianya sudah tua dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
matanya buta, tapi betapa cepat gerakannya, ternyata tidak kalah dengan tokoh kelas satu dari kalangan Bulim.
Sampai disini, sedikit banyak Jun-yan sudah mengetahui duduknya perkara. Apa yang disebut Seng-co itu tentu adalah pemimpin tertinggi dari 72 gua suku Biau, dan hari ini justru hari pemilihan Seng-co baru itu. Cuma yang tidak dapat dipahaminya ialah apa yang dikatakan sinenek bahwa Seng-co ke 8 bisa menghilang sejak 30 tahun yang lalu, padahal kedudukan Seng-co ini ada sekian banyak orang yang
menginginkannya"
Sedang ia berpikir, tiba2 dilihatnya didepannya berdiri satu orang berbaju putih, ujung lengan baju orang hampir2
menyentuh mukanya. Ketika ia mendongak, kiranya adalah si gadis yang bernama "A Siu" itu. Gadis jelita ini lagi memandangi Ti Put-cian dengan senyum yang penuh arti.
Hati Jun-yan menjadi panas, segera ia bermaksud
membentak, tapi gadis itu hanya sejenak saja merandek, lalu meninggalkan pergi.
"Hm, gadis Biau ternyata begini tak kenal malu", segera Jun-yan mencemoh sambil melihati belakang A Siu, yang sementara itu telah mendekati dan duduk disamping Tiat-hoa Popo.
Sejenak nenek itu turun panggung, semua hadirin berdiam diri saja, setelah lama barulah si orang Biau yang tinggi besar wajahnya bengis membawa tombak, sambil meloncat dan
berlari menaiki panggung batu, lalu teriaknya : "Tong-cu (kepala Gua) dari Jing-cha-tong, Pulaihua, minta pengajaran dari para hadirin !" Habis berkata, dengan congkaknya ia berdiri menolak pinggang dengan sebelah tangannya,
sikapnya memang gagah sekali, tapi bagi penglihatan orang ahli segera tahu kuda2nya tidak kuat, tidak tahan sekali pukul saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kiranya ke-72 gua suku Biau itu yang hidupnya diantara tanah pegunungan yang penuh binatang-binatang berbisa, jiwa mereka sama sekali tak terjamin, maka segera telah mengadakan perserikatan mengangkat seorang yang serba pandai untuk menjadi pemimpin besar mereka, yaitu disebut Seng-co, dengan hak kekuasaan penuh. Sejak Seng-co
pertama diangkat, selamanya tidak membeda-bedakan suku bangsa dan keturunan, sebab itulah diantara delapan Seng-co yang lalu, enam diantaranya adalah bangsa Han. Waktu pemilihan Seng-co baru selalu diadakan pada pertengahan bulan pertama diwaktu bulan purnama, sesudah Seng-co lama wafat, sebelum itu, 49 buah bunga seruni besi yang menjadi tanda pemilihan itu disebar keseluruh negeri, siapa yang memperolehnya dapat ikut hadir dalam pemilihan. Urusan ini selamanya dirahasiakan, maka Jun-yan sejak mula tidak mengetahui untuk apakah kedatangan Ti Put-cian ini.
Begitulah, sesudah Pulaihua tadi naik ke-panggung, lalu datang seorang Biau lalu sebagai penantang dan mulai bertanding, akhirnya Pulaihua itu kena dijungkalkan kebawah.
Selanjutnya seluruh suku Biau saja yang saling bertempur hingga dua jam lebih, tapi cara berkelahi mereka adalah terlalu kasar hingga tiada harganya dilihat.
Tampaknya sang bulan sudah mendoyong kebarat, tiba2
Tong-ting-hui-hi Bok Siang-hiong melolos senjatanya, Go-bi-ji, sekali lompat, panggung yang jauhnya dua tiga tombak itu telah kena dinaikinya. Waktu yang berada disitu adalah seorang Biau yang muda tangkas, diantara leher pergelangan tangan dan kakinya memakai gelang rotan yang hitam gelap.
Sesudah naik keatas, tanpa bicara lagi senjata Bok Siang hiong terus menusuk kepaha orang Biau itu.
Namun orang Biau berdiri diam saja tanpa menghindar, maka tepat kena pahanya yang di arah itu, tapi hanya mengeluarkan suara seperti kayu diketok, sedikitpun kakinya ternyata tidak terluka. Keruan Bok Siang-hiong terkejut,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
segera ia tarik kembali senjatanya hendak ganti serangan, namun tombak orang Biau itu juga telah menusuk
kebadannya, cepat ia meraup hingga ujung tombak orang kena ditangkapnya, sekali gertak, Bok Siang-hiong kerahkan tenaga dalamnya yang kuat, tanpa ampun lagi orang Biau itu terpental jatuh kebawah seperti layang2 putus benangnya.
"Maaf !" Bok Siang-hiang coba merendah lalu ada seorang Biau lagi yang melompat keatas, tapi juga bukan
tandingannya, ber-turut2 beberapa orang lagi dari berbagai suku bangsa, tapi semuanya kena dikalahkan Bok Siang-hiong.
Sementara itu hari sudah terang, obor sudah dipadamkan, Bok Siang-hiong masih menjagoi di atas panggung, kedua matanya selalu mengincar Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin saja.
Karena ditunggu lama masih belum ada yang naik, akhirnya Cu Hong-tin berbangkit, sekali ayun kebutnya, perlahan dan enteng sekali ia melompat keatas panggung batu itu.
Melihat betapa indah loncatan itu, semua hadirin bersorak memuji. Sebaliknya Bok Siang-hiong sangat mendongkol akan datangnya Cu Hong-tin ini, sedangkan dirinya sudah
bertempur setengah malam, tenaganya sudah habis, barulah orang maju menantang padanya, maka tanpa bicara lagi, begitu membuka serangan, segera ia putar sepasang
cundriknya itu mengurung rapat lawannya.
-0odwkz"hendrao0-
Jilid 4 DALAM hal keuletan, sebenarnya Cu Hong-tin memang
masih lebih unggul dari pada Bok Siang-hiong. Apa lagi orang telah bertempur selama setengah malam dengan berpuluh orang. Betapapun lihay serangannya, tidaklah dipandang berat oleh Cu Hong-tin. Sekali Siau-yau-ih-su ini meloncat, dari atas kebutnya yang berekor benang emas itu terus mengepruk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kebawah dengan tipu "Thian-hoa-kap-teng" atau bunga langit menghambur kepala.
Ketika mendadak Bok Siang-hiong merasa kabur
pandangannya, Cu Hong-tin telah menghilang, tahu2 dari atas suatu tenaga maha besar menindih kepalanya, ia menjadi terkejut luar biasa, tanpa pikir lagi ia melompat pergi sejauh mungkin. Sementara itu Cu Hong-tin sudah tancap kaki kebawah lagi dengan sikapnya yang gagah sebagai jago yang berada diatas angin, katanya : "Jurus "Siao-jin ki-loh" (sang dewa menunjuk jalan) ini silahkan Bok-heng terima lagi !"
tiba2 ujung kebutnya menjadi tegang terus menutuk kedada lawan.
Belum lagi bisa berdiri tegak, terpaksa Bok Siang-hiong menangkis pula serangan ini. Namun kebut Cu Hong-tin ternyata sangat hebat dan serba guna, dengan tenaga dalam ia patahkan tenaga keras tangkisan orang, lalu ekor kebutnya melibat diatas cundrik orang hingga kencang, habis itu ia tarik sekuatnya. Keruan Bok Siang-hiong tak sanggup menahan hingga senjatanya terlepas dari cekalannya. Ketika sedikit Cu Hong-tin menggentak pula, cundrik rampasan itu mencelat terbang keudara, hingga menimbulkan sinar kemilauan diatas.
Insyaf tak ungkulan, diam2 Bok Siang-hiong undurkan diri dengan rasa likat. Sementara itu dengan tekebur Cu Hong-tin memandangi sekeliling panggung, ia lihat orang Biau disitu tiada satupun yang dapat ditakuti, sedang diantara bangsa Han, kecuali sepasang pemuda pemudi yang dikenalinya sebagai Lou Jun-yan, sedang si pemuda rasanyapun bukan tandingannya. Ada seorang lagi yang berkedok kepala, ketika datang disitu terus duduk terpaku, agaknya datang untuk melihat keramaian saja. Maka dapat diduga kedudukan Sengco dari 72 gua suku Biau sudah yakin akan diperolehnya, bukan saja bangsa Biau akan tunduk pada perintahnya, bahkan juga akan mendapat rahasia pembuatan berbagai macam racun dan obat bius. Apalagi sudah lama terdengar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa banyak orang mendatangi daerah ini untuk mencari harta karun serta kitab rahasia ilmu silat peninggalan tokoh Bu-lim dari jaman dahulu. Saking senangnya Cu Hong-tin, tiba2 ia unjukan pula ilmu mengentengi tubuhnya yang indah, ia meloncat lurus keatas dan tepat cundrik yang baru jatuh kembali itu dapat ditangkapnya. Lalu orangnya turun lagi diatas panggung batu dengan enteng. Dan sekali ia tekuk cundrik baja itu, tahu2 telah melengkung bagai gendewa.
Melihat itu, tidak kepalang orang2 Biau yang hadir disitu, mereka menyangka apa orang bukan jelmaan malaikat "
Lalu Cu Hong-tin buang cundrik itu ketanah katanya
dengan angkuh : "Entah masih ada siapa lagi yang berani naik kemari ?"
"Jun-yan", tiba2 Ti Put-cian membisiki si gadis, "telah tiba saatnya sekarang. Permintaanku akan bantuanmu justru inilah urusannya. Jika aku tak ungkulan melawan Cu Hong-tin, hendaklah kau bisiki orang aneh itu agar suka membantu aku dari bawah. Apa yang kau katakan selalu diturutnya, tentu dia takkan menolak".
Jun-yan ter-mangu2 sejenak oleh permintaan itu. "Apa "
Kau juga ingin menjadi kepala orang Biau ?" tanyanya heran.
"Jun-yan, harap kau suka membantu sungguh2", pinta Ti Put-cian lagi.
"Baiklah, akan kukatakan padanya nanti" sahut Jun-yan kemudian merasa tak tega untuk menolaknya. "Tapi kalau kau tak ungkulan, ada lebih baik kau lekas kembali saja."
Dan selagi Ti Put-cian hendak berdiri dan melompat keatas panggung, tiba2 terdengar Tiat hoa popo berseru : "A Siu, dimana kau, kenapa belum naik keatas ?"
Ti Put-cian dan Jun-yan terkejut, sungguh mereka heran, apa benar A Siu yang mereka ketemukan yang tampaknya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lemah gemulai tak tahan angin itu berani naik panggung bertanding dengan Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin "
Mereka bertambah terkejut bila kemudian melihat gadis yang muncul itu memang benar A Siu yang berbaju putih mulus itu, ditambah lagi kulit dan wajahnya juga putih pucat, perlahan2 A Siu bertindak kedepan dengan gayanya yang menggiurkan bagai dewi kayangan yang baru turun kebumi.
Ketika tiba2 menampak seorang gadis jelita tampil kemuka sebagai penantangnya, sesaat itu Cu Hong-tin pun tertegun.
Ia sangsikan apa benar gadis semuda ini berani coba2 naik panggung "
Sementara itu A Siu sudah sampai didepan panggung batu, tanpa kelihatan ia bergerak, tahu2 sudah meloncat keatas panggung setinggi beberapa kaki itu. Ia tidak lantas memapaki Cu Hong-tin, melainkan menjemput dulu cundrik, senjata Bok Siang-hiong yang dibengkokkan Cu Hong tin tadi, ketika tangannya yang halus putih itu pegang kedua ujungnya terus ditarik, tahu2 cundrik itu telah lempeng kembali seperti asalnya.
Cu Hong-tin menjadi kaget dan curiga, sungguh susah
dimengerti, gadis semuda ini, sekalipun belajar sejak masih dalam kandungan ibu, Iwekangnya juga takkan sehebat ini.
Maka sekarang yakinlah dia si gadis benar2 seorang
penantangnya yang tangguh, ia tak berani ayal lagi, segera ia ber-siap2 dengan kebutnya, katanya : "Silahkan nona
keluarkan senjata !"
"Aku tak punya senjata," sahut A Siu.
Diam2 Cu Hong-tin mendongkol mendengar sahutan itu.
Pikirnya, "36 jurus ilmu kebutku sudah malang melintang selama ini, sampai tokoh lihay seperti Thong-thian-sin-mo Jiau Pek king juga mesti bertarung sama kuat dengan aku,
masakan aku malah takut terhadap seorang gadis macam kau
?" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka tanpa bicara lagi, mendadak tangannya menggertak, ekor kebutnya menjengkit, dengan tipu "Sian-jin-ki-loh"
seperti tadi segera ia tutuk kedada A Siu tempat "Ki-bun-hiat", cuma serangan tidak penuh dilontarkan, hanya ia tahan ketika hampir mengenai sasarannya, ia ingin melihat jelas gaya silat dari aliran manakah si gadis ini, agar dapat mengatur cara menghadapinya.
Tak terduga, A Siu tetap berdiri dengan kedua tangan lurus kebawah, hanya sepasang matanya menatap tajam keujung kebutnya. Melihat kesempatan itu, segera Cu Hong-tin dorong kebutnya kedepan. Tapi baru saja bergerak, tahu2 A Siu telah menggeser pergi hingga ujung kebutnya menyambar lewat disampingnya, ujung baju saja tidak menyentuhnya.
Diam2 Cu Hong-tin memuji akan kecepatan orang, sekali kebutnya ditarik, sekali kebas dengan tipu "pek-hun-bian-bian"
atau awan bergumpal me-layang2 segera ia menyabet dari samping.
Tapi kecepatan bergerak A Siu juga cepat dan gesit luar biasa, ditambah bajunya yang berwarna putih dan berkaki telanjang hingga langkahnya tidak bersuara, maka cara bagaimana bergeraknya susah terlihat jelas, hanya tampak bayangan putih berkelebat, tahu2 orangnya melesat minggir kesamping dengan indahnya.
Diam2 Cu Hong-tin menjadi gugup melihat dua kali
serangannya mengenai tempat kosong. Bila ia lihat gerak tubuh orang, nyata semacam ginkang yang maha hebat
dengan kecepatan yang susah dibayangkan. Kalau melihat ujung kakinya sedikit melejit, lalu orangnya sedikit mumbul, lantas mengikuti tenaga kebasan kebutnya melompat
kedepan, nyata sekali adalah ilmu "leng-kong-poh-hi" atau melangkah kosong diatas udara yang biasanya hanya bisa dilatih oleh orang yang berilmu Iwekang tinggi, padahal gadis ini masih sangat muda, darimanakah bisa melatih ilmu entengi tubuh yang sehebat itu"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam sengitnya segera Cu Hong-tin menyerang tanpa
berhenti dengan ke 36 jurus ilmu kebutnya. Tapi meski sekejap serangan berantai itu selesai dilontarkan, ujung baju gadis itu masih belum dapat disentuhnya. Malahan orang hanya berkelit kian-kemari tanpa membalas.
Sungguh tidak kepalang terkejutnya Cu Hong-tin, sama sekali tak bisa dipahaminya, mengapa seorang gadis jelita suku Biau dapat memiliki kepandaian setinggi ini. la benar2
penasaran, sekali kebutnya diayun, kembali ia mengebas, sekali ini dengan jurus siau yau-bu-kek atau gembira ria tak terbatas, ia salurkan seluruh tenaga dalamnya kesenjatanya hingga membawa samberan angin keras.
Tapi masih A Siu tidak balas menyerang, malahan dengan baik2 ia mengatakan : "Aku telah mengalah tiga puluh enam jurus seranganmu, dengan ilmuku ham-hong-gi-heng
(bergerak terbawa angin), masakan kau mampu apakan aku "
Jika kau masih tidak kenal gelagat, rasanya kau sendirilah yang mencari susah! Lekas turun panggung sajalah!"
Mendengar ilmu kepandaian orang, terkejut Cu Hong-tin ber-tambah2, pantas ujung baju orang saja ia tak mampu menyentuhnya. Ia menaksir dirinya tak akan sanggup
melawan ilmu ginkang yang hebat itu, cuma tujuannya kemari telah banyak mengalami aral lintang dan berhasil merebut bunga seruni besi, sangkanya daerah Biau tak terdapat orang pandai, bila dirinya dapat memperoleh kedudukan Sengco dan memerintah tujuh puluh dua gua rakyat Biau kangzusi.com, pula bila bisa mendapatkan harta pusaka serta kitab silat rahasia yang tersiar dlkalangan Bulim itu, kelak ia bisa mendirikan cabang aliran tersendiri dan akan berdiri sama derajat dengan Jing-sia pay, Khong-tong-pay, Bu-tong-pay dan Go-bi-pay yang besar2 itu. Siapa duga, baru saja mengalahkan Bok Siang-hiong, tahu2 datang seorang gadis jelita yang membuatnya tak berdaya. Sudah tentu ia tak rela menyerah begitu saja. Tanpa bicara lagi, ia himpun tenaga,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan tipu "Thian-hoa-kap-teng" atau bunga langit menghambur kepala, secepat kilat ia sabet kepala A Siu.
Namun samberan angin senjatanya itu lebih dulu membuat A Siu terbawa pergi beberapa kaki hingga sabetannya
mengenai tempat kosong. Tahu2 gadis itu telah melompat maju, dengan tangannya yang putih bersih bergelang
keleningan, segera kebutnya Cu Hong-tin kena ditangkapnya.
Maka seketika kedua orang saling tarik menarik mengadu tenaga dalam, banyak orang yang kuatirkan A Siu yang bertubuh lemah itu takkan tahan, maka orang2 Biau sama bersorak membantu suara. Sebaliknya bagi penglihatan Ti Put-cian, ia sudah menduga Siau-yau ih-su pasti akan kalah. Kalau ia tahu diri mau turun panggung masih mendingan, tapi kalau mengadu tenaga dalam demikian, walaupun A Siu tidak ada niat arah jiwanya, sedikitnya akan terluka parah.
Tadinya ia memperhitungkan tiada orang lain lagi yang bisa menandingi Cu Hong-tin, sebaliknya ia sendiri menaksir dengan mudah sanggup mengalahkannya. Siapa tahu ilmu silat A Siu bisa begini lihay, tampaknya tidak mudah jika bertanding dengan dia.
Sementara itu diatas panggung Cu Hong-tin masih
berkutetan dengan A Siu, meski ber-ulang2 ia kerahkan tenaga dalamnya, tapi selalu tak berhasil menarik kembali kebutnya.
"Maafkan !" tiba2 A Siu tersenyum, segera Cu Hong-tin merasa suatu tenaga yang kuat sekali menumbuk kembali dari kebutnya hingga dadanya serasa sesak. Hampir2 darah
menyembur keluar dari tenggorokannya. Terpaksa ia lepaskan kebutnya dan melompat kebelakang turun dari panggung, menyusul pandangan menjadi silau, kebutnya sudah
dilemparkan A Siu kearahnya. Masih tak berani ia
menyambutnya, melainkan melompat kesamping, tak terduga sekali ini A Siu memang benar2 hendak mengembalikan
senjatanya itu, maka tidak menggunakan tenaga, dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
enteng kebut itu jatuh ditanah, cepat Cu Hong-tin
menjemputnya. Sejak Cu Hong-tin malang melintang dikang ouw, belum pernah ia dikalahkan seperti sekarang ini, keruan ia gemas bukan kepalang kepada A Siu, tanpa menoleh lagi ia berlari pergi.
Sesudah kalahkan Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin, lalu dengan senyum simpul A Siu berkata kepada para hadirin : "Masih ada orang gagah manakah yang sudi naik kemari memberi
pelajaran ?" Ia ulangi beberapa kali tantangannya itu, tapi tiada seorangpun yang tampak berani maju.
Ti Put-cian pikir telah tiba saatnya, ia memberi pesan pada Jun-yan tentang bantuan orang aneh itu, lalu berdiri dan berseru : "Aku yang rendah mohon petunjuk pada nona !"
Lalu dengan jalan berlenggang ia mendekati panggung batu, sekali enjot, dengan enteng ia sudah melompat keatas.
"Kau ?" dengan wajah merah A Siu menegasi, ia tidak percaya kalau pemuda itu juga hendak bertarung padanya.
"Benar aku, petunjuk apakah yang hendak nona berikan ?"
sahut Ti Put-cian dengan lagak tengik.
A Siu tudingi jari satu2nya Ti Put-cian, lalu tunjuk pergelangan tangannya sendiri dengan wajah merah jengah.
Ti Put-cian menjadi ingat godaannya tempo hari digardu tepi jalan itu, nyata si gadis ini telah jatuh hati padanya. Jika seorang gadis Biau sudah jatuh cinta pada seseorang, ia rela berkorban untuk segalanya, apalagi hanya kedudukan Sengco.
Memang dugaan Ti Put-cian tidak salah, diam2 A Siu
memang sudah jatuh cinta padanya. Kiranya pergaulan laki perempuan diantara suku Biau meski bebas, tapi se-kali2 tak boleh kedua badan saling sentuh, kecuali kalau sudah suka sama suka untuk mengikat menjadi suami isteri. Ketika Ti Put-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cian gunakan jarinya menggantol lengan A Siu digardu itu, kalau bukan ketampanan Ti Put-cian telah menggiurkan hati A Siu, tentu gadis itu sudah menghajarnya.
Kini sesudah berhadapan, A Siu menjadi ragu2, ber-kali2 Ti Put-cian mempersilahkannya bergebrak, ia hanya memandangi pujaan hatinya dengan mata mendelong. "Long-kun (
panggilan pada kekasih ), mana bisa aku menangkan kau, silahkan kau turun tangan saja !"
Dasar orang Biau memang sangat jujur, karena menyangka Ti Put-cian sudah penuju padanya, maka tanpa tedeng aling2
lagi A Siu terus menyebut "long-kun" padanya.
Tentu saja diam2 Ti Put-cian bergirang, terus ia menutuk ke "Ki-bun-hiat" didada orang. Sama sekali A Siu tidak menghindarinya, maka tutukan itu tepat kena tempatnya, sekali tubuhnya mendoyong kebelakang terus terperosot kebawah panggung. Ketika hampir merosot kebawah, tiba2
telinga Ti put-cian mendengar gema suara yang lirih jelas:
"Sampai ketemu besok malam dibawah bulan purnama,
longkui." Tampak bibir A Siu bergetar dan mengulum senyum, habis itu ia berjalan mendekati Tiat-hoa-popo.
Lalu terdengar Tiat-hoa-popo sedang berkata dalam bahasa Biau dengan suara keras seperti orang marah, begitu pula orang2 Biau lainnya sama berteriak merasa penasaran. Namun A Siu tidak ambil pusing, ia tinggal memandang kearah Ti Put-cian diatas panggung itu dengan kesemsem.
Ketika keduanya diatas panggung, hakekatnya tidak sampai bergebrak, sebaliknya pasang omong dengan mesra, lalu sekali Ti Put-cian geraki tangannya, lantas A Siu turun panggung, terang se-akan2 keduanya sudah berunding secara baik2. Tentu saja hal ini membikin Jun-yan naik darah, tanpa pikir lagi ia terus melompat keatas panggung.
Waktu itu Ti Put-ciang lagi senang2 karena merasa tiada orang lagi yang berani menantang dirinya. Ketika tiba2 melihat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jun-yan melompat keatas, ia menjadi kaget, tegurnya : "Hai, Jun-yan, ada apa kau naik kemari ?"
"Ti Put-cian, manusia rendah, kasak-kusuk apa yang kau lakukan dengan budak hina itu?" damprat Jun-yan.
"He, nona Lou, kenapa kau menjadi marah2 begini ?"
jengek Ti Put-cian.
Makin dipikir, makin gusar Jun-yan, tiba2 ia angkat
tangannya terus menempiling kemuka orang. Namun Ti Put-cian telah memapaki sekali menjentik dengan jari tunggalnya itu hingga setengah tubuh si gadis merasa kaku kesemutan.
Keruan Jun-yan semakin murka, teriaknya gusar : "Bagus kau, Ti Put-cian !"
Sebenarnya kalau turuti tabiat Kanglam-it-ci-seng Ti Put-cian, perbuatannya akan jauh lebih keji dan ganas. Sepanjang jalan ia begitu baik pada Lou Jun-yan, tujuannya tiada lain hanya bermaksud memperalat si gadis untuk merebut
kedudukan Seng-co saja. Kini kedudukan itu sudah terang dalam genggamannya, apa gunanya lagi seorang macam Lou Jun-yan.
Segera dengan tertawa dingin iapun menjawab : "Baiklah, jika sudah berani naik kepanggung, silahkan nona menyerang
!" Habis berkata, selongsong emas dijarinya itu tiba2
mengkilat, tahu2 menjulur panjang terus menutuk ke tubuh si gadis, tanpa kenal ampun ia telah keluarkan kemahiran menutuk yang lihay itu.
Cepat Jun-yan melompat mundur buat berkelit sambil
mendamprat, tapi secepat kilat tutukan kedua Ti Put-cian sudah dilontarkan lagi. Tampaknya sekali ini tenggorokan Jun-yan pasti akan terkena. Tiba2 terdengar suara "creng" yang nyaring, entah dari mana datangnya sebutir batu, selongsong emas jarinya Ti Put-cian itu telah terbentur hingga lengannya tergetar kaku, seketika semper. Kesempatan itu digunakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jun-yan dengan baik, "plak", kontan ia persen sekali tampar dimuka orang hingga merah bengkak.
Diam2 Ti Put-cian mengeluh, tentu batu tadi disambitkan si orang aneh itu, dalam seribu kerepotannya ia coba melirik kearah si orang aneh, tapi orang tertampak duduk anteng saja ditempatnya.
Sesudah memukul orang, Jun-yan menjadi menyesal
malah, katanya. "Sudahlah, asal kau dapat memahami
maksudku, marilah kita tinggalkan tempat ini!" sambil berkata, tanpa berjaga-jaga ia terus mendekati orang.
Namun kekejaman Ti Put-cian sudah tidak kenal maksud baik Jun-yan, ia tunggu si gadis sudah mendekat, mendadak tangan kiri menggaplok dari samping, sedang jari tunggal tangan kanan terus menutuk ketengah jidat Jun-yan.
Serangan mendadak ini membikin Jun-yan tak berdaya
sama sekali, dengan penasaran ia hanya bisa tunggu ajal saja sambil pejamkan mata. Tapi mendadak terdengar Ti Put-cian berseru tertahan, ketika ia membuka mata, ia lihat orang berdiri kaku sambil tangan kiri lagi meraba pinggang, menyusul mana orangnya malah terus mendeprok jatuh diatas panggung. Tanpa ayal lagi Jun-yan ayun kakinya menendang hingga tubuh Ti Put-cian tertendang kebawah panggung.
Sebenarnya tadi Ti Put-cian lagi menutuk dengan tipu "it-liong-tam-cu" atau sinaga mencakar mutiara, yaitu mengarah tengah2 batok kepala si gadis, tapi baru sampai tengah jalan tiba2 pinggangnya terasa pegal linu, ia insyaf terkena bokongan orang aneh itu lagi, lekas2 sebelah tangannya dipakai memijat tempat yang terasa pegal itu, tapi sudah terlambat, jalan darah itu telah tertutup dan badannya lemas terkulai hingga memberi kesempatan kepada Jun yan untuk menendangnya kebawah.
Baru saja Jun-yan hendak menyusul kebawah panggung
untuk memberi penjelasan, ia lihat A Siu sudah keburu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendekati Ti Put-cian dan membangunkannya. Malahan Ti Put-cian melotot dengan penuh kebencian kearahnya.
Jun-yan menjadi kesima, pikirnya, "Ah, ia telah kena kutendang kebawah, terang takkan bisa menjadi kepala suku Biau, tentu ia akan membenci padaku, pelototan matanya tadi seakan mendekam kesumat tak terhingga padaku."
Sedang perasaannya diliputi sesal tak terkatakan,
mendadak suara tabur dipukul ramai pula, seluruh orang Biau yang hadir disitu telah berlutut menyembah kearahnya, Tiat-hoa-popo juga mendekati panggung batu itu serta berseru keras2 : "Dengan hormat mohon tanya nama suci Seng-co kesembilan siapa ?"
Jun-yan menjadi bingung, tapi segera ia pun mengerti, kalau Ti Put-cian telah dapat dirobohkannya kebawah
panggung dan tiada lagi yang berani naik menantang
padanya, maka kedudukan Seng-co yang diperebutkan itu terang sudah jatuh atas dirinya.
Saat itu, sebenarnya Jun-yan sama sekali tidak ketarik oleh kedudukan Seng-co dari tujuh puluh dua gua suku Biau yang sangat diharapkan oleh orang2 Bu-lim itu. Kalau tidak menyaksikan berapa mesranya waktu A Siu membangunkan Ti Put-cian, mungkin ia lebih suka menunggang bersama diatas satu keledai suseng berjari tunggal itu berkelana di kangouw.
Tapi dasar wataknya memang sangat suka turuti pikiran hatinya yang timbul seketika, kini demi cemburu, segera ia menyahut,"Aku she Bo bernama Jun-yan!"
Sementara itu Tiat-hoa-popo telah berlutut ditanah sambil berseru beberapa kali dalam bahasa Biau. Seketika orang2
Biau itu berjingkrak gembira ria dan bersorak gegap gempita.
Kemudian Tiat-hoa-popo berkata lagi terhadap Jun-yan:
"Ilmu silat nona Lou sudah lulus ujian, tetapi menurut peraturan, harus menghadapi tiga mahluk berbisa lagi,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hendaklah bersiap menunjukan kesaktianmu untuk
menaklukannya!"
Diam2 Jun-yan memikir, kiranya masih begini banyak
permainan dalam pemilihan Seng-co ini. Ia lihat orang2 Biau yang tadinya bersorak sorai itu kini telah diam mendadak, seorang wanita setengah umur tampak tampil kemuka dengan membawa keranjang rotan, dengan hati2 sekali keranjang itu dilemparkan keatas panggung, lalu orangnya berlari ketempat semula.
"Silahkan nona Lou membunuh dulu katak berwajah
manusia didalam keranjang ini!" terdengar Tiat-hoa-popo melapor dibawah panggung dengan sangat menghormat.
Jun-yan pikir tentu katak berwajah manusia itu adalah semacam binatang aneh yang jarang terlihat, apa yang harus ditakuti " Tapi karena memang ia tidak bersenjata, maka katanya: "Aku tidak punya senjata, biarlah bertangan kosong saja !"
Mendengar si gadis akan menghadapi katak dengan tangan kosong saja, tanpa merasa semua orang berseru kaget
berbareng. Tapi Jun-yan masih belum insyaf akan gawatnya peristiwa nanti, tanpa ambil pusing ia mendekati keranjang rotan tadi terus ditendangnya hingga menggelundung pergi beberapa tindak jauhnya,
se-konyong2 terdengar
suara "kok" sekali, dari
dalam keranjang melompat
keluar suatu mahluk aneh
yang belum pernah
dilihatnya. Mahluk itu tampaknya
gepeng mendekam diatas
panggung batu itu,
warnanya serupa warna
kulit manusia, besarnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pun serupa muka manusia, malahan seperti lengkap dengan mata, hidung dan mulut manusia, cuma jeleknya luar biasa macam siluman. Dalam terkejutnya hampir-hampir Jun-yan menjerit, maka cepat ia mundur selangkah. Siapa duga mahluk itupun terus mendesak maju.
Sesudah itu barulah Jun-yan dapat melihat jelas, kiranya mahluk aneh itu adalah seekor katak dengan empat kakinya yang pendek, bentuk yang mirip wajah manusia itu hanya guratan2 diatas punggungnya saja.
Dengan sendirinya Jun-yan tambah berani sesudah
mengetahui mahluk itu hanya seekor katak, ia tidak tahu mahluk itu justru satu diantara tiga binatang berbisa yang paling ditakuti suku Biau. Katak berwajah manusia itu dapat menyemburkan hawa berbisa yang jahat, melulu menyenggol badannya saja tentu akan kena racunnya dan kulit daging orang bisa membusuk. Tempat dimana binatang itu hidup seluas beberapa tombak tiada hidup tetumbuhan apapun, maka dapat dibayangkan betapa jahat racunnya. Untuk
menangkap binatang ini guna ujian bagi calon Seng-co, orang Biau entah berapa banyak harus dikorbankan.
Namun Jun-yan masih belum kenal akan kelihayan katak berbisa ini, segera ia hendak memapak maju untuk
membunuhnya, tapi tiba-tiba didengarnya suara menjengek Ti Put-cian dibawah panggung. Ketika Jun-yan menoleh, ia lihat suseng berjari tunggal itu duduk berendeng dengan mesranya bersama A Siu, wajahnya mengunjuk ejekan. Seketika darah Jun-yan bergolak, cepat ia melengos tak sudi memandangnya.
Tapi pada saat itulah, terdengar suara 'kok' sekali, katak itu telah menubruk kearahnya sambil meleletkan lidahnya seperti ular, malahan membawa semacam bau amis yang tak enak dicium. Tanpa pikir lagi Jun-yan ayun telapak tangannya terus menghantam. Mendadak katak berwajah manusia itu
gembungkan perutnya dan melompat keatas, nyata itulah katak jenis kintak yang perutnya gembung bulat seperti bola,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lalu dari atas udara terus menubruk kebawah dengan suara
"kok-kok" yang keras.
Melihat binatang itu bisa menghindari serangannya, Jun-yan menjadi terkejut, sementara hidungnya mengendus bau amis yang memuakkan dan memusingkan kepala, hampir2
saja ia tak sanggup berdiri tegak, cepat ia melontarkan sekali lagi pukulan sekuatnya. Tapi ia merasa tenaganya sudah tidak sebesar tadi, tampaknya kintak itu masih terus menubruk kearahnya. Dan aneh bin ajaib, mendadak kintak itu bersuara
"kok" sekali lagi, cuma suara ini lain daripada tadi, badannya juga terus terbanting diatas panggung lalu empat kakinya mengenjol sekali terus tidak berkutik lagi, nyata sudah mati.
Segera Jun-yan tahu, tentu seperti mengalahkan Ti Put-cian tadi, si orang aneh itulah yang telah membantunya pula.
Tapi ketika ia melirik kesana, ia lihat orang aneh itu masih tetap duduk anteng saja, jaraknya dengan panggung batu kira2 3-4 tombak jauhnya, terang ia membantu dengan
senjata rahasia, tapi anehnya tanpa suara tanpa wujut hingga tak diketahui orang lain. Maka dapatlah dibayangkan betapa hebat ilmu kepandaiannya.
Sementara itu demi nampak Jun-yan berhasil membunuh
katak berwajah manusia itu, seluruh orang Biau yang hadir disitu terus bersorak-sorai gembira. Segera Tiat-hoa-popo pun melompat keatas panggung batu lagi sembari tangannya sudah memegangi sebilah golok.
"Ternyata ilmu sakti nona memang tiada bandingannya, asal bisa membunuh lagi dua mahluk berbisa lain, selamanya akan dijunjung sebagai Seng-co oleh suku kami dari tujuh puluh dua gua." demikian kata nenek tua itu. "Sekarang silahkan nona minum dulu pil mujijat dari katak ini."
Habis berkata, cepat goloknya bekerja, sekali potong dan sekali iris, tahu2 batang golok telah bertambah dengan sepotong benda yang besarnya seperti telor ayam. Kiranya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/


Pendekar Misterius Karya Gan K L di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itulah empedu binatang aneh itu. Meski bau katak itu amis memuakkan, tapi benda isi perutnya itu berbau wangi.
Namun begitu, Jun-yan merasa ngeri akan isi perut kintal itu, katanya: "Aku tak mau makan barang mengerikan ini!"
Baru saja selesai ia ucapkan, tiba2 dibawah panggung Ti Put-cian terus menyanggupi: "Dia tidak mau, berikanlah padaku !"
Dalam pada itu, Bok Siang-hiong yang dikalahkan Cu Hong-tin itu, masih berada disitu, segera iapun berseru : "Nona Lou, Iwetan (pil dalam) mahluk berbisa itu mujijatnya dapat menandingi tenaga latihan selama beberapa tahun, adalah semacam benda yang sangat diinginkan oleh orang-orang yang belajar silat seperti kita. Hendaklah kau lekas menelannya, supaya tidak jatuh ditangan orang jahat!"
Rupanya Bok Siang-hiong dapat juga menduga sisuseng itu tentu "Kanglam-it-ci-seng" yang namanya sangat disegani kalangan Bu-lim, kalau sampai empedu katak itu dapat dimakannya, bukankah mirip harimau tumbuh sayap dan
membawa malapetaka lebih hebat bagi dunia persilatan "
Ti Put-cian tertawa dingin, sahutnya : "Tadi dia sudah bilang tidak mau. Masakan seorang Seng-co bisa jilat kembali ludah sendiri ?" Ia menduga Tiat-hoa-popo tentu tidak menyerahkan lagi benda itu kepada Jun-yan.
Tak ia duga, tiba-tiba Tiat-hoa-popo berkata dengan dingin
: "Segala apa terserah keputusan Seng-co sendiri, orang dibawah panggung tak perlu banyak mulut!"
Keruan Ti Put-cian malu dan gusar. Namun ia tak berani pakai kekerasan, terutama melihat si orang aneh itu masih berada disitu.
Sementara itu Jun-yan mencium bau Lwe tan itu semakin harum semerbak, per-lahan2 ia jemput benda itu dari
angsuran Tiat-hoa-popo, ia masih tak berani menelannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terang2an, tapi dengan pejamkan mata terus dijatuhkan ke-tenggorokan. Dan baru saja benda itu masuk ke mulut, "pluk", tahu2 pecah hingga rasanya segar wangi sangat nyaman mengalir kedalam perut. Lalu Tiat-hoa-popo masukan bangkai katak busuk itu kedalam keranjang tadi dan didepaknya kepinggir.
Menyusul mana, tampak seorang wanita setengah umur
yang lain telah membawakan sebuah peti keatas panggung, dari dalam peti itu mengeluarkan suara keresekan seperti ada semacam mahluk yang lagi me-rangkak2 didalamnya.
Karena sudah tahu pasti si orang aneh selalu siap
menolongnya dari samping, nyali Jun-yan menjadi besar.
Tanpa bicara lagi, dengan kakinya ia depak tutup peti itu hingga menjeplak terbuka.
"Awas, nona ! Binatang ini bernama "Kim jiau-ih-coa" !"
kata Tiat-hoa-popo.
Segera dari dalam peti itu tampak merayap keluar seekor ular terus meloncat keatas. Hebatnya, ular ini se-akan2 bisa berjumpalitan dan melingkar2 diatas udara, lalu jatuh keatas panggung batu sambil merayap maju. Dimana tempat yang dilewati, tertinggal bekas se-akan2 dikerok.
Jun-yan melihat ular itu tiada ubahnya dengan ular
umumnya, bedanya cuma badannya gepeng dan lebar hingga sekilas pandang se-akan2 berkepet, sedang di bawah lehernya tumbuh dua cakar yang berwarna kuning gelap, bekas seperti dikerok diatas batu tentu disebabkan kedua cakarnya itu.
Dengan lagaknya yang lincah, segera Jun-yan membentak :
"Binatang, lekas serahkan nyawamu, apa perlu nonamu
turun tangan ?" Sembari berkata, ia tertawa ngikik sambil melontarkan hantaman.
Menurut cerita suku Biau, Kim-jiau-ih-coa atau ular cakar emas bersayap, kedua cakarnya kuat dan keras bagai baja,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
batu atau kayu kalau kena dicakarnya segera pecah belah, dan pula bisa meloncat seperti terbang, ditambah lagi berbisa jahat sekali, dibanding katak berwajah manusia itu jauh lebih lihay. Maka ketika pukulan Jun-yan dilontarkan, mendadak ular itu meloncat keatas, dengan lidahnya yang merah menakutkan, kedua cakarnya ber-gerak2 terus menubruk kearah si gadis.
Sama sekali Jun-yan tidak menduga bahwa ular itu bisa sedemikian hebat, dalam terkejutnya ia menjerit kaget terus melompat kebelakang namun begitu, lengan bajunya telah tercakar sobek sebagian oleh cakar ular itu. Menyusul mana binatang itu terus menubruk lagi, cepat Jun-yan memukul pula, dengan angin pukulannya ia coba menahan tubrukan ular itu. Tapi ternyata ular itu gesit luar biasa, begitu tergetar mundur, kembali meloncat menubruk pula.
Berulang kali Jun-yan sengaja menjerit untuk memancing bantuan si orang aneh, siapa duga orang itu tinggal diam saja belum mau turun tangan. Sampai akhirnya, ia benar2
kewalahan kalau bertahan terus diatas panggung batu itu, tanpa pikir lagi ia melompat turun dari panggung batu itu dengan dugaan ular itu takkan menyusulnya.
Siapa tahu binatang itu benar2 seperti bayangan yang selalu melekat ditubuhnya saja, baru saja Jun-yan berdiri ditanah, tahu2 dari belakang angin sudah menyambar, lekas-lekas ia berjongkok terus menjatuhkan diri kesamping, maka terdengarlah suara berebet, lagi-lagi bajunya sobek tercakar ular itu.
Karena sudah kepepet, sekenanya Jun-yan merampas
sebatang tombak dari tangan seorang Biau didekatnya terus ditusukan kearah ular yang sementara itu telah menubruknya lagi. Anehnya, sudah jelas terdengar suara "crat-crat"
beberapa kali, terang tombaknya mengenai sasarannya, tapi sedikitpun ternyata ular itu tak terluka, malahan ketika
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cakarnya mencengkram, tahu2 terdengar "krak" sekali, tombaknya itu malah sudah patah.
Dalam keadaan terdesak, terpaksa setindak Jun-yan
mundur mendekati tempat orang aneh itu. Ditelinganya terdengar suara ejekan Ti Put-cian yang rupanya merasa bersukur akan keadaan Jun-yan itu. Gemas dan gusar hati si gadis, tapi memang ia lagi kewalahan, keringatnya ber-butir2
menetes dari jidatnya, sedikit lengah, beberapa kali hampir tercakar oleh ular2 itu. Sukurlah akhirnya dapatlah ia mendekati tempat duduk si orang aneh.
"Lekas turun tangan, bila lambat, aku bakal tercakar mati olehnya!" serunya gugup pada orang aneh itu.
Baru saja selesai ucapannya, terlihat tangan orang aneh itu sedikit bergerak, sebutir batu mendadak menyambar kepada ular.
Warna ular itu seluruhnya hitam ber-bintik2 kuning, hanya sedikit dibawah lahernya ada satu lingkaran kecil berwarna putih. Ketika batu sambitan itu dilontarkan, tepat sekali mengenai lingkaran putih itu.
Waktu itu ular lagi menubruk pula dengan cepat kearah Jun-yan, tetapi ketika kena sambitan batu, kontan terjungkel dari atas udara dan menggeletak diatas tanah tanpa berkutik lagi.
Maka tahulah sekarang Jun-yan, sebab orang aneh itu tidak lantas menolongnya tadi, oleh karena seluruh tubuh ular itu keras bagai baja, hanya lingkaran putih kecil dibawah leher itulah yang merupakan titik kelemahannya. Segera ia
melangkah maju, badan ular itu ia injak kuat2, ia angkat tombaknya dan mengincer tepat titik putih binatang itu dan terus menusuk, benar juga, sekali tusuk lantas masuk, maka melayanglah jiwa ular itu.
Kalau sehabis membunuh ular, Jun-yan senang sekali,
adalah dipihak lain Ti Put-cian yang mendongkol tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepalang. Sudah dua kali ia berharap gadis itu mampus dibawah binatang2 berbisa itu, siapa tahu si orang aneh itu selalu menolongnya dari samping. Orang ini begitu hebat ilmu silatnya, meski kedua matanya katanya buta, tetapi sekali timpuk tepat kelemahan ular yang diarah, se-akan2 terhadap seluk-beluk ular berbisa ini sudah jelas diketahuinya.
Melihat Jun-yan sudah lulus ujian kedua, tiba2 Tiat-hoa-popo menuding kedinding tebing didepan sana. Ketika Jun-yan memandang kearah yang ditunjuk, ia lihat di bawah tebing yang curam itu dikelilingi dengan sebaris orang Biau yang tegap kekar, hanya tempat yang ditunjuk Tiat-hoa-popo itu sekira dua tombak luasnya tiada di-aling2i orang, kalau dinding disitu licin gelap tanpa tetumbuhan, sebaliknya di tempat itu ternyata tumbuh semacam akar rotan yang hitam halus, malahan berbunga kecil berwarna ungu.
"Apakah itu maksudmu ?" tanya Jun-yan heran.
"Singkirkan akar rotan hitam itu, lantas tertampak sebuah gua", kata Tiat-hoa-popo dengan wajah keren. "Gua itu menembus keluar gunung. Apabila nona dapat melalui jalan situ, lalu masuk lagi dari pintu2 besi dilembah sana, lantas kau akan disembah sebagai Seng-co dari pada 72 gua suku kami !"
Diam2 Jun-yan terkejut, pikirnya, gua sekecil ini, andaikan si orang aneh itu selalu ingin menolong aku, masakan sekarang juga bisa ikut masuk kesitu " Maka tanyanya pula :
"Mahluk apa lagi yang terdapat didalam gua itu ?".
"Tiada lain, kecuali semacam Kim-ci-cu (laba-laba mata uang emas)", sahut si nenek.
Hati Jun-yan menjadi lega. "O, kiranya hanya laba-laba berbisa!" ujarnya.
Nyata ia tidak tahu bahwa racun laba-laba itu jahat luar biasa, jangankan bisa yang disemburkan labah-labah itu, sekalipun menyentuh jaringnya yang halus saja, orang seketika bisa pingsan, dan kalau tidak dapat pertolongan obat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mujarab yang jitu, dalam waktu singkat saja jiwa bisa melayang. Lebih dari itu, malahan orang yang mati terkena racun labah-labah itu, akan hancur menjadi darah dan darahnya berubah menjadi gas racun, jahatnya racun serupa lihaynya.
Tempat labah-labah itu sembunyi adalah di atas selapis saput berbisa yang kempel dari gas racun. Saput berbisa ini sama jahatnya dengan labah-labah tersebut. Hal ini sama sekali tidak diketahui Jun-yan yang hidup di Jing-sia-san yang indah permai pemandangannya, la sangka kalau melulu labah-labah seperti itu saja dengan membawa obor tentu akan dapat membakarnya habis.
Tentang adanya saput berbisa didalam gua itu, ternyata tidak dijelaskan oleh Tiat-hoa-po po. Kiranya nenek ini sesalkan A Siu telah mengalah pada Ti Put-cian, padahal gadis itu adalah calon satu2nya yang dia ajukan. Ia sendiri adalah tong-cu atau kepala gua pertama daripada tujuh puluh dua gua suku Biau. Sejak Seng-co kedelapan menghilang, tujuh puluh dua suku Biau itu lantas dibawah pimpinannya. Ia tidak menjelaskan tentang berbahayanya di dalam gua labah2 itu, karena ia masih punya harapan Jun-yan akan mati terkena racun, dengan begitu, menurut aturan bisa diulangi pemilihan Seng-co lagi, dan A Siu boleh jadi masih bisa terpilih.
Begitulah, tanpa pikir, Jun-yan terus minta empat obor, dua dibuat cadangan dan dikempitnya, sedang dua lainnya ia sulut untuk penerangan terus menuju kemulut gua yang ditunjuk itu.
Ketika akan melangkah masuk, tiba-tiba ia ingat akan diri si orang aneh itu, entah ikut dibelakangnya tidak. Cepat ia menoleh, dan sesaat itu, ternyata orang aneh itu sudah tidak ada di tempatnya tadi. Jun-yan melengak, ia pikir mungkin orang aneh itu tahu kalau gua itu mudah dilalui, maka sudah tinggalkan pergi dahulu. Tiba2 ia lihat Ti Put-cian melambai-lambaikan tangan kepadanya, ia tercengang tapi segera
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasa girang dan membalas melambai tangan, lalu
melangkah masuk kedalam gua.
Gua itu ternyata sempit lagi pendek, kadang-kadang harus sedikit mendak untuk tidak menyundul atap gua. Dibawah penuh lumut yang licin, suasana dalam gua dingin seram.
Sesudah duapuluh tombak jauhnya, gua itu mulai melebar, tapi sudah lama masih belum sampai keujung gua, malahan makin dalam makin gelap dan makin seram.
Dengan tabahkan diri, Jun-yan angkat obornya tinggi2 dan terus maju kedepan, makin jauh gua itu makin luas, Sekonyong2 terasa olehnya dari belakang angin berkesiur, satu bayangan orang melesat lewat disampingnya, siapa lagi kalau bukan simanusia aneh itu"
"He, kau ikut kemari?" tegur Jun-yan bergirang.
Tapi tenggorokan orang aneh itu berkeruyukan seperti suara ayam jago yang belum dikoroki, tak bisa bicara.
Sudah banyak Jun-yan mendapat kebaikan darinya, ia lihat wajah orang itu penuh bekas luka yang benjal benjol, ditambah lagi buta dan bisu, entah betapa menderitanya dimasa dahulunya, maka hati Jun-yan sungguh sangat kasihan dan simpati padanya, tegurnya kemudian : "Apakah yang hendak kau katakan" Tidakkah kau dapat menulis untukku ?"
Orang itu ter-mangu2 sejenak, mendadak ia pentang kedua tangannya ketika melihat Jun-yan hendak maju kedepan.
Kemana Jun-yan hendak maju, selalu ia merintangi.
Jun-yan menjadi heran. "Sudah banyak kau membantuku, kenapa sekarang kau malah merintangi?" tanyanya.
Sudah tentu orang itu tak bisa menjawab, hanya
tenggorokannya tetap bersuara "krok-krok", tiba2 nadanya berubah sangat memilukan.
Jun-yan mendongkol, katanya : "Asal aku bisa menembus gua ini, segera aku akan diangkat menjadi kepala suku Biau,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kedudukan ini dapat kuberikan kepada It-ci Toako yang sangat menginginkannya, kau tidak mau membantu, kenapa malah merintangi " Lekas minggir !"
Dan sekali melesat, segera ia menerjang ke depan. Tapi kontan orang aneh itu memapak dengan sekali pukulan, dimana angin pukulannya menyambar, tahu2 sumbu api obor menjadi padam. Seketika keadaan menjadi gelap gulita, Jun-yan terkejut, ia menjadi curiga akan kelakuan si orang aneh ini, jangan2 hendak mencelakainya " Cepat ia berkelit kesamping. Dan selagi hendak menyulut obor cadangannya yang dibawanya tadi, mendadak terasa bahunya kesemutan, tempat "thian-coan-hiat" telah ditutuk orang hingga tubuhnya lumpuh, obornya juga jatuh.
Lantas terasa tubuhnya kena dikempit orang serta menuju jalan masuk kegua tadi, tapi tidak jauh lantas membiluk beberapa kali, karena keadaan gelap gulita, ia tidak tahu orang membawanya kemana. Cuma tidak lama kemudian ia merasa tubuhnya diletakkan ditempat yang empuk bagai kasur.
Ingin sekali Jun-yan mengetahui dirinya berada dimana, sekuatnya ia kerahkan tenaga dalam untuk melancarkan jalan darahnya yang tertutuk, tapi sayang, tetap tak berhasil, ia menjadi gugup, kenapa orang aneh itu tidak membuka jalan darahnya atau mungkin sudah meninggalkannya.
Dengan tak sadar, entah lewat beberapa lama, jalan
darahnya baru lancar kembali. Cepat Jun-yan melompat bangun, baiknya obor masih ada satu, segera ia nyalakan, tapi ia menjadi terkejut, kiranya dirinya berada didalam satu kamar batu, tempat dimana ia rebah tadi adalah sebuah balai2 batu dengan bantal kasur lengkap. Kecuali ada meja kursi dari batu, ada pula rak buku penuh kitab2, sebaliknya orang aneh itu telah menghilang entah kemana.
Sungguh Jun-yan merasa heran kenapa di tempat demikian terdapat gua batu seindah ini. Ia merasa dirinya belum dibawa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keluar gua oleh orang aneh itu, maka dapat diduga dirinya masih berada dalam perut gunung. Ia coba memeriksa kamar itu, ia lihat tempat dimana dirinya merebah tadi mendekuk kedalam, waktu ia merabanya, ternyata kasur itu sudah lapuk, mungkin saking tuanya. Begitu pula kitab2 di rak buku itu, sekali pegang lantas hancur.
Tambah heran Jun-yan, diam2 ia memikirkan asal-usul
orang aneh itu. Apakah mungkin tempat ini adalah tempat kediamannya dahulu"
Sementara ini Jing-ling-cu dan para tokoh2 terkemuka lainnya sedang mempersiapkan pertemuan para jago silat seluruh jagat untuk mengusut asal-usul diri si orang aneh ini, kalau sekarang juga aku dapat menyelidikinya, kelak tentu akan bikin geger pertemuan besar itu.
Tiba2 ia melihat dipojok kamar itu ada sebuah peti besi, ia mendekati dan memeriksanya, ia lihat peti itu digembok dan sudah berkarat. Ketika ia tarik sedikit, gembok itu lantas putus, ia membuka tutup peti dan melihat didalamnya terletak sebatang pedang panjang satu meter, sarung pedangnya kasap bagai terbuat dari sejenis kulit binatang. Dibawah pedang itu tertindih sepotong saputangan sutera merah, kecuali itu tiada benda lain lagi.
Ia coba ambil pedang itu dan rasanya sangat enteng. Tiba2
hatinya tergerak, ia ingat kepandaian yang diperolehnya dari gurunya, Jiau Pek-king, kecuali Iwekang, ada lagi sejurus ilmu pukulan "Hui hun-cio-hoat", selain itu belum pernah diberinya pelajaran memakai senjata. Sebab katanya senjata biasa tiada gunanya dipelajari, senjata bagus susah didapatkan, hanya bisa diketemukan secara kebetulan, tapi dicari susah. Sebab itu bila kelak dirinya bisa memperoleh semacam senjata pusaka, barulah akan diberi pelajaran ilmu senjata. Lalu sang guru memuji Pek-lin-sin-to, cuma dikatakan bobotnya terlalu berat, karena gemblengannya kurang murni, senjata yang paling bagus harus tajam tapi enteng seperti kertas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kini pedang yang dipegangi itu bukannya enteng bahkan hampir tak terasa, apa bukan senjata wasiat yang jarang terdapat " Ia coba letakan obornya, lalu pedang itu ia lolos.
Namun ia menjadi kecewa, karena pedang itu warnanya
hijau tak bersinar, ketika disentil dengan jari juga tidak mengeluarkan suara nyaring, seperti bukan ditempa dari baja, nyata senjata itu tiada sesuatu yang luar biasa. Maka ia masukan kembali kesarungnya, lalu mengambil saputangan merah tadi. Ia lihat warna saputangan itu semarak
menyenangkan, halus lunak, seperti bukan terbuat dari sutera biasa, diatas kain itu samar2 ada huruf tulisan lagi, cuma mungkin umurnya sudah terlalu tua, maka tidak jelas.
Jun-yan tiada waktu untuk meneliti lebih jauh, sekenanya kain sutera itu ia masukan ke saku bajunya, lalu mem-bongkar2 peti itu, namun tiada penemuan lainnya. Karena kuatir kalau terlalu lama tinggal didalam gua, mungkin orang2
yang menunggu diluar menganggap dirinya tak mampu keluar lagi, bukankah urusan akan menjadi runyam " Maka cepat ia keluar dari kamar batu itu, pedang hijau itu tidak diurusnya lagi.
Agak lama ia berjalan kedepan, kemudian dapatlah dikenali sebagai tempat yang kemarin telah dilaluinya ketika mulai masuk gua, di-situ ada satu tikungan yang menyimpang, cuma kemarin tidak diperhatikannya.
Sebab telah mendapatkan jalan semula, hatinya menjadi girang. Tidak jauh pula, tiba2 terdengar dijalan samping sana sayup2 berkumandang orang menangis yang tersedu-sedan, segera dapat dikenali itulah suara si orang aneh itu.
Karena ingin cepat2 keluar gua, Jun-yan tidak urus lagi, malahan ia kuatir kalau orang aneh itu menyusulnya dan merintangi kepergiannya lagi, maka secara berindap-indap ia menuju kedepan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tidak lama lagi, tibalah ia ditempat yang kena ditutuk si orang aneh itu kemarin, dua obor yang jatuh disitu masih ada.
Dari situ maju lagi, setelah biluk satu tikungan, mendadak di depan ada cahaya api yang bergerak perlahan lahan, satu bayangan orang tertampak jelas di bawah sorotan sinar api itu yang segera dapat dikenalinya sebagai Ti Put-cian.
"It-ci Toako!" tanpa merasa Jun-yan berseru.
Rupanya Ti Put-cian terkejut mendadak, ia terus menoleh sambil mengerutkan alis, sahutnya, "He, Jun-yan, kau masih disini?"
Cepat Jun-yan mendekati dan balas menegur. "Kenapa
kaupun berada disini " Apakah kau kemari mencari aku ?"
"Di mana manusia aneh itu?" tanya Ti Put-cian
menyimpang. "Entahlah, sudah menghilang."
"Ya, ya, aku datang mencari kau", sahut Ti Put-cian kemudian. "Sehari semalam kau tak keluar dari sini, orang2
Biau itu menjadi gempar dan minta diadakan pemilihan ulangan tapi aku telah membantah keras, lalu aku menyatakan bersedia mencarimu kemari, Jun-yan ketahuilah, sebenarnya betapa rasa kuatirku atas keselamatanmu ?"
Padahal Kanglam-it-ci-seng Ti Put-cian ini bukanlah
manusia baik2, apa yang diucapkan itu berlawanan sama sekali dengan kenyataannya. Sebaliknya Jun-yan mudah dibujuk rayu, ia sangka Ti Put-cian benar2 rindu padanya lalu datang mencarinya, segera ia menjadi girang, katanya:
"Agaknya kita perlu lagi maju kesana, marilah kita keluar dari gua ini dan tinggalkan daerah Biau ini !"
Akan tetapi Ti Put-cian terus geleng2 kepala, sahutnya:
"Jun-yan mana boleh kita buang tenaga percuma ditengah jalan" Kemarin kau telah telan Lwetan dari katak berwajah manusia itu, apakah kau ada merasa sesuatu yang aneh ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Eh, ya," kata2 itu telah menyadarkan Jun-yan, "Ketika semalam aku tertutuk si orang aneh, beberapa kali aku himpun tenaga murni untuk menembusi jalan darahku, meski belum berhasil, tapi rasaku tenaga dalamku sudah bertambah kuat. Bok Siang-hiong itu bilang Lwe-tan sikatak dapat menambah tenaga dalam latihan beberapa tahun, entah betul atau tidak?"
"Sudah tentu benar", sahut Ti Put-cian, diam2 ia unjuk senyum sinis, lalu sambungnya lagi: "Dan kalau kau sudah menjadi Seng-co setiap tahun dari rakyat 72 suku Biau itu tentu akan menghadiahkan seekor katak semacam itu pula kepadamu, kenapa kita malah akan undurkan diri ditengah jalan" Hayo, kita maju terus."
Jun-yan menjadi terbujuk, ia mengiakan dan melangkah kedepan. Dengan kawan Ti Put-cian, ia bertambah berani, malahan merasa manis madu hatinya. Sebaliknya sambil jalan Ti Put-cian terus peras otak penuh dengan akal2 keji.
Kiranya sesudah Jun-yan masuk gua, diluar orang2 Biau lantas bunyikan tambur menari dan menyanyi. Sedang orang2
Han yang melihat kedudukan Seng-co sudah ada calonnya, sudah terang tiada harapan lagi, berturut-turut mereka lantas tinggalkan tempat itu. Hanya Ti Put-cian saja yang tidak rela pergi, jauh2 ia datang kedaerah perbatasan ini untuk maksud meraih kedudukan Seng-co, masakan sekarang harus kembali dengan tangan hampa.
Ia lihat benih asmara Jun-yan kepadanya belum lenyap sama sekali, ia pikir harus pakai bujuk halusan, bukankah serupa meski nanti gadis itu dapat merebut kedudukan Sengco "
Sebab itulah ia tinggal disitu. Sedang A Siu mondar mandir disekitarnya saja sambil memandangi pemuda berjari satu ini dengan sorot mata penuh arti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hati Ti Put-cian tergerak, dengan senyum manis ia
menyapa. "A Siu !"
Dengan kemalu-maluan A Siu menyahut sekali terus
menunduk dan mendekati. Diam2 Ti Put-cian bergirang, dengan jari satu2nya ia mencoba menggantol lengan si gadis,
"A Siu, tadi kau telah sudi mengalah, aku merasa sangat berterima kasih."
A Siu tertawa, sahutnya. "Ah, itu sudah seharusnya."
"A Siu," tanya Ti Put-cian pula, "sebenarnya kepandaianmu yang tinggi itu diperoleh dari mana " Jika kita benar2
berkelahi, terang aku bukan tandinganmu."
"Menurut peraturan suku kami, terhadap kekasih, tidak mungkin saling gebrak, sekalipun kau hantam mati padaku, tak nanti aku melawan," sahut A Siu. Nyata ia elakan diri dari pertanyaan tentang diperolehnya ilmu silat.
Karena itu, Ti Put-cian menanya lagi berulang kali, tapi A Siu tetap tidak mau bilang dan selalu membilukan
pembicaraan. Melihat si gadis lemah gemulai se-akan2 tak tahan tiupan angin, tapi setiap gerak-gerik penuh tenaga dalam, diam2 Ti Put-cian bertambah heran, katanya kemudian. "A Siu, marilah coba memberi petunjuk beberapa jurus padaku !" Habis berkata, tanpa menunggu sahutan orang, cepat tangan kanan menjulur, jari tunggalnya menjentik, "Koh-cing-hiat" dipundak si gadis hendak ditutuknya.
Diluar dugaan, sedikitpun A Siu tidak berkelit, maka terdengarlah suara "tuk" sekali, tepat sekali tutukannya, tapi rasanya seperti mengenai kayu lapuk, empuk lunak, percuma ia kerahkan tenaganya. Sedangkan A Siu tetap bersenyum simpul saja.
Keruan tidak kepalang terkejutnya Ti Put cian. Sejak ia memperoleh semacam kitab Tok-ci-pit-hoat atau pelajaran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menutuk dengan jari satu2nya, ia berhasil meyakinkan ilmu menutuk dengan jari tunggalnya itu, lebih dulu ia dapat membalas sakit hati pada musuh yang pernah mengutungi sembilan jarinya yang lain, habis itu, ia malang melintang di kangouw tak terkalahkan, namanya semakin lama semakin disegani dan dipandang sebagai momok oleh orang Bu-lim.
Pada jari tunggalnya ia pasang pula sebuah selongsong mas yang dapat dijulurkan lebih panjang beberapa kali lipat, selama ini belum ketemukan tandingan, maka namanya
tambah ditakuti. Siapa tahu A Siu yang kena ditutuk sekarang ini hanya ganda bersenyum, tentu saja ia terkejut bukan main.
Diam-diam ia pikir, kepandaian yang dimiliki A Siu ini terang adalah semacam Khikang dari kaum Lwekeh yang
tinggi, maka dapat diketahui caranya A Siu mengalahkan Cu Hong-tin secara halusan, sebenarnya berlaku murah hati.
Terhadap ilmu Khikang sedemikian hebatnya, terang ia sendiri takkan mampu menandingi. Maka ia pura2 bersenyum, "A Siu, kau memang hebat aku mengaku kalah!" Dan karena ini, ia menjadi makin ingin mengetahui dari mana A Siu dapat memperoleh kepandaian setinggi itu.
Sementara itu Tiat-hoa-popo telah memanggil A Siu
kesana. Diam2 Ti Put-cian menduga sinenek itupun bukan orang lemah, tampaknya harus cari kesempatan lebih
sempurna. Setelah ambil keputusan ini, ia lantas mendekati beberapa orang Biau untuk diajak mengobrol, tapi karena bahasa masing2 yang kurang lancar, setelah ribut lama, kemudian barulah Ti Put-cian dapat gambaran bahwa A Siu itu sebenarnya adalah putri seorang Biau biasa, di-waktu berumur tiga tahun ikut orang tuanya mencari obat kegunung selama itu lantas menghilang dan baru kemarin saja mendadak muncul pulang, kalau gadis itu sendiri tidak mengaku sebagai A Siu yang empat belas tahun menghilang itu, siapapun tiada yang kenal padanya, sebab itu, siapapun tiada yang tahu dari mana ia memperoleh kepandaian setinggi itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanpa terasa siang telah berganti malam lagi, tapi orang2
Biau itu terus menari dan menyanyi. Ia coba mencari A Siu, tapi tiada tampak bayangan si gadis, ia menjadi gugup.
Sementara itu hari telah pagi lagi, dan Jun-yan masih belum kelihatan datang kembali. Dalam pikiran Ti Put-cian, ia harap hendaklah Jun-yan mati dalam gua oleh racun labah2
itu, dengan demikian barulah ia ada harapan lagi untuk merebut kedudukan Seng-co Biau itu.
Kiranya Ti Put-cian mempunyai ambisi yang sangat besar, kecuali orangnya memang pintar cerdik dan serba pandai, yang dipikir olehnya selalu ialah ingin bisa mengepalai Bulim.
Dibawah pengaruh jiwanya yang kemaruk kekuasaan dan gila hormat itu, kecerdasan itu menjadi disalahgunakan dan sesat jalan. Sebab itulah, sejak bertemu dengan Jun-yan serta si orang aneh itu, setiap saat iapun selalu peras otak cara bagaimana bisa memperalat mereka untuk merebut
kedudukan Seng-co, sebab itulah ia membujuk Jun-yan
mengikutinya keadaan Biau ini.
Begitulah ia menjadi iseng menunggu kembalinya Jun-yan dari gua itu, tapi karena batas waktunya belum habis, yaitu meski tunggu sampai malamnya lagi baru bisa diputuskan, saking kesal iapun berjalan-jalan seenaknya kaki itu melangkah dan tanpa terasa telah keluar kesuatu pegunungan itu, makin jauh makin sepi, akhirnya ia sampai ditepi suatu kolam lumpur yang besar dan lebat oleh macam tetumbuhan.
Karena kuatir kesasar jalan, segera Ti Put-cian berniat kembali, tiba2 didengarnya di tempat dekat sana ada suara bentakan orang yang gusar, suara itu sudah dikenalnya sebagai suara sinenek, yaitu Tiat-hoa-popo.
Padahal sekeliling tempat tampaknya kolam lumpur belaka, di-samping2 lain tebing gunung yang curam, hakekatnya tiada tempat yang bisa dibuat sembunyi orang, lalu darimanakah datangnya suara orang itu"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi ketika ia menegasi, ia menjadi terkejut, kiranya di-tengah2 kolam lumpur sana terdapat segundukan tetumbuhan yang lebat, disitulah ternyata merupakan sebuah pulau kecil tidak menarik perhatian orang, kalau tidak diperhatikan, orang akan menyangkanya sebagai sebuah batu besar saja dengan dikelilingi pepohonan. Tapi suara bentakan Tiat-hoa-popo tadi justru telah keluar dari situ. Betapa cerdiknya Ti Put-cian, segera ia tahu gundukan tanah yang tidak menarik itu sesungguhnya adalah sebuah tempat tinggal yang dibuat secara spesial.
Sejak Ti Put-cian menjatuhkan A Siu di panggung
pertandingan, ia lantas mengetahui banyak diantara orang Biau kangzusi.com yang tidak puas terhadap dirinya, terutama sinenek bunga besi itu. Apalagi Tiat-hoa-popo ini tampaknya begitu disegani orang2 Biau itu, melihat gelagatnya, orang tua itupun sangat tidak puas terhadap dirinya, dan kalau dirinya dapat menduduki Seng-co, mungkin nenek itulah yang akan merupakan oposisi yang paling kuat, rasanya harus mencari akal buat melenyapkannya, sebab itulah, gerak-gerik sinenek sekarangpun sangat menarik perhatian.
Ia ter-mangu2 sejenak ditepi kolam lumpur itu, ia
mendengar Tiat-hoa-popo makin lama makin sengit, cuma kata2nya diucapkan dalam bahasa Biau, yang ia paham, namun dapat diduga sedang marah terhadap seseorang. Lalu siapakah gerangan orang yang dimarahi itu "
Ia lihat kolam lumpur itu basah2 lihat, lumpur begitu baik manusia maupun hewan, se-injak pasti kejeblos kedalam. Tapi cara bagaimanakah Tiat-hoa-popo itu mendatangi tempat tinggal di tengah-tengah kolam itu " Ia menjadi heran, ia coba mengitari kolam itu, tiba diatas sebuah daun kapu-kapu yang lebar dapat dilihatnya ada bekas dua tapak kaki, satu sangat besar dan yang lain agak kecil. Maka tahulah Ti Put-cian, didalam rumah itu sedikitnya ada dua orang, masuknya mereka ke sana ialah menggunakan ilmu mengentengi tubuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Teng-peng-toh cui" atau menarik kapu2 menyeberangi sungai.
Ilmu kepandaian Kanglam-it-ci-seng Ti Put cian dengan sendirinya juga tidak lemah, kalau ilmu entengi tubuh seperti
"Teng-peng-toh-cui" itupun sudah dapat dipastikannya. Maka tanpa pikir lagi iapun melompat ketengah kolam sambil mengincar baik2 sebuah daun kapu2, sekali kakinya menutul enteng, cepat ia melompat ke depan lagi beberapa tombak, sebelum sampai ditempat itu, ia lihat disitu ternyata ada sebuah rumah yang bentuknya bundar pendek tanpa pintu maupun jendela, hanya didekat atapnya ada sebuah lubang kecil yang bundar, mungkin dari lubang inilah keluar masuknya kerumah bundar itu.
Dengan hati2 dan perlahan sekali Ti Put-cian melompat lagi kedepan dan sampai dipinggir rumah bundar itu, kuatir diketahui sinenek, sampai ia menahan napas, dengan ber-endap2 ia meraba dinding rumah, lalu menengok kedalamnya melalui lubang bundar dekat atap tadi.
Ia lihat didalam situ sangat gelap. Samar2 ia lihat Tiat-hoa-popo duduk mungkur dari lubang itu, tidak jauh dari nenek tua ini duduk seorang lagi yang berbaju putih mulus dengan perawakannya yang menggiurkan, siapa lagi dia kalau bukan si A Siu !
Sungguh heran Ti Put-cian melihat A Siu berada disitu.
Kalau melihat ilmu silat A Siu terang diatasnya Tiat-hoa-popo, dengan usianya yang begitu muda sudah berhasil melatih ilmu sedemikian tingginya, sekalipun didaerah Tionggoan yang banyak tokoh2 silat terkenal juga jarang ada seorang liehay semacam dia. Apalagi daerah Biau ada seperti A Siu, sungguh hal ini susah dipahami orang. Entah darimanakah ia
memperoleh kepandaian hebat itu. Pula berdiam saja meski didamprat dan dimarahi Tiat hoa-popo. Ia menjadi lebih terkejut ketika sekilas kerlingan mata A Siu, entah sengaja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
entah tidak, telah memandang kearahnya. Ia menjadi ragu2
apakah mungkin jejaknya telah diketahui si gadis itu "
Namun A Siu kelihatan sudah melengos ke sana lagi, lalu didengarnya ia berkata dalam bahasa Han dengan suara perlahan : "Tiat-hoa-popo, haraplah jangan kau marahlah, aku sudah pasti tidak hendak merebut kedudukan Seng-co pula, sebab......sebab....." tiba2 ia merandek sambil menghela napas perlahan dan berpaling kearah Ti Put-cian, lalu sambungnya sambil menunduk : ".......sebab aku
mencintainya."
Seketika Tiat-hoa-popo berbangkit dengan tubuh gemetar, rupanya saking gusar, ia tuding A Siu dan mendampratnya :
"A Siu, kau mencintainya tidak menjadi soal, tapi kau melepaskan kedudukan Seng-co, cara bagaimana kau akan bertanggung jawab kepada Lo-liong-thau ?"
Ti Put-cian menjadi heran, siapakah gerangan Lo-liong-thau itu "
Dalam pada itu dilihatnya wajah A Siu rada berubah, sinar matanya menjadi guram, kulit badannya memang putih salju, mukanya menjadi lebih pucat, agaknya sangat ketakutan pada seseorang yang teringat olehnya, bibirnya tampak ber-gerak2, kemudian baru berkata dengan tak lancar : "Te.....tetapi aku cinta padanya, ak.....aku bersedia berkorban segalanya!"
Cara berkatanya ada begitu wajar dan spontan suatu tanda cintanya pada Ti Put-cian sesungguhnya suci bersih dan sungguh2 timbul dari lubuk hatinya.
Mengetahui isi hati si gadis itu, ia bukan bergirang A Siu cinta padanya, tapi dasar jahanam ia justru bergirang bakal bisa mempengaruhi A Siu untuk kemudian memperalatnya.
"Hm, A Siu,'' terdengar Tiat-hoa-popo buka suara lagi,
"apapun juga, benarkah kau tak hiraukan lagi apa yang pernah dipesan Lo Liong thau ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siapakah gerangan Lo Liong-thau yang disebut-sebut itu"
Apakah dia seorang pemimpin suku Biau, atau seorang tokoh persilatan"
Kiranya A Siu berusia tiga tahun, ia tampak jauh lebih pintar dan lincah daripada anak kecil umumnya. Wajahnya yang manis, kedua matanya yang besar, menambah kesukaan orang bagi siapa yang melihatnya. Sudah tentu yang paling sayang adalah kedua orang tuanya. Setiap hari ayahnya berburu kegunung mencari bahan obat2an, selalu A Siu diajak serta.
Kehidupan suku Biau umumnya kecuali berburu binatang-binatang dan bercocok tanam sedikit, biasanya juga masuk kerimba raya untuk mencari bahan obat2an untuk dijual atau dibarter dengan orang Han yang datang berdagang kedaerah Biau ini. Oleh karena tidak sedikit dari bahan obat2an itu bisa mendapatkan pasaran bagus, maka sering orang Biau
berombongan jauh masuk ke hutan belantara untuk mencari obat2 tersebut. Dan ayahnya A Siu yang bernama Kek Pang ada satu diantara ahli2 pencari bahan obat itu.
Suatu hari, ketika Kek Pang pulang dari berburu sambil memanggul A Siu dipunggungnya, sebelah tangan lain
menyeret dua rusa hasil buruannya, sebelum sampai didepan rumahnya, ia dengar ada seruan orang: "Segala macam obat mudah didapatkan disini, cuma inilah sesungguhnya sangat susah. Barang ini susah dicari, kecuali kalau ketemukan secara kebetulan."
Karena banyaknya orang Han yang mendatangi daerah
Biau ini, maka percampuran kedua bahasa Han itu, ia dengar lagi suara seorang wanita lagi menyahut: "Loyacu, mohon dengan sangat atas pertolongan kalian asal ada barangnya, kalian ingin menukar dengan apa, segera kami adakan." dari lagu suaranya, nyata wanita itu gugup dan kuatir sekali.
Ketika sudah dekat, Kek Pang melihat ada satu wanita Han dan di tanah merebah seorang laki2 yang kepalanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dikerudung rapat dengan kain sambil meng-erang2, melihat gelagatnya, wanita Han ini terang datang kesini untuk meminta obat2an.
"Jing-kin," tiba2 lelaki berkerudung itu berkata : "Jika susah mendapatkan, sudahlah."
"Ta.,. tapi bagaimana dengan keadaanmu itu !" seru wanita itu se-akan2 orang kalap.
Dasar hati Kek Pang memang baik, segera ia mendekati orang dan menanya ada urusan apa.
Ketika wanita itu melihat Kek Pang adalah seorang laki-laki gagah, tampaknya jujur, pundaknya berduduk satu anak perempuan yang sangat menyenangkan, tiba-tiba hatinya timbul selarik sinar harapan, katanya segera :"Suamiku terkena racun jahat yang aneh, dari petunjuk orang kosen, katanya ada dua macam bahan obat yang dapat
menolongnya, pertama adalah empedu ular Kiu-bwe-coat, kedua adalah buah Cit-kim-ko."
Kek Pang terkejut demi mendengar obat apa yang dicari itu. Ia pikir, sekian tuanya ia hidup mencari obat-obatan, tapi terhadap kedua jenis barang yang disebut melulu mendengar saja belum pernah melihat, memang sesungguhnya susah dicari. Sebab itu, iapun terpaku tak bisa menjawab.
Tahu bahwa usahanya tiada harapan lagi, wanita itu
menghela napas panjang, pintanya kemudian. "Jika begitu, dapatkah aku mohon menumpang didalam rumah sini, biarlah suamiku sementara tinggal disini dan aku pergi kegunung untuk mencoba peruntungan !"
"Tidak, tidak, Jin-kin, betapapun kau jangan mengambil resiko ini, kau harus selalu di sampingku," seru lelaki itu sembari pegang kencang2 tangan sang isteri.
Hati wanita itu risau benar, air matanya bercucuran,
"Lantas bagaimana baiknya ?" serunya bingung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar suara ratapan siwanita yang memilukan itu, semua orang ikut terharu. Tapi apa daya, barang yang hendak dicari itu seratus tahun belum tentu dapat dijumpai sekali, kemana harus diperoleh "
"Ayah, begini sedih bibi ini menangis, kenapa kau tak menolongnya ?" seru A Siu mendadak. Suaranya kecil nyaring memecah kesunyian.
Hati Kek Pang tergoncang, ia pikir masakan aku orang tua kalah dengan seorang anak kecil, seumpama barang yang hendak dicari susah diperoleh, kenapa aku tidak menghantar wanita itu kesana " "Ya, A Siu, kau benar!" sahutnya.
"Aku ikut kalian, ayah," kata A Siu lagi dengan tertawa.
Kek Pang tak menjawab, katanya pada wanita tadi.
"Toasuko tak perlu berduka, seorang diri kau masuk gunung kurang baik, biarlah besok pagi2 aku mengiringi kau kesana tempat dimana mungkin hidup Kiu-bwe-coa (ular sembilan buntut), tentu tak pernah dijajaki manusia, maka kita mesti banyak siapkan perbekalan, malam ini tak bisa lagi kita berangkat."
Sungguh bukan buatan rasa girang dan terimakasih wanita itu, saking terharu sampai ia tak sanggup ber-kata2. Ia lihat A Siu sangat menyenangkan, kemudian ia tanya. "Nona cilik ini adakah putrimu. Siapakah namamu ?"
"Meniru seperti bangsa Han kalian, namanya A Siu," sahut Kek Pang.
"Nama bagus", kata wanita itu. "Biarlah aku memberi sedikit hadiah." Sembari berkata, dari bajunya ia keluarkan suatu kotak kecil.
Tadinya semua orang menyangka oleh2 yang diberikan ini tentu mainan kanak2 yang tak berarti, tak terduga, ketika tutup kotak itu menjeblak, barulah semua orang terkejut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu itu hari sudah gelap, dan begitu kotak itu terbuka, segera memancarkan sinar yang menyilaukan, ternyata isi kotak itu adalah sebutir mutiara sebesar biji buah kelengkeng yang dibikin sebagai mainan kalung dengan rantai emas yang kecil. Wanita itu ambil kalung emasnya lalu pasang dilehernya A Siu.
Keruan A Siu kegirangan, serunya berulang ulang : "Banyak terima kasih, toakoh, banyak terima kasih!" Nyata, karena ayahnya sering bergaul dengan saudagar Han, maka iapun bisa mengucapkan beberapa patah kata bahasa Han.
Dengan penuh kasih sayang wanita itu mengempoh A Siu serta menciumnya sekali.
"Suamimu boleh beristirahat dirumahku selama kita masuk gunung, tentu ada orang yang akan merawatnya," kata Kek Pang kemudian.
"Ya, cuma aku harap supaya dipesan agar kain kerudung kepala suamiku itu jangan sekali-kali dilepaskan," sahut siwanita.
Lalu mereka memondong orang laki-laki itu kedalam
rumah, kata laki-laki ini : "Jing-kin, sungguh aku merasa kuatir sekali bila kau pergi mencari Kiu-bwe-coa dan Cit-kim-ko itu."
"Sudahlah, jangan pikir yang tidak2, mengasolah yang tenang, dalam sebulan, aku yakin akan bisa kembali dengan membawa barang yang kita cari itu," sahut sang istri.
Sesudah merebahkan lelaki itu didipan, kemudian Kek Pang berkata: "Toaso, dengan cahaya mutiara bersinar ini, malam ini juga kita bisa berangkat."
"Itulah lebih baik," sahut siwanita dengan girang.
Segera Kek Pang siapkan sekantong ransum dan membawa sebilah golok melengkung bergegas2 segera mereka hendak berangkat. Tiba2 A Siu merecoki sang ayah untuk ikut serta, meski Kek Pang telah membujuk dan me-nakut2i tapi A Siu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetap ingin turut, terpaksa sang ayah mengajaknya, ia panggul putri kecil itu di atas pundaknya lagi dan katanya: "Marilah Toaso, kita berangkat."
Diwaktu hendak melangkah pergi, wanita itu masih
menoleh beberapa kali pada sang suami, terdengar lelaki itu berseru: "Jing-kin, jika tidak bisa dapatkan barang yang dicari, lekaslah kau pulang saja!"
"Ya, dalam sebulan pasti aku akan pulang kembali, harap kau bersabarlah," sahut wanita itu dengan suara berat. Nyata sekali, mereka adalah sepasang suami istri yang sangat sayang menyayangi.


Pendekar Misterius Karya Gan K L di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Begitulah, dengan bantuan cahaya mutiara, dengan cepat Kek Pang telah membawa wanita itu menempuh perjalanan sejauh dua puluh li. A Siu sama sekali tidak merasa ngantuk atau letih, malahan ia terus menerus mengajak ngobrol dengan wanita itu.
"A Siu, aku she Ang, bernama Jing-kin, selanjutnya kau panggil aku Jing-koh (bibi Jing) sajalah," ujar wanita itu. "Aku juga punya satu anak perempuan, umurnya lebih tua tiga tahun darimu. kelak kalau kalian bisa bertemu, tentu kalian akan cocok seperti saudara sekandung."
"Enci itu siapa namanya, Jing-koh ?" tanya A Siu.
"Nama kecilnya dipanggil Siau Yan," kata Jing-kin.
Tiba-tiba A Siu angkat mutiara bersinar yang tergantung didepan dadanya itu dan menanya. "Jing-koh, kenapa mutiara sebagus ini tak kau berikan pada suci Siau Yan ?"
"A Siu", sahut Jing-kin, "Kau masih terlalu kecil, kau belum paham. Ditempat kami sana ada banyak orang jahat, kalau melihat barang bagus, lantas ingin merampasnya. Ai, urusan ini kelak kau sudah besar, tentu akan mengerti."
Begitulah, sesudah terlalu letih, akhirnya bocah itu terpulas digendongan sang ayah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sesudah semalam suntuk menempuh perjalanan, ketika
fajar hampir mendatang, mereka sudah melintasi sebuah gunung, seluas pandangan kedepan, kabut tebal menyelimuti rimba raya. Kek Pang menuding kemuka, katanya,"Toaso, tempat dimana kami sering berburu dan mencari nafkah adalah disekitar gunung yang kita lintasi semalam, kedepan lagi selamanya tiada orang yang berani kesana, kalau ingin mencari sebangsa Kiu-bwe-coa dan Cit kim ko yang jarang terlihat itu, rasanya harus ke-pegunungan sunyi didepan sana.
Kau tidak membawa senjata, biarlah golokku ini kau pakai."
Terharu sekali Ang Jing-kin oleh rasa simpati si orang Biau ini, dan kalau mengingat nasib malang suami istri mereka, ia menghela napas panjang. Lalu sahutnya,"Tak perlulah, aku sendiri punya senjata penjaga diri."
Segera ia merogoh saku bajunya dan tahu2 tangannya
sudah bertambah segulung benda hijau gelap, ketika sedikit tangannya mengepal dan dilepas lagi, benda gulungan itu mendadak berbunyi "creng" terus mulur sepanjang satu meter, nyata itulah sebatang pedang yang bersinar
menyilaukan, pedang itu tipisnya luar biasa, dan ternyata bisa mulur dan mengkeret menggulung sendiri.
"Hebat sekali, mengapa pedang ini begini lemas, apa
gunanya?" tanya Kek Pang rada tercengang.
-0odwkz"hendrao0-
Jilid 5 ANG Jing-kin menyentil beberapa kali dibatang pedang itu hingga mengeluarkan suara nyaring, sahutnya : "Pedang ini memotong besi bagai rajang sayur, boleh lihat ini!" Habis berkata, sekenanya ia tabas kebatang pohon di tepi jalan, pohon itu lebih besar dari paha orang, tapi pedang itu dapat menabas lewat, kemudian pohon itu baru ambruk kesamping.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tempat dimana pohon itu patah tampak halus bagai digergaji saja.
Betapa terkejut dan kagumnya Kek Pang hingga mulutnya ternganga. Sementara itu A Siu sudah mendusin, mereka makan sedikit rangsum, lalu melanjutkan perjalanan lagi.
Begitulah mereka terus mencari dipegunungan itu hingga tujuh hari lamanya, dalam pada itu banyak bahan obat-obatan berharga telah dapat dikumpulkan Kek Pang. Tapi ular dan buah yang mereka cari itu tetap belum diketemukan. Melihat waktu makin lama makin mendesak, Jing-kin menjadi gopoh.
Sampai hari kedelapan, mereka telah memasuki sebuah
lembah sempit, didepan sana terdengar ada gemerciknya air, ketika maju lagi, ternyata ada sebuah tanah luas lapang, sebuah sungai kecil mengalir dengan airnya yang jernih.
Melihat air, saking hausnya Kek Pang terus letakan A Siu ketanah, ia sendiri berjongkok ke tepi sungai buat minum.
Tapi baru beberapa hirupan air masuk perutnya, sekonyong-konyong ia berdiri dengan badan gemetar. Karuan Jing-kin terkejut, ia lihat sekejap saja wajah Kek Pang sudah biru gelap, tangannya menuding ke sungai dan mulutnya
ternganga tak sanggup bersuara lagi.
"Ap...apakah air sungai berbisa ?" tanya Jing-kin cepat.
Tapi tubuh Kek Pang sudah menggelongsor jatuh ditepi sungai, ketika Jing-kin membaliki tubuh orang dan memeriksa urat nadinya, ternyata napasnya sudah putus. Sungguh susah dipercaya bahwa air sungai sejernih itu ternyata berbisa jahat luar biasa, saking terkejutnya sampai Jing-kin melupakan A Siu yang ditaruh ayahnya ketanah tadi sudah berlari-lari pergi memain sendiri dan ternyata tidak kembali lagi. Jing-kin sendiri termangu-mangu memandangi sungai itu. Ia pikir dengan terbinasanya Kek Pang, kesukaran yang akan
dihadapinya dalam usaha mencari Kiu-bwe-coa ini tentu akan bertambah-tambah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sedang Jing-kin berduka, tiba-tiba dilihatnya didasar sungai itu ada segundukan batu berwarna yang tiba-tiba bisa bergerak2. Malahan lantas ada lagi dua gundukan batu kecil lainnya ikut-ikut bergoyang, gundukan yang tadinya bundar lambat laun memanjang. Ketika ia tegasi, gundukan batu apa, hakekatnya adalah tiga utas ular yang tadinya meringkuk disitu, sebab itulah tampaknya seperti gundukan.
Melihat ada ular, cepat Jing-kin siapkan tiga buah Bwe-hoa-piau, dan selagi hendak disambitkan kepada ular-ular itu, tiba-tiba dilihatnya ketiga ular itu dimana ekornya mengesot seakan-akan mempunyai sembilan ranting cabang, nyata itulah yang disebut Kiu-bwe-coa atau ular sembilan buntut yang sedang dicarinya setengah mati, malahan sekali bertemu ada tiga jumlahnya. Karuan terkejut dan girang Ang Jing-kin, senjata rahasia yang sudah hampir disambitkan itu ia tarik kembali mentah-mentah, ia pikir orang kosen yang memberi petunjuk itu pernah bilang bahwa Kiu-bwe-coa ini hidupnya selalu berdampingan dengan Chit-kim-ko, dan untuk
menyembuhkan luka sang suami, kedua macam barang itu harus lengkap tak boleh kurang salah satu diantaranya. Jika sekarang juga ia timpuk mati ular-ular itu, lantas kemana akan mencari buah Chit-kim-ko itu "
Karena itu ia coba menanti dan curahkan perhatian atas gerak-gerik ular-ular itu, ia lihat Kiu-bwe-coa itu kemudian berenang kehulu sungai, celakanya tiga membagi tiga jurusan.
Tentu saja Jing-kin bingung, yang manakah yang harus dikuntitnya " Kalau ada Chit-kim-ko, tentu ada Kiu-bwe-coa, tapi ada Kiu-bwe-coa belum tentu ada Chit-kim-ko, lalu diantara ketiga ular ini, yang manakah yang menuju
ketumbuhan buah itu " Kalau yang dikuntitnya nanti ternyata menuju ketempat yang tiada tumbuh Chit-kim-ko, bukankah akan berabe "
Dalam keadaan demikian, ia benar-benar serba salah,
sementara itu ular-ular itu sudah merayap makin jauh dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jing-kin masih kelabakan belum bisa ambil keputusan yang mana harus dikuntitnya. Pada saat itulah, tiba-tiba ia ingat pada si A Siu, ia menoleh, tapi bocah itu tiada bayangannya lagi, dalam kaget dan kuatirnya, cepat ia berteriak :
"A Siu, A Siu !"
Tapi meski sudah berulang kali ia memanggil, sama sekali tiada sahutan anak perempuan itu. Sungguh celaka baginya, Kek Pang sudah terbinasa, kini puterinya itu menghilang, bagaimana nanti kalau pulang ia mesti menjawab pertanyaan orang-orang Biau disana "
Dan karena merandeknya itu, bila ia berpaling lagi, dua ular tadi sudah tak kelihatan lagi, hanya ketinggalan satu yang tampak terus berenang kehulu sungai, kalau ular ini tak lekas dikejarnya, boleh jadi sebentar juga akan menghilang, dan ini berarti usahanya akan sia-sia belaka.
Tanpa pikir lagi, segera ia berlari kedepan menyusur sungai mengikuti jejak siular, tapi ia tak berani terlalu dekat, kuatir mengejutkan binatang itu. Ia menguntit dari jarak beberapa tombak jauhnya, sambil kadang-kadang berseru memanggil A Siu.
Makin lama ia menjadi makin jauh menyusur sungai itu, dan akhirnya dapat diketahui sungai itu ternyata bersumber dari suatu gua. Ketika sampai didepan gua, ular itu terus merayap kedalam. Sudah tentu Ang Jing-kin tidak tinggal diam, ia lihat gua itu cukup lebar, segera saja ia ikut masuk, ia pikir Chit-kim-ko tentu tidak jauh lagi disitu, kalau sudah berhasil menemukannya, barulah ia akan mencari A Siu.
Gua itu ternyata menembus kesuatu empang yang
dikelilingi tebing-tebing curam hingga susah diketemukan orang luar. Ditengah-tengah empang itu menonjol
dipermukaan air sebuah batu besar dan disela-sela batu itu tumbuh sebuah rumput yang aneh bentuknya, panjangnya ada satu meter, daunnya bundar berwarna ungu, diujung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
rumput itu tumbuh satu buah sebesar kepalan dan berwarna kuning indah. Sesudah ular itu menyeberangi empang itu, kemudian merayap keatas batu besar serta meringkuk disitu, hanya kepalanya menegak mengincar terus buah kuning yang besar itu.
Jing-kin yakin tentu buah itulah Chit-kim-ko yang dicarinya, sungguh tidak tersangka olehnya bisa memperolehnya secara begitu mudah. Maka cepat ia siapkan sebuah Bwe-hoa-piau, ia incar baik-baik kepala ular itu, jarinya menjentik, cepat Bwe-hoa-piau meluncur kedepan. Tampaknya sasaran pasti akan segera kena, siapa tahu dari samping tiba-tibapun terdengar suara mendesingnya senjata rahasia, sebuah piau baja telah melayang tiba dan tepat membentur Bwe-hoa-piau yang
disambitkan Ang Jing-kin itu hingga kedua senjata terpental jatuh semua ke dalam empang.
Melihat piau baja itu datangnya sangat cepat lagi keras, jitunyapun jarang terlihat, ketika Jing-kin mendongak, tahu-tahu dibawah dinding tebing sana sudah berdiri empat orang berkedok yang berperawakan tidak sama.
Melihat keempat orang itu, terkejut dan gusar Jing-kin, dengan suara bengis segera ia membentak :
"Sebenarnya siapakah kalian berempat " Kenapa kalian sedemikian keji terhadap kami suami-isteri, tapi toh secara sembunyi-sembunyi tak berani unjuk muka asli ?"
Tiba-tiba seorang yang tinggi kurus diantaranya tertawa dibuat-buat, sahutnya : "Bwe-hoa-siancu, kau toh cukup pintar, kenapa sekarang begini geblek " Asal kau serahkan pedang hijau dan saputangan merahmu pada kami, betapapun besarnya urusan, bukankah lantas beres ?"
"Ya, kami hanya minta pedang hijau ditanganmu itu dan saputangan sutera merah didalam bajumu itu kau serahkan, lalu kami sudahi segala urusan, malahan kami bersedia membantu kau menangkap Kiu-bwe-coa dan Chit-kim-ko itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk menolong jiwamu," tiba-tiba kawannya yang agak pendek ikut bicara. "Tapi kalau kau tetap ngotot, ha, tak perlu kami turun tangan, asal kami hancurkan Chit-kim-ko ini, kemana lagi kau bisa mencari yang keduanya " Haha, terserah kau mau atau tidak ?"
Kiranya Ang Jing-kin ini berjuluk "Bwe-hoa-siancu" atau dewi bunga Bwe, senjata rahasianya Bwe-hoa-piau yang tunggal, setiap kali dapat ditimpukkan lima buah dan sangat jitu, kemahirannya yang lain adalah 36 jurus Bwe-hoa-to-hoat, ia adalah puterinya Siang-say-tay hiap, Bwe-hoa-sin-to Ang San-jiau.
Karena ancaman tadi, saking gusarnya ia membentak pula :
"Coba katakan dulu siapa kalian berempat " Kenapa perbuatan kalian mesti secara sembunyi-sembunyi begini ?"
"Bwe-hoa-siancu, nama kami tiada artinya untuk
diketahuimu, ada lebih baik lekasan kau ambil keputusan saja"
sahut sijangkung tadi dengan tertawa.
Namun Ang Jing-kin tidak mudah diancam sambil bicara ia sudah siapkan lima Bwe-hoa-piau ditangannya, telinganya berkumandang apa yang pernah dikatakan suaminya : "Jing-kin, sekalipun kita harus mati, jangan sampai pedang hijau dan saputangan merah ini jatuh diempat jahanam itu !"
Maka sahutnya kemudian : "Baiklah nih, terima !"
Berbareng selesai ucapannya, tangannya mengayun, lima sinar terus meluncur kedepan, empat mengarah keempat musuh, yang satu mengincar Kiu-bwe-coa.
Sungguh sama sekali empat orang tidak menduga bahwa
Ang Jing-kin ini berani bergurau dengan jiwa suaminya yang tinggal senin-kemis itu, yaitu lebih sayangi kedua benda yang diminta daripada keselamatan sang suami. Mereka bukan jago lemah, begitu nampak Bwe-hoa-piau menyambar tiba, cepat mereka berkelit, tapi kepala ular yang diarah itu dengan tepat sudah terkena Bwe-hoa-piau satunya hingga hancur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan begitu Ang Jing-kin sambitkan senjata rahasianya, segera orangnya ikut melompat ke depan, keatas batu besar ditengah empang itu, cepat ia samber ular mati itu, sekalian petik buah Chit-kim-ko tadi, walaupun saat itu juga dari belakang terdengar suara menyambernya senjata rahasia musuh, namun iapun tidak pikirkan lagi, terpaksa hanya sedikit mengegos, tapi pundaknya lantas terasa kesakitan, ternyata sebuah piau baja sudah menancap dibahunya.
Dengan menahan sakit, Jing-kin masukkan ular mati dan Chit-kim-ko yang berhasil diperolehnya itu kedalam baju, habis itu cepat ia memutar tubuh, dengan sikap angkuh sambil pedang terhunus ditangan, ejeknya kemudian : "Nah, kedua benda ini sudah berada ditanganku, apa maumu sekarang ?"
"Hahaha," tiba-tiba sijangkung tadi bergelak ketawa,
"memang benar kedua barang itu sudah kau dapatkan, tapi kenapa kau tidak tanya dirimu sendiri, dengan kepandaian suami isteri kalian tak mampu menandingi kami berempat, kini kau berada sendirian, dapatkah kau selamat tinggalkan tempat ini ?"
Jing-kin menjadi terkesiap, ia pikir memang benar juga gertakan orang itu, selagi dirinya terluka lagi, terang takkan ungkulan melawan keroyokan mereka. Dalam gugupnya, cepat ia cabut piau yang masih menancap dipundaknya itu dan hendak dilempar ketanah, tiba-tiba sekilas dapat dilihatnya pada senjata rahasia itu terukir dua huruf kecil sekali.
Hati Jing-kin tergerak, ia pikir kalau diatas senjata rahasia itu ada tulisannya, tentu itu nama atau tanda pengenal sipemiliknya. Cuma sayang kedua huruf kecil itu sangat lembut ketika ia hendak menegasi lebih dekat, sekonyong-konyong sebuah piau baja menyamber datang pula, "cring", dengan tepat membentur piau yang dipegangnya, syukur tidak sampai terjatuh.
Sudah berulang kali Ang Jing-kin diserang oleh senjata2
rahasia seperti itu, tapi sebegitu jauh ia belum mengetahui
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jelas siapa diantara empat orang itu yang menyambitkannya.
Ketika tangannya kesemutan karena benturan piau yang dipeganginya itu, segera ia sadar tentu si-empunya kuatir rahasianya terbongkar oleh kedua huruf itu. Cepat ia masukkan piau yang ditangkapnya itu kedalam baju.
Berhubung kejadian itu, rupanya diantara empat orang itu lantas terjadi perdebatan, satu diantaranya tiba2 bisik2 pada sijangkung, tapi sijangkung rupanya tidak setuju hingga beberapa kali mereka tarik urat, saling tidak mau mengalah.
Diam2 Ang Jing-kin mengamat-amati orang berkedok itu, ia menduga tentu itulah sipemilik piau, orang ini berperawakan sedang, tiada tanda-tanda istimewa, pula berkedok, menjadi susah dikenali.
Sesudah berdebat sejenak, rupanya sijangkung mendapat suara lebih banyak, maka sekali ia memberi aba2, segera empat orang terpencar mengepung Ang Jing-kin, di-tengah2
empang diatas batu besar itu, jarak mereka hanya terbatas oleh air empang, jauhnya kira2 lebih dua tombak, hendak meloloskan diri dari kepungan" rasanya tidaklah mudah.
Tapi sehabis empat orang itu berpencar mengambil
kedudukan mengepung dipinggir empang sana, merekapun tidak lantas membuka serangan, melainkan terus duduk anteng di tempatnya masing2. Jing-kin menjadi heran, tapi ia pun tak berani sembarang bergerak, ia ingin tahu dulu apa yang dikehendaki musuh2 itu. Tapi sudah lama, masih empat orang itu berdiam saja, tiba2 tergerak pikiran Jing-kin, ia insaf orang sengaja mengepungnya ditengah empang itu, dengan begitu akhirnya ia sendiri akan menyerah tak berdaya.
Namun ia pantang menyerah, ia coba tunggu kesempatan dan berharap bisa terjang keluar, ia bertahan sekuatnya, dan tunggu menunggu demikian ternyata berlangsung sampai tiga hari tiga malam, selama itu boleh dikata Ang Jing kin tidur saja tidak berani, kuatir kalau mendadak diserbu keempat musuh itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sampai esok hari keempat, ia sudah terlalu letih, lapar dan dahaga, sebaliknya keempat orang itu seenaknya
mengeluarkan rangsum mereka dan memakannya dengan
nikmat, mulut mereka sengaja ber-kecap2 hingga
mengeluarkan suara se-akan2 orang kelaparan ketemukan makanan. Karuan tidak buatan gemasnya Ang Jing-kin,
sedapat mungkin ia tahan selera yang terus memuncak, ia pura2 melengos kejurusan lain tak mau menatap musuh.
"Bwe-hoa-siancu", tiba2 satu diantara empat orang itu berseru, "sudah tiga hari kau bertahan, rasanya tiga hari lagi kaupun takkan bisa lolos, biasanya kau sok pintar, kenapa sekarang begini bandel ?"
Jing-kin tahu maksud orang tetap mengincar kedua barang miliknya itu, tapi meski ia benar2 serahkan barang2 itu, serupa saja jiwanya tak terjamin mengingat kekejaman musuh2 itu. Maka ia hanya tertawa dingin tanpa gubris.
"Haha, Bwe-hoa-siancu, nih, makan sedikit !" seru sijangkung tadi. Berbareng itu sepotong Siopia terus dilemparkan kearahnya.
Sesungguhnya Ang Jing-kin sudah terlalu lapar, tanpa kuasa ia ulur tangan hendak menyanggapi makanan itu. Diluar dugaan cara melempar sijangkung itu memakai tenaga efek, ketika sampai didekat Ang Jing-kin, mendadak makanan itu bisa membiluk kesamping terus nyemplung keempang. Maka tertawalah keempat orang itu ber-gelak2 dengan senangnya.
Sebaliknya Ang Jing-kin malu dan murka, kalau tenaga mengijinkan, segera ia bermaksud menubruk maju buat adu jiwa.
Sementara itu didengarnya sijangkung itu berkata lagi ;
"Bwe-hoa-siancu, ditempat begini kau masih berlagak, makanan demikian kau tidak doyan, tunggulah nanti pulang kerumah nenekmu minta disusui, hahaha !" Habis tertawa, ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berjongkok, dengan tangannya ia mengeruk air empang yang jernih itu buat minum.
Tiga hari yang lalu Ang Jing-kin telah menyaksikan Kek Pang terbinasa sebab minum air sungai yang beracun itu, kini melihat orang juga minum air sungai, pula ketiga kawannya juga akan menirukan sijangkung, diam-diam hatinya
bersyukur musuh2 itu mencari kematian sendiri dan memberi jalan hidup bagi dirinya.
Dalam saat demikian, sinar matanya terus menatap orang berkedok yang berdebat dengan sijangkung tadi. Ia lihat orang ini tidak gunakan tangannya mengeruk air, tapi berjongkok sambil sedikit menyingkap kain kedoknya, dengan mulutnya akan menghirup air empang itu.
Sekilas Jing-kin mengenali separuh muka orang itu seketika kepalanya se-akan2 pening, serunya tak lampias : "Keparat she Cu, ki..kiranya kau adanya ?"
Mendadak orang yang dikatakan she Cu itu terkejut, belum sampai air menempel mulut, cepat ia melompat mundur
dengan tertegun. Sedang tangan Ang Jing-kin terus menuding orang dengan gemetar tapi tak sanggup buka suara.
Pada saat itulah, se-konyong2 terdengar suara jeritan berulang2 dari ketiga orang yang lagi minum tadi, lalu bergedebuk roboh ketanah kulit badan mereka seketika berubah biru gosong, lalu tak berkutik pula. Nyata merekapun binasa oleh racun air sungai seperti halnya Kek Pang.
Diam2 Jing-kin menyesal terburu napsu bersuara, kalau tadi diam2 menanti, bukankah jahanam she Cu itupun tak terluput dari kematian " Dan kini manusia itu sudah lantas angkat langkah seribu melihat kawan2nya sudah terbinasa.
Hati Ang Jing-kin merasa lega sesudah ketiga musuh sudah mati dan seorang lagi lari terbirit2. Ia hitung2 masih ada waktu belasan hari dari janjinya dengan sang suami dan dapat membawa kembali empedu Kiu-bwe-coa dan Chit-kim-ko
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk menolong jiwanya, sungguh ia tidak pernah
membayangkan akan begini mudah menyelesaikan kepungan musuh tadi. Saking girangnya, belum lagi ia berbangkit tiba2
matanya serasa gelap, orangnyapun jatuh pingsan di atas batu itu.
Dalam pada itu, mengenai diri si A Siu yang ditinggalkan sendiri dan terlupa itu, dasar kanak-kanak, ketika tiba-tiba dilihatnya ada seekor kelinci putih dengan kedua matanya yang merah bundar didalam semak-semak rumput lagi
memandang padanya, ia menjadi sangat tertarik, tanpa bilang-bilang lagi ia terus memburu kearah kelinci itu.
Binatang itu rupanya binal juga, ketika melihat sibocah mendekati, ia tidak lari, sebaliknya mengeluarkan gerak-gerik yang menggoda hingga makin menggembirakan hati A Siu, dengan tertawa-tawa ia berjongkok terus hendak menangkap kelinci itu, tapi sedikit binatang itu melompat, tangan A Siu yang kecil telah menangkap tempat kosong, kelinci itu tidak lari terus, tapi masih menggoda pula dengan berbagai macam mimik, tentu saja A Siu semakin getol, ia memburu dan menangkapnya lagi, namun luput pula, dan begitulah
seterusnya hingga makin lama makin jauh. A Siu bergurau dengan kelinci putih itu, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa saat itulah, ayahnya Kek Pang telah menemui ajalnya meminum air beracun.
Maka tanpa merasa A Siu telah mengejar kelinci itu sampai beberapa li dan memasuki sebuah lembah yang dikedua tepi dinding tebing curam, makin jauh jalan makin lika-liku, tapi ia masih terus mengudak. Maka tanpa merasa haripun mulai gelap, perutnya berasa lapar, barulah sekarang A Siu ingat pada ayah dan bibi Jing-koh, ia mulai bingung dan kuatir, segera ia bermaksud kembali kejalan semula, tapi makin putar makin kesasar, haripun makin gelap hingga berulang kali ia jatuh bangun, saking letihnya ia merebah sekenanya ditanah dan pulas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Besok paginya, ia ber-lari2 lagi hendak pulang kembali, tapi sudah kian kemari masih belum ketemukan jalan yang betul, sampai kelaparan, lalu ia petik buah-buahan yang
diketemukan dan dimakan sekedarnya, keadaan begitu sampai beruntun tiga malam, baiknya dimalam hari, karena dadanya memakai kalung permainan mutiara yang memancarkan
cahaya terang, maka ia masih bisa berjalan dengan bebas.
Namun begitu, untuk jarak jauh, juga kegelapan belaka yang tertampak, lama-lama A Siu menjadi ketakutan dan duduk ditanah sambil menangis.
Tidak lama, tiba-tiba didengarnya dari jauh ada suara tindakan orang yang sedang mendatangi, mula-mula A Siu menyangka itulah ayahnya, cepat ia berhenti menangis sambil mendengarkan, dan memang benar suara tindakan orang, saking girangnya ia terus meloncat bangun sambil berseru :
Pendekar Bayangan Setan 9 Perjodohan Busur Kumala Karya Liang Ie Shen Pedang Ular Mas 5
^