Pencarian

Pendekar Misterius 2

Pendekar Misterius Karya Gan K L Bagian 2


Li Pong menjadi geli melihat muka si gadis yang
menyenangkan ini. Jun-yan tahu kalau orang tua itu diam2
sudah berjanji, lalu ia menceritakan pengalamannya di Lo-seng-tian diatas Ciok-yong-hong itu.
Sambil mendengarkan cerita si gadis yang menarik itu, diam2 Li Pong memperhatikan orang aneh itu. Ia lihat orang aneh itu berdiri menghadap kearah si gadis tanpa bergerak sedikitpun, se-akan2 sangat senang dan ketarik oleh setiap kata2 serta setiap suara ketawa si gadis.
Sesudah Jun-yan selesai menutur, lalu Li Pong berkata :
"Kalau dia mahir ilmu silat cabang lain, itulah bukan soal, tapi kepandaian "lip-te-seng-kin" benar2 adalah ilmu tunggal Khong-tong-pay kami, darimana ia dapat mempelajarinya"
Ahm....." ia merenung sejenak, tiba2 dari pinggangnya ia lolos keluar sebilah golok yang bersinar hijau mengkilap. Nyata itulah golok pusaka "Pek-lin-sin-to" kaum Khong-tong-pay.
Melihat Li Pong mendadak lolos senjata, sedang orang aneh itu juga rupanya sudah mendengar suara senjata tajam dicabut, maka agak terkejut dan terus mundur setengah langkah, kakinya berdiri kokoh dalam gaya miring, nyata itulah kuda2 yang kuat sekali untuk menghadapi segala
kemungkinan. Menyangka kedua orang bakal saling gebrak dan kasihan juga bila orang aneh yang cacat itu sampai terluka, maka cepat Jun-yan bertanya: "Li-sioksiok, apa yang hendak kau lakukan ?"
"Aku hendak menjajal dia. Kau bilang dia mahir ilmu "lip-seng-kin", apakah ia juga pandai Liok-hap-to-hoat"!" sahut Li Pong. Lalu ia membentak ke arah si orang aneh: "Nah, sobat, sambutlah!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Habis itu, sekali tangannya bergerak, tahu2 golok
pusakanya itu tertimpuk kedepan membawa selarik sinar hijau yang menyilaukan ke-arah orang aneh itu.
Ternyata orang aneh itu sangat cekatan, sekali tangannya membalik, segera golok itu sudah kena dipegangnya.
Terkejut sekali Li Pong melihat cara si orang aneh itu menyambuti goloknya, tanpa terasa ia berseru memuji.
"Kepandaianmu bagus! Awas serangan!"
Segera ia gunakan sarung goloknya sebagai senjata, terus dengan tipu Ci-gi-tong-lai atau hawa ungu datang dari timur, sarung goloknya membawa angin kencang terus menusuk
kemuka si orang aneh.
Liok-hap-to-hoat dan Liok-hap-co-hoat dari Khong-tongpay, kesemuanya mengambil atas gabungan langit bumi dan keempat penjuru yang diubah lagi, jadi langit dan bumi atau atas dan bawah ditambah empat penjuru yalah enam, maka disebut Liok-hap atau enam gabungan.
Ilmu golok dan pukulan itu sebenarnya masing-masing
hanya terdiri dari enam jurus saja, yaitu dengan aksara langit, bumi, timur, barat, utara dan selatan, tapi diantara tiap-tiap jurus itu terkandung pula enam macam pecahan, dari tiap-tiap pecahan, ini juga mengambil kedudukan enam aksara seperti tersebut diatas, maka kalau dimainkan menjadi enam kali enam menjadi tiga puluh enam jurus. Ilmu silat ini adalah kepandaian tunggal Khong-tong-pay yang tak diajarkan pada orang lain.
Begitulah Jun-yan melihat gerak serangan Li Pong itu dilontarkan sangat perlahan sekali, ia tak kenal tipu serangan macam apakah itu, juga tak tahu kemuzizatan yang
terkandung dalam tipu ini, tapi bila ingat inilah kesempatan bagus untuk mencuri belajar Liok-hap-to-hoat, berkat otaknya yang tajam, segera ia perhatikan sungguh2 gerak geriknya Li Pong, ia ingat baik2.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia lihat ketika tusukan Li Pong itu dilontarkan, sarung golok yang dibuat senjata itu mendengung sekali terus ujungnya memutar hingga menjadi satu lingkaran kecil, kembali mendengung sekali terus menggores sebuah lingkaran besar, selesai dua lingkaran digores, ujung golok itu sudah mendekati muka si orang aneh.
Orang aneh itu masih berdiri tegak sambil memegangi Pek-lin-to yang dilemparkan Li Pong tadi, sama sekali tiada tanda2
hendak menangkis atau berkelit.
"Hayo sambut!" bentak Li Pong lagi sembari menggores lingkaran yang ketiga.
Dengan digoresnya tiga lingkaran sinar itu, ujung goloknya sudah tinggal beberapa senti saja didepan muka si orang aneh. Karena itu, baru mendadak orang aneh itu geraki goloknya secepat kilat.
Herannya gerak tipunya ternyata sama dengan tipu
serangan Li Pong, golok bersinar hijau yang menyilaukan itu segera melingkar menjadi satu bundaran, hebatnya lingkaran pertama ini sudah jauh lebih besar dari lingkaran ketiga yang digoreskan Li Pong tadi. Dibawah sambaran sinar senjata itu, sarung golok Li Pong sudah terkurung didalamnya.
Melihat sekali bergerak, orang itu benar-benar melontarkan tipu "Ci-gi-tong-lai", jurus pertama dari Liok-hap-to-hoat, bahkan tenaga dalam yang digunakannya terang diatas
dirinya, tak nanti dibawahnya, keruan Li Pong terkejut, segera ia bermaksud menarik kembali sarung goloknya, tapi sudah tidak keburu lagi.
Tiba2 sinar hijau berkelebat, ilmu golok orang aneh itu sudah berubah, Pek-lin-to dibujurkan kesamping.
Li Pong adalah Ciangbunjin atau ketua Khong-tong-pay, sudah tentu ia kenal gerak tipu itu disebut "Se-jut-ham-koan"
atau kebarat keluar benteng Ham. Jika ia tidak mundur cepat saatnya, tapi tunggu sampai orang habis memainkan enam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jurus hingga tiga puluh enam macam perubahan seluruhnya dilontarkan, maka pasti ia akan kewalahan menghadapinya. Ia menjadi geregetan mengapa tadi terlalu pandang enteng lawannya dan menyerahkan golok pusaka kepadanya, kini ia sendiri hendak melepaskan diri dari rangsakan saja rasanya susah.
Mendadak ia kendorkan cekalannya, sarung goloknya
terpaksa ia korbankan, ia ulurkan kedepan dan dilepaskan, berbareng orangnya terus melompat mundur.
Maka terlihatlah sinar golok gemerlapan, sarung golok itu tahu2 terkutung menjadi tujuh potong.
Nyata itulah tipu "Lam-tau-liok-sing" atau enam bintang dari langit selatan. Tipu serangan ini biasanya sangat susah dimainkan, sebab harus sekali membacok beruntun-runtun menyendal enam kali, tapi dalam permainan orang aneh itu, tipu itu seperti sepele saja, jitu dan langgeng, sedikitpun tidak meleset, hingga sarung golok itu terbabat enam kali dan terkutung menjadi tujuh potong dan berserakan ditanah.
Sesudah Liok-hap-tong-cu Li Pong melompat pergi, kembali orang aneh itu berdiri kaku. Saking herannya Jun-yan sampai ternganga, hingga lama baru ia buka suaranya : "Li-sioksiok, bagaimana ini " Kau adalah Ciangbunjin Khong tong-pay, masa ilmu golokmu Liok-hap-to-hoat malah kalah sama dia?"
"Bukan saja ilmu golokku kalah, bahkan tenaga dalam juga dia lebih menang", sahut Li Pong. "Umpamanya dia yang gunakan sarung golokku dan aku memegang Pek-lin-to,
rasanya akupun bukan tandingannya! Bukankah kau saksikan tadi, begitu bergerak, jurus pertama saja sarung golokku sudah terkurung didalam sinar goloknya" Sungguh aneh!
Orang ini pasti tokoh Khong-tong-pay, apakah mungkin masih angkatan tua dari golongan kami ?"
Sehabis berkata, segera ia gelengi kepala menjawab
sendiri: Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tak mungkin, tak mungkin!"
"Li-siok-siok, tak perlu kau terka tak keruan, sebab ilmu silat cabang lain, iapun sangat mahirnya!" ujar Jun-yan.
"Paling benar sekarang carilah akal untuk merebut kembali golok pusakamu itu dari tangannya!"
Benar juga pikir Li Pong, segera ia menubruk maju sambil julurkan tangannya yang merah itu untuk merebut goloknya, tapi sedikit orang aneh itu angkat lengannya, dengan jurus
"Thian-ho-to-kwa" atau sungai langit gantung terbalik, satu jurus dari Liok-hap-to-hoat, terus hendak memotong
pergelangan tangan Li Pong.
Keruan Li Pong menjadi terkejut, cepat ia tarik tangannya dan ganti jari tangan kiri diangkat buat menyerang kedua mata lawan, dan ketika orang aneh itu lintangkan goloknya hendak menangkis, Li Pong membarengi sekali gertak, tangan kanan secepat kilat hendak menangkap punggung golok.
Tipu serangan Li Pong ini disebut "sam-sing-boan-ngoat"
atau tiga bintang mengelilingi bulan, ialah semacam ilmu kepandaian merebut senjata orang dengan tangan kosong, lebih dulu jari kiri mengarah mata lawan, disusul menggertak, berbareng tangan kanan merebut, tiga gerakan sekaligus dilontarkan. Dibawah permainan Liok-hap-tong-cu, tipu itu menjadi makin hebat.
Tapi hasilnya ternyata nihil, sebab orang aneh itu
mendadak tekan goloknya kebawah sembari kepala
mengegos, lalu tubuhnya terus meloncat keatas, dalam sekejap saja tipunya thian ho-to-kwa tadi sudah berganti menjadi "te-lai-hong-seng" atau bumi bergoncang menjangkitkan angin.
Dalam kagetnya Li Pong tak berani menyusul buat merebut senjata lagi, dengan masgul ia melompat mundur, ia
termangu-mangu tak berdaya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Disamping sana Jun-yan juga ikut kuatir bagi Li Pong, Pek-lin-to itu adalah golok pusaka kaum Khong-tong-pay yang hanya dibawa oleh ketuanya, malahan ada peraturan yang menentukan bahwa melihat golok itu seakan-akan melihat ketuanya, anak murid Khong-tong-pay sendiri tidak sedikit jumlahnya, golok pusaka kangzusi.com itu mana boleh
dihilangkan begitu saja" Tapi apa daya, kalau Li Pong sendiri tak mampu merebut kembali, apa lagi ia sendiri "
"Hai, kau ini kenapa tidak kenal kebaikan", dalam gugupnya ia berseru, "Orang meminjamkan golok padamu untuk
menjajal ilmu goloknya, mengapa senjatanya malah kau kangkangi?"
Tiba-tiba mulut orang aneh itu menyengir, tapi karena wajahnya yang jelek dan bibirnya yang sudah cacat, maka nampaknya menjadi ngeri. Menyusul ia angsurkan Pek-lin-to itu kepada Lou Jun-yan yang terperanjat sembari mundur selangkah, tapi kemudian dapat dilihatnya orang tak
bermaksud jahat, segera ia tabahkan diri dan menanya:
"Apakah kau hendak berikan golok ini padaku ?"
Orang aneh itu tertegun sejenak, lalu mengangguk.
Maka tanpa ragu2 lagi Jun-yan mendekatinya, cuma untuk menjaga segala kemungkinan pecutnya ia siapkan ditangan.
Lalu golok yang diangsurkan orang aneh itu diterimanya.
Melihat itu, Liok-hap-tong-cu Li Pong menjadi lega, golok pusaka itupun ia terima kembali dari si gadis, dan katanya :
"Setan cerdik, sekali ini benar2 berkat kau ! Kebaikanmu ini tentu takkan kulupakan!"
"Takkan melupakan, apa gunanya " Masakan kau bakal
memberikan golok itu padaku?" demikian sahut Jun-yan. Lalu iapun berkata lagi pada dirinya sendiri : "Ah, betapa baiknya kalau benar2 golok pusaka ini milikku ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siapa duga, baru selesai ia berkata, mendadak si orang aneh itu terus menerjang ke arah Li Pong, kelima jarinya terpentang terus hendak merebut golok itu, diwaktu
tangannya bergerak itu samar2 membawa suara yang
gemuruh. Lekas2 Li Pong enjot tubuh berjumpalitan kebelakang
hingga jauh sambil berseru :
"Ilmu "Pi-lik-cio" yang hebat ! Setan cerdik, apa yang kau katakan tadi memang benar, orang ini mahir benar dalam berbagai cabang silat, ilmu pukulan Pi-lik-cio ini adalah kepandaian tunggal keluarga In di Holam yang hanya
diturunkan kepada anaknya, ternyata diapun bisa
menggunakannya, benar-benar hebat dan aneh !"
Begitu ia melompat mundur, segera orang aneh itu
memburunya dan beruntun-runtun melontarkan beberapa
jurus serangan buat merebut golok, tapi Li Pong sudah memegang senjata pusakanya, iapun tidak gentar pula, segera ia mainkan Liok-hap-to-hoat dengan kencang hingga orang aneh itu ditahan dalam jarak-jarak tertentu tak mampu mendekat.
Karena itu, maka terdengarlah orang aneh itu bersuara
"uh-uh-uh" pula, rupanya gugup karena seketika tak bisa merebut senjata lawan.
"Lekas kau pulang ketempatnya Jing-ling-cu saja, buat apa masih keluyuran disini ?" kata Jun-yan kemudian.
Aneh bin ajaib, terhadap apa yang dikatakan Jun-yan, ternyata orang aneh itu selalu menurut. Maka sekali putar tubuh, cepat ia mengeloyor pergi.
Li Pong dan Jun-yan ter-mangu2 melihat kelakuan orang yang susah dimengerti itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Berpuluh tahun aku berkecimpung di kang ouw, tapi
belum pernah kenal dikalangan persilatan ada seorang tokoh aneh seperti ini", demikian kata Li Pong saking herannya.
"Kalau melihat tindak tanduknya sudah terang seorang gendeng yang tak merasa lagi asal usul dirinya sendiri.
Menurut aku, Jing-ling-cu harus mengumpulkan semua tokoh2
dunia persilatan dari yang rendah sampai yang tinggi, boleh jadi baru bisa mengenalinya! Maka kini biarlah aku pergi ke Ciok-yong-hong untuk menemui Jing-ling-cu, apakah kau juga ingin ikut?"
"Ah, tidak", sahut Jun-yan menggelengkan kepala. "Tapi harap Li-siok-siok, jangan sekali2 kau beritahukan suhu tentang jejakku ini, bila kau mengatakan padanya, kelak pasti aku akan siarkan kejadian golokmu dirampas orang aneh tadi, coba pamormu bakal merosot atau tidak ?"
Habis berkata, dengan tertawa ter-kikih2 ia terus berlari pergi. Melihat kenakalan si gadis, Li Pong hanya bisa angkat bahu sambil tersenyum, lalu melanjutkan perjalanannya ke Ciok-yong-hong.
Dengan kata2nya tadi, Jun-yan sudah yakin meski ia
keluyuran setengah atau selama setahun diluaran, pasti juga Li Pong akan membelanya dimuka sang suhu, maka tak kuatir lagi kini, saking senangnya larinya tambah cepat.
Malamnya, ia dapatkan sebuah penginapan disuatu kota kecil dibawah gunung, tapi belum lagi fajar tiba ia sudah bangun, ia melompat keluar melalui jendela, ia pilih sebuah gedung yang paling mentereng dan digerayanginya belasan lonjor emas yang seluruhnya hampir 400 tahil, dengan ini ia akan gunakan sebagai biaya pesiarnya nanti.
Memangnya Jun-yan murid Thong-thian-sin-mo yang
terkenal ksatria bukan, penjahat pun tidak, maka mesti sementara menjadi pencuri, Jun-yan tidak merasakan sesuatu keganjilan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setibanya kembali dihotel, hari masih belum terang, ia masuk tidur lagi hingga hari sudah dekat lohor baru mendusin, tapi baru saja sadar, segera ia merasakan sesuatu yang aneh, di dekat lehernya serasa dingin tajam, seperti ada sesuatu senjata tajam terletak disitu.
Ketika ia menoleh kesamping, maka terlibatlah sebilah golok pusaka yang memancarkan sinar hijau menyilaukan, persis terletak diujung hidungnya, jaraknya tidak lebih dari satu senti saja. Coba bila ia menolehnya sedikit sembrono, boleh jadi hidungnya yang mancung itu sudah menjadi pesek.
Demi nampak golok pusaka itu, segera Jun-yan mengenali itu adalah Pek-lin-to milik Khong-tong-pay, maka tanpa ragu2
lagi segera ia berteriak:
"Ha, Li-siok-siok, kau selalu mau takut2i aku saja!"
Tapi meski ia mengulangi teriakannya, masih tiada orang menyahut, malahan terdengar pelayan hotel yang sedang menegur diluar:
"Apakah nona sudah bangun " Apakah perlu diambilkan air cuci muka ?"
"Siau-ji-ko (panggilan pada pelayan), mari kau masuk, aku ingin tanya padamu !" sahut Jun-yan sembari betulkan rambutnya yang kusut.
Sebenarnya datangnya Jun-yan seorang diri menginap
dihotel sudah membikin pengurus hotel merasa heran, kini dilihatnya pula si gadis tidur hingga lohor masih belum bangun, rasa curiga mereka semakin menjadi, maka
sebenarnya sipelayan dan kasir lagi kasak kusuk dan bisik-bisik diluar kamar, kini demi mendengar panggilan, segera mereka mendorong pintu dan masuk kekamar.
Tapi begitu pintu terbuka, mendadak mereka melihat si gadis berdiri didepan ranjang sambil menghunus golok,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka menjadi terpaku kaget, malahan saking ketakutan kasir hotel itu sampai mendeprok ditanah sembari memohon :
"Am........ampun Li-tai-ong (sebutan pada begal wanita) !"
sedang sipelayanpun ikut-ikut mendekam diatas tubuh sikasir dengan badannya menggigil ketakutan.
Mengkal dan geli si gadis melihat macam kedua orang itu, lalu dampratnya :"Ngaco belo, masa aku kalian sangka Li-tai-ong apa segala" Lekas bangun!"
Dengan gemetar kedua orang itu berbangkit tapi muka
mereka tetap pucat bagai mayat.
"He, apakah semalam kalian melihat ada orang memasuki kamarku ?" tanya Jun-yan.
Kedua orang itu saling pandang dengan heran oleh
pertanyaan itu. "Tidak ada!" sahut mereka akhirnya.
"Tiada seorang kakek buntak bertangan merah yang masuk kemari ?" desak Jun-yan.
"Tidak ada, tidak ada!" sahut kedua orang itu berulang-ulang.
Jun-yan menjadi semakin heran dan bingung tiba-tiba
dapat dilihatnya disamping bantalnya terdapat pula secarik kertas kecil, lekas-lekas ia mengambilnya dan dibaca, ternyata diatasnya tertulis dua huruf "Jing-kin", gaya tulisannya kuat dan indah, selain itu, tiada sesuatu lagi yang didapatkannya.
Semakin Jun-yan tak faham apakah artinya itu, dan meski sudah dipikir dan tiada mengerti, akhirnya iapun simpan baik-baik golok pusaka itu dan pesan pelayan menyediakan
makanan, habis itu, iapun tinggalkan hotel. Ia membeli seekor kuda kuat untuk alat pembantu perjalanannya, sepanjang jalan ia selalu tungak tengok kesana kemari hingga sangat menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang, namun sama sekali ia tak menghiraukan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jalan yang diikutinya itu ternyata adalah jalan raya kangzusi.com yang menuju kota Hengyang, suatu kota yang ramai makmur dan terkemuka diwilayah Oulam dan banyak dikunjungi saudagar2.
Diatas kudanya Jun-yan sangat terpesona oleh keramaian lalu lintas itu. Tiba2 didengarnya ada suara keleningan bercampurkan suara berdetaknya kaki kuda dari belakang, ketika ia menoleh, kiranya seorang Su-seng atau orang sekolahan, menunggang seekor keledai sedang mendatangi cepat dari belakang.
Orang menunggang keledai sebenarnya tidaklah
mengherankan, tapi Suseng ini justru anak aneh, sebab caranya menunggang binatangnya itu dengan mungkur, jadi seperti caranya Thio-ko-lo, itu dewa dalam cerita Pat-sin (delapan dewa). Pula keledai itu meski kecil, tapi larinya ternyata amat cepat, lebih aneh lagi ialah bulu tubuhnya seluruhnya putih mulus, sebaliknya empat telapakan kaki dan ekornya hitam mengkilap.
Ter-heran2 Jun-yan melihat macam keledai yang menarik itu, diam2 ia membatin : "Keledai ini hebat amat, jika dapat kurebutnya untuk pesiar ke-mana2, bukankah jauh lebih bagus daripada menunggang kuda belian ini ?"
Tapi sipelajar muda itu se-akan2 dapat menerka akan
maksud hatinya, tiba2 ia membentak, segera keledai putih itu pentang kaki terus lari cepat luar biasa.
Sesaat itu Jun-yan malah tertegun, ketika ia sadar kembali, dua saudagar yang berlalu disitu sudah mendahuluinya lagi.
Lekas2 ia berdiri diatas kudanya untuk melongok, tapi keledai sipelajar sudah jauh sekali, untuk mengejar rasanya tak mudah, diam2 ia menyesal kenapa tadi melepaskan
kesempatan baik itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sedang ia ter-menung2, tiba2 disamping ada orang
membentak keras2 : "Sam-thay...." lalu yang seorang
menyambung: "Piau-kiok!"
Nada teriakan itu semuanya sengaja ditarik panjang2
hingga kedengarannya rada aneh dan lucu.
Ketika Jun-yan berpaling, kiranya itu adalah dua orang pembuka jalan dari sesuatu perusahaan pengawalan.
Memangnya hati Jun-yan lagi mendongkol, apa pula tiba2
melihat kedua pembuka jalan Piau-kiok itu selalu melarak-lirik kearahnya seperti copet mengincar sasarannya, tentu saja ia menjadi gusar.
"Setan, disamping nonamu, kenapa gembar-gembor
sesukanya?" demikian dampratnya.
Pada umumnya, sebagai pengawal rendahan Piaukiok,
meski bisa silat juga tiada artinya, tapi karena pengalaman pekerjaan mereka yang senantiasa merantau, mulut mereka justru tajam luar biasa, lebih-lebih kata-kata yang bersifat menggoda dan rendah, jangan ditanya lagi!
Maka ketika mendengar Jun-yan mendamprat orang tanpa alasan, cara mereka memandang si gadis menjadi semakin berani, mereka tidak melirik lagi kini, tapi sengaja mengamat-amati dari depan sampai kebelakang dan dari kepala turun kekaki lalu dari kaki naik lagi keatas.
Menghadapi seorang gadis jelita, tentu saja mereka
menjadi tambah berani dan ingin mendapatkan keuntungan kata-kata. Mereka saling pandang sekejap, lalu tertawa bersama, sikap mereka sangat rendah memuakkan.
"He, nona besar, kami bukan lakimu, kenapa belum kenal, datang-datang kau memaki orang ?" segera seorang buka suara.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ai, toako ini!" demikian sambung yang lain seperti dua pelawak yang lagi main dagelan, "kenapa dia memaki orang"
Siapa tahu kalau dia telah penujui kita berdua! Hahaha!"
Begitulah mereka bergelak ketawa, masih ada tiga-empat orang kawannya yang dengan sendirinya ikut terbahak-bahak.
Sebenarnya mulut Lou Jun-yan tidak kalah tajamnya,
ditambah kecerdasannya, biasanya tokoh persilatan mana saja kalau kebentur dia, tentu akan merasa kewalahan. Seperti halnya Siau-yau-ih-su yang dipermainkannya diatas Ciok-yong-hong, tapi tak mampu membalas.
Tapi kini menghadapi dua lelaki bangor dengan kata-
katanya yang bersifat rendah kotor, sebagai seorang gadis dengan sendirinya tak ungkulan menandinginya.
Keruan mukanya menjadi merah mendengar apa yang
dikatakan kedua orang Piau-kiok tadi, pikirnya :
"Mereka berteriak membuka jalan memang sudah menjadi peraturan Piaukiok, salahku sendiri tadi memaki mereka, kini rugi sendiri!" maka sembari melototi kedua orang itu dengan sengit, tanpa buka suara lagi ia keprak kudanya berlari mendahului.
Kalau si nona sudah terima salah, sebenarnya urusan
menjadi beres, tapi dasar kedua orang Piaukiok itu memang lelaki bangor, mereka masih tidak kenal selatan, dikiranya Jun-yan hanya seorang gadis biasa yang mudah digoda. Tiba-tiba merekapun keprak kuda menyusul bahkan sambil bergembar-gembor dengan kata2 kotor yang tak sedap untuk didengar.
Sungguh hati Jun-yan tak bisa bertahan lagi, diam2 ia pikirkan nama perusahaan "Sam-thay-piau-kiok" yang diteriakan mereka tadi, logat mereka juga logat daerah Soatang, nama Sam-thay-piau-kiok di Soatang memang
sangat terkenal, cuma siapa pemimpinnya ia sudah lupa. Kini ia hendak memberi hajaran setimpal pada laki2 bangor itu, iapun tak pikir bakal cekcok dengan siapa nanti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka segera ia menahan kudanya sambil menoleh, ia
menggapaikan tangan dan memanggilnya : "Marilah, kalian kemari !"
Melihat itu, mengira kalau si nona sungguh2 kepincut, saking senangnya, tulang kedua orang itu se-akan2 lemas seluruhnya. Maka dengan suara sahutan yang di-bikin2, segera merekapun keprak kuda kedepan.
Diluar dugaan, baru mendekati si gadis, mendadak sinar pecut berkelebat, pandangan mereka menjadi silau "tar-tar"
dua kali, muka kedua orang itu terkena sabetan pecut, saking kesakitan hingga mereka ber-kuik2 bagai babi disembelih, terus merosot kebawah kuda.
Rasa gusar Jun-yan masih belum reda, sekali lompat turun
"sret" golok Pek-lin-to asal milik Li Pong itu ia lolos hingga memancarkan sinar hijau, dan sekejap kemudian, daun telinga kedua orang itu sudah berpisah dengan tuannya, menyusul mana si gadis ayunkan kakinya hingga tubuh mereka terpental jauh ke tepi jalan.
Meski perbuatan Jun-yan dilakukan dengan cepat sekali, namun tempat dimana terjadi itu adalah jalan raya yang sangat ramai. Maka demi melihat seorang gadis jelita memegangi sebilah golok yang gemerlapan, sedang dua orang lagi ber-guling2 ditanah penuh darah dimuka, karuan orang yang berlalu disitu menjadi kacau.
Tapi Jun-yan tidak peduli, sedang ia hendak melanjutkan perjalanannya, tiba2 terdengar lagi suara keleningan yang ber-ning2. Waktu ia memandang, kiranya keledai putih yang bertelapak kaki dan ekor hitam itu lagi yang sudah balik kembali dan berhenti sejauh dua-tiga tombak darinya.
Penunggangnya, sipelajar muda itu yang menunggang keledai secara mungkur, lagi ter- senyum2 kearahnya diatas binatang tunggangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pikir Jun-yan, kebetulan "ular mencari penggebuk", memangnya dirinya lagi hendak merampas keledai itu, kini ia sendiri yang datang kembali, kenapa tidak sekalian dilakukan sekarang, tokh tadi sudah terjadi onar"
Dengan keputusan itu, sedang ia hendak melesat kesana, tiba-tiba dilihatnya ada tiga kuda bagus sedang menerobos rombongan kereta dan berjalan menuju kearahnya, tiga orang penunggangnya nampak cekatan sekali diatas kudanya hingga sekejap saja sudah datang menghadang didepan si gadis.
Belum lagi Jun-yan mengamat-amati ketiga orang itu,
dilihatnya si Suseng tadi sedang bertepuk tangan sambil tertawa dan berkata : "Hahaha, bakal ramai, bakal ramai, tentu bakal ramai sekali!"
Jun-yan menjadi mendongkol, ia mendelik kearahnya. Tapi tiba-tiba dilihatnya sewaktu pelajar itu bertepuk tangan tadi, tangannnya gemerlapan dengan sinar kuning emas, bila ditegasinya, baru diketahui bahwa kedua telapak tangan pemuda itu ternyata halus rata tanpa satu jaripun, kecuali ditangan kanannya pada jari telunjuknya memakai sebuah salut emas yang bersinar kuning mengkilap.
Melihat itu, diam2 Jun-yan gegetun sendiri. Sungguh
sayang seribu kali sayang, seorang pemuda yang begitu tampan ganteng ternyata tangannya cacat tanpa jari. Karena itu, tanpa merasa ia memperhatikan pula sekejap pada orang, sebaliknya Suseng itupun lagi tersenyum padanya, entah mengapa, Jun-yan menjadi merah jengah dan lekas-lekas melengos.
Ketiga penunggang kuda yang memburu datang tadi,
sebenarnya mula-mula berwajah sangat gusar, tapi ketika melihat ditangan si gadis membawa Pek-lin-to, mereka jadi tercengang dan mengunjuk rasa heran.
Segera yang berdiri ditengah yang berumur paling tua melangkah maju serta menegur: "Sam thay-piaukiok kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
selamanya tiada permusuhan dengan Khong-tong-pay, guru kami Sam-jiu ji-lay Hang-It-wi dengan Liok-hap-tong-cu malahan adalah sobat kental, kenapa sekarang nona
mencegat ditengah jalan hendak merampas "piau" (barang kawalan) kami ditengah hari bolong ?"
Meski lagu perkataan orang ini tidak kasar tapi terang bersifat menuduh tanpa sebab musababnya, walau sudah kenal juga golok pusaka yang berada ditangan si gadis adalah Pek-lin-to pusaka Khong-tong-pay.
Keruan Jun-yan menjadi marah. "Hm, jadi kalian bilang aku hendak merampas barang kawalanmu?" jengeknya segera.
Ketiga orang itu tertegun, tapi toh menjawab juga :
"Rasanya juga tidak mudah, jika itu memang maksudmu !"
Sebenarnya tiada maksud sama sekali pada Jun-yan
hendak merampas barang kawalan orang, tapi kini ia benar2
dibikin marah. Tiba2 terdengar Suseng muda tadi dari samping malahan ikut mengipasi, katanya dingin: "Aha, orang sudah terlalu mendesak, kalau tidak turun tangan, kemanakah muka harus disembunyikan!"
Sementara itu ketiga orang tadi sudah ambil kedudukan sejajar, masing2 mengeluarkan toya "Sam-ciat-kun", yaitu toya tekuk tiga, hingga menerbitkan suara gemerincing karena rantai penyambungnya.
Tentu saja hal mana sangat menarik perhatian orang yang berlalu lalang disitu, segera penonton merubung makin lama makin berjubel, se-akan2 tinggal menunggu Jun-yan yang memulai turun tangan.
Dasar anak murid Thong-thian-sin-mo Jiau Pek king yang tindak tanduknya terkenal aneh, setiap perbuatan hatinya menurut panggilan hati seketika, sedang akibatnya tak pernah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dipikir. Rupanya sifat ini sedikit banyak juga menurun pada diri Jun-yan.
Maka dengan tertawa dingin segera jengeknya : "Baiklah, katakan terus terang barang apa yang kalian kawal, jika nonamu tidak penuju, boleh jadi tidak sudi turun tangan!"
Ketiga orang itu berwatak berangasan dan tinggi hati, berkat nama besar Sam-thay piaukiok pula dengan tiga pemimpinnya, yaitu terdiri dari tiga saudara perguruan, yang tua bernama Sam-jiu-ji-lai Hang It-wi, kedua Sam-pi lo-jia Tiat Gin, ketiga Sam-bok-Ieng-koan Siang Lui. Kesemuanya
memiliki kepandaian tunggal yang lihay, pergaulannya luas diseluruh negeri, sejak membuka Sam-thay piaukiok, dari kalangan mana saja suka memberi bantuan seperlunya dan selamanya tak pernah gagal. Sebab itu sedikit banyak orang2nya menjadi terkebur, apalagi kini melihat Jun-yan hanya seorang gadis jelita, lebih2 tak dipandang sebelah mata oleh ketiga orang itu.
Maka dengan tertawa dingin orang yang tadi menjawab :
"Yang kami kawal adalah benda berharga yang bernilai belasan laksa tahil emas, ada diantaranya sebuah kopiah bertabur mutiara yang besar-besar, ada pula sebuah perahu jamrud yang panjangnya hampir satu meter warna seluruhnya hijau dan terukir dari batu kumala asli, betapa hidup ukiran perahu itu hingga beberapa puluh penumpangnya diatas perahu juga seperti hidup sungguh2. Nah, dapatkah barang2
itu menarik perhatianmu ?"
Begitu terkeburnya, hingga barang2 berharga yang mereka kawal, benar2 ia beritahukan pada Jun-yan. Padahal biasanya benda apa yang dikawal, justru harus dirahasiakan, tak nanti sembarangan boleh diketahui orang, kini caranya bilang terus terang, jelas sekali Jun-yan di pandang sepele saja.
Keruan hati si gadis semakin geram, ia pikir sekalipun nantinya harus berurusan dengan Sam jiu-ji-lai bertiga, hari ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah pasti aku akan menahan piau ini, bila tidak, mukaku ini harus ditaruh dimana seperti kata si Suseng tadi " Mengingat akan pelajar muda itu, tanpa terasa ia melirik pula kearahnya dan tertampak orang masih berpeluk tangan sambil
bersenyum saja menonton disamping.
Dasar watak Jun-yan memang tak mau dikalahkan orang, apalagi sejak kecil sudah dimanjakan sang guru, maka begitu ambil keputusan, segera ia membentak : "Nah, jika begitu, semuanya tinggalkan untuk nonamu disini!"
Habis itu, goloknya bergerak, selarik sinar hijau segera menyambar dari atas kebawah.
Cepat ketiga orang itu bersuit, lalu memencar tanpa balas menyerang.
Tapi orang yang berdiri ditengah-tengah tadi telah menjadi incaran Jun-yan, ia menyusul cepat dan mengirim tusukan dari samping. Lekas-lekas orang itu ayun toyanya untuk menangkis hingga menerbitkan suara gemerincingan.
Mendadak dari menusuk Jun-yan baliki golok pusakanya terus membabat kebawah, maka terdengarlah suara "creng"
yang keras, toya yang bertekuk tiga itu sudah kena ditabas kutung sebagian.
"Ha, benar-benar Pek-lin-to pusaka Khong tong-pay!" seru orang itu dengan muka berubah. Mungkin tadinya ia masih ragu-ragu apakah anak murid Khong-tong-pay bisa melakukan pembegalan.
Sementara itu Jun-yan telah tertawa dan berkata : "Nah, jika sudah kenal kelihayanku, tinggalkan barangmu, biar jiwamu nonamu ampuni!" sembari berkata, goloknyapun terus membacok dan membabat ber-runtun2 beberapa kali.
Sebenarnya ia tak faham To-hoat atau ilmu permainan
golok, gerak serangan ini hanya dia keluarkan berdasarkan
"Hui-hun-cio-hoat" atau ilmu pukulan awan mengapung yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dipelajari dari sang guru, gerakan enteng gesit, tipu serangannya cepat ganas, pula ketiga orang itu takut pada tajamnya golok itu, maka mereka jadi terdesak sampai mundur2 terus.
Melihat ada kesempatan, segera Jun-yan melompat
kedepan. Tatkala itu para pekerja perusahaan pengawalan itu lagi berdiri disamping kereta muatan buat menonton pertempuran dan kereta2 itu berhenti ditengah jalan raya, ketika Jun-yan menerjang kesamping kereta itu, sekali kakinya melayang, dua orang disitu segera terpental pergi. Menyusul mana Jun-yan cabut panji pertandaan diatas kereta itu dan sekali tekuk, ia patahkan panji itu menjadi dua terus dibuang sekenanya, habis itu goloknya untuk membacok kereta.
Keruan ketiga orang tadi sangat terkejut, berbareng
mereka memburu datang.
Mendengar dari belakang ramai dengan tindakan orang, tanpa berpaling lagi Jun-yan ayun goloknya terus membabat kebelakang dengan gerakan heng-hun-liu-cui atau awan meluncur air mengalir, tapi mendadak ia robah menjadi liu-hun-tui-gan atau awan meluncur mengejar belibis.


Pendekar Misterius Karya Gan K L di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dasar golok pusaka Pek-lin-to lebar dan panjang, maka seperti tangan si gadis bertambah panjang, dan pula
dimainkan dengan dasar "bui hun-cio-hoat", maka terdengarlah segera suara "creng-creng" dua kali, menyusul sekali lagi suara jeritan orang yang ngeri.
Setelah ini, barulah Jun-yan memutar tubuh, dilihatnya toya kedua lawannya sudah terkutung semua, seorang lagi
pundaknya terluka parah dan roboh ditanah. Nyata dalam dua jurus saja tiga orang lawan sudah dikalahkannya.
"Nah, bagaimana " Cukup tidak untuk maukan perahu
jamrudmu itu ?" jengek Jun-yan kemudian sembari acungkan goloknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi baru selesai ucapannya, tiba2 terlihat wajah ketiga orang itu mengunjuk rasa girang sembari berseru : "Sam-susiok !"
Menyusul mana lantas terdengar dibelakangnya ada suara orang tua yang serak sedang berkata : "Perahu jamrud itu berada padaku, jika nona mau boleh mengambilnya, mari!"
Cepat Jun-yan berpaling, maka terlihatlah diatas kereta piau sana entah kapan sudah berdiri seorang tua berpakaian ringkas.
Wajah muka orang tua ini aneh luar biasa, mukanya lebar, diantara kedua alisnya terdapat sebuah belang panjang bundar hingga nampaknya seakan-akan punya tiga mata, tangan dan kakinya pendek, tapi tanpa senjata. Kedua matanya bersinar tajam sedang memandangi Jun-yan.
"Hm", tiba2 kakek itu menjengek pula, "kau membawa Pek-lin-to kaum Khong-tong-pay, tapi terhadap Liok-hap-to-hoat sedikitpun tidak becus. Ketiga murid keponakanku itu kena kau kelabui, sebab menyangka kau adalah anak murid Khong-tong-pay dan rada mengalah, karena itu, apakah kau lantas anggap diri sendiri tiada bandingan dikolong langit ini ?"
Melihat macamnya orang, diam2 Jun-yan menduga orang
tua ini tentu yang disebut Sam bok-leng-koan Siang Lui, simalaikat bermata tiga. Pikirnya kebetulan, memangnya aku bertujuan menyohorkan nama, kenapa aku tidak coba-coba tempur tokoh terkenal ini "
Maka dengan tertawa dingin iapun menyahut : "Huh, kalau golok pusaka Khong-tong-pay saja sudah berada di tanganku, lalu apa kau tidak pikir baik2 dulu, tapi ingin cari penyakit ?"
Dengan kata2nya itu, ia seakan-akan maksudkan : jika golok pusaka Liok-hap-tong-cu Li Pong dari Khong-tong-pay saja dapat kurebut, lalu kau Sam-bok-leng-koan kira-kira bagaimana kalau dibandingkan Li Pong "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi Sam-bok-leng-koan Siang Lui justru bertabiat sangat keras, meski banyak sabar sesudah tua, namun tak tahan juga oleh kata2 pancingan si gadis, sekali menggereng tertahan mendadak orangnya mendoyong kedepan dengan kaki masih menancap diatas kereta, lalu tangan kanannya tiba2 diulur, jarinya bagai kaitan terus mencengkeram kepundak si gadis.
Melihat tangan orang pendek-pendek saja pula jarak
mereka lebih dari lima kaki, Jung yan menaksir pasti cengkeraman orang itu tidak sampai, maka ia anggap sepi.
Tak terduga, di waktu kecil Siang Lui bertiga pernah mendapat guru kosen dan masing-masing mendapatkan
pelajaran ilmu yang lihay, sejak masih muda Siang Lui sudah berhasil melatih ilmu "thong-pi-kong" atau ilmu lengan sakti, walaupun lengannya pendek, tapi bila dijulurkan buat mencengkeram, sekali lengan kiri sedikit mengkeret, segera lengan kanan memanjang lebih dari dua kali.
Karena tak ter-sangka2 akan kepandaian orang, hampir-hampir saja Jun-yan kena dicengkeram, cepat ia balikkan goloknya dengan tiy hun-li-yu-liong atau naga melayang didalam awan, segera ia bermaksud membabat lengan musuh.
Akan tetapi sudah terlambat, tahu-tahu goloknya telah kena tercengkeram, ketika Siang Lui gunakan jari telunjuknya terus menjentik, maka nadi tangan Jun-yan kena tertutuk, separoh tubuh si gadis terasa kaku kesemutan, tubuhnya pun ter-huyung2 mundur beberapa tindak dan golok pusaka Pek-lin-to sudah pindah ke tangan Siang Lui.
Ternyata sekali gebrak saja, segera golok pek-lin-to sudah dapat direbut Siang Lui, hal ini benar salah Jun-yan sendiri yang lengah, tapi kalau dibandingkan sungguh2, keuletan Siang Lui memangnya juga jauh diatas si gadis, seumpamanya sekali gebrak tak berhasil, dalam sepuluh jurus hendak merebut golok, rasanya juga tidak sulit baginya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah golok dirampas orang, Jun-yan berdiri tertegun ditempatnya tanpa berdaya.
Sementara itu Sam-bok-leng-koan Siang Lui telah berkata lagi dengan dingin : "Nah, perahu jamrud itu apakah nona masih inginkan pula ?"
Dibawah pandangan orang banyak, Jun-yan menjadi malu dan gusar, sesaat ia berdiri kaku tanpa bisa menjawab, dan selagi hendak nekad menubruk maju buat adu jiwa dengan Siang Lui, tiba2 terdengar suara "ting-ting" keleningan, Suseng menunggang keledai tadi tahu2 telah menyelak masuk kelingkaran orang banyak terus bersoja kepada Siang Lui.
"Sam-bok-leng-koan", sapa pemuda itu, "sudah lama namamu tersohor, kenapa harus main2 dengan seorang nona cilik" Jika melihat dia membawa Pek-lin-to, dengan sendirinya dia ada hubungan dengan Liok-hap-tong-cu janganlah sampai dari kawan nanti menjadi lawan ?"
Siang Lui tergerak hatinya oleh kata2 si pelajar, sahutnya :
"Lalu, dua orangku dicelakai, apa lantas selesai begitu saja?"
"Kejadian itu aku juga melihatnya tadi", kata Suseng itu pula. "Asalnya disebabkan kata-kata orangmu yang kasar hingga terjadi salah faham, maka menurut aku, tidakkah lebih baik dianggap selesailah sudah!"
Meski usianya muda, tapi caranya berkata ternyata seperti orang tua. Memangnya Jun-yan lagi serba susah, kini dapat diketengahi orang, hatinya benar2 berterima kasih.
Sesudah memikir sejenak, kemudian Siang Lui menjawab :
"Kata-katamu memang tidak salah, tapi golok ini harus ditinggalkan padaku biar kelak kalau pekerjaanku sudah selesai akan kuhantarkan sendiri ke Khong-tong san untuk diserahkan pada Li Pong!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar golok pusaka itu akan ditahan, Jun-yan menjadi gusar lagi dan segera hendak mendamprat, tapi suseng itu telah kedipi matanya mencegah, lalu terdengar ia berkata :
"Baiklah, begitu juga boleh!"
Habis itu, keledainya ia keprak mundur ke samping Jun-yan dan berkata pula :"Marilah kita pergi saja !" dan sedikit tubuhnya menggeser, tangannya diulur, tahu2 Jun-yan telah ditarik keatas keledainya, ketika suara keleningan berbunyi lagi, keledai itu segera pentang kaki berlari cepat, sekejap mata saja sudah jauh meninggalkan tempat itu.
Karena merasa terima kasih, maka Jun-yan pun tidak
anggap sembrono kelakuan Suseng itu, tanyanya kemudian :
"Belum lagi aku menanya namamu yang terhormat, banyak terima kasih atas pertolonganmu !"
Tiba2 suseng tertawa dan menjawab: "Keledaiku ini disebut
"oh-hun-hoan-hui" (mega hitam ber-gulung2), disebut juga
"soat-li-song-than" (menghantar orang dibawah salju), adalah binatang pilihan yang susah didapatkan, kalau siang bisa mencapai ribuan li, bila malam sanggup berlari ber-ratus2 li!"
nyata jawabannya menyimpang dari yang ditanya.
-0o0-dwkz-hendra-0o0-
Jilid 3 "HAHA, kau ini sungguh lucu, orang tanya namamu, tapi kau jawab tentang keledai!" kata Jun-yan sambil tertawa geli.
"Eh, kiranya nona menanya namaku yang rendah " Tapi
bukankah nona juga ingin tahu betapa bagusnya keledai ini, supaya kalau ada kesempatan lantas turun tangan
merampasnya" kata suseng itu mengunjuk heran.
Ternyata rahasia hati Jun-yan dengan tepat telah kena dibongkar oleh pelajar itu, keruan muka si gadis menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merah. Tapi iapun benar2 seorang gadis yang bersifat kekanak2an, segera iapun bertanya : "He, darimana kau tahu ?"
"Mudah saja", sahut suseng itu. "Aku melihat nona mengincar keledaiku terus ketika aku larikan dengan cepat, malahan nona berdiri keatas punggung kuda buat melihatnya, mengapa aku tak mengerti maksud nona?"
Mendengar itu Jun-yan semakin kikuk, diam-diam ia
merasa pelajar itu sangat menyenangkan, kalau melihat sifatnya yang ramah tamah tapi tentu juga orang kalangan Bulim, sudah tahu dirinya hendak mengincar keledainya, namun masih sudi menolong padanya, kalau dibandingkan, nyata dirinya yang terlalu tak berbudi. Karena pikiran ini, disamping berterima kasih, Jun-yan jadi menaruh hormat juga padanya.
Pesat sekali keledai itu berlari, tidak lama 40-50 li sudah dilalui, tiba2 suseng itu menahan keledainya, perlahan sekali tangannya mengebas, tiba2 Jun-yan merasa didorong oleh sesuatu kekuatan yang maha besar, tahu2 orangnya terpental dari punggung keledai terus berdiri tegak baik2 diatas tanah.
Sedang si gadis heran dan bingung sementara suseng itu sudah berkata: "Harap nona jaga diri baik2 dalam perjalanan selanjutnya, aku masih ada urusan lain, sekarang juga kumohon diri", ketika mengucapkan kata2 "mohon diri" itu, orang berikut keledainya sudah berada belasan tombak jauhnya.
Dengan ter-mangu2 Jun-yan terpaku ditempatnya, sampai bayangan orang sudah menghilang, barulah ia seperti tersadar dari impian. Aneh juga, hatinya yang selama ini tiada ganjelan, tiba2 timbul semacam perasaan kesal, ia merasa kalau bisa hendak menyusul suseng itu untuk diajak ngobrol, dengan begitu hatinya yang kesal akan terhibur.
Sesudah merenung sejenak, dengan masgul iapun
meneruskan perjalanannya. Petangnya, ia sampai disuatu kota
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan mendapatkan suatu penginapan, didalam kamarnya, ia masih merasa kesal, sembari bersandar pada jendela, ia memandang jauh keluar, pikirannya me-layang2 pada suseng tampan itu.
Pada saat itulah diluar terdengar suara ramai berisik, kiranya kereta barang Sam-thay Piaukiok itu juga menginap pada hotel yang sama, tapi Jun-yan tidak ambil pusing.
Malamnya sehabis dahar, kembali Jun-yan ter-mangu2
menghadapi pelita didalam kamar, sesudah capek akhirnya ia tidur. Tapi sebelum hari terang tanah ia telah mendusin. Diluar dugaan, ketika ia menggeliat bangun, se-konyong2 terasa angin lembut berkesiur, menyusul daun jendela berbunyi keriut sekali, dimana jendela terbuka se-akan2 ada seorang melompat keluar dengan cepat luar biasa terus menghilang.
Karena baru mendusin, matanya masih sepat, dan pula
gerakan orang itu hampir tiada mengeluarkan suara, hanya sekejap saja orang sudah menghilang, Jun-yan menjadi ragu2
akan pandangannya sendiri yang kabur, maka dengan sangsi ia rebahkan diri buat tidur pula.
Bila kemudian ia mendusin pula, ini disebabkan oleh suara orang yang keras bagaikan guntur sedang ber-cakap2 diluar kamar. Segera juga Jun-yan dapat mengenali itu adalah suaranya Sam-bok-leng-koan Siang Lui.
Sementara itu terdengar lagi Siang Lui membentak: "Bagus, kapal terbalik didalam selokan! kalian tidur dengan
mengelilingi kereta2 kawalan, masa tidur kalian sedemikian nyenyak seperti babi mati?"
Lalu seorang dengan suara gemetar, telah menyahut:
"Sung... sungguh kami ti... tidak merasa sa... sama sekali!"
"Hm", terdengar Siang Lui mengejek. "Jika manusia sembarangan rasanya tak berani membentur Sam-thaypiaukiok, bila bukan orang sembarangan, tak nanti berbuat secara sembunyi2. Coba periksa adakah sesuatu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tanda yang ditinggalkan, mungkin sobat baik siapa yang telah bergurau dengan kita!"
"Sudah kami periksa", sahut orang tadi, "tiada sesuatu tanda2 yang ditinggalkan, golok Pek-lin-to dan perahu jamrud itupun lenyap semuanya!"
"O, jangan2 Liok-hap tong-cu yang menyesali aku" Tapi rasanya tak mungkin dilakukan olehnya?" Ujar Siang Lui men-duga2 sendiri. Menyusul mana lantas terdengar suara
tindakannya yang mantap.
Rumah penginapan itu sebenarnya sudah kuno, dan
mungkin Sam-bok-leng-koan Siang Lui sudah gusar luar biasa, maka diwaktu berjalan tindakannya menjadi berat luar biasa, sampai hotel itu se-akan2 ikut tergoncang.
Mendengar percakapan itu, diam2 Jun-yan senang sekali, ia bersyukur Sam-bok-leng-koan ini bisa kehilangan barang2, benar2 Thian maha adil.
Segera ia hendak ber-kemas2 untuk keluar buat melihat apa yang sebenarnya sudah terjadi. Diluar dugaan, baru ia bangun berduduk, tiba2 dilihatnya golok pusaka Pek-lin-to justru terletak diatas mejanya dengan mengeluarkan sinar kemilauan, malahan disamping golok ada pula sebuah
bungkusan besar sepanjang hampir satu meter, cuma apa isinya belum diketahui.
Kembali Jun-yan ter-heran2. Pikirnya, golok ini sudah dua kali mendadak datang padanya, pertama kali terang direbut langsung dari tangannya Li Pong, dan kini terang dicuri kangzusi.com dari orang2nya Sam-thay Piaukiok ini, maka dapatlah dibayangkan betapa pandai orang yang
melakukannya ini, cuma entah mengapa selalu golok ini diserahkan pada dirinya "
Cepat ia melompat bangun sambil betulkan rambutnya
yang terurai, lalu membuka kain sutera bungkusan itu, meski didalamnya masih dibungkus lagi oleh selapis kertas, tapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
segera sudah kelihatan cahaya hijau yang menyilaukan. Ketika kertas dibuka, kiranya isinya adalah sebuah kapal kumala hijau yang diukir sebagai Liong-cun atau kapal naga, didalam kapal itu terukir pula berpuluh penumpangnya yang semuanya beberapa senti besarnya, tapi gayanya seperti hidup
sungguhan, benar2 semacam benda pusaka yang jarang
diketemukan dan harganya tak ternilai.
Dengan adanya benda itu, seketika Jun-yan malah menjadi terperanjat, lekas2 ia bungkus kembali kapal jamrud itu, dalam hatinya ia menjadi ragu-ragu dan serba salah.
Terang sudah baginya kapal jamrud itu adalah benda
kawalan Siang Lui yang memang nilainya tak terkatakan, jika ia ambil apa gunanya" Tadi Sam-bok-leng-koan Siang Lui marah2 diluar, tentu disebabkan kehilangan kapal ini, dan seharusnya sekarang juga ia kembalikan barang orang.
Tapi karena masih mendongkol kecundang oleh Siang Lui kemarin, jika bukan dilerai oleh suseng itu, entahlah bagaimana kesudahannya"
Kalau teringat si suseng itu, hati Jun-yan jadi tergerak, diam-diam ia memikirkan gerak-gerik pemuda yang
tampaknya lemah gemulai itu, tapi sebenarnya memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi, hal ini telah terbukti ketika ia dinaik-turunkan keledainya itu, bukankah dengan mudah suseng itu sedikit kebaskan tangannya. Maka terang sudah betapa tinggi tenaga dalamnya. Jangan2 dialah yang malam tadi menggerayangi barang kawalan Sam-bok-leng-koan Siang Lui sekedar untuk bergurau saja"
Karena kemungkinan itu memang ada, tanpa merasa hati si gadis berlaut-madu. Ia termenung-menung sendiri, kemudian golok pusaka Pek-lin-to ia masukkan kebungkusan kapal jamrut itu dan di luarnya dibungkus lagi dengan sehelai kain kasar, ia pikir biarkan Siang Lui kelabakan sendiri, toh dirinya tiada pekerjaan lain, mengapa kapal jamrud ini tidak kuhantarkan sekalian ke Sam-thay Piaukiok di Soatang "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sesudah ambil keputusan ini, segera ia angkat
bungkusannya, lalu hendak keluar kamar, tapi tiba-tiba dilihatnya diujung ranjangnya sana terdapat lagi secarik kertas putih, waktu ia menjemputnya dan dilihat, ternyata diatas-kertas itu tertulis dua huruf "Jing-kin" yang mencang menceng, gaya tulisannya mirip seperti apa yang diketemukan waktu pertama kalinya orang menghantarkan golok dulu.
Untuk sesaat Jun-yan tertegun, ia heran apakah artinya
"Jing-kin" ini" Ia pikir, hal ini mungkin harus ditanyakan pada suseng itu.
Tapi bila ia pikir lagi, tak mungkin orang yang pertama kali menghantarkan golok padanya itu adalah si suseng, sebab waktu itu kenal saja mereka belum, tentu percuma saja bertanya padanya.
Karena kenyataan yang bertentangan itu, hati Jun-yan menjadi bingung, dengan murung ia melangkah keluar
kamarnya hendak berangkat. Ia lihat Sam-bok-leng-koan Siang Lui sambil menggendong tangan lagi berjalan mondar-mandir di tengah ruangan hotel, mukanya mengunjuk rasa gusar, sedang orang2nya dan ketiga pembantunya yang
kemarin itu berdiri dipinggir, semuanya diam tak berani buka suara.
Tapi Jun-yan tak peduli, mendekati meja pengurus hotel dan berseru: "Hai, kuasa, ini rekening saya!" sembari berkata, ia letakkan serenceng uang perak di atas meja terus putar tubuh hendak pergi.
Diluar dugaan, mendadak dari samping tubuhnya angin
menyerempet lewat, tahu-tahu Siang Lui sudah menghadang diambang pintu sambil melototkan mata padanya.
"Hei, maukah kau minggir, aku masih ada keperluan harus lekas-lekas berangkat!" demikian Jun-yan mencoba berkata dengan sopan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siapa tahu Siang Lui terus memaki: "Budak maling!" habis itu, mendadak ia ulur tangan mencengkram kemuka si gadis.
Lekas-lekas Jun-yan melompat mundur menghindarkan
serangan itu. Sementara itu Siang Lui sudah berteriak-teriak lagi: "ayoh, kenapa kalian masih diam saja, kapal jamrud justru berada padanya!"
Jun-yan menjadi heran, dari manakah orang bisa tahu, dan bila ia memeriksa bungkusannya, barulah ia insyaf, kiranya dalam ter-gesa2nya waktu membungkus tadi, kain sutera pembungkus kapal jamrud itu ada sebagian terkacir keluar.
Karena perbuatannya sudah konangan, ia pun tak mau
unjuk kelemahan, cepat ia tarik Pek-lin-to dari bungkusannya terus mengayun kebelakang hingga orang2 yang mengepung di belakangnya itu terdesak mundur. Lalu dengan suara keras ia berseru :
"Sam-bok-leng-koan, katanya kau adalah Bu-lim cianpwe, kau tahu malu tidak ?"
Tapi Siang Lui sudah terlalu murka, mendadak ia
melangkah maju, tangan kiri mengebas kesamping sekuatnya, walaupun kebasan itu tidak langsung menyerang Jun-yan, tapi tiba2 si gadis merasa ada suatu tenaga yang maha besar seakan2 menyedot dirinya kesamping hingga hampir saja ia terjungkal, dan pada saat itulah, cepat sekali Siang Lui sudah baliki tangannya terus mencengkeram kemukanya lagi.
Tenaga kebasan Siang Lui itu sebenarnya bertujuan untuk membikin miring tubuh Jun-yan, menyusul terus
mencengkeram. Kalau tubuh Jun-yan sudah terhuyung-
huyung kesamping, maka pasti akan kena dicengkeram seperti sengaja memapakkan sendiri.
Dalam keadaan terancam, ternyata Jun-yan tidak kurang akal, mendadak ia jatuhkan dirinya kelantai dengan berduduk,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berbareng golok Pek-lin-to ia babatkan kedepan dua kali, habis itu, ujung golok ia tutulkan kelantai dan tubuhnya meloncat kesamping.
"Sam-bok-leng-koan", dampratnya, kemudian mengancam,
"Jika kau berani maju lagi, segera aku bacok kapal jamrud ini hingga hancur, coba kau mampu membunuh aku tidak?"
Siang Lui menjadi mati kutu, ia pikir, sekalipun gadis itu ia cincang, tapi kalau kapal pusaka itu sudah remuk, kemana harus dicari ganti benda yang tiada taranya itu"
"Lalu, kau mau apa?" tanyanya kemudian kewalahan, tapi dalam hati gusar tidak kepalang.
"Sebenarnya kapal jamrud ini aku tak inginkan,
cuma.......ah, meski aku ceritakan juga kau takkan percaya, lebih baik tak diceritakan", demikian sahut Jun-yan. "tapi golok ini biar tinggalkan padaku saja, nanti aku yang kembalikan pada Liok-hap-tong-cu!"
Sejak Sam-bok-leng-koan Siang Lui malang melintang di kangouw, belum pernah ia dibikin mendongkol seperti
sekarang ini. Maka sembari mendengar iapun sambil mencari akal. Ketika Jun-yan lagi senang2 hampir selesai mengucapkan kata2nya, mendadak Siang Lui menggertak: "Ngaco-belo!" dan sekali tubuhnya bergerak, secepat kilat ia menubruk maju, tangan kiri mengulur, seketika mulur hampir dua kali lipat, terus membalik hendak menampar muka si gadis.
Keruan Jun-yan terkejut, tapi cepat pula ia angkat goloknya buat menangkis. Namun tahu2 tangan kiri Siang Lui sudah mengkeret lagi, sebaliknya tangan kanan yang mulur terus memegang buntalan dipinggang si gadis, ia barengi
mendorong dengan tenaga dalamnya hingga gadis itu terhuyung2 kebelakang sambil berseru: "Sambuti!" dan segera orang2nya menyambut buntalan itu dengan hati2.
Merasa kecundang lagi, Jun-yan gusar tidak kepalang, sesudah berdiri tegak kembali, mendadak sinar tajam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkelebat, ia putar golok pusaka Pek-lin-to dan menghujani bacokan kepada Siang Lui.
Karena tidak bisa menggunakan golok, meski Jun-yan
mainkan dengan menurut ilmu pukulan "Hui-hun-cio-hoat"
namun tetap tak ungkulan melawan Siang Lui. Sesudah
beberapa jurus, ia sudah terdesak kalang kabut, keruan ia gugup dan sengit, permainan goloknya semakin cepat, ia menyerang mati2an tanpa pikir.
Tapi pada suatu saat, ketika Sam-buk-leng koan kebaskan lengan bajunya kedepan hingga angin kuat menyambar
pergelangan tangan, Jun yan merasa kesemutan hampir Pek-lin-to terlepas dari cekalannya. terpaksa ia melompat mundur, lalu putar golok semakin kencang.
Tampaknya bila empat-lima jurus lagi, pasti si gadis akan kecundang dan goloknya terampas, tiba2 terdengar diluar hotel itu ada suara orang berkata : "He, Li-heng didalam hotel ada orang lagi bertempur, sinar senjata itu tampaknya adalah senjatamu Pek-lin-to!"
Lalu suara seorang menjawab : "Benar, mari cepat kita melihatnya kedalam !"
Girang sekali Jun-yan mendengar suara orang2 itu. dalam seribu kerepotannya itu ia kenal suara orang pertama itu adalah Jing-ling-cu dan yang lain terang Liok-hap-tong-cu Li Pong adanya. Saking girangnya semangatnya terbangkit.
"ser-ser" dua kali ia ayun goloknya hingga Siang Lui terdesak mundur, dan pada saat itulah Jing-ling-cu dan Li Pong pun telah melangkah maju.
Ketika tiba2 melihat yang sedang bertarung itu satu
diantaranya ialah Lou Jun-yan yang memegang golok
pusakanya sambil memainkan jurus2 ilmu golok yang aneh lagi bertahan mati-matian, sesaat itu Li Pong tertegun. Tapi kemudian bila mengetahui lawan si gadis adalah Sam-bok-leng-koan Siang Lui, segera iapun terkejut. Lekas2 ia berseru:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tahan dulu, tahan dulu! Orang sendiri semua."
Namun Siang Lui sudah ketelanjuran murka, sesaat tak mudah untuk melerai, terutama bila mengingat si gadis segera dapat dilakukan.
"Berhenti dulu, Siang-heng!" teriak Li Pong pula.
"Dengarlah kataku, Siang-heng, anak dara ini adalah murid lo-Jiau, pikiran lo-Jiau (maksudnya Jiau Pek-king situa) biasanya sempit suka mengeloni murid sendiri, kenapa kau mesti cekcok dengan dia ?"
Jun-yan tahu persahabatan antara Liok-hap tong-cu Li Pong dengan gurunya sangat karib, asal dia ikut campur, betapa besarnya urusan pasti akan beres, maka hatinya menjadi lega.
Segera iapun berseru : "Awas, Li-sioksiok, dibelakang suhu kau berani merasahi, kalau pulang nanti, biar aku laporkan pada suhu, coba bagaimana kau akan bela diri?"
Sembari berkata, ia menjadi sedikit lengah, kesempatan itu segera digunakan Sam-bok-leng koan untuk menyerang
sambil berteriak : "Sebentar lagi, Li-heng, biar aku rebut dulu goloknya!" dan cepat sekali ia menabok kedepan, lalu tangannya menekan turun, lengan bajunya terus membelit hingga golok Pek-lin-to itu kena digulungnya sambil ditarik.
Keruan tangan Jun-yan menjadi kesemutan hingga
goloknya terlepas dari cekalannya.
Liok-hap-tong-cu Li Pong cukup kenal gurunya Jun-yan yang suka mengeloni muridnya pasti tak mau membiarkan muridnya dihina orang, dan jika sampai urusan makin meluas, kedua pihak sama-sama sahabat, tentu ia serba salah. Maka cepat ia menyelak ketengah sembari mengomeli si gadis :
"Jun-yan, makin lama kau semakin sembrono, Sam-bok-
leng-koan adalah Bu-lim-cianpwe, kenapa kau sembarangan bergebrak dengan dia " Nah, lekas kau minta maaf!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun Jun-yan masih penasaran, sahutnya: "Hm, kalau dia adalah Bu-lim cianpwe, seharusnya dia mempunyai sifat angkatan tua dari Bu-lim, kenapa dia berkeras menuduh aku yang telah mencuri kapal jamrudnya itu, tak sudi aku meminta maaf padanya!"
Li Pong benar2 kewalahan, maka dengan tertawa katanya kepada Sam-bok-leng-koan: "Lau Jiau orangnya aneh, murid ajarannya ternyata juga serupa!"
Kalau Li Pong berulang kali menyebut asal usul Lou Jun-yan perlunya biar Siang Lui mengetahui dan jangan coba terlibat permusuhan dengan Jiau Pek king yang disegani itu. Tak terduga, maksud baiknya itu berbalik jelek, Siang Lui menjadi salah paham malah, segera dengan tertawa dingin ia
menjawab: "Jau-li, budak ini kemarin membawa golok Pek-lin-to dari Kong-tong-pay kalian dan mematahkan tiga bendera pertandaan kami, waktu aku tinggal minum di belakang kangzusi.com hingga datang terlambat sedikit, ternyata daun telinga dua orangku sudah kena diirisnya. Tatkala mana ia sudah terang2an hendak merampas kapal jamrud itu, tapi melihat pertandaan golok pusakamu itu, aku hanya tahan goloknya dan biarkan dia pergi, siapa tahu semalam ia datang kembali untuk mencuri golok dan kapal, kalau bukan
bungkusannya kurang rapat hingga dapat kuketahui boleh jadi sekarang ia sudah kabur jauh2. Hm, kau jeri pada Jiau Pek-king, masakan kami juga takut padanya ?"
Mendengar lagu kata2 orang menjadi kurang senang juga kepadanya, Li Pong hanya tersenyum saja, sahutnya : "Siang-heng, gadis ini meski nakal, tapi tentang merampas barang kawalanmu, mungkin belum tentu berani melakukannya."
Tapi Siang Lui makin gusar, "plok" mendadak ia gebrak meja hingga meja itu amblong suatu lubang besar, berbareng tangan lainnya pun mengayun, Pek-lin-to yang dirampasnya ia tancapkan keatas meja, lalu katanya dengan sengit :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak, budak ini takkan kulepaskan pergi, sesudah aku selesai hantarkan barangku, aku sendiri akan mengirimnya kembali ke Jing-sia san untuk menanya pada Jiau Pek-king cara bagaimana mengajar murid. Jika kau merasa kurang senang, terserahlah kau bila mau membelanya!"
Melihat Siang Lui ternyata bermaksud menawan si gadis, Li Pong cukup kenal akan watak Jun-yan yang tentu takkan mau turut. Tapi tabiat Siang Lui juga keras luar biasa, apa yang dikatakannya kembali, maka ia menjadi serba salah untuk sesaat itu.
"Li-sioksiok?" tiba2 Jun-yan berseru, "orang itu menantang kau, masa kau tidak berani" Ciangbunjin dari Khong-tong-pay janganlah sampai dibikin malu orang!"
Li Pong menjadi geli dan mendongkol, omelnya: "Jun-yan, jangan sembarangan omong !" habis itu ia coba kedipi Jingling-cu.
Imam itu faham akan maksud sang kawan, maka cepat ia menyela: "Siang-heng, kalau barang kawalanmu belum
sampai hilang, kenapa mesti sepikiran seperti bocah ini"
Biarkanlah dia pergi!"
"Boleh juga, asal dia menjura tiga kali meminta maaf padaku", sahut Siang Lui marah2.
"Kent....." segera Jun-yan hendak mendamprat, tapi belum lagi ucapannya selesai, tahu-tahu Sam-bok-leng-koan Siang Lui sudah melesat kedekatnya dimana tangannya sampai,
"koh-ceng-hiat" dipundak si gadis telah kena ditutuknya.
Namun cepat Jun-yan dapat menyalurkan tenaga
mematahkan tutukan itu, lalu teriaknya :
"Bagus, Li-sioksiok, kau tinggal peluk tangan saja tidak mau menolong, ya" Masa keparat ini menuduh aku merampok, lantas kau mau percaya ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Li Pong tahu didalam urusan ini tentu ada hal2 yang ber-belit2, tapi Siang Lui sudah ketelanjur bergusar sungguh2, rasanya susah mau beres begitu saja, maka cepat ia
menyahut : "Jun-yan, lekaslah kau pergi saja. Disini masih ada aku!"
"Bagus, Lau-Li, beginilah baru benar-benar tegas", teriak Siang Lui tiba-tiba dengan bergelak tertawa. "Dengan kata-katamu ini, putuslah persahabatan kami tiga saudara dengan pihak Khong-tong-pay kalian". Habis berkata, mendadak tangannya bergerak membalik dengan ilmu thong-pi-kang, tiba-tiba lengan kanannya seakan-akan mulur lebih panjang terus menggaplok ke dadanya Li Pong.
Cepat Li Pong berkelit dan gunakan satu tipu Liok-hap-cio-hoat untuk mematahkan serangan Siang Lui itu. Dalam hati diam2 ia mengeluh. Ia cukup kenal Siang Lui bertiga saudara perguruan itu semuanya berwatak keras berangasan. Ketika melihat Siang Lui hendak buka serangan pula dan Jun-yan masih belum mau pergi, tiba2 hatinya tergerak, cepat ia berseru; "Nanti dulu Siang-heng, dengarlah kata2ku".
"Apalagi?" jengek Siang Lui.
Tapi Li Pong terus menanya si gadis: "Golok Pek-lin-to itu cara bagaimana bisa jatuh di tanganmu, Jun-yan?"
Maka berceritalah si gadis apa yang dialaminya didalam hotel serta cara bagaimana golok Pek-lin-to itu tahu2 sudah berada disamping bantalnya hingga batang hidungnya
hampir2 pesek terpapas.
"Siang-heng", kata Li Pong sesudah merenung sejenak, setelah mendengar penuturan Jun yan, "urusan ini memang rada aneh, sesungguhnya Jun-yan tak bisa disalahkan." Lalu iapun menuturkan pengalamannya ketika bertemu si-orang aneh dirimba tempo hari dan menyambungnya pula: "Setelah aku melanjutkan perjalanan ke Lo-seng-tian, sampai disana barulah aku mengetahui golokku sudah hilang tanpa aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasa. Melihat gelagatnya, terang dilakukan oleh manusia aneh itu. Maka hendaklah Siang-heng jangan salah sangka pada orang lain".
Namun Siang Lui tidak mau mudah percaya, bukankah
sudah terang2an ia melihat Jun yan yang hendak membawa pergi kapal jamrudnya yang dicuri orang malam2 itu " Maka dengan tertawa dingin ia menjawab : "Liok-hap-tong-cu, biasanya kami tiga saudara selalu pandang kau sebagai seorang laki2 sejati, siapa tahu kaupun tak bertulang, berani pada yang lemah, takut pada yang jahat!"
Betapa sabarnya Li Pong, akhirnya menjadi kurang senang oleh olok2 Siang Lui ini, katanya segera : "Siang-heng, telah kukatakan bahwa anak dara ini adalah muridnya Lau Jiau, maksud baikku kenapa kausalah artikan?"
Siang Lui menjadi gusar. "Aku justru ingin tahu betapa lihaynya Thong-thian-sin-mo", sahutnya. "Jika ternyata kau begitu karib dengan dia, nah, silahkan kau pergi
memberitahukan padanya, bahwa didalam dua bulan, pasti kami bertiga saudara akan membawa murid mustikanya ini ke Jing-sia-san untuk mencarinya".
Melihat urusan makin lanjut makin runyam Jing-ling-cu cukup kenal watak Siang Lui yang gopoh, tentu susah dilerai, boleh jadi nanti dua bulan lagi amarahnya sudah hilang dan percekcokan inipun dapat didamaikan, maka cepat ia memberi tanda pada Li Pong.
Li Pong tahu maksud kawan itu, maka katanya pada si
gadis: "Jun-yan, sebenarnya kau juga salah mematahkan panji pertandaan orang. Sam-bok-leng-koan ingin kau ikut padanya, dalam dua bulan, kau akan dihantar pulang ke Jing-sia-san, baik kau terima saja, nanti tiba waktunya, tentu kita akan selesaikan urusan ini."
Semula Jun-yan berniat melancong di kang ouw, dengan sendirinya sangat berat kalau disuruh pulang. Tapi bila
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengingat Liok-hap-tong-cu berada dalam keadaan serba salah, kenapa mesti bikin susah padanya, masa nanti di tengah jalan aku tak bisa meloloskan diri" Maka segera ia mengangguk. "Baiklah, Li-sioksiok, masa aku takut padanya?"
Tapi masih kuatir terjadi apa2 atas diri si gadis, maka ia berkata pula: "Jangan kuatir, Sam-bok-leng-koan adalah angkatan tua, tak nanti dia bikin susah padamu."
Dengan kata2 ini, ia telah cegah lebih dulu agar Siang Lui sebagai orang tua tak nanti merecoki seorang muda. Habis ini, bersama Jing ling-cu mereka lantas berlalu.
"Jangan kau coba melarikan diri!" kata Siang Lui gemas kepada Jun-yan, lalu perintahkan orang2nya berangkat.
Jun-yan tidak gubris akan kata2 orang, bahkan terus
melengos dengan sikap memandang hina. Keruan Siang Lui ber-jingkrak2, tapi sebagai seorang tua, tidak pantas juga bertengkar terus dengan seorang muda, terpaksa ia menahan gusar pergi mengatur pemberangkatan kereta-keretanya.
Tidak lama, iring2an kereta kangzusi.com sudah
meninggalkan kota kecil itu, Siang Lui dan Jun-yan
menunggang kuda mengikuti dari belakang, diam2 Sam-bok-leng-koan me-nimang2, Thong-thian sin-mo Jiau Pek-king itu benar2 lihay, tiga saudara maju sekaligus belum tentu sanggup melawannya, rasanya didalam dua bulan ini mesti mengundang lagi bala bantuan. Sampai disini ia menjadi agak menyesal juga akan keburu nafsunya menimbulkan
percekcokan ini.
Sebaliknya Jun-yan sendiri lagi memikirkan bagaimana caranya meloloskan diri, malahan sebelum kabur, Siang Lui harus diberitahukan dulu, barulah mendongkolnya bisa terlampias. Tapi apa daya, jika bertempur terang2an takkan berhasil. Lalu akal apakah yang harus dipakai"
Malamnya, mereka menginap dihotel lagi. Siang Lui
mengirim dua orangnya menjaga di luar kamar Jun-yan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena itu si gadis menjadi mati kutu. Jika ia terjang keluar, tapi kemudian dibekuk kembali oleh Siang Lui, bukankah akan membikin malu saja "
Ia menjadi kesal hati, ia rebahan diranjangnya, tanpa terasa ia terpulas. Sampai tengah malam, tiba2 terdengar berkesiurnya angin, samar-samar terasa suatu bayangan berkelebat di depannya. Ia menyangka pandangan sendiri menjadi kabur, cepat ia bangun, tiba2 berjangkit lagi kesiurnya angin, menyusul daun jendela berkedut dan
terpentang, satu bayangan orang secepat terbang sudah melayang keluar.
Jun-yan kucak2 matanya, kemudian ia menegasi pula, dan memang jendela kamarnya sudah terpentang. Ia menjadi ingat kejadian malam kemarin yang mirip dengan barusan ini.
Pada saat itulah, lantas terdengar suara bentakan orang diluar : "Budak liar, jangan lari!" Menyusul suara itu, segera seorang menjerit di barengi suara gemerentang jatuhnya senjata.
Jun-yan dapat mengenali suara jeritan itu adalah suara orang yang dikirim Siang Lui untuk mengawasi dirinya itu, dan bayangan orang yang begitu cepat dan gesit itu siapa gerangannya" Mungkinkah sipelajar penunggang keledai berjari tunggal itu"
Sedang memikir, tiba2 didengarnya lagi suara bentakan Siang Lui yang keras, menyusul mana ada orang sedang melapor dengan gemetar: "Susiok, Loji dan Losam telah terbinasa!"
Jun-yan terkejut, betapa lihaynya cara turun tangan orang itu"
Dalam pada itu Siang Lui hanya menjengek tanpa
menyahut, mendadak Jun-yan dikagetkan oleh suara "blang"
yang keras, sekonyong-konyong pintu kamarnya kena didepak terpentang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cepat ia bangkit berduduk, dengan suara keras ia
membentak : "Siapa?"
Tadinya Siang Lui menyangka kalau si gadis telah lari sehabis membunuh orang, ia mendepak pintu kamar yang untuk melampiaskan amarah saja, kini mendengar Jun-yan masih berada didalam kamar, seketika ia melengak, tapi terpaksa ia menyahut: "Aku !"
Tiba2 Jun-yan tergerak pikirannya, ia pura2 mendamprat :
"Tengah malam buta kau dobrak kamarku ada apa " Katanya angkatan tua Bu-lim, kenapa kelakuanmu begini rendah ?"
Betapapun Siang Lui memang seorang kesatria, kena
digertak demikian, ia menjadi mengkeret dan lekas2 undurkan diri sambil menggerutu didalam hati akan kelicikan si gadis.


Pendekar Misterius Karya Gan K L di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sebaliknya diam2 Jun-yan tertawa geli.
Karena kematian dua murid keponakannya, dan pula
dirinya kena di-olok2 si gadis, sungguh Siang Lui gusar tidak kepalang. Besoknya di waktu meneruskan perjalanan, diam2
ia mengambil ketetapan akan mengundang semua kawan
yang dahulu pernah bertengkar dengan Jiau Pek-king untuk mendatangi Jing-sia-san dan menentukan unggul atau asor dengan iblis itu, lalu Jun-yan juga akan dicincangnya pula.
Melihat sikap orang, Jun-yan tahu Siang Lui sudah
membencinya tujuh turunan, tapi dasar jahil, dalam
perjalanannya ia justru sengaja pakai macam2 cara untuk bikin marah Siang Lui hingga tokoh ini semakin geregetan.
Untuk selanjutnya Siang Lui tidak mengirim orang untuk menjaganya lagi, sebenarnya kalau mau Jun-yan sudah bisa melarikan diri. Tapi sekarang justru ia berbalik pikiran, ia tidak mau tinggal pergi. Maka tiada beberapa hari akhirnya sampailah mereka diperbatasan daerah Ciatkang, kalau Siang Lui sudah selesaikan barang hantarannya di Hengciu, ia lantas bisa pulang ke Soatang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Selama beberapa hari terakhir ini, setiap tengah malam tentu ada satu orang yang diam2 masuk kamar Jun-yan.
Setiap malam si gadis juga melihat bayangan orang, tapi asal sedikit ia bergerak, segera orang itu melompat keluar jendela dan menghilang untuk malam berikutnya datang lagi. Betapa cepat gerakan orang itu, benar2 sukar dilukiskan. Tidak peduli betapa perlahan Jun-yan bergoyang, segera orang itu
mendapat tahu dan lantas melesat pergi.
Suatu malam, sengaja Jun-yan mengincar orang, pura2
pejamkan mata menantikan datangnya orang. Betul juga, tengah malam orang itu melayang masuk kekamarnya lagi, karena gelap gulita, maka muka orang itu tak tertampak jelas, hanya perawakannya cukup besar, terang seorang laki2.
Sesudah, masuk kekamar, orang itu terus berdiri kaku didepan ranjang Jun-yan hingga tanpa merasa si gadis merinding. Diam2 ia pikirkan ilmu silat yang luar biasa itu, kalau orang bermaksud jahat, untuk mencelakai dirinya adalah terlalu mudah, tetapi setiap malam hanya datang, lalu pergi lagi, entah apa yang hendak diperbuatnya " Agaknya yang dua kali membawakan golok Pek-lin-to, tentulah orang ini tak salah lagi.
Jun-yan men-duga2 siapakah gerangan orang ini, mulanya ia sangka si pelajar berjari tunggal itu, tapi lantas terpikir olehnya mungkin sang guru yang telah turun gunung dan secara diam2 melindungi dirinya" Namun bila dipikir lagi, rasanya hal itu tidak mungkin.
Ketika dilihatnya orang itu masih berdiri terpaku, sekonyong2 ia melompat bangun terus menubruk kearah orang.
Ia menaksir dengan tubrukannya secara mendadak itu tentu orang akan kena dicengkeramnya. Siapa tahu ia hanya tubruk tempat kosong saja. Terdengar dua kali suara "plak-plak", kedua tangannya telah menghantam diatas meja, sedang disampingnya angin berkesiur perlahan, ketika ia menoleh, orang itu sudah menghilang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keruan Jun-yan tambah curiga, cepat ia menyalakan
lentera, ia lihat keadaan kamarnya tiada tanda2 aneh. Ketika ia hendak matikan lentera untuk tidur lagi, sedikit menunduk, mendadak dilihatnya permukaan meja yang tadinya rata mengkilap itu, kini nampak benjal-benjol seperti terukir tulisan. Waktu ia angkat lentera memeriksanya, ternyata diatas meja itu terukir beberapa hurup yang mencang-mencong, semuanya bertuliskan "Jing-kin". Ukiran ini sedalam hampir setengah senti, licin halus, tanpa ada tanda-tanda bekas korekan senjata, terang asal goresan dengan jari, dan tempat dimana orang tadi berdiri tepat berdekatan dengan meja ini, maka dapat diduga tentu dilakukan orang itu, betapa tinggi ilmu silatnya, sungguh bikin orang tercengang.
"Jin-kin, Jin-kin", tanpa terasa Jun-yan menyebut nama itu.
Ia pikir tentu ini nama seorang wanita, tapi apa hubungannya dengan diriku" Kenapa diwaktu orang hantarkan golok dan kapal jamrud itu selalu disertai secarik kertas yang bertuliskan kedua hurup itu"
Ia tak bisa pulas lagi, ia coba merenungkan pengalamannya selama ini, tiba2 ia teringat orang aneh yang dilihatnya di Lo-seng-tian dan selalu menguntitnya dalam perjalanan itu. Ia menjadi bergidik bila mengingat betapa seramnya muka orang aneh itu, ia coba lupakan orang, tapi makin hendak
melupakan, semakin teringat.
Teringat olehnya kelakuan orang aneh itu Pek-lin-to diminta Liok-hap-tong-cu Li Pong tidak boleh, tapi rela diserahkan padanya. Ketika dirinya berkata ingin memiliki golok pusaka itu, tahu2 besoknya senjata sudah berada di samping
bantalnya. Ketika terjadi pertengkaran dengan orang Sam-thay Piaukiok, pernah dirinya berteriak ingin mereka tinggalkan kapal jamrud, eh, tahu2 besok paginya benda itu dihantarkan kepadanya. Maka dapatlah dipastikan,
kesemuanya itu dilakukan si orang aneh itu. Tapi sebab
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
apakah orang aneh itu sedemikian menurut pada kata2nya serta berbuat apa yang dapat memenuhi keinginan batinnya"
Makin dipikir, makin Jun-yan tidak mengerti. Pikirnya lagi, jika begitu naga-naganya, terang orang aneh itu senantiasa berada disekitarnya, mungkin sekarang juga masih berada disitu, kenapa aku tidak menjajalnya lagi, apa dugaannya itu sesuai dengan kenyataannya "
Maka ia mendekati jendela, ia lihat diluar sana sunyi senyap, maka ia menggumam sendiri : "Ai, kapal jamrud itu benar2 sangat mungil dan indah, kalau besok pagi sudah sampai di Hangciu, tiada kesempatan untuk menikmatinya lagi, alangkah baiknya jika malam ini aku dapat
memainkannya benda itu sejenak !" Habis berkata, ia tutup daun jendelanya dan merebahkan diri buat tidur lagi.
Tidak lama kemudian,
mendadak diluar terdengar
suara bentakan Siang Lui yang
keras : "Siapa kau ?" menyusul
terdengar suara "blang" yang
keras, lalu Siang Lui berteriak
lagi : "Kau adalah sobat dari
gadis mana ?" Tapi tiada suara
orang menyahut, sebaliknya
terus berkumandang suara
kangzusi.com gedubrakan yang
gaduh. Maka dalam sekejap
saja hotel itu menjadi kacau
balau semua orang keluar
untuk melihat keramaian.
Jun-yan bergirang dan terkejut. Terkejutnya karena orang yang selalu mengintil itu ternyata benar si orang aneh yang menyeramkan. Girangnya sebab dugaannya ternyata tepat.
Maka cepat iapun membuka pintu kamar, ia lihat dibawah sorot obor, orang aneh itu sudah hancurkan sebuah kereta
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
muatan hingga benda mustika berantakan berserakan ditanah, tersorot oleh sinar api, benda2 berharga itu memancarkan sinar kemilauan yang indah. Sedang kapal jamrud itu tampak sudah dikempit oleh si orang aneh.
Kedua mata Siang Lui se-akan2 memancarkan api saking murkanya, dengan senjatanya "Hok-mo-kim-kong-co" atau gada penakluk iblis yang diputar sedemikian kencangnya, ia terus memburu. Begitu hebat tenaganya hingga meja kursi, tembok dan pintu berantakan kena dihantam senjatanya itu.
Belum pernah Jun-yan melihat Siang Lui memakai
senjatanya itu. Mungkin melihat si orang aneh itu terlalu tangguh baginya, maka "Malaikat bermata tiga" ini sekarang merasa perlu keluarkan senjata andalannya. Tapi orang aneh itu seperti tidak mau terlibat dalam pertempuran, hanya berkelit kian kemari dibawah sambaran gada orang, dan sedikitpun Siang Lui tak bisa menyentuh padanya.
Ber-duyun2 begundalnya Siang Lui juga merubung datang dengan senjata lengkap, tapi ketika melihat macamnya orang aneh yang menakutkan, yang bernyali kecil segera bergidik, apalagi suruh maju mengeroyok"
Dalam keadaan ribut2 itu, tiba2 diantara penonton itu ada satu orang berteriak: "Wah, celaka, hancur semua, hancur semua!"
Terkesiap hati Jun-yan mendengar suara itu, ketika ia berpaling kearah suara itu, benar juga dilihatnya sisuseng berjari tunggal itu lagi berjingkrak2 kegirangan oleh peristiwa itu. Ketika melihat Jun-yan berpaling, ia membalasnya dengan seulas senyuman.
Sementara itu Siang Lui memutar gadanya semakin
kencang, ditambah ilmu "Thong-pi-kang" yang lihay, tapi sesudah 30-40 jurus sedikitpun masih belum bisa menyentuh tubuh orang aneh itu. Diam-diam ia apa mau percaya apa yang diceritakan Li Pong tempo hari ternyata tidak omong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kosong belaka, betapa hebat ilmu silat orang aneh ini, benar-benar susah diukur. Tapi sekali gebrak saja hampir pundaknya kena dihajar orang, melihat serangan orang aneh ini, terang ilmu pukulan geledek "Pi-lik-jiu" dari keluarga In di Holam, tapi sekarang melihat gerak tubuhnya yang enteng, tampaknya dari aliran lain lagi. Dan karena sudah lama masih belum bisa mengalahkan lawan, hati Siang Lui menjadi gugup. Makin lama ia menjadi semakin kalap, saking sengitnya ia memutar gadanya hingga penonton terpaksa menyingkir mundur oleh angin gambarannya.
Melihat pertarungan yang susah dilerai itu jika diteruskan entah bagaimana akhirnya, maka cepat Jun-yan berseru :
"Sudahlah, berhenti, berhenti !"
Mendengar suara Jun-yan, orang aneh itu tampak tertegun sejenak hingga gerak tubuhnya agak merandek, kesempatan itu telah digunakan Siang Lui untuk mengemplang dengan gadanya. Saat itu kedua tangan si orang aneh itu lurus kebawah tanpa ber-jaga2, jika kemplangan itu kena
kepalanya, jangankan manusia, sekalipun batu juga akan hancur lebur.
Keruan Jun-yan terkejut, ia menjerit kaget sambil menekap mulutnya. Tapi pada saat itulah, sampai Siang Lui sendiri tidak jelas bagaimana jadinya. tiba2 pandangan semua orang seakan2 kabur, mendadak orang aneh itu ulurkan tangan
kirinya, secepat kilat gada Siang Lui sudah kena ditangkapnya.
Cepat Siang Lui menarik sekuatnya, tapi sedikitpun lawan tak bergeming, lekas2 ia gunakan ilmu "Thong-pi-kang"
mendorong kedepan, tapi masih tetap tak bisa membuat orang aneh itu bergerak malahan lengannya sendiri hampir2
patah, keruan terkejutnya tidak kepalang.
Ketika tiba2 orang aneh itu menarik kebawah, menyusul disengkelit kesamping, maka terasa oleh Siang Lui suatu tenaga yang amat besar menubruk kedadanya hingga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cekalannya menjadi kendor, gadanya telah kena dirampas orang, sedang tubuhnya akhirnya ter-huyung2 kebelakang terus jatuh terduduk. Sejak ia unjuk diri di kangouw, belum pernah mengalami kekalahan sehebat ini, dalam masgulnya ia membentak pula:
"Tinggalkan namamu sobat!"
Akan tetapi orang aneh itu hanya sedikit mengapkan
mulutnya yang sudah tidak utuh lagi dan mengeluarkan semacam suara yang menggoncangkan sukma, se-konyong2
gada yang dirampasnya itu ditimpukan ketanah hingga amblas sedalam setengah gada itu, lalu berjalan ke arah Lou Jun-yan.
"Terima kasih atas maksud baikmu", kata Jun-yan ketika melihat orang aneh itu mendekatinya.
Tiba2 orang aneh itu taruh kapal jamrud itu ditangan Jun-yan, sekali melesat, mendadak meloncat keluar secepat terbang.
"He, nant...." Jun-yan hendak meneriakinya, tapi orang sudah sampai diluar dan sekejap mata saja sudah menghilang.
Menyaksikan semua itu, Sam-bok-leng-koan Siang Lui
benar2 terkejut, iapun tahu bukan tandingan orang. Maka ia berbangkit buat kembali kekamarnya.
"Orang she Siang", tiba2 Jun-yan menegurnya sembari meletakkan kapal jamrud yang diterimanya dari si orang aneh itu keatas meja, "barangmu ada disini, apa kau kira aku benar2 menginginkannya" kau sendiri yang menjaganya masih dapat dibegal orang, kalau panji Sam-thay Piaukiok kalian telah kupatahkan, rasanya tidak berlebihan. Sekarang apa kau masih akan menggiring aku kembali ke Jing-sia-san?"
Siang Lui sudah lesu sekali, ia hanya kebas tangannya dan menyahut: "Bolehlah kau pergi, dalam dua bulan, biar aku pergi menemui gurumu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Haha, berani mengaku kalah, masih terhitung seorang laki2 sejati!" Jun-yan meng-olok2 sembari tinggalkan pergi.
Baru saja ia melangkah keluar pintu, segera dilihatnya sisuseng berjari tunggal itu lagi menggapai padanya. Cepat ia mendekatinya. "Tabah benar nona" puji pelajar itu dengan tertawa.
Biasanya mulut Jun-yan cukup tajam, tapi aneh,
menghadapi suseng ini, mukanya menjadi merah, hatinya ber-debar2, sekejappun tak sanggup buka suara, sampai lama sekali baru ia menjawab : "Ah, kau terlalu memuji saja !"
"Disini bukannya tempat bicara, bila nona tidak menolak, marilah kita tinggalkan tempat ini", ajak suseng itu tiba2.
Aneh juga, Jun-yan benar2 kesemsem oleh pemuda ini,
maka ia hanya mengangguk setuju. Segera mereka
mendatangi kandang kuda, suseng itu menuntun keluar
keledainya, mereka berdua menunggangi satu keledai terus dilarikan keluar kota.
"Siapakah she nona yang terhormat ?" tanya suseng itu sesudah sampai ditempat yang sepi.
"She Lou, bernama Jun-yan..." ia merandek lalu pikirnya hendak balik menanya : "Dan kau ?" Namun aneh, ia menjadi tak enak mengucapkannya. Ia sendiri heran mengapa bisa malu2 kucing begini.
"Nona Lou", kata suseng itu pula, "orang aneh yang mirip mayat hidup itu, pernah apa dengan kau?"
"Tidak pernah apa2 denganku", sahut Jun-yan. Lalu menyambungnya pula: "Tapi kalau diceritakan, agak panjang juga!"
"Tidak apa, lihatlah, dibawah sinar bulan yang indah, kita menunggang diatas satu keledai, sekalipun kau bercerita sebelum setahun, akupun takkan bosen, makin jelas ceritamu, makin baik", ujar suseng itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Senang sekali hati Jun-yan oleh rayuan pemuda itu. Tanpa pikir lagi, segera ia tuturkan pengalamannya selama itu. Ketika selesai ceritanya, hari sudah remang2, subuh sudah tiba.
Karena sejak tadi tidak mendengar suara sisuseng, maka Jun-yan berpaling memandang orang, ia lihat wajah si pelajar itu mengunjuk rasa heran dan girang bukan buatan, ia menjadi heran, tanyanya: "Eh, hal apa yang membuat kau begini gembira?"
"Ah, tidak apa2", sahut suseng itu tertawa.
"Aku hanya terlalu kagum terhadap ilmu kepandaian orang aneh yang tinggi itu. Nona Lou, apakah kau tahu, sebab apakah ia selalu tunduk dan menurut pada perintahmu?"
"Ya, aku sendiri tidak mengerti kelakuannya yang aneh itu", sahut Jun-yan. "Orang itu mahir ilmu silat dari berbagai cabang aliran, sesungguhnya susah dipercaya."
Suseng itu termenung sejenak, tiba2 bertanya pula:
"Sekarang tujuan nona hendak kemana?"
"Memangnya aku tidak mempunyai tujuan, cuma Sam-bok-
leng-koan itu bilang dalam dua bulan ini akan mencari suhu ke Jin-sie, bila aku tidak hadir hingga suhu mau percaya atas obrolan mereka sepihak, kelak pasti aku akan didamprat habis2an".
"Nona Lou," ujar suseng itu. "Sam-bok-leng-koan bertiga tidak nanti berani mendatangi gurumu, tentu mereka akan mengundang banyak tokoh2 Kangouw lainnya untuk mana
sedikitnya akan makan waktu sebulan, dan selama sebulan ini, aku ingin minta sesuatu bantuan, entah kau sudi tidak."
"Silahkan berkata", sahut Jun-yan. Betapa tidak, sejak si gadis merasa orang sudi menolong hindarkan dirinya dari kesulitan, dalam hatinya sebenarnya sudah berbenih asmara, ia justru berharap setiap hari bisa berdampingan dengan sipemuda.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku ingin minta nona bikin perjalanan bersamaku ke Hun-kui (Hunlam dan Kuiciu), dalam sebulan, tentu kita bisa kembali", sahut suseng itu.
"Tentu saja aku iringimu", sahut si gadis. Dalam hati ia memikir, meski tidak bisa kembali dalam sebulan juga aku tidak menyesal. Karena pikiran ini, wajahnya menjadi merah.
Maka sambil mengucapkan terima kasih, segera suseng itu keprak keledainya terlebih cepat ke arah barat.
Jun-yan duduk didepan orang, maka tidak mengetahui
gerak gerik sisuseng yang waktu itu sebenarnya lagi tengak tengok kebelakang, maksudnya ialah ingin tahu apakah orang aneh yang berilmu silat tinggi, tapi sangat menurut pada Jun-yan itu, apakah mengintil dibelakang. Namun ia agak kecewa, sebab satu bayanganpun tidak kelihatan.
Dalam perjalanan selama setengah bulan, dasar gadis
remaja mudah terpikat, tanpa merasa Jun-yan telah jatuh kedalam jaring2 cinta, ia merasa setiap gerak-gerik suseng tampan itu sangat menarik. Hanya satu hal yang belum diketahuinya, ialah setiap kali ia menanya nama dan asal usul suseng itu, orang selalu menjawabnya samar2 dan
membilukan pembicaraan. Karena melihat kedua tangan orang tak berjari, kecuali jari tengah tangan kanan dan memakai sebuah selongsong emas yang ber-kilat2, maka ia
memanggilnya "It-ci Toako" atau engko berjari satu, tapi pemuda itupun mau menyahutnya.
Suatu hari, selewatnya Kuiciu, tibalah mereka diwilayah Hunlam. Tempat dimana mereka lalui, kedua samping adalah lereng2 gunung hanya di-tengah2nya suatu jalan yang tidak terlalu besar.
Daerah Kuiciu dan Hunlam terhitung dataran tinggi yang banyak lereng pegunungan, penduduknya jarang, tempatnya penuh rahasia. Sebab itu banyak pula binatang2 aneh yang tak dikenal namanya, dan karena jarang melihat manusia,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maka bila ketemu orang, binatang itupun tidak takut2.
Sungguh tidak Jun-yan duga bahwa tempat yang mereka
datangi ini ternyata indah permai tidak kalah dengan pegunungan Jing sia tempat kediaman gurunya. Ditambah lagi bikin perjalanan dengan suseng itu, maka hatinya selalu riang gembira.
Sesudah sehari pula, sampai petangnya, tiba2 mereka
melihat di tepi jalan terdapat sebuah gardu istirahat yang kecil. Didalam gardu itu berduduk dua orang wanita yang berdandan sebagai suku Biau (Miao), yang satu sudah nenek keriput, sedang lainnya gadis jelita.
Kulit badan gadis itu putih laksana salju, tapi diantara putih itu bersemu ke-hijau2an seperti bukan manusia hidup. Namun ketika kedua bola matanya mengerling, menimbulkan rasa senang bagi orang yang memandangnya.
"A Siu, siapakah orang yang datang ini ?" tanya sinenek itu dengan suara tertahan ketika mendengar Jun-yan dan suseng itu mendekati gardu.
"Entah siapa, belum pernah kenal" sahut si gadis dengan wajah heran sesudah memandangi kedua orang.
Barulah kini Jun-yan berdua memperhatikan bahwa nenek itu adalah seorang buta. Tiba2 suseng itu merosot dari keledainya, dengan jari tunggal ia gantol semacam benda kehitam2an yang diambil dari bajunya, lalu disodorkan sambil bertanya : "Apakah aku berhadapan dengan Tiat hoa-popo "
periksalah ini !"
Jun-yan tidak jelas benda apa yang diangsurkan sisuseng itu, cuma dalam hati ia merasa heran untuk apa It-ci Toako ini bersalaman dengan orang Biau dan memanggilnya Tiat-hoa-po po atau nenek bunga besi segala.
"A Siu, coba kau ambilkan," terdengar nenek tadi berkata.
Lalu si gadis Biau tampak bisik-bisik beberapa kali dalam bahasa mereka. Karena kepalanya bergerak, maka anting2
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
besar di telinganya ikut bergoncang tiada hentinya. Kemudian nenek itu per-lahan2 telah berbangkit.
Karena tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan,
maka Jun-yan berdiam diri saja, tapi perhatiannya tidak lepas dari gerak-gerik wanita2 Biau itu, yang menurut kabar, suku Biau pandai main guna2 dan meracun, mungkinkah mereka akan mencelakai engko jari satunya" Karena pikiran ini, maka ia hendak mendekati kearah mereka bertiga.
Tapi tiba2 dilihatnya sisuseng telah menoleh sambil
memberi tanda padanya supaya Jun-yan diam2 saja, terpaksa si gadis urungkan niatnya, meski hatinya penuh tanda tanya.
Sesudah Tiat-hoa-popo berdiri, ia ambil benda dari tangan sisuseng serta di-raba2nya dengan teliti. Barulah sekarang Jun-yan dapat melihat jelas bahwa benda itu berbentuk bunga seruni yang terbuat dari besi.
Setelah me-raba2 sebentar, terdengar nenek itu bersuara puas, lalu katanya : "Betullah, nah pergilah, kiri tiga, kanan tujuh, timur tiga belas, dan barat delapan belas !"
Jun-yan menjadi bingung oleh istilah2 itu, tapi sisuseng meng-angguk2 dan menyahut : "Banyak terima kasih atas petunjuk Popo !"
Baru saja mereka putar tubuh hendak berlalu, tiba2 si gadis jelita tadi memandang tajam kearah Jun-yan dan bersuara :
"Tiat-hoa-popo !"
"Ada apa ?" nenek itu menjawab. Tapi si suseng itu sudah keburu kedipi si gadis sembari jari tunggalnya itu
menggandeng sebelah tangan orang.
Gadis itu menjadi ragu2 sejenak, tapi akhirnya ia berkata pula pada sinenek: "Tidak apa2, aku hanya panggil biasa saja!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Segera sisuseng itu menarik gadis jelita ini kepinggir dan berbisik: "A Siu, terima kasih kau tidak menceritakan pada Tiat-hoa-popo."
Tapi gadis itu tidak menjawab, hanya mengebas tangannya dengan muka merah jengah, ia melirik sekilas pada sipemuda lalu menunduk.
Melihat itu, perasaan Jun-yan menjadi kecut. Namun
sisuseng sudah menaiki keledainya dan melanjutkan
perjalanan. Sesudah jauh tak tahan lagi segera Jun-yan menanya: "It-ci Toako, tadi nenek itu bilang tentang kiri-kanan-timur-barat, apa2an itu?"
"Ia menunjukan suatu tempat tujuan kita, yaitu didepan sana yang disebut Bwe-ho-cap-peh-tong. Tempat itu sangat sulit didatangi karena jalannya yang me-lingkar2 bagai jaring laba-laba, maka apa yang dikatakan nenek itu tadi yalah langkah2 kemana kita harus membalik sesudah sampai
dipersimpangan jalan."
Masih Jun-yan belum faham, tanyanya pula: "Lalu untuk apa sesudah sampai disana?"
"Kita bicarakan kalau sudah sampai disana," sahut si suseng.
Kembali jawaban demikian yang diperoleh, Jun-yan menjadi uring2an. Sepanjang jalan ia sudah sering tanya, dan selalu mendapat jawaban yang sama, padahal ia justru sangat ingin tahu. Maka omelnya: "Aku minta sekarang juga kau
terangkan, bila tidak, biar aku kembali saja." Habis berkata, ia pura2 hendak merosot kebawah keledai.
Diam2 si suseng rada kuatir, maka terpaksa katanya:
"Tujuan kita menyangkut urusan besar. Kita berada ditanah Biau, mereka ada peraturan yang menentukan orang tidak boleh sembarangan omong. Maka nona, haraplah kau sabar dulu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jun-yan serba salah, kalau melihat sikap pemuda ini, tampaknya bukan pura2. Maka sesudah berpikir, katanya kemudian: "Jika begitu, masa namamu juga tidak boleh kuketahui" Apakah selama hidup aku harus memanggil It-ci Toako?" Sesudah mengucapkan ini, barulah teringat olehnya agak ketelanjuran hingga mukanya menjadi merah.
Namun suseng itu tampaknya lagi susah oleh recoknya, maka tidak memperhatikannya, dan sahutnya: "Soalnya
karena namaku tak sedap didengar, maka tidak ingin kau tahu. Baiklah kukatakan, aku she Ti, bernama Put-cian (tidak cacat)".
Mendadak Jun-yan tertawa. "Namamu tidak cacat, tapi
jarimu justru bercacat, kesembilan jarimu itu...." Sebenarnya ia hendak bertanya mengapa jarimu itu putus, tapi belum terucapkan, tiba2 teringat seseorang olehnya hingga tanpa terasa ia berseru: "He, Kanglam-it-ci-seng, kau adanya?"
"Benar", sahut sisuseng mengangguk.
Jun-yan coba meng-amat2i orang sejenak, kemudian
menggumam sendiri: "Kau adalah Kanglam-it-ci-seng" Ah, bukan, bukan! Tentu memalsukan namanya!"
"Lalu, macamnya Kanglam-it-ci-seng itu dalam
bayanganmu, seharusnya bagaimana, nona?" tanya Ti Put-cian tertawa.
"Aku tidak pernah melihatnya, tapi. . . . tapi. . . ."
Sebenarnya ingin bilang: "tapi betapapun juga takkan secakap macam suseng muda seperti kau ini!" cuma kata2 ini tak enak diutarakan.
Rupanya Ti Put-cian dapat meraba dugaan orang, maka
katanya: "Ha, dalam bayangan nona, Kanglam-lt-ci-seng yang terkenal jahat itu tentu berwujut seorang yang kepalanya sebesar gantang, mata sebesar mangkok, ditambah lagi hidungnya sebesar kentongan, mulut sebesar baskom, penuh berewok macam singa, bukan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jun-yan terkikih geli oleh kata2 itu, sahutnya: "Tak peduli apa dia singa atau macan, sekalipun kau benar Ti Put-cian, masakan aku takut padamu" Berani kau menyentuh seujung rambutku?"
Kiranya nama "Kanglam-lt-ci-seng Ti Put-cian" atau si pemuda jari tunggal dari kanglam itu sangat disegani orang Bu-lim. Pada jari satu-satunya itu terpasang segolongan emas yang bisa mulur mengkeret dan khusus dipakai untuk
mematuk, ilmu yang menjadi kemahirannya. Tindak
tanduknya kejam, ganas dan tak pilih bulu. Sebab itulah Jun-yan mulai meragukan kebenaran Kanglam-it-ci-seng
kangzusi.com yang tersohor sebagai momok itu bisa berupa seorang suseng tampan, malahan diam2 ia sendiri telah jatuh hati padanya.
"Sudahlah, jangan2 kita akan kesasar", kata Ti Put-cian kemudian sambil tertawa.
Karena benih cinta telah tumbuh pada orang dengan
sendirinya yang terpikir olehnya hanya mengenai hal2 yang baik, maka Jun-yan menjadi lupa namanya lebih jauh soal tadi. Sebaliknya Ti Put-cian sedang memperhatikan jalan yang mereka lalui itu, haripun mulai gelap. Dan sesudah melingkat kian kemari, akhirnya terdengar Ti Put-cian berkata : "Sudah sampai !"
Segera hidung Jun-yan mengendus bau harum bunga Bwe, sejauh mata memandang, pepohonan jarang2, tetapi bunga2
mekar mewangi ditambah bulan baru menyinari malam nan indah itu. Jun-yan benar2 kesemsem akan keadaan waktu itu.
Ketika tiba2 mendengar pemuda itu bilang sampai, ia
memandang kearah barat, ia lihat tidak jauh sebuah tebing curam tegak berdiri, tampaknya satu jalan buntu, maka jawabnya : "It-ci Toako, jalan sana buntu, jangan-jangan nenek itu salah menunjukkan jalan ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak, Bwe-hoa-cap-peh-tong memang melingkar-lingkar tempatnya, jika orang kesemsem akan pemandangan
sekitarnya, tentu dia akan kesasar", sahut Ti Put-cian.
Mereka terus menuju ketebing curam itu, sesudah dekat, tampaklah di bawah semak-semak rotan pegunungan situ terdapat sebuah gua, setelah memasuki gua itu dan berbiluk-biluk didalamnya, akhirnya menembusi perut pegunungan itu dan sampai disuatu lembah dengan lima gua yang lebih besar.
Ketika beberapa gua dilewati pula dan sampai digua
kedelapan belas, jauh-jauh sudah terdengar didalam perut gunung itu suara tambur dipukul riuh ramai mengejutkan orang.
"Sampailah tempat tujuan kita", kata Ti Put-cian akhirnya.
Mendengar sudah sampai, segera Jun-yan mengamati
tempat itu, ia lihat didekat gua sana tumbuh beberapa pohon Bwe dengan bunga sebesar mangkok dan ranting2nya yang lebat. Suara tambur itu berkumandang terus dari dalam gua.
Ti Put cian melepaskan keledainya agar pergi makan
rumput sendiri, lalu Jun-yan diajaknya mendekati pintu gua.
Ternyata gua itu berpintu besi yang sangat lebar dan setinggi lebih dua tombak hingga nampaknya sangat megah.
Lalu suseng itu mengeluarkan bunga seruni besi dari
bajunya dan mengetok beberapa kali pada pintu besi. Melihat itu, hati Jun-yan penuh tanda tanya, namun ia coba menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tidak lama, pintu besi itu terdengar berbunyi, tampak satu lubang kecil terpentang dari lubang itu. Ti Put-cian angsurkan bunga seruni besi. Sebentar kemudian, pintu besi itu terbuka, didalam gua itu gelap gulita, Jun-yan kencang2 menggendoli lengan si pemuda dan ikut masuk kedalam.
"It-ci Toako, kemanakah kita ini ?" tanya pula Jun-yan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Didepan ada orang mengunjukan jalan bagi kita, sebentar lagi tentu kau akan jelas melihatnya", sahut Ti Put-cian.
Tak lama kemudian, karena sudah biasa dalam kegelapan, samar2 Jun-yan dapat melihat di depan betul saja ada dua orang Biau yang tegap bertombak sedang menunjukan jalan.
Sesudah beberapa jauhnya, di depan terdapat pintu besi semacam itu. Suatu saat Jun-yan merasa angin silir berkesiur lewat disampingnya.
Tepat pada saat itulah, tiba2 Ti Put-cian berpaling
menanya: "Jun-yan, sepanjang jalan, apakah kau merasa bahwa manusia aneh itu terus mengintil di belakangmu?"
"Barusan saja terasa angin lewat menyambar disampingku, apakah kau tidak berasa ?" sahut Jun-yan. "Gerak gerik orang aneh itu tidak bersuara, tapi menimbulkan kesiurnya angin, tampaklah dia sudah pasti. Ia ikut kemari, tidak berhalangan bukan?"
"Tidak apa2, bahkan itulah yang kita harap", sahut Ti Put Cian. "Jun-yan, sebentar nanti kalau terpaksa, aku ingin minta bantuanmu, hendaklah kau jangan menolak".
Jun-yan tidak tahu bantuan apa yang orang harapkan
darinya, tapi iapun menjawab : "Jangan kuatir !"
Pada saat itulah, tiba2 pandangan mereka terbeliak, suara tamburpun semakin keras terdengar. Ternyata mereka sudah berada di-tengah2 sebuah lembah pegunungan yang
sekelilingnya diapit oleh lereng2 tebing yang tinggi dan curam.
Tanah mangkok lembah itu seluas kira-kira dua ha dan tandus tak tertumbuh apapun, malahan dibawah sinar bulan
nampaknya halus licin, kecuali dapat dimasuki melalui pintu2
besi dalam gua tadi, agaknya burung sekalipun tak dapat masuk ketempat ini.
Di-tengah2 tanah lapang itu terdapat sebuah batu besar setinggi tiga kaki dan lebarnya lebih dua tombak persegi, permukaan batu rata gelap, nyata sebuah meja batu buatan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
alam. Di atas meja batu itu waktu itu ada seorang Biau dengan bagian atas badan telanjang hingga tampak kulitnya yang ke-hitam2an, sedang memukul tambur se-kuat2nya
hingga air keringatnya bertetes-tetes.
Disekitar batu besar itu banyak orang yang sedang duduk mengitari, ada suku Biau sendiri, juga ada bangsa Han.
Didepan batu besar itu terdapat tujuh kursi yang diatur berderet, semuanya masih lowong. Dekat dengan dinding tebing sana beberapa ratus orang Biau memegangi obor besar hingga lembah itu tersorot terang benderang bagai siang hari.
Diam2 Jun-yan memikir mungkin ini pertengahan bulan, tentu orang2 Biau lagi mengadakan perayaan apa2. Maka iapun tidak banyak tanya, kemana Ti Put-cian pergi ia mengikut kesitu. Sesudah hampir mengitari tanah lembah itu, kemudian Ti Put-cian memilih suatu tempat yang longgar dan berduduk, tempat itu kira2 beberapa tombak jauhnya dari meja batu tadi, maka Jun-yan pun berduduk disamping
kawannya ini. Ketika tanpa sengaja ia berpaling, tiba2 ia berseru kaget: "He, hidung kerbau! Kaupun berada disini?"
Lekas2 Ti Put-cian menjawil si gadis dan membisikinya:
"Ssst, jangan bersuara Jun-yan!" Namun seruan Jun-yan tadi meski tak keras, tapi karena waktu itu hanya suara tambur saja yang berdentang, semua orang lagi menanti dengan berdiam, maka yang berdekatan dengan Jun-yan lantas
banyak yang berpaling kearahnya.
Sebab itu, Jun-yan menjadi makin heran. Kiranya tadi diantara orang2 itu ia telah melihat Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin juga berduduk disana, sebab itulah ia berseru kaget. Tapi kini ketika banyak orang berpaling kearahnya, ia menjadi melihat pula diantaranya bukan saja terdapat Tong-ting-hui-hi Bok Siang-hiong, bahkan si orang aneh juga tertampak berduduk tidak jauh dari dirinya dan kepalanya tertutup selapis kain.
Pendekar Sadis 15 Pendekar Gila Karya Cao Re Bing Kisah Si Pedang Terbang 2
^