Pencarian

Hina Kelana 12

Hina Kelana Balada Kaum Kelana Siau-go-kangouw Karya Jin Yong Bagian 12


Tiba-tiba terpikir oleh Lenghou Tiong, "Betapa pun dia toh tidak mau membunuh aku, maka akulah yang bebas untuk menyerangnya tanpa memikirkan keselamatanku, aku hanya menyerang saja tanpa menjaga, tentu hal demikian akan menguntungkan aku."
Maka dengan tertawa ia lantas melangkah maju, katanya, "Sungguh kuat sekali tenaga pukulan Dian-heng tadi."
"Ah, hendaklah dimaafkan," sahut Dian Pek-kong.
"Tapi tulang igaku mungkin sudah patah beberapa buah," ujar Lenghou Tiong sambil maju lebih mendekat. Sekonyong-konyong pedangnya berpindah tangan terus menusuk.
Serangan kilat ini benar-benar sukar diduga sebelumnya. Keruan Dian Pek-kong kaget, sementara itu ujung pedang sudah dekat dengan perutnya. Dalam seribu kerepotannya sekuatnya ia jatuhkan diri ke belakang terus menggelinding ke samping. Namun Lenghou Tiong sudah lantas mengejar dan melancarkan beberapa kali serangan. Tentu saja Dian Pek-kong kelabakan dalam keadaan merebah.
Tampaknya kalau Lenghou Tiong menyerang lagi beberapa kali tentu Dian Pek-kong akan terpantek di atas tanah oleh pedangnya. Tak terduga mendadak sebelah kaki Dian Pek-kong telah menendang sehingga pergelangan tangan Lenghou Tiong kesakitan dan pedang terlepas, menyusul kaki Dian Pek-kong yang lain mendepak pula dan tepat mengenai perut Lenghou Tiong, kontan ia jatuh terjengkang.
Cepat sekali Dian Pek-kong lantas melompat bangun dan menubruk maju, goloknya lantas mengancam di depan leher Lenghou Tiong, katanya dengan tertawa dingin, "Hm, keji amat ilmu pedangmu, hampir saja jiwaku melayang. Sekali ini kau takluk atau tidak!"
"Tentu saja tidak," sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. "Kita telah berjanji bertanding senjata, tapi tangan dan kakimu ikut maju, ya hantam ya tendang, apakah ini masuk hitungan?"
"Biarpun hantaman dan tendangan tadi dihitung juga belum ada 30 jurus," sahut Dian Pek-kong sambil tertawa dingin dan menarik kembali goloknya.
Segera Lenghou Tiong melompat bangun, katanya dengan gusar, "Biarpun ilmu silatmu tinggi dan mengalahkan aku dalam 30 jurus, lantas mau apa" Kalau mau bunuh boleh bunuh, mengapa kau mengejek" Jika mau tertawa boleh tertawa, kenapa mesti tertawa dingin?"
"Teguran Lenghou-heng memang benar, akulah yang salah, dengan tulus hati aku minta maaf," sahut Dian Pek-kong sambil memberi hormat.
Lenghou Tiong melengak malah, sama sekali tak terduga bahwa sebagai pihak yang menang Dian Pek-kong malah mau minta maaf padanya. Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa di balik sikapnya itu pasti mempunyai tipu muslihat tertentu. Karena sukar memperoleh kesimpulan, sekalian Lenghou Tiong lantas bertanya secara blak-blakan. Katanya, "Dian-heng, ada sesuatu yang sukar dimengerti bagiku, entah Dian-heng sudi memberi keterangan atau tidak."
"Tiada sesuatu bagiku yang perlu dirahasiakan, baik membunuh orang maupun memerkosa dan merampok, kalau berani berbuat ya berani mengaku, buat apa mesti menyangkal?" sahut Pek-kong.
"Bagus, jika demikian, jadi Dian-heng adalah seorang laki-laki tulen yang suka terus terang."
"Istilah 'laki-laki tulen' tak berani kuterima, paling aku hanya seorang hina yang dapat pegang janji saja," ujar Pek-kong dengan tertawa.
"Hehe, tokoh macam Dian-heng jarang juga diketemukan di dunia Kangouw," kata Lenghou Tiong. "Sekarang aku numpang tanya, kau telah sengaja memancing kepergian guru dan ibu-guruku, lalu datang ke sini dan memaksa aku ikut pergi padamu, sebenarnya mau ke mana dan untuk urusan apa?"
"Sejak tadi sudah kukatakan bahwa aku mengundang kau pergi bertemu dengan Gi-lim Siausuthay untuk sekadar memenuhi rasa rindunya."
"Tidak mungkin, urusan ini terlalu lucu dan aneh, Lenghou Tiong toh bukan anak kecil, masa dapat percaya ocehanmu ini."
Dian Pek-kong menjadi gusar, serunya, "Aku memandang kau sebagai kesatria sejati, sebaliknya kau tetap anggap aku sebagai jahanam yang kotor dan rendah sehingga apa yang kukatakan sama sekali kau tak percaya" Memangnya ucapan ini bukan ucapan manusia" Nah dengarlah, bila orang she Dian ini omong kosong, biarlah kau anggap lebih rendah daripada binatang."
Melihat ucapannya yang sungguh-sungguh itu, mau tak mau Lenghou Tiong percaya juga. Katanya dengan heran, "Soal Dian-heng mengangkat guru kepada Nikoh kecil itu kan cuma kelakar saja, mengapa jauh-jauh kau sengaja datang kemari untuk mengundang aku demi kepentingannya?"
Dian Pek-kong menjadi kikuk, sahutnya, "Dalam hal ini tentu saja masih ada soal lain."
Tiba-tiba terpikir oleh Lenghou Tiong urusan cinta memang sukar diceritakan, jangan-jangan Dian Pek-kong benar-benar kesengsem kepada Gi-lim yang cantik molek itu sehingga dari maksud jahatnya telah berubah menjadi maksud baik. Segera ia tanya, "Apakah barangkali Dian-heng telah jatuh cinta sungguh-sungguh kepada Gi-lim Sumoay dan kau telah memperbaiki tingkah lakumu yang dahulu?"
"Ah, mana bisa jadi, janganlah Lenghou-heng sembarangan omong," sahut Pek-kong.
Lenghou Tiong lantas teringat kepada kejahatan yang baru saja dilakukan Dian Pek-kong di kota Tiang-an dan Yen-an, masakah penjahat demikian dapat berubah dalam sekejap" Rasanya tidak mungkin. Maka ia lantas tanya, "Habis ada soal lain apakah, mohon Dian-heng memberi tahu."
"Soal ini menyangkut kesialanku, buat apa kau bertanya terus?" sahut Pek-kong. "Pendek kata, bila aku tak berhasil mengundang kau turun gunung, sebulan kemudian tentu aku akan mati dengan tubuh membusuk tak terkatakan."
Lenghou Tiong terkejut, tapi lahirnya ia pura-pura tidak paham. Tanyanya, "Mana bisa demikian?"
Tiba-tiba Dian Pek-kong membuka baju sehingga kelihatan dadanya, diperlihatkannya dua titik merah sebesar mata uang di bawah kedua teteknya, lalu berkata, "Aku telah diracun orang dan dipaksa datang ke sini untuk mengundang kau agar menemui Gi-lim Siausuthay. Jika tak berhasil mengundang kau, sebulan kemudian kedua titik merah ini akan mulai membusuk dan terus menjalar ke seluruh tubuh dan tak ada obatnya lagi. Setelah tiga setengah tahun barulah akan mati membusuk. Maka maklumlah sekarang, dengan pengakuanku yang terus terang ini bukan maksudku hendak minta belas kasihanmu, tapi agar kau tahu betapa pun kau menolak undanganku pasti juga akan kupaksa. Bila kau benar-benar mau ikut pergi, segala perbuatan apa pun juga dapat kulakukan. Biasanya aku memang sudah berbuat segala kejahatan, apalagi sekarang dalam keadaan kepepet, apa yang harus kupikirkan pula?"
Diam-diam Lenghou Tiong percaya apa yang diceritakan itu. Ia pikir kalau dapat mengulur waktu sampai lebih dari sebulan, tanpa dibunuh juga maling cabul yang terkutuk ini akan mati dengan sendirinya. Maka dengan tertawa ia berkata, "Sungguh jail sekali orang yang meracuni Dian-heng itu. Entah Dian-heng terkena racun apa, boleh jadi masih ada obat pemunahnya, coba terangkan."
"Tentang pemberi racun itu tak perlu dibicarakan lagi," sahut Pek-kong. "Pendek kata, bila aku benar-benar tak berhasil mengundang kau turun gunung, kalau aku mati, maka kau pun takkan kubiarkan selamat."
"Ya, sudah tentu. Tapi Dian-heng harus mengalahkan aku secara jantan sehingga aku takluk lahir batin. Dengan demikian mungkin aku akan ikut kau turun gunung. Untuk ini silakan kau menanti lagi sebentar, aku akan masuk ke dalam untuk memeras otak lagi."
Sesudah berada di dalam gua belakang, kali ini yang diperiksanya adalah ukiran ilmu pedang Thay-san-pay. Ia merasa ilmu pedang itu toh tiada sesuatu yang luar biasa. Tapi tiba-tiba ia tertarik pada cara lawannya yang memainkan tombak pendek untuk mengalahkan ilmu pedang Thay-san-pay itu. Makin diperhatikan makin tertarik, sampai selang berapa lama pun tak diketahuinya. Baru kemudian didengarnya suara Dian Pek-kong sedang berkaok-kaok di luar gua, maka cepat ia berlari keluar untuk bertempur pula.
Sekali ini Lenghou Tiong sudah berpengalaman, ia tidak menghitung jurus keberapa lagi, tapi begitu gebrak segera ia menyerang dengan penuh tenaga. Dian Pek-kong juga tak berani ayal demi melihat setiap kali masuk gua, setiap kali pula Lenghou Tiong mendapat kemajuan.
Pertarungan cepat itu dalam sekejap saja entah sudah berlangsung berapa jurus. Tiba-tiba Dian Pek-kong melangkah maju, secepat kilat pergelangan tangan Lenghou Tiong telah kena dipegang olehnya terus ditelikung, ujung pedang lantas mengancam di tenggorokan dan membentak, "Kembali kau kalah lagi!"
Walaupun tangannya kesakitan karena ditelikung, tapi mulut Lenghou Tiong tetap tak mau kalah, jawabnya, "Tidak, bukan aku, tapi kaulah yang kalah!"
"Mengapa aku yang kalah malah?" tanya Dian Pek-kong dengan gusar.
"Sebab jurus ini adalah jurus ke-32," kata Lenghou Tiong.
"Jurus ke-32" Mana bisa" Kau toh tidak menghitungnya," ujar Pek-kong.
"Aku memang tidak bersuara menghitung, tapi menghitungnya secara diam-diam di dalam batin. Dengan terang gamblang jurus terakhir ini adalah jurus ke-32," bantah Lenghou Tiong. Padahal sama sekali ia tidak pernah menghitung. Apa yang dikatakan hanya bualan belaka.
Dian Pek-kong melepaskan tangan Lenghou Tiong, lalu berkata, "Tidak bisa. Jurus pertama tadi adalah begini, aku menangkis dengan demikian, lalu kau menyerang lagi dengan begini dan ...." begitulah ia terus mengulangi jurus pertarungan mereka tadi dan ternyata semuanya betul, sampai akhirnya waktu tangan Lenghou Tiong kena dipegang baru jurus ke-28 saja.
Keruan kagum Lenghou Tiong tak terkatakan atas daya ingatan lawannya, mau tak mau ia memuji, "Ingatan Dian-heng memang benar-benar hebat. Kiranya akulah yang salah hitung. Biar kumasuk sebentar untuk memeras otak lagi."
"Nanti dulu!" tiba-tiba Dian Pek-kong mencegah. "Sebenarnya ada rahasia apakah di dalam gua ini. Apakah di situ tersedia kitab pelajaran ilmu silat yang tinggi" Mengapa setiap kali kau keluar selalu bertambah dengan macam-macam jurus serangan baru?"
Sembari berkata, segera ia hendak masuk ke dalam gua.
Tentu saja Lenghou Tiong terkesiap, jika gambar ukiran dinding itu sampai dilihatnya, tentu urusan bisa runyam. Tapi dia sengaja memperlihatkan air muka girang dan sekejap saja ia lantas pura-pura berlagak khawatir pula, katanya sambil pentang kedua tangannya, "Apa yang tersimpan di dalam gua adalah kitab-kitab pusaka perguruan kami, Dian-heng adalah orang luar, kau dilarang masuk."
Melihat perubahan air muka Lenghou Tiong yang cepat itu, Dian Pek-kong menjadi curiga, mengapa mula-mula pemuda itu bergirang lalu pura-pura khawatir dan merintangi dengan tujuan aku memaksa menerjang ke dalam gua. Padahal di dalam gua mungkin terdapat perangkap dan benda lain yang bisa bikin celaka padaku. Tapi masakah aku gampang ditipu"
Begitulah, biarpun ilmu silat Dian Pek-kong jauh lebih tinggi, tapi bicara tentang tipu akal memang Lenghou Tiong lebih licin. Dia sengaja main pura-pura dan sungguh-sungguh sehingga Dian Pek-kong tertipu, akhirnya dia tidak berani masuk gua.
Demikianlah beberapa kali Lenghou Tiong telah masuk keluar gua lagi dan telah banyak mempelajari macam-macam jurus serangan yang aneh, tapi tetap tak mampu bertahan lebih dari 30 jurus. Sebaliknya Dian Pek-kong semakin curiga, dia tidak paham mengapa setiap keluar kembali dari gua tentu kepandaian Lenghou Tiong bertambah dengan jurus-jurus serangan yang aneh dan lihai.
Sementara itu sudah lewat tengah hari, untuk sekian kalinya kembali Dian Pek-kong berhasil mengalahkan Lenghou Tiong. Tiba-tiba terpikir olehnya ilmu pedang yang dimainkan Lenghou Tiong barusan ini adalah Ko-san-kiam-hoat, sebelumnya dia telah memainkan ilmu-ilmu pedang dari Heng-san-pay, Thay-san-pay dan lain-lain. Wah, jangan-jangan di dalam gua banyak berkumpul jago-jago dari Ngo-gak-kiam-pay yang telah mengajarkan kepandaian mereka kepada Lenghou Tiong. Untung tadi ia tidak jadi menerjang ke dalam, kalau tidak tentu aku bisa mati konyol.
Lantaran berpikir demikian, tanpa merasa ia lantas tanya pula, "Mengapa mereka tidak keluar saja?"
"Siapa tidak keluar?" tanya Lenghou Tiong bingung.
"Mereka, para tokoh angkatan tua di dalam gua yang mengajarkan ilmu pedang padamu itu, suruhlah mereka keluar untuk coba-coba kepandaianku."
Untuk sejenak Lenghou Tiong melengak, tapi segera ia paham apa yang dipikir oleh Dian Pek-kong, dengan terbahak-bahak ia berkata, "Para Locianpwe itu merasa ... merasa enggan untuk bergebrak dengan Dian-heng. Tapi jika Dian-heng ada minat boleh saja silakan masuk ke dalam untuk minta belajar kepada belasan Locianpwe itu. Kukira beliau-beliau itu pun rada menghargai ilmu golok Dian-heng."
"Hm, kaum Locianpwe apa" Paling-paling adalah orang-orang yang bernama kosong saja," jengek Dian Pek-kong. "Kalau tidak, mengapa berulang kali kau telah diberi petunjuk toh sampai saat itu kau belum mampu melawan diriku lebih dari 30 jurus?"
Dengan mengandalkan Ginkangnya yang lihai, Dian Pek-kong pikir biarpun sekaligus belasan tokoh itu membanjir keluar juga tak mampu mengejar diriku apabila aku tak sanggup melawan mereka. Apalagi kalau benar angkatan tua dari Ngo-gak-kiam-pay, mereka tentu menjaga harga diri dan tidak sudi main kerubut.
"Soal aku tak bisa melawan dirimu adalah karena aku sendiri yang bodoh, hendaklah Dian-heng hati-hati sedikit dan jangan sembarangan bicara, bila sampai membikin marah mereka, asal salah seorang Cianpwe itu mau turun tangan, tak usah tunggu sebulan lagi kau akan mati dengan badan membusuk, sebentar saja jiwamu sudah bisa dibikin melayang di puncak gunung ini."
"Coba terangkan, Cianpwe siapa-siapa saja yang berada di dalam gua itu?" tanya Dian Pek-kong.
Lenghou Tiong berpura-pura bersikap mencurigakan. Lalu menjawab, "Ah, para Cianpwe itu sudah lama mengasingkan diri, berkumpulnya mereka di sini juga tiada sangkut pautnya dengan kau. Nama-nama para Cianpwe itu tidak boleh diketahui orang luar, andaikan kukatakan juga kau tak kenal. Maka lebih baik tak kukatakan saja."
Melihat sikap Lenghou Tiong yang aneh itu, Dian Pek-kong tambah sangsi. Katanya, "Kalau tokoh-tokoh angkatan tua dari Ko-san, Heng-san, Thay-san dan Hing-san memang masih ada sedikit. Tapi Hoa-san-pay kalian sudah lama kehabisan tokoh angkatan tua. Hal ini diketahui setiap orang Bu-lim. Maka ucapan Lenghou-heng sungguh sukar untuk dipercaya."
"Benar, memang sejak kena penyakit menular di masa dahulu, tokoh-tokoh Cianpwe golongan kami memang sudah wafat semua, hal ini memang sangat merugikan Hoa-san-pay kami, kalau tidak masakah Dian-heng dapat bebas berkeliaran ke sini dan mencari perkara padaku" Ucapanmu memang benar, di dalam gua memang betul tidak terdapat tokoh dari golongan kami."
Karena sebelumnya Dian Pek-kong sudah menarik kesimpulan dirinya sedang didustai, maka kalau Lenghou Tiong bilang timur, tentu dia anggap barat. Lenghou Tiong menyatakan di dalam gua tidak ada tokoh Hoa-san-pay, hal ini tentu sebaliknya. Ia coba merenung sejenak, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, serunya sambil menepuk paha, "Ya, ingatlah aku sekarang. Kiranya adalah Hong Jing-yang, Hong-locianpwe."
Sudah tentu Lenghou Tiong tidak kenal siapakah Hong Jing-yang itu. Tapi dia tahu tak peduli apa yang dia katakan tentu akan dicurigai Dian Pek-kong. Dari nama Hong Jing-yang itu dapat dipastikan tokoh itu masih lebih tua dua angkatan dari gurunya yang memakai nama "Put". Maka ia sengaja menjawab, "Ah, janganlah Dian-heng sembarang omong. Hong ... Hong-thaysuco (kakek guru) sudah lama menghilang entah ke mana, entah beliau masih hidup tidak di dunia ini, masakah sekarang beliau bisa datang ke sini. Jika Dian-heng tidak percaya boleh silakan masuk memeriksanya sendiri."
Sudah tentu, semakin Lenghou Tiong menyilakan dia masuk ke dalam gua, semakin Dian Pek-kong merasa hendak dijebak dan dengan sendirinya dia tidak mau tertipu. Diam-diam ia yakin dugaannya tentu tidak salah. Sesudah terjadi bencana dahulu, di antara tokoh-tokoh angkatan tua kabarnya cuma Hong Jing-yang saja yang berhasil selamat. Kalau dihitung umurnya sekarang juga sudah ada lebih 80 tahun, betapa pun tinggi ilmu silatnya, dalam hal tenaga tentu juga sudah loyo. Kenapa aku mesti takut"
Karena pikiran demikian, segera Dian Pek-kong berkata, "Lenghou-heng, kita sudah bertempur hampir sehari semalam, biarpun diteruskan juga kau tetap bukan tandinganku. Sekalipun berulang-ulang kau diberi petunjuk oleh kau punya Hong-thaysuco juga tiada gunanya. Sebaiknya kau ikut berangkat bersama aku saja."
Baru saja Lenghou Tiong akan menjawab, sekonyong-konyong di belakangnya ada suara seorang menanggapi dengan nada dingin, "Jika aku betul-betul memberi petunjuk beberapa jurus masakah tidak mampu membereskan kau keparat ini?"
Keruan Lenghou Tiong terkejut, cepat ia berpaling. Maka tertampaklah di samping gua sudah berdiri seorang kakek berjenggot putih dan berjubah hijau, sikapnya seram, mukanya pucat sebagai mayat.
Bab 33. Caranya Membikin Dian Pek-kong Roboh Tertutuk
Sungguh heran Lenghou Tiong tak terkatakan, ia tidak tahu dari mana munculnya kakek itu, mengapa sedikit pun tidak berasa dan tahu-tahu orang sudah berdiri di belakangnya.
Tengah ragu-ragu, terdengar Dian Pek-kong telah menegur si kakek, "Apakah engkau adalah ... adalah Hong-losiansing?"
Si kakek menghela napas, sahutnya, "Sungguh tidak nyana bahwa di dunia ini masih ada orang yang kenal namaku."
Diam-diam Lenghou Tiong heran, bahwasanya Hoa-san-pay sendiri terdapat seorang tokoh angkatan tua, mengapa selama ini guru dan ibu-gurunya tak pernah membicarakannya" Jangan-jangan dia cuma menurutkan ucapan Dian Pek-kong tadi dan memalsukan. Pula, masakah begini kebetulan, baru saja Dian Pek-kong menyebut Hong Jing-yang, ternyata benar-benar menongol seorang Hong Jing-yang.
Terdengar kakek itu lagi berkata, "Lenghou Tiong, kau bocah ini memang tidak becus! Coba sini, biar aku mengajar kau. Lebih dulu kau menggunakan jurus 'Pek-hong-koan-jit', lalu jurus 'Yu-hong-lay-gi', menyusul jurus ...." begitulah ia lalu mencerocos sekaligus sampai 30 jurus.
Ke-30 jurus yang diuraikan itu sudah pernah dipelajari semua oleh Lenghou Tiong, beberapa jurus di antaranya bahkan terlalu biasa baginya, dalam latihan sehari-hari dengan sesama saudara seperguruan saja sungkan digunakan, masakah sekarang malah dipakai untuk menempur Dian Pek-kong, sudah pasti tidak cukup kuat.
Tapi si kakek sudah lantas menegurnya, "Apa yang kau ragukan" Tiga puluh jurus sekaligus dimainkan memang tidak gampang, boleh coba kau mengulangi dulu satu kali."
Pikir Lenghou Tiong tiada jelek untuk mencobanya. Segera ia menurut, lebih dulu ia memainkan jurus Pek-hong-koan-jit, jurus ini ujung pedang mengacung ke atas di waktu ditarik kembali, sedangkan jurus kedua Yu-hong-lay-gi harus menusuk dari bawah ke atas, jadi kedua jurus ini satu sama lain tak bisa menyambung. Keruan Lenghou Tiong tertegun dan tak bisa melanjutkan.
Si kakek yang mengaku bernama Hong Jing-yang itu menghela napas, omelnya, "Bodoh, goblok! Pantas kau adalah muridnya Gak Put-kun, tidak bisa melihat gelagat, tak dapat berubah haluan menurut keadaan. Ilmu pedang harus dapat dimainkan secara bebas menurut keinginan. Sehabis jurus Pek-hong-koan-jit tadi, biarpun ujung pedang mengacung ke atas, masakah kau tak dapat menariknya kembali sambil menusuk" Biarpun menurut teori ilmu pedang tiada gerakan demikian, apakah kau tak bisa melakukannya sendiri sesuai dengan keadaan?"
Petunjuk ini seketika menyadarkan Lenghou Tiong, pedangnya menurun, dengan sendirinya lantas melancarkan jurus Yu-hong-lay-gi dan begitu seterusnya dia dapat memutar pedangnya dengan lancar dan rapat. Seperti ajaran si kakek tadi, sekaligus ia telah memainkan 30 jurus.
"Ya, boleh sih sudah boleh, cuma sayang masih kaku dan lambat," ujar si kakek. "Namun untuk melayani bocah keparat itu rasanya sudahlah cukup. Nah, boleh coba maju saja."
Walaupun masih meragukan si kakek adalah Susiokconya sendiri, tapi apa pun juga pastilah dia seorang tokoh persilatan angkatan tua, hal ini tidak perlu disangsikan lagi. Maka ia lantas memberi hormat dan mengucapkan terima kasih, lalu berpaling ke arah Dian Pek-kong dan berkata, "Marilah Dian-heng, kita mulai lagi!"
"Apa gunanya?" sahut Dian Pek-kong. "Aku sudah hafal dengan ke-30 jurus seranganmu ini. Jika kita bertanding lagi, biarpun aku menang juga tidak terhormat."
"Jika demikian, ya, baik juga, silakan saja Dian-heng pergi dari sini," sahut Lenghou Tiong. "Aku harus banyak minta petunjuk kepada Locianpwe ini dan tiada tempo buat mengobrol dengan Dian-heng."
"Apa artinya ucapanmu ini?" seru Dian Pek-kong dengan aseran. "Kau tidak mau ikut pergi bersama aku, ini berarti jiwaku akan korban percuma gara-garamu."
Lalu ia berpaling kepada si kakek dan berkata, "Hong-locianpwe, Dian Pek-kong adalah bocah kemarin saja dan tidak sesuai untuk bergebrak dengan engkau. Bila engkau sampai ikut turun tangan tentu akan merendahkan kedudukanmu."
Si kakek menghela napas sambil manggut-manggut, tanpa menjawab ia lantas mendekati batu besar di sebelah sana dan duduk.
Tentu saja Dian Pek-kong merasa lega, segera ia membentak, "Lihat serangan!" dan goloknya terus membacok ke arah Lenghou Tiong.
Cepat Lenghou Tiong mengegos terus balas menebas sesuai dengan jurus keempat menurut petunjuk si kakek. Dan sekali serangannya sudah lancar, susul-menyusul serangan yang lain lantas membanjir dengan lincah. Yang digunakan terkadang adalah jurus-jurus menurut petunjuk si kakek, tapi terkadang di luar ke-30 jurus yang disebut si kakek tadi.
Setelah menyadarkan kebebasan ilmu pedang yang tidak terikat oleh suatu gerakan tertentu, seketika ilmu pedang Lenghou Tiong maju dengan pesat. Dengan sengit ia labrak Dian Pek-kong sehingga seratus jurus lebih dan masih belum tentu kalah atau menang. Sampai akhirnya tenaganya mulai lemas. Mendadak Dian Pek-kong menggertak dan goloknya terus membacok.
Bacokan itu tampaknya sukar dihindarkan. Lenghou Tiong menjadi nekat, berbareng ia pun mengacungkan ujung pedang untuk menikam dada lawan.
Tapi golok Dian Pek-kong telah diputar ke samping terus memotong ke bawah, "trang", kedua senjata terbentur dan tanpa menunggu Lenghou Tiong menarik kembali pedangnya, mendadak Dian Pek-kong melepaskan goloknya sambil menubruk maju, kedua tangannya dengan kuat mencekik leher Lenghou Tiong. Seketika napas Lenghou Tiong menjadi sesak, tanpa kuasa pedangnya juga terlepas dari cekalan.
"Pendek kata, jika kau tidak ikut aku turun dari sini, segera kucekik mampus kau!" teriak Dian Pek-kong dengan kalap.
Muka Lenghou Tiong tampak merah padam karena tak bisa bernapas, tapi dia masih menggeleng tanda tetap tidak mau menurut.
Keruan Dian Pek-kong semakin murka, teriaknya, "Biar seratus atau dua ratus jurus, asal aku yang menang, kau harus ikut pergi bersama aku. Peduli apa tentang 30 jurus segala."
Mestinya Lenghou Tiong ingin bergelak tertawa untuk mengolok-oloknya, tapi tenggorokannya tercekik oleh sepuluh jari lawan yang kuat laksana tanggam, maka terpaksa ia hanya menyeringai saja tanpa bisa bersuara.
Tiba-tiba terdengar si kakek tadi berkata pula dengan nada gegetun, "Goblok, sungguh goblok, tangan tidak pegang pedang, jari tangan juga merupakan pedang. Apakah jurus 'Kun-giok-boan-tong' (kemala emas memenuhi ruangan) itu tidak dapat dilakukan dengan jari tangan?"
Terkilas seketika petunjuk itu di dalam benak Lenghou Tiong, tanpa ragu-ragu lagi kelima jarinya terus menusuk ke depan seperti tusukan pedang dalam jurus "Kun-giok-boan-tong".
Kontan Dian Pek-kong bersuara tertahan dan roboh terkulai. Kesepuluh jari yang mencekik leher Lenghou Tiong itu lantas terlepas.
Sungguh sama sekali Lenghou Tiong tak menyangka bahwa hanya sekali tutuk begitu saja ternyata membawa tenaga yang begitu kuat sehingga tokoh selihai Dian Pek-kong itu dengan gampang saja sudah kena ditutuk roboh.
Ia coba meraba-raba leher sendiri yang tercekik tadi, rasanya masih panas. Dilihatnya maling cabul itu sudah terkulai dan melingkar seperti udang dengan tiada hentinya berkejang.
Kejut dan girang Lenghou Tiong tak terkatakan, seketika tak terhingga rasa kagumnya kepada si kakek, segera ia mendekatinya dan menyembah, serunya, "Thaysusiokco, maafkan cucu murid tadi bersikap kurang hormat."
Habis berkata, berulang-ulang ia terus menjura.
"Sekarang kau tidak menyangsikan aku sebagai penipu lagi, bukan?" kata si kakek dengan tertawa hambar.
"Ampun, mana cucu berani," sahut Lenghou Tiong sambil menyembah pula. "Sungguh cucu sangat beruntung dapat berjumpa dengan angkatan tua dari golongan sendiri seperti kakek, hal ini benar-benar sangat menggirangkan."
"Bangunlah kau," kata si kakek yang bernama Hong Jing-yang.
Sesudah menjura beberapa kali lagi barulah Lenghou Tiong merangkak bangun. Dilihatnya wajah si kakek sangat pucat dan kurus seperti orang habis sakit. Segera ia berkata, "Thaysusiokco, apakah engkau lapar" Di dalam gua sini ada tersedia sedikit ransum kering."
Lalu ia hendak pergi mengambilkan.
Namun Hong Jing-yang telah menggeleng, katanya, "Tidak perlu!"
Sambil memandang sinar matahari yang menyilaukan kemudian ia berkata pula perlahan, "Hangat benar sinar mentari ini, sudah ada berpuluh tahun aku tidak berjemuran di bawah sinar matahari."
Diam-diam Lenghou Tiong sangat heran, tapi tidak berani bertanya.
Hong Jing-yang memandang sekejap kepada Dian Pek-kong yang menggeletak itu, lalu berkata, "Dia punya Tan-tiong-hiat telah kau tutuk, dengan kekuatannya satu jam kemudian dia akan dapat menyadarkan diri, nanti dia pasti akan merecoki kau lagi tak habis-habis. Kau dapat menggunakan jari tangan sebagai pedang, bila kau dapat mengalahkan dia dalam 30 jurus sehingga dia menginsafi bukan tandinganmu, terpaksa dia akan mengeluyur pergi. Tapi sesudah kau mengalahkan dia, kau harus paksa dia bersumpah takkan menyiarkan sepatah kata pun tentang diriku di sini."
"Tadi cucu sudah bertanding berulang-ulang dengan dia dengan memakai pedang dan selalu kalah, apalagi dengan bertangan kosong, masakah dapat ...." kata Lenghou Tiong dengan ragu-ragu.
Hong Jing-yang menghela napas, katanya dengan perlahan, "Satu jam saja rasanya sudah cukup. Kau adalah muridnya Gak Put-kun, mestinya aku tidak ingin mengajarkan ilmu silat padamu, tapi sudah lama aku 'cuci tangan' dan tidak pernah bergebrak dengan orang lagi. Kalau aku tidak pinjam tanganmu tentu sukar memaksa dia bersumpah dan tutup mulut tentang rahasia diriku. Coba kau ikut masuk kemari."
Habis berkata ia lantas masuk ke dalam dan menerobos ke gua belakang melalui lubang yang digali Lenghou Tiong itu. Segera Lenghou Tiong ikut masuk ke sana.
Sambil menunjukkan ukiran-ukiran dinding itu Hong Jing-yang berkata, "Gambar-gambar ukiran ini tentunya sudah kau periksa dan sudah ingat betul, cuma cara memainkannya sama sekali bukan begitu. Gak Put-kun si bocah itu benar-benar tidak becus. Padahal bakatmu sangat baik, tapi telah dididik olehnya sampai sebodoh kerbau."
Biasanya Lenghou Tiong paling hormat dan mencintai sang guru, demi mendengar ucapan Hong Jing-yang yang mengolok-olok Gak Put-kun itu, seketika ia menjawab dengan tegas, "Thaysusiokco, aku tidak mau minta belajar padamu, sudah, biarlah aku keluar saja dan membinasakan Dian Pek-kong itu dan habis perkara."
Hong Jing-yang melengak, tapi segera ia tahu sebab musababnya. Dengan hambar ia berkata pula, "Kau sudah kalah beberapa kali dan dia tidak mau melukai kau, tapi baru saja kau bisa menang sudah lantas mau membunuhnya. Apakah anak murid Hoa-san-pay memang manusia-manusia yang tak tahu budi orang" Apakah kau sirik karena aku memaki gurumu" Baiklah, selanjutnya aku takkan menyinggung dia. Tapi jelek-jelek aku adalah Susiokconya, jika aku menyebutnya 'bocah' tentunya masih boleh, bukan?"
"Asalkan selanjutnya Thaysusiokco tidak memaki lagi guruku yang berbudi, tentu cucu akan menuruti segala pengajaranmu," sahut Lenghou Tiong.
"Ha, jadi seakan-akan aku yang minta kau belajar, ya?" ujar Hong Jing-yang dengan tersenyum.
"Cucu tidak berani berpikir demikian, mohon Thaysusiokco maafkan," kata Lenghou Tiong.
Lalu Hong Jing-yang mulai menunjuk ukiran ilmu pedang Hoa-san-pay di dinding gua itu, katanya, "Jurus-jurus serangan ini memang benar kepandaian hebat dari golongan kita. Di antaranya ada sebagian yang sudah lama hilang tak terturunkan, sampai-sampai ... gurumu juga tidak paham. Namun jurus-jurus serangan itu meski bagus, bila sejurus demi sejurus dipisahkan cara memakainya tetap akan dapat dipecahkan musuh ...."
Mendengar sampai di sini tergeraklah hati Lenghou Tiong. Lapat-lapat seperti diketemukanlah suatu intisari dari ilmu pedang, tanpa merasa air mukanya menampilkan rasa kegirangan luar biasa.
"Apakah kau sudah paham" Coba terangkan," ujar Hong Jing-yang.
"Tidakkah Thaysusiokco hendak mengutarakan bilamana jurus demi jurus itu dimainkan menjadi suatu rangkaian, maka musuh takkan mampu memecahkannya," sahut Lenghou Tiong.
Hong Jing-yang manggut-manggut girang, katanya, "Benar, memangnya aku sudah bilang bakatmu sangat baik, nyatanya daya tangkapmu memang sangat tinggi. Para Tianglo dari Mo-kau ini ...." sembari berkata ia telah menunjuk suatu ukiran orang-orangan yang memakai senjata toya.
"O, dia itu adalah Tianglo dari Mo-kau?" Lenghou Tiong menegas.
"Apakah kau belum tahu"!" sahut Hong Jing-yang. "Kesepuluh kerangka tengkorak yang terdapat di sini ini adalah sepuluh Tianglo dari Mo-kau."
"Mengapa mereka bisa mati semua di sini?" tanya Lenghou Tiong dengan heran.
"Akulah yang membunuh mereka!" kata Hong Jing-yang.
Padahal para Tianglo dari Mo-kau selamanya terkenal memiliki ilmu silat mahatinggi, tapi kata-kata "akulah yang membunuh mereka" yang diucapkan Hong Jing-yang itu kedengarannya biasa saja seakan-akan dia hanya memites mati sepuluh ekor semut.
"Selang satu jam lagi Dian Pek-kong sudah akan mendusin, tapi kau terus tanya tentang kejadian-kejadian di masa lampau, apakah tempomu untuk belajar ilmu silat takkan terbuang percuma?"
"O, ya, silakan Thaysusiokco memberi petunjuk," cepat Lenghou Tiong mengiakan.
Sesudah menghela napas gegetun, lalu Hong Jing-yang berkata, "Para Tianglo dari Mo-kau ini sebenarnya semua cerdik dan pandai, mereka telah dapat memecahkan habis-habisan seluruh ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay yang paling tinggi. Ai, sungguh sayang, sayang mereka terpaksa harus kubunuh semua."
Diam-diam Lenghou Tiong menggerutu, "Baru saja kau mengomeli aku membuang tempo percuma karena bertanya tentang Tianglo-tianglo dari Mo-kau itu, tapi sekarang kau sendiri malah mencerocos terus."
Walaupun demikian pikirnya, namun lahirnya dia tidak perlihatkan sesuatu tanda apa-apa.
Maka Hong Jing-yang telah menyambung pula, "Sungguh sayang mereka tidak paham bahwa jurus serangan adalah mati, tapi orang yang memainkan jurus serangan itulah yang hidup. Biarpun kau pandai menghancurkan jurus serangan yang mati, kalau kebentur jurus serangan yang hidup, tentu kaulah yang akan celaka. Jadi yang harus diingat betul-betul adalah kata-kata 'hidup' tadi. Belajar serangan harus mempelajari cara hidup, di waktu menyerang harus menyerang secara hidup. Apabila ragu-ragu dan kaku, biarpun kau sudah hafal beribu-ribu jurus serangan lihai juga percuma bila ketemukan lawan tangguh."
Sungguh girang Lenghou Tiong tak terkatakan, memangnya dia adalah seorang pemuda yang lincah dan penuh semangat, uraian Hong Jing-yang itu benar-benar kena pada lubuk hatinya. Maka berulang-ulang ia menjawab, "Ya, ya, betul, harus belajar dan menggunakannya secara hidup."
"Di dalam Ngo-gak-kiam-pay kita memang banyak sekali orang-orang tolol," kata Hong Jing-yang lebih jauh. "Mereka mengira asalkan dapat belajar sebaik mungkin ajaran-ajaran sang guru dan dengan sendirinya mereka pun akan menjadi jagoan. Padahal, hm, apa artinya kalau cuma pandai bersanjak saja tanpa memahami makna sanjak itu sendiri. Biarpun dapat juga menggubah sebuah dua syair pasaran, tapi kalau tidak timbul dari jiwa seninya yang hidup, apakah dapat menjadi penyair yang besar?"
Sesungguhnya dengan ucapan Hong Jing-yang ini juga Gak Put-kun ikut terkena. Tapi karena merasa uraian itu memang cukup beralasan, pula nama Gak Put-kun tidak langsung disebut, maka Lenghou Tiong tidak menyatakan keberatannya pula.
Hong Jing-yang telah menyambung lagi, "Belajar dan menggunakannya secara hidup hanya langkah pertama saja. Harus dapat melaksanakan menyerang tanpa jurus, dengan demikian barulah benar-benar telah mencapai tingkatan yang paling sempurna. Tadi kau bilang jurus demi jurus sekaligus dilancarkan menjadi suatu rangkaian serangan sehingga musuh tak mampu melawan, ucapanmu ini hanya tepat separuh saja. Mestinya bukan cuma sekaligus dilancarkan menjadi suatu rangkaian serangan, tapi pada hakikatnya harus tidak jelas jurus apa yang dilancarkan. Kalau menyerang tanpa diketahui jurus serangannya, dengan sendirinya musuh tak dapat lagi memecahkan seranganmu."
Hati Lenghou Tiong sampai berdebar-debar, diam-diam ia menggumam sendiri, "Menyerang tanpa jurus, cara bagaimana dapat memecahkannya?"
"Seumpama seorang yang tak pernah belajar silat, dia memutarkan pedang secara serabutan, dalam keadaan demikian biarpun betapa pandainya kau juga tidak tahu dia hendak menyerang ke mana, jangankan lagi bicara tentang memecahkan jurus serangannya. Cuma serangan tanpa jurus bagi orang yang tak pernah belajar silat itu tentu saja akan gampang dikalahkan oleh orang yang pandai, tapi kalau ilmu pedang yang sempurna hanya dapat mengatasi orang dan tidak dapat diatasi orang." Sampai di sini Hong Jing-yang lantas menjemput sekerat tulang kaki tengkorak di atas tanah, sekenanya ia acungkan ujung tulang kaki itu ke arah Lenghou Tiong dan bertanya, "Coba, cara bagaimana kau akan mematahkan jurus seranganku ini?"
Karena tidak tahu gaya jurus serangan apa itu, dengan melengak Lenghou Tiong menjawab, "Ini bukan jurus serangan sehingga tak bisa dipecahkan."
"Itulah dia!" ujar Hong Jing-yang dengan tersenyum. "Tapi kalau musuh menggunakan senjata atau pukulan dan tendangan, karena dia memakai jurus serangan, asal kau tahu cara memecahkan serangannya dengan segera kau sudah dapat mengatasi dia dan merobohkannya."
"Jika musuh juga tidak pakai jurus serangan, lantas bagaimana?" tanya Lenghou Tiong.
"Jika demikian tentu musuh juga tokoh kelas wahid, untuk ini harus tergantung kepada kesudahannya, mungkin dia lebih mahir daripada kau atau mungkin juga kau lebih pandai," sahut Hong Jing-yang. Sesudah menghela napas, lalu ia menyambung pula, "Tapi di zaman ini sudah sukar dicari lagi tokoh lihai demikian itu. Bila secara kebetulan dapat kau ketemukan seorang-dua, maka terhitung kau yang beruntung. Selama hidupku juga cuma bertemu dengan tiga orang tokoh demikian saja."
"Ketiga tokoh siapakah mereka itu?" tanya Lenghou Tiong.
Hong Jing-yang menatapnya sejenak dengan tersenyum, sahutnya kemudian, "Sungguh tidak nyana di antara murid Gak Put-kun ternyata ada yang suka urus hal tetek bengek dan tidak mau belajar secara tekun. Hah, bagus, bagus!"
Muka Lenghou Tiong menjadi merah, cepat ia memberi hormat dan berkata, "Ya, Tecu memang bersalah."
"Tidak salah, tidak salah!" seru Hong Jing-yang dengan tertawa. "Kau bocah ini mempunyai semangat yang hidup, ini cocok sekali dengan seleraku. Cuma temponya sekarang hanya sedikit saja, bolehlah kau melebur 30-40 jurus ilmu pedang Hoa-san-pay kita yang paling hebat, bayangkan saja cara bagaimana akan dimainkan sekaligus menjadi suatu rangkaian, lalu melupakannya seluruhnya, ya, melupakannya sama sekali, satu jurus pun jangan tertinggal dalam benakmu. Dan sebentar lagi bila kau bertempur dengan Dian Pek-kong, bolehlah kau menggunakan ilmu pedang jurus itu untuk melabraknya."
Lenghou Tiong mengiakan dan segera memusatkan perhatian untuk memeriksa gambar-gambar ukiran dinding. Selama beberapa bulan ini sebenarnya dia sudah hampir merata mengikuti semua ukiran itu. Sekarang dia hanya berusaha merangkaikan ilmu pedang dari Hoa-san-pay sendiri agar bisa dimainkan dengan sekaligus tanpa terputus.
"Segala sesuatu harus dibiarkan berjalan menurut apa adanya, jika satu dan lain sukar dirangkaikan janganlah sekali-kali dipaksakan," kata Hong Jing-yang.
Petunjuk ini lebih memudahkan lagi bagi Lenghou Tiong, ia tak perlu memilih jurus-jurus serangan itu lagi, tidak antara lama beberapa puluh jurus ilmu pedang Hoa-san-pay itu sudah dapat dirangkaikan menjadi satu, yang masih sukar hanya cara melebur jurus-jurus serangan itu sehingga tiada lubang sedikit pun.
Begitulah ia terus memutar pedangnya menebas ke sana dan memotong ke situ, sedikit pun ia tidak hiraukan apakah gaya serangannya itu mirip dengan gambar ukiran yang dilihatnya atau tidak, dia melontarkan gaya serangan sesuka hatinya, terkadang serangannya menjadi sangat lancar, hal ini sangat menyenangkan hatinya.
Selama belasan tahun ia berguru dan berlatih, setiap kali harus berlatih sepenuh semangat dan tenaga, sedikit pun tidak boleh sembrono, sebab pengawasan Gak Put-kun sangat keras, setiap jurus tak boleh dilewatkan bila belum dimainkan dengan tepat. Tapi ajaran Hong Jing-yang sekarang ternyata terbalik, yakni menyuruhnya sesuka hatinya, makin bebas makin baik, ini memang sangat cocok dengan jiwa Lenghou Tiong malah. Ia terus putar pedangnya dengan segala kebebasan, rasanya senang dan puas tak terkatakan.
Tiba-tiba terdengar Dian Pek-kong berteriak di luar gua sana, "Lenghou-heng, silakan keluar untuk bertanding lagi."
Lenghou Tiong terkesiap, cepat ia menghentikan permainannya dan bertanya kepada Hong Jing-yang, "Thaysusiokco, cara permainanku ini apakah sudah dapat menahan serangan kilat goloknya?"
"Mana bisa" Masih selisih terlalu jauh!" sahut Hong Jing-yang sambil menggeleng.
"Tak bisa menahan serangannya?" Lenghou Tiong menegas dengan kejut.
"Jika hendak menahannya sudah tentu tidak dapat, tapi buat apa sih kau menahan serangannya?" ujar si kakek.
Seketika sadarlah Lenghou Tiong, pikirnya dengan girang, "Benar, maksud tujuan Dian Pek-kong ialah minta aku ikut dia turun gunung dan dia sekali-kali tidak berani membunuh aku. Asalkan aku terus menyerang saja tanpa menghiraukan jurus serangannya, akhirnya tentu aku bisa melawannya lebih dari 30 jurus."
Segera ia berlari keluar gua dengan pedang terhunus. Dilihatnya Dian Pek-kong sudah siap dengan goloknya dan lantas menegurnya, "Lenghou-heng, sesudah kau diberi petunjuk oleh Hong-locianpwe, ilmu pedangmu memang nyata sudah maju pesat. Cuma robohnya aku tadi adalah karena sedikit ayal sehingga kena tertutuk olehmu. Betapa pun aku tetap penasaran dan tidak menyerah, mari kita coba bertanding lagi."
"Baik," kata Lenghou Tiong, kontan pedangnya lantas menusuk secara miring dan menceng, batang pedangnya bergoyang-goyang, sedikit pun tidak membawa tenaga serangan.
Keruan Dian Pek-kong terheran-heran. "Jurus serangan apakah ini?" demikian ia bertanya-tanya di dalam hati.
Dilihatnya serangan Lenghou Tiong itu sampai di tengah jalan mendadak berubah lagi. Sekonyong-konyong tangannya mengkeret mundur ke samping, pedangnya menusuk ke tempat yang kosong, menyusul gagang pedang ditarik mundur seperti hendak disodokkan ke dadanya sendiri. Tapi di luar dugaan pergelangan tangannya terus memutar pula sehingga sodokan gagang pedang itu menuju ke tempat kosong pula di samping badan.
Keruan Dian Pek-kong tambah heran. "Apakah dia sudah gila?" demikian pikirnya. Ia coba memancingnya dengan golok membacok. Tapi sama sekali Lenghou Tiong tidak menghindar atau mengegos, sebaliknya ujung pedangnya terus ditarik kembali dan menusuk ke perut Dian Pek-kong.
"Aneh!" seru Dian Pek-kong sambil menarik kembali goloknya untuk menangkis ke bawah.
Tak tersangka Lenghou Tiong mendadak melemparkan pedangnya ke udara. Saking herannya Dian Pek-kong sampai menengadah. Pada saat itulah, "plak", tahu-tahu hidungnya telah kena dijotos oleh Lenghou Tiong sehingga keluar kecapnya alias mengucurkan darah.
Dan di tengah Dian Pek-kong masih terkejut itulah secepat kilat Lenghou Tiong menggunakan jari tangan sebagai pedang, untuk kedua kalinya kembali ia menutuk Tan-tiong-hiat lawan. Tanpa ampun lagi tubuh Dian Pek-kong lemas terkulai pula dengan air muka yang penuh kejut, heran dan amat marah pula.
Waktu Lenghou Tiong memutar tubuh, Hong Jing-yang telah memanggilnya masuk ke gua lagi, katanya, "Kembali kau mendapatkan kesempatan satu setengah jam untuk berlatih ilmu pedang. Dia roboh untuk kedua kalinya, keadaannya tambah payah sehingga waktu sadarnya akan tambah lama. Cuma pertarungan selanjutnya boleh jadi dia akan menggunakan serangan-serangan berbahaya, kau harus lebih hati-hati. Cobalah sekarang kau melatih ilmu pedang dari Heng-san-pay."
Begitulah, dengan petunjuk Hong Jing-yang itu, ilmu pedang yang dimainkan Lenghou Tiong menjadi sukar diraba perubahan jurus serangannya sehingga Dian Pek-kong kena ditutuk roboh berturut-turut dua kali.
Sementara itu hari sudah dekat magrib, Liok Tay-yu datang mengantarkan daharan pula. Lenghou Tiong sudah menyembunyikan Dian Pek-kong yang tidak bisa berkutik itu di belakang batu karang, sedang Hong Jing-yang berada di gua belakang.
Lenghou Tiong berkata kepada Liok Tay-yu, "Nafsu makanku mulai tambah baik, besok Laksute boleh tambahkan sedikit nasi dan sayur-mayur."
Melihat semangat Toasukonya sudah banyak lebih segar, Liok Tay-yu ikut bergirang. Ia menyanggupi besok akan membawakan daharan yang lebih banyak.
Sesudah Liok Tay-yu pergi, Lenghou Tiong lantas membuka Hiat-to Dian Pek-kong dan mengajak dia dan Hong Jing-yang makan bersama. Hong Jing-yang hanya makan sedikit saja sudah cukup, sebaliknya Dian Pek-kong masih penasaran dan kurang nafsu makan, sambil menyumpit nasi sembari mencaci maki. "Prak", mendadak mangkuk yang dipegangnya terpencet pecah sehingga isinya bertebaran.
Lenghou Tiong terbahak-bahak, katanya, "Buat apa Dian-heng mesti marah-marah kepada sebuah mangkuk nasi?"
"Aku tidak marah kepada mangkuk nasi, tapi marah padamu, keparat!" teriak Dian Pek-kong dengan mencaci maki. "Lantaran aku tidak mau membunuh kau, maka di waktu bertanding kau melulu menyerang tanpa bertahan sehingga menguntungkan kau. Hm, hm, dasar Nikoh celaka itu ...." dia mestinya hendak mencaci maki Gi-lim, tapi entah mengapa dia tidak melanjutkan. Tapi lantas berseru pula, "Lenghou Tiong, kalau berani hayolah coba bertanding lagi!"
"Baik!" sahut Lenghou Tiong sambil berbangkit.
Pertarungan ulangan ini berlangsung dengan lebih seru dan sengit. Lenghou Tiong menggunakan cara lama, dia hanya menyerang saja dan tidak menghiraukan serangan Dian Pek-kong.
Tak tersangka sekali ini Dian Pek-kong sudah ganti siasat, serangannya juga ganas, "sret-sret" dua kali, berturut-turut paha dan lengan kiri Lenghou Tiong telah kena dilukai. Nyata dia sudah jengkel, walaupun tidak bermaksud membunuh, tapi ia sengaja melukai anggota badan Lenghou Tiong agar dia kesakitan dan jeri. Karena itu permainan pedang Lenghou Tiong menjadi kacau, hanya dalam beberapa jurus saja ia sudah ditendang roboh oleh Dian Pek-kong.
Dengan tertawa senang Dian Pek-kong mengancam tenggorokan Lenghou Tiong dengan goloknya, katanya, "Nah, masih mau coba lagi tidak" Pendek kata, setiap kali bergebrak setiap kali pula akan kupersen kau dengan beberapa luka, biarpun tidak kubunuh juga sekujur badanmu pasti akan babak belur dan mengucurkan darah."
"Sudah tentu akan kulawan terus," sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. "Seumpama aku kalah, apakah Thaysusiokco juga akan tinggal diam?"
"Beliau adalah tokoh angkatan tua, tidak nanti dia sudi bergebrak dengan aku," ujar Dian Pek-kong sembari menyimpan kembali goloknya. Hatinya kebat-kebit juga, khawatir kalau-kalau Hong Jing-yang benar-benar membela Lenghou Tiong yang dilukai itu, asal dirinya digebah pergi saja sudah bisa membikin runyam.
Lenghou Tiong lantas merobek kain baju sendiri untuk membalut kedua tempat lukanya, lalu masuk ke dalam gua. Katanya dengan muka cemberut kepada Hong Jing-yang, "Wah, dia sudah ganti siasat, Thaysusiokco. Dia telah main serang sungguh-sungguh, bila lengan kanan kena dilukai dia, tentu aku tak bisa memegang senjata dan akan kalah."
"Baiknya sekarang sudah malam, kau boleh janji untuk bertanding lagi pada besok pagi," ujar Hong Jing-yang. "Malam ini kau jangan tidur, semalam suntuk kau harus berlatih segiatnya, aku akan mengajarkan tiga jurus ilmu pedang padamu."
"Hanya tiga jurus?" Lenghou Tiong menegaskan. Ia heran, hanya tiga jurus saja buat apa perlu makan waktu semalam suntuk"
"Kulihat kau ini cukup pintar, cuma entah pintar sungguh-sungguh atau pintar pura-pura atau sok pintar saja," kata Hong Jing-yang. "Jika kau memang betul-betul pintar, maka tiga jurus ini pasti akan kau kuasai dalam semalam ini. Tapi bila bakatmu kurang baik, daya tangkapmu kurang cekatan, maka ... maka besok pagi kau pun tidak perlu berkelahi lagi dengan dia, kau terima mengaku kalah saja dan ikut pergi bersama dia."
Mendengar uraian ini, Lenghou Tiong menduga ketiga jurus ilmu pedang ini pasti luar biasa, tentu sangat sukar dipelajari. Tapi hal ini malah menimbulkan rasa ingin tahu dan semangat belajarnya. Dengan tegas ia menjawab, "Thaysusiokco, meski bakat cucu kurang cukup dan mungkin tidak sanggup mempelajari tiga jurus ilmu pedang itu dalam semalam saja, tapi aku lebih suka dibunuh olehnya daripada menyerah dan ikut pergi bersama dia."
"Ehm, bagus itu," kata Hong Jing-yang dengan tertawa. Ia menengadah dan memikir sejenak, kemudian katanya pula, "Semalam mempelajari tiga jurus mungkin terlalu dipaksakan bagimu. Biarlah jurus kedua itu boleh ditunda saja, kita hanya mempelajari jurus pertama dan ketiga saja. Cuma ... cuma jurus ketiga itu banyak perubahan-perubahan yang berasal dari jurus kedua. Namun, biarlah kita kesampingkan dulu bagian-bagian tertentu yang ada hubungannya dengan jurus kedua, boleh kita coba nanti."
Ia berbicara sendiri, lalu merenung lagi, akhirnya geleng-geleng pula.
Keruan Lenghou Tiong dibuatnya kelabakan dan semakin ketarik, sebab ia tahu setiap ilmu silat yang semakin sulit dipelajari tentu mempunyai manfaat yang semakin besar.
Didengarnya Hong Jing-yang sedang menggumam lagi, "Jurus pertama itu mengandung 360 gerak perubahan, jika lupa satu perubahan saja tentu jurus ketiga akan sukar dimainkan dengan tepat. Wah, ini menjadi agak sulit."
Kembali Lenghou Tiong terkejut mendengar bahwa jurus pertama saja meliputi 360 gerak perubahan. Dilihatnya Hong Jing-yang sedang menghitung-hitung dengan jarinya sambil komat-kamit entah menyebut istilah-istilah apa, yang terang air mukanya makin kelihatan muram.
Bab 34. Tokko-kiu-kiam = Sembilan Jurus Ilmu Pedang Tokko
"Tiong-ji," katanya kemudian, "dahulu waktu aku belajar jurus pertama ini saja memakan waktu tiga bulan. Sekarang kau disuruh mempelajari dua jurus dalam semalam ini sesungguhnya lebih mirip bergurau."
Sejenak kemudian, tiba-tiba ia menyebut istilah-istilah yang diucapkannya tadi dengan cepat, sesudah beberapa puluh kalimat, ia coba suruh Lenghou Tiong ikut menghafalkan istilah-istilah itu.
Waktu Lenghou Tiong mengulangi istilah-istilah itu, ternyata dengan lancar ia dapat menyebutnya di luar kepala.
Hong Jing-yang menjadi heran malah, ia tanya, "Apakah rumus umum Tokko-kiu-kiam (sembilan jurus ilmu pedang Tokko) ini pernah kau pelajari?"
Lenghou Tiong menjawab, "Cucu tidak pernah belajar dan tidak tahu apa yang disebut 'Tokko-kiu-kiam' itu."
"Habis mengapa kau bisa menghafalkannya dengan tepat?" tanya Hong Jing-yang pula.
"Aku hanya menirukan Thaysusiokco saja," sahut Lenghou Tiong.
Hong Jing-yang tampak kegirangan. "Jika demikian jadilah. Meski dalam semalam saja sukar dipelajari secara lengkap, tapi boleh kau mengingatnya secara paksa. Jurus pertama tidak perlu dipelajari melainkan diingat saja, jurus ketiga cukup belajar setengahnya saja. Coba dengarkan dengan baik ...." lalu ia menguraikan beberapa puluh kalimat, kemudian Lenghou Tiong disuruh menghafalkan, bila ada yang salah segera Hong Jing-yang mengingatkannya kembali dan begitu seterusnya sampai ratusan kalimat rumus umum itu diajarkan kepada Lenghou Tiong dan dapat diingatnya dengan baik.
Rumus umum dari "Tokko-kiu-kiam" itu seluruhnya ada ribuan kalimat, biarpun daya ingatan Lenghou Tiong sangat baik juga diperlukan dua-tiga jam baru bisa ingat dengan sempurna.
Sesudah mencobanya dua-tiga kali lagi dan ternyata Lenghou Tiong benar-benar sudah hafal di luar kepala, lalu Hong Jing-yang berkata, "Jurus pertama yang merupakan rumus dari Tokko-kiu-kiam itu adalah kunci dasar seluruh pelajaran sembilan jurus ilmu pedangnya, meski sekarang kau sudah hafal, tapi karena tujuannya asal ingat saja tanpa menyelami artinya, kelak tentu mudah terlupakan. Maka selanjutnya pagi sore harus kau ulangi menghafalkan."
Setelah Lenghou Tiong mengiakan, lalu Hong Jing-yang berkata pula, "Tentang jurus pertama sudah kau hafalkan, sekarang tidak perlu menyelaminya dulu. Adapun jurus kedua adalah 'cara memecahkan ilmu pedang', gunanya untuk mematahkan semua ilmu pedang dari golongan dan aliran mana pun juga di dunia ini, ini pun sekarang belum perlu dipelajari. Jurus ketiga adalah 'cara memecahkan ilmu golok', gunanya untuk memecahkan segala macam ilmu golok, baik golok besar, golok tunggal atau golok kembar, dan lain-lain sebagainya. Yang dimainkan Dian Pek-kong adalah golok kilat dari golok tunggal, maka malam ini kau hanya belajar cara melawan ilmu goloknya itu saja."
Mendengar di antara kesembilan jurus ilmu pedang ciptaan orang she Tokko itu ada jurus-jurus yang dapat memecahkan segala macam ilmu golok dan ilmu pedang, sungguh terkejut dan girang Lenghou Tiong tak terkatakan. Katanya dengan penuh kekaguman, "Kesembilan jurus ilmu pedang ini sedemikian saktinya, cucu benar-benar dengar saja belum pernah."
"Gurumu sebenarnya sudah pernah dengar, cuma dia tidak mau bercerita kepada kalian," kata Hong Jing-yang.
Lenghou Tiong menjadi heran. "Apa sih sebabnya?" tanyanya tidak habis mengerti.
Hong Jing-yang tidak menjawab pertanyaannya, tapi berkata pula, "Jurus ketiga 'cara memecahkan ilmu golok' dari Tokko-kiu-kiam itu mengutamakan kecepatan dan kegesitan. Ilmu golok Dian Pek-kong itu memang sudah sangat cepat, tapi kau harus lebih cepat daripada dia, untuk ini apa daya" Sebenarnya dengan usiamu yang masih muda ini juga tidak sulit untuk main lebih cepat daripada dia, cuma kalah atau menang sukarlah diramalkan. Jika orang tua bangka seperti aku tentu sukar untuk main lebih cepat daripadanya. Jalan satu-satunya adalah menyerang lebih dulu dari dia. Asal kau sudah tahu dia akan melancarkan jurus serangan apa, lalu mendahului. Sebelum tangan musuh terangkat dan ujung pedangmu sudah mengancam tempatnya yang berbahaya, dengan demikian kecepatannya menjadi kalah cepat daripadamu."
Berulang-ulang Lenghou Tiong mengangguk, katanya, "Ya, benar. Agaknya Tokko-kiu-kiam ini mengajarkan orang cara bagaimana menaksir dan mendahului serangan musuh."
"Tepat, tepat! Memang bocah yang boleh diajar!" seru Hong Jing-yang sambil tepuk tangan memuji. "Menaksirkan dan mendahului serangan musuh, memang inilah merupakan inti dari keistimewaan Tokko-kiu-kiam. Sebab setiap orang di kala akan menyerang tentu sudah kelihatan tanda-tandanya. Misalnya dia akan membacok bahu kirimu, maka dengan sendirinya dia akan melirik bahumu itu. Bila waktu itu goloknya terpegang di tangan kanan, tentu dia akan mengangkat goloknya dengan memutar setengah lingkaran ke atas untuk kemudian barulah membacok miring ke sebelah kiri ...." begitulah ia lantas membahas dan mengupas jurus ketiga dari bagian yang khusus digunakan untuk mengalahkan serangan golok kilat dengan macam-macam perubahannya.
Lenghou Tiong sampai terkesima dan senang tak terkatakan mendengar uraian orang tua itu. Sesaat ia seperti telah mencapai suatu dunia persilatan yang sebelumnya tak pernah didengar atau dilihatnya, tiada ubahnya seperti seorang pemuda yang mendadak berada di dalam sebuah istana yang mewah, apa yang dilihat dan didengarnya boleh dikata serbaaneh dan serbabaru baginya.
Karena luasnya variasi dari jurus ketiga itu, seketika itu juga cuma sebagian kecil saja yang dapat ditangkap oleh Lenghou Tiong, selebihnya ia hanya ingat-ingat betul di dalam hati saja.
Begitulah yang satu mengajar dengan tekun dan yang lain belajar dengan giat, tanpa merasa sang tempo telah lalu dengan cepat, tiba-tiba terdengar Dian Pek-kong sedang berteriak di luar gua. "Lenghou-heng, hari sudah terang, kau sudah mendusin belum?"
Lenghou Tiong tertegun dan berseru tertahan, "Wah, hari sudah pagi lagi."
"Ya, sayang temponya terlalu singkat, pelajaranmu cukup cepat dan sudah melampaui harapanku. Sekarang boleh keluar untuk berkelahi lagi dengan dia!" ujar Hong Jing-yang.
Sambil mengiakan, Lenghou Tiong coba merenungkan kembali apa-apa yang telah dipelajarinya semalam. Mendadak ia bertanya, "Thaysusiokco, ada suatu hal yang aku merasa tidak mengerti, yakni mengapa perubahan-perubahan jurus ini semuanya adalah serangan belaka tanpa suatu gerakan bertahan?"
"Kesembilan jurus ilmu pedang ciptaan Tokko ini memang cuma mengenal maju dan tidak tahu apa artinya mundur," tutur Hong Jing-yang. "Maka dari itu setiap gerakan adalah serangan belaka yang membikin musuh terpaksa harus bertahan dan tentu saja dirinya sendiri tidak perlu pikirkan bertahan segala. Pencipta dari ilmu pedang ini adalah Tokko Kiu-pay Locianpwe. Nama beliau 'Put-pay' (tak terkalahkan), selama hidupnya selalu ingin mengalami kekalahan, tapi belum pernah terkabul keinginannya itu. Karena ilmu pedangnya tiada tandingannya di dunia ini, lalu buat apa mesti pikirkan bertahan atau menjaga diri segala" Padahal kalau ada orang yang memaksa beliau harus tarik pedang untuk bertahan, maka beliau benar-benar akan kegirangan sekali."
"Tokko Kiu-pay, namanya Tokko Kiu-pay?" Lenghou Tiong menggumam sendiri, ia membayangkan tokoh angkatan tua yang mahasakti itu, selama hidupnya tiada tandingan, mencari seorang lawan yang mampu memaksa dia bertahan saja sukar, maka betapa lihai kepandaiannya benar-benar sudah sukar diukur.
Dalam pada itu terdengar Dian Pek-kong sedang berteriak-teriak pula, "Hayo, lekas keluar kau, biar kubacok kau beberapa kali lagi!"
"Inilah aku!" sahut Lenghou Tiong sembari jinjing pedangnya.
"Anak Tiong," kata Hong Jing-yang, "karena tidak cukup waktu, maka di mana letak intisari dari jurus ketiga ini belum dapat dibahas secara mendalam. Bila kau bertanding lagi dengan dia akan menghadapi suatu bahaya, yaitu bila dia melukai atau mengutungi lengan kananmu, maka tiada jalan lain bagimu kecuali menyerah dan terima nasib. Hal inilah yang membikin aku khawatir."
"Cucu nanti akan berbuat sekuat tenaga," seru Lenghou Tiong dengan penuh semangat. Segera ia berlari keluar gua. Ia pura-pura bersikap lesu sambil menguap dan mengurut pinggang, lalu kucek-kucek matanya. Habis itu barulah ia menegur, "Dian-heng, apakah semalam kau tidak bisa tidur nyenyak?"
Dian Pek-kong mengangkat goloknya ke depan dan berseru, "Lenghou-heng, sesungguhnya aku tidak ingin melukai kau, tapi kau sendiri yang terlalu kepala batu, betapa pun kau tidak mau ikut pergi bersamaku. Jika pertarungan ini dilangsungkan terus sehingga aku terpaksa membacok sepuluh kali atau dua puluh kali di tubuhmu, hal ini benar-benar sangat menyesalkan bagiku."
"Buat apa kau membacok sepuluh kali atau dua puluh kali," ujar Lenghou Tiong. "Cukup asal kau sekali bacok mengutungi tangan kananku supaya aku tidak dapat memegang senjata, dengan demikian kan sudah beres dan kau dapat berbuat sesukanya atas diriku."
"Tidak, aku hanya ingin kau mengaku kalah saja, buat apa aku membuat cacat lengan kananmu?" sahut Dian Pek-kong sambil menggeleng.
Dalam hati Lenghou Tiong sangat girang, tapi lahirnya dia tetap perlihatkan sikap yang kurang percaya, katanya, "Ah, jangan-jangan cuma mulutmu saja bicara demikian, bila sudah kalah nanti akhirnya kau menjadi kalap dan menggunakan cara keji."
"Kau tidak perlu memancing," sahut Dian Pek-kong. "Pertama aku toh tiada permusuhan apa-apa dengan kau. Kedua, aku menghormati kau sebagai seorang laki-laki yang berjiwa kesatria sejati. Ketiga, bila aku benar-benar melukai kau hingga parah, mungkin aku akan dipersulit oleh orang lain. Nah, boleh silakan mulai lagi!"
"Baik, silakan dulu!" kata Lenghou Tiong.
Lebih dulu Dian Pek-kong membuat suatu gerakan pura-pura, serangan kedua menyusul lantas membabat dari samping dengan amat dahsyat.
Baru saja Lenghou Tiong hendak menandingi dengan gerak perubahan jurus ketiga dari Tokko-kiu-kiam, tak terduga ilmu golok Dian Pek-kong itu benar-benar cepat luar biasa, belum lagi pedang Lenghou Tiong terangkat, tahu-tahu serangan Dian Pek-kong sudah berganti lagi sehingga Lenghou Tiong ketinggalan satu langkah.
Sesudah dua-tiga kali serang, diam-diam Lenghou Tiong menjadi gelisah, "Wah, celaka! Ilmu pedang yang baru kupelajari ternyata tak bisa digunakan, tentu Thaysusiokco sedang memaki ketololanku."
Setelah bergebrak beberapa jurus lagi, butir-butir keringat sudah memenuhi dahi Lenghou Tiong.
Tak disangkanya jika dia mengeluh, adalah bagi pandangan Dian Pek-kong ilmu pedang yang dimainkannya tampak lihai luar biasa, setiap gerakannya selalu menjadi halangan bagi ilmu goloknya. Maka Dian Pek-kong juga kejut tak terkatakan. Pikirnya, "Beberapa gerakan pedangnya jelas dapat membinasakan aku, mengapa dia sengaja bikin lambat" Ah, tentu dia sengaja bermurah hati agar aku tahu sendiri dan mundur teratur. Ya, aku memang sudah 'tahu sendiri', tapi untuk 'mundur teratur' inilah yang sulit, terpaksa aku harus bertahan sampai saat terakhir."
Begitulah, jadi kedua orang sama-sama mengeluh, maka serang-menyerang mereka menjadi sangat hati-hati.
Tidak lama kemudian permainan golok Dian Pek-kong bertambah cepat lagi, sebaliknya gerak perubahan jurus ketiga ilmu pedang Lenghou Tiong juga mulai lancar, tertampaklah cahaya pedang dan sinar golok gemerlapan, pertarungan mereka semakin seru.
Mendadak Dian Pek-kong membentak sambil menendang sehingga perut Lenghou Tiong terdepak. Kontan tubuh Lenghou Tiong mencelat ke belakang. Tiba-tiba terkilas suatu pikiran, asal mempunyai waktu satu hari satu malam lagi tentu besok akan dapat mengalahkan dia. Maka cepat Lenghou Tiong pura-pura melepaskan pedangnya dan jatuh terguling dengan mata terpejam, dengan menahan napas ia pura-pura jatuh kelengar.
Melihat Lenghou Tiong pingsan, Dian Pek-kong menjadi khawatir malah. Tapi dia cukup mengenal watak Lenghou Tiong yang licin dan banyak tipu akalnya, ia tidak berani mendekat untuk memeriksanya agar tidak disergap secara mendadak. Dia hanya melangkah maju beberapa tindak dengan golok melintang di depan, serunya, "Lenghou-heng, bagaimana kau?"
Sesudah diulangi beberapa kali seruannya, perlahan-lahan Lenghou Tiong baru siuman, dengan suara lemah ia menjawab, "Mari ... mari kita mulai lagi!"
Lalu ia hendak merangkak bangun, tapi tangannya terasa lemas, kembali ia terbanting jatuh.
"Tampaknya kau tidak kuat lagi, boleh kau mengaso sehari lagi, besok ikut aku turun gunung saja," kata Dian Pek-kong.
Tentu saja Lenghou Tiong sangat girang, tapi ia tidak menanggapi dan berusaha merangkak bangun dengan napas terengah-engah.
Rupanya Dian Pek-kong tidak curiga lagi, segera ia mendekati untuk memayangnya bangun. Tapi untuk menjaga segala kemungkinan, pada waktu melangkah maju seperti tanpa sengaja sebelah kakinya telah menginjak pedang Lenghou Tiong yang terjatuh di atas tanah itu, berbareng tangan kanan siap menjaga diri dan tangan kiri digunakan memegang Hiat-to di lengan kanan Lenghou Tiong, lalu diangkat ke atas.
Lenghou Tiong sengaja menggelendot sekalian pada tangan kiri Dian Pek-kong untuk memperlihatkan kelemahannya, lalu mulutnya pura-pura mencaci maki, "Keparat! Siapa yang minta bantuanmu?"
Sambil mengomel dengan berincang-incut ia terus masuk ke dalam gua.
Hong Jing-yang tersenyum dan berkata, "Dengan cara demikian kau telah mendapat kesempatan sehari semalam lagi tanpa susah payah. Cuma caramu tadi agak rendah dan tidak tahu malu."
"Terhadap manusia rendah dan kotor seperti dia, apa boleh buat, terpaksa juga menggunakan cara rendah," sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Tapi bagaimana kalau terhadap orang baik?" tanya Hong Jing-yang dengan sungguh-sungguh.
Lenghou Tiong tertegun dan ragu-ragu, tapi akhirnya menjawab, "Biarpun orang baik-baik, kalau dia hendak membunuh aku masakah terima dibunuh olehnya" Di kala kepepet biarpun cara rendah dan kotor juga terpaksa digunakan."
"Bagus, bagus!" puji Hong Jing-yang dengan girang. "Dengan ucapanmu ini, kau telah menyatakan dirimu bukanlah seorang kesatria palsu, bukan orang yang cuma pura-pura alim. Seorang laki-laki sejati harus berani bertindak secara bebas, peduli apa dengan peraturan Bu-lim dan tertib perguruan segala, persetan semuanya!"
Lenghou Tiong hanya tersenyum saja dan tak berani menanggapi. Apa yang dikatakan Hong Jing-yang itu sebenarnya kena betul di dalam lubuk hatinya. Cuma peraturan Hoa-san-pay sangat keras, maka dia tidak berani memberi suara terhadap ucapan Hong Jing-yang tadi. Bila kata-kata itu terucapkan dari mulutnya dan dapat didengar gurunya, maka 40 kali rangketan mungkin adalah hukuman yang paling ringan.
Begitulah, dengan jari tangannya yang kurus kering, Hong Jing-yang telah mengelus-elus kepala Lenghou Tiong. Katanya dengan tersenyum, "Di antara murid Gak Put-kun ternyata ada orang semacam kau, nyata pandangannya masih boleh juga."
Ia tepuk-tepuk bahu Lenghou Tiong, lalu menyambung, "Kau bocah yang sangat mencocoki seleraku. Baiklah, mari kita coba berlatih lagi jurus-jurus ilmu pedang Tokko-tayhiap itu."


Hina Kelana Balada Kaum Kelana Siau-go-kangouw Karya Jin Yong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Segera ia menguraikan lebih mendalam jurus pertama dari Tokko-kiu-kiam, sesudah bisa dipahami oleh Lenghou Tiong, lalu diberi petunjuk-petunjuk pula tentang hubungan-hubungan perubahan dengan jurus ketiga. Lenghou Tiong telah mengingat semuanya dengan baik-baik, bila ada yang kurang paham ia lantas tanya lebih jelas.
Karena kali ini temponya cukup banyak, maka cara belajarnya tidak tergesa-gesa seperti kemarinnya, setiap gerakan dan setiap perubahannya telah dapat dimainkan dengan agak lengkap. Setelah bersantap malam dan mengaso satu-dua jam, kemudian Lenghou Tiong mulai belajar lagi dengan giat.
Esok paginya Dian Pek-kong mengira luka Lenghou Tiong agak parah, maka dia tidak berkaok-kaok menantang lagi. Keruan kebetulan bagi Lenghou Tiong, ia dapat berlatih lebih lama di dalam gua.
Menjelang tengah hari Lenghou Tiong telah lengkap mempelajari macam-macam perubahan jurus ketiga itu. Maka berkatalah Hong Jing-yang, "Jika hari ini masih tak bisa mengalahkan dia juga tidak menjadi soal, boleh belajar lagi sehari semalam, betapa pun besok pasti akan menang."
Dengan perlahan Lenghou Tiong lantas melangkah keluar, dilihatnya Dian Pek-kong sedang memandang jauh ke depan di tepi jurang. Segera ia pura-pura heran dan menegur, "He, mengapa Dian-heng belum pergi, kukira sudah berangkat kemarin!"
"Aku sedang menantikan engkau," sahut Dian Pek-kong sambil berpaling. "Kemarin aku telah membikin susah padamu, tentu hari ini sudah sembuh, bukan?"
"Sembuh sih belum," sahut Lenghou Tiong. "Cuma luka di bagian paha ini masih kesakitan."
"Haha, dalam pertarungan tempo hari di kota Heng-yang agaknya luka Lenghou-heng jauh lebih parah daripada sekarang, tapi kau toh tidak pernah mengeluh dan merintih. Aku tahu kau banyak tipu akal, hari ini sengaja pura-pura saja, tidak nanti aku dapat ditipu."
"Kau tidak mau tertipu, tapi sekarang kau sudah tertipu, seumpama keburu sadar juga sudah terlambat. Nah, Dian-heng, lihat seranganku!" berbareng Lenghou Tiong terus ayun pedangnya menusuk dada lawan.
Cepat Dian Pek-kong menangkis, tapi menangkis tempat kosong. Sedangkan serangan Lenghou Tiong yang kedua sudah tiba pula. "Cepat amat!" puji Dian Pek-kong sambil melintangkan goloknya untuk menjaga diri.
Namun serangan ketiga, keempat, kelima dan keenam berturut-turut sudah lantas dilancarkan pula oleh Lenghou Tiong. "Itu saja belum, ini, masih ada yang lebih cepat!" serunya dengan tertawa. Berbareng serangannya yang lain menyusul lagi secara bertubi-tubi dan tak habis-habis. Yang digunakan benar-benar adalah intisari dari Tokko-kiu-kiam yang hanya mengenal maju terus pantang mundur, hanya menyerang melulu tanpa kenal bertahan.
Setelah belasan gebrakan, baru sekarang Dian Pek-kong tahu rasa dan kaget. Ia merasa bingung entah cara bagaimana menangkis serangan Lenghou Tiong. Setiap kali diserang, setiap kali ia mundur satu tindak, sudah belasan serangan, sementara itu ia sudah mundur sampai di tepi jurang. Sebaliknya serangan-serangan Lenghou Tiong tidak menjadi kendur. "Sret-sret ..." kembali ia melancarkan empat kali tusukan pula, semuanya menuju tempat mematikan di tubuh Dian Pek-kong.
Sekuatnya Dian Pek-kong menangkis dua kali, tapi serangan ketiga betapa pun tak bisa ditahan lagi, terpaksa ia melangkah mundur lagi. Tapi ia menjadi kaget karena kakinya telah menginjak tempat kosong. Ia tahu di belakangnya adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya, jika sampai terjeblos tentu tamatlah riwayatnya. Pada detik yang berbahaya itu sekuatnya ia membacokkan goloknya ke tanah sekadar untuk menahan tubuhnya. Namun saat itu juga ujung pedang Lenghou Tiong juga sudah mengancam di depan tenggorokannya. Seketika wajah Dian Pek-kong pucat pias.
Sama sekali Lenghou Tiong tidak bersuara, ujung pedangnya tetap mengancam di depan tenggorokan lawan. Sampai sekian lamanya dengan gusar Dian Pek-kong berteriak, "Mau bunuh boleh bunuh, kenapa mesti ragu-ragu segala!"
Tapi Lenghou Tiong lantas menarik kembali senjatanya sambil melompat mundur. Katanya, "Kekalahan Dian-heng ini hanya karena kelengahan seketika sehingga kena didahului olehku, biarlah jangan dianggap, marilah kita mulai lagi."
Dian Pek-kong mendengus karena merasa terhina. Tanpa bicara lagi ia terus putar goloknya dan menerjang maju, ia menyerang secara membadai. Pikirnya, "Sekali ini aku menyerang lebih dulu, tentu kau tak bisa mengambil keuntungan lagi."
Ketika tampak golok lawan membacok tiba, cepat Lenghou Tiong juga mengangkat pedang dan menusuk miring dari samping ke perut lawan, berbareng mengegos untuk menghindarkan serangan goloknya.
Melihat serangan balasan itu datangnya terlalu cepat, lekas-lekas ia putar goloknya kembali untuk mengetok batang pedang. Ia menduga tenaganya sendiri lebih kuat, sekali kebentur tentu pedang Lenghou Tiong akan tergetar mencelat.
Namun sekali serangannya sudah berbalik menguasai lawan, maka serangan kedua, ketiga dan seterusnya lantas dilancarkan pula oleh Lenghou Tiong secara bertubi-tubi, setiap serangannya selalu ganas lagi jitu, yang diarah selalu tempat-tempat yang berbahaya.
Karena tidak sanggup menangkis dengan sama cepat, terpaksa Dian Pek-kong main mundur lagi. Belasan gebrakan kemudian kembali ia berada pada posisi tadi. Dia sudah berada di tepi jurang pula.
Ketika pedangnya Lenghou Tiong menebas ke bawah sehingga Dian Pek-kong terpaksa mengayun goloknya untuk melindungi tubuhnya bagian bawah, saat itu jari tangan kiri Lenghou Tiong juga sudah lantas mengancam di depan dadanya, tepat Tan-tiong-hiat yang akan ditutuk. Tapi kira-kira dua-tiga senti di depan dada lawan, jari Lenghou Tiong itu lantas berhenti.
Dian Pek-kong sudah pernah dua kali ditutuk di tempat yang sama, kalau kali ini tertutuk pula, maka robohnya bukan jatuh pingsan di atas tanah, tapi akan tergelincir ke dalam jurang. Tapi Lenghou Tiong kelihatan diam saja, jelas sengaja memberi kelonggaran. Benar juga, sesudah kedua orang termangu sejenak, lalu Lenghou Tiong melompat mundur pula.
Untuk sebentar saja Dian Pek-kong berduduk di atas batu sambil merenungkan apa yang dialami. Mendadak ia mengerang keras, golok berputar dan menerjang maju lagi, serangan-serangannya sekarang tambah lihai.
Kali ini dia sudah memilih tempat, dia berdiri membelakangi gunung. Ia berpikir andaikan terdesak mundur lagi juga akan mundur masuk ke dalam gua, betapa pun kali ini harus bertempur mati-matian.
Namun kini Lenghou Tiong sudah lengkap mempelajari jurus "cara memecahkan ilmu golok" dari Tokko-kiu-kiam, mengenai segala macam gerak perubahan serangan golok baginya sudah bukan soal lagi. Maka ia tunggu ketika bacokan golok Dian Pek-kong sudah tiba barulah dia mengegos ke kanan, berbareng pedangnya terus menebas lengan kiri lawan.
Waktu Dian Pek-kong tarik kembali goloknya untuk menangkis, mendadak pedang Lenghou Tiong sudah berubah menjadi tusukan ke pinggangnya. Karena tidak keburu menangkis lagi, terpaksa Dian Pek-kong mundur sedikit ke sisi kanan. Dalam pada itu, tusukan Lenghou Tiong sudah tiba pula, sekali ini mengarah pelipis kiri, ketika Dian Pek-kong menangkis, tahu-tahu ujung pedang hendak menusuk paha kiri. Tiada jalan lain, terpaksa Dian Pek-kong menggeser lagi ke kanan.
Begitulah serangan-serangan Lenghou Tiong susul-menyusul selalu mengarah sebelah kirinya sehingga Dian Pek-kong terpaksa melangkah mundur ke sebelah kanan. Belasan langkah kemudian, bukannya dia mundur ke dalam gua, tapi sudah terdesak ke tepi dinding tebing di sebelah kanan gua. Karena terhalang oleh dinding batu dan tidak dapat mundur lagi, Dian Pek-kong terpaksa memutar goloknya dengan kencang, ia tidak peduli cara bagaimana Lenghou Tiong akan menyerang lagi.
"Bret-bret ...." berulang-ulang terdengar suara robeknya kain, ternyata lengan baju dan lengan celana Dian Pek-kong bagian kiri telah tertusuk robek sampai enam kali. Tusukan-tusukan pedang itu hanya merobek kain baju dan celana saja, sedikit pun tidak melukai kulit dagingnya. Namun Dian Pek-kong cukup terang bahwa setiap tusukan Lenghou Tiong itu tentu bisa mengutungi lengan atau kakinya, bahkan untuk menembus perutnya juga tidak sukar.
Dalam keadaan demikian Dian Pek-kong menjadi putus asa. Mendadak ia muntah darah dan badan sempoyongan.
Berturut-turut tiga kali Lenghou Tiong telah dapat mendesak Dian Pek-kong sampai di tepi garis kematiannya. Padahal beberapa hari sebelumnya ilmu silat Dian Pek-kong jauh lebih tinggi daripadanya. Sekarang mati-hidup lawannya tergantung kepada dirinya, malahan kemenangannya itu diperoleh dengan sangat mudah, keruan girangnya tak terhingga walaupun lahirnya tidak memperlihatkan sesuatu tanda apa-apa. Kini melihat Dian Pek-kong sudah kalah habis-habisan sampai muntah darah mau tak mau ia merasa menyesal juga. Segera ia berkata, "Dian-heng, kalah atau menang adalah soal jamak di medan perang, kenapa engkau mesti begini" Bukankah aku pun berulang-ulang terjungkal di tanganmu?"
Dian Pek-kong lantas membuang goloknya, katanya sambil menggeleng kepala, "Ilmu pedang Hong-locianpwe benar-benar mahasakti dan tiada tandingannya di zaman ini. Cayhe selamanya bukan tandinganmu lagi."
Lenghou Tiong menjemputkan golok orang dan diangsurkan kepadanya dengan hormat. Katanya, "Ucapan Dian-heng memang betul. Kemenanganku secara kebetulan ini hanyalah berkat petunjuk-petunjuk dari Hong-thaysusiokco. Sekarang beliau ingin minta Dian-heng berjanji sesuatu."
Dian Pek-kong tidak menerima goloknya, tapi menjawab dengan pedih, "Jiwaku saja tergantung di tanganmu, apa yang dapat kukatakan pula?"
"Soalnya begini," kata Lenghou Tiong. "Hong-thaysusiokco sudah terlalu lama mengasingkan diri dan tidak ikut campur segala urusan khalayak ramai atau diganggu orang lain. Maka bila Dian-heng sudah pergi dari sini hendaklah jangan bicara tentang diri beliau kepada orang lain. Untuk ini aku akan merasa sangat berterima kasih."
"Asal pedangmu sekali tusuk saja, orangnya mati dan mulutnya tertutup, bukankah sudah beres?" ujar Dian Pek-kong dengan dingin.
Namun Lenghou Tiong lantas melangkah mundur dan memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Jawabnya, "Dahulu waktu kepandaian Dian-heng masih jauh di atasku, bila engkau sekali bacok membinasakan diriku tentu juga takkan seperti peristiwa hari ini. Soal jangan disiarkan kepada orang luar tentang diri Hong-thaysusiokco adalah permohonanku yang sangat, sedikit pun tiada bermaksud memaksa dan mengancam."
"Baiklah, aku berjanji." jawab Dian Pek-kong.
"Terima kasih," kata Lenghou Tiong sambil memberi hormat.
"Aku diperintahkan ke sini untuk mengundang kau turun gunung, tapi aku tak bisa memenuhi tugasku, urusan ini sekali-kali belum selesai sampai di sini saja," kata Dian Pek-kong. "Untuk bertempur lagi aku bukan tandinganmu, tapi soal ini pun tidak berarti beres. Baiklah Lenghou-heng, sampai jumpa pula."
Habis berkata, ia memberi salam lalu melangkah pergi.
Teringat bahwa Dian Pek-kong keracunan dan tak lama lagi akan mati dengan badan membusuk, sesudah bertempur selama beberapa hari dengan dia, tanpa terasa timbul juga rasa berat dalam hati Lenghou Tiong, hampir-hampir saja ia berseru akan ikut pergi. Tapi segera teringat pula bahwa dirinya sedang dihukum kurungan di atas puncak situ, tanpa izin gurunya sekali-kali tidak boleh turun dari puncak itu. Apalagi Dian Pek-kong adalah maling cabul yang kejahatannya sudah kelewat takaran, jika dirinya ikut pergi bersama dia, bukankah akan dianggap sebagai manusia kotor dan rendah.
Karena itu ia hanya menyaksikan kepergian Dian Pek-kong saja, lalu ia masuk kembali ke dalam gua dan menyembah di hadapan Hong Jing-yang, katanya, "Thaysusiokco bukan saja sudah menyelamatkan jiwaku, bahkan telah mengajarkan ilmu pedang mahatinggi kepadaku, budi kebaikan ini betapa pun sukar dibalas."
"Ilmu pedang mahatinggi" Hehe, masih selisih terlalu jauh," demikian sahut Hong Jing-yang sambil tersenyum. Senyumannya itu terasa penuh rasa kehampaan.
Segera Lenghou Tiong memohon, "Cucu minta Thaysusiokco sudi mengajarkan seluruh Tokko-kiu-kiam itu."
"Kau ingin belajar" Apakah kelak kau takkan menyesal?" tanya Hong Jing-yang.
Lenghou Tiong melengak, ia heran mengapa ditanya akan menyesal atau tidak" Tapi segera ia paham. "Ya, Tokko-kiu-kiam itu bukanlah ilmu pedang perguruannya sendiri. Maksud Thaysusiokco adalah mengkhawatirkan kelak aku akan didamprat oleh Suhu. Tapi biasanya Suhu toh tidak melarang aku memburu ilmu silat dari golongan lain. Apalagi dari gambar-gambar ukiran di dinding gua ini aku sudah banyak mempelajari ilmu pedang dari Ko-san-pay, Heng-san-pay dan lain-lain, bahkan ilmu silat dari Tianglo-tianglo Mo-kau itu pun sudah kupelajari, hendak melupakannya juga tidak bisa lagi. Kini Tokko-kiu-kiam terang jauh lebih sakti, benar-benar kepandaian mukjizat yang diimpi-impikan oleh setiap orang persilatan, secara kebetulan aku mendapat kesempatan untuk belajar dengan petunjuk-petunjuk dari tokoh angkatan tua perguruannya sendiri, mengapa aku menyia-nyiakan kesempatan bagus ini?"
Karena itu tanpa ragu-ragu lagi ia lantas menyembah, "Jika cucu dapat belajar, ini adalah rezeki yang suka dicari, kelak tentu akan merasa terima kasih, sekali-kali takkan menyesal."
"Baik, jika demikian aku akan mengajarkan padamu," kata Hong Jing-yang. "Dian Pek-kong telah pergi dengan penasaran, tentu dia belum menyerah begini saja. Tapi biarpun ia datang lagi, sedikitnya juga selang sepuluh hari atau setengah bulan pula. Waktu kita cukup banyak, kau harus belajar mulai dari depan agar dasarnya dapat terpupuk dengan kuat."
Begitulah ia lantas menguraikan kembali dari jurus pertama Tokko-kiu-kiam itu dan memberi penjelasan lebih lengkap. Kemudian diberi petunjuk-petunjuk pula tentang rumitnya perubahan-perubahan setiap jurus serangan.
Dari awal Lenghou Tiong hanya mengingat istilah-istilahnya saja sudah dapat memahami artinya yang terkandung, apalagi sekarang Hong Jing-yang memberi petunjuk-petunjuk secara jelas, keruan Lenghou Tiong memperoleh manfaat sebesar-besarnya, girangnya tak terkatakan, takjubnya tak terhingga.
Di atas puncak gunung itulah Hong Jing-yang mengajarkan seluruh Tokko-kiu-kiam yang meliputi sembilan jurus itu. Dimulai dari jurus pertama "Cong-koat-sik" (rumus atau ikhtisar umum), lalu "Boh-kiam-sik" (cara mengalahkan ilmu pedang), kemudian "Boh-to-sik" (cara mengalahkan ilmu golok), terus "Boh-jiang-sik" (cara mengalahkan permainan tombak), "Boh-pian-sik" (cara mengalahkan permainan ruyung), "Boh-so-sik" (cara mengalahkan permainan tali), "Boh-ciang-sik" (cara mengalahkan ilmu pukulan), "Boh-ci-sik" (cara mengalahkan bidikan panah) dan jurus kesembilan "Boh-gi-sik" (cara mengalahkan ilmu hawa atau Lwekang).
"Cara mengalahkan permainan tombak" itu meliputi cara mengalahkan permainan senjata-senjata panjang lain seperti toya, trisula, tongkat panjang dan sebagainya.
"Cara mengalahkan permainan ruyung" itu meliputi cara mengalahkan senjata keras dan pendek seperti gada, cundrik, belati, tongkat pendek, perisai, ruyung baja dan sebagainya.
"Cara mengalahkan permainan tali" itu meliputi kepandaian mengalahkan senjata-senjata yang lemas seperti tali panjang, cambuk, toya bertekukan tiga atau sembilan, tombak berantai, jaringan, bandul bertali dan lain sebagainya.
Tiga jurus yang terakhir ternyata jauh lebih sulit dipelajari daripada enam jurus yang pertama. "Boh-ciang-sik" adalah kepandaian yang khusus ditujukan untuk mengalahkan segala macam ilmu pukulan dan tendangan lawan. Sebab kalau musuh sudah berani bertanding dengan bertangan kosong untuk melawan senjatanya, maka kepandaiannya tentu sudah mencapai tingkatan yang tertinggi, pakai atau tanpa senjata boleh dikata tiada bedanya lagi.
"Boh-ci-sik" harus diartikan secara luas dan tidak terbatas pada mengalahkan "Ci" (panah) saja, tapi meliputi segala macam senjata rahasia. Di waktu berlatih jurus ini harus mahir dulu kepandaian "mendengarkan suara membedakan senjata". Harus dapat menggunakan senjata sendiri untuk menyampuk senjata rahasia musuh dan balas menyerang musuh pula.
Sedangkan jurus kesembilan yang disebut "Boh-gi-sik" hanya diajarkan oleh Hong Jing-yang cara berlatihnya saja. Katanya, "Jurus ini ditujukan untuk lawan yang memiliki Lwekang yang tinggi. Dengan ilmu pedangnya ini dahulu Tokko-locianpwe telah malang melintang di dunia persilatan tak pernah ketemu tandingan, dia ingin dikalahkan orang, tapi belum pernah dialami. Ini disebabkan beliau sudah menguasai ilmu pedangnya sedemikian sempurna dan saktinya. Begitu pula kau, sekarang kau sudah tahu jalannya, agar bisa lebih banyak menang daripada kalahnya kau harus berlatih dengan giat, lewat 20 tahun lagi paling tidak kau sudah dapat menjagoi dunia persilatan di samping tokoh-tokoh yang lain."
Lenghou Tiong tahu perubahan ilmu pedang Tokko-kiu-kiam itu tak terbatas, untuk dapat menguasainya boleh dikata sukar dipastikan waktunya, kalau Hong Jing-yang menyuruhnya untuk berlatih lagi 20 tahun juga bukan sesuatu yang luar biasa. Maka jawabnya, "Jika dalam 20 tahun cucu dapat menguasai dan meneruskan cita-cita Tokko-locianpwe yang menciptakan kesembilan jurus ilmu pedang ini, maka cucu benar-benar merasa syukur tak terhingga."
"Hendaklah kau mengetahui bahwa ilmu pedang ciptaan Tokko-locianpwe ini tidak cukup dihafalkan di luar kepala saja, yang lebih penting adalah memahami daya gunanya, kalau sudah dapat menguasai cara penggunaannya, di kala berhadapan dengan musuh, semakin tak terikat oleh susunan ilmu pedang yang kau hafalkan itu semakin baik. Bakatmu sangat baik, adalah sangat tepat untuk belajar ilmu pedang ini. Untuk selanjutnya kau boleh berlatih sendiri dengan giat. Sekarang aku akan pergi saja."
"Thaysusiokco, engkau hen ... hendak ke mana?" tanya Lenghou Tiong terkejut.
"Aku memang tinggal di gua belakang sana selama berpuluh tahun," sahut Hong Jing-yang. "Kemarin dulu karena rasa iseng aku telah keluar gua dan mengajarkan ilmu pedang ini padamu dengan harapan ilmu sakti ciptaan Tokko-locianpwe tidak sampai musnah. Sekarang kau sudah mempelajarinya dengan lengkap, cita-citaku sudah terkabul, mengapa aku tidak lekas pulang saja"
Bab 35. Ada Orang Hendak Rebut Jabatan Ketua Hoa-san-pay
"Kiranya Thaysusiokco tinggal di belakang situ, sungguh sangat kebetulan jika demikian. Siang malam cucu akan dapat meladeni dan menemani Thaysusiokco."
"Coba kau ikut kemari," kata Hong Jing-yang.
Tanpa berpikir lagi Lenghou Tiong ikut masuk ke dalam gua. Dilihatnya orang tua itu mendorong beberapa kali pada dinding gua, sepotong batu lantas menggeser perlahan dan akhirnya terlihatlah sebuah lubang gua. Sudah berpuluh kali Lenghou Tiong masuk-keluar gua belakang itu, tapi tak tersangka bahwa di gua belakang itu masih ada sebuah gua lagi.
Hong Jing-yang lantas melangkah masuk ke dalam gua itu, baru saja Lenghou Tiong hendak ikut masuk ke sana, mendadak orang tua itu membentak dengan suara bengis, "Coba lihat ke atas!"
Waktu Lenghou Tiong mengangkat kepalanya, tertampaklah di atas pintu gua itu tertulis: "Yang masuk gua ini bunuh tanpa ampun." Keruan ia terkejut dan menghentikan langkahnya.
"Ketujuh huruf itu adalah tulisanku," kata Hong Jing-yang dengan sungguh-sungguh, "maka siapa pun tidak kecuali, bila kau melangkah masuk ke dalam gua ini tentu akan kubunuh."
"Thaysusiokco ...." baru Lenghou Tiong hendak bicara, tiba-tiba Hong Jing-yang sudah merapatkan pintu batu itu dari dalam.
Untuk agak lama Lenghou Tiong berdiri terkesima di situ. Ia coba mendorong pintu batu itu perlahan, batu itu kelihatan bergerak-gerak, nyata sekali dengan gampang saja batu itu dapat dibuka, tapi lantas terkilas olehnya tulisan "yang masuk gua ini bunuh tanpa ampun" tadi, segera ia lepaskan tangannya dari batu itu, ia pikir bila orang tua itu sudah mengadakan larangan keras itu sebaiknya jangan dilanggarnya.
Telah belasan hari Lenghou Tiong berkumpul dengan Hong Jing-yang, ia merasa sangat kagum dan cocok sekali dengan jiwa orang tua itu seakan-akan sahabat sebaya, meskipun sebenarnya Hong Jing-yang adalah angkatan tua yang lebih tinggi tiga tingkat daripadanya. Karena itu ia merasa berat dan masygul bila sekarang mendadak harus berpisah. Pikirnya pula, "Di waktu mudanya watak Thaysusiokco ini mungkin sangat bandel seperti aku. Di waktu dia mengajarkan ilmu pedang padaku selalu mengatakan 'manusianya yang menguasai ilmu pedang dan bukan ilmu pedang yang menguasai manusia'. Dikatakan pula bahwa 'manusia adalah hidup, ilmu pedang adalah mati, manusia hidup tidak boleh terikat oleh ilmu pedang yang mati'. Logika ini memang tepat sekali. Tapi mengapa selamanya Suhu tak pernah mengatakan padaku?"
Lalu terpikir pula olehnya, "Ya, mungkin Guru kenal watakku dan khawatir aku berlatih secara ngawur sehingga tak keruan malah. Bila kepandaianku sudah cukup sempurna tentu guru akan menjelaskan hal itu kepadaku. Ilmu pedang Thaysusiokco sudah tentu sudah mencapai tingkatan yang tiada taranya, cuma sayang beliau tidak mau mempertunjukkan kemahirannya kepadaku. Kepandaian beliau tentu lebih tinggi lagi daripada guru. Melihat usia beliau yang sudah begitu lanjut, seorang diri tinggal di gua belakang sana, tentu hidupnya akan sangat kesepian dan kurang mendapat pelayanan. Tapi mengapa beliau sengaja menulis larangan memasuki gua itu bagi siapa pun juga walaupun anak murid Hoa-san-pay sendiri seperti diriku?"
Ia bermaksud mendorong pintu batu itu untuk menemui Hong Jing-yang pula, tapi demi terbayang sikapnya yang kereng tadi, akhirnya ia urungkan maksudnya. Ia menghela napas dan lantas keluar gua untuk berlatih pula.
Tokko-kiu-kiam itu cuma namanya saja sembilan jurus, tapi sesungguhnya meliputi segala macam ilmu silat di seluruh dunia ini. Setiap kali berlatih, setiap kali Lenghou Tiong bertambah memahaminya. Kira-kira satu jam lamanya ia berlatih, ketika ia mengeluarkan suatu serangan, tanpa merasa yang dilontarkan ternyata jurus "Yu-hong-lay-gi" dari ilmu pedang perguruannya sendiri.
Ia tertegun dan geleng-geleng sambil menggumam sendiri, "Ah, salah!" menyusul ia memainkan ilmu pedang Tokko-kiam-hoat pula. Tapi tidak lama kemudian, ketika dia menusuk, tahu-tahu yang dikeluarkan adalah jurus Yu-hong-lay-gi pula.
Diam-diam ia mendongkol sendiri, ia berpikir kebiasaan seorang memang sulit dihilangkan. Lantaran dirinya sudah hafal memainkan ilmu pedang perguruannya sendiri, maka di kala berlatih setiap saat dapat menyelip ilmu pedang yang dikuasainya itu. Mendadak terkilas suatu pikiran olehnya, "Thaysusiokco menganjurkan padaku untuk memainkan ilmu pedang ini secara bebas dan menurutkan sewajarnya, lalu apa salahnya jika aku memainkan ilmu pedang perguruan sendiri, bahkan kalau kuseling juga dengan ilmu pedang Heng-san-pay, Ko-san-pay dan lain-lain juga tidak menjadi halangan. Biarlah aku berlatih menuruti pikiranku ini, salah atau benar akan kutanyakan kepada Thaysusiokco bila beliau keluar nanti."
Segera ia memutar pedangnya pula, dasar yang ia mainkan adalah ilmu pedang ciptaan Tokko itu, tapi bila lancar dia lantas selingi dengan jurus-jurus serangan yang hebat dari ilmu pedang perguruannya sendiri serta jurus serangan aneh-aneh yang telah dilihatnya di dinding gua itu. Tapi karena ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay itu pada hakikatnya berlawanan dengan ilmu silat dari Mo-kau, maka kedua macam ilmu silat itu sukar dilebur menjadi satu.
Setelah berlatih lagi belasan kali dan tetap sukar dibaurkan, akhirnya Lenghou Tiong membuang pedangnya dan merasa gegetun. Katanya dalam hati, "Suhu sering mengatakan bahwa yang baik dan yang jahat tidak dapat berdiri bersama, agaknya ilmu silat Mo-kau memang aneh juga sehingga di antara kedua aliran ilmu silat pun tidak dapat dipersatukan."
Maka untuk selanjutnya dia hanya berlatih secara bebas tanpa pedulikan ilmu pedang apa yang dimainkannya, asal cocok terus dimainkan, ia campurkan berbagai jurus serangan di dalam Tokko-kiu-kiam. Cuma jurus yang paling banyak dimainkan selalu jurus Yu-hong-lay-gi, main ke sana kemari akhirnya serangan yang dilontarkan juga Yu-hong-lay-gi itu. Mendadak tergerak hatinya, "Bila jurus permainanku ini dilihat oleh Siausumoay, entah apa yang akan dia katakan?"
Teringat kepada gadis itu, tanpa merasa wajahnya menampilkan senyuman.
Selama ini karena dia harus menghadapi Dian Pek-kong, sehingga seluruh perhatiannya tercurah kepada latihan ilmu pedang, maka bayangan Gak Leng-sian sudah lama tidak muncul lagi dalam benaknya, kini mendadak teringat, seketika rasa rindunya sukar ditahan pula.
Tapi lantas terpikir pula, "Entah selama ini diam-diam dia mengajarkan ilmu pedang lagi kepada Lim-sute atau tidak" Meski Suhu telah melarangnya, tapi Siausumoay biasanya sangat bandel dan dimanjakan, boleh jadi ia telah melanggar larangan Suhu dan telah mulai mengajar lagi. Seumpama tidak mengajar, karena siang dan malam selalu bertemu, tentu pula hubungan Siausumoay dan Lim-sute akan semakin rapat."
Teringat demikian, senyumannya tadi lambat laun berubah menjadi senyuman getir dan akhirnya menjadi murung malah.
Selagi dia termenung-menung, tiba-tiba terdengar seruan Liok Tay-yu, "Toasuko! Toasuko!"
Suaranya kedengarannya sangat gelisah dan khawatir.
Lenghou Tiong terkejut, terkilas pikirannya, "Wah, celaka! Jangan-jangan keparat Dian Pek-kong itu telah mengalihkan sasarannya ke rumah dan telah menculik Siausumoay untuk memaksa agar aku menuruti keinginannya."
Cepat ia memburu ke tepi karang, dilihatnya Liok Tay-yu sedang berlari ke atas dengan menjinjing keranjang daharan. Napasnya tampak tersengal-sengal dan sedang berseru dengan terputus-putus, "Toa ... Toasuko, wah, ce ... celaka!"
"Ada apa" Kenapa dengan Siausumoay?" tanya Lenghou Tiong dengan khawatir.
Saat itu Liok Tay-yu telah melompat ke atas puncak situ, ia menaruh keranjang yang dibawanya itu di atas batu, lalu menjawab, "Siausumoay" Dia tidak apa-apa. Wah, celaka, gelagatnya bisa celaka!"
Mendengar bahwa Gak Leng-sian tidak apa-apa, maka legalah hati Lenghou Tiong. Segera ia tanya, "Urusan apa yang celaka?"
"Suhu ... Suhu dan Sunio sudah pulang!" sahut Liok Tay-yu dengan masih megap-megap.
Lenghou Tiong bergirang, semprotnya, "Cis! Kalau Suhu dan Sunio sudah pulang kan sangat baik, mengapa bilang celaka?"
"Tidak, tidak, kau tidak tahu," kata Liok Tay-yu. "Baru saja Suhu dan Sunio pulang, sekadar minum saja belum mereka sudah lantas dikunjungi beberapa orang, tampaknya orang-orang dari kawan Ngo-gak-kiam-pay kita."
"Jika kunjungan kawan-kawan dari Ngo-gak-kiam-pay, apanya yang perlu diherankan?" ujar Lenghou Tiong.
"Tidak, tidak, kau tidak tahu. Di antara mereka itu masih ada tiga orang pula yang mengaku orang Hoa-san-pay kita, bertemu dengan Suhu lantas memanggil Suheng, tapi Suhu tidak memanggilnya sebagai Sute."
"Bisa terjadi demikian" Macam apakah ketiga orang itu?" tanya Lenghou Tiong rada heran.
"Yang seorang sangat tinggi dan gemuk dan mengaku she Hong bernama Put-peng. Seorang lagi adalah Tojin dan yang lain bertubuh pendek, nama-nama mereka aku tidak ingat, yang terang semuanya memang orang dari angkatan 'Put'."
"Ya, mungkin mereka adalah murid murtad perguruan kita yang sudah lama dipecat."
"Benar, dugaan Suheng memang tepat. Memang begitu Suhu melihat mereka lantas tidak senang. Kata beliau, 'Hong-heng, kalian bertiga sudah tiada hubungan apa-apa lagi dengan Hoa-san-pay, untuk apa datang ke Hoa-san sini"'
"Hong Put-peng itu menjawab, 'Apakah Hoa-san adalah milikmu" Kenapa melarang orang lain datang ke sini"'
"Suhu mendengus, katanya, 'Jika kalian pesiar ke atas gunung ini sudah tentu silakan dengan bebas. Tapi Gak Put-kun bukan lagi Suhengmu, sebutan Gak-suheng aku tidak berani terima.'
"Mendadak Hong Put-peng itu menjengek, 'Hm, dahulu kau menggunakan tipu muslihat sehingga berhasil mengangkangi Hoa-san ini dan mengusir kami dari sini, utang lama ini harus kita bereskan hari ini. Kau tidak sudi dipanggil Suheng olehku, hm, sesudah perhitungan utang piutang nanti sekalipun kau menyembah dan suruh aku memanggil saja tidak sudi aku.'"
"O, sampai demikian persoalannya?" kata Lenghou Tiong. Diam-diam ia percaya sang guru sedang menghadapi persoalan yang sangat pelik.
Sementara itu Liok Tay-yu menyambung lagi, "Ketika kami mendengar ucapan orang she Hong itu, tentu saja kami sangat gusar. Siausumoay yang pertama-tama tidak tahan, segera ia memaki. Namun Sunio ternyata tenang-tenang saja dan melarang Siausumoay bertindak. Suhu sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada ketiga orang itu, katanya dengan hambar, 'Kau ingin membuat perhitungan" Perhitungan apa dan cara bagaimana menghitungnya"'
"Dengan suara keras Hong Put-peng itu menjawab, 'Kau merampas jabatan ketua Hoa-san-pay sudah 30-an tahun, apa kau merasa masih belum cukup" Bukankah sudah waktunya kau menyerahkan tempatmu kepada orang lain"'
"Suhu tertawa dan menjawab, 'O, kiranya kedatangan kalian ini bermaksud untuk merebut kedudukanku ini. Sebenarnya tidak perlu susah-susah, asalkan Hong-heng merasa cukup syarat menjabat kedudukanku ini, tentu aku akan menyerahkannya padamu.'
"Hong Put-peng berkata, 'Dahulu kau mendapatkan jabatanmu ini dengan tipu muslihat keji, sekarang aku sudah melapor kepada Co-bengcu dari perserikatan Ngo-gak-kiam-pay kita, aku telah diberi panji kebesarannya dan diperintahkan mengambil alih jabatan ketua Hoa-san-pay dari tanganmu.'
"Habis berkata ia lantas mengeluarkan sebuah bendera kecil, jelas itu adalah Ngo-gak-leng-ki, panji tanda perintah ketua perserikatan Ngo-gak-kiam-pay."
Lenghou Tiong berseru penasaran, katanya dengan gusar, "Co-bengcu benar-benar telah melampaui kekuasaannya, urusan dalam Hoa-san-pay kita tidak perlu dia ikut campur, berdasarkan apa dia ada hak untuk memecat dan mengangkat ketua Hoa-san-pay yang baru?"
"Benar, makanya waktu itu Sunio juga berkata begitu. Akan tetapi orang tua dari Ko-san-pay yang mengaku she Sin telah membela Hong Put-peng secara mati-matian, katanya jabatan ketua Hoa-san-pay harus diserahkan kepada Hong Put-peng sehingga terjadi perdebatan seru dengan ibu-guru. Orang-orang Thay-san-pay, Heng-san-pay dan lain-lain yang ikut datang memusuhi kita. Toa ... Toasuko, melihat gelagatnya kurang menguntungkan, maka aku lantas lari ke sini untuk memberitahukan padamu."
"Kesulitan perguruan adalah kewajiban mutlak para murid untuk membelanya dengan segenap jiwa raganya," kata Lenghou Tiong. "Laksute, marilah kita berangkat!"
"Benar! Bila Suhu melihat perjuanganmu, tentu beliau takkan menyalahkan kau yang telah melanggar larangannya turun dari puncak sini."
Belum selesai Lak-kau-ji bicara, tahu-tahu Lenghou Tiong sudah lantas berlari ke bawah. Terdengar suaranya, "Biarpun dimarahi Suhu juga tidak apa-apa. Celakanya kalau Suhu benar-benar menyerahkan jabatannya kepada orang lain, inilah yang runyam."
Karena sudah ketinggalan, segera Liok Tay-yu menyusul dengan cepat dan sudah tentu dia tidak jelas mendengar apa yang dikatakan Lenghou Tiong itu.
Belum seberapa jauhnya mereka berlari di jalan pegunungan itu, sekonyong-konyong dua sosok bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu telah menghalang di tengah jalan.
Jalan pegunungan itu sangat sempit, yang sebelah adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya, sebelah lain adalah dinding karang, munculnya kedua pengadang itu benar-benar mendadak luar biasa. Waktu itu Lenghou Tiong sedang lari dengan cepat sehingga hampir-hampir tertumbuk. Ketika lekas-lekas ia menahan langkahnya, jaraknya dengan kedua pengadang itu sudah tinggal belasan senti saja.
Waktu diperhatikan, terlihat muka salah seorang pengadang itu benjal-benjol, dekak-dekik tidak rata. Seorang lagi mukanya penuh keriput, semuanya sangat menyeramkan. Keruan Lenghou Tiong terkejut dan cepat melompat mundur, bentaknya, "Siapa kau?"
Tapi pada saat itu juga ia merasa di belakangnya juga berdiri dua orang. Dengan terkejut ia menoleh. Kembali dilihatnya dua wajah yang sangat buruk, yang satu bermuka lebar dan sangat merah, yang lain bermuka lonjong sebagai muka kuda. Kedua wajah itu jaraknya cuma belasan senti saja di belakangnya, sehingga waktu ia menoleh hampir-hampir saja ia adu hidung dengan salah seorang aneh itu.
Keruan Lenghou Tiong tambah kaget, cepat ia melangkah maju. Tapi segera tertampak lagi di tepi jalan yang berbatasan dengan jurang itu berdiri pula dua orang. Yang seorang bermuka sangat hitam dan yang lain pucat keabu-abuan. Telapak kaki kedua orang itu kelihatan mengapung di tepi jurang, hanya satu-dua jari kaki mereka yang bertahan di atas tanah, jadi tubuh mereka pada hakikatnya bergantungan di udara, keadaannya sangat berbahaya, jangankan didorong, cukup ditiup oleh angin pegunungan saja mungkin mereka sudah tertiup jatuh ke dalam jurang.
Dalam sekejap itu Lenghou Tiong telah dikepung oleh enam orang aneh di tengah jalan yang luasnya cuma satu meter saja. Hawa napas kedua orang di depannya dapat tercium, hawa napas kedua orang di belakangnya juga terasa hangat-hangat mengusap tengkuknya.
Melihat kedua orang yang berdiri di tepi jurang itu, bila Lenghou Tiong mau menumbuknya memang dengan sangat mudah dapat membuat mereka terjerumus ke dalam jurang, tapi itu tidak berarti dia dapat lolos dari kepungan keempat orang yang berdiri di muka-belakangnya itu.
Segera Lenghou Tiong hendak melolos pedang, tapi keenam orang mendadak melangkah maju setengah tindak sehingga Lenghou Tiong tergencet di tengah-tengah, ruang bergeraknya semakin sempit, hendak mengangkat tangan saja susah, sebab pasti akan menyentuh orang-orang itu.
Waktu itu terdengar Liok Tay-yu telah berteriak-teriak di belakang, "He, he! Kalian mau apa?"
Selama hidup Lenghou Tiong belum pernah mengalami kejadian seaneh ini, biarpun dia pintar dan cerdik juga kehilangan akal dalam waktu sekejap itu.
Keenam orang itu benar-benar seperti setan, seperti jin, mirip siluman. Muka mereka buruk menakutkan, gerak-gerik mereka lebih-lebih aneh pula.
Lenghou Tiong bermaksud mendorong kedua orang di depannya, tapi kedua orang itu berdiri terlalu dekat sehingga tak mungkin dapat mengangkat kedua tangannya. Sekilas terpikir olehnya bahwa orang-orang aneh ini tentu adalah begundalnya Hong Put-peng. Namun dia coba bertanya pula, "Sebenarnya siapa kalian ini?"
Sekonyong-konyong pandangannya jadi gelap, sebuah karung besar telah mengurung dari atas kepalanya, tahu-tahu tubuhnya sudah berada di dalam karung itu. Hanya terdengar seorang berkata padanya dengan suara tajam melengking, "Jangan takut, akan kami bawa kau untuk bertemu dengan si nona cilik."
Mendengar itu mendadak Lenghou Tiong tahu, "Ah, kiranya mereka adalah komplotannya Dian Pek-kong."
Segera ia berteriak-teriak, "He, lekas kalian melepaskan aku! Kalau tidak segera aku membunuh diri dengan pedang. Lenghou Tiong berani berkata berani berbuat, biarpun mati aku pantang menyerah."
Baru habis ucapannya, tiba-tiba kedua lengan sendiri telah dipegang oleh dua tangan dari luar karung. Begitu kuat kedua tangan itu sehingga mirip tanggam besi, lengan Lenghou Tiong sampai amat kesakitan.
Percuma saja Lenghou Tiong habis mempelajari Tokko-kiu-kiam dan mahir cara mematahkan ilmu tangkapan, tapi dalam keadaan seperti sekarang ini, biarpun mempunyai kepandaian setinggi langit juga tidak dapat dikeluarkan sedikit pun. Dia hanya bisa mengeluh belaka di dalam karung.
Mendadak terdengar seorang di antaranya berkata, "Si nona cilik sayang itu ingin bertemu padamu. Kau menurut ya, kau pun anak yang baik, sayang!"
Menyusul seorang lagi berkata, "Kau jangan membunuh diri, jika tidak menurut sebentar akan kubikin kau mati tidak hidup pun tidak."
"Jika dia sudah mati bunuh diri, bagaimana kau akan bikin dia hidup tidak mati pun tidak?" tanya seorang kawannya.
"Aku hanya menakut-nakuti dia supaya tidak membunuh diri," sahut orang yang tadi.
"Kalau mau menakut-nakuti harus jangan diperdengarkan padanya, sekarang dia sudah tahu, tentu tak dapat ditakut-takuti lagi," debat kawannya pula.
"Aku justru ingin menakut-nakuti dia, kau mau apa?" ngotot orang tadi.
"Aku bilang lebih baik membujuk dia saja," kata seorang lagi.
"Tidak, sekali aku menakut-nakuti tetap akan kutakut-takuti dia," orang tadi tetap ngotot.
"Tapi aku lebih suka membujuknya," sahut yang lain. Dan begitulah orang-orang itu terus bertengkar tak berhenti-berhenti.
Dikurung di dalam karung itu Lenghou Tiong menjadi khawatir dan mendongkol pula mendengar pertengkaran orang-orang seperti anak kecil itu. Pikirnya, "Ilmu silat enam orang itu sangat tinggi, tapi agaknya sangat tolol."
Segera ia berteriak, "Kalian akan menakut-nakuti atau membujuk, semuanya tak berguna. Bila kalian tidak lepaskan aku, segera aku akan menggigit lidah untuk membunuh diri."
Tapi mendadak pipinya terasa kesakitan, seorang telah meremas kedua belah pipinya dengan keras. Lalu suara seorang sedang berkata, "Bocah ini sangat bandel, jika lidahnya tergigit putus dan tak bisa bicara tentu si nona cilik tidak senang."
"Jika lidahnya tergigit putus tentu orangnya akan mati, masakah cuma tak bisa bicara?" ujar seorang lagi.
"Belum tentu bisa mati," sahut orang tadi. "Kalau tidak percaya boleh coba kau menggigit lidahmu."
"Aku percaya pasti akan mati, maka tidak perlu gigit lidahnya sendiri. Kau tidak percaya, maka kau saja yang coba."
"Buat apa aku menggigit lidah?" sahut orang tadi. "Eh, biar dia saja."
Lalu terdengarlah suara jeritan Liok Tay-yu, rupanya dia telah kena ditangkap juga oleh orang-orang aneh itu. Terdengar orang tadi membentak, "Hayo, kau menggigit putus lidahmu, coba lihat kau akan mati atau tidak. Hayo lekas gigit, lekas!"
"Tidak, tidak, aku tidak mau!" teriak Liok Tay-yu.
Mendadak Lenghou Tiong berteriak dan pura-pura sangat kesakitan. Tapi terdengar salah seorang aneh itu berkata, "Kau pura-pura saja. Kupencet gerahammu, cara bagaimana kau dapat menggigit lidah?"
"Lepaskan aku, lepaskan aku!" teriak Lenghou Tiong dengan suara tak jelas.
Mendadak terdengar suara "bret-bret" dua kali, karung itu telah robek, kedua lengannya telah ditarik keluar melalui lubang sobekan karung itu. Menyusul pandangannya menjadi terang, kiranya seorang aneh itu telah merobek dua lubang kecil pada karung itu sehingga dia dapat melihat keadaan di luar.
Tertampaklah seorang kakek dengan muka penuh keriput berkata padanya, "Asal kau berjanji takkan membunuh diri segera juga akan kulepaskan kau."
Habis berkata ia lantas melepaskan tangannya yang memencet kedua belah geraham Lenghou Tiong itu.
Sementara itu dua orang aneh yang berada di belakangnya sedang memaksa Liok Tay-yu supaya menggigit lidahnya sendiri untuk dicoba akan mati atau tidak bila lidah tergigit putus.
Maka Liok Tay-yu terus berteriak-teriak, "Tidak, tidak, aku tidak mau. Bila lidah tergigit putus tentu akan mati!"
"Nah, apa kataku?" kata si orang aneh tadi. "Bila lidah putus tentu orangnya akan mati. Dia sendiri pun mengaku demikian."
"Dia kan belum mati, mana buktinya?" sahut kawannya.
"Dia belum mati karena belum gigit lidahnya. Sekali gigit tentu akan mati!" bantah orang tadi.
Dalam pada itu diam-diam Lenghou Tiong mengerahkan tenaga ke lengannya dan coba meronta sekuatnya, tapi pergelangan tangannya lantas kesakitan, sedikit pun tak bisa terlepas. Muka keenam orang aneh itu sangat buruk, ilmu silat mereka begitu lihai pula. Dalam keadaan demikian, biarpun Lenghou Tiong yang biasanya sangat cerdik juga mati kutu seketika.
Sejenak kemudian tiba-tiba ia mendapat akal. Mendadak ia menjerit dan pura-pura pingsan. Maka terdengarlah tiga orang aneh itu berseru khawatir, "Wah, celaka!"
"Dia mati ketakutan!" kata seorang di antaranya.
"Tidak, takkan mati ketakutan, masakah begitu tak becus," ujar yang lain.
"Seumpama mati juga bukan mati ketakutan!" timbrung pula seorang lagi.
"Habis, sebab apa dia mati?" tanya yang pertama tadi.
Di sebelah sana Liok Tay-yu menjadi kaget. Disangkanya sang Toasuko benar-benar telah dibikin mati, seketika ia menangis sedih.
Buddha Pedang Dan Penyamun Terbang 4 Sarang Perjudian Karya Gu Long Naga Naga Kecil 4
^