Pencarian

Kitab Mudjidjad 11

Kitab Mudjidjad Lanjutan Bocah Sakti Karya Wang Yu Bagian 11


mempesonakan orang yang melihatnya.
Hui Lan jadi bengong mengawasi orang asing itu.
Ia tidak kenal si pemuda cakap itu. Dari mana
datangnya ia dengan Tiba tiba saja ada dibawah
jendelanya" Ia menduga adalah orang jahat, maka
cepat-cepat ia menutup jendelanya dan menghampiri
pembaringannya, dimana ia duduk seraya memikirkan
pemuda cakap dibawah jendela kamarnya tadi.
Ia menukar pakaiannya dengan pakaian tidur dan naik
kepembaringan. Ia coba mengusir bayangan si anak muda dari kelopak
matanya, sia-sia saja, wajah pemuda tampan itu malah
makin tegas bayangannya seperti berseri-seri kearahnya.
Gelisah hatinya si anak dara, dadanya berdebaran,
yang baru pernah ia alami.
"Kurang ajar, kenapa kau membayangi saja..?"
katanya perlahan, seraya mengambil bantal kepalanya
yang lain uutuk menutupi wajahnya.
Hui Lan tidur telentang dengan wajah ditutupi bantal.
pikirnya dengan begitu ia dapat melenyapkan wajah si
pemuda yang selalu berbayang saja depan matanya.
Namun, usahanya untuk mengusir bayangan si
pemuda tampan sia-sia saja, malah makin tegas
kelihatannya. Bingung Hui Lan, ia tidak tahu apa yang ia
harus perbuat. Tanpa disadari. ia telah turun dari pembaringannya
dan kembali membuka jendelanya.
Ia mengharap tidak melihat pula pemuda.
tapi...astagaa. , pemuda itu masih tetap berdiri ditempat
tadi dengan wajah bersenyum-senyum.
"Ong Siocia, kau tidak suka melihat wajahku?" kata si
pemuda. Hui Lan tidak menyahut, hanya matanya menatap
dengan tidak berkedip. "Ong Siocia, pertemuan kita adalah jodoh, kenapa kau
demikian dingin menyambut tamu yang ingin berkenalan
denganmu?" "Kau siapa...?" tanya Hui Lan perlahan hampir tidak
kedengaran. "Aku si orang she coa, rumahku tidak berjauhan dari
sini." "Malam-malam datang kemari. apa kau tidak takut
ditangkap centengku?"
Anak muda she coa itu ketawa. manis sekali
ketawanya, hingga si nona jadi terpesona oleh
karenanya. "Kau mentertawakan apa?" tanya si gadis kepingin
tahu. "Asal kau bersenyum, akan kukatakan sebabnya, Ong
Siocia." Hui Lan memang sejak tadi bicaranya serius saja,
sedikitpun tidak menunjukkan senyumnya. Mendengar
perkataan si pemuda tadi, hatinya tidak senang, pikirnya
pemuda itu tentu pemuda bangor, pakai minta orang
bersenyum segala. "Kau tidak mau menerangkan, ya sudah, untuk apa
kau minta aku bersenyum segala?" berkata si nona
dengan hati mendelu. "Kau marah Ong Siocia?"
"Aku bukannya marah, tapi tidak enak mendengar
perkataanmu itu." "Baiklah, kalau begitu aku berlalu saja..."
Anak muda itu melemparkan senyumannya yang
memikat dan memutar tubuhnya hendak meninggalkan
tempat itu. "Kau balik?" panggil Hui Lan, ketika baru saja si anak
muda melangkah. Anak muda itu putar lagi tubuhnya dan menanya:
"Ada apa Ong Siocia?"
Hui Lan tadi melihat si anak muda hendak berlalu.
hatinya bergoncang keras. ia tidak tahu kenapa jadi
begitu. Maka tanpa disadari. ia memanggil orang suruh
balik. Sekarang ia ditanya ada urusan apa menyuruh
orang balik, menjadi kebingungan, tidak tahu apa yang ia
harus jawab. Dalam bingungnya, ia jadi bersenyum tanpa
menjawab. Pemuda itu balik lagi dan berkata: "Siocia,
senyumanmu membuat aku tidak bisa pergi dari sini.
Sungguh kau sangat cantik, Siocia.."
Suatu pujian yang wajar terhadap dirinya, biasa keluar
dari mulutnya banyak pemuda, tapi kali ini pujian keluar
dan mulutnya pemuda she coa itu, entah bagaimana
membikin guncang hatinya si nona. Ingin ia mendekati si
pemuda dan pasang omong. "Kau memuji berkelebihan" kata-nya perlahan.
"Memang kau sangat cantik Siocia. kalau tidak, tidak
sampai aku datang ke-mari."
Bergejolak hatinya si nona
"Maksudmu?" tanyanya singkat.
"Aku datang malam ini, maksudnya ingin berkenalan
dengan Siocia..." "Kenapa malam malam, bukannya di-waktu siang?"
"Itulah Siocia. Aku berasal dari keluarga rendah, mana
mungkin minta berkenalan dengan terus terang, pasti
keluargamu akan mengusir aku seperti anjing buduk.
Maka aku gunakan kesempatan diwaktu malam begini
dengan pertimbangan bahwa Siocia akan menaruh
kasihan padaku dan suka menerima aku menjadi kenalan
Siocia..." Hui Lan berdiri termenung. Ia membayangkan,
memang banyak pemuda-pemuda cakap yang
mengharapkan dirinya, cuma saja mereka tak berdaya
karena keadaannya yang miskin.
Mereka tidak mempunyai keberanian untuk
memajukan lamarannya. Pikirnya, boleh jadi pemuda
didepannya ini adaiah salah satu diantara banyak
pemuda itu. "Perkenalan tanpa diketahui orang tua mana enak,
namamu siapa sih?" "Namaku satu huruf LENG, Ong Siocia."
"Baiklah. aku selanjutnya memanggil kau Leng koko."
"Bagus, bagus, terima kasih atas penghargaan Siocia."
"Kau juga jangan panggil Siocia, panggil saja nama
kecilku, Lan Lan." "Sungguh kau seorang yang bijaksana dan baik hati,
Sio..eh. adik Lan." Hui Lan ketawa ngikik melihat lagak-lagunya si anak
muda yang lucu. Dalam perkenalan yang singkit. kedua anak muda itu
seperti sudah berkenalan lama saja. Percakapannya
saban saban ditutup dengan ketawa gembira.
Tiba tiba Hui Lan hentikan ketawanya dan
memandang pada si anak muda yang masih sedang
ketawa. "Kau kenapa. adik Lan?" tanyanya.
"Sayang," Sahutnya. "Kalau kita bisa bercakap cakap
berdekatan barangkali lebih baik, Leng-koko, bagaimana
kau pikir?" "Itu bagus, bagaimana kalau adik Lan keluar dari
kamar dan kita bercakap-cakap ditaman bunga, apa itu
tidak bagus?" Hui Lan berpikir sejenak.
"Ah. aku takut, nanti ayah. dan ibu mempergoki
pertemuan kita," kata si gadis.
"Kalau begitu, adik Lan mundur sebentar," kata si
pemuda. Hui Lan tidak tabu apa maksudnya coa Leng, tapi ia
toh mundur kedalam. Belum ia tancap kaki untuk melangkah mundurnya, ia
lihat coa Leng sudah lompat masuk melalui jendela dan
berdiri di depannya. Kaget bukan main Hui Lan. Untuk dapat masuk
kedalam kamar melalui jendela, sedikitnya orang kudu
pakai tangga, sebab jendela jaraknya tinggi juga dari
bawah. Makanya tanpa tangga. coa Leng sudah dapat
masuk, sungguh mengherankan si gadis. Di samping itu
juga hatinya berdebaran karena ia seperti umpetkan
lelaki dalam kamarnya, kalau sampai ketahuan orang
tuanya, apa nanti mereka akan katakan"
"Leng koko, kau kenapa masuk dalam kamarku?"
tegurnya. "Habis, ditaman bunga kau tidak mau, terpaksa aku
harus masuk kamarmu untuk dapat bercakap cakap
berdekatan," jawab coa Leng sambil mendekati si gadis.
Hui Lan tidak bisa berkata apa-apa, sebab memang
dari mulutnya yang mengeluarkan keinginan dapat
bercakap-cakap berdekatan. Ia tundukkan kepala tidak
menyahut. "Adik Lan, kau jangan takut. Kita bercakap-cakap
perlahan, tidak seorang-pun akan mendengarnya, maka
marilah kita duduk bercakap-cakap..." kata coa Leng,
seraya mencekal lengan si nona yang halus lunak.
Hui Lan berdebar hatinya merasa tangannya dicekal si
pemuda. namun, ia tidak menarik pulang, hanya menurut
ditarik dan diajak duduk diatas sebuah kursi panjang
yang terletak memang tidak jauh dari jendela kamar.
"Adik Lan, kenapa kau diam saja?" tegur si pemuda,
melihat Hui Lan membisu sambil menundukkan kepala,
tangannya hanya mempermainkan setangannya.
Dalam pakaian tidur yang agak tipis, tampak kulitnya
si nona yang putih halus.
Rambutnya yang agak kusut seolah-olah
menambahkan kecantikannya si nona. Badannya yang
bulat serba padat membikin coa Leng menarik napas
panjang untuk menekan geloranya darah muda yang
tiba-tiba saja panas. Coa Leng geser duduknya lebih dekat, dengan berani
ia memegang dagunya si nona didongakkan. mereka jadi
berpandangan. "Adik Lan, kau jangan takut. Pertemuan kita malam ini
sudah jodoh, tiada manusia atau setanpun yang
mengganggu kita. Legakan hatimu, adik Lan!" menghibur
coa Leng, seraya bersenyum memikat.
justeru senyuman itulah yang membuat hatinya si
gadis tabah. Meskipun demikian, ia masih berkata:
"Leng-koko, aku takut, takut ketahuan ayah atau ibu..."
"Ayah dan ibumu sudah masuk tidur. mana mereka
perhatikan kau?" menghibur coa Leng. seraya tangannya
mulai nakal merayapi tubuh si nona yang serba padat.
"jangan begini, koko, mari kita cakap-cakap saja... !"
keluh si nona. seraya menyingkirkan tangan coa Leng
yang makin binal. mau menjamah buah dadanya si gadis.
"Baiklah." sahut si anak muda, seraya tarik pulang
tangannya yang nakal tadi.
Hui Lan menceritakan hal dirinya yang ramai dilamar
dan sukar ia melakukan pilihan, sebaliknya coa Leng
bicarakan hal dirinya yang merindukan si nona sudah
lama, dan baharu malam itu dapat bertemu muka.
Hui Lan menghela napas. "Sayang koko tidak dapat
berterus-terang melamar diriku, kalau tidak, pasti
pilihanku kepada koko...." si gadis menuangkan isi
hatinya dengan blak blakan.
"Asal adik Lan setuju pada koko, yang lainnya tidak
usah dipikirkan." "Mana bisa begitu, apa memangnya kita menikah
berdua saja?" "Memang maksudku kita menikah berdua saja."
"Mana bisa, kita harus menikah dengan ramai-ramai,
supaya umum mengetahui kita sudah menjadi suami
isteri. Umum menyaksikan pernikahan kita, bukankah itu
baik" Kau jangan mementingknn kepentingan diri sendiri
saja, koko..." Coa Leng tundukkan kepalanya sejenak. ketika
diangkat lagi dan menatap wajah si nona. tampak
matanya berkaca-kaca. "Hei, kenapa kau menangis. koko?" tanya si nona
kaget. cepat ia menggunakan setangannyaa untuk
menyeka air mata coa Leng yang mengalir dipipinya yang
putih. "Kalau harus melalui upacara demikian untuk
mendapatkan adik Lan. terus terang aku tidak sanggup,"
kata Coa Leng dengan suara mengasihkan.
"Tidak sanggupnya, kenapa?" tanya Hui Lan.
"Aku pemuda dari keluarga miskin. mana diterima oleh
orang tuamu. adik Lan."
Hui Lan terdiam. Ia dapat mengerti akan keputus
asaan si anak muda, namun cara bagaimana ia dapat
berpasangan dengan anak muda yang tampan itu. kalau
tidak melalui ucapan yang umum" Apa ia harus
berhubungnn gelap-gelapan dengan coa Leng. itu tak
mungkin. Kalau tidak sampai punya anak tdak apa.
namun kalau dari perhubungan itu menghasilkan buah
berapa anak. apakah tilak rusak nama keluarganya yang
harum" Hui Lan jadi kebingungan.
"Habis bagaimana baiknya pikiran koko?" tanya si
gadis yang keputusan akal.
"Aku hanya minta belas kasihan adik Lan saja."
Coa Leng berkata seraya menepas air matanya yang
masih keluar mengalir. Hui Lan sangat kasihan melihat pemuda itu sangat
berduka. "Leng-koko, mari kita percakapkan urusan yang lain
saja, yang menggembirakan." menghibur si nona, seraya
memperdengarkan ketawanya yang gembira.
Coa Leng juga dengan lantas berubah gembira.
Kedukaannya yang barusan demikian mengesankan,
ternjata tidak ada bekas-bekasnya, kapan ia tertawa
gembira mendengar cerita yang lucu-lucu dari si nona.


Kitab Mudjidjad Lanjutan Bocah Sakti Karya Wang Yu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hui Lan memang adalah gadis jenaka dau lucu,
senang orang kalau bercakap-cakap dengannya, sebab
setiap kali habis bicara, suka ditutup dengan ketawa
enak. Demikianlah dengan coa Leng.
Anak muda itu, yang datang malam itu menyatroni
kamarnya si gadis. rupanya punya maksud tertentu,
maka sebisa-bisanya ia membuat si nona kegirangan.
Makin lama si nona makin jatuh hati pada pemuda
tampan dan ganteng itu. Ia membiarkan ketika coa Leng menggeser duduknya
dan merapat dengan badannya.
Tapi ketika coa Leng hendak merangkul, cepat-cepat
ia mendorong sambil berkata: "Koko, cukup kita
bercakap-cakap saja untuk kita ketawa-ketawa gembira
eh,...eh,...koko, kau mau berbuat apa... ?"
Hui Lan kewalahan melihat tangannya yang
mendorong tubuh si anak muda sia-sia saja, malah
dirinya telah dipeluk erat, hingga perkataannya tadi
dikeluarkan dengan gugup dan ketakutan.
Anak muda itu pintar memilih bagian bagian wanita
yang dapat menimbulkan rangsangan napsu, maka setiap
tangannya menjamah, membuat Hui Lan mengeluh lirih.
Hui Lan tidak berdaya ketika ia mendengar si pemuda
berbisik ditelinganya: "Adik.Lan, malam ini adalah malam
jodoh pertemuan kita, kenapa harus dilewatkan?"
"Leng koko, kau mau apakan aku... ?" tanya Hui Lan
perlahan, dikala merasa dirinya dipondong dan
direbahkan diatas pembaringan, tarikan napasnya lebih
cepat hingga kedua bukit dadanya yang baru jadi,
bergerak turun naik .... ooOdwOoo BAB-42 SUASANA malam berlangsung sunyi senyap.
Angin yang menghembus masuk melalui jendela
kemudian keluar lagi, seolah-olah melongok apa yang
terjadi dalam kamar itu. Suara merintih yang kedengaran sayup sayup terbawa
angin, menandakan bahwa Hui Lan sejak malam itu
sudah bukan gadis lagi... Bukan si perawan cantik jelita
yang menjadi rebutan tiap pemuda, yang menjadi
idaman tiap orang tua untuk memungut mantu.
Besoknya, Hui Lan merasakan badannya pada letih
dan lemas, hingga ia baru bangun ketika ibunya datang
kekamarnya. Sang ibu lihat wajah anaknya sangat pucat
menjadi kaget sekaii. "Anak lan, kau kenapa" Apa kau mendapat sakit?"
tanyanya. Hui Lan pura-pura memijit mijit pipinya dan
menjawab: "Rupanya aku masuk angin ibu, kepalaku
rasanya pusing sekali..."
Sang ibu sangat menyayangi puteri tunggalnya, maka
ia lantas mendekati dan memijit-mijit kepalanya sang
anak dengan maksud supaya hilanglah pusingnya si
anak. Demikianlah telah terjadi. seorang ibu kena dikibuli
oleh anaknya. Sejak iiu, Hui Lan adatnya berubah menjadi pendiam.
Ia tadinya riang gembira dan jenaka sekali, mendadak
sekarang menjadi pendiam, membuat kedua orang
tuanya menjadi heran, mereka mendesak lebih keras
untuk si nona lekas memilih calon suaminya.
Atas desakan itu, si nona hanya ketawa getir, dan
akhirnya menyatakan ia tidak ingin menikah dengan
siapa juga. Suatu jawaban yang tidak diduga-duca oleh
Ong Ceng Hin dan isterinya yang sudah mengharap si
nona akan memberikan keputusannya memilih suami.
Curiga akan gerak-gerik anaknya yang aneh itu, maka
ibunya diam-diam telah mengusut sebab-sebabnya si
nona telah berubah adatnya.
Pada suatu malam. ia mencuri dengar apa yang terjadi
dalam kamarnya Hui Lan. Hatinya nyonya Ong kaget bukan main ketika
mendengar anaknya ketawa cekikikan seperti kegelian
tubuhnya dijamah lelaki. Paling belakang ia tidak pernah
melihat anaknya bersenyum, apalagi ketawa cekikikan
seperti yang ia dengar. Pikirnya. mesti ada apa apa dalam kamar itu. Ia
pasang kupingnya pula, ia mendengar Hui Lan berkata:
"Urusan bisa berabe kalau kita terus main gelap-gelapan
begini. ayah dan ibuku pasti akan mendapat tahu rahasia
kita. Maka dari itu, aku harap koko mencari jalan keluar.
supaya kita bisa hidup berdampingan dengan tidak
diuber oleh rasa ketakutan seperti sekarang."
Nyonya Ong melengak mendengar perkataan sang
anak. Ketika ia hendak berlalu, ia masih mendengar Hui Lan
berkata: "Aduh, geli, kenapa sih menjamah itu saja"
Koko. ah, koko... geli... tuh!.. Hihihi. !"
Sebagai seorang tua yang sudah berpengalaman.
nyonya Ong dapat membayangkan apa yang telah terjadi
dengan puteri tunggalnya didalam kamar.
"celaka. anak itu sudah bukan perawan lagi..." nyonya
Ong mtngeluh dalam hatinya, seraya berlalu dari situ
untuk memberikan laporan kepada suaminya.
Mendapat laporan demikian, Ceng Hin tidak terkejut.
sebab memang ia juga sudah lama mencurigai anaknya
main gila dalam kamarnya. Hanya untuk membuktikan
kebenarannya, ia pergi dengan isterinya kekamar Hui
Lan. Mereka pasang kuping, segera juga suami isteri itu
mendengar Hui Lan berkata: "jadi, sekarang kita
berangkat?" "Mau tunggu kapan lagi?" terdengar sahut halus dari
suara si lelaki. "Kau mau bawa aku kemana, koko?"
"jangan tanya, pendeknya kau hidup senang
disampingku!" Terdengar suara Hui Lan ketawa ngikik
"Bagaimana ini, mereka hendak kabur...." nyonya Ong
berkata pelan pada suaranya.
Kelihatan nyonya Ong gugup mau ditinggal pergi oleh
anak satu-satunya itu. "Kau tak usah gelisah, aku sudah minta Teng Cin
pimpin orang-orang kita menjaga di luar jendela. Mereka
tidak bisa pergi jauh. mana bisa si jahanam itu membawa
anak kita tanpa dipesan panah mautnya Teng cin."
"Tapi, kalau kita sudah tahu mereka suka sama suka
dan urusan sudah jadi begini, kenapa kita tidak kawini
saja" Untuk apa kau membikin susah orang?" berkata
nyonya Ong pada suaminya, rupanya ia masih
menyayangi puteri tunggalnya.
"Anak itu membikin malu orang tua.. sedang si
jahanam tidak memandang mata pada kita, berani
mempermainkan si Lan, untuk apa dibuat sayang
kematian mereka berdua itu?" jawab Ong Ceng Hin
dengan roman bengis. Sang isteri tahu suaminya beradat keras dan kepala
batu, dibujuk juga percuma.
Ia mengharap anaknya akan mengambil jalan dari
pintu, maka ia sudah ajak suaminya keluar. katanya:
"Mari kita lihat keluar, bagaimana macamnya jahanam
itu!" Ong Ceng Hin menutut. Baru saja mereka sampai diluar, lantas sudah melihat
suatu pertempuran ramai. Tampak satu pemuda cakap dengan tubuh wanita
dipundaknya telah melayani banyak orang mengeroyok
dirinya. Ong Ceng Hin kegirangan. "Mampusi saja manusia
manusia keparat itu!" serunya.
Tapi nyonya Ong sebaliknya. Ia melihat wanita yang
dipauggul oleh anak muda itu tentu adalah Hui Lan.
anaknya, maka hatinya sangat cemas. Ia menyesal.
kenapa mereka keluar tidak mengambil jalan pintu, tapi
telah melalui jendela yang justeru sudah dijaga oleh
orang-orang pandai silat"
Coa Leng benar-benar lihay. telah begitu banyak
orang yang mengeroyok. tidak satu yang berani dekat.
Tangan dan kakinya bekerja sama untuk mengusir
meerka yang mengepung dirinya. Meskipun demikian, ia
sangat repot, karena ia bertempur dengan membawa
beban dipundaknya. Ia mau turunkan sudah terlambat.
karena lawan telah merangsek seru, tanpa mengasi
kesempatan, Pada suatu ketika. setelah ia berkelit dari banyak
serangan, tiba-tiba tubuhnya mencelat tinggi dan turun
sejenak dua tombak dari tempat pertempuran. Mereka
yang mengeroyok pada mengejar coa Leng. Ia terlambat
ketika hendak menjejakkan kakinya pula melambung
tinggi. sebatang panah beracun telah nancap di-iganya
disusul oleh suara orang yang berkata jumawa: "Hm!
mau lari, jangan harap dapat lolos dari tangan si orang
she Teng?" Kesombongannya Teng cin memang beralasan, karena
panah beracunnya sudah nancap di iga coa Leng, yang
segera tubuhnya terkulai roboh sambil memeluki
tubuhnya Hui lan. "Adik Lan, kita sama-sama pulang... " bisik coa Leng,
berbareng ia menggiris leher Hui Lan hingga si nona
menjerit dan jatuh pingsan.
Tatkala Teng cin dan orang-orangnya sampai disitu.
mereka jadi berdiri tertegun dengan mata terbelalak.
begitu juga Ong Ceng Hin dan isterinya ketika sampai
disitu berdiri terpaku. Kenapa" Apakah coa Leng dan Hui
Lan sudah menghilang"
Bukan! Mereka tertegun melihat Hui Lan bukan
dipeluki oleh si pemuda cakap ganteng tadi tapi
tubuhnya si nona telah digulung oleh seekor ular belang
yang besarnya seperti pohon kelapa. Tubuhnya lumutan
dan punya kepet seperti sayap, dipegangnya kenyal dan
menjijikkan. Entah sudah berapa ratus tahun ular itu
bertapa sehingga menjadi siluman dan menggemparkan.
Hui Lan dalam pelukannya sudah tidak bernapas,
arwahnya si gadis itu juga telah bersama sama berlalu
dari dunia yang fana ini.
Nyonya Ong menangisi kematian anaknya, sebaliknya
Ong Ceng Hin marahnya makin menjadi dan menyuruh
orang membakar dua makhluk itu menjadi arang.
Nyonya Ong tidak tega menyaksikan kejadian itu.
maka ia sudah pulang ke rumah terlebih dahulu. Pada
malamnya nyonya Ong bermimpi kedatangan si pemuda
cakap bersama puteri tunggalnya
Mereka berlutut dan memohon maaf untuk perbuatan
mereka yang memalukan keluarga. Hai Lan terisak-isak
menangis sambil memeluki kaki ibunya.
Coa Leng setelah bangkit dan berlututnya telah
berkata: "Lantaran jodoh, maka aku dengan puterimu
telah dipertemukan. tapi kalian salah paham dan
mengganggu kesenangan kami, maka mulai hari ini
jagalah bahaya pembalasan dariku...!"
Berbareng dengan itu, lenyaplah Hui Lan dan ular
suaminya. Impian ini telah dilaporkan kepada suaminya, namun
Ong Ceng Hin yang keras kepala tidak mau percaya
sama segala impian, malah ia menantang.
Tadinya dusun Ong-ke-cun yang tenang dan damai.
belakangan menjadi tak aman dan penduduknya
ketakutan, pada lari meninggalkan kampung tersebut.
Korban pertama sebagai pembalasan si ular siluman
adalah Teng Cin. yang meminum air sungai jernih yang
mengalir ditengah-tengah kampung, kemudian Ong Ceng
Hin dan seterusnya, air sungai itu tentu telah mengambil
korban. Akhirnya kampung yang ramai itu menjadi sepi dan
berubah menjadi hutan lagi,
hanya sungai jernih yang mengalir tidak ada surutnya.
Airnya demikian jernih, memikat orang untuk
meminumnya, namun air itu sebenarnya beracun....
Demikianlah cerita Siok-beng Ong Pok kepada Kwee
In, yang mendengarkan dengan penuh perhatian dan
sediklitpun tidak memotong orang punya penuturan.
sehingga Ong Pok dapat menutur dengan lancar asalusul
air sungai yang jenuh itu beracun-
"Hei, kenapa kau belum mati" tiba-tiba 0ng Pok
menanya pada Kwee In dengan mata terbelalak heran
melihat Kwee In tinggal tenang-tenang saja duduk.
"Mana bisa aku mati konyol, kalau hanya racun ular",
jawab Kwee In ketawa nyengir.
"Adik kecil, sebenarnya kau sudah makan apa.
makanya tidak terkena racun ular?" tanya Ong Pok
terheran-heran. "Aku kira tadinya aku kena makan racun berbahaya,
bukannya racun ular, sebab kalau racun ular tidak
mempan pada tubuhku," sahut Kwee In.
"Bagaimana kau dapat mengatakan begitu, adik kecil?"
"Aku dulu sudah makan Iwetan (nyali Tok-gan Siancu
)(racun ular), maka ula takut mendekati aku. Kalau ia
berani menggigit, bukannya aku, tapi ular itu yang mati.
Entahlah, darahku dapat menakluki ular yang
bagaimanapun beracunnya juga. Seperti Lopek kata air
sangat beracun dan aku kena makan pasti aku mati.
tidak tahunya air ini mengandung racun ular yang tidak
mempan bagi tubuhku. Aku meminum air racun ular itu
bukannya mati, sebaliknya aku merasakan sekarang
sangat segar." Kwee In berkata sambil bangkit dan menghampiri tepi
sungai, ia menyendok dan minum minum ia pula
beberapa tegukan, disaksikan oleh Ong Pok dengan mata
terbuka lebar. Dalam omong-omong selanjuinya, Ong Pok lebih


Kitab Mudjidjad Lanjutan Bocah Sakti Karya Wang Yu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menghormat pada Kwee In, karena mengetahui siapa
anak muda itu, ialah Hek-bin Sin-tong, anaknya Kwee Cu
Gie Tayhiap. Ong Pok sendiri ada tersangkut dekat juga dengan
keluarga Ong Ceng Hin. Ia mengasingkan diri disitu
untuk menolong rakyat yang tidak berdosa kesalahan
minum air sungai itu. Boleh dikata ia adalah centeng dari
sungai beracun itu. Ong Fok sangat ramah dan sebagai orang tua, ia suka
memberi nasehat untuk bekal Kwee in dalam perjalanan
hidup selanjutnya. Melihat itu. Kwee In tidak segansegan
membuka rahasianya. Ia menceritakan putusnya
hubungan dengan Eng Lian dan Leng Siong, dua gadis
yang ia tadinya dengan serius mencalonkan bakal jadi
isterinya. Panjang lebar Kwee In menutur dan minta advicenya
si orang tua. bagaimana ia harus berbuat selanjutnya"
Ong Pok yang mendengar penuturannya Kwee In seperti
dongeng. telah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Adik kecil," kata Ong Pok kemudian. "Jodoh tak dapat
dipaksakan. kau telah mendapat gempuran jiwa yang
dahsyat harus kau terima dengan rela. Kita manusia tidak
bisa mengelakkan maunya nasib..."
sejenak Ong Pok mcnatap wajahnya Kwee-In,
kemudian melanjutkan; "Masih ada perkara-perkara yang
menggoncangkan jiwamu, kalau dilihat dari air mukamu
yang bercahaya guram. Tapi asal kau dapat lewatkan itu
dengan hati rela dan tabah, kau akan selamat. Pepatah
kata ada waktu berkumpul, ada waktu berpisah, maka
sebaliknya ada waktu berpisah, ada saat juga berkumpul,
maka kau boleh harap saja ini, janganlah kau putus asa.
Pertemuan jodoh sudah ditetapkan oleh Thian (Tuhan),
kau jangan khawattr tidak menemukan kebahagiaan
dihari tuamu. adik kecil."
Meskipun tidak seanteronya paham akan kata-kata
dari si orang tua, namun Kwee In perhatikan nasehat
Ong Pok yang mirip-mirip dengan kata-kata dan Yaya
dan Poponya, ketika ia mau meninggalkan goa bertirai air
terjun. Rupanya sekarang ada saat-saatnya ia menemukan
kegoncangan jiwa, di karenakan oleh kehilangan dua
gadisnya. Entahlah dengan Bwee Hiang" Ia diam-diam
berdoa supaya si gadis diketemukan dalam keadaan tidak
kurang satu apapun. dan bersedia untuk menjadi
isterinya. Setelah mendapat beberapa petunjuk pula, maka
Kwee In telah pamitan dari Ong Pok.
Dalam perjalanan selanjutnya, ia mampir disebuah
rumah makan untuk menangsel perutnya yang lapar,
disana sudah ada lima orang yang sedang duduk makan
dengan gembira. Mereka terdiri dari orang-orang kasar rupanya, sebab
suaranya keras seperti lonceng ditabuh. tapi kadangkadang
mereka kasak kusuk tidak kedengaran suaranya,
hanya tertawanya saja bergelak sesak ramai.
Kwee In sebenarnya tidak mau cari urusan, namun
melihat gerak-gerik mereka mengcurigakan, maka diamdiam
ia sudah duduk makan didekat mereka sambil
pasang kuping yang tajam, apa sebenarnya yang mereka
sedang rundingkan sampai begitu gembira"
Setelah sejenak terdengar mereka ketawa gelak gelak,
Kwee In dengar dengan suara pelan satu diantaranya
telah berkata: "Wanita itu sangat hebat kepandaiannya.
Toa dan ji-suheng yang hebat ilma pedangnya hampir
terjungkal ditangannya, kalau tidak keburu suhu turun
tangan. Dikerojok oleh tiga jago kelas berat. Aku
maksudkan Toa dan ji-suheng termasuk Suhu, dibantu
dengan kami berlima ia masih melawan. Baik juga Suhu
sudah buru-buru bereskan dengan ilmu totoknya yang
dahsyat. hingga wanita itu tidak berdaya dan sekarang ia
berada dalam tangan Suhu dalam keadaan tidak
berkutik, apa ia bisa bikin, selainnya harus menurut
kesenangannya Suhu, ha ha ha... !"
Orang itu ketawa gelak gelak, sementara Kwee In jadi
berpikir mendengar kabar tadi. Siapakah perempuan
yang kosen itu" Kalau bukan Eng Lian, tentu tidak salah
lagi Bwee Hiang, maka ia harus lekas menolong sebelum
kasip. Diam-diam ia ngeloyor dan pesan kamar untuk malam
itu pada pemilik rumah makan. Ia siapkan untuk wanita
yang akan ia tolong dan dibawa kesitu. Kwee In
mendapat kamar diatas loteng, kebetulan kamar sebelah
dikanan kirinya kosong ditinggalkan oleh penyewanya
yang telah melanjutkan perjalanannya.
Kwee In pasang mata terhadap lima orang itu.
Waktu mereka meninggalkan rumah makan, lantas
Kwee In menguntit. Sampai di luar dusun, lantas mereka telah
mengeluarkan kepandaiannya menggunakan ilmu
meringankan tubuh menuju kesebelah selatan. Kwee In
juga telah menggunakan ginkangnya. Sudah tentu
ginkang lima orang itu bukan tandingan ginkang Kwee
In. rapi Kwee In terus menguntit kemana mereka
perginya. Ia menduga lima orang itu tentu hendak
menemui gurunya, dimana ditahan si wanita yang
bernasib malang itu. Tebakannya Kwee In jitu benar, sebab mereka
kemudian sampai pada sebuah bangunan tua. Ketika
mereka sudah pada masuk, Kwee In lihat itu adalah
sebuah kuil tua yang sudah ditinggalkan oleh
penghuninya, tegasnya sudah tidak dipakai pula oleh
orang untuk bersembahyang. Dengan menggunakan
kepandaiannya yang tinggi. sebentar saja kelihatan Kwee
In sudah ada diatas wuwungan rumah berhala itu. Ia
telah mengintip dari atas melalui genteng yang dibuka,
kebetulan sekali genteng ini adanya diatas dari kamar
dimana si waniia ditahan. Kwee In jadi melihat tegas.
wanita tahanan itu yang kedua tangannya dan kakinya
ditelikung, sedang pakaiannya sudah koyak-koyak, Sana
sini robek dan kelihatan kulit tubuhnya yang putih halus,
Wanita itu sedang rebah miring diatas sebuah dipan,
hingga Kwee In tidak dapat menegasi romannya macam
apa. Tapi hati pendekarnya tergugah, tidak perduli
perempuan itu siapa. ia harus menolongnya dari
kawanan orang jahat. Segera Kwee In mencari jalan mendekati kamar itu.
Dengan berani ia masuk dalam kuil tanpa diketahui oleh
orang-orang yang ada disitu. Kwee In lihat ada satu
imam dari usia lima puluh lebih. mukanya bengis, dan
dua imam muda dari usia dua puluhan, rupanya mereka
yang dikatakan Suhu, Toa dan ji suhengnya dari lima
orang tadi. Mereka berdelapan duduk berkumpul! Tiga imam
sedang makan, rupanya dibawakan oleh lima muridnya
tadi yang sudah makan lebih dahulu dirumah makan.
"Kenapa kalian pergi begitu lama ?" tegur si imam tua
kepada lima orang muridnya.
"Kapan Tecu berlima disuruh makan dulu disana,
maka ada sedikit terlambat. harap Suhu tidak menjadi
gusar." jawab salah satu orang diantara lima orang tadi.
"Ya, aku lupa," mendengus si imam tua, seraya
menyuapkan makanan kemulutnya.
"Wah, enak makanan ini, kalian beli dimana?" tanya si
imam. "Beli di rumah makan Hok Lay seperti yang Suhu
pesan." "Bagus, Tan Leng, kau paling memperhatikan pesanan
Sahu." Tan Leng girang dipuji Suhunya.
"Sekarang bagaimana Suhu dengan wanita galak itu?"
"Ah. ia mana bisa galak lagi setelah aku totok."
"Bagaimana, apa Suhu sudah.... ehm!" Tan Leng
menanya ragu ragu. Sang Suhu yang sudah biasa suka digodai muridnya
bersenyum mendengar pertanyaan muridnya, ia
menyahut: "Tan Leng, apa kau tidak tahu pantangan
Suhu tidak boleh melakukan perhubungan badan di
waktu perut kosong?"
"Hehe," tertawa Tan Leng. "Dasar Tocu yang salah,
kalau dari tadi Tocu sudah bawa makanan dan Suhu
sudah kenyang., pasti Suhu sekarang tidak berada
diantara kita." Imam itu bersenyum bangga.
"Wanita itu galak betul, tapi ia bisa apa aku kerjakan
ia dalam keadaan tertotok. Kalau sudah beras menjadi
bubur, paling paling juga ia bunuh diri. Mau bunuh diri
perduli amat, asal aku sudah mendapat kesenangan.
Hahaha... !" Imam itu sembari makan berkelakar dengan muridmuridnya,
Melihat Suhunya ketawa gembira, murid-murid juga
tidak ketinggalan turut ketawa untuk menyenangkan
hatinya sang Suhu. Sesudah makan kenyang, Imam itu berkata pada
kedua muridnya yang berpakaian imam: "Teng Hie dan
Ceng Hie, kalian berdua pimpin saudara-saudaramu bikin
penjagaan sekitar kuil, jangan kasi orang datang dekat.
Aku mau senang-senang sebentaran dengan si manis,
setelah itu, kita boleh lanjutkan perjalanan kita pulang
kekuil kita." Dua murid kepala itu mengiakan sembari mesem
dikulum. Mereka ada harapkan kebagian, sebah menurut
kebiasaannya, kalau sang Suhu sudah bosan satu dua
hari pakai korbannya, sang Suhu suka operkan kepada
mereka untuk turut menikmati hasil jerih payahnya.
Wanita yang akan menijadi korban Suhunya sangat
cantik, kepandaian silatnya tinggi dan tubuhnya serba
padat menggiurkan. Kalau sampai mereka mendapat
gilirannya, oh, bagaimana bahagianya mereka
menemukan korban yang demikian menggairahkan.
Mereka sudah membayangkan itu semua.
Kwee In melingkar dan mengtkuti si Imam yang
menghampiri kamar dimana wanita itu ditahan. Begitu si
imam masuk. lantas terdengar makian si korban kepada
si imam. Rupanya totokan si imam hanya melumpuhkan
badannya. tidak sekalian dengan urat bisunya. maka si
wanita itu dapat membuka mulutnya mecaci.
"Imam busuk, mau apa kau kemari2, Kau mau
permainkan nonamu" jangan harap! Hanya kematian
nonamu kau dapatkan sebelum kau melampiaskan nafsu
binatangmu!" Kwee In yang mendengarkan menjadi kaget, sebab itu
adalah supra enci Hiangnya.
Ia sudah bernapsu untuk mendobrak pintu dan
membunuh si imam, tapi ia urungkan, ketika pikiran
kepingin tahu. berkelebat diotaknya. Ia kepingin tahu
bagaimana si nona danat melindungi dirinya dalam
keadaan tertotok terhadap kebuasannya si imam-imam.
Ia mendengar si imam ketawa. "Nona manis, tak usah
kau banyak omong. Dalam kekuasaan Toya, wanita yang
mana dapat lolos dengan selamat" Hahaha..!"
Imam itu berkata seraya membukai tali yang
menelikung tangan dan kakinya si nona.
Meskipun sudah bebas. ternyata Bwee Hiang tidak
berkutik, badannya lumpuh kena ditotok si imam.
"Kau begini cantik. begini padat, sungguh
menyenangkan Toya kalau kau suka rela menyerahkan
dirimu..." Si imam berkata seraya mengusap wajahnya Bwee
Hiang, dan kedua buah dada-nya yang menonjol besar,
hingga membuat Bwee Hiang sangat cemas. Ia tadi
omong besar. hanya untuk menghibur hatinya saja,
sebab mana bisa ia menyelamatkan diri dalam keadaan
ditotok, pasti ia akan terima nasib lagi dirinya dikotori
orang buas. Ia membayangkan ketika dirinya dikerjai oleh Naga
Api pertama kali, kemudian diulang dan diulang lagi.
hingga seluruh badannya dirasakan lemas tak bertenaga,
Apakah sekarang ia akan mengalami pula kejadian yang
begitu menyiksa dirinya"
Bwee Hiang mulai berkaca-kaca matanya.
Weekk.. tiba-tiba pakaian bawahnya Bwee Hiang
disobek., hingga kelihatan tegas alat vitalnya yang
disembunyikan. Kemudian si imam memeluk dan
merobek baju Bwee Hiang bagian dada sehingga dua
bukit yang disembunyikan kontan keluar, Si imam
melihat itu menjadi kalap. dengan rakus ia meremasremas
dan dihisapnya. Kwee In sudah jadi sangat gusar, tak dapat ia
antapkan enci Hiangnya dipermainkan si imam bergajul
itu. Tubuhnya lompat melalui jendela dibawah dimana
tadi ia mengintip kedalam. Imam itu gesit. Tahu ada
orang datang melalui jendela, lantas melejit dari
tubuhnya Bwee Hiang. Ia sambar palang pintu untuk dipakai menghajar
orang tadi, tapi ia kalah cepat. sebelum ia ambit posisi,
tendangan Kwee In dalam gusar membuat kantong
kemaluannya pecah dan hanya sekali menjerit, ia sudah
jatuh roboh dengan tidak bernyawa lagi,
"Adik In. oh adik In!" seru Bwee Hiang kegirangan.
"Tunggu!" jawab Kwee In, yang segera lompat keluar,
dimana ia sudah di-tunggu oleh ketujuh muridnya si
imam. "Hehe. Anak kecil mau ikut-ikut urusan orang tua!"
jengek Teng Hie. Mereka datang kesitu mendengar jeritan Suhunya tadi.
Ia menduga si korban dapat membebaskan totokannya
dan menghajar gurunya sampai menjerit. tapi tidak
lahunya hanya anak muda yang dihadapinya. Melihat


Kitab Mudjidjad Lanjutan Bocah Sakti Karya Wang Yu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kwee In tidak ada apa-apanya yang harus ditakuti. maka
Teng Hie dan Ceng Hie berserta lima saudaranya besar
hatinya. "Anak kecil yang akan membasmi kejahatan kalian!"
jawab Kwee In. Lima orang yang makan dirumah makan, mengenali
Kwee In yang duduk sama-sama tidak jauh dari mereka
makan, maka Tan Leng telah berkata:
"Hei, bukankah kau anak muda yang makan bersama
sama kami tadi?" "Tidak salah!" jawab Kwee In.
"Kau apakan guru kami?" tanya Ceng Hie, yang
khawatir akan jiwa gurunya.
"Aku sudah membunuhnya!" jawab Kwee In singkat.
Teng Hie dan Ceng Hie beringas mendengar gurunya
telah dibunuh. "Makhluk celaka!" bentak Ceng Hie. "Kau tidak kenali
Suhu kami. dia adalah Oey Liong Tojin yang banyak
kawannya. Kalau kau bisa lolos dari kami, kau juga tidak
dapat lolos dan kawan kawannya Suhuku!"
"Tidak perduli berapa banyak kawannya. asal aku tahu
perbuatan mereka jahat, aku tak akan memberi ampun!"
"Hm!" mendengus Ceng Hie. "Enak benar kau
membual, apa kau kira bisa lolos dari tangan kami
sekarang" Lihat! Kalau benar Suhu kami binasa, kau
setelah kami tangkap, akan kami beri hukuman yang
lebih kejam lagi, kau tahu?"
Kwee In tertawa terkekeh-kekeh.
"Kau tertawakan apa makhluk hina" bentak Teng Hie
gemas. "Kalian mau membunuh aku Hek-bin Sin tong, sama
saja sukarnya seperti mau naik kelangit."
"Hek-bin Sin-tong...!" mengulang Teng Hie.
Teng Hie dan Ceng Hie memang sudah dengar
tentang sepak terjangnya Hek-bin Sin-tong yang sakti,
banyak tokoh-tokoh kenamaan menjadi pecundangnya,
sekaiang mereka bertemu dan berhadapan dengan orang
yang dianggap momok oleh rimba persilatan, apakah
mereka harus lari terbirit-birit untuk menyelamatkan diri"
Mereka menatap wajah Kwee In beberapa lama.
Mereka berpikir, "Ah, ia bukannya Hek-bin Sin-tong,
kalau benar ia, masa wajahnya begini cakap" Hek-bin
Sin-tong wajahnya hitam legam, mungkin ia hanya
menggertak saja pakai namanya Hek-bin Sin-tong untuk
meloloskan diri..." "Hehe!" tertawa Teng Hie. "Kau mau menggnnakan
namanya Hek-bin Sin-tong untuk menyelamatkan diri"
Hm! Jangan harap dapat mengelabui kami! Saudarasaudara,
hayo lekas tangkap makhluk hina ini!!" ia
serukan kawan-kawannya. Kwee In geli hatinya melihat gerak geriknya mereka.
Dengan serentak tujuh orang itu mengurung, dikepalai
oleh Teng Hie. -oo0dw0oo- Jilid 15 BAB 43 KWEE IN tahu yang punya kepandaian sedikit adalah
Teng Hie dan Ceng Hie, sedang lima yang lainnya hanya
"gentong nasi" saja, maka perhatiannya dipusatkan
kepada dua orang itu. Teng Hie dan Ceng Hie menggunakan pedang, sedang
lima yang lainnya hanya bertangan kosong. Meskipun
demikian, ternyata lima anak muridnya Oey Liong Tojin
itu sudah mendapat didikan baik dari gurunya, karena
dapat mainkan ilmu silat yang boleh juga.
Cuma saja mereka berhadapan dengan Kwee In, si
Bocah Sakti, yang belum menemukan tandingan, maka
kepandaiannya sia sia saja. Hanya dalam beberapa
gebrakan saja, mereka sudah ditotok berdiri bagaikan
patung, sedang Teng Hie dan Ceng Hie berdiri melongo,
senjata pedangnya dengan mudah telah dirampas oleh
Kwee In. Kapan mereka sadar, segera mau melarikan diri. Baru
saja bertindak dua langkah, mereka mendengar Kwee In
membentak: "Berhenti disitu!"
Kontan mereka berhenti dan berdiri terpaku.
Kwee In telah menggunakan Bu-eng-tiam-hiat
(menotok jalan darah tanpa kelihatan). Suatu ilmu
menotok yang sukar dipelajari kalau lweekang tidak
sangat sempurna. Caranya menotok dengan hanya
menjulurkan jeriji telunjuknya, lantas keluar tenaga
dalam yang dahsyat menotok sasaran yang diingini. Ini
hanya dapat dilakukan dalam jarak dua tombak saja,
lebih dari itu tenaganya kurang atau habis.
Mungkin pada masa itu hanya Kwee In yang
menguasai Bu-eng-tiam hiat. yang ia dapat pelajari dari
It-sin-keng (Kitab mukjijat).
Setelah semua lawannya berdiri bagaikan patung,
Kwee In lantas masuk pula ke dalam kamar dimana
Bwee Hiang telah menanti dengan tidak sabaran.
"Adik In, syukur kau keburu datang, kalau tidak...?"
Bwee Hiang tidak dapat meneruskan kata-katanya.
Hanya matanya menatap wajah Kwee In yang cakap
sambil bersenyum agak genit, hingga Kwee In merasa
aneh. Ia tidak memikir banyak, lantas saja ia membebaskan
enci Hiang-nya dari totokan.
Kwee In terkejut ketika tiba-tiba saja Bwee Hiang
merangkul dan berkata "Adik In, apa kau tidak
merindukan enci-mu" Kenapa kau baru datang sekarang
menolong encimu". Ai... adik In, siang malam aku
mengharap kedatanganmu. Kau...."
Bwee Hiang berkata sambil mencium pipi Kwee In
dan mengecup bibirnya beberapa kali.
Kwee In yang merasa aneh dengan kelakuan Bwee
Hiang diam saja dipeluk si nona sampai Bwee Hiang
berkata pula: "Kau tidak merindukan encimu, makanya
kau dingin-dingin saja. Bocah nakal, lekas kau peluk erat
dan balas rasa rindu enci-mu..."
Bwee Hiang pererat pelukannya dan ajak si bocah
bergulingan. Bergejolak darah mudanya Kwee In, maka
ia pun balas memeluk dan menciumi Bwee Hiang dengan
bernapsu. Beberapa kali tangan Kwee In meremas kedua
buah dadanya si nona yang besar menonjol, membikin
Bwee Hiang dadanya berombak dan nafas memburu. Ia
membiarkan Kwee In mempermainkan dua benda yang
dapat menimbulkan napsu berahi itu.
"Enci Hiang, pakaian bawahmu sobek..." bislk Kwee
In. "Biarkan, kau toh sudah lihat itu semua..." sahut Bwee
Hiang genit. Mendapat jawaban itu, Kwee In jadi berani. Ia galak
sekali menghadapi enci Hiang-nya yang menantang.
"Bocah, benar-benar kau sekarang sudah dewasa..."
keluh Bwee Hiang ketika merasa tangan Kwee In molos
diantara sobekan kain merayapi alat vitalnya yang padat
berisi. Bwee Hiang pun tak tinggal diam. Ia melucuti tali kolor
celana Kwee In, yang dibiarkan saja oleh si anak muda.
Si bocah merasa geli alat vitalnya untuk pertama kali
disentuh oleh tangan wanita.
"Adik In..." keluh Bwee Hiang dengan suara lirih.
Sepasang matanya yang bagus basah menatap Kwee In.
Pemuda kita menciumi bibirnya Bwee Hiang yang
menantang. "Enci Hiang, akhirnya kita...." bisik Kwee In yang
sudah kesetanan. "Oh, adik In, benar-benar kau sudah dewasa...." keluh
Bwee Hiang dalam pergelutannya yang sengit melawan si
Bocah Sakti yang gesit luar biasa.
Hek-bin-sin-tong yang belum menemukan tandingan
dan dikalahkan, untuk pertama kalinya ia terjungkal
ditangannya seorang wanita, ialah enci Hiang-nya. Bwee
Hiang telah membikin adik kecilnya jatuh lemas
disampingnya. Bwee Hiang, diantara tiga gadis jelita,
yang beruntung telah menguras perjakanya si Bocah
Sakti. Tampak si bocah, Bwee Hiang wajahnya berseri-jeri
puas tidur disampingnya Kwee In.
Sejenak mereka tidak berkata-kata melepaskan
lelahnya. "Adik In, kau tolong lucuti jubahnya si imam untuk
encimu pakai," tiba-tiba Bwee Hiang berkata, melihat
Kwee In sedang merapikan pakaiannya.
Kwee In tidak menyahut. tapi ia lantas turun dari
dipan dan menghampiri si imam yang sudah tidak
bernyawa. Ia melucuti jubahnya dan diserahkan kepada
Bwee Hiang. Dengan lesu Bwee Hiang bangkit dan mengenakan
jubahnya si imam, menutupi pakaiannya yang sudah
robek disana-sini. "Adik In, dimana murid-muridnya si imam bangsst?"
Tanya si nona, setelah ia rapi memakai jubahnya si
imam. "Ada diluar. semuanya dalam keadaan tertotok," sahut
Kwee In yang segera bertindak keluar kamar diikuti oleh
Bwee Hiang. Tampak Teng Hie dan Ceng Hie bersama lima
saudaranya masih pada berdiri dengan tidak berkutik.
Hatinya Bwee Hiang mendadak menjadi gusar melihat
cecongornya Teng Hie dan Ceng Hie. Ia menghampiri
murid Oey Liong Tojin itu dan berkata: "Manusia celaka,
lantaran gara-gara kalian, aku terjatuh dalam tangan
gurumu yang busuk!" Bwee Hiang berkata sambil memungut pedangnya
Teng Hie. Tanpa berdamai pula dengan Kwee In, Bwee Hiang
telah kerjakan pedangnya menabas batang lehernya
Teng Hie dan Ceng Hie, hingga dua kepala
menggelinding jatuh yang disusul tubuhnya kedua imam
itu kontan terkulai roboh dengan lehernya
menyemburkan darah dan mengerikan sekali.
"Enci Hiang, kenapa kau membunuh mereka...?"
tegur Kwee In menyesalkan.
"Dua imam muda itu mungkin lebih busuk dari
gurunya untuk apa dikasi tinggal hidup?" jawaban si
nona dengan wajah kurang senang ditegur si anak muda.
"Sekarang yang lima lagi kau mau apakan?" tanya
Kwee In ".Mereka juga harus dibunuh semuanya!" jawab Bwee
Hiang. "Jangan." cegah Kwee In. "Mungkin mereka tidak
sejelek gurunya" "Adik In, kalau pakai ukuran main kasihan semua, kita
akan menghadapi bahaya dikemudian hari. Seperti
terjadi dengan Sucoan Sam-sat, lantaran kau menaruh
kasihan akhirnya rumah tanggaku menjadi hancur lebur.
Lima bangsat ini, kalau tidak dihabiskan jiwanya, akan
merupakan bibit malapetaka untuk kita, maka untuk apa
disayangkan jiwanya" Aku muak melihat mereka yang
telah berlaku kurang ajar terhadap diriku"
"Cras! Cras!" Menyusul kedengaran suara pedang bekerja, dilain
detik lima sosok tubuh pada terkulai roboh dengan
kepala terpisah dari lehernya.
Kwee In tidak keburu mencegah perbuatannya Bwee
Hiang atau memang ia tidak berani mencegah, ia hanya
pejamkan matanya selagi Bwee Hiang kerjakan pedang
dengan hati dingin membuat lepas kepala orang dari
tempatnya. "Adik In, kau ngeri melihatnya" Hi hi hi....!" Bwee
Hiang ketawa ngikik Kwee In buka lagi matanya dan berdiri menjublak.
"Adik In. mari bantu encimu bekerja!" mengajak Bwee
Hiang. "Membantu kerja apa?" tanya Kwee In heran.
"Apa kau mau biarkan saja mayat-mayat orang busuk
ini malang melintang?" sahut si nona.
Kwee In mengerti maksud enci Hiang-nya.
Segera ia keluar menggali lubang yang besar, untuk
menanam sekaligus delapan mayat Oey Liong Tojin dan
murid-muridnya. Setelah selesai mengubur, lantai yang
barusan dibanjiri darah, juga sudah bersih di pel oleh
Bwee Hiang yang bekerja dengan lincah sekali. Sebentar
lagi tampak kedua muda mudi itu sudah pada duduk
berangin diserambi depan kuil. Pelan-pelan Bwee Hiang
telah menggeser duduknya dan menyandarkan badannya
di dadanya kwee In yang lebar kokoh.
Kwee In memeluk tubuh yang sehat dan serba padat
itu. Bwee Hiang merasakan hangatnya pelukan adik
kecilnya yang dirindukannya.
Angin pegunungan yang berlalu lalang telah meniup
rambutnya Bwee Hiang, hingga bertebaran kusut,
menambahkan kejelitaannya si botoh. Saban kali ia
mendongakkan mukanya, bibirnya yang menantang
sudah dikecup mesra sekali oleh Kwee In.
"Adik In, kau benar-benar sudah dewasa..." kata Bwee
Hiang perlahan, waktu bibirnya barusan saja terlepas dari
kecupan Kwee In Bwee Hiang membayangkan waktu-waktu yang
lampau belajar silat dari Kwee In, sering ia bersentuhan
badan dengan si bocah, tak melihat reaksi Kwee In
kejurusan asmara meskipun ia sendiri timbul perasaan
acuh, Kwee In waktu itu masih kecil.
Belakangan, dalam perantauan ia nampak Kwee In
memasuki usia dewasanya agak nakal. Untuk pertama
kalinya ia jatuh dalam pelukan Kwee In, ketika ia dengan
Eng Lian menyamar jadi lelaki mengeroyok si bocah.
Kakinya ketika menendang kena dicekal Kwee In,


Kitab Mudjidjad Lanjutan Bocah Sakti Karya Wang Yu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kemudian ditarik dan tahu-tahu telah jatuh dalam
pelukan si bocah dan merasakan pipinya dicium hangat
oleh Kwee In. Sejak itulah Kwee In sering memberi
ciuman mesra pada sepasang bibirnya.
Ia memang mencintai adik kecilnya meskipun usianya
jauh lebih tua dari Kwee In, bedanya enam tahun. Ia rela
menyerahkan dirinya pada adik kecilnya itu, karena ia
hendak membalas budi adik kecilnya yang telah mendidik
dan memberikan pelajaran silat yang hebat terhadap
dirinya. Ia berjanji pada Kwee In akan menyerahkan
dirinya manakala urusan Sucoan Sam-sat telah
diselesaikan. Apa mau dikata, belum sampai urusan Sucoan Sam sat
beres, mendadak Bwee Hiang menemukan halangan,
dirinya telah dinodai oleh si Naga Api Gan Lok, kepala
bajak laut dari telaga Tong teng Putuslah harapannya
untuk menyerahkan dirinya pada Kwee In dalam keadaan
suci murni. Meskipun demikian, ia merasa belum puas
kalau belum berbuat apa-apa untuk membikin guru
ciliknya puas. Ketika ia ketemu Tan-ciang Tan Kim Liong dalam goa
dimana ia disembunyikan oleh si Naga Api Gan Lok,
dalam hati kecilnya telah timbul rencana aneh.
Ia sudah dinodai oleh si Naga Api, apa salahnya kalau
ia berhubungan kelamin dengan Kim Liong. Pemuda
impiannya di samping adik kecilnya Kwee In, meskipun
Kim Liong sekarang wajahnya sudah jelek dan tangannya
buntung. Setelah berhubungan dengan Kim Liong, si nona
berharap ketemu kembali dengan Kwee In, kepada siapa
ia akan menyerahkan dirinya lagi. Setelah itu ia akan
stop perbuatan yang mirip-mirip wanita 'P' dan
menantikan hasilnya bagaimana"
Hasilnya" Hasilnya apa yang Bwee Hiang akan
tunggu" Si Naga Api ketika hendak melepaskan napas yang
penghabisan, telah memesan kalau bibitnya jadi dalam
tubuhnya, minta dipeiihara dengan baik,. Bwee Hiang
ngeri juga akan mengandung turunan bajak laut yang
ganas itu, maka ia terima bibitnya Kim Liong, lalu Kwee
In. Pikirnya siapa di antara bibit yang ditanam dalam
dirinya yang bakal jadi" Ia mengharap bibit Kwee In
yang jadi atau sedikitnya Kim Liong, jangan bibitnya si
Naga Api, yang ia benci-benci kasihan pada si bajak laut
itu. Sekarang rencana anehnya itu telah terlaksana, maka
Bwee Hiang merasa senang hatinya dan tinggal
menantikan buah dari hasil perhubungannya itu.
Bwee Hiang tadinya menyangsikan adik kecilnya
begitu mudah diajak main-main, apa mau ia melihat
Kwee In matanya seperti beringas tatkala memandang
alat vitalnya yang terbentang dan kedua bukit dadanya
yang menantang. Maka ketika itu, ia kasih lihat
senyuman genit dan dengan sedikit perkataan merayu,
akhirnya ia bikin si Bocah Sakti terjungkal dan perjakanya
ia kuras habis-habisan. Kwee In yang baru saja berhubungan pertama kali
dengan wanita, tidak tahu enci Hiang-nya sudah bukan
perawan lagi. Ia puas enci Hiang-nya demikian agresif
dan membikin lemas seluruh tubuhnya, suatu kejadian
yang baru kali itu dialami.
Entahlah perasaan enci Lian-nya bagaimana" Ia benci
pada Siauw-hek yang mendahuluinya membuat Eng Lian
jadi hamil. Kalau tidak ada Si gorilla, tentu ia akan
mengalami kenikmatan luar biasa dengan Eng Lian, gadis
yang lincah nakal dan menjadi buah hatinya sepanjang
ingatannya. "Adik In, bagaimana kau rasakan di atas perut encimu?"
tanya Bwee Hiang pelan. "Enci Hiang, kau benar-benar hebat...." sahut Kwee
In seraya tangannya meremas bukit dadanya si nona,
hingga Bwee Hiang menggeliat kegelian dan napasnya
agak memburu. "Eh, adik In, kenapa kau tidak bersama-sama dengan
adik Lian"'" kata Bwee Hiang, seraya menyingkirkan
tangan Kwee In yang nakal dari dadanya.
Kwee In tiba-tiba saja melepaskan pelukannya
mendengar disebutnya Eng Lian.
"Kau kenapa, adik In?" tanya Bwee Hiang heran,
melihat dengan lesu Kwee In menundukkan kepalanya,
kemudian matanya berkaca-kaca menangis.
"Adik In, adik In, kau kenapa?" Bwee Hiang ulangi
pertanyaannya seraya menggoyang-goyangkan
pundaknya Kwee In. Setelah berulang kali ditanya, akhirnya Kwee In
ceritakan halnya Eng Lian yang telah menyeleweng
dengan Siauw-hek dan sudah pergi entah kemana
setelah ia pukul si gorilla mati. Kemudian ia pergi mencari
Leng Siong, untuk diajak mencari Bwee Hiang, tidak
tahunya Leng Siong telah dimiliki lain orang, hingga ia
terserang sakit ingatan karena kaget dan putus asa.
Dari Suyangtin langsung ia mencari enci Hiang-nya, ia
mengharap satu-satunya gadis adalah enci Hiang-nya
yang akan menghibur dan membahagiakan hidupnya.
Bwee Hiang tatkala mendengar penuturannya Kwee
In, telah jatuh air mata dan sesenggukan menangis. Ia
kasihan atas nasibnya si adik kecil. Ia ingin mendampingi
Kwee In, ingin ia membahagiakan adik kecilnya yang ia
cinta dengan setulus hatinya. Tapi apa daya" Ia sendiri
sudah rusak kehormatannya. Apakah ia ada harganya
untuk dicintai dan mendampingi Kwee In yang namanya
tesohor dan dibuat jerih oleh tokoh silat kenamaan"
Mengingat itu, membuat Bwee Hiang menangisnya
makin menjadi dan Kwee In jadi kebingungan. Ia
menanya: "Enci Hiang, kenapa kau menangis demikian
sedih?" "Huh. huh. huh.... aku kasihan atas nasibmu, adik
In...." sahut Bwee Hiang sambil menangis keras.
"Enci Hiang, tak usah dibuat sedih. Aku juga sudah
tidak memikirkan lagi enci Lian dan enci Siong, aku
sudah menemukan kau dan kaulah enci Hiang yang akan
membahagiakan aku. Kau adalah gadis suci murni dan
akan mencintai adik kecilmu seumur hidup."
"Adik In, aku juga bukannya gadis terhormat lagi...."
sahut Bwee Hiang, gemetar suaranya.
"Hah! Apa enci kata" Kau bukan gadis terhormat lagi?"
tanya Kwee In kaget. "Adik In. apa kau kira enci-mu masih gadis terhormat"
Hmm. Sungguh sial nasib enci-mu telah menjadi tawanan
si Naga Api dan.... ia sudah menodai kehormatan enci...."
Kwee In duduk menjublak, kepalannya seperti copot
disimbar petir mendengar kata-kata Bwee Hiang yang
sama sekali di luar dugaannya.
Kalau begitu, pikirnya rusaklah pengharapannya. Tigatiga
gadisnya lolos dari tangannya sungguh membikin
patah hatinya. Bwee Hiang, gadis yang ia harap-harap
akan membahagiakan hidupnya kin nyatanya sudah
dimakan orang kehormatannya.
Kwee In jadi menangis mengingat akan nasibnya yang
buruk. Muda-mudi itu menangis saling berpelukan
memikirkan nasibnya yang malang.
Tiba-tiba Kwee In ingat akan nasehat-nasehat dari
Yaya dan Poponya, dan paling belakang dari Ong Pok,
buat ia berlaku tabah menghadapi goncangan jiwanya.
Perkara jodoh tak dapat dipaksakan. Masih mengiang
ditelinganya kata-kata Ong Pok, manusia ada waktu
berkumpul ada waktu berpisah, namun ada waktu
berpisah ada waktu juga berkumpul. Apa artinya ini
semua, Kwee In menghadapi teka-teki. Kwee In
mengharap apa yang dikatakan belakangan, ialah
berpisah sekarang, lain kali akan berkumpul kembali.
Namun, apakah itu mungkin" Enci Lian sudah marah
padanya, Leng Siong sudah punya suami dan Bwee
Hiang, entahlah hendak bertindak bagaimana terhadap
dirinya yang bernasib malang"
Mengingat akan nasehat-nasehat dari orang-orang tua
itu, maka Kwee In tidak menangis lagi dan terus
memberi hiburan kepada Bwee Hiang. Ia minta Bwee
Hiang menceritakan perjalanannya ketika keluar dari
lembah Tong-hong-gay diculik si Naga Api Gan Lok.
Bwee Hiang tidak keberatan menuturkan hal dirinya
diculik si Naga Api. Ia tidak pakai tedeng aling-aling menuturkan
perjalanannya. ia ingin adik kecilnya mengetahui jelas,
bahwa ia menyeleweng karena terpaksa. Ia coba
mempertahankan diri dari gangguannya si Naga Api,
namun akhirnya ia menyerah ketika si Naga Api menotok
urat perangsang berada dibawah teteknya.
Cuma halnya si Naga Api ada meninggalkan pesanan
tentang bibitnya dan menyerahkan lencana tengkorak
kepadanya, Bwee Hiang tidak menceritakan kepada Kwee
In. Ia memceritakan juga tentang dirinya telah
dibebaskan totokannya oleh Kim Liong, yang datang
kedalam goa bermaksud membunuh si Naga Api. Hanya
ia tidak menceritakan jelas caranya Kim Liong
membebaskan totokannya dengan jalan mengurut
bebokongnya sampai dipinggulnya berkali-kali dan
tentang hubungan dengan si pemuda.
Kwee In menghela napas mendengar penuturan Bwee
Hiang. "Itu terjadi karena kealpaan adikmu, enci Hiang. Aku
tidak mempersalahkan. Semua adalah salahku yang tidak
dapat memberikan pertolongan dalam waktunya" Kwee
In menyesaikan dirinya yang terlambat menolong si
nona. "Adik In, semua kejadian sudah maunya takdir, maka
kau juga tak usah merasa sedih." menghibur Bwee
Hiang. "Kalau memang encimu ditakdirkan merawat
dirimu dengan masih suci mumi, pasti tidak mendapat
halangan dan tidak muncul si Naga Api, taruh kata ia
muncul, tentu adik In cepat menolong encimu, Kita
manusia tidak dapat melawan takdir, maka adik In harus
menerima dengan tabah segala goncangan jiwa, jagalah
keselamatanmu, adik In".
Kata-kata Bwee Hiang mengiang seperti ia mendengar
nasehat Yaya, Popo dan Oag Pok. Hatinya Kwee In
tergetar, tapi lantas semangatnya terbangun. Ia berjanji
akan menghadapi segala kejadian yang
menggoncangkan hatinya dengan penuh ketabahan.
Melihat wajah adik In nya gembira lagi, Bwee Hiang
girang. Pelan-pelan duduknya merapat pula dan kembali
ia dalam pelukan si Bocah Sakti. Ia duduk membelakangi
Kwee In dengan kepala disandarkan pada dadanya si
pemuda. Rmbutnya yang kusut tertiup angin
menyambar-nyambar hidung dan dagu Kwee In, hingga
si anak muda itu saban-saban merapikan rambut si jelita
yang keenakan didekap oleh pemuda pujaannya.
"Adik In...." bisik Bwee Hiang. "Apakah kau tidak
merasa jijik mendekap tubuh encimu yang sudah tidak
ada harganya...." "Enci Hiang, kau jangan berkata begitu" sahut Kwee
In. "Apa juga yang terjadi dengan kau, aku tetap
menghargai enci. Kau sangat baik terhadapku, enci
Hiang." Bwee Hiang tergerak hatinya. Ia senang mendengar
kata-kata Kwee In yang mengatakan ia sangat baik
terhadap si pemuda. Memang dalam urusan keuangan,
Bwee Hiang paling royal membiayai segala keperluan si
pemuda. Bukan itu saja, Bwee Hiang selalu perhatikan
segala keperluannya Kwee In, hingga sampai keurusan
pakaian, Bwee Hiang yang belikan dan Kwee In hanya
tahu tinggal pakai saja. "Adik In, kau sayang pada encimu?" tanya Bwee
Hiang. "Aku sayang padamu, enci Hiang," sahut Kwee In
kontan. "Sayangnya bagaimana?" tanya Bwee Hiang kepingin
tahu. "Dulu aku sayang kau sebagni enciku, tapi sekarang
sayangnya lain...." sahut kwee In seraya mendekap lebih
erat tubuh Bwee Hiang yang serba padat itu.
Bwee Hiang rasakan kehangatan itu. Ia berkata: "Adik
In, tentu saja sekarang sayangnya lain, karena kau
sudah mencicipi apa-apa dari encimu...."
Tergetar hatinya Kwee In, sementara itu ia berjengkit
karena si nona telah mencubit pahanya dan ketawa
cekikikan. "Enci Hiang, ingin aku menjadi patung batu dalam
keadaan berpelukan seperti ini, agar kutidak kehilangan
enci lagi..." kata Kwee In.
"Kau takut kehilalangan encimu adik In?" tanya Bwee
Hiaug gemetar suaranya. "Aku takut enci Hiang, kau jangan tinggalkan adikmu
ya?" sahut Kwee In. Tergetar hatinya Bwee Hiang. Ia merasakan cinta
yang besar dari adik kecilnya itu, ingin ia
membahagiakan hatinya. "Adik In, peluklah encimu erat-erat...." kata si nona
dengan suara mencinta. Kwee In menurut. Kembali Bwee Hiang merasakan
kehangatan dari cintanya pemuda cakap dan menjadi
pujaannya itu. Dalam mendekap tubuh yang padat kencang itu,
hatinya Kwee In gelisah dan dadanya berombak
menekan rangsangan napsu. Bwee Hiang mengerti akan
kege!isahan adik kecilnya, ia berlagak pilon dan
menanya: "Adik In, kau kenapa?"
Kwee In hanya mendengus lirih, kedua tangannya


Kitab Mudjidjad Lanjutan Bocah Sakti Karya Wang Yu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kontan meremas sepasang bukit-nya Bwee Hiang. Si
nona tidak kaget, ia memang sudah menduga sepasang
bukit-nya itu akan menjadi sasaran tangan Kwee In
untuk meredakan berkobarnya api asmara.
"Enci Hiang...." bisik Kwee In agak gemetar suaranya.
"Kau kenapa, adik In?" sahut Bwee Hiang yang
berlagak pilon. Kwee In kehilangan pegangan melihat Kwee Hiang
berlagak pilon, apa lagi melihat sepasang bukit yang
menonjol besar telah keluar dari bajunya si nona.
"Enci Hiang..." bisik Kwee In lagi.
"Adik In. kau hisaplah...." memohon Bwee Hiang,
seraya sodorkan buah dadanya yang besar padat untuk
dihisap oleh si anak muda.
Kwee In sudah kehilangan semangat kejantannya
menghadapi pandangan yang menggairahkan itu, maka
tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Kwee In telah
melakukan perintah Bwee Hiang, hingga si nona
menggeliat-geliat merasakan kenikmatan.
"Jangan disini, adik In...." bisik Bwee Hiang, tatkala
merasakan tangannya si anak muda merayapi bagian
bawah tubuhnya yang serba padat.
Kwee In mendengus, Menyusul tubuhnya si nona
diraih dan dengan beberapa lompatan saja, Bwee Hiang
sudah diletakkan diatas dipan, dimana belum lama
berselang, mereka telah melakukan pergulatan yang
sangat seru. Kali ini juga tidak kurang serunya, sehingga keduanya
sangat lemas.... ooOdwOoo Bab 44 ADA WAKTU berkumpul ada waktu berpisah.....
Bwee Hiang yang mempunyai sex appeal yang luar
biasa, membikin mengiler siapa yang mendekatinya,
maka jago muda kita yang masih hijau dalam asmara
telah dibikin mabok oleh pelayanan Bwee Hiang dalam
beberapa hari ini. Bwee Hiang puas telah membuat adik
kecilnya seperti hidup di sorga dalam beberapa hari ini.
Sampai pada hari ke empat, ia pikir cukup menerima
bibit Kwee In dan mengharap akan jadi buah yang dicitacitakan.
Malam itu Bwee Hiang bikin Kwee In benar-benar
mendapat kepuasan, ia kasi pelayanan istimewa dan
Kwee In merasakan tubuhnya seperti tak bertenaga. ia
tidur pulas disamping si jelita dengan lupa daratan.
Pagi-pagi, ketika matahari baru saja naik tinggi, Kwee
In baru mendusin dari tidurnya. Ia kucek-kucek matanya,
ia heran tidak melihat Bwee Hiang disampingnya.
Biasanya enci Hiang-nya yang hebat itu memeluki dirinya
membangunkan dari tidurnya.
Cepat ia turun dan pergi kebelakang, ia tidak melihat
bayangan si nona. Ia memanggil-manggil, tetapi tidak
kedengaran jawaban Bwee Hiang. Hatinya jadi tidak
enak. Ia terus mencarinya kesekitar kuil, sampai jauh
beberapa lie, namun Bwee Hiang tidak kelihatan mata
hidungnya. Dengan lesu Kwee In kembali ke kuil ia uring-uringan.
Tiba-tiba matanya melihat segulungan kecil kertas
ditindih dengan cangkir diatas meja. Cepat ia
menjemputnya. Gulungan kertas itu berbunyi kata-kata:
"JANGAN CARI ENCIMU. KALAU JODOH. KITA JUMPA
PULA. BAWALAH DIRIMU BAIK-BAIK, ADIK IN!"
Kata-katanya singkat, namun cukup membuat hatinya
Kwee In mencelos. Kembali ia kehilangan gadisnya yang sangat
dicintainya. Kembali matanya berkaca-kaca menangis.
Betul-betul Kwee In jadi cengeng setiap kali mengalami
patah asmara. Goncangan hatinya tidak demikian hebat seperti yang
sudah-sudah. Ia sudah mengerti semua sudah maunya
takdir, maka ia harus menerima guratan nasibnya. Ia
hanya menyesal dapat berkumpul dengan enci Hiang-nya
begitu pendek Sambil meremas-remas hancur gulungan kertas kecil
itu, Kwee In berkata sendirian perlahan: "Baiklah, semua
telah menjauhkan diri dariku. Aku pikir tak perlu mencari
mereka. Aku lebih baik mengasingkan diri untuk
memelihara lweekangku dan membikin lebih sempurna
ilmu silatku...." Ia berkata kata sambil membayangkan tempat-tempat
dimana enaknya mengasingkan diri"
Pikirannya melayang ke Coa-kok, dimana ada tinggal
ayah dan ibunya. Dilain saat, ia membayangkan lembah
Tong-hong-gay yang mempunyai banyak tempat untuk
mengasingkan diri. Namun Tong hong-gay akan
membikin hatinya tidak tenteram, karena tentu selalu
ingat kepada Eng Lian. Di Coa-kok pun tidak menarik
perhatian, lantaran dekat dengan ayah ibunya, yang
tentu saban-saban datang menyambangi dirinya. Ia ingin
mengasingkan diri untuk tidak bertemu dengan manusia
dalam beberapa waktu lamanya. Selain baginya mendapat
keuntungan memelihara lwekang, juga ia berbareng
dapat menyingkirkan penasaran tokoh-tokoh persilatan
yang menghendaki It-sin-keng darinya
Tiba-tiba berbayang dikelopak matanya goa ular Sincoa-
long, yang aman tenteram.
"Aku harus pergi kesana, disana aku dapat bertapa
dengan Sucie. Tiada jago silat yang mana juga berani
datang menyatroni goa Sucie. Aku harus pergi kesana,
disana aku dapat melewatkan tempo dengan
tenteram...." demikian jago muda kita berkata-kata
sendirian. Setelah mengambil keputusan, ia telah benahi
buntelannya. Lebih dahulu ia tangsal perutnya dengan ransum
kering, sebelum berlalu meninggalkan kuil. Ia membekal
pedangnya Ceng Hie yang cukup tajam, pedang Teng Hie
rupanya telah dibawa Bwee Hiang, karena tidak kelihatan
ada ditempatnya. Dengan masih memikirkan Bwee Hiang, jago muda
kita bertindak keluar kuil.
Tiba-tiba ia merandek dan mengerutkan alisnya.
Kenana" Matanya yang lihay dapat melihat
berkelebatnya bayangan-bayangan yang menyelinap
dibalik pohon. Ia menduga akan datangnya lawan-lawan
berat, tapi ia tidak takut. Apa lagi waktu itu ia sedang
marah-marah kehilangan Bwee Hiang. maka ia
berkeputusan tidak akan mengenal kasihan bila sebentar
pertempuran terjadi. la berlagak pilon dan jalan terus.
"Anak muda, jalan perlahan sedikit!" tiba-tiba Kwee In
mendengar suara dibalik sebuah pohon yang lebat,
menyusul orangnya muncul.
Orang itu mukanya persegi dengan bibir tebal,
suaranya nyaring menulikan anak telinga. Kalau bukan
Kwee In yang ditegur, mendengar kata-katanya orang itu
yang nyaring, pasti akan menggigil ketakutan.
Kwee In tenang-tenang saja dan menjawab: "Aku
hendak melanjutkan perjalanan, kenapa kau tahan?"
tegurnya pada orang yang menghadang didepannya.
Orang itu tertawa terbahak-bahak. "Anak muda,
kepandaianmu sangat tinggi, hingga Oey Liong Tojin
roboh ditanganmu!" "Kau siapa, sahabat?"
"Aku si orang she Gouw bernama Kun Tiang, teman
baik dari Oey Liong Tojin,"
"Ooo, teman baik dari Oey Liong Tojin?"
"Ya, teman baik, malah kami sudah bersumpah untuk
sehidup semati!" "Bagus dan kau ada membawa kawan berapa
banyak?" Kaget Kun Tiang ditanya demikian, teman-temannya
masih pada menyembunyikan diri, bagaimana anak muda
didepannya sudah tahu kedatangan mereka" Benarbenar
lihay, piktrnya. "Teman-temanku ada enam. dengan aku berjumlah
tujuh orang, tapi untuk melayani kau tak usah banyakbanyak
orang kami turun tangan, aku sendiri rasanya
kelebihan menghadapi kau si bocah yang sudah begitu
berani membunuh Oey Liong Tojin."
Kwee In ketawa mendengar perkataan orang yang
demikian jumawa. "Lebih baik kau panggil teman temanmu berkumpul
untuk mengerojok aku, sebab kau sendiri bukan
tandinganku!" Kwee In balas temberang.
Kun Tiang mendelik matanya, hingga kelihatan sangat
bengis. "Bocah, berapa tinggi sih kepandaianmu?"
"Kau boleh lihat kalau kita sudah bergebrak!"
Kun Tiang yang memang sangat sombong, menjadi
meluap amarahnya. "Mari. mari kita coba kepandaian!"
tantangnya dengan gusar. "Aku sudah bilang, kau sendiri bukan tandinganku,
maka lekas panggil teman-temanmu kumpul untuk
mengeroyok aku!" menggoda Kwee In.
"Kau sungguh menghina!" serunya, menyusul ia
menyerang dengan hebat sekali. Pukulannya mengarah
batok kepala dengan jurus Tay-san-ap-teng (Gunung
Agung menindih batok kepala), hebat jurus yang
digunakan Kun Tiang. kalau saja musuhnya lengah.
Tapi Kwee In muda belia orangnya, namun matang
dalam pertempuran yang bagaimana dahsyat juga. Mana
dapat jurus 'Gunung Agung menindih batok kepala'
menyulitkan dirinya. Kepalanya berkelit kesamping, sambil menggeserkan
sedikit kakinya, lalu merangsek dengan jurus 'Kim coasim-
hiat' (Ular emas mencari liang), pukulannya
menyilang membikin Kun Tiang gugup karena baharu
menemukan jurus yang aneh itu.
Kwee In ketawa, ia meranssek lagi dan bikin lawannya
tidak berdaya dengan beberapa serangannya yang
berbahaya. Kali ini Kwee In tidak main menghilang, ia
sengaja berikan perlawanan dengan saling menyerang,
untuk mengetahui sampai dimana kepandaiannya Kun
Tiang yang sangat temberang itu.
Ternyata Kun Tiang tidak tahan lama, baru enam jurus
saja, napasnya sudah ngos-ngosan.
Itulah Kwee In yang menekan musuhnya sampai
kecapean dan niandi keringat.
"Kau boleh pergi!" tiba tiba Kwee to berseru,
berbareng tubuhnya Kun Tiang mencelat tinggi dan jatuh
kira-kira dua tombak jauhnya. Ia benar-benar lhbay,
sebab waktu jatuh, ia sempat pasang kuda-kuda, namun
tidak urung ia jalannya pincang.
Ia tidak berani menghampiri Kwee In, sebaliknya ia
bersiul dan dari beberapa jurusan, muncullah kawankawannya
Kun Tiang. Mereka itu ternyata dari golongan campur aduk, ada
hweshio, thauto dan tosu (imam), berikut tiga orang
biasa. Semuanya bengis-bengis wajahnya, menakutkan
untuk orang yang nyalinya kecil. Namun Kwee In
menyambut mereka dengan mesem simpul.
Oey Liong Tojin benar-benar banyak kawannya. Entah
siapa yang mengabarkan tentang kematiannya si imam
busuk, maka ketujuh orang itu datang meluruk kekuil
bobrok untuk menuntut balas atas kematian Oey Liong
Tojin, Sayang Bwee Hiang sudah pergi, kalau tidak, si bocah
akan membantu keramaian dengan membuat sungsang
sumbel kawanan orang jahat itu.
"Bocah, kau sudah membunuh Oey Liong Tojin?" tegur
seorang diantaranya dengan bengis.
"Kalau benar, kau mau apa?" Kwee In balik menanya.
"Kau harus mengganti jiwanya!"
"Segala imam busuk, untuk apa diganti jiwanya?"
Orang itu mendelik. "Kau sangat jahat. Sampai
teman kami paling baik kau bunuh?"
"Mungkin kau sangat jahat, sebab Oey Liong Tojin
itu bukan orang beribadat yang benar. Aku membunuh ia
lantaran ia hendak memperkosa wanita yang tidak
berdosa!" "Omong kosong, tutup mulutmu!" teriak si Hweeshio.
"Aku Kong Tek Hweshio akan membikin bungkam
mulutmu untuk lama-lamanya!"
"Enak saja kau bicara, apa kau bisa membikin
bungkam mulutku?" jengek Kwee In.
Kong Tek Hweshio gunakan pentungannya menyerang
Kwee In. ia menyodok bukannya mengemplang. Sodokan
kearah dada, adalah keras, karena diberikutkan
Lweekang yang dahsyat, kalau kena dadanya Kwee In,
bisa ambrol tidak ampun lagi. Ini adalah jurus yang
paling lihay yang dinamai 'Liu-seng-ap tan' atau 'Bintang
meluncur menggempur pagoda' yang sangat diandalkan
sekali oleh Kong Tek Hweshio.
Kwee In tidak berkelit, sebaliknya ia menyambuti,
ketika ujung pentungan datang dekat. Ia mendorong
pelan, tapi cukup membuat si kepala gundul terpelanting
dan jungkir balik sampai beberapa meter jauhnya.
Ia tidak bangun lagi, karena merasakan napasnya
macet dan dengan sukar ia mengumpulkan tenaga
dalamnya untuk mengusir rasa nyeri dibagian dadanya.
Melihat Kong Tek dengan segebrakan sudah
terjungkal, maka si Thanto dan Tosu menjadi marah.
Keduanya merangsek dengan menggunakan senjata
pedang. Namun entah bagaimana, Kwee In bergerak
sukar diikuti oleh pandangan mata tahu-tahu pedangpedang
dari dua lawannya berdiri menjublek ketakutan.
Sekarang tinggal tiga orang biasa, kawannya maju
mengeroyok jago kita. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan
ginkangnya, Kwee In bikin mereka kehilangan lawan dan


Kitab Mudjidjad Lanjutan Bocah Sakti Karya Wang Yu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tahu-tahu.... "Piok! plok! pink! plok!"
Beberapa kali kedengaran suara tamparan. Tiga orang
itu terputar badannya seperti gasing. Setelah berhenti
terputar, berhenti juga mereka berdiri dengan lutut yang
lemas, mereka pun terkulai jatuh ditanah.
Sungguh mengagumkan kepandaiannya Kwee In,
lawan lawan semua pada ketakutan.
Kun Tiangc yang sudah dapat bangun lagi, dengan
pincang menghampiri Kwee In dan menanya: "Anak
muda, sebenarnya kau siapa?"
"Hek-bin Sin-tong!" sahut Kwee In sambil tertawa
menyeringai. "Hek-bin Sin tong!" mengulangi Kun Tiang, mukanya
pucat seperti tidak mengandang darah, matanya
menatap wajahnya si pemuda yang cakap dan putih.
Ia heran kenapa orang mengaku Hek-bin Sin-tong,
sedang parasnya tidak legam hitam, tidak seimbang
dengan julukan si Bocah Sakti Wajah Hitam.
"Anak muda, apa kau tidak membohong?" tanya Kun
Tiang ragu-ragu "Terserah mau percaya, boleh percaya. Tidak, ya tidak
ada halangannya." Kun Tiang melirik pada kawan-kawannya, yang
sekarang sudah pada bangun lagi dan berdiri dibelakang
Kun Tiang. Mereka main mata sebetaran, kemudian
dengan serrntak mereka menyerbu mengeroyok Kwee In.
Terdengar suara ketawa Kwee In yang melengking
sambil tubuhnya berputar, tubuhnya mencelat tinggi
keangkasa, hingga semua lawannya kaget kehilangan
lawan. Belum sempat mereka menengadah melihat
tubuhnya Kwee In, tiba-tiba mereka merasakan tulang
rusuknya kesemutan dan jatuh terkulai ditanah dengan
tidak berkutik, semuanya kena ditotok.
Kwee In berdiri dengan wajah berseri-seri memandang
korban-korbannya, Kun Tiang dan kawan-kawannya tidak bergeiak, hanya
matanya mereka yang berkedap-kedip seperti memohon
dikasihani. Kwee In mengerti, maka kakinya menendang perlahan
tubuh Kun Tiang sampai terlempar beberapa meter
jauhnya. Disana si orang she Gouw dapat bergerak
bebas, karena totokannya sudah terbuka.
Sungguh hebat kepandaiannya Kwee In, hanya
dengan satu tendangan saja, dapat membuat totokannya
terbuka. demikian pikir Kun Tiang. Yang herannya,
sekalipun ia terlempar jauh ditendang tadi, kenyataannya
ia tidak apa-apa, yang semestinya luka parah.
Mengingat bahwa pemuda didepannya itu adalah
pemuda bukan sembarangan, mungkin benar Hek-bin
Sin-tong, maka Gouw Kun Tiang telah menghampiri lagi.
Sambil bersoja ia berkata: "Siauw-hiap. ma'afkan kami
punya mata, tapi seperti buta, tidak mengenali kalau
Siauw-hiap adalah Hek-bin Sin-tong yang termashur..."
"Tidak apa, siapa tidak kenal tidak boleh disalahkan."
sahut Kwee In merendah. "Memang Oey Liong Tojin dan
anak muridnya telah dibunuh olehku. kalau kiranya Gouw
heng dan kawan-kawan masih penasaran untuk
menuntut balas, silahkan mencari aku Kwee In yang
bergelar Hek-bin Sin-tong"
"Tidak berani, tidak berani...." kata Gouw Kun Tiang
gugup. "Setelah kami mendapat pelajaran hari ini, mana
berani mencari perkara pula kepada Siauw-hiap" Hanya
aku minta kemurahan Siauw, hiap, sukalah membuka
totokan dari kawan kawanku!''
Kwee in ketawa nyengir. "Baiklah" sahutnya, menyusul
ia kebaskan lengan bajunya beberapa kali, kontan
mereka yang tertotok mendapat kebebasannya.
"Sungguh mengagumkan!" puji Kun Tiang dengan
wajar. Semua orang yang dibebaskan dari totokan telah
menghampiri Kwee In dan mohon ma'af atas kelakuan
mereka barusan. "Itu tidak apa." menghibur Kwee In. "Kalau kita tidak
bertempur, mana kita bisa jadi kawan" Aku senang kalau
kalian tidak menarik panjang urusan Oey Long Tojin dan
selanjutnya kita bersahabat..."
"Bagus, bagus!" potong Kun Tiang kegirangan.
Ia yang mendahului teman-temannya menjabat
tangan Kwee In sebagai tandanya mereka bersahabat,
kemudian diturut oleh kawan-kawannya yang lain.
Kwee In girang melihat orang demikian jujur, tapi ia
tidak tahu dibalik muka manis dan ketawa-ketawa dari
mereka, dendaman hatinya masih tersimpan terus.
"Itu adalah kuburannya Oey Liong Tojin dari muridmuridnya"
kata Kwee In seraya jarinya menunjuk
kejurusan dimana si imam dikubur. "Kalau kiranya kalian
hendak berziarah kemakam mereka, aku persilahkan!"
Kun Tiang dan kawan-kawannya memandang ke
tempat yang ditunjuk oleh Kwee In. Ia ajak kawankawannya
pergi kesana berziarah. Kira-kira beberapa
tindak mereka jalan, ketika melihat kebelakang, tidak
kelihatan Kwee In berdiri ditempatnya. Sejak kapan Kwee
in telah berlalu, tidak ada diantara mereka yang dapat
tahu. Bagaimana tinggi kepandaiannya seorang tokoh silat,
sedikitnya bayangannya masih dapat dilihat karena
belum berapa tindak mereka melangkah. Tapi Kwee In
kepandaiannya susah diukur, bayangannya lenyap seolah
olah amblas dalam tanah saja. Gouw Kun Tiang gelenggeleng
kepala, tapi ada beberapa kawannya yang
mendengus dengan roman mengejek. Mereka rupanya
masih penasaran tak dapat menuntut balas akan
kematian Oey Liong Tojin, teman akrabnya mereka.
-oo0dw0oo- BAB 15 TERJEBAK Cara bagaimana Bwee Hiang terjatuh ditangannya Oey
Liong Tojin, baik kita mundur sebentar untuk
menceritakannya. Perremuan Bwee Hiang dan Kim Liong dalam goa
bekas bertapanya guru si Naga Api betul betul tidak
disangka-sangka. Dua muda-mudi telah menuangkan isi
hatinya melalui rangkulan dan merapatkan bibirnya
penuh bahagia. Dalam pelukannya Kim liong seolah-olah
Bwee Hiang melupakan adik kecilnya, Kwee In.
Kalau Bwee Hiang Belum ternoda dirinya oleh si Naga
Api, mungkin tidak begitu mudah Bwee Hiang
menyerahkan dirinya dipeluk dan dicium oleh Kim Liong.
Nona jagoan itu pasti menjaga kehormatannya, karena
cintanya hanya untuk adik kecilnya.
Kim Liong orangnya cakap, ganteng dan sopan
santun, menarik hatinya si nona. Bwee Hiang sering
melamun, kalau saja ia belum menjanjikan dirinya untuk
Kwee In, pasti lamarannya anak dari Pang-cu Ceng-liongpang
itu ia terima dengan tangan terbuka.
Bwee Hiang tahu cintanya Kim Liong adalah cinta
murni, sebab kalau cinta Kim Liong adalah cinta napsu
berahi, sudah sejak dalam markasnya Ceng-liong-pang si
nona sudah diganyang si anak muda. Pada waktu itu ada
kesempatan baik, dimana Bwee Hiang sedang pingsan
dalam keadaan setengah telanjang. Segalanya sudah
diiihat oleh si anak muda. Namun, nyata Kim Liong tidak
berani mengganggu dia dan ia dibebaskan dan dilepas
disuatu tegalan jauh dari markas Ceng-liong-pang.
Sekarang Kim Liong wajahnya rusak, tangannya
buntung, Bwee Hiang berasa ia ada bertanggung jawab
juga bagi penderitaannya si anak muda. Kim Liong tidak
bakal merantau kalau tidak terdorong oleh napsu
mencari kepandaian mengatasi kepandaiannya (Bwee
Hiang). Ia tentu sampai saat itu masih tinggal di markas
Ceng-liong-pang dengan hidup penuh kesenangan. Kim
Liong menjadi jelek wajahnya dan buntung tangannya,
gara-gara cintanya yang besar terhadap dirinya si nona.
Inilah Bwee Hiang dapat menyelami. Maka sebagai
hiburan, Bwee Hiang tidak menampik tatkala Kim Liong
menuangkan rasa rindunya dengan memeluk dan
menciuminya. Sepasang muda mudi itu telah berjanji akan merantau
sama-sama. Mereka masih tinggal beberapa hari dalam
goa bekas pertapaan guru si Naga Api, rupanya Bwee
Hiang masih betah, meskipun beberapa kali Kim Liong
mengajak ia meninggalkan tempat itu.
Menurut Kim Liong, si jelita tidak menampik cintanya
sekalipun ia sudah menjadi orang cacad, Kim Liong
bukan main girangnya seperti juga menarik hadiah
pertama dari lotere besar. Setiap hari ia menemani si
botoh kongkouw dengan sangat gembira, terkadang
diseling oleh rangkulan dan ciuman mesra. Kim Liong
adalah satu pemuda sopan dan ia tidak berani bergerak
lebih jauh dari memeluk dan mencium bibirnya si botoh,
kalau tidak Bwee Hiang tiba-tiba merancang rencana
yang gila-gilaan. Rencana itu mengenai bibit si Naga Api yang ditanam
dalam dirinya. Ia benci si Naga Api dan tidak
mengharapkan bibit si Naga Api menghasilkan buah.
Bwee Hiang inginkan bibit Kwee In yang menghasiikan
buah, sedikitnya bibit Kim Liong pemuda kedua yang
telah menempati hatinya. Lantaran punya rencana yang tertentu itu, maka Bwee
Hiang sering memberi kesempatan pada Kim Liong untuk
bergerak lebih jauh dan merangkul dan menciun saja.
Kesempatan mana tidak disia-siakan oleh si anak
muda, tangannya jadi binal mendadak, hingga Bwee
Hiang kewalahan kapan tangan yang nakal itu merayapi
seluruh tubuhnya, ia hanya dapat mendengus lirih dan
menggeliat geliat kegelian.
Itulah pada malam yang sunyi senyap tatkala dengan
sayup-sayup terbawa oleh berkesiurnya angin terdengar
dengusan napas saling susul. Seolah-olah dua ekor naga
yang sedang bergulat didalam goa, yang hanya
disaksikan oieh sang bayu yang berlalu lalang.
"Engko Liong, kau sengit benar"
"Impianku telah menjadi kenyataan adik Hiang...."
Hanya kata-kata tersebut yang terdengar diucapkan
oleh dua insan yang sedang bergumul dalam goa yang
serba gelap. Api pada perapian sudah mulai padam, hanya
kelihatan cahaya kelap kelip dari kayu yang belum lama
membara dan belum padam seluruhnya.
Sementara itu angin pegunungan telah meniup santer
dan daun-daun dari cabang pohon berguguran lantaran
tabrakan satu dengan lain. Berisik suaranya cabangcabang
pohon itu beradu satu sama lain, menutup atau
melenyapkan suara-suara yang keluar dari goa.
Meskipun begitu, terang Bwee Hiang malam itu telah
menerima bibit Kim Liong yang pertama kali melalui
pergumulan yang sengit. Hari-hari berikutnya, muda-mudi itu pergaulannya
tambah akrab saja. Disitu ada Kun Liong, mesti ada Bwee
Hiang, demikianpun sebaliknya.
Pada suatu hari, Bwee Hiang kesepian, ditinggalkan
Kim Liong yang keluar membeli makanan kering untuk
ransum mereka. Iseng-iseng ia jalan meninggalkan goa,
untuk melihat-lihat pemandangan disekitarnya.
Bwee Hiang merasa segar badainya dari hatinya
terbuka menikmati pemandangan pegunungan yang
indah-indah, yang baru ia pernah nikmati sejak ia
menjadi penghuni goa. Ia menyesal saat itu, ia tidak bersama Kim Liong, yang
tentu akan menambahkan kegembiraan mereka
menikmati pemandangan alam yang indah itu.
Baru saja ia menghampiri batu untuk duduk-duduk
meneduh dibawah pohon yang rindang, tiba-tiba ia
mendengar suara jeritan minta tolong dari seorang
wanita. Bwee Hiang terkejut, siapa gerangan wanita yang
minta tolong itu" Hati pendekarnya dengan serentak bangun. Ia pasang
kuping dari jurusan mana jeritan minta tolong tadi
datang. Ia menduga dari jurusan sebelah kirinya ia berdiri,
maka ia cepat enjot tubuhnya melesat kesana.
Ginkangnya si nona memang hebat, sebentar saja ia
sudah sampai ditempat wanita itu menjerit-jerit minta
tolong. Kiranya disitu terdapat sebuah gubuk yang lumayan
juga besarnya. Itulah gubuk yang biasanya dibangun oleh kawanan
pemburu binatang hutan. Bwee Hiang jalan berindap-indap mendekati gubuk
tersebut. Ia mencuri dengar apa yang dipercakapkan
orang di sebelah dalam. "Kalian adalah penjahat-penjahat yang buta matanya.
Masa perempuan macam aku dimaui" Betul-betul kalian
ada mata, tapi seperti buta. Kenapa tidak mencari wanita
yang cantik-cantik untuk dijadikan korban napsu
binatang kalian" Oh. Thian.... Tolong! Tolong!"
Terdengar suara seperti wanita itu sedang merontaronta.
"Kau cukup botoh, bagaimana kau bilang jelek"
Hahaha....!" terdengar suara laki-laki ketawa terbahakbahak.
Kembali terdengar suara jeritan wanita dalam gubuk
itu, rupanya ia sedang mulai dikerjakan. Wanita itu
memaki. "Binatang, kau berani ganggu nyonyamu, awas
kalau suamiku pulang, akan kuadukan, biar kalian
mendapat hajaran. Aduh! Aduh! Kau sudah gila. Oh,
Thian.... Tolong! Tolong...!"
Bwee Hiang mendongkol hatinya kawan sejenisnya
diperlakukan kasar oleh kawanan jahat. Amarahnya yang
meluap tak tertahankan, maka ia hampiri pintu dan


Kitab Mudjidjad Lanjutan Bocah Sakti Karya Wang Yu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menendangnya terbuka. Berbareng ia nerobos masuk.
Dalam gubuk itu ia melihat ada orang wanita yang
tangan kiri kanannya tengah dipegangi oleh dua laki-laki
muka brewok, sedang temannya yang satu tengah
meremas-remas buah dadanya si wanita yang sudah
keluar dan bajunya. Bwee Hiang lihat buah dada si
wanita ada lebih besar dari punyanya yang dikata besar,
dengan seenaknya saja sedang diremas-remas oleh lakilaki
tadi dan ketawa nyengir kearah Bwee Hiang yang
nerobos masuk. "Wanita itu badannya agak kegemuk-gemukan,
pinggulnya besar, alisnya disipat dan bibirnya agak tebal.
Parasnya lumayan juga dan tidak di make-up berlebihan,
sedangkan sorot matanya agak genit, hingga Bwee Hiang
heran kalau wanita inacam itu berteriak-teriak minta
tolong, yang semestinya dapat menerima gangguan dari
tiga orang jahat itu. Rada sungkan Bwee Hiang menolongnya, tapi terlanjur
sudah mendobrak pintu. Maka ia membentak dengan
suara bengis, "Makhluk-makhluk celaka, kalian lagi
berbuat apa terhadap wanita yang tidak berdaya?"
"Tolong, nona, tolong, mereka adalah orang-orang
jahat yang hendak memperkosa diriku..." meratap si
nyonya yang sudah separuh telanjang bagian atasnya
dan kedua bukit dadanya masih tetap dipegangi oleh
laki-laki tadi. Rupanya bagian ini yang membikin si
nyonya aduh-aduhan kesakitan lantaran diremas-remas
secara kasar. "Jangan khawatir, aku akan tolongi kau!" sahut Bwee
Hiang. "Hahaha..!" tiba-tiba laki-laki yang sedang memegangi
bukit dadanya si nyonya ketawa mengejek. "Kau dapat
menolong ia, benar-benar kau adalah satu wanita
jagoan!?" "Kenapa aku tak dapat menolongnya" Lihat nonamu
akan hajar kau setengah mati!"
"Enak saja kau ngomong! Aku nasehatkan lebih baik
kau jangan campur urusan kami, pergi sana! Kalau
sebentar suhuku lihat kau yang begini cantik, aku tidak
tanggung!" Panas hatinya Bwee Hiang mendengar perkataan
orang itu. "Kau boleh panggil Suhumu, supaya sekalian
aku beri hajaran!" seru Bwee Hiang.
"Wah, galak benar ini si cantik" nyeletuk kawannya.
Bwee Hiang tidak tahan diejek sana sini, ia
membentak, "Kalian mau lepas tidak nyonya itu" Lekas!"
Kembali perkataan Bwee Hiang disambut dengan
jengekan. "Memangnya kau majikanku" Hmm. Suhuku sendiri
tidak berani membentak-bentak seperti kau. Baiklah,
akan kami tangkap kau untuk dipakai gantinya korban
ini. Saudara-saudara, mari maju tangkap wanita liar itu,
entah dari mana datangnya?"
Itulah seruan orang yang merema-remas bukit
dadanya si nyonya. La berkata seraya menarik pulang
tangannya, begitu juga kedua temannya telah
melepaskan cekalan pada tangannya si nyonya, hingga ia
ini bebas. Mereka maju serentak untuk menangkap Bwee Hiang.
Si nona tidak keder dikeroyok oleh uga orang
berewokan itu. Satu diantaranya telah miengulurkan tangan hendak
menangkap si nona, tapi Bwee Hiang berkelit dan
tabu-tahu tangan si penyerang dipegang dan ditarik,
hingga orang itu nyelonong kehilangan imbangan. Ujung
meja telah menyambut dahinya, hingga orang itu kontan
dahinya tambah daging. Ia berkaok-kaok kesakitan dan menganjurkan dua
saudaranya turun tangan. Dengan satu tamparan yang jitu, membuat satu
kawanan jahat yang lain itu merasakan kelihayannya si
nona, sebab kontan tubuhnya terputar dan jatuh duduk
dengan mulut berlepotan darah, sedang dua buah
giginya otek. Yang satu lagi, kepalanya. Yang tadi memegangi buah
dada si nyonya, menjadi sangat gusar, Bwee Hiang
menghina dua kawannya. Ia maju dengan pukulan maut
dengan jurus "Beng-hong-cut-long" atau "Harimau liar
keluar goa" menghajar tete-nya Bwee Hiang. Si nona
kaget, cepat ia lompat mundur menghindarkan serangan
orang yang kurang ajar. Dari samping kakinya bekerja.
"Buk!" Kibulnya orang itu kena ditendang, kontan badannya
nyungsep ke kolong meja. Melihat si nona demikian kosen, maka satu diantara
kawanan penjahat itu lari keluar buat minta bantuan.
Tidak lama tampak dua imam muda masuk, mereka
adalah murid-murid tersayang dari Oey Liong Tojin, ialah
Teng Hie dan Ceng Hie. Menyusul dua orang lagi yang bukannya imam masuk
mengikuti dua imam tadi. Bwee Hiang membentak: "Hm! Ada imam-imam busuk
masuk!". "Kurang ajar, kau berani menghina kami?" bentak
Ceng Hie. "Mari kita tangkap!" seru Ceng Hie, menyusul ia sudah
meloloskan pedangnya untuk mengepung Bwee Hiang
yang bertangan kosong. "Bagus, kalian mau main pedang" kata Bwee Hiang.
"Kami adalah anak murid dari Oey Liong Tojin yang
maha sakti. Begitu kami meloloskan pedang, berarti tak
dapat di masuki pula kedalam sarungnya sebelum
meminta darah dari korbannya. Maka sebelum kami
bergerak, lebih baik kau menyerahkan diri dengan suka
rela, jadi tak usah kami menggunakan pedang lagi..."
"Kentut busuk!" potong Bwee Hiang gusar. "Mulutmu
yang bocor akan ku selot!"
Menyusul perkataannya, tubuh Bwee Hiang berkelebat
dan tahu tahu ia kelihatan sudah mencekal sebatang
pedang, dapat dirampas dari salah satu dari dua orang
tadi yang masuk mengikuti dua imam tersebut.
Orang yang dirampas pedangnya, bukan main
kagetnya dan jadi berdiri melongo.
"Ruangan disini sempit, mari kita bertarung diluar!"
tantang Bwee Hiang, berbareng badannya melesat keluar
gubuk. Teng Hie dan Ceng Hie menyusul. Dengan tidak
banyak omong lagi, mereka telah bertempur.
Bwee Hiang kalau dengan pedang ditangan seperti
juga harimau yang bertambah sayap, bukan main gesit
dan lincahnya. Si nona telah mengeluarkan ilmu pedangnya Bwe hoakiam-
hoat yang banyak jurus-jurusnya yang indah,
terutama jurus Bwee-hiang-boan-wan atau "Harumnya
bunga bwe memenuhi taman" dimainkan sangat indah
oleh Bwee Hiang. Sedikitpun Bwee Hiang tidak keder dikeroyok oleh dua
imam yang kepandaiannya bukan rendah, murid-murid
kesayangannya Oey Liong Tojin.
Melihat Toa dan Ji-suhengnya belum dapat
merobohkan si nona, maka lima orang lainnya lalu turun
tangan membantu. Kini Bwee Hiang dikeroyok oleh tujuh
lawan. Memang repot juga melayaninya, namun, jago betina
itu tidak jadi gugup untuk berkelit dari serangan-serangn
musuh yang ganas. Terutatna Teng Hie serangan-serangannya sangat
berbahaya. Ujung pedangnya saban kali hampir menotok
bagian-bagian tubuhnya Bwee Hiang yang berbahaya.
Bwee Hiang tidak menginginkan jiwa, ia bermaksud
hanya mengasi hajaran saja, maka ketika saling susul
terdengar jeritan, mereka yang menjadi sasaran pedang
si nona tidak jadi hilang jiwanja hanya kehilangan kuping
atau hidungnya saja, tapi cukup membuat mereka ciut
nyalinya. Tengah mereka bertempur ramai, tiba-tiba terdengar
suara ketawa yang seram. "Hahaha.... Bagus, bagus
tidak dinyana di pegunungan yang sunyi ini ada
berkeluyuran seorang nona yang secantik ini..."
Demikian suara ketawa yang di susul dengan katakatanya.
Bwee Hiang berpaling kejurusan orang yang ketawa
itu, kiranya itu adalah satu imam dari usia limapuluhan,
berbadan tegap dan bengis.
"Suhu. Lekas turun tangan, wanita ini kosen betul!"
Kiranya yang datang ijtu adalah Oey Liong Tojin, guru
mereka yang sedang mengeroyok Bwee Hiang. Hatinya
Bwee Hiang tidak enak juga, dikeroyok tujuh orang, ia
masih lawan serie. Kalau umpamanya si imam muka
bengis itu turun tangan, pasti ia akan berada dibawah
angin. Ia menyesal tidak ada Kim Liong disampingnya.
Kalau ada Tan-ciang Tan Kim Liong, semua lawannya
dengan mudah disapu bersih. Ia mengagumi Co ciang
kiam hoat dari Kim Liong yang pernah didemontrasikan
di depannya. Diam-diam ia melirik pada wanita yang tadi menjeritjerit
minta tolong, tampak lagaknya sangat genit dan
main mata dengan Oey Liong Tojin. Hatinya si nona
menggerodok dan memaki-maki si wanita yang dipakai
umpan untuk menjebak dirinya.
"Jangan takut, Suhu sudah datang, pasti akan tangkap
wanita cantik itu untuk Suhu melewatkan tempo yang
senggang. Hahaha" Ketawanya Oey Liong Tojin seram, berbareng ia juga
telah menyerbu dan membantu murid-muridnya yang
sedang mengeroyok Bwee Hiang.
Si nona mengeluh harus mmghadapi lawati berat.
Teng Hie dan Ceng Hie, dua mnridnya, masih belum
dapat Bwee Hiang jatuhkan, sekarang ditambah oleh
gurunya, terang desakan-desakan pihak lawan makin
berat. Memang berat dengan turunnya Oey Liong Tojin,
sehingga si nona mandi keringat melayaninya.
"Nona cantik, tak usah bikin perlawanan lebih jauh"
tiba-tiba Oey Liong berkata seraya ketawa ha ha he he
melihat si nona sudah keripuhan. "Sebaiknya kau
menyerah saja, dan pasti Toya kasi kesenangan
padamu...." "Tutup mulut bocotmu, imam busuk!" potong Bwee
Hiang gemas. "Apa kau kira nonamu tidak bisa selot
mulutmu yang kotor?"
"Suaramu yang empuk hanya membuat Toya makin
bernapsu saja," berkata pala Oey Liong Tojin yang
seakan-akan ngeledek si nona. "Kau bisa selot mulut
Toya, apa Toya tidak bisa selot sepasang bibirmu yang
merah deiima itu" Hahaha!"
Gemas betul hatinya Bwee Hiang mendengar godaan
si imam, namun, apa daya" Ia tidak berdaya menghadapi
musuh-musuh berat. Ia coba berlaku nekad dengan
kerahkan Iwekangnya, hanya beberapa murid-nya Oey
Liong Tojin yang merupakan "gentong nasi" saja yang
pada menjerit kesakitan kena dilanggar pedangnya,
sedang Oey Liong Tojin dan dua muridnya tetap
menindih berat atas perlawanannya.
Bwee Hiang yang sudah mandi keringat dan napas
memburu, tegas sekali kelihatan dadanya bergerak naik
turun, wajahnya makin cantik menarik. Oey Liong Tojin
yang biasa main perempuan menjadi bimbang
menyaksikan bermainnya dua bukit didadanya si jelita.
Pikirnya: "Aku harus dapatkan ia apapun yang akan
terjadi. Wanita menggairahkan seperti nona ini betulbetul
baru pernah aku melihatnya. Akan kuperkenalkan
siapa Oey Liong tojin, biar ia belakangan akan merengekrengek
meminta ulangan...."
Msskipun pikirannya melantur, rapi seranganserangannya
tidak menjadi kurang berbahaya, hingga
Bwee Hiang mengeluh dalam hatinya. Celaka. Pikirnya.
Kembali dirinya akan jatuh ditangannya kurcaci. Ia sudah
merasa jijik dinodai si Naga Api, sekarang kembali dirinya
akan menjadi mangsanya imam bengis ini. Sungguh
mengerikan dan ia sudah membayangkan bagaimana ia
tidak berdaya kapan saatnya telah diganggu
kehormatannya kalau dalam keadaan tertotok.
Lantaran pikirannya menyeleweng, maka penjagaan si
nona kurang cermat dan kesempatan itu tidak dilewatkan
oleh Oey Liong Tojin. "Kena!" tiba-tiba si imam berseru, menyusul Bwee
Hiang melepaskan pedangnya dan terkulai roboh
tubuhnya kena ditotok jalan darahnya oleh Oey Liong
Tojin. Totokan si imam tidak mengenakan urat bisunya,
maka mulutnya si nona masih dapat mencaci maki si
imam sepuasnya. Tapi apa gunanya, dirinya sudah
terjatuh dalam kekuasaannya Oey Liong Tojin yang
terkenal rakus menghadapi wanita.
Berbareng dengan robohnya tubuh si nona, terdengar
sorakan dari murid-murid Oey Liong Tojin. Mereka
memuji-muji kepandaiannya sang guru yang sangat
tinggi. Oey Liong Tojin merasa bangga dengan pujian anak
muridnya. Sambil tertawa ha ha he he, Oey Liong Tojin
menghampiri si nona. La tidak menghiraukan makian Bwee Hiang,
tangannya diulur hendak meraih tubuh yang
menggairahkan itu. Namun, sebelurn tangannya
menyentuh Bwee Hiang, tiba-tiba ia menarik pulang
tangannya, karena diketok olah tongkat bambu.
Siapa yang mengetok tangan si imam"
Kiranya ia tiada lain adalah si waniia yang tadi
berteriak minta tolong. "Apa-apaan kau Cui Hiang?"" tegur Oey Liong Tojin


Kitab Mudjidjad Lanjutan Bocah Sakti Karya Wang Yu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tidak senang. "Bukan apa-apaan. Dengan ada yang baru, kau tentu
akan melupakan aku!" sahut si wanita genit, yang
ternyata bernama Cui Hiang.
"Untuk sementara kau bersabar, masa aku melupakan
kau!" "Hmm!" mendengus Cui Hiang. "Kau sudah
membunuh suamiku, kemudian perkosa diriku. Kau janji
tidak akan menyia-nyiakan diriku, tapi apa buktinya
sekarang?" "Aku toh tidak menyia-nyiakan dirimu?"
"Kau dapatkan yang baru, pasti kau juga menjanjikan
tidak akan menyia-nyiakan setelah kau perkosa. Apa itu
tidak mentelantarkan urusanku?"
"Kau bersabar Cui Hiang, pasti aku akan ingat kau.
Sekarang kau jangan ganggu kesenanganku, kau
mengerti?" "Aku menyesal barusan sudah kasikan diriku dipakai
umpan untuk menjebak si nona"
"Ah. Kau jadi banyak rewel!" Oey Liong Tojin mulai
sengit. "Siapa yang tidak akan rewel kalau dirinya mau disiasiakan!"
Oey Liong Tojin panggil muridnya Teng Hie datang
dekat, ia mengisiki beberapa perkataan ditelinganya si
mund kepala. Kelihatan Teng Hie angguk-anggukkan
kepalanya dengan wajah berseri-seri. Entahlah apa yang
dikatakan Oey Liong Tojin.
Bwee Hiang telah mendapat dengar pertengkaran si
nyonya dan Oey Liong Tojin. Ia baru tahu kalau si
nyonya telah diperkosa oleh Oey Liong Tojin, kemudian
dijadikan gula-gula dengan janji-janji muluk tidak akan
disia-siakan. Kalau ia masih tetap hidup, pasti dirinya pun
akan diperlakukan oleh Oey Liong Tojin seperti si nyonya
itu. Bimbang hatinya Bwee Hiang. Ia tidak tahu apa yang
dikisiki ditelinganya Teng Hie, murid kepala Oey Liong
Tojin. Sementara itu, tangan Oey Liong Tojin diulur lagi
hendak meraih tubuhnya Bwee Hiang, kembali tongkat
bambunya si nyonya menyambar, hanya kali ini ditangkis
oleh pedangnya Teng Hie dan Bwee Hiang tetap diraih
oleh Oey Liong Tojin. Sementara hatinya Bwee Hiang mencelos, adalah si
nyonya berkaok-kaok mencaci maki pada Oey Liong
Tojin. Hanya saja ia tidak dapat mengejar, karena kedua
tangannya dipegangi oleh dua anak muridnya Oey Liong
Tojin yang berewokar kemudian ia diseret masuk
kedalam gubuk, dimana secara bergiliran ia diperkosa
oleh anak muridnja Oey Liong Toijin. Pertama Teng Hie,
kedua Ceng Hie, lain lima yang lainnya bergilir, hingga
Cui Hiang merintin-rintih kesakitan dan minta-minta
ampun tapi tidak dihiraukan oleh kawanan manusia
binatang itu. Cui Hiang habis tenaganja diperas, sampai
tidak bisa bangun berdiri, ketika manusia binatang paling
belakang melakukan pekerjaannya yang kejam. Bukan
sampai disitu saja Cui Hiang mengalami penderitaan,
selagi ia memejamkan matanya menangis, kepalanya
telah dipenggal oleh pedangnya Teng Hie.
Benar-benar kejam kawanan durjana itu. Rupanya
kejadian yang tersebur diatas yang dikisiki ditelinganya
Teng Hie. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/ Setelah membereskan titahnya Oey Liong Tojin, mereka
menyusul gurunya yang untuk sementara mengambil tempat
dikuil rusak. "Bagaimana Suhu, apa sudah dikerjai?" tanya Teng Hie
sambil mesem Oey Liong Tojin juga mesem. "Belum. Ada pantangan untuk
aku mengerjai perempuan kalau perutku sedang lapar.
Sebentar setelah diisi baru aku main-main..." jawab Oey Liong
Tojin. Tanya menanya seperti diatas sudah biasa diantara murid
dan si guru itu Teng Hie rupanya menghadap supaya restan gurunya buruburu
jatuh untuknya maka ia lantas telah mengajukan
pertanyaan tadi. Teng Hie lalu suruh lima saudaranya pergi beli makanan,
dipesan supaya mereka disana menangsel perutnya dulu, baru
pulang bawa makanan. Jadi di kuil tak usah mereka makan lagi.
Hanya mereka (Oey Liong Tojin dan dua muridnya) yang
makan. Lima murid Oey Liong Tojin itu kegirangan mendapat tugas
tersebut karena mereka juga sedang lapar. Dalam rumah
makan, seperti sudah diceritakan apa mau dikata mereka
ketemu Kwee In yang menaruh curiga akan gerak geriknya.
Kwee In telah menguntit mereka dan jago kita dengan tidak
terduga-duga, telah ketemu dengan enci Hiang-nya yang
hampir menjadi korbannya si imam busuk.
Kematian Oey Liong Tojin yang ditendang kantong
kemaluannya pecah oleh Kwee In, sebenarnya terlalu murah,
apabila mengingat kejahatannya yang dilakukan sangat besar.
Bwee Hiang telah menjatuhkan hukuman potong leher kepada
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/ Teng Hie dan saudara-saudaranya lebih dari pantas, mengingat
kekejamannya anak murid Oey Liong Tojin itu seperti yang
dilakukan paling belakang terhadap diri Cui Hiang.
Oey Liong Tojin adalah seorang imam yang pandai bergaul,
ia mempunyai banyak kawan-kawan, baik dikalangan jahat,
maupun dikalangan baik. Ia dapat menggunakan dua muka,
kalau ia bergaul dengan kalangan baik-baik, ia selalu membawa
dirinya sebagai imam yang sopan santun dan pantas dipakai
teladan oleh imam-imam lainnya. Sebaliknya, kalau ia bergaul
dikalangan bangsa tidak keruan, ia perlihatkan tembaganya. Ia
sangat dihormati oleh kawan-kawannya, karena ia suka
mengulurkan pertolongan kepada kawan-kawan yang
mendapat kesulitan, baik dalam urusan keuangan, maupun
tenaga Dengan cara kebetulan. Kematiannya itu telah diketahui oleh
seorang tukang pungut kayu dihutan, yang langsung dilaporkan
kepada kenalan si imam, kemudian diteruskan kepada Gouw
Kun Tiang dan kawan-kawannya.
Dengan membawa banyak kawan, Gouw Kun Tiang telah
menyatroni kuil rusak, dimana diduga ada musuhnya Oey Liong
Tojin yang telah membikin melayang jiwanya si imam,
Dengan cara kebetulan mereka ketemu dengan Kwee In,
yang belum berangkat melanjutkan perjalanannya. Mereka
sangat kecewa telah dikalahkan dengan mutlak oleh jago kita.
Gouw Kun Tiang dan kawan-kawan dimulut saja manis. Tapi
didalam hatinya masih mendendam, suatu waktu akan
melakukan pembalasan terhadap Kwee In.
-oo0dw0oo- Kemana perginya Eng Lian yang dicari-cari oleh Kwee In
tidak ketemu" TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/ Menggunakan kesempatan selagi Kwee In pergi ke gubuknya
Ji-hek, Eng Lian telah menyingkirkan diri ke sebuah goa yang
belum lama ia ketemukan secara kebetulan.
Goa itu letaknya dalam sebuah selat yang tak mudah
diketemukan orang. Kwee In sewaktu masih ada di lembah
Tong-hong-gay juga belum pernah datang ke tempat itu, oleh
karena tertutup oleh pohon-pohon yang tumbuh lebat.
Goa itu didalamnya sangat bersih, ada menembus
penerangan dari sela-.sela batu yang ada diatasnya, malah
disebelah dalamnya cukup terang dari cahayanya tiga butir
mutiara sebesar telur ayam yang tergantung disitu.
Rupanya goa itu bekas pertapaannya seorang wanita, sebab
disitu masih ada kedapatan ala-alat bersolek dari seorang
wanita dan bau harum dari minyak wangi.
Senang Eng Lian menemui goa itu dan sering ia menginap,
malah ia kepingin terus tinggal dalam goa itu manakala ia tidak
ingat akan Kwee In yang pulang nanti, akan mencari dirinya. Ia
menyesal dirinya sudah dikotori oleh Siauw-hek, kalau tidak,
ingin ia ajak Kwee In tinggal dalam goa tersebut. Ia
membayangkan bagaimana senangnya dan bahagianya ia kalau
bisa tinggal bersama-sama dengan pemuda pujaannya disitu.
Ia tahu Kwee In wataknya aneh, si pemuda dapat
mengampuni perbuatannya yang salah dan tetap akan ambil ia
sebagai isterinya, namun Eng Lian tidak ingin bibitnya iCwee In
nanti campur aduk dengan bibit gorilla. Ia bermaksud
menyingkirkan diri untuk sementara waktu sampai ia
melahirkan. Ia mau tahu anaknya yang dikandung itu nanti
berwujud manusia atau anak gorilla" Setelah mana, barulah ia
akan mencari Kwee In untuk berunding bagaimana baiknya
untuk ia hidup selanjutnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/ Demikian, setelah mengetahui bahwa Kwee In sudah pergi
dari Toug-hong-gay, barulah Eng Lian berani keluar dari
goanya. Ia menjenguk Ji-hek digubuknya, ternyata gorilla tua
ini sudah melahirkan anak laki-laki. Melihat keadaati Ji-hek, Eng
Lian jadi ingat akan Siauw-hek almarhum. Diwaktu Toa hek
masih hidup, Ji-hek masih belum mengandung. Siauw-hek yang
saban-saban gerayangi ibunya, hingga sang ibu (Ji hek) jadi
mengandung. Melihat anaknya Ji-hek, Eng Lian jadi seram sendirinya, ia
takut kalau anaknya yang dikandung itu akan berwujud gorilla
macam Siauw-hek. Celaka ia akan punya anak binatang gorilla,
malu ia kalau nanti ketemu Kwee In lagi.
Namun, bibit sudah jadi, ia tak dapat menggugurkan tanpa
ia harus menanggung penderitaan yang hebat, maka Eng Lian
pasrah sama nasibnya saja.
Eng Lian sering duduk kongkouw dengan Ji-hek dan
timbulkan soal Siauw-hek, ternyata Ji-hek tidak menaruh sakit
hati atas kematian anaknya itu. Malah ia persalahkan perbuatan
anaknya yang boceng, tidak ingat budinya Kwee In dahulu,
diwaktu Siauw-hek masih kecil jatuh dari gendongan ibunya,
pasti sudah mampus, kalau tidak ada Kwee In yang
menolongnya. Ia telah mengganggu Eng Lian, hingga
menerbitkan kegusarannya Kwee In, itu wajar. Maka kematian
Siauw-hek dianggap pantas oleh Ji-hek.
Eng Lian terharu mendengar kerelaan hatinya Ji-hek.
Ji-hek sebagai binatang dapat menghargai kebaikannya
Kwee In, bagaimana dirinya sendiri sebagai manusia melupakan
budi pujaannya itu" Mengingat ini, maka matanya Eng Lian
berkaca-kaca menangis. Ketika Eng Lian barusan saja meninggalkan gubuknya Ji-hek,
tiba-tiba ia didatangi oleh banyak kawanan kera yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/ cecowetan ramai, terutama Pek-tauw dan Pek-san ramai
mulutnya. Eng Lian kaget sebab itu ada laporan tandanya ada
orang iseng masuk kedalam lembah. Si nona kebingungan.
bagaimana ia dengan sendirian dapat memukul mundur
musuh" Ji-hek tak dapat diminta bantuannya, karena ia
barusan saja melahirkan. Tengah Eng Lian berdiri kebingnngan, tiba-tiba ia mendengar
ada orang menegur: "Selamat siang nona dimanakah Hek-bin
Sin-tong?" Eng Lian menoleh, kiranya yang menegur tadi itu adalah
seorang hweshio dengan muka bengis.
Bukan itu hweshio saja, sebab di belakangnya masih ada
pula dua kepala gundul yang tengah mentertawakan
keadaannya Eng Lian. Kapan si nona melirik ke lain arah, ia
dapatkan masih ada enan orang pula yang mengurung dirinya.
Eng Lian sebenarnya tidak pernah gentar menghadapi
musuh, tapi kali ini kelihatan ia bingung. Bingung karena ia
sendirian, dalam keadaan mengandung lagi. Bagaimana ia
harus memberikan perlawanan pada begitu banyak musuh yang
datang" Kiranya yang datang itu adalah Giam-Pek, salah satu dari
Ho-pak Sam niauw (Tiga burung dari Hopak), yang masih hidup
dan tempo hari dibebaskan oleh Kwee In. Ia datang menyatroni
pula lembah Tong-hong-gay, karena mendapat bantuan tenaga
dan Houw-san Ngo-kiam dan Sam Kiat Hweshio dari kuil Pekwan
bio. Houw-san Ngo-kiam sejak dipecundangi oleh kawanan
gorillanya Kwee In-telah menyakinkan Ngo-kiam tin dengan
tangan kiri sampai mahir seperti mereka menggunakan pedang
ditangan kanan saja. Dalam perjalanan untuk menuntut balas
ke lembah Tong-hong-gay, ia ketemu Giam Pek yang satu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/ tujuan. mereka bergabung. Kemudian ketemu dengan Sam Kiat
Hweshio (Tiga pendeta jagoan) dari Pek-wan-bio yang dalam
perjalanan ke Tong-hong-gay. Mereka jadi bergabung tenaga
dan besar hatinya untuk melayani Kwee In.
Sam Kiat Hweshio ternyata adalah golongannya Sam Tok
Hweshio. Mereka yang tidak mendapat kabar berita tentang
perginya Sam Tok Hwehio yang menyusul anak muridnya ke
lembah Tong-hong-gay, telah menyusul untuk mencari
keterangan sekalian mencari tahu juga tentang Kitab Mukjijat
It-sin-keng Kitab Mukjijat benar-benar menarik hatinya sekalian tokohtokoh
persilatan. Yang menegur Eng Lian tadi adalah Keng Hang, kepala dari
Sam Kiat Hweshio. "Kau mau apa mencari Hek-bin Sin-tong?" tanya Eng Lian.
"Bukankah kau adalah pelayannya si bocah wajah hitam?"
"Kalau betul, kau mau apa?"
"Kau harus antar kami kesana, untuk menemukan Hek-bin
Sin-tong." "Hek bin Sin-tong sekarang tidak ada di lembah."
"Hm!" mendengus Keng Hong. "Kau mau main gila terhadap
Hudya?" "Perduli amat kau mau percaya atau tidak atas
keteranganku!" "Memang lagaknya tengik, tangkap saja sudah!" nyeletuk


Kitab Mudjidjad Lanjutan Bocah Sakti Karya Wang Yu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

The Beng, si nomor lima dari Houw-san Ngo-kiam. "Kalau
sudah ditangkap, baru ia mau mengaku."
Keng Hong mendengar itu, menganggukkan kepalanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/ Mendadak tubuhnya mencelat dan menyambar Eng Lian
yang sedang berdiri tenang-tenang saja. Dengan mudah Eng
Lian berkelit dan mengirim satu tendangan keras pada
pinggulnya si kepala gundul, hingga terpental jauh dan meloso
diatas rumput. Eng Lian ketawa cekikikan.
Seng Hong dan Ceng Hong, melihat Suhengnya pecundang
dalam satu gebrakan saja, hatinya tidak enak dan segera
menyerbu pada si nona. Eng Lian tidak takut, ia gunakan kegesitannya untuk
menyelamatkan diri dari serangan, kemudian balas menyerang.
Seng Hong dan Ceng Hong juga kewalahan menghadapi
kegesitan Eng Lian. Lantaran itu, terpaksa Giam Pek turun tangan.
Dengan majunya Giam Pek, si nona keteter. Ia harus
menghadapi lawan berat, tambahan perutnya berat seperti
anak menggeliat-geliat dan dirasakan sakit sekali.
"Celaka" Eng Lian mengeluh dalam hatinya. "Sekali ini aku
akan jatuh ditangan orang jahat, siapa yang dapat menolong
aku?" Dalam kebingungan, tiba-tiba saja muncul Ji-hek. Si gorilla
menggeram melihat Eng Lan dikeroyok, sebaliknya pihak
musuh, Houw-san Ngo-kiam menggeram melihat Ji-hek.
Mereka ingat tangan kanan masing-masiag dipatahkan oleh
gorilla, maka mereka sangat marah melihat Ji hek keluar.
Maka, sebelum Ji-hek dapat menyerbu menolong Eng Lian,
sudah dipegat oleh Houw-san Ngo-kiam.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
http://ebook-dewikz.com/ "Binatang!" bentak The Go, "Hari ini adalah hari penghabisan
dari umurmu! Kami ingat budi kau tempo hari, maka hari ini
kami akan membalasnya!"
The Go berbareng kasi komando pada kawan-kawannya,
mereka mengurung dengan barisan Ngo-kiam-tin. Ji hek
Hikmah Pedang Hijau 18 Misteri Kapal Layar Pancawarna Karya Gu Long Rahasia Kunci Wasiat 6
^