Pencarian

Jejak Di Balik Kabut 24

Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja Bagian 24


akan segera menyergapnya. Meskipun Harya Wisaka memiliki
ilmu yang sangat tinggi, namun tingkat ilmu Pangeran
Benawapun seakan-akan tidak terbatas.
Namun dalam pada itu, Pangeran Benawapun menjadi
berdebar-debar. Ternyata firasat Harya Wisakapun sangat tajam. Kehadiran
Pangeran Benawa di halaman belakang itu seolah-olah dapat
diketahuinya. Karena itu, maka Harya Wisaka menjadi agak
ragu. Katanya, "Ada seseorang di halaman belakang ini?"
"Paksi masih berada di pendapa"
"Apakah hanya Paksi yang datang kemari?"
"Memang hanya suaranya yang kita dengar, tetapi agaknya
ia datang bersama orang lain"
Orang yang berada di dapur itu termangu-mangu sejenak.
Namun Harya Wisaka itupun kemudian berkata, "Tangkap
anak itu. Aku akan mencari orang yang bersembunyi di
halaman ini. Keduanya tidak boleh terlepas jika kau tidak ingin ditangkap karena menyembunyikan aku"
Orang yang berada di dapur itu segera berlari ke ruang
dalam. Namun langkahnya tertegun. Ki Tumenggung Sarpa
Biwada pernah melihat, bagaimana Paksi mampu
mengalahkan Ki Semburwangi. Jika ia ingin menangkapnya,
apakah ia dapat melakukannya apabila Paksi melawan"
Namun Ki Tumenggung Sarpa Biwada adalah seorang
prajurit. Ia pernah menjadi senapati yang disegani. Iapun
mempunyai ilmu yang tinggi.
"Aku akan menangkapnya" berkata Ki Tumenggung di
dalam hatinya, "bahkan aku akan membunuhnya"
Ki Tumenggung itupun segera berlari ke pintu pringgitan.
Disambarnya tombak pendek yang berada di plonconnya.
"Ki Tumenggung" desis Nyi Tumenggung, "ada apa?"
Ki Tumenggung tidak berhenti. Tetapi ia sempat menjawab
sambil berlari ke pintu, "Pengkhianat itu ada di pringgitan"
"Siapa?" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Tumenggung tidak menjawab. Dengan serta-merta iapun
telah membuka selarak dan mendorong daun pintu pringgitan
itu. Demikian pintu itu terbuka, maka Ki Tumenggungpun
meloncat keluar dengan ujung tombak yang merunduk.
Sekilas Ki Tumenggung melihat dua ekor kuda terikat di
halaman. Dengan lantang iapun berkata, "Jadi kau memang
tidak sendiri, Paksi?"
Paksi terkejut. Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, Ki
Tumenggung itu sudah menyerangnya.
Paksi yang belum sempat bangkit itu justru berguling
sehingga ujung tombak Ki Tumenggung tidak menghunjam ke
jantungnya. Dengan cepat Paksipun meloncat bangkit.
Sementara itu ujung tombak Ki Tumenggung telah mematuk
tubuhnya lagi. Paksi menangkis serangan itu dengan tongkat kayunya.
Kemudian sambil berloncatan mundur, Paksi berdesis, "Ayah, Ayah"
"Anak durhaka. Berapa kali kau telah menghancurkan nama
baikku. Sekarang kau telah mengkhianati aku lagi. Karena itu,
maka tidak ada hukuman yang paling pantas bagimu selain
membunuhmu" "Ayah, aku Paksi, Ayah. Kenapa Ayah akan membunuhku?"
"Kau datang dengan siapa, Paksi" Kenapa kau telah
mengkhianatiku?" "Apa yang aku lakukan?"
Ki Tumenggung tidak segera menjawab. Tetapi ujung
tombaknya menyambar ke arah lambung. Hampir saja
lambung Paksi terkoyak, namun untunglah bahwa Paksi
dengan tangkas meloncat ke samping. Ketika ujung tombak
itu berputar mendatar menyambar ke arah perutnya, Paksi
menangkisnya dengan tongkatnya.
-ooo00dw00ooo- Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 22 SEBUAH benturan yang keras terjadi. Hampir saja tombak
Ki Tumenggung terlepas dari tangannya. Namun dengan cepat
ia berhasil memperbaikinya.
"Ayah, aku datang dengan saudara seperguruanku. Ia ingin
ikut bermalam di rumah ini semalam"
"Siapa saudara seperguruanmu itu?"
"Pangeran Benawa"
"Pangeran Benawa" Kau Gila Paksi. Dimana Pangeran itu
sekarang?" "Ia baru pergi ke pakiwan sebentar, Ayah"
"Persetan dengan Pangeran Benawa" geram Ki
Tumenggung. "Aku tidak dapat memaafkanmu kali ini, Paksi.
Jika kau tidak dihentikan sekarang, maka pada suatu saat
kaulah yang akan membunuhku. Setidak-tidaknya kau akan
menjadi sebab kematianku"
"Aku tidak tahu apa yang Ayah maksudkan"
Ki Tumenggung tidak menjawab lagi. Tetapi serangan-
serangannya datang semakin cepat.
Namun Paksi telah mematangkan ilmunya. Karena itu,
maka dengan tangkasnya ia berhasil menghindari dan
menangkis serangan-serangan itu. Bahkan demikian besar
tenaganya, sehingga pada setiap benturan, terasa tangan Ki
Tumenggung menjadi panas.
Tetapi serangan-serangan Ki Tumenggung datang mengalir
seperti banjir. Tidak henti-hentinya.
Ketika Nyi Tumenggung kemudian keluar dari pintu
pringgitan dan melihat Ki Tumenggung menyerang Paksi
dengan tombak pendek, maka tahulah Nyi Tumenggung,
bahwa Ki Tumenggung bersungguh-sungguh. Kecemasan
yang sudah lama membayang itupun kini telah ternyata. Ki
Tumenggung memang berusaha untuk menyingkirkan Paksi.
Jika sebelumnya ia masih mencari cara yang terselubung,
maka kini Ki Tumenggung tidak lagi menyembunyikan niatnya
itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ki Tumenggung" Nyi Tumenggung hampir berteriak, "apa yang kau lakukan?"
"Iblis kecil ini telah mengkhianati aku. Dengan sengaja ia ingin menyurukkan aku ke dalam bencana"
"Apa yang dilakukannya?"
Ki Tumenggung meloncat sambil menjulurkan tombaknya.
Sementara itu Paksi menghindarinya. "Kakang, berhentilah"
"Aku akan membunuhnya. Kesabaranku telah habis"
"Kakang" "Kali ini masalahnya bukan lagi kepatuhan seorang anak
kepada ayahnya. Tetapi persoalannya sudah menyangkut
keselamatan bahkan mati dan hidupku"
"Jadi kau beratkan Harya Wisaka daripada anakmu?"
"Bukan hanya Harya Wisaka. Tetapi keselamatanku sendiri.
Aku dan seisi rumah ini. Termasuk kau dan anak-anakmu yang
lain, yang masih memerlukan perlindungan ayahnya dan kasih
sayang ibunya" Tiba-tiba saja Paksi bertanya, "Kenapa dengan Ayah, Ibu
dan adik-adikku" Jika ada yang mengancam mereka, aku
justru akan dapat membantu Ayah melindungi mereka"
"Jangan berpura-pura tidak tahu. Kau harus mati dan
Pangeran Benawa pun akan mati di halaman belakang rumah
ini. Harya Wisaka sendiri akan membunuhnya"
Dalam pada itu, di halaman belakang rumah Ki
Tumenggung Sarpa Biwada, Pangeran Benawa memang sudah
tidak bersembunyi lagi. Apalagi ketika kemudian Harya Wisaka itu berkata sambil
memandang ke kegelapan, "Jangan bersembunyi seperti
seorang pencuri. Keluarlah dan kita akan berhadapan sebagai
laki-laki" Pangeran Benawapun kemudian telah bangkit berdiri dan
melangkah mendekati Harya Wisaka, "Aku, Paman. Aku tidak
mengira kalau Paman ada disini"
"Kau tidak usah berbohong. Kita sudah berhadapan
sekarang" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
"Aku memang ingin bermalam disini bersama Paksi. Tetapi
terasa sesuatu agak mencurigakan disini. Karena itu, maka
aku telah bersembunyi di halaman belakang untuk
mengetahui, apa yang telah membuat aku menjadi curiga"
"Cukup. Sudah aku katakan, kau tidak perlu berpura-pura
atau mengarang ceritera apapun. Bersiaplah. Aku akan
membunuhmu, sementara Ki Tumenggung Sarpa Biwada akan
menyelesaikan anaknya yang telah mengkhianatinya"
"Apakah Ki Tumenggung sampai hati untuk
melakukannya?" "Aku tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Ki
Tumenggung. Apakah ia akan membunuh anak laki-lakinya
atau akan memasungnya seumur hidupnya. Tetapi sudah
tentu Ki Tumenggung tidak ingin ditangkap karena
menyembunyikan aku di rumahnya"
"Seandainya Paksi dipasung seumur hidupnya atau dibunuh
sekalipun, bukankah aku akan dapat berceritera kepada
Ayahanda, bahwa Ki Tumenggung Sarpa Biwada telah
menyembunyikan Paman Harya Wisaka yang melarikan diri
dari penjara" "Kau tidak akan pernah dapat melaporkannya"
"Kenapa?" "Kau akan mati disini"
"Jangan begitu Paman. Apakah Paman sampai hati untuk
membunuhku?" "Kau memang harus mati, Benawa. Aku tidak ingin kau
membawa kabar kepada banyak orang bahwa aku
bersembunyi disini. Bagiku sendiri tidak akan ada soal, karena malam ini aku dapat melarikan diri dan bersembunyi di tempat
lain. Tetapi aku tidak dapat membiarkan Ki Tumenggung
Sarpa Biwada mengalami bencana karena aku"
"Sikap Paman sangat terpuji. Tetapi juga sangat tercela.
Paman ingin menyelamatkan seseorang tetapi dengan
mengorbankan orang lain. Apakah arti penyelamatan itu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku harus menyelamatkan orang yang telah berusaha
menolongku. Jika hal itu tidak berhasil, sama sekali tidak
mempengaruhi maksud baiknya. Sedangkan kau sama sekali
tidak bersikap bersahabat. Kau memusuhiku dan ayahmu
sudah memenjarakan aku"
"Siapa yang memusuhi Paman" Pamanlah yang memusuhi
aku, dan bahkan telah memburu aku kemana aku pergi,
meskipun yang Paman buru adalah cincin ini. Tetapi
seandainya di Pajang tidak ada cincin inipun Paman tentu
akan memburuku" "Untuk apa aku memburumu jika kau tidak mengenakan
cincin itu?" "Maksud Paman untuk menguasai cincin ini hanyalah
pengejawantahan dari nafsu Paman untuk menguasai lahir.
Tanpa cincin inipun Paman tetap berniat merebut tahta Pajang
dari Ayahanda" "Cukup. Kau masih terlalu kanak-kanak untuk mengerti apa
yang sebenarnya sedang aku lakukan"
Pangeran Benawa menggeleng. Katanya, "Bukan hanya aku
dan anak-anak muda sebayaku atau yang lebih muda lagi
daripada aku yang dapat mengerti apa yang Paman lakukan,
karena yang Paman lakukan tidak lebih dan tidak kurang dari
sebuah pemberontakan"
"Aku akan membuatmu diam untuk selama-lamanya"
"Tetapi tentu aku tidak akan membiarkan diriku menjadi
korban, Paman. Akupun tidak rela jika cincin kerajaan ini jatuh ke tangan Paman"
"Kau tidak akan dapat lari"
"Lari" Untuk apa aku lari" Bukankah aku mampu
mengimbangi kemampuan Paman?"
"Kau memang pemimpi. Jika di Alas Jabung aku dapat
tertangkap, itu sama sekali bukan karena ilmumu lebih tinggi
dari ilmuku. Tetapi saat itu, kau dengan licik mengajak
Sutawijaya dan Paksi, anak Sarpa Biwada untuk
menangkapku" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kenapa saat itu Paman menyerah begitu saja tanpa
perlawanan yang berarti terhadap kami bertiga?"
"Aku sama sekali tidak takut ditangkap, karena seperti yang kau lihat, aku dengan mudah melepaskan diri"
"Jika Paman sekali lagi tertangkap, maka Paman akan
disimpan di tempat yang lebih kokoh, dijaga oleh prajurit yang jumlahnya berlipat serta beberapa senapati pilihan yang tidak
mungkin dapat dibujuk atau diperalat oleh apapun"
Harya Wisaka tertawa. Katanya, "Di seluruh Pajang tidak
ada tempat yang dapat memenjarakan aku. Aku dapat keluar
lewat lubang sebesar ujung duri"
Tetapi Pangeran Benawa tertawa. Katanya, "Kau memang
suka berkelakar, Paman. Jika Paman memang merasa mampu
menembus dinding tempat Paman ditahan di lingkungan
istana Pajang, kenapa Paman masih harus bersembunyi?"
"Sudah aku katakan, jangan menyesali sikapku. Tetapi
yang penting aku ingin bertanya kepadamu Benawa, jika
kematian itu datang menjemputmu malam ini, pesan apa yang
ingin kau sampaikan kepada ayahandamu, Kangjeng Sultan
Hadiwijaya yang tamak itu?"
"Paman tidak usah menyibukkan diri dengan pesan-
pesanku. Biarlah aku sendiri yang menyampaikannya kepada
ayahanda, bahwa aku telah berhasil menangkap kembali
Harya Wisaka yang melarikan diri dari bilik tahanannya"
Wajah Harya Wisaka menjadi merah. Dengan nada keras ia
berkata, "Pangeran Benawa, sebenarnya aku tidak ingin
bertengkar dengan kanak-kanak. Tetapi dalam keadaan
seperti ini, aku tidak dapat berbuat lain dari membunuhmu.
Ada atau tidak ada cincin di jari-jarimu. Jika cincin itu ternyata ada di jari-jarimu adalah satu kebetulan, karena aku akan
mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Kau tidak dapat
berbicara tentang keberadaanku disini kepada siapapun,
sementara aku tidak perlu lagi memburu cincin itu kemana-
mana" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tetapi seperti yang sudah aku katakan, Paman. Aku tidak
mau mati sekarang. Jika Paman memaksa untuk
membunuhku, maka aku pun dapat berbuat seperti itu.
Karena kita mempunyai kemungkinan yang sama, membunuh
atau dibunuh. Kecuali jika Paman bersedia berbaik hati
menyerah untuk kembali ke bilik tahanan"
"Cukup. Bersiaplah untuk mati, Benawa"
Pangeran Benawa surut selangkah. Ia melihat Harya
Wisaka sudah bersiap menyerangnya.


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sebenarnyalah, sesaat kemudian, Harya Wisaka itupun telah
meloncat menyerang. Sementara itu, Pangeran Benawa yang
telah bersiap menghadapi segala kemungkinanpun telah
menghindari serangan itu.
Namun agaknya Harya Wisaka benar benar tidak menahan
diri lagi. Dengan garangnya ia menyerang dan menyerang
terus. Ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu
dengan membunuh Pangeran Benawa. Kemudian
menguburkan mayatnya di kebun belakang rumah Ki
Tumenggung Sarpa Biwada itu.
Tetapi Pangeran Benawapun telah meningkatkan ilmunya
pula. Dengan demikian, maka pertahanannyapun menjadi
semakin rapat, sehingga serangan-serangan Harya Wisaka
tidak mampu menembusnya. Dengan demikian, maka pertempuran di belakang rumah Ki
Tumenggung itupun menjadi semakin sengit. Keduanya telah
meningkatkan ilmu mereka.
Namun ternyata tidak mudah bagi Harya Wisaka untuk
membunuh Pangeran Benawa. Sebaliknya, tidak mudah pula
bagi Pangeran Benawa untuk menangkap kembali Harya
Wisaka tanpa bantuan orang lain. Apalagi kebun yang luas
dan ditumbuhi dengan pohon-pohon yang besar, tanaman-
tanaman perdu dan beberapa rumpun empon-empon yang
sengaja ditanam oleh Nyi Tumenggung sebagai bahan untuk
membuat reramuan jamu, sehingga kesannya kebun belakang
itu menjadi rimbun. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di gelap malam, pepohonan yang besar, tanaman perdu
dan rumpun empon-empon itu dapat menjadi perisai bagi
keduanya yang sedang terdesak.
Namun ternyata bahwa Pangeran Benawa memiliki ilmu
yang sangat tinggi. Harya Wisaka yang meyakini
kemampuannya itupun mengalami kesulitan untuk
mempertahankan diri dari serangan-serangan Pangeran
Benawa yang datang seperti prahara.
Dalam pada itu, di halaman depan, Ki Tumenggung Sarpa
Biwada mengerahkan segenap kemampuannya untuk
membunuh Paksi. Namun Paksi yang sudah ditempa itupun
tidak dapat dengan mudah dibunuhnya.
Sementara itu, Paksi sendiri masih mengekang dirinya. Ia
lebih banyak menangkis, menghindar dan berloncatan
mengambil jarak daripada melawan, apalagi menyerang.
"Ayah. Kenapa Ayah ingin benar-benar membunuhku" Paksi
hampir berteriak. Keributan itu telah membuat kedua orang adik Paksipun
menjadi kebingungan. Mereka terbangun dan dengan tergesa-
gesa keluar dari bilik mereka dan bahkan langsung keluar ke
pringgitan. Sementara itu, Nyi Tumenggung masih berusaha untuk
melerai mereka. Dengan lantang iapun memanggil, "Kakang.
Kakang Tumenggung. Kenapa Kakang benar-benar ingin
membunuh Paksi" "Anak durhaka. Anak ini akan membawa bencana bagi
seluruh keluarga" "Kakang takut melihat bayangan sendiri. Lihat, Paksi tidak melawan. Tetapi ia tidak ingin mati"
Tetapi Ki Tumenggung tidak menghiraukannya. Ia masih
saja memburu Paksi, memutar tombaknya dan
mengayunkannya menebas ke arah perut. Kemudian
menjulurkannya mematuk ke arah dada.
Namun Paksi benar-benar tangkas. Kadang-kadang ia
berloncatan menghindar. Namun jika terpaksa Paksi
menangkis serangan-serangan itu dengan tongkatnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ibu" adik perempuan Paksipun berlari memeluk ibunya.
"Ayah" teriak adik laki-laki Paksi, "apa yang telah terjadi?"
Tetapi ayahnya tidak menjawab. Serangan-serangannya
datang semakin cepat. Namun serangan-serangan itu tidak
pernah berhasil menyentuh tubuh Paksi.
Adik laki-laki Paksi itupun kemudian berlari menghambur
mendekati arena sambil berteriak, "Ayah, Kakang Paksi"
"Minggirlah" teriak ayahnya, "aku harus membunuh
kakakmu yang durhaka ini"
"Kenapa" bertanya adik laki-laki Paksi.
"Minggir. Kau akan tahu kemudian, kenapa Paksi harus
mati" Adik laki-laki Paksi itu memang melangkah surut.
Sementara adik perempuannya masih saja memeluk ibunya.
Paksi masih saja berloncatan menghindar serta sekali-sekali
menangkis dan membenturkan tongkatnya. Tetapi Paksi masih
belum membalas menyerang.
Meskipun Paksi masih belum membalas menyerang, tetapi
Ki Tumenggung sudah mulai menjadi cemas. Benturan-
benturan senjata yang terjadi telah mengisyaratkan kepada Ki
Tumenggung, bahwa Paksi memiliki tenaga yang sangat
besar, di samping kemampuan olah kanuragannya yang tinggi,
yang telah ditunjukkannya ketika Paksi mengalahkan Ki
Semburwangi. Kecemasan Ki Tumenggung itu ternyata mulai
mempengaruhi tata geraknya. Unsur-unsur geraknya mulai
kehilangan watak. Tombak pendeknya tidak lagi berbahaya
seperti sebelumnya. Namun justru karena itu, maka Ki
Tumenggung nampak menjadi semakin garang. Serangan-
serangannya nampaknya menjadi semakin keras. Tetapi
semakin tidak terarah. Sebenarnya paksi mempunyai kesempatan semakin besar
untuk membalas menyerang menembus pertahanan ayahnya
yang sudah goyah. Tetapi Paksi tidak melakukannya. Ia masih
tetap bertahan. Menghindar dan sekali-sekali menangkis dan
membenturkan tongkatnya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, pertempuran yang terjadi di halaman
belakang rumah Ki Tumenggung pun menjadi semakin sengit.
Harya Wisaka telah mengerahkan kemampuannya untuk
menyelesaikan pertempuran itu. Ketika Harya Wisaka mulai
terdesak, maka ia telah mengetrapkan ilmunya yang
mendebarkan. Telapak tangannya seakan-akan telah
membara. Dengan menelakupkan telapak tangannya, maka
asap tipis yang kemerah-merahan telah mengepul dari telapak
tangannya itu. Tetapi telapak tangannya yang membara itu sama sekali
tidak membantunya. Dengan tangkas Pangeran Benawa
berloncatan menghindari sentuhan telapak tangannya. Bahkan
sekali-sekali serangan Pangeran Benawa justru telah
mengenai tubuhnya. Dalam puncak kemarahannya, maka Harya Wisakapun
telah menarik pedangnya. Ketika pedang itu berputar sehingga membayangkan kabut
tipis di seputarnya, Pangeran Benawa meloncat surut.
"Kau akan mati, Benawa. Kau tidak bersenjata sekarang"
Pangeran Benawa termangu-mangu sejenak. Ia menyadari,
betapa tingginya ilmu pedang Harya Wisaka.
Tetapi di malam hari, tidak ada cahaya matahari yang
memantul dari pedang itu, sehingga Pangeran Benawa
menduga, bahwa pedang itu tidak akan dapat menyilaukan
matanya. Namun ternyata dugaan Pangeran Benawa itu keliru.
Pedang itu semakin lama menjadi semakin berkilau. Pantulan
cahaya lampu di kejauhan dan pantulan kilatan bintang-
bintang di langit, bagaikan menjadi berlipat ganda sehingga
Pangeran Benawa menjadi silau karenanya.
"Kau tidak dapat melihat arah gerak pedang pusakaku,
Benawa. Sebentar lagi pedangku akan membuat lingkaran di
lehermu" Pangeran Benawa memang menjadi silau. Meskipun
demikian bukan berarti bahwa Pangeran Benawa tidak dapat
melihat sama sekali gerak pedang Harya Wisaka. Dibantu oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ilmunya Sapta Panggraita, maka Pangeran Benawa tidak
menemui kesulitan untuk mengamati gerak pedang Harya
Wisaka. Meskipun demikian, Pangeran Benawa memerlukan senjata
untuk melawan pedang Harya Wisaka. Meskipun Pangeran
Benawa tidak membawa tombak pendeknya, namun ia telah
mengenakan lembaran kulit yang melingkari pergelangan
tangannya. Sementara itu, kedua tangannya telah
menggenggam sepasang pisau belatinya.
Harya Wisaka tertawa pendek sambil berkata, "Apa artinya
sepasang pisau belatimu itu, Benawa?"
"Sama seperti arti pedang itu di tangan Paman" Jawab
Pangeran Benawa. "Omong kosong" geram Harya Wisaka. "Pedangku adalah
pedang pusaka yang memiliki banyak kelebihan dari
kebanyakan pedang" "Demikian pula kedua pisau belatiku ini, Paman"
"Apa kelebihan pisau dapurmu itu?"
Pangeran Benawa justru tertawa. Katanya, "Jika Paman
memang kebal, coba jangan hindari tajam pisau-pisau
dapurku ini" "Persetan dengan igauanmu" geram Harya Wisaka sambil
meloncat menyerang. Pangeran Benawa yang meskipun silau itu tahu pasti arah
pedang Harya Wisaka. Karena itu, maka iapun dengan
sigapnya menghindarinya. Dengan cepat Harya Wisaka memutar pedangnya. Kilatan
cahaya yang memantul pada daun pedang itu, maka agak
merepotkan Pangeran Benawa. Tetapi ilmunya Sapta
panggraita seakan-akan telah memberinya petunjuk arah
ayunan pedang Harya Wisaka.
Karena itu, maka dengan tangkasnya Pangeran Benawa
menangkis serangan pedang Harya Wisaka itu.
Justru Harya Wisakalah yang terkejut. Ia mengira bahwa
pedangnya akan berhasil menyentuh tubuh Pangeran Benawa
yang silau itu. Mungkin Pangeran Benawa berusaha untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menangkis atau menghindar. Tetapi tentu tidak akan berhasil
sepenuhnya, sehingga serangannya itu tentu akan dapat
mengenai sasaran meskipun tidak tepat seperti yang
dimaksudkan. Ternyata sebuah benturan telah terjadi. Harya Wisaka yang
tidak menduga bahwa Pangeran Benawa berhasil menangkis
serangannya dengan tepat, justru hampir saja kehilangan
senjata dalam benturan yang tidak diduganya itu. Namun
dengan cepat Harya Wisaka meloncat surut untuk
memperbaiki genggaman pedangnya.
Pangeran Benawa tidak segera memburunya. Apalagi ketika
Harya Wisaka memutar pedangnya di seputar tubuhnya,
sehingga tubuh itu seolah-olah dilingkari oleh kabut yang
berwarna keputih-putihan, dan bahkan kemudian kilatan-
kilatan pantulan cahaya lampu di belakang rumah Ki
Tumenggung Sarpa Biwada, serta kerdipan cahaya bintang di
langit, bagaikan menghiasi lingkaran kabut itu.
Pangeran Benawa sejenak justru terpesona oleh ujud yang
memancar dari ilmu serta kelebihan pedang Harya Wisaka.
Namun tiba-tiba Harya Wisaka telah meloncat
menyerangnya pula. Namun dengan kecepatan yang tinggi.
Pangeran Benawa berhasil menghindarinya.
Tetapi Harya Wisaka tidak menghentikan serangannya.
Pedangnya itupun terjulur lurus mengarah ke dada. Tetapi
dengan tangkasnya Pangeran Benawa menepis ujung pedang
itu. Dan bahkan ujung belatinya yang sebuah lagi dengan
cepat menggapai tubuh Harya Wisaka.
Harya Wisaka meloncat surut. Terasa pundaknya disengat
ujung belati Pangeran Benawa. Tidak terlalu dalam. Tetapi
luka itu telah menitikkan darah.
Harya Wisaka menggeram. Kemarahannya semakin
membakar jantungnya. Tetapi ia tidak dapat mengingkari
kenyataan. Pundaknya telah terluka.
Ketika kemudian Pangeran Benawa yang meloncat
menyerang, maka Harya Wisakapun menjadi terdesak. Kilatan-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kilatan pedangnya yang menyilaukan tidak mampu
menghambat serangan-serangan Pangeran Benawa itu.
Harya Wisakapun kemudian telah dijerat ke dalam
kesulitan. Ia merasa tidak akan mungkin dapat mengalahkan,
apalagi membunuh Pangeran Benawa. Bahkan Harya Wisaka
pun yakin, bahwa di dalam diri Pangeran Benawa tersimpan
beberapa kelebihan yang lain dari dirinya.
Namun Harya Wisaka tidak ingin tertangkap dan ditahan
kembali. Karena itu, maka baginya tidak ada jalan lain kecuali melarikan diri dari halaman belakang rumah Ki Tumenggung
Sarpa Biwada itu. Harya Wisaka tidak lagi menghiraukan harga dirinya
sebagai seorang prajurit linuwih. Ia bukan kesatria yang
memilih mati daripada melarikan diri dari medan.
"Tidak semua orang yang menyingkir dari arena adalah
pengecut" berkata Harya Wisaka di dalam hatinya.
Harya Wisakapun tidak lagi mengingat nasib Ki
Tumenggung Sarpa Biwada yang telah menyembunyikannya.
Apakah ia akan ditangkap atau dibunuh oleh Pangeran
Benawa. Dalam keadaan yang tersudut, maka Harya Wisaka
lebih memikirkan nasibnya sendiri daripada nasib Ki
Tumenggung Sarpa Biwada yang telah membantu
menyembunyikannya di rumahnya.
Karena itu, maka memanfaatkan kerimbunan halaman
belakang rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada, pohon-pohon
buah-buahan serta pohon nyiur yang terdapat di halaman
belakang dan gelapnya malam, maka Harya Wisaka dengan
beralaskan ilmunya, berusaha melepaskan diri dari tangan
Pangeran Benawa. Pangeran Benawa memang terlambat sekejap. Harya
Wisaka yang dengan hentakan-hentakan ilmunya menyerang
Pangeran Benawa, tiba-tiba saja telah meloncat ke belakang
pepohonan. "Paman" panggil Pangeran Benawa sambil memburunya,
"jangan lari. Kita masih akan berunding mengadu kemahiran naik kuda di padang rumput yang luas"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Harya Wisaka tidak mendengarkannya. Bayangan-
bayanganpun segera lenyap dalam kegelapan.
Pangeran Benawa memang berusaha mengejarnya. Tetapi
Harya Wisaka itu luput dari tangannya.
Pangeran Benawa menjadi sangat kecewa. Ia telah


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menemukan Harya Wisaka. Tetapi ia telah gagal untuk
menangkapnya kembali. Demikian Harya Wisaka hilang dari halaman belakang
rumah Ki Tumenggung serta meloncati dinding halaman turun
di halaman rumah sebelah, Pangeran Benawa termangu-
mangu sejenak di atas dinding halaman belakang itu. Tetapi ia
tidak meloncat turun ke halaman sebelah dan memburu Harya
Wisaka, karena usahanya tentu akan sia-sia. Dengan
mengerahkan tenaga dalamnya, maka Harya Wisaka dapat
berlari sangat cepat, meskipun mungkin Pangeran Benawa
dapat pula berlari secepat itu, tetapi di antara pepohonan,
rumpun perdu dan gelapnya malam, ia akan sulit untuk dapat
menyusulnya. Dengan kemampuan Aji Sapta Pandulu, Pangeran Benawa
masih melihat Harya Wisaka menyusup di belakang rimbunnya
tanaman perdu di halaman sebelah. Tetapi Pangeran Benawa
terpaksa membiarkannya pergi.
Baru beberapa saat kemudian Pangeran Benawa teringat,
apa yang telah terjadi atas Paksi. Apakah ayahnya akan
membunuhnya atau memperlakukannya dengan tindakan-
tindakan kekerasan yang lain.
Karena itu, maka Pangeran Benawapun segera meloncat
turun dan berlari ke halaman depan, melingkari sudut gandok.
Ternyata Paksi masih berusaha untuk melindungi dirinya
dari ujung tombak ayahnya yang menyerangnya dengan
garangnya. Tetapi serangan-serangannya sudah tidak lagi
terarah dengan baik, sehingga tidak lagi membahayakan
keselamatan Paksi. Pangeran Benawapun termangu-mangu menyaksikan
pertempuran itu. Paksi masih belum berusaha untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membalas menyerang. Ia masih saja berloncatan menghindar,
menangkis dan sekali-sekali membentur senjata ayahnya.
Sementara itu, ibu Paksi masih berusaha untuk melerainya.
Bahkan ibu Paksi telah turun ke halaman bersama adik
perempuan Paksi. Demikian pula adik laki-laki Paksi. Tetapi
mereka tidak berani mendekat. Ujung tombak Ki Tumenggung
menyambar-nyambar dengan garang.
Pangeran Benawa yang kemudian berdiri di halaman itu
menjadi ragu-ragu, apakah ia akan mencampuri pertempuran
itu. Tetapi ketika ia melihat cara Paksi bertempur, maka
Pangeran Benawa memutuskan untuk tidak melibatkan diri.
Persoalan yang timbul pada ayah dan anak laki-lakinya itu
sebaiknya tidak dicampurinya, kecuali dalam keadaan yang
sangat khusus sehingga membahayakan jiwa Paksi.
Pangeran Benawa juga tidak dapat menebak perasaan
Paksi seandainya ia turun ke arena pertempuran. Apakah Paksi
akan berterima kasih, atau sebaliknya akan menyesalinya
sepanjang umurnya. Apalagi jika ayahnya terluka dan
mengalami keadaan yang sangat buruk.
Cahaya lampu minyak di pendapa nampak redup. Tetapi
cahayanya mampu menggapai Pangeran Benawa betapa
lemahnya. Ayah Paksi menjadi sangat gelisah. Pangeran Benawa tiba-
tiba sudah berada di halaman itu.
"Bagaimana nasib Harya Wisaka?" pertanyaan itu ternyata sangat mengganggunya.
Dalam keadaan yang gawat itu, maka Ki Tumenggung
menjadi bingung, apakah yang sebaiknya dilakukan.
Sementara itu ia tidak akan dapat membunuh Paksi
sebagaimana diinginkannya. Bagaimanapun ia berusaha.
namun Paksi masih saja mampu menghindarinya.
Dalam kebingungan itu, maka Ki Tumenggungpun telah
mengambil keputusan yang tidak diduga oleh Paksi, ibunya
dan adik-adiknya. Tiba-tiba saja Ki Tumenggung itupun
melarikan diri menuju ke pintu regol halaman.
"Ayah, Ayah" Paksi mencoba memanggilnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Demikian pula Nyi Tumenggung dan adik-adik Paksi. Tetapi
Ki Tumenggung sama sekali tidak berpaling.
Pangeran Benawa masih tetap ragu-ragu. Karena itu, ia
berdiri saja termangu-mangu.
Namun sejenak kemudian halaman itu bagaikan membeku.
Paksi berdiri di tempatnya dengan tongkat kayunya.
Namun kemudian tangis adik perempuan Paksipun
bagaikan meledak. Beberapa kali ia masih memanggil ayahnya
yang melarikan diri masuk ke dalam kegelapan malam.
"Kenapa hal ini terjadi Paksi?" bertanya ibunya.
"Aku tidak tahu, Ibu"
"Tentu bukan satu kebetulan kau pulang malam ini, justru
pada saat Harya Wisaka bersembunyi disini"
Paksi menundukkan kepalanya. Sementara itu, Pangeran
Benawapun melangkah mendekat.
"Pangeran" desis Nyi Tumenggung Sarpa Biwada, "apakah Pangeran datang untuk menangkap Kakang Tumenggung?"
"Tidak, Bibi" jawab Pangeran Benawa, "kami sebenarnya tidak ingin menangkap siapa-siapa. Tetapi karena Harya
Wisaka ada disini, maka akupun berusaha untuk
menangkapnya" "Tentu Pangeran sudah mengetahui bahwa Harya Wisaka
ada disini" "Semua orang memang sedang mencari Harya Wisaka.
Kamipun sedang mencarinya pula. Kami tidak tahu pasti,
apakah Paman Harya Wisaka ada disini"
"Tetapi Pangeran sudah menduga sebelumnya, setidak-
tidaknya curiga, bahwa Harya Wisaka bersembunyi disini"
"Ya, Bibi. Sebagaimana kami lihat, ternyata Harya Wisaka
memang bersembunyi disini"
Mata Nyi Tumenggung menjadi panas. Tetapi ia berjuang
untuk tidak menangis. Anak perempuannya yang sudah
menangis itu tentu akan menjadi semakin ketakutan
menghadapi keadaan yang tidak dimengertinya.
Sementara itu adik laki-laki Paksipun bertanya, "Kenapa
Kakang berkelahi dengan ayah?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku tidak tahu" jawab Paksi. "Aku sudah berusaha
mencegahnya. Tetapi ayah agaknya menjadi sangat marah
kepadaku" Adik laki-laki Paksi itu sudah dapat mempergunakan
penalarannya untuk mengurai keadaan. Meskipun agak ragu,
adik laki-laki Paksi itupun bertanya, "Apakah peristiwa ini terjadi dalam hubungannya dengan kehadiran Harya Wisaka
disini?" Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Sudahlah.
Nanti kita bicarakan untuk mencari jalan keluar"
"Tetapi ayah itu akan pergi ke mana?"
"Aku tidak tahu"
Adik laki-laki Paksi itu terdiam. Sementara itu, ibu Paksipun
telah mempersilahkan Pangeran Benawa naik ke pendapa.
"Bagaimanapun juga, anak-anak masih memerlukan
ayahnya" berkata Nyi Tumenggung kemudian. Pangeran
Benawa mengangguk-angguk.
"Apakah ayah tidak akan kembali?" bertanya adik
perempuan Paksi. "Kita semuanya tidak tahu. Tetapi aku akan berusaha
mencarinya" Nyi Tumenggung itupun kemudian menggeleng sambil
berdesis, "Kau tidak usah mencari ayahmu, Paksi. Agaknya
kau dan Pangeran Benawa berdiri berseberangan dengan
ayahmu" "Jika Ibu menduga demikian, maka Ibu tentu tahu
kedudukan ayah di mata Kangjeng Sultan di Pajang"
Nyi Tumenggung masih bertahan. Betapa jantungnya
bergejolak, namun Nyi Tumenggung itu berusaha untuk tidak
menangis. Tetapi Nyi Tumenggung itupun mengangguk kecil.
"Aku minta maaf, Ibu. Jika akulah yang menyebabkan ayah
pergi malam ini. Tetapi aku tidak tahu, seandainya aku tidak
pulang malam ini, apakah tidak ada orang lain yang
melakukannya. Bagaimanapun juga, nama ayah sudah
terlanjur tersangkut dengan langkah-langkah yang dibuat oleh
Harya Wisaka" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagaimanapun juga Nyi Tumenggung bertahan, namun air
matanya meleleh juga dari pelupuknya. Bahkan Nyi
Tumenggung itupun kemudian telah terisak.
"Ibu, Ibu" adik perempuan Paksi itupun mengguncang-
guncang ibunya. Tetapi adik laki-laki Paksi itupun kemudian berkata,
"Apakah ayah memang tersangkut dalam gerakan yang
dilakukan oleh Harya Wisaka?"
Paksi memandang ibunya sejenak. Tetapi sebelum ia
menjawab, adiknya itupun berdesis, "Satu pertanyaan yang
bodoh. Jika ayah tidak tersangkut, maka Harya Wisaka malam
ini tentu tidak akan bersembunyi disini"
Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya, "Tetapi bukan
berarti tidak ada jalan keluar yang dapat kita tempuh"
Adik laki-lakinya memandang ibunya sejenak. Tetapi ia
tidak bertanya lagi. Dalam pada itu, Nyi Tumenggungpun kemudian berkata,
"Tetapi bukankah ayahmu tidak berperanan dalam gerakan
Harya Wisaka itu?" Paksi menggelengkan kepalanya. Katanya, "Aku tidak tahu
pasti, Ibu" Nyi Tumenggungpun kemudian memandang Pangeran
Benawa dengan tajamnya. Dengan nada tinggi serta suara
yang bergetar Nyi Tumenggung itupun berkata, "Pangeran,
kenapa Pangeran diam saja" Katakan Pangeran, apakah Ki
Tumenggung akan dihukum mati jika tertangkap dan diketahui
menyembunyikan Harya Wisaka?"
Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya
kemudian agak ragu, "Bibi, Sebenarnyalah aku tidak tahu"
"Katakan terus terang, Pangeran"
"Benar, Bibi. Aku tidak tahu"
Nyi Tumenggung itupun masih terisak. Tetapi ia masih
bertahan agar tangisnya tidak meledak. Tetapi justru karena
itu, dadanya terasa sakit sekali. Namun kemudian Nyi
Tumenggung itupun berkata, "Silahkan Pangeran, apapun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang akan Pangeran lakukan atas keluarga kami. Tetapi
jangan lakukan apa-apa atas anak-anakku ini"
Sebelum Pangeran Benawa menjawab, maka Nyi
Tumenggung itupun segera bangun. Dibimbingnya anak
perempuannya dan ditariknya pula tangan anak laki-laki
sambil berkata, "Marilah. Kita tidak tahu-menahu apa yang telah terjadi"
Demikian Nyi Tumenggung dan kedua anaknya masuk ke
ruang dalam, maka Paksipun berkata, "Peristiwa seperti inilah yang hamba takuti sejak kita berangkat dari padepokan"
Pangeran Benawa menarik nafas panjang. Katanya, "Aku
dapat mengerti, Paksi"
"Ayah benar-benar akan membunuh hamba"
"Seharusnya kau tidak terlalu terkejut"
"Kenapa?" "Kau sudah pernah mendapat tugas yang tidak masuk akal
dari ayahmu. Pada waktu kau menginjak tujuhbelas tahun,
kau diperintahkannya untuk mencari cincin kerajaan ini.
Apakah itu bukan satu rencana pembunuhan" Kemudian
rencana ayahmu untuk melemparkan kau ke padepokan yang
dipimpin oleh Ki Ajar Wisesa Tunggal"
Paksi menundukkan kepalanya. Dengan suara yang seakan-
akan bergetar di dalam dadanya saja itupun bergumam,
"Kenapa?" "Paksi, bukankah waktu itu kau masih belum tahu apa-apa
tentang hubungan antara ayahmu dengan Paman Harya
Wisaka" Karena itu, jika waktu itu ayahmu akan
membunuhmu, tentu ada sebab yang lain. Bukan semata-
mata dalam hubungannya dengan Harya Wisaka"
"Hamba akan menanyakannya kepada Ibu"
"Tanyakanlah" "Tetapi tidak sekarang, Pangeran. Aku tidak ingin
menambah pedih perasaan Ibu"
"Justru sekarang waktunya, Paksi. Ibumu melihat langsung
apa yang akan dilakukan oleh ayahmu"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Paksi termangu-mangu sejenak. Namun anak muda itupun
kemudian bangkit sambil berdesis, "Hamba akan mencobanya"
Paksipun kemudian menyusul ibunya masuk. Dilihatnya
ibunya duduk di ruang dalam. Adik perempuannya berbaring
dengan meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya, sedang
adik laki-lakinya duduk di sebelahnya. Mereka hanya berdiam
diri saja, merenungi peristiwa yang baru saja terjadi.
Ketika melihat kedua adiknya, maka Paksipun
mengurungkan niatnya. Ia justru duduk di depan ibunya
sambil berkata, "Sudahlah, Ibu. Seperti aku katakan tadi, kita akan mencari jalan keluar dari pusaran peristiwa yang tidak
kita kehendaki ini" "Aku sudah pasrah, Paksi"
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada kedua
adiknya, "Tidur sajalah sambil menunggu pagi"
"Bagaimana aku dapat tidur lagi, Kakang" jawab adik laki-
lakinya. Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Aku mengerti.
Tetapi setidak-tidaknya berbaringlah di pembaringanmu" "Aku akan duduk bersama Ibu disini"
Paksi tidak memaksanya. Bahkan iapun kemudian berkata,
"Aku duduk di pringgitan, Ibu" Ibunya mengangguk.
Ketika Paksi keluar, Pangeran Benawapun bertanya, "Kau
sudah menanyakannya?"
"Belum, Pangeran. Ibu duduk bersama adik-adik hamba"
Pangeran Benawa mengangguk. Katanya, "Baiklah.
Mungkin besok pagi kau dapat berbicara dengan ibumu"
Dalam pada itu, Pangeran Benawapun kemudian
berceritera tentang Harya Wisaka yang lepas dari tangannya.
Mungkin Harya Wisaka dan Ki Tumenggung Sarpa Biwada
sudah bertemu lagi di tempat-tempat yang hanya mereka
kenal saja. "Kedudukan hamba menjadi sangat sulit" berkata Paksi
kemudian. "Ya" jawab Pangeran Benawa, "tetapi mungkin tidak lagi setelah kau mendapat penjelasan dari ibumu, kenapa ayahmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ingin menyingkirkanmu sejak semula tanpa ada kaitannya
dengan Harya Wisaka"
Paksi menarik nafas panjang. Katanya, "Mudah-mudahan
aku menemukan jawabnya"
Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat
mengerti perasaan Paksi. Tetapi memang tidak ada pilihan
lain. Ki Tumenggung Sarpa Biwada memang sudah terlibat
dalam pemberontakan yang dilakukan oleh Harya Wisaka. Ia


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

telah menyembunyikan Harya Wisaka yang melarikan diri dari
bilik tahanannya. Sampai langit membayang cahaya fajar, maka Pangeran
Benawa dan Paksi masih duduk di pringgitan. Di ruang dalam,
ibunya juga masih duduk merenung. Anak perempuannya
sudah tertidur di pangkuannya, sedangkan anak laki-lakinya
masih juga duduk di sampingnya.
Di pringgitan Paksi bertanya kepada Pangeran Benawa,
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Kita menghadap Ki Gede Pemanahan dan selanjutnya
menghadap ayahanda. Kita harus memberikan laporan, apa
yang terjadi di rumah ini"
"Apakah ibu dan adik-adik hamba dapat dianggap ikut
bersalah karena Harya Wisaka semalam ada disini?"
"Kita akan memberikan pertimbangan kepada Paman
Pemanahan yang mendapat beban untuk menangkap kembali
Paman Harya Wisaka. Tetapi menurut pendapatku, ibu dan
adik-adikmu tidak dapat dinyatakan ikut bersalah"
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dengan kerut di kening,
iapun bertanya, "Kapan kita akan menghadap Ki Gede?"
"Sekarang" jawab Pangeran Benawa, "sebentar lagi fajar akan menyingsing. Pada saat seperti ini, Paman Pemanahan
tentu sudah bangun dan berbenah diri"
"Baiklah. Aku akan minta diri kepada ibu dan adik-adikku"
Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah.
Akupun akan minta diri"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Paksipun kemudian masuk ke ruang dalam. Jantungnya
terasa berdesir ketika ia melihat ibu dan adik-adiknya masih
berada di tempatnya tanpa bergeser setapak pun.
"Ibu" desis Paksi.
Ibunya mengangkat wajahnya dan memandang Paksi
dengan kerut di dahi. "Aku minta diri, Ibu"
"Kau akan pergi ke mana?"
"Mengantar Pangeran Benawa ke istana"
"Melaporkan bahwa keluarga ini telah menyembunyikan
Harya Wisaka?" "Kami tidak dapat menyembunyikan peristiwa yang terjadi
di rumah ini. Apalagi Pangeran Benawa sendiri telah terlibat di dalamnya"
"Apakah dengan demikian ibu juga akan ditangkap" Atau
bahkan kami berdua?" bertanya adik laki-laki Paksi.
"Tidak" jawab Paksi. "Ibu dan kalian berdua tidak akan ditangkap karena kalian tidak ikut bersalah"
Adik laki-laki Paksi itu terdiam.
"Ibu" berkata Paksi kemudian, "Pangeran Benawa juga
akan minta diri" "Aku tidak dapat berdiri untuk keluar ke pringgitan, Paksi.
Adikmu tidur di pangkuanku. Aku tidak ingin ia terbangun"
"Biarlah aku angkat anak itu ke pembaringannya"
"Tidak. Ia akan terbangun. Biarlah ia menikmati
kesempatannya. Jika ia terbangun, maka ia tidak akan dapat
tidur lagi" "Biarlah Pangeran Benawa kemari" desis Paksi. Ibunya
tidak mencegahnya. Paksipun kemudian meninggalkan ibunya. Sejenak
kemudian maka iapun telah kembali bersama Pangeran
Benawa. "Aku minta diri, Bibi"
"Ampun, Pangeran. Hamba tidak dapat mengantar
Pangeran sampai ke regol. Anak ini tidur di pangkuan"
"Sudahlah, Bibi. Jangan kejutkan anak itu. Agaknya
tidurnya nyenyak" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya, Pangeran. Meskipun barangkali ia bermimpi buruk"
Pangeran Benawa menarik nafas panjang. Katanya
kemudian, "Aku mohon diri, Bibi. Aku minta maaf, bahwa
peristiwa yang tidak diinginkan telah terjadi disini. Aku tidak dapat menghindarinya. Tetapi Bibi hendaknya percaya, bahwa
tidak akan ada tindakan sewenang-wenang"
"Terimakasih, Pangeran" sahut Nyi Tumenggung.
"Paksi akan ikut bersamaku. Ia juga harus menyampaikan
laporan kepada Paman Pemanahan dan kepada ayahanda
Sultan" "Silahkan. Hamba tidak dapat mencegahnya. Hamba tidak
dapat berbuat apa-apa selain pasrah"
Pangeran Benawa berdiri termangu-mangu. Namun
kemudian iapun berkata, "Selamat pagi, Bibi"
Nyi Tumenggung mengusap matanya. Tetapi wajahnya
tetap saja menunduk mengamati wajah anak perempuannya
yang tidur di pangkuannya.
Sejenak kemudian, Paksi dan Pangeran Benawapun telah
meninggalkan rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada menuju
ke rumah Ki Gede Pemanahan. Mereka ingin bertemu dan
berbicara lebih dahulu dengan Ki Gede sebelum mereka
menghadap Kanjeng Sultan, meskipun Pangeran Benawa
yakin, bahwa ayahandanya akan menerimanya meskipun
masih terlalu pagi. Menjelang fajar terdengar derap dua ekor kuda yang berlari
menuju ke rumah Ki Gede Pemanahan. Tidak terlalu cepat,
agar suara derapnya tidak mengejutkan orang-orang yang
tinggal di sebelah menyebelah jalan.
Namun keduanya tidak meninggalkan kewaspadaan.
Mungkin saja mereka tiba-tiba mendapat serangan dari
tempat-tempat yang tersembunyi. Bahkan mungkin Harya
Wisaka sendiri. Tetapi mungkin juga pengikutnya.
Tetapi mereka berdua tidak menemui hambatan apapun di
sepanjang jalan. Bahkan mereka malah berpapasan dengan
beberapa orang perempuan yang akan pergi ke pasar yang
berjalan beriringan sambil membawa sisa obor belarak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seorang di antara mereka berjalan sambil berdendang. Tidak
terlalu keras, tetapi suaranya terasa menyentuh dinding
jantung. Nadanya yang mengalun bukan menjeritkan keluhan, tetapi
keluguan seseorang yang mengusung beban kewajiban yang
berat. Perempuan-perempuan yang berjalan beriringan ke pasar
itu menggendong bakul di punggungnya yang disambungnya
dengan serumbung yang agak tinggi. Mereka membawa hasil
kebunnya yang akan dijualnya untuk mendapatkan beberapa
keping uang yang dapat dibelikannya garam dan kebutuhan-
kebutuhan sehari-hari yang lain.
Pangeran Benawa dan Paksi memperlambat kudanya.
Sementara itu beberapa orang perempuan yang berjalan
beriring itu menduganya bahwa keduanya adalah prajurit yang
sedang meronda. "Mereka adalah pekerja-pekerja yang sangat rajin" berkata Pangeran Benawa. "Namun penghasilan mereka masih belum
memadai" Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Beban yang mereka
bawa itu cukup berat. Namun uang yang mereka peroleh rasa-
rasanya kurang seimbang dengan jerih payah mereka"
"Tentu tidak mudah untuk meningkatkan penghasilan
mereka. Jika harga hasil kebunnya harus dihargai lebih tinggi, maka ada golongan yang merasa semakin sulit kehidupannya.
Orang upahan yang menjual tenaganya akan mengeluh,
karena penghasilan mereka nilai tukarnya akan menjadi
semakin rendah" Paksi mengangguk-angguk. Memang tidak mudah untuk
mengubah keseimbangan kesejahteraan rakyat Pajang.
Dalam pada itu, maka beberapa puluh langkah lagi mereka
akan sampai di rumah Ki Gede Pemanahan. Sementara langit
menjadi semakin terang. Burung-burung liarpun sudah
terdengar berkicau di pepohonan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Meskipun fajar telah naik, tetapi kedatangan kita di rumah Ki Gede tentu akan mengejutkannya. Apalagi kita tidak disertai oleh Kakangmas Sutawijaya"
Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Tetapi Ki Gede akan
segera mengetahui persoalannya"
"Ya" Pangeran Benawa mengangguk.
Keduanyapun terdiam. Mereka sudah berada di depan regol
halaman rumah Ki Gede Pemanahan.
Keduanya segera meloncat turun. Mereka menuntun kuda
mereka memasuki regol halaman rumah Ki Gede Pemanahan
yang sudah sedikit terbuka.
Dua orang pengawal menghentikan mereka. Namun setelah
mereka melihat bahwa keduanya adalah Pangeran Benawa
dan Paksi yang kebetulan juga mereka kenal, maka
merekapun dipersilahkan untuk masuk.
"Apakah Paman Pemanahan masih tidur?"
"Tidak" jawab pengawal, "Ki Gede tadi sudah turun ke halaman. Berjalan berputar-putar sebentar lalu masuk lagi
lewat pintu seketeng"
"Katakan, kami akan menghadap"
Salah seorang pengawalpun kemudian masuk ke
longkangan lewat pintu seketeng yang tidak diselarak dari
dalam. Sejenak kemudian, maka Ki Gedepun keluar lewat pintu
pringgitan dan mempersilahkan Pangeran Benawa dan Paksi
untuk duduk di pringgitan.
"Pagi-pagi sekali Pangeran dan Paksi sudah berada disini.
Apakah kalian baru datang dari Hutan Jabung?"
"Tidak, Paman. Kami datang semalam"
"O" "Paksi rindu kepada keluarganya dan ingin bermalam
semalam di rumahnya. Aku hanya ikut mengantarkannya"
Ki Gede Pemanahan mengerutkan dahinya. Jawaban itu
sangat menarik perhatian Ki Gede Pemanahan. Karena itu,
sambil tersenyum Ki Gedepun bertanya, "Jadi kalian benar-
benar melakukannya?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Benawapun memandang Paksi sejenak. Tetapi
Paksi hanya menarik nafas panjang saja.
"Paman" berkata Pangeran Benawa kemudian, "adalah
kebetulan bahwa Harya Wisaka benar-benar berada di rumah
Paksi" Pangeran Benawapun kemudian telah menceriterakan
bahwa ia gagal menangkap kembali Harya Wisaka, sementara
itu ayah Paksipun melarikan diri.
"Pangeran dan Paksi juga gagal menangkap Ki
Tumenggung?" bertanya Ki Gede.
"Aku tidak dapat melakukannya, Ki Gede. Tumenggung
Sarpa Biwada itu adalah ayahku. Apalagi di hadapan ibu dan
adik-adikku" Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk kecil, sementara
Pangeran Benawapun berkata, "Aku juga tidak dapat
melakukannya" "Baiklah, Pangeran. Aku harus memerintahkan para
petugas sandi untuk bekerja lebih keras. Ternyata mereka
tidak mengetahui bahwa Harya Wisaka ada di rumah Ki
Tumenggung Sarpa Biwada. Dan bahkan mereka tidak tahu
bahwa telah terjadi pertempuran di halaman belakang dan
halaman depan rumah itu, rumah yang harusnya diawasi,
karena nama Ki Tumenggung Sarpa Biwada sudah terkait
dengan gerakan Harya Wisaka"
"Ketika Paman Harya Wisaka dan Ki Tumenggung
melarikan diri keluar dari lingkungan halaman rumah itupun
tidak diketahui pula oleh para petugas sandi. Jika saja rumah
itu diawasi, meskipun mereka tidak tahu bahwa Paman Harya
Wisaka ada di dalam, mereka akan dapat melihat keduanya
lari keluar melalui jalan dan menuju ke arah yang berbeda"
"Ya, Pangeran Benawa. Ini merupakan kelemahan kerja
para petugas sandi yang tidak dapat dibiarkan. Apalagi
sekarang, setelah Harya Wisaka lari dari rumah Ki
Tumenggung Sarpa Biwada"
"Aku mohon maaf, Paman, bahwa aku tidak dapat
menangkapnya" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bukan salah Pangeran. Harya Wisaka termasuk bukan
orang kebanyakan" "Seharusnya aku datang ke rumah Paksi bersama Paksi dan
Kakangmas Sutawijaya. Jika kami bertiga, Paman Harya
Wisaka tentu akan tertangkap"
"Semuanya sudah terjadi. Yang harus kita lakukan adalah
peningkatan pengawasan di seluruh Pajang. Mudah-mudahan
Harya Wisaka masih belum meninggalkan gerbang kota"
"Mudah-mudahan, Paman" jawab Pangeran Benawa.
Dalam pada itu, Ki Gedepun kemudian berkata, "Silahkan
duduk sebentar Pangeran dan kau Paksi, aku ingin berbicara
dengan para petugas"
"Silahkan, Paman" jawab Pangeran Benawa.
Ki Gedepun kemudian telah meninggalkan pringgitan. Di
serambi Ki Gede memberikan perintah-perintah kepada
seorang lurah prajurit yang bertugas.
"Pagi ini, semua pengawasan harus ditingkatkan. Terutama
di gerbang kota dan regol-regol di segala arah"
"Baik, Ki Gede. Perintah Ki Gede akan segera aku
sampaikan kepada Ki Lurah Surapada"
"Setelah itu, perintahkan Ki Lurah Surapada untuk segera
menghadap" "Baik, Ki Gede"
Sejenak kemudian telah terdengar derap kaki dua ekor
kuda yang berlari kencang di jalan di depan rumah Ki Gede
Pemanahan itu. Ketika Ki Gede kembali duduk di pringgitan, maka Pangeran
Benawa dan Paksi sudah mendapat hidangan minuman
hangat. "Minumlah" berkata Ki Gede Pemanahan yang kemudian
duduk kembali bersama mereka.
"Siapakah kedua orang berkuda itu, Paman?" bertanya
Pangeran Benawa. "Prajurit yang bertugas. Aku perintahkan mereka
menghubungi Ki Lurah Surapada"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Namun kemudian
diraihnya mangkuk minumannya sambil berdesis, "Marilah
Paksi. Mumpung masih hangat"
Paksipun kemudian mengangkat mangkuk pula. Namun
Paksi masih juga bertanya, "Ki Gede?"
"Aku sudah minum tadi semangkuk" jawab Ki Gede sambil
tersenyum. Namun sebelum mereka meletakkan mangkuk mereka,
terdengar derap kaki kuda yang terputus di depan regol
halaman. Seorang penunggang kuda telah menuntun kudanya
memasuki halaman rumah Ki Gede Pemanahan.
"Ki Lurah Surapada" desis Ki Gede Pemanahan.
Sebenarnyalah Ki Lurah Surapada yang datang dan yang


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kemudian naik ke pendapa.
"Marilah, Ki Lurah" Ki Gedepun mempersilahkan.
Ki Lurahpun kemudian telah duduk pula bersama mereka.
"Apakah dua orang yang aku perintahkan menemui Ki
Lurah sudah sampai di rumah Ki Lurah?"
Ki Lurah Surapada mengerutkan dahinya. Dengan kerut di
kening, Ki Lurah itu berdesis, "Belum, Ki Gede. Belum ada orang yang datang menemuiku. Aku juga belum pulang pagi
ini" "O" Ki Gede mengangguk-angguk. "Ki Lurah ada dimana
semalam?" Ki Lurah Surapada itupun menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian dipandanginya Pangeran Benawa dan Paksi
berganti-ganti. "Tiga orang prajurit sandi terluka parah malam tadi" desis Ki Lurah.
Ki Gede Pemanahan mengerutkan dahinya, sementara
Pangeran Benawa dan Paksi mendengarkannya dengan
sungguh-sungguh. "Kenapa?" bertanya Ki Gede.
"Para petugas sandi yang mengawasi rumah Ki
Tumenggung Sarpa Biwada melihat Harya Wisaka melarikan
diri dari rumah itu. Mereka berusaha untuk menangkapnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi gagal. Lima orang yang mengejarnya, tiga orang
terluka parah, sedang dua orang yang lain terluka ringan.
Tetapi Harya Wisaka itu terlepas dari tangan mereka"
"Tumenggung Sarpa Biwada?"
"Seorang petugas sandi yang lain, sempat melihatnya dan
mengejarnya. Tetapi juga tidak berhasil"
Pangeran Benawa beringsut sejengkal. Dengan bersunguh-
sungguh ia berkata, "Ceriterakan apa yang telah terjadi
semalam" "Pangeran" berkata Ki Lurah Surapada, "para petugas sandi melihat Pangeran dan Paksi memasuki halaman rumah Ki
Tumenggung. Para petugas memang mendapat perintah
khusus untuk mengamati rumah itu. Tetapi sebenarnyalah
bahwa para petugas tidak tahu bahwa Harya Wisaka ada di
rumah itu. Kehadiran Pangeran Benawa dan Paksi di rumah Ki
Tumenggung seakan-akan memberi kesempatan kepada
petugas sandi untuk beristirahat. Kami memang menjadi agak
lengah. Apalagi dari dalam rumah itu tidak ada isyarat apa-
apa. Kami tidak mengetahui bahwa terjadi pertempuran di
dalam rumah itu" "Di halaman depan dan halaman belakang" Pangeran
Benawa meluruskan. "Ya. Di halaman rumah itu. Namun tiba-tiba saja seorang
petugas sandi melihat Harya Wisaka melarikan diri lewat
halaman belakang. Beberapa orang mengejarnya sampai
beberapa ratus patok dari rumah Ki Tumenggung. Tiba-tiba
saja Harya Wisaka berhenti, dan terjadilah pertempuran itu.
Lima orang yang mengejar Harya Wisaka itupun terluka. Tiga
di antara mereka sangat parah"
"Dan Ki Tumenggung?"
"Seorang petugas sandi melihatnya dan berusaha
menangkapnya. Tetapi tidak berhasil"
"Lalu kenapa kalian tidak segera memasuki rumah Ki
Tumenggung?" "Seorang yang gagal mengejar Ki Tumenggung langsung
lari ke rumahku. Ia ingin segera mendapatkan bantuan karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
iapun tahu bahwa beberapa orang kawannya tengah mengejar
Harya Wisaka" "Yang lain?" "Lima orang menjadi pingsan. Tetapi dua di antaranya
segera sadar. Mereka langsung merawat ketiga orang
kawannya yang terluka berat sampai kami datang ke tempat
kejadian" "Lalu" Kalian tidak menghubungi kami?"
"Ya" "Kami memasuki halaman rumah Ki Tumenggung Sarpa
Biwada. Tetapi Pangeran dan Paksi sudah meninggalkan
rumah itu" "Jadi Ki Lurah sudah memasuki rumah kami?"
"Ya" "Kalian bertemu dan berbicara dengan ibu?"
"Ya" "Kalian menakut-nakuti ibu dan adik-adikku?"
"Tidak, Paksi. Kami hanya ingin mendengar apa yang telah
terjadi di rumah itu"
Wajah Paksi menjadi tegang. Dengan nada tinggi iapun
bertanya, "Apakah sekarang masih ada prajurit atau petugas sandi yang berada di rumahku?"
"Untuk mengamankan rumah itu, Paksi, ada sekelompok
prajurit yang berjaga-jaga disana"
"Ibuku akan menjadi ketakutan. Ia akan tertekan. Kenapa
rumah itu harus dijaga?"
"Kami justru ingin mengamankan rumah itu. Ki
Tumenggung dan Harya Wisaka mungkin akan datang
kembali" "Apa artinya sekelompok prajurit sandi" Jika Harya Wisaka datang lagi ke rumah itu bersama ayah, maka Ki Lurah akan
mengorbankan para prajurit itu lagi sebagaimana kelima orang
yang mengejar Harya Wisaka. Apalagi jika Harya Wisaka dan
ayah datang bersama satu atau dua orang kawan"
"Mereka sudah mendapat perintah untuk memberikan
isyarat dengan panah sendaren. Berbeda dengan perintah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bagi lima orang yang mengejarnya. Perintah yang diberikan
kepada mereka, jangan membuat orang banyak menjadi
resah" Paksi termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba iapun
berkata, "Ampun, Pangeran, ampun, Ki Gede. Hamba ingin
mohon diri. Hamba harus menemani ibu hamba yang
ketakutan karena prajurit-prajurit yang berada di rumah
hamba itu" "Mereka tidak berbuat apa-apa selain mengawasi keadaan"
"Hamba akan meyakinkan ibu hamba, bahwa mereka tidak
berbuat apa-apa, sehingga ibu tidak menjadi ketakutan"
Ki Gede termangu-mangu sejenak. Namun Pangeran
Benawalah yang kemudian berkata, "Baiklah. Aku akan
menemanimu" Paksi mengerutkan dahinya. Sementara Pangeran
Benawapun berkata kepada Ki Gede Pemanahan, "Maaf,
Paman. Aku akan menemani Paksi. Kami berdua akan segera
kembali kemari" "Biarlah Pangeran disini saja. Aku dapat pergi sendiri"
Tetapi Pangeran Benawa seakan-akan tidak mendengar
kata-kata Paksi itu. Bahkan Pangeran Benawalah yang lebih
dahulu bangkit. Sejenak kemudian Paksi dan Pangeran Benawa telah
melarikan kuda mereka menuju ke rumah Paksi yang dijaga
oleh sekelompok prajurit. Mereka masih mempertimbangkan
kemungkinan Ki Tumenggung Sarpa Biwada kembali ke
rumahnya bersama Harya Wisaka.
Sepeninggal Paksi dan Pangeran Benawa, Ki Gedepun
bertanya kepada Ki Surapada, "Bukankah para prajurit itu
tidak akan mengusik Nyi Tumenggung dan anak-anaknya?"
"Tidak, Ki Gede. Mereka hanya mengawasi keadaan"
"Mudah-mudahan mereka tidak membuat Nyi Tumenggung
dan anak-anaknya ketakutan"
"Mereka tidak mendapat perintah untuk berbuat apa-apa
selain mengamati keadaan. Kecuali jika Ki Tumenggung
pulang, apalagi bersama Harya Wisaka"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bukankah mereka tidak akan memeriksa Nyi Tumenggung
sebagaimana mereka memeriksa orang-orang yang terlibat
dalam kejahatan?" "Tidak, Ki Gede. Aku sendirilah yang tadi berbicara
langsung kepada Nyi Tumenggung. Itupun dengan sangat
berhati-hati" Ki Gedepun mengangguk-angguk.
Dalam pada itu, maka Ki Gedepun telah memberikan
perintah-perintah baru kepada Ki Lurah Surapada untuk
semakin membatasi gerak Harya Wisaka dan Tumenggung
Sarpa Biwada. Ki Surapadapun harus lebih menertibkan orang-
orangnya yang bertugas, agar keduanya tidak dapat keluar
dari kota. "Baik, Ki Gede"
Namun sebelum Ki Lurah minta diri, Ki Gedepun berkata,
"Aku minta maaf, bahwa aku mempunyai dugaan yang salah
terhadap kesiagaanmu, Ki Lurah"
"Maksud Ki Gede?"
"Aku dan Pangeran Benawa mengira, bahwa para petugas
sandi tidak mengetahui bahwa Harya Wisaka dan Ki
Tumenggung Sarpa Biwada meninggalkan rumah Ki
Tumenggung itu" "Kami memang tidak segera memasuki halaman rumah itu,
Ki Gede. Seperti sudah aku katakan, kami dalam keadaan
yang sulit. Baru beberapa saat kemudian kami dapat
melakukannya, justru ketika Pangeran Benawa dan Paksi
sudah meninggalkan rumah itu"
"Ya. Ternyata kalian telah melakukan tugas kalian dengan
baik. Bahkan beberapa orang telah terluka parah"
"Tetapi kami gagal menangkap kembali Harya Wisaka"
"Bukan salah kalian. Harya Wisaka memang seorang yang
berilmu tinggi. Karena itu, jadikanlah pengalaman, bahwa ilmu
seorang prajurit sandi pilihan tidak dapat menangkap Harya
Wisaka" "Ya, Ki Gede" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nah, sekarang lakukan tugas Ki Lurah dengan baik.
Mungkin Ki Lurah akan bertemu dengan dua orang prajurit
yang aku perintahkan untuk menghubungi Ki Surapada"
Demikianlah, maka Ki Lurah Surapada itupun minta diri
untuk menjalankan kewajibannya.
Sementara itu, Pangeran Benawa dan Paksi telah sampai ke
regol rumah Ki Tumenggung. Keduanya segera turun dari
kuda mereka dan menuntun kuda-kuda mereka memasuki
halaman. Dua orang prajurit yang bertugas di regol segera
menghentikan keduanya. Tetapi ketika prajurit itu melihat
bahwa seorang di antara mereka adalah Pangeran Benawa,
maka kedua orang prajurit itu segera mengangguk dalam-
dalam. Pangeran Benawa dan Paksipun menambatkan kuda
mereka pada patok-patok di sebelah pendapa.
"Marilah, Pangeran" Paksi mempersilahkan.
Namun Pangeran Benawa berkata, "Naiklah. Temui ibumu.
Aku menunggu disini"
Demikian Paksi naik ke pendapa, seorang lurah prajurit
yang memimpin sekelompok prajurit yang bertugas di rumah
itupun mendekati Pangeran Benawa. Sambil membungkuk
hormat, lurah prajurit itupun berdesis, "Selamat datang,
Pangeran. Apakah yang dapat kami kerjakan bagi Pangeran?"
"Tidak apa-apa. Aku tidak memerlukan apa-apa"
"Silahkan naik, Pangeran. Silahkan duduk"
"Pemilik rumah ini sudah mempersilahkan aku naik. Tetapi
aku akan menunggu disini"
"Pemilik rumah ini" Maksud Pangeran?"
"Anak muda yang datang bersamaku adalah pemilik rumah
ini" "Anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada?"
"Ya" "Apa yang akan dilaksanakan" Apakah anak muda itu harus
ditangkap?" "Ditangkap" Kenapa?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bukankah kami harus menangkap Ki Tumenggung jika ia
pulang. Demikian pula Harya Wisaka jika ia datang lagi ke
rumah ini?" "Apakah anak muda itu Ki Tumenggung Sarpa Biwada?"
"Bukan, Pangeran"
"Harya Wisaka?"
"Bukan, Pangeran"
"Jadi, apakah ia harus ditangkap?"
Lurah prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil
menggelengkan kepalanya lurah prajurit itu menjawab, "Tidak, Pangeran"
"Jika demikian, biarkan saja anak muda itu. Rumah ini
adalah rumahnya. Ia berhak berbuat apa saja di rumah ini"
Lurah prajurit itu menarik nafas dalam-dalam sambil
mengangguk hormat pula, "Baik, Pangeran"
"Kembalilah kepada anak buahmu. Aku akan menunggu
Paksi disini" "Hamba, Pangeran"
"Dimana mereka?"
"Mereka tersebar di seluruh halaman rumah itu. Halaman
depan dan halaman belakang. Yang sedang beristirahat
berada di gandok" "Kau sudah minta ijin kepada Nyi Tumenggung?"
"Minta ijin apa Pangeran?"
"Minta ijin untuk mempergunakan gandok itu"
"Apakah aku harus minta ijin?"
"Tentu. Rumah ini bukan rumahmu"
"Tetapi aku bertugas disini"
"Tugasmu apa?" "Mengamati rumah ini. Menangkap Ki Tumenggung jika ia
pulang. Juga Harya Wisaka jika ia kembali kemari"
"Apakah kau juga mendapat tugas untuk menguasai rumah
ini atau bagian-bagiannya?"
"Tidak, Pangeran"
"Nah, dengan demikian, maka kau harus tetap menghargai
pemilik rumah ini" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tetapi Ki Tumenggung tidak ada di rumah"
"Jika tidak ada Ki Tumenggung, yang berhak atas rumah ini adalah Nyi Tumenggung"
Lurah prajurit itu mengangguk kecil sambil menjawab, "Ya, Pangeran"
"Kau tidak boleh bertindak semena-mena terhadap
keluarga Ki Tumenggung. Yang harus kau tangkap adalah Ki
Tumenggung. Bukan keluarganya, karena yang bersalah
hanya Ki Tumenggung"
"Tetapi Nyi Tumenggung tentu juga membantu, setidak-
tidaknya melindungi orang-orang bersalah"
"Kesimpulan itu kau ambil darimana" Seberapa jauh kuasa
Nyi Tumenggung di rumah ini" Jika Ki Tumenggung
membentaknya, apakah Nyi Tumenggung berani melawan?"


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sekali lagi lurah prajurit itu mengangguk sambil berdesis,
"Ya, Pangeran" "Biarlah aku nanti menemui Nyi Tumenggung atas nama
para prajurit. Aku harus mohon maaf atas tingkah laku kalian"
Lurah prajurit itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya
tertunduk dalam. Dalam pada itu, Paksipun telah berada di ruang dalam
menemui ibunya. Dengan mata yang basah Nyi
Tumenggungpun berkata, "Mereka datang sepeninggalmu.
Mungkin kau masih berada beberapa puluh langkah saja dari
rumah ini. Mereka menguasai seisi rumah dan mengawasi
segala sudut" "Tetapi bukankah mereka tidak mengganggu Ibu dan adik-
adik serta seisi rumah ini?"
"Mereka memang tidak sengaja mengganggu, Paksi. Tetapi
kehadiran mereka serta sikap mereka, terasa agak asing.
Mungkin karena ayahmu dianggap seorang pemberontak,
sehingga mereka dapat berbuat apa saja di rumah ini"
"Seharusnya mereka tidak berbuat seperti itu. Aku akan
berbicara dengan pemimpin mereka yang bertugas disini"
"Sudahlah. Biar mereka memperlakukan kami sekehendak
hati mereka" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Itu tidak mungkin"
"Mereka akan dapat marah kepadamu. Kau bukan apa-apa,
Paksi. Mungkin kau justru akan dianggap bersalah dan bahkan
ditangkap" "Mereka tidak akan menangkap aku, Ibu. Aku datang
bersama Pangeran Benawa"
"O. Dimana Pangeran Benawa sekarang?"
"Ada di depan, Ibu. Di halaman"
Nyi Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Sementara
Paksipun bertanya, "Dimana adik-adik, Ibu?"
"Mereka berada di dalam biliknya"
Paksi mengangguk kecil. Dengan nada berat ibunya berkata
selanjutnya, "Biarlah mereka tidak terpengaruh oleh sikap para prajurit itu"
Paksi masih mengangguk-angguk. Namun sejenak
kemudian adik perempuannya keluar dari biliknya. Dengan
sikap yang ragu ia berdiri di depan pintu biliknya itu.
"Ada apa, Ngger?" bertanya ibunya sambil mendekati anak perempuannya.
"Aku ingin ke pakiwan, Ibu"
"O" Ibunya menarik nafas dalam-dalam. "Pergilah"
"Tetapi" Ibunya tersenyum. Ia tahu bahwa anak perempuannya itu
merasa takut karena kehadiran para prajurit.
"Pergilah. Mereka tidak akan memperhatikanmu"
Adik perempuan Paksi adalah seorang gadis yang
meningkat remaja. Tetapi badannya yang tumbuh subur,
membuatnya nampak lebih tua dari umurnya, sehingga adik
perempuan Paksi itu seakan-akan telah benar-benar remaja
penuh, bahkan mendekati dewasa.
Adik perempuan Paksi itu memang merasa ragu. Namun
ibunya berkata, "Pergilah ke pakiwan. Ibu akan berdiri di pintu serambi samping"
Gadis itupun kemudian melangkah ke pintu diantar oleh ibu
Paksi. Ketika anak itu keluar pintu, tidak dilihatnya seorang
pun di halaman dan di sekitar pakiwan. Karena itu, maka adik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perempuan Paksi berlari ke pakiwan yang hanya berjarak
beberapa langkah itu. Demikian anak perempuannya itu masuk ke pakiwan, maka
Nyi Tumenggungpun telah kembali ke ruang dalam untuk
berbicara bersama Paksi. Namun beberapa saat kemudian, keduanya terkejut
mendengar adik perempuan Paksi itu menjerit. Dengan serta-
merta keduanya dan bahkan adik laki-laki Paksi telah keluar
pula dari dalam biliknya sambil mengusap matanya. Agaknya
ia telah tertidur. Ketika ibunya berdiri di pintu dilihatnya anak
perempuannya itu berdiri bertolak pinggang sambil berkata
lantang, "Kau mau apa" Kau kira kau siapa, he?"
Dua orang prajurit berdiri sambil tersenyum. Dipandanginya
Nyi Tumenggung sambil berdesis, "Anakmu cantik, Nyi"
Sebelum Nyi Tumenggung menjawab, adik laki-laki Paksi
telah melangkah keluar pintu serambi. Namun Paksi
menangkap lengannya dan berkata, "Biarlah aku yang
mengurusnya" Paksi melangkah mendekati dua orang prajurit itu. Dengan
nada berat iapun berkata, "Apa yang kalian lakukan" Aku
kakak anak ini" "O" prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya, "Aku hanya mengatakan kepadanya, bahwa ia cantik"
"Kau tidak pantas bersikap demikian terhadap seorang
gadis. Apalagi masih kanak-kanak"
"Apakah kau tidak melihat bahwa adikmu cantik" Bukankah
ia anak Ki Tumenggung yang memberontak itu" Dan kau tentu
juga anaknya" Kemarahan Paksi tidak tertahan lagi. Dengan tangan kirinya
ia menampar mulut prajurit itu, sehingga prajurit itu terpekik kecil. Selain terkejut, sentuhan tangan Paksi terasa sakit
sekali. Prajurit yang lain dengan cepat bertindak. Iapun segera
meloncat dengan menjulurkan tangannya untuk memukul
wajah Paksi. Tetapi Paksi mengelak. Tangan itu tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyentuhnya. Namun justru tangan Paksi yang terjulur
memukul dada itu. Prajurit itu terdorong beberapa langkah surut. Tubuhnya
terhuyung-huyung beberapa langkah. Sementara itu
kawannya yang seorang lagi telah bersiap. Ia merasakan
cairan hangat meleleh di pipinya. Ketika ia mengusap dengan
punggung telapak tangannya, ia melihat darah yang segar.
Sejenak kemudian, Paksi harus berhadapan dengan dua
orang prajurit yang marah. Seorang di antara mereka berkata
kasar, "Kau anak Sarpa Biwada. Kau juga akan memberontak
seperti ayahmu" Atau kau akan menyerah" Jika kau mencoba
melawan, maka kami bunuhpun tidak akan ada yang
mempersoalkanmu, karena kau sudah memberontak seperti
ayahmu" Paksi tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja ia meloncat
sambil memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar
mengarah ke dada. Prajurit itu tidak sempat mengelak. Kaki Paksi menghantam
dadanya dan melemparkannya beberapa langkah. Prajurit itu
jatuh terkapar di tanah. Namun betapapun Paksi marah, tetapi ia masih dapat
mengekang dirinya sehingga ia tidak mempergunakan
tongkatnya meskipun tongkatnya itu ada di genggaman
tangannya. Kedua orang prajurit itu tiba-tiba saja merasa ngeri
melawan Paksi. Karena itu, seorang di antaranya telah bersuit
nyaring. Beberapa orang prajuritpun berdatangan. Mereka tidak
bertanya apa-apa. Tiba-tiba saja mereka telah mengepung
Paksi. "Siapakah anak ini?" bertanya seorang prajurit yang baru saja datang dari halaman belakang.
"Anak pemberontak itu" jawab prajurit yang mulutnya
berdarah. Prajurit yang baru datang itupun menarik pedangnya
sambil menggeram, "Menyerahlah. Kau kami tangkap"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi sebelum mulutnya terkatup, tongkat Paksipun telan
terjulur dan berputar dengan cepat.
Prajurit itu terkejut. Tiba-tiba saja pedangnya telah
terlempar dari tangannya. Para prajurit yang lain yang
mengepungnya terkejut pula. Merekapun dengan serta-merta
telah menarik senjata mereka pula.
Dalam pada itu, adik perempuan Paksi telah berlari
memeluk ibunya. Sementara itu, adik laki-laki Paksi telah
berlari ke ruang dalam untuk mengambil sebuah tombak
pendek yang masih berada di plonconnya, sedang tombak
pendek yang satu lagi telah dibawa oleh ayahnya yang
melarikan diri. Tetapi ibu Paksilah yang menahan anak laki-lakinya.
Katanya, "Jangan, Ngger. Kau masih terlalu kanak-kanak
untuk melibatkan diri dalam perkelahian itu"
"Aku tidak akan membiarkan Kakang Paksi mengalami
cidera" "Kita lihat saja, apakah kakakmu cidera. Jika kakakmu
cidera kau harus menyampaikannya kepada Pangeran Benawa
yang berada di halaman depan"
Adik laki-laki Paksi itu termangu-mangu sejenak. Sementara
itu, Paksi tidak dapat lagi menghadapi para prajurit itu tanpa mempergunakan tongkatnya.
Dengan demikian, maka telah terjadi pertempuran antara
Paksi dengan beberapa orang prajurit.
Namun ternyata bahwa kemampuan Paksi sangat
mengejutkan para prajurit itu. Dengan tangkasnya Paksi
berloncatan sambil memutar tongkatnya. Sekali-sekali
tongkatnya telah melemparkan senjata para prajurit itu.
Namun yang lain sempat memungut senjatanya kembali.
Tetapi akhirnya para prajurit itu mengakui, bahwa mereka
tidak akan segera dapat menangkap Paksi, karena Paksi
mempunyai ilmu yang tinggi. Karena itu, maka salah seorang
di antara para prajurit itupun segera berlari ke halaman
depan, mencari lurahnya. "Ada apa?" bertanya lurah prajurit itu. "Anak Sarpa Biwada mengamuk"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"He?" Lurah prajurit itu tidak menunggu prajurit yang memberikan laporan itu mengulanginya. Iapun segera berlari
sambil berteriak, "Tunjukkan, dimana anak itu"
Prajurit yang memberikan laporan itu segera mengikutinya
sambil berteriak, "Lewat seketeng sebelah kiri, Ki Lurah"
Pangeran Benawa yang duduk di tangga pendapa
mendengar laporan itu pula. Iapun segera mengerti, tentu
Paksilah yang dimaksud. Karena itu, maka iapun segera berlari
mengikuti lurah prajurit itu.
Sebenarnyalah, bahwa Paksilah yang bertempur melawan
beberapa orang prajurit. Dua orang prajurit justru telah
terluka oleh tongkat Paksi. Seorang lagi perutnya menjadi
mual dan yang lain berada dalam kegelisahan.
Ketika lurah prajurit itu datang, maka para prajuritpun
menyibak. "Anak Tumenggung Sarpa Biwada, kenapa kau tiba-tiba
menjadi gila dan melawan para prajurit" Kau tahu, bahwa
dengan demikian kau telah ikut pula menjadi pemberontak
dan harus ditangkap dan dihukum sebagai seorang
pemberontak" Paksi termangu-mangu sejenak. Kemudian dengan lantang
iapun menjawab, "Persoalannya sama sekali tidak ada
hubungannya dengan pemberontakan. Tetapi apakah kau
akan membiarkan prajurit-prajuritmu, prajurit-prajurit Pajang, tidak tahu diri dan bersikap tidak tahu adat?"
"Kenapa dengan prajurit-prajuritku?"
"Kau tentu pemimpin para prajurit yang ada disini"
"Ya" jawab lurah prajurit itu.
"Bertanyalah kepada prajurit-prajuritmu. Apa yang telah
mereka lakukan" Lurah prajurit itu termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-
ragu iapun bertanya kepada para prajurit, "Apa yang telah terjadi?"
Orang yang tertua di antara para prajurit itupun menyahut,
"Kami tidak tahu apa maksudnya. Tiba-tiba saja anak itu
menyerang para prajurit"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi Paksi segera menyahut, "Bertanyalah kepada
prajuritmu yang terluka itu"
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku tidak apa-apa. Aku sedang mengawasi daerah ini"
"Kau pengecut yang paling licik"
"Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja kau menyerangku
dari belakang" "Inikah watak para prajurit Pajang?" suara Paksi terdengar mengguruh.
Namun kemudian Pangeran Benawa yang melangkah
mendekatinya sambil bertanya, "Apa yang sudah
dilakukannya, Paksi?"
"Dua orang prajurit itu sudah mengganggu adik
perempuanku. Mereka menganggap bahwa karena adik
perempuanku itu anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada yang
dianggap memberontak, maka ia dapat diperlakukan
sekehendak hati mereka"
Wajah Pangeran Benawa terasa menjadi panas. Iapun
kemudian berpaling kepada kedua orang prajurit yang telah
terluka itu sambil berkata, "Kalian telah mencemarkan nama baik prajurit Pajang. Kalian tahu akibatnya" Kalian dapat
digantung di halaman depan rumah ini jika aku
memerintahkan" "Tetapi, Pangeran" potong lurah prajurit itu.
"Tidak ada yang dapat menghalangi aku. Kau dengar Ki
Lurah. Atau kau ingin membela dan melindungi kedua
prajuritmu yang gila itu?"
"Ampun, Pangeran. Hamba tidak bermaksud demikian"
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Apakah yang dikatakan oleh anak Ki Tumenggung itu
benar?" "Ia sahabatku. Aku percaya kepada kata-katanya. Kau
dengar, Ki Lurah?" "Hamba dengar, Pangeran"
"Sekarang, bawa orang-orangmu pergi"
"Maksud Pangeran?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bawa orang-orangmu pergi. He, Ki Lurah, apakah kau
tidak mendengar?" "Hamba mendengar, Pangeran. Tetapi hamba ditugaskan
untuk berjaga-jaga di rumah ini"
"Siapa yang memerintahkan kalian berjaga-jaga di rumah
ini, Ki Lurah?" "Ki Lurah Surapada"
"Siapa yang memerintahkan kalian pergi?"
"Pangeran Benawa"
"Lakukan perintahku. Kau sudah melanggar unggah-
ungguh. Kau yang bertanggung jawab atas tingkah laku
prajuritmu. Apakah sudah wataknya prajurit Pajang
mengganggu anak-anak perempuan" Apakah sudah wataknya
prajurit Pajang mempergunakan rumah orang lain untuk
kepentingannya tanpa minta ijin" Kau sudah mempergunakan
gandok itu sebelum kau minta ijin Nyi Tumenggung"
Lurah prajurit itu menundukkan kepalanya.
"Bawa orang-orangmu pergi. Tetapi persoalanku dengan


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kedua prajurit itu belum selesai. Ia telah mengotori nama
kesatuan prajurit Pajang, khususnya kesatuanmu. Kau harus
segera menghadap Ki Lurah Surapada. Laporkan peristiwa ini.
Yang dapat kau lakukan kemudian adalah mengawasi rumah
ini dari luar dinding halaman"
Ki Lurah itu termangu-mangu sejenak. Namun Pangeran
Benawapun membentak, "Kau dengar?"
"Hamba, Pangeran"
"Jika perbuatan seperti itu terjadi lagi, maka aku biarkan Paksi membunuh kalian semuanya"
Ki Lurah itupun segera menyembah. Dipanggilnya semua
prajuritnya dan diperintahkannya mereka keluar dari halaman
untuk mengawasi rumah itu dari luar lingkungan dinding
rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada.
Demikian para prajurit itu pergi, maka Nyi Tumenggung
itupun kemudian menghadap Pangeran Benawa sambil
berdesis, "Terima kasih, Pangeran"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mereka akan berjaga-jaga di luar, Bibi. Jika para prajurit itu kembali memasuki halaman rumah ini, maka merekalah
yang telah memberontak dengan melawan perintahku"
"Hamba, Pangeran"
"Nah, sekarang perkenankan kami kembali menemui
Paman Pemanahan. Kamipun harus memberikan laporan
kepada Paman Pemanahan agar Paman tidak memberikan
perintah yang bertentangan dengan perintahku"
"Hamba, Pangeran"
Paksipun kemudian berkata kepada ibunya, "Ibu, aku
mohon diri untuk kembali menghadap Ki Gede Pemanahan"
Ibunya mengangguk sambil menjawab, "Baiklah, Paksi.
Tetapi berhati-hatilah"
"Ya, Ibu" Namun adik perempuannya tiba-tiba bertanya, "Ibu,
apakah Kakang Paksi akan pergi?"
"Ya, Ngger. Kakang Paksi harus menghadap Ki Gede
Pemanahan" "Jika para prajurit itu nanti kembali?"
Pangeran Benawalah yang menyahut, "Mereka tidak akan
kembali kemari. Mereka akan berada di luar dinding halaman
rumah ini" Adik perempuan Paksi itu mengangguk-angguk. Tetapi
masih nampak kecemasan membayang di kedua matanya.
Paksipun kemudian mendekati adik laki-lakinya dan
berkata, "Kembalikan tombak itu di tempatnya. Mudah-
mudahan kau tidak akan merasa perlu menggunakannya"
Adik laki-laki Paksi itu mengangguk. Namun iapun
berpesan, "Nanti, aku minta Kakang singgah kemari"
"Ya" Paksi mengangguk-angguk, "aku akan singgah kemari nanti"
Demikianlah, Paksi dan Pangeran Benawapun telah
meninggalkan rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Mereka
kembali menghadap Ki Gede Pemanahan. Pangeran
Benawapun telah menceriterakan bahwa ia telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memerintahkan para prajurit untuk berjaga-jaga di luar
dinding halaman rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada.
"Aku minta maaf, bahwa aku telah mendahului Paman"
berkata Pangeran Benawa. "Tidak apa-apa, Pangeran. Aku justru menganggap bahwa
Pangeran telah mengambil sikap yang benar"
"Aku telah mengatakan kepada kedua orang prajurit yang
mencoba mengganggu adik perempuan Paksi, bahwa
persoalannya masih belum selesai"
"Ya. Aku akan memerintahkan Ki Lurah Surapada untuk
memanggil prajurit itu"
"Terserah kepada Paman, hukuman apa yang akan Paman
berikan. Tetapi aku mohon bahwa keduanya setidak-tidaknya
mendapat peringatan keras dan hukuman jabatan"
"Baik, Pangeran. Atau barangkali Pangeran sendiri ingin
berbicara dengan kedua orang prajurit itu?"
"Dimana mereka sekarang?"
"Ki Lurah Surapada akan dapat memanggil mereka"
"Tidak usah, Paman. Aku tidak usah menunggu terlalu
lama. Aku ingin menghadap ayahanda jika Paman tidak
berkeberatan" "Tentu tidak, Pangeran. Jika yang Pangeran kehendaki, aku ikut menghadap, maka aku akan mengantar Pangeran"
Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, "Bukan untuk
mengantarkan aku menghadap, Paman. Tetapi kita
menghadap bersama-sama"
Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya, "Baiklah. Kita
menghadap bersama-sama"
Sejenak kemudian, maka Ki Gede Pemanahan, Pangeran
Benawa dan Paksipun telah pergi ke istana bersama empat
orang pengawal Ki Gede Pemanahan. Dalam keadaan yang
gawat seperti pada saat itu, Pangeran Benawa akan dapat
diserang setiap saat dari tempat-tempat tersembunyi oleh
Harya Wisaka atau para pengikutnya yang setia. Apalagi
setelah Harya Wisaka berhasil membebaskan diri dari bilik
tahanannya. Para pengikutnya yang setia itu akan merasakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebagai pohon-pohon yang mulai layu yang disiram dengan
sekelenting air yang segar.
Kedatangan mereka memang agak mengejutkan Kangjeng
Sultan. Agaknya Kangjeng Sultan belum mendapat laporan,
bahwa Harya Wisaka bersembunyi di rumah Ki Tumenggung
Sarpa Biwada, tetapi luput dari penangkapan. Harya Wisaka
dan Tumenggung Sarpa Biwada berhasil melarikan diri.
Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Ketika ia
memandang Pangeran Benawa, sebelum Kangjeng Sultan
mengatakan sesuatu. Pangeran Benawa telah mendahuluinya,
"Hamba yang bersalah, Ayahanda. Seharusnya hamba dapat
menangkap Harya Wisaka dan Tumenggung Sarpa Biwada.
Tetapi hamba gagal" "Sudah. Jangan menyalahkan diri sendiri. Yang penting,
kita berusaha menangkap kembali Harya Wisaka dan
Tumenggung Sarpa Biwada"
"Ya, Ayahanda" "Paksi" berkata Kangjeng Sultan, "hal ini terpaksa dilakukan karena ayahmu terbukti telah menyembunyikan seorang
pemberontak di rumahnya"
"Segala sesuatunya terserah kebijaksanaan Kangjeng
Sultan" "Tetapi Pajang tidak akan menjatuhkan hukuman semena-
mena. Ayahmu akan diperiksa dengan teliti. Jika ternyata
kesalahannya kecil, maka hukumannyapun akan menjadi
sangat ringan. Bahkan mungkin dapat diampuni"
Paksi hanya dapat menyembah. Tetapi suaranya rasa-
rasanya terhenti di kerongkongan.
"Sekarang, apakah yang Kakang Pemanahan lakukan?"
"Hamba telah memerintahkan pengawasan para petugas
sandi di samping meningkatkan perondaan oleh para prajurit
yang bertugas di seluruh kota. Meningkatkan pengawasan
sehingga memperkecil kemungkinan bagi Harya Wisaka untuk
keluar kota" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baiklah. Aku harap Kakang cepat menemukan orang itu
kembali. Tentu dengan para pengikutnya yang masih berada
di dalam kota" "Hamba akan mencoba, Kangjeng Sultan"
"Kita memang harus mengerahkan segenap tenaga dan
akal untuk dapat menangkapnya kembali. Ia orang yang
sangat berbahaya bagi Pajang"
"Hamba, Kangjeng Sultan"
"Benawa" berkata Kangjeng Sultan kemudian.
"Hamba, Ayahanda"
"Kau harus menjadi lebih berhati-hati. Kau adalah salah
satu sasarannya. Aku minta aku mempertimbangkannya lagi,
apakah cincin itu akan terus kau pakai atau disimpan saja di
tempat yang tidak akan dapat diusik oleh orang lain"
"Hamba akan memakainya, Ayahanda. Seperti gula, cincin
ini akan menarik semut. Paman Harya Wisaka adalah salah
satu dari semut itu. Mungkin ia akan datang lagi kepadaku"
"Jika demikian, maka kau harus selalu bersiap menghadapi
segala kemungkinan. Juga di padepokanmu. Meskipun
mungkin Harya Wisaka tidak lagi mampu mengumpulkan
pengikutnya sebanyak sebelumnya, tetapi Harya Wisaka tetap
berbahaya bagi padepokanmu di Hutan Jabung"
"Hamba, Ayahanda"
"Nah, Kakang Pemanahan. Bukankah kita menjadi sibuk
karena tingkah Harya Wisaka itu?" "Hamba, Baginda"
Untuk beberapa saat Kangjeng Sultan masih memberikan
petunjuk-petunjuk kepada Ki Gede Pemanahan dan kepada
Pangeran Benawa serta Paksi.
"Kau akan kembali kemana, Benawa?"
"Kami akan kembali ke padepokan, Ayahanda. Tetapi kami
ingin singgah dan minta diri kepada Bibi Tumenggung Sarpa
Biwada" "Kau harus sangat berhati-hati di perjalanan jika kau hanya berdua"
"Hamba, Ayah" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun Ki Gede Pemanahanpun berkata, "Biarlah empat
pengawalku yang terpilih menemani Pangeran dan Paksi
sampai ke padepokan di Hutan Jabung. Bukan karena aku
meragukan kemampuan Pangeran Benawa. Tetapi jika musuh
terlalu banyak, maka akan dapat terjadi kesulitan bagi
Pangeran dan Paksi" Pangeran Benawa mengangguk. Katanya, "Baik, Paman.
Kami tentu tidak berkeberatan"
Demikianlah, maka Pangeran Benawa dan Paksipun segera
mohon diri. Demikian pula Ki Gede Pemanahan yang kemudian
akan menyerahkan beberapa orang pengawal pilihan yang
akan menemani Pangeran Benawa dan Paksi kembali ke Hutan
Jabung. Pangeran Benawa dan Paksi tidak lama singgah di rumah Ki
Gede Pemanahan. Setelah Ki Gede menunjuk empat orang
pengawal yang meyakinkan, maka Pangeran Benawa dan
Paksipun segera minta diri. Mereka masih akan singgah untuk
minta diri kepada Nyi Tumenggung Sarpa Biwada.
Ketika Paksi dan Pangeran Benawa minta diri, Nyi
Tumenggung yang bukan seorang yang cengeng itu
mengusap matanya. Hidupnya menjadi sangat rumit.
Keluarganya terpecah-pecah dan bahkan saling bermusuhan.
Nyi Tumenggung memang menjadi sangat kecewa dan
menyesal, bahwa suaminya telah terlibat di dalam gerakan
yang dilakukan oleh Harya Wisaka. Tetapi semuanya itu sudah
terjadi. "Berhati-hatilah, Paksi" pesan ibunya.
"Ya, Ibu" "Pangeran" berkata Nyi Tumenggung kepada Pangeran
Benawa, "hamba titipkan Paksi kepada Pangeran dan seisi
padepokan" "Kami akan saling menjaga, Bibi"
"Terima kasih, Pangeran"
"Tetapi Bibi juga harus berhati-hati. Mungkin keadaan akan dapat menjadi semakin rumit. Tetapi jangan takut, bahwa
para prajurit tidak akan mengganggu keluarga Bibi lagi"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hamba, Pangeran"
"Dimana saja, di lingkungan apa saja, tentu ada orang-
orang yang menyalahi paugeran. Juga di lingkungan
keprajuritan. Aku mohon maaf, Bibi. Tetapi semuanya itu
sudah diketahui oleh Paman Pemanahan. Paman Pemanahan
akan mengambil langkah-langkah yang perlu"
"Terima kasih, Pangeran"
Demikianlah, setelah Paksi minta diri kepada ibunya,
kepada adik-adiknya, maka Paksipun meninggalkan rumahnya,
ia masih mendengar adik perempuannya menangis. Ibunya
dan adik laki-lakinya berusaha membesarkan hatinya.
Sejenak kemudian, Paksi dan Pangeran Benawa telah
berpacu menuju ke Hutan Jabung. Empat orang prajurit
pilihan menyertai mereka.
Namun ternyata mereka tidak mengalami hambatan
apapun di perjalanan. Mereka sampai di padepokan setelah
hari gelap dengan selamat. Mereka memasuki padepokan
setelah lampu-lampu minyak serta oncor jarak di regol,
dinyalakan. Ki Panengah, Ki Waskita, Raden Sutawijaya serta para
cantrik menerima keduanya dengan dada yang berdebar-
debar. Rasa-rasanya mereka ingin segera tahu, apa yang telah
terjadi. Pangeran Benawalah yang kemudian berceritera tentang apa
yang telah ditemuinya bersama Paksi di Pajang. Tentang
Harya Wisaka yang ternyata memang bersembunyi di rumah
Paksi. Tentang Harya Wisaka yang berhasil lolos dan tentang
Ki Tumenggung yang melarikan diri dari rumahnya.
Ki Panengah, Ki Waskita, Raden Sutawijaya dan mereka
yang lain mendengarkan ceritera Pangeran Benawa itu dengan
sungguh-sungguh. "Aku menyesal sekali bahwa aku tidak dapat menangkap
Paman Harya Wisaka" berkata Pangeran Benawa kemudian.
"Tetapi itu bukan salah Pangeran" berkata Ki Waskita. "Kita semuanya mengetahui bahwa Harya Wisaka adalah orang
berilmu tinggi, sehingga kemungkinan untuk melepaskan diri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari tangan Pangeran memang besar. Kecuali jika Harya
Wisaka itu tanggon. Bertempur sampai akhir"
Pangeran Benawalah yang mengangguk-angguk. Iapun
kemudian juga berceritera tentang Ki Tumenggung yang juga
sempat melarikan diri. "Itu juga bukan salah Paksi" berkata Ki Waskita, "Ikatan keluarga yang ada antara Paksi dan Ki Tumenggung tidak
dapat dikesampingkan begitu saja. Dan itu tentu dialami oleh
setiap orang" Raden Sutawijaya menarik nafas panjang. Katanya, "Kalau
saja waktu itu aku ikut"
"Sudahlah. Yang penting adalah menghadapi keadaan itu
sebagai satu kenyataan" berkata Ki Panengah. "Apakah
keadaan itu akan berpengaruh terhadap kehidupan di
padepokan ini?" "Mungkin sekali, Ki Panengah. Ayahanda dan Paman
Pemanahan memperingatkan, agar kita semuanya berhati-
hati. Padepokan ini tentu masih tetap menjadi sasaran
bidikannya" "Peringatan itu harus kita perhatikan. Aku pun ingin
memperingatkan Pangeran Benawa, bahwa Harya Wisaka
tentu masih menginginkan cincin itu"
"Ya, Ki Panengah" sahut Pangeran Benawa. "Ayahanda


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

juga memperingatkan aku"
"Peringatan itu harus Pangeran perhatikan" berkata Ki
Waskita. Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, "Aku mengerti, Ki
Waskita. Tetapi aku masih berniat untuk menjadikan cincin ini
umpan bagi mereka yang bernafsu untuk menguasai masa
depan" "Bukan cincin itu yang akan menjadi umpan. Tetapi
Pangeran Benawa sendirilah umpan itu"
Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
Ki Waskita berkata selanjutnya, "Hanya satu peringatan,
Pangeran. Seperti juga ayahanda Pangeran memberikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
peringatan. Bagaimanapun juga Pangeran ada di dalam
lingkungan kami" Pangeran Benawa mengangguk-angguk.
"Nah, Pangeran dan Paksi tentu letih. Silahkan beristirahat dahulu. Nanti kita akan berbincang lagi" berkata Ki Panengah
kemudian. "Ya, Ki Panengah. Aku akan pergi ke pakiwan"
Demikianlah, setelah Pangeran Benawa dan Paksi mandi
dan berbenah diri, maka sambil makan malam, Pangeran
Benawa dan Paksi masih saja mendapat pertanyaan-
pertanyaan. Giliran para cantriklah yang lebih banyak
berbicara. Mereka ingin lebih banyak mengetahui, apa saja
yang telah terjadi. Ki Kriyadama yang lebih banyak berada bersama para
prajurit yang bertugas membantu membangun sebuah
padepokan yang besar telah berada di bangunan induk pula.
Ternyata Ki Kriyadama pun ingin mengetahui lebih banyak
tentang Ki Tumenggung Sarpa Biwada dan tentang Harya
Wisaka. Ternyata peringatan Kangjeng Sultan dan Ki Gede
Pemanahan itu banyak mempengaruhi sikap seisi padepokan
itu. Ki Panengah, Ki Waskita, Ki Kriyadama dan kemudian juga
pemimpin prajurit Pajang yang bertugas di Alas Jabung,
memperhatikan peringatan itu dengan sungguh-sungguh. Di
hari-hari berikutnya, maka pengawasan di sekitar padepokan
itupun semakin ditingkatkan. Hubungan dengan Pajangpun
menjadi semakin sering untuk saling mendapatkan
keterangan. Para penghubung seakan-akan hilir mudik antara
Pajang dan Alas Jabung yang memang tidak terlalu jauh.
Sementara itu, para petugas sandi di kota pun semakin
meningkatkan pengamatan mereka. Namun mereka masih
belum dapat menemukan persembunyian Harya Wisaka.
Dengan demikian, maka Ki Gede Pemanahanpun
berkesimpulan, bahwa masih banyak pengikut setia Harya
Wisaka yang berada di dalam Kota. Mereka sama sekali tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasa takut mendengar ancaman hukuman berat bagi yang
menyembunyikan Harya Wisaka.
Namun para petugas sandi itu memperhitungkan, bahwa
Harya Wisaka masih berada di dalam kota. Para petugas sandi
mengawasi dengan ketat setiap jalur jalan ke luar kota.
Bahkan pedati-pedatipun tidak luput dari pengamatan para
petugas. Tetapi Harya Wisaka masih belum dapat
diketemukan. Dalam pada itu, rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada
masih saja diawasi oleh para prajurit. Namun yang tugasnya
kemudian telah dilimpahkan kepada para petugas sandi.
Tetapi dari hari ke hari, tidak ada tanda-tanda bahwa Ki
Tumenggung Sarpa Biwada akan pulang. Suasana rumah itu
semakin lama menjadi semakin muram.
Sepekan setelah Ki Tumenggung Sarpa Biwada
meninggalkan rumahnya, Paksi telah mengunjungi ibunya.
Tidak bersama Pangeran Benawa, tetapi bersama Raden
Sutawijaya yang juga ingin menghadap ayahnya setelah sudah
agak lama ia tidak pulang.
Jantung Paksi terasa berdenyut semakin cepat ketika ia
melihat ibunya yang kusut. Adik-adiknya yang muram.
"Maaf, Ibu, jika yang terjadi telah membuat rumah ini
menjadi berduka" Ibunya tidak segera menjawab. Tetapi matanya menjadi
berkaca-kaca. "Semuanya tentu akan berakhir, Bibi" berkata Raden
Sutawijaya. "Mudah-mudahan keluarga ini akan segera
menemukan keceriaannya kembali"
"Mudah-mudahan, Raden. Tetapi seandainya sebuah
mangkuk, keluarga ini sudah retak. Apakah ada perekat yang
akan dapat memulihkannya kembali?"
"Mungkin, Bibi. Tetapi bukan berarti bahwa matahari tidak akan bersinar lagi di rumah ini. Mungkin dalam keutuhan yang
lain dari yang terdahulu, tetapi tidak kalah nilainya"
"Aku dan anak-anakku memang harus menerima kenyataan
ini. Sejak semula aku memang sudah menduga, bahwa pada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
suatu saat hukuman itu akan datang juga menimpaku, bahkan
menimpa seluruh keluarga kami"
"Hukuman apa yang Ibu maksudkan?" bertanya Paksi.
Mata ibunya yang berkaca-kaca itu mulai menitikkan air
yang bening. "Tidak, Paksi. Maksudku, bahwa tidak selamanya hidup ini
seperti biduk yang dikayuh di permukaan air yang tenang.
Pada satu saat, angin akan bertiup dan mengguncang wajah
air sehingga timbul gejolak-gejolak yang akan
menggoncangkan biduk itu"
Paksi mengerutkan dahinya. Ia merasakan keluhan ibunya
itu jauh lebih dalam dari yang dikatakannya. Tetapi Paksi tidak ingin mengungkit luka di hati ibunya lebih dalam lagi.
Untuk beberapa lama Paksi dan Raden Sutawijaya berada
di rumah itu. Mereka berbincang dan berusaha membuat adik-
adik Paksi sedikit cerah dengan gurau-gurau segar.
Namun mereka tidak dapat terlalu lama berada di rumah
itu. Paksi dan Raden Sutawijayapun kemudian telah minta diri.
"Aku pun akan menengok rumahku, Bibi. Sudah lama aku
tidak pulang menemui ayah dan sudah lama pula tidak
menghadap ayahanda Sultan"
Nyi Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, "Terima
kasih atas kunjungan Raden"
Ibu Paksi itupun kemudian mengusap dahi Paksi dengan
jari-jari tangannya sambil berdesis, "Paksi, biarlah aku
memikul beban ini. Aku selalu berdoa agar kau dan adik-
adikmu kelak menemukan satu kehidupan yang lebih baik dari
orang tuamu" "Terima kasih, Ibu" desis Paksi.
"Jika ada waktu, perlukan mengunjungi kami"
"Ya, Ibu" "Kakang" desis adiknya laki-laki, "sebenarnya aku ingin ikut Kakang dan tinggal di padepokan. Tetapi aku tidak dapat
meninggalkan ibu dan adik perempuan kita"
Paksi menepuk bahu adiknya sambil berdesis, "Untuk
sementara sebaiknya kau memang tinggal di rumah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengawasi ibu dan adikmu. Aku tahu, betapa inginnya kau
berguru untuk menuntut ilmu. Tetapi agaknya keadaan masih
belum mengijinkanmu"
"Ya, Kakang, aku mengerti"
"Selamat tinggal. Aku akan berusaha untuk segera dapat
menengok kalian lagi"
Sejenak kemudian, maka Paksi dan Raden Sutawijayapun
telah meninggalkan rumah itu. Mereka masih akan
menghadap Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya ingin
menunjukkan dirinya di hadapan Kangjeng Sultan, karena ia
sudah lama tidak menghadap ayahanda angkatnya itu.
Paksi dan Raden Sutawijaya sempat bermalam semalam di
rumah Ki Gede Pemanahan. Mereka merencanakan keesokan
harinya, mereka akan kembali ke padepokan di Hutan Jabung.
Namun pada malam itu, yang tidak diduga sama sekali oleh
Paksi telah terjadi. Ternyata dengan kemampuannya yang
tinggi, Ki Tumenggung dapat menyusup melewati pengawasan
para petugas sandi masuk ke rumahnya meloncati dinding
kebun belakang. Nyi Tumenggung terkejut sekali ketika ia mendengar
dinding biliknya diketuk orang justru dari luar.
"Nyi, Nyi" terdengar suara tertahan-tahan.
"Kakang Tumenggung?" desis Nyi Tumenggung.
"Ya, Nyi. Aku. Buka pintu. Tetapi pintu dapur saja. Hati-
hatilah. Rumah ini diawasi"
Nyi Tumenggungpun segera bangkit. Dengan hati-hati ia
pergi ke belakang langsung ke dapur.
Malam sudah larut. Tidak ada orang di dapur. Lampu pun
sudah padam. Namun karena Nyi Tumenggung sudah terbiasa
berada di dalam dapur itu, maka Nyi Tumenggungpun berhasil
menemukan pintunya tanpa menyalakan lampunya.
Demikian pintu terbuka, maka Nyi Tumenggung melihat
dalam keremangan malam, dua orang berdiri di depan pintu.
Seorang di antara mereka langsung dikenalinya sebagai
suaminya. "Kakang" desis Nyi Tumenggung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Tumenggung tidak langsung menjawabnya. Tetapi iapun
segera melangkah masuk sambil berdesis kepada kawannya,
"Cepat. Masuklah"
Kawannya itupun segera masuk ke dalam dapur yang gelap
itu. "Kau tidak usah menyalakan lampu, Nyi. Kami dapat
melihat jelas dalam kegelapan"
Nyi Tumenggung memang tidak menyalakan lampu.
Katanya kemudian, "Marilah, silahkan masuk ke ruang dalam"
"Aku hanya sebentar, Nyi"
"Kenapa hanya sebentar?"
"Aku tidak ingin ditangkap dan disimpan di bilik tahanan
seperti Harya Wisaka. Jika aku yang menjalaninya, agaknya
aku tidak akan mampu melepaskan diri sebagaimana Harya
Wisaka" "Lalu, apakah maksud Kakang Tumenggung pulang malam
ini jika Ki Tumenggung terancam bahaya?"
"Aku akan mengambil anak kita"
"Maksud Kakang?"
"Anak laki-laki kita harus menjadi orang yang pinunjul. Ia tidak boleh seperti ayahnya yang tidak berdaya dalam
keadaan yang gawat seperti ini"
"Lalu?" "Aku akan membawanya ke sebuah perguruan"
"Maksud Kakang, anak itu akan dibawa menyusul Paksi?"
"Tidak. Aku tidak sebodoh itu. Paksi telah dipengaruhi oleh lingkungannya, oleh guru-gurunya dan oleh orang-orang
dengki, agar melawan ayahnya"
"Tetapi Kakang berpihak pada Harya Wisaka"
"Apapun yang aku lakukan, ia tidak boleh menentangku.
Bahkan menjerumuskan aku ke dalam petaka"
"Jadi, apa yang akan Kakang lakukan sekarang?"
"Aku sudah berhubungan dengan sebuah perguruan yang
dapat dipercaya. Perguruan yang memiliki keunggulan dalam
segala hal dari perguruan Hutan Jabung itu"
"Perguruan mana itu, Kakang?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maaf Nyi. Untuk sementara aku masih harus
merahasiakannya. Jika aku menyebutnya, mungkin rahasia itu
akan dapat didengar oleh orang lain"
"Apakah keberatannya jika tempat berguru anak kita
diketahui oleh orang lain?"
"Pertanyaan yang sangat bodoh" sahut Ki Tumenggung.
"Kau tahu bahwa aku sedang diburu sekarang. Jika tempat
berguru anak kita diketahui, maka anak kita itu tentu akan
diambil oleh Pemanahan"
"Apakah anak kita juga dianggap bersalah?"
"Bersalah atau tidak bersalah. Tetapi ia adalah anak
seorang pemberontak"
"Kakang" "Jangan disesali"
"Bagaimana dengan Paksi" Ia juga anak pemberontak"
"Tetapi ia sudah menunjukkan pengkhianatannya kepada
ayahnya untuk keselamatannya sendiri"
"Tentu bukan karena itu, Kakang"
"Sudahlah. Karena apapun juga, tetapi sekarang yang
penting aku akan menyelamatkan anak laki-laki kita yang
masih mungkin diselamatkan secara jiwani. Tentu saja juga
secara kewadagan" "Apakah itu berarti bahwa sikapnya kelak akan berbeda
dengan sikap Paksi?"
"Tentu. Aku tidak ingin anak kita yang seorang ini juga
berkhianat terhadap ayahnya sebagaimana anak kita yang
sulung" "Kakang, apakah mungkin kelak pada suatu saat mereka
akan berhadapan sebagai lawan?"
Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian iapun berkata, "Apa salahnya" Mereka masing-
masing memiliki kepribadian mereka sendiri. Mereka
mempunyai sikap sendiri, cita-cita sendiri dan kebenaran atas
dasar keyakinan mereka sendiri-sendiri. Jangankan mereka
bersaudara, sedangkan Paksi sudah berani menentang
ayahnya" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak, Kakang. Aku tidak ingin perpecahan di antara
keluarga semakin menjadi-jadi"
"Kita sudah terbelah. Jika anak itu tidak berpihak kepadaku, ia akan berpihak kepada Paksi. Nah, apa bedanya menurut
penglihatanmu atas keutuhan keluarga kita" Bukankah yang
pecah itu tidak akan terpaut kembali?"
"Biarlah yang retak sekarang tetap retak. Tetapi aku tidak mau melihat anak-anak kita akan berdiri berseberangan"
"Tetapi kau sudah melihatnya sekarang. Kau tidak usah
menunggu kelak. Anakmu sudah berani melawan suamimu"
"Jika itu sudah terjadi, biarlah itu saja yang terjadi"
"Tidak. Jika aku tidak membawa anak laki-laki kita yang
muda itu, maka kelak anak itu akan memusuhiku. Mungkin
lebih parah dari Paksi dan bahkan mungkin anak itulah yang
kelak akan membunuhku"
"Tetapi aku tidak mau melihat anak kita bermusuhan dan
saling mendendam" "Sudahlah. Biarlah aku yang menentukan"
"Tidak, Kakang. Jangan bawa anak itu"
"Diamlah. Aku akan membawanya"
"Jangan, Kakang"
Ketika Ki Tumenggung melangkah ke pintu yang menuju ke
longkangan, kemudian lewat butulan masuk ke serambi
samping dan langsung masuk ke ruang dalam, Nyi


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tumenggung itupun telah menahannya dengan memegangi
lengannya. "Jangan, Kakang. Jangan bawa anak kita. Biarlah ia di
rumah menemani aku" Tetapi Ki Tumenggung tidak menghiraukannya.
Dikibaskannya tangan Nyi Tumenggung sehingga terlepas.
Namun Nyi Tumenggung itu tiba-tiba mengancam,
"Kakang, aku tahu bahwa di luar ada beberapa orang prajurit atau prajurit sandi yang bertugas. Jika Kakang tetap berniat
membawa anak kita, maka aku akan menjerit-jerit"
"Jadi, kau pun ingin aku mati?"
"Tidak. Aku hanya ingin kau tidak membawa anakmu"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku tidak peduli"
Ketika Ki Tumenggung melangkah, maka sekali lagi Nyi
Tumenggung memegangi lengannya.
Ki Tumenggungpun menjadi jengkel. Dikibaskan Nyi
Tumenggung lebih keras lagi, sehingga Nyi Tumenggung itu
terpelanting dan jatuh menimpa amben bambu. Bagian
belakang telinganyalah yang membentur waton amben yang
terbuat dari bambu itu. Nyi Tumenggung tidak sempat menjerit. Tubuhnyapun
kemudian jatuh terbaring di lantai dapur.
"Nyi, Nyi" Ki Tumenggungpun kemudian berjongkok di
sebelah tubuh Nyi Tumenggung. Dengan cemas ia memanggil-
manggil isterinya yang terbaring diam.
"Ia menjadi pingsan" desis kawan Ki Tumenggung.
"Aku tidak bermaksud menyakitinya"
"Bukan salah Ki Tumenggung. Tetapi bagi kita ini adalah
satu kebetulan. Ki Tumenggung dapat membawa anak Ki
Tumenggung itu tanpa dihalangi oleh Nyi Tumenggung"
Ki Tumenggung Sarpa Biwada termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian iapun bangkit sambil berdesis, "Baiklah.
Marilah kita ambil anak itu"
Keduanyapun kemudian meninggalkan Nyi Tumenggung
yang pingsan. Ki Tumenggung telah mengangkat tubuhnya
dan membaringkannya di amben panjang.
Ki Tumenggungpun kemudian telah membawa kawannya
masuk ke ruang dalam langsung ke bilik anaknya.
Anak itu terkejut ketika Ki Tumenggung
membangunkannya. Dengan serta-merta Ki Tumenggungpun
berkata, "Berpakaianlah. Kita akan pergi"
"Ayah, kita akan pergi kemana?"
"Nanti kau akan tahu"
"Bersama ibu dan adikku?"
"Tidak. Kau akan pergi sendiri bersama Ayah"
"Kemana, Ayah?"
"Sudah aku katakan, nanti kau akan tahu"
"Bagaimana dengan ibu dan adik?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mereka tidak akan diganggu. Kitalah yang selama ini
terancam karena kau anak laki-laki yang sudah menjadi
remaja" "Apakah ibu tidak berkeberatan?"
"Tidak" "Kita tinggalkan ibu dan adik sendirian tanpa perlindungan sama sekali?"
"Sudah aku katakan, ibumu tidak akan diganggu. Bukankah
mereka berjaga-jaga di luar halaman?"
"Ya, setelah para prajurit itu berkelahi melawan Kakang
Paksi. Ada dua orang prajurit yang mengganggu adik. Kakang
Paksi menjadi marah. Meskipun Kakang Paksi berkelahi
melawan beberapa orang prajurit yang bertugas mengawasi
rumah ini, tetapi Kakang Paksi menang"
"Kakakmu kemudian tidak ditangkap?"
"Tidak. Pangeran Benawa yang mendapat laporan dari
Kakang Paksi menjadi sangat marah. Para prajurit itupun telah
diusir dan harus mengawasi rumah ini dari luar dinding"
Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian iapun berkata, "Nah, jika demikian, ibumu dan
adikmu itu tidak akan ada yang mengganggu lagi. Bersiaplah.
Kita akan segera pergi. Waktu kita sangat terbatas"
Adik Paksi itu masih saja ragu-ragu, sehingga ayahnya
membentak, "Cepat, sebelum leherku dijerat oleh para prajurit sandi"
"Apakah kita akan menemui Kakang Paksi?"
"Cepatlah" Adik laki-laki Paksi itu tidak sempat bertanya lebih jauh.
Ketika ia masuk ke dalam bilik ibunya untuk minta diri, ibunya tidak berada di biliknya.
"Dimana ibu, Ayah?"
"Akulah yang seharusnya bertanya kepadamu, karena kau
yang tinggal di rumah"
"Tetapi tadi ibu sudah berada di biliknya"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sudahlah. Mungkin ibu sedang mempunyai keperluan di
belakang atau di pakiwan atau dimana saja. Sekarang kita
akan meninggalkan rumah ini"
"Aku harus minta ijin kepada ibu"
"Tidak perlu. Keadaan sangat gawat sekarang. Marilah,
sebelum para prajurit tahu aku ada disini"
"Tetapi ibu akan mencari aku. Ibu akan menjadi cemas,
bahwa aku disangkanya hilang"
"Besok malam aku akan datang kembali memberitahukan
kepada ibumu. Tanpa membawa kau, aku dapat leluasa
masuk keluar rumah ini meskipun rumah ini diawasi oleh
prajurit-prajurit sandi yang dungu itu"
"Tidak, Ayah. Aku harus bertemu ibu lebih dahulu"
Tetapi adik Paksi itu terkejut. Tiba-tiba saja ayahnya telah
mengacungkan tombak pendeknya ke dadanya, "Jangan ribut.
Aku ingin menyelamatkanmu dari kuasa kesewenang-
wenangan di Pajang. Kau harus menjadi orang yang memiliki
kemampuan dan ilmu yang sangat tinggi. Jauh lebih tinggi dari
kemampuan dan ilmu ayahmu. Karena itu, ikut aku sekarang"
Adik laki-laki Paksi itu tidak dapat membantah lagi. Iapun
kemudian telah membenahi pakaiannya dengan cepat.
"Bawa tombak pendek yang satu lagi"
Anak itu tidak membantah. Iapun segera memungut
tombak pendek yang satu lagi dari plonconnya dan
membawanya. Bertiga mereka meninggalkan rumah itu. Kawan Ki
Tumenggung itu merayap di depan untuk mengawasi suasana.
Baru kemudian Ki Tumenggung dan anak laki-lakinya. Mereka
meloncati dinding kebun belakang. Bergeser dengan sangat
berhati-hati menjauhi rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada.
Ternyata ketiga orang itu dapat melepaskan diri dari
penglihatan para prajurit sandi yang mengawasi rumah Ki
Tumenggung Sarpa Biwada sehingga Ki Tumenggung itu
menjadi semakin lama semakin jauh menuju ke tempat
persembunyiannya yang tidak tercium oleh para petugas
sandi. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, Nyi Tumenggung yang pingsan di dapur
perlahan-lahan mulai sadar. Mula-mula ia membuka matanya.
Yang nampak hanyalah kegelapan, karena ia berada di dapur
yang gelap. Dicobanya mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
Sekali-sekali Nyi Tumenggung itu berdesah karena bagian
belakang kepalanya terasa sangat sakit. Nyi Tumenggung
itupun kemudian mulai teringat bahwa ia terjatuh dan
belakang telinganya membentur waton amben di dapur.
Perlahan-lahan ingatannyapun menjadi utuh kembali. Ia
dapat mengingat seluruhnya apa yang telah terjadi, sejak Ki
Tumenggung mengetuk pintu sampai Ki Tumenggung
mengibaskan tangannya demikian kerasnya sehingga ia
terjatuh menimpa amben bambu. Iapun kemudian teringat
pula, apa yang akan dilakukan oleh suaminya terhadap anak
laki-lakinya yang kecil, yang akan dibawanya ke sebuah
perguruan yang tidak diketahuinya.
Dengan serta-merta Nyi Tumenggung itu bangkit dan
dengan tergesa-gesa pula beranjak dari tempatnya. Tetapi
karena gelap dan kepalanya yang masih terasa sakit, maka Nyi
Tumenggung itu justru menyentuh gledeg. Ketika ia terdorong
ke samping, kakinya terantuk ompak tiang dapur.
Nyi Tumenggung terjatuh lagi. Tetapi ia tidak sempat
merasakan betapa kelingking kakinya yang terantuk batu
ompak itu sakit sekali. Demikian ia bangkit, maka Nyi
Tumenggung itu telah berjalan lagi menuju ke pintu.
Ketika Nyi Tumenggung memasuki bilik anak laki-lakinya,
jantungpun berdesir. Anak itu sudah tidak ada di dalam
biliknya. Jantung Nyi Tumenggung berdegup semakin cepat.
Ketika ia berlari ke biliknya, ia tidak melihat Ki Tumenggung di dalamnya. Bahkan Ki Tumenggung sudah tidak ada dimana-mana di dalam rumah itu. Bahkan tombak yang satu yang
berada di plonconya sudah tidak ada lagi.
Adalah di luar sadarnya ketika tangis Nyi Tumenggung itu
meledak. Setiap kali matanya berkaca-kaca ia masih selalu
sempat mengendalikan dirinya meskipun air matanya meleleh
juga dari matanya. Bahkan kadang-kadang ia terisak juga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi ketika ia mengetahui bahwa anak laki-lakinya yang
muda dibawa ayahnya untuk ditempa menjadi seorang yang
berilmu tinggi, yang kelak akan dihadapkan kepada kakaknya
sendiri, maka Nyi Tumenggung itu tidak dapat lagi menahan
gejolak perasaannya. Tiba-tiba saja ia tidak lagi dapat menahan diri ketika Nyi
Tumenggung itu menjerit, "Anakku. Anakku"
Anak perempuannya terkejut. Demikian ia terbangun, maka
iapun segera berlari keluar dari biliknya. Dilihatnya ibunya
menangis di ruang dalam. Anak itupun telah menangis menjerit-jerit pula. Tanpa
terkendali anak itu berteriak, "Ibu, Ibu"
Ternyata bahwa para pembantu di rumah Ki Tumenggung
itupun telah terbangun. Merekapun segera pergi ke ruang
dalam. Namun karena pintu diselarak dari dalam, maka
merekapun mengetuk-ketuk pintu sambil memanggil-manggil,
"Nyi Tumenggung, Nyi Tumenggung, apa yang terjadi?"
Nyi Tumenggung seakan-akan tidak mendengarnya.
Jantungnya serasa hancur di dalam dadanya. Yang terdengar
adalah suara tangisnya sendiri serta suaranya yang
Kasih Diantara Remaja 13 Keris Pusaka Nogopasung Karya Kho Ping Hoo Suling Emas Dan Naga Siluman 7
^