Pencarian

Jejak Di Balik Kabut 8

Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja Bagian 8


"Aku harus memperingatkan kau lagi. Panggil aku Wijang."
"Ya. Kenapa kau meninggalkan istana?"
"Udara di lingkungan istana menjadi sangat panas."
"Maksudmu?" "Kau tahu maksudku."
"Aku mengerti. Tetapi apa sebabnya?" bertanya Paksi.
"Apakah kau menjadi kecewa karena pelayanan yang kurang
baik, atau karena alasan-alasan lain sehingga udara di istana
itu merasa panas?" "Orang-orang di dalam istana itu tidak lagi mengenal
kehidupan yang sebenarnya yang terjadi di Pajang dan
lingkungannya. Kakangmas Sutawijaya yang bergelar Mas
Ngabehi Loring Pasar juga kecewa melihat tatanan kehidupan
di istana." "Apa yang mengecewakan?"
"Sama sekali bukan karena kami merasa kurang mendapat
pelayanan. Tetapi justru sebaliknya. Apa yang ada di istana
sama sekali bertentangan dengan kenyataan hidup di luar
dinding istana. Orang-orang yang sehari-harinya hidup di
dalam dinding istana tidak pernah melihat, bahwa ada juga
orang yang hidup melarat. Kekurangan dan bahkan lapar. Para
penjabat kahartakan di istana tidak tahu, bahwa para petugas
pajak di daerah-daerah menjadi kehilangan kendali. Mereka
berlomba untuk mendapatkan yang terbanyak agar mereka
mendapat pujian atau naik pangkat. Tetapi mereka tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghiraukan, bahwa mereka yang dipungut pajak itu merasa
mendapat beban yang sangat berat."
"Tetapi bukankah pajak itu merupakan salah satu pilar yang mendukung tegaknya pemerintahan, karena pajak itu
merupakan salah satu sumber dana untuk menjalankan roda
pemerintahan?" "Ternyata kesadaranmu sangat tinggi, Paksi. Mungkin
karena kau anak seorang tumenggung. Jika orang-orang di
sekitar lingkungan ini tidak mengeluh karena beban pajak
yang tidak terpikul, maka aku menyatakan hormatku kepada
para petugas disini."
Paksi mengangguk-angguk kecil. Ia memang tidak pernah
berbicara tentang pajak dengan orang-orang yang dikenalnya.
Tetapi seandainya ada keluhan-keluhan itu, mereka tidak akan
mengatakannya kepada setiap orang, apalagi orang yang tidak
terlalu dikenal sebagaimana Paksi.
Namun dalam pada itu, Wijang itupun berkata, "Bukan saja
karena orang-orang di istana Pajang itu tidak mengenal
kehidupan rakyat yang sebenarnya, tetapi aku juga kecewa
atas sikap ayahanda Sultan Hadiwijaya."
"Kenapa?" bertanya Paksi.
Wijang itu tersenyum. Katanya, "Sudahlah. Apakah seorang
anak harus membuka rahasia dan kelemahan orang tuanya,
betapapun ia menjadi kecewa?"
Paksi menundukkan kepalanya. Katanya, "Memang tidak."
"Bagus. Kau dapat mengerti jika aku tidak mengatakan
alasannya, kenapa aku kecewa terhadap ayahanda." Paksi
mengangguk kecil. "Nah, sekarang, aku minta sekali lagi untuk tinggal di
gubuk ini. Setidak-tidaknya untuk sementara."
"Dan aku harus meninggalkan gubuk ini?" Wijang tertawa.
Katanya, "Aku takut tinggal disini sendiri." Paksipun tertawa pula.
Sejak hari itu, Paksi tidak tinggal sendiri di gubuk itu.
Wijang yang tinggal bersamanya, dengan cepat telah
menyesuaikan dirinya. Ia telah melakukan apa yang dilakukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
oleh Paksi. Bahkan Wijangpun telah memanjat pohon kelapa
pagi dan sore untuk mengambil legen. Seperti Paksi, ternyata
Wijangpun melakukannya dengan tangkasnya.
Di hari-hari berikutnya, Paksi tidak sendiri pergi ke pasar.
Ketika ia bertemu dengan Kinong, maka Paksipun telah
memperkenalkan Wijang kepadanya.
"Apakah ia saudaramu?" bertanya Kinong.
"Ya. Kakakku," jawab Paksi.
"Tetapi baru kali ini ia pergi ke pasar ini."
Paksi tertawa. Katanya, "Kakakku tinggal di tempat yang
jauh. Baru kemarin ia datang menengok aku."
"Dimana ia tinggal?"
Pertanyaan itu agak membingungkan Paksi. Namun
kemudian iapun menjawab, "Ia tinggal di Kembang Arum."
Kinong mengangguk-angguk. Tetapi ia belum pernah
mendengar nama padukuhan Kembang Arum.
Namun Kinong tidak sempat berbincang lebih lama. Iapun
segera berlari-lari membawa keranjang kecilnya. Ibunya telah
melambaikan tangan memanggilnya, karena ada orang yang
ingin minta bantuannya. "Anak sekecil itu harus sudah mencari makan sendiri," desis Wijang.
"Salah ayahnya," desis Paksi.
Wijang berpaling kepadanya dengan dahi yang berkerut.
Namun kemudian iapun bertanya, "Kenapa dengan
ayahnya?" "Ia seorang penjudi."
Wijang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih
jauh. Dalam pada itu, setelah beberapa kali Wijang pergi ke
pasar, maka iapun mulai melihat, orang-orang dari beberapa
perguruan berkeliaran di pasar itu. Nampaknya orang-orang
itu masih berusaha untuk saling mengekang diri, sehingga
benturan di antara mereka dihindari. Benturan-benturan yang
pernah terjadi, sama sekali tidak menguntungkan bagi
mereka, karena kekuatan mereka hampir seimbang. Hanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pada saat-saat yang menentukan sajalah agaknya mereka
akan mengambil sikap yang tegas.
Namun, perhatian Wijang dan Paksi sangat tertarik kepada
pembicaraan dua orang dari Perguruan Sad yang kebetulan
mereka dengar, bahwa ada di antara mereka yang seakan-
akan telah melihat pelangi yang berdiri tegak di kaki bukit.
Pelangi itu hanya terdiri atas tiga warna.
"Apakah ketajaman indera mereka mampu melihat
keberadaan cincin yang aku bawa ini?" bertanya Wijang
kemudian. "Entahlah. Tetapi sebelum kau datang, orang-orang itu
sudah berada disini."
"Aku sudah agak lama disini," berkata Wijang.
"Bukankah kau baru datang beberapa hari di saat aku
pergi?" Wijang menggeleng. Katanya, "Tidak. Jauh sebelum itu."
"Jauh sebelum itu" Sebelum aku datang ke tempat ini?"
"Tidak. Jika kau sudah setahun disini, berarti bahwa kau
datang lebih dahulu. Tetapi aku bukan baru berada disini di
saat kau pergi." "Jadi di mana kau selama ini?"
Wijang tersenyum. Katanya, "Aku sudah berada disini kira-
kira sebulan yang lalu. Aku tinggal bersama Paman Marta
Brewok." "Ki Marta Brewok?" bertanya Paksi.
"Ya. Bukankah Ki Marta Brewok telah mengajarimu bermain
loncat-loncat?" Paksi menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya
ia bertanya, "Siapa sebenarnya orang yang menamakan
dirinya Marta Brewok" Aku menganggapnya sebagai guruku.
Iapun mengakui aku sebagai muridnya. Tetapi aku tidak tahu,
siapakah sebenarnya Ki Marta Brewok itu."
"Bukankah kau sudah menyebutnya" Namanya Marta
Brewok. Bukankah itu sudah cukup?"
Paksi memandang Wijang dengan tajamnya, sehingga
Wijang itupun bertanya, "Kenapa kau memandang aku seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu" Kau tidak percaya kepadaku atau justru kau menjadi
curiga?" "Tidak," jawab Paksi, "aku sama sekali tidak menjadi curiga. Tetapi aku tahu bahwa ada sesuatu yang kau
sembunyikan." Wijang tertawa. Katanya, "Sudahlah. Jangan mempersulit
perasaanmu sendiri. Sekarang, marilah kita memperhatikan
pendapat orang-orang dari Perguruan Sad itu."
"Maksudmu?" "Ada dua kemungkinan. Apakah orang dari Perguruan Sad
itu mampu melihat cincin yang tersembunyi di balik kantong
ikat pinggangku, atau memang cincin itu benar-benar
memancarkan cahaya sebagaimana yang mereka lihat."
Paksi mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian iapun
bergumam, "Cincin itu memang sangat menarik."
"Setidak-tidaknya karena aku yang membawanya."
Paksi mengerutkan dahinya. Namun Wijang itupun tertawa.
Katanya, "Kau tidak usah iri." Paksipun akhirnya tertawa pula.
Namun bagaimanapun juga, Wijang dan Paksi harus
menjadi lebih berhati-hati. Jika ada orang yang melihat atau
merasa melihat semacam pelangi yang mempunyai tiga warna
berdiri tegak di kaki bukit, maka itu akan dapat berarti bahwa orang-orang yang mencari cincin itu akan menjelajahi kaki
bukit. Mungkin mereka akan berkeliaran dan bersamadi di
antara bebatuan, di pinggir sungai atau di goa-goa sambil
menunggu isyarat. Mungkin cahaya seperti ndaru, atau seperti
bintang yang jatuh dari langit, atau sinar yang memancar dari
tempat-tempat yang tersembunyi atau semak-semak yang
tiba-tiba terbakar. Namun satu dua hari kemudian, tidak seorangpun yang
pernah memanjat kaki gunung itu lebih tinggi.
Sementara itu, dalam waktu-waktu senggang, ternyata
keduanya sempat pula melakukan latihan olah kanuragan
bersama-sama. Mereka berdua memang tidak bersumber dari
perguruan yang sama. Tetapi justru karena itu, maka latihan-
latihan yang mereka lakukan dapat memperkaya ilmu mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masing-masing. Namun dalam pada itu, Paksi harus mengakui,
bahwa Pangeran Benawa yang menamakan dirinya Wijang itu
memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun bagi Wijang, Paksi
adalah kawan berlatih yang cukup memadai.
Bahkan keduanya kadang telah berlatih di dalam goa di
belakang air terjun. Semula Paksi tidak mengatakan kepada
Wijang, bahwa di belakang air terjun itu terdapat sebuah goa.
Namun ternyata Wijang sudah mengetahuinya.
"Ternyata apa yang diketahuinya jauh lebih banyak dan
lebih luas dari yang aku ketahui," berkata Paksi.
Bahkan Wijang itu pulalah yang telah mengajak Paksi
berlatih sambil berendam di dalam air.
"Pada suatu ketika, mungkin sekali kita dipaksa untuk
bertempur di dalam air," berkata Wijang.
Paksi memang mendapat pengalaman baru. Ia dapat
mengenali perbedaannya, apa yang harus dilakukan di darat
dan apa yang harus dilakukan di dalam air. Ketrampilannya
berenang pun semakin bertambah. Ketahanan nafasnya pun
menjadi semakin panjang. Namun ketenangan kedua orang itupun akhirnya terganggu
juga. Ketika keduanya sedang berlatih meningkatkan
ketahanan tubuh dengan berjalan dan berlari di celah-celah
bebatuan, pepohonan hutan lereng pegunungan, lembah dan
tebing-tebing terjal, maka tiba-tiba saja Wijang memberi
isyarat agar Paksi yang berlari di belakangnya untuk berhenti.
Paksipun tertegun. Iapun kemudian bergeser ke balik
gerumbul perdu ketika Wijang memberikan isyarat kepadanya.
Keduanyapun kemudian melihat tiga orang perempuan
berjalan menyusuri jalan setapak. Untunglah mereka tidak
berjalan ke arah gubuk Paksi. Tetapi justru ke arah yang lain.
"Orang-orang dari Perguruan Goa Lampin," desis Paksi.
Wijang mengangguk-angguk. Katanya, "Pemimpin
perguruan itu adalah perempuan yang sangat berbahaya.
Dengan pandangan matanya yang menembus mata
seseorang, ia dapat mempengaruhi penalarannya sehingga
orang itu dapat kehilangan pribadinya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Paksi mengangguk. Katanya, "Aku pernah melihatnya."
"Bukankah Paman Marta Brewok pernah memberi petunjuk
kepadamu, bagaimana kau harus mengatasinya?"
Paksi mengangguk. "Bagus," Wijang mengangguk-angguk. "Murid-muridnyapun ada yang sudah mencoba-coba kekuatan sihir itu. Tetapi kau
tidak usah menjadi cemas. Kekuatan pribadimu akan dapat
mengatasinya, sehingga kekuatan sihir itu tidak
mempengaruhimu." Paksi masih mengangguk-angguk.
"Nah, satu peringatan buat kita. Mereka hari ini menyusuri lorong ke arah yang lain. Tetapi mungkin besok atau lusa,
mereka akan pergi menyusuri jalan setapak menuju ke gubuk
kita?" "Bagaimana sikap kita jika hal itu terjadi?"
"Apa yang kau lakukan jika aku tidak bersamamu?" Wijang justru bertanya.
"Aku akan membiarkannya."
"Merusak gubukmu, mengambil isinya dan barangkali
memetik jagungmu dan mencabut ketela pohonmu?"
"Bukankah aku dapat menanamnya lagi?"
"Apa yang akan kau makan kemudian?"
"Bukankah aku selama ini menanak nasi beras, bukan nasi
jagung?" Wijang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
mengangguk-angguk. Katanya, "Bagus. Bukankah kau untuk
sementara masih menghindari benturan dengan mereka?"
"Ya," Paksi mengangguk-angguk.
Tetapi ketika keduanya hampir saja bangkit berdiri dan
meninggalkan tempat itu, maka keduanya terkejut pula.
Mereka melihat dua orang lain yang berjalan melalui lorong
sempit berbatu batu ke arah yang sama sebagaimana ketiga
orang perempuan dari Perguruan Goa Lampin itu.
"Siapakah mereka?" desis Paksi.
"Bukan orang-orang dari Perguruan Sad."
"Jadi siapa" Apakah mereka orang-orang Tegal Arang?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wijang menggeleng. "Apa yang terjadi" Apakah mereka ingin menjajagi
kemampuan masing-masing" Tetapi hal itu sudah pernah
mereka lakukan sebelumnya."
Sebelum Wijang menjawab, maka di kejauhan mereka
melihat tiga orang lainnya berjalan ke arah yang sama.
Bahkan kemudian ada lagi yang menyusul.
"Nampaknya memang ada sesuatu yang akan terjadi,"
desis Wijang.

Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Mereka berkumpul untuk berkelahi atau untuk berbicara di antara mereka?" gumam Paksi.
"Lingkungan ini cukup terlindung oleh semak-semak
belukar. Bahkan pepohonan. Kita akan dapat melihat, apa
yang akan terjadi kemudian."
"Bukankah kita tidak akan mencampuri persoalan mereka?"
"Tidak," jawab Wijang.
Keduanyapun kemudian mulai beringsut. Dengan hati-hati
keduanya merunduk dari balik gerumbul ke balik gerumbul.
Dari balik batu-batu besar ke balik batu yang lain.
"Mereka agaknya akan pergi ke balik bukit itu," berkata Paksi.
"Disana ada sebuah tempat yang agak lapang, di atas
hamparan rumput yang hijau."
Wijang mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Sebuah batu
persegi yang agaknya dibuat oleh tangan seseorang, ada di
tengah-tengahnya. Sebatang pohon preh tumbuh di sudut
tempat yang lapang itu."
"Kau pernah mengunjungi tempat itu?"
"Seperti kau, aku mengenal lingkungan ini dengan baik."
Paksi mengangguk-angguk. Sementara itu keduanya
merayap ke tempat yang mereka sebutkan itu.
Dengan sangat hati-hati Paksi dan Wijang kemudian
menuruni tebing yang tidak terlalu tinggi yang ditumbuhi
pepohonan dan semak-semak yang liar, sehingga karena itu,
maka keduanya tidak mudah dapat dilihat dari tebaran tempat
yang agak lapang yang ditumbuhi rerumputan dan seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dikatakan oleh Wijang, di tengah-tengahnya terdapat sebuah
batu besar persegi ampat. Batu yang nampaknya adalah bekas
buatan tangan manusia. Keduanya memang tidak dapat berada terlalu dekat dengan
lapangan rumput itu. Namun dari tempat mereka berlindung,
mereka dapat melihat apa yang terjadi dan serba sedikit
pendengaran mereka yang tajam, dapat mendengar
pembicaraan dari orang-orang yang seperti mereka duga,
berkumpul di lapangan rumput itu.
Menurut penglihatan Wijang dan Paksi, maka di lapangan
rumput itu telah berkumpul beberapa orang dari beberapa
perguruan yang berbeda. Sedikitnya ada lima perguruan yang
diwakili dalam pertemuan itu. Tetapi nampaknya tidak
seorangpun dari para pemimpin tertinggi dari perguruan itu
yang datang dalam pertemuan itu.
Wijang dan Paksi mendengarkan pembicaraan orang-orang
itu dengan saksama. Mula-mula masing-masing menyebut
perguruan mereka serta nama mereka yang ditugaskan untuk
mewakili. "Kau ikut mengingat nama mereka serta perguruan
mereka," desis Wijang.
"Aku akan mencoba," sahut Paksi perlahan-lahan.
Baru kemudian, seorang di antara mereka, justru orang
dari Perguruan Sad, berkata, "Aku mendapat perintah dari
guru, menawarkan kerja sama di antara kita, permusuhan dan
bahkan saling membunuh sama sekali tidak bermanfaat bagi
kita semuanya dan bagi kita masing-masing."
"Kerja sama yang bagaimana yang dimaksud oleh
gurumu?" bertanya seorang perempuan dari Goa Lampin.
"Itulah yang harus kita bicarakan," jawab orang dari Perguruan Sad itu.
Namun seorang yang datang dari perguruan yang lain lagi
berkata, "Katakan, apakah kau sudah mempunyai rancangan
dari ujud kerja sama yang dapat kita lakukan?"
Orang dari Perguruan Sad itu termangu-mangu sejenak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun tiba-tiba saja orang itu menjadi gelisah. Bahkan
beberapa orang yang lainpun nampak menjadi gelisah.
Tiba-tiba seorang di antara mereka, seorang yang agaknya
datang dari perguruan yang lain lagi berkata lantang, "Jangan bersembunyi. Marilah, datanglah jika kalian akan ikut
berbicara bersama kami."
Seorang yang lain, yang bertubuh raksasa yang agaknya
datang dari Perguruan Tegal Arang di pinggir Kali Praga
tertawa sambil berkata, "Ada dua orang yang nampaknya
ingin bermain sembunyi-sembunyian."
Wijang dan Paksi terkejut. Mereka merasa bahwa mereka
berada di tempat yang tersembunyi. Kemampuan mereka
yang seakan-akan dapat menyerap bunyi yang timbul dari
setiap sentuhan tubuh mereka dengan lingkungannya,
melindungi mereka dari ketajaman pendengaran orang-orang
yang sedang berbicara di lapangan rumput itu. Jika orang-
orang itu mengetahui kehadiran mereka berdua, itu berarti
bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu sangat
tinggi. "Tidak mungkin," desis Paksi.
Wijang mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian iapun
berbisik, "Jika karena sesuatu hal mereka mengetahui
kehadiran kita, maka apa boleh buat."
Namun keduanya terkejut ketika mereka melihat sesuatu
yang bergerak di sisi yang lain dari padang rumput itu. Dua
orang muncul dari sela-sela gerumbul-gerumbul perdu.
"Kenapa kalian bersembunyi?" bertanya orang dari
Perguruan Sad itu. Kedua orang itu berdiri tegak memandang berkeliling
seakan-akan menembus ke setiap biji mata dari orang-orang
yang berada di padang rumput itu.
Sementara itu Wijang berdesis, "Kenapa panggraita kita
begitu tumpul, sehingga kita tidak mengetahui kehadiran
kedua orang itu?" "Keduanya masih terlalu jauh dari kita berdua, karena
keduanya berada di seberang lapangan rumput itu," sahut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Paksi. "Sementara itu, perhatian kita pusatkan kepada orangorang yang ada di lapangan rumput itu sendiri. Aku sudah siap
mengingat-ingat nama jika salah seorang dari mereka
menyebutkannya lagi. Namun yang datang ada dua orang dari
sisi seberang." Namun tiba-tiba wajah Paksi menjadi tegang. Hampir di
luar sadarnya ia beringsut sehingga Wijang menggamitnya
sambil berdesis, "Sst. Kau kenapa?"
Tiba-tiba saja Paksi teringat sesuatu. Kata-katanya
meluncur dengan nada datar, "Seorang laki-laki dan seorang perempuan."
"Ya. Kenapa?" bertanya Wijang.
"Tentu ayah dan ibu Kemuning."
"Siapakah Kemuning itu?" bertanya Wijang.
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Wijang
sekilas. Namun kemudian Paksipun menjawab perlahan, "Nanti aku ceriterakan."
Wijang mengangguk. Iapun ingin memperhatikan apa yang
dikatakan oleh kedua orang laki-laki dan perempuan itu.
Sementara itu Paksipun berdesis, "Ciri-ciri keduanya tepat seperti yang dikatakan Ki Pananggungan."
Wijang tidak menyahut. Tetapi ia memperhatikan laki-laki
itu dari ujung kakinya sampai ke kepalanya. Laki-laki itu
bertubuh tinggi tegap. Wajahnya keras, berkumis lebat.
Hidungnya seakan-akan tenggelam dalam kelebatan kumis itu.
Matanya sipit, tetapi alisnya hampir setebal kumisnya.
Sedangkan perempuan yang bersamanya itu terhitung
perempuan yang bertubuh tinggi semampai mengenakan
pakaian yang khusus. Sepasang pedang tergantung di kedua
lambungnya. Selempang kulit menyilang di dadanya menahan
berat pedangnya yang menggantung pada ikat pinggang
kulitnya. Dalam pada itu, laki-laki itupun kemudian berkata, "Kalian mengira bahwa kami mendekati tempat ini sambil
bersembunyi" Buat apa aku bersembunyi jika yang datang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemari hanya tikus-tikus kecil seperti kalian. He, di manakah
guru kalian" Kenapa mereka tidak datang?"
"Sejak semula guru memang tidak akan datang ke tempat
ini. Justru kami baru mempersiapkan kemungkinan, agar guru-
guru kami dapat bertemu."
Laki-laki berkumis tebal itu termangu-mangu sejenak.
Dengan nada berat iapun kemudian berkata, "Aku ingin
bertemu dan berbicara dengan guru-guru kalian."
"Aku tidak tahu, apakah guru menganggap penting kalian
berdua ikut berbicara tentang persoalan yang teramat penting.
Mungkin guru bersedia menerima kalian untuk menghadap.
Tetapi tidak untuk membicarakan sesuatu."
"Jangan menghina aku. Mungkin kalian merasa kokoh
karena kalian adalah bagian dari sebuah perguruan. Kalian
menganggap guru kalian masing-masing adalah orang-orang
terkuat di dunia kanuragan. Tetapi sebenarnyalah perguruan
kalian tidak ada artinya apa-apa bagi kami."
Tetapi seorang yang bertubuh raksasa dari perguruan Tegal
Arang itupun berkata, "Kiai Repak Rembulung. Selama ini kami memang menganggap kau berilmu sangat tinggi. Tetapi
bahwa kehadiranmu yang diam-diam itu justru menimbulkan
suara seperti lampor, maka kemampuanmu kami ragukan.
Demikian pula Nyi Pupus Rembulung yang menurut
pendengaran kami memiliki kemampuan yang jarang ada
duanya, ternyata juga sangat mengecewakan. Kalian berdua
yang digelari sepasang Alap-alap Elar Perak, ternyata telah
mengejutkan kami. Bukan karena ketinggian ilmu tetapi justru
sebaliknya." "Menurut cirimu, kau adalah murid dari Perguruan Tegal
Arang di tepi Kali Praga. Terima kasih atas pengenalanmu
terhadap kami berdua serta gelar yang kami sandang. Tetapi
jangan mencoba kemampuan kami. Kami memang tidak
pernah berniat untuk mendekat dengan diam-diam. Itulah
sebabnya kami datang seperti lampor. Tetapi jika ada yang
meragukan kemampuan kami, silahkan untuk mengatakannya
berterus-terang." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku meragukan tataran ilmumu, Ki Repak Rembulung."
Namun tiba-tiba saja orang itu menjerit. Ia tidak melihat
dengan jelas apa yang dilakukan oleh Ki Repak Rembulung.
Namun tiba-tiba saja dari dahinya telah mengucur darah.
Sebuah batu sebesar telur puyuh telah mengenai dahinya itu.
"Jika kau anggap aku curang karena aku menyerang
dengan tiba-tiba, maka marilah, siapa yang akan menjajagi
ilmu dengan cara apapun yang ingin kalian lakukan. Atau
barangkali ada yang meragukan kemampuan isteriku, Pupus
Rembulung." Orang-orang yang ada di lapangan rumput itu berdiri
dengan tegang. Sementara Repak Rembulung yang digelari
Alap-alap Elar Perak itu melangkah dengan tenangnya
mengelilingi batu persegi yang ada di tengah-tengah lapangan
rumput itu. "Aku tidak sering menyombongkan diri. Tetapi jika perlu,
aku memang melakukannya seperti apa yang aku lakukan
sekarang," berkata Repak Rembulung.
Tidak seorangpun yang menyahut. Karena itu, maka Repak
Rembulung itupun kemudian berkata, "Katakan kepada
gurumu, aku ingin berbicara dengan mereka."
Orang-orang yang berkumpul di lapangan rumput itu diam
membeku ketika Repak Rembulung itu menunjuk mereka
seorang-seorang. Bahkan kepada orang yang dahinya
berdarah itu, iapun berkata, "Kau dapat melaporkan apa yang terjadi atas dahimu itu kepada gurumu. Selebihnya, jika kau
sekali lagi menghina aku, maka sebelah matamu akan menjadi
buta, karena batu itu akan menghunjam masuk ke dalam
matamu. Jika kau masih mengulanginya lagi, matamu yang
lain akan menjadi buta pula."
Orang yang dahinya terluka itu berdiri mematung di
tempatnya. Ketika darahnya mengalir ke matanya, ia sama
sekali tidak mengusapnya. Setiap gerak akan dapat
menimbulkan kecurigaan pada Repak Rembulung atau Pupus
Rembulung sehingga mereka dapat melakukan sesuatu yang
dapat membahayakannya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Atau kalian semuanya dari perguruan yang berbeda-beda
ini ingin mencoba bersama-sama" Kami sama sekali tidak
berkeberatan. Tetapi untuk melawan kalian bersama-sama,
sulit bagi kami untuk mengendalikan diri, sehingga jika ada
yang mati di antara kalian, kami tidak bertanggung jawab."
Orang-orang yang ada di lapangan itu masih berdiri
mematung. Tidak seorangpun yang bergerak atau bahkan
menjawab ancaman Repak Rembulung itu.
Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara Pupus
Rembulung, "Sudahlah, Kakang. Marilah kita pergi. Tidak ada gunanya
kita berlama-lama disini."
Repak Rembulung mengangguk. Katanya, "Kami akan
segera pergi. Tetapi aku juga ingin semua orang yang ada di
lapangan rumput ini pergi. Kalian tidak usah berbicara tentang pertemuan antara pemimpin dan barangkali guru kalian.
Biarlah mereka membicarakannya langsung di antara mereka.
Ingat, beritahu kami berdua, kami akan datang dalam
pertemuan itu." Tiba-tiba saja dengan suara yang bergetar salah seorang
dari Goa Lampin bertanya, "Bagaimana kami
memberitahukannya kepada Ki Repak Rembulung?"
"Pahatkan saat pertemuan itu pada beberapa batang pohon
gayam yang ada di sepanjang jalan menuju ke Panjatan."
"Ki Repak Rembulung tinggal di Panjatan?"
"Aku tinggal dimana-mana. Tetapi ingat, jangan mencoba
menipu dan membohongi aku. Jika pertemuan itu berlangsung
tanpa aku ketahui, serta tidak ada pahatan waktu di beberapa
pohon gayam di jalan menuju ke Panjatan, maka kalian akan
menyesal." Tidak seorangpun yang bertanya lagi. Mereka mengharap
agar Sepasang Alap-alap Elar Perak itu segera meninggalkan
tempat itu. Namun ternyata Pupus Rembulung itu berkata lantang,
"Cepat, tinggalkan tempat ini. Atau aku harus mengusir
kalian." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang-orang itupun kemudian telah beringsut
meninggalkan tempat itu sebelum mereka sempat
menemukan kesepakatan apa-apa tentang rencana pertemuan
antara para pemimpin dan guru mereka.
Sedangkan Repak dan Pupus Rembulunglah yang kemudian
terakhir meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal mereka, maka Wijang dan Paksipun kemudian
telah keluar dari persembunyiannya. Namun yang pertama-
tama dikatakan oleh Wijang bukan tentang orang-orang yang
berkumpul itu, tetapi justru tentang diri mereka berdua.
"Nah, bukankah kita sudah berhasil meredam suara yang
timbul dari gerak-gerik kita. Geseran tubuh dan pakaian kita
dengan benda-benda sekeliling kita tidak mampu menyentuh
ketajaman telinga kedua orang suami isteri itu."


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Paksi mengangguk-angguk. Iapun kemudian menyadari
bahwa iapun mampu menyerap bunyi geseran itu.
Namun Paksipun kemudian berkata, "Kedua orang suami
isteri itu menarik perhatian."
"Yang kau sebut sebagai ayah dan ibu Kemuning itu."
"Ya," jawab Paksi.
"Nah, bukankah kau akan berceritera tentang Kemuning?"
"Nanti di rumah aku akan menceriterakannya."
Sambil bergeser Wijang itupun kemudian berkata, "Kita
sudah mendengar bahwa orang yang disebut Repak
Rembulung itu minta agar ia mendapat isyarat jika
diselenggarakan pertemuan antara para pemimpin perguruan
yang telah menurunkan orang-orangnya di daerah ini."
Paksi mengangguk-angguk pula. Katanya, "Isyarat itu akan
dapat kita lihat di pohon-pohon gayam di jalan yang menuju
ke Panjatan. Dengan demikian, maka kitapun akan dapat hadir
pula untuk melihat apa yang akan mereka bicarakan."
"Mereka tentu akan berbicara tentang cincin istana yang
hilang," desis Wijang.
"Yang menarik, bagaimana mereka mengatur kerja sama di
antara mereka itu." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yang lebih menarik lagi adalah kehadiran Repak Dan
Pupus Rembulung itu."
Paksi termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja
Wijang menarik Paksi sambil berkata, "Kita akan pulang. Kita akan melihat apakah ada satu dua orang yang tersesat ke
gubuk kita. Selebihnya, kau akan berceritera tentang
Kemuning yang kau sebut anak Repak dan Pupus Rembulung
itu." Paksi tidak menjawab. Apalagi Wijang masih saja
menariknya berjalan di lereng yang ditumbuhi pohon-pohon
perdu itu. Ketika mereka sampai di gubuk kecil yang tersembunyi itu,
merekapun berlega hati. Tidak seorangpun di antara orang-
orang dari berbagai perguruan itu yang tersesat sampai ke
gubuk kecil mereka. Ketika mereka kemudian duduk di dalam gubuk itu sambil
menghirup wedang sere yang sudah dingin, Paksipun telah
berceritera tentang seorang gadis yang bernama Kemuning.
Menurut pamannya, Ki Pananggungan, kedua orang tua
angkat Kemuning adalah petualang pula. Menurut ciri-cirinya,
orang tua angkat Kemuning itu tentu Ki Repak Rembulung dan
Nyi Pupus Rembulung itu. "Sayang," berkata Wijang, "jika saja keduanya tidak terjerumus ke dalam petualangan yang dapat mengotori
namanya." "Apakah kita dapat mencoba menghubunginya?" bertanya Paksi.
"Jangan tergesa-gesa. Yang terjadi mungkin justru
sebaliknya dari yang kita inginkan," desis Wijang. Meskipun demikian ia melanjutkan, "Tetapi pada saat yang tepat kita akan dapat mencobanya."
Paksi menarik nafas panjang. Katanya, "Rasa-rasanya
masih ada kemungkinan."
"Kita belum tahu sifat-sifatnya lebih jauh. Kita baru melihat ujudnya sekilas dan sedikit keterangan dari Ki Pananggungan
itu," sahut Wijang. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Paksi tidak menjawab. Tetapi kepalanya mengangguk kecil.
"Nah, sebaiknya kita sekarang pergi ke goa itu. Bawa
tongkatmu. Kita berlatih lebih bersungguh-sungguh."
Paksi tidak membantah. Iapun kemudian bangkit. Diraihnya
tongkatnya yang disembunyikannya di antara kerangka gubuk
kecilnya. Sementara itu, Wijangpun telah melangkah keluar
dan gubuk itu. Sejenak kemudian, keduanya telah berada di dalam goa.
Dengan saksama keduanya memperhatikan pahatan yang ada
di dalam goa itu. Beberapa kali mereka mencobanya sehingga
dengan demikian, terutama bagi Paksi, ilmunya menjadi
semakin matang. Tongkatnya menjadi semakin berbahaya di
tangannya Sementara itu, jiwanyapun menjadi semakin
mapan. Ia sudah berhasil menguasai keseimbangan antara
perasaan dan penalarannya saat-saat ia mengetrapkan ilmu
puncaknya. Ternyata apa yang dilakukan Wijang, justru melengkapi apa
yang pernah diwariskan oleh Ki Marta Brewok kepada Paksi.
Di hari berikutnya, maka keduanya telah pergi menyusuri
jalan menuruni kaki Gunung Merapi. Mereka kemudian telah
memasuki sebuah jalan yang agak lebih lebar dari jalan
setapak. Jalan yang menuju ke Panjatan.
Memang ada beberapa batang pohon gayam. Tetapi
mereka belum melihat isyarat apapun yang terpahat pada
pohon gayam itu. Namun keduanya sadar, bahwa mereka harus berhati-hati,
karena mereka akan dapat bertemu dengan Ki Repak
Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung.
"Mungkin dua atau tiga hari lagi," berkata Wijang.
"Bukankah mereka harus membicarakannya lebih dahulu?"
"Atau para pemimpin perguruan yang tersinggung itu
sengaja tidak mau memenuhi keinginan Repak dan Pupus
Rembulung," sahut Paksi.
"Kemungkinan itu memang dapat terjadi. Tetapi aku
mengira bahwa para pemimpin perguruan itu akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memberitahukan rencana pertemuan itu justru untuk
menjebaknya." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Setiap hari kita akan
melihat, apakah mereka telah memahatkan pesan itu."
"Dengan kemungkinan terburuk, kita akan bertemu dengan
orang yang sedang memahatkan pesan itu atau suami isteri
orang tua angkat Kemuning itu."
Dengan serta-merta Paksi berpaling. Dipandanginya Wijang
dengan dahi berkerut. Namun Wijanglah yang bertanya,
"Kenapa" Bukankah Repak dan Pupus Rembulung itu orang
tua angkat Kemuning sebagaimana kau katakan."
Paksi menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia
menjawab, "Ya. Mereka adalah orang tua angkat Kemuning."
"Jadi bagaimana?"
"Tidak apa-apa," jawab Paksi.
Wijang tertawa. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Keduanyapun melanjutkan langkah mereka menyusuri jalan
ke sebuah padukuhan. Padukuhan yang tidak terlalu besar.
Bahkan letaknya agak jauh dari padukuhan-padukuhan yang
lain. Tetapi padukuhan itu nampak subur. Di sekitarnya sawah
nampak hijau ditumbuhi batang padi yang mulai berbunga. Di
belakang dinding padukuhan, pohon nyiur berdiri berjajar dari
ujung sampai ke ujung. Parit-parit yang mengaliri sawah
bersusun seperti sebuah tangga raksasa mengalir sepanjang
musim. "Apakah kita akan pergi ke padukuhan itu?" bertanya Paksi Wijang memang agak ragu. Namun kemudian katanya,
"Kau yang sudah lama tinggal di sisi selatan kaki Gunung
Merapi ini agaknya sudah mengetahui isi dari padukuhan itu."
Paksi menggeleng. Katanya, "Aku tahu, bahwa padukuhan
itu adalah Padukuhan Panjatan. Tetapi aku belum tahu isi
padukuhan itu." "Apakah di pasar kau tidak pernah bertemu dengan orang
Panjatan?" "Mungkin sekali dua kali pernah. Tetapi aku tidak
menyadari bahwa mereka adalah orang Panjatan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik. Jika demikian, kita pergi saja ke pasar. Tentu masih belum sepi. Kita akan mencoba mencari keterangan tentang
padukuhan ini." Keduanyapun kemudian telah berbelok menyusuri jalan
sempit. Mereka tidak langsung pergi ke padukuhan yang
belum mereka ketahui apakah isinya. Meskipun sebelumnya
mereka jarang sekali berusaha untuk mengetahui isi sebuah
padukuhan apabila mereka akan memasukinya, namun justru
karena padukuhan itu disebut oleh Ki Repak Rembulung, maka
mereka merasa perlu untuk berhati-hati.
Ketika keduanya yang berjalan cepat di sepanjang
pematang dan lorong-lorong sempit sebelum mereka turun ke
jalan yang lebih besar yang menuju ke pasar itu, membuat
mereka menjadi haus. Karena itu, maka Paksipun mengajak
Wijang untuk membeli dawet cendol sebagaimana sering
dilakukannya. Ketika keduanya sedang menghirup dawet cendol yang
segar itu, penjual dawet itupun bertanya, "Keringat kalian seperti terperas dari tubuh kalian. Dari mana saja kalian
berdua?" Paksi tersenyum sambil menjawab, "Kami takut kalau kami
kehabisan dawet cendol. Karena itu, kami berlari-lari
sepanjang jalan." Penjual dawet itu tertawa. Sementara Paksi berkata
selanjutnya, "Kami bangun kesiangan, sementara kami masih harus singgah di Panjatan."
"Panjatan?" orang itu mengerutkan dahinya.
"Ya," jawab Paksi.
"Untuk apa kalian pergi ke Panjatan?"
"Aku mempunyai seorang kawan di Panjatan."
Orang itu termangu-mangu sejenak. Di wajahnya
membayang kesan yang aneh. Bahkan penjual dawet itu
kemudian bertanya, "Kau sering pergi ke Panjatan?"
"Ya. Kenapa?" "Jika kau sering pergi ke Panjatan, kau tentu mengetahui
keadaan padukuhan itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku tidak melihat sesuatu yang menarik perhatian di
padukuhan itu." Penjual dawet itu menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian iapun berkata, "Aku juga mempunyai seorang
kenalan, bahkan masih terhitung kadang meskipun sudah
jauh." "Paman juga sering pergi ke Panjatan?" bertanya Wijang kemudian.
"Tidak," jawab orang itu. "Baru dua atau tiga kali sepanjang umurku."
"Kenapa?" bertanya Wijang kemudian.
Penjual dawet itu menarik nafas panjang. Namun kemudian
iapun bertanya, "Jadi kalian benar-benar tidak tahu, kenapa Panjatan itu seakan-akan menjadi terpencil. Bukan saja
letaknya, tetapi juga hubungan antar sesama."
"Tidak," Paksilah yang menjawab.
Penjual dawet itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara
itu Paksi mengulurkan mangkuknya yang telah kosong sambil
berkata, "Lagi, Paman. Aku haus sekali."
Ternyata Wijangpun berbuat demikian pula.
Sambil menyerahkan semangkuk dawet kepada keduanya,
maka penjual dawet itupun berkata, "Sebenarnya orang-orang Panjatan adalah orang-orang yang ramah. Tetapi di
padukuhan itu ada sebuah keluarga yang membuat nama
padukuhan itu menjadi buram."
"Hanya satu keluarga?" bertanya Paksi.
"Mula-mula, tetapi kemudian anak dan cucunya juga
mewarisi sikap dan tingkah lakunya, sehingga yang satu
keluarga itu telah membuat Panjatan menjadi daerah hitam."
"Orang-orang Panjatan yang lain tidak berbuat sesuatu?"
"Tidak seorang pun yang berani menegur mereka.
Sementara itu, keluarga itu memang tidak pernah
mengganggu orang-orang Panjatan sendiri."
Paksi dan Wijang mendengarkan ceritera penjual dawet itu
sambil mengangguk-angguk. Sementara itu penjual dawet
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itupun berkata, "Terhadap orang yang mereka anggap asing, keluarga itu tidak menyukainya. Jika ada orang yang tidak
mereka kenal, mereka segera menemuinya. Jika pertanyaan-
pertanyaan mereka tidak dapat dijawab dengan baik dan
meyakinkan, maka orang itu akan segera diusir dari
padukuhan itu. Jika yang datang itu seorang tamu dari
keluarga yang tinggal di padukuhan itu, mereka harus
meyakinkan kebenarannya."
"Apakah orang-orang Panjatan tidak pernah keluar dari
padukuhannya, pergi ke pasar misalnya."
"Ya. Mereka juga pergi ke pasar. Tidak ada masalah bagi
mereka. Bahkan keluarga orang yang ditakuti itupun juga
pergi ke pasar. Rasa-rasanya mereka sama sekali tidak
mempunyai beban apapun. Namun orang-orang lainlah yang
biasanya membuat jarak dengan mereka."
"Apakah mereka tidak merasa tersinggung."
"Itulah yang menarik. Mereka tidak merasa tersinggung.
Mereka seakan-akan mengerti, kenapa orang lain bersikap
demikian terhadap mereka."
Ketika kemudian mangkuk Paksi dan Wijang telah menjadi
kosong, maka penjual dawet itupun bertanya, "Lagi?"
Paksi menggeliat sambil berkata, "Perutku sudah tidak
dapat memuat lagi, Paman."
Penjual dawet itupun tertawa. Katanya, "Kemarin
seseorang membeli dawet ampat mangkuk sekaligus."
"O, bukan main," sahut Wijang.
Penjual dawet itu tertawa. Katanya, "Orang itu justru salah seorang di antara keluarga yang ditakuti di Panjatan. Seorang
anak muda sebaya dengan Paksi."
Paksi mengangguk-angguk. Sementara Wijangpun tertawa.
Katanya, "Paksi juga dapat menelan dawet ampat mangkuk
sekaligus jika kebetulan ia lapar."
Paksipun kemudian tertawa pula.
Demikianlah keduanyapun kemudian pergi ke pande besi di
sudut pasar itu. Ketika mereka menyinggung Padukuhan
Panjatan, maka seorang di antara pande besi itupun telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menceriterakan keadaan padukuhan itu sebagaimana ceritera
penjual dawet itu. Bahkan kemudian iapun berkata, "Rumahku juga Panjatan.
Tetapi aku jarang-jarang pulang. Siang malam aku berada
disini. Hanya kadang-kadang saja aku pulang. Sebenarnya
orang yang dianggap asingpun tidak usah takut. Jika keluarga
Sangga Samodra itu tidak menyenangi kehadirannya, ia akan
minta orang itu dengan baik-baik pergi. Jika orang itu
melawan, baru akan terjadi kekerasan."
"Kenapa keluarga Sangga Samodra itu tidak menyenangi
kehadiran orang yang dianggap asing?" bertanya Paksi yang sudah terbiasa duduk-duduk di tempat pande besi itu bekerja.
"Mereka memang merasa curiga, bahwa orang-orang yang
dianggap asing itu akan mengganggu keluarga mereka."
Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.
Beberapa saat Paksi dan Wijang duduk menunggui pande
besi yang dengan kawan-kawannya membuat sebuah kapak
kecil pembelah kayu. Namun kemudian keduanyapun minta
diri. "Kau tidak memerlukan apa-apa hari ini, Paksi?" bertanya pande besi itu.
"Lain kali saja," jawab Paksi sambil melangkah
meninggalkan tempat itu bersama Wijang.
Sambil berjalan di antara banyak orang di pasar itu,
Wijangpun berdesis, "Tentu ada hubungan antara Sangga


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Samodra itu dengan Ki Repak Rembulung."
Paksi mengangguk sambil menjawab, "Ya. Akupun
berpendapat begitu. Dengan dukungan orang-orang Panjatan
itulah agaknya Repak dan Pupus Rembulung berani bersikap
menantang orang-orang dari perguruan yang sudah punya
nama itu." "Kau kenal nama pande besi yang berasal dari Panjatan
itu?" bertanya Wijang.
"Kenal, kenapa?"
"Kita pergi ke Panjatan. Kita akan mencari pande besi itu,"
berkata Wijang kemudian. Namun demikian Wijang itupun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkata selanjutnya, "Tetapi tidak sekarang. Besok atau lusa sambil melihat-lihat apakah sudah ada isyarat pada batang
pohon gayam itu." Paksi mengangguk sambil menjawab, "Ya. Sementara itu,
kita masih mempunyai waktu untuk meyakinkan keadaan
padukuhan itu." Demikianlah, keduanyapun kemudian segera kembali ke
gubuk mereka. Mereka merencanakan untuk pergi ke Panjatan
dua hari lagi. Mereka berharap bahwa sudah ada isyarat
tentang pertemuan yang akan diadakan oleh beberapa orang
pemimpin perguruan. Namun di hari berikutnya keduanya masih mendapat
beberapa keterangan lagi tentang Panjatan. Tidak
bertentangan dengan keterangan yang terdahulu. Namun
seorang pedagang gula kelapa mengatakan bahwa di hari-hari
terakhir nampaknya ada kesibukan khusus dari keluarga yang
menyebut Trah Sangga Samodra itu.
"Trah Sangga Samodra. Jadi Sangga Samodra itu sendiri
apa masih ada?" bertanya Paksi.
Pedagang gula itu menggeleng. Katanya, "Sudah lama
Sangga Samodra itu meninggal. Yang ada adalah anak, cucu
dan cicitnya yang meneruskan kegiatannya."
"Siapakah yang sekarang menjadi pemimpinnya?" bertanya Paksi pula.
"Untuk apa kau bertanya tentang pemimpin Trah Sangga
Samodra itu?" "O, tidak apa-apa," jawab Paksi dengan serta-merta.
"Sekedar didorong oleh perasaan ingin tahu saja."
Penjual gula kelapa itu tersenyum. Untunglah bahwa ia
tidak menaruh perhatian lebih jauh karena pedagang gula itu
segera sibuk dengan pekerjaannya.
Paksi dan Wijang yang kemudian meninggalkan pedagang
gula itupun telah duduk di depan penjual nasi tumpang
bersama Kinong yang kebetulan sedang beristirahat.
"Makanlah," berkata Paksi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kinong memandang Paksi dengan sepasang matanya yang
bening. Dengan jujur ia berkata, "Aku memang belum makan
sejak pagi. Tetapi aku sudah mendapat uang beberapa
keping." "Simpanlah. Bukankah kau sedang menabung. Biarlah aku
yang membayar nasi tumpang itu."
Kinong memandang Paksi dan Wijang berganti-ganti.
Sementara Wijang berkata, "Jangan malu. Aku juga akan
membeli nasi tumpang itu. Aku juga belum makan."
Ketiganyapun kemudian telah makan nasi tumpang. Tanpa
menghiraukan orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Bahkan
kemudian dua orang ayah dan anaknya sebesar Kinong juga
duduk di sebelah mereka membeli nasi tumpang pula.
Kinong terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara ibunya
yang sudah berdiri di belakangnya, "Kinong, sedang apa kau di situ, he?"
Kinong berpaling. Anak itupun kemudian bangkit berdiri
sambil memegangi pincuk nasi tumpangnya. Sambil
mengunyah anak itu menjawab, "Kakang Paksi membelikan
nasi tumpang." "Setiap kali kau dibelikan nasi tumpang, dawet, bahkan
makanan." Paksilah yang menjawab sambil tersenyum, "Ketika Kinong
lewat, kebetulan kami sedang makan, Bibi."
"Terima kasih, Ngger," jawab ibu Kinong
"Bibi tidak makan?" bertanya Paksi.
"Terima kasih, Ngger. Terima kasih."
Ibu Kinong itupun kemudian beranjak pergi. Dihampirinya
seorang perempuan yang sedang berbelanja. Tetapi dengan
muka cemberut perempuan itu berkata, "Aku sudah mengajak
pembantuku." Ibu Kinong itupun bergeser surut. Ia sudah terbiasa
mendapat jawaban seperti itu. Namun kemudian dengan
berlari-lari kecil ibu Kinong itu mendekati seorang perempuan
lain yang membawa dua kereneng di kedua tangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Berbeda dengan orang yang pertama, maka perempuan itu
tersenyum sambil berkata, "Aku kira kau tidak ada di pasar hari ini, Yu. Tanganku sudah pedih membawa kereneng itu."
"Aku kira Nyi Peni tidak berbelanja hari ini."
"Aku sedang memperbaiki rumah, Yu. Di rumah yang
datang untuk sambatan kira-kira lima belas orang atau bahkan
lebih." Ibu Kinong itupun kemudian dengan cekatan memasukkan
kedua kereneng itu ke dalam bakul yang diberinya
serumbung. Kemudian iapun melangkah mengikuti perempuan
yang sedang belanja itu. Kinong yang masih menghabiskan makanannya itu berkata,
"Perempuan itu kalau berbelanja tentu banyak. Aku juga harus membantu ibu nanti."
"Habiskan dahulu nasimu," berkata Paksi, "atau kau mau tambah lagi?"
Kinong menggeleng. Katanya, "Aku sudah kenyang. Nanti
aku tidak dapat bekerja membantu ibu jika aku terlalu banyak
makan." "Justru kau akan menjadi kuat," berkata Wijang.
Tetapi Kinong menjawab, "Aku akan mengantuk."
Paksi dan Wijang tertawa. Sementara itu, Kinong telah
membuang pincuknya dan berlari membawa keranjang
kecilnya mendekati ibunya.
"Anak yang rajin," berkata Wijang. "Aku senang kepada anak itu."
"Pada suatu saat, kau dapat memanggilnya," berkata Paksi.
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya iapun
bergumam, "Ada berapa orang Kinong yang tersebar di pasar Pajang. Aku juga pernah melihat perempuan dan kanak-kanak
berkeliaran di pasar dengan bakul dan keranjang kecilnya.
Bahkan mereka bukan anak seorang pemabuk. Tetapi mereka
benar-benar tidak mempunyai cara lain untuk mencari makan.
Sementara orang lain berbelanja berlebihan."
Paksi mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.
Ia sadar, bahwa hal itu merupakan salah satu ungkapan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketidakpuasan Pangeran Benawa terhadap keadaan yang
berkembang semasa pemerintahan Kangjeng Sultan
Hadiwijaya. Ayahanda Pangeran Benawa itu sendiri.
Setelah membayar harga nasi tumpang, maka mereka
berduapun meninggalkan pasar itu. Dengan kerut di kening,
Wijang sempat bertanya, "Kau mempunyai banyak uang?"
"Ibuku memberi bekal saat aku berangkat."
"Ayahmu?" bertanya Wijang
"Ibu sudah memberi bekal. Tentu ayah tidak merasa perlu
memberiku lagi." Wijang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.
Hari itupun kemudian telah dihabiskan oleh kedua orang itu
untuk berlatih. Wijanglah yang memperingatkan Paksi, bahwa
pada suatu saat mereka akan terpaksa membenturkan
kemampuan mereka dengan orang-orang yang berkeliaran
mencari cincin itu. Di keesokan harinya, seperti yang direncanakan, mereka
berdua akan pergi ke Panjatan mencari seseorang yang
bernama Lebak. Meskipun sebenarnya mereka mengetahui
bahwa Lebak, seorang pande besi, jarang-jarang pulang.
Pagi-pagi mereka telah bersiap-siap. Mereka menyelesaikan
pekerjaan mereka sebelum mereka berangkat, sebagaimana
jika mereka pergi ke pasar. Legenpun telah mereka tuang ke
dalam kuali. Kayu yang kering sudah disimpan di dalam
gubuk. Tidak ada jemuran di luar dan pintu gubuknyapun
ditutup rapat-rapat. Ketika matahari mulai memanjat langit, maka keduanyapun
telah berangkat langsung menuju ke Panjatan.
Ketika mereka memasuki jalan menuju ke padukuhan itu
maka mereka harus mulai mengamati apakah sudah ada
isyarat yang terpahat pada batang pohon gayam yang tumbuh
di pinggir jalan. Tetapi keduanya harus berhati-hati. Keduanya harus
menghindari kecurigaan orang sejauh dapat mereka lakukan.
Karena itu, maka ketika mereka sudah berada di jalan
menuju ke Panjatan, mereka tidak langsung menilik setiap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pohon gayam. Tetapi mereka mencoba melihat sambil berjalan
perlahan-lahan. Baru setelah mereka melihat sesuatu yang
menarik pada sebatang pohon gayam, maka merekapun
melangkah menepi. "Tidak ada orang yang melihat kita disini," desis Wijang.
Tetapi keduanya tidak semata-mata melihat goresan yang
ada di batang pohon gayam itu. Keduanya sambil berpura-
pura berteduh, mencoba untuk dapat memahami isyarat yang
dipahatkan pada pohon gayam itu.
Sebagaimana yang mereka duga, goresan-goresan pada
batang pohon gayam itu benar-benar isyarat. Wijang dan
Paksi sempat membaca tulisan itu.
Mereka melihat pahatan sebuah lengkungan. Di bawahnya
dipahatkan angka satu. Kemudian di bawah lagi terdapat
tulisan 'lewat tengah malam'. Selain itu, mereka tidak menemukan isyarat lain. Paksi dan
Wijang yang kemudian meneruskan langkah merekapun telah
membicarakan isyarat itu. Mereka sepakat bahwa isyarat itu
menyatakan, bahwa pertemuan akan diselenggarakan pada
saat bulan tanggal satu lewat tengah malam. "Tetapi dimana?"
bertanya Paksi. "Kita lihat, apakah ada isyarat lain pada batang pohon
gayam berikutnya." Paksi mengangguk-angguk. Namun ternyata mereka tidak
menemukan petunjuk yang lain. Pada sebatang pohon gayam
yang lain justru hanya terpahat sebuah lengkungan dengan
tulisan angka satu. Di pohon yang lain terdapat tulisan 'lewat tengah malam'.
"Jika demikian, pertemuan itu akan diselenggarakan di
tempat itu juga," desis Wijang.
"Di lapangan rumput itu?"
"Ya." Paksi mengangguk-angguk. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri. Mereka
masih berjalan menuju ke Panjatan yang semakin lama
menjadi semakin dekat. Bagaimanapun juga kedua orang itu menjadi berdebar-
debar ketika mereka memasuki padukuhan. Meskipun
demikian, keduanya berusaha untuk menunjukkan sikap yang
wajar. Sebenarnyalah bahwa Padukuhan Panjatan tidak ada
bedanya dengan padukuhan-padukuhan yang lain. Kesibukan
menjelang siang juga tidak ada bedanya dengan kesibukan di
padukuhan lain. Dari kejauhan terdengar suara orang
menumbuk padi. Sementara itu, seorang ibu muda sedang
menyuapi anaknya tanpa menghiraukan anaknya itu menangis
meronta-ronta. Nasi cair yang dicampur dengan gula kelapa
disuapkannya di mulut yang kecil itu.
Wijang dan Paksi tertegun sejenak melihat ibu muda yang
duduk di tangga regol halaman rumahnya tanpa
memperhatikan orang yang lewat sambil menyuapi anaknya
itu. Bukan saja anaknya yang menangis meronta-ronta yang
berkeringat. Tetapi ibu muda itupun berkeringat pula.
Paksi dan Wijang membatalkan niatnya untuk bertanya, di
manakah letak rumah Lebak. Ibu muda itu nampak demikian
sibuknya, sehingga ia tidak lagi menghiraukan apapun juga.
Beberapa langkah kemudian, Paksi dan Wijang berjalan
melewati sebuah gardu. Terdengar lenguh lembu dari halaman
sebelah. Sedangkan dari halaman yang lain terdengar kokok
bekisar yang melengking tinggi.
Paksi dan Wijang tertegun ketika mereka melihat seorang
laki-laki yang berdiri di regol halaman rumahnya justru turun
ke jalan. Ia memberi isyarat dengan tangannya, agar Paksi
dan Wijang itu berhenti. "Siapakah kalian, anak-anak muda?" bertanya orang itu.
"Namaku Wijang, Ki Sanak. Sedangkan adikku ini namanya
Paksi." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Untuk apa kalian memasuki padukuhan ini?" bertanya laki-laki itu.
"Kami mencari seorang sahabat kami, Ki Sanak."
"Namanya siapa?" bertanya laki-laki itu.
"Lebak," jawab Wijang.
Laki-laki itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
menjawab, "Lebak jarang sekali pulang. Ia bekerja di Pasar Turi, pada seorang pande besi."
"Apakah hari ini ia tidak ada di rumah?" bertanya Wijang pula.
"Tidak. Aku tidak melihat. Pergi sajalah ke Pasar Turi. Kau akan bertemu dengan Lebak."
"Aku akan menunggu di rumahnya, Ki Sanak," jawab
Wijang. Laki-laki itu menggeleng. Katanya, "Pergilah ke Pasar Turi."
"Baiklah. Tetapi aku akan menemui keluarganya lebih
dahulu. Aku akan memberikan beberapa pesan kepada
keluarganya." Laki-laki itu mengerutkan dahinya. Dengan nada berat ia
berkata, "Sudahlah, ia tidak akan segera pulang. Mungkin dua tiga pekan lagi. Pergilah."
Wijang dan Paksi menyadari bahwa mereka berhadapan
dengan seorang dari Trah Sangga Samodra. Karena itu, jika
mereka tidak ingin berselisih, maka mereka harus
meninggalkan padukuhan itu.
"Baik, Ki Sanak," jawab Wijang, "kami akan pergi."
Namun tiba-tiba saja dari pintu regol itu keluar seorang
perempuan. Wijang dan Paksi tidak segera mengenali
perempuan itu. Seorang perempuan yang mengenakan kain
lurik hijau dan baju lurik hijau pupus pula. Meskipun
perempuan itu sudah tidak muda lagi, tetapi bekas-bekas
kecantikannya masih melekat di wajahnya yang bersih.
Namun Wijang dan Paksi terkejut ketika mereka menyadari,
bahwa mereka berhadapan dengan Pupus Rembulung.


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Meskipun demikian, Paksi dan Wijang mampu
menyembunyikan kesan itu. Bahkan keduanyapun sempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengangguk hormat kepada perempuan yang sama sekali
tidak menunjukkan kesan kegarangannya sebagaimana ketika
ia mengenakan pakaian khususnya bersama Repak
Rembulung di hadapan beberapa orang murid dari perguruan
yang sudah mempunyai nama.
Bahkan dengan ramah Pupus Rembulung itu bertanya,
"Siapakah yang kalian cari, anak muda?"
"Kami mencari sahabat kami yang bernama Lebak, Bibi,"
jawab Wijang. "O," lalu iapun bertanya kepada laki-laki yang sudah lebih dahulu turun ke jalan. "Apakah kau tahu rumah Lebak?"
"Lebak tidak ada di rumah, Bibi."
"Dari mana kau tahu?" bertanya Pupus Rembulung itu.
"Lebak berada di Pasar Turi. Ia bekerja sebagai pande besi disana."
"O. Jika demikian, sebaiknya kalian pergi saja ke Pasar Turi.
Kalian akan dapat menemuinya disana, Ngger."
"Baik, Bibi," jawab Wijang sambil mengangguk hormat.
Demikianlah keduanyapun meninggalkan Padukuhan
Panjatan dengan kesan yang aneh.
Demikian keduanya keluar dari regol padukuhan, maka
Wijang itupun berkata, "Ternyata Pupus Rembulung itu
mempunyai kepribadian rangkap. Ia seorang perempuan yang
garang jika sepasang pedang tergantung di pinggangnya.
Tetapi ia seorang perempuan yang ramah jika ia mengenakan
baju dan kain lurik berwarna hijau muda."
"Ya. Seperti ceritera Paman Pananggungan. Di rumah,
Repak Rembulung adalah seorang ayah yang bijak, sementara
Pupus Rembulung adalah seorang ibu yang lembut."
Wijang menarik nafas dalam-dalam. Namun Paksipun
berkata, "Tetapi bukan hanya mereka berdua."
"Siapa lagi?" bertanya Wijang.
"Di istana ia seorang pangeran yang berwibawa, tetapi di
pasar ia duduk sambil memegang pincuk nasi tumpang."
Wijang tertawa. Namun iapun berkata, "Masih banyak
contohnya. Kau ingin tahu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi Paksi menggeleng. Katanya, "Tidak."
Keduanyapun tertawa. Namun keduanyapun segera menghentikan tawa mereka
ketika mereka melihat dua orang yang berjalan ke arah yang
berlawanan. Meskipun kedua orang itu berpakaian seperti petani
kebanyakan, namun Paksi dan Wijang harus berhati-hati,
justru karena mereka berada di jalur keluarga Sangga
Samodra. Seandainya keduanya bukan Trah Sangga Samodra,
dapat saja terjadi, keduanya adalah murid dari perguruan
yang terlibat dalam pertemuan yang bakal datang.
Tetapi karena kedua orang itu nampaknya berjalan dengan
mantap menuju ke Padukuhan Panjatan, maka Paksi dan
Wijang menduga bahwa keduanya tentu orang Panjatan. Trah
atau bukan Trah Sangga Samodra.
Ketika mereka berpapasan, maka kedua orang itu
memandang Wijang dan Paksi dengan tajamnya. Namun
kedua orang itu tidak menegur mereka.
Wijang dan Paksi menarik nafas panjang. Keduanya
berjalan terus tanpa menoleh sama sekali.
Ketika keduanya kemudian berjalan semakin jauh, maka
Wijangpun berkata, "Nah, kita sudah tahu, kapan mereka akan bertemu. Kita pun harus benar-benar mempersiapkan diri
untuk menonton pertemuan itu. Yang akan bertemu bukan
sekedar para murid dari perguruan-perguruan itu. Tetapi
justru para pemimpinnya. Tentu termasuk Ki Repak
Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung."
"Pertemuan itu akan berlangsung beberapa hari lagi," desis Paksi.
"Mereka justru memilih malam yang paling gelap."
"Tentu bukannya tanpa maksud," sahut Wijang.
"Apakah mereka akan bersikap jujur?"
"Seandainya mereka tidak berniat jujur, namun mereka
harus memperhitungkan banyak kemungkinan."
Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Kita akan melihat,
apa yang akan terjadi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan demikian, maka Paksi dan Wijang itu benar-benar
telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pertemuan
yang mereka anggap penting itu. Mereka harus
mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang paling
buruk. "Kita harus mengenal medan dengan sebaik-baiknya,"
berkata Wijang. "Maksudmu?" bertanya Paksi.
"Mungkin kita harus menghindar dari kemungkinan yang
paling buruk, jika mereka mengetahui kehadiran kita. Kita
harus tahu, kemana kita akan pergi. Kita tahu bahwa mereka
adalah orang-orang berilmu tinggi."
Paksi mengangguk-angguk. Tetapi kemudian iapun berkata,
"Jika pertemuan itu dilakukan di tempat lain?"
"Kita akan kehilangan jejak," jawab Wijang. "Tetapi tidak ada isyarat lain yang menunjukkan tempat pertemuan itu."
Paksi mengangguk-angguk. Iapun kemudian bergumam,
"Kita akan memanfaatkan waktu menjelang pertemuan itu
untuk mengenali medan sebaik-baiknya sebagaimana kau
katakan." Wijang mengangguk-angguk. Sementara itu langkah
mereka tanpa persepakatan justru telah berbelok menuju ke
pasar. Keduanya saling berpandangan sejenak. Kemudian
keduanyapun tertawa. "Kita pergi ke pasar?" bertanya Paksi.
"Kau yang berbelok lebih dahulu ke kanan," sahut Wijang.
"Sebenarnya aku akan berbelok ke kiri."
Keduanya masih tertawa, sementara langkah mereka
menjadi semakin cepat. Tanpa berjanji pula keduanya telah pergi ke sudut pasar,
tempat beberapa orang pande besi membuka tempat kerja
mereka. Keduanyapun kemudian telah menemui Lebak yang sedang
mengayunkan alat pemukulnya untuk menempa sebatang besi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
panjang. Agaknya Lebak dan seorang kawannya sedang
membuat sebuah parang pemotong kayu.
Ketika Lebak kemudian beristirahat, maka Paksipun
berkata, "Aku baru saja pergi ke Panjatan."
"Untuk apa?" bertanya Lebak.
"Ceriteramu menarik," jawab Paksi. "Karena itu, aku ingin membuktikannya."
"Apa yang kau temui disana?"
"Aku memang diminta meninggalkan Panjatan. Alasanku
untuk mencarimu tidak dapat diterima karena kau tidak ada di
rumah. Aku tidak tahu siapa yang telah mengusirku. Tetapi di
rumah orang itu tinggal pula seorang perempuan cantik
meskipun umurnya sudah tidak dapat disebut muda lagi. Saat
itu ia mengenakan kain dan baju lurik hijau muda."
"Perempuan cantik itu?" desis Lebak.
"Ya. Siapakah perempuan itu?"
Lebak menggeleng. Katanya, "Aku tidak mengenalnya. Ia
jarang berada di Panjatan. Hanya sekali-sekali saja. Apalagi
aku sendiri jarang sekali ada di rumah."
"Nah, aku hanya memberitahukan hal ini kepadamu agar
jika pada suatu saat kau pulang, kau mengaku mengenal kami
berdua." Lebak mengangguk kecil. Tetapi iapun bergeremang,
"Untuk apa sebenarnya kau datang ke Panjatan" Jika kau
manjakan sifat ingin tahumu, maka kau akan dapat
mengalami kesulitan."
Paksi tertawa. Sementara Wijang berkata, "Kami tidak akan mengulanginya."
Namun dalam pada itu, Wijang itupun tiba-tiba saja
memutar tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di sela-
sela kedua lututnya. Semula Paksi tidak menghiraukannya. Ia mengira bahwa
Wijang sekedar bergurau atau menyembunyikan tawanya.
Namun ternyata Wijang itupun berkata, "Marilah, Paksi. Kita tinggalkan tempat ini."
"Kenapa?" bertanya Paksi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lebak. Kami minta diri," berkata Wijang singkat. "Besok kami akan datang lagi."
Lebak mengangguk kecil sambil menjawab, "Datanglah
besok. Aku besok akan membuat sebuah pedang. Bukan
sekedar parang pembelah kayu."
Wijangpun kemudian telah menarik Paksi meninggalkan
Lebak. "Ada apa?" bertanya Paksi kemudian.
Wijang berjalan semakin cepat. Kemudian iapun berkata
kepada Paksi, "Kau lihat laki-laki berbaju lurik hitam dengan berikat kepala wulung itu?"
Paksi memperhatikan orang itu. Tetapi orang itu
membelakanginya, sehingga Paksi tidak melihat wajahnya.
"Kau tentu belum mengenal orang itu. Tetapi tolong,
sejauh dapat kau kenali ujudnya atau kepentingannya datang
ke pasar ini. Tetapi ingat, jangan sampai orang itu menyadari
bahwa kau memperhatikannya."
"Siapakah orang itu?"
"Kau akan mengetahuinya, atau jika tidak, nanti aku akan
memberitahukanmu. Aku akan berada di luar pasar.
Nampaknya aku harus menempatkan diri sebaik-baiknya."
-ooo00dw00ooo- Jilid 08 PAKSI mengerutkan dahinya. Tentu ada sesuatu yang
dianggap sangat penting oleh Wijang. Karena itu, maka ia
tidak bertanya lebih jauh. Diusahakannya mendekati orang
yang berbaju lurik hitam dan berikat kepala wulung.
Dengan kemampuannya, Paksi berusaha untuk dapat
mengetahui tentang orang itu sebanyak-banyaknya. Namun
Paksipun juga memperhitungkan seandainya orang itu juga
berilmu tinggi. Namun Paksipun kemudian melihat orang itu berhenti di
depan penjual dawet. Sambil duduk ia telah memesan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
semangkuk dawet cendol. Namun sejenak kemudian orang
lain pun telah mendekat dan duduk pula di sebelahnya.
Paksi termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian
berjalan saja di depan penjual dawet itu.
"He, Ngger. Kau tidak haus?"
Paksi sudah mengira bahwa penjual dawet itu akan
menyapanya. Karena itu, maka tanpa menghiraukan kedua
orang itu, Paksi telah duduk justru di sebelah penjual dawet
itu. "Kau sendiri" Di mana kakakmu?" bertanya penjual dawet itu.
"Kakak sedang sibuk, Paman. Tolong dawetnya semangkuk
saja," minta Paksi. Sekilas ia memandang kedua orang yang duduk di depan penjual dawet itu. Agaknya keduanya
memang sudah saling mengenal. Bahkan kemudian keduanya
terlibat dalam sebuah pembicaraan.
"Aku sudah menerima undangan itu," berkata seorang di antara mereka.
"Menarik sekali. Tamu-tamunya tentu orang-orang
terhormat," jawab yang lain.
"Ya. Justru para demang. Mungkin ada satu dua orang
bekel yang akan ikut bersama demangnya menghadiri
perhelatan itu." "Kita akan mengajak anak-anak kita."
"Tetapi mereka tentu orang-orang kaya. Kita tidak akan
mampu menyaingi mereka."
Paksi sama sekali tidak menghiraukan itu. Bahkan penjual
dawet itulah yang bertanya, "Di mana akan ada perhelatan
yang nampaknya besar-besaran itu, Ki Sanak?"
Salah seorang di antara mereka tersenyum sambil
menjawab, "Ki Lurah Pancaniti. Seorang lurah prajurit yang kaya raya."
Tetapi agaknya penjual dawet itu belum mengenal Lurah
Pancaniti. Meskipun dahinya nampak berkerut, tetapi ia
tidak bertanya lagi. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu seorang di antara keduanya bertanya, "Kau
akan kemana sekarang?"
"Pulang. Anakku sudah menunggu. Kau?"
"Aku juga akan pulang."
"Aku harus mempersiapkan sumbangan yang pantas."
"Jangan memaksakan diri. Jika kau memang tidak punya
uang, apaboleh buat."
Penjual dawet itu tertawa. Katanya, "Hal seperti itu
memang banyak terjadi. Untuk menjaga harga diri seseorang
kadang-kadang harus mencari pinjaman kemana-mana
sekedar untuk memberikan sumbangan. Apalagi jika yang
mengadakan perhelatan seorang yang berpengaruh."
Kedua orang yang sedang membeli dawet itu tersenyum.
Seorang di antara mereka kemudian berkata, "Marilah. Aku
akan pulang. Jika sempat suruh anakmu bermain ke
rumahku." "Baiklah. Aku juga akan segera pulang." Orang yang
pertama itupun segera membayar harga dawet sambil
berkata, "Kebetulan ada uang. Aku bayar dawetmu."
Kawannya tertawa. Katanya, "Terima kasih."
Namun tiba-tiba saja Paksi berkata, "Untukku sekalian,
Paman." Orang itu memandang Paksi sejenak. Namun kemudian
sambil tersenyum ia berkata, "Baiklah, anak muda. Tetapi
sekali ini saja." "Terima kasih, terima kasih," desis Paksi.
Orang itupun tertawa. Namun kemudian iapun melangkah
pergi meninggalkan kawannya yang masih duduk di
tempatnya. Namun iapun kemudian bangkit pula sambil
berkata, "Kawanku itu tentu baru saja menjual hasil panennya yang melimpah di musim ini, sehingga ia mempunyai uang
berlebihan." Paksipun menyahut, "Paman itu nampaknya murah hati."
"Kadang-kadang," jawab kawannya itu. "Tetapi jika ia kehabisan uang, maka iapun tidak segan-segan datang untuk
meminjam uang, tetapi tidak akan dikembalikan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Paksi tertawa. Penjual dawet itupun tertawa pula.
Demikianlah, maka orang itupun telah minta diri pula.
Kepada Paksi, ia justru bertanya, "Kau sering datang kemari, anak muda?"
"Ya, Paman," jawab Paksi. "Hampir tiap hari."
Orang itu tersenyum. Katanya, "Sebaiknya kau pergunakan
waktumu dengan baik. Mumpung kau masih muda. Jangan
banyak kau buang tanpa arti. Atau kau mempunyai kegiatan
dagang di pasar ini sehingga kau setiap hari harus datang


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kemari?" "Tidak, Paman," jawab Paksi.
"Nah, jika demikian, manfaatkan masa mudamu sebaik-
baiknya. Meskipun semua kebutuhanmu dicukupi oleh orang
tuamu, tetapi pada suatu ketika kau harus berdiri sendiri."
Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
menjawab, "Baik, Paman."
"Ah. Hanya sekedar pesan, anak muda. Jika tidak sesuai
dengan perasaanmu, lupakan saja. Tetapi menurut
pendapatku, anak-anak muda lebih baik mempergunakan
waktunya bagi kegiatan yang berarti."
"Terima kasih atas peringatan ini, Paman."
Orang itu mengangguk kecil. Namun kemudian iapun
melangkah meninggalkan penjual dawet dan Paksi yang
termangu-mangu. Sepeninggal orang itu, maka Paksipun telah berdiri pula
sambil berkata, "Aku akan pulang."
Penjual dawet itu tertawa. Katanya, "Apakah benar kau siasiakan hari-harimu, anak muda."
Paksi mengangguk sambil menjawab, "Sebagian memang.
Tetapi sebagian tidak."
Penjual dawet itu tertawa berkepanjangan. Paksipun
akhirnya tertawa pula. Namun kemudian iapun melangkah
pergi meninggalkan penjual dawet itu.
Sejenak kemudian, maka Paksipun telah keluar dari pintu
gerbang pasar. Ia harus segera memberitahukan kepada
Wijang, karena Paksi mengetahui pembicaraan kedua orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu tentu merupakan pembicaraan sandi. Mungkin Wijang akan
dapat mengurai maksud dari pembicaraan itu, sehingga
Wijang dapat mengambil kesimpulannya.
Tetapi Paksi tidak tahu, dimana Wijang menunggunya.
Karena itu, maka Paksipun kemudian melangkah perlahan-
lahan meninggalkan pasar itu. Ia berharap bahwa Wijang
melihatnya dan menemuinya sambil berjalan pulang.
Sebenarnya, setelah beberapa puluh patok dari pasar, ia
melihat Wijang duduk di bawah sebatang pohon lamtara yang
tumbuh di atas tanggul parit di pinggir jalan.
"Kenapa kau menunggu aku disini?"
"Jadi aku harus menunggu di mana?"
"Jika orang itu lewat jalan ini?"
"Dari kejauhan aku sudah melihatnya. Aku dapat
menghindarinya dengan meniti pematang itu."
Paksi mengangguk-angguk. Sementara Wijangpun segera
bangkit dan berjalan di sebelah Paksi.
Sambil berjalan Paksipun telah berceritera tentang kedua
orang yang sedang membeli dawet cendol. Seorang di
antaranya adalah orang yang berbaju lurik hitam dan
mengenakan ikat kepala wulung itu.
Wijang mengangguk-angguk. Katanya, "Jadi mereka juga
sudah tahu bahwa para pemimpin perguruan itu akan
mengadakan pertemuan di tempat itu."
"Apakah mereka sedang membicarakan hal itu?"
"Agaknya memang demikian."
Paksi mengangguk-angguk. Dengan sedikit merenung,
maka Paksipun menemukan hubungan antara pembicaraan
kedua orang itu dengan rencana pertemuan para pemimpin
perguruan sebagaimana mereka ketahui pula dari isyarat yang
terpahat pada batang gayam yang tumbuh di pinggir jalan
menuju ke Panjatan. "Tetapi siapakah mereka itu" Apakah kau mengenal mereka
dan mereka mengenalmu?"
Wijang mengangguk. Katanya, "Mereka adalah para
petugas sandi dari Pajang. Yang berbaju hitam dengan ikat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepala wulung itu adalah seorang rangga. Namanya Rangga
Suraniti. Ia adalah seorang rangga yang berilmu tinggi.
Bahkan melampaui sesamanya. Ia termasuk salah seorang
kepercayaan para pemimpin prajurit dari Pajang."
"Yang seorang lagi?" bertanya Paksi.
"Aku tidak melihat orang itu," jawab Wijang. "Bagaimana aku dapat mengenalinya. Jika saja kau mempunyai ilmu yang
dapat memantulkan bayangan yang pernah kau tangkap lewat
penglihatanmu, aku tentu akan dapat menyebutnya."
Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
menjawab, "Aku akan mempelajari ilmu itu. Pangeran Benawa tentu menguasainya. Aku akan mohon untuk diajarinya."
"Kau kira ia memiliki ilmu itu" Iapun tidak memilikinya. Aku pernah bertanya kepadanya."
Paksi mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
tertawa. Katanya, "Seandainya Pangeran Benawa
mempunyainya, ia tentu tidak akan mengatakan yang
sebenarnya kepadamu."
Wijangpun tertawa pula. Katanya, "Kau memang keras
kepala." Keduanyapun melangkah terus memanjat kaki
Gunung Merapi. Di langit yang bersih nampak asap putih mengepul
tinggi, menyatu dengan selembar awan tipis yang mengalir
lambat. "Nah," berkata Wijang selanjutnya, "kita akan melanjutkan rencana kita untuk mengenali medan sebaik-baiknya."
"Sekarang saja. Kita akan mengulanginya malam nanti.
Mungkin besok siang dan besok malam lagi."
Paksi mengangguk kecil. Namun ia tidak membantah.
Keduanyapun kemudian telah pergi ke lapangan rumput
yang agaknya akan dipergunakan sebagai tempat untuk
sebuah pertemuan yang penting. Pertemuan dari para
pemimpin perguruan yang bersama-sama ingin memiliki
sebuah cincin yang mereka percaya dapat mempengaruhi
perjalanan hidup mereka, atau keturunan mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun mereka sadar, bahwa mereka harus berhati-hati.
Apalagi di siang hari. Mereka harus memperhitungkan
kemungkinan bahwa ada di antara orang-orang perguruan
yang berkeliaran di tempat itu pula.
Keduanyapun kemudian telah menyusup di antara
gerumbul-gerumbul perdu di lereng Gunung Merapi. Semakin
lama semakin dekat dengan lapangan rumput itu.
Ketika keduanya sampai di tempat itu, ternyata tidak
seorangpun berada di sekitar tempat itu. Wijang dan Paksi
telah mengelilingi tempat itu pula sehingga mereka yakin,
bahwa memang tidak ada orang yang berada disana.
Dengan demikian, maka keduanyapun telah memasuki
lapangan rumput itu. Mereka memperhatikan batu persegi
yang ada di tengah-tengahnya. Batu besar persegi ampat itu
agaknya memang telah dibuat oleh seseorang untuk
kepentingan tertentu. Wijang dan Paksi tidak dapat menduga untuk apa batu itu
dibentuk menjadi seperti itu.
Beberapa saat kemudian, merekapun telah memperhatikan
lingkungan di sekitar lapangan rumput itu. Mereka
memperhatikan sebatang pohon preh yang besar tumbuh di
salah satu sudutnya. Di sekitar pohon itu, tumbuh semak-semak yang rimbun,
sehingga akan dapat menjadi tempat bersembunyi yang baik.
"Tetapi tempat ini terlalu dekat, sehingga orang-orang
berilmu tinggi itu akan dapat mendengar desir yang lembut
sekalipun," berkata Paksi.
"Jika kita memiliki kemampuan menyerap bunyi karena
sentuhan tubuh kita, maka mereka tidak akan mendengarnya
betapapun tajam pendengaran mereka," jawab Wijang.
Paksi mengangguk. Iapun sudah terlatih dengan baik, serta
telah menguasai kemampuan untuk menyerap bunyi
sebagaimana dimaksud oleh Wijang. Tetapi bagaimanapun
juga, mereka harus menjadi sangat berhati-hati jika mereka
ingin berada di sekitar pohon preh itu saat mereka akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyaksikan pertemuan orang-orang dari berbagai perguruan
itu. Tetapi Wijangpun kemudian berkata, "Kita akan melihat
keadaan di sekitar tempat ini. Mungkin kita akan menemukan
tempat yang lain. Tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh."
Paksi mengangguk-angguk, sementara Wijang berkata
pula, "Ingat. Mereka memilih malam yang paling gelap. Tetapi bukankah kau telah memiliki ilmu Sapta Pandulu?"
"Ya. Aku menerima ilmu itu dari Ki Marta Brewok."
"Sapta Pangrungu?"
"Ya." "Bagus. Dengan demikian, kita tidak perlu berada di tempat yang terlalu dekat. Kita akan dapat menyadap pembicaraan
mereka dari jarak yang agak jauh."
Demikianlah, maka keduanyapun telah melihat semua sisi
lapangan rumput itu serta sekitarnya. Mereka telah melihat
dan mempelajari lingkungan itu sebaik-baiknya. Mereka sudah
mengetahui, sisi manakah yang paling baik mereka pilih.
Bukan saja tempatnya yang mapan, tetapi jika terjadi sesuatu
yang tidak mereka inginkan, mereka akan dapat segera
menemukan jalan untuk menyingkir. Bahkan seandainya
mereka dikejar oleh beberapa orang berilmu tinggi,
memungkinkan mereka untuk melepaskan diri.
"Apakah kita masih akan kembali nanti malam atau besok
atau kapan lagi," bertanya Paksi.
"Nanti malam kita akan melihat tempat ini dan
meyakinkannya sekali lagi," jawab Wijang.
Paksi mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun
berkata, "Sekarang, kita akan pulang."
Keduanyapun kemudian meninggalkan tempat itu.
Tetapi seperti yang mereka katakan, maka ketika malam
turun, keduanyapun sekali lagi telah datang ke tempat itu.
Mereka ingin melihat keadaan tempat itu dan sekitarnya dalam
suasana malam yang gelap, karena pertemuan itu sendiri akan
dilangsungkan di malam yang paling gelap.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa saat lamanya mereka berkeliling tempat itu.
Mereka berusaha untuk mengenali lingkungan itu sebaik-
baiknya. "Tidak seorangpun akan dapat menangkap kita," berkata Wijang. "Kita tahu medannya dengan sangat baik."
"Bagaimana jika mereka juga sudah mengenali medan ini
justru lebih baik dari kita."
"Tetapi kita akan mempunyai kesempatan lebih dahulu,"
jawab Wijang. Paksi tidak menyahut lagi. Tetapi iapun sependapat dengan
Wijang. Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah kembali ke
dalam gubuk kecil yang terlindung oleh gumuk-gumuk padas.
Seperti biasanya, maka Paksi membuat perapian di malam hari
untuk menanak nasi. Malam itu Paksi telah membuat sayur
jantung pisang kepok kuning.
Sambil menunggui nasi dan sayur mereka masak,
keduanyapun masih saja berbincang tentang pertemuan itu.
Pertemuan yang tentu akan sangat menarik perhatian. Namun
yang tidak kalah menariknya bagi Wijang adalah kehadiran
para petugas sandi dari Pajang. Meskipun seorang di antara
mereka mengisyaratkan, agar mereka tidak memaksa diri jika
keadaannya memang sangat berbahaya karena kekuatan
mereka sangat kecil. "Tetapi aku kira mereka tentu akan datang. Aku percaya
akan kemampuan Ki Rangga Suraniti. Tetapi entahlah, apakah
kawannya itu mampu mengimbanginya. Jika keadaan
berkembang menjadi sangat buruk bagi mereka, Ki Rangga
Suraniti tentu memerlukan kawan yang pantas untuk
berhadapan dengan para pemimpin padepokan itu," berkata
Wijang seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri.
Sedikit lewat tengah malam, semuanya sudah selesai. Paksi
membiarkan nasinya tetap berada di atas api yang sudah
disusut menjadi sangat kecil. Sementara itu, setelah mencuci
kaki dan tangan mereka, maka Paksi dan Wijang itupun
segera beristirahat di dalam gubuk mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keduanya tidak memerlukan waktu yang panjang.
Beberapa saat saja mereka berbaring, maka merekapun
segera tertidur dengan nyenyaknya.
Di hari berikutnya, maka keduanya tidak turun ke pasar.
Keduanya benar-benar telah mempersiapkan diri untuk
menyongsong pertemuan para pemimpin perguruan
yang nampaknya akan menjadi sangat menarik. Justru karena
mereka mempunyai kepentingan mereka masing-masing.
Waktupun telah meloncat dari hari ke hari. Paksi dan
Wijang mengisi hari-harinya di dalam goa di belakang air
terjun. Dalam waktu sempit yang tersisa mereka berusaha
untuk semakin mematangkan ilmu mereka. Paksi menjadi
semakin mengenal tongkatnya, sedangkan Wijang yang
memiliki ilmu yang sangat tinggi itu membiasakan diri
menguasai ruang yang rumpil. Wijang berlatih di antara batu-
batu yang menjorok seakan-akan mencuat dari dalam tanah,
namun juga yang menggantung di langit-langit goa. Dengan
tangkasnya, Wijang bergerak-gerak di antara ujung-ujung
batu yang runcing, seakan-akan ia sedang bertempur di
antara beberapa orang lawannya.
Bahkan Wijangpun kemudian telah minta Paksi juga
melakukannya. Bukan saja di siang hari saat matahari
menembus masuk lewat lubang di atas goa itu, tetapi
Wijangpun telah mengajak Paksi berlatih bersama di malam
hari. Mereka berlatih bertempur di dalam kegelapan di sela-
sela ujung-ujung batu yang runcing.
"Hati-hati," pesan Wijang. "Jika dahimu membentur ujung batu runcing yang bergayut di langit-langit goa ini, maka kau
akan terluka. Kau juga tidak boleh terjatuh menimpa ujung-
ujung batu yang mencuat dari lantai goa ini."
Paksi mengangguk. Ia menyadari bahaya yang dapat
mencengkamnya. Tetapi berlatih di tempat yang berbahaya itu
menjadi sangat menarik bagi Paksi. Ia rasa-rasanya memang
sudah jenuh berlatih di ruang yang terhitung luas di dalam
goa itu, yang pada dindingnya terdapat lukisan unsur-unsur
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gerak yang dapat menuntunnya untuk mencapai tataran
tertinggi dari ilmunya. Dengan demikian, maka ketrampilan Paksipun menjadi
semakin meningkat. Berlandaskan ilmunya yang tinggi, maka
Paksi benar-benar menjadi anak muda yang mumpuni.
Seperti yang dikatakan Wijang, maka latihan di tempat yang
rumpil itu merupakan latihan yang baik baginya jika pada
suatu saat ia harus bertempur menghadapi lawan yang tidak
hanya seorang. Ujung-ujung batu yang runcing, yang mencuat dari lantai
goa serta yang bergayut di langit-langit seakan-akan
merupakan ujung-ujung senjata dari beberapa orang


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lawannya yang bertempur bersama-sama.
Namun demikian Wijang masih juga memperingatkan,
"Ujung bebatuan itu tetap di tempatnya Paksi, sedangkan
senjata lawan dapat bergerak dengan cepat. Mungkin
memburumu, tetapi mungkin menghadang gerakmu sendiri."
Paksi mengangguk-angguk. Ia juga menyadari akan hal itu.
Dalam pada itu, maka haripun telah merambat sampai ke
akhir bulan. Paksi dan Wijang yang di malam itu tidak berlatih, duduk di depan gubuk kecil mereka. Sinar lampu minyak yang
menyala di dalam gubuk, menembus melalui pintu yang
terbuka, menusuk kegelapan malam. Angin lembut yang
berhembus menggoyang lidah api lampu minyak itu sehingga
kadang-kadang sinarnya menjadi redup.
Sambil makan jagung bakar, Paksi dan Wijang telah
membicarakan rencana yang akan mereka lakukan esok
malam. "Besok hari pertama bulan mendatang," desis Wijang.
"Kita sudah mengenal semuanya dengan baik," desis Paksi.
"Kita akan melihat-lihat tempat itu pula malam ini. Mungkin ada sesuatu yang menarik."
"Mungkin sudah ada di antara orang-orang dari perguruan
yang terlibat dalam pertemuan itu mengawasi tempat itu."
"Tentu sudah ada. Kita akan mencoba, apakah kita mampu
menempatkan diri kita di luar tangkapan pengamatan mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jika malam ini saja kita tidak mampu melakukannya, apalagi
besok malam." Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Kita akan
melihat-lihat keadaan."
"Kita akan mendekati tempat itu di tengah malam."
Sebenarnyalah kedua orang anak muda itu menjelang
tengah malam telah meninggalkan gubuk kecil mereka. Paksi
telah membawa tongkatnya pula, karena sesuatu akan
mungkin terjadi. Sementara itu, Wijang telah mengenakan
lembaran kulit yang cukup lebar di atas pergelangan kedua
tangannya di bawah lengan bajunya.
Di luar sadarnya, Paksi memandangi pelindung pergelangan
tangan Wijang itu dengan kerut di dahi. Ia tidak pernah
melihat benda itu sebelumnya.
"Kau ingin tahu, dimana aku menyembunyikan mainanku
ini?" bertanya Wijang.
Paksi tidak menyahut. Tetapi ia mengangguk kecil.
Wijang tertawa. Katanya, "Lebarnya sama dengan lebar
ikat pinggangku." Paksi mengangguk-angguk. Agaknya pelindung
pergelangan tangan Wijang itu melekat pada ikat
pinggangnya. Karena lebarnya sama, maka ikat pinggang
Wijang itulah yang nampak lebih tebal dari ikat pinggang kulit kebanyakan.
Namun Paksi tahu bahwa pelindung bagian atas
pergelangan tangan Wijang itu tentu merupakan bagian dari
kelengkapan Wijang menghadapi senjata jenis apapun juga.
Sebuah perisai kecil, namun yang dapat dipercayainya.
Beberapa saat kemudian, maka keduanya telah mendekati
sasaran. Karena itu keduanya menjadi sangat berhati-hati.
Seperti yang telah mereka duga, maka tempat itu benar-
benar sudah diamankan. Beberapa orang berkeliaran di
lapangan rumput itu. Agaknya mereka berdatangan dari
beberapa perguruan yang bersama-sama mengawasi tempat
yang esok malam akan dipergunakan untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyelenggarakan pertemuan dari beberapa orang pemimpin
perguruan. Wijang dan Paksipun kemudian telah berada di tempat
yang mereka pilih untuk mengamati keadaan. Dari tempatnya,
ia mampu mengamati lapangan rumput itu dengan jelas.
Dengan ketajaman pendengaran mereka, apalagi dengan
kemampuan Aji Sapta Pangrungu, mereka akan dapat
mendengar pembicaraan orang-orang yang berada di
lapangan rumput itu. "Ternyata kita tidak salah hitung. Karena tidak ada isyarat apa-apa, maka pertemuan itu memang diselenggarakan
disini," desis Wijang.
Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.
Sementara itu, beberapa orang yang berada di lapangan
rumput itu telah melihat-lihat keadaan di sekitarnya. Mereka
telah menguak gerumbul-gerumbul perdu. Mereka telah
mengelilingi pohon preh yang besar itu. Mereka telah
menyibak semak-semak sampai beberapa langkah di sekitar
lapangan itu. Agaknya mereka mengamati tempat-tempat yang mungkin
untuk bersembunyi orang-orang yang tidak berhak mengikuti
pembicaraan yang akan diselenggarakan itu.
Tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang
menemukan Wijang dan Paksi. Selain mereka mampu
menyerap bunyi yang timbul dari geseran tubuh mereka,
merekapun berada di tempat yang tidak terlalu dekat.
Agaknya orang-orang yang mengamati tempat akan
dilangsungkannya pertemuan itu mengira bahwa dari jarak
yang tidak terlalu dekat itu, seseorang tidak akan dapat
melihat dan mendengar dengan jelas pembicaraan yang akan
berlangsung. Namun tiba-tiba di sisi lain dari lapangan itu telah terjadi
keributan. Wijang dan Paksi melihat beberapa orang berlari-
larian. Mereka dengan cepat membuat sebuah lingkaran yang
rapat di sela-sela gerumbul-gerumbul perdu.
"Apa yang terjadi disana?" desis Wijang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Paksi tidak menyahut. Tetapi dengan wajah yang tegang ia
memperhatikan apa yang terjadi di sisi lain dari lapangan
rumput itu. "Mereka mengepung semak-semak itu," gumam Wijang
dengan nada cemas. "Tentu ada seseorang atau lebih disana."
"Nampaknya memang begitu," sahut Paksi. "Tentu bukan Ki Repak Rembulung dan Nyi Pupus Rembulung."
Wijang mengangguk. Katanya, "Aku mencemaskan Ki
Rangga Suraniti atau kawannya itu. Ki Rangga memang
berilmu tinggi. Tetapi aku tidak tahu tataran yang sebenarnya
dari kemampuannya." Paksi mengangguk-angguk kecil. Wajahnya menjadi
semakin tegang ketika ia mendengar seseorang berteriak,
"Keluarlah. Kau sudah dikepung. Kau tidak akan dapat
melepaskan diri dan tangan kami."
Tidak ada jawaban. Namun sementara itu, Wijangpun
berkata lirih, "Samarkan wajahmu." "Maksudmu?"
"Mungkin kita harus berbuat sesuatu jika orang yang
berada dalam kepungan itu mengalami kesulitan."
"Maksudmu, mungkin kita akan melibatkan diri namun
wajah kita tidak dikenal oleh orang-orang dari beberapa
perguruan yang berada di lapangan itu?"
"Yang terpenting bagiku adalah justru agar tidak dikenal
oleh Ki Rangga Suraniti, seandainya ia ada disana. Aku tidak
ingin keberadaanku disini diketahui oleh orang-orang istana,"
jawab Wijang "Tetapi bagaimana aku dapat menyamarkan wajahku?"
Wijang tidak menjawab. Tetapi tangannya segera
memungut tanah yang basah oleh embun. Tanah yang basah
itupun kemudian telah diusapkan di wajahnya.
Paksi mengerutkan dahinya. Namun dengan demikian,
maka wajah Wijang itupun menjadi sulit untuk dikenali.
"Cepat lakukan," berkata Wijang. "Apalagi Ki Rangga telah pernah bersamamu membeli dawet cendol."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Paksipun kemudian telah melakukan sebagaimana
dilakukan oleh Wijang. Dengan tanah yang basah oleh embun,
maka Paksipun telah menyamarkan wajahnya.
"Apakah kau sudah tidak mengenal aku?" bertanya Paksi.
Wijang tertawa, "Kau menjadi tampan sekarang."
Paksi tidak menjawab. Tetapi segores lagi ia mengusapkan
tanah basah itu di dahi. Dalam pada itu keadaan menjadi semakin gawat. Orang-
orang dari beberapa perguruan yang sedang mempersiapkan
tempat bagi para pemimpin mereka yang akan mengadakan
pertemuan itu semakin rapat mengepung gerumbul perdu di
sisi seberang lapangan rumput itu.
Sementara itu, terdengar lagi seseorang berteriak, "Cepat keluar, atau kami akan merajammu dengan senjata."
Namun orang-orang yang mengepung tempat itu terkejut.
Di luar perhitungan mereka, tiba-tiba seseorang telah
meloncat, justru dari sebuah gerumbul lain yang tidak mereka
kepung. Dengan pedang di tangan orang itu langsung menyerang
orang-orang yang berdiri melingkari itu.
Pertempuranpun segera terjadi. Orang itu dengan
tangkasnya berloncatan menyambar-nyambar. Seorang di
antara mereka yang mengepung gerumbul itu telah terlempar
dengan luka menyilang di dadanya.
"Setan kau," terdengar seseorang berteriak. "Tangkap hidup-hidup orang ini. Kita ingin tahu siapakah orang yang
sombong ini." Wijang tercenung sejenak. Ia telah memusatkan nalar
budinya untuk mengetrapkan puncak Aji Sapta Pandulu.
"Ki Rangga Suraniti," desis Wijang. "Ternyata orang yang dikepung itu orang lain. Mungkin kawan Ki Rangga atau
prajurit yang menyertainya atau siapapun juga. Tetapi orang-
orang itu ternyata tidak mampu mengetahui kehadiran Ki
Rangga itu sendiri."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Paksi mengangguk-angguk. Iapun mengamati pertempuran
itu dengan saksama. Seperti Wijang, Paksipun telah
mengetrapkan Aji Sapta Pandulu.
Ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, beberapa
orang telah meloncat dari gerumbul yang telah dikepung itu,
justru pada saat perhatian orang-orang yang mengepungnya
tertuju kepada Ki Rangga Suraniti.
Kedua orang itu telah mengejutkan beberapa orang yang
telah bersiap-siap untuk bergeser dan mengepung Ki Rangga
Suraniti. Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin
sengit. Tetapi orang-orang yang datang dari beberapa
perguruan itu jumlahnya jauh lebih banyak dari para petugas
sandi itu. Meskipun demikian, Ki Rangga Suraniti sempat membuat
lawan-lawannya menjadi cemas. Kakinya berloncatan bagaikan
tidak menyentuh tanah. Sementara itu, pedangnya berputaran
dengan cepat, sehingga yang nampak adalah segumpal awan
putih di sekitar tubuhnya yang berloncatan.
Dalam pada itu, dua orang kawannya yang semula telah
dikepung itupun bertempur dengan garangnya pula. Seorang
di antara mereka bersenjata sebilah pedang. Namun yang lain
membawa dua buah bindi kecil di kedua tangannya.
"Ki Nukilan," desis Wijang.
"Yang mana?" bertanya Paksi.
"Yang membawa sepasang bindi," sahut Wijang. "Ia juga seorang berilmu tinggi. Tetapi nampaknya ia tidak memiliki
kemampuan untuk menyerap bunyi dari geseran tubuhnya,
sehingga kehadirannya segera diketahui."
"Yang seorang lagi?" bertanya Paksi.
"Aku belum begitu mengenalnya. Tetapi nampaknya ia
adalah orang yang paling lemah di antara ketiga petugas sandi
itu." Paksi tidak bertanya lagi. Ia memperhatikan pertempuran
itu dengan saksama. Setiap kali jantungnya menjadi berdebar-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
debar. Ketiga orang itu harus bertempur melawan terlalu
banyak orang. Ki Rangga Suraniti segera menunjukkan betapa ia memiliki
ilmu yang tinggi. Meskipun demikian, karena jumlah lawannya
terlalu banyak, maka ia harus bekerja sangat keras untuk
melindungi dirinya sendiri.
Sementara itu Ki Nukilanpun telah bertempur melawan
beberapa orang pula. Demikian pula kawannya yang seorang
lagi. Ternyata di antara orang-orang yang datang dari perguruan
itupun terdapat orang-orang yang memiliki bekal yang cukup.
Orang-orang itulah yang membuat Ki Rangga Suraniti dan
kawan-kawannya harus menjadi sangat berhati-hati. Bahkan
merekapun kemudian mulai berloncatan mengambil jarak
serta menghindari serangan-serangan yang datang dari segala
arah. Meskipun satu dua orang lawan Ki Rangga Suraniti dan Ki
Nukilan sudah terlempar dari arena, tetapi yang lainpun
segera menggantikannya. Bahkan seorang yang bertubuh pendek dengan otot-otot
yang mencuat dari permukaan kulitnya, berkumis kecil dan
berkepala botak segera berteriak, "Beri aku kesempatan. Aku ingin tahu, seberapa tinggi ilmu orang ini."
Orang-orang yang bertempur melawan Ki Rangga Suraniti
memang menyibak. Orang pendek berkepala botak itu segera
melangkah mendekatinya. Tetapi ternyata ia tidak
sendiri. Bersama lima orang yang tubuhnya juga terhitung pendek
telah mengepungnya. Tiba-tiba saja Wijangpun berdesis, "Satu pasang lengkap
dari anak-anak Perguruan Sad." "Enam orang," sahut Paksi.
"Dalam pasangannya yang lengkap, mereka menjadi sangat
berbahaya. Jika mereka sudah sampai tataran yang mapan,
maka dengan saling mengisi, kemampuan mereka akan dapat
hampir menyamai kemampuan pemimpin tertinggi mereka."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah Ki Rangga Suraniti akan dapat melawan mereka?"
bertanya Paksi. "Aku belum tahu. Tetapi aku tidak dapat membiarkan para
petugas sandi itu mengalami malapetaka disini." "Maksudmu?"
"Jika perlu kita akan melibatkan diri."
Paksi mengangguk-angguk. Katanya, "Terserah kepadamu.
Aku sudah siap." Wijangpun memperhatikan pertempuran itu dengan
saksama. Ki Rangga Suraniti berusaha untuk melawan enam
orang yang ternyata menjadi sangat berbahaya. Mereka
mampu saling mengisi dengan baik, sehingga seakan-akan
mereka digerakkan oleh satu kehendak.
Sementara itu, Ki Nukilan harus bertempur melawan
beberapa orang dari perguruan yang lain. Di antara mereka
adalah orang-orang dari Tegal Arang. Sementara itu, tiga
orang dari Perguruan Goa Lampin tengah bertempur dengan kawan Ki Nukilan
yang seorang lagi. Bersama ketiga orang dari Goa Lampin itu
masih ada tiga orang dari perguruan yang lain.
Selain mereka yang sedang bertempur itu, masih ada
beberapa orang yang belum melibatkan diri. Di antaranya dua


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang perempuan yang nampaknya dari Goa Lampin.
Sedangkan dua orang yang tidak diketahui oleh Wijang dan
Paksi sedang menolong kawan mereka yang terluka. Kedua
orang itu tentu akan menjadi sangat berbahaya jika kawannya
yang terluka itu tidak tertolong jiwanya. Sementara itu
seorang lagi juga sedang membantu kawannya yang terluka
bergeser menjauh. Dalam pada itu, seorang yang masih belum memasuki
arena berteriak, "Kami memberikan kesempatan kepada kalian untuk menyerah. Kalian tidak akan dibunuh. Apalagi jika kalian bersedia bekerja bersama kami."
Tidak ada jawaban. Sementara Ki Rangga Suraniti
bertempur semakin garang. Tetapi keenam lawannyapun
menjadi semakin garang pula. Serangan-serangan mereka
datang beruntun dari arah yang berbeda-beda. Bahkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kadang-kadang keenam orang dari Perguruan Sad itu
bertempur sambil berputaran. Mereka melonjak-lonjak seperti
anak-anak yang sedang kegirangan. Mereka mengacu-acukan
senjata mereka. Namun tiba-tiba saja mereka menyuruk
dengan pedang terjulur ke arah tubuh Ki Rangga Suraniti.
Yang kemudian menjadi semakin terdesak adalah kawan Ki
Rangga Suraniti yang bersenjata pedang. Keadaannya menjadi
sangat berbahaya. Sehingga ia benar-benar berada di ujung
bencana. Wijang tidak dapat tinggal diam. Sekali lagi ia
menggoreskan tanah yang basah oleh embun menyilang di
wajahnya sehingga wajah yang kotor itu memang sulit untuk
dikenali. Sementara itu, Wijang sama sekali tidak
mempergunakan senjata yang dapat menjadi ciri tentang
dirinya. Kulit yang melindungi bagian atas pergelangannya,
yang juga akan dapat menjadi perisai yang kuat, berada di
bawah lengan bajunya. Sambil menggamit Paksi iapun berkata, "Marilah. Bawa
tongkatmu. Mereka cukup berbahaya."
Sekejap kemudian keduanyapun telah merunduk mendekati
lapangan rumput. Mereka melingkari lapangan itu dan dengan
serta-merta muncul tidak terlalu jauh dari pohon preh yang
besar itu. Kehadiran mereka berdua telah membuat orang-orang
yang berada di lapangan itu terkejut pula. Ketika Wijang dan
Paksi berlari mendekati arena pertempuran, maka orang-orang
yang masih belum terlibat, segera memburu mereka.
Namun Wijang berlari dengan cepat dan menempatkan diri
di dekat petugas sandi yang bersenjata pedang, yang
bertempur tidak terlalu jauh dari Ki Nukilan.
"Bertahanlah, aku berdiri di pihakmu."
"Kau siapa?" bertanya orang itu.
Pertanyaan itu membuat Wijang berlega hati. Orang itu
ternyata tidak mengenalinya setelah wajahnya dikotorinya
dengan tanah yang basah oleh embun.
Namun Wijang itupun kemudian menjawab, "Namaku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gendon. Itu adikku. Namanya Sempon."
"Kenapa kau melibatkan diri," Ki Nukilan yang bertempur dengan sepasang bindi di kedua tangannya, yang mendengar
pengakuan Wijang itu, bertanya pula sambil berloncatan
menghindari serangan-serangan lawannya.
"Aku senang," jawab Wijang seenaknya. "Sudah sepekan aku tidak berkelahi. Rasa-rasanya tubuhku menjadi pegal-pegal."
"Kenapa kau berpihak kami," bertanya Ki Nukilan pula.
"Jumlah mereka sudah terlalu banyak. Aku berpihak pada
yang jumlahnya lebih sedikit."
"Jangan main-main," teriak Nukilan pula, "mereka adalah orang-orang yang berbahaya."
"Itulah yang menyenangkan," teriak Wijang yang sudah mulai terlibat dalam pertempuran.
Wijang yang semula tidak bersenjata itu telah
menggenggam sepasang pisau. Bentuknya memang mirip
sepasang pisau belati yang sederhana. Tetapi bilah dari
sepasang pisau itulah yang tidak sederhana. Bilah yang
berwarna kehitam-hitaman ini bagaikan memercikkan bunga
api yang memancar di gelapnya malam.
Tetapi Wijang sudah memperhitungkan dengan baik.
Sepasang senjatanya itu bukan ciri senjata Pangeran Benawa,
sehingga para petugas sandi itu tidak menghubungkannya
dengan seorang pangeran yang menghilang dari istana.
Sementara itu, Paksipun telah terlibat pula dalam
pertempuran melawan beberapa orang. Tongkatnya
berputaran dengan cepat melindungi tubuhnya. Namun
kemudian tiba-tiba terjulur mematuk perut seorang di antara
lawan-lawannya. Orang itupun terdorong beberapa langkah surut. Namun
kemudian kedua tangannya memegangi perutnya yang
berdarah. Sejenak kemudian iapun jatuh pada lututnya sambil
terbungkuk-bungkuk kesakitan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di putaran pertempuran yang lain, dua orang di antara
lawan Wijangpun telah terlempar pula. Seorang terluka di
lambungnya, seorang terluka di pundaknya.
Dengan demikian, pertempuranpun menjadi sengit.
Beberapa orang yang sebelumnya masih belum melibatkan diri
telah bertempur dengan garangnya melawan kedua orang
anak muda itu. Namun karena wajah mereka disamarkan,
maka orang-orang dari beberapa perguruan yang ada di
tempat itu, tidak segera mengenalinya.
Dalam pertempuran itu, Paksi mendapat kesempatan untuk
menguji kemampuannya. Dihadapinya beberapa orang lawan.
Namun Paksi berhasil melindungi dirinya dengan sebaik-
baiknya. Serangan beberapa orang lawannya tidak sempat
menyentuh tubuhnya. Sementara itu, seorang lagi telah
tersingkir dari pertempuran ketika tongkat Paksi memukul
bahunya dengan kerasnya, sehingga rasa-rasanya tulang-
tulangnya menjadi pecah karenanya.
Sementara itu, Wijang dengan sengaja telah bertempur
semakin dekat dengan petugas sandi yang bersenjata pedang
itu. Wijang memang berusaha untuk membantunya. Satu dua
orang yang semula bertempur bersama melawan petugas
sandi itu, kemudian seakan-akan telah terhisap untuk
bertempur bersama-sama melawan Wijang.
Keseimbangan pertempuranpun segera berubah. Orang-
orang dari beberapa perguruan itu tidak lagi meyakini bahwa
mereka akan dapat menangkap lawan-lawan mereka. Karena
itu, tidak ada lagi di antara mereka yang tidak ikut melibatkan diri dalam pertempuran itu.
Ki Rangga Suraniti yang bertempur melawan enam orang
lawan dari Perguruan Sad itu harus mengerahkan
kemampuannya. Tetapi Ki Rangga memang seorang yang
berilmu tinggi, yang memiliki kelebihan dari para prajurit dan para perwira yang lain. Karena itu, maka keenam orang murid
Perguruan Sad itu tidak segera dapat menguasainya. Bahkan
semakin lama merekapun menjadi semakin sulit
menghadapinya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang-orang yang bertubuh rata-rata agak pendek itu telah
mengerahkan kemampuan mereka. Berenam mereka memang
menjadi sangat berbahaya. Tetapi lawan merekapun sangat
berbahaya pula. Keenam orang dari Perguruan Sad yang juga
bersenjata pedang itu berusaha untuk mengacaukan
pemusatan perhatian Ki Suraniti. Tetapi Ki Rangga sama sekali
tidak menjadi bingung. Meskipun keenam orang itu kadang-
kadang berloncatan, berlari-lari mengelilinginya, kemudian
menyerang bersama-sama atau beruntun seperti gelombang,
namun pertahanan Ki Rangga Suraniti tidak dapat mereka
tembus. Bahkan sekali-sekali Ki Rangga menghentakkan
kemampuannya dan mengacaukan kepungan lawan-lawannya.
Namun beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang
bertubuh agak pendek itu telah berputaran kembali di
sekelilingnya. Sementara itu, Ki Nukilanpun bertempur dengan garangnya
pula. Seorang lagi jatuh terlentang dan tidak lagi mampu
bangkit berdiri. Dengan susah payah orang itu merangkak
menjauh, agar tidak terinjak kaki orang-orang yang sedang
bertempur itu. Lawan Wijang dan Paksipun telah berkurang seorang demi
seorang. Kedua orang anak muda itu telah menunjukkan
kemampuan mereka yang tinggi. Ki Nukilan dan Ki Rangga
Suraniti yang sekali-sekali sempat melihat betapa keduanya
berloncatan dengan garang, merasa heran, bahwa dua orang
yang tidak mereka kenal tiba-tiba saja telah melibatkan diri.
Namun ketiga orang petugas sandi itu mengakui, tanpa
kehadiran kedua orang itu, maka mereka tidak akan mampu
keluar dari lingkungan itu. Betapapun tinggi kemampuan
mereka, tetapi lawan terlalu banyak. Tetapi berlima mereka
ternyata mampu mengatasi lawan-lawan mereka.
Orang-orang dari beberapa perguruan itu akhirnya
menyadari, bahwa sulit bagi mereka untuk dapat mengatasi
kemampuan kelima orang itu. Apalagi ketika Ki Rangga
Suraniti berhasil melukai dua orang dari Perguruan Sad itu.
Ketika keutuhan mereka mulai goyah, maka merekapun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
segera menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat
mengalahkan orang yang berada di dalam kepungan itu.
Seorang di antara keenam orang dari Perguruan Sad itu
tiba-tiba saja berteriak nyaring sambil mengumpat kasar.
Menyusul seorang lagi terpelanting jatuh. Dari dada mereka
mengalir darah yang hangat.
Dalam keadaan yang sulit itu, selagi mereka masih
mempunyai kekuatan, maka tiba-tiba saja terdengar
seseorang berteriak, "Kita akan menghindar. Tinggalkan
mereka." Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Namun sekali lagi
terdengar suara itu, "Kita akan bergabung dan meninggalkan tempat ini. Lemparkan isyarat panah sendaren."
Tiba-tiba saja orang-orang yang sedang bertempur itu telah
berloncatan meninggalkan lawan-lawan mereka. Mereka
kemudian berada di dalam satu kelompok sambil bergerak
mundur. Seorang di antara mereka benar-benar telah
melontarkan panah sendaren.
Ketiga petugas sandi itu menjadi ragu-ragu untuk mengejar
mereka. Apalagi ketika salah seorang di antara mereka telah
melemparkan panah sendaren.
Ki Rangga Suranitilah yang kemudian berkata, "Kita
tinggalkan tempat ini."
"Baik," desis Wijang, "aku juga sudah lelah."
"Tetapi, katakan kau siapa, Ki Sanak?"
"Kita akan meninggalkan tempat ini."
"Jawab dulu pertanyaanku."
Wijang tertawa sambil menjawab, "Sudah aku katakan.
Namaku Gendon dan itu adikku, Sempon."
"Jangan main-main, Ki Sanak."
Tetapi Wijang justru bertanya, "Siapakah kalian?"
Ki Rangga Suraniti menggeram. Katanya, "Aku bertanya,
siapakah kalian." Wijangpun kemudian menggamit Paksi sambil berkata,
"Marilah, sebelum orang-orang yang menerima isyarat panah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sendaren itu datang. Jika jumlah mereka terlalu banyak, maka
kita tidak akan mampu melawan."
Paksi tidak menjawab. Tanpa menghiraukan ketiga orang
petugas sandi itu, maka Wijang dan Paksipun melangkah
meninggalkan lapangan rumput itu.
Ki Rangga Suraniti tidak mau terjebak dalam pertempuran
yang tidak seimbang. Jika kedua orang yang telah
membantunya itu pergi, maka mereka bertiga akan mengalami
kesulitan untuk bertempur melawan jumlah yang terlalu
banyak, apalagi jika panah sendaren itu benar-benar telah
memanggil beberapa orang lainnya.
Karena itu, maka Ki Rangga Suranitipun telah mengajak
kedua orang petugas sandi yang lain untuk meninggalkan
tempat itu. Namun sebenarnyalah, bahwa Wijang dan Paksi tidak
benar-benar meninggalkan tempat itu. Mereka masih ingin
melihat, apakah ada tanggapan terhadap panah sendaren
yang telah dilemparkan ke udara itu.
Dengan sangat berhati-hati keduanya telah melingkar,
menyusup di antara semak-semak perdu yang rimbun di
sebelah lapangan rumput itu.
Untuk beberapa lama mereka tidak melihat sesuatu. Orang-
orang yang semula berkumpul di tempat terbuka itupun sudah
bergerak menjauh. Namun beberapa orang yang terluka dan
bahkan mungkin ada yang sudah terbunuh, masih berada di
tempat terbuka itu. "Kawan-kawannya tentu masih akan kembali," desis
Wijang. Sebenarnyalah beberapa orang bersenjata telah muncul.
Dua orang yang lain menyongsong mereka sambil berkata
lantang, "Tidak ada yang berbuat curang."
"Jadi untuk apa isyarat panah sendaren itu?"
"Justru ada orang lain yang mencoba mengintip persiapan
bagi pertemuan esok."
"Siapa?" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kami belum tahu." "Dimana mereka sekarang?" "Mereka berhasil melarikan diri." "Berapa orang?" "Kami tidak menghitung."
Wijang dan Paksi tersenyum. Nampaknya mereka merasa
malu untuk menyebutkan, bahwa mereka bertempur melawan
hanya lima orang. Orang-orang yang baru datang itu termangu-mangu.
Namun kemudian orang-orang yang semula menghindar dari
tempat terbuka itupun telah berada di tempat itu lagi.
"Rawat orang-orang yang terluka dan kita singkirkan yang
terbunuh. Besok tempat ini harus benar-benar bersih."
"Tetapi tempat ini sudah diketahui oleh orang lain. Kami
tidak tahu siapakah mereka itu."
"Kalian tidak mengenal sama sekali unsur-unsur gerak dari ilmu mereka?"
"Tidak. Tetapi seorang di antara mereka bersenjata
tongkat. Yang lain wajar saja. Pedang dan seorang di antara
mereka, sepasang bindi. Tetapi agaknya mereka terdiri dari
dua kelompok yang berbeda."
"Baiklah. Kita akan melaporkan kepada pemimpin kita
masing-masing. Masih ada waktu sehari untuk saling
berhubungan." "Terserah kepada mereka, apakah mereka besok masih
akan berbicara di antara mereka disini."
"Jika besok pertemuan itu dibatalkan, maka Repak
Rembulung dan Pupus Rembulung akan marah."
"Bukankah besok masih ada waktu untuk memberitahukan


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kepada mereka bahwa pertemuan dibatalkan?"
"Tidak seorang pun tahu dimana mereka tinggal sekarang."
Tetapi seorang yang berambut panjang terurai menjulur
dari bawah ikat kepalanya berkata, "Lurahku tahu dimana
Repak Rembulung tinggal. Setidak-tidaknya lingkungannya
atau orang-orang yang berhubungan dengan kedua orang
suami isteri itu." "Jadi?" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jika para pemimpin perguruan kita memutuskan untuk
menunda atau memindahkan pertemuan ini, biarlah aku yang
mencari hubungan dengan Ki Repak Rembulung."
"Baiklah. Besok kita akan saling berhubungan. Ada tiga
tempat yang sudah kita tentukan untuk saling mendapatkan
keterangan." Demikianlah, maka orang-orang yang ada di tempat
terbuka itupun segera meninggalkan tempat itu. Yang terluka
telah dirawat oleh kawan-kawan mereka. Wijang dan Paksi
tidak dapat mengetahui, apakah di antara mereka ada yang
terbunuh. Sejenak kemudian, tempat itupun menjadi sepi. Orang-
orang yang semula berkumpul untuk mempersiapkan
pertemuan para pemimpin mereka harus memberikan
pertimbangan-pertimbangan baru bagi pemimpin-pemimpin
mereka itu. Wijang dan Paksipun kemudian keluar pula dari
persembunyian mereka. Dengan hati-hati mereka melangkah
mendekati lapangan rumput itu. Tidak seorang pun yang
tinggal. Tetapi merekapun kemudian tertegun. Ketajaman telinga
mereka yang masih mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu itu
mendengar desir lembut langkah kaki di antara semak-semak.
Tidak hanya seorang, tetapi dua orang. Agaknya kedua orang
itu memang tidak berhati-hati, sehingga suara semak-semak
yang tersibak semakin lama menjadi semakin jelas terdengar.
Wijang dan Paksipun segera bersembunyi di antara semak-
semak. Mereka berusaha untuk menahan nafas mereka ketika
mereka melihat dua orang berjalan tidak terlalu jauh dari
mereka. Ternyata keduanya adalah Repak Rembulung dan Pupus
Rembulung. Keduanya langsung melangkah mengelilingi
tempat terbuka itu. "Besok pertemuan itu akan diselenggarakan disini," berkata Repak Rembulung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terlalu sepi di malam menjelang sebuah pertemuan besar
yang sudah sejak lima tahun terakhir tidak diselenggarakan."
"Tidak ada kelompok-kelompok yang melihat-lihat suasana
tempat ini." "Atau mungkin pertemuan itu tidak dilakukan disini?"
"Tidak ada isyarat tentang hal itu."
Pupus Rembulung mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia
berkata, "Kakang, kemarilah. Kau lihat lingkungan ini."
Repak Rembulungpun melangkah mendekati isterinya.
Keduanyapun kemudian mengamati semak-semak yang
tersibak. Ranting-ranting yang berpatahan dan bahkan
ketajaman penglihatan mereka telah melihat darah yang
berceceran. Wijang dan Paksi melihat keduanya berjongkok. Meraba
ujung rerumputan dan daun pohon perdu. Nampaknya mereka
memperhatikan percikan darah dimana-mana.
Sambil bangkit berdiri Repak Rembulung berkata, "Darah
itu masih baru. Nampaknya di tempat ini baru saja terjadi
pertempuran yang sengit."
"Apakah ada di antara mereka yang curang atau
perselisihan yang timbul?"
"Kita terlambat datang," berkata Repak Rembulung.
"Aku tidak mengira bahwa terjadi pertempuran. Jika tidak
terjadi sesuatu, aku kira disini masih banyak orang. Tentu
Heng Thian Siau To 3 Kisah Flarion Putera Sang Naga Langit Karya Junaidi Halim Pendekar Penyebar Maut 30
^