Pencarian

Pengelana Rimba Persilatan 8

Pengelana Rimba Persilatan Karya Huang Yi Bagian 8


terlihat dengan jelas, kenapa setelah masuk, sampai arah pun sulit memastikannya" Kenapa tidak bisa mendekati gudang pusaka bawah
tanah......" Dari belakang tiba-tiba terdengar tawa dingin yang
menakutkan, dan batuk pelan dari satu orang lainnya yang
bermaksud menarik perhatian!
Empat orang itu sama-sama terkejut, membalikan tubuh
bersiaga. Tampak seorang biksu setengah baya, seorang lagi pendeta dao
tua, pendeta dao tua membawa pedang, sedang biksu membawa
golok, gerakan mendekat mereka berdua sangat ringan seperti roh
yang tidak berwujud. Kepandaian Hoa-fei-hoa berempat, semua bertelinga tajam,
bermata terang, dalam jarak dua puluh langkah bisa membedakan
daun jatuh atau bunga terbang, orang yang bisa mendekati hingga
sampai di belakang mereka sedikit pun tidak merasakannya, tekanan
dan getarannya terhadap hati empat orang ini, sangat berat sekali.
"Kalian ini bodoh benar." Kata pendeta dao penuh dengan rasa mempermainkan, "melihat dari jarak jauh, dengan melihat dari
dekat itu berbeda sekali, kalau pengetahuan ini tidak mengerti,
kalian mana pantas jadi perampok pencuri harta?"
"Mereka malah ingin menarik diri, dan menjebak ketua benteng Xi di perjalanan!" kata Biksu sambil menggendong tangan, tingkahnya santai sekali, sepertinya tidak khawatir empat orang ini melakukan serangan yang di luar dugaan, "pendeta dao tua, kita bertamu ke benteng Zhang-feng, tuan rumah menyambut dengan meriah, kita
tentu ada kewajiban meringankan kesulitan tuan rumah, betul?"
"Tentu!" suara pendeta dao tua tajam melengking, "Ini adalah rasa setia kawan seorang teman, seharusnya begitu."
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Biar aku menggunakan She Shen-zhang (Tangan dewa
mematikan) menangkapnya satu persatu, membawa mereka
pulang ke benteng, bagaimana?"
"Bagus sekali! Aku dengar She Shen-zhang nya pendeta, sangat
hebat sekali, tapi belum pernah melihat kau menggunakannya,
sungguh sangat menyesal, hari ini biar pendeta membuka mataku,
silahkan Dao-chang!"
"Tontonlah." Pendeta dao tua selangkah demi selangkah maju kearah
Hoa-fei-hoa yang ada di depan, sekitar satu zhang dua che, dia
memasang kuda-kuda, sepasang telapaknya disilangkan, lengan
baju dan mantelnya bergerak sendiri tanpa ada angin, sepertinya
dalam sekejap seluruh orangnya ditutupi oleh semacam hawa
misterius. Sepasang telapaknya sedikit bergoyang, semakin lama semakin
membesar, tenaga yang keluar menjadi gelombang terus
menerjang pada Hoa-fei-hoa.
"Hay......kau ini Yao......Yao-xian......"
Tampak wajah Hoa-fei-hoa ketakutan sekali, lalu tubuhnya
gemetaran. "Aku adalah pendeta dao Yao-xian Li-hun (Dewi pemisah roh)."
Pendeta tua dengan bangganya maju mendekat, "kau sudah tidak
mampu bergerak lagi, menyerahlah."
"Aku......aku tidak......tidak mau mati....."
Dengan ketakutan Hoa-fei-hoa memaksakan diri membalikan
tubuh, ingin meloloskan diri dari cengkraman She Shen-zhang.
"Kau tidak akan mampu pergi......"
Yao-xian dengan bangga berteriak, sekelebat sudah mendekat,
tangannya yang besar mengulur ingin menangkap orang.
Dalam sekejap tangan halusnya Hoa-fei-hoa dengan kecepatan yang
sulit diketahui, diam-diam diayunkan ke belakang, menggunakan cara melempar panah tangan, diamdiam melemparkan satu sinar dingin
dengan kecepatan yang sulit dilihat oleh mata telanjang.
Walau Yao-xian tidak maju ke depan menangkap orang, juga tidak
akan bisa melihat dan menghindar senjata gelap ini, sekali menerjang ke depan, maka jaraknya tinggal sepanjang tangan diulurkan, dewa pun
tidak akan bisa menghindar hawa kematian ini.
Inilah akibat yang paling menyedihkan, yang paling fatal bagi
orang yang terlalu sombong terlalu percaya diri.
Seorang pesilat tinggi yang ilmu silatnya sudah super tinggi,
sering karena terlalu ceroboh, mati ditangan seorang berandalan
dunia persilatan kelas tiga.
Yao-xian dengan temannya biksu setan, keduanya disebut Pendeta
Yao-mo, adalah orang persilatan kelas super. Menurut kabar tujuh
penjaga di tempat pelepas pedang Wu-dang juga tidak bisa menahan
mereka berdua, membiarkan mereka bebas masuk keluar gerbang
gunung. Jika kabar ini benar, berarti ilmu silat dan nama Yao-xian lebih
tinggi dari pada Hoa-fei-hoa entah seberapa tingginya, tidak bisa
dibandingkan. Sebuah jarum Dewa tanpa bayangan, dilempar
menggunakan Wu-tian-shen-gang.
Jika Yao-xian tidak terlalu sombong dan percaya diri,
menanyakan terlebih dulu nama dan asal-usul lawannya, dia tentu
tahu keadaan lawannya, akibatnya tentu akan berbeda sekali.
Jarum menembus perut keluar dari punggung sepanjang dua
cun, tertahan oleh tulang belakang hampir saja tembus keluar.
Bersamaan waktunya Hoa-fei-hoa menjatuhkan tubuhnya ke
depan, di atas tanah dia membalikan tubuh, tangan mulusnya
bersamaan melemparkan sekumpulan jarum seperti hujan, sambil
berteriak dalam yang aneh.
Pelayan wanitanya dengan dia hampir satu pikiran, juga
bersamaan waktu melemparkan segumpal jarum, tangannya
bergerak pedang menyerang, orangnya berkelebat laksana kilat.
Dua gumpal jarum seperti hujan, kerja sama yang tidak ada celahnya, semua terbang mengarah ke tubuh dan sisi kanannya Biksu Setan,
memaksa Biksu Setan dalam gugupnya berkelebat menghindar kekiri,
tepat menyongsong datangnya pedang pelayan wanita, pedang itu
langsung menusuk tembus ke jantungnya.
"Ngek......" Biksu Setan menangkap pedang yang
menembus dadanya, seperti terkena kilat dia mundur
kebelakang, "Kalian sung...... sungguh
ke......keji......ngek......"
Pelayan wanita itu melepaskan pedang ditangannya, di
tangan sudah ada sebuah jarum, tapi tidak dilemparkan, hanya
untuk berjaga-jaga saja. Yao-xian tidak bisa mengendalikan dirinya, dia menerjang
kebawah sebuah pohon besar, membuat daun dan dahan
bergoyang-goyang, kemudian orangnya mental dan roboh ketanah,
bersamaan dengan Biksu Setan juga roboh.
"Sungguh tontonan yang mengejutkan!" Niu Lang-xing terkejut dengan bulu kuduknya berdiri, "Kalian majikan dengan pelayan berdua kerja samanya begitu matang, cukup membuat para pesilat super
diantara pesilat super ngeri, dua orang ini matinya tidak perlu disesali."
"Ketika dengan sombong dia mengatakan akan menggunakan She
Shen-zhang menangkap kami, aku sudah tahu siapa dia, bersamaan itu dia juga telah mati setengah." Hoa-fei-hoa mengembus nafas panjang,
"Tapi, saat itu aku memang takut, expresi wajah ketakutanku tidak bisa lolos dari penglihatannya, sehingga, dia tanpa ragu dan berani
menggunakan She Shen-zhang. Cepat..., kita kuburkan mayat mereka."
"Pasti masih ada orang yang keluar dari benteng mencari kita, kita tidak boleh ceroboh lagi."
Niu Lang-xing masih ketakutan dengan pelayan wanita
masing-masing menarik satu mayat.
Orang-orang benteng yang keluar dari benteng melakukan
pengawasan ke gunung secara besar-besaran, tamu yang minta
perlindungan dari benteng, semua menawarkan diri membantu, Yao-xian dan Biksu Setan adalah dua diantaranya, juga adalah gelombang pertama dari lima kelompok pengawas.
Saat hampir tengah hari, di benteng Zhang-feng telah tiba
sekelompok tamu agung, yang disambut kedatangannya dari jauh
oleh ketua dua benteng Golok Pemutus Arwah (Duanhun-dao) Han
Zhi-jian dengan membawa sepuluh anak buahnya. Dia adalah adik
ipar ketua bentengXi. Tamunya berjumlah lima puluh orang lebih terdiri dari lakilaki dan perempuan. Tamu utamanya adalah Yu-shu-xiu-shi.
Liu Fei-yan dan dua orang pelayannya termasuk dalam
tamu-tamu itu. Saat petang hari, ketua benteng Xi membawa tiga puluh lebih
anak buahnya kembali ke benteng dari Tai-yuan.
Mendengar ada orang yang menyusup ke dalam benteng
beberapa malam ini, kemarahan ketua benteng berkobar.
Seluruh benteng sekarang dalam taraf waspada penuh,
penjagaan kembali diperkuat.
Saat malam hari, pengantar pos melaporkan kabar, ketua muda
benteng Xi Wen-xin akan kembali ke benteng besok siang.
Sentral benteng adalah pusat syarafnya, tempat gudang pusaka
bawah tanah berada. Di empat sisi nya masing-masing ada satu
perumahan bersatu padu, melindungi sentral, rumahnya berderet-deret, begitu masuk ke dalam sulit melihat arah. Ini adalah tempat tinggalnya para keponakan keluarga Xi, kecuali pelayan dan orang kepercayaan, orang luar tidak diperbolehkan masuk, ini termasuk daerah terlarang di dalam benteng.
Di lingkaran luar juga dibangun tidak sedikit perumahan empat
sisi bersatu, untuk tinggal para famili dan teman juga anak buah
yang berkedudukan tinggi.
Di lingkaran luarnya lagi sederetan perumahan empat sisi yang
lebih kecil, adalah tempat tinggalnya para anak buah biasa dan
pelayan, ukurannya cukup besar pengaturannya sangat ketat.
Ketua benteng Xi tidak pernah membawa tamunya masuk
kedalam daerah terlarang, bangunan untuk para tamu didirikan di
sebelah timur, peralatannya komplit, tamu agung yang tinggal lama
bisa merasa nyaman, hingga lupa pulang.
Bangunan untuk tamu hampir seperti pasar, mau apa pun
tersedia, dari yang kecil sebuah jarum dan benang, hingga yang
besar teman tidur wanita, semuanya ada, tidak pernah kekurangan.
Tentu saja, semua itu harus dibayar oleh tamu, di dunia tidak
ada makan siang tidak memakai uang, ingin mendapatkan apa
semua harus bayar. Kelompok orang Yu-shu-xiu-shi, diatur di ruang tamu gratis,
seluruh pelayanan ditanggung tuan rumah, tidak perlu bayar.
Sekitar jam sembilan malam, ketua benteng Xi membawa dua
belas orang kepercayaannya, di ruang rahasia tamu bertemu
dengan Yu-shu-xiu-shi dan beberapa tamu penting.
Tamu agungnya ada empat orang: Yu-shu-xiu-shi, Seruling Damai,
dan seorang pesilat tinggi dunia persilatan yang sangat
ternama------Tangan Pengait Arwah Qiu-wu, satunya lagi adalah Ling-yun-yan,
seorang wanita ternama dari tujuh wanita terhebat di dunia
persilatan. Kedua belah pihak sebelumnya sudah ada kontak, sudah ada
pengertian, juga sudah ada kesepakatan awal, pertemuan resmi kali
ini tidak perlu banyak membahas lagi, setelah basabasi langsung
masuk kepembicaraan inti.
"Dua orang wanita ini, besok malam baru bisa diserahkan padamu, karena di siang hari tidak enak melaksanakannya." Kata ketua benteng Xi dengan wajah ada satu keterpaksaan yang sulit diketahui orang,
"tapi kau harus membawa orangnya secara rahasia, sedikit saja bocor, perkumpulan anda harus bertanggung jawab, aku tidak ingin
mempertaruhkan nama baik benteng Zhang-feng."
"Orang perkumpulan kami mengerjakan sesuatu, menjaga rahasia
adalah hal yang utama, ketua benteng tenang saja, aku bertanggung
jawab penuh." Yu-shu-xiu-shi menepuk dadanya menjamin,
"selanjutnya, jika orang-orang benteng anda berada di dunia
persilatan, saudara-saudara perkumpulan kami tidak perduli gelap
atau terang semua akan mendukung penuh, aku bisa menjamin
penuh." "Saudara kecil adalah wakil ketua perkumpulan anda, aku percaya atas jaminanmu." Ketua benteng Xi memalingkan kepala pada
Ling-yun-yan, "masalahnya nona Liu, memandang wajahnya
perkumpulan Cun-qiu dan saudara Gao, bentengku tentu akan
membantu sekuat tenaga, menuruh mata-mata di daerah Shan-xi
sepenuhnya perhatikan jejak tiga perampok itu, aku percaya dalam
tiga-lima hari sudah ada kabarnya."
"Banyak terima kasih ketua benteng." Kata Liu Fei-yan dengan senang.
"Nona Liu adalah teman baiknya saudara Gao, sudah seharusnya
pihakku membantu." Ketua benteng Xi tertawa tawar, lalu membelokan pembicaraan, "malam ini mungkin ada orang yang menyusup, jika diluar ada gerakan apa saja, harap jangan keluar dari daerah bangunan tamu, supaya tidak terjadi kesalah pahaman."
"Ketua benteng tenang saja, aku tahu larangannya." Yu-
shu-xiu-shi tertawa, "jika dia masuk kedalam bangunan tamu, aku akan membantu ketua benteng menangkapnya."
"Saudara kecil, mungkinkah ini perbuatannya Sepasang
Pedang Langit Selatan dan Tiga Phoenix?"
"Tidak mungkin, mereka sedang mengumpulkan temantemannya, jauh berada di belakang kita! Dan yang mengacau benteng anda, itu terjadi pada tiga empat hari yang lalu." Kata Yu-shu-xiu-shi, analisanya memang masuk akal, "orang yang berada di tempat kejadian Lin-jia-gou, jejaknya sangat jelas. Sepasang Pedang Langit Selatan dan Tiga Phoenix masih berada di belakang, mengumpulkan bala bantuan, dalam waktu tiga-empat hari pasti tidak akan bisa sampai kemari. Xie-shen, Nie-sha-yin-hoa dan orang yang dipanggil Fu-jiu dengan kawan-kawannya, mereka melarikan diri ke arah selatan. Ketua muda benteng setelah kejadian, menemukan pelayan wanita dan laki-laki yang berada di sisi Hoa-fei-hoa ada masalah, mungkin penyamaran dari Sepasang Bintang Perak, waktu mengejar sampai di
gunung Zhong-tiao lalu kehilangan jejak mereka."
"Mungkinkah mereka orang-orang yang diurus oleh ketua
perkumpulan anda?" tanya Ketua benteng Xi seperti sembarangan, wajahnya ada tawa yang dingin, "perkumpulan anda ada dua
organisasi terang dan gelap, mungkin ketua perkumpulan anda
mengutus orang lagi, dan tidak memberitahumu."
"Tidak mungkin." Yu-shu-xiu-shi dengan serius, "orang di perkumpulan kami tidak perduli gelap atau terang, pembagian
kekuasaannya sangat jelas. Ketua perkumpulan memberikan aku
tanggung jawab penuh, pasti tidak akan mengutus orang lain lagi
menarik kakiku dari belakang. Ketua benteng jika bisa mempercayai
aku, orang-orangku bisa aku serahkan pada ketua benteng dengan
kekuasaan penuh, menerjang api pun, mereka tidak akan menolak."
"Mungkin aku akan minta bantuan dari kalian, aku kekurangan
orang untuk memeriksa gunung-gunung." Ketua benteng Xi
mengerut alis, "Yao-xian dan Biksu Setan menawarkan diri
mengikuti orang keluar memeriksa gunung, sejak pagi telah keluar,
tapi sampai sekarang masih belum kembali, sangat mungkin telah
terjadi hal yang tidak diinginkan, jika kalian bisa membantu, aku
sangat berterima kasih."
Gunungnya dalam hutannya lebat, radiusnya sangat luas, mengutus
seratus dua ratus orang mencari jejak di gunung, pekerjaannya tidak mudah" Buat benteng Zhang-feng melindungi benteng sendiri
kekuatannya berlebih, tapi kalau memeriksa gunung secara
besar-besaran mereka tidak punya kekuatannya, jika dibantu lima puluh pesilat tinggi, siapa yang tidak mau terima"
Beberapa kata saja dia sudah mengunci Yu-shu-xiu-shi.
Berbincang lagi sebentar, ketua benteng Xi baru membawa
orangnya meninggalkan tamunya.
Dia tidak langsung kembali ke pusat, malah mengeliling dan tiba di perumahan empat sisi bersatu kecil di daerah timur laut,
meninggalkan dua belas orang bawahannya di luar, dia sendirian
melangkah masuk ke dalam pintu pekarangan.
Waktu itu sudah tepat tengah malam, di dalam ruangan
tampak masih terang benderang.
Dua orang nyonya cantik berusia tiga puluh tahun lebih,
sedang bersantap malam, sambil mengobrol.
Waktu ketua benteng Xi melangkah masuk, dua orang
nyonya cantik itu seperti tidak melihatnya, mereka tetap
mengobrol dengan asyik. Tapi ketua benteng Xi tidak merasa tersinggung, dia
menarik kursi duduk sendiri, sambil tersenyum menatap
mereka. "Terhadap usulanku dulu, kalian berdua hingga kini masih belum ada jawaban, apakah kalian curiga dengan ketulusan hatiku?" tanya ketua benteng Xi tertawa.
"Bukan kami kakak beradik mencurigai ketulusan ketua benteng, tapi ketua benteng yang tidak percaya pada perkataan kami." Kata nyonya cantik yang ada tahi lalat di sudut mulutnya, "tahun lalu di Jiang-ning kami bersaudara dengan Yun-sang-nie mendapatkan empat puluh ribu liang perak lebih, di antaranya sepuluh ribu liang perak dibagikan pada Dua Belas Rasi Bintang sebagai upah membantu dan memindahkan, sisanya Yun-sang-nie yang bertanggung jawab menyimpannya, sampai kami bersaudara pun tidak tahu tempat penyimpanan uang itu, kau memaksa kami sampai mati pun tidak ada gunanya."
"Kalian benar-benar tidak tahu jejaknya Yun-sang-nie?"
"Setelah kejadian itu menggemparkan selatan dan utara sungai
besar, tidak saja pemerintah mengerahkan banyak orang mengejar
kami, malah banyak sekali orang persilatan juga mencari kami,
berharap mendapat bagian. Sehingga kami bersaudara terpaksa
berjalan ke barat datang kebenteng anda minta perlindungan, sedang Yun-sang-nie berjalan ke utara menyembunyikan diri, sejak itu kami kehilangan kontak."
"Kalian bertiga hubungannya seperti kakak beradik, pasti ada
kata yang dibicarakan, coba pikir-pikir di sebelah utara sungai besar, tempat mana saja yang bisa menyembunyikan dirinya" Jika setelah
diperiksa ternyata benar, aku pasti akan menuruti perjanjian kita, membuka kuncian jalan darah di tubuh kalian, aku pasti tidak akan
ingkar janji." "Kami kakak beradik dengan dia adalah teman berdasarkan untung rugi, tidak ada perasaan lain, walau dia pernah menyatakan pergi ke utara, siapa yang tahu dia benar ke utara atau tidak" Apa lagi dunia ini luas sekali! Dan dia mahir merubah wajah, tempat mana yang tidak
bisa menyembunyikan diri?"
"Ooo...! Dengan demikian, harapan aku jadi tidak terwujud."
Ketua benteng Xi berkata sendiri, lalu dia mendadak bertanya lagi,
"kalian berdua ada hubungan apa dengan perkumpulan Cun-qiu?"
"Tidak ada hubungan apa-apa." Nyonya cantik bertahi lalat dengari tegas menyangkal, "walau kami banyak bergerak di daerah selatan sungai besar, tapi dengan perkumpulan tersebut tidak saling
mengganggu, juga tidak pernah berselisih. Ketua benteng kenapa
menanyakan hal ini?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya sembarangan tanya saja." Ketua benteng Xi mendorong kursi berdiri, "besok masih ada waktu sampai siang hari, kalian boleh pikir-pikir terakhir kalinya, kuharap kedua belah pihak bisa puas, malam telah larut, sampai ketemu lagi besok!"
Dua wanita dengan sorot mata penuh tanda tanya melihat
bayangan belakang ketua Xi menghilang di luar pintu.
"Kak, dari kata-katanya si anjing tua Xi terdengar seperti ada gejala bahaya, kita harus segera meninggalkannya, jika tidak
sampai kita mati pun tidak akan tahu." Kata nyonya cantik lainnya yang berwajah telur angsa.


Pengelana Rimba Persilatan Karya Huang Yi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Baik, besok pagi-pagi sekali kita kabur dari benteng dengan
bersembunyi di dalam iring-iringan kereta pembelian." Nyonya cantik bertahi lalat telah memutuskan, "di pihak Lao Li tidak ada masalah bukan?"
"Aku berturut-turut memberi dia sepuluh kali lebih kesenangan, jangan kata menyembunyikan kita keluar dari benteng, suruh dia
mati pun, dia juga akan rela."
"Adik Fang, hati orang susah di tebak, lebih baik kita repot sedikit, dengan keadaan dia tidak tahu, kita bersembunyi di bawah kereta
kuda, tentu akan lebih aman, kita hanya punya satu kesempatan,
sama sekali tidak boleh gagal." Kata nyonya cantik bertahi lalat.
"Baik, sekarang kita siap-siap menyamar.."
Orang dulu berkata: satu kejadian tidak akan lewat lebih dari
tiga kali. Jika berturut-turut pasti akan terjadi masalah.
Hoa-fei-hoa berempat, telah melakukan satu kali penyusupan,
apa bisa lolos ketiga kalinya" sejak awal mereka sudah tiga kali
keluar masuk benteng Zhang-feng, menginterogasi dan telah
membunuh belasan penjaga, tetap saja tidak bisa mendekati sentral.
Dia akan melakukan yang terakhir kalinya, jika tidak berhasil
maka dia akan menarik diri berjalan pulang, mencari cara lain
menyelesaikan persoalan dengan ketua bentengXi.
Dia tidak menduga ketua benteng Xi telah kembali begitu cepat,
hingga dia telah melakukan kesalahan yang serius.
Sekitar jam sembilan malam, gerbang benteng tiba-tiba dibuka,
berturut-turut keluar tiga kelompok bayangan hitam, jumlahnya
kira-kira ada empat puluhan, dalam sekejap telah menghilangke
dalam hutan. Lalu rumah-rumah di dalam benteng telah menyalakan lampu,
dan juga sering terlihat pasukan patroli yang membawa obor,
berpatorli ke setiap-pelosok benteng.
Hoa-fei-hoa dan kawan kawan yang bersembunyi di dalam hutan
sejauh empat li, melihatnya, hingga timbul pertanyaan.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi" apakah ada orang lain yang menyelinap masuk ke dalam benteng?" kata Zhi Nu-xing.
"Sepertinya tidak ada orang yang menyusup, tapi telah terjadi suatu perubahan di dalam benteng. Jika tidak kenapa ada begitu
banyak orang masuk ke hutan memeriksa?" kata Hoa-fei-hoa
menggelengkan kepala. "Aku lihat malam ini lebih baik kita jangan masuk ke dalam, saat ini di dalam benteng telah terjadi sesuatu masalah, pasti akan
memperketat penjagaan, masuk kedalam benteng bukankah..."
"Bodoh, kau tahu apa?" Hoa-fei-hoa memotong perkataan Niu Lang-xing, "saat air keruh baru bisa mengambil ikannya! Mereka sedang kacau, malah kebetulan, itu kesempatan baik kita masuk ke
dalam, kau jangan menggembosi kami!"
"Baik, baik, nona besar, aku tidak akan berkata lagi, apakah kita berangkat sekarang?" kata Niu Lang-xing tertawa pahit.
"Tidak, tunggu dua jam lagi, menunggu sampai saat mereka
kelelahan mencari orang, kewaspadaan mereka pasti akan
menurun, saat itu baru kita masuk ke dalam benteng." Kata
Hoa-fei-hoa pelan, "sekarang kita gunakan waktu ini untuk
mengumpulkan tenaga, supaya tubuh kita bersemangat."
Lalu empat orang itu duduk di tempat, bersemedi di dalam hutan.
Sekitar jam sebelas malam, lampu di dalam benteng semuanya
sudah padam, kecuali pos penjagaan, sudah tidak ada orang yang
bergerak, seluruh benteng sepi.
Benteng didirikan di lereng, menggali parit untuk mengalirkan air, air tidak mungkin mengalir ke atas, sehingga di belakang benteng
ada daerah yang tidak kena air, kedua ujungnya dibangun dam
untuk mengumpulkan air hujan.
Musim semi kali ini jarang hujan, di parit bagian ini setitik air pun tidak ada, tempatnya ditumbuhi rumput liar, kehilangan fungsi
sebagai penghalang. Tapi meski demikian, tembok benteng menjadi lebih tinggi hampir
dua zhang, jadi harus mendaki tembok yang setinggi empat zhang
setengah, itu bukanlah hal yang mudah.
Tapi mereka tidak bisa tidak harus mendakinya, ini adalah satu
satunya jalan masuk ke dalam benteng.
Empat orang semua memakai baju malam warna abu-abu hijau,
dengan tembok benteng hampir sama warnanya. Sepasang
tangannya ada kail pencakar tembok yang dibuat khusus, dengan
lengan sebagai penahan, tidak saja bisa digunakan untuk mendaki
tembok, juga bisa dijadikan senjata yang mematikan.
Ukuran puncak tembok persis seperti benteng kota, di luar dan di
dalam ada tembok penghindar jatuh, sering ada penjaga
mengulurkan kepalanya melihat keluar, juga sering ada patroli yang terdiri dari dua orang, di atas berjalan kesana-kemari mengawasi
apakah ada penjaga yang mengantuk, penjagaannya sangat ketat.
Ilmu silatnya Hoa-fei-hoa paling tinggi dan paling hebat di antara empat orang itu.
Dia memimpin dengan pelan mendaki keatas, tepat berada di
tengah dua patroli memeriksa, jika tidak dari jarak dekat, sama sekali tidak akan bisa melihat ada orang naik ke tembok benteng.
Setelah naik ke puncak tembok, memastikan di sekitar tidak ada
orang, baru dia melepaskan tali panjang, menarik ke atas orang yang berada dibawah.
Tidak lama, tubuh mereka berempat sudah menghilang di antara
rumah-rumah. Fu Ke-wei dan kawan-kawannya, tiba pada jam delapan pagi di
sebelah sisi barat benteng di satu pohon besar. Sebelum masuk gunung, dia telah bertemu dengan mata-mata yang diutus oleh Jin Zhao-chen, jadi terhadap keadaan benteng Zhang-feng telah ada pengenalan awal, lalu dilanjutkan dengan penelitian seharian, dia memutuskan malamnya melakukan aksi.
Tadinya dia ingin supaya tidak diduga orang, menyusup pada jam
sembilan malam, tapi melihat di dalam benteng mendadak lampunya
terang benderang, dan juga mengutus orang keluar benteng memeriksa gunung dan hutan, tahulah dia di dalam benteng telah terjadi sesuatu yang tidak terduga, sehingga terpaksa dia menunggu.
Sekitar jam sebelas, di dalam benteng kembali tenang, dan dia
mulai bergerak. Hoa-fei-hoa berempat tidak melalui belakang benteng,
dengan berani mereka mendaki dari depan benteng.
Empat orang itu semuanya telah mengganti baju dengan baju
sutra anti air, dengan hati hati berenang di bawah air di bawah
jembatan benteng. Tanpa takut mendaki ke atas gerbang benteng, seperti empat
ekor cecak yang lincah. Baju anti air mereka, warnanya juga sama dengan tembok
benteng. Diatas gerbang benteng ada dua orang penjaga, perhatiannya
semua ditujukan pada ujung jembatan di seberang kali pelindung
benteng, papan jembatan di bagian tengahnya telah diangkat, orang
yang menyusup sulit lolos dari penglihatan, tapi tidak memperhatikan orang bisa menyusup dengan berenang di bawah air di bawah
jembatan. Orangnya telah mendekat ke gerbang benteng, penjaga
kecuali mengulurkan kepala melihat kebawah, sulit bisa menemukan
di bawah ada orang. Tujuannya belum tercapai, melumpuhkan penjaga adalah hal
yang di larang. Dua orang penjaga ini sungguh beruntung, tidak menemukan
ada orang yang datang menyusup, juga telah menyelamatkan
nyawanya. Di dalam ruang rahasia di bangunan tamu, lampu menyala terang.
Ketua benteng tetap membawa dua belas orang
kepercayaannya, dengan wajah tidak enak dipandang
melangkah masuk keruangan rahasia.
Dua belas orang kepercayaannya menanti di luar berjagajaga.
Yu-shu-xiu-shi dan Seruling Damai sudah menunggu di dalam.
Pertemuan kali ini ada Tangan Pengail Arwah dan juga Liu
Fei-yan. "Saudara Gao, perkumpulan anda melakukan ini sudah
keterlaluan." Kata ketua benteng Xi begitu masuk ke ruangan sambil marah.
"Ketua benteng sedang bicara apa" Aku tidak mengerti."
Yu-shu-xiu-shi dengan wajah penuh pertanyaan, "bukankah ketua benteng telah menyanggupi hari ini menyerahkan orangnya"
Sekarang di mana orangnya?"
"Aku malah ingin tanya padamu!" sikap ketua benteng Xi sangat tidak bersahabat.
"Mana aku tahu orangnya ada dimana" Apa maksud ketua
benteng?" Yu-shu-xiu-shi adalah orang sombong, dia tidak bisa terima sikap
ketua benteng, dengan marah dia mendorong kursi berdiri.
"Apa maksudnya di dalam hati mengerti, bukankah kau ingin
menghemat sejumlah uang, lalu diam-diam membawa orang keluar
benteng" Saudara Gao, kau melakukan ini telah melanggar
larangan, tahu tidak?"
"Tunggu, tunggu." Yu-shu-xiu-shi akhirnya mengerti, "ketua benteng mengatakan dua orang wanita itu telah ditangkap oleh
kami, dan diam-diam telah membawanya keluar."
"Apa bukan begitu?"
"Aku dengan tegas menyangkal tuduhan ketua benteng yang tanpa alasan itu. Seperti yang tadi kau katakan, bagaimana pun tidak
aturannya perkumpulan kami, tidak akan melakukan hal yang
melanggar aturan ini." Yu-shu-xiu-shi dengan tegas menyangkal.
"Benar bukan kalian yang melakukannya?"
"Aku dengan harga diriku dan nama baik perkumpulan kami
menjaminnya, pasti bukan orang-orang perkumpulan kami yang
melakukannya.'' Kata Yu-shu-xiu-shi dengan serius, "ilmu silat dua orang wanita ini sudah sampai taraf kelas satu, apa lagi ilmu meringankan tubuhnya, lebih bagus lagi, ketua benteng apakah tidak berpikir mereka sendiri yang melarikan diri keluar benteng?"
"Aku telah mengunci jalan darah mereka, mereka tidak akan
bisa mengerahkan ilmu silat nya hingga dua puluh persen lebih,
tidak mungkin bisa melarikan diri dengan kemampuan sendiri."
"Ooo! Kenapa ketua benteng mengunci jalan darah
mereka?" desak Yu-shu-xiu-shi hatinya bergerak.
"Karena aku takut masalahnya mendadak bisa terjadi
perubahan, sehingga, kemarin setelah meninggalkan tempat ini,
segera pergi ketempat mereka menetap, mengunci jalan darah
mereka, supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, tidak diduga tetap saja terjadi peristiwa ini." Kata ketua benteng Xi kesal.
"Ooo! Betulkah?" kata Yu-shu-xiu-shi dengan penuh arti, "saat mulai malam seluruh benteng ribut, aku masih mengira ada orang yang
menyusup, ternyata malah sedang mencari mereka. Kalau begitu
tugasku jadi tidak berhasil, setelah pulang tidak tahu bagaimana
tanggung jawabku pada ketua kami?"
"Bentengku telah mengutus pasukan pencarian ke daerah
sekitar, mereka berdua telah terkunci jalan darahnya, seharusnya
tidak akan bisa berlari jauh, kecuali mereka tidak melarikan diri
dengan kemampuan sendiri......"
"Ketua benteng sepertinya masih belum percaya pada
kami......" "Terhadap siapa pun aku tidak percaya," Ketua benteng Xi tertawa keji, dia keluar ruangan pergi dengan membawa orang
kepercayaannya. "Orang ini sungguh keji, kenapa dia harus mengunci jalan darah mereka" Kurasa perbuatan ini dilakukannya untuk menginterogasi
tempat persembunyian uang hasil rampokan mereka. Aku berani
bertaruh, dia pasti tidak melakukannya kemarin malam, tapi sudah
sejak dulu mengunci jalan darah mereka." Setelah mengantar pergi ketua benteng Xi, Yu-shuxiu-shi dengan pelan berkata pada Seruling Damai, matanya bersinar-sinar dingin, "bagaimana pendapatmu?"
"Analisa wakil ketua sangat tepat, aku curiga dia telah berhasil mendapatkan tempat persembunyian uang rampokan, diam-diam telah
membunuh mereka, lalu menyebarkan berita mereka melarikan diri, dia sedang bersandiwara di depan kita." Kata Seruling Damai tertawa dingin.
"Mungkin juga. Kita tunggu sampai besok, lihat
perkembangannya, baru putuskan harus bagaimana."
Hoa-fei-hoa dengan pelayan wanita berjalan di depan, setelah
melewati beberapa rumah, di dalam gang kecil mereka belok kanan
lalu putar ke kiri, akhirnya tersesat di dalam hutan bangunan yang gelap, hingga tidak tahu berada dimana.
0-0-0 Bab 16 Mereka tidak bisa berjalan di atas atap rumah, di beberapa bangunan tinggi ada penjaga mengawasi dari atas kebawah, makanya harus seperti pencopet menyusup ke dalam gudang bawah tanah mengambil pusaka,
tidak mungkin berlagak seperti perampok membunuh masuk merampok.
Pesilat tinggi di benteng Zhang-feng banyak tidak terhitung, anak
buahnya seperti semut, dengan kekuatan mereka berempat,
merampok sama saja dengan mengantarkan nyawa, maka gerakan
merekajangan sampai diketahui orang.
Setelah berputar-putar cukup lama, ternyata satu ruangan pun
tidak bisa dilaluinya. "Nona Hoa, rasanya ada sesuatu yang tidak benar." Kata Niu Lang-xing mendekat, mereka sembunyi disebuah sudut tembok,
"sesudah jalan begini lama, tidak melihat satu pun penjagaan, pada kemana orang-orangnya?"
"Mungkin mereka mengira tidak akan ada orang yang
mengacaunya lagi, jadi tidak perlu memperketat penjagaannya!"
Hoa-fei-hoa juga merasa ada yang tidak beres, tapi dia tidak
memperdulikannya. "Tidak benar!" "Maksud kau......"
"Mereka bersembunyi di dalam rumah mengawasi keluar,
gerak-gerik kita mungkin telah diawasi oleh mereka."
"Mmm! Memang sedikit mencurigakan."
Mendadak hati Hoa-fei-hoa tergerak, ada perasaan membuat bulu
kuduknya berdiri, sepertinya benar ada orang yang mengawasi
gerak-gerik mereka, membiarkan mereka selangkah demi selangkah
masuk ke dalam perangkap.
"Haruskah masuk ke rumah membuktikannya dulu?" Niu
Lang-xing memberi usul, "masuk melalui jendela asalkan hatihati, pasti akan lancar masuknya."
"Jika penjaganya sudah bersembunyi di dalam, berarti musuh di tempat gelap kita di tempat terang, bukankah masuk satu mati satu"
Sungguh tidak beres, kita mundur saja!" kata Hoa-fei-hoa dengan gelisah.
"Mundur?" "Benar, cepat mundur, mungkin masih keburu..."
Tidak jauh diatas atap rumah, muncul satu bayangan hitam.
"Hanya boleh maju ke depan, di belakang mulut gang sudah ada
pasukan senjata gelap menghadang, mundur adalah jalan mencari
mati." Bayangan hitam telah menyadari mereka bergerak mundur, sehingga berdiri di tempat persembunyiannya memberi peringatan,
"tidak jauh di depan, ada orang sedang menunggu kalian, supaya kalian yang berulang-ulang masuk, ada tempat bisa bergerak bebas,
jalanlah maju kedepan!"
Empat orang itu terkejut, hatinya jadi dingin.
Ilmu meringankan tubuh Zhi Nu-xing sangat hebat, dengan isyarat
tangan dia menunjuk ke atas, artinya mencoba meloloskan diri
melalui atap rumah. Di kiri kanan ada tembok yang sangat kokoh, atap rumah yang
paling rendah pun tingginya ada satu zhang, meloncat keatas
tidaklah sulit, di bawah ada cukup tempat untuk ancang-ancang
meloncat. Empat orang itu tidak perlu ancang-ancang, dengan
menggunakan jurus Yi He Chong Xiao (Burung bangau
menerjang awan.) bisa meloncat keatas.
Seorang pelayan wanita merasa tidak tahan lagi, tanpa pikir
panjang mendadak dia meloncat ke atas.
Di depan ada orang, di belakang di hadang, di atap rumah mana
mungkin kosong. "Jangan......" Hoa-fei-hoa terkejut berteriak tertahan.
Tapi terlambat, pelayan wanita itu masih berjarak delapan che
dari atap rumah, mendadak "Ngek!" satu kali, lalu luncurannya terhenti, seperti kehilangan daya geraknya, seluruh tenaganya habis, jatuh dengan tangan dan kaki bergerak-gerak kacau.
"Di atas telah disiapkan barisan jaring langit." Di atas atap rumah terdengar satu suara dalam.
Hoa-fei-hoa menahan pelayan wanitanya yang jatuh, hatinya jadi
dingin, di atas pundak pelayannya ada sebuah tongkat besi sepanjang satu che menusuk ke dalam bahu, mematahkan tulangnya, masuk ke
dalam dada sedalam kurang lebih delapan cun, sudah tidak bisa
tertolong lagi. "Bertemu kembali dalam kehidupan yang akan datang."
Hoa-fei-hoa gemetaran membaringkan mayatnya, "kau pergilah
dulu dengan tenang."
Orang yang bermain nyawa, terhadap arti hidup selamanya tidak
perlu terlalu sadar. Bisa hidup, maka hiduplah dengan gembira, mau mati, matilah dengan ikhlas.
Orang yang tidak mengerti hidup atau mati, tidak pantas di sebut
bermain nyawa. Niu Lang-xing membusungkan dada, mencabut pedang,
dengan kepala menengadah melangkah maju ke depan.
Zhi Nu-xing mengikutnya, mengulurkan tangan mengaleng
berdampingan mereka berjalan menuju jalan yang tidak bisa diduga.
Hoa-fei-hoa tidak mencabut pedangnya, sepasang tangan
diam-diam menyembunyikan Jarum Dewa Tanpa Bayangan.
Di malam hari menggunakan senjata rahasia, kedahsyatannya
berkali-kali lipat, dia telah bertekad, bertemu satu bunuh satu,
menggunakan senjata gelap, kesempatan berhasilnya bertambah
berkali lipat. Baru saja sampai di kebun bunga, obor pertama telah
menyala. Dari segala arah tampak bayangan orang banyak sekali, satu
persatu obor mulai menyala.
Tidak jauh di tengah lapangan, ketua benteng Xi telah menunggu
dengan membawa tiga puluh lebih anak buahnya.
Tiga orang itu tanpa takut melangkah masuk ke lapangan.
"Aku pasti bisa mendapat laba beberapa orang." Niu Langxing dengan berani dan nada yang mantap, "Yu Mei, kita akan jalan
bersama di jalan alam baka."


Pengelana Rimba Persilatan Karya Huang Yi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Di dunia persilatan, kau dan aku telah bersama dua puluh tahun lebih." Zhi Nu-xing senyumnya ada sedikit pahit, "jalan terakhir ini apakah harus tidak ada aku?"
Hoa-fei-hoayang jalan paling depan, tiba-tiba tubuhnya
bergoyang. "Kalian anjing......yang hina......"
Dia teriak keras, lalu bergoyang-goyang jatuh ke depan, dari
tangannya jatuh enam buah Jarum Dewa Tanpa Bayangan, mulut
terbuka, lidahnya keluar.
Tapi, sudah tidak bisa menggigit putus lidahnya, karena dia
mendadak pingsan. Di belakangnya Niu Lang-xing dan Zhi Nu-xing yang jalan
bergandengan tangan, juga ikut jatuh ke tanah tidak sadarkan diri.
"Ha ha ha ha......" Tawa keras ketua benteng Xi menggetarkan telinga. 0-0-0
Kamar penyiksaannya benteng Zhang-feng, adalah tempat yang
paling menyeramkan di-seluruh benteng.
Di rumah bangsawan atau penguasa, delapan-sembilan
persepuluh punya kamar penyiksaan, setiap penguasa setempat
adalah raja kecil, hukum tidak ada pengaruhnya terhadap
mereka. Benteng Zhang-feng juga seperti bangsawan atau penguasa
yang namanya menggemparkan dunia persilatan, kesempurnaan
kamar siksanya bisa dibayangkan.
Hoa-fei-hoa, Niu Lang-xing, Zhi Nu-xing, masing-masing diikat
di satu tiang ukuran setinggi manusia.
Baju atasnya Niu Lang-xing telah dilepas, hingga tubuh
atasnya telanjang. Baju luarnya Hoa-fei-hoa dan Zhi Nu-xing juga telah dilepas, hanya memakai penutup dada dan celana panjang dalam. Walau tubuh
kedua wanita ini langsing, tubuhnya yang seksi bisa membuat laki-laki lupa diri, tapi sorot mata mereka yang bersinar benci dan wajah yang menegang tampak sudah tidak manis lagi.
Lampu bersinar terang, yang bertugas menyiksa ada delapan
orang laki-laki besar, di sisi di taruh alat penyiksa berbagai
ragam, di antaranya sebuah pembakar api yang sedang
membakar besi penyengat. Di atas kursi penginterogasi duduk ketua benteng Xi, dan empat
orang dunia persilatan tua yang membantu menginterogasi.
Ketua benteng muda Xi duduk disamping-nya menonton, sorot
matanya berputar-putar di atas dada Hoa-fei-hoa yang tinggi, dan
daerah perut yang memikat itu, di matanya tampak jelas nafsu
cabulnya sedang membara. "Ternyata kalian ini yang brengsek." Ketua benteng Xi walau juga adalah seorang penggila wanita yang ternama, tapi untuk menjaga
kewibawaannya, dia menampilkan sikap berkuasa, ingin makan
orang, "aku ingin tahu tujuan sebenarnya kalian, katakan dengan jujur, supaya tidak mendapat siksaan, di tempat aku ini tidak ada
pahlawan, orang yang terbuat dari besi pun, aku bisa merubahnya jadi serangga ingusan. Sepasang Bintang Perak, kalian suami istri di
Tai-yuan merampas puluhan pusaka yang akan diberikan oleh Bintang
Hitam Sesat pada benteng-ku, seharusnya kalian pergi jauh
sembunyi, kenapa tetap bersembunyi di daerah Shan-xi, dan juga
terus-menerus menyusup masuk ke dalam bentengku" Niu Lang-xing,
kau berkata dulu." "Tahun lalu, rumah Tai-zhou di kabupaten Tai-ping provinsi
Zhe-jiang, di rumah besar keluarga Zhu, Tie-dan-shen-chiang (Dewa
tombak empedu besi), Zhu Guo-yin, apakah masih ingat?" Niu
Lang-xing menggigit gigi sedikit pun tidak takut,
"kau tentu tidak akan lupa itu."
"Ooo! Apakah aku harus ingat?"
"Di rumah besar keluarga Zhu telah terjadi peristiwa pembantaian yang sadis, sampai ayam dan anjing pun tidak ada yang tertinggal
hidup, seluruh harta bendanya dirampok habis-habisan." Niu
Lang-xing mengumpat, "kau blasteran yang di pelihara anjing ini! Di luar mengibarkan bendera seorang pesilat tinggi melancong ke dunia persilatan dengan ilmu silat menjalin hubungan, dengan orang-orang persilatan, tapi diam-diam menjadi perampok besar merampok bersih
keluarga kaya di berbagai tempat, keji dan kejam hingga anak-anak
dan perempuan pun tidak lolos. Kau kira tidak ada orang yang tahu
asal usulmu, kau tidak tahu malam itu sebelah di perahu ada dua
orang perampok besar sedang bersembunyi, tanpa disengaja
mengenal wajah aslimu, tapi mereka tidak berani menyebarkan
berita, hanya pernah mengatakan pada beberapa temannya, dan aku
adalah salah satu temannya."
"Siapa kedua orang itu?"
"Kau tidak akan tahu asal-usul mereka, juga tidak akan bisa
menyelidikinya." "Sungguh" katakan, ada hubungan apa denganmu?"
"Tie-dan-shen-chiang adalah sahabat karibku, juga adalah
familinya nona Hoa, coba kau katakan bagaimana hubungannya?"
"Ooo! Begitu." Ketua benteng Xi jadi lega, hal balas dendam semacam ini terlalu biasa, "baiklah! Bagaimana pun sekarang
memberitahu kalian juga sudah tidak ada pengaruhnya, dan juga
supaya matimu bisa memeramkan mata. Tidak salah yang membunuh
habis seluruh keluarga Zhu adalah salah satu karya hebatku, seorang pun tidak ada yang tersisa, hasilnya malah di luar dugaan, sangat
banyak. Tiedan-shen-chiang sebenarnya juga bukan orang baik-baik,
aku hanya bisa mengatakan hitam makan hitam saja. Sekarang, aku
ingin kau katakan dua orang brengsek itu, lalu aku akan memberi kau satu kematian yang cepat, supaya tidak mendapat penyiksaan yang
keji." "Kau jangan mimpi di hari bolong, kau membunuh aku juga sia-sia saja." Wajah Niu Lang-xing sedikit pun tidak gentar.
"Benarkah" Bagaimana istrimu Zhi Nu-xing, apa juga tidak takut?"
Seorang laki-laki besar menjabret rambut Zhi Nu-xing, dengan
sadisnya menampar bolak balik empat kali, memukul Zhi Nu-xing
hingga mulutnya mengucurkan darah, terakhir di perut kecilnya
memukul dengan dengkulnya.
Saking sakitnya wajah Zhi Nu-xing sampai menjadi pucat, tapi
sedikit mengaduh pun tidak.
Seorang laki-laki besar lainnya, menjambret Hoa-fei-hoa.
"Jangan merusak wajahnya." Ketua benteng Xi mencegah laki-laki besar itu menampar, "Bunga galak ini kecantikannya ternama di dunia persilatan, dia salah satu wanita tercantik didunia, lebih cantik dari pada tujuh wanita terhebat, dan juga lebih genit, jika dia bisa tinggal di bentengku, pasti kecantikannya akan mengalahkan seluruh wanita yang ada disini."
"Aku jamin dia tidak akan terluka."
Laki-laki besar membungkuk menjawab, mendadak menarik
dengan kuat mulut dan hidungnya Hoa-fei-hoa, sebelah tangannya
menekan buah dada yang montok, menekannya pada tiang
penyiksaan. Hoa-fei-hoa hanya dapat bertahan sesaat, setelah dia tidak dapat
bernafas karena terbekam, dengan wajah membiru dia meronta-ronta.
Kaki dan tangannya diikat mati oleh tali urat sapi, dia hanya dapat menggerakan tangan sekuatnya meronta.
"Jika kau hebat bunuhlah aku." Niu Lang-xing berteriak.
"Ha ha ha ha......" ketua benteng Xi tertawa keras, "aku tidak tergesa-gesa, tunggu sampai kau mengatakannya, dibunuh juga
tidak terlambat, kau harus melepaskan selapis kulitmu dulu, siksa!"
Badan atas Niu Lang-xing telanjang, seorang laki-laki besar maju
menahan pinggang dia, laki-laki besar lainnya menggunakan sepasang garpu penyiksa, menggunakan satu garpu silang yang tajam menusuk
tangan kiri dia sedalam tiga cun, menusuk mengikuti bawah lapisan
kulit, lalu memutar pegangan garpu.
Sekali garpu bergerak, kulit mulai mengencang, garpu semakin
diputar semakin kencang, kulit dari kedua ujung mengencang,
setelah diputar satu putaran, sudah tidak dapat diputar lagi.
"Aaw......" Niu Lang-xing akhirnya tidak kuat menahan sakit yang amat
sangat, dia menjerit dengan keras!
Di luar kamar penyiksaan, juga terdengar ada jeritan, suaranya
masuk melalui celah pintu, karena orang di dalam kamar penyiksaan
pendengarannya terganggu oleh jeritannya Niu Lang-xing, mereka tidak memperhatikan suara jeritan lemah yang tembus dari celah pintu.
Laki-laki besar lainnya mengangkat pisau kecil, siap
memotong kulit sebelah atasnya, supaya garpunya bisa
digulungkan kebawah, sama dengan mengelupas kulit
ditangan. "Katakan tidak?" tanya laki-laki besar yang mengangkat pisau sambil berteriak.
"Puuh!" Niu Lang-xing meludah, ke atas wajah laki-laki besar.
Segera pisau kecil diiriskan dan darah segar langsung
mengalir. Mereka mulai lagi menggulung, kulit mulai mengelupas,
sakitnya sudah tidak bisa dibayangkan.
"Ahh......" Niu Lang-xing tidak tahan.
Ada orang sekali melihat darah bisa pingsan, ada orang melihat
darah malah jadi semangat. Mungkin Ketua benteng Xi termasuk yang
belakangan disebut, dia adalah manusia penggemar darah.
"Siksa juga Zhi Nu-xing." Teriak ketua benteng Xi dengan semangat, "meninggalkan wanita ini juga tidak ada gunanya, saat muda Zhi Nu-xing memang wanita cantik memikat, tapi setelah tua
jadi sebaliknya, membuat orang ingin muntah."
Dua orang laki-laki besar segera merobek penutup dada Zhi
Nu-xing, tampak sepasang buah dada putih yang menarik yang belum
mengendur tersorot sinar lampu.
"Menggulung kulit yang begitu cantik mulus, sungguh sayang
sekali." Kata laki-laki yang memegang garpu penyiksa, dengan
tertawa penuh arti dia menggunakan garpunya menggosok-gosok di
atas puting susunya. "Tusukan!" ketua benteng Xi berteriak.
Ujung garpu baru saja menyentuh kulit buah dada sebelah kiri,
tiba-tiba Boom..... satu getaran keras terdengar, pintu kamar
penyiksaan yang berat yang telah dipalang, pecah hancur
berantakan. Kamar penyiksaan itu berada di tempat sepi, letaknya di sebelah
timur benteng, jaraknya sangat jauh dari ruang utama, hanya orang
kepercayaan yang boleh mendekat, di luar dan di dalam
penjagaannya sangat ketat, di luar pintu kamar saja sudah ada empat orang penjaga.
Karena pintu kamar menutup keluar dan di palang, sehingga
penjagaan di luar dan di dalam tidak berhubungan.
Begitu pintunya hancur, sinar lampu di dalam ruang pertemuan
jadi semakin terang, orang di dalam dengan jelas melihat Fu Ke-wei empat orang yang masuk dengan mendobrak pintu.
Empat mayat penjaga, berjejer di tengah ruangan di atas lantai.
"Anjing tua Xi, orang yang menagih hutang telah datang, hutang nyawamu pada kami, sudah saatnya dibayar!" kataXieshen
menjulurkan golok besar di tangannya, dengan penuh hawa
pembunuhan. "Kau!" ketua benteng muda Xi Wen-xin meloncat,
"ka......kalian bukankah sudah pergi selatan?"
"Brengsek! Jangan banyak bicara." Xie-shen yang pertama masuk,
"kaki ini punya aku, aku senang pergi ke selatan atau ke utara siapa yang bisa menghalangi" Sialan kau! Anjing kecil Xi, kau duluan yang membayar hutangnya, aku ingin mengasah golokku dengan kepala
anjingmu dulu." Seorang laki-laki besar yang melakukan penyiksaan, mendadak
menerjang ke depan sambil mengambil besi penyengat di atas tempat
pembakaran api, menusukan kearah dadaXie-shen.
Tubuh Fu Ke-wei berkelebat memotong, melewati Xie-shen,
secepat sinar kilat, telah menangkap tangan laki-laki besar yang
memegang besi penyengat, terdengar suara tulang yang patah!
Besi penyengat itu lalu ditekan dan di putar, mengarah bawah
selangkangan laki-laki besar itu, api mendadak membakar celana
di selangkangan laki-laki besar itu.
"Ahk......' Jeritan laki-laki besar, membuat bulu kuduk semua orang
berdiri. Lalu besi penyengat lalu dikibaskan, mengenai leher lakilaki
besar yang menerjang datang berikutnya, ssst.... satu suara,
kepala laki-laki besar terbang terlepas dari lehernya, dikatakan
sadis, memang sungguh sadis.
Tanpa bicara, sekali tangannya bergerak orang langsung mati,
membunuh orang seperti menyembelih ayam, seperti dewa
pembunuh berdarah dingin.
Delapan laki-laki besar yang melakukan penyiksaan, dalam
keadaan terkejut dan marah berturut-turut maju menerjang, dua
orang yang paling cepat sekali maju sudah roboh, orang di
belakangnya masih belum jelas apa yang terjadi, karena orangnya
banyak mereka jadi berani tetap maju ke depan, masing-masing
mengambil alat siksa bersama-sama maju.
Alat penyiksa semuanya alat yang pendek, bertarung dekat sangat
lihay dan berbahaya. Tapi sayang, mereka ketemu dengan pakarnya pembunuh orang.
Sekali tertawa keras, golok besar Xie-shen yang menakutkan
menyabet, golok lewat anggota badan terbang, seperti angin
meniup daun kering seperti harimau masuk ke dalam kelompok
kambing, menyemburkan hujan darah di udara.
Ouw Yu-zhen dan Nie-sha-yin-hoa juga galak seperti macan betina,
dengan pedang panjang maju seperti geledek, pedang sampai
orangnya roboh. Sekali menerjang, dalam sekejap, delapan laki-laki besar
pelaksana penyiksaan lenyap punah semua, mayat tidak utuh
memenuhi ruangan. Dalam kekacauan ini, ketua benteng Xi dengan anaknya mundur
ke dalam ruang dalam, sekelebat telah menghilang.
Empat orang setengah baya yang mendampingi menginterogasi,
sekuat kemampuannya menahan Xie-shen dan Nie-sha-yin-hoa, empat
bilah pedang seperti geledek, telah menyumbat jalan menuju ruang
dalam, dengan jurus pedang yang sangat tinggi menghindar serangan
dan menyerang celahnya, Xie-shen dan Nie-sha-yin-hoa jadi tidak bisa maju selangkah pun, malah sebaliknya didesak mundur.
Fu Ke-wei tahu mereka tidak dapat menahan ketua benteng Xi dan
anaknya melarikan diri, segera dengan Ouw Yu-zhen melepaskan
ikatan Hoa-fei-hoa dan kawan-kawannya.
"Jika bisa pergi mengikuti kami, ikutlah di belakang." Dia memungut sebuah pisau siksa, berkata pada tiga orang, "tapi kami tidak bisa menjamin keselamatanmu."
"Hanya seorang idiot besar baru percaya terhadap jaminan."
Hoa-fei-hoa malah masih bisa berkelakar, dengan terburu-buru
melepas sebuah baju mayat lalu menutup tubuhnya yang terbuka,
tidak lupa juga memungut sebuah pisau siksa, "asalkan aku tidak mati, aku akan melawan habishabisan pada si anjing tua Xi dan
anaknya." Fu Ke-wei tidak ada waktu mendengarkan kata-kata kesal dia, dia
mengangkat pisau maju menyerang.
"Serahkan padaku!"
Dia teriak keras, melewati Nie-sha-yin-hoa dengan liarnya
menerjang gulungan pedang. 0-0-0
Satu lawan dua, Nie-sha-yin-hoa sedikit kewalahan,
terpaksa mundur kesamping.
Fu Ke-wei sedikit pun tidak ada rasa khawatir dia langsung masuk
menyerang, boom... terdengar suara tangkisan ke sisi pedang
seorang setengah baya, satu kakinya menendang, kecepatannya
hingga Nie-sha-yin-hoa yang melihat di samping juga tidak jelas,
tahu-tahu ujung sepatu telah mencium anggota rahasianya orang
setengah baya, membuat orang itu terbang terlentang ke belakang
hanya teriak sekali, langsung roboh ke dalam lorong ruangan dalam.
Hampir bersamaan waktu, tangan kiri Fu Ke-wei mengunci lengan
kanan seorang setengah baya lain yang memegang pedang, pisau
siksanya tanpa ampun masuk menusuk ke pinggang, masuk ke dalam
hingga kepegangan pisau siksa, dengan mudah sekali gerak nyawa
melayang. Nie-sha-yin-hoa yang melihatnya sampai terbengong, begitu
bertarung, dua orang itu seperti bersamaan waktu dibunuhnya, pisau siksa sepanjang satu che delapan cun sungguh seperti kertas doa
pencabut nyawa, dua bilah pedang panjang sedikit pun tidak
bergunanya, pisau siksa seperti dibiarkan merajalela mengambil nyawa.
Dua orang setengah baya lainnya yang sedang bertarung dengan
Xie-shen, melihat temannya dalam sekali berhadapan sepertinya
dibunuh dalam waktu bersamaan, mereka menjadi gentar, dengan satu
isyarat, dua orang itu secara bersamaan terbang mundur, membalikan tubuh masuk ke dalam, sekejap sudah menghilang.
"Malam ini sudah cukup, kita keluar!" Fu Ke-wei dengan tegas perintahkan mundur.
Didalam satu ruang rahasia di pusat, lampu terang
benderang. Ketua benteng Xi dan anaknya, ketua benteng kedua Golok
Pemutus Arwah Han Zhi-jian dan kawan-kawan, dengan kesal minum
arak sambil menunggu berita yang akan dibawa pulang oleh pasukan
pencari. Pasukan pencari yang mereka tunggu, adalah orang orang yang
mencari ke gunung dan hutan yang bertujuan menangkap dua orang
tamu wanita yang kabur. Menyusupnya Fu Ke-wei, sungguh membuat benteng Zhang-feng cukup
tergetar, tapi ketua benteng Xi tidak bisa mengutus lebih banyak orang lagi mencari ke gunung, dia jelas tahu mereka mungkin sembunyi di dalam hutan di sekitarnya, malam gelap begini bagaimana mencarinya"
Mempertimbangkan dua kerugian itu dia pilih yang paling ringan, selesaikan terlebih dulu dua tamu agung wanita yang melarikan diri. Apa lagi dia memperkirakan orang yang menyusup tujuannya belum tercapai, pasti akan kembali lagi, saat itu baru menyiapkan jaring jebakan menghadapinya, juga tidak terlambat.


Pengelana Rimba Persilatan Karya Huang Yi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Benteng Zhang-feng berani melindungi orang yang menghindarkan
mala petaka, berani menyembunyikan buronan penting yang telah
melakukan dosa besar, memang benar, alasannya mereka berada di
perbatasan yang keadaannya liar, juga karena dia memiliki kekuatan nyata yang amat besar, memiliki pesilat tinggi super yang melindungi dia, orang yang datang membalas dendam, siapa yang bisa
menggoyahkan pusat kedudukannya"
Jika yang datang hanya dua-tiga puluh pesilat tinggi, semua
pasti akan terkubur disini.
Makanya di Lin-jia-gou, ketua benteng muda berani membunuh
habis semua orang yang ditangkapnya, di daerah kekuasaannya,
siapa yang berani berurusan dengan benteng Zhang-feng"
Hari ini hal yang paling membuat dia khawatir, yaitu bisakah
mencari dan menangkap kembali tamu wanita yang telah
mendapat perlindungannya"
Sejak dua wanita ini menghilang, dia tegang sampai mengucurkan
keringat dingin, dia tidak berani menyebarkan, kecuali memberi tahu Yu-shu-xiu-shi dan Seruling Damai, ke dalam dengan ketat dia
merahasiakannya, sampai anak buah yang mencari di dalam
benteng, juga tidak tahu orang yang dicari itu siapa, dia takut tamu lain yang mendapat perlindungan dia mengetahui keadaan
sebenarnya, hingga menimbulkan akibat yang amat serius.
Tapi jika dua wanita ini berhasil meloloskan diri, pasti akan
mengumumkan pada dunia, masalah dia melihat harta lupa janji, dengan cara yang hina memaksa pada tamu agung yang meminta
perlindungannya memberitahukan tempat harta yang disembunyikan,
kalau sudah begitu di kemudian hari siapa lagi yang berani mengeluarkan uang banyak, datang minta perlindungan padanya" Sangat mungkin
sekali dia akan mendapat serangan orang persilatan yang bersatu, nama baiknya akan hancur, kerepotan akan datang bertubi-tubi.
Makanya dia mengerahkan tiga kelompok pasukan pencari, setiap
kelompok ada empat belas pesilat tinggi pilihan, dibagi mencari ke belakang benteng, dan lereng gunung di timur dan barat, bertekad
harus mendapatkannya. Waktu menunggu adalah waktu yang paling sulit
dilewatkan. Sore hari. Di dalam hutan gunung sepuluh li sebelah timur benteng
Zhang-feng, dua nyonya cantik dengan langkah yang berat berjalan
sambil berbopongan. Setelah jalan darah di tubuhnya dikunci, kondisi tubuhnya tidak
berbeda jauh dengan orang biasa, ditambah jalan gunung sulit
ditempuh, juga tersiksa oleh lapar dan haus, seharian mereka hanya bisa menempuh perjalanan dua puluh
0-0-0 Bab 17 "Kakak Li, seharusnya begitu keluar benteng kita langsung
memisahkan diri masuk ke dalam hutan, seharusnya menunggu hingga
pasukan kereta pembelian sampai dijalan di bawah gunung baru
melepaskan diri. Sekarang kau lihat, kita di dalam hutan ini, setelah jalan seharian, baru menempuh jalan dua puluh li lebih, tidak tahu kapan baru bisa keluar dari gunung." Nyonya cantik yang berwajah telur angsa itu sedang menyalahkan.
"Adik Gong, keputusan kita tidak salah. Kampung di sepanjang jalan di bawah gunung, dimana-mana ada matamata benteng Zhang-feng,
menunggu kereta sampai di jalan raya baru melepaskan diri, itu sama dengan menyerahkan diri, kalau sampai kita tertangkap kembali,
keadaan kita akan sangat mengerikan. Tahanlah sedikit! Kita cari tempat untuk istirahat semalam dulu, aku percaya besok sore sudah bisa keluar dari gunung." Nyonya cantik bertahi lalat menghibur.
Akhirnya, mereka mendapatkan sebuah tempat, setelah diberi
rumput, lalu tertidur lelap.
Pagi keesokan harinya, sinar matahari yang menyilaukan mata
menyorot ke dalam hutan, suara-suara kicauan burung
membangunkan mereka. "Burung sialan, sungguh pintar membangunkan orang."
Nyonya cantik marga Gong yang berwajah telur angsa
mengumpat pelan sambil menggosok-gosok mata.
Baru saja dia duduk, dia melihat di depan pohon sekitar sepuluh
langkah lebih di hadapannya, berdiri satu pendeta dao dan satu orang berbaju biasa berusia sekitar lima puluhan, dengan santainya
menggendong tangan, ter-senyum menatap mereka, sorot matanya
kebetulan terfokus pada dia.
"Saudara Yin, tebakanku benar kan?" kata orang setengah baya yang berbaju dao tersenyum, "kau lihat, benar saja Ningxiang-yan-nie (Wanita cantik wangi membeku.) yang bangun duluan!"
"Kalian!" teriak Ning-xiang-yan-nie ketakutan.
Suara pembicaraan itu, membangunkan nyonya cantik yang
bertahi lalat. Dia juga sekali melihat dua orang di depannya, wajah
cantiknya seketika jadi pucat.
"Kalian Sepasang Cantik Jiang-nan sungguh hina, hidup mewah
di benteng Zhang-feng tidak mau, malah lari tidur di sarang
rumput." Dewa Dingin Yun Wu-ji membalikan kepala berteriak
pelan, "tangkap mereka!"
Di dalam hutan keluar dua orang laki-laki besar, menotok titik
saluran dua wanita itu, diangkat keatas bahunya, sepasukan empat
belas orang itu beramai-ramai pulang kembali ke-benteng.
Setelah melewati tiga gunung, tibalah di lapangan datar
lembah berparit, pepohonannya hanya sedikit.
Disini, hanya berjarak sepuluh li lebih dari benteng Zhangfeng,
bukit di atas lembah berparit adalah bukit kedua di sebelah timur laut benteng Zhang-feng.
Seorang laki-laki besar yang berjalan paling depan, tiba-tiba
mengeluarkan isyarat yang mencurigakan.
Pendeta dao adalah pemimpinnya, dia segera membawa sembilan
orang mengurung, gerakannya cepat sekali, dengan hati-hati
mengurung satu bukit kecil.
Di depan hutan di bukit kecil, Tian-ya-koay dan Shi-tu Yuyao putri tersayang ketua perumahan Wu-ling Shi-tu-sheng, dengan sorot mata
yang waspada menatap pada empat orang yang datang mendekat
dari bawah. Di antara empat laki-laki itu, dua orang menggendong
Sepasang Cantik Jiang-nan, mereka tidak terburu-buru mendekat,
menunggu yang lainnya datang mengurung dari kedua sisi, baru
pelan-pelan mendekat dengan hati-hati.
"Tian-ya-koay setan tua Jie dan seorang betina." Seorang laki-laki besar setengah baya dalam jarak tiga puluh langkah lebih, berteriak pada teman-temannya, "mereka berani sekali datang kepegunungan ini, mencoba mencelakai benteng kita, mereka pasti sudah bosan
hidup, kita harus menagih hutang darah terbunuhnya saudara kita di Lin-jia-gou, kali ini dia tidak akan bisa melarikan diri lagi!"
Tian-ya-koay merasa aneh, kedua belah pihak mempunyai
bermusuhan besar, jika empat orang ini orangnya benteng
Zhang-feng, seharusnya segera mendekat, kenapa malah bergerak
pelan-pelan tidak tergesa-gesa mendekatnya"
Tapi begitu mendengar kata-katanya, dia tahu mereka adalah
orangnya benteng Zhang-feng.
Peristiwa yang terjadi kemarin malam di benteng Zhangfeng,
sedikit pun dia tidak tahu, lebih-lebih tidak tahu benteng Zhang-feng sedang melakukan pencarian besar-besaran, mengejar Sepasang
Cantik Jiang-nan yang melarikan diri, yang tanpa di duga bertemu
disini, tidak aneh dia merasa bingung.
Mereka datang untuk menyelidik, hanya ingin menyelidiki keadaan
benteng Zhang-feng, supaya mempermudah kedatangan Sepasang
Pedang Langit Selatan yang sedang mengumpulkan teman-teman
pendekar. Tidak ada rencana untuk menyusup masuk. Walau
Sepasang Pedang Langit Selatan dan Tiga Phoenix tiba, juga tidak ada kekuatan dan keberanian menantang benteng Zhang-feng, mereka
berdua lebih-lebih tidak ada kekuatan, makanya secara sembunyi-
sembunyi mereka mendekati benteng Zhang-feng.
Sekarang ada orang benteng Zhang-feng yang pagi-pagi
muncul dalam jarak sepuluh li lebih dari dalam hutan, dia merasa
bingung. Tapi lawan hanya ada empat orang, dia sedikit pun tidak
merasa ada ancaman. Empat orang lawan ini adalah orang yang mengikuti dari belakang
dan menemukan dia lebih dulu, mereka berdua tidak memperhatikan
di belakang ada orang pulang dari tugas pencarian akan kembali ke
benteng, setelah menemukan ada orang di belakang, lawan sudah
mendekat hingga seratus langkah.
"Kalian semakin brutal saja, pagi-pagi sekali sudah menculik
wanita!" ejek Tian-ya-koay menunjuk dengan tongkat pemukul
anjing, tanpa takut dia berdiri menunggu, "kalian ingin maju satu satu" Atau maju bersama-sama, kalian harus tahu aku adalah
ahlinya pertarungan keroyokan......"
Dia mengira lawan hanya ada empat orang, tapi tiba-tiba
mendengar ada suara aneh di sebelah kanan, perkataannya belum
habis, mendadak dia menarik Shi-tu Yu-yao lari ke bawah, saat muncul lagi dia sudah berada di dalam hutan, kecepatannya mengejutkan
orang. Di tempat semula mereka berdua berdiri, tampak asap abuabu tipis
sedang membuyar, sepertinya ada kilatan api pelanpelan menurun.
"Benar saja kehebatannya bukan kabar angin." Teriak Pendeta tua terkejut, tadi dia menyerang mendadak untuk menangkap orang tapi
tidak berhasil, pendeta tua itu tentu saja terkejut, "lincah dan waspada, licin bagai ular, tidak percuma termasuk dalam delapan terhebat dunia persilatan, tapi kau dan bocah perempuan ini sudah diramalkan bernasib sial, pasti tidak akan bisa lolos dari bahaya."
"Kau sedikit pun tidak ada penampilan seorang pesilat tinggi yang ternama, bisanya hanya menyerang dengan ilmu sesat." Shi-tu Yu-yao sekali tawa dingin, "Tampaknya benteng Zhang-feng selain
mengandalkan banyak orang, di tempat liar menutup pintu menyatakan berkuasa, sebenarnya tidak mepunyai orang yang sungguh-sungguh
berbobot, tidak berani bertarung dengan pesilat tinggi dunia persilatan."
Tidak jauh di belakang terdengar satu tawa dingin!
Shi-tu Yu-yao walau baru turun gunung, tapi ilmu silatnya juga
hebat, meski musuhnya ada lima orang dia tetap tidak takut, dia
berharap bisa mendesak lawan bertarung adil menghadapi dia dan
Tian-ya-koay. Walau lima orang bersama-sama maju, dia tetap sanggup
menghadapi lawannya, apa lagi dipihaknya masih ada seorang ahli
bertarung keroyokan, sehingga dia tidak gentar.
Tidak diduga di belakangnya ternyata masih ada orang lagi, begitu
membalikan kepala melihat, diam-diam dia mengeluh.
Di bawah hutan pinus yang rumputnya sedikit, pandangan bisa
sampai jauh sekali, dia melihat ada enam orang, jadi semuanya
sebelas lawan dua. Tian-ya-koay juga melihat kebelakang, diam-diam dia juga
mengeluh. "Betulkah?"
Orang yang sambil tertawa sambil balik bertanya, dia adalah seorang yang mempunyai mata dingin dan licik, di tangannya tampak senjata
trisula yang kelihatan sangat berat, permainan senjatanya bisa digunakan sebagai tombak, pedang, tongkat, malah juga bisa sebagai golok, jika dibacokan ke tubuh manusia bisa menimbulkan luka yang mematikan.
Di dalam hutan pinus jika mendapat serangan keroyokan, tentu saja
keadaannya tidak akan menguntungkan, sebab tidak cukup tempat untuk menghindar, Shi-tu Yu-yao memberi isyarat mata pada Tian-ya-koay,
supaya cepat meninggalkan tempat yang tidak menguntungkan ini.
"Apakah kau benar-benar orang yang ahli dari benteng
Zhang-feng?" Tian-ya-koay membalikan kepala balas bertanya, dia tidak
merasa khawatir jalan mundurnya telah disumbat.
"Kalau tidak dicoba mana bisa tahu?"
"Kalau begitu, baiklah aku coba." Kata Shi-tu Yu-yao, orangnya memutarkan tubuh menjelma menjadi sinar kilat, secara
mendadak menerjang, saat membalikan tubuh pedangnya sudah
telah dicabut. Tian-ya-koay juga secara bersamaan meloncat, tongkat
pemukul anjingnya digetarkan, menotok tenggorokan orang
setengah baya itu. "Seraang...!" Shi-tu Yu-yao berteriak, sambil melepaskan senjata rahasianya. Tiga buah senjata rahasia uang mas yang diam-diam
disiapkan, dilemparkan menjelma jadi tiga garis sinar tipis yang sulit dilihat oleh mata telanjang, bersamaan itu pedangnya juga dengan
dahsyat menyerang orang yang memegang senjata trisula, sekuat
tenaga menerjang keluar dari kepungan, tidak memberi ampun pada
lawan. Trisula itu segera menangkis pedang yang datang menyerang,
dan berusaha mementalkan pedang panj ang yang lincah itu.
Sinar pedang tiba-tiba lenyap, lalu timbul kembali, dari celah
tipisnya trisula menerjang masuk.
"Ngeek!" Orang yang berada di .sebelah kiri, tenggorokannya telah
terkena serangan pedangnya, tubuhnya berputar lalu jatuh
ketanah. Trisula gagal menahan, Shi-tu Yu-yao segera mencabut pedang,
dan orang yang terkena pedang teriak sekali roboh ketanah.
Orang setengah baya di sebelah kanan melihat bayangan tongkat
warna kuning hijau samar-samar menusuk, segera dia memotong,
dan tubuhnya dijatuhkan ke kanan.
Tian-ya-koay menggetarkan lengannya, berubah dari menusuk jadi
menyapu, buug.... terdengar suara, orang setengah baya yang di sebelah kiri kepalanya pecah, orangnya hanya menjerit sekali, lalu roboh ke tanah meregang nyawa. Di depan telah jatuh tiga orang, pengepungan telah mengalami kegagalan.
Tian-ya-koay segera meloncat keluar dari kepungan.
Shi-tu Yu-yao juga meloncat keluar dari kepungan, tapi dia
merasa, pendeta dao dan empat orang temannya sedang
menyerang dia dari belakang.
"Siaat...!" Sambil membalikan tubuh dia berteriak, sambil lari ke depan.
Tian-ya-koay juga tepat sedang membalikan kepala melihat ke
belakang, tiba-tiba kepalanya terkena satu pukulan keras, tubuhnya bergetar Buug... dia jatuh ketanah dan pingsan.
Shi-tu Yu-yao yang baru saja melemparkan senjata
rahasianya langsung berkata:
Celaka! Dari belakang satu pohon cemara besar, keluar Dewa Dingin
Yu Wu-ji, yang diam-diam telah memukul dengan sebelah
telapaknya. Dewa Dingin namanya termasuk dalam tiga sesat dunia, telapak
Tai-yin yang dipukulkan menggunakan tenaga dalam Tai-yin-mo-gang
(Setan besar angin dingin) di dunia persilatan sangat terkenal
kehebatannya, tenaganya sangat menakutkan, tenaga telapaknya
dapat melukai orang dari jarak satu zhang lebih, jika terkena dalam jarak delapan che, di jamin daging akan pecah tulang hancur,
jurusnya adalah salah satu jurus telapak yang hebat dan sangat kuat sekali.
Bagaimana pun Shi-tu Yu-yao tidak tahu ada orang lagi yang
sembunyi dibalik pohon. Begitu tenaga telapak mengenai punggung belakang sebelah kiri,
dia seperti terkena oleh godam seribu jin, tubuhnya terdorong maju ke sebelah kanan, menabrak satu pohon pinus besar, membuat daun
pohon berjatuhan, dia juga mental dan jatuh ketanah, pedangnya
terlepas dari tangannya, dia meronta tapi sulit berdiri lagi.
Pendeta dao tahu senjata rahasianya Shi-tu Yu-yao sangat lihay,
saat mau jatuh Shi-tu Yu-yao telah melemparkan senjata rahasianya, untung dia cepat membelok dan bergerak memutar ke belakang
pohon pinus, dia hampir saja terkena senjata uang logam, dia
terkejut sampai mengucurkan keringat dingin.
Seorang laki-laki lainnya, karena tidak waspada dia terkena oleh
senjata uang terbang, pada lehernya, setelah menjerit ngeri, lalu
roboh ke tanah. "Cingcang mereka! Mereka berdua telah membunuh empat orang
kita." Seorang laki-laki besar seperti orang gila melayangkan golok
menerjang. Pendeta dao mengayunkan tangannya menampar laki-laki besar
hingga mulutnya berdarah dan mundur tiga langkah.
"Brengsek! Jika kau berani membunuh mereka" ketua
benteng tentu akan mengupas kulitmu," kata pendeta dao sambil menotok jalan darah Shi-tu Yu-yao, "Tian-ya-koay telah berani membunuh orang-orang benteng, bocah wanita ini bersama
Sepasang Pedang Langit Selatan, mengumpulkan
teman-temannya, datang ingin meminta pertanggungjawaban
benteng kita, ketua benteng marah dan bersumpah ingin
menangkap mereka hidup-hidup untuk dijadikan contoh pada
mereka, walau mereka tidak datang, ketua benteng tetap akan
membawa orang mencari mereka. Sekarang mereka telah
tertangkap, apa kau berani membunuh mereka" Hemm... "
"Saudara Wan, sabarlah, lihat bagaimana bocah perempuan ini
membayar hutang pada ketua benteng."
Seorang laki-laki setengah baya maju ke depan, menggunakan tali,
mengikat kaki dan tangannya Shi-tu Yu-yao sambil tertawa penuh arti,
"setelah ketua benteng menikmatinya, akan ada kesempatan buat kalian mendapat sisanya, saat itu kalian ingin bagaimana juga terserah,
bukankah lebih bagus?"
Shi-tu Yu-yao ingin bunuh diri dengan menggigit lidahnya, tapi
tidak keburu, mulutnya telah dibuka oleh pendeta dao saat
menangkapnya, sehingga ingin mati juga sudah tidak bisa!
Sepuluh orang itu menggendong empat mayat dan empat
tawanan, dengan senang kembali pulang ke benteng, terhadap
temannya yang mati mereka tidak merasa sedih lagi.
Orang yang bermain nyawa, hidup mati adalah hal biasa, asal bisa
hidup itu senang, jika mati ya matilah, nasib memang harus begitu, tidak perlu terlalu dipikirkan.
Kali ini yang memeriksa gunung, tidak saja tugas utamanya
menangkap Sepasang Cantik Jiang-nan telah berhasil, juga tanpa
sengaja bisa menangkap dua orang musuh, sama dengan di atas
batang tumbuh bunga, jasanya bertambah satu, pendeta dao
Zhong-tiao dan Dewa Dingin dua komandan pasukan merasa bangga,
sampai para anak buah yang berjalan menggendong tawanan juga
tidak merasa kepayahan. 0-0-0 Fu Ke-wei berempat, sedang istirahat di dalam hutan dekat mata air di tengah gunung, mereka membangun gubuk untuk tidur, dan telah


Pengelana Rimba Persilatan Karya Huang Yi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyiapkan daging dan makanan kering, di hulu air mereka telah
mempersiapkan semuanya dengan sempurna, persiapannya terencana,
sama sekali tidak ada masalah.
Hoa-fei-hoa sudah diatur di dalam gubuk, tampak sangat
kelelahan. Luka Niu Lang-xing tidak ringan, tangan kanannya sudah dibalut
kain tapi tidak bisa digerakan, sedikit saja bergerak sakitnya terasa sekali, untuk sementara dia tidak bisa bertarung.
Hoa-fei-hoa dan Zhi Nu-xing juga tampak kacau, mereka
mengenakan baju laki-laki yang diambil sembarangan, di gunung
hawanya dingin, baju laki-laki yang diambil mereka bukan saja tipis, juga ada bekas lumuran darah, meski sudah dipakai menutup tubuh
mereka, tapi masih terasa dingin, sampai tubuhnya terasa
gemetaran. Fu Ke-wei berempat, kecuali Ouw Yu-zhen dan Nie-sha-yinhoa yang
membawa dua bungkusan kecil, yang masingmasing berisi satu stel baju untuk ganti, semua bawaan dan kudanya dititipkan pada orang di
kampung yang berada puluhan li jauhnya.
Ouw Yu-zhen tidak tega melihat Hoa-fei-hoa dan Zhi Nuxing
kedinginan, dia lalu memberikan baju gantinya, begitu juga
Nie-sha-yin-hoa. "Kau menyamar babi makan macan ya?" Hoa-fei-hoa yang telah mengganti baju, sambil makan daging gepukyang dingin dan keras,
sambil berkata pada Fu Ke-wei yang sedang duduk makan, "aku
begitu jahat terhadapmu, kenapa masih menolongku?"
"Kau jangan menyombongkan diri, mana aku ada waktu khusus
menolongmu." Fu Ke-wei tertawa, "ini disebut sekalian jalan menuntun kambing, bagaimana pun aku tidak bisa melihat kematian
tidak menolong! Kami mendapat kabar dari tawanan bahwa ketua
benteng Xi sedang menginterogasi orang di kamar penyiksaan, demi
kalian, malah membuat dia ada kesempatan melarikan diri, sungguh
sayang." "Kau menyesal?"
"Aku mengerjakan sesuatu tidak pernah menyesal." Fu Kewei minum seteguk air, "biksunya bisa lari tapi kuilnya tidak, ketua benteng Xi telah terikat oleh benteng Zhang-feng, dia tidak akan meninggalkan harta bendanya melarikan diri, cepat atau lambat aku akan menangkap dia, aku tidak perlu tergesa gesa."
"Di dalam bentengnya, pembantunya banyak sekali."
"Ha ha ha! Kami berempat semua adalah ahlinya membunuh orang." Di pinggir Xie-shen tertawa aneh, "maksudnya tuan, apakah ingin membunuh habis mereka semua, sehari membunuh dua puluh orang, sepuluh hari
jumlahnya jadi dua ratus orang, menyapu bersih semua penjahat, seperti memotong rumput sampai ke akar-akarnya. Benteng Zhang-feng hanya ada seratus lebih pesilat tinggi yang dapat bertarung, dan juga sebagian adalah buronan yang minta perlindungan, yang lainnya hanyalah berandalan kelas tiga, apa bisa menahan pembunuhan berencana kita?"
"Kalian paling baik tahu diri, segera pergi jauh, supaya tidak mengganggu rencana kita." Fu Ke-wei sedikit pun tidak memberi hati.
"Dia telah membunuh familiku, dengan kejinya membunuh habis
sekeluarganya, aku berhak membalas dendam pada dia."
Hoa-fei-hoa dengan keras menolak, "kau tidak berhak melarang
kami." "Kau ini wanita yang tidak bisa diajak bicara, aku sudah
merasakannya." Fu Ke-wei menggelengkan kepala tertawa pahit,
"aku tidak ingin melarangmu, tempat ini sementara kalian boleh pakai untuk beristirahat, setelah tenaganya pulih harap tinggalkan tempat ini, orang yang mencari ke gunung cepat atau lambat pasti
akan mencari kemari."
"Kalian mau pergi?"
"Belum tahu, itu adalah kata mutiara melindungi nyawa, kau
seharusnya mengerti!"
Hoa-fei-hoa menatap Fu Ke-wei, wajahnya berubah-rubah,
menurut pengalaman yang sudah-sudah, tidak pernah dia bertemu
dengan laki-laki besar yang muda, yang terhadap seorang wanita
cantik bertingkah begitu buruknya.
"Bisakah berbuat sedikit baik padaku?" Hoa-fei-hoa mengeluh, terhadap daya tarik dirinya dia sudah hilang kepercayaannya, dengan nada yang ragu dia berkata perlahan "apalagi aku masih hutang budi satu nyawa padamu......"
"Hoa-fei-hoa jangan mengingat budi, kita jangan bicarakan itu, baik tidak?" Fu Ke-wei tertawa tawar, "kau dan aku samasama berdarah dingin, melakukan apa pun tidak akan menggunakan
perasaan, semua demi pandangan hidup sendiri-sendiri, hal lain
tidak akan di taruh di dalam hati. Hari ini bertemu, besok berpisah, lusa mungkin bisa berubah jadi musuh, mahluk jenis yang keji tidak mungkin bersatu dengan damai, aturan ini kau dan aku sama-sama
mengerti." "Apakah kau mengira aku ikut hanya demi pusaka dan harta
di bawah gudang benteng Zhang-feng" Aku sudah sadar, aku
tidak bermimpi minta bagiannya."
"Pusaka adalah harta di luar badan, siapa yang perduli" Gudang bawah tanah menyimpan pusaka, pasti tidak kurang dari dua kereta
besar, berapa aku bisa minta" Asalkan kau ada kemampuan
memindahkannya, pindahkanlah semuanya!" Fu Ke-wei mulai
mengumpulkan barangnya, lalu meloncat berdiri, "apakah kalian sudah kenyang" Kita harus jalan sekarang!"
"Sudah!" Xie-shen melempar masuk sepotong daging gepuk
terakhir kemulutnya, membuat perkataannya tidak jelas.
"Iii! Siapa mereka itu?" Zhi Nu-xing tiba-tiba menunjuk ke arah timur lembah berparit, "diantaranya ada yang menggendong
barang." "Itu adalah orang-orang yang mencari ke gunung, dua orang
yang memimpin adalah pendeta dao dari Zhong-tiao dan Dewa
Dingin, delapan orang dibelakang yang digendong orang bukan
barang." Dalam bayangan rumput dan pohon, sepuluh orang
sedang berjalan menembus hutan, mata Fu Kewei tajam dia
mengenal orang-orang itu, "kita telah bertemu dengan ikan besar!
Pergilah ke bawah hadang mereka."
Jika bertemu hal yang menyenangkan semangat pun tentu segar.
Pendeta dao Zhong Tiao yang berjalan di depan, dengan wajah
cerah berjalan dengan langkah besar.
Dia adalah komandan pasukan ini selain tugas dalam
perjalanannya telah berhasil, tidak diduga juga berhasil menangkap dua orang musuh, kematian empat orang anak buahnya sama sekali
tidak dirasakannya, tentu saja dia sangat gembira sekali!
Pendeta dao tua telah lupa beberapa hari lalu ada orang yang
menyusup ke dalam benteng, juga tidak tahu kemarin malam di
kamar penyiksaan yang rahasia telah terjadi masalah.
Ketika Fu Ke-wei berempat muncul di lapangan bukit di depan
hutan, pendeta yang merasa dirinya paling hebat, wajah yang tampak senang langsung menghilang seperti asap, diganti dengan rasa
terkejut yang amat sangat, langkahnya jadi ragu.
Xie-shen dan Nie-sha-yin-hoa tentu saja dia kenal, Fu Kewei dan Ouw Yu-zhen dua orang ini walau dia belum pernah bertemu, tapi dia telah menebak lawannya adalah anak muda marga Fu dan pelayannya yang
pernah mempermalukan Yushu-xiu-shi.
Orang yang lebih bodoh juga seharusnya mengerti, Fu Kewei
sengaja menunggu mereka, jika tidak ada jaminan bisa menang,
mana berani tidak membuat jebakan malah muncul terang-terangan
menyambut" "Sobat lama, kemarilah!" Xie-shen mengulurkan tangan menyapa, wajahnya keji lagi menakutkan, "kita hitung-hitung hutang lama, anggap saja kalian adalah bunga yang dibayar pertama oleh benteng
Zhang-feng." Sepuluh orang itu menurunkan mayat dan tawanannya,
bersama-sama maju mengurung dari tiga arah.
Sekali bergerak mereka sudah membentuk siasat pengeroyokan,
dengan banyak orang ingin menekan lawannya, ini adalah cara yang
sering digunakan orang sejak dari zaman dahulu sampai sekarang untuk memperebutkan kekuasaan, dan juga sering berhasil.
Fu Ke-wei berempat berdiri seperti gunung, membiarkan lawan
membentuk formasi. "Kau yang disebut bocah marga Fu itu?" kata pendeta dao dari Zhong Tiao setelah menjadi tenang, dia tidak perdulikan Xie-shen,
matanya menatap Fu Ke-wei, di wajahnya timbul senyum keji, maju
mendesak hingga delapan che.
"Sedikit pun tidak salah, aku percaya Yu-shu-xiu-shi telah
memberitahukan pada kalian dengan jelas."
"Kenapa di dunia persilatan tidak pernah dengar ada orang seperti kau ini, kenapa tidak sebutkan saja sebutan yang benar" Supaya aku tahu kau ini sebenarnya Budha besar dari kuil mana."
"Tidak perlu, pendeta dao tua." Fu Ke-wei mengayunayunkan pisau penyiksa yang diambil dari kamar tahanan, tawa mengejek
diwajahnya semakin menghilang, sorot matanya semakin tampak
bersinar, "kau pandanglah aku sebagai seorang berandalan kelas tiga saja, menyebutkan julukanku bisa membuat hatimu takut dan
tegang, hingga mempengaruhi kemampuanmu, aku tidak ingin
kau mati penasaran."
Di dunia memang kekuatan julukan bisa membawa hawa
membunuh, ada orang begitu mendengar julukan seseorang, jadi
ketakutan hingga denyut jantungnya menjadi cepat, telapak
tangannya berkeringat, begitu berhadapan dengan orang ini,
tenggorokannya jadi kering seluruh tubuh menjadi kaku atau
gemetar, mata tidak berani memandang, kaki dan tangan tidak tahu
harus di tempatkan dimana. Seperti beberapa jenderal di kerajaan,
mereka juga punya kekuatan julukan seperti ini, prajurit biasa yang melihat mereka juga akan bereaksi seperti yang disebutkan diatas.
Pesilat biasanya yang suaranya keras merasa dirinya paling hebat,
baru belajar beberapa jurus silat kucing tiga kaki, sudah merasa
dirinya pesilat tinggi yang hebat. Tapi begitu bertemu dengan pesilat tinggi yang julukannya menggemparkan dunia, tekanan di dalam
hatinya terasa sangat berat, dan terpengaruhi kelincahan gerak kaki dan tangan, sampai mengerahkan kepandaiannya juga tidak akan
sampai lima puluh persen, hatinya yang ketakutan juga tidak akan
bisa berkembang. Sekarang tampang Fu Ke-wei yang tampak dari luar, bagaimana
bisa seperti berandalan kelas tiga" Justru bisa di setarakan dengan seorang terkenal sepanjang masa, hawa kepahlawanan yang tiada
takut tiada gemetar itu, sudah membuat pendeta dao dari Zhong-tiao yang merasa ilmu silatnya lebih hebat dari pada orang lain, hatinya jadi berdebar-debar, sikap sombongnya jadi lenyap.
"Bocah, kau jangan bicara besar." Pendeta dao dari Zhongtiao menenangkan diri, timbul amarahnya karena malu, dengan keras
berkata, "demi sahabat kau menagih hutang, walau memang itu rasa setia kawan yang baik, tapi harus pertimbangkan dulu kemampuan
diri sendiri, apakah mampu atau tidak" Jika tidak mampu bisa-bisa
malah masuk kepintu akhirat menemani sahabatmu disana!"
"Aku tunggu kau memasukan aku ke pintu akhirat." Wajah Fu Ke-wei ditekan, mata macannya bersinar-sinar, "orang dulu berkata, hutang uang bayar uang, hutang nyawa bayar nyawa. Hutang nyawa temanku,
kau harus bayar dulu, persis seperti yang dikatakan Xie-shen, kau hanya bisa dihitung sebagai bunganya saja, hutangnya harus dibayar oleh Satu Pedang Dunia Xi Zhang-feng. Sekarang coba lihat apakah kau bisa
menyelamatkan diri atau tidak."
"Kau......" "Aku pasti dengan kejamnya akan membunuhmu, lebih baik
jangan hanya berkata di mulut saja, walau kau banyak
mengeluarkan kata-kata ancaman, itu tidak akan membuyarkan
tekadku membunuhmu."
"Kau pendosa ini sungguh mencari jalan mati sendiri, menyedihkan!"
Nada bicaranya pendeta dao dari Zhong-tiao tiba-tiba jadi dalam dan tenang, di mata elangnya timbul semacam sinar licik, tangan kiri
diangkat, lengan bajunya melambai-lambai berirama, "kau adalah seorang pintar, tapi kepintarannya tertutup oleh api dendam, kau sedikit pun tidak tahu dirimu sedang berbuat apa...
Aku mengeluhkan hidup ini, menyayangi rakyat yang susah
hidupnya, aku akan menghilangkan setan di dalam dirimu,
mengembalikan pada keadaan semula. Sekarang tanganmu sudah
tidak mampu menggenggam pisau, lima jarinya jadi lemas......"
Buug..., pisau penyiksa di tangan Fu Ke-wei jatuh sendiri di
samping kakinya, sepasang matanya bengong menatap pada
sepasang mata pendeta dao dari Zhong-tiao, persis seperti seorang
idiot. Xie-shen terkejut, dia mengangkat golok akan maju
menerjang. Ouw Yu-zhen yang matanya tajam, tangannya cepat
menahan Xie-shen, menarik kembali ke tempat semula,
menggunakan isyarat mata memberitahukan jangan
sembarangan bergerak. "Salah, jangan di buang, harus serahkan padaku." Pendeta dao dari Zhong-tiao mulanya tertegun, lalu berguman memerintahkan lagi,
"pungut pisaunya, betul! Pungut dan berikan padaku......"
Fu Ke-wei dengan patuh menekuk lutut kanannya, mengulur tangan
memungut pisau penyiksa, kepalanya tetap sedikit diangkat, sorot
matanya tetap tidak berubah, sorot matanya seperti terpikat oleh
pendeta dao dari Zhong-tiao, posisi memungut pisaunya membuat
orang merasa aneh. "Betul, serahkan padaku! ganti dengan sebelah tangan berikan
padaku, pelan-pelan, betul! Ya begitu......heek......"
Fu Ke-wei menggunakan tangan kanan mengangkat pisau dan
diulurkan melintang, tangan kirinya menyambut badan pisau, di saat tangan kiri menyentuh pisau, ikut mendorong ke depan, tangan kanan mengulur ke depan, ujung pisau dengan sendirinya menerjang ke
depan, sepasang tangannya menggenggam pisau, menusuk masuk ke
arah dada pendeta dao dari Zhong-tiao, ujung pisau sudah menusuk
hampir tembus keluar dari punggung belakang.
Pendeta dao dari Zhong-tiao memegang pisau di dadanya, saat
jarinya menyentuh pisau terdengar suara seperti logam beradu,
rupanya pendeta dao telah mengerahkan tenaga dalam Tai-yi-mo-gang
melindungi dirinya, seluruh tubuhnya telah berubah sekeras batu, golok atau pedang biasa jangan harap bisa melukai dirinya, dengan
kemampuannya ini, dia bisa bertarung dengan pesilat super yang
ternama. Tapi, jika pendeta dao ingin menggunakan ilmu sesat
mengendalikan Fu Ke-wei, ibarat membunuh ayam menakuti kera.
Fu Ke-wei menarik tangannya mencabut pisau, pisau meluncur
terlepas dari genggaman pendeta dao, samar-samar bisa terlihat ada bunga api muncul, mengeluarkan suara seperti gesekan logam yang
menusuk telinga. Wajahnya muncul tawa dingin yang keji.
Sekejap kemudian, sinar pisau berkelebat, lalu kepalanya
pendeta dao dari Zhong-tiao terlepas dari lehernya, jatuh kebawah.
"Jika tidak membunuh habis kalian, binatang yang tidak
berkeprimanusiaan, sulit meredakan kebencian ini." Pisaunya diulurkan ke depan, suaranya seperti geledek, "hanya bisa menyisakan seorang untuk diinterogasi dan kembali melapor, lihat siapa orangnya yang
beruntung ini." Sebuah pisau yang keji dan kejam tidak berperasaan, membuat
orang yang melihat seluruh tulangnya timbul rasa dingin, satu tusukan pisau menembus jantung sudah cukup kejam, ditambah dengan
memotong kepala, sungguh tindakan yang sadis sekali.
Di depan mata Fu Ke-wei muncul pemandangan tiga belas mayat
telanjang yang seluruh tubuhnya terluka, yang membangkitkan
amarahnya, dia ingin melampiaskan amarahnya melalui pisaunya,
mengayunkan pisau kekesalannya.
Xie-shen tertawa keras, dia melayangkan golok menerjang
masuk. Nie-sha-yin-hoa berteriak keras, pedang panjangnya seperti
pelangi di langit. Ouw Yu-zhen tidak mengayunkan pedangnya, dia
menempel ketat di sisi belakang Fu Ke-wei, melindungi
keamanan di belakangnya. Akhirnya Fu Ke-wei bertemu dengan Yin Shen (Dewa Dingin)
Yin Wu-ji, pisaunya bergerak laksana kilat dilangit.
Xian-yin-mo-gang nya Yin Shen, masih sedikit dibawah Tai-
yi-mo-gang pendeta dao dari Zhong-tiao, tapi kedua orang ini bisa
disejajarkan dengan pesilat super tinggi di dunia persilatan.
Karena pendeta dao dari Zhong-tiao dibunuh dengan begitu
mudah, hati Yin Shen jadi ketakutan, semangat tempurnya langsung
menurun, dia merasa sudah ditakdirkan pasti kalah.
Serangannya Fu Ke-wei terlalu dahsyat, Yin Shen tidak bisa
menghindar, datangnya pisau terlalu cepat, satu-satunya gerakan
yang bisa dilakukan adalah menangkis pisau lawan dan bertahan.
Senjata yang digunakan oleh Yin Shen adalah pedang berbentuk
ular, panjangnya selipat lebih panjang dari pisau, dan juga lebih berat, mudah sekali menggunakan pedang berbentuk ular menangkis pisau
itu, pisau pasti sulit menembus pertahanan pedang.
Dengan teriakan dingin, Yin Shen berjongkok mengayunkan
pedangnya. Traang.... satu getaran keras terasa, terlihat percikan bunga
api. Pedang berbentuk ular ternyata tidak bisa menangkis pisau yang
meluncur, pedang malah mental keluar, seperti guntur mendadak
menyambar, pelangi pisau menerjang masuk melalui celah.
Yin Shen ketakutan sekali, dia melangkah mundur,
mengayunkan kembali pedangnya menangkis pisau.
Tapi sesaat itu sudah terlambat, sinar pisau berkelebat
menekan, terdengar suara aneh memecahkan tenaga dalam
Xian-yin-mo-gang, seperti balon udara meletus.
Lengan kanan yang memegang pedang tiba-tiba terputus dari
pergelangannya, sinar pisau seperti kilat, miring memotong perutnya Yin Shen, hingga Yin Shen tanpa mengeluarkan suara, langsung roboh ke tanah, jeroannya bertumpahan keluar.
Dalam satu teriakan dalam, pisau penyiksa Fu Ke-wei muncul di
bawah dada kanannya seorang setengah baya yang berada tidak jauh
di sebelah kanan, tertembus pinggangnya, akhirnya pisau tertahan di dalam tubuh orang itu.
Ternyata Fu Ke-wei melemparkan pisaunya, pisau hanya berputar
sekali, langsung masuk kedalam pinggang orang itu. Orang itu tadinya secara diam-diam akan membokong Niesha-yin-hoa dari belakang,
sama sekali tidak tahu sinar pisau telah membelah angin dalam sekejap sudah sampai.
Nie-sha-yin-hoa yang tepat menengok ke belakang,
memukul jatuh dua orang yang menggunakan golok.
"Terima kasih! Tuan." Teriak Nie-sha-yin-hoa dengan
gembira. Dua tiga kali serangan, telah menjadikan lapangan itu tempat
penyembelihan daging dan darah.
Tadinya sepuluh lawan empat, tapi di tengah jalan Hoa-feihoa dan
Zhi Nu-xing ikut membantu. Dua wanita pembunuh ini tidak punya
senjata yang pas, semua senjata gelapnya juga telah dirampas oleh
ketua benteng Xi. Sekarang yang digunakan adalah senjata yang
diambil dari kamar tahanan, tapi tetap saja senjatanya bisa digunakan dengan hebat, serangannya tidak tertahankan.
Sebuah golok Xie-shen telah melontarkan golok seorang
lawannya, dari samping masuk Zhi Nu-xing yang penuh dendam,
sinar pedang seperti kilat menerjang punggung
orang itu. "Wanita genit, orang itu punyaku......"


Pengelana Rimba Persilatan Karya Huang Yi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Xie-shen berteriak keras, goloknya menyabet paha kiri orang
itu. Zhi Nu-xing tidak perdulikan teriakan Xie-shen, pedangnya
menusuk tembus punggung kanan orang itu, sambil tertawa ringan,
seperti asap dia lalu meluncur pergi.
"Tidak tahu aturan!"
Xie-shen memaki-maki, segera lari pada kedua orang yang
sedang bertarung dengan Hoa-fei-hoa.
"Jangan merebut!" Hoa-fei-hoa juga berteriak keras,
"semua milikku......"
Begitu tertawa, golok Xie-shen dan orangnya sudah tiba
bersamaan. Ouw Yu-zhen yang selalu mengikuti dari belakang Fu Kewei,
melihat hingga menggeleng-gelengkan kepala.
Fu Ke-wei meloncat-loncat diatas tumpukan mayat, potongan
kaki tangan dan mayat tergeletak di mana-mana, bau amis
membuat orang ingin muntah, dia tidak tega melihatnya.
"Di mana tawanan hidup yang kukatakan?" Fu Ke-wei
meloncat berteriak, "ka.. .kalian..."
"Aku kira tuan telah menyisakan tawanan hidup!" Xie-shen berpura-pura dengan wajah pahit, "julukanku adalah Xie-shen,
bagaimana pun kau tidak minta aku meninggalkan yang hidup kan" Apa lagi Zhi Nu-xing wanita genit ini telah merebut satu lawanku, padahal tadinya aku berniat menangkap orang ini hidup-hidup."
"Kau yang pantas mati, bisa saja menimpakan kesalahan pada
orang lain." Zhi Nu-xing mencuri-curi tertawa, sambil mundur
jauh-jauh, "kau telah memotong paha orang itu, apa itu bisa dihitung tawanan hidup" Sebentar saja darah segarnya akan kehabisan, kau
jangan pura-pura!" "Lawanku terlalu kuat, dengan susah payah aku
menggunakan jurus berbahaya baru bisa membunuh dia, mana
bisa aku menahan diri?" Nie-sha-yin-hoa dengan wajah tidak
merasa bersalah, membuat orang bersimpatik pada dia.
"Kalian ini sungguh bodoh sekali." Fu Ke-wei terpaksa tidak mempersoalkan, "coba pikir, menangkap seorang yang masih hidup, tidak saja bisa mendapatkan berita yang kita inginkan, membiarkan
dia kembali dengan mengatakan anu anu, bukankah pekerjaan kita
akan lebih mudah" Sekarang, berita yang aku ingin kan telah buyar!"
Yang dia maksudkan adalah masalah ketua benteng Naga Langit,
Pedang Naga Langit Lu-zhao dan Sepasang Cantik Jiang-nan, apakah
benar minta perlindungan benteng Zhangfeng.
"Tuan, mereka benar-benar tidak tahu tujuan sebenarnya tuan
datang ke benteng Zhang-feng, jadi tidak bisa salahkan mereka."
Ouw Yu-zhen membela Xie-shen dan kawankawannya.
"Tentu saja! Kami ini siapa yang seperti kau banyak akalnya, bisa menyamar jadi babi makan macan!" kata Hoafei-hoa melihat dia
dengan mata putih, kata-katanya mengandung arti terselubung,
"Jika aku punya akal, apa bisa ditipu kau masuk ke dalam hutan dan dipermainkan seenaknya olehmu?"
"Wanita cerewet!"
Fu Ke-wei menahan tawa, terpikir peristiwa dia mempermainkan
Hoa Bu Hoa, dia merasa geli dan menyesal.
Dia berjalan menuju mayat yang ditinggalkan orang-orang
benteng Zhang-feng. Yang dilihat pertama adalah Tian-yakoay dan
Shi-tu Yu-yao yang hanya bisa melihat, tidak bisa bergerak.
"Kok ini kalian?" dia segera melepaskan ikatan mereka, "kalian ini yang menyebut diri pendekar, selalu tidak memperhatikan nasihat
baik, aku kira kalian sudah menuju ke selatan, sudah melewati Feng Ling-du! Dimana yang lainnya?"
Setelah membuka titik saluran bisunya dua orang, dan juga
membenarkan mulutnya, dua orang itu sudah bisa bicara lagi.
"Saudara kecil, aku juga pernah memberi nasihat pada mereka! Tapi Sepasang Pedang Langit Selatan yang ingin menegakan kebenaran,
mana bisa lepas tangan tidak mengurusnya" Mereka sedang membagi
tugas mengumpulkan temanteman, aku terpaksa membawa bocah Shi-tu
datang dulu kemari menyelidik." kata Tian-ya-koay tertawa pahit.
"Aku......aku sungguh tidak boleh terlalu merasa diri
benar......terburu-buru datang ke benteng Zhang-feng
menyelidik......" Shi-tu Yu-yao dengan lesu, wajahnya pucat.
"Sudah sudah, anak perempuan siapa yang tidak merasa dirinya
paling benar" Tapi melakukan perbuatan harus bisa mengukur diri
dulu! Mmm! Kelihatannya wajahmu tidak baik."
Aku terkena sebuah pukulan Telapak Tai-yin dari Dewa
Dingin, bagaimana warna wajahku bisa baik" Aku merasa
sepertinya semua alat di dalam tubuhku telah berubah tempat."
"Wah...! Telapak Tai-yin sangat beracun, lukamu tidak boleh
ditunda terlalu lama, yang dipelajari Xie-shen adalah tenaga dalam Shao-yang (positif.), kusuruh dia cari tempat buat memeriksamu,
mengobati kau harus dengan menggunakan tenaga dalam, setelah
itu kau harus cepatcepat pulang."
Fu Ke-wei memanggil Xie-shen, setelah di sisi telinganya dia
memberi pesan, lalu pergi mendatangi Sepasang Cantik Jiang-nan.
Fu Ke-wei melepaskan ikatan tali mereka lalu
membebaskan totokan jalan darahnya.
"Terima kasih, tuan muda telah menolong! Kami kakak beradik
sangat berterima kasih." Kakak tertua Sepasang Cantik Sinar Bulan dengan lesu mengucapkan terima kasih.
"Tidak perlu sungkan, aku hanya tidak sengaja menolong
kalian." Fu Ke-wei tidak kenal dua wanita cantik di hadapannya, yang menjadi buruan yang dipesan oleh organisasi pemburu
bayaran dunia persilatan, "apakah jalan darah di tubuh nona, telah dikunci orang?"
"Benar, kami kakak beradik salah masuk ke sarang perampok,
saluran kami telah dikunci oleh si anjing tua Xi Zhang-feng......"
Ning-xiang-yan-nie salah satu dari Sepasang Cantik berkata sambil
menggigit gigi. "Xi Zhang-feng bisa punya kemampuan mengunci jalan
darah?" kata Fu Ke-wei merasa aneh.
"Semua dilakukan oleh orang benteng Zhang-feng......"
"Tuan, tetua Jie ada urusan penting yang ingin dibicarakan
denganmu, kau kesanalah sebentar?" Ouw Yu-zhen dari tempat dua zhang lebih melambaikan tangannya.
"Masalah apa?" Fu Ke-wei berjalan mendekat.
"Apakah tuan tahu" Siapa dua orang wanita cantik itu?" tanya Ouw Yu-zhen pelan.
"Tidak tahu." Dia menggelengkan kepala, "Mereka tidak mengatakan, aku juga tidak enak menanyakannya."
"Mereka adalah Sepasang Cantik Jiang-nan yang sedang kita cari."
Kata Ouw Yu-zhen pelan, "tiga tahun yang lalu, di Shu-zhou aku pernah melihat mereka dari kejauhan, karena sudah lama, jadi tidak berani memastikannya, bagusnya telah di pastikan oleh tetua Jie memang itu adalah Sepasang Cantik. Jika tidak, mungkin akan terlewatkan!"
Di dalam hati Fu Ke-wei merasa gembira, tapi dia lalu
menundukan kepala berpikir.
"Saudara kecil, kau mencari mereka ada masalah apa?" tanya Tian-ya-koay dengan aneh.
"Aku mendapat pesan dari teman mencarikan mereka berdua,
masalah sebenarnya tidak jelas." Fu Ke-wei tidak ingin menceritakan sebenarnya, dia hanya berkata basa-basi.
"Teman-teman itu menunggu di dalam hutan setengah li dari
sini, apakah perlu memberi tahukan mereka untuk menjemput
orangnya?" tanya Ouw Yu-zhen.
"Sementara waktu jangan beritahu mereka dulu, aku ingin
menggunakan mereka sebagai satu biji catur untuk menghadapi Xi
Zhang-feng." Kata Fu Ke-wei dengan yakin, "ingat, sama sekali jangan sampai mereka curiga, supaya tidak menimbulkan kecurigaannya.
Kau dan tetua Jie bantu dulu Xie-shen kembali ke tempat semula
untuk istirahat, aku ingin pergi menyelidik dulu, mungkin agak malam baru pulang."
Fu Ke-wei kembali kesisi Sepasang Cantik Jiang-nan, dan
memperhatikan mereka sekali.
"Jalan Darah kalian sudah dikunci berapa lama?" tanya dia tersenyum.
"Hampir satu bulan." Kata Wanita Cantik Sinar Bulan.
"Kalau begitu agak sedikit susah, harus menghabiskan waktu
tujuh delapan hari, setiap hari menggunakan tenaga dalam
melancarkannya selama satu jam, baru dapat bebas." Kata Fu
Ke-wei dengan serius. "Jika tuan muda tahu caranya, rasanya pasti ada kemampuan
untuk melancarkannya, apakah tuan muda bisa menolong, kami
akan membalas dengan segala yang ada." Kata Wanita Cantik Sinar Bulan dengan nada mengharap.
Apa yang bisa diserahkan wanita" Apa lagi tampang kedua wanita
ini tidak karuan. "Aku bisa mencobanya, tapi saat ini aku belum sempat, tunggu
setelah satu dua hari baru bisa melakukannya." Kata Fu Ke-wei tertawa, "oh betul, belum tahu siapa nama nona berdua" Aku
marga Fu, dipanggil Fu-jiu."
"Aku marga Li, Li Yu-lian." Kata Wanita Cantik Sinar Bulan tertawa genit, "dia adalah adik angkatku, dipanggil Gong Yuqin."
"Ternyata adalah Sinar Bulan dan Ning-xiang dua dewi cantik,
aku sudah lama mendengar julukan kalian, sayang tidak pernah
bertemu." Kata Fu Ke-wei gembira.
"Bagaimana tuan muda bisa tahu nama kami berdua?" tanya
Wanita Cantik Sinar Bulan merasa aneh dan juga timbul waspada.
"Aku dengan Yun-sang-nie nona Bai teman baik, dia pernah
menyebutkan kalian."
"Oh! Begitu." Wanita Cantik Sinar Bulan jadi mengerti, "Jika tuan muda adalah teman kakak Bai, kalau begitu kita bukan orang luar.
Apakah kak Bai akhir-akhir ini baik saja?"
Sepasang Cantik Jiang-nan saat ini sudah memandang dia
sebagai orang sendiri. "Dia tinggal di Qing-yun, hari-harinya sangat lancar."
"Dia memang bernasib baik, tidak seperti kami kakak
beradik, terus sial." Keluh Wanita Cantik Sinar Bulan.
"Aku mendengar nona Bai pernah mengatakan, bukankah kalian
berdua sudah minta perlindungannya benteng Zhangfeng" Kenapa
ketua benteng Xi bisa memerintahkan orang mengunci jalan darah
kalian, dan juga seperti buronan menangkap kalian kembali ke
benteng?" "Inilah hal sial yang dikatakan kakak Li." Ning-xiang-yan-nie menyela, "sebulan yang lalu, si anjing tua Xi Zhang-feng karena melihat harta lupa setia kawan, mengambil kesempatan saat kami
berdua tidak siap, memerintahkan penganut Budha Zhang-cun
mengunci jalan darah kami, memaksa kami mengatakan tempat
persembunyian harta......"
Lalu Ning-xing-yan-nu menceritakan bagaimana dia melarikan diri
dari benteng Zhang-feng. 0-0-0
Bab 18 "Orang ini berani melakukan hal yang melanggar aturan, apakah tidak takut orang-orang persilatan bersatu meminta pertanggung
jawaban dia" wah celaka, Pedang Naga Langit Lu-zhao juga
berlindung di benteng itu, apakah juga mengalami nasib yang sama
dengan kalian" Apakah kalian tahu keadaan mereka sekarang?"
"Dia datang ke benteng Zhang-feng dua bulan yang lalu, kami
berdua hanya pernah bertemu sekali, selanjutnya tidak pernah
bertemu dengannya lagi, menurut kabar, dia tidak di tempatkan di
bangunan tamu di daerah timur, tapi di tempatkan di suatu tempat
rahasia di dalam benteng." Kata Wanita Cantik Sinar Bulan, "harta pusaka yang dia miliki, jumlahnya tidak lebih sedikit dibandingkan dengan gudang pusaka bawah tanah benteng Zhang-feng, kecuali
sebagian disimpan di benteng Naga Terbang, juga dengan rahasia
disimpan di beberapa tempat, dijaga oleh orang kepercayaannya.
Apakah si anjing tua Xi juga timbul niat merebut hartanya, sulit
diduga." "Serahkan pada langit saja!" dia menggeleng gelengkan kepala, Fu Ke-wei lalu mengganti pokok pembicaraan, "apa rencana kalian selanjutnya?"
"Setelah tuan muda membebaskan kunciannya, kami ingin pergi
dulu ke Shan-dong bertemu kakak Bai, melihat situasi baru
menentukan tujuan selanjutnya." Kata Wanita Cantik Sinar Bulan.
"Kalian mungkin sudah satu tahun lebih tidak bertemu! Aku pikir dia juga sangat berharap bisa bertemu dengan kalian." Kata Fu Ke-wei tersenyum.
"Tentu saja, kami bertiga seperti saudara, jika bukan keadaan memaksa, mana mungkin berjalan masing-masing." Wanita Cantik Sinar Bulan merubah cara bicaranya, "tuan muda dengan benteng Zhang-feng apakah punya permusuhan besar, makanya tadi membunuh semua
orang-orang itu?" "Benar." Dia menceritakan dengan singkat peristiwa yang terjadi di Lin-jia-gou.
"Kami kakak beradik juga bersumpah, ada aku tidak ada dia!"
"Disini tidak baik tinggal berlama-lama, lebih baik
menghindar dulu." Walau Ketua benteng Xi perhatiannya sebagian besar ditujukan
pada masalah pengejaran Sepasang Cantik Jiangnan, tapi pada
masalah Fu Ke-wei yang menyusup tetap sangat memperhatikan.
Baru saja terang tanah, seluruh anak buah benteng telah
diperintahkan bekerja, menambah jebakan dan penghalang jalan,
mendirikan pos penjagaan, menutup rapat jalan yang mungkin
digunakan penyusup. Tamu agung yang minta perlindungan juga bergerak
membantu, memperbaiki peralatan penjagaan bangunan tamu.
Ketua dua, Golok Pemutus Arwah Han Zhi-jian telah menyatakan
pada mereka, kemarin malam ada dua orang tamu agung yang hilang,
mungkin melarikan diri, juga ada kemungkinan telah menjadi korban, maka dia berharap para tamu agung bertanggung jawab pada
keamanan lingkungan bangunan tamu, jangan sampai terjadi hal yang
tidak diharapkan. Karena tuan rumah ada kesulitan, tamu agung tidak bisa
menolak, terpaksa mereka ikut bersatu melawan musuh.
Yu-shu-xiu-shi dengan lima puluh lebih orang-orang
perkumpulan Cun-qiu, termasuk Liu Fei-yan bertiga, semua jadi
tidak bisa pergi meninggalkan benteng! Usahanya belum selesai,
barang yang diinginkan telah melarikan diri, bagaimana dia
mempertanggung jawabkan pada ketua perkumpulan" Paling
sedikit dia harus menunggu hasil dari pencarian ke hutan dan ke
gunung, baru bisa menentukan arah, apa lagi tuan rumah beberapa
hari ini telah melayani mereka dengan gratis, dia telah mendapat
keuntungan dari tuan rumah, seharusnya ada balas budinya.
Liu Fei-yan telah pindah, tempat tinggalnya sekarang bersama dengan Yu-shu-xiu-shi, hasil yang dia dapat paling banyak, tidak saja telah mendapatkan laki-laki idaman yang tampan, pintar sastra dan silatnya mahir, di perkumpulan Cunqiu juga memegang jabatan penting, Ketua
benteng Xi juga telah menyanggupi membantu dia menyelidiki jejak tiga perampok, kelihatannya harta benda dia akan kembali dan balas
dendam-nya juga akan terkabul.
Saat tengah hari, pasukan yang mencari kearah barat dan
belakang benteng telah berturut turut kembali ke benteng.
Tentu saja, semua kembali dengan tangan kosong, juga tidak
bisa menyalahkan mereka, pegunungan terlalu luas, hutannya
lebat rumputnya tinggi, ingin mencari dua orang persilatan tua
selicik rase, apa mudah mengerjakannya"
Empat belas orang yang mencari ke arah timur, tidak ada kabar
beritanya. Sekitar jam dua siang, satu pasukan telah dikerahkan berjumlah
sebanyak tiga puluh orang, sebuah pasukan yang amat besar.
Hasilnya, kembali membawa pulang empat belas mayat.
Seluruh benteng menjadi gempar, masing-masing jadi dingin
dan merasa was-was. Semangat ketua benteng Xi turun drastis, setelah melihat mayat
anak buahnya, penguasa besar ini sekarang sudah tahu bagaimana
rasa ketakutan. Begitu hari malam, seluruh benteng terjerembab kedalam ketakutan
yang menyeramkan, suara angin, kicauan bangau, rumput dan pohon
semua seperti tentara, semua orang tidak berani tidur lelap, orang yang bertugas jaga, mendengar angin bertiup, rumput bergoyang juga
menjadi ketakutan hingga bisa meloncat.
Bangunan tamu dan ruang tamu agung walau dibangun disatu
tempat, tapi diantaranya masih ada jarak, ditengahnya dihalangi
oleh beberapa bangunan rumah, kebun bunga, pekarangan. Tamu
agung yang ditempatkan ditempat ini, sifatnya berbeda.
Bangunan tamu semua adalah tamu yang tinggal lama, yang
minta perlindungan, ruang tamu agung adalah tempat untuk tamu
yang benar-benar berkunjung, waktu menginapnya tidak akan
lama. Walau ketua benteng Xi tidak meminta tamu yang menginap
melakukan sendiri penjagaan, Yu-shu-xiu-shi juga sudah punya cukup orang-orangnya melakukan penjagaan sendiri, malah dia menyatakan
ingin membantu tuan rumah, menghadapi orang yang menyusup.
Ketua benteng Xi memang berniat menggunakan tenaga
Yu-shu-xiu-shi, mendengar dia mengajukan dirinya ingin
membantu, di dalam hati dia gembira sekali.
Ketua benteng Xi telah menangkap Hoa-fei-hoa dan kawan-
kawannya, hati Yu-shu-xiu-shi jadi lebih tenang, orang yang
menyusup masuk kemampuannya juga hanya segini, bagaimana
memerlukan bantuan dari perkumpulan Cun-qiu nya"
Tapi, orang yang belakangan menyusup masuk adalah Fu
Ke-wei. Terpikir di penginapan Yung-an, rasa masakan dan kuah yang
membasahi dirinya, dia benar-benar gentar, dia sungguh tidak ada
keberanian menghadapi Fu Ke-wei yang ilmu silatnya sulit diukur.
Untungnya saat ini anak buahnya banyak, tidak perlu dirinya
sendiri yang menghadapi lawan berat.
Setelah malam tiba, dia mengumpulkan semua orang di sekeliling
ruang tamu, merencanakan penjagaan yang ketat, kecuali setengah
orang yang beristirahat, malam hari penjagaan dibagi dua grup, begitu ada gerakan, orang yang istirahat harus dengan cepat tiba di tempat yang sudah di tentukan, supaya bisa menggerakan seluruh
kemampuan kelompok. Bangunan tamu yang berada tidak jauh, penjagaannya tampak lebih
ketat lagi, kecuali empat puluh lebih tamu yang menginap, saat hampir malam, ketua benteng Xi mengutus tidak sedikit pesilat tinggi datang ke bangunan tamu memperkuat penjagaan.


Pengelana Rimba Persilatan Karya Huang Yi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tamu yang menginap adalah sumber pemasukan benteng
Zhang-feng, jadi ketua benteng Xi berkewajiban melindungi
keamanan tamunya. Mendapat uang orang, melepaskan mala petaka orang.
Benteng Zhang-feng dalam melindungi tamu tidak pernah terjadi
kesalahan, sama sekali tidak boleh ada orang luar yang bisa melukai tamu.
Tentu saja, kalau orang sendiri melukai tamu itu adalah
pengecualian, bagaimana pun jika hal itu terjadi, tidak ada orang
yang tahu. Fu Ke-wei sudah pindah ke lereng gunung sebelah barat benteng,
ke benteng Zhang-feng berjarak tidak sampai lima li, dari atas dia melihat ke bawah, melalui celah pohon dan rumput, bisa melihat
dengan jelas pemandangan orang-orang di dalam benteng sedang
sibuk memperkuat penjagaan, di dalam hati dia tahu, ketua benteng
Xi telah ketakutan. Racun di tubuhnya Shi-tu Yu-yao telah hilang, senjata dan senjata
rahasianya pun telah diambil kembali, dengan gembira dia pulang.
Tapi Hoa-fei-hoa malah ngotot tidak mau pergi, dengan alasan
Niu Lang-xing terluka harus ada orang yang mengawalnya, jika
ditnggalkan, di tengah jalan bertemu orang-orangnya benteng
Zhang-feng yang menghadang, bukankah itu akan seperti
melabrak ke pintu akhirat" Alasannya masuk akal juga, Fu Ke-wei
jadi tidak enak mengusirnya.
Tian-ya-koay juga ngotot tidak mau pergi, terhadap ini Fu Ke-wei tidak bisa berbuat apa-apa. Pertama dia pernah menolong Ouw Yu-zhen di
bukit Hao-han, kedua walau dia sangat dekat dengan para pendekar, tapi perbuatannya selalu hanya melihat benar atau tidak, tidak perduli
hubungannya, tetap tidak kehilangan prilaku sebagai manusia hebat yang aneh, Fu Ke-wei sangat cocok dengannya, jadi tidak enak mengusir dia"
Sore hari, ketika sedang makan makanan kering mereka
membagi kelompok. Xie-shen dan Tian-ya-koay berbaring di atas cabang pohon, sedang
menikmati arak enak di dalam Hu-lu yang berada dipinggang
Tian-ya-koay. Nie-sha-yin-hoa menemani Sepasang Cantik Jiang-nan, duduk
di atas rumput kering, makan pelan-pelan, kadangkadang
mengeluarkan tawa! Zhi Nu-xing sedang menyuapi Niu Lang-xing di atas rumput kering.
Ouw Yu-zhen dengan Hoa-fei-hoa ditempat lainnya, mengobrol
sambil makan minum, tidak tahu sedang berbicara apa"
Fu Ke-wei sudah selesai makan, sedang mempersiapkan cara
untuk masuk ke dalam benteng Zhang-feng, tiba-tiba dia merasakan
ada sesuatu, dia mengangkat kepala, begitu melihat, ternyata Shi-tu Yu-yao sudah kembali lagi, malah membawa seorang mata-mata
berusia empat puluhan, berwajah persegi dengan telinga besar, saat itu wajahnya tampak serius.
"Kau......kau buat apa kembali lagi?" dia sangat tidak senang, wajahnya sangat tidak enak di pandang, "nona Shi-tu, pelajaran yang kau terima tadi pagi apa masih belum cukup" Melakukan suatu hal di luar kemampuan diri sendiri, adalah hal yang paling bodoh."
Shi-tu Yu-yao tadinya adalah seorang nona besar yang berwajah
cantik, pandangannya luhur dan manja, karena sejarah keluarganya
bagus, ilmu silat dirinya juga lebih tinggi dari pada orang umumnya, ilmu silatnya dibandingkan dengan tujuh wanita terhebat masih lebih tinggi sedikit, keangkuhan dan percaya dirinya tidak terhindarkan, dia selalu menganggap rendah laki-laki, dan memandang rendah pada para laki-laki yang sombong, bermulut manis dan mengejarnya.
Tapi kali ini, dia sepertinya telah berubah sama sekali.
"Aku datang untuk membantumu, memberi semangat,
membantumu membalas dendam, bolehkan!" kata Shi-tu Yuyao
tertawa, dia telah merubah wajah yang angkuh dan percaya dirinya,
"pendekar besar Fu, bagaimana pun kau tidak ingin aku mengatakan kata-kata balas budi, terima kasih, semacam itu bukan?"
"Paling bagus kau tutup mulut!" dia sedikit pun tidak bersikap seperti seorang laki-laki sopan, "aku bukan pendekar besar, juga bukan sengaja menolongmu, kau tidak hutang apa-apa padaku."
"Aku tidak perduli apa pun yang kau katakan..."
"Aku tidak mau berkata apa-apa, juga tidak ingin mendengar
kata-katamu." Fu Ke-wei membalikan kepala, melotot pada
Hoa-fei-hoa yang sedang mencuri tawa, "dan kau Bunga galak,
juga Sepasang Bintang Perak, kalian juga tidak hutang apa-apa
padaku, aku tidak ingin kalian melibatkan diri dalam masalahku,
Senopati Pamungkas 31 Rahasia Mo-kau Kaucu Karya Khu Lung Naga Sakti Sungai Kuning 1
^