Pencarian

Irama Seruling Menggemparkan 24

Irama Seruling Menggemparkan Rimba Persilatan Karya Opa Bagian 24


Teng Soan sekujur badannya merasa panas, keringat
mengalir membasahi badannya, ia mengibas2 kan kipasnya seraya berkata : "Perkataan nyonya ini, aku tidak mengetahui, aih " "
Perempuan berbaju putih itu tertawa hambar dan berkata :
"Ini mudah sekali, apabila aku sudah mati, bukankah kita tidak akan ketemu lagi untuk selama-lamanya?"
Teng Soan memeras otak beberapa lama, untuk
memikirkan siapa sebetulnya perempuan misterius ini" Ia juga tidak dapat menyelami maksud dalam setiap perkataan
nyonya itu, maka sesaat lamanya, ia berdiam saja.
Perempuan berbaju putih itu menantikan jawaban Teng
Soan, karena Teng Soan tidak menjawab, ia lalu berkata pula:
"Aih! bagaimanapun juga, badanmu yang lemas itu sudah tidak mungkin bertahan lebih lama untuk menghadapi soal itu, maka kau harus lekas mencari orang yang dapat mewarisi kepandaianmu hal ini bukan saja semua kepandaian akan tetapi hidup di dalam rimba persilatan, tetapi juga dapat melanjutkan cita2mu yang belum selesai, sayang orang
berbakat baik di dalam dunia Kang-ouw tak mudah ditemukan, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kau harus sedia payung sebelum hujan, supaya tidak ribut setelah menghadapi kesulitan."
Teng Soan yang dikenal sebagai seorang berotak cerdas dan dapat memecahkan segala kesulitan tak diduga hari itu menghadapi persoalan rumit yang membuatnya hampir seperti orang bingung, ketika mendengar perkataan itu, dalam
hatinya berpikir : "apabila membiarkan ia terus menerus memajukan pertanyaan, dan aku tak dapat menjawabnya,
bukankah persoalan ini akan menjadi berlarut2. Maka aku harus ganti bertanya berapa soal supaya mendapat
kesempatan selagi ia berpikir, aku dapat menganalisa
perkataannya ..." Setelah berpikir demikian, ia tidak menantikan perempuan berbaju putih itu mengajukan pertanyaan lebih lanjut, tiba2 ia balik menanya : "Kedatanganku kemari hanya ingin minta keterangan, apakah penyakit nona Kiang sudah agak baik?"
"Kau maksudkan nona Kiang yang berbadan lemah, dan
setiap hari harus bergulat dengan penyakit itu?"
Teng Soan pada saat itu sedang mengingat2 kembali
semua apa yang sudah lalu, untuk mencari2 bayangan
perempuan misterius itu, belum lagi berhasil menemukan, sudah balas ditanya maka ia segera menjawab : "Benar."
"Meskipun gadis itu berbadan lemah dan tidak bertenaga, tetapi ayahnya, Kiang Su Im, merupakan salah seorang
terkuat dalam rimba persilatan dewasa ini.
Teng Soan tiba2 terlintas suatu ingatan, dengan cepat sudah pulih kembali sikapnya seperti biasa, ia berkata sambil tertawa, "Apakah nyonya bermaksud hendak menyerahkan
nona Kiang kepadaku, supaya lekas bertemu lagi dengan ayahnya?"
Ia mendahului mengajukan pertanyaan, supaya tidak
dirisaukan oleh pertanyaan2 sulit yang akan diajukan oleh perempuan berbaju putih itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Benar saja, perempuan itu berpikir lama baru menjawab,
"Sudah tentu akan kuserahkan kepadamu, tetapi lebih dulu kau harus menebak siapa aku ini?"
Teng Soan tiba2 mengunjukkan sikap serius, berkata
sambil menghormat : "Oleh karena pekerjaan bertumpuk2, sehingga sulit untuk mendapatkan kesempatan, sudah lama sekali aku tidak datang kekuburan suhu."
Diam2 Teng Soan memperhatikan sikap nyonya itu, benar saja kerudungnya yang menutupi wajahnya nampak
bergoyang, jelaslah bahwa perempuan itu sedang mengalami kedukaan hebat.
Teng Soan diam2 menganggukkan kepala tetapi ia masih
takut dugaannya itu keliru, maka ia bertanya : "Apakah Kun-liong Ong pernah berziarah kekuburan suhu?"
"Mula2 beberapa tahun, ia masih ada pikiran setiap tahun pergi berziarah kekuburan suhunya, tetapi sepuluh tahun belakangan ini, agaknya repot dengan pekerjaan, sudah lama tidak pernah berziarah dikuburan ayah ... "
Teng Soan gemetar, wajahnya berobah seketika.
Perempuan berbaju putih itu agaknya mengetahui sudah
telanjur, maka segera mamerintahkan semua pelayannya :
"Kalian pergi semua! Jaga sekitar rumah ini tidak perduli siapapun, semua dilarang mendekat gubuk ini dalam jarak tiga tombak."
Beberapa pelayan perempuan itu segera mengundurkan
diri. Perempuan berbaju putih itu membuka kerudungnya dan
berkata dengan suara sedih : "Ada suatu hal, barangkali hingga saat ini, kau masih belum mengerti."
"Hal apa?" bertanya Teng Soan sambil menghela napas panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mata perempuan itu mengawasi Siang-koan Kie sejenak
kemudian membatalkan maksudnya yang hendak berkata.
Teng Soan mengibas-ngibaskan kipasnya dan berkata:
"Nyonya katakan saja, saudara Siang-koan Kie ini adalah sahabat karibku."
"Apakah sampai sekarang ini kau masih panggil aku
nyonya?" "Karena kedulukkanmu sekarang ini adalah permaisuri
Kun-liong Ong." "Kun-liong Ong telah menipu aku ... "
"Sewaktu suhu masih hidup agaknya pernah berkata
kepadaku satu kali ... " berkata Teng Soan, tetapi kemudian diam.
"Mengatakan soal apa?"
"Tentang diri sumoy."
Perempuan itu tersenyam getir, dari dalam sakunya
mengeluarkan gelang batu giok, katanya: "Kenalkah kau dengan benda ini?"
Ia lalu mengulurkan tangannya menyerahkan gelang itu
kepada Teng Soan. Teng Soan menyambut gelang itu, air matanya mengalir
bercucuran, ia berkata: "Melihat barangnya teringat kepada pemiliknya, ini adalah barang peninggalan ibuku yang
ditinggalkan kepadaku."
"Tahukah kau mengapa barang ini berada di tanganku?"
"Sewaktu suhu masih hidup, pernah minta barang ini,
tetapi dengan cara bagaimana bisa berada Di tangan Su-moy, Suhengmu sesungguhnya tidak mengerti."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayahku telah memberikan gelang ini padaku, ayah pernah memberitahukan kepadaku bahwa gelang ini sebagai tanda mata pertunangan."
Hati Teng Soan berdebar keras, ia berkata : "Tetapi
suhengmu belum pernah mendengar suhu membicarakan soal ini."
Perempuan berbaju putih itu tiba-tiba menangis dan
berkata : "Ayahku meskipun belum pernah memberitahukan kepadamu, tetapi pernah berkata kepadaku tentang urusan ini, katanya setelah kau menyelesaikan pelajaranmu, aku akan dinikahkan denganmu, tak disangka bencana telah menimpa kita, perobahan terjadi secara mendadak, ayah telah
dibinasakan oleh Kun-liong Ong, aih! Setelah ia membinasakan ayah, semua dosanya telah ditimpakan di atas dirimu,
kemudian ia menipu aku supaya menyersihkan diriku
kepadanya ... " "Soal membinasakan suhu ini, meskipun sudah lama aku
tahu, tetapi tentang urusan menipu diri sumoy, ini aku tidak tahu semua."
Kiranya Teng Soan meskipun mempunyai kecerdasan otak
luar biasa, tetapi ketika ia masih belajar ilmu kepandaian, seluruh pikirannya dipusatkan kepada pelajarannya, tentang urusan rumah tangga suhunya ia tidak banyak perhatian, maka meskipun mempunyai Su-moy yang cantik jelita itu, ia juga tidak tahu.
Perempuan itu menarik napas dalam-dalam kemudian
berkata : "Waktu itu, aku telah tertipu oleh perkataannya yang manis, dalam hati membenci dirimu, siang malam aku
mendesak padanya membunuh kau untuk membalas sakit hati ayah, tetapi permintaanku itu selalu dielakkannya dengan mulut manis, ia berkata kau sudah lari entah kemana sehingga tidak mudah untuk diketemukan lagi, kasihan sepuluh tahun lamanya aku telah tertipu, selama itu aku membantu padanya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk merencanakan segala cita-citanya, menarik tenaga orang2 kuat, untuk menuntut balas ayah ... "
Teng Soan tertawa hambar dan berkata: "Apakah ia telah memberitahukan kepadamu bahwa aku sudah mengabdi
kepada golongan pengemis untuk melindungi diriku, betul tidak?"
"Betul, ia berkata bahwa pemimpin golongan pengemis
Auw-yang pangcu berkepandain sangat tinggi, anak buahnya sangat banyak, kekuatannya melebihi partai2 besar lainya yang ada pada dewasa ini, karena kau berlindung di bawah bendera golongan pengemis, tidak mudah lagi menangkapmu dalam keadaan hidup, kalau hendak membunuh kau, lebih dulu harus dapat membasmi golongan pengemis, aih! Antara kita berdua meskipun terhitung saudara seperguruan, tetapi satu sama lain belum pernah bertemu muka, hanya dari ayah saja pernah menggambarkan keadaanmu, ayah berkata
bahwa kau sudah ditakdirkan tidak berumur panjang, karena itu sudah takdir Tuhan yang Maha Esa, kau tidak bisa hidup lebih dari empat puluh tahun."
"Perkataan suhu memang tidak salah, siauheng-mu juga
sudah merasa bahwa usianya sudah hampir habis."
"Aih, tak disangka orang mempunyai kepandaian luar biasa seperti ayah, ternyata juga tidak dapat membedakan orang yang baik dan orang yang jahat."
"Kun-liong Ong mempunyai bakat luar biasa, bukan saja berbakat baik untuk melatih ilmu silat tetapi kepintaran dan kecerdikannya juga tidak di bawahku, apalagi ia berhati kejam, pandai berpura2, waktu ia datang berguru kepada suhu, kepandaian ilmu silatnya sudah tidak di bawah suhu meskipun sudah merasakan bahwa ia seorang berambisi
besar, tetapi karena mengingat pertalian antara guru dan murid, suhu tidak tega menyingkirkan dirinya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tak disangka karena kesayangan ayah terhadap bakatnya telah berakhir dengan suatu tragedi yang sangat
menyedihkan. Ia telah membangun gedung sebagai istana mengumpulkan banyak tenaga kuat, mengangkat raja muda, tindakannya itu seperti pemberontak, meskipun aku sendiri lambat laun tidak suka dengan sepak terjangnya, tetapi selama itu aku masih belum tahu bahwa dia justru musuh besarku yang membunuh ayah, aku masih tekun
membantunya dengan pengharapan supaya lekas dapat
menangkap hidup dirimu ... "
"Dengan kepandaian dan kepintaran di dalam ilmu silat dan ilmu surat, apabila digunakan kejalan yang benar, tidak susah baginya menjadi seorang kuat untuk memimpin negara
... " Perempuan itu mendadak memotong perkataannya dan
berkata: "Pada waktu ini, waktu kita sangat berharga, mari kita membicarakan soal yang lebih penting."
"Soal yang lebih penting ... "
"Biarlah aku yang menerangkan! Aku hendak membeber
semua apa yang tersimpan dalam hatiku."
"Aku bersedia mendengarkan."
"Sehingga pada tahun yang lalu aku baru merasa curiga terhadap semua keterangannya, ia seorang kejam dan sangat berhati2 dalam segala perkataannya, selama itu tidak
menunjukan apa2 yang dapat menimbulkan kecurigaan lebih besar, sehingga pada beberapa hari berselang, aku baru dengar perkataannya yang diucapkan setelah ia mabok arak ia katakan urusannya dan perbuatannya yang membunuh
suhunya sendiri, sudah tentu itu adalah perbuatanku yang sengaja membuat ia mabuk " "
Perempuan itu melirik kepada Teng Soan yang saat itu
mendengarkan dengan penuh perhatian, maka berkata pula:
"Waktu itu aku seharusnya segera turun tangan kejam,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghabisi jiwanya, tetapi aku masih ingat hubungan suami isteri selama sepuluh tahun, kalau aku membunuh dirinya, aku pasti akan berdosa sebagai seorang yang mengambil jiwa suaminya sendiri " "
Teng Soan masih tetap berdiri dan mendengarkan dengan tenang.
Perempuan itu menarik napas dalam-dalam katanya pula:
"Karena kebimbanganku itu, aku telah kehilangan kesempatan untuk menyingkirkan jiwanya sebaliknya telah dianiaya olehnya ... "
Kali ini, Teng Soan tidak bisa diam lagi, ia berseru terkejut dan berkata: "Sebaliknya telah dianiaya olehnya" Kau ... "
"Ia telah menusuk dua belas jarum di bagian jalan darahku yang terpenting, maka aku sudah tidak bisa hidup lagi sampai tengah malam ini."
"Su-moy, coba kau perlihatkan luka2mu itu kepadaku,
masih dapat ditolong atau tidak?"
Perempuan berbaju putih itu menunjukan senyum getir, ia berkata dengan suara sedih: "Sudah tidak ada gunanya, aku tidak berani mengganggu pikiran suheng, sekalipun ayahku masih hidup lagi, juga sudah tidak dapat menolong jiwaku ... "
ia berhenti sejenak, "sebelum aku berangkat nanti, aku dapat membuka ikatan dalam hatiku, menjelaskan isi hatiku, ini sudah cukup ... "
Dari luar gubuk tiba2 terdengar suara dua kali bentakan orang.
Nyonya itu segera berkata : "Ada orang datang, hanya
tidak tahu entah orang golongan mana?"
"Kuduga ia pasti bukan orang dari golongan petinggi."
berkata Teng Soan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aih! Aku sesungguhnya mengharapkan Kun-liong Ong
sendiri yang datang."
Teng Soan semula terkejut, kemudian tersenyum dan
berkata : "Kenapa?"
"Aku ingin supaya ia tahu bahwa di dalam dunia ini sudah ada orang yang menghianati dirinya."
Suara bentakan tadi terdengar berulang2 dengan diselingi oleh suara beradunya senjata.
Teng Soan tiba2 ingat maksud dan tujuan perjalanannya ini, ia mendongakkan kepala dan menarik napas dalam2, kemudian berkata: "Apakah nona Kiang itu kau sudah bawa ke mari?"
"Sudah, tetapi aku takut suamiku yang tidak boleh
dipercaya itu, nanti akan mengingkari janjinya, tiba-tiba berobah pikirannya, maka sudah ku sembunyikan."
"Kau sembunyikan?"
"Benar, sudah kusembunyikan, tempat sembunyian itu
sangat rahasia, tidak nanti Kun-liong Ong dapat menemukan
... " "Jauhkan tempat itu?" bertanya Teng Soan dengan
perasaan cemas. "Tidak jauh hanya di sekitar tempat ini saja."
Di luar gubuk tiba2 terdengar suara jeritan ngeri, suara itu sangat tajam, seolah-olah keluar dari mulut seorang
perempuan. "Pelayan Su-moy telah terluka seorang, suatu bukti bahwa orang yang datang itu berkepandaian tinggi," Berkata Teng Soan.
"Siaute ingin keluar untuk melihatnya," berkata Siang-koan Kie.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak usah," berkata nyonya berbaju putih itu, "diantara pelayanku itu, ada dua orang yang suda terpengaruh oleh obat Kun-liong Ong, ia sering memberitahukan segala
urusanku pada Kun-liong Ong, selama itu Kun-liong Ong mengira aku tidak mengetahui urusan ini, sebetulnya sudah lama aku tahu, oleh karena mereka kena pengaruhnya obat, hingga perbuatan mereka itu bukan atas kemauan sendiri, dan waktu itu, aku sendiri juga tidak mengkhianati Kun-liong Ong, maka aku membiarkan mereka dan pura-pura berlaku tidak tahu, tetapi keadaan hari ini berlainan, diam2 aku sudah pesan beberapa pelayan kepercayaanku, supaya
menggunakan kesempatan ini untuk membunuh dua pelayan itu ... "
"Kenapa?" "Aku tidak berdaya, menuntut balas dendam musuhku
dengan tangan sendiri, aku ingin setelah aku mati,
mempermainkannya sebentar, aku tidak berdaya mengambil jiwanya, tetapi biar bagaimana aku juga akan berusaha membuatnya tidak enak makan tidak enak tidur ... "
Sementara itu suara beradunya senjata terdengar semakin gencar, barangkali di luar gubuk itu sedang berlangsung suatu pertempuran sengit.
Nyonya Kun-liong Ong nampak sedikit perobahan di
wajahnya, sesaat ia berhenti penuturannya, untuk memasang telinga, kemudian ia melanjutkan lagi sambil menghela napas panjang : "Kalau kita perhatikan suara beradunya senjata itu, jumlah orang yang datang menyerang agaknya tidak sedikit, apakah itu orang2nya Kun-liong Ong yang datang?"
"Mungkin," berkata Teng Soan sambil tersenyum.
Paras nyonya itu nampak sangat murung, ia berkata sambil menghela napas, "Aku sudah berusaha merahasiakan
tindakanku tak disangka, tidak dapat lolos dari matanya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Meskipun Su-moy juga merupakan seorang wanita jantan, pintar dan cerdik, tetapi baik kepandaian ilmu silat, maupun akal muslihat, tidak dapat dibandingkan dengan Kun-liong Ong."
"Sebetulnya kedatangan semua di tempat ini, aku sudah tahu Kun-liong Ong pasti akan datang juga."
Nyonya Kun-liong Ong berdiri kememek, sementara itu dari luar terdengar suara bentakan orang, "Kalian kawanan
pelayan yang tidak berarti ini, benarkah sudah tidak
menghendaki jiwa kalian sendiri?"
Dari suara itu menunjukkan bahwa orang itu berkepandaian tinggi.
Selanjutnya terdengar suara jeritan, seorang wanita yang sangat mengerikan.
"Kembali selembar jiwa telah melayang di tangan
orang2nya Kun-liong Ong, Su-moy, apakah kau tidak
khawatir?" bertanya Teng Soan sambil menghela napas.
"Jiwaku cuma tinggal beberapa jam saja, seorang yang
sudah seperti aku ini, sudah tidak apa2 yang dikhawatirkan lagi!" menjawab nyonya Kun-liong Ong sambil tertawa getir.
"Tetapi enam pelayan wanita itu ... "
"Enam pelayanku itu semua sudah mengikuti aku lama
sekali, meskipun kedudukan kita berlainan tetapi hubungan perasaan kita sudah seperti saudara sendiri, apabila aku mati, mereka juga tidak bisa hidup lagi ... "
Di luar gubuk terdengar suara jeritan ngeri yang keluar dari mulut seorang laki2, kemudian terdengar suara seorang menghardik: "Perempuan hina, kau benar2 hendak mengadu jiwa?"
Terdengar suara seorang wanita menjawab: "Kita
bertempur sampai orang yang terakhir orang yang terakhir itu Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meskipun hanya tinggal satu lengan saja, juga hendak
melawan terus, asal kita masih bisa bernapas, kalian bangsa-bangsa budak ini, jangan harap bisa masuk ke dalam gubuk ini " "
Selanjutnya disusul oleh suara saling bentak terputus-putus.
Teng Soan sangat kagum akan kegagahan dan kesetiaan
kawanan pelayan itu. "Keadaan sudah terlalu gawat, soal mati hidupku sudah tidak kupikirkan lagi, tetapi masih ada ... " berkata nyonya Kun-liong Ong dengan suara sedih, tangannya tiba2 menyusut air mata yang mengalir keluar, hingga tidak melanjutkan kata-katanya.
"Ada apa?" bertanya Teng Soan.
Nyonya itu per lahan2 menundukkan kepala dan berkata,
"Aku hanya khawatirkan keselamatanmu."
Teng Soan mendongakkan kepala dan tertawa, kemudian
bertanya, "Hidup atau mati soal kecil, apa yang perlu dikhawatirkan! Apalagi ... orang2 itu meskipun dapat
memasuki gubuk ini, juga belum tentu dapat membunuh aku!"
"Aku tahu, meskipun kau tak bertenaga, tetapi mempunyai keberanian luar biasa, aku belum pernah mengira ada orang lemah seperti kau ini, ternyata mempunyai keberanian
seorang jantan yang gagah perkasa!"
"Su-moy terlalu memuji."
"Tetapi ... " "Tetapi apa?" "Gubuk ini sebetulnya adalah suatu jebakan yang telah kuatur, meskipun aku tidak dapat memastikan ia datang kemari, tetapi justru kaulah yang sengaja kupancing kemari, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
apabila terjadi apa2 atas dirimu, bagaimana aku berani untuk menemui arwah ayahku di alam baka?"
"Walaupun demikian, itu juga aku yang datang sendiri
masuk perangkap, bagaimana dapat menyesalkan Su-moy?"
"Jikalau kecerdasan agak kurang, atau keberanianmu tidak sebesar itu, barangkah tidak dapat mencari sampai disini, juga akan terjadi kejadian seperti sekarang ini ..." berkata nyonya itu sambil menghela napas.
-odwo- Bab 76 MEREKA berdua berbicara seenaknya di bawah ancaman
bahaya serbuan manusia ganas, sedangkan Siang koin Kie juga terus duduk disamping, mendengarkan pembicaraan
mereka dengan tenang agaknya tidak menghiraukan bahaya yang mengancam itu.
Ketika mendengar sampai di situ, tiba-tiba ia berkata : "Ada suatu hal yang aku tidak dapat percaya."
"Hal apa?" bertanya Teng Soan.
"Benarkah sianseng dari ilmu nujum, telah menunjukkan harus datang ketempat ini?" berkata Siang-koan Kie.
"Itu hanya merupakan suatu urusan yang asal harus
sengaja menerangkan dihadapan orang, satu ilmu nujum, mungkin dapat menujumkan bahaya atau keberuntungan
seseorang, bagaimana dapat menujumkan tempatnya begitu tepat!"
"Kau pandai meramalkan apa yang akan terjadi,
seharusnya tahu bagaimana harus menyingkir dari bahaya, juga tidak seharusnya datang kemari, berkata nyonya Kun-liong Ong sambil menghela napas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Selama belum pernah aku menghiraukan kepentingan
diriku sendiri, maka aku juga belum pernah menujumkan diriku sendiri."
"Kau pandai melihat nasib orang, bodoh terhadab diri
sendiri, seumur hidupmu kau selalu mengabdi untuk
kepentingan orang lain, sampai sekarang seharusnya kau juga bisa memikirkan dirimu sendiri bagaimana harus keluar dari gangguan ini?"
Sebelum Teng Soan menjawab Siang-koan Kie sudah
berkata dengan suara nyaring. "Sekalipun di luar banyak tentara, aku juga akan mengantar Teng sianseng keluar dari sini dalam keadaan selamat."
Wajah nyonya Kun-liong Ong yang murung terlintas suatu senyuman, kemudian berkata, "Seorang jago muda yang
gagah perkasa, suhengku mempunyai kepintaran seperti Cu-kat sianseng, kau juga mempunyai keuletan dan keberanian seperti Cu To hiong, sebelum ajalku tiba aku dapat melihat dua laki2 seperti kalian, rasanya juga tidak sia2 dalam hidupku ini."
"Nyonya terlalu memuji ..." berkata Siang-koan Kie.
Baru saja Siang-koan Kie menutup mulut, tiba2 terdengar suara bentakan bengis yang sudah berada diambang pintu.
Siang-koan Kie membalikkan badan dan menyerbu keluar, seorang laki2 berpakaian ringkas dengan badan berlumuran darah berdiri diambang pintu Siang-koan Kie segera
membentak. "Balik!"
Selagi hendak melancarkan serangannya, tak disangka laki2
itu sudah roboh di tanah, sebilah pedang panjang menancap dibelakang punggungnya.
Tatkala ia berpaling, nyonya Kun-liong Ong sudah berdiri dari tempatnya sedangkan Teng Soan dengan sikap tidak berobah, masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siang-koan Kie diam2 memuji ketabahan Teng Soan.
Sementara itu nyonya Kun-liong Ong sudah mendekati
jendela, biji matanya berputaran wajahnya berobah, ia berkata sambil menghela napas : "Hanya sebentar saja, mereka sudah menyerbu masuk."
Kirarya ia yang menyaksikan pertempuran dari jendela, merasa terkejut menyaksikan bahwa pelayannya hanya tinggal tiga orang saja.
Tiga pelayan itu dengan sangat berani dan gagah sekali melawan musuhnya yang berjumlah kira2 delapan orang,
keadaannya nampak letih sekali. Seorang pelayan yang sudah roboh di tanah tiba2 bangkit dan mengambil sebilah pedang panjang kemudian menyerbu lawannya"
Pelayan perempuan itu bukan saja sekujur badannya sudah mandi darah, rambutnya sudah tak keruan, tetapi lengan kirinya juga sudah tidak bisa bergerak, hanya mengandalkan semangat dan keberaniannya tanpa menghiraukan
keadaannya sendiri ia melawan musuhnya secara nekad,


Irama Seruling Menggemparkan Rimba Persilatan Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

musuhnya agaknya tidak menduga bahwa dalam keadaan
parah pelayan itu masih berani melawan mati-matian,
sehingga saat itu menjadi tertegun dan sudah lupa
menyingkir. Tidak ampun lagi senjata di tangan pelayan perempuan itu mengenakan sasarannya dengan tepat, hingga musuhnya itu roboh dan mati seketika itu juga.
Pelayan wanita itu setelah membacok roboh lawannya, ia sendiri juga jatuh roboh karena kehabisan tenaga.
Njonja Kun-liong Ong yang berdiri di dekat jedela
menyaksikan semua kejadian itu mangucurkan air mata.
Siang-koan Kie mendadak berpaling dan bertanya kepada nyonya itu : "Apakah nyonya masih ingin bicara dengan Teng sianseng."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Nyonya Kun-liog Ong menganggukkan kepala sebagai
jawaban. "Biarlah aku yang rendah keluar sebentar untuk
menghadapi mereka, supaya nyonya bisa bicara dengan
tenang!" berkata Siang-koan Kie.
"Kau ditugaskan melindungi keselamatan Teng sianseng, sebaiknya jangan menempuh bahaya!" berkata nyonya Kun-liong Ong sambil menghela napas.
"Nyonya jangan khawatir, biar aku yang rendah nanti
membunuh beberapa manusia jahat itu supaya pengawal
nyonya tidak akan menghadapi musuh terlalu banyak,
sebentar aku akan balik kembali," berkata Siang-koan Kie tegas, segera lompat melesat melalui lobang jendela,
kemudian dengan sebilah pedang yang disambarnya dari salah seorang bangkai musuh, lalu menyerbu kemedan
pertempuran. Nyonya Kun-liong Ong yang menyaksikan gerakan Siang-
koan Kie, memuji kepandaian dan keberaniannya, kemudian berpaling dan berkata kepad Teng Soan: "Tak kusangka kau mendapatkan seorang pembantu demikian hebat ..."
"Dia adalah naganya dalam kalangan manusia ..., hanya sangat menyesal golongan pengemis tidak mempunyai rejeki mendapatkan orang yang berbakat demikian baik," berkata Teng Soan.
Nyonya Kun-liong Ong melengak, katanya: "Dia bukan
orang golongan pengemis, tetapi mau berbuat mati-matian demikian rupa untukmu ... aih, ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang amat ganjil!"
Sementara itu dari luar, berulang-ulang terdengar suara jeritan ngeri yang keluar dari mulut beberapa laki2, belum lagi suara jeritan sirap, Siang-koan Kie sudah balik masuk melalui lubang jendela, kemudian berkata sambil tertawa. "Di sana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
juga cuma tinggal tiga orang saja, nyonya boleh bicara tanpa khawatir apa-apa ..."
Pedang di tangannya berlumuran darah, tetapi pakaian
yang menempel dibadannya sedikitpun tidak kecipratan darah, mungkin karena ia mainkan pedangnya terlalu cepat."
Seketika nyonya Kun-liong Ong tertegun menyaksikan
kegagahan Siang-koan Kie, ia berkata dengan nada terheran-heran. "Ucapanku masih belum habis, apakah kau sudah
membinasakan empat lima orang banyaknya?"
"Aku yang rendah tidak berani merebut pahala orang, dua diantara mereka terbunuh oleh pelayan nyonya ..." berkata Siang-koan Kie.
Pada saat itu di luar terdengar suara derap kaki kuda kembali laki2 tegap melompat turun dari kuda masing2, Siangkoan Kie dengan cepat berkata : "Suasana menjadi gawat, apabila ada perkataan penting, harap nyonya lekas jelaskan kepada Teng sianseng."
Setelah itu ia melompat ke luar lagi melalui jendela.
Dengan sikap serius nyonya Kun-liong Ong berkata: "Kun-liong Ong bertekad hendak menarik diri Kiang Su Im, supaya membantu kepadanya, maka sudah lama merencanakan suatu siasat hendak menculik gadis Kiang Su Im, akan digunakan sebagai barang pemeras, supaya Kiang Su Im mau mendengar perintahnya."
Karena suasana sudah gawat, maka nyonya itu
memberitahukan maksud suaminya dan pokok pangkalnya
dari lenyapnya anak perempuan Kiang Su Im.
Teng Soan mendengarkan penuturan itu dengan penuh
perhatian, sama sekali tidak mengajukan pertanyaan.
Nyonya Kun-lioug Ong berkata pula: "Setelah aku
mengetahui rencana keji itu lalu berusaha menculik anak perempuan Kiang Su Im lebih dulu, selain untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menggagalkan rencana jahatnya itu, juga dengan terjadinya kejadian ini, supaya ia selalu memikiri soal ini, sehingga mengalutkan pikirannya."
Ia menarik napas perlahan, kemudian melanjutkan kata-
katanya: "Sekarang aku sudah sembunyikan nona Kiang ke suatu tempat yang aman, bagaimanapun juga tidak dapat menemukan lagi, tempat itu sekarang kuberitahukan
kepadamu, kalau kau nanti benar terjatuh di tangannya juga boleh menggunakan untuk memaksa ia, supaya ia tidak berani mengambil jiwamu!"
"Orang seperti Kun-liong Ong, lebih suka tidak
menemukan nona Kiang selama-lamanya, juga tidak mungkin mau melepaskan aku begitu saja," berkata Teng Soan sambil tertawa dan menggelengkan kepala.
Nyonya Kun-liong Ong melengak, ia berkata sambil
menghela napas: "Tetapi bagaimanapun juga, tempat itu kau harus ingat baik-baik."
"Seharusnya memang begitu."
"Tempat ini kecuali aku, tidak ada orang lain yang
mengetahui, sebab aku sesungguhnya tidak percaya kepada siapapun yang dapat menutup mulut dihadapan Kun-liong Ong," berkata nyonya Kun-liong Ong sambil melongok keluar jendela, kemudian berkata lagi sambil menghela napas:
"Tempat itu adalah ... "
"Tunggu dulu, harap Su-moy panggil pulang Siang-koan
Kie dan nanti baru kau ceritakan."
"Kenapa?" "Hari ini apabila terjadi apa-apa atas diriku, agar supaya Siang-koan Kie juga bisa pergi mencarinya, jikalau tidak, rahasia ini bukankah akan terpendam selama-lamanya?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau memang selalu sangat hati-hati, sifatmu ini benar-benar tidak ada bagi orang lain ... " berkata nyonya Kun-liong Ong, kemudian berpaling dan memanggil Siang-koan Kie.
"Siang-koan Kie, lekas kembali!"
Sesaat kemudian Siang-koan Kie sudah melompat masuk
dari jendela, kini pakaiannya sudah kecipratan banyak darah, dahinya juga berkeringatan, sambil menghapus keringatnya ia bertanya: "Ada urusan apa?"
"Dengarlah, dari sini jalan terus menuju kebarat, di situ terdapat sebuah rimba pohon palem, di dalam rimba pohon palem itu ada berdiam seorang tukang buah, setelah kau tiba disana, kau harus menanyakan kepadanya dengan kata-kata:
"buah palem dalam rimbamu ini ada berapa banyak" Jikalau dia menjawabnya, "sama dengan jumlah rambut di atas
kepalamu!" maka kau segera minta ia ajak kau pergi," berkata nyonya Kun-liong Ong.
"Apakah itu perjalanan yang menuju tempat sembunyinya nyonya Kiang?"
Nyonya Kun-liong Ong menjawab sambil menggelengkan
kepala: "Ia akan membawa kau pergi mencari seorang tukang kayu, tukang kayu itu adalah seorang tua bongkok, setelah kau bertemu dengannya, segera minta kepadanya mengantar pulang tukang buah, kemudian tukang buah itu akan
membawa kau kesebuah tempat minum teh, ingat, tempat
minum teh itu di depannya ada sebuah sungai kecil, dalam sungai itu terdapat banyak ikan, setiap hari ada banyak perahu penangkap ikan yang mondar mandir di situ, kau menunggu setelah tukang kayu itu berlalu kemudian berdiri dipinggir sungai sambil berkaok-kaok mau beli ikan, saat itu pasti ada banyak perahu ikan yang menghampiri kau, tetapi kau harus mencari seorang nelayan yang matanya picak
sebelah, lalu kau menanyakan kepadanya: "Tujuh ekor ikan berapa harganya?" apabila ia menjawabmu: "Tiga tail perak Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk delapan ekor!" maka kau harus segera melompat naik keatas perahunya!"
Siang-koan Kie yang mendengarkan keterangan itu
demikian melit, diam2 mengerutkan alisnya.
"Kun-liong Ong banyak akal dan sangat kejam." berkata pula nyonya Kun-liong Ong. "Ia sudah mewarisi banyak
kepandaian ayah, meskipun tidak sepintar Teng suheng, tetapi orang2 rimba persilatan yang dapat menandingi
kepintarannya, sudah tidak ada lagi, jikalau tidak diatur demikian, bagaimana dapat mengelabui mata2 anak buahnya yang tersebar luas di mana2 ... "
Sementara itu dengan sekonyong2 Siang-koan Kie
mengeluarkan suara bentakan keras kemudian melompat
melesat melalui lubang jendela.
Teng Soan dan nyonya Kun-liong Ong memandang keluar,
telah nampak pemuda itu sedang mainkan pedangnya
demikian rupa, di mana sinar pedang berkelebat, di situ terjatuh korban, dalam waktu singkat, sudah merobohkan tiga orang.
Tiga pelayan yang tadi ditinggalkan melawan tiga laki2 itu sebetulnya sudah hampir jatuh, ketika menyaksikan
kegagahan Siang-koan Kie menjatuhkan lawan2nya,
semangatnya mendadak terbangun, dengan demikian
sehingga mereka dapat menguasai keadaan lagi.
Nyonya Kun-liong Ong berkata kepada Teng Soan:
"Pemuda ini sangat gagah berani dan berkepandaian tinggi sekali, orang2 berpakaian hitam itu, semua merupakan orang kuat dari barisan pengawal baju hitam Kun liong Ong,
sungguh heran dalam waktu sekejap saja, ia sudah berhasil merobohkan tiga orang."
Pada saat itu Siang-koan Kie sudah balik kembali ke dalam gubuk, pedangnya masih banyak tanda darah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Teng Soan sambil menengadah berkata pada Su-moy: "Su-
moy, lekas kau jelaskan, Kun-liong Ong sudah mulai mengatur barisan aneh di sekitar gubuk ini."
"Nampaknya ia masih belum ada maksud untuk mengambil
jiwamu sekarang." "Caranya itu ada lebih ganas dan kejam dari pada
membunuh." Siang-koan Kie meskipun tidak mengerti, tetapi ia tidak berani bertanya.
"Hem, hem" Ia bermaksud supaya kita ternoda dan nama
baik ayah tercacat, kejahatan orang itu, sesungguhnya jarang ada di dalam dunia .... " berkata nyonya Kun-liong Ong sambil tersenyum getir, "Nelayan mata satu itu, akan bawa kalian ke suatu perkampungan nelayan, di situ ada seorang perempuan tua berambut putih, kau segera menanyakan kepadanya jaring ikan ada berapa banyak lobang, jikalau ia menjawabmu, tiga ribu tiga ratus tigapuluh tiga, maka kau segera beritahukan kepadanya: kita datang atas perintah permasuri. Jikalau ia menanyakan kepadamu berapa usia permaisuri, kau segera acungkan tiga jari tanganmu, lalu bolak balikan dua kali, kemudian kau perhatikan lagi bagaimana reaksinya, jikalau ia mengambil sepotong tusuk konde dari dalam sakunya, maka kau harus terima dan simpan baik2, kemudian lari menuju ketimur, kira2 empat lima pal, di situ ada tanah datar yang luas, tanah datar itu banyak arak2 gembala kambing, maka kau harus memanggil: beli kambing tiga kali, apabila ada orang datang menanyamu, berapa harganya seekor kambing, kau harus menjawab tigaribu tigaratus tigapuluh tiga, maka ia akan bawa kau kesuatu tempat rahasia. dengan sepotong tusuk konde itu, kau akan dapat menjumpai nona Kiang."
"Sudah jelaskah kau?" bertanya Teng Soan kepada Siangkoan Kie dengan suara perlahan.
"Sudah jelas." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apabila terjadi apa-apa atas diriku, kau harus dapat menolong nona Kiang dan bawa pulang kepada golongan
pengemis, kau serahkan kepada Pangcu."
"Mengapa sianseng mengucapkan perkataan demikian,
Siang-koan Kie masih bisa hidup satu detik, dapat menjamin sianseng tidak ada halangan apa2, sekalipun Kun-liong Ong datang sendiri, Siang-koan Kie juga akan melawannya mati-matian, apabila kita harus mati, aku juga akan mati dihadapan sianseng."
Mata Teng Soan berputaran memandang keadaan di luar
rumah, kemudian berkata: "Kun-liong Ong ingin mengurung kita disini."
"Semua itu adalah salahku, sehingga menyusahkan
suheng," berkata nyonya Kun-liong Ong dengan suara duka.
"Aku rela datang sendiri, bagaimana dapat menyalahkan semua?", berkata Teng Soan sambil tersenyum.
Pada saat itu, rombongan orang berbaju hitam yang
hendak menyerbu gubuk itu, tiba-tiba mengundurkan diri dengan meninggalkan beberapa puluh kawannya yang sudah menggeletak menjadi bangkai.
Nyonya Kun-liong Ong tiba-tiba menepok dengan
tangannya hingga tiga kali, dari dua sisi kamar dalam gubuk itu, telah muncul delapan orang berbadan tegap, orang-orang itu semua membawa senjata tajam, setelah memberi hormat kepada nyonya Kun-liong Ong, lalu berdiri disamping sambil meluruskan dua tangannya.
Teng Soan mengawasi delapan orang itu sejenak,
kemudian bertanya: "Orang-orang ini apakah orang-orang kepercayaanmu semua?"
"Orang2 ini semua adalah tawanan yang hendak dihukum
mati oleh Kun-liong Ong, lalu kutolongnya dan kuberikan obat pemunah racun untuk memunahkan racun dalam tubuhnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam pikiran ku, mereka seharusnya adalah orang2
kepercayaanku." Delapan orang itu semua memberi hormat dengan
membongkokkan badan kemudian berkata: "Asal permaisuri ada perintah sekalipun disuruh mati kita juga tidak akan menolak."
Nyonya Kun-liong Ong sambil menatap Teng Soa berkata
dengan sikap sungguh-sungguh: "Sudah waktunya suheng
harus pergi, selagi barisan Kun-liong Ong masih belum kokoh, kalian mungkin dapat menerjang keluar."
Teng Soan berpikir sejenak, kemudian berkata. "Apakah Su-moy hendak diam disini?"
"Jangan kata aku sudah dimasuki jarum beracun oleh Kun-liong Ong, sehingga sudah tidak ada harapan untuk hidup lagi, sekalipun aku dapat melarikan diri, juga tidak bisa pergi bersama-sama dengan kalian!"
"Su-moy benar, ia hendak mengurung kita di tempat ini, kemudian ia akan berusaha supaya hal ini tersiar luas di kalangan rimba persilatan, sehingga dapat menimbulkan prasangka bahwa diantara aku dengan Su-moy melakukan
perbuatan durhaka sehingga menodai nama baik Su-moy.
"Oleh karena itu maka aku minta suheng lekas berlalu dari sini, supaya akal keji itu tidak tercapai maksudnya."
"Meskipun aku tahu semua kejahatannya, tetapi
bagaimanapun juga aku tidak dapat melupakan tali
persaudaraan kita, maka selama itu aku tidak tega lurun tangan kejam terhadapnya tetapi melihat kelakuannya hari ini, jelas ia sudah tidak mempunyai prikemanusian, jikalau aku tidak membunuh bangsat itu, bagaimana aku harus
menghadap kepada arwah suhu di alam baka?"
"Aku harya dapat mengatakan kejahatannya, tetapi tidak boleh mengeritik artinya dengan perkataan tajam ... " berkata Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nyonya Kun-liong Ong sambil tertawa sedih, sejenak ia berdiam kemudian ia berkata pula : "Suheng harus lekas pergi, aku sudah merupakan orang yang sudah tidak dapat ditolong jiwa-ku lagi, barangkali juga akan kutolak."
"Kalau begitu suhengmu kini mohon diri," berkata Teng Soan sambil menarik napas, kemudian membalikan badannya bertindak keluar.
Siang-koan Kie maju selangkah, ia jalan mendahului Teng Soan.
Nyonya Kun-liong Ong berseru : "Suheng tunggu dulu."
"Su-moy masih ada pesan apa lagi?" bertanya Teng Soan.
"Aku sudah sediakan delapan orang untuk melindungi dan mengantar suheng ... " berkata nyonya Kun-liong Ong, kemudian berpaling dan berkata kepada delapan laki2 tegap itu : "Kalian apabila menjumpai pertempuran sengit boleh turun tangan kejam sesuka hati kalian."
"Kita semua sudah menerima budi permaisuri, sudah tentu membalas budi itu dengan jiwa kita," menjawab delapan laki2
itu serentak. "Apabila kalian beruntung masih bisa lolos dari kepungan, boleh ikut suhengku mengabdi kepada golongan pengemis!"
Delapan laki2 itu saling berpandangan sebentar satu
diantaranya berkata sambil menundukan kepala, "Apakah permaisuri ingin kita berangkat dengan segera?"
Nyonya Kun-liong Ong menganggukan kepala dengan sedih dan berkata : "Di dalam dunia tak ada perjamuan yang tidak berakhir, kalian sekarang harus pergi!"
Laki2 itu dengan wajah murung dan suara sedih berkata,
"Hari ini kita pergi, barangkali dikemudian hari sudah tidak dapat menemukan permasuri lagi, kita telah menerima budi besar, harap sudi menerima hormat kita yang penghabisan ..."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah itu delapan laki2 itu dengan serentak menjatuhkan diri dan berlutut dihadapan nyonya Kun-liong Ong.
Nyonya Kun-liong Ong sekian lama mengawasi mereka
dengan hati pilu, kemudian berkata dengan suara sedih : "Aku telah menolong kalian dari kematian, tetapi sekarang
menyuruh kalian pergi menghadapi maut ", aih! Semoga
kalian semua dapat keluar dari sini dengan selamat, supaya arwahku di dalam dunia nanti juga merasa tenang."
"Kita semua sudah siap berkorban untuk permaisuri,
sekalipun mendapat kesempatan hidup juga akan kutinggalkan jiwaku ini untuk mengadu jiwa dengan Kun-liong Ong,"
menyahut delapan orang itu serentak.
"Hingga sekarang ini, aku baru mengetahui kesetiaan hati kalian," berkata nyonya Kun-liong Ong kemudian menatap Teng Soan dan berkata kepadanya dengan suara perlahan,
"Harap suheng baik2 menjaga diri ... "
Tiba2 ia melengos, cepat masuk ke sebuah kamar diseblah kiri badannya gemetar jelas bahwa dalam hati nyonya agung itu, sedang mengalami penderitaan hebat, tetapi sehingga hilang bayangannya, ia tidak menoleh lagi.
Di luar jendela samar2 terdengar suara tangisan sedih dari tiga orang pelayan, dalam suasana yang penuh dengan
bahaya maut, ditambah lagi dengan suasana menyedihkan, sehingga keadaan itu nampak semakin sunyi dan
menyedihkan. Delapan laki2 itu masih berlutut di tanah, tidak satupun yang berani mengangkat muka, sebab delapan laki2 itu gagah dan setia itu, lebih suka hancur lebur badannya, tetapi juga tidak suka mengucurkan air mata.
Siang-koan Kie berdiri diambang pintu, dengan telapak sepatunya ia menghapus darah di atas pedangnya, angin gunung meniup bajunya yang panuh dengan darah manusia.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mata Teng Soan menatap Siang-koan Kie sejenak tiba2
menarik napas dalam2, kemudian berkata kepada delapan laki2 itu. "Tuan2 sudikah disini menunggu aku sebentar biarlah aku mengantarkan Su-moy lebih dahulu?"
Semua orang tahu, bahwa saat itu waktunya sangat
mendesak, lebih lekas berlalu dari situ lebih baik, namun demikian, orang2 itu semua agaknya lebih suka berdiam di situ, maka ketika mendengar pertanyaan Teng Soan, semua mengangukkan kepala sebagai jawaban.
Wajah Teng Soan yang serius, terlintas satu senyuman
masam, sambil membereskan pakaiannya masuk menuju ke
kamar sebelah kiri. Dalam kamar itu sekitarnya terpancang kain sutra putih yang hampir sampai ke tanah, di tengah2 kamar terdapat sebuah peti mati, membujur dalam keadaan setengah terbuka.
Sekitar peti mati itu, juga ditumpuki banyak sutra putih dan lain2nya, hingga untuk sesaat orang tak dapat menduga apa sebetulnya itu.
Permaisuri Kun-liong Ong sudah mengenakan jubah
panjang berwarna putih, sedang berlutut menghadapi dinding, agaknya tengah berdoa.
Rambutnya panjang dan hitam terurai di atas pundaknya yang diselubungi kain putih, rambut di atas pundaknya naik turun bagaikan ombak di laut, di dalam kamar yang tidak ada anginnya, keadaan itu menjadi suatu bukti bagaimana
tergoncangnya pikirannya.
Begitu masuk dalam kamar, Teng Soan rasakan kesunyian dan keseraman suasana di dalam kamar itu, hatinya pedih seperti ditusuk oleh belati.
Lama, lama sekali, perempuan yang menamakan diri
permaisuri Kun-liong Ong itu, lambat2 berpaling ke arah Teng Soan, meskipun air matanya sudah dipupus, tetapi itu masih Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
belum melenyapkan tanda kebencian dalam hatinya, bibirnya tersungging suatu senyum sedih, kemudian berkata :
"Mengapa suheng masih belum pergi?"
"Pertemuan kita sangat singkat, sekarang Su-moy sudah akan pergi mendahului suhengmu, jikalau suhengmu tidak mengantar sendiri, dalau hati merasa sungguh tidak enak,"
menjawab Teng Soan sedih.
"Keadaan demikian gawat, berdiam disini lebih lama satu detik, berarti menambah bahaya satu detik, apakah suheng tidak tahu?"
Teng Soan hanya berdiri terpaku dengan mulut bungkem.
Nyonya Kun-liong Ong menarik napas panjang katanya
berkata : "Kalau suheng hendak bertekad begitu, aku juga tidak bisa memaksa, tetapi ... aih! Walaupun demikian, suheng juga tidak dapat menahan satu jam lagi ... "
"Apakah ini berarti bahwa nyawa Su-moy hanya tinggal
dalam waktu satu jam saja?" menanya Teng Soan terkejut.
"Bagiku, waktu satu jam itu kurasa terlalu lama ... "
menjawab nyonya Kun-liong Ong sambil tertawa getir.
Ketenangan sikapnya itu, seolah2 sudah tidak mempunyai perasaan sayang terhadap jiwanya sendiri, wajahnya yang pucat pasi, menunjukkan ketenangan yang luar biasa, hanya sepasang biji matanya, yang nampak sekikis sinar
kehidupannya, sehingga di atas wajahnya yang pucat, nampak mengandung banyak misteri.
Teng Soan dengan sangat pilu maju beberapa langkah, ia meraba2 barang2 yang menutupi kain sutra putih itu, ternyata merupakan kayu2 kering yang mudah terbakar.
Sepasang matanya yang tajam, tiba2 menunjukkan cahaya pudar, sebagai tanda bagaimana ia telah menahan kesedihan dalam hatinya, lambat ia mengangkat muka dan berkata: "Sumoy ... apakah ... apakah kau ... hendak membakar diri?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dimasa hidup aku tidak dapat mempertahankan
kesucianku tetapi di waktu mati, aku harus mati secara bersih
... ", menjawab nyonya Kun-liong Ong sambil menundukkan kepala.
Ia mengulur tangannya dan meraba-raba kain sutera putih yang menutupi tumpukan kayu itu, dengan suara menggetar ia berkata pula: "Aku ingin api yang membara ini akan membakar diriku menjadi abu dan berterbangan kemana saja, supaya badanku tidak disentuh oleh manusia di dalam dunia ini."
"Tetapi ..., tetapi ... " berkata Teng Soan dengan suara gemetar.
Laki2 cerdik pandai yang sudah biasa memerintah utusan orang2 kuat dalam rimba persilatan dan menentukan sesuatu perkara besar selagi menghadapi keadaan gawat, belum
pernah menunjukkan sikap gentar, tetapi pada saat itu suaranya sudah menjadi gemetar.
"Aku lebih suka badanku menjadi abu, juga tidak boleh diraba oleh Kun-liong Ong ... sejak ia memberi pengakuannya sesudah mabuk arak, kenistaanku selama beberapa puluh tahun, bagaikan cambuk yang setiap waktu memecut hatiku, kata2 dan gerak gerik setiap harinya semua itu meninggalkan kesan yang pahit getir dalam hatiku ... ."
Ia mengucapkan kata-katanya itu makin lama makin
bernapsu, ketika bicara sampai di situ, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya tiba2 terlintas suatu perasaan nyeri yang agaknya hendak ditahan sedapat mungkin.
"Su-moy, kau kenapa?" berseru Teng Soan.
Wajah nyonya itu perlahan2 nampak tenang kembali, di
bibirnya tersungging suatu senyuman getir, katanya dengan suara perlahan: "Tuhan tahu penderitaan batinku, sekarang sudah memanggil aku supaya lekas pulang."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu ia telah jalan dan masuk ke dalam peti yang setengah terbuka itu, matanya perlahan-perlahan dipejamkan, kemudian berkata sambil bersenyum getir: "Terima kasih suheng telah mengantar aku berangkat, aku ... ", tenggorokannya mendadak seperti terkancing, sehingga tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.
Teng Soan berdiri sambil menundukkan kepala, ia berkata dengan suara sedih: "Suhengmu sangat menyesal tidak
mempunyai kekuatan untuk menentang nasibmu yang buruk ini, sehingga harus menyaksikan keberangkatan Su-moy
secara menyedihkan ini ... kau ... aih, suhengmu
sesungguhnya tidak ada muka untuk menjumpai arwah suhu dialam baka."
Nyonya Kun-liong Ong dengan menahan kepedihan dalam
hatinya, berkata sambil tersenyum: "Sekarang aku akan berangkat, selamanya aku akan bebas dan penderitaan hidup ini suheng seharusnya merasa gembira ... ", tiba2 ia melambaikan tangannya dan berkata pula : "Suheng, kau pergilah. Aku ... hendak ... tidur ... "
Setelah itu lambat2 merebahkan dirinya ke dalam peti.
Teng Soan setelah berdiri termanggu2, tiba-tiba menjerit :
"Suhengmu memohon diri!"
Setelah itu ia memutar tubuhnya dan keluar dari kamar.
Keadaan di luar kamar sunyi senyap, di depan laki2 tegap tadi, masih berdiri menghadap dikamar sambil meluruskan tangannya.
Siang-koan Kie juga masih berdiri didekat pintu, pedang di taNgannya sudah digosok mengkilat.
Teng Soan begitu keluar dari dalam kamar, segera
disambut oleh pandangan mata sembilan orang itu dengan perasaan sedih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia tidak berani menghentikan kakinnya, hanya
mengangguk2an kepala kepada mereka kemudian berjalan
keluar dengan tindakan lebar.
Siang-koan Kie lalu berkata kepada delapan laki-laki itu :
"Saudara2, mari kita pergi ... "
Sambil menenteng pedangnya ia berjalan lebih dahulu,
kemudan diikuti oleh delapan laki2 itu.
Tiga pelayan wanita nyonya Kun-liong Ong, bukan saja
sekujur badannya sudah penuh darah, sikapnya juga sudah berobah murung, agaknya sudah kehabisan tenaga.
Rombongan pengawal baju hitam, meskipun semua sudah
kabur sembunyikan diri, tetapi di dalam rimba sebelah barat, kadang2 nampak berkelebatnya sinar dari senjata tajam, di atas tanah datar, tumbuhan alang2 tertiup angin sehingga bergoyang-goyang tidak berhentinya, di situ, di dalam tumbuhan alang2 yang lebat suka tersembunyi ancaman


Irama Seruling Menggemparkan Rimba Persilatan Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bahaya, hanya danau yang letaknya disebelah timur, yang nampaknya tenang, agaknya tidak terdapat tanda2 bahaya.
Ketika Siang-koan Kie jalan di depan tiga pelayan wanita itu, ia berkata kepada mereka : "Nona2 mari ikut kita untuk mengejar keluar!"
Tiga pelayan itu memandang kepadanya sejenak lalu
menyahut : "Apakah permaisuri sudah pergi?"
Mereka bertiga agaknya bersatu hati, hampir bersamaan mengajukan pertanyaan yang sama.
Siang-koan Kie menghela napas panjang dan
menganggukkan kepala. Tiga pelayan itu berpandangan satu sama lain, wajah
mereka sangat sedih, sesaat itu seperti orang bingung, seolah2 kehilangan semangat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Salah satu diantaranya, sebaliknya malah bersenyum sedih kemudian berkata : "Permaisuri kita sudah pergi, kita juga sudah tidak mempunyai tugas lagi!"
Setelah itu, tiba2 menghunus pedangnya dan ditabaskan kepada lehernya sendiri.
Siang-koan Kie menjerit terkejut, tetapi sudah tidak keburu menolong hingga nyawa pelayan yang setia itu melayang seketika itu juga, untuk pergi menyusul junjungannya.
Dua pelayan lagi tiba2 berseru serentak : "Enci tunggu kita, kita juga akan berangkat!"
Setelah berkata demikian, secepat kilat menghunus pedang mereka dan menghabiskan jiwanya sendiri.
Terjadinya perobahan itu demikian mendadak, bukan saja mengejutkan Teng Soan dan delapan laki2 itu, sekalipun Siang-koan Kie yang sangat gesit, juga tidak keburu turun tangan, sehingga berdiri terpaku beberapa lamanya!
Lama sekali ia baru bisa mengeluarkan suara : "Kalian sungguh setia, hanya perbuatan kalian ini sangat bodoh, kalau tokh mau mati, mengapa tidak mengadu jiwa dengan musuh2
kalian supaya mereka juga berkorban beberapa jiwa."
Tiba-tiba terdengar suara letusan nyaring, api berkobar di dalam gubuk itu ...
Api berkobar sangat hebat, dalam waktu sekejap mata saja sudah menelan gubuk itu, jelas bahwa nyonya Kun-liong Ong, sebelumnya sudah menanam bahan peledak dan yang mudah terbakar untuk membakar mayatnya.
Dengan demikian, telah mengakhiri jiwanya seorang wanita cantik yang nasibnya sangat malang itu.
Teng Soan perlahan-lahan menundukkan kepalanya sambil mendoa: "Su-moy, semoga arwahmu bisa bersemayam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan tenang dialam baka, aku ... .. aku ... ," hatinya merasa sangat pilu sehingga tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
Siang-koan Kie tiba-tiba lompat melesat sambil berseru:
"Saudara-saudara, mari ikut aku menerjang ke luar, untuk menyikat musuh-musuh kita dan menuntut balas dendam
permaisuri." Delapan laki-laki itu berteriak dengan serentak, "Mari serbu musuh kita!"
Dengan napsu berkobar dan semangatnya menyala-nyala
sembilan orang itu hendak menggempur musuh-musuhnya.
Delapan laki-laki itu mengikuti Teng Soan yang berjalan dibelakang Siang-koan Kie menuju kel tanah datar dengan masing-masing senjata di tangan. Siang-koan Kie berjalan sambil membolang balingkan batang pedangnya, mulutnya berkaok kaok: "Dengar orang-orang Kun-liong Ong, siapa yang memiliki keberanian, silahkan keluar menghadapi kita."
Belum lagi menutup mulutnya, tanah datar yang disangka nya tidak ada orangnya itu, tiba2 terdengar suara tertawa terbahak-bahak dengan dibarengi kata-kata: "Orang yang akan mengantarkan jiwa sudah datang."
Diantara gelak tertawa, dalam semak-semak tiba-tiba
lompat keluar tiga puluh enam laki-laki berpakaian hitam, dengan pedang panjang di tangan masing-masing.
Tempat berdiri tigapuluh enam laki-laki itu, nampaknya tidak teratur, tetapi sebetulnya menurut baris yang sudah ditetapkan, jarak antara mereka berdiri, tidak sampai tiga-kaki, jarak sedekat itu dapat dicapai oleh gerakan senjata.
Teng Soan memandang mereka sejenak, kemudian
berkata: "Tuan-tuan tunggu sebentar, biarlah aku periksa dulu kunci perobahan barisan ini, jikalau kita berhasil memecahkan kuncinya, barulah tuan-tuan menyerbu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Delapan laki-laki itu berhenti bertindak, mata mereka mengawasi setiap tindakkan Siang-koan Kie.
Siang-koan Kie memutar pedangnya, sehingga dirinya
seolah-olah terkurung oleh sinar pedang, dengan caranya itu ia menyerbu ke dalam barisan aneh itu.
Dua diantara laki-laki itu, setelah mengeluarkan suara bentakan keras, lalu menyambut kedatangan Siang-koan Kie dengan suatu gerakan mengacip.
Sebentar terdengar suara beradunya senjata, pedang
Siang-koan Kie telah berhasil membuat terpental dua pedang kedua lawannya, tanpa menghentikan kakinya. ia terus
menyerbu ketiga laki-laki, pedangnya mengarah pergelangan tangan tiga laki-laki itu.
Laki2 ketiga itu mengelakkan diri tidak balas menyerang, setelah ia menyingkir, pedang dari laki-laki keempat telah menikam rusuk Siang-koan Kie dari sebelah kiri.
Pedang Siang-koan Kie diputar membalik, gagang pedang digunakan untuk menotok jalan da rah Ciok-tie-hiat dibadan laki2 keempat, ujung pedang digunakan untuk menikam laki2
yang kelima, sedangkan gerakannya digunakan menyerbu
laki2 yang keenam, sementara itu kakinya menendang pinggul laki2 yang ketiga, semua gerakan itu dilakukan cepat sekali.
Dengan satu gerakan ia melancarkan serangan terhadap
empat orang, bagaikan empat serangan orang berkepandaian tinggi, yang dilancarkan dengan serentak.
Akibat serangan itu menimbulkan reaksi yang berlainan, ada yang berseru terkejut, ada yang terheran-heran, ada juga suara beradunya pedang, kemudian sebilah pedang lawannya terpental jatuh di tanah.
Bagaikan harimau kelaparan Siang-koan Kie mengamuk
demikian rupa, pedangnya diputar bagaikan titiran, terus menyerbu musuh-musuhnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Anak buah Kun-liong Ong itu, semuanya merupakan tenaga pilihan di kalangan Kang-ouw mereka juga sudah banyak berpengalaman, tetapi belum pernah menyaksikan jago muda yang demikian tangkas dan gagah perkasa.
Karena serangan Siang-koan Kie yang hebat itu hingga
barisan aneh itu sebentar saja sudah jadi kalut.
Teng Soan dengan penuh perhatian, memperhatikan segala perobahan yang terjadi dalam barisan itu, ia berdiri bagaikan patung, hingga setiap perubahan barisan itu, satupun tidak ada yang lolos dari matanya.
Delapan laki2 itu hanya menyaksikan berkelebatnya sinar pedang dan pertempuran sengit itu, hampir tidak bisa
bernapas. Selama pertempuran sengit itu berlangsung, tiba2
terdengar suara siulan yang nyaring.
Siang-koan Kie melesat tinggi dari dalam barisan, kemudian berjumpalitan di tengah udara, setelah itu lalu menukik dan melayang turun ke tanah.
Waktu kakinya menginjak tanah, napasnya terengah-
engah, badannya sudah basah kuyup sedang pakaiannya
penuh darah merah, dibahagian lengan terdapat banyak
lobang. Dapatkah Siang-koan Kie melindungi Teng Soan keluar dari tempat yang penuh bahaya itu"
Dapatkah putri Kiang Su Im ditolong dan dibawa pulang kepada ayahnya"
Silahkan membaca bagian lanjutannya.
-oo0dw0oo- Jilid 20 Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bab 77 LAKI2 dari barisan aneh itu, setiap orang pucat pasi, dengan mata membelalak memandang Siang-koan Kie, sinar mata mereka menunjukkan tanda kaget, heran, marah jeri tetapi juga kagum.
Pemuda itu dengan seorang diri dan sebilah pedang telah masuk dan keluar ke dalam barisan mereka dengan
seenaknya, barisan yang terdiri dari tigapuluh enam orang itu, seolah2 bukan merupakan apa-apa baginya.
Di hadapan Teng Soan, Siang-koan Kie berkata sambil
memesut keringat di jidatnya. "Sungguh hebat barisan ini, aku telah terkena serangan pedang mereka sebanyak tigabelas tempat."
Teng Soan terperanjat, ia bertanya dengan wajah berobah:
"Apakah kau terluka?"
"Meskipun tidak terluka, tapi tigabelas pedang itu, setiap pedang hampir menamatkan jiwaku, jika aku agak terlambat merobah gerak tipuku, barangkali tidak bisa keluar dari kepungan mereka."
Delapan laki2 itu mendengarkan penuturan Siang-koan Kie dengan perasaan kagum. Siang-koan Kie mengawasi sikap mereka ia khawatir bahwa ucapannya itu akan mempengaruhi semangat mereka, maka ia berkata pula sambil tertawa
terbahak-bahak: "Barisan itu meskipun hebat, tapi tidak bisa berbuat apa2 terhadap aku. Apalagi ... dengan adanya
semangat dan tekad kita beberapa orang ini, juga sudah cukup untuk menggetarkan mereka."
Teng Soan bersenyum, dalam hatinya diam2 memuji bahwa pemuda gagah itu, ternyata juga mengerti bagaimana
mengempos kawan2nya. Ia lalu berkata: "Kalau begitu mari kita menyerbu saja."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam hati Siang-koan Kie berpikir: "aku seorang diri saja demikian sulit, untuk menembus garis mereka, apabila
membawa demikian banyak orang aih ... "
Walaupun dalam hatinya berpikir demikian tetapi dengan tanpa banyak pikir lagi ia sudah berseru: "Serbu!"
"Saudara Siang-koan di depan, tuan2 ikut disampingku, bertindak menurut perintahku," berkata Teng Soan,
sesungguhnya ia sudah menemukan ciri2nya dalam barisan itu, di bagian yang mana yang harus diserbu supaya dapat memecahkan barisan tersebut.
"Barisan itu mengandung banyak perobahan yang aneh
bagaimana Sianseng boleh menempuh bahaya, menurut
pikiranku, aku hendak membawa empat kawan untuk
menyerbu lebih dulu, sianseng bergerak belakangan," berkata Siang-koan Kie dengan suara perlahan.
"Tidak apa kau jangan khawatir ... " berkata Teng Soan sambil tersenyum, kemudian berkata kepada laki2 yang berdiri di sekitarnya: "Setelah kita masuk ke dalam barisan, harap tuan2 turut perintahku, jangan bertindak sendiri2, supaya kita tidak tersesat."
Delapan laki2 itu menerima baik pesan tersebut.
Teng Soan lalu bertindak sambil mengibaskan kipasnya.
Siang-koan Kie maju selangkah, berjalan di muka Teng
Soan. Dan delapan laki2 itu berjalalan melindungi Teng Soan.
Keberanian dan ketangkasan Siang-koan Kie, sudah
meninggalkan kesan yang sangat dalam kepada musuhnya, maka ketika menampak ia menyerbu lagi dengan meliga
pedang, barisan itu segera mengadakan perubahan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Teng Soan berkata dengan suara perlahan: "Saudara
Siang-koan menyerang bagian timur, menduduki posisi di situ, lekas."
Siang-koan Kie menujukan matanya ke arah timur, di situ tampak berdiri tiga orang, meskipun dalam hati merasa heran, tetapi ia sudah percaya benar kepada Teng Soan, maka tanpa ragu-ragu ia segera menyerbu ke arah timur itu.
Sungguh heran, ketika Siang-koan Kie menyerbu,
perobahan gerakkan barisan itu, baru saja memutar setengah putaran, sedangkan di bagian timur itu, terdapat satu tempat kosong.
Teng Soan menggerakkan tangan kirinya, menyuruh dua
laki2 yang berada di sebelah kirinya segera menyerbu.
Dua laki2 itu segera menerjang sambil memutar goloknya.
Gerakkan perobahan barisan musuh, juga baru saja
membuka satu bagian terluang di tempat yang diserbu oleh dua orang itu, hingga dua laki2 itu dapat masuk ke dalam barisan tanpa mendapat rintangan.
Siao-yao Siucay berkata kepada Siang-koan Kie dengan
suara nyaring: "Saudara Siang-koan, kau sekarang dari bagian timur menyerbu ke utara."
Dengan serentak Siang-koan Kie menyergap ke bagian
utara. Barisan itu setelah dua bagian sudah terjatuh di tangan lawan. Perubahannya tidak leluasa lagi, sewaktu Siang-koan Kie menyergap, kebetulan barisan sedang bergerak, setelah diserbu oleh Siang-koan Kie, seketika menjadi kalut, seorang musuh binasa di tangannya.
Karena gerakan barisan terhalang, sehingga bagian kepala dengan bagian ekor sudah tidak dapat bekerja sama satu sama lain, sedangkan bagian sayap, juga tidak berhasil Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempertahankan kedudukannya, mereka tidak sanggup
menahan serbuan Siang-koan Kie yang hebat itu.
Teng Soan kembali menyuruh dua orang yang berdiri di sisi kanannya untuk menyerbu.
Pada saat itu, Siang-koan Kie sudah menyerang musuh2nya dengan pedangnya, setelah berhasil memukul mundur
musuh2nya, lalu menduduki tempat mereka.
Barisan musuh itu telah menjadi kalut, namun demikian mereka masih berusaha untuk mempertahankan
kedudukannya, maka waktu dua laki-laki itu menyerbu, segera mendapat rintangan dari musuh.
Teng Soan yang sudah mengetahui bagaimana caranya
harus memecahkan barisan itu, lalu berkata kepada Siangkoan Kie dengan suara nyaring: "Saudara Siang-koan lekas rebut kedudukan bagian tengah."
Siang-koan Kie dengan cepat balik menyerang ke bagian tengah, ilmu pedangnya yang luar biasa dalam waktu singkat sudah berhasil melukai dua musuhnya.
Teng Soan mengeluarkan perintah lagi, sisa delapan laki-laki yang berada di kanan kirinya dengan serentak bergerak menyerbu.
Delapan orang itu semua sudah pernah ditolong oleh
permaisuri Kun-liong Ong dari bahaya maut, maka ketika menyaksikan permaisurinya membakar diri, setiap orang menimpakan kemurkaan hatinya kepada oraug-orangnya Kun-liong Ong, dengan semangatnya yang menyala-nyala itu, mereka menyerbu ke barisan musuh bagaikan orang kalap.
Teng Soan yang paham segala macam ilmu barisan,
dengan mudah mengetahui segala perobahan dan kelemahan barisan itu, maka ia perintahkan Siang-koan Kie mematahkan pusat gerakan barisan itu, setelah gerakkan barisan itu terhalang, dengan sendirinya orang-orangnya tidak leluasa lagi Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk mempertahankan kedudukannya, ketika diserbu oleh delapan laki-laki itu, barisan itu segera menjadi kalut.
Selama pertempuran berlangsung, tiba-tiba terdengar suara seorang berkata: "gerakan barisan telah terhalang, kita tidak perlu mempertahankan peraturan, lekas berpencaran
menahan musuh." Orang-orang dalam barisan itu, segera berpencaran
menghadapi musuh-musuhnya.
Setelah orang-orang itu berpencaran melawan musuh-
musuhnya, benar saja kekuatannya malah bertambah,
jalannya pertempuran makin sengit.
Delapan laki-laki yang ditugaskan melindungi Teng Soan, bertempur dengan musuh-musuhnya di sekitar Teng Soan.
Adalah Siang-koan Kie yang saat itu mengamuk bagaikan banteng terluka, dengan sebilah pedangnya ia berhasil merobohkan setiap musuh yang berani berhadapan
dengannya. Sikap Teng Soan tenang luar biasa, meskipun sekitarnya terjadi pertempuran demikian seru, ia seolah-olah tidak menghiraukan sama sekali, bahkan matanya memandang jauh keadaan sekitarnya.
Saat itu Siang-koan Kie kembali sudah berhasil merobohkan dua musuhnya lagi.
Karena ilmu pedangnya yang aneh luar biasa, sulit bagi musuh-musuhnya untuk menjaga hampir setiap gerakannya, sekalipun tidak minta korban, tetapi juga sudah membuat musuh-musuhnya repot sekali.
Teng Soan yang sementara itu mendongakkan kepala
memandang gumpalan awan di angkasa, berkata kepada
dirinya sendiri: "Aku harus menggunakan kesempatan yang singkat selama jiwaku masih ada ini, hendak menuntut balas dendam baginya ... "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di medan pertempuran, diantara suara hentakkan dan
bunyi beradunya pedang, kembali Siang-Koan Kie sudah
berhasil merobohkan tiga lawannya.
Kegagahan pemuda itu telah menggetarkan hati musuh-
musuhnya, hampir setiap orang tidak berani mendekatinya, hingga terpaksa mundur kucar-kacir
Barisan aneh yang dibentuk oleh Kun-liong Ong itu, di bawah serbuan Siang-koan Kie atas petunjuk Teng Soan, dalam waktu yang sangat singkat sekali, sudah pecah
berantakan. Delapan laki-laki yang melindungi Teng Soan, ketika
menyaksikan ketangkasan pemuda itu, setiap orang merasa sangat kagum.
Pada saat itu tiba2 terdengar suara siulan panjang,
terdengar dari tempat yang agak jauh.
Wajah delapan laki2 itu serentak berobah, mata mereka ditujukan ke arah suara itu.
Teng Soan tersenyum hambar, ia mengawasi delapan laki2
itu sejenak, kamudian bertanya, "Apakah Kun-liong Ong datang sendiri?"
"Dugaan sianseng tepat, itu memang suara Kun-long Ong yang mungkin akan datang kemari," menyahut delapan laki2
itu. Siang-koan Kie tiba2 tertawa besar, sambil mementil
pedangnya ia berkata, "Bagus sekali kalau ia datang sendiri, keinginanku juga tercapai."
"Saudara Siang-koan ... " bertanya Teng Soan dengan suara perlahan sambil mengerutkan keningnya.
"Sianseng ada perintah apa?"
Mengapa saudara Siang-koan tertawa sambil menyentil
pedang?" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku hendak bertempur mati-matian dengan Kun-long
Ong." "Dengan tindakan saudara yang menuruti hawa Inapsu ini, apa manfaatnya bagi keadaan suluruhnya" Harus kau ketahui bahwa suasana hari ini diliputi banyak bahaya, maut
mengancam dari segala pelosok, apabila kau menuruti hawa napsu, kesudahannya pasti tidak menguntungkan pihak kita sendiri ... "
Siang-koan Kie tercengang, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.
"Kita semua yang sekarang ada disini, dapat terlepas atau tidak dari bahaya maut, saudara Siang-koan merupakan orang terpenting yang memegang kunci, oleh karena itu, aku tidak boleh tidak harus memperingatkanmu, janganlah menuruti hawa napsu, supaya tidak membawa pengaruh hebat bagi
tindakan kita, seorang laki2 gagah tanpa mempunyai pikiran sehat, itu bukan seorang gagah."
Siang-koan Kie merasa seperti diguyur oleh air dingin.
"Terima kasih atas nasehat sianseng."
"Dalam hati Kun-liong Ong selalu mengandung rasa sedikit takut terhadap aku, hari ini aku hendak menggunakan
kesempatan ini, memberikan kepadanya suatu kesan yang membingungkan ... " berkata Teng Soan, kemudian berkata kepada delapan laki2 itu : "Tetapi saudara2 harus turut permtahku."
"Kita telah diperintahkan oleh permaisuri untuk melindungi Sianseng, asal sianseng ada perintah, kita tidak akan menolak," menyahut delapan laki2 itu serentak.
"Sudah lama kalian hidup di bawah kekuasaan Kun-liong Ong, nanti apabila melihat padanya sedikit banyak tentu timbul rasa takut, apabila diketahui olehnya perasaan kalian itu, besar sekali akibatnya bagi kita."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Delapan laki2 itu diam2 membenarkan pendapat Teng Soan itu, maka semuanya bungkem.
"Dalam hati kalian masing2 tentunya masih tergores
keadaan menyedihkan permaisuri kalian yang mati membakar diri itu."
Mendengar ucapan itu, kemarahan mereka telah meluap
dengan serentak menjawab: "Peristiwa menyedihkan itu, masih tergores sangat dalam di dalam hati kita semua, yang rasanya tidak mungkin kita lupakan selama2nya."
Teng Soan mengawasi kepada musuh2 yang membentuk
barisan aneh itu, saat itu ternyata sudah me ngundurkan diri entah kemana, ia memeriksa keadaan tempat itu sejenak, kemudian berkata kepada delapan laki2 itu. "Kalian masing2
mencari rumput dan kayu kering, lekas pergi dan lekas kembali, makin banyak makin baik."
Delapan laki2 itu setelah menerima perintah itu segera berangkat.
Teng Soan lalu berkata kepada Siang-koan Kie dengan
suara perlahan: "Kita sudah terkurung di tempat ini oleh orang2 kuat yang dipimpin oleh Kun-liong Ong sendiri, jika dilihat keadaan sekitar tempat ini mudah dipertahankan susah diserang, apabila kita menerjang keluar dengan menempuh bahaya, ada lebih baik berdiam disini menantikan kedatangan bantuan."
Siang-koan Kie memandang kesekitarnya sebentar lalu
berkata : "Tempat ini merupakan tanah datar yang sangat tidak mudah dipertahankan, sebaiknya kita mundur ke danau itu, untuk menahan musuh."
"Kun-liong Ong di empat penjuru tempat ini sudah
memotong jalan mundur kita, apabila kita melawan mati2an, juga tidak sanggup menahan serangannya yang hebat,
sebaiknya kita hadapi pada itu di tanah datar ini, mungkin akan menimbulkan kesangsiannya apa bila saat itu tiba, kita Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nanti bertindak dengan melihat gelagat, supaya memberikan kesan membingungkan baginya."
Perhitungan sianseng, selalu lebih unggul dari pada orang, siaute sesungguhnja sangat kagum.
Sementara itu delapan laki2 itu sudah kembali dengan
membawa banyak kayu kering.
Teng Soan lalu berkata sambil tertawa: "Sebelum
pertempuran besar berlangsung, sudah tentu ada saat
ketenangan sementara, maka kita harus sayang kepada waktu yang sangat singkat ini."
Ia berjalan mondar mandir, memberi petunjuk kepada
mereka tempat2 yang harus mereka duduki.
Delapan laki2 itu menurut perintah Teng Soan, kayu dan rumput kering yang dibawanya itu tiba2 menjadi dua belas tumpukan kecil.
Dari dalam sakunya Teng Soan mengeluarkan dua belas
bungkusan kecil berwarna merah, kemudian berkata sambil tertawa: "Apabila anak buah Kun-liong Ong menyerbu
besar2an, kalian harus bertindak menurut perintahku,
duabelas bungkus ini meskipun ada sedikit keanehan. tetapi bukan tidak ada pengaruhnya sama sekali, Kun-liong Ong adatnya banyak curiga, sebelum mengetahui dengan jelas, ia tidak akan maju atau memandang ringan musuhnya secara gegabah."
Siang-koan Kie dan delapan laki-laki itu, tidak mengerti akal muslihat apa yang akan digunakan oleh Teng Soan, maka tiada seorangpun yang berani membuka mulut.
Teng Soan meletakkan duabelas bungkusan kecil itu ke
dalam duabelas tumpukan kayu kering, ia mengukur lagi letaknya, kemudian memperbaiki tumpukan kayu dan rumput kering itu, setelah itu lambat2 ia mundur ke dalam tumpukan kayu dan rumput kering, lalu duduk bersila.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siang-koan Kie berkata kepada delapan laki-laki itu: "Mari kita juga beristirahat sebentar, untuk menantikan saat pertempuran besar itu tiba.
Delapan laki-laki itu sudah dikagumkan oleh ketangkasan Siang-koan Kie, maka semua menurut perkataannya.
Siang-koan Kie belakangan ini kekuatan tenaga dalamnya mendapat kemajuan banyak, meskipun habis pertempuran
hebat, tetapi setelah mendapat waktu untuk beristirahat, sebentar saja sudah pulih kembali tenaganya, ia lalu membuka matanya mengawasi keadaan sekitarnya.
Di bawah sinar matahari, di tempat yang jauh, tiba-tiba tampak berkelebatnya titik bayangan merah, dan menuju ketempatnya.
Tempat di mana dilalui oleh bayangan merah itu, debu
telah mengepul. Bayangan merah itu makin lama-makin dekat, bahkan
sudah tampak semakin tegas, kiranya adalah seorang gadis berpakaian merah yang menunggang kuda warna merah pula.
Rambutnya yang panjang terurai dikedua pundaknya,
tertiup angin beterbangan, dipelana kudanya, tergantung sebilah pedang panjang, gaun merahnya itu hanya sebatas lutut, hingga paha kecilnya yang putih bersih tertampak nyata.
Kuda merah dengan penunggangnya yang berwarga merah
itu, terus lari menuju ke tempat beberapa orang itu berdiri.
Siang-koan Kie segera melompat dan mambentak:
"Berhenti." Kemudian melintangkan pedangnya.
Gadis berbaju merah itu tertawa manis, tiba-tiba melompat turun dari atas kudanya sambil menyambar pedangnya yang tergantung di pelana, kemudian melayang ke hadapan Siangkoan Kie seraya berkata: "Jangan begitu galak akh!
Kedatanganku juga tidak akan berkelahi dengan kalian."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siang-koan Kie khawatir gadis itu mengganggu Teng Soan, maka lebih dulu ia melangkah kemuka Teng Soan, kemudian baru berkata, "Kalau memang benar tidak mengandung
maksud permusuhan, harap memberitahu keadaan dirimu."
"Kau jangan tanyakan dulu aku ini siapa, aku hanya
hendak mencari seseorang, kalau orang itu ada, nanti aku beritahukan kepadanya juga belum terlambat," berkata gadis berbaju merah itu.


Irama Seruling Menggemparkan Rimba Persilatan Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Siapakah yang nona hendak cari?"
"Aku mencari Teng Soan."
Siang-koan Kie terkejut, sebelum ia membuka mulut, Teng Soan sudah bangkit berdiri dan berkata sambil tertawa: "Aku inilah Teng Soan, nona ada keperluan apa?"
Gadis berbaju merah itu bersenyum manis, kemudian
berkata sambil menghormat: "Paman Teng ... "
"Kau anak Kun-liong Ong, tetapi entah yang ke berapa?"
bertanya Teng Soan sambil tertawa dan menganggukkan
kepala." "Aku anak yang ketiga."
"Oh, jadi kau Sam Kongcu."
"Namaku Bwee Cian Tay, paman Teng adalah orang
tingkatan tua, panggil saja namaku."
Ucapan, sikap dan gerak gerik gadis itu kekanak-kanakan.
"Apakah ayahmu yang mengutus kau untuk mencari aku?"
"Ayah perintahkan aku mencari paman, ada sedikit urusan yang perlu dibicarakan."
"Dalam mata dan hati ayahmu masih ada seorang sute
seperti aku ini, sesungguhuya sangat aneh."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayah ingin bertemu muka dengan paman seorang diri,
untuk merundingkan situasi dunia, ia minta aku kabarkan dulu kepada paman."
"Dengan memandang mukamu suruhlah dia datang
kemari." "Aku hendak balik memberi kabar kepada ayah, harap
paman tunggu sebentar."
Setelah itu, gadis itu melompat naik keatas kudanya dan berlalu dari hadapan Teng Soan.
Siang-koan Kie mengawasi gadis berbaju merah itu sampai tidak kelihatan, ia baru berkata kepada Teng Soan dengan mengerutkan alisnya: "Benarkah sianseng hendak
mengadakan pembicaraan dengan Kun-liong Ong?"
"Aku sudah timbul hasrat untuk membunuh dia, kita
omong2 satu kali, berarti menambah keyakinan bagiku untuk melaksanakan maksudku."
"Kun-liong Ong jahat, kejam dan banyak akalnya,
bagaimana kita tahu ia tidak mengandung maksud untuk
membunuh sianseng?" "Ia percaya bahwa kita sudah seperti burung dalam
kurungan, yang tidak mungkin dapat terbang lagi, pada saat dan seperti ini, ia hendak menjumpai kita, sudah tentu ada mengandung maksud tertentu."
Menampak kemauan yang tegas itu, Siang-koan Kie tidak berani menasehati lagi, diam2 ia mengambil keputusan, apabila Kun-liong Ong berani melakukan perbuatan yang tidak menguntungkan bagi Teng Soan, akan diserangnya mati2an.
Menunggu tidak antara lama, dari jauh nampak dua ekor kuda lari menghampiri, di atas kuda yang lari dimuka, adalah Bwee Cian Tay, di atas kuda kedua, duduk Kun-liong Ong yang mengenakan pakaian panjang berwarna hijau.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua ekor kuda itu, setiba di tempat sejauh empat lima tombak, Kun-liong Ong dan gadis berbaju merah itu melompat turun dari atas kuda masing2.
Berjalan dekat empat tumpukan kayu kering, Kun-liong Ong tiba2 menghentikan kakinya, ia memeriksa keadaan sekitarnya sejenak, baru berjalan lagi lambat-lambat.
Teng Soan memejamkan matanya, kipasnya dipentang
untuk melindungi dadanya, duduk bersila di atas rumput.
Siang-koan Kie berdiri di muka Teng Soan sambil
melintangkan pedangnya, sepasang matanya terbuka lebar, memandang sepasang tangan Kun-liong Ong, asal menampak tangan atau jari Kun-liong Ong bergerak, akan segera
diserangnya. Kun-liong Ong berdiri sejauh enam tujun kaki, kemudian berkata kepada Teng Soan: "Sahabat-sahabat rimba
persilatan, semua sudah tahu bahwa kita adalah suheng dan sute."
Teng Soan membuka matanya, ia berkata samabil tertawa:
"Tetapi mereka tidak tahu urusan suheng yang membunuh suhu."
"Orang yang memaki aku, betapapun keji memakinya,
juga tidak akan kuhiraukan, tetapi orang-orang yang kupilih menjadi anak buahku, aku suruh mereka setia ... " berkata Kun-liong Ong, matanya menyapu delapan laki-laki yang berdiri berbaris di belakang Teng Soan, kemudian berkata pula: "Seperti delapan orang ini semuanya harus dihukum mati."
"Tahukah suheng bahwa mereka saat ini sudah mengabdi
kepada golongan pengemis?" berkata Teng Soan sambil tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wajah Kun-liong Ong yang kecut dingin, tiba2 terlintas satu senyuman, kemudian berkata: "Dengan memandang muka
sute, kali ini kuampuni dosa mereka."
"Suheng mencari aku, adalah hanya dengan keperluan itu saja?"
"Masih ada soal lain ingin kurundingkan dengan sute."
"Aku bersedia mendengarkan."
Sepasang mata Kun-liong Ong menatap wajah Teng Soan
sejenak lalu berkata: "Aku lihat muka sute, seolah-olah menderita sakit keras, apabila dugaanku tidak meleset sute barangkali tidak lama hidup di dalam dunia."
"Kalau benar mau apa?"
Kun-liong Ong mendadak tertawa terbahak2 dan berkata:
"Dari daerah luar perbatasan aku telah menemukan sebuah obat som yang sudah hidup seribu tahun lamanya dengan tanaman Ho siu oh, dan macam obat ini merupakan barang mustika di dalam dunia, mungkin dapat menyembuhkan
penyakit sute, maka aku ingin menghadiahkan dua rupa
barang ini kepada sute."
"Siaute percaya suheng benar mempunyai dua rupa benda itu, juga benar dapat menyembuhkan penyakit siaute, tetapi, usia siaute sudah tiba batasnya, hidup tambah lama beberapa tahun di dalam dunia, barangkali hanya menambah dosa saja, maka budi kebaikanmu ini aku terima di dalam hati, di sini siaute mengucapkan terima kasih."
"Kedatanganku ini dengan hati sungguh2."
"Namun sangat menyesal siaute tidak dapat memenuhi
permintaan suheng." "Aku boleh mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw dan
menyepi denganmu beberapa tahun nanti setelah kau
meninggal dunia, barulah aku keluar lagi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Keadaan sudah menjadi begini rupa, diantara kita berdua, sudah seperti api dengan air, barangkali maksud suheng itu susah dilaksanakan."
"Sekarang ini kau sendiri sudah berada di jalan buntu, sekalipun mempunyai sayap juga tidak bisa keluar dari kepunganku yang rapat ini."
"Jikalau kau yakin, sekiranya dapat membinasakan aku, bukankah kedatanganmu ini tersia2 saja?"
"Dalam hatiku masih mengingat tali persaudaraan kita, aku tidak tega hati membinasakan kau di tempat tanah belukar ini."
"Suheng telah membunuh suhu, memaksa istri membunuh
diri, apakah dalam hatimu masih ada sutee seperti aku ini?"
"Jikalau aku memaksa kau mati lagi, maka di dalam dunia ini aku sudah tidak ada saudara lagi."
"Tetapi satu hari aku masih hidup, berarti kau tidak dapat mencapai cita2mu untuk mengkangkangi rimba persilatan."
"Apakah kau kira aku benar2 tidak bisa timbul kebaikan secara mendadak?"
"Suheng seharusnya tahu bahayanya melepaskan harimau
pulang ke kandangnya, hari ini kalau tidak membunuh aku, di lain waktu akulah yang pasti akan membunuh kau."
Sepasang mata Kun-liong, memancarkan sinar buas,
katanya : "Kalau begitu, Sutee sudah bertekad hendak
bermusuhan denganku?"
"Aku takkan berhenti sebelum aku mati, sudah tidak ada kesempatan lagi untuk berunding selama-lamanya ... "
Kun-liong Ong berkata kepada gadis berbaju merah di
sisinya : "Tay-jie, kau memberi hormat kepada paman
Tengmu, mari kita pulang."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bwee Cian Tay memandang Kun-liong Ong sejenak,
lambat2 menghampiri Teng Soan, Siang-koan Kie segera
merintangi seraya berkata: "Jangan bertindak lagi!"'
Bwee Cian Tay terkejut, lalu menghentikan tindakan
kakinya. Mata Teng Soan terus menatap muka Bwee Cian Tay, kemudian berkata sambil tertawa : "Biarlah dia kemari!"
"Tentang ini, bagaimana ... " berkata Siang-koan Kie terkejut.
"Tidak halangan!" berkata Teng Soan sambil tertawa.
Siang-koan Kie terpaksa membiarkan gadis itu menghampiri Teng Soan tetapi siap siaga.
Mata Bwee Cian Tay yang bulat bergerak2, lalu
menghampiri Teng Soan. Teng Soan lambat2 mengangkat kipas di tangannya lalu
dilintangkan di depan dadanya.
Bwee Cian Tay menghentikan tindakan kaki, sepasang
matanya memancarkan sinar aneh, mulutnya mengeluarkan perkataan : "Paman." lalu berlutut dihadapan Teng Soan.
Mata Teng Soan tidak berkisar dari wajah gadis ita,
sahutnya sambil berkata hambar, "Tidak perlu memakai
banyak peradatan." Bwee Cian Tay lambat2 mengangkat kepala, sepasang
matanya yang jernih beradu dengan mata Teng Soan.
Ketika dua pasang mata itu saling beradu, gadis itu tiba2
memejamkan matanya, air mata mengalir turun, bibirnya bergerak2, mulutnya menyetuskan kata2 lembut: "Ibu
beberapa kali memesan padaku, tidak boleh mencelakakan dirimu ... "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Meskipun Teng Soan tidak mengerti ilmu silat, tetapi ia mengerti banyak segi2nya ilmu itu, waktu bibir gadis itu bergerak2, ia sudah tahu bahwa si gadis bicara padanya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ketelinga
orang yang diajak bicara.
Meskipun ia mengarti, tetapi karena ia tidak mengerti ilmu silat, maka tidak dapat menjawab, terpaksa ia
menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Sementara itu gadis itu melanjutkan kata2nya : "Ibu
perlakukan aku seperti anak kandungnya sendiri, ia menyuruh aku berlaku baik terhadapmu sudah tentu aku tidak boleh tidak harus mentaati pesannya itu."
Teng Soan menghela napas perlahan, ia ingin
meagucapkan sesuatu, tetapi kemudian diurungkan.
Ia sebetulnya ingin memberitahukan padanya tentang
kematian nyonya Kun-liong Ong, tetapi ia mendadak ingat, Kun-liong Ong berada dekat sekali, sedang ia sendiri tidak pandai ilmu silat, apabila ia mengeluarkan perkataan, tentu akan terdengar juga olehnya.
Siang-koan Kie terus memperhatikan setiap gerak gerik gadis itu, apabila ada tanda2 turun tangan, segera
diserangnya. Mata gadis itu berkedip2 dua kali kemudian berkata : "Di dalam tanganku ada tigabelas batang jarum racun, jarum itu sangat halus, dalam waktu secepat kilat dapat kulontarkan, apabila jarum itu sangat berbisa, dengan cepat bisa
membinasakan korbannya, ayah berkata padaku, bahwa kau tidak mahir ilmu silat, ia menyuruh aku mendekati dirimu, dengan menggunakan kesempatan selagi aku memberi
hormat padamu melancarkan serangan dengan jarum berbisa, tetapi aku ingat pesan ibu aku tidak tega turun tangan, aih!
Ayab meski-pun cinta aku, tetapi ia pegang peraturan terlalu teras, kali ini aku tak mau turun tangan terhadapmu, pasti Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan mendapat hukuman berat, tetapi iku ingin balas budi ibu, tidak perduli bagaimana ayah menghukum aku, aku juga rela."
Teng Soan tiba2 berkata : "Sudah waktumu untuk pulang."
Bwee Cian Tay terperanjat, tiba2 ia berdiri. Selagi gadis itu terdiri, Teng Soan tiba2 mengibaskan kipasnya, dan gadis itu lalu roboh di tanah.
"Kau mau apa?" menghardik Kun-liong Ong.
Teng Soan mengibaskan kipasnya dan berkata : "Siang-
koan Kie kau sampaikan kepada Kun-liong Ong, katakan
padanya bahwa aku siorang she Teng menahan putrinya,
suruhlah ia datang minta sendiri kepadaku ... "
Siang-koan Kie terkejut, ia bertanya : "Apa" Apakah orang ini yang menyaru sebagai Kun-liong Ong?"
"Benar, aku telah menduga bahwa Kun-liong Ong tidak
nanti berani menempuh bahaya untuk datang sendiri di
depanku berkata Teng Soan sambil tersenyum.
Kun-liong Ong berkata sambil, tertawa dingin. "Kali ini barang kali kau akan salah menduga."
Kedok kulit manusianya segera dibuka, tampaklah selembar muka aneh yang terdapat cacat bekas bacokan golok.
Teng Soan semula tercengang, tetapi kemudian tertawa
hambar dan berkata: "Kau mengira bahwa kau sudah pandai menyaru tetapi nyatanya masih terdapat kesalahan " "
Dalam gusarnja Kun-liong Ong menghardik: "Di mana
salahnya?" Teng Soan mendadak bangkit, ia berkata sambil
tersenyum: "Terletak pada pertanyaanmu ini," lalu tertawa terbahak2, "Ia hanya menghendaki aku supaya menggerakan pasukanku yang tersembunyi, kemudian menyerbu sendiri dengan pembantu2nya yang pilihan tetapi sayang, akal
busuknya itu tersia2 saja."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang itu agaknya mengetahui bahwa rahasianya telah
terbuka, tidak dapat mengelabui lagi, dengan suara keras ia segera menyerbu.
Siang-koan Kie segera memutar pedangnya, dengan sinar pedangnya ia melindungi Teng Soan.
Sebentar terdengar suara jatuhnya senjata rahasia yang terpental jatuh oleh pedang Siang-koa Kie.
Ternyata orang itu ketika menyerbu, tangannya
melontarkan serangan dengan senjata rahasia.
Pedang Siang-koan Kie setelah berhasil menggagalkan
serangan keji orang itu, dengan satu gerak tipu "Menyusup ke dalam awan mengambil bintang", ujung pedang menggetar dan berubah me jadi tiga, mengarah tiga bagian jalan darah orang itu.
Kepandaian orang itu cukup tinggi, melihat gerakan Siangkoan Kie, segera mengetahui berhadapan dengan lawan
tangguh, maka setelah serangan senjata rahasianya gagal, dengan cepat menghunus senjata pecutnya berkepala naga, yang terbuat dari emas lemas.
Gerakannya itu meskipun cukup gesit, tetapi Siang-koan Kie ternyata lebih geitt, baru saja pecut berada dalam tangannya dan belum sempat digunakan, serangan pedang Siang- koan Kie sudah sampai.
Orang itu memiringkan tubuhnya, mengelakkan serangan
Siang-koan Kie, dengan pecutnya ia membabat Siang-koan Kie.
Sungguh hebat kepandaian Siang-koan Kie, begitu berhasil merebut posisi, tidak memberikan sedikit kesempatan juga kepada lawannya, gerak pedangnya seolah2 gelombang air laut, menggulung tanpa berhenti, sehingga orang itu
terkurung dalam sinar pedang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Teng Soan jang menyaksikan serangan Siang-koan Kie
demikian hebat dan ganas, dalam golongan pengemis, tak seorangpun yang mempunyai kepandaian serupa itu,
sekalipun Auw-yang Thong sendiri barangkali juga belum tentu dapat mengalahkannya.
Orang yang menyaru sebagai Kun-liong Ong itu di bawah serangan hebat Siang-koan Kie, sudah tidak berkutik sama sekali. Percuma saja tangannya memegang senjata, sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menggunakan, maka diam2 Teng Soan menghela napas, seorang pemuda yang
demikian gagah, sungguh sayang apabila tidak dapat ditarik ke dalam golongan pengemis.
Sementara itu, serangan pedang Siang-koan Kie semakin lama semakin hebat, perubahan gerak tipunya juga semakin aneh. Orang itu tidak berdaya sama sekali untuk memperbaiki keadaannya yang bagaikan dibuat bulan2an Sian-koan Kie.
Sekali2 ia mencoba membalas menyeraug, tetapi terdesak lagi, oleh serangan Siang-koan Kie.
Bab 78 Teng Soan mengibaskan kipasnya, berkata kepada dua
laki2 di sisi kirinya dengan suara perlahan: "Lekas bawa nona itu kemiri, kita siap untuk menghadapi musuh. Kun-liong Ong yang asli mungkin akan segera datang dengan bantuannya yang kuat untuk menyerang kita."
Dua laki2 itu segera membawa Bwee Cian Tay kepada Teng Soan,
Kun-liong Ong tiruan yang sedang bertempur dengan
Siang-koan Kie, tiba-tiba mengeluarkan suara jeritan tertahan, lengan kirinya terkena serangan pedang Siang-koan Kie, darah mengucur membasahi bajunya.
Teng Soan berseru kepada Siang-koan Kie, "Saudara Siangkoan Kie, jikalau bisa menangkap hidup, sebaiknya jangan melukai dirinya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siang-koan Kie saat itu sudah mengurung Kun-liong Ong tiruan itu di dalam sinar pedangnya, setiap waktu dapat menghabisi nyawanya, ketika mendengar suara Teng Soan, serangan pedangnya sengaja diperlambat, membiarkan
lawannya terlepas dari ancaman bahaya.
Kun-liong Ong tiruan yang sudah tidak berdaya di bawah serangan Siang-koan Kie yang hebat, begitu lihat ada
kesempatan yang baik, segera menotok Siang-koan Kie
dengan pecutnya. Dengan satu gerekan yang manis, Siang-koan Kie berhasil menggagalkan serangan lawannya, tangan kananya mendadak menyerbu menyerang pundak orang itu.
Siang-koan Kie yang sudah mendapat kemajuan pesat,
serangannya itu meskipun hanya menggunakan lima bagian kekuatan tenaganya, tetapi lawannya ternyata sudah tidak sanggup menerima, sambil mengeluarkan suara seruan
tertahan, Kun-liong Ong tiruan itu mundur lima langkah dan kemudian jatuh roboh di tanah.
Siang-koan Kie dengan cepat maju selangkah, menotok
jalan darah lawannya, kemudian diangkatnya dan diletakkan dihadapan Teng Soan seraya berkata. "Sianseng hendak
berbuat apa dengan orang ini?"
Teng Soan memandang Siang-koan Kie sejenak, bertkata
sanmbil tertawa, "Saudara Sang-koan sungguh hebat, siaute sangat kagum."
"Sianseng terlalu memuji," berkata Siang-koan Kie sambil bersenyum.
Totoklah di kedua jalan darahnya, supaya ia jangan sampai mendusin dan kabur."
"Sianseng jangan khawatir, siaute sudah menotok padanya dengan tangan berat, tidak mungkin ia bisa kabur lagi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Teng Soan tiba-tiba menghela napas dan berkata: "Kau
beristirahatlah baik-baik untuk memulihkan kekuatan
tenagamu, apabila dugaanku tidak keliru, tidak sampai setengah jam, Kun-long Ong pasti akan datang menyerang."
"Kita sekarang sudah terkurung ditempat ini, meskipun siaute tahu kepandaian siute sendiri masih susah menandingi Kun-ling Ong, namun siaute bersedia melayani padanya
hingga titik darah penghabisan." menjawab Siang-koan Kie dengan gagah.
Teng Soan berdiri, berpaling dan berkata kepada delapan laki-laki bekas orang-orangnya Kun-liong Ong: "Su-moyku telah menyerahkan kalian kepadaku, dengan sendirinya aku akan berusaha untuk melindungi keselamatan kalian, tetapi keadaan pada dewasa ini, sesungguhnya sangat birbahaya hanya dengan mengandelkan kekuatan tenaga kita beberapa orang saja, rasanya agak sulit untuk menghadapi orang-orang Kun-liong Ong yang jumlahnya ratusan banyaknya itu ... "
"Kita bersedia melawan mereka hingga titik darah yang penghabisan." menjawab delapan orang itu serentak.
"Benda yang terlalu keras malah mudah patah, untuk
melawan musuh tangguh ini, aku harus menggunakan siasat, meskipun belum tentu dapat menolong nasib kita, tetapi setidak-tidaknya bisa menalukkan pikiran musuh sehingga harus membayar dengan mahal," berkata Teng Soan sambil bersenyum.
"Kita menurut perintah sianseng saja."
Sekarang waktunya sudah mendesak, meskipun aku paham
berbagai ilmu-gaib, tetapi juga tidak mungkin dalam waktu singkat ini, untuk membuat saudara2 selalu ingat gerakan perubahan ... tetapi aku ada mempanyai beberapa macam perobahan gerak kaki, asal saudara-saudara mengingat baik-baik, nanti apabila berhadapan dengan musuh, gunakanlah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perobahan gerak kaki itu untuk menakar kedudukan satu sama lain, sedikit banyak pasti ada gunanya."
Setelah itu, Teng Soan lalu memberi beberapa petunjuk dari beberapa gerak tipu menukar kedudukan kepada delapan orang itu.
Dengan caranya yang paling sederhana, ia mengajarkan
kepada delapan orang itu, supaya setiap orang dapat
mengingatnya dengan baik.
Di dalam saat yang sangat kritis itu, setiap orang
mempelajari dengan tekun dan bersemangat, hingga dalam waktu sangat singkat sekali, masing2 sudah ingat dengan baik.
Teng Soan yang menyaksikan bahwa delapan orang itu
berhasil mengingat baik. pelajaran yang diberikan lalu berkata sambil tersenyum: "Harap saudara-saudara beristirahat sebentar, siap untuk menghadapi musuh."
Sang waktu tilah berlalu dalam suasana tenang menunggu kira-kira seperempat jam, masih belum tampak Kun-liong Ong datang menyerang.
Siang-koan Kie mendongakkan kepala menarik napas
dalam-dalam, ia membolang balingkan pedang ditangannya, di bawah sinar matahari sore, pedang yang terbuat dari baja murni itu, terdapat banyak gumpalan, dalam hati pemuda itu berpikir: "kalau begitu aku ternyata sudah membunuh amat banyak orang ... "
Kembali ia menghela napas lalu meletakkan pedangnya.
Pemuda gagah perkasa itu agaknya sudah tidak sabar
menantikan datangnya musuh.
Kekuatan badan Teng Soan agaknya sudah tidak sanggup
duduk terlalu lama, maka ia segera merebahkan diri tidur di tanah rerumputan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia diam memperhatikan keadaan delapan laki2 yang berada di sekitarnya, wajah mereka sebentar nampak biru sebentar putih, meskipun mereka sedang duduk dan memejamkan
mata, tetapi dalam hati mereka agaknya tergoncang hebat.
Teng Soan mengawasi gumpalan awan putih di atas
angkasa, dalam hatinya memikirkan siasat untuk menghadapi keadaan kritis itu, sang waktu agaknya tidak menguntungkan dirinya, delapan orang bekas anak buah Kun-liong Ong itu, meskipun pernah menerima budi nyonya Kun-liong Ong tetapi mereka yang sudah lama berada di bawah kekuasaan Kun-liong Ong, kesunyian yang panjang itu membuat mereka
mengenangkan kembali banyak hal2 yang lalu, dari sikap mereka samar2 tertampak kemerosotan semangat bertempur mereka, apabila demikian itu dibiarkan berlangsung terus, mungkin ...
Tiba2 terdengar suara Siang-koan Kie yang menyentil
pedang di tangannya, kemudian pemuda itu berkata:
"Sianseng, marilah kita menerjang keluar, mungkin Kun-liong Ong sengaja main sandiwara, mungkin di sekitar tempat ini tidak terdapat bahaya."
Teng Soan tiba2 bangun dan duduk, kipas ditangan kirinya perlahan2 digunakan untuk menepuk tangan kanannya,
kemudian berkata: "Aku lupa bahwa dia si orang tua sudah muncul."
"Sianseng, apa kata Sianseng tadi ... " bertanya Siangkoan Kie heran.
Dalam kesunyiannya menantikan kedatangan musuh itu,
berbagai pikiran timbul dalam otak anak muda itu, tanpa menunggu jawaban Teng Soan ia sudah berkata lagi:
"Sianseng, kita tokh tidak bisa menunggu terus menerus seperti ini, matahari sudah hampir selam, tempat ini juga tidak terdapat barang makanan dan minuman, keadaan fisik dan semangat kita, akan terpengaruh selama waktu menunggu ini."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Teng Soan tiba2 tersenyum dan berkata: "Kuhaturkan
selamat kepadamu saudara Siang-koan Kie."


Irama Seruling Menggemparkan Rimba Persilatan Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Siang-koan Kie bingung terheran2, ia bertanya "Apakah perkataanku tadi salah?"
"Tidak, ada yang kumaksudkan ialah kau ternyata sudah tahu bagaimana menggunakan kecerdasanmu, kekhawatiran memang merupakan suatu kesempatan yang baik bagi orang mengasah otak."
Siang-koan Kie baru sadar, ia berkata sambil
menganggukkan kepala: "Ucapan sianseng memang benar,
selama waktu menunggu ini, aku rasakan seolah2 bertahun2
sehingga pikiranku memikirkan terlalu banyak urusan."
"Jikalau kau dapat mengumpulkan semua apa yang kau
pikirkan itu sehingga menjadi satu soal kemudian kau
hubungkan satu sama lain apa yang kau telah pikir itu, lalu kau bikin analisa dan menarik kesimpulannya, untuk mencari taktik keluarnya, itulah yang dinamakan siasat " " berkata Teng Soan sambil tertawa, semangatnya seolah2 mendadak terbangun, sambil mengibas2kan kipasnya ia berkata pula :
"Setiap siasat yang sudah dipikirkan terlebih dahulu, ada kalanya mungkin masih terdapat banyak kekeliruan, maka kita harusmengadakan koreksi dan perobahan selama kita
melaksanakan siasat ini, dengan melihat gelagat yang kita hadapi."
Siang-koan Kie mendengar keterangan itu dengan penuh
perhatian. "Aku telah menjumpai musuh paling kuat selama hidupku ini," berkata Teng Soan.
"Oh, siapakah itu?" bertanya Siang-koan Kie.
"Dalam soal tingkatan, dia itu seharusnya masih pernah paman guruku."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Suhengnya telah terbunuh oleh Kun-liong Ong, orang itu tidak berusaha menuntut balas sebaliknya malah membantu Kun-liong Ong. Ini sesungguhnya keterlaluan."
"Dalam hal ini mungkin ada sebab lain."
Siang-koan Kie masih ingin berkata lagi, tetapi kemudian berpikir bahwa orang itu masih menjadi orang tingkatan tua Teng Soan, bagaimana ia boleh menghinanya" Maka ia tidak berkata apa-apa lagi.
Biji mata Teng Soan berputaran menyapu delapan laki-laki itu sejenak, kemudian berkata: "Kun-liong Ong hingga saat ini masih belum melakukan serangannya, pasti sedang mengatur rencana yang lebih keji " "
Siang-koan Kie tiba2 menyentil pedangnya dan berkata :
"Sianseng, ia tidak datang menyerang, mengapa kita tidak menerjang keluar?"
Mereka lebih dulu sudah memasang jebakan di sekitar
tempat ini, menantikan kita masuk perangkap mereka."
"Walaupun demikian, kita juga tidak boleh menunggu terus menerus seperti ini."
Teng Soan mendongakkan kepala, lama ia berpikir,
kemudian baru berkata: "Hari sudah hampir gelap, nanti setelah malam tiba, kita memikirkan lagi bagaimana harus keluar dari sini."
Musuh berada di tempat gelap, sedangkan kita berada
ditempat terang, di waktu malam, bukankah keadaan kita makin berbahaya?"
"Bagus, kau sudah mulai dapat memikir banyak."
"Masih perlu mendapat banyak petunjuk sianseng."
"Kita hendak merobah yang terang menjadi gelap."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kita selalu di bawah pengawasan mereka di dalam gelap, mana mudah mencapai maksud ini?"
"Kalau dipikir memang merasa susah, tetapi kalau
dilakukan tidak sesusah seperti apa yang kita pikir."
"Selama siaute mengikuti sianseng, dalam waktu satu hari ini siaute mendapat banyak pengertian."
"Setiap orang diberi kecerdasan oleh Tuhan yang Maha
Esa, guru atau sahabat yang baik hanya merupakan suatu alat yang membimbing kau bagaimana harus menggunakan
kecerdasanmu." "Berbicara dengan Sianseng, membawa banyak faedah
seperti belajar sepuluh tahun, pepatah orang kuno itu, sesungguhnya memang tepat."
"Pada saat ini waktu sesungguhnya sangat berharga,
harap saudara2 beristirahat baik2, setelah malam tiba, kita barangkali akan mengadakan pertempuran besar2an dengan musuh."
Siang-koan Kie tidak berkata apa2 lagi, ia memejamkan dua matanya untuk beristirahat.
Teng Soan juga rebah telentang di tanah, matanya
memandang kumpulan awan putih di angkasa.
Matahari perlahan2 sudah condong kebarat, keindahan
alam di waktu senja meliputi tanah belukar yang penuh bahaya itu.
Angin malam meniup, semakin kencang, sehingga dalam
gubuk di sekitar tempat itu bergoyang-goyang mengeluarkan suara berisik.
Siang-koan Kie merasa seperti tertekan jiwanya oleh
suasana kesunyian itu, tanpa disadari ia melompat berdiri sambil memainkan pedang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Delapan laki2 bekas anak buah Kun-liong Ong, sudah sejak tadi hampir tidak tahan mengendapkan perasaannya yang timbul karena rasa takut terhadap bekas atasannya, kini telah menyaksikan Siang-koan Kie memainkan pedang, segera
bergerak dengan serentak memainkan senjata masing2.
Siang-koan Kie yang menyaksikan orang-orang itu bergerak memainkan senjata, segera menegurnya dengan perasaan
heran: "Kalian mau apa" Apakah sudah gila?"
Teng Soan berkata sambil tersenyum: "Jangan perdulikan mereka, biarlah mereka umbar kedukaan dalam hatinya!"
"Mengapa" Dengan berteriak-teriak saja juga sudah cukup perlu apa demikian jingkrak2 sambil memainkan senjata, bukankah itu seperti kelakuannya orang gila" ... " berkata Siang-koan Kie heran.
"Aih! Kedukaan mereka, bagaimana boleh disamakan
dengan kau" ... "
"Kesabaran dan ketabahan sianseng, sesungguhnya sangat mengagumkan, dalam suasana mencekam seperti ini sianseng ternyata tidak terganggu pikirannya ... "
Delapan orang itu semakin lama semakin bersemangat,
seolah-olah sedang melakukan pertempuran benar-benar.
Siang-koan Kie takut senjata orang-orang itu nanti melukai Teng Soan, maka segera mencegahnya.
Delapan orang itu ketika mendengar suara seruan Siangkoan Kie, bukan saja tidak menghentikan gerakkannya,
sebaliknya malah semakin cepat gerakannya.
Teng Soau berdiri lambat2 dan berkata sambil tertawa:
"Mereka sudah lama di bawah tekanan pengaruh Kun-liong Ong, dalam hati mereka sudah timbul perasaan takut yang tidak terhingga, dan sekarang menurut mereka melawan
orang yang biasa ditakuti, perasaan takut di dalam hatinya sudah tentu besar sekali, apalagi terganggu oleh kesunyian Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
suasana, perasaan khawatir dan takut itu seketika telah meledak, maka jangan perdulikan mereka, biarlah mereka rasakan semua kesusahan hatinya."
Siang-koan Kie tidak berkata apa-apa lagi, ia menghampiri Teng Soan untuk melindunginya.
Tidak lama kemudian, delapan orang itu semua sudah
mandi keringat, mungkin karena sudah lelah perlahan2 mulai berhenti.
Pikiran mereka perlahan2 juga mulai jernih kembali, mata mereka ditujukan kepada Siang-koan Kie, lalu membersihkan keringat di badannya.
"Kalian sudah letih?" bertanya Teng Soan sambil tertawa.
"Masih baik, kita merasa malu," menjawab delapan orang itu serentak.
"Apakah keberanian kalian sudah pulih kembali?"
"Kita sekalipun mati juga tidak akan menyesal."
"Bagus! Mari kita siap untuk berangkat."
"Kita menuuggu perintah sianseng."
"Ini adalah suatu perjalanan yang sangat sulit ... " berkata Teng Soan dengan sungguh2.
Sinar api tiba2 tampak di tengah udara, terpisah kira2 tiga tombak di tempat mereka berdiri, api itu meledak berubah menjadi gumpalan api meluncur ke tanah dan kemudian
menimbulkan kebakaran. "Api apakah itu?" bertanya Siang-koan Kie heran.
"Itu adalah panah berapi, suhu kecuali paham ilmu gaib, juga banyak pengertiannya tentang berbagai senjata yang mengandung api, panah berapi itu, pasti adalah ciptaannya susiokku itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siang-koan Kie menyaksikan api yang jatuh dari angkasa itu, lantas berkobar hebat, karena ia khawatir akan meluas, segera mengayunkan tangannya. Api yang belum meluas itu setelah kesambar kekuatan tenaga dalam Siang-koan Kie, seketika lalu padam.
"Saudara Siang-koan membaka jalan lebih dulu, kita
menerjang ke sebelah barat," berkata Teng Soan sambil tersenyum.
Siang-koan Kie menurut, ia bertindak dengan tindakan
lebar. Teng Soan tiba2 memanggilnya : "Tunggu dulu."
"Sianseng masih ada perintah apa?" bertanya Siang-koan Kie.
"Harap saudara Siang-koan membuka baju luarmu."
"Untuk apa membuka baju luar?" bertanya Siang-koan Kie heran.
Walaupun demikian ia membuka juga baju luarnya.
Teng Soan menyambut baju luar Siang-koan Kie,
ditanggalkannya di atas tiang kayu kering. Kemudian ia sendiri juga membuka baju panjangnya, demikian pula delapan laki2
bekas anak buah Kun-liong Ong itu, juga satu persatu disuruh membuka pakaian luarnya, ditanggalkan di atas tiang kayu kering, kemudian berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan : "Kau menerjang kebarat dengan membawa empat orang, bertindaklah sesukamu, sebaiknya kau bunuh mati semua orang yang kau jumpai, untuk membingungkan mereka ... "
"Apakah sianseng tidak akan berlalu?"
"Kun-liong Ong sudah mempunyai persiapan sempurna,
mana mungkin membiarkan kita menerjang keluar dengan
mudah." Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah kita harus duduk menunggu kematian begini
saja?" "Bagaimana kesudahannya, sekarang ini masih susah
diramalkan. Tetapi bertahan disini, sesungguhnya lehih banyak kesempatan untuk hidup dari pada menerjang keluar dengan kekerasan, apabila tindakan kita itu di luar dugaan Kun-liong Ong sebaliknya akan menimbulkan kecurigaannya.
Sekarang ini kekuatan kita sangat lemah, sesungguhnya tidak dapat digunakan untuk mengadu kekerasan dengannya, dari pada mengadu tenaga, ada lebih baik mengadu kepintaran dengannya."
"Siaute percaya sianseng pasti sudah mempunyai rencana luar biasa untuk mengalahkan dia."
Seketika itu juga Siang-koan Kie memilih empat orang dan terus menerjang ke sebelah barat.
Teng Soan berkata dengan suara rendah kepada empat
laki-laki lainnya : "Kematian seseorang, setengah tergantung kepada dirinya sendiri, setengah tergantung takdir Tuhan asal kematian itu dengan sewajarnya, dan hati tenang, juga tidak perlu ditakuti."
Empat laki2 memberi hormat dengan sikap menghormat
sekali. Teng Soan menyuruh dua di antaranya membawa orang
yang menyaru sebagai Kun-liong Ong dan Bwee Cian Tay, kemudian berkata dengan suara perlahan, "Mari kalian ikut aku."
Ia berjalan lebih dahulu menuju ke sebuah tempat yang penuh tumpukan batu, kemudian berkata pula sambil
menunjuk batu2 yang berserakan di tanah. "Saudara2
singkirkan batu2 di tanah itu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua laki2 itu meskipun tidak mengerti maksudnya, tetapi mereka menurut dan memunguti batu2 yang berserakan di tanah itu.
Teng Soan sambil berjongkok menunjukkan tempat di
mana batu2 itu harus diletakkan.
Dua laki2 itu melakukan seperti apa yang ditunjuk oleh Teng Soan, tidak antara lama pekerjaan itu sudah selesai.
Teng Soan berdiri dan mundur beberapa langkah ia
menyuruh empat laki2 itu turun tangan semua memindahkan batu-batu lainnya.
Empat laki2 itu agaknya juga mengerti bahwa pekerjaan menyingkirkan batu2 yang agaknya ringan dan tidak berarti itu sebetulnya mempunyai hubungan erat dengan nasib mereka, maka semua melakukannya dengan sungguh2 dan sepenuh
tenaga, tidak antara lama batu2 itu sudah menjadi barisan batu menurut apa yang ditunjuk oleh Teng Soan.
Teng Soan membawa empat orang itu, mengitari barisan
batu yang dibentuknya itu seputaran lalu berkata sambil menunjuk setumpukan batu kecil yang berada disampingnya :
"Tumpukan batu ini boleh digunakan sebagai senjata rahasia untuk menjaga diri."
Pangeran Anggadipati 5 Senja Jatuh Di Pajajaran Trilogi Pajajaran Karya Aan Merdeka Dendam Si Anak Haram 1
^