Pencarian

Tujuh Pembunuh 3

Tujuh Pembunuh Qi Sha Shou Karya Gu Long Bagian 3


perkampungan, Liu Thian-kay mengikuti nona kecil itu masuk
ke dalam, di situ sudah tersedia sebuah bak mandi penuh
dengan air, menunggunya untuk mandi.
Suhu air dalam bak mandi itu tidak panas, pun tidak dingin.
Nona kecil itu tidak berkata apa apa, dia hanya menuding
ke arah bak mandi itu, Liu Tiang-kay pun segera melucuti
semua pakaian yang dikenakan, dengan tubuh telanjang bulat
dia terjun ke dalam bak mandi itu
Si nona masih terbungkam dalam seribu bahasa, dia tak
mengucapkun sepatah kata pun.
Liu Tiang-kay juga membungkam, dia tidak mengajukan
pertanyaan walau hanya sepatah kata saja.
Menunggu sampai Liu Tiang-kay selesai mandi, selesai
mengeringkan badan dan siap mengenakan pakaian yang
serba baru im, tiba tiba si nona kecil itu masuk kembali ke
kamar mandi, di belakangnya mengikuti dua orang, ke dua
orang itu menggotong sebuah bak mandi baru, dalam bak
mandi itu penuh dengan air. suhu air pun tidak panas juga
tidak dingin. Untuk ke dua kalinya nona kecil itu menuding ke arah bak
mandi, Liu Tiang-kay memandangnya dua kejap, akhirnya
kembali dia terjun ke dalam bak mandi itu.
Seperti sudah tiga bulan tak pernah mandi, sekali lagi dia
menggosok seluruh bagian tubuhnya dengan seksama.
Dia bukan termasuk lelaki yang takut mandi karena kuatir
akan melukai hawa mumi miliknya, di dalam kenyataan, dia
selalu amat suka mandi. Dia pun bukan termasuk lelaki yang banyak mulut, bila
orang lain tak bicara, biasanya dia pun tak akan bertanya.
Dia telah menggosok seluruh kulit badannya hingga
memerah, dilihat sepintas lalu, bentuknya persis seperti lobak
merah yang baru dikupas kulitnya.
Diluar dugaan, nona kecil itu kembali menuding ke arah air
didalam bak mandi, tampaknya dia masih menyuruhnya untuk
mandi sekali lagi. Liu Tiang-kay memandang ke arahnya, tiba tiba ia tertawa.
Nona kecil itu ikut tertawa, padahal selama ini dia memang
selalu tertawa. "Apakah badanku berbau tahi anjing?" tanya Liu Tiang-kay
tiba tiba. "Tidak!" jawab nona kecil itu sambil tertawa cekikikan.
"Kalau begitu bau tahi kucing?"
"Juga tidak" "Kalau begitu badanku bau apa?"
Berputar sepasang biji mata nona kecil itu, mukanya yang
bulat tiba-tiba terlintas warna merah jengah.
Tubuhnya sama sekali tidak berbau apa-apa.
"Aku sudah mandi tiga kali" kembali Liu Tiang-kay berkata,
"sekalipun badanku berbau tahi anjing atau tahi kucing,
seharusnya sekarang sudah hilang baunya, seharusnya
badanku sudah bersih"
Dengan wajah merah jengah nona kecil itu manggut
manggut, padahal gadis sebaya dia sudah tidak termasuk
gadis kecil. "Mengapa kau masih suruh aku mandi sekali lagi?" tanya
Liu Tiang-kay. "Entahlah, aku tidak tahu" jawab si nona.
"Kau juga tidak tahu?"
"Aku hanya tahu, siapapun orangnya, bila ingin bertemu
nona kami, dari kepala hingga ke ujung kaki dia mesti mandi
sebanyak lima kali" Oleh karena itu Liu Tiang-kay pun mandi
sebanyak lima kali. Ketika dia sudah mengenakan pakaian
serba baru, mengikuti nona kecil itu untuk menghadap sang
"nona", tiba tiba dia menemukan bila seseorang harus mandi
sebanyak lima kali secara beruntun, ternyata urusan itu
bukanlah satu perbuatan yang menderita.
Kini, dia merasa sekujur badannya ringan dan kendor,
sewaktu berjalan menelusuri lorong panjang yang berkilauan
bagai cermin, dia merasa bagaikan berjalan ditengah awan.
Ujung lorong panjang itu terdapat sebuah pintu, didepan
pintu tergantung tirai yang terbuat dari mutiara.
Pintu itu hanya dirapatkan, tidak terkunci, bentuknya tidak
terlalu lebar, tapi ruangan dibalik pintu luar biasa lebarnya,
dinding ruangan berwarna putih bersih, lantainya dilapisi
papan kayu yang berkilauan.
Seorang perempuan berbaju kuning yang bertubuh
ramping, tinggi tapi montok sedang berdiri di depan sebuah
cermin tembaga yang amat besar, dia sedang menikmati diri
sendiri. Dia memang seorang wanita yang pantas dinikmati.
Biarpun Liu Tiang-kay tidak dapat melihat wajahnya secara
langsung, dia bisa melihatnya dari balik cermin.
Jangan lagi orang lain, bahkan dia sendiripun mau tak mau
harus mengakui, wajah perempuan im betul-betul amat cantik,
bahkan nyaris sempurna kecantikan wajahnya, kecantikan
yang begitu memikat, begitu memukau, membuat orang tak
bosan-bosannya memandang.
Kecantikan semacam ini rasanya tak akan ditemukan pada
kecantikan wajah seorang manusia, kecantikannya nyaris
melebihi kecantikan bidadari yang sering muncul di sebuah
lukisan. Kecantikannya sudah mencapai pada taraf kecantikan yang
hanya bisa dinikmati orang dari kejauhan, begitu cantiknya
membuat orang tak berani mendekatinya.
Oleh karena itu Liu Tiang-kay sudah menghentikan
langkahnya jauh dari perempuan itu.
Tentu saja perempuan itupun dapat melihat kehadirannya
dari balik cermin, dia tidak berpaling, hanya tegurnya dengan
suara dingin: "Kau adalah Liu Tiang-kay?"
"Benar!" "Aku she-Khong, bernama Khong Lan-kun!"
Nada suaranya pun sangat indah, merdu disertai
kecongkakan yang tak terlukis dengan kata, dia seperti sudah
menduga sejak awal, siapa saja yang mendengar namanya,
dia pasti akan sangat terperanjat.
Sayang Liu Tiang-kay tidak menunjukkan perasaan
terperanjat, dia bahkan berdiri sangat tenang.
Tiba tiba Khong Lan-kun tertawa dingin, ujarnya: "Biarpun
aku tak pemah berjumpa dengan kau, sejak awal aku sudah
tahu manusia macam apakah dirimu"
"Oya?" "Menurut Liong Ngo, kau adalah seorang yang menarik,
terlebih caramu untuk menghamburkan uang"
"Perkataannya memang tidak keliru"
"Menurut Lan Thian-bong, tulang badanmu sangat keras,
punya daya tahan yang bagus ketika menerima gebukan"
"Perkataannya pun tidak salah"
"Hanya sayang semua wanita yang pernah kau jumpai
selalu mengibaratkan dirimu dengan tiga patah kata"
"Tiga patah kata yang mana?"
"Kau bukan manusia"
"Perkataan mereka pun tidak keliru"
"Seorang lelaki yang bukan manusia bila berani
memandang sekejap kepadaku, dia harus mampus!"
"Aku bukan kemari untuk menengokmu, kau sendiri yang
mengundangku datang kemari!"
Paras muka Khong Lan-kun berubah memucat, serunya:
"Aku membawamu kemari karena aku telah menyanggupi
permintaan Liong Ngo, kalau tidak, kau sudah mampus disitu
saat ini" "Kau menyanggupi permintaan apa dari Liong Ngo?"
"Aku menyanggupi permintaannya untuk membawa kau
berjumpa dengan seseorang, kecuali hal itu, antara kita
berdua tak ada hubungan apa apa, oleh karena itu kuanjurkan
lebih baik bersikaplah lebih sopan dan jujur selama berada
dihadapanku, aku tahu, kau sangat tersohor diantara kaum
wanita, tapi kau keliru besar jika menganggap aku sama
seperti perempuan lain........lebih baik jangan cari mampus!"
"Aku mengerti!"
"Memang lebih baik kau mengerti" Khong Lan-kun tertawa
dingin. "Tapi akupun berharap kau bisa memahami akan dua hal"
"Katakan!" "Pertama, aku sama sekali tak berminat untuk menjalin
hubungan apa-apa denganmu"
Paras muka Khong Lan-kun berubah semakin memucat.
"Kedua, walaupun belum pernah berjumpa denganmu, tapi
aku tahu manusia macam apakah dirimu"
"Manusia macam apa diriku ini?" tak tahan Khong Lan-kun
bertanya "Kau mengira dirimu adalah seekor burung merak, mengira
semua orang di kolong langit kagum kepadamu, menikmati
keindahanmu, Hmrn, padahal satu satunya orang yang
mengagumi dan menikmati keindahanmu hanyalah dirimu
sendiri" Paras muka Khong Lan-kun yang memucat kini telah
berubah hijau membesi, tiba tiba dia memutar badan,
menatapnya tajam tajam, dari balik sorot matanya yang indah
seolah olah menyembur keluar kobaran api yang membara.
Liu Tiang-kay tidak menggubris, kembali terusnya dengan
suara hambar: "Demi Liong Ngo, kau mengundangku kemari, demi Liong
Ngo pula aku bersedia datang kemari, diantara kita berdua
memang tak punya hubungan apa apa, hanya
saja................."
"Hanya saja kenapa?"
"Tidak seharusnya kau lepaskan api itu!"
"Tidak seharusnya?"
"Bila api yang kau lepas sampai membakarku hingga
mampus, bagaimana mungkin kau bisa mengajakku untuk
berjumpa dengan orang itu?"
Khong Lan-kun segera tertawa dingin.
"Hmm, bila kau mampus gara gara api kebakaran itu,
berarti kau sesungguhnya memang tak pantas berjumpa
dengan orang itu" "Sebenarnya siapakah orang itu?" tak tahan Liu Tiang-kay
bertanya "Ciu Heng-po!" "Ciu-sui hujin?" Liu Tiang-kay terperanjat.
"Betul, Ciu-sui-siang-si (air di musim gugur menimbulkan
kerinduan)!" Khong Lan-kun mengangguk.
"Kau akan mengajakku bertemu dengannya?"
"Dia adalah sahabatku, tinggal di perkampungan Ciu-suisan-
ceng hanya aku yang bisa masuk ke situ"
"Kau adalah sahabatnya dan dia pun menganggap kau
sebagai sahabatnya, tapi dalam kenyataan kau bekerja untuk
Liong Ngo" "Hubungan antara wanita dengan wanita lain memang tak
pernah ada persahabatan sejati" tukas Khong Lan-kun dingin.
"Benar, terutama bagi wanita macam kau, satu satunya
sahabat sejal yang kau miliki hanya dirimu sendiri"
Ternyata kali ini Khong Lan-kun tidak marah, ujarnya
dengan nadi hambar: "Paling tidak aku masih lebih baik ketimbang dia"
"Oya?" "Jangan lagi sebagai sahabat, dia bahkan menganggap diri
sendiri sebagai musuh besar"
"Tapi, paling tidak dia ijinkan kau untuk berkunjung ke
perkampungan Ciu-sui san-ceng miliknya"
Tiba tiba dari balik mata Khong Lan-kun kembali memancar
sinar kebencian dan rasa dendam yang amat tebal, ujarnya
hambar: "Dia mempersilahkan aku datang karena dia senang sekali
menyiksaku, dia senang melihat mimik wajahku ketika tersiksa
dan menderita" Tak ada orang yang bisa melukiskan mimik mukanya saat
ini, sebab apa yang dia tampilkan sekarang bukan melulu
"perasaan benci dan dendam", tapi ada semacam ungkapan
perasaan yang sulit untuk diucapkan dengan perkataan yang
tepat. Siapapun tak menyangka, ternyata diantara dua wanita
paling misterius, paling cantik dan paling kejam ini terjalin
satu hubungan aneh yang tak bisa diungkap dengan kata
kata. Liu Tiang-kay memandangnya, tiba tiba ia bertanya:"Baik,
kau boleh pergi" "Kau..............."
"Aku sama sekali tak berminat untuk menengoknya,
akupun merasa tak perlu untuk melihatnya"
"Tapi kau tetap harus ke situ"
"Kenapa?" "Karena aku sendiripun tak tahu dimana letak gua rahasia
itu, aku hanya bisa mengajakmu berkunjung ke
perkampungan Ciu-sui san-ceng, disitu kau mesti berusaha
sendiri" Perasaan Liu Tiang-kay serasa tenggelam, dia merasa
tekanan batinnya sangat berat.
Tiba tiba saja dia menjadi sadar, ternyata persoalan yang
sedang dihadapi jauh lebih rumit dan sulit daripada apa yang
dibayangkan semula. Berkilauan sinar mata Khong Lan-kun.
Setiap kali menjumpai orang lain menghadapi kesulitan dan
menderita, sinar matanya selalu berkilauan, dia memang
senang melihat orang lain tersiksa, menderita.
Liu Tiang-kay menghela napas panjang, katanya kemudian:
"Ciu-sui hujin mengijinkan kau berkunjung ke
perkampungannya karena dia senang melihat penderitaan
serta siksaan yang menimpa dirimu, darimana kau tahu kalau
diapun mengijinkan aku datang berkunjung?"
"Karena dia sangat paham tentang diriku, dia tahu selama
ini aku adalah seorang perempuan yang suka menikmati
hidup, apalagi sangat seang dilayani kaum lelaki, oleh karena
itu setiap kali datang berkunjung, iku selalu mengajak seorang
budak untuk melayaniku"
"Sayang aku bukan budakmu"
"Tidak, kau adalah budakku"
Dia menatapnya tanpa berkedip, dari balik matanya yang
indah terpancar sinar yang sangat aneh.
Liu Tiang-kay balas menatapnya, dia pun memandang


Tujuh Pembunuh Qi Sha Shou Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tanpa berkedip. Mereka berdua saling menatap dalam keadaan aneh, entah
berapa lama sudah lewat, akhirnya Liu Tiang-kay menghela
napas panjang. "Yaa, aku adalah budakmu"
"Kau adalah budakku?" kembali Khong Lan-kun mengulang.
"Benar'" "Mulai hari ini kau harus mengikuti aku bagai seekor anjing,
bila kupanggil, kau harus segera datang"
"Baik" "Ketika melakukan pekerjaan apapun untukku, kau harus
hati hati, kau tak boleh menyentuh aku dengan tanganmu,
jika tangan kananmu menyentuh aku, maka kupotong tangan
kananmu, bila jari tanganmu menyentuh aku, akan kupotong
jari tanganmu itu" "Baik" Paras mukanya sama sekali tidak menampilkan perubahan
apapun, tak ada perasaan gusar, juga tak ada perasaan
menderita. Khong Lan-kun masih menatapnya, sampai lama kemudian
dia baru berkata sambil menghela napas panjang"
"Tampaknya kau memang bukan manusia"
0-d-0-0-w-0 Bukit Say-soat-san. Sebuah bukit yang indah, nama bukit itupun indah.
Setelah melalui kuil Hong-lim-si yang angker, kemudian
menyeberang jembatan bianglala yang dipenuhi aneka teratai,
pemandangan alam buki Say-soat-san terbentang di depan
mata. Ditengah hembusan angin sepoi sepoi, lamat lamat
terdengar ada orantj sedang bersenandung:
"Hawa panas menyengat telaga dingin jadi sarang,
Berselimut Awan tebal malam makin nyaman.
Harum bunga semerbak memabukkan orang.
Menyeberangi jembatan tinggi melihat sampan"
Suara nyanyian im kedengaran sangat merdu, bunga
teratai nampa] makin indah, tak kalah indahnya dengan
pemandangan bukit di tenga senja.
Punggung bukit di belakang gunung penuh diselimuti awan
putih nan tebal, jalanan yang sempit nampak curam dan
berliku-liku, ditempat yang sepi dari kaum pelacong dan jauh
dari keramaian manusia itu ternyata berdiri sebuah rumah
makan yang besar lagi megah.
Bangunan loteng itu tidak terlalu tinggi tapi bahan
bangunan nya berkualitas tinggi, dua orang tukang kayu
nampak sedang bekerja, memaku sebuah papan nama
bertuliskan emas diatas pintu gerbang.
Tepat dihadapan rumah makan itu menjulang dua bukit
karang yang tinggi, tajam dan runcing bagai sebilah pedang,
rupanya letak rurnah makan itu persis berada di mulut lembah
tercuram di bukit ini. Khong Lan-kun dengan mengenakan celana ketat bergaun
lebar sedang berdiri di bawah sebatang pohon pinus, sembari
menunjuk bangunan rumah makan dihadapannya dia
bertanya: "Coba lihat, bagaimana dengan ramah makan itu?"
"Bangunannya sangat bagus, sayang tempatnya tidak
bagus" "Oya?" "Kalau membangun rumah makan di tempat seperti ini,
mana ada tamu yang mau berkunjung" Aku kuatir belum
sampai tiga bulan, rumah makan ini bakal bangkrut dan tutup
usaha" "Kalau soal itu mah tak perlu kau kualirkan, aku jamin tak
sampai esok pagi, rumah makan ini sudah lenyap tak
berbekas" "Masa bisa terbang?"
"Tidak" "Kalau tak bisa terbang, mana mungkin bisa lenyap secara
tiba tiba?" "Kalau ada yang bisa membangun, pasti ada orang yang
bisa membongkar" "Masa rumah makan ini bakal di bongkar orang sebelum
fajar esok hari?" "Ehm!" Liu Tiang-kay semakin keheranan, tanyanya:
"Bukankah bangunan rumah ini baru saja dibangun, kenapa
harus segera dibongkar?"
"Karena bangunan rumah makan ini memang sengaja
dibangun untuk kemudian dibongkar"
Liu Tiang-kay semakin keheranan.
Ada orang membangun rumah karena jual beli properti,
ada orang membangun rumah karena hendak ditempati, ada
orang membangun rumah karena untuk berniaga, ada juga
orang membangun rumah karena akan dipakai untuk
memelihara See-ih, istri muda, gundik, selir.......semuanya itu
bukan kejadian aneh. Tapi.......... ternyata ada orang membangun rumah karena
ingin membongkarnya lagi, belum pernah dia dengar kejadian
seaneh ini. "Kau tidak mengerti?" tanya Khong Lan-kun tiba tiba.
"Yaa, aku memang tak mengerti" Liu Tiang-kay mengakui.
"Ternyata ada juga persoalan yang tidak kau pahami" ejek
Khong Lan-kun sambi! tertawa dingin.
Tampaknya dia tak berniat membuka cupu cupu untuk
beritahu obat apa yang sedang dijualnya, oleh karena itu Liu
Tiang-kay pun tidak ingin bertanya lebih lanjut.
Dia tahu, Khong Lan-kun sengaja membawanya kemari
bukan lantaran ingin membuatnya jengkel atau mendongkol
atau marah. Dia pasti mempunyai tujuan.
Oleh sebab itu dia merasa tak perlu bertanya, cepat atau
lambat dia pasti akan menerangkan sendiri.
Liu tiang-kay selalu yakin dan percaya dengan analisa
sendiri, dia percaya kesimpulannya jarang meleset.
Matahari senja telah tenggelam dibalik bukit, udara malam
lambat laun mulai menyelimuti seluruh perbukitan itu.
Lampu telah menerangi seluruh bangunan rumah makan im
membuat suasana jadi terang benderang bermandikan
cahaya, dari balik jalan bukit yang terjal tiba tiba muncul satu
rombongan manusia. Rombongan orang itu ada laki ada perempuan, yang laki
laki berdandan pelayan rumah makan, atau berdandan koki
dapur, sedang yang wanita berdandan menor dan mencolok,
mereka terdiri dari nona nona yang tidak terlalu jelek
wajahnya. Tiba-tiba Khong Lan-kun berkata:"Tahukah kau mau apa
orang orang itu datang kemari?"
"Membongkar rumah?"
"Kalau mengandalkan orang orang itu untuk membongkar
rumah, biar dibongkar tiga hari tiga malam pun tak bakal
selesai" Liu Tiang-kay mengakui, perkataan itu memang benar.
Biarpun membongkar rumah kelihatannya sangat gampang,
namun masih diperlukan sedikit pengetahuan dan
kemampuan. Kembali Khong Lan-kun bertanya:"Dapat kau lihat apa kerja
perempuan-perempuan itu?"
Tentu saja Liu Tiang-kay tahu dengan jelas:"Biarpun
pekerjaan yang mereka lakukan tidak termasuk dalam katagori
pekerjaan mulia, namun pekerjaan itu justru mempunyai
catatan sejarah terlama"
Pekerjaan itu memang harus diakui merupakan pekerjaan
paling kuno, modal yang digunakan pun merupakan peralatan
wanita yang paling purba.
"Aku tahu, kau paling suka melihat perempuan jenis ini"
kata Khong Lan-kun lagi dengan suara dingin, "tak ada
salahnya sekarang kau boleh menikmatinya beberapa saat"
"Memangnya begitu fajar menyingsing esok pagi, mereka
akan menguap dan lenyap begitu saja?"
Khong Lan-kun mendengus. "Rumah itu sengaja dibangun agar bisa dibongkar lagi,
tentu saja manusia hidup agar siap dibikin mampus"
"Jadi kau sengaja mengajakku kemari hanya untuk
menonton bagaimana rumah itu dibongkar dan bagaimana
orang orang itu dibikin mampus?"
"Aku mengajakmu kemari agar kau bisa melihat orang yang
akan membongkar rumah itu"
"Siapakah mereka?"
"Tujuh orang yang bakal mampus di tanganmu"
Akhirnya Liu Tiang-kay paham, dia balik bertanya:"Malam
ini mereka bakal muncul disini"
"Ehm!" Walaupun sudah paham, namun tak tahan Liu Tiang-kay
tanya lagi: "Kenapa?"
"Sebab Ciu Heng-po cukup memahami kebutuhan seorang
lelaki, terutama laki laki tersebut, dia sudah kelewat lama
mengurung mereka di dalam gua, biarpun tak sampai gila,
mereka pasti tak tahan menanggung kesepian, oleh karena itu
setiap berapa waktu dia akan lepaskan mereka keluar, agar
mereka punya kesempatan untuk bersenang-senang dan
melampiaskan hawa napsu birahinya"
Tak tahan Liu Tiang-kay menghela napas panjang.
Apa yang bakal terjadi dengan orang orang itu setelah
kehadiran ke tujuh orang brutal itu" Tak usah dilihatpun
pemuda itu bisa bayangkan apa yang akan terjadi.
Sejujurnya dia merasa kasihan dengan nasib perempuanperempuan
itu, baginya, dia lebih suka berhadapan langsung
dengan tujuh ekor binatang yang sedang kelaparan ketimbang
harus berkenalan dengan mereka bertujuh.
Khong Lan-kun melirik sekejap dengan menggunakan ujung
matanya, kemudian katanya dingin:"Kau tak usah menaruh
simpatik kepada mereka, apalagi menaruh perasaan kasihan,
sebab bila langkahmu tidak hati hati, bisa jadi kau sendiri yang
akan mati lebih mengenaskan ketimbang mereka"
Liu Tiang-kay termenung, lewat lama kemudian dia baru
bertanya:"Jika mereka semua datang kemari, siapa yang
menjaga tempat itu?"
"Tentu saja Ciu Heng-po sendiri"
"Masa Ciu Heng-po seorang jauh lebih menakutkan
daripada gabungan mereka bertujuh?"
"Aku sendiripun tak tahu sampai setaraf apa kepandaian
silat yang dimiliki, tapi yang pasti, aku tak bakalan pergi
mencoba" "Maka dari itu aku hanya boleh menonton saja, tak boleh
menggebuk rumput mengejutkan ular, tak boleh bertindak
semau gue, karena, walaupun aku berhasil membunuh mereka
sekarang juga tak ada gunanya?"
Khong Lan-kun manggut-manggut.
"Itulah sebabnya sekarang, aku minta kau hanya
menyaksikan tingkah laku serta sepak terjang mereka dengan
seksama" "Kemudian?" "Kemudian kita pulang, menunggu!"
"Menunggu apa?"
"Besok sore kita berkunjung ke perkampungan Ciu-sui Sanceng"
"Setibanya di perkampungan Ciu-sui-san-ceng, aku baru
berusaha menemukan letak gua rahasia itu?"
"Yaa, bahkan harus ditemukan sebelum fajar menyingsing"
"Aku tak boleh mengekor di belakang mereka ketika
mereka selesai membongkar bangunan rumah ini dan balik ke
sarangnya?" "Tidak boleh" Liu Tiang-kay tidak bicara lagi.
Selamanya dia paling enggan membicarakan perkataan
yang sama sekali tak ada gunanya.
Bangunan rumah di bukit seberang bermandikan cahaya,
sementara suasana ditempat ini justru gelap gulita, masih
untung ditengah kegelapan malam yang menyelimuti angkasa,
terlihat ada beberapa biji bintang mengerdipkan cahayanya
walau agak redup. Cahaya bintang yang redup, menyinari wajah Khong Lankun
yang dingin dan hambar. Harus diakui, dia memang seorang wanita yang sangat
cantik. Suasana malam pun tak kalah cantiknya.
Liu Tiang-kay mencari sebuah batu karang dan duduk
diatas nya, duduk sambil mengawasi wajah perempuan im, dia
seakan akan terlena, terbuai dan dibikin mabuk oleh
kecantikannya. Tiba-tiba Khong Lan-kun menegur:"Memangnya aku yang
suruh kau duduk?" "Rasanya tidak"
"Selama aku tidak menyuruhmu duduk, lebih baik kau
berdiri" Liu Tiang-kay terpaksa bangkit dari duduknya, berdiri.
"Bukankah aku suruh kau membawa kotak keranjang?"
"Ada disini" Empat buah ketak keranjang persegi empat, terbuat dari
kayu pilihan asal Hokciu, indah dan rapi bentuknya.
"Buka keranjang itu" perintah Khong Lan-kun.
Ketika keranjang itu dibuka, terlihat sebuah ruang kotak
berlapiskan kain lenin warna putih, diatas kain putih tersedia
empat macam sayur, sekeranjang mantau kecil serta sebuah
teko arak. Arak adalah arak "kan-liang" yang paling tersohor di kota
Hang-ciu, empat macam sayur terdiri dari ikan asap, ayam ca,
bebek panggang serta baikut masak tauco.
"Tuangkan arak untukku!" kembali Khong Lan-kun memberi
perintah. Dengan sepasang tangannya mengangkat poci arak, Liu
Tiang-kay penuhi cawan itu dengan arak wangi, tiba tiba dia
merasa perutnya ikut lapar.
Sayang cawan arak hanya sebuah, sumpit pun hanya
sepasang, terpaksa dia hanya menonton dari samping.
Khong Lan-kun menghabiskan dua cawan arak, kemudian
mencicipi setiap hidangan dengan satu sumpitan, tiba tiba
sambil berkerut kening dia letakkan kembali sumpitnya dan
berseru: "Buang!" "Buang" Apanya yang dibuang?"


Tujuh Pembunuh Qi Sha Shou Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Buang semua barang itu"
"Kenapa mesti dibuang?"
"Karena sudah kumakan"
"Tapi aku masih lapar"
"Orang macam kau, biar lapar tiga sampai lima hari pun tak
bakalan mati kelaparan"
"Kalau toh hidangan sudah tersedia, kenapa aku mesti
menahan lapar?" "Karena aku melarang siapapun menyentuh hidangan yang
pernah kumakan" jawaban Khong Lan-kun sangat ketus.
Liu Tiang-kay memandangnya, setengah harian kemudian
dia baru bertanya: "Tubuhmu juga tak boleh disentuh?"
"Tidak boleh" "Belum pernah ada yang menyentuhmu?"
"Itu urusanku, kau tak perlu ikut campur" hardik Khong
Lan-kun sambil menarik wajah.
"Tapi Kau, justru ingin mencampuri urusanku?"
"Benar" "Kau suruh aku berdiri, aku harus berdiri, suruh aku
melihat, aku harus melihat?"
"Benar!" Kembali Liu Tiang-kay mengawasi wajahnya, setelah
memandangnya lama sekali tiba tiba dia tertawa.
"Ketika aku melarang kau tertawa, kau tak boleh tertawa"
tegur perempuan itu gusar.
"Karena aku adalah budakmu?"
"Rupanya baru sekarang kau mengerti?"
"Sayang ada satu hal kau tak mengerti"
"Apa?" "Aku pun manusia, manusia macam aku selalu senang
melakukan tindakan yang kusukai, misalnya........."
"Misalnya apa?"
"Jika aku ingin minum arak, aku tetap akan meminumnya"
Dia benar benar mengangkat teko arak itu dan langsung
menuangnya ke dalam mulut
Pucat pasi paras muka Khong Lan-kun saking gusarnya, dia
tertawa dingin tiada hentinya.
"Kelihatannya kau sudah bosan hidup?"
"Tidak, aku sama sekali tak bosan hidup" Liu Tiang-kay
tertawa, "aku hanya ingin menyentuhmu"
"Kau berani?" "Siapa bilang tak berani?"
Tiba tiba dia mengulur tangannya dan benar benar meraba
tubuh Khong Lan-kun. Reaksi dari Khong Lan-kun sedikitpun tak lambat, Dewi
merak memang sudah lama tersohor sebagai salah satu
jagoan paling tangguh diantara jago silat perempuan lainnya.
Dia, bukannya tak punya alasan mengapa bersikap angkuh.
Baru saja Liu Tiang-kay menggerakkan tangannya, jari
tangan perempuan im sudah mengayun miring ke atas,
sepuluh jari tangan nya yang runcing bagai sepuluh bilah
pedang tajam, secepat kilat menusuk urat nadi di tangan anak
muda im. Serangan yang dia lancarkan tentu saja cepat sekali,
bahkan perubahan jurusnya amat lincah dan hidup, dibalik
kelincahan tersembunyi banyak perubahan yang tak bisa
diduga sebelumnya. Sayang sekali semua perubahan yang dia lakukan berulang
kali, sama sekali tak ada gunanya.
Tiba tiba saja pergelangan tangan Liu Tiang-kay seperti
patah jadi dua, dari arah yang sama sekali tak terduga
sepasang tangan itu membengkok lalu memuntir ke atas, tahu
tahu dia sudah cengkeram urat nadi pada pergelangan tangan
perempuan itu. Sepanjang hidup, belum pernah terpikir oleh Khong Lankun
kalau tangan seseorang bisa berubah seaneh itu, dalam
terkejutnya, belum sempat terlintas cara untuk menghadapi
perubahan itu, tahu tahu badannya sudah tercekal lawan.
Buru buru dia jumpalitan di tengah udara dan berusaha
mundur dari arena, sayang tubuhnya segera ditarik Liu Tiangkay
dan ditekan diatas batu cadas.
"'Bisa kau tebak apa yang ingin kulakukan sekarang?"
pelan-pelan Liu Tiang-kay berkata.
Tentu saja Khong Lan-kun tak dapat menebak.
Bahkan mimpi pun dia tak pemah menyangka akan
mengalami nasib setragis itu.
"Sekarang aku hanya ingin melepaskan celanamu lalu
menabok pantatmu!" kembali Liu Tiang-kay berkata.
"kau......kau berani?" jerit Khong Lan-kun ketakutan, saking
ngerinya, suara ucapannya jadi parau.
Mula-mula dia mengira Liu Tiang-kay tak akan berani
melakukan hal tersebut, rnimpipun dia tak mengira ternyata di
dunia saat ini benar-benar ada lelaki yang berani berbuat
demikian terhadapnya. Sayang dia telah melupakan sebuah perkataan yang justru
diucapkan sendiri olehnya: "Orang ini sama sekali bukan
manusia" "Plak, plak, plaak!" tiga kali tamparan nyaring bergema di
udara, ternyata Liu Tiang-kay betul-betul sudah menghajar
tiga kali di atas pantatnya.
Tabokan itu sesungguhnya tidak terlampau keras, namun
Khong Lan-kun sudah dibuat bergerakpun tak berani.
Sambil tertawa kembali Liu tiang-kay berkata:"Sekarang,
sebenarnya aku masih punya kesempatan untuk melakukan
satu dua perbuatan lagi, hanya sayang seleraku sudah
hilang......" Diiringi gelak tertawa nyaring dia segera berlalu
meninggalkan tempat itu, dia pergi tanpa menoleh, melirik
sekejap pun tidak. Biarpun Khong Lan-kun sudah menggigit bibir kuat kuat,
namun air mata masih tak tertahankan dan meleleh keluar
membasahi pipinya. Tiba tiba dia melompat bangun, kemudian teriaknya keraskeras:"
Liu Tiang-kay, kau binatang, kau bajingan, suatu hari
aku pasti akan membunuhmu, kau........kau bukan manusia"
"Aku memang bukan manusia" jawab Liu Tiang-kay
hambar, menoleh pun tidak.
-oodw00kzoo- BAB V Rindu membuat tua Seluruh bangunan ramah makan masih bermandikan
cahaya lentera. Dua orang pelayan yang baru datang sedang sibuk
mengatur mangkuk dan sumpit, sementara tujuh orang nona
yang berdandan menor itu sedang duduk santai diatas sebuah
bangku panjang, ada yang sedang bergurau, ada yang sedang
berbisik bisik, ada pula yang sedang melamun.
Orang yang mau membongkar bangunan belum datang,
yang datang justru Liu Tiang-Kay, Khong Lan-kun anjurkan dia
jangan bertindak ceroboh, jangan mendatangi tempat itu.
Tapi dia justru datang. Dia memang selalu bekerja sesuai dengan cara dan prinsip
sendiri. Melihat dia berjalan masuk, setiap orang nampak tertegun,
seakas akan mereka sudah tahu, orang ini bukan orang yang
sedang mereka tunggu. Kecuali orang yang sedang mereka tunggu, seharusnya
orang lain tak akan datang ke situ.
Liu Tiang-Kay seperti sama sekali tak menyadari hal itu, dia
masih melangkah masuk dengan santainya lalu duduk persis
dibelakang meja dimana sumpit dan mangkuk baru saja
disiapkan. "Siapkan dulu empat macam Leng-ban, lalu empat macam
gorengan ditambah lima kati arak "Ka-Pan"
Arak "Ka-Pan" merupakan arak kenamaan di kota Hang-Ciu,
menurut orang yang pengalaman minum, konon arak ini jauh
lebih mantap ketimbang arak "Kao-Liang".
Kedua orang pelayan im masih berdiri dengan wajah
tertegun, mereka tak tahu apa baik menuangkan arak atau
lebih baik sama sekali tidak.
Rumah makan itu bukan rumah makan biasa, tapi Liu
Tiang-kay telah bersikeras menganggap tempat itu sebagai
rumah makan biasa, malahan dia sudah menggapai ke arah
tujuh orang nona itu dan berseru sambil tersenyum:"Cepat
kemari, semuanya saja kemari, ayoh temani aku minum, kalau
orang lelaki sedang minum, tanpa ditemani perempuan
rasanya seperti hidangan tak diberi garam"
Ke tujuh orang nona itu melongo, mereka ikut tertegun dan
saling berpandangan tanpa mengetahui apa yang mesti
diperbuat. "Hei, aku toh bukan harimau yang suka terkam manusia"
teriak Liu Tiang-kay lagi, "apa yang kalian takuti" Ayoh cepat
kemari!" Tiba tiba terdengar suara tertawa cekikian yang sangat
merdu bergema datang, menyusul kemudian seseorang
berseru manja:"Aku datang!"
Ketika pertama kali suara tertawa itu bergema, suara itu
masih datang dari suatu tempat yang jauh dari pintu gerbang,
namun ketika setatal mengucapkan dua patah kata itu, orang
tersebut sudah tiba didepan mata.
Terasa segulung angin tajam berhembus lewat, tampak
setolok bayangan manusia meluncur masuk dengan kecepatan
tinggi dan tahu tahu sudah duduk di samping Liu Tiang-kay.
Yang muncul tentu saja seorang wanita, bahkan seorang
wanita yang amat cantik, bukan saja cantik malahan amat
genit, terutama sepasang matanya, sedemikian genitnya
seolah olah sorot matanya dapat menembus hingga ke tulang
sumsum. Terserah kau hendak memandang dari mana, dari atas, dari
bawah, dari kiri, dari kanan, mulai ujung rambut hingga ke
ujung kaki semuanya berbau wanita asli, setiap inci setiap
depa bagian tubuhnya seratus persen wanita tulen.
Liu tiang-kay memandangnya sekejap, tiba tiba ujarnya
sambil tertawa:"Aku pingin perempuan yang menemani aku
minum arak" "Masa kau tak bisa melihat, aku toh wanita?" seru
perempuan itu sambil tertawa genit.
"Kenapa aku tidak melihatnya?"
"Bagaimana caranya agar kau bisa melihat lebih jelas?"
"Asal kau mau lucuti semua pakaianmu dan berdiri
telanjang bulat di hadapanku, mungkin aku bisa periksa asli
tidaknya kau sebagai wanita"
Berubah hebat paras muka perempuan itu, tapi kembali dia
tertawa cekikikan. Terdengar seseorang berseru dari luar pintu:"Kelihatannya
sahabat ini sangat berpengalaman soal wanita, tak mungkin
perempuan gadungan bisa mengelabuhinya"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tiba tiba
dalam ruang rumah makan telah bertambah dengan lima
orang manusia. Orang pertama berwajah pucat, berdandan perlente, kumis
maupun jenggotnya kelimis karena tercukur licin, dia adalah
seorang lelaki setengah baya dengan ujung mata mulai
keriputan, dia tak lain adalah si Jay-hoa-cat Iong Kim.
Orang ke dua adalah seorang hwesio setegap pagoda besi,
tentu saja dialah Tiat hwesio.
Si meteor setan Tam It-hui dan si pengait sukma lo-Tio
adalah orang tua yang kurus lagi penyakitan, wajah mereka
tiga puluh persen membawa hawa setan, tujuh puluh persen
mengandung hawa pembunuhan.
Yang sama sekali tak diduga Liu Tiang-kay adalah si anjing
gila Li, ternyata orang itu hanya seorang anak muda yang
bertampang jujur, hanya sayang wajahnya penuh bekas luka,
telinga nya juga tinggal separuh.
Dugaan Oh Gwat-ji ternyata sangat tepat, satu pun tak ada
yang salah tebak. Tiba tiba Liu Tiang-kay teringat satu hal, mengapa yang
dijelaskan nona itu hanya enam orang, bukan tujuh orang
seperti yang didengar" Dan sekarang, kenapa yang muncul
pun hanya enam orang" Masih ada satu lagi, siapakah dia"
Mengapa Oh Gwat-ji tidak menjelaskan"
Mengapa orang yang tak disebut namanya juga tidak
muncul malam ini" Dari ke lima orang itu, hanya wajah Tong Kim yang selalu
dihiasi senyuman, orang yang barusan bicara pun tak lain
adalah dia. Liu Tiang-Kay ikut tertawa.
"Pengalaman anda dalam hal perempuan tentunya jauh
lebih hebat dar pengalamanku?" katanya.
"Jadi kau kenal aku?"
"Kalau tidak kenal, darimana aku bisa tahu kalau
pengalaman anda dalam hal perempuan jauh lebih matang
dan hebat ketimbang aku"'
Berubah hebat paras muka Tong Kim, bentaknya:"Jadi kau
datang untuk mencari aku?"
"Aku datang untuk minum arak"
"Khusus datang kemari untuk minum arak?"
"Benar" "Dibawah bukit sana banyak terdapat warung makan,
rumah makan pun beribu ribu banyaknya, mengapa kau
khusus datang kemari untuK minum arak?"
"Aku senang tempat ini, selain rumah makan ini baru
dibuka kebetulan aku termasuk orang yang bosan dengan
teman lama senang mencari sahabat baru"
"Sayang" tiba tiba Tiat hwesio menyela, "kebetulan aku
termasuk orang yang justru paling benci ketemu sahabat
baru" "Lalu apa yang kau sukai?"
"Aku suka membunuh orang, terutama membunuh orang
yang bosan dengan teman lama senang mencari sahabat baru
semacam kau!" Pada dasarnya hwesio ini bertampang menyeramkan, selain
alis matanya tebal dengan mata yang bengis, kulit wajahnya
pun kasar dan penuh bopeng sehingga ketika berubah paras
mukanya sekarang, hawa napsu membunuh yang terpancar
keluar dari balik matanya kelihatan semakin menyeramkan.
Liu Tiang-kay masih tertawa, ujarnya sambil tersenyum:
"Kalau begitu, kau pasti senang bila dapat membunuhku?"
'Tepat sekali dugaanmu"
"Lantas kenapa tidak segera kemari untuk membunuhku?"
Tiat hwesio segera maju mendekat dengan langkah lebar.


Tujuh Pembunuh Qi Sha Shou Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Seluruh tubuhnya seolah-olah terbuat dari baja yang tebal
dan kuat, ini membuat gayanya sewaktu berjalan persis
seperti seekor gorilla. Ayunan kakinya juga sangat berat tapi mantap, setiap
langkah selalu meninggalkan bekas kaki yang sangat dalam di
atas permukaan tanah. Kesemuanya ini membuktikan kalau ilmu gwakang yang
dimiliki sudah mencapai tingkat sempurna, mungkin saja ilmu
cap-sah-tay-po miliknya juga sudah mencapai taraf yang luar
biasa sehingga badan jadi kebal dan tak mungkin terluka oleh
bacokan senjata. Liu Tiang-Kay tetap berdiri dengan tangan kosong, jangan
lagi senjata golok, biar pisau sayur pun tidak membawa.
Tong Kim memandang ke arahnya, mimik wajah yang
ditampilkan sangat aneh, seakan dia sedang melihat
seseorang yang sudah mati.
Sementara para nona berdandan menor itu sudah dibikin
panik, mereka berlarian ketakutan, badannya gemetar keras,
bahkan sudah ada yang terkencing-kencing.
Berjalan empat-lima langkah, mendadak seluruh ruas
tulang tubuh Tiat hweesio mulai gemerurukan menimbulkan
suara nyaring. Namun dia belum sempat turun tangan, karena saat itulah
tiba tiba si bocah muda yang bertampang jujur itu sudah
menerkam ke arah Liu Tiang-kay.
Sepasang matanya sudah memancarkan cahaya darah yang
berapi api, mulutnya dipentang lebar hingga nampak sebaris
giginya yang putih dan runcing, tampangnya saat itu tak
ubahnya seperti seekor anjing gila yang sedang kelaparan dan
siap menggigit tenggorokan Liu Tiang-kay.
Liu Tiang-Kay seolah olah tidak melihat, dia sama sekali tak
bergerak. Dalam waktu singkat dia sudah berada disisi Liu Tiang-kay,
sepasang tangannya secepat kilat mencekik tengkuk pemuda
itu. "Kraaakkk!" terdengar suara aneh bergema di udara.
Liu Tiang-kay masih duduk dalam posisi semula, dia tak
bergerak. Anjing gila Li juga tak bergerak, sepasang tangannya masih
mencekik di tengkuk Liu Tiang-kay, tapi batok kepalanya tiba
tiba tertunduk lemas ke depan, sepasang biji matanya
menonjol keluar, wajahnya menunjukkan mimik muka yang
sangat aneh. Menyusul kemudian semburan darah segar memancar
keluar dari mulutnya. Darah itu sama sekali tidak menyembur ke atas badan Liu
Tiang-kay. Dengan satu gerakan yang cepat tapi gesit seperti ikan
yang berenang di kolam, tahu tahu tubuhnya sudah melesat
lewat melalui sisi tubuh perempuan gadungan itu.
Ketika tubuh si anjing gila Li roboh ke lantai, badannya
persis roboh di atas badan perempuan gadungan itu.
Ternyata perempuan gadungan itu tidak menghindar, dia
ikut roboh terjungkal ke tanah, sementara wajahnya ikut
memperlihatkan perubahan mimik muka yang sangat aneh
dan tak terlukis dengan kata. sepasang mata genitnya sudah
melompat keluar dari kelopak matanya dan bergelantungan
persis seperti mata ikan.
Ke dua orang im saling berhadapan, wajah ketemu wajah,
mati ketemu mata, namun tubuh mereka sama sekali tak
bergerak. Tak selang berapa saat kemudian, tubuh ke dua orang itu
sudah dingin membeku, sudah kaku dan tak bernapas.
Pucat pias wajah Tong Kim bagai mayat, dia tahu, ke dua
orang rekannya sudah putus nyawa.
Anehnya, dia tak melihat Liu Tiang-kay turun tangan.
Tak seorang pun menyaksikan Liu Tiang-kay turun tangan.
Ketika membunuh, tampaknya dia memang tak perlu
melakukan sesuatu gerakan.
Tiat hwesio telah menghentikan langkahnya, diantara otot
otot hija yang menonjol pada kening dan jidatnya, peluh
dingin jatuh bercucuran. Dia amat senang membunuh, juga sangat mengerti
bagaimana cara membunuh. Oleh karena itulah dia merasa jauh lebih takut, jauh lebih
ngeri dan jauh lebih seram ketimbang orang lain.
Liu Tiang-kay menghela napas, katanya pelan:"Sudah
kubilang, aku tak ingin membunuh, aku datang untuk minum
arak" "Tapi dalam waktu singkat kau telah membunuh dua
orang" seru Tong Kim.
"Aku tak ingin membunuh, justru mereka yang ingin
membunuhku, orang mati tak mungkin bisa minum arak
bukan?" "Baik, minum arak" tiba tiba si Pengait sukma Tio tua
berseru, "biar aku yang menemani minum"
Sebuah poci arak tersedia di atas meja.
Si Pengait sukma Tio tua menuang dulu secawan arak
untuk diri sendiri, kemudian menuang untuk Liu Tiang-kay,
setelah itu katanya sambil mengangkat cawan:
"Silahkan!" Dia meneguk habis lebih dulu arak dalam cawannya.
Dua cawan arak keluar dari sebuah poci arak yang sama.
Liu Tiang-kay memandang cawan arak dihadapannya
sekejap, kemudian katanya sambil tertawa:"Aku khusus
kemari untuk minum arak, aku tak ingin hanya minum
secawan" "Selesai menghabiskan cawan arak itu, kau boleh minum
lagi'" "Tak mungkin, jika kuhabiskan arak dalam cawan itu,
selama nya aku tak akan punya kesempatan untuk minum
arak yang kedua" "Kau menuduh dalam arak itu ada racunnya?" teriak si
Pengait sukma Tio tua sambil tertawa dingin.
"Sebenarnya arak itu tak beracun, racunnya keluar dari
kuku jari tanganmu" Berubah hebat paras muka si Pengait sukma.
Sewaktu menuang arak untuk Liu Tiang-kay tadi. diam
diam dia telah menyentil kuku jarinya, gerakan tangannya
lincah, ringan dan cekatan, kecuali dia sendiri, tak mungkin
orang lain akan mengetahuinya.
Tapi Liu Tiang-kay tahu. Sambil memandangnya dan tersenyum, ujarnya:"Arak yang
kau minum tadi sebenarnya juga tak beracun"
"Sekarang?" tak tahan si Pengait sukma Tio tua bertanya.
"Sekarang apakah beracun atau tidak, seharusnya hati
kecilmu yang tahu lebih jelas"
Mendadak paras muka si Pengait sukma Tio tua berubah
jadi hitam gosong, dia melompat bangun kemudian teriaknya
keras:"Ka.....kapan kau turun tangan" Kenapa bisa beracun?"
"Sudah kuduga cawan arak mana yang bakal kau gunakan,
maka sewaktu kau mengambil arak, diam diam kumasukkan
racun ke dalam cawan, cara ini sebenarnya sangat sederhana,
aku percaya kau pun pasti bisa menggunakamrya"
Si Pengait sukma Tio tua tak sempat buka suara lagi,
tenggorokannya terasa sakit dan mengencang seakan akan
sedang dijirat dengan seutas tali besar yang tak berwujud.
Menyusul kemudian napasnya terputus di tengah jalan,
ketika roboh ke lantai, seluruh badannya mengejang kaku.
Kembali Liu Tiang-kay menghela napas panjang:"Hei!
Sebetulnya aku tak suka membunuh, tapi sekarang, aku telah
membunuh tiga orang, padahal orang yang selalu gembar
gembor mengatakan senang membunuh, saat ini justru berdiri
tak berkutik" Tiat hwesio tak mengucapkan sepatah kata pun, tiba tiba
dia membalikkan badannya dan kabur meninggalkan tempat
itu dengan langkah lebar.
Apa yang dikatakan Oh Gwat-ji ternyata sangat tepat.
Orang yang senang membunuh, kadangkala merupakan
orang yang paling takut mampus.
Perkataan Liu Tiang-kay juga tidak keliru.
Justru lantaran takut mati, maka hwesio ini sengaja melatih
ilmu kebal yang tahan bacokan.
Ketika menjumpai ada orang lain bisa mencabut nyawa
tanpa harus menggunakan senjata, maka dialah orang
pertama yang kabur paling cepat.
Si meteor setan tak kalah cepatnya melarikan diri dari situ.
Dalam kenyataan, gerakan kaburnya ketika itu boleh
dibilang jauh lebih cepat daripada gerakan meteor meluncur di
angkasa bebas. Tong Kim tidak kabur. Liu Tiang-kay mengawasinya, lalu sambil tersenyum
berkata:"Apakah kau juga pingin menjajal kemampuanku?"
Tiba tiba Tong Kim tertawa.
"Aku datang kemari bukan untuk membunuh, akupun
datang untuk minum arak"
"Bagus sekali" "Aku terhitung orang yang sangat berpengalaman soal
wanita, akupun termasuk orang yang bosan yang lama,
senang yang baru" "Sangat bagus" "Berarti kita berdua satu aliran, satu kesenangan dan satu
kemauan, apa salahnya kita duduk sebagai teman dan minum
arak bersama" Sambil tersenyum dia berjalan mendekat, duduk dan
berkata lebih lanjut: "Apalagi disini bukan saja tersedia arak, juga ada wanita"
"Betul, persediaan arak di sini cukup bagi kita berdua untuk
diminum sampai puas" Liu Tiang-kay manggut manggut.
"Stock perempuan pun berlebihan, cukup untuk
memuaskan kita berdua"
"Stok perempuannya tidak cukup"
"Tidak cukup?" "Biarpun persediaan perempuan di tempat ini sangat
banyak, sayang mereka semua kurang cantik"
"Ooh, rupanya seleramu jauh lebih tinggi ketimbang
seleraku" Tong Kim tertawa tergelak.
"Terus terang, perempuan perempuan ini tidak termasuk
jelek, hanya sayang belum cukup untuk membuatku sakit
rindu......." Senyuman yang semula menghiasi wajah Tong Kim tiba
tiba membeku, dengan perasaan terkesiap dia awasi Liu
Tiang-kay tanpa berkedip, bahkan jauh lebih kaget ketimbang
sewaktu melihat Liu Tiang-kay membunuh tanpa
menggerakkan tangan tadi.
Akhirnya dia paham dengan niat Liu Tiang-kay yang
sesungguhnya, tapi dia tak menyangka begitu besar nyali
yang dimiliki orang ini. Liu Tiang-kay tidak bicara lagi, dia ambil sumpit dari meja,
lalu mulai memukul cawan sambil bersenandung:
"Jangan bilang tak ada rindu.
Rindu membuat orang cepat tua.
Setelah dipikir berulang-ulang.
Lebih enak merasa rindu, Lebih enak merasa rindu.........."
Tong Kim menarik napas panjang-panjang, setelah tertawa
paksa katanya:"Jadi kedatangan anda khusus hendak mencari
si pembawa rindu" "Apakah ada yang lebih indah di dunia ini selain si
pembawa rindu?" Liu Tiang-kay balik tanya sambil menghela
napas. "Yaa, memang tak ada"
"Tentu saja tak ada"
Berputar biji mata Tong Kim, sembari tertawa licik katanya:
"Sebelum nya, akupun ingin bersenandung untukmu, maukah
kau menikmatinya?" "Sebenarnya mendengar orang lelaki bersenandung itu
sangat memuak kan" sahut Liu Tiang-kay sambil menghela
napas lagi, "sayang mulut iUi tumbuh diwajahmu, jika kau
tetap ingin bernyanyi, nyanyilah!"
Tong Kim benar benar mulai bersenandung:
"Jangan bilang tak ada rindu.
Rindu membuat orang cepat tua,
Orang tua tentu akan mampus,
Kalau mampus, itu baru menderita"
"Tidak merdu, tidak merdu" Liu Tiang-kay segera
menggeleng berulang kali.
"Biarpun suara nyanyianku tidak merdu, tapi itulah kata
yang jujur" "Betul, perkataan jujur memang biasanya tak merdu"
ternyata Liu Tiang-kay sependapat.
"Si pembawa rindu yang sedang kau cari, bukan saja bikin
orang cepat tua, bahkan tuanya sangat cepat karena itu
matinya juga lebih cepat"
"Kau takut mampus?"
"Siapa manusia di dunia ini yang tak takut mampus?"
"Aku!" Ditatapnya wajah Tong Kim tak berkedip, kemudian
lanjutnya dengan suara dingin: "Oleh karena kau takut mati
sedang aku tidak, maka kau harus membawaku ke sana"
"Membawa mu ke mana?" Tong Kim berlagak pilon.
"Mencari si pembawa rindu"
"Kalau aku pun tak tahu di mana ia berada?" Tanya Tong
Kim sambil tertawa paksa.
"Berarti selamanya kau tak akan tua"
Sekarang Tong Kim tak bisa tertawa lagi, pura pura tertawa
pun tak sanggup. Tentu saja dia sangat paham dengan perkataan Liu Tiangkay,
hanya orang mati yang selamanya tak akan tua.
Liu Tiang-kay masih menatap wajahnya, kembali dia
berkata:"Konon kalian bertugas sebagai penjaga di sebuah
gua rahasia, kini kalian semua datang kemari, berarti dia pasti
berada dalam gua itu untuk menggantikan kalian, jadi, kau
pasti dapat menemukan dirinya"
Sekarang, Tong Kim ingin menyangkal pun sudah tak bisa
menyangkal lagi. "Kau ingin mampus?" tanya Liu Tiang-kay. Tong Kim
menggeleng. Selesai meneguk habis isi cawannya, kembali Liu Tiang-kay
berkata: "Lalu apa yang kau pikirkan?"


Tujuh Pembunuh Qi Sha Shou Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Pingin kau mampus!"
Tiba tiba tubuhnya berjumpalitan di tengah udara, selapis
pasir terbang diiringi gulungan angin topan menggulung ke
arah Liu Tiang-kay. Inilah pasir beracun yang sangat mematikan dari perguruan
keluarga Tong. Liu Tiang-kay sama sekali tidak menghindar, mendadak dia
pentang mulutnya dan menyembur ke udara: selapis cahaya
perak memancar keluar dari mulutnya menyongsong
datangnya pasir terbang itu, cahaya perak tersebut tak lain
adalah arak yang baru diteguknya.
Dalam sekejap mata, gulungan pasir terbang yang
menyelimuti angkasa itu sudah tergulung ke samping,
berhamburan diatas dinding bangunan yang baru selesai
dilabur, beribu ribu butir pasir terbang yang lebih kecil dari
wijen itu menancap semuanya diatas tembok.
Kembali paras muka Tong Kim berubah hebat, belum
pernah terbayang olehnya sebelum ini kalau ada orang
memiliki kekuatan sedemikian dahsyatnya.
Liu Tiang-kay tersenyum, ujarnya:"Arak ini bernama Kouciu-
kou, disebut juga si Penyapu kemurungan, ada kalanya
bisa juga dipakai untuk menyapu pasir beracun"
Tong Kim tertawa getir. "Sungguh tak kusangka, minum arak pun punya banyak
kegunaan " "Makanya, jadi orang tak boleh tak minum arak"
"Aku minum" "Tapi sayang orang mati tak bisa minum!"
"Aku tahu" "Lantas apa lagi yang kau pikirkan sekarang?"
"Aku sedang berpikir, bagaimana caranya agar cepat cepat
mengajakmu ke sana" Liu Tiang-kay segera tertawa tergelak.
"Hahaha...... sengaja aku memilih kau karena sejak awal
aku sudah tahu, kau memang orang yang pintar, aku paling
suka berhubungan dengan orang pintar"
"Makanya orang pinrar selalu banyak menghadapi
persoalan dan kesulitan" Tong Kim menghela napas.
"Paling tidak, enakan punya masalah dan kesulitan
ketimbang sama sekali tak ada"
"Kenapa?" "Karena di dunia ini, hanya orang mati yang benar benar
tak punya masalah" Rindu termasuk salah satu masalah, itulah sebabnya
gampang bikin orang cepat tua.
Tapi, bila kau pikirkan lebih dalam, mau berpikir lebih
seksama, maka kau segera akan tahu bahwa jadi orang, lebih
baik masih bisa merasakan rindu daripada sama sekali tak
tahu apa arti sebuah kerinduan.
0-d-0-w-0 Asal ada gunung, tentu ada gua.
Ada gua berbentuk besar, ada gua berbentuk kecil, ada gua
yang indah, ada gua yang sangat curam dan berbahaya, ada
juga gua yang bentuknya persis lubang hidung. Gua gua
semacam ini, gampang sekali dilihat dan gampang ditemukan
oleh siapa pun. Tapi ada juga gua yang bentuknya seperti pusar seorang
gadis perawan, walaupun semua orang tahu akan
keberadaannya, bukan berarti setiap orang dapat menemukan
dan melihatnya secara bebas.
Gua ini, bentuknya jauh lebih misterius dan rahasia
ketimbang pusar seorang gadis perawan.
Sesudah mengitari enam tujuh buah tebing tinggi,
merangkak naik di enam tujuh buah dinding curam, akhirnya
tibalah mereka di bawah sebuah lembah.
Sekeliling lembah merupakan dinding bukit yang tinggi
menjulang ke wigkasa, dikelilingi jurang yang tak nampak
dasarnya, persis dihadapannya merupakan dinding yang diapit
puncak terjal, antara puncak yang satu "lengan puncak yang
lain ada selisih empat lima kaki, hingga dilihat dari kejauhan
nampak bagaikan sebuah celah.
Akhirnya Tong Kim menghembuskan napas lega, bisiknya:
"Sudah sampai!"
"Di mana?" tanya Liu Tiang-kay.
Tong Kim menuding ke atas sebuah dinding terjal di
hadapannya. "Semestinya kau sudah melihat sendiri bukan?"
Memang benar, Liu Tiang-kay telah melihatnya, diatas
dinding yang terjal dan curam bagai mata golok terdapat
segerombolan semak belukar, dibalik semak im muncul
sebuah gua yang gelap. Awan putih melayang lewat di muka gua, rotan
bergelantungan dan menari nari oleh tiupan angin.
Biarpun Liu Tiang-kay telah melihatnya, namun dia tak
mampu menyeberang ke sana.
Tiba tiba Tong Kim bertanya:"Kau pernah membaca ayat
syair yang membahas soal "Burung elang menembus pintu
langit?" "Belum pernah" "Dalam ayat syair im dikatakan, ada seorang gadis cantik
sedang duduk ditepi sungai, muncul seorang lelaki hidung
belang, walaupun si hidung belang dapat melihat gadis im
secara jelas, sayang tak ada kendaraan untuk menyeberang
ke tepi seberang. Nah, gua tersebut persis seperti kisah gadis
cantik itu" "Dan aku adalah si hidung belang?"
"Kau hanya minta aku membawamu kemari, sekarang aku
telah membawamu kemari" kata Tong Kim sambil tertawa.
"Tak disangka ternyata kau terhitung orang yang
berpendidikan" "Tidak berani" Liu Tiang-kay melirik jurang di hadapannya sekejap,
kemudian katanya lagi dengan suara hambar:"Jika seorang
terpelajar jatuh ke dalam jurang dari atas tebing sini, kira kira
sama mampusnya tidak dengan orang yang sama sekali tidak
terpelajar?" Tong Kim tak sanggup tertawa, bahkan berbicara pun tak
mampu, mendadak dia jongkok dan membuka sebuah batu
cadas yang berada diatas dinding tebing curam, dari balik batu
seketika menyembur keluar seutas tali baja yang sangat kuat,
diujung tali baja itu terdapat sebuah pengait yang sangat
kuat. "Tiingg...!" pengait itu segera menembak ke depan dan
menancap kuat kuat diatas dinding tebing seberang, maka
segera terbentuklah dua utas tali kawat yang berfungsi
sebagai jembatan penyeberang.
"Silaukan!" ujar Tong Kim kemudian sambil membungkuk
hormat "Orang terpelajar silahkan jalan duluan!" sahut Liu Tiangkay.
"Aku harus menemanimu?" berubah hebat paras muka
Tong Kim. "Bukan Cuma menemani, kau harus berjalan duluan, jadi,
seandainya jatuh ke jurang, orang terpelajar jatuh duluan"
"Bila Siang-si hujin tahu kalau aku yang membawamu
kemari, aku bakal dibunuh olehnya" seru Tong Kim hampir
menangis. "Rasanya jauh lebih baik begitu ketimbang mati duluan di
dasar jurang, ingat! Nyawa itu sangat berharga, lebih baik
hidup semenit lebih lama daripada mati semenit lebih cepat,
lagipula.....siapa tahu aku punya akal agar kau tidak dibunuh
olehnya" "Sungguh?" "Aku ini termasuk orang yang belum pernah makan bangku
sekolahan, tapi biasanya, orang bodoh macam aku lebih suka
bicara kenyataan" Tong Kim menghela napas panjang, gumamnya kemudian
sambil tertawa geli:"Aai, ternyata jadi orang terpelajar yang
banyak membaca pun bukan satu kejadian yang baik"
0-d-0-w-0 Tali kawat baja itu sangat licin, sementara angin gunung
berhembus sangat kencang dan kuat, jika berjalan di depan,
sedikit kurang hati hati saja bisa berakibat jatuh mampus di
dasar jurang. Bila seseorang terjatuh ke dasar jurang, bisa dipastikan
tubuhnya akan berubah jadi cacahan daging.
Untung saja selisih jarak antara ke dua tebing itu tidak
terlampau jauh, baru saja mereka menyeberang, terdengar
seseorang telah menegur sambil tertawa:
'Pejamkan mata kalian, aku sedang mandi"
Mulut gua itu sangat dalam, suasana di dalam sana nampak
gelap gulita, tapi begitu tiba di dalam, tampak cahaya lentera
menerangi sekeliling tempat itu.
Cahaya lampu berwarna merah, sangat lembut, hangat dan
niempersona. Nada suara orang yang berbicara lebih lembut, lebih hangat
dan lebih niempersona ketimbang cahaya lentera itu.
Liu Tiang-kay sama sekali tidak pejamkan matanya, satu
kejadian yang aneh bila dia betul betul mau pejamkan
matanya. Setelah menelusuri lorong yang panjang, suasana di depan
mata jauh lebih lebar dan terbuka, mereka seolah olah telah
tiba di kahyangan, bahkan lempat yang jauh lebih indah dan
menawan ketimbang kahyangan.
Dibalik sebuah tirai tipis, terlihat sebuah kolam air panas
yang dikelilingi pagar kayu berwarna putih.
Seseorang berada didalam kolam air panas, yang terlihat
hanya kepalanya. Rambut panjangnya yang berwarna hitam mengapung
diatas permukaan air, membuat wajahnya nampak cantik
bagaikan bunga, kulitnya putih dan halus sangat menggoda
hati. Sayang air di dalam kolam bukan air jernih......
Liu Tiang-kay menghela napas panjang, dia tahu, bagian
bawah tubuh yang berada didalam air pasti lebih menggoda
dan menggetarkan hati. Siang-si hujin dengan sepasang matanya yang bening,
indah dan menggoda, sedang mengawasi sepasang matanya,
dia seperti tertawa tidak tertawa, genit, nakal, menantang,
tapi merangsang.... nada suaranya merdu, bagaikan kicauan
burung nuri. "Bukankah kusuruh kau masuk dengan mata terpejam?"
tegurnya. "Benar" "Kau tahu, saat ini aku sedang mandi?"
"Justru karena mendengar kau sedang mandi, maka aku
semakin! enggan untuk pejamkan mata" sahut Liu Tiang-kay
sambil tertawa. Nyonya rindu menghela napas panjang.
"Tampaknya, selain tidak menurut, kau terhitung orang
yang sangat tak jujur"
"Tapi aku selalu berbicara jujur"
"Kau tidak kuatir kucukil sepasang matamu?"
"Kehilangan batok kepala saja tidak takut, apalagi cuma
sepasang mata" "Jadi kau tak takut mati?"
"Takut mati" Kenapa harus takut mati" Kehidupan manusia
di dalam dunia bagaikan sebuah darmawisata, manusia tak
lebih hanya tamu yang mampir minum, kalau kelahiran
disambut dengan kegembiraan, kenapa mati dihantar dengan
ketakutan?" "Ooh, rupanya kau pun termasuk seorang terpelajar"
Nyonya rindu tersenyum. Liu Tiang-kay ikut tersenyum.
"Orang kuno bilang, bisa mati setelah melihat matahari
senja, tak ada yang perlu disesalkan, begitu juga dengan aku,
asal dapat melihat hujin, biar harus mati pun, aku tak akan
menyesal" "Bukankah sekarang kau telah melihatku?" tegur Nyonya
rindu sambil mengerling genit.
"Yaa, apa yang selalu diimpikan, apa yang selalu
didambakan, akhirnya terkabul juga"
"Sekarang, bukankah kau sudah boleh mati?"
"Belum, belum bisa"
"Kau belum puas melihatku?"
"Bukan saja belum puas, bagian tubuhmu yang terlihat pun
belum cukup banyak" Nyonya rindu mendelik besar, dia seperti tak paham
dengan perkara itu. Liu Tiang-kay balas menatapnya, sorot matanya seolah olah
ingin menyingkap air yang menggenangi tubuh perempuan itu
dan melihat dengan seksama bagian tubuh yang tersembunyi
dibalik air itu. "Apa yang dapat kulihat sekarang, tak lebih hanya sebagian
kecil dari tubuhmu, sebagian besar lainnya sama sekali belum
kelihatan" "Seberapa banyak yang ingin kau lihat?"
"Semuanya" Paras muka Siang-si hujin bersemu merah, dia kelihatan
agak jengah, serunya:"Besar amat ambisimu"
"Lelaki tanpa ambisi, sesungguhnya tidak pantas disebut
seorang lelaki sejati, seorang lelaki tulen"
Dengan sepasang matanya yang membetot sukma, kembali
Siang-si hujin menatap pemuda itu tanpa berkedip, katanya
kemudian:"Kau belum termasuk seorang lelaki yang baik"
"Selamanya aku memang bukan lelaki baik"
"Tapi kau memiliki sedikit perbedaan dibandingkan dengan
lelaki lain" "Rasanya perbedaan itu tidak sedikit"
"Aku suka sekali dengan lelaki yang berbeda" bisik Siang-si
hujin lembut. "Hampir semua wanita di kolong langit senang dengan
lelaki yang berbeda dengan kebanyakan lelaki lain"
"Keluar!" tiba tiba siang-si hujin menghardik. Liu Tiang-kay
sama sekali tidak keluar.
Dia tahu, Siang-si hujin bukan menyuruh dia yang keluar
dari situ, seharusnya Tong Kim yang keluar dari tempat
tersebut. Benar saja, Tong Kim segera keluar dari situ, keluar sambil
pejamkan matanya rapat rapat, pada hakikatnya dia belum
pernah membuka matanya, walau hanya sekejap saja.
"Kelihatannya dia adalah seorang lelaki yang sangat
penurut" sindir Liu Tiang-kay sambil tertawa.


Tujuh Pembunuh Qi Sha Shou Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Dia tak akan berani membangkang"
"Itulah sebabnya dia terpaksa harus keluar, sedang aku,
tetap tinggal di sini"
"Kaum wanita memang tidak senang dengan lelaki yang
kelewat penurut, tapi kau....."
Dengan ujung matanya dia mengerling Liu Tiang-kay
sekejap, lalu terusnya dengan nada genit:"Tapi kau pun tak
lebih hanya seorang lelaki dungu, ngapain kau hanya berdiri
melulu disitu" Memangnya keberanianmu hanya begitu saja?"
Liu Tiang-kay tidak menjawab.
Dia menggunakan tindakan untuk menjawab ejekan
tersebut. Lelaki yang lak banyak tingkah, lelaki yang beraninya
hanya mematung termasuk lelaki yang tak disukai kaum
wanita. Tiba tiba dia berjalan mendekati kelam air panas, kemudian
mulai melepaskan sepatunya.
Siang-si Hujin terbelalak lebar, seperti amat terkejut
dengan perlakuan pemuda itu, jeritnya:
"Kau berani terjun ke mari?"
Liu Tiang-kay sudah mulai melucuti pakaiannya.
"Bukankah kau sudah tahu siapakah aku" Kau tidak kuatir
kubunuh"'' teriak Siang-si hujin lagi.
Liu Tiang-kay sama sekali tak bicara, dia sudah tak sempat
untuk menjawab. "Apakah kau tidak melihat sesuatu yang beda, sesuatu
yang istimewa dengan air kolam ini?" Kembali Siang-si hujin
berteriak. Liu Tiang-kay sama sekali tidak memperhatikan.
Yang dia perhatikan sekarang bukan air dalam kolam im,
sorot matanya tak pernah bergeser dari pandangan mata
Siang-si hujin. "Aku telah mencampurkan sejenis obat yang khusus dalam
air kolam ini" kembali Siang-si hujin berseru, "selain aku, siapa
pun yang berani terjun ke sini baka! mati"
Liu Tiang-kay tidak menggubris, dia sudah terjun ke dalam
kolam. "Byuurrr......." percikan bunga air memancar ke empat
penjuru. "Tampaknya kau memang tak takut mampus" Siang-si hujin
menghela napas panjang, "banyak lelaki yang mengatakan
berani mati demi aku, tapi lelaki yang benar benar
membuktikan berani mati demi aku ternyata hanya kau
seorang......" Dia tak melanjutkan kembali kata katanya, dia memang tak
sanggup melanjutkan kembali kata katanya.
Sebab bibirnya saat itu sudah tak sanggup mengeluarkan
suara. Untuk menaklukan seorang wanita, hanya ada satu macam
cara yang bisa digunakan.
Cara yang digunakan Liu Tiang-kay saat ini kebetulan sekali
adalah cara tersebut. Manusia, belum tentu akan tertawa bila dia berada dalam
suasana gembira, merintih pun belum tentu dikeluarkan bila
dia sedang menderita. Suara rintihan sudah tak kedengaran sekarang, yang tersisa
hanya dengusan napas yang terengah engah, dengusan napas
yang sangat membetot sukma.
Riak ombak yang begitu keras dan kencang dalam kolam
air tadi, perlahan lahan berubah jadi tenang kembali.
Siang-si hujin menghembuskan napas perlahan,
katanya:"Orang bilang keberanianmu seperti langit,
kenyataannya nyali mu jauh lebih hebat dari langit"
Liu Tiang-kay pejamkan matanya, dia sudah tak punya
tenaga untuk menjawab, ciia sudah kehabisan tenaga.
Kembali Siang-si hujin berkata:"Padahal, sedari awal aku
sudah tahu, kedatanganmu kali ini bukan lantaran ingin
mencari aku, kedatanganmu pasti mempunyai tujuan lain"
Perempuan, bukan saja lebih suka bicara, bahkan dalam
kondisi seperti ini, daya tahan tubuhnya selalu lebih segar
ketimbang orang lelaki. Maka dia pun berkata lebih lanjut:"Entab mengapa,
ternyata aku tak tega membunuhmu"
"Aku tahu mengapa begitu, sebab aku adalah lelaki yang
lain daripada yang lain" kata Liu Tiang-kay tiba tiba sambil
tertawa. Siang-si hujin menghela napas panjang, dia tidak
menyangkal. "Itulah sebabnya dalam air kolam tak ada racunnya"
sambung Liu Tiang-kay. Ternyata Siang-si hujin pun tidak menyangkal.
"Bila ingin membunuhmu, aku masih mempunyai banyak
cara yang lain" "Yaa, aku percaya" Liu Tiang-kay menghela napas, "Bila
seorang wanita benar benar menginginkan kematian seorang
pria, dia memang mempunyai banyak cara untuk
melakukannya" "Maka dari itu, lebih baik cepatlah berterus terang
kepadaku, sebetulnya mau apa kau datang kemari?"
"Sekarang kau sudah tega untuk membunuhku?"
"Hanya lelaki segar yang terhitung seorang lelaki lain
daripada yang lain" kata Siang-si hujin hambar.
"Jadi aku sudah tak segar?"
"Perempuan pun sama seperti lelaki, mereka pun senang
yang baru bosan yang lama" perkataan Siang-si hujin sangat
lembut. "Sayang kau telah melupakan sesuatu" Liu Tiang-kay
menghela napas ringan. "Oya?" "Ada sementara lelaki sama seperti kaum wanita, jika dia
benar benar menginginkan kematian seorang wanita, dia pun
mempunyai banyak cara yang lain"
"Itu mah tergantung perempuan macam apa yang sedang
dia hadapi" kata Siang-si hujin sambil tertawa genit.
"Perempuan macam apa pun sama saja"
"Termasuk perempuan macam aku?" tanya Siang-si hujin
semakin genit. "Terhadap kau, sebetulnya hanya ada satu cara saja,
sayang, dengan cara sederhana pun sudah akan berhasil, jadi
aku hanya butuh sebuah cara ini saja"
"Kenapa tidak kau cobakan kepadaku?"
"Sudah kucoba" Suara tertawa Siang-si hujin mulai dipaksakan:"Menurut
kau, berhasil tidak caramu itu?"
"Tentu saja berhasil"
"Cara apa yang telah kau gunakan?" tak tahan Siang-si
hujin bertanya. "Sebetulnya dalam air kolam ini tak ada racunnya, tapi
sekarang telah beracun"
"Kau........"jerit Siang-si hujin, tiba tiba suaranya jadi kaku.
"Tentu saja sebelum meracuni air kolam ini, aku telah
menelan obat penawarnya lebih dahulu"
"Sejak kapan kau meracuni air kolam ini?" tanya Siang-si
hujin, tampaknya dia masih belum percaya.
"Racun itu kusembunyikan didalam kuku jari tanganku,
sewaktu terjun ke air, racun pun secara otomatis membaur di
air" "Obat penawar racunnya..............."
"Aku menelan obat penawar racun itu ketika sedang
melucuti pakaianku, aku tahu lelaki yang sedang melepaskan
pakaian tidak bagus dilihat, oleh karena itu ketika seorang
lelaki sedang melepaskan pakaiannya, tak mungkin kaum
wanita akan memperhatikannya"
Setelah tersenyum, kembali lanjutnya:"Sebelum melakukan
segala tindakan, aku selalu mempersiapkannya terlebih dulu
dengan seksama" Berubah hebat paras muka Siang-si hujin, tiba tiba dia
berenang mendekat, dengan sepuluh jari tangannya yang
tajam dia mencekik tenggorokan Liu Tiang-kay.
Saat itulah dia baru tahu, ternyata perkataan dari Liu
Tiang-kay bukan cuma gertak sambal karena dia jumpai
badannya secara tiba tiba jadi lemas, tangannya juga lemas,
seluruh kekuatan tubuh yang dimilikinya mendadak hilang
lenyap tak berbekas. Dengan satu gerakan yang sangat enteng Liu Tiang-kay
cengkeram pergelangan tangannya, lalu berkata pelan:"Orang
lelaki pun bisa senang yang baru muak dengan yang lama, kini
kau sudah bukan barang baru, jadi lebih baik berbicaralah
dengan lebih jujur" "Kau.......kau benar benar tega membunuhku?" tanya
Siang-si hujin dengan wajah berubah.
"Sebetulnya aku tak tega" Liu Tiang-kay menghela napas.
Perkataan itu belum selesai diucapkan, dia sudah menotok
tiga buah jalan darah ditubuh Siang-si Hujin, menotok persis
diatas payudara yang besar lagi montok.
0-d-0-w-0 Pekerjaan berikut menjadi jauh lebih sederhana dan
gampang. Pintu rahasia terletak diatas dinding tebing persis di
belakang sebuah permadani Persia yang sangat besar, pintu
yang konon seberat ribuan kati ternyata tidak mencapai lima
ratus kati, kunci gembokan pun tidak terlampau sulit untuk
membukanya. Pada dasarnya Liu Tiang-kay memang memiliki sepasang
tangan yang trampil. Setibanya diluar, walaupun Tong Kim sudah melarikan diri
hingga tak nampak batang hidungnya, jembatan kawat masih
terpasang ditempatnya seperti semula.
Semua pekerjaan benar-benar terlaksana secara gampang
dan amat lancar. Mungkin orang lain akan mengira keberhasilan yang bisa
dicapai secara gampang dan lancar lantaran nasibnya yang
lagi mujur, Liu Tiang-kay pribadi sama sekali tidak
berpendapat begitu. "Seseorang, bila cara yang digunakan tepat, sesulit apapun
persoalan yang sedang dihadapi, pasti bisa diselesaikan secara
mudah dan lancar" Cara atau sistim kerjanya memang sama sekali berbeda
dibandingkan cara kerja orang lain.
Rumah makan yang menurut rencana dibangun untuk
dirobohkan kembali, hingga kini masih berdiri utuh dan kokoh,
rombongan manusia yang menurut rencana siap kesitu untuk
membongkar bangunan, kini sudah mati tiga dan kabur tiga
orang. Banyak sekali peristiwa di dunia ini memang demikian
keadaannya, suatu rancangan rencana yang seharusnya
mulas, sempurna dan mustahil bisa gagal, ternyata mengalami
kegagalan total. Sesuatu rancangan yang seharusnya banyak
rintangan dan kesulitan, dalam kenyataan justru berhasil
dilaksanakan dengan gampang, lancar dan sempurna.
Berhasil atau gagal memang tak bisa ditentukan dengan
suatu teori .nau rumus yang pasti, oleh sebab itu jadi manusia
lebih baik jangan memandang terlalu serius terhadap segala
persoalan yang dihadapi. Lampu lentera masih menerangi seluruh ruangan rumah
makan, penghuni nya juga masih menunggu disana dalam
jumlah yang lengkap. Sekarang hari belum terang tanah, sebelum fajar
menyingsing mereka mk akan berani pergi dari situ.
"Ternyata orang itu belum mampus, ternyata dia datang
lagi" Nona nona berdandan menor itu memandang dengan
mata terbelalak lebar, mengawasi pemuda itu tanpa berkedip,
kini semua orang sudali tahu, dia memang seorang pemuda
yang hebat dan berkemampuan luar biasa. Arak masih berada
diatas meja Liu Tiang-kay duduk diatas bangku dengan santainya,
sekarang memang sudah tiba waktu baginya untuk minum
dua cawan arak secarl releks dan santai.
Baru saja dia akan menuang arak ke dalam cawannya,
seorang nona bermata besar dan tampaknya paling cerdik
diantara kumpulan cewek itu sudah berjalan mendekat dengan
langkah yang lemah gemulai, sambil tertawa dia
menyapa:"Baguskah si rindu?"
"Bagus, bagus sekali!"
Sambil tertawa nona im tarik napas kuat kuat agar
payudaranya yang sudah gede menonjol semakin besar,
katanya memperkenalkan diri:"Aku bernama Ji-gi (berkenan),
aku pun sangat bagus"
"Betul, kau memang bagus" Liu Tiang-kay tertawa, "
sayang kau berkenan (Ji-gi) denganku, bukan berarti aku pun
berkenan kepadamu" "Kenapa?" tanya si nona berkenan sambil mengerling genit.
"Karena isi dalam buntalanku ini bukan emas murni, bukan
juga intan permata atau mutu manikam"
Ji-gi sama sekali tidak memperlihatkan perasaan
kecewanya, masih tertawa genit, ujamya:"Aku tidak
menginginkan emas atau intan atau mutu manikam, aku
hanya menginginkan kau!"
"Sayang sekali orang itu sudah ku bucking untuk kunikmati
sendiri" , Perkataan itu muncul dari luar pintu ruangan, ketika Ji-gi
berpaling, dia jumpai seorang wanita yang sangat cantik tapi
angkuh bagaikan burung merak telah muncul di hadapannya
dan sedang berjalan mendekat.
Ternyata yang muncul adalah Khong Lan-kun.
Berada dihadapannya, tiba tiba Ji-gi merasa diri sendiri
bagaikan seekor ayam kampung, terpaksa dia menghela napas
seraya bergumam:"Sungguh tak nyana lelaki pun ada yang
bekerja seperti kami ternyata dia pun bisa dibucking orang"
Liu Tiang-kay ikut menghela napas panjang.
"Mungkin apa yang kulakukan sekarang masih kalah jauh
dibandingkan dirimu"
"Tapi aku amat suka manusia macam kau" ujar Ji-gi lagi
sambi tertawa genit, "bila ada waktu senggang, aku pun
bersedia membuckingmu untuk beberapa hari"
Sambil tertawa cekikian dia menowel wajah Liu Tiang-kay
kemudian sambil mengajak rekan rekan lainnya ia
berseru:"KeIihatannya kita sudah kehilangan transaksi di
tempat ini, lebih baik pulang tidur"
Liu Tiang-kay mengawasi bayangan tubuh mereka hingga
lenyap dikejauhan sana, dia seperti merasa berat hati


Tujuh Pembunuh Qi Sha Shou Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membiarkan gadis gadis itu berlalu begitu saja.
Sementara itu Khong Lan-kun sudah mengambil tempat
duduk, sambil menatapnya dia menegur dengan nada
ketus:"Kau masih berat hati membiarkan mereka pergi?"
"Hai, aku memang seorang lelaki romantis" Liu Tiang-kay
menghela napas panjang. "Kau....... dasar kau bukan manusia" seru Khong Lan-kun
sengit sambil menggigit bibir.
"Untung sekali banyak cewek justru suka dengan lelaki
yang bukan manusia" "Cewek cewek itu pasti bukan manusia"
"Bagaimana dengan kau sendiri?"
Khong Lan-kun menghela napas panjang, katanya lembut
'Tampaknya sebentar lagi akupun akan berubah jadi
perempuan bukan manusia"
Dalam sekejap mata dia telah berubah seratus delapan
puluh derajat, dari seekor burung merak yang angkuh berubah
jadi seekor burung merpati yang jinak dan penurut.
Menghadapi perempuan ini, tampaknya Liu Tiang-kay telah
menggunakan cara yang amat tepat.
Ada sementara wanita memang persis seperti buah yang
dilindungi cangkang tebal dan keras, kita harus
menghancurkan cangkang kerasnya lebih dulu sebelum dapat
menikmati isinya yang lembut tapi gurih.
Sekarang, dia seperti buah yang cangkang kerasnya sudah
hancur, yang tersisa hanyalah hati yang lembut dan halus.
Liu Tiang-kay mengawasinya, tiba tiba dalam hati kecilnya
muncul satu perasaan kemenangan, menang karena berhasil
menaklukan sesuatu yang amat sulit, perasaan semacam ini
terasa begitu nikmat dan menggembirakan, belum pernah dia
rasakan perasaan nikmat seperti ini.
Tanpa terasa sikap nya juga ikut berubah jadi lebih halus,
lembut dan hangat. Terhadap seorang wanita yang berhasil ditaklukkan, dia
sudah tak perlu menggunakan kekerasan lagi, dia ulurkan
tangannya dan menarik tangan perempuan itu dengan halus,
bisiknya:"Padahal akupun tahu, kau memang selalu amat baik
kepadaku" "Kau......kau benar benar tahu?"
Khong Lan-kun menundukkan kepalanya.
"Aku pun tahu, rencana mu sangat bagus"
"Tapi......tapi kau tidak melakukan sesuai dengan rencana
ku" "Yaa, aku termasuk orang yang tak sabaran, aku selalu
lebih senang menggunakan cara yang lebih langsung"
Khong Lan-kun angkat kepalanya, memandang pemuda itu
dengan agak termangu, dari balik matanya yang indah
terpancar perasaan kuatir serta perhatian yang amat tebal.
"Tapi aku beranggapan, cara yang kau gunakan kelewat
bahaya, kelewat nyerempet bahaya"
Liu Tiang-kay tertawa. "Bagaimana pun juga, sekarang aku telah berhasil
melakukannya" "Sungguh?" cahaya terang memancar keluar dari balik
mata Khong I Lan-kun. "Ehmm" "Barang itu sudah kau dapatkan?"
Liu Tiang-kay segera menunjuk buntalan yang diletakkan di
atas meja. Khong Lan-kun memandangnya agak termangu, entah
senang entah kagum, tanpa sadar dia pegang tangan pemuda
dengan dua belah tangannya lalu menempelkan tangan itu
diatas pipinya sembari berbisik :"Sekarang aku baru tahu,
bukan saja kau adalah lelaki sejati bahkan seorang lelaki yang
luar biasa" Liu Tiang-kay teramat gembira, bagaimana pun macam
lelaki itu, mereka pasti akan sama girangnya jika mendengar
ungkapan perasaan semacam ini.
Tak tahan sahurnya sambil tertawa:"Padahal aku bukan
seseorang yang kelewat luar biasa, hanya..........."
Perkataan itu belum selesai diungkap, mungkin selamanya
tak akan terungkap lagi. Pada saat itulah tiba tiba Khong Lan-kun menjepit
tangannya dengan ke dua belah tangan, ujung jarinya
mencengkeram urat nadinya lalu sambil memelintir dan
membanting, dia gunakan ilmu gulat gaya Mongolia untuk
membanting tubuh pemuda itu ke depan.
Seluruh badan Liu Tiang-kay segera terangkat ke tengah
udara kemudian berbalik dan seperti seekor ikan mampus,
jatuh terbanting ke lantai, jatuh terlentang dengan kaki
terentang ke udara. Menyusul kemudian dengan satu gerakan kilat Khong Lankun
menotok jalan darah diatas tulang punggung pemuda itu,
ejeknya sinis:"Tentu saja kau bukan lelaki yang luar biasa,
karena kau tak lebih hanya seekor anjing gila"
Liu Tiang-kay tak mampu berkata lagi.
"Kau anggap dengan cara begitu menghadapi aku maka
aku akan takluk?" kembali Khong Lan-kun tertawa dingin, "aku
beritahu, kau keliru besar, barang siapa berani menggebuk
aku satu kali, aku harus balas menggebuknya sepuluh kali"
Entah darimana dia dapatkan papan kayu, dengan gemas
dan penuh rasa sakit hati dia menghajar pantat Liu Tiang-kay
berulang kali, tidak kurang tidak lebih dia benar benar
menghajarnya dengan tiga puluh kali gebukan.
Dalam keadaan begini, terpaksa Liu Tiang-kay harus terima
nasib. Dengan susah payah dia menahan sakit, akhirnya Khong
Lan-kun selesai juga menggebuknya.
"Kali ini, aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran
kepadamu, agar lain hari kau jangan seenaknya pandang
rendah kaum wanita" dia sambar buntalan yang ada di meja
dan berkata lebih jauh, "barang ini kubawa pergi, aku harap
nasibmu tidak terlampau jelek, jangan sampai Ciu Heng-po
dan Tong Kim muncul lagi disini untuk membuat perhitungan
denganmu" Hidangan yang telah disiapkan dengan susah payah, tiba
tiba saja berpindah ke mulut orang lain.
Mendengar langkah kakinya semakin menjauh, Liu Tiangkay
tak dapat melukiskan bagaimana perasaan hatinya saat
ini. Dia bukannya tak mampu buka mulut, tapi sekarang, kau
suruh dia berkata apa lagi"
Perempuan, Hei..................
Liu Tiang-kay menghela napas panjang, mendadak dia
sadar, ternyata perempuan ini memang tak seharusnya
disakiti. Sayang dia sudah kelewat banyak menyakiti kaum wanita.
Sekarang, seandainya Nyonya rindu benar benar muncul
disitu, nasib tragis yang menimpa dirinya benar benar tak
terbayang dengan kata apapun.
Bukan hanya perempuan itu, masih ada Tam It-hui, Tiat
hwesio, Tong Kim........ Orang orang itu pasti mempunyai cara yang berbeda dalam
menyiksa dan membuat derita orang lain.
Kini, Liu Tiang-kay hanya bisa duduk bersandar diatas
bangku, menanti. Keadaannya kini sudah tak mirip dengan
anjing gila, boleh dibilang dia lebih mirip dengan seekor anjing
mati. Entah berapa lama sudah lewat, seolah olah sudah
menunggu beribu ribu tahun lamanya....
Fajar baru menyingsing, untung saja sejak awal para
pelayan dan gerombolan cewek menor itu sudah kabur dari
situ, kalau tidak, sekalipun dia bisa bangkit berdiri, malunya
pasti bukan kepalang. -00dw00kz00- Bab VI. Naga diantara manusia. Kembali lewat berapa saat lamanya, dia merasakan sekujur
badannya sudah kaku dan kesemutan, tangan dan kakinya
mulai jadi dingin....... Pada saat itulah, tiba tiba dia mendengar ada suara
langkah kaki manusia berjalan mendekat.
Langkah kaki im sangat ringan, dia berjalan lambat sekali,
tapi setiap ayunan langkahnya seolah olah sedang menginjak
diatas otot tabuhnya yang kaku, siapa yang muncul di situ"
Nyonya rindu" Atau Tong Kim"
Terlepas siapa pun yang muncul, ada satu hai adalah pasti,
dia tak akan bisa hidup dengan senang Langit sudah terang.
Sinar fajar memancar masuk melalui pintu depan,
membiaskan bayangan tubuh orang itu dilantai dan
membentuk satu bayangan yang amat| panjang, dari
bayangan tersebut terlihat kalau orang yang muncul adalah
seorang wanita. Akhirnya dia dapat menangkap sepatu yang dikenakan
orang itu. Sepasang sepatu kain yang bersulamkan bunga berwarna
hijau, sepasang kaki yang lembut, ramping dan menawan hati.
Liu Tiang-kay menghela napas panjang, akhirnya dia tahu
juga siapa gerangan yang telah datang.
"Sejak kapan kau berubah jadi orang yang alim yang suka
duduk mematung diatas bangku?" suara orang itu merdu
menawan hati, tapi kini tersisip perasaan cemburu yang tebal,
"apakah pantatmu sudah bengkak karena habis digebuki
orang?" Liu Tiang-kay tidak menjawab, dia hanya tertawa getir.
"Aku masih ingat, dulu kau selalu gemar memukuli wajah
sendiri hingga bengkak untuk menyamar jadi orang gemuk,
kini wajah tidak bengkak kenapa pantatmu yang justru
membengkak?" Tiba tiba Liu Tiang-kay tertawa.
"Biarpun pantatku lebih bengkak satu kali lipatpun tak akan
bisa menangkan gedenya pantatmu"
"Bocah kunyuk" umpat perempuan itu sambil tertawa pula,
"sudah dalam keadaan beginipun masih berani bicara
seenaknya, tidak kuatir kubikin bengkak mulutmu?"
"Aku tahu, kau pantas merasa sayang untuk berbuat
begitu, jangan lupa aku toh suamimu"
Ternyata yang datang adalah Oh Gwat-ji.
Dia sudah berjongkok sambil mengangkat dagu Liu Tiangkay,
dengan mata berhadapan mata dia awasi pemuda itu
lekat lekat. "Suami ku yang mengenaskan, siapa yang telah
menghajarmu jadi begini" Cepat beritahu kepadaku"
"Kau hendak balaskan dendam untukku?"
"Aku justru akan mencarinya untuk mengucapkan terima
kasih" tiba tiba Oh Gwat-ji menjotos hidungnya keras keras,
"aku harus berterima kasih karena telah memberi pelajaran
kepada si telur busuk yang tidak menurut"
Liu Tiang-kay tertawa getir.
?"Kalau seorang bini hendak mengumpat suaminya, kata
makian apa pun boleh dipakai, tapi jangan sekali kali
menggunakan kata telur busuk"
Oh Gwat-ji menggigit bibir, teriaknya jengkel:"Jangan bikin
hatiku panas, kalau aku benar benar jengkel, siapa tahu aku
akan memakaikan topi hijau untukmu" (istilah topi hijau
dipakai kaum istri yang berbuat serong dengan lelaki lain).
Semakin berbicara semakin jengkel, kembali dia jewer
telinga Liu Tiang-kay keras keras sambil teriaknya lagi:"Aku
mau tanya, sewaktu kemari sudahkah kau kenakan pakaian
yang istimewa tebalnya?"
"Belum" "Sudah kau minta golok yang luar biasa cepatnya?"
"Belum" "Sudah kau taklukan Tong Kim pada serangan pertama?"
"Tidak" "Sudah turun tangan sesuai dengan rencana?"
"Juga tidak" Sambil menggertak giginya kuat kuat umpat Oh Gwat-ji:
"Orang lain sudah mati matian persiapkan segala sesuatu
untukmu, kenapa kau sama sekali tak menurut?"
"Karena sejak kecil aku memang bukan bocah penurut,
orang lain semakin paksa aku melakukan sesuatu, aku
semakin nekad untuk tidak melakukannya"
Oh Gwat-ji segera tertawa dingin.
"Jadi kau selalu menganggap dirimu luar biasa, selalu
menganggap orang lain tak bisa menandingimu?"
Liu Tiang-kay tertawa. "Bagaimana pun juga, apa yang kau minta untuk
kulaksanakan, kini telah kulaksanakan semua"
"Hingga sekarang kau masih berani mengucapkan
perkataan itu?" Oh Gwat-ji makin mencak mencak.
"Kenapa tak berani?"
"Kenapa kau tidak mencari sebuah cermin dan coba melihat
pantatmu itu?" "Pantatku digebuk orang adalah satu kejadian, bisa
menyelesaikan tugas adalah kejadian lain"
"Betul, tapi nyatanya bebek yang sudah matang sekarang
sudah terbang kembali"
"Tidak, sama sekali belum terbang"
"Belum terbang?"
"Yang terbang cuma bulu si bebek., sementara si bebek
plus tulangnya masih berada dalam sakuku"
Oh Gwat-ji tertegun, serunya:
"Jadi kotak yang dibawa lari perempuan im hanya sebuah
kotak kosong?" "Tidak kosong" jawab Liu Tiang-kay tersenyum, "dalam
kotak im terdapat sepasang kaus kakiku yang baru kulepas
dan baunya luar biasa"
Kembali Oh Gwat-ji tertegun, tapi dia segera tertawa
cekikikan, tiba tiba diciumnya pipi Liu Tiang-kay lalu katanya
dengan suara lembut:"Aku tahu, kau memang seorang lelaki
yang luar biasa, aku tahu aku tak bakal salah mencari suami"
Liu Tiang-kay menghela napas panjang,
gumamnya:"Tampaknya, sebagai seorang lelaki kita harus
punya sedikit kemampuan, kalau tidak, mungkin kita akan
dipaksa mengenakan topi hijau"
-ooo0-d-0-w-0ooo- Cahaya matahari memancar masuk melalui daun jendela,
menyinari dada Liu Tiang-kay yang bidang, wajah Oh Gwat-ji
menempel diatas dada Liu Tiang-kay yang bidang itu.


Tujuh Pembunuh Qi Sha Shou Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dada dalam keadaan telanjang itu meski tidak terlalu
berotot, namun membawa daya tarik yang aneh, membuat
orang susah menilai kekuatan sesungguhnya yang dimiliki.
"Masih mau tambah lagi tidak?" bisik Oh Gwat-ji sambil
meraba dadanya dengan lembut.
Liu Tiang-kay menggeleng berulang kali, jangankan
"bermain" sekali lagi, untuk menggerakkan badan pun dia
sudah tak kuat. "Baru berpisah beberapa hari, kau sudah beraninya mencari
perempuan lain" seru Oh Gwat-ji sambil menggigit bibir.
"Aku tidak......." sebetulnya Liu Tiang-kay sudah malas
untuk menjawab, namun dalam masalah seperti ini mau tak
mau dia harus menyangkal.
"Kalau tidak, mengapa orang lain menaboki pantatmu?"
tanya Oh Gwat-ji tidak percaya.
Liu Tiang-kay menghela napas.
"Seandainya benar, masa dia hanya menabok pantatku
saja?" "Kau juga tidak menyentuh Siang-si hujin?" Tampaknya Oh
Gwat-ji belum mau percaya.
"Sama sekali tidak"
"Hmm, mungkin hanya setan yang percaya"
"Kenapa kau tidak percaya?"
"Bila kau benar benar tidak menyentuh wanita, mengapa
milikmu sekarang macam ayam jago yang kalah bertarung"
Mengapa loyo tak bertenaga" Sarna sekali tak berguna!"
"Kau anggap aku manusia apa" Manusia baja" Sudah lima
ronde non" Liu Tiang-kay tertawa getir.
Setelah menghela napas, lanjutnya:
"Akupun bisa lelah, kadangkala aku pun perlu beristirahat.
Perlu tidur" "Lantas kenapa kau tidak tidur?" Oh Gwat-ji mulai percaya.
"Kalau kau ada disisiku, bagaimana mungkin aku bisa
tidur?" Oh Gwat-ji segera duduk, dengan mata melotot teriaknya:
"Jadi kau sedang mengusirku dari sini?"
"Tidak,. Aku tidak bermaksud begitu, tapi kau memang
seharusnya segera pulang"
Setelah berhenti sejenak, terusnya dengan suara
lembut:"Ketika mengetahui kotak yang dibawa Khong Lan-kun
tak ada isinya, Liong Ngo pasti akan datang mencariku"
"Masa dia akan mencarimu sampai disini?"
"Di mana pun dia dapat menemukan"
Oh Gwat-ji sedikit agak sangsi, tapi dia segera sadar bahwa
rumah penginapan kecil itu memang tidak bisa dibilang
merupakan tempat yang sangat aman.
"Baiklah" ujarnya kemudian, "pulang ya pulang, tapi
kau........." "Asal kau mau menungguku di rumah dengan tenang,
dengan cepat aku akan membawa pulang berita baik"
"Kau yakin dapat menghadapi Liong Ngo?"
"Tidak" Liu Tiang-kay tertawa, "sewaktu menghadapi
Siang-si hujin pun sebetulnya aku juga tak punya keyakinan
apa apa" Akhirnya Oh Gwat-ji pergi juga.
Sebelum meninggalkan tempat itu, ia sempat berbisik di
tepi telinganya sambil mengancam berulang kali: "Jika aku
sampai mendengar kau menyentuh perempuan lain, hati hati
dengan pantatmu, akan kuhajar sampai robek robek"
Bila seorang wanita telah jatuh cinta pada seorang lelaki,
dia pasti ingin sekali mengubah diri menjadi seutas tali yang
bisa mengikat kencang kencang sepasang kaki lelaki itu.
Kini Liu Tiang-kay dapat menghembuskan napas lega, dia
memang bukan manusia baja, dia butuh waktu untuk istirahat
dan tidur nyenyak. Tak selang berapa saat kemudian dia benar benar sudah
tertidur. Ketika mendusin kembali, suasana di luar jendela nampak
sudah gelap, tampaknya saat itu senja sudah lewat.
Angin berhembus masuk melalui daun jendela, membawa
harum arak yang semerbak.
Itulah bau harum arak Li-ji-ang, semestinya dalam rumah
penginapan sekecil itu, tak mungkin tersedia arak sejenis ini.
Berputar sepasang biji mata Liu Tiang-kay, tiba tiba
serunya:"Sahabat yang sedang minum arak diluar, perduli
siapakah engkau, silahkan masuk ke mari, jangan lupa
sekalian bawa serta arak wangi mu"
Benar juga, dengan cepat ada seseorang mengetuk pintu.
"Pintu dalam keadaan terbuka, dorong saja, pintu akan
segera terbuka" Maka pintu pun didorong orang, seseorang dengan tangan
kiri membawa teko tembaga, tangan kanan membawa dua
cawan arak, berjalan masuk ke dalam ruangan, orang itu tak
lain adalah orang yang menemui Tu Jit bertiga tempo hari.
"Cayhe Go Put-ko" sambil tertawa paksa orang itu
memperkenalkan diri, "khusus kemari untuk berkunjung, tahu
kalau anda sedang tertidur, maka terpaksa cayhe menunggu
diluar" Liu Tiang-kay memandangnya sekejap, lalu tegurnya:"Liong
Ngo yang suruh kau mencari aku?"
Sambil tersenyum Go Put-ko manggut manggut.
"Kongcu sedang menanti kedatangan Liu sianseng"
"Sayang sekali saat ini mau bangun dan berdiri pun tak
mampu, aku tak bisa pergi menjumpainya" seru Liu Tiang-kay
dingin. Kembali Go Put-ko tertawa.
"Kongcu juga tahu, ada orang telah membuat kesalahan
terhadap Liu sianseng, maka cayhe sengaja diutus kemari
untuk membawa semacam barang, agar bisa menghilangkan
rasa jengkel sianseng"
"Barang apa" Di mana?"
Tanpa berpaling Go Put-ko memberi tanda ke luar pintu,
seorang perempuan yang cantik bagai seekor burung merak
pelan-pelan berjalan masuk sambil membawa sebuah papan
kayu. Khong Lan-kun. Sekarang, dia sudah tidak memiliki keangkuhan seekor
burung merak, yang tersisa hanyalah seekor ayam yang baru
kalah bertarung, seekor ayam betina.
Dia menundukkan kepalanya rendah-rendah, begitu masuk
ke dalam, papan kayu itu segera diserahkan ke tangan Liu
Tiang-kay sambil berkata lirih:"Aku telah menghantammu tiga
puluh kali dengan menggunakan papan kayu ini, sekarang
kau.....kau boleh mengembalikan semuanya kepadaku"
Liu Tiang-kay memandangnya, tiba tiba ia menghela napas
panjang, gumamnya:"Liong Ngo kongcu memang tak malu
disebut naga diantara manusia, tak heran ada begitu banyak
orang yang rela jual nyawa baginya"
-ooo0d0w0ooo- Cahaya lampu yang menerangi bilik mewah itu lembut dan
indah, teko tembaga yang berada diatas anglo kecil dengan
jilatan api yang merah lembut memancarkan bau harum arak
yang semerbak. Orang yang sedang memanasi arak itu adalah lelaki
setengah umur berbaju hijau yang misterius lagi menakutkan
itu. Liong Ngo masih berbaring diatas ranjang pendek
berlapiskan kulit macan tutul, dia pejamkan matanya sambil
berbaring santai. Udara masih terasa hangat, kobaran api dibawah anglo
kecil membuat suasana di dalam bilik terasa makin panas,
namun ke dua orang itu seolah olah sama sekali tidak merasa
kepanasan. Hanya mereka berdua, mereka sedang menunggu
kedatangan Liu Tiang-kay.
Diatas meja telah tersedia beberapa macam hidangan yang
lezat, bahkan telah tersedia pula sebuah bangku khusus untuk
Liu Tiang-kay. Yaa, ada berapa banyak orang di dunia ini yang berhak
duduk sederajat dengan Liong Ngo"
Pintu diketuk orang, yang muncul adalah Mong Hiu, tentu
saja tempat itu adalah pesanggrahan milik Mong Hiu.
"Sudah datang!" lapornya.
"Persilahkan dia masuk" Liong Ngo masih pejamkan
matanya, "masuk seorang diri"
Baru saja Liu Tiang-kay berjalan masuk, Mong Hiu segera
merapatkan kembali pintu ruangan.
Lelaki setengah umur berbaju hijau itu masih pusatkan
perhatiannya memanasi arak, dia tidak berpaling, melirik
sekejap pun tidak. Sementara itu Liong Ngo sudah bangkit dari tempat
tidurnya, sekulum senyuman yang jarang tampil di wajahnya
kini menghiasi wajahnya yang pucat pasi.
"Kau tidak sia sia" ujarnya sambil tersenyum, "baik dalam
hal ilmu silat maupun dalam soal perempuan, kau tidak
pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan"
Perkataan itu belum selesai diucapkan, karena itu Liu
Tiang-kay tetap membungkam, dia menunggu Liong Ngo
menyelesaikan perkataannya.
Betul juga, Liong Ngo berkata lebih lanjut:"Bahkan
terhadap wanita yang tak mampu kuhadapi pun tak disangka
kau sanggup menghadapinya"
Liu Tiang-kay masih tetap membungkam.
Dia belum meraba jelas apa maksud ucapan Liong Ngo itu,
biasanya orang lelaki tak pernah mau mengaku kalah
khususnya dalam masalah perempuan.
"Bukan pekerjaan yang gampang untuk mengelabuhi Ciu
Heng-po maupun Khong Lan-kun" kembali Liong Ngo berkata,
"tapi kau berhasil mengelabuhi ke dua duanya"
'Tapi aku kan bekerja demi kau" akhirnya Liu Tiang-kay
tertawa. Liong Ngo memandangnya sekejap, tiba tiba ia tertaw.
tergelak:"Hahaha... kelihatannya bukan saja kau cerdik,
bahkan sangat hati hati"
"Hai, mau tak mau aku memang selalu harus berhati hati"
Liu Tiang kay menghela napas panjang.
"Kini sang kelinci sudah didapat, kau takut aku mengkukus
mu di dalam kuali?" "Orang bilang "burung terpanah busur disimpan, kelinci
yang mati anjing yang dikukus", aku tidak paham dengan
maksud perkataan ini"
(burung terpanah busur disimpan, artinya setelah dunia
aman kembali, semua jasa dan pahala dilupakan, kelinci yang
mati anjing yang dikukus artinya Kalau dibutuhkan disanjung
sanjung, kalau sudah tak dibutuhkan dijatuhi hukuman mati)
Liong Ngo tertawa, sahutnya:"Aku tahu, kau bukan anjing
kaki tangan yang bisanya hanya berburu kelinci, kau adalah
orang yang sangat mengerti bekerja, aku selalu menggunakan
manusia macam kau" "Terima kasih banyak kalau begitu" Liu Tiang-kay
menghembuskan napas lega.
"Silahkan duduk"
"Lebih baik aku berdiri saja"
Sekali lagi Liong Ngo tertawa.
"Tampaknya Khong Lan-kun sudah turun tangan kelewat
berat kepada mu" Liu Tiang-kay tidak menjawab, dia hanya tertawa getir.
"Apakah kau menginginkan sepasang tangannya?" kembali
Liong Ngo bertanya. "Ingin!'' 'Itu mah gampang, aku segera akan letakkan sepasang
tangannya di dalam kotak dan hadiahkan kepadamu"
"Tapi aku lebih suka melihat sepasang tangannya berikut
seluruh badannya yang utuh"
"Itu lebih gampang lagi, sewaktu pergi dari sini nanti, kau
boleh bawa serta dirinya"
Liu Tiang-kay segera gelengkan kepalanya berulang kali,
katanya:"Aku memang suka rnakan telur ayam, tapi aku paling
segan membawa serta seekor ayam betina disisiku"
Untuk ke dua kalinya Liong Ngo tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha.....kalau begitu aku beritahu alamat dari sarang
ayam betina itu, hingga tiap kali mau makan telur ayam,
setiap saat kau dapat berkunjung ke situ"
"Sayang di dalam telur ayam itu bukan saja bertulang,
bahkan ada papan kayunya" kata Liu Tiang-kay sambil tertawa
getir. Untuk ke tiga kalinya Liong Ngo tertawa terbahak-bahak.
Tampaknya suasana hatinya hari ini sangat baik, jumlah
tertawanya juga jauh lebih banyak ketimbang dihari hari
biasa. Menunggu hingga dia selesai tertawa, Liu Tiang-kay baru
berkata:"Tampaknya kau lupa menanyakan satu hal
kepadaku" "Buat apa mesti ditanya, aku tahu kau pasti telah berhasil"
"Kotak itu tidak salah?"
"Tidak salah" Liong Ngo menatapnya lekat lekat.
"Sudah dilihat dengan jelas?"
"Yaa, sudah dilihat sangat jelas"
Sinar mata ke dua orang itu nampak sedikit agak aneh,
pertanyaan yang diajukan Liu Tiang-kay pun makin lama
semakin tak bermutu. Liong Ngo termasuk orang yang tak terlalu suka banyak
bicara, tapi kali ini dia sama sekali tidak menunjukkan sikap
tak sabaran atau muak. Terdengar Liu Tiang-kay berkata sambil tertawa:"Jika
kotaknya tak salah, berarti barang yang ada didalamnya juga
tak bakal keliru" Akhirnya dari dalam sakunya dia keluarkan sebuah
bungkusan kain ungu, bungkusan itu diikat dengan simpul tali
yang sangat kuat, katanya:"Benda ini kuambil dari dalam
kotak tersebut, bentuk dan ikatan tali simpulnya masih asli,
aku tidak menyentuhnya"
"Aku bisa melihatnya, tali simpul itu memang merupakan
ikatan simpul yang khusus dilakukan sendiri olehnya"
Ta!i simpul yang dibuat Nyonya rindu, tentu saja bukan
simpul yang gampang dibuka.
Liong Ngo hanya menggunakan dua jari tangannya untuk
menjepit ekor dari tali simpul itu, lalu dengan suatu gerakan
yang aneh, sekali getaran saja tali simpul itu sudah terbuka.
Untuk ke empat kalinya Liong Ngo tertawa terbahak-bahak:


Tujuh Pembunuh Qi Sha Shou Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Cara yang kau gunakan, tampaknya selalu paling langsung
dan paling mendasar"
"Yaa, karena cara ini saja yang kupahami"
"Asa! cara itu bermanfaat, sekalipun hanya semacam,
rasanya sudah lebih dari cukup" ujar Liong Ngo sambil
tertawa. Dalam bungkusan im terdapat sebuah bungkusan dari kain
sutera, ketika kain sutera itu dibuka, tampaklah sebuah botol
kecil yang terbuat dari porselen berwarna hijau.
Bersinar sepasang mata Liong Ngo, diatas wajahnya yang
pucat terlintas warna semu merah yang sangat aneh.
Botol berisi obat itu tidak gampang untuk memperolehnya.
Demi obat dalam botol itu, dia telah mengeluarkan
pengorbanan yang tak terkira banyaknya.
Hingga saat itu, saat tangannya mulai menyentuh botol
berisi obat, tanpa disadari tangan itu nampak gemetaran
keras. Pada detik itulah mendadak secepat sambaran kilat Liu
Tiang-kay rebut kembali botol berisi obat itu kemudian
membantingnya ke lantai keras keras.
"Prryaang!" diiringi suara keras, botol im hancur
berantakan, cairan obat berwarna merah yang ada dalam
botol pun berserakan di tanah.
Pucat pias wajah Mong Hui yang kebetulan berdiri di depan
pintu, dia sangat terkejut atas terjadinya peristiwa yang tak
terduga ini. Paras muka Liong Ngo turut berubah hebat, hardiknya
keras:"Apa apaan kau?"
"Tidak apa apa, aku hanya tak ingin kehilangan majikan
sebaik kau, jika kau mampus, tak gampang bagiku untuk
menemukan majikan ke dua sebaik dirimu"
"Apa maksudmu" Aku tak mengerti" Liong Ngo amat
murka. "Kau seharusnya mengerti"
"Aku dapat melihat, obat itu tidak palsu, aku pun bisa
mengendus baunya" Cairan obat itu berwarna merah bening, ketika botolnya
pecah dan cairan obat berserakan di lantai, segera
terenduslah bau harum semerbak yang amat menyegarkan
hati. "Biarpun bukan obat palsu, didalamnya pasti sudah
dicampur dengan racun jahat" Liu Tiang-kay menjelaskan.
'Atas dasar apa kau simpulkan begitu?"
"Atas dasar dua ha!"
"Katakan!" "Tugas ini berhasil kulaksanakan kelewat gampang, kelewat
lancar" "Alasan itu tidak cukup kuat"
"Aku pun tahu, Siang-si hujin yang kujumpai adalah Nyonya
rindu gadungan" "Selama ini kau belum pernah bertemu dengan Nyonya
Rindu, darimana bisa tahu kalau dia gadungan?"
"Kulit tubuhnya kelewat kasar, seorang wanita yang tiap
hari mengoleskan minyak madu di sekujur tubuhnya tak akan
memiliki kulit badan sedemikian kasar"
"Atas dasar dua hal itu?"
"Analisa yang tepat tak perlu dua, satu alasan saja sudah
lebih dari cukup" Tiba tiba Liong Ngo tutup mulut rapat rapat, tampaknya dia
sudah tak mampu lagi untuk berbicara.
Sebab pada saat itulah cairan obat yang berwarna merah
bening itu tiba tiba berubah jadi cairan hitam pekat yang
sangat memualkan. Ada sejenis racun yang daya kerjanya baru nampak bila
terkena angin, sekarang, siapa pun bisa melihat, cairan obat
dalam botol itu benar-benar telah dicampuri racun, racun yang
sangat dahsyat. Pucat pias selembar wajah Liong Ngo, ditatapnya wajah Liu
Tiang-kay tanpa berkedip, lama kemudian ia baru
berkata:"Selama hidup belum pemah kuucapkan kata terima
kasih kepada siapa pun"
"Aku percaya" "Tapi sekarang, mau tak mau aku harus ucapkan banyak
terima kasih kepadamu"
"Yaa, tampaknya aku pun mau tak mau harus
menerimanya................!"
"Tapi ada satu hal, hingga kini belum paham........."
"Kau seharusnya paham" tukas Liu Tiang-kay cepat, "Ciu
Heng-po tahu aku sedang bekerja untukmu dan tahu tugas
apa yang sedang kulaksanakan, karena itu dia gunakan siasat
melawan siasat, dia pura pura serahkan obat itu kepadaku,
padahal niatnya ingin meracunimu sampai mati"
"Tapi....tapi......kenapa dia......dia ingin meracuni aku
sampai mati?" gumam Liong Ngo dengan wajah berubah
hebat. Liu Tiang-kay menghela napas panjang.
"Siapa sih yang bisa menebak jalan pikiran seorang
wanita?" Liong Ngo pejamkan matanya, lagi lagi dia tampak amat
Mencari Bende Mataram 3 Pendekar Gila Karya Kho Ping Hoo Cinta Bernoda Darah 5
^