Pencarian

Makam Bunga Mawar 13

Makam Bunga Mawar Karya Opa Bagian 13


Hok sendiri juga terpendam hidup-hidup didalamnya" Berkata
oe-tie Khao sambil tertawa geli.
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu kupingnya
merasa panas, ia membantah: "Maksudku ialah apabila Adik
Im mendapat celaka ditangan mereka, maka aku terpaksa
menggunakan senjataku Kian-thian-peklek untuk membalas,
sebelum mendapat kepastian kabar tentang dirinya, sudah
tentu aku tidak akan berbuat demikian gegabah."
Oe-tie Khao, tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi.
Keduanya lalu mencari tempat di kaki gunung Kie-lian-san
untuk menanti pulangnya Hok Siu Im.
Hari pertama, kedua dan ketiga diwaktu malam ini, bukan
saja Hee Thian Siang sangat khawatir terhadap diri Hok Siu
Im, sedangkan Oe-tie Khao juga merasa tidak tenang
pikirannya. Waktu itu musim panas, tetapi gunung Kie-lian yang
letaknya di Barat daya diwaktu malam ini sudah seperti musim
kemarau! Oe-tie Khao mendongakkan kepala melihat purnama di
atas langit, ia lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil
tertawa: "Hee laote, marilah kita duduk tenang masing-masing, menenteramkan
perasaan kita, barangkali bisa melupakan
segala kericuhan! Setelah kita selesai bersemadi, hari
mungkin juga sudah terang. Apabila masih belum ada khabar
tentang nona Hok, kita boleh pergi ke depan goa Siang-swat-
tong, untuk menanyakan kepada dua orang tua berambut
panjang itu!" Dalam keadaan apa boleh buat, Hee Thian Siang terpaksa
menganggukkan kepala, menerima baik usul Oe-tie Khao.
Baru saja ia mulai bersemadi, telinganya samar-samar seperti
mendengar orang memanggil namanya "Hee Thian Siang!"
Semula ia masih mengira pikirannya sendiri yang risau,
maka sedikitpun tidak menghiraukan. Tetapi ketika suara
kedua kalinya terdengar lagi, hatinya terkejut, ia tahu bahwa
ada orang yang menggunakan ilmu menyampaikan suara ke
dalam telinga kepadanya, panggilan itu maksudnya sudah
tentu supaya tidak mengganggu Oe-tie Khao.
Hee Thian Siang membuka sepasang matanya, tampak
Oe-tie Khao benar-benar tidak terkejut, maka ia lalu bangkit
dan dengan berindap-indap jalan menuju ke arah datangnya
suara tadi. Berjalan kira-kira beberapa tombak, mengitari sebuah
tebing tinggi, baru mengetahui bahwa suara tadi keluar dari
dalam goa. Hee Thian Siang baru saja tiba dimulut goa, dari dalam goa
sudah ada orang berkata kepadanya dengan nada suara
lemah-lembut: "Hee Thian Siang, duduklah dimulut goa, aku
hanya ingin bicara denganmu, belum ingin bertemu muka"
Hee Thian Siang mendengar suara itu rasanya tidak asing
baginya, tetapi ia tidak ingat lagi, maka ia menurut saja, duduk
dimulut goa dan bertanya: "Siapakah locianpwe yang
mengeluarkan suara dari dalam goa" Ada keperluan apa
memanggil Hee Thian Siang?"
Suara orang dari dalam goa menyahut sambil tertawa: "Hok
patut dikasihani, Giok ada durinya Kheng banyak cinta kasih,
ucapanku ini rasanya sekarang semua sudah terbukti!"
Bukan kepalang terkejutnya Hee Thian Siang mendengar
ucapan itu, ia lompat bangun dan bertanya: "Locianpwe
apakah Duta Bunga Mawar?"
"Dugaanmu tidak salah, Restuku bunga mawar sudah
berhasil dan terbukti kepada diri Su-to Wie dan Ca Bu Kao,
hingga sepasang kekasih itu setelah mengalami berbagai
penderitaan, kini sudah tercapai cita-cita mereka, dan
sekarang aku harusnya akan membantu kau dengan sepenuh
tenaga!" Hee Thian Siang mendengar Duta Bunga Mawar berkata
demikian, dalam hati merasa sangat girang, katanya:
"Sekarang ini aku sedang menemukan kesulitan besar,
pikirku, dalam dunia pada dewasa ini barangkali hanya Duta
Bunga Mawar yang bisa memberi bantuan kepadaku, tak
diduga-duga pikiran itu ternyata terbukti!"
"Kau jangan merasa girang dulu, mengenai urusanmu
barangkali jauh lebih sulit daripada urusan Su-to Wie dengan
Ca Bu Kao!" Hee Thian Siang terkejut mendengarkan keterangan itu,
sementara itu Duta Bunga Mawar sudah bertanya kepadanya
lagi: "Tanda Bunga Mawar yang kuberikan kepadamu untuk
minta getah pohon lengci kepada It-sun Sin-ceng dimana
sekarang?" "Tanda Bunga Mawar itu, telah terjatuh ditangan Tion-sun
Hui Kheng, karena aku kalah bertaruh dengannya. Aku minta
tunggu supaya aku berusaha untuk mengembalikannya
kepadamu." "Tidak usah kau kembalikan, berikan saja kepada Tiong-
sun Hui Kheng untuk tanda peringatan! Sebab, Duta Bunga
Mawar sebetulnya memang ada tiga orang yang melakukan
tugasnya dengan membawa tanda bunga mawar itu secara
bergiliran. Kalau semuanya ada, maka harus kau kembalikan.
Tetapi sekarang, hanya tinggal aku seorang."
Duta Bunga Mawar menghela nafas dan berkata pula:
"Kami bertiga semula pernah bersumpah, hendak
mengerahkan seluruh kepandaian kami, selama hidup akan
membantu para kekasih yang minta restu kepada makam
bunga mawar, sedapat mungkin kami akan berusaha
menyingkirkan segala rintangan bagi mereka, supaya mereka
bisa tercapai cita-cita mereka buat merangkap jodoh."
"Ooo! Apakah dua orang Duta Bunga Mawar itu kini sudah
tiada?" "Dugaanmu ini tidak keliru, Duta Bunga Mawar nomor satu
dan nomor dua semua sudah wafat. Hanya tinggal aku Duta
Bunga Mawar nomor tiga yang masih harus membantu kau
untuk mendapat restu Makam Bunga Mawar. Setelah cita-
citamu tercapai, barulah aku akan meninggalkan dunia ini
untuk selama-lamanya!"
Hee Thian Siang yang mendengar perkataan itu dalam hati
mendadak merasa tenang, sementara itu Duta Bunga Mawar
tiba-tiba menghela nafas dan berkata pula: "Tetapi dahulu di
depan makam bunga mawar, aku yang sudah terima baik atas
permintaanmu untuk membantu, merupakan tugas paling
berat selama hidupku, juga merupakan tugas yang terakhir!"
Hee Thian Siang mendengar ucapan itu dari siang merasa
sedih. Ia bertanya sambil mengerutkan alisnya: "Berulang kali locianpwe
mengatakan susah, sebetulnya dimanakah
susahnya?" "Bisakah kau beritahukan kepadaku dengan terus-terang,
dalam hatimu siapakah yang kau cintai?"
Hee Thian Siang tahu, di hadapan Duta Bunga Mawar,
sedikitpun tidak boleh membohong, maka tanpa tedeng aling-
aling ia memberi jawaban: "Terhadap Tiong-san Hui Kheng
dan Hok Siu kedua-duanya sama-sama kucintai. Tetapi
andaikata dua-duanya tak dapat kuperoleh, dalam keadaan
terpaksa maka aku akan memilih Tiong-sun Hui Kheng saja!"
"Jawabanmu ini memang sejujurnya, tetapi apa yang
menyulitkan bagiku jugalah merupakan soal ini. ."
Hee Thian Siang mengira bahwa Duta Bunga Mawar itu
akan menyalahkan dirinya, seharusnya bukan mendapatkan
dua gadis cantik, maka dengan agak gelagapan ia berkata:
"Apakah locianpwe menyesalkan aku. ."
"Tiap orang memang senang kecantikan. Itu memang
sudah sewajarnya. Apalagi Tiong-sun Kheng dan Hok Siu Im
terhadap kau sangat perhatian sekali, asal mereka bisa saling
mengerti bisa saja kedua-duanya menikah pada dirimu apa
salahnya?" "Jikalau benar locianpwe beranggapan demikian, mengapa
selalu mengatakan susah. Apakah cinta itu tidak boleh dibagi
kepada dua orang" Dengan demikian restu Makam Bunga
Mawar akan terbukti!"
"Jikalau aku tidak menjunjung tinggi restunya Bunga
Mawar, urusan ini sesungguhnya tak ada kesulitannya, jikalau
aku menghargai restunya Makam Bunga Mawar, maka urusan
ini sesungguhnya sulit sekali!"
Hee Thian Siang semakin mendengar semakin bingung,
tanyanya: "terhadap Makam Bunga mawar yang keramat dan
memiliki kepandaian tidak ada taranya, sudah tentu harus
dihormati. ." "Aku tahu, adatmu keras, terhadap segala urusan semua
tak akan merasa menyesal, maka aku merasa sulit sekali tidak
dapat memikirkan cara yang sebaik-baiknya, bagaimana
supaya menjadi sempurna betul!"
"Apakah yang locianpwe maksudkan dengan sempurna
itu?" "Dalam urusan ini, terlibat suatu kesalahan sangat besar,
gadis yang paling kau cintai adalah Tiong-sun Hui Kheng,
kedua adalah Hok Siu Im. Tetapi gadis semula yang kau lihat
di Kim-gi-san dan lantas kau jatuh cinta padanya, sehingga
kau perlu pergi kehadapan Makam Bunga Mawar minta
restunya supaya kau dapat menemani gadis itu, sebaliknya
bukankah Tiong-sun Hui Kheng, juga bukan Hok Sie Im!"
Hee Thian Siang yang mendengar itu, barusan saja alisnya
dikerutkan, dan bertanya: "Apakah locianpwe sudah dapat
menyelidiki gadis yang mengenakan mantel hitam,
menunggang kuda berbulu hijau dan membunuh mati empat
setan dari Kie-lian" Siapakah sebetulnya satu diantara mereka
bertiga?" "Justru karena aku sudah berhasil menyelidiki, maka
barulah aku merasa sulit sekali. Dia bukan Hok Siu Im, juga
bukan Tiong-sun Hui Kheng. Melainkan gadis yang wajahnya
mirip dengan Hok Sui Im, tapi berkhianat terhadap partai Kun-
lun, sekarang menjadi anggota Kie-lian, ialah Liok Giok Ji
yang ku sebut Giok ada durinya itu!"
"Tidak benar, tidak benar!" Berkata Hee Thian Siang sambil menggeleng-gelengkan
kepala. Kali ini giliran Duta Bunga Mawar yang bertanya kepadanya
dengan heran. "Apa yang tidak benar?"
"Aku pernah bertanya sendiri kepada Liok Giok Ji, tetapi dia
menyangkal belum pernah pergi ke gunung Kin-gi-san!"
Duta Bunga Mawar tertawa terbahak-bahak dan berkata:
"Waktu itu karena ia khawatir akan membongkar rahasianya
sendiri yang hendak berkhianat terhadap Tie-hui-cu maka
pura-pura menyangkal!, tetapi darimana Liok Giok Ji
mendapatkan kuda berbulu hijau itu?"
"Yang ia pakai waktu itu adalah kuda Cian-ok-hoa-ceng
milik Kie Tay Cao!" Liok Giok Ji sudah bersekongkol dengan Kie-lian-pay dan
menunggang kuda kencang-kencang. Dengan cara
bagaimana pula dia berbuat demikian kejam membinasakan
empat anggota Kie-lian yang mempunyai julukan empat setan
itu?" "Pertanyaanmu memang cukup beralasan, tetapi aku sudah
mengadakan penyelidikan dengan cermat, jikalau tidak, benar-
benar aku tidak akan menjawab pertanyaanmu ini!"
Hee Thian Siang lihat cuaca, waktu itu kira-kira jam tiga
malam, ia tahu bahwa Oe-tie Khao sedang bersemedi, untuk
sementara tidak akan mendusin, maka ia bisa dengan tenang
mendengarkan penuturan Duta Bunga Mawar. Sementara itu
Duta Bunga Mawer telah berkata pula: "Waktu itu Liok Giok Ji
cuma kenal salah seorang dari orang tua berambut panjang
dan berbaju kuning itu, belum mengadakan persekutuan
dengan Kie-lian-pay, kuda Cian-lie-kiok-hoa ceng itu juga
orang tua tersebut yang meminjamkan dari Kie Tay Cao, yang
diberikan kepada Liok Giok Ji untuk ia melakukan
perjalanannya ke gunung Kiu-gi-san menjumpai orang tua
berbaju kuning yang lain yang ada hubungan erat dengannya!
Siapa tahu, dalam perjalanan itu telah berpapasan dengan
empat setan dari Kie-lian. Oleh karena empat setan itu melihat
Liok Giok Ji menunggang kuda milik ketuanya, dalam hyati
mereka lalu timbul perasaan curiga dan menegurnya,
terjadilah pertengkaran dan akhirnya bertempur. Liok Giok Ji
menggunakan senjata Kun-lun-pek, dengan ilmu
kepandaiannya yang luar biasa, empat setan dari Kie-lian itu
benar-benar terbinasa di tangannya, dan menjadi setan di
gunung Kui-gi-san!" Hee Thian Siang yang mendengar keterangan itu seolah-
olah baru sadar dari mimpinya, dalam hati benar-benar
merasa sulit, sebab gadis yang ia cintai sesungguhnya hanya
Tiong-sun Hui Kheng dan Hok Siu Im, apa mau yang dahulu
yang ia minta restu Makam Bunga Mawar, justru Liok Giok Ji
yang sekarang telah tergabung dengan Kie-lian-pay.
Bagaimana ia harus menghadapi persoalan seperti itu"
Duta Bunga Mawar melihat Hee Thian Siang diam-diam
saja, lalu berkata sambil tertawa: "Kau setan cilik yang nakal dan berani mati,
sekarang barangkali sudah tahu, bagaimana
kesulitanku?" terhadap Duta Bunga Mawar itu sesungguhnya Hee Thian
Siang merasa berterima-kasih, juga merasa kagum, dengan
muka merah dan nada suara meminta, ia berkata: "Dalam
urusan ini, ternyata telah menjadi berubah demikian rumit.
Aku, sesungguhnya bagaimana harus menghadapinya?"
"Waktu itu yang diterima baik permintaanmu jika kau minta
restu Makam Bunga Mawar, adalah ditujukan kepada Liok
Giok Ji, maka dalam hal itu sikapku hanya berusaha supaya
kau dengan Liok Giok Ji, bisa tercapai cita-citamu merangkap
jodoh sebagai pasangan yang berbahagia didalam rimba
persilatan." Berkata Duta Bunga Mawar sambil tertawa.
"Tetapi bagaimana dengan Tiong-sun Hui Kheng dan Hok
Siu Im?" Bertanya Hee Thian Siang cemas.
Siapa suruh kau sebelum kau ketahui benar orang yang
kau incar itu, kau sudah main-main lagi dengan gadis lain"
Perbuatanmu yang romantis itu kini sungguh-sungguh
menimbulkan kesulitan sendiri! Mengenai urusan mereka
berdua tidak termasuk dalam tugasku, seharusnya kau sendiri
yang membereskan!" Hee Thian Siang semakin cemas, ia minta kepada Duta
Bunga Mawar: Locianpwe. , locianpwe berpengetahuan luas
dan memiliki kecerdasan luar biasa. Sudikah kiranya
locianpwe menolong boanpwe lagi?"
"Restuku Bunga Mawar, jika sudah kulaksanakan, tidak
boleh ditarik kembali!" Berkata Duta Bunga Mawar sambil


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tertawa. "Boanpwe toh belum minta kepada locianpwe supaya
menarik kembali" Boanpwe ingin minta agar locianpwe
memperluas restu itu."
"Oo! Kau setan cilik ini memang benar-benar meskipun
orangnya kecil, akan tetapi ambisinya besar! Kau ternyata
menghendaki sekaligus mendapatkan tiga dara!"
Sementara muka Hee Thian Siang menjadi merah, ia diam
tak bisa berkata apa-apa, Duta Bunga Mawar berkata pula
sambil tertawa: "Kalau restu Bunga Mawar ini diperluas benar-
benar merupakan restu untuk kepentingan semua orang!"
"Locianpwe, ini bukanlah berarti boanpwe terlalu serakah,
tetapi urusan sudah menjadi begini. . . ."
Belum habis ucapannya, Duta Bunga Mawar tiba-tiba
berkata lagi sambil tertawa: "Coba kau sekarang lompat ke
atas tebing yang terdapat batu aneh itu, barangkali dara-dara
yang menjadi idaman-idamanmu itu sedikitnya sudah ada dua
orang yang datang." Mendengar ucapan itu Hee Thian Siang lantas benar-benar
melesat ke tebing setinggi empat tombak lebih, dari situ,
tampak goa Siang-swat-tong dari dalam goa itu meluncur dua
bayangan langsing yang secepat kilat lari keluar.
Hee Thian Siang berpaling dan bertanya pada Duta Bunga
Mawar: "Locianpwe, dua gadis yang datang itu apakah Hok
siu Im dan Tiong-sun Hui Kheng?"
Namun dalam goa itu sepi sunyi, tidak ada jawaban lagi,
Duta Bunga Mawar itu seolah-olah setan atau dewa, yang
datang atau perginya tanpa menunjukkan bekasnya. Sebab
selagi Hee Thian Siang lompat melesat ke atas tebing, ia
sudah menghilang dari tempatnya!
Sepasang alis Hee Thian Siang dikerutkan, ia masuk ke
dalam goa. Goa itu kira-kira hanya setombak lebih dalamnya,
sedikitpun tidak ada bekas jejak manusia, ternyata Duta
Bunga Mawar benar-benar sudah menghilang. Ia cuma bisa
menghela nafas panjang dan keluar dari goa lagi. Tetapi
hampir saja ia bertumbukan dengan dua bayangan yang
muncul secara mendadak dihadapannya.
Dua bayangan langsing itu, yang satu adalah Hok siu Im
yang sudah balik kembali dalam keadaan selamat. Dan yang
lain adalah Liok Giok Ji, gadis yang dulu pernah dilihatnya di
gunung Bu-gi-san dan yang menimbulkan hasratnya untuk
minta restu kepada Makam Bunga Mawar, supaya dapat
menemukan gadis itu. Dua gadis cantik yang wajahnya hampir mirip satu sama
lain, sekarang seolah-olah menjadi sahabat akrab, sikap
mereka baik sekali, Hok Sui Im begitu melihat Hee Thian
Siang lantas berkata sambil tertawa manis: "Engko Siang, kau
mempunyai Enci Tiong-sun Hui Kheng, aku juga mendapat
kenalan baru seorang Enci, inilah Enciku yang baru, Enci
Giok!" Hee Thian Siang mengawasi Liok Giok Ji sejenak, ia
merasa bahwa gadis itu meskipun kecantikannya tidak di
bawah Tion-sun Hui Kheng dan Hok Sui Im, tetapi kalau
teringat bagaimana kejam dan ganas kelakuannya, diam-diam
juga merasa takut, sehingga sampai mundur setengah
langkah. Liok Giok Ji agaknya dapat menduga pikiran Hee Thian
Siang, katanya sambil tersenyum: "Waktu itu karena aku
hendak membalas dendam sakit hati ibuku, aku terpaksa
harus menutup rahasiaku. Sekarang Tie-hui-cu sudah binasa,
musuh besarku sudah tidak ada, asal kau perlakukan adik Im-
ku ini secara baik-baik, aku tidak akan menggunakan duri
berbisa untuk menyerang kau!"
Hee Thian Siang yang melihat usia Liok Giok Ji sebaya
dengan Hok Siu Im, tetapi kata-katanya itu seolah-olah
seorang tua terhadap anaknya maka lalu bertanya sambil
tertawa geli: "Ucapanmu ini mirip seperti Enci yang sudah tua terhadap adiknya
yang masih muda. Tetapi kalau dibanding
dengan adik Im-ku itu, kau rasanya tidak berbeda jauh dengan
usianya." "Meskipun aku hanya lebih tua lima hari daripadanya, tetapi
itu sudah cukup untuk menetapkan diriku sebagai Encinya,
bukan?" berkata Liok Giok Ji dengan bangga.
Saat itu, Hee Thian Siang masih belum percaya betul
ucapan Duta Bunga Mawar, maka ia lalu bertanya kepada
Liok Giok Ji: "Kau tadi kata karena Tie-hui-cu sudah binasa,
tidak ada apa-apa yang dibuat pikiran lagi, maka sekarang aku
hendak menanya padamu suatu soal, tetapi aku minta supaya
kau menjawab secara terang!"
"Sekarang pikiranku sudah lega, tiada urusan yang perlu
kusimpan didalam hati. Kau hendak bertanya apa, boleh tanya
saja!" "Aku hanya ingin tanya, pernahkah kau memegang seekor
kuda berbulu hijau, mendaki gunung Kiu-gi-san dan
menggunakan senjata mirip pedang Go-kauw-kiam yang
bentuknya agak aneh, dan dengan seorang diri kau
membinasakan empat setan dari Kie-lian?"
Sehabis bertanya, sinar mata yang tajam terus menatap
Liok Giok Ji untuk menantikan jawabannya.
Liok Giok Ji menganggukkan kepala dan menjawab: "Aku
memang pernah menunggang kuda Cian-pek Hoa-ceng milik
ketua Kie-lian-pay. Aku pernah mendaki gunung Kiu-leng-cek
untuk membinasakan empat setan dari Kie-lian!"
Serentetan jawaban yang keluar dari mulutnya secara
terus-terang itu telah membuktikan bahwa keterangan Duta
Bunga Mawar itu sedikitpun tidak salah, sehingga Hee Thian
Siang yang mendengar itu mulutnya ternganga, lama tak bisa
berkata apa-apa. Liok Giok Ji menyaksikan sikap demikian, dan hatinya juga
merasa geli. Tanyanya: "Mengapa kau bersikap demikian"
Apakah dengan empat setan Kie-lian yang kubunuh itu ada
perhubungan sahabat yang baik sekali?"
Hok Siu Im sementara itu juga ingat bahwa Hee Thian
Siang dulu di atas puncak Ngo-bi pernah menanyakan soal itu,
maka saat itu juga bertanya dengan terheran-heran: "Engko
Siang, aku juga ingat, sewaktu berada di puncak gunung Ngo-
bi, kau juga pernah menanyakan soal itu padaku, apakah kau
benar-benar hendak menuntut balas atas kematian empat
setan dari Kie-lian itu?"
"Kau demikian rumit menanya orang, setelah mendapat
jawaban terus-terang lantas bungkam. Ini benar-benar aneh!
Sekarang aku sudah bawa adik Sui Im kemari, juga sudah
waktunya aku harus pulang ke goa Siang-swat-tong, apabila
masih ada jodoh, kita nanti masih bisa bertemu lagi di dunia
Kang-ouw!" Berkata Lok Giok Ji sambil tertawa. Sehabis
berkata demikian, sepasang kakinya terus melesat
meninggalkan Hee Thian Siang. Tetapi tangan kanannya
bergerak ke tengah udara, sebuah benda berkilauan,
meluncur ke depan dada Hee Thian Siang. Hee Thian Siang
mengira bahwa gadis itu hendak menyerang kembali dirinya
dengan duri berbisa Thian-keng-cek, dengan perasaan
terkejut dan terheran-heran ia lompat menyingkir tiga kaki
jauhnya, sebentar terdengar suara nyaring, benda itu sudah
menancap di dinding batu.
Liok Giok Ji sementara itu sudah berada sejauh empat lima
tombak, katanya sambil tertawa manis: "Hee Thian Siang
jangan takut, dahulu oleh karena tanpa sebab aku menyerang
kau dengan duri thian-keng-cek, setelah itu hatiku merasa
menyesal sendiri. Maka barulah aku memberikan kau sebuah
benda yang bukan benda biasa, sekedar untuk mengganti
kerugian dari perbuatanku dulu!"
Setelah itu dengan beberapa kali gerakan sudah
menghilang ditempat gelap.
Hee Thian Siang mengawasi berlalunya Liok Giok Ji,
kepalanya di geleng-gelengkan sambil ketawa getir. Dengan
langkah lambat-lambat ia berjalan menghampiri tebing itu,
mengambil benda yang menancap. Setelah diperiksanya, ia
baru tahu bahwa itu adalah tusuk konde yang biasa dipakai
oleh kaum pria. Tetapi benda itu bukan terbuat dari emas atau
batu giok, bukan pula tulang atau perak, entah terbuat dari
bahan apa" Hok Siau Im kemudian berkata kepada Hee Thian Siang
sambil tertawa: "Engko Siang, enci Giok-ku itu baik sekali
terhadapku!" Hee Thian Siang setelah menyimpan tusuk konde itu ke
dalam sakunya, bersama Hok Siu Im berjalan ke tempat Oe-
tie Khao yang masih bersemedi. Dalam perjalanan itu ia
berkata sambil tersenyum: "Adik Im, sudah tiga hari lamanya
kau menjadi tamu dalam goa Siang-swat-tong. Apakah kau
menemukan kejadian yang aneh-aneh atau yang bahaya"
Apa sebab dua orang tua berbaju kuning itu begitu kuat
kemauannya untuk menahanmu didalam goa?"
"Aku sendiri juga tidak tahu, sebab apa mereka hendak
menahan aku. Tetapi dalam tiga hari itu benar saja sedikitpun
tak ada bahaya, bahkan aku telah diberi makan banyak sekali
dengan obat mukjizat, dan buah-buahan aneh, juga mendapat
pelajaran tiga jurus ilmu pedang yang sangat tinggi dan hebat
sekali!" Menjawab Hok Siu Im sambil menggelengkan
kepalanya sambil tertawa.
"Dua orang tua berambut panjang berjubah kuning itu
begitu baik, terhadapmu. Kau seharusnya tahu siapa namanya
dan asal-usulnya, bukan?"
"Aku tidak tahu, dan juga tidak bertanya. Mereka belum
pernah menyebutkan."
Hee Thian Siang tahu bahwa pikiran Hok Siu Im masih
kekanak-kanakan, sedikitpun tidak bisa memikirkan hal-hal
yang lainnya. Maka ia bertanya pula sambil tersenyum:
"Kau seharusnya sudah melihat ada beberapa buah patung
membeku didalam goa Sian-swat-tong itu?"
"Ada tiga, Ciauw Pek dari Kun-lun-pay, pendekar
pemabokan Bo Bu Ju, dan ketua Kun-lun-pay Tie-hui-cu."
"Waktu pertama kali aku mengadakan penyelidikan didalam
goa Siang-swat-tong, aku pernah melihat patung Hong-tim
Ong-khek May Ceng Ong. Kemana sekarang perginya?"
"Engko Siang, kau keliru. Patung May Ceng Ong yang ada
didalam goa Siang-swat-tong, terbuat dari pada malam (lilin
tiruan), bukan orang yang sebenarnya yang dibekukan!"
"Perlu apa mereka membuat patung May Ceng Ong dari
malam, dan diletakkan didalam goa Siang-swat-tong?"
"Aku tidak tahu, tapi kulihat Liok Giok Ji setiap pagi-pagi
sekali, pasti berlutut dahulu di depan patung Hong-tim Ong-
khek May Ceng Ong itu, dengan sikap yang sangat hormat
sekali ia bersujud dan menjura empat kali, setelah itu baru
bangkit lagi, kemudian dengan suara gemas ia menyumpahi
patung itu!" Hee Thian Siang yang mendengar penuturan itu sudah
dapat menduga pasti bahwa orang yang hendak ditemui oleh
dua orang tua berbaju kuning itu, sudah pasti adalah Hong-
tim-ong-khek May Ceng Ong. Tetapi ia masih belum dapat
menduga apa sebabnya, dan ada permusuhan apa diantara
mereka. Pada waktu itu, Oe-tie Khao sudah selesai semedinya, baru
saja sadar dan membuka matanya, lantas melihat Hee Thian
Siang dan Hok Siu Im yang sedang berjalan menghampirinya,
maka lalu bertanya sambil tertawa: "Nona Hok, mengapa
demikian lama kau berada didalam goa Siang-swat-tong"
Hampir saja Engko Siangmu ini tidak bisa diam karena cemas
hatinya!" Hok Siu Im yang mendengar ucapan itu, dengan sinar mata
penuh arti memandang Hee Thian Sinag, ia hanya tersenyum
tidak berkata apa-apa. Sementara itu dalam hati Hee Thian
Siang sedang memperhitungkan, saat itu tugasnya yang
pertama adalah segera pergi ke puncak Tiauw-in-hong di
gunung Bu-san, ditempat kediaman Hwa Ji-swat, untuk
mencari Tiong-sun Hui Kheng, dan menjelaskan kesalah-
pahaman mereka. Jikalau tidak, apabila waktunya lebih lama,
lebih susah baginya untuk memberi penjelasan!
Tetapi hendak menjelaskan kesalah-pahaman terhadap
Tiong-sun Hui Kheng, ia harus pergi seorang diri dan tidak
boleh mengikut sertakan Hok Siu Im. Sebab gadis itu masih
putih-bersih dan sifatnya masih kekanak-kanakan, bagaimana
ia harus menggunakan kata-kata supaya ia bisa pulang sendiri
ke gunung Ngo-bie" Hal itu patut dicegah, supaya jangan
sampai menimbulkan susah lagi terhadap Tiong sun Hui
kheng. Oe-ti khao yang melihat Hee Thian siang mendadak
mengerutkan alisnya dan sedang berpikir, lalu bertanya: "Hee
laote, mengapa kau menunjukkan rasa murung " apakah nona
Hok didalam goa siang swat ting sudah mengalami kejadian
yang tidak menyenangkan ?"
"Peruntungannya sungguh baik, selama tiga hari berdiam di
goa Siang swat tong, bukan saja sudah diperlakukan sangat
baik sekali oleh dua orang tua berambut panjang berbaju
kuning itu, bahkan sudah menjadi sahabat baik dengan Liok
Giok je, serta diberi makan banyak serta obat obatan mujarab
dan buah buahan yang sangat berfaedah baginya, disamping
itu juga diberi pelajaran tiga jurus ilmu pedang yang luar biasa,
untuk itu ia seharusnya merasa sangat senang. Bagaimana
ada kejadian yang tidak menyenangkan ?" menjawab Hee
thian siang sambil menatap Hok siu im.
"Tetapi sikapmu tadi, sudah jelas seperti ada suatu urusan
!" berkata Oe ti khao sambil tertawa.
"Aku sedang memikirkan perjalanan kita selanjutnya,
bagaimana harus diatur ?" menjawab Hee Thian siang
sekenanya. "Ya benar!" tuga kita tidak ringan, kita masih perlu
memberitahukan kepada partai Lo-hu dan Bu tong serta
beberapa tokoh ternama dalam rimba persilatan. . " Berkata
Oe tie Khao sambil menganggukkan kepala dan tertawa.
Berkata sampai di situ ia diam sejenak, lalu berkata pula
sambil menatap wajah Hee Thian siang : "Hee laote,
mengenai suhumu Pek Bin Sin po Hong poh Cui sebaiknya
harus diberitahukan sekalian. Bilamana Hong poh sin po pada
tanggal enam belas tahun depan bisa berkunjung kegunung
Kie lian, pasti bisa mengurangi pengaruh kawanan penjahat
itu tidak sedikit !"
Hee Thian siang terbuka pikirannya mendengar ucapan Oe
tie khao tadi, maka ia memberi isyarat kepadanya, lalu berkata
sambil tersenyum: "Tempat yang harus kita kunjungi sebetulnya terlalu banyak


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sekali, dan untuk mengejar waktu, agaknya kita harus
menjalankan tugas secara berpencaran. Dengan demikian,
barulah bisa keburu !"
Oe tie Khao yang memang seorang yang banyak akal,
melihat Hee Thian siang memberi isyarat dengan mata
kepadanya sudah dapat menduga bahwa Hee Thian siang
ada maksud pergi seorang diri untuk mencari Tiong sun Hui
Kheng, Maka lantas menganggukkan kepala dan berkata
sambil tertawa : "Ucapan ini memang benar, tugas untuk memberitahukan
kepada tokoh-tokoh ternama rimba persilatan, memang
sebetulnya harus dilakukan secara berpencaran, aku sudah
memikirkan caranya bagaimana kita harus bertindak ?"
Dari senyumnya yang misteri Oe tie Khao tadi, Hee thian
siang sudah mengerti bahwa orang angkatan tua yang cerdik
dan banyak akalnya itu sudah dapat menduga apa yang
dipikirkan olehnya, maka lalu bertanya sambil tersenyum :
"Locianpwe bagaimana hendak mengatur ?"
"aku dengan nona Hok akan pulang dulu ke gunung Ngo-bi,
untuk melihat perjalanan suhu ?"" ke gunung Tiam cong,
adakah menjumpai suatu kejadian " Setelah itu aku juga perlu
melaporkan kepada Hian-hian sian lo apa yang kuketahui.
Apabila aku bisa berjumpa dengan May Han kong si tua
bangka itu, dan Ca bu kao. Lantas kira akan pergi bersama
sama ke Timur laut untuk memberitahukan kepada partai-
partai Lo-hu dan Siao-lim, serta tokoh-tokoh rimba persilatan
ternama yang perlu diberi tahu."
Hee Thian siang yang melihat Oe tie Khao benar saja
sudah dapat menduga pikirannya, diam-diam menyatakan
terima kasih kepada orang tua itu, tanyanya sambil tersenyum
: "Dan aku ?" "Kita orangnya banyak, tugasnya juga lebih berat. Kan
hanya seorang diri sudah cukup bertugas untuk
memberitahukan kepada partai Bu ?"" dan suhumu, sisa
waktunya kau boleh menentukan tugas apa yang kau pandang
perlu." Hee Thian siang baru saja menganggukkan kepala sambil
tersenyum, Hok Siu Im sudah berkata sambil tertawa : "Oe tie
Locianpwe, rencanamu ini bolehkah kalau dirobah sedikit ?"
"Nona Hok kau pikir hendak merubah bagaimana ?"
Bertanya Oe tie Khao sambil tertawa.
"Bagaimana kalau locianpwe seorang diri balik ke Ngo bie
untuk memberitahukan kepada suhu, sedangkan aku akan
berjalan bersama sama Engko Siang ?" Berkata Hok siu Im
sambil menatap wajah Hee Thian siang dengan penuh rasa
cinta kasih. Beberapa perkataan itu, meskipun menggerakkan hati Hee
Thian siang, tetapi juga menyulitkan baginya. Maka ia hanya
memandangnya dengan tertawa getir.
Oe tie Khao yang menyaksikan keadaan demikian buru-
buru berkata sambil tertawa: "Nona Hok, suhu engko Siangmu
itu adatnya terlalu kukuh, kalau kau membiarkan dia seorang
diri pergi menjumpai suhunya, dan dengan secara baik
memberitahukan padanya tentang hubunganmu dengan dia,
barulah tak akan dicaci maki olehnya !"
"Suhu sendiri sudah mengijinkan aku untuk menganggap
engko padanya, mengapa suhunya tidak mengijinkan ia
menganggapku sebagai adiknya ?" Berkata Hok Siu Im
dengan perasaan tidak senang.
Kesan Oe tia Khao terhadap Hok Siu Im sesungguhnya
baik sekali, ia merasa senang sekali dengan sikapnya yang
masih kekanak kanakan, maka katanya sambil tersenyum:
"Jikalau demikian, dengan cara bagaimana Pak bin Sin po
Hong poh Cui bisa dianggap oleh umum sebagai orang yang
paling susah dihadapi ?"
Ia menggunakan kata-kata itu dengan tepat sekali hingga
Hok Siu Im yang mendengarkan, matanya lantas merah, dan
berkata kepada Hee Thian siang dengan sikap sedih.
"Engko Siang, kalau begitu kita terpaksa harus berpisah."
Hee Thian siang yang menyaksikan sikap sedih Hok Siu
Im, dalam hati juga merasa tidak enak, tetapi untuk
membawanya ke gunung Bu ?"", itu sudah pasti tidak
mungkin, apalagi hal ini menyangkut dirinya dengan diri Tiong
Sun ?"" Kheng, maka katanya sambil tersenyum : "Untuk
sementara waktu, perlu apa adik Im merasa sedih " Selambat-
lambatnya pada bulan dua tahun depan kita toh sudah akan
berkumpul lagi, bahkan kalau urusan ini sudah selesai,
mungkin juga kita bisa bertemu lagi sebelum tanggal itu."
Hok Siu Im yang mendengar perkataan itu lantas
tersenyum, waktu itu sikapnya sesungguhnya sangat menarik
sekali, hingga Hee Thian siang itu sikapnya romantis, jantung
hatinya sampai berdebaran.
Oe tie Khao yang menyaksikan keadaan demikian lantas
berkata sambil tertawa terbahak bahak: "Hendak berkumpul
lebih dulu harus berpisah, tidak berpisahan bagaimana bisa
berkumpul lagi ! Nona Hok, biarlah engko Siangmu pulang
dulu untuk menjumpai suhunya, supaya minta suhunya turut
campur tangan untuk menghadapi dua orang tua berambut
panjang berbaju kuning yang sangat tinggi kepandaiannya itu,
mungkin masih bisa mencegah terjadinya pertumpahan daras
ter hebat dalam rimba persilatan. Sedang kita juga,
seharusnya kita lekas pulang ke Ngo bie untuk melaporkan
kepada suhumu." Dalam keadaan apa boleh buat Hok Siu Im berpisahan
dengan Hee Thian siang, dengan mengikuti Oe tie Khao ia
pulang ke gunung Ngo bie san.
Hee Thian siang menantikan Oe tie Khao dan Hok Siu Im
sampai sudah berlalu jauh, barulah menggeleng gelengkan
kepala sambil menghela napas panjang san berkata kepada
diri sendiri; "Aku cinta kepada Tiong sun Hui Kheng, sedang Hok Siu
Im cinta kepadaku, diantara kedua gadis itu, sudah
menyulitkan kedudukanku apa mau gadis yang kumintai
restunya di hadapan makam bunga mawar di gunung Bin san,
justru merupakan diri Liok Giok jie ! Persoalan asmara yang
demikian ruwet benar-benar sangat memusingkan kepalaku.
Aku benar0benar ingin mencari kepada Say Han Kong
locianpwe, hendak minta tanya kepadanya tentang impian
orang yang dirundung asmara, dengan cara bagaimana
mendusin " Kasih yang tak sampai bagaimana harus
diputuskan " Dan sakit rindu itu apakah ada obatnya. . ?"
berkata sampai di situ tiba-tiba ia menggeleng gelengkan
kepala sendiri dan berkata kepada dirinya sendiri pula:
"Aa tidak benar Say Han Kong locianpwe tidak mungkin
bisa menyembuhkan penyakit rindu, semula lantaran tiga
pertanyaan itu, orang tua itu telah kalah seekor kuda
jempolannya ditangan Cong sun Hui Kheng, dalam dunia ini
sudah terang jarang ada orang yang dapat menyembuhkan
penyakit tersebut, barangkali hanya Duta Bunga Mawar. . "
Teringat kepada Duta Bunga Mawar, Hee Thian siang
lantas berkata lagi sambil menghela napas : "Tetapi orang tua itu meskipun
memiliki kesaktian luar biasa, namun jejaknya
bagaikan burung bangau, tidak mudah didapatkannya !
Kecuali jikalau dia sudah datang mencari aku, jika kita mencari
dia, sekalipun menjelajahi seluruh dunia, barangkali juga tidak
akan dapat menemukannya. ."
Baru saja menutup mulutnya, tiba-tiba tampak sekelebat
bayangan putih, selembar kertas melayang turun dari atas
tebing. Hee Thian siang lalu mengulurkan tangannya dan
menyambuti kertas tersebut, Sepintas lalu dilihatnya di bawah
tulisan itu tanda tangan Duta Bunga Mawar. Buru buru ia
mengerahkan ilmunya meringankan tubuh lompat melesat ke
atas tebing sambil berkaok-koak memanggilnya: "Duta Bunga
Mawar locianpwe jangan pergi dulu, berikan kesempatan
kepada Hee Thian siang untuk minta keterangan."
Akan tetapi ketika ia tiba di atas tebing, Duta Bunga Mawar
yang bagaikan bayangan itu sudah tidak tampak lagi jejaknya,
apa yang dilihatnya hanya gunung-gunung yang menghijau
dan awan yang di atas langit !
Hee Thian siang menggeleng gelengkan kepala sambil
menarik napas panjang, terpaksa ia hanya membuka surat
yang berada di tangannya, namun di atas kertas itu hanya
ditulis dengan empat baris kata-kata yang mirip dengan syair
tetapi bukan syair, demikian bunyinya :
Ingin bahagia mengapa takut kesukaran "
Hidup sebagai merpati alangkah senangnya !
Sekali panah mengenakan tiga burung dara,
Sudah pasti akan jadi kenyataan !
Namun, masih diperlukan ketabahan dan keuletan untuk
menyelesaikan segala kesulitan !
Sehabis membaca tulisan itu Hee Thian siang berulang
ulang tersenyum getir, dalam hatinya berpikir. "Duta bunga
mawar itu, telah mendesak aku supaya mendapatkan tiga
gadis sekaligus, namun tidak mau memberikan penjelasan
bagaimana harus bertindak, bukankah malah akan
membuatku mengalami lebih banyak kesukaran "
Namun tak dapat disangkal bahwa kata-kata terakhir dalam
surat itu memberikan dorongan semangat bagi Hee Thian
siang. Maka ia lalu mengambil keputusan akan pergi ke
gunung Busan lebih dulu untuk mencari Tiong sun Hui kheng,
menjelaskan kesalah pahamannya. Persoalan yang lainnya
untuk sementara boleh ditinggalkan dulu. Di kemudian hari
dilihat lagi bagaimana perkembangan selanjutnya.
Karena sudah mengambil keputusan demikian sudah tentu
ingin cepat-cepat tiba di gunung Bu san untuk menyatakan
penjelasannya kepada Tiong Sun Hui kheng.
Perjalanan lalu dilakukan siang hari malam, hampir tak
beristirahat. Ketika ia tiba di kaki puncak gunung Tiauw ih
hong, adalah pada hari-hari permulaan bulan tujuh.
Hee Thian siang berdiri seorang diri di bawah puncak,
memandang awan yang meliputi puncak gunung Tiauw in
hong, ia pikir, apabila nanti berjumpa dengan Tiong sun hui
kheng, supaya gadis itu jangan sampai terlalu sedih, maka ia
berlaku sangat hati hati, rasanya bisa baik kembali hubungan
lama ! Tetapi binatang gaib Taywong dan Siaopek sering
menyulitkan dirinya. Di gunung Kie lian saja ia pernah mendapat kesulitan dari
dua binatang itu. Dengan sendirinya harus berlaku lebih hati-
hati terhadap mereka. Karena ia harus waspada terhadap Siaopek dan Taywong,
maka lebih dulu mengerahkan ilmunya Hian hian khi kung
untuk menjaga diri, kemudian baru bertindak mendaki ke
puncak gunung. Tetapi di luar dugaannya, dalam
perjalanannya itu ternyata tidak mendapat gangguan apa-apa.
Ketika tiba di depan bangunan yang dinamakan Istana
Tiauw in kiong, kediaman Hwa Jie ?"". tampak dua orang
pelayan wanita cantik berdiri menunggu kedatangannya di
depan pintu. Hee Thian siang maju memberi hormat. seraya berkata:
"Tolong beritahukan, bahwa murid golongan Pak-bin Hee
Thian siang, ingin berjumpa dengan Bu-san Siancu !"
Pelayan wanita itu setelah mendengar ucapan tersebut
segera masuk ke dalam untuk memberitahukan kepada
junjungannya. Tak lama kemudian, pintu istana Tiauw in kiong
terbuka lebar, Hwa Jie Swat dengan wajah berseri seri,
bersama dengan It-pun Sin-ceng yang pernah menghadiahkan
padanya dua tetes getah pohon lengci di lembah kematian
gunung Cong-lam telah menyambut kedatangannya sambil
tersenyum. Hee Thian siang yang secara mendadak bertemu muka
dengan It-pun Sin-ceng, dalam hatinya lalu berpikir: "Suatu
bukti asal sungguh hati, segala apapun bisa tercapai, orang
luar biasa yang berdiam di lautan timur ini, sejak menerima
kabar dariku, benar saja telah digerakkan hatinya oleh
kecintaan hati yang tulus dari Hwa Ji Swat, datang kemari
untuk memenuhi janjinya. Dan kini telah menjadi suami istri
bersamanya.It-pun Sin-ceng masih tetap dengan kebiasaannya yang
lama, tangannya membawa bawa pot ham-giok berwarna
ungu yang terdapat sulaman pohon lengci, begitu melihat Hee
Thian siang mengawasi dirinya, dengan sikap seperti terheran
heran lalu berkata sambil tertawa : "Hee laote, tentunya kau
merasa heran mengapa aku si padri ini tidak memegang
kesucianku, datang ke gunung Bu-san ini untuk menikah"
Ucapan datang ke gunung Bu-san untuk menikah
kedengarannya sangat lucu, hingga Hwa Jie swat yang
mendengarkan lantas merah pipinya, dia pendelikan matanya
kepada It-pun Sin-ceng. Dalam hati hee Thian siang juga merasa ?"", namun
diluarnya masih menjawab sambil tersenyum: "Taisu dan Hwat
siancu telah menyadari soal keduniawian dan menjadi
pasangan seperti de?"", peristiwa ini cukup akan tercatat
sebagai pasangan yang bahagia dari rimba persilatan, Hee
Thian siang merasa kagum !"
Hwa Jie Swat sementara itu juga berkata sambil
tersenyum: "Kalau bisa tercapai angan-angan kami dan hidup
bagai pasangan seperti hari ini, semua itu adalah berkat
bantuanmu yang tidak sedikit! Mari lekas masuk ke dalam
kediaman kami ini, supaya kami dapat memperlakukan
engkau sebagai tamu yang kami junjung tinggi !"
Sehabis berkata demikian, bersama sama It-pun ?""-ceng
mempersilahkan Hee Thian siang masuk.
Hee Thian siang tahu, terhadap mereka berdua tidak perlu
terlalu merendahkan diri, maka ia masuk ke dalam sambil
tersenyum: Tiba didalam, baru melihat bahwa tempat yang
dinamakan istana Tiaw-in-kiong itu dibangunnya dengan
sangat indah dan menyenangkan hati.
Peralatan dalam ruangan itu tidak terlalu mewah, kecuali
lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan yang memenuhi dinding,
bagian lain hanya dilengkapi dengan tempat tidur dan tempat
duduk saja. Hwa Jie Swat mempersilahkan Hee Thian siang duduk, lalu
memerintahkan pelayannya: "Kalian lekas pergi petik buah
Tanliu yang sudah masak, kemudian seduhkan teh dengan
ditambah buah bwee-swat yang sudah disimpan lama !"
Hee Thian siang sama sekali tidak memperhatikan pesan
Hwa Jie Swat itu, oleh karena tidak tampak Tiong-sun Hui
Kheng di situ, diam-diam hatinya merasa cemas.
Hwa Jie swat setelah memerintahkan kepada pelayannya,
lalu berpaling dan berkata kepada Hee Thian siang: "Hee


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

laote, kali ini kau balik ke gunung Busan dan hendak
menjumpai aku, entah ada keperluan apa ?"
Wajah Hee Thian siang menjadi merah, katanya dengan
suara terputus putus : "Aku. . aku. . datang mencari Enci
Tiong-san Hui Kheng !"
"Oo !" berkata Hwa Jie swat sambil tersenyum, "Tiong-sun Hui Kheng sumoay memang
benar pernah berdiam di sini,
sayang kedatanganmu agak terlambat. Tiga hari berselang ia
sudah berlalu dengan membawa Siaopek dan Taywong !"
Hati Hee Thian siang gelisah, hingga lantas bangkit dari
tempat duduknya dan bertanya dengan suara cemas: "Hwa
Siancu. ." Hwa Jei Swat memandangnya sejenak, lalu berkata sambil
menggoyang goyangkan tangannya: "Tiong-sun Hui Kheng
adalah sumoayku, kalau kau panggil dia enci, mengapa tidak
panggil aku enci juga ?"
JILID 14 Hee Thian siang terpaksa merobah sebutannya lalu ia
berkata pula: "Enci Hwa, bolehkah kau memberitahukan kepadaku
kemana Enci Tiong sun sekarang berada?"
Selagi Hwa Jie swat hendak menjawab, tampak pelayan
tadi sudah kembali dengan membawa nampan, di atas
nampan itu terdapat enam biji buah tanliu yang masih segar
dan masak. Hwa jie swat lalu berkata kepada Hee Thian siang sambil
tersenyum : "Adik Hee, cobalah kau cicipi dulu buah tanliu
yang hanya terdapat di gunung Bu san saja ini, bagaimana
rasanya ?" Hee Thian Siang melihat buah yang dinamakan buah tanliu
itu, kulitnya nampak merah, namun dalamnya putih dan segar
sekali, ia bisa menduga bahwa buah itu pasti enak rasanya,
namun ia berkata sambil menggelengkan kepala: "Enci Hwa,
jika kau tidak mengatakan padaku kemana Enci Tiong-sun
pergi, sekalipun buah yang paling enak kau sodorkan
kehadapan mataku, aku juga tidak bisa menelan!"
Hwa Ji Swat yang mendengar ucapan itu unjukkan
tertawanya yang manis, ia berkata sambil memandang kepada
It-pun Sin-ceng: "Kau lihat, adik Hee ini terhadap Hui Kheng
sumoay seperti dahulu sikapku terhadap kau!"
"Kau ini memang benar suka mempermainkan orang. kau
hendak bicara apa, lekas jelaskan saja kepada Hee laote!"
Berkata It-pun Sin-ceng sambil tertawa.
Hwa Ji Swat melirik kepada Hee Thian Siang sejenak, lalu
berkata sambil tertawa: "Tetapi dia tidak suka barang yang ku sediakan
kepadanya, maka aku juga merasa tidak senang."
Hee Thian Siang mendengar ucapan itu buru-buru berkata:
"Enci Hwa, katakanlah, katakanlah! Biarlah sekarang juga aku
makan!" Ucapan itu membuat tertawa Hwa Ji Swat dan It-pun Sin-
ceng. Hee Thian Siang yang memang sudah merah wajahnya
ditambah ditertawakan demikian oleh dua orang itu, benar-
benar merasa malu, terpaksa ia mengambil sebiji buah tanliu,
setelah dikupas kulitnya, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.
Buah tanliu itu benar-benar sangat harum baunya, bukan
saja sangat enak rasanya, tetapi juga tampaknya
menyegarkan mulut dan semangat, dengan sekaligus Hee
Thian Siang menghabiskan 3 biji baru berkata kepada Hwa Ji
Swat sambil tersenyum getir: "Enci Hwa, aku sudah makan
buahmu, sekarang kau seharusnya sudah merasa senang,
bukan?" Hui Kheng sumoayku, selamanya mempunyai kesukaan
melakukan perjalanan ditempat-tempat yang berpemandangan sangat indah, kuda ceng-hongnya, bersama
Taywong dan Siaopek juga merupakan binatang-binatang luar
biasa yang bisa melakukan perjalanan sangat jauh, waktu ia
pergi dari sini belum mengatakan ke tempat mana ia hendak
menuju, kau barangkali tidak mudah menemukannya!"
Hee Thian Siang yang mendengar keterangan itu lantas
wajahnya berubah seketika, hingga tanliu yang masih berada
di tangannya juga terjatuh ke tanah.
Hwa Ji Swat yang menyaksikan kecemasan Hee Thian
Siang demikian rupa, lalu berkata sambil tertawa: "Adik Hee,
kau tidak perlu cemas, Hui Kheng sumoayku itu meskipun
orangnya pergi tetapi barangnya masih ditinggalkan. Ia
meninggalkan dua barang untukmu!"
Hee Thian Siang boleh dikata seorang pintar dan cerdik,
namun karena pikirannya butek, saat itu berlaku seperti
seorang bodoh, ia juga tidak memikirkan dahulu bagaimana
Tiong-sun Hui Kheng bisa tahu dan bisa memperhitungkan dahulu
bahwa dirinya akan mencari kegunung Bu-san?"
Ia hanya merasa gelisah sendiri, maka lalu bertanya: "Enci
Hwa, dia. . . dia meninggalkan barang apa untukku?"
Hwa Ji Swat mengeluarkan jaring wasiat merah dan batu
giok yang berbentuk bunga mawar warna ungu, lalu bertanya
kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum: "Adik Hee, dua
barang ini betulkah oleh karena kalah pertaruhan, kau berikan
kepada Hui Kheng sumoay?"
Hee Thian Siang seolah-olah mendapat firasat buruk, ia
menganggukkan kepala dengan sikap murung.
Hwa Ji Swat berkata pula: "Hui Kheng sumoay oleh karena
tahu bahwa kau seorang pemberani dan bersifat sombong,
dimana saja bisa menimbulkan bahaya bagimu, maka ia minta
aku memberikan jaring wasiat merah ini untuk diberikan
kepadamu, supaya bisa kau gunakan untuk menjaga diri, lagi
pula lambang bunga mawar warna ungu ini adalah milik Duta
Bunga Mawar, ia takut apabila di kemudian hari kau berjumpa
dengan Duta Bunga Mawar, kau tidak bisa menyerahkan
kembali barangnya, maka ia menyuruh juga supaya aku
mengembalikan kepadamu!"
"Dengan berbuat demikian, apakah Enci Tiong-sun sudah
tidak suka menemui aku lagi?" Bertanya Hee Thian Siang
sambil menghentikan nafas.
Aku tidak tahu, dengan cara bagaimana kau membuat
kesalahan terhadapnya" Hui Kheng sumoay memang benar-
benar merasa kecewa terhadapmu selanjutnya ia ingin
mengasingkan diri dari dunia, tidak akan memikirkan soal
keduniawian lagi, demikian ia pernah mengatakan kepadaku."
Hati Hee Thian Siang merasa pilu, matanya lantas menjadi
basah oleh air matanya sendiri, tapi ketika dengan tiba-tiba
melihat jaring wasiat warna merah itu tergeraklah hatinya,
dengan menahan perasaan sedihnya, ia berkata kepada Hwa
Ji Swat: "Dari jala wasiat merah ini, aku jadi teringat bahwa kau dahulu di
selat Bu-hiap di bawah puncak gunung Tiauw-in-hong ini pernah kalah padaku dalam
satu pertaruhan yang hingga kini masih belum kau laksanakan imbalannya"
It-pun sin-ceng sementara itu menyaksikan kecemasan
Hee Thian Siang sedemikian rupa dalam hati merasa tidak
tega, maka lalu mengulurkan tangannya menyentuh belakang
punggung Hwa Ji Swat. Hwa Ji Swat melirik it-pun Sin-ceng sejenak lalu berkata
kepada Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala dan
tersenyum: "Aku ingat dalam pertaruhan itu aku yang kalah,
akan berusaha sekuat tenaga untuk satu kali membantu
kesulitanmu." "Sekarang aku minta kepada Enci Hwa supaya
melaksanakan janji itu, bolehkah sekarang kau laksanakan"
Berkata Hee Thian Siang dengan tertawa getir.
Hwa Ji Swat berpikir sejenak, lalu berkata:
"Kau minta bantuanku, sebetulnya aku tidak keberatan apa-
apa, tetapi aku cuma bisa memberikan dua patah kata, saja
biarlah kau yang mempelajari sendiri, dan kuminta setelah kau
mendengarkan pesanku itu segera berlalu dari sini!"
Hee Thian Siang yang sedang berduka, dalam keadaan
yang tidak berdaya, bersedia mendengar kata-kata yang harus
dipelajarinya, lalu menganggukkan kepala dan mengawasi
Hwa Ji Swat dengan penuh pengharapan.
"Ingin mendapat rahasia mengapa takut kesulitan"
Kehidupan burung merpati alangkah indahnya!" Demikian Hwa
Ji Swat mengeluarkan kata-kata yang seperti menyanyikan
sajak sambil tersenyum. Setelah itu bersama-sama it-pun Sin-ceng bangkit dari
tempat duduknya untuk mengantarkan hee Thian Siang
keluar. Hee Thian Siang tidak menduga bahwa apa yang dikatakan
oleh Hwa Ji sebagai pesan itu ternyata sama dengan apa
yang ditulis oleh Duta Bunga Mawar dalam surat kepadanya.
terpaksa ia mengulangi ucapan itu berulang-ulang sambil
bangkit berdiri dan menuju keluar dari Istana Tiauw-in-kiong.
Hwa Ji Swat bersama Iti-un Sin-ceng mengantarkan ia dari
pintu Tiauw-in-kiong, dan tidak mengantar lebih jauh lagi,
keduanya minta diri kepada Hee Thian Siang dan balik
kembali bahkan menutup rapat pintu istananya.
Hee Thian Siang waktu itu otaknya merasa kosong-
melompong, sama sekali tak bisa memikirkan dan
mempelajari kata-kata yang diberikan kepadanya tadi. Seperti
seorang linglung ia berjalan menuju tebing dan mengawasi
ombak sungai Tiang-kang yang bergulung-gulung, dan
mulutnya mengeluarkan kata-kata sendiri: "Ah enci Tiang-sun,
tidak seharusnya kau hanya mendengar keterangan sepihak
dari Siaopek saja, lalu kau mengambil keputusan demikian
tegas kepadaku mengapa sedikitpun kau tidak memberikan
kesempatan kepadaku untuk memberikan penjelasan?"
Berkata sampai di situ kembali hatinya merasa duka,
namun selama itu ia menahan air matanya jangan sampai
tumpah. Namun bagaimanapun ia berusaha, air mata itu tetap
mengalir dengan derasnya hingga bajunya bagian dada sudah
menjadi basah oleh air matanya sendiri.
Dalam keadaan demikian, berkali-kali ia mengulangi lagi
kata-kata yang pernah ditulis oleh Duta Bunga Mawar, dan kini
diucapkan kembali oleh Hwa Ji Swat.
Ketika ia mengulangi sampai kelima kalinya, dengan tiba-
tiba ia berkata sendiri sambil tertawa terbahak-bahak: "Ucapan yang pertama itu
agaknya sudah dirubah satu kata, asal tidak
sanggup menahan kesulitan, bukanlah segala-galanya akan
tamat riwayatnya, tidak ada kesulitan lagi!"
Teringat akan itu, ia lalu ingat soal kematian setelah itu
hatinya merasa tergugah, lalu mendorongkan kepala dan
mendoa sendiri: "Enci Tiang-sun, Hee Thian Siang
terhadapmu sebenar dengan sungguh hati dan sejujur-
jujurnya mencinta, sekarang oleh karena kesalah-pahaman,
cita-citamu mungkin tidak terlaksana. Dunia yang lebar dan
penuh dosa ini, ada apa yang patut diharapkan lagi" Lebih
baik aku habiskan jiwaku ke dalam sungai Tiang-kang untuk
melepaskan diri dari segala godaan, supaya aku tidak perlu
mengalami penderitaan karena sakit rindu!"
Sehabis mendoa, lantas bersiul panjang, suara siulan itu
seolah-olah hendak melampiaskan kesedihan dalam hatinya!
Ketika suara siulan berhenti, dengan tiba-tiba kakinya
menjejak, badannya melesat ke tengah udara hendka terjun
dari puncak Tiauw-in-hong ke dalam sungai.
Akan tetapi baru saja badannya melesat dari puncak
gunung, tiba-tiba terdengar suara memuji nama Budha yang
nyaring sekali. Suara itu mengaum di udara, sesat kemudian
tampak berkelebat warna merah dari atas ke bawah untuk
menyambar tubuh Hee Thian Siang.
Baru melayang turun kira-kira enam tujuh kaki, tubuh Hee
Thian Siang sudah terjaring oleh jaring wasiat merah yang
dilepaskan dari atas. Sementara itu It-pun Sin-ceng bersama Hwa Ji Swat
kedua-duanya muncul di tepi tebing, tangan It-pun Sin-ceng
menenteng jaring untuk mengangkat Hee Thian Siang dari
dalam jaring. Hwa Ji Swat sementara itu mendongak ke atas tebing,
dimana terdapat banyak pohon cemara, lalu berkata sambil
tersenyum: "Hei, setan cilik yang banyak mulut, kau sudah
lihat atau belum" Adik He-ku ini terhadap majikanmu
bukankah demikian sungguh-sungguh cintanya, dan
sedikitpun tidak ada yang tercela?"
Dari antara pohon cemara itu terdengar suara siulan girang,
Siaopek yang cerdik dan usil itu muncul dari dalam daun lebat,
seolah-olah butiran perak melayang turun, sebentar kemudian
sudah menghilang jejaknya.
Pada saat itu Hee Thian Siang baru keluar dari dalam
jaring, ketika menyaksikan keadaan demikian lantas bertanya
kepada Hwa Ji Swat: "Enci Hwa, kalian sebetulnya sedang
main sandiwara apa?"
Hwa Ji Swat tidak bisa mengendalikan perasaan gelinya, ia
berkata sambil tertawa: "Adik Hee, biasanya kau sangat pintar sekali, mengapa
hari ini demikian goblok" Hai! Pantas bikin
sumoayku yang sifatnya tinggi hati dan galak tidak pandang
mata kepada siapapun juga, sejak melihatmu lantas terjatuh
dalam jaring sakti cinta!"
Hee Thian Siang yang sudah terlibat oleh jalinan asmara,
sehingga pikirannya menjadi butek, setelah berada di ruangan
Tiauw-in-hong lantas menanyakan keterangan lebih jauh
kepada Hwa Ji Swat. Hwa Ji Swat unjukkan senyum misteri kepadanya,
kemudian bertanya: "Adik Hee, jawablah terus-terang, apakah
kau masih ada mempunyai sahabat wanita nona Hok yang
bergaul sangat erat denganmu?"
Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, jawabnya:
"Siaopek monyet usil itu terlalu curiga, pada nona Hok Siu Im itu adalah seorang
gadis yang masih putih bersih dan masih
kekanak-kanakan. ." Tidak menantikan habis ucapan Hee Thian Siang, Hwa Ji
Swat sudah berkata: "Kau kata Hok Siu Im itu seorang yang masih kekanak-
kanakan sifatnya! Akan tetapi, penilaian Enci Tiong-sun mu
terhadapnya tidak demikian, menurutnya, Hok Siu Im itu
seorang gadis yang memang benar bersih dan patut
dikasihani keadaannya."
Mendengar ucapan demikian, sepasang alis Hee Thian
Siang dikerutkan, sedangkan Hwa Ji Swat yang menyaksikan
keadaan demikian tidak tega mengganggu lagi, maka lantas


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berkata sambil tersenyum: "Enci Tiong-sun mu berkata
seorang gadis seperti Hok Siu Im itu, bukan saja kau bisa
jatuh cinta kepadanya, sedangkan Enci Tiong-sun mu sendiri,
juga merasa senang kepadanya! Apalagi diantara dua gadis
itu perkenalanmu dengan Hok Siu Im lebih dahulu daripada
Hui Kheng sumoayku. .!"
Hee Thian Siang tahu bahwa kata-kata Tin-sun Hui itu,
yang dimaksud ialah pertemuan di gunung Tay-piat-san ketika
ia bersama Hok siu Im mencari benda pusaka, maka ia
hendak memberikan keterangan, tetapi sebelum ia membuka
mulutnya, Hwa Ji Swat sudah berkata lagi sambil tertawa:
"Oleh karena itu Si Siaopek dan Taywong meskipun merasa
cemburu terhadap kau, karena membela majikannya, tetapi
Hui Kheng-Sumoay ku terhadap hubunganmu dengan Hok Siu
Im yang demikian mesra sedikitpun tidak ambil perhatian. Ia
hanya ingin mencari kesempatan untuk mencoba kau
bagaimana perasaanmu terhadapnya, sungguh ada hati atau
tidak". . ." "Hee Thian Siang terhadap Enci Tiong-sun sesungguhnya
dengan hati tulus dan aku berani bersumpah terhadap langit
dan bumi!" Hwa Ji Swat berkata sambil menggoyangkan tangannya
dan tertawa: "Tidak usah, tidak usah, perbuatanmu tadi yang
hendak menghabiskan jiwa lompat dari puncak gunung,
bukankah sudah merupakan suatu bukti yang lebih nyata
daripada sumpah kosong" Siaopek si monyet nakal itu tadi
sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan ia kini
sudah kabur untuk melaporkan kepada Hui Kheng sumoayku.
Untuk selanjutnya kalian tiga orang yang merupakan cinta
segi-tiga ini tidak akan mengalami kesulitan apa-apa lagi!"
Setelah mendengar keterangan itu, hati Hee Thian Siang
baru merasa lega, disamping itu ia juga lantas menyadari apa
yang dikatakan oleh Hwa Ji Swat dalam pesannya tadi. Maka
dengan muka berseri-seri ia berkata kepada Hwa Ji Swat:
"Tadi aku tidak membohongimu, Hui Kheng sumoay sekarang
sedang membawa perintah ayahnya dengan menunggang
kudanya pergi mencari seseorang, bukankah itu tidak
menentu jejaknya?" Hee Thian Siang mendengar itu baru saja wajahnya
tampak girang, kini diliputi lagi oleh kesedihan, Hwa Ji Swat
berkata pula sambil tertawa: "Adik Hee, bagaimana kau
demikian bodoh" Sekarang ini meskipun kau tidak dapat
menemukan Hui Kheng Sumoayku, selambat-lambatnya pada
nanti hari pembukaan berdirinya partai baru Ceng-thiam-pay
bukankah pasti akan bertemu lagi" Saat itu aku bersama
kekasihku padri ini juga akan turut datang untuk menonton
keramaian!" Sehabis berkata demikian ia miringkan kepala dan
tersenyum kepada kekasihnya.
"Enci Hwa, benarkah kau juga hendak pulang ke goa
Siang-swat-tong digunung Kie-lian-san?"
Hwa Ji Swat berkata sambil menunjuk ke pada It-pun Sin-
ceng: "Semula, aku lantaran kekasihku ini, tiap hari aku
memikirkannya sehingga pikiranku menjadi kusut, maka
perbuatanku juga kadang-kadang melewati batas dan
melanggar hati nuraniku sendiri, sehingga membuat Lie-tim-cu
dari Bu-tong-pay dan Lok Kiu Siang dari Siao-lim-pay, kedua-
duanya menghabiskan jiwanya di sungai Thian-kang karena
merasa malu. It-pun Sin-ceng yang mendengar sampai di situ, lalu
memuji nama Budha dan berkata sambil tertawa getir:
"Demikian juga dengan aku, lantaran hendak meringankan
dosamu itu, maka setiap pagi dan petang hari, aku pergi ke
tepi sungai, untuk membacakan doa guna arwah Lie-tim-cu
dan Lok Kiu Siang. Hwa Ji Swat melirik It-pun Sin-ceng sejenak, lalu berkata
sambil tertawa: "Kalian orang-orang dari kalangan Budha
selalu mengutamakan soal sebab dan akibat. Akibat dari
perbuatanku itu, merupakan dosa yang aku harus pikul
sendiri, tapi sebabnya adalah atas perbuatanmu. Sebab
jikalau bukannya kau yang dahulu mengingkari janji tidak
datang kemari, dengan cara bagaimana aku bisa berlaku
demikian?" It-pun Sin-ceng yang mendengar ucapan itu hanya
unjukkan senyumnya yang getir dan merangkapkan kedua
tangannya di dadanya, sedang mulutnya tak henti-hentinya
menyebut nama Budha. Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan mereka
demikian, diam-diam juga merasa lucu, sementara itu Hwa Ji
Swat sudah berkata lagi padanya: "Oleh karena itu, maka
dalam hatiku terhadap partai Bu-tong dan Siao-liem selama itu
masih merasa menyesal, pada waktu pembukaan partai baru
Ceng-thian-pay itu pertengkaran bahkan mungkin meningkat
menjadi pertumpahan dara dari orang-orang rimba persilatan,
rasanya tak dapat dielakkan lagi. Aku sudah mengambil
keputusan bersama kekasihku padri ini, keduanya akan ikut
menghadiri upacara berdirinya partai baru itu apabila orang
dari golongan Siao-lim dan Bu-tong dalam bahaya dan jiwa
mereka terancam, segera berusaha memberi pertolongan
sekadar untuk menebus dosaku!"
Hee Thian Siang mendengar Hwa Ji Swat menyebut nama
partai Bu-tong-pay, segera teringat pada dirinya sendiri yang
masih memikul tugas berat, karena Tiong-sun Hui Kheng
seorang ini sudah dicari jejaknya, maka ia seharusnya lekas
pergi ke Bu-tong-san setelah itu kembali ke Pak-bin untuk
mengabarkan kepada ketua Bu-tong-pay Hong Hwat Cinjin
dan kepada suhunya Pak-bin Sinpo Hong-po Cinjin untuk
melaporkan bahwa pertemuan kedua digunung Oey-san akan
dibatalkan. Sebaliknya waktu itu akan digunakan oleh partai
Kie-lian dan Tiam-cong yang sudah menggabungkan diri
menjadi partai baru Ceng-thian-pay, untuk mengundang
semua tokoh rimba persilatan, menghadiri pertemuan besar
itu. Disamping itu ia juga akan memberitahukan tentang
munculnya dua orang tua berambut panjang yang aneh itu!
Berpikir sampai di situ, Hee Thian Siang lalu minta diri
kepada It-pun Sin-ceng dan Hwa Ji Swat.
Hwa Ji Swat mengantarkan sambil tersenyum, satu sama
lain menetapkan perjanjian untuk bertemu lagi dilain waktu.
Hwa Ji Swat menyerahkan kembali dua benda lambang bunga
mawar batu giok dan jaring sutera warna merah kepada Hee
Thian Siang supaya dibawa dan digunakan diwaktu perlu. Hee
Thian Siang setelah meninggalkan gunung Bu-san, dengan
perjalanan air, ia menuju ke timur. Kalau dari kota She-leng ia
mendarat di pelabuhan Hie-kiang. Dengan menurut jalanan
yang dahulu dilalui terus menuju ke Barat untuk pergi ke
gunung Bu-tong-san. Perjalanan itu sama dengan perjalanan yang dilakukan
olehnya dahulu, tetapi Bo Bu Ju kini sudah tiada dan sudah
berubah menjadi patung didalam goa Siang-swat-tong,
sedangkan nelayan tua Lam-kiong Houw yang mengubah
namanya menjadi Kiong Lam juga tidak diketemukan lagi.
Sedangkan ia sendiri sejak mendapat petunjuk dari Bo Bu Ju
tentang diri tiga gadis, Hwa Siu Im, Liok Giok Ji dan Tiong-sun
Hui Kheng, selanjutnya lantas terlibat dalam jaring asmara
yang demikian ruwet! Sekarang sejak Tiong-sun Hui Kheng dan Hok Siu Im,
meskipun tidak banyak yang perlu dikhawatirkan, tapi dahulu
ia sendiri yang pergi ke gunung Bu-san untuk minta restu pada
Makam Bunga Mawar, dan orang yang dimaksudkan itu
merupakan pengkhianat dari partai Kun-lun-pay, gadis itu
bahkan sudah bersekongkol dengan orang tua berambut
panjang dan kawanan penjahat dari partai Kie-lian-pay!
Apabila ia melemparkan Liok Giok Ji begitu saja, agaknya
tidak pantas terhadap Duta Bunga Mawar yang telah
menolong kepadanya demikian besar. Apabila tidak
mewujudkan cita-citanya dahulu yang minta restu dari Makam
Bunga Mawar, maka Tiong-sun Hui Kheng dan Hok Siu Im,
pasti akan menganggap dirinya sebagai seorang pemuda
yang serakah, dan gemar pipi licin dan pasti pula akan
membawa akibat tidak karuan!
Semakin berpikir semakin kusut pikirannya, ia tidak dapat
memikirkan suatu jalan yang baik untuk memecahkan
persoalan itu. Ketika ia tiba di gunung Bu-tong-san dalam
keadaan kusut, barulah ia disadarkan oleh suara memuji
Budha yang demikian nyaring.
Suara pujian Budha itu ialah keluar dari mulut seorang
imam tua yang tangannya membawa kebutan.
Hee Thian Siang lalu maju menghampiri sambil memberi
hormat ia bertanya: "Bagaimana sebutan totiang yang mulia?"
"Pinto It-tim, Siapakah nama siau-sicu" Pesiar ke gunung
Bu-tong, ataukah ada urusan hingga perlu ke kuil Sam-gwan-
kwan?" bertanya imam tua itu sambil tertawa.
Hee Thian Siang mendengar nama sebutan imam tua itu
adalah It-tim, ia tahu bahwa imam tua itu merupakan orang
pertama dalam barisan tujuh pahlawan, kemudian ia memberi
hormat dan berkata sambil: "O, kiranya totiang adalah It-tim
locianpwe salah seorang dari tujuh pahlawan Bu-tong-pay,
Aku yang rendah ini adalah Hee Thian Siang, suhuku adalah
Pak-bin Hong-poh Sinpo, kedatanganku kali ini ada urusan
penting untuk menjumpai ketua Bu-tong-pay sendiri!"
It-tim yang mendengar Hee Thian Siang adalah murid dari
Hong-poh Cui, bahkan ada urusan penting dengan Hong-gwat
Cinjin, maka lantas berkata sambil menganggukkan kepala:
"Harap Hee laote ikut aku mendaki gunung, ketua pinto
sedang berada dalam kuil Sam-gwan-kwan!"
Hee Thian Siang menerima baik, ia mengikuti It-tim
mendaki gunung Bu-tong, disamping itu diam-diam ia berpikir,
jikalau bisa menggunakan kesempatan itu aku bisa
menyingkirkan ganjalan antara Hwa Ji Swat partai Bu-tong,
alangkah baiknya! Begitu masuk kekuil Sam-gwan-kwan dan menemui ketua
Bu-tong-pay Hong-hwat Cinjin, Hong Hwat Cinjin lantas
mempersilahkan ia duduk dan bertanya kepadanya: "Apakah
Suhumu Hong-poh Sinpo ada baik" Hee laote datang kemari,
entah ada keperluan apa?"
"Suhu berkat kasih Tuhan, selama ini baik-baik saja, tetapi
Hee Thian Siang bukanlah diperintahkan oleh suhu melainkan
mendapat perintah dari Tian-gwa Ceng-mo Tiong-sun
Locianpwe khusus datang kemari untuk menjumpai
Ciangbunjin, ada urusan penting yang hendak disampaikan!"
Menjawab Hee Thian Siang sambil memberi hormat.
Hong-hwat Cincin mendengar keterangan Hee Thian Siang
bahwa kedatangannya kemari adalah atas perintah Tiong-sun
Seng, sesungguhnya di luar dugaannya, maka segera
bertanya sambil mengerutkan alisnya: "Tiong-sun Seng
dengan golongan kita Bu-tong-pay masih ada sedikit ganjalan
hati, ada urusan apa ia perintahkan laote datang kemari?"
Hee Thian Siang lalu menceritakan hal ikhwal partai Kie-
lian dan Tiam-cong yang sudah bersekongkol hendak
mendirikan partai baru dan mengacau dengan menggunakan
duri berbisa untuk memfitnah partai Kun-lun-pay dan supaya
timbul huru-hara diantara orang-orang rimba persilatan sendiri,
dengan demikian supaya kekurangan musuh kuat dan bisa
mencapai tujuannya untuk menjagoi rimba persilatan.
Kini karena rencana itu bocor, maka telah mengambil
keputusan hendak mendirikan partai yang baru itu pada
tanggal enam belas bulan dua tahun depan, dan kedua orang
tua berambut panjang yang berkepandaian tinggi menunjang
di belakang layar, oleh karenanya mereka telah menolak
menghadiri pertemuan kedua di gunung Oey-san, serta
memutuskan pada nanti tanggal enam belas bulan dua tahun
depan, akan mengundang semua tokoh rimba persilatan untuk
datang ke goa Siang-swat-tong, menghadiri berdirinya partai
Ceng-thian-pay. Dalam kesempatan itu juga digunakan untuk
membereskan semua perselisihan dan permusuhan antara
orang-orang rimba persilatan.
Selain daripada itu, ia juga memberitahukan bagaimana
ketua Kun-lun-pay, Tie-hui-cu dan sutenya Siau Tek sudah
terbinasa oleh dua orang tua aneh itu, semua rahasia itu
terbuka semata-mata atas kecerdikan putrinya Thian-gwa
Ceng-mo Tiong-sun Seng dan ayahnya!
Hong-hwat Cinjin bersama tokoh-tokoh Bu-tong ketika
mendengar keterangan itu baru tersadar dari mimpinya. It-tiem
sementara itu telah memuji nama Budha dan kemudian
berkata "Suteku Lie-tim, pernah dengar secara tidak langsung
terdesak oleh murid Tiong-sun Seng Hwa Ji Swat, sehingga
menghabiskan jiwanya di sungai Tiang-kang, tidak disangka-
sangka bahwa Thiang-gwa Ceng-mo itu masih ada perhatian
besar terhadap partai Bu-tong!"
Hee Thian Siang menggunakan kesempatan itu berkata:
"Boanpwe kali ini dalam perjalanan kemari pernah mampir di
gunung Bu-san, telah mendengarkan sendiri dari Hwa Ji Swat,
dalam peristiwa ini ia menyatakan menyesal, dengan
kekasihnya yang baru saja bertemu lagi ialah It-pun Sin-ceng,
setiap hari pagi dan petang membacakan doa dari kitab suci di
tepi sungai untuk arwah Lie-tim-cu siang dan Lok Kiu Siang.
Bahkan Hwa Siancu dan It-pun Sinceng pernah menyatakan
di kemudian hari segala urusan yang menyangkut pada orang-
orang Bu-tong dan Siao-lim, apabila diketahui oleh mereka,
pasti akan memberi bantuan tenaga sepenuhnya!"
Hong-hwat Cinjin setelah mendengar keterangan itu lalu
berkata kepada It-tiem sambil tersenyum: "Menurut keterangan Hee laote ini, persengketaan mengenai diri Lie-
tiem sute agaknya tidak perlu diungkap lagi."
It-tiem kembali memuji nama Budha dan berkata: "Asal saja
perbuatan Hwa Ji Swat dulu itu dilakukan dengan tidak
sengaja dan setelah terjadinya itu demikian menyesal, sudah
tentu permusuhan itu lebih baik diselesaikan daripada
diperdalam, apalagi kita masing-masing sekarang kembali
harus menghadapi musuh bersama, maka peristiwa itu baik
juga jangan diungkap lagi, tetapi Hee laote tadi pernah
mengatakan tentang orang yang di belakang layar yang
menunjang partai Kie-lian dan Tiam-cong, katanya
kepandaiannya sangat tinggi sekali sehingga seorang ketua
seperti Khie Tay Cao, Thiat-kwan Totiang semua rela
diperintah oleh dua orang berbaju kuning itu, entah dari
manakah asal-usul orang itu" Apakah Ciangbun Cincin dapat
menduganya?"

Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mendengar pertanyaan itu Hong-hwat Cinjin berpikir keras,
sedangkan Hee Thian Siang diam-diam sesalkan dirinya
sendiri, mengapa selama ini pikirannya selalu terganggu oleh
asmara" Hwa Ji Swat dan It-pun Sin-ceng jelas mengetahui
urusan itu, mengapa waktu itu tidak menanyakan kepada
mereka" Sekarang karena urusan ini semua sudah
diberitahukan kepada ketua Bu-tong-pay, maka ia sendiri
seharusnya lekas kembali ke Pak-bin untuk memberitahukan
kepada gurunya, selanjutnya baru melakukan perjalanan lagi
di dunia kang-ouw, supaya lekas ketemu lagi dengan Tiong-
sun Hui Kheng, Hok Siu Im dan lain-lainnya.
Begitu ingat kepada dua gadis itu, Hee Thian Siang kembali
dipenuhi oleh rasa rindunya, maka ia lantas bangkit dan minta
diri kepada Hong-hwat Cinjin.
"Hee laote tampak tergesa-gesa, apakah masih hendak
memberitahukan kepada partai-partai Siao-lim, Lo-hu?"
Bertanya Hong-hwat Cinjin sambil tertawa: "Tentang partai
Siao-lim, Lo-hu dan lain-lainnya sudah ada orang lain yang
pergi untuk memberitahukan, Hee Thian Siang dengan
membawa perintah Tiong-sun locianpwe, kini hendak pulang
ke Pak-bin untuk mengabarkan kepada suhu, supaya suhu
bisa menghadiri dan dapat menghadapi dua orang berambut
panjang dan berbaju kuning yang tidak diketahui nama serta
asal usulnya itu." Menjawab Hee Thian Siang sambil
menggelengkan kepala. "Nama besar dan kepandaian ilmu Hong-poh-po, memang
benar sudah cukup untuk menggentarkan nyali kawanan
penjahat, Hee laote meskipun susah payah harus melakukan
perjalanan jauh, tetapi itu sebaliknya merupakan suatu
tindakan untuk menyelamatkan nasib rimba persilatan, jasamu
ini sesungguhnya tidak kecil!" Berkata Hong-swat Cinjin sambil menganggukkan
kepala. Sehabis mengucapkan demikian, ia bangkit untuk
mengantarkan tamunya keluar.
Hee Thian Siang setelah turun dari puncak gunung Butong
selagi hendak menuju ke Timur dengan mengambil jalan
melalui propinsi Swatang dan pulang ke Pak-bin, diluar
dugaannya kembali sudah menemukan kejadian, ketika ia
berjalan di suatu lembah yang terapit oleh tebing tinggi, tiba-
tiba ada hembusan angin gunung yang sangat keras,
timbulnya angin itu dibarengi oleh suara nyanyian samar-
samar, nyanyian itu dinyanyikan oleh orang, entah dimana
berada. Ia tertarik oleh suara itu, karena apa yang dinyanyikan
olehnya, justru empat baris syair yang ditinggalkan oleh Duta
Bunga Mawar, maka ketika ia mendengar suara nyanyian itu,
buru-buru mencarinya dengan mengikuti dari mana arah suara
nyanyian itu. Ia ingin tahu siapa gerangan yang menyanyikan
syair tersebut. Setelah mengitari sebuah tebing tinggi, kini ia telah
mendengar dengan nyata bahwa suara yang datang dari atas
tebing tinggi terpisah kira-kira sepuluh tombak tingginya dari
permukaan tanah, disitu tampak sebuah lobang goa, tetapi
karena tempat itu tinggi dan licin, sedikitpun tidak ada tempat
untuk berpijak kaki dan Hee Thian siang juga tahu sendiri,
bahwa kepandaiannya sendiri hanya dapat mencapai setinggi
lima tombak, maka menyaksikan keadaan itu diam-diam
merasa heran. Ia heran, dengan cara bagaimana orang itu
bisa masuk ke dalam goa yang setinggi itu"
Selagi ia berada dalam keadaan terheran-heran dari dalam
goa itu kembali terdengar suara nyanyian yang serupa.
Mendengar suara itu, Hee Thian Siang sudah mengetahui
siapa orangnya yang berada didalam goa tersebut. Ia lalu
mendongakkan kepala dan berkata dengan suara nyaring:
"Duta Bunga Mawar locianpwe, locianpwe seolah-olah selalu
membayangi diriku, tetapi mengapa kau selalu berlaku
demikian misterius" apa tidak suka bertemu muka denganku?"
Dari dalam goa itu terdengar suara Duta Bunga Mawar
yang lemah-lembut, katanya sambil tertawa: "Untuk mempertahankan kewibawaan, kemantapan, prestasi dan
nama baik Makam Bunga Mawar, tiada satu saat aku tidak
memeras otak untuk memikirkan urusanmu. Tetapi menurut
apa yang kuketahui pada belakangan ini, sebuah cintamu,
sebaliknya sudah kau berikan kepada Tiong Sun Hui Kheng
dan Hok Siu Im, kau sedikitpun tidak menghargai dan
mengingat permohonanmu sendiri di hadapan bunga mawar!"
Hee Thian Siang berkata sambil tertawa getir: "Locianpwe,
bukannya aku tidak menjunjung Makam Bunga Mawar, aku
hanya merasa bingung, bagaimana harus berbuat!"
Aku hendak mewujudkan restunya Makam Bunga Mawar,
sudah tentu aku akan memberi petunjuk bagimu!" Berkata
Duta Bunga Mawar sambil tertawa.
"Tentang petunjuk locianpwe, sebaiknya yang jelas sedikit,
supaya aku jangan selalu memikirkan teka-teki yang
locianpwe berikan!" "Petunjuk kali ini yang hendak kuberikan sangat mudah dan
jelas, itu adalah kuminta kau segera balik melakukan
perjalanan ke Barat daya lagi, dari propinsi Su-cwan kau
masuk ke bu-sia, di perbatasan Kam-siok dan Siu-kang disana
boleh pesiar sesukamu!"
"Aku sekarang sedang melakukan perjalanan ke Pak-bin
menjumpai suhu. ." Tidak menanti selesai ucapan Hee Thian Siang, Duta
Bunga Mawar memotong dan berkata sambil tertawa: "Untuk
apa kau kembali ke Pak-bin" Suhu mu sekarang tidak berada
di gunung Pak-bin!" "Locianpwe, bagaimana locianpwe tahu bahwa suhu tidak
berada di gunung Pak-bin?" Bertanya Hee Thian Siang heran.
"Pada waktu aku mengantar jenazah Duta Bunga Mawar
nomor satu dan nomor dua, pulang ke daerah barat, suhumu
juga berada di sana, waktu itu kita bahkan pernah berbicara
panjang, hampir sehari lamanya!" Berkata Duta Bunga Mawar
sambil menghela nafas. "Mengenai perbuatan ku yang diam-diam turun dari gunung
Pak-bin dan terjun ke dunia Kang-ouw, suhu ada berkata apa"
Apakah suhu ada menyesali perbuatanku itu?"
"Hong Poh Sinpo tiada ada kata-kata yang menyatakan
amarah terhadap perbuatanmu itu, ia hanya mengatakan
bahwa kau sebetulnya anak yang berbakat baik, tetapi adatmu
agak sombong sedikit dan binal, ia memintaku supaya
menolongnya untuk menilik keadaanmu!"
Hati Hee Thian Siang merasa lega ketika mendengar
suhunya tidak marah terhadap perbuatannya yang
meninggalkannya dengan diam-diam. Ia bertanya lagi kepada
Duta Bunga Mawar: "Menurut keterangan locianpwe ini,
tentunya locianpwe sudah lama kenal dengan suhu?"
"Bukan kenal begitu saja, kita sudah ada hubungan selama
tiga empat puluh tahun, dahulu sebetulnya kita juga sudah
pernah bertarung beberapa kali kita melakukan pertandingan
dengan pedang!" "Dan siapakah yang merebut kemenangan?"
"Siapapun tidak ada yang menang, ketika ia melakukan
pertandingan dan mengikat tali persahabatan!"
Hee Thian Siang dengan tiba-tiba teringat sesuatu lalu
bertanya sambil tersenyum: "Locianpwe, aku sebetulnya
masih melakukan satu pelanggaran besar, tidak seharusnya
kalau suhu tidak marah terhadap perbuatanku itu!". "O, kau melakukan pelanggaran
apa?" "Sewaktu aku hendak meninggalkan gunung Pak-bin, diam-
diam pernah mencuri sebutir bom yang cukup untuk
menggempur sebuah bukit!"
Duta Bunga Mawar yang mendengar ucapan itu dengan di
luar dugaan Hee Thian Siang telah tertawa terbahak-bahak.
Reaksi Duta Bunga Mawar itu telah menimbulkan kecurigaan
Hee Thian Siang, maka segera bertanya: "Locianpwe,
mengapa kau malah tertawa?"
"Kalau bukan kau yang menyebutkan soal itu, aku malah
lupa untuk menyampaikan pesan suhumu kepadamu!"
"Suhu minta locianpwe menyampaikan pesan apa
kepadaku?" "Suhumu minta aku supaya lekas kau buang bom Kian-
thian-pek-lek yang sedikitpun tidak ada gunanya itu, supaya
kau jangan sampai menggunakan sebagai barang andalan,
sebab salah-salah bisa membahayakan dirimu sendiri!"
"Apakah bom yang ku curi itu bukan barang baik?"
"Barang pusaka yang membuat bencana besar itu, dengan
cara bagaimana gurumu membiarkan kau curi begitu saja"
Sekarang benda yang kau bawa-bawa dan simpan baik-baik
itu hanya merupakan batu dari gunung Pak-bin saja!"
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu dari dalam
sakunya mengeluarkan bom Khian-tian-pek-lek yang pernah
membantu ia meloloskan diri dari berbagai bahaya, benda itu
diletakkan di atas tangannya dan diperiksanya dengan
seksama. Dari sikapnya menunjukkan belum mau percaya
akan ucapan Duta Bunga Mawar.
Duta Bunga Mawar berkata sambil tertawa: "Jika kau tidak
percaya, coba kau lemparkan didalam goa dimana aku sendiri
berada!" Selagi Hee Thian Siang hendak menyambitkan bom
ditangan, tetapi tiba-tiba berpikir, dengan cara demikian
sesungguhnya terlalu gegabah, apabila bom itu benar-benar
meledak, bukankah akan mengorbankan Duta Bunga Mawar
yang demikian baik dan sungguh-sungguh membantu dirinya"
Oleh karena keragu-raguan itu, maka bom itu dilemparkan
ke suatu tempat sejauh tiga tombak dari tempatnya sendiri.
Ketika benda itu menyentuh dinding tebing, hati Hee Thian
Siang berdebaran, ia khawatir ledakkan itu akan membawa
bencana hebat, tetapi ketiga benda itu begitu menyentuh
tebing hanya perdengarkan suara agak keras, kemudian jatuh
mental dan menggelinding ke dalam jurang, sedikitpun tidak
meledak, benar seperti apa yang dikatakan oleh Duta Bunga
Mawar, hanya merupakan sebuah batu dari gunung Pak-bin
yang agak berat sedikit dari batu biasa.
Duta Bunga Mawar lalu berkata sambil tertawa terbahak-
bahak: "Hee laote, kau jangan kesal, barangkali dengan
menggunakan batu itu kau sudah berhasil menggertak
beberapa orang kuat rimba persilatan yang kau tidak sanggup
hadapi!" Wajah Hee Thian Siang menjadi merah dan berkata
kepada Duta Bunga Mawar yang berada dalam goa:
"Locianpwe, meskipun suhu tidak berada di gunung Pak-bin,
tetapi aku masih perlu mencarinya. Jikalau tidak, bagaimana
suhu nanti bisa datang ke goa Siang-swat-tong di gunung Kie-
lian-swat pada waktunya, untuk menghadiri berdirinya partai
baru Ceng-thian-pay."
"Lakukan saja seperti apa yang kukatakan dengan hati
lega, kau boleh pesiar sepuas-puasnya, namun suhumu pasti
bisa turut menghadiri acara pembukaan partai baru itu di
gunung Kie-lian!" "Apabila suhu terlambat mendapat kabar, sehingga tak
keburu pergi ke gunung Ki-lian dan orang tua berbaju kuning
berambut panjang itu tiada seorangpun yang sanggup
menghadapinya tentu akan membuat bencana hebat,
bukan. ." "Hee laote, kau jangan khawatir. Tentang suhumu biarlah
aku yang bertanggung-jawab
untuk memberitahukan kepadanya. Apabila ada kelainan saat itu biarlah aku yang
turun-tangan sendiri menghadapi orang berambut panjang dan
berbaju kuning itu!"
Mendengar Duta Bunga Mawar berkata demikian, sudah
tentu Hee Thian Siang merasa lega, ia bertanya pula:
"Locianpwe, bolehkah locianpwe beritahukan nama dan asal-
usul dua orang tua itu?"
"Meskipun aku tahu siapa adanya mereka, tetapi tak perlu
kujelaskan di sini, biarlah kau sendiri nanti berusaha untuk
mencari keterangan, ini rasanya lebih baik!"
Mendengar Duta Bunga Mawar tidak mau memberitahukan
nama dan asal-usul dua orang tua berbaju kuning itu, Hee
Thian Siang agak heran, sementara itu Duta Bunga Mawar
sudah berkata pula: "Tugasku untuk memberi petunjuk
kepadamu telah selesai, aku masih ada urusan hendak pergi
lebih dahulu, berusahalah sendiri menurut apa yang kuberi
petunjuk kepadamu, aku jamin kau nanti akan berhasil
menyampaikan tujuanmu!"
Sehabis berkata demikian terdengar pula suara
nyanyiannya tadi, tetapi suara itu semakin lama semakin jauh,
tatkala suara terakhir itu terdengar, sudah hampir tak
kedengaran lagi. Duta Bunga Mawar yang sangat misteri
tindak-tanduknya itu sudah menghilang seolah-olah ditelan ke
dalam perut gunung. Hee Thian Siang semula meskipun merasa heran, tetapi
setelah dipikir lagi juga segera mengerti, ia tahu bahwa
didalam goa itu pasti ada jalan keluar yang lain, tetapi entah
menuju kemana. Karena Duta Bunga Mawar sudah berlalu, sudah tentu Hee
Thian Siang terpaksa bertindak menurut seperti apa yang
diberi petunjuk olehnya, ia balik kembali menuju ke propinsi
su-cwan, tetapi ia tidak berjalan melalui selat bu-hiat lagi,
sebaliknya mengambil jalan ke gunung Bu-san menuju ke
Barat. Ketika tiba di sebuah desa kecil, dan hendak
menangsal perutnya, kembali berjumpa dengan seorang gaib
di luar dugaannya. Rumah makan dimana ia singgah itu membelakangi
gunung dan menghadapi sungai, keadaan disitu memang
sangat indah, araknya dirumah makan itu juga cukup harum,
Hee Thian Siang yang duduk minum seorang diri di pinggir
jendela, selagi tujukan matanya ke tempat yang jauh, di
belakangnya tiba-tiba terdengar suara helaan nafas panjang,
dan meletakkan cawan araknya demikian keras di atas meja.
Hee THian Siang terkejut dan menoleh, tampak di belakang
sebuah tiang di sebelah Timur, sang tamu berbaju panjang
warna kuning, bentuk pakaian dan warnanya itu tidak asing
baginya. Selagi otaknya berpikir-pikir, tetamu berbaju kuning
itu sambil memanggil pelayan rumah makan ia kembali
menghela napasnya panjang-pendek, seolah-olah sedang
dirundung kedukaan.

Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ketika tamu itu menoleh memanggil pelayan, Hee Thian
Siang segera melihat jambangnya, hingga saat itu menjadi
terkejut. Dalam hati segera berpikir: Apakah tamu itu bukan
Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong yang pernah kujumpai
dirumah makan di kota Gi-ciang"
Oleh karena Hee Thian Siang dan Oe-tie Khao tidak
menduga, orang yang hendak ditemui oleh orang tua
berambut panjang berbaju kuning didalam gua Siang-swat-
tong itu, adalah Hong-tim Ong-khek ini, maka diam-diam
merasa sayang atas tindakan Thian-gwa Ceng-mo Tiong-sun
Seng dan Tiong-sun Hui Kheng yang sedang mencari-cari di
segala pelosok, tak diduga-duga orang yang dicari itu berada
didalam rumah makan di desa yang sunyi, dan secara tidak
disengaja telah ditemukan olehnya.
Ia buru-buru bangkit menghampiri dan berkata sambil
memberi hormat kepadanya: "Hee Thian Siang sungguh tak
menduga, ditempat ini berjumpa dengan May locianpwe!"
May Ceng Ong mungkin karena terlalu banyak minum,
tampaknya sudah agak mabok, ia mengamat-amati sebentar,
barulah berkata sambil tertawa: "Apakah kau adalah Hee laote
yang pernah berjumpa denganku dirumah makan kota Gi-
ciang dan kemudian di puncak gunung Keng-bun san, untuk
membebaskan Bo Bu Ju dalam kesulitan" Aku masih ingat,
aku pernah memberi sebuah kipas padamu!"
Hee Thian Siang menampak sikap orang aneh itu sewaktu
bicara dengannya seperti sedang diliputi oleh kedukaan, maka
ia sengaja mencoba menjajaki pikirannya, katanya: "Dunia
Kang-ouw telah terjadi banyak perubahan, segala kejadian
didalam dunia ini tidak menentu, kipas yang locianpwe
hadiahkan kepada Hee Thian Siang, kini telah terjatuh
ditangan orang Kun-lun-pay, sementara itu, pendekar
pemabokan Bo Bu Ju locianpwe itu kini sudah berubah
menjadi setan penasaran didalam goa Siang-swat-tong di
gunung Kie-lian-san."
Beberapa patah kata Hee Thian Siang itu saja telah
membawa hasil, May Ceng ong yang mendengarkan itu
maboknya mendadak hilang setengah, ia memandang Hee
Thian Siang demikian rupa, kemudian berkata: "Hee laote,
ucapanmu ini darimana asalnya" coba kita duduk lagi untuk
bicara lebih jelas!"
Hee Thian Siang mengucapkan terima-kasih, kembali
duduk bersamanya. Ia mulai menceritakan pengalamannya
dan apa yang disaksikan dan dengar selama dua kali
mengadakan penyelidikan di gunung Kie-lian.
May Ceng Ong yang mendengarkan dengan lama, saat itu
tampak melengak, lalu berkata kepada diri sendiri: Pantas. .
Pantas. ." Ucapan yang diulang dua kali itu dalam hati Hee
Thian Siang benar-benar merasa agak aneh. Ia menatap
wajah May Ceng Ong, kemudian dengan terheran-heran
berkata: "May locianpwe, apakah maksud ucapan lantas tadi?"
May Ceng Ong setengah menjawab pertanyaan Hee Thian
Siang, setengah seolah-olah diucapkan kepada dirinya sendiri:
"Pantas saja Siang Biau Jan dengan membawa dua tiga murid
Kun-lun hendak melakukan tindakan tidak baik terhadap Liok
Giok Ji!" dengan mengerutkan alisnya, Hee Thian Siang
menanya: "Locianpwe, orang yang dicari oleh dua orang aneh
berambut panjang berbaju kuning didalam goa Siang-swat-
tong itu, betulkah May cianpwe sendiri?"
May Ceng ong mendongakkan kepala mengawasi awan di
langit, wajahnya menunjukkan sikap sangat murung, seolah-
olah sedang mengenangkan kejadian dimasa yang lampau.
Atas pertanyaan Hee Thian Siang tadi, ia menjawab
sekenanya: "Ya, aku! Itulah aku sendiri. ."
Hee Thian Siang bertanya pula: "Locianpwe, dua orang tua
itu, kalau benar sedang mencari locianpwe, maka sebab-
sebab permusuhan apa antara locianpwe dengan mereka,
bolehkah kiranya locianpwe beritahukan kepadaku?"
Kali ini May Ceng Ong tidak menjawab pertanyaan Hee
Thian Siang, ia hanya menuang arak dan dipegang didalam
tangannya, lalu berkata kepadanya: "Hee laote, kau dan aku
sudah dua kali bertemu muka, kedua-dua kalinya ini secara
kebetulan selalu bertemu dirumah makan, boleh dikata jodoh
dalam arak kita memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan.
Sukakah mengawani aku minum lagi beberapa cawan arak"
Supaya dapat melenyapkan kesusahan dalam hatiku?"
Arak putih sifatnya paling keras, Hee Thian Siang waktu itu
juga sudah mulai agak mabok, mendengar ucapan itu, lalu
berkata sambil tersenyum: "Kalau May locianpwe hendak
menggunakan arak untuk menghilangkan kesedihan dalam
hati dengan cara bagaimana Hee Thian Siang berani
menolak" Tetapi Cheng Liam Kie-siu dalam syairnya pernah
berkata: "Mengangkat arak untuk menghilangkan kesedihan,
tetapi kesedihan semakin memuncak. ."
May Ceng Ong mengerutkan alisnya, kembali menuangkan
arak ke dalam cawannya, katanya sambil tertawa terbahak-
bahak: "Ceng Lian Kie-su adalah seorang penggemar arak
yang terbesar, juga merupakan seorang pengemis yang paling
besar. Sudah tentu apa yang diucapkan itu adalah terhadap
orang yang seperti dia. Tetapi hanya secawan arak ditangan,
kalau mau dikata kesedihan bertambah kesedihan, apa
salahnya?" Berkata sampai di situ, Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong,
ternyata tidak sanggup kendalikan perasaan hatinya, tanpa
disadari olehnya, dari sela-sela matanya mengeluarkan
tetesan butiran airmata! Kalau diwaktu biasa Hee Thian Siang
apabila menampak sikap May Ceng Ong demikian pasti akan
merasa heran, tetapi sekarang oleh karena ia dalam keadaan
setengah sinting karena mabok arak, orang yang sedang
mabok akan mengucapkan isi hatinya, itu memang sudah
wajar, maka ia lalu berkata: "May locianpwe, keadaan kita ada berlainan, begitu
pula perasaan masing-masing juga berbeda-beda, kalau kau telah merubah syair Auw
Ceng Liam Kie-siu dengan dua kata-kata, maka aku akan mengembalikan ke
asalnya, baru merasa sesuai."
May Ceng Ong mengeringkan arak dalam cawannya, ia
kembali menuang lagi, juga menuang secawan untuk Hee
Thian Siang, setelah itu ia berkata: "Hee laote, kalau kau
mengatakan bahwa air-matamu itu adalah airmata rindu,
sedangkan air mataku adalah airmata kepedihan hati.
Airmata-airmata itu meskipun berbeda, tetapi semua merupakan airmata orang yang sama-sama dirundung
malang! Orang sedih ketemu dengan orang sedih tiada jalan
lain hanya menggunakan air kata-kata untuk menyirami
kesedihan kita. Mari, mari, minumlah lagi lima cawan!"
Dengan beruntun Hee Thian Siang meneguk lagi araknya
hingga lima cawan. Sudah mulai mabok benar-benar, dalam
keadaan mabok ia teringat pada diri Tiong-sun Hui Kheng,
sebentar lagi teringat kepada Hok Sui Im yang masih bersifat
kekanak-kanakan, kemudian ia teringat lagi kepada Liok Giok
Ji yang nakal dan memusingkan kepalanya sendiri. Teringat
akan itu semua, dalam hati merasa sedih sendiri, hingga tanpa
disadarinya olehnya, airmatanya mengalir turun!
Melihat Hee Thian Siang menangis, sebaliknya May Ceng
Ong tertawa terbahak-bahak, kemudian bertanya sambil
menunjuk airmata yang menetes di depan dada Hee Thian
Siang: "Hee laote, kau telah menangis. Mengapa menangis"
Bukankah kau sudah tahu, bahwa seorang gagah itu tidak
mudah mengucurkan airmata" Kau tidak seharusnya seperti
aku ini yang banyak kerisauan. Usiamu masih sangat muda
sekali. Ada kedukaan apa yang menimpa dirimu" . . Ai, hari
ini barangkali aku benar-benar terlalu banyak minum,
sehingga pikiranku sudah terlalu butek, tadi bukankah kau
pernah berkata bahwa air mataku dan air matamu itu
berlainan, airmata yang mengalir dalam mataku itu semata-
mata airmata kesedihan sedangkan airmata mu itu adalah
airmata kerinduan?" Berkata sampai di situ, kembali mengeringkan arak dalam
cawan masing-masing, setelah itu ia mengamat-amati Hee
Thian Siang, dengan airmata berlinang-linang ia berkata lagi:
"Hee laote, seorang muda seperti kau yang begitu gagah dan
tampan pula, dengan sendirinya menarik banyak perhatian
gadis-gadis, dan timbullah kisah-kisah yang sangat romantis,
semua itu merupakan bahan-bahan yang bisa melibatkan kau
dalam jaring asmara!"
Hee Thian Siang meletakkan cawannya di atas meja,
mulutnya mengeluarkan nyanyian dengan suara nyaring:
"Yang mudah mengalir hanya darah panas, yang susah
dibuang ialah penyakit rindu. ."
Suara itu segera dipotong oleh May Ceng Ong, katanya
sambil menggoyang-goyangkan kepala dan tertawa: "Tidak
benar, tidak benar! Airmata kedukaan susah dihapus, penyakit
rindu gampang diobati! Hee laote, kalau kau percaya
kepadaku May Ceng Ong, bolehkah kau jelaskan siapa yang
kau rindukan dan kesulitan apa yang sedang kau hadapi" May
Ceng Ong akan membantumu untuk menghilangkan penyakit
rindumu, dan sementara aku akan menahan kedukaan dalam
hatiku!" Hee Thian Siang waktu sudah mabok benar-benar, sambil
menatap wajah May Ceng Ong ia berkata sambil tertawa
terbahak-bahak: "May locianpwe, kau jangan berkata asal
berkata saja, sekalipun Duta Bunga Mawar yang memegang
kunci dari restu Bunga Mawar, belum tentu memiliki
kepandaian seperti itu!"
"Duta Bunga Mawar meskipun sudah bersumpah dan
bertekad hendak berusaha supaya semua kekasih yang ada
didalam dunia ini bisa terangkap jodoh, tetapi semua itu
tercapainya dengan sahat perlahan sekali. Sebaliknya dengan
cara yang kutempuh, aku akan dengan secara langsung untuk
menghadapi orang yang bersangkutan. Urusan dalam dunia
ini kadang-kadang tidak bisa dengan cara agresif terutama
terhadap wanita, kita perlu mengambil tindakan cepat dan
langsung, hal ini jauh lebih berhasil daripada bertindak lambat-
lambat seperti lakunya nenek-nenek! Hee laote,
beritahukanlah terus-terang, siapa nona yang kau rindukan
itu?" Dalam hati Hee Thian Siang, yang paling berat sudah tentu
adalah Tiong-sun hui Kheng, setelah itu ialah Hok Siu Im,
tetapi dua pendekar wanita itu justru semuanya jatuh cinta
kepadanya, dia tidak perlu khawatir berbalik pikiran, maka Hee
Thian Siang yang dalam keadaan mabok seperti itu, sudah
menyebutkan nama Liok Giok Ji, yang memang sedang
mengganggu pikirannya. May Ceng Ong sesungguhnya adalah seorang yang gemar
minum, ditambah lagi dengan kekuatan tenaga dalamnya
yang sangat sempurna, maka sekalipun sudah banyak minum
arak, tetapi rasa maboknya kalau dibandingkan dengan Hee
Thian Siang, ternyata masih jauh kurang. Ketika mulut Hee
Thian Siang menyebut nama Liok Giok Ji, saat itu ia terkejut,
dengan alis dikerutkan ia bertanya: "Hee laote, katamu bahwa
orang yang kau pikirkan itu adalah Liok Giok Ji" Betul tidak?"
Keadaan Hee Thian Siang pada waktu itu sudah mabok
benar-benar, maka ia lantas mengangguk-anggukkan kepala
dan menjawab dengan ucapannya yang tak lancar: "Mee. .
Me. . Mengapa tidak" aku. . pernah. . lantaran Liok Gion
ji. . . hingga harus. . . melakukan perjalanan jauh. . Ke
gunung. . Bu-san, di hadapan Makam Bunga Mawar, aku
minta restu pada Duta Bunga Mawar. . !"
Dengan tenang May Ceng Ong mendengarkan cerita Hee
Thian Siang, setelah itu ia menatap wajahnya beberapa kali,
sepasang matanya yang sudah mabok memancarkan sinar
tajam, katanya sambil tertawa terbahak-bahak: "Baik, baik! Ini benar-benar
merupakan suatu tindakan yang mendapat dua
keuntungan, sesungguhnya ini merupakan suatu kejadian
yang luar-biasa, disamping mengakhiri kedukaan hatiku, juga
akan melunasi hutang rindumu!"
Dalam keadaan mabok, namun Hee Thian Siang masih
bisa menangkap bahwa ucapan May Ceng Ong itu seolah-
olah mengandung maksud dalam, maka ia menggeleng-
gelengkan kepalanya, untuk menyatukan ingatannya, setelah
itu bertanya: "May locianpwe, melunasi hutang rinduku, ada
hubungan apa dengan mengakhiri kedukaanmu?"
Depan dada baju kuning May Ceng Ong kini sudah basah
semua oleh air kata-kata dan airmatanya sendiri, dengan
sumpit di tangannya diketok-ketokkan di atas meja sambil
mengeluarkan kata-kata: "Perkara yang paling menyedihkan
hati dalam dunia, sayang tidak dapat diucapkan kepada
orang. . " Dengan tiba-tiba ia menutup mulut, matanya terbuka lebar,
berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa terbahak-
bahak: "Hee laote, hutang rindu maupun kedukaan dalam hati,
untuk sementara jangan dihiraukan, adalah ucapan penyair
zaman dahulu itulah yang tepat, segala hal tidak bisa
dibandingkan dengan cawan arak didalam tangan, janganlah
sia-siakan waktumu menghadap rembulan. Mari, mari, mari!
Kita minum lagi sepuluh cawan!"
Benar saja, arak putih secawan demi secawan masuk ke
tenggorokan dua orang itu dan habis sepuluh cawan, Hee
Thian Siang sudah tak kuat lagi, tanpa disadarinya sudah
rebahkan kepalanya di atas meja, dan tidur dengan
nyenyaknya. Ketika ia mendusin dari tidurnya, badannya merasa segar,
setelah hilang semua maboknya begitu sadar kembali, barulah
merasa terkejut sebab tempat ia berada, bukanlah rumah
makan di desa kecil itu, melainkan didalam sebuah goa.
Hee Thian Siang yang baru sadar dari maboknya, otaknya
masih sedikit linglung, sama sekali sudah tidak ingat lagi apa
yang diucapkan selama dalam keadaan mabok, dan apa yang
terjadi selama itu, ia hanya samar-samar ingat pernah minum
bersama-sama dengan May Ceng Ong, tetapi dengan cara
bagaimana bisa berada ditempat itu"
Lama ia berpikir, namun masih bingung, tak dapat
menemukan jawabannya. Maka ia terpaksa melompat bangun
dan duduk di tanah. Baru saja Hee Thian Siang duduk di luar goa, tiba-tiba
terdengar suara orang bicara, samar-samar ia dapat
menangkap ucapan yang keluar dari mulut orang: "Semua
berusaha sekuat tenaga, untuk menangkap pembunuh
pengkhianat dan menuntut balas dendam bagi ketua kita!"


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu diam-diam
berpikir, orang yang mengeluarkan ucapan itu apakah orang-
orang dari Kun-lun-pay, dan yang dimaksudkan dengan
"Ketua" apakah ditujukan pada Tie-hui-cu" Dan yang disebut sebagai "pengkhianat"
apakah diri Liok Giok Ji"
Berbagai pertanyaan itu mengganggu pikirannya, untuk
mendapatkan jawabannya itu lalu ia mengintai dari dalam goa.
Tampak olehnya bahwa mulut goa itu sangat sempit sekali,
bahkan tertutup oleh pohon-pohon rotan. Sedangkan Hong-tim
Ong-khek May Ceng Ong kini entah berada dimana" Dan
dengan cara bagaimana ia dimasukkan ke dalam goa itu"
Disamping jalan pegunungan di luar goa itu terdapat
sebidang tanah lapang, di atas tanah lapang itu berdiri empat
orang, tiga diantaranya sudah pernah dilihatnya di gunung
Cong-lam, mereka itu adalah: Tio Giok, Phoa Sa dan Im Ya-ok
yang pernah dilihatnya di pintu kuil Kun-kiong. Sedangkan
yang lain lagi meskipun masih asing, tetapi ditilik dari usianya
yang lebih tua dari yang lainnya apalagi kalau ditilik sikap
orang muda yang begitu menghormat. Hee Thian Siang lalu
menduga bahwaw orang itu pasti merupakan Jisute, atau adik
seperguruan nomor dua Thie-hui-cu yang bernama Siang
Biau. Memang benar bahwa imam yang lebih tua itu adalah
Siang Biauw jan. Pada saat itu Siang Biauw Jan bertanya kepada In Ja Hok:
"In Ja Hok, apakah kau tahu benar bahwa budak hina itu
adalah Liok Giok Ji sendiri, yang malam ini hendak lewat
dijalan ini?" In Ja Hok memberi hormat dan menjawab: "Unjuk beritahu
kepada susiok, tecu dengan tidak disengaja telah berpapasan
dengan Liok sumoay. ."
Belum habis ucapannya, sudah dipotong oleh Siang Biauw
Jan: "Apa" Liok sumoay" Didalam partai Kun-lun-pay tidak
mengakui ada seorang murid yang durhaka seperti dia itu
yang telah melakukan pembunuhan terhadap suhunya
sendiri!" In Ja Hok terpaksa merubah nada suaranya, katanya pula:
"Secara kebetulan tecu telah bertemu dengan Liok Giok Ji dan
Pek-thao Lo-sat Pao Sam kow dari Kie-lian-pay, mereka
berpisahan di gunung Tay-piat-san, Pao sam kow hendak
menuju ke Shun-se, sedang Liok Ciok Ji ke Holam. Malam ini
pasti lewat ditempat ini!"
Mendengar itu sepasang alis Siang Biauw Jan berdiri,
wajahnya tampak penuh bernapsu, ia bertanya kepada Tio
Giok, Phoa San dan In Jan Hok bertiga: "Kalian bertiga
membawa berapa banyak racun berduri Tian-kheng chek?"
In sute tujuh buah, Poa sumoay sepuluh buah, sedang sute
sendiri sekarang ada delapan buah, jumlah seluruhnya dua
puluh lima buah!" jawab Tio Giok.
Siang Biauw Jan mengangguk-anggukkan kepala, katanya
pula: "Didalam sakuku masih ada sepuluh buah, jumlah tiga
puluh lima buah, seharusnya sudah cukup untuk digunakan!"
Phoa San yang mendengar ucapan itu lantas bertanya:
"Siang Susiok hendak menggunakan duri beracun untuk
menghadapi Liok Giok Ji. . benarkah begitu?"
"Budak hina itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi,
kalian semua lebih dulu harus menjelaskan tanda-tanda
rahasianya, apabila sudah tidak berhasil menangkap hidup
padanya, lalu menggunakan duri berbisa itu, dua puluh lima
buah duri itu dilepaskan dengan berbareng, kurasa itu sudah
cukup untuk membunuh mati padanya!" Berkata Siang Biauw
Jan sambil tertawa. Hee Thian Siang yang berada didalam goa ketika
mendengar ucapan itu alisnya lantas berdiri, dalam hatinya
berpikir: Seorang tingkatan tua seperti Siang Biauw Jan
ternyata mempunyai hati demikian kejam.
Sementara itu Siang Biauw Jan sudah berkata pula: "Kalian
bertiga untuk menghadapi dia seorang sesungguhnya sudah
cukup. Aku sembunyi dulu ditempat gelap di atas tebing itu,
jikalau kalah barulah aku turun tangan sendiri?"
Tio Giok yang baru saja hendak bicara, dengan tiba-tiba
mendengar dari sebelah Barat jalan itu. Siang Biauw Jan
memandang rembulan yang baru muncul dibagian Timur, lalu
berkata kepada Tio Giok, Phoa San dan In Ja Hok bertiga:
"Derap kaki kuda itu mungkin kuda tunggangan Liok Giok Ji.
Aku akan berdiam ditempat gelap untuk mengawasi kalian dan
kalian harus berhati-hati menghadapinya." Sehabis berkata
demikian, ia lalu lompat melesat dan menyembunyikan diri
ditempat gelap setinggi kira-kira lima tombak dari tempatnya.
Pada waktu itu, kuda tadi agaknya berjalan perlahan,
beberapa lama kemudian baru tampak Liok Giok Ji melewati
satu tikungan, sambil menikmati pemandangan malam gunung
Tay-pa-san, ia jalankan kudanya perlahan-lahan. Kuda
tunggangannya malam itu ternyata kuda Cian-lie-kiok-hwa
ceng milik ketua Kie-lian-pay Khie Tay Cao. Liok Giok Ji
malam itu mengenakan mantel berwarna hitam. Dengan
kulitnya yang putih bagaikan salju, sungguh merupakan suatu
kontras yang nyata. Juga kelihatannya semakin gagah dan
cantik. Hee Thian Siang yang menyaksikan dengan mata kepala
sendiri, Liok Giok Ji yang mengenakan mantel berwarna hitam
itu, dengan menunggang kuda berbulu hijau, ia baru percaya
betul bahwa gadis yang dilihatnya di gunung Kie-gie-san dan
yang ia jatuh cinta sehingga perlu pergi ke gunung Bin-san
untuk meminta restu kepada Makam Bunga Mawar, memang
benar adalah gadis itu. Karena perasaan sangsinya selama itu telah lenyap,
dengan sendirinya timbullah rasa cintanya terhadap Liok Giok
Ji dan selagi ia diam-diam memuji kecantikan gadis itu, Tio
Giok, Phoa san dan In Ja Hok bertiga sudah muncul dari
samping tebing dengan berdiri berbaris mereka merintangi
perjalanan Liok giok Ji. Liok Giok Ji yang dengan tiba-tiba menampak orang kuat
dari generasi kedua partai Kun-lun-pay, merintangi
perjalanannya, buru-buru menahan kudanya dan lompat turun,
setelah itu ia memberi hormat dan berkata sambil tersenyum:
"In suheng, Tio suheng dan Phoa suci, apakah selama ini
baik-baik saja?" In Ja Hok dan Tio Giok selama itu sangat erat
hubungannya dengan sumoay kecil itu, ketika sang sumoay itu
menghadapinya dengan demikian hormat, sedikitpun tidak ada
maksud permusuhan, maka saling berpandangan sambil
mengerutkan alisnya. Lama sekali barulah oleh In Ja Hok
yang maju dan mengajukan pertanyaan: "Giok sumoay, kau
masih anggap dirimu sebagai murid golongan Kun-lun dan
masih menyebut kita sebagai suheng dan suci, hal itu apakah
terbit dari dalam hati nuranimu sendiri?"
Liok Giok Ji seorang gadis yang sangat cerdik, mendengar
pertanyaan itu, lantas berkata dengan wajah berseri-seri:
"Mengapa In suheng bisa berkata demikian" Apa hanya
dengan Tie-hui-cu dan Siauw Tek-heng ada dendam
permusuhan. Kalian masih tetap merupakan suheng dan
suciku yang kuhormati!"
Diantara tiga orang itu, hanya Phoa San yang biasanya
tidak begitu senang terhadap Liok Giok Ji, karena gadis yang
tersebut belakangan ini terlalu disayang oleh ketuanya, maka
setelah mendengar ucapan itu ia memperdengarkan tertawa
dingin, kemudian berkata: "Liok Giok Ji, kau telah berkhianat terhadap partai
Kun-lun dan bersekongkol dengan partai Kielian, kau membinasakan Ciangbun suheng
dan Siauw susiok, perbuatanmu itu merupakan suatu pelanggaran besar di rimba
persilatan, juga merupakan suatu dosa yang terkutuk oleh
dewa-dewa! Apakah kau ada muka untuk memanggil kami
suheng dan suci" Bagi kami sesungguhnya merasa malu
mempunyai seorang sumoay seperti kau ini."
Liok Giok Ji yang sikapnya demikian berangasan,
mendengar ucapan itu ternyata tidak marah. Ia hanya
mengeluarkan suara "oh", dan matanya menatap Phoa San,
lalu berkata dengan tersenyum.
"Phoa suci, kau denganku biasanya baik sekali, mengapa
hari ini kau maki diriku demikian keji?"
"Kau berani membunuh suhu, dosamu itu terlalu besar
sekali, tidak cukup hanya memaki kau dengan hanya
beberapa patah kata saja!" Berkata Phoa San dingin.
Liok Ciok Ji masih tetap ramah, katanya sambil tertawa:
"Aku tadi bukankah sudah menerangkan duduk perkaranya"
Aku hanya mempunyai dendam dan permusuhan dalam
dengan Tie-hui-cu dan Siauw Tek, barulah aku mengambil
tindakan pembalasan seperti itu!"
Tio Giok yang di samping lantas bertanya: "Liok Giok
sumoay, kan sebetulnya memang merupakan anak buangan,
diwaktu masih orok kau dibuang oleh ibumu, kemudian
diketemukan oleh Sucun, dalam goa menjangan, lalu
dibawanya pulang. Oleh karena itu kau diberi nama she Liok,
yang berarti menjangan. Setelah kau mulai besar, kau diberi
didikan golongan kita. Tindakan Sucun itu boleh dikata
merupakan budi yang jauh lebih besar daripada ayah
bundamu sendiri, aku tidak mengerti, darimana kau bisa
menggunakan istilah dendam sakit hati atau permusuhan.
"Kalian terhadapku sudah ada sentimen sangat dalam,
sekalipun aku menjelaskan sebab musababnya permusuhan
itu, barangkali juga sulit untuk kalian percaya! Dilain hari aku
akan mencari saksi, pergi bersama-sama ke gunung Kun-lun,
urusan itu akan ku beber di hadapan umum!" Berkata Liok
Giok Ji sambil tertawa. Setelah berkata demikian, ia memutar dirinya dan
menghampiri kudanya lagi, agaknya hendak naik ke atas kuda
dan berlalu. Phoa San buru-buru berkata dengan suara cemas: "Kau
tidak boleh pergi, anak murid golongan Kun-lun hendak
menuntut balas dendam terhadap mu atas kematian Sucun
dan Siaw susiok!" Selama berbicara, tangan kanannya sudah bergerak,
melancarkan serangan kebelakang ulu hati Liok Giok Ji,
serangan itu meskipun cepat, tetapi tidak mengeluarkan
hembusan angin, karena ia menggunakan gerak tipu dari ilmu
"Sia-thian-sing" yang begitu keluar serangannya, pasti akan melukai orang.
Selagi ujung jari Phoa San sudah akan menyentuh
belakang punggung Liok Giok Jie, dan kekuatan tenaga dari
ilmu itu sudah hampir dikerahkan dengan sepenuh tenaga,
Liok Giok jie tampak bergerak dengan suatu gerakan yang
sangat lincah, melesat ke kiri tiga langkah, ia memutar dirinya
dengan mata menatap Phoa San, katanya sambil tertawa :
"Phoa suci, mengingat hubunganku denganmu dimasa yang
lampau, aku mandah untuk kau serang satu kali!" Muka Phoa
Sa kemerah merahan, kedua tangannya bergerak dengan
berbareng, kembali melancarkan serangannya yang lebih
hebat ! Alisnya Liok Giok jie tampak berdiri, ia kini balas
menyerang dengan suatu gerakan yang dinamakan
"mendorong tempat duduk", tangannya dengan satu gerakan
ringan menyerang depan dada Phoa Sa.
Phoa Sa tahu, bahwa kepandaian Liok Giok jie masih lebih
tinggi daripada kepandaiannya sendiri, maka diam-diam
memberi isyarat kepada Tio giok dan In Ya Hok, dengan cara
bagaimana mereka bisa melanjutkan serangan dengan
berbareng. Tiba-tiba melihat Liok Giok jie sudah melancarkan
serangan, maka buru-buru dengan satu gerakan "Mendorong
awan mengusir rembulan" menutup serangan Liok Giok jie.
Hee Thian siang setelah menyaksikan kejadian itu dengan
jelas, ia tahu bahwa serangan dengan gerak tipu "mendorong
tempat duduk" itu, sangat hebat. Juga mengandung
perubahan banyak sekali, bukanlah dengan gerak tipu
"mendorong awan mengusir rembulan" yang dapat
memusnahkannya. Ia diam-diam mengeluh dan khawatir
bahwa Phoa Sa mungkin sulit untuk mengelakkan diri dari
kematian. Setidak-tidaknya ia pasti akan terluka parah.
Sebelum lenyap pikiran itu, benar saja Liok Giok jie sudah
merubah gerakannya, jari tangan gadis itu sudah berada
dijalan darah Cit-?"am depan dada Phoa Sa. Phoa Sa
menghela napas panjang memejamkan matanya, untuk
menantikan kematiannya, sementara itu In Ya Hok dan Tio
Giok merasa sangat cemas dan bingung, keduanya lantas
bergerak menyerbu dengan maksud hendak menolong diri
Phoa Sa. Liok Giok Jie mengibaskan lengan baju tangan kirinya, dari
situ menghembus angin hebat, mendorong mundur Tio Giok
dan In Ya Hok, setelah itu ia berkata sambil tertawa terkekeh
kekeh : "In Suheng dan Tio Suheng tidak usah khawatir, aku
tidak akan melukai sedikitpun juga kepada Phoa suci, anggap
saja ini sebagai suatu latihan antara saudara seperguruan
sendiri, aku hanya ingin Phoa suci mengerti, di kemudian hari
apabila pihak lawan menggunakan gerakan tipu "mendorong
tempat duduk" untuk melancarkan serangannya, harus
dipunahkan dengan gerak tipu " Hok-gie melukis patkwa" atau
"Boa kho membuka bumi" dengan gerakan itu berarti balas
menyerang sebagai gantinya menjaga diri, juga berarti
merebut posisi lebih dahulu, jangan sekali kali menggunakan
gerak tipu "mendorong awan mengusir rembulan" ! Jikalau
tidak keselamatan diri masih terhitung soal kedua, tetapi nama
baik partai kun-lun akan ternoda !
Sehabis berkata demikian, ia menarik kembali tangannya
dan lompat mundur. Dan dengan wajah berseri seri sejauh
tiga tombak. Phoa Sa yang diberi pelajaran dengan kata-kata sifat
mengejek itu merasa sangat malu, keruan pipinya merah
membara, matanya menatap pada In Hok dan Tio giok,
agaknya memberi isyarat hendak melakukan serangan
berbarengan menggunakan dua puluh lima buah duri berbisa
Thian keng cek. tepat pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang berkata :
"Saudara Tio Giok, ketika di gunung Cong san kau pernah
pinjam kipas, sekarang sepantasnya kau kembalikan
kepadaku !" Betapa terkejut Tio Giok mendengar suara orang didalam
goa sempit yang teraling oleh pohon rotan, tampak seorang
muda berbaju biru berjalan keluar lambat-lambat. Kiranya Hee
Thian siang yang melihat Liok Giok jie memamerkan
kepandaiannya, dengan kata kata yang sangat tajam memberi
pelajaran kepada Phoa Sa khawatir akan membuat marah


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Phoa Sa hingga berlaku nekad atau dikhawatirkan Siang
Biauw Yan yang bersembunyi
ditempat agak tinggi melancarkan serangan-serangan gelap dengan tiba-tiba,
apabila serangan itu tidak diketahui oleh Liok Giok jie, gadis
itu malah akan celaka ditangan mereka, oleh karena itu ia
dengan alasan minta kembali kipas kepada Tiok Giok, muncul
dari persembunyiannya. Tio Giok ketika melihat Hee Thian siang. terpaksa
mengeluarkan kipas yang pernah ia pinjam darinya, ia berikan
dengan kedua tangannya lalu berkata sambil tersenyum :
Walet Besi 3 Serigala Dari Kunlun Long Cu Ya Sim Karya Kwao La Yen Pedang Dan Kitab Suci 2
^