Pencarian

Makam Bunga Mawar 24

Makam Bunga Mawar Karya Opa Bagian 24


sama dengan Thiat-koan Totiang, semua dibawanya untuk
sementara ditempatkan digunung Lo-hu-san.
Dalam perjalanan pulang Su-to Wie dengan Ca Bu Khao,
sebetulnya bisa berpapasan dengan Cin Lok Pho dan Hee
Thian Siang ditengah jalan, Apa mau, Cin Lok Pho dan Hee
Thian Siang telah mengambil jalan memutar untuk pergi
kelembah kematian digunung Cong-lam lebih dulu, maka satu
sama lain jadi tidak saling bertemu.
Hee Thian Siang setelah mengetahui sebab musababnya,
lalu berkata kepada Cin Lok Pho sambil tertawa;
"Cin Locianpwe, rencana bibi Ca ini, benar-benar cerdik!
Su-to tayhiap dan beberapa puluh tokoh Tiam-cong jadi bisa
menyingkir jauh-jauh dari keganasan Ceng-thian-pay,
Disamping itu tentu akan menambah kuat kedudukan Lo-hu-
pay!" Cin Lok Pho juga merasa lega hatinya, katanya sambil
tersenyum; "Hee laote, kalau ternyata disini sudah tidak ada urusan,
marilah kita pergi kelembah Leng-cui-kok digunung Ko-le-
kong-san, untuk mengunjungi Hong-tim Ong-khek May Ceng
Ong bertiga ditempat kediamannya digoa Bo-ciu-sek!"
Selagi Hee Thian Siang hendak menjawab, Cin Lok Pho
sudah berkata lagi sambil tersenyum berseri-seri;
"Hee laote selamanya bernyali besar, mengapa sekarang
mendadak bersikap murung" Mungkinkah tiga tokoh
terkemuka rimba persilatan yang akan menjadi mertuamu itu
betul-betul begitu sulit dihadapi" Kalau benar-benar ada
kesulitan, baiknya kita tidak usah kesana sajalah!"
"Untuk menambah kekuatan tenaga golongan baik, dan
untuk dapat menghancurkan kawanan penjahat dari luar
daerah, gunung Ko-le-kong-san itu mau tak mau harus kita
kunjungi! Sebabnya Hee Thian Siang tadi merasa ragu-ragu,
bukanlah karena takut tiga Locianpwe itu sulit dihadapi,
melainkan ada perasaan menyesal dalam hati Hee Thian
Siang yang tidak dapat melindungi keselamatan Liok Giok Ji
dan Hok Siu In, sampai mereka menemukan nasib demikian
buruk, Sesungguhnya Hee Thian Siang tidak ada muka untuk
bertemu lagi dengan May Locianpwe!"
"Nasib manusia, setiap waktu bisa saja mengalami
perobahan, siapapun tidak dapat meramalkan peristiwa yang
belum terjadi! Liok Giok Ji merasa bosan dengan kehidupan
dunia, sedangkan Hok Siu In mendapat kecelakaan yang tidak
terduga-duga, semua ini ada sangkut-paut apa denganmu"
Aku pikir sekalipun bagaimana buruk adat Siang-swat Sianjin
asal kita beritahukan secara baik-baik, juga tidak akan
menyalahkan kepadamu!" berkata Cin Lok Pho yang sedapat
mungkin menghiburi pemuda itu.
Setelah mendengar keterangan itu, pikiran dan perasaan
Hee Thian Siang mulai sedikit lega, Begitulah mereka
selanjutnya melanjutkan perjalanan kelembah Leng-cui-kok
digunung Ko-le-kong-san, Tetapi ketika mereka tiba
dihadapan goa Bo-ciu-sek, pintu goa itu ternyata sudah
tertutup rapat! Diatas tebing ditulis dengan empat bait syair
yang maksudnya menyatakan bahwa goa itu sudah ditutup,
tidak boleh ada orang masuk lagi! Dengan arti kata lain,
menolak orang-orang luar yang hendak menjumpai mereka!
Hee Thian Siang yang membaca bunyi syair itu, sesaat
tercengang, lalu berpaling dan bertanya kepada Cin Lok Pho;
"Locianpwe, May Locianpwe sekalian telah meninggalkan
tulisan ditebing itu, menyatakan telah menutup goa Bo-ciu-
sek, Apakah kita masih perlu minta bertemu secara paksa,
atau tidak mengganggu mereka lagi?"
Cin Lok Pho beberapa kali membaca syair itu, lantas
berkata sambil menghela napas panjang;
"Kalau kubaca bunyi syair itu, rasanya seperti mengandung
maksud yang sangat dalam, dan betapa besar perasaan
mereka! Begitu kuat jalinan kasih antara Hong-tim Ong-khek
May Ceng Ong, Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biauw dan
Kiu-thian Moli Tang Siang Siang, apa mau percobaan hidup
yang demikian hebat telah membuat mereka menderita untuk
banyak tahun, Kini, setelah masing-masing rujuk kembali
karena kesalah-pahaman antara mereka sudah lenyap, sudah
sewajarnyalah kalau mereka mengecap hidup manis dan
merasa tenteram, kalau toh tidak ingin meniru kehidupan
dewa, hanya mengharap supaya hidup tenteram, maka jika
kita belum terpaksa benar-benar, agaknya tidak perlu
mengganggu mereka! Biarlah untuk sementara mereka
mengasingkan diri dahulu, untuk menikmati hidup tenteram
dan damai ditempat yang sepi sunyi ini!"
"Cin Locianpwee benar, setelah membaca bunyi syair tadi,
Hee Thian Siang juga jadi tidak ada keinginan buat
mengganggu May Locianpwee bertiga dengan urusan anak-
anak dan urusan Kang-ouw lagi!"
Berkata sampai disitu, Hee Thian Siang lalu menatap wajah
Cin Lok Pho, kemudian ia berkata pula sambil tertawa;
"Locianpwe, sewaktu kita datang kemari, sudah pernah
melewati gunung Lo-san, tetapi oleh karena kita langsung
menuju kemari, jadi tidak mampir ditempat itu, Sekarang
apakah kita masih perlu pergi kelembah May-yu-kok untuk
mencari orang yang bergelar May-yu Kisu, itu yang
mengetahui dimana letak Istana kesepian?"
Cin Lok Pho segera menyetujui usul itu, seraya berkata
sambil menganggukkan kepala;
"Jangankan laote sudah begitu ingin sekali untuk
menemukan jejak nona Liok Giok Ji, Sekalipun tidak, aku juga
ingin sekali belajar kenal dengan tempat yang dinamakan
Istana kesepian itu, bagaimana keadaannya dan terdapat
keanehan apa ditempat itu, serta siapa-apa orangnya yang
mendiami Istana itu, dan apa sebab mereka mempunyai
pengaruh demikian besar!"
Karena sudah mengambil keputusan tetap, maka dua tokoh
rimba persilatan itu, berjalan perlahan-lahan menuju mulut
lembah Leng-cui-kok sambil menikmati pemandangan alam
sekitarnya. Hee Thian Siang kembali berkata sambil menghela napas;
"Goa ini sudah ditutup dan tidak boleh dimasuki lagi, Cin
Locianpwee menurut pandangan Locianpwee, benarkah May
Ceng Ong Locianpwee bersama Leng Biauw Biauw dan Tang
Siang Siang Cianpwee bisa hidup tenang untuk selanjutnya
dan selama-lamanya tidak akan teringat lagi dengan anak-
anaknya sendiri?" Cin Lok Pho berpikir dulu sebentar, kemudian berkata;
"Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong bersama Leng Biauw
Biauw dan Tang Siang Siang, dengan Liok Giok Ji dan Hok
Siu In masih ada hubungan darah ayah-ibu dan anak,
meskipun ada mempunyai ikatan darah yang demikian dekat,
tetapi selama hidupnya belum pernah menikmati hidup manis
dengan anak-anaknya, Selayaknya jikalau menurut dugaan
biasa, bagaimana mungkin mereka memutuskan hubungan
dengan anak-anaknya sendiri yang seharusnya berkumpul
hidup bersama-sama menjadi satu". . . . ."
Baru berkata sampai disitu, ditengah udara diluar lembah
Leng-cui-kok, tiba-tiba tampak berkelebat sinar hijau.
Hee Thian Siang mengeluarkan suara terkejut: "Ha!", lalu berkata kepada Cin Lok
Pho dengan suara perlahan;
"Cin Locianpwee, apakah Cin Locianpwee tadi ada melihat
sinar hijau" Tahukah Cin Locianpwee dari mana asal sinar
hijau tadi?" Cin Lok Pho menggelengkan kepala, lalu berkata;
"Berkelebatnya sinar hijau tadi agaknya tidak dekat dari
tempat ini, maka kita juga tidak tahu benar apakah itu
perobahan alam, ataukah perbuatan manusia" Bagaimana
aku bisa menduganya" Mari, kita selidiki dulu dari mulut goa,
mungkin akan mengetahui ada apa!"
Hee Thian Siang yang merasa tertarik oleh sinar tadi, ketika
mendengar ucapan itu, lantas lompat melesat sejauh enam
tombak lebih menuju kemulut lembah Leng-cui-kok.
Pada waktu itu, sinar aneh berwarna hijau kembali tampak
berkelebat ditengah udara.
Selagi Cin Lok Pho masih berpikir, tampak Hee Thian
Siang sudah menyembunyikan
diri dimulut goa dan menggapai kearah Cin Lok Pho, sikapnya tampak sangat
tenang, jelas sudah menemukan sesuatu apa-apa.
Cin Lok Pho buru-buru lompat melesat kemulut goa,
Tampak olehnya dari arah Timut-laut ditengah udara yang
gelap itu, ada tujuh buah sinar hijau yang sangat aneh,
diwaktu itu sedang mulai pudar.
Hee Thian Siang ketika melihat Cin Lok Pho menunjukkan
sikap terkejut dan maksudnya hendak membuka mulut, maka
lebih dulu ia menggunakan ilmu menyampaikan suara
kedalam telinga, berkata kepadanya sambil menggoyang-
goyangkan tangannya; "Cin Locianpwe awas! Sebaiknya kita jangan bersuara
keras2, didekat lembah Leng-cui-kok ini rasanya ada
bersembunyi beberapa tokoh kuat Ceng-thian-pay!"
Cin Lok Pho mendengar disebutnya nama Ceng-thian-pay,
kembali terkejut, dengan tangan menunjuk tujuh buah sinar
hijau yang sudah mulai padam ditengah udara itu, juga
bertanya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara
kedalam telinga; "Itu adalah sinar api Kiu-yu-leng-hwee orang-orang Ceng-
thian-pay yang digunakan khusus untuk menunjukkan diri dan
kedudukannya kepada kawan-kawannya!"
"Kawanan penjahat Ceng-thian-pay sehabis melakukan
tindakan biadab terhadap partai Bu-tong, dengan maksud apa
kini datang kegunung Ko-le-kong-san?"
"Mereka bukan saja sudah tiba digunung Ko-le-kong-san,
bahkan sedang menyerbu kelembah Leng-cui-kok, mungkin
akan berlaku tidak baik terhadap May Ceng Ong Locianpwe
bertiga!" "Hee laote berkata bahwa api Kiu-yu-leng-hwee ini, dapat
menunjukkan orang dan kedudukannya kepada kawan-
kawannya" Kalau begitu, api yang semuanya berjumlah tujuh
tadi. " "Sembilan buah tanda api Kiu-yu-leng-hwee, adalah
lambangnya ketua atau Ciangbunjin, jumlah tujuh tidak terlalu
tinggi kedudukannya, sedang yang telah datang ketempat ini
barangkali adalah orang-orang yang setingkat seperti Lui Hoa
dan Cong Ki serta lain-lainnya!"
"Ini sepertinya tidak benar!" berkata Cin Lok Pho sambil mengerutkan alisnya dan
menggoyangkan kepala. "Cin Locianpwe, Hee Thian Siang pernah mengadakan
pertempuran beberapa kali dengan kawanan penjahat Ki-lian
yang kini sudah dirobah menjadi Ceng-thian-pay, terhadap api
Kiu-yu-leng-hwee ini, tidak mungkin dapat keliru!"
"Aku sama sekali bukan hendak mengatakan bahwa Laote
yang salah, melainkan menganggap bahwa kawanan penjahat
Ceng-thian-pay, sudah tahu benar bahwa diantara May Ceng
Ong, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang bertiga,
semuanya merupakan orang kuat yang berkepandaian tinggi,
apabila hendak bertindak tidak baik terhadap mereka, setidak-
tidaknya Khi Tay Cao bersama Thiat-koan Totiang yang
datang sendiri, disamping mereka, juga tentunya perlu dibantu
oleh Pek-kut Ie-su atau Pek-kut Siancu, barulah dapat
mengadakan perlawanan dengan tiga tokoh terkuat itu!
Mengapa hanya mengutus orang yang kedudukannya cuma
tujuh buah api Kiu-yu-leng-hwee seperti Liu Hoa atau Cong
Ki" Ini bukankah diibaratkan belalang yang menyerbu api?"
Kini tiba-tiba dibawah tebing yang jaraknya sejauh lima-
enam belasan tombak dari tempat diatas ini, sudah timbul
delapan buah api tertanda Kiu-yu-leng-hwee.
Begitu delapan buah api Kiu-yu-leng-hwee timbul, Hee
Thian Siang dan Cin Lok Pho baru tahu bahwa dugaan
mereka tidak keliru, orang-orang Ceng-thian-pay benar saja
telah bersembunyi disekitar tempat itu! Jikalau mereka tidak
mengetahui lebuh dulu, dan bercakap-cakap seenaknya,
maka sudah tentu jejaknya akan segera diketahui oleh orang-
orang itu, dan dengan sendiri tidak dapat mengetahui rahasia
gerakan orang-orang Ceng-thian-pay.
Hee Thian Siang tiba-tiba teringat kejadian digunung Hok-
bu-san, sewaktu pertama kali bertemu dengan Khi Tay Cao
dan lain-lainnya, Maka lalu pikirnya hendak menggunakan
taktik yang lama, Begitulah, ia lalu berkata kepada Cin Lok
Pho dengan suara perlahan;
"Cin Locianpwe, tebing itu tidak tinggi, asal diam-diam kita
naik keatasnya, tentunya dapat melihat keadaan dibawah
tebing ini!" Cin Lok Pho menganggukkan kepala sambil tersenyum,
keduanya lalu mengerahkan ilmunya meringankan tubuh,
diam-diam memutar kebelakang dan mendaki tebing tinggi itu.
Hee Thian Siang sebelum tiba diatas tebing sudah berkata
kepada Cin Lok Pho; "Cin Locianpwe, dari delapan buah Kiu-yu-leng-hwee tadi,
Cianpwe seharusnya dapat menduga siapa orangnya yang
berada dibawah tebing itu, bukan?"
"Kalau sembilan buah Kiu-yu-leng-hwee adalah sebagai
lambang ketuanya, maka orang yang berada dibawah tebing
ini, mungkin sucinya Khi Tay Cao, yakni Pek-thao Losat Pao
Sam-kow!" "Dugaan Cin Locianpwe tidak keliru, Hee Thian Siang
berani pastikan, penjahat yang berada dibawah tebing ini
adalah Pek-thao Losat yang pernah dihajar dengan ilmunya
Kiu-cosu Thian-han-sin-kang oleh Toako Hee Thian Siang
Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok!"
Berkata sampai disitu, dari arah Timur-laut tiba-tiba
terdengar suara orang lari, kemudian tampak berkelebat
sesosok bayangan orang yang tinggi besar, muncul dari arah
kira-kira empat lima tombak dari tempat persembunyian Hee
Thian Siang dan langsung menuju kebawah tebing.
Hee Thian Siang yang melihat itu lalu berkata sambil
tertawa; "Dugaan Hee Thian Siang kali ini ternyata benar, orang
yang datang itu benar-benar adalah samtenya Khi Tay Cao,
Cong Ki!" Sehabis berkata demikian, bersama-sama Cin Lok
Pho lalu bertiarap diatas tebing untuk memperhatikan keadaan


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dibawahnya. Diatas sebuah batu besar dibawah tebing, tampak duduk
seorang wanita yang bukan lain dari pada Pek-thao Losat Pao
Sam-kow, ketika melihat Cong Ki datang, lalu bangkit dan
bertanya sambil tertawa; "Cong-samte, apakah Khi Ciangbunjin dan Pek-kut Siancu
Hu-hoat, bersama-sama Leng totiang dan lain-lainnya berhasil
gemilang sewaktu menggempur partai Ngo-bie-pay" Apakah
jalannya pertempuran lancar juga seperti apa yang terjadi
sewaktu kita membasmi Bu-tong! Mengapa mereka
memerintahkan kau datang kesini" Dan kapan mereka bari
bisa datang?" Pertanyaan itu telah mengejutkan Cin Lok Pho dan Hee
Thian Siang yang mencuri dengar diatas tebing, mereka pikir
partai Ngo-bie-pay kekuatannya agak berkurang, orangnya
juga tidak banyak, waktu itu hanya Hian-hian Sianlo bersama
Siu-wan To-kow dan Siu-long To-kow serta Seng Siu Ciu,
dibawah gempuran tokoh kuat seperti Pek-kut Siancu, Thiat-
koan totiang Lui Hoa dan Cong Ki, bagaimana dapat
mempertahankan diri" Nasibnya mungkin lebih buruk dari
pada Bu-tong-pay! "Toa-suci, dugaanmu keliru! Orang-orang Ngo-bie-pay
mungkin karena mendengar nasib buruk tentang hancurnya
partai Bu-tong, maka sudah melarikan diri lebih dahulu, dalam
kuil Kun-lun-to-i sudah kosong melompong, tiada seorangpun
penghuninya didalamnya!"
Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang yang mendengar ucapan
itu dalam hati merasa lega, Mereka saling pandang dan
menganggukkan kepala, kemudian pasang telinganya untuk
mendengarkan lebih lanjut pembicaraan orang-orang Ceng-
thian-pay itu lagi! Sementara itu Pek-thao Losat sudah berkata pula;
"Oh! Kalau orang Ngo-bie-pay sudah melarikan diri,
mengapa pula Khi Ciangbunjin dan Puk-kut Siancu Hu-hoat
belum datang kemari juga" Urusan apa pula yang
menghambat kedatangan mereka?"
Cong Ki segera menjawab; "Khi Ciangbunjin bersama Pek-kut Siancu Hu-hoat, setelah
membakar kuil Kun-lun-to-i
masih perlu mengadakan pemeriksaan yang teliti didalam gunung Ngo-bie-pay, maka
memerintahkan siaote untuk memberitahukan kepada Suci
lebih dahulu, sebab rencana kita yang sudah disusun semula,
mengalami sedikit perobahan, maka harap Suci jangan
bergerak sembarangan, supaya tidak mengejutkan orang yang
akan kita arah." Pek-thao Losat Pao Sam-kow bertanya sambil
mengerutkan alisnya; "Rencana kita ada mengalami perobahan apa lagi?"
Cong Ki menjawab sambil tertawa:
"Pek-kut Siancu Hu-hoat menganggap bahwa dalam
lembah Leng-cui-kok ini meskipun cuma ada Hong-tim Ong-
khek May Ceng Ong, Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biuaw
dan Kiu-thian Moli Tang Siang Siang bertiga, tetapi ketiga
orang itu semuanya merupakan tokoh kuat yang
berkepandaian tinggi sekali dan susah dihadapinya, Maka kini
rencana jadi dirubah hendak menggempur Swat-san lebih
dulu, baru balik lagi kemari guna menghadapi May Ceng Ong
dengan sepenuh tenaga kita!"
Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang yang mendengar ucapan
itu, sangat khawatir terhadap keselamatan partai Swat-san-
pay. Pek-thao Losat Pao Sam-kow tampak sangat girang,
katanya sambil tertawa; "menyerang Swat-san-pay dulu baik juga! Kesatu, aku
pernah mengadakan penyelidikan didalam lembah Leng-cui-
kok ini, dalam lembah ternyata tidak ada orang sama sekali
dan tidak melihat jejak Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong dan
kedua istrinya! Kedua, aku memang sudah lama pikir untuk
mencari Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok, hendak membalas
sakit hatiku dalam pertempuran digunung Li-lian!"
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu
menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga,
berkata pada Cin Lok Pho;
"Cin Locianpwe, dari ucapan Pek-thao Losat ini, kawanan
Ceng-thian-pay rupanya masih belum tahu dimana letaknya
goa Bo-cui-sek, Mak kita agaknya harus menunda dulu
perjalanan kita kelembah May-yu-kok, lebih dulu pergi
kegunung Tay-swat-san untuk memberi kabar kepada Peng-
pek Sinkun suami-istri dan Leng Pek Ciok Toako, supaya
mereka dapat mengadakan persiapan, dan jangan sampai
digempur tanpa penjagaan!"
Cin Lok Pho baru saja menganggukkan kepala, sudah
terdengar pula suara Pek-thao Losat yang bertanya;
"Khi Cianbunjin dan Pek-kut Siancu Hu-hoat kapan kiranya
bisa sampai disini?"
Cong Ki menjawab; "Barangkali besok malam baru bisa sampai disini, Mereka
memerintahkan siaote bersama Suci, supaya menunggu diluar
lembah Leng-cui-kok, dan supaya kita menggabungkan diri
segera berangkat kegunung Tay-swat-san, bersama-sama
Ciangbunjin dan Pek-kut Ie su Hu-hoat untuk menggempur
Swat-san-pay!" Hee Thian Siang sudah mengetahui rahasia itu, sudah
tentu tidak perlu mencuri dengar lebih jauh, maka bersama
Cin Lok Pho diam-diam turun dari atas tebing, dan bertanya;
"Cin Locianpwe, apakah kita tidak perlu selesaikan dulu
Pao Sam-kow bersama Cong Ki kedua penjahat itu ?"
Cin Lok Pho berpikir-pikir dulu, kemudian berkata sambil
menggelengkan kepala; "Tidak perlu berbuat demikian! Seperti pribahasa ada kata,
'memanah orang lebih baik panah dadanya dulu, menangkap
maling lebih baik menangkap rajanya dulu', Untuk
menyingkirkan dua orang jahat ini terhadap Ceng-thian-pay
tidak berarti besar, sebaliknya malah membuat Pek-kut Siancu
dan lain-lain, akan mengetahui bahwa rahasianya suda bocor
dan ada kemungkinan akan merobah rencana mereka
selanjutnya!" "Kalau kita tidak perlu menimbulkan urusan, lebih baik kita
lekas pergi kegunung Tay-swat-san! Tetapi Khi Tay Cao dan
Pek-kut Ie su sudah berangkat lebih dulu keperbatasan Tibet,
entah sudah mulai bertarung dengan orang-orang golongan
Swat-san-pay atau belum?"
"Kalau menurut keterangan Cong Ki tadi, gerakan orang-
orang Ceng-thian-pay secara tiba-tiba ini hanya dilakukan
sangat hati-hati, jikalau belum yakin sepenuhnya, tidak
mungkin mereka berani turun tangan! Kita yang sudah
mengetahui rahasia mereka lebih dulu, disini masih
mempunyai waktu satu hari untuk mengadakan persiapan,
perlu apa ter-buru-buru pergi ke Swat-san-pay?"
Sehabis berkata demikian, ia menarik tangan Hee Thian
Siang dan secepatnya berjalan menuju lembah Leng-cui-kok,
katanya sambil tersenyum;
"Kita selesaikan dulu urusan didalam lembah ini, baru
berangkat kegunung Tay-swat-san!"
"Kita masih ada urusan apa yang belum diselesaikan
didalam lembah ini?" tanya Hee Thian Siang heran.
Cin Lok Pho hanya tersenyum tidak menjawab, setelah
berjalan dibawah goa Bo-cui-sek dan naik keatasnya, agaknya
hendak menghapus tulisan yang ditinggalkan oleh May Ceng
ong, Hee Thian Siang baru sadar, maka lalu berkata;
"Locianpwe benar-benar
sangat cermat, Locianpwe tentunya tidak suka kawanan penjahat itu menemukan tulisan
ini, sehingga menemukan tempat persembunyiannya May
Locianpwe bertiga, sehingga mereka akan mengganggunya!"
"Hong-tim Ong-khek May Ceng Ong sudah setengah abad
lamanya menderita bathin, Baru beberapa hari menikmati
ketenangan dan ketentraman serta kebahagiaan hidup,
seorang seperti Laote dan aku ini, toh masih tidak tega untuk
mengganggunya, Begitu juga kawanan penjahat seperti
orang-orang Ceng-thian-pay sekali-kali tidak boleh tahu
tempat ini! Sekarang kita boleh berangkat segera kegunung
Tay-swat-san!" Tetapi, begitu baru tiba digunung Tay-swat-san dan
mencapai tujuannya dikutub Hian-peng-goan, telah terjadi pula
suatu rintangan! Sewaktu Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho tiba ditempat
itu, waktu itu sudah larut malam, cuaca juga gelap, hingga
batu-batu gunung yang berserakan itu, kalau dari jauh
tampaknya seperti bayangan setan.
Hee Thian Siang yang lari dengan mengerahkan ilmu lari
pesatnya, ia masih tidak lupa pasang mata mengawasi
keadaan disekitarnya, dalam keadaan demikian, tampak
olehnya berkelebatnya bayangan hitam, muncul dibawah kaki
gunung sejauh sepuluh tombak lebih dari tempatnya.
Bayangan hitam itu, meskipun hanya sepintas lalu saja
berkelebat dimata Hee Thian Siang, tetapi sudah jelas
merupakan orang yang memiliki kepandaian yang sangat
tinggi. Hee Thian Siang yang berkepandaian tinggi dan bernyali
besar, ketika lari sampai ketempat itu, dengan cepat berhenti
dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak;
"Sahabat rimba persilatan dari mana yang sembunyi
dibelakang puncak gunung" Silahkan keluar sebentar untuk
bertemu muka!" Baru saja menutup mulut, dari belakang puncak gunung itu
terdengar suara tertawa dingin, disusul dengan munculnya
bayangan seseorang yang bagaikan hantu diwaktu malam,
orang itu menghadang perjalanan Hee Thian Siang dan Cin
Lok Pho. Cin Lok Pho melihat dandanan orang yang berada
dihadapannya itu ternyata seorang padri yang mengenakan
jubah warna kuning, padri itu wajahnya kurus, perawakannya
sedang, tetapi sikapnya itu segera menunjukkan cirinya kalau
dia bukan orang dari golongan baik-baik.
Oleh karena ia sendiri belum pernah melihat padri itu, maka
lalu mengangkat tangan memberi hormat seraya berkata
sambil tersenyum; "Bagaimana sebutan Taysu yang mulia" Mengapa
merintangi aku siorang she Cin dan sahabat Hee ini ?"
Padri berjubah kuning itu merangkapkan kedua tangannya
didepan dada, dengan sikapnya yang sangat sombong sekali
membalas hormat seraya berkata;
"Pinceng Goan-thong, selamanya berdiam didaerah Barat,
Perbuatan pinceng yang merintangi perjalanan sicu berdua ini,
sebetulnya merupakan suatu jasa bagi sicu berdua!"
Hee Thian Siang tiba-tiba teringat pada padri Tay-lek-thian-
cun Siong Song Hut yang pernah ditemuinya dilembah
kematian digunung Cong-lam, yang dandanan maupun
bentuknya semuanya mirip dengan padri yang mengaku
bernama Goan-thong ini, maka tergeraklah hatinya, dan saat
itu lalu bertanya sambil tersenyum;
"Apakah Taysu juga merupakan salah seorang dari empat
Thian-cun dari daerah Barat?"
Goan-thong Hweshio ternyata seorang yang sangat cerdik,
mendengar pertanyaan itu lalu mengangkat muka, sepasang
sinar mata yang tajam terus menatap muka Hee Thian Siang,
kemudian berkata; "Bagaimana Siao-sicu dapat mengetahui asal-usul
pinceng" Kau barangkali sudah bertemu dengan suheng atau
sute pinceng entah berada dimana?"
"Dugaanmu tidak salah, diluar lembah kematian digunung
Cong-lam, aku pernah bertemu dengan Tay-lek-thian-cun
Siong Song Hut!" "Oh! Itu adalah sam-suteku Goan-ti, pinceng dalam urutan
empat orang itu termasuk nomor dua, orang-orang memberi
julukan kepada pinceng Chit-po-thian-cun To-chu-hut, entah
bagaimana sebutan yang mulia sicu berdua?"
Cin Lok Pho menjawab sambil tertawa;
"Aku orang tua ini bernama Cin Lok Pho, dan laote ini
bernama Hee Thian Siang, Bolehkah aku bertanya, apakah
yang Taysu maksudkan sebagai jasa besar dalam tindakan
Taysu merintangi perjalanan kami berdua?"
"Ada beberapa orang yang semuanya memiliki kepandaian
yang sangat tinggi, hendak membasmi kawanan setan-setan
dedemit ditempat ini, oleh karenanya, maka dalam perjalanan
kedepan sepuluh pal ini, hampir sudah berubah menjadi
daerah maut, Pinceng kuatir sicu berdua masih belum tahu,
supaya jangan terperosok kedalamnya, dan supaya sicu
berdua jangan sampai mengantarkan nyawa dengan cuma-
cuma, maka Pinceng lalu mencegah kedua sicu ini dari
bahaya maut, Bukankah ini merupakan satu jasa baik?"
berkata Goan-thong sambil tertawa.
Hee Thian Siang tahu siapa-apa yang dimaksudkan oleh
Goan-thong Taysu, Yang dimaksud dengan orang-orang yang
berkepandaian tinggi, bukan lain daripada Pek-kut Ie su, Khi
Tay Cao dan lain-lain, sedangkan yang dimaksud sebagai
kawanan iblis dedemit, tentunya Peng-pek Sinkun suami-istri
dan Leng Pek Ciok dari Swat-san-pay!
"Meskipun maksud Taysu baik ingin berbuat baik terhadap
sesama manusia, tetapi aku dengan Cin Locianpwe ini,
mungkin sudah ditakdirkan harus menempuh bahaya besar
ini, karena ada urusan penting, untuk mengurus urusan kami
yang maha penting!" "Sicu berdua ada urusan penting apa" Apakah perlu
kiranya harus menempuh bahaya besar ini ?"
"Kami perlu segera pergi kekutub Hian-peng-goan
digunung Tay-swat-san, untuk menghadiri pertemuan besar
para jago!" Goan-thong Hweshio mendengar disebutnya nama kutub
Hian-peng-goan, sikap diwajahnya semula tercengang, tetapi
setelah mendengar ucapan Hee Thian Siang tadi, sebaliknya
malah bertanya dengan perasaan heran;
"Apa yang sicu maksudkan dengan pertemuan besar para
jago ?" "Ketua Swat-san-pay Peng-pek Sinkun dan istrinya Mao
Giok Ceng, oleh karena peristiwa yang terjadi digunung Bu-
tong atas perbuatan orang-orang Ceng-thian-pay yang


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

melakukan pembunuhan besar-besaran digunung itu sangat
marah sekali, maka bersama-sama ketua partai Ngo-bi Hian-
hian Sianlo dan Hong-tim Ong-khek, Leng Biauw Biauw serta
Tang Siang Siang dan yang lain-lainnya yang mengasingkan
diri digunung Kong-le-kong-san, telah mengundang banyak
tokoh rimba persilatan hendak memprakarsai untuk minta
keadilan kepada Ceng-thian-pay, dan akan merundingkan
bagaimana harus menghadapi Ceng-thian-pay yang bertindak
secara kejam! Dalam pertemuan itu, dinamakan pertemuan
besar para jago golongan kebenaran, Taysu adalah seorang
terkenal didaerah Barat, apakah tidak mengetahui urusan ini"
Apakah tidak mendapat undangan dari Peng-pek Sinkun
suami-istri?" Goan-thong Hweshio sama sekali tidak mengetahui bahwa
ucapan Hee Thian Siang itu se-mata hanya karangan belaka,
maka setelah dipikirnya sejenak, lalu memberi jalan
kepadanya, sementara mulutnya berkata;
"Sicu berdua karena ada urusan penting, maka pinceng
juga tidak berani merintangi, Semoga Tuhan Yang Maha Esa
melindungi sicu berdua, jangan sampai terlibat oleh kawanan
setan itu!" Hee Thian Siang sejak mengetahui nama julukan Goan-
thong Hweshio itu, ia merasa curiga bahwa padri itu pandai
menggunakan senjata rahasia yang sangat berbisa.
Kini ketika melihat padri itu memberi jalan kepadanya,
maka bersama-sama Cin Lok Pho melanjutkan perjalanannya,
tetapi tidak lupa ia mengerahkan ilmunya Kian-thian-khi-kang
dan menyiapkan jaring wasiatnya untuk menjaga-jaga
serangan gelap dari padri itu.
Diluar dugaannya, Goan-thong tidak bertindak sesuatu
apapun, maka Hee Thian Siang bersama Cin Lok Pho buru-
buru melanjutkan perjalanannya kekutub Hian-peng-goan.
Setelah melalui beberapa jalanan dibawah kaki gunung,
Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho memperhatikan keadaan
disekitarnya, mereka tahu bahwa disitu tidak terdapat
bayangan orang, maka Cin Lok Pho lalu berkata kepada Hee
Thian Siang; "Hee laote, karanganmu tentang pertemuan besar para
jago tadi pasti ada mengandung maksud dalam!"
"Cin Locianpwe, menurut apa yang kita ketahui, gerakan
Ceng-thian-pay kali ini yang ditujukan kepada partai Swat-san-
pay, kira-kira menggunakan kekuatan berapa banyak orang?"
"Yang sudah datang lebih dulu ialah Pek-kut Ie su dan Khi
Tay Cao, yang belum tiba Pek-kut Siancu, Thiat-koan totiang
dan beberapa anak buah Ceng-thian-pay, diantara mereka
masih ditambah lagi Goan-thong Hweshio!"
"dengan kekuatan mereka seperti itu, apakah kiranya Swat-
san-pay ditambah dengan Locianpwe dan Hee Thian Siang
berdua, dapat melawan serangan mereka?"
Cin Lok Pho berpikir dulu agak lama, baru menjawab:
"Peng-pek Sinkun suami-istri bersama Swat-san Peng-lo
Leng Pek Ciok, meskipun semuanya memiliki kepandaian ilmu
yang sangat tinggi, tetapi hanya dapat menghadapi orang-
orang seperti Thiat-koan totiang dan Khi Tay Cao! Tetapi
bukanlah tandingan Pek-kut Ie su dan Pek-kut Siancu!
sekalipun ditambah laote dengan aku sendiri, kekuatan kedua
belah pihak masih berselisih sangat jauh, hingga sulit untuk
mengadakan perlawanan."
"Jikalau dikutub Hian-peng-goan itu, seperti apa yang Hee
Thian Siang ucapkan tadi, masih ada Hong-tim Ong-khek May
Ceng Ong, Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biauw dan Tang
Siang Siang ketiga Locianpwe serta ketua Ngo-bie Hian-hian
Sianlo, bagaimana situasinya?"
"May, Leng dan Tang bertiga bukanlah orang-orang
sembarangan, Kalau ditambah lagi dengan ketua Ngo-bie-pay,
selain ancaman bahaya bisa disingkirkan, malah sebaliknya
bisa merebut kemenangan!" berkata Cin Lok Pho sambil
tertawa. "Justru oleh karena merasa sulit untuk menyingkirkan
bahaya itu, maka Hee Thian Siang tadi sengaja mengarang
cerita bohong demikian, untuk menggertak mereka! Khi Tay
Cao adalah seorang licik yang banyak sekal akalnya, Mungkin
dia belum tentu mau percaya benar-benar, tetapi setidak-
tidaknya ia juga akan berpikir dan memeriksa lebih dahulu
untuk mengambil keputusan, atau mengutus orang-orangnya
untuk mengadakan penyelidikan! Taktik ini setidak-tidaknya
dapat dipakai menunda waktu dari lawan, sehingga kita masih
bisa mendapatkan banyak kesempatan untuk mengadakan
perundingan dengan Peng-pek Sinkun!"
"Kiranya Hee laote telah menggunakan siasat
mengosongkan kota, Coba kalau tadi menyebut nama ketua
Ngo-bie-pay Hong-tim Ong-khek bertiga itu lebih baik, Karena
Pek-kut Siancu dan Thiat-koan totiang yang hendak
menggempur Ngo-bie-san sudah menubruk tempat kosong,
bila dihubung-hubungkan kata-katamu kepada mereka, maka
Khi Tay Cao ada kemungkinan besar akan percaya, Dan siapa
tahu oleh karena mereka akan segera mengundurkan diri!"
"Mengundurkan diri atau tidak itu adalah urusan mereka,
Sebab, meski Swat-san-san-pay sedikit orangnya tetapi Hee
Thian Siang pernah dengar keterangan enci Tiong-sun, kutub
Hian-peng-goan itu merupakan suatu tempat yang strategis,
mudah untuk mengadakan penjagaan, sulit untuk digempur!
Jikalau kita mempunyai kesempatan baik untuk membantu
Swat-san-pay dalam pertarungan dengan kaum penjahat
Ceng-thian-pay ini, rasanya boleh juga!"
"Hee laote, dimasa muda aku pernah ikut dalam suatu
perjuangan menjadi tentara, Jikalau benar kita harus
melakukan pertempuran besar-besaran dengan Ceng-thian-
pay, pengertianku dan pengalamanku dalam peperangan
mungkin masih ada gunanya!"
"Cin Locianpwe, Hee Thian Siang tanggung bahwa
pengetahuan dan pengalaman yang Locianpwe miliki dapat
dipergunakan dikutub Hian-peng-goan nanti, bahkan akan
menunjukkan keunggulannya! Sebab Khi Tay Cao yang
datang dari jauh dengan sepenuh tenaga, tidak mungkin dapat
digertak dengan begitu saja, lalu mengundurkan diri oleh
ucapanku tadi!" Kedua orang itu berjalan terus, dan menjelang subuh
mereka sudah mendaki puncak gunung Swat-san yang
terdapat tulisan besar 'HIAN PENG GOAN'.
Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho segera melaporkan
namanya kepada penjaga pintu gerbang, dan anak buah
Swat-san-pay segera pergi melapor kepada ketuanya, yang
berdiam digoa Kong-han-tong.
Tak lama kemudian, suara tertawa nyaring tiba-tiba
terdengar, Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok adalah orang
yang pertama-tama lari menyongsong, sedangkan ketua
Swat-san-pay Peng-pek Sinkun bersama istrinya Mao Giok
Ceng, kedua-duanya juga telah keluar dari istananya digoa
Kong-han-tong untuk menyambut kedatangan tetamunya.
Cin Lok Pho maju beberapa langkah, berkata sambil
mengangkat tangan dan memberi hormat sambil tertawa;
"CinLok Pho dan Hee Thian Siang, tidak berani menerima
sambutan yang sedemikian dari Ciangbunjin sendiri!"
"Cin Locianpwe dan Hee laote berkunjung kemari,
merupakan suatu kehormatan besar sekali bagi kami, silahkan
masuk kekediaman kami digoa Kong-han-tong untuk
beromong-omong!" Sehabis berkata demikian, kedua suami-
istri itu mengajak kedua tamunya kegoa Kong-han-tong.
Nama goa Kong-han-tong itu benar-benar sesuai dengan
keadaan tempatnya, Goa itu bukan saja sangat luas, tetapi
juga sejuk hawanya, Dimusim panas seperti ini, juga tidak
merasakan hawa panas sedikitpun juga.
Setelah minum teh, Peng-pek Sinkun yang pertama
bertanya kepada Hee Thian Siang;
"Hee laote, sejak berpisah digunung Ki-lian, kau sudah
pergi pesiar kemana saja?"
"Pulang kegunung Pak-bin menengoki suhu." menjawab
Hee Thian Siang. "Apakah suhumu ada baik-baik saja?" bertanya Mao Giok
Ceng sambil tersenyum. "Suhu sudah menutup mata!" menjawab Hee Thian Siang
dengan suara sedih. "Aaaaa! Seorang beribadat yang sudah mencapai tingkat
sempurna sehingga pulang kesorga, sebetulnya merupakan
suatu hal yang sangat menggembirakan, Terutama dalam
golongan Pak-bin, mempunyai murid seperti Hee laote yang
demikian cerdas, sudah cukup untuk menegakkan nama baik
Pak-bin, seharusnya gurumu juga sudah merasa puas dan
tidak ada yang mesti dibuat keberatan lagi!" berkata Mao Giok Ceng.
Peng-pek Sinkun setelah menghiburi Hee Thian Siang
dengan beberapa patah kata, lalu bertanya kepada Cin Lok
Pho sambil tertawa; "Cin Locianpwe, mengapa Locianpwe bisa berjalan
bersama-sama dengan Hee laote" Dan kedatangan Cin
Locianpwe kegunung ini, pasti ada urusan penting, Urusan
apa itu?" Selagi Cin Lok Pho hendak menjawab, Hee Thian Siang
sudah mendahului; "Sinkun, Sinkun jangan bertanya dulu kepada kami,
sekarang aku hendak bertanya dulu kepada Leng Toako
sebentar!" Leng Pek Ciok bertanya sambil tersenyum;
"Hee laote hendak menanyakan soal apa padaku?"
"Aku hanya ingin bertanya kepada Leng Toako sejak
pertemuan digunung Ki-lian itu, apakah anak buah Swat-san-
pay pernah bergerak dikalangan Kang-ouw?"
"Ciangbunjin kami telah melihat tanda bahwa rimba
persilatan akan terancam bencana besar, maka sejak kembali
dari gunung Ki-lian lalu mengadakan persiapan dan melatih
semua anak buahnya dengan tekun, untuk mempelajari
kepandaian ilmu golongan kami, Jadi tiada seorangpun yang
keluar dari daerah gunung Swat-san!" menjawab Leng Pek
Ciok sambil menggelangkan kepala.
Mendengar jawaban demikian, Hee Thian Siang lalu
berkata kepada Cin Lok Pho;
"Kalau demikian halnya, Sinkun dan lain-lainnya bukan saja
masih belum mengetahui bahwa partai Ngo-bie sudah diserbu
dan kuil Kun-lun-to-i sudah dibakar, bahkan orang-orang
Ceng-thian-pay yang membasmi partai Bu-tong, juga masih
belum mendengar kabar?"
Peng-pek Sinkun terkejut mendengar ucapan itu, buru-buru
bertanya; "Hee laote, apa katamu tadi" Benarkah kawanan penjahat
Ceng-thian-pay sudah membakar kuil Kun-lun-to-i digunung
Ngo-bie dan membasmi partai Bu-tong?"
"Kawanan penjahat Ceng-thian-pay Khi Tay Cao, dibantu
dengan anggota pelindung hukumnya Pek-kut Ie su dan Pek-
kut Siancu, bersama-sama Thiat-koan totiang, setelah
pertemuan pembukaan partai barunya itu, telah mengeluarkan
semua anak buahnya, dengan kecepatan bagaikan kilat
menyerbu kuil Sam-goan-koan digunung Bu-tong, Hong-kong
Totiang dan It-tim-cu telah gugur dalam medan pertempuran,
sedangkan ketuanya ialah Hong-hoat Cinjin belum diketahui
dimana jejaknya. . . . . ." berkata Cin Lok Pho.
Berita itu, benar-benar telah mengejutkan Peng-pek Sinkun
suami-istri dan Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok.
Sementara itu Cin Lok Pho sudah melanjutkan ucapannya;
"Tangan kawanan penjahat Ceng-thian-pay yang masih
berlepotan darah, kedua kalinya ditujukan kepada partai Ngo-
bie. . . . . ." Mao Giok Ceng lantas berseru!
"Kekuatan Ngo-bie, masih tidak lebih kuat dari pada Bu-
tong, bukankah kini sudah mengalami nasib serupa?"
"Untung ketua Ngo-bie-pay Hian-hian Sianlo sudah
mengetahui gelagat tidak baik, Lebih dahulu bersama-sama
anak buahnya siang-siang sudah menyingkir, sehingga
terluput dari bahaya maut! Tetapi kawanan penjahat Ceng-
thian-pay masih belum puas, kemarahan mereka telah
dialihkan kekuil Kun-lun-to-i yang tidak berdosa, sehingga
dibakar habis!" berkata Cin Lok Pho.
Peng-pek Sinkun menghela napas panjang, ia kemudian
berkata sambil menatap istrinya dan Leng Pek Ciok;
"Aku memang sudah melihat gelagat bahwa kawanan
penjahat itu mengandung maksud hendak menguasai rimba
persilatan, tetapi tidak menduga kalau gerakan mereka bisa
demikian cepat! Kini karena gerakan itu sudah dimulai,
kawanan panjahat Ceng-Thian-pay
sudah pasti akan melanjutkan kejahatannya, Tujuan meraka selanjutnya entah
ditujukan kepihak mana ?"
"Tujuan kawanan penjahat Ceng-thian-pay yang ketiga
ialah partai Swat-san-pay, mereka bukan saja sudah
mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya yang ada, bahkan
sudah berserikat dengan kawanan padri jahat dari daerah
Barat, sekarang ini sudah berada dibawah kutub Hian-peng-
goan." kata Hee Thian Siang.
Leng Pek Ciok terkejut mendengar keterangan itu,
sehingga ia terlompat dari tempat duduknya, Sambil
memegang kedua tangan Hee Thian Siang ia berkata;
"Hee laote! Apakah ucapanmu ini benar dan bukan sedang
bergurau ?" "Urusan ini sangat penting, mana berani siaote main-main"
Kalau Sinkun sudah mengadakan persiapan syukurlah, se-
lambat-lambatnya besok pagi atau malam diatas kutub Hian-
peng-goan ini, akan terjadi suatu pertempuran yang akan
betul-betul sangat dahsyat!" berkata Hee Thian Siang dengan
sikap sungguh-sungguh. Sehabis berkata demikian, ia lalu menceritakan semua apa
yang dilihat dan didengar ditengah perjalanan kepada orang
Swat-san-pay itu. Peng-pek Sinkun dan lain-lainnya setelah mendengar
ucapan itu selanjutnya tampak berpikir untuk mengatur siasat
selanjutnya guna menghadapi musuh.
Cin Lok Pho lalu berkata:
"Sinkun, kita seharusnya menetapkan suatu siasat dulu,
baik mengenai siasat preventif atau defensif, kemudian
barulah mengatur anak buah yang ada."
Peng-pek Sinkun menganggukkan kepala, lalu berkata;


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Cin Locianpwe pasti sudah mempunyai rencana, bolehkah
Sin To Hay mendengar keterangan Locianpwe?"
"Dalam perjalanan Cin Lok Pho ini, sudah merencanakan
tiga siasat yang sekiranya dapat digunakan untuk menghadapi
musuh kita!" "Sin To Hay ingin minta keterangan kepada Cin Locianpwe
dulu tentang siasat yang terburuk!"
"Siasat yang terburuk ialah menelaah tindakan Ngo-bie-
pay, menyingkir lebih dahulu ketempat yang jauh, barulah kita
mengambil tindakan selanjutnya!"
Peng-pek Sinkun segera menggelengkan kepala dan
berkata; "Keadaan Swat-san-pay jauh berbeda dengan Ngo-bie-pay,
tentu kekuatan tenaga Ngo-bie-pay banyak terdapat
perbedaan, sudah tentu kekuatan mereka sangat jauh kalau
dibandingkan dengan kekuatan kawanan penjahat Ceng-thian-
pay, Kalau mereka menyingkir ketempat jauh, itulah suatu
siasat yang paling baik! Tetapi Swat-san-pay mempunyai
kekuatan tenaga inti tidak kurang dari tiga puluh orang, mana
bisa menyingkir ketempat jauh seluruhnya" Apalagi kita
suami-istri tidak rela menyerah mentah-mentah kepada orang-
orang Ceng-thian-pay! Sekarang bolehkah Sin To Hay
bertanya lagi mengenai siasatmu yang pertengahan itu,
bagaimanakah kiranya?"
"Aku juga tahu Sinkun Sin To Sinkun pasti tidak suka
mengambil siasat yang terburuk, Siasat pertengahan ialah kita
sambut dan hajar mundur musuh yang datang selagi mereka
belum sempat mengaso, dan kita kerahkan seluruh kekuatan
yang ada untuk menggempur mereka."
Peng-pek Sinkun yang mendengar ucapan itu, berpikir
dulu, kemudian berkata sambil menggoyangkan kepala;
"Kalau menurut keterangan Hee laote tadi, orang-orang
Ceng-thian-pay yang datang kemari, bukanlah suatu tenaga
ringan, Kalau kita tilik dan memperhitungkan kekuatan mereka
dengan kekuatan kita, Sin To Hay merasa walaupun ada
bantuan tenaga Cin Locianpwe dan Hee laote, namun
kekuatan kedua belah pihak masih selisih agak jauh, maka
dari itu siasat menyerang terhadap musuh yang baru datang
inipun kurasa malah akan mencari kemusnahan sendiri!
Sekarang bagaimana kalau Sin To hay minta Cin Locianpwe
menguraikan siasat yang terbaik?"
"Sinkun tidak menyombongkan kekuatan sendiri,
sesungguhnya sangat bijaksana, Adapun siasat yang terbaik
yang akan kuuraikan ini ialah menggunakan tempat strategis
seperti kutub Hian-peng-goan ini, kita mengadakan
pertahanan yang cukup kuat, sekali-kali jangan biarkan
kawanan penjahat itu maju selangkahpun ketempat kita!"
berkata Cin Lok Pho sambil tertawa.
Baru saja Cin Lok Pho menutup mulut, Mao Giok Ceng
sudah berkata sambil tertawa;
"Letak kutub Hian-peng-goan yang sangat strategis ini
memang sangat baik sebagai tempat penjagaan, tidaklah
tepat kalau dipakai untuk menyerang, Sebaliknya jika menurut
rencana Cin Locianpwe ini, kita lebih dulu boleh bertindak
menghadapi musuh kita, kemudian baru kita memikirkan
rencana atau siasat lain yang lebih baik, Biarlah kawanan
penjahat itu memandang kita sambil menarik napas, bahkan
akan pulang dengan tangan hampa!"
Hee Thian Siang lalu mencela;
"Cin Locianpwe dahulu pernah turut dalam latihan
keprajuritan sudah tentu banyak mempunyai siasat dalam ilmu
peperangan, Barangkali Cin Locianpwe masih mempunyai
siasat atau rencana yang baik sekali untuk memukul mundur
musuh kita!" "Hee laote, kau sekarang janganlah memuji dulu, Kita baru
saja tiba digunung Tay-pa-san, terhadap keadaan disekitar
kutub Hian-peng-goan, aku belum tahu apa-apa, Mana bisa
dibilang sudah mempunyai rencana baik untuk memukul
mundur musuh" Sebaiknya begini sajalah, Sinkun berdua dan
Leng Pek Ciok sekalian yang menentukan siasat, aku
bersama Hee laote jikalau mempunyai usul akan memberi
sedikit tambahan dan bantuan ala-kadarnya!"
Sin To Hay tahu bahwa ucapan Cin Lok Pho itu memang
sebetulnya, bukanlah berarti merendahkan diri, maka lalu
berkata kepada Leng Pek Ciok sambil tertawa;
"Coba kau perintahkan semua anak murid Swat-san-pay,
supaya lekas mengumpulkan sebanyak mungkin salju-salju
diatas kutub ini, ditumpuk diluar pintu gerbang Hian-peng-
goan, supaya dapat kita pergunakan setiap waktu!"
Leng Pek Ciok lalu menyampaikan perintah itu kepada
anak buahnya, Hee Thian Siang tiba-tiba berkata kepada
Peng-pek Sinkun; "Sinkun, Tindakanmu seperti ini, bukankah akan
membentuk garis pertahanan pertama yang hendak Sinkun
letakkan dimulut kutub Hian-peng-goan?"
Peng-pek Sinkun baru saja menganggukkan kepala, tiba-
tiba menyadari bahwa ucapan Hee Thian Siang itu seperti ada
mengandung maksud lain, maka ia lalu bertanya kepadanya
sambil tersenyum; "Hee laote, pertanyaanmu tentang garis penjagaan pertama
ini, agaknya ada mengandung maksud apa-apa yang lain,
Benarkah itu?" "Situasi pada waktu sekarang ini boleh dibilang musuh lebih
kuat dan kita pihak yang lemah, Maka dalam pertempuran
devensif digunung Swat-san ini, agaknya perlu ditilik beratkan
juga usaha menyelamatkan pihak kita, dan usaha
menghancurkan musuh boleh kita letakkan dibagian yang
kedua! Apalagi sewaktu Hee Thian Siang datang kemari,
pernah mengadakan penyelidikan digunung bawah kutub
Hian-peng-goan yang tingginya ada seratus tombak, meskipun
cukup tinggi, tetapi tidak terlalu curam, sekalipun kita
memperkuat penjagaan dan menjaga sekuat tenaga,
barangkali tidak dapat menahan terlalu lama orang-orang
yang berkepandaian tinggi seperti Pek-kut Sam-mo, Maka dari
itu, menurut pikiran Hee Thian Siang, demi keselamatan
semua orang yang ada disini, Hee Thian Siang kira perlu
diadakan lagi garis pertahanan kedua, supaya apabila garis
pertahanan pertama dikutub Hian-peng-goan ini sampai bobol
atau mengalami kesulitan masih ada tempat lain untuk kita
mengundurkan diri." Peng-pek Sinkun dan Mao Giok Ceng kedua-duanya
dengan sinar mata kagum mengawasi Hee Thian Siang, baru
saja hendak menjawab, Cin Lok Pho telah berkata lebih
dahulu sambil tertawa terbahak-bahak;
"Hee laote, ucapanmu ini berarti mengetahui keadaan
sendiri lebih dulu harus tahu keadaan lawan, Hati-hati diwaktu
maju tetapi juga tidak melupakan jalan mundur, Inilah memang
merupakan suatu siasat yang tepat dalam ilmu kemiliteran!
Sinkun cobalah pikir masak-masak, diatas kutub Hian-peng-
goan ini, apabila masih ada tempat yang lebih strategis lagi
atau tidak, untuk kita pertahankan sebagai basis yang
terakhir?" Peng-pek Sinkun yang mendengar pertanyaan itu, baru
saja memikirkan tempatnya yang ditanyakan oleh Cin Lok
Pho, Mao Giok Ceng tiba-tiba bertanya kepadanya sambil
tersenyum; "bagaimana kalau lembah Phian-han-kok saja kita jadikan
untuk benteng pertahanan kita?"
"Dari enci Tiong-sun, Hee Thian Siang pernah mendapat
keterangan keadaan lembah Phian-han-kok itu, Memanglah
lembah itu merupakan suatu tempat yang paling baik! Sinkun
agaknya perlu segera perintahkan anak buah Swat-san-pay
ber-siap-siap, pilihlah orang-orang yang terkuat dan terpandai
kira-kira lima orang, jadi bersama kita semuanya sepuluh
orang menjaga digaris pertahanan pertama, anak murid yang
lainnya dan barang-barang penting semuanya harus
dipindahkan dan ditaruh didalam lembah Phian-han-kok
terlebih dahulu!" "Pikiran Hee laote seperti ini memang benarlah adanya,"
berkata Peng-pek Sinkun sambil menganggukkan kepala dan
tertawa. Ia berdiam sejenak, kemudian berpaling dan berkata pada
Swat-san Peng-lo Leng Pek Ciok;
"Saudara Leng tolong samnpaikan lagi perintahku, suruh
tinggal disini Liau Peng Thiu, Kan Siong Swat-hay-ji Ie kao,
Peng-san-hui-hiong Sun Kiu Siao, bersama-sama Leng Eng
dan Leng Kiat! Semuanya harus membawa cukup senjata
Peng-pek-gin-kong, mereka harus ikut dan bersama kita
Mempertahankan garis pertama Hian-peng-goan dari serangan
musuh! Anak murid yang lainnya, semuanya suruh bawa
barang-barang penting lebih dulu menyingkir kelembah
Phian-han-kok! katakanlah sebelum mendapat perintah
bergerak, jangan lakukan tindakan apa-apa lebih dulu!"
Leng Peng Ciok menerima baik perintah itu, sementara itu
Cin Lok Pho seolah-olah mendapat pikiran lagi, biji matanya
nampak berputaran seolah-olah sedang memikirkan siasat
baru. Mao Giok Ceng yang menyaksikan hal itu, lalu bertanya
sambil tersenyum; "Cin Locianpwe agaknya sudah mendapat pikiran lain yang
lebih baik lagi, Benarkah dugaanku ini?"
"Aku pikir, baiknya Phian-han-kok dijadikan garis
pertahanan ketiga saja!"
"Habis Cin Locianpwe hendak memindahkan garis
pertahanan kedua ketempat mana?" bertanya Peng-pek-
Sinkun sambil tertawa. "Tadi sewaktu aku masuk kegoa Kong-han-tong ini, se-olah
melihat goa ini bukan saja terdapat banyak lobang, tetapi
samar-samar rasanya juga ada mengandung Im-yang-ngo-
heng!" Mao Giok Ceng diam-diam mengagumi ketajaman mata
Cin Lok Pho, ia menganggukkan kepala dan menjawab sambil
tersenyum; "Didalam gunung es ini, seluruhnya mempunyai seratus
delapan lobang goa, goa-goa itu satu sama lain saling
berhubungan, memang dibentuk menurut barisan Ngo-heng,
hanya ada satu tempat saja yang merupakan jalan keluar
yang tepat!" "Menurut keterangan Sin-hui dulu, apabila kita pada
penjagaan garis pertama telah terpukul oleh musuh, maka kita
boleh memancing mereka masuk kepuncak gunung salju ini,
Bukankah dengan demikian mereka akan jadi bingung dan
kehilangan arah" Waktu itulah baru kita turun tangan dan
basmi mereka!" berkata Cin Lok Pho.
Tapi dengan tiba-tiba ia seperti menemukan sesuatu yang
lainnya, lalu berkata sambil menggelengkan kepala; "Tidak
kena! Kita tidak dapat menggunakan tempat bersalju yang
sangat indah ini sebagai garis pertahanan kedua, Betul kita
dapat membuat kawanan penjahat itu tersesat tidak bisa
keluar, bahkan ada kemungkinan dapat membunuh mereka,
tetapi seandainya mereka marah marena malu dan kemudian
merusak tempat yang indah ini. . . . . ."
Peng-pek Sinkun memotong sambil menggoyangkan
tangannya; "Cin Locianpwe tidak perlu pikirkan soal ini, seandai benar
kawanan penjahat Ceng-thian-pay itu menghancurkan goaku
Kong-han-tong ini, diatas kutub Hian-peng-goan aku dapat
membangun sepuluh Kong-han-tong lagi! Apalagi bilamana
mereka berada didalam goa, berani melakukan tindakan
keras, seandai gunung-gunung salju itu rubuh dan mengubur
mereka dalam dunia ini bukankah akan menjadi bersih dari
kawanan penjahat?" Istri Peng-pek Sinkun Mao Giok Ceng bertanya kepada Cin
Lok Pho; "Cin Locianpwe, kapan kira-kira kawanan penjahat Ceng-
thian-pay itu akan datang kemari" Apakah kira-kira kita masih
mempunyai cukup waktu untuk mengadakan persiapan. . . .?"
Belum habis ucapannya, anak buah Swat-san-pay yang
tadi diutus untuk mengumpulkan banyak salju diatas Hian-
peng-goan, sudah balik kembali dengan laporannya;
"Unjuk beritahu, dibawa Hian-peng-goan sudah nampak
tidak sedikit orang-orang Kang-ouw, agaknya ada
mengandung maksud hendak menyatroni tempat kita!"
Cin Lok Pho mendengar ucapan itu, sesaat tampak
terkejut, kemudian berkata;
"Kaum penjahat Ceng-thian-pay bagaimana dapat datang
sedemikian cepat" Apakah mereka merobah siasatnya
dengan tiba-tiba?" "Didalam kawanan penjahat itu, ternyata terdapat tokoh-
tokoh terkemuka yang disegani, sesungguhnya tidak boleh
dipandang ringan! Pribahasa ada kata, 'Tentara datang harus
ditahan oleh perwira, air membanjir harus dibendung oleh
tanah' Kalau benar musuh kita sudah berada dibawah kutub
Hian-peng-goan, kita boleh persilahkan mereka untuk
mencicipi gumpalan salju diatas gunung Tay-swat-san, supaya
mereka tahu bagaimana rasanya." berkata Mao Giok Ceng.
Lalu berpaling dan berkata pula kepada Leng Pek Ciok:
"Saudara Leng, lekaslah pimpin anak buah golongan kita,
bawa barang-barang penting, pindahkan kedalam lembah
Phian-han-kok, dan bentuk garis pertahanan ketiga! Setelah
urusan selesai, lekas kembali ke Hian-peng-goan untuk
menyambut kedatangan musuh!"
Leng Pek Ciok menerima perintah itu, lekas-lekas
mengundurkan diri dari goa Kong-han-tong.
Mao Giok Ceng berkata lagi pada suaminya;
"Aku hendak pergi dulu kekutub Hian-peng-goan untuk
mengadakan persiapan, kau bersama Cin Locianpwe dan Hee
laote boleh mengatur dulu barisan Pat-kwa-kiu-kiong didalam
goa ini beserta jalan-jalan rahasianya yang dapat
menyesatkan musuh, Setelah semua selesai, segera susul
aku kesana!" Sehabis berkata begitu, ia lalu minta diri kepada Cin Lok
Pho dan Hee Thian Siang, pergi dulu keatas kutub Hian-peng-
goan, guna mengatur dan mengadakan persiapan!
Oleh karena pihak musuh sudah berada dibawah kutub
Hian-peng-goan dan waktu mendesak, maka Peng-pek Sinkun
buru-buru mengajak Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang
berjalan mengitari seluruh goa bahkan menunjukkan letak-
letaknya barisan Pat-kwa-kiu-kiong, Dalam peninjauan itu,
Hee Thian Siang juga menemukan beberapa lobang angin.


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hee Thian Siang lalu bertanya sambil tersenyum;
"Sinkun, apa gunanya lubang-lubang angin ini ?"
Peng-pek Sinkun setelah menanyakan Cin Lok Pho dan
Hee Thian Siang berdua, apakah mereka sudah ingat benar-
benar jalanan didalam goa itu, maka sambil menuju kekutub
Hian-peng-goan, ia menjawab pertanyaan Hee Thian Siang;
"Lubang-lubang angin tadi, semuanya adalah lubang-
lubang ciptaan alam, lubang-lubang itu setiap waktu-waktu
tertentu selama dua jam pasti mengeluarkan angin yang
sangat dingin sekali, terutama bagian yang ditengah-tengah,
Angin dari situ bukan saja dingin, juga tajam sekali bagaikan
pisau belati, kami suami-istri dengan susah-payah barulah
berhasil dapat mengendalikan lubang-lubang angin itu
menurut sesuka hati kami!"
Cin Lok Pho merasa heran, maka lalu bertanya;
"Angin-angin dingin yang berhembus dari lubang-lubang itu,
kalau memang benar sedemikian hebatnya dan susah
dilawan, sebaiknya kita tutup saja, perlu apa mesti kita buka
dan tutup?" "Cin Locianpwe tidak tahu, dalam golongan Swat-san-pay
kami, ada semacam ilmu yang dinamakan Cu-ngo-im-hong-
ciang, Sewaktu melatih ilmu itu, justru amat memerlukan
bantuan dari hembusan angin dari lubang itu!"
Hee Thian Siang tiba-tiba mendapat suatu akal, katanya
sambil tertawa; "Sinkun, sebentar seandai kekuatan kawanan Ceng-thian-
pay itu terlalu hebat, dan kutub Hian-peng-goan perlu kita
lepaskan, maka kita harus bisa pancing musuh supaya masuk
kedalam garis pertahanan kedua didalam goa ini, Setelah
mereka masuk kedalam sini, selanjutnya kita boleh buka
lubang angin yang sangat dingin itu, biar kawanan penjahat itu
merasa dinginnya hembusan angin dari dalam goa ini!"
Peng-pek Sinkun mengganggukan kepala dan berkata;
"Pikiran Hee laote ini memang benar, siasat ini merupakan
siasat yang sangat bagus, jikalau kita sudah benar-benar tidak
dapat mempertahankan garis pertahanan yang pertama, kita
boleh segera jalankan siasat itu!"
Ketika Peng-pek Sinkun bertiga sudah didekat pintu
gerbang kutub Hian-peng-goan, dan berjalan mendekati
ketempat Mao Giok Ceng berdiri, dibawah gunung benar saja
tampak disitu puluhan orang rimba persilatan yang berkumpul,
tetapi oleh karena letak gunung itu terlalu tinggi, setidak-
tidaknya terpisah enam tujuh pal dari permukaan laut, hingga
tidak dapat terlihat tegas wajah-wajah orang itu.
Mao Giok Ceng lalu berkata sambil tertawa;
"Musuh sudah berkumpul dibawah gunung, rupanya sudah
lama mereka berkumpul disitu, Tetapi anehnya, mengapa
hingga sekarang masih belum terlihat pergerakan apapun dari
mereka" Mungkinkah mereka sedang menduga-duga apakah
kita mempunyai persiapan" Atau mungkin mereka sedang
merundingkan caranya untuk menggempur tempat ini?"
"Musuh memilih waktu musim panas seperti ini untuk
menggempur gunung Swat-san, mungkin pikiran mereka
dapat mengurangi rintangan dari alam, Tetapi mana mereka
tahu kalau kutub Hian-peng-goan ini keadaannya lain dari
yang lain" Setiap tahun salju disini tidak pernah mencair, oleh
karena seluruh gunung diliputi salju, sudah tentu mereka
harus berunding dulu untuk mengambil tindakan selanjutnya!"
kata Peng-pek-Sinkun. Cin Lok Pho memandang keadaan sekitar lutub Hian-peng-
goan, Tampak dibagian depan kira-kira empat puluh tombak
agak kekanan, ada terdapat tebing menjulang tinggi namun
tidak besar, Sedang disebelah belakang, kira-kira sepuluh
tombak tebing-tebingnya menjulang tinggi kelangit, betapapun
hebat ilmu meringankan tubuh seseorang juga memerlukan
dua tiga kali gerakan meloncat baru dapat mendaki
kepuncaknya. Dikedua samping puncak gunung itu, sudah ditumpuki oleh
salju-salju yang dilakukan oleh anak murid Swat-san-pay atas
perintah ketuanya, sehingga tercipta sebuah bukit salju yang
kecil, dan sebuah puncak es. Kedua-duanya ini disiapkan
untuk menahan majunya musuh.
Hee Thian Siang memperhatikan gunung es buatan itu,
sementara otak berputar, kemudian berkata kepada Mao Giok
Ceng; "Mao Sinhui, kawanan penjahat Ceng-thian-pay itu, setelah
selesai mengadakan perundingan mereka pasti akan mendaki
gunung ini seluruhnya, mungkin mereka akan mendaki dulu
gunung yang tidak besar yang setinggi kira-kira empatpuluh
tombak lebih itu saja, kemudian masing-masing menggunakan
ilmu meringankan tubuhnya untuk menyerbu keatas kutub
Hian-peng-goan!" "Dugaan Hee laote ini sangat tepat, aku juga berpikir
begitu!" berkata Mao Giok Ceng sambil menganggukkan
kepala. "Tetapi bukit salju yang menjulang kelangit kira-kira
duapuluh tombak lebih ini, setidak-tidaknya
mereka memerlukan gerakan tiga kali menaik, dan menancap kaki
ditebingnya paling sedikit dua kali barulah bisa sampai tiba
dipuncaknya! Sebaiknya kita bersikap tenang saja, jangan
melakukan gerakan apa-apa dulu, tunggu sampai musuh
masuk kedua kali menggunakan ilmunya untuk mendaki
keatas, dan tepat ketika mereka tancapkan kaki didinding
gunung, karena tidak mendapat kekuatan untuk berpijak,
kekuatan tenaga mereka pasti hampir habis, barulah kita
mengerahkan tenaga kita untuk menyambut dan menyerang
kepada mereka! Serangan semacam ini, oleh karena pihak
musuh sulit untuk mengelakkan diri, lagi pula sudah berada
ditempat setinggi sepuluh tombak lebih, jikalau mereka
terkena serangan oleh gumpalan salju yang menggulundung
turun kebawah, penderitaan ini pasti berat bagi mereka!"
berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.
"Siasat Hee laote ini sangat bagus, baiklah aku
memerintahkan kepada mereka supaya bertindak seperti apa
yang Hee laote ucapkan tadi, tidak boleh menjadi kalut! Dan
seandai kita tidak dapat berhasil menahan majunya musuh,
apabila musuh itu sudah hampir merebut kutub Hian-peng-
goan, kita semua harus menggunakan Peng-pek-gin-kong
untuk melawan!" berkata Mao Giok Ceng sambil
menganggukkan kepala. Pada waktu itu, kawanan penjahat Ceng-thian-pay benar-
benar seperti apa yang diduga oleh Hee Thian Siang,
semuanya sudah mulai mendaki keatas gunung.
Cin Lok Pho tahu bahwa kedua belah pihak sudah siap
hendak melakukan pertempuran besar-besaran, maka lalu
berkata kepada Peng-pek Sinkun dengan suara perlahan;
"Sinkun, senjata salju yang membuka ini meskipun
hebatnya tidak kalah dari senjata rahasia biasa, tetapi
terhadap tokoh-tokoh kuat seperti Pek-kut Siang-mo, barangkali. . . ." Peng-pek Sinkun yang tahu benar kekuatan dan
kepandaian Pek-kut Ie su dan Pek-kut Siancu maka
mendengar ucapan itu lalu berkata;
"Kekuatan dan kepandaian ilmu Pek-kut Siang-mo,
memang lebih tinggi dari pada kekuatan kita, memang sudah
seharusnya kita pandang mereka dengan kaca-mata lain!"
Sambil bicara, ia menyerahkan kepada Cin Lok Pho
sebuah kantong kulit dan sebuah sarung tangan kulit
berwarna putih, setelah itu ia berkata lagi sambil tertawa;
"Ini adalah senjata Peng-pek-sin-sa yang jauh lebih hebat
dari pada Peng-pek-gin-kong, harap Cin Locianpwe bersama
Hee laote nanti memusatkan perhatian kepada Pek-kut Ie su
dan Pek-kut Siancu, Kalau dua iblis itu lompat naik kesini, kita
boleh segera hadiahkan mereka senjata-senjata Peng-pek-
sin-sa ini, jangan sekali-kali dibiarkan mereka naik keatas
kutub Hian-peng-goan ini!"
Cin Lok Pho menerima baik pemberian itu, pada saat itu,
kawanan penjahat Ceng-thian-pay sudah berhasil melalui
jalanan gunung yang tidak rata, dan sudah tiba ditempat yang
tinggi menjulang kelangit dan agak susah didaki, oleh
karenanya, maka orang itu bukan saja dapat dengan mudah
dikenali wajahnya, sedang suara pembicaraan dan tertawa
mereka juga dapat didengar dengan nyata.
Hee Thian Siang yang menyembunyikan diri diatas kutub
Hian-peng-goan, matanya tetap ditujukan kebawah.
Ia segera dapat mengenali bahwa diantara orang-orang
yang datang itu terdapat Pek-kut Ie su, Khi Tay Cao, Thiat-
koan totiang, Pek-thao Losat Pao Sam-kow, Cong Ki, Tho-hoa
Nio-cu Ki Liu Hiang, Lui Hoa dan Goan-thong Hweshio serta
dua orang yang masih asing wajahnya, Mereka itu
mengenakan rupa-rupa dandanan yang aneh-aneh, Jumlah
seluruhnya ada sepuluh orang, tetapi diantara mereka tidak
ada Pek-kut Siancu! Peng-pek Sinkun dengan menggunakan suara yang sangat
perlahan berkata; "Sepuluh orang menyerang, sepuluh orang bertahan,
Kedua belah pihak sama jumlahnya, siapapun tidak ada yang
dirugikan! Tetapi mengapa Pek-kut Siancu tidak tampak dalam
barisan mereka?" Hee Thian Siang lalu bertanya kepada Peng-pek Sinkun;
"Sinkun, apakah ditempat ini masih ada jalan lain yang
dapat digunakan untuk mendaki kekutub ini ?"
"Keadaan kutub Hian-peng-goan ini sangat aneh, kecuali
dibagian depan ada terdapat bukit yang agak rendah, dan
dapat digunakan orang untuk jalan naik turun, sekelilingnya
semua dikitari oleh puncak gunung salju yang tingginya
ratusan tombak, sekalipun binatang seperti kera juga sulit
untuk naik sampai kepuncaknya!" jawab Peng-pek Sinkun
sambil menggelengkan kepala.
JILID 26 Sementara orang-orang di puncak Hian-peng-goan sedang
bercakap-cakap memperbincangkan soal tidak adanya Pek-
kut Siancu dalam rombongan musuh, kawanan penjahat
Ceng-thian-pay sudah melalui jalan bukit yang agak rendah
semuanya berhenti di bawah puncak gunung yang tingginya
ada dua puluh tombak lebih.
Orang-orang di atas kutub Hian-peng-goan disamping
berhati-hati mengadakan persiapan, mereka juga memasang
telinga untuk mendengarkan percakapan pihak musuh,
sementara itu sudah terdengar suara Khi Tay Cao yang
berkata kepada Thiat-koan Totiang:
"Setan kecil Hee Thian Siang bersama setan Tua Cin Lok
Pho itu barangkali sudah bosan hidup, dan sudah ditakdirkan
akan menemukan ajalnya ditempat ini. Dari jauh-jauh
melakukan perjalanan kemari, gunanya cuma untuk
mengantarkan jiwa secara cuma-cuma diatas gunung Tay-
swat-san ini." Hee Thian Siang yang mendengar perkataan itu alisnya
berdiri, ketika ia menujukan pandangan matanya ke bawah,
tampak ditengah Khi Tay Cao ternyata membawa sebatang
senjata tongkat dari baja yang tampaknya sangat berat.
Tetapi tongkat baja itu, jelas dibuatnya secara tergesa-
gesa, meskipun kasar dan sangat berat, tetapi dibagian
atasnya, tidak terdapat lagi burung garuda yang membentang
sayap, sehingga tampaknya tidak demikian menakutkan
seperti senjatanya yang dahulu.
Thiat-koan Totiang setelah mendengar ucapan itu,
tampaknya berpikir dulu, kemudian baru menjawab:
"Kalau buat si setan Hee Thian Siang bersama setan tua
Cin Lok Pho itu, sudah mendaki gunung Hian-peng-goan ini,
maka Pang-pek Sin-kun dan istrinya Mo Giok Ceng
seharusnya sudah mengadakan persiapan jauh-jauh, tetapi
mengapa tidak tertampak gerakan mereka?"
Pek-thao Lo-sat Pao Sam-kow memperdengarkan suara
tertawanya bagaikan burung hantu, kemudian berkata:
"Mungkin orang-orang Swat-san-pay menerima perbuatan
Ngo-bie-pay diam-diam telah melarikan meninggalkan markas
sendiri!" Khi Tay Cao berkata kepada Pek-kut-Ie su :
"Pek-kut Siancu Hu-hoat, agaknya terlalu banyak pikiran,
setelah ia mencari-cari diseluruh gunung Ngo-bie tidak tampak
jejak Hian-hian Sianlo bersama tiga saudara seperguruannya,
khawatir mereka akan melancarkan serangan selagi pihak kita
lengah, dan langsung menyerbu ke gunung Ki-lian. Oleh
karenanya mereka memerlukan pulang dulu ke Ki-lian untuk
mengadakan penjagaan. Sebetulnya menurut dugaanku, Ngo-
bie begitu lemah, mana berani berbuat demikian?"
"Sam-moay ku itu meskipun agaknya terlalu banyak pikiran,
tetapi partai-partai rimba persilatan satu sama lain sedang
berusaha untuk mempererat dirinya, memang tidak ada
salahnya! Masih untung kekuatan di pihak kita pada dewasa
ini masih cukup bila diperlukan untuk membasmi golongan
Swat-san Hee Thian Siang dan Cin Lok Pho. Jadi, kurang dia
seorang juga tidak menjadi halangan."
Hee Thian Siang juga mendengar ucapan itu, barulah
mengerti apa sebabnya Pek-kut Siancu tidak datang dan
Thiat-Koan Totiang dan lainnya mempercepat gerakannya
hendak menggempur Swat-san-pay.
Sementara itu Goan-tong Hweshio sudah bertanya kepada
Khi Tay Cao: "Khi Ciangbujin, mengapa kau menganggap bohong
ucapan Hee Thian Siang yang mengatakan ketua Ngo-bie-pay
Hian-hian Sianlo dan Hong-tim Ong khek May Ceng Ong serta
Siang-swat Sianjin Leng Biauw Biauw bersama Kiu-thian Mo-li
Tang Siang Siang, semua sudah berada diatas kutub Hian-
peng-goan mengadakan pertemuan para jago?"
Khi Tay Cao tertawa terbahak-bahak dan berkata:
"Urusan ini mudah sekali diduganya. Hong-tim Ong Khek
May Ceng Ong selamanya sangat sombong dan tidak suka
pandang mata kepada orang lain, sedangkan Siang-swat
Sianjin Leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mo-li Tang Siang
Siang, merupakan orang-orang yang lebih sulit dihadapi
daripada May Ceng Ong sendiri! Apabila mereka suami istri
berada dikutub Hian-peng-goan, maka setelah mendengar
berita kedatangan kita tentunya siang-siang sudah unjuk
muka, mengapa hingga saat ini masih diam tidak tampak
gerakan apa-apa?"

Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Setelah mendengar ucapan itu, Hee Thian Siang berkata
kepada Cin Lok Pho: "Ki Tay Cao benar-benar seorang tua yang sangat licik,
tidak mudah dikelabui. Akal yang kuceritakan kepada Goan-
thong itu memang benar ada cacatnya, dan cacatnya itu
segera diketahui olehnya!"
Sementara itu terdengar suara Lui Hoa yang berkata sambil
tertawa terbahak-bahak: "Kalau Ciangbujin sudah menduga pasti bahwa ucapan
setan kecil Hee Thian Siang itu adalah bohong belaka, Hong-
cim Ong-khek May Ceng Ong, Siang-swat Sianjin Leng Biauw
Biauw, Kiu Thian Mo-li Tang Siang Siang tidak ada dikutub
Hian-peng-goan, apalagi yang harus kita takuti" Mengapa
tidak lekas naik menggempur, supaya kita bisa lekas
membasmi habis berikut setan kecilnya itu?"
Pek-kut Ie su lalu berkata sambil tertawa:
"Sungguhpun benar May Ceng Ong dan kedua istrinya
tidak berada ditempat ini, tetapi Peng-pek Sin-kun suami istri
dan Swat-san Penglo Leng pek Ciok serta Cin Lok Pho dan
Hee Thian Siang bukanlah orang-orang yang boleh dipandang
remeh. Apalagi mereka berada diatas dan kita dibawah, ini
saja bagi mereka sudah menguntungkan karena tempatnya
strategis! Walaupun kita yakin dapat merebut kemenangan,
tetapi juga tidak boleh terlalu gegabah!"
Peng-pek Sin kun yang mendengar pembicaraan itu lantas
berkata perlahan: "Peribahasa ada kata, tong kosong nyaring bunyinya. Botol
yang berisi tidak berbunyi. Pek-kut Ie su ini benar-benar
seorang yang paling susah dihadapi!"
Berkata sampai disitu, tiba-tiba bertanya kepada Hee Thian
Siang: "Hee laote, padri berjubah kuning dalam rombongan
mereka itu, sudah tentu salah satu dari Si Thian-cun dari
daerah Barat, Goan-thong hweesio seperti apa yang kau
katakan tadi. Tetapi dua orang lainnya yang berpakaian aneh,
agaknya juga bukan orang rimba persilatan daerah Tiong-
goan, apakah laote pernah melihat mereka?"
"Dua orang aneh ini, Hee Thian Siang belum pernah
melihat dandanan mereka yang ganjil itu, tidak mirip dengan
tiga orang katai dari negara Timur, juga tidak mirip dengan
sepasang manusia beracun. Entah murid atau anak buah Raja
Siluman Pat Lo Yao-ong?" jawab Hee Thian Siang sambil
menggelengkan kepala. "Tidak perduli siapa, asal dia berani mencoba mendaki
kutub Hian-peng-goan ini, terlebih dulu harus suruh mereka
merasakan salju yang sudah kita siapkan!" berkata Mao Giok
Ceng sambil tertawa. Pembicaraan orang-orang diatas kutub itu, semua
dilakukan dengan suara perlahan, tidak seperti kawanan iblis
yang bicara dan tertawa-tawa seenaknya seolah-olah tidak
takut didengar oleh pihak lawannya.
Oleh karena itu, mereka termasuk Pek-kut Ie su sendiri,
semua tidak dapat menduga tentang orang-orang Swat-san-
pay entah sudah berlalu dari kutub Hian-peng-goan, ataukah
masih berada disana untuk menantikan kedatangannya"
Sementara itu Lui Hoa sudah mengajukan pertanyaan
kepada Thiat-koan Totiang.
"Suheng, kita datang dari tempat jauh ribuan li, apakah
harus berdiri saja dibawah kutub Hian-peng-goan ini, untuk
melihat saja?" Sebelum Thiat-koan Totiang menjawab, sudah didahului
oleh Khi Tay Coa: "Saudara Lui, jangan keburu nafsu, aku sedang memikirkan
perlukah mengirim dua orang terlebih dahulu" Untuk
menyelidiki keadaan diatas."
Lui Hoa lantas menjawab: "Lui Hoa bersedia naik keatas untuk mengadakan
penyelidikan!" Khi Tay Cao berkata sambil tertawa:
"Kalau saudara Lui bersedia naik keatas, maka aku akan
memerintahkan Cong samteku untuk mengawani kau pergi
bersama-sama!" Lui Hoa dan Cong Ki yang mendengar ucapan itu, selagi
hendak bergerak untuk melakukan tugasnya, Khi Tay Cao
sudah berkata lagi: "Kita harus siapkan senjata-senjata rahasia kita Ci-yan-sin-
sa dan Kiu-yu-leng-hwee, apabila diatas gunung itu terdapat
penjagaan keras, kita bisa menggunakan untuk menyerang
dan bisa mengundurkan diri dengan selamat!"
Hee Thian Siang yang mendengar pembicaraan itu lalu
berkata kepada Peng-pek Sinkun dengan suara perlahan:
"Sinkun, sekarang kita perlu mengadakan sedikit
perobahan siasat kita, biarkan Lui Hoa dan Cong Kin naik
keatas, lantas kita tangkap mereka hidup-hidup, apakah itu
tidak baik" Bagaimanapun juga Pek-kut Ie su dan lain-lainnya
toh berada dibawah, pasti tidak keburu memberi pertolongan!"
Peng-pek Sinkun berpikir dulu, sebelum menjawab, sudah
didahului oleh Cin Lok Pho yang berada disampingnya:
"Lui Hoa dan Cong Ki berdua, merupakan orang-orang
yang tidak terlalu berbahaya, dan Pek-kut Ie su dan lain-
lainnya juga tidak keburu untuk menolong, tetapi senjata
rahasia mereka Cie-yan-sin-sa dan Kiu-yu-leng-hwee sangat
berbisa, perlu apa kita harus menempuh bahaya" Sebaiknya
kita bertindak menurut rencana kita semula."
Peng-pek Sinkun tahu bahwa Cin Lok Pho khawatir senjata
rahasia lawannya, takut jika melukai anak buah Swat-san-pay
yang belum terlalu tinggi ilmunya, seperti Leng Eng, Leng Kiat
dan lain-lain, maka ia lalu berkata sambil tertawa:
"Cin Locianpwe bertindak sangat hati-hati, kalau memang
harus demikian halnya, kiranya lebih baik jikalau Hee laute
melancarkan serangannya dari tengah udara, coba
menggunakan Lui Hoa dan Cong Ki sebagai barang
percobaan!" Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu melongok
kebawah, tampak Lui Hoa dan Cong Ki, masing-masing sudah
melesat tinggi keatas dengan menggunakan ilmunya
meringankan tubuh. Kawanan penjahat Cong-thian-pay dating dengan
kekuatan tenaga pilihan, orang-orang itu ternyata memiliki
kepandaian yang tidak lemah.
Cong Kieadalah siaute atau adik perguruan Khi Tay Cao,
sedangkan Lui Hoa adalah jago pedang golongan Tiam-cong
yang nomor dua, semuanya memiliki kepandaian yang tidak
rendah, maka gerakan mereka begitu melesat mencapai tinggi
lima tombak lebih. Hee Thian Siang yang memperhatikan gerakan Lui Hoa
dan Cong Ki, ia menduga kedua orang itu sedikitnya
memerlukan tiga kali gerakan enjotan dan gerakan yang
keempat barulah bisa mencapai ke puncak kutub Hian-peng-
goan. Maka ia segera mempersiapkan dua potong besar
gumpalan es yang amat dingin, menantikan dua orang itu
pada gerakannya yang ketiga dan selagi hendak melesat
mengakhiri gerakannya barulah bertindak untuk menyambit
dengan potongan esnya itu.
Bagi Lui Hoa dan Cong Ki sendiri, dalam hati mereka juga
sudah berjaga-jaga terhadap serangan dari atas oleh
musuhnya, maka mereka masing-masing juga sudah
mempersiapkan senjata rahasia Ci-yan-sin-sa dan api Kiu-yu-
leng-hwee. Dalam waktu yang singkat sekali, dua manusia buas dari
Ceng-thian-pay, sudah meleset untuk yang ketiga kalinya,
gerakannya gesit sekali, hingga Goan-thong Hweesio dan dua
orang yang berdandan aneh dari luar perbatasan yang
menyaksikannya, juga pada turut memberi pujian.
Di puncak kutub Hian-peng-goan, masih sunyi dan tenang-
tenang saja. Pek-kut Ie su berseru 'Eeei' lalu berkata kepada Khi Tay
Cao: "Benarkah orang-orang Swat-san-pay ini telah menelan
perbuatan orang-orang Ngo-bie-pay yang menyingkir jauh-
jauh lebih dulu" Mengapa mereka tidak menggunakan tempat
yang sangat strategis ini untuk mengadakan perlawanan
diatas kutub Hian-peng-goan?"
Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara tertawa
nyaring yang timbul di tengah udara, suara itu disusul dengan
munculnya jago muda Hee Thian Siang diatas puncak kutub
Hian-peng-goan. Begitu Hee Thian Siang menampakkan diri, segera
menggunakan dua potong es yang berada ditangannya, yang
pada waktu itu sudah dihancurkan menjadi berkeping-keping,
kemudian dengan mengarahkan ilmunya Kian-thian-khi-kang,
dan menggunakan gerak tipu menebar hujan, es yang hancur
itu ditebarkan keatas kepala Lui Hoa dan Cong Ki.
Pada saat itu Lui Hoa dan Cong Ki berdua oleh karena
lompatan yang ketiga kalinya tadi sudah habis dan selagi
hendak mengenjotkan kakinya ke tebing gunung, tiba-tiba
diserang oleh Hee Thian Siang sedemikian rupa, sehingga
pada waktu itu mereka terkejut.
Hee Thian Siang telah memilih waktu yang tepat dan baik
sekali, sehingga Lui Hoa dan Cong Ki berdua yang pada
waktu itu masih berada di tengah udara, dan tidak mempunyai
tempat untuk berpijak kaki, sudah tentu tidak dapat berbuat
apa-apa lagi, ia terpaksa melempar senjata rahasia apinya
Kin-yu-leng-hwee dan pasir beracun Ci-yan-sin-sa sambil
mengebutkan lengan jubah mereka, hendak mengelakkan
serangan hancuran es dari Hee Thian Siang.
Diluar dugaan mereka, es-es yag sudah menjadi hancur itu,
dilemparkan Hee Thian Siang sedemikian hebat, apalagi ia
sudah menggunakan ilmunya Kian-thian-khi-kang, sudah tentu
tidak dapat dicegah oleh kibasan lengan jubah orang-orang
seperti Lui Hoa dan Cong Ki.
Apalagi es-es dari kutub Hian-peng-goan itu, bukan saja
dingin tetapi juga keras bagaikan besi, bukanlah es
sembarangan es maka ketika es itu mengenai sasarannya, Lui
Hoa dan Cong Ki keduanya lantas terjatuh dan menggelinding
kebawah dari tempat setinggi lima enam belas tombak.
Oleh karena mereka menggelinding dengan cepat, senjata
rahasia mereka yang disambitkan tadi, sedikitpun tidak ada
gunanya. Sebab, senjata pasti beracun Ci-yan-sin-sa meskipun
hebat, tetapi tidak dapat mencapai ke jarak jauh, terutama
disambitkan dari bawah keatas, maka sebelum sampai
kepada sasarannya, sudah tertiup buyar oleh angin gunung
yang berhembus kencang. Begitupun keadaannya dengan api Kiu-yu-leng-hwee, juga
sudah ditumpas oleh Cin Lok Pho dengan menggunakan
ilmunya Pan sian ciang. Pek-kut Ie su, Khi Tay Cao dan Thiat-koan Totiang yang
menyaksikan kejadian itu, benar saja diatas kutub Hian-peng-
goan telah terjaga kuat, dan setelah menyaksikan Lui Hoa dan
Cong Ki terpukul jatuh, mereka segera maju memburu untuk
memberikan pertolongan. Lui Hoan dan Cong Ki meskipun semuanya memiliki
kekuatan tenaha dalam yang cukup sempurna, tetapi karena
terjatuh dari tempat setinggi lima enambelas tombak, apalagi
kemudian menggelinding terus kebawah, ditambah lagi sudah
terkena serangan es-es dari Hee Thian Siang, sudah tentu
sekujur badannya luka-luka, keadaannya sangat
mengenaskan. Khi Tay Cao merasa gemas sekali, ia tancapkan tongkat
bajanya ditanah dan berkata dengan suara bengis:
"Setan cilik Hee Thian Siang! Kau sungguh jahat sekali!
Bila kau nanti bertemu lagi denganku, atau kutub Hian-peng-
goan ini kupukul hancur, pasti akan kuhancurleburkan
tubuhmu dengan tongkat bajaku ini!"
Baru saja menutup mulut, diatas kutub Hian-peng-goan,
kembali terdengar suara tertawa terbahak-bahak.
Suara tertawa itu ternyata keluar dari mulut Hee Thian
Siang yang pada waktu itu berdiri dengan gagahnya diatas
gunung. Dengan sinar mata buas, Khi Tay Cao kemudian
membentak kepadanya: "Hee Thian Siang! Mengapa kau tertawa ?"
"Aku mentertawakan dirimu! Ha,ha... Percuma saja kalau
menjadi ketua dari salah satu partai besar. Kiranya bukan saja
perbuatanmu sangat rendah, perkataanmu juga seenaknya
saja, sedikitpun tidak mengukur kekuatan pada dirimu sendiri!"
Bukan kepalang marahnya Khi Tay Cao, sekujur badannya
sampai menggigil, dengan mengendalikan hawa amarahnya,
ia membentak lagi sambil mendongakkan kepala :
"Bagaimana kau bisa berkata demikian" Apakah kau tidak
dapat menjelaskan. . ."
Tidak menantikan sampai habis ucapan ketua Ceng-Thian-
pay itu, Hee Thian Siang sudah berkata sambil tertawa
terbahak-bahak: "Khi Ciangbunjin, aku sekarang hendak bersoya kepadamu
lebih dulu. Hebatnya senjata tongkat bajamu yang berat
ditanganmu sekarang ini, bagaimana kalau dibandingkan
dengan yang dahulu, yang sangat kesohor itu?"
Khi Tay Cao yang mendengar ucapan itu, wajahnya merah
padam seketika, dan diam tidak mampu menjawab.
Hee Thian Siang berkata lagi sambil tertawa terbahak-
bahak: "Dahulu dalam pertandingan di gunung Ki-Lian, kau begitu
mengagulkan senjatamu yang berat dan kesohor itu. Tapi buat
melawan senjataku yang ringan bulu burung warna lima,
bagaimana kesudahannya" Senjatamu yang berat dan
kesohor itu bukankah sudah patah" Tapi aku orang dari
angkatan muda ini meskipun tidak terluka apa-apa, bahkan
anak buahmu sendiri yang tidak berdosa, telah mati menjadi
setan penasaran karena senjatamu sendiri!"
Khi Tay Cao menggeram hebat, kakinya menjejak tanah
yang diinjaknya sehingga salju-salju ditempat ia berpijak
menjadi hancur, katanya dengan suara keras:
"Hee Thian Siang! Kita sekarang hanya berbicara soal di
depan mata! Jangan sebut-sebut urusan yang sudah lalu!"
Hee Thian Siang kembali tertawa terbahak-bahak,
kemudian berkata: "Dalam pertemuan berdirinya partai Ceng-thian-pay itu
hingga saat ini, baru saja empat bulan lamanya. Meskipun


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sudah merupakan kejadian yang lalu, tetapi sekarang ini
dalam keadaan begini, Khi Ciangbunjin tentunya tidak akan
lupa, bukan" Senjatamu yang berat dan kesohor itu toh masih
tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku, apalagi sekarang!
Senjatamu yang terdiri dari baja biasa ini, bagaimana kau
berani mengatakan dapat memukul hancur tubuhku" Oleh
karena itu kalau aku katakan tadi padamu bahwa kau berkata
seenaknya saja tanpa memperhitungkan keadaan dirimu
sendiri, apakah itu salah?"
Ki Tay Cao tidak bisa menjawab, ia hanya dengan
sepasang matanya yang buas, mengawasi kepada Hee Thian
Siang. Tapi semakin ia marah, Hee Thian Siang semakin
mengejek dengan ejekannya yang lebih hebat, dengan
mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, ia berkata
kepadanya lagi: "Khi Ciangbunjin, kau tidak perlu marah sedemikian rupa!
Aku berada diatas kutub Hian-peng-goan, kau berada
dibawah. Satu sama lain terpisah tigapuluh tombak lebih.
Senjata rahasiamu Kiu-yu-leng-hwee tidak mungkin akan
dapat membakar aku, senjata rahasia berbisa milikmu Thian-
keng-cek tidak mungkin melukai aku, dan senjata tongkatmu
yang terbuat dari baja biasa itu, lebih-lebih tidak dapat
menyentuh diriku! Apabila kau marah sedemikian rupa dan
sampai kau muntah darah atau mati mendadak, bukankah hal
ini akan membuat aku Hee Thian Siang akan semakin
tersohor saja didunia Kang-ouw?"
Khi Tay Cao benar-benar tidak sanggup lagi
mengendalikan hawa amarahnya lagi-lagi dengan menggeram
marah, senjata tongkat bajanya dicabut lagi dan ia
menggempur gunung es salju itu sehingga membuat satu
lobang besar! Hee Thian Siang merasa geli menyaksikan perbuatan Khi
Tay Cao, katanya: "Sekalipun kau memiliki kekuatan tenaga bagaikan
banteng, barangkali juga tidak akan mampu menggempur
gunung salju ini! Kau jangan berbuat seperti orang kebakaran
jenggot. Biarlah aku mewakili ketua Swat-san-pay hendak
menyuguhi kau dan kawan-kawanmu dengan es dingin yang
ada dikutub Hian-peng-goan ini, supaya kepalamu agak
dingin, jadi jangan marah-marah saja!"
Sehabis berkata demikian, ia lalu mengerahkan ilmunya
Kian-thian-khi-kang, mendorong ketumpukan salju diatas
kutub Hian-peng-goan, hingga tumpukan salju itu berguguran
kebawah, dengan demikian, kawasan penjahat Ceng-thian-
pay mau tak mau terpaksa pada menyingkir untuk
mengelakkan diri supaya jangan sampai kena tertimpa
guguran salju itu. Mao Giok Ceng yang menyaksikan perbuatan Hee Thian
Siang, berkata kepada Cin Lok Pho sambil tertawa:
"Cin Locianpwe, Hee laute ini bukan saja sudah mewarisi
kepandaian Pak-bin Sin-po, tetapi juga sudah mendapat
banyak pengalaman gaib, maka dalam usianya yang masih
sedemikian muda, sudah memiliki kepandaian dan kekuatan
tenaga yang sangat tinggi! Bukan itu saja, ia juga pandai main
lidah, hingga seorang ketua partai seperti Khi Tay Cao sampai
tidak berdaya sama sekali!"
"Kawanan penjahat seperti itu, biasanya memang suka
berbuat sewenang-wenang, terhadap orang-orang yang
lemah, memang sudah sewajarnya kalau dimaki-maki!"
menjawab Cin Lok Pho sambil tertawa juga.
Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu lalu berkata
sambil tertawa: "Cin Locianpwe dan Mao Locianpwe, apakah tidak ingin
turut memaki-maki mereka, supaya mereka semakin marah ?"
"Kami tidak perlu lagi turut campur tangan! Sebab, orang-
orang Ceng-thian-pay yang datang dengan mengerahkan
seluruh kekuatan tenaga yang ada, tidak akan mundur kalau
hanya mengalami sedikit aral rintangan saja. Sudah pasti
mereka masih akan melancarkan serangan besar-besaran.
Oleh karena itu, maka kita seharusnya bersikap setenang
mungkin, supaya pihak lawan tidak dapat menduga berapa
kekuatan yang ada dipihak kita!" berkata Cin Lok Pho sambil
menggeleng kepala dan tertawa.
Berkata sampai disitu, pandangan matanya lalu ditujukan
kebawah gunung. Tiba-tiba ia berkata dengan wajah berobah:
"Sinkun, lekas perintahkan semua tenaga yang ada dikutub
Hian-peng-goan supaya pertahankan tempat ini dengan
seluruh kekuatan yang ada! Semua yang datang kali ini terlalu
kuat, semua merupakan tokoh-tokoh kelas satu!"
Peng-pek Sin kun mengalihkan pandangan matanya
kebawah. Benar saja, tampak olehnya tiga sosok bayangan
orang cepat bagaikan kilat melompat tinggi keatas, terus
menyerbu kekutub Hian-peng-goan.
Mereka itu terdiri dari ketua Ceng-thian-pay Thiat-koan
Totiang, Pek-thao Losat, Pao Sam-kow dan yang berada di
tengah-tengah adalah Pek-kut Ie su, yang oleh mereka
dipandang sebagai andalan tenaga yang terkuat.
Kiranya Khi Tay Cao dalam keadaan marah dan tidak bisa
berbuat apa-apa seperti itu, terpaksa meminta pendapat dan
pikiran Pek-kut Ie su. Pek-kut Ie su kemudian berkata sambil
mengerutkan alisnya; "Tempat kedudukan lawan sangat strategis, sesungguhnya
sulit untuk digempur. Biarlah aku turun tangan bersama-sama
Ki Ciangbunjin dan Pek-thao Losat untuk mencoba sekali lagi,
menyelidiki puncak kutub Hian-peng-goan, sebetulnya ada
berapa banyak sih kekuatan tenaga mereka" Setelah itu baru
kita mengambil keputusan lagi."
Khi Tay Cao tahu bahwa Thiat-koan Totiang dan Pek-kut Ie
su, semuanya merupakan orang-orang yang berkedudukan
tinggi dan memiliki kepandaian yang tinggi pula, hingga dapat
diduga sampai dimana batas kemampuannya. Sedangkan
Pek-thao Losat, meskipun didalam pertandingan diatas
gunung Ki-lian, pernah terluka parah, tetapi setelah dibantu
dan diobati oleh Pek-kut Siancu, kini semua luka-lukanya
sudah pulih kembali bahkan sudah melatih semacam ilmu
yang tahan hawa dingin, juga merupakan suatu pilihan yang
sangat tepat. Oleh karenanya, maka ia menganggukkan kepala
menyetujui pikiran Pek-kut Ie su.
Pek-kut Ie su berkata kepada Thiat-koan Totiang dan Pek-
thao Losat: "Pao po-po dan Khi Ciangbunjin, lekas kita gunakan
peluang yang baik ini selagi Hee Thian Siang masih
membanggakan diri seperti itu, selekasnya menyerbu keatas,
untuk mengadakan penyelidikan berapa banyak sebetulnya
kekuatan tenaga mereka yang dapat mempertahankan garis
pertahanan mereka itu?"
Thiat-koan Totiang dan Pek-thao Losat menganggukkan
kepala, maka tiga bayangan orang itu lalu loncat tinggi keatas,
untuk menyerbu kekutub Hian-peng-goan.
Peng-pek Sin kun yang melihat serbuan itu benar-benar
berkekuatan besar, buru-buru mengadakan perundingan untuk
mengambil keputusan. Akhirnya telah diambil keputusan, ia
sendiri bersama istrinya hendak menahan majunya Pek-kut Ie
su, Cin Lok Pho dan Hee Thian Siang diberi tugas melawan
Thiat-koan Totiang, sedangkan Pao Sam-kow dihadapi oleh
lima anak buah Swat-san-pay.
Baru saja diatur segala persiapan, tiba-tiba bayangan orang
itu sudah berhasil lompat melesat setinggi tujuh delapan
tombak tingginya. Asal sekali lagi mereka berhasil menancap
di tebing gunung, pasti akan berhasil naik ke puncak gunung.
Peng-pek Sinkun dan istrinya semua tahu bahwa untuk
menghadapi orang-orang seperti Pek-kut Ie su yang sudah
memiliki kepandaian tidak ada lemahnya, tidak boleh
menggunakan lagi senjata racunnya, maka suami istri itu
sedikitpun tidak berani berlaku gegabah ketika
mempersiapkan ilmunya Kiu Coan phian-lian-sinkang, kedua-
duanya mendorongkan tangannya, mengeluarkan hembusan
angin yang sangat dingin, menyerang kearah Pek-kut Ie su.
Pek-kut Ie su mengeluarkan suara dari hidung, kemudian
mengebutkan lengan jubahnya. Hembusan angin Pek-kut-im-
hong telah berubah menjadi kekuatan tenaga dalam yang
sangat hebat, kali ini digunakan untuk menyambut serangan
kedua suami istri tadi. Bertempur secara demikian, sudah tentu yang lebih kuat
akan menang. Apabila pertempuran itu dilakukan ditanah datar, sekalipun
Peng-pek Sin kun berdua bersama istrinya melawan
berbareng, mungkin masih tidak sanggup menahan serangan
Pek-kut Ie su yang hebat itu.
Tetapi kini karena Pek-kut Ie su berada dibawah, ia
mendapat tiga macam kerugian.
Pertama, sudah mengerahkan kekuatan tenaganya terlalu
besar buat bisa melesat tinggi delapan belas tombak. Dengan
demikian, maka kekuatan tenaga dalamnya tentu sudah agak
berkurang. Kedua, ketika kedua kalinya ia hendak menancap
kaki, waktu itu tenaga loncatan naik keatasnya hampir habis,
sehingga sekujur badannya boleh dibilang terapung bebas di
tengah udara, sudah tentu tidak mudah untuk menggunakan
kekuatan tenaga sepenuhnya. Ketiga, untuk menyambut
serangan lawan dari bawah, kalau dibandingkan dengan
serangan dari atas yang meluncur kebawah, sudah tentu yang
menyerang dari bawah harus mengalami kerugian.
Oleh karena adanya tiga faktor yang merugikan itu, maka
dalam mengadu kekuatan tenaga itu, Peng-pek Sin kun suami
istri telah mengeruk keuntungan tidak sedikit. Namun
demikian, akhirnya toh kedua pihak masih berimbang, disini
dapat dibayangkan betapa hebatnya kekuatan Pek-kut Ie su.
Kekuatan kedua belah pihak boleh dibilang berimbang.
Tetapi, masing-masing toh sudah terdorong sedikit.
Peng-pek Sin kun bersama istrinya karena berpijak di
tempat yang lebih tinggi, meskipun terdorong mundur, juga
hanya menggeser setengah langkah saja.
Tidak demikian keadaannya dengan Pek-kut Ie su. Oleh
karena tubuhnya sedang terapung ditengah udara, setelah
terdorong mundur, sudah tentu melayang turun kebawah,
tetapi ia memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh yang
sudah sempurna, maka tidak mendapat luka sedikitpun juga
seperti Cong Ki dan Lui Hoa yang harus menggelinding turun
dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Dengan demikian, Pek-kut Ie su yang berada di bawah
dengan Peng-pek Sin-kun dan istrinya, meskipun keadaan
sangat berbahaya, tetapi sudah berhasil memukul mundur
musuhnya yang kuat. Kalau di pihak Peng-pek Sin-kun suami istri sudah berhasil
memukul mundur lawannya, tetapi di sayap kiri tidak demikian
halnya. Tiba-tiba terdengar tertawa seorang tertawa bangga.
Suara tertawa bangga itu keluar dari mulut Hee Thian
Siang! Sebab, wakil ketua Ceng-thian-pay Thiat-koan Totiang
yang menyerang dari jurusan kiri ternyata telah mengalami
nasib yang sangat mengenaskan.
Kiranya Hee Thian Siang kecuali mahir ilmu silat Bunga
Mawar, ilmu silat warisan Thian Ciangbunjin dan ilmu jari
tangan Kian-thian-it-ci dari perguruannya sendiri, sedangkan
kekuatan tenaga dalamnya, selain sudah mendapat warisan
dari Duta Bunga Mawar, juga sudah memakan biji mata
kelabang. Ditambah lagi latihannya yang tekun, maka
keadaan waktu itu jauh berbeda daripada dahulu, sudah tentu
jauh diatas Thiat-koan Totiang.
Sekalipun pertempuran itu dilakukan di tanah datar, Hee
Thian Siang juga tidak akan kalah. Apalagi sekarang ia yang
berada diatas dan Thiat-koan Totiang dibawah. Sudah tentu
Hee Thian Siang mendapat lebih banyak keuntungan. Maka ia
telah menggunakan ilmunya Kian-thian-khi-kang ketika Peng-
pek Sinkun suami istri sedang menghadapi Pek-kut Ie su, ia
sudah menyerang hebat kepada Thiat-koan Totiang.
Dilain pihak Cin Lok Pho juga tidak mau tinggal diam, ia
juga mengerahkan tenaganya dengan menggunakan ilmu
terampuhnya dari golongan Lo-hu-pay ialah Pan-sian-ciang-
lok, menyerang Thiat-koan Totiang dari samping.
Thiat-koan Totiang yang berada di tengah udara, sudah
tentu sangat dirugikan, untuk menghadapi serangan Kian-
thian-khikang Hee Thian Siang saja, atau serangan tunggal
Pan-sian-ciang-lok dari Cin Lok Pho, tidak mungkin sanggup
menahan. Apalagi dua macam ilmu luar biasa itu kini
menggempur kearahnya dengan berbareng! Maka tidak
ampun lagi, tubuhnya yang tinggi besar telah terpental dan
terbang sejauh lima enam kaki, terus meluncur turun
kebawah! Lui Hoa dan Cong Ki yang pertama-tama terpukul oleh Hee
Thian Siang hanya menggelinding kebawah, maka meskipun
keadaannya mengenaskan, tetapi lukanya tidaklah terlalu
parah. Tidak demikian dengan Thiat-koan Totiang. Oleh
karena digempur oleh dua macam ilmu yang sangat hebatm
terlebih dulu sudah terluka bagian dalam tubuhnya dan
kemudian terlempar jauh lalu melayang turun, maka
keadaannya itu sangat membahayakan jiwanya.
Khi Tay Cao yang menyaksikan kejadian demikian,
mengeluarkan suara geraman hebat, tongkat bajanya
dirancapkan ditanah, kemudian ia bergerak bagaikan burung
raksasa terbang tinggi ganas.
Khi Tay Cao terbang setinggi lima tombak, hendak
menyambut tubuh Thiat-koan Totiang yang meluncur turun,
kemudian disambar dan disangganya dengan kedua
tangannya. Thiat-koan Totiang yang meminjam sedikit tenaga itu,
memaksakan diri menahan luka di dalam tubuhnya, dibantu
dengan Khi Tay Cao, barulah bisa berdiri di tanah dengan
selamat. Tetapi baru saja kakinya menginjak tanah, kepalanya
dirasakan berkunang-kunang, dan dari mulutnya
menyemburkan darah segar.
Pek-kut Ie su pada saat itu juga sudah berada ditanah,
buru-buru memberikan sebutir pil, suruh Thiat-koan Totiang
menelannya. Hee Thian Siang dengan tindakannya itu telah berhasil
membalas dendam sakit hati dalam pertempuran di gunung
Tiam-cong-san dahulu, jika ia tidak besar rejekinya, kemudian
mendapat pengalaman gaib dari dalam peti mati, mungkin ia


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sudah binasa. Maka pada saat itu ia sangat gembira sekali,
dan tertawa terbahak-bahak.
Tetapi selagi ia tertawa terbahak-bahak, diatas kutub Hian-
peng-goan pada saat itu terjadi kericuhan.
Sampai pada saat itu, musuh yang menyerang dari tengah
Pek-kut Ie su sudah terpukul mundur oleh Peng-pek Sinkun
suami istri. Thiat-koan Totiang yang menyerang dari barisan
kiri juga sudah terpukul jatuh oleh Hee Thian Siang bersama
Cin Lok Pho. Tetapi lima anak buah Swat-san-pay yang
menghadapi musuh dari sebelah kanan, ternyata tidak
berhasil mempertahankan serangan Pek-thao Losat, hingga
garis pertahanan ditengah jadi bobol!
Kiranya Leng Eng dan Leng Kiat serta lain-lainnya juga
tidak mengetahui bahwa Pek-thao Losat Pao Sam-kow ada
melatih ilmu kebal yang tidak mempan senjata tajam, telah
mengalami kegagalan dalam serangannya. Pada saat Peng-
pek Sinkun dan istri berhasil memukul mundur Pek-kut Ie su
dan Thiat-koan Totiang sudah didorong jatuh oleh Hee Thian
Siang dan Cin Lok Pho, lima orang anak buah Swat-san-pay
telah menghujani Pao Sam-kow dengan senjata ampuh salju
yang dingin. Leng Eng dan Leng Kiat yang berlaku sangat hati-hati
dalam serangan itu masih ditambah lagi dengan senjatanya
Peng-pek-gan-long. Namun mereka tidak mengetahui bahwa Pek-thao Losat
Pao Sam-kow bukan saja mempunyai ilmu weduk, tidak
mempan senjata tajam tetapi juga memiliki ilmu yang tidak
takut segala hawa dingin.
Maka dibawah serangan luncuran salju yang sedemikian
deras, ia masih bisa naik kepuncak seperti tanpa rintangan.
Sun-kiu-siao, salah seorang anak buah dari lima anak buah
Tay-swat-san yang adatnya paling keras. Ketika ia melihat
musuh-musuh dari barisan tengah dan kiri semua terpukul
mundur, sedangkan dipihaknya sendiri sebaliknya telah
kebobolan hanya oleh seorang nenek-nenek tua, maka ia
merasa sangat penasaran, secepat kilat sudah menyerbu dan
menerjang kepada Pao Sam-kow.
Serangan itu sudah tidak digubris oleh Pao Sam-kow,
malah mengebutkan lengan jubah tangannya hingga Sun-kiu-
siao terdampar mundur beberapa langkah.
Setelah Pao Sam-kow memukul mundur Sun-kiu-siao,
tangan kanannya mengeluarkan empat buah senjata apinya
Kiu-yu-leng-hwee untuk menyerang empat anak buah Swat-
san-pay yang lain, disamping itu ia juga berkata dengan suara
nyaring kepada kawan-kawannya dibawah gunung:
"Aku sudah berada di puncak kutub Hian-peng-goan,
Ciangbun sute lekaslah pimpin kawan-kawan menyerbu
keatas!" Baru saja ia menutup mulut, tampak sesosok
bayangan tinggi besar dan berkelebatnya sinar merah dengan
berbareng menyerbu kepadanya.
Bayangan tinggi besat itu bukan lain daripada Leng Pek
Ciok yang datang dari dalam lembah Phian-han-kok.
Sedang sinar merah adalah jaring pusaka Hee Thian Siang
yang digunakan untuk menjaring api Ki- yu-keng-hwee yang
oleh Pao Sam-kow digunakan untuk menyerang Leng Eng dan
Leng Kiat berempat. Leng pek Ciok yang menampak Pao Sam-kow berhasil
mendaki keatas kutub Hian-peng-goan, lalu mendelikkan
matanya dan membentak dengan suara keras:
"Nenek tua, kedatanganmu disini sungguh amat kebetulan!
Jikalau bukan musuh tidak akan ketemu lagi, kita yang
barangkali memang berjodoh, hari ini kita boleh bertempur
sepuas-puasnya!" Setelah berkata demikian, dengan beruntun ia telah
melancarkan serangannya yang mengandung hawa dingin
dari ilmunya Kiu-coan-pian-han-kang.
Didalam pertandingan di gunung Ki-lian dahulu Pao Sam-
kow telah terpukul hampir mati oleh Leng Pek Ciok, dan Leng
Pek Ciok juga sama juga keadaannya. Maka kedua belah
pihak boleh dikata telah sama-sama mengalami penderitaan
hebat, oleh karena itu dalam pertemuan kembali pada hari itu,
sudah tentu Pao Sam-kow semakin ganas, ia juga
menggunakan dua jenis ilmu, bukan saja sudah berhasil
menggagalkan serangan Leng Pek Ciok, tetapi juga sudah
melancarkan serangan pembalasan. Pada waktu itu Khi Tay
Cao yang masih berada di bawah, ketika melihat sucinya
sudah berhasil membobolkan garis pertahanan sebelah
kanan, tampak sangat girang. Kecuali Thiat-koan Totiang yang
masih terluka bagian dalam, dan memerlukan banyak istirahat,
yang lain-lainnya lantas naik keatas semua.
Peng-pek Sinkun melihat lima anak buahnya yang terpilih
dan menjaga garis pertahanan sebelah kanan ternyata sudah
bobol oleh Pao Sam-kow, juga merasa malu dan terkejut.
Selagi hendak meninggalkan garis pertahanan bagian
tengah untuk memberi pertolongan, tiba-tiba tampak Leng Pek
Ciok sudah datang dan berhasil menahan Pao Sam-kow,
sedangkan Hee Thian Siang juga sudah menggunakan jaring
wasiatnya, untuk menjaring senjata api Kiu-yu-leng-hwee,
barulah setelah ia melihat kejadian itu hatinya merasa lega.
Tetapi keadaan dikutub Hian-peng-goan, baru saja agak
reda, kawanan penjahat yang berada di bawah sudah mulai
meluruk lagi keatas. Cin Lok Pho lalu berkata kepada Peng-pek Sinkun sambil
mengerutkan alisnya. "Musuh kita kali ini telah mengerhkan seluruh kekuatan
tenaga untuk menggempur kita, kalau kita tidak hadapi
dengan seluruh kekuatan, garis pertahanan yang pertama ini,
barangkali tidak dapat kita pertahankan!"
Peng-pek Sinkun menganggukkan kepala dengan sikap
serius, lalu bersama-sama Cin Lok Pho bersama istrinya Mao
Giok Ceng, mendorong bukit salju yang ditumpuk tadi
kebawah. Tumpukan salju itu meskipun dibuat dengan tergesa-gesa,
dan hanya setinggi setombak saja, tetapi jika didorong
kebawah sudah tentu mengandung kekuatan sangat hebat.
Bukan cuma berhasil menahan serangan orang-orang Ceng-
thian-pay saja, tetapi juga telah berhasil melukai beberapa
orang diantaranya. Orang-orang Ceng-Thian-pay tidak tahu berapa banyak
salju semacam itu yang disiapkan diatas gunung, maka
semuanya pada mengerutkan alis dan tidak berdaya sama
sekali. Khi Tay Cao lebih-lebih mengkhawatirkan Sucinya yang
berada di atas seorang diri, maka ia waktu itu merasa sangat
cemas sekali. Pada saat itu Leng Pek Ciok sudah bertempur sampai
empat limapuluh jurus dengan Pao Sam-kow, tetapi kekuatan
kedua belah pihak nampak masih berimbang.
Hee Thian Siang yang menyaksikan kejadian itu bertanya
kepada Cin Lok Pho: "Cin Locianpwe, bagaimana menurut pandangan
Locianpwe" apakah Leng Toakoku akan berhasil
mengalahkan Pao Sam-kow yang mempunyai ilmu kebal itu?"
"Kekuatan tenaga kedua belah pihak sama-sama tingginya
jikalau kedua-duanya tidak sampai kehabisan tenaga sendiri,
masih susah ditentukan siapa yang kebih unggul atau siapa
yang bakal asor. Dengan lain perkataan, siapa yang sanggup
bertahan lama dan lebih ulet, barulah ada harapan untuk
mendapat kemenangan!"
"Cin Locianpwe, dibawah sana musuh sudah siap hendak
menggempur, agaknya tak dapat dibiarkan Leng Toako
bertempur terus dengan Pao Sam-kow secara itu!" Kata Hee
Thian Siang. "Apakah Hee laote ada maksud kehendak membantu Leng
toakomu?" tanya Cin Lok Pho sambil tertawa.
Hee Thian Siang menganggukkan kepala, tetapi kemudian
berkata pula sambil kerutkan alis:
"Aku sebenarnya memang ingin menggunakan Pek-thao
Losat Pao Sam-kow ini untuk menguji kepandaian dari
perguruanku yang baru dipelajari, tapi takut akan melanggar
peraturan dunia Kang-ouw!"
Cin Lok Pho menunjuk kawanan penjahat dari Ceng-thian-
pay dibawah kutub Hian-peng-goan, katanya sambil
tersenyum: "Mereka dengan beramai-ramai telah datang mengeroyok
kemari, apakah itu bukannya perbuatan yang melanggar dunia
Kang-ouw" Bila saja tidak lebih dahulu kita mendapat kabar,
kutub Hian-peng-goan ini mungkin sudah banjir darah."
"Kalau mendengar ucapan Locianpwe ini, rasanya Hee
THian Siang toh boleh juga membantu Leng toako bukan?"
tanya Hee Thian Siang sambil tertawa.
"Sudah tentu boleh sekali! Sebab, pada saat seperti ini
tidak perlu lagi kita bicarakan soal peraturan dengan kawanan
penjahat seperti mereka itu!"
"Baiklah! Kalau begitu Hee Thian Siang akan menggunakan
Pek-thao Losat ini untuk menguji ilmu silat pelajaran suhu
sebetulnya ada mempunyai kehebatan sampai dimana," kata
Hee Thian Siang sambil tertawa besar.
Setelah itu, tubuhnya melayang ke tengah-tengah antara
dua orang yang sedang bertempur. Karena ia bermaksud
supaya dapar lekas-lekas menundukkan Pao Sam-kow agar
dapat mengurangi kekuatan pihak lawan, maka begitu turun
tangan sudah menggunakan pelajaran ilmu silat yang
diturunkan oleh Siau-ie Siangjin, ditambah lagi dengan ilmu
silat serangan jari tangan Kian-thian-ci, ilmu terampuh dan
simpanan dari suhunya Hong-poh Lui.
Pao Sam-kow sedang bertempur dengan Leng Pek Ciok.
Kedua orang itu kecepatannya berimbang. Di pihak Pao Sam-
kow, orang Ceng-thian-pay ini sudah bertekad
menghancurkan kutub Hian-peng-goan, maka segenap
serangannya dilancarkan dengan hebat dan ganas. Begitu
juga dengan Leng Pek Ciok, sebagai jago buat pihak tuan
rumah, ia harus berusaha mempertahankan musuhnya, juga
bertempur dengan hati-hati. Jadi mereka sama sekali tidak
menduga kalau Hee Thian Siang yang biasanya tinggi hati,
tiba-tiba bisa membantu Leng Pek Ciok untuk menggempur
Pao Sam-kow. Sudah tentu tindakan Hee Thian Siang itu telah
mengejutkan Pao Sam-kow. Selagi hendak membagi kekuatannya untuk menghadapi lawan baru, Hee Thian Siang
sudah datang menggempur dengan sekuat tenaga, apalagi
ilmu serangannya Kian-thian-ci demikian hebat, ia tidak
keburu berbuat apa-apa, serangan itu sudah berhasil
mengenakan bagian jalan darah dibagian ketiak Pao Sam-
kow. Jago betina itu tersadar sesudah terlambat juga sama
sekali tidak keburu menyingkir. Bagitulah seketika itu juga ia
lantas jatuh rubuh ditanah.
Bagi Leng Pek Ciok yang sedang bertempur sengit dengan
semangat tinggi, ketika tiba-tiba melihat perubahan itu, lantas
penyelidikan matanya dan berkata kepada Hee Thian Siang:
"Hee laote, apakah artinya semua ini" Apa kiramu Leng
toakomu tidak sanggup menghadapi nenek tua itu?"
"Leng toako, jangan salah paham. Dengan kepandaian dan
kekuatan yang engkau miliki, sudah tentu bisa merebut
kemenangan! Tetapi toako harus ingat, dibawah sana masih
ada banyak orang Ceng-thian-pay sedang berusaha naik ke
atas. Mungkin akan menggempur dengan sepenuh tenaga.
Tindakan siaote ini meskipun agak ceroboh, tapi semua ini
semata-mata karena mengingat kepentingan Swat-san-pay
seluruhnya. Leng toako, maafkanlah siaote sekali ini!"
Mendengar ucapan Hee Thian Siang itu wajah Leng Pek
Ciok menjadi merah, ia lalu menyambar tubuh Pao Sam-kow
yang sudah rubuh dalam keadaan pingsan dengan langkah
lebar berjalan ke puncak Hian-peng-goan. Tubuh jago betina
itu diangkatnya tinggi-tinggi, lalu berkata dengan suara bengis:
"Ketua Ceng-thian-pay Khi Tay Cao, dengarlah Sucimu
Pek-thao Losat Pao Sam-kow sudah dirubuhkan oleh Hee
Thian Siang laote. Jikalau kalian berani berbuat semaunya
saja, Leng Pek Ciok tidak mau segan-segan lagi pasti akan
mencincang siluman perempuan ini hingga hancur berkeping-
keping!" Khi Tay Cao, Pek-kut Ie su dan yang lain-lainnya, saat itu
sedang dongakkan kepala mengawasi puncak Hian-peng-
goan. Mereka agaknya sudah merasa kewalahan. Ketika tiba-
tiba tampak Pek-thao Losat dalam genggaman tangan Leng
Pek Ciok, betul-betul mereka jadi semakin tidak berdaya.
Maka kecewalah Khi Tay Cao. Setelah bersangsi sejenak,
matanya memancarkan sinar buas, dan berkata pada Leng
Pek Ciok diatas puncak Hian-peng-goan:
"Khi Tay Cao sudah bertekad bulat kalau tidak dapat
menghancurkan Hian-peng-goan, tidak akan kembali. Jikalau
kalian berani ganggu seujung rambut saja Suciku, aku pasti
akan membunuh habis semua orang Swat-san-pay untuk
menuntut balas!" Leng Pek Ciok sudah tentu tidak mau dibentak mentah-
mentah oleh Khi Tay Cao begitu saja. Dirinya bermaksud
hendak melemparkan tubuh Paw Sam-kow kebawah gunung,
Hee Thian Siang tiba-tiba mencegahnya, berkata kepada
Peng-pek Sinkun; "Sin-kun, untuk sementara ini biarlah kita pertahankan dulu
nyawa Pao Sam-kow. Sedikit banyak itu bisa mempengaruhi
juga usaha kawanan penjahat Ceng-thian-pay."
Peng-pek Sinkun menganggukkan kepala dan
memerintahkan Leng Pek Ciok supaya jangan marah lagi dan
jangan sampai melempar Pao Sam-kow ke bawah gunung.
Tepat pada saat itu ditengah udara tiba-tiba terdengar
suara cecuitan burung yang sangat aneh.
Leng Pek Ciok perlahan-lahan meletakkan tubuh Pao Sam-
kow ditanah, dan mulutnya mengeluarkan suara:
"Hey! Suara burung itu demikian nyaring, baru kali ini
kudengar!" Mao Giok Ceng yang mendengar juga bunyi burung itu,
wajahnya juga berubah katanya sambil menunjuk kearah
Timur-laut: "Burung itu besar sekali, diatasnya juga masih ada satu


Makam Bunga Mawar Karya Opa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang yang menunggangi, entah darimana datangnya?"
Sementara itu, didalam barisan orang-orang Ceng-thian-
pay, dua orang yang berdandan sangat aneh tiba-tiba
mengeluarkan suara siulan, seolah-olah menyambut
kedatangan orang yang sedang duduk di atas burung itu.
Hee Thian Siang kini juga sudah menampakkan bahwa
burung ditengah udara itu adalah burung garuda yang sangat
besar, diatasnya duduk seorang yang berdandan sangat aneh
perlahan-lahan menengok ke barisan orang-orang Ceng-thian-
pay. Menyaksikan keadaan demikian, hatinya tergerak diam-
diam ia mengeluh, buru-buru berkata kepada Peng-pek
Sinkun: "Sinkun, aku pernah dengar kata bahwa Pat-bo Yao-ong
Hian Wan Liat adalah seorang sakti yang dapat menjinakkan
binatang terbang dan binatang buas. Burung garuda besar itu
kiranya ada hubungan dengan musuh-musuh kita. Kalau
benar demikian, kutub Hian-peng-goan ini rasanya sulit sekali
dipertahankan. Mau tak mau kita harus memperkuat garis
pertahanan yang kedua."
Peng-pek Sinkun juga sudah melihat gelagat sangat gawat,
maka segera memerintahkan Leng Pek Ciok membawa lima
orang anak murid Swat-san-pay mundur dulu kelembah Thian-
han-kok, dan supaya diatur penjagaannya tetapi muridnya
jangan sampai diketemukan oleh burung garuda dari tengah
udara. Leng Pek Ciok juga tahu bahwa Swat-san-pay sedang
menghadapi bahaya besar, maka tidak berlaku keras kepala.
Ia segera menerima permintaan itu. Baru saja hendak berlalu,
Peng-pek Sinkun berkata sambil tertawa:
"Saudara Leng, setelah kau bawa lima murid kita bersama
Pao Sam-kow kelembah Thian-han-kok, sekalian kau buka
gudang Thian-ha ambil senjata anak panah yang sudah lama
disimpan disana. Kau keluarkanlah untuk dipakai."
Leng Pek Ciok menerima permintaan itu dan sebelum
berlalu lantas berkata kepada Peng-pek Sinkun sambil
tersenyum: "Tak disangka Sinkun masih pandai menggunakan anak
panah." Peng-pek Sinkun masih belum menjawab, sudah
didahului oleh Mao Giok Ceng istrinya berkata:
"Pertama kali datang di gunung Tay Swat-san, ia dengan
mengandalkan sebuah gendewa dan tujuh batang anak panah
telah berhasil menundukkan jago disini. Sekarang barangkali
karena melihat burung garuda raksasa itu, tangannya menjadi
gatal. Ia rupanya hendak menggunakan kekkuatannya yang
sudah lama tidak digunakan, memanah burung garuda itu."
Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa:
"Kalau Sinkun memang benar pandai menggunakan anak
panah untuk memanah burung garuda itu, itulah yang paling
baik. Sayang sebelumnya kita tidak menduga akan
kedatangan burung raksasa itu dan anak panah juga tidak ada
disini. Jikalau tidak, sekarang ini mungkin sudah berhasil
memanah burung itu. Bukankah hal itu akan mengejutkan
orang-orang Ceng-thian-pay dan mereka tidak berdaya untuk
maju lagi?" Berkata sampai disitu, matanya lantas diarahkan kebawah,
alisnya dikerutkan, lalu berkata kepada Cin Lok Pho:
"Cin Locianpwe, orang-orang Ceng-thian-pay sudah
mempunyai burung garuda raksasa yang dapat digunakan
sebagai tunggangan, mengapa masih belum nampak
melancarkan serangan" Bahkan masih merundingkan
sesuatu, entah urusan apalagi yang mereka rundingkan itu."
"Burung garuda itu meskipun besar, tetapi sudah terang
tidak dapat ditunggangi bersama-sama oleh beberapa orang
sekaligus. Bagaimana mereka hendak mengatur urut-urutan
siapa yang akan dibawa lebih dahulu dan siapa yang harus
belakangan" Dan pula, apa burung garuda itu mau saja
ditunggangi oleh orang yang masih asing, itu yang masih
Pendekar Elang Salju 2 Rahasia Lukisan Kuno Seri Pendekar Cinta Karya Tabib Gila Pedang Keadilan 19
^