Pencarian

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan 16

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung Bagian 16


kembali serangannya Biar bagaimana pun dia tidak bisa mendesak mundur mereka
seperti rekanrekan mereka yang sebelumnya.
Dengan cara ini mereka bisa mengulur waktu selama mungkin Sedangkan batas
waktu yang dibenkan kepada Yok Sau Cun hanya sepembakaran hio Apabila waktu
itu habis dan dia masih belum sanggup menerobos keluar dan barisan tersebut,
berarti pihak Yok Sau Cun yang kalah.
Yok Sau Cun sadar dia tidak boleh membiarkan mereka bertarung dengan cara
demikian Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara gerungan yang keras dan pedang
lemasnya segera digerakkan. Dia tidak memperdulikan lagi jurus apa yang harus
dipakainya. Kalau pihak lawan bisa menggunakan cara mainmain untuk melawannya,
mengapa dia sendiri tidak".
Yok Sau Cun menyerang dengan kalang kabut. Pokoknya dia terus mengibas ke kfri
dan ke kanan. Sebetulnya cara menyerang seperti Jni, apabita tidak mempunyai
tenaga dalarrl yang kuat, malah merugikan dirinya sendiri. Untung saja dia
berhasil mendapatkan pengalaman aneh, yakni mendapat saluran tenaga dari Jitkong dan
Patkong. Karena tenaga dalamnya sudah tinggi sekali, maka sapuan pedangnya Juga
mengandung kekuatan yang dahsyat. Kedua tosu itu tidak berani menyampok
pedangnya dengan kekerasan. Sekarang ganti mereka yang panik menghadapi
serangan Yok Sau Cun yang tidak menentu.
Meskipun kedua orang tosu itu berusaha menghindari dari sapuan pedang Yok Sau
Cun telapi karena tenaga dalam anak muda ilu yang sangat kuat, angin yang
ditimbulkan pun dapet menghempaskan mereka. Tanpa dapat tertahan lagi, tubuh
mereka terhuyunghuyung sehingga terdesak mundur sejauh beberapa langkah.
Baru Yok Sau Cun menghentikan gerakan pedangnya. Oua orang tosu yang lain
segera maju dan menyerang kembali. Yok Sau Cun ingat dengan jelas bahwa dia
sudah berhasil mendesak mundur delapan orang tosu. Hal ini berarti dia sudah
berhasil memecahkan barisan tersabut. Mengapa masih saja ada orang yang
menyerangnya". Pedang lemasnya sagera diangkat ke atas. Timbullah segurat sinar yang
beckrlauan. Oia langsung menghentakkan pedang tersebut dan menghadang di depan kedua tosu
yang sedang menerjang ke arahnya.
"Tahan!" bentak Yok Sau Cun.
Bupanya kedua orang tosu yang ada di depannya terdiri dan U Yuan Kok dan
rekannya. "Entah apa sebabnya, YokSicu menghenHkan gerakan kami?" tanya Li Yuan Kok.
Yok Sau Cun menatapnya dengan tajam.
"Cayhe sudah bsrhasil mendesak mundur delapan orang. Seharusnya sudah dapat
dihitung bahwa cayhe berhasil menembus barisan pedang Toheng!".
U Yuan Kok tersenyum simpul.
"Barisan pedang Bu Liangkiam pei kam! disebut "Leng coaceng" (Barisan sukma
ular). Meskipun hanya terdiri dari delapan orang, tapi kepala dan ekor sahng
bergantian. Selamanya tidak terhentikan Dua orang mundur, dua orang lagi maju.
Begitulah seterusnya. Yok Sau Cun belum berhasil menerobos barisan pedang kami
ini, bagaimana dapat dihitung sudah berhasil?".
"Kalau menurut pendapat toheng, bagaimana caranya baru dihitung sudah berhasil
menerobos bansan ini'?" tanya Yok Sau Cun.
"Kalau Yok Sicu berhasil membuat kami berdelapan kehilangan kekuatan untuk
menyerang lagi, baru dapat dihitung sudah berhasil menerobos bansan p dang ini,"
sahut Li Yuan Kok. Yok Sau Cun segera memalingkan kepalanya Dalam waktu yang tidak berapa lama
ini, sebatang hio yang tertancap di tanah tadi sekarang sudah terbakar
setengahnya. Hati anak muda itu meniadi tegang sekaligus marah Tiba-tiba dia mendongakkan
kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Apa susahnya kalau hanya demikian?" sahutnya tenang.
Tubuhnya tiba-tiba berkelebat. Dengan kecepatan kilat dia berhasil mencengkram
pergelangan tangan Li Yuan Kok dan melemparnya ke tempat yang agakjauh. Namun
ketika tangannya mencengkram dan melemparkan tubuh tosu tersebut, tangan kirinya
juga ikut men|ulur keluar dan langsung menotok. Dengan demikian, tubuh Li Yuan
Kok yang terpental di kejauhan langsung terkulai di atas tanah tanpa sanggup
bergerak lagi. Gerakannya itu membuat Li Yuan Kok terkejut setengah mati. Jangan kata untuk
membalas menyerang, sedangkan kesempetan untuk menghindarkan diri saja tidak
ada. Tahutahu tubuhnya sudah terpental jauh dan sekaligus ditotok ofeh Yok Sau
Cun sehingga tidak dapat berkutik sama sekali.
Peristiwa ini terjadi dalam sekejap mata. Seorang tosu yang berdiri di samping
kiri Li Yuan Kok segera merasakan sesuatu yang tidak benar. Tetapi baru saja dia hendak
melakukan penyerangan, mendadak pergelangan tangannya tetah tercengkeram oleh
Yok Sau Cun. Namun tosu yang satunya ini ternyata cukup gesit. Pergelangan
tangan kiri dicengkeram orang, tangan kanannya langsung menggerakkan pedang lemas di
tangan. Tapi Yok Sau Cun tidak kalah cepat, matanya yang tajam segera melihat
apa yang sedang dilakukan tosu itu. Diajuga menyapu pedang lemas di tangan kirinya dan
terdengarlah suara. Trang!". Dalam sekeiap mata tubuh tosu itu sudah terlempar ke depan dan juga dalam
keadaan tertotok Para tosu yang lainnya terkejut sekali melihat dalam segebrakan Yok Sau
Cun berhasil melempar kedua orang rekannya Enam orang yang tersisa segera
bersiapsiap melancarkan serangan.
Tetapi mana mungkin Yok Sau Cun bersedia memben kesempatan kepada mereka.
Hatinya sedang merasa marah karena merasa dipermainkan oleh Li Yuan Kok
Secepat kilat dia mencengkeram lagi seorang tosu yang ada di sebelah kiri dan
melemparkannya keluar dalam keadaan tertotoK seperti yang lainnya.
Pedangnya pun tidak berhenti bergerak Setiap tosu yang berusaha mendekatinya
terpaksa mundur kembali karena sapuan tenaga dalamnya yang'kuat Salah seorang
tosu dengan nekad mengadu pedangnya dengan pedang lemas di tangan Yok Sau Cun
dengan kekerasan. Akibatnya pedang di tangannya terlepas dan tubuhnya sendiri
tersentak mundurdan jatuh bergulingan di atas tanah.
Gerakan yang dilakukan Yok Sau Cun tampaknya sangat sederhana Tapi yang
membuat para tosu itu tidak mengerti, justru mengapa tidak ada seorang pun yang
berhasil menghindarkan diri dan cengkramannya.
Sinar mata Yok Sau Cun menyorot tajam Setiap gerakgenk dan para tosu itu tidak
ada yang terlepas dan pandangannya Meski kemana pun mereka mengelak Yok Sau
Cun tetap mempunyai cara untuk mencettal pergeiangan tangan mereka dan
melemparkan tubuh mereka sampai jauh Dari delapan orang tosu tersebut, iima
orang teriempar dan tertotok sekaligus Tiga lamnya tergetar mundur dengan pedang
masingmasing terpenta! lepas dan genggaman.
Pandangan Yok Sau Cun menyapu sekilas Tiba-tiba dia mendongakkan kepala dan
tertawa terbahakbahak dengan penuh rasa bangga. Terdengar.
"Sret'" pedang lemasnya ditarik kembali Dia melangkah mendekati kelima orang
tosu yang tergeletak di tenah dan m^mbuka totokan mereka dengan cara menepuk bahu
orang-orang itu. Setelah itu dia memandang Li Yuan Kok dengan bibir
mengembangkan senyuman dan sepasang kepalan tangan menjura.
"Li Toheng, apakah sekarang cayhe sudah berhasil menerobos barisan pedang kalian
yang hebat itu?" tanyanya.
Wajah Li Yuan Kok menyiratkan rasa penasaran di hatinya. Hampirhampir dia tidak
percaya kalau barisan pedang "Leng CoaCeng" dan Bu Liangkiam pai mereka dapat
dipecahkan dalam waktu yang demikian singkat dan dengan gerakan yang aneh pula.
Tetapi berhasilnya Yok Sau Cun menerobos barisan pedangnya, mefnang merupakan
kenyataan yang tidak dapet dibantah Li Yuan Kok segera membungkukkan tubuhnya
sedikit dan memberi hormat kepada Yok Sau Cun.
"llmu silat Yok Sicu ternyata memang tinggi sekali. Pinto sungguh merasa kagum
Barisan ini sudah terpecah belah, berarti Yok Sicu sudah berhasil menerobos bansan
pedang kami," sahut Li Yuan Kok dengan nada terpaksa sekali.
Meskipun Tiong Hui Ciong sudah tahu bahwa tenaga datam Yok Sau Cun boleh
dibilang telah mencapai taraf yang tinggi sekali dan bahsan "Leng CoaCeng" dah
Bu LiangKiam pai saja pasti tidak bisa mengapa-apakan dirinya, namun dia sendiri
juga tidak menyangka kalau Yok Sau Cun dapat memecahkannya dalam waktu sesingkat
itu. Dalam sesaat, sepasang sinar mata yang indah menyorotkan sinar kegembiraan
yang tidak terkirakan. Sementara itu, Yok Sau Cun sudah membalikkan tubuhnya dan meojura kepada
Hong Lam San. "Apakah Totiang sekarang sudah boleh memberi petunjuk kepada cayhe?".
Tampak Hong Lam San sedang berdiri termangu-mangu. Dia seperti sedang
merenungkan sesuatu persoalan yang penting. Mendengar ucapan Yok Sau Cun, dia
baru tersentak dari lamunannya. Matanya mengawasi anak muda itu dengan seksama.
"Jurus yang Yok Sicu kerahkan tadi begitu aneh dan ajaib. Selama puluhan tahun
Pinto mendalami ilmu pedang, tapi boleh dibilang belum pernah menemui jurus yang
demikian aneh. Kalau Yok Sicu tidak keberatan, Pinto ingin tahu apakah ilmu ttu
berasal dan Tian San?".
Jurus yang dikerahkan oleh Yok Sau Cun tadi dalam sekali gebrak berhasil
mementalkan tiga batang pedang lemas para tosu itu. Jurus ini merupakan ilmu
yang diajarkan oleh Kim Tijui.
Sekarang ini latihannya sudah matang. Gerakan tangan maupun pedangnya sudah
bisa dikerahkan sesuka hati Tetapi kalau diperhatikan oleh orang luar, dia hanya
sembarangan memutar pergelangan tangannya.
Mendengar pertanyaan Hong Lam san yang ingin tahu apakah ilmu itu berasal dan
Tian San, hati Yok Sau Cun tercekat Juga Tidak disangka pandangan mata orang tua
ini cukup taJam dan dapat mengenali ilmu yang digunakannya. Yok Sau Cun segera
merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura dalam-dalam.
"Pengllhatan Totiang ternyata taiam sekaii llmu yang barusan cayhe kerahkan
memang berasal dan Tian san.".
"Rupanya Yok Sicu adalah mund perguruan Tian San Maafkan kelancangan Totiang
yang berani mengganggu perialananmu. Tetapi Pinto tidak mempunyai maksud lain.
TUjuan Pinto memang ingin menelusuri jejak suheng Pfilto. Satusatunya petunjuk
yang berhasil Pinto dapatkan adalah pedang lemas yang sehanhannya digunakan
sebagai senjata oleh suheng Pinto tersebut. Kalau Yok Sicu dapat mengatakan
siapa yang menghadiahkan pedang tersebut kepadamu, saat ini juga kami akan
mengundurkan diri dan silahkan Yok Sicu meneruskan perjalanan ".
"Ucapan totiang terlatu berat Cayhe tadi sudah menielaskan bahwa pedang fni
memang pembenan seorang sahabat, sedangkan sahabat cayhe ini beberapa hari yang
lalu berpisah di kota Yang Ciu. Setelah itu kami berjanji bertemu kembali di
sebuah penginapan yang terdapat di dalam kota. Ternyata dia tidak pernah muncul dan
menghitang begitu saja. Sampai saat ini tidak ada sedikit pun kabar benta
darinya Kalau totiang bisa menaruh kepercayaan kepada cayhe, maka beri cayhe waktu
sefama tiga bulan untuk menemukannya. Apabila sudah berjumpa dengn sahabat
cayhe itu, tentu cayhe akan menanyakan dengan jelas dari mana dia mendapatkan
pedang ini. Setelah itu cayhe pasti akan melaporkan hasilnya kepada Totiang.
Bagaimana menurut pendapat totiang atas usul cayhe ini?" sahut Yok Sau Cun,.
Hong Lam San menganggukkan kepalanya.
"Murid perguruan Tian San, mana mungkin Pinto tidak menaruh kepercayaan. Kalau
begitu, Pinto mohon diri sekerang," sahutnya.
Yok Sau Cun segera merangkapkan sepasang kepalan tangannya menjura dalamdalam.
"Totiang ttdak pertu khawatic. Kata-kata yang sudah Cayhe keluarkan tidak akan
dljilat kembali'". Hong Lam San membalas penghormatan Yok Sau Cun sekali lagi. Dengan
menggapai kepada deiapan muridnya, dia melangkah mendahului mereka
meninggalkan tempat tersebut. Dengan wajah berseriseri, Hu toanio segera
menghampiri Yok Sau Cun Bibirnya mengembangkan senyuman.
"Hari ini Yok Siangkong benar-benar telah membuka kelopak mata Lao pocu. Tian
San kiamhoat ternyata sungguh hebat Lao pocu melihat kau hanya sembarangan
menggerakkan pergelangan tangan, tapi tahutahu pedang beberapa bocah itu sudah
terlepas dari tangan masing-masing Lao pocu benar-benar puas sekali Ini yang
dinamakan bahwa manusia itu tidak boleh melihat apa yang ada dalam lingkungannya
saja seperti "Kodok . kodok... datang Ah' Pokoknya ada pepatah seperti itu, hanya Lao
pocu lupa... ". "Katak dalam tempurung!" tukas Cun Hong.
"Betul! Betul! Memang itu yang ingin Lao pocu katakan barusan Maklumlah orang
sudah tua, pikirannya pun mulai pikun," sahut Hu toanio sambil tertawa terkekehkekeh.
"Hu toanio, kata-katamu memang tepat Kita kita inilah katak dalam tempurungnya!"
kata Sia Ho sambil tertawa cekikikan.
Hu toamo langsung mendelik kepadanya.
"Kau budak ini memang paling banyak mulut. Kalau kata-kata Lao pocu salah
sedikit saja, kau langsung sambar seperti minyak menyambar api.".
"Salah lagi, Hu popo. Api menyambar minyakl" sahut Tung Soat.
Tiong Hui Ciong memaHngkan wajahnya dan bertanya. .
"Adik Cun, jurus ilmu pedangmu tadi berasal dari Tian san tidak perlu diragukan
lagi pasti hebat sekali Manusia sebangsa tosu tadi mana mungkin sanggup
memecahkannya" Tetapi gerakan tanganmu yang dapat melemparkan orang dalam
sekejap matajuga ajaib sekali Meskipun cici sudah melihatnya berutang kali,
tetapi tetap tidak dapat menangkap bagaimana cara kau melakukannya. Apakah ilmu
gerakan tangan itu juga berasal dari Tian san?".
Yok Sau Cun menggelengkan kepalanya.
"Siaute juga tidak tahu. Ketika suhu masih mengajar ilmu baca tulis di rumah,
pelajaran silat pertama yang diajarkannya adalah gerakan tangan tadi Orang tua itu pernah
mengatakan bahwa satu jurus ilmu ini saja sudah dapat mengalahkan berbagai macam
ilmu dari keluargakeluarga terkenal di dunia Bu Lim. Meskipun tidak
mematikan, namun merupakan ilmu yang baik sekali untuk mempertahankan diri
meiawan musuh. Setelah mengajarkan ilmu yang satu ini, sebetulnya suhu tidak mau
mengajarkan lagi ilmu yang lain. Namun siaute terus memohon kepadanya siang dan
malam. Akhirnya dia terpaksa meluluskan permintaan siaute dan menurunkan
berbagai macam ilmu. Namun menurut ingatan siaute, ilmu ini memang hanya terdiri
dari satu iurus Suhu pernah bercerita, bahwa untuk ilmu ini, dia orang tua
mendapatkannya dan seorang totiang ketika berkelana ke daerah selatan Pada'saat
itu usia suhu masih muda Namun dia orang tua juga tidak tahu siapa totiang itu
sebenarnya. Dia tidak membentahukan nama maupun gelarnya. Kemudian suhu
berusaha menyelidiki berbagai ilmu gerakan tangan yang ada df dunia Bu Lim


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Menurut suhu, dia merasa jurus ini ada keminpannya dengan "Sou liongjiu" dan Kun
Lun pai, tetapi dia orang tua|uga tidak berani memastikannya ".
"Cici juga pernah mendengar cerita dari Yaya bahwa "Sou Liong jiuhoat" dari Kun
lun pai memang merupakan ilmu gerakan tangan tangan nomor wahid di dunia
Kangouw, belum pernah ada orang yang bisa memecahkannya. Sayangnya ilmu itu
sudah lama menghilang dan dunia kangouw. Tidak pernah diketahu; apakah ada orang
yang sempat mewarisinya. Mari kita segera berangkat ke Soat san. Nanti kau
tunjukkan di hadapan Yaya, mungkin Yaya bisa memberikan penjelasan kepadamu ".
Rombongan mereka masuk kembati ke dalam kedai arak. Orang tua itu sudah seJak
tadi menyiapkan bakmi untuk mereka Sekarang dia langsung menghidangkannya di
atas meja Bibirnya segera mengembangkan senyuman.
"Kongcu, Siocia, silahkan makan bakminya.".
Yok Sau Cun beserta rombongannya segera duduk kembali di kursi masing-masing
dan menyantap pesanan mereka Selesai makan, Yu Kim Piau mengeluarkan beberapa
keping uang parak dan meletakkannya di atas meja.
"Lao Jin ke, tidak perlu kembali lagi".
Sepasang suami istri itu memang mengandalkan hidup dari kedai arak tersebut.
Penghasilan mereka setiap hari paling banyak dua gobang perakan, sekarang tiba-
tiba para tamu ini memberikan uang sebanyak itu. Mana pernah mereka temui tamu yang
demikian royal Tanpa sadar, keduanya jadi termangu-mangu Akhirnya dengan
mengucapkan terima kasih berulang kali, mereka menyimpan uang yang disodorkan
olah Yu Kim Piau. Tiong Hui Ciong dan Yok Sau Cun berdiri. Begitu pula Hu toanio beserta keempat
gadis pelayan Tiong kouwmo Yu Kim Piau mendahului mereka keluar dan kedai
arak. Dia melepaskan tali kendali yang ditambatkan pada batang pohon Kereta kuda
sudah disiapkan Baru saia rombongan ini bermaksud naik ke dalam, tiba-tiba dan
kejauhan terlihat dua sosok bayangan berlan secepat kilat mendatangi ke arah
mereka. Tiong Hui Ciong mendongakkan kepala dan memperhatikan dengan seksama. Dia
melihat gerakan kaki kedua orang itu demikian nngan. Dapat dipastikan bahwa
kedua orang yang sedang mendatangi itu bukan tokoh sembarangan Tanpa terasa, dia tidak jadi
naik ke dalam kereta, kepalanya menoieh kepada Hu toanio.
"Hu momo, coba kau lihat siapa yang datang?".
Hu toanio segera mempertajam penglihatannya. Dia menatap sejenak.
"Tampaknya gerakan kedua orang itu hebatjuga. Pasti bukan tokoh biasa.".
"Apakeh mereka juga ingin mencari perkara dengan kita?" tanya Cun Hong.
Hu toanio langsung mendengus dingin.
"Siapa yang sudah menelan nyali hanmau sehingga berani mencari perkara dengan Ji
siocia kita" Lao pocu merupakan orang pertama yang tidak akan mengampuninya!".
Ucapannya baru SBJB selesai, bayangan kedua orang itu sudah semakin dekat. Yu
Kim Piau duduk di atas kereta. Penglihatannya lebih jelas dan yang lainnya.
Terdengar suara keluhan dari mulutnya.
"Orang yang datang adalah Kiuci lo han, Cu Siang Hu dan Pekpo sin cian Yan Kong
Kiat," katanya melaporkan. Tiong Hui Ciong langsung mendengus dingin.
"Untuk apa kedua orang itu datang ke tempat ini?".
Dalam waktu yang bersamaan dengan ucapan Tiong Hui Ciong, kedua orang itu
sudah mencapai jarak kurang lebih delapan sembilan depa dari mereka. Ternyate
memang Kiuci lo han dan Pekpo sin cian, Yan Kong Kiatl.
Dan jauh Yan Kong Kiat sudah merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan
manjura. "Tiong kouwnio, harap tunggu sebentar!".
Hu toanio mendengus marah.
"Manusia she Yan! Untuk apa kau berteriak-teriak?".
Yan Kong Kiat segera maju beberapa langkah.
"Yan Kong Kiat menghadap Tiong koJJWnio!" sapanya dengan hormat.
Belum tagi Tiong Hui Ciong sempat menjawab, Hu toanio sudah menukas dengan
mata mendelik lebar-ebar.
"Manusia she Yan! Lau pocu sedang berbicara denganmu!".
Yan Kong Kiat sampai terpana mendengar bentakannya. Wajahnya langsung
menyiratkan perasaannya yang marah Dalam hal ini Yan Kong Kiat tidak dapat
disalahkan. Namanya sudah menggetarkan dunia kangouw selama puluhan tahun. Dia
juga termasuk seorang pendekar yang disegani, sedangkan Hu toanio hanya seorang
manusia yang termasuk kelas tiga dalam dunia kangouw, sekarang malah
dihadapannya membentak dengan suara keras Benar-benar seperti seekor anjing yang
sembarangan menggonggong kepada siapa saja yang tewat di hadapannya Tetapi
karena di sana ada Tiong Hui Ciong, Yan Kong Kiat tentu tidak enak untuk
meluapkan perasaan ma rahnya. Terpaksa dia memendamnya dalam hati. Perlahanlahan
dia membalikkan tubuhnya.
"Hu toanio apa yang ingin kau katakan?".
"Lao pocu menanyakan untuk apa kau datang kemari Beraniberanian kau
menghadang di depan kereta Tiong kouwnio, memangnya kau tidak tahu aturan'"'.
Mendengar perdebatan itu, Kiuci to han cepatcepat maju dua langkah dan
merangkapkan sepasang kepaian tangannya menjura.
"Hu toaniojangan salah paham. Kedatangan Yan heng dan hengte sendiri ke tempat
ini adalah karena mengemban tugas untuk menemui Ji siocia" katanya menjelaskan.
"Siapa yang memenntahkan kalian?" tanya Hu toanio.
Kiuci lo han masih tetap menjura.
"Cong huhoatl".
Tiong Hui Ciong merasa terkejut mendengar bahwa kedatangan mereka adatah atas
perintah toa cihunya. "Entah toa cihu ada ucusan apa sehingga Jiwi cianpwe menyusul ke temat sejauh
ini?" tanyanya segera. "Waktu pertemuan Ce Po tangoan sudah dekat. Apabila saat ini |i siocia menuju ke
Soat san, bukankah sama saja kalau ji siocia terangterangan bergontok dengan Hue Leng
senbu" Oleh karena itu Cong huhoat menugaskan kami berdua menyusul Ji
siocia ke tempat ini dan menasehati agar ji siocia bersedia kembali '.
"Apakah semua ini merupakan ide Hue Leng senbu?" tanya Hu toanio dengan nada
dingin. Padahat dja hanya sembarangan mengoceh. Tapi bagi Tiong Hui Ciong yang
mendengarkannya, tanpa terasa menjadi tercekat hatinya. Mana mungkin toa cihu
bisa tahu kalau dia sedang menuju ke Soat san" Sudah pasti semua ini diatur oleh Hue leng
senbu. "Mengapa Hue leng senbu masih berusaha menghalangi aku pergi ke Soat san" Kim Ti
jui mengatakan bahwa telah terjadi perubahan di Soat san. Mungkinkah Hue leng senbu
yang mendalangi semua ini?" tanya Tiong Hui Ciong dalam hatinya Pikirannya langsung
tergerak. Matanya menoleh kepada Kiuci lo han.
"Apakah toaciku tahu kedatangan kalian ini'?" tanyanya.
Yan Kong Kiat tersenyum simpul.
"Cong Huhoat sendiri yang menugaskan kami berdua Sudah tentu toa siocia Juga
sudah tahu.". "Apakah toa cihu ada menulis surat untuk dibawa kalian kepadaku?" tanya Tiong
Hui Ciong kembali. Yan Kong Kiat masih tersenyum senyum.
"Cong huhoat meminta kami berdua rnenyampaikan langsung kepada Ji siocia. Tidak
usah menulis surat iagi.".
Tiong Hui Ciong tertawa dingin.
"Kalian kira aku akan percaya begitu saja?".
"Kami berdua mana mungkin berani berdusta kepada Ji siocia?" sahut Yan Kong Kiat
tenang. Kiu Ci Lo Han segera menjura sekali lagi.
"Omitohudl Pinto sudah menyucikan diri. Murid Buddha pantang berbohong!".
"Memangnya kau ini mund Buddha'?" sindir Hu toanio,.
Sepasang alis Tiong Hui Ciong langsung terjungkit ke atas.
"Tampaknya kalian memang sengaja menghalang perjalananku!".
"Kami tidak beraniB sahut Yan Kong Kiat cepat.
Tiong Hui Ciong segao melayani mereka lebih lama Dia segsra membalikkan
tubuhnya. "Ji siocia harap tunggu sebentar. Cong huhoat memenntahkan hengte berdua datang
ke tempat ini, pertama untuk membentahukan kepada Ji siocia agar jangan menuruti
emosi sesaat dan pikirkan dengan kepala dingin. Harap siocia bersedia kembali
Kedua, Cong huhoatjuga mengundang Yok siangkong ini untuk men hadiri pertemuan
tersebut.". Tiong Hui Ciong tidak ragu lagi. Kedua orang ini memang sengaja menyusul mereka
atas perintah dari Hue leng senbu Hawa amarah dalam hatinya langsung meluap.
Wajahnya berubah kelam. "Nyali kalian sungguh besar!" bentaknya.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang parau dan berat menyahut ucapannya. .
"Mengapa JJ siocia harus marahmarah" Kedatangan mereka ke tempat ini memang atas
perintah Cong Huhoatl" kumandang suaranya lenyap, dari hutan sebelah kin
melangkah keluar dengan lambatlambat seorang laki-laki berusia lanjut yang bertubuh pendek
dan mengenakan pakaian berwarna kuning.
Bentuk tubuh orang ini sangat aneh Kepalanya besar namun tubuhnya pendek.
Rambut di kepelanya sudah berwarna keputihan dan panjang terurai, Mukanya penuh
dengan tonjolantonjotan. Warna kulitnya pucat keabuabuan. Matanya sipit
berbentuk segi tiga. Wama bola matanya juga pucat. Kalau dilihat sekilas, lebih pantas disebut
nenek dari pada kakek-kakek. Orang tua pendek berpakaian kuning berJalan mendekati dengan diiringi seorang
wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun ke atas. Wajah perempuan ini sangat
kurus. Kulit tubuhnya juga berwarna kepucatan. TuIbuhnya pun kerempeng seperti
batang jbambu. Tetapi sepesang matanya bersinar 'terang dan bercahaya bagai
kilauan dalam air. Tiong Hui Ciong melirik kedua orang ini sekilas. Dia tertawa dingin.
"Toan Pek Yang, rupanya engkau!" Rupanya orang tua pendek ini merupakan Cuo huhoat
(Pelindung hukum kiri) dari Kong Tong pai. Namanya Toan Pek Yang dan oleh
rdunia kangouw diberi julukan "Wi Bwe Liong" (Naga ekor kuning).
Sedangkan perempuan yang membimbingnya adalah selir Toan Pek Yang yang nama
Yi Ju Si. Tapi orang-orang selalu memanggilnya Yi Ji nio Kemana pun Toan pek
Yang pergi, dia pasti ikut. Kedua orang ini tampaknya tidak pernah berpisah
semenit pun. Toan Pek Yang seperti tersenyum tidak rsenyum. Dia menganggukkan kepalanya
berkali-kali. "Memang hengte adanya. Apakah Ji siocia erasa heran?".
. Wajah Tiong Hui Ciong tetap kalem seperti tadi.
"Apakah Hue leng senbu yang menyuruh kau datang kemari?".
Toan PekYang tersenyum simpul.
"Dugaan Tiong Ji siocia salah sekali. Hengte menerima perintah dari kaucu untuk
mengundang Yok siauhiap.".
Hati Tiong Hui Ciong tercekat mendengar keterangannya.
"Kalau mendengar dari pembicaraannya Ci Sancu sendiri juga sudah turun gunung"
katanya dalam hati. Toan Pek Yang memperhatikan keadaan sekitarnya sekilas, Kemudian dia
melanjutkan kata-katanya.
"Kaucu mendengar bahwa Yok siauhiap adalah seorang pemuda yang cerdas dan
memiliki ilmu kepandaian tinggi Kaucu merasa gembira apabila dapat berkenalan
dengannya. Karena khawatir Yan heng dan Cu heng berdua tidak mempunyai
kesanggupan untuk mengundang Yok siauhiap, maka sengaja meminta hengte
menyusul kemari agar dapat menggerakkan hati Yok siauhiap, sekaligus bertemu
langsung dengan Tiong Ji siocia.
"Aku ingin pulang ke Soat san secepatnya. Siapa yang berani menghalangi
kepergianku ini?" tanya Tiong Hui Ciong dengan suara ketus.
Toan Pek Yang tertawa seram.
"Kafau Tiong Ji siocia memang ingin pulang ke Soat san, tentu saja tidak ada
orang yang berani menghalangi, tetapi....".
"Tetapi apa?". "Putangnya Ji siocia ke Soat san tidak ada kaitannya dengan undangan kaucu
terhadap Yok siauhiap " sahut Toan Pek Yang Dan nada ucapannya, terangterangan
dia memaksudkan bahwa Tiong Hui Ciong boleh saja pulang ke Soat san tetapi
bagaimana pun Yok Sau Cun harus tinggal.
Tiong Hui Ciong langsung mendelik matanya.
"Tidak bisa! Dia akan berangkat bersamaku ke Soat san!".
Wajah Toan Pek Yang yang pucat seperti orang mati menyiratkan perasaannya yang
serba salah. "Hai ini benar-benar menyulitkan kedudukan hengte!".
"Mengapa kau harus merasa sulit" Kau toh mendapat perintah dari Sancu untuk
mengundang Yok Sau Cun. Tapi dfa toh tidak berj sedia undangan itu?".
"Perintah Sancu ibarat gunung Siapa yang berani membantah" Lagi puta hengte
sampai datang sendiri mengundang, bagai" mana pun Yok siauhiap hacus ikut
denganku Yang membuai susah hengte Justru adanya Tiong Ji siocia di tempat ini,
Hengte... B Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Tetapi mu' lutnya malah
memperdengarkan suara tertawa terkekehkekeh. Tampangnya sepert sedang
mengejek. Tiong Hui Ciong fangsung tertawa dingin. "Karena Yok Sau Cun adalah adik ang
katku, maka aku akan melindungtnya bukan?".
Toan Pek Yang tetap tersenyum simput. "Maksud hati hengte memang demikian."
Tiong Hui Ciong sekali lagi memperde ngarkan suara tawa dingin.
'Yok Sau Cun adalah adik angkatku. BeH sedia atau tidaknya dia mengikuti kaliaij
menemui Sancu, dia sendiri yang memutuskan. Tidak perlu aku Tiong Hui Ciong
melindunginya. Kalau dia memang sudai ikut denganmu menemui Sancu, aku pasti
akan menghalanginya. Tetapi kalau dia tidak bersedia ikut, aku juga tidak akan
ikut campur dalam masalah ini. Silahkan Cuo huhoat seret saja dia pergi....".
Mata Toan Pek Yang langsung menyprot sinar tarang. Dia tertawa seram.
"Kata-kata ini Tiong Ji siocia yang keluarkan sendiri," katanya.
Tiong Hui Ciong menganggukkan kepalanya dengan tenang.
"Betul. Memang aku sendiri yang mengatakannya. Seandainya undangan Cuo huhoat
tidak bersedia dipenuhi dan ingin menyeretnya juga, silahkan kerahkan segenap
kemampuanmu Tiong Hui Ciong tidak akan ikut campur.".
Toang Pek Yang segera merangkapkan tangannya menjura,.
"Terima kasih hengte ucapkan kepada Tiong Ji siocia. Dengan adanya perkataan
dari ji siocia ini, hengte tidak tarlu khawatir lagi.".
Tiong Hui ciong tidak banyak bicara lagi. Hu toanio Juga sudah menyaksikan
kemampuan Yok Sau Cun. Dia hanya berdiri di samping sambil tartawa dingin, Wi


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bwe Liong Toan Pek Yang adalah Cuo huhoat dari Kong Tong Pai. Dia terhitung
tokoh tmgkat tiga dalam partai itu. Tentu saja dia tidak memandang sebelah mata
kepada Yok Sau Cun. Toan Pek Yang segera membaiikan tubuh dan memandang Yok Sau Cun sekilas. Dia
melihat anak itu berdiri berpangku tangan dengan bibir tersenyum. Meskipun
penampilan anak muda itu begitu tenang sehingga mengherankan, tetapi biar
bagalmana pun dia masih seorang bocah yang baru menginjak dewasa. Memangnya
sampai di mana sih kebiasaan anak semuda itu" Hatinya menjadi Jauh lebih tanang.
Dia menjura kepada Yok Sau Cun.
"Apa yang hengta katakan tadi, Yok siauhiap pasti sudah mendengar semuanya.
Kaucu sangat kaguro kepada Yok siauhiap. Oleh karena itu, hengta sengaja disuruh
kemari untuk mengundang kedatanganmu. Dengan kata lain, hengte akan
mengajakmu mengadakan perjalanan menuju Oey San. Entah bagaimana pendapat
Yok siauhiap sendiri?".
Yok Sau Cun tersenyum datar.
"Cayhe dengan partal kelian tidak saling mengenal, mana enak hati datang
mengganggu" Lagi pula cayhe sudah berjanji kepada Tiong cici untuk menemaninya
ke Soat san l4arap Toan lo sampaikan kepada kaucu bahwa orang she Yok
mengucapkan banyak terima kasih Kelak apabila ada Jodoh, aku pasti akan pergi ke
Oey san menemuinya " Kata-kata yang diucapkan oleh Yok Sau Cur> memang
kedengarannya sopan dan sungkan Tetapi bagaimana pun, dia menolaknya secara
halus. Sekali lagi Toan Pek Yang tertawa seram.
"Tadi Yok siauhiap pasti sudah mendengar sendiri Tiong Ji siocia mengatakan
bahwa dia tidak akan memaksamu menemaninya ke Soat san apabila Yok siauhiap memang
bersedia niemenuhi undangan ini. Kaucu berharap dapat bertemu dengan Yok
siauhiap. Sekarang ini dia sedang menunggu di Oey san Orang-orang Bulim, betapa
banyak yang berharap dapat melihat kaucu, masa Yok siauhiap sengaja menolak
kesempatan. Yok Sau Cun tersenyum slmpul. "Cayhe sudah mengatakan bahwa perjalanan
menuju Soatsan bagaimana pun harus ditempuh. Undangan kaucu kalian yang baik
hati, cayhe simpan dalam hati. Cayhe terpaksa menolaknya.".
Toan Pek Yang tertawa terkekehkekeh "Yok Sicu harus tahu, perintah kaucu Ibarat
gunung. Siapa puh tidak ada yang berani merubahnya. Lebih beik Yok siauhiap
pertimbangkan kembali baikbaik," Yok Sau Cun tersenyuni santai. "Meskipun cayhe
belum lama berkecimpung di dunia kangouw, tetapi ucapan yang sudah cayhe
keluarkan tidak pernah ditarik kembali, Memang kaucu kalian meriierintahkan Toan
lo mengundang cayhe ke Oey San. Tapi bersedia atau tidaknya, cayhe tetap
mempunyai hak untuk membuka suara. Harap Toan lo kembali saja ke Oey san dan
sampaikan kata-kata cayhe ini kepada Ci Sancu.".
Yi Ju Si yang kedua tangannya membimbing Toan Pek Yang sejak tadi tidak
mengeluarkan ucapan apa pun. Tiba-tiba dia tartawa cekikikan.
"Kalau menurut pedapatku, Cuo huhoat.... Yok siauhiap toh tidak bersedia
memenuhi undangan. Buat apa kau memakeanya terus?".
Baglan Llma Puluh TuJuh. "Tidak bisa. Kaucu sudah memben perintah kepada lohu untuk mengundang Yok
sauhiap Kalau kita kembali tanpa hasil, bagaimana aku bisa
mempertanggungiawabkan masalah ini?" sahut Toan Pek Yang dengan nada tegas.
Matanya mengerling tajam. Dengan tatapan dtngin dia bertanya: "Apakah Yok
siauhiap benar-benar tidak ingin mempertlmbangkannya kembali?".
"Apa yang ingin cayhe katakan, semuanya sudah dinyatakan, tidak perlu
mempertimbangkan apa-apa lagi," sahut Yok Sau Cun.
"Bagus sekalil' Toan Pek Yang menganggUkkan kepalanya sambi! tertawa seram.
"Tiong Ji siocia sudah menyatakan sebelumnya bahwa untuk urusan hari ini, dia
tidak akan turut campur. Kalau Yok siauhiap berkeras menolak undangan kaucu,
berarti menolak arak kehormatan malah meminta arak hukuman.".
Yok Sau Cun meliriknya sekilas sambil tersenyum simpul.
"Cayhe memang belum pernah merasakan arak hukuman. Entah bagaimana rasanya"
Biar cayhe coba sedikit," sahutnya tenang,.
Sebetulnya, apabila Toan Pek Yang pikirkan dengan kepala dingin Tentu dia
seharusnya merasa heran dengan keberanian Yok Sau Cun. Apalagi Tiong Hui Ciong
yang mengaku sebagaj kakak angkatnya tidak menunjukkan kekhawatiran sama
sekali. Tetapi dia terlalu tinggi hati sehingga tidak memandang sebelah mata
terhadap anak muda mi Saat itu dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Maksud Yok siauhiap, orang she Toan ini tidak berhasil mengundangmu dengan cara
baikbaik, lalu tidak sanggup menyeretmu mengukutiku?".
"Hal ini terpaksa melihat kemampuan Toan lo sendiri," sahut Yok Sau Cun.
"Bagus seketil" Hawa amarah Toan PeR Yang mulai meluap. Pandangannya semakin
tajam menusuk. "Orang she Toan ini tarpaksa memlnta pelajaran dan Yok siauhiapl".
Ucapannya selesai, tiba-tiba tubuhnya berkefebat. Tangan kanannya terjufur dan
Jurus Gi Jiupo liong (Tangan mengulur menyentuh naga) pun dikerahkan. Dengan
serangan dahsyat dia mencengkeram ke arah kepala Yok Sau Cun.
Penampllan Yok Sau Cun masih setenang tadi. Tubuhnya hanya bergeser sedikit
maka serangan Toan Pek Yang pun berhasil dielakkannya. Kedudukan Toan Pek
Yang dalam Kong Tong pai sangat tinggi. Pada hari biasa, dia jarang turun tangan
sendiri. Masih mending katau dia tidak turun tangan, sekali turun tangan tentu
mengerikan akibatnya. Lagipula dia adatah seorang manusia yang penuh
per'hitLingan. Kalau dia tidak memiliki kayakinan di atas lima bagian, dia pasti
tidak akan turun langan. Selama puluhan tahun ini, Toan Pek Yang /ang belum kenal apa yang disebut
kekalahan. Hal ini merupakan kenyataan yang idak dapat dibantah. Mungkin karena
alasan ini pula, dia menjadi besar kepala,.
Cengkeraman yang dilancarkannya kaii ini hanya menggunakan tiga bagian tenaga
dalam. Dia hanya ingin menguji sampai dj mana kekuatan anak muda itu. Tetapi
mengandalkan kemampuannya saat ini, tiga bagian tenaga dalam saja sudah cukup
mengejutkan. Seorang tokoh kalas dua saja, jangan harap sanggup menghindarinya.
Siapa nyana, Yok Sau Cun bahkan tidak menggeser langkah kakinya setengah tindak
pun. Hanya tubuhnya yang bergerak sedikit, dia langsung berhasii mengelakkan
diri dari serangan Toan Pek Yang. Melihat kenyataan mi, wajah Toan Pek Yang segera berubah hebat, karena dia sadar
sekali bahwa cengkeramannya tadi bargerak dengan kecepatan kilat. Setelah hampir
mencapai kepala Yok Sau Cun, anak muda itu baru menggerakkan tubuhnya
Tahutahu posisi Yok Sau Cun sudah bergeser dan cengkeramannya pun luput me
ngenai sasaran. Toan Pek Yang bahkan tidak sempat melihat bagaimana cara anak
muda itu bergerak. Semua ini tecjadi dalam sekejap mata.
Toan Pek Yang tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata gerakan Yok siauhiap cukup mengejutkan!" Telapak tangan kirinya
langsung metLincur cepat menghantam ke arah dada anak muda itu.
Yok Sau Cun hanya tersenyum simpul.
"Toan lo terlalu memuji." Pergelangan tangan kanannya memutar, telapak tangannya
dislngkapkan di depan dada Perlahan-lahan dia mengerahkan ke depan.
Gerakannya sangat anggun, tetapi tidak disangkasangka dia menyambut serangan
Toan Pek Yang dengan kekerasan Toan Pek Yang bermimpi pun ttdak menyangka
kalau Yok Sau Cun berani menyambut serangannya dengan kekerasan Dia bermaksud
menambah karahan tenaga dalamnya, namun sudah terlambat Kedua belah telapak
tangan langsung beradu dan menimbulkan suara yang menggelegar memecah
angkasa. Toan Pek Yang adalah seorang manusia yang mempunyai pikiran licik dan dalam.
Dia melihat telapak tangan Yok Sau Cun bersiap di depan dada kemudian
diluncurkan secara perlahan, dia langsung dapat menduga kalau anak muda itu bermaksud
menyambut serangannya dengan kakerasan Dia segera bermaksud menambah tenaga
dalamnya namun sudah terlambat. Dia lalu mengambil keputusan untuk melancarkan
telapak' tangan yang satunya lagi agar kekuatannya bertambah dan dapet mendesak
luncuran pukulan lawan. Kedua telapak tangan beradu. Yok Sau Cun merasa tenaga dalam Toan Pek Yang
tidak seberapa hebat. Telapak tangan keduanya ditarik lalu diluncurkan kembali.
Tentu saja Yok Sau Cun tidak tahu kalau saat ini Toan Pek Yang sudah mengerahkan
tenaga sepenuhnya pada pukulan kedua ini. Dia masih terus menyerang seperti
sebelumnya. Kembali terdengar suara.
"Plak!" yang keras. Sebetulnya jarak antara kedua pukulan itu hanya sekejap mata
saja, namun apabila diuraikan menjadi panjang.
Tiba-tiba Yok Sau Cun merasakan kalau pukulan lawan kali ini mengandung
kekuatan yang dahsyat Tekanan yang dirasakannya seberat ribuan kati. Kakinya
sampai terdesak mundur. Untung saja dia sudah menguasai Yu Tian sikang. Apabila
tubuhnya mendapat tekanan dari luar, maka tenaga dalamnya secara otomatis
mendorong kembali. Oleh karena itu, begitu Yok Sau Cun merasakan tekanan yang
kuat dari pihak lawan, tenaga dorongan telapak tangannya juga secara refleks
bertolak lebih kuat. Toan Pek Yang sudah membayangkan kekuatannya yang sebanyak delapan bagian
itu akan membuat Yok Sau Cun kelabakan. Usia anak muda ini paling banter dua
puluh tahun. Meskipun sejak dalam kandungan dia sudah belajar ilmu silat, Juga
tidak mungkin dapat menandingi dirinya.
Siapa sangka ketika kedua telapak tangan beradu, telapak tangan pthak lawan
seakan bisa mengikuti situasi Dan lembut menjadi kuat. Bahkan bergulunggulung seperti
tidak ada habishabisnya. Meskipun hatinya merasa aneh, tapi mulutnya
memperdengarkan suara tertawa dingin Dia menambah tenaganya lagi sebanyak
empat bagian. Kali ini, tenaga datamnya yang sebanyak delapan bagian langsung meningkat
menjadi dua belas bagian. Ini berarti dia mengerahkan segenap tenaga dalamnya
pada pukulan telapaknya. Kejadian ini malah lebiti cepat dan gebrakan sebelumnya. Karena kedua belah
pihak samasama tetah menambah kekuatan tenaganya, maka begitu telapak mereka
saling beradu, terdengarlah suara yang gemuruh. Bahkan debudebu di tanah dan bebatuan
kecil berhamburan kamana-mana.
Justru ketika Toan Pek Yang menambah tenaganya menjadi dua belas bagian, dari
balik telapak tangan Yok Sau Cun pun mengalir segulung arus kekuatan yang tidak
teruraikan dengan kata-kata. Tetapak tangan Toan Pek Yang tergetar, dadanya
sampai sesak sehingga bernafas pun sulit. Tubuhnya terhuyunghuyung dan kakinya terdesak
mundur sejauh tiga langkah. Tatapan matanya langsung terpaku pada Yok Sau Cun.
Anak muda itu masih berdiri tegak di tempatnya semula. Wajahnya mengulum
senyum dan saat itu justru sedang memandang ke arahnyal.
Rasa tarkejut yang memenuhi hati Toan Pek Yang kali ini tidak kepalang tanggung.
Hampir saja dia tidak mempercayai pandangannya sendiri. Oia bagaikan sedang
bermimpi. Bagaimana pun dja tidak dapat menerima bahwa tenaga dalamnya yang
sudah dilatih seiama puluhan tahun tidak dapat menandingi seorang anak muda
berusia dua puluhanl. Tentu saja bukan hanya Toan Pek Yang yang terkejut. Bahkan Yi Ju Si juga
membelalakkan matanya yang jernih bagai aliran sungai. Rona wajahnya yang
kepucatan menyiratkan perasaan hatinya yang kebingungan.
Bahkan Yan Kong Kiat dan Kiu ci lo han juga memandang dengan hati yang
diamdiam tercekat Toan Pek Yang merupakan salah satu dari tokoh Kong Tong pai
yang berilmu sangat tinggi Malah di dunia kangouw dia belum pernah menemui
tandingan. Hal ini bukan berarti dia tidak terkalahkan, tetapi justru dia
merupakan manusia yang penuh pertimbangan. Apabila tidak ada keyakinan akan meraih
kemenangan, dia tidak akan tucun tangan. Kali mi dia malah tergetar mundur tiga
langkah oleh Yok Sau Cun. Tampaknya malam ini diaterlalu memandang rendah
lawannya. Setelah mundur beberape langkah. Tiba-tiba Toan Pek Yang mendongakkan
kepalanya menatap langit dan tertawa tecbahakbahak. Suara tawanya iiu bagaikan
geraman seekor naga di tengah malam yang sunyi. Begitu keras dan bergetarnya
sampai memekakkan teiinga. Suara tawanya ini mengandung pengerahan hawa murni
yang penuh. Namun pada saat dia tertawa itulah, dari hutan sebelah kir! yang rimbun dan agak
tertutup muncul lima sosok bayangan. Dengan cepat mereka melesat di udara dan
melayang turun di tengah arena. Mereka terdiri dari lima orang pemuda yang
berpakaian hiJau. Ketika mereka melayang turun, kebetulan posisi mereka
mengepung Yok Sau Cun. Suara tawa Toan Pek Yang langsung sirap. Dia mengefuarkan pedang panjangnya
dan membentak dengan suara garang.,,.
"Yok siauhiap, hunus senjatamul'.
Melihat keadaan itu, wajah Hu toanio tangsung berubah ketam.
"Manusia she Toan, kau ingin mengandalkan orang banyak untuk....".
Tangannya meraba toya yang diseljpkan pada ikat pinggang dan dia bermaksud
mencabutnya. Tetapi Tiong Huj Ciong mengangkat sebeiah tangannya dan memberi
isyarat supaya dia Jangan bertindak sembarangan. Dengan perasaan Jengkel
terpaksa Hu toanio minggir ke tempatnya semula.
Yok Sau Cun mengedarkan pandangannya menataplima pemuda berpakaian hijau
yang saat itu mengelilinginya. Dia melihat bahwa kelima pemuda itu bukan saja
semuanya berwajah tampan, malah bentuk tubuhnya juga sangat atletis.
Yang paling mengherankan justru rona wajah mereka yang sama pucatnya dengan
Toan Pek Yang. Tidak ada sedikit pun tanda kehidupan pada warna kulit mereka.
Saat itu mereka masing-masing menggenggam sebatang pedang dan sinar mata mereka
menyorotkan hawa pembunuhan yang tebal.
Pengetahuan Yok Sau Cun sekarang sudah cukup luas. Dia dapat melihat bahwa cara
berdiri kelima pemuda tersebut merupakan pembukaan jurus ilmu pedang tingkat
tinggi. Posisi mereka sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga kapan waktu saja
siap melancarkan serangannya. Hati Yok Sau Cun Juga timbul perasaan curiga. Wajah
orang-orang jni terlalu kaku dan sinar mata mereka meskipun menusuk serta
menyorotkan hawa pembunuhan, namun tidak hidup.
"Apakah orang-orang ini rnempelajari semacam ilmu gaib sehingga perasaan mereka
jadi terpengaruh?" pikirnya dalam hati.
Pikiran ini mau tidak mau membuat perasaannya menjadi was-was. Dia juga merasa
harus lebih hati-hati menghadapi pertarungan kali ini. Diam-diam dia
meningkatkan kewaspadaannya sambil menatap Toan Pek Yang.
"Apakah Toan lo akan turun tangan bersamasama mereka?".
Toan Pek Yang menyeringai seram.
"Tidak salah! Kalau hengte tidak berhasil mengundang Yok siauhiap, hengte tidak
dapat mempertanggungjawabkannya kepada kaucu. Oleh karena itu, terpaksa
menggunakan barisan yang dibina langsung oleh hengte. Apabila Yok siauhiap bisa
menerobos barisan inj dengan tangan masih menggenggam pedang, berarti kau sudah
menang. Hengte akan segera meninggalkan tempat ini".
Yok Sau Cun tertawa penuh kegusaran.
"Baik! Kau sendiri yang membuat penentuannya, Apabila cayhe berhasil menerobos
barisan ini, Toan lo harus kembali dan memberi laporan kepada kaucu kalian. Tapi apabila cayhe
gagal, tidak usah dikatakan lagi, cayhe pasti akan mengiringi
keinginanmu." Toan Pek Yang tersenyum datar. "Yok siauhiap memang cerdas sekaii.


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sekali dengar saja langsung mengerti maksud hengte. Yok siauhiap sudah boleh
menghunus senj'ata sekarang ".
Yok Sau Cun tetap tersenyum simpul. "Toan lo silahkan mulai saja," sahutnya.
Toan Pek Yang menggetarkan pedang panjang di tangannya.
"Yok siauhiap, berhati-hatilah!" Cahaya dingin berkilauan. Timbul titiktitik
berjumlah enam tujuh buah Cahaya dan titik itu meluncur ke arah Yok Sau Cun.
Kong Tong pai kiamhoat atau ilmu pedang Kong Tong pai terkena! karena kecepatan
dan kaanehan gerakannya. Sekarang Toan Pek Yang sebagai angkatan tua yang
mengerahkannya, maka kekuatannya semakin terpancar. Titik cahaya yang membawa
serangkum hawa dingin memancar ke segala panjuru, membuat orang merabaraba
kesmana arah serangan itu sebenarnya.
Tepat pada saat itu juga, tiba-tiba kelima pemuda'berpakaian hijau bergerak.
Kedua tangan mereka berpencar, hma batang pedang membentuk bayangan menjadi sepuluh.
Rupanya senjata yang mereka gunakan adalah sepasang pedang yang panjang dan
tajam. Sepasang pedang saling bersilangan Daiam waktu singkat berubah menjadi jaringan
pedang yang ketat. Tampak bayangan tubuh manusia berkelebat ke sana sini Mereka
langsung mengurung Yok Sau Cun dalam jaringan pedang tersebut.
Toan Pek Yang dan kelima pemuda berpakaian hijau itu rrnJlai bergerak Sekarang
Toan Pek Yang tidak perlLi dibimbing oleh Yi Ju Si lagi. Orang tua yang tampak
sakHsakitan dan hampir tidak bisa berjalan itu nnendadak seperti berubah menjadi
seorang anak muda yang perkasa Yi Ju Si masih berdiri di tempat semula Dia tidak
bergeser sedlkitpun juga. Dengan demikian dia jadi ikutikutan terkurung dalam
barisan pedang bersama Yok Sau Cun.
Tentu saja cahaya sebelas batang pedang itu tidak dapat menusuk diri Yok Sau
Cun, namun kelebatannya yang menyilaukan mata dan mengandung hawa dingin dapat
membuat perasaan orang jadi bergidik.
Sejak semula Yok Sau Cun sudah bersiapsiap, Tepat ketika Toan Pek Yang
menghunus pedangnya yang menimbulkan cahaya berkilauan menusuk mata, pedang
lemas dt tangan kanannya juga diJulurkan menjadi panjang. Tampak segans warna
warni seperti pelangi menyelimuti tubuh Yok Sau Cun Tanpa menunda waktu lagi
anak muda itu langsung menusuk ke depan.
Yi Ju Si berdiri di samping kanannya. Ketika Yok Sau Cun belum mefakukan
serangan, dia juga hanya memandang dengan berdiam diri Siapa sangka begitu Yok
Sau Cun menghunus pedangnya, tiba-tiba tubuh perempuan itu juga bergerak, tangan
kanannya mengibas Tampak segurat cahaya yang menyilaukan mata Dengan
kecepatan tinggi ia meluncur ke arah Yok Sau Cun.
Kalau dikisahkan memang rasanya lama, tetapi sebetulnya penstiwa itu terjadi
dalam waktu sekejap mata. Tujuh delapan titik cahaya yang memijar dari pedang Toan Pek
Yang sedang meluncur ke arah Yok Sau Cun.
Anak muda itu mengulurkan pedangnya dan baru saja bermaksud menyambut
serangan tersebut Tepat pada saat itu, mendadak selendang warna warni milik Yi
Ju Si berkelebat datang dan melilit pedangnya sehingga tidak dapat digerakkan lebih
lanjut. Dari mulut Yi Ju Si terdengar suara tawa merdu dan nyaring seperti sebuah
lonceng. Tubuhnya bergerak dengan ringan. Diiringi suara tawanya, lima larik warna warni
melesat ke arah lima bagian Jalan darah di tubuh Yok Sau Cun Selendang Yi Ju Si
memang merupakan Juntaian kain berwarna warni, sedangkan tujuh titik sinar yang
timbul dari pedang Toan Pek Yang merupakan gerakan dan Jurus Jit sing Jipfu yang
terkenal dari Kong Tong pai. Dengan mengejutkan serangan itu mengancam tujuh
buah Jalan darah di depan dada anak muda tersebut.
Pedang lemas yang dikibaskan oleh Yok Sau Cun tiba-tiba dililit oleh selendang
Yi Ju Si, ha| ini tentu membuatnya terkejut sekali. Dia berusaha menghentakkan
pedangnya namun tetap saja tidak bisa Dalam keadaan genting itu, pikirannya
segera berputar. Genggaman pedang pada tangannya dikendurkan, kaki kirinya langsung bertindak
maju setengah langkah. Dengan bartindak setengah langkah kaki kiri tersebut,
otomatis gerakan tubuh agak menekuk dan dia pun berhastt menyelinap keluar dari
serangan Toan Pek Yang. Perlu diketahui bahwa senjata yang digunakan oleh Yok Sau Cun adalah sebatang
pedang lemas, Orang yang menggunakan pedang lemas seperti ini harus bisa
menyesuaikan diri dengan tubuh pedang itu sendiri, dengan demikian pedang itu
baru bisa menjulur kaku dan berbentuk sebagaimana pedang umumnya. Kalau genggaman
tangan pada pedang berkurang tenaganya maka pedang itu akan menjadi lunglai dan
lentur. Meskipun pedang lemas Yok Sau Cun berhasil dililit oleh Yi Ju Si, tapi kejadian
ini tidak beriangsung lama Begitu pedang itu dikendurkan pegangannya sehingga
menjadi lemas lagi, lilitan selendang Yi Ju Si pun terlepas. Pedang itu meniadi
lemas secara otomatis seperti seekor ular yang licin dan melorot turun dari lilitan
selendang. Sejak kecil Yok Sau Cun sudah diajarkan ilmu mengelakkan diri dari serangan
pedang, sedangkan ilmu mengelakkan serangan pedang ini tadinya diciptakan untuk
menghadapi ilmu pedang keluarga Song yang sudah terkenal. Oleh karena itu, dapat
dibayangkan sampai di mana kehebatannya apabila digunakan untuk menghadapi
ilmu pedang partai lain yang jauh di bawah itmu keluarga Song,.
Setelah mengerahkan llmu pit kiam slnhoat yang diajarkan auhunya, Yok Sau Cun
memang berhasil menghindarkan diri dari serangan depan balakang yang dilakukan
oleh Toan Pek Yang dan Yi Ju Sf, tapi tak urung dia mengeluarkan keringat dingin
juga. Sejak berkecimpung di dunia kangouw, Yok Sau Cun dalam waktu singkat.
yakni kurang leblh tiga butan, sudah banyak beftemu dengan jagojago kelas
tinggi. Namun pectarungan yang demikian berbahaya keadaannya dan mengeiutkan dirinya
baru terjadi kaii ini. Apalagj setelah berhasil mengelakkan diri dari serangan
kedua orang itu, kembali dia dihadang oleh jaringan pedang yang ketat. Kelima pemuda
yang maslngmasing menggenggam dua batang pedang itu melangkah' maju dan
membuat kepungannya semakin sempit. Bayangan pedang yang menimbulkan hawa
dingin saling bersilangan dan meluncur ke arahnya.
Pit kiam slnhoat yang dipelajarinya khusus diciptakan untuk menghindarkan
serangan ilmu pedang satu orang. Meskipun ilmu pedang orang itu sebagaimana
hebat, dahsyat, cepat maupun membahayakan, dja tetap dapat menghindarkan diri
dengan selamat. Yang diparlukannya hanya sebatang pedang dan pergelangan tangan.
Dengan satu pergaiangan tangan yang menggenggam pedang, dia juga dapat
membuat bayangan yang banyak separti berpuluhpuluh orang yang melakukan
serangan. Cahaya yang timbul darl pedangnya juga membentuk puluhan
bayangbayang yang membingungkan, walaupun sebatulnya bayangan itu hanya
tipuan agar dia dapat melakukan perubahan dalam gerakannya, Kalau pihak lawan
memilikl kecerdasan yang tinggi dan panglihatan yang maha tajam, seharusnya bisa
menamukan celah yang kosong dan peluang untuk memecahken ilmunya itu.
Tapi memang harus diakui kehebatan daya pikir orang yang menciptakan ilmu Plt
kiam sinhoat inl. Sampai sekarang, baik Song loya cu maupun orang lainnya belum
parnah ada yang dapat melihat celah kelemahan ini. Malah orang yang
menggunakannya dapat mencari peluang dari ilmu pedang orang itu sehingga sanggup
meloloskan diri dari serangan yang bagaimanapun mautnya. Namun untuk
menghadapi kelima pemuda yang menggunakan sepuluh batang pedang ini,
keadaannya menjadi berbeda.
Orang yang biasa menggunakan dua bilah pedang dapat melancarkan serangan dari
tangan yang mana saja. Meskipun dia hanya menggunakan sebatang pedang, dia dapat
menggantiganti tangan untuk melakukan penyerangan. Apalagi kelima pemuda itu
sudah mendapat didikan yang keras dan latihan yang berat Sepuluh batang pedang
yang ada di tangan mereka bukan digunakan untuk menyerang musuh, namun
manfaatnya untuk menahan musuh. Dengan demikian pihak lawan tidak meloloskan
diri dari kepungan tersebut, sedangkan yang bertugas menyerang lawan adalah Toan
Pek Yang dan Yi Ju Si. Mereka merupakan inti barisan ini Oleh karena itu, ilmu Pit
kiam slnhoat yang dijalankan oleh Yok Sau Cun untuk menghadapi kelima pemuda
dengan sepuluh batang padang ini tidak memperiihatkan keampuhannya.
Semua ini terjadi dalam sekejap mata. Yok Sau Cun medhat jaringan pedang semakin
rapat mengurungnya. Untung SBJB pedang lemasnya sudah terlepas dari lilitan
selendang Yi Ju Si. Mulutnya mengeluarkan suara raungan yang keras. Disusul
dengan tangannya yang meluncur ke depan.
Saat ini tenaga dalam Yok Sau Cun sudah demikian tinggi sehingga sulit
dibayangkan. Serangannya kali ini menimbulkan deruan angin yang bergulunggulung
Pedang lemasnya juga memancarkan kekuatan yang dahsyat Begitu mendekat,
gelombang kekuatan itu mendesak kesepuluh batang pedang sehingga pedangpedang
bagai dihempas angin topan dan terdesak mundur sejauh lima cun.
Biar bagaimana pun janngan pedang tidak dapat disamarkan dengan barisan yang
biasa Meskipun terdesak mundur tetapi kapungan mereka tidak terpencar. Dalam
sekejap matajaringan itu sudah menyusut kembali dan Yok Sau Cun tetap belum
berhasil menerobos barisan mereka.
Toan Pek Yang yang melihat berkaiebatnya tubuh Yok Sau Cun dan dalam sekajap
mata sudah melintas di sampingnya sambil mengelakkan dlri dari serangannya,
diarndiam merasa tgrkejut setengah mati.
"Rupanya anak muda ini memiliki ilmu yang mengajutkan. Tidak heran Tiong Ji
siocia badagak sungkan dan mafah mengatakan bahwa aku boleh menyeretnya dengan
mengandalkan kepandaian seandainya tidak bisa mengundangnya baikbaikl" maki Toan
Pek Yang dalam hati. Mulutnya mengeluarkan suara tertawa yang seram. Pedang berputar mengikuti
gerakan tubuh. Jurus Hue hong buliu langsung dikerahkan. Timbul guratan cahaya
merah yang berkilauan. Dalam sekajap mata, tiba-tiba berubah menjadi cahaya
berantai. Sebentar panjang sebentar lagi tampak pendek, meluncur ke arah Yok Sau
Cun. Kaiian pasti parnah melihat selembardaun pohon liu yang tertiup oleh angin musim
semi. Serangan Toan Pek Yang kali ini persis seperti gambaran di atas. Sedangkan Yi Ju
Si yang melancarkan jurus Len hua hudhiat bukan saja menemui kegagalan,
bahkan pedang temas YoK Sau Cun yang sudah berhasil dililitnya malah terlepas
kembali. Walahnya yang pucat seperti orang mati menyiratkan perasaannya yang
terpana. Sepasang matenya yang baning bagai mengembangkan air mata tiba-tiba
menyorotkan kaganasan yang membara.
"Aih..,! Tidak disangka usiamu yang masih begini muda sudah memiliki kepandaian
yang demikian tinggi" katanya dengan suara kenes, Mulutnya masih tertawa
cekikikkan, tangannya tiba-tiba mengibas. Selendang warna warni terjulur panjang
dan meluncur ke arah belakang leher Yok Sau Cun dengan jurus Leng Coa can cing
(Ular sakti melilit leher).
Pit kiam singhoat langsung dikerahkan oleh Yok Sau Cun. Tubuhnya bergerak
setengah melingkar. Kakinya bargeser dengan cepat Jurus Hue hong bu liu yang
dijalankan oleh Toan Pek Yang yang seperti daun pohon liu tertiup angin langsung
melintas di samping kirinya dan luput dari sasaran.
Yang menjadi perhatian dan kewaspadaan Yok Sau Cun masih kelima pemuda
berpakaian hijau. Oleh karena itu, begitu berhasil menghindarkan diri dari
serangan Toan Pek Yang, pedangnya langsung mengibas dan sekaiigus tangan kirinya menjulur
ke luar untuk mencengkeram selendang Yi Ju Si yang meluncur mengancam batang
lehernya. Yi Ju Si yang masih balum menyadari kaiau tenaga daiam anak muda Jtu sudah
mencapai taraf yang begitu tinggi Melihat anak muda itu mencekal selendangnya,
diam-diam dia tertawa dingin.
"Kau ingin mengadu kekuatan denganku?" ejeknya dalam hati.
Bagi Yi Ju Si, keadaannya sekarang sangat menguntungkan. Di pihak lain ada
jaringan pedang yang mengurung anak muda itu sehingga tidak dapat menghindarkan
diri kemanamana. Lagipula ada Toan Pek Yang yang diketahuinya memiliki ilmu
sitat sangat hebat dan sedang melakukan panyerangan terhadap Yok Sau Cun. Kati ini,
kelau tidak sampai mati pun, setidaknya anak muda ini akan terluka parah di
tangannya, Dan pada situasi separti ini bila Yok Sa Cun ingin mengedu kekerasan
dengannya, otomatis dia yang akan memetik keuntungan.
Tetapi, justru ketika pikirannya baru tergerak, mulutnya tiba-tiba mengeluarkan
suara keluhan. Tubuhnya bagai seekor ikan yang terkail melayang di udara dan
menggelepargelepar. Rupanya Yok Sau Cun sudah berhasil mencengkeram
selendangnya dan ia sama sekali tak menyangka bila pemuda itu memiliki tenaga
dalam yang demikian kuat sehingga begitu dia menghentakkan selendang tersebut,
tubuh Yi Ju Si pun ikut tertank sehingga melayanglayang di udara seperti
layangan. Tenaga dalamnya langsung tersalur lewat selendang itu dan selendang itu menjadi
kaku seketika. Tiba-tiba selendang itu tampak seperti sebatang toya yang
panjangnya kurang lebih delapan cun. Peristiwa ini terjadi dalam sekejap mata. Begiiu Yok
Sau Cun melepaskan cekalannya, tubuh Yi Ju Si berikut selendangnya langsung
terhempas jatuh dari atas dan terpental pada jarak dua depaan!.
Tubuh wanita itu seperti sebuah bola keranjang yang dilempar oleh seorang bocah
darisuatu ketinggian. Toan PekYang melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Yok
Sau Cun yang terkurung dalam barisan Jit sing kiam ceng bukan saja berhasil
mengelakkan diri dari dua kali serangannya, dia sendiri malah yang berada di
bawah angin. Apalagi sekarang dia melihat Yi Ju Si dilempar keluar dengan lilitan
selendangnya sendiri, hati Toan Pek Yang menjadi terkejut sekaligus gusar.
Mulutnya mengeluarkan geraman marah dan pedang panjangnya bagai curahan hujan
menyerang dengan gencar kepada Yok Sau Cun. Sekaligus dia melancarkan delapan
sembilan ka[i serangan. Sementara itu Yok Sau Cun hanya memiliki sebatang pedang
lemas, dan dia harus memperhatikan kesepuluh batang pedang yang digerakkan
kelima pemuda itu pula. Dia tidak dapat berdiam diri menunggu datangnya serangan
Dia tidak tahu kalau barisan pedang itu sebetulnya hanya untuk menjaga agar dia
tidak meloloskan diri bukan untuk menyerangnya. Dalam keadaan genting, dia
memikirkan cara untuk menerobos keluar dan barisan tersebut.
Terhadap serangan Toan Pek Yang, terpaksa dia mengerahkan Pit kiam sinhoat untuk
mengelakkan diri. Gayanya sangat indah. Dalam sekajap mata dia sudah berhasil
mengelakkan diri dari tujuh buah serangan Toan Pek Yang.
"Kalau begini terus, kapan selesainya pertarungan ini?" pikirnya dalam hati.
Otaknya segera berputar memikirkan jalan keluar yang terbaik. Tiba-tiba tubuhnya
berkelebat, tangan kirinya terjulur ke luar Dengan gerakan yang tidak dapat diikuti oleh
pandangan mata, dia mencengkeram pergelangan tangan Toan Pek Yang dan
langsung melemparkan sampai jauh.
llmu gerakan tangannya ini memang ampuh sekali, boleh dibilang belum pemah
mengalami kegagalan. Toan PekYang masih tidak sadar ketika pergelangan
tangannya dicengkeram oleh Yok Sau Cun, dia masih tertegun ketika mendadak
tubuhnya sudah melayang di udara dan terpental di kejauhan.
Yok Sa Cun sadar bahwa tokoh Kong Tong pai ini mempunyai tenaga dalam yang
tidak dapat dipandang remeh Oleh karena itu, dia mencengkeram orang itu dengan
tenaga dalam sebanyak delapan bagian. Itu juga sebabnya mengapa tubuh Toan Pek
Yang yang sedang melayang di udara berusaha memberontak dan melepaskan diri
dari cengkeraman Yok Sau Cun, namun tidak berhasil,.


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Serrrr!" Tubuhnya terus meluncur melewati kapala kelima pemuda itu kemudian
terhempas sejauh lima depa. Semangat Yok Sau Cun terbangkit seketika. Dua kalj berturutturut dia berhasil
melemparkan dua jago pihak tawan. Tanpa menunda waktu tagi, tubuhnya langsung
berkelebat. Pedang panjang di tangannya menyapu. Sinar pedangnya meluncur bagai
seekor naga sakti. Gerakannya benar-benar niengagumkan Dan dalam sekejap mata
dia berhasil mendesak mundur tiga pemuda berpakaian hijau tersebut.
Tangan kirinya langsung terjulur.
"Fuh!" Terdengar deruan angin yang kencang, telapak tangannya langsung
menghantam ke depan. Terdengar lagi suara yang menggelegar. Seorang pamuda
berpakaian hijau yang sedang menerjang ke arahnya langsung menj'erit lantang dan
tubuhnya terlempar jauh. Orang itu j'atuh pada jarak kurang lebih satu depa.
Mulutnya langsung memuncratkan segumpal darah segar dan tidak sanggup bangkit kembaii.
Lima pemuda yang menggenggam sepuluh batang pedang ini tadinya membentuk
sebuah jaringan yang ketat. Namun orang yang satu iru sudah terpental jauh dan
tidak bisa berdiri lagi. Tiga pemuda yang sebelumnya tergetar mundur sudah maju
kembali. Tetapi dari sepuluh batang pedang sekarang hanya tinggal detapan. Otomatis
janngan pedang ini mernbuka sebuah cefah yang kosong dan dalam waktu sesingkat itu, mana
mungkin mereka bisa menambalnya".
Yok Sau Cun segera mengerahkan Pit kiam sin hoatnya. Mulutnya mengeluarkan
suara tawa yang bebas dan tubuhnya pun ftelesat keluar dan bansan pedang
tersebut. Sejak melemparkan tubuh Toan Pek Yang sampai dia menerobos keluar dan barisan
pedang hanya memakan waktu beberapa detik saja.
Saat itu Toan Pek Yang juga mengeluarkan suara lawa yang aneh. Tubuhnya melesat
dan tahutahu dia sudah masuk kembali ke dalam barisan pedang. Meskipun tubuhnya
terlempar oleh Yok Sau Cun dan dia tidak sanggup melepaskan diri atau pun
memberontak, namun ketika melayang turun, dia tidak sampai menggelinding di
tanah. Kedua kakinya mendarat dengan mantap.
Kedua macam suara tawa, baik tawa bebas Yok Sau Cun dan tawa aneh Toan Pek
Yang, terdengar pada waktu yang bersamaan. Oleh karena itu, dua sosok bayangan
yang melayang di udara, satu adalah Yok Sau Cun yang menecobos keluar dari
barisan dan satunya lagi sudah tentu Toan Pek Yang yang melayang ke dalam
barisan. Keduanya juga bergerak dalam waktu yang bersamaan.
Ketika Toan pek Yang melayang turun dalam barisan, dia metihat Yok Sau Cun
sudah berhasi! menerobos keluar. Wajahnya langsung berubah hebat. Tapi dia
memang tidak malu menjabat sebagai Cuo huhoat Kong Tong pai. Halhal aneh yang
ditemuinya sudah banyak. Rona wajahnya yang pucat segera normal kembali seperti
biasa. Dia menarik kembali pedangnya dan memasukkannya ke dalam sarung pedang.
Tangan kiri mengibes dan mulutnya pun tertawa terkekehkekeh.
"Yok siauhiap sudah berhasil menerobos berisan ini, mengapa kelian masih belum
menyimpan pedang masing-masing?" katanya santai.
Keempat pemuda yang masih tersisa langsung menarik kembati pedang mereka dan
mengundurkan diri ke samping. Joan Pek Yang merangkapkan sepasang kepatan
tangannya serta menjura kepada Yok Sau Cun.
"Ternyata ilmu silat Yok siauhiap demikian tinggi. Meskipun hengte tidak
berhasit meraih kemenangan, namun kekalahan ini diterima dengan rasa puas dan kagum.".
Yok Sau Cun cepatcepat membalas penghormatannya.
"Toan lo sengaja mengalah, Yok Sau Cun mengucapkan terima kasih," sahutnya
dengan nada rendah hati. Setelah itu dia memalingkan wajahnya ke arah pemuda
berpakaian hijau yang terhempas di atas tanah, Dia merangkapkan sepasang
tinjunya dan menjura dalam-dalam. "Tadi cayhe turun tangan terlalu keras sehingga tanpa sengaja melukai hengte
ini. Entah bagaimana keadaan lukanya" Cayhe benar-benar merasa menyesa!.".
"Tidak apa-apa. Mereka selalu membawa obat penyembuh luke dalam di saku
mereka. Asal istirahat sejenak pasti akan baik kembali," sahut Toan Pek Yang.
Wajah Yi Ju Si yang pucat pasi langsung menyiratkan senyuman yang menahan
kegusatan hatinya. Dia mengerfing sekilas kepada Yok Sau Cun dengan linkan
genit. "Lengan hamba ini sampai terasa ngilu dicengkeram dan diiempar olehmu, tapi kau
toh tidak menanyakannya sama sekali," katanya dengan nada menyindik.
Mendengar ucapannya yang terangterangan itu, terpaksa Yok Sau Cun menjura sekali
tagi kepadanya. "Tindakan cayhe ini kelewat kasar, harap kouwnio sudi memaafkan.".
Dipanggil kouwnio oleh Yok Sau Cun, kemarahan Yi Ju Si langsung sirna. Wajahnya
yang pucat pasi seperti mayat langsung mengembangkan senyuman lebar. Baru saja
dia menggerakkan bibirnya untuk menjawab perkataan Yok Sau Cun. ..
"Cuo huhoat, apakah kami sudah boleh meninggalkan tempat ini?" tukas Tiong Hui
Ciong dengan nada dingin. Gadis itu merasa seba! melihat wajah Yu Ju Si yang seperti sesosok mayat dan
sepasang matanya yang berkilauan bagai mengandung airyang tidak habishabisnya
serta linkan serta suaranya yang sengaja dibuatbuat semanja mungkin.
Toan Pek Yang segera mengembangkan seulas senyuman di bibirnya.
"Tentu boleh, tentu saja boleh Hengte sudah mengatakan, apabila Yok siauhiap
sanggup menerobos bansan pedang kami, hengte segera menyuruh mereka
menyingkir dan sini. Mana mungkin hengte berani menghalangi'"'.
Hu toanio mendengus dingin.
"Biarpun.Cuo huhoat ingin menghalangi, rasanya juga belum mempunyai
kesanggupan seperti itu," sindirnya tajam.
"Mari kita naik ke dalam kereta," ajak Tiong Hui Ciong cepat.
Rombongan itu bergegas naik ke dalam kereta Yu Kim Pai menghentakkan pecut
panjang dj tangannya, dan kudakuda yang terkejut itu segera memacu derap
kakinya. Yi Ju Si memperhatikan kereta kuda sampai menghilang di tikungan jalan Dia
menarik nafas dalam-dalam.
"Cuo hu hoat, betape gagah dan habatnya bocah tadi".
Toan Pek Yang tertawa licik.
"Meskipun ilmunya setinggi langit, tapi perjalanan mereka kali ini tetap saja
siasia.". Selain berwajah cantik, Tiong Hui Ciong juga merupakan gadis yang luar biasa
cerdasnya. Setelah melihat behwa sudah berapa kali berturutturut perjalanannya
menuju Soat san mengalami penghadangan, dia langsung teringat pesan yang harus
disampaikan oleh Tai Kiat suhu lewat mulut Kim Tijui. Mereka disuruh berangkat
secepatnya ke Soat san. Kim Ti jui sudah mengatakan bahwa kemungkinan telah terjadj perubehan di Soat
san. Kalau ditiljk dari nadanya, peristiwa itu malah terjadj pada diri kakeknya.
Tadinya dia merasa kurang percaya, sekarang malah ada pihak Kong Tong pai yang
menghadang perjalanannya.
Begitu pikirannya tergerak, mimik wajahnya berubah menjadi kefam, Dia
mempectimbangkan apayang harus diperbuatnyasekarang. Akhirnya dia mengambtl
keputusan untuk meminta Hu toanio beserta keempat gadis pelayannya tatap
menecuskan perjalanan dengan kereta. Mereka tidak perlu tergesa-gesa. Apabila
mafam tiba, mereka boleh berhenti di penginapan untuk bermalam dan sekalikali
harus berhenti di rumah makan untuk mengisi perut. Dengan demikian perhatian
orang-orang yang mengejar ataupun mungkin sudah mengikuti mereka akan
terpancing pada kereta tersebut. Dia sendici akan mencari pilihan dan melakukan
perjalanan tanpa henti bersama Yok Sau Cun.
Hu toanio merasa siasatnya itu memang bagus. Dia langsung setuju. Yok Sau Cun
dan Tiong Hui Ciong pun menyelinap keluar dari kereta dan meneruskan perjalanan
ke Soat san dengan inenunggang kuda pilihan. Di sepanjang perjalanan, mereka
selalu menghindari tempattempet yang ramai Terkadang mereka berhenti di dusup terpencil
dan membeli berbagai macam ransum kerjng, guna penanjal perut selama perjalanan.
Mereka tidak pernah berhenti bermalam atau pun becistirahat.
Gunung Soat san atau ada juga sebagian orang yang memanggi! dengan Tai Soat san
diapit oleh dua propinsi yang luas. Sepanjang tahun selalu dilutupi salju Kabut
putih menyelimuti tempat itu bagaikan gumpalan awan pada han yang cerah.
Di tennpat yang cuacanya selalu dingin dan pemandangannya indah ini, kecuali
para pelancong atau orang yang'mempunyai kepentmgan tersendiri, Jarang ada yang
datang sekedar untuk singgah saJa.
Soat san lo sinsian (Dewa gunung salju) atau kakek dan Tiong Hui Ciong tinggal
di salah satu wiiayah Soat san yang bernama Tiong Cunkok (Lembah panjang umur)
Lembah ini terdapat di sebelah selatan daerah Soat san.
Ada satu hal yang aneh di lembah ini Meskipun wilayah Soat san sendiri sepanjang
tahun seiaiu ditutupi salju dan di manamana terhampar warna putih seperti selembar
permadani yang lebar, tetapi di dalam lembah panjang umur suasana alamnya justru indah
bagai nirwana Bungabunga selalu bersemi sepanjang tahun. Hawanya tetap
dingin namun suasananya sendiri bagaf musim semi yang berkepanjangan.
Menjelang tengah hari itu, Yok Sau Cun dan Tiong HU| Ciong sampai di wilayah
sebelah selatan Soat san Mereka meninggalkan kudanya di sana dan masuk ke dalam
[embah dengan becjalan kaki.
Lembah ilu adanya di puncak bukit Yok Sau Cun merasa mereka mendaki semakin
lama semakm tmggi Hawa dingin pun mulai menyusup Angin sejuk berhembus.
Tulang belulang di seluruh tubuh ngilu Terlihat gumpalan salju di manamana Warna
pulih mendominasi tempat tersebul Begitu indahnya sehingga rnembuat perasaan Yok Sau
Cun enggan meninggalkan tempat itu.
Di dalarn kereta dia pffrnah nnendengaf cerita dan mulut Tiong HU| Ciong bahwa
di plembah Tiong Cunkok tumbuh berbagai ma cam bunga yang tidak akan layu
sepanjang tahun. Cuacanya memang dingin tapi tidak terlalu menusuk Suasananya
bagai musim semi dengan taman yang dipenuhi bunga warnawarni yang indah
Sekarang dia hanya melihat gumpalan salju berwarna putih yang menghampar
sepanjang perjalanan. Hatinya menjadi curiga.
Di tampat yang dingin dan penuh sa!}u seperti ini mana mungkin bisa tumbuh
berbagai macam bunga yang tidak iayu sepanjang tahun" Lagipula tidak sedikit pun
ada kesan musim semi yang kurasakan di sini pikirnya dalam hati.
Tiong Hui Ciong melihat anak muda itu mengedarkan pandangannya dan tidak
mengucapkan sepatah kata pun. Seulas senyum manis langsung mengembang di sudut
bibirnya. "Adik Cun, apakah kau merasa bahwa di manamana hanya ada saljU putih yang
menghampar dan tidak mungkin ada lembah yangditumbuhi berbagaj macam
bungayang tidak layu sepanjang tahun?" tanyanya lembut.
"Tiong Cunkok adalah lembah di mana Tiong cici dibesarkan, sudah pasti ada
tempat semacam itu. Siaute hanya berpikir, apabila tidak ada yang menjadi petunjuk
jalan, pesti orang tidak akan berhasil menemukan Tiong Cunkok seperti yang cid
ceritakan," sahut Yok Sau Cun. Tiong Hui Ciong tersenyum simpul.
"Kau memang pandai bicara. Cici lihat tadi kau celmgakcelinguk kesana kernari.
Wajahmu menyiratkan mimik yang kurang yakin. Tetapi apa yang kau katakan
memang benar. Lembah Tiong Cunkok berada di suatu lempat yang sangat terpencil
Lagipula Yaya sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk menutupi
tembah dengan bongkah salju yang tidak pernah mencair Orang yang tidak pernah
menginjak tempat tersebut, biarpun sudah sampai di depan pintu iembah, pasti
tidak berhasil mengetahuinya.".
"Bisa begitu'?" tanya Yok Sau Cun bingung.
"Sebentar lagi kita akan sampai. Nanti kau akan membuktikan sendiri benar
tidaknya perkataan cici ini," sahut Tiong Hui Ciong.
Kedua orang itu segera mengerahkan ginkangnya untuk berlari di atas salju.
Gumpalan ss di tanah agak kaku dan tidak licin. Mereka tidak menemukan kesulitan
sama sekali dalam melakukan perJalanan tersebut.
Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah bukit yang tertutup gumpalan
es Tiong Hui Ciong menghentikan langkah kakinya di sana. Dia membaiikkan tubuh
dan memandang Yok Sau Cun.
"Sudah sampai!" katanya.
Yok Sau Cun menolehkan kepalanya dan memandang ke sekeliling Di manamana
hanya terdapat gumpalan es yang tinggf Demikian pula bukit yang menJulang di
depan mereka Bahkan dia merasa mereka sampai di tempat yang buntu dan tidak ada
jalan lain lagi Bukit yang ada di hadapan mereka sangat tinggi dan dipenuhi
gLimpalan es Tidak mLingkin orang bisa meloncat setinggi itu. Apalagi dinding
bukit itu sendiri demikian licin karena terlutup saljU yang tebal.
"Apakah ini yang cici maksud pintu masuk lembah Tiong Cun kok?".
"Betul kalau tidak percaya, coba kau cari sendiri di mana ietak pinlu
masuknya'?" kata Tiong Hui Ciong. Yok Sau Cun memperhatikan lagi sejenak. Dia menggelengkan kepalanya.
"Maafkan kebodohan siaute, benar-benar tidak tahu di mana letak pintu yang cici
maksudkan.". Tiong Hui Ciong mengembangkan senyuman manis.
"Ikutlah dengan cici!" Dia langsung menelusuri jalan sempit yang terdapat di
sisi bukit Bukit salju itu kurang lebih setinggi sepuluh depa Bentuknya tunggal Sebelah kin
ada celah lekukan Walaupun tertutup oleh gumpalan salju namun sekali lihat
segera diketahui bahwa celah itu dapat menuju ke daerah pegunungan yang lebih
tinggi. Tiong Hui Ciong melangkah perlahan-lahan ke sisi bukit. Tiba-tiba terdengar
suara. "Cring!" yang nyaring Han eng kiam sudah terhunus di tangan. Dengan penuh
keyakinan dia menusuk ke tengah-tengah tonJolan salju yang terlihat. Kemudian
tangannya mengulur dan nnasuk ke dalam liang yang dibuatnya dengan Han engkiam
tadi. Dia memutar dua kali ke kiri dan dua kali lagi ke kanan. Pedangnya sudah
diselipkan lagi pada ikat pinggangnya Tangannya kemudian menekan ke dalam celah
tersebut dan terlihatlah sebuah pintu besar yang membentang lebar.
Tiong Hui Ciong segera tersenyum lebar.
"Mari kita masuk ke dalam'".
Yok Sau Cun melihat apa yang di lakukan gadis itu dengan tatapan terpesona.
"Rupanya di sinilah letak pintu masuk tembah. Biar pun ada orang yang tahu
letaknya di sini, tetapi belum tentu dia bisa membukanya.".
Tiong Hui Ciong iangsung membungkukkan tubuhnya dan menyelinap ke dalam
iubang itu. Yok Sau Cun mengikuti dari belakang. Perlahan-lahan dia metangkahkan
kakinya. Tampak di dalam lubang goa itLi terdapat goa yang dikelilingi oleh es
dan bentuknya bundar Namun orang yang berada di dalamnya tidak merasa sempit karena
cahaya salju yang memenuhi dindmg berkilauan bagai cermin yang dapat
memantulkan bayangan. Begitu beningnya saljU yang menyelimuti dinding goa
tersebut sehingga dapat terlihat bayangan orang yang berdiri di luarnya.
Yok Sau Cun memandang dengan kagum, tanpa sadar mulutnya mengeluarkan suara


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pujian. "Goaini pasti alami. Bentuknya aneh dan mdah sekali Entah bagainiana kakekmu
dapat menemukan tempat seperti ini dahulunya?".
Tiong Hui Ciong hanya tersenyum lembut. Tangannya kembali memijit lekukan di
sebetah dalam goa dan otomatis pintu tadi tertutup kembali.
"Tadinya tempat ini iTieinang merupakan goa untuk menuju lembah. Dulu Yaya
meneinukannya lanpa sengaja. Dia merasa bahwa tempat ini bagus sekali. Selain
dapat ditembusi cahaya matahan juga terlindung dari angin topan Karena
keadaannya yang tertutup, maka hawanya pun tidak sedjngin di luar. Di dafam sini yang lerasa
hanya kesejukan. Begitu terpesonanya Yaya, tempat ini pun diben nama Tiong
Cunkok Kemudian dia nnemilih tempat ini sebagai tempat tinggal Namun dia takul
banyak orang yang dalang mengganggu ketenangannya ataupun mencan garagara
dengannya. Akhirnya dia irienghabiskan waktu selama bertahuntahun untuk membuat
pintu rahasia ini. Setelah itu, lorong di dalam sini digali sehingga berbentuk
melingkar seperti bulatan bola dunia. Orang luar yang tidak tahu rahasia ini,
tentu saja tidak dapat menemukannya walaupun dia berusaha mencan seumur hidup.".
"Rupanya begitu. Siaute malah tadinya mengira goa ini aslinya memang sudah
berbentuk seperti ini".
Salju yang mengelilingi dinding goa sudah membeku bagai dinding bafu. Berjalan
di dalamnya, kita tidak perlu khawatir dilanda rasa dingin yang menggigil Tidak
perlu takut terhadap badai salju yang melanda ataupun percikannya yang dapat
menyakitkan kutit tubuh. Bahkan hawa di dalam semakin lama terasa semakin
hangat. Rasa dingin yang menggigit ketika berada di daerah pegunungan tidak terasa lagi.
Setelah berJalan kurang lebih dua li. tiba-tiba di depan mereka terdapat sebuah
celah yang sangat besar. Pemandangan di dalamnya dapat terlihat jelas. Tampak padang
rumput yang kehijauan. Benar-benar bagai sebuah dunia yang lain. Tiba-tiba
tefinga Yok Sau Cun mendengar suara yang bergemuruh Dia segera maju beberapa langkah.
Serangkum hawa dingin langsung menyusup lewat pori-pori.
Yok Sau Cun benar-benar tidak mengecti Ketika memasuki pintu lembah, rasa dingin
mulai berkurang dan dia malah merasa tubuhnya semakin lama semakin hangat
Mengapa dalam jarak beberapa depa saja iklim di tempat ini bisa berubah
sedemikian hebat" Matanya beralih kepada Tiong Hui Cipng.
"Kok tiba-tiba jadi dingin sekali?" tanyanya bingung.
Tiong Hui Ciong tidak menyahut Dia menarik tangan Yok Sau Cun dan maju
beberapa puluh langkah Setelah itu dia membalikkan lubuhnya ke arah di mana
mereka datang tadi. "Coba kau lihat apa yang ada di sana, tentu kau akan segera mengecti apa yang
sedang terjadi!". Yok Sau Cun segera berpaling ke arah yang ditunjuk oleh Tiong Hui Ciong Dia
melihal di alas celah goa yang tinggi terdapat seekor naga besar yang terbuat
dari batu kumala Mulutnya sedang menganga lebar dan air terjun yang besar jatuh ke bawah
dengan deras. Air lerjun itu sampai mengepulkan asap berwarna putih Hai ini
membuktikan bahwa air itu pasti dingin sekali Dan rupanya suara gemuruh air
terjun inilah yang terdengar oleh telinga Yok Sau Cun tadi.
Air terjun Hu jatuh tepat di samping goa di mana terdapat sebuah aliran sungai
yang jernih. Tadi Yok Sau Cun dan Tiong Hui Ciong lewat di sampingnya, tidak heran
bila tiba-tiba ada serangkum hawa dingin yang menusuk kulit tubuhnya.
Yang lebih aneh fagi, justru air terjun ini seperti menjadi pembatas antara
daerah dingin dan hangat. Meskipun airnya mengalir dengan keras namun tidak
mempengaruhi rasa hangat yang ada di sekitar lembah Namun air sungai yang
mengalir juga tidak menjadi beku meskipun udara di sisi yang satu lagi begitu
dingin sehingga menyusup ke da!am tulang. Malah di sebelah yang berudara hangat,
terdapat hamparan rumput yang hijau dengan berbagai jenis bunga yang indah. Tidak kalah
dengan pemandangan di daerah Kang lam pada musim semi.
Tiong Hui' Ciong mengajaknya menelusuri jalanan di dalam lembah. Di sana
merupakan sebuah padang rumput yang luas sekali. Bentuknya Juga bundar.
Kebetulan lembah itu menghadap ke arah selatan, sehingga pegunungan yang tinggi
dapat menghalangi angin kencang yang melanda.
Siapa pun tidak mengira di wilayah Soat san yang dingin dan sepanjang tahun
selalu ditutupi oleh salju yang tebal, bisa mempunyai lembah yang seaneh ini. Di
manamana tarlihat bungabunga yang bermekaran dengan indah. Memang benar apa yang
dikatakan oieh Tiong Hui Ciong. Meskipun sampai letah mata Yok Sau Cun
mencarican, dia tidak menemukan setangkai bungapun yang layu alau rontok dari
batangnya. Begitu terpesonanya Yok Sau Cun sehingga tanpa sadar mulutnya mengeluarkan
suara seruan yang menandakan kekaguman hatinya. Tempat ini memang tepat
dinamakan Tiong Cunkok!".
"Tiong Cunkok seperti pemisah antara bumi dengan nirwana Suasananya benar-benar
bagai musim semi Bungabunga tidak ada satu pun yang layu. Dan tempat ini saja
dapat dibuktikan bahwa kakekmu bukan saja seorang lokoh Bulim yang aneh tetapi
penennuannya tidak kalah ajaib. Benar-benar membuat orang kagum!".
Rupanya Yok Sau Cun sudah memandang lempat itu dengan teliti. Seliap celah,
danau kecil, batubatuan bahkan taman dan rerumputan yang menghampar semuanya
terurus dengan baik dan ditata dengan apik. Meskipun banyak pemandangan yang
merupakan buatan tangan manusia, tapi kesan yang ditimbulkannya malah seperti
alami. Yang membuat kekagumannya semakin meninggi juslru bungabunga yang tertanam
rapi dan hampir semuanya belum pernah ia temui di tempat lain. Dia bagaikan
berada di dalam surga Angin sepoisepoi yang berhembus membawa serangkum bau harum
bunga, membuat perasaan orang yang berada di dalam iembah rnenjadi nyaman dan
segar. Seandainya bisa menetap di sini sampai akhir tua, pasti dia dapat mati
dengan tenang. Melihat keadaannya yang semakin terkesima, Tiong Hui Ciong hanya menundukkan
kepalanya sambil tersenyum simpul. Ketika mereka sedang berbicara itulah, entah
sejak kapan, di atas sebuah batu besar yang ada di hadapan mereka telah duduk
seorang tua berpakaian kuning Saat itu matanya yang bersinar tajam sedang
menatap Yok Sau Cun lekat-lekat. Tiong Hui Ciong segera menjatuhkan diri berlutut di depannya.
"Keponakan menemui Suto pekpek," katanya.
Orang tua itu hanya berdehem satu kali. Setelah dekat baru terlihat bahwa di
bagjan punggungnya terdapet tonjolan yang besar.
"Siapa bocah ini?" tanyanya dengan mata setengah terpicing.
"Dia adalah adik angkat keponakan. Murid Perguruan Tian san yang bernama Yok Sau
Cun." Setelah memperkenalkan, Tiong Hui Ciong menoleh kepada Yok Sau Cun.
"Adik Cun, cepat temui Suto pekpek. Dialah pendekar Suto Gi yang namanya sudah
lama terkenal di dunia kangouw. Orang-orang Bulim menjulukmya 'lt ciang kui tian'
(Satu pukulan membuka langit) Sudah berpuluh lahun dia mengikuti Yaya dan
tingga! di Tiong Cunkok ini.".
Yok Sau Cun segera membungkukkan tubuhnya dan menjura dalam-dalam.
"Cayhe Yok Sau Cun menemui Suto cianpwe," katanya sopan.
Suto Gi tersenyum ramah. "Rupenya Siau hengte ini berasal dari Tian san. Tidak heran sinar matanya begitu
tajam dan panampilannya bagitu gagah. Tenaga dalam Siau hengte ini pasti sudah
mencapai taraf tertinggi." Dia menoleh Kepada Tiong Hui Ciong. "Bukankah J!
kouwnio turun gunung bersamasama Toa kouwnio, Mengapa sekarang pulang
seorang diri?". "Aku datang untuk menjenguk keadaan Yaya. Bagaimana kabamya dia orang tua?"
tanya Tiong Hui Ciong. "Kedatanganmu kurang tepat. Rasanya kau tidak dapat bertemu dengan Lao sinsian,"
sahut Suto Gi. Ketika masuk ke dalam lembah, Tiong Hui Ciong mekhat orang yang menjaga di
mutut lembah adalah pamannya Suto Gi, hatinya sudah terasa agak lega. Sekarang
mendengar perkataan orang tua itu, dia langsung tertegun.
"Apakah Yaya sedang keluar?".
Suto gi tersenyum simpul.
"Lao sinsian sudah hampir separuh hidupnya tidak pernah meninggalkan lembah ini.
Mana mungkin dia keluar sekarang" Sejak kepergian kalian, mungkin dia orang tua
merasa sangat Kesepian. Sekarang sedang mengunci diri dj ruang semedi.".
"Mengunci diri dj ruang semedi"' Tiong Hui Ciong merasa heran.
llmu silat kakeknya sudah mencapai taraf tertinggi. Tiong Hui Ciong ingat
kakeknya sering berkata, apabila ifmu seseorang sudah mencapai batas tertentu maka tidak
mungkin bisa naik lebih tinggi lagi. Apabila dipaksakan akan sia-sia saja, malah
bisa terjadi Cao hue jitmo, atau aliran darah yang mengalir dari arah beriawanan dan
akhirnya bisa membuat nadi Jantung terputus, dan punah seluruh ilmu yang sudah
dikuasainya. Oleh karena itu, kakeknya tidak pernah berusaha mencapai taraf yang
lebih tinggi. Lagipufa kehidupannya sudah tenang. Untuk apa dia mengunci ciiri dan
bersemedi lagi". Hatinya bertambah cunga, tanpa sadar dia mendesak Suto Gi.
"Suto pek pek, sebelum mengunci dlri, apal kah Yaya pernah mengatakan ilmu apa
yang akan dilatihnya?". "Tidak," sahut Suto Gi "Setelah kalian pergi, tidak lama kemudian, Ci Sancu
parnah berkunjung satu kali. Selama tiga hari tiga malam mereka berbincangbincang. Kali
ini Lao sinsian mengunci diri melatih itmu, mungkin ada hubungannya dengan
pembicaraan antera dia orang tua dan Cl Sancu. Bisa jadi mereke ingin mencoba
semacam ilmu yang dapat membuat usia mereka panjang dan tldak mati sampai
ratusan tahun.". Tiong Hui Ciong tidak percaya dengan dugaannya. Hatinya semakin curiga.
"Apakah Yaya tidak mengajakmu berunding dulu sebelum mengunci diri"1' tanyanya
kembali. "Soal Lao sinsian yang mengunci diri, Lao siu Juga mendengarnya dari Li so,"
sahut Suto Gi. "Li so?" Tiong Hui Ciong menjadi bingung. "Siapa Li so itu?".
"Li so adalah perempuan yang diutus oleh Toa kouwnio untuk melayani Lao sinsian.
Toa kouwnio khawatir kaiau Ji kouwnio dan Sam kouwnio pergi, maka tidak ada
orang yang melayani Lao sinsian. Menurut apa yang Lao siu dengar, Li so sudah
banyak pengaiaman Dulu ia merupakan pelayan yang melayani Hue leng senbu....".
Tiong Hui Ciong semakin merasakan adanya sesuatu yang tidak bereg Dia juga
terkajut mendengar keterangan itu.
"Mengapa aku tidak mendengar Toa ci mengungkit persoalan ini?".
"Li so dibawa kemari oleh Ci Sancu. Dia mengatakan bahwa semuanya di atur oleh
Toa kuownlo. Maksud hati Toa pasti baik. Dia ingin menunjukkan baktinya kepada
Lao sinsian....". "Celaka! Urusan ini pasti ada apa-apanya!' seru Tiong Hui Ciong panik. "Aku
ingin menemui Yaya sekarang jugal" Tiong Hui Ciong langsung menolehkan kepalanya
dan berkata. "Adik Cun, cepat ikut aku.!".
Dengan langkah yang tergesa-gesa dia menghambur ke dalam lembah. Yok Sau Cun
terpaksa mengikuti dari belakang. Suto Gi memandang kepergian kedua orang Hu.
Dia menggelenggelengkan kepalanya.
"Sifatnya sejak kecil selalu seperti Hu. Tidak pemah bisa barubah," gumamnya
seorang diri. lldim di Tiang Cunkok memang seperti musim semi. Banyak terdapat berbagai jenis
bunga yang tidak iayu sepenjang tahun. Saat jni sudah awat bulan penutup tahun.
Tetapi bunga-bunga tetap bermekaran dengan semarak. Harumnya memancar ke
manamana, membuat suasana Tiong Cunkok bagai sebuah taman irnpian yang dapat
membuat orang terlena. Tiong Hui Ciong sudah mendengar dari Kim Tijui bahwa telah terjadi perubahan di
Soat san, dan kemungkinan peristiwa im Justru terjadi pada diri kakeknya.
Sekarang dia mendengar dari Suto Gi keterangan yang membuatnya semakin curiga. Bisa jadi
memang telah terjadi sesuatu. Hatinya menjadi tambeh panik. Tanpa terasa,
kaktnya berlari semakin cepat. Tubuhnya bagai sebatang anak panah yang meluncur dan
busurnya. Saat itu, Yok Sau Cun yang mengikutinya dari belakang terpaksa mengimbangi
ginkang gadis itu. Pemandangan alam yang indah di sekitar tidak lagi menarik
perhatiannya. Dia bahkan tidak melink sekalipun. Dia hanya terus berlari
mengikuti langkah kaki Tiong Hui Ciong.
Tidak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di ujung lembah, dimana terlihat
pemandangan bukit yang menjulang tinggi. Di bagian tengah ada sebuah goa lagi
yang cukup besar. Di depannya terdapat sebuh celah setinggi manusia dewasa. Di
atasnya ada sebuah papan yang terukir empat huruf, "Tiong Cun Tonghu" (Rumah goa
panjang umur). Di bagian luar terdapat undakan batu yang menyambung seperti
jalan setapak. Tiong Hui Ciong yang berjalan di muka segera menaiki undakan betu
dan masuk ke dalam goa itu dengan tergesa-gesa.
Tiba-tiba tampak dua sosok bayangan berkelebat. Dari dalam goa melesat keluar
dua orang gadis berpakaian hijau. Tangan masing-masing menggenggam sebatang padang
Mereka menghadang di depan pintu masuk. Gadis yang berdiri di sebelah kin
memperhatikan Tiong Hui Ciong sekilas kemudian membentak.
"Berhenti' Siapa kau" Beraniberanian mengacau di Tiong Cun Tonghu ini!".
Mendengar ucapannya, Tiong Hui Ciong merasa geti sekaligus gusar.
"Siapa aku" Siapa kalian?" Tiong Hui Ciong membahkkan pertanyaan serupa,.
Gadis yang sebelah kanan memperhatikan Yok Sau Cun dan Tiong Hui Ciong
dengan pandangan tajam. "Bukankah si tua Suto Qi Itu sedang menjaga di mulut lembah" Bagaimana kalian
bisa masuk ke sini?" tanyanya.
Sepasang alis Tiong Hui Ciong terjungkit ke atas.
"Dari mana datengnya kalian ini" Kalau kalian bisa tahu bahwa tempat ini adalah
Tiong Cun Tonghu, seharusnya kalian juga tahu siapa aku!".
Mendengar ucapannya kedua gadis berpakaian hijau itu langsung terpana. Tiong Hui
Ciong tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk membuka mulut, dia
melanjutkan iagi kata-katanya.
"Dengar pertanyaanku! Apakah kalian ini bawahan Li so" Kalau benar, cepat
panggil Li so

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kemari'". Gadis yang sebefah kiri tampaknya terkejut melihat kegarangan Tiong Hui Ciong.
Dia menatap gadis itu sekilas.
"Siapa kau sebenarnya?".
"Aku bernama Tiong Hui Ciong. Kau sudah mendengarnya dengan Jelas bukan"
Cepat masuk memberi laporan kepada atasanmul" sahut Tiong Hui Ciong dengan
nada dingin. Gadis yang berdiri di sebelah kiri langsung berbisik kepada rekannya.
"Kau jaga rnereka baikbalk. Aku akan masuk melaporkan urusan ini!".
Gadis yang berdiri di sebelah kanan hanya menganggukkan kepelanya mengiakan
Gadis yang ada di sebelah kin tadi langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah
ke dalam goa. Tidak lama kemudian, terdengar gesekan lengan baju berkumandang dan dalam goa.
Gadis yang berdiri di sebelah kiri tadi keluar lagi dengan diiringi oleh seorang
wanita setengah bayayang wajahnya sangat rupawan. Dia Juga mengenakan pakaian
berwarna hijau. Hanya warna hijau pakaiannya lebih tua dari pada kedua gadis
ini. Pandangan mata Tiong Hui Ciong segera menyapu dari atas kepala sampai ke ujung
kakmya. Rambutnya disanggul tinggi. Alisnya hitam pekat dan bentuknya bagai
butan sabit. Sepasang matanya indah berkilaukilau. Usianya mungkin sekitar tiga puluh
tahunan. Tetapi raut wajahnya menyiratkan kecantikan yang matang. Dewasa dan
anggun!". "Apakah kau yang bernama U so?" tenya Tiong Hui Ciong dengan nada dingin dan
pandangan menusuk. Tiba-tiba wanita itu mengembangkan seulas senyuman manis dan maju menghampiri
Tiong Hui Ciong. "Kau tentunya Ji siocia" Hamba memang Li so. Kedatangan hamba di tempat ini
adalah mengemban tugas dari Toa siocia untuk melayani Lao sin sian," sahutnya ramah.
"Aku justru baru datang dari tempat toaci Mengapa aku tidak mendengar toaci
mengatakan apa-apa tentang urusan ini?" desak Tiong Hui Ciong.
"Aduh ...t1 Suara Li so semakin kenes. "Ji siocia yang baik, untung saja
kedatangan hamba ini diantarkan o|eh Ci Sancu, coba kalau tidak, tentu hamba dikira berani
mati memalsukan nama cucu perempuan Soat san iojin." Tibaliba dia menarik nafas
panjang. "Hiong Cu, Hiong Giok, mengapa kalian masih tidak cepatcepat menghadap
Ji siocia?". Kedua gadis tadi segera mem ungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Budak menemui Ji siociai".
Tiong Hui Ciong hanya asal menyahut. Dia tidak sudi melayani orang-orang itu
lama. "Mana Yayaku?".
"Lapor Ji siocia, Lao sinsian sedang bersemedi," sahut Li so.
"llmu apa yang sedang dilatih oleh Yaya sehingga dia parlu bersemedi"'.
"llmu apa yang sedang dilatih oleh Lao sinsian, sebagai orang bawahan, hamba
mana berani bertanya. Kalau Lao sinsian tidak mengatakan, bagaimana hamba bisa
tahu?". "Sudah berapa lama Yaya bersemedi?" tanya Tiong Hui Ciong kembati.
"Hampir tiga bulan Sebelum mengund diri, Lao sinsian hanya mengatakan bahwa kali
ini semedinya mungkin memakan waktu kurang lebih tiga tahun. Selama itu tidak boleh
ada orang yang mengusiknya," sahut Li so.
"Aku akan bertanya langsung kepada ,Yaya ilmu apa yang sedang dilatihnya!".
Li so terkejut sekali mendengar ucapan Tiong Hui Ciong. Dia segera menghadang di
depannya. "Ji siocia, jangan sekalisekali metakukan hal Hu!".
Sepasang alis Tiong Hui Ciong langsung terjungkit ke atas.
"Kau berani menghalangiku?" bentaknya marah.
"Hamba tidak berani." Senyuman di bibir Li so tidak terlihat lagi. Dia
membungkukkan tubuhnya sedikit dan melanjutkan kata-katanya.
"Harap Ji siocia dengarkan dulu ucapan hamba ini.
"Cepat katakanl".
"Menurut apa yang hamba dengar, ilmu silat Ji siocia sangat tinggi. Entah benar
tidak kabar itu?". Wajah Tiong Hu? Ciong menyiratkan perasaannya yang marah.
"Apakah kau ingin mencobanya sendiri?".
Li so tersenyum manis. "Ji siocia salah paham. Hamba sedang berpikir, seandainya Ji siocia memiliki
ilmu silat yang tinggi, tentu mengerti kalau seseorang yang sedang berlatih ilmu silat
dengan cara bersemedi sama sekali tidak boleh diganggu. Seandainya pikirannya yang sedang
kosong sampai mengalami keguncangan, apa tdrakira akibatnya?".
Mendengar ucapannya. Pertama-tama.
Tiong Hui Ciong terpana. Kemudian dia tersenyum datar.
"Kau sungguh pandai bicaral".
Li so tetap tersenyum manis.
"Ji siocia hanya memuji saja. Hamba hanya memperingatkan Ji siocia bahwa keadaan
Lao sinsian sekarang tidak boleh diganggu sama sekali.".
"Kapan Yaya bengun dari semedinya?" tanya Tiong Hui Ciong kembali.
"Sepuluh hari. Setiap sepuluh hari, Lao sinsian pasti bangun dari semedinya. Dia
benstirahat kurang lebih setengah hari untuk mengisi perut dengan buahbuahan
atau minum ramuramuan yang khusus. Waktu setengah hari ini, dia boleh berbicara
dengan siapa saja.".
"Sampai kapan kita harus menunggu?".
"Lao sinsian selalu bangun dari semedinya kira-kira tengah hari Sebelum
menjelang malam dia mengunci diri bersemedi. Sebelumnya Lao sinsian keluar kemarin dulu.
Jadi Ji siocia harus menunggu tujuh hari lagi baru dapat bertemu dengannya.".
Bibir Tiong Hui Ciong bergerakgerak. Namun Li so tidak membennya kesempatan
untuk berbicara. "Ji siocia baru kembali dari perjalanan yang jauh. Tentunya harus tinggal
beberapa hari baru pergi lagi. Tujuh hari adalah waktu yang singkat.
"Tidaki" sahut Tiong Hui Ciong. "Aku tidak dapat berdiam di lembah tertalu lama.
Aku sengaja bergegas puiang untuk melihat keadaan Yaya. Biar bagaimana pun aku
harus melihatnya, baru kekhawatlran dalam hati ini dapat dihilangkan.".
Li so tersenyum simpul. "Ji siocia tidak periu khawatir. Hamba sudah lama melayani Senbu. Kali ini
justru Toa siocia yang meminjam hamba dari Senbu untuk melayani Lao sinsian. Pasti tidak
akan terjadi apa-apa pada diri Lao sinsian. Ji siocia tidak perlu cemas.".
Kata-kata 'melayani Senbu' malah membuat hati Tiong Hui Ciong semakin tegang.
Dia segera mengambil keputusan.
"Tidak bisa, aku bergegas kembali ke Soat san memang khusus untuk melihat Yaya
Kau tldak perlu berkata apaape lagit" sahutnya.
Tampak Li so terkeiut setengah mati mendengar nama Tiong Hui Ciong yang tegas.
"Mengapa Ji siocia tidak bersedia mendengarkan peringatan hamba?".
"Aku akan melihat Yaya, apakah kau boiah menghatangi aku?" bentak Tiong Hui
Ciong marah. Li so menggelengkan kepalanya lambat-lambat.
"Ji siocia, harap maafkan kata-kata hamba yang lancang. Ji siocia adalah cucu
Lao sinsian, sedangkan hamba hanya seorang bawahan. Juga orang tuar. Ji siocia ingin
menengok keadaan Lao sinsian. seharusnya hamba tidak berhak mencegah....".
"Bagus kalau kau sadarl" tukas Tiong Hui Ciong.
Wajah Li so yang cantik mengembangkan seulas senyuman yang tipis. Perlahanlahan
senyuman itu sirna, wajahnya berubah menjadi serius.
"Tetapi kedatangan hamba ke tempat ini adalah mengemban tugas dari Toa siocia
untuk melayani Lao sinaian. Ketika akan meninggalkan lembah tni, Ci Sancu sudah
berpesan beberapa kali. llmu yang sedang dilatih oleh Lao sinsian adalah semacam
ilmu yang tiada duanya di dunia ini. Dengan demikian dia harus memusatkan
konsentrasinya dan tidak boleh terganggu sedikrt pun. Keselamatan Lao sinsian
adadi tangan hamba. Oleh karena itu, meskipun Ji siocia adalah cucu perempuan Lao
sinsian, hamba tetap harus menghalangi meskipun akan menerima hukuman mati!".
Tiong Hui Ciong mendengar ucapannya tidak seperti orang yang berdusta Untuk
sesaat dia menjadi bimbang.
"Aku tidak akan mengejutkan Yaya. Aku hanya ingin melihat keadaannya sebentar
saja," sahutnya kemudian. "Tidak bisal" kata Li so dengan suara tegas. "Saatini Lao sinsian sedang
bersemedi. Tldak boleh ada orang yang melangkah masuk setindak pun. Kalau Lao sinsian
sampai terkejut, hamba... hambe tidak takut menghadapi kematian. Tetapi
bagaimana hamba harus bertenggung jawab kepada Toa siocia?".
Sejak tadi Yok Sau Cun hanya berdiri di samping sebegai seorang penonton Dia
merasa Li so ini pandai sekali mengikuti perkembangan situasi. Apabila Tiong Hui
Ciong mulai tidak sabar, maka kata-katanya pun menjadi halus membujuk. Tetapi
apabila Tiong Hui Ciong mulai bimbeng. ucapannya pun berubah menjadi keras dan
tegas. Dalam beberapa bulan terakhir ini, dia sudah mengalami berbagai kejadian.
Pengalamannya menghadapi orang-orang dunia kangouw yang licik sudah cukup
banyak Melihat tingkah laku Li so ini, hatinya menjadi curiga. Diam-diam dia
mengerahkan ilmu Coan im jutbit untuk membisiki Tiong Hui Ciong. "Ciong cici,
parempuan ini pandai sekali mengikuti situasi yang dihadapinya. Jangan terlalu
percaya kepadanya. Lebih balk cici ambil keputusan sendiri!".
Mendapat peringatan dan adik Cunnya Tiong Hui Ciong seperti tersadar. Wajahnya
pun menjadi semakin kelam.
"Urusan Yaya yang mengunci diri, sebelumnya aku tidak pernah dengar. Sedangkan
toaci juga tidak tahu apa-apa. Itulah sebabnya aku bergegas pulang untuk menjenguk
Yaya. Segala urusan di sini, aku yang berhak menentukan. Meskipun kedatanganmu
di lembah ini untuk melayani Yaya, tapi kau tidak perlu ikut campur. Cepat
mtnggirt" bentaknya dengan suara keras.
Wajah U so berubah hebat mendengar ucapen Tiong Hui Ciong. Tetapi dia tetap
menghadang di depannya. "Kalau Ji siocia tidak sudi mendengar nasehat hamba dan tetap ingin masuk ke
dalam, hamba juga tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi tanggung jawab ini tetap
hamba pikul. Bunuhlah hamba terlebih dahulu." Selesai berkata, dia langsung
menjatuhkan diri berlutut di depan Tiong Hui Ciong.
Gadis ini menjadi tertegun melihat tindakannya Yok Sau Cun yang melihat Li so
tiba-tiba menjatuhkan dirj berlutut, hatinya semakin curiga.
"Ciong cici, hati-hati bokongannyal" teriaknya segera.
Belum lagi kumandang suaranya sirna, mendadak Li so mendongakkan wajahnya.
Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman Tangan kirinya segera mengibas. Dari
dalam telapak tangannya, menyebar keluar serangkum bubuk yang berwarna merah
jambu. Sejak tadi Yok Sau Cun sudah mengawasinya secara diam-diam. Melihat tangannya
bergerak, tetapak tangannya juga langsung terulur dalam waktu bersamaan. Dengan
kecepatan kilat dia menghantam ke depan.
Kekuatan tenaga datam Yok Sau Cun sekarang sudah tinggi sekali. Deruan angin
dari telapak tangannya dapat dilancarkan sesuka hati. Pukulannya kali ini justru
meluncur tepat di tengahtengah Tiong Hui Ciong dan Li so.
Perlu diketahui bahwa jarak antara kedua orang itu hanya dua tiga cun. Pukulan
telapak tangan Yok Sau Cun justru meluncur di depan tubuh kedua orang itu dan
tepat membuyarkan bubuk berwarna merah jambu yang disebar oleh Li so.
Sedangkan Tiong Hui Ciong iuga bukan gadis yang lemah llmu silatnya sudah dapat
digolongkan dengan tokoh kelas satu di dunia kangouw. Begitu deruan angin dari
telapak tangan Yok Sau Cun menerpa datang, tubuhnya langsung mencetat mundur
satu langkah. Diri Li so yang sedang beriutut, tadinya tidak bergeming sama sekali. Tiba-tiba
tubuhnya mencelat, dari mulutnya terdengar suara gerungan dan dia melayang di
udara. Dalam wsktu sekejap mata sudah melayang turun kembali. Wanita itu tertawa
terkekeh-kekeh. "Aduh! Tidak disangka usiamu masih begini muda, tetapi ilmu silatmu sudah
sedemikian tinggi!".
Wajah Tiong Hui Ciong semakin datar. Tangannya bergerak dan tahutahu Han
engkiam sudah dihunus dalam genggaman.
"Budak kurang ajar! Beraninya kau bersandiwara di hadapanku! Tampaknya Cu leng
sian mengutusmu ke lembah ini dengan maksud tertentu!" bentaknya gusar.
Penampilan Li so masih setenang tadi. Bibirnya masih mengembangkan seulas
senyuman yang manis. "Kata-kata Ji Siocia ini tidak tepat sama sekali. Hamba hanya khawatir Ji Siocia
akan mengganggu ketenangan Lao sinsian maka melakukan perbuatan ini.".
Mata Tiong Hui Ciong menatap Li so lekat-lekat.
"Aku tidak akan mempercayai kata-katamu lagi. Bagaimana" Kau akan menyerahkan
diri sendiri atau menunggu aku yang meringkusmu?".
Li so masih juga tersenyum simpul.
"Apabila Ji siocia berkeras ingin bertemu dengan Lao sinsian, hamba terpaksa
menunjukkan jalan." Tanpa menunggu bantahan dan Tiong Hui Ciong, dia langsung
membafikkan tubuhnya dan berjalan dengan pinggang meliuk-liuk.
Gerakennya semakin lama semakin cepat. Bagajkan segumpal asap berwarna hijau,
dia menyelusup ke dalam goa. Gayanya indah dan gemulai tetapi justru membuat
hati Tiong Hui Ciong semakin panas. "Hm.... Kau berusaha untuk meloloskan diri?" bentak Tiong Hui Ciong Dengan
gerakan yang tidak kalah cepatnya dia mengejar ke dalam goa.
Meskipun Yok Sau Cun tahu kalau Tiong Hui Ciong sudah kenal betul keadaan
dalam goa. Tetapi kelicikan Li so mau tidak mau membuat hatinya menjadi waswas,
Janganjangan di dalam goa ini sudah dipasang perangkap untuk meniebak mereka.
Ke|adian ini berlangsung datam sekejap mata. Tiong Hui Crong mehhat bayangan
tubuh Li so menyelinap ke pintu batu yang terdapat di sebelah kiri. Tanpa
berpikir panjang lagi dia segera mengejar.
Tiba-tiba dia merasakan serangkum angin menerpa dari depan. Matanya menangkap
kelebatan seseorang yang mengenakan jubah hijau Dari bagian mata sebelah bawah
wajah orang itu ditutup dengan secarik kain hitam. Mereka membiarkan Li so lolos


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dari samping tubuh mereka dan menghadang di tengahtengah dengan bahu membahu.
Hati Tiong Hui Ciong terceket. Tiong Cun tonghu adalah tempat tinggal kakeknya,
mulut lembah diJaga pula oleh Suto pekpek, bagaimana orang-orang ini bisa masuk
seenaknya" Tetapi setelah merenung sejenak, Tiong Hui Clong segera mengerti.
Pada dasarnya dia memang sangat cerdas. Ingatannya tajam. Bukankah Suto pekpek
mengatakan bahwa Ci San cu pernah datang" Orang-orang ini pasti dia yang bawa
masuk ke dalam lembah Tiong cun kok.
Begitu pikirannya tergerak, dia langsung membentak dengan suara nyaring....
"Siapa kalian ini" Mengapa menghadang di depanku?" Tangan kirinya langsung
terulur dan menghantam ke arah kedua orang itu.
Periu diketahui bahwa pukulannya ini dilancarkan dalam keadaan gusar. Meskipun
hanya mengandung tenaga sebanyak delapan bagian, tetapi ilmu yang digunakannya
Justru adalah Kim Hengciang (Bayangan emas) dari Soat san pai. Begitu pukulan
dilancarkan, gelombang angin yang kuat serta mengandung hawa pembunuhan
bagaikan badai yang melanda.
Terdengar suara. "Puhhhl" yang menderuderu, angin yang timbul dari pukulannya langsung
menghantam kedua orang berpakaian hijau itu. Tampak mereka berdiri tegak di
tempat semula, sedikit pun tidak bergeming oleh pukulannya.
Dapat dibayangkan betapa terkejutnya hati Tiong Hui Ciong, dia memandang kedua
orang itu dengan mata terbelalak, saking terkesiapnya tanpa terasa kakinya
sampai mundur satu langkah. Terdengar suara teriakan Li so berkumandang dari dalam goa....
"Dialah Ji siocia Tiong Hui Ciong, kalian berdua orang tua tidak boleh
melepaskannyal". Saat ini Tiong Hui Ciong beru melihat dengan jelas. Kedua orang berpakaian hijau
yang berdiri di hadapannya memang menutupi wajahnya dengan secarik kaln hitam.
Tapi bagian keningnya terlihat jelas kerutankerutan yang menandakan ketuaan
mereka. Bentuk alis dan mata mereka persis sekali. Tampaknya usia mereka sudah
sangat tinggi. Tiong Hui Ciong segera menuding kedua orang itu dengan ujung
pedangnya,. "Siapa kalian sebetulnya?" bentaknya kembali.
"Kalau kau memang cucu parempuan Si Leng Sou jangan katakan kami berdua saja kau
tidak tahu..." sahut orang tua yang berdiri di sebelah kiri.
Tiong Hui Ciong tertegun sejenak. Sebuah ingatan melintas di benaknya. Hatinya
langsung merasa tegang. "Apakah kalian ini Kong Tong sihao (Kakek beruban dari Kong Tong pai)?".
Empat kakek beruban dari Kong Tong pai merupakan paman seperguruan atau susiok
daci ketua Kong Tong pai yang sekarang, Ci Leng Un. Kedudukannya termasuk
paling _tinggi di dalam partai itu. Menurut kabar, keempat orang Jtu memang
bersaudara kembar. Ketika dilahirkan rambut mereka sudah .berwarna putih. Itulah
sebabnya mereka mendapat julukan Kong Tong sihao.
Kakek yang berdiri di sebalah kanan terdengar mendengus dingin.
"Bagus kalau kau sudah mengenali kamil" Tangannya dlangket dan kain penutup
wajahnya langsung ditarik turun. Kakek yang satunya lagi seperti memilik! perasaan hati yang sama. Dalam waktu
yang bersamaan, dia juga menarik kain penutup waphnya. Sekarang tampakiah wajah
asli mereka. Ternyata bukan rambut mereka saja yang sudah memutih, bahkan alis
dan jenggotnya iuga sudah menjadi uban. Wajah mereka penuh keriput Gigi mereka
sudah ompong semua. Kalau diperhatikan sekilas, tidak tampak seperti orang yang
benlmu tinggi Malah lebih minp kakek tua renta yang sudah uzur dan hampir masuk
liang kubur. Tiong Hui Ciong merasa gusar sekali melihat sikap mereka.
"Soat san pai dan Kong Tong pai tidak mempunyai perselisihan apa pun Mengapa
kalian senibarangan masuk ke dalam tempat tinggal kakekku ini?".
"Budak cilik, apa sih yang kau tahu" Lohu dua kakak beradik menerima perintah
dari San cu untuk melindungi Si Leng Sou'" sahut kakek sebelah kiri.
"Tidak perlu. Sekarang aku sudah pulang. Aku bisa melindungi kakek. Kalian
silahkan tinggalkan tempat ini'" kata Tiong Hui Ciong sinis.
Li so yang menyembunyikan diri di dalam goa mendengus dengan suara genit.
"Tiong Hui Ciong, di dalam hatimu telah mengandung rencanayang licik, kau pikir
aku tidak tahu?". Kemarahan Tiong Hui Ciong semakin meluap.
"Rencana licik apa?".
Sekali lagi dari dalam goa berkumandang suara tawa yang kenes.
"Aku katakan kepadamu, sejak semula aku sudah mendapat kiriman surat lewat
merpati pos dari Senbu. Di dalamnya dinyatakan bahwa kau telah berkhianat.
Membela orang luar bahkan mslankan diri d&ngan seorang pemuda hidung belang
Sekarang kau pulang ke Tiong Cun kok untuk merampok harta pusaka kakekmu
bukan?". Dada Tiong Hui Ciong hampir meledak mendengar fitnahnya Pedang panjang di
tangannya langsung ditudmgkan ke arah goa.
"Siapa suruh kau sembarangan mengoceh?".
Baru saja dia hendak meneriang ke dalam, Kakek yang berdiri di sebelah kanan
tangsung menghadang di depannya.
"Budak cilik, lebih baik kau berdiri diam-diam di sana" bentak orang tua itu.
Tanpa dipenntahkan, kakek yang satunya lagi langsung merentangkan tangannya
menghalangi tangkah Tiong H ui Ciong. Kembalj terdengar suara tawa cekikikan Li
so yang berkumandang dari dalam goa.
"'Ji siocia, hatimu benar-benar terpukul karena rencana busukmu ketahuan bukan"
Mengapa demikian panik" Ikuti saja keinginan kedua orang itu!".
Wa|ah Tiong Hui Ciong hijau membesi. Matanya mendelik kepada kedua orang tua
berpakaian hijau. "Kelau kalian berdua masih tidak mau menggeser, jangan katakan aku Tiong Hui
Ciong tldak tahu sopan santun!" teriaknya marah.
Li so melongokkan kepalanya sedikit, tampaknya matanya berbinar-binar.
"Ji sioda, kedua orang tua ini mendapat perintah untuk melindungi Lao sinsian,
Kisah Tiga Kerajaan 2 Rajawali Lembah Huai Karya Kho Ping Hoo Pendekar Riang 1
^