Pencarian

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan 17

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung Bagian 17


kau berani mengkhianati perguruanmu sendiri, mereka akan menngkusmu lalu dibawa ke
hadapan Lao sinsian untuk menerima hu' kuman. Kau masih berani membuka mulut
berkoarkoar sembarangan?" katanya dengan nada dibuat-buat.
Orang tua yang berdiri di sebe.iah kiri melangkah maju lambat-lambat.
"Budak cilik, aku rasa sebaiknya kau buang pedangmu kemari dan menyarah saja
secara baik-baik!". Kali ini hawa amarah di dalam dada Tiong Hui Ciong benar-benar tidak terbendung
lagi. "Tua bangka beruban, katianlah rupanya yang mempunyai rencana licik...!"
teriaknya gusar. Orang tua yang berdiri di sebelah kanan sejak tadi memejamkan matanya. Sekarang
tiba-tiba matanya membuka Secarik sinar dingin terpancar dan matanya itu. Dia
memandang Tiong Hui Ciong lekat-lekat.
"Budak cilik, kau berani kurang a|ar terhadap lohu?" bentaknya dengan suara
keras. Yok Sau Cun tidak tahu asalusul Kong Tong sihao. Bahkan mendengar namanya saja
baru kali ini Tetapi melihat sinar mata mereka yang tajam dan gerak kaki mereka
yang mantap walaupun usianya sudah demikian tua, dia segera menyadan bahwa
tenaga dalam kedua orang ini sudah tinggi sekali. Oia tidak berani memandang
remeh, namun dia juga khawatir terjadi apaapa pada diri Tiong Hui Ciong.
"Ciong cici, tebih baik kau mundur saja, biar siaute yang menerima beberapa
Jurus ilmu sakti mereka," katanya.
Terdengar sahutan manja dari Li so.... "Anak manis, kau benar-benar seperti
sebutir telur ayam yang membentur batu karang Sungguh tidak tahu diri".
Yok Sau Cun memicingkan matanya. "Belum tentu," sahutnya tenang Orang tua yang
di sebelah kin melinknya sekilas. Mulutnya tertawa terkekeh-kekeh.
"Bocah cilik, dengan sebuah telunjuk iohu ini, kau bisa kubuat menggelinding di
atas tanah beberapa kali!".
Yok Sau Cun tertawa lebar. "Mengapa tidak kau coba saJa?" "Adik Cun, Kong Tong
si hao adalah susiok dari Ci Leng Un. llmu mereka sangat tinggi, kau harus
berhatihati," kata Tiong Hui Ciong memperingatkan.
Yok Sau Cun masih tersenyum simpul. "Orang yang memiliki ilmu tinggi, hatinya
harus berjiwa pendekar dan berjatan di tempat terang. Dengan demikian hati pun
menjadi tenang dan dapat bertarung dengan siapa saja tanpa takut dikalahkan.
Meskipun berilmu tinggi tapi perbuatannya busuk, mana mungkin hati bisa tenang
dalam menghadapi pertarungan?".
Kakek yang berdiri di sebelah kanan marah sekali mendengar perkataan Yok Sau
Cun. "Bocah busuk, mulutmu tampaknya besar juga!" katanya sambil tertawa marah.
Tiba-tiba tangan kanannya diangkat ke atas, tampak jari telunjuknya meluncur
datang Yok Sau Cun yang melihat dia turun tangan asalasalan saja, segera menduga bahwa
tenaga dalam yang dikarahkan paling. paling tiga bagian. Tetapi dia juga
merasakan segulung angin keluar dari telunjuk orang tua itu dan menyerang ke arahnya
Sasaran orang tua itu adalah bahu kanannya.
Pihak lawan pernah mengatakan bahwa sebuah iari telunjuknya saia sanggup
membuat dla bergulingan di tanah beberapa kali. Tentu saJa dia tidak akan turun
tangan keras terhadapnya. Sedangkan ilmu yang dipelajari oleh Yok Sau Cun adalah
Yu Tian sikang yang kebal terhadap segala macam totokan. Oleh karena itu dia tetap
berdiri tegak di tempatnya sambil tersenyumsenyum.
"Usia Lao cang sudah tua, mengapa hawa amarahmu masih berkobar-kobar?"
Mulutnya berbicara, tetapi tubuhnya tidak menghindar dari totokan orang tua
tersebut. Orang tua sebelah kanan masih friengira bahwa totokan jaci tangannya diluncurkan
terialu cepat sehingga anak muda itu tidak sempat menghindarkan diri lagi.
Terdengar suara. "Duk!" Jari tangannya dengan tepat menotok di bahu kanan Yok Sau Cun.
Bukan saja Yok Sau Cun tidak terpental, apalagi bergulingan di atas tanah, malah
wajahnya mengembangkan seulas senyuman dan tetap berdiri tegak di tempat semula.
Tubuhnya bahkan tidak bergeming sedikit pun.
Orang tua sebelah kanan melihat kejadian itu dengan mata terbelalak. Hampir saja
dja tidak percaya dengan pandangannya. Dengan kekuatan totokan jari tangannya,
boleh dibilang sebagian besar tokoh kelas satu saja belum sanggup menerimanya.
Umur anak muda ini baru selikuran, tetapi dia sanggup menyafnbut totokan iari
tangannya tanpa goyah sedikit pun. Sepasang matanya menyorotkan sinar yang
tajam. Bibirnya bergerak-gerak kemudian dia tertawa terkekeh-kekeh.
"Anak muda, beranikah kau sambut sekafj lagi pukulan lohu?".
Yok Sau Cun baru sadar urusan hari ini sulit lagi apabila ingin diselesaikan
secara baikbaik. Dia sendir! juga tidak periu merasa sungkan lagi terhadap mereka. Oleh
karena itu, dia segera mendongakkan wajahnya dan tertawa bebas.
"Kalau Lao cang ada maksud memberi pelajaran, jangan kata satu pukulan, biar
tiga pukulan sekalipun, orang she Yok ini juga terpaksa menerimanya'".
Kakek yang berdiri di sebelah kiri menatapnya sekilas.
"Tampaknya asal-usul anak muda ini tidak mudah juga," katanya dengan suara
lirih. Orang tua yang sebelah kanan langsung tertawa terbahak-bahak.
"Biar asal-usulnya tidak mudah, hengte juga tetap akan menngkusnya!" Sinar
matanya langsung beralih kepada Yok Sau Cun.
"Anak muda, hati-hatilah kau!".
Tangan kanannya terangkat ke atas, tampak sebuah lengan dengan jari tangan yang
seperti tinggal tulang dengan kacepatan tinggi meluncur ka arah Yok Sau Cun
Tubuh orang tua ini kurus sekali. Pakaiannya becwarna hijau pula. Kalau dilihat sepintas
lalu bagaikan sebilah bambu panjang. Telapak tangannya tidak ada dagingnya sama
sekali, seperti kulit yang langsung membungkus tulang. Tetapi telapak tangannya itu
besar sekali, bahkan lebih besar dari orang blasa.
Dari hal mi saja dapat dibuktikan bahwa dia telah lama menekuni ilmu pukulan
telapak tangan. Yok Sau Cun diamdiam menghimpun tenaga dalamnya Dia
menyalurkannya ka telapak tangan kanan. Matanya menatap orang tua itu lekat-
lekat. Kakinya berdiri tegak. Sampai deruan angin dan telapak tangan lawan sudah
terasa, baru dia menjulurkan telapak tangan kanannya menyambut.
Kakek yang berdiri di sebelah kiri terus memperhatikan Yok Sau Cun. Dalam waktu
sesaat, dia segera merasakan bahwa anak muda ini sangat tenang. Penampilannya
gagah dan tidak tampak sedikit pun kekhawatiran pada dirinya. Tentu tenaga dalam
yang dimilikinya tidak berada disebelah bawah mereka dua bersaudara.
Kekuatan tenaga kedua telapak tangan segera beradu. Terdengar suara benturan
yang lembut, baik orang tua sebelah kanan maupun Yok Sau Cun, keduaduanya tergetar
mundur satu langkah. Justru karena keduanya tergetar mundur satu langkah, orang tua sebelah kiri
langsung tergetar hatinya. Sedangkan wajah orang tua sebelah kanan langsung berubah
hebat. Tenaga yang dikerahkan pada tetapak tangannya tadi kurang lebih tujuh bagian.
Nyatanya anak muda ini hanya tergetar mundur satu langkah Sedangkan dia sendiri
juga tergetar mundur satu langkah Bukankah hal ini membuktikan bahwa tenaga
dalam mereka setali tiga uang" Tentu saja hati orang tua sebelah kanan itu
merasa tidak puas Dia mendengus dingin.
"Anak muda, beranikah kau menyambut pukutan lohu sekali lagi?" tanya dengan mata
bersinar tajam. Kong Tong Si hao mempunyai kedudukan tinggi dalam Kong Tong pai. Mereka
adalah angkatan tua yang disegani. Tadi dia mengatakan satu pukulan, sekarang
dia malah mengatakan pukulan yang kedua. Otomatis dia harus menanyakan lebih dulu
kepada anak muda itu supaya wibawanya tidak jatuh.
Yok Sau Cun tertawa bebas.
"Cayhe sudah mengatakan, biar tiga pukulan dan Lao cang sekalipun, Cayhe juga
akan menerimanya dengan senang hati. Silahkan Lao cang lancarkan serangan!".
Tampak sinar kebuasan menyorot dari mata orang tua itu. Dia mengeluarkan suara
tertawa yang seram. "Baik! Kalau begitu, terimalah pukulan lohu sekali lagi!" Kali ini, dia tidak
sungkan lagi. Perkataannya selesat, tubuhnya langsung mencelat ke udara. Sepasang
telapak tangannya dijulurkan, secara berturutturut dia melancarkan dua buah pukulan.
Kedua pukulan ini bukan saja cepat tetapi juga berat. Telapi tenaga dalamnya
masih tersimpan di telapak tangan dan belum lagi disalurkan keluar. Sebelum keempat
telapak tangan beradu, tidak terdengar sedikit suara pun dan tidak terasa
sedikit angin pun yang terpancar dari telapak tangannya.
Inilah ilmu pukulan Cui kuciang yang termasyhurdari Kong Tong pai. Getaran
tenaga dalam tidak bocor sama sekali. Meskipun sudah dipersiapkan pada telapak tangan dan
juga hawa murni melindungi seluruh urat nadi serta melindungi seluruh tubuh,
sepasang telapak tangannya merekah di depan dada lalu diluncurkan ke depan.
Tibatiba terdengar suara. "Blam! Blam!" sebanyak dua kali. pakaian kedua orang itu memperdengarkan suara
berdesirdesir Namun baik Yok Sau Cun maupun orang tua Itu tetap berdih tegak di
tempat semula Tidak ada satu pun yang tergetar mundur walaupun hanya setengah "
langkah. Hati orang tua yang sebelah kanan terkesiap sekali. Hampir saja dia tidak
percaya bahwa yang barusan terjadi adalah kenyataan. Cui kuciang yang dilancarkannya
sedemikian hebat, tetapi lawannya yang masih muda itu sanggup menyambutnya.
Tentu saja dia tidak tahu kalau ilmu Yu tian sikang Yok Sau Cun sudah dilatih
sampai taraf kesempurnaan di mana dia dapat mengerahkan dan menank kembali
sesuka hatinya. llmu Cui KuCiang saja tidak mudah melukainya. Apaiagi di dalam
tubuhnya terdapat tenaga Ciap hun sin kang aliran Buddha yang secara tidak
sengaja disalurkan oleh Lao fangciong dari cap ji libio. Tenaga sakti ini dapat menolak
kekuatan apapun yang membentur dari luar dan oleh karena itu dengan mudah Yok
Sau Cun dapat menyambut Cui Kuciang yang dilancarkan oleh orang tua itu.
Orang tua sebelah kiri mendengus marah. "Losi, kau mundurlah. Brar aku yang
mencoba sampai di mana kekuatan tenaga dalam bocah ini!" bentaknya sambil
melangkah maju perlahan-lahan. Dari dalam lengan, bajunya yang longgar dia
mengeluarkan sebuah mistar yang warnanya hitam pekat.
"Anak muda, mana senjatamu" Lohu ingin menguji dalam ilmu senjata!" Yok Sau Cun
tersenyum sirripul. "Bagus sekali. Kalau Lao cang berminat menguii dengan
senjata, cayhe pasti akan menemaninya dengan senang hati. Tapi cayhe pikir, kalian berdua
orang tua sudah datang sendiri ke tempat ini, tentu tidak mudah menyelesaikan
persoalan ini begitu saja. Daripada capaicapai, lebih baik katian turun tangan berdua
sekaligus," sahutnya tenang. Justru karena dia tahu persoalan ini tidak akan terselesaikan begitu saja, maka
dia sengaja mengeluarkan ucapan dengan nada sombong. Orang tua yang eebalah kanan
menjadi marah seketika. "Bocah busuk, beram kau berkata seperti itu di hadapan tohu?" bentaknya dengan
suara lantang. Orang tua sebelah kin segera mengangkat mistarnya ke atas dan barkata sepatah
demi sepatah...,. "Anak muda, kalau lohu sudah turun tangan, mungkin masih ada beberapa persen
kesempatanmu untuk hidup, tetapi kalau kami turun tangan bersama-sama,
kesempatanmu untuk hidup hilang sama sekali....
Yok Sau Cun tersenyum simpul.
"Begitukah" Cayhe takut yang terjadj justru sebaliknya. Dengarlah nasehat dari
orang muda ini Lebih baik kaiian tinggatkan tempat ini segera, kalau tidak ingin
pulang setelah cayhe turun tangan, rasanya tidak begitu mudah lagi.".
Rambut putih orang tua sebelah kiri lancsung berdiri tegak.
"Orang muda, lagakmu terlalu sombongl" bentaknya marah.
Yok Sau Cun masih juga tersenyum-senyum,.
"Lohu lihat usiamu masih begitu muda. Seremaja Ini kau sudah memiliki ilmu
demikian tinggi pasti tidak mudah. Oleh karena itu, lohu merasa sayang apabila
orang yang berbakat seperti dirimu mati siasia. Membuat lohu marah pasti merugikan
dirimu sendiri," kata orang tua sebelah kiri selanjutnya.
Yok Sau Cun merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura dalam-dalam.
"Terima kasih atas maksud baik Lao cang bardua. Cayhe juga mempunyai sedikit na'
sehat yang ingin disampaikan. Cayhe hanya seorang bocah ingusan yang baru
berkecimpung dalam dunia kangouw. jadi tidak tahu asal usul Kong Tong sihao.
Tetapi tadi cayhe dengar Ciong cici mengatakan bahwa kalian adafah susiok dan Ci
Leng Un. Kedudukan kalian pesti tinggi sekali, ilmu sjlat pun sangat hebat. Hal ini
tidak perlu diragukan iagi. Kong Tong sihao dapat menduditki jabatan yang tinggi,
tentu nama kalian yang tersohor tidak diperoleh dengan mudah. Setahu cayhe, Kong Tong pai
dan Soat san pai telah setuju untuk bekerja sama. Bahkan cucu perempuan sutung Lao
sinsian mempunyai jodoh yang erat dengan Kong Tong pai. Hal ini
membuktikan bahwa Kong Tong pai dan Soat san pai sebetufnya adalah satu
keluarga. Sekarang kalian berdua berkeras meniaga di depan Tiong cun tonghu ini,
akibatnya pasti timbul persetisihan. Mengapa tidak mendengar nasehat cayhe dan
tinggalkan tempai ini sebelum pertikaian ini semakin mendalam?".
Terdengar kumandang suara Li so me' nukas dari dalam goa.
"Jangan kau memutar balikkan kenyataan. Kedatangan kedua orang tua ini adalah
untuk

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

melindungi Lao sin-sian!".
Sepasang alis Tiong Hui Ciong langsung 'terjungkit ke atas. Hah engkiam
ditudingkan ke depan dan membentak dengan suara keras.
"Perempuan tidak tahu malu' Sekali lagi kau berani mengoceh sembarangan, akan
kubunuh dulu dirimu!". Tubuhnya langsung barketebat untuk menerjang masuk ke dalam goa. Orang tua
sebelah kanan segera mengibaskan lengan bajunya. Terasa serangkum angin yang
kuat mendorong Tiong Hui Ciong dan menghadang langkah kakinya.
"Ciong cici, kau masuk saja ke dalam. Ringkus perempuan Itu. Urusan di sini biar
siaute yang selesaikan" bentak Yok Sau Cun.
Tanpe menunda waktu lagi, pergelangan tangan kanannya langsung diangkat ke atas,
terdengar suara gemerincing senjata yang disentakkan. Cahaya dingin memijar
Datam spkejap mata pedang lemasnya telah menjulur kaku. Dia fangsung mengibasken
pedangnya ttu ke arah lengan baju sl orang tua tadi yang longgar.
Orang tua sebelah kiri itu marah sekali. Dia membentak dengan suara keras....
"Bocah busuk, kau benar-benar tidak tahu tinggi tebalnya bumi!" Mistardi tangan
kanannya langsung menebas ke arah pedang lemas Yok Sau Cun.
Kali ini keempat orang itu semuanya ber' gerak. Meskipun ada yang bergerak
terlebih dahulu dan ada yang belakangan, namun waktu yang terpaut sedikit sekali, Orang
tua di sebelah kanan yang terlebih dahulu mengibaskan lengan bajunya ke arah Tiong Hui
Ciong. Dafam waktu yang bersamaan, sinar pedang Yok Sau Cun juga menyapu
datang. Terdengar suara. "Sret!" yang halus di mana ujung pedang berkelebat. Secarik lengan baju orang
tua tadipun tertebas putus. Tepat pada saat itu, mister di tangan orang tua sebelah
kiri meluncur datang dan bermaksud menahan ujung pedang Yok Sau Cun yang sudah
terkutung tfga cun. Dalam waktu yang bersamaan, Tiong Hui Ciong menggunakan
kesempatan itu untuk menyelinap ke dalam goa.
Pedang di tangan Yok Sau Cun yang sudah berhasil menebas kutung ujung lengan
baju orang tua sebelah kanan, langsung ditarik kembali dan menebas mistar kakek
yang satunya. Caranya turun tangan damikian cepat dan gaya pun aneh Hal ini
membuat orang tua sebelah kin itu Jadi tercengang.
Padahal mistar di tangannya sedang dijulurkan untuk menangkis pedang Yok Sau
Cun, bukan sa|a tindakannya tidak berhasil, malah dengan kecepatan yang sulit
djikuti pandangan mata, pedang lemas anak muda itu malah berbalik manebas dari atas ke
bawah. Bukankah hal ini membuktikan bahwa gerakannya lebih lambat satu detik
dari pada Yok Sau Cun". Kejadian ini baginya merupakan suatu peristiwa yang memalukan. Apalagi
beradunya pedang dan mistar cukup keras. Keduanya tentu saja mengerahkan tenaga
dalam. Tetapi anak muda itu tidak bergetar sedikit pun. Hanya terdengar suara.
"Trang!" yang nyaring LJalam sekejap mata pedang dan mistar terpisah lagi. Yok
Sau Cun sudah berdiri lagi di tempat semula. Bahkan pedang lemas yang tadi
digenggamnya sudati terselip lag! di ikat pinggang. Sama sekali tidak terlihat
bagaimana dia melakukannya.
Dengan perasaan terkejut orang tua sebelah idri memandang Yok Sau Cun
lekatlekat. "Apakah kau anak murid dari Bu Liangkiam pai?" tanyanya.
Sebetulnya dia tidak percaya murid Bu Liangkiam pai ada yang memiliki ilmu
sehebat ini Sementara itu, Yok Sau Cun tersenyum simpui.
"Cayhe bukan anak murid Bu Liang kiam pai," sahutnya.
Kakek yang sebelah kanan tidak berhasil mencegah terobosan Tiong Hui Ciong,
behkan ujung lengan bajunya yang telah disalurkan hawa murni dapat tertebas
kutung oleh pedang lemas Yok Sau Cun. Hatmya semakin marah. Bibirnya mencibir dan
membentak dengan suara keras.
"Loji, tidak perlu banyak cakap dengannya. Pokoknya hari ini aku aken mencincang
tubuh bocah ini menjadi tujuh bagian!" Tangan kanannya langsung terangkat. Sabuah
mistar yang juga berwarna hitam pekat segera dikeluarkan. Bagian depan jubahnya
yang menutupi dada seperti mengambang lebih besar. Matanya menatap Yok Sau Cun
dengan sinar yang mengandung hawa pembunuhan yang tebal.
"Bocah busuk, hari ini adalah hari kematianmu!" Perlahan-lahan dia melangkeh
mendekati anak muda itu. Rupanya mereka adalah loji dan losi dari Kong Tong sihao, pikir Yok Sau Cun
dalam hatinya. Pikirannya tergerak, hawa murninya segera disalurken untuk bersiap
siaga. Mulutnya tertawa terbahak-bahak.
"Sejak tadi cayhe sudah mengatakan bahwa kalian sebaiknya turun tangan berdua
sekaligus..." sindirnya tajam.
Belum lagi ucapannya selesai, tubuh orang tua sebelah kfri tiba-tiba melesat
meninggalkan tanah kirakira tiga cun. Kecepatannya bagai gumpalan awan yang
berarak. Sekelebatan saja mistar hdamnya sudah meluncur ke arah jantung Yok Sau
Cun. Kakek sebetah kiri tadi sudah mengadu tenaga dalam satu kali dengan anak muda
yang ada di hadapannya. Dia'sadar ilmu silat Yok Sau Cun sudah mencapai taraf
yang tinggi sekali. Hal ini benacbenar di luar dugaannya. Oleh karena itu, ketika
orang tua sebelah kanan mulai menerjang ke arah Yok Sau Cun, kaki kirinya pun segera
melangkah mendekati. Meskipun dia belum turun tangan, tapi pertarungan kali ini pasti tidak
terhindarkan lagi. Ketika kakek sebelah kanan mulai bergerak, padang lemas Yok Sau Cun sudah
dihentakkan dan sekerang melintang di depan dada. Tenaga dalamnya segera
disalurkan. Belum lagi mistar orang tua itu mencapai dirinya, hawa dingin dari
pedangnya sudah memancar keluar.
Dirinya sadar bahwa ilmu pedang yang dikuasainya sulit menandingi kedua orang
tua sakti ini. Oleh karena itu, dia tidak menunggu sampat mistar tersebut mencapai
dirinya, pedangnya langsung digetarkan dan menusuk ke depan.
llmu yang digunakannya adalah Jurus pertama yang diajarkan oleh Kim Tijui Jurus
pertama ini sebetulnya ada gerakan pembukaannya. Tetapi saat itu dia hanya
menggetarkannya sadikit lalu menusuk ke depan. Berarti dia hanya mengerahkan
setengah jurus dari ilmu itu Kemudian setelah lukanya sembuh, Kim Tijui
mengajarkan tagi jurus kedua ilmu tersebut. Sepanjang perjalanan menuju Soat
san, Yok Sau Cun tidak parnah lupa berlatih. Sekarang dia sudah menguasai dengan
mahir. Meskipun garakannya sangat sederhana dan dia hanya mengarahkan setangah jurus
saja, tetapl begitu meluncur keluar, kecepatannya seperti kilat serta mengandung
kekuatan tenaga yang dahsyat. Sedangkan orang tua sebelah kanan juga bukan tokoh
sembarangan. Begitu merasakan sesuatu yang tidak benar, wajahnya langsung
berubah hebat. Dengan panik dia menank mistarnya kembali, namun terlambat juga
Terdengar suara. "Trakkk!" pedang dan mistar segera beradu. Ternyata mistar kakeksebelah kanan
itu langsung terpenta! di udara. Dengan gugup dia mencelat ke sampmg sejauh tujuh
delapan depa. Mata kakek sebelah kiri menyorot dengan tajam.
"Losi, anak muda ini tampaknya sudah menguasai ilmu yang dapat mengikuti ke .
inginan padangnya," katanya dengan suara berat.
Wajah kakek sebelah kanan berkerutkerut saking marahnya.
"Makanya kita harus membunuhnya!".
Kong Tong sihao adalah angkatan tua Kong Tong pai yang sangat disegani Kalau
pada hari biasa, dia pasti tidak sudi melawan seorang anak muda dengan
berkeroyok. Tapi situasi han ini berbeda, dia tidak perlu sungkan lagi. Orang tua sebeiah
kanan menganggukkan kepalanya sambil berdehem. Tubuh orang tua sebelah kiri langsung
mencelat ke udara. Kadua orang itu bargerak dalam waktu yang hampir bersamaan. Dua buati mistar
hitam menimbulkan cahaya yang redup dan meluncur menyerang dari dua arah.
Angin menderuderu. Suasana mencekam. Serangkum hawa dingin memenuhi tempat
itu. Membuat perasaan orang Jadi menggigil.
Yok Sau Cun tidak bersuara. Pedang lemas di tangannya hanya digetarkan ke depan.
Kemudian dia memutarnya satu kali membuat lingkaran Kalau dipikirkan, gerakannya
yang hanya menggetarkan pedang kemudian memutarnya satu kali, tidak terlalu hebat
Apalagi membuat nyali lawan menjadi ciut. Tetapi tidak tersangka, begitu pedangnya
berputar hawa pedang langsung memenuhi tempat tersebut.
Kalau dikatekan memang aneh, kedua mistar di tangan orang tua itu seperti
terangkat sendiri menjauhi dirinya. Hanya terdengar suara.
"Trak! Trak!" sebanyak dua kali. Pertama yang sebelah kiri, kemudian yang
sebelah kanan. Dalam waktu yang hampir bersamaan beradu dengan pedang lemas Yok Sau
Cun, ternyata dia berhasil menyambut dengan baik serangan kedua lawan itu.
Tidak! Dia bukan saja dapat menyambut dengan baik, kedua buah mistar terpental
ke atas dan tangkah kedua kakek itu pun targetar mundur dua tindak. Padahal dua orang
kakek dan Kong Tong Pai itu sudah bergabung untuk melawannya. Sebetutnya dalam
pikiran mereka, paling tidak Yok Sau Cun akan kalang kabut dan terdesak terus.
Namun tidak disangkasangka, meskipun mereka berdua mengeroyokinya, tetap saja
tidak menghasilkan apa-apa.
Lagipula mereka melihat Yok Sau Cun hanya memainkan sebuah jurus yang sangat
sederhana. Pedangnya hanya digetarkan dan kemudian diputar satu kali. Sepertinya
mudah sekali dia berhasil menangkis kedua buah mistar hitam sampai terpental.
Bahkan lengan kanan orang tua itu sampai terasa kesemutan akibat getarannya.
Sedangkan di pihak Yok Sau Cun sendiri diamdiam merasa terkejut. Pergetangan
tangannya yang menggenggam pedang lemas hampir saja mengendur dan sedikit lagi
pasti pedangnya terlepas dari tangannya.
Ketiga orang itu tertegun datam sesaat. Kakek sebelah kiri menatap Yok Sau Cun
sekilas dan berkata dengan suara perlahan....
"Anak muda, dengan sekati gerak kau bisa menghindarkan diri dari serangan kami
kakek beradik, sebetulnya di dunia kangouw sudah boteh matang melintang. Siapa
kau sebetutnya dan berasal dari perguruan mana?".
Pedang lemas masih tergenggam eraterat di tangan Yok Sau Cun.
"Suhu cayha. meskipun disebutkan, Jiwi belum tentu kenal," sahutnya tenang.
Orang tua yang sebelah kanan tampaknya tidak sabaran.
"Loji, buat apa kau mengoceh panjang lebar dengannya?" Mistar di tangannya
bergerak lagi. Tampak segurat sinar kelabu berkelebat dan tangannya pun terjulur dengan
perlahan. Orang tua itu tidak seperti sedang menyerang. Gerakan tangannya malah lebih
mirip orang yang sedang menari. Tidak jelas Jurus apa yang dimainkannya. Tetapi dalam
sekejap mata, gerakan mistar di tangannya membentuk bayangan seperti sebuah
jaring yang siap mencaplok bagian dada Yok Sau Cun.
Terdengar suara keluhan yang berat dari mulut orang tua sebelah kiri.
"Kau sendiri yang cari mati, jangan salahkan lohu!".
Dengan gerakan yang sama dia memutar mistarnya. Tampak juga secarik sinar
kelabu yang membentuk bayangan seperti jaringan. Lambat laun bergerak dan
akhirnya bergabung dengan ianngan yang dibentuk oleh mistar Losi. Kedua janngan
yang terpancar dari mistar-mister hitam tersebut, semakin lama semakin merapat.
Yok Sau Cun berdiri tegak di antara kedua orang itu Dia hanya merasakan bahwa
serangkum hawa dingin yang menyerang dirinya semakin lama semakin menguat.
Seluruh peredaran darah dalam tubuhnya seakan mulai membeku.
Namun bayangan janng yang muncul dari mistar kedua lawan juga bergerak semakin
lambat. Kalau jarak lawan dengan dirinya belum sampai batas tertentu, Yok Sau
Cun juga tidak bisa mengerahkan jurusnya untuk melawan. Dleh karena itu, dia terpaksa
berdiri tegak di tempatnya dan menghimpun hawa murni secara diamdiam. Dia
berharap dengan cara ini dia sanggup menahan rasa dingin yang semakin menggigit.
Tetapi tampaknya kurang berhasil. Hawa dingin bahkan menyusup ke dalam tulang
dan tanpa sadar gigi atas dan gigi bawahnya gemerutuk terus.
Melihat keadaannya, kedua orang tua tadi diamdiam menertawakan di dalam hati.
Gerakan kedua rrnstar di tangan mereka mulai cepat. Bagaikan sedang menari-nari,
mereka mendekati Yok Sau Cun. Hawa dingin pun semakin menyebar.
Kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata. Kedua mistar yang menyerang dari
kiri dan kanan juga bergerak semakin dekat. Tentu saja Yok Sau Cun memperhatikan
dengan seksama gerakan kedua mistar yang mendesak terus ke arah dirinya. Dia juga tahu
gerakan kedua kakek itu bukan sedang menari-nari, namun sedang mengerahkan
sebuah jurus yang menambah kekuatan daya serang mereka.
Jaringan yang terbentuk dari kedua mistar itu juga tidak mudah dihadapi. Yok Sau
Cun sadar sekali akan hat ini. Namun dia tidak mempunyai pilihan lain.Padang
lemasnya segera digetarkan lalu berputar dan kemudian menyapu ke kiri dan kanan.
Jurus yang dimainkannya ini mengandung hawa murni yang kuat. Tentu saja suara
angin yang timbul pun menderu-deru. Sekilas cahaya terang berwarna kehijauan
segera menyelimuti sekitar tubuhnya. Justru karena bayangan kedua mistar itu
telah membentuk menjadi jaringan, dia tahu kedua orang tua ini sedang menJalankan
semacam ilmu yang hebat Yok Sau Cun juga menambah kekuatan tenaganya dan
disalurkan ke ujung pedang lalu menyapukannya ke hadapan mereka. Sinar
pedangnya dan tenaga yang terpancar sangat dahsyal. Namun dia hanya dapat
menahan mister kedua orang itu agar jangan sampai mendeketi dirinya dan tetap
tidak sanggup membuat kedua kakek itu tergetar mundur.
Hati Yok Sau Cun menjadi panik. Pergelangan tangannya memutar. Kembali dia
mainkan jurus pertama ilmu pedang yang diajarkan oleh Kim Tijui. Karena Kim
Tijui pernah mengataken bahwa jurus kedua dari Nmu pedang yang diajarkannya sangat
dahsyat serta mengandung kekejian, maka kalau bukan pada saat yang teramat
genting, dia dilarang mengerahkannya. Itulah sebabnya sampai hari ini, Yok Sau
Cun belum pernah menggunakan jurus kedua itu untuk melawan musuh yang dihadapmya.
Sekarang dia sudah menjalankan jurus yang pertama, hasilnya pun segera terlihat.
Sinar pedang memijar dan dua jaringan dari mistarmistar di tangan orang tua jtu
pun mulai goyah, tatapi dia tetap tidak sanggup mendesak bayangan jaring itu sampai
menghilang atau buyar. Melihat keadaan itu, orang tua sebelah kiri langsung terbahak-bahak.
"Loji, bocah ini hanya menguasai satu Jurus ilmu saja!".
Tampak kakek sebelah kiri mengeluarkan suara keluhan dari mulutnya.
"Satu jurus saja sudah sehebat ini, sayang sekali....".
Jaringan dari kedua mistar sebentar lagi akan bertemu. tampaknya sekejap


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kemudian tubuh Yok Sau Cun dapat hancur oleh serangan mereka. Datam saat yang genting itu,
tiba-tiba tampak tubuh Yok Sau Cun berkelebat. Sekilas bayangan hijau melesat bagai
segumpal asap dan menerobos lewat di antara kedua orang tua itu.
Padahal kedua mistar itu sudah hampir merapat. Jarak di antara'nya sedemikian
sempit sehingga tinggal segurat garis yang terlihat. Apabila hendak menerobos
lewat celah sekecil itu tanpa terluka sedikit pun, rasanya merupakan sesuatu yang
mustahil dan tidak masuk akal. Tetapi anak muda itu justru menggunakan peluang yang tidak mungkin untuk
menerobos keluar. Hati kedua kakek itu langsung tergetar. Tetapi mereka sudah
kepatang tanggung. Mana mungkin membiarkan Yok Sau Cun lolos begitu saja"
Mulut kakek sebelah kanan menggerung keras. Dengan kecepatan bagai angin yang
berhembus, dia mengejar ketat di betakang tubuh Yok Sau Cun. pergelangan
tangannya memutar. Mistar hitam yang ada di tangannya berputar setengah
lingkaran kemudian bagai orang yang sedang bermain catur digesekkan ke depan.
Sedangkan kakek kiri yang mengeJar Yok Sau Cun, segera menutulkan sepasang
kakinya dan mencelat di udara Mistar di tangannya juga mengeluarkan secarik
sinar kelabu yang akhirnya membentuk jaringan terus menyerang dari atas ke bawah.
Kedua jaringan ini kirakira membentuk bayangan sebesar delapan cun persegi
panjang. Kalau tadi mereke menyerang dari kiri dan kanan, sekarang serangan
mereka ber. ubah dari atas dan bawah. Ketika kedua bayangan bergabung, dengan
perlahantahan namun pasti bergerak dengan gaya meliuk-liuk. Kalau gerakan yang
partama tadi tarus lambat, make serangan yang kali ini mendadak meluncur secepat
kilat. Yok Sau Cun baru saja meloloskan diri dari jaringan kedua mistar tersebut. Belum
lagi kakinya berdki dengan tegak, dari betakang punggungnya sudah tarasa
serangkum hawa dingin yang menerjang. Jaringan yang pertama mengancam bagian
kepalanya dan Jaringan yang kedua mengancam bagian kakinya.
Kalau serangan mereka masih sama seperti sebelumnya, yakni dari kiri dan kanan
maka Tian san kiamhoat yang dipetajarinya rnasih dapat digunakan untuk
menangkis. Tetapi serangan yang dilakukan kali inijustru dari atas dan bawah. Sedangkan
gerakan jurus partamanya adalah menggetarkan padang, memutar dan menusuk ke depan.
Karena dia harus melancarkan serangan kedua mistar itu justru mengancam dari
atas dan bawah". Otaknya segera bekerJa. Setelah rnempertimbangken dalam waktu yang singkat, dia
mengambil keputusan untuk cnenghadapi serangan bagian atas terlebih dahulu.
Pikirannya tergerak, pedang lemasnya digatarkan, hawa murni dihimpun dan dia
membecok ke atas. Keadaannya saat itu sudah sedemikian tardesak, tarpeksa dia
harus mengerahkan jurus kedua dari Tian san kiamhoat yang diajarkan oleh Kim
Tijui. Pedangnya menjulur ke atas, bagai seekor naga sakti yang mengibaskan ekornya.
Sinar pedangnya berkilauan. Ketika beradu dengan mistar yang membentuk bayangan
seperti jaring itu langsung terdengar suara seperti mata rantai yang dihantam ke
dinding batu. "Ting! Ting!" Angin yang timbul dari sapuan pedang Yok Sau Cun bergelombang-
gelombang bagai topan dan cahaya terang pun menyilaukan mata.
Mistar di tangan kakek sebelah kiri yang tadinya memancarkan sinar kelabu lambat
laut memudar Padahal dia menggengamnya dengan erat dan mengibaskan dari atas ke
bawah. Ketika beradu dengan keras dan menimbulkan suara nyanng. mistar itu pun
terlepas dari tangan. smar kelabu sirna seketika tubuh kakek itu pun meluncur ke
bawah dengan posisi kaki di atas dan kepala di bagian bawah.
Kebetulan saat itu, mistar di tangan kakek kanan sedang menyapu bagian kaki Yok
Sau Cun Dia metihat tubuh anak muda itu yang melesat ke udara, gerakan tangannya
pun berubah, dia bermaksud menyerang ke bagian atas. Tetapj sinar matanya sempat
melihat tubuh saudaranya yang sedang meluncur jatuh ke bawah. hatinya tarkejut
sekali. Dengan gugup dia merubah lagi jurus yang sedang dikerahkannya. Pada saat
genting dia terpaksa menggunakan kekerasan untuk menarik serangannya.
"Loji, bagaimana keadaanmu?" tanyanya cemas.
Tubuh kakek kiri itu mengalami sedikit luka di sana sini, tetapi lukanya itu
tldak terlalu parah Setelah terhempas di atas tanah. dengan susah payah dia berdiri
lagi. "Losi, hari ini untuk pertama kalinya lohu mendapat kekalahan dalarn ilmu pedang
seseorang. .." katanya dengan suara pilu.
Setelah menggetarkan dunia kangouw selama puluhan tahun dan perlama kali
mengalami kekalahan, tentu saja merupakan hal yang mengenaskan! Kalau jurus
pertama yang diajarkan oleh Kim Ti jui, Yok Sau Cun sudah menggunakannya berapa
kali untuk menghadapi lawan tangguh. Sedangkan Jurus kedua baru pertama kali ini
dikerahkannya. Padahal dia belum dapat dikatakan matang sekali. Hanya asal-
asalan menurut ajaran Kim Tijui.
Saat itu tubuhnya sedang melayang di tengah udara. Dia hanya tahu bahwa dirinya
telah berhasil menangkis serangan mistar kakek kiri yang meluncur dari atas.
Tetapi dia tidak tahu sampai di mana kekuatan yang terpancar dari pedangnya. Dan begitu
kakek kiri terhempas jatuh ke atas tanah, dia juga melayang turun kembali.
Kakek kanan tidak membiarkan saudaranya berkata lebih lanjut. Melihat Yok Sau
Cun matayan'g turun di sebelah kanannya dan jarak di antara mereka begitu dekat,
mulutnya langsung mengeluarkan suara geraman. Mistar di tangannya dijulurkan
dengan kecepatan kilat dia menghantam ke arah belakang punggung Yok Sau Cun.
Yok Sau Cun baru saja mencapai tanah, dia merasa serangkum angin dingin
menerjang dah betakang punggungnya. Hatinya terasa marah, tubuhnya langsung
berbalik dan pedang lemas pun ditusukkan dalam waktu yang bersamaan.
Serangannya kalj ini disertai hawa amarah yang meluap, maskipun yang
dijatankannya adalah jurus pertama dari ilmu pedang ajaran Kim Ti jui, tetapi
serangan itu mengandung kekuatan tenaga sebanyak sepuluh bagian.
Sebelumnya dia sudah menggunakan jurus pertama ini untuk melawan kedua orang
kakek dari Kong Tong pai itu. Berarti dia menyambut dua mistar sekaligus.
Sekarang yang dihadapmya hanya misiar si kakek kiri saja, sedangkan tenaga yang
digunakannya sebanyak sepuluh bagian, tentu saja akibatnya lebih dahsyat lagi.
Terdengar suara. "Trang!' yang memekakkan telinga. Mistar di tangan kakek kiri langsung terlepas
dan terpental di udara Setitik sinar yang dingin bagai bintang jatuh dalam sekejap
mata menempel di bagian tenggorokan kakek kiri tersebut.
Kakek kiri bahkan tidak sempat melrtiat jelas jurus apa yang digunakannya.
Tahutahu dia merasa setitfk hawa dingin menempel di tenggorokannya Tentu saja
dia tidak sempat menghindar lagi. Namun Yok Sau Cun tidak menusukkan pedangnya. Gerakan tubuhnya berhenti,
pedangnya pun ditank kembali.
"Cayhe tidak ingin melukai orang Jiwi, silahkan!" Katanya dengan nada dingin.
Kakek sebelah kiri diam saja Kakek sebelah kanan merasa gusar bukan kepalang.
Matanya mendelik lebarlebar kepada Yok Sau Cun. Dadanya terasa hampir rfteledak.
Dia menggertakkan giginya eraterat.
"Baik, bocah busuk! Harap kau ingat baikbaik. Kong Tong sihao pasti akan
memperhitungkan hutang piutang ini".
Sepasang mata Yok Sau Cun memancarkan sinar taJam.
"Harap Lao cang juga ingat baikbaik. Orang she Yok han im kalau tidak memandang
usia kalian yang sudah tua sehingga sengaja tidak turun tangan berat Kalau tidak,
kalian ingin meninggalkan tempat ini pun tidak sederrnkian mudah keadaannya!".
Kakek kiri segera mengambil kembali mistarnya yang terlempar di atas tanah.
"Lo si, ilmu kita memang tidak dapat disamakan dengan orang Buat apa kjta banyak
bicara lagi," katanya dengan nada pilu. Tanpa menoleh lagi, dia langsung
membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.
Kakek kanan terpaksa mengikuti di belakangnya. Sampai di depan dia menolehkan
kepalanya. "Pada suatu han nanti, kau akan tahu kehebatan Kong Tong sihaol" ancamnya.
Yok Sau Cun sedang mencemasken keadaan Tiong Hui Ciong. Dia enggan berdebat
dengan kakek itu. Tangan kanannya menggenggam pedang lemas eraterat. Dia
membalikkan tubuh dan melangkah masuk ke dalam goa.
Tiong Hui Ciong merasa benci sekali terhadap Li so. Tentu saja dia juga
mengkhawatirkan keselamatan kakeknya, oleh ka. rena itu, ketika Yok Sau Cun
mengatakan bahwa dia akan mengurus kedua kakek dah Kong Tong pai, dia langsung
menghentakkan sepasang kakinya dan dengan kecepetan seperti seekor burung walet,
dia melesat ke dalam goa. Li so segera mencelat mundur. Mulutnya mengeluarkan suara tawa yang genit.
"Ji siocla, untuk apa kau berbuat demikian?".
Ketika berbicara, tangannya mengibas. Tampak puluhan utas tali yang berwarna
keemasan dan yang pasti merupakan sebuah perangkap meluncur seperti terbang dari
atas kepala Tlong Hui Ciong. Bagian dalam goa ini berbentuk lorong panjang. Keadaannya cukup luas. Pada
setiap celah dinding terdapet sebuah lampu kaca. Oteh karena itu, meskipun adanya dj
bagian dalam tetapi suasananya terang benderang.
Tiong Hui Ciong mempertajam penglihatannya. Dia melihat belasan tali seperti
benang yang mana terdapat kaitan kecilkaitan kecil bersinar biru Dia langsung
tahu bahwa di atas setiap kaitan itu telah dilumuri racun yang ganas. Pergelangan
tangannya langsung terangkat ke atas, Han engkiam di ulur ke depan kemudian
menebas ke arah tali-tali tersebut.
Li so tertawa genit. "Ji siocia yang baik, Han engkiam dapat memotong besi maupun emas, tapi belum
tentu dapat menebas putus kedua belas utas tali kapas ini!" Rupanya tali yang
digunakan sebagai senjata itu dibuat dari bahan kapas dan bahan lainnya lagi.
Perempuan yang satu ini benar-benar ticik dan banyak akal busuknya. Meskipun
sedang menghadapi musuh, mulutnya tetap bisa mengucapkan kata-kata manis dan
selalu tertawa genit. Tiong Hui Ciong mendengus dingin. Sinar pedangnya bagai rantai dan terus menebas
ke arah tali yang sedang meluncur ke arahnya Mulut Li So mengatakan bahwa Han
engkiam tidak dapal menebas putus tali senjatanya, namun bicara boleh demikian,
tetapi sepasang tangannya tetap menghenlak ke atas dan merubah gerakannya
sehingga tali itu seperti seekor meliuk ke arah pinggang Tiong Hui Ciong.
Dua belas utas tali yang digunakan Li so sebagai senJata mempunyai perbandingan
panJang yang berbedabeda Tebal halusnya puntidaksama Tali yang panjang
digunakan , untuk melilit lawan, yang pendek untuk mellndungi diri. Yang kasar
untuk menyerang, sedangkan yang halus untuk mengibaskan senjata rahasia.
Dalam satu jurus saja, senjata talinya itu dapat membentang selebar beberapa
cun. Bisa diluncurkan sekaligus dan dapat ditarik sekehendak hati. Kedua belas tali
itu bisa dimanfaatkan sebagiannya saja. Umpanya tali yang panjang meluncur keluar, maka
tali yang pendek bisa menyurut untuk melindungi dirinya Benar-benar merupakan
senjata yang jarang dijumpai Sudah tentu sulit menemukan kelemahannya.
Tiong Hui Ciong berturut-turut menebas sebanyak delapen kali. Sinar pedangnya
berkilauan. tetapi seutas tali pun tidak tertebas olehnya Malah terdengar suara.
"Crepp!" lengan bajunya sendiri terkoyak ujungnya karenatercantol oleh kaitan
dari tali yang panjang Hati gadis itu terkejut bahkan akhirnya menjadi marah.
Dia menggunakan kesempatan ketika lawannya melancarkan jurus serangan di mana
enam utas tali yang panjang kemudian ditank kembali. Sementara enam utas tali
yang pendek belum sempat meluncur keluar, tiba-tiba dikerahkannya jurus Tian sinhoat
dan Tian san pai Tubuhnya bagai segumpal asap hijau meluncur kemudian menerobos
di antara talitali yang sedang bergerakgerak. Sinar pedangnya langsung
dihunjamkan ke depan, mengancam dada Li so.
"Kalau masih tidak lepas tangan juga, aku akan membuat kau menjajal rasanya
pedang menembus jantung!". Tali panjang di tangan Li so kurang lebih ukurannya delapen cun. Begitu tubuh
Tiong Hui Ciong melesat mendekati dirinya, dia ttdak punya peluang untuk
melakukan gerakan macammacam lagi. Saat itu dia melihat Tiong Hui Ciong
menghambur ke arahnya dengan pedang di tangan. Jarak antara pedang itu dengan
dadanya tinggal tiga cun saja. Hatinya menjadi panik. Mulutnya mengeluarkan
suara jeritan tarkejut. Dengan gugup dia mengibaskan tangannya dan melepaskan senjata
talinya. Bagai seekor tikus yang dfkejar kucing, dia mencalat mundur dan
menghambur keluar. Setelah serangannya berhasil, Tiong Hui Ciong mana sudi melepeskan dicinya
begitu saja. Tubuhnya seperti bayangan yang berkelebat dan secepat tarbang melesat
mengejar. Pedang Han engkiamnya terus meluncur mengikuti gerakan tubuhnya.
Dengan demikian jarak mereka tetap terpaut tiga cun.
Tetapi justru ketika dia berhasil mengejar Li so, tiba-tiba matanya menangkap
kilasan cahaya berwarna keperakperakan, disusul dengan terdengarnya suara Trangl yang
nyanng, Lalu dalam waktu yang bersamaan dia merasa tangannya tergetar dan pedang
Han engkiam pun terdesak ke belakang.
Sementara itu, Li so sudah mencelat mundur lagi satu langkah. Mulutnya tartawa
cekikikkan. Dia berdiri di depan Tiong Hui Ciong dan tangannya sudah
menggenggam sebatang kaitan yang besar dan tarbuat dari perak.
Han engkiam adalah hasil karya kakeknya yang dibuat dari bahan besi dingin yang
dicampur dengan emas murni. Pedang itu dapat memotong besi maupun emas.
Namun terpyata tjdak sanggup menebas kutung kaitan perak miiik Li so yang
memancarkan sinar berkilauan. Bahkan dalam satu gebrakan saja, perempuan itu
sanggup membuat Han engkiam di tangannya tergetar ke belakang. Hal ini
membuktikan tenaga dalam Li so ini tidak berada di bawahnya.
Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di benak Tiong Hui Ciong. Dia membayangkan
seseorang yang she Li juga Jangan Jangan dialah selir kedua yang paling
disayangi Ci Leng Un dan selalu dipanggif selir Li. Tidak salah, dia mengubah panggilannya
menjadi Li so. Tidak keliru lagi, perempuan ini pasti selir Li adanya. Senjata
kaitan perak yang ada di tangannya pasti Go koukiam milik Ci Leng Un.
Begitu pikirannya targerak, matanya langsung menatap Li so lekat-lekat.
"Kau adalah selir Li!" katanya dengan nada dingin.
Perempuan itu memang selir Li. Bibirnya tersenyum sehingga dua baris giginya
yang putih berkilauan kentara jetas.
"Terserah bagaimana kau menyebutnya," sahut selir Li yang seakan 'mengakui siapa
dirinya.

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tiong Hui Cioog menggertakkan giginya dengan erat.
"Yaya dengan Ci Sancu tidak ada dendam apa-apa. Kalian malah merencanakan hal"
yang licik untuk mencelakai kakekku. Sebetulnya apa maksud kalian?".
Sinar mata selir Li berkifaukjiauan. Senyumnya tetap mengembang.
"Ji siocia, kata-katamu tidak tepat. Kedaianganku di lembah ini memang benar-
benar mengemban tugas dari Sancu untuk menjaga Lao sinsian.".
"Sudahlah. Yaya dengan Ci Sancu sudah bersahabat selama puluhan tahun, aku tidak
ingin banyak bicara. Kau sudah boleh pergi sekarang," kata Tiong Hui Ciong
selanjutnya. "Pergi?" Selir Li seperti terkejut. "Mana boleh aku pergi begitu saja Kaiau aku
meninggatkan tampat ini, coba kau pikirkan, bagaimana aku harus bertanggung
jawab di hadapan Sancu?". Tiong Hui Ciong menudingnya dengan Han engkiam.
"Kalau kau tidak mau pergi, jangan salahkan kalau aku Tiong Hui Ciong tidak
memakai aturan lagi'. Selir Li tersenyum simpul.
"Ji siocia ingin mengandalkan kepandaian untuk mengusirku" Bukankah tadi kita
sudah ' menjajaki diri masingmasing .." Rasanya kepandaian Ji siocia belum bisa
berbuat apaapa terhadap diriku.".
Selembar wajah Tiong Hui Ciong menyiratkan perasaannya yang marah. Mulutnya
mengeluarkan suara gerungan dan tubuhnya melesat. Pedang Han engkiam bergerak
menimbulkan cahaya yang berkilauan. Gadis itu langsung menerjang ke arah setir
Li. "Tepat. Untuk mengetahui siapa yang kalah atau menang, sebaiknya kita bertarung
dengan senjata masing-masing! sindirnya tajam.
Kaitan perak bergerak, Trangl Terdengar suara yang nyaring ketika beradu dengan
pedang Han engkiam milik Tlong Hui Ciong. Bayangan kaitan berkelebat, selir Li
sudah menerjang lagi ke depan. Tiong Hul Ciong tidak memberinya kesempatan
sampai serangannyatiba. Han engkiam segeramenerbitkan sinar yang berpijarpijar
Sekaligus dia menebas sebanyak dua kali. Gerakan yang pertama beradu dengan
kaltan perak Li so. Sedangkan serangan yang kedua mengincar bagian perut
lawannya. Telapak tangan kiri mengiringi pedang menghantam ke depan.
Kaitan perak di tangan selir Li segera bergerak dengan jurus Po Jau sincoa
(Menguak rumput mencari ular). Tangan kirinya mendorong ke depan. Dengan keras dia
menyambut pukulan talapak tangan Tiong Hui Ciong.
Terdengar suara Plakl Kedua telapak telah beradu. Dengan memanfaatkan tenaga
yang terpancar dari telapak tangan ini, tubuh selir Li mencelat ke udara.
Pakaiannya yang berwarna hijau melambai-lambai. Orangnya sendiri langsung berjungkir balik
ke belakang dan lari ke ujung koridor panjang.
Tiong Hui Ciong tertawa dingin. Dia mengejar di belakang setir Li dengan ketat.
Tubuhnya yang sedang meluncur ke depan belum lagi mendarat di tanah, tiba-tiba
dia melihat kelebatan bayangan berwarna hijau yang melesat ke atas kemudian bayangan
perak menghunjam ke arahnya. Tubuh Tiong Hui Ciong sedang melayang di udara. Pinggangnya meliuk dan Han
engkiam pun segera diulurkan ke depan. Kedua orang itu mengadu kekerasan di
tengah udara. SekeJap kemudian keduanya mendarat lagi di atas tanah Gerak tubuh
dan pedang Tiong Hui Ciong bagaikan angin. Seperti seekor burung Hong yang
mengembangkan sayapnya. Di manamana terlihat bayangan bunga pedang yang
berpercikan. Serangannya gencar sekali.
Selir Li juga tidak mau katah sigap. Kaitan di tangannya mengulur, mengait,
mengunci, menyapu dan terkadang ditarik kembali. Gerakannya juga tidak kalah
cepet. Bagaikan seekor ular berbisa yang siap mencapiok mangsanya. Dia bergerak
dari atas kemudian dari bawah Setitik pun kelemahannya tidak terlihat.
Keduanya segera terlibat dalam perkelahian yang seru Siapa pun tidak berani
memandang remeh lawannya. Yang satu mengerahkan limu Soat san pai yang hebat.
Gerakannya bagai rajawali sakti. Siapa pun yang sempat menyaksJkan pertarungan
itu pasti akan mendecak kagum Sedangkan yang satunya lagi mengerahkan ilmu pusake
Kong Tong pai Kaitan perak di tangan selir li bagai naga sakti yang menannari dt
langit biru. Bayangan yang terbentuk dan kaitannya seperti mata rantai yang panjang
". Dua macam senjata berutangkali beradu lalu merenggang kembaii Deruan angin yang
timbui dari kedua senjata itu memenuhi sepanjang koridor. Tempat itu jadi seolah
diselimuti cahaya terang dan suarasuara yang memekakkan telinga.
Tepat pada saat itu, di Ujung koridor tarlihat beyangan seseorang yang
mendatangi. Pakaiannya yang berwarna hijau melambailambai. Cara jalannya cepat sekali,
seakan tidak menempel di tanah dan melayang di atasnya. Dalam waktu yang singkat dia
sudah menerobos di tengah-tengah cahaya pedang Han engkiam dan kaitan perak.
Coba bayangkan saja, kedua orang jni sedang bertarung dengan sengit, sinar
pedang bagai kilat, cahaya kaitan berkilauan, orang ini justru menerobos di antara kedua
senjata yang sedang saling meluncur itu. Sampai di mana tingginya ilmu sNat orang ini,
benarbanar sulit ditanma oleh akal sehat.
Selir Li dan Tiong Hui Ciong sedang bargebrak dengan seru Meskipun ada orang
yang mendekat ke arah mereka, keduanya sama-sama ttdak berani mengalihkan
perhatiannya Dalam waktu yang barsamaan terdengar suara yang baning dan lantang.
"Ciong cici, biar siaute saja yang menghadapinya!".
Serangan yang dilakukan Tiong Hui Ciong gencar sekali Meskipun dia menguasai
barbagai ilmu yang aneh, tetapi diasadar tidak mudah mengalahkan perempuan genit
ini. Hatinya sedang kalut memikirkan jalan keluarnya, tiba-tiba terdengar suara Yok
Sau Cun, perasaannya menjadi tega seketika. Tentu saja dia merasa sangat gembira.
Kalau Tiong Hui Ciong merasa gembira, selir Li Justru terkejut setengah mati,
Tap' perlu diketahui behwa perempuan Ini bukan saja mendapet didikan langsung dari Ci
Sancu dalam hal ilmu silat Bahkan kelicikan ketua Kong Tong pai itu juga
dikuasainya. Mendengar suara Yok Sau Cun, dia tidak memberi kesempatan kepeda
Tiong Hui Ciong untuk menyahut. Perempuan itu langsung mengeluarkan suara tawa
cekikik. "Bocah tampan, kedatanganmu sungguh tepat!" Tiba-tiba dia melepasken diri dari
Tiong Hui Ciong. Tubuhnya mencelat ke udara dan dengan gerakan yang indah di
barjungkir balik lalu kaitan peraknya menebas ke arah Yok Sau Cun.
Kejadian ini apebila diceritakan memang terasa panjang, padahal semuanya terjadi
dalam waktu yang singkat. Kaitan perak memancarkan sinar yang menyilaukan mata.
Segurat cahaya bagai pelangi memijar. Serangannya ini bukan saja cepat tetapi
juga mengandung tenaga dalam sebanyak sepuluh bagian. Begitu bayangan kaitan
berkelebat, tahu-tahu sudah di depan tubuh Yok Sau Cun.
Tiong Hui Ciong melihat selir Li meninggalkan dirinya untuk membokong Yok Sau
Cun. Hatinya terkejut sekali.
"Perempuan siluman...!' Han engkiam digerakkan. Pedangnya langsung ditusukkan ke
arah punggung selir Li yang sedang menerjang datang.
Belum sempat Tiong Hui Ciong menghambur ke arah perempuan itu, tahutahu kaitan
perak di tangan selir Li yang sedang meluncur ke arah Yok Sau Cun gagal mencapai
sasarannya Terangterangan serangannya mengancam dada Yok Sau Cun. Tiba-tiba
dia merasa pergelangan tangannya mengetat, bayangan manusia melintas di depan
mata dan tangannya sudah tercekal eraterat oteh orang itu Dia sama sekali tidak
sanggup berontak lagi. Hati selir Li terkesiap sekali. Dia yakin serangannya sudah mengincar arah yang
tepat, bagaimana tiba-tiba Yo Sau Cun bisa menghindan serangannya itu" Tentu
saja dia tidak tahu kalau Yok Sau Cun menggunakan Pit kiam sinhoat yang khusus
diciptakan untuk mengelakkan diri dari serangan lawan.
Tubuh Tiong Hui Ciong yang sedang menerjang ke arahnya, segera melihat bahwa
selir Li sudah diringkus oleh adik Cun. Pedang Han engkiam di tangannya langsung
terulur ke depan. Dia menotok tiga urat nadi yang ada di belakang punggung
perempuan itu. Kemudian dia mengambil kaitan peraknya dan menyodorkannya
kepada Yok Sau Cun. "Adik Cun, senjata ini kepunyaan Ci Leng Un Untuk sementara biar kau saja yang
menyimpannya!". Yok Sau Cun menerima kaitan itu dan menyelipkannya di ikat pinggang Tiong Hui
Ciong merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Bagaimana keadaan Kong Tong Jihao?" tanyanya kemudian.
"Mereka sudah pergi," sahut Yok Sau Cun.
Tiong Hui Ciong menatap dengan pandangan penuh kasih.
"Apakah kau berhasil mengafahkan mereka?".
Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya sambil tarsenyum.
"Kemenangan tipis," sahutnya tersipu-sipu.
"Kalian juga harus melepaskan aku!" tukas selir Li yang dalam keadaan tertotok.
Mimik wajah Tiong Hui Ciong berubah menjadi dingin.
'Kau tidak boleh ke manamana! Sekarang ikut kami ke dalam!" dia langsung menarik
tangan selir Li dan menyeretnya untuk berjalan di depan.
Yok Sau Cun mengikuti dari belakang. UJung koridor panjang merupakan sebuah
ruangan batu yang sangat luas. Hampir tidak ada bedanya dengan sebuah ruang tamu
datam gedung yang besar Di tengahtengah ruangan terletak sebuah meja bundar yang
terbuat dan bahan batu gunung yang berwarna kahijauan Juga terdapat beberapa buah kursi batu
berbantuk kepata singa Ukirannya 1 sangat halus dan indah.
Di sekeliling ruang batu itu ada lima pintu penghubung. Semuanya terbuat dan
batu gunung yang berwarna kehijauan. Saat itu semua pintu tertutup rapat. Jari tangan
Tiong Hui Ciong bergerak. Lagilagi dia menotok tiga urat nadi selir Li. Pedangnya
ditudingkan ke tenggorokan perempuan itu.
"Kalau keadaan Yaya baikbaiksaja, tentu aku akan membiarkan kau pergi dari sini.
Tetapi kalau terjadi hal yang tidak diinginkan atas diri kakekku, maka aku akan
menggunakan dirimu sebagai pensai dan akan kubunuh habis seluruh Kong Tong pai,
anjing dan ayam pun tidak ada yang ketinggaian!" ancamnya dengan suara dingin.
Selir Li didorongnya sampai terjatuh di atas tanah. Tanpa meliriknya sekalipun,
Tiong Hui Ciong langsung becjalan menuju pintu yang terdapat di tengahtengah
ruangan la mendorong pintu tersebut dan melangkah ke dalam.
Yok Sau Cun juga ikut melangkah ke dalam. Ruangan yang satu ini berbentuk segi
empat. Dindingnya dilapisi batu-batu kerikil berwarna putih yang ditempelkan
dengan . rapi. Di bagian sudut tardapat sebuah lampu minyak. Tiong Hui Ciong segera
menyalakannya. Tampak cahaya yang berkilauan dan seiuruh ruangan itu
memantufkan bayangan bagai cermin.
Di bagian utara ruangan terdapat sebuah tempat tjdur besar yang terbuat dari
batu kumala kuning Di atasnya duduk bersila seorang lakilaki tua yang rambutnya
panjang terurai sampai ke bahu. Jenggotnya yang sudah berubah warna semua menjuntai di
depan dada. Sepesang matanya terpejam rapat Dua untai alis yang panjangnya menutupi sudut
mata juga sudah berwarna putih PanJang alis itu mungkin ada satu cun lebih.
Tidak perlu diragukan lagi, orang tua ini pasti Si Leng Sou yang mendapat julukan manusia
dewa. Begitu melihat kakeknya, Tiong Hui Ciong langsung menghambur menghampiri. Dia
berdiri sejenak di samping tempat tidur kemudian membungkukkan tubuhnya dan
memanggil dengan suara rendah.
"Yaya, aku sudah pulang ' Si Leng Sou tampaknya sudah mendengar suara Tiong Hui
Ciong. Matanya yang sedang terpejam membuka dengan pertahanlahan. Yok Sau Cun
yang mengikuti Tiong Hui Ciong masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba merasakan
bahwa mimik Lao sinsian sangat kuyu dan tampak lelah sekali. Ketika matanya
membuka, Yok Sau Cun maiah melihat sinar yang menyorot dan sepesang matanya
seperti orang yang termangumangu. Entah apakah Ciong cici juga memperhatikan hal
ini". Hati Yok Sau Cun tercekat. Dia tldak habis pikir, mengapa sepasang mata Lao
sinsian separti orang yang sedang termangu-mangu" Saat itu Tiong Hui Ciong
sedang menundukkan wajahnya. Jaraknya dengan Lao sin-sian dekat sekali. Tentu dia tidak
dapat melihat sinar mata kakeknya itu Pandangan Yok Sau Cun yang berdiri di
belakangnya lebih jelas. Ketika kakeknya membuka mata dengan parlahan-lahan, dia
menganggap kakeknya itu baru bangun dari semedinya. Itulah sebabnya dia tidak
berani bersuara keraskeras karena takut akan membuat kakeknya terkejut.
"Yaya, baikkah keadaan kau orang tua?" tanyanya dengan suara lembut.
Lao sin-sian sedang menatap ke arah Tiong Hui Ciong. Tiba-tiba mulutnya
b?rgerakgerak. Dia seakan ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak ada yang keluar
suara sedikit pun. Yok Sau Curi merasakan sesuatu yang tidak beres. Dia segera
berseru kepada Tiong Hui Ciong.
"Ciong cici, keadaan Lao sinsian tampaknya kurang wajarl".
Tiong Hui Ciong tertegun. Dia menolehkan kepalanya dan memandang dengan mata
terbelalak. "Apanya yang kurang wajar?".
"Lao sin-sian melihatmu, dia seperti ingin mengatakan apa-apa, tapi tidak keluar
suara sedikit pun. "Benarkah?" Hati Tiong Hui Ciong bagai diganduli batu yang berat, dengan gugup
dia membalikkan tubuhnya kembali dan menatap kakeknya lekat-lekat. Dengan panik
dia memanggil. "Yaya. Yaya, bagaimana keadaanmu" Yaya....".
Kali ini dia juga sudah melihat dengan Jelas. Mata kakeknya memang terbuka lebar
tetapi seperti orang yang termangumangu. Orang tua itu sedang memandang
kepadanya, mulutnya bergerak-gerak, ternyata memang seperti ingin mengucapkan
sesuatu, tatapi tetap tidak ada sedikit pun suara yang keluar. Wajahnya yang
pucat dan layu menyiratkan perasaan khawalir dan gusar.
Hati Tiong Hui Ciong semakin penik, Dia memoluk kakeknya erat-erat. Hampir saja
dia menangis terisak-isak. Namun pada dasarnya dia seorang gadis berhati keras
Dia hanya rnemanggil terus ...
"Yaya, bagaimana kau bisa.,.?" Tiba-tiba dia melepaskan tangannya dari pelukan
dan dengan cepat dia membalikkan tubuhnya, dari wajahnya tersirat hawa pembunuhan
yang dalam. Dia mengepalkan tinjunya erat-erat. "Perempuan siluman, aku akan
membunuhmu! Kau akan kusiksa perlahan-lahan!" teriaknya marah.
Tiba-tiba pintu batu didorong orang dari luar, kemudian lerdengar sebuah suara
yang merdu dan bening.... "Rupanya kau ingin membunuh orang untuk membungkam mulutnya!" Suaranya merdu
namun nadanya ketus. Orang ini mengenakan pakaian berwarna merah. Kepalanya juga diikat dengan


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sebuah pita dengan warna yang sama. Kakinya memakai sepatu kain yang
bersulamkan sekuntum bunga bwe yang indah Wamanya lagi-lagi merah. Tangannya
menggenggam sebatang pedang yang menimbulkan cahaya dingin namun berkilauan.
Alisnya tebal dan bentuknya bagus. Matanya besar dan saat itu sadang mendelik.
Tampangnya ayu namun sekerang terlihat garang sekali. Kafau dililik dari wajah
dan bentukbadannya, usianya paling bantertujuh belas tahunan. Seorang gadis yang
baru memasuki tahap remaJa. Melihat kedatangan gadis itu, wajah Tiong Hui Ciong langsung berseri-seri.
"Sam moay, kedalanganmu sungguh kebetulan!" sapanya.
Yok Sau Cun pernah mendengar dari Tiong Hui Ciong bahwa mereka tiga kakak
beradik mendapat lulukan Soat san sameng Toacinya yang menikah dengan Cu Tian
Cun bernama Beng Hui Ing alias si suiung Hui Ing Tiong Hui Ciong berkedudukan
sebagai Jici. Tiong artinya tengah. Dan sam moay itu bernama Kit Hui Yan alau si
bungsu Hui Yan. Sekarang tibaliba ada seorang gadis yang berpakaian merah yang
masuk ke dalam ruangan tersebut, dan Tiong Hui Ciong menyapanya dengan sebutan
Sam moay alau adik ketiga, tidak perlu diragukan lagi, dia pasti si bungsu Hui
Yan. Terdengar suara dengusan djngin dari mulut si bungsu Hui Yan.
"Tentu saja kedatanganku ini sangat kebetulan. Kalau tidak, bukankah rencana
busukmu sudah berhasil dilaksanakan?".
Tiong Hui Ciong jadi tartegun mendengar kata-katanya.
"Sam moay, apa yang kau maksudkan?" tanyanya bingung.
Si bungsu Hui Yan tertawa dingin.
"Apayang aku maksudkan, hatimu sendiri pasti sudah dapat menduganya...."
Katakatanya tarhenti sampai di situ, malanya beralih, dia melihat Lao sinsian duduk
bersemedi di atas tempat tidur batu yang tarbuat dari batu kumala kuning itu.
Dari matanya perlahan-lahan tersocot sinar yang keji dan ganas. Sambil menggertakkan
giginya dia berkata. "Untung aku keburu datang, kau... rupanya kau sudah
dihinggapi penyakit lupa diri sehingga Yaya sendiri akan kau celakai juga...!".
Tiba-tiba secarik cahaya dingin yang berkilauan melintas, dia menusukkan
pedangnya ke dada Tiong Hui Ciong. Jangan lihat usianya masih kecil, rupanya
gerakan gadis ini cukup gesit dan lincah. Tentu saja Tiong Hui Ciong tidak
menyangka akan diserang oleh adiknya sendirl. Untung saja usianya lebih besar
dan ilmu yang dimilikinya lebih tinggi. Dengan gerakan yang jauh lebih cepat dia
menghindarkan diri ke samping dan luputJah serangan si bungsu Hui Yan.
"Sam Moay, apa yang kau lakukan?" tanya Tiong Hui Ciong dengan suara gugup.
Sepasang mata Hui Yan memancarkan api yang berkobar-kobar.
"Jangan panggil aku sam moay, aku bukan adikmu lagi! Jangan,kau kira karena
ilmumu lebih tinggi, maka aku akan takut kepadamu. Biar mati sekalipun, aku tetap akan
membunuhmu terlebih dahulu!" Sambil menggerung keras, cahaya pedang
memijar, pargelangan tangannya yang kecU dan indah. Han engkiam tarus
dilancarkan dengan bertubi-tubi.
Tiong Hui Ciong tecus mengelit. Tubuhnya berkelebat ke sana sini Mereka tiga
bersaudara memang dibesarkan bersama-sama. llmu pedang maupun gerakan tubuh
tentu saja jauh lebih matang Namun pada dasarnya ilmu yang mereka miliki sama.
Jadi keniana pun Tiong Hui Ciong menghindar, Hui Yan sudah dapat
memperhitungkannya. Dia terus mengejar dengan ketat.
Tiong Hui Ciong tidak mengeluarkan Han engkiam. Dengan tangan kosong dia terus
menghindari serangan Hui Yan. Beberapa kali dia hampir tertusuk pedang Han
engkiam adiknya itu. Sambil mengelit kesana kemari, dia terus berteriak...
"Sam moay, apakah kau sudah gila?" "Aku gila?" Serangan Hui Yan semakin gencar.
Dengan suara dingin dia menyahut. "Kau yang tidak tahu malu. Memihak kepada
orang luar, malah mengajaknya pulang ka Tiong Cun kok untuk merampas kitab
pusaka serta obatobatan jangka miiik Yaya. Kaulah yang sudah tidak waras".
Di bawah serangan adik bungsunya yang gencar, Tiong Hui Ciong terpaksa
mengeluarkan Han engkiam. Dia memainkan jurus Fei hun jutsan (Awan terbang
muncul dari gunung) dan terdengarlah suara.
"Trangl" yang nyanng. Pedangnya berhasil menekan pedang Hui Yan. Bahkan adiknya
itu mulai terdesak mundur. "Dari siapa kau mendengar fitnah semacam itu?" bentaknya gusar.
"Kalau takut orang tahu, jangan berbuat." Sekali hentak, Hui Yan berhasil
menarik pedangnya kembali "Perduli apa darl mana aku mendengar kebusukanmu! Mendengar
ucapan orang memang masih bimbang, tetapi melihat dengan mata kepala sendiri
barulah kenyataan. Aku lihat sendiri kau berjongkok di depan Yaya. Tentu kau
sudah mencekokinya semacam obat bius yang membuat pikirannya kacau. Cepat keluarkan
obat pemunahnya!" bentak gadis itu sambit tertawa dingin.
Mendengar kata-katanya, hati Tiong Hui Ciong jengkel juga marah.
"Baik! Kau tunggu sebentarl Aku akan menyeret selir U kemari, nanti kau dengar
sendiri dari mulutnya!". Pedang si bungsu Hui Yan direntangkan. Dia menghadang di depan pintu.
"Tidak perlu bertanya kepadanya! Kau kira aku tidaktahu kalau kau ingin
membunuhnya agar ia bungkam. Untung aku kaburu datang, Aku kaiakan kepadamu,
aku sudah membebaskan dirinya darl totokanmu. Dia sudah menceritakan seluruh
rencana licikmu yang ingin menguasai Soat san pai Sekarang aku sudah menyuruhnya
cepatcepet pergi dari sini." sahutnya dengan bibir mengejek,.
Tiong Hui Ciong sampai menghentakkan kakinya karena kasal. Tepat pada saat
itulah, terdengar suara. "Blaml" yang karas. pintu batu terbuka lebar. Sesosok bayangan kuning bagai
terbang melayang masuk. Dia adalah seorang laki-laki tua berpakaian kuning dan
bongkok. "Bagus sekalil Budak nomor dua, aku masih mengira halimu baik datang untuk
melihat keadaan Lao sinsian. Rupanya kau mengandung maksud jahat dan berpihak
kepada orang luar unluk mencelakainya.,.1" Bola matanya segera beralih. Dia
menatap Yok Sau Cun dengan sinar mate mengandung api yang berkobackobar.
Telapak tangannya diulurkan kemudian menghantam ke arah Yok Sau Cun.
"Bocah busuk, budak nomor dua itu tiba-tiba menjadi berani dan mengandung
rencana jahat. Semua ini pasti karena rayuanmu. Lo hu benar-benar salah
menilaimul" bentaknya marah. Dia, sudah tentu yang mendapat julukan "It ciang kuilian" Suto Gi. Coba
bayangkan saja, ]ulukan orang mi Satu pukulan membuka langit. Serangan pukulannya ini
dilancarkan dengan hati gusar. Tentunya tanaga yang terkandung di dalamnya juga
besar sekali. Yok Sau Cun mengerti bahwa orang tua di hadapannya ini adalah manusia kasar
tetapi polos. Tenaga pukulannya tidak di bawah kedua kakek dan Kong Tong Pai
tadi. Malah mungkin lebih hebat dari mereka Dia tidak berniat berkelahi dengan orang
tua ini. Itulah sebabnya dia hanya mencelat mundur ke samping kurang lebih selengah
tindak dan mengulurkan telapak tangannya unluk menahan serangan orang tua itu.
Mulutnya berteriak lantang.
"Sito cianpwe, lebih baik urusan dibuat terang dulu baru bertindak ....".
Pukulan yang dilancarkan oleh Suto Gi dalam sekejap mala sudah beradu dengan
telapak langan Yok Sau Cun Ternyala beradunya kedua pukulan ini lidak
menimbulkan suara sedikil pun. Rupanya tanpa suara dan tanpa wujud pukulan
lersebut buyar begitu saja Yok Sau Cun hanya merasa sedikil tergetar dan kakinya
mundur satu langkah ke belakang.
Sedang kui tian Suto Gi tidak tahu kalau dalam tubuh Yok San Cun terdapat tiga
bagian hawa murni Tai kil taisu dan Cap Ji libio Sadangkan ilmu yang dipelajari
oleh Tai kit taisu adalah Ciap hun sinkang allran Buddha.
Tenaga pukulan Suto Gi mengandung unsur Yang yang tinggi. Sementara itu Ciap
hun sinkang adalah semacam ilmu yang dilatih dengan kekosongan pikiran atau
semacam ilmu semedi tingkal tinggi dalam agama Buddha. llmu ini mengandung
unsur kelembutan alau Ying. Oleh karena ilu, ketika kadua pukulan tersebut
saling beradu, maka tenaga dalam Suto Gi yang mengandung unsur Yang ditelan oteh tenaga
dalam Yok Sau Cun yang mengandung unsur Ying tetapi karena tenaga dalam Suio
Gi sudah mencapai taraf kesempurnaan. Tetap saja Yok Sau Cun lergetar oleh
pukulannya dan mundur satu langkah.
Suto Gi hampir tidak dapat percaya kalau Yok Sau Cun yang berusia begilu muda
sudah menguasai tenaga dalam setinggi itu. Sinar matanya mengandung kecurjgaan
Tiba-tiba ia tertawa terbahakbahak.
"Bocah busuk, tidak heran kau berani mengacau di Tiong Cunkok inj. Rupanya kau
mengandalkan sedikit kebisaanmu itu, Terimalah sekali lagi pukulan Lo hu ini!"
Tangan kanannya sudah bersiapsiap dihantamkan ke depan.
Terdengar suara. "Trang!" yang nyanng. Ternyata Tiong Hui Ciong mengibaskan pedang han engkiam
miliknya untuk menekan pedang si bungsu Hui yan. Karena kibasannya cukup keras,
maka timbullah suara yang nyaring. Wajah Tiong Hui Ciong hijau membesi.
"Kaliansemuaberhentil"teriaknyadengan nada berwibawa.
Suto Gi yang sudah siap melancarkan serangan terpaksa menarik telapak tangannya
kembali. Matanya menatap Tiong Hui Ciong sekilas.
"Budak nomor dua, apalagi yang ingin kau katakan?".
Wajah Tiong Hui Ciong kembali seperti biasanya. Dingin dan menggidikkan hati
siapa pun yang memandangnya,.
"Salah salu dari kalian, adalah orang yang melihat aku tumbuh dewasa. Tidak
ubahnya seperti ayahku sendiri. Dan yang satunya lagi adalah adik kandung yang
dilahirkan oleh rahim yang sama Aku ingin mengajukan salu pertanyaan kepada
kalian. Apakah kalian lebih mempercayai ucapanku alau lebih mempercayai ucapan
orang luar yang mungkin sa]a mengandung maksud mengadu domba kita?" tanyanya
dengan nada sinis. "Yang kau maksud sebagai orang luar itu, apakah Li so adanya?" Sulo Gi malah
bal'k bertanya. "Li so?" Tiong Hui Ciong mendengus dingin. "Apakah kalian tahu identitas orang
itu yang sebenarnya?". Suto Gi sampai tertegun mendengar pertanyaan Tiong Hui Ciong.
"Maksudmu dia bukan Li so?".
Tiong Hui Ciong mendengus sekali lagi.
"Dia adalah selir kedua dan Ci Leng Un yang biasa dipanggi! selir Li!".
Tampaknya Suto Gi seperti kurang percaya. Tetapi kemudian dia menganggukkan
kepalanya. "Hm... memang Ci sancu yang membawanya kamari. Katanya untuk melayani Lao
sinsian. Ci Sancu dan Loa sinsian bersahabat selama puluhan tahun. Mana
mungkin....". Tiong Hui Ciong menunjuk ka arah kakeknya Tanpa terasa air matanya mengalir
dengan deras. "Yaya pasti sudah terkena bokongan perempuan siluman itu Dia orang tua tidak
bisa bicara ataupun bergerak Suto pekpek, kau sudah lama berkecimpung di dunia
kangouw. Pengalamanmu luas sekali Coba kau lihat apa yang telah terjadi pada
diri Yaya?". Tubuh Suto Gi langsung lergetar mendengar perkataannya.
"Bukankah Lao sinsian sedang bersemedi melatih ilmu?" tanyanya gugup.
Tiong Hui Ciong hanya mencibir bibirnya tanpa menyahut. Suto Gi langsung
menghambur ke samping tempat tidur. Dia meniperhatikan dengan seksama. Keadaan
Lao sinsian masih termangumangu seperti tadi. Matanya yang terbuka lebar
menyorotkan sinar kekhawatiran dan kaflusaran yang tidak terkira.
Melihat keadaan Lao sin-sian, tubuh Suto Qi sampei tachuyunghuyung karena
terkejut bukan kepatang. "llmu silat Lao sinsian sudah mencapai taraf kasempurnaan, mengapa dia bisa...?"
Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan menggeram marah. "Lohu 'akan meringkus
budak Li so itu kemball. Dia pasti tahu mengapa Lao sinsian bisa berubah seperti ini!.
Tiong Hui Ciong tertawa dingin.
"Dia yang menurunkan tangan jahat kepada Yaya, tentu saja dia tahu." Dia
berhenti sejenak. "Tapi kemungkinan besar sudah terlambat. Identitas dirinya sudah
terbongkar. Saat ini dia pasti sudah lari ke tempat yang jauh ....".
Suto Gi mengepalkan tinjunya erat-erat.
"Perempuan siluman itu.... Lohu pasti akan menangkapnya kembali!" Tubuhnya
melesat bagai angin. Tahutahu dia sudah menghambur keluar dari ruangan tersebut.
Hui Yan menyimpan pedangnya kambali. Wajahnya yang manis tertunduk dengan
perasaan jengah. "Ji ci, maafkan aku. Aku telah salah meniiaimu," katanya dengan suara lirih.
Tiong Huj Ciong meraih tangannya sambil tersenyum.
"Kita adalah saudara. Apa yang telah terjadi, jangan dimgat lagi. Tetapi ada
satu pertanyaan yang ingin aku ajukan kepada Sam Moay, mengapa kau tibalibe pulang ke
Soat san ini?". "Senbu yang mengatakan kepadaku, katanya Ji ci...." Matanya mendelik secara
diam'diam kepada Yok Sau Cun. Wajahnya meniadi merah padam. Kemudian dia
mendekati telinga Tiong Hui Ciong dan membisikinya beberapa patah kata.
Setelah mendengar bisikan adiknya, selembar wajah Tiong Hui Ciong juga menjadi
merah pedam. "Nenek siluman ilu ternyata pandai mengadaada. Rupanya dia tidak segan
mengeluarkan fitnahan keji agar kita terpecah belah. Hm, aku harus mencarinya
untuk mengadakan perhitungan!" Kemudian dia menggapaikan tangannya kepada Yok Sau Cun
dan memperkenalkan mereka berdua. "Ini adalah Sam Moay yang bernama Kit hui Yan,
sedangkan yang ini... adik angkatku Yok Sau Cun. Adik Cun, tahun ini Sam moay berusia
delapan belas tahun. Kau boteh memanggilnya Moay Cu saja " Dia lalu menoleh kembali
kapada si Bungsu Hui Yan. "Sam Moay, adik Cun adalah murid
perguruan Tian San pai. llmu silatnya tinggi sekali Iho. Kau boleh panggil dia
Yok toako....". Dengan sepasang mata yang indah dan berbinarbinar, Hui Yan menatap Yok Sau
Cun. Kemudian dia tertunduk tersipu-sipu.
"Yok toako.. " panggilnya dengan suara lirih.
Yok Sau Cun terpaksa membalas panggilannya.
"Moay Cu...." Akhirnya panggilan itu kefuar juga dari bibirnya, tetapi dia
merasa malu sekali. Wa]ahnya tampak tersipu-sipu.
Tiong Hui Ciong lalu mencerilakan bagaimana Tal kil taisu berpesan wantiwanti
pada Kim tijui unluk menyampaikan kepeda mereka agar dia dengan Yok Sau Cun
kembali ke Soat san secepatnya, dan bagaimana mereka menghadapi penghadangan
orang-orang Kong Tong pai dalam perjalanan, lalu kejadian selelah mereka sudah


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sampai di Tiong cunkok yang mana Yok Sau Cun tarpaksa bertarung dengan kakek
dari Kong Tong sihao. Wajah si bungsu Hui Yan menyiratkan hawa amarah yang meluapluap. Dia
mengepalkan sepasang tinjunya erat-erat.
"Padahal Ci Sancu dengan Yaya sudah bersahabat selama puiuhan tahun Sekarang dla
berbuat demikian, sebelulnya apa yang direncanakan dalam halmya?".
Pinlu batu terbuka lebar It cing kuitian Suto Gi ternyata sudah kembali. Dia
masuk ke dalam ruangan tanpa menyerel selir Li. Hal ini menandakan bahwa dia tidak
berhasil mengejar perempuan itu. Hui Yan segera menyongsongnya dengan perasaan khawatir.
,. "Suto pekpek, apakah kau tidak berhasil menemukan selir Li itu?" tanyanya panik.
Wajah Suto Gi lampak kelam. Dia menggertakkan giginya erat-erat.
"Aih, lohu memang patut mali! Lohu sudah hidup di dunia sampai setua ini,
tarnyata masih bisa dikecoh oleh seorang perempuan siluman yang bermulut manis. Lohu
merasa malu menghadapi Lao sinsian,.." katanya dengan nada gusar,.
"Suto pekpek, meskipun perempuan siluman itu sudah kabur, tetapi hwesio lari,
kuilnya toh masih ada. Kita bisa pergi ke Kong Tong pai dan memperhitungkan
hutang piutang ini. Sekarang yang tarpenthig adalah menolong orang, coba kau
lihat sekali. Apa yang djlakukan perempuan siluman itu terhadap diri Yaya?".
Suto Gi memeriksa kaadaan Lao sinsian sejenak. Wajahnya menyiratkan
kebimbangan yang dalam. "llmu silat Lao sinsian sudah mencapai taraf kesempurnaan. Apabila ingin
membokong Lao sinsian begitu saja, rasanya bukan hal yang mudah dilaksanakan.
Rasanya cuma ada satu kemungkinan yang masuk akal...".
"Apa itu?" tanya Hui Yan cepat.
"Dengan racun." kata Suto Gi sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Tetapi... ingin meracuni Lao sinsian, juga bukan masalah yang gampang....".
Hui Yan menganggukkan kepatanya.
"Betul. Tenaga dalam 'Yaya tinggi sekali. Dengap mudah diadapat merasakan
sesuatu yang tidak wajar dalam tubuhnya. Apabila Yaya tahu dirinya keracunan, pasti dia
akan menghimpun hawa mumi dan mendesak racun itu kaluar dari tubuhnya...." Gadis
cilik itu rupanya mempunyai otak yang tidak kalah cerdasnya dengan Tiong Hui
Ciong Suto Gi juga mengangguk perlahan. "Oleh karena itu, hanya ada satu cara
untuk melakukannya, yaitu dengan mengguna' kan racun yang proses kerjanya
lambat. Mungkin Lao sinsian setiap hari dicekoki sedikit demi sedikit. Dengan
demikian dia tidak menyadarinya, Ketika racun sudah mulai memperlihatkan
reaksinya di dalam tubuh, dan dia bermaksud menghimpun hawa murni untuk
mendesaknya, pasti sudah terlambat," sahutnya dengan wajah semakin kelam.
"Apa yang Suto pekpek katakan memang masuk akal. Perempuan siluman itu sudah
tiga bulan melayani Yaya. Tentu saja dia bisa membenkan racun yang prosesnya
lambat itu sedikit demi sedikit tanpa disadari oleh Yaya sendiri.".
Si bungsu Hui Yan merasa gusar sekali. "Kaiau aku bertemu lagi dengan perempuan
siluman itu, aku akan membuat tubuhnya terkoyakkoyak menjadi beberapa bagian.
Biar dia tahu bahwa kita orang dari Soat san bukan orang yang nnudah
dipermainkan," katanya geram.
'Sarn kouwnio, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengumbar amarah. Orang
toh sudah tidak ada lagi disini Yang harus kita pikirkan justru bagaimana
caranya memunahkan racun yang terdapat dalam tubuh Lao sinsian" Yang lainnya harus
ditangguhkan dulu untuk sementara Ini," tukas Suto Gi,.
"Baiklah," sahut si bungsu Hui Yan. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang
ini?". "Kalau ingtn memunahkan racun dalam tubuh Yaya, pertama-tama Rita harus tahu
dulu jenis racun apa yang digunakannya Setelah itu kita baru bisa mencari jalan
keluar untuk menyembuhkannya, kata Tiong Hui Ciong.
Suto Gi menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Tidak salah. Obat pemunah racun tidak dapat sembarang dipakai Setiap obat hanya
untuk memunahkan jenis racun tertentu. Kalau sembarangan dimmumkan akibatnya
malah akan membahayakan tubuh. Kita memang harus memeriksa dulu apa yang
diminum oteh Lao sinslan, kemudian baru dapat nnenentukan obat yang tepat untuk
mennusnahkannya.". "Bagaimana cara kita mengetahuinya?" tanya Hui Yan.
"Memang sulit untuk mengetahuinya. Satusatunya jalan yang harus kita tempuh
sekarang ini adalah mencari Ci Leng Un atau Hue leng senbu untuk meminta obat
penawar racun itu." sahut Tiong Hui Ciong.
Hui Yan memang sejak tadi sudah gusar sekali mengetahui kakeknya diracuni orang.
Tentu saja dia nnerupakan orang pertama yang setuju dengan usul Tiong Hui Ciong.
"Betul. Mari kita berangkat sekarang juga. Aku dengar dari mulut toaci bahwa
pertamuan para pendekar akan diadakan di Oey san. Ci sancu sendiri juga akan turut hadir.
Kita segera mencarinya di Oey san saja!".
Tiong Hui Cipng menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Yaya tidak bisa bergerak sama sekali. Mulutnya pun tidak bisa berbicara,
Harus ada orang yang menjaganya. Kau tinggal saja di sini menunggui Yaya, Suto
pekpek yang menjaga di mulut lemba.h. Urusan mencari Ci Sancu, serahkan kepada
cici dan adik Cun yang akan menyelesaikannya.".
"Ci Sancu tidak mengingat hubungan persahabatan yang sudah dibina selama
puluhan tahun. Dia sampai hati turun tangan sekeji ini. Biarpun kalian berhasil
menemuinya, belum tentu dia bersedia mednberikan obat penawar racun itu. Mungkin
dia malah mengarang centa lain yang akan menyudutkan posisi kalian " tukas Suto Gi.
Tiong Hui Ciong tersenyum simpul.
"Aku akan pergi menemui toaci dulu Aku akan menceritakan semua kejadian yang
dialami Yaya. Kaiau Ci Leng Un tidak sudi mengeluarkan obat penawar racun, maka
kami akan melabraknya.".
"Kekuatan Kong Tong pai sekarang tidak dapat dipandang ringan Di sana banyak
terdapat jagojago yang memihak kepada mereka. Ji siocia....".
Tiong Hui Ciong tidak memberinya kesempatan untuk membantah lebih lanjut.
"Aku tidak takut!".
Tiba-tiba Yok Sau Cun berdehem satu kali.
"Ciong cici, siaute tiba-tiba teringat sesuatu hal. ".
Tiong Hui Ciong mendengar Yok Sau Cun memanggilnya "Ciong cici" dengan mesra di
hadapan Suto Gi dan Hui Yan, wajahnya menjadi merah padam.
"Hal apa yang teringat olehmu?" tanyanya dengan kepala tertunduk sedikit.
"Kedatangan kita yang tergesa-gesa ke Soat san ini adalah atas suruhan Lao koko
yang dipesankan oieh Tai Kit taisu Siaute rasa sejak semula Lao koko sudah dapat
menduga rencana licik pihak Kong Tong pai. Mungkin dia bisa membantu kita
menyelesaikan masalah ini," kata Yok Sau Cun mengeluarkan pendapatnya.
Mendengar perkataannya, wa|ah Tiong Hui Ciong menjadi bersensen seketika.
"Betul. Mengapa aku tidak teringat akan hal itu" Hanya Lao koko yang dapat
membantu kita. Man kita mencarinya sekarang juga!".
Hui Yan merasa bingung karena tidak mengerti maksud pembicaraan mereka.
"Ji ci, siapa yang kalian sebut Lacf koko itu?"tanyanya.
"Lao kokojuga murid perguruan Tian san.
Dia mengaku sebagai toa suhengnya adik Cun. llmu silatnya tinggi sekall.
Pokoknya sulit diuraikan dengan kata-kata. Tapi kisah ini panjang sekali apabila diceritakan.
Ketak kalau urusan ini sudah selesai, cici akan menceritakannya dengan
terperinci. Sekarang waktu kita terbatas, kami harus berangkat sekarang juga!".
Bulan dua belas tanggal satu. Paglpagi sekali. Matahari baru menampakkan
cahayanya. Di depan Ce Po tangoan yang terletak di puncak gunung Oey san, terlihat undakan
batu yang jumtahnya mungkin mencapai ratusan. Undakan batu itu merupakan tangga
untuk mencapai puncak gunung. Saat Itu terlihat serombongan orang sedang mendaki
dengan parlahan-lahan. Rombongan ini dipimpin oteh Bu Lim toalo. Song Ceng san. Mengiringi di sisi klri
dan kanannya sudah pasti putranya sendirl Song Bun Cun dan Lao koanke Ciek Ban
Cing. Di balakang mereka terdapat puluhan orang yang mengikutt dangan perlahan.
Mereka adalah Clang bun'jln dari Hoa san paj, Sang Ceng Hun; wakil ketua Siau
Kiam Beng dan Kimbak Leng yan (Kera sakti bermata emas) Ciok Sam San darl
Ciong San pai; Huihung 1 Su Liok Huipefig darl Cong Lem pai, Ciang bunjin darl
Pat Kua bun, Kwek Si Hong beserta wakilnya Kan SI Tong, Wi Ting sintiau Beng Ta iin
darl Liok Hap Bun. Yang taraktiir adalah Wi Yang samkiat. Wi Lamcu, Gi Huato
basarta Ciang bunjin mereka, Hui Kin Siau.
Kurang tebih dua puluh undakan batu di belakang mereka masih ada rombongan
yang lain. Mereka terdiri dari Giok Si Cu dari Bu Tong pai, Yu Uong kiamkek Su
Po Hin? ketua Lo Han tong dari Siau Lim pai. Bu Cu taisu dan detapan belas orang.
muridnya. Di belakang orang-orang ini adalagi seorang murid Siau Lim yang
menyediakan tempat tinggal untuk mereka selama partemuan Itu berlangsung. Dia
adalah Tung Sit Cong. Di depan pintu gerbang Ce Po tangoan, yaitu di bagian kiri dan kanan. berdiri
delapan orang pamuda yang mengenakan pakaian hijau. Semuanya berwajah bersih
dan tampan. Usia mereka paling banyak tujuh belas atau delapan belas tahunan, Oi
bagian pinggang mereka terselip pedang panJang. Pada dada sebelah kanan terselip sebuah
pita yang bertuliskan "Penerima tamu".
Baru saja rombongan itu sampai di depan pintu gerbang, salah seorang pemuda
berpakaian hijau sudah maju dua langkah dan membungkukkan tubuhnya sebagai
pepghormatan. "Mohon tanya kepada para tamu, dari partai manakah saudara sekalian?".
Kim kasin Ciek Ban Cing maju ke depan dan menyahut dengan suara lantang.
"Bulim Bengcu terdahulu, Song Loya cu beserta anggota Siau lim pai, Bu Tong pai,
Ciong san pai, Cong lam pai, Pat kua Bun, Liok hap bun. Wi Yang samkiat, segenap
undangan telah sampai di sini untuk menghadiri partemuan Ce Po tangoan Harap
masuk ke dalam dan beri laporan Tai Hwu cutaijin (Pengurus pertemuan) harap
keluar menyambut kedatangan tamutamunya.".
Kata-kata yang diucapkan oleh Ciek Ban Cing inj tidak kelewatan. Dengan
kedudukan Song Loya cu dan orang-orang dari delapan partai yang hadir. Pihak
pengelola partemuan ini memang sudah seharusnya keluar menyambut. Dunia
kangouw memang paling memberatkan masalah 'etiket'. Dan hal ini termasuk etiket
yang harus dijalankan oleh orang-orang dunia kangouw.
Justru ketika Kim kasin Ciek Ban Cing baru saja menyelesaikan kata-katanya, dari
balik pintu gerbang terlihat seorang tua berpakaian kuning yang tubuhnya kurus
kering melangkah keluar dengan tergopohgopoh. Sampai di depan dia menguak tubuh
anak muda tadi dan merangkapkan sepasang tangannya menJura kepada Song Ceng
San beserta rombongannya.
"Song Loya cu, cuwi Ciang bunjin, taisu, totiang dan undangan lainnya sekalian,
maafkan keterlambatan hengte menyambut kedatangan kalian. Silahkan masuk
menikmati suguhan," katanya sambil tersenyum simpul.
Sekali lihat saja, tentu Song Loya cu sudah mengenali orang tua kurus yang
menyambut mereka adalah Yu huhoat dari Kong Tong pai, yakni Cian Poa Teng
Diamdiam hatinya merasa kesal.
"Pertemuan hari ini, terangterangan diselenggarakan oleh pihak Kong Tong pai. Ci
Leng Un merasa kedudukannya demikian tinggi sehingga begitu sonnbong," pikirnya dalam
hati. . Tetapl Song Loya cu tidak mau kalah pamor. Dia mengeluselus Jenggot dengan
santai. Matanya memandang sekilas kepada Cian Poa Teng, tetapi dia purapura
tidak tahu siapa orang itu. "Ciek congkoan, siapa orang yang baru ketuar inl?" tanyanya.
Ciek Ban Cing juga merasa geram melihat pihak KongTong pai dennikian tidak
sopan. Ciang Bunjln dari delapan partai besar dan sebagian wakilnya, nnereka
semua adalah tokohtokoh yang dfsegani dalam dunia kangouw. Saat ini mereka semua sudah
sampai di depan pintu Ce Po tangoan untuk menghadirl partemuan, tetapi pihak
penyelenggara hanya mengutus seorang Yu huhoat dari Kong Tong pai untuk keluar
menyambut. Bukankah ini sanna saja artinya bahwa mereka tidak memandang
sebelah mata terhadap delapan partal besar?".
Ciek Ban Cing tantu 3aja mengerti maksud Song Loya cu. Oieh kerena itu, dia
tidak merasa aneh tarhadap pertanyaan majikannya itu. Dia segera membungkukkan
tubuhnya dengan hormat dan menjawab....
"Lapor Loya cu, orang yang keluar menyambut ini adalah yu huhoat dari Kong Tong
pai yang barnama Cian Poa Teng taihiap." Dia sengaja menambahkan kata-kata
"taihiap" di balakang nama orang itu.
Cian Poa Teng tangsung menjura sekali lagi.
"Song Loya cu nnungkin tidak ingat lagi, Cayhe memang Cian Poa Teng dari Kong
Tong pai. Tetapi di dalam pertemuan besar ini, Cayhe juga menjabat kedudukan Cong Ying
peng (Kepala rnenerima tamu) Mewakili pihak penyelenggara menyambut
tamutamu yang datang Harap Ciek congkoan dapat memberi patunjuk apabila ada
kesalahan yang tidak disengaja.".
Begitu dia menegakkan tubuhnya, tampak di dada kiri pakaian kuningnya tarnyata
terfepit sebuah pita merah yang bantuknya lebih besar dari kedelapan pamuda
tadi, dan di atasnya tertera huruf "Cong Ying Peng".
Cong Ying Peng memang yang disebut sebagai wakil untuk menyambut tamu-tamu
yang diundang. Hal ini tidak ada salahnya, oleh karena itu Song Ceng San tidak
enak hati apabila terlalu menyudutkannya.
"Apakah pertemuan ini diselenggarakan oleh Ci Sancu sendiri?".
Cian Poa Teng membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Lapor Loya cu, pertemuan hari ini memang diselenggarakan oleh Ci sancu. Tentu
dia sendiri harus hadir dalam pertemuan ini. Tetapi sampai saat ini kereta kudanya
belum sampai juga. Jadi dia tidak bisa keluar sendiri menyambut kedatangan para
tamu agung. Harap Loya cu dan saudara sekalian memaktuminya.".
Song Ceng San tersenyum datar.
"Kaiau begitu, kedatangan lohu dan rekanrekaniah yang terlalu awal!".
Cian PoaTeng tersenyum simpul.
"Song Loya cu dan cuwi sekalian silahkan masuk dulu ke dalam untuk
beristirahat.".

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mereka sudah sampai di tempat ini, tentu tidak dapat mengundurkan diri begitu
saja. Song Ceng San mengibas tangannya.
"Kalau begitu, harap Cong Ying peng menunjukkan jalan," sahutnya.
Cian Poa Teng segera mengiakan.
"Cuwi taisu, totiang, harap ikut orang she Cian ini." Selesai berkata dia
langsung membalikkan tubuh berjalan masuk mendahului.
Para hadirin juga tidak banyak cakap lagi. Mereka segera mengikuti di belakang
Cian Poa Teng. Setelah menikung di sebuah cetah gunung, mereka masuk ke dalam sebuah
lapangan terbuka yang sangat luas. Di hadapan mereka terdapat ruangan yang
sangat luas. Tadinya tempat ini merupakan sebuah museum yang menyimpan berbagai
bendabenda bersejarah. Sekarang untuk sementara digunakan sebagai tempat
penyelenggara pertemuan para pendekar.
Dari lapangan terbuka sampai depan ruangan besar tersebut, di tengahtengah jalan
telah terhampar parmadani panjang becwarna kuning Mereka diajak ke dalam ruangan besar
itu. Di atas ruangan terhias pita besar berwarna merah yang mentuntai dari sebalah
kiri ke sebelah kanan. Di bagian tengahnya ada lagi secarik kain besar yang bertuliskan
huruf Tian te taihue (Pertemuan besar langit dan bumi). Empat huruf itu ditulis dengan
tinta emas sehingga menyolok pandangan.
Melihat tulisan itu, diam-diam hati Song Ceng San merasa geli.
"Pertemuan besar apa ini" Namanya aneh, kata-kata yang ditulis sembarangan. Dan
keempat huruf saja sudah dapat dibuktikan bahwa orang-orang ini tidak
berpendidikan dan hanya bisa menyombongkan diri. Orang seperti ini mana mungkin
bisa mengurus persoalan besar segala macam?" katanya dalam hati.
Di atas undakan batu terdapat sebuah koridor panjang yang luas. Di bagian kiri
kanan telah diletakkan dua buah mejayang ditutupi dengan kain merah. Di beiakang
masingmasing meja berdiri dua orang gadis yang cantik dan menawan.
Di atas meja sebelah kiri terdapat sebuah bantaian yang bersulamkan bungabunga
yang indah. Di atas bantal tersebut terletak sebuah buku besar yang dasarnya
berwarna keemasan. Tentunya buku itu digunakan sebagai daftar para tamu.
Di atas meja sebelah kanan terdapat setumpukkan pita merah. Entah apa
kegunaannya" karena jarak di antara kedua meja ini amat rapat, maka j'aian di
tengahtengahnya menjadi sempit. Mungkin hanya timbang pas apabila dua orang
jalan berendengan. Dengan kata lain, apabila ingin memasuki ruangan pertemuan,
para tamu harus melewati celah antara kedua meja tersebut.
Di bagian kiri kanan undakan batu, sama seperti di depan gerbang. Disana juga
dijaga oleh delapan orang pemuda yang berpakaian hijau. Pinggang masingmasing menyelip
sebatang pedang panjang. Wajah merekajuga bersih dan tampan. Usia mereka juga
paling banter tujuh atau delapan belas tahunan, Di depan dada sebelah kanan juga
terjepit pita merah dengan tulisan "Penerima tamu'.
Tetapi apabila kita perhatikan dengan seksama, jangan dikira usia mereka masih
muda, namun sinar mereka tajam dan di tengahtengah kening merekaterlihat urat
hijau yang menonjol sedikit. Demikian samarnya urat hijau tersebut sehmgga
apabila mata kita kurang awas, tentu tidak menyadarinya. Hal Jni membuktikan bahwa
mereka mempelajari semacam ilmu tenaga daiam yang berbeda dengan golongan
umumnya. Namanya sih penenma tamu. tapi tidak usah diragukan lagi bahwa mereka juga
mempunyai tugas lain, yakni menjaga keamanan dan bertindak sebagai matamata.
Sementara itu, Cian Poa Teng sedang mengajak rombongan Song Ceng san ke arah
meja yang di sebelah kiri. Dia menghentikan langkah kakinya dan menjura dengan
hormat. "Silahkan Loya cu rnencantunikan nama.".
Seorang gadis berpakaian kuning yang berdiri di betakang meja segera maju ke
depan. Dia mengambil sebatang pit kemudian mencelupkan pjt itu ke bak tinta dan
menyodorkannya kepada Song Ceng San.
"Harap tamu agung tuljs nama di atas buku ini," katanya dengan suara merdu.
Sinar mata Song Ceng San memperhatikan buku daftar nama tersebut. Di atasnya
terdapat tulisan "Daftar namanama wakil delapan partai besar dan para tamu
undangan iainnya". Song Loya cu melihat buku itu nnasih kosong. Berarti dia
merupakan orang pertama yang mencantumkan namanya sebagai tamu. Akhirnya dia
menerima pit yang disodorkan gadls itu dan menulis Song Ceng San tiga huruf.
Gadis tadi mengambil kembalj pit di tangannya yang kemudian dicelupkan lagi ke
dalam baktmta lalu menyodorkannya lagi kepada Song Bun Cun. Pemuda itu juga
mengikuti tindakan ayahnya dan menuliskan nama di atas buku tersebut.
Cian Poa T6ng kemudian mengajak Song Cenq San berjalan di antara kedua meja.
Seorang gadis berpakaian kuning lainnya yang berdiri di meja sebelah kanan
segera menghampiri. Dia mengambil sebuah pita berwarna ungu keemasan dengan huruf
"tamu" di atasnya, bibirnya tersenyum manis.
"Selamat datang kepada para tamu agung. Harap jepitkan pita jni dulu beru
kemudian masuk ke ruangan pertemuan," katanya dengan suara ramah,.
Penyambutan yang ramah dan senyuman manis yanfg tersungging dari bibir seorang
gadis cantik, tentu saja tidak dapat ditolak oieh siapa pun. Oleh karena itu,
Song Ceng San terpaksa menghentikan tangkah kakinya.
Gadis cantik berpakaian kuning itu mengulurkan tangannya yang indah Dia
menyematkan pita berwarna ungu keemasan Jtu di pakaian Song Ceng San. Pita itu
disematkan di dada sebelah kiri Mata gadis itu berkedip-kedip.
"Terima kasih," sahutnya lirih.
Pokoknya setiap tamu yang akan menghadiri pertemuan itu harus terlebih dahulu
menuju meJa sebetah kiri untuk mencantumkan nama, kemudian menuju meja
sebelah kanan dan gadis berpakaian kuning itupun akan menyematkan masingmasing
selembar pita berwarna ungu keemasan di dada kiri para tamu. Setelah itu mereka
baru boleh melalui jalan panjang yang diapit oteh kedua meja tadi.
Rombongan itu seperti direpotkan oleh segala macam tatek bengek itu hampir
setengah kentungan kemudian baru diantarkan ke dalam ruangan pertemuan. Ruangan
pertemuan itu besar sekali, cukup untuk menampung ratusan tamu. Pada bagian
depannya yang terbuka telah didirikan tiangtiang penyangga dengan alas yang
tabal untuk menutupi permukaannya. Bagian tengah ruangan dihiasi pita berwarnawarni. Di
bagian paling ujung terdapat lagi secank kam lebar yang bertuliskan "Tian te taihue"
seperti di depan tadi. Di bawah tulisan itu ada lagi sebuah meja panjang yang kain berwarna merah
dengan sulaman benang emas di tepiannya. Di befakang meja telah diletakkan dua buah
kursi tinggi dengan sandaran yang empuk. Di sisi kin kanan masingmasing kursi tinggi
tersebut terdapat masingmasing dua kursi yang lebih rendah.
Berhadapan dengan meja panjang, telah tersedia pula sembilan baris bangku. Tiga
baris bagian paling depan merupakan kursi yang berbantalan tmggi, khusus
disediakan untuk para tamu agung Mulai dari baris keempat sampai belakang
disediakan untuk tamu yang kedudukannya lebih rendah atau para generasi muda.
Cian Poa Teng mengantarkan rombongan Song Ceng San di barisan tamu agung.
Namun karena banyaknya rombongan mereka. para murid yang lebih muda terpaksa
duduk di barisan tamu biasa.
Saat itu, para tamu yang ingin menghadiri pertemuan tersebut mulai berdatangan
dan membanjiri ruangan itu. Orang-orang yang bisa mendapat undangan untuk
menghadiri pertemuan tersebut setidaknya adalah tokoh-tokoh dunia kangouw yang
sudah cukup punya nama. Kalau bukan Ciang bunjm dari sebuah partai, pasti
pandekar yang nananya menjulang di wiiayah tertentu. Pokoknya, baik tokoh
golongan hitam maupun putih sudah hampir semuanya berkumpul di dalam ruangan
pertemuan itu. Terhadap pertemuan yang diberi nama "Tian te taihue" ini, para undangan hampir
semtjanya bertanyatanya dalam hati. Mereka merasa tidak mengerti mengapa
dinamakan demikian S&telah bertemu dengan sahabatsahabat lama di tempat
tersebut, pokok pembicaraan mereka hampir semuanya berkisar pada tujuan Tian te
taihue tersebut. Ada juga beberapa di antaranya yang mendugaduga. Apa sebetulnya
rencana di balik pertemuatT besar ini" Apakah benar-benar ada perangkap atau
jebakan yang akan membahayakan jiwa mereka".
Tetapi ketika para hadirin melihat bahwa di barisan "Tamu agung" telah duduk
Bulim toafo Song Ceng San dan orang-orang dari delapan partai besar, hati mereka yang
tertekan menjadi agak lega. Dengan kehadiran Song Ceng San serta orang-orang
dari delapan partai besar, kemungkinan ttdak akan timbul bahaya apa-apa dalam
pertemuan besar ini. Waktu berfalu dengan perlahan-lahan. Dari bagian belakang gedung Ce Po tangoan
berkumandang suara tambur yang riuh.
Saatnya sudah hampir tiba! Pikir para hadirin dalam hatinya.
Suara tambur belum lenyap, terdengar lagi suara iringiringan musik dan letusan
mercon. Hal ini menandakan bahwa partemuan besar itu memang sebentar lagi akan
dimulai.Setring dengan alunan musik, dari balik tirai kuning yang ada di bagian
kin, keluarlah orang pertama yang berdandan seperti seorang su seng (pelajar). Dia
memakai pakaian berwarna biru langit. Di pinggangnya terselip sebatang pedang
panjang. Wajahnya putth bersih. Sepasang alisnya melengkung seperti golok. Bibirnya tipis
matanya bersinar terang. Tangannya mengibasngibas sebuah kipas, Penampilannya
gagah. Selain tampan, orans ini juga mempunyai kewibawaan tersendiri bahkan
tarsirat juga sedikit keangkuhan pada wajahnya. Langkah kakinya mantap. Dia
merupakan orang pertama yang berJalan keluar menuju altar sebelah kiri dan
berdiri tegak. Dari para hadirin, kecuali Song Ceng San, Kan Si Tong dari Pat Kua Bun, Bei g Ta
jin dari Liok Hap bun, Hui hung Su dari Cong lam pai, serta beberapa rekannya, tidak
ada yang tahu siapa orang ini Sedangkan rombongan Song Ceng San segera
mengenalinya sebagai Cong huhoat pertemuan besar ini, yakni Cu Tian Cun Dia juga
mecupakan putra Hue leng senbu.
Di belakang Cu Tian Cun, berjalan keluar Long San it pei Suo Yi Hu, Pek po sin
cian Yan Kong Kiat, Hek houw sin Cao Kuang Tu, Go la cinjin Bun Tian Lui, Kiuci Lo
Han Cu Siang Hu, Siang si suangse, Hun Bu Pao. Begitu rombongan ini keluar,
mereka segera berdiri berderet pada bagian belakang kursi tinggi dengan
mengambil posisi dari kiri ke kanan.
pada saat Cu Tian Cun berJalan keluar, dari balik tirar sebefah kanan Juga
muncul serombongan orang. Yang pectamatama adaiah seorang wanita dengan rambut
disanggul ke atas. Pakaiannya sangat mewah.
Usianya kurang lebih dua puluh lima atau enam tahun. Wajahnya cantik jelita
Alisnya seperti bulan sabit, di bagian pinggangnya terselip sebatang Han eng
kiam. Dia adalah istri kesayangan Cong hu hoat Cu Tian Cun, juga mecupakan salah satu
dari Soat san sam eng yakni si sulung Beng Hui Ing. Seperti Juga Cu Tian Cun Dia
berjalan ke arah sebelah kanan dan berdiri tegak di sana.
Mengiringi di belakang Beng Hui Ing berjalan seorang gadis berpakaian merah.
Dialah Hue moli Cu Kiau Kiau, kemudian terlihat seorang nenek yang rambut
kepalanya sudah putih. Dia mengenakan pakaian berwarna hijau pupus. Dia adalah
Be hua popo Ciok Sam ku. Yang membuat orang terkejut adalah seorang gadis yang berJalan di belakangnya.
Baik Song Ceng San maupun rekan-rekannya yang lain segera mengenalinya.
Ternyata dialah Ciok Ciu Lan yang dicaricari oleh Yok Sau Cun. Kemudian terlihat
Yi Ju Si, Ca popo, dan yang paling belakang adatah seorang gadis yang pernah
menyamar sebagai Cun Bwe dan menyelundup ke dsiam Tian Hua sanceng yakni Liu
Cing Cing. Rombongan para perempuan ini, seperti juga rombongan Long san itpei. Mereka
berjalan menuju belakang kursi tinggi dan berdiri berderet dari kanan ke kiri.
Setelah kedua baris orang-orang ini berdiri di tempatnya masingmasing, dari balik tiral
kuning keluar lagi dua orang tua berjubah hijau. Wajah kedua orang Jni mirtp sekati.
Gerakgeriknya pun tidak berbeda dan di bawah dagunya terdapat beberapa helai
Janggot yang berwarna keperakan seperti Jenggot kambing.
Mereka keluar dari dua bagian kiri dan kanan. Setelah itu keduanya juga
mengambil posisi berdlri di sudut yang berbeda. Satu di kiri dan satunya lagi di sebelah
kanan. Ketika melewati hadapan Cu Tian Cun, mereka merangkapkan tangannya dan
menjura. Cu Tian Cun sebegal angkatan yang lebih muda cepatcepat membalas penghormatan
yang dilakukan kedua orang tua itu.
"Jiwi, silahkan," kalanya Oia menunJuk ke arah dua buah kursi yang lebih rendah.
Kedua kakek itu juga tldak sungkan lagi. Mereka tidak Jadi berdiri di
sudutsepertj sebelumnya melainkan duduk di kursi yang telah ditunjukkan oleft Cu Tian Cun.
Para hadirin yang metihat rupa kedua orang tua itu, diamdiam mengeluh dalam hati.
JanganJangan kedua orang tua inilah yang disebut Kong Tong sihao" Tetapi mengapa
Kong Tong sihao yang jumlahnya terdiri dari empat orang sekarang hanya muncul
dua orang saja" Kemana dua orang lalnnya".
Justru ketika pera hadirin sedang bectanyatanya itutah, Hun Bu Pao mengeluarkan
sebuah undangan berwarna merah yang ukurannya besar sekad. Dia bicara dengan
suara lantang. "Tian te taihue dimulai.... Panitia penyatenggara pertemuan besar ini, Cu Cong
huhoat harap tampil ke depan".
Para hadirin tidak menyangka bahwa panitia penyelenggara pertenwan ini adalah
Cong huhoat Cu Tian Cun. Sementara itu, Cu Tian Cun segera maju satu langkah dan
berhenti di depan sebuah bangku kecil yang terdapat di samping kursi tinggi.
Hun Bu Pao merentangkan tangannya ke arah wanita bersanggul tinggi yang berdiri
di sebelah kanan. "Harap Cong huhoat hujin tampil ke depanl".
Beng Hu Ing pun maju satu langkah. Dia juga berdiri di depan sebuah bangku kecil
lainnya yang terdapat di samping kursi tinggi satunya lagi. Sekarang para
hadirin segera dapat menduga. Dua kursi tinggi yang ada di tengahtengah pasti disediakan
untuk Ci Leng Un dan Hue leng senbu.
Mereka berdualah yang sebenarnya merupakan dalang penyelenggara pertemuan
besar ini. Tentu saja kedudukan mereka lebih tinggi. Namun cara yang diatur
menandakan keangkuhan diri mereka. Di hadapan delapan partai besar dan Bulim
toalo Song Ceng San, mereka menyediakan tempat duduk yang tingginya di atas
mereka semua. Bukankah hal ini berarti mereka memandang diri mereka demikian
tinggi sehmgga tidak memandang sebelah mata kepada orang lain".
Terdengar Hun Bu Pao berseru dengan suara lantang kembali....
"Mengundang kaucu dan Hu kaucu tampil ke depan!".
Yang disebut kaucu dan Hu kaucu tentu saja Ci Leng Un dan Hue leng senbu!".
Selama berpuluh tahun, Ci Leng Un selalu menyebut dirinya sebagai Sancu dari
Kong Tong pai, sekarang tiba-tiba panggilannya berubah menjadi kaucu. Sebetulnya


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perkumpulan agama apa yang mereka dirikan".
Seiring dengan berkumandangnya suara Hun Bu Pao, dan balik tirai sebelah kiri
dan kanan berjalan keluar empat orang gadis yang berwajah dingin dan kaku Mereka
mengenakan pakaian berwarna hijau Di pinggang masingmasing terselip sebatang
pedang panjang Dengan berbagi dfri menjadi dua pasangan, mereka berjalan keluar
dengan perlahan-lahan. Kemudian terlihat dua orang gadis lagi yang mengenakan pakaian yang sama dan
berwajah dingin dan kaku juga. Tangan orang yang pertama menggenggam sebatang
pedang berbentuk api lilin. Sedangkan gadis yang satunya lagi menggenggam
sebatang tongkat berwarna ungu.
Mereka berdua langsung ber]alan menuju sisi belakang kursi tinggi dan bsrdiri
dengan tegak. Tidak lama kemudian, tampak Hue teng senbu yang mengenakan gaun
panjang berwarna ungu dengan sulaman merah pada lengan dan begian dadanya. Oia
berjalan menuju kursi tinggi sebelah kanan dan monghentikan langkah kakinya di
sana. Telapi dia sama sekali tidak duduk.
Saat itu, suasana di dalam ruang pertemuan semakin mencekam. Tldak ada sedikit
pun suara yang terdengar. Hati para hadirin sama tegangnya. Mereka seperti
merasakan hari tenang sebelum badai menjelang.
Tiba-tiba tiral kuning terkuak kembali. Dari dalam berjalan keluar dua orang.
Orang yang sebelah kiri bertubuh pendek dan berkepala besar. Raut wajahnya seperti
neneknenek yang sudah keriput. Dia adalah Cuo huhoat dari Kong Tong pai, yakni
Toan Pek Yang yang pernah dikalahkan oleh Yok Sau Cun. Orang yang berada dl bagian
kanan tidak bukan tidak laln dari kepala penerima tamu dalam pectamuan besar
tersebut, Cian Poa Teng yang juga merupakan Yu huhoat dari Kong Tong pai.
Rupanya kedua orang ini hanya bertindak sebagai pelindung kiri dan kanan. Di
antara kedua orang ini, berjalan seorang wanita yang berpakaian hijau yang mana
tangannya membimbing seorang laki-laki tua bertubuh kecil dan pendek Orang tua itu juga
mengenakan pakaian dengan warnayang sama.
Rambut orang tua itu masih lebat. WaJahnya kekanak-kanakan Seharusnya dia
adalah seorang manusia yang berjiwa besar dan optimis pandangan hidupnya. Tetapi
pada saat itu, tampak sepasang matanya yang kuyu, mimik wajahnya menunjukkan
keletihan yang dalam Tampaknya untuk melangkah saja dia harus menyeret kakinya
dengan berat. Dengan dibimbing oleh wanita tadi, dia berjalan dengan perlahan-
lahan. Tidak perlu diragukan lagi, orang tua berjubah hijau ini pasti Kong Tong sancu
Ci Leng Un adanya. Sedangkan wanita yang membimbingnya pasti salah satu dan dua
selir kasayangannya. Nama besar Ci Leng Un sebagai ketua Kong Tong pai sudah menggetarkan dunia
kangouw. Menurut berita yang tersebar, ilmu silatnya tinggi sekali. Sekarang
untuk berjalan saja. dia harus dibimbing oleh seorang wanita. Tampaknya
kegemilangannya dahulu hari sudah mulai surut, karena termakan usia tua.
Seharusnya orang seperti dia sudah mengasingkan diri dan melewati sisa umur
dengan tenang. Tetapi dia malah menyelenggarakan entah Tian te taihue apa dan
menyebut dirinya sebagai kaucu. Sekali lihat saja orang sudah dapat menduga
bahwa semua ini hanya sandiwara saja. Tentu Hue leng senbu yang mendalangi semua ini
dengan meminjam nama besar suhengnya.
Begitu Sancu dari Kong Tong pai ini melangkah kaluar, Cu Tian Cun segera
mengangkat tangannya sebagi isyarat. Suara tambur pun berbunyi kembali. Meskipun
suara tepukan tangan juga tidak kalah riuhnya, namun sebagian besar merupakan
murid Kong Tong Pai yang seakan menyambut kemunculan ketuanya.
Para hadirin yang duduk di barisan tamu agung ataupun tamu biasa haoya beberapa
gelintir yang ikutikutan tepuk tangan. Sebagian besar lainnya memandang ke atas
altar dengan mempertahankan ketenangan hati mereka.
Dengan dibimbing oleh wanite berpakaian hijau, Ci sancu langsung berjalan dan
kemudian duduk di kursi tinggi sebelah kiri. Balk Cian Poa Teng dan Toan Pek
Yang maupun wanita cantik itu mengambil posisi di kiri kanan Ci sancu dan bertindak
sebagai pengawalnya. Hue leng senbu menunggu sampai Ci Leng Un sudah duduk di kursi kebesarannya,
baru dia ikut duduk dengan tampang angkuh.
"Harap bagian pengurus Tian tekau membacakan daftar nama anggota!" Terdengar
suara Hun Bu Pao yang lantang berkumandang kembali.
Baru saja ucapennya selesai, Laong san itpei yang entah sejak kapan menyelinap
keluar dari atas altar tersebut dan sekarang berjalan masuk kambali dengan wajah
serius dan berwibawa. Di belakangnya mengiringi dua orang gadis berpakaian kuning. Tangan mereka
masingmasing membawa sebuah baki perak yang atesnya dialasi dengan kain merah
dan sebuah buku besar. Mereka berjalan secara berendengan.
Suo Yi Hu terus berjalan sampai di atas altar. Di sana dia menghentikan langkah
kakinya. Cu Tian Cun yang bortindak sebagai penyelenggara segera berdiri dari
kursinya. Kedua orang gadis berpakaian kuning tadi segera membalikkan tubuhnya dengan
cara mengitar lalu berdiri di depan Suo Yi Hu. Dari kedua baki perak di tangan
gadisgadis tersebut, Suo Yi Hu mengambil dua buku besar yang terdapat di
atasnya. Dengan langkah yang kompak kedua gadis berpakaian kuning itu mengundurkan diri
kembali. Suo Yi Hu langsung mengangkat sepasang tangannya ke atas dan
mempersembahkan dua buah buku besar tersebut.
Cu San Cun majU selangkah untuk menyambut buku-buku yang disodorkan ke
hadapannya. Suo Yi Hu membungkukkan badannya melakukan penghormatan
kemudian mengundurkan diri lagi ke tempatnya semula.
Setelah menerima kedua buku itu, Cu Tian Cun tidak duduk kembali di atas
bangkunya. Tampak sinar matanya yang tajam mengedar ke sekellling ruangan.
Kemudian sepasang tangannya mengangkat buku yang sebelah ates dan membuka
lembarannya, Dia membaca dengan suaranya yang bening dan lantang.
"Perkumpulan kami telah diputusken memakai nama Tian Te kau. Tinggi langit tidak
terkira, dalamnya bumi tidak terukur. Sejak pertama alam diciptakan, semuanya
sudah tsrmasuk bagian dan langit dan bumi. Seluruh lautan, pegunungan, bukit maupun
daratan adanya antara langit dan bumi. Keadilan langit dan bumi, bukankah
ditegakkan di antara Keduanya juga" Dengan adanya Tian Te kau, maka seluruh
partai di muka burru ini dapat disatukan Kalau dunia Bulim dapat bergaoung
menjadi satu, bukankah tidak akan terJadi lagi segala macam pertikalan" Baik
pandanganpandangan yang berbeda maupun segala macam perselisihan, dapat
dlhilangkan sampai sirna Ilmu pusaka setiap partai maupun perguruan yang sudah
menjadi Warisan selama ratusan tahun dapat disatukan dan dipelajari bersama.
Dengan demikian tidak akan terjadi pencurian kitab pusaka maupun adanya murid
yang berkhianat. Meningkatkan kesejahteraan kaum Bulim, menjalankan keadilan
serta melindungi yang lemah merupakan tujuan utama perkumpulan kami!".
Dia berhenti sejenak dan merubah nada pembicaraannya.
"Perkumpulan kami ini sudah dipersiapkan sejak tiga tahun yang lalu. Hari ini,
tanggal satu bulan dua betas, dinyatakan secara tecbuka bahwa Tian Te kau telah
Imbauan Pendekar 1 Durjana Dan Ksatria Seri Thiansan Karya Liang Ie Shen Pendekar Bodoh 2
^